October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 16

 

“Suheng, ini adalah kakak sepupu dari Kakek Suma Ceng Liong!” Dara yang lincah itu memberi tahu Sian Lun yang cepat mengangkat tangan memberi hormat kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Gangga Dewi mendekati dan memeluk Sian Li. “Anak manis, engkau cantik bukan main, Aku memang datang dari Bhutan, dan aku bukanlah orang lain. Seorang di antara guru ayahmu yang bernama Wan Tek Hoat atau Tiong Khi Hwesio adalah mendiang Ayah kandungku.”

Sian Li menjadi makin gembira dan balas merangkul sambil memandang kagum. Tentu saja ia sudah pernah mendengar cerita ayahnya tentang pendekar Wan Tek Hoat yang berjuluk Si Jari Maut itu, yang telah menikah dengan seorang puteri Kerajaan Bhutan.

“Aih, Nenek yang baik. Pantas saja engkau masih kelihatan begini cantik dan anggun. Kiranya engkau adalah seorang puteri Kerajaan Bhutan!”

Karena Sian Li memang lincah jenaka dan gembira, maka sebentar saja ia sudah akrab dengan kakek dan nenek itu, dan mereka lalu memasuki rumah untuk bertemu dengan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Pertemuan itu tentu saja amat menggembirakan. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi pernah satu kali berkunjung ke situ sebelum Sian Li tinggal bersama Suma Ceng Liong dan isterinya, bahkan sebelum Sian Lun menjadi murid mereka.

Setelah makan bersama, kedua orang tamu itu lalu menceritakan pengalaman mereka yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Liem Sian Lun dan terutama sekali Tan Sian Li. Ketika Suma Ciang Bun mengatakan bahwa dia bersama Gangga Dewi akan pergi ke Bhutan, Sian Li segera berkata penuh gairah.

“Ku-kong aku ikut!”

Semua orang terkejut. Suma Ceng Liong memandang cucu keponakan itu. “Aih, Sian Li, kau kira Bhutan itu dekat? Perjalanan ke sana berbulan-bulan!”

“Aku tidak takut perjalanan jauh, Ku-kong! Aku sudah sering mendengar dari Ayah dan Ibu mengenai Bhutan yang indah. Dan dari Kongkong Kao Cin Liong aku pun sering mendengar cerita tentang dunia bagian barat. Aku ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman, Ku-kong. Kebetulan sekali kini ada Ku- kong Suma Ciang Bun dan Nenek Gangga Dewi yang akan menjadi penunjuk jalan. Aku ingin sekali ikut, Ku-kong!”

Suma Ceng Liong diam-diam tersenyum dalam hatinya. Dia tidak merasa heran akan sikap cucu keponakan ini. Memang keluarga mereka semua berdarah pendekar, darah petualang. Dahulu ia sendiri pun merupakan seorang petualang, demikian pula isterinya. Ayah dan ibu Si Bangau Merah ini pun petualang-petualang besar.

“Akan tetapi, bagaimana kalau ayah ibumu datang, Sian Li? Kami tentu akan merasa tidak enak kalau mereka datang dan engkau tidak berada di sini,” kata Kam Bi Eng.

“Akan tetapi Ayah dan Ibu masih enam bulan lagi baru akan datang ke sini, seperti biasa setiap tahun baru mereka datang. Dan aku akan berusaha supaya sebelum tahun baru dapat pulang ke sini. Aku ingin sekali pergi, kebetulan ada Ku-kong dan isterinya yang akan menemaniku. Tentu saja kalau mereka ini tidak keberatan aku ikut…”

Dia memandang kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi yang saling pandang dan tersenyum.

Gangga Dewi mendekat dan merangkulnya. “Tentu saja aku akan senang sekali kalau engkau ikut ke Bhutan, Sian Li. Akan tetapi, tanpa perkenan Adik Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, kami tidak akan berani.”

Suma Ciang Bun berkata, “Kami telah membeli sebuah kereta. Jika kami menggunakan perjalanan dengan kereta atau berkuda, tentu akan lebih cepat dan kiranya sebelum tahun baru Sian Li akan dapat pulang ke sini.”

Suma Ceng Liong memandang kepada kakaknya. Jika dia membolehkan Sian Li pergi, dan andai kata dara itu belum pulang ketika ayah ibunya datang, dia merasa tidak enak kepada mereka. Tetapi kalau dia melarangnya, dia akan merasa tidak enak kepada Sian Li, juga kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Seolah-olah dia tidak percaya pada mereka.

“Ku-kong Suma Ceng Liong, kalau aku tidak diberi ijin, aku akan pergi sendirian, tidak bersama Ku-kong Suma Ciang Bun juga tidak apa-apa. Aku ingin merantau ke barat,” Sian Li berkata dan Suma Ceng Liong tertawa.

“Hemmm, engkau memang memiliki hati membaja dan kepala membatu. Orang seperti engkau ini mana mungkin bisa dilarang? Sian Lun, engkau temani sumoi-mu pergi ke barat.”

“Baik, Suhu!” berkata Sian Lun tanpa menyembunyikan suaranya yang mengandung kegembiraan besar.

“Sian Li, kami membolehkan engkau pergi, akan tetapi harus ditemani suheng-mu agar ada yang menemani pada waktu engkau pulang. Selain itu, kalau orang tuamu datang sebelum engkau pulang, kami dapat menggunakan alasan bahwa Sian Lun juga pergi menemanimu.”

Sian Li girang sekali. Ikut sertanya Sian Lun bahkan semakin menggembirakan hatinya sebab suheng-nya itu dianggap sebagai kawan seperjalanan yang akan menyenangkan sekali dan juga amat membantu. Ia bersorak, kemudian menghampiri Kam Bi Eng dan merangkul nenek itu.

“Terima kasih! Aku tahu bahwa kalian tentu akan membolehkan, karena kalian adalah orang-orang tua yang terbaik di dunia ini!”

Suma Ceng Liong dan isterinya hanya tersenyum. Suma Ciang Bun menggeleng-geleng kepalanya melihat sikap Sian Li. Mereka lalu berkemas dan tiga hari kemudian, mereka berempat berangkat meninggalkan dusun Hong-cun.

Suma Ciang Bun menjual keretanya dan sebagai gantinya, dia membeli empat ekor kuda yang baik. Mereka berempat lalu melakukan perjalanan menunggang kuda. Suma Ceng Liong dan isterinya yang mengantar mereka sampai ke luar dusun, diam-diam ikut girang dan terharu melihat betapa Sian Li, seperti anak kecil, kelihatan gembira bukan main, melambai-lambaikan tangan kepada mereka.

Dara itu memang berbakat sekali menjadi seorang pendekar. Baru dua hari ia diajarkan menunggang kuda oleh Gangga Dewi dan sekarang sudah pandai dan bahkan berani membalapkan kudanya! Bahkan Sian Lun juga kalah sigap.

Mereka yakin bahwa Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, takkan marah andai kata mereka datang sebelum Sian Li kembali. Mereka juga merupakan pendekar-pendekar yang biasa bertualang. Apa lagi kepergian Sian Li ini bersama kakeknya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, dan bahkan ditemani pula oleh Liem Sian Lun.

Gangga Dewi menjadi penunjuk jalan dan memimpin rombongan itu. Mereka melakukan perjalanan cepat dan hanya berhenti di tempat yang cukup indah untuk mereka nikmati. Karena mereka berempat adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi dan bertubuh kuat, maka perjalanan itu dapat dilakukan dengan cepat.

Kalau kuda mereka sudah terlalu lelah, Suma Ciang Bun lalu menukarkan kuda mereka dengan kuda yang masih segar dengan menambah uang. Dengan cara demikian maka mereka dapat melakukan perjalanan lebih cepat lagi…..

********************

Pada saat itu, Kerajaan Mancu atau Dinasti Ceng yang dipimpin Kaisar Kian Liong telah berhasil mengamankan seluruh negara. Di mana-mana terdapat pasukan keamanan yang menjaga tapal batas, dan di semua kota besar terdapat pula benteng pasukan.

Pemberontakan-pemberontakan sudah dapat dipadamkan, dan biar pun masih terdapat banyak golongan yang anti pemerintah Mancu, namun gerakan mereka hanya dilakukan secara sembunyi, tidak ada yang berani berterang karena pada waktu itu kekuatan pasukan Mancu amat besar. Apa lagi karena Kaisar Kian Liong pandai mengambil hati dan banyak menerima orang-orang Han yang pandai dan diberi kedudukan tinggi. Dan bahkan pasukannya diperkuat oleh orang-orang Han yang menganggap bahwa Kaisar Kian Liong, biar pun seorang Mancu, namun tetap mementingkan rakyat jelata.

Kaisar Kian Liong sudah semakin tua, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih dan dia telah menjadi Kaisar selama lebih dari lima puluh tahun! Belum pernah ada Kaisar yang memegang tampuk kerajaan selama itu dengan hasil baik. Hal ini adalah karena Kaisar Kian Liong bukanlah seorang Kaisar yang mabok kedudukan sehingga hanya menjadi pengejar kesenangan sendiri saja.

Sejak muda, Kaisar ini memang terkenal sebagai seorang yang pandai bergaul, bahkan akrab dengan para pendekar dan rakyat jelata, sering kali melakukan perjalanan secara menyamar dan menyusup di kalangan rakyat jelata sehingga namanya dikenal sebagai seorang yang bijaksana dan ramah tamah. Kaisar Kian Liong dapat mempertahankan kedudukannya bukan hanya karena kekuatan angkatan perangnya saja, tetapi terutama sekali karena nama baiknya itulah.

Pribadi seorang pemimpin memang menentukan kelancaran pemerintahannya, karena kalau pribadi itu tidak disukai rakyat, sudah pasti menimbulkan pemberontakan di mana-mana. Kaisar Kian Liong pandai mengambil hati rakyat, bahkan juga menundukkan hati orang-orang pribumi Han dengan sikapnya yang menerima kebudayaan, bahkan sudah menjadikan bahasa Han sebagai bahasa orang-orang Mancu yang memegang kendali pemerintahan.

Dengan para negara tetangga, biar pun yang kecil seperti Bhutan, Nepal dan di bagian selatan, Kaisar Kian Liong mengadakan hubungan baik serta menghargai kedaulatan masing-masing. Ini pun mengurangi gerakan gangguan di tapal batas dan perdagangan dengan negara lain berjalan lancar. Kalau pun terdapat pemberontakan, maka hanya terjadi secara kecil-kecilan dan tersembunyi, seperti yang dilakukan oleh perkumpulan Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang.

Akan tetapi sekarang kedua perkumpulan itu bahkan bermusuhan, karena Thian-li-pang merupakan perkumpulan pejuang yang gagah dan sungguh-sungguh membela rakyat, sedangkan Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang tidak segan melakukan kejahatan berkedok agama, bahkan dari Agama Buddha yang sudah menyeleweng dari agama aslinya, bercampur dengan segala macam tahyul dan ilmu sihir ke arah sesat.

Karena kebesaran kerajaan atau Dinasti Ceng di bawah pimpinan Kaisar Kian Liong, bahkan negara- negara seperti Birma, Annam, Nepal, Bhutan, dan Korea merendahkan diri mengirim upeti setiap tahun kepada Kaisar Kian Liong sebagai tanda persahabatan, sebutan yang diperhalus dari keadaan sebetulnya, yaitu takluk tanpa perlu diserang lagi. Hanya Kerajaan Nepal sajalah yang pernah menentang, akan tetapi negara itu diserbu oleh pasukan besar dan kemudian ditundukkan, tapi tidak dijajah dan hanya diharuskan mengirim upeti setiap tahun.

Karena keadaan yang aman itulah, maka perjalanan Suma Ciang Bun, Gangga Dewi, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun berlangsung lancar tanpa adanya gangguan di tengah perjalanan.

Sian Li merasa gembira bukan main dapat melihat daerah-daerah yang belum pernah dilihat sebelumnya, melihat perkampungan suku-suku bangsa yang dianggapnya sangat aneh dan menarik. Perkampungan- perkampungan yang dilaluinya berbeda sama sekali dengan di daerah timur. Berbeda segalanya, dari rumahnya, pakaiannya, bentuk wajah dan bahasa, bahkan makanan pun berbeda!

Akan tetapi, setelah Gangga Dewi memperkenalkan dia dengan orang-orang asing itu, menerjemahkan percakapannya, mengenal mereka lebih dekat, maka Sian Li mendapat kenyataan yang amat menyenangkan hatinya. Yaitu bahwa semua perbedaan itu hanya kulitnya saja, hanya lahiriah, hanya kebiasaan hidupnya. Pada hakekatnya, jauh di lubuk hati mereka, mereka itu tidak ada bedanya dengan dirinya atau seluruh bangsa di timur.

Mereka suka bersahabat, suka tertawa serta membutuhkan kebahagiaan dan menjauhi hal-hal yang tidak enak. Biar pun masakan mereka itu aneh, namun yang berbeda pun hanya cara dan campurannya saja. Pada hakekatnya mereka pun sama dengannya, yaitu tidak menyukai pahit dan getir. Yang disuka seperti juga di timur, manis asin sedikit asam dan pedas.

Mereka pun sama saja, tidak suka disakiti lahir batin, ingin disenangkan, sama seperti dirinya juga. Karena merasa bahwa pada hakekatnya sama, Sian Li cepat dapat akrab dengan mereka biar pun kadang-kadang kedua pihak tertegun heran melihat kebiasaan yang amat berbeda di antara mereka.

Dengan adanya Gangga Dewi sebagai orang yang berpengalaman, dan juga sebagai penunjuk jalan, pemberi keterangan dan bahkan penerjemah, perjalanan itu terasa amat menyenangkan bagi tiga orang yang lainnya, terutama sekali bagi Sian Li dan Sian Lun yang baru sekali itu selama hidup mereka lewat di tempat-tempat seperti itu.

Biar pun Sian Li amat tertarik dan senang sekali, akan tetapi Gangga Dewi tidak pernah lupa bahwa sebelum tibanya tahun baru, Sian Li sudah harus kembali ke rumah Suma Ceng Liong. Oleh karena itu, ia mengajak mereka melakukan perjalanan cepat menuju ke Bhutan.

Pada suatu siang, tibalah mereka di perbatasan Bhutan setelah menyeberangi sungai besar yang amat terkenal di Tibet yaitu sungai Yalu Cangpo atau terkenal pula dengan nama Brahmaputra. Mereka kini melintasi pegunungan yang paling panjang, besar dan tinggi di seluruh dunia, yaitu Pegunungan Himalaya yang merupakan tapal batas antara Bhutan dan Tibet. Di pegunungan yang amat terkenal ini, Sian Li merasa kagum bukan main. Walau pun perjalanan amat sukar, melalui gunung es yang teramat dingin, namun dara itu selalu nampak gembira dan kagum.

Siang itu mereka menuruni lereng bukit terakhir dari Himalaya dan mulai nampak dusun-dusun yang termasuk wilayah negeri Bhutan. Menjelang senja, mereka bertemu dengan pasukan kecil yang terdiri dari belasan orang. Ketika pasukan itu melihat Gangga Dewi, mereka cepat-cepat turun dari atas kuda mereka dan memberi hormat dengan setengah berlutut. Kiranya mereka adalah pasukan keamanan yang menyamar dengan pakaian biasa dan sedang melakukan perondaan di daerah perbatasan itu.

Setelah menerima penghormatan mereka, Gangga Dewi cepat bertanya. “Apakah yang terjadi? Kenapa kalian melakukan perondaan sampai di sini dan tidak memakai pakaian seragam pula?”

Pemimpin pasukan segera melaporkan kepada Puteri Gangga Dewi bahwa akhir-akhir ini di daerah perbatasan itu tidak aman karena diketahui bahwa ada penyelundup dari Nepal memasuki daerah itu. Mereka adalah mata-mata dari Kerajaan Nepal, dari pihak keluarga raja yang tak mau tunduk kepada Kerajaan Ceng di Cina. Mereka menghasut rakyat di perbatasan Bhutan dan Tibet untuk bersama-sama menentang dan melakukan perlawanan terhadap orang-orang di perbatasan Propinsi Se-cuan dengan tujuan untuk merongrong Kerajaan Ceng.

“Kalau begitu kalian harus melaksanakan tugas dengan baik. Kita tak ingin terseret oleh pemberontakan orang-orang Nepal itu, apa lagi mereka juga menjadi musuh Kerajaan Nepal yang sah. Mereka bahkan pemberontak pula di Nepal, petualang-petualang yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi dari pergolakan dan kekacauan,” pesan Gangga Dewi.

Dua orang di antara pasukan itu lalu mendahului untuk mengirim berita ke kota raja Thim-phu di Bhutan, sedangkan pasukan lainnya melanjutkan tugas mereka melakukan penyelidikan.

Gangga Dewi mengajak rombongannya melanjutkan perjalanan karena hari sudah sore. Mereka pun terpaksa akan bermalam di sebuah dusun di luar kota Tong-sa-jang karena tentu malam segera tiba, dan mereka pun sudah cukup lelah.

Memang hari telah remang-remang, petang telah menjelang ketika mereka memasuki dusun itu. Sian Li dan Sian Lun tertegun kagum ketika melihat betapa mereka disambut oleh penghuni dusun yang berduyun menunggu di luar dusun dan bahkan ada tari-tarian yang menyambut kehadiran Sang Puteri! Kiranya dua orang prajurit tadi sudah memberi kabar ke dusun itu sehingga kepala dusun segera mengerahkan orang- orangnya untuk menyambut.

Demi menyenangkan rakyatnya, Gangga Dewi segera turun dari atas kuda, diikuti oleh Suma Ciang Bun, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun. Rakyat bersorak gembira pada saat Gangga Dewi merangkul dan mencium anak perempuan yang bertugas menyerahkan seikat bunga kepada Sang Puteri.

Sian Li memandang dengan wajah berseri, sedang Sian Lun mengagumi belasan orang penari yang terdiri dari gadis-gadis Bhutan yang manis. Dengan tarian lemah gemulai, tubuh mereka meliak-liuk dengan amat lemas dan lenturnya, diiringi alat-alat musik yang sederhana, suling dan siter dan tambur, namun terdengar demikian asyik dan membuat orang ingin berlenggang-lenggok karena bunyi tambur yang berirama riang itu.

Ketika mereka memasuki dusun, mereka lantas disambut oleh kepala dusun dan semua sesepuh dan pemuka dusun itu dengan segala kehormatan. Disediakan air panas untuk para tamu agung itu mencuci badan, dipersiapkan kamar-kamar terbaik di rumah kepala dusun untuk mereka.

Apa lagi ketika Puteri Gangga memperkenalkan Suma Ciang Bun sebagai suaminya, para penduduk makin gembira. Bagi mereka, puteri mereka yang sudah lama menjanda itu menikah dengan seorang pria Han, bukan merupakan halangan, bahkan merupakan kebanggaan. Bahkan dahulu, Ibu dari Gangga Dewi yang bernama Syanti Dewi, yang mereka puja-puja dan kasihi, juga menikah dengan seorang pria Han yang kemudian bahkan menjadi panglima yang amat gagah perkasa di Bhutan, yaitu Wan Tek Hoat, ayah Gangga Dewi.

Malam itu seluruh dusun bergembira. Sebuah pesta besar diadakan di pendopo rumah kepala dusun yang cukup luas. Para sesepuh dan orang terkemuka di dusun itu hadir selaku tamu di panggung, sedangkan di bawah panggung, di sekeliling pendopo, hampir seluruh penghuni dusun itu berjejal memenuhi tempat itu untuk turut nonton keramaian dan pertunjukan, serta untuk melihat puteri mereka, Gangga Dewi yang mereka kagumi sebagai seorang puteri yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian seperti seorang dewi!

Serombongan penari yang cantik manis, gadis-gadis remaja, belasan orang banyaknya, menari-nari diiringi musik yang sederhana tetapi menggairahkan seperti musik di daerah itu, yang mempunyai pukulan gendang dan tambur seolah-olah menghidupkan semua syaraf di tubuh untuk bergerak dan menari.

Puteri Gangga Dewi, Suma Ciang Bun, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun duduk sebagai tamu kehormatan dan para penari menghadap tamu-tamu agung ini. Para gadis penari itu merasa bangga mendapat kesempatan menari di depan Sang Puteri.

Biasanya, hanya penari istana saja yang menari di depan puteri! Mereka hanya penari dusun yang tentu saja tidak pandai menari sehalus dan seindah penari istana, namun gerakan mereka wajar dan polos sehingga bagaikan bunga-bunga hutan yang segar. Beberapa orang di antara mereka mengerling ke arah Sian Lun dengan kerling tajam dan senyum memikat karena memang pemuda itu nampak gagah perkasa dan tampan, apa lagi dia adalah anggota rombongan Sang Puteri! Sebaliknya, para penabuh musik dan para penonton mengagumi Sian Li yang berpakaian serba merah sehingga secara bisik-bisik para pemuda menyebut Sian Li sebagai ‘Dewi Merah’!

Sian Li sendiri dengan wajah berseri memperhatikan gerak-gerik para penari. Hidangan yang disuguhkan juga aneh-aneh akan tetapi agaknya Gangga Dewi sudah memesan kepada kepala dusun agar membuat lauk pauk yang sesuai dengan selera orang Han. Hal ini amat mudah dilakukan oleh para koki bangsa Bhutan karena memang hubungan antara Bhutan dengan Cina telah terjalin semenjak ratusan tahun yang lalu. Banyak pula keturunan orang Cina atau yang disebut Han-Bhutan seperti Gangga Dewi kini berada di Bhutan, seperti juga banyak di situ keturunan Nepal, Tibet, dan India.

Sebagai negara kecil yang terkepung negara-negara besar, Bhutan mempunyai banyak orang-orang berdarah campuran atau peranakan. Banyak pula orang Han berdatangan ke Bhutan sebagai pedagang, sehingga selain pandai membuat masakan khas Bhutan, para koki bangsa Bhutan pandai pula membuat masakan model Nepal, India, Tibet atau Han. Minuman anggur yang disuguhkan juga manis dan lembut, tidak terlalu menyengat seperti arak, dan membuat orang mabok secara perlahan dan tidak dirasakan.

Sian Li juga mengagumi para penabuh musik. Mereka itu semua pria, dan masih muda-muda. Pakaian mereka yang khas juga amat menarik, membuat mereka nampak gagah. Mereka lebih pantas menjadi penari atau ahli silat karena mereka semua membawa golok khas Bhutan di pinggang mereka, dan mereka pun menabuh musik dengan lagak penari-penari yang lincah.

Apa lagi penabuh tamburnya. Dia seorang pemuda yang tinggi tegap. Dia menggulung lengan baju ke atas dan nampaklah sepasang lengan yang kokoh dan berotot. Cara dia menabuh tambur sungguh menarik dan gagah, seperti orang sedang bermain silat saja. Kadang-kadang dia melontarkan dua buah kayu pemukul tambur itu ke atas, kemudian melanjutkan memukul tambur dengan jari tangannya, lalu menyambut lagi dua batang pemukul yang meluncur turun. Semua ini dilakukan secara berirama.

Sian Li kagum. Hebat memang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun itu. Sungguh mengagumkan cara dia melempar pemukul ke atas, lalu menyambutnya lagi tanpa melihat karena matanya terus menatap tamburnya, seolah-olah kedua tangannya bermata. Dan pukulan tambur itu pun menggetar penuh kekuatan. Rasanya tak mungkin dia itu tidak memiliki kepandaian silat dan tenaga sinkang, pikir Sian Li.

Akan tetapi kini perhatian Sian Li terhadap Si Penabuh tambur itu teralih. Tarian gadis-gadis cantik itu sudah selesai dan kini muncullah seorang kakek berusia enam puluhan tahun.

Kakek ini tinggi besar seperti raksasa dan bermuka hitam. Kepalanya gundul atau botak licin dan pakaiannya serba longgar dengan jubah berwarna hitam pula! Menyeramkan sekali kakek ini, terutama sepasang matanya yang bulat besar dengan alis yang terlalu tebal sehingga tak wajar lagi! Kepala dusun memperkenalkan kakek ini sebagai Lulung Ma, seorang peranakan Tibet yang memiliki keahlian sulap dan bermain ular.

Biar pun tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, namun ketika kakek bernama Lulung Ma itu memberi hormat dengan sembah kepada Gangga Dewi, dia dapat bergerak demikian lentur seperti seekor ular besar!

Gangga Dewi mengangguk dan tersenyum, lalu berkata, “Mulailah dengan pertunjukan yang hendak kau mainkan, dan lakukan sebaik mungkin.”

Para penari dan bahkan para penabuh musik semua mengundurkan diri kecuali pemuda pemukul tambur tadi! Kiranya hanya pemuda itu seorang yang akan membantu Lulung Ma menunjukkan keahliannya. Pemuda itu masih tetap menghadapi sebuah tambur dan sebuah gendang, dan dengan kedua tangannya dia mengangkat dua alat musik itu dan mendekati Lulung Ma, lalu duduk bersila di tengah arena pertunjukan.

Lulung Ma sudah siap. Pada saat dia bangkit berdiri, tubuhnya nampak tinggi besar dan menyeramkan, bahkan pemuda berbadan tinggi tegap itu pun hanya setinggi dagunya! Padahal, pemuda tampan itu sudah termasuk tinggi untuk ukuran biasa.

Sekarang pemuda itu memperlihatkan kemahirannya memainkan tambur. Suara tambur berdentam- dentam dan berirama, kemudian diimbangi oleh bunyi suling yang bentuknya aneh, ada kepalanya yang sebesar kepalan tangan. Suling seperti itu disebut suling ular yang biasa dipergunakan oleh ahli-ahli ular di India untuk menjinakkan ular yang liar dan berbisa.

Akan tetapi, kakek muka hitam itu tidak bermain ular seperti diduga orang, dia hanya mengimbangi pukulan tambur itu dengan suara sulingnya yang melengking-lengking, memainkan sebuah lagu rakyat Bhutan yang membuat Gangga Dewi dan orang-orang Bhutan di situ mengangguk-angguk mengikuti iramanya. Bagi Sian Li, lagu itu lembut akan tetapi terasa aneh bagi pendengarannya.

Suara suling berhenti dan sekarang pemuda itu memainkan gendangnya, tidak dipukul keras-keras, melainkan lirih dan sebagai pengantar saja agaknya, walau pun dari suara gendang dapatlah diketahui bahwa pemuda itu memang ahli menabuh gendang. Suara gendang itu bisa terdengar seperti halilintar, bisa seperti riak air atau rintik hujan.

Kini kakek muka hitam itu mulai bermain sulap. Dia bicara dalam bahasa Bhutan yang tidak dimengerti oleh Sian Lun dan Sian Li. Akan tetapi Suma Ciang Bun yang semenjak menjadi suami Gangga Dewi sudah mempelajari bahasa daerah isterinya itu, kemudian menerjemahkan kepada mereka.

“Kakek itu berkata bahwa dia akan membagi-bagi bunga kepada para tamu dari kedua tangannya yang kosong.”

Sian Li memandang dengan wajah berseri. Selama hidupnya, baru dua kali ia menonton tukang sulap, yaitu ketika ia masih kecil. Dahulu dia merasa amat kagum melihat tukang sulap mampu mengambil benda-benda dari udara. Tetapi ayah bundanya mengatakan bahwa tukang sulap itu mempergunakan alat yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu, dan dibantu pula oleh kecepatan kedua tangannya yang sudah terlatih baik. Sebenarnya tidak ada yang aneh dalam sulapan.

“Jangan-jangan dia hanya menipu kita dengan alat-alat yang sudah dia persiapkan lebih dulu!” berkata Sian Li, suaranya cukup keras karena dianggapnya bahwa yang mengerti bahasanya tentu hanya mereka berempat.

Akan tetapi wajahnya berubah kemerahan ketika tukang sulap itu menengok kepadanya dan berkata dengan suaranya yang bersih dan dalam, khas suara raksasa!

“Jangan khawatir, Dewi Merah, aku tidak mempergunakan alat apa pun kecuali kedua tanganku yang kosong ini! Maafkan, Nona cantik bagaikan dewi, dan suka berpakaian merah, maka aku menyebut Nona Dewi Merah!”

Kiranya raksasa muka hitam itu pandai bahasa Han, dengan lancar pula! Yang lebih membuat Sian Li terheran lagi, banyak di antara para tamu dan mereka yang menonton di sekeliling ruang itu, yaitu pendopo yang terbuka, menyambut ucapan rakasasa muka hitam itu dengan tawa riuh seolah-olah mereka itu mengerti apa yang diucapkan dalam bahasa Han.

Sian Li masih tidak tahu bahwa demikian baiknya hubungan orang-orang di situ dengan bangsa Han sehingga bahasa Han sama sekali bukan merupakan bahasa yang asing bagi kebanyakan dari mereka. Apa lagi banyak pula terdapat keturunan Han di antara mereka. Segera terdengar seruan-seruan dari para pemuda yang tadi kagum kepada Sian Li.

“Dewi Merah…! Dewi Merah…!”

Gangga Dewi turut pula bergembira dan dia mengangkat kedua tangan ke atas untuk menghentikan keributan itu. Setelah reda, ia pun memperkenalkan cucu keponakan dari suaminya itu.

“Ini adalah cucu keponakan kami, julukannya bukan Dewi Merah, melainkan Si Bangau Merah.”

Banyak orang bersorak dan bertepuk tangan, dan di sana sini terdengar seruan, “Dewi Bangau Merah! Dewi Bangau Merah!”

Suma Ciang Bun terseret dalam kegembiraan itu dan dia pun mengumumkan, “Sebutan itu memang tepat sekali. Namanya memang Dewi (Sian-li)!” Kembali orang bersorak.

Ketika Gangga Dewi melirik dan melihat betapa Sian Lun tidak ikut bertepuk tangan, bahkan wajah pemuda itu nampak muram, dia pun menahan senyumnya. Dia segera mengenal pemuda ini sebagai pemuda yang jatuh cinta kepada sumoi-nya, akan tetapi juga amat pencemburu sehingga kalau ada orang lain, terutama pria yang memuji Sian Li, dia akan merasa tidak senang dan cemburu!

Gangga Dewi kembali memberi tanda dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan suara bising itu pun terhenti. “Lulung Ma, harap kau suka memulai dengan janjimu akan memberi hadiah bunga-bunga kepada kami semua!”

Lulung Ma, Si Raksasa Muka Hitam itu, menjura dan dia membuat gerakan-gerakan seperti biasa diperlihatkan tukang sulap, lalu kedua tangan seperti memetik sesuatu dari udara dan… tiba-tiba saja kedua tangannya telah memegang masing-masing setangkai bunga yang segar berikut beberapa helai daunnya, seolah-olah baru saja ia memetiknya dari udara!

Akan tetapi, ketika semua penonton bersorak memuji, Sian Li, Sian Lun, Suma Ciang Bun dan juga Gangga Dewi, hanya tersenyum. Mereka berempat adalah ahli-ahli silat yang memiliki penglihatan tajam, berbeda dengan orang biasa, dan mereka tadi melihat gerak cepat dari tukang sulap itu yang mengeluarkan dua tangkai bunga itu dari dalam lengan baju hitamnya yang longgar.

Memang benar, Lulung Ma tidak mempergunakan alat yang sudah dipersiapkan seperti ucapannya tadi, melainkan menggunakan kedua tangannya yang dapat bergerak cepat bukan main sehingga tidak nampak oleh mata biasa. Jari-jari tangan yang panjang itu ditekuk ke dalam dan menjepit dua tangkai bunga dari dalam lubang lengan bajunya.

Sambil menjura ke kanan kiri menyambut tepuk tangan itu, Lulung Ma melangkah ke panggung kehormatan dan menyerahkan dua tangkai bunga itu kepada Gangga Dewi dan Sian Li sambil berkata lantang.

“Bunga-bunga yang paling indah dan paling segar untuk Yang Mulia Puteri Gangga Dewi dan Dewi Bangau Merah!” Dua orang wanita itu tersenyum dan menerima bunga itu disambut tepuk tangan para penonton.

Sian Lun yang duduk dekat Sian Li, menjadi merah mukanya melihat betapa raksasa hitam itu menyerahkan bunga kepada Sian Li sambil matanya yang lebar memandang tajam dan menyapu seluruh tubuh dara itu. Teringat dia betapa tadi Si Hitam ini juga memuji Sian Li cantik bagai dewi. Maka dengan hati panas dia gunakan kesempatan itu untuk berkata sambil memandang kepada raksasa hitam itu.

“Engkau hanya mengambil bunga-bunga itu dari dalam lengan baju. Apa anehnya itu?”

Sepasang mata yang bulat dan besar itu kini memandang pada Sian Lun dengan sinar mata tajam mencorong, membuat Sian Lun agak terkejut akan tetapi tidak melenyapkan rasa tak senangnya.

Lulung Ma lalu bangkit berdiri, memandang kepada seluruh penonton baik yang di atas panggung mau pun yang di bawah. “Saudara sekalian, pemuda ini sudah menuduh aku mengambil bunga-bunga itu dari lengan baju. Apakah tadi kalian melihat aku mengambil sesuatu dari lengan baju?”

Serentak terdengar jawaban, “Tidak…! Tidak…!”

Lulung Ma kemudian tersenyum dan memandang lagi kepada Sian Lun. ”Kongcu (Tuan Muda), apakah engkau mampu menyulap bunga seperti yang kulakukan tadi?”

Sian Lun diam saja. Andai kata di lengan bajunya ditaruhkan bunga lebih dahulu sekali pun, dia tentu tidak akan mampu mengambil secara cepat sehingga tidak terlihat orang. Untuk pekerjaan itu dibutuhkan latihan yang lama sampai menjadi ahli benar. Maka dia menggelengkan kepala.

“Suheng, jangan mencari keributan!” Sian Li tak senang mendengar celaan Sian Lun itu.

Gangga Dewi yang maklum apa yang terjadi di hati pemuda itu, tersenyum dan berkata, “Memang dia seorang tukang sulap, Sian Lun! Sudahlah, Lulung Ma, harap lanjutkan pertunjukanmu yang menarik ini!”

Lulung Ma menjura ke arah Gangga Dewi, lalu mundur kembali ke tengah ruangan dan mendekati tukang gendang yang masih asyik memukul gendangnya dengan irama lirih dan lambat. Akan tetapi Sian Li tadi sempat pula melihat betapa pemuda jangkung yang tampan itu memandang ke arah Sian Lun dengan sinar mata mencorong seperti orang marah.

Lulung Ma kini menggerak-gerakkan kedua tangannya, memetik dari udara, menjambak rambut sendiri, mengambil dari lubang telinga dan lain gerakan, akan tetapi setiap kali tangannya bergerak, nampak setangkai bunga di tangan itu. Akan tetapi sekali ini bukan dua batang bunga segar seperti tadi melainkan berpuluh-puluh bunga kertas yang dia bagi-bagikan dan lempar-lemparkan kepada para tamu dan penonton yang menyambut permainan sulapnya ini dengan tepuk tangan meriah dan seruan-seruan keheranan.

Sian Li melihat betapa raksasa hitam itu sesungguhnya menggunakan kecepatan kedua tangannya untuk mengambil bunga-bunga kertas yang disembunyikan di dalam lengan baju dan saku jubah hitamnya. Namun gerakannya memang amat cepat sehingga tidak nampak oleh mata orang biasa yang tidak terlatih.

Setelah membagikan semua bunga kertas yang disulapnya secara amat mengesankan itu, Lulung Ma lalu memberi hormat ke arah Gangga Dewi dan dia berkata, “Sekarang hamba hendak mencoba untuk mengubah kepala hamba menjadi kepala naga, harap Paduka memaafkan hamba.”

Mendengar hal ini, Gangga Dewi mengangguk. Diam-diam puteri ini kagum juga kepada raksasa hitam yang ternyata pandai itu. Mendengar bahwa orang itu hendak mengubah kepalanya menjadi kepala naga, ia pun dapat menduga bahwa Lulung Ma tentu seorang ahli ilmu sihir. Dan melihat sikap Lulung Ma yang sebelumnya minta maaf kepadanya, hal itu menunjukkan bahwa raksasa hitam itu tentu sudah tahu akan kepandaiannya, maka sebelumnya dia minta maaf.

Kini Lulung Ma menghadapi para tamu dan penonton. “Saudara sekalian harap suka tenang, sekarang aku ingin mengubah kepalaku menjadi kepala naga!”

Lalu dalam bahasa Han dia berkata sambil memandang ke arah Sian Li dan Sian Lun, “Dewi Bangau Merah, saya akan mengubah kepala saya ini menjadi kepala naga!”

Dia lalu memberi isyarat kepada pemuda penabuh gendang yang segera mengganti gendangnya dengan tambur, dan terdengarlah derap bunyi tambur yang meledak-ledak dan bergemuruh seperti ada badai dan halilintar mengamuk!

Lulung Ma menggerakkan kaki tangannya mengikuti suara tambur, dan semakin lama tubuhnya bergetar makin kuat, lalu dia mengeluarkan suara teriakan melengking.

“Saudara lihatlah baik-baik, kepalaku adalah kepala naga berwarna hitam!” Kembali dia mengeluarkan suara melengking nyaring tinggi yang makin merendah menjadi gerengan yang menggetarkan seluruh ruangan itu, diikuti suara tambur yang menggelegar.

Semua orang lantas terbelalak, ada yang mengeluarkan teriakan, bahkan banyak wanita menjerit. Sian Li merasa betapa lengannya dipegang Sian Lun dengan kuat. Ia menoleh dan melihat betapa Sian Lun terbelalak memandang ke arah Lulung Ma.

Sian Li tersenyum dan mengerti. Suheng-nya itu memang telah memiliki ilmu silat tinggi dan sinkang yang kuat, akan tetapi tidak pernah mempelajari ilmu yang dapat menolak pengaruh sihir seperti dia. Ia sejak kecil telah dilatih untuk membangkitkan tenaga sakti dari ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) dan perlahan-lahan kekuatan itu tumbuh dalam dirinya sehingga ia pun seperti memiliki kekebalan terhadap sihir.

Tadi ia sudah menduga bahwa kakek raksasa hitam itu tentu mempergunakan hoat-sut (sihir), maka ia pun sudah mengerahkan tenaga sakti Pek-ho Sin-kun sehingga ia pun tidak terpengaruh dan melihat bahwa kepala Lulung Ma itu tetap kepala yang tadi, tidak berubah menjadi kepala naga.

Dan memang Sian Lun menjadi terkejut dan tegang ketika seperti para penonton lain dia melihat bahwa kepala raksasa hitam itu benar-benar telah berubah menjadi kepala naga hitam yang amat menyeramkan. Tentu saja bentuk kepala naga itu tidak sama di antara para penonton, tergantung dari khayal mereka masing-masing.

Ketika Sian Li mengerling ke arah Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, dia melihat dua orang tua ini memandang ke arah Lulung Ma sambil tersenyum tenang, tanda bahwa mereka pun tidak terpengaruh. Hal ini tidaklah mengherankan.

Suma Ciang Bun adalah keturunan langsung dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es yang merupakan seorang sakti dan ahli sihir pula, maka Suma Ciang Bun yang sudah menguasai tenaga sakti Im dan Yang dari keluarga sakti itu, tidak terpengaruh.

Demikian pula dengan Gangga Dewi. Ia mewarisi ilmu dari mendiang ayahnya, yaitu Si Jari Maut Wan Tek Hoat, maka begitu melihat kepala itu berubah menjadi kepala naga, dengan cepat wanita ini mengerahkan sinkang-nya dan buyarlah pengaruh sihir itu dari pikirannya.

“Suheng…,” bisik Sian Li kepada suheng-nya yang masih memegang lengannya dalam keadaan tegang itu. “Tenangkan pikiran dan kerahkan sinkang-mu untuk memecahkan pengaruh yang mencengkeram pendengaran dan penglihatanmu. Semua itu hanya ilmu sihir.”

Mendengar bisikan ini, Sian Lun cepat-cepat melepaskan pegangannya dan dia nampak memejamkan kedua mata, menahan napas lalu mengatur pernapasan dan setelah dia membuka matanya lagi, dia melihat bahwa kepala Lulung Ma kembali seperti biasa.

“Hemmm, kiranya ilmu setan untuk menakut-nakuti anak kecil!” Sian Lun berkata untuk melampiaskan kedongkolan hatinya bahwa tadi ia pun sampai terpengaruh dan sempat terkejut dan gentar.

Lulung Ma memiliki pendengaran yang amat tajam dan dia dapat menangkap ucapan Sian Lun itu. Dia mengeluarkan suara meraung dan bersamaan dengan bunyi tambur yang semakin menurun, orang-orang melihat asap mengepul menutupi kepala naga itu dan ketika asap itu lenyap, kepala itu sudah kembali menjadi kepala Lulung Ma. Para penonton bertepuk tangan dan bersorak menyambut sulapan itu penuh kekaguman.

Kembali Sian Li melihat betapa pemuda penabuh tambur itu mengirim pandang mata penuh kemarahan kepada Sian Lun sehingga hatinya merasa tidak enak.

“Suheng, kuminta engkau jangan mengeluarkan ucapan yang bukan-bukan. Ingat, kita ini tamu, dan mereka itu hanya menyuguhkan pertunjukan untuk menghibur. Sekali lagi engkau bersikap seperti itu, aku akan marah padamu,” bisiknya.

Sian Lun memandang kepadanya dan mengangguk. Dia pun merasa betapa kepanasan hatinya tidak beralasan sama sekali dan dia merasa malu sendiri.

Sekarang Lulung Ma telah memberi hormat lagi kepada Gangga Dewi, lalu kepada para penonton. “Sekarang, kami hendak mempersembahkan hiburan berupa permainan dan tari ular!”

Kakek raksasa hitam itu mengeluarkan suling ularnya dan mulai meniup suling dengan suara melengking- lengking. Pemuda penabuh tambur itu bangkit, menghampiri belasan buah keranjang dan membuka tutup semua keranjang itu, kemudian kembali menabuh tambur perlahan-lahan seperti suara rintik hujan.

Suara suling melengking-lengking lembut. Para penonton menjadi tegang dan tak berani mengeluarkan suara atau bergerak ketika dari belasan buah keranjang itu bermunculan kepala ular-ular yang besar! Ular- ular itu mengangkat kepala tinggi-tinggi, seperti ingin menjenguk keluar, mengembangkan leher dan mendesia-desis, lidah menjilat-jilat keluar masuk, kemudian mereka keluar dari dalam keranjang.

Melihat ini, para penonton yang berada paling depan mundur ketakutan, bahkan para tamu yang duduk di panggung juga mengangkat kaki dengan gentar. Ular-ular itu bukan ular biasa, melainkan ular kobra yang berbisa! Sekali saja digigit ular berbisa itu, nyawa dapat melayang!

Kini belasan ekor ular itu sudah keluar dari dalam keranjang masing-masing dan mulai merayap menghampiri Lulung Ma. Ular itu panjangnya dari satu sampai satu setengah meter. Mereka merayap dengan kepala terangkat tinggi, kemudian tiba di depan Lulung Ma dan belasan ekor ular itu berhenti, masih mengangkat kepala tinggi-tinggi.

Lulung Ma menggerak-gerakkan lengan kirinya yang menjadi lemas seperti ular, dengan tangan membentuk kepala ular, dan tangan kanannya memegang suling yang masih ditiupnya. Pemuda itu juga memukul tambur dengan irama lirih dan lambat.

Kini ular-ular itu mulai menari-nari, dengan kepala dilenggang-lenggokkan, menoleh ke kiri kanan dan nampak bagaikan belasan orang penari yang mempunyai gerakan lemah gemulai! Para penonton memandang kagum, akan tetapi tidak berani bersorak atau pun bertepuk tangan, takut kalau mengejutkan ular-ular itu.

Dahulu Suma Ciang Bun pernah belajar ilmu menguasai ular dari mendiang ibunya. Ibunya yang bernama Kim Hwee Li adalah seorang yang mempunyai ilmu pawang ular. Bahkan Suma Ciang Bun pernah mempelajari cara memanggil ular bukan dengan suling lagi, melainkan dengan suara yang dikeluarkan dari bibirnya seperti suitan panjang.

Akan tetapi kini Suma Ciang Bun kagum menyaksikan kelihaian Lulung Ma mengatur ular-ularnya untuk menari seperti itu. Hanya ular-ular peliharaan yang sudah dilatih saja yang dapat disuruh menari seperti itu. Belum tentu raksasa hitam itu mampu menguasai dan mengendalikan ular-ular yang liar, pikirnya.

Agaknya raksasa hitam itu seperti dapat membaca pikiran Suma Ciang Bun karena kini dengan tangan kirinya, dia memberi isyarat kepada tukang tambur. Pemuda itu lalu bangkit meninggalkan tamburnya sehingga tinggal suara suling saja yang melengking dan mengendalikan belasan ekor ular itu. Pemuda itu lalu menuruni tangga panggung dan dengan suara lantang minta kepada penonton di bawah agar ‘membuka jalan’ untuk barisan ular.

“Harap minggir dan membuka jalan. Semua ular di sekitar sini akan kami panggil untuk mengadakan pesta ular!” katanya.

Tentu saja orang-orang menjadi ketakutan dan membuka jalan yang cukup lebar seperti dikehendaki pemuda itu. Si Pemuda Jangkung kembali ke atas panggung dan dia lalu menangkapi belasan ekor ular itu dengan tangannya dan mengembalikan mereka ke dalam keranjang masing-masing.

Cara dia menangkap ular-ular itu saja sudah membuat Suma Ciang Bun, Sian Li dan Sian Lun tahu bahwa pemuda itu dapat menggerakkan tangan dengan amat cepatnya. Bahkan ketika ular terakhir hendak ditangkap, ular itu mematuk dengan serangan cepat sekali. Akan tetapi, dengan sikap amat tenang, pemuda itu sudah dapat mendahului, jari tangannya menjepit leher ular dengan amat cekatan dan memasukkan ular itu ke dalam keranjangnya.

Diam-diam Sian Li kagum. Gerakan mengelak dan menjepit leher ular dengan telunjuk dan ibu jari itu tadi jelas merupakan gerakan seorang ahli silat yang pandai. Dengan jepitan seperti itu, pemuda itu agaknya akan mampu menangkap senjata rahasia yang menyambar ke arah dirinya. Ia merasa yakin bahwa pemuda jangkung itu tentu pandai ilmu silat.

Kini pemuda jangkung itu sudah menabuh tamburnya kembali, mengiringi bunyi suling yang melengking begitu tinggi sehingga hampir tak terdengar, tetapi terasa getarannya. Suma Ciang Bun terkejut. Itulah lengking tinggi memanggil ular yang sangat kuat dan berpengaruh. Baru dia tahu bahwa tadi dia memandang rendah. Kiranya raksasa hitam ini bukan saja mampu memanggil ular-ular liar.

Jantungnya berdebar tegang. Sungguh berbahaya permainan ini, apa lagi di situ sedang berkumpul banyak orang. Bagaimana jika ular-ular itu tidak dapat dikendalikan lagi dan menyerang orang?

Semua orang juga memandang tegang. Tiba-tiba mulailah terdengar suara mendesis-desis dan tercium bau amis. Segera terjadi kekacauan ketika para penonton di bawah ada yang berteriak-teriak.

“Ular…! Ular…!”

Pemuda itu sambil terus memukul tamburnya, berteriak dengan suara lantang, “Harap tenang! Jangan ada yang bergerak, dan ular-ular itu tidak akan mengganggu!”

Kini nampaklah ular-ular itu. Memang benar, ketika para penonton tidak bergerak, ular-ular itu tidak mengganggu. Memang mereka datang dari empat penjuru, bahkan melalui dekat kaki para penonton, akan tetapi mereka semua seperti tergesa-gesa menuju ke tangga dan naik ke panggung, menghampiri kakek raksasa hitam yang meniup suling! Banyak sekali ular-ular itu, puluhan ekor, bahkan ada ratusan ekor banyaknya, ada yang besar sekali, banyak pula yang kecil namun amat berbisa!

Banyak di antara para tamu bangkit dari tempat duduk mereka karena merasa ngeri dan takut kalau-kalau kaki mereka akan diserang ular. Juga Sian Li dan Sian Lun bangkit berdiri, bukan takut diserang ular, melainkan khawatir kalau ada tamu yang dipatuk ular.

Seorang gadis remaja, puteri kepala dusun yang duduk tak jauh dari mereka, nampak pucat sekali dan gadis remaja itu agaknya memang takut ular. Tubuhnya menggigil dan ketika ada dua ekor ular yang panjangnya hanya dua kaki akan tetapi ular-ular itu amat berbisa, lewat di dekat kakinya, gadis remaja itu menjerit. Dua ekor ular itu terkejut dan membalik.

Melihat itu, seperti berebut saja Sian Li dan Sian Lun meloncat, mendekati gadis itu. Gerakan mereka ini membuat kedua ekor ular yang sudah marah dan tadinya hendak menyerang gadis yang menjerit, kini membalik dan menyerang ke arah Sian Li dan Sian Lun. Ular yang menyerang Sian Lun dan Sian Li itu adalah semacam ular yang suka melompat tinggi. Kini mereka pun meloncat dan menyerang dengan kecepatan seperti anak panah lepas dari busurnya.

Akan tetapi dengan tenang saja Sian Li menggerakkan tangannya, dan sekali jari-jari tangannya menghantam, ular yang menyerangnya itu terbanting dengan kepala remuk dan tewas seketika! Ada pun ular yang menyerang Sian Lun, disambut oleh pemuda itu dengan cengkeraman ke arah leher ular itu. Sekali dia meremas, leher ular itu hancur dan ular itu pun mati seketika.

Lulung Ma melihat hal itu dan alisnya berkerut. Alis yang tebal sekali itu sekarang bagai tersambung menjadi satu. Tiupan sulingnya menjadi kacau sebab hatinya panas melihat dua ekor ularnya mati, dan hal ini membuat ular-ular itu menjadi panik dan kacau pula! Orang-orang menjerit ketika ular-ular itu mulai lari ke sana sini dengan kacau.

Melihat hal ini, Suma Ciang Bun cepat bertindak. Terdengar suara melengking aneh dan meninggi, dan ular-ular itu menjadi ketakutan. Lenyap semua kemarahan mereka dan mereka pun tidak ganas lagi, melainkan ketakutan dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu seperti dikejar-kejar sesuatu yang membuat mereka ketakutan!

Lulung Ma menghentikan tiupan sulingnya. Dia dan pemuda jangkung tukang tambur itu menoleh ke arah Suma Ciang Bun dan memandang dengan mata terbelalak. Kemudian, setelah semua ular pergi, hanya tinggal dua ekor bangkai ular, Lulung Ma lalu memberi isyarat kepada Si Pemuda Jangkung yang segera mengambil dua bangkai ular itu dan menyimpannya dalam sebuah keranjang.

Kemudian Lulung Ma menjura ke arah Gangga Dewi, tentu saja otomatis ke arah Suma Ciang Bun. “Harap dimaafkan, karena ada yang menjerit ketakutan, ular-ular itu menjadi panik. Masih untung ada Enghiong (Orang Gagah) yang tadi membantu kami mengusir ular-ular itu sehingga tidak ada korban gigitan. Untuk menyatakan maaf, biarlah murid saya ini bermain silat, dan kami akan memperlihatkan tari silat yang jelek dan hanya sekedar menghibur anda sekalian.”

Akan tetapi sebelum Si Jangkung itu bangkit berdiri, dari tempat para penari yang tadi minggir, berlompatan dua orang yang tadi juga menjadi pemain musik. Mereka berusia kurang lebih tiga puluh tahun, yang seorang bertubuh gemuk, yang ke dua kurus, akan tetapi keduanya amat tinggi, setinggi raksasa hitam itu dan nampak mereka itu memiliki tenaga otot yang kuat.

Melihat mereka, Lulung Ma segera tersenyum dan kembali menjura kepada para tamu. “Agaknya dua orang pembantu kami ini ingin pula memperlihatkan kepandaian mereka untuk menghibur para tamu. Badhu dan Sagha, silakan!”

Dua orang itu memberi isyarat pada kawan-kawan mereka dan beberapa orang datang menggotong sebuah keranjang yang terisi batu-batu sebesar kepala orang. Dan setelah meletakkan keranjang itu di depan Badhu dan Sagha, mereka turun kembali.

Badhu yang gemuk dengan perut gendut itu berdiri tegak dengan dua lutut agak ditekuk, memasang kuda- kuda kemudian memberi isyarat kepada kawannya yang tinggi kurus bernama Sagha. Orang ini lalu mengambil sebongkah batu dari keranjang, lalu sekuat tenaga dia menghantamkan batu itu ke arah perut temannya. Perut yang gendut itu menerima hantaman batu.

“Bukkk!!”

Hantaman itu membalik. Sagha mundur sejauh dua meter lebih, lalu sekuat tenaga dia melontarkan batu itu ke arah perut kawannya.

“Bukkk!!”

Batu itu mengenai perut dan mental kembali ke arah Sagha yang menyambut dengan kedua tangan. Kemudian, Sagha melemparkan batu itu menghantam ke arah dada, paha, pundak, bahkan dari belakang mengenai punggung dan pinggul. Akan tetapi batu itu selalu mental kembali.

Tentu saja semua orang menjadi sangat kagum. Tubuh Si Gendut itu memang kebal. Kemudian, Badhu juga mengambil sebongkah batu dan menghantamkan batu ke arah Sagha yang kurus. Si Kurus ini menyambut dengan batu di tangannya.

“Darrrr…!!” Dua buah batu itu pecah berhamburan.

Mereka kembali mengambil batu dan kini mereka saling hantam, bukan saja di tubuh, melainkan di kepala. Akan tetapi setiap kali batu itu dihantamkan ke kepala lawan, batu itu pecah berhamburan!

Tentu saja para penonton menyambut ini dengan sorak-sorai dan tepuk tangan karena pertunjukan ini benar-benar menegangkan dan juga mengagumkan. Bagaimana kepala orang dapat begitu kebal dan keras sehingga batu besar pun pecah pada saat bertemu kepala!

Setelah sepuluh buah batu besar itu pecah, kedua orang itu lalu mengadu kekuatan dengan bergulat! Badhu yang gendut berhasil memegang pinggang Sagha yang kurus dengan kedua tangannya, mengerahkan tenaga mengangkat tubuh kurus itu ke atas, memutar-mutarnya dan membanting sekuat tenaga.

“Bukkk…!”

Tubuh kurus itu terbanting dan kalau orang lain dibanting sekeras itu, tentu akan semua tulangnya patah- patah. Akan tetapi seperti sebuah bola saja, Si Kurus sudah meloncat bangun kembali, dan kini dia menyergap Si Gendut, menangkap lengannya, dipuntir ke belakang dan dari belakang tubuhnya dia membanting kawannya itu dengan sepenuh tenaga.

“Bukkk…!”

Tubuh gendut gemuk itu terbanting dan semua orang merasa khawatir. Akan tetapi seperti juga temannya tadi, segera dia bangkit kembali, seolah-olah bantingan tadi sama sekali tidak dirasakannya.

Sekarang mereka tidak bergulat lagi, namun berkelahi saling pukul dan saling tendang, dan sekali ini agaknya mereka ingin memamerkan kecepatan gerakan mereka. Pukulan dan tendangan mereka elakkan atau tangkis, dan yang sempat mengenai tubuh pun tidak dirasakan karena keduanya memiliki kekebalan.

Demikian serunya perkelahian itu sehingga memancing tepuk sorak para penonton yang merasa kagum bukan main karena mereka seperti melihat dua ekor harimau bertarung. Memang hebat sekali perkelahian itu, apa lagi juga diiringi musik tambur dan genderang yang dipukul secara kuat oleh Lulung Ma dan pemuda jangkung.

Akhirnya, Lulung Ma yang memukul gendang memberi isyarat dengan pukulan gendang yang semakin lambat dan lirih, dan akhirnya dua orang yang sedang bertanding itu pun menghentikan pertandingan mereka. Dengan sikap bangga dan dada yang terangkat, Si Gendut yang bernama Badhu lalu memandang kepada para tamu dan para penonton.

“Saudara sekalian, rasanya kurang menarik kalau hanya saya dan adik saya Sagha ini yang bertanding karena kami berdua sama kuat dan tidak ada yang dapat menang atau kalah. Kita semua tahu betapa kuatnya bangsa kita yang hidup di sekitar Pegunungan Himalaya ini, tak dapat disamakan dengan mereka yang tinggal di timur, yang bertubuh kerempeng dan berpenyakitan. Akan tetapi, kalau ada di antara saudara yang mengaku orang timur dan merasa memiliki kepandaian yang katanya dimiliki orang-orang di dunia persilatan, silakan maju. Mari kita ramaikan pertemuan ini dengan main-main sebentar untuk membuka mata kita siapa sesungguhnya yang lebih kuat antara orang-orang di Pegunungan Himalaya!”

Dengan sikap menantang Badhu dan Sagha berdiri di situ sambil memandang ke arah Sian Lun dan Sian Li, juga Suma Ciang Bun. Jelas bahwa meski dia tidak menantang secara langsung, akan tetapi di tempat itu yang jelas merupakan pendatang dari timur adalah mereka bertiga itu.

Sian Lun dan Sian Li, saling pandang dan dari pandang mata itu mereka bersepakat untuk menyambut tantangan itu. Sian Li lalu menoleh kepada nenek Gangga Dewi dan bertanya, “Bolehkah kami melayani tantangan mereka?”

Gangga Dewi dan suaminya saling pandang. Diam-diam Gangga Dewi juga merasa marah melihat sikap dua orang pegulat itu yang dianggapnya terlalu sombong, bahkan merendahkan orang-orang Han dengan sengaja. Dia mengangguk dan menjawab. “Biar Sian Lun yang maju lebih dulu menghadapi Badhu, dan engkau nanti yang menghadapi Sagha.”

Sian Lun yang sejak tadi sudah mendongkol sekali, segera bangkit dan sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah melayang ke depan dua orang itu.

“Aku orang dari timur yang kerempeng dan lemah ingin mencoba kehebatan seorang di antara kalian!” kata Sian Lun dengan suara lantang.

Suasana menjadi tegang. Semua orang tahu bahwa pemuda tampan itu adalah anggota rombongan Puteri Gangga Dewi dan dari pakaiannya saja jelas dapat diketahui bahwa dia seorang pemuda Han.

Kalau saja Sian Lun bukan anggota rombongan Puteri Gangga Dewi, tentu Badhu telah mengejek dan menghinanya. Akan tetapi mengingat akan kehadiran puteri Bhutan itu, Badhu tidak berani bersikap kasar dan dia pun menjura sebagai penghormatan.

“Saya tidak berani menentang Kongcu, dan yang saya maksudkan adalah mereka yang datang dari timur daerah Se-cuan. Akan tetapi kalau tidak ada yang berani maju kecuali Kongcu, baiklah saya akan layani Kongcu main-main sebentar.”

Sagha tersenyum dan Si Tinggi Kurus ini lalu mengundurkan diri ke rombongan penari dan pemain musik tadi. Kini Lulung Ma dan pemuda penabuh tambur memukul tambur dan gendang dengan gencar. Mereka kelihatan gembira sekali.

Sian Li yang memandang rendah kedua orang pegulat itu, lalu berseru dengan lantang. “Suheng, jangan sampai membunuh orang!”

Sian Lun mengangguk, dan mendengar ucapan gadis itu, Lulung Ma dengan tangan masih menabuh gendang, menjawab. “Nona Dewi Bangau Merah, pembantuku Badhu ini belum pernah dikalahkan lawan, bagaimana mungkin dia dapat dibunuh? Dan jangan khawatir, kami juga tidak akan mau membunuh orang dalam pesta ini, hanya sekadar menghibur dengan pertunjukan menarik. Badhu, mulailah!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo