September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 4

 

Akan tetapi Suma Han tetap bengong, sama sekali tidak memandang kepada Im-yang Seng-cu, melainkan hanya memandang kosong ke depan dan mulutnya berkata lirih, “Hemm… kalau begitu… dia agaknya…” Ucapan ini diulang beberapa kali.

Pada saat itu, muncullah dua orang pendeta Lama yaitu Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, diikuti oleh Bhe Ti Kong panglima tinggi besar. Begitu muncul, terdengar suara Thian Tok Lama, “Suma-taihiap, pinceng bertiga datang menyampaikan permintaan koksu supaya Taihiap suka menyerahkan Sepasang Pedang Iblis kepada pinceng.”

Akan tetapi Pendekar Super Sakti masih termenung seperti tadi, sama sekali tidak mempedulikan munculnya tiga orang ini, bahkan seolah-olah tidak mendengar kata-kata Thian Tok Lama. Ia tetap berdiri termenung memandang jauh dan terdengar suaranya lirih berulang-ulang. “Aihhh… tentu dia…!”

Thian Lok Lama mengerutkan alisnya melihat sikap Suma Han yang dianggapnya memandang rendah kepadanya. Dahulu, pendeta Lama ini pernah beberapa kali bentrok dengan Suma Han dan maklum akan kepandaian pendekar muda berkaki buntung ini, akan tetapi karena kini ia mengandalkan pengaruh koksu dia tidak menjadi takut. Terdengar pendeta Tibet itu berkata lagi, suaranya lantang menggema di seluruh hutan.

“Suma-taihiap! Koksu menghormati Taihiap sebagai Tocu terkenal dari Pulau Es, maka mengajukan permintaan secara baik-baik dan hormat. Harap saja Taihiap suka menghargai penghormatan Koksu!”

Suma Han tetap tidak menjawab dan termenung. Terdengarlah suara ketawa Im-yang Seng-cu, “Ha-ha-ha- ha-ha! Penghormatan yang menyembunyikan paksaan adalah penghormatan palsu. Menuduh orang menyimpan pusaka tanpa bukti lebih mendekati fitnah!”

Thian Tok Lama menoleh ke arah Im-yang Seng-cu dengan sikap marah, akan tetapi pendeta Tibet yang cerdik ini tidak mau melayani karena dia tahu bahwa menghadapi Suma Han saja sudah merupakan lawan berat, apa lagi kalau dibantu kakek aneh yang dia tahu bukan orang sembarangan pula itu. Maka dia berkata lagi, tetap ditujukan kepada Suma Han.

“Koksu berpendapat bahwa karena Taihiaplah orangnya yang dahulu menguburkan jenazah Siang-mo Kiam-eng (Sepasang Pendekar Pedang Iblis) bersama sepasang pedang itu, maka kini tetap Taihiap pula yang membongkar kuburan dan mengambil sepasang pedang itu. Hendaknya diketahui bahwa yang berhak atas Sepasang Pedang Iblis adalah Koksu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, karena pembuat pedang itu adalah nenek moyangnya dari India. Maka pinceng percaya akan kebijaksanaan Suma-taihiap untuk mengembalikan pedang-pedang itu kepada yang berhak.”

Akan tetapi Suma Han mengangguk-angguk dan bicara seorang diri. “Benar, tak salah lagi, tentu dia…”

“Orang ini terlalu sombong!” Tiba-tiba Bhe Ti Kong membentak dan meloncat maju. “Berani engkau menghina utusan Koksu negara, orang muda buntung yang sombong?”

Setelah membentak demikian, Bhe-ciangkun sudah menerjang maju, mencengkeram ke arah pundak Suma Han dengan maksud menangkapnya dan memaksanya tunduk.

“Plakk! Auggghhhhh…!” tubuh tinggi besar Bhe-ciangkun terlempar ke belakang dan terbanting ke atas tanah. Ia meloncat bangun dengan muka pucat dan tangan kirinya memijit-mijit tangan kanan yang tadi ia pakai mencengkeram pundak Suma Han.

Pendekar Super Sakti masih berdiri tak bergerak, termenung seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Ketika Bhe Ti Kong mencengkeram tadi, Pendekar Siluman itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, akan tetapi begitu tangan panglima kerajaan mencengkeram pundak, Bhe-ciangkun merasa tangannya seperti ia masukkan ke dalam tungku perapian yang luar biasa panasnya dan ada daya tolak yang amat kuat sehingga ia terjengkang dan terpelanting.

Melihat kawannya roboh, Thian Lok Lama dan Thai Li Lama terkejut dan marah, mengira bahwa pendekar berkaki buntung itu sengaja menyerang Bhe Ti Kong, maka dengan gerakan otomatis keduanya lalu menggerakkan tangan memukul dari jarak jauh. Angin yang dahsyat menyambar dari tangan mereka, menyerang Suma Han yang masih berdiri termenung, seolah-olah tidak tahu bahwa dia sedang diserang dengan pukulan maut jarak jauh yang amat kuat. Baju di tubuh Suma Han berkibar terlanda angin pukulan itu akan tetapi, tenaga pukulan dengan sinkang itu seperti ‘menembus’ tubuh Suma Han lewat begitu saja dan….

“Kraaakkkk!” sebatang pohon yang berada di belakang Suma Han tumbang dilanda angin pukulan itu, akan tetapi tubuh Pendekar Siluman itu sendiri sedikit pun tidak bergoyang!

Hal ini membuat Thian Tok Lama dan Thai Li Lama terheran-heran dan penasaran. Kalau lawan itu menggunakan tenaga sinkang melawan serangan mereka, bahkan andai kata mengalahkan sinkang mereka sendiri, hal itu tidaklah mengherankan. Akan tetapi Pendekar Siluman Majikan Pulau Es itu sama sekali tidak melawan dan angin pukulan mereka hanya lewat saja seolah-olah tubuh itu terbuat dari pada uap hampa! Rasa penasaran membuat keduanya menerjang maju dan menggunakan dorongan telapak tangan mereka menghantam dada Suma Han dari kanan kiri!

“Buk! Bukk!” Dua buah pukulan itu mengenai dada Suma Han, akan tetapi akibatnya kedua orang pendeta Lama itu terjengkang dan terbanting seperti halnya Bhe Ti Kong tadi!

“Ha-ha-ha-ha! Kiranya utusan-utusan koksu kerajaan adalah pelawak-pelawak yang pandai membadut, pandai menari jungkir balik!” Im-yang Seng-cu bersorak dan bertepuk tangan seperti orang kagum dan gembira menyaksikan aksi para pelawak di panggung.

Dua orang pendeta Lama itu meloncat bangun dan memandang Im-yang Seng-cu dengan mata mendelik. Keduanya tadi roboh karena biar pun Suma Han kelihatannya diam tidak bergerak, namun dengan kecepatan yang tak dapat diikuti mata, dua buah jari tangan kanan kiri pemuda berkaki buntung itu telah menyambut pukulan telapak tangan kedua lawan dengan totokan sehingga begitu telapak tangan berhasil memukul dada, tenaganya sudah buyar sehingga merekalah yang ‘terpukul’ oleh hawa sinkang yang melindungi tubuh Suma Han.

Tentu saja keduanya terkejut setengah mati. Mereka sudah mengenal Suma Han, sudah tahu akan kelihaian Pendekar Super Sakti itu. Tetapi yang mereka hadapi kini adalah pemuda buntung yang kepandaiannya beberapa kali lipat dari pada dahulu, lima tahun yang lalu. Hal ini mengejutkan hati mereka, juga mendatangkan rasa jeri. Kemudian mereka menimpakan kemarahan, yang timbul karena malu kepada Im-yang Seng-cu yang mengejek mereka.

“Im-yang Seng-cu, engkau sungguh seorang yang tak tahu diri! Di muara Huang-ho Koksu telah mengampuni nyawamu, sekarang engkau berani menghina kami. Coba kau terima pukulan pinceng!”

Thian Tok Lama menerjang Im-yang Seng-cu yang cepat meloncat ke samping karena datangnya serangan itu amat hebat. Pukulan yang dilancarkan Thian Tok Lama adalah pukulan Hek-in-hui-hong- ciang, ketika memukul tubuhnya agak merendah, perutnya yang gendut makin menggembung dan dari dalam perutnya terdengar suara seperti seekor ayam biang bertelur, berkokokan dan tangan kanannya berubah biru. Pukulannya bukan hanya mendatangkan angin dahsyat, akan tetapi juga membawa uap hitam!

Melihat betapa serangan Thian Tok Lama dapat dielakkan oleh Im-yang Seng-cu, Thai Li Lama yang juga amat marah terhadap kakek bertelanjang kaki itu sudah menyambut dari kiri dengan pukulan Sin-kun-hoat- lek yang tidak kalah ampuh dan dahsyatnya dibanding dengan Hek-in-hui-hong-ciang.

“Ayaaaa…!” Biar pun diancam bahaya maut, Im-yang Seng-cu masih dapat mengejek sambil melompat tinggi ke atas kemudian ia berjungkir balik. “Kedua pelawak ini selain lucu juga gagah sekali!”

Tentu saja Thian Tok Lama dan Thai Li Lama menjadi makin marah. Api kemarahan di dalam hati mereka seperti dikipas, makin berkobar dan dengan nafsu mereka kembali menyerang. Im-yang Seng-cu tentu saja repot bukan main. Ia memutar tongkatnya melindungi tubuh. Melawan seorang di antara kedua orang Lama ini saja tidak akan menang apa lagi dikeroyok dua.

“Plakk… krekkkk!” Ujung tongkat di tangan Im-yang Seng-cu patah dan ia terhuyung ke belakang. Thai Li Lama segera mengejarnya dengan pukulan maut.

Tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat, meluncur turun dari atas dan Thai Li Lama yang sedang menyerang Im-yang Seng-cu terkejut sekali ketika ada angin dahsyat menyambar dari atas ke arah kepalanya. Cepat ia mengelak dan mengibaskan tangan.

“Bressss!” Dua helai bulu burung garuda putih membodol ketika cengkeraman burung itu dapat ditangkis Thai Li Lama.

Pendeta Tibet ini menjadi marah dan terjadilah pertandingan hebat antara burung garuda dengan pendeta ini, sedangkan Thian Tok Lama kembali sudah menerjang dan mendesak Im-yang Seng-cu dengan Pukulan Hek-in-hui-hong-ciang yang merupakan cengkeraman maut.

Im-yang Seng-cu adalah seorang bekas tokoh Hoa-san-pai yang sudah mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi sehingga jarang ada orang yang mampu menandinginya. Hampir segala macam ilmu-ilmu silat tinggi dikenalnya dan inilah yang membuat kakek itu lihai sekali, bahkan pada waktu itu, tingkat ilmu kepandaiannya malah telah melampaui tingkat Ketua Hoa-san-pai sendiri! Akan tetapi sekali ini menghadapi Thian Tok Lama, dia benar-benar bertemu tanding yang amat kuat.

Pendeta Lama itu adalah seorang tokoh Tibet yang memiliki kepandaian tinggi ditambah tenaga mukjizat dari ilmu hoat-sut (sihir) yang banyak dipelajari oleh tokoh-tokoh Tibet. Biar pun hoat-sut yang dikuasai Thian Tok Lama tidaklah sekuat ilmu Hoat-sut milik Thai Li Lama, namun ilmu ini memperkuat sinkang-nya dan menambah kewibawaannya menghadapi lawan. Dalam hal tenaga sinkang, Im-yang Seng-cu jelas kalah setingkat oleh lawannya.

Memang tubuh gendut Thian Tok Lama mengurangi kegesitannya dan Im-yang Seng-cu lebih gesit dan ringan, namun sekali ini Im-yang Seng-cu bertemu dengan lawan yang menggunakan ilmu silat aneh dan asing, sama sekali tidak dikenalnya! Setelah saling serang puluhan jurus lamanya, akhirnya Im-yang Seng- cu terdesak dan hanya mundur sambil mempertahankan diri saja, tidak mampu balas menyerang. Hanya ada sebuah keuntungan yang membuat dia tidak dapat cepat dirobohkan, yaitu bahwa dia bersikap tenang dan gembira, selalu mengejek, berbeda dengan sikap Thian Tok Lama yang dipengaruhi kemarahan dan penasaran.

Seperti juga Im-yang Seng-cu, garuda putih yang menyambar dan menyerang Thai Li Lama mau tidak mau harus mengakui kelihaian pendeta Tibet kurus itu. Memang Thai Li Lama tidak akan mampu menyerang burung itu kalau Si Garuda terbang tinggi, akan tetapi biar pun kelihatannya Si Burung yang selalu meluncur turun dan menyerang kepala Thai Li Lama, selalu burung itu yang terpental oleh tangkisan dan pukulan Thai Li Lama! Banyak sudah bulu putih burung itu bodol dan kini serangannya makin mengendur, bahkan garuda putih itu mulai mencampuri pekik kemarahannya dengan suara tanda gentar.

Sementara itu Suma Han masih terus berdiri bersandar di tongkatnya. Sinar matanya memandang kosong dan bibirnya bergerak-gerak, “Tentu dia… wahai… Lulu… untuk apakah engkau mengambil pusaka-pusaka itu…? Lulu… satu-satunya sinar bahagia yang menembus semua awan hitam di hatiku hanya melihat engkau hidup bahagia di samping suami dan anakmu… akan tetapi… engkau menghancurkan kebabagiaanmu sendiri… sekaligus memadamkan sinar bahagia di hatiku. Mengapa…? Mengapa…?”

Biar pun wajah yang tampan itu masih tidak membayangkan perasaan apa-apa, tetapi bulu matanya basah dan jari-jari tangan yang memegang kepala tongkatnya gemetar, jantungnya seperti diremas-remas, perasaan hatinya menangis dan mengeluh.

Bhe Ti Kong, panglima Mancu tinggi besar yang tadi terpelanting roboh sendiri ketika menyerang Suma Han, sejak tadi memandang pendekar kaki buntung super sakti itu. Dengan hati khawatir panglima ini menyaksikan kedua orang temannya yang bertanding melawan Im-yang Seng-cu dan burung garuda putih. Biar pun kedua orang temannya selalu mendesak, akan tetapi Bhe Ti Kong mengerti bahwa kalau Si Kaki Buntung itu maju, tentu kedua orang pendeta Tibet itu akan kalah.

Dia adalah seorang panglima, sudah biasa mengatur siasat-siasat perang, siasat untuk mencari kemenangan dalam pertempuran. Melihat keadaan pihaknya ini, tentu saja Bhe Ti Kong tidak menghendaki pihaknya kalah dan terancam bahaya ikutnya Pendekar Siluman itu dalam pertempuran. Melihat Suma Han termenung seperti orang mimpi, ia menghampiri perlahan-lahan dan mencabut senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang tombak gagang pendek yang bercabang tiga, runcing dan kuat.

Bhe Ti Kong bukanlah seorang yang berwatak curang atau pengecut, dan apa yang hendak dilakukan ini semata-mata dianggap sebagai siasat untuk kemenangan pihaknya. Biasanya dalam pertempuran perang, tidak ada istilah curang atau pengecut, yang ada hanyalah mengadu siasat demi mencapai kemenangan. Sekarang pun, ketika ia berindap-indap menghampiri Suma Han dari belakang dengan senjata di tangannya, satu-satunya yang memenuhi hatinya hanyalah ingin melihat pihaknya menang.

Setelah tiba di belakang Suma Han, Bhe Ti Kong mengangkat senjatanya dan menyerang. Panglima tinggi besar ini memiliki tenaga yang amat kuat, senjatanya juga berat dan kuat sekali, maka serangan yang dilakukannya itu menusukkan tombak runcing ke punggung Suma Han, merupakan serangan maut yang mengerikan dan agaknya tidak mungkin dapat dihindarkan lagi!

“Wirrrr…!” Senjata tombak cabang tiga yang runcing itu meluncur ke arah punggung Suma Han.

Akan tetapi, pada waktu itu ilmu kesaktian yang dimiliki Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Tocu dari Pulau Es ini, sudah ‘mendarah daging’ sehingga boleh dibilang setiap bagian kulit tubuhnya memiliki kepekaan yang tidak lumrah. Perasaan di bawah sadarnya seolah-olah telah bangkit bekerja setiap detik sehingga jangankan baru sedang melamun, bahkan biar pun dia sedang tidur nyenyak sekali pun, perasaan ini bekerja melindungi seluruh tubuhnya dari bahaya yang mengancam dari luar.

Pada saat itu pikirannya sedang melayang-layang, seluruh panca inderanya sedang ikut melayang-layang pula bersama pikirannya sehingga dia seperti tidak tahu sama sekali akan segala yang terjadi di sekelilingnya, tidak tahu betapa Im-yang Seng-cu dan garuda tunggangannya didesak hebat oleh Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Akan tetapi, ketika ada senjata menyambar punggung mengancam keselamatannya, perasaan di bawah sadar itu mengguncang kesadarannya dengan kecepatan melebihi cahaya!

“Suuuuutttt!”

Bhe Ti Kong berseru kaget dan bulu tengkuknya berdiri karena tiba-tiba orang yang diserangnya itu lenyap. Ketika ia menoleh, yang tampak olehnya hanyalah bayangan berkelebat cepat menyambar ke arah Thian Tok Lama yang mendesak Im-yang Seng-cu, kemudian bayangan itu mencelat ke arah Thai Li Lama yang bertanding dan tahu-tahu tubuh kedua orang pendeta Lama itu terhuyung-huyung ke belakang dan mereka berdiri dengan wajah pucat memandang Suma Han yang sudah berdiri bersandar tongkat dan memandang mereka berdua dengan sinar mata tajam berpengaruh.

Keduanya telah kena didorong oleh hawa yang dinginnya sampai menusuk tulang dan biar pun kedua orang pendeta ini sudah mengerahkan sinkang, tetap saja mereka itu menggigil dan wajah mereka yang pucat menjadi agak biru, gigi mereka saling beradu mengeluarkan bunyi! Setelah mengerahkan sinkang beberapa lamanya, barulah mereka itu dapat mengusir rasa dingin dan tahulah mereka bahwa kalau Si Pendekar Super Sakti menghendaki, serangan tadi tentu akan membuat nyawa mereka melayang.

“Katakan kepada koksu kerajaan Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun bahwa Tocu Pulau Es tidak tahu-menahu tentang Sepasang Pedang Iblis! Nah, sekarang pergilah dan jangan mengganggu orang-orang yang tidak bersalah!”

Thian Tok Lama menghela napas panjang. Pemuda buntung itu hebat luar biasa dan ucapan seorang yang sakti seperti itu tentu saja tidak membohong. Ia menjura dan berkata, “Baiklah dan harap Tocu sudi memaafkan kelancangan kami,” Ia memberi isyarat kepada Thai Li Lama dan Bhe Ti Kong, kemudian mereka bertiga meninggalkan tempat itu.

Keadaan menjadi sunyi. Garuda putih itu kini hinggap di atas cabang pohon, menyisiri bulu-bulunya dengan paruh sambil kadang-kadang memandang ke arah majikannya. Im-yang Seng-cu yang masih mengatur pernapasannya yang agak terengah karena tadi ia terlampau banyak mempergunakan tenaga untuk melindungi dirinya dari desakan hebat Thian Tok Lama, kini melangkah maju mendekati Suma Han, memandang penuh perhatian ke arah wajah yang sudah menunduk kembali itu lalu berkata.

“Suma Han, marilah kita lanjutkan urusan di antara kita. Sudah kuceritakan semua tentang sebabnya mengapa hari ini aku harus membunuhmu atau terbunuh olehmu. Karena engkau, kedua orang muridku tewas dan orang-orang yang kucinta di dunia ini habis. Jangan berkepalang tanggung, hayo kau tewaskan aku pula atau engkaulah yang akan mati di tanganku!”

Tanpa mengangkat mukanya yang tunduk, Suma Han membuka pelupuk matanya yang menunduk. Sinar matanya bagaikan kilat menyambar wajah kakek itu, membuat hati Im-yang Seng-cu tergetar. Diam-diam kakek ini kagum bukan main. Manusia berkaki satu yang berdiri di depannya adalah seorang manusia yang amat luar biasa!

“Benarkah Locianpwe begitu bodoh ataukah hanya pura-pura tolol? Ada kemenangan dalam diri manusia yang melebihi segala makhluk, yaitu perbuatan dengan pamrih demi kebahagiaan orang lain. Bahkan rela berkoban demi kebahagiaan orang lain. Sudah tentu saja akibatnya bermacam-macam sesuai dengan kehendak Tuhan, namun menilai perbuatan bukanlah dilihat akibatnya, melainkan ditinjau pamrihnya.”

Im-yang Seng-cu tersenyum dan menyembunyikan kegembiraannya di balik kata-kata mengejek. “Suma Han, semua perbuatan memang berakibat. Hanya seorang gagah sajalah yang berani mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya! Kepandaianmu amat tinggi dan aku sudah kehilangan tongkatku, namun jangan mengira bahwa aku akan gentar melawanmu. Jangan bersembunyi di balik kata-kata yang muluk- muluk. Mari kita selesaikan!”

Suma Han menghela napas panjang. “Kalau sekeras itu kehendak Locianpwe, demi penyesalan hatiku telah mengakibatkan kesengsaraan orang-orang yang kucinta, silakan Locianpwe!”

“Bagus! Nah, sambutlah ini!” Dengan wajah yang tiba-tiba berubah girang bukan main, Im-yang Seng-cu meloncat maju, tangan kanannya dengan pengerahan sinkang sekuatnya menghantam dada Suma Han.

“Dessss!” tubuh Suma Han terlempar sampai lima meter, tongkat yang dipegangnya terlepas dan ia roboh terguling, mulutnya muntahkan darah segar.

Seketika wajah Im-yang Seng-cu menjadi pucat sekali. Rona kegirangan lenyap dari wajahnya dan ia meloncat mendekati. “Celaka! Keparat engkau, Suma Han! Engkau telah menipuku…! Ahhh… engkau akan membuat aku mati menjadi setan penasaran… selamanya aku… belum pernah memukul orang yang tidak melawan. Kenapa engkau tidak melawan? Celaka… aiiiihhh… celaka…!”

Tiba-tiba terdengar pekik keras dan bayangan putih menyambar dari atas. Garuda putih telah menyambar dan cakarnya mencengkeram pundak Im-yang Seng-cu, tubuh kakek itu dibawa ke atas lalu dibanting lagi ke bawah.

“Brukkk!”

Im-yang Seng-cu tertawa, pundaknya luka berdarah. “Bagus…! Bagus sekali, garuda sakti! Hayo lekas serang lagi. Hayo bunuh aku… ha-ha-ha! Majikanmu yang gila tidak mau membunuhku, mati di tanganmu pun cukup terhormat. Marilah!” Ia menantang-nantang sambil tertawa dan bangkit berdiri terhuyung- huyung.

Garuda putih menyambar lagi ke bawah dengan penuh kemarahan.

“Pek-eng, berhenti!” Tiba-tiba Suma Han membentak, suaranya mengandung getaran dahsyat dan burung itu tidak jadi menyerang Im-yang Seng-cu, melainkan hinggap di atas tanah dekat Suma Han dan mendekam, mengeluarkan suara mencicit sedih dan takut.

Im-yang Seng-cu membanting-banting kakinya ke atas tanah. “Suma Han, engkau benar-benar kejam! Engkau berkali-kali mengecewakan hatiku! Engkau menerima pukulanku tanpa melawan, membuat aku menjadi seorang manusia yang rendah dan hina! Dan sekarang engkau melarang burungmu menyerangku. He, Pendekar Super Sakti! Apakah setelah engkau berjuluk Pendekar Siluman hatimu pun menjadi kejam seperti hati siluman? Apakah engkau akan puas menyaksikan aku hidup merana menanti datangnya maut menjemput nyawaku yang sudah tidak betah tinggal di tubuh sialan ini?”

“Locianpwe,” Suma Han berkata lirih sambil mengusap darah dari bibirnya dengan ujung lengan baju. “Locianpwe datang dengan niat membunuhku. Pukulanmu tadi cukup keras akan tetapi belum cukup untuk melukai aku, apa lagi membunuh. Kalau masih belum puas, mari, pukul lagi, Locianpwe.”

“Engkau tidak melawan?”

Suma Han menggeleng kepala. “Bagaimana harus melawan? Locianpwe hendak membunuhku karena kesalahanku terhadap Lulu dan Sin Kiat. Biar pun tak kusengaja, memang aku telah bersalah terhadap mereka. Kalau Locianpwe mau membunuhku, lakukanlah!”

Im-yang Seng-cu membanting-banting kakinya lagi. “Kau… kau…!” Dan kakek ini mengusap-usap kedua matanya kerena kedua mata itu menitikkan air mata!

“Locianpwe, ketika garuda menyerangmu, Locianpwe tidak melawan pula, menyambut maut dengan tertawa-tawa. Locianpwe rela mati karena merasa bersalah memukul orang yang tidak melawan.

Locianpwe rela mati demi membalas kesengsaraan orang-orang yang Locianpwe cinta. Kalau semulia itu hatimu, apakah aku yang muda tidak boleh menirunya?”

“Kau… kau siluman!”

“Locianpwe, aku mengerti bahwa sesungguhnya Locianpwe tidak ingin membunuhku, melainkan mengharapkan kematian di tanganku. Tak mungkin aku melakukan hal itu, Locianpwe. Sekarang hanya ada dua pilihan bagi Locianpwe. Membunuhku tanpa aku lawan, atau kita sudahi saja urusan ini, biarlah kita berdua melanjutkan hidup dengan kesengsaraan batin menjadi derita. Bukankah hidup ini menderita? Bukankah penderitaan batin merupakan pengalaman hidup yang paling berharga? Bagaimana, Locianpwe? Kalau belum puas memukulku, silakan ulangi kembali!”

Suma Han terpincang-pincang maju mendekati sambil memasang dadanya, Im-yang Seng-cu mundur- mundur seperti ngeri didekati sesuatu yang akan dapat membuat ia menyesal selamanya. “Tidak… tidak… jangan kau dekati aku…!” Kemudian ia menutup mukanya dengan kedua tangan.

“Jika begitu, selamat tinggal, Locianpwe. Locianpwe agaknya lebih suka menghukum batinku, karena sesungguhnya kalau Locianpwe membunuhku, berarti membebaskan aku dari pada penyesalan dan kesengsaraan batin. Selamat tinggal!” Suma Han mengambil tongkatnya, meloncat ke atas punggung garuda dan terdengarlah kelepak sayap dibarengi angin bertitip dan Majikan Pulau Es itu sudah membubung tinggi dibawa terbang garuda putih.

Im-yang Seng-cu menurunkan kedua tangannya. Mukanya pucat, alisnya berkerut dan sampai lama ia memutar pikirannya. Tiba-tiba ia tertawa, “Ha-ha-ha! Untuk ke sekian kalinya aku kalah! Ahhh, bagaimana bocah setan itu tahu bahwa aku akan merasa girang mati di tangannya? Aihh, celaka memang nasibku. Keinginan terakhir mati di tangan Pendekar Super Sakti gagal, bahkan aku yang hampir saja membunuhnya sehingga penderitaanku akan bertambah makin berat. Bukan main…! Dia itu… seorang manusia yang luar biasa… Ahhhh, kalau saja Tuhan dapat mengabulkan setiap permintaan manusia, biarlah sekali ini si manusia Im-yang Seng-cu mohon agar Tuhan sudi mengobati penderitaan batin Suma Han serta melimpahkan kebahagiaan kepadanya. Dia manusia sejati, manusia berbudi luhur… pendekar di antara segala pendekar…!”

“Ha-ha-ha! Kalau dia pendekar di antara segala pendekar, engkau adalah pengecut di antara segala pengecut hina, Im-yang Seng-cu!”

Im-yang Seng-cu terkejut, menoleh dan memandang terbelalak kepada seorang laki-laki muda yang berdiri di depannya. Laki-laki ini usianya masih muda, belum lebih tiga puluh tahun, wajahnya tampan dan gerak- geriknya halus, pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang terpelajar, pakaian pelajar yang bersih dan rapi. Akan tetapi yang mengejutkan hati Im-yang Seng-cu adalah sepasang mata di wajah tampan itu.

Mata itu mempunyai sinar yang mengerikan, seperti mata orang gila, namun juga mempunyai wibawa yang tajam berpengaruh dan aneh. Bukan mata manusia, seperti itulah patutnya mata setan! Biar pun pakaiannya seperti seorang pelajar, namun di punggung orang muda itu tampak gagang sebatang pedang, gagang pedang hitam dengan ronce benang hitam pula.

Biar pun hati Im-yang Seng-cu terkejut dan heran, namun dia marah mendengar orang yang tak dikenalnya ini memakinya sebagai pengecut di antara segala pengecut hina. Bagi seorang kang-ouw, seorang yang menjunjung kegagahan, makian pengecut merupakan makian yang paling rendah menghina.

“Orang muda, kulihat pakaianmu sebagai seorang terpelajar, patutnya engkau tahu akan tata susila dan sopan santun. Kulihat pedangmu di punggung, patutnya engkau tahu akan sikap kegagahan di dunia kang- ouw. Namun engkau datang-datang memaki orang tua, patutnya engkau seorang biadab yang sombong. Siapakah engkau?”

Pemuda itu tersenyum lebar. Senyum yang manis, yang membuat wajahnya makin tampan, akan tetapi seperti yang tersembunyi di balik keindahan matanya, juga di balik senyumnya ini bersembunyi sifat aneh yang mendirikan bulu roma, sifat kejam dan penuh kebencian terhadap sekelilingnya!

“Im-yang Seng-cu, belasan tahun yang lalu sering kali engkau memondong dan menimangku, bahkan yang terakhir engkau mengajarkan Ilmu Pukulan Hoa-san Kun-hoat kepadaku sebagai pembayaran taruhan karena engkau kalah bermain catur melawan Ayahku.”

Terbelalak kedua mata Im-yang Seng-cu dan ia memandang penuh perhatian, kemudian berseru. “Siancai…! Kiranya engkau Tan-siucai (Sastrawan Tan) dari Nan-king…!”

Pemuda tampan itu mengangguk-angguk dan senyumnya makin kejam, “Betul, aku adalah Tan Ki atau Tan-siucai dari Nan-king.”

“Tapi… tapi… ah, bagaimana Ayahmu?” “Ayah telah meninggal dunia.”
“Ahhh! Sahabatku yang baik, kiranya engkau lebih bahagia dari pada aku, betapa rinduku bermain catur sampai lima hari lima malam melawanmu…!”

“Tak usah khawatir, Im-yang Seng-cu, sebentar lagi pun engkau akan menyusul Ayah akan tetapi tempatmu di neraka, tidak di sorga seperti Ayah!”

Keharuan Im-yang Seng-cu mendengar kematian sahabatnya, serta kegirangannya bertemu dengan pemuda itu, lenyap berganti penasaran dan keheranan melihat sikap Tan-siucai.

“Apakah maksudmu dengan ucapan dan sikapmu ini? Engkau dahulu menganggap aku sebagai paman dan bersikap hormat. Sekarang engkau bersikap kurang ajar, bahkan berani memaki-maki aku. Apa artinya ini?”

“Artinya, orang tua pengecut! Aku datang untuk membunuhmu!”

Im-yang Seng-cu memandang terbelalak, kemudian tertawa bergelak, merasa betapa sangat lucunya peristiwa ini. Tadi baru saja dia menemui Suma Han dengan niat untuk membunuh pendekar itu, dan kini pemuda yang dianggap keponakannya sendiri, yang dijodohkan dengan muridnya, mendiang Lu Soan Li, kini datang-datang justru berniat membunuhnya!

“Tertawalah sepuasmu selagi engkau masih dapat tertawa, Im-yang Seng-cu,” Tan-siucai mengejek. “Orang muda, aku tidak takut mati. Akan tetapi mengapa? Mengapa engkau tiba-tiba bersikap seperti ini?”
“Dengarlah agar engkau tidak mati penasaran. Engkau seorang pengecut besar karena engkau tidak dapat membunuh Pendekar Siluman. Akulah yang akan membunuhnya kelak. Sayang aku datang terlambat, kalau tidak tentu dia sudah kubunuh sekarang. Engkau telah menyia-nyiakan kewajibanmu menjaga tunanganku, membiarkan tunanganku melakukan penyelewengan dari ikatan jodoh denganku. Membiarkan tunanganku yang tercinta itu mengorbankan diri untuk pemuda lain, membiarkannya mencinta pemuda lain. Kemudian, setelah bertemu dengan Pendekar Siluman, engkau tidak berhasil membunuhnya. Engkau pengecut besar dan harus mampus!”

Im-yang Seng-cu menjadi marah sekali. “Kau tentu sudah gila! Betapa manusia dapat menjaga perasaan hati manusia lain? Kalau muridku Soan Li yang malang mencinta Suma Han, itu adalah haknya. Dan sekarang aku tahu bahwa memang seribu kali lebih baik mencinta Suma Han dari pada mencinta seorang gila macam engkau. Aku sudah mendengar bahwa kau mendendam atas kematian Soan Li, dan sudah kuperingatkan Suma Han tentang ini. Akan tetapi kalau alasanmu seperti itu, engkau gila dan bagaimana kau akan dapat membunuh aku? Ha-ha-ha, betapa tolol dan sombongnya engkau Tan Ki!”

“Engkau tadi hendak menyerahkan nyawa di tangan burung garuda, bahkan engkau sengaja ingin mati di tangan Suma Han. Apakah engkau tidak ingin mati di tanganku?”

“Ha-ha-ha! Gila! Gila engkau! Tentu saja aku tidak sudi mati di tanganmu!” Kakek itu tertawa-tawa, lupa betapa anehnya sikap ini. Tadi ia ingin mati, sekarang ada orang akan membunuhnya, dia marah-marah!

“Mau atau tidak, tetap saja engkau akan mati di tanganku, Im-yang Seng-cu!” Sambil berkata demikian, Tan-siucai sudah menerjang maju dengan tangan kirinya. Tangan ini menampar, kelihatan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan tamparan itu membuat Im-yang Seng-cu terkejut dan cepat mengelak. Dia terheran bukan main karena tamparan itu adalah tamparan yang mengandung tenaga dalam amat kuat!

Akan tetapi Tan-siucai tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berheran karena kini sudah mendesak lagi dengan dua pukulan beruntun, tangan kiri mencengkeram ubun-ubun disusul tangan kanan yang menyodok ke ulu hati. Serangan yang dahsyat, serangan maut yang berbau ilmu silat tinggi dan lihai sekali.

“Aihhhhh!”

Im-yang Seng-cu meloncat ke belakang, timbul rasa penasarannya karena dia tidak mengenal jurus yang dilakukan bekas pelajar yang dahulu lemah itu. Maka ia pun balas menerjang dengan pukulan-pukulan dahsyat yang dapat dielakkan secara mudah oleh Tan-siucai. Pertandingan seru terjadi dan walau pun agaknya Tan-siucai telah digembleng orang sakti dengan ilmu silat aneh dan telah memiliki tenaga sinkang yang kuat, namun menghadapi seorang kakek seperti Im-yang Seng-cu, pemuda itu kewalahan juga.

“Ha-ha-ha-ha, bagaimana engkau akan dapat membunuhku, pemuda gila?” Im-yang Seng-cu mengejek. Biar pun diam-diam ia terkejut dan terheran-heran sebab mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda ini benar-benar tinggi dan aneh, namun dia merasa yakin bahwa untuk dapat membunuhnya, tidaklah begitu mudah.

“Begini, Im-yang Seng-cu!” Tan-siucai menjawab dan tiba-tiba tangan kirinya dibuka dan didorongkan ke arah muka kakek itu sambil mulutnya membentak, “Diam!”

Hebat bukan main bentakan dan gerakan tangan itu karena secara aneh sekali, tiba-tiba Im-yang Sengcu tak dapat menggerakkan kaki tangannya seolah-olah tubuhnya telah berubah menjadi batu. Dan pada saat itu, tangan kanan Tan-siucai telah bergerak ke belakang, tampak sinar hitam berkelebat dan pedang hitam di tangannya telah meluncur dan ambles ke dalam perut Im-yang Seng-cu, tepat di bawah ulu hati. Ketika pemuda itu mencabut pedangnya, darah menyembur keluar dari perut dan karena ketika mencabut pedangnya digerakkan ke bawah, perut itu robek dan isi perutnya keluar.

Barulah Im-yang Seng-cu dapat bergerak, kedua tangannya otomatis bergerak ke depan, yang kiri mendekap luka, yang kanan memukul ke depan. Angin pukulan kuat membuat pemuda itu terhuyung ke belakang. Baju depannya merah terkena percikan darah yang menyembur dari perut kakek itu.

Im-yang Seng-cu terhuyung-huyung, matanya terbelalak, mulutnya berkata, “Celaka… ingin mati di tangan pendekar… kini mampus di tangan setan… benar-benar tubuh sial…!” Ia berusaha menubruk maju dengan loncatan cepat ke arah Tan-siucai, untuk memberi serangan terakhir. Akan tetapi Tan-siucai mengelak dan tubuh kakek itu terjerembab ke atas tanah tanpa nyawa lagi.

“Heh-heh-heh!” Dari balik sebatang pohon muncul seorang yang berkulit hitam dengan cara seperti setan.

Orang ini bertubuh tinggi sekali, tinggi dan kurus. Kulitnya hitam mengkilap, kedua kakinya telanjang. Usianya sukar ditaksir, akan tetapi tentu tidak kurang dari enam puluh tahun. Dahinya lebar, hidungnya panjang melengkung, sepasang matanya lebar dan bersinar-sinar aneh, mulutnya hampir tak tampak tertutup jenggot dan kumis yang putih. Kedua telinganya memakai anting-anting perak berbentuk cincin. Rambutnya yang sudah lebih banyak putihnya itu tertutup sorban berwarna kuning. Tubuhnya hanya dibalut kain kuning pula yang menutup tubuh seperti cawat dan setengah dada.

“Cukup baik gerak tangan kirimu dan bentakanmu cukup berhasil. Sayang gerakan pedangmu tidak tepat. Lihat, pakaianmu terkena darah. Sungguh memalukan aku yang menjadi gurumu, heh-heh!” Kata orang itu yang dapat diduga tentu datang dari barat karena bentuk muka, warna kulit, dan gaya bicaranya.

“Mohon petunjuk Guru,” kata Tan-siucai, alisnya berkerut tanda tidak senang hati dicela gurunya.

“Membunuh lawan terkena percikan darahnya, amatlah tidak baik dan engkau tadi membuka kesempatan lawan untuk menyerang sehingga kau terhuyung. Untung kepandaian orang ini tidak amat hebat. Kalau lebih hebat, apakah kau tidak akan celaka karena pukulan terakhir orang yang sudah menghadapi maut? Serahkan pedangmu, dan lihat baik-baik!”

Tan-siucai menyerahkan pedangnya. Pedang hitam itu oleh kakek ini lalu diselipkan di bawah kain yang membelit pundaknya. Kemudian dia menghampiri mayat Im-yang Seng-cu, dipandangnya sejenak, kemudian tangan kirinya dengan telapak menghadap ke arah mayat tiba-tiba digerakkan. Mulutnya mengeluarkan pekik aneh dan… mayat itu tiba-tiba berdiri di depannya. Darah masih mengucur dari perut mayat Im-yang Seng-cu yang terbuka dengan usus terurai keluar.

“Diam…!” Kakek itu membentak seperti yang dilakukan oleh muridnya tadi, tampak sinar hitam berkelebat menjadi gulungan sinar yang mengitari tubuh mayat itu. Kakek itu sudah meloncat ke belakang mayat dan… tubuh Im-yang Seng-cu yang sudah tak bernyawa lagi itu kini roboh menjadi enam potong! Kedua lengan dan kedua kakinya terpisah, dan lehernya juga telah terbabat putus!

“Nah, dengan begini, engkau tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk mengirim serangan. Mula- mula kedua lengan lalu kaki dan leher yang harus kau babat putus, bukan menusuk perut seperti tadi. Dan jangan lupa untuk bergerak meloncat ke belakang, berlawanan dengan menyemburnya darah dari tubuhnya! Ah, sampai lupa. Hayo cepat, kita tampung racun kuning!”

Mendengar ini, Tan-siucai lalu menggunakan kakinya, mengungkit bagian-bagian tubuh mayat itu sehingga terlempar ke atas cabang pohon, ditumpuk di situ. Kemudian kakek berkulit hitam itu menuangkan cairan obat dari sebuah botol ke atas tumpukan potongan tubuh mayat yang segera mencair. Mula-mula seperti terbakar mendidih, kemudian dari tumpukan daging dan tulang itu menetes-netes cairan kuning yang segera ditampung oleh Tan-siucai ke dalam sebuah botol melengkung berwarna merah. Hebat sekali obat itu. Dalam waktu bebeberapa menit saja semua daging, tulang dan pakaian bekas tubuh Im-yang Seng-cu mencair dan hanya menjadi seperempat botol cairan kuning yang kental! Setelah tubuh itu habis sama sekali dan menutup botol dengan sumbat dan menyimpannya, guru dan murid yang aneh itu pergi dari situ.

Tan-siucai atau Tan Ki ini adalah bekas tunangan Hoa-san Kiam-li (Pendekar Pedang Wanita dari Hoa- san) Lu Soan Li, murid Im-yang Seng-cu. Dia tinggal di Nan-king. Setelah dia mendengar akan kematian tunangannya yang dicinta dan dibanggakan, pemuda yang sudah tidak berayah ibu ini lalu pergi merantau. Dendam dan sakit hati membuat dia seperti gila dan akhirnya secara kebetulan dia berjumpa dengan kakek dari Nepal yang bernama Maharya itu yang kemudian mengambilnya sebagai murid.

Kakek Maharya, seorang sakti dari Nepal, tidak hanya tertarik kepada Tan-siucai karena melihat bakat pada diri pemuda itu, juga tertarik mendengar kisah pemuda itu yang menaruh dendam kepada Pendekar Siluman. Di samping ini, sebagai seorang asing yang baru datang ke Tiong-goan, dia membutuhkan seorang pembantu dan pengajar bahasa. Sebagai seorang sastrawan, tentu saja pemuda itu merupakan seorang guru bahasa yang baik.

Demikianlah. selama bertahun-tahun Tan Ki atau Tan-siucai merantau bersama gurunya, menerima gemblengan ilmu-ilmu silat yang aneh, juga menerima pelajaran ilmu sihir yang merupakan keistimewaan gurunya. Tujuan mereka hanya dua. Pertama memenuhi kebutuhan Maharya, yaitu mencari Sepasang Pedang Iblis, dan kedua memenuhi kebutuhan Tan-siucai, mencari Im-yang Seng-cu dan Pendekar Siluman untuk membalas dendam kematian tunangannya!

Secara tak tersangka-sangka mereka tiba di hutan itu dan hampir saja sekaligus Tan-siucai dapat bertemu dengan dua orang yang dimusuhinya, akan tetapi dia terlambat karena Pendekar Siluman telah meninggalkan tempat itu. Betapa pun juga, dia berhasil membunuh seorang musuhnya, yaitu Im-yang Seng-cu yang dahulunya adalah sahabat ayahnya, bahkan orang yang telah mengikatkan jodoh antara dia dan Lu Soan Li. Akan tetapi, karena jalan pikirannya yang telah gila, Im-yang Seng-cu dianggap biang keladi kematian tunangannya sehingga berhasil dia bunuh secara mengerikan.

********************

Siapa yang mengatakan bahwa keselamatan diri seseorang, mati hidupnya tergantung sepenuhnya kepada dirinya sendiri, menandakan bahwa dia belum sadar akan kekuasaan tertinggi yang tak dapat ditambah mau pun dikurangi. Kekuasaan tertinggi yang menggerakkan matahari, bulan dan bintang- bintang sampai debu-debu terkecil dalam cahaya matahari, kekuasaan yang menumbuhkan pohon-pohon raksasa sampai setiap jenggot di dagu pada kekuasaan tertinggi yang menguasai atas mati dan hidup.

Kalau yang Maha Kuasa menghendaki seseorang mati, kekuasaan apa pun di dunia tidak akan dapat menawar-nawar. Sebaliknya kalau dikehendaki-Nya seseorang hidup, tidak ada pula kekuasaan di dunia yang akan dapat menghentikan hidup orang itu. Hal-hal yang kelihatan tidak mungkin bagi akal manusia, sama sekali bukan merupakan hal tidak mungkin bagi kekuasaan itu.

Kekuasaan tertinggi dan ajaib ini memperlihatkan kekuasaannya pula ketika Bun Beng terlempar ke dalam pusaran air. Sebelum dia, tokoh Pulau Neraka yang ahli dalam air dan bertenaga besar juga terjatuh ke dalam pusaran air itu. Dengan segala kemahiran dan kekuatannya, anggota Pulau Neraka itu berusaha melawan pusaran air yang menghayutkan dan menyeretnya ke dalam pusaran yang amat kuat, namun usahanya menyelamatkan diri itu sia-sia belaka dan tubuhnya hancur dihempaskan pada batu-batu karang.

Akan tetapi sebaliknya dengan Bun Beng. Ketika anak ini jatuh ke tengah pusaran air dan merasa ada kekuatan dahsyat dari pusaran itu menyedot tubuhnya ke bawah, sedikit pun dia tidak melawan akan tetapi bahkan inilah yang membuat dia selamat!

Air pusing yang mempunyai daya sedot amat dahsyat itu seketika ‘menelan’ tubuh Bun Beng, disedot ke bawah lalu dihanyutkan dengan kecepatan yang luar biasa di bawah permukaan air. Biar pun Bun Beng yang cerdik sebelum terbanting ke air telah menyedot napas sebanyaknya, namun tak lama kemudian ia pingsan selagi tubuhnya masih dihanyutkan dengan cepat sekali melalui terowongan di dalam gunung batu karang.

Ketika anak itu siuman kembali, ia telah menggeletak di antara batu-batu besar yang halus permukaannya, sebagian tubuhnya yang bawah terbenam air di antara batu dan untung bahwa dia terhempas ke tempat itu dengan muka di atas air. Ia membuka mata, tubuhnya terasa nyeri semua dan dinginnya luar biasa sehingga ia menggigil. Sudah matikah aku, pikirnya ngeri. Ia bangkit duduk, memandang ke sekeliling. Tidak, dia belum mati dan berada di lambung sebuah gunung yang tertutup kabut tebal. Dia duduk dan memandang terheran-heran.

Bagaimana ia dapat sampai di lambung gunung? Kekuasaan alam memang penuh mukjizat. Kiranya ada terowongan yang menghubungkan tempat itu dengan pusaran air di mana ia terjatuh, sebuah terowongan di dalam tubuh gunung. Pusaran air itu tercipta oleh permainan angin yang memasuki terowongan, menimbulkan daya berpusing yang amat kuat sehingga menyedot air dan menciptakan air berpusing yang amat menakutkan.

“Nguk-nguk-nguk! Huk! Huk! Hukkk!”

Bun Beng terkejut dan menoleh ke kanan kiri. Di tempat seperti ini, bagaimana bisa terdengar suara anjing? Biasanya anjing hanya berkeliaran di tempat datar, bukan di pegunungan di batu-batu karang seperti ini, dekat air sungai. Akan tetapi hatinya juga girang karena biasanya anjing-anjing itu dipelihara orang yang dapat ia mintai tolong.

“Huk-huk-huk! Ggrrrrr… nguk-nguk!”

Bun Beng menoleh ke kanan dan seketika ia terloncat bangun. Dari atas batu besar turun beberapa ekor binatang aneh yang kepalanya seperti kera! Kiranya yang menyalak-nyalak dan menggereng-gereng itu adalah binatang yang aneh ini, setengah kera setengah anjing (kera baboon). Ketika melihat binatang aneh itu merayap turun dengan gerak-gerik seperti manusia, moncong anjing mereka mengeluarkan suara anjing dan kera campur aduk, melihat pinggul mereka berlenggang-lenggok, pinggul yang tidak berekor akan tetapi ada dagingnya menonjol merah, mau tidak mau Bun Beng tertawa geli. Lucu memang tampaknya binatang-binatang itu.

Akan tetapi kegelian hatinya segera berubah menjadi kemarahan ketika binatang-binatang itu mengelilinginya kemudian meraba-raba dan merenggutkan pakaiannya yang basah sambil mengeluarkan bunyi ngak-ngik-nguk tidak karuan. Bun Beng melepaskan tangan seekor kera yang menjambak-jambak rambutnya. Kera itu mengeluarkan teriakan marah dan Bun Beng dikeroyok! Lengan-lengan yang panjang berbulu lebat itu mengeroyoknya, merenggut pakaian dan menjambak rambut. Bun Beng jatuh terduduk, seekor kera hendak menggigitnya dari depan. Ia mengayun tangan menampar.

“Plakk! Nguuuuk-nguk!” Kera itu terpelanting dan memekik marah sekali, sedangkan kera-kera lain sudah menubruk Bun Beng dari belakang.

Terdengar bunyi kain robek dan setelah meronta-ronta dan membagi-bagi pukulan ke kanan kiri, akhirnya Bun Beng berdiri dalam keadaan telanjang bulat! Pakaiannya robek-robek tidak karuan diperebutkan oleh sekumpulan kera itu. Marahlah Bun Beng dan ia lalu mengamuk, kaki tangannya bergerak dan beberapa ekor kera terpelanting terkena tendangan dan pukulannya. Akan tetapi tubuh binatang-binatang ini kuat sekali dan mereka kini kini juga marah, meloncat bangun dan mengeroyok Bun Beng.

Tiba-tiba terdengar pekik dahsyat dan kera-kera baboon itu seketika menghentikan pengeroyokan dan mundur. Bun Beng menengok dan seekor kera yang lebih besar dari pada sekumpulan kera yang mengeroyok dan menelanjanginya. Kera itu dengan kedua lengan panjangnya melangkah maju menghampiri, moncongnya mengeluarkan suara menggereng dan mendesis, matanya yang kecil memandangnya penuh amarah. Gerak-geriknya seperti orang menantang. Kera-kera lain melonjak-lonjak dan bertepuk tangan, seperti sekumpulan anak-anak yang menjagoi kera besar ini. Tahulah Bun Beng bahwa dia ditantang oleh kera besar, maka dia pun lalu memasang kuda-kuda dan membentak.

“Kera anjing keparat! Majulah! Siapa takut padamu?”

Kera besar itu agaknya juga tahu bahwa Bun Beng marah kepadanya, karena ia segera meringis dan mengeluarkan bunyi marah. “Ngukk…! Kerr…!”

“Monyet buruk! Majulah! Siapa takut padamu?” Bun Beng menantang dan dia telah melompat ke kiri, mencari tempat yang lebih rata karena dia maklum bahwa binatang kera amat lincah dan kalau harus bertanding di tempat berbatu sambil berloncatan, mana dia mampu menang?

Kera itu menggereng lagi dan meloncat, sekaligus ia menyerang Bun Beng dengan ganas, menubruk sambil mencengkeram dan moncongnya dibuka lebar siap menggigit. Bun Beng sudah bersiap, cepat ia mengelak dengan meloncat ke kanan, sambil tidak lupa mengayun kaki kirinya menendang ke arah perut kera.

“Bukkk!” Tendangan Bun Beng adalah tendangan seorang anak laki-laki yang sejak kecil terlatih, maka tidak dapat disebut lemah, namun ketika kakinya mengenai perut binatang itu, kakinya yang menendang terpental seperti menendang bola karet!

“Monyet lutung! Kau kuat sekali!” Ia berseru marah dan kera itu seolah-olah tertawa terkekeh, sedangkan kera-kera lain tetap bertepuk tangan dan berjingkrak tidak teratur.

Kera besar itu kembali sudah menubruk, bahkan kedua lengannya yang panjang tidak hanya membuat gerakan mencengkeram ngawur seperti lazimnya dilakukan oleh binatang kera yang tidak tahu akan seni bersilat, melainkan kedua tangan berjari panjang penuh bulu itu melakukan pukulan dengan telapak tangan terbuka.

“Wuuut! Wuuuutt!”

Kedua tangan itu menyambar berturut-turut dan hanya dengan kegesitannya mengelak saja Bun Beng dapat menghindarkan diri dari tamparan yang amat kuat itu. Dia mulai marah dan agaknya Bun Beng tidak akan patut mengaku sebagai murid mendiang Siauw Lam Hwesio kalau dia harus mengakui keunggulan seekor binatang kera. Akan percuma sajalah gemblengan yang dilakukan Kakek Siauw-lim-pai itu kepadanya beberapa tahun.

Di samping latihan ilmu silat dan menghimpun tenaga serta rahasia penggunaan tenaga, juga Bun Beng menerima petunjuk-petunjuk yang mempertajam otaknya sehingga dalam menghadapi bahaya dan lawan tangguh dia dapat mempergunakan siasat. Dia mengerti bahwa dalam hal tenaga kasar dia tidak akan dapat mengimbangi kera yang lebih kuat dari pada seorang manusia dewasa itu. Juga dari pengalamannya ketika menendang perut tadi dia maklum bahwa kera itu memiliki kulit yang tebal dan kuat serta otot-otot yang membuat tubuhnya kebal. Dia tidak boleh sembarangan menyerang, melainkan harus menggunakan siasat mencari bagian yang lemah.

Namun kini dia terdesak terus. Kera besar itu agaknya merasa penasaran. Dia dapat mengalahkan seekor harimau dengan mudah, masa kini tidak mampu merobohkan seorang manusia kecil yang lemah ini dalam waktu singkat? Akan percuma saja dia menjadi kera bangkotan, jagoan yang paling kuat dan paling ditakuti di antara rombongan kera baboon di situ! Maka sambil mendengus-dengus marah dia memperhebat serangannya, setiap kali tubrukannya luput disambung dengan terkaman lain yang cepat dan kuat, sedikit pun tidak memberi kesempatan kepada Bun Beng untuk membalas.

Tak dapat dibantah bahwa memang Bun Beng terlatih ilmu silat namun dia sama sekali belum memiliki pengalaman bertempur tanpa aturan dan secara nekat itu. Dia terdesak hebat dan hanya mampu mengelak ke sana-sini, menangkis sedapatnya dan sudah dua kali ia terkena tamparan yang membuat pipinya merah membengkak dan matanya berkunang kepalanya pening! Melihat ini kera-kera yang lain mengeluarkan suara seperti sekumpulan bocah bersorak-sorak, dan kera jagoan itu menjadi makin buas.

“Blekkkk!”

Sebuah tamparan dengan lengan kanan berbulu yang amat keras dapat ditangkis oleh Bun Beng, akan tetapi karena dia kalah tenaga, tamparan itu masih menembus tangkisannya dan mengenai pundak kirinya.

Bun Beng mengaduh, tulang pundaknya seperti remuk rasanya, kiut-miut nyeri bukan main dan dia roboh terjengkang tanpa dapat ditahan pula.

“Gerrrr…!” Kera besar menggereng dan menubruk tubuh lawan yang sudah telentang tidak berdaya itu.

Dalam keadaan penuh bahaya ini, keadaan Bun Beng sebagai manusia membuktikan keunggulannya. Dia memiliki akal dan dalam detik-detik berbahaya itu ia menggunakan akalnya. Ketika melihat kera besar menubruk, dia menggulingkan tubuhnya sampai tiga kali dan tidak lupa tangannya mencengkeram tanah dan berhasil menggenggam tanah. Pada saat kera menubruk lagi, tangannya bergerak dan tanah yang digenggamnya itu meluncur, menyambut muka si Kera yang tentu saja tidak memiliki akal untuk menduga serangan ini. Matanya tetap melotot penuh geram kemenangan sehingga kedua matanya merupakan sasaran tepat, kemasukan butiran-butiran pasir tanah.

“Auurrghh…!” Kera itu memekik-mekik dan menggunakan kedua tangan menggosok matanya. Tentu saja karena cara menggosoknya kaku, pasir tanah itu makin dalam masuk ke mata dan makin nyeri rasanya.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bun Beng. Dia sudah meloncat bangun dan menghujankan pukulan tendangan ke tubuh si Kera. Akan tetapi dia tidak memukul sembarangan, melainkan memilih tempat yang lemah, memukul ke arah hidung, mata, dan telinga sedangkan tendangannya mengarah sambungan lutut dan pusar. Tentu saja kera besar yang masih setengah mati menggosoki matanya menjadi sasaran serangan dan tubuhnya terguling-guling. Ia mengeluarkan suara seperti menangis dan akhirnya ia berlutut di atas tanah, menutupi kepalanya dengan kedua matanya bercucuran air mata!

Dari gerak-gerik ini Bun Beng dapat menduga bahwa lawannya sudah menyerah kalah, maka ia memandang dengan muka berseri, berdiri tegak dan bertolak pinggang, merasa gagah menjadi jagoan sampai dia lupa bahwa tubuhnya sama sekali tidak tertutup pakaian, telanjang bulat karena semua pakaiannya sudah habis terkoyak tangan-tangan jahil rombongan kera tadi!

Kera-kera yang tadinya menonton pertandingan kini berlarian datang dan Bun Beng sudah siap untuk ‘mengamuk’ kalau dia dikeroyok. Akan tetapi kera-kera itu kini tidak menyerangnya, hanya memegang- megang lengannya, kakinya, rambutnya dan bahkan ada yang mencium-ciumnya dari kaki sampai kepala tanpa melewatkan sedikit pun bagian tubuhnya sehingga dia merasa girang akan tetapi geli dan jijik!

Agaknya air mata yang banyak keluar dari sepasang mata kera besar telah mencuci bersih mata itu, kini kera besar dapat membuka matanya yang berubah merah dan dia pun merangkul dan menciumi Bun Beng! Mengertilah anak ini bahwa semenjak saat ia berhasil ‘mengalahkan’ jagoan kera baboon, dia telah diaku sebagai ‘seekor’ di antara mereka! Dia telah diterima menjadi anggota kera baboon.

Semenjak saat itu, mulailah penghidupan baru yang sama sekali asing bagi Bun Beng! Dia hidup di antara sekumpulan kera baboon, bertelanjang bulat, mencari makan, bermain-main dan berayun-ayun di dahan- dahan pohon dan di batu-batu gunung persis seekor kera. Hanya bedanya, dan kadang-kadang timbul penyesalan di hatinya akan perbedaan ini bahwa dia tidak berbulu seperti ‘kawan-kawannya’ sehingga sering kali dia menderita kedinginan. Namun, lambat laun ia dapat membiasakan diri dan tubuhnya menjadi kebal akan hawa dingin.

Sebagai seorang makhluk yang berakal, dalam mencari makanan dan lain-lain tentu saja dia paling menang, sehingga tidak lama kemudian dia dicontoh oleh kera kera itu dan seolah-olah menjadi pemimpin mereka. Apa lagi semenjak dia mengalahkan jagoan kera, dia dianggap paling kuat dan teman-temannya tidak ada yang berani mencoba-coba dengan dia! Selama beberapa bulan hidup di antara sekumpulan kera, Bun Beng mendapatkan sebuah kenyataan yang amat berkesan di hatinya.

Semenjak dia dijadikan rebutan para tokoh kang-ouw sehingga terdapat pertentangan dan terjadi pembunuhan, kemudian disusul dengan pengalaman-pengalaman di mana ia menyaksikan permusuhan antar manusia yang berakibat pembunuhan-pembunuhan mengerikan, ia mendapat kenyataan betapa manusia merupakan sekumpulan makhluk yang amat kejam dan sama sekali tidak mempuyai rasa setia kawan terhadap sesama manusia.

Kini hidup di antara sekumpulan kera yang dianggap sebagai binatang bodoh dan tidak berakal, dia menemukan perbedaan yang amat menyolok. Sekumpulan kera ini hidup amat rukun dan penuh setia kawan. Memang benar bahwa di antara mereka kadang-kadang terjadi perkelahian, namun perkelahian ini hanya terbatas dalam mengadu kekuatan sampai seekor di antara mereka mengaku kalah. Yang menang tidak akan menindas, yang kalah tidak akan menaruh dendam dan tidak ada rasa mengganjal di antara mereka!

Akan tetapi seekor saja terganggu, sekelompok akan maju bertanding dan membela! Seekor saja celaka, yang lain akan turun tangan tanpa pamrih. Tidak ada di antara mereka yang memonopoli sesuatu. Buah- buah yang bergantungan, air yang mengalir, tidak ada yang menuntut sebagai hak pribadinya. Memang mereka ini tidak pandai berbasa-basi, tidak pandai bermanis muka, tidak pandai bersopan-santun dan tidak pandai melakukan segala kepalsuan-kepalsuan lain yang sudah menjadi ‘pakaian’ manusia.

Betapa liar mereka itu, betapa bebas dan bahagia karena mereka tidak mengejar kesenangan, tidak mengejar kebahagiaan seperti manusia sehingga kesenangan dan kebahagiaan dengan sendirinya datang kepada mereka! Mereka tidak mengenal kecewa karena tidak mengharap, tidak bertemu duka, karena tidak mencari suka. Betapa wajar dan betapa dekat dengan alam, betapa dekat dengan kekuasaan alam!

Di samping menemukan hal-hal yang mendatangkan kesan di hatinya yang timbul dari pengetahuannya ketika dulu membaca kitab-kitab filsafat, juga Bun Beng menemukan dan mempelajari kepandaian- kepandaian aneh yang mereka miliki sebagai anugerah langsung dari alam tanpa mereka pelajari, yaitu kecekatan, ketrampilan yang belum tentu dapat dimiliki manusia yang sengaja mempelajarinya bertahun- tahun! Dengan menyatukan diri di tengah-tengah mereka, dalam beberapa bulan saja Bun Beng dapat berloncatan di atas karang di tebing-tebing yang curam, memanjat pohon-pohon besar dan loncat berayun dari dahan ke dahan. Juga ia dapat mengenal pengetahuan anugerah alam tentang daun-daun dan akar- akar obat yang dipergunakan kera-kera itu untuk mengobati luka-luka, keracunan dan lain-lain.

Selama enam bulan hidup di tengah-tengah kera itu, Bun Beng mengalami hal-hal yang amat luar biasa. Setelah setengah tahun hidup bertelanjang bulat seperti itu, dia menjadi terbiasa dan kadang-kadang kalau ia teringat akan peradaban manusia, ia menjadi geli sendiri. Betapa dia akan dianggap kurang susila, kurang ajar, tidak tahu malu dan sebagainya oleh manusia-manusia beradab!

Dari manakah timbulnya rasa malu kalau telanjang dan terlihat orang lain? Mengapa pula harus malu? Perasaan malu ini adalah buatan manusia sendiri! Buktinya, tidak ada seorang pun anak-anak yang merasa malu dilihat bertelanjang. Setelah kepada anak itu ditanamkan pengertian bahwa bertelanjang dilihat orang adalah memalukan, barulah timbul perasaan malu ini! Andai kata tidak ada penanaman pengertian ini, kiranya tidak akan timbul pula perasaan malu.

Musim dingin tiba, akan tetapi Bun Beng yang bertelanjang bulat itu tidak menderita kedinginan. Kulit tubuhnya sudah terlatih sedikit demi sedikit sehingga kebal. Akan tetapi perasaan dan kesadarannya sebagai manusia tidak pernah hilang dan hanya karena terpaksa tidak ada pakaian saja maka dia bertelanjang bulat di antara sekumpulan kera baboon.

Ketika pada suatu hari dia bersama sekawanan kera itu menyerang dan membunuh beberapa ekor harimau, Bun Beng menguliti harimau yang dibunuhnya dan kulit harimau itu ia pakai untuk menutupi tubuhnya bagian bawah. Bukan terdorong oleh rasa malu atau penahan dingin, melainkan dengan penutup bawah itu dia terhindar dari gangguan semut dan nyamuk yang tidak dapat mengganggu kera-kera itu karena kulit mereka tertutup bulu. Dan setelah ia memakai cawat kulit harimau, kawanan kera itu kelihatan lebih segan dan takut kepadanya! Kulit-kulit harimau yang lain ia simpan untuk cadangan cawat atau persediaan kalau sewaktu-waktu ia memerlukannya.

Pada suatu hari, para kera itu mengeluarkan bunyi cecowetan seperti biasa kalau mengajak pergi ke suatu tempat. Sudah banyak macam suara kera itu yang merupakan isyarat-isyarat dan dapat dimengerti oleh Bun Beng, maka sekali ini, menyaksikan sikap mereka seolah-olah mereka hendak melakukan sesuatu yang besar dan aneh, Bun Beng segera mengikuti mereka. Kera-kera itu memasuki goa di antara batu karang dan memasuki terowongan di dalam gunung yang cukup lebar.

Mula-mula terowongan itu gelap, akan tetapi makin jauh makin terang dan anehnya, mulailah Bun Beng merasa betapa ada hawa panas keluar dari dalam. Hatinya mulai tegang dan ia mengikuti terus. Tak lama kemudian mereka tiba di ujung terowongan yang merupakan ruangan yang luas di dalam gunung. Sinar matahari masuk melalui celah-celah batu gunung yang merupakan dinding tinggi sekali. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sumber air panas! Air keluar dari sumber di dalam gunung ini, mengucur keluar dari celah-celah dua batu besar, mengeluarkan uap saking panasnya. Akan tetapi, Bun Beng tidak memperhatikan itu semua karena ia terbelalak memandang ke sebelah kanan, tak jauh dari sumber air panas itu dan merasa seolah-olah ia sedang dalam mimpi. Apakah yang ia lihat?

Pemandangan yang amat luar biasa! Di situ, menempel pada dinding batu, terdapat sebuah kursi batu yang jelas bukan buatan alam, melainkan berbekas tangan manusia. Kursi itu besar sekali, terbuat dari pada batu persegi yang ditumpuk-tumpuk, dan di atas kursi itu duduk seekor kera tua besar sekali yang memakai pakaian. Kalau melihat pemandangan ini di kota, tentu Bun Beng akan tertawa geli dan menganggap kera itu sebagai peliharaan pemain komidi binatang.

Seekor kera tua duduk di kursi memakai jubah yang sepatutnya dipakai seorang pendeta, jubah berwarna kuning yang sudah koyak-koyak, terutama di ujung kedua lengannya. Dan kera tua berbaju itu memandangnya dengan muka berseri, tanda senang hati, sikap yang sudah dikenal Bun Beng. Kera tua itu agaknya senang melihatnya, dan moncongnya yang lebar itu berkemak-kemik, telunjuknya menuding- nuding!

Kawanan kera melewati kursi itu sambil membungkuk-bungkuk, mata melirik-lirik penuh sikap takut terhadap kera tua yang berpakaian. Tetapi mereka tidak mempedulikan ‘kakek’ kera itu dan sambil cecowetan riuh rendah dan penuh kegembiraan mereka masuk ke dalam air panas yang mengalir seperti sebatang sungai kecil. Bun Beng masih tertarik dan terpesona oleh karena kera tua yang aneh itu, akan tetapi ketika berapa ekor kera mulai menarik-nariknya diajak mandi, timbul pula kegembiraannya.

Cepat ditanggalkannya cawat kulit harimau dan ia pun masuk ke dalam anak sungai yang airnya panas. Betapa nikmatnya mandi dan merendam tubuh di air yang panas itu! Merupakan penawar yang nyaman setelah diserang musim dingin di luar. Dan air panas itu benar-benar mendatangkan rasa nyaman sekali di tubuhnya, seolah-olah mengandung sesuatu yang memiliki daya mukjizat menguatkan tubuh. Mengertilah ia kini bahwa sumber air panas itu merupakan semacam ‘air obat’ yang dimanfaatkan oleh kera-kera itu agaknya setahun sekali, yaitu di waktu musim dingin tiba. Yang amat mengherankan hatinya dan tidak dimengerti adalah munculnya kera tua berpakaian pendeta itu!

Setelah puas mandi air panas, Bun Beng mengenakan cawat kulit harimaunya lagi dan mulailah ia mendekati kera tua untuk menyelidiki keadaannya yang aneh. Ketika ia mendapat kenyataan bahwa kera itu ternyata sudah amat tua dan lumpuh, ia merasa kasihan dan terharu. Wajah kera itu begitu penuh pengertian dan sekiranya kera tua itu dapat bicara, tentu dia akan dapat mendengar dongeng yang menarik dari mulut kera itu. Dan kembali ia menyaksikan kesetia-kawanan yang hebat. Agaknya kera tua itu menjadi semacam ‘juru kunci’ atau penunggu sumber air panas dan selamanya tinggal di situ. Ada pun untuk keperluan setiap harinya, dia tidak perlu bingung karena kera-kera baboon setiap beberapa hari sekali ternyata mengirim buah-buah dan makanan untuk si Tua ini.

Melihat betapa kera tua itu pandai berpakaian dan sikapnya jauh lebih ‘jinak’ dibandingkan dengan kera- kera lain, Bun Beng percaya bahwa tentu kera tua ini tidak asing dengan manusia. Maka dia menjadi lebih berani dan ketika ia melihat sebuah ruangan dari batu karang di belakang kursi besar itu, tanpa ragu-ragu lagi dia memasuki ruangan itu. Hal pertama yang menarik hatinya ukir-ukiran huruf dinding batu. Goresannya dalam dan biar pun sudah banyak lumutnya, masih mudah dibaca karena ukiran itu selain dalam juga besar.

‘Di musim dingin perut gunung mengeluarkan air panas, di musim panas perut gunung mengeluarkan air dingin. Dingin menciptakan panas, panas menimbulkan dingin keajaiban apa lagi yang dikehendaki manusia untuk membuktikan kekuasaan alam?’

Bun Beng belum dapat menangkap keindahan kata-kata itu, akan tetapi ia dapat mengagumi coretan yang indah dan kuat. Tidak salah lagi, tentu di sini pernah tinggal seorang pertapa yang pandai dan mungkin sekali kera tua itu adalah binatang peliharaannya! Ia memeriksa lagi dan di dalam sebuah peti batu ia menemukan beberapa stel pakaian kasar. Di atas meja batu tampak sepasang pedang dan sebuah kitab yang tua sekali. Jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Teringat ia akan pertentangan di muara Sungai Huang-ho. Bukankah di antara pusaka yang dicari dan diperebutkan itu disebut-sebut pula ‘Sepasang Pedang Iblis’? Dan kitab itu, mungkin sebuah di antara kitab-kitab pusaka yang dicari oleh tokoh-tokoh kang-ouw? Ia mendekati meja dan memandang penuh perhatian dengan hati tegang. Ia merasa seperti ada yang memandangnya dan ketika ia menengok, benar saja kera tua itu sedang menoleh dan memandangnya penuh perhatian, sungguh pun pada wajah yang tua itu tidak tampak kemarahan. Maka ia makin berani dan tak dapat menahan keinginan tahunya.

Dirabanya gagang kedua pedang yang bersarung indah itu, kemudian perlahan-lahan diangkatnya pedang yang lebih panjang. Ia mencabut gagang pedang dari sarungnya. Baru tercabut sebagian saja, ia sudah cepat-cepat memasukkannya kembali dengan kaget karena pedang itu mengeluarkan sinar kilat yang membuat bulu tengkuknya meremang. Dengan hati-hati ia meletakkan pedang itu kembali, lalu mencoba untuk melihat pedang kedua yang lebih pendek. Kembali ia terkejut karena pedang ini pun mengeluarkan sinar kilat yang menyilaukan mata.

“Aihhhhhh…!” Ia menahan napas memandang dua batang pedang yang berada di atas meja, hatinya ngeri dan kagum.

Tidak salah lagi, pedang itu tentulah pedang pusaka yang amat ampuh! Inikah yang disebut Sepasang Pedang Iblis? Ah, kelihatannya indah sekali, sama sekali tak pantas disebut pedang iblis karena yang memakai nama ‘Iblis’ tentulah buruk menakutkan! Kini ia memperhatikan kitab tua itu, mengambilnya dan membuka sampulnya. Sam-po-cin-keng, demikianlah huruf-huruf indah yang tertulis di halaman pertama. Ia membuka-buka lembarannya dan ternyata itu adalah sebuah kitab pelajaran ilmu silat yang amat luar biasa, semua ada tiga macam.

Anak ini tidak tahu bahwa di tangannya itu adalah sebuah kitab rahasia yang amat hebat. Tiga ilmu silat pusaka yang tergabung dalam kitab itu bukanlah pelajaran ilmu silat biasa karena Sam-po-cin-keng adalah tiga macam ilmu dahsyat yang di jaman dahulu dicipta oleh ketua dan pendiri Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan berjuluk Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Tangan Delapan)! Ilmu ini kemudian menurun kepada puterinya yang bernama Liu Lu Sian berjuluk Tok-siauw-kui (Iblis Cantik Beracun) yang bukan lain adalah ibu kandung pendekar sakti Suling Emas!

Ketika kawanan kera meninggalkan tempat sumber air panas itu, Bun Beng ikut pula keluar, akan tetapi tidak lupa ia membawa sepasang pedang, kitab dan satu stel pakaian! Ketika ia lewat di depan kursi besar, ia menjura ke arah kera tua sambil berkata, “Kakek kera, terima kasih atas pemberian benda-benda pusaka ini.”

Kera itu menyeringai dan mengangguk! Agaknya kera ini seperti mendapat firasat bahwa memang bocah itu berjodoh dengan benda-benda itu, ataukah memang dia telah menerima pesan dari orang yang meninggalkan benda-benda itu agar kalau ada orang datang dan mengambil benda-benda itu berarti telah berjodoh! Tidak ada yang tahu karena kera itu hanya pandai meniru berpakaian, tidak pandai bicara!

Bun Beng mulai tekun membaca kitab kuno dan mempelajari isinya. Namun amat sukar baginya untuk mengerti isinya karena memang ilmu silat yang diajarkan di dalam kitab itu adalah ilmu silat yang amat tinggi tingkatnya dan tak mungkin dapat dimengerti begitu saja oleh Bun Beng yang masih belum ada pengalaman. Namun karena pada dasarnya dia memang rajin dan berhati keras, biar pun tidak mengerti, dia tetap membaca bahkan menghafalkan huruf-huruf yang tertulis dalam kitab itu sampai hafal di luar kepala!

Memang demikianlah cara orang jaman dahulu mempelajari kitab. Semenjak anak-anak mengenal huruf, mereka diharuskan membaca kitab-kitab pelajaran Nabi Khong-hu-cu yang amat sukar dimengerti anak kecil. Namun anak-anak itu dengan rajin menghafal sehingga ada yang sampai hafal di luar kepala akan semua ujar-ujar dalam kitab suci tanpa mengerti makna yang sesungguhnya! Hal ini sama sekali bukan tidak ada faedahnya, karena di samping memperkaya perbendaharaan kata-kata dan huruf-huruf yang banyak jumlahnya, juga kalau si anak sudah dewasa, hafalan ayat-ayat itu perlahan-lahan akan dapat dimengertinya dan yang terpenting diujudkan dalam praktek hidupnya.

Dua bulan kemudian, saat tengah menyambung-nyambung kulit harimau dan ujungnya ia ikat dengan tali pohon yang kuat, Bun Beng mendengar kawanan kera berteriak-teriak di tepi tebing yang curam. Dia tidak tertarik dan melanjutkan pekerjaannya. Bun Beng kini sudah memakai pakaian, yaitu pakaian yang dibawanya dari ruangan dekat sumber air panas. Dia sedang mencoba untuk membuat sayap tiruan. Sudah lama ia bercita-cita menuruni tebing yang amat curam itu, akan tetapi jangankan dia, bahkan kawanan kera itu saja tidak ada yang berani menuruni tebing yang demikian terjalnya.

Jalan satu-satunya hanyalah ‘terbang’ turun dan timbullah akalnya ketika ia menyaksikan burung-burung dengan enaknya naik turun melayang-layang di dekat tebing yang curam. Kalau saja dia dapat terbang melayang seperti burung-burung itu! Keinginan inilah yang membuatnya pada saat itu bekerja keras. Dia sudah mencoba dengan memegangi keempat ujung kulit harimau meloncat dari atas pohon dan kulit harimau yang terbuka itu menahan peluncuran tubuhnya sehingga ia dapat hinggap di atas tanah dengan lunak!

Kini ia hendak membuat ‘sayap’ yang besar dengan menyambung-nyambung kulit harimau dan mengikat keempat ujungnya dengan tali yang kuat. Dengan ‘sayap’ ini dia hendak memeriksa keadaan di bawah tebing karena sering ia melihat bayangan-bayangan bergerak jauh sekali di bawah, seperti bayangan manusia! Juga beberapa kali dia melihat burung besar sekali terbang ke bawah tebing itu. Mungkin sekali dia akan dapat kembali ke dunia ramai kalau bisa menuruni tebing itu. Ada pun tebing-tebing yang lain semua buntu, merupakan jurang-jurang yang tiada habisnya.

Setelah sayap tiruan itu jadi dan mendengar kawanan kera itu makin ribut, ia tertarik juga dan cepat ia menghampiri. Kera-kera itu melihat ke bawah sambil menunjuk-nunjuk. Bun Beng juga memandang dan tampak olehnya jauh di bawah sana, banyak bayangan-bayangan atau titik-titik yang bergerak-gerak. Terjadi perang di bawah sana! Dia tidak dapat memandang tegas dan ia menduga-duga apakah mata kawanan kera itu dapat memandang lebih jelas?

Inilah saat untuk ‘terbang melayang’ turun, pikirnya. Bergegas ia lalu mengambil kitab kuno yang ia masukkan di balik bajunya, menyimpan pula sepasang pedang di balik baju di punggung, lalu ia mengikatkan tiga ujung tali ke pinggang dan memegangi tali ke empat dengan tangan kiri.

Melihat Bun Beng mendekati tepi tebing membawa ‘sayap’ aneh itu, kera-kera menjadi bingung. Mereka itu lalu memekik-mekik ketika Bun Beng tiba-tiba meloncat dari pinggir tebing yang amat curamnya. Ada yang menutupi muka, ada yang menjerit-jerit akan tetapi ada pula yang menari-nari! Bun Beng yang sudah nekat itu merasa betapa tubuhnya meluncur ke bawah lalu tertahan, pinggangnya sakit karena tali-tali yang mengikat pinggang menegang, akan tetapi dia girang sekali karena mendapat kenyataan betapa ‘sayap’ di atasnya mengembang!

“Selamat tinggal, kawan-kawanku yang baik!” Ia melambai ke atas dan melihat betapa kera-kera baboon itu makin lama makin kecil sedangkan tubuhnya terus meluncur perlahan ke bawah.

Tiba-tiba ‘sayapnya’ terguncang oleh angin. Celaka, pikirnya. Mudah-mudahan tidak ada angin kencang yang akan menghancurkan ‘sayapnya’ dan menghempaskan ke batu karang yang menjadi dinding tebing curam itu. Untung baginya, angin tidak kencang dan tak lama kemudian ia sudah dapat melihat orang- orang yang berada di bawah. Dan dugaannya ketika berada di atas tebing tadi ternyata tidak meleset. Dia melihat orang-orang sedang bertempur di bawah itu. Dari atas ia melihat belasan orang laki-laki yang tampan dan gagah, semua berpedang sedang sibuk menahan amukan tiga orang yang rambutnya riap- riapan dan bersenjata kebutan.

Ilmu silat ketiga orang ini hebat bukan main sehingga biar pun orang-orang gagah berpedang itu lebih besar jumlahnya, namun mereka terdesak hebat, bahkan banyak yang telah terluka. Tetapi, dengan semangat gagah mereka itu terus mempertahankan diri. Seorang di antara belasan orang gagah itu yang bertubuh tinggi, dan yang tampaknya paling lihai memutar pedang menahan amukan seorang di antara tiga lawan bersenjata kebutan yang lihai itu.

Kebutan di tangan Si Brewok yang rambutnya panjang itu kecil saja, namun kakek yang usianya kurang lebih lima puluh tahun ini menggerakkan kebutan secara istimewa sehingga senjata kecil ini berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung yang mengancam tubuh orang gagah itu dari delapan penjuru! Tiba- tiba orang tinggi itu berseru kaget ketika pedangnya kena digulung kebutan dan terampas. Pedang terlepas dari tangannya dan agaknya dia tidak dapat menghindarkan diri lagi dari cengkeraman maut melalui kebutan. Pada saat itu dia melihat tubuh Bun Beng yang melayang-layang turun, maka terdengarlah seruannya dengan wajah girang.

“Thai-seng… tolonglah kami…!”

Seruan ini disusul oleh pekik-pekik kegirangan dari orang-orang gagah yang sedang terdesak dan Bun Beng mendengar teriakan-teriakan mereka.

“Cee-thian Thai-seng datang menolong kita…!” “Dewa kita Kauw Cee Thian datang!”
“Benar! Dia tentu penjelmaan Sun Go Kong…!”

Bun Beng terbelalak keheranan. Benarkah mereka itu menganggap dia Kauw Cee Thian atau Sun Go Kong, juga disebut Cee-thian Thai-seng tokoh dongeng raja kera yang maha sakti dalam dongeng See-yu- ki? Hampir ia tertawa bergelak, akan tetapi melihat wajah mereka yang berseri penuh harapan dan melihat mereka dalam keadaan terancam itu tidak mungkin main-main, timbul kenakalannya.

Bun Beng yang mengerti bahwa tentu dia disangka seorang ‘manusia bersayap’ lalu mengeluarkan pekik melengking yang agaknya terdengar amat nyaring oleh orang-orang di bawah itu. Tiga orang berambut panjang yang riap-riapan itu memandang dan wajah mereka berubah pucat.

“Ihhh…! Siluman di siang hari…!” Mereka berseru kemudian mereka berkelebat pergi melarikan diri terbirit- birit karena ngeri dan takut melihat siluman terbang itu!

Setelah melihat tiga orang itu melarikan diri, baru sekarang Bun Beng melihat dengan hati penuh kengerian betapa tubuhnya meluncur turun dan tanah di bawah seolah-olah mulut raksasa besar yang akan mencaploknya. Saking ngerinya, dia meneruskan jeritannya melengking, akan tetapi sekali ini bukan jerit pura-pura untuk menakuti orang melainkan jeritan sungguh-sungguh. Untung dia masih ingat untuk mengembangkan tangannya yang memegang tali sehingga ‘sayap’ itu terbuka lebih lebar, menampung hawa menahan peluncuran tubuhnya. Biar pun demikian, masih saja dia terbanting dan tentu dia akan terluka kalau saja dia tldak cepat menggulingkan tubuhnya sampai terguling-guling dan baru dapat meloncat berdiri dengan kepala pening dan mata berkunang. Akan tetapi ia tertegun menyaksikan belasan orang gagah itu telah menjatuhkan diri berlutut menghadap kepadanya, tidak berani mengangkat muka memandang!

Bun Beng mengerutkan alisnya. Gilakah orang-orang ini? Ataukah dia yang sudah gila?

“Hamba sekalian menghaturkan banyak terima kasih, bukan saja karena pertolongan Thai-seng, terutama sekali karena Paduka sudah sudi memperlihatkan diri kepada hamba sekalian.”

Hampir saja Bun Beng tertawa jika tak melihat sikap mereka yang penuh kesungguhan. Ia sukar untuk mempercaya apa yang dilihatnya dan didengarnya. Mereka berjumlah sembilan belas orang, tua muda, laki-laki semua dan rata-rata bersikap gagah. Mengapa orang-orang gagah ini bersikap begini aneh dan menganggap dia sebagai penjelmaan Sun Go Kong Si Raja Kera dalam dongeng See-yu?

“Cuwi sekalian telah salah sangka. Aku sungguh mati bukan Sun Go Kong, melainkan seorang anak biasa she Gak bernama Bun Beng. Harap Cu-wi suka berdiri dan jangan berlutut, membuat aku merasa canggung dan malu saja.”

Orang bertubuh tinggi yang bicara tadi, yang ternyata adalah pemimpin rombongan orang-orang itu, mengangkat muka, demikian pula kawan-kawannya, memandang Bun Beng dengan sinar mata penuh keraguan dan agaknya tidak percaya akan kata-kata Bun Beng sehingga mereka masih tetap berlutut.

Bun Beng menunduk dan memandang tubuhnya sendiri, lalu tertawa. Pakaiannya saat itu memang aneh, dari kain kuning yang tidak berlengan berkaki, hanya membungkus dari leher ke paha, apa lagi dia ber- ’sayap’! Sambil tertawa ia menanggalkan sayap tiruan itu dan berkata, “Lihatlah baik-baik, Cu-wi. Aku adalah seorang anak biasa yang meloncat dari atas sana menggunakan sayap tiruan dari kulit harimau. Aku bernama Gak Bun Beng dan siapakah Cu-wi? Berdirilah agar kita dapat bicara dengan enak.”

Kini sembilan belas orang itu bangkit berdiri dan memandang Bun Beng dengan penuh keheranan, kekaguman dan tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka dapat percaya bahwa anak itu adalah seorang anak biasa saja padahal mereka tadi menyaksikan sendiri betapa anak itu muncul seperti seorang dewa dan telah berhasil membuat tiga orang lawan mereka lari tunggang langgang tanpa melakukan gerakan apa-apa? Akan tetapi setelah mereka memandang penuh perhatian, mereka mau juga percaya akan keterangan Bun Beng dan mereka kini memandang kagum sekali. Biar pun bukan Sun Go Kong, anak ini adalah seorang anak luar biasa dan telah ‘menyelamatkan’ nyawa mereka yang tadl terancam maut.

Orang tinggi besar ltu menjura dan berkata, “Harap Siauw-enghiong (Pendekar Cilik) suka memaafkan kami yang salah menduga. Betapa pun juga karena engkau datang dari atas sana, kami yakin bahwa engkau tentu bukanlah seorang anak sembarangan, apa lagi engkau telah menyelamatkan kami sembilan belas orang saudara. Terimalah rasa syukur dan terima kasih kami, Gak-enghiong, dan mudah-mudahan kami akan berkesempatan membalasnya.”

Bun Beng menjadi malu melihat sikap orang-orang itu yang amat sopan dan sungkan. Ia balas menjura dan berkata, “Harap Cu-wi jangan bersikap sungkan. Aku sama sekali tidak merasa telah menolong kalian. Menghadapi tiga orang liar yang lihai itu, aku seorang bocah bisa berbuat apakah? Hanya kebetulan saja kehadiranku mengejutkan dan menakutkan mereka. Siapakah mereka itu dan mengapa menyerang Cu-wi? Siapa pula Cu-wi yang tinggal di tempat sunyi ini?”

“Panjang ceritanya, Gak-inkong (Tuan Penolong Gak). Karena engkau adalah seorang penolong, bagimu tidak ada yang dirahasiakan lagi. Akan tetapi marilah kita bersama kami ke tempat tinggal kami agar kita dapat bicara dengan leluasa.”

Bun Beng lalu mengikuti mereka menuju ke tempat tinggal mereka yang ternyata terdiri dari goa-goa besar yang banyak terdapat di kaki gunung itu. Goa-goa itu mereka jadikan tempat tinggal, juga sekaligas merupakan tempat perlindungan yang kuat karena jalan masuk goa itu tertutup oleh pintu besi yang kokoh kuat.

Bun Beng mendapat penghormatan yang sungguh-sungguh dari sembilan belas orang itu yang agaknya menganggap hutang budi sebagai hal yang amat penting. Anak ini sampai merasa canggung dan tidak enak hati, akan tetapi dia terpaksa menerima keramahan mereka, menerima dan memakai pakaian yang mereka beri kemudian bersama mereka makan minum sambil mendengarkan penuturan Si Jangkung yang bernama Ciu Toan dan menjadi pemimpin mereka itu.

Ciu Toan yang menganggap Bun Beng sebagai tuan penolong dan penyelamat nyawa mereka, menceritakan semua keadaan mereka, didengarkan oleh Bun Beng dengan hati tertarik akan tetapi juga terheran-heran karena di dalam penuturan Ciu Toan banyak terdapat hal yang aneh-aneh…..

Sembilan belas orang gagah itu bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan orang-orang yang pernah menggemparkan dalam perang terakhir melawan pemerintah Ceng yang dikuasai oleh bangsa Mancu. Nama mereka amat terkenal sebagai pejuang-pejuang yang gigih dan gagah perkasa, dan pada waktu itu mereka masih bergabung dalam sebuah pasukan kecil yang terkenal dengan nama Pasukan Tiga Puluh Batang Pedang.

Mereka dahulu berjumlah tiga puluh orang yang di antaranya adalah saudara-saudara kandung, saudara- saudara misan yang semua mengangkat saudara dan bersumpah untuk bersama-sama sekuat tenaga menentang penjajah Mancu. Akan tetapi, ketika pertahanan terakhir terhadap bala tentara Mancu di Se- cuan hancur dan daerah ini jatuh pula ke tangan Pemerintah Ceng, pasukan kecil yang terkenal gagah perkasa ini pun mengalami kehancuran. Dari jumlah tiga puluh orang hanya tinggal sembilan belas orang saja.

Karena tak dapat bertahan lagi menghadapi bala tentara Mancu yang amat besar dan kuat, mereka terpaksa melarikan diri. Sepak terjang mereka selama perlawanan menghadapi bala tentara Ceng sedemikian hebat dan terkenalnya sehingga setelah daerah itu ditundukkan, Pemerintah Ceng lalu mencari sisa-sisa Pasukan Tiga Puluh Batang Pedang ini. Tentu saja untuk menangkap dan menghukum mereka yang telah mendatangkan kerugian banyak terhadap pasukan-pasukan Mancu.

Sembilan belas orang ini menjadi orang-orang buruan yang terpaksa menyembunyikan diri. Karena pengejaran dan pencaharian dilakukan oleh orang-orang pandai yang diutus oleh Kerajaan Mancu, maka sembilan belas orang yang dipimpin Ciu Toan itu akhirnya bersembunyi di kaki gunung itu dan sudah hampir dua tahun mereka tinggal di tempat itu.

“Cu-wi adalah orang-orang gagah perkasa, mengapa tadi bersikap begitu aneh dan menganggap aku sebagai Sun Go Kong?” Tanya Bun Beng yang merasa kagum sekali terhadap orang-orang itu yang biar pun kalah perang tetap tidak mau tunduk kepada pemerintah penjajah.

Ciu Toan menjadi merah mukanya, akan tetapi ia menjawab juga, “Kami… kami menjadi pemuja-pemuja Dewa Sun Go Kong setelah berada di sini, dan… tadinya kami mengira bahwa kembali beliaulah yang telah menyelamatkan kami seperti yang terjadi dua tahun yang lalu.”

Bun Beng kini membelalakkan matanya. “Apa? Benarkah Cu-wi pernah diselamatkan oleh… oleh… Raja Kera Sun Go Kong?”

Dengan alis berkerut dan wajah sungguh-sungguh Ciu Toan berkata, “Memang sukar dipercaya bagi yang tidak mengalaminya sendiri. Dewa Sun Go Kong dianggap sebagai tokoh dongeng, akan tetapi kami percaya bahwa beliau memang ada dan di puncak tebing penuh rahasia itulah tempat pertapaannya. Kami sudah mengalaminya sendiri,” Kemudian Ciu Toan menceritakan pengalaman mereka dua tahun yang lalu, didengarkan oleh Bun Beng dengan hati tertarik sekali…..

Ketika sembilan belas orang buruan itu baru beberapa hari tinggal di situ dan sedang sibuk membuat tempat tinggal di goa-goa, pada suatu pagi mereka diserbu dan dikepung oleh segerombolan perampok yang sebelum mereka datang memang menguasai daerah kaki pegunungan itu. Jumlah para perampok ada lima puluh orang lebih dan terjadilah pertempuran hebat yang mengancam keselamatan sembilan belas orang ini.

Mereka melakukan perlawanan gigih. Karena keahlian mereka adalah berperang, sedangkan dalam pertandingan perorangan ilmu kepandaian mereka tidak terlalu luar biasa, maka mereka terdesak hebat oleh para perampok yang bertekad membunuh semua orang yang mereka anggap hendak merebut wilayah kekuasaan para perampok itu. Dalam keadaan terdesak dan banyak di antara mereka telah terluka, tiba-tiba dari atas tebing menyambar batu-batu kecil yang merobohkan para perampok itu. Anehnya, batu-batu kecil ini tidak mengenai para bekas pejuang, dan yang mengenai tubuh para perampok tidak sampai membunuh mereka, hanya tepat mengenai jalan darah yang membuat para perampok terguling dan lumpuh untuk sementara.

Para perampok menjadi panik karena mereka diserang secara aneh oleh lawan yang tidak dapat mereka lihat. Apa lagi kalau mereka ingat bahwa dari tempat setinggi itu sampai penyerangnya tidak tampak, orang dapat merobohkan mereka yang sedang bergerak dan bertempur dengan kerikil-kerikil kecil yang mengenai jalan darah, dapat dibayangkan betapa saktinya si penyambit batu-batu kecil! Karena jeri, para perampok melarikan diri dan semenjak itu tidak berani lagi datang mengganggu para bekas pejuang.

Ciu Toan dan teman-temannya mengobati luka yang mereka derita dan mereka pun merasa heran sekali. Mereka mencoba untuk mendaki tebing karena merasa yakin bahwa di puncak tebing tentu tinggal seorang sakti yang telah menolong mereka. Akan tetapi terpaksa mereka mengurungkan niat ini karena tebing itu tidak mungkin didaki, terlalu terjal, tinggi dan licin sekali. Mereka hanya berhasil mendaki sampai seperempat saja dan terpaksa menghentikan usaha mereka. Akan tetapi, selagi mereka beristirahat dengan peluh bercucuran, mereka melihat bayangan seperti bayangan manusia berloncatan mendaki tebing itu dengan kecepatan luar biasa sekali.

“In-kong (Tuan Penolong)… harap sudi menemui kami…!” Mereka berteriak-teriak, namun bayangan itu sebentar saja lenyap di puncak tebing. Kemudian terdengar suara dari atas, lirih saja namun amat jelas terdengar oleh mereka.

“Turunlah kalian, tidak boleh naik ke sini!”

Karena memang mereka merasa tidak mungkin dapat mendaki tebing, tanpa dilarang sekali pun akan turun juga. Akan tetapi mereka makin penasaran karena terheran-heran menyaksikan bayangan tadi. Seorang manusia, betapa pun pandainya, mana mungkin mendaki tebing seperti itu secara cepat seperti terbang saja? Dan suara dari atas itu, seolah-olah orangnya berbisik di dekat telinga mereka. Bukan manusia! Dewa agaknya, dewa penjaga gunung yang telah menolong mereka.

Dan selagi mereka menduga-duga sambil bersiap-siap untuk menuruni lereng tebing yang sukar dan berbahaya itu, tiba-tiba seorang di antara mereka berseru kaget sambil menuding ke puncak tebing. Mereka semua memandang dan melihat seekor kera besar memakai pakaian pendeta duduk di pinggir puncak tebing, di atas batu dan kera itu menggerak-gerakkan kedua tangan seolah-olah menyuruh mereka cepat turun!

Ciu Toan dan saudara-saudaranya menjatuhkan diri berlutut karena mereka tidak meragukan lagi bahwa kera besar itulah yang menolongnya. Dan siapa lagi kalau bukan Sun Go Kong yang memiliki kesaktian sehebat itu? Di dunia ini mana ada kera yang berpakaian pendeta yang sakti luar biasa dan yang dapat mengeluarkan kata-kata seperti manusia? Kecuali Sun Go Kong!

Demikianlah, sejak saat itu, mereka memuja Sun Go Kong yang bertapa di puncak tebing tinggi itu. Kepercayaan mereka makin menebal ketika tiga kali berturut-turut kawanan perampok lain dan sekali pasukan pemerintah menyerbu, mereka semua itu lari ketakutan karena mereka roboh sebelum sempat menyerang, roboh oleh batu-batu kecil dan bahkan pasukan Pemerintah Mancu roboh oleh suara melengking yang melumpuhkan mereka! Kemudian, dari atas puncak tebing melayang sebuah benda yang ternyata adalah kitab-kitab kecil berisi Ilmu Silat Sin-kauw-kun-hoat (Ilmu Silat Kera Sakti) dan yang kini telah mereka pelajari dan menjadi andalan mereka untuk menjaga diri!

“Demikianlah Gak-inkong, maka ketika engkau melayang turun secara aneh itu kami tidak ragu-ragu lagi bahwa engkau tentu penjelmaan Dewa Sun Go Kong yang kembali menolong kami. Sungguh pun kini ternyata bahwa engkau bukan dewa itu, namun kami tetap percaya bahwa Sun Go Kong berada di puncak tebing itu.” Ciu Toan mengakhiri ceritanya yang amat luar biasa itu.

“Bolehkah aku melihat kitab kecil itu?” Bun Beng bertanya. “Tentu saja.” jawab Ciu Toan yang lalu mengambil kitab itu.
Bun Beng hanya melihat tulisan pada halaman pertama yang berbunyi ‘Sin-kauw-kun-hoat’ dan kini dia merasa yakin bahwa tulisan itu sama dengan penulis kitab ‘Sam-po-cin-keng’ yang dimilikinya. Dia sekarang mengerti bahwa yang menolong para bekas pejuang ini adalah manusia sakti yang tinggal di sumber air panas, dan agaknya yang tampak oleh mereka adalah kera tua yang berpakaian pendeta dan yang sekarang, entah mengapa mungkin karena tuanya, telah lumpuh! Tetapi, melihat kesungguhan mereka memuja Sun Go Kong, dia tidak mau membuka rahasia itu dan diam saja.

“Dan tiga orang berambut riap-riapan yang menyerang kalian itu siapakah?”

“Kami sendiri juga heran mengapa orang-orang itu dapat mencari kami,” jawab Ciu Toan. “Mereka adalah tiga orang dari Thian-liong-pang yang amat terkenal memiliki tokoh-tokoh berilmu tinggi.”

“Thian-liong-pang?” Bun Beng terkejut dan ia teringat akan pengalamannya di muara Huang-ho. Dia pun tahu betapa hebat orang-orang Thian-liong-pang. “Kenapa mereka datang menyerbu? Apakah kalian bermusuhan dengan Thian-liong-pang?”

Ciu Toan menggeleng kepala. “Kami hanya memusuhi kaum penjajah. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kami suka dipaksa mengabdi perkumpulan apa pun juga. Mereka datang seperti biasa mereka lakukan di dunia kang-ouw, yaitu hendak menarik secara paksa agar kami suka masuk menjadi anggota Thian-liong-pang.”

“Aneh sekali!” Bun Beng berkata.

“Memang Thian-liong-pang kini telah terkenal sebagai perkumpulan yang kuat, memiliki tokoh-tokoh berilmu tinggi dan mempunyai kebiasaan aneh, yaitu suka memaksa orang-orang kang-ouw menjadi anggota mereka, bahkan kadang-kadang menculik ketua-ketua perkumpulan lain yang dijadikan tamu secara terpaksa!”

“Sungguh luar biasa!” Kembali Bun Beng berkata, teringat akan wanita cantik tokoh Thian-liong-pang yang dijumpainya di muara Huang-ho itu.

“Betapa pun aneh dan luar biasa, namun engkau lebih aneh lagi, Gak-inhong. Seorang anak kecil bersikap seperti engkau, muncul secara luar biasa dari puncak tebing! Engkau… engkau tentu… ada hubungannya dengan Dewa Sun Go Kong, bukan?”

Bun Beng merasa serba salah. Kalau dia berterus terang bahwa di atas sana tidak ada dewa tidak ada iblis yang ada hanyalah kera-kera tak berekor, kera baboon biasa saja, hanya ada seekor kera yang biasa memakai pakaian, tentu cerita ini akan merupakan cemohan bagi kepercayaan mereka. Untuk membohong, dia pun tidak biasa karena orang-orang ini demikian jujur dan gagah, bagaimana ia mampu membohong terhadap mereka dan mengatakan dia benar-benar bertemu dengan tokoh khayal Sun Go Kong? Berterus terang tidak tega, membohong pun tidak mau, habis bagaimana?

“Cu-wi-enghiong dan Cu-wi sekalian. Aku Gak Bun Beng adalah seorang anak yatim piatu yang merantau tanpa tujuan dan secara kebetulan saja berada di puncak tebing. Karena tersesat jalan tidak tahu bagaimana harus turun, akhirnya aku mendapatkan akal, meniru burung membuat sayap tiruan dan dengan nekat melayang ke bawah sini.”

Orang-orang itu memandangnya tak percaya. “Akan tetapi engkau membuat sayap tiruan dari kulit harimau!”

Bun Beng tersenyum dan menjawab, “Aku mempunyai sedikit kepandaian untuk merobohkan dan membunuh beberapa ekor harimau.”

“Hebat…, hebat…! Inkong tentu murid seorang sakti!” Mereka memandang kagum.

“Memang guruku sakti sayang beliau telah meninggal dunia.” Bun Beng menarik napas panjang, hatinya memang berduka kalau mengingat akan gurunya, juga merasa sakit hati atas kematian suhu-nya yang amat mengerikan.

“Bolehkah kami mengetahui siapa Suhu Inkong yang mulia?” “Mendiang Guruku adalah Siauw Lam Hwesio dari Siauw-lim-pai.”
“Aihhh…! Kiranya Inkong murid kakek yang sakti itu?” Orang-orang itu menjadi makin kagum dan gembira sekali dan sikap mereka terhadap Bun Beng makin menghormat. “Kami mempersilakan Inkong tinggal di sini bersama kami. Dengan adanya Inkong di sini kami merasa senang dan aman. Kami dua puluh lima orang….” Tiba-tiba Ciu Toan berhenti bicara dan mukanya berubah.

“Dua puluh lima orang?” Bun Beng mencela. “Kulihat hanya ada sembilan belas orang. Mana yang enam orang lagi?”

Ciu Toan kelihatan bingung dan jelas bahwa dia telah terlanjur bicara tanpa disengaja. “Kami… kami tadinya… bersisa dua puluh lima orang, akan tetapi sayang… enam orang telah meninggal dunia di sini…” Ia pun terdiam dan wajah mereka semua kelihatan muram.

Biar pun masih kecil Bun Beng dapat menduga bahwa pasti ada rahasia di balik kematian enam orang saudara mereka itu yang agaknya tidak akan mereka ceritakan kepada orang lain. Maka dia pun tidak mau mendesak lebih lanjut.

Bun Beng yang tidak tahu harus pergi ke mana, menerima penawaran mereka dan dia tinggal bersama mereka. Lebih senang tinggal dengan orang-orang ini dari pada tinggal di atas dan menjadi ‘seekor’ di antara sekumpulan kera itu, pikirnya. Dia mendapatkan sebuah kamar di goa dan di situ dia menyimpan sepasang pedang dan kitabnya. Setiap hari dia membantu mereka mengerjakan sawah atau berburu binatang di sekitar hutan di kaki gunung.

Namun beberapa hari kemudian, sembilan belas orang itu berpamit kepada Bun Beng untuk mencari ‘akar obat-obatan’. Ketika Bun Beng menyatakan hendak membantu, mereka menolak. “Ini adalah tugas pekerjaan kami yang amat penting dan tidak boleh kami minta bantuan siapa pun juga,” kata Ciu Toan.

“Mengapa tidak boleh? Siapa yang tidak membolehkan? Dan akar obat-obatan apakah yang kalian cari?”

Mereka saling pandang dan kembali Bun Beng terheran melihat wajah mereka muram dan seperti orang ketakutan. “Maaf, Gak-inkong. Kami tidak dapat bercerita tentang ini. Harap suka menunggu di sini, kami hanya akan pergi selama tiga hari.”

Tanpa memberi kesempatan kepada Bun Beng untuk membantah lagi, pergilah kesembilan belas orang itu membawa sepuluh buah keranjang kosong. Dia terheran dan merasa penasaran sekali, akan tetapi dengan sabar ia menanti. Setelah pada hari ketiga dia tidak melihat mereka kembali, Bun Beng kehabisan kesabarannya dan dia pun meninggalkan tempat itu, pergi menyusul ke arah hutan di mana dia melihat mereka pergi tiga hari yang lalu.

Hari masih pagi ketika Bun Beng berangkat dan tiba-tiba ia melihat seekor burung yang besar sekali beterbangan di atas hutan di depan. Ia terbelalak memandang dan tadinya ia mengira bahwa yang terbang itu tentulah burung garuda tunggangan Pendekar Siluman. Jantungnya berdebar tegang, juga girang karena berjumpa dengan Pendekar Siluman merupakan idam-idaman hatinya.

Ia kagum dan tertarik sekali kepada pendekar kaki buntung itu. Jantungnya makin berdebar keras ketika ia melihat burung besar itu menukik turun dan benar saja, di atas punggung burung besar duduk seorang manusia! Karena jaraknya jauh, dia tidak dapat mengenal orang yang menunggang burung itu, akan tetapi siapa lagi di dunia ini yang memiliki binatang tunggangan seekor burung besar kecuali Pendekar Siluman?

Saking girangnya, lupalah Bun Beng akan niat hatinya semula menyusul sembilan belas orang bekas pejuang dan kini ia berlari-larian menuju ke arah hutan di mana burung itu beterbangan di atasnya, hutan yang agak gundul karena di situ banyak terdapat batu gunung yang tinggi-tinggi. Akan tetapi, setelah memasuki hutan dan tiba di dekat dinding gunung batu ia terkejut dan merasa heran sekali.

Kiranya sembilan belas orang itu berada di situ, kesemuanya berlutut dan di depan mereka berjajar sepuluh buah keranjang yang kini sudah terisi akar-akar dan daun-daunan. Apa yang mereka lakukan itu? Ciu Toan berlutut di deretan paling depan dengan wajah ketakutan. Ketika ia mendengar bunyi kelepak sayap burung, ia memandang ke atas dan melihat burung besar itu terbang rendah di atas pohon-pohon dan batu-batu.

Kini tampak jelas oleh Bun Beng bahwa burung itu bukanlah garuda putih tunggangan Pendekar Siluman, bahkan tampak pula olehnya bahwa yang duduk di atas punggung burung besar itu adalah seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, berwajah tampan dan angkuh. Burung itu terbang rendah di atas sepuluh buah kerajang seolah-olah memberi kesempatan kepada penunggangnya untuk menjenguk ke bawah karena ia terbang miring, kemudian membubung lagi sambil menyambar dua buah keranjang dengan kedua cakarnya, lalu terbang menghilang. Namun sembilan belas orang itu masih tetap berlutut dan Bun Beng masih bersembunyi memandang dengan jantung berdebar tegang. Rahasia apa pula ini?

Tak lama kemudian, kembali bocah yang menunggang burung rajawali besar itu datang di atas punggung burungnya, diikuti oleh tiga ekor burung rajawali besar lain. Empat ekor burung itu menukik turun dan menyambar keranjang-keranjang terisi akar dan daun-daunan, akan tetapi kini hanya tujuh buah keranjang yang diterbangkan sedangkan sebuah keranjang lagi yang isinya hanya sedikit, hampir kosong, tidak diangkat pergi.

“Kenapa hanya sembilan keranjang dan yang sebuah kosong?!” Tiba-tiba terdengar bentakan dari atas, suara yang angkuh dan galak dari anak laki-laki yang duduk di atas punggung rajawali.

Sembilan belas orang itu menjadi pucat mukanya dan jelas tampak tubuh mereka gemetar.

“Maaf… kami… telah berusaha tiga hari tanpa henti mengumpulkan, akan tetapi karena setiap tiga bulan diambil terus, kini hasilnya makin kurang dan hanya mendapatkan sembilan keranjang…”

“Bohong! Malas!” Anak di atas burung itu membentak, suaranya nyaring galak sehingga Bun Beng yang mendengarnya menjadi gemas dan marah. “Kalian berani menentang dan membantah perintah kami? Tidak cukup murahkah nyawa kalian semua ditebus dengan akar-akar dan daun-daun obat tiga bulan sekali? Siapa yang bertanggung jawab akan kekurangan ini?”

Sembilan belas orang itu berlutut dengan tubuh gemetar dan mereka itu tak dapat menjawab hanya menggumamkan kata-kata mohon maaf.

“Diam semua!” Anak itu membentak dan mereka semua terdiam. “Siapa yang bertanggung jawab? Ataukah semua bertanggung jawab dan siap menerima hukuman dari kami?”

Tiba-tiba Ciu Toan meloncat berdiri dan dengan sikap yang gagah ia menengadah memandang anak laki- laki di punggung burung rajawali sambil berkata nyaring, “Aku, Ciu Toan yang bertanggung jawab atas kekurangan ini, saudara-saudaraku tidak ada yang bersalah, akulah yang siap menerima hukuman!”

Anak itu mengeluarkan suara ketawa mengejek. “Nah, kalau begitu, menunggu apa lagi? Apakah harus kami yang turun tangan menyuruh burung rajawali merobek-robek perutmu?”

“Tidak! Aku Ciu Toan bukan orang yang takut mati. Demi keselamatan saudara-saudaraku, biarlah saat ini aku menerima hukuman!” Tiba-tiba Ciu Toan mencabut pedangnya dan langsung menggorok leher sendiri!

“Ciu-twako…!” Bun Beng meloncat maju dan lari menghampiri dengan niat mencegah, sedangkan para bekas pejuang hanya berlutut sambil menangis. Namun terlambat. Tubuh Ciu Toan terhuyung dan roboh dengan leher hampir putus, tewas seketika!

“Keparat! Setan…!” Bun Beng mengepal tinju dan memandang ke atas, akan tetapi bocah di atas punggung rajawali itu tertawa, burungnya terbang tinggi dan dari jauh masih terdengar gema suara ketawanya. Barulah orang-orang itu bergerak, menubruk dan menangisi jenazah Ciu Toan.

“Kalian ini orang-orang gagah macam apa? Mengapa tidak bangkit melawan bocah setan yang menunggang burung itu? Mengapa membiarkan Ciu-twako membunuh diri? Apa artinya ini semua?” Bun Beng membanting-banting kakinya dengan marah.

“Sssttt… In-kong, harap jangan bicara di sini. Marilah kita pulang membawa jenazah Ciu-twako dan nanti kami akan ceritakan semua,” jawab seorang di antara mereka dengan sikap takut-takut.

Biar pun marah dan hampir tak dapat menahan kesabarannya, namun terpaksa Bun Beng menurut karena tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya. Jenazah Ciu Toan diangkut dan setelah dikebumikan dengan upacara sekedarnya, Bun Beng mendengar penuturan delapan belas orang itu….

“Agaknya Dewa Sun Go Kong hanya menolong kami dari ancaman lain, akan tetapi tekanan dari Majikan Pulau Neraka ini membuat kami tidak berdaya dan tidak ada yang mampu menolong…,” kata mereka sambil menarik napas dengan muka berduka sekali.

“Pulau Neraka? Bocah itu dari Pulau Neraka?”

Orang tertua dari para pejuang itu mengangguk. “Sudah amat lama terjadinya. Ketika kami mencari daun- daun obat di hutan, kami bertemu dengan seorang anggota Pulau Neraka yang membutuhkan akar jinsom dan daun pencuci darah yang banyak terdapat di hutan itu. Kami dan dia berebutan dan bertanding. Karena dia hanya seorang dan kami keroyok, pada waktu itu jumlah kami masih dua puluh lima orang, dia terluka dan melarikan diri. Akan tetapi, beberapa hari kemudian datang seorang tokoh Pulau Neraka yang bermuka kuning, kami dikalahkan dan dipaksa menukar nyawa dengan penyerahan sepuluh keranjang akar dan daun obat setiap tiga bulan. Burung-burung rajawali itu yang datang mengambil dan sudah dua kali ini yang mewakili Pulau Neraka adalah anak laki-laki itu. Amat sukar mengumpulkan akar dan daun obat sekian banyaknya. Tiga orang saudara kami tewas tergigit ular beracun di waktu mencari obat siang malam, dan yang dua orang terpaksa membunuh diri seperti yang dilakukan Ciu-twako karena penyetoran obat kurang. Sekarang Ciu-twako yang mengorbankan diri.”

Bun Beng mengepal tinjunya, penasaran sekali. “Mengapa kalian tidak melawan?”

Orang itu menggeleng kepala. “Melawan tiada gunanya. Kepandaian mereka hebat bukan main. Melawan satu orang yang bermuka kuning itu saja kami tidak berdaya sama sekali. Pula, kami sudah berjanji ketika kami dikalahkan. Ciu-twako membunuh diri untuk menolong saudara-saudaranya. Siapa pun di antara kita yang menjadi pemimpin, tentu akan berbuat seperti dia. Kami tidak berdaya….”

Bun Beng menggeleng-geleng kepala. “Sungguh menjemukan kalau begitu, mengapa Cu-wi tidak pergi saja meninggalkan tempat ini?”

“Pergi ke mana? Kami adalah orang-orang buruan. Di tempat ramai sudah siap orang-orang pemerintah penjajah untuk menangkap kami,” jawab orang itu penuh duka.

Bun Beng bangkit berdiri dan memandang orang-orang itu dengan hati penasaran. Dia masih kecil, akan tetapi dia sudah tahu apa artinya kegagahan, maka melihat sikap orang-orang yang dianggapnya gagah perkasa ini, hilang kesabarannya.

“Cu-wi sekalian tadinya kuanggaap sebagai orang-orang yang gagah perkasa dan patut dikagumi, akan tetapi sekarang mengapa begini…. pengecut? Seorang gagah lebih mengutamakan kehormatan dari pada nyawa! Lebih baik melawan penindas sampai mati dari pada membiarkan diri dihina dan ditindas seperti yang dilakukan orang-orang Pulau Neraka kepada Cu-wi! Bukankah orang dahulu mengatakan bahwa lebih baik mati sebagai seekor harimau dari pada hidup sebagai seekor babi?”

Delapan belas orang itu memandang kepada Bun Beng dengan wajah muram. Pemimpin baru mereka, yang tertua, berkata. “Kami telah menyerahkan jiwa raga untuk negara dan bangsa, kami akan melawan sampai mati terhadap penjajah. Kami tahu kapan dan terhadap siapa dapat melawan. Menghadapi Pulau Neraka, kami tidak berdaya, melawan berarti mati semua. Kalau kami menakluk, berarti hanya beberapa orang terancam bahaya mati, masih ada sisanya untuk menanti kesempatan melakukan perlawanan terhadap penjajah Mancu. Kami tidak akan menyia-nyiakan nyawa kami hanya untuk urusan pribadi.”

Jawaban ini membuat Bun Beng tertegun keheranan dan ia tidak mengerti apakah orang-orang ini tergolong orang gagah ataukah orang bodoh. Kalau pengecut terang bukan karena mereka itu takut melawan bukan karena takut mati, melainkan takut kalau mereka mati dengan sia-sia, bukan mati menghadapi penjajah yang agaknya sudah menjadi cita-cita hidup mereka. Maka dia tidak membantah lagi dan diam-diam ia mengatur persiapan untuk menghadapi bocah penunggang rajawali dari Pulau Neraka yang dibencinya itu.

Diam-diam Bun Beng menyembunyikan sepasang pedangnya ke dalam sebuah goa kecil yang tidak dipakai, menutup goa dengan batu dan menanam rumput alang-alang di depannya. Kitab Sam-po-cin-keng yang sudah ia hafal di luar kepala isinya itu dibakarnya. Semua ini ia lakukan tanpa sepengetahuan delapan belas orang itu yang kini sibuk mengumpulkan lagi sepuluh keranjang akar dan daun obat yang sebelum waktu penyetoran tiba agar tidak jatuh korban lagi di antara mereka.

Tiga bulan kemudian, ketika sepuluh buah keranjang itu disiapkan di tempat biasa dan delapan belas orang itu berlutut menanti datangnya burung-burung rajawali yang hendak mengambil keranjang-keranjang itu, Bun Beng telah berada di dalam sebuah di antara keranjang obat yang tertutup. Diam-diam dia telah memasuki keranjang yang telah ia keluarkan isinya dan hal ini dapat ia lakukan karena ia memaksa mereka untuk diperbolehkan membantu mereka ketika ia menyusul mereka ke hutan.

Bun Beng memiliki jiwa petualang yang besar, yang tumbuh dengan cepat semenjak dia diajak oleh mendiang Siauw Lam Hwesio ke muara Sungai Huang-ho dan banyak mengalami hal-hal yang aneh dan melihat tokoh-tokoh kang-ouw yang luar biasa. Dia telah melihat tokoh-tokoh Pulau Neraka, bahkan dia tahu bahwa ketika kecil, orang-orang Pulau Neraka ikut pula memperebutkan dirinya. Hal ini hanya berarti bahwa di antara ayahnya yang disebut Kang-thouw-kwi Gak Liat, dengan pimpinan Pulau Neraka tentu ada hubungannya, karena ibunya seorang tokoh Siauw-lim-pai, tentu tidak mempunyai hubungan dengan Pulau Neraka.

Kini, mendengar bahwa bocah yang angkuh dengan burung-burung rajawali besar itu datang dari Pulau Neraka timbul niat di hatinya untuk ikut ke Pulau Neraka, di mana dia akan menegur cara mereka mengumpulkan obat-obatan dengan memeras dan menekan bekas-bekas patriot atau pejuang itu! Tentu saja Bun Beng tahu bahwa perbuatannya amat berbahaya bagi keselamatannya, namun dia sama sekali tidak merasa takut. Kalau bocah sombong dan angkuh itu berani menunggang di punggung rajawali, mengapa dia tidak berani diterbangkan dengan bersembunyi di dalam keranjang akar obat?

Jantung Bun Beng berdebar keras ketika menanti di dalam keranjang, khawatir kalau-kalau ada di antara delapan belas orang itu yang mencarinya dan ada yang memeriksa keranjang. Akan tetapi hatinya lega melihat dari celah-celah keranjang bahwa ke delapan belas orang itu berlutut dengan menundukkan kepala, sama sekali tidak memperhatikan sepuluh buah keranjang yang kini terisi penuh semua.

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan nyaring yang tersusul suara kelepak sayap di atas pohon-pohon. Burung-burung itu telah datang! Bun Beng cepat merendahkan tubuhnya dan menutupi kepalanya dengan daun-daun obat, jantungnya berdebar tegang. Burung rajawali yang ditunggangi anak laki-laki itu seperti biasa terbang rendah di atas keranjang-keranjang itu dan anak laki-laki itu memeriksa isi keranjang dari tutup yang berlubang-lubang. Kemudian kelepak sayap terdengar makin keras, burung rajawali mulai menyambar dan membawa terbang keranjang-keranjang itu! Keranjang di mana Bun Beng bersembunyi mendapat giliran terakhir. Hatinya lega bercampur tegang ketika ia merasa tubuhnya terangkat dan terayun-ayun, merasa betapa tubuhnya membubung tinggi!

Agak pening juga rasa kepala Bun Beng dan perutnya terasa mual hendak muntah, akan tetapi kalau teringat kepada anak yang menunggang rajawali terbang, ia menguatkan hatinya dan menggigit bibir. Entah berapa lama dia diterbangkan dan kini dia tidak merasa pening atau mual lagi, agaknya dia sudah mulai biasa! Kalau dahulu ia ‘terbang’ sendiri di atas tebing tidaklah begini mengerikan karena dia dapat melihat sekelilingnya, tidak seperti sekarang mendekam di dalam keranjang.

Tiba-tiba ia mendengar suara keras sekali dan baru ia ketahui bahwa rajawali yang menggondol keranjang itulah yang mengeluarkan suara keras. Dia mendengar pula pekik rajawali-rajawali lain dan lapat-lapat mendengar suara dua orang saling memaki! Bun Beng terheran-heran. Bagaimana mungkin di angkasa ada dua orang bercekcok? Saking herannya, ia membuka tutup keranjang dan betapa kagetnya saat menyaksikan pemandangan yang amat hebat.

Di angkasa itu, anak laki-laki yang angkuh dari Pulau Neraka sedang bertanding melawan seorang anak perempuan sebaya yang menunggang seekor burung garuda putih yang besar. Mereka berdua sama- sama memegang pedang dan bertanding mati-matian sambil saling memaki! Juga burung garuda itu membantu penunggang masing-masing, saling bertempur mempergunakan cakar dan paruh!

Tiba-tiba Bun Beng teringat! Burung garuda putih itu! Serupa benar dengan burung tunggangan Pendekar Siluman! Ahhh! Bukankah dahulu Pendekar Siluman mencari muridnya? Murid perempuan? Agaknya perempuan inilah murid Pendekar Siluman! Perasaan kagum dan sukanya terhadap Pendekar Siluman otomatis tertumpah kepada murid perempuan pendekar itu, apa lagi lawan anak perempuan itu adalah anak laki-laki yang angkuh dan yang dibencinya. Dia sampai lupa menutupkan kembali tutup keranjang, lupa bahwa keranjang yang didudukinya itu dicengkeram oleh kaki rajawali yang besar dan kuat, dan dia asyik menonton pertandingan sambil mendengarkan percekcokan mulut. Agaknya kedua anak itu sama- sama galak dan pandai memaki!

“Iblis cilik! Rajawalimu akan mampus oleh garudaku seperti juga engkau akan mampus di tanganku!” bentak anak perempuan itu.

“Ha-ha-ha, kau perempuan kuntilanak! Hanya galak dan main gertak saja. Pedangku akan membuat kau terguling, dan tubuhmu akan hancur gepeng terbanting ke bawah!” Anak laki-laki itu balas memaki.

“Mampuslah!”

Anak perempuan itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya, tangan kiri mencengkeram bulu leher garudanya, pedangnya menusuk dengan dahsyat. Karena tubuhnya condong ke depan, maka serangannya itu amat hebat, mengarah tenggorokan lawan.

“Tranggggg…!”

Anak laki-laki itu menangkis, akan tetapi pedang di tangan anak perempuan itu secara aneh dan cepat sekali menyeleweng dari atas membesut melalui pedang lawan dan langsung menikam dada!

“Celaka…!” Anak laki-laki itu berteriak.

Ia lalu menggerakkan tubuhnya meloncat ke kanan. Dalam kegugupannya menghadapi serangan maut itu, dia lupa bahwa dia duduk di atas punggung rajawalinya yang sedang terbang, maka ketika ia meloncat ke kanan, otomatis tubuhnya melayang jatuh dari punggung rajawali!

Betapa pun bencinya terhadap anak laki-laki yang angkuh itu, hati Bun Beng merasa ngeri juga menyaksikan tubuh anak itu terguling jatuh dari atas punggung rajawali, padahal tanah di bawah sedemikian jauhnya sampai hampir tidak tampak teraling awan!

Akan tetapi anak laki-laki itu ternyata hebat, tenang dan cekatan. Juga rajawali tunggangannya sudah terlatih. Cepat ia menggerakkan tangan dan berhasil memegang kaki rajawali dengan tangan kirinya. Melihat ini, anak perempuan itu marah dan kembali mendoyongkan tubuh ke depan untuk menusukkan pedangnya. Sambil bergantungan kepada kaki rajawalinya, anak laki-laki itu menangkis.

“Cringgg…!” sepasang pedang bertemu dengan kerasnya sehingga bunga api berpijar.

Melihat kemenangan majikannya, garuda putih itu kelihatan bersemangat. Paruhnya menghunjam ke arah kepala rajawali. Rajawali cepat mengelak, akan tetapi paruh garuda itu masih mengenai pinggir sayapnya sehingga banyak bulu burung rajawali membodol dan berhamburan melayang. Rajawali memekik dan terbang menjauh, dikejar oleh burung garuda.

Agaknya melihat kawannya bertempur, rajawali yang mencengkeram keranjang Bun Beng hendak membantu. Ketika garuda putih itu kembali menerjang rajawali yang kini sudah diduduki lagi punggungnya oleh anak laki-laki yang kelihatan marah sekali, rajawali yang membawa Bun Beng menerkam dari belakang, menggunakan kaki kiri dan paruhnya karena kaki kanannya mencengkeram keranjang terisi Bun Beng. Garuda putih tak sempat menghadapi lawan dari belakang ini karena pada saat itu dia harus menghadapi serangan balasan lawannya yang marah. Melihat ini, anak perempuan itu memutar pedangnya menusuk ke arah rajawali kedua. Burung rajawali ini menggerakkan paruhnya menangkis.

“Trangg…! Aihhhh… pedangku!” Anak perempuan itu berteriak marah dan kaget karena pedangnya terpental, terlepas dari tangannya dan melayang turun lenyap ditelan awan.

Kini burung garuda itu memekik-mekik siap menghadapi penggeroyokan dua ekor burung rajawali. Setiap ada lawan mendekati, kedua kakinya menerjang secepat kilat dan tentu berhasil merontokkan beberapa helai bulu lawan. Menyaksikan kegarangan garuda ini, kedua ekor burung rajawali hanya terbang mengelilingi dan mengancam. Kini anak laki-laki itu tertawa-tawa mengejek kepada anak perempuan yang sudah tak bersenjata lagi.

“Ha-ha-ha-ha, kuntilanak kecil! Engkau telah terkurung sekarang. Mana kegaranganmu tadi? Ayo bersumbarlah sekarang, ha-ha-ha! Engkau tahu rasa sekarang. Apa kau kira semua orang takut kepada penghuni Pulau Es? Ha-ha, mukamu sudah pucat! Betapa pun juga, wajahmu manis sekali. Jika kau menyerah dan ikut bersamaku ke tempatku, aku akan menjamin bahwa engkau akan diampuni, akan tetapi untuk itu aku minta upah dan balas jasa. Tidak sukar, asal engkau kelak suka berlutut dan mengangguk- angguk delapan kali di depan kakiku, menyebut aku Koko yang baik, lalu membiarkan aku mencium kedua pipimu, engkau bahkan akan kujadikan sahabatku dan….”

“Tutup mulutmu yang busuk! Berani engkau memandang rendah Pulau Es? Biar aku mati, Suhu tentu akan mencarimu dan merobek mulutmu serta membunuhi semua nenek moyangmu, kalau engkau tidak begitu pengecut untuk menyebutkan nama dan tempatmu!”

Gadis cilik itu terpaksa harus miringkan tubuh dan mencengkeram bulu leher burungnya ketika burungnya terserang dari atas bawah dan menukik miring untuk menghindarkan diri dan balas menyerang. Sebuah tusukan dari anak laki-laki itu berhasil dia tangkis dengan tendangan mengarah pergelangan tangan, namun anak laki-laki itu sudah cepat menarik kembali tangannya sambil menyeringai.

“Ha-ha-ha! Kematian sudah di depan mata, engkau masih menyombongkan Pulau Es! Dan engkau menyombongkan Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es. Tentu dia gurumu, bukan? Ha-ha-ha, tunggu saja. Nanti pimpinan kami akan membasmi seluruh penghuni Pulau Es, termasuk Pendekar Siluman.”

“Keparat sombong! Aku tahu sekarang! Engkau tentu seorang di antara anggota Thian-liong-pang yang sombong!”

“Heh-heh-heh, boleh kau terka, bocah manis! Engkau tidak akan tahu!”

“Dia dari Pulau Neraka!” Tiba-tiba Bun Beng tak dapat menahan kemarahannya lagi sehingga ia lupa diri dan berteriak.

“Hahh…?” Kini anak laki-laki itu memandang dan baru tahu bahwa keranjang terakhir itu bukan berisi akar dan daun obat, melainkan terisi seorang anak laki-laki! “Kau… siapa…?”

Sementara itu anak perempuan itu tersenyum mengejek, “Aha, kiranya engkau adalah keturunan orang- orang buangan itu? Pantas seperti iblis!”

Bun Beng yang kini tidak meragukan lagi bahwa gadis cilik itu tentulah murid Pendekar Siluman yang dikaguminya, ketika melihat betapa pengeroyokan dua ekor rajawali membahayakan garuda dan gadis cilik itu, segera menggerakkan tangan menghantam ke arah perut rajawali yang membawa keranjangnya.

“Bukkk!”

Pukulan Bun Beng di luar tahunya kini berbeda dengan pukulannya sebelum ia mempelajari Sam-po-cin- keng. Tenaga sinkang-nya bertambah kuat sekali berkat bertelanjang selama setengah tahun dan mempelajari ilmu silat yang mukjizat. Begitu terkena hantaman ini, rajawali memekik dan otomatis cengkeramannya pada keranjang itu terlepas dan tubuh Bun Beng ikut meluncur ke bawah dengan kecepatan yang membuat ia sukar bernapas!

Akan tetapi rajawali itu sendiri yang sudah terluka dan terkejut oleh pukulan Bun Beng, segera kabur terbang secepatnya. Ditinggalkan kawannya, burung rajawali pertama menjadi jeri, juga anak laki-laki itu agaknya menjadi jeri setelah rahasianya terbuka, maka ia menyuruh burungnya terbang pergi meninggalkan burung garuda dan anak perempuan yang menungganginya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo