September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 16

 

Marahlah para anak buah Thian-liong-pang yang delapan orang banyaknya itu melihat wanita kepercayaan Ketua mereka roboh. Cepat mereka mencabut senjata dan menerjang maju, mengeroyok pemuda lihai itu. Tang Wi Siang juga sudah meloncat bangun dan mencabut pedangnya, mainkan ilmu Pedang Bu-tong Kiam-sut yang sudah disempurnakan oleh Ketuanya. Wan Keng In dikeroyok oleh sembilan orang yang semuanya bersenjata!

Namun pemuda itu sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan dia tersenyum, senyum yang membuat wajahnya makin menarik dan tampan. Dia tidak mengeluarkan senjata sama sekali, hanya meloncat ke sana-sini sambil berkata,

“Hemmm, Bibi yang cantik, engkau agaknya yang menjadi pimpinan rombongan ini. Baiklah, aku akan membiarkan kalian menghadap Ketua kalian dan katakan bahwa aku akan menyembuhkan kalian kalau puterinya dijodohkan dengan aku. Kalau tidak, kalian akan tewas dan seluruh anggota Thian-liong-pang akan kubasmi, kecuali puteri Ketua yang harus menjadi isteriku, mau atau tidak!”

Tentu saja kata-katanya itu membuat Tang Wi Siang dan teman-temannya menjadi amat marah, dan mereka tidak dapat menjawab saking marahnya, hanya mempercepat gerakan mereka menyerang dengan pergerahan tenaga sekuatnya. Ingin mereka mencincang hancur tubuh pemuda yang begitu kurang ajar, hendak memaksa nona mereka menjadi isterinya dan mengancam akan membasmi seluruh anggota Thian-liong-pang kalau kehendaknya tidak dipenuhi! Mana di dunia ini ada kesombongan dan kekurang ajaran yang sehebat itu?

Akan tetapi, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara tertawa seperti ringkik kuda dan tiga orang yang menyerang paling dekat dengannya tiba-tiba menjadi lemas sehingga mereka tidak mampu mengelak atau menangkis lagi ketika tangan kiri pemuda itu menepuk punggung mereka, seorang sekali.

“Plak! Plak! Plak!” Tiga orang itu roboh terjungkal dan batuk-batuk, dari mulut mereka keluar darah merah.

Tang Wi Siang marah sekali, menggerakkan pedangnya dan menyerbu ke arah perut pemuda itu sambil menggerakkan tangan kiri untuk memukul dengan mengerahkan tenaga Touw-sim-ciang ke arah dada kiri Wan Keng In.

Pemuda itu mengelak sedikit untuk menghindarkan tusukan pedang, akan tetapi dia agaknya tidak tahu akan datangnya pukulan tangan kiri Wi Siang yang ampuh itu. Tang Wi Siang merasa girang sekali karena pukulannya mengenai sasaran yang tepat dan betapa pun lihainya pemuda itu, pukulannya yang menembus jantung itu tentu akan merobohkahnya, atau sedikitnya melukai isi dadanya.

“Plakkk!”

Betapa kaget hati Wi Siang ketika telapak tangannya melekat pada dada kiri pemuda itu yang agaknya sama sekali tidak merasakan apa-apa dan bahkan kini tangan kanan pemuda itu telah mencengkeram pergelangan tangannya yang memegang pedang dan sekali memutar tubuhnya terbawa membalik dan sebuah tepukan pada punggungnya membuat Tang Wi Siang terguling, kepalanya terasa pening, tenggorokannya gatal membuat dia terbatuk-batuk dan muntahkan darah merah!

Cepat sekali Wan Keng In bergerak, tubuhnya seperti lenyap dan beruntun ia telah menepuk punggung lima orang gadis pelayan pembantu Tang Wi Siang sehingga mereka ini hampir tidak tahu apa yang membuat mereka roboh terguling, dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Sembilan orang itu, termasuk Tang Wi Siang yang amat lihai, telah roboh dan terluka oleh Wan Keng In dalam waktu beberapa menit saja!

Kalau Tang Wi Siang tidak terkena pancingannya, tidak mengira bahwa pukulan Touw-sim-ciang sama sekali tidak dapat menembus kekebalan tubuh Wan Keng In dan kalau wanita itu menggunakan ilmu silatnya untuk mempertahankan diri, kiranya biar pun akhirnya dia akan roboh juga, namun sedikitnya pemuda itu harus menggunakan waktu yang lebih lama. Namun pemuda itu cerdik sekali dan dia sudah tahu akan kelihaian Tang Wi Siang, maka ia sengaja membiarkan dirinya terpukul untuk dapat merobohkan wanita itu dalam waktu yang lebih cepat.

“Bibi yang cantik, katakanlah kepada Ketuamu bahwa kalau dalam waktu sebulan dia tidak menerima pinanganku dan tidak mengumumkan bahwa puterinya telah menjadi tunangan Wan Keng In dari Pulau Neraka, kalian akan mati dan aku akan datang sendiri ke sana untuk mengambil calon isteriku dan membasmi Thian-liong-pang. Akan tetapi kalau dia menerima pinanganku, Thian-liong-pang akan menjadi perkumpulan yang terkuat di dunia karena bantuanku!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, bayangan pemuda itu lenyap dari dalam hutan.

Tang Wi Siang cepat meloncat bangun, menahan rasa nyeri di dalam dadanya. Ia melihat bahwa semua anak buahnya sudah dapat berdiri akan tetapi menyeringai tanda bahwa mereka pun menderita nyeri. Tahulah dia bahwa mereka semua telah terluka di sebelah dalam tubuh oleh tepukan pada punggung tadi.

“Buka bajumu!” Katanya kepada seorang anggota Thian-liong-pang pria yang tadi telah dirobohkan. Orang itu membuka bajunya, setelah diperiksa ternyata di punggungnya terdapat bekas jari yang berwarna merah!

“Hemmm, pukulan beracun, seperti yang kuduga,” kata Tang Wi Siang yang memang sudah menduga bahwa tokoh Pulau Neraka itu tentu menggunakan pukulan beracun. “Manusia sombong itu! Apa dikira Pangcu kita tidak akan dapat menyembuhkan pukulan beracun macam ini saja? Hayo, kita cepat pulang menyusul Pangcu, membuat laporan agar Pangcu dapat mengobati kita dan mencari si keparat itu untuk diberi hajaran!”

Biar pun mulutnya berkata demikian, namun di dalam hatinya Tang Wi Siang merasa gelisah dan tegang sekali karena dari pertandingan tadi saja dia sudah maklum bahwa pemuda itu benar-benar memiliki kesaktian yang amat luar biasa! Dengan perasaan tertekan sembilan orang itu melakukan perjalanan tergesa-gesa, tanpa mengeluarkan kata-kata menyusul Ketua mereka. Pikiran mereka tidak pernah terlepas dari tanda tiga buah jari merah yang menempel di punggung mereka dan tersembunyi di bawah baju masing-masing.

********************

“Hu-hu-huukkk…!” Milana tak dapat menahan kesedihan hatinya lagi ketika dia sudah berdua saja dengan Pendekar Super Sakti di atas punggung burung rajawali yang terbang tinggi menembus awan.

Mula-mula dia merasa bahagia sekali dapat duduk membonceng ayah kandungnya di atas punggung rajawali itu, hal yang sudah lama dia impi-impikan. Akan tetapi dia teringat kembali kepada ibunya, teringat akan peristiwa antara ibu dan ayahnya, akan permusuhan antara ibu dan ayahnya dan akan rahasia ibunya yang tidak diketahui ayahnya.

Bagaimana dia dapat bergembira biar pun sekarang dia sedang membonceng ayah kandungnya kalau ayahnya itu tidak mengenal dan dia tidak boleh memperkenalkan diri? Dia tidak akan memperkenalkan diri sebagai Milana, sebagai puteri Pendekar Super Sakti ini, demi menjaga rahasia ibunya. Betapa pun juga dia harus membela ibunya! Dan dia pun kini mendapat kesempatan untuk mengenal dari dekat orang macam apakah yang menjadi ayah kandungnya ini.

“Eh, Nona mengapa engkau menangis?” Tiba-tiba Suma Han bertanya kepada dara yang duduk di depannya, membelakanginya ketika ia mendengar dara itu terisak.

“Apakah setelah menjadi tawananmu, aku tak boleh menangis?” Milana bertanya tanpa menoleh.

“Hemmm… wanita dan tangis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tentu saja kau boleh menangis, akan tetapi kurasa, sebagai puteri seorang ketua perkumpulan besar macam Thian-liong-pang, sangatlah memalukan kalau harus memperlihatkan kekecilan hati dan menjadi seorang yang cengeng.”

Rasa panas membubung ke dada Milana dan dia menggigit bibir, mengusir sisa tangis yang berada di dalam dadanya. “Aku tidak cengeng! Aku tidak kecil hati!” bantahnya.

Suma Han yang duduk di belakangnya tersenyum. Ia maklum bahwa tentu puteri Ketua Thian-liong-pang ini membencinya dan menganggapnya musuh, akan tetapi semenjak tadi, dia sudah melihat perbedaan watak yang besar sekali antara Ketua Thian-liong-pang dan puterinya ini.

Gadis ini sama sekali tidak berwatak kejam, liar dan ganas seperti ibunya. Sebaliknya dara ini mempunyai watak lembut, terbukti dari isaknya dan pencelaannya kepada ibunya ketika berada di hutan tadi. Kini, kembali tampak sifat halusnya dengan isak yang tertahan-tahan akan tetapi betapa pun juga, ada setitik darah ibunya sehingga dara ini melawan perasaan sendiri dan kini berpura-pura memperlihatkan sikap keras seperti sikap ibunya! Ahhh, betapa terbuka keadaan hati dan pikiran dara ini baginya sehingga biar pun dara itu duduk membelakanginya dan ia tak dapat melihat wajahnya yang memang belum diperhatikannya benar-benar, dia sudah dapat menjenguk isi hati dan mengenal wataknya!

“Kalau begitu mengapa menangis?”

Ih, betapa halus suara ayahnya! Orang yang memiliki suara halus dan menggetarkan perasaan yang halus pula itu tak mungkin seorang jahat, biar pun dijuluki Pendekar Siluman sekali pun! Bagaimana ibunya mencacinya sebagai seorang yang pengecut, tidak berjantung, tiada perasaan?

“Kenapa engkau menawan aku? Apakah benar untuk menekan Thian-liong-pang agar tidak membantu pemerintah membasmi para pengacau dan pemberontak lagi?”

Milana merasa betapa orang yang duduk di belakangnya itu menghela napas panjang. Ingin sekali dia menengok dan memandang wajah yang menimbulkan rasa sayang dan kagum di dalam hatinya itu, ingin melihat tarikan muka itu dan sinar mata yang aneh itu. Akan tetapi, pada saat itu dia sedang bersandiwara, harus beraksi seperti orang yang asing sama sekali, yang tidak mengenal Pendekar Super Sakti, maka tidak akan sopanlah sebagai seorang gadis tertawan kalau dia ingin memandang muka pria yang menawan.

“Nona, biarlah engkau mendengar hal yang sesungguhnya. Bukan menjadi pendirianku untuk mempergunakan cara pemerasan seperti ini, untuk menggunakan seorang gadis muda sebagai alat untuk menekan Thian-liong-pang. Cara ini, tepat seperti pendapat ibumu, adalah cara seorang pengecut. Kalau memang aku berniat menentang Thian-liong-pang, tentu akan kupergunakan cara laki-laki, yaitu langsung menentangnya dan menghadapinya seperti seorang gagah, tinggal melihat hasilnya, menang atau kalah. Akan tetapi, setelah aku melihatmu di sana tadi… hemm, aku berpendapat lain dan aku menawanmu dengan maksud lain pula…”

Berdebar keras jantung Milana dan dia menarik tubuh ke depan agar orang yang berada di belakangnya itu jangan sampai tahu debar jantungnya. Dia lupa bahwa yang duduk di belakangnya adalah seorang pendekar yang memiliki kesaktian luar biasa sehingga pendengarannya sudah amat tajam, dapat membedakan debar jantung yang berubah, apa lagi dari jarak demikian dekat! Ayah kandungnya ini menawannya bukan untuk dipergunakan sebagai sandera, bukan untuk memeras dan menekan Thian- liong-pang! Habis untuk apa?

“Maksud apa lagi kalau bukan untuk menekan Ibuku?” tanyanya, menekan hatinya agar suaranya terdengar biasa.

Tentu saja Suma Han dapat membedakan pula suara menggetar yang terbawa oleh perasaan tegang itu, dan dia tersenyum, menduga tentu gadis ini mengira bahwa dia mempunyai niat yang bukan-bukan!

“Ketika aku melihatmu di sana tadi, timbul rasa kasihan di hatiku. Betapa seorang gadis muda yang berdasarkan watak halus dan hati penuh welas asih dan mulia, bergelimang dalam perbuatan-perbuatan rendah yang dilakukan oleh Thian-liong-pang! Kalau dibiarkan saja, akhirnya tentu anak itu akan menjadi rusak dan menjadi seorang wanita yang kejam, liar, ganas dan berwatak iblis, seperti ibunya yang menjadi Ketua Thian-liong-pang! Karena itu, timbul niatku untuk membawamu pergi dari lingkungan kotor ini!”

Tiba-tiba Milana menoleh dan matanya terbelalak penuh kemarahan. “Tidak! Biarkan aku kembali! Aku tidak peduli, aku lebih senang kalau menjadi seperti Ibu! Dia tidak jahat, engkaulah yang jahat dan kejam! Engkau telah membiarkan Ibuku merana dan sengsara dalam hidupnya!”

“Hahhh…? Apa maksudmu? Aku membikin Ibumu hidup sengsara?”

Milana terkejut sendiri. Dia telah kelepasan bicara. Cepat ia memutar otak mencari alasan. “Tentu saja! Engkau telah menculik aku, anaknya, bagaimana Ibu tidak merasa sengsara dalam hidupnya memikirkan keselamatanku?”

“Ah, begitukah? Kalau dia masih mempunyai perasaan seperti seorang ibu biarlah dia sadar bahwa dalam hidupnya, jauh lebih penting memikirkan masa depan puterinya dari pada melampiaskan nafsu kemurkaan melalui Thian-liong-pang. Biarkanlah dia menderita agar dia sadar. Kalau dia sudah sadar, aku pun tentu saja tidak akan suka memisahkan seorang anak dari ibu kandungnya.” Setelah berkata demikian, Suma Han menepuk leher rajawali dan menekan berat tubuhnya ke kiri sehingga burung itu segera menukik ke kiri dan meluncur turun.

Burung itu meluncur cepat sekali sehingga biar pun Milana telah memiliki kepandaian tinggi, dia merasa pening dan ngeri juga. Akan tetapi di depan penawannya, atau bahkan ayah kandungnya, dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya, dan untuk menutupi rasa ngeri dan takutnya, dia bertanya,

“Engkau mau membawa aku ke mana?” “Engkau takut?”
Wah, ayahnya ini benar-benar amat waspada!

“Tidak!” jawabnya, akan tetapi suaranya gemetar juga ketika ia melirik ke bawah dan melihat seolah-olah dia dibawa jatuh ke bawah dengan kecepatan mengerikan!

“Jangan takut, menunggang burung ini lebih aman dari pada menunggang seekor kuda.”

Milana tidak mejawab lagi karena percuma saja dia hendak menyembunyikan rasa ngerinya. Setelah penculiknya tahu, tidak lagi berpura-pura dan untuk mengusir rasa takutnya, dia memegangi tangan Pendekar Super Sakti yang membiarkannya saja sambil diam-diam tersenyum karena Suma Han maklum, bagi seorang yang belum biasa, betapa ngeri dan takutnya menunggang burung rajawali, apa lagi kalau menukik turun. Dia sendiri ketika mula-mula menunggang burung garuda di Pulau Es juga berkunang- kunang dan merasa ngeri!

Burung itu hinggap di atas tanah di luar sebuah dusun. Suma Han meloncat turun diikuti oleh Milana. Suma Han lalu mendorong tubuh burung rajawali itu sehingga terlempar ke atas dan burung itu segera terbang tinggi.

“Mengapa kita turun di sini? Engkau hendak membawaku ke mana?”

Sambil membalikkan tubuhnya rnenghadapi gadis itu Suma Han menjawab, “Kita akan pergi ke….”

Tiba-tiba Suma Han tidak melanjutkan kata-katanya dan dia berdiri dengan mata terbelalak dan mulut agak terbuka seperti terkena pesona ketika memandang wajah dara itu. Baru sekarang dia dapat melihat wajah Milana dengan jelas dan dari jarak dekat. Mulut itu! Mata itu! Mata yang mengandung sinar seolah-olah dua ujung pedang yang amat runcing menusuk sampai ke lubuk hati! Mata dan mulut yang sangat dikenalnya, tidak asing sama sekali baginya, akan tetapi selama hidupnya baru sekali ini dia berjumpa dengan puteri Ketua Thian-liong-pang!

“Kau… kau kenapa, Paman?” Milana bertanya.

Suara Milana yang halus itu menyadarkan Suma Han. Dia menarik napas panjang, lalu menggunakan kedua telapak tangannya untuk menggosok-gosok matanya, kemudian menggosok seluruh mukanya terus ke leher dan lalu ke tengkuknya yang dirasakan meremang tanpa dia ketahui sebabnya.

“Aaahhhh… tidak apa-apa…” Dia menghindarkan pandang matanya bertemu dengan sinar mata gadis itu dan tak ingin lagi memandang wajah itu lama-lama karena merasa aneh dan… ngeri! “Aku hendak membawamu ke kota raja.”

“Ke kota raja? Mengapa ke sana, Paman? Apakah engkau sekarang tinggal di kota raja setelah… setelah… kudengar…” Karena Pulau Es merupakan tempat tinggal ayah kandungnya, tempat yang sudah lama ia rindukan, maka mendengar betapa pulau itu dibakar, Milana merasa terkejut dan duka, maka sekarang dia pun merasa sukar untuk melanjutkan kata-katanya.

“Setelah Pulau Es dibakar? Tidak, aku tidak tinggal di kota raja atau di mana pun.” “Jadi, engkau sekarang tidak mempunyai tempat tinggal, Paman?”
Suma Han menggelengkan kepalanya dan diam-diam merasa betapa aneh keadaan mereka berdua itu. Dia adalah penculik dan gadis itu yang diculik dan ditawannya, akan tetapi mereka bercakap-cakap seperti seorang paman dan keponakannya saja, saling bersimpati dan saling menaruh kasihan!

“Kalau begitu, kenapa Paman hendak ke kota raja?”

“Aku akan minta pertanggungan jawab mereka yang telah membakar Pulau Es dan Pulau Neraka, dan aku akan merampas kembali Pedang Hok-mo-kiam…”

“…yang dicuri oleh Pendeta Iblis Maharya dan muridnya?”

“Eh, bagaimana engkau bisa tahu?” tiba-tiba Suma Han bertanya dan kembali dia merasa jantungnya
seperti diguncang ketika memandang wajah yang cantik jelita luar biasa itu. Ingin rasanya Milana menampar mulutnya sendiri karena kelepasan bicara itu.
“Siapa yang tidak tahu, Paman? Hal itu sudah diketahui di dunia kang-ouw, dan aku mendengar dari Ibuku.”

Suma Han tidak merasa heran. Peristiwa itu diketahui oleh orang lain, juga oleh Gak Bun Beng. Andai kata pemuda itu tidak membicarakannya di luar, bisa jadi saja kalau Tan-siucai atau Gurunya membual bahwa mereka telah merampas Hok-mo-kiam dari tangan Pendekar Super Sakti sehingga peristiwa itu diketahui oleh Ketua Thian-liong-pang yang lihai dan berpengaruh.

“Hemm, begitukah? Benar, pedang itu akan kurampas kembali dari tangan mereka. Aku mendengar bahwa kini mereka pun membantu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan berada di kota raja.”

“Wah, Paman hendak mencari banyak musuh di kota raja. Bagaimana dengan aku?” “Engkau ikut saja denganku, tidak akan ada yang berani mengganggu.”
“Habis, untuk apa aku ikut kalau hanya disuruh menonton? Apakah Paman… ingin supaya aku membantu Paman?”

Suma Han tertawa. Bocah ini sungguh menyenangkan hatinya. Sikapnya begitu halus dan wajar, sedikit pun juga tidak memperlihatkan sikap bermusuhan padahal jelas bahwa dia telah membawanya secara paksa!

“Tidak, Nona. Engkau ikut saja denganku dan di waktu luang, aku akan mengajarkan ilmu kepadamu.”

Hampir saja Milana bersorak saking girang hatinya. Di antara hal-hal yang sangat dia rindukan adalah belajar ilmu dari ayah kandungnya, dari Pendekar Super Sakti, Pendekar Siluman Majikan Pulau Es yang terkenal di seluruh jagad! Akan tetapi dia menahan diri dan hanya kelihatan betapa bibirnya yang merah dan berbentuk kecil mungil indah itu merekah dalam senyum, sepasang matanya yang lebar itu terbelalak dan bersinar-sinar penuh keriangan hati. Hal ini tidak lepas dari pandangan mata Suma Han sehingga diam-diam pendekar ini merasa terharu dan timbul rasa suka yang mendalam di hatinya terhadap gadis ini, timbul pula niat hatinya untuk menurunkan ilmu-ilmu yang paling tinggi kepadanya!

“Terima kasih, Paman. Engkau baik sekali!”

“Ha-ha-ha-ha-ha…!” Suma Han sendiri sampai terkejut. Bertahun-tahun sudah dia tidak pernah tertawa. Akan tetapi kini, tanpa disadarinya, dia telah tertawa begitu bebas, suara ketawa yang langsung keluar dari dalam hatinya. Bocah ini telah menciptakan sesuatu yang amat aneh dalam hatinya!

“Paman, kenapa kau tertawa?”

“Aku… tertawa…? Ahhhh, karena mendengar ucapanmu yang lucu tadi, Nona. Kau bilang aku baik sekali padahal aku adalah penculikmu!”

“Biar pun begitu, sikapmu amat baik kepadaku, Paman, dan aku suka ikut bersamamu. Aku merasa bahwa dengan ikut padamu, aku akan mengalami hal-hal yang hebat, dan lagi, menerima pelajaran ilmu dari Pendekar Super Sakti merupakan hal yang amat menyenangkan sekali. Bagaimana aku tidak menjadi girang dan menganggap Paman seorang yang amat baik? Nanti kalau bertemu dengan Ibu aku akan meyakinkan hatinya betapa baiknya budi pekerti Paman.”

Suma Han menghela napas. “Aaahhh… kalau ada yang menganggap baik tentu ada yang menganggap sebaliknya, yaitu jahat. Dan aku sendiri tidak tahu siapa yang lebih benar di antara mereka yang menyebut baik dan mereka yang menyebutku jahat.”

“Bagaimana ini? Aku tidak mengerti, Paman?”

“Tak usah kau pikirkan. Jangan merusak hatimu yang masih polos itu dengan teka-teki hidup yang tiada habisnya, juga tiada gunanya. Eh, Nona, engkau kuanggap sebagai muridku atau sebagai… keponakanku sendiri. Ehh, aku jadi teringat kepada Kwi Hong! Ke mana gerangan perginya bocah bengal yang sukar diurus itu?”

“Kwi Hong? Apakah Paman maksudkan bahwa keponakan Paman yang bernama Kwi Hong pergi tanpa pamit?”

Suma Han mengangguk. “Bocah itu nakalnya bukan main. Dia pergi merantau tidak menggelisahkan karena ilmu kepandaiannya sudah cukup tinggi untuk menjaga diri. Namun, dia membawa pergi pedang Li- mo-kiam, itulah yang menggelisahkan hatiku…”

Tiba-tiba Milana meloncat kaget. “Aihhh…! Kalau begitu diakah…?”

Terbayang olehnya seorang gadis yang telah menyelamatkannya ketika ia hampir saja tertawan oleh Wan Keng In, seorang gadis yang keluar dari dalam peti mati, dan yang memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kilat! Gadis itu pula yang telah mengacau di rumah penginapan, menyelidiki keadaan rombongan Thian-liong-pang! Ahhh, mengapa dia begitu pelupa? Tentu gadis perkasa itu Kwi Hong!

“Heiii! Apa engkau pernah bertemu dengannya?” Suma Han bertanya kaget.

Milana mengangguk, tapi belum berani membuka mulut karena dia harus menekan perasaannya yang terguncang. Bertemu dengan Kwi Hong dan dia tidak mengenalnya, apakah Kwi Hong juga tidak mengenalnya ketika menyelidiki rumah penginapan? Dan apakah Kwi Hong baru mengenalnya ketika turun tangan menolongnya?

“Aku pernah bertemu dengan seorang gadis cantik yang membawa pedang bersinar kilat, Paman. Dia pernah menyelidiki rombongan Thian-liong-pang, hampir tertangkap olehku, akan tetapi dia lihai sekali dan dapat meloloskan diri. Kemudian, dia muncul pula bersama orang-orang Pulau Neraka!”

“Ah, kalau begitu bukan Kwi Hong! Tidak mungkin dia bersama orang-orang Pulau Neraka.”

“Akan tetapi dia telah menolongku ketika aku hampir tertawan oleh pemuda iblis, putera Majikan Pulau Neraka.”

“Apa? Coba kau ceritakan yang jelas, Nona.”

Dengan singkat Milana menceritakan bentrokan yang terjadi antara rombongan Thian-liong-pang yang dipimpinnya melawan rombongan Pulau Neraka. “Mula-mula pihak kami sudah mendekati kemenangan, lalu tiba-tiba muncul pemuda iblis yang lihai itu. Aku hampir saja tertawan olehnya, kemudian muncul gadis itu dari dalam peti mati dan dengan sebatang pedang yang bersinar kilat, dia telah menyelamatkan aku dengan membabat putus tali sutera yang mengikatku. Karena aku maklum bahwa tempat itu berbahaya bagi rombonganku, kemudian aku mengajak rombonganku segera pergi meninggalkan tempat itu.”

“Dan gadis itu bagaimana?”

“Entah, Paman. Ketika aku pergi, dia sedang bertanding dengan hebatnya melawan pemuda iblis yang juga memegang sebatang pedang yang bersinar kilat!”

“Hemmm, Sepasang Pedang Iblis…!” Suma Han berkata perlahan sambil mengerutkan alisnya.

Milana sudah mendengar dari Gak Bun Beng betapa sepasang pedang itu telah ditemukan Bun Beng. Li- mo-kiam, pedang betina, diberikan oleh Bun Beng kepada Kwi Hong sedangkan yang jantan, Lam-mo- kiam, terampas oleh Wan Keng In putera Majikan Pulau Neraka. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu karena kalau dia menyebut Bun Beng, tentu ayah kandungnya itu akan mengenal dan dengan demikian, rahasia ibunya terbongkar.

“Apakah benar dia itu keponakanmu, Paman?”

“Agaknya begitulah. Dan dia tentu terancam bahaya…” Suma Han menggeleng kepala. “Akan tetapi, dia keluar dari sebuah peti mati, katamu? Hemm… kalau begitu dia bukan Kwi Hong.”

Di dalam hatinya, Milana sekarang merasa yakin bahwa gadis yang meloncat keluar dari peti mati itu pasti Kwi Hong. Setelah diingatkan, kini dia dapat membayangkan wajah gadis itu dan dia merasa yakin bahwa gadis itu, juga gadis yang pernah dia ‘lasso’ kakinya di atas genteng di rumah penginapan, tentu Giam Kwi Hong orangnya! Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani menyatakan isi hatinya itu.

“Nona, kulanjutkan pertanyaanku yang tadi terganggu oleh persoalan Kwi Hong yang bengal. Aku hendak bertanya, siapakah namamu, Nona?”

Kaget juga hati Milana mendengar pertanyaan ini. Ayahnya, ayah kandungnya sendiri, menanyakan namanya. Tidakkah hal ini amat ganjil? Ingin ia berteriak menyebutkan namanya, berteriak mengaku bahwa dia adalah puteri Si Pendekar itu sendiri, ingin ia menangis dan mencela ayahnya yang seolah-olah tidak mempedulikan anaknya! Akan tetapi Milana terpaksa harus menekan keinginan hatinya ini karena ia harus melindungi rahasia ibunya. Entah mengapa ibunya menyembunyikan diri di balik kerudungnya itu, dia sendiri tidak tahu. Entah mengapa ibunya tidak mau berbaik dengan ayahnya, tidak mau mengaku bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah ibunya, dia sendiri tidak tahu. Betapa pun juga, dia harus membela ibunya, harus melindungi rahasianya.

“Paman, panggil saja aku… Alan…” “Hemmm, nama palsu, ya?”
Milana mengangguk. “Maaf, Paman. Aku tidak boleh memperkenalkan namaku yang sebenarnya kepadamu…”

“Aku mengerti. Ibumu selalu bersembunyi di balik kerudung, penuh rahasia, tentu anaknya pun penuh rahasia pula. Tak mengapalah, Alan, aku akan menyebutmu Alan seperti yang kau kehendaki. Mari kita melanjutkan perjalanan ke kota raja.”

“Kenapa tidak menunggang rajawali saja, tidak melelahkan dan lebih cepat?” Milana membantah karena memang amat menyenangkan hatinya menunggang rajawali itu, berboncengan dengan ayahnya.

“Tidak, Alan. Dari sini ke kota raja hanya perjalanan tiga empat hari saja dan melalui banyak dusun dan kota. Kalau kita menunggang rajawali, tentu akan menarik banyak perhatian orang.”

“Dan burung itu sendiri bagaimana?”

“Dia sudah jinak dan dia akan mengikuti aku dari angkasa. Setiap kali kubutuhkan, kupanggil tentu dia datang.”

“Sungguh menyenangkan sekali mempunyai binatang peliharaan seperti itu, Paman. Akan tetapi… aku pernah mendengar bahwa binatang peliharaan Paman di Pulau Es bukan rajawali, melainkan garuda putih.”

Suma Han menghela napas teringat akan dua ekor burung garudanya. “Mereka telah tewas di tangan orang-orang yang merampas Hok-mo-kiam. Burung rajawali ini pun dari Pulau Neraka, aku temukan dalam keadaan ketakutan karena Pulau Neraka dibakar. Aku dapat menundukkannya dan sekarang dia sudah jinak dan penurut.”

Demikianlah, dua orang itu berjalan memasuki dusun sambil bercakap-cakap. Mereka kelihatan begitu rukun, sama sekali tidak pantas sebagai seorang yang ditawan dan penawannya, lebih patut sebagai keluarga. Namun, hanya Milana seorang yang tahu bahwa mereka adalah anak dan ayah, ayah kandung!

Dua hari kemudian, mereka telah tiba di tapal batas, kota raja hanya tinggal lima puluh li jauhnya, perjalanan setengah hari. Karena mereka datang dari arah utara, mereka melalui daerah yang agak tandus dan pada pagi hari itu, mereka beristirahat di sebuah kuil tua yang sudah tidak dipakai lagi, di luar sebuah dusun.

Suma Han mengeluarkan bungkusan roti kering yang tinggal dua potong dan sebuah guci terisi air yang diisi penuh dalam perjalanan tadi. Tanpa bicara dia menyerahkan sepotong roti kering kepada gadis itu, yang diterimanya tanpa berkata-kata pula, akan tetapi tidak segera dimakannya karena Milana kini duduk sambil memandang ayah kandungnya.

Pendekar Sakti itu duduk bersandar dinding butut, kaki tunggalnya ditekuk bersila, tongkat melintang di atas pahanya, tangan kiri memegang roti kering sepotong. Melihat gadis itu tidak segera makan rotinya, dia berkata, “Tinggal ini roti bekalku, akan tetapi perjalanan sudah dekat. Makanlah, Alan.”

Namun dara itu tidak mau makan rotinya. Melihat betapa ayah kandungnya itu makan roti kering, kelihatan dipaksakan dan seret melalui kerongkongan, hatinya menjadi terharu sekali.

“Paman, kasihan sekali engkau, hanya makan roti kering tawar dan air! Aku pandai masak, Paman. Aku ingin memasakkan yang enak-enak untuk kau makan.”

Suma Han menunda makannya, memandang dara itu dengan heran dan tersenyum. “Engkau aneh sekali. Di tempat sunyi seperti ini, andai kata pandai masak sekali pun, apa yang hendak dimasak? Bahannya tidak ada, bumbu-bumbunya pun tidak ada, yang ada hanya bahan bakar dan api!”

“Di selatan sana sudah tampak sebuah dusun, tentu ada yang menjual bahan dan bumbu. Kalau Paman percaya kepadaku, aku akan ke sana membeli bahan kemudian akan kumasakkan yang enak untuk Paman.”

“Percaya? Tentu saja aku percaya kepadamu, Alan.”

Wajah Milana berseri dan ia meloncat bangun. “Benarkah Paman percaya kepadaku? Terima kasih, Paman. Aku akan pergi dulu mencari bahan masakan!” Gadis itu membalikkan tubuh dan berlari keluar dari kuil tua.

“Heiii, Alan! Nanti dulu!”

Dara itu berhenti, menengok dan memandang dengan wajah kecewa. “Paman takut kalau aku melarikan diri?”

Suma Han tersenyum, menggeleng kepala dan mengeluarkan sebatang pedang dari buntalannya. “Aku percaya kepadamu, akan tetapi kau bawalah pedang ini untuk membela diri kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Milana. Ayah kandungnya, biar pun belum tahu bahwa dia adalah puterinya, sudah menaruh kepercayaan dan menaruh sayang kepadanya! Cepat ia berlari menghampiri pendekar itu menerima pedang dan menjura, “Terima kasih, Paman. Engkau baik sekali, selain percaya bahwa aku tidak akan melarikan diri, juga engkau ingat akan keselamatanku.” Ia memandang pedang di tangannya, mencabut dari sarungnya dan berseru girang. “Ah, pedang pusaka yang indah! Pedang pusaka apakah ini, Paman?”

“Namanya Pek-kong-kiam, dahulu menjadi pegangan keponakanku. Akan tetapi sekarang dia tidak memerlukannya lagi. Pergilah, Alan, dan hati-hatilah.”

Alan mengangguk, memasangkan pedang di pinggangnya kemudian berlari-lari kecil meninggalkan kuil itu, dipandang oleh Suma Han dengan bengong.

Setelah bayangan dara itu lenyap, dia menarik napas panjang. “Ahhh, Suma Han, apakah engkau benar- benar memiliki dasar watak yang kotor? Mengapa engkau seperti tergila-gila kepada dara itu?” Ingin pendekar sakti ini menempiling kepalanya sendiri.

Ada sesuatu dalam diri dara itu yang amat menarik hatinya, seperti besi sembrani menarik besi! Ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat dia merasa suka sekali, merasa ingin sekali berdekatan selalu, memandang wajah jelita itu, melihat senyum yang cerah dan mata yang lebar seperti matahari kembar itu. Seolah-olah dia berhadapan dengan seorang yang sudah lama sekali dikenalnya, yang amat dekat dengan hatinya, seolah-olah ada perasaan yang memenuhi hatinya bahwa sudah semestinya dan sewajarnya kalau gadis itu selalu berada di dekatnya!

“Keparat!” Suma Han menepuk tanah di depannya. “Aihhh, Nirahai… Lulu… kalianlah yang membuat aku menjadi begini! Aku rindu kepada kalian, rindu akan kasih sayang wanita sehingga begitu bertemu dengan gadis ini aku seperti orang tergila-gila!” Ia mengeluh lalu duduk termenung. “Apakah yang harus kulakukan agar aku dapat berkumpul kembali dengan Nirahai? Dengan Lulu?” Nirahai adalah isterinya, yang ia cinta dan yakin bahwa isterinya itu pun mencintanya. Akan tetapi mengapa sikap Nirahai seaneh itu? Mengapa? Dan Lulu?

Dia mencinta adik angkatnya itu, mencintanya dengan sepenuh hatinya, bukan cinta saudara, melainkan cinta seorang pria terhadap wanita yang pertama kali merebut kasihnya. Terkenang dia akan ucapan- ucapan Lulu ketika mereka bertemu di Pulau Neraka. “Aku sudah bersumpah untuk memilih antara dua kenyataan dalam hidupku. Menjadi isterimu atau menjadi musuhmu!”

Demikianlah kata-kata Lulu yang masih menggores di hatinya. Tentu saja dia sukar untuk dapat menerima tuntutan Lulu yang selain menjadi adik angkatnya, juga sudah menikah dengan orang lain biar pun kini sudah menjadi janda, dan mengingat bahwa dia sudah menjadi suami Nirahai! Karena penolakannya, Lulu memusuhinya, sesuai dengan sumpahnya! Akan tetapi, sekarang Pulau Neraka telah dibakar pemerintah, bagaimana nasib wanita yang menjadi cinta pertamanya itu?

Bagaimana pula nasib Nirahai? Aihh, sikap Nirahai yang amat aneh, sama anehnya dengan sikap Lulu. Masih terngiang di telinganya suara isterinya itu penuh dengan kemarahan, “Kini aku tidak sudi menyembah-nyembah minta kau bawa! Dan hanya dengan paksaan saja engkau akan dapat membawaku ke Pulau Es. Dengan paksaan, kau dengar? Aku sudah cukup menderita dan sakit hati karena kau biarkan, seolah-olah aku bukan isterimu. Engkau laki-laki lemah, kejam dan canggung!”

Suma Han kembali menarik napas panjang, menundukkan muka dan menyangga kepalanya dengan kedua tangan, seolah-olah kepalanya tiba-tiba menjadi amat berat begitu dia terkenang kepada Lulu dan Nirahai. Apa yang harus dia lakukan agar mereka berdua, wanita-wanita yang dicintanya itu dapat berada di sampingnya, menyegarkan rasa dahaga yang selama ini dia derita, menyembuhkan sakit rindu yang selama ini membuat hidupnya tanpa gairah, memenuhi sisa hidupnya dengan kebahagiaan sebagai penebus kesengsaraan yang sudah amat lama dirasakannya?

“Ahh, Lulu… Nirahai…!” Suma Han merasa jantungnya seperti diremas-remas.

Memang demikianlah manusia pada umumnya. Selama hidupnya, semenjak dia mulai mengerti, manusia telah kehilangan kebebasan dan kewajarannya. Mulailah datang kesengsaraan bersama dengan pengertian itu! Mulailah manusia dicengkeram dan dikurung dalam sangkar yang berupa pikiran, berupa gagasan yang dibentuk semenjak dia mengerti. Segala macam gerak dan langkah hidup ditentukan oleh gagasan, oleh pikiran yang bukan lain adalah Sang Aku yang penuh dengan loba, dengki, iri, takut, khawatir, yang kesemuanya timbul karena iba diri, sayang diri yang didorong rasa takut kehilangan kesenangan, kehilangan ketenteraman.

Suma Han adalah seorang pendekar besar, pendekar sakti, seorang yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa. Namun semua itu hanyalah duniawi, lahiriah belaka. Karena itu ilmu kepandaiannya tidak akan dapat membebaskan dia dari pada duka dan khawatir. Dia berduka mengenakan dua orang wanita yang dicintanya, dan dia khawatir kalau-kalau sisa hidupnya akan tetap merana seperti yang dirasakannya selama ini.

Dua orang wanita yang dia tahu amat mencintanya, akan tetapi yang karena keadaan tidak dapat hidup berdampingan dengannya. Karena keadaankah? Ataukah karena jalan pikiran antara mereka yang tidak cocok? Ataukah mereka berdua yang aneh? Apakah dia sendiri yang tidak pandai menundukkan hati wanita? Tetapi sejak masih setengah dewasa dahulu, Lulu selalu menurut akan semua kata-katanya! Mengapa sekarang berbeda?

Ahhh, tentu saja berubah, pikirnya. Dahulu Lulu mentaati segala kata-katanya karena merasa sebagai adik angkatnya, dan sekarang… wanita itu cintanya sebagai seorang wanita terhadap seorang pria. Teringat akan Lulu, dia terbayang akan pertemuannya dengan Lulu di Pulau Neraka, teringat pula tentang Pulau Neraka yang telah dibumi hanguskan, dan akan burung rajawali Pulau Neraka yang berhasil ia taklukkan dan jinakkan. Rajawali! Dia terkejut karena tidak melihat burung itu ketika ia tiba-tiba menengadah. Tadi masih tampak burung itu beterbangan di atas kuil, kadang-kadang menyambar turun di depan kuil. Akan tetapi sekarang tidak tampak!

Suma Han mencelat keluar mencari-cari burung itu dengan pandang matanya. Namun tetap saja tidak tampak bayangan burung itu. Suma Han menjadi curiga, kemudian mengeluarkan suara melengking nyaring. Suara yang keluar dari dadanya, dengan pengerahan khikang sehingga suara panggilan itu bergema sampai jauh sekali.

Setelah mengeluarkan suara melengking sampai tiga kali berturut-turut, Suma Han diam tak bergerak menanti jawaban. Tiba-tiba dari arah selatan terdengar suara burung itu, bukan sebagai jawaban panggilan, melainkan suara memekik kemarahan! Dia merasa heran sekali. Suara burung seperti itu hanya dikeluarkan kalau burung itu berhadapan dengan musuh atau terancam bahaya, atau sedang kesakitan!

Khawatir kalau-kalau burung itu terancam bahaya, Suma Han lalu mempergunakan kepandaiannya, tubuhnya lantas berloncatan cepat sekali seperti terbang. Dia tidak memasuki dusun di sebelah selatan kuil karena suara burung itu datangnya dari arah kiri dan kini sudah tampak olehnya dari jauh burungnya sedang bertempur melawan seekor burung lain! Burungnya terdesak karena burung rajawali lainnya yang menjadi lawan itu bertubuh lebih besar.

Suma Han mempercepat loncatan-loncatannya mendaki sebuah anak bukit dan tiba-tiba ia berdiri dengan jantung berdebar tegang, matanya tidak lagi memandang ke arah burungnya yang sedang bertempur, melainkan ke arah bawah karena di situ terjadi pertandingan lain yang lebih menegangkan hatinya.

Dia kini melihat Alan, gadis tawanannya, puteri Ketua Thian-liong-pang itu, sedang bertempur melawan seorang pemuda jangkung yang lebih lihai sekali, ditonton oleh beberapa orang yang mukanya beraneka warna. Anak-anak buah Pulau Neraka! Alan mempergunakan Pek-kong-kiam, menyerang dengan gerakan yang cepat sekali sehingga tubuh dara itu lenyap terbungkus sinar pedangnya sendiri yang bergulung- gulung dan berwarna putih. Akan tetapi, pemuda jangkung itu menghadapinya dengan kedua tangan kosong dan kelihatan bersilat seenaknya saja!

Dengan beberapa loncatan tinggi, tubuh Suma Han mencelat dan hinggap di atas atap sebuah podok tua yang berdiri tak jauh dari tempat pertandingan. Jantungnya makin berdegup tegang ketika melihat wajah pemuda tampan itu. Wajah itu mirip sekali dengan mendiang Wan Sin Kiat, suami Lulu! Melihat betapa di situ hadir enam orang yang mukanya berwarna merah muda dan hijau pupus, mudah saja bagi Suma Han untuk menduga, siapa adanya pemuda ini. Tentu inilah Wan Keng In, putera Ketua Pulau Neraka, putera Lulu dan mendiang Wan Sin Kiat!

Bukan main hebatnya gerakan pemuda itu sehingga diam-diam Suma Han merasa kagum sekali. Akan tetapi, melihat senyum dan sinar mata pemuda itu, ada sesuatu yang membuat hati Suma Han kecewa, karena senyum dan sinar mata pemuda itu membayangkan hal yang mengerikan, watak yang aneh dan tak dapat dipercaya! Banyak sudah dia melihat senyum dan sinar mata seperti itu yang hanya dimiliki oleh datuk-datuk golongan sesat. Apa lagi ketika mendengar suara pemuda itu ketika berkata mengejek kepada Alan, hatinya makin tidak enak lagi.

“Heh-heh-heh, Nona manis. Mengapa engkau masih nekat melawan aku? Bukankah sudah jelas bahwa engkau bukan lawanku? Dan semenjak tadi aku tidak pernah menyerangmu, karena aku tidak ingin melukaimu, tidak ingin mengalahkanmu karena takut kalau engkau merasa tersinggung. Hal ini sudah membuktikan betapa mendalam cintaku kepadamu, Nona!”

“Iblis keji, siapa sudi kepadamu?”

Gadis itu membentak dan mengirim sebuah tusukan ke arah ulu hati pemuda itu. Suma Han yang berada di atas atap melihat betapa tusukan pedang itu hebat sekali dan diam-diam dia terkejut karena mengenal jurus itu berdasarkan Ilmu Pedang Sin-coa-kun (Ilmu Pedang Ular Sakti). Padahal Ilmu Pedang itu adalah sebuah di antara ilmu-ilmu sakti dari Pendekar Sakti Suling Emas! Akan tetapi ia teringat bahwa ibu dara itu adalah Ketua Thian-liong-pang yang terkenal memiliki dan mengenal segala macam ilmu silat yang diambilnya dengan segala macam cara pula, kalau perlu dengan menculik tokoh-tokoh kang-ouw! Mungkin saja Ketua Thian-liong-pang yang luar biasa itu berhasil pula mencuri dasar-dasar Sin-coa Kiam-hoat yang bersumber dari Sin-coa-kun.

Akan tetapi dengan kagum Suma Han melihat betapa pemuda itu berhasil mengelak dengan mudah, seolah-olah sudah mengenal jurus ini, kemudian menggunakan Ilmu Pukulan Toat-beng-bian-kun yang amat hebat! Suma Han mengerti bahwa Toat-beng-bian-kun (Ilmu Silat Tangan Kapas Pencabut Nyawa) merupakan ilmu pukulan yang sakti dan ampuh dari Lulu yang mendapatkan ilmu pukulan ini dari mendiang Nenek Maya yang sakti. Dia sudah siap untuk menyelamatkan gadis itu dari pukulan itu ketika dengan heran dia melihat bahwa pemuda itu bukan mempergunakan pukulan sakti yang semestinya ditujukan ke arah leher itu diselewengkan menjadi sebuah totokan ke arah pundak!

Akan tetapi, hampir Suma Han berseru kaget dan kagum melihat betapa nona itu dapat mengelak secara tepat sekali, yaitu dengan berjongkok, kemudian dari bawah kakinya menyambar merupakan sebuah tendangan yang dibarengi dengan sabetan pedang. Kakinya menendang ke arah pusar sedangkan pedangnya menyambar ke arah leher! Yang membuat Suma Han terheran adalah cara gadis itu mengelak dari jurus Toat-beng-bian-kun, demikian tepat dengan berjongkok seolah-olah dara itu telah mengenal pula jurus Toat-beng-bian-kun! Apakah Ketua Thian-liong-pang juga sudah berhasil mencuri ilmu peninggalan Nenek Maya itu? Sungguh tidak mungkin! Kalau sudah demikian jauh, tentu Ketua Thian-liong-pang merupakan seorang lawan yang luar biasa dan amat berat!

Setelah melihat dengan jelas bahwa ilmu kepandaian pemuda itu jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaian puteri Ketua Thian-liong-pang, apa lagi setelah pemuda itu kini mengeluarkan ilmu dengan gerakan amat aneh, sambil tertawa-tawa mempermainkan dara itu seperti seekor kucing mempermainkan tikus sebelum diterkamnya, Suma Han lalu melayang dari atas sambil berseru, “Tahan dulu…!”

Ketika itu Wan Keng In sudah berhasil mengempit pedang lawannya di bawah lengan kiri ketika dara itu menusuk dadanya, dan tangan kanannya bergerak menyambar untuk mencengkeram pundak Milana. Melihat ini, Suma Han sudah menggerakkan tongkatnya yang berubah menjadi sinar yang menyambar antara tangan Wan Keng In dan pundak Milana.

Melihat sinar ini Keng In cepat menarik kembali tangannya. Terpaksa dia melepaskan kempitan pedang itu ketika ada sinar meluncur ke arah dadanya. Ia meloncat mundur dan tertawa mengejek. “Ha-ha-ha-ha-ha! Sudah kudengar suara lengkinganmu tadi! Bukankah engkau ini yang berjuluk Pendekar Siluman, bekas Majikan Pulau Es berkaki buntung yang sombong?” Pemuda itu berdiri dengan tegak, kedua tangan bertolak pinggang, pandang matanya yang tajam penuh kebencian, mulutnya tersenyum penuh ejekan.

Enam orang tokoh Pulau Neraka, dua wanita dan empat pria, menjadi terkejut sekali mendengar ucapan pemuda itu. Mereka berenam telah menjadi pucat menyaksikan munculnya Pendekar Siluman itu dan mereka sudah menunduk dengan hati tergetar dan jeri. Kini mendengar ucapan tuan muda mereka, benar- benar mereka menjadi kaget dan makin takut karena maklum bahwa siauw-tocu mereka telah mengucapkan penghinaan terhadap Pendekar Super Sakti itu!

Milana sudah marah sekali. Yang dimaki buntung sombong tadi adalah ayahnya! Maka dengan muka merah dia sudah menusukkan pedangnya ke arah perut pemuda itu sambil membentak, “Manusia iblis bermulut busuk!”

“Trangggg!”

Milana meloncat mundur ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah tongkat Pendekar Super Sakti!

“Bersabarlah dan biarkan aku yang bicara dengan dia,” Suma Han berkata halus ketika melihat dara itu memandangnya dengan mata terbelalak heran.

“Ha-ha-ha-ha, Nona yang cantik jelita! Apakah engkau tidak mengenal keparat ini? Dia adalah Pendekar Siluman, Tocu Pulau Es, musuh besar kami dan musuh besar Thian-liong-pang. Dia adalah musuh kita berdua, Nona! Mari kita berdua membunuh manusia busuk ini!”

Milana ingin berteriak kepada pemuda itu, mengatakan bahwa dia adalah puteri Pendekar Super Sakti, tetapi ditahannya karena dia harus melindungi rahasia ibunya, maka terpaksa dia hanya menelan kemarahannya, tidak menjawab ucapan pemuda itu. Hanya diam-diam dia merasa tidak puas mengapa ayah kandungnya begitu sabar menghadapi pemuda yang demikian menjemukan dan yang telah berani menghina Pendekar Super Sakti.

Tentu saja Milana tidak tahu mengapa Suma Han bersikap demikian sabar terhadap Keng In. Wan Keng In adalah putera Lulu. Jangankan mengingat akan ibunya, sedang mengingat akan ayahnya, Wan Sin Kiat yang pernah menjadi sahabat baik Suma Han saja, pendekar ini tentu bersikap sabar sekali dan banyak mengalah.

“Engkau tentu Wan Keng In, putera dari Majikan Pulau Neraka, bukan?” Suma Han bertanya dengan suara halus mernandang wajah pemuda itu penuh perhatian dan penyelidikan.

Wajah yang amat tampan, bentuk wajahnya seperti wajah Wan Sin Kiat. Mulut dan matanya seperti mulut dan mata Lulu, akan tetapi sungguh sayang sekali, karena persamaan itu hanya pada bentuknya saja, namun sifatnya jauh berbeda, bahkan merupakan kebalikannya seperti bumi dengan langit. Senyum Lulu adalah senyum yang manis dan membuat dunia makin cerah, senyum yang menimbulkan rasa gembira di hati siapa pun juga, membuat orang yang menyaksikan senyum itu ingin tersenyum pula.

Sinar mata Lulu adalah sinar mata yang membayangkan kejujuran hati, kepolosan dan kelembutan hati yang wajar dan tidak dibuat-buat. Akan tetapi, senyum pemuda ini mendatangkan rasa ngeri. Walau pun senyum itu menambah ketampanan wajahnya, namun mengandung sesuatu yang dingin mengerikan hati orang yang melihatnya. Ada pun sinar mata pemuda itu amat tajam menusuk, seolah-olah menjenguk isi hati orang yang dipandangnya, akan tetapi mengandung sifat kejam dan penuh kebencian dan ketidak percayaan, pandang mata orang yang sama sekali tidak mengenal cinta kasih antara manusia.

“Benar, dan aku pula yang telah mengalahkan dan menghina murid dan keponakanmu! Aku pula yang telah lama menanti munculmu, dan akan menantangmu untuk mengadu nyawa. Kebetulan sekali sekarang kau muncul! Pendekar Siluman Suma Han, aku Wan Keng In pada saat ini menantangmu untuk bertanding mengadu nyawa kalau engkau berani!”

“Siauw-tocu…!” Seorang anak buahnya berseru kaget. “Plakkk…!”
Entah bagaimana digerakkannya, tahu-tahu tangan Keng In telah menampar dan tubuh anak buahnya itu terguling-guling sampai lima meter lebih, kemudian berhasil bangun dengan muka bengkak dan ada tanda lima buah jari tangan di pipinya!

Mendengar ucapan dan menyaksikan sikap itu, Suma Han merasa jantungnya seperti ditusuk. Ahh, mengapa Lulu yang berwatak demikian lembut dan menyenangkan dapat mempunyai anak seperti ini? Wan Sin Kiat bekas sahabatnya dahulu, ayah dari anak ini pun seorang gagah perkasa. Mungkin lebih keras dan liar dibandingkan dengan Lulu, juga berjiwa petualang, akan tetapi tidak jahat apa lagi keji.

“Wan Keng In, tahukah engkau, dengan siapa kau bicara?”

“Tentu saja! Dengan Suma Han, Pendekar Siluman, yang juga disebut Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es yang pandai ilmu sihir. Nah, boleh coba sihir aku, atau boleh kau serang aku dengan ilmu-ilmumu yang katanya setinggi langit itu!”

“Ah, anak muda… tidak pernahkah ibumu bicara tentang aku…?

“Jangan sebut-sebut nama Ibuku!” tiba-tiba pemuda itu membentak marah sekali, lalu menudingkan telunjuknya ka arah hidung Suma Han sambil berkata dengan keras dan penuh kebencian, “Karena orang macam engkau inilah ibuku menderita sampai belasan tahun, hidup merana dan selalu berduka! Karena orang macam engkaulah maka ibuku sampai menjadi Ketua Pulau Neraka dan aku hidup di pulau itu sejak kecil! Dan karena ibulah maka sekarang aku menantangmu untuk bertanding mati-matian, Suma Han!

“Wan Keng In, tahukah engkau bahwa mendiang Ayahmu, Wan Sin Kiat, adalah juga seorang sahabat baikku, seperti saudaraku sendiri?”

“Tutup mulutmu yang palsu! Mendiang Ayahku mati karena engkau! Keparat!” Keng In menerjang dengan hebat, menggunakan pedang Lam-mo-kiam yang mengeluarkan sinar berkilat dan membawa hawa yang mengerikan. Serangan itu dahsyat bukan main, dan hanya dengan menggunakan kelincahan Ilmu Soan- hong-lui-kun saja Suma Han berhasil menghindarkan diri dari sambaran sinar berkilat itu.

“Wan Keng In, Ibumu adalah adik angkatku!”

“Engkau membuat hidupnya sengsara! Kakak angkat macam apa engkau ini? Telah kuambil keputusan untuk memusuhimu, dan sekarang aku akan membunuhmu, bukan hanya karena Ibuku, akan tetapi juga karena engkau menghalagi aku membawa pergi Nona calon isteriku ini.”

“Orang muda, engkau tersesat. Ibumu akan berduka sekali melihat engkau seperti ini.”

“Tak perlu banyak cakap lagi!” Wan Keng In sudah menerjang lagi dengan lebih hebat lagi karena dia sudah marah, serangannya dahsyat, apa lagi kini dia mempergunakan Lam-mo-kiam.

Sinar pedang itu berkilat dan menyambar dengan suara bercuitan. Suma Han merasa berduka sekali melihat putera Lulu seperti itu, cepat ia menggerakkan tongkatnya dan menangkis dari samping agar tongkatnya tidak bertemu dengan mata pedang yang amat ampuh itu.

“Tranggg…!”

Keduanya terloncat mundur akibat benturan hebat antara pedang dan tongkat. Wan Keng In tidak merasa heran ketika merasa betapa lengannya tergetar karena dia sudah mendengar dan maklum bahwa Pendekar Super Sakti merupakan lawan yang amat tangguh dan memiliki tenaga sinkang yang jarang terdapat tandingannya. Akan tetapi Suma Han terkejut dan kagum bukan main. Pemuda itu benar-benar amat hebat, dan dari benturan antara tongkat dan pedang tadi, dia dapat mengukur kekuatan pemuda itu yang jauh lebih besar kalau dibandingkan dengan tenaga sinkang yang dimiliki Lulu!

Biar pun maklum akan ketangguhan lawan, Wan Keng In tidak menjadi gentar, bahkan dia makin marah dan sudah menerjang dengan hebatnya. Dia mengeluarkan seluruh ilmu pedang yang ia pelajari dari Cui- beng Koai-ong dan dari ibunya, mengerahkan seluruh tenaganya yang mukjizat karena gurunya, datuk pertama dari Pulau Neraka telah menggemblengnya dengan latihan-latihan sinkang yang tidak lumrah sehingga dia menguasai kekuatan sinkang yang bercampur dengan ilmu hitam.

Begitu pemuda itu mainkan pedangnya, mengerahkan sinkang menggunakan tangan kiri membantu pedangnya mendorong-dorong ke depan, nampak betapa tubuhnya diliputi kabut hitam dan dari dalam kabut itu mencuat sinar-sinar kilat pedangnya melancarkan serangan maut ke arah Suma Han secara bertubi-tubi.

Hati Pendekar Super Sakti merasa tidak karuan menghadapi serangan ini. Berbagai perasaan bercampur aduk. Dia merasa terharu karena menyaksikan putera Lulu sudah menjadi seorang pemuda dewasa, merasa kagum melihat ilmu silat pemuda ini yang benar-benar amat hebat, jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Lulu, dan biar pun dasarnya tidak lebih hebat dari pada dasar ilmu silat yang dimiliki Kwi Hong, namun pemuda ini tentu tidak dapat terlawan oleh Kwi Hong karena selain memiliki ilmu pedang yang aneh dan sinkang yang mengeluarkan kabut hitam, juga cara bertempur pemuda ini nekat dan kejam, mengandung serangan-serangan ganas. Akan tetapi di samping rasa keharuan dan kekaguman ini, dia juga merasa berduka dan marah menyaksikan betapa keponakannya telah tersesat seperti itu.

Sampai puluhan jurus Suma Han menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mencelat ke sana-sini menghindarkan diri, kadang-kadang mendorong pedang dari samping. Melihat betapa sambaran tangan kiri pemuda itu bahkan tidak kalah lihainya oleh pedang di tangan kanan, diam-diam Suma Han maklum bahwa hanya gerak kilatnya saja yang akan mampu menandingi ilmu pedang pemuda itu!

Mengenai tenaga sinkang, tentu saja dia masih menang beberapa tingkat. Kalau dia menghendaki, dengan Soan-hong-lui-kun, tentu dia akan dapat menggunakan ujung tongkatnya untuk merobohkan pemuda itu, juga dengan sinkang-nya, ia bisa mengadu tenaga dan menangkan pertandingan. Akan tetapi dia tidak tega melakukan hal ini, tidak tega melukai putera Lulu. Tadinya dia ingin menggunakan kekuatan sihirnya, akan tetapi hal itu tentu akan membuat pemuda itu tidak tunduk kepadanya, tidak membuatnya dia kapok. Kalau dia ingin supaya pemuda itu menjadi jeri, dia harus menundukkannya dengan ilmu kepandaian.

“Wan Keng In, aku tidak ingin bertanding denganmu. Katakanlah di mana Ibumu, aku ingin bicara dengannya!”

“Kau harus mati di tanganku, atau boleh kau membunuhku kalau mampu!” Pemuda itu berteriak dan memutar pedangnya dengan cepat, mengirim tusukan ke arah dada Suma Han disusul dorongan telapak tangan kiri dari bawah mengarah pusar.

“Trakkkk…! Plakkk…!”

Suma Han tidak mengelak, melainkan menggerakkan tongkatnya menerima pedang itu dari samping. Tangan kanannya menyambut dorongan telapak tangan pemuda itu dengan telapak tangannya pula. Sepasang senjata dan dua buah tangannya itu saling bertemu dan melekat! Keng In terkejut bukan main. Hampir dia tidak dapat percaya bahwa tongkat butut lawannya itu dapat menyambut pedangnya, sedangkan pukulan tangan kirinya mengandung hawa beracun yang amat ampuh, kini telapak tangannya juga disambut oleh telapak tangan Pendekar Siluman, melekat dan tak dapat ia tarik kembali seperti juga pedangnya yang melekat pada tongkat!

“Hemmm…, orang muda, kalau aku tidak mengingat Ibumu, tentu akan kucabut saja tunas buruk seperti engkau ini. Pergilah!” Suma Han yang mempergunakan tenaga sinkang-nya untuk mengatasi pemuda itu, mengerahkan tenaga sakti dan tubuh Wan Keng In terlempar sampai enam tujuh meter ke belakang.

Pemuda itu terhuyung akan tetapi tidak roboh, juga tidak terluka karena memang lawannya tidak ingin melukainya. Wajah yang tampan itu menjadi agak pucat. Wan Keng In seorang pemuda yang keras hati dan tidak mengenal takut, juga dia benci sekali kepada orang yang dianggapnya membikin sengsara ibunya itu. Akan tetapi dia bukan seorang bodoh dan dia maklum bahwa kalau dia berlaku nekat menyerang terus, akhirnya dia akan kalah dan celaka. Pertandingan membuktikan bahwa belum tiba saatnya dia menantang Pendekar Super Sakti.

Dia harus menyempurnakan dulu ilmu kesaktian yang dia pelajari dari gurunya, Cui-beng Koai-ong. Setelah memandang ke arah Suma Han dengan mata mendelik beberapa menit lamanya, dia mendengus, membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi dari tempat itu, diikuti lima orang anak buahnya yang pergi tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan sama sekali tidak berani melirik ke arah Pendekar Siluman. Kekalahan tuan muda mereka tadi mereka terima dengan sewajarnya karena memang mereka maklum akan kesaktian pendekar kaki buntung itu.

Suma Han berdiri mengikuti pemuda itu dengan pandang matanya sampai akhirnya bayangan pemuda dan lima orang anak buahnya itu lenyap di balik anak bukit. Tiba-tiba terdengar olehnya suara seperti bisikan namun cukup jelas, pemuda itu!

“Suma Han, ingat saja engkau! Kalau aku sudah selesai menamatkan ilmuku, kelak akan kucari engkau untuk kita bertanding lagi mati-matian! Biar pun kepandaianmu tinggi seperti siluman, engkau Si Kaki Buntung ini akhirnya tentu akan mampus di tanganku!”

Wajah Suma Han menjadi merah sekali, akan tetapi diam-diam ia makin kagum. Khikang yang disalurkan untuk mengeluarkan suara dari jarak jauh itu sudah cukup hebat! Diam-diam dia merasa berduka.

Dia tidak akan peduli dan memusingkan kalau dia dimusuhi tokoh-tokoh sesat dari mana pun juga dan betapa saktinya pun. Tetapi, dimusuhi pemuda itu, putera Lulu, benar-benar merupakan hal yang membuatnya berduka dan cemas. Sementara itu, tiada habis rasa heran dari hatinya kalau mengingat betapa jujur, halus dan baik watak Lulu, sedangkan Wan Sin Kiat juga seorang pendekar yang gagah perkasa dan selalu menentang kejahatan. Akan tetapi, mengapa putera mereka menjadi seorang pemuda iblis seperti itu?

Suma Han menarik napas panjang. Ahh, tidak keliru kiranya bahwa watak manusia dibentuk oleh keadaan sekitarnya. Anak itu semenjak kecil dibawa oleh ibunya ke Pulau Neraka dan tentu saja setiap hari anak itu melihat watak-watak penghuni Pulau Neraka yang terkenal ganas, liar kejam dan palsu. Dan agaknya Lulu sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaan sebagai Ketua Pulau Neraka, atau mungkin sekali terlalu memanjakan putera tunggalnya itu sehingga pembentukan watak anak itu sepenuhnya dikuasai oleh keadaan sekelilingnya!

Kembali Suma Han menarik napas panjang. Betapa akan hancur hati Lulu kalau menyaksikan sepak terjang puteranya. Dia tahu bahwa Lulu sendiri mempunyai perasaan hati yang aneh terhadapnya. Bisa mencinta sehingga ingin menjadi isterinya, akan tetapi juga bisa membenci sehingga ingin pula memusuhinya kalau tidak dapat menjadi isterinya. Akan tetapi andai kata menjadi musuhnya, wanita itu tentulah seorang musuh yang gagah perkasa dan jujur dan watak Lulu tak mungkin berubah biar pun sudah menjadi Ketua Pulau Neraka.

“Paman, mengapa Paman berduka?” Tiba-tiba terdengar suara halus di sampingnya.

Suma Han seperti baru sadar dari mimpinya. Dia menoleh dan memaksa bibirnya tersenyum ketika melihat Alan sudah berdiri di situ dan memandangnya dengan sinar matanya yang lembut. Melihat wajah cantik dan sinar mata lembut penuh kasih ini hati Suma Han menjadi makin sakit dan duka. Dara jelita ini adalah puteri ketua Thian-liong-pang, seorang wanita iblis berkerudung yang terkenal jahat dan kejam. Seorang wanita seperti iblis itu dapat mempunyai puteri sebaik ini, mengapa sebaliknya seorang wanita seperti Lulu mempunyai seorang putera sejahat itu?

“Paman, mengapa Paman kelihatan berduka?” Kembali Milana bertanya.

Tadi ketika melihat ayahnya bertanding melawan pemuda itu, dia menonton dengan penuh kagum, tetapi juga kecewa karena ayahnya membebaskan pemuda itu begitu saja tanpa melukainya sedikit pun. Kemudian ia melihat ayahnya berdiri termenung seperti arca, dengan wajah yang tampan itu sebentar merah sebentar pucat, berkali-kali menghela napas panjang sambil memandang ke depan, ke arah perginya Wan Keng In dan anak buahnya tadi.

“Ohh, tidak apa-apa, Alan. Hanya… eh, di mana rajawali kita?”

“Dia terbang dikejar oleh rajawali besar tadi, Paman. Dua ekor burung tadi bertanding, dan rajawali peliharaan Paman terdesak dan luka-luka. Mereka bertanding sambil terbang tinggi sehingga aku tidak dapat membantu.”

“Hemmm, biarlah. Burung itu memang berasal dari Pulau Neraka, agaknya kini sudah ditundukkan kembali oleh bekas majikannya itu. Alan, bagaimana engkau tadi dapat bertemu dan bertanding dengan dia?”

“Aku sedang menuju ke dusun untuk mencari bahan masakan ketika aku bertemu dengan rombongan Pulau Neraka itu keluar dari dusun. Karena aku tahu betapa jahatnya mereka, aku lalu melarikan diri akan tetapi mereka mengejar dan aku tersusul di sini. Tentu saja aku melawan sedapatku, akan tetapi dia lihai sekali. Paman, mengapa Paman tadi membiarkan dia pergi? Orang seperti itu seperti seekor ular yang beracun dan jahat, kalau tidak dibasmi, tentu kelak hanya akan mencelakai orang lain saja.”

Suma Han menarik napas panjang. “Aku tak mungkin dapat membunuhnya, Alan. Engkau tidak tahu… ahhh…” Wajah pendekar itu kelihatan berduka sekali.

Melihat ini Milana merasa amat kasihan kepada ayah kandungnya. Tentu ada sesuatu antara ayah kandungnya dengan Pulau Neraka, ada rahasia besar yang membuat ayahnya itu bersikap lunak terhadap Wan Keng In.

“Aku tidak berhasil memasakkan sesuatu untukmu, Paman. Maafkan…”

“Tidak mengapa, Alan. Aku tadi sudah makan roti kering, cukup kenyang. Marilah kita melanjutkan perjalanan. Kota raja tidak jauh lagi, di sana tentu banyak rumah makan besar dan kita dapat makan sepuasnya.”

Milana tidak membantah dan berangkatlah mereka berdua menuju ke selatan, ke kota raja. Sebentar saja mereka sudah melalui jalan raya menuju kota raja yang ramai dan tampak banyak penunggang kuda atau kereta-kereta berkuda yang datang dari beberapa jurusan menuju ke kota raja, ada pula yang bersimpang jalan, yaitu mereka yang baru saja meninggalkan kota raja.

Sudah belasan tahun Suma Han tidak pernah muncul di kota raja. Biar pun di dunia kang-ouw nama Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Tocu Pulau Es merupakan nama yang paling menonjol dan amat terkenal, namun jarang ada orang pernah melihat Pendekar Super Sakti, bahkan tokoh-tokoh kang- ouw sebagian besar belum pernah bertemu dengan pendekar itu. Apa lagi penduduk kota raja! Maka kini Suma Han dengan enak dapat memasuki kota raja tanpa khawatir akan dikenal orang, baik oleh penduduk mau pun oleh para prajurit penjaga. Di kota raja, yang sudah lama ditinggalkannya itu, tentu hanya beberapa gelintir orang saja yang pernah bertemu dengannya dan mereka itu adalah orang-orang berkedudukan tinggi seperti Thian Tok Lama, Koksu dan lain-lain yang tentu berada di dalam gedung masing-masing dan tidak pernah berkeliaran di dalam kota.

Milana sendiri tidak asing di kota raja. Sudah sering dia keluar masuk kota raja, akan tetapi dia pun tidak dikenal orang sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang. Oleh karena itu, dia pun memasuki pintu gerbang kota raja di samping Suma Han dengan hati tenteram dan tidak khawatir dikenal orang. Apa lagi sejak dia melakukan perjalanan di samping ayah kandungnya, terutama setelah ayahnya itu menyelamatkan dengan mudah dari tangan Wan Keng In, hati Milana menjadi tenang dan penuh kepercayaan bahwa selama ia berada di samping ayahnya, tidak ada seorang pun yang akan dapat mengganggunya!

Wajahnya berseri gembira ketika dia memasuki kota raja dengan ayahnya, penuh kebanggaan karena kiranya tidak banyak orang yang dapat berdampingan dengan Pendekar Super Sakti! Dia bukan hanya berdampingan, bahkan dia adalah puterinya, puteri kandungnya biar pun hal ini masih terpaksa harus dia rahasiakan dari pendekar itu sendiri.

Memang tidak aneh melihat seorang berkaki buntung di waktu itu. Banyak terdapat orang-orang yang menderita cacad akibat perang penyerbuan bala tentara Mancu yang baru saja padam.

Seperti halnya perang di bagian mana pun di permukaan bumi ini, semenjak jaman sebelum sejarah sampai sekarang, perang mendatangkan mala petaka yang amat mengenaskan hati. Setelah perang selesai, setelah hati tidak lagi dikuasai oleh nafsu angkara murka, barulah tampak oleh mata kita akan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perang, akibat yang mendirikan bulu roma bagi orang yang masih memiliki sedikit saja cinta kasih dan peri kemanusiaan.

Setelah perang padam, tampak bangunan-bangunan bekas terbakar, kuburan-kuburan penuh makam baru, anak-anak yatim piatu, janda-janda muda terjerumus ke dalam lembah pelacuran, penderita- penderita cacad yang buntung lengannya, buntung kakinya, luka-luka tubuhnya dan ada pula yang terluka jiwanya menjadi gila, gelandangan-gelandangan karena kehilangan keluarga, kehilangan rumah, kehilangan mata pencarian, dan dari kaum gelandangan ini timbul pengemis-pengemis, pencuri-pencuri, atau ada yang menggabungkan dari dengan perampok-perampok. Mala petaka ini yang tampak oleh mata, masih banyak mala petaka lain yang tidak tampak, namun lebih mengerikan lagi, yaitu akibat perang berupa dendam sakit hati dan iri yang menjadi bahan penciptaan perang baru!

Tidak ada untungnya, lahir mau pun batin, dalam sebuah perang. Keuntungan yang tampak hanyalah keuntungan palsu yang di jadikan hiburan manusia untuk menyelimuti kengerian akibat perang. Pemerintah Mancu yang berhasil merebut tahta kerajaan dan kepemimpinan, mengatakan bahwa mereka mendatangkan kemakmuran bagi rakyat dan telah berhasil menumbangkan kekuasaan pemerintah lama yang penuh kelaliman. Namun, semua itu hampa belaka, karena sungguh tidak mungkin menciptakan perdamaian dengan peperangan!

Bangsa Mancu menggunakan berbagai alasan hiburan untuk perjuangan mereka, yaitu memberantas kelaliman para pemimpin dan mendatangkan kemakmuran bagi rakyat. Akan tetapi, setelah perang berakhir, yang berubah dan berbeda hanyalah sifat dan caranya belaka, namun kelaliman tetap ada, kemakmuran rakyat tetap hanya merupakan janji-janji yang diulur-ulur panjang belaka.

Hal seperti ini akan terus berlangsung selama manusia belum sadar akan perang yang terjadi di dalam diri manusia masing-masing sendiri. Selama segala tindak, segala gerak, segala usaha merupakan akibat langsung dari akal pikir yang paling suka memusatkan segala kepada AKU, diriku, keluargaku, milikku, bangsaku, negaraku, agamaku, dan selanjutnya. Selama AKU menguasai setiap orang manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa segala peristiwa, termasuk perang, merupakan gerakan demi kepentingan Sang AKU. Betapa pun banyak selimut yang dipergunakan untuk menyembunyikan dasar ‘demi aku’ ini, yang disebut dengan banyak kata-kata indah seperti perjuangan, kepahlawanan, demi nusa bangsa dan lain-lain, namun sungguh sayang sekali, di dasar dari segala itu bersembunyilah Sang Aku yang sebenarnya menjadi pendorong dari semua gerak hidup. Dan selama AKU bercokol menjadi dasar yang mendorong semua gerak hidup, maka yang timbul hanyalah pertentangan dan persoalan yang mendatangkan kepuasan di satu pihak, kekecewaan di lain pihak, suka duka, iri dengki, dendam dan sebagainya.

Setiap tampak akibat yang tidak baik, seluruh manusia sibuk mencarikan kambing hitam agar diri sendiri tetap bersih! Semua manusia lupa bahwa segala macam kemunafikan dan maksiat bukan berada di luar, melainkan berada di dalam diri manusia sendiri! Semua manusia menujukan pandang mata keluar tanpa mengingat untuk menujukan ke dalam biar semenit pun! Bahagialah dia yang menujukan pandang mata ke dalam, menjenguk dan mengenal diri pribadi dengan segala macam isinya, mengenal pikiran sendiri yang membedal ke mana-mana dengan liarnya, tak terkendalikan!

Suma Han dan Milana berjalan seenaknya sambil menikmati pemandangan di kota raja. Pemerintah Mancu telah membangun gedung-gedung besar yang megah dan indah di sepanjang jalan di kota raja sehingga kota raja nampak indah dan megah sekali, melebihi masa yang lalu. Kemajuankah ini? Demikianlah kalau ditonton begitu saja, ditonton keadaan kota rajanya dengan bangunan-bangunan baru yang besar dan indah.

Akan tetapi, adakah kemajuan dapat diukur dari keadaan bangunannya, bukan dari keadaan manusianya? Kalau diketahui siapa pemilik gedung-gedung itu, maka akan ditemuilah jawab dari segala sebab timbulnya perang yang semenjak jaman dahulu selalu timbul. Gedung-gedung itu tentu saja dimiliki oleh penguasa yang menang perang! Hanya berganti bangunan baru dan penghuni, dari mereka yang dikalahkan kepada mereka yang menang. Rakyat hanya dapat menonton dan dari menoton ini diharapkan ucapan mereka ‘kita telah mengalami kemajuan-kemajuan’!

Biar pun banyak terdapat orang berkaki buntung sungguh pun tidak pernah ada yang mengurai rambut seperti Suma Han, apa lagi kalau rambutnya yang panjang itu sudah putih semua, dan banyak terdapat gadis-gadis muda yang biasa merantau sebagai gadis-gadis kang-ouw, namun tetap saja Suma Han dan Milana menarik perhatian orang. Laki-laki berkaki buntung itu wajahnya tampan dan belum tua benar, namun rambutnya sudah putih semua seperti benang-benang sutera perak sedangkan sinar matanya membuat orang-orang yang bertemu pandang menundukkan muka atau mengalihkan pandang mata dengan tengkuk dingin mengkirik. Ada pun dara remaja yang berjalan dl samping laki-laki berkaki buntung ini, dengan wajah berseri tersenyum-senyum, memiliki kecantikan yang luar biasa!

Suma Han melihat betapa banyak orang memandang mereka penuh perhatian, maka dia lalu mengajak dara itu memasuki sebuah rumah penginapan. Seorang pelayan menyambut mereka, mata pelayan itu tidak memandang kepada Suma Han yang tidak menarik baginya, melainkan memandang kepada Milana yang benar-benar merupakan pemandangan yang amat menggairahkan hatinya!

“Beri kami dua buah kamar yang berdampingan,” kata Suma Han. Pelayan itu terkejut karena tadinya dia merasa seolah-olah terbang di sorga ke tujuh dan berjumpa dengan seorang bidadari Sorga! Ketika ia menoleh dan bertemu pandang dengan Suma Han, dia terkejut sekali, punggungnya seperti disiram air dingin dan dia cepat membungkuk-bungkuk dan mempersilakan mereka mengikutinya untuk memilih dua buah kamar yang berdampingan.

Setelah menaruh barang bekal di kamar masing-masing dan makanan siang yang dipesannya dari pelayan dan dihidangkan ke ruangan depan kamar mereka, Suma Han dan Milana duduk di dalam kamar Suma Han, bercakap-cakap.

“Kapankah Paman akan mulai menyelidik dan mencari musuh-musuh Paman?”

“Aku harus berhati-hati, Alan. Musuh-musuhku adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi dan tentu berada di dalam istana-istana yang terjaga ketat oleh pasukan pengawal. Menyelidiki di siang hari tidaklah mungkin, bahkan di malam hari pun amat berbahaya karena biar pun pasukan yang baru tidak mengenalku, namun para perwira dan panglima tentu akan mengenalku begitu bertemu denganku. Sesungguhnya, mencari mereka di kota raja amat tidak leluasa bagiku, akan tetapi apa boleh buat, malam nanti aku harus menyelidiki ke lingkungan istana, atau ke rumah Koksu karena di sanalah berkumpulnya musuh-musuhku yang menjadi pembantu Koksu.”

“Kalau bertemu dengan mereka, apa yang hendak Paman lakukan?” tiba-tiba Milana bertanya.

Mendengar pertanyaan ini, Suma Han termenung dan berpikir sejenak sebelum menjawab. “Aku… aku akan minta pertanggungan jawab mereka yang telah merusak Pulau Es dan Pulau Neraka. Selama ini kami tidak pernah menentang pemerintah, mengapa kini mereka menyerbu dan merusak Pulau Es? Selain itu, karena Maharya dan Tan-siucai juga membantu Koksu, tentu mereka berada di sini dan aku hendak minta kembali pedang Hok-mo-kiam yang mereka rampas.” Suma Han tidak mau menceritakan niatnya yang lain, yaitu menyelidik dan mencari Nirahai yang disangkanya tentu kembali ke kota raja!

“Paman, di antara musuh-musuhmu itu, siapakah yang paling lihai?”

“Hemm, hal ini agak sukar untuk ditentukan karena hanya beberapa orang di antara mereka yang pernah bertanding melawanku, yaitu Thian-tok Lama, Pendeta Maharya, dan mungkin beberapa orang panglima yang tertua. Dengan Koksu sendiri, aku belum pernah bertanding dan kabarnya dia amat lihai. Akan tetapi, kurasa dia tidaklah selihai Pendeta Maharya. Pendeta dari barat itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh, selain lihai sekali ilmu silatnya, juga dia seorang yang memiliki ilmu sihir dan ilmu hitam yang kuat.”

“Akan tetapi, aku yakin Paman tentu akan dapat mengalahkan mereka!” kata Milana dengan suara tegas dan pandang mata penuh kekaguman ditujukan kepada wajah ayahnya. Melihat pandang mata gadis ini, Suma Han merasa jantungnya berdebar!

“Aku dapat menandingi mereka satu lawan satu, tetapi kalau mereka mengeroyok, apa lagi dibantu pasukan-pasukan pengawal yang kuat, belum tentu aku akan dapat menang. Akan tetapi, kedatanganku bukan untuk menantang mereka bertanding, hanya untuk minta kembali pedang dan minta penjelasan dan pertanggungan jawab mereka mengapa Pulau Es dan Pulau Neraka diserbu pasukan pemerintah.”

“Mereka tentu akan mengeroyok dan menangkapmu, Paman!”
“Hemm, kalau memang demikian, apa boleh buat, terpaksa aku melawan.”

Hati Milana merasa tidak enak sekali. Dia percaya bahwa ayahnya amat sakti, akan tetapi dia tahu bahwa tepat seperti pengakuan ayahnya sendiri, kalau banyak orang sakti maju mengeroyok ditambah pasukan- pasukan pengawal kerajaan, mana mungkin ayahnya yang hanya seorang diri itu kuat bertahan? Baru menyelidiki ke sana saja sudah amat tidak leluasa bagi ayahnya! Berbeda dengan dia!

Ibunya adalah bekas puteri Kaisar dan bekas pahlawan yang berkedudukan tinggi, bahkan kini Koksu sendiri sudah tahu, ibunya adalah ketua ketua Thian-liong-pang dan kini Thian-liong-pang bekerja sama dengan Koksu, membantu pemerintah menentang dan membasmi mereka yang hendak memberontak! Kalau dia yang menyelidiki, kalau dia yang pergi kepada Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, minta kebijaksanaan Koksu itu untuk membujuk pembantunya, Maharya mengembalikan Hok-mo-kiam, minta kepada Koksu agar jangan mengeroyok dan menentang Pendekar Super Sakti, tentu harapannya lebih besar. Koksu sudah mengenalnya, juga para pembantunya sudah tahu bahwa dia adalah puteri Ketua Thian-liong-pang yang kini merupakan sekutu mereka!

“Alan, malam ini aku akan pergi menyelidik. Harap engkau menantiku di sini saja dan jangan engkau pergi ke mana-mana. Keadaan di kota raja berbahaya, di sini banyak terdapat orang pandai.”

“Apakah Paman tidak mengajakku pergi menyelidiki?”

“Ah, aku hanya akan membawamu ke dalam bahaya, Alan. Dan pula, apa perlunya? Tidak, kau tunggu saja di sini, aku pasti akan kembali sebelum pagi.”

Milana menunduk. “Baiklah, Paman. Akan tetapi sore ini aku ingin sekali pergi berjalan-jalan melihat pemandangan kota.”

“Sesukamulah, akan tetapi harap kau berhati-hati. Engkau masih muda dan cantik jelita, akan banyak menghadapi godaan.”

“Aku dapat menjaga diri, Paman. Eh, benarkah pendapat Paman bahwa aku… cantik?” tanyanya dengan hati girang sekali. Ayahnya sendiri yang memujinya, bagaimana hatinya tidak akan merasa bangga dan senang?

“Engkau adalah seorang gadis yang amat cantik jelita, Alan.”

“Terima kasih atas pujianmu, Paman. Nah, aku akan pergi berjalan-jalan. Harap Paman nanti berhati-hati kalau pergi menyelidiki.”

Suma Han mengangguk. “Biar pun aku percaya bahwa dengan kepandaianmu, tidak sembarang orang akan dapat mengganggumu, tetapi harap engkau suka bersabar dan jangan menimbulkan keributan, juga jangan terlalu malam kembali ke sini.”

Milana mengangguk-angguk dan hatinya terharu. Pendekar itu menasehatinya seperti kepada anaknya sendiri! Padahal dalam pengertian pendekar itu, dia adalah seorang tawanan bahkan puteri musuhnya! Dengan hati senang bercampur haru, Milana pergi meninggalkan rumah penginapan. Tentu saja dia bukan berniat untuk berjalan-jalan, melainkan hendak menjumpai Bhong Ji Kun, Koksu negara yang dia ketahui pula di mana letak gedungnya. Akan tetapi, agar tidak menarik perhatian orang luar, dia pergi berjalan-jalan lebih dahulu dan setelah malam tiba, keadaan cuaca mulai gelap, barulah dia menuju ke gedung Koksu yang megah.

Sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang, tentu saja Milana merasa rendah kalau harus datang menghadap Koksu seperti orang biasa. Apa lagi kalau ia datang menghadap seperti itu, tentu dia akan berhadapan dengan para penjaga dan diperlakukan seperti orang biasa saja. Tidak! Dia adalah puteri Ketua Thian- liong-pang, tentu saja dia harus bersikap sesuai dengan kedudukan ibunya yang tinggi dan lihai.

Dengan kepandaiannya, tidaklah sukar bagi Milana untuk berloncatan ke atas genteng, melalui pagar tembok gedung Koksu dengan gerakan seperti terbang cepatnya sehingga tidak tampak oleh para penjaga dan peronda, kemudian dengan hati-hati dia menyelinap antara bayangan gelap, mencari di mana adanya Koksu pada saat itu.

Masih untung bagi Milana bahwa pada saat itu, para pembantu Koksu yang lihai semua sedang berkumpul di satu tempat, yaitu di ruangan dalam tempat mereka sedang berunding, duduk mengelilingi sebuah meja besar di ruangan itu menghadapi koksu. Andai kata orang-orang lihai seperti Thian Tok Lama, Maharya, para panglima besar seperti Bhe Ti Kong dan lain-lain berada di kamar masing-masing, juga koksu sendiri, maka kemungkinan besar kedatangan Milana akan mereka ketahui semenjak tadi!

Milana berhasil mengintai dari luar jendela ruangan perundingan itu dan dia melihat Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dihadap oleh Thian Tok Lama, Maharya, dan enam orang panglima yang berpakaian gagah. Dia merasa heran tidak melihat kehadiran Thai Li Lama dan Tan siucai. Tentu saja dia tidak tahu bahwa kedua orang lihai ini telah tewas di tangan Gak Bun Beng saat mereka dahulu bersembunyi dan mengintai pertandingan di gurun tandus yang diadakan oleh Thian-liong-pang.

Selagi Milana hendak memperlihatkan diri dan menyatakan kedatangannya, tiba-tiba ia mendengar suara Koksu menyebut-nyebut nama ibunya! Tentu saja ia cepat menahan diri, bahkan menahan napas agar dapat mendengarkan lebih jelas percakapan antara mereka.

“Puteri Nirahai telah menjadi ketua Thian-liong-pang dan telah membantu kita membasmi para pemberontak. Akan tetapi, Kaisar belum tahu bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah puterinya! Hanya menerima pelaporan bahwa Thian-liong-pang membantu pemerintah. Munculnya Nirahai benar-benar membikin ruwet rencana kita, agaknya dia ingin berbaik kembali dengan Kaisar. Dia lihai sekali dan dapat menggagalkan rencana kita yang sudah hampir masak. Tidak ada jalan lain lagi, dia harus disingkirkan, harus dibunuh!”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Milana mendengar ucapan itu. Jantungnya berdebar sangat keras sehingga ia khawatir kalau-kalau suara detak jantungnya akan terdengar oleh mereka yang sedang mengadakan perundingan di sebelah dalam, maka dia menekan dada dengan tangan dan menekan perasaannya, memasang perhatian untuk mendengar terus.

“Akan tetapi dia adalah puteri Kaisar!” terdengar Thian Tok Lama berseru kaget.

“Kalau dia berhasil terbunuh dengan memakai kerudung sebagai Ketua Thian-liong-pang yang kita buatkan bukti-bukti memberontak, andai kata kemudian Kaisar sendiri mendengar bahwa dia puterinya, kiranya Kaisar tidak akan menyalahkan kita. Bahkan akan menutup rahasia itu, karena Kaisar tentu tidak ingin tersiar di luaran bahwa puterinya menjadi ketua Thian-liong-pang yang memberontak!” kata Koksu lagi.

“Memang tepat apa yang dikatakan Koksu,” terdengar pula suara Maharya yang kaku. “Kalau Thian-liong- pang tidak dihancurkan lebih dulu, akan merupakan kekuatan sebagai pembela kaisar dan untuk menghancurkannya, jalan satu-satunya adalah membunuh Ketuanya. Memang dia lihai, akan tetapi menurut penglihatanku, aku sendiri dapat menandinginya, dan kalau aku dibantu oleh Thian Tok Lama, aku yakin dia akan dapat dibunuh. Pihak Mongol sudah siap, tinggal menanti isyarat dari kita, kalau sampai terhalang oleh utusan Thian-liong-pang, tentu akan tertunda lagi dan mereka akan patah semangat dan mundur.”

“Pihak Tibet juga sudah siap, tinggal menanti komando,” kata Thian Tok Lama.

“Nah, kalau begitu, kita harus…” Mendadak Koksu menghentikan kata-katanya karena dia melihat tubuh Maharya sudah bergerak meloncat ke jendela sambil menyambar senjatanya yang mengerikan, yaitu tombak yang matanya melengkung seperti bulan sabit.

“Braaakkk!” jendela itu hancur berkeping-keping dan terbuka, tubuh Maharya melesat keluar.

“Trang-trang-trang…!” Senjata di tangan Maharya itu ditangkis sampai tiga kali oleh pedang Pek-kong-kiam di tangan Milana.

“Eh, engkau… Nona…?” Maharya terkejut sekali ketika mengenal bahwa orang yang diserangnya adalah puteri Ketua Thian-liong-pang! Dan pada saat itu, Koksu, Thian Tok Lama dan panglima yang tadi berada di dalam ruangan telah meloncat ke luar semua.

Keringat dingin membasahi dahi Milana. Serangan Maharya tadi benar-benar hebat luar biasa. Selain pendeta itu dapat mengetahui kehadirannya di luar jendela, juga begitu meloncat dan menerjang ke luar, senjata di tangan pendeta itu telah langsung menyerangnya bertubi-tubi sehingga dia harus cepat-cepat mengelak dan menangkis. Tangan kanannya terasa tergetar hebat ketika dia menangkis senjata tombak bulan sabit di tangan pendeta Maharya tadi.

Kalau saja dia tidak mendengarkan percakapan tadi, tentu Milana tidak menjadi gentar menghadapi mereka yang tentu saja dianggapnya sekutu ibunya. Akan tetapi kini, dia memandang mereka sebagai musuh-musuh yang hendak membunuh ibunya! Tentu saja dia menjadi marah bukan main, kemarahan yang disertai kekhawatiran akan nasib ibunya, lupa akan keadaan dirinya sendiri yang sudah terkurung dan sedang terancam hebat itu.

“Ah, kiranya Nona Milana yang datang. Ada keperluan apakah tiba-tiba Nona datang berkunjung ke rumahku?” Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun bertanya, matanya tajam memandang untuk menyelidiki apakah nona ini tadi mendengar percakapan mereka atau tidak.

Milana bukan seorang dara yang bodoh. Dia maklum bahwa dia berada di goa singa yang amat berbahaya. Kalau dia melampiaskan kemarahannya di saat itu, sehingga dia harus bertanding melawan mereka, tentu dia akan celaka. Maka dia memaksa sebuah senyum manis sambil berkata,

“Koksu, aku datang untuk bicara mengenai urusan penting denganmu.”

“Ahhh, maafkan penyambutan kami tadi, Nona, karena kami tidak tahu bahwa engkau yang datang. Mari, silakan masuk.”

Pintu ruangan itu dibuka lebar, kemudian mereka semua memasuki ruangan. Milana dipersilakan duduk oleh Koksu yang masih ramah sikapnya. “Silakan duduk, Nona Milana dan terimalah ucapan selamat datang dari kami dengan secawan arak.”

“Terima kasih, tidak usah, Koksu. Aku datang hanya untuk bicara sebentar dan takkan lama di sini,” jawab Milana, akan tetapi dia duduk juga melihat semua orang sudah duduk.

“Apakah Nona datang seorang diri? Ataukah dengan Pangcu?” Koksu bertanya, diam-diam mengerling ke arah jendela yang sudah pecah dan terbuka karena ia khawatir kalau-kalau nona ini datang bersama ibunya yang luar biasa lihainya itu.

“Aku datang sendiri untuk… untuk…” Milana menjadi bingung sekali.

Setelah mendengar percakapan tadi dan mendapat kenyataan bahwa mereka semua ini adalah musuh- musuh yang merencanakan pembunuhan terhadap ibunya, lenyap sama sekali keinginannya untuk membujuk Koksu agar menyerahkan Pedang Hok-mo-kiam kepada Pendekar Super Sakti dan agar tidak menentang ayahnya itu. Mana mungkin mereka mau memenuhi permintaannya setelah ternyata bahwa mereka ini bukanlah sahabat melainkan justru musuh yang berbahaya? Maka ketika hendak menyatakan isi hatinya, dia menjadi ragu-ragu dan gugup.

Tiba-tiba terdengar Maharya membentak. “Engkau tentu sudah sejak tadi datang, bukan? Mengakulah dengan jujur!” Ucapan ini bukan sembarangan, melainkan suara yang disertai sinkang kuat sekali dan membawa pengaruh sihir yang seolah-olah mencengkeram semua semangat dan kemauan Milana, membuat dara itu tidak berdaya dan di luar kehendaknya sendiri, mulutnya mengeluarkan suara hatinya.

“Memang aku sudah datang sejak tadi.” Milana amat kaget mendengar pengakuannya sendiri yang keluar dari hati yang jujur.

“Dan engkau sudah mendengarkan percakapan kami? Hayo, jawab setulusnya!” Kembali Maharya menghardik dengan suara yang bergema aneh dan penuh wibawa.

Milana kini sudah memandang wajah kakek itu dan pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang mendelik dan amat tajam. Dia maklum bahwa dia terpengaruh oleh kekuasaan sihir kakek itu, namun betapa pun dia mengerahkan sinkang melawan, tetap saja dia tidak dapat menahan mulutnya yang menjawab, “Benar, aku sudah mendengarkan percakapan kalian.”

Koksu mengeluarkan seruan kaget dan kembali terdengar suara Maharya, “Apakah engkau tahu apa yang kami percakapkan? Jawab dan jelaskan!”

Milana kini sudah hampir dapat mengatasi dirinya. Sinkang-nya sudah kuat sehingga dia mampu melawan pengaruh mukjizat itu, dan selain ini, dara ini mewarisi sinar mata tajam dari ayahnya sehingga pada dasarnya dia memiliki sinar mata yang amat kuat. Akan tetapi dia belum lolos sama sekali dari cengkeraman kekuasaan sihir Maharya, maka biar pun suaranya sudah lemah tanda bahwa dia hampir dapat menguasai diri dan melawan tenaga mukjizat yang mendorongnya untuk mengaku, masih saja terdengar pengakuannya.

“Aku… aku tahu… bahwa kalian… hendak membunuh Ibuku… aihhh!” Kini Milana sudah dapat menguasai dirinya dan cepat ia meloncat ke belakang sambil mencabut Pedang Pek-kong-kiam yang tadi sudah dia sarungkan kembali. Maklumlah dia bahwa dia sudah terlanjur membuat pengakuan dan maklum bahwa tentu mereka itu tidak akan membiarkan dia pergi menyampaikan rahasia itu kepada Ibunya.

Benar dugaannya, karena Koksu sudah berseru, “Dia harus kita tangkap!”

Semua orang bergerak dan bayangan mereka berkelebatan cepat sekali, tahu-tahu Milana telah terkurung dan berada di tengah-tengah. Maharya berada di depannya, Koksu dan Thian Tok Lama di kanan kirinya, sedangkan enam orang panglima berada di belakangnya!

Milana berdiri dengan tegak, pedangnya melintang depan dada, tangan kiri terangkat ke atas kepala, siap menghadapi serangan mereka. Seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan menggetar, matanya melirik ke depan, kanan dan kiri, dagunya ditarik keras dan mukanya agak menunduk, kedua kakinya berdiri dengan tumit diangkat sedikit karena dia maklum bahwa menghadapi orang-orang lihai ini dia membutuhkan kecepatan gerak dan ginkang-nya. Sampai agak lama mereka semua diam tak bergerak seperti arca-arca batu, suasana menjadi amat tegang.

Tiba-tiba Maharya berkata dalam bahasa Nepal yang dimengerti oleh Koksu. Koksu ini adalah seorang peranakan India yang sudah menjadi Warga Negara Mancu, akan tetapi karena sejak kecil dia tinggal di Nepal, maka dia tidak mengerti bahasa India dan lebih paham bahasa Nepal. Karena itulah maka Maharya bicara bahasa Nepal kepada murid keponakan itu, “Dia tahu akan rahasia kita, harus kita bunuh sekarang, lebih cepat lebih baik!”

Akan tetapi, dalam bahasa Nepal pula yang tak dimengerti oleh Milana dan orang lain kecuali Thian Tok Lama, Koksu berkata, “Jangan dibunuh, dia harus ditangkap untuk memancing dan memaksa ibunya menakluk!”

Menggunakan kesempatan selagi dua orang itu bicara dan yang lain memperhatikan percakapan dalam bahasa asing itu, tiba-tiba Milana meloncat dan memutar pedang Pek-kong-kiam melindungi tubuh dari serangan di bawah kaki, sedangkan tubuhnya melayang ke arah jendela untuk melarikan diri.

“Tranggg…!” Tiba-tiba Maharya sudah berkelebat dan mendahului Milana menghadang di depan lubang jendela sehingga ketika Milana menerjang, pendeta itu menangkis dengan senjatanya dan hampir saja Milana melepaskan pedangnya saking kerasnya tangkisan itu yang membuat tangannya tergetar hebat.

Yang lain-lain sudah mengejar dan mengepung, namun Milana sudah memutar pedangnya dan mengamuk dengan hebat. Dia seorang dara yang tak mengenal takut, percaya akan kepandaian sendiri dan dia mengambil keputusan untuk melawan sampai titik darah terakhir. Ia maklum bahwa orang-orang ini adalah musuh-musuh yang tak akan membiarkan ia hidup, maka hanya ada satu jalan baginya, yaitu melawan mati-matian dengan dua kemungkinan, tewas di tangan mereka atau berhasil lolos untuk menyelamatkan ibunya yang terancam bahaya maut.

“Wuuut-wuuuttttt…!”

Milana terkejut dan cepat melempar diri ke belakang dan berjungkir balik tiga kali untuk meloloskan diri dari sinar merah yang menyambarnya dari samping dan menyilaukan matanya.

“Tarr-tarrr!”

Kiranya yang menyambarnya dan yang kini meledak-ledak adalah pecut kulit berwarna merah yang berada di tangan Koksu yang berdiri sambil tersenyum mengejek di depannya.

“Pemberontak hina! Pengkhianat tak tahu malu!” Milana membentak marah. “Selain hendak berkhianat terhadap pemerintah, engkau juga hendak membunuh Ibuku! Manusia macam engkau ini mana bisa membunuh Ibuku? Lebih dulu kau mampus di tanganku!” Sambil berkata demikian Milana sudah menerjang maju dengan cepat sambil menggerakkan pedangnya secara ganas namun hebat sekali. Koksu yang memandang rendah dara remaja itu, dengan sembarangan mengebut dengan pecut merahnya.

“Singggg…! Tarrr… brettt!”

“Hayaaaa…!” Bhong Ji Kun berseru kaget.

Karena memandang rendah jurus yang dimainkan dara itu dan menangkis secara sembarangan saja, ujung pecut merahnya telah terbabat putus. Itulah jurus dari Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat yang hebat sekali, ilmu pedang tingkat tinggi ciptaan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan pendiri Beng-kauw, kakek luar dari Pendekar Sakti Suling Emas! Dan Koksu ini dengan sembrono telah berani memandang rendah karena dimainkan oleh seorang dara remaja!

Suara bercuit yang datang dari belakang membuat Milana cepat memutar tubuh sambil membabatkan pedangnya menangkis.

“Tranggg!”

Sekali lagi pedangnya bertemu dengan senjata di tangan Maharya dan hampir saja terlepas dari pegangannya. Cepat ia meloncat ke arah kiri, pedangnya bergerak dan terdengar suara nyaring dua kali ketika ia berhasil membuat dua batang golok patah disusul robohnya dua orang panglima yang ikut mengeroyok akan tetapi belum sempat turun tangan karena telah didahului oleh dara perkasa itu!

“Ihhh, keparat!” Koksu menjadi marah sekali, dengan pecut buntungnya dia menotok dari belakang, mengarah punggung Milana.

Dara itu meloncat ke depan menghindar, akan tetapi dia disambut oleh pukulan Thian Tok Lama yang telah berjongkok dan mengirim dorongan pukulan dengan tangan kiri. Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke depan, menyambut tubuh Milana yang masih melayang turun.

“Siuuuuutttt!”

Milana yang merasa datangnya angin pukulan dahsyat menyambarnya, terkejut bukan main. Dia berusaha untuk berjungkir balik, akan tetapi tidak keburu dan terpaksa dia mengerahkan sinkang ke arah dada dan perutnya untuk menahan serangan itu.

“Dessss!”

Angin pukulan menghantam perut Milana, membuat dara itu terjengkang dan hampir terbanting keras kalau saja dia tidak cepat menjatuhkan diri miring dan menekan lantai dengan tangan, lalu meloncat bangun. Napasnya sesak, mukanya pucat dan dia merasa dadanya sakit. Akan tetapi pada saat itu, senjata di tangan Maharya kembali telah menyambar ke arah kakinya. Agaknya pendeta ini akan merobohkannya tanpa membunuhnya, maka menyerang ke arah kaki Milana. Tentu saja Milana yang tentu tidak memperbolehkan kakinya dibabat senjata, meloncat ke atas, dan pedangnya menyambar ke arah leher Maharya yang cepat mengelak ke belakang.

“Gadis berkepala batu!” Koksu membentak marah. Dia menjadi penasaran sekali. Masa mereka bertiga, kakek-kakek yang berilmu tinggi, harus mengeroyok seorang gadis remaja? Dengan marah dia menerjang dengan pecut yang ujungnya buntung itu, dan kini pecut itu menjadi kaku, dipergunakan sebagai tongkat menotok jalan darah di tengkuk Milana.

“Haiiiitttt!” Milana memutar tubuh, mengelebatkan pedang dengan niat untuk membabat pecut Koksu agar putus tengahnya. Akan tetapi Koksu tiba-tiba membuat pecut lemas dan pedang menyambar dibiarkannya lewat, kemudian pecut yang sudah lemas itu menyusul dan melibat pedang Milana! Dara itu berusaha menarik pedangnya, akan tetapi tidak berhasil.

“Brettt… auhhhhhh!” Milana melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang. Paha kirinya tampak luka dan berdarah karena celana dan kulit pahanya robek diserempet senjata Maharya. Akan tetapi, gadis yang sedikitnya mewarisi watak keras dan berani mati dari ibunya ini, tidak menjadi jeri, bahkan tangannya kanan kiri bergerak dengan cepat. Tampak sinar-sinar menyambar dibarengi bau harum ke arah tiga orang kakek dan empat orang panglima.

“Awas jarum!” teriak Maharya.

Untung dia berseru keras, sehingga empat orang panglima yang dibandingkan tiga orang kakek itu jauh lebih rendah tingkat kepandaiannya dapat cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan. Koksu, Maharya dan Thian Tok Lama tentu saja dengan mudah dapat meruntuhkan jarum-jarum yang menyambar mereka.

Thian Tok Lama kembali mengirim pukulan dari belakang kepada tubuh Milana yang mengeluh perlahan dan roboh miring. Pahanya yang kiri terluka berdarah dan perut serta dadanya juga terluka, biar pun tidak amat parah namun membuat napasnya sesak dan tenaga sinkang-nya tak dapat ia kerahkan.

“Iblis-iblis tua bangka tak tahu malu, mengeroyok seorang anak perempuan!” Tiba-tiba terdengar suara dan tampak bayangan berkelebat amat cepat memasuki ruangan itu melalui jendela yang tadi pecah oleh Maharya.

Sukar diikuti pandangan mata bayangan itu dan tahu-tahu Pendekar Super Sakti telah berdiri di situ, berkata halus kepada Milana. “Bangkitlah dan duduk di punggungku!”

Milana girang bukan main melihat munculnya ayahnya ini. Cepat ia meloncat bangun, menahan rasa nyeri di paha, perut dan dadanya, kemudian ia meloncat ke punggung Suma Han, mengaitkan kedua kakinya yang panjang di pinggang ayahnya dan merangkulkan kedua lengannya di atas kedua pundak. Semua gerakan ini dilakukan selagi Suma Han berdiri dengan satu kaki, sedikit pun tidak bergoyang dan pandang matanya ditujukan kepada Maharya.

“Hemmm, kulihat engkau memperoleh kemajuan setelah berada di kota raja, Maharya!” katanya halus namun nadanya penuh teguran dan ejekan. “Tetapi hanya kemajuan lahiriah dan duniawi yang kau peroleh, sedangkan batinmu makin mundur dan makin mendekati jurang kehancuran!”

“Pendekar Siluman! Engkau manusia kaki buntung sejak dahulu memang sombong! Apa kau kira aku takut kepadamu?” jawab Maharya.

Koksu yang melihat munculnya pendekar yang ditakuti ini, cepat mengeluarkan suitan tiga kali untuk memberi aba-aba kepada para pengawalnya sehingga terdengarlah suara hiruk pikuk di luar ruangan itu dan puluhan orang pengawal telah mengurung tempat itu dengan ketat, siap utuk melakukan penyerbuan dan pengeroyokan!

“Hemmm, sungguh Koksu negara sekarang ini sangat gagah perkasa!” Suma Han mengejek.

Im-kan Seng-jin Bbong Ji Kun berkata lantang. “Pendekar Siluman, engkau datang seperti maling, tentu saja kami mempersiapkan orang untuk mengepungmu! Engkau adalah Tocu dari Pulau Es, mengapa sekarang engkau lancang mencampuri urusan kami dengan puteri Ketua Thian-liong-pang?”

“Bhong-koksu, aku melindungi gadis ini adalah urusan antara aku dan dia sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan engkau. Dan memang aku sengaja datang ke sini untuk bicara dengan engkau dan Maharya!” Suara Suma Han penuh wibawa dan sikapnya tetap tenang, sedikit pun tidak kelihatan gentar biar pun menghadapi pengepungan orang-orang pandai ditambah puluhan orang pasukan pengawal.

“Heh, Pendekar Siluman! Mau apa kau mencariku?!” Maharya membentak, agaknya marah sekali karena menurut perkiraan pendeta ini, yang membunuh Thai Li Lama dan muridnya, Tan Ki, dan juga yang merampas Hok-mo-kiam, tentulah Pendekar Siluman ini.

“Maharya, perlukah kau bertanya lagi? Engkau telah membunuh Kakek Nayakavhira dan mencuri pedang Hok-mo-kiam. Aku datang untuk minta kembali pedang itu!”

Dapat dibayangkan betapa mendongkolnya hati Maharya, akan tetapi diam-diam kakek ini percaya akan kata-kata Pendekar Siluman. Seorang sakti seperti Si Kaki Buntung itu tentulah tidak akan mau bicara bohong dan ucapannya tadi membuktikan bahwa pembunuh muridnya dan perampas pedang Hok-mo- kiam bukanlah Pendekar Siluman.

“Kalau tidak kuberikan engkau mau apa?” tantangnya dan merasa tidak perlu lagi memberi tahu kehilangan pedang itu.

“Aku akan menggunakan kekerasan memaksamu mengembalikannya kepadaku!” kata pula Suma Han.

Bhong Ji Kun tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha! Sungguh hebat sekali, sungguh besar sekali mulutnya dan luar biasa kesombongannya! Pendekar Siluman, engkau hanya seorang yang berkaki satu, kini menggendong gadis yang luka parah itu, masih bicara sombong hendak menggunakan kekerasan terhadap seorang pembantuku! Hemmm, setelah kau mengatakan keperluan mencari Paman Guruku, sekarang ceritakan apa pula keperluanmu mencari aku?”

“Bhong-koksu, engkau juga pandai berpura-pura. Bukan engkau yang harus bertanya, tetapi akulah yang ingin bertanya kepadamu, mengapa engkau memimpin pasukan menyerbu Pulau Es dan Pulau Neraka? Aku kini datang untuk minta pertanggungan jawabmu, dan sebelum engkau menjelaskan, jangan harap engkau akan lolos dari tanganku!”

“Ha-ha-ha, benar-benar manusia sombong! Engkau tahu bahwa engkau sejak dahulu adalah seorang manusia buruan musuh kerajaan. Engkau tahu bahwa aku adalah seorang koksu negara, tentu saja apa yang kulakukan merupakan tugas dari pemerintah! Suma Han, Pendekar Siluman, engkau menyerahlah bersama gadis itu. Melawan pun takkan ada gunanya karena kalian telah terkepung dan sebentar lagi datang pasukan yang ratusan orang jumlahnya. Andai kata engkau mampu lolos dari gedung ini, engkau pun tak mungkin dapat lolos dari kota melalui ribuan orang tentara penjaga.”

“Kalian memang manusia-manusia yang curang dan pengecut, beraninya hanya mengandalkan pengeroyokan jumlah besar. Aku tahu betul bahwa pemerintah Kerajaan Ceng tidak akan mengganggu Pulau Es dan Pulau Neraka yang selamanya tidak pernah memberontak atau melawan pemerintah. Tentu karena dorongan kehendakmu dan orang-orang macam Maharya inilah maka terjadi penyerbuan. Bhong Ji Kun dan Maharya, aku menantang kalian menyelesaikan urusan antara kita secara jantan, atau kita putuskan dan selesaikan di ujung senjata!”

“Ha-ha-ha-ha, kematian sudah berada di ujung hidung masih berlagak mengeluarkan tantangan. Serbu dan bunuh pemberontak-pemberontak ini!” Bhong Ji Kun berseru sambil menudingkan pedang Pek-kong-kiam yang dirampasnya dari tangan Milana tadi ke arah Suma Han sebagai isyarat kepada para pengawalnya yang sudah mengurung di luar pintu dan jendela ruangan itu.

“Alan, pegang yang amat erat, kita harus keluar dari sini lebih dulu!” Suma Han berbisik kepada gadis yang berada di gendongan punggungnya.

Dia bukanlah seorang nekat dan maklum bahwa kalau dia mengamuk menuruti nafsu kemarahannya terhadap Bhong-koksu dan Maharya, tak mungkin ia dapat menandingi ratusan, bahkan ribuan orang prajurit pengawal. Juga dia tidak ingin menyebar maut di antara para prajurit itu, maka dia mengambil keputusan untuk melarikan diri lebih dulu, mengobati luka-luka Milana, kemudian mencari jalan untuk dapat berhadapan dengan musuh-musuhnya tanpa campur tangan pasukan pengawal sehingga tertutup dan terjaga kuat.

“Jangan harap dapat melarikan diri!” Bhong-koksu berteriak dan dari pintu besar menyerbulah enam orang pengawal yang berpakaian sebagai perwira-perwira dengan senjata di tangan.

Mereka serempak maju menubruk dan menyerang pendekar berkaki buntung yang menggendong gadis terluka itu. Mereka belum pernah bertemu dengan Suma Han, dan biar pun mereka sudah mendengar akan Pendekar Super Sakti yang seperti dalam dongeng saja, sekarang melihat laki-laki berambut panjang putih dan berkaki buntung sebelah itu, mereka jadi memandang rendah. Apa lagi pria yang tidak kelihatan menyeramkan itu hanya bersenjata sebatang tongkat butut, masih menggendong seorang gadis yang terluka pula! Mereka yakin bahwa sekali serbu saja mereka tentu akan dapat merobohkan Si Buntung itu.

“Rrrrtttttt!!”

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung menyambut hujan senjata itu dan tampak senjata para penyerbu beterbangan disusul robohnya tubuh mereka malang melintang dan mereka tak mampu bangkit kembali, bahkan bergerak pun tidak karena mereka sudah pingsan semua! Suma Han meloncat ke arah pintu setelah merobohkan enam orang penyerbu pertama, akan tetapi pintu telah penuh dengan pasukan pengawal sehingga tertutup dan terjaga kuat.

“Tolol! Kepung dan jaga saja, jangan menyerang sebelum diperintah!” Bhong-koksu berseru memaki para pasukan anak buahnya. “Para panglima pengawal, majulah membantu kami menangkap pemberontak!”

Anak buah pasukan pengawal tidak ada yang berani maju lagi, bukan hanya karena seruan Koksu itu, akan tetapi juga mereka merasa ngeri melihat betapa enam orang teman mereka roboh seolah-olah tanpa sebab. Mereka melihat betapa enam orang teman mereka tadi menyerang dengan senjata terangkat, akan tetapi tidak tampak pria kaki buntung itu bergerak, yang tampak hanya berkelebatnya bayangan yang diselimuti sinar bergulung-gulung dan tahu-tahu enam orang itu menggeletak tak bergerak lagi, agaknya tewas! Mereka tidak tahu bahwa Suma Han tidak membunuh mereka berenam, hanya merobohkan mereka dengan totokan yang membuat mereka pingsan saja.

Sebelas orang panglima pengawal memasuki ruangan dengan senjata di tangan. Mereka menyingkirkan tubuh enam orang pengawal yang pingsan dan mayat dua orang panglima yang tadi roboh oleh pedang Milana, kemudian bersama panglima-panglima tinggi terdahulu, yaitu Bhe Ti Kong dan tiga orang lain, semua berjumlah lima belas orang panglima pengawal, kini maju mengurung. Di luar barisan pengurung ini berdiri Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, dan Maharya.

Koksu yang menganggap bahwa pecut merahnya yang sudah buntung itu tidak berguna lagi, memegang pedang Pek-kong-kiam, Maharya yang memegang senjata tombak bulan sabit juga bersiap-siap, sedangkan Thian Tok Lama berdiri dengan tangan kosong karena dia lebih mengandalkan kedua tangan berikut lengan bajunya dari pada senjata tajam. Tiga orang sakti ini berdiri dengan mata terbelalak. Biar pun mereka mengandalkan pasukan yang berjumlah besar sedangkan lawan yang hanya satu orang cacat yang menggendong gadis terluka, namun mereka merasa agak jeri karena maklum betapa saktinya lawan yang mereka hadapi sekarang.

Maharya berdiri dengan mata mendelik dan muka masih merah padam karena marah dan juga tersinggung hatinya oleh ejekan Pendekar Super Sakti tadi. Memang terjadi banyak perubahan pada pendeta dari barat ini. Biar pun bentuk pakaiannya masih amat sederhana, hanya kain itu yang dililit-lilitkan pada tubuh, namun kain itu bukan sembarang kain, melainkan kain sutera yang mahal dan halus sekali. Kain pengikat kepalanya juga berbentuk sederhana, akan tetapi kain pengikat kepala itu dihias dengan beberapa butir mutiara yang besar dan berkilauan, dan dilengkapi dengan sebuah bulu burung dewata yang indah!

Juga sepasang kakinya ‘ada kemajuan’ seperti yang diucapkan Suma Han tadi. Kalau dahulu kedua kakinya telanjang, kini kedua kaki itu memakai alas kaki dari kayu terukir halus dengan tombol terbuat dari pada emas yang dijepit oleh ibu jari dan jari kedua kakinya. Hebatnya, biar pun kakinya beralaskan kelom kayu, akan tetapi kedua kaki itu masih dapat bergerak gesit dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun!

Lima belas orang pegawal itu adalah panglima-panglima yang memiliki kepandaian tinggi dan bukanlah ahli-ahli silat sembarangan. Mereka itu dipimpin oleh Bhe Ti Kong melakukan pengurungan dan membentuk barisan bersenjata golok pedang atau senjata tombak trisula gagang pendek seperti yang dipergunakan Bhe Ti Kong. Gerakan mereka rapi, dan begitu Bhe Ti Kong mengeluarkan aba-aba dengan suara yang nyaring sekali, tiba-tiba barisan itu bergerak dan mereka yang berdiri di belakang Suma Han, sebanyak empat orang, telah menyerang dengan senjata mereka. Karena tubuh belakang pendekar itu tertutup oleh tubuh Milana yang digendongnya, tentu saja otomatis serangan-serangan itu mengancam tubuh Milana!

Dengan kaki tunggalnya, tiba-tiba Suma Han memutar tubuh menghadapi empat orang itu, memandang dengan sinar mata aneh dan… empat orang itu menghentikan serangan mereka, tubuh mereka kaku seperti arca dalam posisi menyerang seolah-olah mereka telah terkena totokan yang membuat tubuh mereka kaku! Padahal Suma Han sama sekali tidak pernah bergerak dan ternyata bahwa sinar mata Pendekar Super Sakti inilah yang dalam sekejap mata saja sudah menguasai mereka berempat itu!

Tiba-tiba Maharya mengeluarkan teriakan dalam bahasa asing yang amat aneh dan melengking nyaring. Kiranya itu adalah semacam mantera yang mempunyai daya pengaruh amat kuat, menggetarkan perasaan dan empat orang itu tiba-tiba terguling roboh dan sadar! Mereka saling berpandangan dengan heran, kemudian meloncat bangun dengan senjata di tangan, bingung karena tidak tahu apa yang telah terjadi. Bhe Ti Kong dan kawan-kawannya menyerbu dari kanan kiri dan depan, sehingga belasan batang senjata yang dahsyat menyambar ke arah tubuh Suma Han dan Milana.

Suma Han menggunakan gerak kilatnya, tubuhnya mencelat ke belakang yang sudah tak terjaga lagi karena empat orang panglima tadi masih bengong terlongong dan kacau, tongkatnya diputar cepat dan tubuhnya yang mencelat ke belakang itu sudah sampai ke dinding, kaki tunggalnya menyentuh dinding sehingga tubuhnya kembali mencelat ke depan, kini dialah yang menyerbu barisan itu!

Para panglima terkejut melihat bayangan yang berkelebat cepat. Mereka mengangkat senjata masing- masing dan terdengar bunyi nyaring bertubi-tubi disusul teriakan mereka karena senjata mereka telah patah, ada yang terlempar, dan lima orang di antara mereka terguling roboh karena terdorong oleh hawa sakti yang membuat tubuh mereka menggigil kedinginan. Tiga orang di antara mereka yang agak kuat sinkang-nya berhasil merangkak bangun, akan tetapi dua orang yang lemah, tak dapat bangkit lagi dan pingsan!

“Mundur…!” Maharya berseru marah. Bhe Ti Kong yang maklum bahwa dia dan teman-temannya bukanlah lawan Pendekar Kaki Buntung itu, segera mengundurkan diri dan memimpin para panglima untuk memperketat penjagaan dengan pasukan masing-masing.

Maharya kini menerjang Suma Han dengan senjatanya yang mengerikan. Gerakannya dahsyat sekali dan mulutnya terus berkemak-kemik membaca mantera, kadang-kadang hanya berbisik-bisik, kadang-kadang nyaring sedangkan matanya terus melotot menatap sepasang mata Pendekar Super Sakti. Ternyata pendeta India ini menggunakan ilmunya untuk menolak pengaruh sakti dari pandang mata Suma Han dan kini dia menggerakkan senjatanya menyerang ke arah dada pendekar itu.

“Dessss!”

Maharya terhuyung ke belakang ketika senjatanya kena ditangkis, demikian kuat tenaga dari pendekar itu, jauh lebih kuat dibandingkan dengan dahulu, belasan tahun yang lalu ketika Pendekar Super Sakti bertanding melawan Maharya. Maharya terkejut bukan main dan maklumlah dia bahwa selama bertahun- tahun itu, Pendekar Super Sakti bertambah kuat sedangkan dia bertambah lemah, hal ini selain pengaruh usia, juga karena selama itu dia banyak memboroskan tenaga dengan berfoya-foya dan bersenang- senang, sedangkan lawannya menghimpun tenaga dalam hidup berprihatin.

“Singggggg…!” Pedang di tangan Bhong Ji Kun sudah menyambar, merupakan sinar putih cemerlang, mengarah leher Suma Han.

“Awas…!” Milana berseru kaget.

Dara ini sejak tadi mengempitkan kedua kaki di pinggang ayahnya dan merangkulkan kedua lengan di leher, matanya yang indah bentuknya itu terbelalak lebar, mukanya pucat dan ia khawatir sekali, bukan mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan ayah kandungnya yang terkepung oleh banyak orang pandai itu.

“Trangggg!”

“Jangan khawatir, Alan…!”

Suma Han tanpa menoleh sudah berhasil menangkis pedang di tangan Bhong Ji Kun dan diam-diam pendekar ini terkejut karena tangkisan yang dilakukan untuk mengukur tenaga itu mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang yang memegang pedang itu tidak kalah kuat dibandingkan dengan Maharya! Ternyata bahwa Koksu itu merupakan orang yang amat lihai, dan dia harus mencatat hal ini di dalam hatinya. Agaknya di dalam ilmu silat, Koksu itu tidak kalah lihai dari Maharya yang ternyata adalah paman gurunya sendiri, hanya mungkin kalah berbahaya karena Maharya memiliki ilmu sihir dan ilmu hitam yang kuat. Orang pertama yang tertangguh adalah Maharya, kedua adalah Koksu inilah.

“Kok-kok-kok! Wuuut-wuuut-wuuuttt!”

“Awas pukulan Si Gundul itu, Paman!” Milana kembali berseru kaget. Dia sendiri sudah merasakan akibat hebat dari tenaga pukulan pendeta Lama itu yang telah melukainya biar pun pukulan itu dilakukan dari jarak jauh.

Tentu saja tanpa diperingatkan Suma Han sudah mengenal suara berkokok seperti suara katak buduk yang keluar dari perut Thian Tok Lama karena pendeta Lama itu adalah musuhnya belasan tahun yang lalu. Dia memutar tubuh dan menghadapi lawan ini dan tepat seperti dugaannya, Thian Tok Lama telah berjongkok, tangan kiri menekan perut dan tangan kanan dengan lengan dilonjorkan membuat gerakan mendorong tiga kali ke arah Suma Han. Itulah pukulan Hek-in-hwi-bong-ciang dan dari tangan kanannya itu keluar uap hitam bergulung-gulung!

Tiga kali pukulan yang ditujukan kepada Suma Han ini tentu saja jauh bedanya dengan pukulan Thian Tok Lama yang tadi merobohkan Milana. Karena tidak ingin membunuh dara itu sesuai dengan kehendak Koksu, tadi Thian Tok Lama hanya mempergunakan seperempat tenaganya saja, akan tetapi kini, menghadapi musuh lama yang ia tahu amat tangguh itu, dia mengerahkan seluruh tenaganya dan memukul sampai tiga kali ke arah dada kanan kiri dan pusar!

Suma Han memindahkan tongkat ke tangan kanannya, kemudian dia pun mendorong ke depan dengan telapak tangan kirinya. Dari telapak tangan ini meluncur tenaga sakti dahsyat sekali menyambut pukulan tiga kali beruntun dari Thian Tok Lama.

Dua tenaga raksasa yang tidak kelihatan bertemu tiga kali di udara dengan amat hebat. Seketika uap hitam pertama yang datang melayang, terhenti dan tersusul oleh gulungan uap hitam kedua dan ketiga, berkumpul menjadi satu dan seperti terjadi dorong-mendorong, akan tetapi akhirnya uap hitam yang telah terkumpul dan bergumpal-gumpal itu kembali ke arah Thian Tok Lama dengan perlahan, makin lama makin cepat.

Thian Tok Lama masih berjongkok dengan tangan kanan dilonjorkan, telapak tangan terbuka. Wajahnya pucat sekali, keringat dingin sebesar kacang tanah menghias kepala dan mukanya. Dia maklum bahwa keselamatan nyawanya terancam hebat. Untuk menghindarkan diri tidak mungkin lagi, dan kini pukulannya Hek-in-hwi-hong-ciang telah membalik dan mengancam untuk menghancurkan isi dada dan isi perutnya sendiri, ‘dipaksa’ kembali oleh dorongan hawa sakti dari tangan Suma Han!

Sebagai ahli-ahli ilmu silat tinggi, tentu saja Koksu dan Maharya maklum akan keadaan kawan mereka, maka serentak Maharya menyerang dengan senjatanya. Serangan berbahaya sekali karena tombak bulan sabit itu membabat ke arah kaki tunggal Suma Han, sedangkan pedang di tangan Bhong Ji Kun menusuk lambung kiri!

Menghadapi serangan ganas dan secepat kilat ini, terpaksa Suma Han meninggalkan Thian Tok Lama dengan jalan menggunakan Soan-hong-lui-kun, kakinya mengenjot dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas sehingga serangan kedua orang itu betapa pun cepatnya, tidak dapat mengenai sasarannya. Milana sampai memejamkan mata saking ngerinya. Seolah-olah terasa olehnya ujung kedua senjata itu yang menyambar dekat dan tahu-tahu tubuhnya sudah berada di atas! Dia pernah menunggang burung rajawali dengan ayah kandungnya ini, namun dibandingkan dengan kecepatan gerakan burung itu, gerakan ayahnya ini lebih cepat lagi. Kalau dia tidak erat-erat memeluk tentu dia akan terlempar jatuh!

Akan tetapi, ketika Milana membuka kedua matanya, ia menjadi makin ngeri. Ayahnya telah turun lagi dan kini ayahnya dikeroyok tiga oleh Maharya, Bhong Ji Kun, dan Thian Tok Lama yang menyerang secara bertubi-tubi dan hebat, sedangkan lima belas orang panglima yang kini tinggal tiga belas karena yang dua orang masih roboh pingsan, mengepung dan membantu dengan kadang-kadang menyerang secara tiba- tiba dari belakang, kanan atau kiri. Milana merasa gelisah sekali. Lawan amat banyak dan lihai, sedangkan ayahnya hanya seorang diri, dan masih menggendongnya pula. Tentu saja dengan menggendongnya gerakan ayahnya menjadi terhalang dan terganggu, tidak leluasa lagi.

Kalau sampai ayahnya terpukul dan tewas, tentu dia sendiri pun tidak akan selamat, dan… ibunya akan celaka pula. Sebaliknya, kalau ayahnya berhasil meloloskan diri, biar pun dia sendiri tertawan, dia tidak akan dibunuh karena bukankah dia hendak dipergunakan sebagai umpan untuk memancing kedatangan ibunya? Kini ada ayahnya, kalau mendampingi ibunya, biar pun dia tertawan apakah mereka berdua yang bergabung menjadi satu tidak akan mampu membebaskannya? Andai kata tidak berhasil sekali pun, yang pasti, ibunya akan selamat! Dia tidak boleh mementingkan diri sendiri saja.

“Paman… beritahukan kepada Ibu… mereka tadi… berunding untuk membunuh Ibu…” Milana berbisik di dekat telinga Suma Han yang menjadi terheran-heran.

Tadi pun dia sudah merasa heran melihat Alan puteri Thian-liong-pang dikeroyok dan dilukai. Bukankah menurut desas-desus, Thian-liong-pang kini merupakan kaki tangan pemerintah? Mengapa puteri Ketuanya malah dilukai dan Ketuanya sendiri, menurut Alan, akan dibunuh?

“Jangan khawatir, kita akan dapat lolos dari sini!” Suma Han menjawab, berbisik.

dunia-kangouw.blogspot.com “Tidak… engkau saja pergi, Paman…,” Milana berbisik pula.
Suma Han terkejut, tidak mengerti apa yang dikehendaki gadis itu. Pada saat itu, tiba-tiba Maharya
menusukkan tombak bulan sabitnya ke arah muka Suma Han, dan beberapa detik kemudian, Bhong Koksu menerjang dari belakang dengan sebuah loncatan dahsyat, pedangnya membacok dari atas ke bawah mengarah kepala Milana!

“Trangggg!”

Suma Han menangkis senjata Maharya dan membatalkan tongkatnya untuk menangkis pedang yang menyambar dari atas. Dia tidak tahu betapa seorang panglima tinggi mendekat meja kecil bundar dan memutar meja itu. Tiba-tiba saja lantai yang diinjak pendekar itu terbuka!

Milana yang melihat hal ini, terkejut sekali. Dengan menggendongnya, mana mungkin ayahnya dapat melepaskan diri dari bahaya? Cepat dia melepaskan kedua kakinya yang mengempit pinggang dan kedua lengannya yang merangkul leher, membiarkan tubuhnya terlepas dan terjatuh ke bawah!

“Alan…!”

Suma Han sudah berhasil meloncat dengan Soan-hong-lui-kun. Biar pun lantai itu terbuka ke bawah, namun ujung kakinya yang masih menyentuh lantai tadi dapat dipergunakan untuk membuat tubuhnya mencelat ke kanan, selain menghindarkan lubang jebakan, juga menghindarkan pedang dari atas yang dibacokkan oleh Bhong-koksu. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tubuh Alan yang berada di gendongannya terlepas dan jatuh. Hal ini sama sekali tidak diduga-duganya, maka dia tidak dapat mencegahnya. Cepat tubuhnya yang masih mencelat itu membuat gerakan seekor burung walet dan matanya terbelalak melihat tubuh Alan melayang jatuh ke dalam lubang jebakan yang lebarnya dua meter persegi dan kelihatan gelap saking dalamnya.

“Alan…!” Tiba-tiba tubuh Suma Han menukik ke bawah dan bayangannya tak tampak, berkelebat memasuki lubang itu, menyusul Alan!

Lantai yang menjebaknya itu kini tertutup kembali secara otomatis. Bhong Ji Kun dan para pembantunya dengan wajah pucat saling pandang, akhirnya mereka tersenyum dan menarik napas lega.

“Hebat bukan main dia…!” Thian Tok Lama memuji musuh lama itu.

“Heran sekali, mengapa dia mati-matian membela puteri Ketua Thian-liong-pang?” Maharya juga berkata, namun masih penasaran kerena dia tidak tahu siapa yang merampas Hok-mo-kiam.

“Sudahlah, dia sudah begitu tolol memasuki kamar tahanan di bawah tanah bersama gadis itu. Tidak mungkin mereka dapat lolos. Bahkan amat baik untuk memancing datangnya Ketua Thian-liong-pang. Kalau kita berhasil membasmi Pendekar Siluman dan Ketua Thian-liong-pang, ha-ha-ha, bereslah urusan kita dan pasti akan berhasil!”

Tiba-tiba Bhong Ji Kun menepuk dahinya sendiri dan berkata, “Aih… aihh! Mengapa aku begitu tolol? Tentu saja dia membela gadis itu mati-matian, puteri Thian-liong-pang! Ha-ha-ha! Tentu saja!”

Maharya, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan para panglima memandang Koksu itu dengan heran, tetapi hanya Bhe Ti Kong yang berani bertanya, “Harap Koksu suka memberi tahukan kami. Mengapa dia menolong gadis itu?”

“Bubarkan dulu semua pengawal dan suruh bereskan tempat ini. Suruh periksa apakah mereka benar- benar telah berada di dalam kamar tahanan dan perkuat penjagaan di luar kamar-kamar tahanan di bawah tanah! Kemudian susul aku ke dalam kamar untuk mendengar mengapa Suma Han membela gadis itu mati-matian.”

Para pembantu koksu itu cepat mengerjakan perintah ini, kemudian Maharya, Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan tiga orang panglima tinggi lainnya mememui Koksu dalam kamarnya.

“Ketua Thian-liong-pang adalah Puteri Nirahai, puteri Kaisar yang dahulu melarikan diri bersama Suma Han Si Pendekar Super Sakti. Kalau Puteri Milana itu anak Puteri Nirahai, dan melihat betapa Pendekar Super Sakti membelanya mati-matian, maka tidak akan keliru kiranya dugaanku bahwa dia adalah ayahnya!” Semua yang mendengarkan mengangguk-angguk. “Akan tetapi hal ini harus dirahasiakan, karena kalau Kaisar mendengarnya, biar pun puteri itu telah menjadi orang buruan kiranya Kaisar akan tergerak hatinya dan menaruh kasihan mendengar bahwa Beliau telah mempunyai seorang cucu dari Puteri Nirahai.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo