September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 22

 

Bukan main kagetnya Suma Han melihat ini, akan tetapi selain raksasa Mongol itu siap untuk memukul kepala Kwi Hong dengan tangannya yang besar dan kuat, juga Thai-lek-gu yang gendut telah meloncat ke dekat Gozan dan menodongkan goloknya pada gadis tawanannya itu! Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan untuk mencoba menolong keponakannya, pikir Suma Han. Dia tentu kalah cepat dan andai kata dia dapat membunuh semua orang itu, tentu Kwi Hong akan terbunuh lebih dulu.

“Ahhh, Si Jahanam menawan Kwi Hong…!” Lulu berteriak.

Nirahai juga terkejut ketika mendengar bahwa murid atau keponakan suaminya telah menjadi tawanan. Mengertilah dia kini mengapa bekas Koksu itu bersikap seberani itu. Kiranya sama sekali bukan gila, melainkan licin dan curang sekali! Melihat betapa Suma Han menggerakkan jari tangan ke arah mereka, maklumlah kedua orang wanita itu bahwa mereka dilarang untuk turun tangan. Dan memang mereka pun sudah cukup cerdik untuk tidak sembarangan turun tangan, karena hal ini berarti kematian bagi Kwi Hong.

“Kwi Hong! Bagaimana engkau bisa tertawan?” Suma Han menegur muridnya.

Air mata bercucuran dari kedua mata Kwi Hong dan suaranya berduka sekali ketika dia menjawab, “Harap Paman tidak mendengarkan permintaan iblis-iblis ini. Biarkan aku mati, Paman, memang sudah patut kalau aku harus mati. Aku telah ditipunya, aku telah bersekutu dengan pemberontak-pemberontak laknat ini, karena menyangka bahwa pemerintah adalah musuh Paman. Setelah pemberontakan gagal, aku malah mengajak mereka menyembunyikan diri ke pulau ini. Akan tetapi, ternyata mereka adalah iblis-iblis yang jahat. Aku telah salah, dan aku rela mati. Harap Paman tidak mengorbankan apa-apa untukku!”

“Wah, dia benar-benar seorang gadis yang gagah perkasa!” Bhong Ji Kun memuji. “Akan tetapi kami masih sangsi apakah Pendekar Super Sakti yang terkenal itu memiliki cukup kegagahan seperti muridnya untuk berkorban demi muridnya. Terserah pilihanmu, Tocu!”

“Jahanam busuk!” Nirahai membentak. “Keparat hina!” Lulu juga memaki.
Akan tetapi Suma Han mengangkat kedua tangannya menyuruh kedua orang wanita itu bersabar dan tidak turun tangan. Kemudian dia menghadapi Bhong Ji Kun dan berkata, “Bhong Ji Kun, engkau tentu mengerti dengan baik bahwa sampai mati sekali pun kami bertiga tidak mau melibatkan diri dalam pemberontakan yang kau pimpin itu. Permintaanmu sebagai pengganti kebebasan keponakanku sungguh tidak masuk akal. Pikirlah baik-baik sebelum terpaksa kami membasmi kalian sebagai penukar nyawa murid dan keponakanku.”

Diam-diam Bhong Ji Kun mempertimbangkan. Tak dapat diragukan lagi, jika Pendekar Super Sakti mengamuk dibantu dua orang wanita sakti yang entah bagaimana kini menjadi baik dengan Pendekar Super Sakti, tentu dia dan semua pembantunya ditukar hanya dengan nyawa gadis itu!

“Tentang kerja sama biarlah kita bicarakan kemudian,” kata Bhong Ji Kun yang cerdik itu. “Sekarang kuganti penukarannya. Pertama kami mau membebaskan muridmu asal engkau dan dua orang wanita itu tidak mengganggu kami.”

“Sudah tentu! Kalau engkau suka membebaskan Kwi Hong, kami pun tidak akan mengganggumu dan kalian boleh pergi dengan aman,” jawab Suma Han, jawaban yang membuat alis kedua orang wanita sakti itu berkerut. Mereka sama sekali tidak setuju kalau orang-orang macam Bhong Ji Kun dan teman-teman- nya itu dibiarkan pergi begitu saja! Akan tetapi keduanya tidak berani membantah!

Agaknya mereka pun sudah menarik pelajaran dari pengalaman mereka setelah mereka menderita batin karena asmara gagal selama belasan tahun.

“Dan kedua, engkau harus menyerahkan kitab-kitab pusaka peninggalan Bu Kek Siansu yang tentu tadinya berada di Pulau Es kepada kami.”

“Kitab-kitab pusaka Pulau Es tidak berada padaku. Ketika pasukan yang kau pimpin menyerbu ke sini, pusaka-pusaka itu telah dibawa oleh pembantuku.”

“Hemm, jangan kau main-main dengan nyawa muridmu, Tocu, dan amat memalukan kalau seorang pendekar dengan kedudukan seperti engkau mengeluarkan kata-kata membohong.”

Sepasang mata Suma Han mengeluarkan cahaya menyambar seperti kilat, membuat Bhong Ji Kun terkejut dan cepat menundukkan muka.

“Bhong Ji Kun, untuk kata-katamu itu saja, dalam lain keadaan sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk menghancurkan mulutmu!”

Nada dalam suara Pendekar Super Sakti itu membuat wajah bekas Koksu itu menjadi pucat karena dia merasa betul betapa penuh wibawa dan bukan ancaman kosong saja kata-kata itu.

“Siapa yang bisa percaya bahwa seorang Tocu tidak menyimpan sendiri pusaka milik istananya?” Dia membela diri.

“Pusaka ada di sini…!” Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dan bayangannya berkelebat datang. Kiranya orang ini adalah Phoa Ciok Lin yang datang membawa sebuah peti kayu cendana yang berukir indah.

Melihat peti ini, Kwi Hong dengan suara tangisnya berkata, “Bibi… jangan… jangan kau berikan kepada mereka…! Lebih baik aku mati saja dari pada mengorbankan pusaka-pusaka itu…!”

Phoa Ciok Lin, wakil urusan dalam di Pulau Es, pembantu Suma Han yang usianya sebaya dengan kedua isteri pendekar itu, mengerling kepada Suma Han dan dua orang isterinya, tersenyum penuh syukur akan tetapi pandang matanya sayu penuh derita batin, kemudian cepat menghampiri bekas Koksu dan berkata, “Im-kan Seng-jin, engkau membutuhkan pusaka Pulau Es? Inilah pusaka-pusaka itu, boleh kuserahkan kepadamu asal engkau membebaskan Kwi Hong lebih dulu!”

Mata Bhong Ji Kun dan kawan-kawan-nya terbelalak penuh gairah memandang ke arah peti berwarna coklat itu. Akan tetapi Bhong Ji Kun yang sudah biasa melakukan segala macam tipu muslihat, tentu saja menjadi seorang yang tidak mudah percaya dan selalu berprasangka buruk. Memang demikianlah, watak seseorang dibentuk oleh kebiasaan dan pengalamannya sendiri. Seorang pembohong akan selalu tidak percaya kepada kata-kata orang lain, seorang penipu akan selalu curiga terhadap semua orang.

“Suma Tocu, benarkah ini peti berisi pusaka Istana Pulau Es?” tanyanya sambil menoleh ke arah Suma Han.

Pendekar ini mengangguk dan suaranya dingin sekali ketika menjawab, “Dia adalah wakilku dan kepercayaanku yang membawa pusaka Istana Pulau Es.”

Makin berseri wajah Bhong Ji Kun. “Suma-tocu, aku mau menukar muridmu dengan pusaka-pusaka itu, akan tetapi berjanjilah bahwa engkau tidak akan menghalangi dan merampas kembali kalau peti berisi pusaka telah diserahkan kepadaku.”

“Aku berjanji!”

“Paman, jangan! Lebih baik aku mati!”

“Diam kau!” Suma Han membentak dan Kwi Hong hanya terisak menangis.

“Im-kan Seng-jin, bebaskan Kwi Hong, baru akan kuserahkan kepadamu peti berisi pusaka ini!” kembali Phoa Ciok Lin mendesak, wajahnya yang cantik itu agak pucat.

Bhong Ji Kun tersenyum lega. Setelah mendapatkan janji Suma Han, siapa lagi yang dia takuti? Dia lalu memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada Gozan dan Thai-lek-gu. Dua orang ini lalu melepaskan belenggu kaki tangan Kwi Hong, lalu mendorong tubuh dara yang sudah lemas dan lemah itu ke arah Pendekar Super Sakti.

Kwi Hong jatuh berlutut di depan kaki pamannya, dia menangis terisak-isak dan tidak berani mengangkat muka. Suma Han sama sekali tidak mempedulikan dia, hanya memandang Phoa Ciok Lin dengan alis berkerut dan hati menekan kegelisahan.

“Tawanan telah kubebaskan, berikan peti itu!” Bhong Ji Kun berkata sambil mengulur tangan hendak mengambil peti dari tangan Phoa Ciok Lin.

Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara ketawa aneh, petinya terlempar ke belakang, ke arah Suma Han, sedangkan dia sendiri seperti gila telah menubruk bekas Koksu itu dengan pukulan kedua tangannya, pukulan maut yang amat berbahaya.

“Ciok Lin, jangan…!” Suma Han berseru mencegah pembantunya.

Namun terlambat. Serangan Phoa Ciok Lin yang hebat itu membuat Bhong Ji Kun terkejut bukan main. Untuk mengelak sudah tiada kesempatan lagi, maka dia hanya dapat menangkis pukulan ke arah pusarnya yang amat berbahaya dan terpaksa menerima tamparan pada dadanya.

“Desss…!”

Phoa Ciok Lin adalah murid nenek yang terkenal sebagai datuk kaum sesat, Toat-beng Ciu-sian-li, maka tentu saja ilmu kepandaiannya tinggi. Apa lagi setelah dia menjadi pembantu Pendekar Super Sakti dan memperdalam ilmunya selama bertahun-tahun di Pulau Es. Biar pun tentu saja dia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan bekas Koksu yang sakti itu, namun pukulannya itu pun bukanlah pukulan ringan sehingga tubuh Koksu yang sakti itu sampai roboh terjengkang. Akan tetapi dia sendiri pun terhuyung ke kiri karena daya tolak tenaga sinkang bekas Koksu yang lihai itu. Dan tampak sinar putih berkelebat disusul keluhan Phoa Ciok Lin yang roboh terguling, dadanya terluka oleh tombak di tangan Sin-jio Ciat Leng Souw yang menyerangnya dengan kecepatan kilat sehingga Suma Han sendiri sampai tercengang dan tidak mampu mencegahnya.

“Bibi…!” Kwi Hong menjerit dan meloncat menubruk Phoa Ciok Lin, lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke pinggir.

Terdengar suara melengking tinggi nyaring dan tahu-tahu tubuh Suma Han telah berada di depan Bhong Ji Kun yang sudah bangkit kembali. Setelah menyerahkan peti pusaka dalam perlindungan Lulu dan Nirahai, Suma Han dengan marah kini menghadapi bekas Koksu dan para pembantunya.

“Bhong Ji Kun!” Suaranya terdengar tegas dan penuh wibawa sehingga bekas Koksu itu dan para pembantunya memandang dengan hati gentar, akan tetapi juga dengan kesiap siagaan para jagoan yang tahu bahwa mereka menghadapi seorang lawan tangguh. “Sebagai penghuni Pulau Es menghadapi orang- orang yang mengotorkan pulau, aku menantang kalian untuk mengadu ilmu!”

Bhong Ji Kun tentu saja menjadi penasaran dan marah sekali, juga kecewa. Ia sengaja mengeluarkan suara ketawa mengejek. “Ha-ha-ha, Pendekar Super Sakti, Tocu Pulau Es yang terkenal itu ternyata hanyalah seorang yang suka bermain curang! Hendak menarik kembali janjinya, melanggar janji seperti seorang yang rendah. Hendak kemana kau taruh mukamu nanti?”

“Bhong Ji Kun, mulutmu lancang sekali! Kuhancurkan nanti!” Nirahai berteriak marah mendengar suaminya tercinta dimaki orang.

Namun Suma Han bersikap tenang, biar pun pandang matanya tajam menusuk. “Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, siapakah yang curang? Aku tadi berjanji tidak menghalangi apabila pembantuku menyerahkan peti. Akan tetapi dia tidak menyerahkan peti kepadamu, hal itu adalah urusan antara kamu dan dia! Dia menipumu dan engkau telah membebaskan Kwi Hong dan mengeroyok pembantuku sampai terluka hebat. Perbuatanmu sungguh tidak patut. Antara kita tidak ada perjanjian apa-apa lagi.”

“Ha-ha-ha! Bukankah kau berjanji bahwa kalau kami membebaskan muridmu, engkau akan membiarkan kami pergi tanpa mengganggu?”

“Benar! Akan tetapi ingat, engkau membebaskan Kwi Hong bukan karena perjanjian antara kita, melainkan karena perjanjianmu dengan Phoa Ciok Lin. Sekarang aku menantang kalian mengadu ilmu. Kalau kalian tidak berani, aku baru mau melepaskan kalian kalau kalian mau berlutut dan minta ampun kepada kedua orang isteriku!”

Bhong Ji Kun membelalakkan mata. Kiranya pendekar ini telah akur kembali dengan Puteri Nirahai! Dan Ketua Pulau Neraka itu pun telah menjadi isterinya! Bukan main! Akan tetapi dia tidak berani menyatakan sesuatu akan pengakuan pendekar itu, apa lagi mengejek, karena kalau hal itu dia lakukan, tentu dia akan celaka di bawah tangan suami isteri, tiga orang yang memiliki kesaktian luar biasa itu! Kalau harus berlutut minta ampun, benar-benar hal ini amat berat. Dia adalah bekas Koksu, bahkan seorang tokoh yang terkenal di dunia kang-ouw. Demikian pun para pembantunya adalah orang-orang gagah yang lebih menghargai nama dan kehormatan dari pada nyawa.

“Pendekar Siluman!” teriaknya dengan muka merah. “Menyuruh kami berlutut minta ampun sama dengan menyuruh matahari timbul dari barat!”

“Bagus, kalau begitu majulah, dan juga para pembantumu, terutama yang memegang tombak cagak gagang panjang itu!” Suma Han melirik ke arah Ciat Leng Souw karena hatinya masih panas mengingat betapa pembantunya, Phoa Ciok Lin roboh oleh tombak orang ini.

“Wuuuuttt… syettt!”

Sin-jio Ciat Leng Souw dengan gerakan tangkas sudah meloncat dan berdiri tegak di depan Suma Han, tombak panjangnya itu dipalangkan di depan dada, sikapnya gagah sekali dan matanya menentang lawan sambil memperhatikan keadaan pendekar yang amat terkenal itu, kemudian berkata, “Pendekar Siluman! Orang lain mungkin takut mendengar namamu, tetapi, aku Sin-jio Ciat Leng Souw sama sekali tidak gentar untuk menghadapimu!”

Suma Han memandang orang tinggi besar itu. Sekelebatan saja matanya yang tajam dapat menaksir keadaan calon lawan ini. Tentu memiliki tenaga yang amat kuat dan ilmu tombak yang sakti. Sayang bahwa orang gagah ini sampai dapat terbujuk menjadi kaki tangan Bhong Ji Kun. Kalau dia menghendaki, dengan kekuatan sihir, tentu Suma Han akan dapat menundukkan calon lawan ini dengan mudah. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini.

Dia telah menunjukkan kegagahannya kepada dua orang isterinya, telah menunjukkan kejantanan dengan memaksa mereka mengikutinya ke Pulau Es. Sekarang pun dia harus memperlihatkan, tidak hanya kepada kedua isterinya tercinta, akan tetapi juga kepada Bhong Ji Kun dan semua pembantunya bahwa nama Pendekar Super Sakti sebagai Majikan Pulau Es bukanlah nama kosong belaka, dan bahwa dia, tanpa bantuan siapa pun, akan dapat mempertahankan pulaunya.

“Bagus! Engkau seorang pemberani dan gagah, Ciat Leng Souw, dan tentu ilmu tombakmu lihai sekali. Cobalah robohkan aku seperti engkau merobohkan pembantuku secara membokong tadi!”

Mendengar tantangan yang mengandung teguran dan ejekan ini merahlah muka Ciat Leng Souw. Dia adalah seorang tokoh yang terkenal di selatan dan belum pernah tombaknya menemui tandingan. Kalau tadi dia turun tangan melukai Phoa Ciok Lin adalah karena melihat wanita itu menggunakan kecurangan dan mengancam keselamatan Bhong Ji Kun. Melihat betapa Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, dan para orang gagah yang membantu bekas Koksu itu kelihatan gentar menghadapi Suma Han, dia sudah merasa penasaran sekali.

Dia sudah banyak mendengar nama Pendekar Super Sakti, akan tetapi melihat betapa pendekar yang disohorkan orang itu hanya seorang yang sederhana dan berkaki buntung, dia makin penasaran dan ingin sekali mencoba kepandaiannya. Kini kesempatan itu tiba. Mendengar ucapan Suma Han, Ciat Leng Souw mengeluarkan suara menggereng dan tombak panjangnya sudah bergerak meluncur dan menyambar ke arah dada Suma Han dengan tusukan kilat.

“Trakkk!”

Tombak itu tertangkis oleh tongkat di tangan kiri Suma Han. Benar saja dugaan pendekar buntung itu, tenaga jago dari selatan ini memang kuat sekali. Betapa pun juga, kalau Suma Han menghendaki, dengan pengerahan sinkang-nya yang mukjizat, dia akan dapat mengalahkan lawan dalam pertemuan tenaga pertama kali itu. Akan tetapi dia tidak mau mengalahkan lawan dengan menggunakan sinkang-nya yang jarang ada tandingannya, juga tidak mau menggunakan kekuatan pandang matanya yang dapat melumpuhkan pikiran orang. Melihat betapa lawannya sudah cepat sekali menarik kembali tombaknya yang tertangkis lalu menggerakkan tombak dengan lihai sehingga tampak sinar panjang menyambar- nyambar, Suma Han cepat menghindar dan selanjutnya dia mempergunakan ilmunya yang amat dahsyat, yaitu Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun.

Ilmu silat yang mukjizat ini merupakan gerakan-gerakan berdasarkan ginkang yang hanya dapat dilakukan oleh orang berkaki buntung! Tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung terbang dan betapa pun Ciat Leng Souw mainkan tombaknya dengan hebat, tetap saja gerakan tombaknya tidak dapat mengikuti berkelebatnya bayangan lawan yang makin lama makin cepat seperti kilat menyambar-nyambar dan sebentar saja kepalanya menjadi pusing dan pandang matanya berkunang karena bayangan lawannya menjadi bertambah banyak! Hal ini bukan terjadi karena ilmu sihir, melainkan saking cepatnya Suma Han bergerak.

“Siluman…!” Ciat Leng Souw berseru dan dia mulai merasa gentar. “Krekkk! Plak! Plak!”
Tubuh yang tinggi besar itu terhuyung ke belakang, wajahnya pucat dan dari mulutnya mengalir darah segar, tombaknya patah-patah dan akhirnya dia roboh terguling dan mengeluh. Suma Han telah berdiri dengan tegak, tongkat di tangan dan dia tidak mempedulikan lagi Ciat Leng Souw yang dirobohkan. Pendekar ini dengan sikap tenang menanti majunya jago lain di pihak musuh. Dia telah berhasil mengalahkan Ciat Leng Souw tanpa membunuhnya, hanya mematahkan tombaknya dan dua kali menampar pundak lawan, membuat tulang kedua pundak Ciat Leng Souw patah!

Melihat ini, Gozan, jagoan Mongol yang seperti raksasa, Liong Khek, Si Muka Pucat yang bersenjatakan pancing, Thai-lek-gu Si Pendek Gendut yang bertangan panjang dengan sepasang golok jagal babinya, dan tiga orang panglima kaki tangan Bhong Ji Kun sudah bergerak maju mengurung Suma Han.

“Tak tahu malu!” Lulu membentak.

“Betapa gagahnya, main keroyokan!” Nirahai juga mengejek.

“Biarkan saja tikus-tikus ini, kalian jaga saja peti itu!” Suma Han menoleh kepada dua orang isterinya sambil tersenyum.

Padahal tanpa dia beritahu pun Nirahai dan Lulu tidak akan bergerak membantu suami mereka karena mereka maklum bahwa menghadapi pengeroyokan itu, suami mereka tidak perlu dibantu, apa lagi mereka bertugas menjaga peti pusaka Istana Pulau Es.

Gozan sebagai seorang jagoan Mongol yang juga memandang rendah Suma Han, apa lagi dia mengandalkan ilmu gulatnya dan tenaganya, sudah tidak sabar lagi dan sambil memekik dia lari menerjang dan hendak menangkap pendekar kaki buntung itu dengan kedua lengannya yang berotot kuat. Menghadapi serangan ini, Suma Han hanya berdiri tenang saja, bahkan ia tidak mengelak sama sekali ketika kedua tangan lawan ini mencengkeram pundak dan pinggangnya. Akan tetapi, betapa terkejut hati Gozan ketika dia merasa seolah-olah jari-jari tangannya mencengkeram baja yang dingin dan keras! Dia mengerahkan tenaga, hendak mengangkat tubuh itu dan membantingnya namun betapa pun dia mengerahkan seluruh tenaganya, tubuh yang hanya berdiri dengan satu kaki itu sama sekali tidak bergoyang.

“Pergilah!” Suma Han membentak sambil menggoyangkan tubuh dengan gerakan berputar.

“Krekk! Krekk!” Gozan terpelanting roboh dan mengaduh-aduh, kedua lengannya tergantung lumpuh karena sambungan siku dan pergelangan kedua tangannya telah terlepas, terbawa oleh gerakan memutar tubuh Pendekar Super Sakti tadi.

Liong Khek dan teman-temannya sudah menerjang maju, menggunakan senjata mereka. Hujan senjata menyambar ke arah tubuh Suma Han. Pendekar ini tenang-tenang saja memegang tongkatnya, kemudian secara tiba-tiba tongkatnya diputar, dan terdengarlah suara nyaring disusul runtuhnya senjata para pengeroyok yang patah-patah dan terpental ke sana-sini, kemudian tampak bayangan Suma Han berkelebat di antara mereka.

Para pengeroyok mengeluh panjang pendek dan seorang demi seorang terlempar ke kanan kiri tanpa dapat melawan lagi karena sambaran tongkat Suma Han yang terarah dan dengan tenaga terbatas para pengeroyok itu menderita patah tulang, tertotok lumpuh, atau terluka dalam! Belasan orang itu roboh hanya dalam waktu belasan jurus saja! Tadinya memang hanya enam orang yang maju, akan tetapi begitu Gozan roboh, semua kaki tangan bekas Koksu itu maju mengeroyok. Kini hanya tinggal Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama berdua saja masih berdiri dengan muka agak pucat, namun sikap mereka ditenang-tenangkan ketika Suma Han menghadapi mereka.

“Bhong Ji Kun, sekarang aku ingin merasai kelihaianmu. Dan Thian Tok Lama, kita adalah lawan-lawan lama yang sudah puluhan tahun tak pernah saling mengukur kepandaian. Agaknya engkau telah memperoleh kemajuan hebat, hanya sayangnya, semenjak dahulu kedudukanmu tidak mengalami kemajuan dan selalu menjadi kaki tangan pemberontak!” Wajah Thian Tok Lama menjadi merah mendengar ejekan ini, karena memang dia dan sute-nya yang sudah tewas, Thai Li Lama, dahulu pernah terlibat pula dalam pemberontakan (baca cerita Pendekar Super Sakti).

Thian Tok Lama sudah pernah mengalami bertanding melawan Pendekar Super Sakti dan dia merasa gentar karena maklum bahwa tingkat kepandaiannya masih kalah jauh oleh Majikan Istana Pulau Es itu, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk mengaku kalah, apa lagi di situ ada Bhong Ji Kun yang dia andalkan. Bekas Koksu ini biasanya amat percaya kepada kepandaiannya sendiri, namun biar dia belum pernah bentrok dan mengadu ilmu melawan Pendekar Super Sakti, nama pendekar ini membuat dia merasa gentar, apa lagi setelah menyaksikan betapa dengan mudah saja pendekar itu tadi merobohkan semua anak buahnya, maka nyalinya menjadi kecil.

Dia memang cerdik dan dengan suara dibuat-buat agar tidak kentara perasaan jerinya, dia bertanya, “Suma-tocu, apakah engkau menantang kami maju berdua? Benarkah engkau berani menghadapi kami berdua tanpa bantuan orang lain?” Berkata demikian bekas Koksu itu sengaja melirik ke arah Nirahai dan Lulu.

Kalau seorang saja di antara kedua orang wanita sakti itu maju, tentu dia dan Thian Tok Lama takkan mampu menandinginya. Akan tetapi kalau pendekar kaki buntung sebelah ini dia keroyok bersama Thian Tok Lama dia masih tak percaya kalau mereka berdua tidak akan mampu keluar sebagai pemenang!

“Bhong Ji Kun manusia pengecut!” Nirahai membentak marah. “Beraninya hanya main keroyok. Hayo kau lawan aku kalau memang ada kepandaian!”

“Aku pun siap menghadapimu satu lawan satu!” Lulu juga menantang.

Bhong Ji Kun tersenyum. “Bukan kami yang menantang, melainkan Suma-tocu. Kalau dia tidak berani, kami pun tidak akan memaksa.”

“Im-kan Seng-jin tak perlu banyak cakap lagi. Majulah bersama Thian Tok Lama, aku sudah siap menghadapi kalian berdua.” Terdengar Suma Han berkata, suaranya tenang karena dia tidak dapat dipanaskan hatinya oleh sikap dan ucapan Bhong Ji Kun yang cerdik.

“Tar-tar-tar…!” Pecut merah di tangan bekas Koksu itu meledak-ledak di udara. Kini dia bersikap sungguh- sungguh dan telah melangkah maju dengan senjata istimewa itu di tangan.

Juga Thian Tok Lama sudah siap, lengan kanannya di gerakkan berputaran perlahan dan tangan itu berubah menjadi biru, sedangkan tangan kirinya memegang golok, diacungkan di atas kepala. Dengan langkah-langkah lambat dua orang itu menghampiri Suma Han sambil mengatur posisi yang baik, pandang mata mereka tidak pernah berkedip ditujukan kepada Pendekar Super Sakti.

Suma Han berdiri dengan sikap tenang sekali, tidak bergerak seperti sebuah arca, tongkat di tangan kiri masih membantu berdirinya kaki tunggal itu, tubuh tegak akan tetapi mukanya menunduk, hanya pandang matanya yang bergerak perlahan mengikuti gerak-gerik kedua orang lawannya.

“Hyaaaattt…! Tar-tar-tar-tar…!” “Haiiittt…! Sing-sing-sing-wuuutttt!”
Serangan yang datang mengikuti pekik yang keluar dari mulut Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama hampir berbareng itu datang bagaikan hujan ke arah tubuh Suma Han. Pecut merah berubah menjadi sinar merah yang menyambar-nyambar dan meledak-ledak seperti halilintar, bertubi-tubi menyambar ke arah kepala dan dada Pendekar Super Sakti. Golok di tangan kiri Thian Tok Lama merupakan sinar putih yang bergulung-gulung membabat ke arah kaki tunggal lawan, sedangkan tangan kanannya digerakkan dengan dorongan dahsyat ke arah pusar Suma Han, mengeluarkan uap hitam karena pukulan itu adalah pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang (Pukulan Sakti Api Angin dan Uap Hitam), dari perut pendeta Lama ini keluar suara kok-kok seperti ayam betina habis bertelur!

Suma Han maklum betapa lihainya kedua orang yang mengeroyoknya itu. Dia sudah mengenal kelihaian Thian Tok Lama dan sudah dapat mengukur sampai di mana tingkat ilmu kepandaian kakek pendeta dari Tibet ini, akan tetapi dia belum hafal benar akan sifat dan tingkat ilmu silat Bhong Ji Kun, karena itulah maka dia berlaku hati-hati dan tadi hanya bersikap menanti dan berjaga-jaga. Setelah melihat kedua orang lawannya secara tiba-tiba dan serentak menerjangnya secara dahsyat, Suma Han segera mengerahkan tenaga dan mempergunakan ilmunya yang mukjizat, yaitu Soan-hong-lui-kun.

Tubuhnya melesat ke sana-sini, cepatnya melebihi sinar senjata lawan, bagaikan kilat menyambar untuk menghindarkan diri dari serbuan kedua orang lawannya. Ketika tubuhnya dapat lolos dari kurungan serangan kedua orang dan melesat ke udara, tampak sinar merah pecut berkelebat menyambar dari bawah mengejar bayangan Suma Han. Pendekar Super Sakti diam-diam merasa terkejut dan kagum akan kecepatan gerak senjata lawan, namun tidak menjadi gugup, kaki tunggalnya digerakkan dan tubuhnya membalik, tongkatnya menangkis sinar cambuk merah.

“Tarrr…!”

Tampak asap mengepul dari pertemuan dahsyat antara tongkat dan cambuk itu, dan Suma Han sudah melayang turun lagi. Diam-diam dia kagum juga akan kelihaian lawan karena dalam pertemuan tenaga tadi tahulah dia bahwa tenaga sakti bekas Koksu ini lebih kuat dari pada Thian Tok Lama! Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk membanding lebih lama lagi karena cambuk merah itu sudah meledak-ledak mencari sasaran, sedangkan golok di tangan Thian Tok Lama juga sudah menerjangnya secara bertubi- tubi.

Suma Han menggerakkan tongkatnya, menangkis semua serangan kedua orang pengeroyoknya. Sampai tiga puluh jurus lebih pendekar ini hanya menjaga diri, mengelak dan menangkis untuk menguji lawan. Melihat sikap suami mereka itu, Lulu dan Nirahai hampir kehilangan kesabaran mereka. Kalau saja mereka menurutkan watak mereka yang dahulu, tentu mereka sudah tadi-tadi turun tangan membunuh bekas Koksu dan pendeta Tibet itu.

Akan tetapi mereka merasa takut kepada suami mereka, takut kalau suami mereka marah! Apa lagi karena mereka yakin bahwa suami mereka tidak akan kalah, maka kedua orang wanita perkasa itu hanya menonton. Peti pusaka Istana Pulau Es terletak di depan kaki mereka.

Ada pun semua anak buah Bhong Ji Kun biar pun tidak ada yang tewas dan hanya terluka ketika mereka dirobohkan Suma Han, tidak ada yang berani maju lagi membantu Bhong Ji Kun. Mereka hanya menonton dan tentu saja mengharapkan agar dua orang kakek itu dapat mengalahkan Pendekar Super Sakti.

Ternyata harapan mereka itu kosong belaka karena kini Pendekar Super Sakti mulai membuat gerakan balasan dengan tongkatnya. Begitu tongkat di tangan kirinya itu menambah gerakan menangkis dengan serangan dahsyat, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama terdesak hebat dan terpaksa banyak mundur karena betapa pun mereka memutar senjata, beberapa kali ujung tongkat itu tahu-tahu telah menyelonong depan hidung mereka dan mengancam bagian tubuh yang lemah.

Ini memang siasat Suma Han yang dalam segala hal, juga dalam pertandingan, bersikap tenang dan penuh perhitungan. Kalau saja dia tadi tidak bersikap mengalah dan mempertahankan diri, kiranya tidak mudah baginya untuk mendesak kedua orang lawannya yang juga memiliki kepandaian sangat tinggi, terutama sekali mendesak Bhong Ji Kun.

Akan tetapi, ketika dia hanya mempertahankan diri selama tiga puluh jurus lebih tadi, diam-diam dia mempelajari dasar gerak kedua orang lawannya, terutama sekali gerakan cambuk Bhong Ji Kun, karena dia sudah tahu akan kepandaian Thian Tok Lama. Tiga puluh jurus cukuplah bagi Pendekar Super Sakti ini, dan setelah mengenal dasar gerakan lawan, barulah kini dia mengeluarkan kepandaiannya untuk menyerang lawan.

Thian Tok Lama merasa cemas karena hal ini memang sudah dikhawatirkannya. Ada pun Bhong Ji Kun yang tadinya sudah merasa girang dan memandang rendah lawan ketika dia dan temannya seolah-olah sudah mendesak Suma Han, kini merasa terkejut bukan main. Tongkat pendekar kaki buntung itu gerakannya aneh sekali, sama anehnya dengan gerakan tubuh pendekar itu yang dapat mencelat ke sana- sini secara luar biasa, dan dari tongkat itu menyambar keluar hawa pukulan yang membuat bekas Koksu ini makin bingung. Tongkat itu kadang-kadang kaku melebihi baja, kadang-kadang lemas seperti batang pohon cemara, akan tetapi yang lebih hebat lagi, kadang-kadang mengandung hawa serangan panas dan ada kalanya amat dingin!

Mendadak terdengar suara melengking tinggi yang keluar dari dalam dada Pendekar Super Sakti. Tongkatnya bergerak menyambut golok dan cambuk lawan dan… tiga buah senjata melekat menjadi satu.

Betapa pun Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama berusaha menarik kembali senjata mereka, sia-sia saja seolah-olah cambuk dan golok sudah menjadi satu dengan tongkat!

“Haiiiiittttt!” Bhong Ji Kun menggunakan tangan kiri memukul dengan telapak tangan didorongkan ke depan.

“Hyaaattt!” Thian Tok Lama sudah menggunakan pula tangan kanannya, melakukan pukulan Hek-in-hwi- hong-ciang yang mengeluarkan uap hitam.

Suma Han maklum akan bahaya maut ini. Pukulan tangan kosong Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan Hek-in-hwi-hong-ciang dari pendeta Lama itu. Cepat dia melepaskan tongkatnya selagi kedua lawannya mencurahkan perhatian pada pukulan mereka, kemudian dengan tubuh tegak pendekar kaki tunggal ini sudah mendorongkan pula kedua tangannya ke depan menyambut pukulan kedua lawannya.

“Desss! Desss!”

Tubuh Bhong Ji Kun menggigil dan terhuyung ke belakang. Dia telah terkena hantaman Inti Es yang selain menolak pukulannya sendiri juga dengan kekuatan dahsyat masih mendorongnya. Sedangkan Thian Tok Lama terlempar ke belakang dan terbanting roboh dengan muka merah seperti dibakar. Dia tadi dilawan dengan pukulan panas Inti Api yang luar biasa dahsyat dan kuatnya.

Dengan kemarahan meluap-luap, Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama sudah meloncat bangun lagi tanpa mempedulikan darah yang menetes keluar dari ujung bibir mereka. Bhong Ji Kun menerjang dengan cambuknya yang tadi sudah terlepas dari tongkat Suma Han. Akan tetapi karena benturan tenaga sakti tadi telah mendatangkan luka di dalam dadanya, gerakannya tidak sedahsyat tadi dan menghadapi serangan ini, Suma Han yang telah memegang tongkatnya lagi bersikap tenang sekali.

“Tarr-tarrrr…!”

Cambuk merah itu menyambar ke arah kepala, ujungnya seperti patuk burung garuda mematuk ke arah ubun-ubun kepala Suma Han. Dengan sikap tenang Suma Han menggerakkan tongkatnya menangkis, akan tetapi tiba-tiba tampak sinar kilat berkeredepan menusuk ke arah dada pedekar itu. Suma Han mengeluarkan seruan kaget, maklum bahwa lawannya menggunakan senjata yang luar biasa ampuhnya, maka sambil menggerakkan tubuh mencelat ke kanan, tongkatnya bergerak menangkis senjata yang berkeredepan itu.

“Cringggg! Trakkkk!” Tongkat di tangan Pendekar Super Sakti itu patah menjadi dua bertemu dengan pedang itu.

“Li-mo-kiam…!” Suma Han berteriak kaget. Cepat dia mendorongkan kedua tangannya, yang kiri memukul ke arah pergelangan tangan kiri lawan yang memegang Pedang Iblis itu, sedangkan yang kanan mendorong ke arah dada Bhong Ji Kun.

“Desss! Augghhh…!”

Pedang Iblis Betina terlepas dari pegangannya dan cepat disambar oleh Suma Han, sedangkan tubuh bekas Koksu itu terjengkang seperti dihantam palu godam raksasa yang amat kuat. Mulutnya muntahkan darah segar. Dia terkena pukulan yang mengandung tenaga sakti Inti Api, yang sama sekali tidak diduganya karena dia mengira bahwa lawannya akan menggunakan Im-kang seperti tadi. Apa lagi dia telah mempergunakan Li-mo-kiam yang dirampasnya dari Kwi Hong. Melihat pendekar itu terkejut dan tongkatnya patah, hatinya sudah girang sekali, membuat kewaspadaannya berkurang.

“Singggg… trakkkk! Desss!”

Golok di tangan Thian Tok Lama patah-patah bertemu dengan Li-mo-kiam, tangan kanan Thian Tok Lama yang melancarkan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang bertemu dengan tangan kiri Suma Han yang menyambutnya dengan Im-kang sehingga pendeta Lama dari Tibet ini terpental sampai beberapa meter jauhnya dan roboh pingsan dengan muka pucat kebiruan!

Suma Han memandang Li-mo-kiam di tangannya, mengebutkan bajunya dan kemudian menghampiri Bhong Ji Kun yang sudah merangkak bangun sambil meringis. Suma Han memandang bekas Koksu itu dan berkata dengan suara dingin penuh wibawa, “Bhong Ji Kun, bawa semua kaki tanganmu ke perahumu dan lekas tinggalkan tempat ini!”

Sambil meringis Bhong Ji Kun bangkit berdiri, mukanya pucat dan mulutnya masih berlepotan darahnya sendiri. Dia memandang ke sekelilingnya. Thian Tok Lama masih pingsan dan anak buahnya tidak seorang pun tewas, akan tetapi semua menderita luka yang membuat mereka tidak berdaya. Dia mengangguk, menarik napas panjang dan berkata, “Engkau hebat. Pendekar Super Sakti. Sekali ini aku mengaku kalah, akan tetapi tunggu saja, akan datang saatnya aku menebus kekalahan ini.”

Sambil terhuyung-huyung, bekas Koksu ini mengambil cambuk merahnya, kemudian menyuruh anak buahnya membawa teman yang lukanya agak berat, menggotong Thian Tok Lama, kemudian tanpa berkata apa-apa kepada Suma Han dia bersama anak buahnya naik perahu yang segera dilayarkan meninggalkan Pulau Es, menuju ke selatan.

“Anjing-anjing licik macam itu mengapa tidak dibunuh saja?” Baru sekarang Nirahai membuka mulut mencela suaminya.

“Memang sepantasnya mereka dibunuh, kalau tidak kelak hanya akan menimbulkan kekacauan saja,” Lulu juga berkata tak puas, dan memandang bekas kakak angkat yang kini menjadi suaminya yang tercinta itu.

Suma Han menarik napas panjang. “Aku kasihan kepada orang-orang sesat seperti itu. Mudah-mudahan kekalahan mereka ini menjadi pelajaran dan membuat mereka bertobat. Pula, aku tidak menghendaki pembunuhan di pulau ini, apa lagi aku tidak ingin memulai hidup baru kita dengan pembunuhan.”

“Akan tetapi mereka telah membunuh pembantumu!” kata Nirahai.

Suma Han terkejut dan menengok, seolah-olah baru teringat kepada pembantunya yang setia itu. Dengan cepat dia menghampiri, diikuti oleh Nirahai dan Lulu. Mereka bertiga berlutut dekat Phoa Ciok Lin yang masih rebah di atas tanah dipeluki oleh Kwi Hong yang masih menangis terisak-isak.

Melihat keadaan Phoa Ciok Lin yang dadanya ditembus tombak, Suma Han maklum bahwa nyawa pembantunya itu tak mungkin ditolong lagi. Melihat muridnya atau keponakannya, alisnya berkerut. Dara inilah yang menjadi gara-gara, pikirnya penuh kekecewaan dan penyesalan.

“Perlu apa engkau menangis lagi? Menangis setelah terlambat tiada gunanya! Kenapa sebelumnya engkau tidak berpikir panjang dan percaya kepada orang-orang seperti mereka?”

Tangis Kwi Hong semakin meledak ketika dia mendengar suara yang bernada penuh teguran dari pamannya itu. Dia merebahkan tubuh Phoa Ciok Lin perlahan-lahan di atas tanah, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Han sambil menangis dan berkata, “Harap Paman bunuh saja aku yang berdosa ini!”

Suma Han memandang tajam, kerut di alisnya makin mendalam. “Hemmm, pernahkah aku mengajarmu bersikap seperti pengecut ini? Setiap orang membuat kesalahan, dan sikap terbaik adalah menyadari kesalahan itu, bukan dengan penyesalan yang menimbulkan keinginan untuk bunuh diri! Sekarang aku mempunyai tugas untukmu, jika engkau melaksanakan tugas ini dengan baik berarti engkau mempunyai keinginan untuk menebus kesalahanmu. Sanggupkah engkau?”

“Biar harus mengorbankan nyawa, akan saya laksanakan tugas itu, harap Paman lekas beritahukan kepada saya.”

“Kau pergilah meninggalkan pulau ini, carilah Milana sampai dapat, bawa dia ke pulau ini menyusul kami. Juga kau selidiki di mana adanya Gak Bun Beng yang sudah kusuruh mencari Milana. Mereka telah kami tunangkan dan keduanya harus menyusul kami di sini untuk dilaksanakan pernikahannya. Juga kau harus mencari Wan Keng In, selain minta dia menyerahkan Lam-mo-kiam juga katakan kepadanya bahwa ibunya telah berada di Pulau Es, menjadi isteriku. Nah, berangkatlah!”

Wajah Kwi Hong seketika pucat ketika dia mendengar perintah ini. Biar pun amat sukar menundukkan Wan Keng In, apa lagi memaksanya menyerahkan Lam-mo-kiam dan mengajaknya ke Pulau Es, namun hal itu masih tidak membuat dia terkejut. Yang membuat wajahnya pucat adalah ketika dia mendengar akan pertunangan antara Gak Bun Beng dan Milana! Jantungnya seperti ditusuk rasanya dan cepat menundukkan mukanya untuk menyembunyikan kepucatan wajahnya dan dua titik air mata yang sudah bergantung di bulu matanya. Dia mengangguk, kemudian menerima pedang Li-mo-kiam yang disodorkan pamannya. Tanpa menjawab, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia sudah berlari-lari ke pantai, meloncat ke dalam sebuah perahu kecil yang tadi dipergunakan oleh Phoa Ciok Lin, dan meluncurkan perahu dengan cepatnya menuju ke utara, melalui celah-celah pegunungan es yang terapung di lautan.

Suma Han berdiri tegak memandang bayangan keponakannya itu, alisnya berkerut. Pendekar Super Sakti ini diam-diam merasa kasihan dan terharu. Dia memang sengaja tadi memberitahukan tentang pertunangan antara Bun Beng dan Milana, karena dia tahu bahwa keponakannya itu menaruh hati cinta kepada Bun Beng. Dia ingin agar keponakannya yang mudah dibujuk orang jahat itu belajar melihat kenyataan hidup dan menghadapinya dengan penuh keberanian! Hal ini akan menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri, membuatnya waspada dan tidak lengah. Mengingat betapa dia telah menggembleng dara itu, dan bahwa Bu-tek Siauw-jin juga sudah menurunkan ilmu kepada keponakannya itu, dia tidak khawatir lagi akan keselamatan Kwi Hong yang tentu sudah cukup kuat untuk menjaga diri, apa lagi dengan Li-mo-kiam di tangannya.

“Taihiap engkau sungguh kejam…!”

Mendengar suara Phoa Ciok Lin ini, Suma Han cepat menengok lalu berlutut di dekat kedua isterinya. Kiranya pembantunya itu telah siuman dari pingsannya dan sekarang memandang kepadanya dengan muka pucat sekali dan mata sayu. Dengan terharu dia memegang tangan wanita yang sedang sekarat itu tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.

“Taihiap, apakah engkau tidak tahu… bahwa Kwi Hong mencinta Bun Beng seperti… seperti… aku mencintamu pula? Aku bukan seorang muda, aku dapat melihat bahwa cintaku sia-sia, bahwa aku bertepuk sebelah tangan… dan demi cintaku… aku bahagia menyaksikan engkau telah dapat berkumpul dengan kedua orang wanita yang kau cinta. Aku… aku… demi cintaku kepadamu, aku dengan senang hati suka berkorban, aku akan mati dengan hati tenteram… akan tetapi Kwi Hong masih muda sekali! Dapatkah dia bersikap seperti aku? Taihiap… kasihan dia… entah apa yang akan terjadi dengan dia… tapi… aku percaya kepadamu Taihiap, selamat tinggal…!”

Phoa Ciok Lin menghembuskan napas terakhir. Agaknya kekhawatiran dalam hatinya mengenai nasib Kwi Hong tidak dapat mengusir kebahagiaan hatinya menyaksikan orang yang amat dikasihinya itu akhirnya dapat berkumpul dengan Lulu dan Nirahai, sehingga tepat seperti yang diucapkannya tadi, dia menghembuskan napas terakhir dengan senyum di bibirnya!

Suma Han menarik napas panjang, berbisik, “Ciok Lin, aku pun cinta padamu, akan tetapi bukan cinta seperti yang kau maksudkan itu…”

Kemudian, dengan dibantu oleh Lulu dan Nirahai yang tidak berkata sesuatu, Suma Han menguburkan jenazah Phoa Ciok Lin di bagian yang paling tinggi di pulau itu agar kuburannya tidak selalu tertimbun oleh salju.

Ketika mereka bertiga berdiri di depan kuburan itu dan kebetulan mereka menghadap ke selatan, mereka melihat udara di selatan amat gelap dan tampak kilat menyambar-nyambar dan awan hitam bergumpal- gumpal amat menakutkan. Nirahai yang belum pernah menyaksikan penglihatan seperti itu menjadi ngeri dan memegang tangan suaminya.

“Ihhh! Apakah di sana itu?”

Lulu yang menjawabnya, karena Lulu sudah bertahun-tahun tinggal di Pulau Es ini, “Badai. Di selatan ada badai yang mengamuk, Suci. Dan anjing-anjing tadi yang di sini mendapat pengampunan, ternyata tidak diampuni oleh Tuhan. Mereka tentu tewas semua ditelan badai!”

“Untung bahwa Kwi Hong tadi mengambil jalan ke utara,” Suma Han berkata.

Dia menggandeng tangan ketua orang wanita itu, dan dengan penuh kasih sayang mereka bertiga berjalan bergandengan menuju ke istana Pulau Es, menuju ke hidup baru setelah belasan tahun ketiga orang sakti ini merana oleh cinta yang putus di antara mereka. Mereka tidak memikirkan apa-apa lagi. Mereka hendak melepaskan rindu selama belasan tahun itu, melepaskan dahaga dengan menghirup madu cinta kasih di antara mereka sekenyang dan sepuas mungkin…..

********************

Pemuda itu berjalan cepat sekali. Wajahnya berseri dan bibirnya sering kali tersenyum menandakan keriangan hatinya. Sepasang matanya bersinar-sinar penuh bahagia. Betapa hatinya tidak akan merasa bangga, bahagia dan riang setelah kini secara resmi dia diterima oleh Pendekar Super Sakti dan isterinya sebagai calon mantu! Dia malah diberi tugas oleh suami isteri itu untuk mencari Milana! Kekasih hatinya! Calon isterinya!

Tersenyum dia membayangkan betapa dara itu akan menjadi merah mukanya, menjadi malu-malu kalau dia nanti menceritakan tentang pertunangan mereka! Dan yang lebih dari pada segala yang menyenangkan hatinya adalah kalau dia mengingat akan pertemuannya dengan Milana yang terakhir kalinya, di mana dara itu dengan jelas membayangkan bahwa Milana pun membalas cinta kasihnya!

Tadinya kebahagiaan karena dara itu membalas cintanya masih diliputi awan keraguan kalau-kalau ayah bunda dara itu tidak menyetujui. Akan tetapi sekarang setelah kedua orang tua itu menyatakan setuju, biar pun belum disahkan, dunia seolah-olah berubah bagi pandang mata Bun Beng! Sinar matahari menjadi lebih cemerlang. Tumbuh-tumbuhan menjadi lebih segar. Segala yang dipandangnya, yang didengarnya, menjadi lebih indah menyenangkan.

Bun Beng mempercepat gerakan lari kakinya. Kota raja tidak jauh lagi. Setelah keluar dari hutan besar yang terakhir di sebelah utara kota raja ini, dinding yang mengelilingi kota raja sudah akan tampak. Heran sekali dia, mengapa sebelum ini dia tidak melihat keindahan hutan besar ini?

Daun-daun kering yang memenuhi tempat itu, yang terinjak oleh kakinya terasa lunak, biasanya tampak buruk, sekarang menimbulkan perasaan senang melihatnya, begitu rapi bertumpuk di atas tanah, seperti diatur saja. Dan seolah-olah sengaja disebar untuk menjadi permadani yang lunak halus bagi kedua kakinya. Dan baunya! Daun-daun yang sudah membusuk, menjadi sampah, bukankah biasanya mendatangkan bau tidak enak? Sekarang kalau dia mencium, terciumlah bau daun-daun busuk itu, akan tetapi sama sekali tidak busuk baunya, bahkan ada kesedapan yang khas! Jelaslah kini olehnya bahwa segala yang disebut indah atau buruk, enak atau tidak, semua tergantung dari keadaan hati seseorang!

Pendapat seperti yang dialami Bun Beng itu menjadi pendapat umum. Akan tetapi selama orang memandang atau mendengar sesuatu dengan penilaian akan baik buruknya yang dipandang atau didengar itu, maka seluruhnya tergantung dari keadaan pikiran dan hati. Karena itu, kita selalu diombang-ambingkan antara suka dan duka, puas dan kecewa dan kalau dihitung dan dijumlah, jauh lebih banyak dukanya dari pada sukanya, lebih banyak kecewanya dari pada puasnya.

Kalau saja kita dapat melepaskan diri dari pengaruh pikiran! Kalau saja kita dapat terbebas dari keinginan, dari pengejaran akan sesuatu yang tidak ada pada kita! Kalau kita terbebas dari rasa khawatir akan kehilangan yang kita senangi dan terbebas dari rasa takut akan sesuatu yang belum terjadi! Kalau demikian halnya, agaknya hidup ini tidaklah seperti yang kita alami sekarang ini di mana terdapat penuh pertentangan, penuh persoalan benar atau salah, penuh dengki dan iri hati, penuh benci, dan penuh dengan apa yang kita sebut kesengsaraan lahir mau pun batin!

Gak Bun Beng yang sekarang telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian luar biasa berkat gemblengan terakhir yang dilakukan bersama oleh Pendekar Super Sakti dan Kakek Bu-tek Siauw-jin, berlari seperti terbang cepatnya dan sebentar saja dia telah keluar dari dalam hutan lebat itu. Sejenak dia berhenti untuk memandang tembok yang megah, yang mengelilingi kota raja sehingga dari jauh kelihatan seperti sebuah benteng yang kokoh kuat.

Tiba-tiba pandang matanya tertarik akan sesuatu yang bergerak tak jauh di sebelah depan, di lereng pegunungan sebelah bawah. Seorang manusia! Dan jalannya tidak wajar karena seperti terhuyung- huyung. Bun Beng segera meloncat ke depan dan berlari cepat menuju ke arah orang yang terhuyung- huyung itu.

Orang itu roboh terguling dan mengeluh ketika Bun Beng tiba di sebelah belakangnya. Bun Beng cepat berlutut dan mengangkat tubuh bagian atas laki-laki setegah tua itu. Beberapa buah luka yang cukup hebat memenuhi tubuhnya, pakaiannya robek-robek dan berlepotan darah. Keadaan laki-laki itu payah sekali, napasnya empas-empis.

“Kau kenapa, Paman? Siapa yang menyiksamu seperti ini?” Bun Beng bertanya.

Orang itu membuka matanya, akan tetapi pandang matanya seperti orang lamur, manik matanya tidak bercahaya lagi, seperti api yang hampir padam. Mulutnya bergerak, “Semua tewas… aughh… mereka dari Pulau Neraka… celaka sekali… cucu Sri Baginda mereka bawa…”

“Apa?! Milana? Paman, jawablah! Apakah Milana yang mereka bawa?”

“Cucu Sri Baginda… puteri Panglima Nirahai… diculik pemuda Pulau Neraka dan…” Kepala itu terkulai.

“Ke mana, Paman? Dibawa ke mana dia?” Bun Beng bertanya mengguncang-guncang tubuh yang telah lemas itu. Namun tiada jawaban. Bagaimana mayat dapat menjawab?

Bun Beng menghela napas panjang, dan pandang matanya yang tadinya penuh kebahagiaan kini berubah sama sekali. Penuh kekhawatiran dan kemarahan! Dia tidak mengenal orang ini, betapa pun juga, orang ini telah berjasa kepadanya, menceritakan sesuatu tentang Milana, sungguh pun ceritanya amat tidak menyenangkan. Maka dia segera menggali lubang dan mengubur jenazah orang tak dikenal itu. Semua ini dilakukannya dengan cepat dan segera dia berlari sekencangnya memasuki kota raja untuk mencari berita.

Berita itu mudah didengarnya. Semua orang tahu belaka bahwa cucu Kaisar, puteri Panglima Wanita Nirahai yang amat terkenal, telah diculik dan dilarikan orang. Menurut beritanya itu, penculiknya adalah seorang pemuda tampan bersama seorang kakek yang seperti mayat.

“Hmmm, siapa lagi kalau bukan Wan Keng In?” Pikir Bun Beng dengan hati panas dan kemarahan berkobar seperti api membuat mukanya kemerahan dan pandang matanya ganas.

Setelah merasa yakin bahwa yang menculik kekasihnya adalah pemuda Pulau Neraka itu, Bun Beng segera meninggalkan kota raja. Menurut kabar, Kaisar sendiri sudah mengerahkan para pengawal yang berilmu untuk mencari cucunya, bahkan ada berita bahwa Kaisar mengundang Pendekar Super Sakti untuk mengembalikan dara yang diculik orang itu, dengan janji pengampunan bagi pendekar yang tadinya dianggap seorang pemberontak dan buruan itu! Akan tetapi, Bun Beng maklum bahwa tak mungkin dia bisa mendapatkan keterangan di kota raja ke mana larinya Wan Keng In yang menculik kekasihnya.

Setelah memutar otaknya, akhirnya Bun Beng menduga bahwa kemungkinan besar pemuda Pulau Neraka itu membawa kekasihnya ke Pulau Neraka! Atau setidaknya tentu pemuda iblis itu berkeliaran di utara, di sepanjang pantai. Hatinya menjadi sakit sekali, penuh kecemasan akan keselamatan kekasihnya. Ia khawatir kalau-kalau dia terlambat menolong kekasihnya.

“Aihhh! Mengapa aku begini lemah?” Dia mencela diri sendiri. “Terlambat atau tidak, bagaimana nanti keadaannya sajalah. Yang terpenting, aku harus mencarinya sampai dapat!”

Pikiran ini agak meredakan gelombang kecemasan yang melanda hatinya dan mulailah dia melakukan perjalanan ke utara kembali, tidak berani melakukan cepat karena dia harus melakukan penyelidikan, bertanya-tanya di sepanjang jalan. Dia menganggap bahwa orang yang terluka dan tewas ketika bertemu dengannya itu merupakan jejak terakhir dari Milana, dia lalu mengambil jalan yang ditempuh orang itu, dari tempat dia bertemu orang itu lalu terus ke utara.

Di sepanjang perjalanan Bun Beng bertanya-tanya dan untuk mencegah timbulnya kecurigaan, maka dia bersikap bersahaja. Pakaiannya memang selalu sederhana, dan kini dia selalu memakai sebuah caping bundar yang pinggirannya lebar, sedangkan pedang Hok-mo-kiam tidak pernah tampak dari luar karena dia sembunyikan di balik jubahnya. Dalam penyelidikannya, secara sambil lalu dia bertanya tentang seorang nona muda yang cantik dengan gelung tinggi ke atas kepala, seorang pemuda tampan yang mukanya pucat dan pakaiannya mewah, dan seorang kakek yang kurus seperti mayat. Dia tidak mau menyebut nama-nama.

Biar pun agak sulit baginya untuk memperoleh keterangan yang jelas, kecuali beberapa orang yang menuturkan kepadanya pernah melihat tiga orang itu, ada pula yang melihat serombongan orang-orang gagah naik kuda menuju ke utara, bagi Bun Beng sudah cukup untuk mengikuti jejak para penculik yang membawa pergi kekasihnya. Tepat seperti dugaannya, Milana dibawa ke utara!

Akhirnya pada suatu pagi, dia tiba di tempat bekas pertempuran dan melihat banyak mayat manusia berserakan dan sebagian sudah menjadi kerangka. Hatinya penuh dengan bermacam perasaan. Ada rasa girang karena dia kini yakin bahwa di sinilah terjadinya perang dan di sini pula agaknya orang yang bercerita tentang Milana itu terluka. Tentu dia seorang di antara pengawal utusan Kaisar yang mengejar para penculik!

Ada rasa ngeri menyaksikan betapa di tempat ini telah terjadi penyembelihan manusia yang agaknya dilakukan oleh Wan Keng In dan kakek seperti mayat! Atau mungkin juga ada anak buah Pulau Neraka, karena melihat luka-luka yang diderita oleh orang yang dijumpainya itu, hanyalah luka-luka akibat senjata tajam, sedangkan kalau Wan Keng In sendiri yang turun tangan, apa lagi menggunakan Lam-mo-kiam yang dirampas pemuda Pulau Neraka itu, tentu tidak memungkinkan orang itu hidup lebih lama lagi.

Ada pula rasa yang makin menghebat, yaitu rasa khawatir. Setelah yakin bahwa Wan Keng In yang menculik Milana, dia merasa khawatir sekali. Kalau penculiknya orang lain, agaknya Milana akan mampu menjaga diri karena dia tahu bahwa kekasihnya itu adalah seorang dara yang memiliki kepandaian tinggi dan sukar ditandingi orang. Tapi terhadap Wan Keng In, agaknya kekasihnya itu tidak akan berdaya mempertahankan keselamatannya!

Dengan hati tak karuan, Bun Beng cepat melanjutkan perjalanannya ke utara. Setelah matahari condong ke barat, tibalah dia di kaki gunung dan dari tempat dia turun sudah tampak sebuah telaga kecil yang airnya jernih kebiruan. Timbul keinginannya untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah, mandi di telaga itu. Maka ke sanalah dia menuju.

Ketika tiba dekat telaga mendadak dia berhenti. Di tepi telaga terdapat serombongan orang terdiri dari dua belas orang dan di antaranya ada yang membawa bendera, berhadapan dengan seorang lelaki muda dan agaknya mereka itu sedang bercekcok. Bun Beng merasa tertarik hatinya, akan tetapi karena dia tidak tahu urusannya dan tidak mau dianggap lancang mencampuri urusan orang lain, dia menyelinap dekat dan diam-diam dia menonton sambil mendengarkan percekcokan mereka. Tanpa sengaja dia mendekati tumpukan batu gunung yang menyembunyikan sebagian air telaga dan mendengar suara air.

Ketika dia menoleh, Bun Beng terbelalak dan seketika mukanya menjadi merah sekali. Betapa jantungnya tidak akan berdebar tegang dan mukanya tidak akan menjadi merah sekali kalau dia melihat seorang wanita muda dan cantik sedang merendam tubuh yang mulus dan polos di dalam air telaga? Cepat dia membuang muka dan agak menjauhi tempat itu, bersembunyi di belakang batu gunung dekat telaga, lalu mengintai ke arah laki-laki muda berpakaian sederhana yang berhadapan dengan para piauwsu (pengawal barang) itu.

“Cuwi-piauwsu (para pengawal sekalian) hendaknya jangan mempersalahkan aku saja!” Terdengar laki-laki muda itu membantah dengan suara keras. “Aku bukanlah seorang tukang pukul yang sembarangan memukul orang. Kalau sampai kongcu (tuan muda) tadi kupukuli, tentu ada sebab tertentu yang memaksa aku.”

“Hemm, kalau memang ada sebabnya, mengapa engkau tidak menceritakan kepada kami? Apakah sebabnya?” tanya kepala piauwsu, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang bertubuh tegap dan bersikap angker.

“Sebabnya tak dapat kuceritakan kepada orang lain!” jawab orang muda itu.

Kakek yang memimpin pengawal angkutan itu memandang tajam, suaranya terdengar tegas, “Orang muda, jangan kau main-main dengan kami! Chi-kongcu adalah putera Tihu dari Kang-ciu dan kami yang mengawalnya bersama barang-barangnya adalah para pengurus Eng-jiauw-piauwkiok (Ekspedisi Cakar Garuda), anak murid Bu-tong-pai. Lebih baik kau berterus terang agar kami mempertimbangkan.”

Wajah orang muda itu kelihatan bimbang. Kemudian dengan suara terpaksa ia berkata, “Baiklah, biar Cu- wi mengetahui betapa kotor perbuatan kongcu yang Cu-wi kawal itu. Isteriku sedang mandi di telaga seorang diri, lalu datang kongcu itu menggodanya. Melihat ini, tentu saja aku tidak dapat membiarkannya saja dan memberi hajaran. Nah, bukankah hal itu sudah pantas kulakukan?”

Para piauwsu itu mengerutkan alis. Mereka adalah orang-orang gagah yang tentu saja merasa tidak senang mendengar perbuatan kongcu itu, sungguh pun di dalam hati, semua pria itu tidak merasa heran akan perbuatan itu.

“Sampai sejauh manakah perbuatannya maka engkau memukulinya hingga mukanya bengkak-bengkak dan berdarah?” tanya piauwsu tertua.

Tentu saja dia merasa bertanggung jawab akan keselamatan putera bangsawan yang dikawalnya. Rombongan mereka tadi berhenti dan mengaso tak jauh dari telaga. Chi-kongcu seorang diri berjalan-jalan ke telaga dan tak lama kemudian kongcu itu datang berlari-lari dengan muka bengkak-bengkak berdarah, mengatakan bahwa dia dipukuli seorang laki-laki dekat telaga.

“Ehh! Apakah Cu-wi (Anda sekalian) tidak menyalahkan perbuatan kongcu keparat yang kurang ajar itu?” Laki-laki muda itu balas bertanya dengan muka merah.

“Memang kurang sopan. Akan tetapi apakah yang dilakukannya terhadap isterimu?”

“Kalau dia sudah melakukan sesuatu, tentu dia telah kubunuh! Isteriku, mandi seorang diri, dia datang menghampiri dan menggoda dengan kata-kata tidak sopan.”

“Orang muda, engkau agaknya terlalu mengandalkan kekuatanmu sendiri sehingga bersikap galak! Semua perkara harus diperiksa lebih dahulu dengan jelas, jangan sembarangan main hakim sendiri mengandalkan kekuatanmu. Harus kami akui bahwa perbuatan Chi-kongcu tidak patut, sungguh pun kami masih meragukan mengapa dia sampai berani menggoda seorang wanita yang sedang mandi seorang diri. Entah apa yang telah diucapkannya yang membuat engkau marah dan memukulnya. Apakah yang dikatakannya orang muda?”

“Aku tidak mendengarnya sendiri, hanya kulihat dari jauh dia berkata-kata dan tertawa-tawa kepada isteriku yang sedang mandi, dan isteriku marah-marah kepadanya.”

“Jadi masih belum jelas lagi apa yang diucapkannya. Hemmm, biarlah hal yang sudah terjadi tak perlu diributkan lagi. Chi-kongcu telah bersalah mengajak seorang wanita yang mandi bercakap-cakap, akan tetapi engkau pun terlalu ringan tangan. Kami tidak akan memperpanjang urusan ini kalau engkau suka minta maaf kepadanya.”

“Tidak sudi! Kalau disuruh menambah pemukulan kepadanya aku mau!” Orang muda yang berdarah panas itu membantah.

Ketua piauwsu itu mengerutkan alisnya. “Orang muda, kami sudah mengambil jalan tengah dan banyak mengalah kepadamu, akan tetapi engkau masih berkeras kepala. Kami terpaksa mencampuri urusan ini karena kewajiban kami untuk mengawal Chi-kongcu! Apakah engkau tidak memandang muka kami dan hendak menentang kami?”

“Terserah! Aku tidak takut pada siapa pun untuk menjaga dan melindungi kehormatan isteriku!” Pemuda itu bertolak pinggang dan siap untuk menghadapi lawan, sikapnya sangat gagah karena dia merasa gagah telah dapat mempertahankan kehormatan isterinya.

“Hemm, engkau terlalu memandang rendah murid Bu-tong-pai!” Kakek itu berkata dan sudah mengepal tinju.

Dari tempat sembunyinya, Bun Beng dapat melihat jelas dari sikap pemuda itu bahwa dia tidak pandai ilmu silat, sedangkan para piauwsu itu sebagai murid Bu-tong-pai, apa lagi kakek itu, tentu saja memiliki kepandaian tinggi. Maka sebelum terjadi perkelahian yang tentu akan mencelakakan orang muda itu, Bun Beng melompat keluar dari tempat sembunyinya dan berdiri tegak di depan kakek pemimpin para piauwsu sambil berkata halus, “Tahan dulu!”

Para piauwsu memandang kepada Bun Beng penuh kecurigaan, juga orang muda itu menoleh dan memandang heran kepada pemuda tampan yang menyembunyikan sebagian mukanya di balik caping bundar yang lebar itu.

“Harap Cuwi-piauwsu suka menghabiskan perkara ini, karena mendengar penuturan saudara ini, yang bersalah adalah kongcu itu. Kurasa tidak biasanya para tokoh Bu-tong-pai bertindak sewenang-wenang!”

Mendengar ucapan itu, pimpinan piauwsu memandang tajam dan melangkah maju, membungkuk dan bertanya, “Siapakah Siauw-sicu (Tuan muda yang gagah) yang mengenal Bu-tong-pai dan ada hubungan apa Sicu dengan saudara ini?”

“Namaku Gak Bun Beng dan aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Twako (Kakak) ini. Aku hanya tidak ingin melihat nama besar Bu-tong-pai direndahkan oleh para anak muridnya kalau Cu-wi hendak menggunakan kekerasan terhadap Twako yang tidak bersalah ini.”

Ucapan Bun Beng ini membuat para piauwsu menjadi serba salah. Mau marah, terang bahwa pemuda bercaping bundar ini mengangkat tinggi nama Bu-tong-pai, kalau mengalah mereka merasa penasaran sekali karena pemuda yang bernama Gak Bun Beng ini sama sekali tidak mempunyai nama besar sehingga tidak sepatutnya kalau mereka mengalah dan menyudahi urusan dengan orang muda itu hanya melihat muka seorang pemuda asing yang sama sekali tidak mereka kenal.

“Orang muda she Gak, permintaanmu sungguh berat sebelah. Engkau membujuk kami untuk mengalah, sebaliknya engkau membiarkan orang muda itu yang telah memukuli orang kawalan kami tanpa perhitungan apa-apa. Mengapa engkau sebagai seorang penengah yang bijaksana, tidak minta dia untuk mengalah dan minta maaf kepada yang dia pukuli sehingga urusan menjadi selesai dengan damai?”

Bun Beng mengerutkan alisnya dan berkata, “Sepanjang pendengaranku tadi, jelas sudah bahwa yang bersalah adalah kongcu itu dan sudah sepatutnya dia mendapatkan hajaran. Sepantasnya Cu-wi sebagai pengawalnya yang lebih mengerti tentang peraturan mintakan maaf untuknya kepada sahabat ini. Bagaimana mungkin Saudara ini yang telah mengalami penghinaan malah disuruh minta maaf?”

Pemimpin piauwsu itu kelihatan makin tidak senang. “Gak-sicu, agaknya engkau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri sehingga secara lancang mencampuri urusan orang dan sama sekali tidak memandang muka kami sebagai piauwsu yang bertanggung jawab terhadap kawalannya, sebagai anak murid Bu-tong- pai yang siap memaafkan kesalahan orang asalkan orang itu suka mengaku salah dan minta maaf. Kami yakin Sicu mengerti akan hal ini dan mau melepas tangan terhadap urusan kecil ini.”

Bun Beng menggeleng kepalanya. “Cu-wi sekalian pikirlah baik-baik. Bukan aku yang mengandalkan kepandaian atau sahabat ini yang bersalah, sebaliknya Cu-wi yang hendak mengukuhi kebaikan sendiri. Harusnya Cu-wi malah berpandangan bijaksana, menyuruh kongcu kurang ajar itu mohon maaf kepada sahabat ini atas kekurang ajarannya terhadap isteri sahabat ini. Dengan demikian baru tepatlah tindakan Cu-wi sebagai murid-murid Bu-tong-pai yang gagah perkasa.”

“Manusia sombong, engkau benar-benar besar kepala, tidak menghormati kami. Baiklah, kita putuskan urusan ini dengan kepandaian!”

“Oho! Cu-wi malah menantang? Silakan! Sahabat, mundurlah, kau bukan tandingan orang-orang gagah ini, biar aku mewakilimu!”

“Bocah sombong, sambutlah ini!” Seorang di antara para piauwsu, yang bertubuh tinggi kurus, sudah menerjang maju dan menghantamkan kepalan tangan kanannya ke arah dada Bun Beng.

Melihat gerakan orang itu, Bun Beng maklum bahwa orang kasar itu lebih memiliki tenaga kasar dari pada ilmu silat yang tinggi, maka dia pun tidak mau menangkis atau mengelak, bersikap seperti tidak tahu bahwa dia sedang dipukul.

“Bukkkk!”

“Aduhhh!” Orang tinggi kurus itu memekik kesakitan dan memegangi tangan kanannya yang membengkak seolah-olah yang dipukulnya tadi adalah benda dari baja yang amat keras.

Bun Beng hanya tersenyum saja, sama sekali tidak mempedulikan orang yang telah memukulnya tadi, melainkan memandang kepada pemimpin rombongan, kakek yang bersikap penuh wibawa itu.

“Hemmm, kiranya engkau mempunyai kepandaian juga, orang muda. Pantas bersikap sombong!” Kakek itu melangkah maju. “Biarlah aku memberanikan diri berkenalan dengan tubuhmu yang kebal.”

“Twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua), biarkan siauwte (adik) menghadapinya, tidak perlu Twa-suheng sendiri yang maju!” Ucapan ini keluar dari mulut seorang di antara mereka yang usianya hampir lima puluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti orang menderita penyakit, kepalanya kecil dan wajahnya pucat.

Melihat adik seperguruannya ini, kakek itu mengangguk, dan berkata, “Boleh engkau mencobanya, Sute. Akan tetapi berhati-hatilah, orang muda she Gak ini agaknya lihai sehingga dia berani bersikap keras kepala dan sombong.”

“Cu-wi yang keterlaluan, bukan aku yang keras kepala, melainkan Cu-wi sendiri yang enggan mengalah biar pun pihak Cu-wi bersalah.” Bun Beng membantah, memandang Si Kurus Muka Pucat itu. Dia maklum bahwa orang yang seperti berpenyakitan itu sama sekali tidak boleh disamakan dengan orang kasar tadi, maka dia tidak berani memandang rendah dan bersikap hati-hati.

“Orang muda, sambutlah seranganku!” Orang kurus itu berseru nyaring dan tubuhnya sudah mencelat ke depan.

Tepat seperti yang diduga oleh Bun Beng, gerakan orang itu cepat bukan main, membuktikan bahwa dia memiliki ginkang yang sudah tinggi tingkatnya, dan dia menyerang Bun Beng bukan mengandalkan tenaga kasar seperti penyerang pertama tadi, melainkan dengan totokan jari tangan ke arah jalan darah di dada kanan dan di pundak kiri Bun Beng, dua totokan sekaligus secara berbareng!

Namun dari sambaran angin serangan ini, Bun Beng juga sudah dapat mengukur tenaga lawan, maka dia tidak khawatir akan totokan-totokan itu, hanya menutup jalan darahnya di pundak, kemudian dengan tenang sekali dia menyambut tangan yang menotok dadanya dengan totokan jari telunjuk tangan kirinya sedangkan totokan ke arah pundaknya dia terima begitu saja tanpa dielakkan. Jari telunjuknya tepat sekali menotok telapak tangan kanan lawan pada saat pundaknya juga terkena totokan tangan kiri Si Kurus Pucat itu.

“Cusss! Desss!” “Aihhh!”
Si Muka Pucat itu berseru kaget, cepat melompat ke belakang, namun dia terhuyung dan lengan kanannya menjadi lumpuh sedangkan jari tangan kirinya yang menotok pundak tadi pun merasa nyeri bukan main. Dia meringis dan menggunakan tangan kirinya mengurut-urut lengan kanan yang lumpuh ketika telapak tangannya, pada jalan darah yang berpusat di antara ibu jari dan telunjuknya, tertotok oleh telunjuk tangan kiri Bun Beng.

“Minggir semua!” Pemimpin para piauwsu membentak ketika melihat teman-temannya maju, agaknya hendak mengeroyok Bun Beng. Dia terkejut bukan main melihat betapa pemuda bertopi bundar lebar itu dalam segebrakan saja sudah dapat mengalahkan sute-nya yang dia tahu bukanlah seorang yang lemah. Mengertilah dia bahwa pemuda itu ternyata merupakan seorang yang berilmu tinggi.

“Orang muda, engkau ternyata lihai bukan main. Biarlah sekarang aku sendiri mewakili Bu-tong-pai untuk mencoba kelihaianmu!” Kakek itu menggerakkan tangan kanannya dan….

“Singgggg!” terdengar suara nyaring ketika sebatang pedang telah dicabutnya. Pedang itu tergetar di tangan kanannya, mengeluarkan cahaya berkilauan.

“Lo-enghiong (Orang Tua Gagah), aku tidak mau menghadapimu jikalau engkau mempergunakan nama Bu-tong-pai. Perselisihan paham di antara kita ini sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan Bu-tong-pai, melainkan sebagai orang-orang saling bertemu di jalan dan bentrok karena mempertahankan kebenaran masing-masing.”

“Terserah kepadamu, akan tetapi keluarkanlah senjatamu. Aku ingin menyaksikan sampai di mana kelihaianmu!” Kakek itu melintangkan pedangnya di depan dada dan sikapnya amat menantang. Agaknya kakek itu sudah marah sekali melihat kedua orang adik seperguruannya telah dikalahkan sedemikian mudahnya oleh pemuda yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw itu.

Bun Beng tersenyum dan masih bersikap tenang. “Lo-enghiong, bentrokan di antara kita hanyalah kesalah pahaman belaka yang timbul karena Cu-wi (Anda Sekalian) merasa terlalu besar untuk mengalah, sama sekali bukan berarti bahwa di antara kita terdapat permusuhan besar. Kita sudah mengambil keputusan untuk mempertahankan pendirian dan kebenaran masing-masing dengan kepalan, mengapa sekarang Lo- enghiong mengeluarkan senjata? Senjata tidak bermata, apakah Lo-enghiong berniat untuk membunuh aku hanya karena perselisihan kecil ini?”

“Orang muda, engkau memiliki ilmu silat yang lihai, apakah engkau berpura-pura tidak tahu bahwa dalam sebuah pibu (pertandingan mengadu ilmu silat), luka-luka atau kematian merupakan hal yang wajar? Sudahlah, tidak perlu kita berkepanjangan dan bicara yang tiada gunanya. Keluarkan senjatamu dan hadapi pedangku. Kalau aku kalah, baik terluka atau tewas dalam tanganmu, berarti pihakku bersalah dalam urusan ini dan kami takkan banyak cakap lagi.”

Bun Beng menarik napas panjang. Memang bentrokan ini tak dapat dihindarkan lagi pikirnya. Kakek pemimpin para piauwsu ini memiliki keangkuhan tinggi. Dia merasa serba salah. Kalau dia teringat akan Ang-lojin (Kakek Ang) atau Ang Thian Pa, ketua Bu-tong-pai, sungguh tidak enak kalau dia harus bentrok dengan anak muridnya. Apa lagi kalau dia teringat akan Ang Siok Bi, dara jelita puteri ketua itu, yang pernah hendak dijodohkan dengan dia! Betapa pun juga, tidak mungkin dia membiarkan saja para piauwsu ini menekan kepada orang muda yang isterinya telah dihina itu. Akan tetapi, tidak mungkin pula kalau dia sampai harus mengeluarkan Hok-mo-kiam seperti menghadapi seorang musuh besar saja.

“Lo-enghiong, engkau yang menghendaki menggunakan senjata, bukan aku. Karena itu, kalau engkau berkeras hendak menggunakan pedang, silakan. Aku sendiri hanya akan mengandalkan kaki dan tangan.”

Ucapan yang terus terang ini diterima salah oleh kakek itu. Dia sudah mengeluarkan pedang, dan pemuda itu tetap hendak menghadapinya dengan tangan kosong saja, berarti pemuda ini terlalu memandang rendah kepadanya. Kemarahannya meluap dan dia membentak, “Pemuda sombong! Kalau begitu, rasakanlah kelihaian Bu-tong-kiam-sut (Ilmu Pedang Bu-tong-pai)!”

“Singgg… wirrr… siuuuttt!”

Sinar pedang berkelebatan, tiga kali kakek itu menyerang, dua kali menusuk dan satu kali membabat. Ketika Bun Beng cepat-cepat menggerakkan tubuhnya, gerakan yang sedikit saja namun sudah dapat menghindarkan tubuhnya dari ketiga serangan itu, kakek murid Bu-tong-pai menjadi terkejut dan penasaran. Pedangnya diputar cepat sekali sehingga lenyaplah bentuk pedangnya, berubah menjadi gulungan sinar putih dan hanya kadang-kadang saja tampak bentuk pedang menjadi banyak. Gulungan sinar ini menyambar-nyambar dan mengurung tubuh Bun Beng, namun pemuda itu yang tentu saja dapat melihat dengan jelas gerakan pedang ini, dengan tepat dapat mengelak ke kiri, kadang-kadang menggunakan tangannya menepuk dan menyampok lengan lawan sehingga gerakan pedang itu menyeleweng. Dengan cara mengelak dan menangkis ini, Bun Beng membiarkan lawannya melakukan penyerangan sampai dua puluh jurus!

“Belum cukupkah, Lo-enghiong?” Bun Beng bertanya. Dia sengaja mengalah dan kalau secara ini kakek itu belum mengerti bahwa kepandaiannya masih jauh kalah oleh pemuda yang diserangnya, benar-benar benar kakek itu keterlaluan sekali. Demikian pikir Bun Beng.

Jago tua Bu-tong-pai itu sama sekali bukan orang bodoh atau nekat. Tentu saja dia sudah tahu. Dia kaget bukan main ketika mendapat kenyataan betapa pemuda itu yang berani menghadapinya dengan tangan kosong, membuat semua serangan pedangnya tidak ada artinya dan dengan mudah sekali menghindarkan semua serangan selama dua puluh jurus tanpa membalas sedikit pun juga, padahal dia melihat sendiri betapa kesempatan untuk itu banyak terdapat.

Dia tahu pula bahwa agaknya akan sukar baginya untuk dapat menangkan pemuda itu. Namun bagaimana mungkin dia mundur? Sekali ini, dia bertanding bukan hanya karena urusan pribadi! Karena dia sudah terlanjur mengaku sebagai murid Bu-tong-pai, maka gerakan pedangnya yang mainkan Ilmu Pedang Bu- tong-pai itu membuat dia seolah-olah bertanding demi nama dan kehormatan Bu-tong-pai! Inilah sebabnya mengapa dengan nekat terus menyerang tanpa memperdulikan peringatan Bun Beng.

“Cukup! Berhentilah!” Bun Beng membentak nyaring, tubuhnya berkelebat ke kiri kemudian sebelum kakek itu sempat membalik, dia sudah mendahuluinya dengan sambaran tangan kanannya, dengan terbuka dan miring dipukulkan ke arah pedang dari samping.

“Trakkk!”

Dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek Bu-tong-pai itu ketika tiba-tiba tangannya tergetar, gagang pedang yang dipegangnya hampir terlepas dan pedang itu sendiri telah patah menjadi dua potong! Mematahkan pedangnya dengan sabetan tangan kosong! Dia terbelalak, akhirnya matanya yang tadi memandang pedang buntung di tangannya, dialihkan memandang kepada Bun Beng. Dia menghela napas panjang. Tahulah dia bahwa biar pun andai kata dia mengeroyok pemuda itu dengan semua saudaranya, mereka tidak akan dapat menangkan pemuda yang ternyata memiliki ilmu kepandaian tidak lumrah ini.

“Sudahlah. Aku menerima kalah dan tidak berhak bicara lagi!” Dia menjura, kemudian melempar pedang buntungnya dan pergi dari situ, memberi isyarat kepada semua saudaranya yang juga tidak berani membantah. Rombongan piauwsu itu melanjutkan perjalanan dengan wajah murung, apa lagi kongcu bangsawan yang kena dihajar oleh suami wanita cantik tadi dan para pengawalnya tidak mampu menebus penghinaan dan malu yang dideritanya!

“Terima kasih, Taihiap. Saya akan menjemput isteri saya untuk bersama-sama menghaturkan terima kasih atas pertolongan Taihiap!” Orang muda itu cepat lari ke tepi telaga untuk menjemput isterinya yang tadi masih bersembunyi, tak berani naik karena suaminya berkelahi dengan kongcu yang menggodanya.

Bun Beng mengerutkan alis. Dia tidak membutuhkan terima kasih, maka menggunakan kesempatan selagi orang itu pergi menjemput isterinya, dia pun menggerakkan kakinya meninggalkan tempat itu.

Pekik melengking yang didengarnya datang dari telaga itu menahan gerak kaki Bun Beng. Dia membalikkan tubuh dan dengan beberapa loncatan jauh telah tiba di pinggir telaga, meloncat turun dan memandang dengan mata terbuka lebar kepada suami yang menangisi isterinya itu. Wanita muda cantik yang tadi dilihatnya merendam tubuhnya di dalam air telaga, sekarang telah menggeletak tanpa nyawa dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar tanda mati tercekik.

Suami itu menoleh dan dengan suara terisak berkata, “Dia… dia telah diperkosa… dan dibunuh…!”

Bun Beng sudah meloncat lagi ke atas dan berlari cepat sekali melakukan pengejaran. Siapa lagi yang melakukan perbuatan terkutuk itu kalau bukan seorang di antara rombongan piauwsu tadi! Bahkan mungkin sekali kongcu yang melampiaskan dendamnya dengan memperkosa dan membunuh Si Isteri selagi suami wanita itu ribut bertengkar dengan para piauwsu. Jahanam, harus kudapatkan pembunuh biadab itu, pikirnya.

Karena Bun Beng mempergunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja dia sudah berhasil menyusul rombongan itu. “Berhenti…!” serunya dengan suara nyaring.

Kakek pemimpin rombongan dan saudara-saudaranya terkejut sekali ketika tiba-tiba pemuda bercaping bundar yang lihai itu telah berada di depan mereka tanpa mereka ketahui lewatnya! Kakek itu segera mengangkat tangan menyuruh rombongannya berhenti, di dalam hatinya penuh dugaan mengapa pemuda itu mengejar mereka. Menduga bahwa pemuda itu berniat buruk, mungkin seorang perampok tunggal yang hendak merampok barang kawalan dalam kereta. Dia sudah meloncat ke depan, menghadapi pemuda itu dengan pandang mata tajam.

“Gak-sicu mengejar kami ada kehendak apakah?”

Bun Beng yang masih marah sekali itu tidak menjawab, hanya matanya bergerak memandang ke sekelilingnya, meneliti para piauwsu seorang demi seorang. Dia tahu bahwa para piauwsu itu tidak ada yang berkesempatan melakukan pembunuhan, karena dia melihat mereka itu semua bersiap-siap ketika terjadi perselisihan. Akan tetapi ketika melihat seorang pemuda berpakaian mewah menjenguk keluar dari dalam kereta yang dikawal, pemuda yang pipi kanannya masih bengkak, dia segera mengenjot tubuhnya, meloncat ke dekat kereta, dan sekali menggerakkan tangannya, dia telah menangkap leher baju pemuda berpakaian mewah itu dan menariknya turun dari kereta!

“Ouhhh… ehhh… ada apa ini…? Para piauwsu, tolong…!” Pemuda bangsawan itu ketakutan dan berteriak- teriak.

“Gak-sicu, harap lepaskan dia. Apa artinya perbuatanmu ini?”

“Semua mundur! Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian para piauwsu, akan tetapi aku ingin bertanya kepada kongcu ini!” Bentak Bun Beng dengan suara nyaring karena marah.

Menyaksikan sikap Bun Beng, para piauwsu menghentikan gerakan kaki mereka yang tadinya hendak mengeroyok untuk menolong kongcu putera bangsawan yang mereka kawal. Kini mereka memandang kepada Bun Beng dengan penuh keheranan. Ada urusan apa lagi dengan kongcu itu?

Bun Beng menggunakan kekuatan tangannya mengguncang tubuh kongcu itu, lalu dia mencengkeram pundaknya dan membentak, “Hayo engkau mengaku, apa yang telah kau lakukan di tepi telaga tadi ketika terjadi pertandingan!”

“Aku… aku… tidak melakukan apa-apa.”

“Jangan bohong engkau! Kuhancurkan kepalamu kalau kau membohong!” Bun Beng membentak, makin marah. “Engkau berada di mana ketika terjadi pertandingan!”

“Aku… aku berada di dalam kereta… augghh, lepaskan aku…!”

“Gak Bun Beng! Engkau sungguh keterlaluan!” Tiba-tiba kakek pemimpin para piauwsu membentak dan melompat dekat, tangannya sudah memegang sebatang pedang yang dipinjamnya dari seorang sute-nya. “Kalau engkau tidak segera melepaskan Chi-kongcu, terpaksa aku mengadu nyawa denganmu!”

Bun Beng melepaskan pundak Chi-kongcu, sadar bahwa dia terburu nafsu. Betapa pun mencurigakan keadaan kongcu itu, tanpa bukti tak mungkin dia dapat menyalahkannya begitu saja.

“Aku menuduh dia ini sudah memperkosa dan membunuh isteri saudara muda yang diganggunya tadi.” “Apa…?” Kakek murid Bu-tong-pai itu bertanya dengan kaget sekali.
“Untuk membikin terang perkara penasaran ini, kuharap Cu-wi piauwsu dan Chi-kongcu ini suka kembali ke telaga agar kita bersama melakukan penyelidikan dan yang bersalah harus dihukum!” Bun Beng mengerling kepada Chi-kongcu.

Akan tetapi kongcu itu kini mengangkat dada dan berkata penasaran, “Aku memang sudah lancang menggoda wanita dengan kata-kata memuji kecantikannya dan untuk itu suaminya sudah memukulku. Sekarang, aku tidak tahu menahu tentang perkosaan dan pembunuhan. Hayo kita ke sana dan menyelidiki, aku tidak takut karena aku tidak berdosa!”

Sikap dan kata-kata Chi-kongcu ini membuat Bun Beng makin bingung dan meragu. Akan tetapi dia lega melihat rombongan itu tidak membantah dan suka memenuhi pemintaannya. Beramai-ramai mereka kembali ke tepi telaga.

“Heiiii!”

“Ihhhh!”

Seruan-seruan kaget ini terdengar dari mulut para piauwsu, sedangkan Bun Beng sendiri berdiri memandang dengan mata terbuka lebar. Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa hati pemuda ini melihat dua tubuh yang menggeletak tanpa nyawa di tepi telaga itu. Tubuh wanita muda yang masih telanjang bulat, dan tubuh suaminya yang juga sudah menjadi mayat tanpa luka!

“Gak-sicu, apa maksudmu membawa kami ke sini? Apakah engkau juga hendak mengatakan bahwa orang muda ini juga dibunuh oleh Chi-kongcu atau oleh kami?” Pemimpin piauwsu itu bertanya dengan suara lantang dan bernada tajam.

Bun Beng menggeleng kepala, matanya masih memandang mayat orang muda itu. “Aku tidak mengerti… tadi dia masih hidup menangisi isterinya…”

“Apakah engkau masih menuduh Chi-kongcu membunuh wanita itu?”

Kembali Bun Beng menggeleng kepalanya. “Agaknya bukan dia… sungguh aneh…, aneh sekali…” “Sama sekali tidak aneh!”
Suara kakek murid Bu-tong-pai itu membuat Bun Beng menoleh dan memandang penuh pertanyaan. “Apa maksudmu, Lo-enghiong?”

“Menurut dugaanku, pembunuh suami isteri ini tentu hanya satu orang, dan agaknya seorang yang lihai sekali tangannya, dapat membunuh tanpa menggunakan senjata! Lihat, wanita itu dicekik, dan laki-laki itu tidak terluka, akan tetapi di pelipis kirinya terdapat tanda tapak jari tangan! Jadi, tidak mungkin dilakukan oleh Chi-kongcu yang jelas kalah oleh laki-laki muda ini. Lebih tepat kalau mereka ini dibunuh oleh seorang yang ahli dengan ilmu silat tangan kosong!” Kalimat terakhir ini diucapkan oleh kakek itu dengan nada yang jelas, apa lagi ketika semua piauwsu itu memandang kepada Bun Beng dengan mata penuh tuduhan!

“Apa? Kalian… kalian gila kalau menuduh aku!”

Chi-kongcu yang berjalan mendekat segera berkata, “Ada saatnya menuduh dan ada saatnya dituduh! Kalau kita berdua sama-sama menjadi tertuduh, agaknya keadaanmu lebih berat, Gak-sicu!”

Bun Beng mengerutkan alisnya. “Hemm, kalau aku membunuh mereka, apa gunanya aku mengejar dan menyusul kalian dan kuajak ke sini?”

“Gak-sicu, kami tidak seperti engkau yang suka menuduh orang secara sembarangan saja. Akan tetapi andai kata engkau dituduh, perbuatanmu menyusul dan mengajak kami ke sini pun tidak aneh. Mungkin sekali seorang pembunuh akan mempergunakan akal ini untuk menarik kami sebagai saksi akan kebersihannya!”

“Apa? Dan kalian tentu bersedia menjadi saksi bahwa aku bukanlah pembunuh dua orang ini!”

Kakek itu menggeleng kepala. “Tak mungkin kami menjadi saksi yang sembrono seperti itu, Sicu. Engkau seorang pemuda yang amat aneh, mencampuri urusan kami, memiliki ilmu silat tangan kosong yang mentakjubkan akan tetapi tidak terkenal di dunia kang-ouw. Bagaimana kami berani menanggung bahwa bukan engkau pembunuhnya? Sungguh pun hal ini bukan berarti bahwa kami menuduhmu, untuk itu pun masih belum ada bukti dan saksinya.”

Bukan main marahnya Bun Beng. Dia menolong suami isteri itu, dan tadinya berusaha mencari sampai dapat pembunuh wanita muda itu. Siapa kira, sekarang keadaan membuat dia malah menjadi tertuduh, bukan hanya sebagai pembunuh wanita muda itu, juga pembunuh suaminya!

“Pergi! Pergi kalian!” Bentaknya marah karena dia khawatir kalau-kalau kemarahannya membuat dia kehilangan kesabaran dan menghajar rombongan piauwsu itu.

Para piauwsu segera meninggalkan tempat itu dan Bun Beng lalu menggali lubang, mengubur suami isteri yang tidak pernah dikenalnya itu sambil berpikir-pikir, siapa gerangan pembunuh suami isteri ini? Mengapa membunuh mereka secara demikian penuh rahasia, dan seolah-olah ada hubungannya dengan dia? Siapakah pembunuh itu, dan apakah Si Pembunuh melakukan hal itu dengan sengaja untuk merusak namanya agar dia disangka seorang pemerkosa dan pembunuh?

Dengan hati penuh penasaran Bun Beng tidak segera meninggalkan telaga itu setelah selesai mengubur jenazah suami isteri yang bernasib malang itu. Dia melakukan penyelidikan, tidak hanya di sekitar tempat pembunuhan, bahkan dia lalu melakukan penyelidikan di sekeliling telaga itu. Akan tetapi, para penghuni dusun-dusun di sekitar telaga itu adalah petani-petani sederhana. Ketika dia mencari keterangan dari mereka, terdapat jawaban bahwa suami isteri yang ditanyakan oleh Bun Beng itu bukanlah penduduk dusun itu.

“Di sini sering kedatangan pelancong-pelancong dan agaknya orang-orang yang kongcu tanyakan itu adalah suami isteri pelancong pula.” Demikian jawaban yang ia dapatkan.

Menjelang malam, perhatian Bun Beng tertarik akan sebuah pondok terpencil yang berada di sebelah timur telaga itu. Pondok ini bukan seperti rumah penduduk dusun yang sederhana, melainkan lebih pantas rumah pondok seorang bangsawan atau hartawan yang sengaja membangun pondok di tempat itu untuk tempat peristirahatan, terbuat dari kayu dan atapnya dari genteng dicat cukup indah. Pondok terpencil itu sunyi, bahkan kelihatannya kosong. Bun Beng mengambil keputusan untuk menyelidiki pondok itu dan kalau memang kosong, akan melewatkan malam itu di dalam pondok.

Akan tetapi ketika dia mendekat, dia melihat penerangan api menyorot keluar dari dalam pondok. Bukan pondok kosong, pikirnya dengan hati tegang. Keadaan pondok ini amat mencurigakan dan siapa tahu pembunuh yang dicarinya berada di dalam pondok ini.

Setelah malam tiba, dengan gerakan ringan sekali Bun Beng menyelinap di bawah bayangan pohon- pohon, mendekati pondok, kemudian setelah mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak melihat atau mendengar sesuatu, Bun Beng meloncat ke atas genteng pondok itu, cepat dan ringan seperti seekor burung. Tanpa mengeluarkan suara dia melangkah di atas genteng, kemudian menemukan sebuah lubang di antara genteng dan mengintai ke bawah.

Apa yang dilihatnya di dalam pondok itu membuat dia kecewa dan terheran. Hanya seorang kakek berpakaian seperti sastrawan, dan seorang dara cantik berpakaian mewah dan indah seperti kebiasaan dara-dara bangsawan atau dara hartawan di kota besar! Keduanya merupakan orang-orang yang sukar dituduh melakukan perkosaan dan pembunuhan!

Akan tetapi, siapa tahu? Di dalam dunia kaum sesat, bukan hanya laki-laki muda yang menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga atau pemerkosa), bahkan banyak pula kakek-kakek yang suka memperkosa wanita muda! Maka dia segera mendekam di atas genteng dan mengintai sambil mendengarkan. Siapa tahu kakek itu seorang penjahat besar yang berpakaian sastrawan. Buktinya berada di dalam pondok bersama seorang dara cantik, berdua saja!

“Kim Bwee, kenapa kau sering kali menyusul aku ke sini? Bukankah kau lebih senang di kota raja! Tempat ini sepi sekali dan aku tidak mempunyai apa-apa di sini.”

“Mengapa Kongkong meninggalkan kami dan tinggal di tempat sepi ini? Sejak kecil Kong-kong mendidikku dengan ilmu silat dan ilmu sastra, setelah Kongkong (Kakek) pergi, tidak ada lagi yang mengajarku. Maka aku minta ijin Ayah dan Ibu untuk tinggal bersama Kakek di sini selama satu bulan.”

Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih dan panjang. Dia berusia enam puluh lebih, berwajah terang dan ramah, gerak-geriknya halus. “Aneh sekali kau, Kim Bwee. Semua gadis seperti engkau tentu lebih suka tinggal di kota. Pula, semua sudah kuajarkan kepadamu, apa lagi dapat kuajarkan sekarang?”

“Sajak-sajak itu, Kongkong! Sajak buatan Kongkong membuat aku rindu kepadamu. Aku ingin selama sebulan ini Kongkong membuatkan sajak-sajak untukku!”

“Hemm, engkau sendiri pandai membuat sajak yang jauh lebih indah dari pada buatanku. Engkau tentu tahu bahwa sajak dibuat orang menurut getaran perasaan masing-masing, tentu saja untuk menuangkan perasaan itu ke dalam huruf-huruf harus ada kepandaian menguasai seni mengatur kata-kata itu, barulah akan tercipta sajak yang indah. Perasaanmu sebagai wanita jauh lebih halus dari pada aku, karenanya engkau lebih pandai membuat sajak yang menyentuh rasa.”

“Ahh, Kongkong terlalu memuji! Aku senang sekali membaca sajak-sajak Kongkong yang selalu mengandung kekuatan yang dahsyat dalam menuangkan sesuatu, seolah-olah gerakan pedang tajam yang mengupas segala sesuatu sehingga tidak hanya tampak kulitnya saja melainkan tampak isinya yang paling dalam!”

“Itu adalah hasil dari pandangan seseorang akan sesuatu yang dilihatnya…”

“Pandangan Kongkong itulah yang hebat, seolah-olah Kongkong dapat melihat sampai tembus segala sesuatu. Bagaimanakah caranya agar dapat memiliki pandangan seperti itu, Kongkong?”

“Hanya dengan membebaskan pandangan itu sendiri, cucuku yang baik. Biasanya, kita memandang sesuatu, baik itu benda mati mau pun hidup, binatang mau pun manusia, dengan pandangan yang tidak bebas sama sekali. Kita memandang sesuatu biasanya melalui tabir yang berupa prasangka, penilaian, kesimpulan sehingga pandangan kita menjadi suram, bahkan menjadi palsu karena yang kita pandang bukanlah apa yang ada melainkan tafsiran-tafsiran dari apa yang ada itu. Pandangan kita menjadi dangkal, jangankan menangkap isinya, bahkan menangkap kulitnya saja pun masih belum lengkap.”

Dengan gerakan lucu dara itu membelalakkan matanya dan berkata manja, “Aiiihhh! Aku menjadi bingung, Kongkong! Coba jelaskan lagi, aku tadi tidak mengerti apa yang Kongkong maksudkan. Apakah cara memandang saja pun ada ilmunya?”

Kakek itu tertawa. “Bukan ilmu, katakanlah seni! Seni memandang memang ada, dan juga seni mendengar. Hidup kita ini seluruhnya dipengaruhi oleh keduanya itu, maka sudah sepatutnya kalau kita mengenal akan seni memandang dan seni mendengar ini, yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.”

“Wah, terdengar aneh dan lucu, Kongkong. Masa untuk memandang dan mendengar saja harus ada seninya? Setiap orang bisa memandang atau mendengar, asalkan dia tidak buta dan tidak tuli.”

“Ha-ha-ha, benarkah demikian? Kurasa tidak begitu, cucuku. Di dunia itu lebih banyak orang buta dan tuli, sungguh pun mata dan telinganya tidak rusak. Bahkan sebenarnya sudah tidak ada lagi yang disebut memandang atau mendengar sesuatu seperti apa adanya. Yang kita pandang dan dengar adalah bayangan pikiran kita, dan bayangan pikiran kita itu tentu saja sama sekali bukan hal yang sebenarnya, bukan apa adanya.”

“Aku masih bingung, Kongkong. Coba beri contoh.”

“Biasanya kita mendengarkan dengan pikiran penuh berisi tanggapan, prasangka, penilaian dan kesimpulan. Kalau engkau membaca sesuatu atau mendengarkan aku sekarang ini dengan pikiran penuh tafsiran, prasangka, penilaian atau kesimpulan akan benar tidaknya, baik buruknya, maka engkau tidak dapat mendengarkan dengan sesungguhnya dan akan kehilangan intisarinya. Yang menjadi bagianmu hanyalah pertentangan antara tanggapan-tanggapanmu, penilaian serta prasangkamu sendiri. Demikian pula jika engkau memandang sesuatu. Jika engkau memandang seseorang dengan pikiran berisi kenangan akan orang itu di masa lalu, maka pandanganmu akan terisi penuh dengan prasangka, penilaian dan lain-lain itu sehingga bukan orang itu yang kau pandang, melainkan bayangan melalui kenanganmu! Dengan demikian, timbullah rasa suka, rasa benci, rasa khawatir dan lain-lain! Karena itu kita harus tahu akan seni memandang dan mendengar ini.”

“Tetapi, Kong-kong. Bagaimana mungkin mendengar sesuatu tanpa memikirkannya, tanpa menilai dan menarik kesimpulan akan baik buruknya, merdu tidaknya apa yang kita dengar itu?”

“Nah, itulah salahnya dengan pendengaran kita! Kita menginginkan sesuatu dari apa yang baik ingin kita dengar, yang baik ingin kita dengar terus, yang buruk ingin kita jauhi, maka terjadilah pertentangan dan persoalan! Kita mendengar suara orang bicara ribut-ribut, merasa bising dan pening. Mengapa? Karena kita tidak mau mendengarnya, tidak suka mendengarnya, menganggap mengganggu dan sebagainya. Coba saja kita dengarkan tanpa penilaian, mendengar tanpa aku yang mendengar, mendengar apa adanya, takkan timbul gangguan. Demikian pula dengan seni memandang. Kita memandang penuh perhatian, namun tanpa tanggapan, tanpa keinginan, dengan pikiran bebas dan kosong dari kenangan, maka tidak akan ada istilah pandangan menyenangkan atau tidak, dan pandangan kita akan dapat melihat dengan jelas akan sesuatu seperti apa adanya! Mengertikah engkau?”

Dengan gerakan lucu, gadis itu menggaruk-garuk kepalanya di belakang telinga kanan. “Dikatakan mengerti, rasanya begitu sukar diterima. Dibilang tidak mengerti, aku dapat merasakan kebenarannya, Kongkong. Dan… heiii!” Gadis itu terkejut dan terbelalak karena tiba-tiba kakek itu melontarkan pit (pena bulu) yang tadi dipegangnya itu ke atas.

Benda yang biasanya dipergunakan sebagai alat tulis itu melesat ke atas, kini berubah menjadi senjata rahasia yang amat hebat, menembus atap dan menyambar ke arah dada Bun Beng! Pemuda ini tadi mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia tertarik sekali hingga lupa keadaan dan lupa diri, lupa bahwa dia mengintai dan mendengarkan percakapan orang lain! Maka begitu dia diserang sambaran pit yang cepat, dia terkejut bukan main, tangannya menyambar cepat dan pit dapat ditangkapnya! Terkejut juga dia merasakan betapa benda itu menggetar di tangannya, tanda bahwa pelemparnya memiliki sinkang yang kuat sehingga pit yang sudah menembus atap itu masih mengandung tenaga yang kuat!

“Locianpwe (Orang Tua Gagah) yang berada di bawah harap sudi memaafkan saya atas kelancangan saya…” Bun Beng cepat berkata nyaring karena tidak ingin diserang lagi. Dia sudah merasa bersalah dan kini dia tidak meragukan lagi akan kebersihan kakek itu. Orang yang bicara seperti itu tak mungkin menjadi seorang penjahat keji! Maka tanpa ragu-ragu dia minta maaf.

“Sahabat yang berada di atas harap turun untuk memberi penjelasan!” Suara kakek itu masih bernada halus akan tetapi terdengar penuh wibawa.

Mendengar ini, Bun Beng merasa tidak enak untuk pergi begitu saja. Dia sudah merasa bersalah, maka tanpa menjawab dia lalu membuka genteng dan meloncat ke dalam ruangan itu dengan gerakan hati-hati.

Kakek itu dan cucunya memandang dengan kagum karena gerakan Bun Beng ketika meloncat turun itu sudah membuktikan bahwa kepandaian pemuda bercaping lebar itu amat tinggi. Bun Beng cepat membungkuk dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada kakek itu, lalu kepada gadis cantik yang memandangnya dengan sepasang mata indah terbuka lebar.

“Saya Gak Bun Beng mengaku salah, harap Locianpwe sudi memaafkan saya,” kata Bun Beng sambil memberi hormat.

Kakek itu tersenyum dan mengelus jenggotnya. “Menyadari akan kesalahan sendiri berarti menghapus kesalahan itu. Aku Lu Kiong bukanlah orang yang tidak dapat menghabiskan urusan kecil seperti ini. Akan tetapi kulihat engkau bukan penjahat, maka aku merasa penasaran sebelum mendengar penjelasanmu mengapa engkau yang muda dan sopan ini sampai mengintai di atas pondokku.”

Maka dengan singkat berceritalah Bun Beng tentang seorang pemerkosa dan pembunuh yang berkeliaran di daerah telaga itu, betapa pembunuh itu telah melakukan pembunuhan kepada suami isteri pelancong dan bahwa dia berusaha mencari jejak pembunuh itu.

“Saya sudah mencari ke sekeliling telaga, tetapi tidak ada apa-apa di dalam dusun-dusun di sekitar sini. Ketika melihat pondok terpencil ini yang keadaannya berbeda dengan rumah-rumah penduduk, timbul kecurigaan saya dan melakukan penyelidikan, harap Locianpwe suka memberi maaf.”

“Aaahh, kalau begitu persoalannya, engkau tak perlu minta maaf, Gak-sicu! Hilangkan kecurigaanmu terhadap kami. Aku bernama Lu Kiong, seorang pensiunan pengawal Kaisar yang mengundurkan diri dan ini adalah Lu Kim Bwee, cucuku.”

Wajah Bun Beng menjadi merah sekali dan ia kembali menjura dengan hormat. “Maaf telah berlaku kurang ajar…”

“Tak perlu banyak sungkan, Sicu. Tindakanmu sudah benar dan Si Laknat itu harus ditangkap! Kurasa dia tidak akan pergi jauh dari daerah ini. Marilah aku membantumu mencarinya. Kim Bwee, kau menunggu di sini dan berjagalah karena ada penjahat berkeliaran.”

Gadis itu mengangguk dan kakek itu kembali memandang kepada Bun Beng. “Mari kubantu mencari. Sebaiknya kita berpencar, engkau ke kiri dan aku ke kanan, kita sama-sama mengelilingi telaga dan kembali bertemu di pondokku ini.”

“Baik, dan terima kasih atas bantuan Locianpwe. Harap Locianpwe suka menerima kembali ini…” Bun Beng menyerahkan pit yang tadi menyambarnya.

Kakek Lu Kiong menerimanya sambil tersenyum. “Mudah-mudahan saja penjahat itu tidak akan selihai engkau, Sicu, dan pit-ku akan merobohkannya.”

Keduanya lalu keluar dari pondok. Mereka berpencar dan melakukan penyelidikan mengelilingi telaga. Akan tetapi malam itu sunyi dan tidak terjadi sesuatu di sekeliling telaga itu. Biar pun telaga itu tidak sangat luas, akan tetapi melakukan penyelidikan pada malam hari dengan mengelilinginya, membutuhkan waktu tidak kurang dari dua jam barulah Bun Beng tiba kembali di depan pondok kakek Lu tanpa hasil.

“Jahanam keparat…!”

Bun Beng kaget bukan main ketika mendengar bentakan nyaring dan halus ini, apa lagi ketika ada sinar pedang menyambar. Ketika dia cepat mengelak dan melirik, kiranya gadis cucu kakek Lu itulah yang menyerangnya dari kiri, menusukkan pedang ke arah dadanya, dan lebih kaget lagi dia ketika dari kanan menyambar angin pukulan dahsyat pula dibarengi bentakan suara kakek Lu. “Manusia iblis!”

Hanya dengan kecepatan gerakannya yang luar biasa saja Bun Beng baru dapat menghindarkan diri dari sambaran sepasang pit yang menotok jalan darahnya secara bertubi dari samping kanannya.

“Eh… eh… tahan dulu! Apakah artinya ini, Lu Locianpwe?” Bun Beng berseru kaget dan heran, dan mulai curiga lagi. Jangan-jangan kakek dan cucunya ini yang menjadi pembunuh! Siapa tahu, kakek itu seorang tokoh kaum sesat yang lihai, dan gadis yang dikatakan ‘cucunya’ itu adalah pembantunya!

“Mau bicara apa lagi? Keparat!” Gadis itu kembali menyerang dan kini dia mainkan pedang, membacok bertubi-tubi sambil terisak menangis!

“Nona… eh, tahan dulu…! Setidaknya… aku minta penjelasan lebih dulu…!”
“Penjelasan apa lagi? Manusia biadab…!” Pedang itu kembali menusuk dengan cepat sekali.

Namun untuk kesekian kalinya, dengan mudah Bun Beng mengelak sambil melompat jauh ke belakang, kemudian menghadapi Kakek Lu sambil berkata dengan suara penuh penasaran, “Locianpwe, apa artinya ini? Harap jelaskan, kalau memang aku bersalah aku tidak akan lari dari hukuman!”

Kakek itu berkata halus kepada cucunya, “Kim Bwee, tahan dulu senjatamu. Biar aku bicara dengan keparat ini!” Kemudian dia menghadapi Bun Beng sedangkan gadis itu menangis terisak-isak dengan suara penuh kedukaan.

“Gak Bun Beng, sungguh aku tidak mengira bahwa engkau adalah seorang penjahat muda yang curang dan licik. Engkau sengaja memancing aku keluar dari pondok untuk melakukan kekejian yang terkutuk, dan masih engkau berani berpura-pura tidak tahu apa-apa! Kiranya pemerkosa dan pembunuh yang kau sebut- sebut tadi bukan iain adalah engkau sendiri keparat!”

“Locianpwe…!”

“Sudahlah, tak perlu sandiwara pula. Sekarang engkau harus mengambil keputusan dan pilihan. Menikah dengan cucuku untuk membersihkan namanya atau mati di tangan kami!”

“Locianpwe! Aku… aku tidak merasa telah melakukan kesalahan…”

“Kong-kong, apa perlunya bicara dengan iblis macam dia? Kita bunuh saja dia, lalu aku akan membunuh diri…!”

“Tunggu dulu, Kim Bwee! Eh, Gak Bun Beng, apakah engkau hendak menyangkal pula bahwa engkau tadi telah sengaja memancing aku pergi, kemudian diam-diam kau datang ke pondok, secara curang menotok roboh cucuku, memadamkan lampu dan memperkosanya?”

“Apa…?” Mata Bun Beng terbelalak lebar, sedangkan mukanya pucat sekali. “Aku tidak melakukan hal itu, Locianpwe. Demi Tuhan…!”

“Bangsat!” Kim Bwee menjerit marah. “Apakah kau kira mataku buta? Sebelum lampu dipadamkan, aku masih melihat engkau!”

“Benarkah, Nona? Benarkah engkau melihat aku yang melakukan hal itu?”

“Aku melihat pakaianmu dan capingmu. Biar kau menyembunyikan muka, aku masih mengenal bentuk tubuh, pakaian dan capingmu!”

“Fitnah belaka! Aku tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk itu. Harap Nona dan Locianpwe suka percaya kepadaku…!”

“Singgg…!” Pedang itu telah menyambar dan dari belakangnya, sepasang pit di tangan kakek itu pun menotoknya.

Bun Beng cepat meloncat ke atas, berjungkir-balik dan melesat keluar. Dia maklum bahwa percuma saja menyangkal fitnah itu, percuma saja meyakinkan kakek dan cucunya itu bahwa bukan dia yang melakukan perbuatan keji itu. Dia maklum pula bahwa kakek itu memiliki kepandaian tinggi, dan kalau dia tidak cepat- cepat dapat menangkap penjahat yang melakukan semua perbuatan itu, dia akan terus dimusuhi.

“Aku bersumpah akan menangkap penjahat yang melakukan kejahatan terhadapmu dan fitnah terhadap diriku itu, Nona!” Setelah berkata demikian, Bun Beng berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Kakek dan cucunya berusaha mengejar, namun mereka tak dapat menandingi gerakan Bun Beng sehingga sebentar saja pemuda itu lenyap ditelan kegelapan malam. Gadis itu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis. Tiba-tiba pedangnya berkelebat ke arah lehernya sendiri.

“Tringgg…!” Pedang itu terlepas dari pegangannya ketika disambar oleh sepasang pit yang dilontarkan oleh kakek Lu Kiong.

“Kim Bwee! Jangan putus asa, dan jangan melakukan perbuatan pengecut itu! Kita telah mengetahui namanya, dan andai kata aku sendiri tidak mampu menangkapnya, aku mempunyai banyak teman-teman yang berilmu tinggi yang tentu akan suka membantuku mencari Gak Bun Beng dan menuntut dia mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan menikah denganmu atau mati di tanganmu.”

Gadis itu menangis dengan sedih. Betapa tidak hancur hatinya? Dia seorang dara yang menjunjung tinggi nama dan kehormatan, cucu dari bekas pengawal Kaisar yang terkenal. Kini dia telah dinodai orang, seorang muda yang tadinya amat menarik hatinya, dan pemuda itu ternyata seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat yang kejam!

Bukan hanya Kim Bwee dan kakeknya yang berduka dan marah. Bun Beng yang melarikan diri itu pun marah sekali dan andai kata dia dapat berhadapan dengan penjahat yang telah memperkosa Kim Bwee, yang dia duga tentulah penjahat yang membunuh suami isteri di tepi telaga siang hari tadi pula, tentu dia akan menerjangnya dan takkan berhenti jika belum melihat penjahat itu dapat ditangkap atau dibunuhnya!

Akan tetapi, kemarahannya itu bercampur dengan keheranan dan juga kebingungan. Mengapa penjahat yang tentu amat lihai itu seperti sengaja melakukan kejahatan untuk menjatuhkan fitnah kepadanya? Agaknya penjahat itu sengaja hendak membikin buruk namanya dan kalau benar demikian, mengapa dan siapakah orang itu? Dia menjadi bingung, tak dapat menduga-duga siapa gerangan orang yang memusuhinya secara diam-diam itu. Sukar dia menduga siapa musuh rahasia itu dan dia pun tidak tahu bagaimana harus mencarinya dan ke mana karena penjahat itu sama sekali tidak meninggalkan jejak.

Betapa pun juga, dia tidak putus harapan. Setelah dua kali melakukan perbuatan terkutuk yang agaknya disengaja untuk merusak namanya, tentu penjahat itu takkan berhenti di situ saja. Dia mengharap penjahat itu akan turun tangan lagi untuk menjatuhkan fitnah, atau bahkan untuk menyerangnya secara langsung agar dia berhadapan muka dengan musuh rahasia itu. Karena tidak tahu harus mencari ke mana, Bun Beng melanjutkan perjalanannya ke utara dalam usahanya mencari kekasihnya yang dia duga tentu diculik oleh Wan Keng In, pemuda iblis dari Pulau Neraka itu.

Dalam perjalanannya ini, Bun Beng bersikap hati-hati sekali karena dia menduga bahwa tentu musuh rahasianya itu diam-diam membayanginya. Beberapa kali dia mempergunakan kepandaian untuk tiba-tiba membalik dan lari ke belakang, bahkan beberapa kali kalau dia bermalam di losmen, diam-diam dia lolos dari kamarnya untuk mengintai keluar. Namun tak pernah dia melihat bayangan orang sehingga diam-diam dia merasa khawatir. Apakah musuh rahasia itu tidak pernah membayanginya, ataukah kepandaian musuh itu amat luar biasa? Atau…..

********************

“Milana, engkau sungguh kejam dan tidak mengenal budi! Kurang baik bagaimanakah aku terhadap dirimu? Engkau bebas di sini, bahkan selama tiga bulan ini aku membujuk guruku untuk menurunkan ilmu- ilmu yang tinggi kepadamu. Aku selalu bersabar, mengharapkan engkau akan sadar akan besarnya cintaku, dan membalas perasaanku yang suci murni kepadamu. Akan tetapi ternyata engkau selalu dingin, cintamu tak kunjung datang. Lebih mudah menanti bertitiknya air embun dari pada menanti balasan kasihmu. Milana, tidak kasihankah engkau kepadaku?”

Milana yang duduk di atas bangku memandang pemuda tampan yang berlutut di depannya. Dia menghela napas panjang. Harus diakuinya bahwa selama dia berada di Pulau Neraka, Wan Keng In bersikap baik sekali kepadanya, tidak pernah bersikap kasar, tidak pernah menyinggung perasaannya, apa lagi memaksanya, bahkan selalu berusaha untuk menyenangkan hatinya.

Taman yang indah ini dibuat oleh pemuda itu untuknya! Sebuah pondok yang mungil dibangun pula oleh anak buah Pulau Neraka atas perintah pemuda itu. Semenjak Milana berada di pulau itu, anak buah Pulau Neraka sibuk terus untuk menyediakan segala kebutuhan makan dan pakaian dara itu seperti yang diperintahkan Wan Keng In. Bahkan gurunya, Cui-beng Koai-ong yang berwatak aneh itu dapat pula dibujuk oleh Keng In sehingga berkenan menurunkan beberapa macam ilmu silat aneh yang lihai kepada Milana.

“Keng In, engkau tahu bahwa cinta tak mungkin dapat dipaksakan. Cinta tidak mungkin dapat dibiasakan atau dipelajari! Karena itu, percuma saja engkau membujukku. Aku tidak menyalahkan kalau engkau cinta kepadaku seperti yang sudah ribuan kali kau katakan kepadaku. Aku malah menaruh iba kepadamu karena cintamu yang hanya sepihak dan sia-sia itu. Keng In, sadarlah engkau. Menurut penuturanmu, di antara engkau dan aku masih ada hubungan keluarga. Ibumu adalah adik angkat ayahku, mengapa kita tidak dapat menjadi saudara misan yang baik?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo