September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 21

 

Bun Beng memandang dengan hati penuh ketegangan, apa lagi ketika ia melihat sikap kedua orang wanita cantik itu. Diam-diam dia merasa heran sekali mengapa Pendekar Super Sakti tiba-tiba marah-marah, dan mengapa kedua orang wanita itu kini hendak menyambut kedatangan pendekar yang dikagumi itu dengan jarum-jarum di tangan kiri!

Bagaikan seekor burung garuda putih tubuh Pendekar Super Sakti meluncur turun dari atas, gerakannya cepat bukan main sebab ia telah mempergunakan ilmunya yang luar biasa, yaitu Soan-hong-lui-kun. Dengan ilmu ini dia dapat bergerak cepat, berloncatan dengan ayunan kaki tunggalnya, makin lama makin cepat seolah-olah Kauw Cee Thian (Si Raja Monyet) sendiri yang berloncatan! Dengan wajahnya yang tampan gagah itu kini kehilangan kemuramannya, sepasang matanya yang tajam dan aneh itu bersinar- sinar, dua pipinya kemerahan, wajahnya berseri, dagunya mengeras membayangkan kemauan keras yang tidak dapat dibantah, pendekar itu kini telah berdiri di depan kedua orang wanita itu dengan tegak.

“Singg… wir-wir-wir… siuuuttt…!”

Sinar-sinar merah meluncur dari tangan kiri Nirahai dan sinar-sinar hitam meluncur dari tangan kiri Lulu. Itulah jarum-jarum Siang-tok-ciam dan Hek-kong-ciam dari dua orang wanita sakti itu. Jarum-jarum yang selain mengandung racun mematikan, juga dilempar dengan pengerahan tenaga sinkang sehingga jarum- jarum kecil itu cukup kuat untuk menembus benda keras! Namun Pendekar Super Sakti sama sekali tidak mengelak atau bergerak menangkis, masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali, bibirnya tersenyum dan sinar matanya amat tajam.

“Cep-cep-cep, wir-wir-wirrr!”

Jarum-jarum yang saking cepatnya sudah menjadi sinar-sinar merah dan hitam itu seolah-olah menembus tubuh Suma Han. Padahal tidak ada sebatang pun jarum yang menyentuh kulitnya karena jarum-jarum itu hanya mengenai baju sekeliling tubuhnya, menembus baju itu dan meluncur terus ke sebelah belakang tubuh Suma Han. Kiranya, biar pun kelihatan marah dan ganas, kedua orang wanita itu melontarkan senjata rahasia mereka dengan terarah, sama sekali tidak ada yang ditujukan kepada tubuh orang yang mereka cinta, melainkan membidik ke sekeliling tubuhnya.

“Ihhhh…!” Lulu menahan seruannya dan matanya yang lebar terbelalak.

“Ohhhh…!” Nirahai juga menahan seruannya dan otomatis tangan kirinya meraba bibir menutupi mulutnya.

Kedua orang wanita itu kaget setengah mati, bukan hanya karena rahasia mereka terbuka, rahasia bahwa mereka itu biar pun di luarnya kelihatan marah dan memusuhi, namun di balik sikap ini terkandung rasa cinta yang besar sehingga mereka tidak mau menyerang sungguh-sungguh dengan jarum-jarum mereka. Bukan karena ini mereka terkejut, melainkan karena melihat kenyataan betapa Suma Han sama sekali tidak mengelak atau menangkis!

Mereka maklum bahwa biar pun mereka menyerang dengan sungguh-sungguh sekali pun, tak mungkin mereka akan dapat melukai pendekar itu dengan jarum-jarum mereka. Mereka mengharapkan pendekar itu mengelak atau memukul runtuh jarum-jarum mereka dengan kibasan tangan atau dengan tongkat. Siapa kira, pendekar itu sama sekali tidak mengelak sehingga andai kata mereka tadi menyerang sungguh- sungguh, tentu tubuh Suma Han telah terkena jarum beracun!

“Kau… kau mau apa…?” Lulu bertanya, gagap.

“Pendekar kaki buntung, mau apa engkau datang ke sini?” Nirahai juga menegur, suaranya ketika menyebut ‘Pendekar Kaki Buntung’ menyakitkan hati sekali.

Akan tetapi Suma Han tidak mempedulikan itu, hanya memandang mereka kemudian terdengar suaranya menegur, seperti seorang ayah menegur dua orang anaknya yang nakal.

“Apa yang kalian lakukan ini? Mengapa kalian begini bodoh untuk melibatkan diri dengan urusan negara? Benar-benar kalian masih belum dewasa, lancang dan perlu dihajar!”

Nirahai dan Lulu terbelalak memandang Suma Han. Sedikit pun mereka tidak pernah mimpi akan mendengar ucapan seperti itu dari mulut Suma Han, laki-laki yang sejak dahulu bersikap lemah, yang menyakiti hati mereka oleh kelemahan sikapnya itu. Akan tetapi, di samping keheranan luar biasa, juga ucapan Suma Han membangkitkan kemarahan besar.

“Peduli amat engkau dengan apa yang ingin kami lakukan?” Nirahai balas membentak. “Engkau mau apa kalau kami mencampuri urusan negara?”

“Tentu saja aku peduli karena engkau isteriku, Nirahai. Setiap perbuatan seorang isteri menjadi tanggung jawab suaminya pula. Dan juga perbuatan Lulu menjadi tanggung jawabku! Aku larang kalian melanjutkan penglibatan diri kalian dengan segala urusan pemerintah!”

“Suma Han, enak saja engkau bicara!” Lulu membentak marah dan bertolak pinggang. “Nirahai-suci boleh jadi isterimu, akan tetapi engkau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!”

Suma Han tersenyum memandang Lulu dan senyum ini saja sudah hampir melepaskan semua sendi tulang di tubuh wanita ini. “Lulu, berani engkau bicara seperti itu kepadaku? Engkau adik angkatku…”

“Aku tidak sudi menjadi adikmu!”

“Aku tahu, biarlah kurubah sebutan itu. Engkau sebagai wanita yang mencintaku juga yang kucinta, tentu saja engkau menjadi tanggung jawabku pula dan engkau harus menurut kata-kataku!”

Lulu membanting-banting kaki kanannya, kebiasaan yang masih belum juga dapat dia hilangkan sejak dia masih seorang dara remaja! “Tidak tahu malu! Tak tahu malu…!”

“Suma Han, apa kehendakmu dengan segala sikap aneh ini? Apakah engkau datang untuk membadut? Ataukah engkau sekarang sudah gila?”

“Ha-ha-ha! Ho-ho-ho-heh-heh! Lucu…! Lucu…! Belum pernah aku melihat yang selucu ini! Mau aku digantung kalau aku pernah melihat yang selucu ini! Ha-ha-ha!” Bu-tek Siauw-jin tertawa-tawa sambil memegangi perutnya.

Bun Beng yang tadinya merasa tegang, terpaksa menahan geli hatinya mendengar ucapan dan melihat sikap kakek sinting itu. Di sana-sini terdengar suara tertawa dan Suma Han segera menoleh ke kanan kiri. Kiranya tempat itu penuh dengan prajurit-prajurit anak buah Nirahai yang menonton!

“Keparat kalian semua! Pergi dari sini…!” Suma Han yang menjadi merah mukanya itu membentak ke kanan kiri, ditujukan kepada para prajurit.

Para prajurit menjadi kaget, akan tetapi mereka tidak bergerak pergi. Panglima mereka berada di situ, mana mungkin mereka pergi begitu saja diusir oleh orang luar, sungguh pun mereka mendengar bisikan- bisikan bahwa yang mengusir mereka itu Pendekar Siluman yang namanya pernah menggegerkan istana!

Nirahai menoleh ke kanan kiri dan dia pun membentak, “Kalian pergi! Pergi…! Pergi yang jauh dan jangan ada yang mendekat!”

Tentu saja perintah yang keluar dari mulut Nirahai ini seperti cambukan pada tubuh sekumpulan domba. Mereka terkejut dan ketakutan, cepat mereka itu membubarkan diri dan pergi dari tempat itu. Tak seorang pun berani mendekati tempat itu, biar dengan sembunyi sekali pun, karena mereka tahu bahwa sembunyi pun percuma, tentu akan diketahui oleh panglima wanita yang amat lihai itu. Sebentar saja tempat itu menjadi sunyi. Kini yang masih berada di tempat itu hanyalah Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin.

“Nirahai, sekarang kujawab pertanyaanmu tadi. Aku datang sebagai suamimu dan engkau sebagai isteriku harus tunduk kepadaku, dan harus ikut ke mana pun aku pergi. Aku hendak membawamu pergi. Aku hendak membawamu pergi dari sini dan kau harus ikut denganku!”

“Tidak sudi!”

“Sudi atau tidak, mau atau tidak, engkau harus ikut bersama aku sekarang juga. Kalau kubiarkan terus sendirian, makin lama engkau makin keras kepala dan menimbulkan keributan di mana-mana. Huh, sungguh gila! Menjadi Ketua Thian-liong-pang, memakai kerudung, menggegerkan dunia kang-ouw, kemudian sekarang malah kembali menjadi panglima pemerintah. Apa-apaan ini?”

“Setan! Engkau kira akan mudah saja memaksaku?!” Nirahai hampir menjerit saking marahnya. Mukanya merah, sepasang matanya mendelik dan tangannya telah meraba gagang pedang Hok-mo-kiam di pinggangnya.

“Lawan saja, Suci. Dia memang seorang manusia tak tahu diri, biar kubantu engkau, Suci!” Lulu berkata, juga suaranya terdengar marah sekali.

“Lulu, engkau pun mulai saat ini harus ikut dengan aku. Suka tidak suka, mau tidak mau, kau harus berada di sampingku untuk selamanya!” kembali Suma Han berkata dan di dalam suaranya terkandung ketegasan yang tidak boleh dibantah lagi.

“Apa? Lebih baik aku mati!” Lulu membentak.

“Engkau tidak akan kubiarkan mati. Kalian harus ikut bersamaku dan habis perkara!” kembali Suma Han berkata.

“Singggg…!”

Hok-mo-kiam telah dicabut dari sarungnya, kemudian Nirahai langsung menerjang maju menyerang Suma Han dengan gerakan cepat sekali. Lulu tidak tinggal diam dan dia pun sudah menyerang dengan pukulan- pukulan maut.

“Bagus! Memang aku harus menundukkan kalian berdua dengan kekerasan, hal yang semestinya kulakukan sejak dahulu!” Suma Han berkata, suaranya terdengar gembira, dan tubuhnya sudah mencelat mengelak, kemudian seperti kilat dia mainkan Soan-hong-lui-kun untuk menghadapi dua orang wanita yang dicintanya, dua orang wanita yang selama kurang lebih dua puluh tahun telah membuat dia menderita amat hebat!

Tongkatnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung mengimbangi sinar pedang Hok-mo-kiam, dan dia menghadapi dua orang wanita itu dengan pengerahan ilmunya karena baik Nirahai mau pun Lulu, bukanlah dua orang wanita seperti dua puluh tahun yang lalu, melainkan telah memperoleh kemajuan yang luar biasa sehingga tingkat kepandaian mereka sudah amat tinggi.

Nirahai dan Lulu juga mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka untuk mengalahkan Suma Han. Hanya inilah satu-satunya jalan bagi mereka untuk mempertahankan harga diri dan keangkuhan mereka. Mereka tidak akan menyerah mentah-mentah sungguh pun di sudut hati mereka, dua orang wanita ini merasa terharu, bangga dan juga bahagia bahwa pria yang mereka cinta itu bersikeras untuk hidup bersama mereka! Seperti telah bermufakat sebelumnya, dalam menghadapi Suma Han ini, Nirahai dan Lulu dapat bekerja sama dan seolah-olah saling membantu sehingga tentu saja kedudukan mereka kuat bukan main, membuat Suma Han yang sudah mempergunakan Ilmu Sakti Soan-hong-lui-kun itu harus bersikap hati-hati kalau dia tidak ingin gagal dan dikalahkan!

“Ha-ha-ha, lucu! Lucu dan gila! Eh, Bun Beng, lihat mereka bertiga itu! Seperti kanak-kanak, atau orang- orang dewasa yang miring otaknya! Ha-ha-ha, jangan mau kalah, Nirahai dan Lulu! Laki-laki macam itu memang pantas dihajar babak belur, biar kapok, biar tahu bahwa wanita-wanita macam kalian tak boleh dibuat sembarangan, tak boleh dipermainkan. Ha-ha! Eh, Pendekar Siluman, masa engkau tak mampu menundukkan mereka? Wanita-wanita keras kepala memang harus ditundukkan dengan kekerasan. Itulah yang mereka kehendaki! Mereka suka ditundukkan, suka menyerah di bawah kekerasan laki-laki! Kalau engkau menjadi suami yang terlalu lunak, terlalu halus terlalu mengalah, mereka malah muak! Hayo, gaplok saja! Wah, ramai…! Ramai…! Ha-ha-ha!”

Tiga orang itu saling serang dengan hebat. Bun Beng menonton dengan hati gelisah, akan tetapi Bu-tek Siauw-jin tertawa-tawa gembira bertepuk-tepuk tangan, bersorak dan menyiram minyak pada api di hati ketiga orang itu saling bergantian, agaknya ingin melihat pertandingan itu semakin seru dan mati-matian. Lagaknya pun seperti kalau dia mengadu, jangkrik, akan tetapi kali ini dia tidak memihak, kedua pihak dipujinya juga dicelanya!

“Locianpwe, bagaimana Locianpwe dapat mengatakan lucu? Teecu tidak melihat sesuatu yang lucu, hanya tegang karena pertandingan hebat ini benar-benar amat berbahaya.” Biar pun bicara dengan Bu-tek Siauw- jin, namun pandang mata Bun Beng tidak pernah beralih dari gerakan tiga orang yang bertempur itu.

Dia kagum bukan main. Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan pertandingan yang demikian dahsyat dan luar biasa. Ilmu yang dimainkan tiga orang itu adalah ilmu silat-ilmu silat tinggi yang sebagian besar bersumber kepada ciptaan-ciptaan Bu Kek Siansu atau Koai-lojin, juga menjadi ilmu silat pusaka dari keluarga Suling Emas yang terkenal sepanjang masa itu.

“Eh? Engkau tidak melihat lucunya? Mereka itu saling mencinta, dan sekarang saling menyerang seperti orang-orang yang saling membenci mati-matian. Mereka seperti orang gila, dan memang mereka telah dibikin gila oleh cinta! Ha-ha!”

Bun Beng mengerutkan alisnya, dan sekarang dia mengalihkan pandang matanya dari pertempuran itu karena penasaran. Mengapa kakek sakti ini demikian memandang rendah cinta? Cinta baginya suci murni, halus dan sungguh-sungguh urusan perasaan yang paling halus, terutama dia berpendapat seperti itu setelah pertemuannya yang terakhir dengan Milana. Namun kakek ini bicara soal cinta seolah-olah cinta merupakan hal yang remeh dan lucu!

“Locianpwe, menurut pendapat teecu, cinta adalah perasaan yang mulus, murni dan bersih. Tak ada yang lebih suci dari pada cinta. Mengapa Locianpwe menganggapnya lucu?” Suaranya mengandung penasaran. Kalau cinta dianggap lucu dan remeh, apakah cinta antara dia dan Milana juga remeh dan lucu?

“Ha-ha-ha, itulah tandanya engkau dimabok cinta! Tandanya engkau menjadi korban cinta! Semua cinta yang disebut-sebut manusia adalah cinta yang palsu!”

“Wah, teecu tidak bisa menerima pendapat Locianpwe ini!” Bun Beng membentak dan mereka berdua kini sudah melupakan tiga orang yang masih saling serang.

Kini mereka berdua berhadapan, saling pandang seperti dua orang yang siap untuk bertanding, bukan bertanding pukulan melainkan bertanding pendapat tentang cinta! “Bagaimana Locianpwe dapat mengatakan bahwa cinta yang murni dari Suma-taihiap terhadap mereka itu palsu?”

“Cinta antara pria dan wanita bukanlah cinta yang sejati namanya! Melainkan asmara yang timbul dari kecocokan selera, baik mengenai ketampanan mau pun mengenai watak sehingga saling tertarik, kagum seperti orang melihat bunga-bunga indah. Gairah karena kecocokan selera ini bercampur dengan nafsu birahi. Asmara ini penuh dengan keinginan menguasai, memiliki, memperbudak, penuh dengan keinginan dimanja, dipuja dan dijunjung tinggi, di samping keinginan menikmati kepuasan dari hubungan badan yang didorong nafsu birahi. Semua ini bersumber kepada Si Aku yang selalu menujukan segala hal demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri, biar pun dengan cara yang cerdik berliku-liku, tujuan terakhir adalah untuk diri sendiri, untuk Si Aku. Sebab itulah asmara antara pria dan wanita ini menimbulkan hal-hal gila seperti sekarang ini. Kalau diputuskan menimbulkan duka, kalau dikhianati menimbulkan benci, kalau kurang tanggapan menimbulkan cemburu. Pendeknya, asmara antara pria dan wanita menimbulkan bermacam pertentangan, ketakutan, yaitu takut kehilangan, dan duka. Itulah cinta antara pria dan wanita yang kau agung-agungkan itu!”

Bun Beng masih penasaran. “Mungkin itu gambaran cinta seorang yang berwatak buruk, seorang yang hanya ingin mementingkan dirinya pribadi! Cinta seorang yang berhati murni amat bersih, sanggup berkorban, dan siap melakukan apa pun juga, bahkan berkorban nyawa kalau perlu, untuk orang yang dicinta!”

“Ha-ha-ha-ha, alasan kuno yang sudah menjadi kembang bibir semua orang yang dimabok cinta! Memang aku percaya bahwa engkau akan berani berkorban nyawa untuk gadis yang kau cinta, Bun Beng. Akan tetapi bagaimana seandainya gadis itu tak membalas cintamu? Bagaimana kalau engkau melihat dia berkasih-kasihan dengan pria lain? Bagaimana kalau dia tidak setia kepadamu, memperolok cintamu dan dengan mencolok bermain cinta dengan pria lain di hadapanmu? Apakah engkau rela dan cintamu akan tetap?”

“Cintaku takkan berubah…” Bun Beng menjawab, akan tetapi jawabannya yang keluar dengan suara sumbang itu lenyap ditelan suara kakek itu. Bun Beng masih penasaran dan berkata, “Kalau begitu, apakah tidak ada cinta suci di dunia ini menurut pendapat Locianpwe?”

“Tidak ada! Yang disebut-sebut orang, semua adalah cinta palsu yang berdasarkan kepada kepentingan Si Aku masing-masing.”

“Ah, masa begitu, Locianpwe? Bagaimana dengan cinta seorang anak pada ibunya?” Bun Beng mengajukan pertanyaan dengan penuh semangat, sebab dia merasa bahwa tentu kakek itu takkan mampu menjawab. Bagaimana mungkin orang menyangsikan cinta kasih seorang anak terhadap ibunya?

“Itupun palsu! Seorang anak merasa terkurung budi kepada ibunya, orang terdekat dengannya sejak kecil! Orang yang bersikap manis, orang yang selalu digantunginya, disandarinya, sehingga dia terbiasa oleh perlindungannya dan setelah Si Anak besar, teringat akan kebaikan-kebaikan ini merasa berhutang budi dan ingin membalas budi. Bukan cinta yang sejati, melainkan perasaan hutang budi belaka. Andai kata Si Anak sejak bayi diberikan kepada seorang wanita lain, kalau wanita itu melimpahkan kebaikan-kebaikan kepadanya, tentu anak itu akan berhutang budi pula. Ini pun bersumber kepada Si Aku. Coba kalau seorang ibu bersikap buruk kepada anaknya, bersikap kejam dan sebagainya, apakah Si Anak akan tetap mencintanya seperti yang diucapkan mulutnya? Lihat saja semua orang yang telah dewasa, setelah menikah, bukankah perasaannya lebih mendekat kepada suami, isteri, dan anak-anaknya?”

“Wah, Locianpwe pandai sekali berdebat. Bagaimana kalau cinta kasih seorang ibu kepada anaknya? Nah, beranikah Locianpwe menyangkalnya dan mengatakan bahwa cinta kasih seorang ibu kepada anaknya juga palsu?”

“Memang palsu selama Si Ibu mengharapkan kesenangan dari cintanya itu. Kalau seorang ibu hendak membuktikan cintanya palsu atau bukan, dia boleh bertanya kepada diri sendiri, marahkah dia kalau Si Anak tidak menurut kata-katanya, bencikah dia kalau Si Anak berani melawannya dan bersikap kurang ajar kepadanya, dan dukakah dia kalau Si Anak melupakannya dan tidak membalas budi kepadanya. Kalau benar demikian, maka sesungguhnya dia tidak mencinta anaknya, karena di mana ada cinta, di situ tidak mungkin ada kebencian, kemarahan dan kedukaan.”

“Wah, kalau begitu pendapat Locianpwe, cinta bukan perasaan manusia biasa! Agaknya hanya cinta kasih manusia terhadap Tuhan saja yang suci!” Bun Beng membantah.

“Sama sekali tidak! Cinta manusia terhadap Tuhan lebih munafik lagi! Sesungguhnya bukan cinta, melainkan pemujaan dan pemujaan ini palsu belaka kalau di baliknya terdapat keinginan agar memperoleh balas jasa atau imbalan. Kalau manusia memuja Tuhan dengan niat agar memperoleh imbalan berkah, baik selagi masih hidup atau kelak kalau sudah mati, maka pemujaan itu pun palsu belaka, seperti jual beli! Cinta adalah sederhana dan wajar, tanpa pamrih, karenanya tidak akan mendatangkan kecewa, benci atau duka.”

“Haaaiiittt… desss! Desss!”

Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin terpaksa menengok dan mereka melihat betapa Nirahai dan Lulu tadi menyerang secara berbareng, akan tetapi dengan teriakan panjang tubuh Suma Han mencelat ke atas dan ketika kedua orang wanita itu mengejar dengan loncatan cepat, Suma Han mendorongkan kedua tangannya untuk menangkap mereka. Mereka menangkis dan keduanya terlempar kembali ke bawah, hampir terbanting kalau tidak cepat-cepat menggulingkan tubuh lalu meloncat berdiri. Dengan kemarahan meluap keduanya sudah menerjang dan pertandingan berlangsung terus lebih ramai.

Melihat ini, Bun Beng kembali menoleh kepada Bu-tek Siauw-jin. “Locianpwe yang begitu pandai menguraikan tentang cinta, yang begitu pandai menyeret semua cinta kepada hal yang remeh dan palsu, tentu sudah mempunyai banyak sekali pengalaman tentang cinta. Pernahkah Locianpwe mencinta seseorang, seorang wanita maksud teecu?”

Bu-tek Siauw-jin meloncat tinggi ke belakang seperti disambar seekor ular berbisa, matanya terbelalak. “Hehhh…? Aku…? Aku mencinta seorang wanita? Gila kau! Aku… aku belum pernah terjeblos ke dalam perangkap asmara!”

“Kalau begitu, bagaimana Locianpwe bisa bicara tentang asmara?”

“Bukan karena pengalaman sendiri, melainkan karena melihat akibat-akibat yang terjadi dan dengan membuka mata melihat, membuka telinga mendengar. Lihat dan dengar saja tiga orang itu! Jelas, bukan? Mereka tidak saling mencinta, dalam arti kata cinta suci. Kalau tidak demikian, mana ada duka, mana ada benci, dan mana ada pertempuran seperti sekarang ini?”

“Haiii, Bu-tek Siauw-jin! Kami bukan bertempur, melainkan aku sedang berusaha untuk menundukkan mereka ini!” Jawaban ini keluar dari mulut Suma Han dan sekali ini Bu-tek Siauw-jin membalikkan tubuh menonton.

Dia terkekeh, merasa terpukul pernyataannya yang terakhir tadi tentang tiga orang ini sebab kini baru dia tahu bahwa pertandingan yang kelihatan mati-matian itu sebetulnya mengandung hal-hal tidak wajar yang amat lucu! Biar pun Suma Han melancarkan pukulan-pukulan hebat, akan tetapi semua pukulan itu hanya dimaksudkan untuk menangkap kedua orang wanita itu, bukan untuk merobohkan.

Dan lucunya, pedang Hok-mo-kiam itu biar pun berkelebatan dan sinarnya bergulung-gulung, sesungguhnya lebih banyak merupakan ancaman dari pada serangan betul-betul, seolah-olah pemegangnya selalu khawatir kalau-kalau pedang yang ampuh itu betul-betul akan menembus tubuh Suma Han. Demikian pula dengan Lulu, pukulan-pukulannya hanyalah pukulan yang dia yakin takkan mencelakai tubuh orang yang dicintanya! Tiga orang itu melampiaskan kemarahan dan kemendongkolan hati, namun tetap saja tidak tega untuk saling mencelakakan, apa lagi saling membunuh!

“Cringgg…! Bun Beng, terimalah pedang ini!”

Sebuah tangkisan tongkat yang digetarkan oleh tangan Suma Han membuat pedang Hok-mo-kiam terlepas dari tangan Nirahai dan terlempar ke arah Bun Beng. Pemuda itu tentu tidak akan berani menerima pedang yang tadinya dipegang oleh Nirahai itu kalau tidak diperintah oleh Suma Han. Dia cepat menyambut pedang itu dan tetap berdiri dengan pedang di tangan, memandang penuh perhatian.

“Kalian benar-benar keras kepala!” Ucapan Suma Han ini disusul dengan serbuannya ke depan, serbuan yang nekat dan bukan merupakan jurus ilmu silat lagi, melainkan menubruk dan menggunakan kedua lengannya merangkul pinggang kedua orang wanita itu, terus diangkat dan dipanggulnya! Karena dia tidak melakukan penotokan, tentu saja amat mudah bagi Nirahai dan Lulu andai kata mereka hendak mencelakai Suma Han.

Kaki tangan mereka meronta-ronta dan mulut mereka berteriak, “Lepaskan! Lepaskan aku!” Akan tetapi mereka sama sekali tidak menggunakan tangan yang bebas untuk melakukan serangan. Padahal dalam keadaan seperti itu, kalau mereka melakukan totokan atau pukulan, tentu Pendekar Super Sakti tidak akan mampu menjaga dirinya!

“Tidak akan kulepaskan kalian lagi!” kata Suma Han yang memanggul tubuh dua orang itu di atas pundaknya, dengan dipeluk pinggang mereka kuat-kuat.

“Lepaskan aku, kalau tidak, akan kupukul pecah ubun-ubun kepalamu!” Lulu berteriak, tangannya dikepal dan mengancam di atas kepala Suma Han.

“Hayo lepaskan aku! Apa kau ingin kutotok jalan darah kematianmu di tengkukmu!” Nirahai mengancam pula, jari tangannya sudah menyentuh jalan darah pokok di tengkuk Suma Han.

Suma Han hanya tersenyum dan kelihatan gembira sekali. “Biar kalian membunuhku, aku takkan melepaskan kalian sebelum kalian berjanji untuk memenuhi permintaanku.”

“Manusia tak tahu malu! Apa permintaanmu?” Nirahai membentak.

“Nirahai, engkau adalah isteriku, maka mau atau tidak, engkau mulai sekarang harus ikut bersamaku, ke mana pun aku pergi dan kau harus selalu memenuhi perintahku sebagai suamimu!”

“Suma Han! Nirahai-suci mungkin saja kau paksa karena dia isterimu. Akan tetapi aku tidak semestinya kau paksa!” Lulu meronta dan berteriak.

“Kita telah melakukan kekeliruan, biar pun saling mencinta tidak bersikap jujur. Untuk menebus kesalahan kita itu, mulai sekarang kita tak boleh berpisah lagi. Engkau harus ikut pula bersama kami, Lulu, dan untuk selamanya hidup bersamaku!” jawab Suma Han, suaranya tegas.

“Suma Han, enak saja kau bicara! Katakan, siapakah yang kau cinta? Aku ataukah Lulu-sumoi?” Nirahai menuntut.

“Aku… aku mencinta kalian berdua, dan aku… aku mau menghabiskan sisa hidupku di samping kalian berdua, sampai kakek nenek, sampai mati.”

“Aku tidak sudi menjadi adik angkatmu!”

“Kalau begitu, karena kita saling mencinta dan sudah semestinya demikian, engkau mulai sekarang menjadi isteriku juga.”

“Gila! Mana mungkin suci mau menerima aku sebagai madunya?”

“Lulu-sumoi! Kau bilang apa? Kalau dia tidak mau mengambil engkau sebagai isterinya, aku pun tidak akan sudi ikut bersamanya.”

“Nirahai-suci…!” Jerit yang keluar dari mulut Lulu ini sudah berubah, tidak lagi marah melainkan mengandung isak.

“Sumoi, sudah semestinya begini…!” Nirahai berkata dan keduanya masih dipanggul di atas kedua pundak Suma Han, kini saling rangkul di punggung pendekar itu, saling rangkul sambil menangis.

Bun Beng yang menonton dan mendengarkan semua ini menjadi terharu bukan main. Kalau menurutkan perasaan hatinya, melihat betapa pendekar yang dikaguminya dan dijunjung tinggi itu mendapatkan kembali kebahagiaan hidupnya bersama dua orang wanita yang dikasihinya, melihat keadaan mereka yang telah dihimpit duka nestapa dan kesengsaraan selama belasan tahun, kini seolah-olah orang-orang yang kelaparan mendapatkan makanan, atau orang-orang yang menderita penyakit payah mendapatkan obat, ingin dia menangis. Dengan suara terharu, menggetar dan yang keluar dari lubuk hatinya, Bun Beng menjura ke arah Pendekar Super Sakti dan berkata,

“Suma-taihiap, teecu menghaturkan selamat atas kebahagiaan Taihiap bertiga!”

“Ha-ha-ha, Gak Bun Beng, engkau gila! Semestinya engkau bukan menghaturkan selamat, melainkan memujikan dia selamat dari penyakit yang dicarinya sendiri ini. Ha-ha-ha! Eh, Suma-taihiap, Pendekar Siluman, tahukah engkau mengapa murid kita ini memberi selamat? Karena dia terlalu bahagia melihat orang-orang yang menderita penyakit asmara dapat berkumpul kembali, karena dia sendiri sedang dilanda penyakit itu. Sekarang biarlah aku mewakili dia, di sini, di depan isteri-isterimu, aku meminang puterimu yang bernama… eh, Bun Beng, siapakah nama dara yang kau tolong di atas pohon itu?”

Merah muka Bun Beng. Biar pun sinting, kakek ini sudah melakukan hal yang di luar dugaannya sama sekali, maka dia menjawab lirih, “Milana…”

“Oya, puterimu Milana itu kupinang untuk menjadi calon isteri Gak Bun Beng. Bagai mana? Bagaimana, Tuan Puteri Nirahai?”

Nirahai yang masih berangkulan dengan Lulu dan tubuhnya bergantung di belakang punggung Suma Han, menjawab, “Terserah kepada ayahnya. Aku memiliki kekuasaan apa lagi, sih?”

“Ha-ha-ha, belum apa-apa sudah bertobat. Benar-benar isteri yang hebat! Nah, bagai mana Suma- taihiap?”

Suma Han mengerutkan alisnya. Menurut rencana hatinya dia ingin menjodohkan Kwi Hong dengan pemuda ini, akan tetapi kalau Milana memang mencintanya… dan hal ini harus dia selidiki terlebih dahulu. Maka dengan suara tegas ia menjawab,

“Bu-tek Siauw-jin Locianpwe, urusan jodoh memang orang tua yang memutuskan, akan tetapi harus mendengar lebih dahulu pendapat anak yang bersangkutan. Gak Bun Beng, kau bawalah Hok-mo-kiam itu dan aku memberi tugas kepadamu untuk mencari Milana, dan mengajaknya ke Pulau Es. Soal perjodohan, biarlah kita bicarakan kelak. Terima kasih atas kebaikanmu, Bu-tek Siauw-jin. Kami hendak pergi, selamat berpisah!” Setelah berkata demikian, dengan ilmunya yang hebat, tubuh pendekar itu melesat dan lenyap dari situ sambil memanggul tubuh dua orang wanita itu!

“Heeiii… Pendekar Siluman…! Sekali waktu aku ingin mengadu ilmu denganmu…!” Tiba-tiba Bu-tek Siauw- jin berteriak, suaranya melengking nyaring sehingga Bun Beng yang berada di dekatnya cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi jantungnya. Khikang dari kakek ini benar-benar amat luar biasa. Tak lama kemudian, dari jauh terdengar suara Pendekar Super Sakti,

“Sekarang aku tidak ada waktu untuk melayanimu, Bu-tek Siauw-jin. Tetapi sewaktu-waktu engkau boleh datang ke Pulau Es…!”

Bu-tek Siauw-jin memandang pemuda itu, tertawa. “Ha-ha-ha, sungguh heran sekali. Semenjak puluhan tahun aku menganggap penghuni Pulau Es sebagai musuh besar dari nenek moyangku. Akan tetapi, begitu bertemu dengan dia, dendam itu lenyap sama sekali. Dan aku ikut puas menyaksikan kebahagiaannya. Orang seperti dia tidak sepatutnya hidup sengsara.” Kakek itu mengangguk-angguk. “Dan sekarang, ke mana engkau hendak pergi, Bun Beng?”

“Seperti yang Locianpwe telah mendengar sendiri, teecu diserahi tugas untuk mencari Nona Milana dan mengajaknya ke Pulau Es. Karena teecu tidak tahu di mana adanya Nona Milana, teecu akan ke kota raja dan menyelidikinya dari sana.”

“Memang seharusnya begitulah. Dan engkau tidak mengecewakan hati mereka yang menjadi calon mertuamu. Mungkin itu merupakan ujian pula buatmu. Aku sendiri akan kembali ke Pulau Neraka. Setelah bertemu dengan Tocu Pulau Es dan api permusuhan di hatiku padam sama sekali, perlu apa lagi aku berkeliaran di dunia ini? Nah, aku pergi!” Kakek itu menggerakkan lengan bajunya dan berkelebat lenyap dari situ.

“Locianpwe, teecu belum menghaturkan terima kasih atas segala kebaikanmu!” Bun Beng mengerahkan khikang-nya seperti yang dilakukan kakek itu tadi.

Dari jauh terdengar suara ketawa kakek itu. “Ha-ha-ha! Kalau kini kau menghaturkan terima kasih, berarti hutangmu telah terhapus! Dan aku ingin kau membayar hutangmu dengan tiga cawan arak merah kelak, di Pulau Es!”

Bun Beng menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah suara dengan perasaan terharu. Kakek itu boleh jadi agak sinting, akan tetapi harus diakui bahwa di dalam kesintingannya, banyak kebaikan dari pada keburukan yang muncul dari pribadinya. Setelah memberi hormat ke arah suara kakek itu, Bun Beng bangkit berdiri, mengambil sarung pedang Hok-mo-kiam yang tadi tanpa bicara telah dilemparkan ke bawah oleh Nirahai, memasangkan pedang itu di punggungnya, kemudian mengambil capingnya yang pecah-pecah, membetulkan caping, memakainya di atas kepala.

Bun Beng menoleh ke arah mayat Maharya, dan memandang kepada mayat-mayat yang malang- melintang memenuhi tempat itu. Dia menghela napas panjang. “Maharya, maafkan aku. Tidak mungkin aku dapat mengubur jenazah semua orang yang gugur dalam perang ini, yang jumlahnya ribuan dan tak mungkin kukubur sendiri.”

Dia lalu meloncat dan meninggalkan tempat itu. Andai kata hatinya tidak dikejar oleh keinginan untuk cepat-cepat mencari dan menemukan Milana, agaknya pemuda ini terpaksa akan mencoba untuk mengubur jenazah semua korban perang itu!

Di dalam perjalanan menuju ke selatan ini, masih terbayang semua peristiwa mengenai Pendekar Super Sakti, Nirahai dan Lulu itu di depan matanya. Dia merasa terharu dan girang, juga tidak mengerti, merasa heran karena dia pun kini dapat merasakan betapa aneh kelakuan tiga orang itu. Yang sudah gila diserang penyakit asmara, kata Bu-tek Siauw-jin. Benarkah begitu? Apakah dia sendiri pun akan melakukan hal-hal yang tidak lumrah dan aneh-aneh kelak karena penyakit asmara ini? Akan tetapi hal yang paling membuat dia tidak mengerti adalah keputusan yang diambil oleh Nirahai. Apa kata wanita bangsawan, ibu Milana pujaan hatinya itu? Kalau Pendekar Super Sakti tidak mengambil Lulu sebagai isterinya, dia pun tidak akan sudi ikut bersama suaminya itu!

Tentu saja Bun Beng yang masih muda itu tidak tahu bahwa seorang wanita bermadu, bagi Nirahai adalah hal yang amat wajar dan lumrah. Dia adalah puteri seorang Kaisar yang mempunyai banyak selir. Bahkan dia sendiri puteri seorang selir. Pada waktu itu kehidupan kekeluargaan bangsawan amat berbeda dengan kehidupan keluarga orang sekarang. Semua bangsawan tentu mempunyai isteri lebih dari seorang. Bahkan kalau ada seorang bangsawan tidak mempunyai selir hanya mempunyai seorang isteri saja, hal ini merupakan suatu kejanggalan dan keanehan besar. Keadaan demikian itu telah menjadi kebiasaan, dan karena biasa inilah maka oleh para wanitanya juga diterima sebagai hal yang biasa, yang sama sekali tidak mendatangkan perasaan iri atau cemburu. Bahkan tentu saja Nirahai merasa girang sekali mempunyai madu Lulu, sumoi-nya sendiri dan yang dia tahu telah saling mencinta dengan suaminya sebelum suaminya itu bertemu dengan dia! Di lubuk hatinya, Nirahai merasa betapa Lulu lebih berhak atas cinta suaminya dari pada dia, dan betapa karena cintanya itu, Lulu telah menderita hebat sekali.

Memang tak dapat disangkal pula bahwa cinta asmara antara pria dan wanita menjadi sumber segala peristiwa, menjadi bahan segala cerita, menjadi poros yang memutar roda penghidupan dengan segala suka dukanya. Tanpa adanya cinta asmara antara pria dan wanita kiranya keadaan hidup manusia di dunia akan berubah sama sekali, dan sukarlah membayangkan akan bagaimana keadaannya, sungguh pun kita tidak berani menentukan bahwa perubahan itu buruk adanya!

********************

Milana menghentikan gerakannya meronta-ronta. Dia tahu bahwa semua itu percuma saja. Kalau tadinya dia meronta-ronta dan berteriak-teriak sedapatnya karena tubuhnya tertotok lemas, bukanlah untuk membebaskan diri karena dia maklum bahwa hal itu tidak mungkin, melainkan untuk menarik perhatian orang. Dia melihat betapa para penjaga yang berusaha menolongnya malah menjadi korban kelihaian dan keganasan Wan Keng In, maka dia berteriak-teriak dan memaki-maki hanya untuk meninggalkan jejak ke mana dia dilarikan agar para petugas istana itu dapat membayangi arah larinya Wan Keng In dan gurunya.

Akan tetapi setelah dua hari dia menjadi tawanan masih belum ada penolong datang, harapannya menipis. Tentu ayahnya atau ibunya belum tahu bahwa dia diculik pemuda Pulau Neraka ini, karena kalau ayah bundanya sudah mendengar, tentu sekarang mereka sudah mengejar dan menolongnya dari cengkeraman pemuda iblis yang gila ini. Kini dia tidak dapat mengandalkan orang tuanya, para pengawal, atau siapa pun juga. Dia harus menolong dirinya sendiri, maka dia mulai tenang dan tidak lagi meronta-ronta.

Akan tetapi ketika Wan Keng In dan kakek seperti mayat hidup itu mulai mendaki sebuah gunung dengan gerakan cepat sekali seperti terbang, Milana kembali merasa ngeri. Bagaimana kalau ayah bundanya mencarinya dan kehilangan jejak? Dia tidak memperlihatkan rasa gelisahnya, akan tetapi diam-diam dia merobek-robek sapu tangannya dan melempar-lemparkan robekan sapu tangan itu di sepanjang jalan menuju ke atas puncak gunung itu.

“Malam hampir tiba. Pemandangan di puncak ini indah sekali dan hawanya sejuk, sebaiknya kita beristirahat dan melewatkan malam di sini, Suhu.” Wan Keng In berkata ketika mereka tiba di puncak.

“Sesukamulah,” jawab gurunya tak acuh sambil memandang ke arah barat di mana matahari telah menjadi sebuah lampu besar yang mulai menyuram seolah-olah kehabisan minyak.

“Nah, engkau manis sekali kalau begini, Milana. Engkau tidak meronta-ronta lagi dan tidak memaki-maki aku lagi.” Keng In berkata kepada dara yang dipondongnya.

“Kalau engkau bersikap manis dan sopan, tidak kurang ajar, tentu aku akan bersikap baik pula, tidak melawan dan tidak memaki. Kau turunkanlah aku, aku bukan anak kecil yang harus dipondong saja.”

Wan Keng In tertawa gembira. “Ha-ha-ha, bagus sekali! Nah, mestinya begini, Milana. Aku tidak akan menggunakan kekerasan, aku cinta padamu, dan aku akan bersikap baik selama engkau tidak memberontak.” Keng In menurunkan tubuh dara itu, meraba pundaknya dan membebaskan totokannya.

Milana segera duduk di atas rumput dan menyalurkan tenaga untuk memulihkan jalan darahnya. Biar pun dia bebas, akan tetapi dia tidaklah begitu bodoh untuk mencoba melawan atau melarikan diri. Pemuda itu memiliki kepandaian yang amat luar biasa, dan dia bukanlah tandingan pemuda itu. Baru pemuda itu saja seorang diri, dia tidak akan mampu melawan atau melarikan diri, apa lagi di situ masih ada guru pemuda itu yang amat mengerikan. Tentu gurunya ini sakti seperti iblis sendiri!

“Suhu, lihat! Dia seorang anak yang baik, bukan? Pilihan teecu (murid) takkan meleset, Suhu. Dia cantik jelita, manis, halus, pintar… pendeknya tidak ada keduanya di dunia ini!” Wan Keng In tersenyum-senyum senang sekali melihat Milana tidak memberontak lagi.

“Huhhh…! Perempuan…!” Hanya itu saja yang keluar dari mulut Cui-beng Koai-ong, kemudian dia membuang muka, duduk membelakangi mereka di atas batu dan sama sekali tidak bergerak lagi seolah- olah tubuhnya telah berubah menjadi batu pula.

Milana yang melihat gerak-gerik kakek itu bergidik. Setiap gerak-gerik dan suara yang dikeluarkan kakek itu membuat bulu tengkuknya meremang. Kakek itu tiada ubahnya seperti mayat hidup, gerakannya seperti kaku, akan tetapi cepat dan tiba-tiba, amat mengejutkan. Kelingking jari tangan kiri yang putus separuh itu menambah seram keadaannya.

Sementara itu, dengan wajah berseri Keng In telah membuka buntalan, mengeluarkan beberapa potong roti dan seguci air jernih. Roti dan guci terisi air ini dia letakkan di depan Milana dan dia berkata ramah,

“Milana pujaan hatiku, makan dan minumlah. Engkau tentu lapar, sudah dua hari engkau tidak mau makan atau minum sedikit pun, membuat hatiku menjadi tidak enak dan khawatir!”

Milana masih memandang punggung kakek yang duduk di atas batu. “Dia juga tidak pernah makan atau minum selama ini,” katanya perlahan karena memang hatinya selalu bertanya-tanya. Kalau dia menderita kelaparan selama dua hari itu karena dia selalu menolak makan atau minum, mengapa kakek itu pun tidak pernah makan minum, bahkan pemuda itu tidak pernah menawarkan kepada gurunya, hanya selalu makan minum sendiri kalau Milana menolak.

“Suhu? Hemm, Suhu hanya makan hawa dan minum kabut embun.”

Kembali Milana merasa betapa bulu tengkuknya meremang. Manusia biasa mana ada yang seperti itu? “Aku tidak mau makan dan minum,” katanya lirih.
“Aihhh, jangan begitu, Manis. Mana bisa engkau seperti Suhu? Kalau sampai engkau jatuh sakit, siapa yang susah? Makanlah sedikit, dan minumlah air ini. Air jernih sejuk, baru kuambil siang tadi di lereng gunung.”

Ingin rasanya Milana membuat pemuda itu susah selama hidupnya, akan tetapi memang benar, dia tidak mungkin dapat hidup tanpa makan dan minum. Sekarang pun dia merasa amat haus dan lapar. Akan tetapi dia menahan diri. Kesempatan baik, pikirnya.

“Aku tidak bisa makan seperti ini.” katanya sambil memandang roti kering itu. “Aku biasanya hanya makan nasi dan masakan yang enak.”

“Wah, jangan khawatir. Kalau kita sudah tiba di Pulau Neraka, engkau mau minta masakan apa saja, tentu akan kusediakan. Akan tetapi di sini, mana ada nasi dan masakan?”

“Tidak peduli!” Suara Milana agak keras, sebagian terdorong oleh rasa gembira bahwa dia dapat merongrong pemuda itu, kedua karena timbul harapannya untuk mencari kesempatan meloloskan diri. “Pendeknya, aku hanya mau makan kalau ada nasi, ada arak dan setidaknya ada daging panggang!”

Wan Keng In memandang dengan mata terbelalak kepada gadis itu, akan tetapi kemarahannya lenyap ditelan penglihatan yang mempesonakan hatinya. Bibir dara itu! Untuk bibir itu saja mau kiranya dia melakukan apa pun juga. Jangankan hanya mencarikan nasi dan sekedar daging panggang, biar disuruh memetik bintang dari langit sekali pun, kalau dia bisa, tentu akan dilakukannya!

“Aihhh… bibirmu itu…” Keng In menghela napas.

Milana yang mengira ada sesuatu pada bibirnya, otomatis menggunakan ujung lidah untuk menjilati sepasang bibirnya. Penglihatan ini membuat Keng In makin terpesona sampai dia melongo memandang dan menelan ludah. Barulah Milana maklum bahwa pemuda itu memuji bibirnya. Seketika sepasang pipinya menjadi kemerahan dan dia memandang dengan tajam.

“Sudahlah! Kalau tidak ada nasi dan daging berikut araknya, aku tidak sudi makan!”

“Serrrrrr!” Hampir Keng In mengeluh. Pandang mata itu seolah-olah anak panah yang menancap di ulu hatinya.

“Aihhh… matamu… dan bibirmu… ehhh, baiklah, Milana. Apa sih sukarnya mencarikan semua itu untukmu, Sayang?” Tiba-tiba tubuh pemuda itu bergerak, sekali berkelebat dia telah lenyap ke dalam hutan di bawah puncak yang sudah mulai gelap.

Berdebar jantung Milana. Pancingannya berhasil! Pemuda itu benar-benar pergi untuk memenuhi permintaannya. Di sekitar tempat itu, mana ada nasi dan daging serta arak? Pemuda itu tentu akan pergi mencari dusun dan belum tentu akan mendapatkan yang dimintanya sampai semalam suntuk. Dengan hati-hati Milana melirik ke arah kakek yang menimbulkan rasa ngeri di hatinya. Kakek itu masih duduk bersila di atas batu, sama sekali tidak bergerak, bahkan agaknya bernapas pun tidak. Kakek itu seperti arca mati yang sudah melekat dan menjadi satu dengan batu yang didudukinya. Bagaimana kalau dia lari sekarang? Akan tetapi dia harus hati-hati dan tidak sembrono. Sekali dia gagal, tentu Keng In akan menjaga ketat lagi, mungkin tidak akan membebaskannya dari totokan. Dia memang harus berusaha lari, akan tetapi sekali melakukannya harus berhasil.

Milana bangkit berdiri dan berjalan-jalan. Matanya tak pernah beralih dari tubuh kakek yang masih duduk bersila. Dengan memberanikan diri dia berjalan perlahan melewati depan kakek dan ia melihat bahwa kakek itu duduk bersila sambil memejamkan mata dan… agaknya benar-benar tidak bernapas! Biar pun cuaca sudah remang-remang, namun dia masih dapat melihat keadaan kakek itu.

Sampai tiga kali dia berjalan perlahan seperti orang melemaskan kaki, mengelilingi kakek itu dan berhenti di sebelah belakangnya. Kakek itu sama sekali tidak pernah bergerak apa lagi menengok. Milana lalu membungkuk, mengambil sepotong batu, dan melontarkan batu itu ke semak-semak di sebelah kanan kakek itu, kemudian matanya memandang tajam. Namun, kakek itu tetap tidak bergerak sama sekali, seolah-olah telah mati, atau telah tidur nyenyak!

Jantung Milana berdebar tegang. Tentu kakek itu tidak akan merintanginya karena sedang tidur, atau demikian tenggelam dalam semedhinya sehingga seperti orang mati. Berindap-indap Milana melangkah menjauhi kakek itu, mengambil arah yang berlawanan dengan perginya Keng In tadi. Makin lama langkahnya yang gemetar itu menjadi makin tetap, langkah kecil-kecil menjadi makin melebar dan karena kakek itu sudah tidak tampak lagi dalam cuaca yang suram, dia tidak lagi menengok dan selagi dia mengambil keputusan hendak lari, tiba-tiba terdengar suara orang di depannya. Seketika dia menjadi lemas melihat Keng In muncul dengan seekor ayam hutan di tangannya.

“Aihh, sudah begitu laparkah engkau, Sayang? Apakah engkau sengaja menyongsong aku? Lihat, aku memperoleh seekor ayam gemuk untukmu, enak dibuat menjadi ayam panggang!”

Milana memaksakan dirinya untuk tersenyum dan berkata dengan suara agak gembira, “Aku hendak menyusul, habis engkau lama benar sih, dan perutku sudah amat lapar!”

“Aduh… alangkah kasihan, bidadari yang jelita! Nah, terimalah ayam ini, kau tentu mau memanggangnya untuk kita makan bersama, bukan?”

Milana menahan kemarahan dan kekecewaannya, terpaksa menerima bangkai ayam hutan yang gemuk itu, kemudian sengaja berkata, “Ahhh, kenapa hanya ayam saja? Apakah aku hanya akan kau suruh makan daging panggang? Mana nasinya? Mana araknya? Wan Keng In, aku sudah mulai menurut karena sikapmu yang baik, tetapi kalau permintaan macam itu saja kau tidak mampu penuhi, apa gunanya aku tunduk?”

“Wah-wah… sabarlah, Sayang. Aku memang sengaja membawa ayam ini lebih dulu agar dapat kau panggang. Selagi kau memanggangnya, aku akan pergi mencari nasi dan arak, jadi tidak ada waktu terbuang sia-sia, bukan?”

Milana tersenyum, agak lebar supaya kelihatan lebih manis, kemudian mengangguk. “Baiklah, Keng In, akan tetapi jangan terlalu lama, ya? Perutku sudah lapar sekali.” “Hi-hik, perutmu lapar atau engkau tidak tahan berpisah lama denganku?”
Ingin Milana meludahi muka pemuda itu untuk kata-kata ini, akan tetapi dia menahan sabar dan hanya melirik sambil cemberut, sikap yang dia tahu menambah kemanisan wajahnya. Keng In tertawa, kemudian berkelebat pergi, kini menuju ke kanan, agaknya di sebelah sana terdapat dusun terdekat.

Kembali berdebar jantung Milana. Sekarang inilah saatnya, pikirnya. Dia tidak boleh membuang waktu lagi. Hampir saja dia tadi celaka. Kalau saja Keng In mendapatkan dia tadi sedang melarikan diri, sedang berlari cepat, tentu rahasianya ketahuan dan mungkin sekarang dia sudah rebah terbelenggu atau tertotok. Dia bergidik, kemudian setelah menanti sejenak agar Keng In berlari cukup jauh ke sebelah kanan puncak, Milana lalu membanting bangkai ayam hutan lalu meloncat melarikan diri, mengambil jalan sebelah kiri puncak.

“Bressss…!” Milana terjengkang dan cepat dia berjungkir balik agar jangan terbanting.

Ketika berlari cepat tadi, tahu-tahu dia menabrak sesuatu yang tiba-tiba menghalang di depannya. Ketika dia memandang, hampir dia menjerit karena yang ditabraknya adalah tubuh kakek iblis guru Keng In yang entah bagaimana dan kapan tahu-tahu telah berdiri di situ dengan kedua lengan bersedakap dan kedua mata terpejam!

“Augghhh…!” Milana merintih menahan rasa ngeri, meloncat ke kiri tubuh kakek itu dan lari lagi.

“Brukkk…!” Kembali dia terjengkang dan ketika meloncat bangun dan memandang, lagi-lagi kakek iblis itu yang ditabraknya.

“Aihhhhh…!” Milana meloncat sambil membalikkan tubuh, berlari lagi untuk menjauhi kakek yang menyeramkan itu, namun ke mana pun juga dia lari, dia selalu menabrak tubuh kakek berdiri itu, yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di depannya. Rasa ngeri bercampur takut membuat dia marah sekali, dengan nekat dia lalu menghantam dada kakek itu!

“Buk-buk-desss!” Tiga kali dia menghantam dan yang ketiga kalinya dia mengerahkan seluruh tenaga, akan tetapi akibatnya dia roboh sendiri! Tubuh itu kaku dan keras seperti baja, sama sekali tidak bergoyang terkena pukulan-pukulannya yang disertai sinkang!

Tiba-tiba rambut Milana yang terlepas dan terurai panjang itu dijambak, tubuhnya diseret. Dengan mata terbelalak dia memandang. Kiranya kakek itu yang menjambak rambutnya dan yang menyeretnya. Dia menangis dan mengeluh, sama sekali tidak melawan karena maklum bahwa menghadapi kakek ini, dia lebih lemah dari pada seorang anak kecil! Setelah tiba di tempat tadi, kakek itu melepaskan jambakannya dan melemparkan tubuh Milana ke atas rumput, sedangkan dia sendiri lalu duduk di atas batu, bersila dan meram seperti tadi, seolah-olah telah berubah menjadi arca!

Milana menghentikan isaknya. Air matanya masih bercucuran, air mata jengkel, marah, dan putus harapan serta kecewa. Sekarang dia memandang kepada kakek itu dengan kemarahan meluap. Biar iblis sekali pun, kakek itu sudah menghalanginya untuk lari, menggagalkan kesempatan baik yang diperolehnya.

“Iblis tua bangka…!” Dia meloncat dan langsung menerjang tubuh kakek itu.

Milana menggunakan jurus terlihai dari Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti), jari tangan kiri menotok ke tengkuk, membidik jalan darah kematian, tangan kanan dengan jari terbuka membacok ke arah lambung dengan pengerahan sinkang. Serangannya ini hebat sekali, selain terarah juga teratur dan disertai pengerahan seluruh tenaganya. Dara yang kecewa ini sudah nekat dan hendak membunuh atau terbunuh oleh kakek itu!

“Plakkk! Bukkk!”

Milana terpekik mundur, kedua lengannya lumpuh. Pukulan tadi tepat mengenai sasaran, akan tetapi tubuh kakek itu sama sekali tidak terguncang, bahkan kedua tangannya terasa nyeri dan lengannya seperti lumpuh. Kakek itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, tiba-tiba tangannya sudah meluncur ke belakang dan menotok jalan darah di pundak Milana, membuat tubuh dara itu kehilangan tenaga dan roboh lemas! Totokan kakek itu hebat luar biasa sehingga Milana tidak hanya lemas, akan tetapi juga lumpuh dan sama sekali tidak dapat digerakkan, kecuali bibir dan pelupuk matanya untuk menangis! Dia rebah miring dan ujung-ujung rumput yang menggelitik pipi dan daun telinganya amat mengganggu, akan tetapi dia tidak dapat menggerakkan kepalanya.

Benar seperti dugaan Milana, menjelang pagi, setelah ayam hutan mulai berkeruyuk dan cahaya di langit timur sudah mulai muncul, baru Wan Keng In muncul, membawa bungkusan nasi, sayur-mayur, dan seguci arak!

“Milana kekasihku, inilah permintaanmu… heiii! Mengapa kau?” Pemuda itu meletakkan bawaannya, berlutut dekat Milana dan cepat membebaskan totokan yang membuat dara itu lemas. Begitu terbebas dari totokan, biar pun tubuhnya masih lemas dan jalan darahnya belum pulih benar, Milana sudah mencelat bangun dan menyerang Wan Keng In!

“Brukkkk! Heiiiii… mengapa kau ini…?” Keng In cepat menangkap lengan Milana dan merangkulnya, meringkusnya membuat dara itu tak mampu melepaskan diri. “Milana bidadariku, pujaan hatiku, kenapa kau…? Mana daging panggang itu dan kenapa kau tertotok?”

Mau rasanya Milana menangis mengguguk. Demikian kecewa dan mendongkol rasa hatinya. Mendengar pertanyaan ini, timbul akalnya untuk mengadu domba antara guru dan murid ini.

“Mau tahu? Tanya saja gurumu tua bangka iblis itu!” Ingin dia membohong, ingin dia menjatuhkan fitnah kepada kakek yang menyeramkan itu, mengatakan bahwa kakek itu hendak memperkosanya, akan tetapi karena sejak kecil dia tidak biasa membohong kata-kata ini tidak bisa keluar dari mulutnya.

Keng In menoleh kepada gurunya yang kini sudah membuka matanya. “Suhu, apakah yang terjadi? Mengapa Suhu membuat Milana rebah dengan totokan?”

“Wan Keng In, engkau ini laki-laki macam apa? Tidak semestinya seorang laki-laki membiarkan dirinya dihina perempuan! Jika kau suka dia dan dia banyak rewel, paksa saja!”

Milana merasa benci bukan main pada kakek itu setelah melihat kakek itu bicara tanpa menggerakkan bibir dan mendengar ucapan yang amat menghina dan merendahkan wanita itu. Jika dia tidak tahu bahwa melawan kakek itu percuma saja, tentu dia sudah menerjang mati-matian.

“Aahhh, Suhu, mana bisa teecu berlaku keras kepada Milana? Tentu dia tadi hendak melarikan diri maka Suhu menotoknya, bukan? Wah, jangan sekali-kali kau melarikan diri, biar pun aku tidak ada. Masih untung bahwa Suhu hanya merobohkanmu, tidak membunuhmu.”

“Aku tidak takut mati!” Milana membentak.

“Huh, perempuan keras hati ini,” kembali kakek itu mengomel. “Dan kau mencinta dia?”

“Benar, Suhu. Aku cinta Milana. Aku ingin menjadikan dia sebagai seorang isteri yang tercinta, yang membalas cintaku, oleh karena itu, sangat mustahil jikalau aku harus mengganggu badan atau nyawanya dengan kekerasan. Harap Suhu suka bersabar menghadapi Milana.”

“Huh, agaknya kau takut mengganggunya. Anak siapa dia?”

“Dia bukan seorang gadis sembarangan, Suhu. Dia adalah puteri tunggal dari Ketua Thian-liong-pang.” “Huh!” Cui-beng Koai-ong mendengus memandang rendah.
Milana sudah bangkit berdiri dan membusungkan dadanya yang sudah busung itu, suaranya lantang ketika dia berkata, “Ibuku tidak hanya Ketua Thian-liong-pang, akan tetapi dia juga Puteri Nirahai puteri Kaisar yang perkasa, dan ayahku adalah Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Tocu Pulau Es! Kalau ayah bundaku tahu bahwa aku kalian culik, tentu mereka akan datang dan mencabut nyawa kalian berdua seperti mencabut rumput saja!”

Kakek yang tadinya kelihatan diam seperti arca itu, kini membuka mata memandang dan Keng In juga kelihatan terkejut karena dia tidak menyangka-nyangka bahwa dara yang dicintanya itu ternyata adalah puteri Pendekar Super Sakti. Cui-beng Koai-ong mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau marah, kemudian tubuhnya mencelat dekat, tangannya bergerak. Milana berusaha mengelak, namun kalah cepat.

“Brettt-brett-brettt…!”

Milana menjerit kaget melihat tubuhnya yang sudah menjadi telanjang bulat sama sekali karena tiga kali renggutan oleh tangan Cui-beng Koai-ong tadi sudah membuat seluruh pakaiannya, luar dan dalam, terobek dan tanggal semua.

“Suhu…!”

Cui-beng Koai-ong melemparkan pakaian itu ke atas tanah. “Perkosa dia! Hayo kau perkosa puteri Pendekar Siluman ini!” katanya kepada Keng In.

Keng In membuka jubah luarnya dan menubruk gadis telanjang bulat yang matanya terbelalak lebar dan mukanya pucat, yang dengan sia-sia mencoba menggunakan tangan untuk menutupi tubuhnya, menutupkan jubah itu menyelimuti tubuh Milana. Dengan cepat gadis itu menggunakan jubah menutupi tubuhnya dan memandang kepada kakek itu dengan sinar mata penuh kebencian akan tetapi juga kengerian.

“Keng In, perkosa dia!” Kembali Cui-beng Koai-ong berkata. “Kalau tidak, aku yang akan melakukannya!” “Suhu, jangan, Suhu. Aku ingin mendapatkan dia dengan suka rela karena aku cinta padanya.”
“Aku tidak peduli kau cinta atau tidak. Saat ini aku ingin melihat engkau memperkosa seorang perempuan, dan kau harus melakukan hal itu!”

“Suhu, tunggu…! Ada orang…!” Wan Keng In berseru dan meloncat ke depan.

Benar saja tampak bayangan berkelebatan dan muncullah lima orang yang gerakannya gesit dan bersikap gagah. Empat orang laki-laki setengah tua yang bersenjata pedang dan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun, juga gagah sikapnya, bersenjata sebatang cambuk.

“Cepat bebaskan Nona itu!” Wanita itu sudah membentak dan cambuknya bergerak mengeluarkan suara meledak-ledak. Juga empat orang laki-laki itu sudah menerjang maju, disambut oleh Keng In yang sudah mengeluarkan pedangnya. Begitu pemuda ini mengelebatkan pedangnya, tampak sinar berkilat dan sinar ini menyambar ke arah empat orang penyerangnya.

“Cringgg trak-trak-trak-trak!”

Empat batang pedang di tangan empat orang laki-laki gagah itu patah semua ketika bertemu dengan Lam- mo-kiam di tangan Wan Keng In, bahkan disusul robohnya tubuh mereka yang hampir putus menjadi dua potong. Mereka roboh dan tak bergerak lagi, mandi darah mereka sendiri.

Milana tadinya hendak bergerak membantu para penolongnya, akan tetapi terpaksa mengurungkan niatnya karena teringat akan tubuhnya yang telanjang bulat dan hanya terselimut jubah luar. Kalau dia bergerak, tentu jubahnya terbuka! Apa lagi melihat betapa dalam segebrakan saja Keng In telah membunuh empat orang itu, harapannya lenyap kembali.

Wanita bercambuk itu menjadi kaget dan marah. Cambuknya menyambar ke arah Wan Keng In yang sambil tersenyum telah menyarungkan Lam-mo-kiam kembali. Cambuk menyambar dan mengenai leher Keng In, melibat leher dan wanita itu menarik. Namun, tubuh Keng In sama sekali tidak bergoyang, bahkan sekali Keng In menarik leher ke belakang, tubuh wanita itu terhuyung ke depan, tertangkap oleh pelukan kedua lengan Keng In. Wanita itu hendak meronta, akan tetapi cambuknya sudah mengikat kedua tangannya sehingga tidak dapat berkutik.

“Apakah Suhu masih tetap ingin melihat aku memperkosa perempuan?” Keng In yang sengaja tidak membunuh wanita ini karena ingin menolong Milana, menoleh kepada gurunya.

“Hem, hayo cepat!” gurunya yang gila itu berkata.

Keng In menotok wanita itu sehingga menjadi lemas, kemudian dia menanggalkan seluruh pakaian wanita itu satu demi satu, melempar-lemparkan pakaian itu kepada Milana sambil berkata, “Milana, kau pakailah pakaiannya, pakaianmu sudah robek semua.”

Milana tidak mengerti apa yang akan terjadi, akan tetapi melihat pakaian itu dilempar-lemparkan kepadanya, ia lalu memakainya. Untung bahwa bentuk tubuh wanita itu hanya sedikit lebih besar dari tubuhnya, maka pakaian itu, dari pakaian dalam sampai pakaian luar, dapat dipakainya dengan baik. Akan tetapi, betapa kaget dan ngeri hati Milana ketika melihat Keng In mulai menanggalkan pakaiannya sendiri kemudian menubruk wanita tawanan yang sudah menggeletak di atas rumput tanpa pakaian itu.

“Kau…!” Milana marah bukan main, lupa diri dan bergerak menyerang Keng In.

Tetapi, dengan tangan kirinya Keng In menyambar cambuk wanita tadi, menggerakkan cambuk itu sehingga ujungnya menotok pundak Milana yang terguling roboh dan tidak mampu bergerak lagi. Gadis ini mula-mula terbelalak memandang penglihatan yang terjadi hanya dua meter di depan matanya, kemudian dia memejamkan matanya dan seluruh tubuhnya menggigil. Hatinya penuh dengan kebencian dan dia berjanji untuk membunuh Wan Keng In dan gurunya itu karena dia menganggap mereka itu bukan manusia, kejam melebihi binatang buas, bahkan iblis sendiri belum tentu seganas dan sejahat mereka!

Biar pun dia telah memejamkan matanya, namun Milana tetap saja mendengar rintihan wanita itu. Betapa heran dirinya setelah beberapa lama, terdengar wanita itu berkata diseling isak, “Aku… aku akan membantumu… aku bersedia menjadi pembantumu yang setia… asal jangan bunuh aku… ampunkanlah aku…, aku telah berani menentang seorang gagah seperti engkau…”

Ucapan itu terhenti, terdengar suara “prakkk!” dan keadaan lalu menjadi sunyi. Tidak terdengar apa-apa lagi. Setelah agak lama, baru Milana merasa pundaknya disentuh dan dia terbebas dari totokan. Dibukanya matanya dan dia terbelalak. Sinar matahari pagi menimpa tubuh yang telanjang bulat, tubuh yang berkulit putih bersih, akan tetapi kini kulit yang putih kuning itu telah berlepotan darah, di antaranya darah yang masih menetes keluar dari kepalanya yang pecah!

“Ihhh…!” Milana menutupi mata dengan kedua tangannya.

Wan Keng In yang sudah berpakaian lagi itu merangkulnya dan berbisik, “Terpaksa kulakukan untuk memuaskan hati Suhu, dan sebagai penggantimu…”

Biar pun masih nanar, Milana maklum apa artinya semua itu, dan kejijikan terhadap Keng In makin menghebat. Direnggutnya secara kasar tubuhnya dari rangkulan Keng In.

Tiba-tiba Wan Keng In meloncat ke atas batu besar di puncak itu, memandang ke arah sekeliling. Kemudian dia melayang turun lagi, berkata kepada suhu-nya yang masih duduk di atas batu, “Suhu, kurang lebih lima puluh orang telah mengurung puncak ini, agaknya teman-teman lima orang itu. Bagaimana baiknya? Apakah teecu amuk dan bunuh saja mereka?”

“Mana anak buah kita?” Kakek itu berkata tak acuh. “Belum ada yang muncul, Suhu.”
“Hemmm…, panggil mereka. Suruh mereka basmi anjing-anjing itu!”

Keng In lalu membuat api unggun, terus ditambahi dahan dan daun kering sehingga bernyala besar sekali. Kemudian dia menggunakan tenaga khikang untuk meniup dan setiap kali tiup, segumpal asap hitam bergulung-gulung ke angkasa. Beberapa kali dia lakukan hal ini dalam jarak-jarak waktu tertentu. Milana hanya memandang dengan heran. Hatinya tegang. Benarkah ada lima puluh orang mengurung tempat ini? Siapakah mereka? Dan siapa pula lima orang yang berusaha menolongnya akan tetapi tewas semua ini?

“Ibuuuuuuu…!” Tiba-tiba Milana berteriak sambil mengerahkan khikang-nya. Suaranya melengking tinggi dan bergema di seluruh lereng gunung.

“Milana, jangan…!” Keng In meloncat dengan sigapnya, mengejar gadis yang berusaha melarikan diri itu dan seperti ketika pertama kali dia menculik Milana, gadis itu dikempit pinggangnya dan dipanggulnya setelah ditotok lemas.

Milana meronta-ronta tanpa hasil. Tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, akan tetapi suara itu mengecewakan hati Milana karena bukan lengking suara ibunya, bukan pula suara ayahnya yang sudah dikenalnya. Dan ternyata memang bukan karena Keng In segera mengeluarkan teriakan yang sama sebagai jawaban. Tak lama kemudian Milana mendengar suara hiruk-pikuk orang bertanding di sekeliling puncak.

“Suhu, anak buah kita sudah mulai berpesta membunuhi mereka,” Keng In berkata dan gurunya hanya mendengus.

“Tahukah engkau, Milana? Anak buah kita, para penghuni Pulau Neraka, telah datang. Sebentar lagi orang-orang yang mengurung kita tentu akan terbasmi dan kita akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Neraka. Jangan mencoba untuk lari lagi, Manis. Kau tahu hal itu percuma, dan pula, bukankah aku sudah bersikap baik terhadapmu? Aku cinta padamu. Milana, berilah ciuman…” Keng In mendekatkan mulutnya, akan tetapi Milana berkata dengan suara mendesis saking marahnya.

“Aku berjanji takkan melarikan diri, berjanji akan menyerah. Akan tetapi kalau kau berani menciumku, berani menjamahku, biar pun aku tidak dapat melawanmu, aku akan membunuh diri!”

Mulut Keng In yang sudah hampir menyentuh pipi Milana itu ditarik ke belakang.

“Aihhh… jangan, Manis. Kalau kau bunuh diri, habis aku bagaimana…?” Ucapannya terdengar tolol dan kekanak-kanakan, atau seperti ucapan orang yang tidak waras otaknya.

“Kalau begitu, lepaskan aku. Aku takkan lari.”

Keng In cepat menurunkan tubuh Milana dan membebaskan totokannya. Mereka bertiga duduk di situ menanti sampai suara hiruk-pikuk dari senjata beradu dan teriakan kematian diseling sorak kemenangan itu makin berkurang, akhirnya berhenti. Tak lama kemudian tampak bermunculan tiga puluh lebih orang- orang Pulau Neraka yang mukanya berwarna-warni, ada yang merah, biru, hijau, merah muda dan hijau pupus. Mereka semua menjatuhkan diri berlutut di depan Keng In dan Cui-beng Koai-ong.

“Mohon ampun atas kelambatan kami, Siauw-tocu.”

“Tidak mengapa,” kata Keng In kepada seorang kakek berkepala gundul bermuka merah muda yang memimpin rombongan orang Pulau Neraka itu. “Kong To Tek, siapa para pengepung tadi dan bagaimana keadaan mereka sekarang?”

“Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang bergabung dengan pengawal-pengawal yang dipimpin oleh seorang panglima pengawal. Kami telah menyerbu dan menurut penglihatan kami, mereka yang jumlahnya lima puluh dua orang telah mati semua, Siauw-tocu. Kami menanti perintah selanjutnya.”

“Bagus! Sediakan sebuah perahu, kami hendak kembali ke Pulau Neraka.”

Orang-orang yang berlutut itu mengangkat muka dan kelihatan terkejut dan tidak menyangka-nyangka. “Dan kami…, Siauw-tocu?”

“Kalian juga. Kita bangun kembali pulau kita, aku yang akan memimpin bersama calon isteriku ini, dibantu oleh Suhu.”

Orang-orang itu bersorak girang. “Perahu sudah siap di pantai dekat goa Naga Hitam, Siauw-tocu.”

Sebentar saja mereka sudah menuntun datang beberapa ekor kuda, yaitu tunggangan para penyerbu yang telah tewas semua itu. Para pengurung puncak itu memang benar rombongan pengawal dari kota raja yang dipimpin oleh seorang panglima. Rombongan ini berhasil mengikuti jejak Wan Keng In dan di sepanjang jalan mereka minta bantuan orang-orang kang-ouw, termasuk empat orang dan seorang wanita yang telah lebih dulu menjadi korban keganasan Wan Keng In itu.

“Apakah Suhu juga hendak menunggang kuda?” Wan Keng In bertanya ragu kepada suhu-nya. Biar pun kakek itu gurunya, namun dia sama sekali tidak mengenal betul keadaan kakek itu, yang gerak-geriknya penuh rahasia dan tidak pernah mau bercerita tentang dirinya sendiri.

Cui-beng Koai-ong mendengus, kemudian sekali berkelebat, tubuhnya yang kaku itu telah lenyap. “Suhu telah pergi lebih dulu ke Pulau Neraka. Hanya kalian kawal kami berdua. Semua orang harus tunduk dan hormat kepada Puteri Milana ini, dia adalah calon isteriku. Siapa yang membuat hatinya tidak senang akan kubunuh!”

Semua orang itu adalah tokoh-tokoh Pulau Neraka dan sebagian di antara mereka sudah mengenal Milana, bahkan sudah pernah bentrok dengan gadis ini ketika Milana memimpin orang-orang Thian-liong- pang. Mereka tahu bahwa Milana adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, maka mendengar bahwa dara yang cantik jelita dan perkasa itu akan menjadi isteri majikan mereka, hati mereka menjadi terheran-heran, akan tetapi juga girang.

Berangkatlah Keng In dengan rombongannya. Milana yang tidak mempunyai harapan untuk dapat lolos lagi itu, kini menurut saja. Yang penting baginya sekarang adalah mencegah Keng In memaksanya sebagai isterinya, dan tentang meloloskan diri, akan diatur sebaiknya kalau sudah ada kesempatan terbuka.

Tiada halangan terjadi yang menghalangi rombongan ini sampai mereka menggunakan perahu melanjutkan perjalanan dan tiba di Pulau Neraka. Milana merasa ngeri melihat keadaan pulau ini. Sebuah pulau liar penuh dengan binatang buas yang beracun, dan biar pun sudah pernah diserbu dan dibakar oleh pasukan pemerintah yang amat kuat, kini tidak kehilangan keangkerannya.

Dia tidak banyak memperlihatkan perlawanan, bahkan membantu ketika Keng In dan anak buahnya membangun kembali bangunan yang telah terbakar. Bahkan dia bersikap baik terhadap Cui-beng Koai-ong yang sudah lebih dulu berada di pulau itu. Dengan perantaraan Keng In, gadis ini malah mulai mempelajari ilmu-ilmu aneh dan mukjizat dari Cui-beng Koai-ong!

“Aku hanya bersedia menjadi isterimu dengan satu syarat, yaitu ayah bundaku harus menyetujuinya. Sebelum itu, biar kau paksa sekali pun, aku tidak akan menurut dan kalau kau menggunakan paksaan, aku akan membunuh diri lalu rohku akan selalu mengejarmu untuk membalas dendam.”

Ucapan yang dikeluarkan Milana dengan sungguh-sungguh ini membuat Wan Keng In maklum bahwa dia harus memenuhi permintaan itu sebelum dia dapat menundukkan dara itu agar secara suka rela menjadi isterinya. Dia merasa tersiksa sekali karena harus menahan nafsunya yang kadang-kadang membakar dirinya. Dia terlalu mencinta Milana dan ingin hidup selamanya di samping wanita ini, maka betapa pun sukarnya, dia akan mengusahakan agar orang tua dara itu menyatakan persetujuannya, kalau perlu dengan kekerasan dan untuk ini dia mengandalkan bantuan gurunya.

Mulailah sebuah kehidupan baru bagi Milana, di atas Pulau Neraka yang sedang dibangun oleh Keng In, di mana dia dikenal sebagai calon isteri Siauw-tocu, dan di mana dia harus mempergunakan seluruh kecerdikannya untuk menyelamatkan diri dari gangguan Keng In tanpa menimbulkan kecurigaan pemuda luar biasa itu.

********************

Andai kata tidak ada Kwi Hong yang menjadi petunjuk jalan, biar pun Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama dan beberapa orang panglima pembantunya pernah melawat ke Pulau Es, namun agaknya perahu mereka itu takkan pernah dapat sampai ke Pulau Es. Berkat petunjuk Kwi Hong, biar pun makan waktu sampai dua pekan, akhirnya sampai juga perahu besar itu dan mendarat di Pulau Es. Kwi Hong melompat ke darat lebih dahulu. Hatinya terharu sekali menyaksikan pulau di mana dia tinggal sejak kecil yang kini keadaannya sudah banyak rusak, istana pulau yang dari jauh sudah kelihatan runtuh bekas terbakar.

Teringat ia akan pemuda Thung Ki Lok yang mencintanya dan tewas oleh pengkhianat Kwee Sui, teringat akan para paman pembantu Pendekar Super Sakti yang tewas dalam pertempuran ketika pasukan pemerintah menyerbu. Hatinya menjadi terharu sekali, akan tetapi tidak ada setitik pun air mata tumpah. Hati dara ini telah mengeras karena gemblengan-gemblengan pengalamannya.

Para tokoh yang membantu Bhong Ji Kun mengikuti bekas Koksu itu meloncat turun pula. Mereka itu adalah Thian Tok Lama yang mengiringkan Pangeran Yauw Ki Ong yang digandeng oleh dua orang selirnya, yaitu bekas-bekas pelayan yang masih bisa melarikan diri bersamanya, disusul oleh Liong Khek, tokoh kurus muka pucat yang tidak ketinggalan membawa senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang gagang pancing lengkap dengan tali dan mata kailnya, Gozan jagoan Mongol yang bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa, Thai-lek-gu Si Pendek Gendut bertangan panjang yang bersenjata sepasang golok, dan seorang yang tinggi besar bersenjata tombak panjang.

Orang ini sikapnya kereng, gerak-geriknya gesit dan dihormat oleh pembantu lainnya. Dia adalah seorang ahli tombak dari selatan, berjuluk Sin-jio (Tombak Sakti) bernama Ciat Leng Souw. Memang ilmu tombaknya hebat bukan main, juga tenaga sinkang-nya amat kuat sehingga di dalam rombongan itu, kiranya hanya Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama saja yang akan mampu menandingi tombaknya yang lihai! Pantas kalau dia dihormat oleh para pembantu bekas Koksu itu.

Selain para jagoan ini, juga ada beberapa orang panglima yang berkepandaian tinggi, dan beberapa orang pelayan biasa, tukang kuda yang bertugas sebagai tukang perahu dalam pelayaran itu. Mereka berbondong turun dan kasihan sekali para pelayan yang tidak memiliki kepandaian tinggi karena begitu mendarat di Pulau Es, mereka sudah menderita kedinginan!

Rombongan Pangeran Yauw Ki Ong yang dikawal Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun ini bersama Kwi Hong jumlahnya masih ada dua puluh orang. Segera atas perintah Bhong Ji Kun, mereka mulai membetulkan bekas istana Pulau Es yang telah terbakar itu. Karena istana itu memang besar dan jumlah mereka tidak begitu banyak, maka tempat itu cukup untuk melindungi mereka dari hawa dingin. Sebuah api unggun yang besar terpaksa harus dinyalakan terus di dalam istana itu melawan hawa dingin.

Ketika Kwi Hong yang telah rindu kepada pulau ini mengadakan peninjauan seorang diri, kesempatan ini dipergunakan oleh Bhong Ji Kun untuk mengajak Pangeran Yauw dan para kaki tangannya untuk berunding. Mereka tadinya membujuk Kwi Hong selain untuk menarik Pendekar Super Sakti di pihak mereka, juga untuk memanfaatkan tenaga gadis itu. Sekarang, setelah Kwi Hong berhasil mengantar mereka ke Pulau Es, mereka harus cepat mengambil keputusan menundukkan gadis itu sebelum gadis berwatak keras dan aneh sukar ditundukkan itu berubah pikiran dan memberontak.

Tetapi diam-diam Bhong Ji Kun dan dibantu oleh Thian Tok Lama dan Sin-jio Ciat Leng Souw melakukan penyelidikan di sekitar pulau sambil mencari-cari pusaka-pusaka Pulau Es itu. Namun usaha mereka tidak ada hasilnya, maka pada keesokan harinya, Bhong Ji Kun mengundang Kwi Hong untuk mengadakan perundingan. Mereka semua berkumpul di dalam ruangan istana, tentu saja para pelayan dan dua orang selir Pangeran Yauw yang tidak ikut.

Kwi Hong masih belum lagi menyadari keadaannya sehingga dia tidak curiga ketika dipersilakan duduk, di antara Thian Tok Lama dan Bhong Ji Kun, sedangkan Ciat Leng Souw duduk di sebelah belakangnya, berhadapan dengan Pangeran Yauw dan para panglima.

“Giam-lihiap, kami berterima kasih sekali bahwa lihiap telah suka membawa kami untuk berlindung di pulau ini. Terpaksa kita semua harus tinggal untuk sementara di sini selama kekuatan pasukan kita belum tersusun. Kita harus mengadakan hubungan dengan saudara-saudara di Mongol, Tibet, dan Nepal, juga mengadakan perhubungan baru dengan kaum orang gagah di pedalaman yang mendendam sakit hati kepada Kaisar. Karena itu, sambil menanti keadaan dan untuk menghilangkan rasa kesepian di pulau yang dingin ini, kami harap saja Lihiap suka memperlihatkan setia kawan dan suka mengeluarkan kitab-kitab pusaka Pulau Es agar kita dapat mempelajarinya untuk menambah pengetahuan.”

Ucapan Bhong Ji Kun ini terdengar seperti guntur di siang hari oleh Kwi Hong. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa bekas Koksu ini akan mengeluarkan pernyataan seperti itu, karena soal pusaka Pulau Es tadinya tidak pernah disinggung dalam persekutuan dan kerja sama mereka.

“Apakah yang kau maksudkan, Bhong-Koksu?” Biar pun sekarang bukan Koksu lagi, namun Kwi Hong dan beberapa orang lain masih menyebut Koksu, hal ini adalah karena memang dia dicalonkan sebagai Koksu juga kalau Pangeran Yauw Ki Ong berhasil dengan pemberontakan itu dan merebut tahta kerajaan.

“Maksudku sudah jelas, Nona.” Suara Bhong Ji Kun terdengar halus namun dingin dan penuh ejekan. “Ketika kami bertugas menyerbu pulau ini, kami tidak dapat menemukan pusaka-pusaka yang tersimpan di Istana Pulau Es. Padahal Istana Pulau Es dahulu adalah tempat tinggal Manusia Dewa Bu Kek Siansu yang terkenal. Maka kami merasa yakin bahwa pusaka-pusaka itu tentulah disimpan dan disembunyikan, dan Nona sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, tentu dapat mengetahui tempat penyimpanannya.”

Bukan main marahnya hati Kwi Hong. Mukanya menjadi merah sekali dan suaranya lantang ketika dia menjawab, “Aku tidak mengerti mengapa engkau membawa-bawa urusan pusaka ke dalam kerja sama kita ini, Bhong-koksu. Akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu akan pusaka yang disimpan. Semua pusaka dan benda berharga Pulau Es telah dibagi-bagikan oleh paman kepada para anggota sebelum dibubarkan, dan kalau kau maksudkan kitab-kitab, semua itu hanya paman yang mengetahui dan menyimpannya.”

“Mustahii Giam-lihiap sebagai muridnya tidak tahu di mana disembunyikannya kitab-kitab itu? Pinceng (Saya) rasa lebih baik Lihiap memperlihatkan kepada Bhong-koksu sehingga terbuktilah bahwa Lihiap memang benar-benar ingin bekerja sama dengan kami,” kata Thian Tok Lama mendesak.

“Aku tidak tahu! Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Kalau tidak percaya, habis kalian mau apa?” Kwi Hong sudah marah sekali dan kedua tangannya yang berada di atas meja dikepal keras.

“Hemm, Lihiap masih bersikap keras kepada kami. Padahal Lihiap adalah pembantu kami dan sebagai pembantu harus taat kepada pimpinan. Perlukah kami harus mengambil jalan kekerasan?”

“Brakkkk!” Kwi Hong bangkit berdiri dan menggunakan tangannya menggebrak meja. Alisnya diangkat ketika matanya dilebarkan, memandang dengan sinar berapi kepada Bhong Ji Kun. “Boleh saja! Siapa takut akan jalan kekerasanmu?”

Pangeran Yauw segera bangkit berdiri, ia mengangkat kedua tangannya ke atas. “Aih-aih… apa perlunya semua ini? Giam-lihiap, harap suka duduk kembali dan harap suka bersabar. Bhong-koksu, tidak semestinya mendesak Lihiap. Kalau Lihiap bilang tidak tahu tentu benar-benar tidak tahu. Giam-lihiap adalah sahabat kita, bahkan aku telah menganggapnya sebagai pengawal yang paling kupercaya. Di antara orang sendiri tidak semestinya terjadi keributan hanya karena soal kecil saja.”

Bhong-koksu tersenyum lebar dan cepat dia berdiri dan menjura ke arah Kwi Hong sambil berkata, “Ahhh, kami sudah terburu nafsu dan harap maafkan kami, Lihiap. Agaknya kekalahan yang kami derita, kemudian keadaan yang penuh kesukaran di sini membuat kami lupa diri. Tetapi, hendaknya Lihiap juga tidak selalu memperlihatkan sikap keras. Sikap Lihiap tentu saja menimbulkan keraguan kami dan hanya ada satu jalan yang kiranya akan membuat keraguan kami lenyap sama sekali, dan bahkan mendatangkan keyakinan di dalam hati kami akan kesetia-kawanan Lihiap terhadap persekutuan kami.”

Kwi Hong mengira bahwa tentu Koksu itu tetap akan minta pusaka Pulau Es, dan kini dengan jalan halus dan bujukan, maka dengan kemarahan ditahan dia bertanya, “Satu jalan apakah yang kau maksudkan?”

Koksu melirik ke arah Pangeran Yauw Ki Ong yang tersenyum dan mengangguk-angguk, kemudian berkata, “Pangeran telah membuka rahasia hatinya kepadaku. Semenjak beliau bertemu dengan Lihiap, beliau telah tertarik dan jatuh cinta kepada Lihiap. Maka Pangeran berkenan mengambil Lihiap sebagai selir, dan tentu saja kelak kalau perjuangan kita sudah berhasil, Lihiap akan diperisteri secara resmi dan besar kemungkinan Lihiap kelak akan menjadi permaisuri.”

Wajah Kwi Hong menjadi pucat seketika, kemudian berubah merah. Maklumlah dia bahwa orang-orang yang disangkanya sahabat ini ternyata adalah orang-orang yang memiliki niat jahat terhadap dirinya, dan ternyata selama ini dia dikelilingi oleh musuh! Teringatlah dia akan arak suguhan Pangeran Yauw dan tentang surat peringatan yang dikirim secara aneh penuh rahasia oleh orang tak dikenal. Bukan main rasa menyesalnya. Dia telah membantu orang-orang jahat ini! Bahkan dia telah membawa mereka ke Pulau Es! Apakah yang telah dia lakukan?

Akan tetapi dia masih menahan sabar dan bangkit berdiri sambil berkata, “Aku tidak dapat menerima permintaan itu!”

Tentu saja semua ini memang telah direncanakan oleh Bhong Ji Kun, Pangeran Yauw dan para pembantunya. Sama sekali bukan maksud mereka untuk mengangkat dara itu menjadi permaisuri. Maksud sesungguhnya adalah kalau sampai Kwi Hong dapat diperisteri oleh Pangeran Yauw, otomatis Pendekar Super Sakti tentu kelak akan mau membantu usaha pemberontakan mereka.

Sekarang melihat sikap Kwi Hong yang dengan keras menolak, Bhong Ji Kun dan para pembantunya meloncat mundur, Pangeran Yauw cepat menyelamatkan diri dan mundur di belakang para jagoannya dan mereka membuat gerakan mengurung Kwi Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap gagah, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan dengan jari-jari terbuka siap di dekat gagang pedang Li-mo-kiam!

“Jika begitu, jelas engkau tidak berniat baik, maka terpaksa kami harus menggunakan kekerasan!” Bhong Ji Kun berkata sambil mencabut senjatanya, pecut kuda berbulu merah dan sebatang golok besar.

Thian Tok Lama juga sudah mengeluarkan sebatang tongkat pendeta, sebuah senjata baru yang kini selalu dipegangnya karena pendeta ini dalam pengalamannya maklum bahwa kedua tangan kosongnya yang biasanya amat ampuh itu tidak cukup untuk menghadapi seorang lawan tangguh seperti murid Pendekar Super Sakti ini. Sin-jio Ciat Leng Souw Si Tombak Sakti sudah siap pula dengan tombak gagang panjang dilintangkan di depan dada, demikian pula para tokoh pembantu Koksu yang lain telah pula siap dengan senjata masing-masing mengurung Kwi Hong.

“Bhong-koksu, harap jangan melukainya, apa lagi membunuhnya,” berkata Pangeran Yauw sebelum mengundurkan diri dari ruangan luas itu.

“Ha-ha, jangan khawatir, Ong-ya. Akan hamba tangkap hidup-hidup untuk Paduka.”

Kemarahan hati Kwi Hong yang terdorong rasa penyesalan besar itu tidak dapat ditahannya lagi. Sambil mengeluarkan seruan melengking tinggi nyaring, dara perkasa itu sudah menerjang maju, menggerakkan pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat dan dia telah menerjang Bhong Ji Kun yang amat dibencinya.

Kakek ini cepat-cepat mengelak dan dia masih sempat berseru, “Ingat jangan bentur senjatanya!

Memang sebelum terjadi pengeroyokan ini, Koksu telah mengatur terlebih dahulu siapa yang akan menghadapi dara ini, dan mereka semua telah diperingatkan untuk tidak mengadu senjata mereka dengan pedang Li-mo-kiam yang amat ampuh itu. Maka semua serangan Kwi Hong hanya dielakkan oleh yang diserangnya, sedangkan teman lain cepat turun tangan menerjang dara itu dari belakang sehingga yang diserang oleh Kwi Hong selalu tertolong, sebaliknya dara itu sendiri yang menghadapi serangan serentak dari belakang dan kanan kiri.

Terjadilah pertandingan mati-matian bagi Kwi Hong karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang tinggi ilmu kepandaiannya. Yang mengepungnya berjumlah sepuluh orang, dan sebagian besar dari mereka yang paling lihai semua memegang senjata panjang. Bhong Ji Kun dengan cambuk merahnya, Thian Tok Lama dengan tongkat pendetanya, Ciat Leng Souw dengan tombak panjangnya, Liong Khek dengan senjata pancingnya, Thai-lek-gu dengan sepasang golok, dan empat panglima lain yang bersenjata pedang. Hanya Gozan yang bertangan kosong, akan tetapi raksasa Mongol ini tidak ikut menerjang maju, hanya siap untuk turun tangan kalau keadaan mengijinkan untuk menangkap dara itu hidup-hidup seperti yang dikehendaki Pangeran Yauw Ki Ong tadi.

Giam Kwi Hong adalah murid Pendekar Super Sakti, dan dia bahkan telah digembleng oleh Bu-tek Siauw- jin, tentu saja ilmu silatnya hebat. Apa lagi di tangannya ada Li-mo-kiam yang ampuh, maka andai kata diadakan pertandingan satu lawan satu, kiranya hanya Bhong Ji Kun seoranglah yang akan mampu mengatasinya, sedangkan Thian Tok Lama dan Ciat Leng Souw kiranya akan menghadapi kesukaran hebat untuk dapat mengalahkan dara perkasa ini.

Akan tetapi kini dia dikepung ketat oleh sepuluh orang, dan mereka itu bersikap hati-hati, tidak mau menangkis pedang Li-mo-kiam, melainkan selalu menyerang serentak dari belakang kalau dia menyerang seorang di antara mereka. Senjata mereka panjang dan ini masih ditambah oleh pukulan-pukulan sinkang jarak jauh yang dilontarkan oleh Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama. Tentu saja Kwi Hong menjadi repot sekali, bahkan beberapa kali dia terhuyung oleh angin pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang dilakukan oleh Thian Tok Lama.

Pendeta Tibet ini memang terkenal sekali dengan ilmu pukulannya ini, pukulan mukjizat yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh. Tangan kanannya berubah menjadi biru dan setiap kali dia melakukan pemukulan dengan dorongan telapak tangan, dari perutnya terdengar bunyi kok-kok seperti ayam betina habis bertelur, dan dari telapak tangannya menyambar uap hitam!

Yang amat merepotkan Kwi Hong adalah ujung pecut merah Bhong Ji Kun yang menyambar-nyambar dari atas, meledak-ledak dan mengancamnya dengan totokan-totokan maut. Namun Kwi Hong tidak menjadi jeri dan sudah mengambil keputusan untuk bertanding mati-matian mempertaruhkan nyawa. Karena dia maklum bahwa di antara mereka semua, yang paling lihai adalah Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama, maka kedua kakek inilah yang menjadi sasaran utama dari sinar pedangnya.

Dengan gerakan yang amat cepat disertai bentakan nyaring, pedang Li-mo-kiam yang berubah menjadi sinar kilat itu menyambar ke atas lalu meluncur ke arah tenggorokan Thian Tok Lama yang cepat meloncat ke belakang. Tetapi sinar pedang itu mengejar terus. Mata pendeta Tibet itu menjadi silau dan terpaksa dengan kaget sekali dia menangkis dengan ujung tongkatnya. Sementara itu, Bhong Ji Kun melihat temannya terancam bahaya, sudah menggerakkan cambuknya dan ujung pecut ini menyambar ke arah jari-jari tangan kanan Kwi Hong yang menggenggam gagang pedang. Hal ini sudah dijaga oleh Kwi Hong, maka tanpa menghentikan serangannya kepada Thian Tok Lama, dia merubah kedudukan kaki sehingga tubuhnya membalik, tangan kirinya menyambar dan menangkap ujung pecut itu sambil mengerahkan tenaga menahan!

“Crokkk!”

Ujung tongkat Thian Tok Lama terbabat patah sedikit dan sinar pedang Li-mo-kiam masih terus menyambar tenggorokannya. Pendeta itu berteriak kaget, dengan terpaksa membuang tubuhnya ke belakang dan bergulingan. Biar pun dia kaget setengah mati, dan ujung tongkatnya patah, namun dia selamat.

Dengan tangan kiri masih memegang ujung pecut, Giam Kwi Hong menggerakkan pedangnya yang gagal mengenai Thian Tok Lama untuk menangkis datangnya senjata yang bertubi-tubi. Semua senjata cepat ditarik kembali karena takut terbabat rusak, akan tetapi tali pancing itu di tangan Liong Khek Si Muka Pucat telah melibat pedang, sedangkan Ciat Leng Souw yang melihat pedang yang ditakuti itu sementara tak dapat dipergunakan karena terlibat tali pancing, cepat membabatkan tombaknya ke arah kedua kaki Kwi Hong!

Dara perkasa itu terkejut sekali. Tangan kirinya masih memegang ujung cambuk Bhong Ji Kun dan pedangnya tertahan oleh tali pancing, kini kedua kakinya terancam bahaya diserampang oleh tombak. Maka dia lalu menggunakan tenaga pertahanan cambuk dan tali pancing, menggenjot tubuhnya dan meloncat ke atas sehingga sambaran tombak itu lewat di bawah kakinya. Tetapi pada saat itu, Gozan yang sejak tadi telah siap menanti saat baik, menubruk ke depan, kedua lengannya yang panjang berbulu dan besar itu telah merangkul tubuh Kwi Hong, meringkusnya dengan kekuatan seekor gajah!

Sebelum Kwi Hong yang kaget sekali dapat melawan, Koksu telah menotok pundak kirinya sedangkan gagang tombak Ciat Leng Souw telah mengetuk lututnya. Tubuh dara itu lemas dan dia tidak dapat bergerak lagi, tak dapat melawan ketika kaki tangannya dibelenggu dan dia diseret dan dilempar ke dalam sebuah kamar di istana itu, dipaksa rebah di atas pembaringan dan kaki tangannya dibelenggu pada kaki pembaringan!

Pangeran Yauw minta dengan sangat kepada Koksu agar Kwi Hong tidak diganggu, dan hal ini pun dipenuhi oleh Koksu yang melarang para pembantunya mengganggu tawanan itu. Dia masih menaruh harapan besar agar Kwi Hong dapat ditundukkan, karena hal ini akan menguntungkan mereka. Sebaliknya, kalau terpaksa gagal, mereka tentu akan dimusuhi oleh Pendekar Super Sakti dan hal ini tidak menguntungkan usaha pemberontakan mereka. Karena inilah maka Koksu memerintahkan kepada para pembantunya yang melakukan penjagaan untuk mengirim makan minum kepada tawanan itu dan memperlakukannya baik-baik.

Akan tetapi, Kwi Hong sama sekali tidak mau makan, bahkan setiap kali ada yang memasuki kamar tahanan, dia memaki-maki dan berusaha meronta. Wajahnya menjadi pucat setelah selama dua hari dua malam dia tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur sama sekali. Mendengar laporan tentang dara itu, Pangeran Yauw menjadi khawatir akan keselamatan Kwi Hong, maka dia mengambil keputusan untuk membujuk sendiri.

Demikianlah pada hari ketiga, setelah menyuruh para penjaga menjauhkan diri agar tidak menyaksikan pertemuan itu, Pangeran Yauw seorang diri lalu memasuki kamar tempat Kwi Hong ditahan. Begitu masuk, pangeran itu mengeluh dan berlutut di dekat pembaringan di mana Kwi Hong dibelenggu kaki tangannya.

“Ahhh, betapa sakit hatiku melihat keadaanmu seperti ini, Nona. Mengapa engkau berkeras kepala? Kalau tidak aku yang minta-minta kepada mereka, tentu engkau telah dibunuh atau diperlakukan lebih mengerikan dari pada kematian. Aku yang minta agar kau tidak diganggu dan dilayani sebaiknya, akan tetapi engkau tetap keras hati.”

“Cukup! Mau apa engkau datang ke sini? Mau bunuh, bunuhlah. Siapa takut mati? Mendengarkan omonganmu yang beracun lebih mengerikan dari pada menghadapi maut!”

“Aihhhh, Kwi Hong… kenapa engkau bersikap begini? Tidakkah engkau melihat bahwa semua kesabaran itu, semua kerendahan ini kulakukan karena aku cinta padamu? Karena aku tergila-gila kepadamu? Engkau menurutlah menjadi isteriku, kelak engkau akan kuangkat menjadi permaisuri, dan…,” suara Pangeran Yauw menurun menjadi bisikan halus, “…sakit hatimu akan terbalas semua. Setelah aku berhasil dengan perjuanganku, aku akan menghukum mampus Bhong-koksu dan semua pembantunya yang telah menghinamu… kau mau bukan menjadi kekasihku, menjadi permaisuriku, sayang?”

“Cuhhh…!” Kwi Hong meludah dan tepat mengenai pipi kanan pangeran itu.

“Aduhhh…!” Pangeran itu terjengkang dan meraba pipinya yang terasa nyeri seperti dihantam benda keras. Matanya terbelalak penuh kemarahan, telunjuknya menuding ke arah muka Kwi Hong. “Perempuan laknat! Berani engkau meludahi aku? Aku akan menyiksamu untuk penghinaan ini! Akan kusuruh semua orang memperkosamu di depan mataku, sampai engkau mampus…!”

Pangeran Yauw tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dan sinar merah menyambar ke lehernya, tubuhnya terangkat ke atas dan ternyata dia sudah tergantung di ujung cambuk yang dipegang oleh Koksu. Mata pangeran itu mendelik, kaki tangannya bergerak-gerak.

“Hemm… engkau hendak membunuh kami kelak, ya? Pengkhianat tak tahu malu, tak mengenal budi!” Bhong Ji Kun melemparkan tubuh di ujung cambuk itu kepada Gozan yang bersama yang lain ikut pula masuk, lalu berkata, “Lemparkan dia dalam keadaan telanjang bulat ke luar!”

Pangeran Yauw berteriak-teriak minta ampun dan melimpahkan janji-janji muluk, tetapi Gozan mengangkatnya seperti seorang mengangkat anak kecil, membawanya keluar dari istana. Pangeran itu meronta-ronta, meratap-ratap, namun tidak ada yang suka atau berani menolongnya. Dengan renggutan- renggutan tangannya yang kuat, Gozan menelanjangi pangeran itu hingga tak ada secarik kain pun yang melindungi tubuhnya ketika tubuh itu dilempar ke atas salju yang dingin. Pangeran itu berlutut, menyembah-nyembah minta ampun, akan tetapi setiap kali dia hendak lari ke istana mencari tempat berlindung dari hawa dingin, dia ditendang ke luar. Akhirnya suara ratapannya makin lemah, tak lama kemudian dia sudah rebah meringkuk dengan tubuh beku kedinginan di atas tumpukan salju!

Dua orang pelayan wanita yang tadinya menjadi selir pangeran dan selalu dipandang dengan sinar mata penuh iri oleh anggota rombongan yang lain, kini menjadi rebutan di antara para pembantu Bhong Ji Kun, kecuali Thian Tok Lama dan Ciat Leng Souw yang telah tua. Satu-satunya nafsu keinginan mereka hanyalah mengejar kedudukan dan kemuliaan. Lalu atas perintah Bhong Ji Kun, kedua orang pelayan muda itu harus menyerahkan diri kepada Liong Khek Si Muka Pucat dan Gozan raksasa Mongol!

Memang patut dikasihani seorang manusia yang hidupnya dikuasai nafsu-nafsu keinginan seperti Pangeran Yauw Ki Ong. Dia sebagai seorang makhluk manusia dengan penghidupannya sama sekali tidak ada artinya, tidak penting lagi karena yang terpenting hanyalah pengejaran segala keinginannya itulah. Ketika tergila-gila kepada Kwi Hong, agaknya pangeran yang entah sudah berapa ratus kali berganti selir- selir baru itu, bersedia untuk bersumpah bahwa dia mencinta Kwi Hong. Akan tetapi kenyataannya, begitu Kwi Hong menolak cintanya, perasaannya yang disebut cinta itu berubahlah menjadi benci yang hebat! Cinta macam itu sungguh tidak ada harganya!

Cinta yang begitu mudah merubah diri menjadi benci, hanyalah nafsu birahi, yang nilainya sama rendah dengan benci. Namun, betapa banyaknya orang yang masih belum sadar akan hal ini, menganggap dengan penuh keyakinan bahwa perasaan seperti itu adalah cinta! Bahkan cinta suci katanya! Ada yang kalau cintanya ditolak berubah benci. Ada pula yang cintanya ditolak lalu membunuh diri. Ini lebih gila lagi, karena apa yang di sebutnya hanya sama nilainya dengan kegilaan, karena hanya orang yang tidak waras otaknya sajalah yang akan melakukan bunuh diri! Bagi mereka yang masih belum sadar ini, cinta mereka sama dengan benci, atau cinta mereka sama dengan gila!

Pangeran Yauw Ki Ong selama hidupnya juga didorong untuk selalu memperoleh yang diinginkan. Dia tidak tahu bahwa nafsu memperoleh ini ujungnya adalah kebosanan. Nafsu memperoleh ini pada awalnya menimbulkan gairah, namun pada akhirnya, setelah yang diinginkannya itu diperoleh, berubahlah gairah menjadi kebosanan, dan timbullah pula nafsu memperoleh hal atau benda lain lagi. Dengan demikian ia terseret dalam lingkungan setan yang tiada berkeputusan, hidupnya seperti makhluk penasaran yang selalu mengejar-ngejar nafsu yang dibuatnya sendiri. Tidak menyedihkankah hidup seperti itu, menjadi boneka permainan nafsu keinginan?

Bhong Ji Kun tak hanya marah kepada Pangeran Yauw Ki Ong yang mengkhianatinya, akan tetapi juga dia marah kepada Kwi Hong yang terang-terangan sampai mati pun tidak akan suka menuruti kehendaknya, yaitu menyerahkan pusaka Istana Pulau Es. Kekecewaan hatinya menimbulkan kemarahan yang membuat dia makin kejam dan ganas, merencanakan hukuman dan siksaan yang dianggapnya paling keji dan hebat bagi Kwi Hong.

“Engkau tetap keras kepala, ya? Baiklah ingin kulihat apakah engkau cukup keras untuk tidak minta ampun seperti Pangeran Yauw, Si Keparat tadi! Dua orang selirnya masih jauh lebih terhormat nasibnya dari pada perempuan keras kepala macam engkau! Setidaknya mereka menjadi milik pribadi dua orang pembantuku yang berkedudukan tinggi! Akan tetapi engkau! Hemmm, biar pun engkau seorang yang masih perawan, akan tetapi engkau akan kuserahkan kepada para bujang, tukang kuda dan pelayan. Engkau akan menjadi milik mereka secara bergiliran! Dan siapa yang dapat membuat engkau mengeluh dan menangis akan kuberi hadiah! Ha-ha-ha, ingin sekali aku mendengar teriakanmu seperti yang dilakukan pangeran gila tadi!”

Para bujang yang jumlahnya ada delapan orang itu tentu saja menyeringai gembira, biar pun hati mereka merasa agak gentar juga. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu kepandaian tinggi, tetapi menghambakan diri kepada seorang majikan macam Bhong Ji Kun, tentu saja membuat watak mereka pun tak dapat dikatakan baik. Setelah mendengar keputusan Koksu yang menghadiahkan gadis tawanan itu kepada mereka, dimulai malam nanti, beramai-ramai delapan orang itu sibuk menjadikan Kwi Hong semacam hadiah undian untuk menarik giliran masing-masing!

Kwi Hong yang masih rebah telentang di atas pembaringan, tak dapat melakukan sesuatu ketika Bhong Ji Kun menotok dua jalan darah di punggungnya yang membuat kaki dan tangannya lemas dan setengah lumpuh. Iia dapat bergerak, tetapi tak mampu mengerahkan tenaga sinkang-nya. Setelah ikatan kaki dan tangannya dilepaskan, dia segera meloncat. Akan tetapi dia terbanting roboh lagi di atas pembaringan karena selain kedua kaki dan tangannya lemas juga tubuhnya lemah akibat kurang makan, kurang minum, dan kurang tidur. Bhong Ji Kun tertawa bergelak lalu meninggalkan kamar tahanan itu.

Kwi Hong rebah miring. Dia maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Maklum bahwa mengandalkan tenaganya, tidak mungkin dia menghindarkan diri dari mala petaka. Tanpa dapat menggerakkan kaki tangan secara leluasa, tanpa dapat mengerahkan sinkang, apa dayanya. Kehormatannya terancam dan dia tidak mampu mempertahankan kehormatannya dengan ilmu silat dan tenaga. Akan habiskah dia? Tidak adakah harapan lagi baginya? Dan pada saat itu, terbayanglah wajah Gak Bun Beng.

Tidak terasa lagi dua titik air mata membasahi pelupuk matanya. Dia mencinta Bun Beng, dan biar pun hanya menjadi rahasia hatinya sendiri, sering kali dia bermimpi berjumpa dengan pemuda itu yang dalam mimpinya juga mencintanya. Beberapa kali dia mimpi bercumbu dengan pemuda itu, bahkan mimpi menjadi isteri pemuda itu. Betapa bahagianya! Akan tetapi semua itu hanya mimpi, dan sekarang dia berada di tepi jurang kehancuran, terancam mala petaka yang lebih mengerikan dari pada maut sendiri, dikorbankan oleh Bhong Ji Kun untuk diperkosa secara bergiliran oleh para bujang tanpa dia dapat mempertahankan diri sama sekali.

“Bun Beng… ahhh, Bun Beng…, di manakah engkau…?” Kwi Hong mengeluh dan air matanya bercucuran.

Apakah dia harus minta ampun kepada Bhong Ji Kun? Akan tetapi tidak mungkin. Hal itu hanya akan menimbulkan bahan penghinaan dari para musuhnya itu, karena dia benar-benar tidak tahu di mana pamannya menyimpan kitab-kitab pusaka Istana Pulau Es. Andai kata dia tahu sekali pun, dia tidak percaya bahwa dengan memberikan kitab-kitab itu dia akan terbebas dari kematian.

Orang-orang seperti Bhong Ji Kun dan kaki tangannya sama sekali tak mungkin dapat dipercaya dan mereka itu baru bersikap baik kalau mempunyai maksud tertentu demi keuntungan mereka sendiri. Buktinya telah ada, Pangeran Yauw sudah merencanakan pembunuhan mereka, dan begitu hal ini diketahui Bhong Ji Kun, dengan kejam pangeran itu dibunuh tanpa ampun lagi. Dia, sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, musuh besar mereka, mana mungkin bisa mendapatkan ampun? Betapa bodohnya dia! Mudah saja ditipu oleh Bhong Ji Kun!

Malam tiba. Hal ini diketahui Kwi Hong dari lenyapnya sinar matahari yang makin menyuram melalui lubang angin di bawah genting kamar tahanan dan terganti sinar penerangan dari ruangan samping. Cuaca menjadi remang-remang dan jantung Kwi Hong berdebar. Bahaya telah mulai datang mendekat dan dia mencari akal bagaimana untuk dapat mempertahankan diri.

Yang akan muncul tentulah seorang di antara pelayan yang sebagian besar sudah tua dan lemah. Biar pun dia tidak dapat mengerahkan sinkang, dan tubuhnya lemas, akan tetapi dia masih menguasai ilmu silat. Dia akan menggunakan sedikit tenaga yang ada untuk merobohkan, kalau bisa membunuh setiap laki-laki yang berani menjamahnya! Dia tahu caranya. Dengan tendangan perlahan mengenai alat kelaminnya, dengan tusukan jari tangan mengenai matanya, dua serangan ini saja, betapa pun lemahnya, cukup membuat pengganggunya tak berdaya.

Timbul lagi harapannya untuk lolos dari ancaman bahaya ini. Untung bahwa kebencian Bhong Ji Kun kepadanya amat besar sehingga saking inginnya menghinanya sampai serendah-rendahnya, dia tidak diberikan kepada para pembantunya yang memiliki kepandaian tinggi, meiainkan kepada para bujang untuk diperkosa secara bergilir. Kalau dia diberikan kepada seorang seperti Thai-lek-gu atau Gozan, tentu akan habis harapannya, karena dalam keadaannya seperti ini takkan mungkin dia melawan seorang di antara mereka. Dia bergidik! Membayangkan betapa dia dipermainkan seorang laki-laki seperti Gozan, raksasa Mongol yang tubuhnya berbulu-bulu sampai ke jari tangan dan lehernya itu!

“Gerriiittt…!” Pintu kamar tahanan terbuka dari luar, bayangan seorang laki-laki agak bongkok memasuki kamar, membalik dan menutupkan kembali daun pintu.

Dengan gerakan otomatis Kwi Hong meloncat dari keadaan berbaring. Dia lupa diri, maka loncatan itu membuat tubuhnya terbanting kembali ke atas pembaringan. Dia menahan keluhan, terpaksa bangkit duduk di atas pembaringan dengan mata terbelalak memandang laki-laki itu yang sekarang sudah membalikkan tubuh lagi menghadapinya sambil menyeringai.

Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar akan tetapi agak bongkok dan kurus, mukanya penuh brewok yang sudah bercampur uban, usianya tentu kurang lebih enam puluh tahun, pakaiannya tidak karuan dan sepasang matanya bergerak liar, mulutnya menyeringai aneh, Si Gila! Kwi Hong pernah melihat seorang di antara pengurus kuda yang keadaannya menyedihkan ini dan oleh teman-teman pelayan lain dia disebut Si Gila. Aihh, benar-benar Bhong Ji Kun ingin merendahkannya sampai yang paling hina sehingga untuk malam pertama itu dia diserahkan kepada pelayan paling mengerikan dan menjijikkan!

“Heh-heh-heh-heh, ini namanya hukum karma…!” Si Gila itu melangkah perlahan-lahan menghampiri Kwi Hong, tangan kirinya memegang sebatang tabung bambu. Ketika bicara, air ludahnya muncrat-muncrat.

Saking jijiknya, Kwi Hong segera turun tangan. Dia turun dari pembaringan, menahan napas mengumpulkan semua tenaga yang ada, kemudian melakukan serangan dengan jari-jari tangan kiri menusuk ke arah mata Si Gila itu, disusul gerakan kaki kanannya menendang ke bawah pusar. Biar pun serangannya itu tidak mengandung tenaga sinkang, dan tidak lebih hanya mengandung tenaga seorang wanita yang hampir kelaparan, namun kalau mengenai sasaran, mata dan anggota kelamin, agaknya cukup membuat Si Gila itu terjungkal!

“Ehhh…?” Si Gila berseru dan tubuhnya bergerak cepat di luar dugaan Kwi Hong.

Tusukan mata dapat dielakkan, tendangan berhasil ditangkis, dan tubuh Kwi Hong didorong kembali hingga jatuh ke atas pembaringan dalam keadaan telentang! Celaka, pikirnya. Kiranya Si Gila ini bukanlah orang yang lemah. Bahkan gerakan-gerakannya tadi jelas membayangkan gerakan silat yang cukup baik! Habislah harapan Kwi Hong dan dia mulai ketakutan ketika Si Gila mencelat dan duduk di pinggir pembaringan sambil terkekeh-kekeh.

“Hukum karma atau bukan… heh-heh-heh… aku tidak rela engkau dipermainkan orang. Lebih baik kau mati saja dari pada diperkosa mereka secara bergilir.” Si Gila itu lalu membuka tutup tabung bambu. “Bocah bodoh, kenapa engkau tidak membunuh diri saja? Apa… apa engkau memang suka untuk diperkosa secara bergilir oleh mereka?”

Kwi Hong memandang dengan mata terbelalak. Orang ini bicaranya tidak karuan, jelas bahwa otaknya miring, akan tetapi isi kata-katanya benar-benar membuat dia berdebar.

“Apa… apa maksudmu…?”

“Biar pun ibumu diperkosa, tetapi pemerkosanya bertanggung jawab dan memang mencinta ibumu. Sedangkan mereka yang hendak memperkosamu secara bergiliran hanya ingin mempermainkanmu, ingin memakaimu seperti orang memakai pakaian yang kalau sudah butut dan rusak dicampakkan begitu saja dan tidak ditoleh lagi!”

“Apa… apa maksudmu dengan Ibu…?”

“Heh-heh! Ibumu masih perawan tulen ketika diperkosa, seperti engkau… heh-heh-heh, akan tetapi pemerkosanya bertanggung jawab, ibumu dijadikan isterinya… dan engkau terlahir. Biar pun ibumu diperkosa, aku tidak rela melihat engkau diperkosa orang! Heh-heh-heh, biar pun aku memperkosa ibumu, tetapi aku cinta padanya… dan aku yang membunuhnya… heh-heh, akan tetapi… aku tidak rela melihat engkau diperkosa orang! Lebih baik kau mati!”

Si Gila itu menggerakkan tabung bambu dan keluarlah seekor ular merah. Karena disentakkan keluar, ular itu tiba di leher Kwi Hong, akan tetapi begitu dia menyentuh leher Kwi Hong sambil dipandang oleh Si Gila yang terkekeh-kekeh, tiba-tiba ular itu menyambar membalik dan menggigit lengan Si Gila.

“Auggghhhh…!” Si Gila memekik dan roboh di atas lantai. “Kwi Hong… lebih baik kau mati dari pada diperkosa… ahh…” Si Gila itu masih sempat berkata kemudian tubuhnya berkelojotan dan ular merah ikut bergerak-gerak di lengannya.

Kwi Hong bangkit berdiri, terbelalak dengan muka pucat memandang wajah Si Gila yang berkelojotan itu. Kini teringatlah dia. “Ayaaahhhh…!” Ia menubruk.

Tentu saja! Tentu saja orang ini ayahnya! Dan tentu ayahnya ini pula yang dahulu memperingatkannya tentang arak beracun di taman yang disuguhkan Pangeran Yauw. Ayahnya telah menjadi gila, atau berpura-pura gila? Bagaimana mungkin dia mengenal ayahnya, yang ditinggal pergi bersama pamannya ketika dia masih kecil? Apa lagi ayahnya yang dahulunya seorang perwira tinggi itu kini telah menjadi tukang kuda yang gila dan pakaiannya tidak karuan. Bagaimana dia dapat mengenalnya?

Betapa pun juga, sampai saat terakhir ayahnya dengan cara gilanya masih berusaha menyelamatkannya dari perkosaan dan penghinaan, yaitu dengan cara membunuhnya. Tentu ayahnya tidak tahu bahwa di dalam tubuhnya telah mengalir obat penolak ular merah sehingga begitu mencium kulit lehernya, ular itu menjadi takut dan membalik menggigit Si Gila sendiri! Entah bagaimana ayahnya dapat menangkap ular dalam tabung itu.

“Ayah…!” Akan tetapi Kwi Hong maklum bahwa ayahnya telah mati.

Racun gigitan ular merah memang amat hebat. Bagi yang lemah berakibat kematian, bagi yang kuat sekali pun akan mendatangkan pengaruh mukjizat, ada yang menjadi terangsang nafsu birahinya, ada pula yang menjadi gila!

Melihat ayahnya, biar pun gila dan menjijikkan akan tetapi tetap ayah kandungnya, menggeletak tak bernyawa lagi dan kini wajahnya yang tadi diselubungi kegilaan tampak tenang dan makin jelas persamaannya dengan wajah ayahnya dahulu, Kwi Hong menjadi marah. Dipegangnya ular itu, ditariknya terlepas dari lengan ayahnya, dan akan dibantingnya. Akan tetapi dia teringat dan tiba-tiba wajahnya berseri biar pun air matanya bercucuran ketika dia memandang ayahnya.

“Ayah, beristirahatlah dengan tenang, Ayah. Usaha pertolongan Ayah tidak sia-sia, anak berterima kasih, Ayah.”

Dia lalu menggerakkan sisa tenaganya, menggurat-guratkan tubuh ular pada batu dinding yang agak kasar sehingga kulit itu pecah terluka dan berdarah. Ular itu sama sekali tidak berani melawan, dan setelah dilepaskan di atas lantai dekat mayat Giam Cu, bekas perwira ayah Kwi Hong yang telah menjadi gila itu, ular berkelojotan dan darah mengucur dari luka-lukanya. Kwi Hong maklum bahwa darah ular merah yang keluar dari seekor ular merah yang masih hidup mempunyai bau yang mengandung daya mengundang ular-ular merah lain.

Telah dituturkan di bagian depan cerita ini betapa Giam Cu, panglima tinggi besar brewok yang diwaktu bala tentara Mancu menyerbu ke selatan telah memperkosa Sie Leng, gadis enci (kakak perempuan) Pendekar Super Sakti, akan tetapi lalu menculik gadis itu dan menjadikannya sebagai isterinya (baca cerita Pendekar Super Sakti). Dalam pernikahan ini Sie Leng mempunyai seorang anak perempuan, yaitu Giam Kwi Hong.

Ketika Pendekar Super Sakti dituduh melarikan Puteri Nirahai, dalam kekhawatirannya tersangkut karena isterinya adalah enci Suma Han, Giam Cu lalu membunuh isterinya sendiri. Perbuatannya ini membuat dia menyesal bukan main karena dia memang mencinta isterinya. Maka setelah Kwi Hong dilarikan Suma Han, perwira tinggi ini menjadi gila! Tentu saja dia tidak dapat menduduki pangkatnya lagi, dan akhirnya orang tidak tahu ke mana dia pergi. Kiranya, setelah gila dan terlantar, tidak ada orang yang mengenalnya lagi, diam-diam bekas perwira yang gila ini bekerja sebagai tukang kuda di istana Koksu!

Melihat mayat ayahnya, Kwi Hong merasa terharu. Dia mengangkat mayat itu ke atas pembaringan, pekerjaan yang amat sukar bagi tenaganya yang masih lemas itu, kemudian dia duduk bersila, mengumpulkan hawa Swat-im Sinkang yang dilatihnya sejak kecil, perlahan-lahan dia berusaha memulihkan tenaganya dan membuyarkan pengaruh totokan sambil menanti hasil usahanya memanggil ular-ular dengan darah ular merah tadi.

Betapa girangnya ketika hidungnya mencium bau wangi-wangi yang aneh namun tidak asing baginya, dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara mendesis-desis dan tampaklah ular-ular merah merayap- rayap datang dari segala penjuru, memasuki kamar tahanan itu! Kegirangan Kwi Hong bukan hanya karena ular-ular itu dapat melindunginya sehingga orang-orang hendak mengganggunya tidak berani mendekat, akan tetapi juga hawa beracun dari ular-ular merah itu mempunyai daya yang mukjizat.

Hal ini adalah penemuan pamannya dan dia pernah disuruh berlatih sinkang di antara ular-ular merah ini dan hawa yang bagi orang lain mengandung racun berbahaya itu, baginya adalah memperlancar latihannya. Karena itu, kini dengan bantuan hawa beracun, dia makin tekun melancarkan jalan darahnya dan menghimpun tenaga sinkang untuk memulihkan tenaganya. Dia tetap duduk bersila di lantai, membiarkan pembaringannya ditempati mayat ayahnya.

Kalau dia teringat masa lalu, dia terbayang di depan matanya betapa ibu kandungnya dibunuh ayahnya ini, ditusuk dadanya sampai tembus dengan pedang, maka ingatan itu membuat dia tidak dapat berduka oleh kematian ayahnya. Namun, melihat betapa setelah tersiksa dan hidup seperti orang gila, namun pada saat- saat terakhir masih berusaha melindungi anaknya, hatinya merasa terharu juga.

“Ular…! Ular…!”

Jeritan-jeritan itu terdengar dari mulut para penjaga ketika mereka melihat ular-ular merah, apa lagi ketika mereka mengejar ular-ular itu ke kamar tahanan, melihat gadis tawanan itu duduk bersila di atas lantai tengah kamar, dikelilingi ular merah ratusan banyaknya, dan tubuh Si Gila yang menjadi mayat menggeletak di atas pembaringan.

Tak lama kemudian Koksu dan teman-temannya datang. Mereka berada di luar kamar memandang dengan mata terbelalak.

“Mundur semua! Ular-ular itu beracun!” bekas Koksu Bhong Ji Kun berteriak dan semua orang cepat mundur karena bau harum bercampur amis itu pun membuat mereka muak dan tidak tahan.

Tentu saja kecewa sekali hati Kwi Hong. Tenaganya belum pulih, dan dia sudah ketahuan. Kalau Bhong Ji Kun turun tangan, tentu dia tidak mampu membela diri. Akan tetapi dia tidak memperlihatkan rasa takut, bahkan tersenyum dan menggertak,

“Siapa berani mendekati aku, tentu akan mampus! Bhong Ji Kun, aku ingin sekali melihat apakah engkau berani memasuki kamar tahanan ini!”

Bhong Ji Kun menggereget giginya. “Perempuan siluman! Lekas kau enyahkan semua ular itu, kalau tidak, kamar ini akan kubakar sampai engkau dan ular-ularmu mati hangus!”

Tentu saja ancaman membunuhnya dengan cara apa pun juga tidak mendatangkan rasa takut di hati Kwi Hong. Dia memang sudah berada di ambang maut, peduli apa dengan segala gertakan? Akan tetapi dia tidak ingin melihat ular-ular itu ikut pula mati terbakar, dan pula, selama masih ada kesempatan, dia harus mempergunakannya untuk menyelamatkan diri. Kalau sudah tidak ada jalan lain, dalam menghadapi penghinaan, kini dia menemukan cara yang paling tepat, seperti yang dikatakan oleh ayah kandungnya tadi, yaitu membunuh diri! Takut apa lagi? Ia tersenyum.

“Bhong Ji Kun, engkau menyuruh aku mengusir ular-ular ini, kalau mereka sudah pergi, kau akan senang melihat aku diganggu orang-orangmu, bukan? Benar-benar engkau seorang yang amat baik hati. Baiklah, aku akan mengusir ular-ularku. Buka pintu kamar ini agar lebih cepat mereka pergi.”

Bhong Ji Kun sendiri melangkah maju membukakan pintu, sedang para pembantunya berdiri di belakangnya dengan muka membayangkan kengerian. Mereka sungguh merasa heran mengapa gadis tawanan itu dapat mengumpulkan ular beracun sekian banyaknya dan sama sekali tidak terganggu! Benar- benar seorang gadis yang amat lihai dan tak boleh dipandang rendah.

Kwi Hong mengeluarkan bunyi dengan lidahnya untuk membangkitkan perhatian ular-ular itu, mengambil ular yang terluka dan masih berkelojotan, kemudian tiba-tiba dia melempar ular terluka itu ke arah Bhong Ji Kun sambil membentak, “Makanlah ini!”

Bhong Ji Kun cepat mengelak, lalu meloncat jauh ke pinggir. Di belakangnya terdengar orang berseru kaget dan ular yang terluka itu ternyata mengenai dadanya, dan… semua ular merah yang berada di dalam kamar itu menyerbu keluar dan langsung menyerang Panglima Mancu yang terkena ular terluka tadi, tubuhnya penuh dengan ular merah yang langsung menggigit. Panglima itu memekik nyaring mengerikan dan roboh berkelojotan terus tewas seketika!

Bhong Ji Kun sudah meloncat ke dalam kamar tahanan yang sudah tidak ada ularnya. Kwi Hong meloncat bangun, namun tubuhnya masih belum pulih, masih lemah maka dalam beberapa gebrakan saja dia telah roboh oleh Bhong Ji Kun yang lihai.

“Gunakan api, usir ular-ular itu!” Bhong Ji Kun berteriak marah.

Para pembantunya cepat menggunakan api. Benar saja, ular-ular itu segera melarikan diri keluar dari tempat itu. Seperti binatang-binatang apa saja di dunia ini, ular-ular itu pun takut sekali akan api yang amat panas itu.

“Bhong-koksu, bunuh saja gadis itu!” Thian Tok Lama berkata.

Ucapan ini dibenarkan semua pembantu Bhong Ji Kun. Setelah menyaksikan betapa dalam keadaan lemah saja gadis itu telah berhasil mengakibatkan kematian seorang bujang dan seorang panglima, mereka menjadi gentar dan akan selalu cemas sebelum gadis yang berbahaya itu dibunuh.

“Dia sudah kutotok dan takkan dapat bergerak selama semalam suntuk. Memang mudah membunuhnya. Akan tetapi kalau dipikir lagi, apa gunanya membunuhnya? Kurasa, kalau dia hidup dia lebih berguna dari pada kalau dia mati. Siapa tahu gunanya kelak. Biarlah besok kita rundingkan lagi, pendeknya dia harus selalu dijaga ketat agar tidak mendapat kesempatan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan lagi.”

Keputusan Bhong Ji Kun ini membuat Kwi Hong hampir kehilangan akal dan kehabisan harapan karena selain tertotok, dia pun dibelenggu kaki tangannya, dilempar ke atas pembaringan dalam kamar tahanan itu, pintunya dipalang dari luar dan di luar pintu selalu ada dua orang pembantu Bhong Ji Kun yang berdiri menjaga dengan bergilir! Andai kata dia dapat membebaskan totokan, dia harus membebaskan belenggu, dan masih harus berhadapan dengan dua orang penjaga yang berilmu tinggi dan yang tentu akan memanggil datangnya Bhong Ji Kun dan para pembantunya yang lain!

Akan tetapi, kenyataan bahwa dia belum dibunuh oleh Bhong Ji Kun menimbulkan harapan baru. Hal itu hanya berarti bahwa bekas Koksu itu masih ingin melihat dia hidup, dan selama masih ada harapan untuk hidup, dia tidak akan putus asa dan tidak akan membunuh diri seperti yang dianjurkan ayah kandungnya. Memang amat mudah membunuh diri, tidak memerlukan tenaga dan biar pun dia dibelenggu seperti itu, masih amat mudah membunuh diri. Bagi seorang yang terlatih seperti dia, menahan napas dan dengan paksa menghentikannya sudah cukup untuk membuat nyawanya melayang, atau lebih sederhana lagi, menggigit lidahnya sendiri sampai putus!

Gadis yang keras hati dan tahan uji ini sama sekali tidak tahu bahwa pada keesokan harinya terjadi perubahan yang amat besar, terjadi peristiwa hebat sekali di Pulau Es. Peristiwa itu dimulai dengan munculnya Majikan Pulau Es sendiri, Suma Han Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang datang berperahu bersama dua orang wanita sakti, Nirahai dan Lulu, atau kedua orang isterinya yang bersama dia akan memulai hidup baru di pulau itu!

Ketika pagi hari itu Suma Han tiba di Pulau Es dan melihat sebuah perahu besar telah berlabuh di pantai, pendekar ini mengerutkan alisnya dan berkata kepada dua orang isterinya. “Agaknya kita telah didahului tamu-tamu tidak diundang. Jarang ada orang luar berani mendatangi Pulau Es. Nirahai dan Lulu, kita sudah saling berjanji tidak akan mencari urusan di luar, karena aku tahu bahwa kalian masih mempunyai kekerasan hati, maka apa pun yang terjadi nanti, kuharap kalian tinggal diam dan menonton saja. Biarlah aku sendiri yang akan menanggulanginya.”

Nirahai dan Lulu saling pandang, tersenyum dan keduanya mengangguk. Telah terjadi perubahan besar atas diri pria ini, pria berkaki buntung yang mereka cinta dan junjung tinggi. Jika dahulu Suma Han merupakan seorang pendekar sakti yang berhati lemah, kini mulai tampak kejantanannya, dan pertama- tama kejantanannya itu diperlihatkan dengan menguasai kedua orang isterinya!

Setelah menarik perahu kecil mereka di pantai yang dangkal, ketiganya melompat turun ke darat dan berdiri tegak dengan sikap tenang, memandang Bhong Ji Kun yang sudah diberi kabar oleh anak buahnya dan kini berlarian datang menyambut bersama seluruh pembantunya, dengan senjata siap di tangan masing-masing. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan berdebar penuh kegelisahan hati Bhong Ji Kun ketika melihat bahwa yang datang bukan hanya Pendekar Super Sakti seorang, melainkan ditemani oleh Puteri Nirahai bekas Ketua Thian-liong-pang dan Lulu bekas Majikan Pulau Neraka! Baru Pendekar Super Sakti seorang saja sudah merupakan seorang lawan yang amat menakutkan dan amat berat dilawan, apa lagi masih ada dua orang wanita sakti itu!

Dengan sikap tenang Suma Han, Nirahai, dan Lulu berdiri di pantai. Hanya bola mata mereka yang bergerak, melirik ke arah Bhong Ji Kun dan para pembantunya yang datang dari kanan kiri. Diam-diam Suma Han merasa lega ketika mendapat kenyataan bahwa yang boleh dicatat sebagai lawan tangguh hanyalah Bhong Ji Kun sendiri, Thian Tok Lama, dan agaknya orang yang memegang tombak gagang panjang itu. Dia merasa sanggup untuk mengatasi mereka.

Akan tetapi dia merasa curiga melihat sikap Bhong Ji Kun yang kelihatannya sama sekali tidak takut kepadanya, padahal dia datang bersama Nirahai dan Lulu. Salah seorang wanita itu sendiri saja sudah cukup untuk menandingi Bhong Ji Kun! Akan tetapi kakek itu begitu berani menyambutnya dengan sikap seolah-olah keadaannya lebih kuat. Tentu ada apa-apanya ini!

“Aha, Pendekar Super Sakti, engkau baru datang? Sudah lama kami mengharapkan kedatanganmu!” kata Bhong Ji Kun sambil menekan debar jantungnya.

“Hemm, mengunjungi tempat orang tanpa ijin, dan selagi tempat itu ditinggalkan penghuninya. Hanya orang seperti engkaulah yang tidak malu melakukan kedua hal itu, Im-kan Seng-jin,” kata Suma Han dengan suara halus namun nadanya cukup membuat para pembantu Bhong Ji Kun merasa seram.

Di antara mereka semua, hanya Ciat Leng Souw seorang yang belum pernah bertemu dengan Suma Han, hanya mendengar nama julukannya saja. Kini melihat bahwa orang yang disohorkan sebagai dewa atau siluman itu ternyata hanyalah seorang yang wajahnya masih muda dan tampan, rambutnya putih semua, dan sebuah kakinya buntung, senjatanya hanya sebatang tongkat butut. Apanya sih yang perlu ditakuti?

Berubah wajah Bhong Ji Kun mendengar ucapan itu. “Harap Tocu (Majikan Pulau) tidak salah paham, karena sesungguhnya kedatangan kami ke sini bukan sebagai tamu tidak diundang.”

“Tidak sebagai tamu, melainkan sebagai pelarian-pelarian perang yang sudah hancur kekuatannya!” Nirahai tak dapat menahan hatinya dan berkata nyaring, akan tetapi tidak melanjutkan karena Lulu menyentuh tangannya, membuat dia teringat akan larangan suaminya!

Bhong Ji Kun menjura ke arah Nirahai dan Lulu. “Pelarian sementara! Karena itulah, maka kami bergembira sekali kini berhadapan dengan Pendekar Super Sakti dan dengan Ji-wi Lihiap (Kedua Wanita Pendekar) yang berilmu tinggi, karena kami yakin bahwa dengan kerja sama antara kami dengan Sam-wi (Anda Bertiga), kekalahan kami akan tertebus dan akhirnya perjuangan kami akan berhasil.”

“Apa?! Mengajak kami bekerja sama…?” Nirahai kembali berseru saking herannya. “Aihh, dia sudah gila!” Lulu juga tidak dapat menahan untuk berseru heran.
Siapa orangnya tidak akan heran. Dia dan Nirahailah yang memimpin pasukan pemerintah menghancurkan pemberontak ini, dan sekarang bekas Koksu pemberontak itu mengajak mereka untuk bekerja sama memberontak. Hanya orang gila saja yang mengajukan usul demikian.

Akan tetapi Suma Han berpikir lain. Sejak tadi dia sudah curiga menyaksikan sikap Koksu Bhong Ji Kun yang memberontak itu sama sekali tidak gentar, bahkan kelihatan terlalu berani. Sekarang dengan pertanyaannya itu, yaitu mengusulkan kerja sama, bahkan bukan mengusulkan, karena kata-katanya itu seperti menentukan, makin jelas bahwa tentu ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang membuat bekas Koksu ini yakin akan kemenangannya!

“Im-kan Seng-jin, apa yang membuat engkau begitu yakin bahwa kami akan suka bekerja sama denganmu? Tidak perlu bersikap rahasia, katakanlah saja!” Suma Han berkata sambil memandang tajam.

Akan tetapi, teringat akan nasehat mendiang Maharya agar berhati-hati menghadapi Pendekar Siluman ini, terutama jangan sekali-kali menentang pandang matanya, sejak tadi Bhong Ji Kun tidak pernah berani bertemu pandang dengan pendekar itu. Bhong Ji Kun bertepuk tangan, isyarat yang memang sudah diatur sebelumnya dan muncullah seorang Mongol raksasa mengempit tubuh Kwi Hong yang kaki tangannya dibelenggu, wajahnya pucat dan pakaiannya compang-camping.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo