October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 17

 

Dua orang itu sudah saling berhadapan. Sian Lun bersikap tenang walau pun hatinya panas mendengar ucapan Lulung Ma tadi. Namun dia sebagai murid suami isteri yang sakti, tahu bahwa membiarkan diri diseret perasaan amat merugikan. Dia tetap tenang dan waspada, dan dia mengikuti setiap gerakan lawan dengan pandang matanya yang mencorong tajam.

Bagai seekor beruang, Badhu yang gendut itu mengangkat kedua tangan ke atas kanan kiri kepala, lalu membuat langkah perlahan mengitari Sian Lun. Pemuda itu mengikuti dengan gerakan kakinya tetap waspada.

“Kongcu, silakan menyerang lebih dulu,” kata Badhu yang memandang rendah pemuda yang nampak lemah itu.

“Badhu, engkau yang menantang, engkau pula yang harus menyerang terlebih dahulu,” jawab Sian Lun dengan sikap tetap tenang.

“Ha-ha-ha, engkau terlalu sungkan, Kongcu. Baiklah, aku akan menyerang lebih dahulu. Awas seranganku ini!”

Tangan kirinya menyambar dari atas, akan tetapi Sian Lun membiarkan saja karena dari gerakan pundak lawan ia tahu bahwa tangan kiri itu hanya menggertak saja, sedangkan yang sungguh menyerang adalah tangan kanan yang menyambar ke arah pundaknya. Agaknya lawan terlalu memandang rendah kepadanya, disangkanya akan begitu mudah dia tangkap!

Hanya dengan memutar tubuh sedikit saja, tubrukan tangan kanan itu mengenai tempat kosong. Badhu menyusulkan serangannya bertubi-tubi. Kedua tangannya seperti cakar beruang menyambar-nyambar untuk mencengkeram dan menangkap.

Sian Lun maklum bahwa orang ini memiliki keahlian dalam ilmu gulat, maka dia harus menjaga agar jangan sampai dapat ditangkap. Tangkapan atau cengkeraman seorang ahli gulat dapat berbahaya. Maka, dia pun mengelak selalu dan kadang menangkis dari samping tanpa memberi kesempatan kepada jari-jari tangan yang panjang itu untuk bisa menangkapnya.

Ketika Badhu yang mulai penasaran karena semua sambaran tangannya tidak pernah berhasil itu menubruk laksana seekor harimau, dengan kedua lengan dikembangkan, Sian Lun menggeser kakinya ke kiri. Tubuhnya mengelak dengan lincah dan saat tubuh Badhu lewat di sebelah kanannya, dia pun mengerahkan tenaga dan menghantam ke arah lambung lawan.

“Desss…!”

Tubuh lawan itu terbanting keras dan bergulingan. Akan tetapi seperti bola karet, dia sudah bangkit kembali dan sama sekali tidak kelihatan sakit, bahkan meloncat dan menubruknya lagi. Sekali ini Badhu marah karena biar pun dia tidak terluka, namun dia telah terbanting dan hal ini bisa dianggap bahwa dia kalah oleh para penonton. Kini dia tidak hanya menubruk, bahkan mencengkeram ke arah kepala.

Dia memang kebal, pikir Sian Lun. Kembali dia mengelak dan sekali ini, dia tidak mau menggunakan tenaga untuk memukul lawan begitu saja, melainkan dia menggunakan tangan yang dibuka, dan tangan itu menampar ke arah muka orang. Yang diarah adalah hidung dan mata karena yakin bahwa betapa pun kebal kepala itu, kalau hidung dan mata tidak mungkin dilatih kekebalan.

“Plakkk!”

Tubuh itu tidak terguncang, akan tetapi Badhu mengeluarkan seruan kesakitan dan dua tangannya menutupi mukanya. Ketika dia menurunkan tangannya, hidungnya menjadi biru dan sebelah matanya juga dilingkari warna menghitam!

Badhu adalah seorang kasar yang biasa mempergunakan kekerasan. Kalau dia biasa menggunakan otaknya, tentu dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih tinggi ilmunya dibandingkan dengan dia yang hanya menggunakan kekuatan otot dan keras serta tebalnya tulang dan kulit. Kini dia menjadi marah sekali dan lupa diri.

Dia menggereng seperti harimau terluka dan dia menyerang Sian Lun dengan liar dan membabi-buta. Serangan membabi-buta seperti itu malah berbahaya, pikir Sian Lun. Maka dia pun menggunakan kelincahan tubuhnya, mengelak sambil membalas dengan pukulan-pukulan tangan terbuka yang ditujukan ke arah bagian badan yang tak mungkin dilatih kekebalan. Berkali-kali tangannya menampar daun telinga, sambungan siku dan pergelangan tangan, kakinya menendang ke arah sambungan lutut kedua kaki lawan.

“Brukkk…!”

Sekali ini Badhu jatuh dan biar pun dia berusaha untuk bangkit, dia jatuh kembali karena sambungan kedua lututnya telah berpindah tempat!

Para penonton menahan napas dan suasana menjadi tegang bukan main. Tidak ada yang berani bertepuk tangan karena selain mereka merasa bangga kepada Badhu juga mereka masih tidak dapat percaya bahwa seorang pemuda yang kelihatan lemah itu benar-benar mampu membuat Badhu bertekuk lutut tanpa mengalami cidera sedikit pun, bahkan tanpa pernah tersentuh tangan raksasa gendut itu!

Terdengar tepuk tangan dan ternyata yang bertepuk tangan adalah Sian Li! Walau pun hanya dia seorang yang bertepuk tangan, akan tetapi karena dia sengaja mengerahkan tenaganya, maka suara tepuk tangannya amat nyaring.

Sagha sudah membawa teman-temannya, para pemain musik, untuk membantu Badhu meninggalkan gelanggang pertandingan dan dia sendiri menghadapi Sian Lun dengan muka merah.

“Kongcu hebat, dapat mengalahkan Kakakku, akan tetapi aku pun ingin mengadu ilmu denganmu. Bersiaplah!”

Sian Lun tentu saja tidak takut, akan tetapi pada saat itu nampak berkelebat bayangan merah. “Suheng, jangan tamak! Yang satu ini bagianku!”

Sian Lun memandang pada sumoi-nya dan tersenyum. “Hati-hati Sumoi, jangan sampai kesalahan tangan membunuh orang,” katanya dan dia pun kembali ke tempat duduknya.

Semua tamu dan penonton kini memandang kepada Sian Li dan karena mereka tadi sudah kagum kepada gadis jelita itu, sekarang melihat gadis itu berani menghadapi dan hendak melawan seorang jagoan seperti Sagha, tentu saja mereka semakin kagum, juga perasaan hati mereka tegang. Bagaimana kalau kulit yang halus mulus itu sampai lecet, tulang yang kecil lembut itu sampai patah-patah. Tentu saja tak ada yang mengira bahwa tingkat kepandaian dara itu bahkan lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian pemuda tampan yang tadi mempermainkan dan mengalahkan Badhu!

Sagha sendiri terkenal jagoan. Karena dia merasa bangga pada diri sendiri dan jarang menemui tandingan, maka kini dihadapi seorang dara sebagai calon lawan, tentu saja dia merasa sungkan dan tidak enak sekali.

“Nona, aku Sagha adalah seorang laki laki yang gagah perkasa dan tak pernah mundur menghadapi lawan yang bagaimana pun juga. Akan tetapi, bagaimana mungkin aku berani melawan seorang dara yang masih setengah kanak-kanak seperti Nona? Seluruh dunia akan mentertawakan aku, menang atau pun kalah. Lebih baik aku melawan lima orang laki-laki yang mengeroyokku dari pada harus bertanding melawan seorang dara remaja!”

Sian Li tersenyum mengejek. “Sagha, katakan saja engkau takut melawan aku. Kalau engkau takut, berlututlah dan cabut semua omongan kalian yang sombong tadi, yang mengejek dan menghina para pendekar dari dunia persilatan di timur! Engkau harus menarik ucapanmu tadi dan mohon maaf, baru aku dapat mengampunimu!”

Mereka yang memahami bahasa Han, menjadi bengong mendengar ucapan gadis itu. Betapa beraninya! Dan mereka yang tidak paham, cepat-cepat bertanya kepada teman mereka yang mengerti dan semua orang kini memandang kepada Sian Li dengan kaget dan heran.

Seorang gadis yang usianya belum dewasa benar, akan tetapi berani bersikap demikian meremehkan terhadap seorang jagoan seperti Sagha yang tadi sudah memamerkan demonstrasi kekebalan dan kehebatan tenaganya! Baru kepala dan tubuh yang lain saja demikian kuatnya, kepalanya mampu membikin pecah batu, apa lagi tangannya. Sekali sentuh saja, mungkin kepala gadis remaja itu akan remuk!

Mendengar ucapan Sian Li, Sagha mengerutkan alisnya dan mukanya menjadi merah sekali. Kalau saja bukan seorang gadis yang mengucapkan kata-kata tadi, tentu sudah dihantamnya. Akan tetapi dia berhadapan dengan seorang gadis, anggota rombongan Sang Puteri Gangga Dewi pula, tentu saja dia tidak berani sembarangan.

“Nona, mungkin saja Nona pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi engkau bukanlah lawanku. Aku tidak takut kepadamu, melainkan takut kalau ditertawakan orang gagah sedunia. Pula, bagaimana aku berani bertanding dengan engkau yang datang bersama Yang Mulia Puteri Gangga Dewi? Aku takut mendapat marah dari beliau.”

Gangga Dewi yang mendengar ucapan Sagha itu tersenyum. Ia sudah tahu bahwa Sian Li sudah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat, bahkan tingkatnya lebih tangguh dibandingkan suheng-nya. Oleh karena itu, tentu saja dia merasa yakin bahwa Sian Li akan mampu menandingi dan bahkan mengalahkan Sagha dengan mudah. Juga dia ingin orang yang sombong itu dapat menerima hajaran karena telah berani mengejek dan menghina para pendekar Han.

“Sagha, engkau boleh bertanding melawan Si Bangau Merah, dan kalau engkau mampu menang, baru aku mengakui bahwa engkau memang seorang jagoan yang hebat.”

Sagha memberi hormat kepada Gangga Dewi. “Maafkan saya. Akan tetapi bagaimana kalau hamba kesalahan tangan dan melukai Nona ini? Hamba tidak ingin Paduka nanti marah kepada hamba.”

Gangga Dewi tertawa. “Aku tidak akan marah dan semua orang yang berada di sini menjadi saksinya.”

“Terima kasih, Yang Mulia,” kata Sagha dan kini dia menghadapi Sian Li. “Baik, Nona. Mari kita main-main sebentar.”

“Tak usah main-main, engkau keluarkan semua kepandaianmu dan seranglah sungguh-sungguh karena aku akan merobohkanmu!” kata Sian Li.

“Hemm, bocah ini terlalu memandang rendah kepadaku,” pikir Sagha marah. Dia pun tidak sungkan- sungkan lagi dan mengambil keputusan untuk membikin malu gadis itu di depan umum, misalnya dengan merobek baju itu!

“Nona, jaga seranganku ini!”

Kedua tangannya yang besar dengan lengan yang panjang itu sudah bergerak cepat menyambar ke arah tubuh dara remaja itu tanpa sungkan lagi. Dibandingkan Badhu, Sagha yang tinggi kurus ini memang lebih sigap dan cepat.

“Hyaaaahhhh…!” Dia membentak sambil menyerang. “Plakkk!”
Kedua telapak tangannya saling bertemu dari kanan kiri dan mengeluarkan bunyi keras ketika terkamannya itu luput, dan gadis yang tadi berada di depannya itu telah lenyap. Cepat dia membalik dan kembali kedua lengan panjang itu bergerak seperti dua ekor ular, akan tetapi kembali terkamannya mengenai tempat kosong.

Makin cepat Sagha menyerang, semakin cepat pula Sian Li bergerak sehingga semua penonton menjadi bengong saking kagumnya. Tubuh gadis itu lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah berkelebatan dengan sangat cepatnya, menyambar-nyambar di antara terkaman dan cengkeraman kedua tangan Sagha.

Mendadak, ketika dia menganggap sudah cukup lama mempermainkan lawan, Sian Li berseru nyaring. Jari telunjuk kirinya meluncur bagaikan patuk burung bangau mematuk dengan cepat seperti kilat menyambar.

“Haiiitttt…! Tukkk!”

dunia-kangouw.blogspot.com

Telunjuk kiri itu menotok dua kali ke pundak dan dada dan seketika Sagha tidak mampu bergerak karena dia telah menjadi korban ilmu totok ampuh It-yang Sin-ci yang dipelajari gadis itu dari Yok-sian Lo-kai.

Sian Li juga telah menguasai ilmu totok lain seperti Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang hebat dari paman kakeknya, akan tetapi ia tadi menggunakan It-yang Sin-ci untuk mempraktekkan ilmu yang baru saja ia pelajari dari Raja Obat itu. Dan pada saat lawan tak mampu bergerak, kaki Sian Li menyambar ke arah lutut. Sagha yang tidak mampu mengerahkan tenaga lagi roboh terpelanting. Pada saat lawan terpelanting itu, Sian Li membebaskan kembali totokannya.

Para penonton kini tidak mampu lagi menahan kekaguman dan kegembiraan mereka melihat betapa Dewi Bangau Merah benar-benar sudah mampu merobohkan Sagha! Maka terdengarlah tepuk sorak riuh menyambut kejatuhan Sagha.

“Hemmm, mana kepandaianmu yang membuat engkau sombong dan mengejek para pendekar dari timur? Hanya sebegini saja?” Sian Li mengejek dengan suara lantang, dan kembali terdengar orang menyambut dengan suara riuh.

Wajah Sagha sebentar pucat sebentar merah dari dia meloncat berdiri. “Aku belum kalah!” bentaknya.
Dia pun kembali menyerang, kini bukan ingin menangkap dan merobek baju gadis itu, melainkan memukul dan menendang dengan dahsyat! Sagha sudah marah sekali dan lupa bahwa yang dilawannya hanya seorang dara remaja. Dia menyerang bukan lagi untuk mencari kemenangan, melainkan untuk membunuh.

Akan tetapi, Sagha seperti mengamuk dan menyerang bayangan saja. Semua pukulan, cengkeraman dan tendangannya hanyalah mengenai udara kosong sampai terdengar suara bersiutan.

Tiba-tiba, begitu melihat ada kesempatan baik, kembali jari telunjuk tangan kiri gadis itu meluncur dan seperti tadi, seketika tubuh Sagha tidak dapat dia gerakkan dan sekali ini, sambil membentak nyaring Sian Li menendang atau mendorong dengan kakinya sambil mengerahkan tenaga. Tubuh tinggi kurus itu terlempar keluar dari panggung dan jatuh menimpa kawan-kawannya, yaitu para penari dan penabuh musik di mana terdapat pula Badhu yang telah dikalahkan Sian Lun!

Tepuk tangan dan sorak yang riuh menyambut kemenangan Sian Li ini. Akan tetapi ketika Sian Li berjalan kembali ke tempat duduknya, suara tambur dan gendang terhenti tiba-tiba dan kini Lulung Ma dan pemuda tampan jangkung telah berdiri berdampingan sambil bertolak pinggang. Lulung Ma mengeluarkan teriakan yang mengatasi keriuhan di situ, suaranya nyaring sekali dan terdengar oleh semua orang.

“Saudara sekalian! Kedua orang pembantu kami sudah kalah karena mereka memang bodoh. Sekarang, kami berdua menantang siapa saja yang memiliki kepandaian untuk mengadu ilmu di sini. Kami menantang semua dan siapa saja, tidak terkecuali!”

Pandang mata Lulung Ma lurus ditujukan kepada Suma Ciang Bun, sedangkan pandang mata pemuda jangkung itu ditujukan kepada Liem Sian Lun! Walau pun mereka tidak menuding, jelas bahwa dua orang Han itulah yang mereka tantang!

Tiba-tiba Gangga Dewi yang sudah berdiri seperti yang lain, menuding ke arah Lulung Ma dan terdengar suaranya yang lembut namun lantang.

“Lulung Ma, sikapmu menunjukkan bahwa engkau dan orang-orangmu ini agaknya para penyelundup yang hendak mengacau di Bhutan! Menyerahlah untuk kami tawan dan kami periksa!”

Mendadak Lulung Ma mengubah sikapnya yang tadi hormat kepada puteri itu. “Gangga Dewi, engkau puteri Bhutan yang mengkhianati bangsa sendiri, bersekongkol dengan orang-orang Han dari timur! Engkau yang sepatutnya ditawan!”

Tiba-tiba raksasa hitam itu meloncat ke tempat duduk kehormatan, diikuti oleh pemuda jangkung yang juga sekali menggerakkan kaki sudah ikut melayang ke situ. Lulung Ma menerjang ke arah Gangga Dewi, sedangkan pemuda jangkung itu menerjang ke arah Liem Sian Lun!

“Jahanam busuk!” Suma Ciang Bun meloncat dan melindungi isterinya. Melihat betapa Lulung Ma menyerang Gangga Dewi dengan dorongan kedua telapak tangan terbuka, Ciang Bun memapaki dengan kedua telapak tangannya pula.

“Desss…!”

Dua pasang telapak tangan bertemu dan akibatnya Ciang Bun terhuyung, akan tetapi Lulung Ma juga mundur dua langkah. Dari pertemuan tenaga ini saja dapat diketahui bahwa Si Raksasa Hitam itu sangat kuat dan memiliki sinkang yang ampuh dan dapat menandingi kekuatan cucu Pendekar Sakti dari Pulau Es itu!

Gangga Dewi melolos sabuk sutera putihnya dan cepat membantu suaminya dan suami isteri itu kini mengeroyok Lulung Ma. Gangga Dewi menggunakan sabuk sutera, Suma Ciang Bun pun sudah menghunus sepasang pedangnya yang bersinar putih, sedangkan Lulung Ma juga sudah mengeluarkan senjatanya yang terlihat aneh dan dahsyat, yaitu sepasang roda atau gelang besar yang dipasangi sirip- sirip tajam dan berwarna kuning keemasan.

Sementara itu, pemuda jangkung tukang tambur tadi sudah menyerang Sian Lun. Tentu saja Sian Lun segera menyambut serangannya dengan tangkisan sambil mengerahkan tenaganya.

“Dukkk!”

Pertemuan dua lengan membuat Sian Lun hampir terjengkang, maka mengertilah Sian Lun bahwa pemuda jangkung itu memang benar seperti dugaannya tadi, bukan orang sembarangan dan mempunyai tenaga sinkang kuat. Sama sekali tidak bisa disamakan dengan Badhu dan Sagha yang hanya mengandalkan tenaga otot dan tulang, tenaga kasar saja.

Pemuda jangkung ini memiliki gerakan silat yang lihai, dan dalam pertemuan tenaga pertama kali tadi, Sian Lun jelas kalah kuat. Oleh karena itu, gadis yang lincah dan galak ini meloncat ke depan dan sambil mengeluarkan bentakan, ia sudah menyerang dengan ilmu yang dipelajarinya dari Suma Ceng Liong dan yang paling disukainya, yaitu ilmu totok Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang).

“Keparat, jangan menjual lagak di sini!” bentak Sian Li dan serangannya itu membuat Si Pemuda Jangkung terkejut. Akan tetapi dia masih mampu menghindarkan diri dengan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik tiga kali.

“Nona Merah yang cantik sekali, mundurlah agar kulitmu yang putih mulus tidak sampai lecet,” pemuda itu berkata dan ternyata penabuh musik ini seorang pemuda yang selain lihai ilmu silatnya, juga pandai bicara dan lincah.

Wajah gadis itu menjadi semerah pakaiannya dan dua matanya melotot. Tanpa banyak cakap lagi Sian Li sudah menerjang lagi dengan tusukan-tusukan jari tangannya yang amat berbahaya. Sian Lun juga membantu sumoi-nya dan pemuda ini bahkan sudah mencabut pedang dan menyerang pemuda jangkung dengan ganasnya.

Si Pemuda Jangkung terkejut. Kiranya dua orang pengeroyoknya itu sangat berbahaya. Maka setelah berkali-kali dia berloncatan mengelak, dia lalu melolos senjatanya, yaitu sehelai sabuk rantai baja yang kedua ujungnya dipasangi pisau tajam. Dia memutar senjata itu dan dua batang pisau menyambar- nyambar ke arah Sian Li dan Sian Lun bagaikan dua ekor burung walet menyambari belalang.

Sian Li juga sudah mencabut pedangnya dan bersama suheng-nya, ia lalu mengeroyok pemuda jangkung. Bagaimana pun lihainya pemuda jangkung itu, kini dia menghadapi pengeroyokan dua orang murid dari Suma Ceng Liong, cucu dari Pendekar Super Sakti Pulau Es yang paling tangguh, maka sebentar saja dia sudah terdesak hebat dan kedua pisau di ujung rantai bajanya hanya mampu melindungi dirinya tanpa mampu membalas serangan lawan.

Lulung Ma ternyata memang lihai bukan main. Sepasang senjatanya yang berbentuk gelang besar bersirip itu selain dapat dipegang oleh kedua tangan untuk menangkis dan menghantam lawan, juga dapat dia lontarkan ke arah lawan. Gelang itu akan berputar menyambar ke arah lawan, dan jika lawan mengelak, gelang itu berputar dan membalik kembali ke tangannya.

Beberapa kali Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi nyaris terkena sambaran senjata yang istimewa itu. Namun, kedua suami isteri ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, keturunan orang- orang sakti. Oleh karena itu, betapa pun dahsyatnya permainan sepasang gelang atau roda di tangan Lulung Ma, tetap saja mereka mampu mempertahankan diri, bahkan serangan balasan pasangan suami isteri ini pun sering kali membuat Lulung Ma menjadi repot sekali.

“Kepung tempat ini, tangkap mereka semua. Mereka mata-mata musuh!” Gangga Dewi berteriak lantang.

Mendengar aba-aba ini, pasukan keamanan dan para petugas di dusun itu lalu serentak maju mengepung dan mengeroyok. Hanya Lulung Ma, pemuda jangkung dan dua orang pembantu mereka tadi, yaitu Badhu dan Sagha yang terus melakukan perlawanan. Para pemusik lain dan juga para penyanyi dan penari berdiri berkelompok di sudut dengan ketakutan.

Penonton menjadi panik, apa lagi ketika empat orang yang dikeroyok itu berloncatan ke tengah penonton. Beberapa orang penonton roboh, dan saat Suma Ciang Bun, Gangga Dewi, Sian Lun dan Sian Li melakukan pengejaran, keempat orang itu sudah lenyap di antara penonton.

Ketika ditanya, para pemusik itu menjawab dengan ketakutan bahwa mereka tidak tahu, bahkan tidak mengenal empat orang itu. Pamimpin rombongan itu, seorang kakek yang lemah, akhirnya mengatakan bahwa dia terpaksa menerima keempat orang itu sebagai anggota rombongan.

“Kenapa engkau menerima mereka?” Gangga Dewi bertanya.

“Hamba takut menolak, mohon Paduka mengampuni hamba…” kata kakek itu ketakutan. “Hamba sama sekali tidak tahu bahwa mereka adalah pemberontak-pemberontak, tidak tahu bahwa mereka adalah orang-orang Nepal yang hendak mengacau.”

“Katakan, bagaimana engkau bertemu dengan mereka dan siapa pula mereka itu,” kata pula Gangga Dewi.

“Pada malam hari ketika hamba menerima perintah untuk meramaikan penyambutan terhadap Paduka, hamba telah didatangi kakek yang mengaku bernama Lulung Ma itu. Sebelumnya hamba telah mengenal dia sebagai seorang pendeta yang bernama Lulung Lama, yaitu seorang pemimpin dari para pendeta Lama Jubah Hitam di Tibet. Ada pun pemuda jangkung itu adalah muridnya, seorang peranakan Han-Tibet yang bernama Cu Ki Bok. Mereka itu… aughhh…!”

Sian Li yang bergerak paling cepat, sudah meloncat ke kiri dari mana datangnya pisau yang terbang dan menembus dada kakek pemimpin rombongan pemusik itu. Dia masih sempat melihat berkelebatnya bayangan di antara penonton. Dia mengejar terus, akan tetapi karena banyak penonton yang kembali menjadi panik dan lari ke sana ke mari, dia kehilangan jejak bayangan itu. Akan tetapi melihat bayangan itu bertubuh jangkung, dia bisa menduga bahwa bayangan yang melempar pisau dan membunuh kakek pemimpin rombongan pemusik yang sedang memberi keterangan itu tentulah pemuda jangkung pemukul tambur yang lihai tadi.

Ketika ia kembali ke tempat tadi, di atas panggung, ternyata kakek itu telah tewas tanpa dapat melanjutkan keterangannya. Gangga Dewi mengepal tinju. Ia mengajak suaminya dan dua orang muda-mudi itu untuk segera melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja Thimphu karena dia harus segera melaporkan semua hal yang terjadi itu kepada raja agar dikerahkan pasukan khusus untuk membasmi dan membersihkan jaringan mata-mata orang Nepal dan Tibet yang agaknya bersekongkol itu. Harus mengirim berita pula kepada Kerajaan Nepal dan para pimpinan Lama di Tibet tentang orang-orang Nepal Tibet yang hendak mengacaukan keadaan yang aman tenteram itu…..

********************

Tan Sian Li dan suheng-nya diterima dengan penuh keramahan dan kegembiraan oleh keluarga raja di Bhutan. Juga semua orang menyambut dengan bahagia bahwa Puteri Gangga Dewi kini telah bersuamikan seorang pendekar yang gagah perkasa, keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es pula!

Sebentar saja, semua orang mengenal dan mengagumi Si Bangau Merah, julukan Sian Li. Selama seminggu tinggal di istana, dua orang muda mudi itu setiap hari dijamu dan disambut penuh kehormatan dan keramahan.

Setelah selama seminggu tinggal di istana Kerajaan Bhutan, Sian Li dan Sian Lun lalu berpamit dari keluarga kerajaan itu. Mereka tidak berani tinggal terlalu lama di istana Bhutan, di mana mereka disambut sebagai tamu agung itu karena mereka harus sudah tiba kembali di rumah Suma Ceng Liong sebelum sin- cia (tahun baru). Selain itu, kedua orang muda ini juga ingin meluaskan pengalaman dan hendak melakukan perjalanan pulang melalui daerah Tibet.

Dengan hati yang berat Gangga Dewi melepas Sian Li pergi. Dia sudah merasa amat sayang kepada dara yang lincah itu dan dia memaksa Sian Li menerima bekal emas permata darinya. Selain itu, juga dia menyediakan dua ekor kuda terbaik untuk mereka. Akan tetapi, pada waktu Gangga Dewi hendak menyiapkan pasukan pengawal, Sian Li menolaknya.

“Kami berdua mampu menjaga diri sendiri, mengapa harus dikawal? Pula, pengawalan membuat perjalanan menjadi tak menarik dan tidak leluasa,” demikian Sian Li menolak.

Dan akhirnya, Gangga Dewi, Suma Ciang Bun dan sebagian besar keluarga kerajaan mengantar keberangkatan dua orang muda itu sampai ke pintu gerbang kota raja…..

********************

Selain mendapatkan hadiah emas permata yang sangat berharga, dan dua ekor kuda terbaik, juga mereka menerima sebuah peta penunjuk jalan. Dalam peta itu, yang dibuat oleh seorang ahli di istana Bhutan, disebutkan tempat-tempat yang akan mereka lalui dalam perjalanan ke timur melalui Tibet itu. Juga diterangkan akan bahaya-bahaya yang mungkin mereka hadapi pada setiap tempat.

Selain itu, Raja Bhutan berkenan memberi sebuah tanda yang terbuat dari sutera yang dicap tanda kebesaran raja dan dengan tanda ini, kedua orang muda itu akan disambut oleh setiap rakyat di daerah Bhutan sebagai keluarga raja yang harus dihormati. Bahkan para pejabat di daerah Tibet pun akan mengenali tanda keluarga Raja Bhutan yang menjadi tetangga mereka dan akan menghormatinya.

Ternyata kemudian bahwa tanda kebesaran ini sangat ampuh dan membuat perjalanan Sian Li dan Sian Lun menjadi aman. Orang-orang Bhutan selalu menyambut mereka dengan penuh penghormatan setiap kali Sian Li terpaksa memperlihatkan tanda itu bila ada orang yang kelihatan curiga kepada mereka. Tanda kebesaran itu membuat mereka selalu disambut dengan hormat oleh para kepala dusun yang mereka lalui.

Setelah melewati daerah perbatasan dan memasuki daerah Tibet, mereka tiba di daerah yang tandus dan gersang. Mereka tahu dari peta bahwa daerah itu cukup luas dan mereka harus melakukan perjalanan sehari penuh melewati daerah tandus itu sebelum tiba di dusun pertama di daerah yang subur. Karena itu, sebelum melewati daerah ini, mereka telah membawa perbekalan makanan dan terutama minuman karena menurut keterangan dalam peta, di daerah itu mereka tidak akan dapat menemukan makanan atau minuman bersih.

Mereka berangkat pagi-pagi memasuki daerah tandus itu dan semakin dalam mereka memasuki daerah itu, semakin tandus tanahnya. Tidak ada tumbuh-tumbuhan dapat hidup di tanah berbatu keras itu. Yang ada hanya batu dan pasir dan biar pun daerah itu masih cukup tinggi, namun hawanya terasa panas sekali.

Mengerikan bila melihat ke sekeliling, sedemikian sunyinya. Jangankan manusia, seekor binatang pun tidak nampak. Bahkan burung-burung pun tahu bahwa daerah itu adalah merupakan daerah maut, maka di angkasa pun tidak nampak adanya burung terbang. Benar-benar merupakan daerah yang mati, sunyi melengang dan mengerikan.

Tepat pada tengah hari, mereka melihat sebuah gubuk. Oleh karena cahaya matahari menyengat kulit dengan sangat hebatnya, Sian Li mengajak suheng-nya untuk berhenti dan beristirahat sebentar di gubuk itu untuk makan roti dan minum air bekal mereka.

Sebuah gubuk yang sudah tua, akan tetapi masih cukup kokoh. Hanya merupakan tempat berteduh, tanpa dinding, hanya atap dan empat buah tiang saja. Akan tetapi di bawah atap itu terdapat batu datar yang dapat mereka jadikan tempat duduk.

“Lihat, ada tulisan di sini,” kata Sian Lun sambil menunjuk ke lantai, dekat batu di mana mereka duduk.

Sian Li memandang. Di lantai gubuk itu, di atas tanah berpadas keras, terdapat ukir-ukiran beberapa buah huruf yang agaknya dibuat dengan menggunakan senjata tajam. Huruf-huruf itu jelas dan juga indah, tentu diukir oleh seorang yang pandai menulis dan mengukir, seorang sasterawan atau seniman. Mereka kemudian meneliti tulisan itu dan membacanya.

Andai kata aku seorang raja, aku rela menukar kerajaanku untuk segelas air jernih!

Hanya sedemikianlah ukiran huruf-huruf itu, akan tetapi itu saja lebih dari pada cukup. Sian Li dapat membayangkan keadaan Si Penulis itu. Tentu ia seorang yang kehabisan air, sedang kehausan, berada di tengah gurun tandus ini. Sungguh luar biasa sekali. Alangkah berharganya segelas air jernih pada saat sedang dibutuhkan oleh orang yang kehausan! Lebih berharga dari pada sebuah kerajaan!

Betapa besarnya kasih sayang Tuhan Maha Pengasih kepada kita manusia. Berlimpah sudah anugerah dan berkah dari Tuhan kepada manusia. Alangkah nikmatnya, betapa pentingnya, alangkah berharganya segelas air, atau sepotong roti, seteguk hawa udara, bagi kehidupan kita. Dan semua sarana untuk mendapatkan itu demikian mudahnya.

Sudah tersedia. Ada tanah, ada air, ada hawa udara, ada sinar matahari, ada benih! Puji syukur kepada Tuhan Maha Kasih! Maka berbahagialah manusia yang dapat menikmati semua anugerah yang berlimpahan di sepanjang hidupnya ini.

Akan tetapi sayang, nafsu angkara murka dan ketamakan membuat manusia buta akan semua berkah yang dilimpahkan dan sepatutnya disyukuri dan dinikmati ini. Kalau kita mendapatkan segelas air, nafsu angkara murka membisikkan celaannya, mengapa tidak ada anggur, mengapa hanya ada air tawar. Dan lenyaplah sudah segala keindahan dan kenikmatan air itu, bahkan menjadi tidak enak, memuakkan, dan mengecewakan.

Nafsu memang tidak mengenal puas, tidak mengenal batas. Kalau ada anggur, bisikan beracun itu masih terus berdengung agar kita dapat memperoleh yang lebih hebat lagi, yang lebih enak lagi, yang lebih nikmat lagi. Segala sesuatu yang tidak ada, yang masih belum terjangkau oleh tangan, selalu akan nampak lebih indah, lebih nyaman dan lebih menyenangkan dari pada apa saja yang sudah kita miliki.

Mensyukuri keadaan yang ada pada kita, mensyukuri segala peristiwa sebagai suatu berkah, sebagai suatu yang sudah dikehendaki Tuhan, merupakan kunci kebahagiaan. Bukan berarti lalu mandeg dan lunglai, bersandar pada kekuasaan Tuhan belaka. Sama sekali tidak!

Hidup berarti gerak, bekerja, berikhtiar sekuat tenaga, sekuat kemampuan. Ini berarti menjalankan semua alat yang disertakan oleh kekuasaan Tuhan kepada kita ketika kita diciptakan sebagai manusia. Kita pergunakan semua alat, anggota tubuh, hati dan alat pikiran, kita gunakan demi kelangsungan hidup, demi mencukupi semua kebutuhan hidup.

Bukan demi menuruti bisikan nafsu angkara murka sehingga untuk mencapai tujuan kita menghalalkan semua cara, melainkan kita kerjakan semua alat demi kepentingan hidup di dunia ini. Apa pun hasilnya, apa pun jadinya, dan peristiwa apa pun yang menimpa diri kita, kita terima tanpa mengeluh! Semua kehendak Tuhan jadilah!

Manusia hanya dapat menyerah, kita hanya dapat menerima, dan kita wajib membantu pekerjaan kekuasaan Tuhan pada alam ini. Kita tak akan dapat memperoleh padi tanpa berusaha, walau pun Tuhan sudah menyediakan sinar mataharinya, tanahnya, airnya, benihnya, udaranya. Kita harus membantu mengerjakan semua itu, mencangkul tanah, menanam benihnya, mengairi sawah, menuai, menjemur, menumbuk, dan selanjutnya, sebelum hasilnya dapat menyambung kehidupan kita melalui makanan.

Sian Li tertawa. Dia mengeluarkan bungkusan roti, memberi isyarat kepada suheng-nya untuk makan dan minum air bekal mereka. Melihat sumoi-nya tertawa, lalu tersenyum-senyum sambil makan roti dan minum air, Sian Lun memandang heran.

“Ehh, Sumoi, kenapa engkau tertawa dan tersenyum-senyum?”

Ia mengamati wajah yang kemerahan karena sinar matahari itu sehingga kedua pipinya di bawah mata yang agak menjendul itu menjadi merah sekali, mengamati bibir yang bergerak-gerak ketika makan roti. Betapa manisnya wajah sumoi-nya!

Sian Li tersenyum dan sebelum menjawab, ia minum dulu air dari botol airnya. “Tulisan inilah yang membuat aku tertawa,” katanya sambil menunjuk ke arah lantai yang diukir huruf-huruf itu.

“Apanya yang lucu Sumoi? Huruf-huruf itu indah sekali, dan isinya menurut aku sangat mengharukan dan menyedihkan, kenapa engkau malah tertawa?”

“Bukan karena lucu, Suheng, tapi karena senang dan gembira. Tulisan ini menyadarkan aku betapa bahagianya diriku. Di tempat seperti ini aku tidak kehausan dan kelaparan, bukankah saat ini aku masih jauh lebih berbahagia dibandingkan seorang yang kaya raya seperti raja namun kehausan dan tidak mempunyai air?”

“Engkau benar, Sumoi. Akan tetapi, andai kata yang menulis ini benar seorang raja, aku yakin dia tidak akan menulis seperti ini. Apa yang akan dilakukan seorang raja yang kehausan di tempat ini dan tidak mempunyai air? Tentu dia akan memerintahkan para pengawalnya untuk segera mencarikan air minum untuknya.”

Sian Li mengangguk. “Pendapatmu itu memang tepat, Suheng. Karena dia bukan raja, maka dia menulis seperti ini. Manusia memang siap melakukan apa saja, bersikap yang aneh-aneh, kalau sedang menghendaki sesuatu yang dibutuhkannya.”

Sian Lun mengangguk. “Manusia selalu dipermainkan oleh keinginannya, padahal yang diinginkan di dunia ini selalu berubah-ubah dan banyak sekali macamnya. Seorang raja yang sakit mungkin mau saja menukar kerajaannya dengan kesehatan dan keselamatan nyawanya, tetapi dalam keadaan sehat, dia akan mempertahankan dan memperebutkan kedudukannya dengan taruhan nyawa!”

Setelah melepaskan lelah dan selesai makan roti dan minum air jernih, kedua orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi baru beberapa menit mereka melarikan kuda, mendadak mereka mendengar derap kaki kuda dari belakang.

Sian Li yang berada di depan menahan kudanya dan menoleh. Terpaksa Sian Lun pun menahan kudanya pula dan mereka melihat serombongan orang berkuda membalapkan kuda mereka dari arah belakang dan melewati mereka.

Rombongan itu terdiri dari tujuh orang lelaki yang berwajah bengis dan menyeramkan. Pada saat mengenal dua orang di antara mereka adalah Badhu dan Sagha, dua orang Nepal yang menjadi anak buah Lulung Lama, Sian Lun cepat-cepat berkata kepada sumoi-nya, “Sumoi, mari kita kejar mereka!”

Sian Li hendak membantah karena ia merasa tidak ada perlunya mengejar rombongan itu, tetapi karena Sian Lun sudah membalapkan kudanya, dia pun terpaksa melakukan pengejaran.

“Suheng, tahan dulu…!” Serunya ketika ia dapat menyusul suheng-nya. Sian Lun menahan kendali kudanya dan mereka berhenti.
“Suheng, untuk apa kita mengejar mereka?” tanyanya.

“Aihh, bagaimanakah engkau ini, Sumoi. Bukankah dua orang di antara mereka adalah mata-mata yang mengacau di Bhutan? Kita harus membantu Kerajaan Bhutan, bukan?”

“Hemm, Suheng. Kalau kita berada di Bhutan, tentu saja kita harus membantu Bhutan. Akan tetapi, menantang para mata-mata dan pengacau di Bhutan bukanlah tugas kita, apa lagi kini kita sedang melakukan perjalanan menuju pulang. Selain itu, engkau harus ingat pula bahwa kini kita tidak berada di daerah Bhutan lagi, melainkan daerah Tibet.”

Mendengar ucapan sumoi-nya, baru Sian Lun sadar bahwa dia telah terburu nafsu. Dia mengangguk maklum, kemudian berkata, “Betapa pun juga, karena kita juga melakukan perjalanan yang searah dengan mereka tadi, tidak ada salahnya kalau kita diam-diam memperhatikan dan menyelidiki apa yang hendak mereka lakukan. Setidaknya kita bisa mencegah perbuatan mereka yang akan merugikan Bhutan, tanpa menunda perjalanan kita. Bagaimana pendapatmu, Sumoi?”

Gadis itu mengangguk. “Tentu saja, Suheng. Aku pun hanya ingin mengingatkanmu agar kita berhati-hati. Perjalanan masih jauh dan kita tidak mengenal daerah ini.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan walau pun sudah tertinggal jauh oleh rombongan berkuda tadi, namun mereka masih dapat mengikuti jejak tujuh orang itu dengan mudah, apa lagi karena memang rombongan itu menuju ke arah yang sama dengan perjalanan mereka.

Setelah matahari condong ke barat, menjelang senja, mereka tiba di daerah yang subur, bukit-bukit yang hijau dan mulai nampak anak sungai mengalir turun. Segera nampak sebuah dusun yang besar, nampak genteng-genteng rumah dari lereng. Cukup banyak dan besar-besar rumah yang berada di dusun itu.

Juga jejak kaki kuda rombongan tadi menuju ke dusun itu. Mereka lalu menuju ke dusun untuk melewatkan malam dan juga sekalian hendak melihat apa yang akan dilakukan rombongan Badhu dan Sagha, dua orang ahli silat Nepal yang sombong itu.

Dusun itu memang merupakan dusun yang besar dan ramai, terletak di tepi Sungai Yalu Cangpo atau Sungai Brahmaputra yang mengalir dari Pegunungan Himalaya menuju ke timur. Nama dusun itu dusun Namce.

Daerah itu memang luas, tanahnya subur karena dekat sungai, dan juga di sungai itu terdapat banyak ikan sehingga nampak banyak perahu nelayan di situ. Selain ini, dusun Namce juga menjadi pelabuhan dan orang-orang yang melakukan perjalanan ke timur, banyak yang mempergunakan perahu melalui sungai yang besar itu.

Meski pun hanya berupa rumah-rumah sederhana, akan tetapi di dusun Namce terdapat beberapa rumah penginapan dan rumah makan yang menjual makanan sederhana. Ada pula pedagang yang menjual bermacam barang keperluan sehari-hari. Semua ini telah membuat dusun itu menjadi makin ramai, dan terutama sekali karena lalu-lintas melalui sungai itulah yang mendatangkan kemakmuran kepada dusun Nam-ce.

Bahkan orang-orang yang datang dari Lhasa, ibu kota Tibet, yang hendak melakukan perjalanan ke timur, banyak yang melalui Sungai Brahmaputra. Di sebelah selatan luar kota Lhasa terdapat sebuah sungai yang airnya menuju ke Sungai Brahmaputra di dekat Namce, maka banyak yang menggunakan perahu dari Lhasa ke Namce, kemudian dari dusun pelabuhan ini melanjutkan perjalanan dengan perahu besar ke timur, mengikuti aliran air Sungai Brahmaputra.

Sian Lun dan Sian Li menyewa dua buah kamar di sebuah rumah penginapan yang kecil namun bersih. Tempatnya pun agak di pinggir dusun sehingga keadaan di situ tak begitu ramai seperti di bagian tengah dusun, di mana terdapat sebuah pasar yang selalu ramai dikunjungi orang karena tempat ini merupakan pasar perdagangan.

Setelah membersihkan diri yang berlepotan debu dan berganti pakaian baru, Sian Li lalu mengajak Sian Lun keluar dari rumah penginapan dan mencari kedai makanan. Mereka berada di tempat asing, dan orang-orang di sekeliling mereka adalah orang-orang dari suku bangsa daerah itu. Hanya kadang saja nampak orang berpakaian seperti mereka, yaitu orang-orang Han yang hampir semua adalah pedagang.

Andai kata Sian Li mengenakan pakaian biasa, tentu dua orang muda ini tidak terlalu menarik perhatian, walau pun kecantikan Sian Li tentu membuat banyak pria melirik. Namun, karena gadis itu selalu mengenakan pakaian yang warnanya kemerahan, baik polos mau pun berkembang, maka tentu saja ia nampak amat menyolok dan menjadi perhatian setiap orang.

Sian Li mengajak suheng-nya untuk memasuki sebuah kedai makan yang berada di jalan yang agak sunyi. Ketika mereka memasuki kedai, senja hampir terganti malam, cuaca mulai gelap. Kedai itu pun sudah diterangi lampu-lampu minyak yang tergantung dengan kap-kap lampu beraneka warna sehingga nampak terang dan meriah. Seorang pelayan menyambut mereka dan mempersilakan mereka duduk.

Sian Li menyapu ruangan itu dengan sinar matanya. Tidak terlalu banyak tamu di situ. Seorang pria yang agaknya menurut pakaiannya adalah bangsa Han duduk di sudut sambil menundukkan muka. Tiga orang bangsa Tibet duduk di tengah ruangan itu, dan masih ada beberapa orang lagi makan di meja sebelah kiri. Tidak ada sepuluh orang tamu yang berada di ruangan itu.

Sian Li dan Sian Lun duduk di bagian kanan. Sengaja Sian Li memilih bangku yang membuat ia duduk membelakangi para tamu itu. Ia takkan merasa enak makan kalau menghadapi mata banyak laki-laki yang ditujukan kepadanya dengan sinar mata kurang ajar.

Sian Lun duduk berhadapan dengan Sian Li sehingga pemuda inilah yang menghadap ke tengah ruangan, dapat melihat para tamu. Memang, seperti yang dilihatnya, sejak sumoi-nya masuk ruangan rumah makan, semua tamu yang duduk di situ, semuanya pria, mengangkat muka dan melempar pandang mata kagum kepada Sian Li. Pandang mata orang-orang itu seperti melekat pada Sian Li, dan biar pun sumoi-nya sudah duduk membelakangi mereka, tetap saja mereka itu selalu melirik ke arah gadis itu. Kecuali seorang saja, yaitu orang Han yang duduk seorang diri di sudut belakang.

Orang itu makan sambil menundukkan muka. Ia hanya mengangkat muka memandang sejenak ketika dia dan sumoi-nya tadi masuk, lalu menundukkan muka kembali, sedikit pun tidak menaruh perhatian lagi.

Setelah makanan yang dipesan datang, dua orang kakak beradik seperguruan itu lalu makan minum dan baru saja mereka selesai, mereka mendengar suara banyak orang memasuki rumah makan. Mereka menengok dan sinar mata mereka menjadi keras ketika mereka mengenal tujuh orang yang tadi mereka bayangi, yaitu Badhu dan Sagha bersama lima orang kawan mereka!

Sian Li tidak ingin mencari keributan di situ. Ia hanya ingin menyelidiki, apa yang akan dilakukan dua orang anak buah Lulung Lama itu, akan tetapi tidak ingin bentrok secara langsung. Apa lagi dia tahu bahwa dia dan suheng-nya berada di daerah pihak lawan, maka keadaan dapat berbahaya bagi mereka.

Ia memberi isyarat kepada suheng-nya, lalu menggapai pelayan yang segera mendekati mereka. Pelayan lainnya sibuk melayani tujuh orang tamu yang baru masuk. Sian Lun segera membayar harga makanan dan mereka berdua hendak keluar dari rumah makan itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan kasar. “Heiiii, kalian berdua, tunggu dulu!”

Sian Li dan Sian Lun berhenti dan membalikkan tubuh. Kiranya Badhu dan Sagha telah berdiri menghadapi mereka, sedangkan lima orang kawan mereka masih duduk. Dua orang Nepal itu lalu menghampiri Sian Li dan Sian Lun yang berdiri dengan tenang dan tegak.

“Hemm, kalian ini orang-orang Han yang sombong, mau apa berkeliaran di sini?” kata Badhu yang berperut gendut.

Sian Li mengerutkan alisnya dan memandang tajam, lalu bibirnya tersenyum mengejek. Ia melihat betapa beberapa orang Tibet yang berada di situ tengah memandang ke arah mereka.

“Bukan kami orang-orang Han yang sombong dan berkeliaran, karena kami sedang kembali ke timur dan hanya lewat di sini. Akan tetapi kalianlah dua orang Nepal yang besar kepala, kalian berkeliaran di sini tentu hanya akan membikin kacau saja!”

Gadis ini memang cerdik. Tadi mendengar seruan Badhu Si Gendut, para tamu orang-orang Tibet memandang kepada Sian Li dan Sian Lun dengan mata curiga. Akan tetapi setelah gadis baju merah itu menjawab dengan suara lantang, pandang mata mereka berubah dan kini mereka memandang ke arah Badhu dan Sagha dengan alis berkerut.

Wajah Badhu menjadi kemerahan ketika dia mendengar jawaban Sian Li, dan dengan marah dia membentak, “Gadis Han yang sombong, jangan bicara sembarangan!”

Sian Li tersenyum. “Siapa bicara sembarangan, engkau atau aku? Coba kau sangkal, bukankah kalian sudah membikin kekacauan di Nepal, kemudian di Bhutan dan setelah gagal di sana, kalian hendak mengacau pula di Tibet ini?”

Badhu menjadi semakin marah. “Perempuan sombong! Kau lihat saja pembalasan kami atas semua penghinaanmu!”

Setelah berkata demikian, Badhu memberi isyarat kepada enam orang kawannya dan mereka pun keluar dari rumah makan itu tanpa memesan makanan!

Karena ia memang tidak ingin membikin ribut di rumah makan itu atau di dalam dusun itu, yang hanya akan menimbulkan kekacauan saja dan juga akan menjadi penghambat perjalanannya, maka Sian Li juga segera meninggalkan tempat itu. Sian Li mencegah suheng-nya ketika Sian Lun yang nampaknya marah itu hendak melakukan pengejaran.

Setelah dua orang muda itu pergi, ramai para tamu membicarakan peristiwa kecil tadi dan semua orang merasa kagum dan memuji nona baju merah yang berani menentang orang-orang Nepal yang terlihat kuat dan bengis tadi. Hanya seorang di antara mereka yang tidak ikut bicara. Dia adalah laki-laki yang tadi duduk di sudut belakang. Dia tidak pernah bicara, hanya memanggil pelayan, membayar harga makanannya dan dia pun segera meninggalkan rumah makan tanpa meninggalkan kesan.

“Sumoi, kenapa Sumoi melarangku untuk mengejar mereka? Dua orang Nepal keparat itu pantas dihajar!” Sian Lun menegur sumoi-nya ketika mereka tiba kembali di rumah penginapan mereka.

“Suheng, lupakah engkau bahwa sekarang kita bukan berada di Bhutan lagi, juga bukan di negara sendiri? Kita berada di Tibet, dan engkau tentu masih ingat bahwa dua orang Nepal itu adalah anak buah Lulung Lama, seorang tokoh yang menjadi pimpinan para Lama Jubah Hitam. Ini adalah tempat mereka dan jika terjadi keributan, tentu kita yang dianggap sebagai pengacau. Tadi pun aku masih beruntung dapat membalas serangan fitnah mereka sehingga orang-orang Tibet yang mendengarnya tidak memihak mereka.”

“Ahh, aku hanya khawatir kalau kita dianggap penakut dan tidak berani kepada mereka. Lagi pula sekarang ini kita yang diancam dan kita tidak tahu kapan mereka akan turun tangan mengganggu kita.”

“Suheng, bukankah Guru kita, kakek Suma Ceng Liong dan isterinya, pernah memberi tahu bahwa kita tak boleh tergesa-gesa menurutkan nafsu kemarahan belaka? Bahkan kita diharuskan bersabar setiap kali menghadapi lawan. Kita harus memakai kecerdikan, bukan asal hantam saja! Tanpa ancaman mereka pun, kita harus waspada setiap saat karena bagi seorang pengembara, kita selalu dikelilingi kemungkinan adanya serangan bahaya. Nah, sekarang kita tidur saja karena besok pagi-pagi sekali kita harus sudah melanjutkan perjalanan.”

Walau pun di dalam hatinya Sian Lun masih merasa penasaran dan marah kepada dua orang Nepal yang tadi sudah mengeluarkan kata-kata kasar dan kurang ajar terhadap sumoi-nya, namun alasan yang dikemukakan Sian Li sangat kuat dan juga tepat, maka dia pun hanya mengangguk dan mereka pun memasuki kamar masing-masing.

Malam itu sunyi sekali di rumah penginapan di mana Sian Li dan Sian Lun menginap. Lewat tengah malam, keadaan bertambah sunyi dan dingin. Petugas rumah penginapan yang berjaga malam ada dua orang. Mereka ini pun sudah meringkuk di meja pengurus, tertidur karena setelah lewat tengah malam, tentu tidak akan ada tamu datang lagi…..

********************

Lima bayangan hitam menyelinap memasuki rumah penginapan melalui pagar tembok belakang dengan melompatinya. Gerakan mereka ringan dan gesit sekali, menunjukkan bahwa lima orang ini adalah orang- orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Dengan menyusup seperti lima ekor kucing, tanpa mengeluarkan suara, lima orang ini akhirnya telah tiba di belakang kamar Sian Lun dan Sian Li yang berdampingan. Mereka menghampiri jendela dalam dua kelompok, lalu mengintai ke dalam. Gelap dan sunyi saja dalam kedua kamar itu.

Mereka itu adalah Badhu dan Sagha, diikuti tiga orang berkepala gundul berjubah hitam. Tiga orang pendeta Lama Jubah Hitam! Kiranya Badhu dan Sagha hendak memenuhi ancamannya dan sekali ini mereka tidak mau gagal.

Mereka sudah maklum akan kelihaian dua orang muda itu, maka mereka berdua datang mengajak tiga orang tokoh Hek-I Lama (Pendeta Lama Jubah Hitam) yang mempunyai ilmu tinggi. Ketiga orang itu adalah para pembantu dari Lulung Lama dan memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan dua orang Nepal itu.

Mereka memang sudah membuat persiapan serta sudah mengatur rencana pembagian tugas. Anak buah mereka telah mencari keterangan di mana letak kamar pemuda dan gadis itu, dan sekarang mereka sudah siap melaksanakan rencana mereka.

Badhu beserta seorang pendeta jubah hitam akan bertugas membius gadis berpakaian merah dengan meniupkan asap pembius ke dalam kamar, sedangkan Sagha dibantu dua orang pendeta jubah hitam akan menerjang masuk ke kamar pemuda Han itu dan membunuhnya!

Setelah memberi isyarat, Badhu lalu menghampiri pintu kamar Sian Li. Dengan dibantu seorang pendeta jubah hitam, dia menyusupkan sebuah pipa kecil ke dalam kamar itu melalui celah di bawah pintu. Pipa itu bersambung dengan sebuah kantung kulit yang menggembung. Bersama temannya, Badhu lalu menekan- nekan kantung itu dan asap beracun tertiup masuk kamar melalui pipa.

Sementara itu, Sagha beserta dua orang pendeta baju hitam, dengan memegang golok, mencongkel jendela kamar itu. Dengan mudah saja daun jendela terbuka dan tiga orang itu berloncatan memasuki kamar yang gelap. Mereka menyalakan lilin dan kaget sekali ketika melihat betapa tempat tidur pemuda itu kosong, tidak ada orangnya! Tentu saja Sagha dan dua orang pendeta jubah hitam itu berlompatan keluar lagi.

“Kamarnya kosong…!” kata Sagha kepada Badhu yang menjadi heran dan kaget bukan main.

Jika kamar pemuda itu kosong, tentu kamar gadis itu kosong pula! Ataukah Si Pemuda itu pindah ke kamar Si Gadis? Badhu tersenyum menyeringai dan berkata dengan suara mengejek.

“Tentu saja mereka tidur bersama dalam kamar ini! Siapa orangnya mau membiarkan nona merah yang cantik molek itu tidur kedinginan seorang diri?” Mereka tertawa, walau pun suara tawa mereka ditahan agar tidak menimbulkan kegaduhan.

“Mereka berdua tentu sudah terbius pingsan sekarang,” katanya lagi dengan girang.

Mereka terlalu memandang rendah kepada Sian Li dan Sian Lun. Tidak percuma dua orang muda ini menjadi murid orang-orang sakti seperti Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng.

Biar pun dua orang ini telah melakukan perjalanan jauh dan tubuh mereka terasa lelah, namun karena tadi bertemu dengan tujuh orang yang hendak membikin ribut di rumah makan, dan mendengar ancaman Si Gendut Badhu, maka suheng dan sumoi ini tidak tidur begitu saja. Mereka beristirahat sambil duduk bersila, sehingga biar tubuh mereka beristirahat, akan tetapi kewaspadaan mereka selalu menjaga keselamatan mereka.

Sedikit gerakan lima orang yang mendekati kamar mereka, biar pun tidak menimbulkan suara gaduh, cukup untuk dapat mereka tangkap dengan pendengaran mereka. Sian Li menjadi curiga dan ketika dia mengintai dari jendela kamarnya, dia melihat bayangan beberapa orang berkelebatan. Tahulah ia bahwa ada penjahat yang datang.

Ia memang sudah siap siaga, maka kamarnya berada dalam kegelapan. Sebelum para penjahat itu melakukan sesuatu, dia sudah membuka jendela samping dan meloncat ke luar, terus mengambil jalan memutar dan meloncat ke atas genteng.

Hampir saja dia bertubrukan dengan suheng-nya di atas genteng! Kiranya Sian Lun juga sudah dapat melihat para penjahat itu dan seperti juga Sian Li, dia keluar dari kamar dan meloncat ke atas genteng.

“Ada dua orang menghampiri kamarku, Suheng,” katanya lirih. “Dan kulihat tiga orang menghampiri kamarku,” kata pula Sian Lun.
Mereka berdua sudah mencabut pedang masing-masing dan kini mereka mengintai ke bawah. Mereka melihat apa yang dilakukan lima orang itu, mendengar pula percakapan mereka yang mengira bahwa mereka berdua tidur sekamar!

Mendengar ini wajah Sian Li lantas menjadi merah saking marahnya menerima tuduhan kotor tentang dirinya itu. Juga wajah Sian Lun menjadi merah sekali karena tadi pun, seperti malam-malam yang lalu, dia sering bermimpi tidur sekamar dengan sumoi-nya yang telah membuatnya tergila-gila semenjak sumoi-nya remaja!

Kini Sian Li sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi. Ia melayang turun, diikuti suheng-nya sambil berseru, “Jahanam bermulut busuk!”

Lima orang yang masih tertawa-tawa itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba ada dua bayangan orang melayang turun dari atas genteng dan tahu-tahu dua orang muda yang mereka kira sedang tidur bersama di dalam kamar itu dan yang kini tentu telah roboh pingsan, kini telah berdiri di depan mereka dengan pedang di tangan.

“Gawat! Lari…!” teriak Badhu yang memimpin gerakan itu.

Mereka pun telah berloncatan ke dalam kegelapan malam, lari ke arah belakang rumah penginapan di mana terdapat sebuah kebun yang cukup luas.

“Jahanam busuk, hendak lari ke mana kalian?” Sian Lun berseru marah dan melakukan pengejaran. “Hati-hati, Suheng!” teriak Sian Li yang juga ikut mengejar.
Dia merasa khawatir karena dari apa yang dia pelajari, sungguh berbahaya melakukan pengejaran terhadap penjahat yang lihai atau banyak jumlahnya di malam hari, apa lagi di tempat yang tidak dikenal keadaannya.

Akan tetapi ternyata bahwa mereka jauh lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh sehingga sebentar saja, mereka telah dapat menyusul ketika lima orang penjahat itu tiba di dalam kebun. Kini setelah tiba di tempat sepi, agaknya Badhu dan kawan-kawannya sudah siap siaga. Mereka berlima sudah mencabut golok dan tetap dalam pembagian tugas seperti tadi, Badhu dan seorang pendeta jubah hitam menyambut Sian Li dengan golok mereka, sedangkan Sagha dan dua orang pendeta lain menyerang Sian Lun.

Terjadilah perkelahian yang mati-matian di dalam kebun itu, hanya diterangi oleh sinar bulan yang datang agak lambat. Mereka lebih mengandalkan ketajaman pendengaran dari pada penglihatan dan untunglah bahwa untuk ilmu ini, Sian Li dan Sian Lun telah mendapat gemblengan dari guru mereka.

Meski demikian, ketika senjata mereka bertemu dengan golok mereka yang berkepala gundul dan berjubah hitam, Sian Li dan Sian Lun terkejut karena mendapat kenyataan bahwa tenaga mereka itu sangat kuat, jauh lebih kuat dibandingkan Badhu dan Sagha yang hanya mengandalkan tenaga kasar dari otot-otot yang terlatih.

Sian Li masih mampu mengimbangi pengeroyokan Badhu dan seorang pendeta jubah hitam. Gadis ini mengamuk dengan gerakannya yang indah mirip sekali dengan gerakan seekor burung bangau. Bangau Merah!

Biar pun sudah menerima gemblengan berbagai ilmu silat tinggi dari Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, akan tetapi yang menjadi inti dari kepandaian Sian Li adalah ilmu yang berdasarkan ilmu silat Pek-ho Sin- kun (Silat Bangau Putih) yang dipelajari dari ayahnya sendiri sebelum ia berguru pada kakek dan neneknya. Dan memang Suma Ceng Liong yang menghendaki agar gadis ini memperdalam ilmu warisan ayahnya itu, hanya kini ilmu silat itu dicampur dengan ilmu lain yang tinggi sehingga ilmu silat yang berdasarkan gerakan burung bangau itu kini menjadi aneh dan lihai, namun masih mengandung gerakan halus dari seekor bangau.

Yang repot adalah Sian Lun. Tingkat kepandaian pemuda ini memang masih kalah jika dibandingkan sumoi-nya, dan kini dia dikeroyok tiga orang. Kepandaian Sagha memang tidak ada artinya bagi Sian Lun, akan tetapi dua orang pendeta jubah hitam itu sungguh lihai bukan main. Melawan seorang saja di antara mereka sudah merupakan lawan yang tangguh, apa lagi ada dua orang seperti itu, masih ditambah dengan Sagha lagi. Sian Lun hanya mampu memutar pedangnya, melindungi dirinya dari sambaran tiga batang golok para pengeroyoknya.

Mendadak terjadilah keanehan! Lima orang pengeroyok itu berturut-turut mengeluarkan teriakan kesakitan dan senjata mereka terlepas dari tangan. Mereka itu lalu berlompatan jauh ke belakang dan melarikan diri dari Sian Li dan Sian Lun yang tentu saja menjadi bengong terheran-heran. Mereka tidak merasa telah melukai para pengeroyok itu, akan tetapi mengapa mereka berlima itu melepaskan golok dan melarikan diri seperti orang ketakutan?

Sian Lun hendak melakukan pengejaran, akan tetapi Sian Li memegang tangan kirinya mencegah, “Suheng, mereka itu merupakan lawan berat, berbahaya sekali bila dikejar. Mari kita kembali ke kamar!” katanya.

“Tetapi, apa yang telah terjadi? Kenapa mereka melepaskan senjata dan melarikan diri seperti orang ketakutan?”

Sian Li menggelengkan kepalanya, “Entahlah, Suheng, aku pun tidak mengerti. Telah terjadi keanehan malam ini, mungkin ada dewa yang menolong kita.”

Mereka kemudian kembali ke rumah penginapan dimana telah berkumpul banyak orang. Kegaduhan tadi membangunkan para tamu, juga para pelayan sehingga kini mereka berkerumun di depan kamar Sian Li dan kamar Sian Lun. Ketika dua orang muda itu muncul, tentu saja mereka dihujani pertanyaan.

“Ada dua orang pencuri hendak memasuki kamar kami berdua,” kata Sian Lun.

“Mereka menggunakan asap pembius. Harap kalian mundur semua, aku akan membuka jendela agar asap itu keluar. Awas, yang terkena asap itu dan menyedotnya, akan jatuh pingsan,” sambung Sian Li.

Sian Li lalu membuka daun jendela kamarnya, lalu pergi menjauhi kamar itu, demikian pula Sian Lun. Dari dalam kamar itu membubung asap tipis yang tidak berapa banyak lagi karena tadi sebagian asap sudah keluar melalui celah-celah pintu, jendela dan atap.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo