September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 6

 

Akan tetapi tiba-tiba ranting itu menjadi kaku seperti baja dan langsung dipergunakan untuk menusuk perutnya. Lulu mengelak dengan loncatan ke kiri, dan ranting itu sudah meledak lagi berubah lemas menyambarnya seperti lecutan cambuk. Diserang secara aneh oleh senjata yang dapat lemas dan berubah kaku ini, Lulu menjadi sibuk sekali. Untung bahwa dia pernah digembleng oleh Maya dalam hal ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sehingga kini tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar senjata istimewa lawan itu.

Para penghuni Pulau Neraka yang tadinya memandang rendah kepada Lulu, kini menjadi bengong dan terbelalak kagum. Biar pun wanita itu terdesak, namun jelas tampak oleh mereka betapa wanita itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan lebih tinggi tingkatnya dari pada kakek yang menjadi ketua mereka!

Payah juga Lulu menghindarkan diri dari desakan kakek itu. Ia menjadi penasaran dan marah karena sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Tubuhnya terus dikejar ujung ranting yang menghalangi dia melakukan serangan. Sayang dia tidak mempunyai senjata. Tiba-tiba ia teringat. Di dalam peti kuning terdapat sebuah senjata kipas peninggalan Suling Emas! Dan dia pun sudah mempelajari ilmu Silat Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) dari sebuah di antara kitab-kitab dan sudah pula berlatih mainkan kipas itu, Teringat akan ini, dia berseru. “Tahan senjata!”

Kakek itu berhenti, napasnya empas-empis. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, namun belum pernah ujung rantingnya menyentuh tubuh lawan! Karena dia menyerang terus menerus dan belum pernah ia melakukan pertandingan selama itu, napasnya memburu dan hampir putus, mukanya sebentar merah sebentar pucat, membuat muka yang berwarna kuning itu sebentar tua sebentar muda warnanya.

“Apakah engkau menyerah kalah?” kakek itu menegur.

Lulu meloncat mendekati petinya, membuka dan mengambil kipas, lalu berdiri lagi menghadapi lawannya. “Belum ada setitik darahku keluar, bagaimana aku menyerah kalah? Tidak, engkaulah yang sebaiknya menyerah dan menjadi pembantuku, karena kalau aku menggunakan senjataku ini, engkau pasti akan kalah.”

“Senjata… kipas…?” Kakek itu hanya mengerti kipas dari dongeng nenek moyang dan sebagian besar penghuni di pulau itu belum pernah melihat kipas selamanya, juga mendengar pun belum, maka mereka memandang terheran-heran.

“Benar, inilah senjataku saat ini!”

“Toanio, engkau lihai, akan tetapi jangan main-main. Menurut dongeng nenek moyang, kipas hanyalah dipergunakan oleh para siucai (mahasiswa) dan wanita cantik untuk menyilirkan badan dan menuliskan sajak serta gambar. Bagaimana kini akan kau pergunakan sebagai senjata?”

“Lopek, engkau lupa bahwa engkau sendiri mempergunakan senjata yang tidak semestinya, hanya sebatang ranting. Karena itu tentu engkau mengerti bahwa makin sederhana senjatanya, makin berbahaya. Awaslah terhadap kipas pusakaku ini. Ingat, Kwan Im Pouwsat dengan kipasnya sanggup menundukkan seribu satu macam siluman!”

Kakek itu melotot marah dan sambil mengeluarkan suara melengking-lengking dia menerjang maju. Jantung Lulu tergetar hebat oleh suara lengkingan itu, maka tahulah dia bahwa kakek itu mempergunakan khikang untuk mempengaruhinya. Hanya orang yang sudah tinggi ilmunya saja yang mampu mengeluarkan suara seperti itu, suara yang dimiliki binatang-binatang besar tanpa latihan, seperti yang dimiliki singa atau harimau sehingga sekali menggereng, jantung calon korbannya tergetar dan kakinya lemas tak mampu lari lagi.

Lulu juga mengeluarkan suara teriakan melengking yang tinggi mengatasi suara kakek itu dan dia cepat menggerakkan kipasnya ketika ranting itu menerjangnya. Dan ternyatalah bahwa senjata kipas ini amat tepat untuk menghadapi senjata ranting yang kadang-kadang menjadi pecut kadang-kadang menjadi tombak baja itu! Dengan ilmu sakti Lo-hai-san-hoat, kipasnya dapat dikembangkan dan dikebutkan menghalau ujung ranting, kemudian disusul dengan totokan-totokan mengunakan ujung gagang kipas.

Kakek yang sudah hampir kehabisan napas itu menjadi makin repot. Kini dialah yang terdesak karena rantingnya kalau dibuat lemas, selalu terdorong angin kebutan kipas sehingga gerakannya kacau bahkan tak dapat ia kuasai lagi, sedangkan kalau dibikin kaku, tangkisan gagang kipas membuat kedua telapak tangannya panas dan perih.

Dengan gerengan marah kakek itu menusukkan rantingnya yang menjadi kaku. Lulu sudah mendengar anaknya menangis lagi, agaknya sadar dari tidurnya, maka dia ingin mempercepat kemenangannya. Melihat ujung ranting datang, dia cepat menggerakkan kipasnya dengan kedua gagang menggunting dengan jurus ilmu kipas yang disebut Siang-in-toan-san (Sepasang Awan Memotong Gunung). Ujung ranting itu terjepit dan tidak dapat dicabut kembali! Kakek itu terkejut, menggereng dan hanya menggunakan tangan kiri memegang ranting sedangkan tangan kanannya melayang ke depan dibarengi langkah kakinya, langsung mengirim pukulan ke arah dada Lulu. Pukulan yang antep sekali karena kakek itu mengerahkan sinkang-nya!

“Hemmm!” Lulu mendengus, tangan kirinya didorongkan ke depan, telapak tangannya menerima kepalan lawan sambil mengerahkan sinkang yang dilatih di Pulau Es dan yang ini telah mencapai tingkat tinggi.

“Desssss!”

Kepalan tangan kakek itu menempel di telapak tangan Lulu. Lulu mengerahkan napas memperkuat Im- kang. Mendadak kakek itu menggigil tubuhnya, menarik tangannya, terhuyung ke belakang dan….

“Uaaakkk!” dia muntah darah dan roboh terguling dalam keadaan pingsan!

Keadaan menjadi sunyi sekali. Tak seorang pun bergerak, hanya memandang penuh takjub seolah-olah belum dapat percaya bahwa pemimpin mereka dikalahkan wanita muda itu! Yang terdengar hanya tangis Keng In. Lulu berdiri tegak. Kipas terkembang di depan dada, tangan kiri terbuka jarinya di atas kepala, sikapnya gagah dan menyeramkan.

“Masih adakah yang tidak mau menerima aku menjadi Ketua Pulau Neraka?” Suaranya dikeluarkan dengan pengerahan khikang sehingga menggetarkan jantung semua orang.

Para penghuni Pulau Neraka itu tidak ada yang bergerak, semua memandang kepada lima orang kakek bermuka kuning yang menjadi pemimpin mereka. Akan tetapi lima orang kakek ini juga tidak bergerak melainkan memandang kepada yang roboh pingsan. Perlahan-lahan kakek tua itu siuman, membuka mata, bangkit duduk dan memandang kepada Lulu, kemudian ia berlutut dan berkata,

“Mulai saat ini, Toanio adalah pemimpin kami!”

Mendengar ini, lima orang kakek muka kuning lalu menjatuhkan diri berlutut diikuti semua penghuni Pulau Neraka dan terdengarlah seruan-seruan mereka.

“Toanio…!”

“Tocu…!”

Lulu tersenyum. “Baiklah, aku girang sekali bahwa kalian suka mengangkat aku menjadi ketua. Aku berjanji akan memimpin kalian dan menurunkan ilmu sehingga tidak saja kalian akan memperoleh kemajuan, juga akan menjadi penghuni Pulau Neraka yang akan menggemparkan dunia! Sekarang, lebih dulu aku minta makanan untuk aku dan anakku.”

Demikianlah, mulai saat itu Lulu menjadi ketua mereka. Dia menjalankan peraturan baru, menghapuskan pantangan keluar pulau, bahkan dia menyebarkan pembantu-pembantunya yang pandai untuk keluar pulau dan mencari bahan pakaian untuk mereka semua, mencari kebutuhan-kebutuhan hidup sebagaimana layaknya manusia-manusia beradab.

Dia menurunkan ilmu silat tinggi, akan tetapi ilmu-ilmu dari keempat kitab dia simpan sebagai kepandaian pribadinya. Bahkan dia melatih diri dan mempelajari ilmu keturunan penghuni Pulau Neraka sehingga dia melatih sinkang dengan minum racun-racun tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang di pulau itu sehingga setelah mencapai tingkat tertinggi, dalam beberapa tahun saja wajahnya berwarna putih kapur! Juga dia mendidik Keng In dengan penuh kasih sayang sehingga bocah ini menjadi manja. Burung-burung rajawali juga ia taklukkan sehingga dapat dipergunakan untuk binatang tunggangannya.

Kemajuan yang dicapai oleh Pulau Neraka amat hebat. Karena Lulu mengutus pasukan-pasukannya keluar pulau, sebentar saja mereka terlibat dengan orang-orang kang-ouw dan mulailah nama Pulau Neraka terkenal sebagai kekuatan yang menakutkan.

Ketika puteranya yang bertugas mengumpulkan akar dan daun obat untuk keperluan penghuni menolak bahaya dari keracunan datang melapor akan munculnya seorang anak perempuan murid Majikan Pulau Es, Lulu cepat berangkat sendiri dan menangkap Kwi Hong. Sudah lama ia berkeinginan mengunjungi Pulau Es, akan tetapi karena merasa belum cukup kuat, ia selalu menunda.

Dari penyelidikan orang-orangnya, ia mendengar bahwa Suma Han telah menjadi majikan Pulau Es dan bahwa di sana terdapat banyak anak buahnya, banyak pula terdapat wanita-wanita cantik yang gagah perkasa dan betapa Pulau Es seolah-olah merupakan sebuah kerajaan kecil. Mendengar ini, makin sakit rasa hati Lulu karena dia menganggap bahwa Han Han (Suma Han) kejam dan lupa kepadanya. Bukankah sepantasnya kalau Suma Han mencari dan mengajak dia hidup bahagia di Pulau Es? Dialah yang berhak tinggal di Pulau Es, di samping Suma Han!

Ketika ia memancing Suma Han sehingga Pendekar Super Sakti itu datang berkunjung ke Pulau Neraka, mengalahkan semua orangnya, dia melihat betapa Suma Han masih selemah dahulu. Jelas bahwa pria itu mencintanya, tetapi pria itu tidak memperlihatkan kejantanan, tidak memperlihatkan kekuasaannya untuk menundukkannya, bahkan seperti juga dulu, rela pergi dengan hati menderita!

Herankah kita apabila Lulu menangis terisak-isak semalam itu dan di dalam hatinya berjanji untuk memusuhi Suma Han yang telah merampas hatinya, kemudian mengecewakan hatinya dan menghancurkan harapan serta kebahagiaannya? Apa lagi ketika dia mendengar bahwa pria idaman hatinya itu telah dijodohkan dengan Nirahai, suci-nya. Dia akan memusuhi Suma Han, dan akan mencari Nirahai. Sekarang dia tidak takut terhadap suci-nya yang lihai itu, bahkan dia pun tidak takut terhadap Suma Han yang belum sempat diujinya itu. Setelah dia mewarisi ilmu-ilmu dari Suling Emas, dia tidak takut terhadap siapa pun juga! Rasa kemarahan yang bangkit karena cemburu ini akhirnya mengalahkan kesedihannya dan membuat majikan Pulau Neraka yang digambarkan seperti iblis itu dapat tidur pulas dengan bantal masih basah air mata!

********************

“Siuuuutttt… byurrrr!”

“Lihat, Paman Pangeran, apa yang jatuh dari langit itu?” Seorang gadis cilik yang berpakaian serba merah, berusia kurang lebih sembilan tahun, berseru sambil menunjuk ke arah benda yang jatuh dari langit dan tampak mengapung di atas lautan.

“Hemmm, yang manakah? Ahhh, kau benar. Benda apakah itu? Haiii, Ciangkun, suruh dekatkan perahu dan coba kau ambil benda itu!” kata laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang berpakaian mewah dan berwajah tampan itu. Mereka berada di atas sebuah perahu yang mewah dan indah, dengan hiasan bendera sebagai tanda bahwa penumpangnya adalah seorang bangsawan.

Memang demikianlah kenyataannya. Laki-laki tampan berpakaian mewah itu adalah seorang pangeran Mongol yang bernama Pangeran Jenghan yang pada waktu itu sedang berpesiar di lautan utara di atas perahunya, dikawal oleh pasukan Mongol yang menumpangi tiga buah perahu lain. Ada pun gadis cilik berpakaian merah yang berwajah cantik jelita berusia sembilan tahun itu adalah keponakannya yang bernama Milana.

Atas perintah kepala pengawal, seorang kakek yang memakai topi caping lebar seperti para pengawal lain yang berada di perahu besar, perahu yang ditumpangi pangeran itu didayung mendekati benda yang terapung di laut. Setelah agak dekat, Milana berseru, “Sebuah keranjang! Dan ada orangnya di dalam!”

“Hmmm, agaknya dia sudah mati…!” Pangeran Jenghan berseru melihat seorang anak laki-laki rebah meringkuk di keranjang tak bergerak-gerak seperti tak bernyawa lagi.

Memang itulah keranjang berisi Bun Beng yang jatuh dari angkasa ketika keranjangnya dilepas oleh cengkeraman burung rajawali. Ketika keranjang meluncur dengan cepatnya, Bun Beng pingsan. Keranjang itu jatuh ke laut dan mengapung sehingga menyelamatkan nyawa Bun Beng. Namun kalau saja ada kebetulan kedua, yang pertama jatuhnya keranjang ke laut, yaitu kalau tidak kebetulan lagi dia jatuh tidak di dekat perahu itu, tentu keranjangnya sebentar lagi akan tenggelam dan dia tidak akan tertolong.

Kepala pengawal segera menggerakkan tangan kanannya dan tampaklah sehelai tali meluncur seperti seekor ular panjang, menuju ke arah keranjang. Dengan tepat sekali ujung tali itu membelit keranjang pada saat Bun Beng siuman dari pingsannya. Anak ini terkejut ketika membuka matanya melihat bahwa dia berada di tengah laut. Lebih lagi kagetnya ketika tiba-tiba keranjang yang didudukinya itu terangkat ke atas seperti ada yang menerbangkan. Celaka, pikirnya, agaknya dia telah disambar lagi oleh burung rajawali!

“Brukkkk!”

Keranjang yang diterbangkan oleh tali yang dilepas secara lihai oleh kepala pengawal Mongol itu terbanting ke atas papan dan tubuh Bun Beng terlempar keluar, bergulingan di atas papan. Ia merangkak bangun dengan kepala pening, bangkit berdiri terhuyung-huyung. Karena pandang matanya berkunang, dia cepat berlutut dan memegangi kepala dengan kedua tangan, menutupi mukanya dan memejamkan matanya.

“Sungguh ajaib! Eh, anak, engkau siapakah dan mengapa bisa jatuh dari langit dalam sebuah keranjang?”

Suara yang terdengar asing dan kaku mempergunakan bahasa pedalaman ini membuat Bun Beng menurunkan kedua tangannya, mengangkat muka dan membuka mata memandang. Dilihatnya seorang laki-laki berpakaian indah berdiri di depannya, dan di samping laki-laki itu berdiri seorang anak perempuan yang cantik jelita berpakaian merah. Ia memandang ke sekeliling. Kiranya dia berada di atas sebuah perahu besar dan tak jauh dari situ kelihatan tiga buah perahu lain. Mengertilah dia bahwa keranjangnya jatuh ke laut dan bahwa dia telah ditolong oleh orang-orang ini. Maka perlahan dia bangkit berdiri, kemudian membungkuk dan menjawab.

“Namaku Gak Bun Beng. Tadinya aku digondol burung rajawali dan dilepaskan dari atas. Aku pingsan dan tidak tahu apa-apa, baru siuman ketika keranjang dinaikkan ke sini. Aku telah menerima budi pertolongan kalian, sudilah menerima ucapan terima kasihku.”

Sejenak semua orang yang berada di situ tertegun dan keadaan menjadi sunyi. Cerita anak ini terlalu aneh, apa lagi melihat anak yang berwajah tampan, bersikap sederhana dan halus akan tetapi menggunakan bahasa yang sederhana pula, sama sekali tidak bersikap hormat kepada Pangeran Jenghan! Para pengawal sudah mengerutkan alis hendak marah karena dianggapnya sikap anak ini kurang ajar dan tidak menghormat kepada junjungannya. Akan tetapi Pangeran itu tersenyum dan mengangkat kedua lengan ke atas.

“Ajaib…! Ajaib…! Seolah-olah engkau dijatuhkan dari langit oleh para dewa untuk bertemu dengan aku! Eh, Gak Bun Beng, bagaimana engkau sampai bisa terbawa terbang dalam keranjang oleh seekor burung raksasa? Amat aneh ceritamu, sukar dipercaya!”

Bun Beng berpikir. Memang pengalamannya amat aneh dan sukar dipercaya. Orang ini telah menyelamatkan nyawanya. Kalau dia menceritakan semua pengalamannya, semenjak terlempar ke air berpusing sampai hidup di antara kawanan kera kemudian bertemu dengan para pemuja Sun Go Kong dan bertemu dengan murid Pendekar Siluman yang bertanding sambil menunggang garuda melawan anak iblis dari Pulau Neraka, agaknya ceritanya akan lebih tidak dipercaya lagi. Dia tidak suka bercerita banyak tentang dirinya karena hal itu hanya akan menimbulkan kesulitan saja, maka ia lalu mengarang cerita yang lebih masuk akal.

“Saya sedang mencari rumput untuk makanan kuda dan di dalam hutan saya tertidur dalam keranjang ini. Tiba-tiba saya terkejut dan ternyata bahwa keranjang yang saya tiduri telah berada di angkasa, dicengkeram oleh seekor burung besar. Karena ketakutan, saya meronta-ronta dan akhirnya keranjang itu dilepaskan dan saya jatuh ke sini.”

Pangeran Jenghan mengangguk-angguk, akan tetapi melihat pandang matanya yang penuh selidik dan kerutan alisnya, ternyata bahwa di dalam hatinya Pangeran ini masih kurang percaya. Akan tetapi dia berkata, “Hemm, engkau tentu kaget dan lelah, juga lapar. Pakaianmu robek-robek. Ciangkun, beri dia makan dan suruh istirahat di bagian belakang kapal.”

Bun Beng lalu mengikuti pengawal itu. Dia disuruh makan hidangan yang amat lengkap dan serba mahal. Kemudian dia diperbolehkan mengaso. Karena memang merasa lelah sekali, tak lama kemudian Bun Beng tertidur di atas papan perahu di bagian belakang.

Bun Beng terbangun oleh suara nyanyian merdu. Ia membuka mata dan menoleh. Kiranya yang sedang bernyanyi adalah anak perempuan berpakaian merah yang dilihatnya tadi. Anak itu berdiri di atas papan, di pinggir perahu, memandang ke angkasa yang biru indah, dan suaranya amat merdu ketika bernyanyi. Akan tetapi, bagi Bun Beng yang amat mengherankan adalah nyanyian itu. Kata-kata dalam nyanyian itu bukanlah nyanyian kanak-kanak bahkan mengandung makna dalam seperti sajak dalam kitab-kitab kuno. Ia mendengarkan penuh perhatian tanpa menggerakkan tubuhnya yang masih terlentang.

Betapa ajaib alam dunia
segala sesuatu bergerak sewajarnya menuju ke arah titik sempurna matahari memindahkan air samudra memenuhi segala kebutuhan di darat dibantu hembusan angin yang kuat setelah melaksanakan tugas mulia air kembali ke asalnya
semua itu digerakkan oleh cinta
apa akan jadinya dengan alam semesta tanpa cinta?

Bun Beng mengerutkan alisnya. Anak ini masih terlalu kecil untuk menyanyikan kata-kata seperti itu! Mungkin hanya seperti burung saja yang meniru kata-kata tanpa tahu artinya.

“Gak Bun Beng, engkau sudah sadar dari tadi, mengapa pura-pura masih tidur?”

Bun Beng terkejut dan bangkit duduk, matanya terbelalak. Bagaimana anak perempuan itu bisa tahu bahwa dia sudah terbangun? Padahal dia tidak mengeluarkan suara dan anak itu tidak pernah menengok bahkan ketika menegurnya pun tidak membalikkan tubuh.

“Eh, apa engkau mempunyai mata di belakang kepalamu?” Bun Beng melompat berdiri dan bertanya.

Anak perempuan itu kini membalikkan tubuhnya, memandang dengan sepasang mata yang mengingatkan Bun Beng akan sepasang mata burung garuda tunggangan murid Pendekar Siluman. Anak itu tersenyum dan Bun Beng terseret dalam senyum itu, tanpa disadari ia pun meringis tersenyum.

“Apa kau kira aku ini siluman yang mempunyai mata di belakang kepala?”

“Kalau tidak mempunyai mata di belakang, bagaimana engkau bisa tahu bahwa aku telah bangun dari tidur?”

“Bunyi pernapasan orang tidur dan orang sadar jauh bedanya, dan biar pun sedikit, gerakan tubuhmu terdengar olehku.”

Bun Beng bengong. Wah, kiranya anak perempuan yang kelihatan lemah lembut dan pandai bernyanyi dengan suara merdu ini memiliki pendengaran yang tajam luar biasa. Ah, ini hanya menandakan bahwa anak ini telah berlatih sinkang! Teringatlah ia akan cara pengawal menaikkan keranjangnya. Tak salah lagi, tentu penumpang perahu ini merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan anak ini bukan anak sembarangan, dapat dibandingkan dengan murid Pendekar Siluman, atau anak laki-laki Pulau Neraka itu! Akan tetapi, karena dia sendiri pun sejak kecil telah digembleng orang-orang pandai, Bun Beng memandang rendah dan tidak memperlihatkan kekagumannya, bahkan pura-pura tidak tahu bahwa anak perempuan ini memiliki kepandaian.

“Nyanyianmu tadi sungguh ngawur!” Karena tidak tahan melihat betapa sinar mata anak perempuan itu memandangnya seperti orang mentertawakan, Bun Beng lalu mengambil sikap menyerang dengan mencela untuk memancing perdebatan agar dia dapat dikenal sebagai seorang yang lebih pandai dari pada anak itu!

Bun Beng merasa kecelik kalau dia memancing kemarahan anak itu, karena anak itu sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum manis sekali dan bertanya. “Bagian manakah yang kau katakan ngawur?”

“Semuanya! Maksudku, engkau bernyanyi seperti burung, tanpa mengerti artinya! Misalnya kalimat yang mengatakan bahwa semua itu digerakkan oleh cinta, aku tanggung engkau tidak mengerti apa artinya. Bocah sebesar engkau ini mana tahu tentang cinta?”

Mata itu bersinar lembut ketika menjawab, “Gak Bun Beng, ketika aku diajar menyanyikan kata-kata itu, aku telah diberi penjelasan. Tentu saja aku tahu dan aku heran sekali kalau engkau tidak tahu arti cinta. Cinta adalah kasih sayang murni yang menguasai seluruh alam. Tanpa cinta atau kasih sayang ini, kehidupan akan tiada! Segala macam benda dan makhluk, baik yang bergerak mau pun yang tidak, seluruhnya dapat hidup oleh kasih sayang ini. Cinta adalah sifat dari pada Tuhan yang menguasai seluruh alam!”

Kembali Bun Beng menjadi bengong. Tidak salahkah pendengarannya? Ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak perempuan yang masih… ingusan! Ia penasaran dan menyerang lagi.

“Engkau hanya meniru-niru, belum tentu engkau mengerti betul tentang cinta. Kalau benar mengerti, coba kau beri penjelasan dan contoh-contoh!”

Kini anak itu memandang wajah Bun Beng dan kelihatan sinar mata membayangkan perasaan kasihan! “Bun Beng, benarkah engkau tidak mengenal arti cinta itu? Aih, sungguh patut dikasihani! Sinar matahari yang memberi kehidupan itu adalah kuasa cinta! Air laut yang mengandung garam, yang menjadi awan dan hujan mengaliri segala yang membutuhkan air di darat, angin yang bertiup, hawa udara yang kita hisap, tanah yang kita injak dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan, semua itu adalah kuasa cinta! Darahmu yang mengalir di seluruh tubuhmu tanpa kau sengaja, pernapasanmu yang terus bekerja tanpa kau sadari dalam tidur pun, semua itu digerakkan oleh apa kalau tidak oleh kekuasaan yang penuh kasih sayang? Bibit bertunas menjadi pohon tanpa bergerak, tanah dan air menghidupkannya, angin dan hawa menyegarkannya, sampai berdaun dan berbunga. Bunga tanpa bergerak menciptakan buah, dan buah pun akan jatuh sendiri dan bersemi menjadi bibit, demikian seterusnya. Benda-benda itu tanpa bergerak telah teratur sendiri, bukankah itu bukti nyata betapa maha besarnya cinta kasih yang dimiliki Tuhan? Dan engkau masih bertanya akan bukti?”

Kini Bun Beng terbelalak memandang wajah yang semringah kemerahan itu. Bukan main!

“Eh… oh… maafkan, kiranya engkau benar-benar hebat! Siapakah yang mengajarkan kepadamu akan semua pengetahuan itu?” Ia berhenti sebentar lalu menengok ke arah bilik perahu besar. “Tentu… laki-laki yang berpakaian mewah tadi, ya?”

Akan tetapi anak perempuan itu menggeleng kepala. “Bukan dia. Yang mengajarkan semua itu adalah Ibuku sendiri. Banyak hal lain yang diajarkan Ibu kepadaku, akan tetapi tentang cinta ini, ada sebuah nyanyian yang kudengar sering kali dinyanyikan Ibu, yang aku tidak mengerti artinya. Kalau kutanyakan, Ibu selalu menggeleng kepala tanpa menjawab. Dan kau tahu… Ibu selalu mengucurkan air mata kalau menyanyikan lagu itu.”

Bun Beng tertarik sekali. Anak ini mempunyai sikap yang amat menarik dan watak yang begitu halus! Tentu ibunya orang luar biasa pula. “Benarkah? Bagaimana nyanyian itu?”

“Sebetulnya tidak boleh aku beritahukan orang lain. Akan tetapi engkau seorang anak yang aneh, yang datang tiba-tiba saja dari langit, dikirim oleh Tuhan sendiri melalui kekuasaan cinta kasihnya.”

“Aihh, mengapa begitu? Sudah kuceritakan bahwa aku diterkam…”

“Burung rajawali yang menerbangkanmu ke atas, bukan? Engkau lupa! Kekuasaan apa yang membuat burung itu mampu terbang? Kemudian, kekuasaan apa yang membuat engkau kebetulan dijatuhkan di atas laut, dekat dengan perahu Paman sehingga engkau tertolong? Tanpa kekuasaan cinta kasih itu, kita dapat berbuat apakah?”

Bun Beng terdesak. “Baiklah… baiklah…, engkau benar. Akan tetapi, orang sepandai engkau masih tidak mengerti arti nyanyian yang dinyanyikan Ibumu sambil menangis. Coba perdengarkan nyanyian itu, kalau engkau tidak mengerti artinya, tentu aku mengerti,” Bun Beng membusungkan dadanya karena kini timbul kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dia lebih pandai. Kalau gadis cilik yang aneh ini tidak tahu artinya kemudian dia bisa mengartikannya, berarti dia menang!

Anak perempuan itu ragu-ragu sejenak, memandang wajah Bun Beng penuh selidik. Kemudian dia menghela napas dan berkata, “Sudah kukatakan bahwa engkau seorang anak luar biasa dan aku percaya kepadamu. Akan tetapi, berjanjilah bahwa engkau takkan menceritakan kepada siapa pun juga tentang nyanyian Ibu ini, karena kalau Ibu mengetahui, tentu Ibu akan menyesal sekali kepadaku.”

“Engkau takut dimarahi?”

“Tidak. Kalau Ibuku memarahiku, hal itu biasa saja. Akan tetapi kalau sampai Ibu menyesal dan berduka karena perbuatanku, hal ini amat menyedihkan hatiku.”

Keharuan meliputi hati Bun Beng. Ah, kalau saja dia mempunyai ibu, dia akan mencontoh anak ini! Rasa takut dalam hati seorang anak melihat ibunya marah, bukanlah cinta kasih. Namun rasa sedih dalam hati seorang anak melihat ibunya berduka dan menyesal, barulah timbul dari cinta kasih yang murni!

Dia menelan ludah, “Engkau… engkau seorang anak yang baik sekali! Aku berjanji, aku bersumpah tidak akan menceritakan kepada lain orang.”

Anak perempuan itu tersenyum. “Aku percaya kepadamu dan kepercayaanku tidak akan sia-sia. Nah, dengarlah nyanyian istimewa Ibuku!”

Cinta kasih menguasai alam semesta suci murni dan penuh mesra
namun mengapa hatiku merana… jiwaku dahaga akan cinta…?
aihhh… haruskah aku menjadi ikan dalam air mati kehausan? cinta… cintaku…
mengapa engkau begitu tega…?

Bun Beng berdiri bengong dan dua titik air mata turun membasahi pipinya ketika ia melihat betapa air mata bercucuran dari sepasang mata anak perempuan itu yang kini terisak-isak.

“Engkau… engkau menangis…?” tanyanya, suaranya serak.

Anak perempuan itu menoleh, mengusap air matanya dan mengangguk, “Aku… aku teringat kepada Ibu. Aku kasihan mengingat dia berduka dan aku sedih karena tidak mengerti mengapa dia menangis dan apa artinya nyanyiannya itu.”

Bun Beng mengerutkan alisnya, berpikir. Kemudian ia berkata, “Ahhh, aku mengerti! Ibumu tentu mencinta seseorang! Tentu saja seorang pria! Ehhh… maaf, tentu mencinta Ayahmu. Di mana Ayahmu?”

Anak perempuan itu bengong dan mengangguk-angguk. “Aihhh… agaknya engkau benar, Bun Beng. Terima kasih! Kalau aku menanyakan Ayahku, Ibu selalu kelihatan berduka dan hanya mengatakan bahwa Ayah pergi amat jauh, bahwa Ayah adalah seorang pendekar besar. Akan tetapi Ibu tidak pernah mau mengatakan di mana adanya Ayah dan siapa namanya, hanya menyuruh aku bersabar karena kelak tentu akan bertemu dengan Ayah.”

“Nah, benar kalau begitu! Ibumu mencinta Ayahmu, merindukan Ayahmu yang lama pergi! Eh, siapakah namamu?”

“Namaku Milana.” “Bagus sekali!” “Apakah yang bagus?”
“Namamu itu. Tentu engkau puteri bangsawan, bukan?”

Milana menggeleng kepala, “Ibu melarang aku menganggap diri keturunan bangsawan, biar pun Paman Jenghan adalah seorang pangeran Mongol. Aku disuruh ikut di Kerajaan Mongol untuk mempelajari ilmu. Ibu sendiri entah pergi ke mana akan tetapi sering kali, sedikitnya sebulan sekali, Ibu tentu datang menjengukku dan menurunkan pelajaran-pelajaran kepadaku. Kini, Paman Pangeran Jenghan berpesiar ke laut ini dan mengajakku, tidak kusangka akan bertemu dengan engkau, Bun Beng.”

“Ibumu tentu seorang yang hebat! Dan engkau di samping pandai bernyanyi dan mempelajari kesusastraan, tentu engkau belajar ilmu silat pula.”

“Benar, keluarga istana Mongol penuh dengan orang yang berilmu tinggi. Akan tetapi menurut Paman Pangeran, tidak ada yang melebihi ilmu kepandaian Ibu yang amat tinggi. Hanya aku belum pernah menyaksikan sendiri kepandaian Ibu, kecuali kalau dia datang dan pergi lagi dari kamarku dengan kecepatan seperti menghilang. Kadang-kadang aku bahkan menduga apakah Ibu itu sebangsa dewi, bukan manusia biasa…”

“Milana…!”

Mereka terkejut dan menengok. “Paman memanggilku.” Anak perempuan itu berlari menuju ke bilik perahu besar, diikuti oleh Bun Beng. Mereka melihat kesibukan di perahu itu dan semua pengawal memegang senjata. Juga para pengawal di tiga buah perahu kecil siap dengan senjata mereka.

Pangeran Jenghan menyongsong keponakannya. “Lekas kau sembunyi di bilik kapal. Engkau juga, Bun Beng. Jangan sekali-kali keluar dari bilik kalau belum aman.”

“Apakah yang terjadi, Paman?” Milana bertanya.

“Kita akan diserang sekawanan bajak! Perahu-perahu mereka sudah tampak datang. Cepat sembunyi!” Pangeran itu memegang lengan Milana dan ditariknya keponakan itu memasuki bilik kapal, diikuti oleh Bun Beng. Kemudian pintu bilik ditutup dan Pangeran itu meloncat ke luar.

“Mau apakah bajak-bajak laut itu?” Di dalam bilik Milana bertanya kepada Bun Beng.

“Hm, namanya juga bajak, tentu mau membajak, merampas kapal atau membakarnya, dan membunuh kita.”

Mata yang bening itu terbelalak, muka yang manis itu menjadi agak pucat. “Mengapa? Bukankah mereka itu juga manusia?”
Bun Beng tersenyum pahit. “Pujianmu tentang cinta kasih itu akan hancur kalau jatuh ke tangan manusia, Milana. Tidak ada makhluk di dunia ini yang sejahat, sekejam, dan seganas manusia.”

“Ohhh…! Akan tetapi… aku tidak pernah menyaksikan kekejaman manusia.”

“Kalau begitu engkau belum berpengalaman, Milana. Berhati-hatilah kalau engkau berhadapan dengan sesama manusia dan simpan saja kepercayaanmu tentang cinta kasih itu di dalam hati. Tuhan memang bersifat Maha Kasih, kasih sayangnya melimpah, akan tetapi manusia hanya menghancurkan kasih sayang murni itu. Mengapa Pamanmu menyembunyikan kita? Kalau memang ada serbuan bajak, aku lebih suka berada di luar dan membantu menghadapi mereka. Seribu kali lebih baik mati sebagai seekor harimau yang melakukan perlawanan mati-matian di luar sana dari pada mati sebagai tikus-tikus terjepit di tempat ini!”

“Aku… aku tidak pernah bertempur!”

“Kulihat kepandaianmu sudah baik, dan kau belum pernah bertempur?”

Milana menggeleng kepala. “Aku… aku tidak mau bertempur, tidak mau menggunakan ilmu silat yang kupelajari untuk melukai dan membunuh manusia lain!”

“Dan kalau mereka menerjang ke sini dan membunuhmu?” “Lebih baik dibunuh dari pada membunuh.”
Bun Beng membelalakkan mata dan menggeleng-geleng kepalanya. “Wah-wah-wah, bagaimana ini? Habis, untuk apa Ibumu mengajar ilmu silat tinggi kepadamu?”

“Kata Ibu untuk menjaga diri dari mara bahaya.”

“Nah, sekarang mara bahaya tiba. Mari kita pergunakan untuk menjaga diri!” “Tapi dengan membunuh bajak? Aku tidak mau!”
“Mari kita keluar, Milana. Akulah yang akan menjaga dan melindungimu. Biarlah aku yang akan membunuh mereka kalau mereka berani mengganggu kita.”

“Kau… kau berani membunuh orang?”

“Tentu saja kalau orang itu juga mau membunuhku. Membela diri, bukan?” “Bun Beng, pernahkah ada orang yang hendak membunuhmu?”
Bun Beng tertawa. “Tak terhitung banyaknya! Engkau belum mengenal kekejaman manusia. Mari kita keluar. Dengar, sudah ada suara pertempuran!” Dan memang pada saat itu sudah terdengar teriakan- teriakan di antara berdencingnya senjata-senjata yang beradu.

Ketika kedua orang anak itu tiba di luar, Milana mengeluarkan jerit tertahan melihat betapa empat buah perahu mereka telah dikurung dan tampak banyak sekali anak buah bajak menyerang. Pamannya dan para pengawal melakukan perlawanan dengan gigih dan karena kepandaian Pangeran Jenghan dan para pengawalnya memang tinggi, banyak anak buah bajak yang menyerbu itu roboh dan jatuh ke laut dalam keadaan terluka atau tewas.

Akan tetapi, jumlah anak buah bajak itu banyak sekali dan mereka mulai menggunakan api untuk membakar empat buah perahu itu! Keadaan menjadi kacau balau dan para pengawal kewalahan karena selain menghadapi serbuan bajak yang amat banyak, juga mereka harus memadamkan api yang mulai membakar di sana-sini sambil merobohkan para bajak yang membakari perahu.

“Paman Pangeran…!” Milana menjerit melihat pamannya dikeroyok enam orang bajak laut.

Melihat salah seorang bajak laut dengan tombak di tangan lari menyerbu dari belakang Pangeran itu, Bun Beng meloncat dan tanpa disadarinya dia menghantam dengan jurus dari ilmu silat yang dipelajari dari tiga buah kitab rahasia Sam-po-cin-keng. Kebetulan sekali jurusnya ini adalah jurus pukulan yang menggunakan tenaga sinkang yang dipusatkan pada telapak tangan.

“Bukkk!” Tangannya yang kecil itu tepat sekali menghantam punggung bajak selagi tubuh Bun Beng masih meloncat. Bajak itu memekik, tombaknya terlepas dan mulutnya muntahkan darah segar, lalu tubuhnya terguling roboh berkelojotan!

Melihat ini Pangeran Jenghan terkejut dan kagum, kemudian ia berteriak, “Lekas kau selamatkan Milana dengan perahu darurat di pinggir kiri itu!” Sambil berteriak begini, Pangeran itu memutar pedangnya menangkis hujan senjata para bajak.

Bun Beng mengerti bahwa melihat keadaannya, perahu itu akan terbakar dan akan celakalah mereka semua. Memang sebaiknya menyelamatkan Milana lebih dulu. Cepat ia menyambar lengan Milana, diajaknya lari ke pinggir kiri. Di situ memang terdapat sebuah perahu kecil yang biasanya dipergunakan untuk para pengawal mencari ikan, atau memang disediakan kalau sewaktu-waktu keadaan membutuhkan. Bun Beng melepaskan ikatan perahu itu, menyeretnya ke pinggir, lalu ia melempar perahu ke bawah. Tanpa menghiraukan jeritan Milana yang merasa ngeri, ia menyambar tangan anak perempuan itu dan dibawanya meloncat ke bawah menyusul perahu kecil. Untung bahwa Bun Beng bersikap tenang sehingga loncatannya tepat jatuh di tengah perahu kecil. Dilepaskannya dua batang dayung yang terikat di pinggir perahu dan ia mulai mendayung perahu itu melawan ombak menjauhi perahu besar yang mulai terbakar.

“Paman…! Paman Pangeran…!” Milana berteriak dan menangis.

“Milana, dalam keadaan seperti ini kita harus masing-masing mencari keselamatan sendiri.” “Tapi… tapi Paman Pengeran…”
“Dia seorang berilmu tinggi, tentu akan dapat menyelamatkan diri. Andai kata kita menolong pun tiada gunanya. Duduklah yang tenang, akan kucoba melarikan perahu sebelum terlihat oleh bajak-bajak itu.”

Dengan sepenuh tenaganya Bun Beng mendayung perahu, sedangkan Milana memandang ke arah asap- asap mengepul hitam yang menutupi perahu-perahu besar pamannya sambil menangis. Mereka sudah berada agak jauh dari perahu-perahu yang kebakaran ketika tiba-tiba Milana menjerit. Bun Beng memandang dan ia pun terkejut melihat dua buah tangan manusia muncul dari air dan memegang pinggiran perahu kecil. Ketika kepala orang itu muncul, tahulah dia bahwa orang itu adalah seorang di antara para anak buah bajak laut yang jatuh ke laut. Orang itu tidak terluka dan pandang matanya beringas menyeramkan.

“Lepas!” Bun Beng membentak, menggunakan dayungnya menghantam ke arah tangan terdekat! “Aughhhh…!” Orang itu berteriak kesakitan dan melepaskan tangan kirinya yang kena pukul.
Dari bibir perahu Bun Beng mengayun dayungnya lagi, memukul ke arah tangan kanan yang masih memegangi pinggiran perahu. Gerakan-gerakan ini membuat perahu kecil menjadi oleng. Akan tetapi sekali ini, bukan tangan itu yang terkena hantaman dayung bahkan dayungnya tertangkap oleh tangan kanan bajak itu, terus ditarik kuat-kuat sehingga tubuh Bun Beng terseret dan jatuh ke air!

“Bun Beng…!” Milana menjerit.

Bun Beng marah sekali. Biar pun bukan ahli, namun dia pandai berenang, maka ia menggerakkan kedua kakinya dan mengayun dayung yang masih dipegangnya.

“Plakkk!”

Dayungnya menghantam muka orang itu sehingga kembali bajak itu memekik dan terdorong mundur. Matanya melotot marah penuh dengan sinar kebencian dan kalau dapat diterkamnya, anak itu tentu akan dibunuhnya.

Bun Beng sudah dapat menangkap pinggiran perahu lagi. Karena gugup dan hendak cepat-cepat naik ke perahu, dayungnya terlepas dan hanyut, sedangkan bajak itu sambil memaki-maki berenang cepat sekali mengejarnya. Dalam hal ilmu renang tentu saja Bun Beng tidak dapat melawan kepandaian seorang bajak laut! Maka ia bergegas hendak naik ke perahu agar dari dalam perahu dia dapat melawan orang yang masih berada di air itu.

“Heh-heh-heh!” Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, seorang kakek yang tertawa-tawa meloncat ke ujung perahu. Begitu tubuhnya tiba di ujung perahu, ujung yang lain di mana Bun Beng dan Milana berada terangkat tinggi ke atas seolah-olah kakek itu beratnya melebihi berat seekor gajah bengkak! Bun Beng cepat memegang lengan Milana yang hampir terlempar ke luar, sambil dengan sebelah tangan memegangi pinggiran perahu erat-erat dan matanya memandang kakek aneh itu dengan terbelalak.

“Heh-heh-heh!” Tiba-tiba ujung di mana Bun Beng dan Milana duduk meluncur lagi ke bawah dengan cepat sekali.

“Prakkk!” Ujung perahu ini turun tepat menghantam kepala anak buah bajak sehingga pecah berantakan dan mayatnya terapung, kepalanya sudah tidak merupakan kepala lagi melainkan berubah seonggok benda putih berlepotan darah.

“Ihhhh…!” Milana yang melihat mayat itu menutupi muka dengan kedua tangan sambil menangis.

“He-he-he, takut? He-he-he!” Kakek itu tertawa-tawa seolah-olah merasa senang sekali melihat Milana ketakutan. “Aku akan membikin kalian lebih takut lagi, ha-ha-ha!” Dan dengan sebatang ranting yang berada di tangan kirinya, kakek itu mendayung perahu dan… perahu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa!

Bun Beng memandang penuh perhatian. Kakek itu pakaiannya sederhana dan longgar, kedua kakinya telanjang. Usianya tentu sudah tujuh puluh lebih, dengan rambut dan jenggot putih riap-riapan, matanya melotot lebar dan selalu tertawa-tawa. Akan tetapi yang amat luar biasa adalah kulit tubuhnya! Dari muka, tangan dan kakinya, semua berkulit kuning sekali! Bukan kuning seperti kulit orang biasa, melainkan kuning yang aneh, seperti dicat, kuning sampai ke kukunya dan warna matanya! Maka teringatlah Bun Beng akan keanehan warna kulit orang-orang Pulau Neraka dan ia menduga bahwa kakek ini tentulah seorang tokoh Pulau Neraka.

Dugaan Bun Beng memang tepat. Kakek ini adalah seorang di antara lima orang kakek kulit kuning yang merupakan tokoh-tokoh tingkat tertinggi di Pulau Neraka, di bawah ketuanya. Dan memang dia adalah seorang tokoh sakti yang diutus oleh Majikan Pulau Neraka untuk mengadakan penyelidikan di luar pulau. Kakek ini selain sakti, juga memiliki watak yang amat aneh, mendekati gila sehingga sering kali melakukan hal-hal yang menggegerkan dunia kang-ouw. Kini melihat dua orang anak dalam perahu, timbul keanehan wataknya dan dia seolah-olah hendak menakut-nakuti kedua orang bocah itu.

Perahu itu meluncur cepat mendekati tempat pertempuran! Bukan hanya cepat, malah sengaja dibikin oleng ke kanan-kiri, ada kalanya ujungnya seperti akan tenggelam, ada kalanya ujung yang diduduki dua orang anak-anak itu terangkat tinggi kemudian dihempaskan ke bawah seperti akan tenggelam! Milana menjerit-jerit dan memeluk Bun Beng yang berpegang kuat-kuat pada pinggiran perahu.

“He-heh-heh-heh, pemandangan indah…! Indah…!” Kakek itu terkekeh-kekeh ketika perahunya meluncur cepat mengelilingi tempat pertempuran.

Biar pun keadaannya sendiri berbahaya dan perahu itu sewaktu-waktu dapat membuat mereka terlempar ke luar, namun Bun Beng masih sempat memperhatikan keadaan pertempuran dan melihat betapa pangeran dan para pengawal masih melakukan perlawanan mati-matian tetapi perahu mereka telah terbakar sebagian.

“Kakek, apakah engkau tidak kenal takut?” Bun Beng tiba-tiba bertanya. “Aku? Takut? Ha-ha-ha-ha! Heh-heh-heh!”
Sambil berkata demikian, perahu meluncur cepat sekali menuju ke sebuah perahu yang terbakar! Milana menjerit melihat betapa perahu kecil itu akan menubruk perahu yang bernyala-nyala, bahkan Bun Beng sendiri yang berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tenang, menjadi pucat dan memandang terbelalak ke depan, melihat betapa perahu terbakar itu seolah-olah mulut seekor naga mengeluarkan api hendak menelan perahu mereka.

“Celaka…!” teriak Bun Beng.

“Ha-ha-ha-heh-heh-heh!” Kakek itu tertawa dan tiba-tiba perahu itu membelok dengan kecepatan luar biasa sehingga miring dan hampir terguling, akan tetapi dapat menghindari tabrakan dengan perahu terbakar.

“Ha-ha-ha! Aku takut?”

“Memang beranimu hanya menakut-nakuti anak kecil, Kakek yang nakal! Aku tidak percaya bahwa engkau tidak kenal takut. Misalnya terhadap bajak-bajak laut yang demikian ganas, kejam dan jumlahnya amat banyak. Aku berani memastikan bahwa engkau tentu takut mengganggu mereka dan kalau engkau yang melawan mereka di atas perahu yang terbakar itu, tentu engkau akan terkencing-kencing di celanamu, kencing kuning pula!”

Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri dan mencak-mencak. “Memang kencingku kuning! Kau bilang aku takut kepada segala bajak cacing tanah itu? Kau tunggu dan lihat saja betapa mudah aku membasmi mereka!”

Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan kaki dan tubuhnya telah melesat ke arah perahu besar yang terbakar, di mana Pangeran Jenghan bersama pengawalnya masih mati-matian melawan serbuan para bajak.

Tentu saja hati Bun Beng menjadi girang bukan main. Cepat ia menyambar sepotong dayung dari banyak kayu-kayu pecahan perahu yang terapung di dekat perahunya, kemudian secepat mungkin dia mendayung perahu kecil menjauhi pertempuran. Tanpa menghiraukan kedua tangannya yang menjadi lelah sekali, Bun Beng mendayung terus hingga mendadak datang ombak-ombak besar yang menghanyutkan perahunya. Mendayung lagi tidak mungkin dan apa yang ia lakukan hanya menggunakan dayung untuk mencegah perahunya terguling.

Milana tidak menangis lagi, bahkan anak ini pun sudah menyambar sebatang dayung dan ia membantu Bun Beng mendayung. Kini melihat perahu diombang-ambingkan ombak, dia membantu Bun Beng menahan agar perahu tidak terguling. Akan tetapi dia tidak kelihatan takut, padahal keadaan mereka waktu itu tidaklah kalah berbahaya dari pada tadi. Hal ini mengherankan hati Bun Beng dan ia bertanya dengan suara keras untuk mengatasi suara angin ribut.

“Milana, engkau tidak takut?”

Milana memandangnya, tersenyum dan menggeleng kepala.

Bun Beng menjadi heran. “Kalau tadi, kenapa ketakutan dan menangis?”

Milana membuka mulut menjawab, akan tetapi suaranya lenyap ditelan angin sehingga Bun Beng berteriak, “Bicara yang keras, aku tidak dengar!”

Milana tertawa, “Ribut-ribut begini kau mengajak orang mengobrol!”

Bun Beng mendongkol akan tetapi juga geli hatinya. Anak ini benar-benar amat luar biasa, “Katakanlah mengapa sekarang engkau menjadi begini tabah?”

“Tadi bukan penakut sekarang pun bukan tabah. Aku ngeri menyaksikan kekejaman manusia saling bunuh. Aku percaya kepada alam yang maha kasih, andai kata ombak-ombak ini menelan kita pun sama sekali tidak mengandung hati benci atau marah!”

Bun Beng bengong sehingga lupa mengerjakan dayungnya. Perahu terputar hampir terguling dan terdengar Milana malah tertawa-tawa. Cepat ia menggerakkan dayung dan mengomel. “Bocah ajaib dia ini!”

Setelah ombak mereda, perahu itu tiba di dekat daratan. Bun Beng menjadi girang dan bersama Milana dia lalu mendayung perahu ke darat. Mereka berdua melompat turun dan lari ke darat, meninggalkan perahu kecil itu dan keduanya duduk di atas pasir.

“Di mana kita ini?” Bun Beng bertanya.

“Aku pun tidak tahu. Akan tetapi mari kita berjalan. Kalau bertemu orang tentu akan dapat menceritakan di mana letaknya Kerajaan Mongol. Ahhh, semoga saja Paman Pangeran dan para pengawal selamat.”

“Jangan khawatir. Mereka itu lihai dan dengan bantuan kakek gila itu, tentu para bajak akan terbasmi dan mereka selamat.”

Tiba-tiba Milana tertawa geli. “Eh, kenapa tertawa?”
“Kakek itu tidak gila, akan tetapi lucu sekali dan kepandaiannya hebat. Ibu tentu akan tertarik sekali kalau kelak kuceritakan.”

“Tentu saja dia lihai karena dia adalah seorang tokoh Pulau Neraka.”

“Ihhh…! Pulau Neraka? Aku sudah mendengar itu, penghuninya adalah manusia-manusia aneh seperti iblis. Bagaimana kau bisa tahu dia dari Pulau Neraka?”

“Kulit tubuhnya yang berwarna itu! Aku sudah bertemu dengan orang-orang Pulau Neraka.” “Eh, betulkah? Engkau benar luar biasa, Bun Beng.”
“Tidak, biasa saja. Mari kita pergi.” “Engkau hendak ke mana?”
“Eh, bagaimana lagi? Mengantar engkau sampai engkau dapat pulang, kemudian… kemudian… hem… aku tidak tahu ke mana nanti.”

“Eh, bagaimana ini? Apakah engkau tidak hendak pulang?” “Pulang ke mana?”
“Ke mana lagi? Ke rumahmu tentu!” “Aku tidak punya rumah.”
Milana menghentikan langkahnya dan memandang wajah Bun Beng. “Tidak punya rumah? Dan Ayah Bundamu…?”

“Aku tidak punya, Ayah Bundaku sudah mati semua.”

“Aihhhhh…!” Milana memegang kedua tangan Bun Beng, wajahnya membayangkan perasaan iba yang mendalam. “Kasihan engkau, Bun Beng. Dan kau tidak mempunyai saudara?”

Bun Beng merasa panas dadanya. Dia tidak ingin dikasihani orang, bahkan dia tidak merasa kasihan kepada dirinya sendiri! “Aku tidak punya siapa-siapa, apa salahnya dengan itu?” Dia menunjuk ke arah seekor burung camar yang terbang. “Dia itu pun tidak punya siapa-siapa, toh dapat hidup. Dan pohon itu tidak punya siapa-siapa, tetap tumbuh segar.”

“Ahhhh, burung itu tentu punya sarang dan pohon itu banyak saudara-saudaranya di sekelilingnya. Engkau menjadi pahit karena tidak mempunyai siapa-siapa. Bun Beng, aku mau menjadi saudaramu, dan biarlah Ibuku juga menjadi Ibumu, Pamanku menjadi Pamanmu…”

“Sudahlah, Milana. Aku tidak ingin apa-apa. Engkau anak yang amat baik hati. Mari kita lanjutkan perjalanan. Di sebelah kanan itu ada pegunungan, tentu di sana ada penghuninya yang dapat memberi keterangan kepada kita dan menunjukkan jalan.”

Mereka berjalan lagi dan Milana menggandeng tangannya. Bun Beng tidak menolak dan diam-diam dia merasa suka sekali kepada anak yang amat baik hati ini. Akan tetapi setelah mereka mendaki pegunungan itu, ternyata gunung itu penuh dengan batu-batu besar dan tidak nampak dusun di situ.

“Begini sunyi… tidak ada tampak rumah orang…,” kata Milana kecewa.

“Nanti dulu! Lihat di sana itu. Ada orang… eh, malah ada orang menunggang binatang yang besar luar biasa!” Milana menengok dan ia pun berseru girang, “Benar! Ada orang dan dia menunggang seekor gajah! Sunguh luar biasa!”

“Gajah? Aku sudah pernah mendengar namanya. Gajahkah binatang itu?”

“Benar. Raja Mongol memelihara dua ekor, akan tetapi tidak sebesar yang ditunggangi orang itu.” “Hebat! Binatang raksasa itu memiliki tenaga melebihi seratus ekor kuda. Mari kita lihat!”
Mereka berlari menuruni puncak pegunungan batu kapur itu. Ketika mereka sudah tiba dekat, tiba-tiba Bun Beng berhenti dan Milana juga berhenti. Keduanya terkejut bukan main menyaksikan pemandangan di depan itu sehingga sampai lama mereka tidak mampu mengeluarkan suara.

Akhirnya Milana berbisik dengan napas tertahan, “Lihatlah…, dia… kakek Pulau Neraka itu…”

“Ssstttt…!” Bun Beng berbisik pula menyentuh pinggang Milana dari belakang. “Jangan ribut… orang yang berkaki tunggal itu… dia Pendekar Siluman Tocu Pulau Es… dan itu muridnya….”

Memang amat mengherankan kedua orang anak itu apa yang tampak oleh mereka. Kakek bermuka kuning yang mereka temui di tengah lautan itu kini berhadapan dengan seorang kakek tua renta yang bersorban dan berjenggot panjang, tangan kiri memegang sebuah senjata yang aneh, gagangnya berduri dan ujungnya merupakan bulan sabit, menunggang seekor gajah yang amat besar.

Akan tetapi kakek muka kuning tidak kalah anehnya. Agaknya untuk mengimbangi kedudukan kakek bersorban yang tinggi di atas punggung gajah, dia kini menggunakan jangkungan atau egrang. Yaitu dua batang bambu panjang yang di tengahnya diberi cabang untuk injakan kaki. Dengan berdiri di cabang itu dan menggunakan dua batang bambu sebagai pengganti kedua kaki, dia kini sama tingginya dengan Si Kakek Bersorban!

Mereka agaknya sedang bertengkar sedangkan di atas sebuah batu berdiri Pendekar Siluman dengan sikap tenang sebagai penonton, menggandeng tangan seorang anak perempuan yang dikenal Bun Beng sebagai anak perempuan penunggang garuda yang berkelahi dengan anak Pulau Neraka dahulu!

Kwi Hong, murid Suma Han menoleh dan melihat kedatangan Bun Beng dan Milana, akan tetapi karena kini kedua orang kakek aneh yang berhadapan itu sudah saling serang, dia tertarik dan menengok lagi menonton pertandingan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Suma Han menyusul ke Pulau Neraka dan berhasil membawa muridnya itu. Mereka meninggalkan Pulau Neraka menunggang dua ekor burung garuda dan ketika dari atas Suma Han melihat orang menunggang gajah, hatinya tertarik maka dia lalu turun di pegunungan itu, dan bersama Kwi-Hong diam-diam menghampiri dan menonton pertandingan yang amat menarik hatinya antara kakek penunggang gajah dan kakek muka kuning yang gerak-geriknya lucu dan lihai!

“Heh-heh-heh!” Kakek muka kuning tertawa sambil menggerak-gerakkan kedua bambu yang telah menyambung kakinya. “Kita sudah sama tinggi sekarang. Hayo, kau mau apa? Lekas turun dan berikan gajah itu kepadaku, baru kau benar-benar seorang sahabat dan aku akan mengampunimu!”

“Sadhu-sadhu-sadhu!” Kakek bersorban itu berkata lirih. “Berbulan-bulan dari negara barat sejauh itu, belum pernah bertemu orang yang begini nekad. Sahabat, gajah tunggangan ini adalah sahabatku yang telah berjasa besar, mati hidup dia bersamaku, tidak mungkin kuberikan kepadamu. Pergilah, sahabat, dan jangan pergunakan kepandaian yang kau pelajari puluhan tahun itu untuk melakukan hal yang tidak baik.”

“Heh-heh-heh! Apa tidak baik? Apa baik? Yang menguntungkan dan menyenangkan, itu baik! Yang merugikan dan menyusahkan itu tidak baik! Kalau engkau berikan gajah itu kepadaku, engkau baik. Kalau tidak kau berikan, engkau tidak baik dan terpaksa kurampas, heh-heh-heh-heh!”

“Aahh, betapa dangkal dan sesat pandangan itu, sahabat. Pandanganmu terbalik sama sekali. Justeru yang menguntungkan dan menyenangkan diri pribadi itulah sumber segala ketidak baikan.”

“Waaaah, cerewet! Aku tidak butuh engkau kuliahi dengan wejangan-wejanganmu. Hayo turun!”

Kakek muka kuning menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba bambu panjang yang kanan menyambar ke arah kepala kakek bersorban itu. Akan tetapi kakek itu menekuk tubuh ke depan sehingga sambaran bambu itu luput dan lewat di atas kepalanya.

“Sadhu-sadhu-sadhu, terpaksa aku membela diri!” Kakek bersorban menggerakkan tangan kanan, dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan. Angin pukulan yang dahsyat menyambar dan biar pun kakek muka kuning sudah menggerakkan bambu memutar tubuh ke kanan, tetap saja terdorong dan terhuyung- huyung, kedua bambunya bergoyang-goyang.

Karena ia memutar tubuh ke kanan inilah maka tiba-tiba dia meiihat Suma Han yang berdiri menonton dengan tenang. Setelah mendapat kanyataan bahwa orang Pulau Neraka itu hendak merampas binatang tunggangan orang, Suma Han merasa tidak senang. Apa lagi kalau mengingat bahwa orang itu adalah pembantu Lulu, dia makin penasaran. Masa Lulu dibantu oleh orang yang berwatak perampok hina, mau merampas binatang tunggangan seorang kakek yang datang dari jauh? Tongkatnya bergerak mencongkel batu dua kali.

“Trak! Trak!”

Kakek muka kuning berseru kaget ketika tiba-tiba bambu yang menyambung kedua kakinya itu patah disambar dua buah kerikil, dan seruannya ini pun sebagian karena dia mengenal Pendekar Siluman yang biar pun belum pernah dijumpainya, akan tetapi sudah banyak didengarnya. Ia cepat meloncat turun sebelum terbanting jatuh karena kedua bambunya patah, kemudian dia meloncat-loncat jauh melarikan diri tanpa menengok lagi.

Melihat itu Kwi Hong tertawa dan bersorak. Akan tetapi tiba-tiba ia berhenti bersorak ketika melihat gajah besar itu terhuyung dan roboh ke depan, membawa tubuh kakek bersorban ikut roboh! Tubuh Suma Han melesat ke depan bagaikan seekor burung garuda dan dia sudah berhasil menyambar tubuh kakek bersorban itu dari bahaya terbanting dan tertindih tubuh gajah yang kini berkelojotan lalu diam, tak bernyawa lagi. Dan dengan kaget Suma Han mendapat kenyataan bahwa kakek bersorban itu ternyata lumpuh kedua kakinya!

“Ah, gajahku yang baik, engkau mendahuluiku?” Kakek itu mengeluh, kemudian berkata kepada Suma Han. “Orang muda yang gagah perkasa, turunkanlah aku.”

Suma Han menurunkan kakek itu yang kedua kakinya amat kecil dan selalu bersilang. Kakek itu duduk di atas tanah, wajahnya pucat dan napasnya terengah, “Gajah itu… dia memang sudah sakit… dia menderita karena lelah… melakukan tugasnya sampai mati. Akan tetapi aku… ah, aku pun hampir mati akan tetapi tugasku jauh dari pada selesai…! Aku hampir kehabisan tenaga saking lelah, perjalanan ini terlalu jauh untuk orang setua aku, dan tadi… tadi terpaksa aku mengerahkan tenaga dalam yang amat kuperlukan untuk kesehatanku. Aihhhh, orang muda perkasa, sinar matamu menjadi bukti bahwa engkau bukan manusia biasa. Siapakah engkau yang begini lihai?”

“Kakek yang baik, aku adalah penghuni Pulau Es…”

“Hah? Pendekar Super Sakti? Pendekar Siluman Tocu dari Pulau Es? Ya Tuhan, jika engkau mempertemukan hamba dengan dia ini untuk melanjutkan tugas hamba, hamba akan mati tenteram!”

Suma Han mengerutkan alisnya, “Kakek, siapakah engkau dan urusan apa yang membuatmu susah payah melakukan perjalanan begitu jauh?”

“Aku Nayakavhira… aku keturunan dari Mahendra pembuat Sepasang Pedang Iblis…. Adikku, Maharya telah mendahuluiku untuk mencari sepasang pedang itu. Jika terjatuh ke tangannya, akan gegerlah dunia dan terancamlah banyak nyawa manusia! Aku… aku berkewajiban untuk merampas dan memusnahkan Sepasang Pedang Iblis. Akan tetapi… aku tidak sanggup lagi… ahh, Pendekar Super Sakti, engkau tolonglah aku…”

Kembali Suma Han mengerutkan alisnya, “Bagaimana aku harus menolongmu, Nayakavhira?”

“Senjataku ini… terbuat dari logam yang akan menandingi dan mengalahkan Sepasang Pedang Iblis. Akan tetapi karena bentuknya seperti ini, tidak akan ada orang di sini yang dapat memainkannya. Akan kubuat menjadi pedang… biarlah kelak kau berikan kepada siapa yang berjodoh untuk menindih dan menaklukkan Sepasang Pedang Iblis. Kau bantulah aku… buatkan pondok, perapian… aku tidak kuat lagi, engkau tolonglah aku, buatlah sebatang pedang dari senjataku ini…”

Suma Han mengangguk-angguk. Tidak disangkanya bahwa sepasang pedang yang dahulu dia tanam bersama jenazah kakek dan nenek yang saling bunuh, kini akan mendatangkan urusan begini hebat!

“Aku suka menolongmu, akan tetapi aku tidak bisa membuat pedang.”

“Aku adalah ahli membuat pedang… sama seperti nenek moyangku…. Aku yang akan memberi petunjuk, engkau yang membuat. Tolonglah… Taihiap… demi… demi peri kemanusian!”

“Kakek yang baik, biarlah aku membantumu!” Tiba-tiba Bun Beng meloncat maju mendekati kakek itu.

Kakek bersorban itu membelalakkan mata memandang Bun Beng dengan heran, Suma Han menengok. Dia sudah tahu akan kehadiran kedua orang anak itu akan tetapi karena terjadi perkara besar, dia lebih mementingkan kakek itu dan belum menanya dua orang anak yang datang di tempat itu secara aneh. Kini melihat sikap anak laki-laki itu, diam-diam ia memperhatikan dan menjadi kagum. Di lain pihak, ketika melihat sinar mata Pendekar Siluman itu ditujukan kepadanya dan mereka bertemu pandang, kuncuplah hati Bun Beng dan otomatis dia menjatuhkan diri berlutut.

“Siapakah engkau?”

“Paman, dia adalah anak laki-laki yang telah menolongku ketika aku dikeroyok rajawali. Bocah dalam keranjang!”

Suma Han makin tertarik. Kwi Hong sudah menceritakan betapa ketika Kwi Hong diserang putera Lulu dengan rajawali dan dikeroyok muncul seekor burung rajawali yang mencengkeram keranjang berisi seorang anak laki-laki yang membantunya dengan memukul rajawali itu sehingga cengkeraman rajawali terlepas dan keranjang bersama anak itu jatuh ke laut! Kini tiba-tiba anak itu muncul dan dengan suara yang mengandung kesungguhan menawarkan jasa baiknya hendak membantu Si Kakek India membuat pedang. Bukan main!

“Siapa namamu?” tanyanya, dalam suaranya terkandung rasa sayang karena dia melihat suatu yang luar biasa pada diri anak laki-laki ini.

“Saya adalah anak yang dahulu ditolong oleh Taihiap dari dalam kuil tua tepi Sungai Fen-ho di lembah Pegunungan Tai-hang-san dan Lu-liang-san…”

Suma Han benar-benar terkejut sehingga ia bangkit berdiri. “Kau…?”

“Benar, Taihiap. Saya adalah Gak Bun Beng.”

Suma Han menarik napas panjang dan menengadah ke langit. Benar-benar amat luar biasa pertemuan ini! “Di mana suhumu Siauw Lam Hwesio?”

“Suhu… telah meninggal dunia, terbunuh oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama, dan Bhe Ti Kong panglima Mancu!” Ucapan ini dikeluarkan dengan suara sengit oleh Bun Beng.

“Sadhu-sadhu-sadhu…,” tiba-tiba kakek itu berkata. “Bhong Ji Kun itu adalah Koksu Pemerintah Mancu… dia… dia itu adalah muridku…”

“Kau…!” Bun Beng meloncat bangun, kedua tangannya dikepal.

“Bun Beng, kau jangan lancang!” Tiba-tiba Suma Han membentak dan Bun Beng menjatuhkan diri berlutut lagi.

“Taihiap… teecu harus membalas kematian Suhu!”

“Hmmm, sungguh-sungguh tidak baik masih kanak-kanak sudah mendendam. Dendam menimbulkan watak kejam sehingga sembarangan saja engkau akan mencelakakan orang tanpa pertimbangan lagi.”

Sementara itu, kakek tua itu menarik napas panjang. Sungguh ajaib, dapat bertemu dengan anak ini! “Muridku itu memang telah menyeleweng dan perjalananku ini di samping hendak mencari Sepasang Pedang Iblis juga tadinya akan kupergunakan untuk mengingatkan dia, kalau perlu menghukumnya. Bagaimana, Taihiap, sukakah engkau menolongku?”

Suma Han tidak menjawab, melainkan bertanya kepada Bun Beng, “Bagaimana dengan engkau, Bun Beng? Apakah engkau masih suka menolong Kakek ini sekarang?”

“Teecu sudah berjanji, tentu teecu penuhi!”

Suma Han tersenyum. “Baiklah. Nayakavhira, kami akan membantumu. Siapakah anak perempuan itu, Bun Beng?”

Milana yang sejak tadi mendengarkan menjadi tertarik sekali akan kata-kata Suma Han. Dia sudah menghampiri dan memandang Suma Han penuh perhatian. Tadi dia mendengar dari Bun Beng bahwa laki- laki gagah perkasa berkaki satu yang rambutnya putih semua dan wajahnya muram menimbulkan iba itu adalah Pendekar Siluman, Tocu dari Pulau Es yang amat terkenal!

“Apa engkau yang berjuluk Pendekar Siluman yang hebat itu?” tanyanya, suaranya halus dan wajahnya berseri.

Suma Han tersenyum, sekaligus tertarik rasa sukanya kepada bocah yang cantik jelita itu. “Benar, anak manis. Engkau siapakah?”

“Namaku Milana, aku keponakan Pangeran Jenghan dari Kerajaan Mongol. Kami sedang berpesiar di kapal, diserbu bajak laut dan aku diselamatkan oleh Bun Beng.”

Hati Suma makin kagum kepada Bun Beng. Hemmm, biar pun putera seorang datuk sesat seperti Kang- thouw-kwi Gak Liat dan dilahirkan karena datuk itu memperkosa Bhok Kim, namun ternyata bocah ini mempunyai bakat lahir batin yang baik. Tentu menuruni watak ibunya, seorang di antara Kang-lam Sam- eng tokoh Siauw-lim-pai yang perkasa itu (baca cerita Pendekar Super Sakti ).

“Marilah kalian ikut bersamaku membantu Nayakavhira. Kwi Hong, kau ajaklah dua orang anak ini.”

Suma Han memondong tubuh kakek bersorban dan mencari tempat yang ada pohonnya. Di situ dia lalu membangun sebuah pondok, mempersiapkan landasan dan keperluan pembuatan pedang. Bun Beng yang sudah berjanji membantu itu ditugaskan mengumpulkan kayu bakar karena menurut Nayakavhira pembuatan pedang itu membutuhkan banyak sekali kayu bakar untuk membuat api yang sepanas- panasnya.

Berhari-hari lamanya Suma Han sibuk di dalam pondok membuat pedang di bawah petunjuk kakek Nayakavhira yang lumpuh. Tiga orang anak itu sama sekali tidak boleh memasuki pondok yang panasnya luar biasa karena api besar dinyalakan siang malam tak pernah berhenti. Bun Beng juga bekerja setiap hari mencari kayu bakar, sedangkan Kwi Hong bermain-main dengan Milana yang berwatak halus dan sebentar saja sudah dapat menarik rasa sayang di hati Kwi Hong yang wataknya kasar.

Kedua orang anak perempuan ini jauh berbeda wataknya. Kwi Hong yang lebih tua beberapa tahun, berwatak jenaka, riang gembira, galak dan pandai bicara. Sebaliknya Milana berwatak halus, lemah lembut dan pendiam, hati-hati dalam bicara agar jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Namun, berkat kehalusan budi Milana yang pandai mengalah, mereka berdua dapat bersahabat dengan rukun.

Di dalam pondok itu terjadi hal yang tentu akan amat mengherankan tiga orang anak itu kalau saja mereka dapat melihatnya. Kakek Nakavhira duduk bersila di atas tanah, seperti arca tidak bergerak dan hawa panas di dalam pondok itu tak mungkin akan dapat tertahan oleh manusia biasa. Suma Han menanggalkan baju atasnya dan sibuk membakar senjata yang bentuknya seperti bulan sabit itu di dalam api. Sudah tiga hari tiga malam logam itu dibakar, tetap saja masih utuh, tidak dapat membara. Kakek itu berkali-kali minta ditambah api karena kurang besar sehingga setiap tumpukan kayu bakar yang dikumpulkan Bun Beng, selalu habis sehingga tidak ada cadangan sama sekali, membuat anak itu tidak berani berhenti karena khawatir kehabisan kayu bakar!

Kakek Nayakavhira mengeluarkan beberapa macam obat yang dioleskan pada logam putih itu, namun setelah lewat lima hari tetap juga logam itu belum membara. Kakek itu menjadi bingung dan prihatin sekali.

“Ya Tuhan, akan gagalkah usaha hamba?” Keluhnya berkali-kali sehingga Suma Han menjadi kasihan. Juga pendekar ini merasa penasaran sekali.

Sedangkan batu bintang saja dapat dibakar sampai mencair, yaitu ketika dia masih kecil dan menjadi pelayan Kang-thouw-kwi Gak Liat (baca cerita Pendekar Super Sakti), masa logam ini dibakar dalam api sampai lima hari lima malam belum juga membara? Teringat akan masa kecilnya, ia teringat kepada Bun Beng yang sibuk mengumpulkan kayu di luar pondok. Dahulu dia menjadi pelayan Gak Liat, dan sekarang, secara kebetulan, putera Gak Liat itu bekerja keras melayaninya! Demikianlah nasib mempermainkan manusia!

Ia teringat akan batu bintang, teringat akan latihan Hwi-yang Sin-ciang. Hwi-yang Sin-ciang! Bukankah sinkang yang mukjizat dan yang sudah dikuasainya dengan sempurna itu mengandung hawa panas yang mukjizat? Mengapa tidak ia pergunakan untuk coba-coba? Dia memegang gagang senjata kakek yang aneh itu.

Senjata itu terbuat dari pada baja yang aneh sebagai gagang berduri, ada pun ujungnya yang berbentuk bulan sabit berwarna putih itulah yang akan diolah menjadi pedang. Suma Han mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang sehingga wajahnya yang selama lima hari lima malam berdekatan dengan api tidak berubah apa- apa, kini setelah mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang sekuatnya, muka itu berubah merah. Dan perlahan- lahan, logam putih berbentuk bulan sabit itu menjadi merah membara!

“Kakek Nayakavhira, aku berhasil!” teriaknya girang.

Kakek yang sudah kehabisan semangat itu membuka matanya dan seketika wajahnya berseri! “Hebat…! Biarkan sampai merah tua seluruhnya, baru digembleng!” Teriaknya dan semangatnya kembali. Matanya bersinar-sinar.

Suma Han tidak mau bicara tentang penggunaan Hwi-yang Sin-ciang dan kini setelah logam itu dapat membara, panasnya api sudah cukup untuk membikin bara menjadi tua. Tak lama kemudian logam itu sudah menjadi merah sekali.

“Cepat letakkan di landasan dan gembleng sampai bentuknya menjadi panjang membungkus gagang senjataku.”

“Membungkus gagang?” Suma Han bertanya.

“Benar. Logam putih itu hanya merupakan lapisan luar saja. Gembleng sampai lebar dan tipis sepanjang tiga setengah kaki. Cepat!” Suara kakek itu gemetar penuh gairah.

Otomatis Suma Han mematuhi perintah ini karena dia sendiri sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang pembuatan pedang. Biar pun dia bukan seorang pandai besi, bahkan memegang martil dan menggembleng logam membara pun baru sekali itu selama hidupnya, namun pendekar ini memiliki tenaga yang melebihi tenaga seratus orang dengan sinkang-nya yang hebat, maka tentu saja gemblengannya juga amat kuat sehingga tak lama kemudian logam yang membara itu sudah menjadi lebar tipis sepanjang tiga setengah kaki.

“Bagus! Hebat…! Untuk menggembleng itu biar pun dalam keadaan sehat, tentu baru dapat kuselesaikan dalam waktu tiga hari. Akan tetapi engkau hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Benar-benar sukar dicari pendekar sakti seperti engkau, Suma-taihiap. Logam itu telah mendingin, bakar lagi sampai membara dan akulah yang akan menggemblengnya membungkus gagang.”

Kembali Suma Han menurut dan sekali ini, karena logam itu sudah pernah membara, panasnya api cukup membuat logam itu menjadi merah lagi. Akan tetapi kakek itu mengatakan belum cukup. “Dia harus dibakar selama satu malam sampai melunak agar mudah digembleng membungkus gagang, apa lagi tenagaku sekarang banyak berkurang.”

Pada keesokan harinya, ketika terdengar bunyi martil menghimpit logam di atas besi landasan sampai berdentang-dentang, dikerjakan sendiri oleh Kakek Nayakavhira yang dibuatkan tempat duduk tinggi oleh Suma Han dan ditonton oleh pendekar sakti itu. Selama menyaksikan kakek itu bekerja, diam-diam Suma Han merasa kagum dan barulah dia tahu betapa sulitnya membuat sebatang pedang pusaka! Dalam menempa dan menggembleng ini, kakek itu bekerja seperti dalam semedhi sehingga setiap tempaan merupakan gerakan suci seperti seorang bersembahyang. Maka Suma Han menonton penuh perhatian dan penuh hormat.

“Bun Beng, mengasolah. Lihat, tumpukan kayu di belakang pondok sudah cukup banyak. Dan mendengar suara berdentang itu, agaknya mereka tidak membutuhkan terlalu banyak kayu lagi. Lihat sepagi ini tubuhmu sudah berkeringat!” Kwi Hong menegur Bun Beng yang bertelanjang baju dan sejak pagi buta telah menebangi kayu.

“Benarkah? Ah, kalau begitu aku mau beristirahat sebentar!” Bun Beng lalu duduk di atas batu dan menyusuti peluhnya.

“Aku akan masak air, tunggu saja. Aku akan membuatkan minuman untukmu!” Kwi Hong lalu berlari-lari kecil meninggalkan Bun Beng.

Setelah bekerja keras sejak pagi, tubuhnya lelah dan kini duduk bersandar batu disiliri angin pagi, Bun Beng merasa nyaman sekali sehingga tak terasa lagi ia memejamkan matanya. Sudah hampir setengah bulan dia berada di situ sejak pertemuannya dengan Pendekar Siluman dan Kakek Nayakavhira, dan selama itu setiap hari dia bekerja keras dalam usahanya membantu kakek itu membuat pedang pusaka. Kini ia merasa lelah sekali dan mengantuk.

Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ia merasa pundaknya diguncang tangan halus dan terdengar suara Kwi Hong. “Ihhh, pemalas. Berhenti sebentar saja sudah tertidur pulas! Bun Beng, minumlah ini. Bukan air teh akan tetapi daun ini lebih sedap dan kata Paman dapat memulihkan tenaga. Minumlah!”

Bun Beng merasa malas untuk bangun, tetapi pundaknya ditarik sehingga ia terduduk dan ketika ia membuka sedikit matanya, ia melihat Kwi Hong yang membangunkannya bahkan kini anak perempuan itu menempelkan secawan minuman ke bibirnya!

“Bun Beng, lihat betapa indahnya bunga ini… indah harum kupetik untukmu…” Tiba-tiba Milana menghentikan kata-kata dan langkah kakinya ketika melihat Kwi Hong sedang memberi minum Bun Beng dengan sikap mesra.

Milana memandang sejenak, lalu memejamkan mata, membuang muka, melempar kembang di tangannya kemudian membalikkan tubuh dan pergi dari situ tanpa berkata-kata. Sambil melangkah pergi dia cepat- cepat menghapus dua butir air mata yang bergantung di bulu matanya. Anak perempuan ini sama sekali tidak mengerti mengapa dia menjadi berduka, dan dia tidak tahu sama sekali bahwa setan cemburu yang selalu siap menggoda hati manusia, terutama sekali hati wanita, telah mulai menyentuh hatinya.

Dia hanya merasa kecewa karena pagi itu dia sengaja mencari bunga yang paling indah di dalam hutan untuk dipetiknya dan diberikan kepada Bun Beng yang ia tahu tentu sedang bekerja keras. Dengan hati penuh kegembiraan dia membawa bunga itu dan berlari-lari mencari Bun Beng, membayangkan betapa girangnya Bun Beng menerima pemberiannya, betapa anak laki-laki itu akan tersenyum kepadanya, memandang dengan matanya yang tajam dan tentu akan terpancing kata-kata pujian dari Bun Beng kepadanya.

Dia tidak pernah merasa bosan mendengar pujian-pujian dari mulut Bun Beng. “Milana, engkau baik sekali! Milana engkau manis sekali!” dan sebagainya. Akan tetapi kegembiraannya membuyar seperti awan tipis ditiup angin ketika tiba di tempat itu, dia melihat Kwi Hong dengan sikap mesra memberi minum Bun Beng!

Milana sendiri tidak mengerti mengapa dia harus kecewa. Dia bersahabat baik dengan Kwi Hong yang dianggapnya seperti enci-nya sendiri, yang dianggapnya sebagai seorang saudara yang lebih tua darinya, lebih pandai dan dia pun tahu bahwa sebagai murid Pendekar Siluman, Kwi Hong memiliki kepandaian silat jauh lebih tinggi dari padanya, bahkan menurut pengakuan Bun Beng, jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Bun Beng! Mengapa kini hatinya menjadi kecewa dan demikian tidak enak menyaksikan sikap mesra Kwi Hong kepada Bun Beng?

Bun Beng yang masih setengah mengantuk dan tadi menurut saja diberi minum, dengan mata setengah terpejam, dapat melihat bayangan Milana yang pergi lagi sambil membuang bunga setangkai di atas tanah. Matanya terbuka lebar memandang bunga itu dan dia lalu sadar akan keadaan dirinya yang seperti anak kecil diberi minum.

“Terima kasih, Kwi Hong, biar kuminum sendiri,” katanya sambil menerima cawan minuman itu. Kwi Hong memberikan cawannya dan memandang dengan wajah berseri ketika Bun Beng minum dan kelihatan nikmat. Tentu saja nikmat minum-minuman sedap hangat itu di pagi hari.

“Eh, mana dia tadi?” Kwi Hong bertanya sambil menengok. “Siapa?” Bun Beng pura-pura bertanya.
“Milana! Aku mendengar dia datang tadi. Mana dia?”

“Ah, aku tidak melihat dia,” kata Bun Beng sambil menutupi muka dengan cawan, meneguk habis minumannya sedangkan matanya melirik ke arah setangkai bunga yang tergeletak sunyi di atas tanah.

“Terima kasih, Kwi Hong. Engkau baik sekali.” Bun Beng mengembalikan cawan kosong yang diterima Kwi Hong dengan wajah girang. Memang itulah yang dinanti-nantinya. Untuk menerima pujian Bun Beng itu, dia mau melakukan pekerjaan yang lebih berat dari pada membuatkan secawan minuman!

“Bun Beng, mulai sekarang, engkau tidak perlu mencari kayu bakar lagi.” “Ahh, mengapa?”
“Pedang pusaka itu sudah selesai! Paman tadi berpesan agar engkau tidak perlu mengumpulkan kayu bakar lagi, akan tetapi pedang itu akan ditapai oleh Kakek Nayakavhira beberapa hari lamanya. Paman telah pergi karena Kakek itu tidak mau diganggu, dan Paman pergi mencari sepasang garuda kami karena dipanggil-panggil tak kunjung datang.”

“Dan kita…?”

“Kita harus menunggu di sini sampai Paman kembali. Eh, Bun Beng, setelah pedang selesai, engkau tentu akan ikut Paman ke Pulau Es, bukan?”

Bun Beng berpikir sejenak. Alangkah akan senang hatinya kalau dapat pergi ke tempat Pendekar Siluman dan menjadi muridnya. Akan tetapi ia teringat kepada Milana. Mana mungkin dia meninggalkan Milana di tempat itu begitu saja? Dia ingin sekali pergi bersama Pendekar Siluman, tetapi dia tidak boleh meninggalkan anak perempuan itu. Lebih dulu dia harus mengantarkan Milana sampai dapat pulang ke tempat tinggalnya, yaitu di Kerajaan Mongol.

“Aku harus mengantar Milana lebih dulu pulang ke Mongol,” katanya.

Kwi Hong tertawa. “Apa sukarnya? Dengan adanya Paman dan dengan menunggang garuda, sebentar saja kita akan dapat mengantar Milana. Eh, di mana anak, itu? Milana…! Milana…!”

“Aku di sini…! Aku datang…!” terdengar jawaban Milana dan tampaklah anak itu datang berlari menghampiri mereka. Wajahnya sudah cerah kembali karena panggilan suara Kwi Hong sudah mengusir rasa kecewa hatinya.

“Milana, pedang telah selesai dibuat dan sekarang Bun Beng tidak perlu mencari kayu bakar lagi. Kita dapat bermain-main sambil menanti sampai Kakek itu selesai menapai pedang pusaka. Biar kusimpan dulu cawan ini!” Kwi Hong berlari pergi membawa cawan kosong.

Bun Beng memakai bajunya, kemudian mengambil setangkai bunga dari atas tanah, mencium bunga yang indah itu sambil berkata, “Milana, terima kasih atas pemberian bunga ini. Engkau sungguh seorang anak yang baik hati…”

Wajah Milana berseri kemudian berubah merah ketika Bun Beng mendekatinya.

“Kalau sudah selesai, tentu engkau akan diajak pergi oleh Suma-taihiap,” kata Milana perlahan. “Engkau akan sekaligus mendapatkan seorang sahabat yang manis seperti Kwi Hong.”

“Ah, mana mungkin! Aku harus mengantarmu lebih dulu pulang ke Mongol,” jawab Bun Beng, tiba-tiba merasa kasihan kepada anak itu dan mendekati.

“Biarkanlah, aku dapat mencari jalan pulang sendiri.”

“Tidak Milana. Sebelum mengantarmu pulang, aku tidak mau pergi meninggalkanmu di sini. Pula, kurasa Suma-taihiap akan suka mengantarmu pulang dengan naik burung garudanya. Setelah kau tiba dengan selamat di sana, barulah aku akan suka ikut dan belajar ilmu kepadanya.”

“Bun Beng, mengapa engkau begini baik kepadaku?” Milana bertanya, mengangkat muka memandang dengan hati terharu.

Bun Beng tersenyum. “Apa kau kira engkau kalah baik? Engkaulah yang bersikap amat baik terhadapku. Engkau keluarga istana raja, dan aku hanya seorang anak sebatang kara yang miskin, namun sikapmu baik sekali. Bagaimana aku tidak akan bersikap baik kepadamu? Lupakah kau akan pelajaran tentang cinta kasih? Kalau engkau menganjurkan cinta kasih antara manusia, agaknya manusia seperti inilah yang paling pantas dicinta.”

Percakapan mereka adalah percakapan kanak-kanak yang meniru-niru pelajaran filsafat, maka tentu saja ‘cinta’ yang mereka sebut-sebut tidak ada hubungannya dengan cinta antara laki-laki dan perempuan dewasa. Betapa pun juga, ada sesuatu yang aneh terasa di hati mereka.

“Mengapa begitu, Bun Beng? Apa bedanya aku dengan orang lain?” “Hemm, entahlah. Mungkin karena engkau… manis sekali.”
Milana makin girang dan ia tersenyum, tidak tahu betapa Kwi Hong telah datang dan melihat mereka berdiri berhadapan demikian akrab dan melihat Bun Beng memegangi setangkai bunga indah, dan mereka tidak tahu betapa Kwi Hong yang keras hati itu memandang dengan mata bersinar-sinar penuh iri dan cemburu! Kwi Hong sendiri belum tahu tentang arti cinta antara pria dan wanita, namun tanpa disengaja dia merasa amat tidak senang menyaksikan keakraban antara Bun Beng dan Milana!

Namun Kwi Hong menyembunyikan rasa tidak senangnya ketika ia berlari menghampiri mereka dan berkata. “Nah, sekarang tiba waktunya kita bermain-main dan marilah kita memperlihatkan ilmu yang kita pelajari. Aku ingin sekali melihat ilmu silatmu, Milana. Agaknya engkau tentu telah mempelajari ilmu silat yang tinggi. Gerakan kakimu amat ringan dan tanganmu cekatan. Marilah kita main-main dan mengukur kepandaian masing-masing untuk menambah pengalaman dan pengetahuan.”

“Ah, mana mungkin aku dapat menandingimu, Kwi Hong? Engkau adalah murid Tocu dari Pulau Es yang terkenal, Pendekar Super sakti, sedangkan aku hanya seorang yang sebulan sekali saja menerima latihan dari Ibu. Dalam satu dua jurus saja aku tentu akan roboh!”

“Aihhh, mengapa kau merendahkan diri, Milana? Aku yakin kepandaianmu tentu sudah cukup tinggi. Pula, kita hanya main-main dan hitung-hitung berlatih, tidak bertanding sungguh-sungguh, mana perlu saling merobohkan?”

“Kwi Hong, ilmu silat adalah ilmu untuk menjaga diri, ada unsur bertahan akan tetapi juga selalu mengandung unsur menyerang. Kalau dipergunakan dalam pertandingan, mana bisa main-main lagi? Kepalan tangan dan tendangan kaki tidak mempunyai mata. Pula, selama hidupku, belum pernah aku menggunakan ilmu yang kupelajari untuk bertanding. Tidak, aku mengaku kalah!”

Kwi Hong menjadi kecewa sekali. Tidak ada seujung rambut dalam hatinya ingin merobohkan atau melukai Milana, hanya memang dia ingin mengalahkan anak itu di depan Bun Beng untuk mendapat pujian!

“Milana, untuk apa engkau mempelajari ilmu kalau kau takut mempergunakannya?” Ia mendesak.

Bun Beng yang sudah mengenal watak halus Milana merasa kasihan. Dia tidak menyalahkan Kwi Hong, karena ia maklum bahwa orang yang mempelajari ilmu silat tentu senang bertanding silat dan ia pun tahu bahwa bukan niat Kwi Hong untuk melukai Milana. Tentu saja Kwi Hong belum mengenal watak Milana yang sama sekali berlawanan dengan ilmu silat itu, maka ia melangkah maju dan berkata,

“Kwi Hong, Milana tidak mau bertanding mengadu ilmu. Wataknya terlalu halus untuk bertanding. Kalau engkau ingin berlatih, marilah kulayani, biar terbuka mataku dan bertambah pengetahuanku menerima pelajaran dari murid Suma-taihiap yang sakti.”

Dalam ucapan ini, Bun Beng sama sekali tidak menyalahkan Kwi Hong, hanya ingin menolong Milana yang kelihatan terpojok. Akan tetapi hati Kwi Hong tersinggung dengan kata-kata bahwa watak Milana terlalu halus, sama dengan mengatakan bahwa wataknya adalah kasar! Dengan kedua pipi merah ia lalu menjawab singkat.

“Baiklah. Mari!” Setelah berkata demikian ia lalu menerjang maju dengan serangan ke arah dada Bun Beng!

Bun Beng cepat mengelak dan melompat ke belakang, akan tetapi gerakan Kwi Hong amat cepatnya dan anak ini sudah melanjutkan serangannya dengan pukulan lain yang amat cepat. Bun Beng terkejut, tak sempat mengelak lagi maka ia lalu menggerakkan tangan menangkis.

“Dukkk!”

Kwi Hong merasa lengannya agak nyeri, akan tetapi Bun Beng terhuyung ke belakang. Dalam hal tenaga sinkang dia kalah kuat oleh Kwi Hong yang menerima latihan sinkang istimewa dari Suma Han di Pulau Es! Dan Kwi Hong yang merasa lengannya nyeri itu menjadi penasaran, mengira bahwa Bun Beng agaknya memiliki kepandaian tinggi maka dia lalu menyerang terus dengan gencar.

Bun Beng menggerakkan kaki tangan, mempertahankan diri dengan ilmu silat dari Siauw-lim-pai yang ia pelajari dari mendiang suhu-nya, Siauw Lam Hwesio. Akan tetapi lewat belasan jurus, dia terdesak hebat dan setiap kali terpaksa menangkis, dia terpental atau terhuyung.

“Wah, Kwi Hong… aku menyerah kalah!” Bun Beng berseru sambil menangkis lagi. “Dukkk!”
Kembali Kwi Hong merasa lengannya nyeri. Biar pun sinkang-nya lebih kuat, namun kulit lengannya tidak sekeras dan sekuat Bun Beng yang selama setengah tahun hidup seperti kera liar dalam keadaan telanjang bulat. Ia makin penasaran.

“Mengadu ilmu tidak perlu mengalah. Bun Beng, keluarkan kepandaianmu, balaslah menyerang, jangan mempertahankan saja!” Kwi Hong melanjutkan serangannya lebih cepat lagi sehingga Bun Beng menjadi repot sekali.

Karena serangan bertubi-tubi itu amat cepat dan dahsyat, terpaksa ia dalam keadaan setengah sadar telah menggerakkan kaki tangannya menurutkan ilmu dalam tiga kitab Sam-po-cin-keng. Dia menangkis dengan gerakan membentuk lingkaran dengan kaki tangannya dan dari samping ia mengirim pukulan balasan, hanya mendorong ke arah pundak Kwi Hong dan dia berhasil! Pundak Kwi Hong terkena dorongannya sehingga anak perempuan itu terhuyung.

“Kau hebat juga!” Biar pun mulutnya memuji, namun hati Kwi Hong menjadi panas. Dia menerjang lagi lebih hebat. Memang watak Kwi Hong keras dan tidak mau kalah. Dia merasa bahwa sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti dia tidak akan terkalahkan oleh anak-anak lain!

Bun Beng menjadi sibuk sekali. Biar pun dia mainkan ilmu silat yang dipelajari dari kitab orang sakti yang ia temukan di dalam sumber air panas di goa rahasia, namun isi kitab itu lebih ia kuasai teorinya saja, sedangkan isinya belum ia mengerti benar. Apa lagi kini Kwi Hong benar-benar mengeluarkan kepandaiannya. Ilmu silat yang dia pelajari dari Suma Han adalah ilmu silat tingkat tinggi dan anak ini setiap hari berlatih dengan para penghuni Pulau Es maka tentu saja serangan-serangannya amat hebat!

“Plakkk!”

Punggung Bun Beng kena ditampar. Dia terhuyung, tetapi berkat semua penderitaan tubuhnya yang membuat tubuhnya kuat, dia tidak roboh dan dapat menangkis pukulan susulan. Kembali dia didesak hebat sampai mundur-mundur dan hanya mampu mengelak menangkis, sedangkan Kwi Hong seperti seekor harimau betina mempunyai keinginan untuk merobohkan Bun Beng. Kalau sudah kalah, tentu Bun Beng tidak berani merendahkannya dan akan menghargainya seperti yang ia inginkan!

“Kwi Hong, sudahlah…!” berkali-kali Milana menjerit ketika melihat betapa Bun Beng mulai terkena pukulan beberapa kali. Biar pun bukan pukulan yang membahayakan, namun cukup membuat Bun Beng beberapa kali terhuyung dan mengaduh.

Tiba-tiba Bun Beng menerjang dengan nekat! Sudah menjadi watak Bun Beng sebagai seorang anak yang tidak mengenal takut dan pantang menyerah! Apa lagi baru menerima pukulan-pukulan seperti itu, biar pun diancam maut sekali pun dia pantang menyerah dan akan melakukan perlawanan. Dia sudah mengalah, akan tetapi karena Kwi Hong agaknya bersikeras untuk merobohkannya, dia menjadi naik darah dan kini Bun Beng menerjang hebat dengan ilmu barunya secara sedapat-dapatnya.

Biar pun gerakannya seperti ngawur, namun kakinya berhasil mengenai lutut Kwi Hong sehingga gadis cilik yang merasa kaki kirinya tiba-tiba lemas itu hampir jatuh! Dia meloncat tinggi kemudian menukik turun dan menyerang Bun Beng dari atas dengan kedua tangan. Bun Beng terkejut, berusaha menangkis, akan tetapi hanya berhasil menangkis serangan tangan kanan, sedangkan tangan kiri Kwi Hong dapat menotok pundak Bun Beng, membuat pemuda cilik itu terguling.

“Kwi Hong, jangan lukai Bun Beng!” Tiba-tiba Milana yang sejak tadi berteriak-teriak mencegah pertandingan sudah menerjang maju.

“Wuuut…! Plakkk!” Terjangan Milana cepat sekali, akan tetapi Kwi Hong masih sempat menangkis sehingga keduanya terhuyung mundur.

“Hemm, kiranya engkau boleh juga!” Kwi Hong yang sudah menjadi marah karena menyesal bahwa dia telah merobohkan Bun Beng dan tentu Bun Beng akan marah kepadanya, sebaliknya suka kepada Milana yang membelanya, kini menyerang Milana yang cepat mengelak dan balas menyerang!

Kiranya anak yang berwatak halus ini memiliki gerakan yang indah dan ringan sekali sehingga pukulan- pukulan Kwi Hong dapat ia elakkan semua. Betapa pun juga dia segera terdesak hebat karena agaknya hanya dalam keringanan tubuh saja dia dapat menandingi, sedangkan dalam ilmu silat dan tenaga, dia kalah banyak. Biar pun Milana bergerak dengan gesit, tidak urung dia terkena dorongan tangan Kwi Hong yang mengenai pinggangnya sehingga ia terpelanting jatuh.

“Kwi Hong, kau terlalu!” Bun Beng menubruk Kwi Hong, akan tetapi cepat Kwi Hong mengelak menjatuhkan diri sambil menendang.

“Bukkk!” Paha Bun Beng terkena tendangan sehingga untuk kedua kalinya dia jatuh tersungkur.

“Kwi Hong! Apa yang kau lakukan ini?” Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Suma Han telah berada di situ. Melihat pamannya, seketika lenyap kemarahan dari hati Kwi Hong, terganti rasa takut. “Paman, kami hanya main-main….”

“Main-main?” Suma Han memandang Bun Beng yang telah bangun dan mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor. Juga Milana telah bangun dan memandang dengan wajah tenang.

“Karena menganggur, kami berlatih silat,” kata pula Kwi Hong.

“Hemm…” Suma Han tetap memandang Bun Beng dan Milana penuh selidik.

Melihat sikap pendekar itu dan melihat betapa Kwi Hong ketakutan, Bun Beng lalu cepat berkata. “Kami hanya berlatih.”

Milana juga berkata, “Kwi Hong hanya melatih saya, Suma-taihiap.”

Suma Han mengerutkan keningnya, wajahnya yang biasanya sudah muram itu kini tampak seolah-olah ada sesuatu yang mengesalkan hatinya. Tanpa menjawab ia lalu meloncat dan tubuhnya berkelebat memasuki pondok.

Kwi Hong memandang kepada Bun Beng dan Milana, kemudian dengan suara penuh penyesalan berkata, “Maafkan aku, kalian baik sekali.”

Tiba-tiba terdengar bunyi lengking keras dari dalam pondok dan tubuh Suma Han meloncat keluar, tahu- tahu sudah tiba di dekat mereka bertiga, matanya mengeluarkan sinar marah ketika ia menegur.

“Kalian tidak melihat orang datang ke pondok?”

Tiga orang anak itu memandang Suma Han dengan heran, lalu menggeleng kepala. Suma Han menghela napas panjang. “Kalian hanya bermain-main saja, sedangkan sepasang garuda dibunuh orang dan pedang pusaka lenyap dari pondok.”

Tiga orang anak itu terkejut bukan main, “Pek-eng dibunuh…?” Kwi Hong bertanya dan suaranya terdengar bahwa dia menahan tangisnya.

“Mati terpanah. Tidak mudah kedua burung itu dipanah, tentu pemanahnya seorang yang berilmu tinggi. Dan selagi kalian main-main, pedang pusaka dicuri orang.”

“Kakek Nayakavhira…?” tanya Milana. “Dia telah meninggal dunia.”
“Ohh! Dia dibunuh?” Bun Beng berteriak kaget.

Suma Han menggeleng kepala. “Dia mati selagi bersemedhi. Sungguh celaka, ada orang berani mempermainkan aku secara keterlaluan. Kalian di sini saja, jangan main-main, bantu aku pasang mata, lihat-lihat kalau ada orang. Aku akan memperabukan jenazah Nayakavhira.” Suma Han lalu membakar pondok itu setelah menumpuk sisa kayu bakar ke dalam pondok dan meletakkan jenazah kakek yang masih bersila itu di atasnya.

Pondok terbakar oleh api yang bernyala-nyala besar. Suma Han berdiri tegak memandang, dan tiga orang itu juga memandang dengan hati kecut. Sungguh tidak mereka sangka terjadi hal-hal yang demikian hebat. Selain dua ekor burung garuda terbunuh orang, juga pedang pusaka yang dibuat sedemikian susah payah itu dicuri orang dari pondok tanpa mereka ketahui sama sekali.

Timbul penyesalan besar di dalam hati Kwi Hong karena andai kata dia tidak memaksa Bun Beng dan Milana bertempur, tentu mereka lebih waspada dan dapat melihat orang yang memasuki pondok dan mencuri pedang pusaka. Andai kata mereka bertiga tidak dapat mencegah pencuri itu melarikan pedang, sedikitnya mereka dapat menceritakan pamannya bagaimana macamnya orang yang mencuri pedang. Sekarang pedang tercuri tanpa diketahui siapa pencurinya!

Keadaan di situ menjadi sunyi sekali karena Suma Han dan tiga orang anak itu tidak bergerak, memandang pondok yang dibakar. Hanya suara api membakar kayu jelas terdengar mengantar asap yang membubung tinggi ke atas. Tiba-tiba tiga orang anak itu terkejut ketika mendengar suara ketawa melengking yang menggetarkan isi dada mereka. Pantasnya iblis sendiri yang mengeluarkan suara seperti itu, yang datang dari timur seperti terbawa angin, bergema di sekitar daerah itu.

Lebih kaget lagi hati mereka bertiga ketika melihat tubuh Suma Han berkelebat cepat dan lenyap dari situ, meninggalkan suara perlahan namun jelas terdengar oleh mereka. “Kalian tinggal di sini, jangan pergi!”

Selagi tiga orang itu bengong saling pandang dengan muka khawatir, tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dan berkelebat bayangan orang. Tahu-tahu di situ muncul seorang laki-laki yang berwajah tampan, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian seperti siucai dan di punggungnya tampak sebatang pedang. Melihat munculnya orang yang tertawa-tawa ini, Bun Beng memandang penuh perhatian dan dia melihat sebatang pedang bersinar putih tanpa gagang terselip di ikat pinggang orang itu. Anak yang cerdik ini segera dapat menduga bahwa tentu orang ini mencuri pedang, dan pedang bersinar putih yang terselip dan ditutupi jubah namun masih tampak sedikit itu adalah pedang pusaka yang dicurinya.

“Engkau pencuri pedang!” Bentaknya marah dan tanpa mempedulikan sesuatu, Bun Beng sudah menubruk ke depan. Akan tetapi sebuah tendangan tepat mendorong dadanya dan ia roboh terjengkang.

“Ha-ha-ha! Memang aku yang mengambil pedang pusaka. Dan siapa di antara kalian berdua yang menjadi murid perempuan Pendekar Siluman?”

Kwi Hong yang mendengar pengakuan itu telah menjadi marah sekali. Inilah orangnya yang membikin kacau dan membikin marah gurunya atau pamannya, pikirnya. Ia bergerak maju sambil membentak, “Aku adalah murid Pendekar Super Sakti! Maling hina, kembalikan pedang!”

Akan tetapi sambil tertawa-tawa, laki-laki tampan itu membiarkan Kwi Hong memukulnya dan ketika kepalan tangan gadis cilik itu mengenai perutnya, Kwi Hong merasa seperti memukul kapas saja. Ia terkejut, akan tetapi tiba-tiba lengannya sudah ditangkap, tubuhnya dikempit dan sambil tertawa laki-laki itu sudah meloncat dan lari pergi.

“Tahan…!” Milana berseru dan meloncat ke depan, tetapi sekali orang itu mengibaskan lengan kirinya, tubuh Milana terpelanting dan roboh terguling.

Bun Beng sudah bangkit lagi, tak peduli akan kepeningan kepalanya dan dia mengejar secepat mungkin. Namun laki-laki itu berloncatan cepat sekali dan sudah menghilang. Bun Beng teringat akan suara ketawa dari arah timur tadi, maka dia lalu mengejar ke timur.

Milana merangkak bangun, menggoyang-goyang kepalanya yang pening. Ia kemudian mengangkat muka memandang, akan tetapi tidak tampak lagi laki-laki yang menculik Kwi Hong, juga tidak tampak bayangan Bun Beng. Dia menduga tentu Bun Beng melakukan pengejaran, maka dia pun meloncat bangun dan mengejar ke timur karena seperti Bun Beng, dia tadi mendengar suara ketawa dari timur.

Tentu saja baik Bun Beng mau pun Milana tertinggal jauh sekali oleh laki-laki yang menculik Kwi Hong karena orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga kedua orang anak itu selain tertinggal juga masing-masing melakukan pengejaran secara ngawur tanpa mengetahui ke mana larinya si penculik dan pencuri pedang itu.

Penculik berpakaian sastrawan itu bukan lain adalah Tan Ki atau Tan-siucai yang telah miring otaknya! Setelah berhasil membunuh Im-yang Seng-cu yang dipersalahkan karena Im-yang Seng-cu tidak membalas dendam dan membunuh Pendekar Siluman, Tan-siucai bersama gurunya yang aneh dan amat lihai itu lalu melanjutkan perjalanan mencari Pendekar Siluman yang kabarnya menjadi Tocu Pulau Es. Secara kebetulan sekali, ketika mereka berjalan di sepanjang pesisir lautan utara untuk menyelidiki di mana adanya Pulau Es, pada suatu hari mereka melihat dua ekor burung garuda putih beterbangan.

“Guru, bukankah burung-burung itu adalah garuda putih yang amat besar-besar. Seperti kita dengar, tunggangan Suma Han juga burung garuda putih. Siapa tahu burung-burung itu adalah tunggangannya?” Kata Tan-siucai.

“Hm, burung yang indah dan hebat, sebaiknya ditangkap!” kata Maharya memandang kagum, lalu ia mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangan dan melontarkan batu itu ke arah seekor dari pada dua burung garuda putih yang terbang rendah.

Dua ekor burung itu memang benar burung-burung peliharaan Suma Han yang ditinggalkan di tempat itu ketika Kwi Hong hendak menonton kakek menunggang gajah. Karena lama majikan mereka tidak memanggil, kedua burung garuda itu menjadi kesal dan beterbangan sambil menyambari ikan yang berani mengambang di permukaan laut, juga mencari binatang-binatang kecil yang dapat mereka jadikan mangsa.

Lontaran batu dari tangan Maharya amat kuatnya sehingga batu itu meluncur seperti peluru ke arah burung garuda betina. Burung ini sudah terlatih, melihat ada sinar menyambar ke arahnya, ia lalu menangkis dengan cakarnya. Akan tetapi, biar pun batu itu hancur oleh cakarnya, burung itu memekik kesakitan karena tenaga lontaran yang kuat itu membuat kakinya terluka. Dia menjadi marah sekali, mengeluarkan lengking panjang sebagai tanda marah dan menyambar turun ke bawah dengan kecepatan kilat, mencengkeram kepala Maharya yang berani mengganggunya!

“Eh, burung jahanam!” Maharya menyumpah ketika terjangan itu membuat ia terkejut dan hampir jatuh, sungguh pun dia dapat mengelak dengan loncatan ke kiri.

“Tidak salah lagi, tentu tunggangan Pendekar Siluman!” Kata Tan-siucai. “Kalau burung liar mana mungkin begitu lihai? Guru, kita bunuh saja burung-burung ini!”

Setelah berkata demikian, Tan Ki mengeluarkan sebatang panah, memasang pada sebuah gendewa kecil. Menjepretlah tali gendewa dan sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan kilat menyambar burung garuda betina yang masih terbang rendah. Burung itu berusaha mengelak dan menangkis dengan sayapnya, namun anak panah itu dilepas oleh tangan yang kuat sekali, menembus sayap dan menancap dada! Burung itu memekik dan melayang jatuh, terbanting di atas tanah, berkelojotan dan mati!

Burung garuda jantan menjadi marah sekali, mengeluarkan pekik nyaring dan menyambar ke bawah hendak menyerang Tan-siucai. Namun sambil tertawa, Tan Ki sudah melepas sebatang anak panah lagi. Garuda ini pun mencengkeram, namun anak panah itu tetap saja menembus dadanya dan burung ini pun roboh tewas! Dua ekor burung garuda yang terjatuh kini tewas di tangan seorang berotak miring yang lihai sekali.

Tan-siucai dan gurunya kini merasa yakin bahwa tentu kedua ekor burung garuda itu adalah binatang tunggangan Pendekar Siluman seperti yang mereka dengar diceritakan orang-orang kang-ouw. Maka mereka berlaku hati-hati, menyelidiki daerah itu dan akhirnya dari jauh mereka melihat pondok di mana mengepul asap dan terdengar bunyi martil berdencing. Mereka tidak berlaku sembrono, hanya mengintip dengan sabar dan dapat menduga bahwa Pendekar Siluman tentu berada di pondok itu, sedangkan seorang di antara dua orang anak perempuan yang bermain-main di luar dengan seorang anak laki-laki tentulah muridnya seperti yang dikabarkan orang.

Tadinya Tan-siucai hendak mengajak gurunya menyerbu dan membunuh musuh yang dibencinya itu, yang dianggap telah merampas tunangannya. Akan tetapi ketika Maharya mendapatkan bangkai gajah besar tak jauh dari tempat itu, dia menahan niat ini.

“Kalau tidak salah, gajah ini adalah binatang tunggangan kakakku Nayakavhira! Jangan-jangan tua bangka itu pun berada di dalam pondok bersama Pendekar Siluman. Aahhh, tidak salah lagi, tentu dia. Dan suara berdencing itu. Tentu Si Tua Bangka membuatkan pedang pusaka untuk Pendekar Siluman! Huh, dia selalu menentangku! Kalau aku tidak bisa membunuhnya, tentu dia akan mendahului aku merampas Sepasang Pedang Iblis! Kita harus berhati-hati. Aku tidak takut menghadapi Pendekar Siluman kaki buntung yang disohorkan orang itu. Akan tetapi tua bangka Nayakavhira itu lihai sekali dan terhadap dia kita tidak dapat menggunakan ilmu sihir. Kita menanti saja dan kalau ada kesempatan baik, baru kita menyerbu.”

Ketika melihat Suma Han keluar dari pondok dan meninggalkan tiga orang anak, Maharya lalu mengajak muridnya diam-diam, menggunakan kesempatan selagi tiga orang anak itu bertempur untuk menyelundup ke dalam pondok. “Dia tentu sedang semedhi menapai pedang, inilah kesempatan baik karena Pendekar Siluman sedang keluar. Kau ambil pedangnya, biar aku yang menghadapi Nayakavhira!”

Akan tetapi, ketika mereka memasuki pondok, mereka melihat bahwa Nayakavhira telah mati dalam keadaan masih duduk bersila di pondok, di depannya menggeletak sebatang pedang bersinar putih yang belum ada gagangnya. Tentu saja Maharya menjadi girang sekali dan Tan-siucai mengambil pedang pusaka itu. Diam-diam mereka keluar dari pondok dan mengintai dari tempat persembunyian mereka. Mereka melihat Suma Han datang lagi, kemudian melihat Suma Han membakar pondok untuk memperabukan jenazah Nayakavhira.

“Bagus! Sekarang biar aku memancing dia pergi, hendak kucoba sampai di mana kepandaiannya. Kau menjaga di sini, kalau dia sudah pergi, kau culik muridnya. Dengan demikian, akan lebih mudah engkau membalas dendam.”

Demikianlah, dari tempat jauh di sebelah timur Maharya mengeluarkan suara ketawa sehingga memancing datangnya Suma Han, sedangkan Tan-siucai berhasil menculik Kwi Hong! Pada hakekatnya, Tan-siucai bukanlah seorang yang jahat atau kejam. Akan tetapi pada waktu itu otaknya sudah miring karena dendamnya dan karena dia memaksa diri mempelajari ilmu sihir dari Maharya. Maka dia pun tidak membunuh Bun Beng dan Milana, hal yang akan mudah dan dapat ia lakukan kalau dia berhati kejam. Dia mengempit tubuh Kwi Hong sambil lari menyusul gurunya dan terkekeh mengerikan.

“Lepaskan aku! Keparat, lepaskan aku! Kalau tidak, Pamanku akan menghancurkan kepalamu!”

“Heh-heh-heh, Pamanmu? Gurumu sekali pun, Si Pendekar Buntung kakinya itu, tidak akan mampu membunuhku, bahkan dia yang kini akan mampus di tangan Guruku. Siapa Pamanmu, heh?”

“Tolol! Pamanku ialah guruku Suma Han Pendekar Super Sakti, Tocu dari Pulau Es! Lepaskan aku!”

Saking herannya bahwa anak perempuan itu bukan hanya murid, akan tetapi juga keponakan musuh besarnya, Tan-siucai melepaskan Kwi Hong dan memandang dengan mata terbelalak. “Engkau keponakannya? Keponakan dari mana, heh?”

Kwi Hong mengira bahwa orang gila ini takut mendengar bahwa dia keponakan gurunya, maka dia berkata, “Guruku adalah adik kandung mendiang Ibuku.”

Tan-siucai tertawa. “Ha-ha-ha-ha! Kebetulan sekali! Dia telah membunuh kekasihku, tunanganku, calon isteriku. Biar dia lihat bagaimana rasanya melihat keponakannya kubunuh di depan matanya. Heh-heh- heh!”

Kwi Hong memandang marah. “Setan keparat! Engkau gila! Diriku tidak membunuh siapa-siapa dan jangan kira engkau akan dapat terlepas dari tangannya kalau kau berani menggangguku!”

“Engkau mau lari? Heh-heh-heh, larilah kalau mampu. Lihat, api dari tanganku sudah mengurungmu, bagaimana kau bisa lari?”

Kwi Hong memandang dan ia terpekik kaget melihat betapa kedua tangan yang dikembangkan itu benar- benar mengeluarkan api yang menyala-nyala dan mengurung di sekelilingnya! “Setan… engkau setan…!” Ia memaki akan tetapi hatinya merasa takut dan ngeri.

“Ha-ha-ha, hayo ikut bersamaku. Aku tidak mau terlambat melihat musuh besarku mati di tangan Guruku!”

Tan-siucai menubruk hendak menangkap Kwi Hong. Anak ini menjerit dan tanpa mempedulikan api yang bernyala-nyala di sekelilingnya, ia meloncat menerjang api. Dan terjadilah hal yang mengherankan hatinya. Ketika menerjang, api itu tidak membakarnya, bahkan tidak ada lagi! Seolah-olah melihat api tadi hanya terjadi dalam mimpi! Maka ia berbesar hati lari terus.

“Hei-hei… engkau mau lari ke mana, heh?” Tan-siucai mengejar dan agaknya dalam kegilaannya ia merasa senang mempermainkan Kwi Hong, mengejar sambil menggertak menakut-nakuti, tidak segera menangkapnya, padahal kalau dia mau, tentu saja dia dapat menangkap dengan mudah dan cepat. Lagaknya seperti seekor kucing yang hendak mempermainkan seekor tikus. Membiarkannya lari dulu untuk kemudian ditangkap dan diganyangnya.

Tan-siucai hanya hendak menakut-nakuti saja karena anak itu adalah keponakan dan murid musuh besarnya, tidak mempunyai maksud sedikit pun juga di hatinya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik. Mungkin dia akan benar-benar membunuh Kwi Hong di depan Suma Han, namun hal itu pun akan dilakukan semata-mata untuk menyakiti hati musuh besar yang telah merampas dan dianggap membunuh kekasihnya!

“Heh-heh-heh, mau lari ke mana kau?” Sekali meloncat, tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan dan sambil tertawa-tawa ia telah tiba menghadang di depan Kwi Hong!

“Ihhhhh!” Kwi Hong menjerit kaget penuh kengerian, akan tetapi dia tidak takut dan menghantam perut orang itu.

“Cessss!” Tangannya mengenai perut yang lunak seolah-olah tenaganya amblas ke dalam air, maka Kwi Hong lalu membalikkan tubuh dan melarikan diri ke lain jurusan.

“Heh-heh-heh, larilah yang cepat, larilah kuda cilik, lari! Ha-ha-ha!” Tan-siucai tertawa-tawa dan mengejar lagi dari belakang. Berkali-kali ia mempermainkan Kwi Hong dengan loncat menghadang di depan anak itu.

Ketika ia sudah merasa puas mempermainkan sehingga Kwi Hong mulai terengah-engah kelelahan, tiba- tiba Tan-siucai tersentak kaget karena tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang wanita yang mukanya berkerudung menyeramkan!

Biar pun Tan-siucai kini telah menjadi seorang yang berkepandaian tinggi, namun kemiringan otaknya membuat dia kadang-kadang seperti kanak-kanak. Begitu melihat munculnya seorang wanita berkerudung, agaknya ia teringat akan cerita-cerita yang dibacanya tentang setan-setan dan iblis, maka mukanya berubah pucat dan ia membalikkan tubuhnya melarikan diri sambil menjerit, “Ada setan…!”

“Aduhhh…!” Ia menjerit dan tubuhnya terpental karena pinggulnya telah ditendang dari belakang.

Kini wanita berkerudung itulah yang keheranan. Tendangannya tadi disertai sinkang yang kuat, yang akan meremukkan batu karang dan orang di dunia kang-ouw jarang ada yang sanggup menerima tendangannya itu tanpa menderita luka berat atau bahkan mati. Akan tetapi orang gila itu hanya menjerit tanpa menderita luka sedikit pun. Bahkan kakinya merasakan pinggul yang lunak seperti karet busa!

“Eh, kau… kau bukan setan? Kakimu menginjak tanah, terang bukan setan! Keparat, kau berani menendang aku? Tunggu ya, aku akan menangkap dulu anak itu!” Tan-siucai melangkah hendak menangkap lengan Kwi Hong yang masih berdiri terengah-engah dan juga memandang wanita berkerudung itu dengan mata terbelalak.

“Jangan ganggu dia!” Tiba-tiba wanita itu membentak, suaranya merdu namun dingin dan mengandung getaran kuat.

Tan-siucai sadar bahwa wanita ini agaknya memang sengaja hendak menentangnya maka ia membusungkan dada dan menudingkan telunjuknya. “Aihh, kiranya engkau hendak menentangku, ya? Sungguh berani mati. Engkau tidak tahu aku siapa? Awas, kalau aku sudah marah, tidak peduli lagi apakah engkau wanita atau pria, berkerudung atau tidak, sekali bergerak aku akan mencabut nyawamu!”

Wanita berkerudung itu mendengus penuh hinaan, “Siapa takut padamu? Tentu saja aku tahu engkau siapa. Engkau adalah seorang yang tidak waras, berotak miring yang menakut-nakuti seorang anak perempuan. Kalau aku tidak ingat bahwa engkau adalah seorang gila, apakah kau kira tidak sudah tadi-tadi kupukul kau sampai mampus? Nah, pergilah. Aku memaafkanmu karena engkau gila dan tinggalkan anak ini.”

Tan-siucai sudah lenyap kegilaannya dan ia marah sekali. “Engkau yang gila! Engkau perempuan lancang, hendak mencampuri urusan orang lain dan engkau memakai kerudung penutup muka. Hayo buka kerudungmu dan lekas minta ampun kepadaku!”

“Agaknya selain gila, engkau pun sudah bosan hidup. Nah, mampuslah!” Tiba-tiba wanita berkerudung itu menerjang maju dengan cepat sekali, tahu-tahu tangannya sudah mengirim totokan maut ke arah ulu hati Tan-siucai.

Tan-siucai telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun dia terkejut sekali karena maklum bahwa totokan itu dapat membunuhnya dan bahwa gerakan wanita itu selain cepat seperti kilat juga mengandung sinkang yang luar biasa! Dia tidak berani main-main lagi, tahu bahwa lawannya adalah seorang pandai, maka cepat ia menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga.

“Desss!” Tubuh Tan-siucai terguling saking hebatnya benturan tenaga itu dan ia cepat meloncat bangun sambil mengirim serangan balasan penuh marah.

“Hemm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian!” Wanita berkerudung itu berseru dan menyambut pukulan Tan-siucai dengan sambaran tangan ke arah pergelangan lawan. Tan-siucai tidak mau lengannya ditangkap maka ia menghentikan pukulannya dan tiba-tiba kakinya menendang, sebuah tendangan yang mendatangkan angin keras mengarah pusar lawan.

“Wuuuttt!” Wanita itu miringkan tubuh membiarkan tendangan lewat dan secepat kilat kakinya mendorong belakang kaki yang sedang menendang itu. Gerakan ini amat aneh dan Tan-siucai tak dapat mengelak lagi. Kakinya yang luput menendang itu terdorong ke atas, membawa tubuhnya sehingga ia terlempar ke atas seperti dilontarkan.

“Aiiihhh…!” Tan-siucai berteriak.

Akan tetapi wanita itu kagum juga menyaksikan betapa lawannya yang gila itu ternyata memiliki ginkang yang tinggi sehingga mampu berjungkir balik di udara dan turun ke tanah dengan keadaan kakinya tegak berdiri.

Ada pun Tan-siucai yang makin terkejut dan terheran menyaksikan gerakan wanita berkerudung itu, teringat akan sesuatu dan membentak, “Aku mendengar bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah…”

“Akulah Ketua Thian-liong-pang!” Wanita itu memotong dan menerjang lagi, dengan gerakan cepat sekali sehingga sukar diikuti pandang mata dan Tan-siucai terpaksa meloncat mundur dengan kaget.

“Singggggg…!” Tampak sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu tangan Tan-siucai telah mencabut pedang hitamnya, tampak sinar hitam bergulung-gulung dengan dahsyatnya.

Diam-diam Ketua Thian-liong-pang itu kaget dan heran. Bagaimana tiba-tiba muncul seorang siucai gila seperti ini padahal di dunia kang-ouw tidak pernah terdengar namanya. Namun dia tidak gentar sedikit pun juga. Dia maklum bahwa tingkat kepandaian siucai tampan yang gila ini amat tinggi, akan tetapi tidak terlampau tinggi. Maka ia pun menghadapinya dengan kedua tangan kosong saja. Tubuhnya berkelebatan menyelinap di antara sinar pedang hitam dan mengirim pukulan sinkang bertubi-tubi sehingga hawa pukulan itu saja cukup membuat Tan-siucai terhuyung mundur dan kacau permainan pedangnya!

Ketika dengan rasa penasaran ia membabat kedua kaki wanita itu, Ketua Thian-liong-pang mencelat ke atas, ujung kakinya menendang tenggorokan lawan, Tan-siucai miringkan kepala dengan kaget sekali.

“Aduhhhh…!” Ia menjerit dan roboh terguling-guling, tulang pundaknya yang tersentuh ujung sepatu wanita terasa hendak copot, nyeri sampai menusuk ke jantung rasanya.

“Pangcu dari Thian-liong-pang, lihat baik-baik siapa aku! Engkau takut dan lemas, berlututlah!” tiba-tiba Tan-siucai menuding dengan pedangnya, melakukan ilmu hitamnya untuk menguasai semangat dan pikiran lawannya melalui gerakan, suara dan pandang matanya.

Namun Ketua Thian-liong-pang itu memakai kerudung di depan mukanya sehingga tidak dapat dikuasai oleh pandang matanya, ada pun suaranya yang mengandung getaran khikang hebat itu masih kalah kuat oleh sinkang lawan. Kini wanita itu tertawa merdu, ketawa yang bukan sembarang ketawa karena suara ketawanya digerakkan dengan sinkang dari pusar sehingga membawa getaran yang amat kuat. Gelombang getaran ini menyentuh hati Tan-siucai sehingga dia ikut pula tertawa bergelak di luar kemauannya. Mendengar suara ketawanya sendiri, Tan-siucai terkejut dan cepat ia menindas rasa ingin ketawa itu, pedangnya membacok dari atas!

“Manusia berbahaya perlu dibasmi!” Tiba-tiba Ketua Thian-liong-pang itu berkata dan tangan kirinya bergerak dari atas, ketika pedang itu tiba ia menjepit pedang dari atas dengan jari tangannya yang ditekuk!

Bukan main hebatnya ilmu ini yang tentu saja hanya mampu dilakukan oleh orang yang kepandaiannya sudah tinggi sekali dan sinkang-nya sudah amat kuat. Tan-siucai terkejut, berusaha menarik pedang namun pedang itu seperti dijepit oleh tang baja dan sama sekali tidak mampu ia gerakkan. Saat itu Ketua Thian-liong-pang sudah menyodokkan jari-jari tangan kanannya ke arah perut Tan-siucai yang kalau mengenai sasaran tentu akan mengoyak kulit perut!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo