October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 20

 

Pendekar bercaping itu memutar tubuh ke kiri untuk memandang ke arah Si Pembicara. Ternyata orang bernama Thong Nam itu bertubuh pendek dengan perut gendut, namun tubuhnya nampak kokoh kuat dan wajahnya yang bulat itu membayangkan ketinggian hati.

Tidak mengherankan kalau kepala suku Miao ini dengan lantang memperkenalkan diri, karena dia pun terkenal sebagai seorang jagoan di antara suku bangsanya. Dia terkenal mempunyai tenaga kuat, ilmu gulat yang tak pernah terkalahkan, juga dia memiliki ilmu tendangan maut. Selain itu, ia pun tahu bahwa di tempat itu, dia memiliki banyak kawan tangguh yang pasti akan membantunya kalau dia terancam bahaya.

Sejenak pendekar bercaping itu mengamati Si Pendek Gendut dan karena ia diam saja, semua orang menjadi semakin tegang.

“Thong Nam,” akhirnya terdengar dia berkata, “aku mencarimu untuk meminta kembali sebutir mutiara hitam. Engkau tak berhak memilikinya dan benda itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.”

Semua orang tidak mengerti mengenai mutiara hitam itu, akan tetapi wajah Si Pendek Gendut itu berubah merah dan alisnya berkerut, nampak bahwa dia marah mendengar itu.

Otomatis tangan kirinya meraba ke arah dadanya, lalu dia berkata lantang, “Sin-ciang, Taihiap! Mutiara Hitam itu adalah milikku, dan kuterima dari mendiang ayahku. Aku tidak pernah mengambilnya dari orang lain!”

“Kalau begitu, saudara Thong Nam, ayahmu itulah yang sudah mengambilnya. Mutiara Hitam itu milik orang lain, kuharap engkau suka berbesar hati untuk mengembalikannya kepadaku agar dapat kupenuhi pesan pemiliknya.”

“Sin-ciang Taihiap, engkau sungguh terlalu mendesak. Orang lain boleh takut padamu, akan tetapi aku tidak! Dan menurut peraturan dunia kang-ouw, untuk memiliki sesuatu dari orang lain haruslah lebih dahulu mengalahkannya.”

Kepala suku Miao itu lalu mengambil sesuatu dari balik baju, kemudian menyerahkan sebuah mutiara hitam yang tadi ia pakai sebagai kalung kepada Lulung Lama. “Losuhu, tolong simpan dulu benda ini, aku akan menandingi pendekar yang sombong ini!”

Setelah menyerahkan benda itu kepada Lulung Lama, Thong Nam lalu lompat ke depan pendekar bercaping lebar dengan sikap menantang. Lulung Lama menerima benda itu, nampak tertarik dan segera dia mendekati suheng-nya. Dobhin Lama menerima benda itu kemudian mereka berdua mengamati benda itu sambil berbisik-bisik, pandang mata mereka bersinar-sinar.

Sementara itu, Thong Nam yang merasa diremehkan di hadapan banyak orang, tanpa banyak cakap lagi sudah menyerang pendekar bercaping itu dengan tubrukan ganas, seperti seekor beruang menubruk mangsanya. Agaknya dia hendak mengandalkan ilmu gulatnya untuk menangkap lawan, karena dia yakin bahwa sekali dia dapat menangkap lengan lawan, dia akan mampu membuat lawannya tak berdaya dengan ringkusan atau bantingan.

Sin-ciang Taihiap agaknya tidak tahu akan keistimewaan Thong Nam. Maka dia seperti acuh saja dan bahkan menangkis dengan pemutaran lengan kanan dari kiri ke kanan dan membiarkan lengannya itu tertangkap lawan!

Tentu saja girang hati Thong Nam. Begitu dia berhasil menangkap lengan kanan lawan, dia mempergunakan kedua tangannya, menangkap dengan pengerahan tenaga yang mendadak disentakkan. Dia hendak menekuk lengan itu ke belakang. Sekali dia berhasil menekuk lengan itu ke belakang tubuh, dia akan dapat membuat lawan tidak berdaya dengan mendorong lengan yang tertekuk ke belakang itu ke atas!

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia sama sekali tak mampu menekuk lengan lawan itu. Jangankan memuntir ke belakang, bahkan menekuk sikunya saja dia tidak mampu. Lengan itu terasa olehnya seperti sebatang baja yang sangat kuat. Padahal, sebatang tongkat atau tombak baja pun akan dapat ditekuknya dengan mudah!

Tiba-tiba pendekar bercaping itu menggerakkan lengannya yang ditangkap dan sedang hendak ditekuk ke belakang dan… Thong Nam tidak mampu bertahan lagi. Pegangan kedua tangannya terlepas dan dia pun terjengkang sampai beberapa meter jauhnya.

Thong Nam tidak terluka, dia hanya terkejut. Dia bangkit kembali dan mukanya menjadi merah sekali. Dia menjadi semakin penasaran dan marah, dan tanpa bicara lagi segera menerjang lawannya.

Sekali ini dia tidak ingin menangkap, melainkan mengandalkan ilmu tendangannya yang memang hebat dan berbahaya. Selain kedua kaki itu dapat bergerak cepat sekali, juga setiap tendangan mengandung tenaga yang amat kuat, apa lagi kedua kaki itu memakai sepatu yang dilapis baja, bagian bawahnya memiliki tepi yang tajam dan ujungnya juga runcing.

Dengan gerakan yang tenang sekali, Sin-ciang Taihiap dapat menghindarkan sambaran dua buah kaki yang melakukan serangkaian tendangan secara bertubi-tubi. Tubuhnya hanya bergerak sedikit saja, namun cukup membuat tendangan itu hanya lewat di dekat tubuhnya.

“Hemm, sepatumu itu terlalu keji, Thong Nam,” kata pendekar itu lembut.

Tiba-tiba saja, tubuh Thong Nam kembali terlempar dan terjengkang ke belakang, akan tetapi sekali ini kedua kakinya sudah telanjang karena sepasang sepatu itu tertinggal di kedua tangan pendekar bercaping itu!

Pendekar itu memeriksa sepasang sepatu yang sangat istimewa itu, kemudian jari-jari tangannya bergerak dan… lapisan besi di bawah sepatu itu sudah terlepas semua dan yang tinggal hanya sepasang sepatu kulit biasa. Dia melemparkan sepasang sepatu itu kepada Thong Nam.

Kini wajah Thong Nam berubah pucat. Ia mengenakan sepatunya yang menjadi sepatu biasa itu dan lenyaplah semua ketinggian hatinya. Dia tahu benar bahwa pendekar itu sama sekali bukan lawannya dan jika pendekar itu menghendaki, mungkin dia sekarang telah tewas, atau setidaknya terluka berat.

Sementara itu, Sian Lun yang tadi pertandingannya dihentikan menjadi penasaran. Juga diam-diam, seperti juga Sian Li, kini hatinya menjadi besar setelah munculnya Sin-ciang Taihiap. Dilihatnya betapa tiga orang wanita Pek-lian-kauw tadi masih berdiri dengan pedang di tangan, maka dia segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah mereka dan pihak tuan rumah.

“Kalian semua mengaku sebagai pejuang-pejuang patriot, tapi sesungguhnya hanyalah penjahat-penjahat dan pemberontak-pemberontak yang berkedok perjuangan! Keluarga Pulau Es dan Istana Gurun Pasir memang selalu menentang dan membasmi penjahat-penjahat seperti kalian!”

Melihat suheng-nya sudah nekat seperti itu, Sian Li juga meloncat ke dekatnya untuk membantu. Melihat ini, Lulung Lama menjadi marah dan dia memberi perintah kepada anak buahnya.

“Tangkap dua orang muda kurang ajar ini!”

“Tahan!” Sin-ciang Taihiap berseru ketika melihat banyak orang sudah bangkit dan siap menyerbu. “Lulung Lama, urusanku dengan Thong Nam belum selesai. Mutiara Hitam belum diserahkan kembali kepadaku, dan mengenai kedua orang muda ini, seyogianya kalau kalian membiarkan mereka pergi. Mereka adalah pendekar-pendekar gagah yang tidak ada hubungannya dengan segala macam pemberontakan.”

Kini Dobhin Lama yang masih memegang mutiara hitam itu bangkit berdiri. Tubuhnya nampak semakin kurus dan tinggi ketika dia telah berdiri dan dan memandang kepada Sin-ciang Taihiap.

“Hemmm, Sin-ciang Taihiap. Meski pun engkau menyembunyikan wajahmu, akan tetapi kami tahu bahwa engkau adalah seorang yang masih amat muda. Mengagumkan sekali seorang yang demikian muda sudah mempunyai ilmu kepandaian sepertimu. Alangkah sayangnya kalau kepandaian seperti itu tidak kau gunakan untuk mencapai kemuliaan selagi engkau masih muda. Sin-ciang Taihiap, sebagai seorang Han, apakah engkau tidak prihatin melihat bangsa Mancu menjajah negara dan bangsamu? Marilah engkau bergabung dengan kami. Kami akan memberi kedudukan yang tinggi padamu, bahkan mungkin sekali kami akan mengangkatmu sebagai panglima besar.”

Dengan sikap yang sopan pendekar itu memberi hormat kepada Dobhin Lama, lalu terdengar suaranya yang lembut namun lantang dan tegas. “Terima kasih atas uluran tanganmu, Dobhin Lama. Tentu saja aku merasa prihatin dengan adanya penjajahan bangsa Mancu. Aku mengagumi usaha para patriot yang berjuang demi membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu. Tetapi, Losuhu, perjuangan bukanlah perjuangan murni lagi kalau didasari pamrih untuk kepentingan pribadi, pamrih untuk mendapatkan imbalan jasa bagi diri sendiri. Perjuangan yang benar adalah suatu kebaktian terhadap tanah air dan bangsa, tanpa adanya pamrih untuk pribadi. Kalau ada pamrih, maka perjuangan itu hanyalah menjadi suatu alat, suatu cara untuk mencapai keuntungan pribadi seperti kedudukan, kemuliaan, harta dan segala kesenangan lain sebagai hasil dari kemenangan. Saudara sekalian yang berada di sini tentu dapat pula meneliti diri sendiri, apakah perjuangan kalian itu murni ataukah hanya menjadi suatu cara saja untuk mengejar hasil kemenangan yang akan menyenangkan diri sendiri atau golongan sendiri?”

“Sin-ciang Taihiap, perlukah bicara dengan mereka ini?” Tiba-tiba Sian Li berseru. “Lihat saja siapa adanya mereka ini dan kita akan tahu macam apa perjuangan mereka itu! Perkumpulan Lama Jubah Hitam adalah pemberontak terhadap pemerintah Tibet yang sah. Juga orang-orang Nepal yang bersekutu dengan mereka ini adalah orang-orang Nepal yang memberontak terhadap Kerajaan Nepal sendiri sehingga mereka itu menjadi buronan dan buruan dari kedua kerajaan itu! Dan lihat pula siapa lagi sekutu mereka! Pek-lian-kauw! Tak perlu berpanjang cerita lagi, mereka bukanlah pejuang-pejuang asli, perjuangan itu hanya menjadi kedok untuk menutupi kejahatan mereka!”

“Tangkap mereka!” Lulung Lama berteriak lagi dan dia menghadapi Sin-ciang Taihiap. “Sin-ciang Taihiap, harap jangan mencampuri urusan kami! Atau terpaksa kami akan menentangmu!”

Pek-lian Sam-li berloncatan mengepung Sian Lun dan Ji Kui berkata kepada anak buah tuan rumah, “Biarkan kami bertiga yang menangkap pemuda ini!” Dan mereka pun telah mengepung dan menyerang Sian Lun dengan pedang mereka.

“Gadis ini untukku, ha-ha-ha-ha!” Pangeran Gulam Sing juga membentak dan dia sudah menghadapi Sian Li dengan goloknya yang melengkung. Kembali mereka bertempur, melanjutkan pertandingan tadi yang tertunda oleh kemunculan Sin-ciang Taihiap.

Sebelum Sin-ciang Taihiap bisa mencegah terjadinya pengeroyokan itu, ia sendiri sudah diserang oleh dua orang yang amat lihai, yaitu Cu Ki Bok dan gurunya, Lulung Lama! Begitu pemuda peranakan Han Tibet itu meyerang dengan sabuk baja yang pada kedua ujungnya dipasangi pisau, tahulah pendekar bercaping lebar itu bahwa dia menghadapi seorang lawan yang tangguh. Apa lagi ketika Lulung Lama juga ikut menyerang dengan senjatanya yang aneh, yaitu sepasang gelang roda besar yang warnanya keemasan dan tepinya bersirip tajam.

Pendekar itu pun memperlihatkan kelihaiannya. Tubuhnya berkelebatan seperti seekor burung walet, beterbangan di antara gulungan sinar senjata dua orang pengeroyoknya!

Akan tetapi, tepat seperti yang dikabarkan orang. Sin-ciang Taihiap agaknya tidak mau melukai lawan, apa lagi membunuhnya. Inilah sebabnya mengapa sukar baginya untuk menundukkan dua orang pengeroyoknya yang memiliki kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya. Kalau saja dia mau melukai, tentu tidak akan lama pertandingan itu, karena dia tentu dapat merobohkan Cu Ki Bok mau pun Lulung Lama!

Keadaan Sian Lun mau pun Sian Li sangat payah, walau pun kedua orang muda ini melawan dengan gigih. Mereka langsung terdesak hebat, akan tetapi tidak mudah pula bagi lawan-lawan mereka untuk segera meraih kemenangan.

Sian Lun menghadapi tiga orang wanita tokoh Pek-lian-kauw yang sudah memiliki ilmu kepandaian tingkat tinggi. Tiga orang wanita itu merasa kagum bukan main. Baru kini mereka berhadapan dengan seorang lawan muda yang dapat menahan pengeroyokan mereka bertiga!

Memang Sian Lun bukan merupakan lawan yang lunak. Dia telah digembleng oleh dua orang gurunya, yaitu Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Walau pun tidak seluruh ilmu kesaktian dari keluarga para pendekar Pulau Es dikuasainya, akan tetapi dia sudah menguasai Hwi-yang Sinkang dan Soat-Im Sinkang, kedua ilmu menggunakan tenaga sakti yang panas dan dingin, dan juga ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) yang diajarkan oleh Kam Bi Eng.

Pemuda ini memang belum mempunyai banyak pengalaman bertanding, namun karena dia menguasai ilmu pedang yang dahsyat dan memiliki gabungan tenaga sinkang yang sangat kuat, maka tiga orang wanita dari Pek-liankauw yang bermaksud menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya itu mengalami kesulitan.

Sian Li juga menghadapi lawan yang tangguh. Seperti juga Sian Lun, gadis remaja ini telah menguasai ilmu yang hebat, bahkan dia masih lebih tangguh kalau dibandingkan suheng-nya itu karena gadis ini menguasai pula ilmu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) dari ayahnya. Andai kata ia sudah memiliki banyak pengalaman bertanding, tentu ia akan mampu mengalahkan pangeran Nepal itu.

Akan tetapi, karena dia kurang pengalaman menghadapi ilmu golok melengkung dari pangeran asing itu yang gerakan-gerakannya aneh sekali, ia menjadi agak bingung. Biar pun demikian, karena pangeran Nepal itu tidak ingin melukainya dan ingin menangkap gadis itu hidup-hidup, maka pangeran itu tidak mudah dapat menundukkannya.

Sian Lun yang memang sudah terdesak, dengan nekat memutar pedangnya dan sinar pedang yang bergulung-gulung itu bagaikan benteng baja yang sangat kuat, membuat tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu kagum dan juga penasaran. Mereka saling memberi isyarat dan masing-masing mengaluaran sehelai sapu tangan merah.

Tanpa diduga-duga oleh Sian Lun, mereka mengebutkan sapu tangan merah ke arah pemuda itu. Sian Lun memang kurang pengalaman, melihat uap tipis kemerahan itu dia tidak menyangka buruk. Baru setelah dia mencium bau harum yang aneh dan matanya berkunang, kepalanya pening, setelah sangat terlambat, dia baru tahu bahwa tiga orang pengeroyoknya itu menggunakan bubuk beracun.

“Iblis-iblis betina yang curang…!” Dia berteriak dan memaksakan diri untuk menyerang dengan nekat, akan tetapi kepalanya semakin pening dan dia pun terhuyung-huyung.

Ji Kui mengeluarkan suara ketawa mengejek. Sekali menggerakkan tangan menotok, Sian Lun terkulai dalam rangkulannya dan pemuda itu lemas tak mampu bergerak lagi.

Sian Li mendengar teriakan suheng-nya dan cepat menengok. Melihat suheng-nya telah tertawan, ia menjadi marah dan tubuhnya bergerak cepat. Bagai seekor burung bangau dia sudah mengirim tujuh kali tusukan beruntun dengan pedangnya kepada Pangeran Gulam Sing.

Pangeran ini terkejut, merasa seperti menghadapi seekor burung besar. Dia memutar golok dan melangkah mundur. Akan tetapi kesempatan seperti itu dipergunakan oleh Sian Li untuk meloncat ke arah Sian Lun.

Melihat ini, tiga orang wanita Pek-lian-kauw terkejut dan marah. Tangan kiri mereka pun bergerak ke arah Sian Li dan belasan batang jarum halus menyambar ke arah tubuh gadis yang sedang melayang ke arah mereka itu!

Sukar bagi Sian Li untuk dapat menghindarkan diri dari sambaran jarum karena pada saat itu ia sedang meloncat ke arah Sian Lun yang tertawan. Dan Pangeran Gulam Sing juga mengejar dengan lompatan seperti seekor harimau yang menubruk, bukan sekedar melompat, melainkan sambil menggerakkan kaki menendang! Keadaan Sian Li sunggh berbahaya sekali.

Pada saat itu pula, Sin-ciang Taihiap yang melihat keadaan itu secepat kilat mengirim tendangan beruntun kepada dua orang pengeroyoknya. Tendangan itu mendatangkan angin yang bersiutan sehingga Lulung Lama dan Cu Ki Bok terpaksa berloncatan ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan olehnya untuk meloncat mendahului Sian Li untuk melindungi gadis itu dari sambaran jarum-jarum halus!

Sian Li yang mendengar gerakan kaki Pangeran Gulam Sing dari belakang, walau pun tubuhnya sedang melayang di udara, dapat berjungkir balik dan pedangnya menyambar ke belakang. Bila kaki pangeran itu dilanjutkan menendang, tentu akan bertemu dengan pedangnya!

Akan tetapi pangeran itu juga berjungkir balik dan turun kembali. Sedangkan Sin-ciang Taihiap dengan ujung lengan bajunya mengebut jarum-jarum halus itu sehingga runtuh dan dia pun sudah menyambar lengan kiri Sian Li dan berseru,

“Mari kita pergi!” “Tidak, Suheng-ku…!”
Sian Li hendak meronta, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya dibawa meloncat jauh oleh Sin-ciang Taihiap dan terpaksa dia pun ikut menggerakkan kaki berlari karena ia tidak mau terseret. Cepat bukan main gerakan Sin-ciang Taihiap sehingga biar pun dia ingin meronta, tetap saja dia kalah kuat dan tidak berhasil melepaskan lengan kirinya yang terpegang.

Sian Li merasa penasaran sekali. Akan tetapi karena ia tahu bahwa pendekar aneh ini sudah berulang kali menolongnya, dia pun tidak mau menyerang dengan pedangnya, hanya terpaksa ikut berlari dengan alis berkerut sambil bersungut-sungut. Mengapa pendekar ini mengajaknya berlari? Suheng-nya telah tertawan, dan sekarang ia disuruh melarikan diri! Ia bukan seorang pengecut seperti itu!

Agaknya, semua orang yang sedang mengadakan pertemuan di sana merasa jeri juga terhadap Sin-ciang Taihiap dan mereka tidak berani melakukan pengejaran. Apa lagi, mereka telah berhasil menawan seorang dan tawanan ini dapat menjamin mereka agar Sin-ciang Taihiap dan Tan Sian Li tidak akan berani mengganggu mereka lagi.

“Harap Sam-li jangan sampai melukai atau membunuh pemuda itu,” kata Lulung Lama. “Dia masih berguna bagi kita, selain untuk jaminan, juga kalau kita dapat membujuk sandera ini sehingga dia taluk dan dapat membantu, hal itu amat menguntungkan.”

Ji Kui yang merangkul Sian Lun yang tak sadarkan diri, mengelus dagu pemuda itu dan tersenyum sambil saling pandang dengan dua orang adiknya.

“Jangan khawatir, Losuhu. Kami pun tidak bermaksud mencelakai pemuda tampan ini. Bahkan kami akan membantu agar dia tunduk dan takluk kepada kita.”

Ji Hwa, orang ke dua dari mereka, memandang pada Pangeran Gulam Sing dan sambil tersenyum manis ia berkata, “Pangeran, engkau telah kalah oleh kami. Mengakulah!”

Gulam Sing juga tersenyum. “Ah, kalian memang cerdik, menggunakan bubuk racun itu. Sungguh aku kalah cerdik dan aku mengaku kalah. Perintahkan saja apa yang kalian kehendaki, aku tentu akan mentaati untuk membayar kekalahanku.”

“Hi-hik, nanti saja kita bicarakan hal itu di kamar kami, Pangeran!” kata Ji Kim, wanita Pek-lian-kauw termuda.

Mereka bertiga tertawa dan pangeran Nepal itu pun tertawa bergelak. Sudah diduganya. Kalah atau menang, sama saja baginya, tetap akan menyenangkan.

“Pangeran, mengapa tadi tidak mempergunakan sihir untuk mengalahkan Tan Sian Li?” Lulung Lama berkata kepada pangeran itu.

“Hemm, apa kau kira aku begitu bodoh?” Pangeran itu balas bertanya. “Sudah kucoba, akan tetapi gagal, tidak ada pengaruhnya sama sekali! Dan kenapa engkau pun tidak menggunakan sihir untuk menundukkan Sin-ciang Taihiap tadi?”

“Omitohud, kalau begitu sama saja. Pinceng juga sudah mencobanya, akan tetapi tidak ada hasilnya sama sekali,” kata Lulung Lama.

“Sungguh mengherankan. Tadi sebelum menggunakan bubuk racun merah, kami juga telah mencoba dengan sihir akan tetapi kekuatan sihir kami seperti tenggelam ke dalam air saja!” kata pula Ji Kui.

Jika semua orang merasa heran, Dobhin Lama justru tertawa. “Ha-ha-ha, kalian seperti anak-anak saja. Sudah jelas bahwa pengaruh ilmu sihir menjadi punah karena adanya Sin-ciang Taihiap di sini. Orang itu berbahaya sekali, karena itu kita harus berhati-hati. Kulihat tadi ketika dia melindungi gadis itu, ada jarum Pek-lian Sam-li yang mengenai pundak kirinya. Dia telah terluka jarum Pek-lian Tok-ciam!”

“Ah, benarkah itu, Losuhu?” Ji Kui dan dua orang adiknya berseru girang. “Kalau begitu, dia tentu tidak akan dapat lolos! Jarum kami mengandung racun yang sukar dilawan.”

“Jangan gembira dulu, Sam-li,” kata Dobhin Lama. “Pinceng sudah mengenal baik jarum baracun Pek-tlan Tok-ciam. Bukankah siapa yang terkena jarum itu tentu akan lumpuh seketika? Dan melihat betapa Sin- ciang Taihiap masih dapat melarikan diri, hal itu menunjukkan bahwa dia memang lihai bukan main. Belum tentu jarummu akan dapat membuat dia tak berdaya. Bagaimana pun juga kita harus berhati-hati dan suruh anak buah melakukan penjagaan ketat.”

Mereka melanjutkan pertemuan itu untuk membicarakan gerakan mereka dan mengatur rencana dan membagi tugas kerja. Sian Lun yang sudah tidak berdaya itu diserahkan kepada Pek-lian Sam-Li untuk menjaga dan menundukkannya. Dan tiga orang wanita itu dengan wajah berseri-seri lalu mengajak Pangeran Gulam Sing dan memondong tubuh Sian Lun, pergi mengundurkan diri…..

********************

“Cukup, berhenti!” Sian Li merenggutkan tangannya dan sekali ini ia berhasil.

Mereka kini berada di kaki bukit yang sunyi, dikelilingi hutan-hutan kecil dan rawa-rawa. Orang yang bercaping lebar itu sekali ini tidak mempertahankan pegangannya lagi dan melepaskan lengan kiri Sian Li.

Sian Li menghentikan langkahnya. Matahari sudah condong ke barat, senja menjelang tiba. Dia menghadapi laki-laki itu dengan alis berkerut.

“Kenapa engkau memaksaku berlari-lari, melarikan diri seperti pengecut-pengecut yang ketakutan?” dua kali Sian Li mengajukan pertanyaan ini dengan muka merah karena marah dan penasaran. “Kenapa?”

Orang itu menghela napas panjang beberapa kali, kemudian terdengar suaranya yang lembut, “Karena aku tidak ingin melihat engkau tewas di sana.”

“Akan tetapi, aku tidak takut mati!” Sian Li berkata dan membanting kakinya dengan marah.

Pendekar itu tidak menjawab, malah melangkah pergi meninggalkan Sian Li. Gadis itu hendak marah- marah, akan tetapi ia melihat betapa pendekar itu langkahnya gontai dan agak terhuyung. Tentu saja ia menjadi heran dan mengikuti dari belakang.

Orang bercaping lebar itu menuju ke sebuah goa besar yang tertutup rumpum semak-semak berduri, dan agaknya sudah biasa dia berada di situ. Ketika dia memasuki goa, Sian Li mengikuti dan ternyata goa itu terpelihara dan bersih, merupakan ruangan yang terlindung. Begitu memasuki goa, pendekar aneh itu lalu duduk bersila, seolah tidak mempedulikan lagi kepada Sian Li.

Gadis ini tentu saja menjadi semakin marah. Orang ini biar pun pernah beberapa kali menolongnya, akan tetapi sekali ini telah bertindak keterlaluan. Sudah memaksa dirinya melarikan diri, sekarang malah mengacuhkannya sama sekali.

“Heiiii! Engkau ini ternyata hanyalah seorang pendekar yang mempunyai pikiran tidak senonoh!” bentaknya semakin marah.

Pendekar itu menggerakkan kepalanya yang tadi bertunduk, akan tetapi tidak langsung menghadapkan mukanya yang tertutup rambut dan tirai.

“Kenapa engkau menuduh demikian?” tanyanya, masih lembut dan penuh kesabaran.

“Buktinya, engkau hanya melarikan aku sendiri saja. Kalau memang hendak menolong, kenapa hanya aku yang kau tolong, dan meninggalkan Suheng di sana?”

“Dia sudah tertawan. Kalau kubiarkan, engkau akan tertawan pula.”

“Aku tidak takut! Suheng telah ditawan, aku pun harus menolongnya, tidak peduli aku akan tertawan pula atau mati sekali pun!”

Sejenak orang itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar suaranya lirih, “Engkau tentu amat… sayang kepada suheng-mu itu.”

“Tentu saja! Dia Suheng-ku, kalau bukan aku yang menolongnya, lalu siapa lagi?”

“Kalau engkau tadi tewas atau tertawan, lalu bagaimana engkau akan dapat menolong suheng-mu?” Ucapan itu menyadarkan Sian Li dan ia pun termangu.
Sin-ciang Taihiap lalu berkata lagi, “Mereka terlalu banyak dan juga banyak orang lihai. Karena terpaksa aku mengajakmu melarikan diri dari sana supaya kita dapat mengatur siasat untuk dapat menolong suheng-mu…” Ucapan itu tidak dilanjutkan, tetapi berhenti tiba-tiba dan pendekar itu lalu menundukkan mukanya.

Sian Li masih curiga, apa lagi melihat orang itu tiba-tiba menghentikan ucapannya dan sikapnya seperti orang yang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak mengenal siapa orang ini, belum tahu pula bagaimana wataknya. Siapa tahu semua itu hanya siasat saja dan orang yang selalu menyembunyikan mukanya itu memang mempunyai niat yang tidak baik.

“Sudahlah, aku harus kembali ke sana sekarang juga untuk membebaskan Suheng!” katanya dan ia pun hendak meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, pendekar bercaping itu sudah mendahuluinya bergerak dan menghadang di depannya. “Jangan! Sekarang belum boleh…”
Benar saja dugaannya. Orang ini mempunyai niat yang tidak baik, pikir Sian Li kecewa. Sebelum ini, ia selalu mengenang Sin-ciang Taihiap yang pernah menolong dirinya dan suheng-nya, membuat dia kagum dan ingin sekali bertemu. Akan tetapi setelah jumpa, kekagumannya menghilang karena ulah pendekar itu yang amat mencurigakan, dan kini ia malah menjadi marah sekali.

“Siapa pun tidak boleh melarang aku menolong Suheng-ku!” bentaknya.

Dia pun maju terus dan mendorong pendekar yang menghadang itu dengan tangan kiri. Tangan kirinya mengenai dada orang itu dan… pendekar itu terdorong ke belakang, terhuyung-huyung, lalu roboh!

Tentu saja Sian Li merasa heran dan terkejut bukan main. Mengapa orang itu menjadi demikian lemah? Dia cepat menghampiri dan keheranannya bertambah ketika melihat bahwa orang itu sudah pingsan! Wajahnya masih tertutup rambut dan tirai, akan tetapi napasnya terengah-engah. Ketika dia menyentuh lengannya, terasa amat panas!

Sian Li menjadi khawatir sekali. Sebagai murid Yok-sian Lo-kai yang sudah mempelajari ilmu pengobatan dari Dewa Obat itu, sekali pegang nadi orang itu tahulah dia bahwa tubuh orang itu sudah keracunan secara hebat! Racun yang berhawa panas, pikirnya dengan lega.

Racun yang mengandung hawa panas masih lebih mudah untuk diobati dibandingkan racun berhawa dingin. Jelas bahwa pendekar ini keracunan dan teringatlah dia ketika Sin-ciang Taihiap tadi membantunya. Ia diserang jarum-jarum oleh Pek-lian Sam-li dan pendekar ini yang melompat dan meruntuhkan jarum-jarum itu dengan lengan bajunya, gerakan yang membuat ia kagum bukan main.

Jangan-jangan ada jarum yang mengenai tubuh pendekar ini. Tangannya meraba-raba dan akhirnya ia tahu bahwa memang benar racun itu berpusat di pundak kirinya. Tanpa ragu lagi Sian Li merobek baju di pundak kiri dan benar saja. Ada bintik kehijauan di situ, kecil sekali dan ia pun tahu bahwa tentu jarum itu memasuki bagian tubuh itu dan meracuni darah.

Sebagai murid Yok-sian Lo-kai yang pandai, Sian Li tahu apa yang harus dilakukannya. Lebih dahulu dia menotok jalan darah di sekitar pundak untuk mencegah menjalarnya racun, lalu dengan ujung pedangnya yang tajam dia menoreh bintik hijau itu sehingga kulit dan dagingnya terbuka, dan ia mencongkel keluar sebatang jarum hitam kehijauan.

Kemudian, ia menyedot luka itu dengan mulutnya, menghisap keluar darah yang sudah keracunan, lalu menaruh obat bubuk pada luka di pundak. Setelah itu, ia mengeluarkan jarum emas serta perak yang dia dapatkan dari Yok-sian Lo-kai, kemudian melakukan pengobatan dengan tusuk jarum di beberapa bagian tubuh untuk memunahkan sisa-sisa hawa beracun yang mengeram di tubuh Sin-ciang Taihiap.

Kurang lebih setengah jam dia memberi pengobatan sampai dia merasa yakin benar bahwa pendekar itu telah terbebas dari racun. Ia memulihkan jalan darah pendekar itu. Pernapasannya mulai normal kembali dan tubuhnya tidak panas seperti tadi.

Melihat pendekar itu masih rebah telentang dalam keadaan tak sadar, timbul keinginan hati Sian Li untuk melihat wajahnya. Dia masih pingsan, apa salahnya kalau ia melihat wajahnya sebentar saja? Orang ini selalu menyembunyikan muka. Kenapa? Cacadkah dia? Atau ada rahasia lain?

Sekarang ia tahu bahwa tadi kecurigaannya tidak beralasan sama sekali. Pendekar ini jauh dari pada apa yang ia curigakan. Sama sekali tidak mempunyai niat buruk, apa lagi tak senonoh. Pendekar ini sedang menderita luka beracun yang amat parah ketika tadi menolongnya.

Karena itulah maka pendekar itu memaksanya melarikan diri, karena kalau tidak, tentu mereka berdua sudah tertawan pula, atau bahkan terbunuh. Dan memang benar. Kalau pendekar itu tidak memaksanya melarikan diri, tentu mereka bertiga sudah tertawan dan tidak ada kesempatan sama sekali untuk menolong suheng-nya.

Pendekar ini benar. Ia yang terburu nafsu dan terlalu mencurigainya. Dan sekarang, apa salahnya kalau ia memandang sebentar saja wajahnya yang penuh rahasia, mengambil kesempatan selagi dia belum siuman?

Dengan jari-jari tangan gemetar karena tegang dan juga diam-diam merasa malu pada diri sendiri bahwa dia sudah mencuri dan membuka rahasia orang, Sian Li menyingkap tirai di depan muka itu, lalu menyingkap rambutnya yang terurai awut-awutan menutupi muka. Ia melihat sebuah wajah yang tampan.

Muka itu berbentuk lonjong dengan dagu runcing dan ujung dagu berlekuk, alis yang tebal hitam dengan mata terpejam, dahinya lebar, hidung mancung dan bentuk muka yang amat dikenalnya. Dia terbelalak, tak bergerak seperti patung, lalu bibirnya berbisik berulang-ulang, seolah tidak percaya kepada pandang matanya sendiri.

“Yo Han…? Suheng… Kakak Yo Han…?”

Akan tetapi ia membantah sendiri. Tidak mungkin ini adalah suheng-nya yang selama bertahun-tahun dirindukannya itu. Suheng-nya itu selamanya tidak pernah suka berlatih silat. Suheng-nya sangat baik kepadanya, seperti kakak kandungnya sendiri, akan tetapi sama sekali tidak pandai silat biar pun ayah ibunya berusaha untuk menggemblengnya. Sedangkan pendekar ini memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Akan tetapi wajah ini…! Bagaimana mungkin ia bisa salah? Wajah ini hampir tak pernah meninggalkan lubuk hatinya. Biar pun kini telah menjadi seorang laki-laki dewasa, tetapi bentuk muka itu tidak berubah. Dahi itu, hidung mulut dan dagu itu! Ah, ia teringat akan sesuatu.

Pernah ketika suheng-nya ini mandi di sungai kecil dan bertelanjang tubuh bagian atas, ia melihat sebuah tahi lalat sebesar kedelai di dada suheng-nya itu, tepat di tengah ulu hatinya. Semenjak itu, sering kali dia menggoda dan memperolok suheng-nya dengan tahi lalat itu.

Dengan jari tangan menggigil Sian Li membuka kancing baju pendekar itu untuk melihat dadanya. Ia membuka baju itu dan… di sanalah, tepat di tengah ulu hati, bertengger tahi lalat itu.

“Kakak Yo Han…!” Kini ia tidak ragu lagi dan ia pun merangkul, menangis!

Pendekar itu membuka matanya. Ketika melihat Sian Li menangis di atas dadanya, dia mendorongnya dengan halus dan bangkit duduk. “Nona… kau…”

Tetapi dia tidak melanjutkan ucapannya karena Sian Li sudah memandangnya dengan mata yang berlinangan air mata, akan tetapi mulut gadis itu tersenyum, sinar matanya penuh kebahagiaan.

“Han-suheng (Kakak Seperguruan Han), Han-koko (Kakanda Han), kenapa engkau jadi bersikap begini terhadap aku? Benarkah engkau tidak mengenal aku lagi? Aku Sian Li, Tan Sian Li…!”

Akan tetapi Yo Han, yang selama beberapa tahun ini berkeliaran di perbatasan Tibet sehingga dijuluki Sin- ciang Taihiap oleh mereka yang pernah ditolongnya, tidak merasa heran. Tentu saja sebelumnya dia sudah tahu atau dapat menduga siapa adanya gadis remaja berpakaian serba merah itu.

“Sian Li… Sumoi…” katanya dan sinar matanya mengandung kasih sayang sedemikian mendalam sehingga Sian Li teringat akan masa lalu, ketika ia merasakan benar kasih sayang suheng-nya ini kepadanya.

“Suheng…!” Dan lupa akan segala, lupa bahwa ia bukan lagi kanak-kanak, ia menubruk dan merangkul Yo Han, menangis di dalam rangkulan pendekar itu!

Yo Han membiarkan saja dan mengelus rambut yang halus itu, maklum bahwa di saat seperti itu, semua peraturan sudah terlupakan, yang ada hanyalah peluapan perasaan. Pada saat itu, dia tahu bahwa perasaan gembira, terharu dan bahagia meluap di hati Sian Li.

Ia sendiri pun merasa terharu dan tanpa terasa kedua matanya menjadi basah. Betapa sering ia membayangkan dan mengenang Sian Li dengan hati penuh kerinduan. Hampir dia tidak dapat percaya akan tiba saat seperti sekarang ini, di mana dia merangkul Sian Li yang menangis di dadanya.

Setelah gejolak perasaan itu mereda, dengan lembut Yo Han mendorong kedua pundak gadis itu, bahkan terus memegangi kedua pundak itu dan mengamati wajahnya sambil tersenyum. Sepasang matanya mencorong sehingga diam-diam Sian Li terkejut dan amat kagum. Jika ada perubahan pada diri suheng- nya ini, barangkali hanya pada sinar matanya itulah. Ia pun membalas, mengamati wajah Yo Han.

“Aihhh, adikku yang dahulu begitu bengal, tabah, keras hati dan pemberani, mengapa sekarang telah berubah menjadi seorang gadis yang cantik dan cengeng?”

Seketika sinar mata itu bernyala. “Aku tidak cengeng! Aku menangis karena haru dan bahagia! Aihhh, Han- ko, selama ini engkau ke mana sajakah? Kenapa pula engkau tega meninggalkan aku sampai bertahun- tahun? Bagaimana pula engkau tahu-tahu sudah menjadi seorang pendekar sakti dan berjuluk Sin-ciang Taihiap? Mengapa pula engkau selalu menyembunyikan muka dan tidak ingin dikenal orang? Apa yang menyebabkan engkau menjadi seorang petualang di daerah ini dan mengapa tidak kembali kepada kami?”

Diberondong pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Yo Han tersenyum dan memandang wajah Sian Li penuh kasih sayang. Sian Li masih cerewet, masih lucu seperti dulu!

“Panjang ceritanya, Li-moi. Akan tetapi… apakah engkau sudah melupakan suheng-mu yang ditawan oleh gerombolan Lama Jubah Hitam?”

Sian Li seperti baru teringat kepada Sian Lun. “Ahhh, engkau benar juga, Han-ko. Kita harus cepat menolong dan membebaskannya, sekarang juga!”

Yo Han mengangguk, diam-diam hatinya merasa girang. Adik seperguruan yang sejak kecil sudah dianggap seperti adiknya sendiri dan yang sangat disayangnya ini ternyata merupakan seorang gadis gagah perkasa yang bertanggung jawab dan juga setia.

“Tidak akan ada gunanya kalau kita menyerbu ke sana sekarang. Malam hampir tiba dan selain di sana banyak terdapat orang lihai, juga penjagaan amat kuat dan dipasangi banyak jebakan berbahaya. Kita memang harus membebaskannya, akan tetapi bukan sekarang. Besok pagi aku akan berkunjung ke sana dan minta kepada Dobhin Lama, Ketua Lama Jubah Hitam, agar suheng-mu dibebaskan.”

“Tapi… kenapa harus menanti sampai besok? Bagaimana kalau kita telambat dan terjadi apa-apa dengan Suheng? Mungkin saja dia dibunuh!”

“Jangan khawatir, Li-moi. Aku sudah tahu akan sepak terjang gerombolan Lama Jubah Hitam. Mereka tidak memusuhi para pendekar, bahkan ingin merangkul dan mengajak para pendekar bersekutu. Mereka membutuhkan kerja sama dan bantuan orang-orang pandai dalam usaha mereka merebut tahta kekuasaan di Tibet. Perjuangan melawan pemerintah Mancu hanya sebagai sarana untuk memperoleh dukungan para pendekar saja. Pada hakekatnya, yang terpenting bagi mereka adalah menguasai Tibet, seperti juga orang-orang Nepal itu bercita-cita untuk merampas kekuasaan di Nepal dan kini mereka mencari sekutu agar kelak dapat membantu mereka. Sebab itu jangan khawatir, suheng-mu tak akan dibunuh, mungkin bahkan dibujuk untuk mau bekerja sama dengan mereka.”

Hati Sian Li merasa sangat lega. Ia percaya sepenuhnya kepada Yo Han, bukan hanya percaya karena Yo Han adalah suheng-nya yang sejak dahulu paling disayangnya dan dipercayainya, akan tetapi juga karena ia ingat bahwa sudah lama Yo Han bertualang di daerah ini dan tentu mengenal benar keadaan di sini sehingga keterangannya tadi pasti benar.

“Baiklah kalau begitu, aku menyerahkan kepadamu supaya Suheng dapat terbebas dari tangan mereka. Sekarang, harap kau ceritakan semua pengalamanmu sejak kita saling berpisah, Han-ko.”

Yo Han merasa girang bahwa Sian Li menyebut dia koko (kakak), bukan suheng (kakak seperguruan) karena bagaimana pun juga dia tidak pernah dengan sungguh-sunggguh belajar silat dari ayah ibu Sian Li.

“Memang sebaiknya malam ini kita lewatkan dengan saling menceritakan pengalaman, Li-moi. Akan tetapi aku ingin tahu lebih dulu, bagaimana engkau dapat mengobati luka beracun di pundakku? Kurasakan racun itu cukup berbahaya, jika harus menggunakan kekuatan sendiri untuk mengusirnya dan menyembuhkan luka beracun itu, tentu akan memerlukan waktu paling sedikit sepuluh hari. Akan tetapi sekarang aku telah sembuh sama sekali! Bagaimana engkau dapat mempunyai kepandaian pengobatan yang begini hebat?”

Biasanya, Sian Li tidak haus pujian, bahkan ia akan menganggap seorang pria merayu kalau memujinya. Akan tetapi entah bagaimana sekali ini menerima pujian dari Yo Han, ia merasa amat girang dan bangga.

“Aku telah mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai,” katanya sederhana untuk menyembunyikan rasa bangga dan senangnya.

“Ahhh, begitukah? Pantas saja kalau begitu. Aku sudah mendengar nama besar Dewa Obat itu. Dan kulihat ilmu silatmu juga hebat, agaknya engkau telah menguasai benar Pek-ho Sin-kun dari Suhu, akan tetapi aku melihat gerakan lain yang bukan dari ayah ibumu.”

Sian Li mengangkat telunjuk kanan dan mengamangkannya kepada Yo Han. “Nah, nah, engkau mau mengakali aku, ya? Engkau belum menceritakan sedikit juga mengenai pengalamanmu dan engkau sudah memancing-mancing agar aku menceritakan segala tentang diriku.”

Yo Han tertawa. Sudah lama dia tidak pernah merasakan kegembiraan hati seperti saat itu. Dan dia bersyukur kepada Tuhan bahwa dia dipertemukan dengan Sian Li di tempat yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini, apa lagi melihat Sian Li telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita, manis budi dan gagah perkasa.

Yo Han menceritakan pengalamannya dengan singkat saja. “Setelah aku meninggalkan tempat tinggal orang tuamu di Ta-tung…”

“Nanti dulu, ceritakan dulu kenapa engkau meninggalkan aku, meninggalkan kami dan sampai selama ini tidak pernah kembali, Han-ko!”

Yo Han menatap wajah gadis itu dan menarik napas panjang. Sekali lagi dia harus menghadapi suatu kenyataan dalam hidup ini, bahwa meski pun membohong adalah perbuatan tidak baik, namun ada waktunya perlu sekali orang membohong! Membohong bukan dalam arti menipu demi keuntungan pribadi, melainkan membohong agar jangan sampai menyinggung atau menyakiti perasaan orang yang dibohonginya!

Kalau sekarang dia berterus terang bahwa dia meninggalkan keluarga gadis itu karena mendengar ayah ibu gadis itu menyatakan keinginan hati supaya Sian Li jauh darinya, tentu cerita ini akan mengguncang perasaan Sian Li dan bukan hanya menyinggung, namun menyakitkan dan membingungkan. Maka, dia harus berbohong!

“Lupakah engkau, Li-moi? Aku menggantikanmu menjadi tawanan Ang-I Moli. Aku telah berjanji kepadanya bahwa kalau dia mengembalikan engkau kepada orang tuamu, aku akan menggantikanmu menjadi muridnya.” Lega rasa hati Yo Han setelah dia mulai memberi keterangan. Bagaimana pun juga, dia tidaklah berbohong, hanya tidak berterus terang menceritakan keadaan selengkapnya.

Tentu saja Sian Li masih ingat akan semua itu. Bahkan dahulu ketika Yo Han pergi, hampir setiap hari ia menangis dan menanyakannya. Ia pun teringat akan pembelaan Yo Han kepadanya terhadap Ang-I Moli.

“Han-ko, jadi engkau telah menjadi murid iblis betina itu?”

“Tidak, Li-moi. Ia jahat bukan main, jahat dan kejam. Aku tidak suka menjadi muridnya. Aku berhasil lolos darinya dan aku lalu mendapatkan seorang guru di tempat rahasia. Guruku itu kini telah tiada, dan aku merantau ke sini adalah untuk memenuhi pesan terakhir guruku.”

“Mencari mutiara hitam itu?”

“Benar, Li-moi. Benda mustika itu dahulu adalah milik guruku yang hilang dicuri orang. Aku hanya ingin merampasnya kembali untuk memenuhi pesan mendiang Suhu.”

“Dan engkau malang melintang di daerah barat ini sebagai Sin-ciang Taihiap?”

Yo-Han menarik napas panjang. Selama bertahun-tahun ia berhasil menyimpan rahasia dirinya, akan tetapi sekali ini rahasianya terbuka. Bukan oleh orang lain, bahkan oleh Sian Li!

“Ternyata tak mudah mencari mutiara hitam seperti yang menjadi pesan terakhir Suhu,” dia bercerita. “Suhu hanya mengatakan bahwa benda pusaka itu berada di daerah barat ini. Sampai hampir lima tahun aku berkeliaran di sini, bahkan sudah menjelajah sampai ke daerah Tibet, namun belum berhasil. Dalam penjelajahan itulah aku bertemu dengan hal-hal yang menggerakkan hatiku untuk turun tangan menentang kejahatan. Aku tidak ingin dikenal orang, karena itu aku selalu menyembunyikan mukaku dan tidak pernah memperkenalkan diri. Orang-orang memberi julukan Sin-ciang Taihiap. Aku membiarkan saja dan tidak ada seorang pun tahu bahwa akulah Sin-ciang Taihiap. Baru hari ini ada yang tahu, yaitu engkau Li-moi.”

Sian Li tertawa dan suasana menjadi akrab sekali ketika dara itu tertawa. Yo Han lalu teringat akan masa lampau. Suara tawa Sian Li itu bagaikan bunyi musik merdu yang mendatangkan perasaan bahagia dalam hatinya. Seperti tetesan air hujan pada hatinya yang selama ini seperti tanah kering. Terasa demikian sejuk den segar dan dia pun tak dapat menahan timbulnya senyum lebar penuh kebahagiaan yang membuat wajahnya berseri.

“Hi-hi-hik, heh-heh-heh, engkau ini sungguh aneh dan lucu sekali, Han-ko. Engkau ingin menyembunyikan diri dan tidak ingin dikenal orang, ataukah engkau bahkan sengaja ingin mempopulerkan julukanmu atau penyamaranmu itu? Dengan penyamaranmu itu, maka semakin terkenallah Sin-ciang Taihiap sebagai seorang pendekar yang rambutnya riap-riapan, bercaping yang ditutupi tirai! Sebaliknya, kalau engkau tidak menyamar lagi, tidak menyembunyikan diri, siapa yang akan tahu bahwa engkau ini adalah Sin-ciang Taihiap? Kenapa mesti menyamar lagi, Han-ko?”

Yo Han mengangguk-angguk. “Engkau benar, Li-moi. Aku sudah begitu khawatir untuk dikenal orang, maka aku bahkan membuat Sin-ciang Taihiap semakin terkenal karena dipenuhi rahasia. Mulai sekarang aku akan menanggalkan penyamaran diriku sebagai Sin-ciang Taihiap, dan aku akan menjadi Yo Han biasa saja…”

Setelah berkata demikian, Yo Han yang sudah menanggalkan capingnya itu kemudian menggelung rambutnya, tidak lagi dibiarkan riap-riapan. Dia menggelung rambut, tidak dikuncirnya karena dia tidak senang harus mentaati peraturan pemerintah Mancu agar semua orang Han menguncir rambutnya. Peraturan itu dianggapnya menghina.

“Tapi caping itu jangan dibuang, Han-ko. Pertama, benda itu memang berguna untuk melindungi kepalamu dari panas dan hujan, dan ke dua, siapa tahu kadang-kadang kau perlukan juga tokoh Sin-ciang Taihiap itu.”

“Li-moi, sudah cukup aku menceritakan pengalamanku, sekarang engkaulah yang harus menceritakan kepadaku keadaanmu semenjak kita saling berpisah. Engkau kini sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, lincah dan juga lihai ilmu silatnya. Tentu sekarang usiamu sudah dewasa, Li-moi.”

“Ketika engkau pergi, usiaku empat tahun, Han-ko. Kita saling berpisah selama tiga belas tahun lebih, Jadi usiaku sekarang hampir delapan belas tahun. Aku belajar ilmu silat dari Ayah dan Ibu, kemudian aku menerima gemblengan dari Paman Kakek Suma Ceng Liong dan isterinya di dusun Hong-cun dekat kota Cin-an. Di sana aku bertemu dengan Suheng Liem Sian Lun, murid Paman dan Bibi. Selain itu, juga aku belajar ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai.”

“Wah, engkau beruntung sekali, Li-moi, mendapat ilmu-ilmu dari banyak orang sakti. Akan tetapi bagaimana engkau dan suheng-mu itu dapat berada di sini, amat jauh dari tempat tinggal orang tuamu?”

“Aku dan Suheng Sian Lun sedang dalam perjalanan pulang. Kami baru saja berkunjung ke Bhutan, Han- ko.”

“Bhutan? Kenapa pergi ke tempat yang demikian jauh?”

Sian Li lalu bercerita tentang Gangga Dewi dan paman kakeknya Suma Ciang Bun, tentang perjalanan mereka yang jauh, juga tentang pengalamannya ketika bertemu dan bertentangan dengan Lulung Lama dan sekutunya.

Dua orang muda yang merasa amat berbahagia dalam pertemuan yang sama sekali tak pernah mereka sangka-sangka itu, bercakap-cakap sampai larut tengah malam. Mereka makan malam secara amat sederhana, dari persediaan makanan yang disimpan Yo Han di dalam goa. Mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, menjawab semua pertanyaan.

Setelah lewat tengah malam, baru mereka istirahat dan tidur sesudah saling mengetahui hampir semua keadaan diri masing-masing. Hanya ada satu hal yang masih membuat Yo Han sangsi dan ragu, yaitu tentang hubungan batin antara Sian Li dan suheng-nya.

Mereka adalah kakak beradik seperguruan, akan tetapi apakah tidak lebih dari pada itu? Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis tidak ada hubungan darah, dan keduanya tampan dan cantik, melakukan perjalanan berdua saja. Tak ada anehnya bila mereka itu saling mencinta, bahkan agaknya tidak wajar kalau tidak ada perasaan cinta di antara mereka.

Yo Han tidak berani bertanya akan hal itu, akan tetapi dia menduga bahwa Sian Li agaknya amat mencinta suheng-nya itu. Dan dia pun tidak akan merasa heran. Suheng Sian Li itu memang seorang pemuda yang tampan dan gagah, sudah sepatutnya kalau menjadi jodoh Sian Li. Hanya saja, dia merasa heran dan tidak enak, mengapa hatinya menjadi pedih kalau membayangkan kakak beradik seperguruan itu saling mencinta dan menjadi jodoh?

Bahkan bayangan ini menghantuinya, membuat dia gelisah dan tidak dapat pulas. Baru setelah jauh lewat tengah malam, dia dapat mengusir gangguan itu dan tidur pulas…..

********************

Pada keesokan harinya, Yo Han menunjukkan kepada Sian Li anak sungai berair jernih yang mengalir tak jauh dari goa itu, di mana dara itu dapat membersihkan diri. Mereka mandi bergantian dan dengan badan segar mereka sarapan pagi seadanya, hanya roti kering dan daging kering yang dihangatkan di atas api unggun, kemudian mereka pergi meninggalkan goa.

“Kita harus menolong suheng, Han-ko,” kata Sian Li ketika mereka keluar dari hutan.

“Tentu saja, Li-moi.” Dia menepuk buntalan pakaiannya. “Aku sudah mempersiapkan capingku. Kalau aku menghadapi para Lama, aku harus berperan sebagai Sin-ciang Taihiap. Dan aku akan minta dengan hormat kepada mereka untuk mau membebaskan suheng-mu.”

“Akan tetapi bagaimana mungkin, Han-ko? Bagaimana jika mereka tidak mau menuruti permintaanmu?”

“Aku tidak pernah bermusuhan dengan para Lama itu, dan mereka adalah orang-orang yang menghargai kegagahan. Bila perlu, aku akan menantang mereka dengan taruhan bahwa kalau aku menang, mereka harus memenuhi permintaanku.”

“Kalau kau kalah?”

“Hemm, kita harus bertanggung jawab dan tidak lari dari kenyataan, Li-moi. Kalau aku kalah, mereka boleh melakukan apa saja terhadap diriku.”

“Tapi… itu berbahaya sekali, Han-ko!”

Yo Han tersenyum. “Aku tahu, Limoi. Semenjak aku mempelajari ilmu silat, tahulah aku bahwa aku sudah terjun ke dalam dunia kekerasan di mana terdapat penuh bahaya. Tetapi, hidup seperti apakah yang tidak berbahaya? Hidup itu sendiri sudah merupakan suatu bahaya, Li-moi. Hidup adalah perjuangan, suatu perjuangan orang tiada hentinya melawan bahaya yang datang dari segala jurusan. Hidup merupakan suatu tantangan yang harus kita perjuangkan, kita hadapi, dan perjuangan itu adalah untuk mengatasi semua tantangan itu, semua bahaya itu!”

Sian Li mengerutkan alisnya dan saking tertarik, ia langsung menghentikan langkahnya, memandang kepada pemuda itu. “Ehhh? Apa maksudmu, Han-ko? Kehidupan seorang dari dunia persilatan seperti kita ini memang menghadapi banyak tantangan, banyak bahaya, akan tetapi kehidupan seorang biasa, apakah bahaya dan tantangannya?”

Yo Han tersenyum, “Tiada bedanya, Li-moi. Apakah kehidupan seorang petani miskin itu tidak penuh tantangan yang harus mereka hadapi dan atasi? Tantangan itu dapat datang dari kemiskinan, dari kesehatan yang terganggu, dari kesejahteraan keluarga, dari kerukunan keluarganya. Orang bisa ditantang oleh kekurangan makan, pakaian dan tempat tinggal, oleh gangguan kesehatan oleh percekcokan rumah tangga, dan seribu satu tantangan lagi. Semua itu mau tidak mau, harus dihadapi dan diatasi. Kita tidak mungkin dapat lari darinya, karena itulah isi kehidupan ini, yaitu urusan jasmani, urusan duniawi.”

“Hemm, kalau begitu orang kaya dan orang berpangkat tentu tidak menghadapi semua tantangan dan kesulitan…”

“Siapa bilang? Mereka pun dapat sakit, dapat cekcok dengan keluarga. Bahkan masih ditambah lagi. Orang kaya harus mempertahankan kekayaannya, menjaganya agar tak berkurang atau lenyap, selalu khawatir akan kehilangan. Demikian pula dengan orang berkedudukan yang selalu berusaha mempertahankan kedudukannya, takut kehilangan. Pendeknya, selagi hidup sebagai manusia, kita tidak akan dapat bebas dari tantangan dan bahaya. Justru itulah isi kehidupan, itulah romantikanya kehidupan, menghadapi semua itu, berusaha mengatasinya. Perjuangannya melawan semua tantangan, itulah seninya, seni kehidupan! Betapa akan membosankan kalau hidup ini tak ada tantangan yang harus ditanggulangi, dihadapi dan diatasi. Senang baru akan terasa senang kalau kita pernah merasakan susah. Kepuasan yang sebenarnya hanyalah terasa kalau kita pernah merasa kecewa. Bukankah begitu, Li-moi?”

Mata Sian Li terbelalak, kemudian tertawa. “Wah-wah-wah, bicaramu seperti seorang guru besar kebatinan saja, Han-ko. Menurut Ayah dan Ibuku, dahulu engkau tidak suka akan kekerasan, tidak suka belajar silat, akan tetapi sekarang malah menjadi seorang pendekar sakti dan bicaramu seperti seorang pendeta!”

“Li-moi, jika bicara mengenai kehidupan, apakah hanya para pendeta saja yang harus mengetahuinya? Kehidupan adalah kita sendiri, Li-moi. Sudah sewajarnya, dan bahkan sepatutnya kalau setiap orang tahu dan mengerti akan kenyataan di dalam hidup ini. Sampai sekarang pun aku tidak suka akan kekerasan, Li- moi, karena aku tahu dan yakin benar bahwa kekerasan bukanlah cara terbaik untuk hidup. Namun, menghadapi tantangan di dalam kehidupan ini, sekali waktu kita membutuhkan juga kekuatan untuk menanggulanginya, dn seperti juga semua ilmu, ilmu silat pun amat berguna kalau saja digunakan melalui garis yang benar, bukan sebagai alat mengumbar nafsu. Nah, kurasa engkau pun tentu sudah mengerti akan semua itu, karena aku tahu bahwa orang tuamu adalah sepasang suami isteri yang bijaksana. Apa lagi engkau telah digembleng oleh paman kakekmu dan isterinya, juga oleh seorang tokoh besar seperti Yok-sian Lo-kai.”

Sian Li mengangguk-angguk kagum. “Cara mereka bicara tidak jauh bedanya dengan apa yang kau katakan semua tadi, Han-ko…”

“Hemmm, ada orang-orang datang ke sini, Li-moi. Jangan katakan bahwa aku adalah Sin-ciang Taihiap…”

Sian Li mengangkat muka memandang ke depan dan benar saja. Ada enam orang datang dengan langkah lebar. Dari jauh saja, sudah nampak bahwa lima orang di antara mereka adalah para pendeta Lama Jubah Hitam, dapat dilihat dari kepala mereka yang gundul dan jubah hitam mereka yang lebar. Yang seorang lagi adalah seorang pemuda.

Setelah mereka datang lebih dekat dan Sian Li mengenal siapa pemuda itu, wajahnya berubah merah dan ia menjadi marah. Pemuda itu bukan lain adalah Cu Ki Bok murid Lulung Lama yang kurang ajar itu. Dan lima orang gundul itu adalah lima orang anggota Hek-I Lama.

“Jahanam busuk! Akan kubunuh kalian!” Sian Li pun sudah meraba gagang pedangnya, akan tetapi Yo Han menyentuh lengannya,

“Sabarlah, Li-moi, biarkan mereka mengatakan dulu apa maksud mereka mencari kita.”

Kini Cu Ki Bok sudah tiba di depan mereka. Pemuda tinggi tegap yang tampan gagah itu tersenyum, sedangkan lima orang pendeta Lama yang berdiri di belakangnya, diam tak bergerak seperti patung.

“Selamat pagi, Nona Tan Sian Li. Senang sekali bertemu denganmu, karena Nona tentu akan dapat memberi tahu kepada kami di mana kami dapat bertemu dengan Sin-ciang Taihiap.”

Sian Li tersenyum mengejek. “Hemm, keparat busuk, andai kata aku tahu sekali pun tak akan sudi aku memberi tahukan kepadamu!”

“Hemm, Nona jangan berlagak. Kalau tidak ada Sin-ciang Taihiap, apa kau kira akan mampu lepas dari tangan kami? Sekarang kami menginginkan Sin-ciang Taihiap, untuk menyampaikan pesan dari ketua kami. Katakan di mana aku dapat bertemu dengan dia, dan aku tidak akan mengganggumu lagi, melihat muka pendekar itu.”

“Sobat, katakan saja kepada kami apa yang hendak kau sampaikan kepada Sin-ciang Taihiap, dan kamilah yang akan menyampaikan kepadanya,” kata Yo Han dengan suara tenang dan lembut.

Cu Ki Bok memandang pada Yo Han dengan alis berkerut. Jelas bahwa ia memandang rendah kepada pemuda itu. Dia tidak mengenalnya, tetapi merasa tidak senang karena pemuda ini berdua dengan gadis yang dirindukannya.

“Siapa kamu? Dan mengapa aku harus menyampaikan pesan untuk Sin-ciang Taihiap kepada kamu?”

Sian Li marah sekali melihat sikap dan mendengar ucapan yang nadanya menghina dan memandang rendah itu. Akan tetapi Yo Han tersenyum, gembira bahwa kini dia dapat menghadapi orang tanpa perlu menyembunyikan wajah aslinya dan orang itu tetap tidak mengenalnya. Benar juga pendapat Sian Li tadi malam. Sin-ciang Taihiap yang harus dirahasiakan, bukan Yo Han!

“Namaku Yo Han. Aku orang biasa saja, akan tetapi aku sudah dipesan oleh Taihiap bahwa jika ada orang yang mencarinya, boleh menyampaikan kepada kami berdua. Kalau engkau percaya kepada kami, nah, katakan apa yang kau ingin sampaikan kepadanya. Kalau tidak percaya, sudahlah, kau cari saja sendiri.”

Sian Li mengeluarkan suara tawa mengejek. “Huh, mana pengecut ini berani mencari Sin-ciang Taihiap? Baru melihatnya saja, dia akan lari terbirit-birit!” Lalu dilanjutkannya dengan nada suara marah, “Kawanan serigala ini licik dan pengecut, beraninya hanya main keroyokan. Buktinya, Suheng-ku ditawan karena keroyokan. Jahanam Cu Ki Bok, kalau kalian mengganggu Suheng-ku, aku akan membasmi kalian semua, tak seorang pun kubiarkan hidup!”

Mendengar ucapan yang keras itu, Cu Ki Bok tidak menjadi marah, bahkan dia tertawa geli. “Ha-ha-ha, kau mengira suheng-mu itu kami ganggu, Nona? Nona masih saja salah sangka. Kami bukanlah penjahat. Kami adalah pejuang-pejuang yang memiliki cita-cita mengusir penjajah Mancu. Kami membutuhkan kerja sama dengan para pendekar. Bukankah ketua kami tadinya juga menawarkan kerja sama dengan Nona dan suheng Nona itu? Dan sekarang suheng-mu dengan suka rela membantu kami, dan dia hidup bersenang-senang. Hemm, suheng-mu memang pandai mempergunakan kesempatan, aku sendiri sampai iri melihat dia bersenang-senang seperti itu…”

“Kau bohong!” Sian Li membentak, tetapi diam-diam dia ingin sekali tahu kesenangan apa yang dimaksudkan oleh orang itu.

“Sudahlah, aku pun datang bukan untuk membicarakan urusan Liem Sian Lun. Aku diutus oleh ketua kami untuk bicara dengan Sin-ciang Taihiap. Kuharap saja dia akan muncul menemui kami.”

“Orang macam engkau tidak berharga untuk bertemu dengan Sin-ciang Taihiap,” kata Sian Li. “Sampaikan saja kepadaku atau kau boleh minggat dari sini.”

Wajah Cu Ki Bok berubah merah. Dia merasa direndahkan dan dihina oleh gadis itu. Akan tetapi harus diakuinya bahwa dia memang merasa jeri untuk berhadapan dengan pendekar sakti itu.

“Baiklah, akan kusampaikan kepadamu, Nona Tan Sian Li, akan tetapi tidak kepada cacing tanah itu.” Cu Ki Bok menggerakkan kepala ke arah Yo Han dengan sikap amat merendahkan sehingga wajah Sian Li berubah, merah karena marahnya.

“Cu Ki Bok, kalau engkau menghina kami berdua, berarti engkau menghina Sin-ciang Taihiap karena Taihiap sudah memberi kuasa kepada kami berdua untuk mewakilinya bicara dengan siapa saja! Nah, katakan kepada kami berdua apa keperluanmu tanpa menghina orang, atau aku akan mewakilinya membunuhmu di sini juga!”

Cu Ki Bok tidak gentar terhadap Sian Li, akan tetapi dia takut kalau Sin-ciang Taihiap muncul membantu nona itu. “Baik, dengarlah pesan kami. Ketua kami, Dobhin Lama mengundang Sin-ciang Taihiap untuk mengadakan pertandingan adu ilmu…”

“Huh, dan kalian tentu akan menjebaknya dan mengeroyoknya dengan mengandalkan banyak orang, bukan?” Sian Li mengejek. Ia sengaja memanaskan hati pihak lawan.

“Sama sekali tidak!” bantah Cu Ki Bok penasaran. “Nona, engkau belum mengenal siapa adanya Supek (Uwa Guru) Dobhin Lama! Beliau adalah seorang tokoh besar di Tibet yang mempunyai kedudukan tinggi. Tidak mungkin Supek menggunakan siasat. Supek telah lama mendengar akan nama besar Sin-ciang Taihiap dan sekarang ingin mengadu ilmu dengan Sin-ciang Taihiap. Kalau Sin-ciang Taihiap mampu menandingi Supek Dobhin Lama, maka mutiara hitam akan dikembalikan kepadanya.”

“Hemmm, tidak cukup dengan itu! Kalau dia dapat mengalahkan Dobhin Lama, selain mutiara hitam diserahkan kepadanya, juga Suheng Liem Sian Lun harus dibebaskan!” kata Sian Li. “Kalau syarat ini tidak dijanjikan, aku tak sudi menyampaikan kepadanya.”

“Ha-ha-ha, sekarang juga dia sudah bebas, tetapi mana mungkin dia mau meninggalkan segala kesenangan itu? Akan tetapi baiklah, aku yang tanggung bahwa syarat ke dua itu dapat diterima dan disetujui oleh Supek. Kalau Supek kalah, Liem Sian Lun akan dibebaskan dan mutiara hitam akan diserahkan kepada Sin-ciang Taihiap. Akan tetapi sebaliknya, kalau Supek yang menang, Sin-ciang Taihiap harus membantu perjuangan untuk menentang penjajah Mancu.”

Tentu saja Sian Li tidak berani lancang menerima syarat itu, maka ia menoleh kepada Yo Han dan berkata, “Han-ko, bagaimana dengan pendapatmu? Biar pun Taihiap sudah menyerahkan keputusannya kepadaku, akan tetapi aku ingin menanyakan pendapatmu sebelum menerima syarat itu.”

Yo Han mengangguk-angguk. “Sin-ciang Taihiap adalah seorang pendekar yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. Bangsa Mancu menjajah, hal itu jelas tidak adil dan tidak benar, maka tentu saja dia tidak akan berkeberatan untuk menentang penjajah Mancu.”

Sian Li mengangguk-angguk. “Tepat sekali, aku pun berpikir demikian, Han-ko. Nah, Cu Ki Bok, akan kusampaikan pesan itu kepada Sin-ciang Taihiap. Aku ulangi taruhannya. Kalau dia menang, mutiara hitam harus diserahkan kepadanya dan Suheng-ku harus dibebaskan, tapi kalau Dobhin Lama yang menang, Sin-ciang Taihiap harus membantu perjuangan menentang penjajah Mancu. Kalau dia menerima tantangan itu, lalu kapan dan di mana pertandingan itu akan diadakan?”

Cu Ki Bok tersenyum. “Dalam hal ini, Supek ingin memperlihatkan iktikad baiknya dan kejujurannya ketika mengajak Sin-ciang Taihiap mengadu ilmu. Supek menyerahkan kepada Sin-ciang Taihiap untuk menentukan waktu dan tempatnya.”

“Kalau begitu sekarang juga!” Sian Li berkata dengan cepat.

Dara yang cerdik ini segera mengambil keputusan yang dianggapnya menguntungkan pihaknya. “Dan tempatnya, di puncak bukit sebelah sana itu!” Ia menunjuk ke arah bukit di sebelah kiri.

Ia tahu bahwa tempat yang menjadi sarang Hek-I Lama berada di sebelah kanan, maka bukit itu tentu merupakan tempat bebas dari pengaruh kekuasaan Hek-I Lama sehingga kalau diadakan pertandingan di sana, maka pihak musuh tidak akan sempat mengatur siasat untuk menjebak atau mengeroyok.

Cu Ki Bok memandang ke arah bukit itu dan mengangguk-angguk. “Baiklah. Kami akan melapor kepada ketua kami. Sebentar lagi, menjelang tengah hari, tentu Supek sudah berada di puncak bukit itu. Harap saja janji kalian bukan merupakan bual kosong belaka. Selamat tinggal!” Cu Ki Bok lalu pergi dari situ diikuti lima orang pendeta Lama.

“Kenapa engkau memilih tempat pertandingan di puncak bukit itu, Li-moi?”

“Aku sengaja memilih tempat yang jauh dari mereka agar kita dapat mendahului mereka ke tempat itu sehingga mereka tidak sempat membuat jebakan. Sebaiknya kalau kita sekarang juga pergi ke sana, Han- ko, untuk mengenal medan dan mempersiapkan diri.”

Yo Han kagum. Kiranya Sian Li, Si Bangau Merah yang dahulu sering digendongnya dan diajak bermain- main itu, kini sudah menjadi seorang gadis yang cantik jelita, lihai, pemberani dan juga cerdik sekali. Cara gadis itu tadi menghadapi Cu Ki Bok saja sudah menunjukkan kecerdikannya. Diam-diam dia merasa bangga.

Mereka lalu berangkat mendaki bukit yang tadi ditunjuk oleh Sian Li. Bukit itu ternyata merupakan sebuah bukit yang sunyi, penuh dengan hutan belukar dan tidak nampak ada dusun di atas bukit. Dusun-dusun hanya terdapat pada kaki bukit.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo