September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 12

 

Koksu menggerakkan tangan dan hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi bercuitan menyambar ke arah pundak Kwee Sui dan… pemuda ini merasa betapa totokan di tubuhnya terbebas. Bukan main kagetnya.

Ilmu semacam ini, gurunya sendiri pun tidak mampu melakukannya, kecuali barangkali Pendekar Super Sakti. Tahulah dia bahwa pembesar yang berpengaruh dan berwibawa ini tentu memiliki kepandaian lebih tinggi lagi dari pada Si Pendeta yang menghormat ketika menceritakan betapa di pantai barat itu sunyi tidak tampak penjaga, dan hanya bertemu dengan pemuda yang sedang tidur lalu ditangkapnya itu.

“Berlututlah engkau!” Seorang pengawal membentak dan menodongkan tombaknya di punggung Kwee Sui. “Engkau berhadapan dengan Koksu Pemerintah yang Mulia!”

Sebagai seorang terpelajar, tentu saja Kwee Sui mengerti apa artinya kedudukan koksu ini. Seorang yang amat berkuasa, boleh dibilang nomor dua sesudah raja di bidang keamanan, tentu saja seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali! Maka tanpa ragu-ragu ia lalu menjatuhkan diri berlutut. Pemuda ini banyak membaca tentang sejarah dan kesusastraan, diam-diam dia ingin sekali menggunakan kepandaiannya untuk mencari kedudukan dan kemuliaan, menjadi seorang berpangkat yang dihormati ribuan orang, hidup serba mewah dan penuh kesenangan! Maka, begitu kini berhadapan dengan Koksu Negara, tentu saja dia hersikap hormat sekali.

“Harap Taijin sudi mengampunkan hamba yang entah telah melakukan kesalahan apa sehingga dihadapkan kepada Taijin,” katanya dengan bahasa yang teratur baik.

“Ha-ha-ha-ha!” Bhong Ji Kun mengelus jenggotnya dan ketika kepalanya bergerak naik turun, botaknya yang kelimis itu mengkilap tersinar cahaya matahari yang masuk melalui jendela di ruangan kapal itu. “Tadinya kusangka bahwa penghuni-penghuni Pulau Es adalah manusia-manusia setengah liar, atau seperti siluman-siluman sehingga pemimpinnya dijuluki Pendekar Siluman. Kiranya orang muda ini cukup tampan, berpakaian baik dan bersikap sopan dengan bahasa yang terpelajar. Eh, orang muda, engkau siapakah dan apa kedudukanmu di Pulau Es?”

“Nama hamba Kwee Sui, hamba hanyalah seorang biasa saja yang kebetulan mendapat kehormatan menjadi murid dari Subo Phoa Ciok Lin, wakil Taihiap untuk urusan pulau.”

“Eh, kiranya engkau orang penting juga! Tentu kepandaianmu cukup hebat kalau engkau murid kuasa pulau. Akan tetapi mengapa ketika ditangkap engkau tidak melawan?” Bhong Ji Kun membentak curiga.

“Hamba memang telah mempelajari sedikit ilmu, akan tetapi mana mungkin hamba dapat melawan Losuhu yang lihai ini? Selain hamba sedang tidur sehingga dapat ditotoknya, juga andai kata hamba tahu bahwa Losuhu adalah utusan Taijin, bagaimana hamba berani melawan?”

“Hemm, engkau pandai bicara. Katakan, mengapa engkau tidak berani melawan utusanku?”

“Setelah mengetahui bahwa Taijin adalah Koksu Negara, sampai mati pun hamba tidak akan berani melawan. Untuk apa hamba mempelajari sedikit kepandaian? Bukan lain hanya untuk memenuhi idam- idaman hati hamba, yaitu apabila ada kesempatan, hamba ingin mengabdikan diri kepada pemerintah.”

Bhong Ji Kun membuka lebar matanya, kemudian mengangguk-angguk. “Hemm, demikiankah sesungguhnya? Nah, tentang kedudukan untukmu boleh kita bicarakan kemudian, sekarang yang terpenting, hendak kulihat apakah engkau benar-benar ingin mengabdikan diri. Apakah Pendekar Siluman berada di pulau?”

“Tidak, Taijin. Taihiap sedang bepergian, entah ke mana.”

Wajah Koksu itu kelihatan girang. Tanpa adanya Pendekar Super Sakti yang ditakuti, tentu mudah menaklukkan penghuni pulau itu. Kelak, menghadapi Pendekar Siluman sendirian saja tanpa anak buah, tentu akan lebih mudah. Dan pemuda ini kelihatannya amat ingin memperoleh kedudukan, maka tentu akan dapat membantunya dengan baik.

“Siapa yang sekarang berada di Pulau Es? Siapa tokoh-tokohnya yang menjaga keamanan di sana dan berapa banyak penghuninya?”

“Selain Subo Phoa Ciok Lin, juga tentu saja di sana terdapat Paman Yap Sun, Paman Thung Sik Lun, puteranya yaitu Thung Ki Lok, dan terutama sekali, di sana ada juga murid Taihiap, atau keponakannya sendiri, Nona Giam Kwi Hong. Hanya merekalah yang menjadi tokoh-tokoh terpandai di Pulau Es, selebihnya hanyalah anak buah yang jumlahnya laki perempuan dan tua muda kurang lebih seratus orang.

Belasan orang di antara mereka adalah saudara-saudara seperguruan dari Subo dahulu sebelum menjadi penghuni Pulau Es, yaitu menurut Subo, adalah murid-murid Toat-beng Ciu-sian-li.”

“Ah-ah! Murid-murid In-kok-san yang memberontak?” kata Koksu dengan kaget.

“Benar, Taijin. Akan tetapi sekarang, tidak ada sedikit pun niat memberontak dalam hati para penghuni Pulau Es. Bolehkah hamba mengetahui, mengapa Taijin membawa pasukan ke Pulau Es?”

Bhong Ji Kun memandang tajam kepada pemuda itu. Sekarang ujian terakhir bagi Kwee Sui dan Koksu itu sudah siap untuk mengirim pukulan apabila pemuda itu memperlihatkan sikap memberontak. “Kami hendak menangkap Pendekar Siluman dan pembantu-pembantunya, dan kami hendak menduduki Pulau Es.”

“Ahhhh…!” Kwee Sui terkejut bukan main, dan kalau saja dia tidak sangat cerdik, tentu dia sudah mengamuk. Akan tetapi, pemuda ini hanya memperlihatkan kekagetan, kemudian bertanya, hati-hati.

“Maaf, Taijin. Akan tetapi… apakah kesalahan kami? Apakah dosa para penghuni Pulau Es?”

“Tak perlu kau tahu, ini adalah perintah Kaisar! Kalau mereka melawan, akan dibunuh! Bagaimana pendapatmu?”

“Taijin, hamba kira tidak akan ada yang melawan, kecuali kalau Taihiap berada di Pulau. Kalau sampai mereka melawan… aihhh, hamba tidak dapat membayangkan akibatnya. Subo memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, juga kedua Paman Yap Sun dan Thung Sik Lun amat lihai, belum lagi belasan orang saudara seperguruan Subo. Dan terutama sekali Nona Kwi Hong… ahhh, Taijin tidak tahu, dia luar biasa lihainya, telah mewarisi ilmu dari Suma-taihiap. Lebih lagi, baru-baru ini dia telah memperoleh Li-mo-kiam sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis.”

“Sepasang Pedang Iblis?” Hampir semua tokoh yang hadir dalam kapal itu berseru, yaitu yang berada di kapal koksu itu adalah Sang Koksu sendiri, Thian Tok Lama yang menghadap, dan para panglima.

“Bagus sekali! Kami akan menundukkan atau membunuh mereka, pedang itu dan semua pusaka di Pulau Es harus dirampas untuk kerajaan!”

Tiba-tiba Kwee Sui memberi hormat dan berkata, “Mohon Koksu sudi mempercayai hamba. Hamba sanggup membantu, sehingga pasukan-pasukan pemerintah tidak mengalami kesukaran memasuki Pulau Es yang tidak mudah diserbu, dan hamba akan mencuri Li-mo-kiam dari tangan Nona Giam Kwi Hong, kemudian membantu Taijin menghadapi mereka yang melawan, dan akan membujuk agar mereka tidak melawan dan menyerah saja, akan tetapi hamba mohon janji Taijin.”

“Ha-ha-ha, orang muda. Aku mengerti, jangan khawatir, kalau berhasil penyerbuan ini dan jasamu besar, tentu aku akan melapor kepada Kaisar dan engkau akan memperoleh anugerah pangkat sesuai dengan kepandaianmu.”

“Hamba percaya akan hal itu, Taijin, akan tetapi ada satu hal yang hamba minta kepada Taijin sebelum Taijin mengerahkan pasukan menyerbu Pulau Es…”

“Hemmm, apa permintaanmu? Katakanlah, akan kami pertimbangkan.”

“Hamba… hamba mencinta Giam Kwi Hong, karena itu… harap dia jangan dilukai apa lagi dibunuh… jika menjadi tawanan supaya diserahkan kepada hamba… hamba akan berterima kasih sekali dan selamanya akan menyerahkan jiwa raga hamba mengabdi kepada pemerintah di bawah pimpinan Taijin.”

Koksu itu tertawa bergelak dan tanpa banyak tanya lagi dia mengerti akan isi hati pemuda itu. Tak salah lagi, pikirnya, tentu cinta pemuda ini ditolak oleh murid Pendekar Siluman. Sungguh kebetulan sekali dan amat menguntungkan terlaksananya tugasnya karena andai kata tidak ada persoalan itu, belum tentu pemuda ini mau membantunya demikian mudah.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dari bawah kapal dan seorang pemuda tinggi besar yang pakaiannya basah semua, dengan sebatang golok besar di tangan kanan, telah berdiri di situ memandang ke arah Kwee Sui dengan mata terbelalak marah, kemudian menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Kwee Sui sambil membentak.

“Manusia she Kwee yang berbudi rendah! Seekor anjing yang setiap hari diberi makan dan dipelihara, masih memiliki kesetiaan. Akan tetapi engkau ini manusia lebih hina dari pada anjing, setelah segala kebaikan yang kau terima dari Majikan Pulau Es, sekarang pada kesempatan pertama hendak mengkhianatinya! Bedebah!”

Para pengawal sudah mengurung pemuda itu, dan Thian Tok Lama sudah melangkah maju, akan tetapi Im-kan Seng-ji Bhong Ji Kun berseru, “Tahan dan jangan serang dia!” Lalu Koksu ini menoleh kepada Kwee Sui, “Kwee-sicu, siapakah dia itu dan kenapa dia marah-marah kepadamu?”

Muka Kwee Sui sudah merah sekali saking malu dan marahnya. Tak disangkanya bahwa saingannya itu berada di sini dan mendengarkan ucapannya tadi. Sudah kepalang, pikirnya. Tentu saingannya menyelidiki kapal dengan jalan berenang karena memang dia seorang ahli renang yang luar biasa.

“Taijin, dia itulah Thung Ki Lok putera Paman Thung Sik Lun. Dia memang membenci hamba karena dia pun jatuh cinta kepada Giam Kwi Hong.”

“Ha-ha-ha!” Bhong Ji Kun tertawa bergelak, di dalam hatinya dia mengejek Pendekar Siluman. Kiranya Pulau Es hanya dihuni oleh pemuda-pemuda macam ini, karena tergila-gila kepada seorang wanita, telah melakukan hal-hal yang bodoh, pikirnya. “Kwee-sicu, setelah engkau berjanji untuk membuat jasa kepada kerajaan. Nah, kuperintahkan engkau menghadapi dia!”

Kwee Sui melompat berdiri dan Thian Tok Lama menyerahkan pedangnya yang tadi dirampas oleh pendeta Lama itu. Dengan pedang di tangan, Kwee Sui menghampiri Ki Lok dan berkata, “Ki Lok, engkau memang sudah bosan hidup. Telah lama ingin sekali aku memenggal batang lehermu, akan tetapi karena di pulau, tidak ada kesempatan bagi kita mengadu nyawa. Sekarang, kita hanya berdua di sini, mari kita tentukan siapa di antara kita yang hendak hidup!”

“Hemm, manusia hina! Karena engkau telah menjadi anjing penjilat musuh, maka berani bicara besar! Apa kau kira aku takut menghadapi macammu dan para majikan barumu?”

“Tutup mulutmu yang busuk!” Kwee Sui marah sekali dan sudah menerjang dengan pedangnya. Ki Lok menangkis dengan goloknya.

“Tranggggg…!”

Tangan Kwee Sui tergetar dan memang dia maklum akan besarnya tenaga yang dimiliki Ki Lok, namun dia tidak gentar karena dia memiliki gerakan yang lebih cepat dan gesit. Segera ia menyerang lagi, menggerakkan pedangnya dengan kecepatan luar biasa sehingga pedangnya berubah menjadi segulung sinar yang melingkar-lingkar dan menyerang Ki Lok.

Karena Kwee Sui digembleng oleh Phoa Ciok Lin yang lihai, tentu saja ilmu silatnya lebih lihai dari pada Ki Lok. Tingkatnya lebih tinggi, terutama sekali ginkang-nya. Akan tetapi Ki Lok memiliki keberanian yang luar biasa, membuatnya selalu tenang dan biar pun gerakan goloknya tidak secepat gerakan pedang di tangan lawan, namun karena dia menggerakkannya dengan tenang dan dengan tenaga yang besar maka dia dapat melindungi tubuhnya dengan baik.

Bhong Ji Kun menonton pertandingan ini dengan hati girang. Dia mendapat kenyataan bahwa Kwee Sui memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, lebih tinggi kalau dibandingkan dengan kepandaian para panglimanya, bahkan lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Panglima Bhe Ti Kong yang dipercayanya. Boleh juga, pikirnya. Pemuda ini akan merupakan pembantu yang boleh diandalkan, hampir setingkat dengan kepandaian Tan-siucai! Dan pertandingan ini merupakan ujian terakhir bagi pemuda itu! Kalau pemuda she Kwee itu benar-benar bertekad bulat untuk menghambakan diri kepada kerajaan, tentu tidak akan segan-segan membunuh kawannya sendiri, kawan sepulau!

Pertandingan berlangsung mati-matian dan seru karena Ki Lok juga berusaha untuk membunuh Kwee Sui, bukan semata-mata karena memperebutkan Kwi Hong, sama sekali tidak. Demi nona itu yang diperebutkan cintanya, dia tidak akan begitu rendah untuk mengadu nyawa dengan Kwee Sui. Kalau dia sekarang berusaha membunuhnya adalah karena melihat kenyataan bahwa Kwee Sui hendak mengkhianati Pulau Es. Seratus jurus telah lewat dengan cepatnya dan mulailah Ki Lok terdesak oleh sinar pedang Kwee Sui, dan ia hanya dapat menangkis dan mengelak tanpa dapat balas menyerang. Ki Lok mundur terus sampai di pinggir kapal, kakinya tersangkut tali dan ia terjengkang. Saat itu, dua kali sinar pedang berkelebat.

“Crat-crat!”

Darah mengucur keluar dari pangkal lengan kanan dan dada kiri Ki Lok. Pemuda ini terjengkang ke belakang, goloknya terpental dan tubuhnya tarlempar keluar kapal. Air muncrat ke atas dan tubuh pemuda tinggi besar itu tenggelam dan lenyap. Yang tampak hanya sedikit air laut yang berwarna merah oleh darahnya.

Sejenak Kwee Sui memandang ke air, sambil menyimpan kembali pedangnya. Ketika mendengar suara Bhong Ji Kun tertawa, dia membalik dan menjatuhkan diri lagi berlutut di depan koksu itu.

“Bagus! Kepandaianmu lumayan dan engkau telah membuktikan kesetiaanmu. Nah, sekarang bagaimana baiknya menurut rencanamu agar kami dapat mendarat?”

“Perkenankan hamba kembali ke pulau. Hamba akan memberi tanda-tanda dengan sobekan-sobekan kain putih yang menunjukkan jalan masuk yang aman, bebas dari jebakan-jebakan. Akan hamba coba untuk membujuk mereka agar menyerah, akan tetapi kalau mereka tidak mau, terserah kalau Taijin hendak membunuh mereka yang melawan. Hamba akan berusaha mencuri Li-mo-kiam dan harap Taijin jangan lupa agar jangan membunuh Nona Kwi Hong andai kata dia nekat melawan.”

“Ha-ha-ha, jangan khawatir. Kalau dia melawan akan kami tawan dia untukmu. Akan tetapi selain pedang Li-mo-kiam, kau harus mengumpulkan pusaka-pusaka Pulau Es agar jangan sampai mereka sembunyikan atau hancurkan. Kelak engkau akan diberi anugerah besar dan kedudukan yang cukup tinggi.”

“Baik, Taijin. Hamba mohon sebuah perahu kecil agar hamba dapat mendarat lebih dulu.”

“Kau beri tanda dari lima penjuru, agar pasukan-pasukan kami yang terbagi lima dapat menyerbu dengan aman.”

“Baik!”

Kwee Sui lalu meloncat ke dalam sebuah perahu kecil yang sudah diturunkan oleh pasukan, kemudian mendayung perahu itu ke darat dengan jantung berdebar. Biar pun dia telah berhasil membunuh Ki Lok, namun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia telah bermain dengan api, dan kalau dia teringat kepada Pendekar Super Sakti, dia bergidik.

Tidak apa, pikirnya, menghibur diri sendiri. Kalau serbuan itu berhasil dan dia tinggal di kota raja, membantu koksu yang memiliki banyak orang pandai, dia tentu aman dari pembalasan Pendekar Super Sakti. Dan Kwi Hong, si cantik manis yang membuatnya tergila-gila itu, setelah ditawan dan diserahkan kepadanya, hemm… sudah pasti dia akan memaksanya menjadi isterinya, mau atau tidak! Kalau dia sudah mendapatkan kedudukan tinggi, aman dan terjamin keselamatannya, sudah memperoleh diri Kwi Hong yang dicintanya, mau apa lagi? Jauh lebih baik dari pada ‘mati kering’ di tempat dingin itu, di Pulau Es, hanya dapat memandang Kwi Hong dengan penuh rindu hati yang menyiksa perasaan.

Setelah mendapatkan perahunya, Kwee Sui cepat memasang tanda-tanda kain putih di tempat-tempat tertentu sebagai petunjuk jalan masuk pulau sebagaimana yang telah ia janjikan kepada Koksu. Sambil memasang kain putih dia memasuki pulau dan langsung menghadapi gurunya yang masih berunding dengan Kwi Hong, bagaimana sebaiknya menghalau musuh kalau memang kapal-kapal yang mendekati pulau itu benar-benar musuh yang berniat buruk.

“Wah, lama benar engkau melakukan penyelidikan, sampai aku menyuruh Ki Lok pergi menyusulmu. Di mana Ki Lok?” Begitu dia datang, gurunya menegurnya.

“Celaka sekali, Subo.” Tiba-tiba Kwee Sui menjatuhkan diri berlutut dan mengusap air matanya.

“Eh, ada apakah?” Phoa Ciok Lin membentak marah melihat muridnya begitu cengeng. “Lekas ceritakan!” “Lok-te telah tewas mereka bunuh…!”
“Apa…?!” Seruan ini keluar dari mulut Thung Sik Lun, ayah Ki Lok yang tentu menjadi terkejut sekali mendengar bahwa putera tunggalnya telah tewas dibunuh orang. “Bagaimana terjadinya?” Suaranya gemetar, akan tetapi kakek yang gagah perkasa ini sudah dapat menekan batinnya, hanya mukanya saja yang pucat sekali dan pandang matanya mengeluarkan kilat.

Karena khawatir kalau-kalau kebohongannya dapat dilihat oleh ayah Ki Lok, Kwee Sui kembali menghadapi gurunya sambil melirik ke arah Kwi Hong yang terbelalak kaget sampai tidak bisa bicara apa- apa ketika mendengar betapa pemuda yang menjadi sahabatnya sejak kecil itu telah terbunuh musuh.

“Teecu dapat mendekati sebuah di antara kapal mereka dan semalam suntuk teecu bersembunyi sambil berpegang pada rantai jangkar. Baru pagi tadi teecu dapat merayap naik dan selagi teecu hendak mencuri pembicaraan mereka, tiba-tiba tampak Lok-te meloncat naik ke kapal, dan mencaci-maki, mengusir kapal- kapal itu supaya menjauhi Pulau Es.”

“Ahhh… dia selalu keras hati dan terlalu berani…!” Terdengar Thung Sik Lun mengeluh sambil menggunakan kepalan tangannya mengusap dua titik air mata.

“Ahhh, kasihan Lok-ko. Kita harus membalas dendam atas kematiannya!” Kwi Hong mengepal tinju, suaranya nyaring penuh kemarahan dan sakit hati.

“Lanjutkan ceritamu. Mereka itu siapakah?” Phoa Ciok Lin mendesak muridnya.

“Celaka sekali, Subo. Lima buah kapal itu adalah kapal pemerintah dan dipimpin sendiri oleh Koksu Negara yang amat sakti! Dia membawa tentara yang banyak sekali, ada tiga ratus orang-orang lihai sekali. Teecu menyaksikan sendiri betapa dalam satu jurus saja Lok-te telah roboh dan terlempar ke laut! Dari kata-kata Koksu itu kepada Lok-te teecu mendengar sendiri akan ancamannya untuk menduduki Pulau Es dan akan membunuh semua penghuninya apabila berani melawan. Maka teecu mengharap kebijaksanaan Subo dan Hong-moi agar mempertimbangkan, apakah perlu melawan pasukan besar yang dipimpin orang-orang sakti itu.”

“Pengecut!” Phoa Ciok Lin membentak marah. “Kau sebagai muridku mengusulkan agar kita menakluk saja dan menyerahkan Pulau Es tanpa perlawanan?”

“Oh, tidak… tidak… mana teecu berani? Teecu cuma menyampaikan hasil penyelidikan teecu dan mohon pertimbangan Subo. Segala keputusan Subo dan Hong-moi tentu saja teecu taati dan teecu siap membantu dengan taruhan nyawa teecu!”

Phoa Ciok Lin hilang kemarahannya dan ia percaya kepada muridnya itu. Ia menoleh kepada Kwi Hong sambil bertanya, “Hong-ji (Anak Hong), karena Taihiap tidak ada di sini, bagaimana pendapatmu?”

Kwi Hong mengerutkan alis dan meraba gagang pedang Li-mo-kiam. “Bagaimana pendapatku? Adakah pendapat lain lagi setelah Lok-ko mereka bunuh, Bibi? Pendapat kita satu-satunya hanyalah mempertahankan pulau, melawan mati-matian! Bagaimana Paman Yap Sun dan Paman Thung?”

Dua orang kakek itu mengangguk. “Tidak ada jalan lain lagi,” jawab Yap Sun.

“Saya siap untuk mengorbankan nyawa demi membela pulau kita, seperti yang telah dilakukan anakku!” kata Thung Sik Lun terharu.

“Bagus, kita harus mengatur persiapan dan kuserahkan kepada Bibi!” kata Kwi Hong penuh semangat.

Phoa Ciok Lin yang lebih berpengalaman dari pada Kwi Hong karena dia adalah seorang bekas pejuang, cepat berkata, “Kita bagi anak buah menjadi empat. Aku sendiri memimpin anak buah menjaga pantai barat, engkau memimpin anak buah menjaga pantai timur, Hong-ji. Kau Sui-ji (Anak Sui), memimpin penjagaan di utara, Paman Thung memimpin penjagaan di selatan, ada pun Paman Yap memimpin sisa anak buah untuk menghadapi serbuan kapal ke lima, dari mana pun datangnya. Kebetulan kita di sini berlima, jadi tepat untuk memimpin anak buah menghadapi lima buah kapal itu yang agaknya telah mengurung pulau. Mari kita berjuang membela pulau sampai titik darah terakhir!”

Mereka lalu keluar dari Istana Pulau Es dan mengumpulkan anak buah, membagi menjadi lima dan segera berangkat ke tempat penjagaan masing-masing. Ketika Kwi Hong sedang sibuk mengatur pasukannya, tiba-tiba Kwee Sui mendekatinya dan berkata,

“Hong-moi, maafkan segala kesalahanku yang sudah-sudah. Saat ini kita menghadapi musuh yang kuat dan entah kita akan dapat saling berjumpa lagi atau tidak. Maka sebagai ucapan selamat berpisah dan selamat berjuang, aku lebih dulu mohon kau suka memaafkan semua kesalahanku.”

Kwi Hong tersenyum. Hatinya lega. Baru sekali ini pemuda itu tidak mengeluarkan kata-kata merayu dan mengambil hatinya, dan agaknya dalam ancaman bahaya ini Kwee Sui bersikap sungguh-sungguh, maka dia berkata halus, “Sui-ko, mengapa engkau berkata demikian? Tentu saja aku suka memaafkan kalau engkau bersalah, akan tetapi kau tidak bersalah apa-apa. Pula, siapa bilang bahwa kita akan kalah? Lihat saja, kita akan hancurkan mereka semua!”

“Mudah bagimu, Moi-moi, karena engkau memiliki ilmu kepandaian setinggi langit. Juga mudah bagi Subo dan kedua Paman. Akan tetapi aku? Ah, tingkat kepandaianku masih amat rendah. Sedangkan, Lok-te saja demikian mudah terbunuh apa lagi aku? Kalau saja aku mempunyai pusaka seperti pedangmu itu, Hong- moi, agaknya aku akan dapat mengamuk dan tidak akan mudah dikalahkan musuh!”

“Hemm, yang penting adalah orangnya, bukan pedangnya, Sui-ko.”

“Kalau begitu, apakah engkau sudi meminjamkan pedangmu itu kepadaku? Percayalah aku akan menjaganya dengan nyawaku, dan dengan pedang itu di tangan, aku tidak takut menghadapi koksu sendiri sekali pun!” Kwee Sui berkata penuh semangat. “Pula, engkau telah memiliki Pek-kong-kiam pemberian Taihiap.”

Kwi Hong ragu-ragu sejenak, akan tetapi karena dia menganggap ucapan pemuda itu tak dapat disangkal kebenarannya, dengan ramah ia lalu melepaskan sarung pedang Li-mo-kiam dan menyerahkannya kepada Kwee Sui.

“Demi mempertahankan pulau, aku rela meminjamkan pedang ini kepadamu, Sui-ko. Akan tetapi hati- hatilah terampas musuh. Aku percaya, dengan pedang yang ampuh dan mukjizat ini, kelihaianmu akan menjadi lipat ganda.”

“Terima kasih… terima kasih, engkau baik sekali, Hong-moi. Selamat berpisah, mudah-mudahan kita akan saling dapat berjumpa pula.” Kwee Sui menerima Li-mo-kiam lalu lari menghampiri pasukannya dan dipimpinnya pasukan itu menuju ke pantai utara seperti yang ditugaskan subonya. Diam-diam ia tersenyum lega. Pasti kita akan saling berjumpa lagi, Moi-moi, berjumpa sebagai suami isteri baik engkau mau atau tidak!

Setelah membawa pasukannya ke utara dan menyuruh mereka berjaga sambil bersembunyi, Kwee Sui diam-diam meloloskan diri dan mulai sibuk bekerja memberi tanda kain putih di pantai itu, kemudian ia menyusup ke timur dan ke selatan untuk memberi tanda-tanda robekan kain putih.

“Haiiii…!” Tiba-tiba muncul dua orang anak buah Pulau Es dari tempat sembunyinya dan ketika mereka melihat bahwa orang yang mereka tegur itu adalah Kwee Sui, mereka terheran-heran.

“Kwee-kongcu… apa yang sedang kau lakukan itu?” Salah seorang di antara mereka menegur.

Kwee Sui terkejut dan ketika ia menoleh ke sana-sini dan tidak melihat adanya orang lain, secepat kilat dia mencabut pedang Li-mo-kiam. Dua orang itu tak sempat berteriak karena sinar pedang itu saja sudah membuat mereka menggigil dan bergidik, tak dapat berkutik lagi. Di lain saat sinar kilat berkelebat dan kepala mereka menggelinding putus dari leher, terbabat Li-mo-kiam!

Pedang yang sudah sekian lamanya tidak minum darah itu kini mulai melepaskan dahaganya dan ketika Kwee Sui memandang pedang itu dengan hati penuh kebanggaan, ia melihat pedang itu lebih bersinar- sinar lagi setelah mencium darah manusia. Hebatnya, pedang yang telah membabat putus dua leher manusia itu sedikit pun tidak ternoda merah, seolah-olah darah telah mencucinya lebih cemerlang dan bersih.

“Li-mo-kiam… hebat…!” Kwee Sui mencium pedang itu lalu menyarungkannya kembali, kemudian menyeret dua orang itu ke balik batu dan menguruk mayat mereka berikut dua buah kepala mereka dengan salju. Noda darah di atas tanah bersalju ia hapus dengan injakan kakinya, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.

Baru saja ia selesai memberi tanda-tanda di semua jurusan, tiba-tiba terdengar sorak-sorai disambut teriakan-teriakan gegap gempita dan tahulah dia bahwa pasukan-pasukan pemerintah telah mulai menyerbu! Memang koksu telah mengabarkan kepada pimpinan kapal masing-masing bahwa di darat telah ada pembantu mereka yang memasang tanda kain-kain putih yang harus dijadikan petunjuk untuk menyerbu ke pulau itu.

Terjadilah perang yang hebat dan di lima penjuru pulau itu! Para pasukan pemerintah dapat menyerbu pulau itu dengan mudah karena mereka terbebas dari tempat-tempat yang dipasangi jebakan dan alat rahasia berkat petunjuk robekan kain-kain putih yang dipasang oleh Kwee Sui. Melihat ini, para penghuni Pulau Es terpaksa menyambut mereka dengan senjata dan terjadi perang yang mati-matian. Biar pun jumlah penghuni pulau kalah banyak dan ilmu silat para pasukan pengawal itu lebih tinggi, namun para penghuni menang kuat dalam tenaga sinkang.

Selama tinggal di pulau, mereka terbiasa oleh hawa dingin dan melatih sinkang dengan menghimpun Im- kang sehingga tenaga mereka mengandung hawa dingin yang lebih kuat dari pada para penyerbu. Para penyerbu rata-rata menggigil kedinginan, bukan hanya oleh hawa yang keluar dari bumi Pulau Es, akan tetapi juga karena benturan senjata dengan para penghuni Pulau Es itu dilandasi Im-kang yang membuat para lawan selalu terserang hawa dingin yang menusuk tulang.

Serangan serentak dari lima buah kapal itu membuat para tokoh Pulau Es tidak dapat saling membantu karena mereka menghadapi musuh masing-masing yang menyerbu dari lima jurusan. Bahkan Yap Sun sendiri kini bersama pasukannya telah menghadapi serbuan pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Tan Ki atau Tan-siucai.

“Ha-ha-ha, kakek tua bangka. Mengapa engkau tidak mau menakluk saja dan berani melawan pasukan pemerintah?”

“Selamanya Pulau Es tak pernah mengganggu pemerintah, kalau sekarang pemerintah menyerang kami, terpaksa kami akan mempertahankan pulau mati-matian!” jawab kakek Yap Sun dengan suara kereng.

“Ha-ha-ha! Kalian anak buah Pulau Es memang tidak berdosa terhadap pemerintah akan tetapi majikan kalian berdosa besar sekali, karena itu kalian pun ikut berdosa kalau melawan.”

“Orang muda, engkau berpakaian seperti sastrawan, namun memimpin pasukan! Terang bahwa engkau tergolong penjilat penjajah. Tak perlu banyak cakap lagi, siapa takut kepada engkau dan pasukanmu? Anak-anak, serang mereka!” Kakek Yap Sun memberi aba-aba dan berloncatan keluarlah anak buahnya yang berjumlah hanya tiga puluh orang menghadapi lawan yang jumlahnya dua kali lipat banyaknya. Dia sendiri sudah menerjang maju dengan tangan kosong menyerang pemuda berpakaian sastrawan itu.

Tan-siucai terkejut ketika merasakan hawa panas sekali menyambar dari kedua tangan kakek itu. Memang Yap Sun telah diberi Ilmu Pukulan Hwi-yang Sin-ciang oleh Pendekar Super Sakti. Hwi-yang Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api) merupakan ilmu pukulan sakti yang amat hebat, karena di dalam tenaga ini terkandung hawa sakti yang melebihi api panasnya, dapat menghanguskan lawan yang tidak kuat menerimanya.

“Bagus!” Tan-siucai berseru dan sekali tangan kanan bergerak, dia telah mencabut sebatang pedang yang berwarna hitam. Inilah senjatanya yang dibuat oleh gurunya sendiri, Pendeta Maharya, sebatang pedang yang ampuh karena diberi racun yang merendam pedang itu sampai bertahun-tahun sehingga pedang itu berwarna hitam!

Sambil mencelat ke samping mengelak dari pukulan ampuh kakek itu, Tan Ki mengelebatkan pedangnya. Sinar hitam menyambar ke arah Yap Sun. Kakek ini pun maklum akan berbahayanya pedang itu yang mengeluarkan bau amis, namun dia tidak gentar. Dorongan tangan kirinya dengan jari terbuka mengeluarkan hawa pukulan yang dapat menangkis dan mendorong mundur sinar pedang itu sehingga Tan Ki terpaksa meloncat lagi dan menyerang dari lain jurusan. Sementara itu, pasukan kedua pihak sudah saling serang dengan hebat dan terjadilah perang tanding mati-matian di mana setiap orang anak buah Pulau Es dikeroyok dua orang lawan.

Ternyata hanyalah Kakek Yap Sun seorang dari pihak Pulau Es yang kebetulan bertemu lawan yang seimbang. Kawan-kawannya ternyata bertemu lawan berat dan keadaan mereka terdesak hebat. Phoa Ciok Lin, yang merupakan orang kedua setelah Kwi Hong dalam hal kelihaian ilmu silatnya, bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Thai Li Lama, pendeta Lama kurus yang lihainya luar biasa itu. Phoa Ciok Lin terpaksa harus mengeluarkan semua ilmunya, mengeluarkan seluruh ginkang dan ilmu silatnya untuk menghadapi lawan yang memiliki ilmu pukulan Sin-kun-hoat-lek, semacam ilmu pukulan yang mengandung campuran hawa mukjizat dari ilmu hitam.

Berkali-kali Thai Li Lama mengeluarkan bentakan-bentakan yang amat berwibawa, membuat wanita sakti itu kewalahan dan hampir celaka karena hampir saja dia tidak dapat menahan pengaruh bentakan- bentakan yang mengandung ilmu hitam I-hun-to-hoat itu. Untung bahwa sebagai pembantu istimewa yang telah digembleng oleh Pendekar Siluman, dia memiliki batin yang kuat sehingga dengan segala kekuatan batinnya dia masih berhasil mempertahankan diri. Namun jelas bahwa dia terdesak hebat, seperti juga anak buahnya yang terdesak oleh serbuan anak buah Thai Li Lama.

Thung Sik Lun, tokoh Pulau Es yang bertubuh kurus dan yang memiliki keistimewaan gerak cepat, lebih payah lagi karena dia bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh pendeta India, Kakek Maharya yang tentu saja jauh lebih lihai dari pada dia! Begitu kakek ini mendarat, Thung Sik Lun menyerangnya dengan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang yang dapat membikin beku darah di tubuh lawan. Namun Kakek Maharya menerima pukulannya dengan enak saja dan begitu tangan kiri Thung Sik Lun mendarat di dada yang kerempeng itu, tangan Thung Sik Lun tak dapat ditarik kembali, melekat dan tersedot oleh dada kerempeng itu! Thung Sik Lun terkejut, cepat menggerakkan tangan kanannya dengan pengerahan Im- kang sekuatnya memukul ke pusar.

“Desss!” Kembali tangannya melekat di kulit keriput perut Maharya, tak dapat ditarik kembali.

“Heh-heh-heh!” Maharya terkekeh, sekali tangan kirinya bergerak, dia telah menjambak rambut di ubun- ubun kepala Thung Sik Lun, mencengkeram dan begitu dia mencabut, kepala itu berikut kulit dan tulang kepala bagian ubun-ubun copot!

Otak dan darah mengucur keluar dan Maharya membuka mulutnya menerima dan menggelogok darah campur otak segar itu seperti orang kehausan menerima air sejuk! Setelah darah berhenti mengucur dan Maharya melepaskan sinkang-nya, tubuh Thung Sik Lun yang sudah tak bernyawa lagi itu terguling!

Tentu saja robohnya pimpinan ini membikin kacau para anak buah Pulau Es. Di antara mereka banyak yang roboh dan mereka bergidik ngeri menyaksikan kematian pimpinan mereka, maka mereka cepat mengundurkan diri ke tengah pulau sambil menahan majunya musuh-musuh dengan senjata rahasia mereka yang ampuh, yaitu butiran-butiran es yang dingin sekali, yang dapat mereka kumpulkan dan gali dari lorong bawah tanah di belakang Istana Pulau Es! Hujan butiran es yang dingin ini sedikit banyak menghambat kemajuan para penyerang dan memungkinkan mereka untuk mundur dan mengatur pertahanan lagi tanpa pimpinan.

Thian Tok Lama yang memimpin pasukannya disambut oleh anak buah Kwee Sui. Akan tetapi ketika anak buah Pulau Es melihat Kwee Sui menyambut kedatangan pendeta gundul itu tertawa-tawa dan mereka berdua itu bercakap-cakap sambil berjalan ke darat, mereka menjadi kacau. Apa lagi ketika Kwee Sui berseru.

“Kita tidak boleh melawan pasukan pemerintah! Kita bukan pemberontak! Lebih baik menyerah saja, tentu diampuni!”

Mendengar ini, anak buah Pulau Es menjadi bingung. Akan tetapi mereka semua adalah orang-orang yang setia, bahkan di antara mereka banyak terdapat bekas pejuang yang menentang penjajahan Mancu, maka mendengar seruan ini, maklumlah mereka bahwa Kwee Sui menjadi pengkhianat. Maka mereka segera melawan sambil mundur ke tengah pulau, juga mempertahankan diri dengan serangan butiran-butiran es dingin.

Yang berat seperti keadaan Thung Sik Lun adalah Kwi Hong sendiri. Gadis perkasa yang penuh semangat ini bertemu dengan induk pasukan musuh yang dipimpin oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun sendiri! Biar pun Bhong Ji Kun masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan kelihaian paman gurunya, Maharya, namun bagi Kwi Hong dia telah merupakan lawan yang amat berat, apa lagi tentu saja pasukan yang dipimpin Koksu ini adalah pasukan pengawal yang paling kuat!

Kwi Hong juga terkejut ketika berhadapan dengan orang tinggi kurus berkepala botak yang memakai pakaian indah dan mentereng ini, dan dapat menduga bahwa tentu inilah orangnya yang disebut koksu oleh Kwee Sui. Cepat dia mencabut Pek-kong-kiam sehingga tampak sinar putih menyilaukan mata dari pedang yang berlapis perak ini.

Bhong Ji Kun tertawa bergelak. “Hemm, agaknya engkaukah murid Pendekar Siluman, Nona? Pantas… pantas… banyak pemuda yang tergila-gila kepadamu. Kiranya engkau benar-benar cantik jelita, sungguh tidak disangka di pulau kosong seperti ini dapat tumbuh setangkai mawar yang begini cantik…”

“Keparat, tutup mulutmu yang busuk!” Kwi Hong marah sekali, segera pedangnya menyambar menjadi sinar yang panjang dan besar.

“Hehhh…!”

Bhong Ji Kun terpaksa mengelak cepat karena tak disangkanya bahwa nona itu dapat menggerakkan pedang sedemikian cepatnya. Baru ia teringat bahwa dara yang jelita ini adalah murid Pendekar Super Sakti. Dia sendiri merasa jeri terhadap pendekar itu, yang menurut pendapat paman gurunya memang memiliki kesaktian sukar dilawan. Kalau gurunya sedemikian hebatnya, tentulah muridnya tak dapat dipandang ringan, sungguh pun muridnya merupakan seorang gadis muda yang manis dan kelihatan lemah.

Maka ia pun cepat memerintahkan anak buahnya untuk menyerbu anak buah Pulau Es, dan dia sendiri sudah mengeluarkan sebuah di antara senjata-senjatanya yang aneh, yaitu sebatang pecut kuda yang berwarna merah dan panjangnya ada tiga meter, gagangnya terbuat dari emas dihias permata! Koksu ini di waktu kecilnya, di India, pernah bekerja sebagai seorang penggembala kuda, maka dia suka sekali mempergunakan cambuk kuda, apa lagi di waktu dia menyiksa lawan.

Sebetulnya dia memiliki banyak senjata yang ia keluarkan sesuai dengan keadaan lawan. Melihat Kwi Hong cukup lincah dan lihai memegang pedang pusaka, maka dia pun mengeluarkan cambuknya. Cambuk ini digulung di dekat gagang dan jika perlu dapat dipergunakan menyerang lawan yang tiga meter jauhnya, juga amat cocok untuk menghadapi senjata tajam, untuk melibat dan merampas.

“Tar-tar-tar!” Cambuknya meledak-ledak di atas kepala dan meluncur turun, mengirim totokan-totokan berantai ke arah jalan darah di leher, tengkuk dan kedua pundak Kwi Hong.

“Haiiiittt!” Kwi Hong melengking nyaring.

Pedangnya diputar cepat di atas kepala, membentuk sinar seperti payung melindungi tubuh atasnya, dan tangan kirinya sudah menyodok ke depan, mengirim pukulan jarak jauh ke arah uluhati lawan. Bukan main kagetnya hati koksu itu. Gerakan pedang gadis itu benar-benar membendung serangan cambuknya, dan kini pukulan tangan kiri itu mengandung hawa dingin yang terasa menghantam dadanya, terus menyerang ke jantung!

“Hehhhh!” Ia mengerahkan sinkang, mengeraskan perut dan dada, menahan pukulan jarak jauh itu sambil menarik pecutnya, dan sekali pergelangan tangannya bergerak, ujung pecutnya menyambar dari bawah hendak melibat kaki Kwi Hong.

Gadis ini melocat ke atas, cepat mainkan pedangnya yang merupakan pecahan dari Siang-mo Kiam-sut seperti yang diajarkan pamannya, dan tangan kirinya tidak lupa mengirimkan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang secara bergantian.

Koksu itu makin terheran-heran dan kagum. Bukan main gadis ini, pikirnya. Belum pernah ia menghadapi lawan seorang muda yang begini lihai. Yang membuatnya kagum sekali bukan hanya kegesitan dara itu, melainkan terutama sekali sinkang-nya yang kuat dan aneh. Betapa mungkin gadis semuda ini sudah dapat membagi kedua lengannya dengan saluran hawa Im-kang dan Yang-kang? Kalau tangan kanannya melancarkan pukulan berhawa dingin, pedangnya terasa mengeluarkan hawa panas. Sebaliknya kalau dari tangan kiri menyambar hawa panas, pedangnya menjadi dingin luar biasa!

Timbul dalam pikiran koksu ini rasa sayang untuk membunuh gadis itu. Dia akan menawannya hidup- hidup, bukan hanya untuk memenuhi permintaan Kwee Sui yang telah berjasa, akan tetapi juga kalau dia dapat membujuk gadis itu membantu pemerintah tentu kaisar akan senang sekali! Soal Kwee Sui, mudah diselesaikan, karena baginya, gadis ini lebih berharga sepuluh kali dari pemuda itu!

Akan tetapi, pikiran untuk menawan gadis itu hidup-hidup jauh lebih mudah dari pada melaksanakannya. Tingkat kepandaian Kwi Hong sudah amat tinggi dan menghadapi Koksu itu, dia hanya kalah matang dan kalah pengalaman. Namun, gadis ini telah mempelajari ilmu-ilmu silat tingkat tinggi yang sebetulnya kalau sudah dilatih sematang koksu itu, tidak akan mampu ditandingi oleh Bhong Ji Kun! Biar pun koksu itu jauh lebih berpengalaman dan lebih matang, namun dia harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk tidak roboh di tangan gadis ini, apa lagi untuk menawannya hidup-hidup! Kwi Hong yang kini percaya akan laporan Kwee Sui bahwa kepandaian para penyerang benar-benar amat hebat, bersilat dengan hati- hati sekali.

Diam-diam dia agak menyesal mengapa dia tadi menyerahkan Li-mo-kiam kepada Kwee Sui. Kalau dia menggunakan pedang mukjizat itu, agaknya dia masih akan mampu mengalahkan lawan yang jauh lebih berpengalaman ini. Akan tetapi dia lalu teringat akan keadaan pemuda itu sendiri, dan keadaan bibinya, dan kedua orang pamannya. Kalau mereka itu pun menghadapi lawan seberat ini, akan celakalah Pulau Es. Maka dia lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya agar dapat mengalahkan koksu ini dan dapat membantu kawan-kawannya. Namun, tidaklah mudah, karena sesungguhnya, tingkatnya masih kalah sedikit oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun.

Pada saat Pulau Es diserbu dan semua tokohnya mengalami ancaman bahaya itu, bahkan Thung Sik Lun telah tewas secara mengerikan, tak jauh dari pantai, tampak sebuah perahu kecil yang dijalankan dengan pesat, didayung oleh seorang pemuda tampan yang memandang ke arah Pulau Es penuh takjub, kemudian memandang ke arah kapal-kapal besar itu dengan alis berkerut. Pemuda ini bukan lain adalah Gak Bun Beng.

Setelah Bun Beng meninggalkan Thian-liong-pang, dia mengambil keputusan untuk mencari Pulau Neraka. Kini dia telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup untuk menghadapi siapa pun juga. Oleh karena itu, dia tidak takut pergi ke Pulau Neraka untuk mencari pemuda putera Majikan Pulau Neraka dan minta kembali pedang Lam-mo-kiam yang dahulu dirampasnya. Surat dan peta yang ia terima dari Pendekar Super Sakti telah lenyap ketika ia terjun ke pusaran maut, akan tetapi ia masih ingat sedikit gambaran itu. Pokoknya, di sebelah utara melewati sekelompok pulau kecil yang berjajar seperti baris!

Demikianlah, karena sama sekali tidak ada pengalaman berlayar, tanpa disadarinya pada siang hari itu layar perahunya yang terbawa angin membuat perahunya melaju cepat membawanya sampai ke dekat Pulau Es! Melihat pulau yang putih itu dan melihat kapal-kapal besar, dia terheran-heran dan menggulung layar, lalu mendayung perahunya dengan hati-hati mendekati pulau.

“Tolongggg…!”

Tiba-tiba teriakan ini mengagetkan Bun Beng yang segera menoleh ke kiri dan menahan perahunya. Dilihatnya seorang laki-laki dengan susah payah berenang menuju ke perahunya. Ketika Bun Beng melihat bahwa orang itu ternyata luka parah, cepat ia mendayung perahunya mendekat, lalu menyambar baju di punggungnya dan menariknya ke atas perahu. Ternyata orang itu adalah Thung Ki Lok yang hampir saja tidak kuat lagi, lukanya oleh pedang Kwee Sui hebat dan ia telah kehilangan banyak darah. Ia memandang dengan napas terengah-engah kepada Bun Beng, lalu berkata.

“Sahabat, siapa pun adanya engkau… tolonglah… tolonglah cari Taihiap…” “Taihiap siapa? Dan engkau siapa?”
“Taihiap… Tocu Pulau Es… katakan… ahhhh, katakan… Pulau Es… diserbu pasukan pemerintah… Koksu Negara… dan si pengkhianat Kwee Sui… pulau kami terancam… aaahhhh…” Pemuda yang gagah perkasa itu menghembuskan napas terakhir, tidak melihat betapa kagetnya Bun Beng mendengar ucapan tadi.

Bun Beng merebahkan kepala yang tadi dipangkunya, kemudian mengangkat muka memandang ke pulau itu. Itukah Pulau Es? Dan kapal-kapal itu milik pemerintah yang menyerbu Pulau Es di waktu Pendekar Super Sakti tidak ada? Dan Koksu Negara. Si laknat Bhong Ji Kun!

Bun Beng cepat mendayung perahunya dengan pengerahan tenaga sehingga perahunya meluncur cepat sekali ke pulau itu. Ia kini mendengar suara hiruk-pikuk di atas pulau, suara orang bertempur. Ketika ia melihat tanda robekan kain yang diikatkan pada tetumbuhan di pantai, ia lalu mendarat. Tentu itu merupakan tanda penunjuk jalan, pikirnya.

Setelah mengikatkan perahu dan meninggalkan perahu di mana menggeletak mayat Ki Lok, Bun Beng melompat ke darat dan berlari cepat ke tengah pulau. Tepat seperti diduganya, ia melihat kain-kain putih dan segera memasuki pulau melalui jalan kecil di mana ada tanda-tanda kain putih itu sehingga sebentar saja dia telah berada di tengah pulau. Ia melihat pertempuran hebat, dan melihat betapa prajurit-prajurit seragam yang tentu adalah pasukan pemerintah mendesak dan mengejar penghuni pulau yang mengundurkan diri ke tengah pulau.

Pada saat itu, Kwi Hong telah tertawan. Ketika gadis ini bertanding mati-matian melawan Bhong Ji Kun, tiba-tiba muncul Thian Tok Lama dan Kwee Sui. Melihat betapa gadis itu mengadakan perlawanan yang hebat terhadap koksu, Thian Tok Lama segera meloncat dan membantu. Dikeroyok dua oleh koksu dan Lama itu, tentu saja Kwi Hong terdesak hebat. Tiba-tiba ia melihat Kwee Sui yang datang bersama Thian Tok Lama.

“Sui-ko, bantu aku…!” teriaknya, akan tetapi pemuda itu hanya berdiri menonton sambil tersenyum.

Seketika mengertilah Kwi Hong bahwa pemuda tampan ini telah berkhianat dan tadi sengaja meminjam pedang Li-mo-kiam. Maka kemarahannya memuncak, dan setelah memutar pedangnya membuat kedua orang lawannya mundur, ia lalu melompat ke arah Kwee Sui sambil memaki. “Engkau pengkhianat hina!”

Akan tetapi, tiba-tiba pecut di tangan Bhong Ji Kun berkelebat membelit lengannya yang memegang pedang dan sebelum Kwi Hong dapat membalikkan tubuh, Thian Tok Lama telah memukulnya dari belakang dengan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang.

“Desss!”

Angin pukulan yang membawa uap hitam itu mengenai punggung Kwi Hong, membuat gadis itu langsung roboh pingsan dan pedangnya terampas oleh ujung pecut koksu. Dia memandang rendah Thian Tok Lama sehingga kena terpukul, tidak tahu bahwa ilmu kepandaian Lama itu setingkat dengan kepandaian Bhong Ji Kun.

“Ha-ha-ha, bawalah Nona pengantinmu ke kapal, jaga jangan sampai dia lolos,” kata Bhong Ji Kun kepada Kwee Sui, “Dan pedang Li-mo-kiam…?”

“Sudah di sini!” jawab Kwee Sui, menepuk pedang di pinggangnya.

“Baik, bawa ke kapal, jangan sampai dia lolos dan jangan sampai pedang itu hilang.”

Kwee Sui girang sekali, cepat memondong tubuh Kwi Hong yang pingsan itu dan membawanya lari ke pantai, di mana terdapat perahunya, lalu ia membawa tubuh itu ke atas kapal besar.

Setelah Kwi Hong kena ditawan, anak buahnya mundur ke tengah pulau, dikejar oleh pasukan pemerintah. Yap Sun yang mengamuk dan menghadapi Tan-siucai dengan gigih, terpaksa roboh pula ketika tiba-tiba muncul Kakek Maharya yang telah mengejar sampai ke situ. Tampak Maharya marah sekali melihat betapa muridnya belum mampu merobohkan kakek itu.

“Bodoh, kenapa tidak mempergunakan Hok-mo-kiam?” teriaknya sambil menonton pertandingan itu, tidak mau membantu muridnya.

Tan Ki yang mendengar seruan gurunya itu tertawa, tangan kirinya mencabut pedang di pinggangnya. Sinar kilat berkelebat dan Kakek Yap Sun berteriak mengerikan ketika berbareng dengan sinar kilat pedang itu yang menangkis tangannya, lengannya sebatas siku menjadi buntung! Kakek itu menggigit bibir, menggunakan tangan kirinya menerjang terus, dan kembali sinar kilat berkelebat dan lengan kirinya juga terbabat buntung! Pedang mukjizat itu berkelebat lagi, terdengar teriakan ngeri dan tubuh Yap Sun terjengkang ke belakang, dadanya tembus oleh pedang Hok-mo-kiam dan nyawanya melayang!

Tan Ki menyimpan pedang Hok-mo-kiam dan pedang hitamnya, menoleh kepada suhu-nya, “Saya memang sengaja mengajaknya berlatih, dia merupakan lawan yang boleh juga.”

“Sudah, mari kita membantu Thai Li Lama yang masih belum mampu mengalahkan lawannya. Kulihat wanita itu lihai juga.”

Memang, hanya tinggal Phoa Ciok Lin seorang yang masih mengadakan perlawanan terhadap Thai Li Lama, bahkan wanita yang marah sekali ini mengamuk, mendesak pendeta itu dengan pedang yang sudah sejak tadi ia pergunakan karena dia tidak mampu mengalahkan lawan dengan tangan kosong.

Tiba-tiba muncul Maharya dan Tan Ki. Tan Ki yang melihat bahwa Phoa Ciok Lin yang setengah tua itu masih cantik, segera meloncat maju. “Eh, manis, kenapa engkau nekat? Menyerahlah saja, hidup di kota raja tentu senang!”

Phoa Ciok Lin tidak menjawab, melainkan mengamuk lebih hebat, menangkis sinar pedang hitam yang dipergunakan Tan Ki.

“Tranggg!” Pedang Ciok Lin patah ujungnya, akan tetapi Tan Ki terhuyung ke belakang dan seluruh lengan kanannya tergetar.

“Wah, lihai juga…!” serunya.

“Hemmm…!” Maharya meloncat maju, tangan kirinya bergerak menampar dan angin pukulan yang kuat berhembus ke arah wanita itu. Ciok Lin menjerit dan terlempar ke belakang. Cepat ia menjatuhkan diri bergulingan, lalu meloncat bangun lagi dan mengambil keputusan nekat untuk melawan musuh-musuh lihai itu sampai napas terakhir.

Maharya memukul lagi, “Wuuuuttt! Plakkkk! Aahhh!” Maharya terhuyung ke belakang, memandang terbelalak kepada seorang pemuda tampan yang telah menangkis tamparannya itu dengan tangan. Hampir dia tidak dapat percaya bahwa ada seorang pemuda yang sanggup menangkis tamparannya dan membuat ia terhuyung ke belakang. Kalau yang menangkisnya itu Pendekar Siluman, dia tidak akan heran. Tadi pun ia mengira, bahwa Pendekar Siluman muncul, kiranya seorang pemuda yang bertangan kosong!

“Toanio, harap lekas tarik mundur anak buahmu, biar aku yang melawannya!” kata Bun Beng. “Eh, dia pemuda yang menemukan Sepasang Pedang Iblis!” Tiba-tiba Tan Ki berseru kaget.
Maharya menjadi bengong. Dahulu pemuda ini tidaklah sedemikian hebat tenaganya, mengapa sekarang begini lihai? Dengan penuh hati penasaran, dia menerjang lagi, kini mengirim dorongan dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Bun Beng. Pemuda ini yang sudah percaya penuh akan kekuatan sendiri, kembali menyambut telapak tangan itu dengan dorongan telapak tangan pula.

“Plakkkk!”

Dua telapak tangan bertemu, asap mengepul dari pertemuan telapak tangan itu yang seolah-olah melekat. Maharya berseru keras sebelah tangannya memukul lagi akan tetapi tiba-tiba tubuh Bun Beng lenyap. Demikian cepat gerakan pemuda ini yang sudah meloncat ke atas dan ujung sepatunya menotok ke arah ubun-ubun kepala Maharya.

“Aeeehhhh…!” Maharya cepat melempar tubuhnya ke atas dan bergulingan, wajahnya yang berkulit hitam itu menjadi agak pucat, keringat dingin mengucur karena dia maklum bahwa hampir saja nyawanya melayang!

“Serbu…!” Tan Ki berseru dan kini dia bersama Maharya dan Thai Li Lama menerjang maju.

Phoa Ciok Lin kini juga maju membantu Bun Beng yang belum ia kenal siapa adanya itu, sungguh pun wajah pemuda tampan itu seperti pernah dilihatnya. Tentu saja dia pernah melihat Bun Beng, yaitu ketika terjadi pertempuran di pulau muara Huang-ho. Akan tetapi ketika itu Bun Beng masih kecil sehingga dia tidak mengenalnya lagi. Sebaliknya Bun Beng masih mengenal Ciok Lin maka serunya.

“Phoa-toanio, mundurlah. Anak buahmu terdesak, bantulah mereka!”

Ciok Lin melongo, dan tiba-tiba ia teringat. Ini adalah bocah yang dahulu diperebutkan di pulau muara Huang-ho, bocah yang oleh Pendekar Siluman akan dirampas dan dibawa ke Pulau Es. Gak Bun Beng, putera Gak Liat dan Bi-kiam Bhok Khim. Mendengar ucapan itu, dia menengok dan benar saja anak buahnya terdesak sehingga kocar-kacir dan banyak yang sudah roboh. Juga ia melihat betapa anak buah dari pantai lain telah mundur ke tengah pulau, mendekati Istana Pulau Es, dikejar pasukan pemerintah. Maka dia lalu meninggalkan Bun Beng dan mengamuk, membantu anak buahnya merobohkan banyak tentara pengawal pemerintah.

“Hancurkan mereka, serbu Istana Pulau Es!” teriak Maharya. “Biar aku melayani bocah sombong ini!” Sambil berkata demikian, Maharya yang merasa bahwa pemuda itu tidak akan dapat ia kalahkan mengandalkan tenaga sinkang, sudah mencabut keluar sebuah senjata yang aneh. Senjatanya itu bergagang pendek, dan berbentuk bulan sabit yang pinggirnya tajam sekali dan kedua ujungnya yang melengkung amat runcing.

“Sing-singg-singgg…!” Tampak sinar kilat menyambar-nyambar ketika senjata itu dia pergunakan untuk menyerang.

Namun Bun Beng dapat mengelak dengan tenang, bahkan dapat membalas dengan pukulan-pukulan maut karena dia telah mainkan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng yang mukjizat. Berkali-kali Maharya mengeluarkan seruan kaget dan heran. Pemuda itu benar-benar lincah dan memiliki ilmu silat yang amat ajaib, yang dia kenal mempunyai dasar-dasar ilmu silat golongan kaum sesat! Sementara itu, Bun Beng yang melihat betapa Thai Li Lama, Tan Ki bahkan ada Thian Tok Lama, dan Bhong Ji Kun mulai memimpin pasukan membakari rumah-rumah pondok sederhana tempat tinggal para anak buah Pulau Es yang kewalahan, menjadi khawatir sekali.

“Orang muda, engkau kini merasa takut, lumpuh, hayo berlutut!” Tiba-tiba Maharya membentak, menggunakan kesempatan selagi perhatian Bun Beng terpecah karena mengkhawatirkan keadaan Pulau Es.

Bun Beng otomatis jatuh berlutut dan dia merasa heran sekali. Baru ia teringat ketika kakek India membacok ke arah kepalanya dengan senjatanya yang aneh. Untung pada detik terakhir Bun Beng teringat lagi. Dia telah mengerahkan sinkang dan menghimpun tenaga batin, cepat ia melempar tubuh ke belakang sehingga bacokan itu luput.

“Dar! Dar! Blengggg…!”

Tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan keras, tampak tanah muncrat dan asap hitam bergulung-gulung. Beberapa orang prajurit pemerintah roboh, bahkan Maharya sendiri cepat meloncat ke belakang ketika ada sebuah benda hitam menyambar kepalanya. Sambaran itu luput dan benda itu menghantam tanah, meledak dan mengeluarkan asap hitam.

Bun Beng meloncat bangun. Keadaan menjadi gelap karena asap hitam itu. Dia cepat berlari ke arah Istana Pulau Es dan di sepanjang jalan, terjadi ledakan-ledakan yang merobohkan prajurit pemerintah. Pasukan pemerintah menjadi kacau balau, ada yang lari bersembunyi, ada yang bertiarap. Bahkan Koksu dan rombongannya, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Tan Ki, diserang oleh benda-benda hitam yang dapat meledak sehingga mereka sibuk mengelak ke sana sini.

Bun Beng mengerti bahwa ada bantuan datang. Entah siapa, hanya dia mengenal alat-alat ledak itu seperti yang biasa dipergunakan oleh tokoh-tokoh Pulau Neraka! Dia tidak peduli dan cepat menghampiri rombongan anak buah Pulau Es yang dipimpin oleh Phoa Ciok Lin. Mereka ini sama sekali tidak diserang alat-alat peledak sehingga mudah diduga bahwa memang yang melempar-lemparkan alat peledak itu bermaksud membantu anak buah Pulau Es.

“Phoa-toanio…! Cepat bawa anak buah bersembunyi. Ada orang pandai membantu kita. Di mana adanya Kwi Hong?”

“Ahhh, menurut laporan anak buahnya, dia… tertawan, dikhianati orang kita sendiri dan dibawa ke kapal di sebelah timur pulau.”

“Kwee Sui…?” Bun Beng bertanya, teringat akan cerita pemuda di perahunya tadi. “Eh, bagaimana engkau tahu? Engkau… Gak Bun Beng, bukan?”
“Benar, Toanio, lekas bawa anak buahmu bersembunyi, kalau tidak ada lain jalan, bawa keluar dari pulau ini. Aku akan berusaha menolong Nona Kwi Hong!” Baru saja habis ucapannya, tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ.

Phoa Ciok Lin melongo saking kagum dan herannya, akan tetapi dia segera membawa anak buahnya memasuki istana dan bersembunyi di lorong bawah tanah istana. Dia sendiri bersama orang yang dapat diandalkan menjaga di depan, melihat betapa pasukan musuh kocar-kacir oleh ledakan-ledakan yang asapnya mengandung racun itu sehingga banyak anggota pasukan yang roboh tewas. Akhirnya Bhong Ji Kun terpaksa menarik mundur pasukannya dan memerintahkan kembali ke kapal masing-masing agar tidak jatuh lebih banyak korban sedangkan musuh yang melepas bahan-bahan ledakan itu tidak tampak sama sekali.

Bhong Ji Kun mengajak paman gurunya, Maharya, ke kapalnya untuk diajak berunding membicarakan munculnya Gak Bu Beng dan pelempar peledak yang asapnya hitam beracun itu. Begitu naik ke kapal dia menjenguk ke ruangan bawah, lega melihat betapa Kwi Hong telah terikat pada tiang, duduk di atas bangku dengan wajah muram, sedangkan Kwee Sui menjaga di situ bersama selusin orang prajurit. Gadis itu memaki-maki Kwee Sui, akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum saja dan berusaha membujuknya dengan suara manis. Melihat ini Bhong Ji Kun naik lagi dan berunding dengan Maharya di geladak kapal. Senja telah datang akan tetapi sinar keemasan matahari masih menerangi geladak kapal. Mereka duduk dan bicara dengan serius.

“Bocah itu hebat juga,” terdengar Maharya berkata. “Sungguh mengherankan sekali, belum ada setahun aku melawan dia, kepandaiannya masih belum begitu hebat, bahkan aku telah melukainya, mestinya dalam waktu tiga bulan dia mampus. Bagai mana sekarang dia masih dalam keadaan sehat dan kepandaiannya malah demikian hebat?”

“Hemmm, mungkin dia menerima latihan dari Pendekar Siluman,” jawab Bhong Ji Kun sambil mengelus jenggotnya. “Akan tetapi yang aneh adalah pelempar peluru peledak yang mengandung asap beracun itu. Apakah dia Pendekar Siluman sendiri? Dia tentu lihai bukan main.”

“Ah, Pendekar Super Sakti tidak mungkin mau melakukan penyerangan gelap seperti itu,” jawab Maharya.

“Benar, dan sepanjang pendengaranku, yang biasa menggunakan senjata rahasia macam itu adalah orang Pulau Neraka.”

“Akan tetapi, tidak mungkin,” bantah Maharya. “Bukankah Pulau Neraka itu selalu bertentangan dengan Pulau Es?”

Selagi dua orang ini bercakap-cakap, Bun Beng telah berhasil meluncurkan perahunya dan terjun ke air, berenang lalu bergantung kepada rantai jangkar. Dia merayap naik, akan tetapi melihat Maharya dan Bhong Ji Kun berada di situ, di atas geladak, dia tidak berani naik. Melihat musuh-musuh besarnya ini, ingin sekali ia meloncat dan membuat perhitungan.

Bhong Ji Kun dulu sudah membunuh gurunya, dan dengan Maharya dia mempunyai perhitungan lain. Akan tetapi, kedatangannya ini adalah untuk menolong Kwi Hong, jika dia meloncat dan menerjang kedua orang yang dia tahu amat lihai itu, harapannya untuk menolong Kwi Hong tentu akan buyar. Maka dia menanti kesempatan baik dan bersembunyi di rantai jangkar, mepet di badan kapal.

“Sebaiknya besok pagi kita sendiri bersama dua orang Lama turun ke pulau melakukan penyelidikan,” kata Maharya. “Kita harus mengetahui siapa orang yang begitu berani menyerang kita dengan peluru-peluru peledak itu.”

“Kebakaran…!” terdengar teriakan bersama dengan datangnya ledakan yang tiba di atas bilik kapal dan tampak api berkobar. Maharya dan Bhong Ji Kun terkejut, apa lagi ketika mendengar suara dari atas.

“Akulah yang melepaskan alat-alat peledak, kalian manusia-manusia busuk mau apa?”

Keduanya meloncat bangun dan ketika memandang ke atas, jauh di atas, di tali-temali layar dekat tiang besar, tampaklah tubuh seorang wanita yang bergantung pada tali, bergantung dengan kedua kaki sedangkan kepalanya tergantung di bawah, rambutnya yang panjang berkibar tertiup angin. Di bawah sinar matahari senja, wanita berpakaian hitam yang bermuka putih sekali itu benar-benar amat menyeramkan, apa lagi kehadirannya dengan cara bergantung terbalik seperti itu!

Baik Maharya mau pun Bhong Ji Kun terkejut, bukan oleh kehadiran wanita yang bergantung seperti itu, yang hanya memperlihatkan kemahiran ginkang luar biasa yang mampu mereka lakukan juga. Yang mengejutkan mereka adalah kehadiran wanita itu yang tidak mereka ketahui sama sekali! Siapakah wanita itu?

Dia bukan lain adalah Majikan Pulau Neraka. Dia adalah Lulu, adik angkat Pendekar Super Sakti (baca cerita Pendekar Super Sakti)! Bagaimana Lulu yang menjadi majikan Pulau Neraka dapat hadir di situ membantu anak buah Pulau Es yang diserbu pasukan pemerintah? Untuk mengetahui hal ini, sebaiknya kita meninjau keadaan Pulau Neraka di mana telah terjadi perubahan besar sekali.

********************

Putera Lulu bernama Wan Keng In telah menjadi seorang pemuda berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, tampan dan tinggi ilmunya karena sejak kecil digembleng oleh ibunya sendiri. Lulu terlalu memanjakan puteranya itu, apalagi setelah mendengar bahwa ayah puteranya itu, Wan Sin Kiat, sengaja membunuh diri dalam perjuangan menentang pemerintah Mancu.

Pada suatu hari, Keng In pulang dari perantauannya. Anak itu sering kali keluar dari Pulau Neraka menunggang burung rajawali dan biar pun berkali-kali Lulu memarahinya namun anak yang amat manja itu selalu melanggar larangannya. Ketika Keng In pulang, dia menghampiri ibunya dan tertawa-tawa bangga, lalu menepuk pinggangnya di mana tergantung sebatang pedang bersarung indah sambil berkata,

“Ibu, coba terka pusaka apa yang kudapatkan dalam perantauanku sekarang ini. Ibu selalu melarang aku merantau, kalau aku tidak merantau, mana mungkin mendapatkan pusaka ini?”

Lulu mengerutkan alisnya, lalu memandang. “Hemm, engkau mendapatkan sebatang pedang baru. Pedang apakah yang kau banggakan itu?”

“Lihat, Ibu!” “Singggg…!”
“Aihhhh…!” Lulu terkejut sekali menyaksikan sinar kilat keluar ketika pedang itu dicabut, dan ada hawa yang menyeramkan langsung keluar dari sinar pedang itu. “Itu… itu… seperti Sepasang Pedang Iblis!”

“Ha-ha-ha! Pandangan Ibu tajam bukan main. Memang inilah Lam-mo-kian, pedang jantan, sebatang di antara sepasang Pedang Iblis yang berhasil kurampas!”

“Siang-mo-kiam…!” Lulu menghampiri anaknya, merampas pedang itu, lalu mendekap pedang itu dan menangis.

“Han-koko…! Ah, Han-koko… kita dahulu menemukan pedang-pedang itu… Sepasang Pedang Iblis…!”

Keng In menarik napas panjang. “Kenapa Ibu menangis? Dan kenapa menyebut dia? Aku muak mendengarnya. Ibu selalu menyebut-nyebut nama Han-koko! Hemmm, tentu Si Pendekar Siluman yang bernama Suma Han itu, bukan? Dia telah banyak membuat Ibu menderita. Teringat olehku betapa dahulu, ketika aku masih kecil, Ibu sering mimpi dan menyebut-nyebut namanya. Aku telah mendapatkan pedang Lam-mo-kiam, aku akan mencari dia dan akan kubunuh dia dengan pedang ini agar tidak menyusahkan hati Ibu pula!”

“Keng In…!”

“Aku tahu, Ibu mencinta Suma Han. Akan tetapi laki-laki macam apa dia itu? Kakinya buntung, rambutnya putih seperti kakek-kakek. Dan kalau dia mencinta Ibu, mengapa dia membiarkan Ibu merana di sini? Dan mengapa pula Ibu sering kali menyatakan ingin memperdalam ilmu, ingin memperkuat Pulau Neraka agar kelak dapat menyerbu Pulau Es? Bagaimanakah sebenarnya Ibu ini? Mencinta ataukah membenci dia? Betapa pun juga, Pendekar Siluman dari Pulau Es itu sudah banyak membikin Ibu menderita, oleh karena itu, pada suatu hari aku pasti akan menantangnya dan akan membunuhnya dengan pedang ini.”

“Keng In… kau… kau tidak mengerti… jangan kau bicara demikian. Tak perlu engkau mencampuri urusan pribadiku dengan dia. Pula mudah saja kau bicara. Sedangkan kepandaianku sendiri masih belum ada setengahnya, apa lagi engkau. Kau kira akan mudah saja mengalahkan Pendekar Super Sakti?”

Terdengar oleh telinga Keng In yang sedang marah itu betapa dalam menyebut nama Pendekar Super Sakti dan mengucapkan kalimat terakhir itu, terdengar nada bangga sekali dalam suara ibunya. Hati pemuda ini makin panas dan dia cepat menjawab, “Harap Ibu tidak memuji lawan merendahkan diri. Mungkin Ibu masih belum mampu menandingi dia, akan tetapi lihatlah Ibu, lihatlah ilmu pedang anakmu.”

“Singggg… cuit…!” Tampak sinar kilat menyilaukan mata dan Keng In sudah mencabut Lam-mo-kiam, lalu dia bermain pedang dengan gerakan yang luar biasa hebat dan dahsyatnya.

Tubuhnya lenyap dan yang tampak hanya sinar pedang yang kadang-kadang mencuat ke udara, kadang bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran yang saling menyambung, indah dan hebat bukan main sampai membuat Lulu melongo keheranan. Dia tidak mengenal ilmu pedang itu dan harus diakuinya bahwa ilmu pedang yang dimainkan puteranya itu betul-betul dahsyat sekali. Setelah Keng In menghentikan permainannya dan menyimpan kembali Lam-mo-kiam, dengan napas biasa dan wajahnya yang tampan berseri dia menghadapi ibunya dan bertanya,

“Bagaimana pendapat Ibu? Apakah ilmuku tidak cukup untuk menghadapi Pendekar Siluman itu?”

Lulu masih terbelalak memandang wajah puteranya. “Keng In, anakku…, dari mana engkau mempelajari ilmu pedang itu?”

Keng In tertawa, lalu berkata, “Bukan hanya ilmu pedang itu, Ibu, melainkan masih banyak lagi. Di antaranya ini, harap Ibu lihat!” Tiba-tiba tubuhnya melesat ke atas, tinggi sekali dan berjungkir balik beberapa kali di udara. Ketika ia melayang turun dengan kecepatan kilat, kedua tangannya telah menangkap dua ekor burung walet kecil yang terkenal cepat terbangnya itu. Keng In tertawa-tawa, melepas lagi burung-burung itu, kemudian ia menghampiri sebatang pohon sambil berkata, “Dan Ibu saksikanlah pukulan ini!” Setelah berkata demikian, ia menggunakan tangan menampar batang pohon itu.

“Prakkkk!”

Pohon itu tidak tampak terguncang, akan tetapi tak lama kemudian, biar pun hanya ada angin kecil bersilir, daun-daun pohon itu rontok semua sehingga tinggal batang dan cabang-cabang serta ranting-rantingnya yang gundul tanpa sehelai daun pun!

Lulu terkejut bukan main. Ginkang yang diperlihatkan puteranya tadi sudah hampir melalui tingkatnya, atau setidaknya sudah setingkat, sedangkan pukulan tadi adalah semacam pukulan ganas sekali, akan tetapi juga amat dahsyat, membuktikan adanya sinkang yang mengandung hawa beracun jahat!

“Keng In! Dari mana engkau mempelajari semua itu? Hayo katakan!”

Keng In duduk di atas batu depan rumah mereka dan berkata, “Ibu, sebetulnya aku harus merahasiakan ini, akan tetapi karena dalam penasaran tadi aku telah memperlihatkan ilmu-ilmuku kepadamu, terpaksa aku membuka rahasia. Ibu, telah beberapa tahun ini aku menjadi murid Cui-beng Koai-ong.”

“Siapakah Cui-beng Koai-ong (Raja Aneh Pengejar Roh)?”

Keng In tertawa. “Ha-ha-ha, Ibu menjadi Ketua Pulau Neraka, akan tetapi tidak tahu siapa sebenarnya yang menjadi raja dari Pulau Neraka. Ibu, para kakek muka kuning termasuk Kakek Kui-bun Lo-mo Ngo Bouw Ek yang ibu kalahkan itu hanyalah tokoh-tokoh tingkat ketiga saja dari Pulau Neraka. Masih ada dua orang lagi yang memiliki kesaktian luar biasa, melebihi dewa! Mereka berdua itulah yang sebenarnya menjadi tokoh-tokoh pertama dan kedua dari Pulau Neraka, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang aneh yang tidak pernah mau memperebutkan kedudukan, bahkan jarang berada di pulau, tak seorang pun melihat mereka.”

“Hehh…? Benarkah kata-katamu ini?” Lulu bertanya, penasaran dan heran. Dia telah menundukkan orang- orang Pulau Neraka dan diangkat menjadi pemimpin selama bertahun-tahun, mengapa dia tidak pernah mendengar tentang dua orang itu? “Siapa mereka dan di mana mereka sekarang?”

“Ibu, mereka itu adalah dua orang saudara tua dari kakek yang bermuka kuning. Yang pertama adalah Cui- beng Koai-ong yang menjadi saudara tertua, dan kebetulan sekali aku bertemu dengan dia di tempat sembunyinya ketika beberapa tahun yang lalu dia kembali ke Pulau Neraka. Aku diangkat menjadi muridnya sehingga memperoleh kemajuan besar.”

“Dan yang kedua?”

“Menurut Suhu, orang kedua itu adalah sute-nya, seorang kakek yang aneh sekali, seperti orang gila, akan tetapi suka merantau dan bahkan jarang sekali muncul di Pulau Neraka. Suhu berpesan agar aku berhati- hati kalau bertemu dengan Susiok itu, julukannya Bu-tek Siauw-jin (Orang Rendah Tanpa Tanding)! Kata

Suhu, wataknya aneh dan angin-anginan sehingga mungkin saja dia menentang Pulau Neraka hanya untuk mengumbar wataknya yang ugal-ugalan dan suka berkelahi!”

Lulu menjadi makin penasaran. “Di mana mereka? Aku ingin mencoba kepandaian mereka. Sebagai Majikan Pulau Neraka, aku harus mengalahkan semua tokoh Pulau Neraka.”

“Jangan, Ibu. Ibu akan kalah, dan pula, tak mungkin Ibu dapat menjumpai mereka. Selain itu, bukankah mereka tidak mengganggu Ibu?”

“Ya, mengapa demikian? Kalau mereka berilmu tinggi, sebagai tokoh-tokoh pertama Pulau Neraka, mengapa mereka membiarkan saja aku berkuasa di sini?”

“Ha-ha-ha! Mereka itu tidak takut terhadap setan atau dewa, apa lagi terhadap manusia lain, kecuali… eh, terhadap Pendekar Super Sakti! Mereka sengaja membiarkan Ibu memimpin Pulau Neraka dan kelak kalau Ibu menyerang ke sana, tentu mereka akan turun tangan membantu. Mereka hendak mempergunakan permusuhan Ibu dengan Pulau Es untuk menantang Pendekar Siluman!”

“Ohhhh!” Lulu menjadi pucat wajahnya.

Dia merasa tidak senang sekali bahwa urusan pribadinya dengan Suma Han diperalat oleh orang-orang lain. Dia sebetulnya bukan hendak memusuhi Suma Han. Betapa mungkin? Betapa mungkin dia memusuhi dan membenci orang yang ia cintai itu? Tidak. Kalau dia menghimpun kekuatan dan memperdalam ilmu, semua itu ia lakukan demi cintanya kepada Suma Han! Hendak ia perlihatkan kepada bekas kakak angkatnya yang tercinta itu bahwa dia bukanlah seorang wanita sembarangan, bahkan sudah patut untuk memperoleh perhatian dan cinta kasih seorang pendekar besar seperti Suma Han. Apa lagi setelah ia mendengar bahwa Suma Han menjadi suami Nirahai, dia ingin memperlihatkan bahwa dia lebih hebat dari pada Nirahai!

Sekarang ternyata tokoh-tokoh yang utama dan sesungguhnya dari Pulau Neraka malah hendak memperalatnya dan puteranya, putera tunggal yang dia cinta dan manjakan, ternyata telah menjadi murid dari tokoh pertama Pulau Neraka! Tidak, dia tidak sudi diperalat tokoh-tokoh Pulau Neraka, yang menganggapnya sebagai boneka saja! Dia harus datang sendiri ke Pulau Es dan terang-terangan menantang Suma Han, seorang diri, tidak perlu mengandalkan orang-orang Pulau Neraka. Suma Han harus memilih, membunuh dia atau menerimanya sebagai isteri!

Dengan hati penuh duka dan penasaran, Lulu diam-diam meninggalkan Pulau Neraka tanpa memberi tahu siapa juga, bahkan puteranya sendiri pun tidak diberi tahu. Dengan sebuah perahu hitam kecil, Lulu yang menjadi Ketua Pulau Neraka, yang kini berwajah putih dan berpakaian hitam, melakukan pelayaran mencari Pulau Es di mana dahulu di waktu kecil dia pernah tinggal berdua dengan Suma Han (baca cerita Pendekar Super Sakti).

Kedatangannya di Pulau Es bertepatan dengan penyerbuan pasukan pemerintah terhadap pulau itu. Kemarahan dan rasa penasaran di hati Lulu terhadap Suma Han lenyap terganti oleh kemarahan terhadap para penyerbu yang mendahuluinya, yang dianggapnya pengecut, melakukan penyerbuan terhadap sebuah pulau yang sedang ditinggal majikannya. Maka dia lalu diam-diam membantu anak buah Pulau Es, melepas senjata rahasia peledak yang berhasil mengundurkan para penyerbu. Bahkan dengan hati penuh kemarahan diam-diam Lulu menyelundup naik ke atas kapal, melepas senjata rahasia pembakar dan memberitahukan kehadirannya dengan bergantung pada tali layar dengan tubuh berjungkir kepada Koksu Bhong Ji Kun dan Maharya.

“Wanita iblis…!” Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun berseru marah.

Maharya sudah menggerakkan tangan kanannya dan meluncurlah sebuah senjata rahasia berbentuk gelang yang berputar cepat ke arah kepala wanita yang menggantung di atas itu.

“Wiirrr… singggg…!”

Senjata rahasia yang dilepas oleh Maharya ini hanyalah gelang biasa berwarna putih, akan tetapi karena pelemparnya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka berbahaya sekali. Gelang ini seperti peluru terkendali, kalau luput dapat berputar kembali dan menyerang lawan seperti benda hidup! Juga suaranya yang berdesing, mengaung seperti gasing berlubang itu dapat mendatangkan panik kepada lawan.

Menghadapi serangan senjata rahasia gelang ini, Lulu tidak bergerak dan seolah-olah tidak melihatnya. Akan tetapi ketika gelang itu sudah menyambar dekat, tiba-tiba ujung rambutnya yang riap-riapan itu seperti hidup, seperti ujung cambuk yang bergerak ke bawah menerima gelang itu, terus melibatnya sehingga gelang itu berhenti gerak luncurnya. Tiba-tiba kepala Lulu bergerak sedikit dan gelang itu menyambar dengan kecepatan kilat ke bawah, ke arah Maharya! Pendeta India ini terkejut bukan karena diserang oleh senjatanya sendiri karena dengan mudah ia dapat mengelak sehingga gelang itu mengenai papan geladak dan amblas ke bawah, melainkan dia terkejut menyaksikan betapa lihainya wanita yang muncul secara aneh itu.

“Toanio, siapakah engkau?” Tiba-tiba Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun menegur. Pembesar ini pun maklum bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan, maka dia mengambil siasat halus. “Dan mengapa pula Toanio membela Pulau Es dan menentang kami dari pemerintah?”

Lulu tersenyum. Wajahnya memang cantik sekali dan senyumnya amat manis sungguh pun usianya sudah hampir empat puluh tahun. Akan tetapi karena keadaannya seperti itu dan mukanya berwarna putih sekali, maka dia seperti mayat tersenyum, menimbulkan rasa ngeri kepada mereka yang memandang dari bawah.

“Aku siapa tidak menjadi soal, yang penting kalian telah mengganggu ketenteraman daerah ini, berlaku curang menyerang tempat yang sedang ditinggal pergi pemiliknya!”

“Wanita sombong! Bukankah engkau datang dari Pulau Neraka?” Maharya membentak marah.

Lulu tidak menjadi heran akan dugaan yang tepat ini. Tentu saja orang telah mengenal senjata rahasianya. “Kalau benar demikian, engkau mau apa, Pendeta asing yang buruk?”
“Tak mungkin!” Bhong Ji Kun yang mendahului pendeta itu menjawab. “Pulau Neraka tak pernah saling bantu dengan Pulau Es, bahkan semenjak pertemuan di pulau muara Huang-ho telah saling bertentangan. Tidak mungkin kalau Toanio dari Pulau Neraka dan mau membantu penghuni Pulau Es!”

“Mengapa tidak? Jika kalian berhasil menduduki Pulau Es, tentu kelak akan menyerbu pula Pulau Neraka!”

Mendengar ini, marahlah koksu itu. “Perempuan pemberontak! Berani kau menentang pemerintah? Semua pulau di sini, termasuk Pulau Es dan Pulau Neraka adalah wilayah kekuasaan kerajaan! Tangkap pemberontak!”

Para panglima dan pasukan yang berada di geladak segera mengepung tiang itu, dan terdengar Lulu tertawa mengejek, tubuhnya yang bergantung di atas tiba-tiba melayang turun seperti seekor burung menyambar. Para anak buah pasukan menggerakkan senjata, akan tetapi tiba-tiba mereka menjerit dan robohlah empat orang, tombak mereka patah-patah!

“Tar-tar-tar!” Cambuk di tangan Bhong Ji Kun sudah menyambar dengan serangan dahsyat, bahkan Maharya juga menyusul dengan serangan-serangan yang luar biasa, yaitu senjata aneh bulan sabit yang bergagang pendek.

“Siuuuuttt… singgg!”

Lulu bergerak cepat, berkelebat menghindar dan kakinya menendang roboh seorang perwira di belakangnya sehingga tubuh perwira itu terlempar. Ketika menendang, lengan kiri Lulu menjepit tombak perwira itu, kini tombak itu ia lontarkan menembus perut tubuh perwira yang masih melayang di udara!

Semua prajurit menjadi gentar menyaksikan kelihaian wanita itu. Akan tetapi Bhong Ji Kun dan Maharya sudah menerjang lagi dengan hebatnya. Seorang perwira cepat memberi isyarat kepada kapal-kapal lain untuk datang membantu, maka bergeraklah dua buah kapal yang berdekatan, mendekati kapal yang sedang terbakar itu. Sebagian para prajurit sibuk memadamkan api yang membakar bilik kapal.

Cuaca sudah mulai gelap dan Lulu mengamuk. Dia maklum akan kehebatan cambuk di tangan Koksu dan senjata bulan sabit milik kakek India, maka ia selalu menghindar dengan gerakan lincah sekali, merobohkan banyak prajurit dengan pukulan dan tendangan. Ketika koksu kembali melancarkan serangan dengan cambuknya, Lulu berhasil menangkap ujung cambuk. Koksu malah melangkah dekat, menghantamkan tangan kirinya dengan pengerahan sinkang yang diterima Lulu dengan ilmu sakti Toat- beng-bian-kun.

“Cessss!” Dua tangan bertemu dan dengan kaget Koksu merasa betapa telapak tangan kirinya bertemu dengan tangan yang lunak sekali sehingga semua tenaganya amblas seperti tenggelam. Lulu telah melepaskan ujung cambuk dan tangan kirinya melayang ke arah pelipis kanan lawan.

Koksu terkejut sekali, dan untung baginya bahwa pada saat itu Maharya telah datang menolong, membacok punggung Lulu dari samping. Sambaran angin senjata ini membuat Lulu terpaksa membatalkan pukulannya dan tubuhnya sudah mencelat lagi ke belakang, kemudian dia terus berloncatan dan sekali melayang dari pinggir kapal, dia telah berada di kapal kedua yang datang mendekat.

“Dar-darrrrr…!” Dua buah senjata rahasia yang dilepasnya mengenai bilik kapal kedua sehingga menimbulkan kebakaran.

Kapal kedua ini dipimpin oleh Thian Tok Lama. Pendeta ini menyambut kedatangan Lulu dengan serangan maut, sekaligus memukul dengan Ilmu Hek-in-hwi-hong-ciang. Tubuhnya merendah dan perutnya mengeluarkan bunyi. Lulu baru saja melontarkan senjata-senjata rahasianya, terkejut sekali dan cepat menangkis. Akan tetapi, karena dia kalah dulu, tangkisannya kurang tepat dan tubuhnya terhuyung, dadanya terasa agak sakit. Marahlah wanita ini dan dia menghadapi Lama itu dengan Ilmu Hong-in-bun- hoat yang amat lihai.

Ilmu ini adalah ciptaan Bu Kek Siansu, amat indah seperti orang menulis di udara, sesuai dengan namanya, Hong-in-bun-hoat (Ilmu Silat Sastra Angin dan Awan). Tetapi setiap coretan merupakan gerak tangkisan mau pun serangan yang mengandung tenaga sinkang mukjizat. Thian Tok Lama segera terdesak dan kalau saja tidak cepat datang Maharya dan Bhong Ji Kun yang melompat ke kapal itu, tentu dia terancam bahaya hebat.

Kini munculnya dua orang itu membuat Lulu yang terdesak dan kembali wanita ini mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mencelat ke sana-sini menyelinap di antara para pasukan dan merobohkan mereka. Adanya pasukan yang mengepungnya ini malah merupakan rintangan bagi tiga orang sakti itu, karena andai kata tidak ada anak buah pasukan, tentu Lulu akan dapat mereka kejar, kepung dan robohkan dengan pengeroyokan mereka bertiga.

Selagi pertandingan kacau-balau untuk mengejar dan mengepung Majikan Pulau Neraka itu terjadi di geladak tiga buah kapal di mana Lulu berpindah-pindah dengan loncatannya dan kini yang mengeroyoknya ditambah lagi dengan Thai Li Lama, di ruangan bawah kapal induk pimpinan Bhong Ji Kun terjadi hal lain yang mendatangkan kegemparan baru.

Para prajurit yang selosin orang banyaknya, dipimpin oleh Kwee Sui, telah menerima perintah untuk tidak meninggalkan ruangan itu, melainkan menjaga Kwi Hong yang dianggap seorang tawanan penting. Kwee Sui dan para penjaga yang selosin orang banyaknya itu tenang-tenang saja sungguh pun di geladak terjadi keributan, apa lagi ketika mendengar bahwa yang mengacau hanyalah seorang wanita. Betapa pun lihainya musuh itu, dia percaya takkan mampu menandingi koksu yang dibantu orang-orang sakti dan pula di atas terdapat banyak sekali pasukan. Maka dia enak-enak saja menjaga dan maki-makian Kwi Hong dilayani sambil tertawa saja.

“Pengkhianat Kwee Sui! Ingatlah kau, begitu ada kesempatan, kepalamu yang lebih dulu akan kuhancurkan!” Kwi Hong memaki-maki.

“Hong-moi, manisku, mengapa engkau masih marah-marah terus? Kalau tidak ada aku, apa kau kira masih dapat hidup sampai sekarang ini? Kurasa semua tokoh Pulau Es sekarang telah menjadi mayat! Ingatlah, kita tidak mungkin melawan pemerintah, itu namanya pemberontakan! Tenanglah, dan mari kita bersama menikmati hidup di kota raja, di mana aku akan menjadi seorang pembesar dan engkau menjadi isteriku, menjadi nyonya besar yang terhormat dan kucinta, Manis.”

“Keparat! Lebih baik mati dari pada menjadi isteri seorang pengkhianat rendah macam engkau!” Kwee Sui tertawa, “Ha-ha-ha! Mau atau tidak, engkau akan menjadi isteriku!”
“Anjing, pengkhianat hina!”

Akan tetapi Kwee Sui tidak mau melayaninya lagi, bahkan dia lalu merebahkan diri dengan senang hati, membayangkan kemuliaan dan kesenangan yang akan didapatnya, membayangkan betapa dia akan memperisteri gadis cantik yang dirindukannya itu, baik dengan jalan halus mau pun dengan kekerasan. Selosin orang prajurit yang berjaga juga mengantuk. Mereka itu lelah sekali setelah bertempur sejak pagi dan kini masih harus menjaga untuk semalam suntuk. Kelelahan membuat mereka mengantuk dan mereka itu duduk melenggut, ada yang bersandar pada tombak yang mereka peluk, ada pula yang meletakkan kepala di atas meja. Sebentar saja di antara mereka telah ada yang mendengkur, bahkan Kwee Sui juga mendengkur dengan enaknya.

Melihat para penjaganya melenggut dan tertidur, Kwi Hong yang tubuhnya masih lemas akibat totokan, mulai berusaha melepaskan ikatan kedua lengannya yang ditelikung ke belakang. Namun selain ikatan itu kuat sekali, juga tenaganya belum pulih sehingga sia-sia saja ia meronta. Tiba-tiba Kwi Hong menghentikan usahanya ketika mendengar suara. Matanya terbelalak memandang papan ruangan itu yang bergerak. Penutup lubang papan itu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan paling bawah bergerak-gerak dan tak lama kemudian terbuka dari bawah. Muncullah sebuah kepala orang. Hampir saja Kwi Hong berteriak kaget. Di bawah sinar lampu yang tergantung di situ, dia mengenal wajah Bun Beng!

“Sssttttt…!” Bun Beng memberi tanda dengan telunjuk di depan mulutnya, menyuruh gadis itu diam.

Ketika terjadi keributan di kapal, Bun Beng terkejut, akan tetapi juga girang sekali. Dia dapat menduga bahwa pembantu anak buah Pulau Es yang melepas senjata rahasia peledak itu muncul lagi dan membikin kacau di atas geladak. Kesempatan yang baik, pikirnya. Dia lalu menggunakan tenaganya, memecah papan di tubuh kapal, di atas permukaan air, dan setelah ia berhasil membongkar papan itu, dia merangkak masuk.

Dia tiba di ruangan paling bawah yang sunyi, tak seorang pun tampak manusia di sini. Ruangan bawah itu penuh dengan bahan-bahan makan dan air minum, kiranya dijadikan tempat persediaan ransum pasukan itu. Melalui anak tangga, dia berjalan naik, kemudian membuka penutup papan dari bawah. Ketika ia melihat Kwi Hong, hatinya girang sekali. Dia tiba di tempat yang tepat, karena memang dia bermaksud untuk menolong gadis itu.

Kwi Hong menggerakkan mukanya, dengan dagunya menunjuk ke arah Kwee Sui yang tidur mendengkur. Bun Beng memandang dan melihat pakaian Kwee Sui seperti bukan seorang prajurit atau panglima. Segera dia dapat menduga, agaknya orang inilah yang mengkhianati Pulau Es.

Dia meloncat dan pada saat itu, karena lupa menutup kembali penutup papan, penutup itu menutup kembali, menimbulkan suara keras. Para penjaga terbangun gelagapan, dan ketika mereka melihat seorang pemuda tak dikenal di situ, mereka cepat meloncat bangun dan siap dengan tombak di tangan.

Kwee Sui juga melompat bangun. Siapa kau…?” bentaknya. “Tangkap dia!”

Dua orang penjaga menubruk dengan tangan, mengira bahwa pemuda itu orang biasa saja. Bun Beng menggerakkan kedua tangannya dan dua orang prajurit itu roboh tanpa dapat berkutik lagi karena telah tewas! Penjaga-penjaga yang lain menjadi marah, dan baru mengerti bahwa pemuda itu seorang yang lihai, maka segera mereka gedebag-gedebug menyerang dengan tombak mereka. Akan tetapi, sekali ini tubuh Bun Beng berkelebatan dan langsung terdengar pekik berturut-turut bersama robohnya empat orang prajurit terdepan.

“Keparat!” Kwee Sui memaki dan…. “Singgg…!” dia telah menghunus Li-mo-kiam!
Para prajurit sendiri terkejut menyaksikan cahaya kilat ini, dan Bun Beng berseru kaget, “Li-mo-kiam!” “Betul, dia merampasnya dari tanganku dengan tipuan rendah!” Kwi Hong berseru.
Mendengar ini, Bun Beng merobohkan lagi dua orang prajurit dan menerjang maju ke arah Kwee Sui. Pemuda ini sudah marah sekali. Biar pun dia tahu bahwa pemuda itu yang muncul secara tak terduga ini lihai, namun dia tidak takut. Dia adalah seorang murid Pulau Es yang berkepandaian tinggi, apa lagi dia memegang sebatang pedang mukjizat. Cepat dia menyambut terjangan Bun Beng dengan bacokan pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat dan suara berdesing nyaring.

Bun Beng cepat mengelak. Walau pun Kwee Sui memiliki ilmu silat tinggi, namun berhadapan dengan Bun Beng dia bukan apa-apa. Bun Beng tidak takut menghadapi ilmu kepandaian Kwee Sui, akan tetapi dia ngeri menyaksikan sinar kilat pedang Li-mo-kiam itu, sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis yang mempunyai wibawa menyeramkan.

Melihat lawannya mengelak cepat seperti orang jeri, Kwee Sui tertawa dan merasa bangga, cepat ia menubruk maju lagi. Bun Beng kembali mengelak dan tiba-tiba dia tersandung mayat seorang prajurit, roboh terjengkang. Kwi Hong mengerti akan siasat ini, pandang matanya yang tajam dapat membedakan roboh buatan dan roboh sungguh-sungguh. Akan tetapi untuk membantu berhasilnya siasat Bun Beng, dia sengaja menjerit. Kwee Sui girang sekali, cepat menubruk.

“Ceppp… auggghhh…!”

Pedang Li-mo-kiam kembali minum darah sepuasnya, kini darah dari dalam dada dan jantung Kwee Sui! Ketika Kwee Sui menubruk dan menusukkan pedangnya, Bun Beng yang pura-pura jatuh tadi cepat miringkan tubuh kemudian kakinya melayang dari samping tepat mengenai lengan kanan Kwee Sui yang memegang pedang sehingga pedang itu terpental membalik dan masuk ke dalam dada Kwee Sui sampai menembus ke punggung!

Bun Beng cepat-cepat meloncat bangun. Sebelum tubuh Kwee Sui roboh dia sudah menyambar gagang pedang dan mencabutnya. Darah mengucur seperti pancuran dari dada dan punggung Kwee Sui. Matanya terbelalak memandang ke arah Kwi Hong, kemudian robohlah pemuda yang khianat ini dengan mata masih terbelalak sungguh pun nyawanya telah melayang.

Bun Beng menggerakkan pedang itu. Sinar kilat yang lebih menyilaukan dari pada ketika Kwee Sui menggerakkannya tampak dan sisa para penjaga yang tinggal empat orang itu roboh dengan tubuh putus menjadi dua potong. Tanpa membuang waktu lagi Bun Beng segera meloncat mendekati Kwi Hong, membabat putus belenggunya, kemudian melihat keadaan gadis yang lemas itu dia lalu menotok dua jalan darah di punggung dan pundak. Seketika Kwi Hong pulih kembali tenaganya dan segera dia… menubruk Bun Beng sambil menangis!

Bun Beng gelagapan, terpaksa memeluk pundak gadis itu dan tanpa disadarinya, jari tangannya mengelus rambut yang halus itu, yang berada di dadanya. Ia merasa betapa air mata gadis itu membasahi baju dan menembus ke dada.

“Tenanglah, Kwi Hong. Mengapa menangis?”

“Pulau kami… ahhh… bagaimana nasib mereka…?” Kwi Hong terisak.

Tiba-tiba dia tersadar betapa lengan pemuda itu memeluknya dan betapa tangan itu membelai dan mengusap rambutnya dengan mesra. Teringat akan hal ini, cepat ia merenggutkan tubuhnya dari atas dada Bun Beng, melompat ke belakang kemudian memandang Bun Beng dengan mata terbelalak penuh kemarahan!

“Kenapa… kenapa kau memelukku…?” “Ehhh…!”
“Kenapa kau membelai rambutku?” “Ohhh…!”
“Gak Bun Beng, kau… hendak kurang ajar padaku, ya?”

Bun Beng hanya melongo, memandang muka gadis itu dengan muka bodoh. “Hayo jawab!”
“Ehhh… ohhh… Kwi Hong, bagaimana ini? Kau… kau menangis dan aku… aku merasa bingung, ikut berduka dan terharu… kenapa kau menuduhku kurang ajar?”

Tiba-tiba Kwi Hong memandang ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan, dan ia sadar kembali. Tadi kedukaan dan kebingungan yang menyusul kegelisahannya, bercampur dengan rasa kaget dan girang melihat kenyataan bahwa Bun Beng yang disangkanya mati ternyata masih hidup, bahkan lebih dari itu, telah menolongnya dan kelihatan begitu lihai. Semua perasaan ini teraduk menjadi satu, membuat dia bingung dan ketika merasa betapa pemuda itu memeluk dan membelai rambutnya, ia menjadi marah- marah tidak karuan. Setelah sadar ia mengeluh. “Ohhhh…,” lalu menangis lagi.

“Sudahlah, Kwi Hong. Ini pedangmu, dan mari kita cepat keluar dari sini sebelum mereka turun. Agaknya di atas geladak terjadi keributan, kurasa orang yang menolong anak buahmu di pulau sekarang telah turun tangan lagi membikin kacau di atas kapal-kapal ini.”

“Yang menolong anak buah Pulau Es? Siapa…?”

“Nanti kuceritakan, mari ikut denganku.” Bun Beng lalu menyambar tangannya setelah menyerahkan pedang Li-mo-kiam, lalu mengajak gadis itu melarikan diri melalui penutup papan ruangan itu ke bawah.

Kali ini Kwi Hong menurut saja, bahkan dia berbisik, “Bun Beng, harap kau maafkan kelakuanku tadi…”

Mereka turun ke ruangan bawah, kemudian keluar melalui lubang di badan kapal dan meloncat ke perahu kecil Bun Beng. Untung bahwa para pasukan yang berada di atas tiga buah kapal itu, dibantu oleh pasukan dari dua kapal lain yang sudah datang, sedang sibuk memadamkan kebakaran dan malam itu gelap sehingga Bun Beng dan Kwi Hong dapat mendayung perahu menuju ke pulau tanpa terlihat mereka. Agaknya mereka itu sibuk memadamkan kebakaran, akan tetapi tidak tampak lagi adanya pertempuran.

Ketika Bun Beng dan Kwi Hong mendarat di pulau, dan meloncat ke darat lalu berlari cepat, dari sebuah perahu hitam kecil tampak Lulu memandang mereka. Wanita ini menghela napas lalu mendayung perahunya meninggalkan perairan itu, kembali ke Pulau Neraka.

Ketika mendengar penuturan Bun Beng tentang tewasnya Ki Lok yang jenazahnya ditinggalkan di pantai oleh Bun Beng, Kwi Hong menangis lagi. Gadis ini menjadi makin berduka ketika bertemu dengan Phoa Ciok Lin yang terluka sedikit pundaknya, mendengar betapa Yap Sun, Thung Sik Lun, dan banyak lagi paman-pamannya telah tewas dalam pertempuran. Anak buah Pulau Es yang tadinya berjumlah seratus orang lebih hanya tinggal lima puluh orang, termasuk anak-anak.

“Biarkan mereka datang lagi! Kita akan melawan mati-matian!” Kwi Hong berkata dengan air mata membasahi kedua pipinya, mengepal tinju dengan sebelah kiri dan pedang Li-mo-kiam berkilauan di tangan kanan.

“Kurasa tidak bijaksana kalau begitu, Kwi Hong. Keadaan mereka kuat sekali, dan mereka dipimpin oleh orang-orang pandai.”

“Apa kau takut? Kami mau mengharapkan bantuanmu, siapa kira engkau malah takut menghadapi mereka!” Kwi Hong sudah marah-marah lagi, lupa bahwa kalau tidak ada pertolongan Bun Beng entah bagaimana jadinya dengan anak buah Pulau Es, dan terutama dengan dia sendiri.

“Hong-ji, jangan begitu!” Phoa Ciok Lin berkata. “Bun Beng telah berbuat banyak sekali untuk kita, dan kurasa kata-katanya memang benar. Kalau kita melawan, biar pun dibantu Bun Beng yang ternyata memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu berarti akan mengorbankan semua sisa anak buah Pulau Es. Kita bertiga agaknya dapat melindungi diri sendiri, akan tetapi bagaimana dengan anak buah kita? Apakah masih kurang banyak jatuhnya korban di pihak kita? Lebih baik kita melarikan diri meninggalkan pulau ini sambil menanti kembalinya Taihiap.”

“Lari…? Dan Istana…?”

“Kita bawa lari semua pusaka istana,” kata pula Ciok Lin.

“Memang itu benar sekali, Kwi Hong.” Bun Beng berkata tenang. “Kalau kita melawan, selain anak buah Pulau Es dapat terbunuh semua oleh mereka tanpa kita dapat banyak melindungi karena kita sendiri tentu berhadapan dengan lawan-lawan tangguh, juga pusaka-pusaka Istana Pulau Es akan terampas oleh mereka. Agaknya itulah yang menyebabkan Koksu membawa pasukan datang menyerbu Pulau Es.”

Menghadapi bantahan dua orang itu, Kwi Hong terpaksa menurut. Dia pun tidak ingin kelak dipersalahkan pamannya kalau sampai terjadi pusaka-pusaka dirampas pasukan pemerintah dan semua anak buah tewas. Maka, di bawah pimpinan Phoa Ciok Lin pergilah semua sisa penghuni Pulau Es, menggunakan semua perahu kecil yang tersembunyi. Mereka lari dengan perahu-perahu itu melalui utara, semua berjumlah sepuluh buah perahu kecil.

Pada keesokan harinya, pelarian-pelarian yang tergesa sehingga tiada kesempatan menguburkan kawan- kawan mereka yang tewas, melihat bahwa lima buah kapal besar itu melakukan pengejaran. Mereka menjadi panik, akan tetapi Ciok Lin dengan tenang memberi aba-aba, menjadi petunjuk jalan paling depan. Perahu-perahu itu memasuki sekumpulan es terapung yang seperti bukit-bukit kecil. Mereka mengambil jalan berbelak-belok, jalan yang hanya diketahui oleh Ciok Lin.

Lima buah kapal itu mengejar, namun terpaksa mereka menghentikan pengejaran mereka karena kapal- kapal yang besar itu terhalang oleh bukit-bukit es dan tidak mungkin memasuki jalan air sempit di antara bukit-bukit es itu. Dengan penasaran Bhong Ji Kun lalu memerintahkan anak buahnya mendarat lagi di Pulau Es. Yang ada di situ hanyalah mayat-mayat kedua pihak yang bergelimpangan. Pondok-pondok kecil dibakar, istana dirampok, dikuras habis benda-benda berharga dari istana itu, kemudian istana itu dibakar habis! Tamatlah istana Pulau Es, dan pulau itu kini tampak menyedihkan sekali, menjadi gundul karena pohon-pohon yang tidak berapa banyak tumbuh di situ ikut pula terbakar habis!

Dengan marah sekali karena semua usahanya gagal bahkan kehilangan banyak pasukan, kerusakan kapal-kapal, dan hanya mendapatkan barang-barang rampasan berupa harta benda yang tidak seberapa, tanpa ada benda-benda pusaka yang diharapkan, Bhong Ji Kun memerintahkan anak buahnya berlayar pulang ke daratan.

Sementara itu, Phoa Ciok Lin membawa anak buahnya ke daratan pulau, akan tetapi sebelah utara dan mereka bersembunyi di pantai yang penuh dengan tebing-tebing curam dan goa-goa yang sunyi. Tempat persembunyian yang paling aman dan tempat itu pun hanya diketahui oleh Pendekar Super Sakti.

Setelah mengantar sisa anak buah Pulau Es ke tempat persembunyianya, Bun Beng lalu berpamit. Kwi Hong mengerutkan alisnya ketika dia dipamiti. Mereka berdiri di tepi laut dan wajah gadis itu masih muram penuh kedukaan memikirkan nasib Pulau Es.

“Engkau hendak pergi ke manakah, Bun Beng?” Tanyanya, suaranya gemetar dan pandang matanya sayu. Bun Beng hanya mengira bahwa sikap gadis ini karena kedukaannya.

“Aku hendak pergi ke kota raja. Aku harus dapat merampas kembali Hok-mo-kiam yahg dahulu dicuri oleh Tan-siucai dan Maharya, juga aku harus membuat perhitungan dengan mereka yang telah membunuh Suhu. Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama, Bhe Ti Kong, bukan hanya karena telah membunuh Suhu, akan tetapi juga karena penyerbuan mereka ke Pulau Es.”

Kwi Hong menghela napas panjang. Ingin sekali dia ikut bersama pemuda ini, akan tetapi dia maklum bahwa hal itu tidak pantas, maka dia lalu melepaskan sarung pedang Li-mo-kiam dari pinggangnya, menyerahkannya kepada Bun Beng sambil berkata, “Kau terimalah kembali pedang ini, Bun Beng. Pedang ini perlu bagimu untuk melaksanakan tugasmu yang amat berbahaya itu. Mereka adalah orang sakti dan…”

“Tidak usah, Kwi Hong. Aku telah memberikan pedang itu padamu, bagaimana dapat kuterima kembali? Ataukah… engkau tidak suka menerima pemberianku?”

“Tidak sama sekali, akan tetapi…”

“Sudahlah. Kau bersama Bibi Phoa menjaga di sini, melindungi sisa anak buah Pulau Es sambil menanti datangnya Suma-taihiap. Kalau bertemu di dalam perjalananku, tentu akan kusampaikan kepadanya akan segala peristiwa yang terjadi di Pulau Es. Selamat tinggal, sampai jumpa pula, Kwi Hong.”

Kwi Hong mengangguk dan ketika pemuda itu berlari cepat meninggalkan tempat itu, Kwi Hong berdiri memandang dan termenung. Tak disadarinya, dua titik air mata turun ke atas kedua pipinya. Mengapa hatinya terasa berat berpisah dengan pemuda itu? Apakah benar seperti pertanyaan pamannya dahulu bahwa dia mencinta Bun Beng? Dia merasa suka, kagum, kasihan kepada pemuda itu dan ingin selalu berdekatan, merasa berat ditinggalkan. Inikah cinta?

“Hong-ji, dia adalah seorang pemuda yang amat baik.”

Kwi Hong cepat membalikkan tubuhnya dan cepat pula menghapus dua titik air mata dari pipinya. Ia melihat Phoa Ciok Lin telah berdiri di situ. Jantungnya berdebar keras dan mukanya menjadi merah sekali.

“Apa… apa maksudmu, Bibi…?”

Wanita itu menarik napas panjang menjawab. “Engkau cinta padanya, Hong-ji, dan aku tidak menyalahkanmu. Dia memang seorang pemuda yang baik, pantas mendapatkan cinta seorang gadis sepertimu, dan kurasa… dia pun mencintamu, Hong-ji”

“Bibi…!”

“Jangan marah, aku bicara karena kenyataan dan aku cukup awas melihat keadaan kalian orang-orang muda. Cinta memang amat berkuasa dan aneh, Hong-ji.” Kembali dia menarik napas panjang dan pandang matanya sayu seperti orang melamun. “Cinta dapat membuat orang menjadi halus perasaannya, menjadi seorang yang mau mengorbankan apa saja, sampai nyawanya. Akan tetapi mampu pula membuat orang menjadi kejam, menjadi mudah putus asa, akan tetapi juga dapat membuat orang menjadi tahan derita…”

Kwi Hong terharu memandang wanita itu. “Ahh, seperti engkau sendiri, Bibi. Bukankah engkau mencinta Pamanku, mencinta dengan seluruh badan dan nyawamu?”

Phoa Ciok Lin menjatuhkan diri duduk di atas batu karang, merenung ke arah lautan. Dia mengangguk dan terdengar suaranya lirih, “Benar, tak perlu kusembunyikan. Akan tetapi apa gunanya mencinta sebelah pihak? Salahku sendiri, orang yang tak tahu diri. Akan tetapi aku tidak kasihan kepada diriku sendiri, Hong- ji, melainkan kasihan kepada Pamanmu. Pamanmu jauh lebih sengsara dan menderita dari pada aku, gara-gara dua orang wanita yang dicintanya… hemmm… cinta dapat mendatangkan neraka dunia bagi orang yang gagal. Semoga engkau kelak tidak gagal bersama Gak Bun Beng, Hong-ji…”

“Bibi…!” Kwi Hong maju menubruk dan merangkul wanita itu dan kedua orang itu saling peluk dan menangis, bukan hanya karena urusan cinta, melainkan menangisi Pulau Es yang hancur berantakan…..

********************

Penyerangan ke Pulau Es dan hancurnya pulau itu oleh pasukan-pasukan pemerintah menggegerkan dunia persilatan. Ternyata koksu, atas nama pemerintah telah unjuk gigi dan terjadilah perubahan hebat di dunia persilatan. Kalau dahulu Pulau Es membuat semua orang kang-ouw gemetar, kini menjadi bahan tertawaan mereka. Kiranya Pulau Es tidaklah sekuat yang mereka duga.

Kemudian Bhong Ji Kun yang merasa penasaran karena kegagalan di Pulau Es, hanya berhasil menghancurkan pulau itu, menimpakan kemarahannya kepada Pulau Neraka. Dia lalu berangkat lagi, membawa lima belas buah kapal dan seribu orang anggota pasukan, berangkat lagi berlayar ke utara mencari Pulau Neraka! Dengan petunjuk jalan para nelayan di lautan utara, akhirnya dia berhasil menemukan Pulau Neraka, akan tetapi apa yang didapatinya? Pulau itu telah kosong! Semua penghuni Pulau Neraka telah lebih dulu menyingkirkan diri dan meninggalkan pulau itu, seolah-olah mengejek Koksu. Bhong Ji Kun marah, membakar pulau itu, kemudian kembali ke kota raja dengan tangan hampa.

Memang Lulu telah lebih dulu mengungsikan anak buahnya ke daratan. Dia maklum bahwa tentara pemerintah pasti akan menyerbu Pulau Neraka, maka lebih dulu dia memerintahkan anak buahnya mengungsi ke daratan. Kini Pulau Es dan Pulau Neraka tidak ada lagi, atau lebih tepat kosong dan sudah terbakar, semua penghuninya telah lari dan semua orang menduga bahwa larinya tentu ke daratan di mana mereka dapat bersembunyi dengan mudah.

Mendengar ini Nirahai menjadi marah dan mendongkol sekali kepada Koksu. Bertahun-tahun dia menggembleng diri, memperkuat perkumpulan Thian-liongpang untuk kelak sewaktu-waktu menyerang ke Pulau Es, untuk menandingi kekuatan Pulau Es dan kelihaian Suma Han. Kini didahului oleh pasukan pemerintah! Juga dia harus mengakui di dalam hatinya bahwa dia merasa sakit hati mendengar Pulau Es dibakar.

Watak wanita yang kecewa dalam cinta benar-benar sangat aneh. Dia sendiri ingin menyerbu Pulau Es, mengalahkan suaminya. Sekarang mendengar tempat suaminya diobrak-abrik orang lain, dia marah-marah dan sakit hati! Apa lagi ketika ia mendengar bahwa pasukan Koksu itu atas perintah kaisar sendiri, mengertilah dia apa yang menjadi sebab penyerbuan itu. Tentu Kaisar, ayahnya sendiri, masih merasa dendam terhadap Suma Han yang melarikannya (baca cerita Pendekar Super Sakti), maka kini hendak menangkap Suma Han, atau agaknya lebih tepat lagi, hendak mencari dia! Diam-diam Nirahai tersenyum di balik kerudungnya. Tentu ayahnya itu, Kaisar dan kaki tangannya, tidak pernah mimpi bahwa Ketua Thian-liong-pang yang penuh rahasia itu adalah Puteri Nirahai yang dicari-cari!

Ketika mereka mendengar akan penyerbuan tentara ke Pulau Neraka, dia makin penasaran lagi. Tadinya Thian-liong-pang dianggap sebagai perkumpulan paling kuat dan yang menjadi tandingannya hanyalah Pulau Es dan Pulau Neraka. Kini kedua pulau itu telah dihancurkan pemerintah, siapa lagi yang akan menjadi tandingan Thian-liong-pang? Sekaranglah saatnya dia memperlihatkan kekuatan dan menjagoi dunia kang-ouw.

Setelah berunding dengan para pembantunya, maka Thian-liong-pang lalu membuat pengumuman dan mengundang seluruh partai dan semua golongan putih dan hitam, untuk memenuhi undangan Thian-liong- pang di mana akan diberi kesempatan kepada semua jago silat dunia untuk membuktikan siapa yang patut menjadi datuk pertama di dunia persilatan dan perkumpulan mana yang patut disebut perkumpulan terkuat. Untuk keperluan ini, Thian-liong-pang memilih tempat di kaki Pegunungan Ciung-lai-san, di daerah Se- cuan, bekas daerah pertahanan pemberontak Bu Sam Kwi. Daerah ini selain sunyi, juga merupakan daerah tandus seperti gurun pasir dan jauh dari kota mau pun dusun.

Beberapa hari sebelum hari yang ditentukan untuk pertemuan itu, pihak Thian-liong-pang telah berkumpul di tempat itu. Mereka membangun sebuah pondok gubuk yang tingginya dua puluh meter. Kemudian lima puluh orang anggota Thian-liong-pang pilihan berkumpul dengan dipimpin oleh Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok, Lui-hong Sin-ciang Chi Kang, Tang Wi Siang dan para wanita pelayan yang lihai, serta beberapa orang tokoh Thian-liong-pang lain seperti Su Kak Liong, saudara kembar yang kehilangan adiknya, karena adiknya, Toat-beng-to Su Kak Houw, telah tewas ketika hendak membunuh Bun Beng dan banyak orang yang menjadi tokoh Thian-liong-pang pula. Ada pun Nirahai sendiri bersama Milana baru datang ke tempat itu sehari sebelumnya. Keduanya meloncat naik dan memasuki gubuk yang tinggi, menutupkan pintunya dan tidak tampak dari luar.

Seperti diketahui, Milana meninggalkan ibunya tanpa pamit untuk mencari Bun Beng. Namun sebelum niat hatinya tercapai, dia mendengar pula berita akan dihancurkannya Pulau Es oleh pasukan pemerintah. Tentu saja dara ini mengkhawatirkan ayahnya dan dia cepat pulang untuk mengabarkan hal itu kepada ibunya.

Semenjak pagi pada hari yang ditentukan itu, datanglah berbondong-bondong pasukan orang-orang kang- ouw dari pelbagai aliran dan partai persilatan. Bahkan partai-partai persilatan besar seperti Siauw-lim-pai yang terdiri dari belasan orang hwesio, dan Kun-lun-pai yang diwakili oleh kaum tosu, Bu-tong-pai yang dipimpin sendiri oleh ketuanya, yaitu Ang-lojin atau Ang Thian Pa bersama puterinya yang menarik perhatian karena cantiknya, Ang Siok Bi. Hadir pula dari Partai Go-bi-pai, Kong-thong-pai dan lain-lain, yaitu dari partai-partai aliran bersih.

Dari kaum perampok dan golongan hitam juga banyak yang hadir, di antaranya dari Hek-liong-pang, Hek- kai-pang perkumpulan pengemis baju hitam, dan Hui-houw-pai perkumpulan harimau terbang, Sin-to-pang perkumpulan ahli golok, Lam-hai-pang, dan masih banyak lagi. Akan tetapi karena sebagian besar di antara mereka itu sudah mengenal nama Thian-liong-pang, mereka menjadi jeri dan hanya datang untuk melihat-lihat. Semenjak Pemerintah Mancu berdiri dan semenjak pertemuan di pulau muara Huang-ho, tidak ada perkumpulan kang-ouw yang berani lagi mengadakan pertemuan macam ini, apa lagi pertemuan besar ini. Ada pun pihak golongan bersih, hanya datang karena merasa sungkan kepada Thian-liong-pang, dan juga ingin menyaksikan sendiri seperti apa macamnya Ketua Thian-liong-pang yang disohorkan memiliki kepandaian seperti iblis, yang melampaui kehebatan para datuk golongan hitam mau pun putih!

Karena tanah di tempat pertemuan itu tandus, setiap ada rombongan baru datang berkuda, tentu dari jauh tampak debu mengebul tinggi. Ada pula yang memikul ketua-ketua mereka dengan tandu, dan ada pula yang datang berkuda. Sebagian besar di antara mereka itu kini memelihara rambut yang dikuncir, sesuai dengan peraturan pemerintah baru. Akan tetapi ada pula yang tidak mau mentaati peraturan ini dan masih menyanggul rambutnya atau membiarkan saja panjang terurai seperti tampak pada para anggota Thian- liong-pang dan para anggota perkumpulan kaum sesat. Tentu saja peraturan ini tidak berlaku bagi para tosu yang semenjak dahulu mempunyai mode tersendiri dalam menyanggul rambut mereka, dan para hwesio yang semenjak dahulu memang tidak berambut kepalanya!

Kedatangan rombongan tamu dari segenap penjuru itu disambut oleh para anak buah Thian-liong-pang yang berkumpul mengelilingi gubuk tinggi, berbaris rapi menghadap keluar. Setiap tokoh yang melihat tamu datang dari depan, cepat menyambut dengan hormat sambil menjura. Di antara para orang kang-ouw itu, baik pihak tuan rumah mau pun para tamu, tidak menduga sama sekali bahwa pertemuan orang dunia persilatan ini tidak luput dari pengawasan pemerintah. Bahkan banyak mata-mata pemerintah yang lihai menyeludup masuk, menyamar sebagai rombongan orang kang-ouw.

Lebih hebat lagi, Koksu Bhong Ji Kun sendiri bersama pembantu-pembantunya telah siap menyerbu dengan pasukannya yang seribu orang banyaknya, begitu terdapat tanda dari para penyelidiknya. Bhong Ji Kun bukan seorang bodoh, dan tentu saja dia tidak akan memusuhi orang-orang kang-ouw, apa lagi partai- partai besar yang oleh pemerintah bahkan diharapkan kerja sama mereka. Pemerintah yang telah berhasil memelihara keamanan setelah menundukkan semua kerusuhan, tidak akan memancing kekecewaan dan pemberontakan baru dengan jalan menindas orang-orang kang-ouw. Tidak, Bhong Ji Kun tidak akan mengganggu Thian-liong-pang yang merupakan perkumpulan besar yang berpengaruh, atau mengganggu tamu-tamunya. Akan tetapi, yang diincarnya adalah orang-orang Pulau Es dan Pulau Neraka.

Kalau sampai mereka yang berhasil melarikan diri dari kedua pulau itu berani muncul di situ, barulah dia akan mengerahkan pasukan dan pembantu-pembantunya untuk menyerbu dan menangkapi mereka dengan dalih memberontak. Dengan menangkapi para penghuni Pulau Es dan Pulau Neraka, dia mengharapkan akan dapat memaksa mereka menyerahkan pusaka-pusaka dari kedua pulau itu, terutama dari Pulau Es. Untuk maksud inilah Bhong Ji Kun menyiapkan pasukan dan pembantu-pembantunya.

Akan tetapi, belum juga rencana ini memperoleh hasil, rombongan Koksu ini telah mengalami hal yang menggemparkan, yang membuat Bhong Ji Kun marah bukan main karena dia telah kehilangan dua orang pembantunya yang setia dan dapat diandalkan, yaitu Tan Ki atau Tan-siucai, dan Thai Li Lama.

Hal itu terjadi ketika dia dan pembantu-pembantunya bersembunyi di dalam hutan-hutan di lereng Pegunungan Ciung-lai-san, mengurung dan mengawasi daerah tandus di kaki gunung yang dijadikan tempat pertemuan oleh Thian-liong-pang itu. Karena daerah pengawasan itu amat luas, mereka berpencar, demikian pula para pasukan yang hanya beristirahat di hutan-hutan sambil bersiap-siap menanti perintah kalau saat penyerbuan tiba.

Sehari sebelum pertemuan tiba, pasukan pemerintah telah bersembunyi di hutan lereng Pegunungan Ciung-lai-san itu, di antara mereka tampak Tan-siucai. Tan-siucai yang masih penasaran karena belum berhasil membalas dendam kepada Suma Han yang dianggap telah menyebabkan kematian tunangannya, yaitu Lu Soan Li, sekali ini mengharapkan benar agar Suma Han muncul di tempat pertemuan. Dia maklum bahwa dia sendiri tidak akan mampu mengalahkan musuh besar yang dianggap telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya itu, namun dia percaya penuh kepada gurunya yang kini telah bergabung dengan orang-orang sakti seperti kedua Lama dan Koksu. Dengan hadirnya tokoh-tokoh sakti ini dibantu oleh seribu orang pasukan, mustahil kalau musuh besarnya itu akhirnya tidak akan tewas! Dia ingin sekali memberi pukulan maut terakhir kepada Suma Han, dengan tusukan kedua pedangnya, pedang hitam dan Hok-mo-kiam yang dibanggakannya.

Karena menunggu adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan, dan waktu dirasakan merayap amat lambat, Tan-siucai pergi berjalan-jalan seorang diri di dalam hutan yang dianggapnya tempat yang paling aman. Seribu orang pasukan menjaga di situ, dan dia sendiri memiliki kepandaian tinggi, tentu saja dia tidak takut akan munculnya ular atau harimau. Dengan wajah berseri penuh harapan, apa lagi mengingat akan kedudukannya sebagai pembantu koksu yang membuat hidupnya terjamin dan penuh kemewahan dan kemuliaan, membuat dia dengan mudah memperoleh pakaian mewah dan indah, makanan serba lezat, tidak kekurangan uang, dan boleh dikata memungkinkannya untuk berganti teman wanita setiap malam.

Tan-siucai melangkah perlahan mengagumi pohon-pohon dan kembang-kembang yang sedang mekar di dalam hutan itu. Ia berjalan perlahan, hati-hati agar pakaiannya yang indah dari sutera halus itu tidak sampai kotor oleh debu tanah atau tersangkut tetumbuhan berduri. Senja hampir tiba, sinar matahari tidak begitu panas lagi dan angin senja mulai bertiup seolah-olah menyampaikan selamat jalan kepada matahari yang mulai condong ke barat, sebentar lagi akan meninggalkan permukaan bumi sebelah sini.

Karena dipenuhi harapan menggembirakan, Tan-siucai tersenyum-senyum, kemudian bersenandung. Akan terjadi penyerbuan, dan dia girang mendapat kesempatan lagi mengerjakan pedang hitamnya, memenggal leher orang, menusuk jantung lawan dari dada sampai menembus punggung, melihat darah segar menyemprot keluar! Ha, dia akan berpesta pora dengan pedangnya, di samping menyaksikan terlaksananya dendam terhadap Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti, Suma Han Majikan Pulau Es. Ha-ha, dia tertawa sendiri kalau teringat akan Pulau Es. Biar pun dia belum berhasil membunuh musuh besar ini, namun menyaksikan tempatnya dihancurkan dan dibakar, anak buahnya banyak yang tewas dan selebihnya terpaksa melarikan diri menjadi buronan, dia sudah merasa girang dan puas sekali.

“Tan-siucai, engkau kelihatan gembira sekali!” tiba-tiba terdengar suara orang menegur dari belakangnya.

Tan-siucai menghentikan senandungnya dan mengira bahwa yang menegurnya tentu seorang di antara panglima pasukan. Sambil membalikkan tubuh dia tertawa dan berkata, “Hidup hanya satu kali di dunia, mengapa tidak gembira?” Akan tetapi ketika melihat bahwa yang berhadapan dengannya adalah seorang pemuda tampan yang tersenyum-senyum, pemuda yang tubuhnya sedang, pakaiannya sederhana, kuncirnya tebal hanya sebuah bergantung ke depan melalui pundak, seorang pemuda yang sama sekali bukan panglima, bukan pula prajurit, ia menjadi sangat terkejut.

“Engkau… siapa…?” Tan-siucai agak tergagap karena heran, tetapi segera menyangka bahwa tentu orang ini penduduk di lereng Pegunungan itu.

Pemuda itu memperlebar senyumnya. “Aku setan penjaga gunung yang telah lama menanti kesempatan ini untuk mencabut nyawamu!”

Tan-siucai kaget dan marah mendengar ini, namun dia menjadi kaget lagi ketika tiba-tiba tangan kiri pemuda sederhana itu dengan jari-jari terbuka meluncur ke arah mukanya, menyerang kedua matanya. Gerakan pemuda itu cepat bukan main, dan dari sambaran tangannya terasa hawa pukulan yang kuat! Tan-siucai tentu saja tidak membiarkan kedua matanya dicongkel orang begitu saja. Dia cepat menarik tubuh atas ke belakang.

“Plakk! Rrrttttt!”

“Heiiiii…! Kembalikan pedangku!” Tan-siucai berseru marah dan kaget sekali ketika merasa betapa pedang Hok-mo-kiam yang selalu terselip di pinggangnya kini telah dirampas pemuda itu. Dia sendiri tidak tahu bagaimana sampai dapat diambil dari pinggangnya. Hanya terasa olehnya ketika ia menarik tubuh atas ke belakang untuk menghindarkan tusukan pada matanya, pedang itu diserobot dengan kecepatan kilat dan tahu-tahu pedang itu lenyap dari pinggangnya.

Dengan mata terbelalak marah Tan-siucai melihat pemuda itu tersenyum-senyum sambil mengikatkan sarung pedang ke punggungnya. Sikapnya demikian tenang sambil tersenyum-senyum, seolah-olah pemuda itu sedang memasang pedangnya sendiri, bukan bolehnya merampas punya orang lain.

“Kembalikan pedangku, keparat!” Tan-siucai membentak.

Pemuda itu bukan lain adalah Gak Bun Beng. Seperti diceritakan di bagian depan, setelah berpisah dari Kwi Hong di pantai lautan utara, Bun Beng pergi ke kota raja untuk mencari musuh-musuhnya. Setibanya di kota raja, kebetulan sekali ia melihat pasukan besar dipimpin oleh musuh-musuhnya! Dia melihat Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama, Maharya, Tan-siucai, Bhe Ti Kong dan para panglima pengawal meninggalkan kota raja dengan berkuda dan melakukan perjalanan cepat sekali. Melihat ini, Bun Beng tak berani turun tangan. Tak mungkin dia turun tangan selagi orang-orang sakti itu berkumpul dan masih dilindungi oleh pasukan yang besarnya kurang lebih seribu orang! Maka Bun Beng lalu membayangi pasukan itu yang ternyata melakukan perjalanan jauh sekali sampai berpekan-pekan.

Dan akhirnya pasukan itu bersembunyi di dalam hutan, di lereng Pegunungan Ciung-lai-san. Juga Bun Beng yang terus membayangi, mendengar akan pertemuan tokoh-tokoh dunia persilatan yang diadakan oleh Thian-liong-pang di kaki pegunungan itu. Diam-diam dia merasa heran. Apa lagi yang akan dilakukan oleh Puteri Nirahai, ibu Milana dan isteri Pendekar Super Sakti yang telah menjadi Ketua Thian-liong-pang itu? Apakah yang akan dilakukan wanita sakti yang cantik jelita, yang menjadi aneh dan mengerikan sekali wataknya akibat terputusnya cinta dan mengalami kekecewaan itu?

Akan tetapi karena tujuan Bun Beng adalah mencari kesempatan untuk pertama-tama merampas kembali Hok-mo-kiam, baru kemudian mencari kesempatan untuk membuat perhitungan kepada musuh-musuhnya, maka dia tidak mempedulikan lagi urusan Thian-liong-pang.

Akhirnya, setelah membayangi pasukan itu selama beberapa pekan, pada menjelang senja hari itu dia berkesempatan menemui Tan-siucai seorang diri dan berhasil merampas Hok-mo-kiam secara mudah setelah dia melakukan serangan pancingan dengan tangan kiri tadi, membuat Tan Ki menarik tubuh atas ke belakang dan pinggang depannya tidak terlindung.

“Heiii! Tulikah engkau? Kembalikan pedangku!” sekali lagi Tan Ki membentak.

Bun Beng tersenyum tenang. “Pedangmu yang manakah? Hok-mo-kiam ini bukanlah pedangmu. Lupakah engkau bahwa engkau mencuri pedang ini dengan menipu Pendekar Super Sakti keluar meninggalkan pondok. Kemudian engkau bersama Gurumu Maharya itu bahkan membunuh Kakek Nayakavhira yang membuat pedang ini? Dan engkau sekarang masih berkulit muka tebal mengaku bahwa Hok-mo-kiam adalah pedangmu?”

“Setan! Siapa engkau…?” Tan Ki menjadi terkejut dan marah sekali mendengar ucapan itu, sekaligus dia mencabut pedang hitamnya.

“Tidak penting kau ketahui aku siapa, Tan-siucai. Hanya perlu kau ketahui bahwa pedang ini akan kuserahkan kembali kepada yang berhak, yaitu Suma-taihiap.”

“Engkau ingin mampus!” Tan Ki membentak dengan pengerahan khikang sehingga suaranya menjadi nyaring dan terdengar sampai jauh. Memang, orang yang licik ini sengaja mengeluarkan suara keras agar terdengar oleh yang lain dan membantunya menghadapi perampas pedangnya. Setelah membentak, pedangnya berkelebat, sinar hitam menyambar ke arah tubuh Bun Beng.

Tan-siucai bukanlah seorang lemah. Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi sebagai murid Kakek Maharya, dan selain ilmu pedangnya aneh dan cepat, dia pun memiliki sinkang yang sudah kuat sekali. Namun, bagi Bun Beng dia merupakan lawan yang ringan. Bun Beng yang melihat pedang hitam menyambar ke arah lehernya, hanya miringkan kepala sedikit, dan berbareng tangan kanannya menampar.

“Plakkk!”

Bun Beng menampar perlahan saja dan mengenai pipi kiri Tan-siucai, akan tetapi biar pun perlahan, sudah cukup membuat Tan-siucai terbanting dan bergulingan. Ketika ia meloncat bangun lagi dengan kepala nanar, pipinya telah menjadi bengkak membiru dan semua giginya di pinggir kiri copot! Sambil meludahkan gigi dan darah, Tan Ki memandang dengan marah sekali, namun hatinya menjadi jeri karena dalam gebrakan pertama itu saja sudah terbukti betapa lihainya pemuda ini. Teringatlah ia akan cerita tentang pemuda yang membela penghuni Pulau Es, yang mengamuk dengan hebat, bahkan dapat melayani gurunya. Mukanya menjadi pucat teringat akan ini dan dia sudah menoleh ke kanan kiri dan menengok ke belakang, mengharapkan datangnya bala bantuan. Tak salah lagi tentu inilah pemuda yang sakti itu!

“Tan Ki, tamparanku tadi hanya untuk hukumanmu mencuri Pedang Hok-mo-kiam. Semestinya mengingat akan pembunuhan terhadap Kakek Nayakavhira, kemudian penculikan terhadap Nona Giam Kwi Hong, ditambah lagi engkau ikut menyerbu dan membunuh anak buah Pulau Es, engkau sudah pantas dibunuh seratus kali! Akan tetapi, yang berhak memutuskan hukuman adalah Pendekar Super Sakti, dan aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, maka biarlah sekali ini aku tidak membunuhmu dan hanya merampas kembali Hok-mo-kiam. Nah, pergilah!”

Tetapi, tentu saja Tan Ki tidak mau pergi meninggalkan orang yang telah merampas Hok-mo-kiam, juga dia tidak berani menyerang lagi. Dia masih menanti datangnya bantuan dan pada saat itu dia melihat berkelebatnya bayangan Thai Li Lama. Hatinya menjadi besar, keberaniannya bangkit dan dia membentak nyaring.

“Engkau pembela Pulau Es! Engkau pula yang melarikan murid Pendekar Siluman!”

Sambil membentak demikian dia menyerang lagi dengan ganas, mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan jurus maut. Pedangnya berubah menjadi sinar hitam yang meluncur cepat dan kuat, menusuk ke arah tenggorokan Bun Beng terus digoreskan ke bawah untuk menyusul serangan itu kalau- kalau gagal.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo