September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 23

 

“Tidak!” Tiba-tiba Keng In meloncat bangun, alisnya berkerut dan dia menekan kemarahan dan kekecewaannya. “Aku tidak ingin menjadi saudaramu! Aku ingin menjadi suamimu! Perlukah ini kuulangi terus? Pula, ibuku hanya saudara angkat ayahmu, jadi tidak ada hubungan darah sama sekali. Engkau harus menjadi isteriku, Milana. Aku cinta kepadamu, cinta yang akan kubela dengan darah dan nyawaku.”

“Akan tetapi, aku tidak cinta kepadamu, Wan Keng In.”

“Asal engkau suka menjadi isteriku, dengan suka rela tanpa paksaan, engkau akan dapat mencinta kepadaku kelak.”

“Tidak mungkin!”

“Milana, seorang wanita memang tak mungkin jatuh cinta kepada seorang pria betapa pun pria itu mengusahakannya, akan tetapi hanya kalau wanita itu sudah mencinta seorang pria lain! Apakah engkau sudah jatuh cinta kepada seorang pria lain?”

Hati Milana meneriakkan nama Gak Bun Beng akan tetapi mulutnya ditutup rapat dan dia tidak menjawab. Rahasia itu tidak perlu diketahui orang lain, apa lagi diketahui Wan Keng In yang kadang-kadang amat dibencinya, kadang-kadang dikasihani itu.

“Sudahlah, Keng In. Kalau kau tidak menganggap aku saudara misanmu, sedikitnya kita masih saudara seperguruan. Bukankah aku telah mempelajari beberapa jurus ilmu silat dari gurumu, berarti aku muridnya pula? Aku sudah berjanji kepadamu tidak akan melarikan diri dari pulau ini asal engkau tidak menggangguku. Kalau engkau menggangguku, aku pun tidak akan suka tinggal lebih lama lagi di sini.”

“Aku sama sekali tidak mengganggumu, Milana. Berlakulah adil. Aku hanya menghendaki engkau membalas cintaku atau sedikitnya, menerima pinanganku menjadi isteriku. Kita akan merayakan pernikahan kita secara besar-besaran! Semua tokoh dunia ilmu silat, baik golongan putih mau pun hitam, akan kuundang untuk datang ke sini. Kalau engkau menjadi isteriku, Pulau Neraka akan kubangun kembali, akan kutambah anak buahku sampai pulau ini menjadi sebuah kerajaan kecil, aku menjadi rajanya dan engkau menjadi permaisuriku!”

“Pikiran gila! Aku tidak mau!”

“Hemm, apakah engkau ingin aku menggunakan kekerasan memaksamu, Milana?”

Dara itu bangkit berdiri, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi. “Menggunakan kekerasan? Aku akan melawan mati-matian!”

“Ha-ha-ha, Milana! Baru mempelajari sedikit ilmu tambahan dari Suhu, engkau berani melawanku? Mari kita coba-coba!”

Milana memang sudah menduga dengan hati penuh khawatir bahwa sewaktu-waktu pemuda yang seperti miring otaknya ini tentu akan mencoba menggunakan kekerasan. Karena dia maklum bahwa dia tidak akan dapat menang menghadapi pemuda itu, apa lagi di situ terdapat banyak anak buahnya dan ada pula gurunya yang amat lihai, maka dara ini mempergunakan akal halus, tidak melawan dan sampai tiga bulan lamanya berhasil menghindarkan diri dari gangguan Keng In.

Dia mempelajari ilmu dengan maksud untuk memperdalam kepandaiannya agar dapat menghadapi Keng In sambil menanti kesempatan baik untuk meloloskan diri dari cengkeraman pemuda iblis yang kini menjadi Majikan Pulau Neraka itu. Kini tiba saatnya Keng In kehabisan kesabarannya dan hendak menggunakan kekerasan. Melihat bahwa akhirnya toh dia harus membela diri dengan melawan mati-matian, kini Milana tidak berlaku sungkan lagi dan segera menerjang Keng In dengan pukulan maut!

“Haiitt! Gerakanmu cepat bukan main, Sayangku, akan tetapi bagiku kurang cepat!” Keng In mengelak akan tetapi Milana yang sudah siap secara tiba-tiba membalikkan tubuh dan menyusul dengan hantaman kedua dari samping mengarah lambung pemuda itu.

“Dess!” Tubuh Keng In terguling dan pemuda itu rebah miring.

Bukan main girangnya hati Milana akan hal yang tak diduga-duganya ini. Dia menang hanya dalam dua gebrakan! Cepat dia menubruk untuk mengirim totokan yang melumpuhkan karena betapa pun juga dia tidak tega untuk membunuh pemuda yang mencintanya dan yang telah bersikap baik kepadanya itu.

“Heh-heh, pukulanmu keras akan tetapi tidak cukup keras untukku!” Tiba-tiba kedua lengan Keng In merangkul dan tak dapat dihindarkan lagi tubuh Milana sudah dipeluknya dan hidung pemuda itu sudah mengambung pipinya! Milana terkejut dan marah sekali, akan tetapi sebelum dia sempat bergerak, tubuhnya menjadi lemas dan setengah lumpuh oleh totokan Keng In yang lihai itu.

“Nah, berontaklah kalau bisa! Ha-ha, siapa bilang aku tidak akan dapat menguasai dirimu kalau aku mau? Milana, Sayangku, setiap malam aku rindu kepadamu, setiap saat aku membayangkan betapa akan indahnya kalau kita bermain cinta di taman ini, di tempat terbuka…” Kembali Keng In menciumi muka dan bibir dara yang sudah tak dapat mengelak atau melawan itu.

Dengan hati hancur Milana hanya memejamkan matanya. Dia maklum bahwa takkan ada yang mampu mencegah pemuda itu kalau Keng In hendak memperkosanya. Bahaya yang lebih hebat dari pada maut berada di ambang pintu dan dia sama sekali tidak berdaya. Dia hanya bersumpah di dalam hatinya bahwa kalau Keng In memperkosanya, dia akan mencari kesempatan membunuh pemuda itu sebelum membunuh diri sendiri. Pada saat terakhir itu terbayanglah wajah Bun Beng dan sedu-sedan naik dari dadanya ke dalam kerongkongannya.

Keng In yang sudah mulai menanggalkan pakaian Milana, tiba-tiba menghentikan tangannya, bahkan menutupkan kembali pakaian yang sudah terbuka. Entah mengapa, mungkin sedu-sedan Milana itu yang membuat dia mengurungkan kehendak hatinya dan ia meninju tanah di samping tubuh Milana. “Tidak! Aku tidak mau mendapatkan dirimu dengan cara ini! Aku mau engkau menyerah kepadaku dengan suka rela! Aku ingin engkau rebah dalam pelukanku dengan bibir tersenyum dan suka membalas ciumanku. Aku ingin engkau sebagai seorang kekasih yang hangat dan hidup dalam dekapanku, bukan sebagai sesosok mayat yang dingin!” Setelah berkata demikian, Keng In menangis dan membebaskan totokan pada tubuh Milana sehingga dara itu dapat bergerak lagi.

Milana menyembunyikan kengerian hatinya. Baru saja dia lolos dari lubang jarum, lolos dari bahaya yang mengerikan. Namun diam-diam dia mengambil keputusan untuk mendahului menyingkirkan pemuda ini, kalau tidak akan berbahaya sekali. Belum tentu Keng In akan sadar seperti tadi!

“Sekali lagi engkau melakukan hal seperti tadi, aku akan membunuh diri!” Milana berkata lirih. Keng In menunduk, “Maafkan aku… tidak kuulangi lagi…”
Milana membalikkan tubuh dengan marah lalu meninggalkan pemuda itu. Dia maklum bahwa biar pun Keng In kelihatan begitu menyesal, begitu merendah, namun sekali dia menimbulkan kemarahan dan kebencian di dalam hati pemuda itu, tentu pemuda itu tidak akan segan-segan untuk melakukan apa saja terhadap dirinya, tidak hanya memperkosa, bahkan menyiksanya dengan penghinaan lain kemudian membunuhnya. Kalau dia teringat akan perbuatan Keng In ketika memperkosa wanita di depan dia dan gurunya, dia mengkirik (meremang bulu tengkuknya) dan merasa takut sekali. Dia tidak takut mati, akan tetapi menghadapi ancaman siksaan yang merupakan penghinaan hebat, benar-benar dia merasa ngeri dan takut.

“Aku harus membunuhnya!” Demikian dia mengeraskan hatinya. Kalau tidak lekas dibunuh, bagaikan seekor ular berbisa, makin lama makin mengerikan dan berbahaya pemuda gila itu. Soalnya sekarang tinggal siapa yang lebih dulu bergerak dan berhasil!

Biar pun Cui-beng Koai-ong jauh lebih lihai dan berbahaya, akan tetapi kakek itu biasanya tidak peduli kepadanya, sedangkan anak buah Pulau Neraka yang lain akan mudah dapat dia kalahkan. Satu-satunya yang paling membahayakan dan mengancam dia adalah Wan Keng In. Karena itu, dia harus dapat menyingkirkan pemuda itu, harus dapat membunuh pemuda itu!

Milana mulai mencari kesempatan. Untuk mencari kelengahan pemuda itu, agaknya tidak mungkin! Biar pun dalam keadaan tidur nyenyak, kesiap siagaan telah mendarah daging di tubuh pemuda yang semenjak kecil tinggal di Pulau Neraka yang penuh bahaya itu. Biar pun sedang tidur pulas, pemuda itu akan mampu mempertahankan diri jika diserang seolah-olah sudah memiliki indra ke enam yang membuat dia dalam tidur sekali pun dapat ‘mencium’ datangnya bahaya! Kalau dia harus menggunakan kekerasan secara berdepan, mana mungkin dia dapat menangkan pemuda yang selain lebih lihai ilmu silatnya, juga amat cerdik itu?

Beberapa hari kemudian, selagi Milana berjalan-jalan di tepi pantai sambil memutar otak, tiba-tiba dia melihat gulungan ombak laut yang seolah-olah membisikkan sesuatu kepadanya. Di laut! Mengapa tidak? Kalau di darat dia bukan lawan pemuda itu, belum tentu dia kalah kalau melawan pemuda itu di laut, di air! Semenjak kecil dia memang suka renang, bahkan oleh ibunya dia dilatih menahan napas di dalam air. Biar pun dulu dia tidak melihat kegunaan ilmu ini, sekarang barulah ilmu di air ini menimbulkan harapannya untuk dapat mengalahkan Keng In!

Memang sering kali dia mengukur dengan pandang matanya apakah sekiranya dia akan dapat meloloskan diri dari Pulau Neraka dengan berenang. Akan tetapi segera dia membuang jauh-jauh pikiran itu. Melarikan diri dengan jalan berenang pergi dari Pulau Neraka sama saja dengan membunuh diri! Tidak saja lautan disekitar pulau itu amat ganas, juga jarak dari pulau ke daratan besar amat jauhnya, belum lagi bahaya mengerikan dari ikan-ikan raksasa yang akan menghadangnya di tengah laut!

Melarikan dengan perahu juga tidak mungkin karena semua perahu dikumpulkan menjadi satu dan selalu dijaga. Akan tetapi, mengalahkan Keng In di air, ini mungkin sekali! Betapa pun juga, dia harus melihat dulu sampai di mana kepandaian Wan Keng In bermain di air. Dia tidak boleh gegabah (sembrono) dan dia tidak boleh gagal kali ini! Dengan adanya rencana menggunakan akal ini, mulai hari itu Milana sering kali berjalan-jalan di tepi laut. Beberapa kali Keng In datang menjumpainya di situ, akan tetapi karena kebetulan pantai itu ramai dan di situ terdapat beberapa orang anak buah Pulau Neraka, Milana terpaksa menunda siasatnya.

Pada suatu pagi, ketika Milana sedang duduk termenung seorang diri di tepi pantai, merenung ke arah selatan membayangkan ibunya dan Bun Beng dengan penuh kerinduan, tiba-tiba terdengar suara Keng In di belakangnya, “Milana, mengapa engkau termenung di sini sepagi ini?”

Milana langsung mengerling ke kanan kiri. Tempat itu sunyi sekali. Inilah kesempatan baik untuknya. Sambil mengerling tajam dia berkata, suaranya sengaja dibuat manja, “Pegilah kau, Keng In. Aku mau mandi.”

Keng In tersenyum nakal. “Mandilah aku tidak akan mengganggumu.”

“Kau kira aku begitu tidak tahu malu? Hmm, kalau kau berkeras, aku dapat saja mandi tanpa melepas pakaian.” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Milana sudah lari menyambut air laut yang didorong gelombang ke pantai pasir.

Melihat gadis itu berlari sambil mengembangkan kedua lengan, tampak begitu gembira, Keng In tertawa senang. Dia membayangkan betapa akan senangnya kalau gadis itu sudah menyerah kepadanya, dan mereka mandi bersama di pinggir laut. Milana tidak berpakaian lengkap seperti sekarang ini. Tentu akan dipondongnya dara itu, dibawa lari menyambut ombak sambil bersendau-gurau.

“Heiiii! Milana! Berhenti di situ saja…!” Tiba-tiba dia berseru nyaring melihat betapa Milana terus berlari menyambut ombak yang menyerangnya, bahkan kini gadis itu berenang ke tengah dengan gerak renang yang kaku menandakan bahwa gadis itu tidak dapat berenang dengan baik.

“Celaka…!” Keng In berseru penuh kekhawatiran sambil melompat dan lari ke laut saat dia melihat betapa ombak menyambar tubuh Milana, dilontarkan ke atas dan kemudian dihempaskan kembali ke bawah. Tahu-tahu kini tubuh Milana sudah berada agak jauh ke tengah.

Gadis itu kelihatan ketakutan, tangannya menggapai-gapai dan terdengar jeritannya lemah, “Tolooonggg!”

Tanpa berpikir panjang lagi karena khawatir melihat kekasihnya terancam bahaya maut ditelan ombak atau ikan raksasa, Keng In cepat berenang sekuatnya melawan ombak. Dia sama sekali tidak tahu betapa Milana diam-diam memperhatikan gerakannya ketika dia berenang untuk menolong kekasihnya itu dan tidak tahu betapa gadis itu bersinar-sinar pandang matanya, merasa girang melihat bahwa kepandaiannya berenang biasa saja! Memang Keng In bukanlah seorang ahli renang yang pandai. Dia dapat berenang sekedarnya, dan bukan seorang ahli biar pun sejak kecil dia tinggal di Pulau Neraka. Hal ini karena ibunya selalu melarangnya kalau melihat puteranya yang dimanjakan itu bermain-main di laut, khawatir kalau puteranya dihanyutkan ombak atau diserang ikan besar.

Kalau hanya berenang untuk menolong Milana, tentu saja Keng In merasa dia mampu melakukannya. Ia sama sekali tak menaruh kecurigaan melihat gadis itu dipermainkan ombak dan berteriak-teriak minta tolong. Kecemasan yang hebat akan kehilangan wanita yang dicintanya itu membuat pemuda yang biasanya cerdik ini menjadi lengah dan sama sekali tidak menduga akan adanya siasat yang dilakukan oleh dara yang masih belum mau menyerah kepadanya itu.

“Milana…! Di mana engkau…?” Keng In berteriak dengan hati penuh kecemasan. Dia sudah tiba di bagian gadis itu tadi dipermainkan ombak dan sekarang dara itu tiba-tiba lenyap, seolah-olah tenggelam!

“Milana…!” Keng In memandang ke kanan dan ke kiri dengan mata liar penuh khawatir.

“Haiii!” Dia berteriak akan tetapi teriakannya segera lenyap ketika tubuhnya diseret ke bawah. Keng In gelagapan dan cepat menutup mulut menahan napas sambil berusaha untuk menggerakkan kaki kanannya yang telah ditangkap orang dari bawah!

Milana yang tadi menyelam kini mempertahankan sebelah kaki Keng In yang sudah ditangkapnya. Masih terlalu berbahaya untuk menyerang lawan ini dengan pukulan, karena dia tahu bahwa pemuda itu memiliki sinkang yang amat kuat, maka dia lalu menggunakan akal, menangkap kaki lawan dan menyeretnya ke bawah agar pemuda itu tak dapat bernapas dan mati lemas! Terjadilah pergulatan di dalam air laut. Milana berusaha mempertahankan kaki itu dan menariknya ke bawah, sedangkan Keng In meronta-ronta dan menarik kakinya sekuat tenaga agar dapat terlepas. Dia masih belum dapat menduga bahwa Milana yang menangkap kakinya. Dia mengira bahwa kakinya dililit oleh ikan gurita atau ular laut, atau digigit ikan yang besar.

Akan tetapi Milana salah duga kalau dia mengira akan dapat membuat Keng In kehabisan napas dengan cara menariknya ke bawah. Pemuda ini biar pun tidak pernah mempelajari ilmu di dalam air, namun sinkang-nya sudah mencapai tingkat tinggi sekali sehingga dia amat kuat menahan napasnya di dalam air, mungkin tidak kalah kuat dibandingkan dengan Milana sendiri! Karena itulah, usaha Milana untuk membuat pemuda itu lemas kehabisan tenaga tidak berhasil, bahkan tarikan-tarikan kaki Keng In yang amat kuat itu menghabiskan tenaga Milana yang menahannya sehingga akhirnya dia sendiri terbawa timbul ke permukaan air! Hanya bedanya kalau Milana masih dapat menguasai diri dan sadar sepenuhnya, sebaliknya Keng In menderita kegelisahan luar biasa, membuat pemuda itu gelagapan ketika berhasil timbul di permukaan air dan dia tidak melihat betapa sebuah kepala lain, kepala Milana, juga tersembul di belakangnya.

“Dessss!”

Milana tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia sadar dan dalam keadaan segar. Melihat Keng In masih megap-megap dan gelagapan menyedot hawa sebanyaknya, dia sudah mengirim pukulan ke punggung pemuda itu.

“Aduhhh…!” Keng In berteriak, akan tetapi tiba-tiba rambutnya dijambak (dicengkeram) tangan yang halus dan kepalanya ditekan ke bawah permukaan air lagi!

Bagaikan orang sekarat, tangan Keng In meraih-raih dan memukul-mukul. Terpaksa Milana melepaskan cengkeramannya dan menyelam ke bawah, menyambar kaki Keng In dan menyeretnya ke bawah lagi. Sesampainya di dasar laut yang belum begitu dalam, paling dalam empat meter itu, dia melepaskan kaki Keng In sambil mengikuti tubuh lawan yang meluncur ke atas itu.

“Plak-plak! Desss!” Dua kali tamparan mengenai kepala Keng In dan hantaman kedua dengan tepat sekali mengenai leher pemuda itu.

“Augghhh…!” Kepala Keng In menjadi pening dan tubuhnya mulai menjadi lemas.

Dia masih belum tahu apa yang menyerangnya. Selagi dia gelagapan, kembali diseret ke bawah tanpa dapat dia lawan, karena kakinya telah dipegang dari bawah bukan hanya satu melainkan keduanya. Sekali ini tanpa dicegahnya lagi, Keng In terpaksa banyak menelan air laut. Kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang dan napasnya hampir putus, perutnya makin penuh air.

Milana masih memegangi kaki kiri Keng In. Terpaksa dia lepaskan kaki kanan pemuda itu karena dalam kepanikannya Keng In menendangkan kaki kanan. Ketika terasa oleh Milana betapa kaki kiri itu berkelojotan, semua kebencian dan kemarahannya lenyap tertutup oleh rasa jijik, ngeri dan juga kasihan!

Sungguh jauh bedanya dengan merobohkan lawan dalam pertandingan. Sekali tangan bergerak memukul, atau pedang menembus dada lawan, beres. Akan tetapi sekarang, memegang kaki seorang lawan yang berada dalam keadaan sekarat, berkelojotan, benar-benar terasa sekali betapa dia akan menjadi seorang pembunuh yang amat kejam! Dalam keadaan seperti itu, terbayanglah dia akan kebaikan Keng In, betapa manis dan ramah sikapnya, betapa besar kasih sayang pemuda itu kepadanya, sungguh pun dia tidak dapat membalasnya.

Teringat pula dia betapa ibunya adalah seorang puteri Kaisar yang amat terkenal, yang tentu tidak sudi melakukan pembunuhan secara pengecut seperti yang sekarang dilakukannya itu. Apa pula ayahnya! Ayahnya adalah Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia! Tidak mungkin ayah kandungnya itu akan sudi melakukan pembunuhan securang yang dilakukannya ini. Kiranya ayah dan ibunya akan lebih suka berkorban nyawa dari pada melakukan perbuatan serendah itu!

Teringat akan semua ini, Milana menggigil seluruh tubuhnya. Dilepaskannya kaki yang mulai lemah gerakan sekaratnya itu sehingga tubuh Keng In meluncur ke atas! Dia juga menggerakkan kaki menyusul ke atas. Dia memang harus membebaskan diri dari kekuasaan Keng In, akan tetapi tidak begini caranya! Untuk menyelamatkan diri melakukan pembunuhan keji dan curang seperti ini, betapa rendahnya itu! Selama hidupnya dia tentu akan tersiksa oleh bayangan Keng In yang dibunuhnya secara pengecut dan curang. Tidak! Dia tidak boleh melakukan kecurangan yang rendah dan hina itu!

Ketika kepalanya tersembul ke permukaan air dan menyedot napas dalam-dalam, Milana melihat tubuh Keng In hampir tenggelam lagi. Pemuda itu telah pingsan! Cepat dia menyambar rambut pemuda itu yang riap-riapan karena gelungnya terlepas, kemudian melawan ombak menyeret tubuh Keng In berenang ke darat.

Sejam kemudian, setelah Milana mengeluarkan air dari dalam perut Keng In dengan jalan menindih perut pemuda yang ditelungkupkannya itu sehingga air keluar dari mulutnya, Keng In siuman kembali. Dia membuka matanya dan sebagai seorang ahli silat tinggi, biar pun kepalanya masih agak pening, sekali bergerak dia telah meloncat bangun dan siap menghadapi lawan! Melihat Milana duduk di atas rumput dengan pakaian masih basah kuyup, dia terheran dan teringatlah dia akan semua yang dialaminya.

“Ahhh, kau… kau selamat, Milana?” tanyanya.

Milana tersenyum mengejek untuk menyembunyikan rasa malunya. Dia hampir membunuh pemuda ini dan pertama kali yang keluar dari mulut pemuda itu setelah siuman dari pingsannya adalah menanyakan keselamatannya! Betapa besar cinta pemuda itu kepadanya dan betapa besar bencinya kepada pemuda itu. Dan dalam hal perasaan ini, lepas dari pada jahat tidaknya kelakuan pemuda itu, dia harus merasa malu! Bukankah cinta merupakan perasaan yang semurni-murninya, sedangkan benci merupakan perasaan yang sekotor-kotornya?

“Tentu saja aku selamat, Keng In. Bermain dalam air merupakan permainanku sejak kecil!” “Ehhhh? Dan engkau tadi hampir saja tenggelam ditelan ombak!”
“Hanya dugaanmu saja, memang aku sengaja memancing engkau agar mengira demikian.”

“Tapi… tapi… apakah kau tidak diserang gurita, atau ular, atau ikan besar seperti yang kualami? Aku… aku sampai pingsan dan… dan entah bagaimana aku dapat selamat sampai di sini. Apakah Suhu yang menolongku?”

Milana menggeleng kepala. “Tidak ada ikan menyerangmu. Yang ada hanya aku. Bukan ikan yang menyerangmu, melainkan aku.”

“Heehhh…?” Keng in terbelalak kaget. “Engkau yang menarik kakiku, dan engkau memukulku?” Milana mengangguk. “Dan alangkah mudahnya kalau aku mau, alangkah mudahnya membunuhmu.”
“Kenapa tidak? Kenapa aku tidak mati? Kenapa kau tidak membunuhku dan… siapa yang menolongku?” “Aku yang menyeretmu kembali ke darat selagi engkau pingsan.”

“Mengapa, Milana? Bukankah amat mudah kalau hendak membunuhku yang sudah pingsan? Kenapa kau malah menolongku?”

“Aku bukan seorang pembunuh berdarah dingin yang kejam seperti engkau, Keng In. Melihat engkau tidak berdaya, aku malah tidak tega membunuhmu dan menyeretmu ke sini.”

“Milana…!” Keng In hendak memeluk dara itu, akan tetapi Milana mengelak. “Itu berarti bahwa engkau pun cinta kepadaku, Milana! Ha-ha-ha, rela aku mati tiga kali rasanya kalau ditebus dengan cintamu kepadaku.”

“Hemmm, jangan mengira bahwa tidak tega membunuh berarti jatuh cinta. Tidak Keng In. Aku tak membunuhmu karena aku merasa terlalu rendah dan hina kalau membunuh seorang lawan yang tidak berdaya. Andai kata aku memiliki kepandaian lebih tinggi darimu, sudah lama engkau tewas olehku dalam sebuah pertandingan. Aku bukan keturunan pengecut!” Setelah berkata begitu, dara ini cepat lari kembali ke pondoknya untuk menukar pakaiannya yang basah kuyup dan ketat menempel di tubuhnya itu.

Keng In terkulai penuh kekecewaan. Harapannya akan cinta kasih Milana yang tadi membubung setinggi gunung kini pecah berantakan dan terhempas rata seperti air tumpah. Dengan perasaan tertekan kekecewaan dan kedukaan, pemuda ini pergi menemui Cui-beng Koai-ong, gurunya yang bersemedhi di dalam sebuah goa di pantai Pulau Neraka, kemudian menangisi gurunya sambil minta bantuan gurunya agar kerinduan hatinya terobati dan keinginannya memperoleh Milana dengan penyerahan bulat itu terpenuhi.

Kakek yang seperti mayat itu tidak bergerak, juga tidak membuka matanya. Bahkan bibirnya tidak bergerak, namun ada suara terdengar keluar dari dalam perutnya!

“Goblok engkau jika jatuh cinta kepada seorang wanita! Betapa mungkin memaksakan cinta dalam hati wanita yang selalu mudah berubah seperti angin, sebentar bertiup ke timur sebentar ke barat? Mengikatkan diri dengan wanita berarti membuka pintu neraka yang akan menyiksamu!”

“Biarlah, Suhu. Apa pun akibatnya akan teecu hadapi asal teecu bisa mendapatkan diri Milana, dapat menerima penyerahan dirinya secara suka rela. Teecu tidak dapat melakukan paksaan karena teecu cinta kepadanya, teecu ingin dia menyerah bulat-bulat tanpa paksaan.”

“Hemm, hanya ada satu jalan. Tanpa siasat tak mungkin niatmu terlaksana. Gadis puteri Pendekar Siluman itu memiliki kekerasan di balik kelembutannya, kekerasan melebihi baja yang takkan dapat ditundukkan. Kau cari kumpulan racun di dalam peti simpananku. Pergunakan bubuk racun merah dua bagian dicampur dengan sari racun lima warna, campurkan dalam makanan dan berikan kepadanya.”

“Aihh…! Racun-racun itu adalah pembunuh-pembunuh yang tidak ada obatnya, Suhu!”

“Memang demikian. Akan tetapi kalau sudah dicampur dengan takaran itu, akan saling memunahkan dan berubah menjadi racun perampas ingatan. Gadismu itu akan lupa segala kalau kau beri racun campuran itu.”

“Akan tetapi, apa gunanya kalau dia hilang ingatan, Suhu?”

“Tolol! Kalau dia lupa lagi siapa engkau, lupa siapa yang dibenci dan dicinta, apa sukarnya?” “Tapi… tapi…”
“Sudah! Pergilah, dan jangan ganggu aku!”

Keng In tidak berani membantah lagi. Sampai dua hari dia termenung memikirkan jalan terbaik. Dia ingin Milana menyerahkan diri dengan suka rela padanya, bukan membuat dara itu seperti boneka tanpa ingatan! Tiba-tiba dia teringat ketika dahulu bersama Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan pasukan pengawal menawan Milana. Kemudian muncul Gak Bun Beng, pemuda yang sejak kecil selalu menghadapinya sebagai musuh!

Dan pemuda itu telah menyerahkan Hok-mo-kiam kepada Milana, menolong gadis itu membebaskan diri dan rela mengorbankan diri menjadi tawanan. Bahkan dia telah memukul Bun Beng dengan pukulan Toat- beng-tok-ci, akan tetapi Bun Beng yang sudah tak berdaya itu di tengah jalan dapat lolos berkat pertolongan orang sakti yang dia sangka tentulah paman gurunya sendiri, Bu-tek Siauw-jin.

Ah, ada hubungan apakah antara Bun Beng dan Milana? Mudah saja diduga bahwa Bun Beng tentu mencinta Milana, kalau tidak, tak mungkin pemuda itu menyerahkan Hok-mo-kiam, dan juga rela membiarkan dara itu lolos dengan mengorbankan dirinya sendiri! Akan tetapi bagaimana dengan Milana? Cintakah Milana kepada pemuda itu? Dia harus mengetahui lebih dulu akan hal ini sebelum dia menggunakan siasat seperti yang dikatakan gurunya.

Beberapa hari kemudian, ketika Milana sedang duduk seorang diri di dalam taman, Keng In datang menghampirinya dan berkata, “Milana, aku sangat berterima kasih kepadamu bahwa beberapa hari yang lalu engkau telah menyelamatkan nyawaku saat aku pingsan di lautan.”

Milana menoleh, kedua pipinya menjadi merah. “Tidak perlu kau mengejek, Keng In. Engkau pingsan karena kecuranganku dan aku sama sekali bukan menolongmu, tapi hanya menghentikan niatku untuk membunuhmu secara pengecut.”

“Betapa pun juga, aku amat berterima kasih kepadamu, Milana. Aku mengerti engkau tentu jemu melihat betapa aku selalu mengharapkan cintamu. Aku terlalu mencinta engkau, Milana dan hal ini terdorong oleh kenyataan bahwa engkau belum mempunyai pilihan hati. Andai kata engkau telah mencinta seorang pria lain, hemm… agaknya aku akan tahu diri dan akan mundur.”

Tiba-tiba Milana memandang dengan tajam penuh selidik. “Benarkah itu, Keng In? Apakah engkau akan membebaskan aku kalau aku telah mencinta seorang pria lain?”

“Hemm… agaknya begitulah. Aku akan malu sekali kalau mengharapkan cinta kasih seorang wanita yang telah mempunyai pilihan orang lain. Hal itu akan amat rendah dan memalukan bagi seorang pria gagah. Kalau engkau memang telah jatuh cinta kepada orang lain, aku takkan menjadi penasaran lagi dan mengerti mengapa kau tidak dapat membalas cintaku.”

“Kalau begitu, Keng In. Dengarlah baik-baik. Aku memang telah mencinta pria lain maka aku tidak mungkin dapat menerima dan membalas cintamu!”

Kalau saja wajah pemuda itu tidak berwarna pucat selalu, kiranya tentu Milana akan melihat perubahan mukanya. Jantung pemuda itu bagai ditusuk rasanya dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk menekan perasaannya yang tertusuk.

“Hemm… benarkah itu, Milana? Ataukah hanya untuk alasan kosong belaka? Kalau memang benar kata- katamu, engkau harus dapat menyebutkan nama orang yang kau cinta itu.”

“Orangnya sudah kau kenal, Keng In. Dia adalah Gak Bun Beng…”

“Aaahhh…!” Seruan sederhana ini bukan karena kaget, melainkan karena kemarahan yang ditahan- tahannya. Dugaannya tidak keliru. Pemuda keparat Gak Bun Beng itu!

“Tapi dia itu anak haram!”

“Wan Keng In! Aku melarangmu menyebutnya dengan penghinaan seperti itu!” Milana bangkit berdiri, bertolak pinggang dan matanya mengeluarkan sinar berapi-api! Hal ini tambah meyakinkan hati Keng In bahwa benar-benar dara yang dipujanya ini mencinta Bun Beng!

“Memang kenyataannya begitu! Dia putera mendiang tokoh iblis Kang-thouw-kwi Gak Liat, sebagai hasil perkosaan iblis itu kepada seorang murid Siauw-lim-pai!”

“Perbuatan ayah atau ibu tiada sangkut-pautnya dengan anaknya! Apa pun yang menjadi riwayat hidup orang tuanya, aku tidak peduli dan Gak Bun Beng tetap merupakan satu-satunya pria yang paling baik bagiku, yang ku… cinta! Nah, aku sudah mengaku, engkau harus memegang janjimu, Wan Keng In!”

Keng In menahan kemarahannya yang meluap-luap, timbul dari cemburu dan iri hati. Dia meninggalkan Milana dan gadis ini diam-diam merasa khawatir juga. Dia tahu bahwa seorang yang sudah rusak akhlaknya seperti pemuda Pulau Neraka ini sukar diketahui isi hatinya, dan untuk meloloskan diri dari pulau itu seolah-olah tidak ada kemungkinan lagi. Dia hanya mengharapkan pertolongan dari ibunya, atau ayahnya.

Tidak mungkin ayah bundanya, juga Gak Bun Beng akan diam saja. Tentu tiga orang itu akan mencarinya dan setiap hari dia mengharap-harap munculnya seorang di antara mereka, atau kalau mungkin ketiganya karena untuk menghadapi Wan Keng In dan gurunya, kecuali ayahnya, agaknya belum tentu kalau ibunya atau Bun Beng akan dapat menang. Selain mereka bertiga, dia pun mengharapkan pertolongan dari Kaisar yang menjadi kakeknya. Tentu kakeknya itu kalau mendengar bahwa dia diculik orang akan mengerahkan pasukan mencarinya.

Akan tetapi Milana sama sekali tidak tahu bahwa Wan Keng In akan mengambil siasat yang amat keji, yang sama sekali tidak pernah diduganya, yaitu menggunakan racun yang dicampur dalam makanannya. Tanpa disadarinya, semenjak makan hidangan yang dicampuri racun oleh Keng In, lambat laun Milana menjadi makin pelupa dan akhirnya dia telah kehilangan ingatan sama sekali! Hanya samar-samar saja dia masih ingat akan orang-orang yang paling dekat dengan hatinya, yaitu ayah bundanya, dan terutama Gak Bun Beng!

Setelah melihat hasil dari racun seperti yang diajarkan gurunya sehingga keadaan dara tawanannya itu benar-benar tidak ingat apa-apa lagi, Wan Keng In lalu melanjutkan siasatnya. Malam hari itu dia memasuki kamar pondok Milana, membuka jendela dan sengaja mengeluarkan suara. “Sstttt… Milana…!”

Milana yang sudah hampir pulas itu bangun. Biar pun dia lupa ingatan, namun dia tidak kehilangan kepandaiannya dan sedikit suara itu cukup membuat dia terbangun dan siap menghadapi bahaya yang mengancam!

“Siapa…?” tegurnya.

“Aku… Gak Bun Beng!”

“Gak… Bun… Beng…?” Milana sudah meloncat turun dari pembaringannya dan dengan mata terbelalak ia melihat laki-laki yang sudah berada di dalam kamarnya itu. Seorang pemuda berpakaian sederhana, dengan memakai caping bundar lebar.

Keadaan dalam kamarnya remang-remang sehingga wajah orang itu tidak nampak jelas, akan tetapi andai kata keadaan terang sekali pun, Milana tidak akan mengenal lagi wajah orang yang dicintanya itu. Yang jelas teringat olehnya hanyalah nama Gak Bun Beng! Kini melihat orang yang selama ini dipikirkan dan dirindukannya telah datang, tentu saja dia girang bukan main!

“Milana… betapa rinduku kepadamu… aku cinta padamu, Milana. Aku Gak Bun Beng kekasihmu…”

“Koko…!” Milana berseru lirih dan dalam suaranya ini tercurah seluruh perasaan rindunya. Ketika pemuda itu memeluknya, Milana menekan mukanya di dada yang bidang itu sambil menangis terisak-isak, tangis kegirangan!

Biar pun pada saat itu Milana berada di bawah pengaruh racun perampas ingatan, namun perasaannya masih berkesan bahwa dia berada dalam keadaan berbahaya dan yang dirindukannya hanyalah ayah bundanya dan Gak Bun Beng, maka begitu pemuda itu muncul, tentu saja dia menjadi terharu, lega, dan girang. Kegirangan yang meluap ini membuat dia tidak menolak, bahkan menyambut dengan hangat peluk cium pemuda itu untuk melepaskan rindunya yang menyesak dada.

“Milana, kekasihku… jiwaku sayang…” Pemuda itu berbisik penuh gairah, mencium dahi, mata, hidung, bibir dengan penuh kemesraan sedangkan dara itu menyambut dengan mata dipejamkan, penuh penyerahan, penuh kebahagiaan.

Akan tetapi ketika pemuda itu memondongnya ke atas pembaringan, ketika dia merasa betapa tangan pemuda itu bergerak melanggar batas kesusilaan, bahkan mulai berusaha menanggalkan pakaiannya, Milana terkejut bukan main, membuka matanya dan meronta sambil berseru, “Jangan…!”

“Mengapa, Milana? Aku Gak Bun Beng kekasihmu…” Pemuda itu yang bukan lain adalah Wan Keng In yang menyamar sebagai Bun Beng, memeluk dan mendesak sambil mencium dengan nafsu birahi yang sudah memuncak ke ubun-ubunnya.

“Jangan…!” Milana kembali menepis tangan yang nakal itu.

“Milana, bukankah kita saling mencinta? Kau akan menjadi isteriku, Sayang…”

“Koko, jangan begini! Biar pun kita saling mencinta, akan tetapi kita belum menikah dan aku bukanlah seorang wanita rendahan yang dengan mudah dan murah dapat menyerahkan diri begini saja!” Suara dara itu terdengar tegas bercampur nada tidak senang dan kecewa.

“Milana…!”

Kini Milana meronta, melepaskan diri dan meloncat turun dari atas pembaringan. Sepasang matanya masih basah oleh air mata kegirangan tadi, akan tetapi alisnya berkerut dan suaranya tegas,

“Gak-koko! Aku menganggap engkau seorang laki-laki yang paling baik di dunia ini, akan tetapi mengapa sekarang engkau hendak melakukan hal yang amat keji?”

“Milana… aku cinta padamu…”

“Gak-koko, apa yang hendak kau lakukan ini sama sekali bukanlah cinta, melainkan nafsu iblis…! Apakah engkau hendak mengecewakan hatiku dan menodai kasih sayangku?”

Wan Keng In menekan perasaan yang sudah bergelora. Dia telah menggunakan siasat, meracuni gadis ini agar lupa segala, kemudian dia menyamar sebagai Bun Beng. Gadis itu memang tertipu, menganggap dia Gak Bun Beng, akan tetapi tetap saja siasatnya tidak berhasil mendapatkan diri dara itu dengan suka rela. Tadinya, kalau sampai usahanya berhasil dan Milana menyerahkan diri kepada ‘Gak Bun Beng’ yang diwakilinya, maka pelan-pelan dia akan memunahkan racun yang mempengaruhi diri Milana dan karena sudah terlanjur menyerahkan diri, tentu Milana akan menerima kenyataan bahwa dia telah menjadi milik Wan Keng In! Siapa mengira, biar pun berada dalam keadaan tidak sadar dan lupa ingatan, ternyata gadis itu masih saja tetap mempertahankan kehormatannya, biar pun terhadap Gak Bun Beng, pemuda yang dicintanya!

“Milana, engkau mengecewakan hatiku!” Dia membentak marah akan tetapi masih ingat untuk memburukkan nama Gak Bun Beng di depan dara itu. “Berbulan-bulan aku menahan rindu dan setelah sekarang kita bertemu, engkau menolak pencurahan kasih sayangku. Hmm, apa kau kira tidak ada wanita lain yang akan suka melayani cintaku?” Setelah berkata demikian, Wan Keng In meninggalkan pondok itu.

“Gak-koko…!” Milana menjerit dan mengejar, akan tetapi melihat bayangan pemuda itu lenyap dalam gelap.

Kemudian dia kembali ke dalam kamarnya, menjatuhkan diri ke atas pembaringan dan menangis. Milana merasa bingung sekali. Dunia seakan-akan menjadi tempat yang tidak menyenangkan baginya. Dia selalu merasa bingung dan meragu, sekarang ditambah lagi dengan tingkah laki-laki yang paling dicintanya, yang demikian tega hendak merenggut kehormatannya dengan paksa!

Sementara itu Wan Keng In marah bukan main. Semua ini gara-gara Gak Bun Beng, pikirnya. Kebenciannya memuncak setelah dia mendengar sendiri betapa Milana mencinta pemuda yang dianggapnya musuh besar itu. Dia harus mencari Gak Bun Beng, dan membunuhnya! Baru puas rasa hatinya kalau saingan itu lenyap dari permukaan bumi.

Dia lalu memanggil Kong To Tek, tokoh Pulau Neraka berkepala gundul bermuka merah muda yang menjadi orang kepercayaannya, berpesan kepada pembantu ini agar menjaga Pulau Neraka, melayani kebutuhan gurunya, dan selama dia pergi meninggalkan pulau agar mencampuri hidangan Milana dengan bubukan obat yang telah disiapkannya, hanya sedikit perlu untuk menjaga agar ingatah dara itu tetap kabur dan pelupa! Setelah meninggalkan semua pesan itu, malam itu juga Wan Keng In naik perahu meninggalkan Pulau Neraka.

Beberapa hari kemudian, semenjak Wan Keng In mendarat dan mulai dengan perjalanannya untuk mencari Gak Bun Beng, mulai geger pula dunia kang-ouw dengan munculnya seorang pemuda yang amat kejam dan ganas, yang menyebar maut di antara orang-orang gagah, seorang pemuda yang lihai bukan main, yang memegang pedang Lam-mo-kiam dan yang bernama… Gak Bun Beng!

Tentu saja pemuda itu adalah Wan Keng In! Karena bencinya kepada Bun Beng yang dianggapnya telah merebut hati kekasihnya, ia sengaja menggunakan nama musuhnya untuk malang-melintang, mendatangi perkumpulan-perkumpulan dari golongan bersih, membunuh tokoh-tokohnya yang berani melawannya. Sebentar saja nama Lam-mo-kiam (Pedang Iblis Jantan) dikenal oleh dunia kang-ouw dengan hati gentar, dan nama Gak Bun Beng yang selalu mengaku keturunan atau putera mendiang datuk kaum sesat Gak Liat itu juga dikenal dengan hati benci.

Memang Keng In sengaja memperkenalkan nama Gak Bun Beng sebagai putera Gak Liat. Biar pun Gak Liat sudah meninggal dunia, namun nama Kang-thouw-kwi Gak Liat sebagai seorang di antara para datuk kaum sesat amatlah terkenal, maka tidak ada seorang pun yang meragukan lagi bahwa keturunan datuk itu yang bernama Gak Bun Beng tentulah juga jahat sekali seperti ayahnya!

Betapa pun jahat perbuatan Wan Keng In itu, tetapi hal ini tentu saja tidak disadari oleh pemuda itu sendiri. Dia menganggap bahwa Bun Beng amat jahat, menghancurkan harapannya, merusak cinta kasihnya, menggagalkan hubungannya dengan dara yang dicintanya. Dia menganggap Bun Beng semenjak dulu menantang dan memusuhinya, dan dia menganggap sudah sepatutnya kalau Bun Beng dihukumnya, di antaranya dengan merusak namanya di dunia kang-ouw!

Dan anggapan Wan Keng In ini bukanlah dibuat-buat. Sudah menjadi kebiasaan kita yang dianggap lajim bahwa kita menilai seorang dari keturunannya, dari masa lalu, dan karena penilaian inilah maka selalu terdapat permusuhan di dunia ini. Wan Keng In sudah mendengar bahwa Gak Bun Beng adalah seorang anak haram yang lahir dari seorang wanita yang diperkosa oleh Gak Liat Si Datuk kaum sesat. Tentu saja dengan sendirinya dia menganggap rendah Gak Bun Beng, dan dianggapnya seorang yang hina dan sudah sepatutnya kalau jahat!

********************

Perahu kecil itu meluncur cepat sekali di antara gumpalan-gumpalan es besar kecil yang malang-melintang di atas air laut. Dara muda yang mendayung perahu dengan kedua tangannya yang kecil halus namun penuh berisi tenaga sakti itu mendayung sambil menangis terisak-isak. Dibiarkannya air matanya turun mengalir di sepanjang hidungnya, di kanan kiri hidung terus ke pinggir mulut dan menitik turun ke dada melalui dagunya. Matanya tak pernah berkejap, memandang ke depan dengan kosong.

Setelah perahu kecil itu keluar dari gumpalan-gumpalan es, layar kecil dipasang dan angin mulai menggerakkan perahu, dara itu bangkit berdiri, mengemudikan layar berdiri termenung seperti arca. Isaknya tak terdengar lagi, akan tetapi air mata masih bertitik turun jarang-jarang. Tangan kiri memegangi tali layar tangan kanan meraba gagang pedang di pinggang.

“Singggg…!” Tampak kilat berkelebat ketika pedang itu tercabut keluar dari sarungnya. Tangan kanan itu membawa pedang di depan dahi, tegak dan seolah-olah hendak diciumnya. Bibir yang halus tipis agak pucat itu bergerak dan terdengar suaranya lirih, “Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, aku bersumpah untuk membunuh engkau dan semua kaki tanganmu!”

Agaknya sumpah ini meredakan kemarahan dan kedukaan hati Giam Kwi Hong. Dia menyarungkan kembali pedang Li-mo-kiam dan duduk di perahu yang meluncur cepat terdorong angin menuju ke darat. Setelah kini duduk melamun sambil memandang ke barat, arah daratan besar, terbayanglah dia akan wajah seorang yang selama ini amat dirindukannya. Wajah yang tampan, gagah dan sederhana, wajah Gak Bun Beng! Dia mengeluh ketika teringat betapa Gak Bun Beng, pria satu-satunya di dunia ini yang telah berhasil merampas kasih hatinya, telah ditunangkan dengan Milana, puteri pamannya. Hancurlah hatinya. Musnahlah harapan untuk hidup bahagia!

Memang lucu dan janggal sekali manusia dan tingkahnya hidup di dunia ini. Kita sebagai manusia selalu rindu akan kebahagiaan, selalu gandrung dan mengejar-ngejar apa yang disebut kebahagiaan! Apakah sebenarnya kebahagiaan yang sebutannya dikenal oleh semua orang, yang selalu dicari dan dikejar oleh manusia, akan tetapi yang agaknya tidak ada seorang pun manusia memilikinya itu? Apakah sesungguhnya kebahagiaan? Apakah itu yang disebut hidup bahagia?

Adakah kebahagiaan itu suatu angan-angan kosong yang hanya direka oleh manusia yang merasa tidak bahagia? Ataukah kebahagiaan itu suatu keadaan tertentu yang dapat dirasakan dan dihayati? Orang dalam keadaan remuk redam hatinya karena kegagalan cinta seperti Kwi Hong, kiranya kebahagiaan berarti kalau dia dapat hidup bersama orang yang dicintanya! Orang yang menderita sakit berat, agaknya akan menganggap bahwa kebahagiaan adalah kalau dia sembuh dari penyakitnya! Orang yang kelaparan tentu akan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sepiring nasi yang akan mengenyangkan perutnya, atau bagi seorang yang kehausan kebahagiaan adalah kalau dia dapat meneguk air jernih sejuk sepuas perutnya!

Orang yang rindu akan kebahagiaan, yang mengejar-ngejar kebahagiaan, berarti bahwa orang itu tidak mengenal kebahagiaan. Kalau dia tidak mengenal kebahagiaan, bagaimana mungkin dia akan dapat berhasil mencari dan menemukan kebahagiaan? Kalau dalam pencariannya dia menemukan, tentu yang ditemukan itu bukan kebahagiaan, melainkan sesuatu yang diinginkannya, dan sesuatu yang diinginkan kebetulan sesuatu yang sudah dikenalnya atau dialaminya. Tak dapat disangkal pula karena memang kenyataan bahwa terpenuhinya keinginan mendatangkan kepuasan, akan tetapi kepuasan ini disusul dengan kebosanan sehingga timbul pula keinginan untuk hal-hal lain yang belum dapat diraihnya. Demikian terus-menerus kita terseret oleh lingkaran setan yang tiada berkeputusan, dan kebahagiaan pun tak kunjung tiba!

Yang terpenting bagi kita adalah untuk mengetahui kenapa kita mencari kebahagiaan? Orang yang mencari kebahagiaan berarti tidak berbahagia, bukan? Kalau sudah bahagia tak mungkin mencari kebahagiaan lagi! Kalau kita tidak berbahagia, apa sebabnya kita tidak berbahagia? Inilah yang penting! Seperti orang yang mencari kewarasan tentulah orang yang tidak waras! Yang penting adalah untuk mengetahui mengapa kita tidak waras, dan apa penyakit yang kita derita. Yang penting adalah menghilangkan penyakit itu, bukannya mengejar kewarasan. Yang penting adalah menghilangkan penyebab tidak bahagia atau yang biasa disebut derita dan sengsara itu, bukannya mengejar bahagia! Kalau tidak ada lagi yang menyebabkan kita tidak bahagia, maka kebahagiaan tentu ada!

Kwi Hong pun dirusak oleh pikirannya sendiri yang seperti semua manusia, tak pernah mengenal diri dan keadaan sendiri, tak pernah puas dengan keadaan seperti apa adanya. Kekecewaannya mendengar Bun Beng bertunangan dengan Milana, penyesalannya karena dia telah tertipu oleh Bhong Ji Kun dan kawan- kawannya sehingga dia melakukan kesalahan besar di depan pamannya, membuat dia berduka dan sakit hati. Duka, sakit hati, penyesalan dan kemarahan akhirnya membentuk watak yang keras di dalam hati Kwi Hong. Membuat dia seolah-olah tidak peduli lagi akan hidupnya, tidak peduli akan keadaan sekitarnya.

Perahunya meluncur cepat, lebih cepat dari tadi setelah berhasil keluar dari gumpalan es yang mengambang di permukaan air, kini menuju ke barat, ke arah daratan. Badai yang mengamuk di bagian selatan Pulau Es tidak mencapai tempat yang dilalui Kwi Hong itu, akan tetapi tetap saja pengaruhnya ada pada air laut yang bergelombang, akan tetapi tidak mengganggu Kwi Hong yang pandai menguasai perahu layarnya, bahkan perahu itu terdorong pula oleh lajunya ombak.

Lima orang nelayan yang melihat betapa di udara sebelah selatan dan timur gelap, tanda bahwa ada badai mengamuk, memandang terheran-heran ketika melihat sebuah perahu layar kecil melaju ke arah pantai. Mereka sendiri sebagai nelayan-nelayan yang berpengalaman, melihat ancaman badai, tidak berani melanjutkan usaha mereka mencari ikan, dan hanya menanti di pantai. Tadinya mereka mengira bahwa perahu layar itu tentu milik seorang nelayan yang terserang badai sehingga tersesat sampai ke tempat itu. Akan tetapi betapa kaget dan herannya hati mereka ketika perahu layar itu tiba di pantai, mereka melihat seorang dara yang cantik jelita turun dari perahu layar meloncat ke darat dan sama sekali tidak mempedulikan mereka.

Akan tetapi tiga orang di antara para nelayan itu adalah orang-orang muda yang kasar. Melihat seorang dara cantik sendirian saja turun dari perahu itu, mereka segera menghampiri, dan seorang di antara mereka sudah berseru, “Aiihhh, Nona manis, tunggu dulu!”

“A-ban, jangan ganggu orang!” Dua orang nelayan tua yang tidak ikut maju menegur, akan tetapi A-ban dan dua orang kawannya itu tidak mau peduli akan teguran itu dan berlari mengejar Kwi Hong yang sudah melangkah hendak pergi.

Mendengar seruan itu, Kwi Hong menghentikan langkahnya, tanpa menoleh, hanya berdiri tegak seperti arca, akan tetapi sepasang alisnya berkerut dan sinar matanya mengeluarkan cahaya kilat. Hatinya yang sedang dilanda duka, kecewa, penyesalan, kemarahan dan sakit hati itu seperti dibakar mendengar orang secara kasar dan kurang ajar menyebutnya nona manis!

Tiga orang nelayan muda itu dengan sikap cengar-cengir sudah tiba di depan Kwi Hong dan mereka makin kagum melihat dara ini dari dekat karena Kwi Hong memang memiliki kecantikan yang mengagumkan. Melihat alis itu berkerut dan bibir manis itu cemberut, tiga orang itu tersenyum menyeringai. Mereka mengira bahwa wanita ini tentu bersikap ‘jual mahal’ karena jelas bahwa satu kali seruan saja cukup membuat wanita itu berhenti, tanda bahwa ‘ada kontak’.

“Aihhhh, Nona, jangan cemberut. Kalau engkau marah makin manis, tidak kuat aku memandangnya!” kata orang pertama.

“Jangan jual mahal, ah, berapa sih harganya?” orang kedua menyambung.

“Kami hanya ingin bicara denganmu, Nona cantik manis, siapakah nama, di mana tempat tinggal, berapa usia, sudah menikah atau belum?” orang ketiga berkata dengan suara dibuat-buat seperti orang bernyanyi.

“Singgg…! Crat-crat-crat…!”

Tiga orang nelayan itu hanya melihat sinar kilat berkelebat menyambar, mereka tidak sempat lagi terheran karena sinar kilat itu adalah sinar pedang Li-mo-kiam yang sudah menyambar ke arah leher mereka dan robohlah tiga orang ini bergelimpangan dengan leher hampir putus dan nyawa melayang, seketika itu juga.

“Ahhh…!” Dua orang nelayan tua memandang terbelalak dan seketika mereka menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil.

Kwi Hong sendiri terkejut menyaksikan akibat kemarahannya. Sejenak dia tertegun dan terheran mengapa tiga orang itu dibunuhnya? Memang mereka kurang ajar, akan tetapi dia sendiri kini merasa betapa dia telah bertindak keterlaluan, karena kesalahan mereka itu belum patut untuk dihukum dengan kematian! Dia menyesal, akan tetapi sudah terlambat. Kini mendengar seruan kaget itu dia menoleh dan melihat dua orang nelayan tua berlutut dengan ketakutan, dia lalu berkata, suaranya halus seperti biasa.

“Paman berdua tidak perlu takut. Mereka ini menghinaku dan sudah mati. Kuburlah mayat mereka dan ini perahuku boleh kalian ambil. Kuberikan kepada kalian.” Setelah berkata demikian, Kwi Hong berkelebat dan sekejap mata saja dia telah meloncat dan berlari jauh, kemudian lenyap di antara pohon-pohon.

Dua orang kakek itu terbelalak, sampai lama tidak dapat bangkit berdiri mengira bahwa wanita yang turun dari perahu di waktu laut bergelombang itu tentu seorang siluman atau iblis penghuni lautan!

Semenjak Li-mo-kiam yang sejak diciptakannya selalu haus darah itu berhasil minum darah tiga orang nelayan, pedang iblis itu menjadi makin haus darah. Pengaruhnya ini dengan cepat dan mudah menjalar ke dalam pikiran Kwi Hong yang pada saat itu pun sedang dihimpit sakit hati, dendam, kekecewaan, kemarahan dan kedukaan, sehingga dara ini berubah menjadi seorang dara yang ganas sekali. Pendidikan dasar semenjak dia kecil di Pulau Es, gemblengan yang didapatnya dari Pendekar Super Sakti, tentu saja cukup kuat untuk mencegahnya terseret ke dalam lembah kejahatan.

Tidak, Giam Kwi Hong masih belum menjadi seorang wanita iblis yang suka melakukan kejahatan sebagai kesenangannya, sama sekali tidak. Dia masih berwatak pendekar yang selalu berhasrat menentang kejahatan, namun perubahan wataknya itu membuat dia menjadi seorang yang amat kejam dan ganas.

Hal ini terbukti di sepanjang perjalanannya menuju ke kota raja. Setiap kali dia bertemu dengan orang yang dianggapnya jahat, dengan perampok dan bajak sungai, tentu mereka itu menjadi korban kehausan Li-mo- kiam dan dibasminya semua sampai habis ke akar-akarnya, tidak seorang pun diberi ampun. Maka muncullah nama baru yang amat ditakuti oleh golongan hitam, julukan yang dengan sendirinya diperoleh Kwi Hong karena pedang dan keganasannya. Perjalanannya ke kota raja dari Pulau Es ini menggoreskan jejak yang mendalam karena perbuatannya membasmi para penjahat itu, dan berkumandanglah nama julukan Mo-kiam Lihiap (Pendekar Wanita Pedang Iblis)!

Karena merasa menyesal sekali bahwa dia telah tertipu oleh para pemberontak sehingga dia melakukan kesalahan besar kepada pamannya, bahkan dialah yang menjadi gara-gara sampai bibi Phoa Ciok Lin tewas, Kwi Hong menjadi seorang pendendam besar dan perasaan ini ditambah kekecewaan dan kedukaan membuat dia seorang yang tidak mengacuhkan segala sesuatu, dan dia menjadi pula seorang pembenci!

Beberapa pekan kemudian tibalah dia di kota raja yang sekarang sudah aman. Dia mulai melakukan penyelidikan dan mendengar betapa pasukan pemberontak sudah hancur sama sekali oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Nirahai. Hal ini tidak menarik hatinya karena dia memang sudah tahu. Yang ingin diketahuinya adalah di mana adanya Milana dan… terutama sekali Gak Bun Beng. Akhirnya dia berhasil mendapat keterangan yang mengejutkan bahwa Milana, puteri dari Panglima Wanita Nirahai, cucu dari Kaisar sendiri, telah lama lenyap diculik orang! Tidak ada yang tahu siapa penculiknya dan tidak ada pula yang tahu siapa atau di mana adanya Gak Bun Beng.

Hati Kwi Hong menjadi bimbang. Kalau menurut pesan pamannya, dia harus mencari Milana dan Bun Beng. Tapi kini sudah kurang semangatnya untuk melaksanakan perintah pamannya itu. Apa perlunya mencari mereka? Mereka bukanlah anak kecil. Bertemu dengan Milana dan Bun Beng, melihat mereka berdua telah menjadi calon suami isteri, hanya akan menusuk perasaannya sendiri saja. Pamannya telah membencinya. Jika dia berhasil menemukan Milana dan Bun Beng, berhasil mengajak mereka pulang ke Pulau Es, tentu dia hanya akan lebih menderita lagi. Lebih baik tidak lagi bertemu dengan Milana, tidak lagi bertemu dengan pamannya. Dia tidak lagi akan pergi ke Pulau Es!

Kwi Hong menggigit bibir menahan isaknya yang tersedu dari dalam dadanya. Digunakan kekerasan hatinya untuk menahan menetesnya air mata. Tak perlu dia menangis. Dia bisa hidup sendiri. Memang dia seorang yang sebatang kara, seorang yatim piatu.

Ah, ada gurunya yang kedua. Bu-tek Siauw-jin! Kakek sinting itulah satu-satunya orang yang baik kepadanya. Teringat akan watak kakek yang sinting dan aneh itu, lenyaplah kedukaan hati Kwi Hong dan dia tersenyum geli sendiri. Tentu saja! Dia harus pergi mencari kakek yang menjadi gurunya itu, Bu-tek Siauw-jin, tokoh besar Pulau Neraka. Tentu saja kakek itu kemungkinan besar kembali ke Pulau Neraka.

Berdebar tegang juga hatinya ketika ia mengingat akan hal ini. Juga pemuda iblis itu, Wan Keng In, dan gurunya yang mengerikan, kakek Mayat Hidup yang berjuluk Cui-beng Koai-ong, berada di Pulau Neraka! Sungguh pun hal ini pun belum tentu melihat kenyataan betapa pemuda yang menjadi putera bibi Lulu yang kini menjadi isteri pamannya di Pulau Es itu sering kali berkeliaran di daratan besar.

Andai kata benar berada di sana dan dia berjumpa dengan pemuda iblis itu, dia pun tidak takut. Dia akan menyampaikan pesan bibi Lulu, memberi tahu bahwa bekas Ketua Pulau Neraka itu kini telah menjadi isteri Majikan Pulau Es dan minta supaya pemuda itu suka menyusul ibunya ke Pulau Es. Akan tetapi kalau pemuda iblis itu tidak mau, dia tidak akan peduli. Kalau pemuda itu masih memusuhinya seperti dahulu, dia tidak takut menghadapinya. Setelah dia menerima gemblengan Bu-tek Siauw-jin dan memegang Li-mo- kiam, tidak takut lagi dia berhadapan dengan pemuda iblis itu atau gurunya sekali pun, atau siapa saja.

Dengan pikiran ini pergilah Kwi Hong meninggalkan kota raja, kembali ke utara dan kini tujuan perjalanan hanya satu, yaitu ke Pulau Neraka! Dia maklum bahwa tidaklah mudah mencari Pulau Neraka akan tetapi dia pernah dibawa oleh bibi Lulu ke pulau itu, dan dapat mengira-ngirakan di sebelah mana letak Pulau Neraka.

Giam Kwi Hong melakukan perjalanan cepat, melalui pegunungan dan hutan-hutan yang sunyi. Pada suatu pagi, ketika dia keluar dari sebuah hutan, dia melihat dari jauh orang-orang sedang bertempur. Tiga orang yang bersenjata tongkat hitam melawan lima orang bersenjata toya panjang. Biar pun ilmu tongkat tiga orang itu aneh dan cukup lihai, namun menghadapi pengeroyokan lima orang yang juga memiliki ilmu toya yang mirip-mirip aliran Siauw-lim-pai, mereka bertiga terdesak hebat.

Kwi Hong tidak mempedulikan urusan orang lain, akan tetapi melihat betapa pertandingan itu tidak adil dan berat sebelah, tiga orang dikeroyok lima, dia cepat meloncat ke tengah arena pertandingan sambil berseru, “Tahan…!”

Delapan orang itu yang melihat bahwa yang melerai mereka hanya seorang gadis muda, tentu saja tidak mau berhenti bertanding, bahkan dua orang Pek-eng-pang yang merasa bahwa gadis itu mengganggu pihak mereka yang sudah hampir menang, mengira bahwa gadis itu tentu hendak membantu lawan. Dengan marah mereka menggerakkan toya mereka dan membentak, “Pergi kau!”

“Sing…! Trak-trakkk!” Dua batang toya itu patah-patah bertemu dengan Li-mo-kiam. “Berhenti dan jangan bertempur kataku!” Kwi Hong membentak, mengelebatkan pedangnya.
Dua orang pemegang toya, yaitu orang-orang dari perkumpulan Pek-eng-pang, terkejut dan terbelalak memandang toya yang sudah buntung di tangan mereka. Toya mereka terbuat dari baja murni yang kuat, mengapa bertemu dengan pedang di tangan gadis itu seolah-olah berubah seperti sebatang bambu saja.

“Siapa kau?” Seorang di antara lima orang Pek-eng-pang yang menjadi pemimpin mereka berkata. Orang ini berpakaian seperti jubah pendeta, rambutnya digelung melengkung ke atas. “Mengapa kau berani mencampuri urusan kami?”

“Aku siapa bukan soal, yang jelas kalian adalah orang-orang tak tahu malu dan pengecut, mengeroyok dengan jumlah lebih besar. Karena itu, aku tidak senang dan kalian harus berhenti bertempur. Kalian boleh bertempur kalau satu lawan satu, atau tiga lawan tiga.”

“Perempuan muda yang sombong! Berani sekali kau menghina kami dari Pek-eng-pang, ya? Apakah kau sudah bosan hidup?” Orang yang dandanannya seperti seorang saikong itu membentak.

“Bukan aku yang bosan hidup, akan tetapi kalian!” bentak Kwi Hong yang sudah marah sekali, pedang Li- mo-kiam di tangannya sudah menggetar.

“Siluman betina, kau boleh bantu tikus tikus Koai-tung-pang ini kalau sudah bosan hidup!” Orang itu berkata dan memberi isyarat kepada empat orang kawannya.

“Tidak perlu dengan mereka, aku sendiri sudah cukup untuk melenyapkan kalian orang-orang sombong!” Kwi Hong bergerak cepat sekali, pedangnya berubah menjadi kilat menyambar-nyambar.

Lima orang itu terkejut dan cepat mereka menangkis dan balas menyerang. Akan tetapi, seperti juga tadi, begitu bertemu dengan Li-mo-kiam, toya mereka patah-patah dan sekali ini Li-mo-kiam tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan menyambar ganas ke depan. Terdengar jerit lima kali disusul robohnya lima batang tubuh para anggota Pek-eng-pang dan tewas seketika karena leher mereka ditembus pedang Li-mo-kiam yang ganas dan ampuh!

Melihat dara itu berdiri tegak memandang pedang Li-mo-kiam di tangan, pedang yang kembali sudah minum darah lima orang akan tetapi yang agaknya semua darah disedotnya habis karena di permukaan pedang itu sama sekali tidak tampak noda darah, tidak ada setetes pun, tiga orang anggota Koai-tung-pang menggigil kakinya.

“Mo-kiam Lihiap…” Mereka bertiga berbisik dan menjatuhkan diri berlutut. “Kami menghaturkan terima kasih atas bantuan Lihiap,” kata seorang di antara mereka.

Kwi Hong tersenyum sedikit dan menyimpan pedangnya. “Kalian sudah mengenalku?”

“Baru sekarang kami bertemu dengan Lihiap, akan tetapi nama besar Mo-kiam Lihiap siapakah yang tidak mengenalnya. Harap Lihiap tidak kepalang menolong kami. Kami adalah anggota-anggota Koai-tung-pang di Bukit Serigala, sudah lama kami selalu diganggu oleh pihak Pek-eng-pang yang jauh lebih besar dari perkumpulan kami. Kalau mendengar bahwa ada lima orang anggota mereka tewas, tentu mereka akan ke sini dan kami akan celaka.”

“Lima orang telah mati semua, bagaimana mereka tahu?”

“Lihiap tidak mengerti. Di samping lima orang ini, tadi masih ada seorang lagi yang bersembunyi dan melihat-lihat keadaan. Mereka selalu begitu, melepas mata-mata melakukan penyelidikan. Kini orang itu tentu telah melapor dan kami pasti akan celaka, mungkin perkumpulan kami akan diserbu! Kini mereka mendapat alasan yang kuat, lima orang anggota mereka tewas, sungguh hebat sekali…” Pemimpin tiga orang itu berkata dengan suara gemetar mengandung rasa takut.

“Hemmm, kalian mengira bahwa aku membunuh mereka karena aku membantu kalian? Sama sekali bukan. Aku tak mau mencampuri urusan kalian yang tiada sangkut pautnya dengan aku! Aku tadi melerai bukan untuk membantu kalian, melainkan karena tidak suka melihat perkelahian yang berat sebelah. Dan, aku membunuh karena mereka menghinaku. Sudahlah!” Sebelum tiga orang anggota Koai-tung-pang itu sempat membantah, tubuh Kwi Hong berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

Tiga orang itu saling pandang dengan muka pucat. “Celaka…!” kata pemimpin mereka, “Kalau begini, kita akan celaka. Lebih baik dia tadi tidak muncul, paling hebat kita hanya dirobohkan oleh orang-orang Pek- eng-pang dan mereka tentu tidak akan membunuh kita. Sekarang, keadaan lain lagi, bukan hanya kita akan celaka, bahkan seluruh Koai-tung-pang tentu akan dihancurkan oleh Pek-eng-pang.”

“Lebih baik kita melapor kepada Pangcu (Ketua)!” usul seorang di antara mereka. Tergesa-gesa mereka lalu berlari pergi, meninggalkan lima buah mayat itu untuk cepat-cepat melaporkan kepada ketua mereka di lereng Bukit Serigala yang tidak jauh dari tempat itu.

Kwi Hong sudah melanjutkan perjalanannya dengan cepat, tidak mempedulikan dan sudah melupakan lagi urusan tadi. Akan tetapi tak lama kemudian, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya ketikar melihat debu mengepul dari depan dan muncullah sepuluh orang berlari-lari cepat mendatangi. Mereka dikepalai oleh seorang saikong berjubah lebar yang usianya sudah lima puluh tahun lebih. Sepuluh orang itu semua memegang sebatang toya panjang dan melihat ini Kwi Hong dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang Pek-eng-pang, kawan-kawan dari lima orang yang dibunuhnya tadi. Sinar matanya menjadi berkilat berbahaya karena dara ini telah menjadi marah sekali.

“Dia inilah orangnya!” Seorang di antara mereka menuding, agaknya orang inilah yang tadi menjadi mata- mata dan yang menyaksikan ketika lima orang anggota mereka itu tewas oleh pedang Li-mo-kiam di tangan Kwi Hong.

Mereka sudah tiba di depan Kwi Hong dan saikong itu membentak marah, “Nona, benarkah engkau telah membunuh mati lima orang anggota kami?”

“Kalau benar demikian, kalian mau apakah?”

Saikong itu menjadi makin marah, toya di tangannya sudah bergerak seolah-olah dia hendak menyerang. “Hemmmm, engkau benar-benar seorang wanita muda yang sombong sekali. Kalau benar demikian, mengapa kau membunuh para anggota kami?”

“Mereka telah menghinaku, tentu saja kubunuh.”

“Perempuan rendah, kau sungguh kejam. Siluman betina yang harus dienyahkan dari muka bumi!” Saikong itu berteriak dan memberi isyarat kepada anak buahnya. Mereka menyerbu dengan toya mereka sambil mengurung Kwi Hong.

“Awas pedangnya tajam sekali!” teriak orang yang tadi mengintai dan melihat betapa toya kawan- kawannya patah semua bertemu dengan pedang.

Akan tetapi teriakannya terlambat karena sudah ada dua batang toya yang patah bertemu pedang, bahkan pedang itu terus membacok ke depan dan dua orang anggota terpelanting mandi darah!

“Kurung dan serang! Jangan adukan senjata!” Saikong itu berseru dan dia sendiri menerjang dengan hebatnya. Gerakan saikong ini memang hebat, tenaganya besar dan permainan toyanya adalah permainan ilmu toya dari Siauw-lim-pai yang sudah bercampur dengan ilmu silat lain dari golongan hitam.

Kwi Hong bersikap tenang dan terpaksa dia harus mengelak ke sana ke mari karena datangnya senjata lawan seperti hujan. Mereka berlaku cerdik, mengeroyoknya dari jarak jauh, tidak mau mengadu senjata dan mengandalkan toya mereka yang panjang untuk menyerang dari segenap penjuru.

Tiba-tiba tampak datang delapan orang yang kesemuanya memegang tongkat hitam. Itulah rombongan Koai-tung-pang yang juga dipimpin oleh ketuanya. Begitu tiba di situ dan melihat gadis perkasa itu dikeroyok orang-orang Pek-eng-pang sedangkan dua orang di antara mereka telah roboh, Ketua Koai- tung-pang berseru,

“Pek-eng-pangcu (Ketua Pek-eng-pang) dia itu adalah Mo-kiam Lihiap, musuh kita bersama. Mari kami bantu kalian!”

Kini delapan orang Koai-tung-pang itu serentak maju dan mengeroyok Kwi Hong. Tentu saja gadis ini menjadi marah sekali. “Bagus! Majulah orang-orang pengkhianat dan pengecut!” Dia begitu marahnya sehingga dialah yang menerjang maju ke orang-orang Koai-tung-pang, mengelebatkan pedangnya dan menggunakan ginkang-nya.

“Singgg-trang-trang-trakk!”

Tiga batang tongkat patah-patah dan dua orang anggota Koai-tung-pang roboh dan tewas seketika oleh babatan pedang Li-mo-kiam. Namun teman-temannya mengurung ketat. Kini masih ada delapan orang Pek-eng-pang dan enam orang Koai-tung-pang yang mengurung, menyerang dari jarak jauh dan selalu menarik senjata mereka kalau sinar pedang Li-mo-kiam berkelebat. Menghadapi pengeroyokan ini, biar pun tidak terdesak, Kwi Hong merasa repot juga.

“Wuuuttt… singgg… aughhh…!”

Teriakan saling susul terdengar ketika ada sinar kilat menyambar dari luar kepungan, disusul robohnya dua orang anggota Pek-eng-pang. Pengepungan menjadi kacau dan mereka cepat membalik. Kiranya di situ telah berdiri seorang pemuda tampan yang memegang sebatang pedang yang serupa dengan pedang yang berada di tangan Kwi Hong, hanya agak lebih panjang.

“Nona Kwi Hong, jangan khawatir, aku membantumu!”

Biar pun Kwi Hong terheran melihat Wan Keng In, pemuda iblis dari Pulau Neraka itu bersikap membantunya, namun dia memang tidak senang kepada pemuda itu, dan membentak, “Aku tidak butuh bantuanmu!”

“Ha-ha-ha, betapa pun juga, aku mau membantumu. Nanti saja kita bicara, sekarang mari kita berlomba membasmi cacing-cacing ini, kita lihat siapa yang lebih hebat antara murid Cui-beng Koai-ong dan murid Bu-tek Siauw-jin!”

“Boleh kau coba! Li-mo-kiam ini tidak akan kalah oleh Lam-mo-kiam itu!” jawab Kwi Hong yang segera mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan para pengeroyok.

Wan Keng In tidak mau kalah, pedang Lam-mo-kiam di tangannya berkelebatan bagai naga sakti mengamuk. Yang celaka adalah para pengeroyok itu. Baru mengeroyok gadis pemegang Li-mo-kiam saja sudah payah, kini ditambah lagi pemuda lihai yang membawa Lam-mo-kiam, Sepasang Pedang Iblis itu mengamuk dan seolah-olah hidup di tangan pemuda dan gadis itu. Darah berceceran dan muncrat dari tubuh yang hampir putus, mayat berserakan dan tak lama kemudian, habislah semua pengeroyok termasuk ketua kedua buah perkumpulan itu. Tinggal Kwi Hong dan Keng In yang berdiri memandang pedang mereka yang sedikit pun tidak bernoda darah biar pun Sepasang Pedang Iblis itu telah minum darah belasan orang!

“Ha-ha-ha! Engkau tidak kecewa menjadi murid Susiok!” Keng In memuji dan bukan pujian kosong karena dia betul-betul merasa kagum. Diam-diam dia ingin sekali membuktikan apakah gadis murid susiok-nya ini akan mampu menandinginya.

Di lain pihak, Kwi Hong juga heran melihat sikap Keng In yang lain dari dahulu. Dahulu pemuda iblis itu selalu memusuhinya, akan tetapi mengapa kini membantunya dan bersikap ramah. Dia tidak peduli akan ini semua dan segera teringat akan pesan Lulu. Dengan pedang Li-mo-kiam masih di tangan, para korban pedang itu masih berserakan di sekitar kakinya dan darah masih bercucuran, dia berkata,

“Wan Keng In, kebetulan sekali kita saling bertemu di sini. Aku membawa pesan dari ibumu untukmu.”

Berkerut alis Keng In mendengar ini. Dia juga sedang terheran memikirkan ke mana perginya ibunya, sungguh pun hal itu tidak menyusahkan hatinya benar.

“Di mana kau berjumpa dengan ibuku? Dan apa yang dipesannya? Eh, Nona. Apakah tidak lebih baik kalau kita bicara di tempat lain, tidak di antara bangkai-bangkai yang menjijikkan ini?”

“Terserah kepadamu,” jawab Kwi Hong singkat.

Keng In kemudian meloncat dan berlari ke dalam hutan di sebelah kiri, dan Kwi Hong menyusulnya. Kini mereka berhadapan di bawah sebatang pohon yang besar.

“Nah, di sini kan lebih enak. Akan tetapi mengapa kau tidak menyimpan pedangmu?”

Kwi Hong memandang pedang yang masih dipegangnya. “Hmm, menghadapi engkau yang memegang pedang terhunus, lebih baik aku tidak menyimpan pedangku.”

Keng In mengangkat alisnya, memandang pedang Lam-mo-kiam di tangannya dan tertawa. “Ha-ha, aku sampai lupa. Agaknya kau curiga kepadaku.” Dia menyarungkan pedangnya dan diturut pula oleh Kwi Hong.

“Aku bertemu dengan ibumu di Pulau Es…”

“Apa? Ibuku di Pulau Es?” Keng In benar-benar terkejut sekali karena tidak disangka-sangkanya bahwa ibunya mau pergi ke Pulau Es.

“Benar, tidak itu saja. Malah sekarang Bibi Lulu telah menjadi isteri Paman Suma Han bersama Bibi Nirahai. Mereka bertiga tinggal di Pulau Es sebagai suami isteri.”

Dapat dibayangkan betapa kaget hati pemuda itu. Kaget, malu, kecewa dan marah. Akhirnya ibunya tunduk juga kepada pria yang belasan tahun lamanya membikin sengsara hatinya. Ingin dia marah-marah, ingin dia memaki-maki ibunya. Namun Keng In sekarang telah menjadi seorang pemuda yang cerdik dan tidak mau memperlihatkan perasaan hatinya. Dia hanya menunduk sejenak, kemudian ketika dia mengangkat muka lagi, wajahnya sudah biasa dan tenang kembali.

“Apakah pesan Ibu kepadamu untukku?”

Kwi Hong benar-benar tercengang. Sikap Keng In telah berubah sama sekali, jauh bedanya dengan dahulu. Dahulu pemuda itu seperti iblis, akan tetapi kini bersikap biasa dan bahkan ramah.

“Bibi Lulu hanya berpesan kepadaku, kalau aku bertemu denganmu agar membujukmu supaya engkau suka menyusul ibumu di Pulau Es. Hanya begitulah pesannya.”

Keng In tersenyum, dan Kwi Hong harus mengakui bahwa pemuda ini tampan sekali, apa lagi kalau tersenyum seperti itu.

“Tentu saja aku harus menyusul Ibu, dan aku harus memberi hormat kepada Ayah tiriku yang sudah lama kukenal nama besarnya itu. Ah, kalau begitu lebih girang hatiku bahwa tadi aku menolongmu. Sekarang kita bukan orang lain lagi. Engkau adalah keponakan Pendekar Super Sakti, juga muridnya, sedangkan aku adalah anak tirinya. Bukankah dengan demikian kita masih dapat dikatakan saudara misan? Apa lagi kalau diingat bahwa engkau adalah juga murid Susiok Bu-tek Siauw-jin, berarti kita adalah saudara misan seperguruan pula. Enci Giam Kwi Hong, kau terimalah hormatku dan maafkan segala kesalahanku yang lalu.”

Kwi Hong tercengang dan juga menjadi girang. Ternyata pemuda ini sudah berubah menjadi seorang yang baik, tidak seperti dahulu, jahat seperti iblis. Dia tersenyum dan membalas penghormatan Keng In sambil berkata, “Aku juga girang sekali bahwa engkau bersikap baik, Wan Keng In. Dan memang sudah sepatutnya engkau menjadi adikku. Masih teringat olehku ketika masih kecil dahulu, ketika aku ditawan ibumu. Nakalmu bukan main…”

“Wah, Enci Kwi Hong, apakah kau tidak mau melupakan hal yang lalu. Biarlah aku minta ampun kepadamu.” Dan pemuda itu benar-benar menjatuhkan diri berlutut di atas tanah depan kaki Kwi Hong!

“Ihhh! Jangan begitu, Adikku!” Kwi Hong tertawa, membangunkan Keng In dan mereka berdua lalu duduk di bawah pohon, di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah.

“Enci Kwi Hong, bagaimana engkau sampai tiba di tempat ini! Tentu bukan untuk mencari aku di sini!”

Berat rasa hati Kwi Hong untuk mengaku bahwa dia tadinya hendak mencari Milana dan Bun Beng, bahkan agak malu pula dia mengatakan bahwa dia hendak ke Pulau Neraka mencari gurunya, karena bukankah Pulau Neraka adalah milik pemuda ini? Maka dia menjawab, “Aku hendak mencari Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan semua pembantunya.”

Keng In mengerutkan alisnya. “Hemmm… mencari mereka ada keperluan apakah, Enci Kwi Hong?” “Aku mau bunuh mereka!”
“Ehh! Ada apa? Mereka itu lihai-lihai sekali! Kenapa kau hendak membunuh mereka?”

“Mereka itu terutama Bhong Ji Kun, ketika masih menjadi pemberontak, telah menipu aku sehingga aku terpikat bersekutu dengan mereka. Dengan terjadinya hal itu, aku telah melakukan kesalahan besar terhadap pamanku.”

“Hemmm, begitukah? Mereka pun pernah membujuk aku. Memang mereka harus dibunuh dan aku akan membantumu, Enci Hong! Bahkan aku dapat membawamu kepada beberapa orang di antara mereka.”

“Apa? Benarkah itu, Keng In?”

“Benar, aku tidak membohong. Beberapa hari yang lalu aku melihat beberapa orang anak buah Bhong- koksu itu di dekat pantai Lautan Po-hai, dan agaknya mereka itu bersembunyi di tempat sunyi itu.”

Berseri wajah Kwi Hong. “Benarkah? Bagus, mari kau antar aku ke tempat itu, Keng In. Tentu saja mereka itu harus bersembunyi karena mereka adalah pemberontak yang dikejar-kejar pemerintah.”

“Mari, Enci Hong. Tapi engkau benar-benar sudah tidak benci lagi kepadaku, bukan? Sudah kau maafkan kesalahanku terhadapmu yang sudah-sudah?”

Kalau memikirkan apa yang telah dilakukan oleh pemuda ini di masa lalu, memang sukar untuk melupakannya. Akan tetapi manusia tidak selamanya baik atau buruk, karena keadaan manusia itu selalu berubah, pikirnya. Sekarang pemuda ini kelihatan berubah sekali, mungkin hal ini juga terdorong oleh keadaan ibunya yang sudah menjadi isteri Pendekar Super Sakti. Apa lagi pemuda itu jelas ingin membantunya, tentu tidak mempunyai niat buruk.

“Aku tidak lagi memikirkan hal yang lalu, Keng In. Aku percaya kepadamu.”

Wajah yang tampan itu berseri girang dan berangkatlah Kwi Hong mengikuti Keng In menuju ke pantai Lautan Po-hai yang tidak berapa jauh, hanya memakan perjalanan beberapa hari saja dari situ.

********************

Seperti telah disaksikan oleh Suma Han dan kedua orang isterinya, di sebelah selatan Pulau Es terjadi badai yang hebat. Ketika itu perahu besar yang ditumpangi oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan teman- temannya sedang berlayar ke selatan. Bekas Koksu ini dan teman-temannya telah menderita kekalahan total dan kegagalan yang bertubi-tubi sehingga pelayaran itu dilakukan dengan wajah murung dan hati kesal.

Usaha pemberontakan mereka dengan mengangkat Pangeran Yauw Ki Ong gagal sama sekali, dan pangeran itu ternyata mempunyai hati khianat sehingga terpaksa dibunuh oleh Bhong Ji Kun. Setelah tidak ada lagi pangeran itu, tentu saja mereka tidak memiliki pegangan untuk memberontak. Bahkan di Pulau Es mereka mengalami pukulan hebat lagi, semua dikalahkan mutlak oleh Pendekar Super Sakti sehingga mereka mendapatkan pengampunan dan diusir dari pulau sebagai orang-orang yang kalah. Seperti anjing setelah mengalami gebukan-gebukan! Bagi orang-orang yang terkenal di dunia persilatan seperti mereka itu, tidak ada yang lebih memalukan dan merendahkan dari pada diampuni lawan setelah mereka kalah!

Memang mereka sedang sial. Usaha pemberontakan gagal sama sekali, disusul dengan kekalahan pribadi menghadapi Majikan Pulau Es. Kini selagi mereka bingung ke mana harus pergi dengan perahu mereka karena amat berbahaya untuk mendarat setelah mereka menjadi orang-orang pelarian, tiba-tiba saja badai datang mengamuk dan menyerang perahu mereka!

Perahu itu sebetulnya sudah merupakan sebuah perahu besar menurut ukuran perahu umumnya. Akan tetapi, setelah badai mengamuk menimbulkan gelombang-gelombang setinggi anak bukit, perahu itu tak lebih seperti sebuah mangkuk kecil di tengah telaga. Dan tenaga orang-orang yang biasanya dianggap orang-orang yang berkepandaian tinggi dan bertenaga besar, kini tiada bedanya seperti tenaga semut- semut saja menghadapi tenaga air laut yang digerakkan badai. Perahu dilempar ke sana-sini, dilontarkan ke atas dan diseret kembali ke bawah, diputar-putar dan akhirnya perahu itu pecah berkeping-keping!

Bhong Ji Kun dan anak buahnya tentu saja dalam keadaan seperti itu hanya dapat berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Mereka tidak dapat saling melihat ketika perahu itu pecah berantakan dan mereka terlempar ke lautan yang sedang marah itu. Barulah mereka saling dapat melihat ketika badai telah lewat ke timur dan lautan di bagian itu agak tenang dan ternyata bahwa yang berhasil mencengkeram sebagian tubuh perahu yang pecah, yang hanya merupakan beberapa potong papan besar bersambung- sambung, hanya ada lima orang saja.

Dalam keadaan hampir pingsan, lima orang ini naik ke atas papan-papan bersambung itu, terengah-engah. Mereka ini adalah Gozan, orang Mongol yang bertubuh tinggi besar itu, Liong Khek, Si Muka Pucat bertubuh kurus yang bersenjata pancing. Thai-lek-gu, Si Pendek Gendut bekas jagal babi yang bersenjata sepasang golok, dan dua orang Mongol yang tadinya adalah juru-juru mudi perahu itu.

Berkat pengalaman dan keprigelan dua orang bekas juru mudi inilah, maka pecahan perahu yang kini ditumpangi mereka berlima itu akhirnya dapat keluar dari daerah badai, kemudian dengan susah payah mereka mendayung mempergunakan papan yang berapung, untuk menggerakkan perahu istimewa ini ke darat. Dan mereka berhasil setelah melalui perjuangan mati hidup selama beberapa hari. Mereka berhasil mendarat di tempat sunyi, di pantai Lautan Po-hai dalam keadaan tenaga habis dan hampir mati kelaparan!

Kini mereka sudah hampir dua pekan berada di goa-goa pantai Lautan Po-hai. Tenaga mereka sudah pulih dan pada siang hari itu ketiga orang bekas pembantu Koksu bercakap-cakap di depan goa sedangkan dua orang bekas juru mudi kini bertugas sebagai pelayan, memanggang ikan yang mereka tangkap di tepi laut.

“Sudah lama kita menanti di sini, dan Im-kan Seng-jin belum juga muncul,” kata Liong Khek yang sebagai orang terlihai di antara mereka berlima tentu saja otomatis menjadi pemimpin mereka.

“Dalam badai seperti itu, biar pun memiliki kepandaian selihai dia, kiranya takkan banyak berdaya,” Thai- lek-gu berkata menggeleng-gelengkan kepala, masih ngeri kalau mengenangkan peristiwa itu. Dia tidak dapat berenang sama sekali, maka dapat dibayangkan betapa takutnya ketika itu, hanya untung oleh ombak dia dilemparkan ke dekat pecahan perahu sehingga dapat menyelamatkan diri.

“Agaknya dia dan yang lain-lain sudah mati ditelan ikan,” kata Gozan. “Lebih baik kita tinggalkan saja dia. Tempat ini pun masih berbahaya. Kalau sampai ada nelayan yang melihat kita dan melaporkan, kita akan celaka. Aku sudah khawatir sekali ketika beberapa hari yang lalu ada perahu kecil meluncur cepat di lautan itu.”

“Tak usah khawatir,” Liong Khek berkata, “Perahu kecil itu hanya ditumpangi seorang, dan dia agaknya tidak memperhatikan ke sini. Pula, dia sudah pergi beberapa hari yang lalu, kalau memang dia melaporkan, kiranya pada hari itu juga sudah ada pasukan yang datang hendak menangkap kita. Akan tetapi, andai kata demikian, kita takut apa kalau hanya menghadapi pasukan-pasukan biasa?”

“Sekarang lebih baik kita lanjutkan rencana kita,” kata pula Gozan. “Kita dapat pergi ke Mongol melalui dua jalan. Pertama melalui jalan barat, melintasi Propinsi Liao-ning dan melalui Pegunungan Tai-hang-san sebelah utara. Akan tetapi jalan ini berbahaya karena tentu kita akan bertemu dengan para penjaga yang menjaga di Tembok Besar. Jalan kedua adalah melalui sepanjang Sungai Yalu dan kemudian terus ke barat melalui Mancu.”

“Melalui Mancu? Gila, bukankah di sana pusatnya bangsa yang menjajah sekarang?”

“Justeru karena itulah maka kita takkan diperhatikan, karena tidak akan ada yang mengira bahwa kita berani lewat di sana. Di sana banyak terdapat orang Mongol, maka bagiku aman, juga banyak terdapat orang Han. Dengan menyamar, kita mudah saja melalui Mancu, kemudian ke barat dan menyelinap ke Mongol.” Gozan yang sudah hafal akan seluk-beluk daerahnya itu menggambarkan keadaan dengan coretan-coretan di atas tanah depan kakinya.

“Kalau begitu, besok pagi-pagi kita berangkat pergi!” kata Liong Khek sambil menarik napas panjang. Tiba-tiba terdengar suara nyaring merdu, “Tidak usah besok, sekarang pun kalian akan pergi ke neraka!”
Tampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Kwi Hong dan Keng In! Pemuda itu tersenyum-senyum saja dan berdiri di pinggiran dengan kedua tangan bersedekap (terlipat di dada).

Mendengar ucapan Kwi Hong dan ketika mereka mengenal dara ini, tiga orang itu sudah meloncat berdiri. “Nona, apa kehendakmu dan apa artinya kata-katamu itu?” Liong Khek bertanya, dan mukanya berubah pucat.

“Aku datang untuk membunuh kalian! Mana dia Si Keparat Bhong Ji Kun? Suruh dia keluar!”

“Dia… mungkin sudah mati. Perahu kami pecah dihantam badai dan yang dapat menyelamatkan diri hanya kami berlima. Nona, kami telah dilepaskan pergi oleh paman Nona. Kami telah dimaafkan…”

“Mungkin Paman memaafkan, akan tetapi aku tidak! Penghinaan dan tipuan yang kalian lakukan kepadaku hanya dapat ditebus dengan darah!” Sambil berkata demikian Kwi Hong sudah mencabut pedangnya.

“Singggg…!” Kilat berkelebat ketika pedang Li-mo-kiam dihunus.
Tiga orang itu menjadi kaget sekali. Liong Khek menoleh dan menghadapi Keng In yang masih berdiri
tenang dan tersenyum-senyum. “Wan-taihiap engkau adalah bekas sekutu kami. Harap kau suka membantu kami dan menyuruh nona ini agar tidak memaksa kami bertanding.”

Wan Keng In tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, kalian ini orang-orang yang tak dapat dipercaya dan berwatak pengecut, maka kalian memang sudah sepatutnya dibunuh. Akan tetapi karena kalian berhutang kepada Enci Kwi Hong, biarlah dia yang akan menagihnya. Aku hanya akan melenyapkan dua orang tiada guna itu!”

Tiba-tiba tangannya bergerak, tampak sinar berkelebat ketika pedang Lam-mo-kiam dicabut dan tubuhnya hanya berkelebat sebentar lalu dia sudah berdiri lagi di tempat tadi, pedangnya sudah disarungkan kembali, akan tetapi dua orang pelayan bekas juru mudi yang tadinya berjongkok dekat perapian karena terganggu pekerjaan mereka memanggang ikan itu telah roboh dengan kepala terpisah dari tubuh, lehernya putus disambar sinar pedang Lam-mo-kiam!

Tiga orang itu kaget bukan main dan tahulah mereka bahwa jalan satu-satunya bagi mereka hanyalah melawan! Melihat sikap pemuda Pulau Neraka yang mereka tahu lihai luar biasa itu, mereka hanya mengharapkan pemuda itu benar-benar memegang kata-katanya dan tidak akan ikut campur, membiarkan dara itu seorang diri saja melawan mereka. Kalau begini halnya, mereka masih ada harapan.

Biar pun mereka juga maklum bahwa murid dan keponakan Pendekar Super Sakti ini lihai sekali, namun mereka bertiga masa kalah melawan seorang gadis muda? Apa lagi mereka itu telah siap dengan senjata mereka. Gozan yang tak pernah bersenjata itu mengandalkan kedua tangan dan kakinya dan ilmu gulat disamping ilmu silatnya. Thai-lek-gu (Kerbau Bertenaga Besar) pun ketika berhasil menyelamatkan diri, sepasang golok penyembelih babinya masih tergantung di punggung. Ada pun Liong Khek sendiri yang kehilangan senjatanya, telah mencuri sebuah pancing dari nelayan di Pantai Po-hai dan sudah membuat senjata pancing baru. Biar pun tidak sekuat buatannya sendiri dahulu, namun cukup untuk dipergunakan karena memang keistimewaannya adalah mempermainkan senjata aneh ini.

Melihat betapa dua orang itu sudah mengeluarkan senjata masing-masing, dan Gozan telah berdiri memasang kuda-kuda dengan dua lengan dikembangkan seperti seorang yang kerinduan siap memeluk kekasihnya, Kwi Hong menggerakkan pedangnya dan membentak, “Bersiaplah untuk mampus!”

Akan tetapi Liong Khek dan Thai-lek-gu sudah mendahului menggerakkan senjata mereka. Sepasang golok Si Gendut Pendek itu menyambar dahsyat dari kanan kiri, dan terdengar suara bersiut nyaring ketika tali pancing itu melecut udara dan mata kailnya membalik, menyambar tengkuk Kwi Hong dari belakang.

Kwi Hong maklum akan kelihaian para lawannya, makin dia cepat memutar pedang menangkis sepasang golok sambil merendahkan tubuh dan menyelinap ke kiri untuk menghindarkan sambaran mata kail. Si Gendut Pendek itu mengenal Li-mo-kiam, cepat menarik kedua goloknya dan memutar golok itu untuk melanjutkan serangannya, yang kiri menusuk dada, yang kanan menyerampang kaki. Juga Liong Khek sudah menggerakkan tali pancingnya.

Kwi Hong tadi meloncat ke kiri untuk menjauhi Gozan. Biar pun orang Mongol itu bertangan kosong, akan tetapi dia maklum akan kelihaian orang ini dengan kedua tangannya. Sekali kena dipegang orang itu, sukarlah untuk dapat lolos lagi. Karena itu dia selalu bergerak menjauhinya agar jangan sampai Gozan mendapat kesempatan menyergapnya dari belakang.

Keng In hanya berdiri tersenyum. Melihat wajah pemuda ini, sukar untuk mengetahui apa yang tersembunyi di balik dada dan di balik dahi itu. Akan tetapi yang sudah jelas, matanya bergerak mengikuti gerak-gerik Kwi Hong, penuh kagum, dan kadang-kadang mata itu dengan liarnya melayang ke arah dada, pinggang, kaki dan wajah yang cantik dari gadis itu.

Pertandingan itu berjalan seru dan biar pun dikeroyok tiga, Kwi Hong tetap saja dapat mendesak. Hal ini bukan hanya karena tingkat ilmunya memang jauh lebih tinggi, akan tetapi terutama sekali karena tiga orang itu jeri menghadapi keampuhan Li-mo-kiam yang dahsyat dan mengandung hawa mukjizat itu. Betapa pun juga, tidaklah terlampau mudah bagi Kwi Hong untuk merobohkan mereka, karena tiga orang itu bertanding untuk mempertahankan nyawa mereka!

Lima puluh jurus telah lewat dan masih belum ada di antara mereka yang terluka, kecuali golok kiri Thai- lek-gu patah ujungnya terbabat Li-mo-kiam. Karena maklum bahwa kalau mereka hanya mempertahankan diri saja, lambat laun tentu mereka akan menjadi korban Li-mo-kiam, maka tiga orang itu pun berusaha untuk membalas dan merobohkan gadis yang perkasa itu. Pendeknya, pertandingan itu bagi mereka hanya berarti membunuh atau dibunuh!

Pada saat untuk kesekian kalinya sepasang golok Thai-lek-gu menyambar, Kwi Hong berusaha menangkis dan mematahkan golok dan Si Gendut itu memang hanya mengacau untuk memberi kesempatan kepada teman-temannya. Melihat dara itu menggerakkan pedang menghalau golok-golok yang mengancamnya, Liong Khek menggerakkan pancingnya yang kini diulur panjang untuk melibat pinggang dan leher dara itu!

Kwi Hong memang sudah menanti hal ini terjadi karena dia merasa penasaran dan kehilangan sabar setelah sekian lamanya belum juga dapat merobohkan mereka. Begitu tali pancing melecut udara dan menyambar, Kwi Hong menggerakkan tangan kirinya menangkap tali pancing! Liong Khek berseru girang, dan seruan ini merupakan aba-aba bagi kedua orang temannya. Sepasang golok itu menyerang dari kanan kiri, sedangkan Gozan menubruk dari belakang!

Kwi Hong mengerahkan sinkang, menarik tali pancing dengan tangan kiri. Ketika sepasang golok menyambar, kembali dia memutar pedang dan melepas tali pancing dengan tiba-tiba sehingga mata kail itu meluncur ke arah pemiliknya! Tentu saja Liong Khek dapat menyelamatkan diri dan pada saat pedang Kwi Hong berhenti bergerak karena dua batang golok itu ditarik kembali pada saat yang sama, mata kail itu sudah menyambar ke arah mukanya dan sepasang golok sudah menjepit pedang, sedangkan Gozan menubruk dari belakang, tahu-tahu kedua tangannya sudah mencengkeram ke arah pinggang!

Kwi Hong tidak menjadi gugup. Dia merendahkan tubuh dan dimiringkan, akan tetapi dia tidak mengira bahwa gerakan Gozan memang cepat sekali dan tahu-tahu elakan itu masih belum cukup untuk menghindarkan kedua tangan Gozan dan kini tangan kanan raksasa Mongol itu sudah meraih pinggang Kwi Hong dan lengannya merangkul ketat! Tentu saja Kwi Hong terkejut sekali. Pedang yang terjepit sepasang golok itu dia betot sambil mengerahkan tenaga Inti Bumi.

“Krakkk!” terdengar suara ketika sepasang golok itu patah-patah dan pedangnya terus membabat ke belakang.

“Crokkkk! Aughhhh…!” Tubuh Gozan terguling, lengan kanannya putus sebatas pundak akan tetapi lengan yang besar itu masih melingkari pinggang dan jari-jari tangannya masih mencengkeram baju gadis itu!

“Ihhhh!” Kwi Hong bergidik, merenggut lengan itu dengan tangan kirinya, kemudian membuangnya ke samping.

“Brettt!” Baju di bagian perutnya terobek oleh jari-jari tangan itu. Untung pakaian dalam hanya ikut terobek sedikit sehingga hanya sedikit bagian kulit perutnya yang putih bersih itu tampak!

Sambil menutupi bagian robek dengan tangan kiri, Kwi Hong membalikkan tubuh dan pedangnya berkelebat merupakan gulungan sinar pedang yang bagai kilat menyambar di waktu hujan. Tampak darah muncrat dan terdengar pekik-pekik mengerikan ketika tubuh Gozan dan tubuh Thai-lek-gu hampir berbareng roboh dengan pinggang hampir terpotong!

Liong Khek menjadi pucat. Maklum bahwa dia tidak dapat melarikan diri, dia menjadi nekat. Mata kailnya menyambar dengan gerakan berputaran, mata kail meluncur turun menyerang ke arah mata Kwi Hong! Dan pada saat berikutnya, dia sendiri telah menubruk dan mengirim pukulan dengan pengerahan sinkang ke arah dada dara itu.

“Heiiittt…! Blessss! Aduhhh…!”

Dengan kecepatan mengagumkan Kwi Hong telah merubah kedudukannya menjadi setengah berjongkok sehingga mata kail itu tidak mengenai sasaran, lalu dari bawah pedangnya meluncur dan amblas memasuki perut Liong Khek sampai menembus punggung dan secepat kilat tubuh dara itu sudah meloncat ke belakang sambil menarik kembali pedangnya hingga darah yang muncrat itu tidak sampai mengenai pakaiannya. Liong Khek terhuyung lalu roboh menelungkup tanpa bersambat lagi.

Terdengar orang bertepuk tangan. “Bagus sekali! Kau sungguh hebat Enci Hong!”

Mulutnya memuji akan tetapi matanya mengincar ke arah sebagian perut yang tidak tertutup tadi! Kwi Hong segera menutupi perutnya, mengeluarkan selembar sapu tangan sutera dan menggunakan sapu tangan itu untuk diikat dan menutupi bagian yang robek.

Kwi Hong menyarungkan pedangnya, memandang tiga buah mayat musuhnya dan dia berlutut, menutupi mukanya, terisak sedikit lalu membuka pula kedua tangan yang menutupi muka dan… tertawa!

“Kau hebat, Enci Hong. Tentu kau sudah puas sekarang?”

“Masih belum! Mereka ini hanya kaki tangannya, yang menjadi musuh besar utama adalah Bhong Ji Kun!”

“Akan tetapi agaknya kau kalah duluan oleh badai. Menurut penuturan mereka tadi, perahu mereka pecah oleh badai dan hanya mereka yang selamat.”

Kwi Hong bangkit berdiri, menarik napas panjang. “Sayang sekali kalau begitu.”

“Aku tahu bahwa kau mendendam sakit hati hebat, karena itu tadi aku tidak mau turun tangan membantu. Tentu saja aku yakin kau akan menang. Kalau aku membantumu tentu kau akan kecewa.”

Kwi Hong tersenyum kepadanya. “Terima kasih, Keng In. Engkau baik sekali. Dan melihat engkau begitu baik, benar-benar menimbulkan rasa kasihan di hatiku.”

“Eh, kasihan kepadaku, Enci Hong?” Keng In benar-benar merasa heran. “Mengapa engkau merasa kasihan kepadaku?”

Mereka bicara sambil berjalan pergi meninggalkan mayat-mayat itu. Agaknya mereka berjalan asal menjauhi mayat-mayat itu saja, tanpa tujuan tertentu, berjalan sepanjang pantai laut.

Tiba-tiba Kwi Hong menoleh kepada pemuda itu. “Keng In, bukankah engkau mencinta Milana?”

Keng In terkejut, mengira bahwa Kwi Hong tahu bahwa dia menculik Milana, akan tetapi dia dapat menekan perasaannya. “Dugaanmu benar, Enci Hong. Aku mencinta Milana, akan tetapi keadaannya menjadi rusak dan kacau sekarang ini. Milana adalah puteri ayah tiriku, bagaimana mungkin…?”

“Bukan hanya itu saja.” Kwi Hong menghela napas.

Gadis itu merasa hidup sebatang kara, setelah dia menganggap bahwa pamannya dan semua orang membencinya, dan tadinya harapannya tertumpah kepada Bu-tek Siuw-jin. Kini, sebelum bertemu dengan gurunya itu dia bertemu dengan Keng In yang bersikap baik, maka dia tidak ingat apa-apa lagi dan mendapatkan seorang yang dapat dia ceritakan segalanya untuk menumpahkan semua kedukaan dan kekecewaannya.

“Bukan itu saja, akan tetapi kini Milana lenyap, kabarnya diculik orang…”

“Ehhh…?” Keng In terkejut, benar-benar terkejut bukan pura-pura. Hanya kalau Kwi Hong mengira dia terkejut mendengar dara yang dicintanya hilang, adalah sebenarnya Keng In sendiri terkejut bukan karena itu, melainkan karena mengira bahwa Kwi Hong benar-benar telah tahu bahwa dia penculiknya! “Diculik… siapa…?”

“Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tadinya kusangka engkau, tetapi melihat perubahan pada dirimu, tentu bukan kau yang melakukan perbuatan keji itu. Akan tetapi, juga bukan karena Milana diculik orang itu yang membuat aku kasihan kepadamu, Keng In.”

Dapat dibayangkan betapa lega hati Keng In. “Eh, ada apakah lagi yang lebih hebat dari berita hilangnya Milana itu?”

“Ada yang lebih hebat, dan lebih menyedihkan untukmu, juga untukku…, bahwa Milana telah ditunangkan dengan Gak Bun Beng.”

Berita ini benar-benar merupakan pukulan hebat bagi Keng In! Di dalam hatinya seolah-olah ada api membakar dan kalau tadinya dia hanya cemburu karena Milana mencinta Bun Beng, kini cemburu itu makin berkobar karena dara yang dicintanya itu ternyata telah dijodohkan dengan pemuda yang makin dibencinya itu. Akan tetapi dia memang hebat. Semuda itu dia telah pandai menguasai dirinya sendiri sehingga dia hanya menunduk saja, tidak tampak marahnya hanya kelihatan seperti orang yang berduka.

Sampai lama mereka tidak berkata-kata, hanya melangkah terus perlahan-lahan di sepanjang pantai yang dijilati lidah-lidah ombak yang membuih.

“Enci Hong… kau tadi bilang bahwa hal itu juga menyedihkan hatimu. Mengapa?”

“Tidak mengertikah engkau? Seperti juga engkau, aku mencinta orang yang bukan dijodohkan denganku…”

Keng In menoleh dan menatap tajam pada wajah yang menunduk itu. “Kau… kau juga mencinta Bun Beng?”

Kwi Hong mengangguk tanpa menoleh hingga ia tidak melihat betapa sinar kemarahan membuat wajah tampan itu menjadi menakutkan. Akan tetapi hanya sebentar, karena segera terdengar kata-kata Keng In, halus dan seperti suara orang yang benar-benar berniat jujur dan baik. “Betapa pun juga, Enci Hong. Engkau adalah keponakan dan murid Pendekar Super Sakti, aku adalah anak tirinya. Kiranya sudah menjadi tugas kewajiban kita untuk mencari siapa penculik Milana dan ke mana dia dibawa pergi.”

Sekarang Kwi Hong menoleh dengan pandang mata terheran-heran. “Kau…? Hendak mencari dan menolong Milana? Ahhh, betapa baik hatimu. Sungguh tak kusangka! Kau membikin aku merasa malu, Keng In. Aku sendiri tadinya sudah tidak peduli karena kedukaan dan kekecewaanku. Kau benar, kita harus mencari dia, harus mencari Bun Beng. Biar pun hati kita dihancurkan, dipatahkan, namun kita harus menemukan mereka dan menyuruh mereka kembali ke Pulau Es.”

“Kalau begitu marilah kita mencari mereka, Enci Hong! Lihat, Sepasang Pedang Iblis berada di tangan kita! Ha-ha-ha, Siang-mo-kiam telah menggegerkan dunia. Sekali ini pun akan menggegerkan dunia, akan tetapi dengan cara lain! Kita akan bekerja sama, bahu-membahu menumpas musuh-musuh kita!”

Tentu saja Kwi Hong terbawa oleh kegembiraan Keng In yang mencabut Lam-mo-kiam dan mengangkatnya tinggi-tinggi itu. Ia tidak mengartikan lain dengan sebutan ‘musuh-musuh kita’ maka dia pun mencabut Li-mo-kiam, mengangkatnya di atas kepala dan dengan wajah berseri berseru, “Siang-mo- kiam akan menggegerkan dunia dan musuh-musuh kita akan tertumpas habis!”

Siang hari itu mereka berhenti di dalam sebuah hutan. Keng In menurunkan bangkai kijang yang tadi diburu dan dibunuhnya. Kwi Hong sudah mempersiapkan bumbu-bumbu yang tadi mereka beli di dusun terakhir di luar hutan. Keng In memilih daging-daging yang lunak dan memberikannya kepada Kwi Hong yang melumurinya dengan bumbu yang sudah diaduk dengan air, kemudian daging-daging itu mulai mereka bakar di atas api unggun.

“Sayang tidak ada nasi,” kata Kwi Hong.

“Makan daging saja asal cukup banyak juga kenyang. Dan aku masih mempunyai simpanan arak,” kata Keng In.

Maka makanlah keduanya. Kwi Hong makan dengan lahap karena hatinya senang. Dia merasa mendapatkan teman seperjalanan yang menyenangkan dalam diri Keng In. Dia merasa seolah-olah Keng In memang sejak dahulu adiknya sendiri! Dan ajakan Keng In untuk mencari Milana dan Bun Beng menimbulkan semangat kembali, tidak seperti sebelum ini, acuh tak acuh. Dunia masih lebar dan bukan hanya Bun Beng seorang laki-laki di dunia ini, sungguh pun sukarlah menemukan keduanya!

Setelah perutnya penuh dengan daging bakar yang harum dan gurih, dan kepalanya agak ringan oleh arak Keng In yang benar-benar keras, harum dan tua itu, Kwi Hong duduk menyandarkan punggungnya di bawah pohon besar. Tempat itu teduh sekali, melindunginya dari panas matahari. Angin bertiup dan Kwi Hong yang kelelahan dan kekenyangan itu seperti dikipasi, tanpa disadari lagi dia telah tertidur sambil menyandar batang pohon!

Malam hampir tiba ketika Kwi Hong mengeluh dan membuka matanya. “Auggghhh… kepalaku pening…”

Keng In segera mendekati dan berlutut di depan Kwi Hong. Dara itu membuka mata, memandang heran. “Di mana aku…? Kau… kau…?”

“Enci Hong, kau kenapakah? Aku Keng In. Kau kenapa…?”

“Ahh, Keng In… hampir aku lupa kepadamu… entah, kepalaku pening… aku bingung…”

“Tenanglah, Enci Hong dan jangan khawatir, aku membawa obat untukmu. Rebahlah dan minum obat ini…” Keng In mengeluarkan sebotol obat cair yang berbau harum, memberi gadis itu minum obat ini.

Kwi Hong yang berada dalam keadaan setengah ingat itu tidak membantah, dengan penuh kepercayaan dia minum obat itu, kemudian karena kepalanya pening dan pandang matanya berkunang, dia tidur lagi dan tak lama kemudian dia menjadi pulas.

Melihat dara itu sudah tidur dengan nyenyak, Keng In tersenyum lebar dan matanya mengeluarkan sinar yang aneh, kemudian dia menyimpan sisa obat yang masih banyak, membesarkan api unggun dan rebah di atas rumput untuk mengaso. Sukar baginya untuk bisa tidur pulas karena pikirannya penuh oleh pengalaman hari itu. Yang selalu terbayang olehnya adalah wajah Bun Beng, dibayangkannya dengan kemarahan dan kebencian besar. Milana mencinta Bun Beng, dan Kwi Hong juga mencinta Bun Beng! Semua orang mencinta Bun Beng dan membencinya!

Biarlah dia akan menjadi Gak Bun Beng. Dia akan makan dan menikmati kembangnya, biarlah Bun Beng yang terkena durinya! Dia melirik ke arah Kwi Hong. Obat yang diberikannya tadi akan memperkuat obat yang terdahulu, yang berada di dalam araknya, dan obat itu membutuhkan waktu beberapa lama untuk bekerja dengan baik. Masih banyak waktu untuk bersenang-senang, pikirnya dan sambil tersenyum karena hatinya lega, maka tidurlah Keng In.

Pada keesokan harinya, menjelang pagi, Kwi Hong terbangun. Dia mengejap-ejapkan kedua matanya, lalu menggosok-gosok matanya, mengerutkan alisnya. Di mana dia dan mengapa dia berada di hutan? Cuaca remang-remang dan keadaan sekelilingnya hanya diterangi oleh sinar api unggun. Dia bangkit duduk dan tiba-tiba terdengar suara orang memanggil.

“Kwi Hong…!”

Kwi Hong menoleh ke kanan dan otomatis tubuhnya bersiap siaga. Biar pun dia tidak ingat apa-apa lagi namun ilmu silat yang sudah mendarah daging di tubuhnya itu menggerakkan tubuh tanpa membutuhkan ingatan lagi!

Melihat munculnya seorang laki-laki muda yang memakai sebuah caping (topi) bundar, dia membentak sambil meloncat berdiri, “Siapa kau?”

Pemuda bercaping bundar itu terbelalak heran. “Kwi Hong, lupakah engkau kepadaku, kepada laki-laki yang kau cinta dan yang mencintamu? Kau lihatlah wajahku, lihatlah capingku, apakah kau tidak ingat kepadaku lagi?”

Kwi Hong tercengang keheranan, mengerahkan ingatannya untuk mengenal siapa pemuda ini, akan tetapi percuma saja. Ada bayangan di balik otaknya bahwa dia memang mengenal pemuda ini dan merasa suka kepada wajah yang tampan itu, akan tetapi tidak ingat lagi.

“Aku tidak tahu… aku tidak ingat… siapakah engkau…?”

“Kwi Hong, dewiku tersayang. Aku adalah Gak Bun Beng, kekasihmu!”

Mendengar nama Gak Bun Beng ini, Kwi Hong menjadi lemas. “Bun… Bun Beng?! Ahhh, Bun Beng…!” Dan dia menangis sambil jatuh terduduk.

Pemuda itu cepat berlutut di depannya, melingkarkan lengan ke lehernya, memeluknya dengan mesra. Biar pun pada waktu itu ingatan Kwi Hong sudah lenyap sama sekali sehingga dia tidak lagi dapat mengingat bagaimana wajah Bun Beng, akan tetapi mendengar nama itu sudah cukup menggerakkan hatinya, nama yang takkan pernah terlupa olehnya.

Otomatis, karena hatinya amat tertekan tadinya sebelum dia kehilangan ingatan, dan kini seolah-olah memperoleh obat penawar yang menyejukkan, kedua lengannya balas memeluk pemuda itu. Mereka berpelukan dan Kwi Hong terisak penuh rasa girang dan lega. Pemuda itu memegang dagunya, mengangkat muka, dan ketika pemuda itu menciumnya, mencium pipinya, hidungnya, mulutnya, Kwi Hong hanya mengeluarkan suara rintihan terharu dan memejamkan kedua matanya!

Sebelum kehilangan ingatannya, Kwi Hong merasa betapa hatinya hancur, terutama sekali karena Bun Beng yang dicintanya itu dijodohkan dengan Milana. Habis harapannya untuk dapat berjodoh dengan pemuda yang dicintanya itu, dan telah ada kenyataan bahwa pemuda yang dicintanya itu takkan dapat diraih olehnya, maka cintanya terhadap pemuda itu seolah-olah bertambah, dan dia merasa rindu sekali kepada Gak Bun Beng. Oleh karena itulah, kerinduan yang masih mencengkeram bawah sadarnya, kini timbul ketika pemuda yang dicintanya itu telah memeluk dan menciumnya. Tanpa dorongan rasa rindu yang hebat itu kiranya dia tidak akan menerimanya begitu saja pencurahan kasih sayang dari seorang pria terhadapnya, keadaan yang sama sekali masih asing baginya ini. Tapi sekarang Kwi Hong sama sekali tidak memberontak bahkan di luar kesadarannya, hidung dan bibirnya bergerak membalas ciuman pemuda itu dengan gairah yang meluap-luap.

“Kwi Hong… ahhh, Kwi Hong… kekasihku… hanya engkaulah wanita yang kucinta…!” Laki-laki itu berbisik sambil memperketat dekapannya dan membawa Kwi Hong rebah di atas rumput.

“Bun Beng… ohhh, Bun Beng…!” Kwi Hong memejamkan matanya dan sama sekali tidak peduli lagi akan apa yang dilakukan oleh pemuda yang dicintanya itu terhadap dirinya.

Dia menyerah bulat-bulat, menyerahkan hati dan tubuhnya dengan penuh kerelaan, bahkan dia membantu penyerahan itu karena dia pun membutuhkan kasih sayang pemuda ini. Maka terjadilah hal yang tak dapat dielakkan lagi dalam keadaan seperti itu. Hanya pohon-pohon, kabut pagi, dan burung-burung yang baru keluar dari sarangnya saja yang menjadi saksi akan pencurahan cinta birahi yang berlangsung pada pagi hari di bawah pohon besar itu. Pencurahan nafsu birahi yang terjadi atas kehendak kedua pihak, dengan suka rela, sungguh pun Kwi Hong melakukannya dalam keadaan hilang ingatan dan hanya merasa yakin bahwa dia telah menyerahkan tubuhnya kepada orang yang dicintanya, Gak Bun Beng, dan tidak akan merasa menyesal akan apa pun yang menjadi akibatnya.

Ada pun pemuda itu, yang mudah saja diduga bukan Gak Bun Beng sesungguhnya melainkan Wan Keng In, mula-mula menggunakan siasat ini, merampas ingatan Kwi Hong dengan obat pemberian gurunya, kemudian menyamar sebagai Bun Beng, bukan semata-mata untuk menikmati kemesraan tanpa perkosaan bersama Kwi Hong yang cantik dan yang dikaguminya, melainkan didasari oleh niat untuk menghancurkan hidup Bun Beng! Keng In ingin menanam kesan mendalam di hati Kwi Hong bahwa gadis itu telah menyerahkan tubuhnya kepada Bun Beng, dan hal ini tentu saja kelak akan menjadi penghalang bagi Bun Beng untuk melanjutkan perjodohahnya dengan Milana! Akan tetapi, bukan sampai di situ saja rencananya untuk menjebloskan nama baik Bun Beng ke pecomberan.

Setelah mencurahkan kasih sayangnya kepada pemuda yang dicintanya, pengalaman pertama selama hidupnya yang baru sekarang dialami akan tetapi sama sekali tidak disesalkannya itu, Kwi Hong tertidur lagi kelelahan dan kepuasan. Ketika dia bangun lagi, pemuda bertopi bundar itu telah berada di sisinya. Kwi Hong menggeliat, seperti seekor kucing manja, membuka mata dan merangkulkan kedua tangan ke leher laki-laki yang telah duduk di dekatnya, menarik muka yang dicintanya itu dan kembali mereka berciuman.

“Hemmm…, Bun Beng… aku merasa berbahagia sekali…!”

Keng In tertawa dan menarik tangan Kwi Hong bangun. “Hayo bangunlah, kita mandi di telaga dekat sini, kemudian melanjutkan perjalanan.”

“Eh, ke mana?” Kwi Hong bertanya sambil tersenyum manis, membetulkan pakaiannya yang awut-awutan seperti juga rambutnya, akan tetapi yang bahkan menambah keaslian kecantikannya.

“Ke mana lagi, sayang? Bukanlah kita telah menjadi suami isteri, biar pun belum resmi? Aku adalah suamimu, maka kau harus ikut bersamaku.”

Kwi Hong menggeleng-geleng kepalanya. “Aku tidak ingat lagi… di mana rumahmu… akan tetapi aku tidak peduli, Bun Beng. Bersama denganmu, aku akan selalu merasa bahagia, biar kau bawa ke neraka sekali pun!”

Keng In merangkul dan kembali mereka berciuman. “Kwi Hong… pujaan hatiku… kalau aku membawamu, bukan ke neraka, melainkan ke sorga. Aku… aku cinta padamu, Kwi Hong…!” Kalimat terakhir ini menggetarkan jantung Keng In karena dia merasa betapa ucapan itu tidak dibuat-buat seperti kalimat yang lain! Dia benar-benar merasa jatuh cinta kepada Kwi Hong!

Sudah beberapa kali dia berhubungan dengan wanita, baik dengan perkosaan mau pun dengan suka rela karena kenakalannya, akan tetapi semua itu hanyalah peristiwa badani saja. Anehnya, setelah apa yang terjadi, setelah merasa sampai ke dasar dirinya betapa Kwi Hong benar-benar menyerahkan segala- galanya dengan kasih sayang yang mesra, agaknya kasih sayang dara itu mencekam perasaannya dan menggugah cintanya pula!

Sambil tertawa-tawa bahagia, mereka berdua mandi di air telaga yang jernih. Mereka mandi dengan telanjang bebas karena di dalam hutan itu sunyi tidak ada orang lain lagi. Dalam kesempatan ini, sambil berendam di dalam air jernih, kembali kedua insan itu mencurahkan perasaan mereka dan mengulangi perbuatan mereka di bawah pohon tadi. Bagi dua orang yang sedang dimabok asmara, seperti sepasang pengantin baru, agaknya keduanya tidak pernah merasa puas akan permainan cinta ini.

Keng In yang cerdik itu kini malah merasa khawatir kalau-kalau Kwi Hong sadar dan ingatannya kembali lagi, lalu menolak cintanya! Dia mulai merasa khawatir kalau dia akan kehilangan Kwi Hong yang dicintanya ini! Sungguh keadaan menjadi terbalik sama sekali! Karena itu, setiap hari dia selalu mencampurkan obat perampas ingatan ke dalam minuman atau makanan Kwi Hong dan mereka melakukan perjalanan cepat, hanya diseling dengan makan, tidur, dan bermain cinta.

Keng In ingin cepat-cepat mengajak Kwi Hong ke Pulau Neraka, di mana dia ingin menjalankan siasatnya selanjutnya untuk merusak hubungan antara Bun Beng dan Milana. Selain itu, juga obat yang dibawanya tidak banyak. Kalau sampal obat itu habis sebelum mereka tiba di Pulau Neraka, tentu akan berbahaya sekali. Kwi Hong akan sadar kembali dan dia akan menghadapi kesulitan besar. Maha besar!

********************

Biar pun Milana masih dapat mempertahankan harga dirinya dan menolak dengan keras ajakan Keng In yang menyamar Gak Bun Beng untuk bermain cinta, namun dara ini merasa berduka sekali. Sepanjang ingatannya, kekasihnya yang bernama Gak Bun Beng itu adalah seorang gagah perkasa yang menjunjung tinggi kehormatan. Akan tetapi siapa kira begitu datang pemuda yang dirindukannya itu hendak melakukan pelanggaran yang amat merendahkan dirinya! Sepeninggal Bun Beng malam itu, dia menangis dan berduka.

Biar pun dia terbebas dari bahaya itu, namun Milana masih tetap menjadi seorang yang seperti boneka hidup di Pulau Neraka. Dia masih belum ingat apa-apa karena sebelum pergi Keng In telah memesan kepada anak buahnya yang dipimpin oleh tokoh Pulau Neraka, Si Gundul Kong To Tek untuk setiap hari memberi obat perampas ingatan itu dicampurkan dalam makanan yang disuguhkan kepada Milana.

Pada suatu pagi, Milana duduk termenung seorang diri di belakang pondoknya di Pulau Neraka. Dia sama sekali tidak tahu bahwa malam tadi, Giam Kwi Hong keponakan dan murid ayahnya telah mendarat di Pulau Neraka bersama Wan Keng In! Andai kata dia melihat mereka mendarat, tentu dia akan menganggap Keng In yang memakai caping itu adalah Bun Beng yang selama ini dia pikirkan dengan hati risau, dan dia tentu tidak akan mengenal lagi Kwi Hong yang keadaannya sama dengan dia.

Tiba-tiba muncul Kong To Tek. Biar pun dia tidak mengenal siapa orang ini, akan tetapi Kong To Tek bukan merupakan orang asing bagi Milana, karena Si Gundul inilah yang melayani segala kebutuhannya. Pernah dia bertanya kepada Kong To Tek, ke mana perginya Gak Bun Beng yang selama itu belum datang, dan dijawab bahwa pemuda itu sedang pergi, akan tetapi tak lama tentu kembali.

“Nona, Gak Bun Beng telah kembali ke pulau ini,” Kong To Tek berkata kepada Milana sambil menyeringai. “Dan Nona diharapkan menemuinya di sana.”

Terjadi perang di dalam pikiran Milana. Tetapi akhirnya, cinta kasih yang sebetulnya tak pernah padam di dalam hatinya itu menang dan dia mengangguk. “Di mana dia?”

“Di dalam pondok kuning dekat pantai timur, Nona.”

Milana lalu berjalan cepat menuju ke pantai timur. Dia sudah hafal akan keadaan di Pulau Neraka dan sebentar saja dia telah tiba di pondok itu. Akan tetapi sunyi saja di luar pondok dan ketika dia mendekat, terdengar olehnya suara orang berbicara dan tertawa, suara seorang laki-laki dan seorang wanita yang bersendau-gurau dan bercintaan. Dia terheran-heran, lalu mengintai dari jendela dari kamar tunggal pondok kecil itu.

Kamar itu terang sekali dan tampak jelas olehnya segala yang terjadi di dalam kamar. Dia melihat pemuda bertopi bundar, Gak Bun Beng yang dicintanya, sedang bermain cinta dengan seorang wanita cantik, seorang wanita yang seperti telah dikenalnya akan tetapi dia lupa lagi siapa wanita itu. Melihat adegan yang selama hidupnya belum pernah disaksikannya itu, melihat betapa pria satu-satunya yang dicintanya bermain gila dengan seorang wanita lain, tak tertahan lagi Milana mengeluarkan suara isak tertahan, membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu!

Dari dalam kamar di pondok kuning itu, biar pun dia sedang berkasih-kasihan dengan mesra bersama Kwi Hong, Keng In yang sudah mengatur siasat itu maklum bahwa siasatnya berhasil dan dia mendengar isak tertahan tadi. Diam-diam dia tersenyum bangga ketika menciumi Kwi Hong. Mampuslah kau, Bun Beng, pikirnya. Milana tentu takkan sudi melanjutkan perjodohannya dengan Bun Beng setelah terjadi dua hal itu. Pertama, Bun Beng hendak merayunya dan mengajaknya berzina, kedua, Bun Beng telah bermain cinta dengan wanita lain!

Setelah berhasil, dia akan membebaskan Milana. Biarlah Milana kembali ke daratan dengan bekal kebencian yang meluap kepada Bun Beng! Dan dia sendiri… dia sudah puas dengan Kwi Hong. Hanya ada satu yang masih amat membingungkan dan menggelisahkan hati Keng In. Dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Kwi Hong. Tidak mungkin kalau selamanya dia harus membuat Kwi Hong kehilangan ingatannya seperti sekarang ini. Obat itu adalah racun yang berbahaya, kalau terus menerus diberikan, menurut gurunya, bisa membuat gadis itu menjadi gila betul-betul! Akan tetapi, kalau ingatannya kembali dan Kwi Hong mendapat kenyataan bahwa dia telah menyerahkan dirinya bukan kepada Bun Beng, tapi kepada Keng In, apa yang akan terjadi? Apakah Kwi Hong mau menerima nasib? Bagaimana kalau tidak? Dia takut kehilangan wanita yang dicintanya!

Keng In mengusir rasa gelisahnya. Setelah kedua orang itu puas berkasih-kasihan dan Kwi Hong tertidur di kamar itu, Keng In segera meninggalkan pondok. Masih ada sedikit lagi yang harus dia lakukan sebelum dia membebaskan Milana. Cepat ia pergi ke pondok Milana, memakai caping lebar.

Milana sedang duduk menangis di dalam pondok itu. Ketika mengengar ada orang datang dia menoleh. Melihat bahwa yang datang adalah Bun Beng, dia bangkit berdiri.

“Manusia hina! Gak Bun Beng, hayo kau keluar dari sini!”

Keng In membelalakkan mata dan kelihatan terkejut. “Milana… kekasihku, mengapa kau marah-marah kepadaku?”

“Jahanam, jangan menyebut kekasih kepadaku! Engkau pernah merayuku, hal itu masih dapat dimaafkan. Namun apa yang telah kau lakukan di dalam pondok kuning bersama perempuan lacur itu?”

“Milana! Perempuan lacur yang mana kau maksudkan? Aku datang bersama Giam Kwi Hong! Masa kau tidak mengenal Giam Kwi Hong?” Keng In sengaja menekankan nama ini ke dalam ingatan Milana.

“Aku tidak kenal segala Giam Kwi Hong. Yang kulihat adalah bahwa perempuan tak tahu malu di kamar itu bermain gila denganmu. Aku tidak sudi lagi melihat tampangmu. Pergi!”

“Milana! Dia itu bukan perempuan lacur, kalau dia cinta kepadaku, apakah aku harus menolak? Gak Bun Beng bukan laki-laki yang suka menolak cinta seorang wanita. Giam Kwi Hong adalah murid dan keponakan ayahmu sendiri. Masa kau lupa?”

Milana kelihatan bingung. Ayahnya? Siapa ayahnya? Giam Kwi Hong? Seperti pernah dia mendengar nama ini. Murid dan keponakan ayahnya?

“Siapa? Ayahku…?”

“Ayahmu Pendekar Super Sakti, Pendekar Siluman Majikan Pulau Es!”

Disebutnya nama ini seolah-olah merupakan guntur di siang hari memasuki telinga Milana. Inilah kesalahan Keng In. Nama Suma Han sebagai Pendekar Super Sakti telah berakar dalam ingatan Milana yang menjadi puterinya, maka begitu disebut nama ini, biar pun segala hal yang terjadi masih belum diingatnya, namun yang jelas dia tahu bahwa Bun Beng telah menghina ayahnya karena berjina dengan murid dan keponakan ayahnya itu! Ini saja sudah cukup baginya.

“Keparat, kau telah menghina ayahku!” Tiba-tiba kaki Milana menendang dan sebuah bangku melayang ke arah muka Keng In.

“Haiii!” Keng In memukul bangku itu.

“Brakk!” Bangku pecah berantakan akan tetapi Milana sudah menerjang maju dengan pukulan tangannya. Keng In kaget sekali, tidak mengira bahwa Milana menyerangnya dengan marah seperti itu. Dia cepat mengelak dan meloncat keluar, di hatinya dia tertawa girang. Milana sudah mulai membenci Gak Bun Beng! Karena tidak ingin melayani Milana yang mengamuk itu, Keng In cepat berlari kembali ke pondok kuning.

Akan tetapi tiba-tiba dia berhenti dan berdiri terpukau ketika melihat Kwi Hong sudah berdiri di depan pondok dengan pedang Li-mo-kiam di tangan dan mukanya merah, sepasang matanya berkilat! Keng In terperanjat, dan bulu tengkuknya meremang. Sepasang mata yang marah itu ditujukan kepadanya. Apakah karena dia tidak memakai caping bundar yang terlempar jauh ketika dia diserang Milana tadi? Ah, tidak mungkin! Kwi Hong sudah menganggapnya Bun Beng, pakai caping atau pun tidak! Akan tetapi mengapa?

“Wan Keng In! Aku tahu bahwa kau yang menculik Milana. Hayo serahkan Milana padaku!” Kwi Hong berseru dan mengelebatkan Li-mo-kiam di tangannya.

Keng In terbelalak. Jelas bahwa dara itu adalah Kwi Hong, wanita yang selama hampir dua pekan ini setiap hari berenang dalam lautan cinta yang mesra dengan dia! Dan wanita ini selalu menganggapnya Gak Bun Beng. Kenapa kini tiba-tiba menyebutnya Wan Keng In? Sudah sadarkah dia? Tak mungkin! Tadi sebelum pergi, dia sudah menyediakan minuman bercampur obat untuk Kwi Hong!

Memang amat mengherankan bagi yang tidak melihat apa yang terjadi dengan diri Kwi Hong ketika Keng In pergi tadi. Baru saja Keng In pergi dan Kwi Hong masih tidur pulas dengan wajah membayangkan senyum kepuasan, sesosok tubuh yang pendek menyelinap ke dalam kamar itu, membuang isi cawan minuman dan menukarnya dengan benda cair yang dituangkan dari guci arak yang dibawanya. Bayangan itu lalu menyelinap keluar lagi setelah dia mengguncang kaki Kwi Hong yang lalu terbangun.

Kwi Hong memandang ke kanan kiri, melihat cawan di atas meja.

“Bun Beng…?” Dia memanggil akan tetapi tidak ada jawaban. Diambilnya cawan itu dan diminumnya. Tiba- tiba dia berteriak kaget, meloncat bangun akan tetapi terbanting jatuh lagi ke atas dipan itu dan jatuh pingsan!

Bayangan pendek yang bukan lain adalah seorang kakek tua renta, Bu-tek Siauw-jin, masuk ke kamar itu dan menggeleng kepala sambil mengeluarkan suara “ck-ck-ckk!” Dengan perlahan dia lalu mengurut-urut punggung muridnya itu, di sepanjang tulang punggung dari bawah sampai ke tengkuk.

Kwi Hong siuman, bangkit duduk dan menggoyang-goyang kepalanya. “Aihhh, di mana aku…?” “Kwi Hong…”
Dia menoleh, terkejut melihat gurunya telah berdiri di kamar itu. Cepat dia meloncat turun dan berlutut, membetulkan pakaiannya yang tidak karuan.

“Suhu! Apa artinya ini? Di mana teecu? Dan… dan… Bun Beng…” Gadis ini telah pulih kembali ingatannya berkat obat yang diberikan Bu-tek Siauw-jin dan urutan tangannya tadi. Dia teringat akan semua yang dialaminya dengan Bun Beng maka dia terkejut melihat gurunya dan tidak melihat kekasihnya di situ.

“Kwi Hong,” suara Bu-tek Siauw-jin tidak seperti biasanya, kini terdengar tegas dan sama sekali tidak tampak senda-guraunya, bahkan alisnya yang putih itu berkerut. “Kau agaknya tidak tahu bahwa kau berada di Pulau Neraka.”

“Ehhh…? Apa teecu mimpi…?” Ada rasa kecewa di hatinya. Kalau hanya mimpi, jadi semua pengalamannya yang luar biasa dengan Bun Beng itu pun hanya mimpi?

“Tidak, kau tidak mimpi. Akan tetapi ketahuilah bahwa Milana diculik oleh Wan Keng In, dan kau harus menolongnya keluar dari sini. Awas, dia datang!” Kakek itu berkelebat dan lenyap.

Mendengar nama Wan Keng In disebut sebagai penculik Milana, Kwi Hong menjadi terkejut. Kini teringatlah dia betapa Wan Keng In telah membantunya membunuh tiga orang musuhnya, membantu memberi tahu tempat mereka dan betapa dia melakukan perjalanan bersama Wan Keng In. Akan tetapi dia lupa lagi di mana dan bagaimana dia berpisah dan Wan Keng In kemudian bertemu Bun Beng. Di mana sekarang Bun Beng? Betapa pun juga, mendengar perintah gurunya, cepat dia membereskan pakaiannya, menyambar Li-mo-kiam dan menanti di luar. Begitu dia mengenal Wan Keng In yang datang, dia segera menegurnya.

“Enci Kwi Hong… kau… kau… bagaimana bisa tahu?”

“Tak perlu kau ketahui, pendeknya aku tahu bahwa kau menculik Milana dan aku minta kau segera membebaskannya agar dapat secepatnya pergi keluar dari Pulau Neraka ini bersamaku. Selain itu, kalau kau berani menjebak Gak Bun Beng, terpaksa aku takkan memandang persahabatan kita lagi. Di mana dia?”

Keng In menahan ketawanya, hatinya girang. Kiranya gadis ini masih belum tahu bahwa Gak Bun Beng yang selama belasan hari ini mabuk dalam peluk ciumnya, adalah dia sendiri!

“Oohhh dia? Begini, Enci Kwi Hong. Dulu ketika kau melakukan perjalanan bersamaku, di tengah jalan aku bertemu dia dan… dan…, aku mendengar bahwa Milana diculik orang maka aku titipkan kau kepadanya dan aku sendiri lalu mencari Milana, berhasil dan kubawa ke sini… ada pun… ada pun dia itu…”

Keng In menjadi bingung sekali, bukan hanya karena Kwi Hong secara mendadak kembali pulih ingatannya, akan tetapi juga karena urusan menjadi berbalik arah! Kini dia tidak ingin gadis ini pergi meninggalkannya! Maka dia menekan hatinya dan mengambil keputusan untuk terang-terangan saja karena kalau tidak tentu Kwi Hong juga segera pergi meninggalkan dia!

“Begini, Kwi Hong… dengarlah baik-baik dan tenangkan hatimu. Kita sama tahu bahwa Milana dan Bun Beng saling mencinta, bahkan mereka telah dijodohkan menjadi calon suami isteri. Engkau mencinta Bun Beng dan aku mencinta Milana, akan tetapi cinta kita keduanya gagal. Karena itu, setelah aku melihatmu, aku merasa kasihan, dan… dan kita berdua yang gagal dalam cinta kasih ini bukanlah telah saling menemukan? Aku akan bebaskan Milana, biar dia mencari Bun Beng dan menikah. Aku… aku akan berbahagia sekali hidup selamanya di sampingmu, Kwi Hong.”

Muka Kwi Hong berubah pucat. Ada firasat tidak enak menyelubungi hatinya. Dia mulai mengingat-ingat. Cerita Keng In yang pertama tadi tidak masuk akal sama sekali. Pengakuan yang kedua lebih cocok.

“Wan Keng In, jangan main gila kau! Apa maksudmu? Di mana Bun Beng?”

Dengan nada suara sedih penuh kekhawatiran, Keng In menjawab, “Bun Beng tidak ada, Kwi Hong. Yang ada hanya Keng In. Bun Beng adalah milik Milana, akan tetapi Keng In adalah milikmu seperti engkau milikku, Kwi Hong.”

Wajah itu menjadi makin pucat, jantungnya berdebar tegang, dan hatinya penuh tanda tanya. “Apa…? Apa maksudmu?”

“Kwi Hong, engkau dan aku adalah sama-sama orang yang tidak disukai orang lain, tidak ada yang mencinta, dan gagal dalam cinta. Engkau dan aku yang menguasai Sepasang Pedang Iblis. Kita berdua dengan Sepasang Pedang Iblis di tangan akan menjagoi seluruh dunia. Kalau kita berdua maju, siapa yang akan dapat menandingi kita? Bahkan pamanmu, Pendekar Super Sakti sendiri belum tentu akan mampu menangkan kita berdua. Kita sudah jodoh, Kwi Hong, dan aku cinta padamu.”

“Apa…? Kau gila, Keng In!”

“Kita berdua telah gila, akan tetapi dalam kegilaan itu kita dapat sepaham, dan kita akan senasib sependeritaan. Kwi Hong, engkau isteriku, engkau telah menjadi isteriku, selama dua pekan ini… bukankah kita berdua telah saling mencurahkan cinta kasih, demikian nikmat, demikian mesra… Ahhh, Kwi Hong, dapatkah kau melupakan semua itu? Haruskah hubungan semesra dan sebahagia itu dihentikan untuk mengejar yang tak mungkin didapat?

Kini wajah Kwi Hong menjadi merah sekali, air matanya bercucuran. “Kau… jadi kau… kau yang selama ini… kusangka Bun Beng…?”

“Terpaksa aku menyamar sebagai Bun Beng, karena aku ingin mendapatkan dirimu, cintamu, tanpa perkosaan…”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo