October 15, 2017

Si Bangau Merah Part 13

 

Mendengar ucapan ini, nenek Bu Ci Sian menghampiri Sian Li dengan alisnya berkerut. “Kenapa harus dibunuh?” tanyanya.

“Dia jahat. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau sudah membebaskan mereka yang akan menjadi korbannya di kemudian hari. Sekarang engkau malah membiarkan dia pergi. Tentu dia akan mencelakai banyak orang lagi dan kalau hal itu terjadi, berarti engkau pun ikut bersalah, Nek.”

Nenek Bu Ci Sian terbelalak. Anak ini sungguh cerdik, akan tetapi juga galak dan tak kenal ampun terhadap orang jahat. Ia pun tersenyum, teringat akan wataknya sendiri di waktu muda.

“Anak baik, benarkah engkau cucu Kao Cin Liong dan Suma Hui?”

Sian Li memandang tajam, “Apakah kau kira aku ini seorang yang suka berbohong?”

“Kalau benar, berarti kita ini bukan orang lain, anak yang baik. Engkau mengenal Suma Ceng Liong?” “Tentu saja!” kata anak itu, “Dia masih keluarga nenekku, adik nenekku, bahkan dia calon guruku.” “Ehh?” Tentu saja nenek Bu Ci Sian menjadi heran mendengar pengakuan itu.
“Engkau menjadi muridnya? Bagaimana pula ini?”

“Sebelum aku menceritakan hal itu, aku ingin tanya lebih dulu. Siapakah engkau, Nek?”

Nenek Bu Ci Sian kembali tersenyum. Anak ini memang cerdik dan sangat berhati-hati. ”Engkau sudah mengenal Suma Ceng Liong, tentu mengenal pula isterinya.”

“Tentu saja. Nenek Kam Bi Eng amat baik kepadaku ketika berkunjung ke rumah Kakek Kao Cin Liong dan kami bertemu di sana.”

“Nah, aku adalah nenek buyutmu, aku adalah ibu dari nenekmu Kam Bi Eng itulah.”

“Aihhh, kiranya Nenek Buyut Bu Ci Sian!” berkata Sian Li sambil cepat memberi hormat sambil berlutut.

Nenek itu girang sekali, lalu mengangkat bangun anak itu dan memeluknya. “Engkau bahkan sudah mengenal namaku?”

“Tentu saja. Sejak aku kecil Ayah dan Ibu sudah mendongeng kepadaku tentang Kakek Buyut Kam Hong yang berjulukan Pendekar Suling Emas, juga tentang Nenek Buyut. Sekarang baru aku bisa melihat sendiri bahwa Nenek Buyut memang lihai bukan main, dengan mudah mengalahkan Hek-pang Sin-kai yang lihai dan jahat tadi.”

“Sekarang ceritakan bagaimana kau dapat terculik pengemis itu, dan di mana adanya ayah ibumu?”

Sian Li menceritakan tentang pengalamannya dan ayah ibunya di kota Heng-tai, tentang persekutuan di antara Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang mengadakan persekutuan jahat. Karena Sian Li memang cerdik dan ia telah mendengar dari ayah ibunya, ia dapat bercerita dengan jelas dan mendengar itu, wajah nenek Bu Ci Sian berubah tegang.

“Aihh, kalau begitu, ayah ibumu kini tengah menghadapi urusan besar yang menyangkut keselamatan keluarga Kaisar. Pantas saja engkau diculik orang dan tidak kebetulan, yang menolongmu juga seorang tokoh sesat macam Hek-pang Sin-kai. Untung sekali agaknya Tuhan yang menuntunku pagi-pagi ini lewat di sini sehingga dapat melihat engkau dalam tawanan penjahat itu. Akan tetapi, apa artinya engkau tadi mengatakan bahwa Suma Ceng Liong akan menjadi calon gurumu?”

“Sebetulnya, aku bersama Ayah dan Ibu meninggalkan rumah sedang menuju ke Cin-an karena sudah tiba saatnya aku harus belajar ilmu dari Kakek Suma Ceng Liong seperti yang telah dijanjikan antara dia dan Ayah. Sebelum ke sana, Ayah dan Ibu mengajak aku berpesiar ke kota raja. Akan tetapi ketika tiba di kota Heng-tai, terjadi peristiwa itu.”

“Aih, begitukah? Bagus sekali jika begitu. Aku sendiri sedang dalam perjalanan menuju ke rumah anak dan mantuku itu.”

“Akan tetapi, Ayah dan Ibu akan mencari-cariku, Nek. Mereka akan menjadi bingung. Sebaiknya kalau kita kembali dulu ke Heng-tai dan…”

“Berbahaya sekali, cucuku. Seperti ceritamu tadi, di sana penuh dengan orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw. Kalau sampai mereka melihatmu, kemudian mereka mengeroyokku, bagaimana aku akan mampu melindungimu?”

“Aku tidak takut, Nek.”

“Ini bukan soal takut atau tidak takut, cucuku. Akan tetapi, setelah kini engkau terbebas dari bahaya, apakah kita harus kembali mendatangi bahaya dan membiarkan engkau tertawan musuh? Kalau begitu, ayah dan ibumu tentu akan gelisah sekali. Sebaiknya, marilah kuantar engkau ke Cin-an. Aku yakin ayah dan ibumu akan pergi ke sana pula. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mencari mereka ke Heng-tai, kemudian ke kota raja, dan kalau perlu aku akan berkunjung ke Ta-tung untuk memberi tahu mereka bahwa engkau telah berada di Cin-an.”

Akhirnya Sian Li menurut karena bagaimana pun juga, oleh ayah dan ibunya ia memang akan diantarkan ke Cin-an. Berangkatlah mereka berdua ke Cin-an dan mereka diterima dengan penuh kegembiraan oleh Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng.

“Ibu, kenapa Ayah tidak ikut?” Kam Bi Eng bertanya.

Ditanya demikian, tiba-tiba wajah nenek itu menjadi murung. Inilah yang ia khawatirkan, namun sejak tadi ditahan-tahannya. Ia adalah seorang wanita yang tabah, akan tetapi ia khawatir bahwa anaknya yang akan menderita duka.

“Ibu, apa yang terjadi?” Kam Bi Eng merangkul ibunya begitu melihat wajah ibunya menjadi murung setelah ia bertanya tentang ayahnya.

Nenek itu menghela napas panjang. “Engkau ingat berapa usia ayahmu tahun ini?”

“Sudah lebih dari delapan puluh tahun, Ibu. Bukankah dua tahun yang lalu beramai-ramai kita memperingati ulang tahunnya yang ke delapan puluh?” berkata Kam Bi Eng, masih mengamati wajah ibunya dengan khawatir.

“Engkau benar. Usianya memang sudah delapan puluh dua dan dia telah meninggalkan kita dengan tenang sebulan yang lalu…”

“Ibuuuu…!” Kam Bi Eng menjerit sambil merangkul ibunya dan pecahlah tangisnya. “Ibu, kenapa…? Kenapa Ibu diam saja? Kenapa aku tidak diberi tahu?” Ia bertanya di antara ratap tangisnya.

Nenek itu tidak ikut menangis, melainkan tersenyum lembut sehingga anaknya merasa heran memandangnya. Juga Suma Ceng Liong memandang kepada ibu mertuanya, lalu bertanya dengan hati- hati, “Akan tetapi, Ibu, mengapa kami tidak diberi tahu mengenai kematian Ayah?”

Nenek Bu Ci Sian mengusap kepala puterinya. ”Tenangkan hatimu, hentikan tangismu. Ini semua kehendak ayahmu. Dia sudah memesan supaya begitu dia menghembuskan napas terakhir, aku segera mengurus jenazahnya yang harus dikebumikan pada hari kematiannya. Ini adalah pesan ayahmu, dan juga dia berpesan agar perlahan-lahan aku memberitakan kematiannya kepadamu setelah lewat satu bulan.”

“Tapi… tapi mengapa…?” Kam Bi Eng mencoba untuk menahan tangisnya.

“Engkau mengenal ayahmu. Kadang aku sendiri sukar mengikuti jalan pikirannya. Dia tak ingin jenazahnya dibiarkan berminggu-minggu atau berhari-hari membusuk sebelum dikubur. Dia juga tidak ingin ditangisi, diratapi karena menurut pendapatnya, orang yang meratapi yang mati sebenarnya hanya menangisi diri sendiri. Dapat dibayangkan betapa sedihku saat terpaksa memenuhi permintaan terakhirnya itu, menguburkan jenazahnya tanpa dihadiri kalian dan kerabat dekat, hanya dihadiri oleh para tetangga saja. Sampai matinya, ayahmu ingin sederhana, memperlihatkan kerendahan hatinya dengan tidak mau menonjolkan diri.”

Mendengar suara yang mengandung kebanggaan itu, Kam Bi Eng merasa tidak tega untuk menangis lagi. Ia merangkul Ibunya. “Baiklah, Ibu. Kalau begitu, kami akan pergi ke makam Ayah untuk bersembahyang.” Kemudian ia merangkul Sian Li dan bertanya kepada ibunya. “Bagaimana tahu-tahu Sian Li dapat datang bersama Ibu? Apakah Ibu yang singgah di rumah Sin Hong dan Hong Li, dan mengajak anak ini ke sini?”

“Panjang ceritanya,” kata nenek itu. “Secara kebetulan saja aku bertemu dengan Sian Li dan mendengar bahwa ia memang sedang diantar oleh ayah ibunya ke sini, maka aku lalu mengajaknya.”

Nenek itu lalu menceritakan apa yang terjadi.

Mendengar cerita itu, Suma Ceng Liong berseru, “Aih, sungguh berbahaya sekali kalau Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw sampai berhasil menyusup ke dalam istana! Sin Hong dan Hong Li tentu menghadapi bahaya sangat besar karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw banyak yang lihai.”

“Hemm, apakah engkau ingin kita pergi ke kota raja dan menentang mereka?” tanya Bi Eng sambil memandang suaminya dengan penuh selidik.

Ceng Liong mengenal sinar mata isterinya dan dia pun menggeleng sambil menghela napas panjang. “Kita tidak berkewajiban untuk melindungi Kaisar penjajah Mancu, akan tetapi bagaimana kita dapat tinggal diam saja kalau Sin Hong dan Hong Li terancam bahaya?”

“Tentu saja tidak. Kalau begitu, marilah kita berangkat sekarang juga untuk mencari mereka,” kata isterinya penuh semangat.

“Tidak usah kalian sibuk,” kata nenek Bu Ci Sian. “Aku yang akan mencari mereka. Aku memang sengaja mengantar Sian Li ke sini, kemudian aku akan kembali ke kota raja dan mencari mereka.”

“Aih, Ibu sudah tua dan baru saja datang setelah melakukan perjalanan jauh. Biar Ibu beristirahat di sini ditemani Sian Li dan Sian Lun. Kami yang akan mencari mereka.”

“Sian Lun? O ya, cucu muridku itu, di mana dia?” Nenek itu bertanya dan memandang ke kanan kiri. Hampir ia lupa bahwa puteri dan mantunya mempunyai seorang murid, dan dia sendiri sayang kepada murid yang sudah dianggap sebagai anak angkat oleh Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng itu.

Suami isteri itu agaknya baru teringat dan Bi Eng lalu menoleh ke arah dalam, lalu berteriak, “Sian Lun…! Di mana engkau? Kesinilah, nenekmu datang!”

Dari arah belakang terdengar jawaban. “Teecu datang, Subo!”

Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda remaja yang gagah perkasa. Pemuda ini walau pun baru berusia lima belas tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar seperti seorang dewasa. Wajahnya yang tampan itu cerah, sepasang matanya bersinar-sinar dan mulutnya membayangkan senyum, akan tetapi dia pendiam dan sopan. Begitu tiba di situ, dia memberi hormat sambil berlutut ke arah nenek Bu Ci Sian.

“Nenek, selamat datang dan terimalah hormat saya.”

Nenek itu memandang dengan wajah berseri, lalu menyentuh pundak anak muda itu dan menyuruhnya bangun berdiri. “Cukup, Sian Lun. Wah, engkau kini sudah kelihatan dewasa!”

“Terima kasih, Nek.” Pemuda itu lalu memberi hormat kepada suhu dan subo-nya. “Harap Suhu dan Subo maafkan teecu. Karena melihat nenek datang bersama tamu, maka teecu tidak berani ke luar, takut mengganggu pembicaraan penting.”

“Ah, tamu ini bukan orang lain, Sian Lun,” kata Kam Bi Eng. “Ia bernama Tan Sian Li. Puteri keponakan kami Tan Sin Hong dan Kao Hong Li di Ta-tung. Sian Li, perkenalkan, ini murid kami bernama Liem Sian Lun.”

Dua orang remaja itu berdiri dan saling pandang. Sian Lun mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, dibalas oleh Sian Li dan gadis cilik ini memandang kepada Suma Ceng Liong, lalu berkata dengan suaranya yang nyaring.

“Ku-kong (Paman Kakek), aku harus menyebut dia bagaimana? Mengingat dia murid Kakek dan Nenek, sepatutnya aku menyebutnya Susiok (Paman Guru)…”

Suma Ceng Liong tertawa. “Memang harusnya engkau menyebut dia paman, mengingat bahwa dia murid kami dan engkau cucu kami. Akan tetapi, karena engkau juga akan belajar ilmu dari kami, maka berarti engkau menjadi murid kami pula dan kalian adalah saudara seperguruan.”

Wajah Sian Li berseri-seri. “Aihh, kalau begitu aku boleh menyebutnya Suheng (Kakak Seperguruan)! Memang aku jauh lebih senang menyebutnya Suheng, karena dia hanya sedikit lebih tua dari padaku. Kami lebih pantas menjadi saudara seperguruan dari pada menjadi paman dan keponakan murid. Suheng, terimalah hormatku!” Katanya sambil menghadapi Sian Lun. Semua orang lalu tersenyum dan Sian Lun dengan sikap tersipu membalas penghormatan itu.

“Sumoi…,” katanya lirih.

Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng lalu menekankan lagi keinginan mereka kepada nenek Bu Ci Sian. Akhirnya nenek ini setuju bahwa suami isteri itu yang akan mencari Tan Sin Hong dan Kao Hong Li ke kota raja dan membantu mereka menghadapi para penjahat kalau diperlukan, sedangkan nenek itu tinggal di rumah bersama Sian Li dan Sian Lun.

Karena Sian Li selalu mengkhawatirkan keselamatan ayah ibunya, maka hari itu juga Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng berangkat meninggalkan rumah mereka, menuju ke kota raja, melakukan perjalanan secepatnya. Akan tetapi, tiga hari kemudian, mereka telah kembali bersama Sin Hong dan Hong Li!

Tentu saja Sian Li gembira bukan main melihat ayah ibunya datang. Juga suami isteri itu gembira melihat Sian Li yang tadinya mereka khawatirkan karena anak itu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Kiranya, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li setelah selesai urusan di istana, juga sedang melakukan perjalanan menuju ke Cin-an karena tidak berhasil menemukan jejak anak mereka. Di dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Tentu saja kedua pihak merasa gembira, terutama sekali Sin Hong dan Hong Li yang mendengar bahwa anak mereka dalam keadaan selamat dan kini berada di rumah paman mereka itu. Pertemuan yang membahagiakan itu mereka rayakan dengan pesta keluarga, walau pun berita tentang meninggalnya kakek Kam Hong sempat membuat mereka termenung dan berduka.

Demikianlah, setelah beberapa hari tinggal di rumah Suma Ceng Liong, pada suatu hari mereka semua, termasuk Sian Li dan Sian Lun, pergi ke puncak Bukit Nelayan di mana berdiri Istana Kuno Khong-sim Kai- pang. Mereka ke sini untuk bersembahyang di depan makam mendiang pendekar sakti Kam Hong yang dikubur di taman belakang istana kuno itu.

Kam Bi Eng membujuk ibunya yang sudah berusia enam puluh tujuh tahun untuk turut dengannya tinggal di Cin-an. Akan tetapi nenek itu menolak sambil tersenyum.

“Bi Eng, tidak tahukah engkau betapa ibumu ini tidak mungkin berpisah dari mendiang ayahmu? Sekarang ayahmu hanya tinggal menjadi segunduk tanah di taman belakang. Biarlah aku tinggal di sini menghabiskan sisa hidupku dan kelak kalau aku mati, aku ingin dikubur di sebelah makam ayahmu.”

Biar pun hatinya merasa berat, terpaksa Kam Bi Eng meninggalkan ibunya seorang diri di istana kuno itu, hanya ditemani oleh seorang pelayan wanita. Dia kembali ke Cin-an bersama suaminya, Suma Ceng Liong, dan kedua orang anak remaja itu, Sian Lun dan Sian Li.

Ada pun Tan Sin Hong dan Kao Hong Li juga berpamit dan berpisah dari anak mereka setelah menitipkan anak itu kepada paman dan bibi mereka untuk dididik ilmu. Mereka kembali ke Ta-tung setelah mereka berjanji kepada anak mereka bahwa selama lima tahun anak itu belajar ilmu di Cin-an, pada setiap tahun baru mereka pasti akan datang berkunjung…..

********************

“Suhu, bagaimana keadaan Suhu?” pemuda itu bersila di dekat tubuh yang tergolek di atas lantai tanah keras dan dia meletakkan telapak tangan kirinya di atas dada itu.

Kakek itu menghela napas panjang. “Kini telah tiba bagiku saat terbebas dari segala penderitaan hidup. Tidak ada obat di seluruh dunia ini yang akan dapat memperpanjang usia manusia yang sudah tiba di garis akhirnya.”

“Tapi, Suhu…!”

“Hushhh! Tidak senangkah hatimu melihat gurumu, satu-satunya orang di dunia ini yang mencintamu, sekarang terbebas dari hukuman yang membuat hidupnya amat sengsara ini? Inginkah engkau melihat hukuman dan siksaan terhadap gurumu diperpanjang lebih lama lagi?”

Pemuda itu menunduk. Dia seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang bertubuh sedang namun tegap. Wajahnya lonjong dengan dagu meruncing dan berlekuk, alisnya tebal berbentuk golok, dahinya lebar, hidung mancung dan mulutnya membayangkan keramahan dan kelembutan meski dagu yang berlekuk itu membayangkan ketabahan tanpa batas,

Pakaiannya sederhana seperti pakaian petani namun bersih, dan ikat pinggang yang diikatkan kuat-kuat itu memperlihatkan bentuk pinggang yang ramping. Tubuhnya padat walau tidak memperlihatkan kekuatan otot. Rambutnya hitam dan panjang, diikat secara sederhana saja dan dibiarkan tergantung di belakang punggung.

Dilihat sepintas lalu, dia seorang pemuda biasa saja, seperti seorang di antara ribuan pemuda seperti dia di perkampungan, pemuda petani atau pemuda yang bekerja kasar. Bukan seorang pemuda hartawan atau pemuda bangsawan, apa lagi terpelajar. Tetapi kalau orang melihat dengan perhatian, akan nampak bahwa sinar matanya mencorong namun lembut, dan dalam setiap gerak-geriknya terdapat ketenangan dan kemantapan yang mengagumkan.

Kalau pemuda itu nampak seperti pemuda dusun biasa, kakek yang rebah telentang itu sama sekali tidak dapat dibilang seperti kakek biasa, bahkan juga tidak seperti manusia biasa pada umumnya. Kakek itu hanya terdiri dari kepala, leher dan badan saja. Tanpa kaki tanpa tangan! Rambutnya yang putih panjang itu lebih panjang dari badannya dan kini menyelimutinya seperti sehelai selimut kapas.

Mereka berdua pun bukan berada di sebuah pondok atau rumah, melainkan berada di dasar sumur! Pemuda itu bukan lain adalah Yo Han, sedangkan kakek buntung kaki dan lengannya itu adalah kakek Ciu Lam Hok, kakek sakti dalam sumur yang menjadi guru terakhir Yo Han.

Pada waktu pertama kali memasuki sumur di dalam goa di sebelah belakang sarang Thian-li-pang di mana Thian-te Tok-ong, tokoh besar Thian-li-pang bertapa, Yo Han berusia lima belas tahun. Kini dia telah berusia dua puluh tahun. Ini berarti bahwa dia telah tinggal di dalam sumur itu selama lima tahun.

Setiap hari dia digembleng ilmu yang aneh-aneh oleh kakek yang buntung lengan dan kakinya itu sehingga tanpa disadarinya sendiri, Yo Han telah menguasai ilmu yang amat hebat. Dia kini sudah menyadari bahwa dia dilatih ilmu silat yang amat hebat.

Karena dia mulai dapat melihat bahwa baik buruknya ilmu tergantung dari manusia yang menggunakannya, maka dia tidak lagi menolak dan bahkan mempelajari ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya dengan tekun dan penuh semangat. Dia hanya akan menggunakan ilmu-ilmu itu demi kebaikan, bukan untuk mencelakai orang.

Dalam waktu empat tahun, Yo Han sudah menguasai ilmu-ilmu yang menjadi dasar, bahkan kini dia dapat melihat betapa apa yang tadinya dianggap ilmu ‘tari’ dan ‘senam’ yang dipelajarinya dari Thian-te Tok-ong, sesungguhnya adalah ilmu silat yang hebat. Dan di bawah bimbingan kakek buntung, semua ilmu itu telah dapat dilatihnya dan di perdalam sehingga matang.

Lalu, satu tahun yang lalu, selama setahun penuh kakek aneh itu menurunkan ilmunya yang dikatakan sebagai ilmu segala ilmu silat tinggi, diberi nama Bu-kek Hoat-keng yang pernah diperebutkan oleh seluruh tokoh dunia persilatan.

“Bahkan karena ilmu ini pulalah aku disiksa oleh dua orang Suheng-ku. Mereka begitu menginginkan ilmu Bu-kek Hoat-keng ini sehingga mereka tega untuk membuntungi kaki tanganku, dan menyiksaku di dalam sumur. Kini, ilmu itu telah kuwariskan kepadamu Yo Han. Hatiku lega sudah dan kuharap, dengan ilmu ini engkau akan memulihkan nama baik Thian-li-pang, bisa mencuci bersih Thian-li-pang dari unsur-unsur jahat, menjadikan perkumpulan itu sebagai perkumpulan para pahlawan yang berjuang demi tanah air dan bangsa.”

Demikianlah katanya setelah dia mengajarkan seluruh ilmu itu kepada Yo Han. Selama setahun kemudian barulah Yo Han dapat menguasai ilmu itu dengan baik, hanya tinggal mematangkannya melalui latihan saja.

Dan semenjak menurunkan ilmu itu kesehatan kakek Ciu Lam Hok mundur sekali. Dia jatuh sakit dan biar pun Yo Han sudah membantunya dengan penggunaan ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dapat pula dipergunakan untuk melancarkan jalan darah dengan cara menyalurkan tenaga sakti dari ilmu itu yang amat dahsyat itu. Namun karena usia tua ditambah penderitaan dari siksaan yang luar biasa, kakek itu tetap saja menjadi lemah dan sakit-sakitan.

Penderitaan yang ditanggung kakek Ciu Lam Hok memang luar biasa. Kalau bukan dia yang sudah menguasai ilmu Bu-kek Hoat-keng, kiranya tidak mungkin dapat bertahan sampai sepuluh tahun lebih di dalam sumur itu!

Demikianlah, pada hari itu, Yo Han merasa bersedih melihat keadaan gurunya semakin payah. Ketika dia menempelkan telapak tangannya di dada gurunya, tahulah dia bahwa jantung gurunya bekerja lemah sekali. Sungguh amat mengherankan.

Ketika gurunya melatih Bu-kek Hoat-keng, gurunya demikian penuh semangat dan tidak mengenal lelah. Kini, seolah-olah tenaganya habis setelah setahun penuh melatih ilmu itu. Ketika dia mendengar ucapan gurunya yang terakhir dia pun menunduk.

“Suhu memang berkata benar. Akan tetapi, Suhu, hidup kita ini sudah dicengkeram dan dipengaruhi oleh peradaban serta tata susila yang sudah diterima oleh semua orang. Bagaimana mungkin teecu mengemukakan kata hati melalui mulut, mengatakan bahwa teecu akan lebih senang melihat Suhu terbebas dari siksaan melalui kematian? Seluruh dunia akan mengutuk teecu kalau teecu berani mengatakan hal seperti itu.”

Mendengar ini, kakek itu masih dapat tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, sejak dahulu aku sudah tahu bahwa engkau hebat, muridku. Matamu yang ketiga selalu terbuka sehingga engkau lebih awas dan lebih waspada dari pada orang biasa. Engkau melihat segalanya seolah menembus dan engkau dapat melihat intinya. Engkau melihat segala kepalsuan yang dilakukan manusia! Ha-ha-ha, dibandingkan engkau, aku ini bukan apa-apa. Kalau engkau sudah tahu, aku akan mati dengan mata terpejam dan tidak ada rasa penasaran apa pun. Ya, Tuhan, hamba telah siap!” kata kakek itu dan kembali dia tertawa bergelak. Akan tetapi, suara ketawanya itu makin lama semakin surut dan akhirnya berhenti sama sekali. Kedua matanya terpejam.

Yo Han cepat meraba dada gurunya kembali, dan tahulah dia bahwa tubuh itu sudah menjadi mayat. Dia menunduk dengan sikap amat hormat untuk menghormati jenazah suhu-nya. Dia tidak menangis, tak perlu berpura-pura karena di situ tidak ada orang lain. Juga karena suhu-nya ini, walau pun kaki tangannya buntung, namun kewaspadaannya tidak buntung dan suhu-nya tahu bahwa andai kata dia menangisi kematian suhu-nya, maka tangisnya itu palsu.

Tangisnya itu bukan bersedih untuk suhu-nya, melainkan bersedih untuk dirinya sendiri, karena ditinggalkan, karena kehilangan. Bahkan mungkin tangisnya terdorong perasaan agar tidak menganggap diri sendiri keterlaluan, tak mengenal budi!

Dia tidak menangis karena memang tak ada hal yang perlu ditangisi, tidak ada hal yang perlu disedihkan. Bahkan kalau dia mau jujur, ada perasaan lega dalam hatinya bahwa gurunya, yang diam-diam amat dikasihinya itu, kini bebas dari penderitaan. Selain itu, dengan meninggalnya kakek itu, berarti dia bebas pula untuk meninggalkan sumur itu!

Gurunya pernah berpesan agar kalau dia mati, jenazahnya supaya diletakkan di lantai kamar yang kecil dan yang terlindung atasnya, merupakan goa batu di dalam sumur itu. “Engkau tahu, tempat itu sangat kusukai. Setiap kali melakukan siu-lian (semedhi) aku selalu menggunakan kamar itu. Biarlah kelak aku beristirahat di kamar itu selamanya, maksudku, badanku,” demikian pesannya.

Dengan hati dipenuhi rasa iba terhadap kakek yang meninggal di tempat terasing itu, tanpa ada yang berkabung, tanpa disembahyangi, tanpa dijenguk keluarga mau pun kawan, Yo Han memondong tubuh tanpa kaki tanpa lengan itu dan membawanya ke dalam goa, lalu merebahkannya di dalam goa itu.

Kemudian dia mengumpulkan semua bahan yang masih ada, roti dan daging kering, dan beberapa potong pakaian. Dia tidak lupa mengambil beberapa potong batu emas dari dinding sumur dan memasukkan semua itu di dalam buntalan. Kemudian, dia pun mengikatkan buntalan di punggungnya, dan memasuki goa, berlutut di depan jenazah gurunya.

“Suhu, sesuai dengan pesan terakhir Suhu, teecu membaringkan jenazah Suhu di sini, dan sesuai pula dengan perintah Suhu, teecu segera meninggalkan tempat ini untuk melaksanakan pesan Suhu. Suhu, untuk terakhir kalinya, teecu menghaturkan terima kasih melalui ucapan yang keluar dari sanubari teecu.”

Dia memberi hormat delapan kali di dekat jenazah gurunya, kemudian dia keluar dari dalam goa kecil. Sekali lagi dia meneliti di sepanjang dinding sumur dan terowongan. Setelah yakin bahwa tidak ada sisa coretan dan lukisan yang dibuat suhu-nya dengan sepotong besi yang digigitnya, untuk menggambarkan pelajaran Bu-kek Hoat-keng yang amat sulit, baru Yo Han menuju ke dasar sumur dan merayap naik.

Dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, mudah saja dia merayap naik, seperti orang mendaki tangga saja. Dengan cepat tibalah dia di dalam goa di atas tanah, goa yang menjadi jalan masuk ke sumur itu. Dari dalam goa yang tertutup semak-semak yang rimbun dan penuh duri itu, lapat-lapat dia mendengar suara orang. Maka, dia pun menanti di goa itu, duduk dengan santai sambil melamun. Dia mengingat kembali pesan terakhir dari gurunya.

Pertama-tama, dia sudah dipesan untuk pergi mencari keluarga gurunya. Menurut kakek Ciu Lam Hok, dia berasal dari keluarga kerajaan! Ayahnya seorang panglima yang dulu membantu perkembangan kerajaan baru Mancu. Karena dia gagah perkasa dan berjasa besar, maka dia menerima hadiah yang besar, diangkat menjadi panglima, bahkan lalu dinikahkan dengan seorang puteri adik Kaisar Kang Hsi.

Akan tetapi karena dia melihat bangsa Mancu yang tadinya berjanji akan memperbaiki nasib rakyat melanggar janji, banyak di antara pejabatnya yang bahkan menindas rakyat dan menghina rakyat Han, maka Ciu Wan-gwe, Jenderal Ciu Kwan menjadi marah dan memberanikan diri untuk mengajukan protes keras. Melihat ini, Kaisar marah dan dia pun ditangkap, dituduh memberontak dan dihukum mati.

Ciu Kwan yang beristeri seorang puteri Mancu itu mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah Ciu Lam Hok, sedangkan yang ke dua seorang wanita bersama Ciu Ceng. Sejak muda, Ciu Lam Hok mewarisi watak ayahnya, yaitu berdarah pendekar dan pembela rakyat.

Meski pun ibunya dan dia bersama adik perempuannya diampuni Kaisar dan tidak ikut dihukum, tetapi diam-diam Ciu Lam Hok mendendam kepada Kerajaan Mancu. Dia pun pergi meninggalkan ibunya yang masih tinggal di istana, karena puteri adik Kaisar itu diampuni dan masih dianggap keluarga istana. Ciu Lam Hok sangat mencinta adiknya, akan tetapi terpaksa dia meninggalkan ibu dan adiknya karena dia tidak sudi tinggal di dalam istana, bahkan dia menaruh dendam atas kematian ayahnya yang dianggapnya sebagai seorang pahlawan besar.

Demikianlah, setelah puluhan tahun lamanya mempelajari ilmu silat dengan amat tekun, bersama dua orang suheng-nya Ciu Lam Hok mendirikan Thian-li-pang yang bertujuan untuk menentang kekuasaan pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi, seperti pernah diceritakan oleh kakek sakti itu kepada muridnya, dua orang suheng-nya setelah bergaul dengan orang-orang Pek-lian-kauw yang menamakan diri mereka pejuang pula, mulai menyeleweng ke jalan sesat. Dia menentang mereka sehingga akhirnya dia disiksa dan menderita selama bertahun-tahun di dalam sumur.

Sering kali kakek buntung itu mengenang keluarganya. Dia merasa rindu sekali kepada ibunya, terutama sekali adik perempuannya karena dia dapat menduga bahwa ibunya tentu telah amat tua dan telah meninggal dunia. Karena perasaan rindunya ini, maka dia membebankan tugas di pundak muridnya supaya sesudah muridnya keluar dari dalam sumur, pertama-tama Yo Han harus mencari adiknya yang bernama Ciu Ceng, seorang puteri di istana dan mengenal keluarga adiknya itu.

Bahkan dia meninggalkan pesan bahwa Yo Han harus melakukan sesuatu yang baik bagi keluarga Ciu Ceng sebagai tanda kasih sayang kakek Ciu kepada adiknya. Kalau perlu, Yo Han harus melindungi keluarga Ciu Ceng dengan taruhan nyawa!

“Pesanku ini merupakan tanda kasih sayangku yang terakhir buat adikku, yaitu saudara kandungku yang tunggal itu, maka aku sungguh mengharapkan agar engkau akan bisa melaksanakannya dengan baik, Yo Han,” demikian kakek itu menutup pesannya yang pertama.

Pesan ke dua dari gurunya adalah bahwa setelah dia menyelesaikan tugas pertama, dia harus pergi mencari Mutiara Hitam, yaitu sebuah pusaka berupa mutiara yang berwarna hitam dan yang mempunyai khasiat yang amat hebat. Mutiara itu pernah dimiliki kakek Ciu, akan tetapi dalam perebutan dengan tokoh- tokoh dunia persilatan, benda mustika itu lenyap dan kabarnya dikuasai oleh seorang kepala suku Miao di selatan.

Yo Han mendapat tugas untuk mencari dan merampas kembali benda itu yang bukan saja sangat penting karena khasiatnya, juga hal ini untuk mengangkat kembali nama besar Ciu Lam Hok sebagai seorang tokoh besar dunia persilatan.

Ada pun pesan ke tiga dari gurunya adalah supaya dia membersihkan Thian-li-pang dari tangan-tangan kotor, kemudian mengembalikan kedudukan Thian-li-pang sebagai suatu perkumpulan orang-orang gagah yang ingin membebaskan rakyat dari tangan penjajah Mancu berdasarkan kebenaran serta keadilan, bukannya dibawa menyeleweng seperti sekarang ini.

“Aku tahu bahwa kedua suheng-ku itu menyeleweng sesudah mereka bergaul dengan orang-orang Pek- lian-kauw. Karena itulah Thian-li-pang harus dibersihkan dari pengaruh Pek-lian-kauw dan menjadi perkumpulan para pahlawan, para patriot kembali. Di antara para murid Thian-li-pang masih banyak yang bersih, hanya saja mereka takut kepada pimpinan mereka yang sudah dicengkeram pengaruh Pek-lian- kauw. Engkau bersihkan Thian-li-pang, muridku. Sesungguhnya untuk Thian-li-pang maka aku menderita seperti ini. Kalau engkau berhasil membersihkan Thian-li-pang, berarti semua penderitaanku ini tidak sia- sia.”

Yo Han mengepal tinjunya. Dia harus melaksanakan pesan ini terlebih dahulu. Apa pun resikonya, dia harus dapat dan mampu membersihkan Thian-li-pang. Apa lagi kini dia memang berada di daerah Thian-li- pang, maka untuk sementara dia harus melupakan dua tugas yang lain, dan berusaha melaksanakan tugas membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh jahat.

Setelah orang-orang Thian-li-pang yang lewat di depan goa itu pergi menjauh, dia pun menyelinap keluar dari goa. Dari balik semak-semak dia melihat betapa Thian-li-pang agaknya tengah melakukan suatu kegiatan sebab para anggotanya terlihat berbondong-bondong menuju ke pekarangan rumah induk.

Dia sudah mengenal baik tempat itu dan tahu bahwa tentu akan ada pertemuan besar di pekarangan. Hanya pada saat ada rapat besar yang melibatkan seluruh anggota, maka pertemuan itu diadakan di pekarangan yang luas di depan rumah induk. Dia pun mulai menyusup mendekat dan kemudian mengintai.

Memang benar dugaan Yo Han. Pada hari itu sedang diadakan pertemuan penting di Thian-li-pang. Semua anggota yang berada di pusat, yang jumlahnya tidak kurang dari dua ratus orang, berkumpul di pekarangan yang luas itu.

Anggota Thian-li-pang tersebar di banyak tempat, puluhan ribu orang jumlahnya, terbagi dalam cabang- cabang dan ranting-ranting. Kini yang hadir dalam rapat itu adalah ketua-ketua cabang, kepala-kepala ranting, dan para anggota di pusat.

Pertemuan itu amat penting. Selain dihadiri oleh ketuanya, yaitu Ouw Ban dan wakilnya, yaitu Lauw Kang Hui, juga dihadiri pula oleh dua orang kakek yang selama ini jarang muncul dan mereka menjadi penasehat dan pujaan para pimpinan Thian-li-pang, yaitu Ban-tok Mo-ko guru ketua dan wakil ketua, serta suheng- nya, yaitu Thian-te Tok-ong yang selama bertahun-tahun bersembunyi dan bertapa di dalam goa. Kalau dua orang ini sampai muncul di dalam rapat itu, tentu rapat itu istimewa sekali. Dan hadir pula di situ dua orang tokoh Pek-lian-kauw sebagai tamu undangan, yaitu Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, dua orang yang sudah lama bekerja sama dengan Thian-li-pang bersama Ang-I Moli.

Sesudah semua orang hadir lengkap, Ouw Ban sebagai Ketua Thian-li-pang bercerita secara singkat akan gagalnya usaha mereka untuk membunuh para pengeran di istana. Bahkan dalam usaha itu, puteranya, Ouw Cun Ki, dan Ang-I Moli tokoh Pek-lian-kauw, ditangkap dan dihukum mati bersama banyak anggota Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang menyusup sebagai anak buah Ouw Cun Ki.

“Kita tidak boleh membiarkan saja kejadian itu!” Ouw Ban berseru dengan suara keras karena hatinya diliputi kemarahan dan kedukaan akibat kematian puteranya. “Kita akan mengumpulkan semua kekuatan dan kita serbu istana, kita bunuh Kaisar serta seluruh keluarganya!”

Ucapan yang penuh semangat itu disambut sorakan gegap gempita oleh para anggota Thian-li-pang. Juga dua orang tosu Pek-lian-kauw bertepuk tangan gembira dan setelah sorakan itu mereda.

Kwan Thian-cu yang bertubuh gendut itu tertawa, “Ha-ha-ha, Pangcu dari Thian-li-pang sungguh gagah sekali! Memang pendapatnya itu tepat sekali. Perjuangan kita tak akan berhasil sebelum kita membunuh Kaisar Kian Liong dan para pangeran. Kalau mereka terbunuh, tentu pemerintahan mereka akan kacau balau dan kita gunakan kesempatan itu untuk mengerahkan pasukan menghancurkan mereka!”

Kembali ucapan ini disambut sorakan. “Hancurkan penjajah Mancu!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Diam…!”
Semua orang terdiam, lalu memandang orang yang mengeluarkan bentakan nyaring itu. Yang membentak adalah Ban-tok Mo-ko. Meski pun kakek yang usianya sudah delapan puluh tiga tahun ini biasanya halus dan ramah, akan tetapi bentakannya mengandung getaran yang amat kuat sehingga semua orang langsung terdiam dan suasana menjadi hening sehingga suaranya terdengar cukup jelas walau pun suara itu bernada lembut.

“Ouw Ban,” berkata Ban-tok Mo-ko dengan suara yang berpengaruh. “Sebelum engkau mengemukakan usul baru, sebaiknya kalau kita membicarakan mengenai kedudukanmu sebagai ketua. Tahukah engkau kenapa kali ini aku sampai ikut menghadiri pertemuan ini, bahkan Suheng Thian-te Tok-ong juga keluar dari goanya?”

Ouw Ban memandang wajah gurunya dengan alis yang berkerut dan sinar mata penuh pertanyaan. “Teecu tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan.”

“Ouw Ban, apakah engkau masih juga belum menyadari kesalahanmu? Sebagai ketua engkau tidak becus! Semua langkah yang kau ambil sudah gagal, bahkan merugikan Thian-li-pang yang telah kehilangan banyak murid. Dan sekarang engkau malah hendak membunuh lebih banyak murid Thian-li-pang lagi dengan menyuruh mereka menyerbu istana?”

Ouw Ban nampak penasaran sekali. “Akan tetapi, Suhu. Semua ini teecu lakukan demi perjuangan!”

“Hemmm, perjuangan bukan sekedar menuruti dendam dan kemarahan. Harus dengan perhitungan. Akan tetapi sepak terjangmu amat ngawur. Sejak engkau menyelundupkan Ciang Sun ke istana, menghubungi Siang Hong-houw, engkau telah banyak melakukan kesalahan yang amat merugikan perjuangan kita. Dan sekarang engkau akan menyuruh banyak murid bunuh diri dengan menyerbu istana yang terjaga kuat sekali? Ouw Ban, karena engkau muridku, aku menjadi sangat malu. Engkau tidak patut menjadi Ketua Thian-li-pang!”

Wajah Ouw Ban menjadi merah. Ia sedang berduka karena kematian putera tunggalnya, karena kegagalan usahanya membunuh para pangeran, dan sekarang gurunya bahkan mamarahinya di depan semua ketua cabang dan kepala ranting, bahkan di depan dua orang tokoh Pek-lian-kauw!

Dia segera ingat bahwa dialah Ketua Thian-li-pang sehingga di dalam perkumpulan itu, dia orang pertama yang paling tinggi kedudukannya, bahkan lebih tinggi dari kedudukan gurunya dan supek-nya yang hanya merupakan penasehat!

“Suhu lupa bahwa akulah Ketua Thian-li-pang!” katanya. Suaranya kini kasar dan penuh kemarahan. “Aku berhak memutuskan apa yang harus dilakukan oleh Thian-li-pang, dan aku sudah mengambil keputusan untuk menyerbu istana, membunuh Kaisar Kian Liong! Tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi rencanaku ini!”

Semua orang menjadi terkejut dan memandang dengan hati tegang melihat timbulnya pertentangan antara guru dan murid ini. Ouw Ban memandang kepada gurunya dengan mata bersinar-sinar.

“Ouw Ban, engkau hanya menuruti perasaan hatimu yang penuh dendam dan sakit hati karena kematian anakmu! Engkau sudah bertindak demi kepentingan diri pribadi, bukan lagi untuk kepentingan Thian-li- pang!”

“Ha-ha-ha-ha, Sute Ban-tok Mo-ko, muridmu ini memang sudah tidak patut lagi menjadi Ketua Thian-li- pang. Singkirkan saja dia dan kita ganti dengan murid lain!” kata Thian-te Tok-ong.

Mendengar ini, Ouw Ban menjadi semakin marah. Biar pun dia menghormati suhu dan supek-nya, tetapi sekarang dia adalah seorang ayah yang mendendam karena kematian puteranya.

Dia memang maklum akan kelihaian suhu dan supek-nya, dan takut kepada mereka. Tapi sekarang, melihat keinginannya membalas dendam kematian puteranya dihalangi, bahkan kedudukannya sebagai Ketua Thian-li-pang akan digeser, dia pun tak mengenal takut lagi. Apa pula suhu dan supek-nya adalah dua orang kakek yang sudah tua renta, betapa pun lihainya, tentu sekarang sudah lemah, pikirnya. Bangkitlah dia dari tempat duduknya dan dia menghadapi suhu dan supek-nya.

“Dahulu aku diangkat menjadi Ketua Thian-li-pang oleh semua ketua cabang dan kepala ranting, juga oleh semua anggota setelah aku menunjukkan bahwa akulah yang paling kuat dan paling tepat menjadi ketua. Kalau sekarang ada yang ingin mencopot aku dari kedudukan ketua, siapa pun juga dia, harus dapat mengalahkan dan merobohkan aku!”

“Heh-heh-heh-heh, muridmu ini memang bejat, Sute! Biar aku yang menghajarnya!”

Wajah Ban-tok Mo-ko menjadi pucat, lalu merah sekali. Dia adalah seorang datuk yang biasanya bersikap halus dan ramah, akan tetapi saat ini dia benar-benar sangat marah. Dia melangkah maju menghadapi muridnya dan berkata kepada suheng-nya,

“Suheng, dia muridku, maka akulah yang bertanggung jawab atas penyelewengannya. Aku yang harus menghajarnya. Ouw Ban, engkau murid murtad, cepatlah berlutut dan menerima hukuman!”

Akan tetapi Ouw Ban yang sudah marah sekali itu tidak mau berlutut, bahkan menatap wajah suhu-nya dengan berani. Suhu-nya sudah berusia delapan puluh tiga, tubuhnya sudah nampak kurus dan lemah sehingga dia sama sekali tidak merasa gentar. Apa lagi dia tahu bahwa hampir seluruh ilmu yang dikuasai suhu-nya sudah dipelajarinya.

“Memang, aku adalah murid Suhu, akan tetapi di Thian-li-pang, bahkan Suhu pun harus tunduk terhadap perintah Ketua Thian-li-pang!”

“Ouw Ban, berani engkau menentang dan melawan gurumu?!” sekali lagi Ban-tok Mo-ko membentak.

“Bila terpaksa, siapa pun juga akan kulawan. Aku harus mempertahankan kedudukanku sebagai ketua dengan taruhan nyawa!”

“Kalau begitu, engkau akan mati di tanganku sendiri, Ouw Ban!” kata kakek itu.

Tiba-tiba dia menyerang dengan tamparan tangan kirinya. Ouw Ban memang telah siap siaga, maka dia pun menangkis dan langsung balas menyerang pula!

Semua orang memandang dengan hati tegang. Tiada seorang pun berani mencampuri atau melerai karena kedua orang itu adalah guru dan murid, bahkan Ketua Thian-li-pang dan seorang tokoh tua perkumpulan itu. Namun, jelas nampak bahwa usia tua membuat Ban-tok Mo-ko kewalahan menghadapi muridnya.

Muridnya itu pun sudah tua. Usia Ouw Ban sudah tujuh puluh tiga, akan tetapi gurunya tetap sepuluh tahun lebih tua. Dan kalau Ouw Ban masih giat bergerak dan berlatih silat, Ban-tok Mo-ko lebih banyak bersemedhi dan tak pernah berlatih. Oleh karena itu, meski dalam hal tenaga sinkang Ban-tok Mo-ko masih kuat, tetapi dia kehilangan kegesitannya dan kalah cepat oleh muridnya sehingga tak lama kemudian dia terdesak oleh muridnya itu!

Pada saat untuk kesekian kalinya Ban-tok Mo-ko meloncat ke belakang menghindar dari desakan muridnya, Ouw Ban mengeluarkan bentakan nyaring. Dua tangannya berubah merah dan dia pun memukul ke depan dengan dorongan kedua tangan terbuka. Itulah ilmu pukulan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang amat dahsyat!

Melihat hal ini, Ban-tok Mo-ko juga mengerahkan sinkang-nya dan menggunakan ilmu pukulan yang sama, menyambut dorongan, kedua tangan itu.

“Plakkk!”

Dua pasang tangan itu saling bertemu dan telapak tangan mereka lalu saling melekat. Keduanya mengerahkan tenaga sinkang, saling dorong dan sebentar saja nampak uap mengepul dari kepala mereka, tanda bahwa mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sinkang mereka. Suasana menjadi semakin tegang karena semua orang tahu bahwa guru dan murid ini sedang mati-matian mengadu sinkang yang berarti mereka mengadu nyawa. Yang kalah kuat akan roboh den tewas!

Akan tetapi tiba-tiba Thian-te Tok-ong bergerak ke depan dan tangan kirinya menepuk punggung sute-nya. “Murid macam itu tidak perlu diampuni lagi!”

Begitu punggung Ban-tok Mo-ko kena ditepuk tangan kiri Thian-te Tok-ong, serangkum tenaga dahsyat membantu kedua telapak tangan Ban-tok Mo-ko dan tiba-tiba saja tubuh Ouw Ban terlempar ke belakang dibarengi gerengannya dan dia pun roboh terbanting dan muntah darah, matanya mendelik dan nyawanya putus seketika!

Ban-tok Mo-ko memejamkan dua matanya, kemudian duduk bersila dan menarik napas panjang beberapa kali untuk memulihkan tenaganya. Sementara itu, Thian-te Tok-ong tertawa dan berkata kepada para murid Thian-li-pang, “Singkirkan mayat murid murtad itu agar kita dapat bicara dengan tenang.”

Beberapa orang murid maju dan mengangkat mayat Ouw Ban, lalu dibawa ke belakang. Jenazahnya akan dikubur tanpa banyak upacara lagi karena dia telah dianggap sebagai seorang murid murtad.

Ban-tok Moko lalu berkata kepada semua orang dengan suaranya yang lembut. “Para anggota Thian-li- pang, murid-murid yang setia. Oleh karena Ouw Ban telah murtad dan disingkirkan, maka sekarang yang berhak memimpin pertemuan ini adalah wakil ketua, yaitu Lauw Kang Hui. Kang Hui, kau pimpin pertemuan ini dan sebaiknya jika diadakan pemilihan ketua baru lebih dulu, baru kita akan mengambil langkah-langkah berikutnya.”

Lauw Kang Hui memberi hormat kepada suhu-nya dan supek-nya, lalu dia menghadapi semua orang.

“Saya merasa menyesal sekali dengan sikap terakhir yang diambil mendiang Suheng Ouw Ban. Hendaknya peristiwa ini bisa dijadikan contoh bagi semua murid Thian-li-pang supaya jangan ada lagi yang mementingkan urusan pribadi di atas urusan perkumpulan. Sekarang, saya persilakan saudara-saudara sekalian untuk mengajukan usul-usul bagai mana sebaiknya untuk memilih seorang ketua baru.”

Ramailah sambutan para ketua cabang dan kepala ranting. Banyak yang mengusulkan agar masing- masing kelompok besar mengajukan seorang calon ketua baru, kemudian diadakan pemilihan di antara para calon itu.

Akan tetapi, Lauw Kang Hui merasa tidak setuju. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan menggeleng kepalanya. “Saudara sekalian, kurasa perkumpulan kita Thian-li-pang memerlukan bimbingan orang yang berpengalaman dan berilmu tinggi. Jika diserahkan kepada yang muda-muda, aku khawatir akan terjadi penyelewengan yang kelak akan melemahkan perkumpulan kita. Maka, aku mengusulkan supaya pimpinan Thian-li-pang kita persembahkan saja kepada tokoh-tokoh utama yang kita junjung tinggi, yaitu Supek Thian-te Tok-ong atau Suhu Ban-tok Mo-ko!”

Semua orang yang berada di sana menyambut usul ini dengan sorak-sorai gembira. Memang, mereka akan merasa lega kalau yang memimpin langsung adalah dua orang kakek yang sakti itu. Hal itu akan membuat mereka berbesar hati.

Dua orang kakek itu saling pandang dan mereka menggeleng kepala. Ban-tok Mo-ko dapat membaca isi hati suheng-nya maka dia pun bangkit dan berkata, “Kami berdua adalah orang-orang tua renta yang sudah tidak ada semangat lagi untuk merepotkan diri mengurus hal-hal yang memusingkan. Tugas kami hanya mengawasi agar semua murid melakukan tugasnya dengan baik. Kami berdua tidak dapat menerima kedudukan ketua karena kami merasa sudah terlalu tua. Oleh karena itu, kami mempunyai usul supaya jabatan ketua dipegang oleh murid kami Lauw Kang Hui. Dia boleh memilih wakilnya dan para pembantunya. Apakah semua setuju?”

Tepuk tangan dan sorakan menyambut usul ini sebagai tanda bahwa sebagian besar dari para anggota Thian-li-pang bisa menyetujui pengangkatan Lauw Kang Hui sebagai ketua. Selama ini, sebagai wakil ketua, Lauw Kang Hui telah menunjukkan jasa-jasanya, bahkan untuk urusan luar yang mengandung bahaya, dia jauh lebih aktip dibandingkan suheng-nya Ouw Ban yang telah tewas itu.

Akan tetapi, tiba-tiba semua orang merasa heran melihat Lauw Kang Hui mengangkat kedua tangannya ke atas, memberi isyarat kepada semua orang untuk tenang. Setelah semua orang menjadi tenang kembali, Lauw Kang Hui kemudian berkata dengan suara lantang, sambil memberi hormat lalu berdiri menghadap ke arah suhu dan supek-nya.

“Harap Suhu dan Supek suka memaafkan teecu. Semua yang akan teecu katakan ini bukan berarti bahwa teecu tidak mentaati perintah Jiwi (Anda Berdua), melainkan untuk mengeluarkan semua perasaan penasaran yang telah lama menekan hati teecu.”

“Lauw Kang Hui, dalam pertemuan besar seperti ini, memang sebaiknya jika kita bicara secara jujur, mengeluarkan semua isi hati kita. Bicaralah!” kata Ban-tok Mo-ko.

Lauw Kang Hui lalu menghadapi semua anggota yang mencurahkan seluruh perhatian kepadanya.

“Saudara-saudara sekalian. Terima kasih bahwa Cuwi (Anda Sekalian) telah menerima saya sebagai ketua baru. Akan tetapi untuk menerima kedudukan itu, saya mempunyai satu syarat, yaitu agar semua sepak terjang Thian-li-pang kita tentukan sendiri. Selama ini, sepak terjang Thian-li-pang seolah-olah sudah dikendalikan oleh Pek-lian-kauw, dan ternyata banyak kegagalan yang kita alami. Oleh karena itu, saya hanya mau memimpin Thian-li-pang sebagai ketua kalau mulai saat ini juga kerja sama dengan Pek-lian- kauw ditiadakan. Biarlah Thian-li-pang mengenal Pek-lian-kauw sebagai rekan seperjuangan melawan penjajah Mancu, akan tetapi kita mengambil jalan dan cara masing-masing, tidak saling mencampuri.”

Kini terjadi perpecahan di antara para murid Thian-li-pang. Ada sebagian yang setuju dengan pendapat Lauw Kang Hui, ada pula yang tidak setuju. Mereka yang tidak setuju itu tentu saja para murid yang sudah menikmati keuntungan akibat kerja sama mereka dengan Pek-lian-kauw. Ada para anggota yang menganggap bahwa kerja sama dengan Pek-lian-kauw itu baik, ada pula yang sebaliknya.

Tentu saja pendapat baik atau buruk ini timbul karena adanya penilaian, dan penilaian selalu berdasarkan kepentingan diri sendiri. Apa saja yang menguntungkan diri sendiri akan dinilai baik, sedangkan yang merugikan akan dinilai buruk. Oleh karena itu maka timbul pertentangan, yang diuntungkan menganggap baik dan yang tidak diuntungkan menganggap buruk.

Dua orang tokoh dari Pek-lian-kauw yang hadir sebagai tamu tentu saja saling pandang dengan alis berkerut saat mendengar ucapan calon ketua baru itu. Kwan Thian-cu yang gendut dan pandai bicara segera bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang.

“Siancai…! Pendapat dari Lauw-pangcu (Ketua Lauw) sungguh membuat kami merasa penasaran sekali! Bukankah selama ini Pek-lian-kauw merupakan kawan seperjuangan yang setia? Ingat, kami pun sudah mengorbankan banyak anak buah dalam membantu Thian-li-pang. Bahkan sekarang kami pun siap membantu apa bila Thian-li-pang hendak menyerbu istana dan membunuh Kaisar Mancu! Mengapa tiba- tiba saja Lauw-pangcu bisa mengatakan bahwa pihak kami hanya menggagalkan sepak terjang Thian-li- pang? Sungguh penasaran sekali dan kami tidak dapat menerimanya.”

“Hemm, Kwan Thian-cu Totiang (Pendeta) harap tenang dan suka mempertimbangkan ucapan kami. Selama ini, mendiang Suheng Ouw Ban selalu mendengarkan nasehat pihak Pek-lian-kauw, bahkan kegagalan yang baru saja kami alami juga atas prakarsa Pek-lian-kauw. Kami hanya minta agar Pek-lian- kauw tidak mencampuri urusan kami dan mengenai perjuangan, biarlah kita mengambil jalan dan cara masing-masing tanpa saling mencampuri. Oleh karena itu, mengingat bahwa pertemuan ini adalah pertemuan pribadi perkumpulan kami, maka dengan hormat kami harap supaya jiwi Totiang (Anda Berdua Pendeta) suka meninggalkan pertemuan ini.”

Dua orang pendeta dari Pek-lian-kauw itu menjadi marah bukan main. Mereka baru saja kehilangan Ang-I Moli yang merupakan andalan mereka. Wanita itu telah dihukum mati sebagai akibat kegagalan kerja sama mereka ketika hendak membunuh para pangeran. Dan sekarang, mereka diusir begitu saja oleh ketua baru Thian-li-pang.

“Sungguh keterlaluan sekali! Thian-li-pang tak mengenal budi,” teriak Kui Thian-cu yang bertubuh kecil kurus dan pendek. Mukanya yang keriputan itu nampak semakin tua.

Banyak anggota Thian-li-pang yang mendukung kerja sama dengan Pek-lian-kauw juga nampak gelisah dan penasaran sekali sehingga nampak sikap permusuhan antara dua kelompok yang mendukung sikap Lauw Kang Hui dengan mereka yang menentang.

“Hemmm, agaknya ketua yang baru sekarang hendak membawa Thian-li-pang menjadi pengkhianat, ingin membantu pemerintah penjajah untuk memusuhi Pek-lian-kauw yang selamanya anti penjajah?” teriak pula Kwan Thian-cu, sikapnya sudah amat menantang.

“Jiwi Totiang! Kalian hanyalah tamu, apakah hendak menantang tuan rumah?!” bentak Lauw Kang Hui yang sudah marah.

Agaknya perkelahian tak akan dapat dihindarkan lagi, sedangkan dua orang kakek sakti dari Thian-li-pang yang masih duduk, hanya menonton saja dengan sikap tenang.

Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di antara mereka berdiri seorang pemuda yang bermata tajam mencorong dan sikapnya tenang namun lembut. Tubuhnya yang sedang tapi tegap itu mengenakan pakaian yang bersih namun sederhana. Pemuda ini bukan lain adalah Yo Han!

Agaknya, Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong masih mengenal pemuda itu, demikian pula Lauw Kang Hui. Thian-te Tok-ong terbelalak dan berseru, “Heii, bukankah engkau Yo Han…?!”

Yo Han menghampiri Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada dan membungkuk sambil berkata, “Jiwi Supek (Kedua Uwa Guru), saya Yo Han memberi hormat, dan harap maafkan karena melihat keadaan, terpaksa saya ingin ikut bicara sedikit.”

Tanpa menanti jawaban kedua orang kakek yang memandang bengong itu, segera Yo Han menghadapi semua orang Thian-li-pang. Kedua orang kakek itu bengong karena merasa terheran-heran. Bukankah Yo Han telah tewas di dalam sumur bersama Ciu Lam Hok? Bagaimana mungkin anak itu kini muncul kembali sebagai seorang pemuda yang tampan dan gagah, dengan pakaian yang pantas pula?

Suara Yo Han terdengar lantang ketika dia bicara.

“Saudara-saudara sekalian, para murid dan anggota Thian-li-pang, dengarkan baik-baik. Seluruh dunia kang-ouw tahu belaka bahwa dahulu Thian-li-pang adalah perkumpulan orang-orang gagah yang selain menentang kejahatan dan menentang penjajahan, juga menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi akhir- akhir ini, semua orang tahu belaka bahwa telah terjadi penyelewengan-penyelewengan dan penyimpangan dari jalan benar yang dilakukan Thian-li-pang. Nama baik Thian-li-pang tercemar dan terkenal sebagai perkumpulan yang menentang pemerintah penjajah akan tetapi juga yang suka berbuat jahat! Langkah yang diambil Thian-li-pang mengikuti jejak langkah Pek-lian-kauw yang sejak dulu terkenal menyeleweng dari pada kebenaran dan banyak orang Pek-lian-kauw melakukan kejahatan dengan dalih perjuangan. Betapa pun mulia cita-citanya, namun kalau pelaksanaan atau cara mengejar cita-cita itu kotor, maka hasilnya akan menjadi kotor pula. Yang penting sekali adalah pelaksanaannya. Kalau pelaksanaannya bersih, maka yang dicapai juga bersih. Pelaksanaan adalah benihnya, dan tiada benih buruk mendatangkan buah yang baik. Saya menghormati dan setuju sekali pendapat Suheng Lauw Kang Hui tadi, yang bertekad untuk menegakkan kembali Thian-li-pang sebagai perkumpulan orang-orang gagah, perkumpulan pendekar pahlawan!”

Mereka yang tadi mendukung Lauw Kang Hui, bersorak menyambut ucapan ini, walau pun mereka sekarang juga terheran-heran mengenal Yo Han, yang lima tahun yang lalu pernah mereka lihat sebagai seorang anak yang diambil murid oleh Thian-te Tok-ong. Lauw Kang Hui sendiri pun terheran, akan tetapi karena ucapan Yo Han sejalan dengan pendapatnya, dia pun diam saja dan hendak melhat perkembangan selanjutnya.

Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, dua orang tosu Pek-lian-kauw itu, segera mengenal Yo Han sebagai anak laki-laki yang pernah mereka tawan pada saat mereka membantu Ang-I Moli. Melihat sikap dan mendengar ucapan Yo Han, kedua orang tosu ini marah bukan main. Keduanya sudah melangkah maju sambil memandang kepada Yo Han dengan mata melotot. Mereka ingat bahwa anak ini dahulu kebal terhadap sihir, maka mereka pun tidak mau mempergunakan ilmu sihir.

“Pemuda sombong! Berani engkau menjelek-jelekkan Pek-lian-kauw seperti itu? Siapa pun yang berani menghina Pek-lian-kauw, tak berhak hidup. Kami akan membunuhmu sekarang juga!”

Dua orang tosu itu sudah siap untuk menyerang Yo Han. Pemuda itu bersikap tenang saja dan dia menatap kedua orang tosu itu secara bergantian.

“Jiwi Totiang (Kalian Berdua Pendeta) mengaku sebagai pendeta-pendeta, berjubah dan berpakaian sebagai pendeta. Namun, baik buruknya seseorang bukan tergantung dari pakaian atau sikapnya, melainkan dari perbuatannya. Jiwi Totiang sudah banyak melakukan kejahatan, maka jubah dan sikap Jiwi sebagai pendeta itu hanyalah kedok belaka. Apa yang saya katakan tadi adalah kebenaran, dan bukan bermaksud menjelek-jelekkan atau menghina siapa pun.”

“Keparat, kau makin kurang ajar saja! Rasakan pukulanku!” bentak Kwan Thian-cu yang marah sekali dan tiba-tiba tokoh Pek-lian-kauw yang gendut ini telah menerjang dengan pukulan maut dari kedua telapak tangannya.

“Desss…!”

Pukulan kedua tangan tosu Pek-lian-kauw yang gendut itu disambut oleh kedua tangan Lauw Kang Hui yang meloncat ke depan melindungi Yo Han. Dua pasang tangan itu bertemu dengan tenaga sinkang sepenuhnya, dan akibatnya, Kwan Thian-cu yang kalah kuat terdorong, terjengkang dan tubuh yang gendut itu terguling-guling sampai beberapa meter jauhnya.

Kui Thian-cu cepat menghampiri saudaranya dan membantunya bangkit. Masih untung bagi Kwan Thian- cu bahwa Lauw Kang Hui tak berniat membunuhnya, maka tadi ketika menangkis, tidak menggunakan serangan balasan. Namun karena tosu Pek-lian-kauw itu memang kalah kuat, begitu kedua tangannya bertemu dengan tangan calon ketua baru Thian-li-pang, tubuhnya seperti diterjang gajah dan terjengkang ke belakang.

“Totiang, jika kami tidak memandang Pek-lian-kauw sebagai rekan seperjuangan, tentu saat ini engkau sudah tak bernyawa lagi. Kami hanya menghendaki agar Pek-lian-kauw tidak mencampuri urusan rumah tangga kami. Silakan meninggalkan tempat ini,” kata Lauw Kang Hui dengan tegas.

Kedua orang tosu itu bangkit, memberi hormat dan pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka merasa malu, tetapi juga maklum bahwa melawan pun tiada gunanya. Mereka tahu pula bahwa para pimpinan Pek-lian-kauw pasti tidak menghendaki mereka mencari permusuhan dengan Thian-li-pang yang jelas menentang pemerintah penjajah.

Setelah dua orang tosu itu pergi dan tidak kelihatan lagi bayangannya, Thian-te Tok-ong berkata dengan nada suara yang penuh kemarahan. “Yo Han, engkau ini anak masih ingusan sudah berani berlagak di Thian-li-pang! Di sini ada aku, ada sute, ada pula Lauw Kang Hui, dan engkau membikin malu kami dengan sepak terjangmu seolah-olah engkau yang paling hebat di sini!”

“Maaf, sebelumnya teecu sudah minta maaf kepada Jiwi Susiok (Uwa Guru Berdua),” kata Yo Han sambil menghadapi dua orang kakek itu dan memberi hormat.

“Bocah lancang, engkau berani memandang rendah kepada kami, ya?” Ban-tok Mo-ko juga membentak. “Tanpa perintah kami, engkau telah berani mencari gara-gara dengan Pek-lian-kauw atas nama Thian-li- pang. Engkau tidak berhak untuk bertindak atas nama Thian-li-pang. Kelancanganmu ini meremehkan kami dan harus kuhukum kau!”

Setelah berkata demikian Ban-tok Mo-ko menerjang maju menyerang Yo Han. Melihat serangan gurunya itu, Lauw Kang Hui terkejut. Gurunya sudah melancarkan serangan pukulan maut kepada Yo Han. Biar pun dia membenarkan tindakan Yo Han tadi, namun karena Yo Han bukanlah apa-apa baginya, dia tidak berani lancang melindunginya dari serangan gurunya yang hebat itu. Dia hanya memandang dengan mata terbelalak, juga semua anggota Thian-li-pang memandang dan mereka semua merasa yakin bahwa Yo Han pasti akan roboh tewas karena mereka semua mengenal kesaktian Ban-tok Mo-ko yang merupakan seorang sesepuh atau locianpwe dari Thian-li-pang.

“Maaf, Supek!” kata Yo Han.

Ketika Yo Han melihat serangan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu datang menyambar dirinya, ia pun menggerakkan dua tangannya yang mula-mula menyembah ke atas, terus turun ke bawah melalui depan dahi, hidung, mulut terus ke ulu hati, lalu kedua lengan dikembangkan dan tangan ke kanan kiri, terus ke arah bawah membentuk lingkaran, lalu bertemu di bawah dalam keadaan menyembah lagi dan kedua tangan ini dengan kedua telapak tangan terbuka kemudian menghadap ke depan dan lengannya diluruskan.

Tiada hawa pukulan keluar dari kedua tangan Yo Han ini, akan tetapi tiba-tiba Ban-tok Mo-ko mengeluarkan seruan kaget karena dia merasakan betapa hawa pukulan kedua tangannya membalik dan biar pun dia sudah bertahan, tetap saja dia terpelanting oleh kuatnya hawa pukulannya sendiri yang membalik!

“Ho-ho, anak ini memang perlu dihajar!” kata Thian-te Tok-ong, kaget dan juga tertarik sekali melihat betapa sute-nya yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian yang hanya di bawah tingkatnya, sampai terpelanting jatuh.

Dia pun mengebutkan lengan baju kanannya. Dia memukul dari jauh, mempergunakan hawa pukulan yang amat dahsyat, lalu tongkat di tangan kirinya menyusul, menotok ke arah pusar Yo Han.

“Maaf, Supek!” kata pula Yo Han.

Yo Han tahu betapa dahsyatnya serangan ini, maka kembali dia menggerakkan kedua tangannya sesuai dengan ilmu yang baru saja dilatih di bawah petunjuk kakek Ciu Lam Hok, yaitu ilmu yang disebut Bu-kek Hoat-keng.

Begitu dua tangan Yo Han membuat gerakan memutar dan menyambut tamparan dan totokan tongkat, seperti yang terjadi pada Ban-tok Mo-ko tadi, tiba-tiba Thian-te Tok-ong juga berseru kaget dan biar pun dia tidak terpelanting seperti sute-nya, akan tetapi dia terhuyung ke belakang dan dua serangannya tadi membalik, tangan kanan menampar kepalanya sendiri dan tongkatnya membalik ke arah pusarnya sendiri!

“Hemmm, Bu-kek Hoat-keng…!” seru kakek bertubuh pendek kecil ini sesudah mampu mengembalikan keseimbangannya, mukanya agak pucat karena dia tadi merasa kaget bukan main ketika kedua serangannya membalik secara aneh sekali

“Yo Han!” bentak Ban-tok Mo-ko. “Betapa beraninya engkau mencampuri urusan pribadi Thian-li-pang?”

Yo Han memberi hormat kepada dua orang kakek itu. “Jiwi Supek (Uwa Guru Berdua), harap maafkan saya. Sebagai murid Suhu Ciu Lam Hok, maka saya pun mempunyai hak mencampuri urusan Thian-li- pang dan semua yang saya lakukan ini adalah untuk memenuhi pesan dari Suhu. Semenjak dahulu Thian- li-pang adalah perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot. Akan tetapi sejak Thian-li-pang dibawa bersekutu dan bersahabat dengan Pek-lian-kauw, apa jadinya? Thian-li-pang melupakan sumbernya, dan anak buahnya banyak yang mengikuti jejak Pek-lian-kauw, tidak segan melakukan kejahatan dengan kedok perjuangan. Suhu pesan kepada saya untuk mengembalikan Thian-li-pang ke jalan yang benar.”

“Ciu Lam Hok itu… di mana dia sekarang? Engkau dapat keluar, tentu dia pun dapat. Katakan, di mana Ciu Lam Hok?” Thian-te Tok-ong bertanya.

Yo Han menarik napas panjang, teringat betapa suhu-nya itu hidup menderita karena perbuatan dua orang kakek yang menjadi supek-nya ini.

“Suhu telah meninggal dunia dalam keadaan tubuh menderita namun batinnya bahagia.” “Ahhhh…!” Thian-te Tok-ong berseru, juga Ban-tok Mo-ko mengeluarkan seruan kaget.
“Jiwi Supek yang membuat Suhu hidup tersiksa!” berkata pula Yo Han dengan suara mengandung teguran dan memandang tajam kepada dua orang kakek itu.

Dua orang kakek itu menundukkan muka. Agaknya baru mereka kini melihat betapa kejam mereka terhadap sute sendiri. Mereka telah menyiksa sute mereka dan berlaku curang hanya karena iri hati dan ingin menguasai ilmu sute mereka yang lebih tinggi dari pada ilmu mereka.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo