September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 7

 

“Aiihhhh…!” Tiba-tiba Ketua Thian-liong-pang itu memekik, pekik seorang wanita yang terkejut dan ngeri, kemudian tubuhnya meloncat jauh ke belakang, sepasang mata di balik kerudung itu terbelalak.

Tan-siucai yang tadinya sudah hilang harapan dan maklum bahwa dia terancam bahaya maut, menjadi kaget dan girang sekali melihat wanita sakti itu meloncat mundur, tidak jadi membunuhnya. Saking girangnya, gilanya kumat dan ia meloncat pergi sambil tertawa-tawa, “Ha-ha-ha, engkau tidak tega membunuhku, ha-ha-ha!”

Ketua itu masih bengong dan membiarkan Si Gila pergi. Tentu saja dia tadi meloncat ke belakang bukan karena tidak tega membunuh Tan-siucai, melainkan ketika tangannya hampir mengenai perut lawan, tiba- tiba ada sinar putih yang luar biasa keluar dari balik jubah bagian perut. Sinar putih ini mengandung hawa mukjizat sehingga mengagetkan Ketua Thian-liong-pang yang maklum bahwa sinar yang mengandung hawa seperti itu hanyalah dimiliki sebuah pusaka yang maha ampuh!

“Sayang engkau melepaskan Si Gila itu,” Kwi Hong berkata ketika melihat Tan-siucai menghilang.

Ketua Thian-liong-pang itu agaknya baru sadar akan kehadiran Kwi Hong. Dia menoleh dan memandang anak itu, di dalam hatinya merasa suka dan kagum. Anak yang bertulang baik, berhati keras dan penuh keberanian.

“Sudah cukup kalau engkau terbebas darinya,” ia berkata. “Anak, engkau siapakah dan mengapa engkau ditangkap Si Gila?”

“Aku tidak tahu dengan orang apa aku bicara. Apakah engkau tidak mau membuka kerudungmu sehingga aku dapat memanggilmu dengan tepat?” Kwi Hong bertanya, memandang muka berkerudung itu dan diam- diam ia kagum karena dia sudah mendengar akan nama besar Thian-liong-pang dan tadi pun sudah menyaksikan sendiri kelihatan wanita ini sehingga timbul keinginan untuk melihat bagaimana kalau wanita ini bertanding melawan pamannya!

Wanita itu menggeleng kepala. “Tidak seorang pun boleh melihat mukaku, kecuali… kecuali… yah, tak perlu kau tahu. Sebut saja aku Bibi. Engkau siapakah?”

“Bibi yang perkasa, aku adalah Giam Kwi Hong, murid dan juga keponakan dari Tocu Pulau Es.” “Pendekar Siluman…?” Wanita berkerudung itu bertanya, jelas kelihatan terkejut bukan main.
Besar rasa hati Kwi Hong. Semua orang mengenal pamannya, mengenal dan takut. Agaknya wanita perkasa ini tidak terkecuali, maka ia menjadi bangga, tersenyum dan mengangguk. “Benar, dan Si Gila itu tadi sengaja menculikku karena dia memusuhi Paman Suma Han. Katanya Pamanku membunuh kekasihnya, tunangannya. Kurasa dia bohong karena dia gila. Kalau saja Paman tidak dipancing pergi, mana dia mampu menculikku?”

“Di mana Pamanmu sekarang? Apa yang terjadi?”

“Paman sedang membuat pedang pusaka bersama kakek yang bernama Nayakavhira. Pedang sudah jadi dan karena Kakek itu hendak menapai pedang, Paman pergi untuk mencari garuda kami. Paman datang dan mengatakan bahwa sepasang garuda dibunuh orang, kemudian ternyata bahwa pedang pusaka itu lenyap. Baru tadi kuketahui bahwa pedang yang baru jadi diambil oleh Si Gila. Maka sayang tadi kau lepaskan dia, seharusnya pedang itu dirampas dulu, Bibi.”

“Ahhhh…!” Ketua Thian-liong-pang itu kagum bukan main. Kiranya benar dugaannya. Si Gila itu menyelipkan sebatang pedang pusaka yang amat ampuh di pinggangnya. Dia menyesal mengapa tadi tidak mengejar dan merampas pedang itu.

“Ketika Paman membakar pondok untuk memperabukan jenazah Nayakavhira yang kedapatan sudah mati tua di pondok, ada suara ketawa. Paman cepat pergi mencari dan tiba-tiba muncul Si Gila itu, dan aku diculik….”

“Hemm… kalau begitu Pamanmu tak jauh dari sini. Mari kuantar engkau menyusulnya.”

Tanpa menanti jawaban, wanita itu memegang lengan Kwi Hong dan anak ini kagum bukan main. Kembali dia membandingkan wanita ini dengan pamannya, karena digandeng dan dibawa lari seperti terbang seperti sekarang ini hanya pernah ia alami ketika dia dibawa lari pamannya.

Tiba-tiba wanita itu berhenti dan menuding ke depan. Kwi Hong memandang dan terbelalak heran menyaksikan pamannya itu sedang duduk bersila di atas tanah, tongkatnya melintang di atas kaki tunggal, kedua tangannya dengan tangan terbuka dilonjorkan, matanya terpejam dan dari kepalanya keluar uap putih yang tebal!

Ada pun kira-kira sepuluh meter di depannya tampak seorang kakek bersorban seperti Nayakavhira, hanya bedanya kalau Kakek Nayakavhira berkulit putih, orang ini berkulit hitam arang, memakai anting-anting di telinga, hidungnya seperti paruh kakatua, jenggotnya panjang dan dia pun bersila seperti Suma Han dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada dan matanya melotot lebar, juga dari kepalanya keluar uap tebal. Baik Suma Han mau pun kakek hitam itu sama sekali tidak bergerak seolah-olah mereka telah menjadi dua buah arca batu!

“Paman…!” Tiba-tiba mulut Kwi Hong didekap tangan Ketua Thian-liong-pang yang berbisik.

“Anak bodoh, tidak tahukah engkau bahwa Pamanmu sedang bertempur mati-matian melawan kakek sakti itu? Mereka mengadu sihir dan kalau engkau mengganggu Pamanmu, dia bisa celaka. Kau tunggu saja di sini sampai pertempuran selesai, baru boleh mendekati Pamanmu. Aku mau pergi!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, Ketua Thian-liong-pang itu lenyap dari belakang Kwi Hong yang tidak mempedulikannya lagi karena perhatiannya tertumpah kepada pamannya.

Kwi Hong sama sekali tidak tahu bahwa sebelum dia tiba di tempat itu, Bun Beng telah lebih dulu melihat pertandingan yang amat luar biasa itu, bersembunyi di tempat lain dan memandang dengan napas tertahan dan mata terbelalak. Dibandingkan dengan Kwi Hong, dia jauh lebih terheran karena apa yang dilihatnya tidaklah sama dengan apa yang dilihat Kwi Hong!

Kalau Kwi Hong hanya melihat pamannya duduk bersila melonjorkan kedua lengan ke depan menghadapi kakek hitam yang bersila dan merangkapkan tangan depan dada, Bun Beng melihat betapa di antara kedua orang sakti yang duduk bersila tak bergerak seperti arca itu terdapat seorang Suma Han kedua yang sedang bertanding dengan hebatnya melawan seorang kakek hitam kedua pula, seolah-olah bayangan mereka yang sedang bertanding!

Mengapa bisa begitu? Mengapa kalau Kwi Hong tidak melihat ada yang bertanding? Karena dia baru saja tiba sehingga dia tidak dikuasai pengaruh mukjizat seperti yang dialami Bun Beng. Ketika Bun Beng berlari secepatnya mengejar Tan-siucai yang menculik Kwi Hong secara ngawur ke timur karena dia sudah tertinggal jauh sehingga penculik itu tidak tampak bayangannya lagi dan napasnya mulai memburu, dia melihat Suma Han sedang bertanding melawan seorang kakek hitam.

Pertandingan yang amat hebat dan cepat sekali sehingga pandang mata Bun Beng menjadi kabur dan kepalanya pening. Dia melihat betapa tubuh Pendekar Siluman itu mencelat ke sana ke mari sedangkan tubuh kakek hitam itu berputaran seperti sebuah gasing. Begitu cepat pertandingan itu sehingga dia tidak dapat mengikuti dengan pandang matanya. Dia tidak berani memperlihatkan diri biar pun ketika melihat Suma Han dia menjadi girang sekali dan ingin menceritakan tentang Kwi Hong yang diculik orang. Menyaksikan pertandingan yang hebat itu dia lupa segala, lupa akan Kwi Hong yang diculik orang dan ia menonton sambil bersembunyi dengan mata terbelalak.

Tiba-tiba kakek itu terlempar sampai sepuluh meter jauhnya dan terdengar kakek itu berkata, “Pendekar Siluman, engkau hebat sekali. Tetapi aku masih belum kalah. Lihat ini!”

Kakek itu kemudian duduk bersila, merangkapkan kedua tangan depan dada sambil mengeluarkan bunyi menggereng hebat sekali dan… hampir Bun Beng berseru kaget ketika melihat betapa dari kepala kakek itu mengepul uap kehitaman tebal dan muncul seorang kakek kedua, persis seperti seorang kakek itu sendiri!

“Maharya, engkau hendak mengadu kekuatan batin? Baik, aku sanggup melayanimu!” kata Suma Han yang segera duduk bersila.

Dari kepala Pendekar Super Sakti juga mengepul uap putih yang tebal dan dari uap ini terbentuklah seorang Suma Han kedua yang bergerak maju menghadapi ‘bayangan’ kakek hitam, kemudian kedua bayangan itu bertanding dengan hebat! Suma Han melonjorkan kedua tangan ke depan dan gerakan bayangannya menjadi makin cepat dan kuat! Bun Beng yang terkena getaran pengaruh mukjizat dapat melihat kedua bayangan yang bertanding itu, yang tidak dapat tampak oleh Kwi Hong yang baru tiba.

Bun Beng yang dapat menyaksikan pertandingan aneh itu, menonton dengan mata terbelalak dan muka pucat. Ia melihat gerakan bayangan kakek itu aneh, berloncatan menyerang bayangan Suma Han dengan jari-jari tangannya. Kedua tangan hanya menggunakan dua buah jari, telunjuk dan tengah, untuk menusuk-nusuk dengan cepat sekali, sedangkan kedua kakinya berloncatan seperti gerakan kaki katak. Terdengar bunyi angin bercuitan ketika kedua tangannya menusuk-nusuk.

Namun gerakan bayangan Suma Han yang tidak bertongkat itu tetap tenang biar pun cepatnya membuat mata Bun Beng sukar mengikutinya. Bayangan Pendekar Super Sakti ini mencelat ke sana-sini menghindarkan semua tusukan jari tangan lawan, bahkan membalas dengan pukulan kedua tangan yang mendatangkan angin sehingga kain panjang lebar yang menjadi pakaian kakek hitam, hanya dibelitkan, berkibar oleh angin pukulan itu.

Tubuh kedua bayangan itu seolah-olah tidak menginjak tanah, kadang-kadang keduanya membubung tinggi dan bertanding di udara, kemudian turun lagi ke atas tanah. Bun Beng yang menonton pertandingan itu menjadi bingung, sukar mengikuti gerakan kedua bayangan itu sehingga dia tidak tahu siapa yang mendesak dan siapa yang terdesak. Hanya dia melihat Suma Han yang bersila itu masih duduk tenang tak bergerak sedikit juga, kedua mata dipejamkan. Sedangkan kakek hitam yang bersila itu matanya makin melotot mukanya mulai berpeluh dan kedua tangan yang dirangkapkan di depan dada itu bergoyang menggigil sedikit.

Biar pun ada pertempuran yang demikian hebatnya, tidak terdengar suara sedikit pun juga. Keadaan sunyi sekali, sama sunyinya seperti yang dirasakan Kwi Hong yang hanya melihat dua orang sakti itu duduk bersila berhadapan tanpa bergerak. Baik Kwi Hong mau pun Bun Beng yang masing-masing bersembunyi di tempat terpisah dan tidak saling melihat, merasa khawatir karena saking sunyinya, mereka itu hanya mendengar suara pernapasan mereka sendiri yang tertahan-tahan!

Sementara itu, mereka yang saling bertanding mengadu kesaktian mengerahkan seluruh kekuatan batin untuk menghimpit lawan. Diam-diam Maharya terkejut bukan main. Kalau tadi, ketika ia memancing Pendekar Siluman ke tempat itu kemudian ia tantang dan serang, dalam pertandingan silat dia terdesak bahkan sampai terdorong dan terlempar jauh, dia tidak menjadi penasaran karena memang dia sudah mendengar berita bahwa Pendekar Siluman memiliki ilmu silat yang luar biasa dan tenaga sinkang yang dahsyat. Maka dia lalu mengambil cara lain, yaitu menghadapi lawannya dengan ilmu sihir dan ia merasa yakin pasti akan dapat menang. Dia terkenal di negaranya sebagai seorang ahli sihir yang tangguh. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika ia melihat Pendekar Siluman menandinginya dengan ilmu yang sama, bahkan kini ia merasa betapa kekuatan batinnya terdesak hebat!

Kakek ini merasa penasaran sekali. Dalam hal mengadu kekuatan raga, dia tidak pernah menemui tanding, apa lagi dalam mengadu kekuatan batin. Kini, berhadapan dengan seorang lawan muda yang patut menjadi cucunya, dia selalu tertindih, kalah lahir batin! Hampir dia tidak mau percaya akan kenyataan itu dan dengan geram ia menggerakkan mulut yang tertutup kumis itu berkemak-kemik, mengerahkan segala kekuatannya dan pandang mata yang melotot itu seolah-olah mengeluarkan api!

Bun Beng yang kebetulan memandang kakek yang duduk bersila itu hampir berteriak kaget melihat betapa sepasang mata kakek itu seperti mengeluarkan api! Dia cepat menengok ke arah Suma Han dan melihat betapa pendekar itu kelihatan mengerutkan alis, tidak tenang seperti tadi, dan kedua lengannya yang dilonjorkan itu tergetar seolah-olah hendak menambah tenaga yang keluar dari sepasang telapak tangannya.

Memang Suma Han juga terkejut sekali ketika tiba-tiba ia merasa betapa kekuatan kakek lawannya itu menjadi berlipat! Hawa panas menyerangnya sehingga ia cepat mengerahkan inti sari dari Swat-im Sinkang. Setelah kedua tenaga panas dan dingin itu saling dorong-mendorong, akhirnya dia merasa betapa hawa panas berkurang. Keningnya tidak berkerut lagi, akan tetapi tampak beberapa tetes keringat membasahi dahi Suma Han.

Benar-benar hebat lawannya itu, pikirnya. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan seorang lawan sehebat Kakek Maharya ini! Kalau dalam hal ilmu silat dia hanya memang sedikit saja, dalam hal ilmu yang didasari kekuatan batin, dia tidak berani mengatakan lebih kuat! Hanya yang menguntungkan dirinya, kekuatan batin yang dimilikinya adalah pembawaan dirinya, dibentuk oleh kekuatan alam dan dimatangkan dengan ilmu sinkang dan pelajaran yang ia terima menurut petunjuk Koai-lojin. Sedangkan kekuatan batin kakek lawannya itu dikuasainya oleh latihan-latihan yang puluhan tahun lamanya. Betapa pun hebat usaha manusia, mana mampu menandingi kekuatan dan kekuasaan alam? Maka dalam pertandingan ini, Suma Han yang mengandalkan tenaga batin dari kekuasaan alam, sukar untuk dikalahkan oleh kakek yang telah menjadi datuk dalam ilmu sihir itu.

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tampak tiga sinar putih yang menyilaukan mata menyambar ke arah tubuh kakek hitam itu, menyambar muka di antara mata, ulu hati dan pusar!

“Eigghhhh…!” Kakek itu mengeluarkan suara menggereng seperti harimau, tangannya yang tadinya dirangkap di depan dada bergerak dan mulutnya terbuka.

Bun Beng terbelalak menyaksikan betapa kakek itu telah menangkap tiga sinar itu yang ternyata adalah tiga batang pisau, ditangkap dengan kedua tangan, sedangkan yang menyambar muka telah digigitnya! Bayangan kakek yang bertanding melawan bayangan Suma Han telah lenyap masuk kembali ke kepala kakek itu, demikian pula bayangan Suma Han telah lenyap. Sekali menggerakkan tubuh, kakek itu sudah meloncat berdiri dan tampak tiga sinar menyambar ke arah kirinya ketika ia melontarkan tiga batang pisau itu ke arah dari mana datangnya pisau-pisau tadi. Kemudian ia meloncat jauh dan lenyap, hanya terdengar suaranya.

“Pendekar Siluman! Lain kali kita lanjutkan!”

Sunyi keadaan di situ setelah kakek itu menghilang. Suma Han bangkit berdiri bersandar kepada tongkatnya, menoleh ke arah dari mana datangnya pisau-pisau tadi dan berkata, suaranya dingin dan penuh wibawa seperti orang marah.

“Siapa yang telah berani lancang turun tangan tanpa diminta?”

Daun bunga bergerak dan muncullah seorang wanita amat cantik jelita dari balik rumpun, berdiri di depan Suma Han tanpa berkata-kata. Keduanya saling pandang dan berseru, suaranya menggetar penuh perasaan,

“Nirahai…!”

“Han Han…!”

Keduanya berdiri saling pandang dan sungguh pun dalam suara mereka terkandung kerinduan yang mendalam, namun keduanya hanya saling pandang dan dari kedua mata wanita cantik itu menetes air mata berlinang-linang.

“Han Han, bertahun-tahun aku menanti akan tetapi engkau tidak kunjung datang menyusulku. Sampai kapankah aku harus menanti? Sampai dunia kiamat? Han Han, aku isterimu!”

“Nirahai, engkau… telah pergi meninggalkan aku, membuat hatiku merana…” “Memang aku pergi, akan tetapi engkau tidak melarang!”
“Aku… ah, aku tidak ingin memaksamu… aku… ahh…”

“Han Han, engkau laki-laki lemah! Engkau suami yang hanya tunduk dan mengekor kepada isteri, engkau pria yang tidak tahu isi hati wanita. Engkau… ahh, sakit hatiku melihatmu…!”

“Nirahai…!” Suma Han melangkah maju dan merangkul wanita itu.

Nirahai tersedu dan menyembunyikan muka di dada suaminya, membiarkan Suma Han mengelus rambutnya, “Nirahai, aku cinta padamu. Demi Tuhan, aku cinta padamu… akan tetapi karena engkau mempunyai cita-cita, aku merelakan engkau pergi….”

“Ibuuuu…!” Terdengar teriakan girang dan muncullah Milana berlarian.

Mendengar teriakan ini, Nirahai melepaskan pelukan Suma Han dan menyambut Milana dengan tangan terbuka, lalu memondong anak itu dan menciuminya penuh kegirangan, “Milana…! Anakku…! Ahhh, sukur engkau selamat. Betapa gelisah hatiku mendengar laporan Pamanmu tentang mala petaka di laut itu!”

Suma Han memandang dengan wajah pucat sekali.

“Nirahai!” Dia membentak, suaranya mengguntur, mengagetkan Kwi Hong dan Bun Beng di tempat persembunyian masing-masing di mana kedua orang anak ini tertegun menyaksikan adegan pertemuan antara Suma Han dan isterinya yang tidak mereka sangka-sangka itu. “Engkau perempuan rendah, isteri tidak setia! Kau meninggalkan aku dan tahu-tahu telah mempunyai seorang anak! Ahhh, betapa menyesal hatiku telah mentaati perintah mendiang Subo…!”

Setelah berkata demikian, dengan pandang mata penuh jijik dan kebencian Suma Han membalikkan tubuhnya dan pergi berjalan terpincang-pincang meninggalkan Nirahai. Nirahai menjadi pucat, terbelalak dan menurunkan Milana yang berdiri memeluk pinggang ibunya dan bertanya.

“Ibu…! Dia siapa…? Mengapa Tocu Pulau Es itu marah-marah kepadamu?”

Nirahai menangis mengguguk. “Dia… dia adalah Ayahmu…” Suaranya gemetar dan ia menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu.

Milana cepat menoleh, kemudian lari meninggalkan ibunya dan mengejar Suma Han sambil menjerit. “Ayaaahhh…! Ayah…!”

Mendengar jeritan anak itu, cepat Suma Han membalik, mengira bahwa dia tentu akan melihat munculnya laki-laki yang menjadi ayah dari anak Nirahai itu. Akan tetapi, ia menjadi bingung dan terheran-heran ketika melihat anak itu mengejarnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut dan memeluk kakinya sambil menangis dan memanggil-manggil. “Ayaahh… ayaahku…!”

Suma Han terbelalak memandang bocah yang menangis memeluki kaki tunggalnya, kemudian mengangkat muka memandang Nirahai yang masih menangis tersedu-sedu menutupi muka dengan kedua tangan sambil berlutut di atas tanah.

“Heh…! Apa…! Bagaimana…? Engkau… anak siapa…?”

“Ayah… engkau Ayahku… aku anak Ayah dan Ibu….,” Milana mengangkat muka.

Tubuh Suma Han menggigil. Ia menyambar tubuh Milana, diangkat dan dipondongnya. “Anakku? Engkau… anakku…?” Ia menciumi muka bocah itu.

Milana tertawa dengan air mata bercucuran, merangkul leher pendekar yang dikagumi dan yang dirindukan itu.

Suma Han berpincang melangkah ke depan Nirahai. “Nirahai… benarkah ini? Dia… dia ini… anakku…?”

Nirahai mengangguk, lalu mengusap air matanya. “Ketika kita saling berpisah… aku mengandung dan… terlahirlah Milana… anak kita…”

“Nirahai, engkau kejam, engkau tidak adil. Diam-diam saja engkau memelihara anak kita sampai begini besar. Tidak memberitahukan kepadaku, tidak menyusulku. Betapa kejam engkau.”

Nirahai meloncat bangun, pandang matanya penuh penasaran. “Siapa yang kejam? Engkaulah yang kejam, lemah dan canggung! Engkau tidak pernah mencariku, tidak pernah menyusulku ke Mongol!”

Melihat ayah bundanya cekcok, Milana yang berada di pondongan ayahnya itu berkata, “Ayah, marilah engkau ikut bersama kami…”

“Dan menjadi seorang Pangeran Mongol? Ha-ha, nanti dulu! Aku tidak sudi! Mestinya ibumu yang ikut bersamaku ke Pulau Es. Nirahai, maukah engkau?”

Akan tetapi Nirahai memandang dengan muka merah dan berapi. “Tidak sudi! Kini aku tidak mau menyembah-nyembah minta kau bawa. Dan hanya dengan paksaan saja engkau akan dapat membawaku ke sana. Dengan paksaan, kau dengar? Aku sudah cukup menderita dan sakit hati karena kau biarkan, seolah-olah aku bukan isterimu. Engkau laki-laki lemah! Milana, mari kita pergi!”

“Tidak boleh, Nirahai. Milana ini anakku. Sudah terlalu lama dia kau pelihara sendiri, terlalu lama kau pisahkan dari Ayahnya. Aku akan membawa dia, tak peduli engkau suka ikut atau tidak!”

“Ayah…! Aku tidak mau meninggalkan Ibu!” Milana merosot turun dari pondongan dan hendak lari kepada ibunya.

Akan tetapi Suma Han mendengus marah, lengan kanannya menyambar tubuh Milana, dikempitnya dan dia lalu pergi dengan cepat meninggalkan Nirahai.

“Han Han…!” Nirahai menjerit dan mengejar. Namun Suma Han tidak peduli, wajahnya keruh, matanya hampir terpejam, kaki tunggalnya melangkah terus ke depan.

“Lepaskan aku! Ayahhhh… aku tidak mau meninggalkan Ibu…!” Milana menjerit-jerit. Akan tetapi Suma Han terus saja melangkah tanpa mempedulikan jerit anaknya.

Tiba-tiba Bun Beng meloncat dan menghadang di depan Suma Han, berdiri tegak dan suaranya nyaring penuh rasa penasaran, “Suma-taihiap! Seorang pendekar seperti Taihiap tidak boleh berlaku begini! Memisahkan anak dari ibunya adalah perbuatan jahat! Kalau Taihiap berkepandaian, mengapa tidak membawa Ibunya sekalian?”

Suma Han terbelalak, mukanya berubah merah saking marahnya. “Gak Bun Beng! Engkau anak tidak syah dari datuk kaum sesat Kang-touw-kwi Gak Liat, berani engkau bersikap seperti ini kepadaku! Sebelum menutup mata, Ibumu berpesan kepadaku untuk menyelamatkanmu, dan sekarang engkau mengatakan aku jahat?”

Jantung Bun Beng seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan ini. Ayahnya seorang datuk kaum sesat? Dia anak tidak syah? Tidak ada ucapan yang lebih menyakiti hatinya dari pada ini dan tidak ada kenyataan yang akan lebih menghancurkan hatinya. Namun kekerasan hati Bun Beng membuat ia tetap berdiri tegak dan berkata,

“Keturunan orang macam apa adanya aku, Suma-taihiap, tetap saja aku melarang engkau memisahkan Milana dari Ibunya! Biar akan kau bunuh aku siap!” Sikap Bun Beng gagah sekali biar pun kedua matanya kini mengalirkan butiran-butiran air mata.

“Han Han…! Kau bunuh aku dulu sebelum melarikan anakku!” Nirahai telah meloncat menghadang pula di depan Suma Han, mencabut sebatang pedang siap untuk mengadu nyawa! Juga kedua mata wanita cantik ini bercucuran air mata.

“Paman…!” Kwi Hong yang sejak tadi memandang dengan tubuh gemetar saking tegang hatinya, kini berani meloncat ke luar dan menghampiri Suma Han, berlutut sambil menangis.

“Ayah… aku tidak mau berpisah dari Ibu…!” Milana yang masih dikempit oleh lengan ayahnya itu pun meratap sambil menangis.

Suma Han berdiri seperti berubah menjadi arca. Suara isak tangis menusuk-nusuk telinganya terus ke hati, linangan air mata seperti butiran-butiran mutiara itu mempesonanya. Kekuatan batin dan kekerasan hatinya mencair, seperti salju tertimpa sinar matahari.

Tidak ada suara bagi manusia di dunia ini melebihi kekuasaan suara tangis! Tangis adalah suara jeritan hati dan jiwa. Tangis adalah suara pertama yang dikenal dan suara pertama yang keluar dari mulut manusia. Tangis merupakan suara pertama dari manusia tanpa dipelajarinya. Begitu terlahir, suara pertama dari manusia adalah tangis. Tangis merupakan suara langsung dari dalam sehingga setiap orang anak yang terlahir di segenap penjuru dunia mempunyai suara tangis yang sama. Tangis adalah satu- satunya suara yang mampu menembus jantung dan menyentuh batin manusia, juga dengan ratap tangis orang berusaha menghubungkan diri dengan Tuhan!

Lemas seluruh urat syaraf di tubuh Suma Han mendengar isak tangis empat orang manusia itu. Tubuh Milana dilepaskan dan anak ini berlari kepada ibunya, merangkul dan menangis. Nirahai lalu memondong puterinya, memandang kepada Suma Han dan berkata,

“Selama engkau masih menjadi seorang laki-laki yang berwatak lemah, aku tidak akan sudi turut bersamamu, bahkan aku akan mengimbangi kerajaanmu di Pulau Es!” Setelah berkata demikian, Nirahai meloncat dan berlari cepat sekali, sebentar saja lenyap dari situ.

Suma Han menundukkan mukanya. Untuk kedua kalinya dia terpukul. Pertama kali ketika bertemu dengan Lulu yang kini menjadi Majikan Pulau Neraka. Dia dicela dan dimarahi. Kini bertemu dengan isterinya, Nirahai, kembali dia dicela dan dimusuhi. Benar-benar dia tidak mengerti isi hati wanita!

“Kwi Hong, kita pulang!” Dia berkata, menggandeng tangan Kwi Hong dan berlari pergi cepat.

Bun Beng menjadi bengong. Dia tidak menyesal ditinggal seorang diri, akan tetapi dia masih merasa sakit hatinya mendengar ucapan Suma Han tadi. Masih terngiang di telinga kata-kata pendekar yang tadinya amat dikaguminya itu, “Engkau anak tidak syah dari datuk kaum sesat Kang-thouw-kwi Gak Liat!”

Bun Beng menunduk, mencari-cari jawaban ke bawah, akan tetapi rumput dan tanah yang diinjaknya tidak dapat memberi jawaban. Ayahnya seorang datuk kaum sesat? Dan dia anak tidak syah? Apa artinya ini?

“Ah, mengapa aku menjadi lemah begini? Apa peduliku tentang asal-usulku? Aku adalah seorang manusia, dan aku menjadi mausia bukan atas kehendakku! Aku sudah ada dan aku harus bangga dengan keadaanku, harus berjuang mempertahankan keadaanku dan menyempurnakan keadaanku! Mereka itu pun hanya manusia-manusia yang ternyata bukan terbebas dari pada derita, bukan bersih dari pada cacat! Kekalahanku dari orang-orang sakti seperti Pendekar Siluman, isterinya, pencuri pedang, dan kakek-kakek sakti seperti mendiang Nayakavhira dan Maharya tadi hanyalah kalah pandai dalam penguasaan ilmu! Akan tetapi ilmu dapat dipelajari!”

Mereka semua itu, dahulu sebelum mempelajari ilmu pun tidak bisa apa-apa seperti dia! Dan dia masih muda, apa lagi sedikit-sedikit pernah mempelajari ilmu, dan ada kitab yang telah dihafal namun belum dilatihnya dengan sempurna, ada sepasang pedang yang disembunyikan di puncak tebing. Sepasang pedang pusaka! Pedang yang mengeluarkan sinar mengerikan, seperti pedang yang dibuat oleh Suma Han. Jangan-jangan itu adalah Sepasang Pedang Iblis yang mereka cari-cari bahkan yang khusus dibuatkan pedang lawannya oleh Nayakavhira. Biarlah. Biar, andai kata sepasang pedang itu adalah Sepasang Pedang Iblis, kelak dia akan memperlihatkan kepada dunia bahwa di tangannya, sepasang pedang itu tidak akan menjadi senjata yang dipakai melakukan perbuatan jahat!

Bangkit semangat Bun Beng dan mulailah dia meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Siauw-lim-pai. Dia harus melapor akan kematian suhu-nya kepada pimpinan Siauw-lim-si dan mempelajari ilmu dengan tekun karena menurut penuturan mendiang suhu-nya, kalau mempelajari benar-benar secara sempurna dan memang ada jodoh, ilmu silat dari Siauw-lim-pai tidak kalah oleh ilmu silat lain di dunia ini.

Pernah gurunya bercerita tentang tokoh Siauw-lim-pai bernama Kian Ti Hosiang yang memiliki tingkat kepandaian luar biasa tingginya sehingga saking tinggi ilmu kepandaiannya, sampai tidak mau lagi melayani orang bertanding, bahkan tidak mau membalas andai kata dia dilukai atau dibunuh sekali pun! Pernah pula gurunya bercerita tentang manusia dewa Bu Kek Siansu yang selain tidak mau bertempur melukai apa lagi membunuh orang lain, bahkan sering kali menurunkan ilmunya kepada siapa saja yang kebetulan bertemu dengannya, yang dianggap sudah jodoh, tanpa memandang apakah orang itu termasuk golongan baik ataupun jahat, bersih atau pun kotor!

Sikap manusia dewa ini seperti sikap kasih sayang alam, di mana sinar matahari tidak menyembunyikan sinarnya dari atas kepada orang jahat mau pun orang baik, di mana pohon-pohon tidak menyembunyikan bunga dan buahnya dari uluran tangan orang jahat mau pun orang baik! Kemudian gurunya bercerita pula tentang manusia aneh Koai-lojin yang kabarnya malah masih suka muncul biar pun belum tentu ada seorang di antara sepuluh ribu tokoh kang-ouw yang dijumpai manusia aneh ini, yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang seperti dewa pula namun tidak mau bertempur, melukai, apa-lagi membunuh orang.

Dia masih muda. Dunia masih lebar. Masa depannya masih terbentang luas. Mengapa langkah hidupnya harus terhalang oleh masa lalu mengenai diri orang tuanya! Baik mau pun jahat orang tuanya, biarlah. Hal itu sudah lalu dan yang ia hadapi adalah masa depan. Masa lalu penuh kejahatan akan tetapi masa depan penuh kebaikan, bukankah hal itu jauh lebih menang dari pada masa lalu penuh kebaikan namun masa depan penuh kejahatan? Apa arti bersih masa lalu akan tetapi amat kotor di masa depan, dan biarlah dia menganggap masa lalu sebagai alam mimpi, sungguh pun dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi di masa lalu, yang terjadi dengan ayah bundanya. Makin dijalankan pikirannya, makin lapanglah dadanya dan langkahnya pun tegap, wajahnya berseri dan sepasang matanya bersinar.

Setelah dia berhasil tiba di kuil Siauw-lim-si dan menceritakan tentang kematian suhu-nya, berita ini diterima dingin oleh para hwesio pimpinan Siauw-lim-pai yang menganggap bahwa kakek itu sudah bukan seorang anggota Siauw-lim-pai lagi. Akan tetapi mengingat bahwa Gak Bun Beng adalah putera seorang tokoh wanita Siauw-lim-pai, dan betapa pun juga Siauw Lam Hwesio adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi, para pimpinan Siauw-lim-pai tidak berkeberatan menerima Bun Beng. Pemuda cilik itu mulai berlatih dengan giat di samping bekerja keras seperti yang pernah dilakukan gurunya, yaitu menjadi pelayan, tukang kebun, dan pekerjaan apa saja untuk melayani keperluan kuil dan membantu para hwesio.

Nirahai, bekas puteri Raja Mancu yang berwatak keras dan berilmu tinggi itu kini sudah berhenti menangis. Kekerasan hatinya dapat menindih kedukaan dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk menghadapi orang yang dicintanya namun yang selalu mengalah dan berwatak lemah itu dengan kekerasan. Di tengah jalan, dia menurunkan puterinya untuk memakai sebuah kerudung menutupi kepalanya. Melihat ini, Milana terkejut dan heran.

“Ibu, mengapa Ibu memakai itu?”

Dari dalam kerudung itu terdengar jawaban suara dingin seolah-olah ibunya telah berubah tiba-tiba setelah berkerudung, “Milana, mulai saat ini engkau akan turut bersamaku, tidak akan kembali ke Mongol lagi. Ketahuilah, ibumu adalah Ketua Thian-liong-pang dan tidak seorang pun boleh melihat mukaku kecuali engkau.”

Milana memandang kepala berkerudung itu dengan mata terbelalak, “Ibu…! Engkau Ketua Thian-liong- pang yang terkenal itu…? Akan tetapi mengapa…?” Hati anak ini ngeri karena Thian-liong-pang disohorkan sebagai perkumpulan yang tidak segan-segan melakukan segala macam kekejaman sehingga ditakuti dunia kang-ouw.

“Diamlah. Kalau kita tidak kuat, orang tidak akan memandang kepada kita! Engkau ikut bersamaku dan belajar ilmu sampai melebihi Ibumu. Hayo!” Dia menggandeng tangan Milana dan lari cepat sekali.

Ada pun Suma Han yang membawa lari murid atau keponakannya, di sepanjang jalan tidak pernah bicara. Wajahnya muram dan dalam beberapa pekan saja bertambah garis-garis derita pada wajahnya. Karena sepasang burung garuda sudah tewas, mereka melakukan perjalanan darat dan setelah tiba di pantai, Suma Han mencari sebuah perahu yang dibelinya dari nelayan, kemudian memperkuat perahu dan mulailah dia berlayar bersama Kwi Hong menuju ke pulau tempat tinggalnya, yaitu Pulau Es.

Dalam pelayaran ini barulah Suma Han mengajak bicara keponakannya. Dengan penuh perhatian dia mendengarkan cerita Kwi Hong tentang peristiwa yang terjadi di hutan, betapa pencuri pedang pusaka adalah seorang siucai gila yang lihai sekali, bahkan siucai itu tadinya menculiknya yang kemudian dikalahkan oleh Nirahai dan melarikan diri membawa pedang pusaka.

“Aihhhh… kiranya dia…!” Suma Han menghela napas penuh penyesalan karena segala yang dialaminya di masa dahulu agaknya hanya menimbulkan bencana saja bagi dirinya sendiri dan orang lain. Apakah dia yang harus menebus dosa yang dilakukan nenek moyangnya, keluarga Suma yang luar biasa jahatnya?

“Apakah Paman mengenal Siucai gila itu?”

“Banyak yang sudah kau ketahui, Kwi Hong. Engkau tentu mengenal siapa Pamanmu sekarang, seorang yang penuh noda dalam hidupnya. Orang gila itu agaknya tidak salah lagi tentu yang disebut Tan-siucai dan menjadi muridnya Maharya. Aku belum pernah melihat orangnya, akan tetapi namanya sudah kudengar.”

“Paman, dia bilang bahwa Paman telah membunuh kekasihnya, tunangan atau calon isterinya. Tentu Si Gila itu bohong!”

Suma Han menggeleng kepala dan menghela napas panjang. Terbayang di depan matanya seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa, yang dalam keadaan hampir tewas karena tubuhnya penuh dengan anak panah yang menancap di seluruh tubuh, berbisik dalam pelukannya bahwa gadis itu rela mati untuknya karena gadis itu mencintanya. Hoa-san Kiam-li Lu Soan Li, murid Im-yang Seng-cu yang perkasa, yang telah berkorban untuk dia, dan sebelum menghembuskan napas terakhir mengaku cinta. Gadis itu adalah tunangan Tan-siucai! Dia sudah diberi tahu oleh Im-yang Seng-cu, akan tetapi tadinya dia tidak peduli. Siapa mengira, begitu muncul Tan-siucai telah mencuri pedang pusaka, hampir berhasil menculik Kwi Hong, dan gurunya demikian saktinya sehingga kalau dia tidak memiliki kekuatan batin yang kuat, agaknya dia akan tewas di tangan Maharya!

“Dia tidak membohong, Kwi Hong. Biar pun aku tidak membunuh tunangannya, akan tetapi dapat dikatakan bahwa tunangannya itu tewas karena membela aku. Ahhh, sungguh aku menyesal sekali. Akan tetapi, kalau Tan-siucai sudah menjadi gila, dia telah merampas pedang pusaka, dia berbahaya sekali. Pedang itu sengaja dibuat untuk menundukkan Sepasang Pedang Iblis.”

“Kenapa Paman hendak pulang? Bukankah lebih baik mengejar dia sampai berhasil merampas kembali pedang itu?”

Kembali Suma Han menggeleng kepala. “Semangatku lemah, aku tidak mempunyai nafsu untuk berbuat apa-apa, kecuali pulang dan beristirahat. Kwi Hong, mulai sekarang engkau harus berlatih diri dengan tekun dan rajin. Tugasmu di masa mendatang amat berat dengan munculnya banyak orang pandai. Jangan sekali-kali kau melarikan diri dari pulau lagi karena aku tidak akan mengampunkanmu lagi.”

Demikianlah, dengan semangat lemah dan hati remuk akibat pertemuan-pertemuannya dengan Lulu dan Nirahai, dua orang wanita yang dicintanya, yang pertama karena dicintanya semenjak kecil, yang kedua karena telah menjadi isterinya, bahkan menjadi ibu dari anaknya, Suma Han mengajak keponakannya pulang ke Pulau Es. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk tidak mencampuri urusan luar, hanya melatih diri dan memperkuat penjagaan di pulau sendiri. Kemudian, mulai hari itu dia melatih ilmu kepada Kwi Hong dengan penuh ketekunan sehingga anak perempuan ini memperolah kemajuan yang pesat sekali.

********************

Semenjak jatuhnya pertahanan terakhir dari Bu Sam Kwi di Se-cuan sebagai sisa kekuatan dari Kerajaan Beng-tiauw yang jatuh beberapa tahun setelah Bu Sam Kwi tewas, yaitu pada tahun 1681, terjadilah perubahan besar di daratan Tiongkok yang kini dikuasai seluruhnya oleh Kerajaan Ceng, yaitu pemerintah yang dipimpin oleh Bangsa Mancu. Sebentar saja kekuatan bangsa Mancu makin berakar dan lambat laun makin berkuranglah rasa kebencian dan permusuhan dari rakyat terhadap pemerintah penjajah ini. Hal ini adalah terutama sekali disebabkan bangsa Mancu amat pandai menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebudayaan di Tiongkok. Biar pun menjadi penjajah, menyaksikan kenyataan betapa besar dan hebat kebudayaan daratan yang dijajahnya, mereka menerima kebudayaan itu dan bahkan melebur diri mereka seperti keadaan para pribumi. Mereka mempelajari bahasa pribumi, bahkan anak isterinya mempergunakan bahasa ini sehingga dalam satu keturunan saja anak-anak mereka sudah tidak pandai lagi berbahasa Mancu dan menganggap bahasa Han sebagai bahasa mereka sendiri!

Kerajaan Ceng-tiauw yang dipimpin oleh bangsa Mancu ini makin berkembang dan mencapai puncak kecemerlangannya di bawah pimpinan Kaisar Kang Hsi yang memerintah dari tahun 1663 sampai 1722. Kaisar ini adalah seorang ahli negara yang cakap, pandai dan bijaksana. Di samping ini dia pun seorang ahli perang yang mengagumkan sehingga semua operasinya berhasil dengan baik, juga tidak terdapat rasa tidak puas di antara petugas-petugas bawahannya. Di samping ini, dia pun penggemar kebudayaan sehingga berhasil menarik pula hati para sastrawan pribumi yang mendapat penghargaan dalam bidangnya.

Di bawah pimpinan Kaisar ini, Tiongkok mencapai kekuasaan yang amat besar, jauh lebih besar dari pada kerajaan-kerajaan sebelumnya dan kiranya malah lebih besar dari pada keadaan Tiongkok di waktu Kerajaan Tang. Pertama-tama Kaisar Kang Hsi mengerahkan perhatian untuk membasmi gerombolan- gerombolan dan pemberontak-pemberotak, menghabiskan semua perlawanan sehingga perang dihentikan dan keamanan dapat dikembalikan. Dalam keadaan aman, rakyat dapat bekerja dengan tenang dan pembangunan dapat dilaksanakan sebaiknya.

Namun setelah gerombolan-gerombolan di dalam negeri bisa ditumpas semua, Kaisar Kang Hsi harus menghadapi perlawanan dari negara-negara tetangga yang tidak mengakui kedaulatan kerajaan baru ini. Maka dikirimnyalah tentara besar sampai jauh ke selatan dan barat daya sehingga banyak negara di selatan dan barat daya ditundukkan dan terpaksa mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng, bahkan mengaku takluk dan setiap tahun membayar atau mengirim upeti sebagai tanda takluk. Di antara negara-negara ini termasuk Afganistan, Kasmir, Birma, Muangthai, Vietnam, Kamboja, bahkan termasuk pula Malaysia!

Akan tetapi, selagi Kaisar Kang Hsi sibuk mengatur kesejahteraan dalam negeri untuk memakmurkan kehidupan rakyat yang baru saja dilanda perang itu, meningkatkan dan memperkembangkan kesenian melukis, sastra, dan lain-lain di samping mempergiat pembangunan, datang lagi gangguan yang memaksa Kaisar ini menggerakkan bala tentara dan mencurahkan sebagian perhatiannya ke utara, di mana bangsa Mongol mulai bergerak dan memberontak terhadap pemerintah Mancu.

Seperti telah diceritakan dan menjadi catatan sejarah, ketika bangsa Mancu mulai bergerak ke selatan, mereka dibantu dengan gigih oleh bangsa Mongol sebagai bangsa yang pernah lama menjajah Tiongkok dan masih ingin menguasai kembali bekas tanah jajahan itu. Karena kekuatannya sendiri sudah hancur, bangsa Mongol tahu diri dan membonceng bangsa Mancu, namun harus diakui bahwa kekuatan bala tentara menjadi amat besar dan hebat berkat bantuan pasukan-pasukan Mongol ini.

Akan tetapi, setelah bangsa Mancu berkuasa dan membangun Kerajaan Ceng, dengan tidak melupakan dan memberi kedudukan istimewa kepada bangsa Mongol sebagai bangsa serumpun dan setingkat, mulailah bangsa Mongol merasa kecewa. Bangsa Mongol melihat kecenderungan bangsa Mancu yang melebur diri dengan kebiasaan orang-orang Han sehingga makin lama mereka itu menjadi makin erat hubungannya dengan rakyat, sedangkan rakyat masih tidak dapat melupakan penjajahan bangsa Mongol yang banyak menyengsarakan rakyat dahulu. Maka bangsa Mongol merasa makin lama makin tersudut, maka mulailah pemberontakan bangsa ini terhadap bangsa Mancu.

Pemberontakan meletus pada tahun 1680 pada saat Se-cuan sudah tiba di ambang kekalahannya. Sehingga begitu Secuan sudah dijatuhkan, kembali pemerintah Mancu yang dipimpin oleh Kaisar Kang Hsi itu harus menghadapi pemberontakan yang besar dan gigih yang dipimpin oleh seorang pangeran Mongol yang bernama Galdan.

Sepuluh tahun lewat dengan cepatnya semenjak peristiwa pertemuan antara Pendekar Super Sakti Suma Han dan Nirahai isterinya, pertemuan yang amat menyedihkan dan mengharukan. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek, namun juga tak dapat dikatakan waktu yang lama, tergantung dari pendapat masing- masing bertalian dengan keadaan dan pengalaman. Dalam waktu selama itu, banyak memang yang telah terjadi di dunia, khususnya di dunia kang-ouw yang kembali menjadi kacau dan geger berhubung dengan adanya perang antara pemerintah melawan bangsa Mongol.

Kembali dunia kang-ouw terpecah belah, ada yang membela Pemerintah Ceng, ada pula yang membantu pemberontak, bukan karena suka kepada bangsa Mongol, melainkan kesempatan itu mereka pergunakan untuk melawan penjajah. Akan tetapi karena tidak ada peristiwa penting terjadi atas diri para tokoh penting cerita ini yang berdiam di tempat masing-masing menggembleng murid atau anak masing-masing, maka biarlah waktu sepuluh tahun itu kita lewati saja.

Pemberontakan bangsa Mongol sudah berjalan belasan tahun. Perang menjadi berlarut-larut karena selain bangsa Mongol memang memiliki bala tentara yang terlatih dan kuat, mereka dibantu banyak orang pandai dari dunia kang-ouw. Bahkan banyak pula orang sakti dari negara-negara tetangga yang dipaksa mengirim upeti kepada Pemerintah Ceng, diam-diam membantu bangsa Mongol dalam usaha mereka membalas dendam atas kekalahan negaranya.

Di dunia persilatan memang terjadi perubahan akan kekacauan seperti telah diceritakan tadi. Diam-diam di antara mereka pun mengadakan ‘perang’ sendiri, menggunakan kesempatan selagi pemerintah kurang memperhatikan keadaan mereka karena pemerintah sendiri sedang sibuk menghadapi musuh kuatnya, yaitu pasukan-pasukan Mongol. Pula, pemerintah juga mempunyai banyak kaki tangan di antara golongan kang-ouw ini sehingga mereka menyerahkan penguasaan keadaan kepada kaki tangan mereka yang dalam hal ini diwakili dan dipimpin oleh Koksu sendiri dengan para pembantunya yang lain!

Namun yang lebih menonjol dan yang menggegerkan dunia persilatan adalah nama besar Thian-liong- pang yang kabarnya makin kuat saja sehingga tidak ada pihak yang berani main-main kalau bertemu dengan orang Thian-liong-pang. Bahkan banyak yang sudah menjadi jeri kalau mendengar nama Thian- liong-pang yang diketuai seorang wanita aneh berkerudung yang memiliki ilmu silat dahsyat. Banyak sudah ketua-ketua partai persilatan merasakan kelihaian Thian-liong-pang. Banyak yang dikalahkan oleh tokoh- tokoh Thian-liong-pang, padahal ketuanya sendiri belum pernah maju, juga wakilnya dan para pelayan wanita yang kabarnya memiliki ilmu yang sukar dicari bandingnya!

Terdengar berita bahwa Thian-liong-pang mempunyai niat menggabungkan partai-partai persilatan di bawah naungan Thian-liong-pang, seolah-olah perkumpulan ini hendak menyaingi gerakan Pemerintah Ceng yang menaklukkan negara-negara tetangga yang takluk dan mengakui kedaulatannya serta berlindung di bawah naungannya dengan membayar upeti setiap tahun! Tentu saja niat ini menemukan banyak tentangan. Terutama partai-partai besar yang sudah berdiri ratusan tahun seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar, tentu saja mereka ini tidak sudi menjadi ‘anak buah’ Thian-liong-pang!

Selagi dunia kang-ouw geger karena sepak terjang Thian-liong-pang, tersiar lagi berita yang menimbulkan heboh dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah muncul lagi. Orang-orang Pulau Neraka dengan warna-warni muka mereka yang aneh menimbulkan kegoncangan di mana-mana karena mereka itu memang sengaja mendarat untuk menguji ilmu-ilmu mereka dengan tokoh-tokoh kang-ouw!

Yang tetap tidak terdengar hanya Pulau Es. Tidak ada lagi orang kang-ouw melihat munculnya orang dari Pulau Es, bahkan mendengar berita pun tidak, karena Pulau Es agaknya sudah memutuskan hubungan mereka dengan dunia luar pulau mereka bertahun-tahun.

Di antara partai-partai persilatan besar yang heboh oleh berita-berita itu, Siauw-lim-pai sendiri tetap tenang-tenang saja. Memang Siauw-lim-pai adalah sebuah partai persilatan yang amat besar, paling banyak cabang-cabangnya, paling banyak kuil-kuilnya, tersebar di mana-mana dan memiliki jumlah anak murid yang amat banyak pula. Belum pernah ada partai lain berani mengganggu Siauw-lim-pai. Bahkan orang-orang Thian-liong-pang agaknya juga tidak berani sembarangan main gila terhadap Siauw-lim-pai! Kalau toh terjadi bentrokan, hal itu hanya terjadi antara anak murid saja dan pihak Siauw-lim-pai yang memegang keras disiplin di antara anak muridnya, dengan bijaksana dapat memadamkan bentrokan- bentrokan kecil itu dengan menghukum anak murid sendiri yang melakukan pelanggaran.

Pada waktu itu yang menjadi Ketua Siauw-lim-pai adalah seorang hwesio tinggi besar berusia lima puluh lima tahun lebih berjuluk Ceng Jin Hosiang. Biar pun tubuhnya tinggi besar menyeramkan, namun wataknya halus dan hwesio tua ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kitab-kitab rahasia Siauw-lim-pai banyak sekali, kitab-kitab kuno yang mengandung pelajaran ilmu-ilmu amat tinggi dan sukar sekali dipelajari sehingga hanya sedikit saja yang mampu menguasai isinya.

Ketika Kian Ti Hosiang masih hidup, dialah satu-satunya hwesio di Siauw-lim-pai yang benar-benar telah menguasai sebagian besar ilmu yang tinggi-tinggi dan sukar dipelajari itu. Kini, karena bakatnya dan menurut kepercayaan lingkungan Siauw-lim-pai, karena jodoh, ketua inilah yang dapat menguasai sebagian dari isi kitab-kitab suci dan rahasia itu. Sungguh pun belum dapat dibandingkan dengan Kian Ti Hosiang, namun setidaknya tingkat kepandaian Ceng Jin Hosiang jauh melampaui saudara-saudaranya, bahkan dia memiliki tingkat lebih tinggi dari pada mendiang Ceng San Hwesio Ketua Siauw-lim-pai yang lalu.

Selain lihai ilmu silatnya dan tinggi ilmu batinnya, Ceng Jin Hosiang mempunyai kewaspadaan. Pada suatu hari dia datang ke kuil cabang Siauw-lim-pai di mana Bun Beng bekerja sebagai pelayan. Melihat Bun Beng dia tertarik sekali, apa lagi ketika mendengar bahwa anak itu adalah putera mendiang Siauw-lim Bi- kiam Bhok Kim, seorang di antara Kang-lam Sam-eng, segera Ketua Siauw-lim-pai ini menyuruh Bun Beng untuk ikut bersamanya ke kuil pusat Siauw-lim-pai. Ceng Jin Hosiang melihat bakat yang baik sekali, juga hati nuraninya membisikkan bahwa anak ini ‘berjodoh’ dengannya, maka dia lalu mengambil Bun Beng sebagai murid. Selama delapan tahun dia menggembleng Bun Beng yang sebelumnya sudah menerima gemblengan dasar dari Siauw Lam Hwesio, maka tentu saja anak ini memperoleh kemajuan yang luar biasa.

“Bun Beng, kini tiba saatnya yang telah lama kau nanti-nanti dan baru sekarang pinceng ijinkan, yaitu engkau boleh keluar dari kuil untuk meluaskan pengetahuan dan mengambil jalanmu sendiri tanpa kekangan dari peraturan di sini yang pinceng adakan,” kata Ketua Siauw-lim-pai yang duduk bersila di hadapan muridnya yang ia panggil menghadap.

Dapat dibayangkan betapa girang hati Bun Beng mendengar ini. Sudah lama sekali ia ingin untuk diperbolehkan keluar dari kuil, namun gurunya selalu melarang dan mengatakan belum tiba saatnya. Padahal semua ilmu yang diajarkan gurunya telah dipelajarinya semua.

“Terima kasih, Suhu. Sesungguhnya teecu merasa gembira sekali.”

Hwesio tua itu mengangguk dan tertawa. “Pinceng tahu dan tidak menyalahkanmu. Usiamu sudah dua puluh dua tahun dan sebagai seorang pemuda, engkau yang tidak berbakat sebagai pendeta tentu bernafsu sekali untuk berkelana di dunia ramai. Kepandaianmu telah mencapai tingkat lumayan, bahkan tidak ada ilmu yang kuketahui belum kuajarkan kepadamu. Engkau hanya kurang pengalaman dan kurang matang latihan, akan tetapi kalau engkau rajin, dalam beberapa tahun lagi engkau sudah akan melampaui aku.”

“Teecu berhutang budi kepada Suhu, semua kemajuan teecu adalah berkat bimbingan Suhu.”

“Sudahlah, tidak perlu semua pujian itu. Sekarang kita bicara tentang hal yang amat penting. Setelah engkau berhasil mempelajari ilmu dari pinceng, sudah menguasai ilmu-ilmu itu, lalu setelah engkau meninggalkan ini, semua ilmu yang kau kuasai itu hendak kau pergunakan apakah?”

Ditanya secara mendadak seperti itu, Bun Beng gelagapan! Yah, untuk apakah dia mempelajari semua ilmu itu dengan susah payah selama bertahun-tahun? Tiba-tiba teringat akan kematian Siauw Lam Hwesio, gurunya yang pertama, yang juga terhitung supek dari Ceng Jin Hosiang, maka dengan hati tetap ia menjawab,

“Ilmu yang teecu kuasai berkat bimbingan Suhu akan teecu pergunakan untuk mencari musuh-musuh mendiang Suhu Siauw Lam Hwesio dan membalas dendam kematiannya di tangan mereka!”

“Omitohud…, sudah kuduga engkau akan menjawab seperti itu. Akan tetapi engkau keliru kalau memiliki niat seperti itu, Bun Beng. Dan pinceng akan melarangmu meninggalkan kuil kalau seperti itu pendapat dan cita-citamu.”

Bun Beng terkejut bukan main, cepat ia membungkuk sampai dahinya menyentuh lantai sambil berkata, “Mohon maaf sebanyaknya, Suhu. Teecu bodoh dan mohon petunjuk Suhu bagaimana baiknya.”

Hwesio itu tertawa. “Kalau pinceng tahu bahwa kepandaian yang pinceng ajarkan kepadamu itu hanya akan kau pergunakan untuk membunuh orang, hanya untuk membalas dendam, sudah pasti pinceng tidak akan suka mengajarkannya. Tidak, Bun Beng. Menaruh dendam menimbulkan kebencian, dan kebencian melahirkan perbuatan-perbuatan kejam dan jahat! Orang gagah tidak boleh dipermainkan oleh perasaan pribadi, tidak boleh menjadi mata gelap karena dendam. Kalau kau bicara tentang dendam, mengapa kau tidak mendendam atas kematian Ayahmu dan Ibumu?”

Bun Beng tertegun. Tak pernah terpikirkan hal ini olehnya, apa lagi setelah ia mendengar kata-kata Pendekar Siluman bahwa ayahnya adalah seorang datuk kaum sesat! “Karena teecu tidak tahu bagaimana Ayah Bunda teecu tewas dan mengapa.”

“Kalau kau tahu bahwa ayahmu dan ibumu mati terbunuh orang, apakah engkau juga akan mendendam dan akan mencari pembunuh mereka untuk kau balas dan bunuh pula?”

Bun Beng terkejut dan karena kini menyangkut kematian orang tuanya, tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Agaknya begitulah!”

“Baik, sekarang kau balaslah. Pinceng beri tahu siapa pembunuhnya. Ayahmu telah tewas dibunuh Ibumu, dan Ibumu juga tewas di tangan Ayahmu. Nah, bagaimana?”

Biar pun Bun Beng sudah menerima gemblengan lahir batin dan hatinya sudah kuat sekali, tidak urung mukanya berubah sedikit mendengar keterangan ini. Dia tidak mampu menjawab dan hanya menunduk, penuh pemasrahan kepada suhu-nya.

“Omitohud…! Seorang gagah tidak boleh menurutkan nafsu hati, melainkan harus selalu tenang seperti air telaga yang dalam. Jika pikiran tenang, maka nafsu tidak akan mudah mengganggu dan segala tindakan kita dapat dilakukan dengan tepat, menurutkan hasil pertimbangan pikiran dan akal budi. Sekarang kau melihat contoh tidak baiknya orang mendendam karena kematian orang tua atau pun guru. Orang tua mau pun guru hanyalah manusia-manusia biasa. Bagaimana kalau kematian mereka itu dikarenakan perbuatan mereka yang jahat? Andai kata orang tuamu menjadi penjahat besar yang terbunuh oleh pendekar budiman, apakah engkau juga lalu mencari untuk membalas dendam kepada pendekar itu? Kalau demikian, engkau sama sekali bukan anak berbakti, melainkan sebaliknya, karena engkau makin mencemarkan nama orang tua yang sudah cemar. Dan engkau bukan orang gagah, karena engkau telah menyimpang dari hukum tak tertulis dalam jiwa orang gagah yaitu membela kebenaran! Karena itu, hapuskan dendam dari hatimu, sedikit pun tidak boleh ada sisanya. Jika kelak engkau terpaksa membunuh orang-orang yang dahulu membunuh Supek Siauw Lam Hwesio karena engkau membela kebenaran dan karena mereka orang-orang jahat, hal itu lain lagi, bukan membunuh karena balas dendam.”

Bun Beng cepat memeluk kaki gurunya. “Ah, ampunkan teecu. Teecu jadi seperti buta, tidak melihat kenyataan itu, Suhu. Teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah Suhu.”

“Aahhh, pinceng sebetulnya merasa perih di hati kalau bicara tentang bunuh-membunuh. Akan tetapi, kehidupan seorang gagah di dunia kang-ouw di mana terdapat kekacauan yang disebabkan orang-orang sesat, agaknya hal itu tidak dapat dicegah lagi. Kalau mungkin, Bun Beng, jauhilah perbuatan membunuh. Engkau akan lebih berjasa mengingatkan seorang sesat kembali ke jalan benar dari pada membunuhnya. Nah, kiranya cukup. Hanya satu lagi pesan pinceng. Jangan sekali-kali engkau melibatkan diri dalam perang, karena Siauw-lim-pai menentang perang. Dan jangan sekali-kali engkau melibatkan nama Siauw- lim-pai dengan permusuhan dengan pihak lain. Mengerti?”

“Baik Suhu, teecu akan mentaati perintah Suhu.”

“Hemm…, kalau sampai kau langgar, agaknya pinceng sendiri yang akan turun tangan menghukummu, Bun Beng. Nah, berangkatlah dan hati-hatilah.”

Bun Beng minta diri kepada semua hwesio di kuil, kemudian dia berangkat membawa bungkusan pakaian dan bekal sedikit perak, tanpa membawa senjata. Dengan memiliki kepandaian seperti tingkatnya sekarang, dia tidak membutuhkan senjata lagi.

Setelah jauh meninggalkan kuil, Bun Beng teringat akan sepasang pedang yang disimpannya di puncak tebing tempat tinggal para bekas pejuang penyembah Sun Go Kong. Juga kitab-kitab pelajaran Sam-po- cin-keng yang sudah dihafalnya dan yang sekarang secara diam-diam telah dilatihnya sampai mahir. Setelah dia menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tinggi dari Ceng Jin Hosiang, tidak sukar baginya untuk menyelami Sam-po- cin-keng dan dia tidak berani berterus terang kepada suhu-nya karena ilmu silat itu amat ganas dan pantasnya hanya dipelajari kaum sesat! Akan tetapi, hebat bukan main ilmu itu sehingga di luar pengetahuannya sendiri, kalau dia mempergunakan ilmu itu, agaknya Ceng Jin Hosiang sendiri belum tentu akan dapat menandinginya!

Di dalam perantauannya ini, Bun Beng membuka telinga dan tiada bosannya dia bertanya-tanya tentang keadaan dunia kang-ouw. Dia terkejut sekali ketika mendengar akan sepak terjang kaum Thian-liong-pang yang katanya mulai menculik tokoh-tokoh penting dari partai-partai persilatan! Juga dia mendengar akan munculnya tokoh-tokoh aneh dari Pulau Neraka yang sudah beberapa kali dahulu ia jumpai, maka diam- diam ia mengambil keputusan bahwa kalau dia bertemu dengan kaum Thian-liong-pang dan Pulau Neraka, dia akan menentang mereka! Hatinya bersyukur ketika ia mendengar keterangan bahwa kini tidak ada terdengar pergerakan dari Pulau Es, tanda bahwa Pendekar Siluman benar-benar tidak mau mencampuri segala keributan itu. Juga heboh tentang Pedang Iblis dan kitab-kitab peninggalan Bu Kek Siansu yang lenyap, yang dahulu diperebutkan, kini tidak terdengar lagi.

Yang amat menarik hatinya adalah perbuatan kaum Thian-liong-pang. Mengapa mereka itu menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua partai untuk beberapa hari lamanya kemudian mereka itu dibebaskan kembali? Apa yang tersembunyi di balik perbuatan aneh ini? Untuk mengambil sepasang pedangnya terlampau jauh, maka dia akan lebih dulu menyelidiki keadaan Thian-liong-pang dan kalau memang mereka itu melakukan penculikan-penculikan, hal ini akan ditentangnya. Inilah kewajiban pertama dalam perjalanannya sebagai seorang pendekar!

Dalam perjalanannya menuju ke Thian-liong-pang dia bermalam dalam sebuah rumah penginapan di kota kecil Teng-li-bun. Dia telah melakukan perjalanan jauh dan perlu beristirahat. Niatnya akan bermalam di situ semalam, baru besok pagi akan melanjutkan perjalanan karena malam itu hujan membuat dia segan untuk bermalam di luar seperti biasanya dia bermalam di hutan atau di gubuk-gubuk sawah. Dia ingin makan kenyang dan minum sedikit arak, kemudian tidur nyenyak dalam sebuah bilik tanpa gangguan.

Akan tetapi menjelang tengah malam, telinganya yang amat terlatih mendengar suara isak tangis tertahan. Dia terbangun, memasang telinga dan mendapat kenyataan bahwa tangis itu adalah tangis seorang wanita yang ditahan-tahan, suaranya seperti tertutup bantal. Dia menjadi bingung. Tentu telah terjadi sesuatu yang membutuhkan pertolongannya. Akan tetapi yang perlu ditolong adalah seorang wanita, dan hari telah tengah malam, bagaimana mungkin dia boleh memasuki kamar seorang wanita?

Dia sudah memasang telinga baik-baik dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang lain dalam kamar sebelah itu, hanya si wanita yang menangis. Karena suara isak tertahan itu seperti menggelitik hatinya, Bun Beng tak dapat menahan lagi lalu membuka jendela kamar dan tubuhnya melesat keluar jendela terus melayang ke atas genteng. Dia berniat untuk mengintai dari atas dan melihat apakah yang terjadi dan mengapa wanita itu menangis.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak ada suara terdengar ketika ia melayang ke atas genteng sehingga tidak mengganggu para tamu rumah penginapan. Dia membuka genteng di atas kamar sebelah dengan hati-hati sekali. Akan tetapi baru saja dia menjenguk ke dalam dan melihat seorang wanita muda rebah di atas pembaringan, tiba-tiba lilin di kamar itu padam dan dia mendengar bersiutnya angin senjata rahasia dengan cepat dan kuat serta tepat sekali menyambar ke arah lubang genteng!

“Ciut-ciut-ciut!” tiga batang piauw menyambar dan berturut-turut Bun Beng menangkap tiga batang piauw itu dengan tangan kirinya.

“Bangsat Thian-liong-pang, aku akan mengadu nyawa denganmu!” terdengar suara wanita memaki disusul menyambarnya sesosok tubuh ke atas dan lubang itu jebol ditabrak seorang gadis yang berpakaian serba kuning. Gerakan gadis itu cepat dan ringan sekali, kini sudah berdiri di depan Bun Beng dengan pedang di tangan dan langsung mengirim tusukan ke arah dada Bun Beng.

“Wuuuttt… plakkk!”

Dengan tangan kanannya Bun Beng menampar pedang itu dari samping dan telapak tangannya kini tepat mengenai pedang yang menempel pada telapak tangannya! Gadis itu berseru kaget, berusaha menarik kembali pedangnya, akan tetapi sia-sia. Pedangnya melekat di telapak tangan pemuda tampan yang berdiri tenang sambil memandangnya itu. Juga di bawah sinar bulan yang muncul setelah hujan berhenti tadi, gadis itu melihat tiga batang piauw-nya berada di tangan kiri pemuda itu. Celaka, pikirnya! Yang datang adalah seorang tokoh Thian-liong pang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

“Mau apa lagi? Bunuhlah aku!” tiba-tiba gadis itu berkata penuh kebencian.

“Tenang dan sabarlah, Nona. Aku bukan orang Thian-liong-pang, sama sekali bukan!”

Nona yang usianya kurang lebih delapan belas tahun itu memandang penuh perhatian lalu membentak, “Siapa mau percaya?”

Bun Beng tersenyum dan menghela napas, melepaskan pedang dan menyerahkan tiga batang piauw yang diterima oleh gadis itu dengan sambaran cepat seolah-olah ia khawatir kalau-kalau itu hanya siasat. Bun Beng menggulung lengan bajunya, dan berkata, “Periksalah! Adakah gambar naga di lengan kananku? Bukankah kata orang, lengan kanan semua anggota Thian-liong-pang dicacah dengan gambar naga kecil?”

“Huh!” Gadis itu mendengus setelah dia melirik juga ke arah kulit yang halus itu sehingga ia terheran mengapa pemuda halus itu dapat memiliki sinkang yang demikian hebat, “Kalau bukan anggota Thian- liong-pang, agaknya engkau seorang yang lebih hina lagi, seorang jai-hwa-cat!”

Bun Beng mengangkat kedua alisnya dan dia memandangi pakaiannya. “Aihhh! Jai-hwa-cat? Adakah tampangku seperti penjahat cabul? Dan pakaianku? Aih, engkau terlalu sekali, Nona. Ataukah engkau hanya main-main?”

“Kalau bukan jai-hwa-cat atau penjahat, mau apa tengah malam buta membuka genteng kamar orang dan mengintai ke dalam?” Gadis itu menyerang dengan kata-kata, sungguh pun dia sendiri mulai ragu-ragu apakah orang muda yang bersikap wajar dan halus ini seorang penjahat.

Bun Beng tertawa. “Salahku… salahku…! Puas kau sekarang?!” Dia menunjuk hidung sendiri. “Inilah upahnya kalau terlalu ingin memperhatikan orang lain! Terus terang saja, Nona, aku tadi sedang tidur nyenyak ketika terganggu… eh, maaf, memang telingaku terlalu perasa, terlalu peka sehingga aku terbangun oleh tangismu. Aku menjadi curiga dan ingin sekali tahu mengapa di tengah malam buta ada wanita menangis. Aku hendak mengintai untuk melihat apa yang terjadi, sama sekali bukan berniat jahat, bolehkah aku mengetahui, mengapa kau menangis? Ahhh, tentu ada hubungannya dengan Thian-liong- pang. Buktinya, engkau menyangka aku orang Thian-liong-pang…”

Bun Bang menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba wanita itu menangis terisak-isak! “Eh, eh, bagaimana ini…? Salahkah omonganku sehlngga menyinggung perasaanmu?”

Gadis itu masih menangis lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bun Beng. Tentu saja Bun Beng menjadi bingung sekali, hendak mengangkat bangun, merasa tidak pantas menyentuh tubuh seorang gadis. “Eh, eh… Nona. Bangkitlah, jangan begitu…!”

“Mohon maaf atas kesalahanku tadi… dan mohon pertolongan Taihiap yang memiliki kepandaian tinggi untuk menyelamatkan Ayahku….”

“Aku bukan seorang taihiap (pendekar besar), Nona. Akan tetapi aku berjanji akan menolong. Ayahmu mengapakah? Harap kau suka berdiri agar enak kita bicara.”

Gadis itu bangkit berdiri sambil mengusap air matanya.

“Nah, ceritakanlah apa yang terjadi,” kata pula Bun Beng. Kini sinar bulan makin terang dan tampak oleh pemuda ini betapa gadis itu amat manis wajahnya, wajah manis yang membayangkan kegagahan yang agak pudar oleh tangis tadi.

“Namaku adalah Ang Siok Bi…”

“Nama yang bagus…” Tiba-tiba Bun Beng melihat sinar mata nona itu memandangnya tajam penuh kecurigaan dan alis yang hitam itu berkerut, maka teringatlah ia betapa tidak tepatnya ucapan yang tiba- tiba saja meluncur dari mulutnya itu karena ia kagum memandang wajah yang manis.

“Eh, maksudku… teruskan ceritamu, Nona Ang…” Sambungnya cepat-cepat dan gugup.

“Ayahku adalah Ang Thian Pa yang lebih dikenal dengan sebutan Ang Lojin, Ketua Bu-tong-pai…”

“Aihh! Kiranya Nona adalah puteri ketua partai besar, maaf kalau aku berlaku kurang hormat….” Bun Beng memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada sambil membungkuk.

Siok Bi, gadis itu, biar pun baru berusia delapan belas tahun, namun dia sudah banyak merantau dan sebagai seorang pendekar wanita yang muda dan cantik, tentu dia banyak mengalami gangguan dan banyak mengenal sikap laki-laki. Maka kini alisnya berkerut ketika ia menyaksikan sikap Bun Beng yang agaknya sama sekali tidak mempedulikan ceritanya, melainkan tertarik dan kagum kepadanya! Tadi telah ia saksikan kelihaian pemuda itu dan timbul harapannya untuk minta pertolongannya, akan tetapi kini melihat sikap Bun Beng, dia mulai ragu-ragu jangan-jangan pemuda ini adalah seorang jai-hwa-cat yang bersikap halus dan sedang mempermainkannya!

“Taihiap, harap berterus terang saja. Engkau ini seorang pendekar yang suka mengulur tangan menolong orang yang sedang tertimpa mala petaka ataukah seorang dari kaum sesat?”

Bun Beng yang tadinya tersenyum dengan hati tertarik memperhatikan gerak-gerik dan terutama sekali gerakan bibir yang membuat wajah itu kelihatan amat manis, menjadi gelagapan mendengar pertanyaan itu. Dia tentu saja tidak sadar akan sikapnya sendiri karena memang tidak dibuat-buat. Selama bertahun- tahun dia berada di dalam kuil mempelajari ilmu, tiap hari hanya bergaul dan bertemu dengan para hwesio. Yang dilihatnya hanyalah muka para hwesio dengan kepala gundul, sama sekali tidak indah dalam pandangannya. Kini, sekali keluar mengembara bertemu dengan wajah begini manis, hati siapa tidak akan terpikat?

“Ang-siocia, ada apakah? Mengapa engkau kelihatan marah kepadaku?”

“Pandang matamu itulah!” Mau tidak mau Siok Bi membuang muka dan kedua pipinya menjadi merah. Betapa pun gagah wataknya sebagai pendekar wanita, namun dia masih seorang gadis remaja sehingga dia pun tidak terbebas dari pada sifat wanita yang ingin dipuji dan dikagumi, apa lagi oleh seorang pemuda setampan dan segagah Bun Beng!

“Pandang mataku? Aihhh… apakah aku tidak boleh memandang? Kenapakah? Engkau aneh sekali, Nona. Baiklah aku akan memejamkan mata. Nah, teruskan ceritamu!” Dan Bun Beng benar-benar memejamkan kedua matanya.

“Ketika ayahku dan aku melakukan perjalanan menuju ke Siang-tan, sampai di dalam hutan di luar kota ini kami berhenti dan beristirahat, yaitu pagi hari tadi.” Gadis itu berhenti bercerita.

Bun Beng yang masih memejamkan mata itu menanti sebentar, lalu sebagai komentar dia hanya bisa mengeluarkan suara, “Hmmm…!” Lalu menanti lagi, akan tetapi lanjutan ceritanya tak kunjung datang.

“Mengapa diam?”

“Agaknya Taihiap tidak menaruh perhatian, perlu apa kulanjutkan? Kalau Taihiap tidak sudi menolong, aku… aku pun tidak mau memaksa.” Suara itu terdengar menjauh dan ketika Bun Beng membuka matanya, nona itu sudah berlari pergi!

Sekali menggerakkan tubuhnya, Bun Beng sudah menyusul dan menghadang di depan Siok Bi. “Eh-eh, bagaimana ini? Kau aneh sekali, Nona! Aku cukup memperhatikan ceritamu dan ingin menolong Ayahmu.”

Diam-diam Siok Bi terkejut dan kagum. Dia hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di depannya! Akan tetapi ia cemberut dan berkata, “Aku bicara kepada orang yang memejamkan mata seolah-olah tidak peduli, mana… enak hatiku?”

Tiba-tiba Bun Beng tertawa saking geli hatinya. Memang pemuda ini memiliki watak periang. Ia menggaruk-garuk belakang telinganya dan berkata, “Wah, benar-benar aku tidak mengerti, Nona! Kalau aku memperhatikan ceritamu dengan membuka mata, pandang mataku mengganggumu. Kalau aku memejamkan mata, kau anggap aku tak peduli, habis bagaimana? Harap kau lanjutkan. Percayalah, aku tidak mempunyai niat hati yang tidak baik terhadapmu! Ayahmu dan engkau pagi tadi beristirahat dalam hutan di luar kota ini. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?”

Kini sinar bulan sepenuhnya menimpa wajah Bun Beng sehingga Siok Bi dapat memandang jelas. Wajah yang tampan dan mulutnya seperti selalu tersenyum. Pada saat itu Bun Beng bicara sungguh-sungguh, tetapi matanya bersinar-sinar gembira dan bibirnya seperti orang tersenyum. Kini mengertilah Siok Bi bahwa memang pemuda ini memiliki mata dan bibir yang seolah-olah selalu gembira dan tersenyum, sehingga tadi ia mengira bahwa mata pemuda itu ‘nakal’ dan bibirnya tersenyum kurang ajar. Maka hatinya pun lega dan ia melanjutkan.

“Selagi kami beristirahat dan makan di bawah pohon, datang rombongan Thian-liong-pang. Ketika mereka mengenal ayah sebagai Ketua Bu-tong-pai, mereka lalu memaksa Ayah ikut dengan mereka untuk menghadap Ketua Thian-liong-pang!”

“Hemmm, sungguh kurang ajar!” Bun Beng membentak dan gadis itu mendapat kenyataan betapa dalam keadaan marah pun pemuda itu seperti orang tersenyum. “Tentu engkau dan Ayahmu menghajar mereka!”

“Itulah yang menyusahkan hatiku, Taihiap. Mereka lihai sekali. Ayah dikeroyok dan dirobohkan, lalu ditangkap dan dimasukkan ke kerangkeng.”

“Apa? Dikerangkeng dan kau diam saja?”

Kalau belum mulai mengenal cara bicara Bun Beng seperti orang main-main, tentu gadis itu sudah marah lagi. “Tentu saja aku melawan mati-matian, akan tetapi mereka amat lihai. Aku roboh tertotok, tak mampu berkutik. Setelah mereka pergi lama sekali, baru aku dapat bergerak. Mengejar sampai sore namun tak berhasil dan akhirnya aku sampai di sini dengan maksud besok akan melanjutkan perjalanan, mengumpulkan semua anggota Bu-tong-pai untuk menyerbu ke Thian-liong-pang membebaskan Ayah. Akan tetapi… ah, akan makan waktu lama, mungkin terlambat… dan aku sangsi apakah aku dapat melawan Thian-liong-pang yang amat kuat itu.”

“Ke mana Ayahmu dibawa lari? Ke jurusan mana?”

“Di luar kota ini di sebelah utara terdapat hutan, dan mereka membawa Ayah terus ke utara…” “Aku akan mengejar mereka!” Bun Beng berkelebat dan pergi dari depan gadis itu.
Siok Bi bingung dan terkejut, mengira bahwa pemuda itu pandai menghilang. Ia berteriak, “Tunggu, Taihiap! Aku belum tahu namamu dan aku ikut…!”

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Bun Beng dari bawah karena pemuda ini memasuki kamar mengambil bungkusan pakaian dan bekalnya. “Jangan ikut, kau tunggu saja di sini, Nona. Namaku Gak Bun Beng!”

Mendengar suara dari dalam kamar di sebelah kamarnya, Siok Bi meloncat ke bawah dan memasuki kamar Bun Beng, akan tetapi pemuda itu sudah tidak ada dan ketika ia melompat lagi ke atas genteng, dia tidak melihat bayangan pemuda itu! Ia menarik napas panjang. “Hebat dia…!”

Kemudian ia pun mengambil pakaian dari kamarnya dan malam itu juga ia meninggalkan penginapan untuk mengejar ke utara. Benar juga pemuda itu, pikirnya. Kalau aku ikut, tentu perjalanannya tidak dapat dilakukan secepat kalau pemuda itu mengejar sendiri. Hatinya menjadi besar dan ia membayangkan wajah tampan yang bibirnya selalu tersenyum dan berseri wajah dan matanya itu. Kekhawatirannya tentang diri ayahnya agak berkurang karena ia percaya bahwa pemuda itu amat lihai dan tentu akan dapat menolong ayahnya. Gak Bun Beng! Dia mengingat-ingat, akan tetapi tidak pernah merasa mendengar nama ini di dunia kang-ouw. Benar kata ayahnya bahwa sekarang banyak bermunculan orang-orang aneh yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa, tentu termasuk pemuda itu.

Bun Beng merasa penasaran dan marah sekali. Kiranya benar seperti berita yang didengarnya. Thian- liong-pang mengacau dunia kang-ouw, secara kurang ajar berani menculik seorang Ketua Bu-tong-pai di siang hari. Benar-benar keterlaluan, seolah-olah di dunia ini sudah tidak ada hukum dan seolah-olah hanya Thian-liong-pang yang paling kuat. Dia harus menentangnya dan menolong Ketua Bu-tong-pai, ayah dari gadis yang amat manis wajahnya itu.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Bun Beng melakukan pengejaran. Dia gunakan ilmu lari cepat Cio- siang-hui yang dipelajarinya dari Ceng Jin Hosiang hingga tubuhnya seperti terbang di atas rumput, seolah- olah tidak menginjak tanah dan tubuhnya lenyap, yang tampak hanya berkelebatnya bayangannya yang meluncur cepat menuju ke utara!

Namun karena ia ketinggalan waktu selama sehari, pada keesokan harinya menjelang senja barulah ia dapat menyusul rombongan orang Thian-liong-pang yang menawan Ketua Bu-tong-pai. Dari jauh ia sudah melihat serombongan orang, sebanyak empat orang mendorong sebuah kereta kecil berbentuk kerangkeng di mana yang tampak hanya sebuah kepala yang bertudung lebar dan kedua tangan yang terbelenggu. Hanya kepala dan kedua tangan yang tampak keluar dari dalam kerangkeng yang terbuat dari pada papan tebal dan beroda dua.

Bun Beng mempercepat larinya, sebentar saja dia telah melewati rombongan empat orang itu, membalikkan tubuh dan menghadang, berdiri dengan tegak dan bertolak pinggang. Melihat sikap pemuda yang datang dengan cepat sekali itu, rombongan itu berhenti dan empat orang itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Juga orang tua bermuka gagah yang berada dalam kerangkeng memandang kepada Bun Beng.

Saat memperhatikan empat orang itu, diam-diam Bun Beng terkejut. Ternyata memang benarlah berita yang ia dengar. Orang-orang Thian-liong-pang amat aneh dan sikap mereka menyeramkan. Empat orang ini saja sudah menunjukkan bahwa mereka tentu orang-orang yang berilmu tinggi, dan sikap mereka itu rata-rata angkuh.

Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang mukanya pucat seolah-olah tidak berdarah, seperti muka mayat yang amat kurus sehingga mukanya itu mirip tengkorak, namun sepasang mata yang sipit itu mengeluarkan sinar tajam, dan di punggungnya tampak tergantung sebatang pedang. Orang kedua masih muda, paling banyak tiga puluh lima tahun usianya, tampan dan gagah, rambutnya terurai di atas kedua pundak dan punggungnya, kepalanya diikat sehelai tali yang mengkilap seperti sutera, alisnya selalu berkerut dan sinar matanya membayangkan keangkuhan dan kekejaman, juga di punggungnya tampak terselip sebatang pedang. Biar pun kedua orang ini tidak banyak bergerak, namun dapat diduga bahwa tentu ilmunya tinggi, dan membuat hati mereka tinggi pula.

Akan tetapi dua orang yang lain benar-benar menimbulkan ngeri kepada Bun Beng. Sukar membedakan kedua orang itu karena baik pakaian, bentuk tubuh dan muka mereka kembar! Dan keduanya pun memegang sepasang senjata gelang yang dipasangi lima duri meruncing dan mengkilap. Berbeda dengan sikap kedua orang yang pendiam dan angkuh itu, dua orang kembar yang tinggi besar ini sikapnya kasar, seperti binatang buas dan merekalah yang langsung meloncat maju menghadapi Bun Beng. Seorang di antara mereka langsung membentak,

“Bocah sinting, siapa kau berani bersikap kurang ajar?”

“Minggir kau sebelum kupatahkan kedua kakimu!” Orang kedua membentak pula.

Bun Beng memperlebar senyumnya dan tetap bertolak pinggang. Sambil melirik ke arah kerangkeng, dia bertanya, “Apakah kalian ini penculik-penculik dari Thian-liong-pang? Dan apakah Locianpwe yang tertawan itu Ang Lojin Ketua Bu-tong-pai?”

“Benar orang muda. Aku adalah Ang Lojin. Hati-hatilah, jangan mencampuri urusan ini. Lebih baik pergilah karena aku sudah merasa kalah dan ingin menghadap Ketua Thian-liong-pang!” Kakek di kerangkeng itu berkata.

“Bocah tak tahu diri! Ketahuilah bahwa kami benar dari Thian-liong-pang. Nah, setelah mendengar nama perkumpulan kami, engkau tidak lekas menggelinding pergi?”

Bun Beng dengan sikap tenang menggerakkan pundaknya, memandang kedua orang kakek kembar yang mukanya bengis mengerikan itu sambil berkata, “Sebenarnya aku mau pergi, akan tetapi sayang, empat orang sahabatku yang berada di sini tidak membolehkan aku pergi sebelum kalian membebaskan Ang Lojin!”

Mendengar ini, empat orang Thian-liong-pang itu cepat memandang ke sekeliling mereka. Mereka terkejut sekali mendengar bahwa pemuda kurang ajar ini mempunyai empat orang sahabat. Kalau empat orang itu hadir di sekitar mereka tanpa mereka ketahui, dapat dibayangkan betapa lihai empat orang itu. Apa lagi setelah mereka memandang ke sekeliling tidak dapat melihat gerak-gerik orang di situ, mereka menjadi makin hati-hati karena hal itu hanya menandakan bahwa empat orang sahabat pemuda ini benar-benar lihai.

“Orang muda, lekas suruh empat orang sahabatmu keluar agar kami dapat bicara dengan mereka!” Seorang di antara kakek kembar berkata, sedangkan tokoh Thian-liong-pang muda sudah menggeser kaki mendekati kerangkeng, dan kakek bermuka tengkorak, sekali menggerakkan kaki tubuhnya sudah melayang ke atas tempat yang agak tinggi, di atas batu-batu. Agaknya si orang muda menjaga kerangkeng itu dan si kakek bermuka tengkorak menjadi penjaga di tempat tinggi.

Sikap mereka yang tenang dan muka yang angkuh itu menimbulkan dugaan di hati Bun Beng bahwa tingkat mereka berdua itulah yang sesungguhnya tinggi, lebih tinggi dari pada tingkat sepasang kakek kembar yang menghadapinya. Hal ini pun menjadi tanda bahwa mereka memandang rendah kepadanya sehingga untuk menghadapinya cukup oleh kedua kakek kembar yang rendah tingkatnya!

Bun Beng tertawa dan berkata, “Mau berkenalan dengan empat orang sahabatku? Awas, mereka lihai sekali, kalau kalian berkenalan dengan mereka, tentu kalian akan mereka robohkan dengan mudah!”

“Tak perlu banyak menggertak!” Bentak kakek kembar kedua, akan tetapi tidak urung dia dan saudara kembarnya diam-diam melirik ke kanan kiri dengan sikap agak gentar. “Lekas suruh mereka keluar!”

“Mereka sudah berada di sini, di depanmu, apakah kalian buta?”

Kini kedua kakek kembar itu terbelalak, dan benar-benar menjadi jeri. Kalau ada empat orang berada di depan mereka tanpa mereka dapat melihatnya, hal itu hanya berarti bahwa empat orang itu bukanlah manusia, melainkan iblis-iblis. Teringatlah mereka akan orang-orang Pulau Neraka, musuh utama mereka yang mereka takuti, akan tetapi pemuda ini kulit mukanya biasa saja, tentu bukan anggota Pulau Neraka. Ah, tentu hanya gertakan saja, akal bulus, akal kanak-kanak untuk menakut-nakuti mereka!

“Bocah, jangan main-main engkau!” Seorang di antara mereka membentak. “Inilah mereka!” Bun Beng melonjorkan kaki tangannya bergantian ke depan.
Muka kedua kakek kembar itu menjadi merah, mata mereka melotot dan karena kepala mereka botak, Bun Beng teringat akan kera-kera baboon yang pernah menjadi kawan-kawannya. Muka kedua orang kakek kembar ini mirip kera-kera itu!

Akan tetapi sebagai anggota-anggota Thian-liong-pang yang banyak pengalaman, menyaksikan sikap pemuda yang berani mempermainkan mereka dan yang amat tenang itu, dua orang kakek kembar tidak mau sembrono. Seorang di antara mereka melangkah maju dan menegur.

“Orang muda, engkau siapakah berani mati mempermainkan kami dari Thian-liong-pang? Apa yang telah kau perbuat ini hanya dapat dicuci dengan darahmu dan ditebus dengan nyawamu. Maka sebelum mampus, mengakulah siapa engkau!”

Bun Beng menggelengkan kepala. “Terlalu enak untuk kalian! Sudah terang kalian yang akan kalah, dan andai kata aku sampai mati pun, biarlah namaku menjadi rahasia dan setan penasaran, rohku akan mengejar-ngejar Thian-liong-pang!”

“Keparat!” Kakek yang berada di depannya sudah menerjang dengan senjatanya yang aneh dan kiranya senjata gelang berduri itu digenggam dengan duri-durinya di depan, digerakkan secara cepat dan kuat sekali menghantam ke arah muka Bun Beng yang masih bertolak pinggang.

“Heeitt! Memang orang-orang Thian-liong-pang berhati kejam,” kata Bun Beng. Dengan mudah ia mengelak ke kanan dan biar pun matanya melirik ke arah orang di depannya sambil tersenyum mengejek, namun telinganya dicurahkan untuk mengikuti gerakan kakek kedua yang telah melompat ke belakangnya.

Ketua Bu-tong-pai yang sudah merasai kelihaian orang-orang itu menjadi gelisah sekali. Ia berterima kasih dan kagum akan munculnya pemuda tak tekenal yang jelas hendak menolongnya itu, akan tetapi ia merasa yakin bahwa pemuda itu tentu akan celaka. Pemuda itu akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia saja dan hal inilah yang menggelisahkan hatinya, sama sekali bukan dia tidak mempunyai harapan tertolong.

Sudah banyak tokoh kang-ouw yang ditawan secara paksa oleh orang-orang Thian-liong-pang untuk dihadapkan Ketua mereka. Belum pernah ada tokoh yang dibunuh, maka dia tidak merasa khawatir akan keselamatan dirinya sungguh pun ada hal yang lebih hebat lagi dalam peristiwa ini, lebih hebat dan penting dari pada keselamatan dirinya, yaitu keselamatan nama besar Bu-tong-pai yang terancam dan dihina! Kini pemuda yang hendak menolong dirinya itu terlalu sembrono dan berani mati mempermainkan orang-orang Thian-liong-pang, maka dia tidak akan merasa heran kalau nanti melihat pemuda itu roboh dan tewas di depan matanya.

“Orang muda, awas senjata itu beracun dan berbahaya! Larilah!” teriaknya ketika melihat betapa pemuda itu diserang dari depan dan belakang dengan dahsyat.

“Jangan khawatir, Locianpwe. Dua ekor kera ini hanya pandai menakut-nakuti anak kecil saja!” Jawab Bun Beng sambil menggunakan ginkang-nya untuk melesat ke sana ke mari mengelak sambil tersenyum. Dia sudah melihat bahwa biar pun ilmu silat kedua kakek itu aneh sekali, gerakannya cepat dan bertenaga, namun tidak terlalu cepat dan kuat baginya dan dia yakin akan dapat mengatasi mereka dengan mudah walau pun dia bertangan kosong.

Ketua Bu-tong-pai menjadi bengong. Sungguh kagum dia karena pemuda itu benar-benar bukan hanya pandai mempermainkan orang, melainkan juga memiliki gerakan yang amat kuat dan cepat, dua kakinya dapat melangkah dengan baik sekali sehingga semua serangan kedua orang itu selalu mengenai angin kosong.

“Wutttttt! Wah, galak amat!”

Bun Beng miringkan kepala untuk menghindarkan hantaman gelang berduri dari arah belakang, berbareng ia mengirim tendangan ke depan mengarah sambungan lutut lawan di depan, jari tangannya menyentil senjata yang melayang di depan hidungnya, menggunakan jari telunjuk menyentil ke arah sebuah di antara lima dari duri-duri gelang sambil mengerahkan sinkang sekuatnya.

“Cringgg!” Dan kakek itu memekik kaget.

Ternyata duri yang disentil jari itu telah patah dan telapak tangannya terasa panas dan perih sekali. Hampir ia melepaskan sebuah gelangnya dan ia melompat ke belakang. Juga kakek di depan Bun Beng yang diserang tendangan tadi cepat melompat ke belakang. Mereka menjadi marah dan penasaran. Kakek yang di belakangnya lalu mengeluarkan gerengan marah, tangan kirinya bergerak dan gelang berduri yang kehilangan sebuah durinya itu tiba-tiba meluncur ke arah Bun Beng, berputaran dan mengeluarkan suara bercuitan.

“Bagus…!” Bun Beng diam-diam kagum juga.

Kiranya senjata ini bukan hanya digunakan untuk menyerang dengan dipegangi, tetapi juga dapat menjadi senjata rahasia yang dilontarkan. Dia mengelak dan lebih kagum lagi hatinya melihat betapa gelang yang berputaran menyambar kepalanya itu setelah luput dari sasarannya, kini dapat membalik dan kembali ke tangan pemiliknya!

Dia cepat membalik dan pada saat kakek itu menerima kembali senjatanya, Bun Beng sudah memukul dengan telapak tangannya, pukulan jarak jauh dengan pengerahan sinkang-nya.

“Wuuutttttt!” Angin pukulan yang kuat membuat kakek itu terhuyung-huyung mundur. Akan tetapi kakek kedua yang kini berada di belakang Bun Beng sudah melontarkan gelang kanan ke arah punggung pemuda itu.

“Awasss…!” Ketua Bu-tong-pai berteriak kaget.

Namun tanpa memutar tubuhnya, Bun Beng mengulur tangan dan berhasil menangkap senjata itu, seolah- olah di belakang tubuhnya terdapat mata ketiga!

“Senjata yang buruk!” Bun Beng kini memutar senjata itu dengan gerakan yang mahir seolah-olah sejak kecil dia memang sudah biasa menggunakan senjata itu! Tentu saja bukan demikian kenyataannya. Hanya karena dia telah digembleng oleh Ketua Siauw-lim-pai dan telah mempelajari delapan belas macam senjata, dan pernah pula diajar cara mempergunakan senjata gelang yang jarang dipakai di dunia kang- ouw, maka dia tidak asing dengan senjata ini, pula karena memang bakat yang dimiliki pemuda itu luar biasa sekali.

“Trang-cring-trangg…!” tiga kali gelang berduri di tangan kedua orang kakek itu bertemu dan gelang kiri kakek yang di belakangnya patah menjadi tiga bertemu dengan gelang di tangan Bun Beng.

“Heh-heh-heh, sekarang kita masing-masing mempunyai sebuah gelang, jadi adil namanya, seorang satu! Masih mau dilanjutkan?” Dia menantang dan mengejek.

“Tahan dulu!”

Tiba-tiba kakek tua yang bermuka tengkorak melayang datang dan gerakannya membuat Bun Beng bersikap hati-hati karena melihat cara meloncatnya saja tingkat kepandaian kakek muka tengkorak ini sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan sepasang kakek kembar yang kasar.

Akan tetapi dasar watak Bun Beng suka main-main, dia menyambut kakek itu dengan tertawa, “Apakah engkau mau mengeroyok pula? Marilah, biar lebih ramai!”

Kakek muka tengkorak itu tidak marah, hanya tetap tenang dan dingin ketika berkata, “Thian-liong-pang tidak pernah memusuhi Siauw-lim-pai, apakah kini Siauw-lim-pai mendahului langkah mengumumkan perang terhadap Thian-liong-pang?”

Mendengar ini Bun Beng terkejut. Ah, kiranya kakek ini demikian tajam pandang matanya sehingga mengenal bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai. Juga kakek Ketua Bu-tong-pai terkejut dan cepat berkata,

“Orang muda yang gagah. Jika engkau seorang murid Siuw-lim-pai, harap menyingkir. Aku tidak mau membawa-bawa Siauw-lim-pai terlibat dalam urusan ini.”

Bun Beng merasa penasaran. Dia sendiri sudah dipesan oleh gurunya agar jangan melibatkan Siauw-lim- pai dengan permusuhan. Akan tetapi haruskah ia mundur dan membiarkan Kakek Bu-tong-pai itu tertawan dan yang terutama sekali, haruskah dia mengecewakan Siok Bi yang berwajah manis itu? Membayangkan betapa sinar mata yang indah itu menjadi kecewa, murung dan bahkan mungkin menangis lagi, dia tidak tahan dan tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, siapa membawa-bawa Siauw-lim-pai? Ilmu silat di dunia ini tidak terhitung banyaknya, akan tetapi sumbernya hanya satu, yaitu mendasar segala gerakan pada pembelaan diri dan penyerangan. Kalau ada gerakan yang mirip dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, apa anehnya?”

Akan tetapi kakek bermuka tengkorak itu tidak puas. “Orang muda, apakah engkau hendak menyangkal bahwa engkau adalah murid Siauw-lim-pai?”

“Aku tidak menyangkal apa-apa.”

“Kalau begitu mengakulah, engkau murid partai mana?”

“Aku pun tidak mengaku apa-apa. Guruku banyak sekali, tak terhitung banyaknya sehingga aku lupa satu- satunya. Akan tetapi lihat, apakah ini ilmu silat Siauw-lim-pai?” Setelah berkata demikian, Bun Beng menggerakkan gelang berduri di tangannya, sekali memutar lengan dia telah menyerang dua orang kakek kembar sekaligus.

“Trang-cringgg…!” Dua kakek kembar itu menangkis kaget dan… kedua senjata mereka patah-patah.

“Ahhh… ini adalah jurus ilmu silat kami…!” Kakek kembar berseru dan cepat menerjang marah dengan gelang mereka yang tinggal sepotong di tangan.

Bun Beng tersenyum dan menghadapi mereka dengan gerakan-gerakan aneh seperti yang dilakukan dua orang kakek itu. Benarkah bahwa Bun Beng pernah mempelajari ilmu silat gelang berduri dua orang kakek kembar itu? Tentu saja tidak. Melihat pun baru sekali itu. Akan tetapi Bun Beng memiliki daya ingatan yang kuat sekali sehingga sekali melihat dia sudah mengerti dan dapat mengingat serta menirunya! Dia tadi ketika menghadapi pengeroyokan kedua orang kakek yang tingkatnya masih jauh lebih rendah darinya, mendapat banyak kesempatan untuk memperhatikan gerakan mereka sehingga kini ia dapat menirunya dengan baik, sungguh pun tentu saja hanya kelihatannya saja sama, padahal dasar yang menjadi landasan jurus-jurus itu lain sama sekali!

Kalau dua orang kakek kembar menjadi terkejut dan marah karena pemuda itu selain merampas senjata mereka, juga memukul mereka dengan ilmu mereka sendiri, adalah kakek muka tengkorak menjadi heran sekali. Kalau murid Siauw-lim-pai, yang rata-rata angkuh dan mengandalkan ilmu sendiri, tidak mungkin mau melakukan jurus-jurus ilmu silat dua orang kakek kembar itu. Dia pun mendapat kenyataan bahwa kakek kembar bukan lawan pemuda ini, maka dia lalu memberi tanda dengan mata kepada kawan- kawannya.

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan dan tubuh tokoh Thian-liong-pang muda itu sudah menyambar. Dengan didahului sinar hijau pedangnya, bagaikan bintang jatuh sinar ini menyerbu ke arah Bun Beng.

“Bagus!” Bun Beng memuji, benar-benar memuji karena gerakan orang yang tampan itu tangkas sekali. Namun dengan mudah ia dapat mengelak.

Kakek muka tengkorak juga menggerakkan pedangnya yang bersinar kuning sehingga dalam sekejap mata Bun Beng sudah harus melesat ke sana-sini menghindarkan dirinya ditembus dua sinar pedang yang amat dahsyat. Dia masih sempat memperhatikan dengan hati cemas ketika melihat bahwa kakek kembar sudah meninggalkannya dan mendorong pergi kerangkeng di mana Ketua Bu-tong-pai tertawan.

“Berhenti!” Bun Beng berteriak dan gelang berduri di tangannya meluncur cepat, berputaran mengeluarkan suara berdesing menyambar ke arah kerangkeng.

“Krakkkk!” Roda itu patah sehingga kerangkeng tak dapat didorong lagi.

Namun dua orang kakek kembar itu tidak kehilangan akal. Mereka lalu mengangkat kerangkeng, menggotongnya dan berlari pergi secepatnya. Bun Beng tidak dapat mengejar karena dia didesak oleh dua sinar pedang yang amat cepat dan berbahaya sehingga dia harus mencurahkan perhatiannya untuk melawan dua orang pengeroyok baru yang lihai ini.

Dua orang itu menjadi heran dan kagum bukan main. Mereka telah mengerahkan kepandaiannya, dengan pedangnya mengeroyok pemuda yang bertangan kosong ini. Namun tetap saja pemuda itu tidak dapat didesak karena selalu dapat mengelak cepat, bahkan balas menyerang mereka dengan pukulan-pukulan ampuh. Mereka makin memperketat pengepungan dan mempercepat serangan dengan niat agar pemuda itu mengeluarkan ilmu silat Siauw-lim-pai.

Namun Bun Beng tidak mau dipancing dan tiba-tiba ia berseru keras, tubuhnya berkelebatan di antara sinar-sinar itu dan ia menyerang dengan ilmu silat yang ganasnya seperti ilmu setan! Dua orang itu terdesak mundur dan makin terheran. Pemuda ini memiliki ilmu silat yang aneh, pikir mereka. Biar pun agak ‘berbau’ dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, namun jelas bukan ilmu silat Siauw-lim-pai karena melihat keganasannya lebih mirip ilmu silat golongan sesat! Tentu dia seorang tokoh yang amat lihai dan tinggi kedudukannya, pikir mereka.

Memang Bun Beng telah mempergunakan jurus-jurus ilmu silat dari Sam-po-cin-keng yang bernama Kong- jiu-jib-tin (Dengan Tangan Kosong Menyerbu Barisan) sehingga kedua orang itu tentu saja tidak mengenal ilmu ciptaan pendiri Beng-kauw ini!

Dua orang itu memberi isyarat lalu Si Kakek berkata. “Kami tidak ingin bermusuhan dengan Siauw-lim-pai!” Setelah berkata demikian, mereka melesat jauh dan lari pergi.

Bun Beng penasaran. Dia tidak bernafsu untuk mengalahkan dua orang itu, apa lagi membunuhnya, akan tetapi dia harus menolong Ketua Bu-tong-pai. Maka dia pun lalu melompat dan mengejar, akan tetapi sengaja tidak menyusul mereka, hanya membayangi dari jauh. Agaknya kedua orang itu juga sengaja memancing Bun Beng karena mereka itu berlari tidak secepat yang mereka dapat lakukan. Hal ini pertama untuk memberi kesempatan kepada kakek kembar untuk lebih dulu sampai ke sarang mereka, kedua kalinya karena memancing pemuda lihai itu yang tentu akan menarik perhatian Ketua mereka!

Bun Beng bukan orang bodoh. Dia cerdik sekali dan dapat memperhitungkan keadaan, maka dia pun dapat menduga bahwa tentu dua orang itu sengaja memancingnya. Namun dia tidak takut. Malah kebetulan, pikirnya. Aku tidak perlu susah payah mencari sarang mereka. Akan kutemui Ketua mereka, kupaksa agar membebaskan Ang Lojin dan lain-lain tawanan, dan kalau ada, dan memaksanya berjanji agar menghentikan perbuatan-perbuatan menculik orang-orang penting itu.

Sebetulnya apakah yang terjadi dengan Thian-liong-pang sehingga kini perkumpulan besar itu melakukan perbuatan aneh itu, menculiki tokoh-tokoh kang-ouw dan ketua partai persilatan? Sesungguhnya, tidaklah terjadi perubahan di Thian-liong-pang. Ketuanya masih tetap Si Wanita berkerudung yang makin lama makin hebat ilmu kepandaiannya itu. Seperti kita ketahui, wanita berkerudung yang aneh dan penuh rahasia ini, yang mukanya tidak pernah kelihatan oleh siapa pun juga, bahkan para pembantunya yang bertingkat paling tinggi pun tidak ada yang pernah melihatnya, bukan lain adalah Nirahai, puteri Kaisar Kang Hsi sendiri yang terlahir dari selir berdarah Khitan campuran Mongol!

Ketika ia dijodohkan oleh kedua orang nenek sakti yang menjadi gurunya dan bibi gurunya, yaitu Nenek Maya dan Khu Siauw Bwee, menjadi isteri Suma Han, hatinya girang bukan main. Diam-diam ia telah jatuh cinta kepada Pendekar Super Sakti yang berkaki tunggal itu. Namun betapa kecewanya ketika ia mendapat kenyataan bahwa suami yang dicintainya itu tidak menyetujui cita-citanya pergi ke Mongol sehingga mereka berpisah dengan hati hancur (baca cerita Pendekar Super Sakti).

Dengan rasa hati berat karena sesungguhnya wanita ini amat mencinta suaminya, Nirahai berangkat ke Mongol. Terlambat ia mengetahui bahwa ia telah mengandung! Ingin ia kembali ke selatan mencari suaminya untuk memberi tahu hal ini, namun keangkuhannya sebagai bekas puteri kaisar mencegahnya. Dia amat mencinta Suma Han, bahkan telah berkorban dengan kehilangan haknya sebagai puteri kaisar. Dia telah kecewa karena setelah berjuang untuk kerajaan ayahnya, akhirnya dia menjadi seorang buruan! Pukulan batin kedua yang lebih kecewa lagi bahwa suami yang dibelanya itu ternyata tidak ikut bersama dia! Namun masih timbul harapan di hatinya bahwa cinta kasih dalam hati Suma Han akan membuat suaminya itu kelak menyusulnya ke Mongol.

Namun harapannya ini buyar. Sampai dia melahirkan anak perempuan, sampai bertahun-tahun ia menanti dan tinggal di istana Kerajaan Mongol, tetap saja tidak ada kabar berita dari suaminya! Betapa pun juga, wanita yang keras hati ini tetap tidak mau pergi mencari suaminya. Kalau memang suaminya tidak mencintainya, dengan bukti tidak pernah menyusulnya, biarlah dia akan memperlihatkan bahwa dia tidak kalah keras hati! Maka dia lalu meninggalkan puterinya kepada Pangeran Jenghan yaitu keponakan yang berkekuasaan besar dari Pangeran Galdan, dan dia sendiri merantau ke selatan. Karena dia mendengar bahwa suaminya telah menjadi Majikan Pulau Es, maka dia lalu membuat perkumpulan yang kelak dapat ia pergunakan untuk menandingi nama besar Pulau Es, dan dipilihlah Perkumpulan Thian-liong-pang.

Puteri Nirahai memiliki watak dan sifat yang gagah perkasa, angkuh dan tidak pernah mau kalah, di samping kecantikannya yang luar biasa dan ilmu kepandaiannya yang amat tinggi. Mati-matian ia membela Suma Han yang dicintainya, bahkan ia telah mengorbankan nama, kedudukan dan kehormatannya untuk pendekar kaki tunggal yang dikaguminya itu. Sebesar itu cintanya, sebesar itu pula sakit hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa suaminya itu tidak mempedulikannya, tidak menyusulnya, bahkan tak pernah mencarinya sampai dia melahirkan seorang puteri! Rasa sakit hati membuat Nirahai ingin memperlihatkan bahwa dalam hal kepandaian dan kebesaran, dia tidak mau kalah oleh suaminya! Pergilah wanita sakti ini meninggalkan Mongol, merantau ke selatan dan ia menjatuhkan pilihannya kepada Perkumpulan Thian- liong-pang!

Perkumpulan Thian-liong-pang adalah sebuah perkumpulan besar yang pernah mengalami jatuh bangun seperti juga perkumpulan-perkumpulan lain dan merupakan sebuah perkumpulan yang cukup tua usianya. Usianya sudah lebih dari seratus tahun dan pendirinya dahulu adalah seorang kakek yang berjuluk Sin Seng Losu (Kakek Bintang Sakti) yang berilmu tinggi karena dia adalah murid keponakan dari Siauw-bin Lo-mo, seorang di antara datuk kaum sesat yang amat sakti.

Ketika perkumpulan ini terjatuh ke tangan menantu Sin Seng Losu yang bernama Siangkoan Bu, perkumpulan itu kembali ke jalan lurus dan tergolong perkumpulan bersih yang mengutamakan kegagahan dan berjiwa pendekar. Akan tetapi, setelah Siangkoan Bu tewas dan perkumpulan itu dipimpin oleh murid Sin Seng Losu yang bernama Ma Kiu berjuluk Thai-lek-kwi dan dibantu oleh sebelas orang sute-nya, maka kembali Thian-liong-pang menjadi sebuah partai persilatan yang amat ditakuti karena tidak segan melakukan kejahatan mengandalkan kekuasaan mereka. Terutama sekali Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) amat terkenal. Mereka adalah Ma Kiu dan sute-sute-nya yang merajalela di dunia kang-ouw.

Dalam keadaan seperti itu muncullah Siangkoan Li, putera mendiang Siangkoan Bu atau cucu dari Sin Seng Losu yang dengan bantuan Mutiara Hitam menentang para paman gurunya (baca cerita Mutiara Hitam). Siangkoan Li ini lihai bukan main karena dia telah diterima menjadi murid dua orang kakek sakti yang setengah gila, yang berjuluk Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Hanya sayang sekali, Siangkoan Li yang tadinya merupakan seorang pemuda tampan yang gagah perkasa, bahkan menjadi sahabat baik Mutiara Hitam dan jatuh cinta kepada pendekar wanita perkasa itu, tidak hanya mewarisi kesaktian kedua orang gurunya, akan tetapi juga mewarisi keganasan dan kegilaannya!

Siangkoan Li mengamuk dan berhasil merampas Thian-liong-pang di mana dia menjadi ketuanya dan semenjak itu Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang penuh rahasia. Perkumpulan ini tidak pernah menonjol di dunia kang-ouw, akan tetapi tidak ada yang berani lancang tangan mencari perkara dengan orang-orang Thian-liong-pang yang hidupnya aneh dan penuh rahasia. Ilmu silat para anggota Thian-liong- pang rata-rata amat tinggi dan dasar ilmu kepandaian mereka bersumber ilmu-ilmu yang aneh dan luar biasa dari Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, atau lebih tepat dari Siangkoan Li yang menyebarkan kepandaian itu kepada para anak buah dan murid-muridnya.

Setelah Siangkoan Li meninggal dunia dalam keadaan menderita batin karena cintanya yang gagal terhadap Mutiara Hitam dan selamanya tidak mau menikah, dalam puluhan tahun terjadilah pergantian ketua baru beberapa kali dan mulailah terjadi kekacauan di dalam perkumpulan ini karena perebutan kursi ketua! Dan semenjak itu, selalu ada ketegangan di antara para murid-murid kepala atau dewan pimpinan mereka yang selalu berusaha memperkuat diri untuk merampas kedudukan ketua.

Keadaan ini menimbulkan peraturan baru yang dipegang teguh oleh mereka, yaitu setiap tahun diadakan pemilihan ketua baru dengan jalan pibu, mengadu kepandaian dan siapa yang paling pandai di antara mereka, tidak peduli wanita atau pria, tidak peduli saudara tua atau saudara muda dalam perguruan, dia yang berhak menjadi ketua sampai lain tahun diadakan pibu lagi di mana dia harus mempertahankan kedudukannya dengan taruhan nyawa! Ya, dalam pibu antara orang-orang liar ini sering kali terjadi pembunuhan. Mereka tidak segan saling membunuh di antara saudara sendiri untuk memperebutkan kursi ketua yang amat mereka rindukan karena kursi itu berarti kemuliaan, kemewahan, kehormatan dan nama besar!

Ketika Nirahai mendatangi perkumpulan yang hendak dipilihnya sebagai syarat untuk menandingi kebesaran Pulau Es yang dipimpin oleh Suma Han, suaminya yang dianggapnya menyia-nyiakan dan menyakitkan hatinya itu tepat terjadi di waktu Thian-liong-pang sedang mengadakan pibu tahunan yang selalu terjadi di ruangan belakang gedung perkumpulan yang amat luas dan terkurung pagar tembok yang tinggi dan atasnya dipasangi tombak-tombak runcing sehingga orang yang berkepandaian tinggi sekali pun jarang ada yang dapat melompat pagar tembok itu. Seperti biasa, pibu diadakan di pekarangan luas yang dikurung oleh anak buah Thian-liong-pang yang menonton dengan penuh perhatian, ketegangan dan juga kegembiraan karena mereka itu tentu saja mempunyai pilihan calon ketua masing-masing sehingga keadaan hampir sama dengan orang-orang yang menonton adu jago. Bahkan di antara anak buah itu ada yang bertaruh, bukan hanya bertaruh uang dan barang berharga, bahkan ada yang mempertaruhkan isterinya!

Pada waktu itu, Thian-liong-pang yang tidak hanya berganti-ganti ketua akan tetapi juga berpindah-pindah tempat itu berpusat di kota kecil Cin-bun yang letaknya di lembah Sungai Huang-ho, di sebelah utara kota Cin-bun di Propinsi Shantung. Para penduduk Cin-bun mendengar akan pemilihan ketua, akan tetapi tidak ada yang berani mencampuri, bahkan mendekati kelompok bangunan besar yang dilingkungi pagar tembok bertombak itu pun merupakan hal yang berbahaya bagi mereka.

Para pembesar pemerintah Mancu pun tak ada yang berani mencampuri, dan mereka ini sudah menerima perintah dari atasan bahwa pemerintah tidak ingin menciptakan permusuhan dengan perkumpulan yang kuat ini, maka pemerintah daerah yang mengawasi gerak-gerik mereka dan selama perkumpulan itu tidak melakukan perbuatan yang menentang pemerintah, pemerintah pun lebih suka untuk berbaik dengan mereka. Menentang pun berarti tentu akan menimbulkan pemberontakan baru dan pemerintah tidak menghendaki hal ini karena setiap pemberontakan merupakan bahaya besar, dapat merupakan api yang membakar semangat perlawanan rakyat yang dijajah.

Pada waktu itu, Thian-liong-pang mempunyai anak buah yang jumlahnya dua ratus orang lebih, sebagian besar tinggal di Cin-bun, akan tetapi ada pula yang tinggal di dusun-dusun sekitar Propinsi Shantung dan membuka cabang-cabang Thian-liong-pang. Akan tetapi pada waktu itu semua pimpinan cabang berkumpul pula di pusat untuk menyaksikan pemilihan ketua baru melalui pibu, bahkan di antara mereka ada yang ingin melihat-lihat barangkali tingkat kepandaian mereka sudah cukup untuk dicoba mengadu untung ikut dalam pibu.

Dua ratus orang lebih anggota Thian-liong-pang sudah berkumpul dan suasana menjadi riang gembira karena para anggota itu sibuk saling bertaruh memilih jago masing-masing. Para pimpinan rendahan yang mendapat tempat di bangku rendah yang berjajar di depan anak buah itu hanya mendengarkan tingkah anak buah mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka ini tentu saja tidak berani bertaruh seperti yang dilakukan anak buah mereka, hanya diam-diam mereka pun mempunyai pilihan masing-masing karena tingkat kepandaian mereka sendiri masih merasa terlalu rendah untuk coba-coba berpibu yang berarti mempertaruhkan nyawa.

Ada pun pimpinan yang tingkatnya tinggi sudah pula berkumpul di atas kursi-kursi di tingkat atas ruangan yang dipisahkan dari pekarangan tempat pibu itu oleh lima buah anak tangga di mana ditaruh kursi gading untuk Sang Ketua, diapit-apit beberapa buah kursi untuk para pimpinan yang tinggi tingkatnya dan mereka inilah yang menjadi calon-calon penantang ketua lama.

Pada waktu itu tampak lima orang pemimpin tinggi yang telah duduk dengan tubuh tegak dan sikap angkuh, sinar mata mereka berseri seolah-olah mereka itu masing-masing telah merasa yakin akan memperoleh kemenangan dalam pibu yang hendak diadakan. Kursi gading untuk Ketua masih kosong karena Ketuanya belum keluar, sedangkan seperangkat alat tetabuhan yang dipukul perlahan menyemarakkan suasana seperti dalam pesta.

Orang pertama dari para pimpinan tinggi adalah seorang kakek yang menyeramkan. Mukanya seperti muka singa karena rambut di kedua pelipisnya disambung dengan jenggot yang melingkari wajahnya, kumisnya juga tipis seperti kumis singa. Tubuhnya kekar penuh membayangkan tenaga yang amat kuat biar pun kakek ini usianya sudah mendekati enam puluh tahun. Rambut dan cambang bauknya sudah berwarna putih, namun warna ini menambah keangkerannya karena membuat mukanya lebih mirip muka singa. Sepasang matanya yang lebar menyinarkan cahaya kilat menyeramkan, namun sikapnya pendiam, pakaiannya sederhana dan dia duduk seperti seekor singa kekenyangan yang mengantuk!

Kakek ini sebenarnya merupakan saudara seperguruan tertua dan bahkan menjadi suheng dari Ketua yang sekarang, namun karena dia seorang berjiwa perantau dan petualang, maka dia tidak mempunyai nafsu untuk merebut kedudukan ketua, sungguh pun dalam hal kepandaian, masih sukar ditentukan siapa yang lebih unggul antara dia dan Sang Ketua. Kakek ini sudah tidak dikenal lagi nama aslinya, lebih dikenal julukannya yang menyeramkan, yaitu Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Ber-muka Singa)!

Orang kedua juga seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih, kepalanya gundul akan tetapi dia bukanlah seorang hwesio karena dia berjenggot dan berkumis dan pakaiannya seperti seorang pelajar, bersikap halus namun matanya liar seperti mata orang yang tidak waras pikirannya. Kelihatannya kakek gundul ini lemah, duduk memegangi lengan kursi dan kadang-kadang kedua tangannya bergerak menggigil seperti orang buyuten, kepalanya bergerak-gerak sendiri tanpa disadari mengangguk-angguk dan mulutnya kadang-kadang tersenyum geli seolah-olah ada setan tak tampak membadut di depannya. Namun jangan dianggap remeh kakek ini karena dia pun merupakan suheng dari Sang Ketua, dan sute dari Sai-cu Lo-mo. Namanya Chie Kang dan julukannya tidak kalah menyeramkan dari suheng-nya karena di dunia kang-ouw dia dikenal sebagai Lui-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Angin dan Kilat)!

Orang ketiga adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar, wajahnya merah seperti orang sakit darah tinggi, matanya melotot jarang berkedip, hidungnya besar merah tanda sifat gila perempuan, pakaiannya seperti seorang jago silat dan di punggungnya tampak gagang sebatang golok besar. Inilah Twa-to Sin-seng (Bintang Sakti Golok Besar) Ma Chun yang amat disegani dan ditakuti karena wataknya yang kasar, terbuka, dan kurang ajar terhadap wanita tanpa tedeng aling-aling lagi!

Orang ke empat adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, wajahya tampan sekali, bahkan begitu halus gerak-geriknya, begitu merah bibirnya dan begitu tajam memikat kerling matanya sehingga dia lebih mirip seorang wanita! Sepasang pedang tergantung di pinggangnya, pakaiannya biru, dari bahan sutera halus dan laki-laki tampan ini termasuk seorang yang pesolek. Sayangnya, sinar matanya yang bagus itu mengandung kekejaman dan juga kesombongan yang memandang rendah semua orang! Dia ini pun bukan orang biasa dan merupakan salah seorang di antara para pemimpin tinggi yang telah membuat nama Thian-liong-pang menjadi nama besar dan tenar.

Pedangnya amat ditakuti orang dan dia dijuluki Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Arwah), namanya Liauw It Ban. Kalau suheng-nya, Ma Chun, terkenal sebagai seorang laki-laki gila perempuan dan suka mempermainkan wanita, Liauw It Ban ini lebih hebat lagi karena dia seorang mata keranjang yang berwatak sadis, senang sekali menyiksa wanita yang menjadi korbannya! Betapa pun juga, dia dan suheng-nya tidak pernah mengumbar hawa nafsu iblis itu di daerah sendiri karena mereka tunduk akan perintah ketua mereka agar tidak mengotorkan nama Thian-liong-pang di daerah sendiri sehingga tidak mendapat kesan buruk terhadap pemerintah. Karena itu namanya lebih tersohor di daerah lain di luar propinsi.

Orang ke lima akan mendatangkan rasa heran bagi orang luar Thian-liong-pang karena dia paling tidak patut menjadi anggota dewan pimpinan perkumpulan besar itu. Dia adalah seorang wanita yang masih muda, kurang lebih dua puluh tujuh tahun usianya, cantik manis dengan pakaian sederhana namun tidak dapat menyembunyikan lekuk lengkung tubuhnya yang sudah matang. Wanita ini merupakan saudara seperguruan termuda, namun dia memiliki ilmu kepandaian di luar ilmu keturunan para Pimpinan Thian- liong-pang karena dia telah menerima ilmu-ilmu dari mendiang suaminya, seorang murid dari Bu-tong-pai yang lihai.

Suaminya tewas setahun yang lalu ketika berusaha memasuki pibu memperebutkan kedudukan ketua sehingga wanita ini yang bernama Tang Wi Siang, adalah seorang janda kembang yang harum dan membuat banyak pria tertarik dan ingin sekali memetiknya. Terutama sekali kedua orang suheng-nya sendiri, Ma Chun dan Liauw It Ban yang pada waktu itu pun sering kali melayangkan sinar mata ke arahnya. Bahkan beberapa kali Ma Chun menelan ludah kalau pandang matanya menyapu tubuh sumoi- nya yang penuh gairah. Liauw It Ban juga memandang dengan sinar mata penuh gairah, akan tetapi ia tersenyum-senyum dan memasang aksi setampan mungkin untuk menundukkan hati sumoi-nya yang sudah menjadi janda itu.

Tetapi Tang Wi Siang duduk dengan tenang, sikapnya dingin sekali, seperti sebongkah es membeku. Tapi di luar tahu lain orang, diam-diam ia menyapukan pandang matanya yang tajam itu ke arah Liauw It Ban, suheng-nya yang tampan. Dulu sebelum suaminya tewas, dia tidak mempedulikan suheng-nya yang tampan ini, bahkan sebelum menikah, ia tidak pernah melayani rayuan suheng-nya. Akan tetapi sekarang, setelah setahun lamanya dia menjanda, setelah merasa tersiksa hatinya karena kehilangan rayuan dan cinta kasih seorang pria yang pernah dinikmatinya hanya beberapa tahun lamanya, diam-diam sering jantungnya berdebar kalau membayangkan suheng-nya yang tampan itu menggantikan mendiang suaminya!

Lima orang inilah, bersama Sang Ketua sendiri, yang menjadi tokoh-tokoh utama dari Thian-liong-pang dan memang mereka berenam memiliki kepandaian yang tinggi, memiliki keistimewaan masing-masing sehingga sukar untuk dikatakan siapa di antara mereka yang paling lihai. Dan sekarang sudah dapat dibayangkan bahwa dalam pibu perebutan kedudukan ketua, lima orang inilah yang akan berani maju untuk berpibu melawan Sang Ketua, karena selain mereka, siapa lagi yang akan berani maju?

Tiba-tiba tetabuhan dipukul keras dan terdengar aba-aba dari komandan upacara, yaitu seorang pemimpin rendahan yang memberi tahu akan munculnya Sang Ketua. Semua anggota Thian-liong-pang serentak bangkit memberi hormat, dan lima orang itulah yang berdiri dengan tenang dan biasa menyambut munculnya Si Ketua yang ditunggu-tunggu sejak tadi. Orang takkan merasa heran setelah melihat munculnya Ketua Thian-liong-pang karena memang patutlah orang ini menjadi ketua. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa sehingga Ma Chun yang tinggi besar itu hanya setinggi pundaknya!

Ketua Thian-liong-pang ini tingginya seimbang dengan besar tubuhnya. Langkahnya lebar dan berat seperti langkah seekor gajah, lantai sampai tergetar dibuatnya. Pakaiannya mentereng akan tetapi ketat dan membayangkan tonjolan otot-otot yang besar. Kedua lengannya sampai ke jari tangannya penuh bulu hitam kasar, kepalanya yang besar juga berambut hitam kasar seperti kawat-kawat baja. Alisnya tebal hampir persegi, matanya bulat dengan manik mata hitam amat kecil sehingga kelihatannya mata itu putih semua, hidungnya kecil akan tetapi mulutnya besar seperti terobek kedua ujungnya. Jenggot dan kumisnya dipotong pendek, kaku seperti sikat kawat! Kulitnya yang kelihatannya tebal seperti kulit badak itu berkerut- kerut, agak hitam mengingatkan orang akan kulit buaya yang tebal, keras, dan lebat!

Inilah dia Phang Kok Sek, Ketua Thian-liong-pang yang telah mewarisi Hwi-tok-ciang (Tangan Racun Api) dari leluhur Thian-liong-pang, yaitu Lam-kek Sian-ong! Tahun yang lalu, dalam pibu dia telah menewaskan ketua lama yang menjadi paman gurunya sendiri, menewaskan pula suami Tan Wi Siang dan beberapa orang lain lagi, bahkan melukai Ma Chun yang menjadi sute-nya.

Dengan gerakan kedua tangannya yang kaku, Ketua ini mempersilakan saudara-saudara seperguruannya untuk duduk kembali. Dia sendiri menduduki kursi gading, dan semua anak buah lalu duduk pula, para pemimpin rendah duduk di bangku dan para anggota duduk di atas lantai yang terbuat dari batu persegi yang lebar, keras dan berwarna hitam.

Seperti biasa, mereka itu merupakan setengah lingkaran menghadap ke arah tempat para pimpinan duduk, yaitu di atas anak tangga dan di depan atau sebelah bawah anak tangga yang merupakan ruangan yang sengaja dikosongkan karena di situlah biasanya diadakan pibu antara pimpinan untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ketua baru karena memiliki ilmu kepandaian tertinggi. Tempat pibu yang berbahaya karena lantai ubin batu itu amat keras sehingga sekali terbanting, tulang bisa patah, apa lagi kalau kepala yang terbanting, bisa pecah!

Seperti sudah menjadi kebiasaan setiap diadakan pibu pemilihan ketua baru, Thian-liong-pangcu yang bertubuh seperti raksasa memberi isyarat dengan kedua tangan ke atas, menyuruh semua orang tidak mengeluarkan suara berisik. Setelah keadaan menjadi hening, dia bangkit berdiri dan mengucapkan kata- kata yang sudah dikenal baik oleh semua anggota.

“Saudara sekalian, hari ini kita berkumpul untuk mengadakan pemilihan ketua baru seperti yang tiap kali diadakan sesuai dengan kehendak dewan pimpinan. Aku sendiri sebagai ketua, kedua orang Suheng, dua orang Sute, dan Sumoi-ku sebagai anggota dewan pimpinan telah bersepakat untuk mengadakan pemilihan ketua baru pada hari ini sesuai dengan kebiasaan dan peraturan perkumpulan kita. Seperti telah menjadi kebiasaan Thian-liong-pang pula, aku sebagai ketua harus mempertahankan kedudukanku sebagai ketua dan dia yang dapat mengalahkan aku dan kemudian keluar sebagai orang terkuat, dialah yang berhak menjadi ketua baru tanpa ada tentangan dari siapa pun juga dan memiliki hak mutlak untuk menjadi Ketua Thian-liong-pang. Luka atau mati dalam pibu tidak boleh mengakibatkan dendam dan kebencian di antara saudara seperkumpulan, karena pibu ini diadakan bukan karena urusan pribadi, melainkan untuk pemilihan ketua dan demi kepentingan dan nama besar Thian-liong-pang. Aku sudah selesai bicara dan di antara para anggota biasa dan pimpinan yang ingin memasuki pibu, harap berdiri dan menyatakan pendapatnya.”

Setelah berkata demikian, Ketua yang bertubuh seperti raksasa itu duduk kembali, kedua lengannya yang besar ditaruh di atas lengan kursi gading, tubuhnya memenuhi kursi itu dan pandang matanya menyapu semua orang yang hadir penuh tantangan. Namun diam-diam ia melirik ke arah dua orang suheng-nya, yaitu Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang. Ketua ini tidak gentar menghadapi dua orang sute- nya dan seorang sumoi-nya karena merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan mereka. Namun dia mengerti bahwa kalau dua orang suheng-nya itu memasuki pibu, dia harus berhati-hati karena akan bertemu lawan yang berat.

Sai-cu Lo-mo yang sudah berusia enam puluh tahun itu adalah seorang perantau dan sejak dahulu tidak pernah memasuki pibu perebutan kursi ketua karena baginya menjadi ketua berarti harus selalu berada di Thian-liong-pang dan agaknya dia tidak mau mengorbankan kesukaannya merantau dengan menjadi ketua. Ada pun Lui-hong Sin-ciang Chie Kang adalah seorang yang sama sekali tidak mempunyai ambisi, belum pernah mengikuti pibu pemilihan ketua. Orang ini lebih senang duduk termenung, atau bersemedhi atau diam-diam melatih ilmu silatnya, kalau tidak tentu dia tenggelam dalam kitab-kitab kuno karena dia adalah seorang kutu buku yang karena terlalu suka membaca tanpa mempedulikan waktu, sampai kadang- kadang matanya basah dan merah, sedangkan kedua tangannya menggigil buyuten! Betapa pun juga, Phang Kok Sek maklum bahwa suheng-nya yang kedua ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia masih belum berani memastikan apakah dia akan menang melawan Ji-suheng-nya ini.

Karena ada kekhawatiran ini, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat twa-suheng-nya, Sai-cu Lo-mo sebagai orang pertama yang bangkit berdiri dari kursi di ujung sebelah kanannya. Para anggota juga menjadi heran dan tegang karena maklum bahwa kalau yang tua-tua ini sudah ikut pibu, tentu akan ramai sekali pertandingan antara saudara-saudara seperguruan itu.

Sai-cu Lo-mo mengelus brewoknya yang putih sambil tersenyum sebelum bicara, kemudian ia berkata, “Harap semua saudara jangan salah menduga. Aku lebih suka merantau di alam bebas dari pada harus terikat di atas kursi gading sebagai ketua! Sekarang pun aku masih belum mengubah kesenanganku dan aku tidak akan mengikuti pibu pemilihan ketua, hanya ada sedikit hal yang perlu kukemukakan. Siapa pun yang akan menjadi ketua baru, mulai sekarang harus dapat mengendalikan Thian-liong-pang dengan baik, mencegah penyelewengan para anggota yang hanya akan merusak nama besar Thiang-liong-pang. Hentikan perbuatan-perbuatan maksiat yang rendah dan yang menyeret Thian-liong-pang ke lembah kehinaan, sebab kita bukanlah anggota-anggota perkumpulan rendah, bukan segerombolan penjahat- penjahat kecil yang mengandalkan nama perkumpulan untuk melakukan perbuatan menjijikkan seperti yang sering kudengar yaitu berlaku sewenang-wenang, memperkosa wanita, dan sebagainya. Kalau perbuatan-perbuatan ini tidak dihentikan, kalau Ketua baru tidak mampu mengendalikan, hmmm… aku tidak mengancam, akan tetapi terpaksa aku akan turun tangan menentangnya dan mungkin akan timbul hasratku untuk menjadi ketua!” Setelah berkata demikian, kakek muka singa itu duduk kembali dan melenggut seperti orang hendak tidur!

Keadaan menjadi sunyi, kemudian terdengar bisik-bisik di antara para anggota yang sebagian besar merasa tersinggung dan tidak senang dengan ucapan itu. Ada pun Phang Kok Sek, Sang Ketua, menjadi merah mukanya, terasa panas seperti baru saja menerima tamparan.

“Cocok sekali!” Tiba-tiba Lui-hong Sin-ciang Chie Kang berseru dan bangkit dari kursinya. Suaranya tinggi nyaring, sungguh tidak sesuai dengan sikapnya yang tenang dan kelihatan lemah. “Jangan membikin malu nenek moyang kita yang gagah perkasa, Siangkoan Li Su-couw yang pernah menjadi sahabat baik pendekar wanita sakti Mutiara Hitam!” Setelah berkata demikian, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang duduk kembali.

Biar pun ucapan kedua orang suheng-nya itu merupakan tamparan dan teguran tersembunyi yang ditujukan kepadanya, tetapi hati Phang Kok Sek menjadi lega karena jelas bahwa kedua orang suheng-nya itu tidak mau memasuki pibu memperebutkan kursi ketua! Kini tinggal dua orang sute-nya dan seorang sumoi-nya, karena selain mereka bertiga, siapa lagi yang berani memasuki pibu? Dia melirik ke arah kedua orang sute-nya dan sumoi-nya.

Hampir berbareng, Twa-to Sin-seng Ma Chun dan Cui-beng-kiam Liauw It Ban bangkit berdiri memandang ketua mereka juga suheng mereka sambil berkata,

“Aku hendak memasuki pibu!” kata Ma Chun.

“Dan aku juga ingin mencoba-coba, memasuki pibu pemilihan ketua baru!” kata Liauw It Ban.

Setelah kedua orang itu duduk kembali, Tang Wi Siang bangkit berdiri. Janda muda yang cantik jelita ini berkata tenang, “Aku ingin memasuki pibu, akan tetapi hendaknya Pangcu dan sekalian Suheng dan saudara sekalian maklum bahwa aku merasa tidak cukup untuk menjadi ketua…”

“Sumoi, aku bersedia membantumu mengatur pekerjaan ketua!” Tiba-tiba Liauw It Ban berseru dan matanya memandang dengan sinar penuh arti.

Kedua pipi wanita itu berubah merah, jantungnya berdebar karena maklum apa yang tersembunyi di balik ucapan itu, apa lagi ketika ia melihat banyak mulut tersenyum-senyum maklum, membuat dia merasa lebih jengah lagi. “Terima kasih, Liauw-suheng. Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi ketua, juga jangan disalah artikan bahwa aku memasuki pibu karena mendendam atas kematian mendiang suamiku. Sama sekali tidak, aku memasuki pibu setelah selama ini aku melatih diri memperdalam ilmu silat dan semata-mata hanya untuk mempertebal keyakinan bahwa orang yang menjadi ketua perkumpulan kita memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dariku sehingga boleh dipercaya dan diandaikan utuk menjunjung nama dan kehormatan Thian-liong-pang!”

Girang sekali hati Phang Kok Sek mendengar ini dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk memaafkan sumoi-nya yang cantik itu dan tidak membunuhnya. Akan tetapi kedua orang sute-nya Ma Chun dan Liauw It Ban harus ia tewaskan dalam pibu itu karena kalau sekali ini mereka gagal, pada lain kesempatan tentu mereka itu akan mencoba lagi dan hal ini merupakan bahaya terus-menerus bagi kedudukannya. Ia segera bangkit berdiri dan berkata,

“Terima kasih atas wejangan kedua Suheng dan tentu saya akan berusaha memperbaiki keadaan perkumpulan kita. Seperti saudara sekalian telah mendengar, yang memasuki pibu untuk kedudukan ketua baru hanyalah Ma-sute dan Liauw-sute, sedangkan Sumoi hanya akan menguji kepandaian Ketua baru yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam pibu ini. Kurasa tidak ada orang lain lagi yang akan memasuki pibu hari ini!”

“Ada!” Tiba-tiba terdengar suara yang bening merdu, suara wanita! “Akulah yang akan memasuki pibu memperebutkan kedudukan ketua Thian-liong-pang!”

Semua orang menengok dan memandang dengan penuh keheranan kepada seorang wanita yang kepalanya berkerudung sutera putih dan tahu-tahu telah berdiri di dalam ruangan itu. Bagaimana mungkin orang ini masuk? Semua pintu masih tertutup, dan tempat itu dikelilingi tembok yang tinggi dan atasnya dipasangi tombak-tombak runcing mengandung racun!

“Engkau siapa?” Phang Kok Sek membentak dengan suara menggeledek karena marah.

Terdengar suara ketawa kecil di balik kerudung sutera itu dan dengan langkah tenang wanita berkerudung itu memasuki ruangan sampai di bagian tengah yang kosong, di bawah anak tangga kemudian berkata, “Pangcu, siapa aku bukanlah hal penting. Akan tetapi kalau kalian semua ingin tahu juga, akulah calon Ketua baru dari Thian-liong-pang, calon Ketua kalian. Aku memasuki pibu untuk mendapatkan kedudukkan Ketua Thian-liong-pang.”

Phang Kok Sek bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah wanita berkerudung itu. “Tidak mungkin! Engkau telah melakukan dua pelanggaran. Pertama, engkau sebagai orang luar berani memasuki tempat ini tanpa ijin, kesalahan ini saja sudah patut dihukum dengan kematian. Kedua, pibu kedudukan Ketua Thian-liong-pang hanya dilakukan di antara anggota sendiri, tidak boleh dicampuri orang dari luar! Ayo, buka kedokmu dan perkenalkan dirimu. Karena engkau seorang wanita, mungkin sekali kami dapat memberi ampun.”

Kembali wanita itu tertawa, halus merdu dan penuh ejekan namun cukup membuat tulang punggung yang mendengarnya terasa dingin. “Phang Kok Sek, biar pun engkau telah menjadi Ketua Thian-liong-pang, ternyata engkau agaknya tidak tahu atau lupa akan sejarah Thian-liong-pang dan riwayat tokoh-tokoh besarnya di waktu dahulu. Dahulu, pendekar besar Siongkoan Li telah diusir dari Thian-liong-pang, dan dianggap sebagai orang luar karena perbuatan-perbuatannya yang menentang Thian-liong-pang dan karena menjadi murid dari kedua Siang-ong Kutub Utara dan Selatan. Akan tetapi kemudian dia kembali dan merampas Thian-liong-pang menjadi ketuanya! Bukankah itu berarti seorang luar dapat menjadi Ketua Thian-liong-pang? Dan lupakah engkau kepada Gurumu sendiri, Guru semua anggota dewan pimpinan Thian-liong-pang ini? Siapakah Guru kalian? Bukankah guru kalian mendiang Kim-sin-to Sai-kong adalah seorang pertapa dari Kun-lun-san yang sama sekali bukan anggota Thian-liong-pang tadinya?”

Keenam pimpinan Thian-liong-pang terkejut sekali. Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua rahasia itu yang menjadi rahasia moyang para pimpinan Thian-liong-pang?

“Siapakah engkau?” Kembali Phang Kok Sek bertanya.

“Aku adalah calon Thian-liong-pang-cu,” wanita berkerudung menjawab.

Tiba-tiba Sai-cu Lo-mo berkata setelah menatap sepasang mata di balik kerudung itu dengan tajam. “Toanio, siapa pun adanya engkau, tapi caramu masuk dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau seorang pemberani. Akan tetapi ketahuilah bahwa seorang yang ingin menjadi Ketua Thian-liong-pang bukanlah melalui pibu, melainkan merupakan perampas perkumpulan yang harus lebih dahulu mengalahkan seluruh pimpinan…”

“Memang aku datang untuk mengalahkan kalian semua atau siapa saja yang menentangku menjadi Ketua Thian-liong-pang!” Wanita itu menjawab seenaknya. “Nah, aku menyatakan diriku sebagai Ketua Thian- liong-pang yang baru! Siapa yang akan menentang? Boleh maju!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo