September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 2

 

Setelah berdiri saling pandang beberapa lamanya, agaknya kakek muka hijau itu dapat mengenal sinar mata yang aneh dan penuh kekuatan mukjizat dari Suma Han. Dia segera membungkuk sambil merangkapkan kedua tangan dan berkata penuh hormat, “Tidak kelirukah pelaporan anak buah kami bahwa Paduka adalah Tocu dari Pulau Es?”

“Benar.” jawab Suma Han. “Akulah penghuni Pulau Es. Apakah engkau Ketua Pulau Neraka?”

“Ahhh, hamba hanyalah murid tingkat rendahan saja. Hamba bertugas mengumpulkan tenaga-tenaga untuk dikerjakan di pulau kami dan telah berhasil mengumpulkan empat puluh orang ini. Kami menangkapnya di daratan sana dan mereka adalah kaum pejuang yang menentang pemerintah Ceng. Akan tetapi tadi anak buah kami melapor bahwa Tocu mengakui mereka ini sebagai anak buah Pulau Es. Bagaimana ini?”

Suma Han merasa malu kalau harus membohong, maka ia berkata, “Tadinya mereka bukan apa-apa, akan tetapi mulai saat ini menjadi anak buah Pulau Es. Karena itu, aku menuntut agar mereka dibebaskan!”

Sepasang alis kakek tinggi kurus itu bergerak-gerak dan warna hijau di mukanya makin keruh. “Hamba sebagai murid tingkat rendah dari Pulau Neraka tentu saja tidak berani lancang menentang kehendak Tocu dari Pulau Es. Akan tetapi kalau hamba menurut begitu saja atas perintah Tocu, berarti hamba melalaikan tugas yang dibebankan kepada hamba. Karena itu, terpaksa hamba mematuhi peraturan dari Ketua kami, yaitu dengan kepandaian hamba mendapatkan empat puluh orang ini, dan hanya dengan kepandaian pula pihak lain dapat merampasnya!”

Diam-diam Suma Han merasa heran. Sepak terjang orang-orang Pulau Neraka itu kadang-kadang keji dan liar, akan tetapi sikap mereka ternyata sopan dan seperti orang terpelajar, bahkan tahu aturan. Seperti apakah ketua mereka? Orang bermuka hijau yang sudah dapat mengalahkan empat puluh orang pejuang, bahkan termasuk Phoa Ciok Lin murid Toat-beng Ciu-sian-li, tentu saja memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi dia mengaku hanya seorang murid tingkat rendah dari Pulau Neraka. Bukan main!

“Hemm, kiranya dengan ucapan halus engkau bermaksud menantangku?” Suma Han bertanya, sikapnya dingin.

“Mana berani hamba menantang? Akan tetapi, kalau hamba pulang kehilangan para tawanan tanpa melawan, hamba akan dihukum mati sebagai orang hina. Sebaliknya, kalau hamba mempertahankan terhadap Paduka, hamba akan mati juga sebagai seorang petugas yang baik.”

“Ah, kiranya ketua kalian memiliki orang-orang pandai yang amat setia. Bagus! Memang tidak semestinya aku mengambil tawananmu begitu saja. Nah, aku telah siap, mari kita menentukan tingkat kepandaian!”

Biar pun mulutnya berkata demikian, akan tetapi sikap Suma Han sama sekali bukan sikap seorang yang hendak bertanding. Dia masih tetap berdiri seenaknya di atas kaki kanannya, dengan ditopang tongkatnya yang dipegang di tangan kiri. Hanya sepasang matanya yang tanpa diketahui siapa pun juga, sejak tadi telah melancarkan serangan hebat!

Suma Han mengerti bahwa kalau semua anak buah Pulau Neraka maju menggunakan kekerasan, kemudian dia menyambut dengan ilmu silat pula, tentu dia akan terpaksa merobohkan mereka hingga kalau tidak terluka berat, mungkin ada yang tewas. Dia tak menghendaki terjadinya hal ini, karena itu dia mengambil keputusan untuk melawan dengan ilmunya yang aneh, mengandalkan kekuatan mukjizat yang tersembunyi di dalam kemauannya dan dipancarkan melalui pandang matanya.

“Singgg…!” Sebatang pedang telah berada di tangan Si Muka Hijau. Cara mencabut pedang sampai mengeluarkan suara berdesing nyaring dan ujung pedang menggetar-getar itu saja sudah membuktikan bahwa Si Muka Hijau ini ternyata seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

“Maaf, Tocu. Harap suka mengeluarkan senjata dan maafkan hamba yang kurang ajar.” Walau pun kakek itu bersikap menghormat, akan tetapi di lubuk hatinya dia tidak memandang terlalu tinggi Majikan Pulau Es ini, melihat bahwa lawannya ini ternyata hanya seorang muda yang patut menjadi cucunya, berkaki buntung sebelah dan tidak memegang senjata.

“Orang tua, apakah artinya senjata tajam dan runcing seperti pedangmu itu? Hanya dapat menggigitmu sendiri. Kau seranglah, aku telah siap!” kata Suma Han sambil mengerahkan kekuatan mukjizatnya melalui mata.

Para tawanan yang menyaksikan ini, terutama sekali Phoa Ciok Lin, merasa tegang dan khawatir. Mereka semua telah merasai kelihaian Si Muka Hijau dan mereka semua tidak ada yang dapat menandingi Si Muka Hijau. Sekarang Suma Han menghadapinya secara itu, sama sekali tidak memasang kuda-kuda, sama sekali tidak menggunakan senjata, bahkan tongkat bututnya hanya dipegang dengan tangan kiri untuk membantu kakinya yang hanya sebuah!

Ada pun Si Muka Hijau itu diam-diam menjadi penasaran dan marah sekali. Biar pun bocah buntung ini datang secara aneh, menunggang garuda dan mengaku sebagai Majikan Pulau Es, dan dikabarkan memiliki kepandaian seperti setan sehingga berjuluk Pendekar Super Sakti atau juga Pendekar Siluman, namun tidak patut menghadapinya dengan sikap merendahkan seperti itu.

“Tocu sambut pedang hamba!”

Tiba-tiba tampak sinar putih berkelebat cepat sekali ketika pedang itu meluncur ke arah leher Suma Han. Memang hebat sekali gerakan Si Muka Hijau ini, pedang meluncur dengan suara berdesing dan dari jauh sudah menyambar hawa dingin ke arah leher Suma Han. Pendekar Siluman ini hanya berdiri tegak, sedikit pun tidak bergerak atau mengelak, bahkan tidak menangkis. Pemuda buntung ini hanya memandang dengan mata seperti mengeluarkan kilat.

“Hayaaaa…!” tiba-tiba Si Muka Hijau memekik.

Matanya terbelalak penuh kengerian karena ia melihat betapa pedang di tangannya itu tiba-tiba berubah menjadi seekor ular! Dia memegang ular itu dan kini ular itu membalik, membuka moncongnya yang merah menggigit ke arah lehernya sendiri! Tentu saja ia kaget setengah mati, memekik dan miringkan kepala berusaha mengelak, akan tetapi kurang cepat dan kulit lehernya sebelah kanan telah tergigit! Ia terpekik lagi kesakitan, melepaskan ekor ‘ular’ dan terhuyung-huyung ke belakang memegangi lehernya dan matanya memandang ‘ular’ yang jatuh ke atas lantai perahu.

Bagi orang lain yang menonton, peristiwa itu lebih mengherankan lagi. Mereka tadi melihat betapa pedang itu sudah digerakkan oleh Si Muka Hijau, menusuk leher Suma Han. Mengapa sebelum ujung pedang mengenai leher orang yang sama sekali tidak mengelak itu, tiba-tiba Si Muka Hijau membalikkan pedang dan menusuk lehernya sendiri sampai terluka? Kini mereka melihat Si Muka Hijau terhuyung, melepaskan pedangnya yang terjatuh ke lantai perahu, meraba leher yang mengucurkan darah!

“Ilmu siluman…!” Si Muka Hijau berteriak ketika kini matanya melihat bahwa ‘ular’ tadi telah berubah menjadi pedangnya sendiri!

Mendengar ini, semua anak buah Pulau Neraka serentak maju, siap mengeroyok Suma Han. Pendekar buntung ini meloncat ke depan, menyapu mereka dengan sinar matanya lalu berkata,

“Siapa lagi berani melawan Pendekar Siluman Majikan Pulau Es?”

Semua anak buah Pulau Neraka menjadi ngeri ketika melihat Suma Han kini berubah menjadi raksasa, tiga kali ukuran tubuh manusia, kepalanya menjadi tiga buah dan lengannya menjadi enam buah biar pun kakinya masih tetap satu! Melihat ini mereka menggigil dan tak seorang pun di antara mereka berani berkutik, bahkan segera menjatuhkan diri berlutut ketika Si Muka Hijau mendahului mereka berlutut.

“Mohon Tocu sudi mengampunkan hamba semua. Biarlah kami melaporkan kepada Tocu kami bahwa para tawanan terpaksa kami serahkan Tocu Pulau Es karena kami tak sanggup melawannya.” kata Si Muka Hijau.

“Hemm, kalau begitu, mengapa kalian tidak lekas pergi? Ataukah menunggu aku turun tangan melempar- lemparkan kalian ke laut?”

Si Muka Hijau melompat bangun, memberi isyarat dengan tangan. Sebuah perahu kecil diturunkan dan Si Muka Hijau bersama lima orang laki-laki muka ungu dan seorang wanita muka jambon melompat ke dalam perahu. Si Muka Hijau memegang sebatang tali yang ujungnya terpecah menjadi banyak dan kini dipegang oleh para anak buah perahu. Lima orang muka ungu dan seorang wanita muka jambon memegang dayung.

Perahu kecil itu didayung cepat sekali. Si Muka Hijau berdiri di ujung belakang sambil memegang tambang dan… belasan orang anak buahnya meloncat ke air dan dapat berdiri lalu ditarik oleh perahu itu. Kiranya Si Muka Hijau itu demikian kuatnya, memegang tambang yang menarik enam belas orang dan ternyata para anak buah Pulau Neraka itu menggunakan kayu diikat dengan kaki mereka sehingga mereka dapat terapung (semacam ski air)! Memang hebat mereka itu. Hebat pula cara enam orang itu mendayung perahu karena sebentar saja, rombongan itu sudah jauh sekali menuju ke timur dan lenyap dihalangi ombak-ombak di belakang mereka!

Suma Han kagum sekali, maklum bahwa dia telah menanam bibit permusuhan dengan golongan yang amat kuat, yaitu Pulau Neraka. Tetapi ia tidak peduli, lalu menggunakan tongkatnya mematahkan semua belenggu para tawanan. Di antara mereka itu, termasuk kakek gendut, segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Suma Han. Akan tetapi anak murid In-kok-san tidak berlutut. Suma Han mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara dingin.

“Siapa yang suka menjadi anak buahku dan mengakui aku sebagai Majikan, harap berlutut. Yang tidak mau, takkan dipaksa!”

Sedetik pandang matanya bertemu dengan pandang mata Phoa Ciok Lin bekas suci-nya. Namun wanita muda ini segera menekuk kedua lututnya dan berturut-turut para murid In-kok-san berlutut pula. Hanya dua orang murid In-kok-san dan seorang laki-laki bermuka pucat tetap berdiri tidak mau berlutut. Suma Han memandang mereka dan Si Muka Pucat berkata,

“Aku mengenal siapa engkau! Engkau dahulu adalah seorang pejuang, akan tetapi engkau telah berkhianat. Sebagai seorang pejuang, seorang patriot sejati, aku tidak sudi menjadi bujang seorang pengkhianat. Mau bunuh boleh bunuh, siapa yang takut mati?”

Suma Han memandang Si Muka Pucat dan segera mengenalnya. Dia itu adalah seorang di antara pejuang-pejuang yang pernah bertemu dengannya di Se-cuan, kalau dia tidak salah ingat, bernama Lo Hoat dan murid dari Tok-gan Siu-cai Gu Cai Ek Si Ahli Totok Dengan Sepasang Sumpit! Pernah dia merobohkan Lo Hoat ini ketika dia memasuki gedung para pejuang dan disangka menantang pibu (baca cerita Pendekar Super Sakti). “Hemm, orang ini pendendam sekali, amat tidak baik dijadikan teman,” pikirnya.

“Aku tidak mau membunuh orang. Akan tetapi, kalau engkau tidak mau menjadi anak buahku, aku pun tidak memaksa. Nah, pergilah sekarang juga!”

“Pergi ke mana? Tidak ada lagi perahu yang dapat kupakai.”

Suma Han memandang tajam dengan alis berkerut. “Lo Hoat, aku tidak ada waktu untuk berdebat. Pilih satu di antara dua. Tinggal di perahu dan menjadi anak buah Pulau Es, atau sekarang juga keluar dari perahu ini!”

“Engkau… iblis siluman… keji!” Lo Hoat memaki. “Pergilah atau harus kulempar keluar?”
“Manusia rendah, coba kau lempar kalau…” Belum habis ucapan Lo Hoat ini, tangan kanan Suma Han bergerak sedikit dan… tubuh itu terlempar ke luar dari perahu dan jatuh tercebur ke air!

“Apakah kalian berdua juga tidak sudi menjadi anak buah Pulau Es?” tanya Suma Han kepada dua orang murid In-kok-san.

“Engkau adalah bekas sute kami, bagaimana kami dapat mengangkatmu menjadi majikan dan berlutut di depanmu?” seorang di antara mereka membantah. “Kami adalah orang-orang yang memiliki kegagahan, bukan berjiwa rendah!”

“Orang yang tak dapat melihat kenyataan adalah orang-orang bodoh, bukan gagah! Aku bukan sute kalian, aku adalah Majikan Pulau Es dan kalian hanya mempunyai dua pilihan. Tunduk kepadaku atau… keluar dari perahu ini!”

“Lebih baik mati!” Dua orang itu meloncat ke luar dari perahu dan kembali air laut muncrat ketika tubuh mereka menimpa air.

Mereka yang berlutut memandang ke arah air dengan muka pucat, menyaksikan tiga orang itu berjuang dan bersitegang melawan air yang berombak dan yang hendak menggulung dan membunuh mereka.

“Pasangkan layar, kita berangkat!” kata Suma Han tanpa mempedulikan tiga orang itu. “Aku menjadi penunjuk jalan dengan garudaku di atas perahu, ikuti ke mana garuda terbang!”

Mereka yang berlutut itu sudah tunduk dan kagum kepada Suma Han. Mereka telah diselamatkan dari nasib yang amat buruk. Baru menjadi tawanan saja mereka sudah disiksa, kalau sampai di Pulau Neraka, tentulah penghidupan mereka akan benar-benar seperti di neraka!

Tentu saja jauh lebih baik menjadi anak buah pendekar berkaki buntung ini biar pun pendekar ini dijuluki Pendekar Siluman! Apa lagi nama Pulau Es merupakan daya tarik besar sekali. Pulau Es adalah sebuah tempat yang selalu diidamkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw, yang dianggap sebagai tempat keramat di mana terdapat pusaka dan ilmu-ilmu yang tinggi. Kini mereka dijadikan anak buah Pulau Es, tentu saja mereka menerimanya dengan hati girang.

Perahu hitam itu bergerak, layar-layarnya terkembang ditiup angin dan dengan wajah gembira penuh harapan mereka mengemudikan perahu mengikuti garuda yang terbang perlahan di atas mereka. Phoa Ciok Lin dan para saudara seperguruan masih termangu-mangu. Mereka teringat akan nasib dua orang saudara seperguruan yang ditinggalkan dan bergulat dengan maut antara ombak laut itu. Mereka ini tidak dapat menyalahkan Suma Han, dan tidak dapat menganggap Majikan Pulau Es itu kejam. Tidak, orang muda buntung yang kini menjadi majikan mereka, menjadi ketua mereka itu, telah memberi kesempatan kepada tiga orang tadi. Tidak membunuh mereka sebaliknya mereka itulah yang seperti membunuh diri sedangkan jalan hidup terbuka lebar.

Demikianlah tiga puluh orang gagah itu kini menjadi anak buah Pulau Es. Setelah berbulan-bulan tinggal di situ, mereka semua makin tunduk, makin hormat dan bahkan mulai menerima Suma Han sebagai majikan dan juga guru mereka! Suma Han mengajarkan ilmu-ilmu kepada mereka disesuaikan dengan kepandaian dasar dan bakat mereka masing-masing sehingga kepandaian mereka meningkat secara hebat.

Tentu saja yang merasa paling girang adalah Kwi Hong. Phoa Ciok Lin segera mengambil alih pekerjaan Suma Han mendidik Kwi Hong. Sungguh berbeda caranya mendidik, tidak dimanjakan seperti dahulu. Diajar membaca menulis dan kepandaian lain. Hanya dalam ilmu silat Suma Han turun tangan sendiri mengajar keponakannya.

Kini Pulau Es menjadi ramai, merupakan sebuah pulau yang berpenduduk. Bukan sembarang penduduk, melainkan orang-orang yang berilmu tinggi! Di antara mereka itu ada yang saling mencinta lalu menikah dengan upacara sederhana namun gembira. Dan mulailah semua orang, tidak ada kecualinya, juga Phoa Ciok Lin, memandang Suma Han bukan hanya sebagai penolong dan sebagai ketua, majikan, dan guru, akan tetapi juga sebagai seorang manusia mulia seperti dewa yang mereka hormati, taati dan juga cintai!

Namun Suma Han tetap menyembunyikan diri, lebih sering dia bersemedhi di dalam ruangan Istana Pulau Es di mana terdapat tiga buah patung guru-gurunya, yaitu patung Koai-lojin Kam Han Ki, Nenek Maya, dan Nenek Khu Siauw Bwee. Pekerjaan mencari bahan makanan tentu saja kini dilakukan oleh anak buahnya dan untuk mengatur semua urusan, ia mengangkat Phoa Ciok Lin sebagai kepala urusan dalam pulau, sedangkan Yap Sun, kakek yang gemuk, diangkat menjadi kepala urusan luar. Pengangkatan ini bukan hanya dinilai dari tingkat kepandaian, melainkan juga dari watak dan pribadi mereka. Tentu saja demi kewibawaan, Suma Han menurunkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi kepada dua orang wakilnya ini.

Demikianlah selama lima tahun telah terjadi perubahan hebat di Pulau Es yang sekarang dapat dianggap sebagai sebuah partai besar sehingga mulai terdengar namanya di dunia kang-ouw.

********************

“Suhu…! Suhu sudah memberi ijin kepada teecu, kenapa menyusul? Apakah Suhu hendak mengajak pulang ke Siauw-lim-si?” Bun Beng terkejut dan khawatir ketika senja hari itu dia beristirahat dalam hutan, ia melihat gurunya muncul di depannya. Sudah tiga hari tiga malam dia mengadakan perjalanan naik turun gunung dan masuk keluar hutan.

Kakek Siauw Lam tersenyum dan ikut duduk di depan api unggun yang dibuat Bun Beng. Selama ini diam- diam ia mengikuti perjalanan muridnya dan menjadi kagum menyaksikan muridnya itu benar-benar melanjutkan perjalanan seorang diri tanpa mengenal takut.

“Muridku, apa kau kira aku tega membiarkan engkau menempuh perjalanan penuh bahaya ini? Aku tadinya hanya ingin mengujimu dan melihat sampai di mana kebulatan tekadmu. Ternyata engkau benar-benar ingin sekali pergi menyaksikan keramaian antara tokoh-tokoh kang-ouw, biarlah kubawa engkau ke sana.”

Wajah Bun Beng yang tadinya membayangkan kekhawatiran, tiba-tiba berseri gembira dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, “Terima kasih, Suhu. Terima kasih!”

Kakek Siauw Lam tertawa dan membuka bungkusan kain kuning yang dibawanya. “Sudahlah. Nih ada roti kering, engkau tentu belum makan.”

Guru dan murid itu lalu makan roti kering dan minum air yang didapatkan Bun Beng dari sumber air di hutan itu, kemudian ia rebah mengaso di dekat api unggun.

“Bun Beng, semula aku memang tidak rela mengajakmu mengunjungi tempat yang akan dijadikan pertemuan orang-orang sakti itu. Amat berbahaya, muridku. Bahkan berbahaya sekali. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang selain memiliki ilmu kesaktian yang hebat juga merupakan orang-orang yang amat aneh wataknya, tidak seperti manusia biasa, bahkan ada yang mendekati kegilaan. Akan tetapi setelah kupikir-pikir, memang amat penting bagimu, terutama demi kemajuanmu. Engkau berbakat baik dan engkau sejak dahulu mempelajari dasar-dasar ilmu silat tinggi dari Siauw-lim-pai. Aku percaya bahwa dengan kepandaianmu yang kau pelajari dariku, belum tentu engkau akan kalah oleh orang yang sebaya denganmu. Akan tetapi, dibandingkan dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti itu, hemmm… mungkin kepandaian yang kumiliki sekali pun sama sekali tidak ada artinya.”

Bun Beng terbelalak, tidak percaya. Suhu-nya adalah orang yang terpandai di Siauw-lim-pai, memiliki ilmu seperti dewa. Bagaimana mungkin ada tokoh kang-ouw yang lebih pandai dari gurunya ini? Namun selamanya gurunya tidak pernah bicara bohong, maka apa yang diterangkan ini tentu ada benarnya pula. Hal ini membuat Bun Beng tertarik dan makin besar dorongan keinginan hatinya untuk bertemu dengan tokoh-tokoh sakti yang aneh itu.

Sejenak mereka tak berkata-kata. Bun Beng termenung, teringat akan ibunya. Ibunya juga seorang murid Siauw-lim-pai, dan amat lihai. Ia teringat akan keadaan dirinya lima tahun yang lalu, ditinggalkan dalam kuil tua oleh ibunya. Teringat ia akan pesan ibunya ketika hendak pergi.

“Bun Beng, anakku sayang. Ibumu akan pergi mencari musuh besar kita. Mungkin aku tidak akan pergi lama. Akan tetapi kalau aku tidak kembali, tentu ada orang lain datang menjemputmu dan engkau harus turut dengan dia, anakku.”

Ternyata kemudian bahwa yang datang ke kuil demikian banyak orang yang saling memperebutkan dia! Selama lima tahun ini, kalau dia mengajukan pertanyaan pada gurunya tentang ibunya yang tidak kembali ke kuil, gurunya tidak mau menerangkan hanya berkata, “Belajarlah yang rajin, kelak engkau akan tahu sendiri apa yang terjadi dengan Ibumu.”

Sekarang timbul lagi keinginan tahunya. Dia telah besar, telah sepuluh tahun lebih usianya. Gurunya telah membolehkan untuk pergi merantau biar pun kini suhu-nya itu menemaninya.

“Suhu, harap Suhu suka ceritakan tentang Ibu. Apakah Ibu masih hidup? Ataukah sudah mati? Harap Suhu jangan khawatir. Teecu kira tentu Ibu sudah tidak ada, karena kalau masih hidup, tentu Suhu tidak menyembunyikannya dari pengetahuan teecu. Maka, teecu harap sudilah Suhu berterus terang. Kalau masih hidup, di manakah Ibu? Kalau sudah mati, mengapa? Siapa membunuhnya dan di mana kuburannya?”

Melihat suhu-nya ragu-ragu untuk menjawab, anak itu melanjutkan, “Suhu, harap Suhu jangan khawatir mengatakan andai kata Ibuku telah mati. Telah terlalu lama teecu menganggap Ibu telah tiada, dan keraguan ini lebih menyiksa dari pada mendengar kenyataannya.”

Bukan main anak ini, pikir kakek itu. Sekecil ini memiliki wawasan sedalam itu, maka ia pun lalu menjawab, “Ibumu Bhok Khim murid Siauw-lim-pai itu memang telah tewas, Bun Beng.”

Bun Beng menunduk sejenak dan dia tidak menangis! Hanya suaranya menjadi agak gemetar ketika ia bertanya, “Apakah Ibu gagal membalas dendam dan tewas di tangan musuh besarnya?”

“Tidak muridku. Ibumu tidak gagal, bahkan berhasil membunuh musuhnya, akan tetapi musuhnya itu pun dapat membunuhnya. Dalam pertadingan itu, mereka keduanya tewas. Nah, sekarang engkau telah mengerti dan sebaiknya kalau engkau tidak lagi memikirkan Ibumu?”

“Baik, Suhu. Akan tetapi Ayahku? Di manakah Ayah teecu? Ibuku tidak pernah mau menjawab kalau teecu menanyakan Ayah.”

Berat rasa hati Kakek Siauw Lam. Bagaimana dia harus menjawab? Dia tidak mau membohong, akan tetapi juga tidak sampai hati untuk menceritakan bahwa ayah anak ini adalah musuh besar ibunya itu! Maka setelah berpikir sejenak, ia menjawab tenang, “Ayahmu juga telah meninggal dunia Bun Beng.”

“Oohhh…!” Anak itu kecewa sekali, akan tetapi tidak menangis, tidak berduka karena memang selamanya belum pernah ia melihat ayahnya. “Tahukah Suhu, siapa nama Ayah teecu?”

“Namanya… Gak Liat.”

Bun Beng mengangguk dan menggigit bibirnya. Nama itu terukir di lubuk hatinya dengan dua huruf besar- besar. “Jadi teecu she Gak? Pantas dulu Ibu mengatakan bahwa teecu boleh memakai she Bhok atau She Gak…”

“Dan engkau akan memakai she yang mana Bun Beng?” Kakek itu memandang tajam wajah muridnya yang disinari api unggun.

“Tentu saja she Gak. Gak Bun Beng, seorang anak yatim piatu…” Suara ini agak keluar tersendat oleh keharuan.

Kakek itu memegang pundak Bun Beng. “Kematian orang bukanlah hal yang patut disusahkan, muridku. Kita semua manusia yang dilahirkan, suatu saat pasti akan mati, dan mati berarti terbebas dari pada duka nestapa dan derita perasaan di waktu hidup. Jangan mengira engkau setelah ditinggal ayah-bundamu lalu menjadi seorang manusia yatim piatu yang tidak mempunyai apa-apa. Tengok di kanan kirimu, semua yang tampak, tetumbuhan dan binatang, adalah teman-teman hidup senasib. Dan semua manusia di dunia ini adalah saudara-saudara sendiri. Langit adalah Ayahmu yang sejati, sedangkan Bumi, adalah Ibumu yang sejati. Takut apa?”

Anak itu memandang wajah gurunya. Hatinya besar sekali dan ia tersenyum!

“Terima kasih, Suhu. Apa lagi kalau teecu dapat bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh sakti di dunia ini, tentu teecu takkan merasa kesepian. Di dunia ini banyak manusia-manusia yang mulia hatinya, seperti Suhu. Dan sakti, seperti… Pendekar Siluman! Eh, Suhu juga sakti sekali, tidak tahu siapa lebih sakti antara Suhu dan Pendekar Siluman yang berkaki buntung itu?”

Gurunya tertawa. “Tidak salah kata-katamu. Dunia ini memang penuh orang sakti. Dan Pendekar Super Sakti itu adalah seorang di antara mereka, dibandingkan dengan dia, ahhh… Suhumu ini bukan apa-apa.”

“Suhu terlalu merendahkan diri. Teecu tidak percaya!”

“Memang, sebaiknya engkau pun selama hidupmu bersikaplah seperti aku, Bun Beng. Rendah hati, tapi bukan rendah diri! Orang yang rendah hati akan berhasil memperoleh kemajuan pesat dalam hidup, sebaliknya orang yang tinggi hati akan tergelincir oleh kesombongannya sendiri. Bicara tentang Pendekar Super Sakti yang kini kabarnya menjadi majikan Pulau Es, dia memang merupakan seorang muda yang mempunyai ilmu kepandaian luar biasa sekali, bukan hanya ilmu silat tinggi-tinggi sebagai murid yang mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es, juga dia memiliki ilmu sihir yang luar biasa sekali. Sungguh sulit membayangkan untuk mencari orang yang dapat menandinginya dalam ilmu kesaktian. Sudahlah, kita mengaso, besok kita melanjutkan perjalanan. Kelak engkau tentu akan dapat bertemu dengan mereka dan membuktikan sendiri bagaimana lihai-nya mereka itu.”

Membayangkan para pendekar ini, Bun Beng melupakan kedukaannya tentang ayah bundanya. Dan malam itu ia tertidur di dekat api unggun, bermimpi tentang pendekar-pendekar sakti yang menunggang naga dan pandai menangkap geledek!

Pada keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Melakukan perjalanan berdua gurunya amatlah menggembirakan hati Bun Beng karena gurunya itu tahu akan segala hal, bahkan tahu akan nama setiap gunung yang mereka lalui, atau nama setiap kota, dusun, bahkan sungai!

Ketika mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho di sebelah barat kota Cin-an, Bun Beng mendapat kenyataan pertama bahwa gurunya memang bukan orang sembarangan. Ketika suhu-nya mengajaknya berjalan-jalan di tepi sungai yang ramai penuh dengan nelayan dan perahu-perahu layarnya, tiba-tiba muncul tiga orang berpakaian pengemis yang serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan suhu-nya!

“Eh, eh, harap kalian bangun kembali. Agaknya Sam-wi (Kalian Bertiga) sudah salah mengenal orang!” Kakek Siauw Lam menggerakkan tongkat bututnya minta mereka bangkit.

Akan tetapi tiga orang kakek jembel itu tidak mau bangkit, bahkan seorang di antara mereka yang bertubuh bongkok segera berkata, “Kami dari Pek-lian Kai-pang selamanya tidak berani bersikap kurang ajar terhadap Siauw-lim-pai, apa lagi terhadap Locianpwe Siauw Lam Losuhu. Mohon tanya, ada keperluan apakah Locianpwe datang ke tempat ini? Barangkali saja kami dapat membantu.”

Mendengar bahwa mereka adalah anak buah Pek-lian Kai-pang, atau lebih tepat hanya sisa-sisa dari anak buah Perkumpulan Pengemis Teratai Putih yang terkenal itu setelah Pek-lian Kai-pang terbasmi oleh Pemerintah Mancu (baca Pendekar Super Sakti), kakek Siauw Lam tidak membantah lagi dan berkata, “Kami berdua ingin menonton keramaian di muara Sungai Huang-ho, dan sedang mencari perahu untuk disewa.”

Wajah tiga orang pengemis itu berubah. Mereka kaget dan pucat. “Ke… ke sana…! Aih, Locianpwe. Di antara kami dan para nelayan, siapakah yang berani pergi ke sana dalam waktu ini? Mencari mati saja! Akan tetapi tentu saja Locianpwe lain lagi, dan jika saja kami berkepandaian tinggi seperti Locianpwe, agaknya takkan dapat menahan keinginan hati menonton keramaian itu. Locianpwe membutuhkan perahu? Kami mempunyai sebuah, boleh Locianpwe pakai. Kalau mencari sewa, kami kira tidak ada nelayan yang mau menyewakan perahunya pergi ke muara. Marilah, Locianpwe.”

Ketiga orang jembel tua itu bangkit berdiri dan melangkah pergi, sikapnya seperti tidak acuh lagi padahal tadi begitu menghormat. Memang, aneh-anehlah sikap orang kang-ouw dan hal ini mulai dimengerti oleh Bun Beng. Gurunya mengikuti tiga orang kakek jembel itu dan Bun Beng juga cepat mengikuti gurunya. Di pantai sungai yang agak menyendiri dan jauh dari tempat ramai, tiga orang kakek jembel itu berhenti dan menunjuk ke sebuah perahu kecil yang berlabuh di pinggir sungai.

“Itulah perahu kami, sekarang kami serahkan kepada Locianpwe, menjadi perahu Locianpwe. Silakan dan maaf kami mempunyai urusan lain, Locianpwe.”

Tiga orang kakek itu lalu pergi begitu saja, tidak menanti terima kasih! Dan anehnya gurunya juga tidak menyatakan terima kasih sehingga diam-diam Bun Beng menjadi tidak puas atas sikap gurunya yang dianggapnya kurang terima! Agaknya Kakek Siauw Lam dapat melihat isi hati muridnya maka ia berkata.

“Di dalam dunia kang-ouw terdapat paham bahwa di antara golongan sendiri, sebuah benda adalah milik bersama, terutama jika dipergunakan untuk kebutuhan mendesak. Dan, pemberian benda yang sudah merupakan kewajaran, tidak perlu dibalas dengan terima kasih, hal itu hanya akan menimbulkan ketidak puasan si pemberi yang menganggap orang itu bersikap sungkan seperti orang asing bukan segolongan! Kalau tadi aku mengucapkan terima kasih, tentu mereka akan menganggap bahwa aku sombong dan tidak mau menganggap mereka sebagai segolongan!”

Bun Beng melongo dan mengangguk-angguk. Betapa anehnya orang-orang kang-ouw itu, pikirnya. Akan tetapi ia mulai memperhatikan perahu itu. Sebuah perahu yang buruk akan tetapi kokoh kuat, dengan tiang layar dari bambu dan layar-layarnya banyak yang sudah ditambali, seperti pakaian tiga orang kakek jembel tadi. Bukan seperti perahu yang baik, akan tetapi lumayan dan cukup kuat!

Kakek Siauw Lam mengajak Bun Beng naik ke perahu, melepas ikatan dan menggunakan dayung menggerakkan perahu ke tengah sungai yang amat lebar itu. Makin lama makin ke tengah dan Bun Beng belajar caranya mendayung. Mula-mula memang sukar sekali, apa lagi kalau harus menerjang arus air, akan tetapi lama-lama ia menjadi biasa dan dapat menguasai cara mendayung. Perahu meluncur mengikuti arus air ke timur dan Kakek Siauw Lam mengembangkan sebuah layar kecil untuk membantu lajunya perahu.

Bun Beng benar-benar merasa gembira. Selamanya belum pernah ia berlayar dan sekali berlayar dia belajar mendayung dan mengemudikan perahu! Ternyata jauh lebih enak melakukan perjalanan dengan perahu, tidak melelahkan seperti kalau melakukan perjalanan darat dengan jalan kaki. Juga pemandangan alamnya tidak kalah menariknya karena di kanan kiri sungai itu tampak lembah yang subur dan diseling pegunungan dan hutan-hutan liar menghijau.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali mereka tiba di sebuah tikungan yang menurun. Arus airnya kuat dan berubah ganas, berombak dan mengandung banyak putaran air sehingga Kakek Siauw Lam turun tangan sendiri memegang kemudi dengan dayung. Setelah menikung dan air tidak begitu ganas lagi, tiba-tiba Bun Beng meloncat berdiri dan menuding ke depan sambil berkata.

“Suhu, lihat! Banyak perahu di depan, dan banyak orang di sana. Ada benderanya segala, siapakah mereka itu?”

“Kau tenanglah Bun Beng dan jangan mengeluarkan ucapan. Lihat saja dan jangan mencampuri kalau terjadi sesuatu. Mereka adalah rombongan partai-partai persilatan dan agaknya keramaian belum dimulai, semua orang masih bersikap menunggu-nunggu.” Kakek itu bangkit dan berkata lirih, hatinya tegang sebab ia dapat merasakan betapa suasana amat panas dan sewaktu-waktu perpecahan dapat meledak di antara orang-orang kang-ouw yang memperebutkan pusaka.

Setelah perahu mereka mendekat, kakek itu menyuruh Bun Beng untuk duduk diam saja, mengemudikan perahu dan menyuruh muridnya mengambil jalan tengah. Banyak perahu malang-melintang, agaknya memang sengaja mereka yang berada di perahu itu memancing-mancing keributan. Sekali saja ada perahu bertumbukan, tentu akan terjadi keributan itu.

Ketika kakek Siauw Lam dapat membaca tulisan pada bendera, terkejutlah dia karena ternyata bahwa yang berkumpul di situ dan seolah-olah menghadang itu adalah rombongan bajak sungai Hek-liong-pang (Perkumpulan Naga Hitam) yang terkenal pada masa itu dan yang tidak saja menjadi bajak di muara Sungai Huang-ho, bahkan kadang-kadang turun ke laut dan mengganggu kapal-kapal di laut Po-hai! Akan tetapi kakek ini bersikap tenang saja, membisikkan kepada muridnya agar memperlambat lajunya perahu mereka.

Tiba-tiba tampak seorang di antara para bajak itu berdiri di kepala perahu yang menghadang di depan, kemudian terdengar suaranya lantang seperti berbunyi:

Dari delapan penjuru muncul harimau dan naga datang ke muara memperebutkan mustika. yang merasa dirinya bukan harimau atau naga pergilah jangan mencari jalan ke neraka!

Kakek Siauw Lam masih tetap tenang, bahkan kini menggunakan tongkatnya dipukul-pukulkan dan digoyang-goyangkan ke dalam air seperti bermain-main. Tongkatnya menerbitkan suara berirama lalu terdengarlah kakek ini bernyanyi:

Harimau dan naga memperebutkan mustika, biarlah!
Sang Kucing tidak menghendaki apa-apa
hanya ingin menonton menggunakan mata sendiri siapa yang ambil peduli?

Bun Beng yang mengemudikan perahu tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkan dengan nyanyian- nyanyian itu, akan tetapi ia terbelalak kaget melihat betapa tongkat suhu-nya yang dipermainkan di air itu selain menerbitkan suara berirama, juga menimbulkan gelombang yang membuat perahu-perahu penghalang itu terombang-ambing, bahkan terdorong minggir!

Juga para pimpinan bajak mengerti bahwa kakek itu ternyata memiliki kepandaian dahsyat, maka perahu- perahu mereka minggir memberi jalan dan mereka semua berdiri di kanan kiri sambil memberi hormat mengangkat kedua tangan ke depan dada ketika perahu kecil itu lewat. Bajak yang tadi bernyanyi, kini bernyanyi pula, suaranya lantang:

Burung terbang dapat dipanah ikan berenang dapat dijala binatang lari dapat dijebak!
Kami yang bodoh tidak dapat mengenal naga sakti yang menunggang angin dan mega
Maaf, maaf, maaf!

Akan tetapi kakek Siauw Lam tidak menjawab, hanya dengan tenang membantu muridnya mengemudikan perahu yang kini meluncur lewat rombongan bajak yang menghadang itu. Setelah beberapa kali melewati

dunia-kangouw.blogspot.com

tikungan dan tidak tampak lagi bajak, Bun Beng tak dapat menahan keinginan hatinya yang sejak tadi berdebar tegang.

“Eh, Suhu! Apakah artinya semua nyanyian tadi? Sikap mereka begitu menakutkan akan tetapi Suhu hanya bernyanyi untuk mengalahkan mereka! Apa artinya?”

Kakek itu menghela napas panjang lalu menggeleng kepala. “Gerombolan bajak dapat mempergunakan kata-kata indah, bahkan dapat menggunakan ujar-ujar, hal ini saja menunjukkan bahwa golongan bajak pun telah amat maju. Tentu Ketua Hek-liong-pang yang sekarang ini bukan orang sembarangan!”

“Bajak? Apakah mereka itu bajak, Suhu?”

Gurunya mengangguk. “Mereka adalah anak buah bajak sungai Hek-liong-pang yang mengganas di muara Sungai Huang-ho. Nyanyian mereka tadi menyindirkan bahwa di muara sungai kini sedang didatangi tokoh- tokoh kang-ouw sakti yang diumpamakan naga dan harimau memperebutkan mustika yang agaknya dimaksudkan pusaka-pusaka itu. Dan mereka itu menjaga agar tokoh yang tidak berkepandaian tinggi, tidak perlu mendekat karena hanya akan merupakan gangguan saja. Ketua mereka pun merupakan seorang di antara mereka yang dianggap naga harimau!”

Bun Beng mengangguk-angguk. “Ah, kalau begitu, Suhu tadi menyindirkan bahwa sebagai kucing Suhu hanya ingin menonton. Akan tetapi biar pun kucing, bukan sembarang kucing! Tongkat Suhu menimbulkan gelombang membuat mereka sadar bahwa Suhu bukan sembarang kucing melainkan seekor naga yang menunggang angin dan mega! Bukankah begitu, Suhu?”

Gurunya mengangguk. “Nyanyian mereka terakhir tadi dipergunakan untuk memuji dan minta maaf. Padahal kata-kata itu berasal dari kata-kata pujian Biksu Khong Hu Cu yang ditujukan kepada Biksu Lo Cu setelah kedua Biksu itu saling berjumpa dan bercengkerama.”

Perahu melucur terus dan menjelang senja perahu mereka melalui sungai yang menyempit, diapit dinding batu karang menggunung. Kembali Bun Beng yang tadinya melewatkan waktu dengan berlatih pedang yang dibawanya, pedang biasa yang selalu ia pergunakan untuk berlatih ilmu silat pedang, menghentikan latihannya dan berseru,

“Suhu…! Di atas tebing itu… banyak tentara! Dan bendera itu ada huruf besarnya berbunyi Kok Su (Guru Negara)! Wah, banyak sekali tentaranya, agaknya berjaga-jaga di daerah ini!”

“Ssst, kita sudah hampir sampai. Simpan pedang itu. Selewatnya dua tebing itu kita tiba di muara dan di pulau-pulau tengah sungai. Di tempat itulah keramaian terjadi karena dikabarkan bahwa tempat rahasia penyimpanan pusaka berada di situ. Agaknya tentara negeri menjaga dan melarang orang mendekatinya dari darat. Cepat, kita pinggirkan perahu, berlindung di bawah tebing, di bawah batu karang yang menonjol itu!” Kakek Siauw Lam membantu muridnya mendayung perahu sehingga perahu mereka meluncur cepat ke bawah batu karang. Kakek itu melontarkan tali dan dikaitkan pada batu karang sehingga perahu mereka menempel batu karang dan tidak hanyut.

Malam tiba dan mereka makan roti kering sambil minum arak merah yang dibawa kakek itu sebagai bekal. Angkasa penuh bintang berkelap-kelip dan sambil menanti lewatnya malam, Kakek Siauw Lam bercakap- cakap dengan muridnya.

“Suhu, kenapa kita tidak melanjutkan perahu sampai ke pulau-pulau itu?”

“Berbahaya! Hari sudah malam dan gelap, lebih baik kita menanti di sini dan besok pagi baru kita berangkat ke sana. Dalam keadaan gelap, sungguh tidak baik kalau kita melibatkan diri dengan urusan mereka. Kalau hari terang, tentu aku dapat melihat keadaan dan menyesuaikan diri.”

“Suhu, selain Pendekar Siluman yang menjadi Majikan Pulau Es, siapa lagi mereka yang dahulu memperebutkan diri teecu? Sampai sekarang Suhu belum menceritakan keadaan mereka kepada teecu.”

“Yang mukanya berwarna merah adalah anak buah dari Pulau Neraka.” “Pulau Neraka? Sungguh menyeramkan namanya. Di mana itu, Suhu?”

“Sampai sekarang belum ada tokoh kang-ouw yang mengetahuinya, bahkan mendengarnya pun baru akhir-akhir ini. Pulau Neraka sama aneh dan penuh rahasia seperti Pulau Es. Akan tetapi Pulau Es ini sudah puluhan tahun dikenal namanya, walau pun tidak pernah ada pula yang pernah melihatnya, kecuali Pendekar Siluman dan anak buahnya, tentu saja. Datuk-datuk golongan hitam dan putih dahulu memperebutkan dan mencari, karena kabarnya pusaka peninggalan Bu Kek Siansu berada di sana. Namun tidak pernah ada yang berhasil. Ada pun Pulau Neraka ini sebenarnya hanya dikenal sebagai dongeng yang turun-temurun di antara tokoh kang-ouw lama. Kabarnya sebuah pulau yang amat berbahaya, tidak dapat didatangi manusia, penuh dengan racun. Tidak hanya binatang-binatang beracun, bahkan buah-buahan, tetumbuhan dan batu-batuan di sana beracun semua! Maka, amatlah mengagetkan ketika muncul tokoh-tokohnya dari sana yang kesemuanya berwarna-warni kulit tubuhnya! Mengerikan!”

“Wah, hebat! Apakah muka mereka itu diberi warna untuk membedakan tingkat mereka?”

Kakek itu menggeleng kepala. “Ketika aku bertemu dengan mereka lima tahun yang lalu di kuil tua, aku terkejut dan memperhatikan. Warna-warna pada muka mereka bukan warna buatan, melainkan warna dari dalam kulit! Agaknya, melihat keadaan mereka dahulu itu, makin terang dan muda warna mukanya, makin tinggi tingkatnya. Dan kabarnya Pulau Neraka itu dipimpin oleh seorang yang memiliki kepandaian seperti iblis! Akan tetapi entahlah, tak pernah ada orang yang bertemu dengannya. Bahkan anak buah mereka pun baru sekali itu kulihat. Aku pun masih heran memikirkan bagaimana mereka itu tahu tentang dirimu dan hendak merampasmu, sungguh merupakan hal yang membingungkan dan sukar dimengerti!”

Bun Beng makin tertarik dan makin terheran-heran. “Kalau tokoh-tokoh yang lain itu siapakah, Suhu?”

“Mereka juga bukan orang-orang sembarangan. Mereka yang hanya merupakan anak buah tingkat rendah saja sudah mampu menandingi dua orang tokoh Pulau Neraka. Mereka itu adalah anak buah dari perkumpulan Thian-liong-pang yang baru sekarang muncul akan tetapi begitu muncul menggegerkan dunia kang-ouw karena tokoh-tokohnya berilmu tinggi. Kabarnya ketua mereka yang baru juga seorang aneh sekali yang ilmu kepandaiannya tidak lumrah manusia!”

“Kalau begitu, jika nanti tokoh-tokoh Pulau Es, Pulau Neraka dan Thian-liong-pang muncul, tentu mereka yang akan menjagoi dan mampu memperebutkan pusaka-pusaka itu! Siapa yang akan mampu menandingi mereka?”

Kakek itu menggeleng kepala dan menghela napas panjang. “Aaahh, kau tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, Bun Beng! Ilmu kepandaian tidak ada batasnya dan tidak mungkin dapat diukur sampai di mana puncaknya. Di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang pandai. Yang tidak pernah memperlihatkan diri malah memiliki kepandaian menggila! Kini setelah ada umpan berupa berita pusaka- pusaka itu, hmm, aku hendak melihat apakah orang-orang sakti itu tidak tertarik! Kalau mereka muncul, tentu akan ramai sekali. Dan jangan kira pihak lain tidak mempunyai jago-jagonya. Pemerintah mempunyai banyak orang-orang pandai, dan kalau sekarang koksu kerajaan muncul, tentu kepandaiannya hebat. Apa lagi ada kudengar bahwa koksu mempunyai dua orang pembantu yang ilmu kepandaiannya sukar dikatakan sampai di mana tingginya. Mereka itu jarang dikenal orang kepandaiannya, akan tetapi mengingat bahwa mereka adalah dua orang pendeta Lama dari Tibet, aku dapat menduga bahwa tentu ilmu kepandaiannya luar biasa sekali.”

Dengan hati penuh keheranan dan kekaguman Bun Beng mendengarkan penuturan suhu-nya dan akhirnya ia dapat pulas juga di atas perahu setelah menanti dengan hati tidak sabar agar malam lekas terganti pagi. Kakek itu memandang wajah muridnya di bawah bintang-bintang yang suram, menarik napas panjang dan berbisik seorang diri.

“Bocah ini bukan anak sembarangan. Entah nasib apa yang menantinya? Agaknya dia ditakdirkan akan terlibat dalam keributan tokoh-tokoh sakti yang muncul di tempat ini. Hemm… semoga dia kelak akan dapat berdiri di atas kebenaran, keadilan dan menjadi hamba kebajikan, mencuci noda ayah bundanya.” Kakek ini pun lalu duduk bersila, bersemedhi untuk memberi istirahat kepada tubuhnya yang tua…..

********************

Sementara itu, di dalam tenda besar yang didirikan di atas tebing sungai, seorang kakek berkepala botak memimpin perundingan, menghadapi meja yang dikelilingi oleh tiga orang panglima dan dua orang pendeta gundul. Kakek botak ini bukan orang sembarangan karena dialah Koksu Kerajaan Ceng yang belum ada setahun diangkat oleh Kaisar sebagai pengganti Puteri Nirahai yang lenyap.

Kakek botak ini tadinya adalah seorang pertapa di Pegunungan Go-bi-san, seorang keturunan India akan tetapi memakai nama Tiong-hoa. Namanya Bhong Ji Kun dan julukannya Im-kan Seng-jin (Nabi Akhirat)! Ilmu kepandaiannya memang tinggi sekali dan setelah mendemonstrasikan ilmu-ilmunya dan mengalahkan semua jago kerajaan, dia diangkat menjadi koksu dan mengepalai semua jagoan kerajaan.

Im-kan Seng-jin ini pulalah yang berhasil menemukan peta rahasia yang menunjukkan tempat penyimpanan pusaka-pusaka yang diperebutkan itu dan kini Kaisar mengutus dia sendiri memimpin pasukan pengawal, membawa pembantu-pembantunya untuk menuju ke pulau di muara Sungai Huang-ho karena kaum kang-ouw yang bertelinga tajam itu rupanya telah dapat mendengar akan hal ini sehingga pihak kerajaan merasa khawatir kalau-kalau mereka didahului oleh kaum kang-ouw.

Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun memblokir kedua tebing di kanan kiri muara dari mana mereka dapat menjaga dan memandang ke arah pulau-pulau itu, dan malam itu Im-kan Seng-jin mengadakan perundingan dengan lima orang pembantunya. Dua orang pendeta itu bukan lain adalah Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, dua orang pendeta Lama dari Tibet yang kini diperbantukan oleh Kaisar di istananya. Ada pun tiga orang panglima yang berpakaian perang dan kelihatan gagah perkasa itu pun bukan sembarangan orang, melainkan jagoan-jagoan tingkat tinggi yang mengepalai pasukan pengawal istana!

“Maaf Koksu. Sungguh saya tidak mengerti mengapa Koksu begitu sabar dan mendiamkan saja berkumpulnya orang-orang kang-ouw itu? Mengapa memberi kesempatan kepada mereka sehingga membahayakan pusaka yang akan kita ambil? Bukankah lebih baik kita turun tangan mengusir mereka. Kalau mereka membangkang, apa sukarnya menangkap dan membasmi mereka sebagai pemberontak?” tanya Bhe Ti Kong, panglima yang tampan, tinggi besar dan gagah perkasa, bermuka merah dan bermata lebar, pantas menjadi seorang panglima besar atau jenderal yang kosen.

Dua orang panglima lainnya mengangguk-angguk menyatakan setuju dengan pertanyaan ini karena mereka pun merasa penasaran. Hanya kedua orang pendeta Lama itu yang duduk dengan tenang, tidak bicara apa-apa hanya menanti apa yang akan menjadi jawaban Im-kan Seng-jin.

Kakek botak yang tubuhnya tinggi kurus itu tersenyum memandang si penanya, kemudian mempermainkan jari-jari tangannya, ditekuk-tekuk sehingga mengeluarkan bunyi krak-krok-krok! “Tahukah kalian apa yang menyebabkan bunyi ini jika buku-buku jari ditekuk? Yang mendatangkan bunyi adalah pecahnya gelembung-gelembung yang terhimpit! Heh-heh-heh, Bhe-goanswe (Jenderal Bhe), sebagai seorang panglima perang tentu engkau sudah tahu akan siasat-siasat perang, bukan? Ada saatnya menyerang, ada pula saatnya mundur dan ada saatnya bersabar menanti kesempatan baik. Menghadapi partai-partai orang kang-ouw sekarang ini, aku mengambil siasat menanti dan melihat (wait and see)! Mengertikah kalian semua mengapa kita harus menanti dan melihat apa yang akan mereka kerjakan?”

Kelima orang pembantunya itu tidak ada yang mengerti, dan Bhe Ti Kong berkata lagi, “Sungguh saya bingung. Mengapa Koksu mengambil siasat ini? Mereka adalah orang-orang kang-ouw dan di antara mereka banyak terdapat tokoh-tokoh sakti, akan tetapi selama ini mereka tidak mengambil sikap bermusuh terhadap pemerintah. Jikalau sekarang kita mempergunakan kekuasaan minta mereka mundur, tentu mereka tidak membantah. Menurut para penyelidik, mereka itu bukan hanya sekedar tertarik untuk mendapatkan pusaka-pusaka, melainkan juga menggunakan kesempatan ini untuk berpibu, mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang pantas disebut jago nomor satu atau datuk paling tinggi! Segala perkara kosong itu perlu apa dibiarkan mengacau usaha kita mencari pusaka?”

Jenderal Bhe Ti Kong ini sejak kecil adalah orang peperangan, maka sikapnya jujur dan keras, siasatnya pun keras dan tidak mempunyai sifat plintat-plintut menggunakan akal bulus.

Im-kan Seng-jin tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Sekali ini engkau salah, Bhe-goanswe. Bukan hanya kesalahan satu macam, melainkan semua pendapatmu itu keliru dan meleset!”

Melihat sinar mata penuh tantangan dari atasannya itu, Bhe Ti Kong menunduk, dan suaranya perlahan ketika ia berkata, “Tentu Koksu yang benar, saya mohon penjelasan agar dapat melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan siasat Koksu!”

“Pertama, perlu kalian berlima tahu bahwa peta yang ada pada kita hanyalah menunjukkan kepulauan ini sebagai petunjuk pertama! Hal ini menurut perkiraanku jelas menandakan bahwa tempat pusaka itu bukan di sini, melainkan harus dicari mulai dari tempat ini, yaitu pulau-pulau yang berada di tengah muara. Karena belum diketahui jelas di mana tempatnya, sedangkan kita sendiri masih meraba-raba dan mencari- cari, perlu apa kita mendahului mereka mencari dan membiarkan mereka diam-diam mengawasi kita dan

akan turun tangan apabila pusaka sudah kita dapatkan! Dari pada diawasi, lebih mudah mengawasi. Orang-orang kang-ouw itu hidungnya tajam, biarlah mereka yang mencarikan untuk kita. Kalau secara kebetulan sekali di antara mereka ada yang berhasil, kita sergap! Kalau tidak demikian, bayangkan saja betapa besar bahayanya kalau kita mencari-cari dan ratusan orang kang-ouw itu mengintai seperti sekawanan burung rajawali mengintai mangsanya! Bagaimana pendapat kalian?”

Lima orang pembantu itu mengangguk-angguk tanda setuju.

“Kalau mereka tidak berhasil mencari dan pergi, sudahlah. Mereka tidak memusuhi pemerintah, maka apa untungnya kalau kita menggunakan kekerasan mengusir mereka sehingga menimbulkan dendam dan permusuhan karena benci kepada pemerintah? Bukankah rugi sekali kalau kita mengusir mereka? Pertama, mereka akan membenci dan memusuhi pemerintah. Kedua, mereka tentu penasaran dan akan mengintai gerak-gerik kita dalam mencari pusaka.”

Kembali lima orang pembantunya mengangguk membenarkan dan diam-diam kagum akan pandangan yang luas dan perhitungan masak ini.

“Tentang mereka berpibu mengadu kepandaian di pulau itu? Ha-ha-ha-ha! Biarlah! Makin berkurang kaum kang-ouw yang saling berbunuhan, makin kurang bahayanya bagi pemerintah! Selain itu hemmm… aku pun ingin sekali menonton pibu. Ha-ha, tak dapat disangkal pula bahwa tangan kita yang mempelajari banyak ilmu ini menjadi gatal-gatal kalau mendengar orang sakti mengadu pibu. Apa salahnya kalau kita pun meramaikan pibu mereka itu? Kita berlima… heh-heh, berenam dengan aku maksudku, agaknya bukan merupakan tanding yang lemah. Akan menggembirakan sekali, ha-ha!”

Kini dua orang pendeta Lama itu yang mengangguk-angguk karena mereka berdua pun ingin sekali menyaksikan, bahkan kalau mungkin menguji kepandaian kaum kang-ouw yang terkenal dan terutama sekali jika dia yang nanti terpilih menjadi datuk nomor satu!

Ketika perundingan di dalam kemah itu berlangsung, Kakek Siauw Lam sedang bersemedhi dengan tenangnya, sedangkan Bun Beng sudah pulas. Menjelang pagi, Kakek Siauw Lam sadar dari semedhinya karena ia mendengar suara perlahan di permukaan air, suara sebuah perahu meluncur datang mendekati perahunya! Namun kakek itu pura-pura tidak tahu dan duduk bersila dengan tenangnya, hanya diam-diam ia bersiap-siap menjaga diri dan muridnya kalau-kalau ada bahaya mengancam. Dari gerakan perahu ketika ia menghitung gerakan, ia tahu bahwa ada enam orang meloncat ke atas perahunya, dan orang- orang ini biar pun memiliki ginkang yang tinggi, bagi dia bukan merupakan lawan yang perlu dikhawatirkan. Maka dia tetap pura-pura tidak tahu.

“Kita sergap dan ikat,” bisik seorang di antara mereka.

Legalah hati kakek Siauw Lam. Bisikan itu mempunyai arti bahwa dia dan muridnya hanya akan ditangkap, tidak dibunuh, maka dia pun mengambil keputusan untuk tidak melakukan perlawanan.

“Heiii! Apa ini? Lepaskan…!” Bun Beng meronta-ronta dengan kaget ketika terbangun dan melihat ada seorang laki-laki mengikat kedua tangannya, “Suhu…!”

“Diamlah, Bun Beng. Mereka tidak berniat jahat.” kata Kakek Siauw Lam dengan sabar. “Tidak berniat jahat mengapa membelenggu kita?” Bun Beng membantah, terheran-heran.
Kini kedua tangan guru dan murid itu telah dibelenggu ke belakang dan mereka melihat enam orang laki- laki bersenjata golok besar berdiri di atas perahu.

“Engkau benar, orang tua. Kami tidak berniat jahat. Bukankah kalian hendak menonton keramaian? Nah, Pangcu kami tidak ingin melihat penonton membikin ribut, akan tetapi juga tidak mau merampas hak seorang penonton. Mari, kalian akan mendapat tempat yang amat baik sehingga akan dapat menonton dengan enak, ha-ha!”

Tubuh guru dan murid itu lalu diangkat, dipindahkan ke dalam perahu mereka yang mereka dayung cepat- cepat menuju ke sebuah pulau terbesar yang berada di tengah muara. Tanpa banyak cakap mereka meminggirkan perahu, disambut oleh seorang laki-laki berkumis pendek dan membawa sebatang pedang di punggungnya. Sikapnya berwibawa, matanya tajam dan biar pun usianya paling banyak empat puluh lima tahun, namun mudah diduga bahwa dia tentulah pemimpin dari orang-orang ini.

“Lemparkan mereka di pantai, kemudian cepat sembunyikan perahu dan kembali bersembunyi di tempat semula,” kata orang berpedang itu setelah melempar pandang kepada Kakek Siauw Lam.

“Baik, Pangcu,” jawab anak buahnya, namun orang berpedang itu sudah berkelebat cepat sekali, lenyap dari situ.

Kakek Siauw Lam dan Bun Beng lalu digotong keluar dan ditinggalkan di pantai pulau itu, kemudian enam orang bersama perahunya pergi. Semua ini dilakukan menjelang pagi ketika cuaca masih gelap.

Keadaan sunyi sekali setelah orang-orang yang menangkap mereka itu pergi. Bun Beng memandang ke sekelilingnya. Pulau itu cukup besar, merupakan pulau berbentuk anak bukit yang tinggi juga. Hanya pantai di mana mereka ditinggalkan itu yang datar, akan tetapi dari tempat itu dapat diduga bahwa pantai lain di sekeliling pulau itu tentu merupakan tebing-tebing yang tinggi. Juga ia mendapat kenyataan bahwa pulau itu berada di muara paling ujung dan sudah berbatasan dengan laut sehingga kadang-kadang tampak ombak laut naik dan membentur tebing karang pulau itu di sebelah luar.

Ketika berusaha memandang ke seberang, yaitu di kanan kiri sungai yang telah menjadi luas sekali itu, dia hanya melihat beberapa sinar api berkelap-kelip. Keadaan sunyi sekali seolah tempat itu tidak ada manusianya, padahal dia dapat menduga bahwa di sekitar tempat itu, mungkin di atas pulau dan sudah jelas sekali di seberang, di tebing-tebing tinggi, penuh dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti, penuh pula dengan pasukan pengawal. Hatinya berdebar tegang ketika ia teringat akan keadaan dirinya dan suhu-nya.

“Suhu, teecu masih tidak mengerti mengapa Suhu tidak melawan? Kita ini dibelenggu dan dilepaskan di sini, apa sih kehendak mereka? Apakah benar-benar kita disuruh menonton akan tetapi tidak boleh bergerak maka dibelenggu seperti ini?”

“Sabar dan tenanglah, Bun Beng. Engkau pergi hendak mencari pengalaman, ingat? Nah, justru pengalaman-pengalaman yang tidak enaklah yang merupakan pengalaman tak terlupakan dan mengandung banyak pelajaran. Mereka itu tidak berniat jahat, karena kalau demikian, tentu tadi mereka akan membunuh kita dan tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka berbuat begitu. Mereka hanya menangkap kita dan buktinya kita ditinggalkan di sini.”

“Akan tetapi… mengapa, Suhu? Apa maksudnya semua?”

“Aku sendiri tidak tahu dengan pasti, hanya dapat menduga-duga saja. Namun kalau dugaanku tidak meleset terlalu jauh, kita sekarang bukan menjadi penonton lagi, Bun Beng, melainkan ikut pula main dalam keramaian ini, bahkan menjadi pemegang peran babak pertama dalam adegan pembukaan!”

Bun, Beng membelalakkan matanya. “Apa maksud Suhu?”

“Melihat adanya pasukan-pasukan pemerintah yang sudah memblokir tempat ini, agaknya para partai dan tokoh kang-ouw yang sudah berkumpul dengan sembunyi-sembunyi di sekitar tempat ini merasa ragu-ragu untuk memulai keramaian ini. Mereka mengambil sikap menunggu dan melihat, tidak ada yang berani memulai karena resiko dan bahayanya amat besar. Selain adanya saingan yang berat dan banyak jumlahnya, di sini terdapat pula pasukan pemerintah yang dipimpin sendiri oleh koksu. Hal ini tentu saja bukan merupakan hal sepele yang boleh dibuat main-main. Oleh karena itu, dengan adanya kita sebagai orang luar atau katakan penonton, maka mereka mendapat kesempatan baik untuk menarik kita dan kita dijadikan semacam umpan, atau lebih tepat merupakan sumbu untuk meledakkan keramaian! Mereka semua bersembunyi, dan kita mereka taruh di sini yang dapat dilihat dari semua penjuru kalau matahari sudah muncul nanti. Kehadiran kita ini pasti menarik semua orang dan tentu akan ada yang mulai muncul sehingga pesta dapat dimulai!”

“Hemm, kurang ajar sekali mereka!” Bun Beng mengomel. “Kalau aku mereka jadikan umpan masih tak mengapa. Akan tetapi mereka berani menangkap dan membelenggu Suhu! Siapakah mereka yang menangkap kita tadi, Suhu?”

“Melihat sikap mereka dalam menggunakan perahu, kiranya tidak salah kalau aku menduga bahwa mereka adalah pimpinan Hek-liong-pang yang membantu ketua mereka dalam usaha perebutan ini. Si Kumis yang berpedang tadi lihai dan cepat sekali gerakannya dan disebut Pangcu (Ketua), agaknya dialah Ketua Hek- liong-pang. Hek-liong-pang merupakan kekuasaan tidak resmi di muara ini, dan dalam istilah dunia kang-

ouw, sekali ini keramaian mengambil tempat di wilayah atau daerah kekuasaan Hek-liong-pang. Tegasnya, saat ini dapat dianggap bahwa Hek-liong-pang menjadi tuan rumah! Tuan rumah yang bukan hanya ingin menjadi penonton saja, bahkan ingin sekali memegang peran utama dan mendapatkan pusaka yang diperkirakan terdapat di dalam daerah operasi mereka! Maka melihat betapa keramaian dapat membeku gagal dengan munculnya begitu banyak pasukan pemerintah, Hek-liong-pang kini mengambil prakarsa untuk menyalakan sumbu yang akan meledakkan keramaian, yaitu kita inilah.”

“Sekarang, apa yang akan Suhu lakukan? Apakah kita akan mandah begini saja?”

Kakek itu tersenyum lebar. Semenjak Siauw Lam Hwesio menjadi Kakek Siauw Lam dan memelihara rambut, wajahnya yang dahulu selalu dingin membeku itu kini mulai tampak sinarnya dan terutama sekali kalau bicara dengan muridnya, ia mulai banyak tersenyum. Memang muridnya tidak seperti bocah biasa. Anak ini jalan pikirannya seperti orang tua, tidak kekanak-kanakan lagi, dan kecerewetannya menanyakan segala macam hal menandakan bahwa anak ini mempunyai hasrat besar untuk maju.

“Bun Beng, kalau aku mengendaki, apa sih sukarnya merobohkan enam orang itu? Akan tetapi aku sengaja membiarkan mereka menangkap kita. Kalau saja tidak bersama engkau, tentu aku tidak sudi mengalami penghinaan dari pimpinan bajak ini. Engkau hendak mencari pengalaman dan berkenalan dengan tokoh-tokoh sakti. Nah, sekarang engkau berada di tengah-tengah dan akan mengalami sendiri keramaian itu. Karena inilah aku sengaja mengalah. Kita tunggu saja dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Hari masih terlalu pagi, matahari belum bersinar, tentu mereka belum dapat melihat kita. Tunggu saja nanti kalau matahari sudah bersinar, dan kalau ikan-ikan itu sudah melihat umpan yang lezat ini, hemmm, tentu mereka akan bermunculan dan akan memenuhi idaman hatimu.”

Bun Beng tidak bertanya lagi dan kini ia diam-diam mengerahkan tenaganya untuk mencoba apakah dia akan dapat mematahkan belenggu yang mengikat kedua lengannya. Beberapa kali ia mengerahkan tenaganya, namun sia-sia saja. Belenggu itu terlalu kuat baginya. Biar pun Kakek Siauw Lam tidak melihat usahanya ini, namun kiranya kakek itu mengetahui karena kakek itu berkata.

“Muridku, usiamu belum cukup berlatih sinkang, maka tenaga dasar darimu mana mungkin dapat mematahkan belenggu. Akan tetapi, lupakah engkau akan latihan Jiu-kut-kang yang kuajarkan kepadamu?”

Bun Beng tertegun. Tentu saja dia telah mempelajari ilmu Jiu-kut-kang itu, yaitu ilmu melemaskan diri atau cara untuk melemaskan urat dan sambungan tulang. Dia tadinya tidak dapat mengerti mengapa untuk mematahkan belenggu yang kuat, suhu-nya menganjurkan dia ilmu itu. Dia tidak membantah dan mulailah ia mengumpulkan inderanya dan mengerahkan ilmu itu sehingga kedua lengannya menjadi lemas dan lunak. Seketika ikatan pada kedua pergelangan tangan itu menjadi mengendur dan ia menjadi girang sekali. Kiranya Jiu-kut-kang bukan dipergunakan untuk mematahkan belenggu, melainkan untuk membuat kedua tangannya dapat dilolos keluar tanpa mematahkan belenggu! Ia mencoba dan… dengan mudahnya ia menarik keluar tangannya dari ikatan.

“Suhu, teecu… berhasil…!”

“Bagus, tentu saja berhasil. Akan tetapi jangan sekali-kali membebaskan kedua tanganmu, bersikaplah seperti engkau terbelenggu.”

Bun Beng mengerti maksud kata-kata suhu-nya. Dia tidak boleh memperlihatkan kepada orang lain bahwa belenggunya dapat terlepas. Maka sambil bersandar pada batu karang, Bun Beng mempermainkan belenggu itu dengan ilmu Jiu-kut-kang, melolos tangannya lalu memasukkan lagi pada belenggu yang kini hanya merupakan lingkaran tali yang tiada gunanya itu. Dia terbelenggu, akan tetapi belenggu itu malah dapat ia pergunakan untuk berlatih Jiu-kut-kang, sehingga diam-diam ia menertawakan kawanan bajak yang membelenggu tadi. Baru dia saja dapat membebaskan dari belenggu, apa lagi suhu-nya. Sungguh kawanan bajak itu benar-benar tak tahu diri, berani mati membelenggu suhu-nya!

Matahari mulai memancarkan sinarnya di permukaan pulau itu dan hati Bun Beng sudah mulai berdebar tegang dan gembira, bukan hanya karena sinar matahari telah mengusir hawa dingin, terutama sekali karena ia mengharapkan untuk dapat menyaksikan keramaian yang tentu akan segera dimulai. Namun sampai berapa lamanya, keadaan tetap sunyi. Agaknya para tokoh itu masih merasa segan dan malu-malu kucing untuk memulai dan membuka keramaian.

Bun Beng telah memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam tali pengikat dan bersandar pada batu karang seperti yang dilakukan suhu-nya. Kakek itu masih bersandar pada sisi batu seperti orang tidur, kelihatannya enak dan tenang saja. Tak lama kemudian, setelah Bun Beng hampir hilang sabarnya dan sudah bergerak hendak bertanya kepada suhu-nya, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali seperti burung menyambar dan tahu-tahu di dekat mereka telah berdiri dua orang laki-laki tua yang berpakaian sederhana.

Dua orang kakek itu usianya antara lima puluh tahun, yang seorang gemuk sekali, yang kedua amat kurus namun keduanya berpakaian sederhana, berjenggot dan bermata tajam.

Setelah memandang kakek Siauw Lam dengan penuh perhatian, tiba-tiba Si Gemuk itu menjatuhkan diri berlutut, memberi hormat dan berkata.

“Ahhh, kiranya Locianpwe yang berada di sini? Maafkan karena… eh, karena rambut Locianpwe yang membuat saya tidak mengenal bahwa yang semalam berada di sini adalah Siauw Lam Locianpwe dari Siauw-lim-pai.”

Mendengar ini, temannya yang kurus kelihatan kaget dan cepat berlutut memberi hormat.

Kakek Siauw Lam menghela napas panjang. Kiranya rambut panjangnya itu tidak dapat menyembunyikan namanya. Ia mengerling dan melihat berkelebatnya bayangan orang. Tampak enam orang pimpinan bajak bersama ketua mereka, dan jauh di sana tampak pula berkelebatnya banyak orang yang memiliki gerakan amat gesit tanda bahwa orang-orang pandai itu telah mulai berdatangan. Kemudian ia memandang orang gemuk yang mengenalnya, mengingat-ingat akan tetapi tidak mengenal Si Gemuk itu. Juga orang kurus itu ia tidak mengenalnya.

Sementara itu, para pimpinan bajak Hek-liong-pang sudah datang mendekat. Mereka ini siap dengan senjata mereka, bahkan ketuanya yang belum mencabut senjata berkata, “Siapakah Ji-wi yang berani datang ke wilayah kami tanpa ijin?”

Akan tetapi pertanyaan ini sama sekali tidak diacuhkan oleh Si Gemuk dan Si Kurus itu, seolah-olah mereka itu hanya sekumpulan lalat saja dan pertanyaan itu seperti gonggongan anjing. Juga kakek Siauw Lam tidak mempedulikan mereka, kini bertanya kepada Si Gemuk,

“Mataku yang sudah tua mungkin tidak awas lagi maka tidak dapat mengenal Ji-wi sicu yang gagah perkasa. Siapakah Ji-wi yang mengenal aku orang tua tiada guna?”

“Saya bernama Yap Sun dan ini adalah Sute Thung Sik Lun, pembantu saya. Kami berdua adalah utusan dari Pulau Es!”

“Utusan dari Pulau Es??” Bun Beng berteriak girang dan anak ini sudah menarik kedua tangannya terlepas dari ikatan sambil melompat berdiri.

“Utusan dari Pulau Es!” para pimpinan Hek-liong-pang berseru kaget sekali. Mendengar disebutnya Pulau Es bagi mereka seperti mendengar bunyi guntur di tengah hari.

Dua utusan Pulau Es itu lalu bangkit berdiri setelah memberi hormat kepada kakek Siauw Lam, kemudian mereka membalikkan tubuh menghadapi pimpinan Hek-liong-pang. Yap Sun, wakil dari Pulau Es itu berkata dingin.

“Hek-liong-pang seperti dipimpin orang-orang buta dan lancang, berani menghina seorang Locianpwe yang patut dihormati. Kami berdua utusan Pulau Es ingin meninjau pertemuan orang-orang gagah yang kabarnya akan diadakan di sini. Apakah pihak Hek-liong-pang keberatan dengan kehadiran kami?”

Enam orang pimpinan Hek-liong-pang bersama ketua mereka itu tadi tidak hanya kaget mendengar nama Pulau Es, juga melihat betapa wakil Pulau Es begitu menghormati Si Kakek Tua, dan kaget pula melihat bocah itu ternyata mampu melepaskan ikatan tangannya! Ketuanya yang berpedang di punggungnya cepat menguasai diri dan kini merangkapkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda menghormati sambil berkata,

“Maaf, maaf! Tidak mengenal maka tak sayang, kata orang. Karena tidak mengenal maka kami berlaku kurang hormat yang berpura-pura sebagai penonton lemah, tidak mengenal Ji-wi sebagai utusan Pulau Es yang terhormat. Setelah mengenal kami persilakan Ji-wi dan juga Locianpwe untuk naik ke tengah pulau!”

Dua orang kakek gemuk dan kurus itu tanpa banyak cakap lagi lalu melangkah dan naik ke atas bukit, diikuti oleh tujuh orang pimpinan Hek-liong-pang. Ada pun kakek Siauw lam, sekali menggerakkan tangan telah mematahkan belenggunya, kemudian menggandeng tangan muridnya dan berkata,

“Hebat! Pulau Es mengirim wakilnya. Keramaian dimulai dan engkau akan menyaksikan pertunjukan menarik. Mari kita naik!”

Dengan jantung berdebar tegang Bun Beng mengikuti suhu-nya naik ke bukit batu karang itu. Setelah mereka tiba di atas, ternyata bahwa puncak bukit yang berada di tengah pulau itu daratan yang luas, bahkan sebagian besar menjorok ke pinggir merupakan tebing tinggi. Air muara dan air laut berada di bawah tebing itu. Pemandangan sungguh indah menakjubkan, namun juga berbahaya dan mengerikan. Dan di tempat itu kini sudah penuh orang sehingga diam-diam Bun Beng merasa heran bagaimana dalam waktu singkat tempat itu telah dikunjungi begitu banyak orang yang semua tampak gagah perkasa.

Sebuah kapal layar besar tampak berlabuh tak jauh dari pinggir pulau, dan melihat keadaan layarnya dan bendera yang berkibar di tiang kapal itu tentulah milik pemerintah.

Kakek Siauw Lam mengajak Bun Beng duduk agak jauh, di atas batu karang tinggi agar enak mereka menonton keramaian. Dari tempat itu Bun Beng dapat melihat seluruh daratan, dan karena jaraknya dekat, ia dapat pula mendengar. Dengan penuh perhatiasn Bun Beng menyapu tempat itu dengan pandang matanya. Ia melihat beberapa kelompok orang, dengan bendera masing-masing. Dari tempat ia menonton, ia dapat membaca huruf-huruf pada bendera itu.

Ketua Hek-liong-pang berdiri bersama enam orang pembantunya di kanan, dengan bendera bertuliskan huruf ‘Hek-liong-pang’. Di sebelahnya terdapat rombongan belasan orang yang berbendera Hek-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) yang semua memakai pakaian hitam penuh tambalan. Kemudian terdapat pula rombongan yang berbendera Hui-houw-pai (Partai Macan Terbang) yang seperti bendera Hek-liong-pang yang bergambar naga hitam, bendera Hui-houw-pai ini bergambar seekor harimau bersayap! Kemudian tampak pula rombongan Thian-liong-pang yang hanya terdiri dari empat orang, kelihatan biasa saja namun rombongan ini menjauhkan diri dan kelihatan tak gentar.

Di ujung sekali tampak rombongan yang aneh menyeramkan. Rombongan ini tidak membawa bendera akan tetapi mudah dekenal karena warna-warna muka mereka sudah merupakan bendera tersendiri. Ada warna muka jambon, ungu, hijau pupus, biru laut. Semua ada sebelas orang, akan tetapi warna mereka semua adalah muda, menandakan bahwa wakil Pulau Neraka yang datang ini adalah orang-orang yang tingkatnya sudah tinggi.

Di samping rombongan-rombongan ini, tampak pula rombongan dari partai-partai persilatan besar yang hanya terdiri dari beberapa orang dan tidak dikenal oleh Bun Beng. Akan tetapi, kakek Siauw Lam membantunya dan sambil menuding dengan telunjuknya, kakek ini memperkenalkan tokoh-tokoh yang hadir, tentu saja yang dikenalnya karena banyak di antara mereka merupakan ‘wajah-wajah baru’ yang selama ini hanya menyembunyikan dirinya. Maka tahulah Bun Beng bahwa di tempat itu hadir pula tokoh- tokoh dari Hoa-san-pai, Khong-tong-pai dan partai-partai lain yang kecil.

Dari partai Siauw-lim-pai ternyata ada pula yang hadir yaitu lima orang Siauw-lim Ngo-kiam (Lima Pedang Siauw-lim). Bun Beng belum pernah melihat mereka, maka kini dia memandang penuh perhatian.

“Mereka adalah tokoh-tokoh Siauw-lim-pai penting dan terkenal, murid-murid Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai yang lama. Tentunya ada tujuh orang murid yang terkenal dengan nama Siauw-lim Chit- kiam, akan tetapi dua di antara mereke telah terjadi perang (baca cerita Pendekar Super Sakti). Kini tinggal lima orang itu, ahli-ahli pedang yang patut dibanggakan oleh Siauw-lim-pai.

Tentu saja Bun Beng memandang ke arah lima orang kakek itu dengan hati girang karena mereka adalah jago-jago pedang Siauw-lim-pai yang berdiri dengan sikap tenang dan amat gagahnya, dalam pandangannya jauh lebih gagah dari pada yang lain. Mereka terdiri dari dua orang hwesio dan tiga kakek bukan pendeta.

“Suhu, kalau begitu teecu harus menyebut apa kepada mereka?”

Lama kakek Siauw Lam tidak menjawab, akhirnya dia berkata perlahan. “Aku hanyalah seorang pelayan di Siauw-lim-si, akan tetapi menurut tingkat, karena aku menjadi murid mendiang Kian Ti Hosiang, maka mereka adalah murid-murid keponakanku dan engkau boleh menyebut suheng kepada mereka.”

Girang hati Bun Beng. Mereka itu adalah kakak-kakak seperguruannya. Ingin sekali dia dapat berdiri di samping mereka, mewakili Siauw-lim-pai, akan tetapi gurunya melarang.

“Kita hanya penonton, tidak boleh melibatkan diri secara langsung.”

Sementara itu, ketua Hek-liong-pang yang berpedang dan tampak gagah itu sudah maju ke tengah lapangan dan memberi hormat kepada semua yang hadir. Dengan lantang namun penuh hormat dia berkata.

“Saya sebagai ketua Hek-liong-pang bernama Huang-ho Sin-liong Ciok Khun (Naga Sakti Huang-ho), dan sebagai tuan rumah karena tempat ini termasuk wilayah kekuasaan Hek-liong-pang, menghaturkan selamat datang kepada Cu-wi Locianpwe sekalian. Maksud kunjungan kita semua di tempat ini tanpa ada yang mengundang mempunyai tujuan yang sama. Kini kita semua melihat pula hadirnya pasukan pemerintah maka biarlah pemerintah menjadi saksi diadakannya pemilihan bengcu (ketua) persilatan di dunia kang-ouw. Kami hanya akan menyerahkan pulau ini kepada pihak yang patut menjadi bengcu, maka pihak yang sekiranya tidak mempunyai kepandaian dan tenaga untuk menangkan pibu, harap mundur saja.”

Ucapan ini disambut suara gemuruh mereka yang hadir, ada yang pro dan ada pula yang kontra, namun semua setuju bahwa urusan ‘pusaka’ tidak disinggung-singgung karena mereka tahu biar pun kini belum nampak pasukan pemerintah turun ke pulau, namun tentu ada para penyelidiknya yang turut menyaksikan dan mendengar.

“Kami pihak Hek-liong-pang yang mempunyai daerah sepanjang Sungai Huang-ho dari Terusan Besar sampai ke muara telah bersepakat dengan pihak Hek-i Kai-pang yang mempunyai daerah sepanjang lembah Huang-ho di utara, untuk bersama-sama menjadi tuan rumah dan kami mengambil kehormatan untuk membuka pibu ini. Karena kami maklum bahwa yang hadir adalah tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang memiliki ilmu-ilmu kepandaian tinggi sekali, maka kami mngambil keputusan untuk maju sendiri sebagai penguji pertama. Gu-loheng, marilah!”

Dari rombongan Hek-i Kai-pang melonat keluar seorang laki-laki tinggi besar berusia lima puluhan tahun, memegang sebatang tongkat hitam, sama dengan pakaiannya yang terbuat dari pada sutera hitam. Inilah Toat-beng-tung Gu Ban Koai (Si Tongkat Maut), ketua Hek-i Kai-pang yang selama ini, seperti juga Hek- liong-pang, telah dapat memperkuat perkumpulannya.

Dahulu Hek-liong-pang tidaklah begitu kuat ketika diketuai oleh ayah dari Ciok Khun ini yang bernama Ciok Ceng. Akan tetapi, Ciok Khun memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari ayahnya karena ia telah berguru kepada seorang pendeta perantauan yang datang dari seberang lautan timur. Dia memiliki ilmu pedang yang dahsyat dan aneh.

Demikian pula dengan Hek-i Kai-pang. Ketika dulu diketuai oleh It-gan Hek-houw Song-pangcu, perkumpulan ini tidak memperoleh kemajuan. Akan tetapi sekarang setelah dipimpin oleh ketuanya yang baru, Hek-i Kai-pang menjadi maju dan makin kuat. Hal ini adalah karena ketuanya sekarang adalah seorang yang amat lihai, terutama sekali ilmu tongkatnya sehingga dia mendapat julukan Tongkat Maut!

Karena pibu yang diadakan tanpa perjanjian lebih dulu ini sebenarnya bukanlah pibu biasa, dan biar pun tidak diucapkan telah dimengerti oleh semua yang hadir bahwa pibu ini lebih pantas dikatakan memperebutkan hak ‘siapa yang menang akan berhak mencari pusaka di tempat itu’, maka yang maju adalah kedua orang ketua itu sendiri!

Huang-ho Sin-liong Ciok Khun sudah mencabut pedangnya dan bersiap menghadapi lawan yang berani memasuki kalangan pibu, di samping Toat-beng-tung Gu Ban Koai yang sudah melintangkan tongkat di depan dada.

Perlu diketahui bahwa kebiasaan memperebutkan bengcu atas pemimpin persilatan, atau juga datuk persilatan yang merupakan jagoan terpandai, adalah kebiasaan golongan hitam dan perkumpulan- perkumpulan yang bergerak dalam bidang persilatan. Kaum partai besar seperti Kun-lun-pai, Siauw-lim-pai

dan lain-lain yang di samping mengembangkan ilmu silat juga terutama sekali mengembangkan agama dan ilmu kebatinan, tidak bernafsu untuk disebut sebagai jago silat nomor satu.

Oleh karena itu partai-partai besar yang hadir di saat itu tidak diwakili oleh ketua-ketua mereka, dan kedatangan mereka itu semata-mata hanya tertarik oleh berita ditemukannya tempat penyimpanan pusaka- pusaka yang hilang, sama sekali tidak bermaksud mengikuti pibu untuk memperebutkan kedudukan jago nomor satu. Maka tantangan pibu yang dibuka oleh kedua ketua itu mereka sambut dengan sikap dingin dan tidak ada niat untuk turun tangan, kecuali hanya untuk menonton saja dan meilhat perkembangan keadaan lebih lanjut.

Akan tetapi tidak demikian dengan rombongan yang lain, yang selain ingin memperoleh pusaka juga tentu saja ingin disebut jago nomor satu dan perkumpulannya merupakan perkumpulan yang terkuat dan terbesar sehingga mereka mempunyai kedudukan mulia di dunia kang-ouw.

Dua orang meloncat ke depan. Yang seorang adalah ketua Hui-houw-pai bernama Sim Koa Bi, berjuluk Hui Houw (Macan Terbang) dan perkumpulannya menggunakan nama perkumpulan itulah. Tubuhnya gemuk pendek dan ia memegang sebuah senjata rangtai baja yang ujungnya dipasangi bola berduri di kanan kiri. Orang kedua yang meloncat keluar dari golongan perorangan tanpa rombongan adalah seorang yang bertubuh kecil kurus, berpakaian mewah dan kedua tangannya memegang sepasang pedang. Usianya sebaya dengan ketua Hui-houw-pai, yaitu sekitar tiga puluh lima tahun. Akan tetapi sikapnya malu- malu seperti perempuan, dan dia berdiri di situ sambil tersenyum-senyum merendah.

“Aku Hui-houw Sim Koa Bi ketua Hui-houw-pai mohon pengajaran dari dua pangcu!” kata ketua Hui-houw- pai dengan suara mengguntur.

“Saya Kwa Ok Kian yang bodoh memberanikan diri memperluas pengetahuan. Untuk memperebutkan bengcu tentu saja saya tidak berani. Cukup kalau ikut meramaikan pertemuan ini agar menghangatkan hati para Locianpwe sebelum turun tangan!” kata orang kurus sambil tersenyum. Biar pun sikapnya demikian merendah, namun orang ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali karena sejak kecil dia menggembleng ilmu di daerah Go-bi-san, dan baru sekarang turun gunung.

Dua orang tuan rumah itu memandang penuh perhatian, kemudian Ciok Khun berkata, “Kami berdua sebagai pihak tuan rumah mempersilakan Ji-wi untuk memilih lawan di antara kami berdua.”

Sim Koa Bi ketua Hui-houw-pai cepat berkata, “Aku ingin sekali berkenalan dengan tongkat maut dari pangcu Hek-i Kai-pang!”

Dia memang sudah mendengar akan kelihaian ketua Hek-liong-pang, maka dengan cerdik ia memilih ketua perkumpulan Pengemis Baju Hitam itu yang belum ia kenal. Tentu saja ia tidak tahu bahwa tingkat kepandaian pengemis ini sebetulnya tidak berbeda jauh dengan tingkat kepandaian ketua Hek-liong-pang!

Kwa Ok Kian tersenyum dan menghampiri Ciok Khun sambil berkata, “Kalau begitu biarlah saya menerima pengajaran dari Ciok-pangcu!”

“Silakan!” kata Ciok Khun yang sudah melihat betapa ketua Hek-i Kai-pang telah mulai bertanding melawan ketua Hui-houw-pai.

“Pangcu, lihat siang-kiam!”

Dua sinar berkelebat ketika Si Kecil ini menggerakkan sepasang pedangnya, tahu-tahu pedang kanan membabat leher dan pedang kiri membabat kaki lawan dengan gerakan yang berlawanan. Hebat bukan main serangan ini sehingga Ciok Khun berseru memuji, menangkis pedang yang mengancam leher sambil meloncat ke atas menghindari babatan pada kakinya. Kemudian ketua Hek-liong-pang ini pun melanjutkan gerakannya dengan serangan balasan. Mereka segera bertanding dengan seru dan yang tampak hanyalah sinar pedang bergulung-gulung menyilaukan mata.

Pertandingan antara ketua Hui-houw-pai melawan ketua Hek-i Kai-pang juga berjalan dengan amat hebat. Sim Koa Bi yang pendek gemuk itu ternyata lihai sekali. Gerakannya cepat dan rantai di tangannya menjadi sinar bergulung-gulung. Yang mengagumkan sekali adalah gerakan loncatannya, seperti terbang saja dan dari atas rantainya menyambar. Kedua kakinya juga melakukan tendangan-tendangan yang amat berbahaya.

Namun Gu Ban Koai dengan tongkatnya bergerak tenang. Tongkatnya membentuk pertahanan yang amat kuat dan kadang-kadang, biar pun hanya jarang saja, satu melawan tiga dibandingkan dengan gencarnya serangan rantai, tongkat itu secara tiba-tiba menyambar dan kalau mengenai lawan tentu akan mendatangkan bahaya maut. Agaknya tidaklah mengecewakan kalau ketua partai pengemis ini mendapat julukan Tongkat Maut karena tongkatnya selalu mengirim serangan dahsyat dan lebih banyak bertahan dari pada menyerang. Pendeknya, setiap serangan tentu sudah diperhitungkan masak-masak, bukan sembarang menyerang untuk mengacaukan lawan, melainkan serangan untuk merenggut nyawa lawan!

Bun Beng berdiri dan menonton dengan bengong penuh kekaguman. Dia sering kali melihat murid-murid Siauw-lim-pai berlatih silat, akan tetapi baru sekarang dia melihat pertandingan sehebat itu. Gerakan- gerakan pedang itu bagaikan halilintar menyambar, lenyap bentuk pedangnya berubah menjadi sinar terang bergulung-gulung. Dan rantai bersama tongkat itu pun bergerak secara hebat sehingga si Tongkat nampak berubah menjadi puluhan banyaknya dan rantainya berubah menjadi gulungan sinar.

“Suhu, siapa yang akan menang dalam pertandingan dahsyat itu?” tanyanya kepada gurunya tanpa mengalihkan pandang matanya dari medan pertandingan.

“Hemm, pertandingan ini belum berapa hebat, Bun Beng. Kalau orang yang sakti maju, tidak perlu menggunakan senjata keras! Kulihat orang she Kwa itu biar pun memiliki ilmu siang-kiam yang hebat dan memiliki gerakan yang cepat, namun ia masih kalah pengalaman dibandingkan dengan ketua Hek-liong- pang, dan tenaga sinkang-nya kalah kuat. Agaknya ketua Hek-liong-pang yang akan menang. Ada pun pertandingan yang satu lagi, jelas bahwa ketua Hek-i Kai-pang yang menang karena dia lebih tenang dan tongkat mautnya itu benar-benar berbahaya sekali. Perhatikanlah, pihak tuan rumah itu kini mulai mendesak.”

Bun Beng memandang penuh perhatian. Telah lima tahun lamanya dia digembleng oleh gurunya. Pengetahuannya dalam hal ilmu silat sudah mendalam, bahkan sudah banyak ilmu silat tinggi yang dia pelajari sehingga dia hanya kurang matang dalam latihan saja dan tenaganya masih belum besar. Akan tetapi dia sudah memiliki kewaspadaan dan dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan jelas.

Dia melihat bahwa kini pihak tuan rumah, yaitu kedua pangcu itu, telah mendesak lawan masing-masing sehingga kedua lawannya lebih banyak menangkis dari pada menyerang. Namun dia dapat melihat pula bahwa pihak tuan rumah tidak berniat membunuh lawan, maka kini desakan ditujukan pada lengan atau kaki lawan, bukan di bagian yang berbahaya.

“Saya mengaku kalah! Hek-liong-pang mempunyai pangcu yang hebat!” Kwa Ok Kian berteriak sambil melompat mundur, kemudian dia melompat meninggalkan pulau itu dengan perahu kecil.

Berbeda dengan orang she Kwa ini, ketua Hui-houw-pai agaknya merasa malu kalau harus mengaku kalah begitu saja, apalagi dia datang bersama para pembantunya dan di situ terdapat banyak tokoh kang-ouw menjadi saksi. Sebagai seorang ketua partai persilatan, ia merasa malu kalau mengaku kalah sebelum roboh. Maka ia menggigit bibirnya dan secara mati-matian melakukan perlawanan memutar rantainya sambil melakukan gerakan meloncat tinggi sesuai dengan julukannya, yaitu Macan Terbang!

Namun dia sudah terdesak dan tertindih, gerakan-gerakannya sudah terkurung lingkaran sinar tongkat hitam, maka dalam belasan jurus berikutnya ia kewalahan dan terlambat menangkis.

“Kreekkk!” terdengar suara dan tubuh Sim Koa Bi terbanting tak dapa bangkit kembali karena tulang kering kaki kanannya remuk dihantam tongkat.

Para pembantunya cepat datang dan menggotongnya pergi dari pulau itu dengan perahu mereka. Setelah ketua mereka kalah, mau apa lagi?Bertahan di tempat itu tidak ada gunanya, pula, hanya mendatangkan malu saja.

Setelah babak pertama dibuka oleh kedua orang pangcu sebagai pihak tuan rumah, muncullah dua orang jagoan perorangan, yang seorang dari selatan, yang kedua dari barat. Kembali mereka disambut oleh kedua orang pangcu yang kosen itu. Pertandingan kali ini lebih dahsyat lagi, lebih hebat dari pada tadi. Biar pun pertandingan ini pun berakhir dengan kemenangan kedua orang pangcu, akan tetapi mereka berdua menjadi lelah sehingga setelah berhasil memperoleh kemenangan, pangcu dari Hek-liong-pang berkata sambil menjura ke empat penjuru.

“Karena kami berdua telah amat lelah, harap Cu-wi sekalian sudi mempertimbangkan dan memberi kesempatan kepada kami untuk beristirahat. Selanjutnya kami mohon agar para Enghiong yang ingin mengukur kepandaian satu kepada yang lain suka maju lebih dulu. Kalau kami sudah beristirahat, nanti kami akan maju untuk menghadapi para pemenangnya.”

Tentu saja alasan ini diterima baik, maka kini majulah empat orang dari dari golongan partai lain dan kembali terjadi pertandingan antara keempat orang itu, terbagi menjadi dua rombongan. Pertandingan ini berjalan tidak seimbang dan dalam waktu tiga puluh jurus saja, dua orang dari dua macam bu-koan (perguruan silat) sudah memperoleh kemenangan. Kemudian dua orang pemenang ini berhadapan dengan kedua orang pangcu tuan rumah yang tadi keluar sebagai pemenang sampai dua kali. Kembali terjadi pertandingan menggunakan senjata yang amat seru.

“Hemm, agaknya para Locianpwe yang sakti masih menanti kesempatan, hanya suka maju kalau melihat lawan yang cukup berharga untuk dilawan,” kata kakek Siauw Lam perlahan.

“Aihhh, apakah yang bertanding masih kurang lihai, Suhu?” Bu Beng bertanya heran, juga terkejut bahwa mereka yang telah bertanding sehebat itu ternyata masih belum dianggap lihai oleh gurunya.

“Ahh, mereka itu hanya termasuk tokoh pertengahan saja, Bun Beng. Tingkat mereka itu belum berapa tinggi, dan tiap orang dari suheng-suheng-mu Siauw-lim Ngo-kiam masih akan sanggup menandingi mereka. Kulihat kedua orang pangcu itu, hemmm… agaknya akan ramailah dengan tingkat para suheng- mu. Biar pun tidak kalah, namun membutuhkan waktu lama, sedikitnya seratus jurus. Kalau tokoh sakti sudah keluar, barulah hebat!”

Tepat seperti yang diduga oleh kakek itu, Ciok Khun dan Gu Ban Koai kembali keluar sebagai pemenang, kemenangan mereka untuk ketiga kalinya! Karena melihat kelihaian dua orang pangcu itu, para tokoh pertengahan menjadi jeri untuk maju. Bahkan banyak pula yang diam-diam pergi dari tempat itu karena merasa tidak ada harapan untuk memperoleh kemenangan. Yang tinggal hanyalah rombongan Thian-liong- pang, Hek-liong-pang, Hek-i kai-pang, Pulau Neraka dan dua utusan Pulau Es serta beberapa orang lagi tokoh yang belum turun ke gelanggang. Ada pun koksu Bhong Ji Kun bersama para pembantunya kelihatan berdiri di atas kapal dan menonton dari jauh.

Kedua orang pangcu itu merasa gembira sekali dengan kemenangan mereka yang berturut-turut dan kepercayaan mereka kepada diri sendiri makin besar. Setidaknya mereka kini sudah termasuk golongan ‘atas’ karena bukankah yang tinggal di situ hanya rombongan yang terkenal di samping partai-partai bersih seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain. Andai kata mereka dikalahkan sekali pun, mereka sudah mengangkat nama sendiri dan perkumpulan yang tidak dapat disejajarkan dengan perkumpulan ‘kecil’ seperti yang telah dikalahkan tadi.

Ciok Khun ketua Hek-liong-pang yang bertindak sebagai juru bicara dan sebagai tuan rumah segera menjura dan berkata, “Harap para Locianpwe tidak ragu-ragu untuk segera maju. Kami berdua siap mencari petunjuk!”

“Pangcu dari Hek-liong-pang, jangan sombong setelah memperoleh kemenangan! Pinto-lah lawan kalian!” ucapan ini disusul berkelebatnya bayangan orang dan di situ telah berdiri seorang tosu berpakaian kuning yang membawa pedang di punggungnya.

Gerakan tosu ini amat ringan seperti sehelai bulu ditiup angin. Ternyata dia adalah seorang tosu yang usianya sudah enam puluh tahun lebih. Tubuhnya kurus kering tanpa daging, hanya kulit membungkus tulang. Wajahnya seperti tengkorak, sangat menyeramkan!

“Mohon tanya, siapakah nama dan julukan Totiang dan dari partai apa?” Ciok Khun menjura dan memandang penuh perhatian karena dia tidak mengenal tosu ini.

“Pinto Hok Cin Cu, bukan dari partai mana pun juga, seorang pendeta perantau yang kebetulan mendengar akan pertemuan ini. Pinto ingin mencoba kepandaian jago-jago dari seluruh penjuru!”

Ciok Khun yang dapat menduga bahwa tosu ini tentu lihai sekali, segera berkata, “Baik sekali, Totiang. Siapakah di antara kami berdua yang mendapat kehormatan melayani Totiang?”

“Ha-ha-ha!” Suara ketawa tosu itu melengking, mengejutkan semua orang. “Kalian berdua pangcu-pangcu cilik ini majulah bersama. Akan pinto layani sekaligus juga agar tidak membuang banyak waktu!”

Mendengar ucapan ini, terkejutlah semua orang. Kedua orang pangcu ini amat lihai dan sudah memperoleh kemenangan sampai tiga kali. Akan tetapi kini mereka ditantang untuk mengeroyok tosu kurus kering ini. Betapa takaburnya! Kedua pangcu itu menjadi merah mukanya dan saling pandang, kemudian Ciok Khun menjura kepada semua tokoh persilatan dan berkata dengan lantang.

“Pertandingan pibu antara orang-orang gagah tidak mengenal keroyokan dan harus berjalan dengan adil. Akan tetapi sekarang Hok Cin Cu Totiang menantang kami berdua untuk maju bersama. Hal itu disaksikan oleh semua Locianpwe yang hadir, sehingga seandainya kami memperoleh kemenangan, harap jangan dikatakan kami curang dan mengandalkan pengeroyokan!”

“Ha-ha-ha! Siapa bilang kalian akan menang? Majulah!” sambil berkata demikian, tosu kurus mencabut pedangnya. Tampak sinar merah disusul suara dengung yang nyaring. Kemudian tosu itu menggerakkan pedangnya beberapa kali dan terdengar lengking berdengung-dengung seperti suling ditiup!

“Hemm, agaknya dialah yang dulu terkenal dengan julukan Cui-siauw-kiam (Pedang Peniup Suling). Wah, aku mendengar bahwa ilmu pedangnya adalah ilmu pedang campuran dari Go-bi Kiam-hoat dan Kun-lun Kiam-sut. Tentu dia lihai sekali,” kata kakek Siauw Lam.

“Suhu, teecu tidak suka kepada tosu itu. Dia sombong!” kata Bun Beng.

Gurunya tersenyum. “Tidak perlu suka atau tidak suka, yang penting menilai dan mencontoh. Kalau kau anggap dia sombong, maka jangan kau mencontoh sikapnya, habis perkara. Perasaan tidak suka itu pun bukan perasaan yang baik, mungkin tidak kalah buruknya dengan sikap sombong!”

Bun Beng membungkam, merasa bersalah. Dia lalu memandang penuh perhatian karena kini kedua orang pangcu itu sudah siap dengan senjata mereka, menghadapi tosu itu dari kanan dan kiri. Agaknya keduanya merasa bahwa sekali ini mereka harus berhati-hati, maka mereka hanya bersiap saja, tidak berani langsung membuka serangan.

Tosu kurus itu agaknya mengerti akan hal ini, maka kembali ia tertawa, kemudian terdengar suara berdesing-desing disusul dengan suara mendengung nyaring. Pedangnya berubah menjadi sinar perak yang menyambar kanan kiri.

“Trang-trangggg…!” Bunga api berpijar dan kedua orang pangcu itu terhuyung mundur.

Mereka terkejut sekali karena tangkisan senjata mereka bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat, membuat mereka terhuyung-huyung. Akan tetapi keduanya sudah meloncat maju dan terjadilah pertandingan yang hebat. Bukan hanya saking cepatnya, demikian cepat gerakan Si Tosu sehingga tubuhnya lenyap sama sekali terbungkus sinar pedang yang seperti perak itu, yang menyambar ke kanan kiri mengejar kedua lawannya, melainkan terutama sekali hebat karena terdengar suara tiupan suling merdu seolah-olah saling mengikuti tari-tarian indah, bukan pertandingan mati-matian! Suara ini keluar dari sambaran pedang yang digerakkan dengan pengerahan sinkang kuat sekali, dan karena pedang itu dipasangi lubang-lubang kecil, maka menimbulkan suara seperti suling ditiup. Tentu saja tanpa latihan puluhan tahun dan tanpa dorongan tenaga sinkang yang tepat dan kuat, tidak mungkin mainkan pedang sampai menimbulkan suara tiupan suling seperti itu!

“Kejam sekali dia…!” kakek Siauw Lam berseru perlahan.

Bun Beng agak sukar mengikuti pertandingan yang agak cepat itu dengan pandang matanya. Dia hanya mendengar dua kali suara ‘crat-crat’ disusul muncratnya darah dan robohnya dua orang pangcu itu.

Pertandingan hanya berlangsung dua puluh jurus dan kedua orang pangcu roboh dengan luka parah! Hek- liong-pangcu roboh dengan paha kanan terkuak lebar sampai tampak tulangnya, sedangkan Hek-i Kai- pangcu roboh dengan pundak kiri patah tulangnya. Anak buah mereka segera menolong pangcu masing- masing yang roboh pingsan, kemudian mereka meninggalkan pulau dengan perahu masing-masing.

Suasana menjadi sunyi. Tosu itu mengelus-elus pedangnya penuh kasih sayang, lalu berkata, “Pedangku yang baik, hari ini engkau boleh berpesta pora!”

Bun Beng mengepal tinjunya. “Suhu, dia itu selain sombong juga kejam. Kalau teecu berkepandaian tentu teecu akan maju dan melabraknya! Sayang kepandaiannya terlalu tinggi, dia lihai bukan main. Akan tetapi teecu yakin bahwa Suhu tentu akan dapat melabraknya sampai dia meratap minta ampun!”

“Hushh! Ingat bahwa kita adalah penonton. Dia memang lihai dan baru sekarang engkau akan menyaksikan kehebatan tokoh-tokoh kang-ouw,” jawab suhu-nya.

Tosu kurus itu kini memandang ke sekeliling. “Pinto paling suka main pedang. Adakah di sini ahli-ahli pedang untuk bermain-main dengan pinto? Telah lama pinto mendengar nama-nama besar seperti Siauw- lim Chit-kiam yang dulu kabarnya dikalahkan oleh Kang-thouw-kwi, malah dua di antaranya tewas oleh puteri jelita! Apakah mereka yang lima orang masih hidup? Ataukah sudah tidak berani lagi mencabut pedang setelah hilang yang dua orang?”

“Hemm, tosu sesat!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan kelima orang Siauw-lim Ngo-kiam sudah meloncat ke depan tosu itu.

Bun Beng memandang penuh perhatian dan jantungnya berdebar. Kini barulah mereka akan membuka mata menyaksikan kelihaian Siauw-lim-pai, pikirnya bangga.

Akan tetapi dengan heran ia mendengar gurunya mengeluh, “Mengapa mereka itu masih berdarah panas? Mudah saja dipancing, sungguh celaka!”

Bun Beng tidak sempat bertanya karena ia tertarik sekali memandang ke lapangan itu. Si Tosu kurus menggunakan matanya yang sipit, menyapu kelima orang itu dengan pandang matanya penuh perhatian. Dia melihat dua orang hwesio dan tiga orang kakek yang usianya rata-rata lima enam puluh tahun, sikapnya gagah perkasa dan tenang sekali. Dia menduga-duga, kemudian tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Agaknya kalian inikah yang terkenal dengan julukan Siauw-lim Chit-kiam yang sudah tinggal lima orang?”

Memang mereka adalah lima orang sisa Chit-kiam, dua orang telah tewas, yaitu orang keenam dan ketujuh. Yang pertama adalah Song Kai Sin, tinggi tegap, usianya hampir tujuh puluh tahun. Kedua adalah Lui Kong Hwesio, juga tinggi besar dan bermata lebar, berusia enam puluh dua tahun. Orang ketiga dan keempat adalah Oei Swan dan Oei Kong, kakak beradik yang berwajah sama, juga sudah enam puluh tahun lebih. Ada pun yang kelima adalah Lui Pek Hwesio yang bertubuh kecil bermata tajam, berusia enam puluh tahun.

“Hok Cin Cu, kami tahu bahwa engkau adalah orang yang dahulu mengganas di pantai selatan dan berjuluk Cui-siauw-kiam. Kini berlagak sebagai tosu, akan tetapi kami tahu bahwa engkau hanyalah seorang sombong yang mengaku-aku sebagai tosu sehingga mencemarkan agama To saja. Engkau tadi mencari kami, nah, kami Siauw-lim Ngo-kiam berada di sini, engkau mau apa?” Yang bicara adalah Song Kai Sin, orang tertua Siauw-lim Ngo-kiam.

“Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali! Kiranya Siauw-lim-pai mengutus jago-jago pedangnya untuk merebut kedudukan tertinggi di dunia persilatan!”

“Jangan asal membuka mulut!” bentak Lui Kong Hwesio marah. Siauw-lim-pai tidak butuh akan segala macam adu kepandaian! Kami hanya maju ke sini karena tadi kau mengeluarkan tantangan, pendeta palsu!”

“Ha-ha-ha-ha! Dengar ucapan hwesio ini! Dia memaki pinto pendeta palsu sedangkan dia yang berkepala gundul dan berjubah hwesio masih suka memaki orang!”

Wajah Lui Kong Hwesio menjadi merah dan dia tak dapat membantah. Memang harus diakui bahwa dia menuntut penghidupan suci, selalu bersikap halus penuh welas asih terhadap sesama manusia. Akan tetapi sebagai pendekar, dia tidak dapat bersikap halus terhadap orang jahat!

“Hok Cin Cu,” cepat Song Kai Sin berkata. Tak perlu banyak cakap. Kami tidak ingin mengadu kepandaian untuk memperebutkan kedudukan apa pun juga. Akan tetapi, kami sebagai murid-murid Siauw-lim-pai takkan pernah mundur kalau Siauw-lim-pai ditantang!”

“Benarkah? Kalau begitu untuk apa kalian hadir di sini? Apa untuk mencoba-coba untung barang kali saja bisa mendapatkan pusaka? Ha-ha!”

Ucapan itu mengejutkan semua orang yang hadir. Mereka tanpa berjanji telah sepaham dalam hati bahwa tentu saja mereka semua tidak ada yang berterang hendak mencari pusaka yang kabarnya telah ditemukan petanya oleh pemerintah. Apa lagi kini pihak pemerintah hadir juga. Karena itu mereka menggunakan dalih pibu. Siapa kira tosu ini bicara seenaknya saja!

“Kami tidak sudi berbantah dengan orang macam engkau, Hok Cin Cu. Pendeknya jika engkau menantang Siauw-lim Ngo-kiam, tarik kembali tantanganmu!”

Tosu itu tertawa lagi. “Ha-ha-ha! Siapa takut? Andai kata jumlah kalian masih lengkap tujuh orang, pinto tidak gentar menghadapi Siauw-lim Chit-kiam, apa lagi hanya Siauw-lim Ngo-kiam! Majulah kalian berlima!” Ia sudah menggerakkan pedangnya sehingga berdengung-dengung.

Song Kai Sin maklum bahwa tosu ini amat lihai pedangnya, mungkin tidak di sebelah bawah datuk-datuk sesat jaman dahulu seperti Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo dan yang lain-lain. Maka ia cepat memberi isyarat kepada para sute-nya untuk membentuk lingkaran dan mainkan Chit-seng Sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bintang).

Tosu ini berseru keras, lalu bergerak memutar pinggangnya sehingga terdengar bunyi mengaung seperti suling ditiup. Lima orang gagah Siauw-lim-pai itu pun lalu menggerakkan pedang mereka dan gterdengarlah bunyi mencicit-cicit dan pedang mereka berubah menjadi sinar-sinar terang yang meluncur ke depan.

“Hebat para suheng itu!” Bun Beng berseru girang.

“Hemm…, Chit-seng Sin-kiam seharusnya dimainkan oleh tujuh orang, kini dimainkan oleh hanya mereka berlima, sungguh banyak berkurang kelihaiannya. Kalau lengkap mungkin menang. Akan tetapi sekarang…!”

Kakek itu melangkahkan kaki, menuruni tebing dan mendekati lapangan pertandingan, diikuti oleh Bun Beng dengan jantung berdebar. Demikian lihaikah tosu kurus itu sehingga suhu-nya merasa khawatir bahkan seperti sudah tahu bahwa lima orang suheng-nya akan kalah?

Pertempuran kali ini benar-benar hebat luar biasa. Mata para penonton sampai menjadi silau dan telinga mereka sakit-sakit mendengar nyanyian pedang Si Tosu diseling suara mencicit nyaring lima batang pedang jago-jagi Siauw-lim-pai itu. Tubuh enam orang itu lenyap terbungkus sinar pedang yang bergulung- gulung menjadi satu. Untuk membedakan mana pedang mereka hanya nampak pedang bersinar perak yang bergulung-gulung, itulah pedang Hok Cin Cu, sedangkan pedang murid-murid Siauw-lim-pai merupakan sinar-sinar terang yang gerakannya lurus maju mundur hanya membentuk lingkaran kecil di luar lingkaran besar sinar pedang Hok Cin Cu.

Seratus jurus telah lewat dan pertandingan masih berjalan seru. Akan tetapi lingkaran sinar pedang seperti perak itu makin membesar, suara suling makin n\yaring melengking sedangkan lingkaran kecil yang jumlahnya lima itu makin mengecil, suara mencicit juga makin melemah. Inilah tandanya bahwa kelima orang Siauw-lim Ngo-kiam mulai terdesak hebat!

Bun Beng tidak mengerti karena dia tidak dapat mengikuti pertandingan yang terlampau cepat baginya itu. Dia menengok ke muka suhu-nya dan melihat alis gurunya berkerut, maka dia pun menjadi khawatir, lalu memandang lagi ke arah pertandingan.

“Trang-trang-trang-trang-trang!!”

Lingkaran-lingkaran pedang yang kecil-kecil itu bercerai berai dan tampaklah lima orang Siauw-lim-pai itu mencelat ke belakang dengan muka pucat. Tosu itu tertawa dan sinar pedangnya menyambar ke arah mereka, agaknya dia belum merasa puas kalau pedangnya belum minum darah lawan!

“Tahan…!” terdengar bentakan halus dan tubuh kakek Siauw Lam telah melayang ke depan. Ia menggerakkan tangan kanannya dan ujung lengan bajunya menggulung ujung pedang Hok Cin Cu, kemudian mendorongnya sambil melepaskan libatan.

dunia-kangouw.blogspot.com

Hok Cin Cu terkejut. Hampir saja pedangnya terlepas dan ia cepat memandang. Kiranya di depannya telah berdiri seorang kakek tua, sedangkan Siauw-lim Ngo-kiam sudah menyimpan pedang dan menjura dengan hormat kepada kakek itu.

“Mundurlah kalian, mengapa mengikuti hati panas?” kakek Siauw Lam menegur dengan suara halus akan tetapi kelima orang itu menjadi merah mukanya, kemudian mengundurkan diri.

Biar pun Hok Cin Cu maklum dari gerakan kakek itu bahwa ia menghadapi seorang lihai, namun karena ia berwatak sombong dan terlalu percaya kepada kepandaiannya sendiri, dia tidak takut dan kini menghadapi kakek Siauw Lam sambil berkata,

“Kakek tua renta! Kenapa engkau lancang dan curang membantu lima orang yang sudah mengeroyokku?!”

Kakek Siauw Lam merangkap kedua tangan ke depan dada. “Maaf, Totiang. Andai kata pertandingan tadi merupakan sebuah pibu, tentu aku orang tua tidak berani turut campur. Akan tetapi pertandingan tadi bukan pibu, melainkan Totiang telah menantang Siauw-lim-pai. Murid-murid Siauw-lim-pai itu tadi berdarah panas, maka biarlah aku orang tua yang mintakan maaf dan harap Totiang tidak mencari permusuhan dengan Siauw-lim-pai yang tidak ingin bermusuh dengan siapa pun juga.”

“Heh, kakek tua. Apakah engkau tokoh Siauw-lim-pai?”

“Aku mendapat kehormatan sebagai orang Siauw-lim-pai, maka aku berani mintakan maaf atas nama Siauw-lim Ngo-kiam kepadamu, Totiang!”

“Siapa engkau? Dan apa kedudukanmu di Siauw-lim-pai?”

“Namaku Siauw Lam, dan aku hanya seorang pelayan di Siauw-lim-pai.”

Wajah Hok Cin Cu berubah merah. “Pelayan?” Ia menoleh ke arah Siauw-lim Ngo-kiam dan bertanya lantang, “Siauw-lim Ngo-kiam, benarkah kakek ini hanya seorang kakek di Siauw-lim-si?”

Song Kai Sin menjawab, “Beliau adalah terhitung supek kami, akan tetapi benar bekerja sebagai pelayan di Siauw-lim-si.”

Hok Cin Cu menjadi bingung. Kalau dia melawan kakek yang lihai ini dan sampai kalah, bukankah namanya akan hancur lebur karena dia kalah oleh seorang pelayan saja dari Siauw-lim-pai?

“Kakek tua, apakah engkau menantangku?” “Aku tidak menantang siapa-siapa.”
“Aku orang lemah, mana ingin pibu segala?” “Kalau begitu pergilah!”
Tiba-tiba terdengar suara nyaring. “Hok Cin Cu manusia tinggi hati! Berani engkau menghina seorang Locianpwe?”

Yang muncul adalah Yap Sun dan Thung Sik Lun, dua orang utusan Pulau Es dan yang membentak adalah Yap Sun. Kemudian Yap Sun menjura kepada kakek Siauw Lam sambil berkata, “Harap Locianpwe sudi mengundurkan diri, tak pantas bagi Locianpwe untuk melayani orang gila ini lebih lama lagi.”

Kakek Siauw Lam mengangguk dan mundur, akan tetapi ia bingung karena tidak melihat bayangan Bun Beng! Anak itu diam-diam telah pergi dari tempat tadi. Namun karena di situ terdapat banyak orang dan suasana menjadi tegang, kakek ini bersikap tenang. Bun Beng adalah seorang bocah cerdik dan tidak ada alasan untuk khawatir bagi dirinya. Agaknya bocah itu menggunakan kesempatan kunjungan itu untuk pergi menemui orang sakti!

Kini Yap Sun dan Thung Sik Lun menghadapi Hok Cin Cu yang memandang marah dan membentak, “Kalian ini siapa lagi berani membuka mulut besar?”

“Kami adalah dua orang utusan dari Pulau Es!”

Mendengar ucapan ini, semua orang memandang dengan muka berubah, seperti halnya para pimpinan Hek-liong-pang tadi. Namun Hok Cin Cu agaknya memandang rendah, apa lagi melihat bahwa kakek gemuk dan kakek kurus itu tidak menunjukkan keanehan apa-apa.

“Tidak perlu kami sembunyikan lagi. Kami menjadi utusan Pulau Es untuk meninjau dan kami tertarik memasuki pibu.”

“Bagus!” Hok Cin Cu kini mendapatkan kesempatan untuk ‘mencuci muka’ setelah tadi ia mengalami hal yang merendahkan dirinya ketika berhadapan dengan kakek Siauw Lam yang telah ia rasakan kelihaiannya.Ia masih ragu-ragu apakah akan dapat menangkan kakek itu, akan tetapi terhadap dua orang ini ia memandang rendah sekali.

“Apakah kalian juga hendak maju berdua? Kalau memang ingin maju berdua, jangan malu-malu, katakan saja. Pinto berani menghadapi kalian berdua sekaligus.!”

Yap Sun menjadi merah mukanya, akan tetapi wajahnya tetap tenang dan dingin. Suaranya lebih dingin lagi ketika berkata, “Majikan kami adalah seorang pendekar yang mengangkat kependekaran dan kegagahan di atas segala apa, tentu saja kami tidak akan menggunakan jumlah banyak untuk mencari kemenangan.”

“Suheng, biarlah aku menghadapi tosu ini,” kata Thung Sik Lun yang bertubuh kurus.

“Baiklah, Sute.” Kemudian Yap Sun berkata kepada Hok Cin Cu, “Sute-ku ini yang akan menandingimu Hok Cin Cu.”

Yap Sun lalu meloncat ke pinggir dan berkata tenang kepada sute-nya, “Thung-sute, hati-hati, jangan sampai melakukan pembunuhan. Jangan membunuh dia.”

Ucapan yang dikatakan dengan suara bersungguh-sungguh ini membuat dada Hok Cin Cu seperti akan meledak saking marahnya. Ucapan itu sungguh dirasakan amat merendahkan dirinya. Bukan dipesan hati- hati agar jangan kalah, melainkan dipesan berhati-hati agar jangan membunuh lawan!

“Kami dari Pulau Es tidak pernah menggunakan senjata, kecuali kalau amat perlu dan sangat terpaksa. Untuk main-main denganmu, biarlah aku menggunakan tangan kosong saja. Totiang, pakailah pedangmu!”

Baru sekarang Hok Cin Cu tak dapat menertawakan lawannya karena kemarahan telah menguasai hatinya. Dia merasa dipandang rendah sekali dan hal ini dianggapnya sebagai penghinaan, sungguh pun kakek kurus dari Pulau Es itu sebetulnya sama sekali tidak mau memandang rendah atau menghina, melainkan bicara sesungguhnya.

“Siapakah namamu, orang yang sudah bosan hidup? Katakanlah namamu agar kalau pedangku memenggal lehermu, akan pinto ketahui siapa orang sombong yang sudah kubunuh dalam pibu ini!”

“Namaku Thung Sik Lun dan marilah kita mulai, Hok Cin Cu!”

Pedang di tangan Hok Cin Cu itu sudah mengaung dan menyambar dari atas ke bawah hendak membelah tubuh lawan, akan tetapi gerakannya tidak lurus melainkan seperti ular berlenggak-lenggok hingga tampak sinar pedangnya seperti halilintar menyambar di angkasa. Namun tubuh kakek kurus itu telah lenyap dan tahu-tahu telah berpindah tempat ke kiri. Tosu itu terkejut melihat kecepatan gerak lawan yang tidak tampak menggoyang tubuh tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke kiri, maka cepat pedangnya menyusul dan dia mengirim serangkaian serangan dengan pedangnya sehebat gelombang lautan dan terdengar suara suling nyaring mengikuti berkelebatnya sinar pedang.

Thung Sik Lun memiliki bakat yang baik dalam ilmu meringankan tubuh, maka oleh majikan Pulau Es ia telah digembleng dengan ilmu gerak kilat sehingga tubuhnya dapat bergerak lebih cepat dari pada berkelebatnya sinar pedang Hok Cin Cu, maka serangan-serangan itu selalu gagal karena tubuh kakek kurus ini telah mencelat ke sana-sini amat cepatnya.

Semua orang yang menyaksikan pertandingan dahsyat ini melongo karena gerakan tubuh Si Kakek Kurus sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya tampak seolah-olah menjadi banyak.

Hok Cin Cu menjadi penasaran sekali. Sudah belasan jurus pedangnya menyerang namun sama sekali tak pernah berhasil. Ia berseru keras dan menyerang lebih cepat. Thung Sik Lun maklum akan kelihaian lawan, maka ia pun mempercayai gerakan tubuhnya sehingga tubuhnya lenyap hanya merupakan bayangan yang kadang-kadang tampak kadang-kadang tidak. Sambil mengelak ini, Thung Sik Lun kini membalas, tangan kirinya mendorong ke arah lawan dengan jari terbuka.

“Wuuuttttt…!”

“Aihhh!” Hok Cin Cu terhuyung dan berseru kaget karena dorongan tangan lawan itu mengandung tenaga yang hebat bukan main, mengandung hawa panas dan amat kuat sehingga tubuhnya bergetar dan ia terhuyung ke belakang.!

Hok Cin Cu cepat meloncat ke atas dan berjungkir balik ke belakang, kemudian turun dengan wajah pucat, memandang lawannya yang masih tetap berdiri tegak dan tenang. Maklumlah tosu ini bahwa lawannya, tokoh Pulau Es ini, memiliki sinkang yang sangat luar biasa. Dia seorang yang licin dan cerdik sekali, biar pun marah dan penasaran akan tetapi tidak nekat. Kalau pertandingan itu dilanjutkan, tentu dia teancam bahaya mati. Maka ia lalu berkata.

“Sobat dari Pulau Es, kepandaianmu hebat. Biarlah kali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi tunggulah saja, pada suatu hari aku akan datang mengunjungi Pulau Es untuk menantang pibu kepada majikan Pulau Es!” Setelah berkata demikian, tanpa menanti lawan menjawab dan tidak memberi kesempatan orang lain mengejeknya, tosu cerdik ini sudah meloncat jauh dan berlari cepat sekali, kemudian menghilang di pantai yang berbatu-batu.

Kejadian ini membuat semua orang terkejut dan melongo. Hok Cin Cu yang demikian lihai ilmu pedangnya, dalam waktu cepat sekali telah mengaku kalah kepada orang kedua dari Pulau Es, padahal belum dirobohkan! Dan menurut pengintaian mereka, orang Pulau Es itu tidaklah sehebat Si Tosu, hanya memiliki gerakan cepat dan pandai mengelak saja. Mengapa tosu yang ilmu pedangnya luar biasa itu mengalah begitu saja?

Hal ini membuat penasaran yang hadir, maka keluarlah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun berpakaian pendeta, berambut gondrong dengan cambang bauk mencongak ke sana-sini. Lehernya digantungi kalung yang ada kelenengannya seperti yang biasa digantungkan di leher kerbau atau sapi. Kiranya dia adalah seorang saikong yang mukanya seperti singa dan suaranya parau ketika ia berkata menggeledek.

“Aku telah mendengar bahwa Pulau Es dikuasai oleh seorang Pendekar Siluman. Kini menyaksikan pertandingan tadi, aku baru percaya orang-orang Pulau Es pandai menggunakan ilmu siluman! Kalau kalian menggunakan ilmu silat, kiraku tidak akan mampu mengalahkan Hok Cin Cu, biar pun ilmu pedangnya hanya bagus ditonton dan enak didengar saja. Heh, orang Pulau Es, marilah kalian melawan aku, Siangkoan Cinjin dari Goa Tengkorak!”

Setelah berkata demikian, saikong itu lalu menggoyang tubuhnya seperti tingkah seekor singa mengeringkan bulunya dan terdengarlah suara mengaum yang dahsyat dari mulutnya. Suara ini mengandung getaran yang amat kuat sehingga semua orang yang mendengar menjadi terkejut sekali. Untung bahwa yang kini tinggal di situ hanya orang-orang yang berilmu tinggi sehingga mereka cepat mengerahkan tenaga mereka untuk melawan pengaruh getaran suara itu, karena kalau orang tidak memiliki sinkang kuat, mendengar suara getaran ini pasti akan roboh! Mengeluarkan suara mengaum seperti singa yang dapat merobohkan lawan dan mendatangkan rasa takut dan ngeri ini adalah ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang dikerahkan dengan tenaga khikang amat kuatnya. Dari teriakan dahsyat ini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya saikong ini.

Kakek Siauw Lam yang semenjak tadi menyaksikan pertandingan dengan penuh perhatian, terkejut sekali mendengar digunakannya ilmu Sai-cu Ho-kang ini karena ia segera teringat akan muridnya. Muridnya belum memiliki sinkang yang kuat maka ilmu itu dapat mencelakakan muridnya itu. Ia tidak bernafsu lagi menonton dan mulailah ia mencari muridnya itu. Ketika ia tidak dapat melihat muridnya di antara para tokoh yang hadir, kakek ini lalu pergi ke pantai dan mengelilingi pulau untuk mencari.

Kemana perginya bocah itu? Ketika tadi Bun Beng menyaksikan pertandingan dan melihat para suheng- nya kalah lalu gurunya maju menolong, dari tempat ia berdiri ia melihat rombongan koksu di kapal itu tertawa-tawa, seolah-olah menertawakan para suheng-nya yang kalah. Hatinya menjadi panas, apa lagi ketika melihat koksu itu bersama beberapa orang lain turun dari kapal dan memasuki sebuah perahu kecil

yang didayung ke pulau. Ia tidak dapat menahan kemarahan hatinya. Ingin ia menantang koksu itu untuk melawan gurunya atau mengikuti pibu.

Dianggapnya amat tak tahu malu orang-orang pemerintah itu yang hanya menonton dan memblokir tempat itu seperti seekor serigala yang membiarkan anjing-anjing berebut tulang. Biar pun masih kecil, dari cerita kakek Siauw Lam, Bun Beng dapat menduga bahwa kehadiran pasukan pemerintah itu pasti mengandung maksud tidak baik terhadap para tokoh. Ingin ia melihat jago-jago kerajaan itu turun gelanggang mengadu kepandaian dengan orang gagah. Maka ia lalu menuruni tebing, lupa akan gurunya, kemudian berlari menuju ke arah pantai untuk memapaki koksu negara dan pembantu-pembantunya.

Yang berada di perahu kecil itu adalah Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun sendiri, koksu bersama lima orang pembantunya, yaitu Thian Tok Lama, Thai Li Lama, dan tiga orang jenderal pasukan pengawal. Perahu di dayung oleh Bhe Ti Kong, panglima tinggi besar yang bertenaga kuat itu sehingga sebengtar saja perahu telah mendarat. Setelah menyaksikan sepak terjang dua orang utusan Pulau Es, Im-kan Seng-jin menjadi tertarik sekali dan sudah ‘gatal-gatal tangan’ untuk mendekati dan kalau perlu ikut main-main dengan para orang gagah. Demikian pula dengan kedua orang hwesio Lama dari Tibet, ingin sekali mencoba kepandaian orang-orang sakti itu.

Akan tetapi, baru saja mereka mendarat, seorang anak laki-laki telah menghadang mereka sambil bertolak pinggang dan memandang dengan mata melotot! Bocah ini bukan lain adalah Bun Beng! Enam orang itu heran melihat ada seorang anak kecil berada di tempat seperti itu. Sungguh tidak pernah mereka sangka!

Tempat itu pada saat ini pantasnya hanya dikunjungi oleh orang-orang sakti yang berilmu tinggi, bukan tempat bermain anak kecil. Dan anak ini sengaja menghadang, berdiri menantang dan memandang dengan mata melotot marah!

“Eh, bocah kurang ajar! Mau apa kau ke sini? Hayo pergi!” Bhe Ti Kong membentak.

Akan tetapi Bun Beng tidak bergerak dari tempatnya, bahkan berkata nyaring. “Siapa yang kurang ajar? Aku di sini tidak melakukan apa-apa, sebaliknya kalian yang sungguh tidak patut hanya menonton dan menertawakan orang! Kalau memang kalian ada kepandaian, mengapa tidak ikut pibu saja ke sana? Ataukah beraninya hanya menertawakan yang kalah?”

Sejenak enam orang itu terbelalak mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang bocah yang usianya kurang lebih sepuluh tahun. Bhe Ti Kong menjadi marah sekali.

“Bocah setan!” bentaknya dan tangannya bergerak menangkap pundak Bun Beng dengan maksud untuk dilemparkan agar jangan menghadang dan mengganggu.

“Wuuuussss!” tangannya luput.

Hal ini makin mengherankan mereka, terutama sekali Bhe Ti Kong. Seorang bocah masih begitu kecil sudah dapat mengelak dari tangkapannya. Hal ini benar-benar mengejutkan, karena seorang dewasa sekali pun belum tentu dapat mengelak secepat itu. Ia menjadi penasaran dan menubruk ke depan, cepat sekali.

Bun Beng mengerti bahwa untuk mengelak ia kalah cepat, maka ia menyambut tubrukan panglima itu dengan pukulan tangannya ke arah perut Bhe Ti Kong.

“Aihhh!” Bhe Ti Kong kaget, akan tetapi ia berhasil menangkap tangan kecil yang memukul, kemudian tubuh Bun Beng diangkat hendak dibanting.

“Bhe-goanswe, jangan!” tiba-tiba terdengar suara Im-kan Seng-jin. “Lemparkan dia kepadaku!”

Bhe Ti Kong menahan tangannya dan melontarkan bocah itu ke arah koksu, dan melayanglah tubuh Bun Beng. Im-kan Seng-jin menyambut tubuhnya dengan mudah dan kakek botak tinggi kurus ini meraba-raba dan mengukur-ukur kepala Bun Beng dengan jari-jari tangannya, dikilani dengan ibu jari dan telunjuk, diukur dari depan ke belakang, dari kanan ke kiri dan dari bawah ke atas, kemudian dipijit-pijit bagian- bagian kepala Bun Beng.

Wajahnya menjadi girang sekali dan setelah selesai mengukur-ukur kepala anak itu, Im-kan Seng-jin lalu memeriksa mata Bun Beng dengan membuka kelopak matanya, kemudian menjepit rahang Bun Beng

sehingga anak itu terpaksa membuka mulutnya, memeriksa dalam mulut, kemudian menaruh tangan kanan di dada dan jari-jari tangan kirinya memegang nadi tangan Bun Beng. Ia mengangguk-angguk dan tersenyum lebar, wajahnya berseri.

“Aahhhh, Ji-wi Lama, lihat, apa yang kutemukan ini! Tulangnya bersih darahnya murni, dan kepalanya…! Hebat…! Rongga otaknya luas, daya tangkapnya kuat, semangatnya besar jalan darahnya lancar, isi dadanya sempurna semua! Benar-benar seorang sin-tong (anak ajaib) yang sukar ditemukan keduanya! Wah, kalau dia sudah kuberi makan obat kuat secukupnya, dia akan dapat memenuhi syarat untuk aku melaksanakan ilmu peninggalan guruku, I-jwe-hoan-hiat (Ganti Sumsum Tukar Darah)!”

Tiga orang panglima itu tidak mengerti apa artinya I-jwe-hoan-hiat, akan tetapi Thian Tok Lama dan Thai Li Lama menjadi pucat wajahnya. Thai Li Lama memandang Bun Beng dengan sinar mata kasihan lalu menundukkan muka, sedangkan Thian Tok Lama lalu berkata perlahan.

“Omitohud…, semoga Sang Buddha menunjukkan jalan terang bagi Koksu!”

“Heh-heh-heh! Ji-wi Lama, kalian orang-orang beragama hanya memikirkan tentang dosa saja! Bagi orang- orang seperti kami, dosa adalah soal kedua, yang terpenting adalah memanfaatkan segala macam demi kepentingan dan kemajuan kita. Ha-ha-ha! Eh, Sin-tong, siapa namamu?”

“Aku bukan sin-tong, aku bernama Gak Bun Beng. Lepaskan, aku mau pergi!” Bun Beng meronta dari pegangan kakek itu. Anak ini pun tidak mengerti apa artinya I-jwe-hoan-hiat. Kalau dia mengerti, betapa tabah pun hatinya tentu akan merasa ngeri karena ilmu itu adalah ilmu hitam yang amat keji, yaitu Si Kakek ini hendak menyedot darah dan sumsum Bun Beng dalam keadaan hidup-hidup untuk menggantikan sumsum dan darahnya sendiri yang sudah lemah dan kotor!

“Engkau mau pergi? Nah, pergilah kalau dapat!” Koksu itu melepaskan pegangannya.

Bun Beng menggerakkan kaki hendak berlari pergi akan tetapi… tubuhnya tak dapat bergerak maju, kedua kakinya tak dapat digerakkan seolah-olah tertahan oleh sesuatu yang tidak nampak!

“Ha-ha-ha! Engkau tidak bisa pergi, Bun Beng, karena semenjak saat ini engkau harus selalu ikut bersamaku, tidak boleh berpisah sedikit pun. Tidur pun harus di sampingku. Hayo, ikut dengan kami menonton pibu, heh-heh-heh!”

Tubuh Bun Beng didorong dan… kedua kakinya dapat dipakai berjalan mengikuti rombongan itu. Akan tetapi setiap kali dia hendak melarikan diri, mendadak kedua kakinya tidak dapat digerakkan! Dia mulai merasa ngeri. Tentu kakek aneh ini menggunakan ilmu iblis, pikirnya.

“Bun Beng…!”

“Suhu…!” Bun Beng berteriak girang sekali ketika ia melihat munculnya Kakek Siauw Lam di depan. Rombongan koksu itu pun berhenti ketika mendengar Bun Beng menyebut kakek itu sebagai gurunya.

“Bun Beng, ke sinilah engkau!” Kakek Siauw Lam berkata kepada muridnya, hatinya gelisah melihat muridnya itu bersama rombongan koksu.

“Teecu… teecu tidak bisa, Suhu…!” kata Bun Beng sambil berusaha menggerakkan kedua kakinya.

“Siapa bilang tidak bisa? Majulah engkau ke sini!” Kakek Siauw Lam yang sudah melihat bahwa Bun Beng sebenarnya tertahan oleh hawa sinkang yang keluar dari tangan koksu itu, menggerakkan kedua tangannya ke depan sambil mengerahkan sinkang-nya. Terdengar suara bercuitan dan… tiba-tiba tubuh Bun Beng terdorong ke depan, ke arah gurunya.

“Heh-heh, boleh juga tua bangka ini,” Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tertawa untuk menyembunyikan kagetnya, kemudian ia pun menggerakkan kedua tangan ke depan.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo