September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 18

 

“Wah-wah-wah! Aku jadi ingin sekali melihat wajahmu, Suma-taihiap! Belum pernah selama hidupku aku mendengar orang berbicara seperti itu.”

“Aku pun baru saja menemukan diriku sendiri. Akan tetapi cukuplah semua itu, kini mari kita menjumpai Koksu dan para pembantunya.”

“Kita?”

“Benar, karena aku akan turun ke bawah, akan kujebolkan lantai ini. Hati-hati di bawah sana, Siauw-jin dan Kwi Hong, jangan tertimpa pecahan lantai!”

Terdengar suara ledakan keras saat Suma Han dengan seluruh tenaganya menerjang lantai dan lantai batu itu ambrol! Suma Han memegang lengan Milana, dan membawa dara itu meloncat turun ke dalam kamar tahanan Kwi Hong dan Bu-tek Siauw-jin.

Ketika Kwi Hong melihat Milana, dia terkejut sekali. Baru sekarang dia mengenal gadis itu setelah gadis itu muncul, bersama pamannya. “Kau… kau… Milana…!” teriaknya.

Milana juga terkejut. Setelah Kwi Hong mengenalnya, mana mungkin dia bisa mungkir lagi? “Kwi Hong…!” katanya dan ia terisak.

“Milana…? Engkau… engkau… Alan… engkau Milana…?” Suma Han merasa seperti disambar petir ketika dia membalikkan tubuh dan memandang wajah Milana. “Aihhh, betapa bodohku! Dan ibumu… Nirahai… dia… dia…”

Milana masih menangis, dia mengangguk dan terdengar isaknya. “Be… benar Ayah…!”

Suma Han mengeluarkan suara melengking panjang, tangannya menangkap lengan Milana dan tiba-tiba dia mencelat ke arah pintu. Terdengar suara ledakan keras lagi, pintu kamar tahanan Bu-tek Siauw-jin pecah berantakan dan tubuh Pendekar Super Sakti itu lenyap bersama Milana.

“Paman…!” Kwi Hong berseru, akan tetapi sia-sia saja karena pamannya sudah tidak berada di situ lagi. Terdengar teriakan-teriakan di luar dan disusul suara berdebukan robohnya para pengawal yang menjaga ketika mereka itu secara berani mati mencoba untuk menghadapi larinya Pendekar Super Sakti.

Bu-tek Siauw-jin menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. “Waaah, aku kecelik! Paman atau gurumu itu sehebat itu, dan engkau masih berguru kepadaku. Benar-benar aku merasa malu sekali!” Dia terus menggeleng-geleng kepala dan mulutnya berkecap-kecap kagum, “tsk-tsk-tsk!” tiada hentinya.

“Akan tetapi ilmu yang kau ajarkan kepadaku juga hebat, Suhu,” bantah Kwi Hong.

“Sudahlah, mari kita keluar.” Kakek itu lalu monyongkan mulutnya, berteriak nyaring sekali, “Haiiiii! Maharya pendeta palsu! Hayo ke sini dan terima jawabankuuuuu…!”

Bersama Kwi Hong, kakek itu melangkah keluar melalui daun pintu baja yang sudah ambrol, berjalan seenaknya dan tertawa ha-ha heh-heh seperti orang keluar dari kamar tidurnya sendiri saja.

“Ayah… harap jangan marah, Ayah… ampunkan aku, Ayah… dan janganlah marah kepada Ibu… hu-hu- huuuk…” Milana yang dibawa lari ayahnya yang mengamuk keluar, merobohkan siapa saja yang menghalanginya sehingga mereka dapat keluar dari tembok kota raja, menangis di sepanjang jalan.

Suma Han berhenti, mukanya merah sekali, matanya mengeluarkan sinar berapi, akan tetapi ketika dia menoleh dan memandang anaknya, dia terisak dan memeluk Milana, mendekap kepala puterinya itu di dadanya dan mengelus-elus rambut yang halus itu.

“Milana… ahhh, anakku… aku seperti buta tidak mengenalmu…! Milana, betapa kejam hati ibumu, mengapa merendahkan diri seperti itu, menjadi Ketua Thian-liong-pang, melakukan hal-hal keji dan menggegerkan dunia kang-ouw? Mengapa dia begitu kejam menyeret engkau, anakku, ke dalam kejahatan seperti itu? Di mana dia? Di mana Nirahai? Aku harus bertemu dengannya dan menegurnya!”

“Ayah, jangan memarahi Ibu…”

“Aku akan mengajaknya bicara dan engkau sebagai anak boleh mendengarkan dan mempertimbangkan siapa yang keliru dan siapa yang benar dalam hal ini.”

“Ayah, aku tidak tahu siapa yang lebih kejam, Ibu atau engkau! Baiklah, kalau Ayah ingin bertemu dengan Ibu. Rahasianya telah terbuka, bukan karena salahku. Mari, Ibu berada di cabang kami dekat kota raja kalau aku tidak salah duga!” Setelah berkata demikian, Milana lalu berlari cepat diikuti ayahnya menuju ke markas Thian-liong-pang yang berada di dekat kota raja dan yang baru saja didirikan setelah Thian-liong- pang membantu pemerintah.

Para anggota Thian-liong-pang terkejut setengah mati ketika mereka melihat Pendekar Super Sakti datang mengunjungi perkumpulan mereka. Mereka yang belum pernah melihat pendekar ini memandang dengan mata terbelalak ketika teman-temannya yang pernah bertemu dengan Suma Han memberi tahu dengan bisik-bisik bahwa itulah Pendekar Siluman Tocu Pulau Es yang amat terkenal itu.

Andai kata Suma Han datang seorang diri, biar pun jeri, agaknya mereka masih akan menghadangnya, sedikitnya untuk bertanya dan menahannya di luar sebelum mereka melapor kepada ketua mereka. Akan tetapi karena kedatangan pendekar ini bersama Milana, tak ada seorang pun anggota Thian-liong-pang yang berani mencegah mereka berdua memasuki gedung. Bahkan ketika mereka tiba di ruangan dalam, dua orang tokoh Thian-liong-pang, Sai-cu Lo-mo Toan Kok, dan Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, menyambut mereka dengan muka pucat melongo.

“Siocia, apa artinya ini…?” Sai-cu Lo-mo berseru kaget sambil mencelat bangun dari kursinya ketika melihat Suma Han.

“Nona, tahan dulu…!” Lui-hong Sin-ciang Chie Kang juga berseru dengan ragu-ragu dan bingung karena tentu saja dia tidak berani lancang turun tangan terhadap Tocu Pulau Es yang sudah diketahui kelihaiannya itu.

Milana membalikkan tubuh menghadapi mereka berdua. “Harap kedua kakek suka mundur dan jangan mencampuri urusan kami. Ini adalah urusan pribadi, sama sekali bukan urusan Thian-liong-pang. Kakek Bhok, di mana Ibu?”

“Di dalam taman,” jawab Sai-cu Lo-mo yang lalu memegang tangan kawannya dan memberi isarat agar jangan bergerak ketika dua orang itu pergi meninggalkan ruangan itu.

Sai-cu Lo-mo menjadi pucat wajahnya. Hanya dia seoranglah yang sudah diberi tahu oleh ketua mereka bahwa Milana adalah puteri Pendekar Super Sakti, yaitu ketika dia dahulu melamar dara itu untuk cucu keponakannya, Gak Bun Beng. Dan kini, pendekar itu, suami Ketua Thian-liong-pang, telah datang dan agaknya rahasia ketua mereka telah terbuka! Dia dapat membayangkan betapa hebatnya peristiwa ini, akan tetapi karena maklum bahwa urusan itu adalah urusan keluarga, maka dia menarik tangan Chie Kang dan berkata,

“Chie-sute, mari kita ke depan, jangan mencampuri urusan itu. Pangcu tentu akan membunuh kita kalau kita mencampurinya.”

“Eh, apa yang terjadi, Suheng?”

“Sssstt, diamlah dan mari kita pergi ke depan saja.”

Suma Han yang masih panas isi dadanya itu tidak pernah bicara, hanya mengikuti Milana yang sudah lari ke belakang gedung memasuki taman yang luas, di pinggir sebuah anak sungai yang airnya mengalir tenang. Tempat ini adalah pemberian dari Koksu sebagai hadiah kepada Thian-liong-pang dan merupakan cabang yang terbesar karena dari sinilah dipusatkan kekuatan Thian-liong-pang yang membantu pemerintah membasmi para pemberontak yang terdiri dari orang-orang kang-ouw.

Tiba-tiba Milana berhenti dan terisak perlahan, mukanya membuat gerakan ke depan untuk menunjukkan kepada ayahnya. Suma Han sudah melihat wanita berkerudung yang duduk di bawah pohon di tepi anak sungai, kelihatan melamun di tempat sunyi itu. Seketika kemarahannya membuyar seperti awan tipis ditiup angin ketika ia melihat wanita berkerudung itu duduk bersunyi seorang diri seperti itu. Kini dia mengenal betul bentuk tubuh Nirahai di balik pakaian dan kerudung itu, biar pun mereka telah saling berpisah lama sekali.

“Nirahai…!” Suara Suma Han gemetar dan kaki tunggalnya menggigil saat dia mencelat ke dekat wanita itu dan berdiri dalam jarak tiga meter.

Wanita berkerudung itu memang Ketua Thian-liong-pang, Nirahai. Dia mencelat berdiri sambil membalikkan tubuh, terkejut seperti disambar petir.

“Han Han…!” Sepasang mata di balik kerudung itu memandang bingung, akan tetapi dia melihat Milana menangis tak jauh dari situ, mengertilah dia bahwa rahasia telah terbuka oleh Milana.

Sekali renggut saja dia telah melepas kerudungnya dan Suma Han terpesona melihat wajah isterinya itu masih cantik jelita seperti dulu, masih seperti ketika dia bertemu dengan Nirahai pada waktu Milana berusia tujuh delapan tahun yang lalu, bahkan masih seperti waktu masih gadis dahulu, seolah-olah baru kemarin mereka saling berpisah!

“Kau… kau mau apa datang ke sini…?” Nirahai bertanya, suaranya juga gemetar dan kedua matanya seperti sepasang mata kelinci ketakutan, pelupuk matanya bergerak-gerak, bibirnya dan cuping hidungnya bergerak seperti hendak menahan tangis.

“Nirahai!” Tiba-tiba Suma Han membentak, suaranya penuh kemarahan karena dia sudah marah lagi mengingat betapa isterinya telah menjadi Ketua Thian-liong-pang. “Jadi engkaukah Ketua Thian-liong-pang yang selama ini melakukan segala macam perbuatan keji dan rendah itu?”

Kalau tadinya Nirahai gemetar dan pucat, pandang matanya sayu dan dia seperti setangkai kembang yang hampir layu dan kekeringan, haus akan siraman cinta kasih, mendengar ucapan Suma Han itu tiba-tiba wajahnya menjadi kemerahan, pandang matanya berapi dan tubuhnya berdiri tegak, dada membusung, dagu terangkat dan terdengar ia berkata dengan suara dingin tegas keras, seperti biasanya suara Ketua Thian-liong-pang.

“Benar! Memang aku telah melakukan itu semua dan tahukah engkau, Suma Han? Seperti telah kukatakan padamu dahulu, semua itu kulakukan dengan sengaja untuk menantangmu bertanding! Majulah, Suma Han Majikan Pulau Es yang sombong dan lawanlah Ketua Thian-liong-pang sampai seorang di antara kita menggeletak tanpa bernyawa di tempat ini!”

Setelah berkata demikian Nirahai menggerakkan tangannya dan kerudungnya sudah kembali menutupi mukanya. Dia berdiri dan bertolak pinggang, sepasang mata dari balik kerudung seolah-olah mengeluarkan sinar berapi yang ditujukan penuh kebencian ke arah muka Suma Han.

“Nirahai! Aku tidak peduli untuk apa kau lakukan itu semua, juga tidak peduli untuk menantang aku atau siapa juga. Akan tetapi, dengan perbuatanmu yang tidak patut itu engkau telah menyeret anak kita Milana ke dalam pecomberan! Engkau terlalu mementingkan diri sendiri, terlalu mementingkan perasaan hatimu sendiri, tidak ingat sama sekali akan kepentingan anak kita!”

“Cukup!” Nirahai membentak sambil menghentakkan kakinya ke atas tanah. Pohon di sebelahnya tergetar dan banyak daunnya rontok oleh getaran itu. Kemudian telunjuk kirinya menuding ke arah muka Suma Han dan dia berkata, “Tak perlu kau menyebut-nyebut anak kita! Tengok tengkukmu sendiri dan bercerminlah! Engkau menyalahkan aku, akan tetapi semenjak Milana kulahirkan, pernahkah engkau datang mencarinya? Pernahkah engkau sebagai ayahnya menimang anakmu itu satu kali saja? Engkau melupakan anak kita, engkau hidup dengan angkuh dan sombong sebagai raja di Pulau Es. Sang Pendekar Super Sakti yang bertahta di angkasa, begitu tinggi, begitu sakti bagaikan dewa! Sekarang setelah Pulau Es hancur, engkau pura-pura mencari anakmu, pura-pura datang mau menyalahkan aku?”

“Nirahai! Engkau tahu dan yakin aku tidak seperti itu! Biar pun aku sekarang sudah tidak punya apa-apa, kalau engkau mau, kalau engkau sudi, bersama Milana, marilah ikut bersamaku, sebagai isteriku yang tercinta, marilah kita melanjutkan sisa hidup ini untuk mendidik anak kita…”

“Tidak sudi! Berulang kali engkau hendak membujuk rayu! Laki-laki pengecut!”

“Nirahai, engkau tetap keras kepala seperti dahulu! Engkau bahkan kembali menjadi algojo membunuh orang-orang gagah dengan dalih menindas pemberontakan. Semua ini tentu gara-gara bujukan Bhong Koksu. Baik, sekarang juga akan kuhancurkan dia, membasmi Koksu berikut semua kaki tangannya. Selamat tinggal, Nirahai!” Dengan wajah pucat dan mata terbelalak penuh dengan sakit hati, Suma Han membalikkan tubuh dan berloncatan pergi.

“Ayaahhh…! Ayaaahh… tungguuuu…!” Milana menjerit dan meloncat lalu lari mengejar, tidak mempedulikan ibunya yang kini tidak berdiri tegak lagi melainkan terhuyung ke belakang dan berpegang pada batang pohon sambil menangis!

Mendengar jerit anaknya, Suma Han menghentikan loncatannya akan tetapi dia tetap berdiri tegak, tidak menoleh.

“Ayahh…!” Milana menubruk kaki ayahnya yang tinggal satu itu, menangis tersedu-sedu. “Ayah, mengapa Ayah begini kejam? Ibu sudah banyak menderita karena Ayah. Lupakah Ayah akan kesadaran Ayah tadi di dalam tahanan? Mengapa Ayah hendak menurutkan nafsu hati yang terdorong oleh ingatan? Apakah Ayah kembali hendak memasuki alam penghidupan seperti boneka, dipermainkan oleh angan-angan dan pikiran sendiri yang palsu? Ayahhh…!”

Lemas seluruh tubuh Suma Han mendengar ini. Dia lalu menghela napas panjang dan berkata lirih, “Anakku… engkau jauh lebih bersih dari pada aku atau ibumu, aku… aku hanya manusia lemah… manusia canggung yang tidak tahu lagi apa yang akan kulakukan… aku tidak hanya cacad lahiriah, akan tetapi juga cacad batiniah, lemah dan canggung. Mungkin ibumu lebih benar. Biarkanlah aku pergi dulu, Milana…”

“Ayaaahhh…!” Milana menjerit, akan tetapi Suma Han sudah melesat jauh dan lenyap dari situ.

“Ibuuuuu…!” Milana yang menoleh ke arah ibunya, terkejut melihat ibunya terhuyung-huyung dan hampir roboh terguling. Cepat ia lari menghampiri, memeluknya dan kedua orang ibu dan anak ini bertangis- tangisan.

“Ibu, mengapa kita menjadi begini?”

Nirahai memeluk puterinya, menahan isaknya. “Entahlah, anakku… entahlah… aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjadi begini kalau bertemu dengan ayahmu…”

“Ibu mencinta Ayah, aku yakin akan hal ini.”

“Tidak ada manusia lain yang kucinta melainkan engkau dan ayahmu. Akan tetapi dia sudah menyakiti hatiku, dan satu-satunya jalan untuk memperbaiki hatiku yang rusak hanya…”

“Hanya bagaimana, Ibu?”

“Biar dia tahu sendiri. Engkau tentu akan membuka rahasia hatiku, seperti telah kau buka rahasia kerudungku kepadanya.”

“Ah, tidak sama sekali, Ibu. Karena pertemuan kami dengan Kwi Hong di dalam kamar tahanan di gedung Koksulah yang membuat rahasia itu terbuka!”

“Di kamar tahanan gedung Koksu?” Nirahai menghentikan isaknya dan memandang puterinya dengan heran. Milana lalu menceritakan pengalamannya semenjak dia diculik oleh ayah kadungnya sendiri, menceritakan betapa baik ayah kandungnya itu, betapa hampir saja dia terculik Wan Keng In kalau tidak ada ayahnya yang menolong, kemudian tentang pengintaiannya ke gedung Koksu.

“Ibu, mereka itu hendak membunuhmu! Persekutuan dengan Thian-liong-pang yang diadakan oleh Koksu itu sebetulnya hanya hendak mencelakakan Ibu, karena Koksu dan kaki tangannya mempunyai rencana pemberontakan dan khawatir kalau-kalau Ibu membela kerajaan.”

“Apa…?!” Keharuan dan kedukaan hati Nirahai lenyap tertutup oleh keheranan dan kemarahannya mendengar ini.

Milana lalu menceritakan sejelasnya akan semua percakapan yang ia curi di dalam ruangan istana Bhong Ji Kun.

Kemarahan Nirahai memuncak. “Si keparat Bhong Ji Kun! Manusia seperti itu harus dibunuh, dia berbahaya bagi kerajaan!” Nirahai meloncat bangun, semua kelemahan akibat keharuan dan kedukaan sudah lenyap dan semangatnya bernyala-nyala kembali sebagai Ketua Thian-liong-pang yang tegas!

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan muncullah Tang Wi Siang bersama anak buahnya dengan langkah terhuyung-huyung, kemudian mereka semua menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Nirahai. Juga Sai-cu Lo-mo dan Lui-hong Sin-ciang ikut memasuki taman, dan dengan kepala tunduk Sai-cu Lo-mo berkata,

“Maaf, Pangcu. Saya sudah melarang mereka masuk, akan tetapi karena mereka terluka parah dan perlu segera menghadap Pangcu…”

Nirahai mengangkat tangan ke atas. “Tidak mengapa, Lo-mo. Eh, Wi Siang, apa yang telah terjadi?”

Dengan suara tersendat-sendat Tang Wi Siang yang biasanya gagah itu menceritakan tentang perbuatan Wan Keng In yang melukai mereka semua di dalam hutan. “Kami tidak mampu melawannya, Pangcu. Dia lihai bukan main, iblis cilik Pulau Neraka itu. Dia sengaja memberi pukulan beracun pada punggung kami dan menyuruh kami menghadap Pangcu. Dia… dia… mengajukan pinangan kepada Nona Milana… Kalau dalam waktu sebulan Pangcu tidak mengumumkan perjodohan antara Nona Milana dan Wan Keng In, dia datang membasmi Thian-liong-pang…!”

“Bresss! Krrakkk!” Pohon di samping Ketua Thian-liong-pang itu tumbang oleh pukulan Nirahai yang menjadi marah bukan main.

“Bangsat cilik! Dia menggunakan nama Pulau Neraka untuk menghina Thian-liong-pang? Bangsat itu harus mampus di tanganku!”

“Harap Pangcu suka menaruh kasihan kepada Tang Toanio dan para anak buah yang terluka parah,” tiba- tiba Sai-cu Lo-mo berkata.

Nirahai menghampiri seorang anggota Thian-liong-pang yang berlutut di depannya, merobek bajunya dan langsung dia terkejut melihat tapak tiga jari tangan merah di punggung orang itu.

“Apakah semua terluka seperti ini?” tanyanya kepada Wi Siang.

Tang Wi Siang mengangguk. “Dia bilang bahwa dalam satu bulan kami akan mati, kecuali kalau Pangcu menerima pinangannya, dia akan datang menyembuhkan kami, demikianlah pesannya.”

“Hemm, si keparat!” Nirahai memaki dan dia lalu memeriksa luka yang kelihatannya tidak hebat itu, hanya merupakan ‘cap’ merah dari tiga buah jari tangan. Ia mencoba dengan menyalurkan sinkang, telapak tangannya ditempelkan di punggung untuk mengusir luka pukulan beracun itu. Namun hasilnya sia-sia.

“Hemmm, pukulan beracun ini aneh sekali dan aku tidak mengenal racun apa yang terkandung dalam hawa pukulan. Lo-mo, ambilkan pisau perak di kamarku.”

Sai-cu Lo-mo cepat pergi dan tak lama kemudian dia sudah kembali membawa sebatang pisau tajam meruncing terbuat dari pada perak. Nirahai menggerakkan ujung pisaunya menggurat tanda tapak jari tangan di punggung orang itu yang menggigit bibir menahan rasa nyeri agar tidak menjerit.

“Aihhh…!” Nirahai berseru kaget. Pisaunya menjadi hitam seperti dibakar dan tanda guratan pisau itu memanjang ke bawah dan menjadi merah pula seperti tanda tapak jari itu. Tiba-tiba orang itu meronta, dan roboh bergulingan, berkelojotan dan merintih perlahan, kemudian tak bergerak sama sekali. Ketika Nirahai memeriksanya, ternyata dia telah mati!

Tentu saja semua orang menjadi kaget sekali, terutama Tang Wi Siang dan teman-temannya yang terluka. Tang Wi Siang yang berlutut itu maju mendekati ketuanya dan berkata, “Pangcu, harap Pangcu bunuh saja saya dengan sekali pukul. Pukulan yang beracun ini agaknya hanya dapat diobati oleh iblis cilik itu, dan saya lebih baik mati dari pada Nona Milana diperisteri olehnya. Dari pada menanggung derita sebulan lamanya, biarlah sekarang saja Pangcu membunuh saya.”

Nirahai mengerutkan alisnya. “Jangan putus harapan, Wi Siang. Aku akan mencarikan obatnya. Waktu sebulan masih lama…”

“Percuma saja, Pangcu. Memang benar hanya dia atau akulah yang akan dapat menyembuhkan luka beracun itu!”

Nirahai dan semua orang cepat menengok. Mereka sama sekali tidak mendengar ada orang datang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik sekali biar pun usianya sudah tidak muda lagi, kurang lebih empat puluh tahun. Akan tetapi ada sesuatu yang amat mengerikan pada wanita ini yaitu mukanya. Mukanya itu berwarna putih seperti kapur!

Entah mengapa dia sendiri tidak mengerti, akan tetapi begitu melihat wanita ini, timbul rasa kasihan di dalam hati Milana! Gadis ini, dan semua anggota Thian-liong-pang sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, wajah di dalam kerudung Ketua Thian-liong-pang menjadi pucat sekali ketika dia mengenal wanita bermuka putih itu. Tentu saja Nirahai mengenalnya karena wanita itu bukan lain adalah sumoi-nya sendiri ketika mereka berdua dahulu menjadi murid Nenek Maya. Wanita bermuka putih dan amat cantik itu bukan lain adalah Lulu!

“Bibi yang baik, benarkah Bibi dapat menyembuhkan mereka ini?” Milana bertanya dan mengagumi wajah yang cantik itu. Sayang mukanya berwarna putih seperti kapur karena sesungguhnya wanita itu cantik sekali, terutama sekali matanya yang seperti bintang dan yang membuat dia merasa suka adalah karena wajah wanita ini mirip-mirip dengan wajah ibunya yang tersembunyi di balik kerudung.

Wanita ini mengangguk, mukanya tetap dingin sungguh pun sepasang mata yang indah itu memandang Milana dengan pernyataan rasa tertarik dan suka. “Tentu saja aku dapat menyembuhkan mereka dengan mudah.”

Nirahai menjadi curiga. Apakah hubungan Lulu dengan Pulau Neraka? Dan ke mana saja selama ini perginya? Dia lalu melangkah maju, merubah suaranya menjadi suara Ketua Thian-liong-pang yang dingin dan berwibawa,

“Siapakah engkau? Dan bagaimana engkau begitu yakin akan dapat menyembuhkan luka mereka ini?”

Lulu menatap muka berkerudung itu, sesaat bertemu pandang, dan ia kagum melihat sepasang mata yang begitu bersinar-sinar penuh semangat dan wibawa. Orang ini memang patut menjadi Ketua Thian-liong- pang yang terkenal, pikirnya.

“Aku merasa yakin, Pangcu. Tidak ada orang lain yang akan dapat menyembuhkan mereka ini, biar pun engkau akan mendatangkan ahli-ahli pengobatan dari mana pun juga, karena obat penawar racun ini hanya terdapat di Pulau Neraka.”

“Hemm, kalau begitu, bagaimana engkau bisa mendapatkan obat penawarnya?”

Lulu hanya menggerakkan bibir sedikit sebagai pengganti senyum. Melihat ini, Nirahai bergidik. Dulu Lulu adalah seorang wanita yang periang, jenaka dan ramah, mengapa sekarang menjadi segunduk es beku, dingin dan mengerikan?

“Pangcu, Wan Keng In yang melukai anak buahmu ini adalah puteraku, tentu saja aku bisa menyembuhkan mereka!”

Terdengar seruan-seruan kaget dan marah. Tang Wi Siang sudah melompat bangun dan memandang dengan mata terbelalak. “Engkau… Ketua Pulau Neraka…?”

Lulu mengangguk dan berkata muak, “Bekas… ketua boneka…” “Iblis betina!”

Para anggota Thian-liong-pang yang terluka itu kini serentak meloncat bangun dan menyerang Lulu, dipelopori oleh Tang Wi Siang, bahkan diikuti pula oleh beberapa orang anak buah Thian-liong-pang lain yang sudah berada di situ. Tidak kurang dari dua puluh orang menyerbu Lulu, ada yang memukul, ada yang mencengkeram, ada yang menendang.

Terdengar suara bak-bik-buk dan disusul teriakan-teriakan hiruk-pikuk ketika tubuh dua puluh orang itu terlempar ke sana-sini dan terbanting keras. Setelah semua penyerang roboh terjengkang, kini tampaklah Lulu yang masih berdiri dengan tenang dan matanya yang indah itu mengerling ke sekelilingnya dengan muka digerakkan ke kanan kiri. Melihat mereka sudah mencabut senjata dan hendak bangkit lagi, Lulu mengangkat kedua lengan ke atas dan berkata, suaranya melengking nyaring dan penuh wibawa karena dikeluarkan dengan pengerahan khikang.

“Tahan…! Thian-liong-pangcu, mengapa engkau tidak menghentikan anak buahmu yang lancang dan bodoh ini? Kalau aku datang dengan iktikad buruk, perlu apa aku bicara lagi? Tanpa turun tangan pun, dengan membiarkan mereka, anak buahmu yang terluka itu akan mati semua. Kalau aku berniat jahat, perlu apa aku menawarkan penyembuhan?”

Nirahai sebetulnya tidak setuju dengan sikap anak buahnya tadi. Akan tetapi dia terlalu heran mendengar Lulu mengaku sebagai Ketua Pulau Neraka sehingga dia melongo dan tidak sempat melarang anak buahnya menyerang Lulu yang akibatnya amat luar biasa itu, yaitu anak buahnya terjengkang semua dan roboh seperti daun kering tertiup angin.

Kini dia cepat membentak, “Kalian ini benar-benar kurang ajar. Hayo mundur semua dan jangan turun tangan kalau tidak ada perintah!” Kemudian Nirahai menghadapi Lulu dan berkata, suaranya masih dingin, “Jadi engkau adalah Majikan Pulau Neraka yang tersohor itu? Hemm, sungguh aneh. Akan tetapi, bicara tidak ada gunanya sebelum ada bukti iktikad baikmu. Tocu (Majikan Pulau), kau sembuhkan dulu anak buahku, barulah kita bicara.”

Lulu mengangguk dan merasa kagum. “Engkau patut menjadi Ketua Thian-liong-pang. Buka baju kalian bagian punggung dan berlututlah berjajar agar mudah aku mengobati kalian!”

Mereka yang terluka oleh pukulan Wan Keng In, yaitu Tang Wi Siang dan anak buahnya, segera menyingkap baju dan memperlihatkan punggung yang ada tandanya tapak tiga buah jari tangan merah, kemudian berlutut dan berjajar menjadi barisan punggung telanjang yang lucu juga. Kalau keadaan tidak demikian menegangkan, tentu kejadian ini akan menimbulkan ketawa.

Lulu memandang sekelebatan saja dan maklum bahwa puteranya telah menggunakan pukulan yang mengandung racun akar merah seperti yang diduganya ketika tadi ia melihat akibat yang menewaskan seorang anggota yang terluka pada waktu Ketua Thian-liong-pang menorehnya dengan pisau untuk melihat darah dan menyelidiki racunnya. Dia mengeluarkan sebungkus obat bubuk berwarna hijau. Dengan jari tangan kiri dia memukul punggung itu untuk memunahkan hawa pukulan puteranya, kemudian tangan kanannya melaburkan obat bubuk dan menekankannya ke atas tanda tapak jari merah di punggung. Setelah selesai mengobati semua orang, dia berkata,

“Luka dipunggung akan terasa gatal-gatal dan mengeluarkan cairan, kemudian dalam waktu sehari akan kering seperti bekas luka yang merobek kulit. Kalian sudah sembuh, hanya sayang seorang di antara kalian tak tertolong.” Ia memandang mayat yang masih menggeletak di situ.

Nirahai menghampiri Tang Wi Siang yang sudah membereskan bajunya. “Bagaimana rasanya sebelah dalam tubuhmu?”

“Sesak napas dan rasa nyeri di perut sudah lenyap, Pangcu.”

Nirahai lalu menjura kepada Lulu dan berkata, “Terima kasih atas pertolongan Tocu, silakan Tocu masuk ke dalam di mana kita dapat bicara.”

Lulu tadi mendengar pelaporan Tang Wi Siang akan sebab perbuatan puteranya yang melamar puteri Ketua Thian-liong-pang, maka dia mengangguk karena dia pun ingin bicara akan hal itu. Tanpa bicara, kedua orang wanita aneh itu berjalan menuju ke dalam gedung, hanya diiringkan oleh Milana karena Nirahai memberi isyarat dengan gerak tangan kepada Sai-cu Lo-mo dan yang lain-lain agar tidak mengganggu mereka.

Tiga orang wanita itu memasuki ruangan dalam dan duduk menghadapi meja. Sejenak mereka saling pandang, kemudian Nirahai berkata,

“Sungguh tidak pernah kusangka bahwa hari ini Thian-liong-pang akan menerima kunjungan Tocu Pulau Neraka dalam keadaan seperti ini!”

Lulu menarik napas panjang. “Harap jangan menyebut Tocu kepadaku karena kini Pulau Neraka sudah tidak ada lagi. Aku hanyalah seorang perantauan yang tidak mempunyai tempat tinggal, tidak mempunyai anak buah…”

“Tetapi anak buah Pulau Neraka masih berkeliaran di mana-mana!” Milana berkata, membantah.

Kembali Lulu menarik napas panjang. “Itulah yang menyusahkan hatiku. Puteraku itu… Ah, Pangcu, justru karena puteraku itulah maka aku sekarang berhadapan denganmu, dan marilah kita bicara sebagai dua orang ibu membicarakan masa depan kedua orang anaknya!”

Diam-diam Nirahai merasa terharu sekali. Wanita ini adalah Lulu! Lulu yang dahulu amat riang gembira dan jenaka itu. Dan kini putera Lulu ingin berjodoh dengan puterinya! Kalau saja keadaan ternyata lain, tidak seperti sekarang ini, alangkah akan bahagianya peristiwa ini! Akan tetapi, Lulu adalah Majikan Pulau Neraka, sudah berubah seperti iblis betina, dan puteranya itu, demikian kejam dan kurang ajarnya!

“Maksudmu bagaimana, Tocu?” tanya Nirahai.

“Pangcu, terus terang saja, aku tidak sengaja masuk ke tempatmu untuk mengobati luka anak buahmu. Aku dalam perjalanan ke kota raja, di tengah jalan aku melihat anak buahmu yang terluka oleh pukulan Jari Tangan Merah, sebuah pukulan dari Pulau Neraka. Aku terkejut dan diam-diam aku mengikuti mereka. Setelah mereka masuk ke sini menghadapmu, aku mengintai dan mencuri masuk taman, dan barulah aku tahu akan segala hal yang hebat itu. Tahu bahwa mereka adalah anak buah Thian-liong-pang, bahkan baru aku tahu bahwa mereka itu dilukai oleh puteraku, dan terutama sekali, baru aku tahu bahwa puteraku jatuh cinta kepada puterimu dan mengajukan pinangan kepadamu dengan cara itu!”

“Cara yang amat bagus!” Nirahai mencela.

Lulu menarik napas panjang. “Agaknya tidak perlu dibicarakan lagi hal itu, Pangcu. Bukankah anak buahmu telah kusembuhkan? Hal itu berarti penebusan kesalahan puteraku. Yang penting sekarang, setelah aku mengetahui bahwa puteraku jatuh cinta kepada puterimu, tentu dia inilah puterimu dan aku tidak heran mengapa puteraku jatuh cinta kepada dara yang cantik jelita ini, maka aku mempergunakan kesempatan ini untuk mengajukan lamaran secara resmi.”

“Tidak! Tidak bisa aku menerima ini! Puteramu begitu kurang ajar dan kejam!” Nirahai mengepal tangannya membentuk tinju.

“Sabarlah, Pangcu. Urusan jodoh adalah urusan dua orang anak yang hendak menjalaninya, bukan urusan kedua orang ibunya yang hanya akan menjadi penonton. Yang terpenting adalah anak-anak itu sendiri. Puteraku sudah jelas mencinta puterimu, maka setelah kini puterimu hadir pula, sebaiknya kita mendengar pendapatnya akan pinangan ini. Bukankah sebaiknya begitu?”

Nirahai terkejut. Benar-benar berubah hebat sekali Lulu ini, bicaranya sudah matang dan sikapnya begitu tenang! Dia merasa kalah bicara, maka sambil menoleh kepada Milana dia bertanya,

“Hemmm, coba kau yang menjawab, Milana. Bagaimana pendapatmu dengan pemuda itu? Maukah kau menerima pinangannya?”

Wajah Milana seketika berubah merah sekali, akan tetapi mulutnya cemberut dan ia bangkit berdiri. “Aku tidak sudi! Aku… aku benci kepadanya!” Setelah berkata demikian, Milana membalikkan tubuh dan meloncat pergi dan meninggalkan dua orang wanita itu.

Lulu pejamkan kedua matanya. Melihat wajah yang berwarna putih itu membayangkan kedukaan, dan kedua mata itu terpejam, timbul rasa iba di hati Nirahai terhadap bekas sumoi-nya itu.

“Tocu, kau maafkan sikap anakku.”

Lulu membuka matanya, memandang heran, “Betapa anehnya! Aku mendengar bahwa Ketua Thian-liong- pang adalah seorang iblis betina yang kejam dan tidak mengenal peri kemanusiaan. Sekarang, anakku telah melakukan penghinaan kepadamu, dan anakmu baru bersikap sewajarnya seperti itu saja engkau mintakan maaf. Pangcu, apakah engkau ini seorang dewi berkedok iblis, ataukah seorang iblis bertopeng dewi? Aku memuji dan kagum kepada puterimu. Memang seharusnya begitulah sikap orang menghadapi urusan cinta. Kalau cinta mengaku cinta, kalau benci mengaku benci, tidak boleh pura-pura yang akan mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan seperti yang telah kualami!”

Jantung Nirahai berdebar keras. Rahasia apakah yang tersembunyi di balik muka seperti topeng berwarna putih itu? Apakah yang dialami oleh Lulu selama berpisah dengannya? Dahulu dia mendengar dari suaminya bahwa Lulu telah menikah dengan Wan Sin Kiat dan tentu Wan Keng In adalah putera Wan Sin Kiat. Apakah kini Wan Sin Kiat juga ikut menjadi pimpinan di Pulau Neraka?

“Tocu, marilah kita melupakan sebentar bahwa aku adalah pangcu dari Thian-liong-pang dan engkau Tocu dari Pulau Neraka, dan mari kita bicara seperti dua orang wanita. Engkau tadi bilang bahwa menghadapi urusan cinta tidak boleh berpura-pura karena akan mengakibatkan kesengsaraan seperti yang kau alami. Maukah engkau menceritakan kepadaku?”

Lulu memandang sepasang mata di balik kerudung itu. “Andai kata engkau membuka kerudungmu dan aku melihat engkau sebagai seorang manusia, tentu aku lebih baik mati dari pada menceritakan isi hatiku. Akan tetapi, berhadapan denganmu aku seperti berhadapan dengan bukan manusia, dan engkau malah ibu dari gadis yang dicinta puteraku! Hemm, kau dengarlah rahasia yang selama ini hanya kusimpan di dalam hatiku saja. Aku membenarkan puterimu karena perjodohan yang dipaksakan akan membawa akibat mengerikan, sebaliknya, cinta kedua pihak yang dipisahkan juga mendatangkan kesengsaraan. Bukan hanya akibat yang menimpa diri sendiri saja, akan tetapi juga menimpa kepada orang lain, kepada keturunan! Aku sendiri mengalaminya. Aku mencinta seseorang, semenjak remaja puteri aku cinta kepadanya, dan dia cinta kepadaku, akan tetapi kami berpura-pura, malu untuk mengaku, sehingga aku dipaksa menikah dengan pria lain yang kusangka dapat kucinta sebagai pengganti dia. Sampai aku mempunyai seorang putera. Akan tetapi sia-sia belaka, aku tidak bisa memindahkan cinta kasih. Akhirnya aku meninggalkan suamiku, sedangkan suamiku membunuh diri secara tidak langsung dan halus… dan aku lalu membawa anakku ke neraka dunia! Aihhh, itulah yang paling membuat hatiku menyesal, aku telah merusak anakku sendiri sehingga dia menjadi seperti itu…! Keng In… akulah yang membuat engkau rusak… kalau aku tidak menuruti hati yang dirundung kerinduan, dimabuk cinta kasih, dan aku rela berkorban, hidup di samping ayahmu, agaknya engkau sekarang telah menjadi seorang pendekar yang gagah perkasa dan terhormat…!”

Lulu menutup muka dengan kedua tangan untuk menyembunyikan kesedihannya yang terpancar dari kedua matanya yang mulai membasah sehingga dia tidak melihat betapa mata di balik kerudung itu memancarkan pandang mata yang aneh sekali. Dia tidak tahu betapa jantung Nirahai seperti diremas- remas mendengar penuturannya itu, biar pun dia tidak menyebut nama karena Nirahai sudah dapat menduga siapakah pria yang dicinta oleh Lulu itu! Suma Han. Tentu saja!

Setelah melihat Lulu dapat menguasai dirinya, Nirahai bertanya dengan suara biasa, namun dengan penekanan hatinya yang berdebar tegar.

“Lalu sekarang bagaimana dengan pria yang kau cinta itu?” “Dia… dia pun seperti aku, dia… dia menikah dengan wanita lain!” “Hemm, dan dia masih mencintaimu?”
“Tentu saja, biar pun dia juga mengaku bahwa dia mencinta isterinya itu.”

Jantung Nirahai berdebar makin kencang. Jadi Suma Han telah bertemu dengan Lulu dan mengaku bahwa suaminya itu mencintanya?

“Dan engkau?”

“Aku? Aku sekarang… benci kepadanya! Aku sudah bersumpah untuk memilih antara dua, yaitu menjadi isterinya atau menjadi musuhnya sampai seorang di antara kami mati!” Lulu menggenggam ujung meja saking gemasnya dan terdengar suara keras. Ujung meja itu hancur dan hangus!

“Kresss!” Terdengar suara keras lain dan ujung meja di depan Nirahai juga hancur menjadi tepung diremas Ketua Thian-liong-pang ini.

Dua orang itu saling pandang. Nirahai bangkit berdiri. “Tocu, sekali lagi terima kasih atas pengobatanmu terhadap anak buahku. Dan sudah jelas bahwa pinangan anakmu itu kami tolak. Kalau engkau hendak menggunakan kekerasan seperti yang dikatakan anakmu, marilah aku siap melayanimu.”

“Pangcu, biar pun aku pernah menjadi ketua boneka dari Pulau Neraka, namun dalam urusan cinta kasih, aku tidak mau bersikap keras. Bahkan aku akan menentang tindakan anakku kalau dia berkeras.”

“Sesukamulah. Akan tetapi katakan kepadanya, kalau dalam sebulan dia tidak datang memenuhi ancamannya hendak membasmi Thian-liong-pang, aku sendiri yang akan mencari dia untuk memberi hajaran!”

“Hemm, kalau sampai terjadi demikian, sebagai ibu kandungnya sudah pasti aku akan membelanya!” “Hemmm, kita sama lihat saja nanti!”
“Pangcu, kuharap saja tidak akan terjadi demikian karena engkau tentu akan mati di tanganku!” “Itu pun sama kita buktikan saja nanti!”
“Selamat tinggal!” “Selamat berpisah!”
Tubuh Lulu berkelebat dan lenyap dari situ, menerobos jendela ruangan itu dan berloncatan dengan cepat sekali meninggalkan markas Thian-liong-pang. Perpisahan yang aneh antara dua orang wanita yang aneh! Nirahai duduk termenung. Terlalu banyak peristiwa menimpanya pada hari itu. Pertemuan dengan suaminya. Disusul munculnya Lulu dengan ceritanya yang hebat! Berita yang dibawa Milana tentang niat jahat koksu untuk membunuhnya! Terlalu banyak peristiwa hebat yang menghimpit perasaannya, membuat wanita berkerudung yang ditakuti lawan atau kawan ini termenung sambil menunjang dagu dengan tangannya…..

********************

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Gak Bun Beng! Yang terakhir kita melihat dia, pemuda yang berwatak lembut itu mengubur semua mayat yang jatuh sebagai korban pertandingan besar di daerah tandus di puncak Ciung-lai-san di Se-cuan, di mana diadakan pertemuan oleh Thian-liong-pang. Setelah selesai mengubur semua jenazah yang terlantar itu, Bun Beng menunggang kudanya kembali dan menjalankan kudanya perlahan menuju ke timur.

Dia telah berhasil merampas kembali Hok-mo-kiam, bahkan berhasil membunuh dua orang di antara musuh-musuhnya, yaitu Tan-siucai dan terutama sekali Thai Li Lama. Tadinya dia tidak bermaksud membunuh Tan-siucai seperti yang dilakukan terhadap Thai Li Lama karena dia tidak mempunyai dendam pribadi dengan Tan Ki. Ada pun Thai Li Lama merupakan musuhnya karena Lama ini termasuk mereka yang sudah membunuh gurunya, yaitu Kakek Siauw Lam Hwesio.

Akan tetapi musuh-musuhnya masih amat banyak dan mereka itu malah jauh lebih lihai dari pada Thai Li Lama. Thian Tok Lama adalah suheng Thai Li Lama yang tentu lebih lihai lagi, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang lebih hebat. Belum lagi Kakek Maharya yang sakti. Bergidik Bun Beng kalau teringat akan kakek ini, yang pernah ia saksikan ketika kakek itu mengadu ilmu sihir dengan Pendekar Super Sakti. Baru bertemu dan melawan Thai Li Lama saja, karena kurang hati-hati dia terluka.

Ia harus giat melatih diri. Mematangkan ilmu-ilmunya, terutama yang dia latih di dalam goa rahasia di bawah markas Thian-liong-pang di lembah Huang-ho itu, sebelum dia menghadapi musuh-musuhnya yang sakti. Juga dia harus mencari Pendekar Super Sakti untuk menyerahkan Hok-mo-kiam, karena pendekar itulah yang berhak atas pedang buatan Kakek Nayakavhira ini. Di samping itu, dia harus mencari pemuda Pulau Neraka yang telah merampas Lam-mo-kiam!

Bun Beng melakukan perjalanan perlahan. Dia tidak tergesa-gesa dan di sepanjang jalan dia terus melatih ilmunya. Ketika ia menggunakan Hok-mo-kiam untuk melatih ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut yang amat dahsyat itu, dia menjadi girang karena mendapat kenyataan betapa pedang itu cocok ukurannya dan tepat pula beratnya sehingga pedang dan tangannya seolah-olah telah melekat dan bersambung menjadi satu! Barulah hatinya puas setelah dia berhasil memainkan seluruh jurus Lo-thian Kiam-sut tanpa berhenti. Padahal ilmu pedang ciptaan manusia sakti Koai Lojin itu bukanlah sembarangan ilmu sehingga Ketua Thian-liong-pang sendiri pun tak mampu memainkan seluruhnya.

Setelah melakukan perjalanan beberapa pekan dan terpaksa meninggalkan kudanya dan melepas binatang yang sudah payah itu dalam sebuah hutan, tibalah Bun Beng di kaki pegunungan Lu-liang-san, di tepi Sungai Kuning dan di perbatasan Mongolia selatan. Kota raja sudah tidak jauh lagi dan selagi dia berjalan seenaknya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dari belakang. Bun Beng cepat minggir dan menutupi mulut dan hidungnya dengan lengan baju sebab tanah yang kering itu menghamburkan debu tebal ketika barisan kuda itu berlari datang.

Pasukan atau rombongan berkuda itu terdiri dari tiga puluh orang lebih. Bun Beng merasa heran karena rombongan ini terdiri dari bermacam-macam bangsa yang dapat dilihat dari bentuk pakaian mereka. Ada orang Mongol, ada pula orang Tibet dan banyak di antara mereka adalah orang-orang Han. Akan tetapi melihat cara mereka menunggang kuda dan duduk dengan tegak, melihat senjata-senjata pedang yang tergantung di punggung, melihat gerak mereka, Bun Beng mendapat kenyataan bahwa rombongan itu terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi.

Setelah rombongan berkuda itu lewat dan debu yang mengebul sudah habis tertiup angin, Bun Beng baru menurunkan lengan baju dari depan mukanya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke barat, ke mana rombongan tadi membalapkan kuda. Di dalam hati timbul kecurigaan dan keheranan. Dia merasa aneh dan tertarik sekali. Orang-orang Mongol, Tibet, dan orang-orang Han bersatu dalam sebuah rombongan? Aneh sekali! Mengapa tidak tampak orang Mancu yang pada waktu itu menjadi bangsa yang paling ‘tinggi’ karena bangsa inilah yang berkuasa? Ada terjadi apakah?

Karena hatinya tertarik. Bun Beng mempercepat langkahnya, bahkan mempergunakan ilmu lari cepat untuk mengejar. Setelah malam tiba, dia berhenti di sebuah dusun dan mendapat keterangan bahwa baru saja rombongan itu lewat dan mereka tidak berhenti di dusun itu. Bun Beng membeli makanan, kemudian malam itu juga melanjutkan perjalanan karena merasa makin heran dan curiga. Hari sudah malam, dan dari dusun itu ke timur merupakan hutan lebat, mengapa mereka tidak berhenti di dalam dusun?

Ketika dia melakukan pengejaran, dia melihat bahwa mereka itu berhenti di luar dusun dan beristirahat di tempat sunyi itu, membuat api unggun dan makan dari perbekalan mereka. Kiranya mereka itu hendak menjauhkan diri dari tempat ramai, maka mereka memilih tempat sunyi itu untuk melewatkan malam dari pada di sebuah dusun.

Bun Beng terus membayangi rombongan ini dan dari percakapan-percakapan mereka, dia mendengar bahwa mereka itu menuju ke daerah Cip-hong yang berada di perbatasan Mongolia, di sebuah utara kota raja. Ketika ia mendengar disebutnya Koksu dan Pangeran Jenghan dari Mongol dan Pangeran Yauw Ki Ong dari istana, dia makin tertarik, apa lagi ketika mendengar percakapan mereka itu membayangkan sebuah persekutuan antara Tibet, Mongol, pejuang-pejuang Han, dan dari dalam istana sendiri! Tentu merupakan persekutuan gelap, pikirnya.

Ketika rombongan itu tiba dipersimpangan jalan, Bun Beng merasa ragu-ragu. Kalau ke selatan, dia akan sampai di kota raja, tempat yang ditujunya semula. Akan tetapi, rombongan itu besok pagi tentu akan membelok ke kiri, ke utara. Untuk apa dia mengikuti mereka ini? Urusan persekutuan itu tidak menarik hatinya karena dia tidak mempunyai sangkut-paut dengan itu. Tetapi, malam itu ketika ia mengambil keputusan untuk melakukan pengintaian yang terakhir kalinya, dia mendengar percakapan yang benar- benar mengejutkan dan menarik perhatiannya.

Dari percakapan mereka, dia mendengar bahwa persekutuan itu, yang dikepalai oleh Pangeran Yauw Ki Ong dan dibantu oleh Koksu Bhong Ji Kun, merencanakan untuk membunuh kaisar dan untuk merampas kekuasaan pemerintahan! Dan rombongan itu merupakan bala bantuan untuk memperkuat pasukan orang gagah yang dipusatkan di dekat Cip-hong, di daerah yang terkenal sebagai tempat ‘api abadi’, yaitu daerah setengah tandus di mana terdapat api yang bernyala-nyala dari tanah dan tak pernah padam selamanya. Tanah di situ sebetulnya mengandung sumber minyak yang tergali, dan minyak dari tanah itulah yang membuat api tak pernah padam.

Karena Bun Beng merasa benci kepada Koksu yang dianggapnya musuh besar, maka biar pun dia tidak berhasrat menyelamatkan Kaisar Mancu, dia ikut pula ke utara, terus membayangi rombongan itu sebab dia ingin menggagalkan persekutuan yang dipimpin oleh Koksu musuh besarnya itu. Lebih-lebih ketika dia mendengar bahwa pasukan orang-orang lihai yang tergabung dan dipusatkan di Cip-hong itu merupakan pasukan khusus untuk menghadapi Thian-liong-pang!

Hemm, mereka juga memusuhi Thian-liong-pang dan pasukan ini khusus dipersiapkan untuk melawan orang-orang Thian-liong-pang! Tentu saja Bun Beng menjadi makin tertarik untuk menentang pasukan itu. Ketua Thian-liong-pang adalah isteri Pendekar Super Sakti, dan ibu Milana! Tentu saja dia akan membela Thian-liong-pang, atau setidaknya membela Milana yang pernah dengan mati-matian menyelamatkannya dari bahaya maut. Selama hidupnya dia takkan dapat melupakan budi kebaikan dara ini, selama hidupnya dia tidak akan dapat melupakan dara itu bukan hanya cantik jelitanya, bukan hanya karena dia puteri Pendekar Super Sakti yang dikaguminya, melainkan karena… dia tidak mungkin dapat melupakan pribadi dara itu! Dia sendiri sampai menjadi bingung seperti orang mabok. Mabok asmara!

Selama membayangi rombongan itu sampai belasan hari lamanya, akhirnya rombongan berkuda itu tiba di tempat tujuan mereka. Sebuah tempat yang sunyi, merupakan bangunan-bangunan darurat di luar kota yang jauh dari masyarakat ramai, dikurung pagar yang tinggi sehingga tidak tampak dari luar.

Bun Beng menanti sampai keadaan menjadi sunyi dan ternyata di tempat itu telah tinggal puluhan orang sehingga dengan para pendatang itu jumlah mereka mendekati seratus orang yang kesemuanya kelihatan berkepandaian tinggi! Setelah malam tiba dan cuaca mulai gelap, Bun Beng menyelinap dan mendekati pagar, siap untuk meloncat dan menyelidik ke dalam. Akan tetapi tiba-tiba dia berjongkok dalam gelap ketika melihat berkelebatnya bayangan meloncati pagar. Gerakan orang itu cukup ringan dan lincah dan sekelebatan Bun Beng melihat bahwa orang itu adalah seorang laki-laki bertubuh kurus jangkung, berusia empat puluhan tahun dan tangan kanannya memegang sebatang golok besar.

Bun Beng tidak tahu siapa orang itu akan tetapi dapat menduga bahwa dia itu tentulah bukan anggota rombongan yang tinggal di situ, karena gerakan dan sikapnya seperti seorang pencuri. Diam-diam Bun Beng meloncat ke atas pagar dan cepat melayang turun ke sebelah dalam, dari jauh dia membayangi orang bergolok itu.

Benar saja dugaannya. Orang itu kini mendekam di atas wuwungan dan perlahan-lahan membuka genteng! Akan tetapi, karena gerakan orang itu ketika meloncat ke atas wuwungan menimbulkan sedikit suara, tiba-tiba Bun Beng melihat bayangan-bayangan orang meloncat naik ke atas genteng dengan berturut-turut. Jumlah mereka delapan orang dan Si Pencuri itu telah terkurung. Si Pencuri itu meloncat bangun dan mengamuk. Terjadilah pertempuran yang berat sebelah. Biar pun gerakan golok pencuri itu cukup lihai, namun menghadapi pengeroyokan belasan orang yang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup kuat akhirnya dia roboh, goloknya terlepas dan dia dihujani pukulan kemudian diringkus, diikat kaki dan tangannya dan dibawa masuk ke dalam pondok.

Bun Beng tidak mau tahu apa yang mereka lakukan terhadap pencuri itu. Dia lebih perlu melakukan penyelidikan keadaan tempat itu. Ternyata tempat itu cukup luas dan sedikitnya ada dua puluh buah pondok darurat yang dibangun secara sederhana akan tetapi cukup kuat. Di sudut terdapat sebuah bangunan besar dan agaknya malam itu mereka berpesta, diseling suara ketawa-ketawa laki-laki dan perempuan. Hemm, kiranya di tempat itu disediakan pula wanita-wanita untuk menghibur pasukan khusus itu, pikir Bun Beng.

Dia memutari bangunan-bangunan itu dan memeriksa ke pekarangan belakang. Di tempat inilah tampak beberapa lidah api bernyala-nyala keluar dari tanah, dan tak jauh dari situ ia melihat sebuah sumur. Ketika ia menjenguk ke dalam sumur, hidungnya mencium bau keras, bau minyak! Hmm, bukan air yang berada di sumur itu agaknya, melainkan minyak! Benar-benar Bun Beng tidak mengerti dan dia cepat menjauhi sumur karena menjenguk sebentar saja, kepalanya pening dan dadanya sesak. Uap minyak itu beracun agaknya!

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari dalam. Bun Beng menyelinap di tempat gelap dan melihat empat orang menyeret pencuri tadi yang telah dibelenggu kaki tangannya. Melihat keadaan pencuri itu tentu dia telah disiksa karena matanya bengkak-bengkak dan dia tidak mengeluarkan suara apa-apa kecuali merintih perlahan. Tampak empat orang diikuti oleh belasan orang yang tertawa-tawa geli, seolah-olah mereka hendak menyaksikan pertunjukan yang menarik hati.

Dengan hati ngeri dan sebal, Bun Beng melihat betapa mereka menggantung kaki pencuri sial itu di atas sumur, kepala di bawah kakinya di atas, kemudian mengereknya turun sehingga tampak hanya kakinya di atas permukaan bibir sumur, terikat pada tali timba sumur. Kaki itu meronta-ronta, terlihat talinya bergoyang-goyang, sedangkan belasan orang yang mengelilingi sumur itu tertawa bergelak-gelak, kemudian mereka meninggalkan sumur itu sambil tertawa-tawa, kembali ke dalam pondok, dan ada pula yang agaknya hendak menuju ke pondok di sudut di mana terdengar suara wanita bernyanyi-nyanyi dan orang-orang tertawa-tawa.

Bun Beng tidak maju menerjang orang-orang itu karena tidak tahu siapa pencuri itu, sehingga tidak perlu dia meninggalkan keributan di tempat itu hanya untuk membela seorang pencuri yang tidak dikenalnya. Akan tetapi setelah orang-orang itu pergi Bun Beng cepat loncat mendekati sumur. Malam telah hampir lewat dan sinar kemerahan telah muncul di timur. Sebelum terang tanah, dia harus cepat keluar dari tempat itu, maka Bun Beng segera menyambar tali timba dan menarik keluar pencuri sial itu.

Orang itu napasnya sudah empas-empis. Bun Beng lalu mengangkatnya keluar dan merebahkannya ke atas tanah, merenggut putus belenggu kaki tangannya. Orang itu membuka matanya yang bengkak- bengkak, tadinya mengira bahwa dia akan disiksa lagi. Akan tetapi ketika melihat seorang pemuda berjongkok di dekatnya dan pemuda itu melepaskan belenggu kaki tangannya, mulutnya bergerak-gerak lirih,

“Persekutuan… hendak membunuh Kaisar… membunuh Pangcu…”

Bun Beng mengerutkan alisnya. Hmm, kiranya bukan seorang pencuri, melainkan seorang mata-mata agaknya!

“Engkau anggota perkumpulan apa?”

“Mereka… menyiksaku… aku tidak pernah mengaku… Thian… Pangcu akan dibunuh… auugghh…” Orang itu terkulai, akan tetapi Bun Beng sudah tahu atau dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang anggota Thian-liong-pang, seorang mata-mata Thian-liong-pang yang dapat mencium rahasia persekutuan itu, akan tetapi tertangkap dan terbunuh.

Karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menolong orang yang sudah mati itu, Bun Beng lalu meninggalkannya dan menuju ke pagar untuk meloncat ke luar. Akan tetapi dia terlambat karena pada saat itu terdengar suara orang dan tampak belasan orang keluar dan menuju ke sumur itu sambil membawa ember-ember besar.

Bun Beng tidak jadi lari pergi karena kembali dia tertarik dan ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan orang-orang itu dengan ember-ember mereka? Dia melihat ke sekelilingnya dan melihat gentong-gentong besar berada tak jauh dari sumur. Cepat ia lari menghampiri dan memasuki sebuah di antara gentong- gentong kosong itu, bersembunyi di situ dan menggunakan jari tangannya menusuk gentong sehingga berlubang dan ia mengintai dari lubang itu keluar!

“Haiii! Kenapa dia bisa terlepas…?” “Wah, belenggunya putus semua…” “Akan tetapi dia sudah mampus!”
“Hemm, orang ini lumayan kuatnya, dapat membebaskan diri dari gantungan. Tentu dia orang terkenal dari Thian-liong-pang, sayang dia berani menyelidiki kita sehingga mati konyol.”

“Dia tentu berusaha melarikan diri, akan tetapi kekuatannya habis setelah mematahkan belenggu kaki tangannya dan mampus.”

Seorang di antara mereka melapor ke dalam dan muncullah seorang laki-laki bertubuh raksasa, bertelanjang dada dan kepalanya gundul namun mukanya penuh cambang bauk. Di sebelahnya berjalan seorang tinggi kurus yang mukanya pucat kuning, tetapi sikapnya menunjukkan bahwa dialah pemimpin di situ sedangkan raksasa itu adalah pembantu utamanya.

“Kubur dia di sudut kosong sana!” Terdengar laki-laki tua kurus itu berkata.

Dua orang menggusur mayat itu, kemudian laki-laki muka pucat itu berkata lagi, “Hari ini kita menimba sepuluh gentong penuh untuk memenuhi permintaan Pangeran Jenghan yang harus dikirim besok. Kemudian semua harus bersiap, karena kita hanya menanti datangnya berita dari Koksu saja untuk segera bergerak ke selatan secara menggelap.”

Setelah kedua orang pemimpin itu pergi, maka belasan orang bekerja menimba minyak dari dalam sumur dan mengisi gentong-gentong kosong yang berjajar. Diam-diam Bun Beng merasa lega karena dia berada di dalam gentong yang ke enam belas sehingga tidak khawatir akan disiram minyak! Diam-diam dia memperhatikan orang-orang yang menimba minyak campur lumpur itu. Bagaimana dia harus meninggalkan persekutuan ini atau setidaknya mengacaukan tempat itu? Untuk melawan orang banyak itu, kurang lebih seratus orang banyaknya, dia tidak takut, akan tetapi apa gunanya?

Orang-orang itu kelihatan pandai, apa lagi Si Kurus muka pucat dan Si Raksasa itu, tentu bukan orang- orang sembarangan. Kalau dia sekarang meloncat ke luar dan melarikan diri, tentu dia bisa lolos dari tempat itu, akan tetapi dia ingin sekali melihat kedatangan utusan Koksu dan mendengar perkembangan selanjutnya dari rombongan orang-orang kuat yang sengaja dikumpulkan di tempat itu. Selain menjadi tempat memusatkan calon pasukan istimewa untuk melawan Thian-liong-pang, juga agaknya mereka itu sekalian berjaga, menjaga sumber minyak!

Untung bahwa Bun Beng tidak menunggu terlalu lama. Sebentar saja, kurang lebih dua tiga jam, sepuluh buah gentong telah penuh dengan minyak dan lumpur, kemudian mereka semua pergi untuk membereskan tubuh yang berlumuran lumpur. Lebih baik kukacau mereka sekarang, kemudian melihat perkembangan lebih jauh, pikir Bun Beng. Dia belum begitu mengenal minyak yang diambil dari sumur itu, akan tetapi dia tahu bahwa api bernyala kalau bertemu minyak.

Melihat di sekitar sumur itu sudah sunyi, Bun Beng meloncat keluar dari gentong, mengambil sebatang kayu kering mencelupkan kayu itu ke dalam gentong yang penuh minyak, kemudian dengan pedang Hok- mo-kiam dia memukul batu di bibir sumur sehingga berpijarlah bunga api yang menyambar kayu itu. Kayu itu bernyala keras seperti yang diduga oleh Bun Beng. Sambil tersenyum Bun Beng lalu melemparkan kayu bernyala itu ke dalam sumur!

“Heiii! Tangkap pengacau!” Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan seorang berpakaian Han menyerang Bun Beng dari belakang dengan pedangnya. Gerakan orang itu cukup tangkas karena dia meloncat dari jarak empat meter, sambil meloncat pedangnya menusuk ke arah punggung Bun Beng dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga besar.

Pada saat itu Bun Beng sedang berdiri tegak, pedang Hok-mo-kiam masih terhunus dan berada di tangan kanan. Agaknya dia tidak tahu akan serangan itu karena dia sedang memandang ke arah sumur dengan terbelalak menyaksikan betapa ada suara gemuruh keluar dari sumur itu disusul lidah-lidah api dan asap hitam yang mengantar bau yang menyesakkan napas. Namun, begitu ujung pedang lawan hampir menyentuh punggungnya, Bun Beng menekuk kedua kakinya, membiarkan pedang dan tubuh lawan lewat dan tiba-tiba dia bangkit sambil menggerakkan pedangnya. Terdengar teriakan mengerikan ketika tubuh laki-laki yang terlanjur meloncat dan kini ditambah dorongan Bun Beng itu meluncur masuk ke dalam sumur yang bernyala-nyala!

Bun Beng yang tadinya tersenyum, berubah wajahnya dan memandang terbelalak! Tak disangkanya sama sekali bahwa elakannya mengakibatkan terjadinya hal mengerikan itu! Dia tidak bermaksud untuk melempar penyerangnya itu ke dalam sumur untuk dibakar hidup-hidup!

Teriakan yang amat nyaring menyayat hati itu terdengar oleh banyak orang dan tampaklah berbondong- bondong penghuni asrama itu berlari keluar. Bun Beng tidak mau melarikan diri seperti pencuri karena biar pun dia dikepung, kalau hendak meloloskan diri pun tidak akan sukar baginya. Maka dengan tenang dia menyimpan kembali pedangnya dan berdiri tegak menanti kedatangan puluhan orang itu.

Melihat sikap Bun Beng, orang-orang itu menjadi ragu-ragu untuk menyerang. Apa lagi karena mereka tidak melihat temannya yang menjerit tadi. Mereka hanya menanti sampai orang kurus bermuka pucat itu muncul bersama pembantu utamanya, Si Gundul. Orang kurus itu adalah seorang Han, akan tetapi suaranya menunjukkan bahwa dia berasal dari utara.

“Siapakah engkau?” Orang itu bertanya sambil memandang Bun Beng dengan penuh perhatian. “Namaku Gak Bun Beng,” jawab Bun Beng sederhana.

“Mau apa engkau datang ke sini? Apakah engkau juga seorang mata-mata Thian-liong-pang?”

Bun Beng menggeleng kepalanya. “Aku tidak disuruh oleh siapa pun juga, juga tidak mewakili siapa-siapa. Aku kebetulan lewat dan ingin tahu apa yang berada di dalam tempat yang penuh rahasia ini. Kiranya terisi orang-orang yang mengadakan persekutuan!”

Semua orang memandang dengan sikap mengancam ketika mendengar itu, akan tetapi Si Tua kurus itu mengangkat tangan menyuruh anak buahnya diam. “Kulihat engkau masih amat muda akan tetapi sikapmu tenang dan tabah sekali. Orang muda, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian. Kebetulan sekali di sini kurang hiburan bagi anak buahku. Hiburan perempuan dan nyanyian sudah membosankan. Kalau diberi hiburan pertandingan silat yang sungguh-sungguh tentu akan menimbulkan kegembiraan.”

“Bagus! Bagus…! Serahkan dia kepadaku, biar kupatahkan batang lehernya!” “Tidak, kepadaku saja! Aku ingin merobek mulut yang sombong itu!” “Biarkan aku menghancurkan kepalanya!”
Si Kurus pucat itu kembali mengangkat tangannya menyuruh anak buahnya diam, lalu berkata gagah. “Kita adalah orang-orang gagah di dunia kang-ouw, mengapa bersikap seganas itu? Tidak, pertandingan ini akan diadakan satu lawan satu dengan adil. Akan tetapi aku ingin sekali tahu, siapakah yang tadi mengeluarkan suara menjerit?”

Tidak ada seorang pun yang tahu. “Kami sendiri pun tidak tahu. Suara itu terdengar dari sini, akan tetapi ketika kami datang, yang tampak hanya pemuda ini seorang diri. Jangan-jangan setan dari mata-mata itu yang…”

“Hemmm, tak patut orang gagah percaya akan tahyul!” Si Kurus membentak. “Tentu ada yang berteriak tadi, terdengarnya seperti teriakan ketakutan. Eh, orang muda she Gak, apakah engkau tahu siapa yang berteriak tadi?”

Bun Beng mengangguk. “Aku tahu, sebab yang menjerit tadi adalah seorang anak buahmu yang menyerangku dari belakang ketika aku membakar sumur minyak ini.”

Jawaban ini kembali membuat semua orang ribut. Betapa beraninya pemuda ini, sudah membakar sumur, masih mengaku seenaknya dengan begitu tenang!

“Di mana dia sekarang?” Si Kurus bertanya lagi.

“Di dalam sana…!” Bun Beng menuding ke arah sumur yang masih bernyala itu.

Kembali suasana menjadi ribut dan Si Kurus terpaksa mendiamkan mereka dengan isyarat tangannya.

“Apakah engkau yang melemparnya ke dalam sumur?” tanyanya kepada Bun Beng. Suaranya sudah kehilangan ketenangannya karena dikuasai kemarahan.

“Sama sekali tidak. Dia menyerangku dari belakang, agaknya dia terlalu bernafsu untuk membunuhku sehingga ketika aku mengelak, dia terus menyelonong ke dalam sumur.”
Semua orang terbelalak mendengar ini, merasa ngeri akan nasib kawan mereka yang terbakar hidup- hidup. Akan tetapi Si Kurus pucat bersikap tenang.

“Gak Bun Beng, kesalahanmu bertumpuk-tumpuk. Pertama, engkau memasuki tempat terlarang ini tanpa ijin, seperti maling. Kedua engkau berani membakar sumur yang kami jaga ini. Ketiga engkau telah membunuh seorang di antara anak buahku. Menurut patut, engkau harus dibunuh sekarang juga. Tetapi melihat engkau masih begini muda dan mengingat bahwa kami adalah orang-orang gagah yang tidak mau membunuh begitu saja…”

“Kecuali ketika kalian mengeroyok dan menangkap mata-mata Thian-liong-pang itu, ya?” Bun Beng memotong.

“Hemmm, itu lain lagi. Dia adalah anggota Thian-liong-pang, musuh kami. Sedangkan engkau hanya seorang pemuda bebas yang terlalu sombong dan lancang. Kau boleh membela nyawamu dalam pertandingan satu lawan satu, tanpa ada pengeroyokan.”

“Hemmm, kalau aku menang aku boleh pergi dengan bebas?”

“Kalau sudah tidak ada yang mampu melawanmu, boleh saja!” kata Si Kurus dan terdengarlah suara orang-orang tertawa bergelak. Mereka itu tentu saja memandang rendah kepada Bun Beng. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang kang-ouw dan liok-lim, dan mereka belum pernah bertemu atau mendengar nama Gak Bun Beng di dunia persilatan.

“Siapa di antara kalian yang berani melawan bocah ini?” Pemimpin kurus itu berseru.

Pertanyaan itu disambut suara sorak-sorai karena hampir semua orang yang berada di situ mengangkat tangan dan mereka seolah-olah hendak berebut menandingi pemuda itu, bukan hanya untuk membalaskan kematian teman mereka, juga ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk memamerkan kepandaian!

“Locianpwe, mengapa menimbulkan banyak ribut dan susah-susah? Agar urusan cepat selesai, suruh pembantu Locianpwe yang seperti raksasa ini maju. Kalau aku menang, berarti mereka yang berteriak- teriak itu tentu takkan ada yang berani maju lagi, kalau aku kalah, yah, terserah!”

Si Muka pucat ini agaknya senang sekali disebut ‘locianpwe’ oleh Bun Beng, maka kembali dia mengangkat tangan menyuruh orang-orangnya diam, kemudian berkata, “Ucapan bocah ini benar juga, cukup masuk akal dan bisa diterima. Tetapi sungguh membikin malu aku dan pendekar Gozan dari Mongol kalau dia harus maju sendiri melayanimu, bocah she Gak. Ketahuilah bahwa pendekar Gozan ini adalah seorang ahli silat dan ahli gulat nomor satu di Mongol, dan merupakan orang kedua sesudah aku di tempat ini. Akan tetapi karena engkau sendiri yang minta, dan memang ada benarnya juga agar tidak membuang waktu, biarlah aku menyuruh orang ketiga maju melayanimu beberapa jurus. Agar kau ketahui sebelumnya bahwa pertandingan ini merupakan pibu (adu kepandaian) sehingga terluka atau mati bukan merupakan persoalan yang harus disesalkan.”

“Aku mengerti, Locianpwe. Kurasa mati di tangan orang ketiga di tempat seperti ini cukup terhormat!”

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Engkau seorang pemuda yang berani, sayang engkau bukan anak buahku. He, Thai-lek-gu (Kerbau Bertenaga Raksasa), majulah dan harap kau suka mewakili aku melayani Gak Bun Beng ini!” kata Si Kepala asrama yang kurus itu.

Dari dalam rombongan orang-orang itu muncullah seorang laki-laki yang membuat Bun Beng hampir tertawa geli karena anehnya. Orang ini tubuhnya pendek sekali, akan tetapi amat besar dan gendut sehingga seperti bola yang besar. Perutnya besar bulat sehingga bajunya di bagian perut tidak dapat menutupinya dengan baik dan tampaklah kulit perut putih halus membayang di antara kancing baju yang terlepas. Kepalanya juga bulat dengan sepasang mata kecil sipit. Kakinya pendek buntek, besar seperti kaki gajah, demikian kedua lengannya besar akan tetapi panjang sekali sampai ke lutut sehingga kalau dia membungkuk sedikit saja, kedua tangannya seperti menyentuh tanah dan membuat kedua lengan itu mirip sepasang kaki depan binatang kaki empat. Pantas saja dia dijuluki Kerbau Bertenaga Raksasa, karena memang dia mirip seekor kerbau dengan perutnya yang bergantung ke bawah itu.

Thai-lek-gu langsung menghadapi Bun Beng, matanya yang sipit itu agak terbuka dan terdengar suaranya yang kecil halus, jauh bedanya dengan tubuhnya yang bulat itu.

“Orang muda, sungguh sialan sekali engkau diharuskan bertanding melawan aku. Apakah tidak lebih baik engkau cabut pedangmu itu dan memenggal lehermu sendiri supaya lebih cepat mati dan tidak tersiksa lagi?” Ucapan ini disambut suara tertawa di sana-sini karena semua orang mengerti bahwa ucapan itu merupakan ejekan.

Bun Beng tersenyum. “Aku heran sekali mengapa engkau dijuluki Thai-lek-gu, kalau melihat matamu yang kecil dan sikapmu yang malas, engkau lebih tepat dijuluki Thai-lek-ti (Babi Tenaga Raksasa), sungguh pun aku masih menyangsikan sekali akan tenagamu.”

Kembali terdengar suara ketawa, dan sekali ini Thai-lek-gu yang menjadi bahan tertawa sehingga dia marah sekali. “Bocah bermulut lancang! Kematian sudah di depan hidung engkau masih berani kurang ajar terhadap aku?”

“Memang kematian sudah di depan hidung, akan tetapi entah kematian siapa dan hidung siapa!” Bun Beng menggerak-gerakkan cuping hidungnya, “Menurut hidungku, aku tidak mencium kematianku, akan tetapi ada bau-bau tidak enak datang dari tempat kau berdiri!”

Kembali orang-orang tertawa. si Gendut itu memang wataknya kasar dan sombong, suka mengejek dan mempermainkan teman-temannya yang tidak berani melawan, maka kini mendengar dia diolok-olok oleh pemuda asing itu, mereka menjadi girang dan tertawa geli, biar pun mereka semua maklum bahwa tentu pemuda itu akan tewas oleh Si Gendut yang lihai. Karena melihat pemuda itu menggerak-gerakkan cuping hidungnya, Thai-lek-gu otomatis juga mencium-cium, akan tetapi karena hidungnya pesek hampir tidak ada ujungnya, maka tentu saja tidak dapat digerak-gerakkan, hanya lubangnya saja yang menjadi makin lebar.

Saking marahnya, dia tidak dapat berkata apa-apa lagi dan hanya mengeluarkan suara menggereng kemudian secara tiba-tiba dia menyerang Bun Beng. Biar pun tubuhnya gendut sekali akan tetapi ternyata gerakannya cepat ketika dia menubruk dengan kedua lengan yang panjang itu terpentang, kemudian menyergap dari kanan kiri hendak merangkul tubuh Bun Beng yang kelihatan kecil itu untuk ditekuk-tekuk dan dipatah-patahkan semua tulangnya!

“Bresss!” Tiba-tiba Thai-lek-gu menjadi bingung karena tadi tampaknya serangannya tak mungkin dapat dielakkan lagi, kedua lengannya sudah menyentuh kedua pundak lawan, akan tetapi begitu kedua tangannya meringkus, yang diringkusnya hanya angin saja dan tubuh pemuda itu sudah lenyap! Cepat dia membalikkan tubuhnya dan ternyata pemuda itu sudah berdiri di belakangnya sambil bersedekap dan tersenyum-senyum.

Terkejutlah Si Muka Pucat yang kurus dan Si Raksasa gundul ketika menyaksikan betapa dengan amat sigapnya tubuh pemuda itu tadi melesat ke luar dari sergapan Thai-lek-gu dan meloncat ke atas melewati kepalanya, kemudian turun bagaikan seekor burung walet saja di belakang Thai-lek-gu.

Juga Thai-lek-gu yang bukan merupakan seorang ahli silat sembarangan, kini dapat menduga bahwa pemuda itu ternyata memiliki kepandaian tinggi terbukti dari ginkang-nya yang istimewa, bersikap hati-hati dan tidak lagi berani memandang rendah bahkan dia menekan hatinya melenyapkan rasa marah agar dapat menghadapi lawan dengan tenang.

Setelah memasang kuda-kuda, mulailah Thai-lek-gu membuka serangannya. Tubuhnya seperti menggelundung ke depan karena gerakan kedua kakinya sukar terlihat, tertutup oleh perutnya, dan tahu- tahu kedua lengannya sudah menyambar ke depan bergantian, melakukan pukulan-pukulan yang amat keras sehingga terdengar anginnya mengiuk berulang-ulang.

Bun Beng menurunkan kedua tangannya yang bersedekap, kedua tangan itu bergerak cepat sampai tidak tampak, tahu-tahu jari tangannya sudah mengetuk ke arah lengan lawan, yang kanan mengetuk pergelangan tangan kiri, sedangkan yang kiri mengetuk tulang dekat siku.

“Plak! Tukkk!”

“Wadouuhhh…!” Thai-lek-gu berteriak keras sekali.

Ia cepat meloncat mundur, mulutnya yang amat kecil dibandingkan dengan kepala dan perutnya itu menyeringai kesakitan, kedua tangannya sibuk sekali bergerak bergantian, yang kiri mengusap siku kanan, yang kanan menggosok pergelangan tangan kiri. Kulit lengan di kedua tempat itu membiru dan tampak benjolan sebesar telur ayam!

Dengan kemarahan yang meluap-luap, Thai-lek-gu menyambar sepasang golok yang dibawakan oleh seorang temannya. Sepasang golok ini pantasnya untuk menyembelih babi, dan memang Thai-lek-gu ini dahulunya adalah seorang jagal babi!

Betapa pun marahnya, Thai-lek-gu ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang tahu akan kegagahan, maka sambil menahan marah, menggerak-gerakkan sepasang goloknya di depan dada kemudian berhenti depan dada dalam keadaan bersilang dia berseru, “Ayo keluarkan senjatamu!”

Bun Beng tersenyum. Dia tidak mempunyai urusan atau permusuhan pribadi dengan orang-orang ini dan biar pun dia tahu bahwa mereka itu pemberontak-pemberontak, namun dia tidak pula berpihak kepada Kaisar Mancu. Andai kata mereka ini bukan kaki tangan Koksu yang menjadi musuh besarnya, agaknya dia pun tidak mau mengganggu mereka. Apa lagi melihat sikap Thai-lek-gu yang masih menghargai kegagahan dalam pertandingan ini, tidak mengeroyok, tidak pula menyerang lawan yang bertangan kosong, dia mengambil keputusan untuk bersikap lunak terhadap mereka.

“Thai-lek-gu, tidak perlu aku mempergunakan senjataku sendiri karena engkau sudah begitu baik hati untuk menyediakannya untukku. Nah, seranglah!”

Thai-lek-gu memandang heran dan ragu-ragu. “Orang muda yang sombong, jangan kau main-main. Sekali sepasang golokku ini keluar, tak akan masuk sarungnya kembali sebelum minum darah lawan. Keluarkan senjatamu!”

“Baiklah, akan tetapi bukan senjataku, melainkan yang kau pinjamkan kepadaku itulah!” Tiba-tiba Bun Beng nenubruk ke depan dan mengirim serangan kilat, menusukkan jari tangan kirinya ke arah mata lawan.

Thai-lek-gu marah dan terkejut, cepat dia menundukkan kepala dan golok kanannya berkelebat membacok ke arah lengan Bun Beng yang menyerangnya. Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba merendahkan diri, gerakannya cepat bukan main, golok menyambar lewat di atas kepalanya dan tiba-tiba Thai-lek-gu mengeluarkan seruan tertahan dan memandang dengan mata terbelalak kepada lawan yang sudah tersenyum-senyum memandangnya dengan sebatang golok di tangan. Golok kirinya telah dirampas secara cepat dan aneh oleh pemuda itu!

“Nah, sekarang aku telah memegang senjata. Terima kasih atas kebaikanmu memberi pinjam golok ini kepadaku, Thai-lek-gu.”

Thai-lek-gu marah bukan main, marah penasaran dan juga kaget. Pemuda itu dalam segebrakan saja telah berhasil merampas sebatang di antara sepasang goloknya. Hal ini saja membuktikan bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya. Akan tetapi karena sudah kepalang mencabut senjata, dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang ke depan dengan nekat.

“Trang-trang-trang…!”

Tiga kali Si Pendek gendut itu menyerang dan tiga kali Bun Beng menangkis tanpa menggeser kaki dari tempatnya, berdiri seenaknya akan tetapi kemana pun golok lawan menyambar, selalu dapat ditangkisnya dan setiap tangkisan membuat Thai-lek-gu terpental ke belakang. Hal ini mengejutkan semua orang. Thai- lek-gu terkenal memiliki tenaga yang amat besar, akan tetapi serangan golok tadi berturut-turut dapat ditangkis oleh Si Pemuda yang membuat tubuh Thai-lek-gu terpental!

Tentu saja Thai-lek-gu menjadi makin marah. Dengan lengking panjang dia lari ke depan, menyerbu dengan golok diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, kemudian golok itu menyambar ke arah leher Bun Beng, dibarengi cengkeraman tangan kiri Thai-lek-gu ke arah perutnya! Serangan ini dahsyat sekali dan merupakan serangan mati-matian untuk mengadu nyawa. Tentu saja Bun Beng tidak menjadi gentar. Dia sengaja mengerahkan tenaganya, menggerakkan golok menangkis golok lawan, sedangkan tangan kirinya menyambut cengkeraman tangan lawannya dia menotok pergelangan tangan.

“Krekk… dessss!”

Golok di tangan Thai-lek-gu patah-patah. Dia menjerit kaget ketika tubuhnya terlempar ke belakang dan lengan kirinya lumpuh tertotok. Betapa pun diusahakannya untuk mengatur keseimbangan tubuhnya, tetap saja dia terbanting roboh dan karena lengan kirinya lumpuh, terpaksa dengan susah payah dia merangkak bangun.

“Maafkan aku dan ini kukembalikan golokmu. Terima kasih!” Bun Beng melempar golok pinjaman itu yang meluncur ke depan.

Semua orang terkejut, mengira bahwa pemuda itu melontarkan golok untuk membunuh Thai-lek-gu, akan tetapi golok itu berputaran kemudian meluncur turun menancap di atas tanah di depan pemiliknya.

Tiba-tiba terdengar suara menggereng seperti seekor beruang marah dan tanah seperti tergetar ketika seorang raksasa melompat turun di depan Bun Beng. Dengan matanya yang lebar dia memandang Bun Beng, mulut yang tertutup cambang bauk melintang galak itu bergerak-gerak dan terdengar suaranya yang kaku dan parau,

“Aku Gozan. Kau orang muda boleh juga, aku merasa terhormat mendapatkan lawan seperti engkau. Orang muda, majulah kau, mari mulai!” Baru saja menghentikan kata-katanya, raksasa itu sudah menubruk ke depan, kedua lengannya yang panjang itu menyambar dari kanan dan kiri pinggang Bun Beng.

Pemuda ini mengerti bahwa lawannya memiliki tenaga yang sangat hebat, hal ini diketahuinya dari angin sambaran kedua lengan itu. Akan tetapi karena dia memang ingin sekali mencoba sampai di mana kehebatan lawan yang menurut Si Muka Pucat tadi adalah jago nomor satu di Mongol, ahli silat dan ahli gulat, maka dia sengaja bergerak lambat dan membiarkan pinggangnya ditangkap. Namun alangkah kagetnya ketika tahu-tahu tubuhnya terangkat ke atas dan usahanya memperberat tubuhnya sama sekali tidak terasa oleh Si Raksasa itu yang mengangkat tubuhnya ke atas, memutar-mutar tubuhnya sambil tertawa-tawa!

“Kiranya tenagamu tidak seberapa hebat, orang muda. Nah, sekarang pergilah kau!” Sambil berkata demikian, Gozan jagoan dari Mongol itu mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan melemparkan tubuh Bun Beng ke depan.

Tanpa dapat dilawan pemuda ini, tenaga dahsyat mendorongnya dan membuat tubuhnya meluncur jauh ke depan, seolah-olah tubuhnya menjadi sebuah peluru yang terbang dengan cepatnya. Namun Bun Beng dapat menguasai dirinya. Dengan ilmu ginkang-nya dia berjungkir-balik di tengah udara dan tubuhnya kini membalik dengan tenaga lontaran masih mendorongnya sehingga tubuhnya meluncur kembali ke arah lawannya! Tentu saja Gozan menjadi terkejut dan terheran melihat pemuda lawannya itu tahu-tahu telah berkelebat datang dan berdiri di depannya kembali sambil bibirnya tersenyum-senyum mengejek!

“Engkau masih belum pergi juga? Kalau begitu engkau sudah bosan hidup!” Gozan membentak dan kini dia menerjang ke depan, menggerakkan dua pasang kaki dan tangannya, seperti otomatis, bergantian dan bertubi-tubi menghujankan pukulan dan tendangan ke arah tubuh Bun Beng.

Walau pun gerakan itu tidak banyak perubahannya, hanya mengandalkan kecepatan gerak yang teratur, dan mudah bagi Bun Beng menghadapinya, namun pemuda ini maklum bahwa tenaga Si Raksasa itu amat besar dan bahwa terkena sekali saja oleh pukulan atau tendangan itu, amatlah berbahaya. Maka dia mengandalkan keringanan tubuh dan kecepatannya untuk menghindar dengan loncatan ke kanan kiri dan ke belakang sampai puluhan jurus serangan sehingga akhirnya Gozan sendiri yang menjadi lelah dan napasnya terengah-engah. Tiba-tiba raksasa itu menghentikan serangannya dan memandang dengan mata merah, lehernya mengeluarkan gerengan marah dan dia berkata,

“Orang muda, apakah engkau seorang pengecut sehingga dalam pertandingan selalu menjauhkan diri? Kalau tidak berani bertanding, kau berlututlah dan mengaku kalah, kalau memang berani balaslah seranganku!”

“Begitulah kehendakmu? Nah, sambutlah ini!” Bun Beng tersenyum dan memukul ke arah dada raksasa itu, tangan kiri siap untuk merobohkan lawan yang bertubuh kuat itu.

Akan tetapi, secepat kilat Gozan menangkap lengan kanan Bun Beng dengan cara yang tak terduga-duga. Gerakan kedua tangan raksasa itu seperti gerakan dua ekor ular yang menyambar dari kanan kiri dan tahu- tahu lengan kanan Bun Beng telah ditangkapnya! Kiranya, dengan ilmu silat pukulan dan tendangan, raksasa itu sama sekali tidak berdaya mengalahkan lawan, maka kini dia kembali hendak menggunakan ilmu gulatnya! Sebelum Bun Beng tahu apa yang terjadi, kembali tubuhnya sudah terangkat ke atas, di atas kepala lawannya, kemudian dia dibanting ke bawah dengan tenaga yang dahsyat! Karena tadi lemparannya tidak berhasil, kini Gozan mengganti siasatnya, tidak melemparkan tubuh lawan, melainkan membantingnya ke atas tanah.

“Wuuuttt… brukkk… ngekkk!”

Semua orang terbelalak kaget dan heran, terutama sekali Si Kurus Pucat yang menjadi pemimpin ketika menyaksikan peristiwa yang aneh dan hebat itu. Terbelalak dia memandang jagoannya, Gozan Si Raksasa tinggi besar tadi kini terkapar di depan kaki Bun Beng dalam keadaan pingsan! Jelas semua orang melihat tadi betapa tubuh pemuda itu telah diangkat dan dibanting, akan tetapi mengapa tiba-tiba keadaannya terbalik, bukan tubuh Bun Beng yang terbanting melainkan tubuh Si Raksasa itu sendiri?

Kiranya Bun Beng sudah bergerak cepat sekali. Ketika tubuhnya dibanting dan lengan kanannya dicengkeram, dia menggunakan tangan kirinya menotok tengkuk lawan dan seketika tubuh raksasa itu menjadi lemas. Dengan gerakan indah sekali, namun cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata, Bun Beng yang masih terdorong oleh tenaga bantingan membalikkan tubuh sehingga kakinya yang lebih dulu tiba di atas tanah, sedangkan dia menggerakkan kedua tangan yang kini memegang pangkal lengan raksasa itu, menggunakan sisa tenaga bantingan lawan untuk mengangkat tubuh lawan dan membantingnya, ditambah dengan tenaga sinkang-nya sendiri. Dalam keadaan tertotok, Gozan tidak mampu mempertahankan diri dan berat tubuhnya membuat bantingan itu makin hebat akibatnya sehingga dia pingsan seketika!

“Wirr… siuuuuttt…!”

Bun Beng cepat merendahkan tubuh, kaget sekali melihat senjata yang menyambar. Kiranya Si Muka Pucat yang kurus tadi telah menyerangnya dan senjata di tangan orang ini benar-benar amat luar biasa. Pimpinan orang-orang gagah itu memegang gagang pancing, lengkap dengan tali dan mata kailnya! Bagi yang mengenal Liong Khek, Si Kurus muka pucat ini tentu tidak akan heran karena dia memang berasal dari keluarga nelayan. Mungkin mengingat akan asal-usulnya ini, ditambah lagi bahwa senjata istimewa ini amat hebat dan jarang dikenal lawan, maka dia memilihnya sebagai senjatanya.

“Orang muda, engkau benar hebat, akan tetapi jangan harap akan dapat keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!” Liong Khek berseru dan menerjang maju dengan senjatanya yang aneh.

Bun Beng merasa heran juga melihat senjata itu. Selama hidupnya belum pernah dia melihat seorang ahli silat bersenjata pancing, bahkan mendengar pun belum pernah. Oleh karena itu, dia menyabarkan diri dan ingin sekali melihat bagaimana lawannya mempergunakan senjata istimewa itu.

“Singgg… siuuuttt…!”

Kembali sinar kecil itu menyambar. Bun Beng cepat mengelak dan mengulur tangan berusaha menangkap tali pancing itu. Tetapi dengan gerakan pergelangan tangannya, Liong Khek Si Kurus itu telah menarik kembali tali pancingnya, kemudian meloncat maju dan sekarang menggunakan gagang pancingnya sebagai senjata tongkat untuk menusuk lambung Bun Beng.

Pemuda ini mengelak sambil menangkis dengan lengannya, dengan hati-hati dan penuh perhatian menghadapi lawan. Dia kagum sekali. Kiranya senjata itu benar-benar hebat dan berbahaya sekali. Gagangnya dapat dimainkan sebagai tongkat dan mata kail yang terbuat dari baja dan amat runcing melengkung itu kadang-kadang menyambar ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan setiap kali dapat ditarik kembali kalau talinya digerakkan atau disendal. Bahkan ada kalanya, gagang pancing menyerang dibarengi sambaran mata kail dari lain jurusan! Benar-benar senjata yang tak tersangka- sangka ini merupakan senjata yang amat berbahaya kalau dimainkan semahir Liong Khek memainkannya.

Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan tampaklah selosin orang berpakaian tentara memasuki markas itu. Mereka adalah utusan Koksu dan begitu melihat Liong Khek bertanding melawan seorang pemuda, komandan pasukan bertanya-tanya. Ketika mendengar bahwa pemuda itu diduga keras seorang mata-mata, komandan pasukan berkata marah.

“Kalau dia mata-mata, mengapa tidak dibunuh saja? Hayo serbu!”

Selosin orang tentara itu sudah meloncat turun dari atas kuda, dan kini bersama orang-orang gagah yang berada di situ, mereka lari menghampiri untuk mengeroyok Bun Beng.

Pemuda ini tertawa melengking, mengerahkan khikang sehingga para pengeroyok itu terbelalak kaget, kaki mereka menggigil dan sejenak mereka tidak dapat bergerak. Juga Liong Khek terkejut sekali ketika suara lengkingan dahsyat itu membuat tubuhnya tergetar. Sebelum ia dapat memulihkan kembali ketenangannya tahu-tahu sebuah tendangan mengenai pahanya, membuat tubuhnya terlempar dan senjata pancingnya telah dirampas pemuda yang luar biasa itu! Ketika terbanting jatuh, maklumlah Liong Khek ternyata bahwa pemuda itu tadi hanya main-main saja dan bahwa sesungguhnya pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi!

Bun Beng mencelat ke dekat pagar, mengayun tubuh ke atas dan mengambil buntalan pakaian dan topinya yang tadi ditaruhnya di atas pagar agar jangan mengganggu gerakannya. Dia menaruh topi berbentuk caping petani yang lebar itu, menalikan tali caping di leher, kemudian menalikan buntalan pakaiannya di depan dada sehingga buntalan itu tergantung ke belakang bahu kanannya. Semua ini dikerjakan selagi tubuhnya di atas pagar.

Para pengeroyoknya sudah lari mengejarnya dan kini beberapa orang sudah melayang naik ke atas pagar sambil menyerangnya.

“Wuuuttt… wirrrrrr…!” Dua orang menjerit dan jatuh dari atas pagar ketika pancing di tangan Bun Beng bergerak menyambar dan melukai hidung dan pipi dua orang itu!

Timbul kegembiraan Bun Beng dengan senjata rampasan yang baru ini. Dia tadinya hendak melompat ke luar dari tempat itu dan lari, akan tetapi melihat hasil sambaran senjata pancing itu, dia ingin mencoba lagi dan kini dia malah melompat turun ke sebelah dalam markas! Tentu saja dia disambut pengeroyokan puluhan orang itu, termasuk pasukan tentara yang baru tiba.

“Heii, apakah kalian ini anjing-anjing Koksu?” Bun Beng berteriak sambil melompat ke kiri dan menggerakkan gagang pancing dengan pergelangan tangannya.

Kembali dua orang yang menyerbunya roboh terpelanting!

“Kami adalah pengawal-pengawal, utusan pribadi Koksu. Menyerahlah orang muda!” bentak Si Komandan pasukan yang mengira bahwa sebagai seorang kang-ouw, tentu pemuda itu akan gentar dan tunduk kalau mendengar nama Koksu.

Akan tetapi pemuda itu malah tertawa bergelak. “Kalau kalian anjing-anjing pengawal dari Koksu, aku belum meninggalkan tempat ini sebelum menghajar kalian!”

Kini Bun Beng mengamuk dan serangan-serangannya ditujukan kepada pasukan itu. Mendengar bahwa pasukan itu adalah utusan pribadi Koksu, sudah timbul rasa tidak senangnya. Empat orang anggota pasukan segera roboh pingsan terkena tamparan tangannya, sedangkan dua orang lagi masih mengaduh- aduh karena muka mereka robek terkait mata kail yang runcing. Namun, orang-orang gagah yang dipimpin oleh Liong Khek merasa marah dan merasa terhina bahwa di depan utusan-utusan Koksu, mereka tidak mampu menangkap seorang pengacau yang masih muda. Mereka berteriak-teriak dan mengepung Bun Beng.

Pemuda ini menjadi kewalahan juga menghadapi demikian banyaknya pengeroyok. Dia tertawa dan tiba- tiba tubuhnya mencelat ke atas dan hinggap di atas atap kandang kuda, senjata pancingnya terayun-ayun di tangan kiri. Dia melihat-lihat ke bawah, hendak memilih kuda yang terbaik yang terkumpul di situ.

Perwira yang memimpin pasukan tadi tahu akan niat pemuda pengacau itu. “Kepung, jangan biarkan dia lolos dengan mencuri kuda!” teriaknya sambil berlari cepat diikuti sisa anak buahnya ke bawah atap di mana Bun Beng berdiri. Komandan itu menggerakkan senjata tombak panjangnya menusuk ke atap.

“Crappp!” Tombak bercabang itu menembus atap, akan tetapi dengan mudah saja Bun Beng mengelak, bahkan kini dia menggerakkan pancingnya ke bawah.

“Auuwww… aduuuhhh…!”

Mata kail yang runcing melengkung itu telah berhasil mengait pinggul seorang anak buah pasukan, sekali tangan kiri Bun Beng bergerak, tubuh orang yang terpancing itu terangkat naik ke atap. Pada saat itu, komandan pasukan dan seorang anak buahnya, dengan kemarahan meluap menusukkan tombak mereka dari bawah mengarah tubuh Bun Beng.

“Crepp! Creppp!”

Dua batang tombak panjang itu menembus atap, akan tetapi dengan gerakan ringan dan mudah sekali Bun Beng meloncat menghindar kemudian turun dengan kedua kaki, menginjak ujung dua batang tombak yang menembus atap itu! Gagang pancingnya dia gerakkan berputar sehingga tubuh tentara itu pun terbawa berputaran, kemudian sambil tertawa Bun Beng melemparkan pancingnya ke arah Si Komandan pasukan. Karena lontaran ini cepat dan kuat sekali, Si Komandan tidak sempat mengelak sehingga dia tertimpa tubuh anak buahnya sendiri dan roboh terguling-guling.

Sebelum komandan itu sempat bangun dan dalam keadaan masih nanar karena kepalanya terbentur keras, tiba-tiba dia merasa pundaknya dicengkeram dan tahu-tahu pemuda yang dikeroyoknya tadi telah berada di dekatnya, tangan kiri mencengkeram pundak dan tangan kanan menodongnya dengan sebatang tombak, yaitu tombaknya sendiri!

“Mundur kalian semua, kalau tidak, kubunuh perwira ini!” Bun Beng membentak sambil menempelkan ujung tombak yang runcing itu ke perut Si Komandan yang menjadi ketakutan, bermuka pucat dan menggigil.

Melihat hal ini, Si Muka pucat segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mundur. Tentu saja keselamatan komandan pasukan yang menjadi utusan Koksu lebih penting, dan kini dia yakin bahwa pemuda yang mengacau itu benar-benar seorang yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, terlampau tinggi untuk mereka tandingi dan kalau mereka melanjutkan pertandingan dan pengeroyokan dengan jalan kekerasan, akibatnya akan berbahaya sekali.

“Mundur… hentikan pertandingan!” teriak Si Kurus dengan suara nyaring, kemudian dia melangkah maju menghadapi Bun Beng, menjura dan berkata,

“Orang muda she Gak! Engkau tadi mengaku bukan mata-mata dan tidak memusuhi kami, mengapa engkau membikin kacau dan menangkap seorang panglima dari kota raja?”

Bun Beng membelalakkan matanya lalu tertawa bergelak, nadanya mengejek, “Ha-ha-ha! Kalau ada maling teriak maling, hal itu amat lucu dan dapat dimengerti karena Si Maling ingin menyelamatkan diri. Namun kalau ada pemberontak teriak pemberontak, hal ini sudah tidak lucu lagi, malah menyebalkan! Aku bukan seorang penjilat Kaisar, juga bukan seorang pemberontak. Bukan aku yang mengacau di sini, melainkan kalian sendiri yang memaksaku bertanding!”

Si Kurus bermuka pucat itu kembali menjura. “Jika begitu, kami menerima salah, harap engkau suka membebaskan panglima yang menjadi tamu kami.”

“Panglima ini harganya tentu lebih mahal dari seekor kuda,” kata pula Bun Beng. “Seekor kuda…?” Si Kurus memandang tajam.
“Ya, seekor kuda yang paling baik di antara semua kuda di sini.”

Mengertilah Si Kurus. Dia lalu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk segera mengeluarkan kuda tunggangannya sendiri, seekor kuda berbulu putih yang benar-benar bagus dan kuat, merupakan kuda pilihan.

“Nah, ini kudaku sendiri, pakailah kalau engkau memerlukannya,” katanya.

Bun Beng tertawa, melepaskan Si Perwira dan sekali meloncat dia telah berada di atas punggung kuda. Dia sengaja berbuat demikian, karena dia ingin melihat sikap mereka itu. Begitu melihat perwira itu dilepaskan, terjadi gerakan-gerakan seolah-olah mereka hendak maju lagi menerjang Bun Beng yang bersikap tenang di atas punggung kudanya. Akan tetapi Si Kurus bermuka pucat mengangkat tangan kanan ke atas dan membentak,

“Jangan bergerak! Biarkan Gak-kongcu lewat dan keluar dari sini tanpa gangguan!”

Bun Beng melarikan kudanya dan menoleh ke arah Si Kurus sambil berkata, “Terima kasih. Pemberontak atau bukan, engkau masih mempunyai sifat kegagahan!” Kudanya lari terus keluar dari pintu pagar tanpa ada yang merintanginya, dan pemuda ini melanjutkan perjalanan menuju ke selatan, ke kota raja…..

********************

“Haiiiiii…! Maharya pendeta palsu tukang tipu! Hayo keluar kau jangan sembunyi saja! Terimalah jawaban teka-tekimu. Hayo keluar, jika tidak, kucabut nanti bulu jenggotmu!”

Yang berteriak-teriak ini adalah Bu-tek Siauw-jin, kakek pendek cebol yang keluar dari tempat tahanannya bersama Kwi Hong. Dara jelita ini bersikap tenang, berjalan di samping gurunya. Dia tidak pedulikan gurunya yang berteriak-teriak karena dia sudah maklum akan watak dan sifat gurunya yang aneh dan tidak lumrah manusia. Dia sendiri tentu saja tidak khawatir keluar dari tempat tahanan, apa lagi bersama gurunya yang sakti, sungguh pun dia maklum bahwa keadaan mereka amat berbahaya karena mereka berada di tempat kediaman Koksu, berada di dalam sarang harimau.

Ada beberapa orang penjaga yang bingung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, berlagak hendak mencegah dua orang tahanan ini keluar. Yang berani menghadang hanya empat orang penjaga. Mereka melintangkan tombak menghadang dan berkata,

“Tanpa perkenan Koksu kalian tidak boleh keluar…!” Empat kali Kwi Hong menggerakkan tubuhnya, dan….
“Krekkk! Plakkk!” Empat kali terdengar suara dan empat batang tombak patah-patah disusul tubuh empat orang penjaga itu terlempar ke kanan kiri!

Ada pun kakek cebol itu masih berteriak-teriak memanggil nama Maharya, seolah-olah tidak melihat muridnya merobohkan empat orang penghalang tadi. “Maharya pendeta palsu! Di mana engkau? Koksu, suruh pembantumu Si Pendeta konyol itu keluar…!”

“Ser-serr-serrr…!”

Tampak sinar menyambar dari kanan kiri dan depan. Dengan tenang sekali Kwi Hong menggerak- gerakkan kedua lengan bajunya seperti yang dilakukan oleh gurunya dan belasan batang anak panah yang menyambar ke arah mereka itu runtuh ke bawah.

“Ha-ha! Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, beginikah seorang Koksu negara menghadapi tamu?” Bu-tek Siauw-jin tertawa mengejek, sedangkan Kwi Hong memandang ke depan dan kanan kiri dengan alis berkerut marah.

Daun pintu besar yang menembus ruangan belakang gedung Koksu tiba-tiba terbuka dan muncullah Bhong-koksu bersama Maharya beserta belasan orang panglima yang menjadi kaki tangan dan sekutu Koksu itu, diiringkan pula oleh sepasukan tentara yang berjumlah lima puluh orang lebih bersenjata lengkap!

“Heh-heh-heh, Siauw-jin. Engkau adalah seorang hukuman, tanpa ijin Koksu berani membobol penjara dan merobohkan penjaga. Sungguh tidak tahu aturan!” Maharya berkata sambil tertawa mengejek.

Bu-tek Siauw-jin memandang dengan mata melotot. “Siapa jadi orang hukuman? Kami menjadi tamu! Dan teka-tekimu yang palsu itu mudah saja menjawabnya! Maharya, lekas kau ambil pisau penyembelih babi, lekas!”

Karena nada suara kakek cebol itu mendesak dan disertai pengerahan tenaga sinkang, maka mempunyai wibawa yang kuat sekali sehingga Maharya yang menjadi ahli sihir itu pun sampai terpengaruh dan otomatis bertanya heran, “Pisau penyembelih babi? Untuk apa?”

“Ha-ha-ha-ha! Untuk memotong ujung hidungmu yang terlalu panjang itu! Bukankah sudah begitu perjanjian antara kita? Kalau aku bisa menjawab teka-tekimu, engkau harus memotong ujung hidungmu, kemudian engkau, Koksu dan pendeta Tibet… eh, mana Si Gendut itu, mengapa tidak ikut pula menyongsongku? Dan jangan lupa, Pulau Es dan Pulau Neraka juga harus dibangun kembali!”

“Siauw-jin, kematian sudah berada di depan mata, engkau masih berani bersombong. Orang macam engkau tak mungkin dapat menjawab pertanyaanku itu…”

“Apa? Pertanyaan licik yang penuh akal bulus dan palsu itu siapa yang tidak dapat menjawabnya? Dengar baik-baik, Maharya. Aku Sejati yang kau tanyakan itu adalah Aku Sejati yang palsu, khayalan pikiranmu sendiri yang kotor itu, yang hanya meniru-niru dari orang lain yang sebetulnya juga tidak tahu apa-apa. Semua itu palsu, sepalsu hati dan pikiranmu, Maharya!”

“Ihhh, engkau gila…!” Maharya membentak dengan muka merah.

“Paman guru, perlu apa buang waktu melayani orang gila ini?” Tiba-tiba Koksu berkata sambil mencabut pedang dengan tangan kanan dan mengeluarkan cambuk merah dengan tangan kiri, kemudian mengangkat cambuk ke atas sebagai aba-aba. Para panglima melihat ini, lalu mencabut senjata mereka dan semua anak buah pasukan tentara pengawal juga siap dengan senjata masing-masing.

“Suhu, teecu rasa tidak perlu lagi melayani mereka ini!” Kwi Hong juga berkata dan tampaklah sinar berkilat mengerikan ketika dara itu sudah mencabut keluar pedang Li-mo-kiam!

“Serbu…!” Bhong-koksu mengeluarkan aba-aba dan menyerbulah pasukan pengawal dipimpin oleh belasan orang panglima itu.

Memang Koksu telah siap untuk mengeroyok Bu-tek Siauw-jin dan karena dia tahu betapa lihainya kakek itu bersama muridnya yang memegang pedang mukjizat, maka dia sendiri pun telah mengeluarkan pedangnya, sebatang pedang pusaka yang jarang dia pergunakan karena biasanya, dengan sebatang pecut merahnya saja Koksu ini sudah sukar menemukan tanding.

“Ha-ha-ha, pendeta palsu, Koksu pengecut!” Bu-tek Siauw-jin tertawa-tawa ketika melihat pasukan pengawal itu menyerbu.

Namun Kwi Hong tidak seperti gurunya. Dara ini sudah berkelebat ke depan didahului sinar pedangnya yang menyilaukan mata. Para pengawal yang belum mengenal dara dan pedangnya yang mukjizat itu menerjang dengan senjata tombak, golok atau pedang.

“Singgg… trang-trang-krek-krek-krekkk…!”

Tombak, golok dan pedang beterbangan di udara dalam keadaan patah-patah, disusul pekik kaget dan kesakitan, pekik kematian dari mulut lima orang pengawal yang tak dapat menghindarkan diri dari sambaran sinar pedang Li-mo-kiam!

Melihat ini terkejutlah semua anak buah pasukan. Mereka mengurung dan mengeroyok lebih hati-hati, dipimpin oleh belasan orang panglima yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula. Karena maklum bahwa dia sama sekali tidak boleh memandang ringan pengeroyok yang jumlahnya amat banyak itu, Kwi Hong tidak bertindak sembrono, dan hanya berdiri di tengah-tengah, pedang melintang depan dada, tidak bergerak dan hanya sepasang matanya yang indah itu saja yang bergerak, mengerling ke kanan kiri menanti gerakan lawan.

Dua belas orang panglima yang menjadi kaki tangan Bhong-koksu, yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, dengan hati-hati mengurung Kwi Hong dan di belakang mereka bergerak, siap siaga dengan pengurungan yang amat nekat.

Tiba-tiba terdengar seorang panglima tertua mengeluarkan seruan sebagai aba-aba. Puluhan anak buah mereka bersama dua belas orang panglima itu serentak menerjang Kwi Hong, dibantu oleh anak buah mereka dari belakang. Kembali tubuh Kwi Hong berkelebat dan lenyap bersembunyi di balik sinar pedang yang amat menyilaukan mata, seperti kilat menyambar-nyambar. Dia berhasil mematahkan beberapa batang senjata lawan, namun karena dua belas orang panglima itu memang sudah maklum akan keampuhan pedang di tangan gadis itu, mereka bersikap hati-hati dan tidak mau mengadu senjata sehingga yang menjadi korban hanya senjata para pengawal yang berani menyerang terlalu dekat.

Betapa pun juga, Kwi Hong tidak dapat mencurahkan perhatian untuk merobohkan lawan di depan karena dia dikepung ketat dan senjata-senjata lawan datang bagaikan hujan di sekeliling tubuhnya, sedangkan tangan yang menggerakkan senjata-senjata itu pun tangan terlatih dan cukup kuat dan cepat.

Sementara itu Maharya yang bersenjata sebatang tombak bulan sabit, senjata barunya setelah dia meninggalkan senjatanya yang dahulu berupa ular putih hidup dan sarung tangan emas, sudah menerjang maju melawan Bu-tek Siauw-jin dibantu oleh Koksu yang bersenjatakan pedang di tangan kanan dan cambuk di tangan kiri.

“Ha-ha-ha, kalian ini tiada lebih hanyalah tukang-tukang keroyok yang menjijikkan!” Bu-tek Siauw-jin tertawa mengejek, akan tetapi dia harus cepat-cepat menghindar dan mengebutkan lengan bajunya karena ujung tombak bulan sabit itu telah menyambar ganas ke arah lehernya, disusul tusukan pedang Bhong- koksu ke arah ulu hatinya dan sambaran cambuk ke arah ubun-ubun kepalanya.

“Tarrrrr…!” Sambaran cambuk yang datang terakhir itu tidak dielakkan dan ditangkis, melainkan diterima begitu saja oleh ubun-ubun kepalanya, akan tetapi akibatnya, ujung cambuk itu membalik dan telapak tangan Bhong-koksu lecet-lecet!

“Serang lima tempat dari mata ke bawah!” Maharya berseru, dan kini Bhong-koksu menerjang lagi membantu paman gurunya, menujukan serangan-serangannya ke arah kedua mata, tenggorokan, pusar, dan bawah pusar!

“Heh-heh-heh, Maharya pendeta palsu, dukun lepus! Mari-mari kita main-main sebentar!” Setelah berkata demikian, kakek pendek itu membalas dengan pukulan-pukulan jarak jauh.

Dua telapak tangannya mengeluarkan hawa pukulan yang amat kuat, kadang-kadang mengandung hawa panas, kadang-kadang dingin sehingga Maharya mau pun Bhong-koksu berlaku hati-hati dan tidak berani menghadapi langsung pukulan-pukulan itu, melainkan mengelak sambil mengirim serangan-serangan balasan dari samping. Dalam hal ini, hanya cambuk di tangan kiri Bhong-koksu saja yang lebih berguna karena cambuk itu cukup panjang untuk mengirim serangan dari jarak jauh. Sedangkan tubuh Maharya menyambar-nyambar, menggunakan kesempatan setiap Bu-tek Siauw-jin mengelak dari sambaran cambuk, menerjang dengan tombak bulan sabitnya.

Bu-tek Siauw-jin masih tertawa-tawa dan menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong saja. Memang kakek aneh dari Pulau Neraka ini sudah puluhan tahun meninggalkan senjata, dan hal ini pun tidaklah aneh kalau diingat bahwa dengan kaki tangannya dia sudah cukup kuat menghadapi serangan lawan. Betapa pun juga, menghadapi pengeroyokan dua orang sakti seperti Maharya dan Bhong-koksu, kakek cebol ini repot juga dan biar pun mulutnya tertawa-tawa, dia harus memeras keringat untuk menghindarkan diri dari hujan serangan maut itu.

Tingkat kepandaiannya hanya lebih tinggi setingkat dari Maharya, dan mungkin tidak ada dua tingkat dari kepandaian Bhong-koksu. Untung bagi kakek cebol Pulau Neraka ini bahwa dia kebal terhadap ilmu sihir biar pun dia sendiri tidak suka mempelajari ilmu itu sehingga kekuatan ilmu sihir yang dimiliki Maharya tidak ada artinya kalau ditujukan terhadap Bu-tek Siauw-jin dan di samping ini dia menang jauh dalam hal kekuatan sinkang, maka dia dapat menahan tekanan dua orang itu dengan tenaga sinkang-nya.

Dibandingkan dengan gurunya, keadaan Kwi Hong jelas lebih payah. Dua belas orang panglima itu berkepandaian tinggi, dan andai kata hanya mereka yang mengeroyok, kiranya Kwi Hong akan mampu menandingi dan mengatasi mereka. Akan tetapi, di samping dua belas orang panglima itu, masih terdapat puluhan, bahkan kini ratusan orang tentara pengawal yang mengepungnya! Hal ini membuat dia lelah sekali setelah berhasil merobohkan tiga puluh orang lebih! Tetap saja dia masih terkepung ketat karena yang datang jauh lebih banyak dari pada yang roboh.

Sekarang enam orang panglima yang melihat betapa Kwi Hong sudah terkepung ketat, meninggalkan pimpinan pengeroyokan kepada enam orang temannya dan mereka sendiri lalu membantu Bhong-koksu menyerbu Bu-tek Siauw-jin.

“He-he-he, bagus…! Majulah semua, maju yang banyak agar lebih menggembirakan!”

Bu-tek Siauw-jin tertawa dan tiba-tiba tubuhnya roboh menelungkup ke depan, lalu berputar dan tahu-tahu kedua kakinya menendang ke belakang, inilah ilmu yang baru, Si Jangkrik menyentik atau Si Kuda menyepak yang didapatkan ketika dia mengadu jangkrik. Serangan ini amat tiba-tiba dan tidak terduga oleh Maharya dan Bhong-koksu, sehingga biar pun mereka berdua cepat menghindar, tetap saja angin tendangan kedua kaki itu menyambar ke arah muka mereka dan celakanya tapak kaki itu berlepotan tanah sehingga muka mereka terkena tanah dan lumpur!

Pada detik-detik berikutnya terdengar jerit nyaring dan dua orang panglima roboh tewas terkena tendangan kaki yang kekuatannya tidak kalah oleh sepakan lima ekor kuda itu! Andai kata Maharya atau Bhong-koksu yang terkena sepakan itu, tentu paling hebat tubuh mereka akan terlempar. Akan tetapi dua orang panglima yang tingkat sinkang-nya kalah jauh itu, begitu terkena sepakan pada dada mereka, seketika tewas dengan tulang-tulang iga remuk dan jantung tergetar pecah!

“Tar-tar-tar-tarrr…!” Cambuk panjang di tangan Bhong-koksu melecut seperti halilintar menyambar- nyambar ke arah kepala Bu-tek Siauw-jin.

“Aihhh… wuuutttt!”

Ujung cambuk itu terkena sambaran tangan Si Kakek cebol dan dicengkeramnya. Tentu saja Bhong-koksu mempertahankan senjatanya itu dan mereka bersitegang. Cambuk yang terbuat dari bahan yang ulet dan dapat mulur itu meregang dan tiba-tiba Bu-tek Siauw-jin melepaskan ujung cambuk. Terdengar suara nyaring dan ujung cambuk ini menyambar ke arah muka Bhong-koksu sendiri! Bhong-koksu kaget bukan main, melepaskan gagang cambuk dan menundukkan muka merendahkan tubuh.

“Aduhhhh…! Aduhhhh…!” Dua orang panglima pembantu yang berdiri di belakangnya berteriak dan roboh, merintih-rintih karena yang seorang kepalanya benjol besar dihantam gagang cambuk sedangkan orang kedua kulit dadanya robek disambar ujung cambuk.

Dengan kemarahan meluap Bhong-koksu sekarang menerjang maju dengan hanya menggunakan pedangnya, sedangkan Maharya juga mendesak dengan tombak bulan sabitnya.

“Kwi Hong, kau larilah!” Tiba-tiba tubuh kakek cebol itu berkelebat melewati di atas kepala Bhong-koksu dan Maharya, sambil berteriak ke arah muridnya yang terdesak hebat dan terkurung ketat. Akan tetapi, begitu tubuhnya tepat berada di atas kedua orang musuhnya terdengar suara memberobot disusul bau yang cukup membikin Bhong-koksu dan Maharya merasa muak hendak muntah!

“Tidak, Suhu. Kita hajar mampus semua anjing ini!” Kwi Hong yang tahu-tahu melihat gurunya sudah berada di sampingnya dan dengan mudah mendorong-dorong roboh beberapa orang pengeroyok, membantah.

“Hushh, musuh terlampau kuat dan banyak. Buat apa mati konyol di sini? Heran sekali pamanmu, Pendekar Siluman itu. Ke mana saja dia minggat dan kenapa membiarkan kita dikeroyok tanpa membantu? Hayo kau pergi cari pamanmu, minta bantuannya!”

“Suhu yang harus pergi!”

“Hushhh, aku masih belum kenyang main-main di sini. Pula, perutku mules ingin buang air besar. Lekas kau pergi keluar dari sini, cari pamanmu sampai dapat dan katakan, kalau dia tidak mau membantu aku, kelak aku pun tidak sudi membantunya kalau dia membutuhkan tenaga bantuan. Hayo!”

“Tapi, Suhu sendiri…”

“Ihhhhh, anak bandel! Sungguh tolol sekali aku mengapa mengambil murid engkau perawan bandel ini. Pergi, atau minta kugaplok?”

Kwi Hong maklum bahwa gurunya berwatak sinting, maka bukanlah tidak mungkin kalau dia benar-benar akan digaploknya. Dia masih penasaran melihat Bhong-koksu dan Maharya belum roboh, tetapi dia mengerti juga kalau pertandingan ini dilanjutkan, dia tentu akan kehabisan tenaga dan akhirnya akan kalah.

“Baik, Suhu. Hati-hati menjaga dirimu, Suhu!”

“Weh-weh! Kau kira aku anak kecil, ya? Pakai ditinggali pesanan segala. Pergilah, aku membuka jalan!”

Kakek itu lalu menerjang ke depan, kedua lengannya bergerak dan setiap kedua lengan dikembangkan dan didorongkan, tentu pihak pengeroyok bubar dan terhuyung ke kanan kiri, membuka jalan. Kwi Hong berkelebat ke depan, tubuhnya dilindungi sinar pedang Li-mo-kiam sehingga senjata-senjata rahasia dan anak panah yang berusaha mencegah dia lari, runtuh semua dan tak lama kemudian lenyaplah dia keluar dari tempat itu.

Kini kemarahan Bhong-koksu dilimpahkan seluruhnya kepada Bu-tek Siauw-jin. “Kakek tua bangka keparat! Kalau belum memenggal lehermu dengan pedangku, aku Im-kan Seng-jin takkan mau sudah!”

“Singg… siuuutt…!” Hampir berbareng, pedang di tangan Bhong-koksu menyambar dari kanan dan tombak bulan sabit di tangan Maharya menyambar dari kiri.

Namun, tiba-tiba tubuh cebol itu roboh ke atas tanah. Dua orang lawannya terkejut dan terpaksa menahan serangan dan bersikap waspada karena mengira bahwa si cebol itu tentu akan menggunakan jurus tendangan menyepak yang lihai tadi. Akan tetapi mereka kecele karena Si Cebol tua renta itu sama sekali tidak menendang, melainkan terus menggelundung menuju ke belakang dan keluar dari pintu memasuki taman.

“Kejar…!”

“Tangkap…!”

“Bunuh…!”

Teriakan-teriakan nyaring ini keluar dari mulut para panglima dan pengawal, namun yang berkelebat lebih dulu melakukan pengejaran adalah Bhong-koksu dan Maharya. Mereka mengejar ke dalam taman yang besar dan indah itu, akan tetapi tidak tampak bayangan Bu-tek Siauw-jin.

“Celaka, jangan-jangan dia telah berhasil melarikan diri….” Bhong-koksu berkata.

“Belum tentu, kalau dia melompat keluar dari taman tentu kita tadi melihatnya,” kata Maharya sambil mencari terus ke seluruh taman.

Para panglima dan pasukan pengawal yang ikut mengejar telah tiba di situ pula, akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang melihat bayangan kakek cebol yang lihai itu.

“Heiiii, kalian mencari apa? Aku berada di sini!”

Semua orang memandang dan kiranya kakek yang mereka cari-cari itu berada di atas pohon, duduk ongkang-ongkang di atas dahan dalam keadaan telanjang bulat, tampak pakaiannya tergantung di cabang pohon.

Tentu saja Bhong-koksu dan Maharya marah sekali dan mereka sudah berlari menghampiri pohon yang berdiri di tepi telaga di dalam taman.

“Aku gerah sekali, lelah melayani kalian. Aku mau mandi lebih dulu nanti kita lanjutkan lagi.” Setelah berkata demikian, tubuh kakek cebol itu melayang ke bawah dan terjun ke dalam air telaga.

“Byuuurrr!” Air muncrat tinggi dan sampai lama tubuh itu tenggelam. Ketika dia muncul lagi yang tampak hanya kepala sebatas dada. Kiranya telaga itu tidak dalam dan di dasarnya terdapat tanah lumpur sehingga ketika terjun tadi sebagian tubuh Bu-tek Siauw-jin terbenam ke dalam lumpur. Tentu saja muka dan kepalanya penuh lumpur ketika dia tersembul keluar sambil megap-megap!

“Siauw-jin, engkau akan mampus dalam keadaan yang lebih rendah dari pada seorang siauw-jin (manusia hina). Engkau akan mampus seperti seekor anjing yang bangkainya hanyut di air!” Maharya berseru dan kini semua orang telah mengurung telaga itu dengan senjata disiapkan.

Bu-tek Siauw-jin yang gelagapan tadi kini sudah mencuci kepala dan mukanya dengan air. Air telaga itu jernih sekali, dan di situ terdapat banyak ikan emas peliharaan Koksu. Sambil menyembur-nyemburkan air dari mulut dan menggosok kedua matanya, Bu-tek Siauw-jin memandang kepada Koksu dan Maharya, terkekeh gembira mempermainkan dan mengejek.

“Ha-ha-ha, sejak jaman dahulu, belum pernah kerajaan memiliki seorang Koksu segagah Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, mengerahkan pasukan pengawal dan anjing peliharaan Maharya pendeta palsu untuk mengeroyok seekor anjing yang sedang mandi! Eh, Bhong-koksu dan Maharya, tahukah engkau mengapa aku harus mandi dulu?”

Maharya yang sudah banyak pengalamannya dan maklum akan kelihaian kakek cebol itu menahan gejolak kemarahan hatinya. Maka dia pun tersenyum lebar, sungguh pun senyumnya agak pahit, kemudian berkata, “Tentu saja aku tahu, Siauw-jin. Memang tepat sekali kalau engkau mandi lebih dulu agar tubuhmu bersih, karena setelah mati tidak akan ada yang sudi membersihkan mayatmu. Biarlah engkau mati dalam keadaan bersih tubuhmu, kami sabar menantimu di sini.”

Jawaban itu dikeluarkan dengan suara yang halus dan ramah, namun sebetulnya merupakan ejekan yang menyakitkan hati.

“Bukan! Bukan begitu! Jawabanmu ngawur dan memang sejak dahulu aku tahu engkau seorang manusia tolol dan berkedok pendeta biar dianggap suci dan pintar, Maharya! Akan tetapi engkau tidak bisa mengelabui aku! Engkau bertapa di puncak gunung-gunung bukan untuk membersihkan batin melainkan untuk memupuk ilmu agar dapat kau pergunakan untuk merebut kemuliaan di dunia ramai! Engkau memakai cawat dan pakaian sederhana, makan seadanya, memamerkan hidup sederhana, bukan untuk mempertajam pandang mata batin melainkan kau pakai untuk kedok agar lebih mudah engkau menipu orang, seperti seekor serigala berkedok bulu domba. Mau tahu mengapa aku mandi? Karena sudah terlalu lama aku bertanding dengan kalian, dan terlalu banyak kotoran kalian mengotori tubuhku. Maka itu harus membersihkan dulu tubuhku agar tidak sampai keracunan oleh kotoran dari kalian tadi, ha-ha-ha!”

Bhong-koksu marah bukan main. Dia melambaikan tangan kiri memberi aba-aba dan mulailah para panglima dan anak buah mereka menyerang kakek cebol yang sedang mandi itu dengan senjata rahasia. Beterbanganlah anak panah, piauw (pisau terbang), peluru besi, paku dan lain-lain ke arah tubuh Bu-tek Siauw-jin. Sambil tertawa kakek itu mengelak ke kanan kiri kemudian tenggelam.

Karena pergerakannya, tentu saja air menjadi keruh dan tubuhnya tidak tampak. Tahu-tahu dia telah muncul jauh dari tempat sasaran dan kedua tangannya digerak-gerakkan menyambit ke daratan. Berhamburanlah air keruh, lumpur dan batu-batu kecil ke arah para pengurungnya! Bahkan ada dua buah benda kekuningan menyambar ke arah muka Koksu dan Maharya. Dua orang ini cepat mengelak dan dua buah benda itu dengan tepat mengenai muka dua orang panglima yang berada di belakang Koksu dan Maharya.

“Plok! Plok! Uuhhhgg… hak… haek-haek…!”

Dua orang panglima itu muntah-muntah karena dua ‘benda’ yang mengenai mulut dan hidung mereka itu adalah tahi (kotoran manusia) yang lembek, lunak dan masih hangat! Kiranya kakek cebol itu bukan hanya mandi, melainkan juga membuang air besar! Kiranya dia tadi tidak membohong ketika menyuruh muridnya pergi dan dia ingin membuang air besar lebih dulu. Pantas saja dia merendam tubuh bertelanjang bulat dan ketika ia membuang air besar diam-diam ditampungnya kotoran dengan tangan dan kini dipergunakan untuk membalas serangan senjata rahasia lawan dengan ‘senjata rahasia’ yang luar biasa itu!

“Ha-ha-ha-ha, benar-benar anjing yang suka makan tahi!” Bu-tek Siauw-jin tertawa bergelak, akan tetapi terpaksa harus slulup (menyelam) kembali karena dari pihak pengurungnya telah datang anak panah seperti hujan menyerang dirinya.

Terjadilah main kucing-kucingan antara kakek cebol dan para pengurungnya. Kalau dihujani serangan, dia menyelam, lalu timbul di lain bagian sambil membalas dengan sambitan batu-batu dan lumpur. Agaknya permainan ini mendatangkan kegembiraan besar di hati Bu-tek Siauw-jin, apa lagi ketika dia berhasil mengotori pakaian Koksu dan sorban di kepala Maharya dengan lumpur, membuat dua orang sakti itu memaki-maki dan menyumpah-nyumpah. Kakek cebol tertawa bergelak, mengejek ke kanan kiri sambil menjulurkan lidah.

“Ambil minyak! Kita bakar permukaan telaga!” Tiba-tiba Bhong-koksu mengeluarkan perintah.

Perintahnya ini hanya gertakan saja, akan tetapi cukup membuat Bu-tek Siauw-jin terkejut dan khawatir. “Wah, itu licik sekali namanya! Biar kulawan kalian lagi di atas daratan kalau begitu!”

Akan tetapi Bhong-koksu, Maharya dan para panglima beserta anak buah mereka telah menanti di tepi telaga, membuat kakek itu sukar mendarat dan terpaksa ke tengah telaga kembali sambil memaki-maki.

“Kalian cacing-cacing busuk, pengecut licik, tak tahu malu, ya?” “Singgg… cuppp…! Wirrrr!”
Maharya dan Bhong-koksu terbelalak memandang gagang pedang yang tergetar di atas tanah di depan mereka itu, sebatang pedang yang tadi meluncur dari atas lalu menancap di atas tanah di depan mereka. Pada detik berikutnya, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan mereka, dekat pedang di atas tanah tadi, telah berdiri seorang wanita bertubuh tinggi langsing dan mukanya berkerudung, Ketua Thian- liong-pang!

“Pa… paduka…?” Bhong-koksu berseru, lupa diri dan menyebut paduka kepada Ketua Thian-liong-pang yang dikenalnya sebagai puteri kaisar, Nirahai.

“Aihhh, Ketua Thian-liong-pang hendak memberontak?” Maharya juga berseru.

“Bhong Ji Kun manusia rendah budi, pengkhianat dan pemberontak hina! Engkaulah yang hendak mengkhianati kaisar, hendak memberontak dan bersekutu dengan orang-orang Mongol dan Tibet dibantu orang-orang Nepal, hendak menjatuhkan kaisar dan diperalat Pangeran Yauw Ki Ong yang hendak merebut tahta kerajaan. Berlututlah engkau pengkhianat busuk agar kutangkap dan kuhadapkan kaisar!” Ketua Thian-liong-pang atau Puteri Nirahai itu membentak dengan suaranya yang nyaring.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo