September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 20

 

“Trakkk!” Ujung batu yang diduduki Suma Han dicuwil oleh tangan Si Pendekar yang mencengkeramnya. “Siauw-jin, siapa sudi bicara main-main denganmu? Hati-hatilah engkau bicara, jangan mencoba mengusik hatiku yang sedang tidak senang. Aku tidak ingin kesalahan tangan membunuh seseorang yang telah bersikap baik kepada keponakanku!”

“Nah, itulah contohnya kalau orang selalu dipengaruhi oleh pikiran sendiri, Suma-taihiap. Kalau sampai engkau turun tangan dan berhasil membunuhku, bukanlah aku yang mengusik hatimu, melainkan pikiranmu sendiri. Pikiran memang menjadi biang keladi segala peristiwa di dunia ini, pikiran amat licin dan cerdiknya menipu diri sendiri. Ha-ha-ha!”

“Hemmm, engkau bicara seperti orang gila, seperti teka-teki. Apa maksudmu?”

“Seperti kukatakan tadi, suka mau pun duka bukan datang dari luar melainkan dari pikiran kita sendiri, karena itu, sebagai seorang yang bijaksana dan sakti sepertimu ini, mengapa mau saja diperbudak oleh pikiran?”

“Bu-tek Siauw-jin, ucapanmu aneh dan kacau-balau. Aku telah dikaruniai pikiran, mengapa tidak akan kupergunakan?”

“Ha-ha-ha, siapa yang mengaruniaimu? Dan siapakah itu yang kau sebut aku yang mempunyai pikiran? Pendekar Super Sakti, dengarlah baik-baik segala yang hendak kukemukakan, karena semua kesadaran ini kudapat setelah mendengar petunjukmu di dalam kamar tahanan. Dengarkanlah dengan hati kosong terbuka, tanpa penilaian, tanpa kesimpulan, dengarkan saja baik-baik. Aku bukan bermaksud memberi pelajaran kepadamu, bukan bermaksud mengurui. Sama sekali tidak karena engkau jauh lebih pandai dari pada aku. Maukah engkau mendengarkan?”

“Bicaralah, kakek aneh.”

“Pikiran adalah penampungan masa lalu, gudang dari semua hal yang dialami seratus tahun yang lalu atau kemarin. Pikiran adalah kenangan dari semua itu, mengenangkan hal yang menyenangkan dan hal yang tidak menyenangkan. Dengan sendirinya pikiran menciptakan Si Aku yang tentu saja segera melakukan pemilihan, menghindarkan hal yang tidak menyenangkan dan rindu akan hal yang menyenangkan. Kalau sudah begini, bagaimana tidak akan timbul suka dan duka? Bagaimana tidak akan timbul iri, dendam, benci dan sengsara?”

“Nanti dulu!” kata Suma Han nyaring dan untuk sejenak keduanya berdiam, menerima ucapan tadi yang meresap di dalam diri mereka. “Coba jelaskan lagi, bagaimana pikiran mula-mula mengemudikan dan menguasai kita.”

“Kita melihat setangkai kembang yang indah dan harum. Takkan terjadi akibat sesuatu yang buruk dari kejadian ini. Akan tetapi pikiran lalu masuk dan mengacaunya. Pikiran membayangkan hal-hal yang menyenangkan dari masa lalu mengenai kembang itu, dan karena pikiran berputar dengan pusatnya Si Aku yang diciptakannya, maka timbullah nafsu keinginan untuk memetik kembang itu, untuk menciumnya, dan untuk mengambilnya sebagai miliknya pribadi! Nah, setelah demikian, mulailah kekacauan yang akan terus berekor dan berakibat. Kembang dipetik secara kasar dan marahlah Si Pemilik kembang, disusul percekcokan dan lain-lain.”

“Aku dapat mengikuti dan mengerti uraianmu itu, Bu-tek Siauw-jin. Memang agaknya tidak salah lagi bahwa nafsu keinginan timbul dari pikiran yang mengenangkan pengalaman masa lalu yang memisah- misahkan kesenangan dan penderitaan. Hal-hal yang menimbulkan kesenangan melekat dan ingin didapatkan terus, sedangkan hal yang sebaliknya ingin dihindarkan. Pendapat dibentuk dan ditentukan oleh pusat yaitu Si Aku, sehingga yang menyenangkan Si Aku selalu dikejar, yang menyusahkan Si Aku dijauhi. Ini menimbulkan pertentangan-pertentangan. Benar sekali! Akan tetapi, apa hubungannya dengan iri?”

“Karena nafsu ingin memiliki yang menyenangkan sudah ditimbulkan pikiran, maka melihat yang menyenangkan dimiliki orang lain, timbullah kecewa dan iri hati. Yang menimbulkan iri tentulah hanya yang menyenangkan saja.”

“Bagaimana dengan dendam dan benci?”

“Dendam menimbulkan benci dan keduanya ini memang serupa. Dendam kebencian ini pun ditimbulkan oleh pikiran yang mengenangkan masa lalu, mengenangkan hal-hal tidak menyenangkan yang dilakukan orang lain kepadanya. Kebencian kepada seseorang akan melekat terus selama pikiran mengenangkan masa lalu yang tidak menyenangkan dirinya itu. Si Aku diganggu, dirugikan, dibikin tidak senang. Pikiran berupa ingatan atau kenangan memperkuat ini dan menimbulkan dendam kebencian. Semua ini tentu saja melahirkan pertentangan, permusuhan dan kesengsaraan.”

Suma Han duduk bersila, diam tak bergerak seperti arca. Kata-kata yang keluar dari mulut kakek itu seolah-olah terasa olehnya mengalir dingin ke dalam tubuhnya, menyentuh kesadarannya, namun keadaan dirinya yang semenjak kecil sudah terisi oleh pengaruh Im dan Yang itu membuyarkan kembali kekuatan pemersatu yang timbul dari pengertian itu, dan tubuhnya bergoyang-goyang kembali.

“Apa hubungannya semua itu dengan kedukaanku, Bu-tek Siauw-jin?” “Kedukaan? Hemmmm… kedukaanmu?”
Kakek itu diam sejenak. Pengertian yang tiba-tiba memastikan dirinya, seolah-olah ada sesuatu yang membukanya semenjak dia bertemu dengan Pendekar Siluman di kamar tahanan itu, belum menyerap benar di sanubarinya sehingga dia harus membuka mata batin lebar-lebar dan menghilangkan segala penghalang yang menutupi dirinya sendiri selama ini. Maka pertanyaan itupun membuatnya ragu-ragu. Akan tetapi kemudian dia menjawab lancar.

“Sebelumnya maafkan kalau kata-kataku ini kau anggap tidak tepat. Aku pun hanya seorang pencari yang baru saja mulai, Pendekar Siluman. Marilah kita cari bersama persoalan duka ini. Apakah sebenarnya duka di hati? Bagaimana timbulnya dan dari mana timbulnya? Saya berduka misalnya. Tentu berduka tentang sesuatu yang telah lalu. Sebuah pengalaman lalu yang amat tidak menyenangkan hati, berlawanan dengan keinginan hatiku dan apa yang kuinginkan tidak tercapai. Dari semua inilah timbulnya duka, bukan? Dan bagaimana kedukaan timbul? Tentu saja kalau pikiran kita main-main lagi, mengenangkan hal yang lalu itu. Jadi, sebetulnya duka itu tidak ada, sahabatku. Yang ada hanyalah permainan pikiran yang menggali masa lalu, bayangan-bayangan masa lalu ini ditekan-tekankan sendiri dalam perasaan, maka datanglah duka. Sebetulnya yang ada itu bukan, karena yang ada itu diadakan oleh pikiran sendiri! Bukankah demikian, Suma-taihiap?”

Bun Beng mendengarkan dengan penuh perhatian. Hatinya tertarik sekali. Cuaca sudah menjadi gelap dan dia tidak lagi dapat melihat wajah kedua orang itu. Akan tetapi telinganya dapat menangkap semua percakapan. Kini kedua orang itu berhenti bicara, sampai lama keadaan sunyi sekali. Kesunyian yang amat dalam, kesunyian yang amat suci dan bersih, kesunyian yang mencakup segala apa di dunia ini. Bun Beng merasa seolah-olah dia hidup di dunia yang baru.

Sunyi melenggang kosong luas tak terukur, tak terjangkau oleh pikiran. Suara daun gemerisik ditiup angin, suara jangkrik dan belalang yang mulai berdendang menyambut malam, suara burung kemalaman yang terbang lewat mencicit bingung mencari sarang mereka, semua suara itu bukanlah lawan kesunyian, bukan pula merusak kesunyian, melainkan menjadi bagian dari kesunyian itu sendiri.

Dia rebah di atas tanah, dua orang sakti yang tidak tampak lagi duduk di atas batu, bau tanah yang sedap, rasa pegal di kedua lengannya dan kakinya yang terikat, rasa di kepalanya yang minta digaruk, semua ini menjadi bagian dari kesunyian yang luas itu. Kesunyian suci, tidak tersentuh oleh waktu, tidak ada kemarin dan esok, tidak ada bagaimana dan mengapa!

Dua orang sakti itu masih terus berdebat atau bertukar pikiran mengenai hidup, dan tentu saja dalam kesempatan ini, Suma Han membongkar semua pengetahuan filsafat yang dimilikinya, untuk melawan ucapan kakek yang selalu mengemukakan fakta apa adanya, bukan sebagai pelajaran atau filsafat baru, melainkan sebagai hasil pandangan mata batin yang terbuka lebar, tidak lagi digelapkan atau dibikin suram oleh segala pendapat dan pelajaran hafalan yang telah lalu.

Bun Beng hanya kadang-kadang saja mendengarkan karena dia merasa betapa dada dan lehernya nyeri bukan main. Teringatlah dia bahwa dia telah terkena pukulan beracun yang amat jahat dari Wan Keng In. Dia berusaha melepaskan ikatan tangan kakinya. Kalau menggunakan sinkang, tentu sekali renggut saja akan putus ikatan kaki tangannya itu, akan tetapi bukan hanya ikatan itu yang akan putus, juga nyawanya mungkin akan putus pula! Luka di dalam tubuhnya akibat pukulan beracun itu tidak memungkinkan dia mengerahkan sinkang.

Bun Beng perlahan-lahan menggulingkan tubuhnya mendekati sebuah batu karang, kemudian dia mulai menggosok-gosokkan tali pengikat tangannya di belakang tubuh itu kepada pinggiran batu yang tajam. Karena tidak berani mengerahkan tenaga dalam, Bun Beng bekerja perlahan-lahan, hanya mengandalkan tenaga luar. Tekun sekali dia mengerjakan semua ini sehingga hanya kalau dia berhenti mengaso saja dia dapat mendengar percakapan dua orang itu sekarang. Baginya, lebih penting melepaskan ikatan kaki tangannya yang kalau dibiarkan dapat membuat jalan darahnya terganggu sekali. Karena pekerjaan yang lambat dan makan waktu ini, maka setelah malam terganti pagi, barulah dia berhasil melepaskan ikatan kaki dan tangannya. Dia cepat duduk bersila dan mengatur pernapasan, memulihkan jalan darah pada pergelangan kaki tangan yang terlalu lama terikat itu. Terdengar pula olehnya kedua orang sakti itu masih berdebat!

“Memang enak saja menjadi orang seperti engkau yang tidak dilanda penderitaan batin seperti yang kualami semua, Bu-tek Siauw-jin. Enak saja untuk bicara tentang hidup karena memang agaknya hidupmu berjalan lancar tanpa gangguan! Akan tetapi, aku? Terhadap orang seperti engkau tidak perlu aku menyembunyikannya lagi. Kau dengarlah dan coba pertimbangkan, bagaimana aku tidak akan berduka selama hidupku?”

Pendekar Super Sakti yang sedang tenggelam dalam kedukaan hebat itu kemudian membuka semua rahasia hatinya kepada Bu-tek Siauw-jin. Tanpa disengaja, Bun Beng ikut pula mendengarkan, tetapi sebagian dari rahasia itu memang sudah diketahui oleh pemuda ini. Akan tetapi, mendengar penuturan semua itu dia pun terkejut, terheran dan merasa terharu sekali. Tak disangkanya bahwa pendekar besar yang dikaguminya, yang dijunjungnya tinggi itu adalah seorang yang telah dilanda kepahitan hidup yang demikian hebatnya!

“Tanpa kusadari aku saling mencinta dengan adik angkatku, dan karena aku buta, karena aku hendak mengingkari perasaan sendiri, aku setengah memaksanya untuk menikah dengan orang lain! Kemudian aku melibatkan diri dengan Puteri Nirahai yang mengorbankan kedudukannya sebagai puteri kaisar dan panglima besar untuk menjadi isteriku. Namun, hanya sebulan kemudian dia telah meninggalkan aku karena kami tidak sepaham mengenai jalan hidup selanjutnya. Kami berpisah dan aku hidup merana, hatiku terobek oleh dua perasaan cinta kasih, terhadap adik angkatku dan terhadap isteriku. Aku berusaha mengubur semua kedukaan di Pulau Es, menjadi Majikan Pulau Es. Namun, nasib masih terus mempermainkan diriku, memaksaku berjumpa lagi dengan mereka berdua! Adik angkatku yang telah berputera seorang itu ternyata telah meninggalkan suaminya yang gugur dalam perang karena patah hati, dan ternyata adik angkatku itu pun menderita karena cintanya kepadaku. Dan engkau tentu tahu siapa dia karena dia menjadi Ketua Pulau Neraka. Ada pun Puteri Nirahai, isteriku yang telah mempunyai seorang anak perempuan, anak kami berdua, kini malah menjadi Ketua Thian-liong-pang! Coba pikir, menghadapi semua ini, bagaimana aku dapat bertahan untuk tidak berduka?”

Sejenak keadaan sunyi, yang terdengar hanya tarikan napas panjang dari kedua orang sakti itu. Setelah agak lama, Bu-tek Siauw-jin berkata, perlahan “Wahh, aku sendiri selamanya tidak berani berurusan dengan wanita, Taihiap. Menurut dongeng, wanita adalah satu-satunya makhluk yang dapat menguasai pria, satu-satunya makhluk yang paling aneh dan sukar dimengerti. Katanya, hanya wanita yang sanggup menciptakan surga dunia mau pun neraka dunia bagi seorang pria, dan jatuh bangunnya seorang pria banyak tergantung kepada seorang wanita. Memang sekarang kusadari bahwa segalanya tergantung kepada kita sendiri, kepada pikiran kita, akan tetapi aku ngeri kalau membayangkan betapa daya tarik seorang wanita, polah tingkahnya, wibawa dan pengaruhnya, akan dapat menghancurkan dan menjatuhkan segala pertahanan hati seorang pria. Sehingga kini seorang gagah perkasa seperti engkau pun roboh dan merana karena wanita, apa lagi kalau engkau dikeroyok oleh dua orang wanita seperti itu! Hukkh, ngeri aku memikirkannya! Apakah… apakah mereka itu masih mencintamu, Taihiap?”

“Agaknya demikianlah.”

“Dan engkau pun mencinta mereka?” “Sejak dahulu sampai saat ini.”
“Huhhh, alangkah mengerikan! Cinta! Celaka, pikiranku buntu, Taihiap. Aku tidak bisa mempertimbangkannya, apa lagi memberi nasihat yang harus kau lakukan!”

Kembali sunyi senyap karena kedua orang sakti itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, memikirkan jalan apa yang terbaik untuk menghadapi dua orang wanita yang menghancurkan hidup pendekar kaki satu itu.

Tiba-tiba terdengar suara lantang dan nyaring, “Seorang isteri harus dalam keadaan apa pun juga ikut dengan suaminya! Seorang kekasih harus setia dan ikut ke mana juga kekasihnya pergi. Seorang laki-laki sejati harus tidak lari dari pada pertanggungan jawabnya dan tidak mengingkari perasaan hatinya sendiri!”

Dua orang sakti itu terkejut dan tampak dua sosok bayangan berkelebat cepat sekali, tahu-tahu Suma Han dan Bu-tek Siauw-jin telah berdiri di depan Bun Beng yang masih duduk bersila di atas tanah.

“Ahhh, engkau bisa membebaskan diri dari ikatanmu?” Bu-tek Siauw-jin bertanya heran dan agaknya baru kakek ini teringat kepada pemuda yang diculiknya.

“Ah, engkau terluka hebat, nyawamu terancam maut!” Suma Han berseru kaget.

Gak Bun Beng sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kedua orang itu. “Harap Suma-taihiap sudi memaafkan saya yang mengganggu, dan terima kasih saya aturkan kepada Bu-tek Siauw-jin Locian-pwe yang telah menolong saya.”

“Engkau… Gak Bun Beng!” Kini Suma Han berseru setelah mengenal wajah pemuda itu di bawah cuaca yang masih remang-remang.

“Ha-ha-ha, sudah tahu namaku Siauw-jin (Manusia Hina) masih menyebut locianpwe (orang tua gagah) pula. Engkau ini mengangkat atau membanting?”

Bun Beng tak dapat membantah kata-kata kakek sinting itu, maka dia diam saja, dan kakek itu melanjutkan kata-katanya, kini ditujukan kepada Suma Han.

“Tahukah engkau mengapa aku menolongnya, Pendekar Siluman? Setelah engkau ceritakan padaku bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah isterimu, maka aku menolong pemuda ini karena pemuda ini telah menyelamatkan puterimu. Tadinya aku tidak tahu bahwa dara itu puterimu. Hemm, sungguh kebetulan sekali.”

“Milana? Mengapa dia?” Suma Han bertanya kepada Bun Beng.

Bun Beng lalu menceritakan semua pengalamannya. Betapa di dalam hutan ia melihat Milana menjadi tawanan Wan Keng In dan Thian Tok Lama yang memimpin pasukan menghancurkan Thian-liong-pang. Betapa ia telah berhasil pula mengembalikan pedang Hok-mo-kiam kepada Milana untuk diserahkan kepada Pendekar Super Sakti.

“Sukur bahwa puteri Taihiap telah dapat saya bujuk supaya melarikan diri membawa Hok-mo-kiam. Saya menahan mereka agar tidak melakukan pengejaran. Akan tetapi mereka itu lihai sekali, terutama Wan Keng In dengan Lam-mo-kiam di tangannya, dan Thian Tok Lama. Akhirnya saya roboh dan sebelum tertolong oleh Locianpwe ini, Wan Keng In telah memukul saya dengan pukulan beracun.”

“He-heh-heh, agaknya dia telah memukulmu dengan Toat-beng-ci-tok, dan siapa yang menderita pukulan ini, dalam waktu dua puluh empat jam akan tewas. Bocah setan itu telah memiliki kepandaian tinggi dan tenaganya pun hebat. Nyawamu terancam, Gak Bun Beng,” kata Bu-tek Siauw-jin setelah memeriksa sebentar.

“Tidak, dia harus diobati sampai sembuh. Jasanya terhadapku sudah terlampau besar sehingga aku rela mengorbankan nyawaku untuknya. Dia telah menyelamatkan Milana, telah mengembalikan Hok-mo-kiam, dan… dan terutama sekali ucapannya tadi telah membuka mata batinku, telah mendatangkan ketegasan dalam hatiku hingga lenyaplah segala duka nestapa yang tolol selama ini. Bu-tek Siauw-jin, kau harus membantuku mengobati sampai sembuh, kalau tidak, aku akan menuntut engkau yang lancang berani mengambil keponakan dan muridku sebagai muridmu,” kata Suma Han.

“Wah-wah, ini namanya pemerasan. Apa boleh buat, aku memang suka kepada anak ini. Dan kalau kuingat bisik-bisiknya dengan dara itu di atas pohon.”

Bun Beng terbelalak dan seperti melotot kepada kakek itu yang tertawa dan sudah duduk bersila di depannya, menempelkan kedua tangan pada dada Bun Beng dan berkata, “Kau kerahkan Im-kang di punggungnya, Pendekar Siluman. Aku tahu cara mengobati pukulan Toat-beng-ci-tok dari suheng-ku yang amat keji ini.”

Suma Han sudah bersila pula di belakang Bun Beng, menempelkan tangan kirinya dan mengerahkan Im- kang. Mula-mula keadaan Bun Beng tersiksa bukan main. Hawa yang amat dingin menyerangnya dari belakang, seolah-olah membuat seluruh darah di tubuhnya membeku dan hawa yang panas dan mengeluarkan bau amis menyerangnya dari depan. Kadang-kadang keadaan tubuhnya seperti separuh dibakar dan separuh direndam es, lalu kedua hawa itu berputar-putar di seluruh tubuhnya, membuat dia hampir pingsan. Akan tetapi lambat laun terjadi hal yang aneh, kedua hawa itu seolah-olah menghentikan pertandingan mereka, bersatu dan menimbulkan rasa hangat yang amat nyaman. Rasa nyaman ini mendesak rasa nyeri dari dada dan leher, dan tak dapat ditahannya lagi, Bun Beng memuntahkan darah hitam tiga kali. Baiknya dia masih teringat untuk miringkan mukanya sehingga darah hitam yang keluar dari mulut tidak sampai mengenai tubuh kakek yang bersila di depannya.

Ternyata pengobatan yang hanya dilakukan kurang lebih dua jam itu telah berhasil baik. Kakek itu dan Suma Han melepaskan tangan dan keduanya duduk bersila untuk memulihkan tenaga masing-masing. Bun Beng maklum akan keadaan dirinya yang telah tertolong, maka dia tetap berlutut di depan mereka tanpa berani bergerak menanti sampai mereka menyelesaikan pemulihan tenaga mereka yang makan waktu kurang lebih dua jam.

Matahari telah naik tinggi ketika akhirnya kedua orang sakti itu membuka mata. Melihat betapa Bun Beng masih berlutut di depan mereka, Suma Han diam-diam kagum sekali. Tidak disangkanya bahwa putera Si Datuk Sesat Gak Liat ini telah menjadi seorang yang benar-benar patut dipuji. Seorang pemuda yang tampan, gagah, dan berbudi agung, juga seorang yang ingat akan budi orang. Dia teringat akan Kwi Hong dan memang ada niat di hatinya untuk menjodohkan keponakannya itu dengan pemuda ini. Namun dia teringat akan ucapan Bu-tek Siauw-jin tentang bisik-bisik antara puterinya, Milana, dengan Bun Beng, maka hatinya menjadi bimbang.

“Bangkitlah, Bun Beng. Engkau telah sembuh,” katanya perlahan.

Bun Beng memberi hormat kepada mereka. “Pertolongan Ji-wi seolah-olah telah memberi nyawa baru kepada saya, tak tahu bagaimana saya harus membalas budi yang amat besar itu.”

“Ha-ha-ha-ha, untuk membalas, engkau harus menerima dan mempelajari ilmu kami berdua sekarang juga. Kalau engkau tidak mau atau tidak bisa, kami terpaksa akan minta kembali nyawa yang kau bilang kami berikan kepadamu tadi.”

Ucapan ini hanya merupakan kelakar saja dari Si Kakek Sinting, akan tetapi Bun Beng menerima dengan sungguh-sungguh. “Teecu sanggup menerimanya dan memenuhi syaratnya.”

Suma Han dan Bu-tek Siauw-jin saling pandang dan keduanya mengangguk. Mereka berdua semalam suntuk telah berdebat tentang kebatinan, mengemukakan pegangan masing-masing. Suma Han telah mengeluarkan ilmu-ilmunya yang berdasarkan Im dan Yang, sedangkan Bu-tek Siauw-jin menandinginya dengan Ilmu Tunggal, yaitu yang mempersatukan dua tenaga bertentangan itu sehingga menjadi satu, tidak seperti Suma Han yang mempergunakan kedua-duanya.

Kini mereka telah merasakan sendiri betapa tenaga sinkang mereka yang berdasarkan ilmu-ilmu itu, ketika dipergunakan untuk menyembuhkan Bun Beng ternyata dapat digabungkan menjadi satu! Biar pun tidak saling mengutarakan isi hati dengan kata-kata, keduanya sudah maklum bahwa pemuda ini memiliki bakat yang luar biasa, memiliki tenaga sinkang yang hebat dan agaknya hanya pemuda inilah yang sanggup menerima gabungan ilmu mereka!

“Bun Beng, kami berdua telah sepakat untuk menurunkan inti tenaga kami kepadamu. Tentu saja gabungan inti tenaga sakti kami itu baru akan dapat dipergunakan dengan hasil baik dalam sebuah gerakan ilmu silat yang tinggi. Karena itu, coba kau mainkan ilmu silat tertinggi yang kau miliki.”

Bun Beng masih muda, akan tetapi dia telah mempelajari bermacam ilmu silat tinggi di samping ilmu-ilmu silat dari Siauw-lim-pai. Baginya, ilmu silat tertinggi yang pernah dipelajarinya adalah ilmu silat yang dia ‘curi’ dari tempat persembunyian Ketua Thian-liong-pang, yaitu Ilmu Silat Lo-thian-kiam-sut. Ilmu itu adalah ilmu yang dicurinya dari Ketua Thian-liong-pang yang ternyata adalah isteri Pendekar Super Sakti ini. Kalau sampai diketahui oleh pendekar ini, apakah tidak berbahaya baginya?

Tentu ia dianggap pencuri! Tetapi jika tidak dimainkannya, berarti ia menyembunyikan sesuatu dan membohong kepada dua orang gurunya yang baru ini! Dia mengambil keputusan nekat. Dia tidak sengaja mencuri! Pula, Ilmu Lo-thian-kiam-sut itu mirip dengan Ilmu Sam-po-cin-keng yang ia temukan di dalam goa bersama Sepasang Pedang Iblis, dan ia mempelajarinya tanpa sengaja mencuri!

“Ilmu itu adalah ilmu pedang, akan tetapi teecu tidak mempunyai pedang,” jawabnya lirih. “Kau boleh memakai tongkatku ini!” kata Suma Han.
Bun Beng menerima tongkat itu dengan jari-jari gemetar. Betapa dia tidak akan terharu, bangga, dan gembira hatinya? Dia diperbolehkan menggunakan senjata Pendekar Super Sakti! Setelah menerima tongkat butut itu, dengan penuh keharuan dia mencium tongkat itu, lalu memberi hormat kepada kedua orang itu dan mulailah dia meloncat bangun dan mainkan Ilmu Pedang Lo-thian-kiam-sut. Gerakannya gesit dan ringan bukan main sehingga bagi pandang mata biasa, tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar yang dibentuk oleh tongkat itu. Angin yang berdesir menyambar dari gerakan tongkat membuktikan betapa sinkang dari pemuda itu sudah amat kuat.

Suma Han dan Bu-tek Siauw-jin memandang dan melongo. Kadang-kadang mereka saling pandang, kadang-kadang menarik napas panjang dan menggelengkan kepala saking kagumnya. Bun Beng bersilat sebaik mungkin, dengan penuh ketekunan. Ketika selesai, dia meloncat turun dari jurus terakhir yang dihabiskan dengan gerak meloncat tinggi sambil memutar pedang yang diwakili tongkat itu, tongkat yang ternyata cocok sekali digunakan sebagai pedang, kemudian dengan hormat menyerahkan tongkat kembali kepada pemiliknya. Napasnya biasa saja, hanya mukanya menjadi merah sekali karena pengerahan tenaga yang cukup melelahkan.

“Ha-ha-ha, dan orang seperti engkau ini kuambil sebagai murid? Ha-ha-ha, aku benar-benar Siauw-jin yang tidak memandang orang! Bocah, ilmu kepandaianmu ini, ilmu pedang aneh yang baru kau perlihatkan, kiranya sudah cukup untuk membuat aku orang tua menjadi mati kutu!”

Bun Beng menjura, “Harap Locianpwe memaafkan teecu, tidak menertawakan teecu yang bodoh dan teecu mohon petunjuk.”

“Ahhh, aku tidak main-main. Ilmu pedangmu tadi hebat, kalau ditambah gabungan inti tenaga sakti kami… wah… agaknya suheng-ku Cui-beng Koai-ong sendiri harus tunduk kepadamu!”

“Gak Bun Beng, dari mana kau peroleh ilmu pedang tadi?” Tiba-tiba terdengar suara Suma Han, suaranya tegas dan pandang matanya membuat Bun Beng mengkirik karena seolah-olah dia merasa betapa sinar mata pendekar itu menembus jantungnya!

“Maafkan, teecu mendapatkannya secara tidak sengaja, dari sebuah kitab dan ilmu ini bernama Lo-thian Kiam-sut, hampir sama dasarnya dengan Ilmu Sam-po-cin-keng yang pernah teecu dapatkan pula dalam sebuah goa. Akan tetapi, Ilmu Lo-thian Kiam-sut ini teecu pelajari secara sembunyi dan… dan… mencuri…”

Bu-tek Siauw-jin tertawa bergelak, namun Suma Han kecewa sekali dan dia berkata, “Mencuri? Dari siapa?”

“Dari Ketua Thian-liong-pang.”

“Heh…?!” Kedua orang sakti itu terbelalak dan bahkan Bu-tek Siauw-jin sendiri kaget karena tidak menyangka sama sekali.

Bun Beng sudah menjatuhkan diri berlutut dan tanpa menyembunyikan sesuatu dia lalu menceritakan semua pengalamannya sampai dia mempelajari ilmu yang luar biasa, ilmu yang oleh Nirahai sendiri tidak dapat dimainkan itu. Mendengar ini, kembali Bu-tek Siauw-jin tertawa kagum, sedangkan Suma Han menghela napas panjang dan berkata, “Dia tersesat, mencuri ilmu-ilmu orang lain, sedangkan ilmu tertinggi tidak dapat dipelajarinya, bahkan terjatuh ke tangan orang lain. Ini namanya pembalasan! Gak Bun Beng, tahukah engkau, bahwa setelah engkau memiliki Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut ini, sebetulnya engkau terhitung sute-ku (adik seperguruanku) sendiri? Melihat dasar gerakanmu aku yakin bahwa kitab itu adalah peninggalan Suhu Koai-lojin.”

“Ahhhh…!” Bun Beng terbelalak penuh kaget dan kagum. “Teecu… teecu… mana berani…?”

Suma Han tersenyum. Dia merasa makin suka kepada Bun Beng. Jelas bahwa pemuda ini memiliki watak baik, dan ternyata memiliki kepandaian yang hebat pula, hal yang tidaklah mengherankan kalau wataknya demikian sederhana dan merendah.

“Tidak mengapalah, Bun Beng. Tidak ada bedanya apakah engkau menjadi sute-ku, ataukah muridku, ataukah hanya sahabat saja. Apa artinya segala sebutan kosong? Sekarang yang penting, engkau harus benar-benar mengerahkan seluruh ketekunan dan semangatmu, mencurahkan seluruh perhatian untuk menerima gabungan inti tenaga sakti dari kami berdua, hal yang tak mungkin ditemukan oleh orang lain di dunia ini.”

Mulailah kedua orang sakti itu melatih Bun Beng. Pendekar Super Sakti menurunkan Hwi-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang, dua inti tenaga panas dan tenaga dingin, sedangkan Kakek Bu-tek Siauw-jin menurunkan sinkang dari Pulau Neraka yang telah merubah warna muka semua tokoh Pulau Neraka! Karena pada diri Bun Beng sudah terdapat tenaga sinkang yang mukjizat dari jamur-jamur berwarna yang dimakannya ketika dia berada di dalam goa di bawah tanah tempat persembunyian Ketua Thian-liong- pang, maka Ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi yang mukjizat dari Bu-tek Siauw-jin ini tidak mempengaruhi warna mukanya.

Bun Beng yang amat tekun, cerdas dan memang berbakat luar biasa sekali itu, melatih diri siang malam tanpa pernah mengaso dan hanya membutuhkan waktu tiga hari saja untuk mewarisi ilmu gabungan dari dua orang manusia sakti itu! Melihat hasil ini, makin kagumlah Suma Han dan dia lalu memberi petunjuk kepada Bun Beng bagaimana untuk memanfaatkan Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut itu sebagai ilmu tangan kosong atau dengan menggunakan senjata lain. Biar pun Suma Han sendiri tidak pernah mempelajari ilmu ini, namun karena dasarnya sama dengan ilmu-ilmu yang ia pelajari dari Pulau Es, peninggalan Koai-lojin, ditambah pengetahuannya yang luas akan ilmu silat, dia dapat memberi petunjuk yang amat berharga itu.

Pada hari ke empat, saat Bun Beng sedang tekun berlatih silat dengan tangan kosong, menggunakan tenaga sakti sehingga terdengar suara bercuitan akibat menyambarnya hawa pukulannya yang mengerikan, Suma Han yang berdiri agak jauh bersama Bu-tek Siauw-jin, berkata,

“Dia telah memperoleh kemajuan yang luar biasa.”

“Ha-ha-ha, tidak mungkin ada lawannya lagi!” Bu-tek Siauw-jin mengelus jenggotnya, menyesal mengapa pemuda sehebat itu bukan menjadi murid tunggalnya. Dia pun telah mengajarkan Tenaga Sakti Inti Bumi kepada Kwi Hong, namun dara itu tidak dapat menggabungkannya dengan dua tenaga Im-yang dari pamannya, juga bakat dara itu kalah jauh kalau dibandingkan dengan Bun Beng.

“Bu-tek Siauw-jin, sekarang aku hendak pergi.”

Kakek itu menoleh ke kiri, memandang wajah pendekar besar yang kini tidaklah keruh dan berduka lagi, bahkan dari sepasang mata yang tajam luar biasa membuat dia tidak berani lama-lama menentangnya itu keluar sinar yang penuh harapan dan gairah hidup yang besar!

“Ke mana kalau aku boleh bertanya? Siapa tahu, kita dapat saling berjumpa pula. Perkenalanku denganmu ini amat menyenangkan dan amat menguntungkan, dan mau rasanya aku menganggap kau sebagai guru karena engkaulah yang telah membuka mata batinku ketika menghadapi teka-teki Maharya, Suma-taihiap.”

Suma Han menarik napas panjang. “Hanya kebetulan saja, dan ternyata sifatmu yang polos sederhana itu malah lebih mudah menerima penerangan kebenaran sehingga aku tertinggal jauh. Telah kukatakan, ucapan pemuda yang menjadi murid kita itulah yang membuat aku berterima kasih sekali, yang membuka mataku, menyadarkan aku betapa tololnya selama belasan tahun ini aku telah menempuh hidup. Karena ucapannya itulah aku harus segera pergi menyusul mereka.”

“Lulu dan Puteri Nirahai?” kakek itu bertanya.

Suma Han mengangguk. “Persoalan yang rumit dan sukar takkan dapat dipecahkan oleh pikiran yang penuh dengan pengetahuan lama, oleh pikiran yang hanya dapat melamun dan merasa diri terlalu pandai, terlalu bersih. Hanya pikiran yang sederhana, tidak melayang-layang di angkasa khayal, yang dapat menghadapi kenyataan saja yang akan dapat menyelami dan memecahkan serta mengatasi persoalan, seperti yang diucapkan Bun Beng empat hari yang lalu itu. Aku hendak menyusul mereka sekarang juga. Harap kau orang tua yang baik suka mencari Kwi Hong dan suruh dia kembali ke Pulau Es yang akan kubangun kembali bersama mereka.”

Bu-tek Siauw-jin mengangguk-angguk dan tertawa. “Engkau masih belum setua aku, Suma-taihiap, segalanya masih belum terlambat. Selamat berjuang dan sampai jumpa pula. Ingin aku bertemu kembali denganmu kelak, di Pulau Es, di samping mereka yang kau cinta.”

Akan tetapi tubuh Suma Han telah berkelebat lenyap dari depan kakek itu yang masih tertawa-tawa dan mengangguk-angguk. Sudah puluhan tahun kakek ini tidak pernah mempedulikan dunia ramai, hidup seperti orang sinting dan tidak sudi mempedulikan dirinya sendiri, apa lagi orang lain. Kini bertemu dengan Suma Han, dia tertarik sekali, merasa suka sekali dan kagum sehingga perasaan ini membangkitkan gairah hidupnya kembali.

Bun Beng berhenti berlatih, cepat menghampiri Bu-tek Siauw-jin dan berkata, “Kemanakah perginya Suma-taihiap tadi, Locianpwe?”
Biar pun dia tadi berlatih tekun, namun pendengarannya cukup tajam untuk mendengar suara berkelebatnya tubuh pendekar itu. Dia tetap menyebut Locianpwe kepada Bu-tek Siauw-jin dan taihiap kepada Suma Han, karena kedua orang sakti ini, yang hanya menurunkan tenaga inti mereka, tidak mau dianggap guru.

“Dia sudah pergi menyusul kedua orang yang dicintanya. Ha-ha-ha, sungguh kasihan sekali dia, merana selama belasan tahun. Dengan bekal pengertiannya yang baru tentang hidup dan pandangan hidup, tentu dia akan dapat berbahagia bersama mereka itu. Sekarang kita pun harus pergi, Bun Beng.”

“Ke mana, Locianpwe?”

“Kau bantu aku mencari Kwi Hong ke kota raja. Entah ke mana perginya bocah nakal itu!”

Menurutkan kata hatinya, Bun Beng lebih ingin mencari Milana, akan tetapi karena dia pun tidak tahu ke mana perginya Milana, dan kemungkinan besar masih berada di kota raja, maka kebetulan sekali kalau kakek ini hendak mengajaknya ke kota raja. Tentu saja dia tidak berani menolak setelah mendengar penuturan kakek itu bahwa Kwi Hong adalah muridnya!

Berangkatlah kakek dan pemuda itu dengan gerakan cepat sekali, menuju ke kota raja. Dengan bekal kepandaiannya yang hebat dengan mudah Bun Beng bisa mengimbangi gerakan kaki Bu-tek Siauw-jin yang amat cepat larinya.

Akan tetapi, ketika Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin tiba di kota raja, keadaan di sana sudah sepi. Para pimpinan pemberontak yang dipimpin oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Koksu yang memberontak itu, telah melarikan diri setelah komplotan yang hendak membunuh Kaisar digagalkan oleh Lulu dan Nirahai. Kini bahkan kedua orang wanita perkasa itu diserahi pimpinan barisan urtuk melakukan pengejaran dan membasmi pasukan-pasukan pemberontak yang sudah dikumpulkan di perbatasan utara.

Bu-tek Siauw-jin yang ugal-ugalan itu masih tidak mau terima. Dia menyelundup ke dalam istana mencari- cari, bahkan memasuki bekas istana Koksu, memeriksa bekas kamar tahanan kalau-kalau murid-nya masih ‘terselip’ di situ, namun sia-sia belaka karena Kwi Hong tidak dapat ditemukan, bahkan tidak ada seorang pun yang tahu ke mana perginya gadis itu.

Kesempatan itu dipergunakan pula oleh Bun Beng untuk mencari dan menyelidiki tentang Milana, dara yang dicintanya. Akan tetapi juga tidak ada orang yang dapat menerangkan ke mana adanya dara itu, bahkan tidak ada yang mengenalnya. Sebaliknya, hampir semua orang tahu bahwa kini Puteri Nirahai telah kembali ke istana, dan bahwa kini puteri perkasa itu memimpin pasukan besar untuk mengejar dan membasmi pemberontak. Mendengar ini, Bun Beng menduga bahwa tentu dara itu ikut bersama ibunya untuk membantu. Maka dia pun mengajak Bu-tek Siauw-jin untuk melakukan pengejaran ke utara.

“Teecu tahu di mana berkumpulnya kaki tangan pemberontak Koksu itu. Siapa tahu Kwi Hong juga ikut ke sana untuk menonton keramaian membasmi pemberontak,” kata Bun Beng.

Kakek itu menggeleng kepala. “Celaka tiga belas Si Koksu dan Si Maharya gila! Ulah mereka mendatangkan perang dan bunuh-membunuh, saling menyembelih antara manusia itu kau katakan tontonan? Benar-benar dunia sudah tua, ataukah manusianya yang tolol semua? Hayolah!” Mereka kembali meninggalkan kota raja menuju ke utara.

Apakah yang telah terjadi dengan Milana? Seperti telah diceritakan di bagian depan, dara itu tidak ikut bersama dengan ibunya untuk mengejar pemberontak ke utara, melainkan ditinggalkan di kota raja. Tadinya Puteri Nirahai menyuruh puterinya itu mencari Pendekar Super Sakti untuk menyerahkan kembali Hok-mo-kiam, akan tetapi ketika dia menerima tugas berat dari Kaisar untuk membasmi pemberontak yang dia tahu dipimpin oleh banyak orang sakti, terpaksa dia meminjam Hok-mo-kiam dari tangan anaknya.

“Biarlah pedang ini kupinjam lebih dulu untuk menghadapi lawan-lawan tangguh itu,” pesannya kepada Milana. “Engkau tunggu saja di sini, kalau bertemu dengan ayahmu, ceritakan semuanya dan minta bantuannya untuk menghadapi para pemberontak yang lihai. Juga, kalau engkau bertemu dengan Gak Bun Beng lagi, suruh dia membantu kami di utara. Kami membutuhkan bantuan banyak orang pandai untuk menghadapi para pimpinan pemberontak yang merupakan gabungan orang-orang sakti dari Mongol, Nepal, dan orang Han sendiri.”

Setelah menjadi seorang panglima kembali, kini berubah sikap Nirahai, yang terpenting baginya pada saat itu adalah tugasnya. Maka sama sekali terlupalah urusan pribadi, sehingga dia tidak malu-malu untuk memesan Milana minta bantuan Suma Han. Semua demi tugas kerajaan, dan memang beginilah sifat seorang panglima yang baik.

Akan tetapi, nasib buruk menimpa diri Milana. Hati dara ini sudah diliputi kegembiraan besar, bukan hanya kegembiraan kalau dia teringat kepada Gak Bun Beng, pemuda yang dicintanya dan yang juga mencintanya, akan tetapi juga karena adanya harapan yang timbul di hatinya tentang ayah dan bundanya. Kalau mereka itu dapat bersatu kembali, alangkah bahagianya hidup ini, apa lagi di sana ada… Bun Beng!

Dua hari Milana menanti di kota raja. Sebagai seorang cucu Sri Baginda Kaisar yang diakui, apa lagi sebagai puteri dari Panglima Puteri Nirahai, dia amat dihormat dan mendapatkan sebuah kamar yang indah di lingkungan istana, bagian puteri. Namun, darah petualangannya sebagai seorang bekas puteri Ketua Thian-liong-pang, yang sudah biasa bebas merdeka di alam terbuka, tentu saja Milana tidak dapat tahan lama tinggal di lingkungan tertutup itu. Segera dia telah mengenakan pakaian ringkasnya lagi sebagai seorang pendekar, dan melayang keluar dari lingkungan istana bagian puteri itu untuk ke luar dan melakukan penyelidikan kalau-kalau dapat berjumpa dengan ayahnya atau dengan Bun Beng.

Akan tetapi, bukan Pendekar Super Sakti atau Gak Bun Beng yang dijumpai ketika pada sore hari itu dia menyelinap keluar dari istana, melainkan seorang yang amat dibenci dan ditakutinya. Wan Keng In! Baru saja Milana meloncat turun dari atas pagar tembok, tiba-tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu pemuda tampan itu berdiri dengan senyum mengejek di depannya, dan di sebelah pemuda itu berdiri seorang kakek yang amat mengerikan, kakek kurus kering seperti mayat hidup, yang matanya seperti mata boneka tidak bergerak sama sekali. Kakek ini bukan lain adalah Cui-beng Koai-ong!

“Sayur di gunung garam di laut, kalau sudah jodoh pasti akan bertemu menjadi satu, menjadi masakan yang lezat! Ha-ha-ha-ha, adik Milana yang manis, kekasihku yang cantik, calon isteriku tercinta. Dengan penuh rindu aku datang hendak menjemputmu di dalam istana, kiranya engkau telah tidak sabar lagi dan keluar menyambutku. Terima kasih!”

“Manusia iblis! Hayo pergi dari sini! Kalau tidak, akan kukerahkan semua pengawal untuk membunuhmu!” Milana mengancam, namun jantungnya berdebar tegang dan penuh rasa ngeri.

“Hemm, sudah kudengar berita bahwa ibumu, Ketua Thian-liong-pang itu, ternyata adalah Puteri Nirahai dan kini menjadi panglima. Kebetulan sekali, lebih cocok kau menjadi isteriku, engkau cucu Kaisar, dan aku… calon raja di Pulau Neraka. Marilah manis.” Tangan Wan Keng In meraih hendak menangkap pinggang ramping dara itu.

Tentu saja Milana tidak sudi membiarkan tubuhnya dipeluk. Dia mencelat ke kanan sambil menggerakkan tangan kiri yang tadi diam-diam sudah mempersiapkan segenggam Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi). Sinar merah menyambar ke arah dada dan perut Wan Keng In dan agaknya pemuda ini tidak tahu bahwa dirinya diserang, karena dia tidak mengelak, tidak pula menangkis. Hal ini menggirangkan hati Milana karena dia merasa yakin bahwa tentu akan mengenai sasaran dan merobohkan lawannya. Kegirangannya menjadikan kelengahan. Dara ini menjerit ketika pemuda ini melanjutkan tubrukannya, tidak peduli sama sekali akan jarum-jarum yang menembus pakaian mengenai dada dan perutnya, tahu-tahu pinggang Milana telah dipeluknya dan di lain saat tubuh Milana telah menjadi lemas karena ditotoknya!

Sambil tertawa, Wan Keng In mencabut jarum-jarum yang menancap di bajunya, sama sekali tidak melukai kulitnya yang kebal, kemudian memondong tubuh Milana dan dibawanya lari bersama gurunya yang sejak tadi diam saja tidak mengeluarkan suara.

“Haiii! Berhenti…!” Dua orang penjaga istana, pengawal yang menjaga di luar tembok, datang berlari setelah mendengar teriakan Milana. Ketika mereka melihat siapa yang dipondong dan dibawa lari, mereka terkejut dan marah sekali. Ada penjahat menculik cucu Kaisar yang baru dan cantik, puteri dari Panglima Nirahai!

Mereka berdua melupakan keadaan bahwa orang yang dapat menculik puteri itu tentu memiliki ilmu kepandaian hebat. Dengan tombak di tangan mereka berteriak dan mengejar. Wan Keng In dan gurunya belum lari jauh. Karena dua orang pengawal itu melihat Si Kakek berlari di sebelah belakang, otomatis mereka mengerjakan tombak mereka, menusuk ke punggung kakek itu yang agaknya tidak mempedulikan sama sekali.

“Crot! Crot!”

Dua batang tombak itu menusuk ke punggung, agaknya menembus ke dalam, akan tetapi kakek itu tidak roboh, bahkan tiba-tiba tombak itu meluncur ke belakang seperti anak panah, gagang tombak menembus dada dua orang pengawal itu yang roboh seketika, berkelojotan dengan sinar mata penuh keheranan dan kekagetan. Mereka mati dalam keadaan terheran-heran melihat orang yang telah mereka tusuk dan tembus punggungnya itu tidak apa-apa, malah mereka sendiri yang menjadi korban senjata masing- masing.

“Jahanam, lepaskan aku!” Milana meronta-ronta, akan tetapi Keng In hanya tertawa-tawa saja, seolah-olah dia merasa senang sekali dara itu meronta dan menggeliat dalam pondongannya, membuat dia merasa betul bahwa yang dipondongnya adalah benar-benar dara yang dicintanya, yang membuatnya tergila-gila, dara yang hidupnya dan yang selamanya akan menjadi sisihannya, menjadi permaisurinya di Pulau Neraka!

Beberapa orang pengawal terkejut sekali menyaksikan peristiwa itu dari jauh. Mereka segera membunyikan tanda bahaya, sebagian melakukan pengejaran yang sia-sia, sebagian lagi segera melaporkan kepada panglima pengawal di dalam istana. Panglima itu terkejut, terpaksa dengan gemetar melaporkan penculikan atas diri Puteri Milana ini kepada Kaisar.

Tentu saja Kaisar menjadi marah. Baru saja dia mendapatkan kembali puterinya bersama cucunya, dan kini selagi puterinya itu melaksanakan tugas berat membasmi pemberontak, cucunya diculik orang! Dengan suara keras Kaisar memerintahkan kepada panglimanya untuk mengerahkan pasukannya melakukan pengejaran dan membebaskan kembali cucunya. Akan tetapi sebagai Kaisar yang berpengalaman dia pun maklum bahwa penculik itu tentulah bukan orang biasa, dan sewaktu puterinya yang lihai, dan juga Lulu, pergi memimpin pasukan, kiranya di istana tidak ada orang yang boleh diandalkan memiliki kepandaian tinggi menghadapi penculik itu. Maka segera ditambahkannya,

“Cari Pendekar Super Sakti, Tocu Pulau Es. Kalau dia bisa mengembalikan cucu kami, akan kami ampunkan semua dosanya. Umumkan hari ini!”

Panglima mundur dan sibuk melaksanakan perintah Kaisar itu. Akan tetapi mana mungkin mengejar penculik-penculik yang berkepandaian setinggi yang dimiliki Wan Keng In dan gurunya. Sia-sia saja para pasukan pengawal mencari ke sana ke mari. Juga sia-sia saja mereka mencari Pendekar Super Sakti, karena ketika pendekar ini selesai melatih Bun Beng dan datang ke kota raja, dia mendengar akan tugas membasmi pemberotak yang dilakukan Nirahai dan Lulu, maka dia bergegas menyusul ke utara!

Demikianlah, tentu saja sia-sia Bun Beng mencari Milana, dan peristiwa itu memang dirahasiakan oleh Kaisar yang diam-diam berusaha keras untuk dapat membebaskan cucunya kembali dari tangan para penculiknya agar tidak sampai terdengar oleh Puteri Nirahai, puterinya yang keras hati ini. Kalau sampai terdengar oleh Puteri Nirahai, siapa tahu akan akibatnya. Mungkin saja puterinya itu akan meninggalkan tugasnya membasmi pemberontak…..

********************

Dan ke manakah perginya Giam Kwi Hong? Telah dituturkan di bagian depan, Kwi Hong berhasil keluar dari kamar tahanan bersama gurunya yang baru, Bu-tek Siauw-jin. Setelah mempelajari ilmu, terutama sekali setelah memperoleh tenaga sakti Inti Bumi ditambah dengan pedang Li-mo-kiam di tangannya, Kwi Hong sekarang menjadi seorang yang luar biasa lihainya. Namun sayang sekali, pengaruh tenaga sakti liar dari Pulau Neraka itu mempengaruhi pula wataknya, dan agaknya pengaruh ini datang dari tenaga sakti itu dan dari pedang Li-mo-kiam di tangannya, karena memang pedang itu bukanlah pedang sembarangan, melainkan sebuah di antara Sepasang Pedang Iblis yang telah menghirup banyak darah manusia tak berdosa, dan dibuatnya pun secara mukjizat dan kejam!

Setelah berhasil keluar dari kepungan para jagoan yang dipimpin oleh Koksu sendiri dan Maharya yang lihai, Kwi Hong menurut petunjuk suhu-nya, pergi hendak mencari pamannya, Pendekar Super Sakti. Namun usahanya tidak berhasil, bahkan dia mendengar akan keributan di istana dan betapa Koksu berhasil melarikan diri keluar dari kota raja. Kwi Hong yang masih merasa penasaran itu cepat mengejar pula keluar dari kota raja dan dia berhasil mendapatkan jejak Pangeran Yauw Ki Ong, pangeran Mancu yang berusaha memberontak dibantu Koksu. Pangeran ini sedang melarikan diri melalui pintu gerbang kota raja sebelah utara, dikawal oleh Koksu, Maharya dan beberapa orang panglima yang setia kepada mereka, termasuk beberapa orang tokoh Mongol dan Nepal.

Hati dara ini tadi belum merasa puas. Ketika dia dikepung oleh Koksu, Maharya dan lain-lain bersama gurunya, dia mengamuk dan merobohkan banyak perwira pengawal kaki tangan Koksu dengan pedangnya. Dia merasa gembira sekali melihat darah muncrat setiap kali pedang berkelebat, maka dia agak menyesal dan kecewa ketika gurunya menyuruhnya melarikan diri dari kepungan. Dia amat membenci Koksu dan Maharya, yang dianggap musuh-musuh besar pamannya. Kini, selagi dia sendirian, tidak ada gurunya yang melarangnya, kebetulan sekali dia dapat menyusul rombongan musuh ini, tentu saja dia tidak mau membuang kesempatan baik untuk memuaskan hati dan pedangnya!

Rombongan Pangeran Yauw Ki Ong melakukan perjalanan yang penuh kelesuan, sungguh pun dengan tergesa-gesa. Mereka telah mengalami pukulan hebat, dan hanya karena di situ ada Koksu yang pandai menghiburnya dengan janji-janji muluk bahwa pasukan mereka akan dikerahkan untuk langsung memerangi Kaisar, maka Pangeran Yauw tidak putus asa. Pangeran ini telah kehilangan segala kemewahan hidup dan kemuliaan, bahkan tidak sempat membawa pergi selir-selirnya yang muda-muda, harta bendanya yang berlimpah, dan kini menjadi seorang pelarian yang harus melakukan perjalanan melarikan diri tanpa berhenti selama dua hari dua malam!

Pada malam ketiga, Pangeran Yauw setengah memaksa Koksu untuk menghentikan perjalanan. Dia sudah merasa terlalu lelah, bahkan isterinya sudah beberapa kali jatuh pingsan saking kelelahan. Juga roda-roda kereta perlu dibetulkan karena hampir copot. Melihat bahwa pengejaran tidak ada, atau mungkin juga masih jauh, dan tempat penjagaan pasukan-pasukan mereka yang pertama sudah dekat, Koksu tidak keberatan dan beristirahatlah mereka di sebuah dusun. Penduduk dusun yang belum tahu akan keributan yang terjadi di kota raja, menyambut rombongan ini penuh penghormatan. Terhibur juga hati Pangeran Yauw dan rombongannya karena dapat melepaskan lelah malam hari itu, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali perjalanan dilanjutkan dalam keadaan tubuh mereka lebih segar.

Akan tetapi, baru saja rombongan keluar dari dusun dan tiba di pinggir sebuah hutan, tiba-tiba terdengar jerit-jerit mengerikan dan tiga orang pengawal yang menunggang kuda paling depan roboh dengan tubuh hampir putus menjadi dua potong terbabat kilatan pedang di tangan seorang dara yang cantik namun sepak terjangnya ganas bukan main. Koksu dan Maharya bersama para panglima pembantu mereka cepat melarikan kuda ke depan dan di sana mereka melihat seorang gadis dengan sebatang pedang yang berkilat sinarnya menyilaukan mata di tangan, berdiri dengan sikap gagah penuh tantangan. Dara itu bukan lain adalah Giam Kwi Hong! Melihat dara itu, terkejut hati Koksu dan Maharya, karena mereka menyangka bahwa munculnya dara perkasa itu tentulah bersama kakek sinting yang mereka takuti, Bu-tek Siauw-jin!

Tiba-tiba Maharya mengeluarkan suara melengking tertawa penuh ejekan yang sengaja dia keluarkan untuk memancing keluar Bu-tek Siauw-jin, “Siauw-jin manusia rendah dan hina, tua bangka cebol mau mampus, keluarlah jangan bersembunyi di belakang celana murid perempuanmu!”

Sepasang mata Kwi Hong mengeluarkan sinar berapi karena marahnya mendengar ucapan menghina Maharya yang ditujukan kepada gurunya. “Maharya pendeta iblis!” pedangnya menuding ke depan dan sinar berkilat menyilaukan mata keluar dari ujung pedang itu, membuat semua orang bergidik ngeri melihatnya. “Suhu tidak berada di sini, tidak perlu engkau membuka mulut mengeluarkan hawa busuk memaki Suhu! Aku datang sendiri untuk membunuh engkau yang menghina Suhu, dan membunuh Koksu yang telah membasmi Pulau Es. Kalian berdua adalah manusia-manusia berakhlak bejat, dan aku mewakili pamanku untuk membasmi kalian!”

Pangeran Yauw Ki Ong menjenguk keluar dari keretanya. Melihat gadis itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan, juga penuh gairah. Gadis itu luar biasa cantiknya! Dan dia telah kehilangan begitu banyak selir muda yang cantik. Kalau bisa mendapatkan gadis ini, terhiburlah dia oleh kehilangan semua selirnya itu.

“Seng-jin, siapakah dia?” bisiknya kepada Koksu setelah dia turun dan mendekati.

“Dia bernama Giam Kwi Hong, keponakan Majikan Pulau Es dan kini agaknya menjadi murid Bu-tek Siauw- jin, setan bangkotan Pulau Neraka. Dia lihai, terutama pedangnya, akan tetapi harap Ong-ya tidak perlu khawatir. Tanpa gurunya, mudah bagi saya untuk menundukkan dan membunuhnya.”

“Jangan dibunuh. Kalau kita dapat menariknya sebagai sekutu, bukankah baik sekali? Tentu membuka kemungkinan untuk menarik pamannya, Pendekar Siluman Majikan Pulau Es, untuk membantu kita pula menghadapi Kaisar.”

Sepasang mata Koksu itu bersinar-sinar dan sekaligus dia dapat memikirkan akal yang amat baik, sesuai dengan usul pangeran yang dianggapnya tepat sekali ini. Cepat dia mengeluarkan ucapan dalam bahasa India yang ditujukan kepada paman gurunya, Maharya. Pendeta itu mengangguk-angguk, tertawa dan melangkah maju bersama Koksu menghampiri Kwi Hong.

“Bagus, majulah kalian berdua, agar mudah bagiku untuk membunuh kalian sekaligus dengan pedangku!” Kwi Hong membentak, siap dengan pedangnya.

“Sabarlah, Nona. Kami hendak membicarakan urusan penting dengan Nona. Sabarlah, sebab sesungguhnya di antara kita tidak ada permusuhan sesuatu.” Tiba-tiba Maharya mengeluarkan kata-kata dengan lambat namun jelas, keluarnya satu-satu dan setiap ucapan mengeluarkan getaran hebat dari ilmu hitamnya untuk mempengaruhi gadis itu.

Gelombang getaran hebat menyambar ke arah Kwi Hong dan terasa benar oleh dara ini, membuatnya agak pening dan tubuhnya bergoyang-goyang. Akan tetapi, dengan pengerahan sinkang-nya dia dapat berdiri tegak kembali dan memandang dengan mata penuh kemarahan. Akan tetapi sebelum dia sempat menjawab, terdengar suara Koksu lemah lembut,

“Nona, harap maafkan kalau kami pernah menyerangmu karena Nona berada bersama dengan Bu-tek Siauw-jin. Setelah kami mengetahui bahwa Nona bukan menyeberang kepada Pulau Neraka, melainkan masih keponakan Majikan Pulau Es, maka sadarlah kami bahwa Nona bukanlah musuh, melainkan teman senasib dan seperjuangan dengan kami.”

“Tidak perlu mengeluarkan kata-kata membujuk yang kosong!” Kwi Hong masih dapat mempertahankan diri terhadap getaran yang terus dikerahkan oleh Maharya untuk mempengaruhi dirinya dan pikirannya. “Memang aku keponakan Majikan Pulau Es, dan aku tidak akan pernah lupa betapa kalian memimpin pasukan menghancurkan Pulau Es, membunuh banyak orang kami, bahkan telah menawanku dengan akal jahat!”

“Aihhh, harap Nona jangan terburu nafsu. Pada waktu itu kami hanyalah petugas-petugas saja dari Kaisar. Kaisar yang memusuhi Pulau Es. Kaisar membenci Pendekar Siluman pamanmu itu karena pamanmu pernah mencemarkan nama baik kerajaan. Kami hanya ditugaskan untuk menyerang Pulau Es. Kalau mau bicara tentang biang keladinya, hanyalah Kaisar sendiri yang bertanggung jawab! Kami sudah merasa menyesal sekali mengapa dahulu kami menurut saja akan perintah Kaisar lalim itu! Karena kelalimannya maka kami memberontak! Kita semua telah dibikin sakit hati oleh Kaisar lalim itu, Nona. Karena itu, apa perlunya antara kita bermusuhan sendiri, sedangkan kita semua dikejar-kejar oleh pasukan Kaisar yang dipimpin oleh Majikan Pulau Neraka dan oleh Ketua Thian-liong-pang? Mereka menggunakan kesempatan ini untuk merangkul Kaisar, untuk menghancurkan kita, ya, kita, karena Pulau Es menjadi musuh besar mereka!”

Hati Kwi Hong mulai tergerak, sebagian karena ucapan-ucapan Koksu, tetapi terutama sekali oleh gelombang getaran ilmu hitam Maharya yang mukjizat. Dia menjadi ragu-ragu sekali. “Hemmm… begitukah? Paman memang tidak pernah mau dekat dengan kerajaan…”

“Tentu saja. Pamanmu juga seorang pelarian, seperti kami. Dari pada antara kita yang senasib ini terjadi permusuhan, bukankah jauh lebih baik jika kita bersatu menghadapi Kaisar lalim dan membalas dendam kita bersama?”

Pengaruh ilmu sihir yang dikerahkan oleh Maharya telah melumpuhkan semua daya tahan Kwi Hong, dan kini dia mendengarkan ucapan Koksu dengan penuh perhatian, alisnya berkerut dan tangannya yang memegang pedang Li-mo-kiam tidak menegang lagi. Kemudian dia mengangguk-angguk dan berkata, masih agak meragu,

“Mana mungkin kita melawan pasukan pemerintah?”

“Ha-ha!” Maharya kini berkata dengan suaranya yang menggetar. “Jangan Nona ragu-ragu, karena kami telah membuat persiapan. Marilah Nona ikut bersama kami dan menyaksikan sendiri persiapan kami dengan pasukan kami yang amat kuat. Kalau Nona membantu kami, apa lagi kalau kita bersama dapat bergabung dengan Majikan Pulau Es, apa sukarnya menghancurkan kekuasaan Kaisar lalim itu?”

Kwi Hong teringat. Pamannya menjadi pelarian, bersembunyi dan mengasingkan diri di Pulau Es, bahkan kemudian pulau itu dihancurkan oleh pemerintah. Memang harus dia akui bahwa pemerintah telah memusuhi pamannya dan telah melakukan hal-hal yang menyakitkan batin.

“Baiklah,” dia menyarungkan pedang Li-mo-kiam. “Aku suka bekerja sama dengan kalian, untuk menghukum Kaisar lalim!”

Pangeran Yauw Ki Ong segera maju dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada. “Kami merasa berterima kasih, bersyukur, dan bergirang hati sekali mendengar keputusan Lihiap (Pendekar Wanita) yang bijaksana. Selamat datang dan selamat berjuang bersama-sama, Lihiap. Percayalah, kami Pangeran Yauw Ki Ong yang tidak sudi menyaksikan kelaliman Paman Kaisar menindas rakyat. Setelah kami berhasil menduduki singasana, tidak akan pernah dapat melupakan jasa Lihiap yang amat berharga ini!” Ucapan itu dikeluarkan dengan sikap halus dan sopan, disertai pandang mata kagum dan senyum menggerakkan kumis tipis pangeran itu yang dimaksudkan untuk menundukkan hati perawan cantik perkasa itu. Namun, Kwi Hong hanya balas menghormat dan seujung rambut sekali pun tidak pernah merasa tertarik kepada aksi Si Pangeran ini.

Seekor kuda yang terpilih disediakan untuk Kwi Hong dan tak lama kemudian, dara ini telah menunggang kuda di antara rombongan itu, menjadi sekutu mereka dan bersama-sama mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke utara di mana terdapat gabungan pasukan anak buah Koksu, orang-orang Nepal dan orang-orang Mongol.

Demikianlah, tentu saja sia-sia bagi Bu-tek Siauw-jin untuk mencari muridnya itu di kota raja. Dia dan Bun Beng hanya menduga bahwa karena di utara ada ‘keramaian’, yaitu pengejaran yang dilakukan pasukan- pasukan pemerintah di bawah pimpinan Puteri Nirahai terhadap para pemberontak, agaknya Kwi Hong pun tentu akan menonton keramaian ke sana. Dugaan ini membuat keduanya tidak betah tinggal terlalu lama di kota raja dan segera mereka pun melakukan perjalanan cepat menyusul ke utara. Di sepanjang perjalanan, tiada hentinya Bun Beng memperdalam ilmunya yang baru, terutama sekali permainan Ilmu Silat Pedang Lo-thian Kiam-sut yang dilakukan dengan tangan kosong dengan pengerahan tenaga gabungan yang dia latih dari Pendekar Super Sakti dan Kakek Bu-tek Siauw-jin.

Rombongan yang diikuti Kwi Hong itu setelah tiba di Tembok Besar di sebelah utara Peking, lalu menyusuri sepanjang tembok yang besar dan panjang itu menuju ke timur. Kiranya pasukan gabungan para pemberontak itu bersembunyi di dekat gunung-gunung dan jurang-jurang yang amat curam. Memang tempat ini amat tersembunyi dan juga liar sehingga pasukan penjaga kerajaan pun hanya beberapa hari sekali saja meronda di bagian ini. Akan tetapi pada waktu itu, semua pasukan di sekitar daerah ini yang melakukan penjagaan di tapal batas Tembok Besar adalah pasukan anak buah Koksu yang memang sudah diatur sebelumnya. Karena ini pula maka mudah bagi orang-orang Nepal dan Mongol untuk menyelundup masuk melalui Tembok Besar di mana terjaga oleh kaki tangan Koksu sendiri.

Di sekitar Tembok Besar di lembah Sungai Luan itu telah dibangun pondok-pondok darurat yang dijadikan markas oleh pasukan gabungan pemberontak ini. Bahkan para jagoan yang tadinya menanti di sebelah utara kota raja, di daerah sumber minyak di mana Bun Beng pernah mengamuk, setelah usaha mereka membunuh Kaisar gagal, sisa para jagoan ini pun sudah melarikan diri dan berkumpul menjadi satu di lembah Sungai Luan ini, untuk memperkuat pasukan pemberontak. Kekuatan mereka terdiri dari kurang lebih lima ratus orang, dan merupakan gabungan pasukan Mongol, Nepal dan pasukan pengawal Koksu yang rata-rata merupakan prajurit-prajurit pilihan.

Pangeran Yauw Ki Ong yang tergila-gila oleh kecantikan Kwi Hong, bersikap amat manis terhadap nona ini. Pangeran yang sudah banyak pengalaman dengan usianya yang mendekati empat puluh tahun itu tidak mau melakukan tindakan yang tergesa-gesa dan sembrono terhadap Kwi Hong karena dia maklum bahwa nona ini bukan seorang wanita sembarangan. Dia ingin menguasai tubuh Kwi Hong, akan tetapi bukan hanya tubuhnya yang menggairahkan dan wajahnya yang cantik saja, juga terutama sekali ilmu kepandaiannya yang tinggi.

Kalau dia dapat meraih dara ini menjadi selirnya yang tercinta, maka dia sekaligus mendapatkan seorang penghibur yang cantik jelita dan seorang pengawal pribadi yang boleh diandalkan! Dia maklum bahwa dengan bantuan Koksu dan Maharya, setelah dara ini dapat dibujuk bergabung, dengan mudah dia dapat menggunakan kekerasan atau dengan pengaruh ilmu sihir Maharya untuk menggagahi tubuh dara ini secara paksa. Namun hal ini sama sekali tidak dikehendakinya.

Setelah tiba di markas mereka yang berada di lembah Sungai Luan, di atas puncak Pegunungan Merak Merah, rombongan ini beristirahat. Pada keesokan harinya mereka berkumpul, yaitu Pangeran Yauw, Koksu, Maharya, Thian Tok Lama, Kwi Hong, dan para panglima tinggi, untuk mengatur siasat menghadapi pemerintah yang ingin mereka gulingkan. Akhirnya diambil keputusan untuk selain melakukan penjagaan ketat, juga untuk mengirim utusan mata-mata dan para penyelidik untuk mengetahui gerak-gerik musuh di selatan.

Selesai berunding, Pangeran Yauw mengajak Kwi Hong untuk berburu di bawah puncak dengan pasukan pengawal.

“Lihiap tentu belum mengenal daerah ini,” katanya manis. “Di sini banyak sekali terdapat rusa kesturi yang mempunyai dedes yang amat harum baunya.”

Kwi Hong tertarik sekali. “Pangeran, apakah dedes itu?”

Sang Pangeran tersenyum penuh gaya. Sambil menggerak-gerakkan tangan untuk menimbulkan kesan lebih mendalam, dia menjawab, “Dedes adalah semacam peluh yang keluar dari tubuh belakang rusa kesturi, dan merupakan bahan wangi-wangian yang amat berharga dan sukar dicari bandingnya dalam hal keharumannya, dan tidak sembarang waktu seekor rusa kesturi mengeluarkan peluh dedes ini. Peluh ini hanya keluar di waktu seekor rusa kesturi datang birahinya dan keluarnya dedes yang menyiarkan bau harum itu adalah daya penarik untuk mengundang seekor lawan kelaminnya untuk… hemmm… untuk bermain cinta.”

Biar pun pangeran itu sudah bicara dengan hati-hati sekali, namun tetap saja wajah Kwi Hong menjadi merah sekali mendengar penuturan itu. Sejenak Pangeran Yauw terpesona. Betapa cantiknya ketika sepasang pipi Kwi Hong berubah merah seperti itu! Andai kata dia sendiri seekor rusa kesturi, di saat itu tentulah dia akan mengeluarkan peluh dedes yang tidak kepalang tanggung banyaknya!

“Di samping rusa kesturi ini, juga terdapat rusa-rusa muda yang tanduknya merupakan bahan obat kuat yang amat mujarab. Obat lok-jiong (tanduk menjangan muda) amat mahal dan tanduk itu dapat membuat tubuh menjadi sehat segar dan usia menjadi panjang. Selain binatang-binatang itu kita manfaatkan tanduknya dan dedesnya, juga dagingnya sedap bukan main, lunak gurih dan menghangatkan tubuh. Di samping ini, masih terdapat binatang-binatang lain dan tanam-tanaman yang belum pernah Nona saksikan sebelumnya. Marilah kita berburu, saya tanggung Nona akan merasa puas dan gembira sekali.”

Dan pangeran itu memang tidak berbohong. Pemandangan alam di Pegunungan Merak Merah itu benar- benar amat indah, dan banyak terdapat tumbuh-tumbuhan dengan bunga-bunga beraneka warna yang belum pernah dikenal Kwi Hong. Bermacam batang bambu yang aneh-aneh dan bagus sekali tumbuh di daerah ini. Setelah berburu selama setengah hari, Kwi Hong dan Pangeran Yauw berhasil memanah roboh dua ekor rusa yang gemuk dan muda, dan kebetulan sekali dari dua ekor rusa ini terdapat dedesnya dan dari yang kedua terdapat tanduknya yang muda dan panjang.

Sore hari itu, Pangeran Yauw mengundang Kwi Hong untuk duduk di tepi Sungai Luan, di dalam taman alam yang amat sejuk dan indah, menghadapi meja penuh hidangan arak dan bermacam masakan daging rusa yang lezat! Dalam kegembiraannya, Kwi Hong yang menganggap bahwa pangeran itu adalah seorang bangsawan yang sopan dan ramah, sama sekali tidak menaruh curiga dan makan minum bersama pangeran itu, bahkan tertawa memuji ketika Sang Pangeran menuliskan beberapa baris sajak. Kiranya pangeran bangsa Mancu ini pandai pula dalam hal kesusastraan. Setelah mereka makan cukup kenyang dan minum arak yang cukup memanaskan tubuh, Pangeran Yauw memanggil pelayan pribadinya dan menyuruh mengambil arak simpanannya. Arak di dalam sebuah guci batu giok biru itu ditaruh di atas meja.

“Giam-lihiap, ini adalah arak simpanan yang saya dapatkan di selatan. Arak yang amat luar biasa, sudah tua sekali. Harap Lihiap sudi menerima penghormatan kami dengan tiga cawan arak ini!” Sambil tersenyum Pangeran Yauw menuangkan secawan arak dari guci arak batu giok itu. Arak itu berwarna merah kekuningan, amat harum baunya dan ketika berada di dalam cawan, kelihatan seperti air emas.

“Kami namakan arak ini arak emas. Silakan minum, Lihiap!”

Kwi Hong merasa sudah terlalu banyak minum akan tetapi dia merasa tidak enak untuk menolak. Diminumnya arak dari cawan itu bersama dengan pangeran yang juga mengangkat cawannya. Arak itu memang enak sekali, manis dan harum, akan tetapi juga amat keras sehingga Kwi Hong merasa betapa hawa panas naik ke kepalanya, membuat ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut.

“Masih dua cawan lagi, Lihiap,” kata Sang Pangeran gembira sambil menuangkan lagi arak ke dalam cawan Kwi Hong yang kosong.

“Maaf, Ong-ya. Saya sudah minum terlalu banyak. Tidak kuat lagi…” Kwi Hong menundukkan mukanya dan mengatur napas untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya.

“Aihhh, apakah penghormatan kami yang hanya tiga cawan tak dapat Lihiap terima?” Pangeran itu berkata dengan suara ringan, tanda bahwa dia pun agak mabok.

“Bukan begitu, Ong-ya. Tentu saja saya tidak berani menolak kebaikan Ong-ya, akan tetapi saya benar- benar telah agak pening, maka dua cawan arak ini… biarlah saya minum perlahan-lahan…”

Pangeran itu tersenyum ramah lagi dan mengangguk-angguk. “Aku percaya seorang gagah seperti Lihiap tak akan mengecewakan hatiku. Biarlah guci arak ini kutinggalkan saja di sini, harap Lihiap nanti suka menerima dua cawan arak kehormatan dariku lagi, bahkan boleh menghabiskan arak ini kalau suka. Sisanya berikut guci araknya boleh Lihiap kembalikan nanti, aku menanti di kamar… aku mempunyai sebuah benda yang amat berharga, hendak kuserahkan kepada Lihiap sebagai hadiah.” Setelah berkata demikian, pangeran itu meninggalkan Kwi Hong dengan langkah kaki agak terhuyung-huyung, langkah seorang mabok.

Kwi Hong menjadi lega hatinya. Harus diakuinya bahwa pangeran itu bersikap amat baik kepadanya. Memang dia tidak bermaksud menolak minum dua cawan arak lagi, akan tetapi ia hanya takut kalau dua cawan itu diminumnya sekaligus, dia akan menjadi mabok betul-betul. Kalau dibiarkannya minum sendiri perlahan-lahan, kiranya tidak apa-apa. Dia mengangkat guci arak itu dan dipandangnya di bawah sinar lampu merah yang dipasang di taman alam itu. Sebuah guci arak giok yang amat indah. Dia tersenyum, meletakkan guci ke atas meja, kemudian memandang cawan arak wangi.

Cawan yang kedua! Ketika tangannya bergerak ke arah cawan, hendak diangkat dan diminumnya arak itu sedikit demi sedikit, tiba-tiba dara itu menaruh cawan araknya cepat ke atas meja dan gerakan cepat ini membuat arak sedikit tumpah, sedangkan tangan kirinya menyambar benda hitam yang meluncur ke arah dirinya. Melihat bahwa benda itu adalah sebuah batu hitam kecil dan ada sehelai kertas diikat pada batu, dia menjadi curiga dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat ke arah datangnya batu tadi.

Akan tetapi tidak ada siapa-siapa di sekitar tempat itu, dan ketika dia melanjutkan pencariannya keluar dari taman alam itu, dia hanya melihat lima orang tukang kuda sedang bekerja keras menyikat tubuh kuda-kuda tunggangan pangeran dan para pembesar lainnya. Tentu saja Kwi Hong tidak mau menanyakan sesuatu kepada mereka ini dan dia kembali ke dalam taman. Di bawah sinar lampu merah, dia melihat tulisan di atas kertas itu. Hanya beberapa huruf yang ditulis dengan tergesa-gesa agaknya. JANGAN DIMINUM ARAK PERANGSANG ITU!

Kwi Hong mengerutkan alisnya, meremas hancur kertas itu dan membuangnya sambil memandang ke arah cawan arak dan guci yang masih terletak di atas meja. Dia merasa penasaran karena sungguh tidak mengerti. Apa artinya arak perangsang? Jelas bukan arak beracun, sebab jika beracun, tentu dia sudah roboh. Pula, mengapa pangeran akan meracuninya? Pangeran itu dan semua pembantunya merupakan sekutunya untuk menghadapi Kaisar! Tak mungkin mereka itu mempunyai niat buruk terhadap dirinya.

Akan tetapi, apa maksud Si Penulis surat aneh ini? Dan siapa orangnya? Diukur dari tenaga lemparan batu kecil tadi, orang itu memiliki kepandaian biasa saja!

Biar pun Kwi Hong tidak mempedulikan isi tulisan itu dan dia pun tidak takut kalau-kalau dia diracuni, namun kegembiraannya lenyap dan dia tidak mau lagi minum arak. Arak yang sudah berada di dalam cawan itu dia tuangkan kembali ke dalam guci, kemudian dia membawa guci batu giok itu menuju pondok besar tempat peristirahatan Pangeran Yauw Ki Ong.

Setelah penjaga mempersilakan masuk seperti yang dikehendaki pangeran, Kwi Hong memasuki pondok. Alisnya berkerut dan hatinya tidak senang sekali ketika ia melihat pangeran itu dengan pakaian setengah telanjang roboh telentang di atas pembaringan dan dikeroyok oleh dua orang wanita cantik yang menggosok tubuhnya dengan minyak, sedangkan orang kedua memijat tubuhnya.

“Ha-ha, engkau telah datang menyusulku, Lihiap? Harap kau taruh saja guci itu di atas meja dan duduklah. Duduklah di kursi itu, atau di pinggir pembaringan ini, nanti akan kuambilkan sebuah hiasan rambut burung Hong dari batu giok yang amat indah, hendak kuhadiahkan untukmu.”

Karena sikap pangeran ini masih ramah dan tidak menonjolkan kekurang ajaran, maka Kwi Hong yang agak pening oleh arak itu masih tidak merasa. Dia masih terlalu jujur untuk dapat mengenal kegenitan seorang laki-laki yang hendak menjatuhkannya, maka setelah meletakkan guci itu di atas meja dia menjura dan berkata,

“Saya hendak mengaso, Pangeran, dan tidak berniat melanjutkan percakapan kita. Soal hadiah, saya tidak membutuhkannya dan kalau Ong-ya hendak memberikan kepadaku, besok masih banyak waktu. Selamat malam dan maafkan saya.” Tanpa menanti jawaban dara itu membalikkan tubuh dan dengan langkah lebar meninggalkan pangeran itu yang menjadi kecewa sekali.

Pangeran Yauw mendorong dua orang pelayannya dan meloncat turun, menyambar guci arak, membuka tutupnya dan mengintai isinya. Dia kecewa sekali dan maklum bahwa calon korbannya itu tidak minum lagi. Biar pun secawan dari arak emas ini sudah cukup untuk merobohkan seorang wanita yang bagaimana keras hati dan dingin sekali pun, namun agaknya masih kurang kuat untuk menundukkan Kwi Hong! Obat perangsang itu belum cukup kuat untuk mempengaruhi Kwi Hong yang masih bersih, hanya membuat dara itu bingung saja! Pangeran Yauw maklum bahwa dia tidak boleh terburu nafsu, dan dia akan mencari kesempatan lain untuk melampiaskan niatnya. Dia tersenyum mengusir kekecewaannya, kemudian merangkul dua orang pelayannya itu sebagai penghibur dan pengganti diri Kwi Hong yang tadinya ia harapkan malam itu akan terjatuh ke dalam pelukannya.

Selagi Pangeran Yauw Ki Ong tenggelam ke dalam hiburan kedua orang pelayan wanita muda itu, dan Kwi Hong ke dalam kenyenyakan tidur tanpa mimpi akibat hawa arak, dan Koksu bersama para pembantunya yang berilmu tinggi juga beristirahat dengan hati tenteram karena percaya akan ketatnya penjagaan anak buah mereka, tampaklah dua sosok bayangan tubuh orang yang berkelebat dan bergerak seperti setan di dekat markas para pemberontak ini.

Di dalam kegelapan malam muda itu memang dua sosok bayangan yang berkelebatan di sekitar tempat itu amat mengerikan. Gerakan mereka cepat laksana gerakan iblis sendiri, meloncat ke sana-sini dan kadang- kadang terdengar suara ketawa menyeramkan. Karena bulan belum muncul, sukar untuk menentukan bentuk dua sosok bayangan itu.

Akan tetapi setelah bulan yang lambat itu mulai muncul dan memuntahkan cahayanya yang pucat disaring awan-awan tipis sehingga menciptakan cahaya redup kehijauan di malam hari yang sunyi itu, bentuk dua sosok bayangan itu kelihatan agak jelas. Kiranya mereka adalah dua orang manusia, sungguh pun tidak mungkin manusia biasa melihat cara mereka bergerak secepat itu.

Seorang di antara mereka bertubuh pendek sekali, rambutnya panjang riap-riapan membuat kepalanya yang besar itu kelihatan makin besar, dan Si Pendek inilah yang tertawa-tawa. Temannya tidaklah setua kakek pendek ini, melainkan seorang muda yang kepalanya dilindungi sebuah topi caping lebar dan di punggungnya tampak buntalan pakaiannya. Sebuah kuncir rambut besar kadang-kadang melambai di balik pundaknya ketika dia bersama kakek itu berloncatan melalui jurang-jurang yang curam. Dilihat dari jauh, ulah mereka seperti dua ekor kijang bermain-main dan saling berkejaran di malam sunyi itu.

Akan tetapi tak lama kemudian tampaklah bayangan mereka. Kakek itu masih tertawa-tawa, akan tetapi mereka membawa sekumpulan senjata yang banyak sekali. Susah payah mereka membawa senjata- senjata tajam yang malang-melintang itu sehingga ada yang tercecer di jalan.

“Ha-ha-ha, betapa lucunya kalau mereka itu dikejutkan dan dalam kegugupan mencari-cari senjata mereka!” kata yang muda. Kakek pendek itu pun tertawa, akan tetapi dia lalu menengadah dan bernyanyi,

Senjata adalah benda sialan dibenci oleh siapa pun juga
tidak dipergunakan para bijaksana, Bahkan dalam kemenangan sekali pun senjata tak sedap dipandang mata karena yang mengagungkannya hanyalah pembunuh-pembunuh kejam! Alat pembunuhan antar manusia menimbulkan kematian terpaksa mendatangkan duka dan air mata
dan kemenangan dirayakan dengan upacara kematian!

“Locianpwe, saya mengenal sebagian kalimat nyanyian Locianpwe adalah dari isi kitab To-tek-keng! Akan tetapi juga tak sama…” Pemuda itu, Gak Bun Beng menegur heran.

“Ha-ha-ha, perlu apa menghafal isi ujar-ujar kitab apa pun juga seperti seekor burung? Yang penting adalah mengerti dan melaksanakan, karena pelaksanaan yang berdasarkan pengertian bukanlah penjiplakan belaka namanya. Aku benci segala macam senjata, hayo kita buangkan semua senjata di dalam gudang itu!”

Dua orang itu membawa senjata-senjata yang mereka panggul itu ke tepi jurang, lalu melemparkan senjata-senjata itu ke dalam jurang yang hitam, jurang yang tak dapat diukur dalamnya sehingga ketika senjata-senjata itu sampai ke dasar ujung, tidak terdengar apa-apa dari tempat mereka berdiri! Sambil tertawa-tawa, Bu-tek Siauw-jin dan Bun Beng segera berlarian lagi menghampiri gudang senjata milik para pemberontak untuk mengangkuti semua senjata yang terkumpul di situ dan dibuang ke dalam jurang. Belasan orang penjaga gudang itu masih berdiri di tempat masing-masing, akan tetapi mereka ini berdiri seperti arca karena sudah tertotok, bahkan senjata di tangan dan di pinggang mereka pun sudah dilucuti oleh Bu-tek Siauw-jin dan ikut terbawa untuk dibuang ke dalam jurang itu.

Karena jarak antara gudang senjata dan jurang tempat pembuangan itu cukup jauh, dan jumlah senjata dalam gudang amat banyak sedangkan betapa pun saktinya, kedua orang itu masing-masing hanya mempunyai sepasang tangan, setelah bekerja sampai pagi, belum ada setengah isi gudang berhasil mereka buang ke dalam jurang.

Ketika untuk kesekian kalinya Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin kembali ke gudang, begitu mereka memasuki gudang, terdengar bentakan-bentakan dan ternyata gudang itu telah dikurung oleh puluhan orang prajurit! Mereka telah ketahuan, atau lebih tepat lagi, peronda telah melihat penjaga-penjaga yang tertotok kaku itu sehingga mereka segera melaporkan kepada Koksu dan Koksu yang menduga bahwa tentu ada mata-mata musuh menyelundup sudah memasang perangkap sehingga ketika dua orang itu datang, mereka telah terkurung!

Tentu saja kedua orang itu segera diserbu dan dikeroyok oleh puluhan orang prajurit. Apa lagi setelah Koksu menerima pelaporan bahwa yang mengacau di gudang senjata adalah Bu-tek Siauw-jin dan Gak Bun Beng, segera dia kerahkan para pembantunya untuk mengeroyok.

“Wah, repot nih, Bun Beng!” Bu-tek Siauw-jin berkata, sambil sibuk meloncat ke sana-sini di antara serbuan para prajurit. “Kita membuang senjata supaya jangan ada perang, malah diperangi!”

“Mari kita keluar, Locianpwe!” Bun Beng berkata, khawatir juga karena dia tidak mungkin dapat menghadapi pengeroyokan hebat itu dengan sikap berkelakar dan tidak peduli seperti kakek yang agaknya tidak bisa melihat bahaya itu.

Dengan gerakan kaki tangannya, Bun Beng berusaha membuka jalan keluar dari dalam gudang senjata, akan tetapi karena Bu-tek Siauw-jin enak-enak saja menandingi semua pengeroyoknya, kadang-kadang terkekeh girang kalau melihat beberapa orang terjengkang roboh sendiri setelah memukulnya, Bun Beng merasa bingung dan benar-benar mendongkol sekali. Kakek itu agaknya malah girang dan gembira menghadapi pengeroyokan itu, seperti seorang kanak-kanak memperoleh sebuah permainan baru dan merasa sayang untuk meninggalkannya!

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras di luar gudang tempat pengeroyokan itu dan terjadilah kekacauan hebat. Menurut pendengarannya yang memperhatikan suara teriakan-teriakan itu, Bun Beng mendapat kenyataan bahwa markas pemberontak itu telah diserbu oleh pasukan pemerintah! Keadaan menjadi kacau balau. Koksu dan para pembantunya segera lenyap dari situ meninggalkan Bun Beng dan Bu-tek Siauw-jin yang masih dikeroyok oleh para pasukan penjaga. Tentu saja bagi Koksu dan teman- temannya, berita penyerbuan pasukan pemerintah itu lebih penting, lebih hebat dan harus segera ditanggulangi dari pada kekacauan yang disebabkan oleh perbuatan dua orang ini.

Memang benarlah apa yang didengar oleh Bun Beng. Pasukan besar pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Nirahai dan Lulu telah datang menyerbu tempat itu secara mendadak. Terjadilah perang yang amat hebat, perang mati-matian karena para pemberontak membuat pertahanan yang terakhir. Mereka masih menanti datangnya bala bantuan dari barat dan utara, siapa mengira bahwa pagi hari itu mereka harus menghadapi penyerbuan pasukan pemerintah yang tidak mereka sangka-sangka akan demikian cepat datangnya. Tentu saja Koksu tidak menyangka bahwa Puteri Nirahai sendiri yang menjadi pemimpin penyerbuan ini, seorang puteri yang sudah banyak pengalamannya dalam menghadapi pasukan pemberontak, seorang yang tidak saja ahli dalam hal ilmu silat, juga seorang ahli perang yang terkenal!

Setelah Koksu dan para pembantunya meninggalkan gudang senjata di mana Bun Beng dan Bu-tek Siauw- jin terkepung, tentu saja dengan mudah kedua orang sakti ini mampu keluar dari kepungan. Apa lagi karena para prajurit yang mendengar akan penyerbuan tentara musuh sudah menjadi panik, bahkan akhirnya sisa mereka meninggalkan dua orang itu untuk membantu teman-teman menghadapi pasukan pemerintah. Gudang senjata telah mereka bobol dari belakang dan sisa senjata yang masih berada di dalam gudang telah mereka angkut keluar untuk dipergunakan para pasukan menghadapi musuh.

“Wah, perang telah terjadi?” kata Bu-tek Siauw-jin setelah mereka berdua keluar dari dalam gudang senjata. Terdengar dari situ pekik sorak mereka yang berperang, dan suara senjata yang menggegap gempita.

“Mudah-mudahan saja para pemberontak segera dapat dihancurkan,” kata Bun Beng sambil berdiri termenung. Yang terbayang di depan matanya adalah Milana. Apakah dara itu ikut berperang membantu ibunya yang memimpin pasukan pemerintah itu? Teringat betapa pihak pemberontak terdapat orang-orang pandai seperti Maharya, Koksu, dan Thian Tok Lama, ia merasa khawatir juga akan kekasihnya itu.

“Locianpwe, saya hendak menonton perang dan kalau perlu membantunya.” “Eh, kau mau membantu siapa?”
“Membantu Puteri Nirahai dan puterinya.”

“Mengapa? Apakah engkau sudah menjadi kaki tangan pemerintah pula?”

“Bukan begitu, Locianpwe. Akan tetapi, kita sudah melihat bahwa pemberontak dipimpin oleh orang-orang sesat macam Koksu, Maharya, dan yang lain-lain. Mereka itulah yang menimbulkan perang sehingga akan mengorbankan nyawa banyak orang, karena itu maka merekalah yang akan saya tentang.”

Bu-tek Siauw-jin mengangguk-angguk. “Hemm, boleh kita menonton, akan tetapi kalau tidak perlu sekali, untuk apa kita mengotorkan tangan ikut dalam perang yang hanya merupakan penyembelihan antara manusia?”

Bun Beng tidak mau banyak berbantah dengan kakek sinting ini, dan keduanya lalu menyelinap di antara pohon-pohon dan berloncatan melalui jurang-jurang menuju ke tempat di mana terjadi perang yang amat dahsyat.

Akan tetapi ketika mereka tiba di bagian yang datar, tiba-tiba mereka melihat hal yang amat mengejutkan. Para pasukan pemberontak di bagian ini tiba-tiba mundur, akan tetapi ketika pasukan pemerintah mendesak, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan muncullah seekor gajah yang amat besar. Binatang raksasa inilah yang mengeluarkan suara melengking tadi dan pasukan pemerintah yang berada paling depan segera berhadapan dengan gajah ini. Seorang tinggi kurus berkulit hitam yang menunggang gajah itu. Pendeta Maharya sendiri mengeluarkan aba-aba dan gajah itu mengamuk!

Dengan belalainya yang besar, sekali sambar gajah itu menangkap dua orang prajurit musuh, membantingnya remuk dan dengan kedua kaki depannya yang besar binatang itu menginjak ke depan, membuat dua orang musuh lain lagi terinjak gepeng. Maharya yang berada di atas gajah itu masih menggerakkan senjatanya tombak bulan sabit, tampak sinar berkelebat dan empat orang prajurit pemerintah roboh. Maharya mengeluarkan pekik nyaring dan tiba-tiba cuaca di tempat itu menjadi gelap, debu mengepul tinggi dan di balik kegelapan ini menyerbulah pasukan Nepal yang dipimpin oleh Maharya, menyerbu bagaikan pasukan setan ke depan!

Pasukan pemerintah menjadi kacau balau dan pecah belah. Mereka menjadi bingung, apa lagi ketika dua orang perwira pemimpin mereka dengan mudah roboh binasa oleh amukan gajah dan melihat betapa cuaca menjadi gelap, debu mengebul tinggi, mereka makin panik. “Pasukan siluman…!” terdengar teriakan.

“Pasukan siluman… laporkan ke induk pasukan!”

Kiranya, pasukan itu adalah pasukan Nepal yang baru saja datang, pasukan yang dinanti-nanti oleh Koksu. Begitu pasukan ini tiba bersama lima ekor gajahnya, Maharya cepat menyambutnya, menunggangi seekor gajah dan segera Maharya sendiri yang memimpin pasukan istimewa ini, menggunakan ilmu hitamnya, dibantu oleh pasukan istimewa ini yang menggunakan debu dan asap hitam untuk mengacau musuh. Jumlah mereka sebetulnya hanya seratus orang, akan tetapi karena mereka itu terlatih dan memiliki cara- cara berperang yang aneh, mereka mampu mendatangkan kekacauan dan banyak di antara pasukan pemerintah yang roboh menjadi korban, terutama sekali amukan lima ekor gajah, seekor di antaranya yang ditunggangi Maharya sendiri.

“Locianpwe, kita harus membantu mereka menghadapi pasukan siluman itu!” Bun Beng berkata, kemarahannya timbul menyaksikan musuh besarnya, Maharya, dengan ganas membunuh pasukan pemerintah dengan bantuan gajahnya dan tombak bulan sabitnya.

“Ha-ha-ha! Maharya Si Dukun Lepus itu memang menyebalkan sekali. Ilmu setannya ini, siapa lagi kalau bukan aku yang dapat membuyarkannya?” Bu-tek Siauw-jin tertawa sambil menerjang ke depan menyambut debu dan uap yang mengebul itu.

“Maharya, sejak dahulu engkau mendatangkan keributan saja!” Bun Beng membentak lalu meloncat ke depan, langsung menyerang pendeta kurus itu dengan pukulan tangan ke arah kepala.

Melihat munculnya pemuda ini, Maharya memandang rendah. Biar pun pemuda itu dia tahu cukup lihai seperti yang diperlihatkannya ketika pemuda itu membela Pulau Es ketika pulau itu diserbu oleh pasukan Koksu dahulu, namun baginya, pemuda itu tidak ada artinya. Yang membuat dia khawatir hanya ketika melihat munculnya Bu-tek Siauw-jin tadi.

Kakek pendek itulah yang perlu diperhatikan, karena dia tahu bahwa dia sendiri takkan dapat menangkan kakek iblis Pulau Neraka itu. Akan tetapi, dia dibantu oleh gajah-gajahnya, oleh pasukan siluman dari Nepal, apa lagi Koksu, Thian Tok Lama, dan banyak tokoh pandai lain berada tidak jauh dari situ. Pemuda ini harus dibunuh lebih dulu.

“Mampuslah!” Dia berteriak dengan suara nyaring. Tombak bulan sabit di tangannya bergerak, gagangnya menusuk dan menyambut tubuh Bun Beng yang meloncat ke atas tadi, menusuk ke arah pusar pemuda itu.

Melihat gerakan Maharya ini amat kuat, Bun Beng tentu saja tidak membiarkan dirinya disate gagang tombak.

“Haaiiittt…! Plak! Wiiirrr…!”

Tangan Bun Beng menangkis gagang tombak itu dengan meminjam tenaga tusukan gagang tombak ini, ia membuat tubuhnya mencelat ke atas dan membuat salto jungkir balik, kemudian seperti seekor burung garuda terbang, dia menyerang ke arah ubun ubun kepala Maharya! Dengan jari tangan kanan dia menusuk ke arah ubun-ubun ketika tubuhnya meluncur ke bawah.

“Aeehhhh!” Maharya berseru keras dan kaget bukan main, kakinya menekan telinga gajah.

Binatang itu mengeluarkan suara melengking dan mengangkat kedua kaki depannya. Gerakan ini tentu saja membuat tubuh Maharya terbawa ke belakang dan otomatis terbebas dari serangan Bun Beng yang tubuhnya meluncur ke bawah itu. Dengan geram Maharya menggerakkan tombak bulan sabitnya menyambut tubuh Bun Beng dan dibantu oleh gajahnya yang sudah menggerakkan belalainya untuk menangkap tubuh pemuda itu!

Bun Beng tidak merasa kaget menghadapi kegagalannya dan dia melihat serangan berbahaya ini. Dia sudah cukup mengenal siapa kakek ini dan betapa lihainya kakek ini, maka cepat sekali kakinya bergerak ke depan, menyambut gagang tombak di bawah bulan sabit yang tajam itu, mengerahkan tenaga sehingga begitu kakinya menyentuh gagang tombak tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas, berputaran, kemudian ketika tubuhnya turun dan disambut lagi oleh belalai gajah, pemuda yang perkasa ini menyambut belalai dengan tusukan dua buah jari tangannya! Sambaran tombak di tangan Maharya kembali dapat ia elakkan di tengah udara.

“Plakkk!”

Gajah itu mengeluarkan jerit menyayat hati, kedua kaki depannya diangkat, tubuhnya bergoyang-goyang penuh kemarahan karena kulit belalainya telah terobek oleh dua jari tangan kecil tadi, mencucurkan darah. Melihat dengan mata kecilnya betapa manusia bercaping yang menyakitinya itu telah meloncat ke atas tanah di depannya, gajah itu lalu menghempaskan kedua kakinya hendak menginjak tubuh itu sampai lumat.

Namun, dengan sigap Bun Beng sudah meloncat ke samping, dan tiba-tiba dia sudah menyerang Maharya dari samping kanan. Gerakannya cepat bukan main dan dari tangan kanannya menyambar hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi bercuitan ke arah lambung Maharya. Kemudian ketika tubuhnya turun dan disambut lagi oleh belalai gajah, pemuda yang perkasa ini menyambut belalai dengan tusukan dua buah jari tangan!

“Uuuuh…!” Maharya terkejut sekali ketika dia menggerakkan tombak ke kanan untuk menyambut, tombaknya itu menyeleweng terdorong oleh hawa pukulan dahsyat, dan pukulan tangan kanan pemuda itu masih terus melayang datang bersama tubuh pemuda itu yang melayang cepat. Biar pun dia merasa kaget sekali karena tombaknya menyeleweng terdorong hawa pukulan, namun Maharya tidak gugup dan dia sudah dapat menggunakan lengannya menangkis datangnya tamparan tangan Bun Beng ke arah lambungnya itu.

“Dessss…! Aiihhh…!” Maharya kini terpaksa mengeluarkan teriakan kaget sekali karena benturan lengannya dengan lengan pemuda itu membuat lengannya seperti lumpuh dan tubuhnya terlempar dari atas tubuh gajahnya!

Dia tidak terbanting dan masih dapat menguasai dirinya, namun dia kini memandang kepada Bun Beng dengan mata terbelalak penuh keheranan, kaget serta penasaran. Pemuda itu dapat memaksakannya turun dari punggung gajah dan kini pemuda itu telah berdiri di depannya dengan wajah tenang dan topi caping lebar masih di atas kepalanya!

“Hemm, orang muda, bukankah engkau Gak Bun Beng?”

“Tidak salah dugaanmu, Maharya, dan sebagai seorang muda aku merasa terhormat sekali bahwa namaku dikenal oleh seorang seperti engkau!” Bun Beng menjawab tanpa berani menentang pandang mata pendeta itu.

Biar pun dia telah memiliki kekuatan sinkang yang mukjizat, namun dia maklum betapa hebat pengaruh pandang mata kakek ahli sihir ini, yang dalam ilmu itu bahkan berani menentang dan mengadu sihir dengan Pendekar Super Sakti. Kalau saja sampai dia terpengaruh ilmu hitamnya yang mukjizat, dia bisa celaka!

“Gak Bun Beng, mengapa berkali-kali engkau memusuhi aku seorang tua yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan dirimu? Mengapa?” Suara pendeta itu terdengar halus menimbulkan rasa malu dan iba.

Namun Bun Beng sudah menekan perasaannya dengan tenaga dalam. Dia menjawab, suaranya lantang, “Sejak aku masih kanak-kanak, engkau telah menjadi seorang jahat yang kuanggap musuhku, Maharya. Pertama kali ketika engkau bersama muridmu yang gila, Tan-siucai, mencuri Hok-mo-kiam. Kemudian melihat engkau membantu Koksu menghancurkan Pulau Es, Pulau Neraka, kuanggap engkau seorang yang patut ditentang.”

“Hok-mo-kiam…? Hemmm, karena pedang itu muridku telah tewas, dan pedang itu lenyap. Memperebutkan pedang di antara orang gagah tidak bisa disebut jahat, orang muda.”

“Bukan soal pedang, melainkan karena engkau seorang pendeta yang selalu mengejar kemuliaan duniawi, mengejar kedudukan sehingga rela menjual diri bersekutu dengan Koksu, dipergunakan oleh Koksu, mengacau orang-orang gagah, bahkan tidak segan-segan untuk bermuka dua, berpura-pura bersahabat dengan Thian-liong-pang, akan tetapi diam-diam mengusahakan kematian ketuanya. Apa kau kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di Se-cuan ketika Thian-liong-pang mengadakan pertemuan besar dahulu itu?”

Maharya memandang tajam. “Ehhh? Kau tahu? Kalau begitu… kau tahu pula tentang kematian Tan Ki dan Thai Li Lama…?”

“Tentu saja! Pedang Hok-mo-kiam bukan miliknya atau milikmu. Pedang itu kini sudah kukembalikan kepada yang berhak.”

Merah muka Maharya, sedangkan tombak bulan sabit di tangannya menggetar. “Jadi… engkaukah orangnya yang membunuh muridku?”

“Dia mencari kematiannya sendiri…” Bun Beng tidak dapat melanjutkan kata-katanya sebab ia harus cepat mengelak dari sambaran tombak bulan sabit yang telah meluncur ketika Maharya menyerangnya dengan gerakan penuh kemarahan dan penuh nafsu membunuh.

Maharya sudah marah sekali mendengar bahwa pemuda ini yang membunuh muridnya dan merampas Hok-mo-kiam, dan dia pun maklum bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, kalau tidak cepat dirobohkan akan berbahaya sekali.

“Robohlah! Lihat aku siapa! Pandang aku! Tak mungkin dapat menang melawan aku!” Berkali-kali Maharya membentak dengan suara yang amat berpengaruh, namun Bun Beng sama tidak mempedulikannya, juga tidak pernah menentang pandang mata kakek itu. Dia hanya mengelak dengan cepat karena tombak bulan sabit itu bergerak seperti kilat menyambar-nyambar, sambil menanti kesempatan untuk merobohkan lawan yang tangguh itu.

Sementara itu, dari gumpalan debu dan asap yang menyembunyikan pasukan siluman bangsa Nepal menyambar ratusan batang anak panah ke arah pasukan pemerintah. Pasukan pemerintah yang sedang kacau ini tentu saja menjadi makin bingung ketika tiba-tiba mereka diserang anak-anak panah yang tidak ketahuan dari mana datangnya sehingga banyak di antara mereka yang terjungkal roboh menjadi korban anak panah lawan.

Melihat ini Bu-tek Siauw-jin lalu membentak keras, kedua tangannya mendorong ke depan berkali-kali dan dia terus menerjang maju, tidak mempedulikan anak panah anak panah yang menyambutnya dan yang mengenai seluruh tubuhnya bagian depan. Anak panah yang mengenai tubuhnya runtuh, tidak mempan, dan dari kedua telapak tangan kakek sakti ini menyambar angin yang membuat debu dan asap itu membuyar dan tertiup membalik ke arah para pasukan Nepal sendiri!

Mulailah pasukan Nepal itu tampak setelah debu dan asap membuyar, dan melihat seorang kakek cebol yang sakti membantu pihak mereka, bangkit kembali semangat para prajurit pemerintah. Mereka berteriak- teriak menyerbu dan terjadilah perang sampyuh yang sangat dahsyat antara orang-orang Nepal dan orang- orang Mancu prajurit pemerintah.

Bu-tek Siauw-jin tidak sudi bertanding melawan prajurit-prajurit Nepal yang baginya terlalu lemah itu, dan dia bergembira menghadapi serbuan empat ekor gajah yang ditunggangi oleh perwira-perwira Nepal. Dia menubruk kaki seekor gajah, dicobanya untuk mengangkat tubuh binatang itu, namun terlampau berat, mendorongnya pun amat berat dan agaknya merupakan hal yang amat sukar untuk merobohkan binatang raksasa itu. Bu-tek Siauw-jin menjadi penasaran, meloncat ke belakang, kemudian dia lari ke depan dengan kepala dipasang seperti seekor kerbau mengamuk.

“Desssss!”

Dengan kepalanya, kakek cebol yang sinting itu menubruk dada seekor gajah dan… binatang raksasa itu terjengkang kemudian roboh! Dua orang prajurit Nepal yang tidak menyangka sama sekali dan berada di dekat gajah yang mereka andalkan itu terhimpit perut gajah dan tewas seketika, sedangkan penunggang gajah itu, seorang perwira Nepal yang sudah tua, terlempar dari atas punggung gajah dan terbanting pingsan!

Amukan kakek cebol sinting itu benar-benar menimbulkan kekacauan kepada pasukan istimewa Nepal itu, apa lagi setelah tiga ekor di antara lima ekor gajah itu telah roboh oleh Bu-tek Siauw-jin, dan debu serta asap hitam telah membuyar. Tadinya anak buah pasukan itu mengandalkan ilmu hitam Maharya, akan tetapi kakek India itu sendiri sedang bertanding hebat dan mati-matian melawan pemuda yang amat tangguh dan lihai itu. Tentu saja hal yang melemahkan semangat pasukan Nepal ini sebaliknya mendatangkan semangat baru kepada para prajurit pemerintah yang tadinya sudah merasa agak panik.

Pertandingan antara Bun Beng dan Maharya memang terjadi makin seru dan mati-matian. Kakek India itu benar-benar amat lihai. Andai kata Bun Beng belum menerima ilmu terakhir dari Pendekar Super Sakti dan Bu-tek Siauw-jin, kiranya ia pun tidak akan mudah untuk dapat menandingi Maharya. Sebetulnya, dalam hal ilmu silat tentu saja Bun Beng memiliki dasar yang lebih murni dan lebih tinggi tingkatnya, dan juga dalam inti tenaga sakti, dia tidak kalah kuat. Kekalahannya dalam hal pengalaman dan latihan dapat ditutup oleh keunggulannya karena ilmu silatnya adalah ciptaan manusia dewa yang amat tinggi tingkatnya.

Akan tetapi, yang membuat Maharya amat sukar dilawan dan sukar dikalahkan adalah tenaga mukjizat yang keluar dari pribadi kakek ini, berkat ilmu hitamnya. Bun Beng harus berhati-hati sekali, sama sekali tidak pernah berani bertemu pandang mata dengan lawannya, dan kadang-kadang dia bergidik karena merasa betapa ada hawa tenaga mukjizat menyambar dari lawannya, kadang-kadang disertai suara aneh yang membuat bulu tengkuknya meremang, seperti suara jerit tangis kanak-kanak yang disiksa, suara tertawa wanita yang tidak lumrah manusia. Seolah-olah tempat itu, atau di kanan kiri dan belakang lawannya terdapat iblis-iblis yang tidak tampak akan tetapi yang terdengar suaranya dan terasa pula sambaran angin pukulannya!

Bun Beng melawan secara mati-matian. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakek sinting itu, biar pun kelihatannya mengamuk di lain bagian namun diam-diam kakek itu tidak pernah melepaskan perhatiannya dan selalu mengikuti pertandingan itu, atau hanya sebentar saja kadang-kadang dia mengalihkan perhatian. Dia selalu menjaga dan siap untuk melindungi pemuda yang disukanya itu.

Diam-diam kakek ini kagum sekali. Setelah menyaksikan sepak terjang Maharya dia harus mengakui bahwa dalam pertandingan mati-matian ini, memang hebat sekali pendeta itu dan dia sendiri pun tidak akan mudah dapat mengalahkan Maharya. Namun pemuda yang hanya tiga hari menjadi muridnya itu dengan tangan kosong mampu menandingi Maharya dalam pertempuran hebat selama seratus jurus lebih, sedangkan Maharya yang tadinya menunggang gajah bersenjatakan tombak bulan sabit, kini sudah kehilangan gajahnya dan agaknya tombaknya itu pun sudah tidak banyak artinya dalam pertempuran hebat itu.

Kini Maharya telah melolos kalung tasbihnya yang terbuat dari mutiara-mutiara putih yang besar-besar, memegang tombak bulan sabit di tangan kanan tasbih di tangan kiri. Menghadapi serangan-serangan yang ganas dan dahsyat dari dua senjata aneh itu, Bun Beng mengandalkan kegesitan dan keringanan tubuhnya, akan tetapi dia pun sudah menanggalkan topi capingnya dan menggunakan benda ini untuk membantunya menangkis sambaran senjata yang bertubi-tubi.

Di bagian lain, di balik puncak Pegunungan Merak Merah, tidak tampak dari situ hanya terdengar suaranya yang riuh rendah, terjadi pula perang yang lebih hebat dan seru lagi karena pusat perang terjadi di tempat itu, antara pasukan inti yang dipimpin oleh Koksu sendiri dan pasukan inti penyerbu dari pemerintah yang dipimpin oleh Nirahai dan Lulu!

Dalam perang dahsyat ini Koksu mendapat bantuan Thian Tok Lama dan Kwi Hong! Kwi Hong tentu saja membantu Koksu ketika melihat penyerbuan pasukan pemerintah yang dianggap musuhnya dan musuh pamannya. Apa lagi ketika dia mendapat keterangan dari Koksu bahwa yang memimpin penyerbuan itu adalah Ketua Thian-liong-pang dan Ketua Pulau Neraka, dia tidak ragu-ragu lagi untuk membantu pihak Koksu.

Memang sudah dipikirkannya masak-masak. Permusuhannya dengan Koksu dan kaki tangannya hanya karena Koksu melakukan tugas membasmi Pulau Es, dan sebagai petugas, tentu saja dia tidak dapat terlalu menyalahkan Koksu, sebab Kaisarlah yang sesungguhnya menjadi musuh pamannya. Kini Kaisar mengirim pasukan, apa lagi dipimpin oleh Ketua Thian-liong-pang dan Pulau Neraka yang sejak dahulu memang bukan sahabat Pulau Es, bahkan ketika dia masih kecil pernah dia diculik oleh Ketua Pulau Neraka. Maka ketika terjadi pertempuran, Kwi Hong sudah membantu Koksu, mengamuk dengan pedang Li-mo-kiam di tangannya. Para prajurit pemerintah yang berhadapan dengan amukan dara perkasa ini menjadi ngeri karena pedang yang mengeluarkan sinar kilat itu benar-benar menyeramkan. Tidak ada senjata yang mampu menandinginya, begitu bertemu satu kali saja tentu akan terbabat putus berikut tubuh pemegangnya!

Betapa pun juga, karena jumlah pasukan jauh kalah banyak, pasukan pemberontak terdesak hebat. Kwi Hong sendiri, biar pun mendatangkan kekacauan kepada pihak musuh dengan amukan pedangnya yang dahsyat dan membuat para prajurit musuh gentar, terpaksa harus menggunakan sebagian besar perhatiannya untuk melindungi tubuhnya karena banyaknya lawan yang mengeroyoknya. Bermacam senjata datang bagaikan hujan menyerangnya.

Koksu tentu merasa sangat girang melihat kenyataan bahwa Kwi Hong benar-benar membantunya. Dia sendiri bersama Thian Tok Lama lebih mementingkan penjagaan terhadap Pangeran Yauw Ki Ong, karena kalau sampai pangeran ini tewas, habislah arti dari semua usaha perjuangannya. Tanpa adanya pangeran ini, tidak mungkin dia akan mendapatkan dukungan orang-orang Mancu sendiri yang berpihak kepada pangeran ini, dan berarti jalan masuk baginya ke Kerajaan Mancu akan tertutup.

Dia pun lalu mengerahkan seluruh pembantunya, memimpin pasukan untuk melakukan perlawanan mati- matian. Dia mengharapkan agar paman gurunya Maharya, yang lagi memimpin pasukan bantuan melawan musuh, dapat segera mengubah keadaan dan dapat datang membantunya. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang dan dia mendengar pelaporan anak buahnya bahwa pasukan siluman Nepal yang dipimpin oleh Maharya sendiri itu pun mengalami tekanan hebat dari pihak musuh! Sama sekali Koksu tidak menyangka bahwa yang membuat Maharya tertahan itu adalah Bu-tek Siauw-jin dan Gak Bun Beng! Kalau dia tahu, tentu dia merasa khawatir sekali, apa lagi kalau diingat bahwa munculnya dua orang itu, terutama Bu-tek Siauw-jin yang sudah menjadi guru Giam Kwi Hong, tentu akan mendatangkan perubahan besar kepada Kwi Hong.

Betapa pun gigih Koksu dan anak buahnya mempertahankan, namun pihak musuh terlampau kuat dan jauh lebih besar jumlahnya. Terpaksa Koksu dan Thian Tok Lama sendiri mundur untuk melakukan penjagaan atas diri Pangeran Yauw yang berlindung di dalam pondoknya, mendekam di atas pembaringannya dengan muka pucat dan dikelilingi para pelayan wanita yang seolah-olah hendak dijadikannya sebagai perisai terakhir.

Pasukan pemberontak makin terdesak mundur dan tak lama kemudian, muncullah Nirahai dan Lulu sendiri di depan pondok persembunyian Pangeran Yauw Ki Ong yang dijaga oleh Koksu, Thian Tok Lama dan para panglima tinggi serta jagoan kaki tangan Koksu. Memang Nirahai mengajak Lulu meninggalkan pasukan mereka yang sudah mendesak dan hampir menang itu untuk mencari-cari biang keladi pemberontak, yaitu Pangeran Yauw, Koksu dan kaki tangannya.

“Yauw Ki Ong, pemberontak laknat!” Nirahai membentak sambil merobohkan beberapa orang anggota pengawal yang sudah menyambut dia dan Lulu. “Menyerahlah untuk kuseret ke depan kaki Kaisar!”

Yauw Ki Ong adalah saudara tiri Nirahai sendiri. Keduanya adalah keturunan Kaisar, berlainan ibu. Yauw Ki Ong tentu saja sudah mengenal dan maklum akan kelihaian Nirahai, maka mendengar suaranya, dia menjadi pucat dan tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya di dalam pondok yang terjaga kuat itu. Koksu dan para pembantunya, terutama sekali Thian Tok Lama, sudah bersiap-siap menjaga di situ dan kini mereka meloncat keluar menghadapi Nirahai dan Lulu.

“Bhong Ji Kun, manusia rendah! Seekor anjing sekali pun akan ingat akan budi orang. Engkau telah memperoleh kemuliaan dari Kaisar, sebagai seorang asing peranakan India engkau telah diangkat menjadi Koksu negara. Akan tetapi engkau tidak berterima kasih malah menjadi pemberontak hina! Manusia macam engkau ini tidak ada harganya untuk hidup!” Tanpa menanti jawaban lagi, Nirahai sudah menggunakan pedangnya menerjang Bhong-koksu.

Kakek botak tinggi kurus ini terkejut bukan main melihat pedang di tangan Nirahai yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata itu. Dia segera mengenal Hok-mo-kiam, pedang yang dahulunya terjatuh ke dalam tangan Maharya, paman gurunya, kemudian pedang itu lenyap bersama tewasnya Tan Ki, murid Maharya yang tewas bersama Thai Li Lama tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya dan siapa yang mencuri atau merampas Hok-mo-kiam. Kini tahu-tahu pedang pusaka itu berada di dalam tangan bekas Ketua Thian-liong-pang ini!

“Tar-tarr… singggg…!” Pecut kuda berbulu merah di tangan kiri dan sebatang golok besar, golok perang di tangan kanan Koksu itu menyambar ganas.

“Cringgg… trakkk!” Ujung golok di tangan Bhong-koksu patah ketika bertemu dengan Hok-mo-kiam, tetapi Nirahai harus cepat menarik pedang dan mencelat ke belakang karena ujung cambuk merah sudah mengancam lengannya yang memegang pedang.

Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun marah sekali, cepat mengeluarkan aba-aba kemudian menerjang ke depan dibantu oleh jagoan-jagoan yang menjadi kaki tangannya. Juga Thian Tok Lama dan beberapa orang temannya sudah menerjang dan mengeroyok Lulu.

Tidak seperti Nirahai yang menggunakan Hok-mo-kiam, bekas Ketua Pulau Neraka ini menghadapi para pengeroyoknya dengan tangan kosong. Namun sepak terjangnya amat hebat dan menyeramkan karena begitu bergerak dia telah memainkan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat yang amat halus dan tinggi tingkatnya, serta menggunakan tenaga mukjizat Toat-beng-bian-kun yang telah bercampur dengan tenaga beracun dari Pulau Neraka. Dua orang pembantu Thian Tok Lama yang agaknya memandang rendah dan berani menyambut pukulan tangan yang kecil-kecil itu dengan lengan mereka segera mengeluarkan pekik mengerikan dan mereka lantas roboh terjengkang dengan seluruh lengan berwarna hitam, berkelojotan dan tewas tak lama kemudian!

Repot juga Lulu dan Nirahai ketika dikeroyok oleh banyak sekali orang pandai itu sehingga mereka tidak dapat mencegah ketika lewat beberapa puluh jurus, Thian Tok Lama dan Bhong Ji Kun mengundurkan diri dari pertempuran, hanya menyerahkan kepada pasukan pengawal untuk mengepung ketat. Mereka berdua sudah cepat memasuki pondok untuk membuat persiapan menyelamatkan Pangeran Yauw Ki Ong!

Akan tetapi Nirahai yang berpemandangan tajam dapat menduga akan keadaan ini. Melihat Koksu dan Thian Tok Lama menghilang dan yang mengepung hanyalah anak buah mereka, dia segera memutar Hok- mo-kiam, membuka jalan darah dan tubuhnya melesat ke atas wuwungan.

“Yauw Ki Ong pemberontak hina, hendak lari ke mana engkau?” Bentaknya sambil melayang turun membobol genteng.

Tiba-tiba dia melihat sinar berkilat menyambar dari samping. Nirahai terkejut, maklum bahwa ada lawan tangguh menyerangnya secara tiba-tiba dan menyambutnya ketika tubuhnya baru saja turun dari atas.

“Trangggg…!” Bunga api perpijar dan Kwi Hong menjerit lirih. Tangannya terasa panas dan pedang Li-mo- kiam yang biasanya setiap kali bertemu senjata lawan pasti berhasil merusak senjata lawan, kini tergetar hebat!

Nirahai juga kaget bukan main. Baru sekarang Hok-mo-kiam bertemu dengan sebatang pedang yang amat kuat sehingga tidak patah, apa lagi ketika dia melihat seorang gadis cantik dan gagah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar berkilat! Kedua orang wanita itu, yang satu dara remaja dan yang lain wanita setengah tua, keduanya sama cantik dan sama keras hati, saling berhadapan dan saling pandang, pedang pusaka yang ampuh menggila di tangan masing-masing!

Kini Nirahai tak lagi mengenakan kerudung muka hingga Kwi Hong dapat memandang wajahnya yang cantik, pakaiannya yang indah, pakaian seorang panglima wanita! Berdebar jantung Kwi Hong ketika dia mengenal wanita itu. Inilah wanita cantik yang dahulu bertemu dengan pamannya, wanita cantik yang kabarnya puteri kerajaan dan menjadi isteri pamannya, ibu dari Milana! Dia masih belum tahu bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah isteri pamannya!

Akan tetapi, Nirahai tidak lagi mengenal Kwi Hong. Ketika untuk pertama kalinya dia bertemu dengan gadis ini, pada saat dia bertemu kembali untuk pertama kalinya dengan Suma Han, keadaan terlampau tegang sehingga dia tidak memperhatikan orang lain sehingga dia tidak mengenal keponakan suaminya ini. Karena dara cantik yang memegang sebatang pedang pusaka ampuh mengerikan itu berada di situ dan telah menyerangnya, sedangkan dia melihat pangeran dikawal Bhong Ji Kun dan Thian Tok Lama sudah lari dari dalam pondok, dia menganggap gadis ini seorang di antara kaki tangan Koksu yang tangguh, maka dia segera menyerangnya.

“Trang-trang-cringggg…!”

Kembali dua orang wanita itu terhuyung mundur. Nirahai terhuyung dua langkah sedangkan Kwi Hong terhuyung mundur sampai empat langkah. Betapa pun juga, dara itu masih belum mampu menandingi tenaga sinkang yang dimiliki Nirahai, sungguh pun dia telah memperoleh kemajuan hebat semenjak menjadi murid Bu-tek Siauw-jin. Bunga api muncrat menyilaukan mata ketika tiga kali berturut-turut pedang Hok-mo-kiam bertemu dengan Li-mo-kiam.

Kedatangan Kwi Hong memang pada saat yang tepat, karena kalau tidak ada dara ini, agaknya Koksu dan Thian Tok Lama takkan begitu mudah untuk dapat menyelamatkan Pangeran Yauw Ki Ong. Ketika Kwi Hong mengamuk dan melihat betapa pasukan anak buah Koksu terdesak hebat oleh gelombang serbuan pasukan pemerintah yang jauh lebih banyak jumlahnya, gadis ini merasa khawatir dan maklum bahwa kalau dilanjutkan, perang itu akan berakhir dengan kekalahan di pihak sekutunya.

Ketika dia menengok dan tidak melihat Koksu dan para pembantunya, yaitu Thian Tok Lama dan para jagoan yang berkepandaian tinggi, dia makin khawatir. Ke manakah mereka pergi? Dia harus mengusulkan kepada Koksu untuk melarikan diri saja sebelum terlambat. Dengan pikiran ini, Kwi Hong membuka jalan darah dengan pedangnya, keluar dari kepungan dan menuju ke markas, yaitu ke pondok Pangeran Yauw dan sekutunya. Kedatangannya tepat sekali. Dia melihat Koksu dan Thian Tok Lama bersama Pangeran Yauw, siap hendak melarikan diri.

“Ahhh, keadaan musuh terlampau banyak dan terlampau kuat. Kita harus melarikan diri, Lihiap,” kata Koksu begitu melihat munculnya Kwi Hong dengan pedang Li-mo-kiam yang berlepotan darah.

“Sebaiknya begitu,” jawab Kwi Hong singkat.

“Akan tetapi, ke manakah kita akan lari? Apakah Nona mempunyai usul yang baik?” Koksu memancing, padahal di dalam hatinya, dia ingin sekali melarikan diri ke… Pulau Es, pulau yang sudah kosong itu karena hanya di sanalah dia akan aman dari kejaran pemerintah. Tempat itu merupakan tempat yang sukar didatangi, dan hanya mereka yang tahu jalan saja yang akan dapat menjadi penunjuk jalan saja. Kalau nona ini mau tentu akan dapat membawa mereka ke Pulau Es! Dia tahu bahwa tempat itu sudah kosong, dan kalau rombongannya dapat sampai ke tempat itu lebih dulu, berarti mereka akan memperoleh sebuah tempat pertahanan yang kuat!

“Kalian larilah ke timur, ke pantai. Nanti kuantar kalian pergi melarikan diri ke Pulau Es,” jawab Kwi Hong.

Tentu saja Koksu menjadi girang sekali. Namun dia cerdik dan cepat menjawab, “Akan tetapi… apakah Tocu pulau itu sudi menerima kami? Dan penghuninya…?”

“Pulau itu sudah kosong. Paman tidak lagi tinggal di sana. Lagi pula, kalau paman tahu bahwa kalian melawan pemerintah, tentu paman suka menerima kalian. Paman sendiri pun seorang pelarian. Cepat pergilah…!”

Pada saat itu Nirahai datang, meloncat masuk dari atas atap yang dibobolnya. Begitu melihat seorang wanita melayang turun, Kwi Hong segera menyerangnya dan barulah dia terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa wanita itu adalah isteri pamannya sendiri, ibu dari Milana!

Tentu saja di dalam hatinya Kwi Hong menjadi bingung sekali dan dia sebetulnya tidak mau bermusuhan dengan isteri pamannya ini. Akan tetapi karena dia diserang terus dan karena dia ingin memberi kesempatan kepada Koksu untuk menyelamatkan Pangeran Yauw, terpaksa dia melakukan perlawanan tanpa mengeluarkan kata-kata.

Dia dapat menduga bahwa tentu wanita ini lupa dan tidak ingat kepadanya. Hal ini melegakan hatinya karena kalau sampai wanita cantik ini tahu bahwa dia adalah keponakan Pendekar Super Sakti, tentu akan menjadi marah sekali sedangkan dia sendiri pun tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap wanita ini. Jelas bahwa wanita ini adalah seorang tokoh pemerintah, dan mungkin puteri ini yang memimpin pasukan pemeritah. Melihat kedudukan itu, wanita cantik ini patut dimusuhinya, akan tetapi kalau teringat bahwa wanita ini adalah isteri pamannya, bagaimana dia berani bersikap kurang ajar dan melawannya?

Betapa pun lihai Kwi Hong sekarang, dengan ilmu yang dipelajarinya dari Bu-tek Siauw-jin dan dengan pedang Li-mo-kiam di tangan, namun berhadapan dengan Nirahai, dia menjadi repot juga. Apa lagi Nirahai menggunakan sebatang pedang pusaka yang amat hebat pula. Pedang Hok-mo-kiam adalah satu-satunya pedang yang sanggup menandingi Sepasang Pedang Iblis yang ganas. Andai kata Nirahai tidak memegang Hok-mo-kiam, agaknya wanita perkasa ini masih akan repot sekali harus menandingi Kwi Hong yang memegang Li-mo-kiam.

Untung bagi Kwi Hong bahwa dia tidak perlu terlalu lama menahan serangan yang bertubi-tubi dan amat dahsyat dari Nirahai karena Koksu yang cerdik itu sudah cepat mengirim bala bantuan berupa dua puluh orang lebih pengawal pribadi pangeran yang telah menyerbu dalam pondok itu dan mengeroyok Nirahai. Kesempatan ini digunakan oleh Kwi Hong untuk mencelat ke luar dari dalam pondok, meninggalkan Nirahai yang dikepung dan dikeroyok oleh para pengawal. Cepat dia berlari keluar dan bergabung dengan rombongan Pangeran Yauw, dilindungi oleh pasukan dan melarikan diri ke timur menuju pantai, melalui pegunungan dan jurang-jurang.

Sementara itu, pertandingan antara Gak Bun Beng dengan Maharya yang berlangsung amat hebat itu masih terjadi dengan seru, sedangkan Bu-tek Siauw-jin menonton dari pinggir sambil tersenyum-senyum. Kakek cebol yang sinting ini sekarang menganggur karena pasukan Nepal itu sedang dihajar oleh pasukan pemerintah yang pulih kembali semangat mereka setelah debu dan asap hitam membuyar. Tidak perlu lagi kakek ini membantu hingga kini dia dapat menonton dengan enaknya, menonton pertandingan antara Maharya dan Gak Bun Beng.

“Ha-ha-ha, Maharya dukun lepus! Engkau tidak akan mampu mengalahkan muridku, ha-ha-ha!”

Bu-tek Siauw-jin sengaja mengaku pemuda itu sebagai muridnya buat membanggakan dirinya. Padahal dia hanya mengajar selama tiga hari saja, itu pun hanya menurunkan inti tenaga saktinya yang hanya merupakan sebagian dari gabungan sinkang-nya dengan sinkang Pendekar Super Sakti! Kalau melawan ‘muridnya’ saja Maharya tidak mampu menang, apa lagi melawan dia yang menjadi gurunya?

“Siauw-jin, asal engkau tidak begitu pengecut untuk mengeroyok aku…” “Heh-heh-heh, siapa sudi mengeroyokmu?” Bu-tek Siauw-jin mengejek.
Inilah yang dikehendaki Maharya. Betapa pun sintingnya, ucapan dari seorang kakek sakti seperti Bu-tek Siauw-jin boleh dipercaya. Tanpa diminta, jawaban kakek sinting itu sudah merupakan janji. Boleh jadi pemuda ini lihai, akan tetapi dengan hanya bertangan kosong dan tanpa dibantu Bu-tek Siauw-jin, masa dia tidak akan mampu mengalahkannya? Untuk mengandalkan ilmu sihirnya, percuma, dan hal ini sudah diketahuinya semenjak tadi karena pemuda itu sama sekali tidak pernah mau beradu pandang mata dan pemuda itu memiliki sinkang yang amat kuat. Apa lagi sekarang ada Bu-tek Siauw-jin duduk menonton di situ, tentu saja dia tidak dapat mengandalkan ilmu hitamnya.

Sebetulnya tidak perlu Maharya harus menggunakan akal untuk memancing janji seorang seperti Bu-tek Siauw-jin. Bagi kakek yang tidak lumrah manusia sehingga seperti sinting ini, kalah menang bukanlah apa- apa, dan dia sudah pasti tidak akan sudi turun tangan membantu Bun Beng biar pun pemuda itu andai kata terancam bahaya maut kalau pertempuran yang dihadapi pemuda itu merupakan pertempuran yang adil dan pantas.

Kalau tadi dia selalu memperhatikan Bun Beng adalah karena dia khawatir kalau-kalau pemuda itu terjebak ke dalam perangkap Maharya yang banyak akalnya. Jika pemuda itu dikeroyok, tentu saja dia akan membelanya, juga kalau Maharya menggunakan ilmu sihir, tentu dia akan berusaha menghalau kekuasaan dan pengaruh ilmu hitam itu. Akan tetapi dalam sebuah pertandingan seperti yang terjadi sekarang, tanpa diminta pun dia tidak akan mencampurinya.

Bu-tek Siauw-jin merasa gembira dan tegang menonton pertandingan itu, akan tetapi sama sekali bukan tegang karena khawatir Bun Beng kalah. Bagi dia, siapa yang kalah siapa yang menang dalam sebuah pertandingan adil, tidak menjadi soal. Dia merasa tegang karena pertandingan itu memang hebat sekali, dahsyat dan seimbang.

“Heeaaahhh!”

Maharya yang sudah menjadi marah sekali karena merasa penasaran menubruk maju. Tombak bulan sabit di tangan kanannya diputar seperti kitiran angin dan menyambar ganas, sedangkan tangan kiri yang memegang tasbih sudah siap pula mengirim serangan susulan. Berbeda dengan tadi, Maharya kini agaknya hendak mempercepat dan mengakhiri pertandingan karena melihat betapa pasukannya sudah mundur dan banyak yang tewas. Tadi dia masih selalu bersikap hati-hati, akan tetapi sekali ini dia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menyerang.

“Haiittttt!”

Bun Beng meloncat ke atas dan berjungkir-balik menghindarkan diri dari sambaran tombak bulan sabit, tetapi bukan semata-mata hendak mengelak saja karena sambil berjungkir-balik itu tangannya mencengkeram dan dia menggunakan gerakan cepat luar biasa ini untuk menangkap batang tombak di dekat bulan sabit yang tajam itu.

Maharya terkejut sekali, namun dia adalah seorang yang memiliki banyak pengalaman dalam pertandingan melawan orang-orang pandai sehingga setiap keadaan yang bagaimana pun juga, bahkan yang kelihatannya mengerikan, dapat dia manfaatkan sebaiknya demi keuntungannya. Karena itu, dia sengaja tidak mau menarik tombaknya untuk merampas kembali senjata yang telah dipegang lawan ini, bahkan menggunakan kesempatan selagi tubuh lawan masih di angkasa, tasbih di tangan kirinya menyambar dada!

Bun Beng sudah siap karena memang dia pun sudah menduga bahwa lawannya tidak akan berhenti di situ saja. Maka dia pun menggerakkan capingnya untuk menangkis.

“Trakkkk!” Caping dan tasbih bertemu dan pada saat itu, kedua kaki Bun Beng sudah tiba lagi di atas tanah.

Akan tetapi di luar dugaan pemuda ini, tiba-tiba kakek itu melepaskan tombaknya dan berbalik merampas topi capingnya. Karena gerakan Maharya ini tidak disangka sama sekali, dan ketika memegang tombak lawan dia mengerahkan tenaga, tubuhnya agak terhuyung dan tahu-tahu tasbih lawan telah meluncur dan melibat lehernya!

Bun Beng mengerahkan tenaga. Lehernya tercekik dan terdengar suara lawannya tertawa. Bun Beng maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, dia terancam maut, maka dengan pengerahan tenaganya, dia menyodokkan gagang tombak rampasannya ke arah pusar lawan. Maharya yang memegang caping rampasan, menangkis sodokan gagang tombak itu, akan tetapi bukan itulah maksud serangan Bun Beng karena tiba-tiba tombaknya ditarik kembali dan kini bagian yang tajam berbentuk bulan sabit itu membabat ke atas, ke arah tasbih yang melibat dan mencekik lehernya.

“Cringgg… rrrttt!” Disambar bagian yang amat tajam dari tombak bulan sabit itu, tasbih yang membelit leher Bun Beng putus dan mutiara-mutiara besar yang diuntai itu jatuh berserakan.

“Wuuuttt… brakkkk!”

Pada saat tombak tadi menyambar tasbih, Maharya juga melihat gerakan ini dan maklum bahwa dia tidak dapat menyelamatkan tasbihnya, maka dengan kemarahan meluap dia menghantamkan caping rampasannya ke arah muka Bun Beng. Kakek pendeta ini menyerang dengan pengerahan tenaga sekuatnya dan Bun Beng yang baru saja menggunakan tombak untuk menyelamatkan lehernya dari belitan tasbih, melihat datangnya caping dengan kecepatan kilat.

Dia tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak, terpaksa dia menekuk kedua lututnya, memberi kesempatan kedua tangannya untuk menggerakkan tombak yang diangkat melintang dan menerima hantaman caping itu. Hebat bukan main pertemuan antara caping dan tombak. Caping pecah dan tombak patah-patah, pundak Bun Beng masih terpukul pecahan caping demikian kerasnya sehingga tubuhnya terguling ke atas tanah.

“Mampuslah!” Maharya menubruk dengan injakan kedua kakinya ke arah kepala Bun Beng, tetapi pemuda itu dengan sigapnya berhasil menggulingkan tubuhnya sehingga enam tujuh kali injakan kaki Maharya ke arah kepalanya yang merupakan serangan maut itu dapat dihindarkannya.

Karena serangan kaki secara bertubi-tubi itu tidak memberinya kesempatan untuk membalas atau meloncat bangun, ketika untuk kesekian kalinya berguling, tangannya menyambar tanah dan sambil berguling dia melontarkan tanah ke arah muka lawan. Biar pun melontarkannya sambil bergulingan, namun tenaga sambitan ini hebat dan kalau tanah itu mengenai muka, terutama mata akan hebat akibatnya bagi Maharya.

Melihat datangnya sinar hitam ini, terpaksa Maharya loncat ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Beng untuk meloncat bangun. Pundaknya terasa nyeri, akan tetapi dia sudah siap sehingga ketika melihat tubuh Maharya menerkamnya, dia menyambut dengan kedua telapak tangan didorongkan ke depan.

Maharya sudah marah sekali. Pasukannya sudah habis, sebagian melarikan diri, dan dia sudah terkepung sendiri di situ oleh pasukan pemerintah yang kini seperti juga Bu-tek Siauw-jin, hanya menonton. Namun kakek ini maklum bahwa dia telah terkepung dan sukar untuk lolos kalau tidak dapat segera mengalahkan pemuda ini dan mengalahkan Bu-tek Siauw-jin. Maka kini, melihat Bun Beng meloncat bangun dalam keadaan terluka pundaknya, dia sudah mengirirn serangannya yang paling dahsyat dengan memukulkan kedua telapak tangannya yang penuh dengan tenaga sinkang bercampur tenaga yang keluar dari ilmu hitamnya.

“Bresss!”

Bukan main hebatnya pertemuan tenaga sakti yang amat kuat dari kedua pihak itu, dan akibatnya, mulut Maharya menyemburkan darah segar, akan tetapi tubuh Bun Beng terjengkang dan bergulingan! Maharya terkejut, maklum bahwa dia terluka parah, maka dia berlaku nekat. Dengan suara melengking seperti iblis marah, dia menubruk tubuh Bun Beng yang bergulingan, dengan maksud untuk mengadu nyawa, mengajak lawan mati bersama.

Tetapi dia tidak tahu sama sekali bahwa pemuda itu memang sengaja menjatuhkan diri dan bergulingan untuk mengambil kekuatan dari bumi sesuai dengan ilmu yang diterimanya dari kakek Bu-tek Siauw-jin, yaitu tenaga sakti Inti Bumi. Begitu melihat kakek itu menubruk, dengan menekan bumi Bun Beng mengirim pukulan dari bawah, dengan telapak tangan kanan didorongkan ke atas menyambut tubuh kakek itu.

“Desssss…!”

Terdengar pekik mengerikan saat tubuh kakek itu terlempar kembali ke atas, terbanting ke atas tanah, berkelojotan dengan mata mendelik dan mulut muntah-muntah darah segar, kemudian mengejang dan tewas.

Bun Beng cepat bangkit duduk dan bersila, memejamkan mata. Biar pun lukanya tidak hebat, akan tetapi pukulan dengan caping yang pecah dan mengenai pundaknya tadi menggetarkan isi dadanya dan harus cepat disembuhkan dengan pengerahan sinkang. Bu-tek Siauw-jin menoleh kepada para prajurit pemerintah yang menonton, lalu membentak ke arah mereka.

“Hayo pergi kalian! Mau apa menonton? Ini bukan tontonan! Kalian telah membawa kami terpaksa ikut berperang. Sialan!”

Para prajurit terkejut sekali. Mereka tidak mengenal siapa adanya kakek cebol ini dan pemuda yang amat gagah itu, akan tetapi karena sudah jelas bahwa kedua orang itu tadi bertempur membantu mereka, maka mereka tidak berani membantah dan segera meninggalkan tempat itu untuk membantu pasukan yang masih mengejar-ngejar sisa pasukan pemberontak.

Pasukan pemberontak telah dihancurkan, sebagian kecil yang merupakan pasukan khusus, pengawal- pengawal pribadi Koksu dan Pangeran Yauw, ikut melarikan diri dan mengawal rombongan pangeran itu, termasuk tukang kuda dan pengurus kereta yang telah kehilangan kereta karena tak dapat dipergunakan dalam pelarian yang tergesa-gesa itu. Bahkan tidak semua dari mereka dapat menunggang kuda.

Nirahai dan Lulu merasa penasaran sekali. Biar pun pasukan-pasukan pemberontak dapat dihancurkan, markas mereka dibasmi dan dibakar, akan tetapi biang keladi pemberontak dapat melarikan diri. Saat mereka mendengar laporan tentang dua orang sakti yang membantu pasukan ketika pasukan siluman Nepal dengan gajah-gajah mereka mengamuk, Nirahai segera menduga bahwa mereka itu tentulah Bu-tek Siauw-jin dan Gak Bun Beng. Maka dia mengajak Lulu untuk mendatangi tempat itu. Ternyata benar dugaannya. Gak Bun Beng masih duduk bersila dan Bu-tek Siauw-jin berdiri di dekatnya, tertawa-tawa ketika melihat Nirahai.

“Wah-wah, setelah kerudungnya dibuka, ternyata dalamnya sebuah wajah yang luar biasa cantiknya!” kata kakek sinting itu, sama sekali tidak peduli bahwa dia bicara dengan bekas Ketua Thian-liong-pang, bahkan puteri Kaisar yang menjadi panglima besar.

“Bu-tek Siauw-jin, terima kasih atas bantuanmu kepada pasukanku sehingga pasukan Nepal yang membantu pemberontak dapat dihancurkan,” kata Nirahai, suaranya tenang saja. Dia bukanlah seorang muda yang dapat panas hatinya oleh sikap kakek sinting ini, apa lagi dia sudah tahu akan watak kakek ini yang tidak lumrah manusia.

“Ha-ha-ha, engkau sendiri pernah menolongku ketika aku diganggu Koksu palsu itu selagi mandi. Pertolonganmu itu lebih berharga karena hampir aku dibuat malu!”

Agak merah sedikit kulit muka yang halus itu karena Nirahai teringat betapa kakek sinting ini pernah berdiri bertelanjang bulat begitu saja di depannya tanpa malu-malu! Dia melirik ke arah Bun Beng dan bertanya, “Apakah dia terluka?”

Sebelum Bu-tek Siauw-jin menjawab, Bun Beng sudah membuka mata, bangkit berdiri dan memberi hormat. “Locianpwe, saya tidak apa-apa hanya terluka sedikit. Syukur bahwa Locianpwe telah berhasil menghancurkan musuh…”

“Aihh, dialah orangnya yang dahulu membantu Koksu di kapal ketika menyerang Pulau Es!” Ucapan ini keluar dari mulut Lulu ketika dia memandang mayat Maharya

Mendengar ini, Bu-tek Siauw-jin ter-tawa, “Ha-ha-ha, dia pula yang membasmi Pulau Neraka akan tetapi Majikan Pulau Neraka sama sekali tidak becus mempertahankan pulaunya!”

Lulu mengerutkan alisnya. Mukanya yang pucat itu tidak berubah, dan sepasang matanya yang lebar dan jernih namun berkilat mengerikan itu ditujukan kepada kakek cebol itu. “Siapa engkau?”

Akan tetapi Bu-tek Siauw-jin tidak menjawab, melainkan melanjutkan kata-katanya, “Muridku inilah yang telah berhasil membunuhnya, maka engkau harus berterima kasih kepadanya!”

Lulu segera melirik ke arah Gak Bun Beng, alisnya masih berkerut. “Bukankah engkau pemuda yang dahulu membantu pula ketika Pulau Es diserbu pasukan pemerintah?”

Bun Beng memberi hormat dan memandang penuh heran, kaget dan kagum. “Dan kalau saya tidak salah menduga, Locianpwe adalah wanita sakti yang dahulu melepas bahan-bahan peledak, kemudian mengacau di kapal Koksu.”.

“Hemmm, agaknya engkau seorang bocah ringan tangan, di mana-mana engkau hadir dan bercampur tangan!” Lulu berkata lirih, akan tetapi diam-diam dia heran bukan main bagaimana seorang pemuda seperti ini dapat membunuh Maharya yang demikian lihai!

“Sungguh aku heran sekali mengapa semua orang muda kau akui sebagai muridmu, Bu-tek Siauw-jin?” Nirahai bertanya karena sudah mendengar dari puterinya bahwa Kwi Hong juga diambil murid oleh Bu-tek Siauw-jin.

Sebelum kakek sinting itu menjawab, Lulu sudah mencelat ke depan, berhadapan dengan kakek cebol itu. “Jadi engkau yang bernama Bu-tek Siauw-jin?”

Ketika pertama kalinya Nirahai menyebut nama kakek itu, dia kurang memperhatikan karena perhatiannya lebih tertarik kepada mayat Maharya. Baru sekarang dia mendengar nama itu dan kemarahannya bangkit. “Dan mana yang satu lagi? Mana dia yang disebut Cui-beng Koai-ong?”

Bu-tek Siauw-jin tertawa. “Heh-heh, jadi engkau sudah mendengar nama kami? Tentu puteramu yang manja dan jahat itu yang memberi tahu!”

“Tua bangka sialan!” Lulu yang masih belum hilang betul watak kerasnya jadi marah mendengar betapa puteranya dicela oleh kakek ini. “Kau kira aku takut kepadamu? Biar pun engkau dan Cui-beng Koai-ong disebut tokoh-tokoh iblis dari Pulau Neraka, aku tidak takut!”

“Lulu, kita dalam tugas, jangan bawa-bawa urusan pribadi!” Nirahai memperingatkan Lulu, akan tetapi setelah marah seperti itu, mana mungkin dengan mudah saja Lulu dibikin sabar.

Dia sudah menerjang kakek itu dengan pukulan sakti dari Hong-in-bun-hoat! Kakek itu cepat mengelak, akan tetapi angin pukulan masih membuat dia terhuyung dan sambil tertawa kakek itu menjauhkan diri bergulingan lalu meloncat bangun.

“Eit-eit-eit, sungguh galak engkau! Kalau dahulu bukan aku yang melarang suheng, agaknya engkau hanya tinggal nama saja! Dan kalau aku tidak melihat bahwa engkau adalah pewaris kitab-kitab Pendekar Sakti Suling Emas yang kami kagumi dan hormati, apakah aku akan melarang suheng menghancurkan engkau? Tocu (Majikan Pulau) yang memiliki warisan senjata kipas pusaka dan ilmunya Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan), mengapa tidak mengeluarkannya dalam pertempuran?”

Lulu terbelalak. “Kau… kau… tahu akan itu semua?”

“Heh-heh, sehari setelah Tocu datang, kami berdua sudah memeriksa seluruh benda yang Tocu bawa, karenanya aku berkeras melarang suheng turun tangan karena Tocu adalah ahli waris Suling Emas.”

“Lulu!” Nirahai kini menghadapi Lulu dengan alis berkerut dan sinar mata memandang dengan penuh selidik. “Jadi engkaulah yang mengambil benda-benda pusaka itu? Jadi engkau yang membunuh Kakek Gu Toan…?”

Lulu membanting-banting kakinya teringat akan semua peristiwa yang dialaminya. Di bagian depan cerita ini telah dituturkan betapa ketika Lulu mulai merantau bersama anaknya yang masih kecil, Wan Keng In, dia tiba di kuburan keluarga Suling Emas, melihat kakek itu diserang oleh seorang yang amat lihai, dan oleh Kakek Gu Toan dia disuruh menyelamatkan benda-benda pusaka peninggalan keluarga Suling Emas.

Dia telah mewarisi ilmu-ilmu itu, akan tetapi dia tidak mau mempergunakannya karena ingin menyembunyikan diri di Pulau Neraka sampai niatnya berhasil, yaitu bertemu dengan orang yang dicintainya, menjadi isteri orang itu atau menjadi musuh besarnya. Kiranya keadaan menghendaki lain, semua niat dan cita-citanya hancur berantakan. Puteranya menyeleweng menyakitkan hatinya, Pulau Neraka hancur dan Suma Han… menambah sakit hatinya.

“Tidak! Aku tidak membunuhnya. Dahulu aku hanya melihat seorang tinggi kurus seperti orang India menyerangnya dan mendesaknya. Sekarang aku tahu siapa adanya orang kurus itu. Bukan lain adalah Im- kan Seng-jin Bhong Ji Kun! Aku tidak tahu apakah Kakek Gu Toan mati atau hidup dalam pertandingan itu karena dia minta kepadaku untuk mengambil benda-benda pusaka dan melarikannya.”

“Di mana benda-benda itu sekarang?” tanya Nirahai.

“Ada kusimpan sebelum Pulau Neraka dulu dihancurkan. Mengapa, Suci?” tanya Lulu, suaranya penuh tantangan.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan nyaring sekali, datang dari jauh dan membuat semua orang terkejut. Hanya seorang yang memiliki kepandaian amat tinggi dan sinkang yang luar biasa kuatnya saja mampu mengeluarkan suara melengking seperti itu.

“Ha-ha-ha-ha! Dia baru datang!” Bu-tek Siauw-jin terkekeh dan Bun Beng juga sudah dapat menduga siapa adanya orang yang mengeluarkan suara melengking seperti itu.

Nirahai dan Lulu saling pandang, agaknya baru menduga setengahnya, dan mereka baru terkejut ketika lengking itu disusul suara yang terdengar dari jauh akan tetapi amat jelas.

“Nirahai…! Lulu…! Kalian memang patut dihajar!”

Wajah Nirahai berubah merah sekali, dan wajah Lulu yang telah menjadi putih karena keracunan di Pulau Neraka tidak berubah, akan tetapi matanya bergerak-gerak liar ke kanan kiri mencari-cari. Tentu saja kedua orang wanita ini mengenal suara itu, suara yang mereka takkan lupakan selama hidup mereka, suara yang selalu terdengar oleh telinga mereka di waktu mereka melamun atau di waktu mereka bermimpi. Tanpa disengaja keduanya saling pandang, dan seolah-olah dalam pandang mata mereka itu terjadilah sebuah permufakatan tanpa direncanakan atau dibicarakan, bahkan kini tanpa diucapkan.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo