September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 15

 

“Pinceng Mo Kong Hosiang memang bukan seorang tokoh Siauw-lim-pai, akan tetapi pinceng adalah sahabat baik Ketua Siauw-lim-pai. Pinceng datang dari barat dan mendengar akan sepak terjang Thian- liong-pang yang telah merendahkan diri menjadi kaki tangan pemerintah penjajah, pinceng dan para sahabat ini…”

“Aihh, kiranya engkau seorang pemberontak dari Tibet, bukan?” Milana memotong, dan hwesio itu kelihatan terkejut.

“Bagaimana Nona dapat menyangka demikian?”

“Aku mengenal gaya bahasamu dan dasar gerak silatmu. Tibet sudah takluk, akan tetapi banyak tokohnya diam-diam masih ingin memberontak. Tentu engkau adalah seorang di antara mereka yang ingin memberontak, maka kini engkau menghasut para Lo-suhu dari Siauw-lim-pai untuk menentang kami. Hemm, Mo Kong Hosiang, karena engkau bukan orang Siauw-lim-pai, maka urusan antara engkau dan kami lain lagi. Engkau seorang pemberontak dan sudah menjadi tugas kami untuk membasmi pemberontak.”

“Ha-ha-ha-ha, perempuan sombong! Kau kira pinceng takut…?” Baru sampai di sini ucapannya, terdengar suara gerengan keras dan Bok Sam telah menerjang maju dengan dahsyat, menggerakkan toyanya menusuk ke arah dada hwesio kurus itu.

Mo Kong Hosiang cepat mengelak sambil menggerakkan hud-tim di tangannya yang menyambar dari samping ke arah lambung Si Lengan Buntung. Serangan berbahaya ini dapat dielakkan oleh Bhok Sam dan segera terjadi pertandingan hebat antara kedua orang itu. Sekali ini, pertandingan terjadi lebih hebat dari pada tadi karena kalau tadi masing-masing pihak masih menjaga agar jangan sampai menjatuhkan pukulan maut kepada pihak lawan, kini kedua orang ini bertanding dengan niat membunuh!

Milana sudah mengukur tingkat kepandaian hwesio kurus itu, maka kini ia mengerutkan alis menyaksikan kelancangan Bok Sam yang terlalu berani turun tangan. Dia maklum bahwa pembantu ibunya itu memiliki ilmu yang boleh diandalkan, akan tetapi dia khawatir kalau pembantu ibunya itu bukan tandingan Mo Kong Hosiang yang amat lihai. Biar pun hatinya tidak senang menyaksikan kelancangan dan kekerasan hati Bok Sam, namun karena dia tahu bahwa Si Buntung ini mendahuluinya bukan hanya karena keras hati akan tetapi juga karena menyayangnya menghadapi lawan tangguh, maka di lubuk hatinya Milana merasa tidak tega dan tidak mau membiarkan Si Lengan Buntung itu menghadapi bahaya maut. Diam-diam ia bersiap sedia untuk menolong apabila pembantu ibunya itu terancam bahaya.

Kiang Bok Sam bukan seorang bodoh. Begitu terjadi saling serang beberapa jurus saja, tahulah dia bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai, sama sekali tidak boleh disamakan dengan Ceng Sim Hwesio. Gerakan hud-tim itu membingungkan hatinya karena amat cepat dan aneh, selain itu, juga hud-tim yang kadang-kadang lemas kadang-kadang kaku itu membuat dia sukar sekali menduga gerakan serangan lawan.

Namun dia tidak menjadi jeri dan toyanya diputar amat cepatnya ketika dia membalas dengan serangan- serangan maut yang tidak kalah hebatnya. Permainan toyanya yang khusus diturunkan oleh Ketua Thian- liong-pang kepadanya memang dahsyat sekali, apa lagi di balik toya ini tersembunyi lengan tunggal yang memiliki keampuhan luar biasa. Toya ini selain merupakan senjata, juga merupakan semacam kedok yang menyembunyikan senjatanya yang paling utama dan ampuh, yaitu tangan kanannya. Lawan biasanya akan memandang rendah apabila dia kehilangan toyanya, dan hal ini pun tadi telah mengakibatkan robohnya Ceng Sim Hwesio.

Mo Kong Hosiang maklum bahwa lawan yang berbahaya adalah Si Buntung ini dan nona muda itu, maka dia harus dapat merobohkan seorang di antara mereka baru dia mempunyai harapan untuk keluar dari pertandingan dengan selamat. Maka kini melihat gerakan toya Si Lengan Buntung, dia memandang rendah. Si Buntung ini memang amat cepat dan kuat sinkang-nya, namun masih jauh kalau dibandingkan lawannya dengan nona muda yang cantik itu. Dia harus dapat mengalahkan lawannya dengan cepat.

Tiba-tiba hwesio kurus itu mengeluarkan suara bentakan melengking hingga terkejutlah lawannya karena bentakan ini mengandung tenaga khikang yang menggetarkan jantung. Pada saat itu hud-tim di tangan Mo Kong Hosiang meluncur ke depan, menjadi lemas dan telah melibat ujung toya yang tadi menusuk ke arah dadanya, sedangkan tasbih di tangan kirinya sudah dilontarkannya ke atas dan kiri tasbih itu meluncur turun ke arah kepala lawan selagi lawan masih terkejut dan berusaha membetot toyanya.

“Sinngggg… tranggggg!” Tasbih itu putus dan runtuh ke atas tanah, kesambar pedang yang dilontarkan oleh Milana. Pedang itu pun runtuh ke atas tanah, akan tetapi telah berhasil menyelamatkan Si Lengan Buntung dari ancaman maut!

Pada saat itu Bok Sam melepaskan toyanya dan Mo Kong Hosiang menganggap hal ini sebagai kemenangan. Dia berseru girang walau pun tadi kaget melihat tasbihnya runtuh, dengan gerak kilat tangan kirinya menghantam ke arah lawan. Pukulannya cepat dan keras bukan main sehingga didahului oleh hawa pukulan yang kuat. Seperti juga Ceng Sim Hwesio, hwesio dari Tibet ini telah salah menduga keadaan lawan. Disangkanya bahwa Si Lengan Buntung itu hanya mengandalkan toyanya, maka begitu toya terlepas dianggapnya Si Lengan Buntung itu menjadi tidak berdaya dan lemah. Hwesio kurus itu hanya tersenyum mengejek ketika Bok Sam menggerakkan lengan tangannya menangkis dengan tangan terbuka miring.

“Krakkkk…!”

Mo Kong Hosiang berteriak kaget setengah mati ketika pergelangan tangannya terasa nyeri dan tulangnya ternyata patah begitu bertemu dengan tangan miring lawan.

“Celaka…!” Dia cepat meloncat ke belakang, lengan kirinya tergantung lumpuh karena tulangnya patah, namun hud-timnya berhasil merampas toya. Kini dia menggerakkan hud-timnya dan toya itu meluncur seperti anak panah yang besar ke arah Bok Sam!

“Wuuuttt… wirrrr!”

Tiba-tiba toya yang meluncur itu berhenti dan tertarik ke atas oleh sinar hitam yang meluncur cepat dari tangan Milana. Kiranya dara perkasa ini telah menggunakan sebatang tali sutera, sebuah di antara senjatanya yang amat lihai, dilontarkannya tali itu dan berhasil menangkap toya! Kini toya itu telah kembali ke tangan pemiliknya yang mengangguk sebagai tanda terima kasih kepada Milana. Lontaran toya tadi benar-benar tidak terduga dan amat cepatnya sehingga kalau tidak ditolong Milana, tentu dia akan celaka, setidaknya terluka.

Sambil menggereng seperti seekor harimau terluka, Bok Sam menerjang maju dan terpaksa dilawan oleh Mo Kong Hosiang yang keadaannya tidak berbeda jauh dengan lawannya. Kalau lawannya itu hanya menggunakan lengan kanan karena lengan kirinya buntung, hwesio Tibet ini pun hanya menggunakan lengan kanan karena lengan kirinya lumpuh dan patah tulangnya.

Maklum bahwa selain terluka parah, juga di samping lawannya yang lihai ini masih terdapat puteri Ketua Thian-liong-pang yang lebih lihai lagi, maka Mo Kong Hosiang berlaku nekat, menubruk maju dengan dahsyat, ingin mengadu nyawa dan mengajak lawannya mati bersama! Akan tetapi Bok Sam tentu saja tidak suka nekat seperti lawannya karena dia sudah berada di pihak lebih kuat. Menghadapi terjangan nekat ini, dia mengayun toyanya menangkis dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

“Desss! Krakkk!”

Hud-tim dan toya di tangan kedua orang lawan itu patah menjadi dua disusul pekik Mo Kong Ho-siang yang roboh terjengkang karena dadanya terkena pukulan tangan kanan Bok Sam yang amat ampuh. Biar pun dengan sinkang-nya dia masih dapat membuat dadanya kebal, namun getaran hebat membuat jantungnya pecah dan isi dadanya rusak sehingga hwesio Tibet ini tewas seketika!

Milana cepat menyuruh anak buahnya mundur, kemudian dia menghampiri enam orang hwesio Siauw-lim- pai yang sudah bangkit berdiri saling bantu. Ceng Sim Hwesio berdiri dengan muka pucat.

“Ceng Sim Hwesio, engkau tadi telah mendengar sendiri bahwa kami membunuh Mo Kong Hosiang bukan sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai. Menurut pengakuannya sendiri, dia bukanlah seorang anggota Siauw-lim-pai. Kami membunuhnya sebagai seorang pemberontak. Ada pun Cu-wi Lo-suhu, enam orang anggota Siauw-lim-pai telah kalah dalam ujian kepandaian melawan kami, hal ini kami rasa sudah sewajarnya, apa lagi kalau diingat bahwa yang menantang mengadu ilmu adalah pihak Siauw-lim-pai sendiri. Harap saja Lo-suhu tidak akan memutar balikkan kenyataan ini dalam laporan Lo-suhu kepada Ketua Siauw-lim-pai.”

Ceng Sim Hwesio tersenyum pahit lalu menghela napas panjang. “Biar pun Mo Kong Hosiang bukan anggota Siauw-lim-pai, namun dia adalah seorang saudara kami, sudah sepatutnya kalau kami membawa pergi jenazahnya. Tentang urusan antara kita, hemmm… kami sudah kalah, tidak perlu banyak bicara lagi! Selamat tinggal, mudah-mudahan dalam pertemuan mendatang kami akan lebih berhasil.” Setelah berkata demikian, Ceng Sim Hwesio mengajak anak buahnya pergi sambil menggotong jenazah Mo Kong Hosiang.

Rombongan Pulau Neraka yang bersembunyi sambil menonton, melihat bahwa biar pun pihak Thian-liong- pang memperoleh kemenangan, akan tetapi rombongan itu tidak meninggalkan tempat itu, hanya mengobati empat orang anggota yang terluka dalam pertandingan tadi. Bahkan mereka bermalam lagi di tempat itu melakukan penjagaan secara bergiliran.

Kiranya bukan hanya dari partai persilatan Siauw-lim-pai saja yang datang. Pada esok harinya datang pula rombongan orang-orang kang-ouw yang juga mempunyai niat yang sama dengan rombongan Siauw-lim- pai, yaitu mereka menentang Thian-liong-pang yang oleh dunia kang-ouw dianggap telah menyeleweng dari peraturan kang-ouw, yaitu telah mencampurkan diri dengan urusan politik, bahkan telah mengekor dan menghambakan diri kepada pemerintah penjajah.

Betapa pun juga, partai-partai persilatan besar dan orang-orang gagah di dunia kang-ouw itu biar tidak secara terang-terangan memberontak atau menentang pemerintah penjajah, namun di dalam hati mereka masih tetap berpihak kepada orang-orang yang memberontak terhadap kaum penjajah. Karena itu, mendengar betapa Thian-liong-pang membantu pihak pemerintah, nnengejar-ngejar pemberontak dan membasmi mereka, golongan kang-ouw menjadi marah dan sengaja menentang Thian-liong-pang!

Setiap hari terjadilah pertempuran di tanah kuburan itu dan karena di pihak Thian-liong-pang terdapat Si Lengan Buntung yang amat lihai dan puteri Ketua Thian-liong-pang yang sukar menemui tandingan, maka pihak Thian-liong-pang selalu dapat menang dan mengusir musuh-musuh mereka dengan alasan yang sama seperti yang mereka kemukakan kepada Siauw-lim-pai. Pihak yang merasa penasaran mereka lawan dengan mengadu kepandaian.

Rombongan Pulau Neraka sekarang mengerti mengapa Bu-tek Siauw-jin, datuk mereka yang aneh sekali wataknya itu memilih tempat ini untuk berlatih! Kiranya kakek yang tidak lumrah manusia biasa itu agaknya sudah tahu bahwa tempat itu dijadikan gelanggang pertandingan oleh Thian-liong-pang yang menyambut musuh-musuhnya, maka dia sengaja memilih tempat itu yang dianggapnya menarik!

Kalau tidak untuk keperluan ini, apa perlunya kakek itu menyuruh belasan orang Pulau Neraka menggotong-gotong peti mati kosong itu sampai ratusan mil jauhnya? Padahal untuk latihan itu, di mana- mana pun ada tanah, di mana-mana pun ada tanah kuburan! Diam-diam para anak buah Pulau Neraka merasa mendongkol sungguh pun tentu saja tidak berani menyatakan ini, karena mereka berada dalam keadaan serba salah, setiap hari harus menyaksikan ketegangan-ketegangan tanpa berani berkutik.

Akhirnya terlewat jugalah jarak waktu sepekan yang dibutuhkan oleh Bu-tek Siauw-jin untuk latihan bersama muridnya! Akan tetapi, tepat pada hari terakhir itu terjadi pula pertandingan antara Thian-liong- pang dan rombongan Hoa-san-pai yang terdiri dari orang-orang pandai sebanyak sepuluh orang! Seperti juga ketika menyambut rombongan Siauw-lim-pai, Milana mewakili ibunya memberi alasan-alasan kuat, dan perbantahan itu berakhir dengan adu kepandaian pula, karena pihak Hoa-san-pai itu adalah murid- murid Thian Cu Cin-jin Ketua Hoa-san-pai yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Pertandingan hebat terjadi sampai lewat tengah hari dan berakhir dengan kemenangan pihak Thian-liong- pang. Akan tetapi biar pun orang-orang Hoa-san-pai itu dapat diusir pergi dalam keadaan luka-luka, pihak Thian-liong-pang sendiri kehilangan seorang anggotanya yang terluka terlalu parah sehingga nyawanya tidak tertolong lagi dan tewas tak lama setelah rombongan Hoa-san-pai pergi!

Melihat betapa pihak musuh tiada hentinya datang menantang mereka, Milana merasa penasaran dan juga berduka sekali, apa lagi setelah melihat di pihaknya jatuh korban seorang tewas dan lima orang masih luka-luka.

“Lebih baik kita meninggalkan tempat ini membuat laporan kepada Pangcu,” katanya kepada Bok Sam.

“Sebaiknya demikian, Nona. Namun karena kebetulan kita berada di tanah kuburan, sebaiknya kita mengubur jenazah anak buah kita yang tewas itu di tempat ini.”

Milana mengerutkan alisnya, tetapi menganggap bahwa memang sebaiknya demikian sehingga mereka tidak perlu membawa-bawa jenazah. “Terserah kepadamu, Kiang-lopek, akan tetapi di tempat jauh dari kota ini, bagaimana kau bisa mendapatkan sebuah peti mati?”

Si Lengan Buntung itu menengok ke kanan kiri yang penuh dengan batu nisan dan gundukan tanah kuburan. “Hemm, banyak tersedia peti mati di sini, mengapa mesti susah-susah mencari tempat jauh? Biar aku mencarikan sebuah peti mati yang masih baik untuk jenazah kawan klta.” Si Lengan Buntung ini lalu mengajak beberapa orang anak buahnya mencari kuburan yang masih belum begitu lama sehingga peti mati di dalamnya tentu belum rusak pula.

Tentu saja perhatian mereka segera tertarik oleh gundukan tanah yang masih baru, yaitu kuburan Bu-tek Siauw-jin dan Kwi Hong! Tanah yang digundukkan di situ baru sepekan lamanya.

“Bagus, ini kuburan baru sekali! Tentu peti matinya pun masih baik. Hayo kita gali dan keluarkan peti matinya!” Bok Sam berkata dengan wajah berseri, berbeda dengan biasanya yang selalu kelihatan muram. Memang dia merasa gembira mendapatkan kuburan yang baru itu, hal yang sama sekali tidak disangka- sangkanya karena tanah kuburan itu penuh dengan kuburan-kuburan yang sudah tua sekali.

Setelah berkata demikian, Si Kakek Lengan Buntung ini memelopori anak buahnya, menggunakan tangannya menggempur gundukan tanah dan sekali tangan tunggalnya mendorong, gundukan tanah yang baru itu terbongkar dan tampaklah sebuah peti mati di bawahnya, berjajar dengan sebuah peti mati lain yang masih tertutup tanah. Peti mati yang tampak itu adalah peti mati Kwi Hong!

“Heii, keparat! Tahan…!”

Orang-orang Thian-liong-pang terkejut dan mereka semua melihat dengan mata terbelalak ketika belasan orang Pulau Neraka muncul dari kanan kiri. Benar-benar mengejutkan melihat orang-orang yang mukanya beraneka warna itu bermunculan di tanah kuburan itu, tidak ubahnya seperti setan-setan kuburan. Si Lengan Satu yang kehilangan lengan kirinya dalam pertandingan melawan orang-orang Pulau Neraka, segera mengenal musuh-musuh lama ini, maka dia terkejut dan marah sekali.

“Gerombolan Iblis Pulau Neraka! Apakah kalian kembali hendak mengganggu urusan Thian-liong-pang?” bentaknya marah sekali.

Kong To Tek, tokoh Pulau Neraka yang berkepala gundul bermuka merah muda dan bertubuh gendut pendek, menyeringai ketika menjawab. “Orang-orang Thian-liong-pang yang sombong! Sudah sepekan kami berada di sini menyaksikan sepak terjang kalian dan kami diam-diam saja. Siapa sudi mencampuri urusan orang lain yang tidak harum? Akan tetapi kalian berani mengganggu kuburan yang kami jaga, tentu saja kami turun tangan. Kuburan yang satu ini berada di bawah pengawasan kami dan tidak ada seorang pun manusia atau iblis boleh mengganggunya. Jika kalian membutuhkan peti mati, boleh mencari kuburan lain!”

“Kau sudah bosan hidup!” Bok Sam membentak dan langsung menerjang ke depan, disambut oleh Kong To Tek sehingga terjadilah perkelahian yang seru antara kedua tokoh ini. Ternyata ilmu kepandaian mereka seimbang sehingga pertandingan itu hebat bukan main. Anak buah Thian-liong-pang yang lain sudah pula bertanding melawan anak buah Pulau Neraka.

Perkelahian itu segera terdengar oleh Milana dan anak buahnya, maka dara ini cepat membawa anak buahnya menyerbu dan kembali tempat itu menjadi medan perang kecil-kecilan yang dahsyat sekali. Milana mempunyai rasa tidak suka kepada Pulau Neraka, maka kini melihat betapa orang-orang dengan muka beraneka warna itu bertempur melawan orang-orangnya, dia segera terjun ke medan pertandingan dan sepak terjang dara ini membuat orang-orang Pulau Neraka terdesak hebat.

Bok Sam yang bertanding melawan Kong To Tek merupakan tandingan seimbang dan seru, tetapi Si Gundul Kong To Tek itu mulai terdesak karena lawannya menggunakan pukulan-pukulan Ilmu Telapak Tangan Golok yang dahsyat bukan main. Kong To Tek terkenal dengan ilmunya memukul sambil berjongkok dan dari mulutnya keluar asap beracun. Tetapi karena dia pernah mengacau ke Thian-liong- pang dan kepandaiannya ini sudah diketahui oleh Bok Sam, Si Lengan Buntung dapat menjaga diri dan selalu meloncat tinggi melampaui kepala lawan yang berjongkok itu, kemudian membalik dan melancarkan pukulan-pukulan maut dengan lengan tunggalnya yang ampuh bukan main.

Ada pun orang kedua yang lihai dalam rombongan Pulau Neraka itu adalah Chi Song, tokoh Pulau Neraka yang tinggi besar dan berperut gendut. Chi Song ini memiliki dua macam ilmu simpanan yang hebat dan pernah pula dia mengacau Thian-liong-pang bersama Kong To Tek dan akhirnya dikalahkan oleh Gak Bun Beng yang pada waktu itu menyamar sebagai Ketua Thian-liong-pang.

Dua ilmu simpanannya itu memang dahsyat, yaitu Ilmu Pukulan Beracun yang amat berbahaya. Jika ia mendorong dengan telapak tangan terbuka, dari telapak tangannya menyambar uap beracun yang dapat merobohkan lawan sebelum pukulannya sendiri mengenai sasaran. Ada pun keistimewaannya yang kedua adalah ilmu tendangan yang dahsyat, yang dilakukan sambil meloncat sehingga dinamakan Tendangan Terbang. Banyak lawan yang dapat menghindarkan diri dari pukulannya yang beracun roboh oleh tendangan dahsyat yang amat cepat dan tidak terduga-duga datangnya ini. Biar pun tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit dibandingkan dengan Kong To Tek, namun Chi Song bukanlah seorang tokoh rendahan saja di Pulau Neraka.

Sial baginya, sekali ini dia bertemu dengan Milana, puteri Ketua Thian-liong-pang! Betapa pun lihainya, dan biar pun dia telah dibantu oleh tiga orang untuk mengeroyok Milana, tetap saja dia dan kawan-kawannya dihajar babak belur oleh tali sutera hitam yang dimainkan sebagai cambuk tangan Milana! Kalau dara remaja ini menghendaki, tentu dengan mudah dia dapat menyebar maut di antara rombongan orang-orang Pulau Neraka itu.

Akan tetapi biar pun dia puteri Ketua Thian-liong-pang yang terkenal berwatak keras dan ganas, pada hakekatnya Milana memiliki watak halus dan tidak tega membunuh orang kalau tidak secara terpaksa sekali. Dia tidak suka kepada orang-orang Pulau Neraka, akan tetapi karena yang mengeroyoknya hanya orang-orang yang tingkatnya jauh lebih rendah dari padanya, dia tidak mau menurunkan tangan maut, dan hanya menghajar mereka dengan lecutan-lecutan tali suteranya sehingga mereka itu terdesak mundur, bahkan beberapa kali Chi Song roboh bergulingan, pakaiannya robek-robek dan kulitnya lecet-lecet.

Sepak terjang Milana ini hebat sekali, membuat para anak buah Pulau Neraka menjadi kacau balau. Apa lagi ketika Bok Sam berhasil melukai pundak Kong To Tek dengan Telapak Tangan Goloknya sehingga tokoh gundul Pulau Neraka itu terpaksa mundur untuk mengobati lukanya dan Si Lengan Buntung itu kini mengamuk secara lebih hebat dari pada Milana karena Si Lengan Buntung ini tidak menaruh segan-segan untuk membunuh atau menimbulkan luka parah di antara pengeroyoknya, pihak Pulau Neraka benar-benar terdesak hebat dan hanya main mundur.

Tiba-tiba terdengar pekik dari atas, disusul kelepak sayap dan seekor burung rajawali hitam menyambar turun, langsung mencengkeram ke arah Si Lengan Buntung Kiang Bok Sam yang sedang mengamuk dan menyebar maut di antara orang-orang Pulau Neraka!

“Haiiiitttt!” Bok Sam berseru kaget, cepat melempar tubuh ke bawah dan bergulingan di atas tanah. Burung rajawali mengejar dan menyambar. Tiba-tiba Bok Sam meloncat bangun, tangan kanannya bergerak memukul ke arah sebuah di antara sepasang cakar yang menyambarnya.

“Desssss!”

Burung rajawali itu memekik keras, tetapi tubuh Bok Sam juga terlempar bergulingan sampai jauh. Kiranya ketika kaki burung itu bertemu dengan pukulan Telapak Tangan Golok, ada sebuah tangan lain yang mendorong ke bawah dengan kekuatan yang amat dahsyat, yang selain menyelamatkan kaki burung itu, juga membuat tubuh Si Lengan Buntung bergulingan. Burung itu hinggap di atas tanah dan dari punggungnya meloncat seorang pemuda yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan sekali. Kemudian burung itu terbang ke atas, hinggap di atas cabang pohon.

Su Kak Liong, tokoh Thian-liong-pang yang melihat betapa hampir saja Bok Sam celaka oleh pemuda dengan burung rajawalinya ini, menerjang maju dengan sebatang golok besar. Pemuda itu sedang berdiri sambil bertolak pinggang memandang ke sekeliling, sama sekali tidak memperhatikan atau mempedulikan terjangan Su Kak Liong dengan golok, juga dia tidak meraba gagang pedangnya yang tersembunyi di balik jubahnya yang panjang.

Sikapnya tenang sekali, alisnya yang tebal agak berkerut, matanya bergerak ke kanan kiri, mulutnya tersenyum simpul seperti orang mengejek, namun sikapnya angkuh seolah-olah dia memandang rendah pada semua orang yang berada di sekelilingnya. Golok di tangan Su Kak Liong menyambar dekat, hampir menyentuh lehernya. Tiba-tiba tanpa mengubah kedudukan kedua kakinya, pemuda itu membalikkan tubuh atas, tangan kirinya bergerak menangkap golok yang sedang menyambar, dijepit di antara jari tangannya sehingga golok itu tiba-tiba terhenti gerakannya.

Su Kak Liong memandang dengan mata terbelalak hampir tidak percaya bahwa ada orang mampu menyambut hantaman goloknya dengan jari tangan menjepitnya sedemikian rupa sehingga dia tidak mampu lagi menggerakkan goloknya. Matanya masih tetap terbelalak akan tetapi mulutnya mengeluarkan pekik menyeramkan dan segera disusul menyemburnya darah segar ketika tangan kanan pemuda itu menepuk ulu hatinya dan seketika robohlah Su Kak Liong dalam keadaan tak bernyawa lagi!

“Keparat…! Kau berani membunuhnya? Rasakan pembalasanku!” Bok Sam yang tadi melihat peristiwa ini menjadi marah bukan main.

Biar pun dia maklum bahwa pemuda itu benar-benar lihai sekali, namun dia tidak menjadi gentar. Kemarahannya membuat ia lupa diri dan dengan nekat dia menerjang maju, tangan tunggalnya diangkat ke atas kepala dengan telapak tangan terbuka, dia sudah mengerahkan tenaga Telapak Tangan Golok dan siap membacokkan tangannya ke arah kepala pemuda itu.

Si Pemuda tetap berdiri dan kini bahkan melongo memandang ke arah Milana yang mengamuk dengan sabuk suteranya, sama sekali tidak mempedulikan makian dan serangan Si Lengan Buntung yang kini menggunakan Ilmu Telapak Tangan Golok sekuatnya itu!

“Plakkk!” ketika tangan kanan Bok Sam itu sudah dekat kepalanya, Si Pemuda tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ke atas, melindungi kepala dan menyambut pukulan itu sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu dan melekat!

Bok Sam mengerahkan seluruh tenaganya, tenaga sinkang yang istimewa untuk ilmu Telapak Tangan Golok-nya. Tetapi betapa pun ia menekan, tetap saja tangan pemuda itu tidak dapat didorongnya, bahkan dia tidak dapat lagi melepaskan tangannya dari telapak tangan Si Pemuda. Kemarahannya memuncak.

Pemuda inilah yang telah membuntungi lengan kirinya, maka tadi dia marah sekali dan telah mengerahkan seluruh tenaga untuk membalas dendam dan membunuhnya. Siapa kira kini pukulannya yang istimewa disambut oleh pemuda itu seenaknya saja dan dia tidak mampu menarik kembali tangannya. Dengan kemarahan meluap, Bok Sam lalu menggunakan kepalanya. Untuk menggunakan tangan kiri, dia sudah tidak mempunyai lengan kini, menggunakan kedua kaki, jarak mereka terlalu dekat karena tangan mereka sudah saling melekat, maka satu-satunya yang dapat dia pergunakan untuk menyerang musuh yang paling dibencinya ini adalah menggunakan kepalanya! Dengan menunduk, dia lalu membenturkan kepalanya dengan sekuat tenaga ke arah dada pemuda itu!

Pemuda itu bukan lain adalah Wan Keng In, putera dari Ketua Pulau Neraka, murid yang amat lihai dari Cui-beng Koai-ong, datuk pertama dari Pulau Neraka! Melihat serangan kepala ini, Wan Keng In tetap tenang bahkan dia meloncat sedikit ke atas sehingga kepala lawan tidak mengenai dada, melainkan mengenai perutnya.

“Cappp!” Perut itu mengempis dan kepala itu menancap di perut sampai setengahnya, tak dapat dicabut kembali.

Bok Sam merasa betapa kepalanya nyeri bukan main, seolah-olah telah memasuki tempat perapian, makin lama makin panas. Dia meronta-ronta akan tetapi karena tangan kanannya sudah melekat dengan tangan pemuda itu, kepalanya sudah terjepit di rongga perut, yang bergerak hanya pinggul dan kedua kakinya yang menendang-nendang tanah!

“Manusia tak tahu diri, mampuslah!” Pemuda itu menggumam sambil mengerahkan tenaga mukjizat di rongga perutnya.

Terdengar bunyi keras ketika kepala Bok Sam retak-retak oleh tekanan perut yang amat kuat itu dan ketika Wan Keng In melontarkan tubuh Si Lengan Buntung dengan jalan mengembungkan perutnya, tubuh itu telah menjadi mayat dengan kepalanya retak-retak dan berwarna kehitaman!

Semua ini dilakukan oleh Wan Keng In tanpa mengalihkan pandang matanya dari Milana yang masih menghajar orang-orang Pulau Neraka dengan tali suteranya yang meledak-ledak di udara seperti cambuk.

Pandang matanya menjadi berseri, mulutnya tersenyum ketika ia melangkah dengan tenang, menghampiri tempat pertempuran itu, seolah-olah dia terpesona oleh gerak-gerik tubuh yang tinggi semampai dan lemah gemulai itu, oleh wajah yang amat cantik manis, bahkan amukan Milana pada saat itu menambah kejelitaan dalam pandang mata Wan Keng In ketika ia melangkah terus makin dekat.

“Aduhai, Nona yang cantik jelita seperti dewi kahyangan! Siapakah gerangan engkau?”

Para anak buah Pulau Neraka yang terdesak hebat oleh rombongan Thian-liong-pang kini menjadi girang bukan main ketika melihat munculnya Wan Keng In. Terdengar seruan di antara mereka.

“Siauw-tocu (Majikan Muda Pulau) telah datang!”

Ketika mendengar seruan ini, Milana menengok dan kalau tadinya dia terheran mendengar kata-kata yang dianggapnya menyenangkan akan tetapi juga kurang ajar itu, kini dia kaget bukan main. Kiranya pemuda ini adalah Majikan Muda Pulau Neraka! Teringat ia akan cerita Bun Beng kepadanya dan marahlah hatinya. Pemuda ini yang telah merampas pedang Lam-mo-kiam dari tangan Bun Beng. Ketika ia memandang, baru sekarang tampak olehnya bahwa Su Kak Liong dan Bok Sam telah menggeletak menjadi mayat! Tahulah dia bahwa dua orang pembantunya yang paling lihai itu telah tewas, dan melihat munculnya pemuda Pulau Neraka ini, mudah diduga bahwa tentu mereka tewas di tangan pemuda ini.

Agaknya Wan Keng In dapat menduga isi hati Milana ketika melihat dara jelita itu memandang ke arah mayat kedua orang tokoh Thian-liong-pang dengan wajah berubah, maka dia tertawa lalu berkata, “Ha-ha- ha, jangan kaget, Nona manis. Kedua orang itu telah berani menyerangku, terpaksa aku bunuh mereka. Orang-orang macam itu sungguh tidak patut menjadi pembantu-pembantumu. Nona, siapakah engkau? Heran sekali di dunia ini bisa terdapat seorang dara secantik jelita engkau, dan selama ini aku tidak pernah bertemu denganmu. Nona, baru sekali ini hatiku tergetar hebat dengan seorang wanita. Aku yakin, engkaulah satu-satunya wanita yang diciptakan di dunia ini, khusus untuk menjadi pasanganku!”

Bukan main marahnya hati Milana. Tak dapat disangkal lagi, pemuda itu amat tampan menarik, masih muda, sebaya dengannya, pakaiannya indah, kulit mukanya putih bersih, matanya bersinar-sinar, pendeknya dia seorang pemuda yang tampan gagah sukar dicari keduanya. Akan tetapi sinar matanya yang agak aneh itu mengandung sesuatu yang mengerikan, sedangkan kata-kata dan sikapnya membuat Milana merasa muak dan membangkitkan perasaan tidak senang yang mendekati kebencian.

“Jadi engkau adalah bocah Pulau Neraka yang amat jahat itu? Engkaulah yang sudah merampas pedang Lam-mo-kiam milik Gak Bun Beng?”

Wan Keng In mengerutkan alisnya yang tebal hitam. “Eh, engkau mengenal Gak Bun Beng? Dia sudah mati, bukan? Engkau siapa, Nona?”

“Siauw-tocu, dia inilah puteri Ketua Thian-liong-pang. Dia lihai sekali,” seorang anggota Pulau Neraka tiba- tiba berkata sambil mencoba untuk bangkit. Tulang kakinya pecah terkena cambukan tali sutera Milana tadi.

“Aihhhh, kiranya puteri Ketua Thian-liong-pang? Pantas saja cantik jelita dan lihai. Sungguh tepat kalau begitu. Engkau puteri Ketua Perkumpulan Thian-liong-pang yang terkenal di seluruh dunia, aku pun putera Majikan Pulau Neraka yang tidak kalah terkenalnya. Sungguh merupakan jodoh yang setimpal sekali!”

“Tutup mulutmu yang kotor!” Milana memaki dan tangannya bergerak. “Tar-tar!”
Ujung tali sutera hitam melecut di udara dan menyambar ke arah kedua pelipis kepala Wan Keng In dengan kecepatan kilat. Sekali ini, Milana bukan sekedar menggerakkan senjata untuk menghajar, melainkan dia memberi serangan totokan yang merupakan serangan maut.

Biasanya Wan Keng In memandang rendah kepada semua orang. Akan tetapi begitu bertemu dengan Milana, entah bagaimana, hatinya tertarik seperti besi tertarik oleh besi sembrani. Belum pernah selama hidupnya dia tertarik oleh wanita seperti itu. Dia bukan seorang mata keranjang sungguh pun dia biasa disanjung wanita dan biasanya dia memandang rendah wanita-wanita cantik yang dianggapnya belum cukup untuk duduk berdampingan dengannya! Sekali ini, begitu melihat Milana, dia tergila-gila. Ketika dia menyaksikan gerakan ujung tali sutera, dia menjadi makin gembira dan kagum. Gerakan ini bukanlah gerakan sembarangan dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan!

“Engkau hebat, Nona!” Dia memuji akan tetapi cepat ia miringkan kepala untuk menghindarkan totokan maut itu, kemudian tangannya cepat menyambar untuk menangkap ujung tali sutera hitam.

“Cuiittt… taaar!”

Lihai sekali Milana bermain tali sutera yang digerakkan seperti pecut itu. Begitu totokannya pada pelipis yang bertubi-tubi menyerang pelipis kanan-kiri itu tidak mengenai sasaran, bahkan hampir dicengkeram oleh tangan Wan Keng In, dara itu telah membuat gerakan dengan pergelangan tangannya dan ujung tali sutera itu sudah melecut dan menotok ke arah jalan darah di pergelangan tangan yang hendak menangkapnya!

“Trikkkk!”

“Engkau memang hebat, Nona manis!” Keng In kembali memuji sambil tersenyum lebar.

Akan tetapi Milana kini terkejut bukan main. Pemuda itu tadi telah menggunakan jari telunjuknya untuk menyentik ujung tali suteranya yang menotok ke arah pergelangan tangan. Gerakan itu demikian tepat mengenai ujung tali sutera sehingga ujung tali terpental. Hanya orang yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi saja yang dapat melakukan hal ini!

Namun, tentu saja Milana tidak menjadi jeri. Dia tidak pernah mengenal takut dan dia pun sudah percaya penuh akan kepandaian sendiri. Biar pun tak mungkin dia dapat mewarisi seluruh ilmu kepandaian ibunya yang amat banyak itu, namun kiranya hanya beberapa macam ilmu yang amat tinggi dan terlalu sukar saja yang belum diajarkan ibunya kepadanya dan kalau hanya melawan musuh yang sebaya dengannya saja, kiranya di dunia ini sukar ada yang akan dapat menandinginya.

“Jahanam busuk, bersiaplah untuk mampus!” bentaknya dan kini terdengarlah ledakan-ledakan nyaring ketika ujung tali sutera itu menari-nari di tengah udara, membentuk lingkaran-lingkaran yang besar kecil saling telan, kemudian lingkaran-lingkaran hitam itu berjatuhan ke bawah, susul-menyusul dalam serangkaian serangan maut ke arah tubuh Wan Keng In dengan kecepatan kilat yang menyilaukan mata karena lingkaran itu tidak lagi berupa sabuk atau tali sutera, melainkan tampak seperti sinar hitam saja.

“Bagus sekali…!” Wan Keng In kembali memuji dan tiba-tiba tubuhnya bergerak lenyap, lalu tampak berkelebatan seperti bayangan setan menari-nari di antara sinar hitam yang bergulung-gulung dan melingkar-lingkar!

Wan Keng In tidak mau menggunakan pedangnya yang ampuh. Jika dia menggunakan pedang Lam-mo- kiam, sekali sambar saja tentu akan putus tali sutera hitam itu. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini, karena selain dia tidak mau menghina Milana, juga dia ingin memamerkan kepandaiannya. Memang hebat sekali pemuda ini. Gerakannya yang cepat itu hanya membuktikan bahwa ginkang-nya sudah mencapai tingkat yang amat tinggi sehingga tubuhnya itu amat ringan dan amat cepat, dapat mengelak dari setiap sambaran sinar tali sutera!

Menyaksikan pertandingan yang amat hebat, luar biasa dan indah dipandang ini, otomatis perkelahian- perkelahian antara rombongan Pulau Neraka dan rombongan Thian-liong-pang terhenti. Mereka menonton karena maklum bahwa pertandingan antara kedua orang muda putera dan puteri ketua masing-masing rombongan itu merupakan pertandingan yang menentukan. Kalah menangnya pertandingan antara kedua orang muda yang lihai bukan main itu berarti kalah menangnya pula perang kecil antara kedua rombongan itu!

Gerakan tali sutera itu makin hebat dan bukan lagi lingkaran-lingkaran yang dibentuk oleh sinar hitam itu, melainkan bentuk-bentuk segi tiga, segi empat, bahkan ada kalanya sinar itu membentuk segi delapan. Ujung sabuk itu menyerang dari delapan penjuru, setiap gerakan merupakan totokan maut dan didasari tenaga sinkang yang sangat kuat. Bukan hanya amat indahnya sinar hitam itu membentuk segi tiga yang ajaib itu, juga gerakannya mengeluarkan bunyi bercuitan, seolah-olah sinar hitam itu hidup!

Itulah permainan tali sutera atau sabuk yang gerakannya berdasarkan Ilmu Silat Pat-sian-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa) warisan dari kitab-kitab pusaka peninggalan Pendekar Wanita sakti Mutiara Hitam! Nirahai telah menciptakan ilmu dengan tali sutera ini khusus untuk puterinya setelah dia memperoleh kenyataan bahwa puterinya berbakat baik sekali dalam menggunakan sabuk atau tali sutera halus dan lemas sebagai senjata yang ampuh.

Diam-diam Wan Keng In terkejut dan makin kagum. Dia maklum bahwa kalau dia menghadapi permainan tali sutera lawan yang amat lihai ini dengan tangan kosong saja, lama-lama dia terancam bahaya maut. Ternyata tingkat kepandaian puteri Ketua Thian-liong-pang ini benar-benar mengejutkan hatinya. Kalau dia berpedang, agaknya dia masih akan dapat keluar sebagai pemenang dengan membabat putus tali itu. Akan tetapi, kalau dia menggunakan pedang dan terpaksa merusak tali sutera itu, tentu dara yang menjatuhkan hatinya itu akan tersinggung dan marah. Sebaliknya kalau hendak menaklukkan dara ini dengan tangan kosong, benar-benar merupakan hal yang amat sulit, betapa pun tinggi ilmu kepandaiannya.

Dia harus menggunakan akal dan hal ini merupakan kelebihan dalam kepala Wan Keng In dibandingkan dengan orang-orang muda lainnya. Pemuda ini cerdik bukan main, pandai menggunakan siasat-siasat yang tak terduga-duga dalam keadaan darurat seperti saat itu.

Ketika ujung sabuk atau tali hitam itu untuk kesekian kalinya menotok ke arah jalan darah Kin-ceng-hiat di pundak kiri, tempat yang tidak begitu berbahaya dan yang dapat ia tutup dengan hawa sinkang, dia sengaja berlaku lambat dan ujung tali sutera itu dengan tepat menotok pundaknya yang sudah ia tutup jalan darahnya dan terlindung oleh sinkang yang kuat.

“Prattt!”

Tepat pada saat ujung tali sutera itu menotok pundak, tangan kanan Wan Keng In menyambar dan ia berhasil menangkap ujung tali sutera hitam! Milana terkejut bukan main. Tadinya dia sudah merasa girang karena totokannya berhasil, namun alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa pemuda itu sama sekali tidak menjadi lumpuh, bahkan telah berhasil menangkap ujung tali suteranya! Namun, Milana tidak menjadi panik.

Dia kerahkan sinkang-nya, mainkan pergelangan tangannya dan dengan penyaluran tenaga sinkang dia menggerakkan tali suteranya dan… tubuh Wan Keng In terbawa oleh meluncurnya tali sutera itu ke udara! Milana terus menggerakkan tali suteranya, memutar tali itu ke atas, makin lama makin cepat sehingga tubuh Wan Keng In yang masih berada di ujung tali karena pemuda itu tidak mau melepaskan ujung tali sutera, terbawa pula terputar-putar!

Para anak buah rombongan kedua pihak yang menjadi penonton dengan hati diliputi penuh ketegangan itu menonton dengan mata terbelalak. Demikian tegang rasa hati mereka itu menahan napas ketika menyaksikan pertendingan mati-matian yang kelihatannya seperti main-main atau permainan akrobat yang dilakukan oleh dua orang muda-mudi yang elok dan tampan!

Wan Keng In sengaja membiarkan dirinya terbawa oleh tali yang diputar-putar itu. Kalau dia mau, tentu saja dia dapat mengerahkan sinkang dan mengadu kekuatan dengan dara itu memperebutkan tali sutera. Namun hal ini tentu akan mengakibatkan tali itu putus, hal yang tidak dia kehendaki karena putusnya tali itu bukan berarti bahwa dia telah menang, akan tetapi yang jelas gadis itu tentu akan marah dan benci kepadanya. Tidak, dia tidak menggunakan akal itu, melainkan hendak menggunakan akal lain.

Kalau dia dapat merayap melalui tali, makin lama makin dekat, tentu akhirnya dia akan berhadapan dengan dara jelita itu dan kalau sudah begitu, mudahlah baginya untuk membuat dara itu tidak berdaya tanpa melukainya. Dengan hati-hati dan perlahan, mulailah Wan Keng In merayap melalui tali yang panjang itu, sedikit demi sedikit, bergantung dengan mengganti-ganti tangan sambil tubuhnya masih terputar-putar cepat sekali sehingga dalam pandangan orang lain, tubuhnya berubah menjadi banyak sekali!

Mungkin bagi penonton lain tidak ada yang tahu akan usaha Wan Keng In mendekati lawan dengan cara merayap perlahan-lahan melalui tali sutera yang panjang itu, akan tetapi Milana dapat melihat atau lebih tepat lagi dapat merasakan gerakan lawan yang berada di ujung tali sutera itu. Dara ini tidak bodoh, dan maklum bahwa kalau sampai pemuda itu dapat mendekatinya, belum tentu dia akan dapat menandingi pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa itu.

Maka begitu melihat pemuda itu perlahan-lahan merayap mendekat, diam-diam Milana menggerakkan tangan kirinya dan hanya memutar tali itu dengan tangan kanan saja. Tangan kirinya menyusup ke dalam kantung jarumnya, kemudian tampak tiga kali dia menggerakkan tangan kirinya ke depan. Gerakan tangan yang tidak begitu tampak, karena sambitan jarum-jarumnya itu ia lakukan dengan pergelangan tangan dan jari-jari tangan. Namun, tiga kali tampak sinar halus menyambar ke arah tubuh Wan Keng In yang terbawa tali berputaran, sinar kemerahan halus dari jarum-jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi)!

“Celaka…!” Wan Keng In berseru kaget ketika melihat menyambarnya sinar halus dan mencium bau harum. Tahulah dia bahwa dia yang sedang diputar-putar seperti kitiran itu kini diserang dengan senjata- senjata rahasia yang amat halus dan mengandung racun yang baunya harum pula!

Namun selain telah mempelajari ilmu-ilmu tingkat tinggi dari ibunya, Wan Keng In juga sudah menerima gemblengan dari Cui-beng Koai-ong yang sakti, maka walau pun keadaannya itu amat berbahaya, namun dia masih bersikap tenang dan tiba-tiba tubuhnya yang berada di ujung tali sutera itu membuat gerakan berputar pula! Hebat bukan main pemandangan di waktu itu. Tubuh di ujung tali sutera itu berputaran, sedangkan tali itu sendiri berputar cepat. Dengan gerakan berputaran ini, Wan Keng In dapat menyelamatkan diri dan mengelak dari sambaran jarum-jarum Siang-tok-ciam. Namun dia juga telah menemukan akal baru yang luar biasa dan cerdik sekali.

Dengan pengukuran tenaga yang tepat, Wan Keng In dapat mengerahkan sinkang-nya dan memberatkan tubuhnya sehingga tiba-tiba tali sutera yang berputar itu tak dapat dikuasai lagi oleh kedua tangan Milana dan berputar melibat tubuh dara itu.

“Aihhhhh…!” Milana menjerit kaget, sadar setelah terlambat karena tali yang berputar cepat itu sekarang telah membuat beberapa putaran mengelilinginya dan karena tali menurun akibat beratnya tubuh Wan Keng In, maka tali itu membelit-belit tubuhnya, menelikung kedua lengannya sendiri!

Terdengar suara Wan Keng In tertawa-tawa sambil terus membuat gerakan mengayun sehingga tali itu biar pun tidak lagi dipegang oleh Milana, masih terus berputar melibat tubuh Milana yang berusaha meronta- ronta.

“Ha-ha-ha, Nona manis. Bukankah dengan begini berarti engkau telah tertawan olehku seperti tertawannya hatiku olehmu?”

“Krakkkkkkk!” Tiba-tiba terdengar bunyi keras. dan dari dalam lubang kuburan tampak bayangan berkelebat, didahului sinar kilat menyambar ke arah tali sutera.

“Bretttt!” Tali sutera itu putus dan tubuh Wan Keng In yang masih terayun di ujung tali, tentu saja terpelanting. Untunglah pemuda itu masih mampu berjungkir balik sehingga tidak terbanting ke atas tanah.

Milana mempergunakan kesempatan baik itu untuk melepaskan diri. Ketika dia melihat bahwa yang muncul adalah seorang wanita muda yang cantik, segera dia mengenal wanita itu sebagai gadis yang pernah mengacau Thian-liong-pang ketika di rumah penginapan. Dia menjadi terkejut dan khawatir sekali, maka menggunakan kesempatan selagi gadis itu berhadapan dengan Wan Keng In, dia memberi isyarat kepada anak buahnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Anak buahnya pergi sambil membawa jenazah-jenazah para kawan yang menjadi korban. Rombongan Pulau Neraka tidak mencegah mereka melarikan diri karena merasa jeri terhadap Milana, apa lagi kini tuan muda mereka sedang menghadapi lawan baru berupa dara perkasa yang galak, murid dari datuk mereka yang selama sepekan ini berlatih di dalam tanah kuburan bersama datuk mereka, Bu-tek Siauw-jin! Mereka menjadi bingung dan tidak berani turut campur, memandang dengan hati penuh ketegangan.

“Keparat, siapa engkau…? Ehhh, kiranya kau, bocah setan dari Pulau Es? Ha-ha-ha, kukira siapa! Dan Li- mo-kiam masih berada di tanganmu? Bagus…! Kau harus berikan Li-mo-kiam kepadaku, agar dapat kuhadiahkan kepada calon isteri… haiiii! Ke mana dia…?” Wan Keng In menoleh dan ketika dia melihat Milana sudah tidak berada di situ lagi, dia menjadi bengong dan mencari ke sana-sini dengan pandang matanya.

“Siauw-tocu, mereka telah pergi…!” kata seorang di antara anak buahnya.

“Tolol! Goblok kalian semua! Mengapa kalian bolehkan pergi? Hayo kita…” belum habis ucapannya, Wan Keng In terkejut sekali dan terpaksa dia melempar tubuh terjengkang ke belakang untuk menghindarkan sinar kilat yang menyambar tubuhnya. Kiranya Kwi Hong telah menyerang dengan menusukkan Li-mo- kiam ke arah dadanya. Gerakan gadis ini cepat sekali sehingga hampir saja dia menjadi korban. Marahlah Wan Keng In.

“Kau berani melawan aku? Hemm, apa yang kau andalkan? Pedang itu? Baik, kita lihat siapa yang lebih unggul antara murid Pulau Neraka dan murid Pulau Es!”

Setelah berkata demikian, Wan Keng In menggerakkan tangan kanannya, meraba punggung di balik jubah. Ketika tangannya diangkat, tampak sinar kilat dan Lam-mo-kiam sudah berada di tangannya!

Kwi Hong amat membenci pemuda ini. Kemarahannya memuncak ketika dia melihat Lam-mo-kiam di tangan pemuda itu. Dia tahu bahwa itu adalah pedang Gak Bun Beng yang dirampas oleh Keng In. Semenjak dia masih belum dewasa, bocah Pulau Neraka ini sudah menjadi musuhnya.

“Keparat jahanam! Manusia tidak kenal malu! Pedang curian kau pamerkan di sini. Bukan aku yang harus menyerahkan Li-mo-kiam kepadamu, melainkan engkau yang harus memberikan Lam-mo-kiam itu kepadaku sebelum lehermu putus!”

“Singgggg…!” sinar kilat di tangan Kwi Hong menyambar ke depan, disambut sinar kilat yang sama di tangan Wan Keng In.

“Wuuuuiiiitttt!”

Dua orang itu terkejut bukan main karena pedang mereka tertolak ke belakang sebelum bertemu! Seolah- olah dari sepasang pedang itu timbul hawa yang ajaib yang membuat kedua pedang tidak dapat saling sentuh, melainkan terdorong membalik oleh tenaga mukjizat tadi!

Namun Kwi Hong tidak mempedulikan hal ini dan cepat dia menyerang lagi. Terjadilah perang tanding yang amat hebat, lebih menegangkan dari pada pertandingan antara Wan Keng In dan Milana tadi, karena kini kedua orang muda itu mempergunakan sepasang pedang yang membuat para penonton merasa tubuhnya panas dingin. Baru sinar dan hawa pedang itu telah membuat mereka yang berada di situ meremang semua bulu di badan dan mengkirik. Hal ini tidaklah mengherankan karena kini yang mengeluarkan sinar adalah Sepasang Pedang Iblis yang memiliki hawa mukjizat seolah-olah dikendalikan oleh roh-roh dan iblis-iblis yang haus darah!

Memang hebat sekali pertandingan antara kedua orang muda itu. Hebat, menyilaukan mata dan amat aneh sehingga menyeramkan para penonton. Betapa tidak aneh kalau kedua orang itu bergerak cepat sehingga bayangan mereka tertutup gulungan dua sinar pedang yang seperti kilat berkelebatan, akan tetapi sama sekali tidak pernah terdengar suara beradunya senjata? Seolah-olah tidak pernah ada yang menangkis, padahal kedua orang itu mainkan pedang secara dahsyat dan ada kalanya untuk menyelamatkan diri, jalan satu-satunya hanya menangkis. Akan tetapi, begitu seorang di antara mereka menggerakkan pedang menangkis, serangan lawan terhalau oleh tangkisan tanpa kedua pedang itu saling bersentuhan karena keduanya tentu terpental oleh tenaga mukjizat. Seolah-olah Sepasang Pedang Iblis itu keduanya saling tidak mau bersentuhan.

Sebetulnya, kalau ditilik dasarnya, ilmu silat kedua orang muda ini masih satu sumber. Wan Keng In adalah putera dari Lulu yang sejak kecil menerima gemblengan ilmu dari ibunya ini. Lulu adalah adik angkat Pendekar Super Sakti dan biar pun kemudian Lulu menjadi murid Nenek Maya, namun sumber dari ilmu silatnya masih tetap sama, yaitu yang berasal dari Pulau Es, berasal dari Bu Kek Siansu. Tentu saja karena tingkat kepandaian Pendekar Super Sakti jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Lulu, apa yang diajarkan kepada Kwi Hong sebenarnya bermutu lebih tinggi pula dari pada pelajaran yang diterima Wan Keng In dari ibunya.

Akan tetapi, setelah Keng In digembleng oleh kakek sakti yang tidak seperti manusia, Cui-beng Koai-ong, kepandaian pemuda itu meningkat secara tidak lumrah sehingga tingkatnya kini bahkan sudah melampaui tingkat kepandaian ibunya sendiri!

Keng In merasa penasaran sekali. Kalau saja tidak mengingat bahwa gadis ini adalah murid Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, tentu dia sudah mengeluarkan ilmu-ilmu-nya yang mukjizat, yang ia dapatkan dari gurunya. Akan tetapi dia tak mau membunuh Kwi Hong. Dia ingin menawannya untuk menunjukkan kepada Majikan Pulau Es yang dibencinya, orang yang telah membikin sengsara hati ibu kandungnya, bahwa dia tidak takut menghadapi Pulau Es, dan dia bahkan ingin mempergunakan nona ini untuk memancing datangnya Pendekar Siluman untuk bertanding!

Tiba-tiba Wan Keng In mengeluarkan suara gerengan yang tidak lumrah manusia. Gerengan yang keluar dari pusarnya, melalui kerongkongan dan mengeluarkan getaran yang seolah-olah membuat bumi tergetar!

Kwi Hong sendiri menjadi pucat wajahnya dan biar pun dia telah mengerahkan sinkang, tetap saja jantungnya tergetar dan gerakannya tidak tetap. Pada saat itu, ilmu pedang yang dimainkan oleh Keng In telah berubah aneh dan ganas bukan main.

Kwi Hong merasa gentar, jantungnya berdebar dan melihat pemuda itu menggerakkan pedangnya, ia menjadi pening, seolah-olah ia melihat lawannya menjadi tinggi besar dan menakutkan, gerakannya menjadi luar biasa cepat dan kuatnya! Kalau saja dia tidak sedikit-sedikit memetik gerakan kilat gurunya, tentu saja sudah kena dicengkeram oleh tangan kiri Keng In yang menyelingi gerakan pedangnya!

“Hyaaahhh!” tiba-tiba Keng In membentak, tubuhnya secara mendadak bergulingan dan pedangnya membabat secara bertubi-tubi ke arah kedua kaki Kwi Hong. Dara ini cepat meloncat-loncat dan menjauhkan diri, akan tetapi tiba-tiba lawannya bangkit dan memukul dengan tangan kiri terbuka. Serangkum dorongan telapak tangan ini menyambar ke arah dada Kwi Hong.

“Aihhhhh!” Dara ini cepat melakukan gerak mendorong yang sama, dengan tangan kirinya, didorongkan ke arah tangan lawan sambil mengerahkan tenaga Inti Es yang dilatihnya di Pulau Es.

“Wesss…!”

Dua tenaga raksasa bertemu di udara, di antara kedua telapak tangan yang terpisah berjarak dua kaki saja. Tenaga panas bertemu dengan dingin dan akibatnya Kwi Hong terjengkang ke belakang oleh karena pada saat tenaga itu bertemu, kembali Keng In mengeluarkan gerengan yang menggetarkan jantung itu. Sebelum Kwi Hong sempat meloncat, Keng In sudah menotok punggungnya dan begitu lengan Kwi Hong lemas, cepat pedang Li-mo-kiam telah dirampasnya!

Walau pun tubuhnya sudah menjadi lemah dan lumpuh, Kwi Hong masih mampu menggunakan mulutnya untuk memaki-maki, “Pengecut! Curang engkau! Tidak tahu malu! Pencuri busuk, hayo kembalikan pedangku dan kita bertanding secara bersih! Kau menggunakan ilmu siluman, keparat busuk!”

“Ikat dia dan bungkam mulutnya!” Keng In berkata sambil membelakangi Kwi Hong, menyimpan Li-mo- kiam yang disatukan dengan Lam-mo-kiam, disembunyikan di balik jubahnya. Dia berdiri dengan sikap sombong, menengok ke kanan kiri, tersenyum mengejek sambil berkata, mengerahkan khikang-nya sehingga suaranya terdengar sampai jauh.

“Haiiiiii! Pendekar Siluman Si Kaki Buntung! Lihat, muridmu telah kutawan! Kalau kau memang seorang gagah, datanglah dan bebaskan muridmu!”

Wajah para anak buah Pulau Neraka menjadi pucat mendengar tantangan yang keluar dari mulut Majikan Muda itu! Betapa pun lihainya Tuan Muda mereka itu, namun tidak selayaknya menantang Pendekar Siluman seperti itu! Baru mendengar nama Pendekar Siluman saja, wajah mereka sudah menjadi pucat, apa lagi ditantang oleh majikan mereka!

“Kau berani membuka mulut besar karena kau tahu bahwa Pamanku tidak berada di sini! Kalau Pamanku berada di sini, tentu engkau tak berani bernapas! Jangankan dengan Paman, dengan aku pun kalau engkau tidak berlaku curang, menggunakan ilmu siluman, engkau takkan mampu menang. Pengecut busuk, manusia keparat tak tahu malu!”

“Cepat bungkam mulutnya!” Keng In membentak tanpa menoleh.

Seorang wanita anggota Pulau Neraka yang bermuka biru muda cepat menggunakan sehelai sapu tangan untuk menutup mulut Kwi Hong, diikatkan ke belakang leher, kemudian dia melanjutkan pekerjaan mengikat tangan Kwi Hong yang dibelenggu dan ditelikung ke belakang punggungnya. Dara itu dalam keadaan setengah lumpuh, tak dapat meronta, hanya membelalakkan mata memandang ke arah punggung Keng In dengan penuh kebencian dan kemarahan.

“Cepat persiapkan orang-orang mengejar rombongan Thian-liong-pang! Puteri Ketua Thian-liong-pang itu harus dapat kutaklukkan!” berkata Wan Keng In kepada orang-orangnya.

“Bagaimana dengan nona ini, Siauw-tocu…?” Wanita itu bertanya, matanya penuh ketakutan memandang ke arah lubang kuburan ke arah peti yang masih tertutup tanah, peti tempat datuk Pulau Neraka berlatih!

“Bawa dia sebagai tawanan, kalau dia banyak rewel, seret dia! Jangan perbolehkan gadis galak ini banyak tingkah!”

“Siauw-tocu… akan tetapi… dia… dia…”

“Banyak rewel kau!” Wan Keng In membentak, akan tetapi matanya terbelalak kaget melihat wanita yang tadi bicara dan membelenggu serta membungkam mulut Kwi Hong telah roboh terlentang dengan mata mendelik dan nyawa putus! Dan dia melihat Kwi Hong duduk bersila dengan mata dipejamkan dan alis berkerut, seperti orang yang sedang memperhatikan sesuatu.

Memang pada saat itu Kwi Hong sedang mendengarkan suara yang berbisik-bisik di dekat telinganya, suara gurunya, Bu-tek Siauw-jin seolah-olah bicara di dekatnya akan tetapi yang sama sekali tidak berada di situ. Ketika tadi dia melihat wanita Pulau Neraka itu tiba-tiba roboh terjengkang dan mendengar suara itu, tahulah ia bahwa gurunya telah turun tangan!

“Bocah tolol, mana patut menjadi muridku kalau tertotok dan terbelenggu seperti itu saja tidak mampu melepaskan diri? Apa kau sudah lupa akan latihan membangkitkan kekuatan secara otomatis dengan mengandalkan tenaga Inti Bumi yang baru saja kau dapatkan dan yang menjadi dasar dari semua tenaga yang ada?”

Kwi Hong memejamkan mata dan mengerahkan semua perhatian akan petunjuk gurunya yang diberikan lewat bisikan-bisikan itu. Dia mentaati petunjuk itu dan… tiba-tiba darahnya mengalir kembali dan totokan itu tertembus oleh hawa Inti Bumi dari dalam! Setelah totokan terbebas, sekali mengerahkan tenaga belenggunya yang hanya terbuat dari tali itu putus semua dan sekali renggut dia telah melepaskan sapu tangan yang menutupi mulutnya, kemudian meloncat berdiri!

Wan Keng In memandang dengan mata terbelalak. Totokannya adalah totokan yang tidak lumrah, bukan totokan biasa melainkan totokan yang ia latih dari gurunya. Menurut gurunya, tidak ada orang di dunia ini yang akan dapat memulihkan orang yang terkena totokannya karena totokan itu mengandung rahasia tersendiri. Bahkan menurut gurunya, Pendekar Siluman sendiri pun belum tentu mampu membebaskan orang yang tertotok olehnya.

Bagaimana sekarang gadis itu, tanpa bantuan, sanggup membebaskan? Kalau hanya memutuskan belenggu itu, dia tidak merasa heran, akan tetapi dapat membebaskan diri dari totokannya, benar-benar membuat dia menjadi ngeri! Tentu ada yang memberi petunjuk! Otomatis dia menoleh ke kanan kiri dan hatinya menjadi kecut. Jangan-jangan Pendekar Siluman yang ditantangnya telah berada di sekitar situ dan memberi petunjuk kepada gadis itu lewat bisikan yang dikirim melalui tenaga khikang!

“Pendekar Siluman! Kalau kau sudah datang, mari kita bertanding sampai selaksa jurus!” Dia menantang sambil meraba gagang pedang di balik jubah.

“Tutup mulutmu yang sombong! Aku masih sanggup melawanmu!” bentak Kwi Hong dan tiba-tiba dia menubruk maju, memukul dengan dorongan kedua tangannya ke arah dada dan pusar. Pukulan yang hebat karena kalau tangan kirinya dia menggunakan tenaga Swat-im Sin-ciang yang dingin, tangan kanannya yang menghantam ke pusar dia isi dengan saluran tenaga Hwi-yang Sin-ciang yang panas.

Melihat ini Keng In meloncat ke belakang, akan tetapi tiba-tiba Kwi Hong yang kedua pukulannya luput itu telah jatuh ke atas tanah dengan terbalik, kemudian tanpa disangka-sangka kedua kakinya menendang ke belakang dan tepat mengenai paha dan perut Keng In. Tenaga tendangan model sepak kuda ini bukan main kuatnya sehingga biar pun Keng In sudah mengerahkan sinkang, tetap saja terlempar sampai lima meter jauhnya!

“Berhasil…!” Kwi Hong bersorak sambil meloncat bangun.

Akan tetapi ia segera kecewa karena mendengar bisikan gurunya mengomel. “Apa artinya kalau hanya mampu membuat dia terlempar? Hayo lawan terus, pergunakan Tenaga Inti Bumi!”

Kwi Hong melihat bahwa Keng In sudah meloncat turun dan biar pun sepasang mata pemuda itu terbelalak penuh keheranan terhadap ilmu tendangan yang aneh dan tidak patut itu, dia tidak terluka dan mukanya yang tampan membayangkan kemarahan.

“Engkau sudah bosan hidup!” bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke depan dan tampak sinar kilat berkelebat ketika tangannya mencabut keluar Li-mo-kiam. Sekali ini dia benar-benar mengambil keputusan untuk membunuh gadis itu dengan pedang gadis itu sendiri yang tadi dirampasnya.

“Aahhh…!” Tiba-tiba Keng In berdiri tak bergerak, pedang yang diangkat ke atas kepala itu tidak jadi dilanjutkan gerak serangannya dan dia memandang ke depan dengan muka pucat.

Di depannya telah berdiri Bu-tek Siauw-jin, Si Kakek Pendek yang tahu-tahu telah berada di depan pemuda itu dengan lengan kiri dilonjorkan, tangan terlentang terbuka seperti orang minta-minta. “Kembalikan pedang muridku itu!”

Sejenak Keng In terbelalak bingung, masih belum dapat menerima ucapan itu. Gadis itu murid susiok-nya? Teringat ia akan anggota Pulau Neraka yang tewas secara aneh. Kini mengertilah dia. Tentu Bu-tek Siauw- jin inilah yang telah membunuh wanita yang membelenggu Kwi Hong, dan kakek ini pula yang membuat gadis itu tadi mampu membebaskan diri dari pada totokannya!

Keng In adalah seorang pemuda yang tidak mengenal takut, akan tetapi menghadapi paman gurunya ini yang bahkan disegani oleh Cui-beng Koai-ong sendiri, dia tidak berani melawan. Hanya keraguannyalah yang membuat dia masih belum menyerahkan pedang yang diminta itu.

“Akan tetapi… Susiok…”

“Masih berani membantah dan tidak berikan pedang itu kepadaku?”

Cepat dan gugup Keng In menyerahkan pedang itu yang diterima oleh Bu-tek Siauw-jin dan dilemparkannya pedang itu kepada muridnya. Kwi Hong menyambut pedang itu dengan hati girang sekali.

“Maaf, Susiok. Teecu tidak tahu bahwa dia murid Susiok…” “Hemmm, sekarang sudah tahu!”
“Tapi… dia adalah keponakan dan murid Pendekar Siluman!”

“Ha-ha-ha-ha-ha-heh-heh! Dan engkau sendiri siapa, anak siapa? Heh-heh, setidaknya Pendekar Siluman adalah Majikan yang tulen dari Pulau Es!”

Mendengar ucapan ini, wajah Keng In menjadi merah sekali. Dia merasa terhina dan marah, akan tetapi terpaksa dia menahan kemarahannya. Dengan ucapan itu, paman gurunya yang ugal-ugalan itu hendak mengingatkan bahwa dia hanyalah putera dari seorang Majikan atau Ketua Boneka dari Pulau Neraka! Sama saja dengan mengatakan bahwa paman gurunya itu masih lebih baik dari pada gurunya dalam hal menerima murid dan bahwa keponakannya atau murid dari Majikan Pulau Es masih lebih baik dari pada putera dari Ketua Boneka Pulau Neraka!

“Susiok…!” “Kau mau apa?”
“Teecu tidak apa-apa, akan tetapi teecu akan menceritakan kepada Suhu tentang keanehan ini.”

“Hemmm, kalau engkau mengira akan dapat mempergunakan Gurumu sebagai perisai maka engkau adalah seorang pengecut dan seorang yang bodoh!”

“Teecu tidak bermaksud mengadu… hanya… teecu rasa Susiok telah salah menerima murid…”

“Desssss!” Tiba-tiba tubuh Keng In terpental sampai beberapa meter jauhnya. Tidak tampak kakek pendek itu menyerang, akan tetapi tahu-tahu pemuda itu terlempar! Keng In cepat meloncat berdiri lagi, diam-diam dia terkejut akan tetapi juga lega bahwa susiok-nya yang aneh itu tidak melukainya.

“Kau berani memberi kuliah kepadaku tentang bagaimana mengambil murid?” Bu-tek Siauw-jin membentak.

“Maaf, teecu mohon diri…!”

“Pergilah! Dan ingat, kelak muridku ini yang akan menandingimu!”

Keng In menjura dan meloncat pergi, loncatannya jauh sekali seperti terbang sehingga mengagumkan hati Kwi Hong. Lebih terkejut lagi gadis ini ketika mendengar suara bisikan yang halus dan jelas dari jauh, suara pemuda itu.

“Kita sama lihat saja apakah perempuan bodoh ini akan dapat menandingiku!”

Bu-tek Siauw-jin mengerutkan alisnya dan menoleh kepada para anak buah Pulau Neraka yang kini sudah menjatuhkan diri berlutut semua. “Lekas kalian pergi dari sini, tinggalkan mayat-mayat itu biar dimakan burung gagak!”

Anak buah Pulau Neraka itu menjura, kemudian bangkit dan pergi tanpa mengeluarkan kata-kata lagi. Bu- tek Siauw-jin lalu berkata kepada muridnya, suaranya singkat dan ketus, berbeda dengan biasanya yang suka berkelakar. “Mari kita pergi!”

Kwi Hong menurut dan berjalan mengikuti kakek pendek itu keluar dari tanah kuburan, menuruni bukit kecil. Akan tetapi akhirnya dia tidak kuat menahan penasaran hatinya dan berkata, “Suhu, bagaimana engkau bersikap begitu kejam, membiarkan mayat anak buahmu terlantar di sana dan dimakan gagak?”

Mulut kakek itu tidak kelihatan bergerak, akan tetapi terdengar suara ketawanya, seolah-olah suara itu keluar dari perut melalui lubang lain, bukan mulut!

“Heh-heh-heh! Engkau merasa kasihan kepada mayat yang tidak bernyawa lagi, akan tetapi tidak kasihan kepada burung-burung gagak yang kelaparan!”

Kwi Hong terbelalak. “Suhu! Biar pun sudah menjadi mayat yang tak bernyawa, akan tetapi itu adalah mayat-mayat manusia! Teecu tidak biasa bersikap kejam, sejak kecil diajar supaya berperi kemanusiaan oleh paman atau guru teecu!”

Tiba-tiba Bu-tek Siauw-jin menghentikan langkahnya dan memandang muridnya dengan mata lebar dan mulut menyeringai, kemudian dia tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha! Semenjak kecil, manusia diajar segala macam kebaikan! Manusia mana yang sejak kecilnya tidak diajar dan dijejali segala macam pelajaran tentang kebaikan oleh ayah bunda atau guru-gurunya? Agama bermunculan dengan para pendetanya. Ahli-ahli kebatinan bermunculan saling bersaing, mereka semua berlomba untuk menjejalkan pelajaran tentang kebaikan kepada manusia-manusia, semenjak manusia masih kecil sampai menjadi kakek-kakek. Akan tetapi, adakah seorang saja manusia yang baik di dunia ini? Setiap orang manusia, menurut ajaran agama masing-masing, berlomba keras dalam teriakan anjuran agar mencinta sesama manusia, namun di dalam hati masing-masing menanam dan memupuk perasaan saling benci, bahkan yang pertama-tama adalah membenci saingan masing-masing dalam menganjurkan cinta kasih antar manusia! Gilakah ini? Atau aku yang gila? Ha-ha-ha! Muridku, kalau engkau melakukan kebaikan karena ajaran-ajaran itu, bukanlah kebaikan sejati namanya, melainkan melaksanakan perintah ajaran itu! Engkau ini manusia ataukah boneka yang hanya bergerak dalam hidup menurut ajaran-ajaran yang membusuk dan melapuk dalam gudang ingatanmu?”

“Engkau sendiri dalam pertandingan dengan enak saja membunuh manusia lain, sama sekali tak merasa akan kekejaman perbuatanmu, tetapi baru melihat aku meninggalkan mayat agar membikin kenyang perut gagak yang kelaparan, kau katakan kejam! Ha-ha-ha, muridku. Pelajaran pertama bagi manusia umumnya, termasuk aku, adalah mengenal wajah sendiri yang cantik, akan tetapi juga mengenal isi hati dan pikiran kita sendiri yang busuk, jangan hanya mengagumi lekuk lengkung tubuh sendiri yang menggairahkan akan tetapi juga mengenal isi perut yang tidak menggairahkan!”

Kwi Hong memandang gurunya dengan sinar mata bingung. Gurunya ini bukan manusia lumrah, bukan orang waras. Tentu agak miring otaknya. Sekali bicara tentang hidup, kacau balau tidak karuan. Maka dia diam saja, kemudian melanjutkan langkah kakinya ketika melihat gurunya sudah berjalan kembali dengan langkah pendek.

“Kau tentu tidak dapat menangkan Keng In sebelum engkau mahir betul menggunakan Ilmu Menghimpun Tenaga Inti Bumi. Bocah itu telah berhasil mewarisi kepandaian Suheng. Lihat saja warna mukanya tadi!”

Kwi Hong cemberut, dalam hatinya dia tidak senang dikatakan bahwa dia tidak akan menang menghadapi Keng In. Kini mendengar disebutnya warna muka muda itu dia mengingat-ingat. “Warna mukanya biasa saja. Mengapa, Suhu?”

“Justru yang biasa itulah yang luar biasa!” Gurunya menjawab dan berjalan terus. Kwi Hong menoleh, terbelalak tidak mengerti. “Eh, apa maksudmu, Suhu?”
“Begitu bodohkah engkau? Semua murid Pulau Neraka memiliki wajah yang berwarna, apakah engkau lupa? Bahkan Ketua Boneka, ibu bocah itu sendiri, mukanya berwarna putih seperti kapur! Itulah tanda orang yang memiliki tingkat tertinggi Pulau Neraka yang menjadi akibat himpunan sinkang yang mengandung hawa beracun pulau itu! Bahkan mendiang Sute Ngo Bouw Ek pun mukanya masih berwarna kuning, berarti bahwa ibu bocah itu masih setingkat lebih tinggi dari padanya. Hanya aku dan Suheng Cui- beng Koai-ong saja yang tidak terikat oleh warna muka, bisa mengubah warna muka sesuka hati kami berdua. Hal itu menandakan bahwa kami berdua adalah dapat mengatasi pengaruh hawa beracun Pulau Neraka, dan tingkat kami sudah lebih tinggi. Kalau sekarang Wan Keng In sudah menjadi biasa warna kulit mukanya, hal itu berarti bahwa dia pun sudah terbebas dari pengaruh hawa beracun, berarti tingkatnya sudah lebih tinggi dari tingkat ibunya sendiri!”

“Wah, hebat sekali kalau begitu!” Diam-diam Kwi Hong bergidik. Kalau benar-benar pemuda itu tingkatnya sudah melampaui tingkat kepandaian Majikan Pulau Neraka, benar-benar merupakan lawan yang berat! “Teecu menerima gemblengan Suhu, jangan-jangan muka teecu akan menjadi berwarna pula!”

“Heh-heh-heh, jangan bicara gila! Kalau engkau berlatih di atas Pulau Neraka, tentu saja engkau akan mengalami keracunan dan mukamu berubah-ubah sesuai dengan tingkatmu sebelum engkau dapat mengatasi hawa beracun itu. Akan tetapi engkau kulatih di luar Pulau Neraka. Pula, engkau telah memiliki dasar sinkang dari Pulau Es yang amat kuat, kiranya engkau hanya akan terpengaruh sedikit dan setidaknya kalau engkau berlatih di sana, engkau mendapatkan warna putih atau kuning. Sudahlah, mulai sekarang engkau harus benar-benar mencurahkan perhatian, berlatih dengan tekun. Melihat kemajuan dan tingkat bocah tadi, aku hanya akan menurunkan ilmu-ilmu yang paling tinggi saja kepadamu. Ini pun hanya akan dapat kau andalkan untuk memenangkan pertandingan melawan Keng In kalau engkau berlatih dengan sungguh-sungguh hati dan mati-matian.”

Mereka berjalan terus dan sampai lama keduanya tidak bicara. Tiba-tiba Kwi Hong bertanya, “Suhu, sebetulnya yang mempunyai kepentingan mengalahkan Wan Keng In itu siapakah? Teecu ataukah Suhu?”

Kakek itu berhenti dan menengok kepada muridnya, memandang dengan mata terbelalak kemudian tertawa bergelak, “Ha-ha-ha, habis kau kira siapa?”

“Teecu tidak mempuyai urusan pribadi dan tidak mempunyai permusuhan langsung dengan pemuda Pulau Neraka itu, sungguh pun teecu tidak suka kepadanya. Kalau tidak kebetulan bertemu dengannya, teecu tidak bertempur dengannya dan teecu juga tidak akan mencari-cari dia untuk diajak bertanding. Hal itu berarti bahwa kalau teecu mati-matian mempelajari ilmu sudah tentu bukan dengan tujuan untuk semata- mata kelak dipergunakan untuk menandingi orang itu.”

“Kalau begitu, mengapa tadi engkau sudah enak-enak di dalam peti, tahu-tahu engkau keluar dan menyerangnya?”

“Karena teecu tidak ingin dia mencelakai dara itu.”

“Hemm, bocah puteri Ketua Thian-liong-pang itu! Mengapa engkau membantunya?”

Kwi Hong tak dapat menjawab. Tadi ketika membuka peti matinya dan melihat Milana, ia segera mengenal dara itu sebagai Milana, puteri dari pamannya, puteri Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai! Akan tetapi, begitu mendengar bahwa dara itu adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, dia menjadi ragu-ragu, bahkan teringat bahwa yang hampir mencelakainya ketika dia mengintai di rumah penginapan rombongan Thian- liong-pang, yang menggunakan tali sutera hitam panjang, juga gadis itulah! Benarkah gadis itu Milana? Kalau benar Milana, mengapa disebut puteri Ketua Thian-liong-pang? Maka, kini pertanyaan gurunya tak dapat ia menjawabnya sebelum dia yakin benar apakah dara itu Milana atau bukan.

“Teecu… teecu tidak bisa diam saja melihat seorang gadis terancam bahaya.”

“Ha-ha-ha, cocok dengan semua pelajaran tentang kebaikan yang kau terima sejak kecil dari Pamanmu?”

Disindir demikian, Kwi Hong diam saja, hanya cemberut. Kemudian dia mendapat kesempatan membalas. “Telah teecu katakan tadi bahwa teecu tidak mempunyai kepentingan mengalahkan Wan Keng In. Akan tetapi Suhu agaknya bersemangat benar untuk melihat teecu mengalahkan dia! Apakah bukan karena Suhu ingin bersaing dengan Supek Cui-beng Koai-ong?”

Kakek itu melotot, kemudian menghela napas dan membanting-banting kakinya seperti sikap seorang anak-anak yang jengkel hatinya. “Sudahlah! Sudahlah! Engkau benar! Memang demikian adanya. Suheng telah melanggar sumpah, mengambil murid! Maka aku pun memilih engkau sebagai murid untuk kelak kupergunakan menandingi muridnya agar Suheng tahu akan kesalahannya! Nah, katakanlah bahwa engkau tidak mau membantu aku! Tidak usah berpura-pura!”

Kwi Hong tersenyum. Suhu-nya ini benar-benar seorang yang amat aneh, luar biasa, agak sinting, sakti seperti bukan manusia lagi, akan tetapi sikapnya menyenangkan hatinya! Biar pun ugal-ugalan, akan tetapi entah bagaimana tidak menjadi benci, malah dia suka sekali.

“Suhu, sebagai murid tentu saja teecu akan membantu Suhu karena sebagai seorang guru yang mencinta muridnya, tentu Suhu juga selalu ingin membantu muridnya seperti teecu, bukan?”

“Wah-wah-wah, dalam satu kalimat saja, engkau mengulang-ulang sebutan guru dan murid beberapa kali sampai aku jadi bingung! Katakan saja, apa yang kau ingin kulakukan untuk membantumu agar kelak engkau pun akan suka membantuku?”

Kwi Hong tersenyum lebar. Biar pun kelihatan sinting, gurunya ini ternyata cerdik sekali dan mudah menjenguk isi hatinya. Ia teringat akan urusan Gak Bun Beng, dan teringat akan niatnya meninggalkan pamannya. Dia berniat pergi ke kota raja, membantu Bun Beng menghadapi musuh-musuhnya yang berat, dan juga untuk merampas kembali pedang Hok-mo-kiam yang dahulu dicuri oleh Tan-siucai dan Maharya. Tanpa bantuan seorang sakti seperti gurunya ini, mana mungkin dia akan berhasil menghadapi orang- orang sakti seperti Koksu Negara Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan dua orang pembantunya yang hebat itu, sepasang pendeta Lama dari Tibet, Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Belum lagi kalau berhadapan dengan Tan-siucai dan gurunya yang sakti, Si Ahli Sihir Maharya!

“Suhu, sebelum bertemu dengan Suhu, teecu telah lebih dulu menjadi keponakan dan murid Pendekar Super Sakti. Berarti, biar pun teecu berhutang kepada Suhu, akan tetapi teecu juga sudah berhutang budi kepada Pendekar Super Sakti yang belum teecu balas. Benarkah pendapat ini?”

Betapa kaget hati Kwi Hong ketika melihat gurunya itu menggeleng kepala kuat-kuat! “Tidak benar! Tidak betul! Orang yang melibatkan diri dalam hutang-piutang budi, baik yang berhutang mau pun sebagai yang menghutangkan adalah orang bodoh karena hidupnya tidak akan berarti lagi! Katakan saja apa yang akan kau lakukan dan apa yang dapat kubantu tanpa menyebut tentang hutang-piutang budi segala macam!”

Kwi Hong menelan ludahnya sendiri. Sukar juga menentukan sikap menghadapi seorang sinting dan kukoai (ganjil) seperti gurunya ini! Akan tetapi dia teringat akan watak gurunya yang seperti kanak-kanak ketika mengadu jangkrik, yaitu gurunya tidak bisa menerima kekalahan! Gadis yang cerdik ini segara berkata,

“Suhu, urusan mengalahkan Wan Keng In adalah urusan mudah saja. Asalkan Suhu mau mengajar teecu dengan sungguh-sungguh dan teecu akan berlatih dengan tekun, apa sih sukarnya mengalahkan bocah sombong itu? Akan tetapi teecu mempunyai beberapa orang musuh yang benar-benar amat sukar dikalahkan, amat sakti, jauh lebih sakti dari pada sepuluh orang Wan Keng In. Bahkan, dengan bantuan Suhu sekali pun teecu masih ragu-ragu dan khawatir apakah akan dapat mengalahkan mereka…?”

“Uuuuttt! Sialan kau! Aku sudah maju membantu masih khawatir kalah? Jangan main-main kau! Siapa musuh-musuhmu itu? Asal jangan tiga orang pengawal Tong Sam Cong saja, masa aku tidak mampu kalahkan?”

Yang dimaksudkan oleh kakek itu dengan tiga orang pengawal Tong Sam Cong adalah tiga tokoh sakti dalam dongeng See-yu, yaitu tiga orang pengawal Pendeta muda Tong Sam Cong atau Tong Thai Cu yang melawat ke Negara Barat (India) untuk mencari kitab-kitab Agama Buddha. Mereka itu adalah Si Raja Monyet Sun Go Kong, Si Kepala Babi Ti Pat Kai dan See Ceng.

“Biar pun tidak sesakti para pengawal Tong Thai Cu, akan tetapi teecu sungguh tidak berani memastikan apakah dengan bantuan Suhu sekali pun teecu akan dapat mengalahkan mereka. Mereka itu adalah Im- kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Maharya!” Kwi Hong sengaja tidak menyebut nama Tan-siucai karena untuk menghadapi orang ini tidaklah terlalu berat.

Kakek itu tiba-tiba menjadi bengong. “Kau… bocah begini muda… telah menanam bibit permusuhan dengan orang-orang macam mereka itu?”

“Harap Suhu tidak perlu mengalihkan persoalan. Kalau Suhu merasa jeri dan tidak berani membantu teecu menghadapi mereka teecu pun tidak dapat menyalahkan Suhu karena mereka memang amat sakti. Hanya Paman Suma Han saja kiranya yang akan dapat mengalahkan mereka.”

Kakek itu tersentuh kelemahannya. Mukanya menjadi merah sekali dan kedua lengannya digerak-gerakkan ke kanan kiri. Terdengar suara keras dan empat batang pohon di kanan kirinya tumbang dan roboh terkena pukulan kedua tangannya!

“Siapa bilang aku jeri? Kalau Suma Han pamanmu yang buntung itu dapat menandingi mereka, mengapa aku tidak? Hai, bocah tolol, kau terlalu memandang rendah Gurumu! Lihat saja nanti, aku akan membikin empat orang tua bangka itu terkencing-kencing dan terkentut-kentut minta ampun kepadamu! Haiii! Mengapa kau bermusuh dengan mereka?”

“Pendeta India yang bernama Maharya itu telah membunuh burung-burung garuda peliharaan dan kesayangan teecu di Pulau Es bahkan telah merampas pedang pusaka yang teecu amat sayang.”

“Hemm, aku akan hajar dan paksa dia mengembalikan pedang. Wah, kau mempunyai sebuah pedang pusaka lain lagi? Apakah Pedang Iblis macam yang kau bawa itu? Hati-hati, dengan segala macam pusaka seganas itu, jangan-jangan akan berubah menjadi iblis!”

“Tidak, Suhu. Pedang pusaka itu adalah sebatang pedang pusaka sejati yang amat ampuh dan bersih.”

“Heh-heh-heh! Pedang dibuat untuk memenggal leher orang, menusuk tembus dada orang, merobek perut sampai ususnya keluar, mana bisa dibilang bersih?”

“Ada pun Bhong Ji Kun Si Koksu tengik itu, bersama dua orang pembantunya Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, mereka adalah orang-orang yang memimpin pasukan membakar Pulau Es. Karena itu mereka adalah musuh-musuh besar teecu dan teecu hanya dapat mengandalkan bantuan Suhu untuk dapat menghajar mereka.”

“Uuuut! Bocah bodoh. Setelah kau mempelajari ilmu dariku dengan tekun dan berhasil baik, apa sih artinya beberapa ekor keledai-keledai tua itu? Tidak usah kubantu, engkau sendiri sudah cukup, lebih dari cukup untuk mengalahkan mereka.”

“Akan tetapi, teecu tidak percaya dan tidak akan tenang kalau tidak bersama Suhu. Karena itu, marilah kita pergi ke kota raja mencari mereka, Suhu.”

“Tapi kau harus berlatih…”

“Sambil melakukan perjalanan, teecu akan tekun berlatih.”

“Tapi aku harus mampir dulu ke kaki Gunung Yin-san, di dekat padang pasir.”

“Ihh, tempat itu tandus dan sunyi, mengapa Suhu hendak ke sana? Tentu di sana tidak ada orangnya.” “Memang tidak ada orangnya karena aku ke sana bukan untuk mencari orang.”
“Habis, mencari apa?” “Mencari kelabang!” “Ihhhh…!”

“Kenapa ihh? Engkau tidak tahu, kelabang di sana berwarna merah darah, panjangnya satu kaki, besarnya seibu jari kaki!”

“Ihhhh…!” Kwi Hong mengkirik, makin geli dan jijik.

“Eh, masih belum kagum? Racun kelabang raksasa merah itu tiada keduanya di dunia ini. Mengalahkan semua racun yang berada di Pulau Neraka!”

Kwi Hong menahan rasa jijik dan gelinya agar tidak menyinggung hati gurunya yang kadang-kadang aneh dan pemarah itu, maka dia berkata mengangguk-angguk, “Wah, kalau begitu hebat. Akan tetapi, untuk apa Suhu mencari Kelabang Raksasa Raja Racun itu?”

“Bulan ini adalah musim bertelur, aku hendak menangkap seekor kelabang betina yang akan bertelur. Sebelum telur-telur itu dikeluarkan, harus dapat kutangkap dia, karena telur-telur yang masih berada di dalam perutnya itu mengandung racun yang paling ampuh karena terendam di dalam sumber racun kelabang itu.”

“Hemm, menarik sekali,” kata Kwi Hong memaksa diri. “Setelah ditangkap, lalu untuk apa, Suhu?” “Kupotong bagian perut yang penuh telur itu, lalu kumasak dengan arak merah…”
“Wah, perut penuh telur beracun ganas itu dimasak dengan arak?” Kwi Hong menelan ludah, bukan saking kepingin melainkan untuk menekan rasa muaknya. “Mengapa menyiksa betinanya yang sedang bertelur, Suhu? Bukankah kabarnya kelabang jantan lebih hebat racunnya?”

“Memang demikian biasanya, akan tetapi setelah tiba masa kawin disusul masa bertelur, semua racun berkumpul di tempat telur. Kau tidak tahu, kelabang raksasa di tempat itu mempunyai kebiasaan aneh dan menarik sekali. Di musim kawin, si betina pada saat bersetubuh menggigit leher si jantan dan menghisap darah si jantan berikut racunnya sampai tubuh si jantan itu kering dan mati! Diulanginya perkawinan aneh ini sampai dia menghisap habis darah dan racun lima enam ekor jantan, barulah perutnya menggendut terisi telur. Nah, di tempat telur itulah berkumpulnya semua racun!”

Cuping hidung Kwi Hong bergerak-gerak sedikit karena dia merasa makin muak. “Suhu mencari barang macam itu, memasaknya dengan arak, untuk Suhu makan?” Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya perlahan. “Bukan…!”
Kwi Hong memandang terbelalak. “Habis, untuk apa…?” Hatinya sudah tidak enak. “Untuk kau makan!”
“Uuuukhhh!” Kwi Hong mencekik leher sendiri menahan agar jangan sampai muntah, matanya terbelalak memandang gurunya yang tertawa terkekeh-kekeh.

“Bocah tolol! Jangan memikirkan jijiknya, akan tetapi pikirkan khasiatnya! Kalau engkau makan itu, segala macam racun di dunia ini tidak akan dapat mempengaruhi tubuhmu, baik racun yang masuk melalui darah atau melalui perutmu! Dan racun itu cocok sekali untuk membangkitkan tenaga Inti Bumi yang kau latih!”

Kwi Hong tidak dapat membantah lagi, akan tetapi setiap kali teringat akan perut kelabang penuh telur beracun yang harus dimakannya, perutnya sendiri menjadi mual dan dia kepengin muntah! Hal ini agaknya amat menyenangkan kakek itu sehingga di sepanjang jalan Bu-tek Siauw-jin selalu mengulangi godaannya dengan menceritakan tentang segala macam kelabang dan binatang-binatang menjijikkan, hanya untuk membuat muridnya mual, jijik dan ingin muntah! Orang yang aneh luar biasa pula…..

********************

Milana melarikan diri bersama sisa anak buahnya. Hatinya kacau dan berduka sekali ketika mereka berhenti di dalam sebuah hutan dan mengubur jenazah Si Lengan Buntung, Su Kak Liong dan lain-lain anak buahnya yang tewas dalam pertempuran melawan anak buah Pulau Neraka. Dia merasa penasaran sekali dan mukanya menjadi merah saking marah dan malu kalau teringat betapa dia dipermainkan oleh pemuda tampan, putera Majikan Pulau Neraka yang amat lihai itu

Dia harus melapor kepada ibunya dan minta pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi lagi. Untung gadis tadi menolongnya, kalau tidak tentu dia telah menjadi tawanan. Milana bergidik kalau teringat akan hal itu tak dapat dia membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia menjadi tawanan pemuda yang gila itu! Thian- liong-pang telah mengalami kekalahan dan penghinaan dari Pulau Neraka. Ibunya sendiri harus turun tangan menghajar orang-orang Pulau Neraka.

Setelah selesai mengubur jenazah-jenazah itu, Milana mengajak sisa anak buahnya yang tinggal delapan orang itu untuk melanjutkan perjalanan malam itu juga. Rombongan ibunya berada di tempat yang tidak jauh lagi dari situ. Tinggal dua hari perjalanan paling lama. Dia tidak akan merasa aman sebelum bertemu dengan rombongan ibunya. Dua orang pembantu utamanya, Si Lengan Buntung dan Su Kak Liong, serta beberapa orang lagi telah tewas. Dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang dipimpin pemuda lihai itu sebagai musuh, dia merasa kurang kuat.

Akan tetapi, ketika rombongan terdiri sembilan orang ini memasuki sebuah hutan pada keesokan harinya, tiba-tiba tampak banyak orang berloncatan dan mereka telah dikurung oleh belasan orang! Milana terkejut, akan tetapi ketika melihat bahwa yang mengurung itu adalah orang-orang yang berpakaian seperti orang kang-ouw dan bercampur dengan beberapa orang hwesio dan tosu, maklumlah dia bahwa yang mengurungnya bukan orang-orang Pulau Neraka seperti yang dikhawatirkannya, melainkan orang-orang kang-ouw!

Milana cepat meloncat maju dan menghunus pedangnya. Tali suteranya telah putus dan ditinggalkan ketika dia hampir tertawan oleh Wan Keng In, maka kini satu-satunya senjata di tangannya hanyalah pedangnya. Melihat bahwa yang memimpin para pengurung itu adalah seorang hwesio tinggi besar bersenjata toya yang berjenggot pendek, dia cepat menghampiri dan berkata, suaranya nyaring.

“Kami rombongan orang Thian-liong-pang sudah meninggalkan tempat yang dijadikan tempat pertemuan, hendak kembali ke tempat kami. Mengapa kalian masih menghadang di sini? Apa kehendak kalian dan siapakah kalian? Dari partai dan golongan apa?”

“Kami adalah sisa rombongan yang telah dipaksa mundur oleh Thian-liong-pang, dan karena kami merasa bahwa perjuangan kami sama, maka kami bergabung dan mengambil keputusan untuk membasmi Thian- liong-pang yang banyak menimbulkan bencana terhadap perjuangan orang-orang gagah.” Hwesio itu berkata sambil melintangkan toyanya.

“Hemmm… perjuangan orang-orang gagah apa? Perbuatan kacau para pemberontak maksudmu?” Milana berkata dengan marah setelah kini dia mendapat kenyataan bahwa sebagian besar di antara orang-orang itu adalah benar anggota rombongan partai-partai yang telah dikalahkan di tanah kuburan. Bahkan tiga orang hwesio itu adalah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai!

“Harap kalian suka tahu diri! Setelah kalian kalah dalam pertandingan mengadu ilmu di tanah kuburan, mengapa kalian tidak pulang dan melaporkan kepada Ketua masing-masing akan tetapi malah diam-diam bergabung dan bersekongkol dengan para pemberontak untuk menghadang kami?”

“Orang-orang Thian-liong-pang penjilat pemerintah asing! Membunuh kalian bagi kami adalah kewajiban orang-orang gagah membunuh anjing-anjing penjilat yang kotor!” Seorang di antara mereka yang berpakaian seperti orang-orang kang-ouw, yang belum pernah dilihat Milana, membentak dan sudah menerjang dengan bacokan goloknya.

Tentu mereka inilah pemberontak-pemberontak yang asli, sedangkan para hwesio, tosu dan orang-orang partai hanyalah terbawa-bawa saja, terhasut oleh kaum pemberontak yang tentu saja hendak melibatkan partai-partai besar untuk membantu gerakan mereka.

Milana menangkis serangan golok itu dan segera ia dikeroyok oleh enam orang yang menghujankan serangan. Agaknya para pengeroyok itu sudah maklum bahwa dia adalah orang yang paling lihai di antara rombongannya, maka kini yang diberi tugas mengeroyoknya adalah enam orang yang cukup lihai, bahkan mereka itu semua bersenjata golok besar dan gerakan mereka teratur sekali. Kiranya enam orang itu membentuk sebuah barisan golok yang cukup kuat! Delapan orang anak buahnya sudah lemah dan lelah, apa lagi tiga di antara mereka masih belum sembuh dari luka-luka yang diderita dalam pertandingan yang lalu namun kini terpaksa mereka itu mengangkat senjata melakukan perlawanan.

Milana sendiri sudah lelah dan kurang tidur, namun permainan pedangnya membuat enam orang lawan yang membentuk barisan golok dan mengurungnya itu kewalahan. Maka majulah tiga orang hwesio Siauw- lim-pai yang lihai itu, ikut mengeroyok dengan senjata mereka. Setelah dikeroyok sembilan barulah Milana merasa sibuk juga. Dia masih ingat bahwa tiga orang hwesio hanya terbawa-bawa saja, maka dia tidak ingin membunuh. Justeru inilah yang membuat dia repot, karena sembilan orang pengeroyoknya itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya dan semua serangan mereka adalah serangan maut yang jelas membuktikan akan kebencian mereka kepadanya dan mereka bermaksud membunuhya!

Pertandingan yang berjalan berat sebelah itu tidak berlangsung lama karena di antara delapan orang anak buah Thian-liong-pang sudah roboh lima orang. Hanya tiga orang yang masih melawan mati-matian, sedangkan Milana sendiri yang dikeroyok sembilan orang baru berhasil merobohkan tiga orang. Akan tetapi, tiga orang roboh, lima orang datang membantu sehingga dara itu terpaksa harus terus memutar pedangnya untuk melingkari diri dari hujan senjata sebelas orang yang menyambarnya dari segala jurusan.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar bunyi lengking yang nyaring dan menyeramkan sekali. Beberapa pengeroyok terhuyung begitu mendengar lengking itu dan dari atas pohon-pohon meluncur sinar-sinar kecil-kecil merah yang menyambar ke bawah, disusul meloncatnya bayangan orang berkerudung. Hanya delapan orang di antara sebelas orang pengeroyok Milana yang berhasil mengelak, sedangkan tiga orang lainnya roboh terkena jarum merah berbau harum yang dilepas oleh orang yang berkedok atau berkerudung itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati semua orang kang-ouw ketika melihat bahwa yang muncul adalah wanita berkerudung yang menyeramkan, Ketua dari Thian-liong-pang! Tak lama kemudian, muncul pula enam orang wanita cantik yang menjadi pengawal atau pelayan Ketua itu, dipimpin oleh Tang Wi Siang!

Orang-orang kang-ouw itu terkejut, akan tetapi mereka tidak takut biar pun maklum bahwa kini keselamatan mereka terancam bahaya maut dengan munculnya Ketua Thian-liong-pang bersama enam orang pelayan. Mereka menjadi nekat dan segera Ketua Thian-liong-pang dan puterinya dikeroyok. Terjadilah pertandingan yang kembali berat sebelah, akan tetapi merupakan kebalikan dari pada tadi. Kini biar pun jumlahnya masih tetap lebih banyak, rombongan orang kang-ouw itu yang terdesak hebat dan sebentar saja Ketua Thian-liong-pang yang hanya mengamuk dengan tangan kosong itu telah merobohkan enam orang pengeroyok dengan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat!

Berturut-turut para pengeroyok itu berkurang jumlahnya, bahkan dalam waktu singkat saja Milana dan ibunya telah berhasil merobohkan semua orang yang mengeroyok mereka! Kini yang masih terus melakukan perlawanan hanya tiga orang hwesio Siauw-lim-pai dan tiga orang kang-ouw, termasuk dua orang tosu Hoa-san-pai yang ditandingi oleh Tang Wi Siang dan teman-temannya. Mereka ini pun sudah terdesak hebat dan agaknya tak lama kemudian akan roboh pula.

Tiba-tiba kembali terdengar bunyi suara melengking, kali ini jauh lebih hebat dari pada tadi, disusul suara orang yang berpengaruh sehingga membuat semua orang tergetar jantungnya.

“Hentikan pertempuran…!”

Ketua Thian-liong-pang terkejut, menghentikan serangan dan menoleh. Demikian pula tiga orang hwesio Siaw-lim-pai, dua orang tosu Hoa-san-pai, dan seorang kang-ouw meloncat mundur dan menoleh. Berdebar hati semua orang ketika melihat seorang laki-laki, entah kapan dan dari mana datangnya, tahu- tahu telah berada di tengah-tengah mereka, seorang laki-laki yang kaki kirinya buntung, berdiri tegak dengan tongkat kayu sederhana membantu kaki tunggalnya.

Seorang laki-laki yang berwajah tampan sekali namun tampak diselimuti awan duka yang membuat goresan mendalam di kulit wajahnya. Dia belum sangat tua, akan tetapi seluruh rambutnya yang dibiarkan berurai di sekeliling kepalanya sampai ke pundak dan punggung, semua telah berwarna putih seperti benang-benang sutera perak.

“Pendekar Super Sakti…!” Seorang tosu Hoa-san-pai berbisik. Walau pun bisikannya perlahan karena keluar dari hatinya dan tanpa disengaja, namun karena keadaan di saat itu amat sunyi, tidak ada yang bicara atau bergerak, maka suaranya terdengar jelas.

Laki-laki itu memang Suma Han, atau Pendekar Super Sakti, juga dikenal sebagai Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es. Setelah terdengar suara lirih tosu Hoa-san-pai menyebutkan nama julukan pria yang berwajah penuh duka itu, keadaan menjadi makin sunyi.

“Han Han…!”

Suara ini lebih lirih dan oleh telinga lain hanya terdengar seperti berkelisiknya angin di antara daun-daun pohon. Namun pendekar sakti itu kelihatan terkejut dan tersentak kaget, memandang ke kanan kiri seperti orang mencari-cari, kemudian diam, bengong terlongong. Tidak salahkah telinganya menangkap suara lirih itu?

Hanya ada beberapa orang saja yang memanggilnya dengan nama itu, nama kecilnya. Han Han! Dan suara lirih halus merdu itu amat dekat dengan hatinya, seperti suara yang tidak asing baginya, akan tetapi dia tidak yakin suara siapa yang menyebut nama kecilnya semerdu dan sehalus itu! Dia menjadi bingung, kemudian teringat akan orang-orang di sekitarnya. Dia menoleh ke arah wanita berkerudung dan berkata dengan suara keren penuh wibawa.

“Sudah bertahun-tahun aku mendengar di dunia kang-ouw tentang keanehan Thian-liong-pang yang selalu membikin geger dunia kang-ouw, menculiki tokoh-tokoh kang-ouw, bahkan berita terakhir mengatakan bahwa Thian-liong-pang membunuhi banyak tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah penjajah. Sekarang, kebetulan sekali Pangcu berada di sini dan kebetulan pula aku dapat menyelamatkan nyawa para sahabat ini dari ancaman maut, aku ingin bertanya, apakah maksud Thian-liong-pangcu sebenarnya dengan semua perbuatan itu?”

Sunyi senyap menyambut ucapan pendekar yang ditakuti, dihormati, dan disegani itu. Bahkan Tang Wi Siang sendiri mukanya berubah pucat dan tidak berani mengangkat muka memandang, hanya menundukkan muka saja seolah-olah silau jika memandang wajah yang mempunyai sepasang mata yang kabarnya dapat membunuh lawan hanya dengan sinar mata itu!

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara yang bengis dan ketus, suara yang membuat para pendengarnya meremang bulu tengkuknya, karena nadanya dingin melebihi salju, penuh tantangan dan seolah-olah mengandung kebencian yang amat mendalam,

“Memang benar! Semua keributan di dunia kang-ouw itu akulah yang melakukannya! Akulah yang bertanggung jawab! Aku yang memerintahkan anak buahku! Habis, engkau mau apa? Dengarlah baik-baik! Semua perbuatanku itu memang kusengaja untuk menantangmu, agar engkau datang menyerbu ke tempatku. Kalau kau berani!”

Semua orang terkejut mendengar ini, namun terdengar suara isak tertahan sehingga semua orang menoleh ke arah Milana. Dara itulah yang tadi terisak seperti orang tersedak. Akan tetapi, dara itu kini menundukkan mukanya dan semua orang kembali memandang ke arah Pendekar Super Sakti dengan hati tegang, ingin mereka melihat apa yang akan terjadi selanjutnya antara dua orang hebat itu.

Suma Han sendiri sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ucapan Ketua Thian-liong-pang itu demikian ketus dan bengis terhadap dirinya, maka dia terkejut dan heran sekali. “Apa? Menantang dan mengundangku? Mengapa…?”

“Sudah terlalu lama aku ingin mencincang hancur engkau! Engkau… manusia yang tak berjantung! Manusia tiada perasaan!”

“Ehhh… heiiii? Mengapa? Apa… apa maksudmu?” “Tak perlu banyak cakap lagi kau!”
Ketua Thian-liong-pang itu segera menyerang dengan hebat. Pedang yang telah dicabutnya, padahal tadi ketika pengeroyokan dia sama sekali tidak pernah mencabut pedangnya, kini bergerak cepat sekali, berubah menjadi sinar putih yang bergulung-gulung menerjang ke arah tubuh Pendekar Super Sakti. Sejenak timbul niat di hati Suma Han untuk benar-benar mencoba dan menguji sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian Ketua Thian-liong-pang yang penuh rahasia ini dan untuk mengenal sumber ilmu kepandaiannya.

Akan tetapi ia menjadi bingung juga ketika melihat bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh wanita berkerudung itu adalah ilmu pedang campuran yang sukar diketahui atau dikenal lagi dasarnya. Segala macam ilmu pedang partai besar di dunia persilatan terdapat dalam gerakan ilmu pedang ini! Belum pernah selamanya dia menyaksikan ilmu pedang seperti itu, akan tetapi harus diakui bahwa gerakan wanita itu cepat sekali sedangkan desing suara angin yang terbelah oleh pedang itu sendiri menyatakan betapa kuatnya tenaga sinkang yang dimiliki wanita itu!

Terpaksa dia menangkis dengan tongkatnya dan balas menyerang, bukan menyerang sungguh-sungguh, hanya untuk memaksa lawan itu mengeluarkan jurus simpanannya agar ia dapat mengenal dasar ilmu silatnya. Akan tetapi wanita berkerudung itu benar-benar hebat sekali karena sampai belasan jurus, dalam serang-menyerang itu, tidak pernah dia memperlihatkan dasar kepandaiannya, melainkan mainkan jurus campuran dari pelbagai ilmu pedang yang sudah ‘dicurinya’ dari para tokoh yang pernah diculiknya.

Memang Nirahai amat lihai dan cerdik. Dari ilmu-ilmu silat yang dilihatnya, dia dapat mengambil inti sarinya yang terpenting, kemudian menciptakan gabungan yang amat hebat, tentu saja dengan mendasarkan kepandaiannya sendiri sebagai unsur pokok yang terpenting. Oleh karena itu, sekarang Suma Han tidak dapat mengenal dasar ilmu pedangnya!

Suma Han memang tidak mempunyai niat untuk bertanding mati-matian. Enam orang kang-ouw masih berada di situ, yaitu tiga orang hwesio, dua orang tosu dan seorang kang-ouw yang tentu akan terancam keselamatan mereka kalau tidak ditolongnya. Pula, dia sendiri menghadapi banyak urusan besar. Mencari Pedang Hok-mo-kiam saja belum berhasil. Kalau dia harus melayani tantangan Ketua Thian-liong-pang yang galak dan entah mengapa selalu memusuhinya dan agaknya amat membencinya itu, berarti dia akan melibatkan diri dengan banyak urusan yang memusingkan kepala!

Apa lagi sekarang terdapat kenyataan bahwa Thian-liong-pang yang diketuai oleh wanita aneh ini, aneh dan amat lihai, telah mengabdi kepada pemerintah! Kalau dia melayani tantangannya, berarti akan menjadi berlarut-larut. Padahal dia belum berhasil mengambil tindakan terhadap Koksu dan kaki tangannya yang telah menghancurkan Pulau Es tanpa alasan sama sekali! Belum lagi masih banyak urusan yang harus dia selesaikan secepatnya.

Pertama, dia harus merampas kembali pedang Hok-mo-kiam. Kedua, dia harus minta pertanggungan jawab terhadap mereka yang telah menghancurkan Pulau Es dan Pulau Neraka. Ketiga, dia harus mencari tahu bagaimana dengan keadaan Lulu setelah Pulau Neraka dibakar! Ke empat, dia harus menyelidiki pula keadaan isterinya, Puteri Nirahai, yang tidak diketahuinya di mana. Dia sudah merasa amat rindu kepada mereka semua itu. Kepada Lulu, kepada Puteri Nirahai, kepada anaknya dan anak Nirahai yang pernah dilihatnya beberapa tahun yang lalu!

“Para sahabat kang-ouw, harap lekas pergi dari tempat ini!” Tiba-tiba Suma Han berkata.

“Tahan mereka! Jangan biarkan mereka pergi!” Ketua Thian-liong-pang berteriak pula dari balik kerudungnya dengan suara yang bengis dan nyaring.

“Mengapa tidak biarkan mereka pergi saja…?” terdengar Milana berkata perlahan.

Dara ini sejak tadi menangis secara diam-diam. Menangis tanpa berani mengeluarkan suara atau air mata, takut kalau ketahuan ibunya. Betapa dia tidak akan menangis, betapa jantungnya tidak akan terasa seperti ditusuk-tusuk pisau kalau melihat keadaan seperti itu? Dia tahu bahwa Pendekar Super Sakti itu adalah ayah kandungnya sendiri!

Untung bahwa Pendekar Super Sakti tidak mengenalnya, tentu telah lupa karena tentu saja banyak terjadi perbedaan dan perubahan antara dia ketika masih kecil dengan dia sekarang yang telah menjadi seorang dara dewasa! Betapa tidak akan hancur hatinya melihat ibu kandungnya bertanding dan memusuhi bahkan tampak seperti membenci ayah kandungnya sendiri? Ingin sekali dia meloncat, ingin sekali dia terjun ke dalam gelanggang pertandingan itu, untuk memisah mereka, untuk membujuk ibunya. Akan tetapi dia tidak berani.

Kalau dia melakukan hal itu, tentu ibunya akan marah bukan main. Dia tidak boleh membuka rahasia ibunya! Karena itulah dia merasa tertekan perasaannya, merasa berduka sekali dan menangis dalam hatinya, kemudian, tanpa disadarinya, ia mencela ibunya mengapa tidak membiarkan mereka itu pergi saja? Bukan hanya mereka orang-orang kang-ouw itu, akan tetapi terutama sekali ayah kandungnya! Kalau memang ibunya tidak suka kepada ayah kandungnya, mengapa harus memusuhinya, tidak membiarkan pergi saja?

Suma Han mendengar suara gadis itu dan diam-diam ia merasa heran. Tadi dia mendengar gadis itu terisak, biar pun isak yang ditahan, dan kini mendengar gadis itu berkata demikian. Bukankah gadis itu seorang anggota Thian-liong-pang yang paling penting, bahkan kalau tidak salah pendengarannya tadi sebelum ia memperlihatkan diri, gadis itu adalah puteri Ketua Thian-liong-pang. Puteri wanita berkerudung yang kejam itu! Hemm, jalan satu-satunya untuk mengendalikan Thian-liong-pang adalah puterinya ini. Pikiran ini menyelinap di dalam otaknya dan tiba-tiba dia menggerakkan tongkatnya dengan pengerahan tenaga.

“Trangggg!”

Ketua Thian-liong-pang terkejut sekali karena tahu-tahu lawannya lenyap. Tentu saja dia mengenal Pendekar Super Sakti dan maklum pula bahwa pendekar itu telah menggunakan ilmunya yang mukjizat, yaitu Gerak Kilat Soan-hong-lui-kun. Akan tetapi yang membuat dia terkejut adalah ketika melihat bayangan pendekar itu mencelat ke arah puterinya, Milana yang berdiri dengan muka tunduk. Nirahai mengeluarkan keluh perlahan dan otomatis menyimpan pedangnya, berdiri dengan kedua kaki gemetar!

Milana sendiri kaget setengah mati ketika tiba-tiba tangan kanannya disambar dan dipegang oleh tangan kiri Pendekar Super Sakti, kemudian tampak sinar berkelebat ketika ujung tongkat itu telah menodong lehernya.

“Tidak… tidak… jangan…!” Milana menjadi pucat, terbelalak memandang lelaki itu dan menggeleng- gelengkan kepalanya.

Dia sama sekali bukan takut terbunuh, melainkan merasa ngeri kalau sampai ayah kandungnya itu tidak mengenalnya dan kesalahan tangan membunuhnya. Sebagai seorang dara perkasa yang telah digembleng kegagahan sejak kecil, mati bukan apa-apa baginya, tetapi mati di tangan ayah kandungnya sendiri benar- benar merupakan hal mengerikan!

Suma Han sendiri terbelalak kaget melihat wajah cantik jelita itu, yang tertimpa sinar matahari dan kelihatan pucat sekali. Betapa cantiknya dara ini! Tentu amat disayang oleh ibunya. Ketua Thian-liong-pang yang seperti iblis itu!

“Thian-liong-pangcu, lekas kau bebaskan para sahabat kang-ouw itu, kalau tidak, aku terpaksa membunuh anakmu di depan matamu!” Suma Han mengancam.

“Kau…! Kau…!” Nirahai tergagap-gagap sehingga mengherankan hati semua orang.

Tang Wi Siang juga merasa heran. Dialah seorang di antara mereka yang mengenal siapa adanya Ketuanya yang selalu berkerudung itu. Pada waktu Nirahai menguasai Thian-liong-pang, setelah mengalahkan semua tokohnya, pernah dia memperkenalkan diri sehingga Tang Wi Siang tahu bahwa Ketuanya adalah Puteri Nirahai, puteri Kaisar sendiri dan tahu bahwa Milana adalah puterinya. Akan tetapi, dia tidak tahu siapa ayah Milana dan dia pun tidak berani bertanya, karena bertanya berarti memancing maut! Dia pun tidak berani bertanya ketika Nirahai membantu pemerintah membasmi para pemberontak. Akan tetapi mengapa kini sikap Nirahai demikian berubah? Mengapa kelihatan begitu ketakutan setelah puterinya diancam oleh Pendekar Siluman?

“Pangcu, bolehkah saya suruh mereka pergi saja?” Tang Wi Siang mendekati ketuanya dan bertanya penuh hormat.

Nirahai mengangguk. “Yaaah, suruh mereka pergi.”

“Kalian boleh pergi dari sini!” Tang Wi Siang berkata kepada tiga orang hwesio, dua orang tosu dan seorang kang-ouw yang berpakaian seperti guru silat itu.

Mereka berenam segera menjura ke arah Pendekar Super Sakti untuk menghaturkan terima kasih, akan tetapi Suma Han segera berkata tanpa menghentikan dorongan tongkatnya dari tenggorokan Milana, “Harap Cu-wi segera pergi!”

Enam orang itu kemudian membawa jenazah kawan masing-masing dan pergi dari situ dengan cepat. Setelah bayangan mereka lenyap, barulah Suma Han berkata, “Thian-liong-pangcu, terpaksa kulakukan hal ini…”

“Kau… laki-laki pengecut!”

Suma Han menghela napas panjang. “Benar agaknya, akan tetapi ketahuilah bahwa aku melakukan ini bukan karena takut bertanding melawanmu, melainkan karena aku ingin mengambil jalan damai agar tidak jatuh korban-korban lebih banyak lagi. Kini, terpaksa anakmu kubawa dulu, dan baru akan kulepaskan dia, kukembalikan padamu kalau Thian-liong-pang sudah menghentikan sepak terjangnya yang mengacaukan dunia kang-ouw!”

“Keparat, kembalikan anakku!” Nirahai membentak.

“Pangcu, selamat berpisah!” Suma Han menotok Milana, disambarnya tubuh dara itu dan dia bersuit keras. Burung rajawali hitam menjawab suitannya dari jauh dan terbang menghampiri.

“Suma Han! Kembali kau!” Nirahai mengejar, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat menyusul Suma Han yang berlompatan dengan ilmunya Soan-hong-lui-kun, kemudian bahkan meloncat ke atas punggung rajawali yang terbang rendah.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati Tang Wi Siang dan teman-temannya ketika mereka semua turut mengejar, mereka tidak melihat lagi Pendekar Siluman yang pergi membawa puteri Ketua mereka naik di punggung rajawali dan melihat Ketua mereka mendeprok di atas tanah sambil menangis!

Sejenak mereka hanya dapat saling pandang dengan bingung. Akhirnya Tang Wi Siang berlutut dan berkata, “Maaf, Pangcu. Kalau Pangcu menghendaki, kami seluruh anggota dan pimpinan Thian-liong- pang sanggup untuk dikerahkan dan mencari serta merampas kembali Nona Milana dari tangan Pendekar Siluman!”

Nirahai mengangkat mukanya yang berkerudung, menahan isak dan bangkit berdiri. Kedatangan anak buahnya membuat dia sadar kembali dan dapat menguasai hatinya. Dia terlalu marah kepada Suma Han. Butakah mata suaminya itu sehingga tidak mengenal anaknya lagi? Ataukah… Suma Han memang sengaja berpura-pura tidak mengenal Milana dan sengaja membawa Milana pergi untuk mengendalikannya?

Betapa pun juga, dia menangis bukan karena mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Sama sekali tidak! Dia sudah mengenal siapa adanya orang yang pernah menjadi suaminya itu! Andai kata benar-benar Suma Han lupa bahwa gadis itu anaknya sendiri sekali pun, dia tidak usah mengkhawatirkan keselamatan Milana. Suma Han adalah seorang pria yang boleh dipercaya sepenuhnya! Yang dia tangiskan adalah sikap Suma Han, orang yang dicintanya sepenuh jiwa raga, akan tetapi juga menimbulkan sakit hati dan bencinya!

“Mari kita pulang,” katanya kepada Tang Wi Siang. “Dan suruh anak buah mengubur semua jenazah itu.” “Semua, Pangcu? Juga jenazah pihak musuh?”
“Semua! Aku hendak pulang lebih dulu. Jangan melibatkan diri dalam pertempuran dengan siapa pun juga. Kalau sudah selesai, cepat pulang menyusulku.”

“Baik, Pangcu.” Akan tetapi belum habis jawaban Wi Siang, tubuh wanita berkerudung itu telah berkelebat dan lenyap dari situ.

Tang Wi Siang menarik napas dalam. Dia kagum kepada Ketuanya itu, kagum dan penuh hormat, juga merasa setia dan sayang karena selama ini Nirahai telah bersikap baik sekali kepadanya, bahkan memberinya beberapa ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi, sampai sekarang belum juga dia dapat mengenal watak Ketuanya itu, apa lagi tadi saat Ketuanya itu berhadapan dengan Pendekar Siluman. Ia tahu bahwa Ketuanya amat sakti, semua tokoh kang-ouw dan partai-partai persilatan yang besar tidak ada yang mampu menandinginya. Dia ingin sekali menyaksikan, siapa yang lebih sakti antara Ketuanya dan Pendekar Siluman! Hal yang benar-benar amat menarik dan membuat dia ingin sekali tahu, sungguh pun hatinya tegang dan gelisah memikirkan betapa Ketuanya yang tercinta itu bertanding melawan Pendekar Siluman yang kabarnya dapat membunuh lawan hanya dengan sinar matanya!

Tang Wi Siang sadar dari lamunannya dan ia cepat memerintahkan anak buahnya untuk mengubur semua jenazah yang jatuh menjadi korban dalam pertandingan tadi. Baru saja selesai dan mereka habis mencuci kaki dan tangan, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda tampan telah berdiri di depan mereka! Tang Wi Siang dan lima orang gadis cantik para pelayan pembantunya siap menghadapi segala kemungkinan, sedangkan anak buah Thian-liong-pang bekas pengikut Milana yang tinggal tiga orang jumlahnya, menjadi kaget sekali dan cepat seorang di antara mereka berkata,

“Tang-kouwnio, dia… dia… adalah putera Majikan Pulau Neraka…”

Tang Wi Siang terkejut sekali. Akan tetapi pemuda itu yang bukan lain adalah Wan Keng In, tidak bicara apa-apa, hanya melangkah maju menghampiri Tang Wi Siang dan lima orang gadis pelayan, matanya memandang penuh selidik lalu menengok ke kanan kiri, seperti orang mencari-cari.

Tadinya enam orang wanita itu mengira bahwa pemuda tampan yang disebut sebagai putera Majikan Pulau Neraka ini tentu mata keranjang dan seorang demi seorang, wajah para wanita ini sudah menjadi merah karena malu dan marah. Akan tetapi ketika melihat pemuda itu seperti mencari-cari, mereka menjadi heran.

“Mana dia…?” Tiba-tiba Wan Keng In bertanya, pertanyaan yang ditujukan kepada mereka semua. Suaranya halus dan manis, akan tetapi mengandung sesuatu yang membuat rombongan orang Thian- liong-pang itu bergidik ngeri. Kecuali Tang Wi Siang, karena wanita ini telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia sama sekali tidak takut berhadapan dengan orang yang dikatakan putera Majikan Pulau Neraka. Hanya seorang pemuda remaja, pikirnya.

“Dia siapa yang kau cari?” Tang Wi Siang balas bertanya, suaranya dingin sekali. Biar pun pangcunya sudah berpesan agar dia tidak membawa orang-orangnya terlibat dalam pertempuran, akan tetapi kalau orang ini tokoh besar Pulau Neraka, tentu saja dia tak tinggal diam.

“Siapa lagi? Nona cantik jelita puteri Ketua Thian-liong-pang! Di mana dia? Kalian ini bukankah orang- orang Thian-liong-pang?” Wan Keng In bertanya lagi.

“Benar kami orang-orang Thian-liong-pang. Engkau ini orang Pulau Neraka mencari Nona Majikan kami, ada keperluan apakah?” Tang Wi Siang membentak marah.

“Hemmm, dia harus menjadi isteriku. Dia calon isteriku!”

“Jahanam bermulut lancang!” Tang Wi Siang marah sekali dan tubuhnya mencelat ka atas lalu turun menyambar dengan serangan dahsyat ke arah kepala Wan Keng In!

Wanita itu memang memiliki ilmu kepandaian istimewa berdasarkan ginkang yang luar biasa, yang diajarkan oleh Nirahai kepadanya, yaitu Ilmu Yan-cu-sin-kun. Melihat datangnya serangan yang amat cepat itu, tahu-tahu tangan kiri wanita itu memukul ke arah ubun-ubun kepalanya. Wan Keng In terkejut juga, cepat ia miringkan kepala sambil melangkah mundur. Akan tetapi, Ilmu Silat Yan-cu-si-kun (Silat Sakti Bu- rung Walet) benar-benar hebat sekali, karena begitu pukulannya luput, dan tubuhnya melayang, cepat sekali tubuh wanita itu sudah berjungkir balik dan tahu-tahu kedua tangannya telah memukul lagi dari kanan kiri mengarah kedua pelipis!

“Plak-plak!”

Wan Keng In yang kaget sekali cepat menangkis dan tangkisan itu membuat tubuh Tang Wi Siang terpelanting! Sekarang wanita inilah yang terkejut. Kiranya pemuda itu memiliki kepandaian tinggi. Dia cepat meloncat dan mengirim Pukulan Touw-sin-ciang (Pukulan Menembus Hati) yang mengandung sinkang kuat.

“Plakk!” kembali Wan Keng In menangkis dan kali ini ia mengerahkan tenaga sehingga tubuh Tang Wi Siang terbanting keras.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo