September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 24

 

Terdengar jerit melengking disusul dengan berkelebatnya Li-mo-kiam ketika Kwi Hong menyerang Keng In. Pemuda ini cepat-cepat menangkis dengan Lam-mo-kiam dan bertandinglah mereka. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut mereka, karena keduanya maklum bahwa siapa lengah dia binasa. Sepasang Pedang Iblis itu kini benar-benar beradu kekuatan dan keampuhan yang sama besarnya, digerakkan oleh dua orang muda yang sama lihainya pula. Setelah kini Kwi Hong digembleng oleh Bu-tek Siauw-jin, maka dia dapat mengimbangi kelihaian Keng In, karena dengan sinkang yang dilatihnya di Pulau Es digabung dengan sinkang tenaga Inti Bumi yang belum dikuasainya benar, dia kini memiliki tenaga sakti yang mukjizat!

Tiba-tiba terdengarlah bentakan nyaring. “Gak Bun Beng manusia hina! Aku harus membunuhmu!”

Sebuah caping meluncur ke arah Keng In yang sedang bertanding melawan Kwi Hong. Itu adalah capingnya yang tadi tertinggal di pondok, yang terlepas ketika dia diserang Milana dan kini oleh gadis itu dilemparkan dengan pengerahan sinkang kepadanya. Tidak boleh dipandang ringan caping yang dilemparkan oleh Milana ini. Karena sambitannya mengandung sinkang, maka caping itu meluncur dan berputar seperti sebuah cakram baja yang kalau mengenai leher mungkin akan dapat membuat putus leher itu.

Akan tetapi tentu saja Keng In yang lihai tidak menjadi gentar, bahkan menggunakan tangan kirinya menyambar capingnya itu dan dipakainya lagi! Dia melakukan ini bukan semata-mata hendak bergurau atau memandang rendah Kwi Hong, melainkan untuk menyakinkan hati Milana yang menganggapnya Bun Beng itu.

Milana yang marah itu tidak peduli mengapa Gak Bun Beng berkelahi melawan wanita yang dijadikan teman bercinta tadi dan yang menurut ucapan Bun Beng adalah Giam Kwi Hong murid ayahnya! Dia sudah marah sekali kepada Bun Beng. Pertama, karena Bun Beng sudah mengecewakan hatinya dengan tingkah lakunya yang buruk. Kedua, karena Bun Beng telah merusak kehormatan ayahnya dengan berjinah bersama murid ayahnya.

Dengan kemarahan meluap Milana sudah melolos sabuk suteranya. Karena dia tidak mempunyai senjata, kini dia gunakan sabuk itu untuk menyerang Bun Beng. Memang senjata ini merupakan senjata ampuh bagi Milana, maka begitu sabuknya meluncur ke udara mengeluarkan ledakan-ledakan kecil kemudian menyambar turun ke arah Keng In, pemuda itu terkejut bukan main dan cepat-cepat dia harus meloncat ke kanan untuk mengelak sambil mengelebatkan pedangnya menyambar ujung sabuk. Akan tetapi sabuk adalah benda lemas, apa lagi berada di tangan seorang ahli, sabuk itu seperti seekor ular hidup dapat mengelit serangan, dan kalau mengenai pedang, dapat menjadi lunak sehingga lenyaplah daya ketajaman pedang Lam-mo-kiam.

Kwi Hong bingung sekali melihat keadaan Milana. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu Milana juga tidak sadar, entah karena apa, seperti dia sendiri yang mengira pemuda ini Gak Bun Beng sehingga dia mau… digauli dan menyerahkan tubuhnya sampai belasan hari lamanya! Teringat akan ini, hampir saja dia menjerit-jerit menangis dan kemarahannya tersalur ke pedang Li-mo-kiam yang mengamuk dahsyat.

Bantuan Milana itu ternyata membuat Keng In merasa terdesak juga, akan tetapi pemuda ini dapat mempertahankan dirinya dengan baik. Baginya, melawan kedua orang wanita cantik itu benar-benar merupakan hal yang tidak menyenangkan. Yang dibenci adalah Bun Beng, dan biar pun dia sudah ‘meloncati’ Milana, namun di lubuk hatinya masih terdapat cinta kasih yang mendalam sehingga dia tidak suka untuk melukai dara ini. Ada pun terhadap Kwi Hong yang sudah menjadi ‘isterinya’ juga tumbuh cinta yang mesra, dan tentu saja dia pun tidak mau melukai, apa lagi membunuh Kwi Hong. Padahal, kedua orang dara itu menyerang sungguh-sungguh untuk membunuhnya.

“Huhhh… gadis-gadis liar…!” Seruan ini disusul menyambarnya angin dahsyat yang membuat Milana dan Kwi Hong terhuyung ke belakang.

“Suhu, jangan…!” Keng In berseru ketika melihat gurunya Cui-beng Koai-ong muncul dan telah menyerang dua orang dara itu dengan dorongan dari jarak jauh.

Akan tetapi kakek itu tidak peduli, sambil bersungut-sungut seperti seorang kakek yang marah karena diganggu tidurnya, dia meloncat ke depan seperti terbang saja dan kedua tangannya kembali mengirim hantaman dari jarak jauh, kini dengan pengerahan tenaga sakti yang luar blasa.

“Suhu…!” Keng In kembali berteriak kaget.

“Dessss!” Tubuh kedua orang kakek itu terpental ke belakang ketika pukulan dahsyat Cui-beng Koai-ong bertemu dengan dorongan tangkisan yang dilakukan oleh Bu-tek Siauw-jin yang muncul secara tiba-tiba di tempat itu.

Melihat gurunya sudah muncul menghadapi kakek mayat hidup yang mengerikan itu, Kwi Hong sudah menyerang Keng In lagi. Juga Milana melanjutkan penyerangannya kepada Keng In yang tetap dianggapnya Gak Bun Beng itu. Kini Keng In benar-benar merasa khawatir sekali, khawatir dan bingung.

“Haiii, mundur kalian, jangan bantu aku!” Dia membentak Kong To Tek dan teman-temannya, sisa para anggota Pulau Neraka yang sudah maju mengurung hendak membantu pemuda ini menghadapi dua orang gadis yang mengamuk itu.

Tentu saja para anggota Pulau Neraka tidak berani maju, dan melihat betapa Cui-beng Koai-ong sudah bertanding melawan Bu-tek Siauw-jin, mereka pun hanya saling pandang dengan bingung. Membantu dua orang kakek yang saling bertanding ini mereka tidak berani, karena keduanya merupakan datuk Pulau Neraka, membantu Keng In dibentak. Mereka hanya dapat berdiri menonton dengan wajah tegang dan hati bingung.

Akan tetapi yang paling bingung adalah Wan Keng In. Dia tidak mengira sama sekali bahwa akan begini jadinya. Siasatnya yang telah dilaksanakan dengan serapi-rapinya telah rusak berantakan dan semua ini adalah gara-gara kakek pendek sinting yang kini bertanding melawan gurunya itu. Keng In memiliki kecerdikan yang luar biasa sekali. Sambil menahan serangan Kwi Hong dan Milana dengan Lam-mo-kiam di tangannya dan menggunakan kelincahannya berkelebatan ke sana-sini, otaknya mulai bekerja dan mempertimbang-timbangkan keadaan.

Kalau pertandingan itu dilanjutkan dan gurunya menang atas kakek pendek, gurunya yang sudah ‘kumat’ kemarahannya itu tentu tidak mau sudah kalau belum membunuh Kwi Hong dan Milana! Hal ini sama sekali tidak dikehendakinya karena dia maklum bahwa dia sendiri tidak akan mampu mencegah gurunya yang berwatak aneh luar biasa itu. Sebaliknya, kalau gurunya kalah, dan hal ini mungkin saja mengingat bahwa susiok-nya Si Pendek Sinting itu memang memiliki kepandaian yang hebat sekali, jika gurunya kalah tentu dia akan terus didesak oleh dua orang wanita ini. Kalau mereka dibantu oleh Bu-tek Siauw-jin, bagaimana dia akan dapat meloloskan diri? Dan semua anak buah Pulau Neraka tentu tidak akan ada yang berani membantunya menghadapi Bu-tek Siauw-jin.

Sungguh celaka, pikirnya. Setelah dua kakek kakak beradik seperguruan itu bertanding sendiri, keadaan menjadi berbahaya baginya. Gurunya menang pun celaka, gurunya kalah lebih celaka lagi! Inilah namanya urusan yang benar-benar tidak beres! Kalau tidak cepat-cepat mengambil tindakan yang tepat selagi gurunya dan susiok-nya (paman gurunya) masih berhantam, tentu akan terlambat. Tiada jalan lain, dia harus dapat memancing dua orang gadis ini keluar dari pulau sebelum kedua orang kakek sinting itu saling bunuh!

Dengan kecerdikan yang dapat membuat dia memperhitungkannya secara tepat ini, Keng In lalu memutar pedangnya membuat gulungan sinar yang menyilaukan mata, kemudian menggunakan kesempatan selagi dua orang dara itu melangkah mundur, dia meloncat dan melarikan diri!

“Manusia hina hendak lari ke mana kau?” Milana mengejar.

“Urusan di antara kita belum beres!” Kwi Hong juga meloncat dan mengejar.

Keng In lari ke tempat perahu di mana terdapat beberapa buah perahu dan memang dia sengaja melakukan ini agar bukan dia seorang yang dapat keluar dari pulau, melainkan juga dua orang dara itu. Akan tetapi, ketika dia tiba di tepi pantai, pada saat itu tampak sebuah perahu kecil dari mana meloncat ke luar seorang laki-laki yang juga memakai caping bundar. Gak Bun Beng! Melihat munculnya pemuda ini, diam-diam Keng In terkejut dan mengeluh sendiri. Sungguh sialan dia hari ini!

Sementara itu, ketika Bun Beng yang baru datang melihat Milana, bukan main lega dan girang hatinya. Dia tidak mempedulikan apa-apa lagi dan langsung saja menghadang Milana, mengembangkan kedua lengannya dan berkata, “Milana… terima kasih kepada Tuhan… engkau masih dalam keadaan selamat….”

“Kau…? Kau…?” Milana memandang bengong, sebentar kepada Bun Beng, kemudian memandang Keng In yang juga bercaping bundar dan yang sudah lari terus dan kini hanya dikejar Kwi Hong seorang.

“Milana, kekasihku… aku Bun Beng, lupakah kau…? Apa yang telah terjadi, Milana?” Bun Beng mendekat lalu memeluk dengan kaget dan heran melihat kekasihnya itu tak mengenalnya.

“Dessss!” Sebuah pukulan tangan kanan Milana mengenai dada Bun Beng. Dara itu serta merta memukul begitu mendengar nama Bun Beng.

“Aihhh mengapa, Milana?” Bun Beng terjengkang.

Biar pun secara otomatis sinkang-nya sudah melindungi dada ketika pukulan tiba, namun karena pukulan itu tidak tersangka-sangka, ditambah lagi hatinya yang remuk melihat kekasihnya seperti tidak mengenalnya, bahkan membenci dan memukulnya, Bun Beng terpukul dan sejenak memandang nanar.

Memang Milana masih dipengaruhi obat perampas ingatan. Gadis ini sendiri bingung ketika di depannya ada ‘Bun Beng’ lagi padahal Bun Beng sedang dikejar. Maka tanpa banyak cakap lagi dia menghantam orang yang mengaku Bun Beng ini. Baginya, yang teringat hanyalah bahwa nama Gak Bun Beng adalah nama yang dibencinya, karena orang itu telah mengkhianati cintanya! Setelah memukul, Milana berlari lagi mengejar Bun Beng pertama yang sudah meloncat ke atas sebuah perahu dan mendayung perahu ke tengah lautan. Kwi Hong juga sudah mendorong perahu kecil. Melihat ini, Milana meloncat jauh dan bagaikan seekor burung walet dia sudah tiba di atas perahu Kwi Hong yang sudah mulai meluncur itu.

Melihat Milana, Kwi Hong lantas berkata, “Milana, kau kembalilah. Dia itu Bun Beng kekasihmu, sedangkan yang di depan itu…”

“Tutup mulut dan mari kita kejar jahanam Gak Bun Beng itu!” “Akan tetapi, Milana…”
“Aku tidak sudi bicara lagi tentang urusanmu. Kau mencintanya, bukan? Aku tidak peduli biar kau seribu kali mencinta Bun Beng!”

“Aih, Milana… aku… aku tidak ada apa-apa dengan Bun Beng…”

Milana memandang dengan penuh kemarahan. “Apa kau kira mataku ini sudah buta? Kau mau menyangkal bahwa kau berjinah dengan laki-laki di depan itu?” Dia menuding ke arah perahu yang ditumpangi Keng In.

Kwi Hong terisak, duduk di perahu dan menangis. Apa yang harus dijawabnya? Tak mungkin dia menyangkal. Agaknya Milana sudah melihat sendiri ketika dia bermain cinta dengan Keng In di pondok kuning, Keng In yang disangkanya Bun Beng! Kata-kata Milana menghancurkan hatinya dan betapa pun keras watak gadis ini, karena merasa betapa dia telah terperosok ke jurang kehinaan, dia menangis terisak-isak.

Milana juga menjatuhkan diri duduk di atas langkan perahu di depan Kwi Hong. Gadis itu adalah murid ayahnya, Giam Kwi Hong. Kini mulai samar-samar dia mengingat bahwa ayahnya memang mempunyai seorang keponakan yang menjadi muridnya sendiri. Dan Bun Beng yang mengaku cinta kepadanya, yang juga dicintanya itu, di depan matanya sendiri telah berjinah dengan gadis ini! Hal ini menusuk perasaannya dan Milana juga menangis.

Dua orang gadis itu menangis, membiarkan perahu mereka digerak-gerakkan ombak. Kemudian keduanya teringat akan Keng In atau yang disangka Bun Beng oleh Milana, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu mendayung perahu dan mengembangkan layar, melakukan pengejaran kepada perahu Keng In yang sudah amat jauh, tinggal menjadi titik hitam di depan itu.

Sementara itu, Bun Beng yang merasa terheran-heran menyaksikan sikap Milana, tidak melakukan pengejaran karena dia melihat Milana sudah bersama Kwi Hong, tidak perlu dikhawatirkan sama sekali menghadapi Keng In. Buktinya Keng In telah melarikan diri dikejar dua orang dara itu. Kalau dia mengejar Milana, tentu akan timbul salah sangka yang makin besar. Biarlah dia akan menyelidikinya kelak, apa yang menyebabkan Milana marah-marah dan memukulnya seperti itu setelah tadinya dara itu seolah-olah tidak mengenalnya lagi.

Tiba-tiba muncul beberapa belas orang yang mukanya beraneka warna dan langsung mereka itu mengeroyoknya dengan pelbagai senjata di tangan mereka! Bun Beng mengenal mereka sebagai para penghuni Pulau Neraka yang dipimpin oleh dua orang tokoh yang dikenalnya pula karena dua orang itu dahulu pernah dijumpai dan bahkan dikalahkannya, ketika mereka mengacau di Thian-liong-pang dan dia menyamar sebagai ketua Thian-liong-pang.

Dua orang yang memimpin delapan belas sisa anak buah Pulau Neraka itu bukan lain adalah Kong To Tek yang kepalanya gundul dan mukanya merah muda, pendek dan gendut. Orang kedua adalah Chi Song yang juga gendut akan tetapi tinggi besar, juga mukanya merah muda. Melihat dia diserbu dan dikeroyok, Bun Beng meloncat jauh tinggi melampaui kepala mereka yang berada di belakangnya, kemudian turun ke atas tanah sambil berseru, “Tahan senjata! Aku datang bukan sebagai musuh!”

“Kami mengenalmu. Engkau adalah Gak Bun Beng, musuh besar tuan muda Wan Keng In. Wan-kongcu sudah memesan bahwa jika bertemu dengan engkau, kami harus membunuhmu!” kata Kong To Tek Si Kepala Gundul. Teman-temannya sudah mengurung Bun Beng lagi dengan sikap mengancam.

Bun Beng mengangkat tangan ke atas dan berkata nyaring, “Kalian ini apakah tidak dapat membedakan kawan atau lawan? Aku datang untuk menemui Wan Keng In dan Nona Milana, bukan sebagai musuh karena Wan Keng In sekarang telah menjadi anggota keluarga Pulau Es. Kulihat mereka tadi berkejaran, apakah sesungguhnya yang terjadi di pulau ini?”

“Tidak perlu banyak bicara! Kawan-kawan, serbu…!”

Kong To Tek dan Chi Song sudah menerjang maju memelopori teman-temannya dan begitu maju keduanya telah menggunakan pukulan-pukulan maut mereka. Kong To Tek Si Gendut pendek gundul ini adalah seorang ahli pukulan beracun yang dilakukan dengan tubuh merendah seperti berjongkok, perutnya mengeluarkan bunyi kok-kok dan mulutnya mengeluarkan uap hitam ketika dia memukul ke arah perut Bun Beng. Pemuda ini sudah mengenal ilmu Si Gundul ini, akan tetapi dia diam saja, tidak mengelak atau menangkis. Hanya ketika pukulan mengenai perutnya, ia mengerahkan sinkang-nya.

“Capppp!”

Tangan beracun itu memasuki perut, tersedot sampai sebatas pergelangan tangan dan tidak dapat dicabut kembali! Kong To Tek memekik kesakitan karena selain tangannya terasa panas sekali, juga hawa beracun itu seperti tertolak dan menyerang dirinya sendiri melalui lengannya yang tersedot ke dalam perut pemuda itu.

“Haiiiittt!” Chi Song memekik dan tubuhnya sudah mencelat ke depan, seperti terbang dia mengirim sebuah tendangan ke arah kepala Bun Beng.

Tentu saja pemuda ini tidak membiarkan kepalanya ditendang, dan dengan tangan kiri dia menampar, mengenai tulang kering betis kaki yang menendang.

“Krekkk!”

Tubuh Chi Song terpelanting dan dia mengaduh-aduh karena tulang kering kakinya patah. Pada saat itu, tubuh Kong To Tek terpental ke belakang. Kiranya Bun Beng telah melepaskan tangan yang disedot perutnya tadi sambil menendang. Kong To Tek terbanting dekat Chi Song dan dia pun mengaduh-aduh karena lengannya seperti dibakar dan dalam keadaan lumpuh!

Para anak buah Pulau Neraka terkejut dan marah melihat betapa dua orang pemimpin mereka roboh. Mereka adalah orang-orang yang tak mengenal takut, maka sambil berteriak-teriak mereka lari menyerbu.

Pada saat itu terdengar teriakan-teriakan melengking, sedemikian hebat teriak yang mengandung khikang kuat sekali itu sehingga belasan orang Pulau Neraka itu bergelimpangan dan seperti lumpuh sesaat karena getaran suara itu. Bun Beng sendiri cepat mengerahkan sinkang-nya karena lengkingan dahsyat itu benar- benar luar biasa sekali. Dia tidak lagi mempedulikan para anak buah Pulau Neraka dan cepat dia melompat dan lari ke arah suara melengking yang luar biasa tadi.

Ketika dia tiba di tengah pulau, dan tiba di tempat dari mana suara lengkingan dahsyat tadi terdengar, dia berdiri terpukau di tempatnya dan tidak bergerak memandang peristiwa hebat yang sedang berlangsung di depan. Ternyata bahwa kakek pendek yang sakti, yang bersama-sama Pendekar Super Sakti telah menurunkan ilmu tinggi kepadanya, yaitu kakek Bu-tek Siauw-jin yang berkali-kali telah menolongnya, sedang bertanding melawan seorang kakek yang lebih tua dan yang mengerikan sekali, seperti seorang mayat hidup, namun yang kesaktiannya tak kalah oleh Si Kakek Pendek yang sinting!

Dan memang pertandingan antara kakak beradik seperguruan itu hebat bukan main. Selama ini, mereka tidak pernah bentrok, karena biar pun keduanya adalah datuk-datuk Pulau Neraka, namun keduanya mempunyai kesenangan yang berbeda. Bu-tek Siauw-jin adalah seorang petualang dan perantau, jarang berada di Pulau Neraka, sedangkan Cui-beng Koai-ong adalah seorang yang suka bertapa, terutama bertapa di bawah tanah-tanah kuburan bersama kerangka dan mayat-mayat. Dengan cara masing-masing, keduanya menambah ilmu mereka sehingga tidak lumrah manusia lagi. Mereka memang saling tidak menyukai, akan tetapi karena keduanya tahu bahwa masing-masing memiliki kepandaian hebat, mereka saling merasa segan untuk bentrok, apa lagi karena mereka masih saudara seperguruan.

Pertentangan dalam batin mereka baru timbul setelah Cui-beng Koai-ong mengambil Wan Keng In sebagai murid. Bu-tek Siauw-jin juga melakukan perbuatan tandingan, mengambil Kwi Hong sebagai murid pula! Bahkan lebih dari itu, dia berkenan menurunkan ilmu sinkang-nya Tenaga Inti Bumi kepada Gak Bun Beng. Padahal hal-hal itu merupakan pantangan bagi datuk-datuk Pulau Neraka itu. Puncak pertentangan itu terjadi ketika Bu-tek Siauw-jin melihat suheng-nya itu hendak membunuh Kwi Hong, maka dia muncul dan melawan. Andai kata Kwi Hong terbunuh dalam pertandingan melawan Wan Keng In umpamanya, kiranya kakek pendek ini tidak akan mau turut campur.

Pertandingan antara mereka memang hebat dan menyeramkan. Tadi mereka bertempur menggunakan ilmu silat masing-masing, saling serang dengan gerakan cepat sehingga bayangan mereka menjadi satu, sukar dibedakan lagi. Namun, sampai seratus jurus belum juga ada yang dapat menang. Keduanya menjadi penasaran dan mengeluarkan pekik melengking dahsyat untuk mempengaruhi lawan, pekik yang saking hebatnya sampai membuat para anak buah Pulau Neraka terguling dan yang menarik perhatian Bun Beng tadi.

Setelah mengeluarkan pekik itu, kini keduanya berdiri tak berpindah dari tempat mereka dan kalau ditonton oleh yang tidak mengerti tentu akan membuat orang tertawa geli. Kedua orang kakek itu berdiri saling berhadapan dalam jarak tiga meter, dan mereka itu menggerak-gerakkan kedua tangan dengan gerakan memukul dan menangkis, padahal tangan mereka itu saling berjauhan dan tanpa ditangkis pun pukulan itu tidak akan mengenai badan.

Akan tetapi, Bun Beng yang melihatnya menjadi kagum dan juga terkejut karena pukulan-pukulan jarak jauh mereka itu sedemikian hebatnya sehingga angin pukulannya sampai terasa oleh dia yang berdiri agak jauh! Tentu saja Bun Beng tidak berani melerai atau mencampuri, hanya menonton dengan hati penuh ketegangan.

Kini tampak kakek mayat hidup itu memukul dengan kedua lengan didorongkan ke depan dengan dahsyat sekali. Bu-tek Siauw-jin juga mendorongkan kedua lengannya ke depan, menyambut serangan suheng-nya itu. Bun Beng seperti merasa tergetar dan tahu betapa di saat itu, dua tenaga raksasa mukjizat yang amat kuat saling bertemu di udara, di antara kedua orang kakek itu. Tampak betapa keduanya agak tergetar dan bergoyang-goyang tubuh mereka. Kedua lengan mereka tetap dilonjorkan saling dorong dan tubuh mereka tidak bergerak.

Perlahan-lahan tampak uap mengepul dari kepala kedua kakek itu, dan dengan hati kaget Bun Beng melihat betapa muka Bu-tek Siauw-jin penuh dengan peluh yang besar-besar menetes turun, akan tetapi wajah kakek pendek ini tetap berseri, mulutnya tersenyum. Ada pun kakek mayat hidup itu wajahnya keruh dan penuh kemarahan, akan tetapi tidak tampak peluh di mukanya walau pun uap yang mengepul dari kepalanya sama tebalnya dengan uap yang mengepul dari kepala sute-nya.

Pertandingan mengadu tenaga sakti ini benar-benar amat menegangkan hati Bun Beng sendiri sehingga tanpa disadarinya, tubuhnya juga mengeluarkan banyak keringat! Dia tidak mempedulikan Kong To Tek dan Chi Song bersama teman-teman mereka yang sudah tiba di situ pula. Mereka itu sebagai ahli-ahli silat tahu apa artinya keadaan kedua orang kakek itu, dan mereka memandang dengan hati tegang, tidak bergerak bahkan ada yang menahan napas.

Bun Beng yang sudah memiliki sinkang tinggi, dapat menduga bahwa kakek pendek itu terdesak hebat, napasnya sudah mulai memburu dan agaknya akan kalah dalam pertandingan ini. Akan tetapi, Si Mayat Hidup itu pun harus mengerahkan segenap tenaganya dan andai kata kakek cebol itu roboh, agaknya Si Mayat Hidup pun tidak akan terhindar dari luka dalam yang parah. Maka dia menjadi makin tegang. Dia tidak berani mencampuri, apa lagi karena dalam keadaan seperti itu, kalau dia mencampuri, selain berbahaya bagi dirinya sendiri, juga berbahaya bagi kedua orang kakek itu. Sedikit saja perhatian mereka teralih, mereka bisa tewas seketika terpukul oleh getaran hawa sakti yang bukan main dahsyatnya.

Tiba-tiba kakek yang seperti mayat hidup itu mengeluarkan suara menggereng dari perutnya dan darah merah menyembur keluar dari mulut, akan tetapi pengerahan tenaga terakhir ini membuat Bu-tek Siauw-jin tak mampu bertahan lagi dan dia roboh terjengkang! Si kakek mayat hidup mengeluarkan suara ketawa aneh, kemudian tubuhnya meloncat ke atas, kedua kakinya meluncur turun menginjak ke arah tubuh sute- nya.

Bu-tek Siauw-jin juga mengeluarkan suara ketawa, kelihatan tangannya bergerak menghantam, menyambut kaki yang menginjaknya. Keduanya memekik hebat dan roboh terbanting, dada Bu-tek Siauw- jin pecah oleh injakan kaki kiri sedangkan kaki kanan Cui-beng Koai-ong hancur oleh pukulan sute-nya.

“Heh-heh… mampus kau, sute… heh-heh… aughhh…” Cui-beng Koai-ong terkekeh dan menuding ke arah sute-nya.

“Ha-ha… Suheng… kau yang melayat atau aku yang melayat, nih…?” Bu-tek Siauw-jin juga tertawa sambil menuding ke arah suheng-nya.

Cui-beng Koai-ong tertawa lagi lalu terkulai dan seperti juga sute-nya, kakek ini tewas seketika. Kakek mayat hidup itu telah memiliki kekebalan yang luar biasa, akan tetapi kelemahannya adalah pada telapak kakinya, maka begitu kakinya dipukul hancur, nyawanya melayang. Kakak beradik seperguruan yang keduanya memiliki kesaktian tidak lumrah manusia itu ternyata tewas dalam pertandingan antara mereka sendiri, sebuah pertandingan yang menggetarkan jantung Bun Beng.

Pemuda itu meloncat dekat, sekali pandang saja dia maklum bahwa keduanya telah tewas. Dia berlutut dekat mayat Bu-tek Siauw-jin, mengheningkan cipta sebentar sebagai penghormatan terakhir, kemudian dia bangkit berdiri memutar tubuh lalu pergi dari situ. Anak buah Pulau Neraka hendak menyerbunya, akan tetapi dia membentak, “Mau apa lagi kalian? Lebih baik urus jenazah kedua orang kakek ini!”

Sikap dan ucapan yang nyaring itu membuat mereka ragu-ragu, apa lagi karena kedua orang pemimpin mereka, Kong To Tek dan Chi Song, sudah tidak mampu bertanding lagi. Mereka hanya dapat memandang kepergian Bun Beng seperti sekumpulan serigala yang berniat mengeroyok akan tetapi ditindih rasa jeri…..

********************

Perahu yang ditumpangi Milana dan Kwi Hong tidak mampu mengejar perahu Wan Keng In sehingga akhirnya mereka itu tertinggal jauh. Ketika kedua orang dara ini mencapai tepi pantai dan mendarat, Keng in sudah tidak tampak lagi.

“Milana, dengarlah kata-kataku baik-baik. Entah apa yang telah terjadi denganmu, agaknya engkau masih belum menguasai ingatanmu, engkau masih belum sadar. Orang yang kita kejar tadi bukanlah Gak Bun Beng. Dia adalah Wan Keng In, manusia jahat yang harus kita bunuh!”

“Bohong! Aku tahu bahwa engkau mencinta Bun Beng, dan aku melihat dengan mata sendiri bahwa kau… kau telah…”

“Milana, aku sama sekali tidak melakukan sesuatu dengan Bun Beng. Ketahuilah, kau dan Gak Bun Beng telah dijodohkan, dan kini ayahmu minta agar engkau suka kembali ke Pulau Es bersama Bun Beng…”

“Kwi Hong! Tak perlu engkau membujuk aku dengan segala kebohonganmu! Coba jawab, apa engkau mencinta Wan Keng In?”

“Tidak! Aku akan bunuh keparat jahanam itu!”

“Nah, engkau membenci Keng In, dan engkau mencinta Bun Beng. Sekarang katakan, dengan siapa engkau di dalam pondok itu?”

“Dengan… dengan…” Kwi Hong bingung dan gugup sekali.

Maklumlah dia bahwa dia telah masuk perangkap. Kalau dia menjawab bahwa laki-laki dengan siapa dia bermain cinta di dalam pondok itu adalah Keng In, tentu hal ini berlawanan dengan pengakuannya bahwa dia membenci dan akan membunuh Keng In. Tentu saja Milana yang ingatannya belum pulih itu menyangka bahwa laki-laki itu Gak Bun Beng.

“Sudahlah, Kwi Hong, aku sudah melihatnya sendiri, tidak perlu kau membohong lagi. Engkau mencinta Bun Beng, bahkan engkau telah menyerahkan dirimu kepadanya, aku tidak peduli lagi!” Milana hendak membalikkan tubuh, akan tetapi Kwi Hong memegang lengannya dan membujuk,

“Milana, apa pun yang terjadi, marilah kita ke Pulau Es. Biar nanti ayahmu yang memutuskan segalanya. Engkau masih belum sadar…”

Milana merenggutkan lengannya terlepas dari pegangan Kwi Hong. “Cukup! Aku tidak sudi lagi bicara denganmu, perempuan tak tahu malu!” Milana lalu melompat dan pergi meninggalkan Kwi Hong.

Kwi Hong menjatuhkan diri berlutut di atas pasir pantai, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Dia menangis! “Bedebah kau, Wan Keng In. Aku bersumpah, tak akan berhenti sebelum dapat membunuhmu!” Dia bangkit berdiri dan melangkah dengan terhuyung ke depan, seluruh tubuh terasa lemas karena batin yang tertekan kedukaan.

Milana juga lari secepatnya dengan air mata bercucuran. Hatinya remuk redam mengingat akan hubungan cinta kasihnya yang hancur. Perlakuan Bun Beng terhadap dirinya di Pulau Neraka, ketika pemuda yang menjadi pujaan hatinya itu hendak merayunya dan mengajaknya bermain cinta, masih dapat dimaafkannya biar pun hal itu mengecewakan hatinya. Masih dapat dimaafkan karena mungkin saking rindu dan cintanya, pemuda itu tidak dapat menahan gairah hatinya yang dikuasai nafsu birahinya pada waktu itu. Akan tetapi, melihat Bun Beng berjinah dengan Giam Kwi Hong, bagaimana dia dapat memaafkannya? Apa lagi mendengar dari mulut Kwi Hong bahwa dia dijodohkan ayahnya dengan Bun Beng. Siapa sudi menjadi isteri seorang laki-laki mata keranjang seperti itu?

Beberapa hari kemudian setelah melakukan perjalanan tanpa tujuan, perlahan-lahan ingatan Milana kembali karena pengaruh obat beracun itu sedikit demi sedikit lenyap setelah dia terbebas dari Pulau Neraka dan tidak diberi racun setiap hari seperti biasa. Karena kembalinya ingatannya itu sedikit demi sedikit, Milana tidak merasa akan hal ini. Dia hanya mulai teringat akan keadaan dahulu satu demi satu, ingat akan Kaisar yang menjadi kakeknya di kota raja, akan semua orang yang dikenalnya. Semua ingatannya pulih, hanya satu hal yang tidak semestinya, yaitu tentang Bun Beng. Bun Beng sekarang bukanlah Bun Beng dahulu lagi, sekarang menjadi seorang laki-laki yang dibencinya.

Karena ini, dia tidak mau kembali ke Pulau Es. Dia mendengar dari Kwi Hong bahwa dia dijodohkan dengan Bun Beng oleh ayah bundanya, dan dia tidak akan mau menerimanya. Kalau dia kembali ke Pulau Es, tentu akan terjadi hal yang tidak menyenangkan karena urusan itu. Maka dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja, menghadap kakeknya dan tinggal di istana sebagai puteri Kaisar yang hidup mulia dan terhormat. Dan dia akan mencoba untuk melupakan Bun Beng!

Pada suatu siang selagi Milana berjalan cepat melalui pegunungan di sebelah utara kota raja, tiba-tiba muncul belasan orang laki-laki yang rambutnya digelung ke atas. Mereka itu kelihatan bersikap gagah, dan tidak kasar, akan tetapi jelas bahwa mereka sengaja menghadang di jalan dan pemimpin mereka, seorang laki-laki tinggi kurus berjenggot dan berkumis tipis, mengangkat tangan ke atas menyuruh dara itu berhenti.

“Nona harap berhenti dulu!”

Milana mengerutkan alis dan dia bertanya, “Kalian ini siapa dan mau apa menghadang orang lewat?”

dunia-kangouw.blogspot.co
Si Tinggi Kurus menjawab, “Kami adalah orang-orang Tiong-gi-pang (Perkumpulan Orang Jujur dan Berbudi) yang mengharapkan sumbangan dari semua orang lewat di sini. Harap Nona sudi meninggalkan sekedar sumbangan sebelum Nona melanjutkan perjalanan.”

Milana marah sekali. “Kalian perampok?”

Orang itu menggeleng kepala dan para anak buahnya bersikap tidak senang dengan sebutan itu. “Kami sama sekali bukan perampok, bahkan kami pembasmi para perampok yang tadinya banyak berkeliaran di tempat ini mengganggu orang-orang lewat. Akan tetapi perkumpulan kami membutuhkan biaya-biaya dan dari siapa lagi kalau tidak dari sumbangan para dermawan yang lewat? Nona seorang wanita muda melakukan perjalanan seorang diri, tentu Nona seorang kang-ouw dan sudah maklum akan hal ini. Maka harap Nona tidak bersikap pelit. Kami tanggung bahwa dari sini sampai kota raja, tidak akan ada seorang pun perampok yang berani mengganggumu, Nona.”

Tentu saja Milana mengerti dan mengenal perkumpulan seperti itu. Dia adalah puteri bekas Ketua Thian- liong-pang, tentu saja tahu akan segala peristiwa dunia kang-ouw. Perkumpulan seperti mereka yang menamakan diri Tiong-gi-pang ini adalah perkumpulan yang biasa diejek dengan perampok-perampok halus. Mereka sebetulnya adalah orang-orang gagah yang bersatu untuk menghadapi dunia hitam para perampok, maling dan lain-lain.

Tetapi karena mereka itu tidak mempunyai penghasilan tetap dan perkumpulan mereka tentu saja membutuhkan biaya, maka mereka mengambil cara ini untuk menutup kebutuhan mereka yang bersahaja, yaitu dengan jalan ‘memungut sumbangan’ dari para orang lewat di daerah yang telah mereka ‘bersihkan’ itu. Akan tetapi pada waktu itu, hati dan pikiran Milana sedang dilanda kekecewaan dan kemarahan karena Bun Beng, maka menghadapi hal yang biasanya akan dianggap wajar dan dihadapinya dengan penuh pengertian itu, kini menimbulkan kemarahannya.

“Bilang saja perampok, pakai memutar-mutar omongan segala. Kalau kalian minta sumbangan kepadaku, aku hanya membawa kaki tanganku yang bisa membagi pukulan dan tendangan! Entah kalian mau atau tidak menerima sumbangan ini!”

Dua belas orang itu adalah laki-laki gagah, tentu saja mereka menjadi marah sekali mendengar ucapan gadis ini yang amat merendahkan mereka. Betapa pun juga, mereka merasa segan untuk turun tangan mengeroyok seorang wanita muda, dan hanya pimpinan mereka yang tinggi kurus itu melangkah maju, matanya terbelalak marah ketika dia membentak,

“Bocah perempuan sombong! Mungkin kau memiliki sedikit kepandaian silat, akan tetapi hal itu amat tidak baik bagimu, membuatmu sombong sekali mengira di dunia ini tidak ada yang dapat melawanmu! Hemm, kalau memang engkau hanya bisa memberi pukulan dan tendangan, biarlah aku menerima sumbanganmu itu!”

“Kalau begitu, terimalah ini!” Milana yang sedang risau hatinya itu segera menerjang maju dan mengirim pukulan-pukulan dengan kecepatan luar biasa.

Biar pun Si laki-laki Tinggi Kurus itu berusaha menangkis dan mengelak, namun dia bukanlah lawan dara yang memiliki ilmu silat tinggi itu. Pukulan bertubi-tubi dari Milana membuatnya terdesak tak mampu membalas serangan, akhirnya mengenai sasaran, pundaknya tertampar dan laki-laki itu terpelanting!

Melihat ini kawan-kawannya terkejut, penasaran dan marah sekali. Tanpa dikomando lagi mereka menyerbu, namun tak seorang pun di antara mereka yang menggunakan senjata. Niat mereka hanya untuk menangkap gadis galak itu dan menghadapkannya kepada ketua mereka. Melihat ini, Milana mengamuk, akan tetapi dia pun mengerti bahwa pengeroyoknya itu bukanlah orang-orang jahat kejam karena mereka itu tidak ada yang menggunakan senjata. Maka dia pun hanya memukul dan menendang dengan tenaga terbatas agar tidak kesalahan tangan membunuh mereka.

Para pengeroyok itu terkejut sekali ketika mendapat kenyataan betapa lihainya gadis muda itu. Beberapa orang yang maju lebih dulu sudah terpelanting ke kanan kiri dan mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lengan atau kakinya. Pada saat itu Milana melihat munculnya rombongan orang yang jumlahnya lebih banyak lagi, datang berlari-larian ke tempat itu. Hatinya menjadi gemas, dan dia sudah siap untuk mengamuk dan merobohkan mereka semua!

Tiba-tiba beberapa orang di antara rombongan yang baru datang itu berseru. “Berhenti semua…! Dia adalah Nona Milana, puteri Ketua Thian-liong-pang!”

Mendengar seruan ini, para pengeroyok terkejut dan mundur. Milana juga berhenti mengamuk dan memandang mereka yang baru datang itu. Di antara orang-orang ini dia mengenal beberapa anggota Thian-liong-pang! Lima orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Milana sambil berkata,

“Harap Nona suka memaafkan kami dan teman-teman kami, karena tidak tahu maka berani bersikap kurang ajar kepada Nona.”

“Hemm, apa artinya ini? Kenapa kalian menjadi anggota gerombolan ini?” tanya Milana dengan alis berkerut.

“Harap Nona tidak salah duga. Perkumpulan Tiong-gi-pang bukanlah gerombolan perampok… dan perkumpulan ini didirikan oleh Bhok Toan Kok Pangcu (Ketua).”

“Haii…? Sai-cu Lo-mo…?”

“Marilah Nona, kuantar menjumpai Pangcu. Ceritanya panjang dan sebaiknya Nona mendengar dari Pangcu sendiri.”

Berdebar jantung Milana. Semua pembantu ibunya telah tewas ketika Thian-liong-pang diserbu kaki tangan Koksu. Kiranya Sai-cu Lo-mo dapat menyelamatkan diri dan kini kakek ini selain masih hidup, juga sudah menjadi ketua sebuah perkumpulan. Dia mengangguk lalu mengikuti rombongan itu memasuki hutan, dipandang penuh kagum oleh anggota-anggota perkumpulan Tiong-gi-pang yang bukan bekas anggota Thian-liong-pang.

Di dalam hutan di lereng bukit itu terdapat bangunan pondok-pondok sederhana dan inilah pusat perkumpulan Tiong-gi-pang yang jumlahnya kurang lebih lima puluh orang itu. Ketika Milana berhadapan dengan Sai-cu Lo-mo, gadis ini tidak dapat menahan kesedihan dan keharuannya. Dia menubruk Sai-cu Lo-mo sambil menangis.

“Bhok-kongkong (Kakek Bhok)…!” Dia menangis di pundak kakek yang mengelus-elus kepalanya itu.

Kakek itu duduk di kursi, kedua kakinya telah lumpuh akibat luka-lukanya ketika Thian-liong-pang diserbu oleh anak buah Koksu.

“Nona Milana… aihhh, Nona…” Sai-cu Lo-mo juga mengejap-ngejapkan mata menahan air matanya. Akan tetapi kakek ini dapat menekan perasaannya, lalu menuntun nona itu memasuki pondok. “Mari kita duduk dan bicara, Nona. Kita harus masih bersukur bahwa para pemberontak itu dapat dihancurkan oleh ibumu, dan biar pun Thian-liong-pang sudah hancur lebur, namun namanya masih tetap baik sebagai pembela negara. Mari duduk dan ceritakanlah. Saya mendengar bahwa Nona terculik. Saya telah mengerahkan semua anak buah perkumpulan ini untuk membantu dan menyelidiki keadaanmu, namun sia-sia. Apa lagi terdengar berita bahwa engkau diculik orang Pulau Neraka, betulkah ini? Di antara kami tidak ada seorang pun yang tahu di mana letaknya Pulau Neraka itu.”

Milana menghapus air matanya, kemudian dia menceritakan kepada pembantu ibunya yang setia itu tentang semua pengalamannya. Betapa dia diculik oleh Wan Keng In, akan tetapi berhasil mempertahankan kehormatannya sungguh pun dia tidak berdaya untuk keluar dari Pulau Neraka. Betapa kemudian muncul Giam Kwi Hong dan bersama keponakan dan murid ayahnya itu dia berhasil mendesak Keng In sehingga pemuda itu melarikan diri, sedangkan guru pemuda itu dilawan oleh kakek pendek yang menjadi guru Kwi Hong. Kemudian, kembali dia terisak menangis ketika menceritakan kelakuan Gak Bun Beng kepadanya.

“Menurut kata Enci Kwi Hong, oleh ayahku telah dijodohkan dengan dia, Kek. Akan tetapi… aku tidak sudi menjadi isteri manusia rendah itu! Dia tidak saja berusaha untuk menyeret aku ke dalam perjinahan yang kotor, tetapi dia juga berjinah dengan Giam Kwi Hong…” Milana menangis lagi.

Dapat dibayangkan betapa marah, duka dan kecewa hati kakek itu. Gak Bun Beng adalah cucu keponakannya, karena ibu pemuda itu, Bhok Khim, yang dahulu diperkosa oleh Gak Liat Si Iblis Botak sehingga melahirkan Bun Beng (baca cerita Pendekar Super Sakti ) adalah keponakannya. Dan dia pernah melamar Milana untuk Bun Beng, yang ditolak oleh ibu Milana dan yang membuat dia mundur teratur ketika mendengar bahwa ibu Milana bukan saja puteri Kaisar, akan tetapi ayah Milana adalah Pendekar Super Sakti! Dan sekarang, Pendekar Super Sakti bahkan telah menjodohkan puterinya itu dengan Gak Bun Beng, akan tetapi agaknya Bun Beng telah berubah, telah menjadi seorang pemuda berwatak kotor!

“Nona, apakah yang kau ceritakan kepadaku benar terjadi? Menurut penglihatanku, Bun Beng bukanlah seorang berwatak bejat…”

“Kalau aku tidak mengalami sendiri dibujuk rayu olehnya, kalau aku tidak melihat sendiri dia berjinah dengan Kwi Hong, aku sendiri tentu tidak percaya, Kek. Akan tetapi aku mengalami sendiri dan melihat sendiri…” Kembali dia terisak dan menutupi mukanya.

“Sudahlah, Nona. Kalau kelak bertemu dengannya, aku sendiri akan menegur dan menghajarnya. Biar pun dia lihai, dia adalah cucu keponakanku, dan biarlah aku mati dalam tangannya kalau dia tidak dapat disadarkan. Sekarang, Nona hendak pergi ke mana?”

“Aku hendak mencari ibu…”

“Beliau tidak lagi berada di kota raja, Nona. Kalau tidak salah dugaanku, dia tentu ikut bersama ayahmu ke Pulau Es.”

Milana menghela napas dan menghapus sisa air matanya, “Aku pun menduga demikian ketika Enci Kwi Hong muncul di Pulau Neraka. Akan tetapi… aku sendiri tidak ingin ke Pulau Es setelah apa yang terjadi semua itu, setelah ayah menjodohkan aku dengan orang yang demikian rendah. Aku girang bahwa ibu akhirnya telah bersatu dengan ayah. Aku… aku… agaknya tidak ada jalan lain bagiku, aku akan ke kota raja menghadap Kaisar…” Dia ragu-ragu.

“Nona Milana, biar pun Kaisar adalah kakekmu sendiri dan tentu kau akan diterima di istana, akan tetapi dapatkah engkau menyesuaikan diri dengan kehidupan di istana? Nona sudah biasa hidup bebas, mungkinkah Nona hidup terkurung dan terbatas di dalam istana?”

Milana menarik napas panjang. “Aku pun meragukan hal itu, Bhok-kongkong. Tentu aku tidak kerasan di sana…”

“Kalau begitu, mengapa Nona tidak tinggal saja bersama kami? Ketika aku berhasil menyelamatkan diri dari serbuan anak buah Koksu pemberontak itu, aku bertemu dengan sisa para anggota Thian-liong-pang, dan bertemu dengan sisa anggota Pek-eng-pang yang sudah kehilangan pimpinan. Maka kukumpulkan mereka, kusatukan dan karena aku tidak berani menggunakan nama Thian-liong-pang, juga tidak sudi memakai nama Pek-eng-pang, aku lalu mendirikan perkumpulan baru bernama Tiong-gi-pang untuk menolong mereka, dan untuk mencegah mereka terperosok ke dalam lembah kejahatan. Kami sedang memperbaiki sebuah kuil besar dan kuno di hutan sebelah, Nona. Tempat itu akan menjadi pusat Tiong-gi- pang, dan kalau Nona suka tinggal bersama kami, hatiku akan menjadi lega dan girang, juga kehadiran Nona sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang tentu akan mempengaruhi para anak buah Tiong-gi-pang dan mencegah mereka dari penyelewengan.”

Maka demikianlah, mulai hari itu Milana tinggal bersama Kakek Sai-cu Lo-mo, bekas pembantu utama ibunya di Thian-liong-pang yang sekarang telah menjadi pangcu dari perkumpulan Tiong-gi-pang…..

********************

Ketika memasuki kota raja, gadis yang cantik manis dan lincah itu menarik perhatian banyak mata, terutama mata laki-laki. Dia memang manis sekali, sepasang matanya jernih dan tajam memandang ke sana-sini, bukan hanya untuk mengagumi bangunan-bangunan besar di kota raja melainkan juga dengan penuh selidik pandang matanya menyapu wajah orang-orang yang dijumpainya, seolah-olah dia mencari seseorang di kota raja. Pakaiannya yang serba kuning itu membungkus ketat tubuh yang padat berisi dan langsing. Di pinggir pinggul yang padat dan pinggang yang langsing itu tergantung pedang, tanda bahwa dara manis berusia kurang lebih dua puluh tahun ini adalah seorang gadis perantau kang-ouw yang tidak boleh dipandang ringan!

Gadis baju kuning ini adalah Ang Siok Bi, puteri tunggal ketua Bu-tong-pai yaitu Ang-lojin (Orang Tua Ang) atau Ang Thian Pa. Seperti telah kita ketahui rombongan piauwsu yang pernah bentrok dengan Gak Bun Beng ketika terjadi pemerkosaan dan pembunuhan suami isteri di dekat telaga, adalah murid-murid Bu- tong-pai.

Setelah mereka itu menyelesaikan tugasnya, pemimpin piauwsu itu lalu menceritakan peristiwa itu kepada Bu-tong-pai dan Ang Siok Bi juga hadir dalam pertemuan ini. Ketika mendengar bahwa Gak Bun Beng melakukan perbuatan keji seperti itu, ketua Bu-tong-pai terkejut bukan main dan hampir tidak dapat percaya kalau yang bercerita bukan muridnya yang dipercayanya. Terutama sekali Ang Siok Bi, puterinya.

Dara ini telah tahu bahwa dia oleh ayahnya hendak dijodohkan dengan Gak Bun Beng, dan sungguh pun pemuda itu belum menerima perjodohan ini, namun ayahnya masih selalu mengharapkan terjadinya ikatan jodoh itu. Karena inilah, juga karena dia sendiri pun tertarik dan jatuh cinta kepada pemuda itu, maka Siok Bi menganggap dirinya sebagai tunangan Gak Bun Beng dan tidak menghiraukan lain laki-laki lagi, bahkan di dalam lubuk hatinya dia mengambil keputusan tidak akan menikah kalau tidak dengan Bun Beng!

Maka dapat dibayangkan betapa kaget dan hancur hati dara ini mendengar penuturan para piauwsu yang menduga bahwa Gak Bun Beng melakukan hal yang amat keji, memperkosa dan membunuh seorang wanita, membunuh pula suami wanita itu di dekat telaga. Pada keesokan harinya, Ketua Bu-tong-pai tidak melihat puterinya dan dia hanya dapat menghela napas, maklum bahwa kepergian puterinya itu tentu ada hubungannya dengan penuturan murid Bu-tong-pai tentang Gak Bun Beng.

Dugaan Ketua Bu-tong-pai ini memang benar. Siok Bi meninggalkan kuil Bu-tong-pai untuk pergi mencari Bun Beng, untuk menyatakan sendiri kebenaran penuturan itu. Dia harus bertemu dengan pemuda itu dan akan ditanyai tentang peristiwa yang dituturkan oleh kepala piauwsu itu. Kalau memang benar pemuda itu menjadi seorang penjahat keji, dia akan memusuhinya dan akan diputuskannya hubungan batin yang timbul karena janji ayahnya kepada pemuda itu. Akan tetapi dia masih tidak percaya bahwa pemuda yang gagah perkasa itu berubah menjadi seorang penjahat cabul yang berhati kejam.

Tiba-tiba Siok Bi menghentikan langkahnya dan menoleh, memandang pada seorang pemuda yang bercaping bundar dan berpedang di punggungnya. Gak Bun Beng! Benarkah Gak Bun Beng pemuda itu? Telah lama dia tak bertemu dengan pemuda itu, dan ada kemiripan pemuda yang lewat tadi dengan pemuda idaman hatinya. Dia cepat membalik dan mengejar. Untuk menegur, dia belum berani karena takut kalau-kalau dia salah lihat. Pemuda yang tampan itu berjalan cepat menuju ke pintu gerbang kota raja. Siok Bi terpaksa mengikutinya terus, keluar lagi dari kota raja.

Kesangsiannya lenyap ketika dia melihat pemuda di depan itu kini berlari cepat sekali setelah tiba di luar pintu gerbang kota raja. Siapa lagi kalau bukan Gak Bun Beng yang pandai berlari cepat itu?

“Gak-taihiap…!” Dia menegur sambil mengejar, mengerahkan ginkang-nya untuk berlari cepat.

Pemuda itu berlari terus dan betapa pun Siok Bi mengerahkan kepandaiannya, tetap saja tidak mampu mengejarnya! Maka dia berseru lagi, “Gak-taihiap, aku Ang Siok Bi ingin bicara!”

Pemuda itu berhenti dan membalikkan tubuh. Setelah mereka berhadapan, kembali timbul kesangsian di hati Siok Bi. Dia meragu apakah benar-benar pemuda ini Gak Bun Beng.

“Apakah… apakah aku berhadapan dengan Gak-taihiap?” tanyanya sambil menatap wajah yang tampan itu.

Pemuda itu tersenyum. “Agaknya engkau mencari Gak Bun Beng, Nona? Aku bukan Gak Bun Beng, akan tetapi aku adalah sababatnya. Nona siapakah dan ada urusan apa mencari Gak Bun Beng?”

“Ahh… maaf, saya kira engkau Gak Bun Beng. Saya… saya… Ang Siok Bi dan saya mencarinya. Tolong beritahu di mana dia?”

“Hemm, dia tidak mudah dijumpai begitu saja, Nona. Siapakah Nona? Akan saya sampaikan kepadanya.” “Saya adalah tunangannya dari Bu-tong-pai.”
Pemuda itu mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya. “Hemmm… dari Bu-tong-pai? Baik, akan saya sampaikan kepadanya, Nona. Sebaiknya Nona pergi ke kota raja lagi, bermalam di sebuah penginapan. Malam ini dia akan datang mengunjungimu.”

Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan sebentar saja sudah berada jauh sekali. Hal ini mengejutkan hati Siok Bi karena dia maklum bahwa kepandaiannya berlari cepat tidak dapat dipakai menandingi ilmu lari cepat pemuda itu! Betapa pun juga, hatinya girang. Pemuda itu kiranya sahabat Gak Bun Beng dan kalau sudah disampaikan, tentu Gak Bun Beng akan menjumpainya. Jantungnya berdebar tegang dan dia makin tidak percaya bahwa Gak Bun Beng telah mejadi seorang yang jahat.

Malam hari itu Siok Bi menanti di dalam kamarnya dengan hati bimbang dan tegang. Kalau dia teringat betapa dia tadi mengaku sebagai tunangan Gak Bun Beng kepada pemuda itu, jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas. Bagaimana kalau pemuda tadi menyampaikannya kepada Gak Bun Beng? Tunangan? Pemuda itu dahulu menolak usul ayahnya yang hendak menjodohkan mereka. Bagaimana sekarang secara tak tahu malu dia mengaku tunangannya? Biarlah, setidaknya pengakuannya itu telah membuka rahasia hatinya terhadap Bun Beng!

Menjelang tengah malam, dia mendengar suara di jendela kamarnya. Dia memandang terbelalak dan menegur halus, “Siapa…?”

“Nona Ang Siok Bi, aku adalah Gak Bun Beng. Harap Nona suka membuka jendela,” terdengar suara dari luar, suara yang halus dan mendebarkan jantungnya.

“Tunggu sebentar!” Siok Bi membesarkan api penerangan, kemudian secara tak sadar tangannya membereskan rambutnya yang berjuntai di dahi, kemudian membuka daun jendela.

Angin menyambar dari luar memadamkan lampu penerangan sehingga keadaan kamar itu menjadi remang-remang, hanya mendapat sorotan lampu penerangan di luar kamar yang dipasang di ujung lorong. Kemudian tampak bayangan seorang pemuda bertopi caping lebar bundar melayang masuk ke dalam kamar itu.

“Eiihh, kenapa kau memadamkan lampu?”

“Ssssttttt… jangan ribut-ribut, nanti semua tamu terbangun. Nona Ang, ada apa engkau mencari aku?”

“Gak-taihiap… aku sengaja mencarimu untuk bertanya… ehhh, kami dengar penuturan para piauwsu anak murid Bu-tong-pai bahwa engkau telah melakukan perbuatan keji. Aku tidak percaya, akan tetapi aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri…”

“Hmm… Nona, katakan dulu sebelum aku menjawab. Apakah engkau cinta kepadaku?”

Ditanya demikian yang sama sekali tidak pernah disangkanya, Siok Bi menggigil dan suaranya tersendat- sendat ketika dia berkata, “Aku… aku… ahh, aku telah ditunangkan kepadamu oleh ayah…”

“Bagus, Bi-moi, aku pun cinta kepadamu. Betapa rinduku kepadamu!” Setelah berkata demikian pemuda itu sudah memeluknya.

Siok Bi hendak membantah dan menolak, akan tetapi suaranya hilang ditelan ciuman pemuda itu. Siok Bi makin terkejut dan hendak mendorong, tetapi tiba-tiba pundaknya ditotok dan dia roboh dengan lemas! Hanya kedua matanya yang terbelalak penuh kengerian ketika dia dipondong oleh pemuda itu dan dilempar ke atas pembaringan. Telinganya mendengar suara yang kini terdengar seperti suara iblis, “Kau cinta kepadaku dan aku cinta kepadamu! Apa lagi yang lebih menarik dari pada itu? Marilah kita mencurahkan cinta kasih kita, dan tentang semua perbuatanku dengan wanita lain, tak perlu kau hiraukan, manis!”

Kalau saja dia mampu bergerak, tentu Siok Bi akan melawan mati-matian, dan kalau saja dia mampu bersuara tentu dia akan menjerit-jerit dan memaki-maki. Namun apa daya, dia tidak mampu bersuara, tidak mampu bergerak sehingga dia hanya mampu menangis ketika pemuda itu mulai menggagahi dirinya. Dia pergi mencari Bun Beng untuk bertanya, untuk membuktikan sendiri apakah benar berita yang disampaikan oleh anak murid Bu-tong-pai itu. Siapa mengira, dia kini memperoleh bukti yang mutlak karena dia sendiri menjadi korban kebuasan pemuda yang tadinya dijunjung tinggi itu. Pemuda yang dirindukan dan dicinta dengan diam-diam kini mendatangkan rasa muak, benci dan dendam!

Menjelang pagi, dalam keadaan hampir pingsan, Siok Bi melihat pemuda itu mendekati jendela dan berkata, “Kalau engkau ingin terus menikmati malam-malam seperti ini dengan aku, Siok Bi yang manis, datanglah kau ke kuil di atas bukit sebelah utara kota raja dan carilah Tiong-gi-pang. Aku menantimu di sana. Sampai jumpa lagi, kekasihku!” Tubuh itu berkelebat dan sekali loncat saja lenyap dari dalam kamar.

Siok Bi hanya bisa menangis! Menangis karena dua hal yang menghancurkan hatinya, yang menghancurkan hidupnya dan harapannya. Pemuda yang diharapkan menjadi jodohnya, yang ditunggunya dengan setia sehingga dia menolak semua pinangan orang, yang diam-diam dicintanya, ternyata telah menjadi seorang yang buas dan hina, seorang penjahat cabul yang kejam sekali melebihi iblis! Dan di samping ini, dia telah menjadi korban! Dia telah menjadi seorang yang rusak kehormatannya, tidak mungkin menjadi seorang wanita yang dihormati lagi.

Dia harus membalas dendam ini! Kalau perlu dia akan mengorbankan nyawa, karena apa artinya hidup ini setelah apa yang terjadi malam tadi? Setelah totokan itu pulih dengan sendirinya, Siok Bi juga hanya dapat menangis, bahkan menangis pun tidak berani terlalu keras. Kalau terdengar orang dan ada yang bertanya, apa yang harus dijawabnya? Peristiwa mengerikan yang menimpa dirinya semalam tak akan diketahui siapa juga, kecuali dia dan Si Laknat Gak Bun Beng!

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siok Bi telah meninggalkan rumah penginapan keluar dari kota raja menuju ke utara. Menjelang senja barulah dia dapat menemukan kuil yang dimaksudkan oleh Gak Bun Beng ketika hendak meninggalkan kamarnya tadi pagi. Namun Siok Bi bersikap hati-hati ketika melihat banyak orang keluar masuk di bangunan kuil yang dikelilingi pondok-pondok kecil itu. Tentu mereka ini para anggota Tiong-gi-pang! Dia datang untuk mencari Gak Bun Beng dan untuk membunuhnya!

Kalau dia muncul begitu saja, bukan hanya usaha membalas dendam itu akan gagal, bahkan dia akan tertawan dan akan menjadi permainan pemuda iblis itu! Dia harus menahan sabar dan baru turun tangan malam nanti! Dengan pikiran ini Siok Bi bersembunyi di dalam hutan, menanti datangnya malam. Dia harus selalu menekan hatinya untuk tidak menangis terus. Setiap kali teringat akan mala petaka yang menimpa dirinya, ingin dia menjerit-jerit dan menangis.

Malam itu sunyi sekali di luar Kuil Tiong-gi-pang, karena memang kuil itu berada di dalam hutan, tidak mempunyai tetangga. Para anggota ying sudah lelah karena siang tadi bekerja atau berlatih silat, kini sudah beristirahat di dalam pondok-pondok kecil yang dibangun di sekeliling kuil. Hanya ada beberapa orang penjaga yang meronda secara bergilir untuk menjaga keselamatan dan keamanan kuil mereka.

Sesosok bayangan berkelebat dan menyelinap di bawah bayangan pohon yang gelap. Bayangan ini adalah Ang Siok Bi yang berhasil melompati pagar yang mengelilingi tempat itu. Dia ingin memasuki kuil dengan diam-diam, mencari dan membunuh Gak Bun Beng, atau kalau gagal, terbunuh. Akan tetapi, ketika dia menyelinap ke dalam kuil melalui sebuah pintu samping yang terbuka dan tiba di ruangan depan, tiba-tiba ada suara menegurnya, “Siapa?”

Tiga orang penjaga muncul dengan tiba-tiba, mengejutkan hati Siok Bi, mereka itu adalah dua orang berpedang dan seorang bersenjata tongkat. Ketika melihat bahwa orang tak terkenal yang berkelebat masuk itu adalah seorang gadis cantik, tiga orang penjaga itu terbelalak heran dan tidak mau sembarangan turun tangan menyerang. Akan tetapi Siok Bi yang mengira bahwa mereka itu tentulah anak buah Gak Bun Beng, sudah mencabut pedangnya dan menerjang tanpa banyak cakap lagi. Dia harus merobohkan mereka ini sebelum yang lain-lain datang!

“Trang-trang… aihhhh…!”

Tiga orang itu terkejut, sedapat mungkin menangkis, akan tetapi gerakan Siok Bi yang lincah dan serangannya yang tak tersangka-sangka itu terlalu lihai bagi mereka. Dua orang terluka lengannya dan seorang lagi terluka dadanya oleh sambaran pedang puteri ketua Bu-tong-pai yang perkasa ini.

Akan tetapi teriakan mereka mendatangkan tujuh orang penjaga lainnya. Melihat ini, dengan gemas Siok Bi sudah menggerakkan pedangnya mengamuk sambil berteriak marah, “Gak Bun Beng manusia busuk! Kiranya engkau pengecut, mengandalkan banyak anak buahmu! Keluarlah kalau kau laki-laki, kita mengadu nyawa!”

Mendengar seruan ini, penjaga terheran dan mereka menahan senjata sambil melompat mundur, terdengar bentakan nyaring, “Tahan senjata!”

Ang Siok Bi juga menahan pedangnya ketika melihat munculnya seorang dara yang amat cantik dan gagah. Dara ini bukan lain adalah Milana, yang tadi terkejut mendengar suara ribut-ribut dan keluar dari kamarnya. Kebetulan sekali dia mendengar disebutnya nama Gak Bun Beng yang ditantang oleh wanita muda yang mengamuk itu, maka dia cepat menghentikan pertandingan.

Sejenak dua orang wanita muda itu saling berpandangan. Siok Bi masih memandang marah karena menduga bahwa tentu wanita cantik itu kaki tangan Gak Bun Beng pula, sedangkan Milana menduga-duga siapa wanita yang agaknya memusuhi Gak Bun Beng itu, juga dia terheran-heran mengapa wanita itu mencari Bun Beng di kuil Tiong-gi-pang.

“Siapakah engkau? Mengapa engkau mengacau Tiong-gi-pang?” tanyanya.

Para anak buah Tiong-gi-pang sudah berkumpul dan tiga orang yang terluka itu cepat ditolong dan luka mereka diobati dan dibalut. Dua di antara mereka terpaksa membuka baju agar luka di tubuh mereka dapat dibalut.

Siok Bi yang sudah nekat melintangkan pedangnya di depan dada sambil menjawab, “Aku Ang Siok Bi, datang untuk menantang ketua kalian bertanding sampai seorang di antara kami tewas. Akan tetapi kalau para anggota dan kaki tangannya mau ikut maju aku tidak takut!”

“Hemmm, siapa mencari aku?” Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah empat orang anggota Tiong-gi-pang yang menggotong Sai-cu Lo-mo yang lumpuh.

Begitulah ketua ini kalau menyambut datangnya orang asing atau tamu, duduk di atas papan yang digotong empat orang anak buahnya. Untuk keperluan sehari-hari, dia bergerak mengandalkan kedua tangannya saja yang dapat dia pergunakan sebagai pengganti kedua kaki, berjalan dengan tubuh terangkat sedikit ke belakang!

Siok Bi menoleh ke kiri dan memandang kakek itu dengan bingung. “Aku tidak mencari engkau, aku mencari Ketua Tiong-gi-pang…”

“Hemm, Nona. Akulah Ketua Tiong-gi-pang.”

Siok Bi makin terkejut, lalu menduga bahwa tentu Gak Bun Beng yang tinggal disini bukan ketuanya. Dengan suara tidak sabar Milana bertanya, “Sebenarnya apakah kehendakmu dan siapa yang kau cari?” Dengan agak bingung Siok Bi menjawab, “Aku mencari Si Bedebah Gak Bun Beng. Suruh dia keluar!”
Milana makin tertarik. Tentu ada sesuatu terjadi antara gadis itu dengan Bun Beng. Akan tetapi mengapa mencari Bun Beng di sini?

“Ada urusan apakah engkau mencari Gak Bun Beng?” dia masih bertanya memancing. “Kau tak perlu tahu. Pendeknya aku mencari Gak Bun Beng untuk kubunuh!”
Milana menyarungkan pedang yang tadi sudah dicabutnya. Melihat ini, Siok Bi menjadi heran.

“Engkau salah alamat,” kata Milana. “Gak Bun Beng tidak berada di sini, juga kami bukanlah sahabatnya. Tiong-gi-pang tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Gak Bun Beng. Marilah kita bicara di dalam. Kalau engkau mempunyai penasaran terhadap Gak Bun Beng, agaknya aku akan dapat membantumu.”

Siok Bi makin terheran. Melihat sikap dara jelita itu, sikap Ketua Tiong-gi-pang yang lumpuh, sikap para anak buah Tiong-gi-pang yang sudah mundur dan agaknya tidak memperlihatkan sikap bermusuh kepadanya, dia juga menyarungkan pedang di sarung pedang yang kini tergantung di punggungnya. Akan tetapi dia masih ragu-ragu melihat Milana membuka sebuah pintu batu di atas anak tangga.

Milana yang sudah berada di depan pintu itu menoleh dan berkata, “Engkau demikian gagah berani sudah menyerbu Tiong-gi-pang, apakah sekarang menjadi takut untuk memenuhi undanganku masuk ke dalam dan bicara?”

Sai-cu Lo-mo yang sudah bersedekap penuh rasa duka itu berkata, “Masuklah, Nona. Kami bukanlah orang-orang jahat. Kalau kami berniat buruk, perlukah memancingmu masuk?”

Siok Bi mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada Sai-cu Lo-mo, kemudian dia menudingkan telunjuknya kepada Ketua Tiong-gi-pang itu dan membentak, “Aku pernah melihat engkau. Bukankah engkau seorang tokoh Thian-liong-pang?”

Sai-cu Lo-mo menghela napas, kemudian menjawab, “Dugaanmu benar, Nona. Dan Nona adalah puteri Ketua Bu-tong-pai, bukan?”

Siok Bi terkejut. Dulu, ketika Thian-liong-pang mengadakan pertemuan besar di puncak Gunung Ciung-lai- san di Se-cuan, dia ikut ayahnya menghadiri pertemuan besar itu. Ayahnya, Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, pernah diculik oleh Thian-liong-pang, sehingga perkumpulan itu dapat dikatakan adalah musuhnya!

“Jadi kalian… kalian ini… anggota-anggota Thian-liong-pang…?” Di samping kekagetan dan kemarahannya, juga ada rasa gentar di hati Siok Bi karena dia maklum betapa lihainya orang-orang Thian-liong-pang.

“Bukan,” jawab Milana. “Thian-liong-pang sudah tidak ada lagi dan engkau menjadi tamu dari Tiong-gi- pang.”

“Dan kau… sekarang aku mengenalmu! Engkau adalah puteri cantik dari Ketua Thian-liong-pang!” Siok Bi berseru lagi, makin terkejut karena dia tahu bahwa puteri Ketua Thian-liong-pang memiliki ilmu kepandaian hebat.

Milana tersenyum, “Kalau perkumpulannya tidak ada, ketuanya pun tentu saja tidak ada. Marilah, apakah engkau masih tidak berani memenuhi undanganku? Di dalam kita bicara tentang manusia bernama Gak Bun Beng itu.”

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nyaring, “Gak Bun Beng manusia hina. Hendak lari ke mana engkau?”

Dari jendela melayang masuk sesosok bayangan yang ternyata dia adalah seorang gadis cantik pula, sebaya dengan Siok Bi dan Milana dengan sebatang pedang di tangannya! Gadis ini sejenak bingung memandang Milana, Siok Bi, Sai-cu Lo-mo dan para anggota Tiong-gi-pang, kemudian menoleh ke sana- sini, pandang matanya mencari-cari, kemudian dia membentak, “Hayo suruh Si jahanam keparat Gak Bun Beng keluar untuk menerima kematiannya!”

Sai-cu Lo-mo menutup muka dengan kedua tangan yang tadi disedekapkan sambil mengeluh, “Ya Tuhan… lagi-lagi Bun Beng…?”

Milana juga merasa tertusuk hatinya. Lagi-lagi ada orang yang mencari Gak Bun Beng untuk membunuhnya, dan orang ini juga wanita muda cantik jelita! “Gak Bun Beng tidak ada di sini mengapa engkau mencarinya ke sini?” Dia menegur kepada gadis cantik yang baru datang itu.

Gadis itu mengelebatkan pedangnya dan gaya gerakannya menunjukkan bahwa dia memiliki ilmu pedang yang hebat juga! “Bohong! Baru saja dia lari dan masuk ke sini! Hayo suruh dia keluar, kalau tidak, terpaksa aku akan mengobrak-abrik tempat ini!”

Milana terkejut. “Dia di sini?”

Sai-cu Lo-mo juga terkejut dan cepat memberi perintah kepada anak buahnya. “Cari bocah setan itu sampai dapat! Periksa semua tempat!”

Dengan cepat mereka semua bergerak pergi, bahkan Sai-cu Lo-mo sendiri sudah meloncat dari atas papan yang dipikul empat orang anggotanya, tubuhnya yang lumpuh kakinya itu masih dapat bergerak cepat sekali. Milana juga sudah mencabut pedangnya dan berkelebat lenyap. Tinggal Siok Bi dan gadis itu saling pandang dengan bingung.

Siok Bi yang berkata, “Sobat, keadaan kita sama. Aku pun mencari manusia keparat Gak Bun Beng di sini, akan tetapi kita berdua salah alamat. Kurasa jahanam itu tidak berada di sini.”

“Tak mungkin! Tadi dia kuserang, kukejar dan lenyap di tempat ini!” Gadis itu masih penasaran.

“Akan tetapi orang-orang Tiong-gi-pang ini bukanlah sahabat Gak Bun Beng. Lihat saja mereka semua marah dan mencari Si Laknat itu,” bantah Siok Bi.

Gadis itu menarik napas panjang dan mengangguk. “Akan tetapi…”

“Biarlah kita menanti sampai mereka kembali. Ketahuilah bahwa para pimpinan Tiong-gi-pang ini adalah bekas tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang lihai.”

Mendengar ini, gadis ini terkejut juga, dan berdiri dengan bingung. Melihat betapa Siok Bi tidak menghunus pedang, ia merasa kikuk dan segera ia menyarungkan pedangnya pula.

Tak lama kemudian, Milana datang lagi ke tempat itu. Gerakannya membuat Siok Bi dan gadis itu terkejut dan kagum. Seperti gerakan iblis saja, hanya tampak berkelebat dan tahu-tahu telah berada di situ. Mengertilah mereka berdua bahwa mereka bukan tandingan dara cantik jelita ini!

Milana memandang kepada dara yang baru tiba. “Benarkah katamu tadi bahwa Gak Bun Beng lari, dan lenyap di tempat ini?”

“Aku tidak bohong. Kalau tidak, apa perlunya aku masuk ke sini dan mengejarnya?”

Milana mengangguk dan menarik napas panjang. “Kami mencari tanpa hasil dan hal ini memang tidak aneh. Kepandaian Gak Bun Beng tinggi bukan main, dan andai kata kita dapat menemukannya aku masih sangsi apakah kita semua dapat melawannya.”

“Aku tidak takut!” Siok Bi berseru.

“Aku akan mengadu nyawa dengannya!” Gadis itu pun berseru.

Milana mengerutkan alisnya. “Mari kita bicara di dalam. Agaknya aku dapat menduga apa yang telah terjadi dengan kalian.”

Ketika gadis yang baru muncul itu ragu-ragu, Milana melanjutkan setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang lain, “Bukankah kalian berdua menjadi korban Gak Bun Beng yang telah menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa)?”

Seketika wajah kedua orang dara itu menjadi merah sekali. Milana menghela napas panjang. “Ketahuilah, aku bukan sahabat Gak Bun Beng dan kalau benar seperti yang kuduga bahwa kalian menjadi korban kebiadabannya, aku bersedia membantu kalian mencarinya dan menghadapinya!”

Siok Bi sudah percaya kepada Milana, maka melihat gadis yang baru datang itu ragu-ragu, dia berkata, “Sebaiknya kita bicara dengan dia, karena dia ini adalah puteri bekas Ketua Thian-liong-pang.”

Gadis itu kelihatan terkejut sekali. “Apa…?” Dia menatap wajah Milana dengan tajam. “Kau… kau… Puteri Milana cucu Kaisar? Engkau puteri dari Panglima Wanita Nirahai dan… dan Pendekar Super Sakti?”

Milana terkejut juga melihat betapa gadis itu mengenal ayah bundanya. Dia kemudian mengangguk dan bertanya, “Siapakah engkau?”

Gadis itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. “Harap paduka sudi memaafkan saya yang bersikap kurang hormat…”

Siok Bi juga terkejut sekali mendengar itu. Kiranya Ketua Thian-liong-pang adalah Puteri Nirahai? Dia memang sudah mendengar kabar angin tentang ini, akan tetapi ayahnya sendiri masih kurang percaya. Dan ternyata bahwa selain puteri Kaisar, juga Ketua Thian-liong-pang yang pernah menimbulkan geger itu adalah isteri Pendekar Super Sakti! Dia tidak berlutut seperti gadis itu, akan tetapi dia pun tertunduk dan memandang Milana dengan segan dan hormat.

Milana merangkul gadis itu dan mengangkatnya bangkit berdiri. “Tak perlu seperti itu. Aku gadis biasa saja, gadis kang-ouw seperti kalian. Siapakah namamu?”

“Saya Lu Kim Bwee, dari Kongkong (Kakek) yang pernah menjadi pengawal Kaisar, saya mendengar tentang ibu Paduka…”

“Hushh, Enci Kim Bwee, jangan banyak sungkan. Jangan pakai paduka-paduka segala kepadaku. Anggap saja kita ini sahabat-sahabat yang senasib. Marilah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, mari kita masuk ke dalam dan kita bicara tentang manusia jahanam Gak Bun Beng ini.”

Ketiganya memasuki kamar Milana, melalui anak tangga dan daun pintu batu yang tebal itu. Setelah pintu ditutup kembali, dua orang gadis itu tercengang kagum melihat betapa kamar di balik pintu yang menyeramkan itu amat indah dan bersih.

“Ini kamarku sendiri,” kata Milana. “Aku pun baru dua bulan berada di sini. Duduklah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, panggil saja aku Milana.”

Dua orang gadis itu duduk di atas kursi yang indah, kemudian mereka saling pandang. Tidak ada keraguan lagi di hati mereka terhadap dara jelita cucu Kaisar ini.

Milana kembali tersenyum kepada mereka, “Sungguh mengherankan sekali. Enci berdua muncul dalam waktu yang sama dan dengan niat yang sama pula, yaitu mencari Gak Bun Beng, untuk membunuhnya! Ketahuilah bahwa aku pun membenci Gak Bun Beng dan aku berjanji akan minta bantuan orang-orang Tiong-gi-pang untuk mencari jejak manusia itu. Kalau sudah dapat ditemukan, biarlah aku akan membantu kalian menghadapinya. Untuk kerja sama ini, sebaiknya jika kita mengetahui keadaan masing-masing. Nah, kini kuminta Enci Siok Bi suka menceritakan pengalamannya, mengapa memusuhi dia, kemudian Enci Kim Bwe, dan kemudian aku sendiri akan menceritakan pengalamanku.”

Karena di situ hanya ada mereka bertiga, ditanya begini Siok Bi menangis. Milana dan Kim Bwee yang melihat Siok Bi menangis, tak dapat menahan kesedihan hati masing-masing dan mereka pun menitikkan air mata, teringat akan nasib buruk yang menimpa mereka.

Sambil terisak Siok Bi menceritakan mala petaka yang menimpa dirinya malam tadi di rumah penginapan di kota raja. Betapa dia didatangi Gak Bun Beng dalam kamarnya dan ditotok tak berdaya kemudian diperkosa. Betapa kemudian dia mencarinya ke Tiong-gi-pang, karena Gak Bun Beng menyebut nama perkumpulan ini sebagai tempat tinggalnya. Setelah selesai bercerita dia menangis sesenggukan.

Milana mengerutkan alisnya dan mencela, “Enci Siok Bi, mengapa engkau begitu mudah saja membukakan jendela kamar di waktu malam hari memenuhi permintaan seorang laki-laki?”

Ang Siok Bi teriak. “Aih… harap jangan salah sangka adik Milana… ketahuilah bahwa semenjak ayah ditolong oleh Gak Bun Beng ketika… ketika dahulu berada di dalam tahanan… Thian-liong-pang… ayah mengharapkan agar aku menjadi jodoh orang itu. Dan budi itu tak terlupa oleh kami sehingga aku sudah menganggap diriku sebagai tunangannya, sungguh pun belum resmi dan hanya menjadi niat sepihak. Tentu saja ketika mendengar suaranya aku tidak ragu-ragu untuk membiarkan dia masuk. Akan tetapi siapa kira… dia… dia menjadi iblis…!”

“Keparat…!” Milana menampar meja di depannya sehingga meja itu tergetar. Memang dia marah sekali mendengar penuturan itu, marah kepada Bun Beng.

“Dan bagaimana dengan engkau, Enci Kim Bwee? Apakah kau juga menjadi korban pemuda biadab itu?” Milana menoleh kepada Lu Kim Bwee.

Sebelum menjawab, Kim Bwee mengusap air matanya, kemudian mengangguk. “Sudah agak lama terjadinya, sudah satu bulan lebih, ketika aku berada di pondok kakekku….”

Dia lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia dan kakeknya kedatangan Bun Beng yang tadinya bersikap mencurigakan, mengintai dari atas genteng, kemudian betapa pemuda itu membohongi mereka dengan cerita bahwa ada suami isteri terbunuh setelah isterinya diperkosa di dekat telaga. Betapa kakeknya membantu pemuda itu menyelidiki di sekitar telaga dan kiranya pemuda itu hanya membohong untuk memancing kakeknya keluar dari pondok, kemudian diam-diam pemuda itu kembali ke pondok dan memperkosanya!

“Baru aku dan kong-kong tahu bahwa pembunuh suami isteri itu adalah dia sendiri. Aku tak mampu melawan karena dia telah menotokku secara tiba-tiba…” Kembali Kim Bwee mengusap air matanya. “Sejak hari itu, aku pergi meninggalkan pondok kakek untuk mencari jahanam itu. Tadi aku bertemu dengannya di jalan. Aku menyerangnya, dan dia lari. Ketika kukejar, dia lari ke arah kuil ini dan lenyap.”

“Hemmm, benarkah yang kau serang dan kejar tadi Gak Bun Beng?”

“Cuaca agak gelap, aku tidak dapat melihat mukanya dengan jelas. Akan tetapi siapa lagi pemuda memakai caping lebar itu kalau bukan dia? Pula, dia mentertawakan aku dan dia yang memperkenalkan diri ketika kami bertemu di jalan.”

“Tidak salah lagi, tentu dia!” Siok Bi berseru penuh kemarahan. “Suami isteri yang dibunuh itu setelah isterinya diperkosa di pinggir telaga, memang menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng. Hal ini aku mendengar juga dari murid ayah yang menjadi piauwsu.” Dia lalu menceritakan kembali cerita yang didengarnya dari para piauwsu yang bertemu dengan Bun Beng di dekat telaga.

Mendengar semua ini, dapat dibayangkan betapa panas rasa hati Milana. Laki-laki yang dicintanya, pilihan hatinya, bahkan yang oleh ayahnya dijodohkan dengan dia, kiranya adalah seorang laki-laki jahat sekali. Terhapus sama sekali rasa cinta kasihnya, kini terganti oleh rasa benci yang seperti api bernyala-nyala membakar hatinya. Sambil menggenggam kedua tangan, dia berkata, “Kita harus mencari jahanam itu, akan kukerahkan semua anggota Tiong-gi-pang untuk menyelidiki, kalau kita sudah ketahui tempatnya, kita serang dan bunuh dia.”

Tentu saja Siok Bi dan Kim Bwee menjadi girang. Mendapat bantuan seorang seperti Milana, cucu Kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, tentu saja amat membesarkan hati. Mereka tahu akan kelihaian Gak Bun Beng dan tadinya mereka pun sudah menduga bahwa andai kata bertemu dengan pemuda itu, tentu mereka yang akan roboh! Kini harapan mereka untuk membalas dendam kepada pria yang menyeret mereka ke dalam jurang kehinaan itu timbul kembali.

********************

Telah hampir setengah bulan Siok Bi dan Kim Bwee tinggal di markas Tiong-gi-pang dan menunggu hasil para anak buah Tiong-gi-pang yang disebar oleh Milana dan Sai-cu Lo-mo untuk mencari jejak Gak Bun Beng.

Pada suatu pagi, dua orang anggota Tiong-gi-pang datang menghadap. Kedua orang ini terluka, dada dan perut mereka tergores-gores pedang, namun penyerang mereka agaknya hanya ingin menyiksa saja, tidak membunuh sehingga yang pecah-pecah hanya kulit mereka saja. Tentu saja kedua orang itu menderita nyeri yang hebat.

Sai-cu Lo-mo cepat memeriksa mereka dan memberi obat, sedangkan kedua orang itu bercerita bahwa mereka telah bertemu dengan Gak Bun Beng.

“Di mana Si Jahanam itu?” Kim Bwee bertanya penuh nafsu.

“Kami sedang menyelidiki ke selatan, dekat kota Gin-coa-thung malam tadi karena kami mendengar bahwa di sana tampak seorang laki-laki asing yang bertopi lebar. Tiba-tiba muncul Gak Bun Beng. Dia seorang pemuda tampan dengan topi caping lebar. Dia menghadang kami dan mengaku bahwa dia adalah Gak Bun Beng. Kami mencabut senjata, akan tetapi dengan sekali tangkis saja senjata kami patah semua dan pedangnya yang luar biasa itu berkelebat beberapa kali. Kami berusaha melawan, akan tetapi percuma dan pakaian kami robek-robek semua, perut dan dada kami mengeluarkan darah. Kemudian dia berkata bahwa dia merasa kesepian dan rindu kepada Nona bertiga!”

Hampir saja Milana menampar muka anak buah Tiong-gi-pang itu kalau dia tidak ingat bahwa orang itu hanya menceritakan pengalamannya yang tidak menyenangkan.

“Iblis busuk Gak Bun Beng!” Siok Bi memaki marah. “Kemudian bagaimana? Di mana dia?”
Milana mendesak orang yang bercerita itu, yang kelihatan takut karena dia harus menceritakan hal yang menghina tiga orang nona pendekar itu.

“Dia berpesan agar saya menyampaikan kepada Sam-wi Siocia (Nona Bertiga) bahwa hari ini dia menanti sam-wi di dusun Gin-coa-thung, di sebelah selatan, di kaki bukit.”

Mendengar ini, seperti dikomando saja tiga orang itu sudah meloncat keluar dari ruangan itu dan terus mereka berlari keluar dari kuil menuju ke selatan. Melihat ini Sai-cu Lo-mo menggeleng-geleng kepalanya.

Kakek yang sudah lumpuh kedua kakinya ini berduka sekali. Dia memanggil empat orang anak buahnya dan minta dipanggul dan dibawa menuju ke Gin-coa-thung.

Gin-coa-thung adalah sebuah kota kecil, lebih tepat disebut dusun di kaki bukit sebelah utara kota raja. Siang itu Gak Bun Beng keluar dari dusun di mana malam tadi dia bermalam, untuk melanjutkan perjalanannya ke selatan, menuju kota raja. Dia telah melakukan perjalanan jauh sekali. Setelah dengan susah payah dia menemukan Pulau Neraka dan dengan hati girang dan lega melihat Milana dalam keadaan selamat, juga Kwi Hong, dia menjadi terheran-heran dan terkejut karena Milana menyerangnya.

Kemudian, setelah dia melihat dua orang kakek sakti, Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, keduanya tewas dalam pertandingan antara mereka yang amat dahsyat, pemuda ini meninggalkan Pulau Neraka. Karena dia ingin mencari Milana yang melarikan diri dan pergi bersama Kwi Hong, dia menuju ke kota raja dan pada siang hari itu dia meninggalkan Gin-coa-thung menuju ke selatan, ke kota raja yang tidak jauh lagi letaknya dari situ.

Tiba-tiba Bun Beng berhenti melangkah ketika telinganya menangkap suara teriakan dari belakang. Dia membalikkan tubuhnya dan wajahnya berseri ketika melihat Milana bersama dua orang dara lain berlari datang!

“Milana….!”

Dia berseru girang, akan tetapi merasa heran dan khawatir ketika tiga orang gadis itu sudah tiba di depannya dia melihat bahwa dua orang gadis yang lain itu adalah Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee! Tentu saja melihat Kim Bwee, timbul kekhawatirannya karena dia disangka memperkosa gadis ini! Dan dia menjadi lebih khawatir ketika tiba-tiba tiga orang gadis itu mencabut pedang dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan. Dia tidak mempedulikan pandang mata Siok Bi dan Kim Bwee, akan tetapi melihat betapa Milana memandangnya penuh kebencian, dia benar-benar merasa cemas.

“Milana, sungguh tak kusangka dapat bertemu denganmu di sini! Kau hendak ke mana….?” “Hendak membunuhmu!” Milana membentak dan pedang di tangannya tergetar.
“Milana…. apa…. apa kesalahanku….?”

“Laki-laki pengecut! Kau hendak menyangkal apa yang telah kau lakukan terhadap diriku?!” Kim Bwee membentak dan pedangnya menyambar dahsyat.

“Singgg… wuuuttt!”

Bun Beng melangkah mundur kemudian memiringkan tubuhnya sehingga pedang itu menyambar lewat. “Nona Lu Kim Bwee, aku tidak…”
“Siuuuttt…!”

Pedang di tangan Siok Bi menusuk dari samping dan disusul bentakan dara ini. “Kau masih hendak menyangkal bahwa engkau telah menghinaku?!”

Kembali Bun Beng mengelak. “Nona Ang Siok Bi, siapa menghinamu…?”

Tiga orang dara itu mulai menyerang, tidak memberi kesempatan kepada Bun Beng untuk bicara lagi. Tentu saja mereka tidak lagi membutuhkan penjelasan. Kesalahan pemuda ini terhadap mereka sudah cukup jelas. Bagi Siok Bi, Bun Beng adalah orang yang telah memperkosanya, demikian pula bagi Kim Bwee, maka tidak perlu banyak cakap lagi.

Bagi Milana, pemuda ini amat jahat. Selain pernah merayunya untuk mengajaknya berjinah, juga pemuda yang ditunangkan dengannya ini dengan dia berlaku tidak setia, dan bahkan kini telah menjadi seorang penjahat cabul tukang memperkosa. Betapa mungkin dia dapat mengampuni?

“Gak Bun Beng, hari ini kalau bukan kau yang mampus, akulah yang akan tewas di tanganmu!” Milana membentak dan pedangnya berkelebat menyambar-nyambar ganas. Di antara tiga orang dara itu memang ilmu kepandaian Milana yang paling tinggi.

“Milana… tunggu…!”

“Tak usah banyak cakap lagi!” Milana membentak dan kembali menerjang.

Bun Beng menjadi bingung sekali. Dia tahu bahwa ada orang memperkosa Kim Bwee, di dekat telaga dahulu itu, orang yang agaknya sengaja menggunakan namanya. Akan tetapi dia tidak tahu apalagi yang menyebabkan Siok Bi ikut-ikut membencinya dan sama sekali tidak dapat menduga mengapa Milana yang dicintanya dan yang dia tahu juga mencintanya itu kini berubah menjadi seperti harimau ganas yang haus darah!

Karena tiga orang dara itu menyerangnya mati-matian, Bun Beng menggunakan kelincahannya untuk mengelak, kemudian pada saat pedang Kim Bwee dan Siok Bi menyambar dari kanan kiri, dia mendahului menotok pergelangan tangan dua orang itu. Dua orang gadis itu menjerit, tangan mereka lumpuh dan pedang mereka terlepas dari pegangan. Pada saat itu, Milana sudah menerjang lagi.

“Milana, dengar dulu! Aku tidak akan melawanmu, aku tidak akan membela diri dan rela kau bunuh kalau aku bersalah!”

Pada saat itu pedang Milana meluncur ke arah dada Bun Beng. Pemuda ini sengaja tidak mengelak karena dia masih tidak percaya bahwa gadis itu benar-benar hendak membunuhnya.

“Craaattt!”

Milana menjerit dan Bun Beng mengeluh. Bukan mengeluh karena luka pedang, tetapi mengeluh karena benar-benar gadis itu tega hendak membunuhnya. Ketika pedang tadi benar-benar menancap di dadanya, pemuda ini secara otomatis menggerakkan sinkang-nya sehingga pedang itu tertahan masuk setengah jengkal saja dalamnya.

Bun Beng masih menaruh harapan bahwa Milana menyesal ketika mendengar gadis itu menjerit. Akan tetapi begitu Milana mencabut pedangnya dan darah muncrat dari luka di dada, gadis itu langsung menyerang lagi, kini pedangnya membabat ke arah leher Bun Beng.

“Aihhh… Milana…!” Bun Beng terpaksa mengelak dengan hati penuh kecewa. Dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu benar-benar tega untuk membunuhnya. Dia lalu menggerakkan kakinya dan meloncat jauh kemudian melarikan diri.

“Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau?!”

Milana mengejar, diikuti oleh Siok Bi dan Kim Bwee yang sudah mengambil pedang mereka dan ikut mengejar pula. Akan tetapi dengan beberapa loncatan saja bayangan Bun Beng sudah menghilang di dalam hutan di utara dan lenyap di pegunungan yang penuh hutan lebat itu.

Milana, Siok Bi, dan Kim Bwee melakukan pengejaran dan mencari-cari, namun tidak berhasil. Bun Beng lenyap tanpa meninggalkan jejak. Karena hari telah menjelang senja, terpaksa tiga orang dara ini kembali ke kuil Tong-gi-pang dengan hati kecewa sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali seorang anggota Tiong-gi-pang yang berjaga di luar melaporkan bahwa ada dua orang tamu datang minta bicara dengan nona Milana. Mendengar ini, Milana segera keluar dan terkejutlah dia ketika melihat bahwa yang datang adalah Wan Keng In dan seorang kakek yang mukanya bopeng dan rusak sehingga kelihatan menakutkan sekali.

Kakek itu berpakaian seperti seorang pendeta dengan jubah kuning yang lebar, kepalanya ditutup sebuah topi kuning pula, matanya besar sebelah dan hidungnya melesak ke dalam, mulutnya miring. Muka yang amat buruk, bahkan kulit muka itu seperti bekas digerogoti tikus! Wan Keng In seperti biasa berpakaian amat indah dan mewah sehingga kelihatan makin tampan. Pedang Lam-mo-kiam tergantung di punggungnya. Ada pun kakek menakutkan itu memegang sebatang tongkat berkepala ukiran naga.

“Kau…?” Milana menegur keras. “Mau apa kau ke sini?”

Wan Keng In tersenyum dan cepat-cepat dia memberi hormat kepada Milana. “Harap kau suka maafkan kepadaku, Milana. Aku mendengar bahwa engkau berada di Tiong-gi-pang maka aku cepat datang ke sini untuk menemuimu dan bicara denganmu.”

“Mau bicara apa? Tidak ada urusan apa-apa di antara kita!”

“Aihh, Milana, harap kau dapat maafkan segala kesalahanku dahulu. Aku minta maaf kepadamu dan aku telah sadar akan semua kesalahanku dahulu kepadamu. Aku tahu bahwa cinta tidak dapat dipaksakan, maka aku tidak menyesal bahwa engkau menolak cintaku. Memang sekarang tidak perlu lagi bicara tentang itu karena kita telah menjadi saudara tiri.”

“Apa maksudmu?”

“Aihh, apakah engkau belum tahu? Ibuku kini telah berada di Pulau Es, menjadi isteri ayahmu. Mereka bertiga di Pulau Es. Ayahmu dan ibumu, juga ibuku yang sekarang menjadi isteri Pendekar Super Sakti. Dengan demikian, bukankah kita ini adalah saudara-saudara tiri? Karena itu, engkau harus dapat memaafkan aku, Milana. Ketahuilah, cintaku kepadamu telah menjadi cinta seorang kakak, dan aku sungguh tidak rela membiarkan engkau adikku dipermainkan dan dihina oleh seorang manusia busuk seperti Gak Bun Beng!”

“Engkau tahu akan hal itu?”

“Tentu saja! Apa aku buta? Aku tahu betapa di Pulau Neraka dia mempermainkan Kwi Hong, dia hampir pula menyeretmu. Dan ketika aku melakukan perjalanan, banyak aku mendengar akan perbuatannya yang keji. Bahkan aku mendengar pula betapa kemarin engkau bersama dua orang nona menyerangnya tanpa hasil.”

“Aku telah melukai dadanya!”

“Aku pun tahu akan hal itu, karena aku tahu di mana dia sekarang bersembunyi.” “Apa?! Kau tahu? Di mana?”
“Karena itu pulalah aku datang ke sini, Milana. Pertama, untuk menemuimu dan kedua untuk mengajakmu bersama-sama mengepung dan membunuh Bun Beng Si Laknat itu. Kau jangan khawatir, ini adalah seorang sahabat baikku yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sudah berjanji untuk membantu kita menghadapi Bun Beng.”

“Siancai…!” Si Kakek Muka Buruk itu menjura, “Biar pun masih muda, Gak Bun Beng telah melakukan banyak kejahatan dan penghinaan kepada para wanita. Dia pantas dibasmi. Harap Nona tidak khawatir, lohu (aku si tua) Koai-san-jin (Kakek Gunung Aneh) akan membantumu menghadapi orang jahat.”

Milana menjadi girang. Dia memang maklum bahwa biar pun dibantu Siok Bi dan Kim Bwee, dia tidak akan mampu mengalahkan Bun Beng. Akan tetapi kalau dibantu oleh Keng In yang kepandaiannya jauh melebihinya, apa lagi ada bantuan kakek yang seperti setan ini, agaknya Bun Beng yang jahat itu akan dapat dikalahkan.

“Baiklah, Wan Keng In. Aku percaya kepadamu dan betapa pun juga, memang ibumu adalah adik angkat ayahku dan kalau benar sekarang menjadi isteri ayahku, berarti kita jadi saudara. Tunggu sebentar, aku akan memanggil Siok Bi dan Kim Bwee.”

Tak lama kemudian, Milana keluar lagi bersama Siok Bi, Kim Bwee, dan Sai-cu Lo-mo yang digotong empat orang anak buahnya. Milana segera memperkenalkan Keng In dan Koai-san-jin kepada dua orang gadis itu dan Ketua Tiong-gi-pang. Karena Keng In seorang pemuda tampan yang pandai bersikap halus dan ramah, dua orang dara itu tersipu malu dan merasa suka dan percaya kepada Keng In. Akan tetapi Siok Bi memandang dengan lirikan tajam karena dia merasa seperti pernah bertemu dengan pemuda ini.

“Kalau tidak salah, kita pernah saling berjumpa, Wan-enghiong,” akhirnya dia berkata meragu.

Keng In mengangkat kedua alisnya. “Aihhh, sungguh saya kurang beruntung tidak pernah bertemu dengan Nona sebelumnya. Baru sekali ini kita saling bertemu. Saya kira Nona berjumpa dengan orang lain.”

“Maaf, saya telah lupa lagi.” Siok Bi berkata sambil menunduk. Tentu dia yang salah lihat, dan setelah dia ingat-ingat lagi, memang agaknya belum pernah dia bertemu dengan pemuda tampan yang berpakaian indah dan bersikap halus ini.

Sai-cu Lo-mo memandang mereka dengan mata bersinar tajam. Setelah berkenalan dan menuturkan niat mereka menyerbu Gak Bun Beng yang tempat sembunyinya telah diketahui oleh Keng In, kakek itu berkata, “Sekali ini aku akan ikut sendiri, Nona Milana. Aku ingin melihat cucu keponakan yang murtad itu tewas menerima hukuman akibat perbuatannya.”

Kakek lumpuh ini meloncat turun dari atas papan, kemudian ikut pergi bersama rombongan itu dengan cara berloncatan menggunakan kedua tangannya. Biar pun dia bergerak secara itu, namun gerakannya cukup cepat.

“Ahhh, Pangcu. Tak mungkin saya melihat Pangcu bergerak seperti itu. Pangcu sudah tua dan saya seorang pemuda, marilah Pangcu saya gendong saja.”

Tanpa menanti jawaban, Keng In lalu menggendong tubuh Sai-cu Lo-mo, dan biar pun dia menggendong tubuh kakek ini, tetap saja Siok Bi dan Kim Bwee yang merasa makin kagum itu harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat lari mendampingi Milana, Keng In, dan Koai-san-jin.

Di puncak bukit, di sebuah goa yang menghadap jurang yang amat dalam, Bun Beng duduk bersila. Luka di dadanya sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan luka hatinya. Berulang-ulang dia menarik napas panjang. Dia dapat menduga bahwa tiga orang gadis itu membenci dan mendendam kepadanya bukan tanpa dasar dan dia tidak dapat menyalahkan mereka.

Bun Beng tahu bahwa Kim Bwee diperkosa orang yang menggunakan namanya. Dan mungkin sekali Siok Bi mengalami hal yang sama dengan Kim Bwee. Akan tetapi apa yang terjadi dengan diri Milana? Terlampau ngeri baginya untuk membayangkan apa yang terjadi dengan diri dara yang dicintainya itu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jelas bahwa ada orang yang sengaja merusak namanya di depan gadis-gadis terutama Milana. Ada yang berusaha dengan jalan terkutuk, agar dia dibenci oleh Milana!

Semalam penuh dia tidak dapat tidur, diganggu oleh perasaan yang tertindih. Dia telah ditunangkan dengan Milana, telah diberi tugas untuk mencari Milana, Kwi Hong dan Keng In. Sekarang begitu berjumpa dengan Milana, dia telah dimusuhi dan hendak dibunuh. Milana tidak main-main, jelas berniat membunuhnya! Betapa tega hati dara itu kepadanya. Bun Beng merasa berduka sekali dan dia meragukan apakah benar Milana mencintanya! Apa artinya cinta? Kalau benar Milana dahulu itu mencintanya, mengapa kini dapat berubah menjadi benci? Andai kata benar dia melakukan kesalahan, apakah kesalahan ini dapat merubah cinta seorang menjadi benci? Kalau begitu, apa bedanya cinta dengan benci?

Bun Beng termenung kosong, memandang ke arah awan yang tergantung di depan kakinya di atas jurang yang curam itu. Sekarang pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang cinta! Mulai dia mengingat-ingat dan mencari-cari.

Bagi manusia umumnya, cinta telah dibagi-bagi menjadi beberapa macam! Cinta antara pria dan wanita, cinta antara anak dan orang tua, cinta antara sahabat, dan cinta antara manusia dengan Tuhannya! Adakah cinta yang sudah dibagi-bagi ini benar-benar cinta?

Seorang wanita, seperti Milana, menyatakan cinta kepada seorang pria seperti dia, akan tetapi cinta itu hidup selama dia dianggap baik. Sekali dia dianggap buruk, cinta itu berubah menjadi benci! Apakah ini benar cinta? Aku cinta padamu, akan tetapi kau pun harus cinta kepadaku! Aku cinta kepadamu, akan tetapi kau harus baik dan menyenangkan hatiku! Kalau kau tidak cinta kepadaku dan lari kepada orang lain, kalau kau tidak baik dan tidak menyenangkan hatiku, cintaku hilang berubah benci! Cintakah ini, ataukah hanya jual beli seperti benda yang diperjual belikan di pasar?

Orang tua mencinta anak kalau anak itu menurut, kalau anak itu berbakti, pendeknya jika anak itu menyenangkan hati orang tuanya. Jika tidak? Kalau Si Anak pemberontak, put-hauw (tidak berbakti), murtad dan tidak menyenangkan hatinya, akan tetapkah cintanya? Atau menjadi marah-marah dan anaknya dikutuk? Cintakah kalau sudah begini? Demikian pula dengan cinta sahabat. Kalau Si Sahabat menyenangkannya, menguntungkannya, baru cinta. Bagaimana kalau sababat itu tidak menyenangkannya, merugikannya? Masih adakah cinta itu? Sama saja. Ini cinta pasar, cinta jual beli, baru cinta kalau ‘ada apa-apanya’, ada tebusannya, ada imbalannya!

Bagaimana dengan cinta manusia kepada Tuhannya? Adakah ini baru cinta yang sejati? Kita bersembahyang, mohon berkah, mohon ampun, mohon bimbingan, mohon perlindungan? Segala macam permohonan atau permintaan ini, segala macam tuntunan ini! Cintakah itu? Betul-betulkah hati kita penuh dengan cahaya cinta kasih di saat kita bersembahyang kepada Tuhan? Betul-betulkah kita teringat dengan penuh kasih kepada Tuhan, ataukah kita hanya ingat kepada kebutuhan sendiri akan berkah, akan pengampunan, dan lain-lain itu? Kita mencinta Tuhan hanya karena ingin imbalannya, yaitu berkah, pengampunan, dan lain-lain. Adakah ini Tuhan yang kita sembah, ataukah berkah-Nya yang kita harap?

Bun Beng termenung dan pada saat seperti itu, pandang matanya seolah-olah menjadi terbuka dan jelas tampak olehnya segala kepalsuan manusia. Kepalsuan yang ditutup oleh tabir kebudayaan, peradaban, kesopanan, hukum dan lain-lain. Semua yang indah-indah dalam hidup manusia itu hanyalah keindahan yang menyelubungi hasrat tersembunyi, yaitu nafsu mementingkan Si Aku masing-masing! Apa pun yang dilakukan manusia, selalu didasari oleh pusat ini, oleh Si Aku ini. Betapa menyedihkan kenyataan ini.

Teringatlah Bun Beng akan semua pengalamannya, akan pertemuannya dengan Pendekar Super Sakti, akan keadaan pendekar sakti itu bersama dua orang wanita yang juga terlibat dalam cengkeraman apa yang mereka sebut cinta dengan pendekar itu.

Teringat pula dia akan Bu-tek Siauw-jin. Cinta telah menimbulkan banyak peristiwa yang ganjil, menimbulkan pertentangan, kesengsaraan dan ketakutan. Benarkah cinta semua itu kalau menimbulkan kesengsaraan, pertentangan, ketakutan dan kebencian? Ataukah sesungguhnya hanya nafsu mementingkan diri pribadi dalam mengejar kesenangan, kenikmatan dan kepuasan belaka yang oleh kita semua disebut cinta kasih? Karena hanya nafsu mementingkan diri pribadi sajalah yang akan mendatangkan pertentangan dan kesengsaraan. Kalau benar cinta, tidak mungkin mendatangkan kesengsaraan karena cinta adalah keindahan, kebenaran, kesucian, kekekalan!

“Gak Bun Beng manusia busuk, bersiaplah untuk menerima hukumanmu!” Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring sekali.

Bun Beng membuka matanya dan mengangkat muka memandang. Kiranya di tempat itu telah muncul tiga orang gadis dan tiga orang laki-laki yang semua telah memegang senjata, kecuali kakek lumpuh yang dia kenal sebagai kakek yang mengaku paman kakeknya, Sai-cu Lo-mo, bekas pembantu ibu Milana! Tiga orang dara itu bukan lain adalah Milana, Ang Siok Bi, dan Lu Kim Bwee yang mengeroyok kemarin. Dia terkejut dan cepat meloncat bangun ketika melihat Wan Keng In bersama mereka, dan seorang kakek yang mukanya mengerikan, muka yang rusak dan pakaiannya seperti pendeta.

“Milana, apa artinya ini…?” Bun Beng berdiri tegak, memandang dara itu dengan sinar mata penuh duka dan bimbang.

“Manusia busuk, tidak perlu banyak cakap lagi!” Milana berseru dan pedangnya sudah digerakkan menusuk dada Gak Bun Beng yang cepat mengelak sambil meloncat ke kiri.

“Sing-sing-singgg…!” Pedang di tangan Siok Bi dan Kim Bwee menyambar, disusul dengan kilatan pedang Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In.

“Tranggg…!”

Bun Beng terpaksa menangkis ketika melihat Pedang Iblis Lam-mo-kiam menyambar demikian dahsyatnya. Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang Hok-mo-kiam bertemu dengan Lam-mo- kiam, dan Wan Keng In merasa betapa tangannya tergetar hebat. Ia menjadi marah sekali dan cepat ia menyerang dengan dahsyatnya, kini dibantu oleh Koai-san-jin yang sudah menggerakkan tongkatnya,

“Singgg… wirrr… siuuuttt!”

Bun Beng terkejut bukan main. Dia sudah mengenal kelihaian Wan Keng In dan keampuhan pedang Lam- mo-kiam, akan tetapi kiranya tongkat di tangan kakek itu tidak kalah dahsyatnya! Kakek bermuka rusak itu ternyata memiliki sinkang yang amat kuat, dan tongkat berkepala naga menyambar dengan tenaga yang dapat menghancurkan batu karang.

Maklumlah dia bahwa dua orang lawan ini, Wan Keng In dan Si Kakek Muka Buruk, merupakan dua orang lawan yang amat lihai dan yang harus dihadapinya dengan hati-hati. Sedangkan tiga orang dara itu, terutama sekali Siok Bi dan Kim Bwee, menyerang dengan nekat seperti orang-orang yang sudah siap untuk membunuh atau dibunuh!

Betapa pun juga, hanya Milana seorang yang membuat dia bingung dan tidak dapat melawan dengan baik. Keroyokan mereka itu sebenarnya masih dapat dihadapinya dan bahkan dia merasa masih sanggup meloloskan diri atau memperoleh kemenangan biar pun Wan Keng In dan pendeta muka buruk itu lihai bukan main. Akan tetapi adanya Milana di situ yang ikut mengeroyok benar-benar membuat dia bingung dan gugup.

Dia menggunakan Hok-mo-kiam, akan tetapi dia selalu menjaga agar pedangnya itu jangan sampai menangkis pedang Milana, apa lagi menyerang dara itu. Dia hanya menggunakan pedangnya untuk menjaga diri dari sambaran Lam-mo-kiam dan membalas hanya kepada Keng In dan Si Pendeta Muka Buruk. Dia pun tidak mau menyerang Siok Bi dan Kim Bwee karena maklum bahwa kedua orang dara ini pun hanya menjadi korban orang jahat yang menyamar sebagai dia.

“Milana, dengar dulu keteranganku! Nona Siok Bi dan Nona Kim Bwee, aku tidak bersalah…!” “Manusia hina!” Milana memaki dan pedangnya sudah menerjang dengan hebatnya.
Karena Bun Beng tidak menggunakan Hok-mo-kiam menangkis, pedangnya itu sibuk menangkis serangan Lam-mo-kiam dan tongkat kakek muka buruk, maka elakannya masih belum cukup menghindarkan diri dan kembali pedang di tangan Milana telah berhasil melukai paha kirinya sehingga celana dan kulit pahanya robek dan berdarah.

“Gak Bun Beng, kematian sudah di depan mata, tidak perlu banyak cerewet lagi!” Wan Keng In mengejek dan Lam-mo-kiam di tangannya menyambar dahsyat, dengan bertubi-tubi menusuk dada dan membabat leher sedangkan dari belakang Bun Beng, tongkat kakek muka buruk menyambar ganas menyerang kedua kaki dan perut pemuda itu.

“Wan Keng In… aku ada pesanan dari ibumu…”

“Wuuuuttt… singgg… tranggg!” Pedang Hok-mo-kiam sekali lagi membentur Lam-mo-kiam sampai hampir saja tubuh Keng In terpelanting.

“Desssss!” Tongkat kepala naga itu berhasil menggebuk pinggang Bun Beng dari belakang.

Biar pun Bun Beng sudah kebal tubuhnya oleh sinkang gabungan yang dia terima dari Pendekar Super Sakti dan Bu-tek Siauw-jin, namun hantaman itu hebat bukan main sehingga Bun Beng muntahkan darah segar dari mulutnya. Hal ini bukan berarti bahwa dia terluka hebat karena sinkang yang mukjizat telah melindungi bagian dalam tubuhnya. Dia memutar tubuh dan membabatkan pedang Hok-mo-kiam, akan tetapi terpaksa menarik kembali pedangnya itu karena melihat Milana sudah bergerak menyerangnya sehingga kalau pedangnya dia lanjutkan, tentu dia akan merusak pedang Milana!

Kembali dia dikepung dengan ketat oleh lima orang itu yang seolah-olah telah berubah menjadi iblis-iblis yang haus darah! Diam-diam Bun Beng mengeluh. Dua orang itu, Wan Keng In dan Si Kakek Muka Buruk, terlampau lihai untuk ditandingi dengan setengah hati. Akan tetapi untuk melawan sungguh-sungguh, gerakannya terbatas oleh adanya Milana di situ dan dua orang gadis yang ikut mengeroyoknya. Kalau saja di situ tidak ada Wan Keng In dan Si Kakek Aneh, tentu ia dapat meloloskan diri, namun Wan Keng In dengan Lam-mo-kiam bukan main dahsyatnya, ditambah kakek yang menggerakkan tongkatnya secara lihai sekali.

Sai-cu Lo-mo duduk di dekat goa dan menonton dengan alis berkerut dan muka kelihatan berduka sekali. Dia masih hampir tidak dapat percaya bahwa pemuda itu telah berubah menjadi seorang jai-hwa-cat yang hina, akan tetapi saksi-saksinya banyak. Tidak mungkin dua orang dara itu membohong, apa lagi Milana! Hatinya seperti diremas-remas dan melihat jalannya pertandingan, hatinya makin perih lagi karena dia maklum bahwa Bun Beng akan celaka hanya karena pemuda itu tidak mau melukai Milana dan dua orang gadis lain sehingga membuat gerakannya kacau dan terbatas, sedangkan Wan Keng In dan kakek muka buruk itu gerakannya demikian hebat.

Dugaan Sai-cu Lo-mo memang benar. Beberapa kali Bun Beng terpaksa menerima tusukan pedang Milana dan dua orang gadis sehingga pakaiannya sudah penuh dengan darahnya sendiri. Melihat keadaan ini, lima orang pengeroyok itu menjadi makin ganas dan suatu saat, lima buah senjata mereka menyambar secara ber-bareng!

“Haiiiihhhh…!”

Suara melengking dari mulut Bun Beng ini membuat Siok Bi dan Kim Bwee terpelanting dan pedang Hok- mo-kiam berhasil menangkis Lam-mo-kiam dan membabat buntung tongkat kepala naga, akan tetapi kembali pedang Milana berhasil membacok pangkal lengannya di bahu kanan, membuat lengan kanannya setengah lumpuh dan tubuh Bun Beng terhuyung ke belakang!

“Mampuslah!” Keng In berteriak girang dan menerjang maju, menggerakkan Lam-mo-kiam membacok. “Cringgg…!”
Bunga api berpijar dan Keng In meloncat mundur dengan kaget karena ada pedang lain yang sanggup menangkis pedang Lam-mo-kiam. Ternyata Kwi Hong sudah berdiri di situ dengan pedang Li-mo-kiam di tangan! Pantas saja pedang itu kuat menangkis Lam-mo-kiam, karena pedang itu adalah Pedang Iblis Betina yang sama ampuhnya dengan Pedang Iblis Jantan!

“Wan Keng In manusia keparat! Milana dengarlah… Gak Bun Beng tidak bersalah…”

“Giam Kwi Hong! Tentu saja engkau membela dia setelah engkau jadi kekasihnya!” Milana berteriak penuh kemarahan.

“Ha-ha-ha, benar-benar pasangan yang amat cocok! Bun Beng adalah anak haram dari Si Datuk sesat Gak Liat, sedangkan Giam Kwi Hong adalah anak haram dari Si Perwira hina Giam Cu yang telah menjadi gila. Ha-ha-ha, keduanya anak haram, tentu saja saling membela apa lagi setelah menjadi kekasih gelap!”

“Keng In, mulutmu jahat!” Kwi Hong berteriak dan dengan Li-mo-kiam di tangan dia menyerang Wan Keng In.

Pemuda Pulau Neraka ini cepat menangkis dengan pengerahan tenaga karena dia maklum bahwa gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Segera mereka bertanding, tetapi Kwi Hong terdesak ketika kakek muka buruk sudah maju membantu Keng In.

Milana dan dua orang gadis yang merasa sakit hati kepada Bun Beng telah menerjang Bun Beng yang kini duduk bersila di atas tanah. Serangan-serangan mereka itu dia sambut dengan secara terpaksa menggunakan Hok-mo-kiam.

“Trakk! Trakkk!”

Pedang di tangan Siok Bi dan Kim Bwee patah-patah, hanya pedang Milana yang belum beradu dengan Hok-mo-kiam sehingga tidak rusak. Namun Siok Bi dan Kim Bwee yang sudah nekat itu terus menerjang dengan kepalan mereka! Terpaksa Bun Beng menangkis dengan lengan kirinya, membalikkan pedangnya agar tidak melukai dua orang dara itu, dan dalam menangkis pun dia tidak mengerahkan tenaga sehingga tidak sampai melukai lengan kedua orang gadis itu. Milana masih berusaha untuk menyerang dengan pedang, akan tetapi melihat betapa dua orang gadis itu mengeroyok Bun Beng sedemikian nekat sehingga ada bahaya pedangnya mengenai tubuh mereka sendiri, dia lalu membalik dan membantu Wan Keng In mengeroyok Kwi Hong!

Kwi Hong sudah terluka oleh pedang Keng In dan tongkat kakek muka buruk, namun dia masih membela diri mati-matian. Kini Milana maju, dan gadis ini juga amat lihai, maka tentu saja Kwi Hong menjadi makin payah dan dia hanya dapat menangkis sambil mundur terus, tanpa disadarinya bahwa dia mundur ke arah jurang yang berhadapan dengan goa.

“Kwi Hong… hati-hati belakangmu… !” Bun Beng berteriak, akan tetapi terlambat.

Tubuh Kwi Hong tergelincir ke belakang dan terdengar dara itu menjerit mengerikan ketika tubuhnya terjengkang dan lenyap ke dalam jurang.

“Kwi Hong…!” Tubuh Bun Beng mencelat dengan kecepatan yang luar biasa, dan tahu-tahu pemuda ini pun sudah meloncat ke dalam jurang, menyusul Kwi Hong!

Milana terbelalak, dan semua orang menahan napas. Keng In dan kakek muka buruk menghampiri pinggir jurang dan menjenguk ke bawah. Hati Keng In puas sekali karena melihat jurang itu merupakan jurang yang dalamnya tak dapat diukur, bahkan tidak nampak dari bawah karena tertutup awan dan halimun!

“Mereka tentu hancur di bawah sana,” kakek muka buruk berkata dengan suaranya yang agak pelo.

Milana memejamkan matanya yang terasa panas. Di dalam hatinya timbul dua perasaan, perasaan cemburu dan juga perasaan duka. Perbuatan terakhir dari Bun Beng benar-benar menyakitkan hatinya. Dalam saat terakhir pun Bun Beng membuktikan cinta kasihnya kepada Kwi Hong sehingga rela mati bersama gadis itu meloncat ke dalam jurang!

Dua orang gadis, Siok Bi dan Kim Bwee, berdiri tegak di pinggir jurang, muka mereka pucat sekali. Setelah kini orang yang memperkosa itu terlempar ke dalam jurang dan sudah mesti tewas, hati mereka tidak karuan rasanya. Ada rasa duka, ada rasa sunyi, dan rasa ngeri bagaimana mereka harus menempuh hidup selanjutnya! Hasrat mereka sekarang hanya untuk pulang, untuk menyembunyikan diri!

“Adik Milana, sekarang aku mau pulang!” Siok Bi berkata dengan suara mengandung isak, kemudian dia membalikkan tubuh dan lari pergi meninggalkan tempat itu.

“Aku pun pergi, adik Milana!” Kim Bwee juga berkata, suaranya lirih seperti orang berduka. Gadis ini pun segera lari pergi setelah sekali lagi dia melempar pandang ke arah jurang dengan sinar mata sayu penuh duka.

Milana sendiri sedang tertekan batinnya, maka dia hanya mengangguk. Pandang matanya masih ditujukan ke arah jurang dengan sinar mata kosong.

Wan Keng In terbatuk-batuk untuk menyadarkan keadaan Milana. “Milana, manusia jahat itu telah tewas dan aku menyesal sekali bahwa Kwi Hong ikut tewas, akan tetapi agaknya lebih baik begitu untuk dia setelah dia terbujuk oleh manusia hina she Gak itu. Marilah kita sekarang pergi ke Pulau Es menemui ayahmu dan ibuku.”

Milana terdesak kaget. “Ke… ke… Pulau Es…? Setelah terjadi hal ini?”

Sai-cu Lo-mo berloncatan maju. Kedua mata kakek ini masih basah oleh air matanya yang bertitik ketika melihat betapa Bun Beng tadi meloncat ke dalam jurang. Semenjak pertandingan itu dimulai, dia merasa terharu sekali dan betapa pun juga, dia tidak bisa membenci cucu keponakannya itu. Apa pun yang dituduhkan orang kepada cucunya itu, namun dengan mata kepala sendiri dia melihat betapa Bun Beng adalah seorang laki-laki sejati, yang tidak mau melukai Milana dan dua orang gadis lainnya, bahkan yang dalam saat terakhir berusaha menolong Kwi Hong yang terlempar ke dalam jurang! Dia dapat menduga bahwa seorang yang memiliki kepandaian tinggi, dan kegagahan seperti Bun Beng, tidak mungkin membunuh diri, dan perbuatannya meloncat ke dalam jurang tadi tentu dengan maksud untuk menolong Kwi Hong.

“Nona Milana, memang sebaiknya kalau Nona pergi menghadap orang tua Nona dan menceritakan semua peristiwa yang terjadi ini.” Ucapan Sai-cu Lo-mo ini mengandung harapan agar Pendekar Super Sakti sendiri yang akan menangani urusan ini, dan yang akan menentukan apakah hukuman yang dijatuhkan atas diri Bun Beng ini benar. Biar pun Bun Beng sudah tewas, akan tetapi namanya perlu dibersihkan, kalau memang hal itu mungkin.

Milana memandang Sai-cu Lo-mo dan dua titik air mata menetes ke arah pipinya. “Kakek, aku… aku takut kepada Ayah…”
“Mengapa takut, Nona? Ceritakan saja apa yang telah terjadi.”

“Bagaimana aku tidak akan takut? Enci Kwi Hong adalah keponakan dan murid Ayah…”

Wan Keng In berkata, “Milana, sudah kukatakan tadi bahwa kematian Kwi Hong bukanlah karena senjata kita, melainkan karena tergelincir ke dalam jurang.”

“Aku baru mau pergi kalau engkau ikut pula pergi, Bhok-kongkong.”

Sai-cu Lo-mo mengangguk-angguk. “Baiklah, aku yang akan menjadi saksi agar engkau tidak dimarahi ayah bundamu Nona.”

Maka berangkatlah empat orang itu, Milana, Sai-cu Lo-mo, Wan Keng In dan Koai-san-jin, ke utara untuk pergi ke Pulau Es.

********************

Tubuh Suma Han Pendekar Super Sakti kini menjadi agak gemuk dan mukanya kelihatan segar berseri. Dia benar-benar merasa seperti hidup baru bersama dua orang isterinya di Pulau Es. Biar pun mereka seolah-olah hidup mengasingkan diri dari dunia ramai, namun hidup mereka penuh dengan cinta kasih di antara mereka! Memang, kalau hati sudah penuh cinta kasih, orang tidak membutuhkan apa-apa lagi, dan kalau hati selalu aman tenteram tubuh pun menjadi sehat! Juga di wajah kedua orang wanita cantik itu, Nirahai dan Lulu, membayang kebahagiaan yang membuat wajah mereka berseri dan segar kemerahan kedua pipinya seperti wajah dua orang gadis muda saja!

Siang hari itu, Suma Han dan kedua orang isterinya berdiri di tepi pantai Pulau Es sebelah barat, memandang ke arah sebuah perahu yang meluncur cepat menuju ke Pulau Es, setelah perahu agak dekat dan mereka dapat mengenal dua di antara empat orang yang berada di dalam perahu, Nirahai dan Lulu berseru girang.

“Milana…!”

“Keng In…!”

Suma Han diam saja dan pendekar ini merasa hatinya terusik oleh sesuatu yang tidak menyenangkan. Dia tidak melihat Bun Beng dan Kwi Hong.

“Siapakah dua orang kakek itu?” Dia berkata perlahan seolah-olah bertanya kepada diri sendiri.

“Seorang di antara mereka adalah Sai-cu Lo-mo, bekas pembantuku,” kata Nirahai. “Kakek muka buruk itu entah siapa.”

Lulu juga tidak mengenal kakek muka buruk yang tadinya dia kira Cui-beng Koai-ong, akan tetapi setelah perahu makin mendekat ternyata bukan. Setelah perahu menempel di pulau, empat orang itu melompat ke darat, Keng In segera lari dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Lulu sambil berseru, “Ibu…!”

Bukan main girangnya hati ibu yang seolah-olah menemukan kembali anaknya ini ketika menyaksikan sikap Keng In. Dia memeluknya dengan air matanya bercucuran. Milana juga dipeluk oleh Nirahai, akan tetapi dara ini menangis dan menyembunyikan mukanya di dada ibunya.

Sai-cu Lo-mo melompat maju, kemudian duduk menghadapi Nirahai dan Suma Han dan berkata, “Harap Taihiap dan Pangcu sudi memaafkan saya yang berani lancang mendatangi Pulau Es.”

Nirahai menjawab. “Tidak mengapa Lo-mo. Kenapa kedua kakimu?” Sai-cu Lo-mo tersenyum. “Akibat penyerbuan yang lalu, Pangcu.”
“Totiang siapakah?” Suma Han bertanya sambil memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik kepada Koai-san-jin yang masih berdiri sambil menundukkan mukanya.

Wan Keng In segera menjawab, “Dia adalah Koai-san-jin, seorang pertapa yang telah banyak menolong dan membantu kami, terutama sekali ketika menghadapi Si Jahat Gak Bun Beng.”

Terkejutlah Suma Han, Lulu, dan Nirahai mendengar kata-kata yang menyebut Gak Bun Beng penjahat ini.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo