September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 5

 

Anak perempuan itu terbelalak penuh kengerian dan berusaha mengikuti keranjang terisi anak laki-laki yang jatuh dengan pandangan matanya. Akan tetapi jatuhnya keranjang itu terlampau cepat dan sudah lenyap ditelan awan, maka ia menggerakkan pundaknya dan menyuruh garudanya terbang pergi juga dengan cepat sekali.

“Bibi Pek-eng (Garuda Putih), bawa aku pulang ke Pulau Es. Sudah terlalu lama kita pergi, aku khawatir Suhu akan marah sekali kepadaku!” Bisik anak perempuan itu kepada garudanya.

Anak itu, tepat seperti dugaan Bun Beng, adalah Giam Kwi Hong, keponakan dan juga murid dari Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti, Tocu (Majikan Pulau) Pulau Es. Anak ini telah dibawa olah Suma Han ke Pulau Es di mana dia digembleng oleh pendekar sakti itu sebagai muridnya. Karena dia amat disayang oleh gurunya yang juga menjadi pamannya, dan karena semua penghuni Pulau Es juga sayang dan takut kepadanya, maka Kwi Hong memiliki watak yang agak manja sehingga dia berani meninggalkan Pulau Es di luar tahu gurunya.

Hal ini adalah karena dia selalu dilarang untuk meninggalkan pulau dan memang anak yang ditekan dan dilarang, biasanya setelah agak besar akan berontak karena larangan itu justru menimbulkan daya tarik dan gairah untuk mengetahui bagaimana macamnya dunia di luar Pulau Es! Kwi Hong menunggang garuda betina putih meninggalkan pulau untuk ‘melihat-lihat’.

Garuda itu terbang menuju ke timur laut, akan tetapi karena dia merasa lelah setelah bertempur, tanpa diperintah setelah terbang setengah hari lamanya, dia menukik turun dan hinggap di atas gunung karang dekat laut untuk beristirahat. Burung ini biar pun terlatih dan kuat sekali, namun dia tetap seekor binatang yang bergerak menurutkan kebutuhan tubuhnya. Dia merasa lelah dan harus beristirahat sebelum melanjutkan penerbangan ke Pulau Es yang jauh.

Karena lelah kedua-duanya, baik garuda itu mau pun Kwi Hong tidak tahu bahwa dari depan tampak dua titik hitam yang terbang cepat sekali. Ketika Kwi Hong melompat turun dari punggung garudanya, dua titik hitam itu telah berada di atas dan ternyata itu adalah dua ekor burung rajawali, ditunggagi oleh anak laki- laki bekas lawannya tadi sedangkan yang seekor lagi ditunggangi oleh seorang wanita yang cantik sekali. Dua ekor rajawali itu meluncur turun dan tak lama kemudian hinggap tak jauh dari situ.

Melihat bekas lawannya, garuda putih memekik dan menerjang maju, akan tetapi wanita itu menggerakkan tangan dan tampak berkelebat bayangan hitam kecil panjang yang menyambut tubuh garuda. Di lain saat, garuda itu telah terbelenggu kedua kaki dan paruhnya sehingga tidak mampu bergerak, hanya kedua sayapnya saja bergerak-gerak dan tubuhnya meronta-ronta.

“Diam engkau!” Wanita cantik itu tiba-tiba mencelat ke dekat garuda, sekali tangannya menotok burung itu rebah miring tak mampu menggerakkan kedua sayapnya lagi.

“Setan! Kau apakan burungku…?” Kwi Hong marah sekali dan melangkah maju dengan kedua tangan terkepal.

“Inikah anak perempuan itu?” Wanita cantik itu bertanya kepada anak laki-laki yang cepat mengangguk.

“Dialah kuntilanak kecil itu. Biar aku membunuhnya!” Berkata demikian, anak laki-laki itu sudah menerjang maju dengan pedangnya, menusuk dada Kwi Hong yang cepat mengelak dan mengirim tendangan yang juga dapat dielakkan oleh anak laki-laki itu.

“Engkau setan iblis cilik kurang ajar! Kau kira aku takut padamu? Biar kau bawa semua penghuni Pulau Neraka ke sini, aku tidak takut!” Kwi Hong balas memaki dan kini biar pun bertangan kosong, dia menerjang maju dengan ganas dan dahsyat. Setelah turun dari punggung burung, barulah ia tahu bahwa anak laki-laki itu lebih muda darinya, maka keberaniannya makin membesar. Masa dia takut terhadap anak kecil?

Ilmu silat Kwi Hong saat itu sudah mencapai tingkat hebat juga berkat gemblengan paman atau gurunya. Selain mewarisi ilmu silat tinggi, juga dia memiliki sinkang yang jauh lebih kuat dari pada lawannya, di samping gerakan ginkang-nya yang membuat tubuhnya ringan dan gesit bukan main. Biar pun lawannya memegang pedang, namun setelah bertanding tiga puluh jurus yang ditonton wanita cantik penuh perhatian, kini dia mulai mendesak terus sedangkan anak laki-laki itu sibuk memutar-mutar pedang menjaga diri dari serangan yang datang bertubi-tubi dari segala jurusan itu.

“Mundur kau!” Tiba-tiba wanita cantik itu mendorongkan tangannya dan tubuh Kwi Hong terpental ke belakang.

Kwi Hong marah sekali. “Engkau siluman!”

Dan ia maju lagi, akan tetapi tubuhnya tidak dapat maju, seolah-olah ada dinding tak tampak yang menghadang di depannya. Ia mencoba melompat mundur, juga tidak berhasil. Tubuhnya telah dikurung hawa yang amat kuat yang tidak memungkinkan dia lari ke mana pun juga!

“Bocah liar, apakah engkau murid Suma Han, Pendekar Siluman itu?” Wanita itu bertanya, suaranya dingin sekali.

Kwi Hong mengangkat muka memandang. Dia maklum bahwa wanita itu memiliki kesaktian hebat, akan tetapi sebagai murid Pendekar Super Sakti, dia tidak takut dan memandang wanita itu penuh perhatian. Wanita itu belum tua, belum ada tiga puluh tahun, memiliki kecantikan luar biasa sekali, dengan sepasang matanya yang lebar, bening dan bersinar tajam akan tetapi juga mengerikan. Tubuhnya ramping dan padat, ditutup pakaian yang serba hitam sehingga wajahnya yang sudah putih menjadi makin jelas warna putihnya.

Diam-diam Kwi Hong bergidik. Warna putih wajah wanita itu tidak wajar! Bukan putih susu, bukan pula putih karena pucat, melainkan putih sama sekali, seperti putihnya kapur!

“Benar, aku adalah murid Pendekar Super Sakti, Tocu dari Pulau Es. Sebaiknya engkau yang memiliki ilmu siluman jangan mengganggu aku kalau sudah mengenal betapa lihainya Guruku agar kelak tidak menyesal.”

“Heh-heh, kuntianak cilik! Engkau masih berani menggertak Ibuku?” Anak laki-laki itu mengejek. “Keng In! Diam engkau!” Wanita itu membentak dan Kwi Hong memandang heran.
“Ah, jadi bocah nakal ini anakmu? Kalau begitu apakah engkau ini Majikan Pulau Neraka?”

Wanita cantik bermuka putih itu mengangguk. “Tidak salah, akulah Majikan Pulau Neraka dan engkau harus ikut bersamaku ke Pulau Neraka.”

“Aku tidak sudi!” Kwi Hong melotot dengan berani.

Wanita itu tersenyum dan makin heranlah Kwi Hong. Kalau wanita itu diam, wajahnya yang putih tampak dingin menakutkan, akan tetapi kalau tersenyum bukan hanya mulutnya yang tersenyum, melainkan juga matanya, hidungnya dan seluruh wajahnya. Cantik dan manis bukan main!

“Mau tidak mau harus ikut.”

“Ahh, tidak malukah engkau sebagai Majikan Pulau Neraka hanya pandai memaksa seorang anak kecil? Kalau engkau memang sakti seperti dikabarkan orang, coba kau lawan Guruku, tentu dalam sepuluh jurus engkau mati!”

“Anak, engkau menarik! Engkau penuh keberanian. Hemm, agaknya Suma Han masih belum dapat mengatasi kegalakan anak perempuan, hanya pandai melatih silat tetapi tidak pandai mengekang keliaranmu. Siapa namamu?”

“Aku Giam Kwi Hong!”

Wanita itu mengerutkan kening. “Apa engkau masih mempunyai hubungan keluarga dengan Gurumu?”

Kwi Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng dan berkata bangga. “Benar! Nah, engkau tidak boleh main-main dengan aku, karena Pamanku tentu akan marah kepadamu.”

Kembali wanita itu tersenyum. “Memang aku ingin membuat dia marah, aku ingin dia mencoba-coba merampasmu dari tanganku, ingin Pendekar Siluman berani datang ke Pulau Neraka dan menghadapi kami. Hayo!”

Kwi Hong hendak meronta dan menolak, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu tubuhnya terlempar ke depan disambut lengan wanita itu dan tahu-tahu ia telah dibawa mendekati garuda putihnya. Sekali wanita itu menggerakkan tangan, tali hitam dari sutera yang mengikat kaki dan paruh burung itu terlepas dan totokannya pun bebas pula.

“Pulanglah engkau lapor majikanmu!” Wanita itu menepuk punggung garuda putih yang agaknya maklum akan kelihaian wanita itu karena dia memekik kesakitan lalu terbang ke arah timur.

Wanita itu lalu meloncat ke punggung rajawali bersama Kwi Hong yang dikempitnya, lalu burung itu terbang cepat ke atas, disusul oleh anak laki-laki bernama Keng In yang juga sudah meloncat ke punggung rajawalinya.

Dari atas punggung rajawali itu, Kwi Hong melihat betapa mereka menuju ke sebuah pulau di tengah laut. Pulau itu dari atas kelihatan hitam sekali, menjadi lawan Pulau Es yang kelihatan putih dari atas. Di sekelilingnya terdapat pulau-pulau mati yang tidak ada tumbuh-tumbuhannya. Setelah burung itu berada di atas pulau hitam, tampak olehnya bahwa tumbuh-tumbuhan di situ berwarna hijau gelap mendekati biru sehingga dari atas tampak hitam, apa lagi karena di atas pulau itu terdapat awan hitam yang seolah-olah selalu menyelimuti pulau.

Kedua burung rajawali itu meluncur turun dan setelah tidak begitu tinggi tampak oleh Kwi Hong betapa pulau itu dikelilingi tepi laut yang merupakan tebing-tebing batu karang, sedangkan secara aneh sekali ombak besar menghantam tepi pantai dengan dahsyat dari segala penjuru. Dia bergidik. Pulau yang buruk dan menyeramkan. Bagaimana mungkin ada perahu dapat mendarat di pulau ini kalau ombaknya demikian besar? Tentu perahu itu akan dihempaskan ke batu karang dan hancur lebur!

Kini tampak rumah-rumah di pulau itu. Gentengnya terbuat dari kayu yang hitam pula, atau dicat hitam? Begitu burung itu menukik turun dan hinggap di pekarangan sebuah rumah besar seperti istana, tampak banyak orang berlarian datang menyambut.

Tiba-tiba Kwi Hong tertawa saking geli hatinya. Dia melihat wajah anak yang bernama Keng In itu biasa saja seperti orang lain, hanya ibunya yang mengaku Majikan Pulau Neraka itu wajahnya berwarna putih seperti kapur, seperti dicat putih. Kini orang-orang yang lari berdatangan itu memiliki wajah yang beraneka warna. Ada yang mukanya berwarna hitam seperti arang, ada yang biru, ada yang merah, ungu, hijau, kuning. Akan tetapi terbanyak adalah warna-warna yang gelap, sedangkan muka yang berwarna terang, terutama yang kuning, tidak banyak. Tidak ada seorang pun yang berwarna putih mukanya seperti wanita ibu Keng In itu.

“Hi-hi-hik-hik! Alangkah lucunya. Mengapa kalian penghuni-penghuni Pulau Neraka mencat muka kalian? Apakah hari ini akan diadakan pesta dan panggung sandiwara dan kalian semua ikut bermain?”

Semua orang yang datang menyambut Tocu mereka itu melotot mendengar ucapan ini. Seorang wanita cantik, yang mukanya berwarna merah muda sehingga warna ini amat menguntungkan karena menambah kecantikannya, bertanya.

“Twanio, siapakah bocah kurang ajar ini?”

Dari pandang mata semua orang, jelas bahwa pertanyaan yang diajukan kepada ketua ini mewakili suara hati semua orang.

“Dia? Dia ini adalah murid dan juga keponakan dari Pendekar Siluman…”

Mendengar wanita itu menyebut julukan gurunya yang amat tidak disukanya, Kwi Hong memotong cepat, “Beliau adalah Pendekar Super Sakti tanpa tanding, Tocu dari Pulau Es yang terkenal di seluruh pelosok dunia!”

Akan tetapi ucapannya itu seolah-olah tidak terdengar oleh mereka karena mendengar disebutnya nama Pendekar Siluman itu saja para penghuni Pulau Neraka sudah menjadi amat terkejut dan saling pandang. Dari sinar mata mereka jelas tampak betapa mereka itu terkejut dan jeri. Melihat ini, Kwi Hong melanjutkan kata-katanya.

“Awas kalian kalau mengganggu aku! Guruku akan datang dan membasmi Pulau Neraka ini beserta seluruh penghuninya!”

Akan tetapi Ketua Pulau Neraka itu dengan tenang berkata, “Kwi Hong, engkau anak kecil tahu apa? Tidak perlu membuka mulut besar karena aku sengaja membawamu ke sini agar Gurumu datang. Hendak kulihat apakah dia akan mampu merampasmu kembali. Dan engkau bebas di sini, mau ke mana pun boleh.”

Kwi Hong cepat memutar tubuhnya menghadapi wanita muka putih itu. “Aku boleh pergi?” Wanita itu tersenyum. “Silakan!”

“Terima kasih!” Kwi Hong lalu meloncat dan lari pergi meninggalkan pekarangan rumah itu.

“Biarkan dia pergi ke mana dia suka, akan tetapi awasi baik-baik agar dia tidak sampai celaka. Persiapkan anak panah dan semua senjata rahasia. Begitu ada burung garuda muncul di atas pulau, sambut dengan anak panah dan senjata-senjata rahasia, terutama anak panah berapi. Kalau Pendekar Siluman mampu menerobos masuk ke Pulau Neraka, aku sendiri yang akan menandinginya!”

Para penghuni pulau itu bubar dan sibuk melaksanakan perintah Ketua mereka. Mereka kelihatan panik karena nama besar Pendekar Super Sakti sudah lama mereka dengar dan mereka rata-rata merasa jeri terhadap pendekar itu. Yang kelihatan tenang hanyalah Si Ketua dan beberapa orang yang tingkatnya sudah tinggi, yaitu mereka yang mukanya berwarna kuning, hijau pupus atau merah muda. Penjagaan ketat dilakukan siang malam, dan persiapan menyambut lawan istimewa itu dilakukan dengan rapi.

Dengan hati girang Kwi Hong berlari keluar dari kelompok bangunan itu, memasuki sebuah hutan. Tidak disangkanya bahwa Ketua Pulau Neraka itu demikian baik hati sehingga dia diperbolehkan pergi begitu saja! Tiba-tiba ia berhenti berlari dan memandang terbelalak ke depan karena di depannya menghadang barisan ular yang berwarna merah dan hitam, bukan main banyaknya! Ada ribuan ekor dan mereka mengeluarkan suara mendesis-desis dan tampak uap hitam keluar dari moncong mereka! Kwi Hong menggigil dan cepat membelok ke kanan, akan tetapi di mana pun penuh ular, demikian pula di kiri.

Terpaksa ia memutar tubuhnya dan lari ke lain jurusan. Melihat sebuah hutan lain yang berdekatan, dia masuk dan hatinya lega karena tidak melihat ular seekor pun. Akan tetapi, hutan ini amat gelap dan tidak ada lorong bekas kaki manusia, maka ia masuk secara ngawur saja. Tiba-tiba terdengar suara mengaung yang makin lama makin keras. Suara itu seolah-olah datang dari segenap penjuru, membuat telinganya serasa akan pecah dan kepalanya pening. Selagi ia kebingungan, tiba-tiba ia melihat ribuan ekor lebah berwarna hitam beterbangan mengejarnya!

Celaka, pikirnya. Lebah tidak seperti ular yang dapat ditinggal lari begitu saja. Tentu akan mengejarnya dengan kecepatan terbang dan kalau dia dikeroyok, celaka! Ia membalikkan tubuhnya dan lari hendak keluar dari hutan. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia tidak tahu lagi mana jalan keluar. Lama ia berlari cepat dengan ribuan lebah terbang mengejarnya, dan dia masih belum keluar dari hutan, bahkan mungkin tersesat makin dalam!

Ketika lebah-lebah itu sudah dekat sekali, ia mencium bau amis dan wangi. Makin takutlah dia karena maklum bahwa lebah-lebah itu adalah binatang berbisa. Jangankan dikeroyok begitu banyak, disengat oleh seekor pun bisa berbahaya. Saking bingung dan gugupnya, ia tersandung dan jatuh menelungkup. Lebah- lebah sudah mengiang di atas kepalanya sehingga dengan hati ngeri Kwi Hong menggunakan kedua tangan menutupi kepalanya. Kedua matanya dipejamkan dan hatinya mengeluh, “Mati aku sekarang!”

Akan tetapi, tiba-tiba suara itu menghilang berbareng dengan timbulnya suara melengking tinggi seperti suara suling. Ia membuka mata dan bangkit duduk. Ribuan ekor lebah berbisa itu benar-benar telah pergi dan tampak olehnya sesosok bayangan seorang laki-laki tua bermuka hijau pupus berkelebat pergi ke arah kiri. Dia mengerti bahwa tentu orang itu mengusir lebah dengan tiupan suling, maka ia pun mengikuti bayangan orang Pulau Neraka yang menolongnya itu.

Benar dugaannya, orang yang memegang suling itu agaknya sengaja menanti dia karena beberapa kali berhenti agar Kwi Hong tidak sampai tertinggal. Kiranya jalan keluar dari hutan itu tidaklah semudah ketika masuk. Laki-laki tua itu membelok ke kiri, ke kanan, sampai berulang kali, ada kalanya seperti memutar dan bahkan mengambil arah yang bertentangan dengan arah tadi. Kwi Hong mengikuti terus dan betapa girang serta heran hatinya ketika dalam waktu sebentar saja dia sudah keluar dari hutan!

Akan tetapi kakek muka hijau itu pun sudah lenyap. Kwi Hong dapat mengerti bahwa tentu kakek itu diperintah oleh ketuanya untuk menolong dia, maka kembali ia merasa berterima kasih dan tidak mengerti mengapa Ketua atau Majikan Pulau Neraka itu mula-mula menculiknya kemudian kini membolehkan dia pergi malah menyuruh orang menolongnya dari bahaya maut. Ia berjalan terus, mengambil jurusan yang berlawanan dengan hutan-hutan yang dimasukinya tadi. Ia melihat daerah yang berbatu dan ke sanalah ia menuju. Biar pun batu-batu itu kelihatan hitam menyeramkan, namun dia tidak takut. Dia harus keluar dan pergi dari pulau ini.

Kakinya mulai terasa lelah, namun Kwi Hong tidak mau berhenti dan mendaki pegunungan kecil dari batu- batu karang hitam itu. Ketika ia tiba di bagian yang paling tinggi, tampaklah air laut membentang luas jauh di depan bawah. Dari tempat itu kelihatan air laut tenang dan hanya di pantai tampak membuas putih. Hatinya menjadi girang, akan tetapi begitu ia mulai menuruni batu-batu itu, tiba-tiba ia tersentak kaget mendengar suara menggereng yang menggetarkan batu karang yang diinjaknya.

Ketika ia memandang ke bawah, ia terpekik dan mukanya menjadi pucat. Di depannya, di antara batu-batu karang itu, terdapat binatang-binatang yang bentuknya seperti cecak, akan tetapi besar sekali, panjangnya dari dua meter sampai tiga meter. Ada ratusan ekor banyaknya, baris memenuhi jalan di depannya dengan mulut terbuka, lidahnya keluar masuk dan tampak gigi yang runcing mengerikan.

“Ohhhh…!” Kwi Hong cepat membalikkan tubuhnya dan lari pergi dengan maksud mengambil jalan lain yang tidak melalui tempat berbahaya itu. Dilihatnya daerah yang penuh dengan tanaman menjalar dan kelihatannya bersih, tidak terdapat binatang-banatang buas.

Ke sinilah ia berlari. Akan tetapi tiba-tiba ia menjerit karena ketika kakinya menyentuh tanaman menjalar itu, tiba-tiba kedua kakinya terlibat dan tanaman itu seperti hidup! Ujung ranting-ranting tanaman yang lemas dan panjang itu seperti tangan-tangan setan menyergapnya dan melibat seluruh tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa, seolah-olah memiliki daya menempel dan menyedot.

Kwi Hong meronta-ronta, menggunakan kekuatan kaki tangannya untuk melepaskan diri, namun sia-sia karena lilitan ‘tangan-tangan’ tanaman itu makin erat saja. Dan dilihatnya tanaman yang tumbuh di sekitarnya sudah bergerak-gerak seolah-olah tanaman-tanaman itu hidup dan kini berusaha untuk melepaskan diri dari tanah dan mengeroyoknya!

“Iiiihhh…!” Ia menjerit ketika sehelai di antara ‘tangan-tangan’ itu merayap dan akan melilit lehernya.

Pada saat itu tampak berkelebat sinar hitam, terdengar suara keras dan tanaman yang melilitnya itu jebol dari tanah berikut akar-akarnya. Begitu jebol, tanaman itu seolah-olah kehilangan tenaganya dan dengan mudah Kwi Hong melepaskan diri, lalu meloncat menjauhi tanaman-tanaman berbahaya itu. Dia merasa betapa kulit bagian tubuh yang terlilit tadi terasa gatal-gatal panas, tanda bahwa tanaman itu pun mengandung racun jahat!

Dia tidak peduli lagi ketika melihat sesosok bayangan berkelebat pergi, hanya dapat menduga bahwa tentu bayangan itu yang tadi menolongnya. Dia lari cepat, ingin menjauhi tempat berbahaya itu secepat mungkin. Kini hanya tinggal satu jurusan lagi yang dapat ia ambil.

Kembali ke belakang berarti kembali ke perkampungan penghuni. Ke kiri berarti memasuki hutan-hutan yang penuh binatang-binatang berbisa, di antaranya ular-ular dan lebah yang telah dijumpainya. Entah binatang-binatang berbisa mengerikan apa lagi yang berada di situ, dia tidak mampu membayangkan. Kalau ke kanan berarti dia harus melalui tanaman-tanaman hidup itu atau binatang-binatang cecak raksasa!

Kini dia berlari ke depan, satu-satunya daerah yang belum dilaluinya. Tampak dari atas daerah ini seperti daerah aman karena tidak tampak tanaman, tidak ada binatang hidup, melainkan pasir bersih yang terus membentang sampai ke laut. Itulah agaknya jalan keluar!

Betapa girang hatinya ketika ia sudah menuruni pegunungan dan tiba di daerah pasir itu. Bersih tidak ada bahaya. Biar pun dia sudah lelah sekali dan napasnya masih terengah karena merasa ngeri oleh pengalamannya tadi, namun dalam girangnya Kwi Hong tidak merasakan kelelahannya dan ia berlari terus, hendak mencapai tepi laut secepatnya. Pasir yang terbentang luas dan selalu tertimpa sinar matahari itu terasa hangat dan lunak.

“Aihhhh…!” Tiba-tiba Kwi Hong menjerit karena kakinya amblas ke dalam pasir sampai selutut tingginya.

Cepat ia berusaha menarik kaki kirinya yang terjeblos ini ke atas, akan tetapi begitu ia mempergunakan tenaga pada kaki kanan untuk menekan pasir dan menarik kaki kirinya, kini kaki kanannya juga ambles ke bawah, malah melewati lututnya! Ia terkejut sekali, mengerahkan tenaga untuk keluar. Akan tetapi, makin banyak ia mengeluarkan tenaga, makin dalam kedua kakinya amblas ke dalam pasir sehingga setelah tubuhnya masuk ke pasir sampai pinggang, Kwi Hong diam tak berani bergerak lagi dan hanya memandang ke sekeliling dengan mata terbelalak seperti kelinci masuk perangkap!

Keadaan sekelilingnya sunyi, yang ada hanya pasir dan terdengar lapat-lapat mendeburnya ombak di pantai depan. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras. Ia memutar tubuh atas dan terbelalak memandang dengan hati penuh kengerian. Seekor binatang seperti anjing hutan sedang datang berlari, matanya merah, moncongnya menggereng-gereng dan binatang itu lari ke arah dia terbenam di pasir!

Tak dapat diragukan lagi niat yang terbayang di mata binatang itu, sudah tentu akan menerkamnya! Binatang itu meloncat, Kwi Hong menjerit dan dengan mata terbelalak ia melihat betapa kaki binatang itu amblas pula ke dalam pasir, hanya dalam jarak dua meter di sebelah kirinya! Kini binatang itu melolong- lolong, meronta-ronta, namun tubuhnya makin amblas ke bawah. Makin dalam sehingga yang tampak hanya lehernya saja. Binatang itu memandang kepadanya dengan marah dan gerengannya makin hebat.

Seolah-olah terasa oleh Kwi Hong hawa panas yang menyembur dari mulut yang terbuka lebar itu. Kwi Hong hampir pingsan, matanya tak pernah berkedip memandang binatang itu yang ternyata adalah seekor anjing serigala yang berbulu hitam. Tubuh binatang itu makin amblas, lolongannya makin dahsyat dan akhirnya gerengannya berhenti karena kepalanya mulai terbenam, mulutnya kemasukan pasir, hidungnya, matanya dan akhirnya yang tampak hanya ujung kedua telinganya yang masih bergerak-gerak dalam sekarat. Akhirnya kedua ujung telinganya itu pun lenyap. Binatang itu telah ditelan pasir, tanpa meninggalkan bekas!

“Tolong…!” Kwi Hong menjerit dengan hati penuh kengerian ketika ia merasa betapa tubuhnya makin amblas, agaknya kakinya disedot dan ditarik sesuatu.

Berdiri bulu kuduknya karena timbul dugaannya bahwa serigala itu telah menjadi setan dan kini setan penasaran itu menarik kedua kakinya ke bawah! Dia tidak tahu bahwa tempat itu memang paling berbahaya dari pada daerah lain di pulau itu. Ancaman bahaya lain tampak di depan mata, sedikitnya orang dapat menjaga diri. Akan tetapi bahaya pasir ini tidak tampak, kelihatan tenang dan aman, akan tetapi sekali orang terperosok ke dalamnya, pasir di bawah yang bergerak itu akan menyedot tubuh sampai terbenam di dalamnya dan tentu saja akan mati!

Karena panik dan tubuhnya menegang, Kwi Hong terhisap makin dalam, kini dia terbenam sampai ke dada! Tiba-tiba terdengar suara. “Wirrrrr!”

Dan sinar hitam menyambar, tahu-tahu dada dan kedua lengannya telah terbelit sehelai tali sutera hitam dan tubuhnya ditarik keluar dari pasir! Dia menengok dan melihat wanita cantik bermuka putih. Majikan Pulau Neraka telah berdiri kurang lebih sepuluh meter di sebelah kanannya dan sedang menggunakan tali sutera hitam untuk membetotnya. Sebentar saja tubuhnya sudah tertarik keluar dan diseret sampai ke depan kaki wanita itu yang melepaskan libatan tali suteranya.

“Ohhhh… ahhhh…” Kwi Hong merangkak bangun sambil terengah-engah, kemudian ia berdiri di depan wanita itu yang menggulung talinya dan melibatkan di pinggangnya yang ramping sambil memandang kepadanya.

“Aku mengerti sekarang….” Kwi Hong berkata marah. “Kiranya engkau tidak sebaik yang kuduga! Engkau sengaja membebaskan aku karena yakin bahwa aku tidak akan dapat pergi dari pulau setan ini! Engkau sengaja mempermainkan aku!”

“Sudah puaskah engkau sekarang? Jangankan engkau, biar Gurumu sekali pun belum tentu dapat memasuki dan keluar dari pulau ini. Aku membebaskan engkau karena tahu bahwa lari dari sini tidak mungkin. Masih banyak lagi bahaya-bahaya yang lebih hebat dari pada yang kau lihat tadi. Ada rawa-rawa yang mengeluarkan uap beracun, binatang-binatang mulai dari sebesar harimau sampai sekecil semut yang gigitannya mengandung bisa maut, tanah-tanah yang dapat merekah dan mengubur manusia hidup- hidup. Ini adalah Pulau Neraka, tahu? Kau kutahan di sini untuk melihat apakah Gurumu akan mampu merampasmu kembali.”

Kwi Hong bergidik, kemudian berkurang kemarahannya terhadap wanita itu. Dalam dunia kang-ouw, tidaklah aneh kalau seorang tokoh menggunakan siasat memancing datangnya lawan dengan penculikan seperti yang dilakukan atas dirinya. Betapa pun juga, ia harus mengaku bahwa dia tidak menerima perlakuan yang tidak baik.

“Sungguh mengherankan. Jika Pulau Neraka ini begini berbahaya melebihi gambaran neraka sendiri, mengapa kalian suka menjadi penghuni di sini?” tanyanya sambil memandang wajah jelita yang berwarna putih itu, diam-diam menduga-duga apakah warna pada muka mereka itu disebabkan oleh keadaan pulau yang amat mengerikan ini.

“Engkau takkan mengerti. Marilah kita pulang. Engkau tentu lelah dan amat lapar bukan?”

Kwi Hong mengerutkan keningnya. “Lelah dan lapar tidak penting. Yang penting, kapan engkau hendak membebaskan aku dari pulau jahanam ini?”

“Engkau anak baik, berani dan patut menjadi murid Pendekar Siluman…” “Pendekar Super Sakti!” Kwi Hong memotong.
Wanita aneh itu tersenyum. “Baiklah Pendekar Super Sakti. Kapan engkau bebas, tergantung dari Gurumu. Kalau dia tidak berhasil merampasmu kembali, aku akan senang sekali kalau engkau menjadi muridku, menjadi teman puteraku.”

“Aku tidak sudi! Terutama sekali tidak sudi menjadi teman anakmu yang kurang ajar itu!”

Sejenak wanita itu mengerutkan alisnya dan sepasang mata yang lebar itu mengeluarkan sinar berapi, akan tetapi tidak lama ia dapat menguasai kemarahannya dan berkata. “Dia nakal dan manja, akan tetapi tidak kurang ajar. Marilah!”

Kwi Hong merasa kecewa bahwa dia tidak berhasil membikin marah wanita aneh ini dan tanpa menjawab ia lalu mengikuti wanita itu pergi dari situ. Sungguh amat mengherankan. Wanita itu mengambil jalan membelak-belok tidak karuan, akan tetapi sebentar saja mereka telah tiba di depan gedung besar seperti istana yang temboknya bercat hitam itu! Anak laki-laki bernama Keng In itu datang berlari-lari menyambut mereka dan begitu melihat Kwi Hong, ia tertawa dan mengejek.

“Aha, engkau datang lagi? Tadinya kusangka engkau akan dapat keluar dari pulau ini!”

“Keng In, mulai sekarang engkau tidak boleh bersikap kurang ajar dan mengganggu Kwi Hong. Dia tawanan kita, akan tetapi juga tamu terhormat. Kau ajak dia bermain-main dengan baik, tapi tidak boleh kau ganggu. Kalau sampai engkau mengganggunya dan dia menghajarmu, aku tidak akan membelamu!” Wanita itu berkata.

Keng In membelalakkan matanya, memandang ibunya seperti orang kaget dan heran karena selamanya ibunya tidak pernah menegurnya dengan kata-kata keras, kemudian wajahnya menjadi muram dan kecewa, mulutnya merengut, tetapi dia mengangguk dan bibirnya menjawab lirih, “Baik, Ibu.”

Di dalam hatinya, diam-diam Kwi Hong merasa puas. Rasakan kau sekarang, pikirnya! Akan tetapi karena dia merasa tidak enak hati terhadap wanita itu, dia diam saja dan tidak membantah ketika diajak makan. Melihat keadaan di pulau yang menyeramkan itu, Kwi Hong tadinya tidak mengharapkan makanan yang baik. Akan tetapi betapa heran dia dan juga girang hatinya ketika menghadapi meja, dia melihat hidangan yang serba lezat dan mahal! Baru masakan ikan udang dan kepiting serta penghuni laut lainnya saja sudah ada belasan macam, belum daging binatang darat dan sayur mayur yang serba lengkap. Benar-benar seperti hidangan dalam istana raja! Karena perutnya lapar, dan wataknya bebas tidak malu-malu, Kwi Hong tanpa sungkan makan hidangan yang disukainya, diam-diam memuji karena selain serba lengkap, juga masakannya amat enak, tidak kalah oleh masakan di Pulau Es!

Sudah satu minggu Kwi Hong tinggal di Pulau Neraka. Dia mendapat perlakuan yang baik, mendapat kamar di sebelah kiri kamar ketuanya sendiri dengan pintu tembusan. Keng In tinggal di kamar sebelah kanan. Agaknya Ketua Pulau Neraka itu hendak mengawasi sendiri kepada Kwi Hong, siap untuk mempertahankan apabila Suma Han datang! Namun Kwi Hong mendapat kebebasan penuh, hanya ke mana dia pergi, perlu ada yang diam-diam mengawasinya, terutama tokoh-tokoh muka kuning yang kedudukannya sudah tinggi.

Mentaati perintah ibunya, kini Keng In tidak lagi suka mengganggunya, bahkan setelah kenal, anak laki-laki ini merupakan teman yang cukup menyenangkan. Otaknya cerdas sekali dan Kwi Hong mendapat banyak keterangan mengenai pulau mengerikan itu dari Keng In.

Di pulau itu terdapat sekawanan burung rajawali yang dijinakkan, jumlahnya ada sembilan ekor. Burung- burung itu dilatih sedemikian rupa sehingga hanya mentaati perintah wanita majikan pulau, puteranya, dan empat orang tokoh muka kuning saja. Terhadap perintah lain orang, burung-burung ini tidak peduli, apa lagi terhadap perintah Kwi Hong yang mereka anggap sebagai musuh! Maka lenyaplah harapan Kwi Hong untuk dapat melarikan dari dengan bantuan seekor di antara burung-burung itu. Demikian terlatih burung- burung itu sehingga mereka tidak mau menerima makanan yang diberikan Kwi Hong.

Pulau itu berpenghuni kurang lebih lima puluh orang. Selain Keng In, ada pula belasan orang anak-anak laki perempuan, akan tetapi karena mereka itu adalah anak-anak dari para anak buah pulau, tentu saja mereka takut mendekati Keng In yang di situ seolah-olah menjadi semacam ‘pangeran’. Betapa pun juga, ada beberapa orang di antara mereka yang menjadi teman Keng In dan kini sudah berkenalan pula dengan Kwi Hong.

“Semua orang di sini mengecat mukanya, mengapa engkau dan anak-anak itu tidak?” Pada suatu hari Kwi Hong bertanya kepada Keng In.

“Mengecat muka? Ah, betapa bodoh anggapan itu. Warna-warna pada muka penghuni Pulau Neraka menjadi tanda akan kedudukan mereka, karena warna itu timbul setelah sinkang mereka meningkat tinggi. Makin terang warnanya, makin tinggi ilmu kepandaian dan kedudukan mereka.”

“Ahh, kalau begitu, Ibumu yang mempunyai warna putih merupakan orang yang paling pandai?”

“Tentu saja! Tidak ada yang dapat menandingi Ibu. Kemudian menyusul para tokoh bermuka kuning dan merah muda, hijau pupus dan selanjutnya, makin gelap warna mukanya, makin rendah kedudukannya. Yang tinggal di pulau ini adalah anggota yang sudah memiliki kepandaian, sudah melatih ilmu sinkang yang khas sehingga ada warna timbul di mukanya. Masih ada puluhan anggota paling rendah yang belum berhasil memiliki sinkang sehingga mukanya berwarna, dan mereka itu belum boleh tinggal di pulau, melainkan di sekitar Pulau Neraka, yaitu di pulau-pulau kecil dan sewaktu-waktu kalau tenaga mereka dibutuhkan, baru mereka dipanggil. Yang berhasil, mula-mula mukanya hitam, lalu merah dan selanjutnya, jangan kau memandang rendah. Warna-warna itu menandakan bahwa kami telah memiliki sinkang khas Pulau Neraka yang amat lihai!”

“Hemmm…. dan engkau sendiri mengapa belum memiliki warna pada mukamu?”

Keng In mengerutkan alisnya. “Sebelum berusia lima belas tahun, anak-anak tidak boleh mempelajari sinkang itu, bisa membahayakan nyawanya. Sinkang itu dilatih dengan minum racun-racun dahsyat setiap hari! Tentu saja anak-anak dari mereka yang sudah berwarna mukanya boleh tinggal di sini.”

Kwi Hong teringat akan segala macam binatang dan tetumbuhan beracun di pulau ini dan dia bergidik. Ia maklum bahwa memang penghuni Pulau Neraka memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mendengar cara berlatih sinkang sambil minum racun itu, dia dapat membayangkan betapa hebat ilmu mereka. Akan tetapi dia masih merasa yakin bahwa gurunya akan mampu menandingi mereka semua, bahkan Si Wanita Muka Putih ibu Keng In.

“Kenapa begitu jahat, memaksa orang-orang di gunung mengumpulkan obat-obat setiap bulan?” “Eh, kau tahu juga?”
“Tentu saja, kalau tidak masa aku menyerangmu. Aku telah menyelidiki secara diam-diam di punggung garudaku dan menyaksikan kesibukan mereka, melihat pula betapa di antara mereka ada yang membunuh diri karena tidak dapat mengumpulkan akar dan daun obat secukupnya. Mengapa kau begitu jahat?”

“Itu adalah perintah Ibuku. Mereka itu terlalu sombong, tidak mau mengalah bahkan melukai anggota kami yang mencari obat. Kami amat membutuhkan akar-akar dan daun-daun obat itu. Engkau melihat sendiri keadaan di pulau ini. Banyak racun yang berbahaya mengancam kami, bahkan hawa yang kami hisap setiap saat telah keracunan. Tanpa obat-obat yang tepat untuk memusnahkan racun, bagaimana kami bisa hidup?”

Kwi Hong mengangguk-angguk. Kini dia mengerti dan tidak bisa menyalahkan mereka. Gadis cilik yang hidup di Pulau Es ini pun mengerti akan kebenaran yang dipergunakan sebagai hak yang lebih kuat untuk hidup kalau perlu dengan menekan atau membunuh yang lemah. Hukum rimba berlaku di tempat-tempat yang berbahaya di mana makhluk harus menjaga diri sendiri dari bahaya-bahaya yang mengancam dan di mana satu-satunya yang dibutuhkan hanya kekuatan dan kemenangan! Keadaan seperti itu memaksa manusia mengandalkan kekuatan untuk hidup dan hal ini menjadi kebiasaan membentuk watak orang- orang kang-ouw yang tidak suka akan segala macam aturan!

********************

Ketika Suma Han meloncat turun dari burung garudanya di depan Istana Pulau Es, tiga orang pembantu utamanya yang menyambut memandang dengan penuh perhatian. Terutama sekali Phoa Ciok Lin yang menjadi kepala pengurus bagian dalam, seorang wanita muda yang cantik jelita, memandang wajah Suma Han dengan mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang. Dia melihat sesuatu pada wajah yang menjadi pujaan hatinya.

Dia tahu bahwa pendekar yang dikaguminya itu menderita tekanan batin yang hebat sekali. Biar pun pendekar itu dapat menutupinya di dalam hati sehingga tidak tampak sedikit pun ketegangan urat syarafnya, akan tetapi wajah yang tampan itu terselubung kemurungan yang amat mendalam.

Yap Sun, wakil bagian luar Pulau Es yang bertubuh gemuk berusia lima puluh tahun itu pun mengerti bahwa majikannya sedang berduka, demikian pula Thung Sik Lun, sute-nya yang kurus. Namun pandangan mereka tidak setajam Phoa Ciok Lin yang lebih menggunakan perasaan hatinya.

“Kami mohon maaf kepada Tocu bahwa kami tidak berhasil mencari Siocia. Apakah Tocu juga tidak berhasil?” Yap Sun melapor dan sekaligus bertanya sungguh pun dia sudah menduga bahwa kemurungan wajah majikannya itu tentu karena Kwi Hong tak berhasil ditemukan.

Suma Han menggelengkan kepalanya dan diam-diam ia terkejut melihat pandang mata Phoa Ciok Lin yang tajam menyelidik. Tentu wajahnya telah membayangkan perasaan hatinya yang terhimpit, pikirnya. “Bocah itu benar-benar membikin repot banyak orang. Aku tidak berhasil menemukannya, Paman Yap. Sampai jauh aku menjelajah tanpa hasil. Biarlah kita menunggu saja di pulau, kalau dia sudah bosan merantau tentu akan pulang juga.”

Sambil berkata demikian, Suma Han lalu melangkah masuk ke dalam Istana Pulau Es yang kuno namun kini bersih itu, diikuti oleh Phoa Ciok Lin yang sejak tadi hanya menyambut kedatangan Suma Han dengan pandang matanya yang bening.

“Kusediakan makan, Taihiap?”

Suma Han menggeleng. “Aku tidak lapar.”

“Ingin beristirahat? Kamar Taihiap sudah kusuruh bersihkan setiap hari. Atau perlu disediakan minum? Minum apakah?”

“Tidak usah repot, Ciok Lin, dan terima kasih atas kebaikanmu. Aku hanya ingin… menyendiri.” Suma Han lalu menjatuhkan diri di atas sebuah kursi dan menyandarkan tongkatnya di meja.

Ciok Lin tetap berdiri memandang, kedua tangan tergantung seperti orang lemas, wajahnya penuh kekhawatiran. Karena sampai lama wanita itu masih berdiri tanpa bergerak, Suma Han mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu dan Suma Han menunduk kembali.

“Ciok Lin, maaf. Kau tinggalkan aku, aku ingin menyendiri.” katanya.

Gadis yang usianya sebaya, hanya lebih muda satu tahun dari Majikan Pulau Es itu menahan napas menekan hati yang perih. “Baiklah, Taihiap….” Ia membalikkan tubuh dan melangkah pergi dengan muka menunduk.

“Ciok Lin…” Suma Han menyadari akan sikapnya. Dia tahu betapa pembantunya ini selain amat setia, juga memujanya seperti dewa, bahkan kadang-kadang ada sinar mata memancar keluar dari sepasang mata yang membuat dia khawatir karena sinar mata itu jelas membayangkan sinar kasih sayang amat mendalam! Ia menyesal telah bersikap sedingin itu setelah orang menyambutnya demikian ramah dan penuh perhatian.

Dengan gerakan cepat, gadis itu memutar tubuh. “Ada apakah, Taihiap?”

Suma Han tersenyum minta maaf, dan mulutnya terkata. “Aku memang tidak lapar, akan tetapi akan segarlah kalau kau suka mengambilkan secawan air dingin dari sumber.”

Wajah yang manis itu berseri gembira. “Baik, Taihiap, segera kuambilkan!” Dan kini tubuh gadis itu tidak melangkah perlahan dengan muka menunduk lagi, melainkan berkelebat dan lenyap laksana menghilang saja.

Suma Han tersenyum seorang diri. Perempuan! Sungguh lebih mudah mengukur dalamnya lautan dari pada mengukur dalamnya hati perempuan. Semenjak kecil ia hidup bersama Lulu adiknya, mengira bahwa dia sudah mengenal adik angkatnya itu lahir batin. Siapa kira kenyataan menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak mengenal isi hatinya sehingga segala jeri payah yang ia lakukan untuk adik angkatnya itu malah berakibat sebaliknya seperti yang ia harapkan.

Dia berhasil mengawinkan adiknya dengan Wan Sin Kiat, seorang pemuda pilihan, tampan dan gagah perkasa, berbudi mulia dan berjiwa pendekar. Akan tetapi, siapa kira pernikahan itu malah merupakan kesengsaraan bagi Lulu yang kemudian nekat meninggalkan suaminya bersama anaknya sehingga Wan Sin Kiat membunuh diri dengan cara berjuang sampai mati! Semua itu karena Lulu mencinta dia? Benarkah seperti yang dikatakan Im-yang Seng-cu? Dan dia… sudah lama namun dianggapnya terlambat ketika ia merasa yakin bahwa satu-satunya cinta kasih murni yang berada di hatinya adalah untuk Lulu seorang!

Semenjak pertemuannya dengan Im-yang Seng-cu dan mendengar berita tentang Lulu, Suma Han mengalami pukulan batin yang amat hebat, lebih hebat dari pada kekhawatirannya tentang kepergian Kwi Hong. Semenjak itu, dia tidak pernah makan, minum atau tidur sehingga ketika ia tiba di istana Pulau Es, tubuhnya menjadi kurus, mukanya sayu dan agak pucat. Kini menghadapi sikap Phoa Ciok Lin, pembantunya yang setia, hatinya terasa makin perih. Kalau mungkin, dia minta dijauhkan dari pada kaitan kasih sayang dengan wanita! Betapa banyaknya penderitaan batin yang ia alami karena hubungan kasih sayang ini yang hanya tampaknya saja manis, namun sesungguhnya mengandung kepahitan yang sampai lama terasa di hati.

Berkelebatnya bayangan menyadarkannya dari lamunan dan Ciok Lin telah berdiri di depannya, membawa sebuah cawan kosong dan seguci air segar yang baru diambilnya dari sumber air di atas pegunungan pulau itu. Diam-diam Suma Han memuji. Ilmu kepandaian Ciok Lin telah meningkat dengan hebat dan kini dapat dipercaya menjadi orang kedua di Pulau Es, jauh melampaui kepandaian Yap Sun sendiri! Ia memandang wajah itu dan diam-diam tersenyum di hatinya. Gadis itu telah mengambil air dari gunung yang cukup jauh, bahkan telah mencuci muka, bersisir, dalam waktu yang amat cepat!

Suma Han menerima air di cawan yang dituangkan oleh Ciok Lin, lalu meminumnya. Segar dingin terasa sampai ke perutnya.

“Terima kasih, Ciok Lin.” “Tambah lagi, Taihiap?”
“Cukup, letakkan saja di meja, nanti kuambil sendiri.”

Sejenak Ciok Lin ragu, kemudian ia memberanikan diri, mengangkat muka memandang wajah yang bayangannya sudah terukir di hatinya itu. “Taihiap, dalam kepergian Taihiap mencari Kwi Hong, apakah Taihiap berjumpa dengan kenalan lama?”

Suma Han membalas pandangan itu dengan sinar mata penuh selidik, “Ciok Lin, mengapa kau menduga demikian?”

Ciok Lin menarik napas panjang lalu berkata, “Semenjak saya berada di sini, saya melihat Taihiap hidup tenang dan tenteram seperti permukaan laut yang tidak tersentuh angin. Akan tetapi sekarang laut itu bergelombang dan digelapkan awan. Apa lagi yang menimbulkan hal itu kecuali pertemuan dengan kenalan lama dan dipaksa mengenang peristiwa-peristiwa lalu?”

Suma Han menghela napas, “Aihhh, dugaanmu memang benar, Ciok Lin. Sekali berkunjung ke dunia ramai, banyak persoalan tidak menyenangkan hati terdengar. Akan tetapi sudahlah, aku akan beristirahat dan akan mencoba melupakan semua itu. Yang terpenting adalah soal perginya Kwi Hong. Harap engkau suka meninggalkan aku sendiri.”

“Baiklah, Taihiap.”

Sekali ini Ciok Lin pergi dan Suma Han duduk termenung mengenangkan kata-katanya sendiri. Melupakan? Urusan dengan Im-yang Seng-cu, urusan dendam Tan-siucai bekas tunangan Lu Soan Li yang katanya mendendam kepadanya, urusan perebutan pusaka-pusaka yang lenyap. Semua itu dapat dengan mudah ia lupakan karena memang tidak dipikirkannya lagi. Akan tetapi Lulu…! Dapatkah ia melupakan Lulu?

Kalau adik angkatnya itu hidup bahagia di samping suami dan anaknya, tentu dia akan dapat melupakannya, atau bahkan ikut merasa berbahagia karena adik yang dicintanya itu hidup bahagia. Akan tetapi sekarang? Kebahagiaan itu berantakan dan betapa mungkin ia dapat melupakannya? Apa lagi karena perginya Lulu meninggalkan suaminya itu menimbulkan dugaan di hatinya bahwa tentu Lulu yang telah melakukan hal yang menghebohkan dan menggegerkan dunia kang-ouw.

Siapa lagi yang dapat membongkar kuburan dan membawa pergi Sepasang Pedang Iblis? Hanya dia dan Lulu yang mengetahui di mana adanya sepasang pedang itu dikubur. Di mana sekarang adanya Lulu dan anaknya? Jangan-jangan…, ahhh, dia teringat akan ketua Thian-liong-pang, wanita yang mukanya diselubungi kain itu. Bentuk tubuhnya, suaranya, dan sinar mata dari balik selubung itu! Mengapa dia begitu bodoh? Tentu Lulu orangnya!

Akan tetapi kalau benar Lulu, mengapa menantangnya? Dan ilmu kepandaiannya pun hebat sekali. Orang seperti Lulu memungkinkan terjadinya segala hal aneh. Dia tidak akan merasa heran kalau tiba-tiba Lulu memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari padanya sendiri! Yang amat mengherankan hatinya, kalau benar ketua Thian-liong-pang itu Lulu adanya, mengapa waktu itu menantang dia? Mengapa seperti hendak memusuhinya?

Sampai tiga hari lamanya pertanyaan ini mengganggu hati Suma Han. Ketika pada pagi hari itu ia mengambil keputusan untuk pergi lagi meninggalkan Pulau Es, pertama untuk mencari Kwi Hong lagi dan kedua untuk menyelidiki Thian-liong-pang karena ia merasa penasaran kalau belum membuka selubung muka Ketua itu untuk melihat apakah dugaannya tidak salah, tiba-tiba terdengar seruan-seruan di luar istana.

“Garuda betina datang…!”

“Nona Kwi Hong tidak bersama dia…!”

Seruan-seruan itu cukup menyatakan bahwa garuda betina pulang tanpa Kwi Hong, berarti bahwa telah terjadi sesuatu dengan diri murid atau keponakannya itu! Akan tetapi Suma Han tidak menjadi gugup. Dengan tenang ia berloncatan keluar dan garuda betina sudah berada di pekarangan bersama garuda jantan yang agaknya sudah lebih dulu menyambut. Melihat Suma Han, garuda betina itu lalu mendekam dan mengeluarkan suara seperti rintihan, kemudian meloncat ke atas terbang dan turun lagi mendekam, terbang lagi dan mendekam lagi.

Suma Han menghampiri, “Apakah Nona ditawan orang?”

Garuda itu mengeluarkan suara dan mengangguk-angguk, lalu terbang dan mendekam lagi. Suma Han menoleh kepada pembantu-pembantunya dan berkata, “Agaknya Kwi Hong ditawan orang, biar aku sendiri yang menyusul dan menolongnya. Jaga pulau baik-baik, aku pergi takkan lama.” Setelah berkata demikian ia menggapai dengan tangan kirinya.

Garuda jantan meloncat datang dan sekali menggerakkan tubuhnya, Suma Han telah mencelat ke atas punggung garuda jantan yang terbang tinggi mengejar garuda betina yang telah mendahuluinya. Garuda betina yang menjadi penunjuk jalan terbang tinggi di atas lautan kemudian mengelilingi sekumpulan pulau- pulau kecil. Di tengah kumpulan pulau itu tampak sebuah pulau hitam.

“Hemm, agaknya penghuni Pulau Neraka yang menawan Kwi Hong. Betapa lancang dan beraninya mereka!” Suma Han menjadi gemas dan menyuruh garudanya menukik ke bawah, ada pun garuda betina yang kelihatannya jeri, hanya berani mengikuti dari belakang.

Suma Han adalah seorang pendekar yang selain sakti, juga amat cerdik. Kalau penghuni Pulau Neraka sudah berani menculik muridnya, tentu mereka itu kini telah siap untuk menyambut kedatangannya, karena sudah tentu mereka ini tahu bahwa dia akan menolong muridnya. Kenyataan bahwa garuda betina pulang tanpa menderita luka merupakan bukti bahwa penghuni Pulau Neraka sengaja memancingnya datang dan harus berlaku hati-hati sekali. Dari atas dia melihat pulau yang belum pernah dikunjungi, hanya didengarnya saja dongengnya itu. Pendaratan ke pulau itu hanya mungkin dilakukan dari angkasa, karena pulau itu dikurung lautan yang bergelombang dahsyat, yang akan menghempaskan setiap perahu yang mencoba untuk mendarat. Tentu kini penjagaan ketat dilakukan untuk menyambut kedatangannya

Lewat angkasa menunggang burung, pikirnya. Justru tempat yang berbahaya, yang tidak mungkin didarati, yaitu melalui lautan, merupakan tempat yang terbebas dari pada penjagaan. Karena pikiran ini, dia lalu menyuruh garudanya terbang rendah di atas laut dekat tebing karang yang airnya berombak besar.

Setelah burung itu terbang rendah, Suma Han meloncat dari atas punggung burung, melemparkan tongkatnya ke bawah. Tongkat kayu itu langsung disambar ombak dan mengambang. Bagaikan seekor burung, tubuh Suma Han menyusul tongkatnya dan kaki tunggalnya sudah hinggap di atas tongkat yang terombang-ambing ombak.

Dengan menekuk lutut ia menggunakan kedua tangannya sebagai dayung sehingga tongkatnya meluncur ke pinggir mendekat karang. Pada saat itu, ombak dari belakangnya mendorong pula sehingga tubuhnya meluncur ke depan, ke arah tebing batu karang yang agaknya akan menerima dan menghancurkan tubuh Pendekar Super Sakti ini. Namun Suma Han telah memperhitungkan dan ia sudah mendahului meloncat dengan ilmunya Soan-hong-lui-kun sambil menyambar tongkatnya.

Ketika tubuhnya meluncur dekat tebing karang, tongkatnya menotok ke depan, ke arah batu karang dan menggunakan tenaganya untuk mencelat ke ke atas, menotok lagi dan meloncat lagi sehingga dengan lima kali loncatan ia telah dapat sampai di puncak tebing dengan selamat. Ia menoleh dan melihat bahwa dua ekor burung garuda peliharaannya itu telah hinggap dengan selamat di sebuah batu karang yang menonjol, tidak tampak dari darat. Ia girang akan kecerdikan dua ekor burung itu yang mengerti akan siasatnya yang menyuruh mereka bersembunyi dan menanti isyaratnya.

Dari atas tebing yang tinggi ini, Pendekar Super Sakti memeriksa keadaan pulau. Hemm, benar-benar tempat yang berbahaya, pikirnya. Berbahaya dan teratur oleh tangan ahli karena keadaannya mencurigakan sekali. Dari tempat dia mendarat, kalau hendak memasuki pulau harus melalui hutan-hutan yang gelap dan pohon-pohonnya diatur mencurigakan, seperti lorong menyesatkan dan banyak bagian yang serupa sehingga memasuki hutan itu tentu akan membingungkan orang dan menyesatkan. Pula, mungkin di dalam hutan itu bersembunyi binatang-binatang jahat yang berbisa.

Dari sebelah kiri melewati daerah yang seperti rawa, amat luas dan penuh alang-alang tinggi. Daerah itu amat berbahaya karena melalui rawa yang tertutup oleh alang-alang orang tak mampu menjaga diri sebaiknya, apa lagi kalau sampai terjeblos ke dalam lumpur dan diserang banyak binatang buas. Dari sebelah kanan melalui pegunungan karang yang ditumbuhi tanaman-tanaman yang aneh bentuknya, kelihatan sunyi namun malah mencurigakan sekali karena biasanya, di tempat-tempat yang diatur orang- orang pandai seperti pulau itu, tempat yang kelihatan paling aman biasanya justru merupakan tempat yang paling berbahaya.

Ada pun pendaratan dari seberang sana, berlawanan dengan tempat ia mendarat, orang harus melalui daerah yang penuh pasir, kelihatan bersih sunyi dan aman, namun ia merasa yakin bahwa tempat itu pun amat berbahaya karena selain pendatang tidak akan dapat bersembunyi dan nampak dari jauh, juga dia sudah mendengar tentang pasir bergerak yang dapat menyedot benda bergerak ke dalamnya. Dia mendarat tanpa perhitungan karena memang belum mengenal keadaan. Nasib saja yang menentukan dan setelah ia mendarat di situ, biarlah ia memasuki pulau itu dari situ pula, melalui hutan-hutan gelap yang kelihatan paling berbahaya itu.

Sampai beberapa lama dia memeriksa seluruh hutan itu dari atas, menghafal letak-letak kelompok pohon yang beraneka macam dan memperhatikan mata angin dengan melihat letak matahari. Melihat arah matahari, dia tahu bahwa dia telah mendarat di bagian selatan dan untuk menuju ke tengah hutan yang ia yakin tentu menjadi markas atau sarang penghuni Pulau Neraka, dia harus menuju ke utara. Tiba-tiba Suma Han menggerakkan tubuh menyelinap ke balik batu karang menonjol, menyembunyikan diri dan mengintai.

Tidak salah lagi, yang terbang di atas itu adalah seekor burung rajawali yang besarnya menandingi garudanya dan di punggung rajawali itu duduk seorang manusia. Burung itu terbang berputaran di atas pulau, maka tahulah dia bahwa orang yang menunggang rajawali itu, yang terlalu jauh untuk dapat dilihat besar kecilnya atau laki-laki perempuannya, tentu sedang melakukan pengintaian atau pemeriksaan.

Setelah burung itu menukik turun dan lenyap di balik pohon-pohon, ia lalu keluar dari tempat sembunyinya. Sekali lagi ia memandang keadaan hutan yang akan dilaluinya, kemudian tubuhnya bergerak ke depan cepat sekali, dengan loncatan-loncatan jauh. Akan tetapi, dalam kecepatannya yang luar biasa Suma Han selalu tetap waspada dan hati-hati karena dia maklum betapa berbahaya daerah yang tak dikenalnya itu.

Dia kini sudah memasuki hutan yang gelap. Bagian atas hutan itu tertutup rapat oleh daun-daun lebat sehingga sukar untuk melihat di mana adanya matahari. Namun, dari sinar matahari yang menerobos ke bawah ia dapat memperhitungkan dan dia terus maju menuju ke arah utara. Dia tidak mau membelok melainkan lurus bergerak ke depan. Kalau keadaan sedemikian gelapnya dan ia merasa kehilangan arah, Suma Han mencelat ke atas pohon besar dan melihat letak matahari, lalu turun lagi dan melanjutkan perjalanannya.

Tiba-tiba ia berhenti bergerak. “Ular…,” bisiknya dan ia sudah siap.

Penciumannya yang tajam sudah dapat menangkap bau amis ular-ular itu, sedangkan pendengarannya dapat menangkap suara mendesis-desis dari depan. Namun dia tidak gentar dan melanjutkan perjalanan ke depan. Hutan yang gelap sehingga mudah menyesatkan orang itu kini terganti dengan bagian yang terbuka, ada seratus meter luasnya dan di tempat inilah berkumpulnya ular-ular itu, kemudian di seberang sana disambung pula dengan hutan lain.

Suma Han berdiri dan memperhatikan ular-ular itu. Diam-diam ia kagum sekali. Dari mana saja penghuni pulau ini mengumpulkan ular-ular yang selain amat banyak jumlahnya, ada ribuan ekor, juga amat banyak macamnya, semua terdiri dari ular-ular berbisa! Dia mengenal beberapa ekor ular yang gigitannya amat berbahaya, sekali gigit tentu merenggut nyawa. Dan melihat ular-ular yang beraneka macam itu, dengan warna yang bermacam-macam pula, timbul rasa sayang di hati Suma Han. Sayang kepada kumpulan ular berbisa yang begitu lengkap di bumi! Pula, dia tidak mempunyai niat sedikit pun juga untuk melakukan pembunuhan dan pengrusakan di pulau ini.

Pertama, dia belum melihat bukti bahwa Kwi Hong di tahan di Pulau ini. Kedua, andai kata benar demikian, dia menduga bahwa penghuni Pulau Neraka hanya melakukan hal itu untuk memancing dia datang, tentu Kwi Hong tidak diganggu karena buktinya, burung garuda betina pun tidak dilukai. Kalau orang tidak berniat buruk, mengapa dia harus melakukan pembunuhan dan pengrusakan.

Kini ular-ular itu telah mengetahui kedatangannya, binatang-binatang ini mendesis-desis dan bergerak maju seperti barisan, siap untuk mengeroyok manusia yang berani datang ke tempat itu. Suma Han mengukur dengan pandang matanya. Kalau bukan dia yang datang ke tempat itu, agaknya sukar untuk melewati ular-ular yang memenuhi daerah sepanjang seratus meter itu, kecuali dengan membunuh mereka semua.

Untuk meloncati jarak yang sekian jauhnya, biar dia seorang ahli ilmu Soan-hong-lui-kun sekali pun, tentu tidak mungkin. Akan tetapi dengan tongkatnya ditambah ilmunya, dia tidak merasa menghadapi kesukaran. Dia tersenyum, dapat menduga bahwa tentu ada mata manusia yang mengintai gerak-geriknya dan ingin melihat bagaimana dia akan melalui barisan ular itu.

Maka dia lalu meloncat ke depan beberapa meter jauhnya dan kalau dia tidak bertongkat, tentu terpaksa kakinya akan menyentuh tanah dan ada bahaya di sambar ular-ular itu. Akan tetapi dengan cekatan dan mudah ia menotolkan tongkatnya ke atas tanah di antara ular-ular yang menjadi kalang kabut berusaha menyerang tongkatnya. Dengan kekuatan tangannya yang memegang tongkat, begitu tongkat menotol tanah, tubuhnya sudah mencelat lagi ke depan.

Beberapa ekor ular yang mati-matian menggigit ujung tongkat itu terpelanting dan kembali Suma Han menggunakan tongkatnya menotol tanah dan tubuhnya mencelat lagi. Demikianlah, dengan akal ini, dalam beberapa loncatan saja Suma Han telah tiba di seberang daerah ular dengan selamat tanpa membunuh seekor ular pun! Ia berdiri dan membalikkan tubuh sambil tersenyum memandangi ular-ular yang menjadi kacau dan membalik, mencari lawan.

“Begini sajakah halangan memasuki pulau?” kata Suma Han sambil melanjutkan perjalanan, ke utara menuju ke tengah pulau dan melalui hutan di depan yang tidak begitu gelap seperti hutan pertama.

Tiba-tiba seperti jawaban ucapannya tadi terdengar suara gerengan keras dan dari dalam semak-semak meloncat keluar puluhan anjing serigala yang mengeluarkan bau harum dan amis! Suma Han mengelak dengan loncatan cepat sambil memperhatikan. Kembali ia merasa kagum. Serigala-serigala hitam ini benar-benar merupakan sekumpulan binatang yang aneh. Bulunya hitam mengkilap dan indah, moncongnya panjang dan mengingat akan bau yang keluar dari moncong mereka, menandakan bahwa binatang buas ini pun berbisa.

“Bukan main! Benar-benar segala macam binatang berbisa bersarang di pulau ini,” pikir Suma Han.

Melihat betapa kawanan serigala itu banyak sekali, gerakan mereka gesit, maka agaknya akan melelahkan kalau harus berlari-lari dan mengelak menghindari mereka yang tentu akan terus mengejar-ngejarnya. Dengan demikian maka perjalanannya akan kacau dan banyak bahayanya dia akan tersesat. Maka cepat ia mencelat ke atas pohon, berjongkok dengan kaki tunggalnya di atas dahan pohon, sejenak memandang serigala-serigala yang berusaha meloncat-loncat untuk mencapainya.

Pemandangan ini lucu bagi Suma Han, maka tanpa terasa lagi ia tertawa, kemudian melanjutkan perjalanannya melalui pohon-pohon. Karena pohon-pohon itu tumbuh berdekatan, amat mudah bagi seorang yang berilmu tinggi seperti dia untuk berloncatan dari dahan ke dahan dan dari pohon ke pohon, selalu mengambil arah ke utara atau mengkanankan matahari pagi.

Akan tetapi baru saja terbebas dari serangan gerombolan serigala hitam, datanglah serombongan lebah hitam yang terbang berbondong-bondong dan mengeroyoknya! Suma Han terkejut, dapat menduga bahwa sengatan lebah ini pun tentu berbisa. Dia memutar lengan kiri, sehingga timbul angin yang digerakkan hawa sinkang-nya sehingga lebah-lebah yang mendekatinya terbawa hanyut oleh angin itu. Akan tetapi karena dahan-dahan, ranting-ranting dan daun-daun menghalanginya, dia tidak dapat bergerak dengan leluasa. Melawan gerombolan lebah di pohon amatlah berbahaya, kalau meloncat turun, gerombolan srigaia hitam tentu akan menerkamnya.

Maka Suma Han cepat meloncat dengan pengerahan ilmu Soan-hong-lui-kun. Karena dia meloncat-loncat dengan selalu dikejar lebah-lebah yang terbang cepat, tentu saja dia tidak dapat memperhatikan arah lagi dan dia hanya berloncatan cepat dengan niat keluar dari hutan dan mencari tempat terbuka di mana dia akan dapat menghalau lebah-lebah itu dengan mudah. Sambil berloncatan dan kadang-kadang memutar lengan kiri untuk meruntuhkan lebah-lebah itu, diam-diam ia memuji dan mulailah dia tidak berani memandang rendah para penghuni Pulau Neraka!

Akhirnya dia berhasil juga keluar dari hutan itu, di tempat terbuka dan dengan hati lega ia mendapat kenyataan bahwa gerombolan anjing serigala sudah tak tampak lagi, tentu tidak sanggup mengejar dia yang berloncatan dari pohon ke pohon sedemikian cepatnya dan kehilangan jejak penciuman. Akan tetapi, kawanan lebah itu masih terus mengejarnya. Suma Han meloncat turun dari pohon terakhir dan sudah siap.

Ketika lebah-lebah itu terbang datang, dia lalu menanggalkan jubahnya dan memutar jubah dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri tetap memegangi tongkatnya. Kalau dengan tangan saja gerakan Suma Han sudah mampu mendatangkan angin yang menyambar dahsyat apa lagi kini menggunakan jubah. Angin bertiup keras dan lebah-lebah itu terbawa angin yang digerakkan oleh jubah di tangan Suma Han, sama sekali tak mampu mendekati pendekar itu. Bahkan ketika Suma Han membuat gerakan memutar dengan tangannya, jubahnya menimbulkan angin berpusing yang membuat lebah-lebah itu terseret angin yang berputaran ke atas sampai tinggi!

Tiba-tiba terdengar bunyi lengking tinggi nyaring dan halus, bunyi suling ditiup secara istimewa dan menyusul suara ini, datanglah berbondong-bondong lebah-lebah hitam dari segenap penjuru mengeroyok dan mengurung Suma Han!

“Setan…!” Suma Han mengomel, maklum bahwa suara suling itu dapat mengemudi perasaan lebah-lebah ini dan hal itu amat berbahaya karena kalau lebah-lebah itu datang makin banyak, mana mungkin dia dapat menghindarkan diri tanpa membasmi mereka, hal yang tak diinginkannya.

Dengan hati mengkal Suma Han lalu mengerahkan khikang-nya dan keluarlah lengkingan yang tinggi dan lebih nyaring dari pada suara suling itu sambil jubah di tangannya masih terus diputarnya. Usahanya berhasil baik sekali karena lebah-lebah itu menjadi kacau-balau. Makin nyaring lengking yang keluar dari dalam dada Suma Han, makin kacaulah mereka tidak tentu lagi arah terbangnya. Ada yang terbang ke atas, ada yang ke bawah, ke kanan kiri depan belakang, bahkan ada yang terbang membalik dari arah mereka datang! Ada pun lebah-lebah yang terlalu dekat dengan Suma Han membubung tinggi dan menjadi pening sehingga lebah-lebah itu berjatuhan, bergerak-gerak dan merayap-rayap di atas tanah karena untuk sementara mereka tidak kuasa terbang, bahkan merayap pun berputaran seperti anak-anak yang mabok setelah bermain putar-putaran!

Suara suling terhenti dan melihat bahwa lebah-lebah itu kini sudah pergi dalam keadaan kacau, Suma Han menghentikan lengkingannya dan putaran jubahnya, lalu tubuhnya mencelat lagi ke depan. Melihat hutan yang ditinggalkan dan letak matahari, hatinya mendongkol karena ternyata dalam melarikan diri tadi, dia tidak lari ke utara melainkan tersesat lari ke barat!

Karena tidak ingin tersesat lagi dan ingin melihat keadaan, ia melompat ke atas pohon di pinggir hutan yang baru ditinggalkan. Ketika ia memandang ke utara, hatinya girang karena dari tempat itu dia sudah dapat melihat sekelompok bangunan berwarna hitam. Akan tetapi, dari tempat itu menuju ke bangunan terdapat pasukan-pasukan menghadang jalan.

“Hemm, kini kalian tidak mengandalkan binatang-binatang lagi, melainkan maju sendiri menyambutku. Bagus!”

Dia lalu melayang turun dan mempergunakan ilmunya berloncatan cepat menuju ke utara. Ternyata di sepanjang jalan tidak ada lagi rintangan dan akhirnya ia tiba di lapangan luas dan berhadapan dengan dua puluh tujuh orang yang mukanya berwarna biru muda. Mereka berpakaian seragam dan membentuk barisan sembilan kali tiga, bersenjatakan tombak panjang yang ada rantainya di ujung.

Suma Han sudah mendengar bahwa kedudukan dan tingkat kepandaian para anak buah Pulau Neraka ditentukan oleh warna muka mereka, makin terang warna mukanya, makin tinggi tingkatnya. Kini menghadapi dua puluh tujuh orang bermuka biru muda, Suma Han mengomel di dalam hatinya. “Orang- orang Pulau Neraka sungguh memandang rendah kepadaku!”

Sebagai Tocu dari Pulau Es, tentu saja dia merasa terhina kalau kedatangannya hanya disambut oleh pasukan bermuka biru muda, warna yang tentu hanya menduduki tingkat ke empat atau ke lima. Maka dia pun tidak mau bicara melayani mereka, melainkan terus saja melangkah dengan kaki tunggalnya ke depan seolah-olah dua puluh tujuh orang itu hanya arca-arca yang tidak bernyawa dan tidak ada artinya!

Melihat sikap pendatang yang ditakuti ini, terdengar seorang di antara mereka berseru aneh memberi aba- aba dan tiga pasukan dari sembilan orang berjumlah dua puluh tujuh orang itu menggerakkan senjata, ada yang menyerang dengan tombak, ada pula yang membalikkan tombak dan menyabet dengan rantai baja di ujung gagang tombak. Serangan mereka amat cepat dan kuat sehingga terdengar angin bersuitan menyambar ke arah Suma Han yang menjadi sasaran dari tombak-tombak runcing dan rantai-rantai berat itu.

Namun, Suma Han masih berloncatan terus ke depan seolah-olah tidak peduli akan serangan mereka, akan tetapi setelah senjata-senjata itu datang dekat, dia memutar tongkatnya. Terdengarlah suara hiruk pikuk ketika semua senjata itu bertemu tongkat, bertemu dan terus melekat, rantai membelit-belit tongkat dan ujung tombak tak dapat ditarik kembali, bahkan kini mereka berteriak kesakitan dan terpaksa melepaskan senjata karena telapak tangan mereka terasa dingin membeku. Yang bersikeras mempertahankan senjatanya segera menjerit dan memegangi tangan yang terpaksa melepaskan tombak karena kulit telapak tangan mereka berdarah!

Dengan tenang Suma Han melangkah terus, menggerakkan tongkatnya dan belasan batang tombak terpelanting ke kanan kiri, terpelanting keras sekali, ada yang meluncur seperti anak panah dan hilang di antara pohon-pohon, ada pula yang menancap di atas tanah sampai setengahnya lebih!

Mereka yang telah menyerang, belasan orang itu, meritih-rintih, dan mereka yang belum menyerang berdiri bengong menyaksikan kejadian yang luar biasa itu. Karena maklum bahwa menyerang seperti kawan- kawannya tadi tidak akan berhasil sedangkan lawan telah melewati hadangan pasukan mereka, belasan orang sisa yang kehilangan tombak lalu menggerakkan tombak mereka, melontarkan kuat-kuat sehingga kini ada belasan yang meluncur ke depan, mengeluarkan suara berdesing menyerang ke arah tubuh belakang Suma Han!

Seperti tadi, Suma Han tenang-tenang saja, tidak menengok sama sekali sehingga seolah-olah sekali ini dia akan celaka oleh belasan batang tombak yang meluncur secara kuat, cepat dan tepat ke arah punggungnya. Akan tetapi setelah ujung tombak-tombak itu tinggal beberapa senti lagi dari punggungnya, tubuhnya membalik, tangan kanannya mengibas ke depan dan… belasan batang tombak itu runtuh dan semua menancap ke atas tanah di depan kakinya, berjajar-jajar rapi seperti diatur. Kemudian ia membalikkan tubuh lagi dan berjalan maju terpincang-pincang dibantu tongkatnya, tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

“Pendekar Siluman… kepandaiannya seperti iblis…” Pasukan muka biru muda itu berbisik dan saling pandang dengan mata terbelalak.

Kini pada sebuah tikungan, Suma Han melihat sebuah pasukan lain lagi, pasukan yang terdiri dari dua kali sembilan orang bermuka hijau pupus. Hemm, pikirnya, setingkat lebih tinggi, tetapi tetap saja dia tidak puas dan merasa dipandang rendah. Dia dapat menduga bahwa tingkat tertinggi tentu berwarna putih, dan warna yang mendekati putih adalah warna kuning. Kalau Si Ketua merasa terlalu tinggi untuk menghadang sendiri, paling sedikitnya dia harus mengutus tokoh-tokoh bermuka kuning untuk menghadapinya. Akan tetapi muka hijau pupus? Hmmm, kalian terlalu memandang rendah Tocu Pulau Es, padahal orang-orang Pulau Neraka dulunya hanyalah orang-orang buangan dari Pulau Es!

“Haiii! Berhenti! Apakah yang datang ini Pendekar Siluman dari Pulau Es?” Seorang di antara mereka bertanya.

Akan tetapi, seperti juga tadi, Suma Han tidak mau melayani mereka bicara melainkan melangkah maju terpincang-pincang ke depan, tidak mempedulikan delapan belas orang yang bersenjata masing-masing sebatang golok besar itu, sedangkan tangan kiri mereka siap mendekati kantung di pinggang yang ia duga tentu berisi senjata rahasia berbisa!

Melihat sikap Suma Han, delapan belas orang itu kemudian membuka barisan dan mengurung. Akan tetapi sikap tidak peduli dari Pendekar Super Sakti itu membuat mereka hati-hati sekali sehingga kurungan itu mengikuti gerakan Suma Han yang melangkah maju. Tiba-tiba seorang di antara mereka berseru keras dan terdengar goloknya berdesing menyambar, diikuti oleh golok-golok lain yang menyambar secara berturut-turut.

Hemmm, kepandaian mereka ini sedikitnya tiga kali lipat dari pada tingkat pasukan pertama yang bermuka biru muda tadi, pikir Suma Han. Ketika semua golok bergerak menyerangnya, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya sehingga delapan belas orang yang mendadak kehilangan lawan itu sudah mengira dia pandai menghilang! Akan tetapi mereka segera melihat ke atas dan delapan belas buah tangan kiri bergerak.

“Ciat-ciat-ciatt!” Belasan batang pisau hitam mencuat gemerlapan melayang ke arah seluruh bagian tubuh Suma Han.

“Trang-cring-cring-trang…!” Semua pisau itu terpental dan melayang jauh ke segenap penjuru karena ditangkis oleh segulung sinar dari tongkat yang diputar, sedangkan tubuh Suma Han sudah melayang turun lagi.

Delapan belas orang itu kembali menerjang, sinar golok mereka berkeredepan menyilaukan mata. Suma Han memutar tongkatnya sambil mengerahkan tenaga. Terdengar suara hiruk pikuk dan setelah suara itu lenyap, delapan belas orang itu berdiri bengong memandangi gagang golok di tangan yang sudah tidak ada goloknya lagi karena senjata mereka telah patah semua!

Ketika mereka memandang ke depan, mereka melihat pendekar kaki buntung itu sudah berloncatan ke depan. Mereka tidak berani mengejar karena selain mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan pendekar itu, juga di depan terdapat pasukan penjaga lain yang lebih tinggi tingkatnya.

Kini Suma Han melihat pasukan terdiri dari sembilan orang yang bermuka merah muda, yaitu tiga wanita dan enam pria, masing-masing memegang senjata Siang-kiam (Sepasang Pedang).

“Tocu dari Pulau Es, perlahan dulu!” tegur seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun lebih dan berambut panjang riap-riapan sampai ke pundak.

“Kalian ini anak buah Pulau Neraka tingkat berapakah?” Suma Han bertanya, sikapnya tenang dan dingin dengan suara yang dikeluarkan sambil mengerahkan Im-kang sehingga sembilan orang yang mendengar suara ini tergetar jantungnya dan menggigil kedinginan.

Akan tetapi dengan pengerahan sinkang, mereka dapat mengusir rasa dingin itu dan kini pasukan itu terpecah menjadi tiga, masing-masing tiga orang, seorang wanita dan dua orang pria, lalu tiga rombongan kecil ini mengurung Suma Han dari depan, kanan dan kiri.

“Kami adalah murid-murid tingkat dua!” jawab kakek itu.

“Hemm, Ketua kalian membuang-buang waktu saja. Mengapa tidak dia sendiri saja yang maju untuk melawan aku agar lebih cepat dibuktikan siapa yang lebih kuat?”

“Orang muda yang sombong!” Seorang wanita di rombongan sebelah kirinya menudingkan pedang. Wanita itu usianya sekitar empat puluh tahun, cantik akan tetapi sinar matanya liar dan ganas. “Biar pun engkau Tocu Pulau Es, akan tetapi engkau masih muda, kakimu buntung, tidak selayaknya bersikap sombong seperti itu. Lihat pedang!” Wanita itu sudah menyerang, disusul dua orang temannya.

Melihat gerakan mereka, Suma Han terheran. Itulah jurus ilmu pedang dari kitab-kitab peninggalan Koai- Lojin atau Kam Han Ki di Pulau Es! Jurus yang ampuh akan tetapi sayang bahwa gerakan mereka kurang sempurna.

“Hemmm, mengapa begitu cara melakukan jurus Siang-liong-jio-seng (Sepasang Naga Berebut Bintang)?”

Dengan tongkatnya ia menangkis enam batang pedang itu, tangan kanannya meraih dan secara aneh sekali sepasang pedang di tangan wanita galak itu telah pindah ke tangan Suma Han! Pendekar ini menancapkan tongkatnya dan memutar sepasang pedang dengan kedua tangan. “Beginilah mestinya! Dalam perebutan antara sepasang naga, yang kanan harus mengalah karena biasanya lawan memperhatikan tangan kanan sehingga yang kiri dapat melakukan serangan tiba-tiba yang mengacaukan lawan. Jangan menitik beratkan gerakan pedang kanan!”

Sementara itu, delapan orang yang melihat betapa senjata seorang kawan mereka terampas dan yang dua orang lagi terpental ketika ditangkis kini cepat menerjang dengan pedang mereka. Suma Han masih terus menggerakkan sepasang pedang dengan jurus Siang-liong-jio-seng yang amat dikenal oleh mereka itu dan anehnya, biar pun mereka mengenal baik jurus ini, berturut-turut mereka berseru kaget karena terdengar kain robek dan tiba-tiba tubuh lawan yang dikepung itu berkelebat lenyap, yang tinggal hanya sepasang pedang rampasan itu menancap di tanah, dan ketika mereka saling pandang, tampaklah betapa pakaian mereka telah robek dan berlubang di dua tempat, yaitu di ulu hati dan perut!

Sebagai ahli-ahli pedang yang sudah tinggi tingkatnya, sembilan orang bermuka merah muda ini maklum bahwa kalau Pendekar Siluman menghendaki, mereka tentu telah roboh dengan jantung tertembus pedang dan sudah tewas semua! Maka mereka hanya dapat menghela napas dan memandang pendekar kaki buntung yang kini telah berjalan terpincang-pincang menuju ke penjagaan terakhir, yaitu empat orang kakek bermuka kuning.

Empat orang kakek itu usianya rata-rata sudah lima puluh tahun lebih, sikapnya gagah dan angker, pakaiannya sederhana, dengan jubah panjang dan rambut serta jenggot mereka panjang, kaki mereka telanjang tak bersepatu dan tangan mereka hanya bersenjatakan sebatang tongkat kecil yang panjangnya satu setengah meter, terbuat dari kayu hitam atau ranting yang lemas.

Melihat keadaan ini, Suma Han bersikap hati-hati karena dia dapat menduga bahwa tentu empat orang kakek ini adalah tokoh-tokoh tingkat satu, hanya di bawah Sang Ketua dan telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Hanya ia merasa heran mengapa jumlah mereka ada empat orang, tidak enam atau tiga karena semenjak pasukan pertama, penghuni Pulau Neraka itu menggunakan bentuk barisan tiga bintang yang dapat diluaskan menjadi masing-masing pasukan sembilan orang namun pada dasarnya masih mempergunakan bentuk barisan tiga bintang dengan gerakan segi tiga.

Dia tidak tahu bahwa sebetulnya jumlah tokoh tingkat satu bermuka kuning itu ada enam orang, yang seorang telah meninggal dunia sedangkan yang seorang lagi kini sedang merantau atas perintah Ketua mereka untuk menyelidiki keadaan kang-ouw yang geger karena hilangnya pusaka-pusaka yang diperebutkan setelah pasukan Pulau Neraka mengalami kegagalan di muara Sungai Huang-ho dahulu. Oleh karena itu kini hanya tinggal empat orang saja yang menghadapinya sebagai penjagaan terakhir dan mereka pun kini menjaga di depan bangunan besar yang menjadi istana dari majikan Pulau Neraka.

Setelah melayangkan pandang ke arah istana hitam yang angker itu, Suma Han lalu menghadapi empat orang itu dan berkata, “Melalui garuda betina peliharaanku, Pulau Neraka telah mengundang aku datang, dan sekarang aku datang untuk menjemput muridku. Harap Su-wi Locianpwe suka menyampaikan kepada Tocu Pulau Neraka agar mengembalikan muridku kepadaku.”

Empat orang kakek itu memandang dengan penuh perhatian, memandang pendekar buntung itu dari kaki sampai ke kepala dengan penuh takjub karena baru sekarang mereka melihat pendekar yang terkenal di seluruh dunia itu, yang ternyata tidak kelihatan luar biasa, bahkan hanya merupakan seorang pemuda yang cacad! Betapa pun juga, melihat sikap dan sinar matanya, mereka bergidik dan maklum bahwa pemuda di depan mereka ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian amat hebat.

Seorang di antara mereka yang rambutnya sudah hampir putih semua segera mengangkat kedua tangan depan dada sambil berkata, “Tocu dari Pulau Es sudah dapat tiba di sini, membuktikan bahwa nama besarnya bukan omong kosong belaka. Akan tetapi sudah menjadi tugas kami untuk menjaga di sini dan kalau Tocu hendak menjemput murid dan bertemu dengan Tocu kami, harus melalui tongkat kecil kami.”

Suma Han mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk. “Hemmm… agaknya Tocu Pulau Neraka terlalu memandang rendah orang! Kalian ingin menguji kepandaianku? Nah, lihat baik-baik, biar pun kalian berempat, apakah aku kalah banyak?” Suara Suma Han mengandung getaran yang dahsyat dan berpengaruh.

Tiba-tiba empat orang kakek itu memandang terbelalak dan bingung karena di depan mereka kini bukan hanya ada seorang pemuda kaki buntung, melainkan pemuda itu telah berubah menjadi delapan orang kembar! Tentu saja mereka terkejut sekali dan betapa pun mereka mengerahkan sinkang untuk melawan pengaruh mukjizat itu, tetap saja pandangan mereka tidak berubah, lawan telah menjadi dua kali lipat lebih banyak dari pada jumlah mereka!

Karena bingung, empat orang kakek itu lalu menggerakkan ranting di tangan mereka, menghantam Suma Han yang terdekat. Akan tetapi, biar pun ranting mereka mengenai tepat tubuh lawan, mereka seolah-olah menghantam bayangan saja dan ranting itu ‘lewat’ menembus tubuh orang yang diserang. Hal ini memang tidak mengherankan karena yang mereka serang itu bukanlah tubuh Suma Han yang asli, melainkan bayangan yang timbul karena pengaruh kekuatan ilmu merampas semangat dan pikiran orang yang dilakukan Suma Han. Selagi mereka terheran-heran, Suma Han yang asli telah menggerakkan tongkatnya, empat kali menotok dan empat orang kakek itu mengeluh dan jatuh terduduk di atas tanah dalam keadaan lumpuh!

“Sudah kalian lihat kepandaian Tocu dari Pulau Es?” Suma Han berkata dan kini empat orang kakek melihat bahwa lawannya hanya seorang saja, berdiri di depan mereka, bersandar pada tongkat dan tangan kanan bertolak pinggang!

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari dalam istana hitam yang daun pintunya tertutup itu, “Kalau Tocu Pulau Es memang gagah perkasa dan super sakti, janganlah mengandalkan ilmu siluman!”

Suma Han memandang ke arah pintu istana hitam itu dengan mata terbelalak saking herannya. Tadinya ia mengira bahwa melihat keadaan empat orang kakek tingkat satu ini, tentu Tocu dari Pulau Neraka merupakan seorang kakek yang menyeramkan dan lebih mendekati iblis dari pada manusia. Akan tetapi suara yang keluar dari istana hitam itu, yang ia duga tentulah seorang Tocu pulau itu, adalah suara seorang wanita, suara yang nyaring dan merdu! Bukan suara seorang kakek kasar, juga pasti bukan suara seorang nenek-nenek karena suara seperti itu tentu hanya dimiliki seorang wanita yang masih muda.

Mungkinkah ini? Mungkinkah Ketua atau Majikan Pulau Neraka seorang wanita muda? Suma Han tidak akan percaya kalau saja dia tidak teringat akan Ketua Thion-liong-pang. Bukankah Ketua Thian-liong-pang yang berkerudung itu pun wanita muda dan yang dia kini yakin tentu Lulu, adik angkatnya? Kalau benar demikian, maka dua perkumpulan yang paling terkenal dan kuat kini dipimpin oleh wanita-wanita muda! Benar-benar merupakan hal yang sukar dipercaya.

Betapa pun juga, mendengar ucapan itu wajahnya menjadi merah. Dia tadi memang mempergunakan kekuatan batinnya yang menguasai empat orang lawan melalui sinar mata dan suaranya dan hal itu dia lakukan hanya karena dia enggan bertanding melawan mereka. Menghadapi pasukan-pasukan tingkat rendahan tadi, dia masih dapat melalui mereka tanpa melukai seorang pun. Akan tetapi, dari gerakan empat orang kakek ini dia maklum bahwa dia menghadapi empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan untuk mengalahkan empat orang ini tanpa melukainya merupakan hal yang tidak mudah ia lakukan.

Maka tadi ia mengambil cara yang paling mudah, yaitu mengalahkan mereka dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya yang mukjizat, yang kini telah mencapai tingkat amat tinggi setelah ia menerima gemblengan dan petunjuk terakhir dari manusia dewa Koai Lojin. Sekarang Tocu Pulau Neraka mencela dan mengejeknya, kalau dia tidak memperlihatkan kepandaiannya, tentu saja dia akan merasa malu sekali.

“Begitukah yang kalian kehendaki? Nah, Su-wi Locianpwe, bangunlah!” Tongkatnya bergerak dan empat orang kakek muka kuning itu dapat bergerak kembali dan mereka melompat bangun.

Kini mereka bersikap hati-hati sekali. Tocu Pulau Es ini benar-benar hebat. Sebagai Tocu Pulau Es yang kenamaan, menyebut mereka ‘locianpwe’ ini saja sudah menjadi bukti bahwa Tocu Pulau Es ini adalah seorang yang rendah hati dan karenanya dapat dibayangkan betapa tinggi ilmunya.

“Maaf, kami hanya pelaksana tugas!” Kakek beruban berkata sebagai pernyataan kesungkanan hati mereka, juga ucapan ini merupakan pembuka serangan karena secepat kilat empat orang itu sudah menyerang Suma Han dari empat penjuru!

Suma Han cepat menggerakkan tubuhnya, menggunakan Soan-hong-lui-kun untuk mengelak, akan tetapi tiga orang di antara mereka mengayun tongkat ke atas dan menghujankan serangan ke atas tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk turun! Sedangkan yang seorang tetap ‘menutup’ bagian bawah dengan serangan cepat, rantingnya diputar seperti kitiran sehingga berubah menjadi gulungan sinar.

Suma Han terkejut bukan main. Teringat ia akan gaya serangan bibi gurunya, Maya, ketika menghadapi ibu gurunya, Khu Siauw Bwee. Mungkinkah tiga orang kakek ini telah mempelajari ilmu yang khusus dicipta oleh Maya untuk menghadapi Soan-hong-lui-kun? Namun dia tidak diberi kesempatan untuk banyak berheran, terpaksa ia menggerakkan tongkatnya menotok ranting yang terdekat dan menggunakan tenaga pertemuan senjata itu untuk mencelat lagi ke samping, kemudian sambil memutar tongkat menangkis keempat senjata lawan ia turun lagi ke atas tanah. Segera ia dikurung dan diserang lagi. Suma Han memutar tongkat melindungi tubuh sambil memperhatikan gaya permainan para pengeroyoknya dan mengukur tingkat kepandaian mereka.

Dia kagum sekali. Ranting di tangan mereka itu kadang-kadang berubah menegang keras seperti baja, kadang-kadang lemas seperti cambuk dan gerakan mereka amat ringan dan cepat, tenaga sinkang mereka pun amat kuat. Dibandingkan dengan pembantunya, Yap Sun, agaknya tingkat setiap orang kakek muka kuning ini lebih tinggi, akan tetapi dibandingkan dengan Phoa Ciok Lin yang dia gembleng sendiri, pembantu utamanya itu lebih menang setingkat. Betapa pun juga, kalau Ciok Lin yang menghadapi pengeroyokan ini, tentu pembantunya itu akan kalah!

Yang amat membikin dia penasaran dan kewalahan adalah ilmu silat mereka yang istimewa digerakkan untuk menghadapi Soan-hong-lui-kun. Biasanya, dengan ilmu gerak kilatnya ini dengan mudah dia akan dapat menguasai lawan-lawan yang mengeroyoknya. Akan tetapi sekarang, biar pun dia memiliki gerakan kilat yang jauh lebih cepat dari pada gerakan mereka, namun keempat orang itu selalu mendahuluinya, menutup lubang-lubang ke mana dia dapat mencelat sehingga Soan-hong-lui-kun tak dapat ia mainkan dengan leluasa, bahkan sering kali macet dan tertutup di tengah jalan. Terpaksa Suma Han mengeluarkan kepandaiannya, memutar tongkatnya melindungi tubuh sehingga beberapa kali terdengar suara keras bertemunya tongkat dengan empat batang ranting itu.

Kalau begini keadaannya, aku hanya akan dapat menang dengan merobohkan mereka, dan hal ini berarti bahwa empat orang itu akan terluka. Dia tidak menghendaki hal ini terjadi, maka sambil mengeluarkan lengking panjang, tiba-tiba tubuh Suma Han mencelat ke belakang, membiarkan empat orang itu mengejarnya dan dengan gerakan cepat ia menancapkan tongkat di tanah kemudian kedua lengannya ia lonjorkan dengan tangan terbuka dan telapak tangan menghadap ke depan lalu membuat gerakan mendorong.

“Aihhhhh…!”

Empat orang yang sedang menerjang maju itu terhenti gerakannya dan terpental mundur sampai dua langkah. Tubuh mereka menggigil karena ada hawa dingin menyambar mereka. Cepat mereka pun berdiri melonjorkan kedua lengan sambil mengerahkan sinkang. Dengan mempersatukan tenaga, mereka mampu mengusir hawa dingin yang menyerang, bahkan berusaha membalas dengan pukulan sinkang jarak jauh.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka terkejut sekali karena dorongan hawa dingin yang menekan dan yang berhasil mereka lawan itu tiba-tiba berubah menjadi hawa yang amat panas seperti ada api menerjang mereka.

Cepat mereka menyesuaikan diri dengan pengerahan sinkang mencipta tenaga dingin. Namun kembali serangan hawa sinkang dari majikan Pulau Es itu berubah dingin, dan sebelum mereka berempat menyesuaikan diri kembali berubah dan terus berubah-ubah sehingga keempat orang itu akhirnya menjadi kacau pengerahan sinkang-nya, mempengaruhi jalan darah dan mereka terhuyung-huyung lalu roboh pingsan! Suma Han menghentikan pengerahan sinkang-nya dan tiba-tiba dari dalam istana itu menyambar sesosok tubuh manusia berpakaian hitam dengan kecepatan yang luar biasa.

Menduga bahwa orang yang gerakannya secepat kilat ini tentu Ketua Pulau Neraka, maka melihat tubuh itu meluncur dan mengirim pukulan ke arah dadanya, Suma Han tidak berani memandang rendah dan cepat ia mengangkat tangan kanan menangkis.

“Dukkkk!”

Ia terkejut karena orang itu pun mempergunakan Im-kang yang amat kuat sehingga terasa olehnya hawa dingin menyerangnya. Pertemuan dua lengan yang sama-sama mempergunakan Im-kang itu hebat sekali, membuat Suma Han terpental selangkah ke belakang akan tetapi lawannya juga terpental tiga langkah! Sebelum Suma Han dapat melihat jelas, orang itu telah menubruk lagi dengan pukulan kedua tangan terbuka. Dia cepat mengangkat kedua tangannya menerima telapak tangan lawan.

“Plakkk!” Dua pasang telapak tangan bertemu dan melekat, dua muka berhadapan dan dua pasang mata bertemu pandang.

Kalau ada halilintar menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Suma Han akan sekaget ketika ia melihat wajah yang putih itu. Ia menarik kembali kedua tangannya, meloncat mundur dengan kaki tunggalnya, wajahnya pucat, matanya terbelalak dan bibirnya bergerak memanggil.

“Lulu…!” Kaki tunggalnya menggigil sehingga ia jatuh berlutut memegang tongkatnya.

“Han-koko…!” Wanita bermuka putih yang bukan lain adalah Lulu itu menubruk maju dan berlutut pula.

“Lulu… Moi-moi…!” Suma Han memandang wajah cantik yang kini warnanya menjadi putih, memandang sepasang mata bintang yang bercucuran air mata. “Lulu Adikku…”

“Aku bukan adikmu Han-koko!”

“Ohhhhh…” Suma Han mengeluh, mereka saling pandang kemudian saling memeluk, berdekapan seolah- olah hendak menumpahkan semua rasa rindu yang selama ini menyesak dada. Akan tetapi Suma Han segera dapat menguasai hatinya dan melepaskan pelukan, memegang kedua pundak Lulu dan memandang wajah itu.

“Lulu-moi-moi… jadi engkaukah Tocu Pulau Neraka? Ahhh… Moi-moi, mengapa jadi begini…?” “Karena engkau, Koko! Karena engkau kejam, engkau tega kepadaku!”
“Lulu, jangan berkata demikian. Engkau satu-satunya orang yang kusayang di dunia ini, sejak dahulu sampai sekarang. Mengapa engkau melarikan diri meninggalkan suamimu? Tahukah engkau bahwa dia menjadi sengsara dan membunuh diri dengan berjuang sampai mati? Ahhh, Lulu…!”

“Aku tahu! Dan semua itu terjadi karena engkau, Koko. Engkau kejam dan tega kepadaku, meninggalkan aku! Kita sama dibesarkan di Pulau Es, akan tetapi engkau tinggal di sana melupakan aku, padahal seharusnya kita berdua yang tinggal di sana. Engkau memaksa aku menikah dengan orang yang sebenarnya tidak kucinta, engkau meninggalkan aku dengan hati remuk, juga membuat hatiku hancur, kebahagiaanku musnah. Butakah engkau, atau pura-pura tidak tahu bahwa semenjak dahulu hanya engkau satu-satunya pria yang kucinta?”

“Ahh… Lulu…!”

“Dan perasaanku meyakinkan bahwa engkau pun cinta kepadaku… Tidak! Jangan katakan bahwa cintamu adalah cinta saudara! Engkau menipu hati sendiri dan sebaliknya dari pada menyambung cinta kasih antara kita menjadi perjodohan engkau malah memaksa aku berjodoh dengan orang lain, sedangkan engkau sendiri rela pergi dengan hati hancur! Engkau menghancurkan kebahagiaan hati kita berdua! Pura- pura tidak tahukah engkau bahwa semenjak dahulu, sampai sekarang, ya, sampai saat ini, aku hanya akan bahagia kalau menjadi isterimu! Koko Han Han, jawablah, engkau tentu ingin menerima aku sebagai isterimu, bukan?”

Suma Han, Pendekar Super Sakti yang telah memiliki kekuatan batin luar biasa itu, kini hampir pingsan. Cinta merupakan kekuatan yang maha hebat, yang mengalahkan segala kekuatan di dunia ini. Jantungnya seperti diremas-remas, seluruh tubuhnya menggigil dan kedua matanya basah.

“Lulu… aku… aku telah dijodohkan oleh Subo dengan Nirahai… dan dia… dia pun juga meninggalkan aku…”

Lulu meloncat berdiri dan melangkah mundur, sejenak dadanya berombak menahan kemarahan yang timbul karena cemburu. “Hemmm… dan engkau lebih mencinta Suci Nirahai dari pada aku?”

Suma Han juga bangkit berdiri dengan kaki lemas. Dia memandang wajah Lulu, lalu menghela napas dan menunduk, “Lulu… aku… aku…, ahhh, bagaimana aku harus menjawab? Semenjak dahulu aku cinta padamu, cinta lahir batin, dengan seluruh jiwa ragaku. Namun engkau adikku, maka aku mengalah. Kemudian Subo menjodohkan aku dengan Nirahai, dan dia… dia mirip denganmu. Karena sudah menjadi isteriku, bagaimana aku tidak mencinta dia? Akan tetapi engkau… ahhhh, aku mencinta kalian berdua, Lulu… sungguh pun cintaku terhadapmu tiada bandingnya di dunia ini… akan tetapi engkau… ah, engkau adalah isteri Sin Kiat dan….”

“Han-koko! Engkau masih lemah seperti dulu! Ahhhh, pria mulia yang bodoh! Pria gagah perkasa yang lemah! Selalu mengalah, membiarkan diri sendiri merana, berniat membahagiakan orang dengan pengorbanan diri sendiri, tetapi malah menimbulkan kesengsaraan kepada semua orang! Aku mencintamu, Koko, akan tetapi aku adalah seorang wanita! Aku tidak sudi lagi bertekuk lutut dan meminta-minta! Tidak, lebih baik mati! Aku sudah bersumpah untuk memilih dua kenyataan dalam hidupku. Menjadi isterimu atau menjadi musuhmu! Tidak ada pilihan lain!”

“Lulu… Lulu…!” Suma Han mengeluh, hatinya bingung bukan main. “Ibu…!”
“Paman…!”

Keng In dan Kwi Hong berlari-lari keluar dari istana hitam. Keng In menghampiri ibunya dan Kwi Hong menghampiri pamannya. Kehadiran dua orang anak ini mengembalikan kesadaran dan ketenangan Suma Han dan Lulu.

Suma Han memandang keponakan atau muridnya itu, lalu menegur, “Bagus sekali perbuatanmu, ya!”

Kwi Hong berlutut di depan pamannya dan berkata penuh rasa takut, “Paman… aku tadinya sudah akan pulang, akan tetapi ditangkap Bibi ini. Harap Paman maafkan aku dan memberi hajaran kepadanya!”

“Ibu, apakah dia ini Tocu Pulau Es, Pendekar Siluman? Mengapa Ibu tidak menghajarnya?” Keng In bertanya kepada ibunya.

Lulu tidak menjawab, hanya meraba kepala anaknya dan pandang matanya tidak pernah lepas dari wajah Suma Han.

Suma Han menghela napas dan berkata kepada Kwi Hong. “Berdirilah, mari kita pulang.” Dia lalu mengeluarkan suara melengking tinggi memanggil burung garuda. Tak lama kemudian, tampaklah dua ekor burung itu terbang dengan cepat ke tempat itu, lalu meluncur turun di depan Suma Han.

“Lulu, aku pergi…”

Lulu tidak menjawab, hanya mengangguk, sinar matanya membuat Suma Han tidak kuat memandang lebih lama lagi. Ia menghela napas lagi, meloncat ke punggung garuda jantan sedangkan Kwi Hong meloncat ke punggung garuda betina, kemudian dua ekor burung itu terbang cepat meninggalkan pulau, diikuti pandang mata Lulu dan Keng In.

“Ibu, mengapa membiarkan mereka pergi?”

Lulu menunduk, tidak menjawab, hatinya tertusuk oleh pertanyaan itu. Mengapa dia membiarkan Suma Han pergi? Membiarkan harapan dan kebahagiaannya terbawa pergi bersama orang yang dicintanya itu?

“Toanio, mengapa Pendekar Siluman dibiarkan pergi?” Tiba-tiba seorang di antara empat kakek bermuka kuning bertanya. Kiranya empat orang itu kini telah siuman dari pingsannya dan melihat Suma Han bersama Kwi Hong naik dua ekor burung garuda yang terbang pergi dari tempat itu.

Lulu memandang mereka. “Dia datang seorang diri, apa baiknya kalau kita mengalahkan dia dengan pengeroyokan di tempat kita sendiri? Alangkah rendah dan memalukan. Lain kali masih banyak waktu untuk kuhancurkan dia. Dia itu musuhku! Musuhku…!”

Akan tetapi Lulu cepat membalikkan tubuh, menggandeng tangan Keng In dan berjalan memasuki istananya. Setelah ia berada seorang diri kamarnya, Ketua Pulau Neraka ini melempar diri di atas pembaringan, menelungkup dan menyembunyikan mukanya yang menangis itu di atas bantal.

“Koko… ahhhh, Han-koko… engkau masih lemah seperti dulu…! Kalau engkau tidak mau berkeras memperisteri aku, biarlah aku mati di tanganmu… kau tunggu saja…!”

********************

Mengapa Lulu tiba-tiba menjadi majikan Pulau Neraka? Agar tidak membingungkan, sebaiknya kita mengikuti perjalanannya semenjak dia lari pergi meninggalkan suaminya, Wan Sin Kiat atau yang terkenal dengan julukan Hoa-san Gi-hiap (Pendekar Budiman dari Hoa-san).

Semenjak Lulu melangsungkan pernikahannya dengan Hoa-san Gi-hiap Wan Sin Kiat, kemudian ditinggal pergi oleh Suma Han, dia mengantar kepergian Suma Han dengan ratap tangis dan merasa betapa semangatnya dan seluruh kebahagiaan hatinya terbawa pergi oleh kakak angkatnya itu (baca cerita Pendekar Super Sakti). Semenjak itu, dia hidup menderita kesengsaraan batin dan barulah ia sadar bahwa sesungguhnya hanya kakak angkatnya itu pria yang dicintanya dan betapa dia telah melakukan kesalahan yang besar dalam hidupnya dengan menerima dijodohkan dengan Wan Sin Kiat.

Dia suka kepada Sin Kiat dan kagum akan kegagahan pemuda yang menjadi suaminya ini, akan tetapi dia tidak dapat mencintanya sebagai seorang isteri mencinta suami karena kini dia merasa yakin bahwa dia hanya dapat mencinta Suma Han seorang yang tak mungkin diganti dengan pria lain. Akan tetapi, karena dia sudah dinikahkan dengan Sin Kiat, sudah bersumpah di depan meja sembahyang, Lulu memaksa hatinya mempergunakan kebijaksanaan dan berusaha untuk mencinta suaminya, melayaninya sebagaimana kewajiban seorang isteri yang baik. Namun, sampai dia melahirkan seorang anak, tetap saja dia tidak dapat mencinta Sin Kiat, tidak dapat melupakan Suma Han, bahkan makin berat penderitaan batinnya yang menjerit-jerit ingin dekat dengan pria yang dicintanya itu. Suaminya juga maklum dan merasa akan keadaan isterinya itu, dan akhirnya, karena tidak kuat lagi, Lulu membawa anaknya pergi meninggalkan suaminya.

Dengan niat hati hendak mencari Suma Han yang dia duga tentu kembali ke Pulau Es, dia melakukan perjalanan yang jauh dan sukar ke utara. Akan tetapi Lulu sekarang tidak seperti dahulu ketika masih kanak-kanak bersama Han Han (Suma Han) melakukan perjalanan, kini setelah menjadi murid Maya, ilmu kepandaiannya hebat dan dia dapat melakukan perjalanan cepat.

Betapa pun juga, tidak ada orang lain yang tahu di mana letaknya Pulau Es. Maka Lulu yang tidak bertanya kepada orang lain, hanya melanjutkan perjalanannya dengan mengira-ngira saja, sambil mengingat-ingat perjalanannya dahulu ketika meninggalkan Pulau Es bersama Suma Han. Banyak daerah yang sudah ia lupakan, maka di luar tahunya, dia tersesat sampai memasuki daerah Khitan!

Pada suatu pagi, dia melihat sebuah tanah kuburan yang luas, tanah kuburan yang megah dan terawat baik. Dia tidak tahu bahwa tanah kuburan itu adalah tanah kuburan keluarga Suling Emas! Baru dia tahu ketika melihat seorang kakek bongkok yang lihai bertanding melawan seorang tinggi besar kurus berkulit hitam memakai sorban. Ia teringat akan penuturan suci-nya, Puteri Nirahai, tentang penjaga kuburan keluarga Suling Emas yang lihai dan bongkok benama Gu Toan. Kini melihat kakek bongkok itu dan keadaan tanah kuburan, ia segera menduga bahwa tentu inilah kuburan keluarga Suling Emas yang terkenal. Ia segera merasa berpihak kepada kakek bongkok.

Setelah menggendong Keng In erat-erat di punggungnya, Lulu mencabut pedangnya dan meloncat ke gelanggang pertempuran sambil berseru, “Apakah Locianpwe yang bernama Gu Toan?”

Kakek bongkok itu sedang didesak hebat oleh orang India tinggi kurus yang amat lihai, namun dia masih sempat bertanya tanpa menoleh. “Bagaimana engkau bisa tahu?”

“Suci Nirahai yang menceritakan. Aku adalah sumoi-nya, murid Subo Maya.”

“Ahhh… kebetulan sekali! Cepat kau pergi menyelamatkan pusaka-pusaka dan pergi dari sini. Bawa pusaka-pusaka itu.”

Lulu tertegun dan bingung. “Pusaka apa…?”

“Dessss!” Tubuh Gu Toan terguling-guling karena dia terkena pukulan di pundaknya oleh tangan kakek India yang lihai. Akan tetapi ia meloncat bangun lagi dan mulutnya menyemburkan darah segar.

Melihat ini Lulu menerjang dengan pedangnya, namun orang India itu mendorongkan tangan kiri ke depan dan Lulu terhuyung-huyung!

“Jangan bantu aku! Lekas kau buka batu di belakang kuburan Suling Emas, ambil semua pusaka dan bawa pergi. Cepat…!” Kakek Gu Toan kembali berkata dan menerjang orang India itu dengan nekat.

Kakek itu mempergunakan bahasa selatan yang dimengerti oleh Lulu, akan tetapi agaknya tidak dimengerti oleh kakek India itu yang menjadi marah dan mengamuk dengan kaki tangannya yang panjang-panjang.

Maklum bahwa menyelamatkan pusaka agaknya lebih penting dari pada nyawa kakek bongkok itu, apa lagi teringat bahwa pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas adalah pusaka yang diperebutkan semua orang kang-ouw, Lulu cepat meloncat dan meneliti batu nisan kuburan satu demi satu. Akan tetapi tidak sukar dan tidak lama dia mencari karena batu nisan kuburan Suling Emas adalah yang terbesar dan berada di tengah-tengah. Cepat dia menyelinap di belakang nisan atau gundukan tanah kuburan dan dengan tenaga sinkang dia mendorong batu besar yang berada di situ. Batu tergeser dan di bawahnya terdapat sebuah lubang. Cepat diraihnya sebuah peti kuning yang berada di situ dan dikempitnya. Ketika ia meloncat bangun, ia melihat Si Bongkok kembali terhuyung-huyung terkena pukulan lawannya yang lihai. Dia ingin membantu akan tetapi Si Bongkok berseru.

“Lekas pergi! Lekas lari… pusaka itu menjadi milikmu…!”

Mendengar ini dan karena kalau dia melawan dia mengkhawatirkan keselamatan anak di gendongannya, Lulu lalu meloncat dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu. Beberapa hari kemudian ketika ia membuka peti kuning, ia mendapatkan kitab-kitab pelajaran ilmu silat tinggi, yaitu ilmu-ilmu yang dipelajari Suling Emas dari Bu Kek Siansu dan telah ditulis sebagai kitab oleh Suling Emas. Ilmu silat Kim-kong-sin- hoat, Hong-in-bun-hoat, Pat-sian-kiam-hoat dan Lo-hai-san-hoat. Selain empat buah kitab ilmu silat tinggi ini, terdapat pula sebuah kipas, kipas pusaka milik mendiang Suling Emas!

Lulu teringat bahwa pusaka Suling Emas dahulu dipinjam oleh Nirahai. Dia menjadi girang sekali dan sambil melanjutkan perjalanannya mencari Pulau Es yang ternyata tersesat ke Khitan, mulailah ia mempelajari ilmu-ilmu itu. Karena dia telah menerima gemblengan ilmu-ilmu yang tinggi dan pada dasarnya dia memiliki sinkang luar biasa dari latihan-latihan di Pulau Es, maka ilmu-ilmu itu cepat dapat dikuasainya.

Akhirnya, setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan menempuh segala macam kesukaran, tibalah dia di tepi laut yang ia ingat menjadi tempat dia dan Suma Han mendarat dahulu ketika mereka meninggalkan Pulau Es (Baca cerita Pendekar Super Sakti). Tempat itu sunyi sekali, tidak ada manusia dan tentu saja tidak tampak nelayan, maka dengan tekun dan sabar Lulu membuat sebuah perahu dari batang pohon.

Biar pun dia memiliki tenaga yang hebat, namun sebagai seorang wanita yang tidak pernah melakukan pekerjaan berat, tentu saja pembuatan perahu ini memakan waktu berbulan-bulan. Dengan nekat ia lalu meluncurkan perahunya ke tengah lautan dan hanya mengandalkan dayung dan kedua tangannya untuk mendayung perahu, pergi mencari Pulau Es, atau lebih tepat lagi, pergi mencari Suma Han, laki-laki yang dicintanya. Tekadnya, kalau tidak dapat mencari Suma Han dan hidup di samping pria ini, lebih baik mati saja!

Dalam pelayaran dengan perahu yang tidak memenuhi syarat ini, ditambah ketidak mampuan mengemudikan perahu, pelayaran ini merupakan penderitaan hebat bagi Lulu dan anaknya, jauh lebih hebat dari pada ketika dia melakukan perjalanan darat. Beberapa kali badai dan taufan mengancam nyawa, mengombang-ambingkan perahu hampir tenggelam. Dalam keadaan seperti itu Lulu hanya dapat menangis, mendekap puteranya dan menyebut-nyebut nama Suma Han, seolah-olah dia minta pertolongan dari orang yang dicintanya itu. Sungguh ajaib sekali, kalau Tuhan belum menghendaki dia mati, biar pun badai seperti itu, Lulu dan puteranya tetap selamat!

Karena serangan badai dan ombak Lulu menjadi bingung, tidak tahu di mana arah tujuannya, dan tidak tahu di mana adanya Pulau Es! Jangankan itu, bahkan dia tidak tahu lagi di mana letaknya daratan yang sudah tidak tampak lagi dari tengah lautan. Dia tidak takut kelaparan karena dengan kepandaiannya, mudah saja baginya untuk menangkap ikan dan memanggang dagingnya, minuman pun tidak kurang karena kini selain air hujan, ia dapat pula minum dari gumpalan es yang kadang-kadang terdapat di atas permukaan air laut. Hanya menghadapi amukan badai, dia benar-benar tidak berdaya dan hanya mampu menangis, menyebut-nyebut nama Suma Han.

Pada suatu pagi, tiba-tiba dia mendengar suara melengking di atas perahu dan betapa kagetnya ketika ia melihat seekor burung rajawali yang besar sekali beterbangan di atas perahu sambil mengeluarkan suara melengking-lengking panjang. Tiba-tiba burung itu menyambar ke bawah, agaknya hendak menerkam Keng In yang berada di atas papan perahu.

“Prakkk!” Dayung di tangan Lulu hancur, akan tetapi burung itu pun terpental dan terbang ke atas sambil memekik marah.

“Keparat jahanam! Burung sialan! Kupatahkan batang lehermu. Hayo turun kalau kau berani!” Lulu marah sekali dan menantang-nantang sambil memaki-maki.

Dia menyambar Keng In, teringat akan peti terisi pusaka-pusaka, maka anak dan peti itu dia ikat kuat-kuat di punggungnya, tangannya mencabut pedang, siap menghadapi burung rajawali yang agaknya masih penasaran dan beterbangan mengelilingi atas perahu kecil.

Burung rajawali itu kembali menyambar, kini menyerang Lulu yang telah menyakitinya. Lulu mengayun pedangnya membabat ke arah kaki burung itu. Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya bahwa burung itu ternyata kuat dan juga pandai sekali bertempur, karena kuku-kuku jari kakinya diulur seperti pisau-pisau runcing menangkis sambil mencengkeram.

“Crakkkk… aihhh!” Lulu menjerit dan meloncat ke belakang.

Kuku jari kaki kiri burung itu patah terbabat pedang, akan tetapi cengkeraman kaki kanannya berhasil merampas pedang dan melukai sedikit lengan tangan Lulu! Sambil terbang berputaran, burung itu memekik-mekik kesakitan dan juga saking marahnya pedang rampasan dilepaskan dan jatuh ke dalam laut, kemudian ia siap untuk menyerang lagi.

Biar pun marah sekali, Lulu tidak kehilangan ketenangannya dan ia berlaku cerdik. Dilolosnya sabuk sutera dari pinggang dan begitu burung itu menyambar turun, Lulu menggerakkan sabuknya yang meluncur ke atas merupakan sinar putih, ujung sabuk dengan tepat melibat leher burung dan ia meloncat ke atas mengayun dirinya dengan sabuk itu. Di lain saat, Lulu telah duduk di atas punggung rajawali, menarik sabuknya kuat-kuat sehingga leher burung itu tercekik!

“Menyerahlah! Kalau tidak, biar kita mati bersama. Kucekik lehermu sampai patah!” Lulu membentak keras, tangan kirinya mencengkeram bulu leher, sedangkan tangan kanannya menarik ujung sabuk yang telah melibat leher burung.

Burung itu meronta-ronta, berusaha memutar kepala untuk mematuk orang yang menduduki punggungnya, namun Lulu lebih cepat lagi menghantam kepala burung itu dengan telapak tangan kiri. Setelah burung itu megap-megap hampir kehabisan napas, Lulu mengendurkan cekikannya dan kembali membentak.

“Hayo terbang baik-baik kalau tidak ingin mampus!”

Setelah beberapa kali dicekik dan dipukul kepalanya, binatang itu agaknya merasa bahwa dia telah bertemu makhluk yang lebih kuat, maka sambil mengeluh panjang ia tidak meronta lagi, melainkan terbang dengan lurus dan cepat menuju ke utara. Lulu girang bukan main. Kalau burung ini sudah menyerah, tentu saja lebih mudah mencari Pulau Es dengan menunggang burung raksasa ini dari pada naik perahu kecil yang selalu dilanda ombak!

“Eh, Tiauw-ko (Kakak Rajawali) yang baik! Kita sekarang telah bersahabat. Tolonglah terbangkan aku ke Pulau Es. Pulau Es, kau tahu?”

Akan tetapi burung bukan manusia, mana dapat diajak bicara? Kalau dia mengalami kesukaran dan kekagetan, tempat pertama yang akan didatangi adalah sarangnya, maka biar pun kini dia tidak berani lagi membantah atau melawan penunggangnya, otomatis dia terbang secepatnya menuju ke sarangnya, yaitu di Pulau Neraka!

Pada waktu itu, Pulau Neraka merupakan tempat yang asing dan tidak dikenal orang. Biar pun para penghuninya memiliki ilmu kepandaian yang lihai, namun merupakan keturunan orang-orang buangan yang selamanya mengasingkan diri di tempat ini. Pemimpin mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian paling tinggi, dan pada waktu itu, yang menjadi pimpinan adalah enam orang bermuka kuning yang ilmunya tinggi sekali. Seorang di antara mereka yang paling tua menjadi pemimpin pertama sedangkan lima orang lain menjadi pembantu-pembantunya.

Karena hidup terasing, keadaan mereka lebih menyerupai kehidupan orang-orang yang masih biadab, pakaian yang menutupi tubuh hanya terbuat dari pada kulit-kulit binatang atau kulit pohon. Namun mereka rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, bahkan banyak di antara mereka yang turun-temurun mempelajari huruf- huruf sehingga pada waktu itu mereka mengenal huruf-huruf yang kuno yang dipergunakan ratusan tahun yang lalu dan yang sekarang mengalami banyak perubahan.

Ketika Lulu melihat burung yang ditungganginya itu terbang di atas sebuah pulau hitam yang kelihatan dari atas mengerikan, dia berkata, “Tiauw-ko, itu bukan Pulau Es! Pulau Es kelihatan putih bersih, tidak seperti ini. Kau keliru memilih tempat!”

Akan tetapi rajawali yang tidak mengerti kata-kata ini, tetap saja terbang merendah dan tiba-tiba Lulu melihat gerakan orang-orang di atas pulau, juga dia melihat bangunan-bangunan aneh. Melihat di bawah ada orang, dia girang sekali. Mungkin sekali penghuni pulau di bawah ini akan dapat memberi keterangan tentang Pulau Es, dan siapa tahu kalau-kalau Pulau Es sudah dekat dan dia dapat minta mereka mengantar dengan perahu. Menunggang rajawali yang tidak mengerti perintahnya ini pun amat berbahaya!

“Turunlah! Turun ke tempat orang-orang itu!” Lulu menepuk-nepuk leher rajawali dan burung itu menukik turun dengan amat cepatnya sehingga Lulu cepat merangkul lehernya. Anaknya mulai menangis.

“Diamlah, Nak. Diamlah, kita turun dan bertemu dengan orang-orang…” Lulu menghibur dan menepuk- nepuk paha anaknya yang ia gendong di punggung.

Akan tetapi betapa kaget dan herannya ketika burung rajawali sudah terbang rendah, ia melihat betapa kulit tubuh dan muka orang-orang di bawah itu bermacam-macam warnanya, tidak lumrah manusia karena ada yang hitam, merah, hijau, biru dan kuning! Akan tetapi karena burung itu sudah hinggap di atas tanah, ia lalu melompat turun dengan gerakan ringan dan dalam keadaan siap waspada. Burung rajawali yang merasa punggungnya tidak ditunggangi lagi, memekik girang lalu terbang ke atas membubung tinggi, masih memekik-mekik.

Orang-orang yang aneh itu menghadapi Lulu dan memandang penuh perhatian. Enam orang kakek yang bermuka kuning melangkah maju dan seorang di antara mereka yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih berkata, suaranya kaku dan aneh, akan tetapi Lulu masih dapat menangkap artinya.

“Toanio siapakah? Apakah seorang buangan baru dari Pulau Es?”

Kini Lulu yang terbelalak keheranan. “Orang buangan dari Pulau Es? Apa maksudmu? Aku justeru mencari Pulau Es. Tahukah kalian di mana pulau itu?”

“Kami tidak tahu dan mau apa engkau mencari Pulau Es?” “Aku mau mencari sahabatku di sana!”
“Sahabatnya di Pulau Es!” Orang-orang itu berteriak dan sikap mereka berubah, kini memandang Lulu dengan geram.

Hal ini mengejutkan hati Lulu. Celaka, agaknya mereka ini adalah orang-orang yang membenci Pulau Es, entah apa sebabnya. Melihat mereka sudah siap-siap dengan mencabut bermacam senjata, Lulu cepat bertanya,

“Kalian siapakah? Dan pulau apakah ini?”

Kakek itu menjawab, “Kami adalah keturunan orang-orang buangan dari Pulau Es. Pulau ini adalah Pulau Neraka. Kami mendendam kepada Pulau Es, dan sekali waktu, pasti kami akan menyerbu dan membasmi musuh-musuh kami di Pulau Es!”

Hati Lulu makin terkejut, akan tetapi dia mempunyai pikiran yang baik. Han Han (Suma Han) telah bersikap kejam dan tega kepadanya. Biar pun dia merasa yakin bahwa kakak angkatnya itu pun mencintainya, namun telah tega mengawinkan dia dengan orang lain! Sekarang setelah ia melarikan diri dari suaminya. Mengingat akan watak kakak angkatnya itu, tentu dia akan dimarahi dan belum tentu kakak angkat itu mau menerimanya. Akan tetapi kalau dia dapat menguasai orang-orang ini! Dia kelak akan dapat memperlihatkan bahwa dia pun bukan orang sembarangan, dan dia akan menginsafkan kakak angkatnya itu! Apa lagi karena sekarang dia telah menjadi pewaris pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas.

“Bagus!” tiba-tiba Lulu berkata kepada kakek itu. “Kalau begitu, biarlah aku akan memimpin kalian untuk menyerbu Pulau Es!”

Terdengar suara ketawa di sana-sini, dan kakek itu berkata, “Engkau katakan tadi bahwa engkau hendak mencari sahabatmu di Pulau Es?”

“Benar, akan tetapi dia telah menyakiti hatiku. Bagaimana pendapat kalian? Aku akan memimpin kalian, mengajari ilmu dan mengatur agar kalian menjadi orang pandai dan beradab, tidak seperti sekarang ini!”

“Perempuan muda, bicaramu takabur sekali! Engkau anggap kami ini orang apa mudah saja mengangkat seorang pemimpin seperti engkau? Biar pun engkau datang secara aneh menunggang rajawali liar, akan tetapi tentang kepandaian, hemm… agaknya melawan orang tingkat terendah dari kami saja belum tentu engkau menang!”

Semenjak gadis muda, Lulu memiliki watak keras, berani dan tinggi hati. Kini mendengar kata-kata itu, naik darahnya. “Siapa yang paling tinggi tingkatnya di sini?”

Kakek bermuka kuning itu tertawa. “Aku!”

“Baik. Kalau begitu aku akan mengalahkan engkau, dan kalau kau kalah, apakah aku cukup berharga menjadi ketua di sini?”

Kembali terdengar suara ketawa di sana sini yang memanaskan perut Lulu. Kakek itu mengelus jenggotnya dan berkata, “Perempuan muda, engkau sungguh lancang. Akan tetapi begitulah, siapa yang paling pandai di sini dia diangkat menjadi pemimpin. Aku orang pertama di sini, kalau engkau bisa mengalahkan aku, tentu saja engkau patut menjadi pemimpin.”

“Bagus! Kalau begitu, kau tunggu sebentar!” Lulu lalu menurunkan peti dan anaknya.

Keng In, anaknya yang baru berusia setahun lebih itu menangis karena lapar, maka dia lalu menyusui anaknya, ditonton oleh semua orang yang berada di situ dengan heran. Kebiasaan di situ, tidak ada anak yang disusui karena Sang Ibu yang sudah berubah warna kulitnya berarti telah mempunyai darah yang beracun sehingga anak-anak diberi makanan buah-buahan sejak kecil, dan diberi bahan makanan lain.

Setelah menyusui anaknya yang lantas tertidur saking lelahnya, Lulu meloncat bangun dan menggulung lengan bajunya, menghadapi kakek itu. Dia teringat pedangnya yang sudah jatuh ke laut, maka dia bertanya,

“Engkau hendak bertanding dengan senjata apa?”

“Perempuan muda, senjataku adalah ranting ini, akan tetapi karena engkau tidak bersenjata, biarlah kuhadapi engkau dengan tangan kosong pula. Bahkan kalau engkau bersenjata pun, aku sanggup menghadapimu dengan tangan kosong!” Setelah berkata demikian, kakek muka kuning itu lalu menancapkan rantingnya di atas tanah, kemudian kakinya yang telanjang itu melangkah maju menghampiri Lulu.

“Bagus, kiranya engkau masih memiliki sikap gagah. Nah, maju dan seranglah!” Biar pun Lulu mempergunakan kata-kata dan sikap sombong, namun sebenarnya dia cerdik dan diam-diam dia waspada karena dia dapat menduga bahwa orang-orang aneh ini tentu memiliki kepandaian yang aneh pula.

“Perempuan muda, jaga seranganku!” Kakek itu lalu melangkah maju, tangan kirinya menyambar. “Wuuuutttttt!”
Angin keras menyambar ke arah kepala Lulu sehingga dia kaget karena tepat seperti telah diduganya, orang ini memiliki tenaga sinkang yang hebat. Namun dia tidak gentar dan dengan mudah ia mengelak dengan loncatan ringan kemudian dari samping kakinya menendang ke arah lambung lawan.

“Plakkk!”

Kakek itu menangkis dan dia berseru kaget. Sama sekali tidak disangkanya bahwa perempuan muda itu memiliki tendangan yang demikian hebat sehingga tangkisannya yang dapat mematahkan balok itu ketika mengenai kaki terasa nyeri sedangkan wanita itu terhuyung pun tidak! Tahulah dia bahwa wanita itu tidak bersombong kosong, maka mulai dia menerjang bagaikan angin ribut, cepat dan kuat setiap pukulannya.

Lulu merasa girang. Tangkisan tadi sengaja dia terima dengan kaki untuk mengukur tenaga dan biar pun kakinya juga terasa nyeri, namun dia tahu bahwa sinkang-nya yang dilatih di Pulau Es dahulu tidak takut menandingi tenaga kakek ini. Maka dia pun kini melawan dengan pengerahan tenaga, bahkan dia mulai mainkan ilmu-ilmu silat baru yang ia pelajari dari kitab peninggalan Suling Emas.

Berkali-kali kakek itu berseru kaget dan heran ketika mengenal ilmu silat yang dasarnya sama dengan ilmunya sendiri, hanya dia tidak mengenal perubahan-perubahannya yang jauh lebih hebat dari pada kepandaiannya. Ketika Lulu mencoba untuk mainkan Kim-kong Sin-kun, dia masih mampu menahan, akan tetapi ketika Lulu merubah ilmunya dan mencoba mainkan Hong-in-bun-hoat, kakek itu berseru kaget dan terdesak hebat.

Dia hanya melihat wanita muda itu menggerak-gerakkan kedua tangan seperti orang menulis huruf-huruf indah di udara, akan tetapi daya serangan kedua tangan itu luar biasa sekali, dan kuatnya bukan main sehingga angin pukulannya saja membuat dia tergetar. Memang demikianlah sifat Hong-in-bun-hoat (Silat Sastra Angin dan Awan), yang dapat dimainkan dengan tangan kosong mau pun dengan pedang. Ilmu ini mendasarkan pergerakan dengan menulis huruf-huruf dan seperti menjadi sifat huruf-huruf itu, coretannya sesuai dengan makna hurufnya seperti lukisan, akan tetapi kalau coretan-coretan itu dilakukan sebagai gerakan menyerang, hebatnya bukan main!

Setelah mempertahankan diri sampai seratus jurus, sebuah ‘coretan’ tak tersangka-sangka dengan jari tangan kiri Lulu berhasil memasuki pertahanan Si Kakek dan jari-jari yang lembut itu mengenai pangkal lengan.

“Cusss!”

“Aduhhhhh…!” Kakek itu terhuyung-huyung ke belakang dan dari pangkal lengannya keluar darah. Baju kulit harimau beserta kulit dan daging pangkal lengan itu terkuak oleh jari tangan Lulu!

“Toanio, tidak kusangka ilmu kepandaianmu hebat bukan main! Akan tetapi aku belum kalah! Hadapi rantingku ini!” Setelah berkata demikian, dengan gerakan gesit sekali kakek yang sudah terluka itu menyambar rantingnya lalu menerjang maju.

“Cuittt… tar-tar-tar…!” Senjata yang hanya merupakan ranting kayu itu ternyata lemas sekali seperti ujung pecut yang dapat meledak-ledak dan mengancam kepala Lulu dari empat penjuru!

Kalau saja Lulu tahu bahwa sekali terkena ujung ranting itu dia akan menderita luka berbisa yang berbahaya, tentu dia akan menjadi gugup dan mendatangkan bahaya. Untung dia tidak tahu sehingga dia dapat bersikap tenang, mengelak ke sana sini sambil berusaha merampas ranting!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo