October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 19

 

“Kenapa sih memotong-motong cerita itu, Acun, lanjutkan. Apa yang dilakukan pendekar sakti yang aneh itu?” tanya seorang.

“Dan bagaimana macamnya? Sudah tua ataukah masih muda?” tanya orang ke dua.

“Seperti biasa yang kita pernah dengar, dia menghilang begitu saja dan hanya suaranya terdengar dari dalam pohon yang lebat. Dia memberi peringatan dan nasehat kepada para perampok, menyadarkan mereka dengan kata-kata lembut. Dan tidak seorang pun di antara kami yang dapat melihat wajahnya. Gerakannya demikian cepat dan wajahnya terlindung caping lebar itu.”

Mendengar ini, Sian Li dan Sian Lun tak dapat menahan diri lagi. Mereka tertarik karena maklum bahwa yang dimaksudkan Acun itu tentulah pendekar yang menjadi penolong mereka. Keduanya segera keluar dari dalam kamar, saling pandang, lalu menghampiri tujuh orang pedagang itu.

Para pedagang itu tentu saja memandang mereka dengan heran, juga kagum melihat pemuda tampan dan gadis cantik yang menghampiri mereka itu.

Sian Li cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat dan berkata, “Harap Cuwi (Anda Sekalian) suka memaafkan kami. Kami mendengar cerita Cuwi dan merasa tertarik sekali karena kami pun mendapat pertolongan dari seorang pendekar bercaping yang tidak memperkenalkan dirinya kepada kami.”

Mendengar logat bicara Sian Li, tujuh pedagang itu cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatan Sian Li dan Sian Lun. “Aih, agaknya Kongcu dan Siocia juga datang dari daerah Shantung seperti kami?”

Karena datang dari propinsi yang sama, walau pun tempat tinggal mereka terpisah jauh, mereka segera menjadi akrab. “Paman tadi bercerita bahwa pendekar itu bercaping?” tanya Sian Li.

Acun yang merasa girang mendapat pendengar seorang dara yang demikian cantiknya, dengan bersemangat segera dia menjawab. “Ketika menolong kami, kami hanya melihat bayangannya yang berkelebatan secepat kilat dan ia mengenakan sebuah caping lebar yang menyembunyikan mukanya.”

“Bagaimana bentuk badannya, Paman Acun?” tanya pula Sian Li, dan orang itu semakin gembira disebut paman Acun secara demikian akrabnya.

“Tubuhnya sedang dan tegap, gerakannya halus namun cepat bukan main, dan dia tak bersenjata, akan tetapi belasan batang golok itu runtuh dengan sendirinya. Dia seperti bukan manusia!” kata Acun.

“Pengalamanku dengan pendekar itu pun tak kalah hebatnya!” terdengar seorang yang gendut berkata. “Aku pun mempunyai pengalaman dengan pendekar Sin-ciang Taihiap itu!” berkata pula orang ke tiga.
Semenjak jaman dulu sampai sekarang, wanita memang mempunyai wibawa yang luar biasa terhadap para pria. Sekumpulan pria, baik mereka itu sudah tua mau pun masih remaja, selalu akan berubah sikap mereka apa bila kedatangan seorang wanita, apa lagi yang muda dan cantik jelita.

Amat menarik kalau memperhatikan sekelompok pria yang tadinya bercakap-cakap, lalu muncul wanita di antara mereka. Mereka itu berubah sama sekali. Gerak geriknya, wajahnya, lirikan matanya, senyumnya, bahkan suaranya! Mungkin yang bersangkutan sendiri tidak merasakan hal ini, akan tetapi kalau kita memperhatikan, kita akan dapat melihat perubahan itu dengan jelas sekali. Mengingatkan kita kepada ayam-ayam jantan kalau bertemu ayam betina. Ada saja ulahnya untuk menarik perhatian dan berlagak!

Lucu, menarik dan mengharukan mengenal diri kita sebagai pria ini, betapa pria menjadi lemah kalau sudah berhadapan dengan wanita. Perbedaan dalam tingkah laku mungkin hanya tergantung dari watak masing-masing saja, ada yang nampak sekali, ada yang muncul lagak yang kurang ajar, ada yang pendiam. Namun perubahan itu pasti ada, bahkan yang nampak acuh pun terlihat dibuat-buat dan tidak wajar.

Bermacam-macam pengalaman mereka akan tetapi pada dasarnya, tentang Sin-ciang Taihiap, mereka memiliki pengalaman yang sama. Pendekar itu sama sekali tak pernah dapat dikenal wajahnya. Kalau turun tangan menolong orang dan menghadapi penjahat, ia bertindak cepat sekali tanpa memperlihatkan wajah, apa lagi memperkenalkan nama. Wajahnya kadang ditutup caping lebar, kadang juga tidak. Dan yang aneh sekali, tidak pernah ia membunuh penjahat, bahkan melukai secara parah pun tidak pernah. Semua penjahat diampuninya, diberi nasehat.

“Bagaimana mungkin dia akan berhasil,” kata Sian Lun pula. “Penjahat harus dihadapi dengan kekerasan! Kalau hanya diampuni dan diberi nasehat, bagaimana mereka akan dapat sadar dan menjadi baik?”

“Belum tentu, Kongcu!” kata seorang di antara mereka, seorang pria tinggi kurus yang berusia enam puluh tahun. “Biar dihadapi dengan kekerasan, sekali pun dihukum berat, belum tentu juga penjahat akan menjadi baik! Dan buktinya, menurut kabar dan ada pula kusaksikan sendiri, banyak penjahat menjadi baik dan sembuh dari penyakit yang membuatnya menjadi jahat setelah mereka itu bertemu dengan Sin-ciang Taihiap dan mendapat nasehat dari pendekar aneh itu.”

“Paman Liok, ceritakan pengalamanmu itu!” seorang di antara mereka berseru. “Benar, Paman. Ceritakanlah, aku ingin sekali mendengarnya,” kata pula Sian Li.
Tanpa diminta oleh gadis itu pun, dengan penuh gairah Kakek Liok memang ingin sekali bercerita agar dia menjadi pusat perhatian.

“Di perbatasan Secuan ada seorang penjahat besar yang biasa melakukan kejahatan apa pun tanpa mengenal takut. Dia mempunyai belasan orang anak buah. Aku sudah mendengar mengenai kejahatan penjahat berjuluk Pek-mau-kwi (Iblis Rambut Putih) itu, yang usianya baru empat puluh tahun akan tetapi rambutnya sudah putih semua. Maka ketika melakukan perjalanan lewat di daerah itu, aku memperkuat rombonganku dengan sepasukan piauwsu (pengawal) bangsa Miao yang terkenal gagah, berjumlah dua puluh orang. Akan tetapi, tetap saja di tengah jalan kami dihadang oleh gerombolan perampok yang dipimpin Pek-mau-kwi itu! Seperti biasanya ketika bertemu dengan gerombolan perampok, kami pun telah menawarkan sumbangan atau yang biasa disebut pajak jalan. Akan tetapi, berapa pun yang kami tawarkan, Pek-mau-kwi tidak mau menerimanya dan menghendaki kami menyerahkan setengah dari semua barang bawaan kami. Terjadilah pertempuran, dan meski jumlah kami lebih banyak, tetap saja kami kewalahan. Agaknya kami tentu akan menjadi korban dan terbunuh semua kalau tidak muncul Sin-ciang Taihiap!”

“Dan dia juga bercaping, Paman?” tanya Sian Li, membayangkan orang bercaping yang pernah menolong dirinya dan suheng-nya.

“Pendekar itu tidak bercaping, namun karena gerakannya cepat sekali dan rambutnya yang panjang riap- riapan menutupi mukanya, kami pun tidak mungkin dapat mengenali mukanya. Dia berkelebatan merobohkan semua perampok, bahkan ketika dia meloncat pergi, dia mengempit tubuh Pek-mau-kwi dan membawanya lenyap! Semua anak buah perampok lari ketakutan dan kami pun selamat.”

“Lalu bagaimana dengan Pek-mau-kwi itu dan bagaimana Paman tahu bahwa nasehat dari pendekar itu berhasil?” tanya Sian Lun, tertarik sekali.

“Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Pek-mau-kwi. Akan tetapi ketika beberapa bulan kemudian aku lewat di daerah itu lagi, aku mendengar bahwa Pek-mau-kwi sudah cuci tangan, tidak lagi menjadi perampok, melainkan sekarang membuka perguruan silat dan hidup dari hasil pembayaran para muridnya. Aku mendengar bahwa dia menjadi orang baik dan sudah tidak pernah lagi melakukan kejahatan. Bukankah itu hasil nasehat dari pendekar sakti itu?”

“Dan bagaimana pengalamannya dengan pendekar itu?” tanya Sian Li.

“Kabarnya, dia tidak pernah mau menceritakan kepada siapa pun juga. Entah apa yang terjadi ketika dia ditangkap dan dilarikan Sin-ciang Taihiap.”

Sian Li dan Sian Lun merasa semakin tertarik, apa lagi karena mereka sendiri berhutang budi, bahkan nyawa kepada pendekar itu. “Apakah di antara Cuwi (Anda Sekalian) ada yang mengetahui siapakah nama Sin-ciang Taihiap itu?”

Semua orang yang berada di situ menggeleng kepala. Tak pernah ada yang mendengar siapa nama pendekar yang aneh itu. Jangankan namanya, wajahnya pun belum pernah dikenal orang karena sepak terjangnya cepat dan penuh rahasia.

Menurut cerita para pedagang yang sudah bertahun-tahun menjelajahi daerah itu untuk berdagang, nama Sin-ciang Taihiap baru muncul sekitar tiga empat tahun yang lalu. Sebelum itu, tidak pernah ada orang mengenal nama julukan ini yang timbulnya juga di daerah itu, nama julukan yang diberikan oleh para pedagang yang pernah mendapatkan pertolongannya. Sebelum empat tahun yang lalu, baik di daerah barat ini mau pun di timur, orang tidak pernah mendengar namanya.

Setelah mendengar dari para pedagang itu semua cerita yang kadang seperti dongeng saja tentang Sin- ciang Taihiap, yang ia tahu tentu dibumbui dan dilebih-lebihkan, Sian Li ingin mendengar dari mereka mengenai orang-orang yang pernah ditentangnya selama ini.

“Apakah Cuwi (Anda Sekalian) dapat menceritakan tentang perkumpulan Hek-I Lama?”

Tujuh orang pedagang itu serentak berdiam diri seperti jangkerik terpijak. Mereka bukan hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi juga wajah mereka berubah dan mereka menengok ke kanan kiri, seolah ketakutan.

“Kenapa, Paman?” Karena terbawa oleh sikap mereka, Sian Li mengajukan pertanyaan ini dengan berbisik pula.

Yang ditanya menggeleng kepala, lalu mengeluarkan kertas dan alat tulis, dan menulis dengan cepat di atas kertas itu, kemudian menyodorkannya kepada Sian Li. Gadis itu dan suheng-nya segera membaca tulisan itu.

‘Jangan bicara tentang itu, mata-matanya tersebar di mana-mana. Berbahaya sekali.’ Demikian bunyi tulisan itu, membuat Sian Li saling pandang dengan suheng-nya.
Sian Li mendekati lelaki yang menulis itu sambil menyerahkan kembali kertas tadi yang segera dirobek- robek oleh penulisnya. Gadis itu lalu berbisik, “Kenapa, Paman? Apakah mereka jahat dan suka mengganggu?”

Orang itu menggelengkan kepala, lalu menjawab dengan suara bisik-bisik pula. “Mereka tak pernah mengganggu kita, sebaliknya kita pun tak boleh mencampuri urusan mereka. Penjahat yang paling besar di daerah ini pun tidak ada yang berani mencampuri urusan mereka, berbahaya sekali. Di mana-mana mereka mempunyai kaki tangan. Sebaiknya kita bicara tentang hal lain saja.”

Agaknya tujuh orang pedagang itu sudah merasa ketakutan, maka mereka pun bubaran memasuki kamar masing-masing. Sian Li dan Sian Lun terpaksa juga kembali ke kamar masing-masing dan tidur.

Malam itu Sian Li bermimpi bertemu dengan pendekar bercaping karena sebelum pulas tiada hentinya dia mengenang pendekar yang amat mengagumkan hatinya itu. Kini dia membenarkan akan cerita orang tuanya, juga Kakek Suma Ceng Liong, bahwa di empat penjuru dunia penuh dengan orang-orang pandai. Karena itu mereka berpesan agar dia tidak mengagungkan dan menyombongkan diri dan kepandaian sendiri. Kini ternyatalah bahwa di daerah barat yang dianggapnya masih liar bahkan belum beradab itu terdapat pula orang sakti yang aneh, yang membuatnya kagum bukan main…..

********************

Pada keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan pagi, ketika Sian Li dan Sian Lun sudah bersiap-siap pergi meninggalkan rumah penginapan dan melanjutkan perjalanan, seorang laki-laki menghampiri mereka. Dengan sikap hormat ia menyerahkan sesampul surat kepada mereka. Setelah sampul surat itu diterima oleh Sian Li, pembawa surat itu memberi hormat dan segera pergi lagi.

Sian Li cepat membuka sampul dan bersama Sian Lun mereka membaca surat yang ditulis dengan huruf- huruf yang gagah dan indah itu.

Harap Liem Tahiap dan Tan Lihiap suka memaafkan sikap anak buah kami. Karena belum saling mengenal dengan baik maka terjadilah kesalah pahaman. Kalau Jiwi ingin mengetahui lebih baik siapa kami, kami ingin mengundang Jiwi untuk menghadiri pesta pertemuan antara pejuang yang kami adakan sore nanti. Kami akan menjemput Jiwi dengan kereta. Kami bukan golongan jahat, melainkan pejuang-pejuang. Keselamatan Jiwi kami jamin.

Pimpinan Hek-I Lama

“Hemmm, jangan pedulikan surat dari mereka, Sumoi. Jelas bahwa mereka itu orang-orang jahat dan berbahaya. Kita pun baru saja kemarin lolos dari tawanan mereka dan hari ini mereka mengundang kita sebagai tamu? Hemm, ini pasti jebakan belaka. Lebih baik kita berangkat pergi saja meninggalkan tempat ini, Sumoi.”

“Suheng, lupakah Suheng akan nasehat dan pesan guru-guru kita? Kita memang harus berhati-hati dan waspada, tapi yang lebih penting adalah bahwa kita tak boleh bersikap penakut! Kita harus berani menghadapi kenyataan, betapa besar pun bahayanya, bukan saja menghadapi, akan tetapi juga menanggulangi dan mengatasinya. Mereka mengirim surat undangan resmi, tidak mungkin merupakan jebakan. Mereka adalah perkumpulan yang besar, kiranya tak akan menggunakan cara serendah itu. Kita memang tidak perlu bersekutu dengan mereka, akan tetapi juga tidak perlu mencampuri urusan mereka dan memusuhi, kecuali kalau mereka mengganggu kita.”

“Jadi bagaimana sikapmu menghadapi undangan ini?” “Aku akan menerimanya dan menghadiri undangan itu.”
“Sumoi! Ingat, hal itu akan berbahaya sekali. Engkau seperti mengundang datangnya bahaya!”

“Aku tidak takut, Suheng. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sebagai datuk ilmu silat yang lihai, sudah pasti para pimpinan Hek-I Lama tidak akan begitu merendahkan diri dan mencemarkan nama besar sendiri sengan perbuatan yang hina seperti menjebak orang-orang muda seperti kita. Pula, bukankah kita ini pergi meninggalkan rumah untuk meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan? Kini kita mendapat kesempatan mengetahui lebih banyak tentang Hek-I Lama, kesempatan yang baik sekali karena kita diundang sebagai tamu! Kalau engkau merasa jeri, biarlah aku sendiri saja yang datang ke sana, Suheng.”

Sian Li tidak mau mengeluarkan isi hati yang paling dalam, yaitu bahwa kalau terjadi apa-apa dengan dirinya di tempat Hek-I Lama, ia mengharapkan munculnya Sin-ciang Taihiap untuk kembali menolongnya. Dia harus bertemu lagi dengan pendekar itu, harus membuka rahasianya yang aneh, terus mengenal wajahnya dan namanya. Kalau tidak, selama hidupnya ia akan tenggelam dalam penasaran.

Wajah Sian Lun menjadi merah ketika sumoi-nya mengatakan dia jeri. “Sumoi, aku tidak mengkhawatirkan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri. Jika engkau berkeras hendak pergi, tentu saja aku akan menemanimu.”

Sian Li tersenyum menatap wajah suheng-nya. “Terima kasih, Suheng. Dan maafkan, bukan maksudku mengatakan engkau takut. Tapi aku ingin sekali menghadiri undangan itu dan melihat siapa saja sebetulnya orang-orang itu dan apa pula maksud undangan mereka kepada kita.”

Akhirnya Sian Lun terpaksa harus memenuhi kehendak Sian Li dan mereka menunggu kedatangan kereta yang hendak menjemput mereka dengan hati berdebar-debar penuh ketegangan.

Sian Li memang berjiwa petualang. Suasana yang mendebarkan hatinya itu merupakan suatu kenikmatan tertentu bagi seorang petualang. Apa lagi kalau dia membayangkan kemunginan munculnya Sin-ciang Taihiap! Bahkan diam-diam dia mengharapkan terjadi sesuatu dengan dirinya agar pendekar aneh itu akan muncul kembali!

Di luar dugaan mereka, kereta itu muncul setelah lewat tengah hari, tetapi belum sore. Sebagai seorang wanita, tentu saja Sian Li tidak mau pergi dalam keadaan belum mandi dan pakaian belum diganti, maka ia minta kepada kusir kereta yang datang menjemput agar menanti sebentar karena ia ingin mandi dan berganti pakaian lebih dahulu.

Sebaliknya, Sian Lun yang merasa tegang dan selalu diliputi kegelisahan, tidak sempat bertukar pakaian dan mandi. Orang pergi menentang bahaya, untuk apa harus mandi dan berganti pakaian segala, pikirnya. Dia malah menanti sumoi-nya di dekat kereta dan mencoba untuk memancing keterangan kepada kusir kereta.

Akan tetapi, kusir itu selalu menjawab “tidak tahu” untuk segala pertanyaannya, dan mengatakan bahwa ia hanya bertugas menjemput mereka. Akan tetapi, dari gerak-gerik dan sinar matanya yang tajam membayangkan kecerdikan, Sian Lun dapat menduga bahwa kusir ini hanya berpura-pura tolol dan lemah saja. Tentu dia seorang anggota yang sudah dipercaya, dan yang memiliki ilmu kepandaian tangguh.

Akhirnya muncullah Sian Li dengan wajah dan tubuh segar, dengan pakaian bersih dan rambutnya tersanggul rapi. Ia nampak segar dan cantik sekali, membuat hati Sian Lun menjadi semakin gelisah. Kenapa sumoi-nya demikian mempercantik diri? Mereka akan menjadi tamu orang-orang jahat!

Baru Cu Ki Bok, murid Lulung Ma itu saja jelas amat lihai dan pemuda itu mempunyai niat tidak senonoh terhadap diri Sian Li. Juga dari percakapan yang didengarnya ketika mereka ditawan, dia mendengar betapa Sian Li akan dihadiahkan kepada orang yang disebut sebagai Pangeran Gulam Sing! Dengan kecantikan seperti itu, sumoi-nya akan membuat mata orang-orang jahat itu menjadi semakin hijau! Akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berkata apa-apa. Mereka pun naik ke dalam kereta yang segera dijalankan oleh kusirnya dengan cepat meninggalkan kota itu.

Kereta itu meluncur keluar kota melalui pintu gerbang sebelah timur, kemudian mendaki sebuah bukit. Berkali-kali Sian Lun bertanya kepada kusirnya, ke mana mereka akan dibawa pergi. Akan tetapi kusir itu tidak pernah mau menjawab! Ketika kereta memasuki sebuah hutan di lereng bukit itu, Sian Lun kehabisan sabarnya.

“Kusir keparat! Kalau tidak kau jawab, aku akan menghajarmu! Hayo katakan ke mana engkau akan membawa kami!” bentaknya dan dia sudah bergerak untuk menyerang kusir yang duduk di depan.

Akan tetapi lengannya ditangkap Sian Li. “Suheng, kenapa tidak sabar?” katanya sambil mengerutkan alisnya. “Dia hanya petugas yang melaksanakan perintah. Tentu saja dia membawa kita kepada yang mengutusnya, yaitu Hek-I Lama yang mengundang kita.”

“Nona berkata benar dan kita sudah hampir tiba di tempat yang dituju,” kata kusir itu dan Sian Lun terpaksa menelan kemarahannya. Dia merasa terlalu tegang sehingga mudah tersinggung dan marah.

Ternyata di tengah rimba itu terdapat tempat terbuka di mana berdiri sebuah rumah besar. Dan suasananya di sana memang dalam keadaan pesta. Banyak orang sedang membereskan ruangan depan rumah itu yang disambung dengan panggung di depan rumah, merupakan ruangan yang luas dan setengah terbuka. Kursi-kursi yang diatur di situ rapi dan semua menghadap ke dalam, ke arah rumah di mana terdapat meja besar dan kursi-kursi yang mudah diduga menjadi tempat tuan rumah.

Pada saat itu telah banyak orang berkumpul, bahkan di pihak tuan rumah telah duduk banyak pendeta berjubah hitam dan berkepala gundul. Anak buah dari perkumpulan yang dipimpin para pendeta Lama berjubah hitam ini semuanya juga berpakaian serba hitam, dengan kain kepala warna hitam pula sehingga mereka nampak menyeramkan.

Sian Li dan Sian Lun menduga bahwa mereka yang hadir di sana dan tidak berpakaian hitam tentulah tamu-tamu seperti juga mereka. Mereka melihat pula banyak orang Nepal yang bertubuh tinggi besar, bermuka brewok dan menutup kepala dengan sorban putih atau kuning. Mereka melihat pula banyak orang yang mengenakan pakaian Han seperti mereka. Ada pula yang memakai pakaian suku Miao, Hui, Kasak, dan Mongol.

Ketika kakak beradik seperguruan itu tiba di situ, mereka disambut dengan hormat dan hal ini dapat diketahui karena yang menyambut mereka adalah Lulung Lama sendiri bersama muridnya, Cu Ki Bok! Mereka dipersilakan duduk di rombongan orang-orang Han yang kemudian ternyata adalah orang-orang yang dianggap sebagai tokoh-tokoh kang-ouw dan para pendekar.

Pada waktu itu barulah Sian Li dan Sian Lun tahu bahwa Lulung Ma bukanlah pemimpin nomor satu dari perkumpulan Lama Jubah Hitam! Selain dia, masih ada pula seorang suheng-nya yang duduk di kursi terbesar.

Pendeta Lama ini juga berpakaian serba hitam dan dia sudah tua sekali, sedikitnya tujuh puluh lima tahun usianya dan kelihatan seperti seorang pemalas. Dia hanya duduk saja bersandar pada kursinya. Agaknya yang aktip dalam pertemuan itu adalah Lulung Lama dan muridnya, yaitu Cu Ki Bok, peranakan Han Tibet itu.

Walau pun hatinya merasa panas dan marah melihat Cu Ki Bok yang menyambutnya bersama Lulung Lama, akan tetapi Sian Lun menahan diri dan tidak memperlihatkan kemarahannya. Ada pun Sian Li bersikap tenang, bahkan tersenyum-senyum sehingga diam-diam Cu Ki Bok merasa kagum bukan main. Gadis itu selain cantik dan lincah, ternyata memiliki ketabahan yang mengagumkan hatinya.

Kini Sian Li merasa semakin yakin bahwa pihak tuan rumah tidak akan mungkin berani melakukan kekerasan terhadap dirinya dan suheng-nya, melihat bahwa pertemuan itu dihadiri demikian banyaknya orang dari berbagai golongan. Tentu orang macam Lulung Lama takkan merendahkan diri yang hanya akan mencemarkan nama besarnya sendiri selagi di situ berkumpul banyak orang, dengan perbuatan yang curang dan pengecut. Hal ini terbukti pula dengan sikap Cu Ki Bok yang sangat sopan dan hormat, padahal baru kemarin pemuda murid tokoh Hek-I Lama itu bersikap kasar dan tidak sopan.

Akan tetapi, Sian Li dan Sian Lun menjadi pusat perhatian para tamu ketika Lulung Ma dengan suara lantang memperkenalkan tamu baru ini kepada semua orang sebagai dua orang pendekar dari timur yang masih memiliki hubungan erat dengan Puteri Gangga Dewi dari Kerajaan Bhutan.

Agaknya sekarang semua tamu sudah berkumpul. Senja mulai datang, lampu-lampu penerangan dinyalakan dan pesta pun dimulai. Setelah Lulung Lama sebagai wakil pimpinan Hek-I Lama menyuguhkan anggur sampai tiga keliling kepada para tamu dan mempersilakan para tamu makan kue manis yang dihidangkan sebagai pembuka pesta, Lulung Lama lalu bangkit berdiri dan dengan kedua tangan diangkat dia minta agar para tamu tidak berisik dan memberi perhatian kepadanya.

Agaknya bicaranya memang ditujukan kepada orang-orang Han yang menjadi tamu di sana, maka dia menggunakan bahasa Han. Para kelompok suku bangsa lain yang tidak paham bahasa Han terpaksa mendengarkan terjemahannya dari kawan-kawan mereka yang paham.

“Saudara sekalian, Cuwi (Anda Sekalian) yang gagah perkasa dari dunia kang-ouw di timur, kami dari Hek- I Lama mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Cuwi yang memenuhi undangan kami. Seperti Cuwi dapat melihatnya, di sini kami berkumpul, dihadiri pula oleh para sahabat dari Nepal terutama sebagai kawan seperjuangan kami, dan para sahabat dari suku Miao, Hui, Kasak dan Mongol yang tak sudi melihat orang-orang Mancu merajalela dan hendak menguasai seluruh daratan. Cuwi kami undang untuk mengadakan perundingan dan kami ajak untuk bekerja sama menentang pemerintah Kerajaan Ceng dari bangsa Mancu. Kalau kita semua bersatu, tentu bangsa Mancu akan bisa kita kalahkan dan kita usir kembali ke asal mereka. Kami mengharapkan sambutan dari Cuwi yang kami hormati sebagai orang-orang gagah di dunia kang-ouw.”

Lulung Ma memberi hormat, lalu duduk kembali. Sebelum dari golongan orang Han ada yang menjawab, Pangeran Gulam Sing sudah bangkit dari tempat duduknya di jajaran tuan rumah, di samping Lulung Lama. Dia pun bicara dengan suaranya yang lantang, dalam bahasa Nepal yang langsung diterjemahkan kalimat demi kalimat oleh seorang Han yang duduk di belakangnya.

“Saudara sekalian, kita ini terdiri dari berbagai suku dan bangsa, akan tetapi saat ini kita berkumpul sebagai saudara-saudara senasib, sependeritaan dan seperjuangan! Kita sama-sama sengsara oleh kelaliman bangsa Mancu! Bangsa Mancu tidak saja menjajah seluruh daratan Cina, akan tetapi juga menindas daerah barat, menjajah Tibet, bahkan menjadi ancaman bagi negara-negara tetangga di barat. Kami, Pangeran Gulam Sing, memimpin orang-orang gagah dari Nepal, siap untuk berjuang bersama dengan saudara sekalian untuk menentang pemerintah Mancu!”

Setelah berkata demikian, dibawah sambutan tepuk tangan, pangeran Nepal ini duduk kembali. Dia seorang pangeran Nepal yang berkulit coklat kehitaman, bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan tampan gagah jantan. Matanya lebar dan sinarnya tajam, mulutnya selalu dibayangi senyum yang memikat. Pangeran berusia kurang lebih empat puluh tahun ini memang seorang pria yang jantan dan ganteng sekali.

Di deretan depan dari para tamu golongan Han, nampak seorang wanita bangkit berdiri. Sian Li dan Sian Lun semenjak tadi sudah melihat bahwa di antara para tokoh kang-ouw terdapat beberapa orang wanita, dan yang menarik perhatian adalah adanya tiga orang wanita yang usianya antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun.

Ketiganya cantik menarik, berpakaian serba mencolok berwarna warni akan tetapi selalu dihias kembang teratai putih. Kini, seorang di antara tiga wanita itu, yang tertua, usianya sekitar tiga puluh tahun, bangkit dan tentu saja ia menjadi pusat perhatian ketika ia bicara.

“Para pimpinan Hek-I Lama, apakah aku boleh bicara sekarang?” tanyanya. Suaranya lantang akan tetapi merdu dan gayanya memikat. Matanya bersinar tajam serta genit, dan bibirnya tersenyum-senyum. Pandang matanya terus menyambar-nyambar ke arah Pangeran Gulam Sing.

Lulung Lama segera bangkit dan memberi hormat. “Omitohud! Pinceng sebagai wakil pimpinan Hek-I Lama, berterima kasih sekali kalau Toanio yang datang sebagai utusan dan wakil Pek-lian-kauw memberi petunjuk kepada kami.”

Tentu saja perhatian Sian Li dan Sian Lun menjadi semakin besar ketika mendengar ucapan Lulung Lama itu. Kiranya ketiga orang wanita cantik itu adalah orang-orang dari Pek-lian-kauw!

Mereka berdua sudah banyak mendengar tentang Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yaitu segolongan orang dengan agama yang aneh dan yang memiliki banyak tokoh lihai. Mereka terkenal sebagai pemberontak-pemberontak yang gigih. Tetapi sayang, biar pun mereka memberontak terhadap pemerintah penjajah, tetapi nama Pek-lian-kauw bukan nama yang bersih dan disuka rakyat.

Banyak tokoh-tokoh mereka yang suka melakukan segala macam kejahatan berkedok perjuangan. Juga agama mereka merupakan agama yang aneh, yang menyimpang dari induknya, yaitu Agama Buddha, dan banyak melakukan tindakan sesat. Inilah sebabnya kenapa Pek-lian-kauw selalu bergerak sendiri, tidak mendapat dukungan para pendekar patriot, lebih dekat dengan tokoh-tokoh sesat di dunia kang-ouw.

“Kami Pek-lian Sam-li (Tiga Wanita Teratai Putih) telah menyerahkan bukti surat kuasa sebagai wakil Pek- lian-kauw kepada pimpinan Hek-I Lama. Maka kami diberi wewenang untuk menghadiri pertemuan ini, menyelidiki serta memutuskan apakah Pek-lian-kauw menganggap patut untuk dapat bekerja sama dengan kalian. Pek-lian-kauw sejak dulu selalu menentang pemerintah penjajah dan kami adalah pejuang-pejuang yang pantang mundur. Maka, kami ingin mengetahui terlebih dulu apakah kalian ini sungguh-sungguh hendak menentang pemerintah Mancu, sebelum kami menyatakan suka bekerja sama.”

Kembali Ji Kui, wanita yang merupakan saudara paling tua di antara mereka bertiga itu, mengerling ke arah Gulam Sing yang juga memandang kepada tiga orang wanita itu sambil tersenyum-senyum. Gulam Sing ini terkenal sebagai seorang laki-laki yang selalu haus wanita, maka tentu saja kehadiran ketiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu sejak tadi sudah amat menarik perhatiannya.

“Ucapan Pek-lian Sam-li wakil dari Pek-lian-kauw itu benar!” mendadak terdengar suara lantang.

Ternyata yang berbicara adalah seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih yang pakaiannya penuh tambalan. Dia adalah seorang tokoh dari dunia pengemis, bertubuh tinggi kurus dan bongkok, dan ketika dia bangkit berdiri, tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam.

“Kami harus tahu benar apakah yang hadir di sini sungguh-sungguh hendak menentang pemerintah Mancu. Sebelum tiba di sini, kami banyak mendengar dan kami pun merasa heran ketika ada berita bahwa pemerintah Tibet tidak mau menentang Kerajaan Ceng, bahkan kabarnya Dalai Lama sendiri mengakui pemerintahan penjajah Mancu. Kami juga mendengar bahwa pemerintah Nepal yang resmi tidak menentang penjajah Mancu. Maka, apa artinya gerakan yang diadakan oleh Hek-I Lama dan Pangeran Gulam Sing? Sebelum kami menyatakan diri bergabung, kami harus mengetahui dahulu dengan jelas seperti yang diucapkan wakil Pek-lian-kauw tadi.”

Sehabis bicara, kakek pengemis itu duduk kembali dan suasana menjadi riuh karena di antara orang-orang Han yang berkumpul di situ, banyak pula yang menyetujui pendapat kakek pengemis itu.

Sian Li memandang ke arah kakek itu dengan hati berdebar. Dia mengenal kakek itu! Nampaknya masih sama saja seperti dulu, kurang lebih lima tahun yang lalu. Tentu saja dia tidak dapat melupakan kakek pengemis itu yang pernah merampasnya dari tangan Hek-bin-houw, bahkan kakek itu membunuh Hek-bin- houw.

Kakek itu adalah Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam). Dahulu, sesudah membebaskan dia dari tangan Hek-bin-houw, kakek pengemis itu hendak mengajaknya pergi untuk menjadi muridnya. Akan tetapi, muncul Nenek Bu Ci Sian yang merampas dirinya. Nenek sakti itu mengalahkan Hek-pang Sin-kai, bahkan melukai paha pengemis itu. Dia ingat benar semua peristiwa itu dan kini dia memandang ke arah pengemis itu penuh perhatian.

Mendengar ucapan kakek pengemis itu, Dobhin Lama, Ketua Hek-I Lama yang sejak tadi duduk melenggut saja, sekarang menegakkan tubuhnya dan membuka matanya. Kemudian terdengar suaranya dan dia bicara tanpa bangkit berdiri.

“Siapa yang bicara itu tadi?”

“Kami adalah Hek-pang Sin-kai, Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam di daerah selatan!” kata kakek itu dengan berani.

Namun, begitu pendeta Lama yang kelihatan lemah itu mengangkat muka memandang padanya, begitu dua pasang pandang mata bertemu, kakek pengemis itu terkejut bukan main oleh karena pandang matanya bertemu dengan dua sinar mencorong yang seperti menembus sampai ke jantungnya. Dia tidak tahan memandang lebih lama dan segera menundukkan mukanya.

“Omitohud, Ketua Hek-pang Kai-pang meragukan kami? Ketahuilah Sin-kai, meski pun Dalai Lama sendiri mengakui kekuasaan Kerajaan Mancu, akan tetapi kami golongan Hek-I Lama tidak! Biar pemerintah Tibet tidak bergerak, akan tetapi kami akan bergerak dan kami yakin bahwa rakyat Tibet akan mendukung kami!”

Terdengar suara ketawa dan Pangeran Gulam Sing juga berkata dalam bahasa Nepal, diikuti kalimat demi kalimat oleh penterjemahnya. “Ha-ha-ha, agaknya Hek-pang Sin-kai ingin mengetahui keadaan orang lain dan menaruh kecurigaan. Terus terang saja, kami memang tidak sejalan dengan pemerintah kami yang berkuasa sekarang di Nepal. Raja kami terlalu lemah dan tidak berani menentang orang Mancu. Karena itu, kami bergerak sendiri tanpa persetujuan raja. Lalu, apa hubungannya urusan pribadi kami ini dengan perjuanganmu untuk membebaskan tanah air dan bangsa dari tangan penjajah Mancu, Sin-kai?”

“Maaf, Pangeran. Tidak ada hubungannya apa-apa, hanya kami merasa heran melihat betapa negara Bhutan yang demikian kecilnya, tidak turut bergerak seperti Nepal untuk menentang Mancu,” kata pengemis tua itu pula.

“Omitohud… agaknya engkau belum mengetahui keadaan di Bhutan, Sin-kai!” terdengar Lulung Lama berkata. “Tentu saja Bhutan tidak mau menentang Mancu, sebab keluarga Kerajaan Bhutan masih ada hubungan darah dengan Mancu! Bahkan yang sekarang menjadi sesepuh di sana, Puteri Gangga Dewi, sudah menikah pula dengan seorang keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es yang masih berdarah Mancu pula.”

“Keluarga Pendekar Pulau Es bukan hanya berdarah Mancu, juga musuh-musuh yang selalu mengganggu kita!” terdengar teriakan beberapa orang tokoh kang-ouw yang hadir di situ.

“Tentu saja,” kata Lulung Ma pula. “Keturunan Pendekar Super Sakti semuanya beribu Mancu, bahkan keluarga itu lalu berbesan dengan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir. Dua keluarga itu adalah pengkhianat- pengkhianat bangsa, antek-antek bangsa Mancu yang harus kita basmi!”

Sian Lun sudah bangkit berdiri dengan kedua tangan dikepal, akan tetapi Sian Li segera menyentuh lengannya dan menarik pemuda itu duduk kembali sambil memberi isyarat dengan gelengan kepala. Ia sendiri tentu saja juga marah mendengar betapa keluarga Pendekar Pulau Es dan Pendekar Gurun Pasir dijelek-jelekkan oleh mereka yang hadir.

Sian Li sendiri memang memiliki darah dua keluarga itu! Dari ibunya ia mewarisi darah keluarga Kao keturunan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, sedangkan neneknya ialah keluarga Suma, keturunan Pendekar Super Sakti Pulau Es! Sian Lun sendiri tadi hanya marah karena keluarga gurunya, Suma Ceng Liong, dimusuhi mereka.

Dengan menahan kemarahannya, Sian Lun terpaksa berdiam diri memenuhi permintaan sumoi-nya. Ia duduk cemberut dan kadang-kadang pandang matanya yang ditujukan ke arah pihak tuan rumah bersinar penuh kemarahan.

“Sekarang kami tak meragukan lagi kesungguhan hati para saudara untuk bekerja sama dengan kami dalam menghadapi Kerajaan Mancu di timur. Kami hanya menghendaki kesungguhan hati, agar jangan sampai kami dikecewakan lagi seperti yang telah terjadi dengan Thian-li-pang,” kata Ji Kui, orang pertama dari Pek-lian Sam-li.

Semua orang memandang pada wanita itu. Mereka yang hadir tahu belaka perkumpulan apakah Thian-li- pang itu. Selain Pek-lian-kauw, perkumpulan Thian-li-pang merupakan perkumpulan yang terkenal sangat gigih menentang pemerintah Kerajaan Mancu, sejak pemerintah itu menguasai daratan Cina.

Bahkan dua perkumpulan itu diketahui telah bekerja sama dengan baik sekali sehingga sering kali terjadi kekacauan di kota raja, bahkan juga di istana, ditimbulkan oleh mereka berdua. Kenapa sekarang tokoh Pek-lian-kauw itu menjelek-jelekkan Thian-li-pang yang dikatakan telah mengecewakan Peklian-kauw?

“Nanti dulu, Toanio,” kata Lulung Lama. “Kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Bukankah Thian- li-pang selalu berjuang menentang Mancu juga? Dan bukankah selama bertahun-tahun ini Thian-li-pang dikenal sebagai kawan seperjuangan Pek-lian-kauw?”

“Itu memang benar, tapi dahulu. Akan tetapi sekarang, keadaan sudah lain sama sekali. Selama beberapa tahun ini, Thian-li-pang sudah berubah, sudah menyeleweng!”

“Benarkah itu, Nona?” Hek-pang Sin-kai bertanya heran. “Aku masih mendengar bahwa Thian-li-pang tetap berjuang melawan pemerintah penjajah Mancu, bahkan akhir-akhir ini gerakan mereka bertambah kuat.”

“Huh, mereka itu orang-orang yang tak mengenal budi, orang-orang yang tidak memiliki perasaan setia kawan. Dahulu, kami dari Pek-lian-kauw yang membantu mereka, kami bekerja sama dengan baik. Akan tetapi sekarang, setelah Lauw Kang Hui yang menjadi ketua, mereka itu menjadi sombong, mereka memisahkan diri dan tidak mau mengakui lagi Pek-lian-kauw sebagai teman seperjuangan. Mereka berlagak pendekar dan suka menghina orang. Tidakkah itu amat mengecewakan? Kami tidak mau lagi kalau sampai kerja sama dengan kalian ini akhirnya kelak hanya akan merugikan dan mengecewakan kami seperti yang dilakukan oleh Thian-li-pang.”

“Ha-ha-ha, jangan khawatir, Nona!” Pangeran Gulam Sing berbicara dalam bahasa Han bercampur Nepal, karena baru beberapa tahun ia mempelajari bahasa Han, sehingga ia selalu dikawal seorang penterjemah.

“Kami berjanji akan membantu Nona agar kelak memberi hajaran kepada Thian-li-pang yang sombong dan tidak mengenal setia kawan itu, ha-ha-ha-ha!” Pangeran Nepal yang ganteng itu mengelus-elus kumisnya yang melintang gagah dan matanya bersinar-sinar ditujukan kepada tiga orang wanita tokoh Pek-lian-kauw itu.

Tiga orang wanita muda itu tersenyum. Ji Hwa, orang ke dua yang kulitnya putih mulus dan wajahnya cantik, tersenyum dan suaranya terdengar basah ketika berbicara dengan suara mendesah. “Pangeran, harap jangan pandang rendah Thian-li-pang. Di sana juga banyak terdapat tokoh yang amat lihai!”

“Benar sekali kata Enci ke dua itu, Pangeran,” kata Ji Kim, wanita ke tiga yang selain jelita, juga lincah jenaka dan cerdik sekali. “Ketuanya yang bernama Lauw Kang Hui itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, sungguh tidak boleh dipandang ringan!”

Pangeran Gulam Sing tertawa dan nampaklah giginya yang putih dan kuat. “Ha-ha-ha, kami tidak memandang rendah, Nona-nona yang baik. Kami hanya menyatakan hendak membantu kalian menghadapi Thian-li-pang. Dan tentang kelihaian mereka, kita tidak perlu takut karena kita pun bukan orang-orang lemah. Aku sendiri pun, biar pun bodoh, tapi memiliki juga sedikit tenaga untuk disumbangkan membantu kalian dalam segala hal, ha-ha-ha!”

Setelah berkata demikian, pangeran yang tinggi besar dan bertubuh kokoh kuat itu lalu menghampiri sebuah arca singa besi yang berada di sudut ruangan. Singa besi itu jelas amat berat dan sedikitnya membutuhkan tenaga sepuluh orang untuk mengangkatnya! Akan tetapi, Pangeran Gulam Sing membungkuk, memegang benda itu dengan kedua tangannya dan sekali dia mengeluarkan suara bentakan nyaring, benda itu diangkatnya di atas kepala!

Tentu saja semua orang memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan, kaget dan kagum. Setelah pangeran itu menurunkan kembali singa batu di tempatnya semula, dan hanya mukanya menjadi kemerahan serta napasnya agak memburu, semua orang bertepuk tangan memuji. Memang jarang ada orang yang memiliki tenaga gajah seperti pangeran itu. Diam-diam Sian Li dan Sian Lun terkejut juga dan tahulah mereka bahwa pangeran itu akan merupakan lawan yang tangguh dan berbahaya.

Tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu pun menyambut dengan tepuk tangan dan mereka tersenyum-senyum gembira. “Aihhh kiranya Pangeran memiliki tenaga yang amat kuat, lebih kuat dari pada kuda!” Ji Kui memuji.

Pangeran itu tertawa. “Ha-ha-ha, setiap saat kami siap menggunakan tenaga kuda kami untuk Nona bertiga!”

Sekarang Lulung Lama bangkit berdiri dan memberi isyarat agar semua orang tenang, lalu ia pun berkata, “Terima kasih, kami gembira sekali melihat bahwa saudara sekalian agaknya telah siap untuk bekerja sama dengan kami. Masih adakah di antara para tamu yang ingin mengemukakan pendapatnya? Silakan!” Lulung Lama sengaja memandang ke arah Sian Lun dan Sian Li.

Akan tetapi kembali Sian Li menyentuh lengan Sian Lun yang sudah gatal mulut untuk bicara itu. Saat itu pula, seorang lelaki Han berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka kuning, bangkit dan berbicara dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita.

“Bersatu untuk bekerja sama dalam perjuangan menentang pemerintah Mancu memang mudah dibicarakan, akan tetapi pelaksanaannya menentang pemerintah Mancu amatlah berbahaya dan sukar. Kaisar Kian Liong yang sekarang menjadi Kaisar telah berusaha mendekati dan menggandeng para tokoh pendekar di dunia persilatan sehingga mereka sama sekali tidak mau menentang Kaisar, apa lagi membantu usaha perjuangan untuk menumbangkan kekuasaan Mancu. Sekarang ini masih banyak para pendekar yang berubah menjadi penjilat penjajah Mancu. Dan selama para pendekar penjilat itu tidak dibasmi terlebih dahulu, tentu mereka akan menjadi penghalang perjuangan kita.”

“Pendapat itu tepat dan benar sekali!” tiba-tiba Ji Kui berseru dengan lantang dan penuh semangat. “Kalau tidak karena ulah para pendekar penjilat, terutama sekali keturunan pendekar Pulau Es dan pendekar Gurun Pasir, tentu telah lama keluarga Kaisar dapat kami basmi! Beberapa tahun yang lalu, ketika Thian-li- pang masih bekerja sama dengan kami, kami telah berhasil mendekati Siang Hong-houw. Bahkan putera kandung Ketua Thian-li-pang telah berhasil diselundupkan ke istana bersama Ang-I Moli, seorang tokoh murid Pek-lian-kauw. Mereka nyaris berhasil membunuh para pangeran kalau saja tidak digagalkan oleh Gangga Dewi dan suaminya, yaitu Suma Ciang Bun, cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es! Jelaslah bahwa orang-orang dari keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir merupakan penghalang besar bagi perjuangan kita!”

Lulung Lama tertawa dan dia bersama muridnya, Cu Ki Bok kini memandang ke arah Sian Lun dan Sian Li.

“Ha-ha-ha, belum tentu, Toanio,” katanya. “Belum tentu kalau semua keturunan kedua pendekar itu sudi menjadi antek dan penjilat penjajah Mancu. Di sini hadir pula dua orang muda gagah perkasa yang berhubungan dekat dengan Gangga Dewi. Kami tidak yakin bahwa mereka berdua ini sudi menjadi antek penjilat orang Mancu. Liem-sicu dan Tan-lihiap, bagaimana pendapat kalian?”

Tentu saja semua orang menoleh dan memandang kepada Sian Li dan Sian Lun yang diperkenalkan sebagai orang yang dekat dengan Gangga Dewi dan ada hubungannya dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu. Sian Lun yang sejak tadi sudah hampir tak kuat menahan kemarahannya mendengar keluarga gurunya dimaki-maki, dan hanya menahan kemarahannya karena dilarang sumoi-nya, kini mendapat kesempatan dan dia pun meloncat berdiri sambil mengepal tinju.

“Kami bukanlah penjilat pemerintah Mancu, juga kami bukan pemberontak-pemberontak yang berkedok perjuangan! Akan tetapi, aku sebagai murid dari keluarga Pulau Es, siap untuk menandingi siapa saja yang berani menghina keluarga Pulau Es!” Setelah berkata demikian, tanpa mempedulikan sumoi-nya, dia sudah melompat ke tengah ruangan itu, di depan meja tuan rumah.

Melihat kenekatan suheng-nya itu, tentu saja Sian Li merasa khawatir karena gadis ini maklum sepenuhnya bahwa di tempat itu berkumpul banyak lawan yang pandai sekali. Maka ia pun harus melindungi dan membela suheng-nya dan ia pun sudah melompat ke dekat Sian Lun.

“Suheng berkata benar!” katanya. “Kalian telah terlalu banyak memandang rendah dan menghina keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Nah, ini aku keturunan kedua keluarga itu, siap untuk membela kehormatan dan nama dua keluargaku itu, menandingi siapa saja yang berani menghina!”

Melihat munculnya pemuda dan gadis yang mengaku sebagai keluarga Pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir, bahkan yang berani menantang, para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang sebagian besar mendendam terhadap kedua keluarga besar itu segera menjadi gaduh.

“Bunuh pengkhianat!”

“Basmi keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir”

dunia-kangouw.blogspot.com

“Tangkap mereka, tentu telah memata-matai kita!”

Teriakan-teriakan terdengar dan agaknya mereka semua sudah siap untuk mengeroyok Sian Lun dan Sian Li. Akan tetapi, terdengar seruan Gulam Sing. “Lulung Lama, bagai mana kalau aku saja yang menghadapi nona cantik dan gagah ini? Bukankah dia yang pernah kau ceritakan kepadaku tempo hari?”

Lulung Lama menoleh pada pangeran itu, kemudian mengangguk. “Baiklah, Pangeran. Memang sebaiknya salah seorang di antara kita yang maju. Memalukan jika harus maju keroyokan,” katanya.

“Dan pemuda itu serahkan kepada kami untuk menangkapnya!” berkata Pek-lian Sam-li dan tiga orang wanita muda itu sudah berloncatan menghadapi Sian Lun dengan kerling yang memikat dan senyum yang manis.

Melihat ini, Gulam Sing tertawa.

“Ha-ha-ha, tiga orang nona yang jelita! Pemuda itu hanya seorang, bagaimana kalian dapat membaginya? Bukankah sudah ada aku? Ha-ha!” Pangeran yang mata keranjang ini di depan banyak orang tanpa malu- malu mengeluarkan ucapan yang mengandung arti tak senonoh itu.

“Pangeran, mari kita berlomba, siapa di antara kita yang dapat lebih dahulu menangkap lawan tanpa melukai, kami bertiga ataukah engkau!” tantang Ji Kui. “Taruhannya, siapa kalah cepat harus menurut kehendak yang menang. Setuju?”

Melihat pandang mata penuh tantangan dan senyuman penuh ajakan itu, Pangeran Gulam Sing mengangguk, “Setuju!”

Sian Li dan Sian Lun yang maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, apa lagi mereka sekarang berada di sarang musuh dan setiap saat mereka dapat menghadapi pengeroyokan, sudah mencabut pedang mereka.

“Pangeran sombong, majulah kalau ingin merasakan tajamnya pedangku!” bentak Sian Li.

Pangeran itu tertawa dan mencabut sebatang golok yang bentuknya melengkung bagai bulan sabit. Melihat lawannya sudah siap siaga dengan golok di tangan, Sian Li sudah meloncat ke depan dan melakukan serangan yang dahsyat sakali.

“Tranggg…!”

Pangeran itu menangkis dengan babatan goloknya, dan biar pun Sian Li sudah maklum akan kuatnya tenaga lawan, ia tetap saja terkejut ketika pedangnya hampir terlepas dari pegangan tangannya. Pedang itu terpental sedangkan telapak tangannya yang berhasil menahan gagang pedang terasa panas. Melihat ini, terdengar suara tawa di sana sini dan pangeran itu pun tertawa bergelak.

Sian Lun yang dihadapi Pek-lian Sam-li, biar mendongkol sekali karena lawan bersikap curang dan belum apa-apa sudah hendak mengeroyoknya, tak mau banyak cakap lagi. Tidak ada gunanya mencela dan memprotes orang-orang macam itu, apa lagi tiga orang wanita ini adalah orang-orang Pek-lian-kauw.

Sambil membentak nyaring pedangnya sudah berkelebat menjadi gulungan sinar yang menyambar ke arah tiga orang wanita itu. Pek-lian Sam-li juga telah mencabut pedang mereka dan mereka pun mengepung dengan membentuk barisan Segi Tiga. Ternyata gerakan mereka lincah sekali dan bagaikan tiga ekor kupu-kupu mengepung setangkai bunga, mereka berloncatan ke sana sini, membuat Sian Lun sukar sekali untuk dapat mengarahkan serangannya.

Sian Li juga segera terdesak karena ia tidak berani mengadu senjata. Hal ini tentu saja membuat pangeran itu menang angin dan dia pun terus mendesak sambil tertawa-tawa karena dia ingin lebih duluan menangkap lawannya untuk mendahului Pek-lian Sam-li. Dengan demikian, dia tidak hanya akan menguasai gadis cantik berpakaian merah ini, akan tetapi juga dia akan membuat tiga orang wanita genit itu membayar kekalahan mereka dengan mentaatinya! Betapa akan senangnya dilayani empat orang wanita itu, pikirnya.

Akan tetapi, sementara itu Sian Lun juga sudah terdesak hebat oleh tiga pedang yang mengepungnya. Tingkat kepandaian pemuda ini tidak jauh selisihnya dengan tiap orang dari Pek-lian Sam-li, maka kini dikeroyok tiga tentu saja dia menjadi kewalahan dan repot sekali melindungi tubuhnya dari sambaran tiga gulungan sinar pedang lawan.

Pada saat yang amat kritis bagi Sian Lun dan Sian Li, setiap saat mereka akan dapat tertangkap, mendadak nampak bayangan berkelebat dan bagaikan seekor rajawali saja bayangan itu menyambar- nyambar. Mula-mula ke arah Sian Li dan Gulam Sing yang sedang bertanding.

Baik Gulam Sing mau pun Sian Li mengeluarkan seruan kaget pada saat bayangan itu menggerakkan tangan dan mereka berdua terdorong ke belakang sampai tiga langkah! Bayangan itu berkelebat ke arah Sian Lun yang dikeroyok tiga dan di sana bayangan itu berputaran. Juga Sian Lun dan tiga orang wanita pengeroyoknya terdorong ke belakang seperti diterjang angin badai.

Otomatis, mereka semua menghentikan serangan dan memandang kepada orang yang tahu-tahu telah berada di situ. Sian Li hampir berteriak saking girangnya.

Ia melihat seorang lelaki yang tubuhnya sedang saja namun tegap, rambutnya panjang dibiarkan riap- riapan ke belakang dan sebagian menutupi muka, membantu tirai hitam yang bergantungan dari atas topi capingnya yang lebar. Sukar melihat wajah orang itu, yang nampak hanya kilatan sepasang mata dari balik tirai dan rambut. Pakaiannya sederhana saja seperti pakaian petani, namun ringkas. Dan dia tidak membawa senjata apa pun.

“Sin-ciang Taihiap…!” terdengar teriakan beberapa orang dan demikian pula teriakan hati Sian Li yang memandang penuh kagum, juga kini mendadak saja ia merasa aman begitu orang ini sudah berada di situ. Lenyap semua kekhawatirannya akan dikeroyok dan ditangkap oleh para pemberontak ini.

Lulung Lama mewakili suheng-nya, Dobhin Lama yang sejak tadi hanya menonton saja. Dengan langkah lebar dia menghampiri laki-laki bercaping lebar yang menyembunyikan mukanya itu. Dia mencoba untuk menembus tirai hitam dan rambut itu untuk mengamati wajahnya, lalu dia mengangkat kedua tangan ke depan dada dan memberi hormat.

“Omitohud…! Kiranya engkau adalah Sin-ciang Taihiap yang selama beberapa tahun ini membuat nama besar di daerah perbatasan Tibet ini? Selamat datang, Taihiap! Apakah engkau datang hendak menghadiri rapat pertemuan yang kami adakan ini?”

Pendekar bercaping itu membalas penghormatan tuan rumah dengan sikap sopan, lalu terdengar suaranya, sangat lembut dan singkat. “Lulung Lama, terserah dengan nama apa orang akan menyebutku. Aku datang bukan untuk menjadi tamu dalam pertemuan ini.”

Lulung Lama mengerutkan alis. “Sin-ciang Taihiap, pinceng (saya) yakin bahwa sebagai sama-sama tokoh dunia persilatan yang tahu akan peraturan dunia kang-ouw, engkau tentu maklum bahwa jalan kita bersimpang. Aku tidak pernah mencampuri urusanmu, dan demikian pula kami harap engkau tak akan mencampuri dan mengacaukan urusan kami. Kalau engkau tidak datang untuk menghadiri pertemuan, lalu mengapa engkau menghentikan pertandingan tadi dan apa pula maksudmu datang berkunjung tanpa diundang ini?”

Lulung Lama bicara dengan nada tinggi hati. Hal ini adalah karena dia sebagai tokoh besar Hek-I Lama tentu saja tidak takut kepada pendekar rahasia ini walau pun sudah banyak dia mendengar tentang kelihaian Sin-ciang Taihiap, dan ke dua karena pada saat itu, dia berada di tempat sendiri, mempunyai banyak anak buah, bahkan ada pula suheng-nya yang sakti dan banyak tamu yang dapat diandalkan.

Semua orang menaruh perhatian besar kepada pendatang aneh itu. Suasana menjadi sunyi senyap karena semua orang ingin mendengarkan bagaimana jawaban pendekar yang selama akhir-akhir ini amat terkenal namanya.

Pendekar aneh itu menggerakkan tubuhnya, memandang ke sekeliling, kemudian ia pun menjawab, suaranya masih lembut seperti tadi.

“Lulung Lama, aku tidak ingin mencampuri urusan siapa pun. Kalau pun tadi aku melerai pertandingan adalah karena aku tidak suka melihat orang menyelesaikan persoalan melalui senjata, saling melukai dan saling membunuh. Kedatanganku ini untuk bertemu dan bicara dengan saudara Thong Nam, kepada suku Miao yang aku tahu berada di sini sebagai tamu. Biarkan aku bicara dengan dia, dan setelah selesai urusanku dengan dia, aku akan pergi dari sini.”

Lulung Lama mengerutkan alisnya. Bagaimana pun juga, Thong Nam adalah kepala suku Miao, seorang di antara sekutunya yang saat itu menjadi tamunya, maka sebagai tuan rumah dia harus dapat melindungi tamunya.

Akan tetapi, sebelum dia dapat berkata atau berbuat sesuatu, seorang di antara para tamu sudah bangkit berdiri dan berkata lantang dengan suara keras dan logatnya asing. “Akulah Thong Nam, kepala suku Miao. Biar pun kami telah mendengar nama Sin-ciang Taihiap, namun kami belum pernah berurusan dengannya. Sekarang engkau datang mencariku di sini, katakan apa perlunya engkau mencari aku, Sin- ciang Taihiap!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo