September 10, 2017

Sepasang Pedang Iblis Part 11

 

Ketika ia memandang penuh perhatian, ia merasa heran karena tempat di mana ia pertama kali didaratkan oleh pusaran air tidaklah seperti sekarang ini. Dahulu tidak ada air terjun yang demikian besar, dan ia dahulu didaratkan oleh gelombang air sungai yang mengalir di dalam gunung batu. Sekarang, tidak tampak air mengalir di depannya yang ada hanya air terjun itulah. Melihat letak dia mendarat, dia dapat menduga bahwa tentu dia tadi terbawa oleh air itu dan terjatuh ke bawah bersama air terjun itu. Ia bergidik. Benar- benar aneh. Kalau dia terjatuh bersama air itu, dengan kepala lebih dulu, tentu kepalanya akan pecah!

Tidak salah lagi. Bukan ini tempat dia dahulu pertama kali dihanyutkan pusaran air itu. Ini adalah tempat lain lagi. Ia mencoba untuk menggerakkan kedua kakinya. Sudah dapat digerakkan, akan tetapi masih terlalu lemah untuk dipakai berdiri. Ia merangkak dengan hati-hati memasuki goa itu yang ternyata amat dalam dan setelah merangkak sejauh dua mil lebih, tibalah ia di tempat terbuka, penuh batu-batu liar dan matahari menyinari tempat terbuka yang luas itu. Sunyi sekali keadaan di situ, yang ada hanya batu-batu besar tanpa ada tetumbuhan atau pohon sebatang pun. Batu-batu yang agak basah dan licin. Tiba-tiba Bun Beng berhenti bergerak ketika ia melihat sebuah meja di tengah tempat terbuka itu!

Meja kecil dari kayu, sebuah tempat lilin dekat meja dan di atas meja terdapat sebuah kitab! Tentu ada manusianya, karena lilin itu menyala, menyorotkan sinarnya ke atas meja yang tertutup bayangan batu dinding tinggi! Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dari sebelah kiri, Bun Beng menahan napas ketika melihat bahwa orang itu adalah seorang wanita yang berkerudung mukanya. Ketua Thian-liong-pang! Celaka, pikirnya. Kiranya tempat ini adalah tempat rahasia, agaknya menjadi tempat persembunyian Ketua Thian-liong-pang!

Wanita itu agaknya yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain, maka dengan tenang ia membuka kerudung mukanya. Jantung Bun Beng berdebar tegang. Ia segera mengenal wanita cantik ibu Milana yang pernah dilihatnya ketika wanita ini bertemu dengan Pendekar Super Sakti, memperebutkan anak mereka, Milana! Hatinya diliputi keheranan besar. Wanita itu amat cantik jelita, seperti Milana dan kelihatan masih muda. Mukanya berkulit putih halus, agaknya karena jarang terkena sinar matahari, dan sepasang matanya tajam luar biasa.

“Singgg…!” Wanita itu mencabut sebatang pedang, kemudian menghampiri meja dan membalik-balik lembaran kitab yang berada di atas meja.

Agaknya dia mencari-cari dan setelah bertemu dengan halaman yang dicarinya, kitab itu dibiarkan terbuka, dibaca sebentar dengan alis berkerut, kemudian membuat gerakan dengan pedang perlahan-lahan seperti seorang mempelajari sebuah jurus ilmu pedang. Jurus yang aneh sekali dan biar pun digerakkan perlahan, pedang itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing, naik turun suaranya ketika gerakan-gerakannya berubah sehingga seperti suling ditiup melagu! Kemudian wanita itu melangkah ke belakang tiga tindak dan mainkan jurus dengan cepat. Bukan main!

Pandang mata Bun Beng menjadi silau karena pedang itu lenyap menjadi segulung sinar putih seperti kilat yang mengeluarkan bunyi berdesing-desing aneh. Akan tetapi, yang membuat dia terheran-heran adalah persamaan jurus itu dengan jurus dari ilmu silat dalam kitab yang ditemukannya dahulu, dalam Sam-po-cin- keng!

Tiba-tiba dia melihat hal yang aneh terjadi pada diri wanita itu. Setelah bersilat pedang beberapa lamanya, mengulang-ulang jurus aneh itu, tiba-tiba wanita itu terhuyung ke depan dan terdengar suaranya penuh penyesalan. “Keparat! Selalu terserang pusing dan sesak bernapas setiap mainkan jurus ini! Apanya yang kurang?” Saking marah dan penasaran, tiba-tiba wanita itu sambil menahan keseimbangan tubuhnya, melontarkan pedang itu ke belakang tanpa menengok, melalui kepalanya.

“Wuuuttt… singggg…!” Pedang terbang melayang ke arah Bun Beng!

“Ceppp!” Pedang itu menancap pada batu yang berada di depan Bun Beng, menancap sampai tembus, dan ujungnya hampir mengenai pelipis kiri Bun Beng, hanya kurang beberapa sentimeter lagi!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati pemuda itu yang cepat melemparkan tubuh ke belakang, terlentang dan tak berani bernapas, matanya terbelalak dan mukanya pucat. Ia hanya terlentang tanpa berani berkutik, memandang ke arah ujung pedang itu. Terdengar olehnya langkah kaki agak diseret. Tentu wanita itu masih belum pulih keadaannya yang secara aneh seperti orang terserang dari dalam tubuh sendiri dan membuatnya tadi terhuyung.

“Sratttttt!” Ujung pedang yang tampak oleh Bun Beng itu lenyap, tanda bahwa pedangnya telah dicabut orang dari batu itu, kemudian terdengar suara wanita itu penuh penasaran dan kecewa.

“Kitab yang mengandung ilmu iblis! Cara berlatih sinkang telah kupelajari, gerakan pedangku pun menurut petunjuk dan sudah benar, mengapa kepalaku menjadi pening dan napas sesak seperti terpukul ketika mainkan jurus ketiga belas itu? Mengapa tidak ada petunjuk cara mengatur napas? Gila benar! Setahun lebih mempelajarinya, macet pada jurus ketiga belas!”

Dengan jantung masih berdebar tegang, Bun Beng bangkit lagi, mengintai dari celah-celah batu karang. Untung bahwa suara air terjun yang jauhnya dua mil lebih itu agaknya menerobos terowongan goa dan menimbulkan suara gemuruh sehingga gerakannya tidak dapat terdengar oleh wanita lihai itu. Kini ia melihat wanita itu menyimpan kembali pedangnya, memakai kerudung penutup kepala, kemudian dengan langkah perlahan dan lesu wanita itu meniup padam lilin, dan berjalan menuju ke sebuah pintu besi yang tertutup oleh beberapa buah batu besar. Wanita itu mendorong sebuah batu di ujung kanan dan terbukalah daun pintu itu. Wanita itu masuk dan daun pintu tertutup kembali.

Namun, sampai sejam lebih, Bun Beng belum berani keluar dari tempat sembunyinya, khawatir kalau-kalau wanita itu tiba-tiba muncul kembali. Tak dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi kalau dia bertemu dengan wanita itu. Mungkin dia dibunuhnya mungkin disiksanya, siapa yang dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh wanita cantik jelita yang berwatak seperti setan itu…..?

Setelah hampir dua jam menanti dan merasa yakin bahwa wanita itu tidak akan muncul, Bun Beng merangkak keluar dari belakang batu menghampiri meja. Lututnya sudah tak terasa nyeri, hanya masih lemah, maka dengan berpegang pada meja, ia dapat mengangkat tubuh berdiri. Dengan tangan kiri menahan, menekan ujung meja, tangan kanannya memeriksa kitab yang terletak di atas meja itu. Kitab yang tidak berjudul, akan tetapi di dalamnya terkandung pelajaran semedhi menghimpun sinkang yang aneh, dan di bagian belakangnya terdapat pelajaran ilmu silat pedang yang gerakan-gerakannya mirip dengan gerakan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng.

Bun Beng tertarik sekali. Tanpa disengaja ia tiba di tempat itu, dan tidak ada jalan keluar baginya, berarti bahwa agaknya dia harus tinggal di situ sampai kematian merenggutnya. Dari pada termenung memikirkan nasib, sebagai seorang penggemar ilmu silat tentu saja kitab itu merupakan hiburan besar baginya, untuk mengisi kekosongan. Mulailah ia membaca bagian pertama, bagian berlatih sinkang.

Dia sudah banyak melatih sinkang dengan cara semedhi yang berlainan, yang ia pelajari dari mendiang gurunya, Siauw Lam Hwesio, dan dari Siauw-lim-pai, di mana dia menerima tuntunan dari Ketua Siauw-lim- pai sendiri, yaitu Ceng Jin Hosiang. Kemudian ia pun mempelajari cara semedhi dan melatih sinkang dari pelajaran yang dulu ia baca dari Kitab Sam-po-cin-keng. Kini, pelajaran dari kitab kuno itu mempunyai cara tersendiri, sungguh pun mirip dengan cara yang diajarkan di Sam-po-cin-keng, namun terdapat perbedaan cara perkembangannya.

Setelah membaca dan menghafal bagian terdepan, yaitu cara bersemedhi, ia berhenti dan membuka kitab itu pada halaman seperti tadi sebelum dibacanya, yaitu halaman dua puluh, karena perutnya terasa lapar sekali. Dia mulai merasa bingung. Apa yang akan dimakannya untuk mengisi perutnya? Tidak ada sebatang pun pohon di situ, dan agaknya tidak ada seekor pun binatang. Dia mulai merangkak di antara batu-batu, dan mencari-cari. Akhirnya, di bagian yang tertutup bayangan, yang agak gelap dan hanya kadang-kadang saja terkena sinar matahari, dia menemukan banyak jamur yang bentuknya seperti payung, warnanya agak kemerahan dan baunya amis seperti darah.

Bun Beng memetik sebuah kepala jamur dan membawanya ke tempat terang. Jamur itu warnanya merah dan bersih, kelihatan enak sekali, akan tetapi begitu ia dekatkan ke mulut, bau amis membuat ia muak dan dia tidak jadi memakannya. Kemudian ia teringat akan ucapan mendiang suhu-nya mengenai manusia, di antaranya tentang cara manusia makan. Terngiang di telinganya suara gurunya itu,

“Bun Beng, manusia pada umumnya menderita dalam hidupnya, terjadi pertentangan dalam batinnya sendiri karena seluruh gerak-geriknya dikuasai dan dikendalikan oleh nafsunya. Penggunaan panca indrianya sudah tidak pada tempatnya lagi. Lihat saja kalau manusia makan. Apakah sebetulnya maksud dari makan? Apakah manfaat dan kegunaannya?”

“Agar perut yang lapar menjadi kenyang, agar dia tidak mati kelaparan Suhu,” jawabnya dahulu, ketika ia baru berusia belasan tahun.

“Benar, dan agaknya semua manusia mengerti akan hal itu. Akan tetapi pengertian itu hanya menjadi hafalan kosong belaka, karena tidak demikianlah prakteknya dalam hidup. Manusia makan bukan untuk perut lagi, melainkan untuk mulut! Karena itu, bukan sang perut yang diingat di waktu makan, melainkan sang mulut! Bukan manfaatnya bagi sang perut lagi yang dipentingkan melainkan kelezatan bagi sang mulut sehingga hilanglah arti sesungguhnya dari pada makan. Maka timbullah bermacam pertentangan batin, timbullah keinginan untuk mendapatkan yang enak-enak bagi sang mulut. Manusia tidak peduli lagi akan arti makan bagi perut, melainkan mencurahkan perhatiannya untuk mendapatkan makan yang enak bagi mulut, tidak menghiraukan lagi apakah makanan itu baik bagi perut atau tidak.”

Sekarang dia baru mengerti akan tepatnya ucapan suhu-nya itu, dan ia mengingat akan wejangan selanjutnya.

“Seperti juga dengan mulut, manusia menyalah gunakan mata, telinga, hidung dan semua panca indrianya. Lupa lagi akan tugas sesungguhnya dari pada semua anggota yang menjadi alat hidup itu sehingga semuanya dikuasai oleh nafsu ingin nikmat, ingin senang tanpa menjenguk faedahnya. Maka selalu mencari pemandangan yang indah-indah dan merangsang, yang enak bagi nafsu. Telinga selalu mencari pendengaran yang indah bagi nafsu, hidung pun ingin selalu mencium yang sedap-sedap bagi nafsu, tanpa mengingat lagi akan kemanfaatannya. Dengan demikian, hidup ini menjadi kosong dan tidak berarti, hanya menjadi gerak pemuasan sang nafsu, menjadi budak pengabdi keinginan nafsu belaka!”

Teringat akan ini, di tempat sunyi itu, dalam menghadapi maut, pikiran Bun Beng menjadi jernih dan dapat menangkap arti dari pada ucapan suhu-nya itu, baru terbuka mata batinnya. Ia memandang lagi jamur di tangannya, kemudian dengan menekan nafsu yang menguasai hidupnya, lenyaplah bau amis dan lenyap pula kemuakannya, dan dimakanlah jamur itu. Dia tidak mempedulikan lagi rasanya karena tidak mau lagi dikuasai nafsu, yang diperhatikan hanyalah perutnya yang butuh isi.

Setelah menghabiskan tiga buah jamur, perutnya menjadi kenyang. Akan tetapi tiba-tiba perutnya terasa sakit seperti diremas-remas. Dia pergi sampai ke sudut dan membuang air besar di antara batu-batu basah, demikian hebat perutnya terkuras sampai dia jatuh pingsan, diam-diam dia mengeluh bahwa jamur yang dimakannya itu tentulah mengandung racun yang akan membunuhnya. Akan tetapi dia tidak merasa menyesal, juga tidak takut karena memang dia tahu bahwa dia sedang menghadapi kematian. Mati sekarang atau beberapa bulan lagi, apa bedanya?

Bun Beng siuman kembali. Sebelum membuka mata, dia mendengar suara mengiang-ngiang diseling suara berdetak seperti tambur dipukul, ataukah kepalanya yang dipukuli dengan irama teratur? Dia membuka matanya. Tidak ada siapa-siapa di situ, dan kepalanya tidak dipukuli orang. Akan tetapi suara itu masih terus berbunyi, mengiang-ngiang dan berdetak-detak. Ketika ia memperhatikan, kiranya yang terdengar mengiang-ngiang adalah desir darahnya sendiri dan suara berdetak adalah denyut jantungnya! Wah, racun jamur bekerja dan aku akan mati, pikirnya.

Akan tetapi, biar pun dia menanti datangnya maut sampai berjam-jam, maut tidak datang menjemput, bahkan suara itu makin lama makin melemah akhirnya lenyap. Jalan darahnya normal kembali. Ia bangkit duduk dan aneh, lututnya tidak selemas tadi! Perutnya tidak nyeri lagi, dan masih terasa kenyang.

Wajah pemuda itu berseri gembira. Ia teringat akan kata-kata suhu-nya lagi, dan dia tidak peduli. Karena yang ada hanya jamur, jamur pulalah yang akan dimakannya kalau perutnya membutuhkan. Dia tidak perlu khawatir akan kebutuhan air. Di banyak tempat terdapat air bertitik, bahkan ada yang mengucur kecil dari celah-celah batu. Dan jamur merah banyak sekali terdapat di situ, tidak akan habis dimakan bertahun- tahun karena tentu akan tumbuh lagi. Yang jelas, jamur itu mengenyangkan perutnya.

Makin giranglah hatinya setelah mendapat kenyataan bahwa kini perutnya tidak mulas lagi, hanya ia selalu mesti buang air setelah makan jamur, dan kedua lututnya cepat sekali sembuh, tenaganya pulih.

Pada hari ketiga, Bun Beng mulai melatih diri dengan semedhi seperti yang diajarkan di dalam kitab kuno di atas meja itu. Untuk menjaga agar dia dapat bersembunyi dan mengetahui kalau wanita itu muncul, dia menumpuk beberapa batu sebesar kepalan tangan di depan pintu rahasia. Kalau wanita itu muncul, tumpukan batu itu tentu akan runtuh dan mengeluarkan bunyi yang dapat membuat dia cepat bersembunyi.

Kekuasaan Tuhan memang tak dapat terlawan oleh kekuasaan apa pun juga. Kalau Tuhan belum menghendaki seseorang mati, ada saja jalan yang ditempuh orang itu tanpa disadarinya. Demikianlah pula dengan keadaan Bun Beng. Pemuda ini sudah jelas keracunan darahnya, dan Pendekar Sakti Suma Han sendiri sudah memeriksa dan menyatakan bahwa kalau tidak mendapatkan obat, pemuda itu hanya akan dapat hidup paling lama setengah tahun saja!

Akan tetapi, karena terpaksa, tidak ada makanan lain kecuali jamur merah, dan karena sadar akan wejangan mendiang suhu-nya, Bun Beng nekat makan jamur, sama sekali tidak tahu bahwa jamur itu mengandung racun yang amat kuat. Racun terhisap oleh darahnya dan bertemu dengan racun di dalam darahnya akibat perbuatan Pendeta Maharya. Betapa ajaibnya, kedua racun itu adalah racun yang sifatnya bertentangan sehingga saling membunuh! Andai kata Bun Beng tidak keracunan darahnya, tentu dia akan mati oleh racun jamur. Kini, racun jamur itu malah menjadi ‘obat’ yang menghilangkan ancaman maut oleh racun yang berada dalam darahnya. Tentu saja Bun Beng tidak tahu akan hal ini, hanya dia merasa betapa kesehatannya pulih kembali dengan cepat.

Dengan hati-hati sekali ia menjaga diri agar jangan sampai ketahuan oleh Ketua Thian-liong-pang yang ternyata datang ke tempat itu kurang lebih sebulan sekali. Setiap kali datang melalui pintu rahasia itu, Bun Beng cepat bersembunyi dan mengintai, dan dia kembali menyaksikan betapa wanita sakti itu selalu macet kalau berlatih ilmu pedang sampai ke jurus tiga belas! Selalu terhuyung-huyung dan mukanya menjadi pucat, napasnya menjadi sesak.

Dengan tekun Bun Beng melatih sinkang menurut petunjuk kitab itu. Tiga bulan kemudian pelajaran ini selesai dilatihnya dan dengan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang-nya meningkat secara luar biasa sekali, beberapa kali lipat lebih kuat dari pada sebelum ia berlatih. Yang lebih menggirangkan hatinya lagi, setelah melatih diri dengan sinkang menurut petunjuk kitab itu, dia kini mampu melakukan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng dengan ringan dan mudah, bahkan dia dapat melakukan gerakan dengan cara ilmu memindahkan tenaga dengan tepat sekali.

Untuk ilmu memindahkan tenaga ini ia berlatih dengan batu besar yang ia lontarkan ke atas. Ketika batu itu meluncur ke arah tubuhnya, ia mengikuti gerakan batu itu, serta mengerahkan sinkang ke ujung tangan yang berlawanan kemudian ia memindahkan tenaga luncuran batu itu ditambah sinkang-nya sendiri menghantam dari samping, membuat batu itu pecah berantakan!

Setelah selesai melatih sinkang, mulailah ia mempelajari ilmu pedang yang terdapat dalam kitab itu. Kembali ia tercengang. Ilmu pedang itu memiliki gerakan yang hampir sama dengan Sam-po-cin-keng sehingga dengan mudah ia dapat melatih diri, menggunakan pedang-pedangan batu yang ia buat dari batu karang yang banyak terdapat di tempat itu. Ilmu pedang ini terdiri dari tiga puluh enam jurus dan dia melatih setiap jurus dengan teliti dan hati-hati sekali dan betapa herannya ketika ilmu pedang yang hampir serupa dengan Sam-po-cin-keng itu ternyata setiap jurusnya merupakan lawan dari jurus-jurus Sam-po-cin- keng! Agaknya ilmu pedang ini memang sengaja dicipta orang sakti untuk menandingi Sam-po-cin-keng!

Untuk setiap jurus ia latih sampai selama tiga hari, dan makin mendekati jurus ketiga belas, dia makin berhati-hati. Akan tetapi ketika tiba saatnya ia melatih jurus ketiga belas ini, dia dapat mainkan jurus itu dengan baik dan tidak terjadi sesuatu dengan dirinya seperti yang diderita oleh Ketua Thian-liong-pang! Bun Beng jadi tercengang dan termenung setelah selesai melatih jurus ketiga belas ini. Mengapa dia bisa mainkan dengan baik sedangkan Ketua Thian-liong-pang yang jauh lebih lihai dari pada dia itu tidak mampu?

Pemuda ini tidak tahu bahwa kini ilmu sinkang-nya sudah amat tinggi, hampir menandingi sinkang Ketua itu, dan tidak tahu bahwa Ketua itu gagal karena tidak menguasai peraturan pernapasan ketika mempelajari jurus ketiga belas itu! Ada pun Bun Beng sendiri, biar pun tidak mempelajari pernapasannya karena kitab itu tidak lengkap, namun dia telah mempelajari pengaturan napas ketika mainkan Sam-po-cin- keng sedangkan ilmu pedang itu dasarnya sama dengan Sam-po-cin-keng, bahkan menjadi imbangannya.

Dengan girang sekali Bu Beng mendapat kenyataan bahwa telah lima bulan lebih ia berada di tempat itu, dan kesehatannya terasa makin baik! Dia telah sembuh! Secara aneh dia telah sembuh! Kalau tidak, tentu dia sekarang telah mati seperti yang dikatakan Pendekar Super Sakti. Pendekar itu tidak mungkin membohonginya. Jamur itu! Kini ia dapat menduga bahwa tentu jamur-jamur itu yang menyembuhkannya, maka diam-diam ia menjadi girang dan bersyukur sekali.

Sampai tiga bulan lebih ia mempelajari ilmu pedang dan akhirnya ia dapat mainkan semua jurus ilmu pedang itu dengan baiknya. Dia sendiri tidak sadar bahwa ketika ia mainkan batu kecil panjang seperti pedang itu, terdengar suara nyaring melengking dan tampak sinar berkelebatan yang mengandung hawa sebentar panas sebentar dingin!

Selama itu, dia selalu bersembunyi kalau Si Ketua Thian-liong-pang muncul. Dia kini telah selesai melatih diri, dan penyakitnya pasti telah sembuh, maka timbullah keinginan hatinya untuk keluar dari tempat itu. Tak mungkin dia selamanya akan tinggal di tempat itu setelah kini dia tidak terancam maut. Akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat keluar dari situ?

Dia bersikap sabar dan karena kini dia menduga bahwa jamur-jamur yang setiap hari dimakannya itu mengandung obat yang menyembuhkannya, maka kini dia mulai mencoba jamur lain karena selain jamur merah, di situ terdapat jamur putih, biru, hijau dan lain-lain. Selama ini yang dimakannya hanyalah jamur merah yang amis karena ternyata bahwa jamur itu selain mengenyangkan perut, juga dapat menahan dia sehingga tidak kelaparan. Kini setelah sembuh, timbul keinginan hatinya untuk mencoba jamur yang lain.

Pertama-tama dia mencoba jamur yang putih. Jamur ini kepalanya berbentuk segi lima ujungnya meruncing seperti topi seorang petani, baunya tidak amis akan tetapi rasanya agak pahit. Begitu dia makan tiga buah, dia merasa mengantuk sekali, Bun Beng duduk bersandar batu karang dan merasa betapa selain mengantuk, juga tubuhnya makin lama makin terasa panas! Mula-mula rasa panas hangat-hangat ini nyaman sekali, dan ada perasaan girang luar biasa di dalam hatinya.

Akan tetapi makin lama, terdapat perasaan yang amat aneh, yang membuat seluruh urat-urat syaraf menegang dan dia menjadi gelisah bukan main. Dorongan hasrat nafsu birahi yang amat hebat membakar tubuhnya, membuat dia menderita hebat sekali, gelisah dan bingung, mengerang-ngerang seperti orang dibakar perlahan-lahan, bergulingan ke sana-sini untuk melawan dan menekan hasrat yang meluap-luap itu. Terbayanglah di depan mata, di dalam otak dan di hatinya, wajah-wajah jelita dari Milana, Kwi Hong dan Siok Bi, puteri Ketua Bu-tong-pai yang manis itu. Terbayang olehnya betapa mereka itu berganti-ganti tersenyum, bersikap manis dan bergema di telinganya suara mereka yang seperti merayunya.

“Aduhhhh… gila! Aku sudah gila…!” Ia menjambak rambutnya, menampari dahinya, namun tetap saja bayangan tiga orang dara jelita itu berganti-ganti menggodanya, membuat nafsu birahinya makan memuncak.

Semalam suntuk Bun Beng mengalami penderitaan yang selama hidupnya belum pernah dia alami. Dia merasa tersiksa sekali, tetapi juga diam-diam merasa beruntung bahwa pada saat itu dia berada seorang diri. Dia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukannya, apa yang akan terjadi andai kata di waktu itu ada seorang di antara tiga orang gadis itu yang berada di dekatnya! Dia tak dapat bertahan lagi! Setelah matahari terbit pada keesokan harinya, barulah dia terbebas dari pada siksaan menggila itu. Seluruh tubuhnya terasa lemah dan lelah sekali, akan tetapi tubuhnya tidak panas dan denyut jantungnya normal kembali. Ia cepat mandi di bawah air terjun di depan goa, membiarkan air terjun menyiram kepala dan seluruh tubuhnya sehingga dia kembali merasa segar.

Ketika dia kembali ke dalam, dia bergidik melihat jamur putih dan berjanji tidak akan mencoba-coba lagi makan jamur setan itu! Diam-diam ia merasa heran mengapa jamur-jamur di situ mengandung daya yang demikian mukjizat.

Ia kini melirik ke arah jamur biru dan jamur hijau. Akan dicobanya jugakah jamur-jamur ini? Bagaimana kalau mengandung racun yang lebih mengerikan lagi? Betapa pun juga, hatinya takkan pernah merasa puas sebelum ia mencobanya. Dia telah makan jamur merah selama setengah tahun di tempat itu dan akibatnya justru menguntungkan dirinya. Dia telah pula mencoba jamur putih yang biar pun membuat dia tersiksa hebat semalam suntuk, namun pengalaman itu pun tidak merugikannya. Apa salahnya kalau dia mencoba jamur yang lain?

Dengan hati-hati ia makan sebuah jamur biru, sebuah saja karena dia sudah kapok, tidak berani makan banyak sehingga andai kata jamur itu beracun pula, pengaruh racunnya tidak terlalu hebat. Dan jamur ini lezat rasanya! Tidak berbau, dan rasanya gurih seperti digarami!

Dengan jantung berdebar dia duduk bersandar batu karang, menanti akibat dari jamur biru itu. Suara air terjun bergemuruh terdengar dari situ. Tiba-tiba ia terbelalak, lalu memejamkan matanya. Apakah ini? Mabokkah dia? Suara air bergemuruh itu kini lain sekali didengarnya. Seperti berubah menjadi berlagu dan berirama! Begitu indahnya, seolah-olah bukan suara air terjun, melainkan selosin macam alat musik ditabuh oleh tangan orang-orang ahli! Seperti dalam mimpi, Bun Beng membiarkan pikirannya melayang- layang terbuai dan seolah-olah diayun dan dibawa terbang oleh suara air terjun yang berubah menjadi musik merdu itu.

“Aihh, jangan-jangan aku telah menjadi gila sekarang,” pikirnya dan ia cepat membuka matanya.

Ia terbelalak dan mulutnya ternganga melihat cahaya matahari yang sekarang menjadi berwarna-warni, seperti pelangi! Dan batu-batu itu, begitu indah bentuknya dan begitu penuh rasa seni! Benarkah semua ini? Tempat itu dalam pandang matanya seolah-olah menjadi amat berbeda, menjadi seperti… ah, agaknya sorga begitulah macamnya! Dia menggerakkan kaki tangannya dan hampir dia berteriak. Dia seperti melayang-layang! Dia masih duduk di situ, akan tetapi merasa seolah-olah tubuhnya melayang, terbang di antara sinar matahari yang berwarna-warni indah sekali. Seperti dewa-dewa kalau terbang di antara mega- mega di angkasa.

Di antara keadaan sadar dan tidak sadar, Bun Beng mengalami hal yang benar-benar menakjubkan, indah luar biasa, dan nikmat rasanya. Dia tidak sadar lagi akan keadaan sekitarnya, semua nampak indah, bahkan dia tidak kaget atau tidak takut ketika melihat pintu rahasia itu terbuka dan seorang wanita berkerudung meloncat keluar dari pintu, dan terdengar wanita itu berseru kaget dan meloncat cepat, tahu- tahu telah berdiri di depannya. Bun Beng memandangnya dengan tersenyum manis dan ramah, senyum sewajarnya seolah-olah dia bertemu dengan seorang sahabat lama, atau seorang bidadari kahyangan. Memang pantasnya bidadari! Bentuk tubuh yang amat indah, dan biar pun kepalanya ditutupi kerudung, namun kelihatannya pantas dan serasi dengan tubuhnya!

“Kau…? Gak Bun Beng…?” Ketua Thian-liong-pang itu membentak, penuh keheranan, kekagetan dan juga kemarahan.

Bun Beng tersenyum lebar, bangkit berdiri dan memberi hormat. Suaranya penuh kegirangan dan kejujuran ketika ia berkata, “Benar, Locianpwe, saya Gak Bun Beng. Selamat bertemu dan semoga Locianpwe selalu bahagia dan sehat seperti saya!”

Agaknya jawaban ini membuat Ketua Thian-liong-pang sedemikian herannya sehingga lupa akan kemarahannya. “Bagaimana kau bisa berada di sini?”

“Saya? Saya terbang… heh-heh, saya… saya hanyut oleh air sorga, sampai di sini, senang sekali, Locianpwe. Betapa indahnya sorga ini… heh-heh…”

Sepasang mata di balik kerudung itu berkilat dan Nirahai, wanita berkerudung itu, mengerutkan alisnya. Heran sekali, pikirnya, bagaimana bocah ini bisa masuk ke sini? Dia melihat sikap dan mendengar bicaranya, agaknya anak ini telah menjadi gila!

Pada dasarnya, Nirahai bukanlah seorang yang kejam. Sama sekali tidak. Dia dahulu adalah puteri Kaisar yang sejak kecil telah mempelajari segala macam dasar kebajikan dari kitab-kitab kesusastraan kuno yang penuh filsafat di samping ilmu silat yang tinggi. Memang wataknya keras dan berdisiplin karena dialah dahulu menjadi panglima kerajaan ayahnya, memimpin pasukan pembasmi kaum pemberontak yang amat disegani.

Memang wataknya berubah menjadi dingin karena tekanan batin setelah dia berpisah dari suaminya, Pendekar Super Sakti, dan rasa sakit hati karena merasa disia-siakan suaminya yang tercinta itu membuat dia menjadi makin keras dan dingin, namun hal ini sama sekali bukan mengubahnya menjadi seorang yang berwatak kejam. Dia tadinya bermaksud membunuh Bun Beng, karena pemuda ini selain telah mengacaukan Thian-liong-pang dan telah membunuh orang-orangnya, juga telah mengetahui rahasianya bahwa Ketua Thian-liong-pang yang selalu menyembunyikan keadaan dirinya di balik kerudung, sebetulnya adalah isteri Pendekar Super Sakti.

Di samping itu, karena tahu pula bahwa pemuda ini adalah anak haram dari datuk sesat Gak Liat, maka dianggapnya bahwa anak itu pun keturunan seorang jahat yang berwatak rendah dan jahat pula. Tetapi ketika tanpa disangka-sangkanya pemuda itu tahu-tahu muncul di dalam tempat rahasianya ini dalam keadaan seperti orang gila, dia menjadi tak tega untuk membunuhnya dan merasa kasihan di samping keheranannya bahwa pemuda itu yang tadinya ia lihat lumpuh dan terluka hebat, masih belum mati, bahkan tidak lumpuh lagi.

“Bocah gila, berapa lama engkau berada di sini?”

“Ha-ha-ha, Lociapwe baru tahu sekarang, ya? Saya sudah lama sekali di sini, sudah setengah tahun. Ha- ha… sudah habis kitab itu saya pelajari…!”

“Apa…? Kau…!” Nirahai meloncat ke depan, tangannya bergerak mencengkeram ke arah pundak Bun Beng.

“Wuuutttt… heeeiiihhh!”

Dengan gerakan yang ringan dan mudah saja Bun Beng miringkan tubuhnya dan Nirahai berturut-turut melanjutkan cengkeramannya sampai tiga kali, tetap saja ia mencengkeram angin dan pemuda itu dapat mengelaknya dengan mudah. Diam-diam ia terkejut menyaksikan gerakan yang luar biasa ringan dan gesitnya itu.

“Heii, tahan dulu, Locianpwe! Jangan main-main dengan pukulan berbahaya!” Bun Beng mengangkat tangan, sikapnya riang dan wajahnya berseri, tubuhnya bergoyang-goyang, karena terasa amat ringan, seolah-olah melayang-layang. Sedikitnya tidak ada pikiran takut, khawatir atau apa saja karena pikiran itu kosong, pandang matanya menjadi terang, pikirannya terang dan ia merasa seolah-olah dunia, semua benda, dirinya dan juga Ketua Thian-liong-pang itu telah berubah sama sekali, semua kelihatan menyenangkan hati!

Inilah akibat dia makan jamur biru yang ternyata mengandung racun yang hebat dan luar biasa, lebih hebat dari pada racun dan ganja dan madat! Racun jamur biru ini mempengaruhi sistem syaraf di dalam otak, membuat dia tidak memikirkan, tidak membayangkan sesuatu.

Segala rasa khawatir, takut, marah dan lain-lain timbul dari pikiran dan ingatan. Pikiran menggambarkan rasa takut, khawatir, iri, dengki dan lain-lain. Maka setelah pengaruh racun itu melenyapkan bayangan ini, dalam keadaan kosong dan bersih pikiran mereka jadi terang, pandang mata pun tidak dipengaruhi nafsu yang timbul dari pikiran. Itulah sebabnya maka segala hal tampak, terdengar, dan terasa amat indah oleh Bun Beng, karena jauh berbeda dari pada biasa. Pikiran yang dibebani segala macam kekhawatiran, ketakutan dan macam-macam perasaan lain mengeruhkan pandangan dan pendengaran, seperti yang diderita oleh semua manusia. Namun dalam keadaan istimewa itu, Bun Beng menghadapi kenyataan yang lain dari pada biasanya.

“Locianpwe, saya telah mempelajari semua isi kitab dengan baik. Bukankah itu menyenangkan sekali?”

Nirahai yang sudah mengangkat tangan itu menurunkan lagi tangannya, memandang tajam penuh keraguan. Jelas bahwa bocah ini lebih gesit dari pada dahulu ketika membuat kekacauan di Thian-liong- pang, pikirnya. Melihat sikap dan bicaranya, seperti orang yang miring otaknya. Mana mungkin dia berada di sini selama setengah tahun tanpa dia ketahui? Apa lagi mempelajari seluruh isi kitab. Akan tetapi, siapa tahu?

“Kau sudah mempelajari semua isi kitab dengan hasil baik? Juga ilmu pedangnya?” Ia bertanya, tertarik karena selama setahun lebih dia masih belum berhasil melatih ilmu pedang dari kitab itu, selalu gagal dalam jurus ketiga belas dan seterusnya!

“Heh-heh, tentu saja, Locianpwe selalu gagal dan tersandung dalam jurus ketiga belas dan ke empat belas.”

“Apa…?!” Mata Nirahai terbelalak dan kini dia mencurahkan perhatiannya. Kalau anak ini dapat tahu akan hal itu, berarti belum tentu dia membohong bahwa dia telah lama berada di sini dan telah mempelajari isi kitab!

“Dan engkau mengatakan telah berhasil mempelajari semua ilmu pedang itu? Ahhh, siapa mau percaya omonganmu? Kulihat, sebatang pedang pun engkau tidak punya.”

“Saya mempergunakan pedang ini, Locianpwe.” Bun Beng memungut batu kecil panjang menyerupai bentuk pedang dan mengangkat ke atas sambil tersenyum lebar.

“Gak Bun Beng, kalau benar engkau telah dapat menguasai Ilmu Pedang Lo-thian Kiam-sut…”

“Aihh, namanya Lo-thian Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit)? Bukan main! Locianpwe tentu ingin mengetahui bagaimana saya mainkan ilmu itu, bukan?”

Nirahai mengangguk, kagum akan kecerdikan pemuda yang seperti gila itu.

“Terutama jurus ketiga belas dan seterusnya, bukan?”

Kembali Nirahai mengangguk, kini kekagumannya bercampur keheranan. Pemuda itu seolah-olah dapat
membaca isi hati dan pikirannya. Memang demikianlah, dalam keadaan terpengaruh racun jamur biru itu, ketika pikiran Bun Beng kosong bersih, pandang matanya menjadi tajam luar biasa.

“Nah, lihatlah, Locianpwe!”

Pemuda itu lalu menggerakkan pedang batunya, bersilat pedang mulai dari jurus ketiga belas. Gerakannya demikian gesit dan sempurna sehingga Nirahai memandang bengong, penuh keheranan dan iri hati karena dia mendapat kenyataan betapa Bun Beng benar-benar dapat mainkan jurus-jurus itu, ketiga belas sampai terakhir, dengan lancar, sempurna, dan sama sekali tidak membawa akibat buruk seperti yang telah dialaminya. Pedang batu itu mengeluarkan bunyi berdesing, melengking seperti suling ditiup, dan terasalah olehnya hawa dingin dan panas silih berganti keluar dari angin pedang batu itu!

“Hebat…! Luar biasa…!” Nirahai berseru setelah Bun Beng menyelesaikan ilmu silat pedangnya dan melempar pedang batu ke bawah sambil tersenyum lebar.

Tiba-tiba wanita itu meloncat ke depan dan secepat kilat tangannya bergerak menotok Bun Beng yang merasa seperti melayang-layang itu, agaknya tidak menyangka buruk sama sekali sehingga dia tidak mengelak mau pun menangkis.

“Cussss!” Sebuah totokan yang amat tepat mengenai jalan darah di pundak kanannya dan robohlah pemuda itu dalam keadaan lemas dan lumpuh. Ia roboh terlentang akan tetapi masih memandang ke arah wanita itu dengan senyum menghias bibir, seolah-olah keadaan tertotok itu mendatangkan rasa senang yang luar biasa!

Setelah menotok Bun Beng, Nirahai lalu mencabut pedangnya, kemudian dia yang sudah menghafal jurus- jurus ilmu pedang itu lalu bermain silat pedang, mulai dari jurus ketiga belas. Pemuda itu bisa memainkannya, masa dia tidak? Tingkat kepandaiannya tentu jauh lebih tinggi dari pada pemuda itu, buktinya pemuda itu dapat dirobohkannya sekali totok. Mungkin karena dia takut-takut, maka dia tidak pernah berhasil. Kini dia harus nekat, tidak menghentikan gerakannya kalau ada kepeningan dan sesak dada menyerangnya.

Dalam keadaan terpengaruh jamur biru itu, pandangan Bun Beng menjadi terang dan kini ia dapat melihat di mana letak kesalahan Ketua Thian-liong-pang itu, ialah di bagian pengaturan napas. Dia melihat dan mengetahui ini, akan tetapi karena dia kagum akan keindahan yang dilihatnya dalam keadaan terpengaruh dan mabok itu, dia diam saja, hanya memandang dengan mulut tersenyum.

Nirahai bersilat dengan gerakan cepat dan kuat. Alisnya berkerut, kepalanya terasa pening dan dadanya sesak, akan tetapi dia tetap nekat melanjutkannya dengan jurus ke empat belas. Dia agak terhuyung, napasnya terengah, namun dia masih dapat bermain sampai jurus kedua puluh dan tiba-tiba ia mengeluarkan keluhan pajang, pedangnya terlepas, tubuhnya roboh dan wanita ini pingsan!

Bun Beng mengeluh perlahan. Pemandangan yang indah itu mulai berubah dan akhirnya ia sadar. Tanpa disengaja oleh Nirahai, totokan itu telah membuyarkan pengaruh racun jamur biru. Makin sadar, makin terkejutlah Bun Beng teringat akan semua yang telah terjadi tadi. Teringat pula dia akan keadaannya setelah makan jamur biru dan dia menjadi bengong. Bagaimana dia bisa begitu berubah? Mengapa dia berani bersikap seperti mempermainkan Ketua Thian-liong-pang dan sama sekali tidak menjadi takut? Kini timbul rasa takut dan ia cepat mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya. Tak lama kemudian ia berhasil membobol totokan dan jalan darahnya kembali normal kembali. Cepat ia meloncat dan menghampiri Ketua Thian-liong-pang yang masih rebah miring dalam keadaan pingsan.

Ah, inilah kesempatan yang ditunggu-tunggunya, ia berpikir cepat. Dia ingin keluar dari tempat ini dan sekaranglah saatnya! Dia memutar otak sebentar, membayangkan kemungkinan dan bahaya-bahayanya. Setelah mencari akal, ia cepat melepaskan kerudung penutup muka Ketua Thian-liong-pang itu, juga menanggalkan jubah luar seperti mantel yang besar, agaknya dipakai oleh Ketua itu sebagai penahan dingin, tidak lupa mengambil pedang dan sarungnya, kemudian ia meloncat meninggalkan tubuh Ketua yang pingsan itu, menghampiri pintu rahasia.

Dia sudah tahu akan alat rahasia pembuka pintu itu. Diputarnya batu di sudut dan pintu itu terbuka. Bun Beng cepat mengenakan kerudung menutupi kepalanya, mengenakan jubah luar yang lebar dan menyarungkan pedang Si Ketua yang telah diambilnya. Kemudian dengan tekad bulat ia memasuki pintu rahasia. Ketika ia menengok ke arah tubuh yang masih belum bergerak, kemudian memandang ke arah jamur-jamur di sebelah kiri utuk penghabisan kali, dia bergidik.

Jamur-jamur merah telah menolongnya, jamur putih membuat dia terangsang birahi hebat, dan jamur biru… ah, dia bergidik kalau mengingatnya. Hampir saja dia celaka oleh jamur itu, ataukah sebaliknya? Bagaimana andakata dia dalam keadaan normal bertemu dengan Ketua Thian-liong-pang? Agaknya, menurutkan akal waras, dia akan membela diri mati-matian, dan besar kemungkinan dia akan terbunuh. Kalau begitu, belum tentu jamur biru itu mencelakakannya, bahkan sebaliknya, telah menolongnya sehingga akibatnya Si Ketua tidak membunuhnya, roboh pingsan dan membuka kesempatan baginya untuk menyelamatkan diri keluar dari tempat itu.

Pintu rahasia itu bersambung dengan sebuah lorong di bawah tanah yang amat panjang, ada kalanya naik ada kalanya turun, terbuat dari anak tangga batu. Setelah berjalan cepat lebih dari satu jam, lorong itu mulai naik melalui tangga batu dan terus naik. Ketika ia keluar dari pintu terakhir, kiranya lorong itu menembus di sebuah lubang kuburan yang sudah terbuka! Sebuah kuburan tua di tengah-tengah tanah pekuburan.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika di kanan kiri lobang kuburan itu berdiri belasan orang tokoh Thian-liong-pang tingkat tertinggi! Untung ia masih ingat akan penyamarannya, maka dia bersikap tenang. Satu-satunya masalah yang akan dapat menggagalkan penyamarannya adalah suaranya. Akan tetapi, mengingat betapa anehnya watak Ketua Thian-liong-pang, dia dapat diam saja tanpa mengeluarkan suara dan siapakah di antara mereka yang berani bertanya akan hal ini? Dia akan menutup mulut, tidak mengeluarkan kata-kata, seolah-olah Ketua Thian-liong-pang sedang berduka, marah, atau sedang bertapa… bisu!

Melihat Ketua mereka muncul dari lubang, orang-orang Thian-liong-pang itu segera memberi hormat dengan membongkok, kemudian mereka mengangkat sebuah peti mati yang berada di situ, dimasukkan lagi ke dalam lubang, kemudian menutup papan besi yang atasnya penuh tanah dan rumput, ditutupkan lagi sehingga kini kuburan itu kelihatan seperti kuburan biasa.

Melihat Ketua mereka diam saja dan hanya memandang dengan sinar mata tajam melalui lubang kerudung, Sai-cu Lo-mo mewakili temannya menjura dan berkata,

“Harap Pangcu sudi memaafkan kami yang tanpa diperintah berani menanti keluarnya Pangcu dari tempat terlarang. Hal ini kami lakukan dengan amat terpaksa, karena tempat kita kedatangan tamu-tamu dari Pulau Neraka.”

“Apa…?” Bun Beng meniru suara Nirahai yang karena dalam pertemuannya dengan wanita itu, sampai beberapa kali Nirahai berseru seperti itu. Dengan meniru sebuah kata-kata saja, dengan suara ditinggikan, Bun Beng tidak melihat adanya bahaya dikenal perbedaannya.

“Mereka berjumlah lima orang dari tingkat teratas, melihat dari warna muka mereka yang berwarna terang. Agaknya mereka tidak mengandung maksud baik, memaksa hendak berjumpa dengan Pangcu sendiri. Sekarang mereka berada di dalam ruangan tamu dan dihadapi oleh Tang-kouwnio.”

Bun Beng mengerti siapa yang dimaksudkan dengan Tang-kouwnio itu, tentulah Tang Wi Siang yang lihai, kepala pelayan dan orang kepercayaan Ketua Thian-liong-pang. Timbul kekhawatiran di dalam hatinya, khawatir akan keselamatan Milana. Maka dia hanya mengangguk, kemudian menggerakkan kepalanya dan tangannya sebagai perintah agar mereka mengantarkan ke tempat tamu.

Sikap ini agak mengherankan para tokoh Thian-liong-pang, akan tetapi mereka hanya mengira bahwa Ketua mereka amat marah mendengar berita itu, dan tentu saja hendak muncul menemui tamu dengan sikap garang, dikawal dan diantar oleh para pembantunya. Maka Sai-cu Lo-mo lalu membuka jalan dan diikuti oleh Bun Beng yang sesungguhnya tidak tahu ke mana harus menuju karena dia tidak mengenal tanah kuburan ini. Kalau dia sudah sampai di dalam markas Thian-liong-pang yang terletak di lembah Sungai Huang-ho itu, tentu saja dia dapat mengenalnya karena dia pernah berada di situ sebagai ‘tamu’ kemudian sebagai tawanan.

Ketika tiba di ruangan tamu, Bun Beng tanpa bicara menghampiri kursi ketua yang kosong dan duduk dengan tenang. Lima orang yang mukanya berwarna aneh, hijau pupus, ungu muda, dan merah muda, bangkit berdiri dari tempat duduknya, menjura ke arah ‘Sang Ketua’ dan seorang di antara mereka yang bermuka merah muda dan berkepala gundul kelimis seperti lilin, berkata,

“Kami dari Pulau Neraka, sebagai utusan Tocu (Majikan Pulau) menghaturkan hormat kepada Thian-liong- pangcu.”

Bun Beng hanya mengangguk, membiarkan mereka duduk kembali dan dia menggapai kepada Tang Wi Siang yang cepat menghampiri Ketuanya dan memberi hormat. Bun Beng tidak berkata-kata, hanya menggerakkan tangan menunjuk kepada para tamu dan menggerakan kepalanya diangkat sedikit, sebagai isyarat agar Tang Wi Siang yang mewakilinya bicara dengan para tamu itu.

Tang Wi Siang menganggap bahwa Ketuanya merasa terlalu tinggi untuk bicara dengan tamu-tamu Pulau Neraka yang hanya utusan-utusan itu, maka dia sebagai wanita yang cerdik sekali dia berdiri di belakang Ketuanya lalu berkata nyaring.

“Ketua kami yang mulia telah datang dan kalau kalian berlima dari Pulau Neraka masih dibiarkan duduk sebagai tamu, hal itu berarti bahwa Ketua kami sudah cukup murah hati dan menerima kedatangan kalian. Sekarang, harap kalian suka bicara setelah menghadap Ketua kami, apa keperluan kalian datang mengunjungi Thian-liong-pang!”

Lima orang Pulau Neraka itu mengerutkan alis dan diam-diam merasa mendongkol sekali. Mereka adalah orang-orang tingkat tinggi dari Pulau Neraka, pula mereka adalah utusan pribadi Ketua atau Majikan mereka, akan tetapi Ketua Thian-liong-pang menerima mereka tanpa mengucapkan sepatah kata, berarti memandang sangat rendah!

Si Kepala Gundul muka merah muda yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, gemuk pendek, segera berkata, “Saya Kong To Tek bersama Sute Chi Song.” Dia menuding ke arah orang muka merah muda kedua yang tubuhnya gendut tinggi besar kepalanya kecil, kemudian melanjutkan, “ditemani tiga orang para sute yang satu dua tingkat lebih rendah sebagai utusan Tocu kami, selain datang menghaturkan hormat kepada Ketua Thian-liong-pang, juga kami mendengar bahwa Thian-liong-pangcu telah mempelajari semua ilmu yang ada di dunia ini. Karena itu, Tocu kami mohon agar Pangcu suka memberi petunjuk, mengalahkan kami dengan ilmu kami sendiri. Kalau ternyata Thian-liong-pangcu dapat melakukan hal ini, Tocu menawarkan kerja sama untuk menghadapi Pulau Es, akan tetapi kalau tidak, berarti benar bahwa Thian-liong-pangcu hanya mencuri ilmu-ilmu itu dari mereka yang telah diculik, maka tidak dapat mengalahkan kami dengan ilmu kami sendiri karena pihak kami belum pernah ada yang dapat diculik.”

Keadaan menjadi hening dan orang-orang Thian-liong-pang memandang marah. Yang hadir di ruangan tamu itu hanyalah orang-orang tingkat tinggi dari Thian-liong-pang, Sang Ketua, Tang Wi Siang, Sai-cu Lo- mo Bhok Toan Kok, Lui-hong Sin-ciang Chi Kang, dan beberapa orang lagi yang kepandaiannya sudah tinggi. Mereka memandang ke arah Ketua mereka, menduga bahwa tentu Sang Ketua akan marah dan menghajar lima orang Pulau Neraka yang telah berani mengeluarkan kata-kata lancang itu.

Akan tetapi, Bun Beng hanya menggerakkan tangan ke arah para pembantu Thian-liong-pang, kemudian menuding ke arah lima tamu itu. Jelas maksudnya bahwa ‘Sang Ketua’ yang tiba-tiba menjadi ‘pendiam’ itu memerintahkan agar para tokoh Thian-liong-pang mewakilinya menghadapi para tamu yang menantangnya berpibu.

“Ngo-wi (Tuan Berlima) dari Pulau Neraka!” kata pula Tang Wi Siang dengan suara nyaring. “Andai kata Tocu dari Pulau Neraka sendiri yang datang, belum tentu Ketua kami yang mulia merasa cukup pantas untuk dilayaninya sendiri. Apa lagi hanya utusan-utusan yang tingkatnya rendahan! Kalau memang Pulau Neraka berniat baik, mengapa mesti menantang? Kalau kalian sudah menantang, di sini cukup tersedia tenaga untuk melayani kalian, tidak perlu Ketua kami turun tangan, kami para pembantunya sudah cukup untuk membuka mata kalian bahwa Thian-liong-pang tidak boleh dibuat main-main!”

Bun Beng mengangguk-angguk tanda setuju dan Tan Wi Siang menjadi girang, maka dilanjutkannya, “Silakan mengajukan jago dari Pulau Neraka, kami akan menandingi!”

Kong To Tek, tokoh Pulau Neraka yang gundul itu, mengangkat kedua alisnya dan berkata, “Aahhh, Thian- liong-pangcu merasa terlalu tinggi untuk melawan kami? Cukup mengajukan anak buahnya? Baiklah, biar kita coba-coba sebentar agar Pangcu dari Thian-liong-pang menyaksikan sendiri bahwa kami dari Pulau Neraka sudah cukup berharga untuk ditandingi sendiri oleh Thian-liong-pangcu. Karena kedatangan kami sebagai utusan majikan kami untuk mencoba kepandaian Thian-liong-pangcu, bukan untuk mengadakan pibu (pertandingan silat), maka biarlah kami hanya mengajukan dua orang jago, yaitu Sute Chi Song dan saya sendiri. Sute, majulah dan perlihatkan bahwa kita cukup berharga untuk menerima petunjuk Thian- liong-pangcu sendiri.”

Laki-laki gendut tinggi besar itu mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah maju ke tengah ruangan. Dia menghadapi ‘Ketua’ Thian-liong-pang dan menjura sambil berkata, “Thian-liong- pangcu, saya Chi Song, orang dari kalangan tingkat tiga di Pulau Neraka, mohon petunjuk darimu.”

Tang Wi Siang tentu saja tidak berani lancang mengajukan jago, maka dia menoleh ke arah Ketuanya sambil bertanya, “Harap Pangcu suka menunjuk seorang di antara kami untuk meghadapinya.”

Seingat Bun Beng, orang paling lihai di dalam perkumpulan itu sesudah Ketua Thian-liong-pang, adalah Tang Wi Siang sendiri, kemudian mungkin sekali Paman kakeknya, Sai-cu Lo-mo. Tokoh Pulau Neraka yang tinggi besar ini, sebagai sute Si Gundul, tentu tidak selihai Si Gundul, maka sebaiknya kalau Chi Song ini dilawan oleh Sai-cu Lo-mo, sedang nanti Kong To Tek dilawan oleh Tang Wi Siang.

Ia mengharapkan agar kedua orang ‘pembantunya’ itu akan memperoleh kemenangan sehingga dia sendiri tidak usah maju turun tangan, karena kalau dua orang itu kalah, apa lagi dia sendiri! Dan kalau dia turun tangan, tentu akan terbuka rahasianya. Hal ini akan menimbulkan keributan. Sebaliknya kalau dua orang tokoh Thian-liong-pang itu dapat ‘membereskan’ kedua orang Pulau Neraka itu, tentu urusan menjadi selesai dan dengan mudah dia akan cepat meninggalkan tempat berbahaya itu. Kalau sampai berlama- lama, kemudian muncul Milana, apa lagi kalau sampai muncul ibu Milana sendiri yang tadi pingsan di dalam tempat rahasia, wah, tentu celaka dia!

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia lalu menudingkan telunjuknya ke arah Sai-cu Lo-mo. Kakek berusia enam puluh tahun lebih yang mukanya menyeramkan seperti muka singa ini, yang pakaiannya sederhana, rambutnya putih semua, tadinya duduk dan kelihatan lenggat-lenggut mengantuk setelah dia tadi mengantarkan Sang Ketua ke ruangan itu. Kini tiba-tiba ia meloncat bangun dan tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha! Terima kasih, Pangcu. Memang sudah saya sangka bahwa tentu Pangcu akan memilih saya untuk memberi hadiah beberapa gebukan kepada Si Muka Merah ini!” Dia melangkah lebar ke tengah ruangan menghampiri Chi Song dan setelah berhadapan, keduanya saling pandang dengan sinar mata tajam menyelidik, seperti tingkah dua ekor ayam yang hendak bertanding.

Chi Song memandang kakek itu dari atas ke bawah, kemudian berkata, “Kalau tidak salah dugaanku, engkau ini tentulah Sai-cu Lo-mo yang amat terkenal itu!”

“Ha-ha-ha! Kalau sudah mengenal namanya, inilah orangnya dan kalau takut lebih baik lekas berlutut minta ampun kepada Pangcu kami dan cepat melingkarkan buntutmu lalu angkat kaki dari sini!”

Chi Song bukanlah seorang yang mudah dibikin marah oleh ejekan dan kata-kata menghina. Dia adalah seorang tokoh yang cukup tinggi tingkatnya di Pulau Neraka, apa lagi bersama suheng-nya saat itu menjadi utusan Majikannya. Tentu saja dia maklum bahwa kakek muka singa itu mengeluarkan kata-kata memancing panasnya hati karena kemarahan merupakan langkah awal yang keliru dan merugikan dalam menghadapi pertandingan melawan orang yang tak boleh dipandang ringan. Ia tersenyum dan berkata,

“Kebetulan sekali, Sai-cu Lo-mo. Biar pun saya tidak berkesempatan, atau mungkin belum berhasil menerima petunjuk Pangcu kalian, kini berhadapan denganmu, seorang tokoh Thian-liong-pang yang terkenal, merupakan kehormatan besar sekali. Hanya aku khawatir, kalau sampai engkau kalah oleh seorang tak terkenal seperti Chi Song ini, hal itu tentu akan menimbulkan malu besar!”

“Ha-ha-ha, engkau boleh juga!” Sai-cu Lo-mo tertawa, maklum bahwa dia tak berhasil memanaskan hati lawan. “Nah, aku telah siap, majulah!”

Chi Song tersenyum menyeringai dan mukanya yang berwarna merah muda itu kelihatan berkilau. “Engkau lebih tua dari pada aku, Sai-cu Lo-mo, sepatutnya aku mengalah. Mulailah!”

“Apa? Biar pun engkau lebih muda, akan tetapi engkau seorang tamu, sebagai pihak tuan rumah selayaknya kalau aku mengalah. Nah, seranglah!” Kedua orang ini memang cerdik dan tahu bahwa lawannya adalah orang yang berilmu tinggi, maka mereka segan untuk menyerang lebih dulu. Bagi seorang ahli silat kelas tinggi, menyerang lebih dulu tidak menguntungkan.

“Baik, sambutlah!” Chi Song Si Muka Merah Muda itu membentak.

Tiba-tiba seluruh tubuhnya tergetar dan kedua tangannya bergerak perlahan. Tadinya kedua tangan dirangkap di depan dada seperti orang memuja dewa, kemudian kedua telapak tangan saling membesut, yang kiri terus bergerak lurus ke atas, sampai tegak di atas kepala, yang kanan terus bergerak lurus ke bawah sampai menunjuk tanah di bawah perut, warna mukanya yang tadinya merah muda berubah agak tua, sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi dan perlahan-lahan terdengar suara berkerotokan dari buku-buku tulang tokoh Pulau Neraka ini.

Melihat ini, Sai-cu Lo-mo terkejut, maklum bahwa lawan ini sedang mengerahkan sinkang yang mukjizat dan mengingat bahwa dia seorang tokoh Pulau Neraka, tidak akan anehlah kalau sinkang lawannya itu mengandung hawa beracun yang dahsyat. Maka dia cepat memasang kuda-kuda, pandang matanya tak pernah meninggalkan gerakan lawan, siap menghadapi terjangan pertama dan karena maklum akan kelihaian lawan, kakek ini sudah memasang kuda-kuda dari ilmu silat tangan kosong yang ia pelajari dari Ketuanya, yaitu gabungan dari Ilmu Silat Pat-mo-kun-hoat dan Pat-sian-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Iblis dan Ilmu Silat Sakti Delapan Dewa).

Kedua kakinya terpentang lebar, tidak bergerak sama sekali, akan tetapi tubuhnya dari lutut ke atas membuat gerakan-gerakan, kadang-kadang naik turun dengan lutut ditekuk, juga berputar ke kanan kiri, namun matanya tak pernah meninggalkan lawan. Keadaan menjadi tegang sekali karena semua orang maklum bahwa dua orang kakek itu sedang saling mencari sasaran.

“Haiiiitttt…ttt!” Chi Song mengeluarkan teriakan nyaring dan panjang, tubuhnya sudah menerjang maju, kedua tangannya melakukan pukulan-pukulan dengan jari terbuka, menyambar atas dan bawah bertubi- tubi dan mengikuti arah tubuh lawan mengelak.

“Hiaaaahhhh!” Sai-cu Lo-mo juga melengking nyaring, tubuhnya mengelak ke kanan kiri, kedua kakinya mulai membuat gerakan melingkar menurutkan garis pat-kwa (segi delapan), kedua tangannya juga menangkis dengan pengerahan sinkang, yaitu menangkis hawa pukulan lawan dengan hawa pukulan tangannya sendiri karena dia maklum betapa bahayanya pukulan itu, melihat betapa kedua tangan lawan ternyata mengeluarkan bau amis dan mengeluarkan uap tipis berwarna hitam!

Bun Beng terbelalak kagum menyaksikan pertandingan itu. Baginya, gerakan kedua orang itu kurang cepat, akan tetapi tenaga sinkang yang terkandung dalam pukulan-pukulan mereka membuat ia bergidik. Dia sendiri tidak tahu bahwa tenaga sinkang-nya kini telah meningkat sangat hebat, dan mengira bahwa dia tidak akan sanggup menghadapi pukulan dengan tenaga sinkang seperti yang dilakukan oleh Chi Song atau paman kakeknya.

Pertandingan berjalan seru bukan main setelah kini Sai-cu Lo-mo membalas serangan lawan dengan totokan jari tangan yang dia ambil dari Ilmu Sin-coa-kun, juga hasil ajaran ketuanya. Ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Nirahai kepada para pembantunya adalah ilmu silat lama yang dahulu menjadi ilmunya pendekar wanita sakti Mutiara Hitam. Namun, berkat pengertian Nirahai akan banyak sekali ilmu silat tinggi, Ketua Thian-liong-pang ini telah mengubah ilmu-ilmu itu, disisipkan jurus yang diambilnya dari ilmu lain untuk memperlihai ilmu silat tua itu, dan mengurangi bagian-bagian yang tidak perlu. Dengan sendirinya, dibandingkan dengan kehebatan ilmu itu ketika dimainkan oleh Mutiara Hitam dahulu, kini lebih dahsyat lagi!

“Plak-plak-dukkkk!”

Kedua orang itu terlempar ke belakang ketika dua kali lengan mereka beradu dan disusul tumbukan tangan mereka saling mendorong. Sai-cu Lo-mo cepat menjatuhkan diri dan bergulingan kemudian meloncat bangun kembali, tepat pada saat lawannya yang tadi terlempar membuat gerakan berjungkir balik ke belakang sampai lima kali dan kini juga sudah berdiri kembali. Mereka berdiri tegak, saling pandang dalam jarak hampir sepuluh meter!

Chi Song menjadi penasaran sekali. Ia telah menggunakan pukulan yang mengandung hawa beracun, akan tetapi kakek bermuka singa itu mampu menangkisnya dengan tenaga yang amat besar, sama besarnya dan agaknya kakek itu tidak terpengaruh oleh hawa beracun yang keluar dari tangannya! Hal ini tidak mengherankan karena kakek bermuka singa itu ketika mengadu lengan dan tangan, menggunakan tenaga Khong-in-ban-kin, tenaga selaksa kati yang kosong sehingga tidak dapat terpengaruh oleh hawa pukulan beracun, namun yang memiliki kekuatan dahsyat sekali.

“Ha-ha-ha, orang Pulau Neraka, kepandaianmu hebat seperti iblis. Engkau memang patut tinggal di neraka!” Sai-cu Lo-mo mengejek.

“Heaaaaaahhhhhhtt!” Tiba-tiba tubuh Chi Song meloncat ke atas, menerjang dari atas dengan tendangan kedua kakinya ke arah dada kakek muka singa.

Inilah keistimewaannya Si Tinggi Besar muka merah muda itu, yaitu tendangan terbang! Sai-cu Lo-mo terkejut sekali, cepat mengelak, namun tendangan dari udara yang berantai itu tetap saja menyerempet pundaknya. Betapa pun juga, kakek ini masih sempat menangkap kaki kiri dan membetot ke bawah sehingga biar pun dia terhuyung oleh tendangan itu, tubuh lawannya terbanting ke atas tanah sampai berdebuk dan kalau saja Chi Song tidak memiliki kekebalan tentu tubuhnya akan remuk. Chi Song menggelundung dan meloncat lagi, hampir berbareng dengan Sai-cu Lo-mo yang sudah dapat mengatur keseimbangan tubuhnya.

“Ha-ha-ha, tendangannya luar biasa sekali. Ahhh, orang-orang Pulau Neraka memang hebat. Kalau tenaga Thian-liong-pang dan Pulau Neraka digabung untuk menghantam Pulau Es, tentu Pulau Es akan dapat dihancurkan!” Sai-cu Lo-mo berkata memuji.

“Uhhh, kau pun hebat, Sai-cu Lo-mo, dan ucapanmu itu tepat sekali. Sayang Ketuamu tidak mau mencoba kepandaianku agar dapat kami lihat apakah dia patut bekerja sama dengan Tocu kami!”

Hati Bun Beng mendongkol sekali. Mana sudi dia diajak bersekongkol dengan Pulau Neraka untuk menyerang Pulau Es? Gila! lebih baik dia memusuhi keduanya ini dari pada harus memusuhi Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es! Karena marah, ia sudah meloncat dari atas kursinya. Dia hampir berteriak karena loncatannya itu luar biasa cepat dan ringannya, sehingga hampir saja jaraknya terlewat kalau dia tidak cepat berjungkir balik sehingga dia dapat kembali dan turun tepat di depan Chi Song!

Gerakannya amat indahnya, juga amat cepatnya, sehingga Chi Song mengeluarkan seruan kaget. Sai-cu Lo-mo sendiri girang melihat Ketuanya turun tangan, karena diam-diam dia mengharapkan agar mereka dapat bekerja sama dengan Pulau Neraka yang mempunyai banyak orang pandai, untuk menyerang Pulau Es yang amat mereka segani dan takuti.

“Bagus, Pangcu menganggap saya cukup berharga untuk dilayani oleh Pangcu sendiri? Apakah Pangcu hendak mengalahkan saya dengan ilmu kami sendiri?”

Bun Beng hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

Karena sikap ini dianggap memandang rendah, Chi Song marah sekali. Dia berteriak keras dan cepat menubruk maju, menyerang dengan tangan kanan terbuka ke arah kepala yang berkerudung itu. Bun Beng teringat akan ilmu memindahkan tenaga, maka dengan tenang dia menarik kepalanya ke belakang. Begitu tangan lawan menyambar dekat, dia mendahului dengan sampokan tangan kiri ke arah lengan lawan, namun dia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.

“Dukkk…!”

Tubuh Chi Song terputar-putar seperti gasing. Pukulan itu seperti mendorongnya dari belakang, mendorong tenaganya yang ia pergunakan untuk memukul tadi, maka ia tak dapat menahan lagi tubuhnya terputar-putar terbawa oleh tenaganya sendiri ditambah tenaga amat dahsyat dari ‘Ketua’ Thian-liong-pang.

“Ehhhh…, bukankah itu ilmu dari Suheng Ngo Bouw Ek?” Si Kepala Gundul berseru dengan mata terbelalak.

Chi Song sudah dapat berdiri tegak, meraba-raba lengannya yang seperti remuk rasanya. “Tidak salah lagi,” katanya heran. “Itulah ilmu memindahkan tenaga dan di antara kami hanya Ngo-suheng Kwi-bun Lo- mo saja yang dapat melakukannya!”

Bun Beng menjadi girang sekali karena ilmunya itu berhasil. Dia tidak menjawab, hanya berdiri tegak, dan tidak peduli akan pandang mata pembantu Ketua Thian-liong-pang yang terheran-heran karena mereka itu pun tak pernah mendengar bahwa Ketua mereka telah berhasil memiliki sebuah ilmu yang ampuh dari Pulau Neraka!

“Aku masih penasaran, Thian-liong-pangcu!” Tiba-tiba Chi Song berkata lagi dan dia sudah melompat ke atas, hendak menggunakan ilmu yang diandalkannya, yaitu tendangan terbang! Melihat ini, Bun Beng juga meloncat dan sengaja membuang diri ke belakang ketika tendangan kedua kaki tiba, kemudian dari samping dengan cara memindahkan tenaga lawan, dia menendang betis kanan Chi Song.

“Plakk! Aduhhhh…!” tubuh Chi Song terbanting ke atas tanah, lalu terpincang-pincang dia menghampiri kursinya, menjatuhkan diri duduk di atas kursi, menyeringai kesakitan, dan mengangkat kaki kanannya, dipijit-pijitnya, karena selain tulang betisnya patah, juga urat-uratnya rusak sehingga terasa nyeri bukan main, menusuk-nusuk sampai ke jantung!

Kong To Tek meloncat turun dari kursinya, menghampiri Bun Beng dan menjura, “Pangcu benar-benar hebat sekali, telah mengalahkan Sute dengan menggunakan ilmu memindahkan tenaga yang merupakan ilmu simpanan dan hanya diketahui oleh Tocu kami dan Ngo-suheng saja. Patut mendapat penghormatan kami!”

Bun Beng kaget ketika tiba-tiba dari kedua kepalan tangan yang dirangkap dan diangkat ke depan dada itu menyambar hawa pukulan yang panas sekali! Akan tetapi, teringat bahwa dia adalah seorang ‘ketua’ di saat itu, amatlah tidak baik kalau dia memperlihatkan kegugupan, maka dengan nekat ia lalu mengerahkan sinkang yang dilatihnya selama enam bulan di dalam tempat rahasia Ketua Thian-liong-pang, menyalurkannya ke dada dan menerima hantaman tenaga sinkang dari kedua tangan lawan itu.

Kong To Tek terkejut bukan main. Pukulan jarak jauhnya sama sekali tidak terasa oleh lawan, bahkan hawa pukulannya membalik dengan cepatnya, membuat dia agak terengah dan dadanya sesak!

Bun Beng tak berani membuka mulut, maka dia hanya mengibaskan lengan bajunya disertai tenaga sinkang dan… Si Gundul dari Pulau Neraka itu terhuyung ke belakang sampai tiga langkah! Diam-diam Bun Beng merasa kaget dan heran sendiri, hampir dia tidak percaya bahwa sinkang-nya telah meningkat sedemikian hebatnya! Dengan mukanya yang merah muda itu menjadi pucat, hampir putih, Kong To Tek mengatur keseimbangan tubuhnya dan memandang Ketua Thian-liong-pang dengan mata terbelalak.

Adu tenaga sinkang ini tentu saja dapat dilihat para tokoh Thian-liong-pang dan para anggota Pulau Neraka. Melihat betapa serangan Kong To Tek membalik, dan dengan kibasan lengan baju saja membuat Si Gundul itu terhuyung, Tang Wi Siang yang marah menyaksikan Si Gundul itu bertindak curang, cepat melangkah maju dan berkata,

“Pangcu, serahkan setan gundul ini kepada saya. Kalau saya tidak dapat mengalahkan dia, barulah Pangcu maju. Untuk memukul seekor anjing kecil, perlukah menggunakan pentungan besar?” Ucapan terakhir ini bermaksud bahwa untuk menghajar seorang lawan tingkat rendah, tidak perlu kalau pangcu-nya yang bertingkat jauh lebih tinggi itu turun tangan sendiri.

Bun Beng mengangguk dan kini dia yang sudah yakin akan kemajuannya, sengaja mendemonstrasikan sinkang-nya. Tidak tertampak kakinya bergerak, hanya lengan bajunya dikebutkan dan… tubuhnya melayang seperti terbang cepatnya, tahu-tahu telah duduk kembali ke atas kursi Ketua!

Melihat ini, para anggota Pulau Neraka menjadi giris hatinya, bahkan Tang Wi Siang dan yang lain-lain melongo karena mereka mendapat kenyataan betapa gerakan Ketua mereka menjadi lebih lihai dari pada biasanya! Mereka girang dan mengira bahwa Ketua mereka tentu mendapatkan ilmu di tempat rahasia, melalui lorong yang pintu masuknya adalah kuburan tua itu.

Tang Wi Siang kini menghadapi Si Gundul dari Pulau Neraka, menudingkan telunjuknya dan memaki. “Setan gundul! Kau datang dengan omongan manis, akan tetapi kenyataannya engkau curang, berani engkau lancang menyerang Pangcu kami dengan serangan gelap! Pangcu kami tadi sudah mengampuni nyawa tak berharga sutemu itu!” Dia menuding ke arah Chi Song yang duduk di kursi dengan muka cemberut dan kaki kanan diangkat-angkat karena masih nyeri. “Akan tetapi agaknya aku tidak akan dapat mengampunimu!”

Si Gundul itu tersenyum lebar dan menjura. “Aih, maaf, karena kami memang sengaja hendak mohon petunjuk Pangcu kalian, maka tadi aku sengaja menyerangnya. Pangcu-mu hebat bukan main, namun sayang, dia menghadapi seranganku dengan ilmu lain, bukan ilmu dari kami seperti ketika dia mengalahkan Sute. Kalau engkau hendak mewakili Pangcu-mu, silakan. Akan tetapi jangan marah kalau aku sampai kesalahan tangan!”

“Cihhh, sombongnya! Kau kira akan mampu mengalahkan Tang Wi Siang, kepala pelayan Pangcu Thian- liong-pang? Majulah dan terima kematianmu!”

Si Gendut Gundul cemberut dan tampaknya tidak puas. “Aih, celaka sekali! Hari ini aku benar-benar menerima penghinaan besar sekali. Jauh-jauh datang hanya dihadapkan seorang pelayan. Kalau tidak bisa menang, memang aku tidak layak hidup lagi! Kouwnio, terimalah seranganku!”

Tiba-tiba Si Gundul ini menerjang dengan gerakan yang cepat sekali. Sungguh tak disangka-sangka bahwa orang yang gendut pendek sehingga kelihatan seperti seekor katak itu memiliki gerakan kaki tangan amat cepat sehingga dilihat begitu saja, kedua pasang tangan dan kakinya seolah-olah telah menjadi masing- masing tiga pasang!

Namun, kalau hanya menghadapi kecepatan gerak, wanita setengah tua yang masih cantik dan bertubuh ramping itu sama sekali tidak gentar dan dalam hal ginkang, kiranya Si Gundul itu kini bertemu gurunya! Justru dalam hal ginkang inilah Wi Siang menerima gemblengan Nirahai karena memang dia mempunyai bakat. Oleh Ketua Thian-liong-pang yang sakti itu, Wi Siang diberi ilmu Yan-cu Sin-kun, ilmu silat yang mengandalkan ginkang sehingga tubuhnya dapat berkelebatan seperti seekor burung terbang, sesuai dengan nama ilmu itu, ialah Yan-cu Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Burung Walet).

Maka keceliklah Kong To Tek ketika tiba-tiba bayangan lawannya berkelebat dan lenyap! Hanya ada angin bertiup melalui atas kepalanya ke belakang, maka cepat ia memutar tubuh dan benar saja, lawannya telah berada di belakangnya. Ia terkejut dan tidak mau lagi mengandalkan kecepatannya karena maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli ginkang yang jauh lihai dari padanya.

Kini dia melakukan serangan dengan kaki tangannya, tidak mengandalkan kecepatan lagi, melainkan mengandalkan tenaga sinkang-nya. Baik hantaman tangan mau pun tendangan kakinya didahului angin yang mengeluarkan bunyi mencicit seperti sebatang golok atau pedang yang memecah angin! Hebat bukan main tenaga Si Gundul ini, Wi Siang juga maklum bahwa mungkin dia lebih cepat, juga ilmu silatnya lebih tinggi, namun belum tentu dia dapat menandingi kekuatan sinkang Si Gundul yang benar-benar kuat itu.

“Hehhh!”

Kong To Tek mengirim pukulan dengan tangan terbuka miring ke arah lambung kiri Wi Siang. Wanita ini cepat mengelak dengan menggeser kaki ke belakang, akan tetapi tangan kiri orang gundul itu sudah menonjok atau mendorong dengan telapak kanannya ke arah dada! Wi Siang kembali mengandalkan kecepatan mengelak dengan miringkan tubuh, akan tetapi angin pukulan yang menyerempet pundaknya masih saja membuat dia terhuyung ke samping. Marahlah wanita ini.

“Haiiikkk!” Ia mengeluarkan suara melengking.

Tubuhnya mencelat ke atas, melampaui kepala Si Gundul itu. Ketika Kong To Tek memutar tubuh, Wi Siang sudah membalas serangannya dengan pukulan Touw-sim-ciang (Pukulan Menembus Jantung) yang bukan main ampuhnya.

“Hehhh!” Kembali Si Gundul membentak dan menangkis dengan lengannya.

“Dukk!” Tubuh Tang Wi Siang terhuyung, juga Si Gundul menjadi miring kuda-kudanya.

“Keparat!” Wi Siang membentak marah sekali dan kini ia mainkan ilmu silatnya dengan gerak cepat Yang- cu Sin-kun, mengirim pukulan Touw-sim-ciang yang kalau mengenai tubuh lawan dengan tepat, tentu akan merenggut nyawanya.

Menghadapi kecepatan yang luar biasa dari Wi Siang, Si Gundul kewalahan, apa lagi karena dia pun maklum kalau dadanya sampai terkena pukulan itu, kekebalannya takkan dapat melindunginya. Maka dia mulai terdesak hebat dan Bun Beng dapat melihat bahwa tak lama lagi Si Gundul itu akan roboh oleh ‘pelayannya’ yang benar-benar amat tangkas dan lihai itu.

Ketika Wi Siang yang sudah mendesak itu melancarkan pukulan-pukulan bertubi-tubi, tiba-tiba tubuh Si Gundul yang pendek itu merendah, seperti merangkak sehingga kedudukannya seperti seekor katak berkaki empat karena kedua tangannya menapak tanah, dan dari perutnya keluar suara melalui kerongkongan.

“Kok-kok-kok!”

Tiba-tiba dari mulut Si Gundul yang terbuka itu keluar uap tebal berwarna putih kehitaman, lingkaran- lingkaran uap yang menyerang ke atas ke arah tubuh Wi Siang! Wanita ini kaget sekali. Dia mengelak, akan tetapi celana pada betis kanannya terkena uap dan terasa olehnya betapa kulit betisnya panas, perih dan gatal-gatal yang luar biasa, membuat dia ingin sekali menggaruk.

Pada saat itu, kedua tangan Si Gundul yang menapak tanah itu tiba-tiba diangkat ke atas dan dua kali tangan itu digerakkan mendorong ke tubuh lawan dengan bunyi “kok-kok!” maka menyambarlah angin pukulan yang dahsyat bukan main ke arah Wi Siang! Wanita ini kembali menjadi kaget, mengelak dengan cara melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik beberapa kali. Dia dapat menghindarkan pukulan maut itu, akan tetapi kembali Si Gundul telah menyerangnya dengan tubuh merangkak seperti katak, mulutnya terus-menerus menyemburkan uap kehitaman dan kerongkongannya mengeluarkan bunyi seperti katak besar.

Diserang seperti ini, Wi Siang menjadi repot. Dia mengandalkan ginkang-nya untuk melesat ke sana-sini, namun karena dia maklum akan bahayanya uap itu, dia tidak berani mendekat dan terpaksa harus mengelak terus tanpa dapat balas menyerang, sedangkan lawannya itu menyelingi semburan uapnya dengan pukulan-pukulan dari bawah yang mengandung tenaga mukjizat!

Bun Beng sendiri menjadi terkejut menyaksikan perubahan ini. Si Gundul itu benar-benar amat berbahaya, pikirnya dan dia tidak tega menyaksikan Wi Siang dengan muka gelisah harus meloncat ke sana ke mari menghindarkan diri dari uap-uap itu dan pukulan-pukulan maut yang dilancarkan oleh manusia seperti katak itu. Maka sekali lagi dia mencelat dari atas kursinya dan pada saat itu Wi Siang sedang meloncat pula ke atas menghindarkan sebuah pukulan.

Betapa pun cepat gerakan Wi Siang, namun bagi Bun Beng kelihatannya biasa saja. Ketika tubuhnya dekat dengan tubuh Wi Siang di udara, ia cepat menyambar lengan ‘pembantunya’ itu dan sekali sentak tubuh Wi Siang terlempar melayang ke tempatnya tadi di mana Wi Siang turun dan cepat-cepat merobek celana bagian betisnya. Ternyata kulit betisnya telah ‘termakan’ racun dalam uap tadi, kelihatan merah totol-totol. Cepat ia mengambil obat anti racun dan menggosok betisnya dengan obat itu. Namun rasa gatal, panas dan perih masih belum lenyap.

Ketika Kong To Tek melihat Si Ketua turun tangan sendiri, dia tidak mau membuang waktu. Ketika Bun Beng meloncat turun, ia sudah menyambut dengan serangan uap dari mulutnya. Tubuhnya merangkak maju dengan ‘empat kaki’, dari kerongkongannya keluar suara berkokok seperti katak buduk, dan uap kehitaman menyerang Bun Beng. Namun pemuda ini, mengingat akan niat orang-orang Pulau Neraka agar dikalahkan dengan ilmunya sendiri, cepat merendahkan diri seperti merangkak pula, mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya dan dia meniup ke arah uap yang melingkar-lingkar itu.

“Kok-kok-kok…!” Si Gendut berkokok.

“Wush-wushhh-wushhh!” Bun Beng meniup dan uap kehitaman itu segera terdorong, kembali ke arah penyerangnya!

Tentu saja Kong To Tek sudah memakai obat penolak racunnya sendiri maka uap itu tidak mempengaruhi kulit tubuhnya, namun dia menjadi gelagapan ketika uap-uap itu membuyar dan menghantam mukanya sendiri. Cepat ia mengangkat kedua tangannya, melakukan pukulan ke depan mendorong dengan tenaga mukjizat.

Bun Beng juga mendorongkan kedua tangannya, akan tetapi terkejutlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa tenaga dorongan kakek gundul itu bukan mengandung sinkang sewajarnya dan selain amat kuat juga mengandung hawa beracun yang mukjizat pula. Tentu merupakan latihan sinkang yang disertai penggunaan racun yang banyak terdapat di Pulau Neraka, pikirnya. Maka ketika Bun Beng merasa betapa dorongan kakek itu dapat membahayakan, cepat ia membuang diri ke samping, menggunakan ilmu memindahkan tenaga. Ketika hawa dorongan lewat ia cepat membarengi dengan kibasan lengannya yang sudah menjadi berganda tenaganya itu ke arah muka Si Gendut Gundul.

“Kok-kok!” Si Kakek Gundul mengangkat mukanya sehingga pundaknya yang terkena hantaman ujung lengan baju Bun Beng.

“Plakkk!”

Kembali Bun Beng terkejut. Hantaman lengan bajunya yang disertai tenaga sinkang berganda itu ketika mengenai pundak lawan yang mengeluarkan bunyi seperti katak, terasa seperti membentur benteng baja dan membalik! Sementara itu, Si Kakek Gundul yang merasa terlindung oleh ilmu kataknya yang mukjizat, mempercepat bunyi berkokok di tenggorokannya dan siap menyerang lagi. Akan tetapi tiba-tiba Bun Beng berkelebat dan lenyap, tahu-tahu tubuh ‘ketua’ ini sudah melayang turun ke atas punggung lawan yang sedang merangkak sambil berkokok itu.

“Kok-kok-kok… ngekkkk! Brooottt!”

Kakek gundul itu yang tadinya mengeluarkan bunyi seperti katak, ketika kedua kaki Bun Beng menginjak punggung disertai tenaga sinkang yang membuat tubuhnya seperti menjadi laksaan kati beratnya, tak dapat menahan sehingga terdengar suara ‘ngek!’ dan tiba-tiba disambung suara memberobot amat keras dari tubuh belakangnya!

Kiranya Bun Beng dapat menaksir di mana letak kelemahan manusia yang berlagak katak ini, maka begitu punggung terinjak kuat, hawa sakti yang membuat kakek itu berkokok dan menghembuskan uap, terpencet keluar tanpa dapat ditahannya lagi dan hawa itu menerobos melalui mulut belakang. Terdengar suara di sana-sini dan semua orang menutupi hidungnya, kecuali orang-orang Pulau Neraka, karena hawa yang keluar dari ‘mulut belakang’ kakek itu benar-benar amat hebat… baunya! Akibat racun yang terkandung di dalamnya sehingga bau itu memenuhi ruangan tamu.

Kakek gundul itu sudah roboh menelungkup dalam keadaan pingsan, kini digotong oleh teman-temannya ke pinggir, sedangkan Bun Beng sudah meloncat kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang. Diam- diam ia merasa girang sekali dan kini yakinlah dia bahwa penderitaannya selama setengah tahun di dalam tempat rahasia itu telah menyembuhkan luka-lukanya sama sekali, juga telah membuat dia memperoleh kemajuan yang amat hebat, baik dalam ginkang, sinkang, dan ilmu silat! Maka tenanglah hatinya karena kini dia merasa dapat menjaga diri terhadap siapa pun juga.

Chi Song terpincang-pincang menghampiri ‘ketua’ dan dengan kaki kanan berjinjit ia menjura. “Banyak terima kasih atas petunjuk yang diberikan oleh Thian-liong-pangcu. Biarlah kami kembali melaporkan semua peristiwa ini kepada Tocu kami.”

Setelah memberi hormat sekali lagi, terpincang-pincang Chi Song memimpin tiga orang temannya yang menggotong tubuh suheng-nya yang masih pingsan. Tetapi baru saja mereka itu tiba di pintu ruangan, tampak berkelebat bayangan orang dan terdengar bentakan halus nyaring.

“Setan-setan Pulau Neraka berani mengacau di sini?”

Terdengar suara hiruk pikuk dan tiga orang yang menggotong tubuh Kong To Tek tadi terpelanting ke kanan kiri sehingga tubuh Si Gundul itu terlempar pula, akan tetapi malah membuatnya siuman dan ia mengeluh panjang. Chi Song yang melihat munculnya seorang dara yang amat cantik jelita dan yang datang-datang menerjang dan merobohkan orang-orangnya, menjadi kaget, apa lagi ketika dara itu telah menerjang maju dan menonjok ke arah dadanya dengan pukulan yang cepatnya sukar diikuti pandang mata. Dia mengelak, namun karena kakinya pincang dan gerakan dara itu cepat sekali, bahunya terkena pukulan dan ia terpelanting. Melihat betapa orang-orang Pulau Neraka itu telah bangkit kembali dan tidak tewas oleh pukulan-pukulannya dara itu menjadi marah.

“Srattt!” Dara itu sudah mencabut pedangnya akan tetapi tiba-tiba lengannya diraba orang dan tahu-tahu Bun Beng sudah berada di situ, menyentuh lengannya untuk mencegahnya turun tangan membunuh orang-orang Pulau Neraka.

Bun Beng terpaksa turun tangan mencegah ketika melihat betapa Milana, dara jelita itu, hendak melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para tamu yang tentu dianggap oleh dara itu mengacau di Thian- liong-pang, apa lagi karena dara itu pernah bertanding dengan orang-orang Pulau Neraka ketika menggendongnya dahulu.

Melihat sentuhan pada lengannya, Milana menoleh. “Ibu…!” Ia berkata dan menyarungkan pedangnya.

Kesempatan ini dipergunakan oleh lima orang Pulau Neraka untuk melarikan diri, pergi dari situ secepatnya.

Bun Beng cepat kembali ke kursinya dengan jantung berdebar. Milana telah muncul! Dia harus cepat-cepat pergi dari situ tanpa menimbulkan keributan. Akan tetapi terlambat. Milana yang terheran-heran menyaksikan sikap ibunya, cepat menghampiri, memandang ke arah sepasang mata di balik lubang kerudung kepala itu dan tiba-tiba ia berseru hampir menjerit.

“Engkau… engkau bukan Ibuku!” Dara ini menjadi pucat mukanya, dan semua tokoh Thian-liong-pang mencelat bangun dari tempat duduknya masing-masing.

“Jubah itu jubah Ibuku, dan kerudung itu pun sebuah di antara kerudung Ibuku. Akan tetapi engkau bukan Ibuku! Siapa engkau? Dan… ohhh… di mana Ibu? Kau apakan dia…?”

Milana mencabut pedangnya dan terdengarlah suara berdesing ketika para tokoh Thian-liong-pang mencabut senjata masing-masing. Bahkan Tang Wi Siang lalu mengeluarkan suara bersuit keras sebagai tanda bahaya dan segera tempat itu dikurung oleh puluhan orang anggota Thian-liong-pang yang masih bingung dan tidak mengerti mengapa Tang-kouwnio memberi tanda bahaya sedangkan tamu-tamu dari Pulau Neraka telah dikalahkan dan telah melarikan diri keluar dari Thian-liong-pang. Lebih-lebih lagi kaget dan heran hati mereka ketika melihat Milana dan para tokoh itu dengan senjata di tangan mengurung Sang Ketua sendiri!

“Buka kerudungmu!” Milana membentak lagi.

“Hayo perlihatkan mukamu, manusia bosan hidup yang berani memalsukan Pangcu kami!” Tang Wi Siang membentak dan barulah para anak buah Thian-liong-pang dapat mengerti dengan hati penuh kaget dan heran bahwa orang yang berkerudung seperti Ketua mereka itu kiranya adalah orang palsu!

“Nona, maafkan aku…!” Bun Beng berkata sambil melepaskan kerudung yang menutupi kepalanya. “Kau…?!” Milana berseru kaget sekali.
Dia girang melihat Bun Beng yang disangkanya tentu telah mati oleh luka-lukanya biar pun ketika terjatuh dari menara ditolong oleh Pendekar Super Sakti, kini masih hidup! Dahulu ibunya cepat-cepat menyambarnya dan membawanya pergi ketika melihat betapa Bun Beng yang terjatuh itu disambar oleh Pendekar Super Sakti.

“Aku tdak mau bertemu dengannya di sini. Tidak mau!” Ibunya berbisik penuh duka dan marah ketika Milana berusaha menahan ibunya agar suka bertemu dengan ayah kandungnya itu, dan ibunya terus membawanya lari secepat kilat tanpa diketahui oleh Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es itu.

Dan kini, Bun Beng berada di situ bahkan menyamar sebagai ibunya! Di samping rasa girang yang amat besar ini, timbul kekhawatirannya dan ia bertanya, “Engkau…? Bagai mana ini…? Di mana Ibu?”

“Maaf, Nona. Ibumu pingsan ketika berlatih silat di tempat rahasia di bawah sana. Karena ingin membebaskan diri, terpaksa aku memakai kerudung dan jubah ini…, maafkan aku…”

Akan tetapi Milana sudah tidak menjawab lagi dan dia meloncat hendak mencari ibunya yang pingsan di tempat rahasia. Dia sudah tahu akan tempat rahasia itu dan sudah tahu jalannya sungguh pun dia dan siapa pun juga dilarang dan tidak pernah pergi ke sana. Sementara itu, para tokoh Thian-liong-pang yang kini mengenal Bun Beng menjadi marah dan segera menyerangnya, karena dia dianggap sebagai musuh Thian-liong-pang, seorang pengacau dan bekas tahanan yang dapat lolos.

Tentu saja hanya Sai-cu Lo-mo yang tidak bergerak dan memandang bengong kepada cucu keponakannya itu. Selain dia tidak mau membunuh cucu keponakan, satu-satunya keturunannya biar pun hanya cucu luar, juga dia kagum bukan main, teringat betapa tadi Bun Beng dapat mengalahkan tokoh- tokoh lihai dari Pulau Neraka secara demikian mudahnya! Padahal, hanya kurang lebih setahun yang lalu, pemuda itu masih belum sedemikian hebat ilmu kepandaiannya!

Lui-hong Sin-ciang Chie Kang yang menggunakan pukulan badainya, Tang Wi Siang yang bersenjata pedang, dan dua orang tokoh lain yang bersenjata golok sudah menerjang Bun Beng dengan serangan- serangan maut yang amat dahsyat. Bun Beng yang menghadapi pengeroyokan ini cepat menggerakkan kaki tangannya, berkelebat ke sana-sini dan tangannya bergerak menangkis atau mendorong dan… empat orang pengeroyok itu terjengkang semuanya, ada yang terguling, ada pula yang terhuyung seperti pohon- pohon disapu angin ribut!

Bun Beng terkejut sendiri melihat akibat tangkisan dan dorongannya. Dia gunakan kesempatan ini untuk loncat ke atas, melalui kepala orang-orang yang mengepungnya, menendangi senjata-senjata yang ditujukan ke arahnya dan terus melesat ke luar dari ruangan itu melalui jendela.

“Kejar!” Tang Wi Siang berseru dan mereka bergerak mengejar keluar.

“Berhenti! Tahan senjata!” terdengar seruan melengking disusul masuknya seorang wanita berkerudung yang bukan lain adalah Ketua Thian-liong-pang sendiri, bersama Milana yang menggandeng tangan ibunya. “Jangan kejar dia, biarkan dia pergi… ahhh…!” Nirahai terhuyung dan cepat dibimbing oleh puterinya menuju ke kursinya.

Semua tokoh Thian-liong-pang menghentikan gerakan mereka, menghadap Ketua mereka dan memandang penuh kekhawatiran karena melihat tanda-tanda bahwa Ketua mereka mengalami luka dan kelihatan lemah.

“Jangan memusuhinya! Betapa pun dia telah menimbulkan kekacauan, harus kalian akui bahwa di telah menyelamatkan nama baik Thian-liong-pang sehingga kita tidak sampai mengalami penghinaan dari Pulau Neraka!”

Bun Beng yang sudah berada di luar, ketika mendengar ucapan Ketua Thian-liong-pang itu, merasa malu sendiri. Dia lalu meloncat kembali memasuki ruangan itu, menjura di depan Nirahai sambil berkata,

“Teecu mohon maaf sebesarnya telah berlaku lancang, berani memalsukan Locianpwe karena keadaan terpaksa. Teecu tidak mempunyai niat buruk kecuali ingin bebas dari dalam… neraka di bawah sana.”

Nirahai tersenyum di balik kerudungnya. “Tidak apa, Bun Beng. Semua kesalahanmu kulupakan, mengingat engkau telah membela nama baikku dan nama baik Thian-liong-pang. Bahkan untuk jasamu itu, aku akan menghadiahkan apa pun yang kau minta. Ajukanlah permintaanmu, kalau engkau suka, dan aku akan berusaha memenuhinya.”

Berdebar jantung Bun Beng mendengar ini. Dia telah dapat melenyapkan rasa permusuhan dari hati wanita aneh ini, Ibu Milana. Hal itu saja sudah merupakan suatu hadiah yang amat besar artinya baginya. Akan tetapi ia teringat akan keadaan para tokoh kang-ouw yang terculik, terutama sekali teringat akan Ang-lojin atau Ang Thian Pa, Ketua Bu-tong-pai, ayah dari Ang Siok Bi. Maka segera ia berkata,

“Terima kasih atas kepercayaan dan kebaikan hati Locianpwe. Sebenarnya teecu tidak menginginkan sesuatu untuk teecu sendiri, melainkan… jika Locianpwe tak keberatan, teecu mohon sudilah Locianpwe membebaskan para tokoh kang-ouw yang menjadi tamu di sini.”

Kembali Nirahai tersenyum di balik kerudungnya. “Permintaanmu cukup pantas, bahkan cocok dengan keinginan hatiku sediri. Aku sudah bosan mempelajari ilmu lain yang pada hakekatnya sama dasarnya, dan sekarang tinggal beberapa saja yang masih menjadi tamu kami. Wi Siang, bebaskan mereka dan biarkan mereka pulang sekarang juga, masing-masing beri kuda dan perbekalan secukupnya. Bun Beng, bangkitlah dan saksikanlah sendiri terpenuhinya permintaanmu.”

Dengan hati girang bukan main Bun Beng bangkit dan berdiri, tak lama kemudian dia sudah keluar lagi mengiringkan lima orang ‘tamu’, di antaranya Ang Thian Pa. Mereka ini adalah orang-orang yang selalu memperlihatkan sifat menentang sehingga masih belum dibebaskan oleh Thian-liong-pang. Akan tetapi setelah kini mereka dibebaskan, bahkan disertai perlengkapan dan kuda, mereka merasa lega dan berterima kasih kepada Ketua Thian-liong-pang yang selama ini memperlakukan mereka dengan baik sungguh pun mereka itu merupakan tamu yang terpaksa!

Seorang demi seorang menjura dengan hormat kepada Nirahai sambil berpamit dan mengucapkan terima kasih. Ketika tiba giliran Ang Thian Pa sebagai orang terakhir, kakek ini menjura dan berkata, “Selama berbulan-bulan saya menerima kebaikan Thian-liong-pangcu, mudah-mudahan di lain kesempatan Bu- tong-pai dapat membalas kebaikan-kebaikan itu.”

“Kami yang minta maaf kepadamu, Ang-lojin,” kata Nirahai.

Tiba-tiba Ang Thian Pa melihat Bun Beng dan mukanya berubah merah, alisnya berkerut dan dia berkata kepada pemuda itu, “Dahulu kusangka seorang taihiap yang budiman, berani menentang kejahatan dan membela yang tertindas. Kiranya engkau adalah seorang di antara tokoh Thian-liong-pang agaknya. Hemm, benar-benar aku telah salah lihat…!” Ia menghela napas panjang penuh kekecewaan dan penasaran.

Wajah Bun Beng menjadi merah sekali, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa.

“Ang-lojin, memang engkau telah salah lihat dan salah menduga. Gak Bun Beng bukanlah orang Thian- liong-pang dan ketahuilah bahwa atas permintaannyalah maka saat ini engkau kami bebaskan.”

Kakek itu terkejut, lalu menghampiri Bun Beng dan menjura penuh hormat. “Ahhh, maafkanlah mataku yang benar-benar telah lamur, Taihiap. Dan untuk menebus kebodohanku yang tak dapat menghargai kebaikan orang, biarlah kusampaikan apa-apa yang menjadi idaman hatiku semenjak aku berada di sini. Yaitu… jika kiranya Taihiap belum berkeluarga dan sudi menerima, aku… ingin menyerahkan puteri tunggalku sebagai jodoh Taihiap!”

Hampir saja Bun Beng mencelat dari tempat ia berdiri saking kagetnya mendengar ini. Mukanya menjadi makin merah dan terbayanglah wajah Siok Bi yang cantik manis. Dia dijodohkan dengan dara yang manis itu! Begitu saja! Akan tetapi, sambil menahan debaran jantungnya dia balas menjura dan berkata,

“Ang-locianpwe… banyak terima kasih atas kebaikan Locianpwe… akan tetapi soal itu… hemm… soal jodoh… ehhh, belum terpikir olehku, karenanya, bukan aku menolak, hanya… tak mungkin aku dapat menerima hal yang amat penting bagi hidupku itu. Aku akan menganggap saja bahwa tadi Locianpwe tidak pernah bicara apa-apa tentang perjodohan.”

Kakek itu menghela napas panjang. “Memang anakku tidak cukup berharga untuk seorang seperti engkau, Taihiap. Hanya aku masih menaruh harapan besar, kalau memang berjodoh kelak tentu akan terjadi. Aku dan anakku akan selalu menanti kunjunganmu, Taihiap.” Setelah berkata demikian, sekali lagi kakek itu menjura kepada Nirahai lalu meninggalkan ruangan itu.

“Aku pun mohon diri, Locianpwe. Nona Milana, selamat tinggal. Banyak terima kasih atas semua kebaikan Locianpwe dan nona yang telah dilimpahkan kepada diriku, semoga kelak aku dapat membalas itu semua.” Tergesa-gesa Bun Beng meloncat keluar dari tempat itu karena dia merasa tidak enak sekali akan ‘pinangan’ Ketua Bu-tong-pai tadi yang disampaikan di depan banyak orang, terutama di depan Milana!

Nirahai yang masih belum sembuh benar akibat salah latihan segera membubarkan anak buahnya dan masuk ke dalam ruangan dalam digandeng oleh Milana yang merasa khawatir akan keadaan ibunya.

Bubarlah para anggota Thian-liong-pang dan mereka membicarakan Bun Beng dengan penuh kagum dan keheranan. Terutama sekali Sai-cu Lo-mo, termenung dengan hati tegang dan penuh kegembiraan saat mendapat kenyataan betapa cucu keponakannya telah menjadi seorang yang amat lihai, dan betapa Ketuanya suka mengampunkan pemuda itu.

Timbul pula pikirannya bahwa mengingat akan perlindungan dan pembelaan Milana terhadap cucu keponakannya itu seperti yang ia dengar dari para anak buah Thian-liong-pang yang melakukan pengejaran terhadap Bun Beng yang dipimpin oleh kedua orang saudara kembar Su Kak Liong dan Su Kak Houw, alangkah baiknya kalau cucu luarnya itu dijodohkan dengan puteri Pangcu! Biar pun dengan hati takut-takut dan berdebar tegang, beberapa hari kemudian dia memberanikan hatinya menghadap Nirahai menyampaikan niatnya itu, yaitu meminang Milana untuk cucu keponakannya Gak Bun Beng!

Sampai lama Ketua Thian-liong-pang itu tidak bergerak dari kursinya, sedangkan Sai-cu Lo-mo yang menanti jawaban duduk menundukkan muka dengan hati berdebar. Dia tidak dapat menduga apa yang akan menjadi jawaban Sang Ketua yang wataknya aneh sekali itu, bahkan dia tidak akan merasa heran kalau sebagai jawaban, wanita berkerudung itu melancarkan serangan dan membunuhnya! Akhirnya terdengar wanita itu menjawab, suaranya halus akan tetapi dingin, membuat Sai-cu Lo-mo yang mendengarnya terasa sakit seperti tertusuk dan menjadi beku.

“Sai-cu Lo-mo, sudah kau pikir masak-masak pinanganmu ini? Kalau mengingat akan dirimu, dan akan keponakanmu, mendiang Bhok Kim, seorang di antara Kang-lam Sam-eng tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal, memang tidak mengecewakan dan patut dipertimbangkan pinanganmu itu. Akan tetapi, apakah kau sengaja atau pura-pura lupa bahwa Gak Bun Beng adalah keturunan Si Setan Botak, datuk kaum sesat Gak Liat yang merupakan manusia iblis? Yang lebih dari itu pula, apakah kau pura-pura lupa bahwa Gak Bun Beng terlahir sebagai anak yang tidak syah, terlahir dari perbuatan keji, yaitu pemerkosaan yang dilakukan Gak Liat terhadap Bhok Khim? Dan engkau masih berani mengajukan lamaran untuk pemuda itu, melamar anakku?”

“Maafkan kelancangan saya, Pangcu…” Sai-cu Lo-mo berkata, suaranya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kedukaan hatinya. Bukan saja lamarannya ditolak, bahkan ia diingatkan akan keadaan Bun Beng yang dianggap hina dan rendah. Di dalam hatinya ia memberontak. Apakah kesalahan cucu keponakannya itu dalam hal pemerkosaan dan kelahiran tidak syah? Apa hubungannya dengan seorang ayah seperti Gak Liat? Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani membantah.

Nirahai dapat mengerti kedukaan hati pembantunya ini, maka dia berkata lagi, “Lo-mo, engkau hanya mengenal aku sebagai Ketuamu, hanya mengenal aku sebagai puteri Kaisar. Kalau engkau tahu siapa Ayah puteriku, engkau akan berpikir seribu kali sebelum mengajukan lamaran itu. Nah, mundurlah!”

Jantung Sai-cu Lo-mo berdebar. Sering kali dia menduga-duga siapa sebenarnya suami Ketuanya ini. Dia memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruangan itu, dan hatinya terasa berat sekali. Sepanjang pengetahuannya, Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu belum pernah menikah! Akan tetapi dikabarkan secara bisik-bisik bahwa puteri itu melarikan diri dari istana bersama Pendekar Super Sakti! Apakah Milana puteri Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai? Ia bergidik, ngeri memikirkan bahwa dia telah berani meminang anak dari Panglima Puteri Nirahai, puteri Kaisar, dan anak dari Ketua Pulau Es, Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti! Tentu saja dia tidak akan berani melakukan pinangan itu sekiranya dia tahu bahwa Ketuanya masih merasa dirinya sebagai puteri Kaisar, dan sekiranya dia tahu bahwa Milana adalah puteri Pendekar Super Sakti!

Baik Nirahai sendiri mau pun Sai-cu Lo-mo tidak tahu bahwa percakapan mereka tadi terdengar oleh Milana. Dara ini tadinya hendak mengunjungi ibunya, dan dia berhenti mendengarkan dari luar ketika melihat Sai-cu Lo-mo menghadap ibunya. Ketika ia mendengar jawaban ibunya, Milana merasa jantungnya seperti ditusuk. Cepat-cepat dia meninggalkan tempat itu, kembali ke kamarnya dan menghapus beberapa titik air mata yang membasahi pipinya.

Dia menganggap ibunya terlalu menghina Bun Beng! Tidak ingatkah ibunya bahwa Gak Bun Beng tidak pernah minta untuk dilahirkan sebagai keturunan Gak Liat, sama seperti dia yang tidak pernah minta untuk dilahirkan sebagai puteri Pendekar Super Sakti dan cucu Kaisar? Mengapa ibunya masih juga memandang keturunan dan kedudukan, setelah kesengsaraannya yang dialami ibunya karena kedudukannya sebagai puteri Kaisar?

Milana tidak kecewa karena penolakan ibunya. Dia tidak terlalu ingin, bahkan tidak ada keinginan sama sekali menjadi isteri siapa pun juga, tidak ingin menjadi isteri Bun Beng. Juga dia tidak tahu apakah dia cinta kepada pemuda itu atau tidak. Yang jelas, dia suka kepada Bun Beng dan merasa kasihan kepadanya. Apa lagi kini ibunya sendiri menghina pemuda itu, dia merasa penasaran sekali dan rasa kasihan di dalam hatinya makin mendalam.

Melihat hati ibunya yang rela menderita dan memaksa memisahkan diri dari ayahnya, Pendekar Super Sakti, melihat sepak terjang Thian-liong-pang menculiki tokoh-tokoh kang-ouw sungguh pun kini usaha itu telah dihentikan ibunya dan semua tokoh telah dibebaskan, Milana merasa bosan tinggal di situ dan dia ingin sekali bertemu dengan Bun Beng, melakukan perjalanan bersama pemuda itu. Tiba-tiba ia teringat akan musuh-musuh Bun Beng, teringat pula betapa pedang Hok-mo-kiam terampas oleh Tan-siucai dan Maharya, teringat pedang Lam-mo-kiam yang terampas oleh putera Pulau Neraka. Betapa banyak tugas yang dihadapi Bun Beng. Akan senang sekali kalau ia dapat membantu pemuda itu.

Pada keesokan harinya, Nirahai tak melihat puterinya. Milana telah pergi dari situ tanpa pamit dan biar pun Nirahai menyebar anak buahnya untuk mencari, usahanya sia-sia belaka, Milana tetap lenyap tanpa memberi tahu ke mana perginya dan apa tujuannya. Nirahai hanya dapat menarik napas panjang dan menyesali sikapnya yang terlalu memanjakan anak itu. Hanya dia tidak khawatir karena maklum bahwa tingkat kepandaian puterinya itu sudah cukup tinggi sehingga takkan mudah diganggu orang jahat. Mengapa puterinya tidak berterus terang saja kalau ingin merantau? Tanpa pamit begini, sedikit banyak membuat dia tidak tenang.

********************

Pendekar Super Sakti Suma Han dan Giam Kwi Hong keponakannya juga muridnya, berdiri di pantai laut. Sebuah perahu layar putih, perahu Pulau Es yang menjemput mereka, telah menanti.

“Kwi Hong, pedang itu tidak patut kau bawa-bawa. Engkau tidak layak memegang senjata laknat seperti itu.” Pendekar Super Sakti berkata halus sambil memandang pedang Lam-mo-kiam yang tergantung di punggung keponakannya.

Kwi Hong mengerutkan alisnya. “Akan tetapi, bukankah seluruh tokoh kang-ouw mencari Sepasang Pedang Iblis? Bahkan Paman sendiri dahulu pernah menyatakan kepadaku akan mencari Sepasang Pedang Iblis sampai dapat? Setelah sekarang sebatang di antaranya berada di tanganku, mengapa Paman berkata demikian? Harap beri penjelasan karena saya tidak mengerti.”

Pendekar Super Sakti menarik napas panjang dan berdiri menekan tongkatnya.

“Memang semua pendekar, baik dari golongan bersih mau pun kotor, ingin sekali memperoleh sepasang pedang yang ampuh dan mukjizat itu, tentu saja dengan maksud agar sepasang pedang itu dapat membantu mereka mengangkat nama, mengandalkan keampuhannya. Akan tetapi aku mencari pedang itu dengan maksud untuk kulenyapkan selama-lamanya agar tidak menimbulkan keributan lagi di dunia.”

Tangan kanan Kwi Hong mengelus sarung pedangnya, alisnya berkerut. “Mengapa, Paman? Mengapa hendak dilenyapkan?”

“Engkau tidak mengerti. Riwayat Sepasang Pedang Iblis itu busuk sekali. Sungguh pun yang membuatnya adalah atas perintah mendiang pendekar wanita Mutiara Hitam, namun sepasang pedang itu telah dimasuki pengaruh roh jahat dari pembuat-pembuatnya berdasarkan ilmu hitam sehingga sepasang murid Mutiara Hitam pun menjadi korban saling bunuh. Akulah yang mula-mula menemukan mereka saling bunuh, kasihan mereka…” Suma Han termenung, teringat akan masa lalu di waktu dia masih kecil dan mendapatkan Sepasang Pedang Iblis (baca cerita Pendekar Super Sakti).

Akan tetapi bukan kakek dan nenek murid Mutiara Hitam yang terbayang olehnya, melainkan wajah Lulu, adik angkatnya, juga wanita yang paling dicintanya, yang kini menjadi Majikan Pulau Neraka. Dia lalu menghela napas panjang. “Aku menguburkan jenazah mereka berikut Sepasang Pedang Iblis. Kemudian sepasang pedang itu lenyap dan kini yang sebatang terjatuh di tanganmu. Bagaimana hatiku akan tenang kalau engkau bersenjata pedang jahat itu?”

“Akan tetapi, Paman, bukankah Paman pernah mengatakan bahwa tidak ada ilmu yang baik atau jahat? Saya rasa demikian pula dengan senjata. Baik atau jahatnya tergantung dari pada si pemakai, bukankah demikian? Kalau pedang ini dipergunakan untuk kejahatan, maka jahatlah dia, kalau dipergunakan untuk kebaikan, apakah juga jahat namanya? Maaf, Paman, bukan sekali-kali saya hendak membantah kehendak Paman. Jika Paman menghendaki, saya akan menanggalkan pedang ini dan terserah hendak Paman apakan pedang ini. Tetapi, pedang ini adalah pemberian Bun Beng, dan…” Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya dan menundukkan mukanya.

Suma Han memandang tajam, kemudian menarik napas panjang dan berkata, “Ah, hampir aku lupa bahwa engkau bukan kanak-kanak lagi, Kwi Hong. Engkau telah dewasa, sudah terlalu dewasa malah. Anak baik, apakah engkau mencinta Bun Beng?”

Kwi Hong tidak menjawab, mukanya merah sekali, kemudian ia mengangkat muka, berkata tanpa berani menentang pandang mata pamannya, “Saya tidak tahu, Paman. Hanya… saya pikir… tidak baik kalau menyia-nyiakan pemberian orang, apa lagi kalau dilenyapkan begitu saja… dan dia… sudah begitu baik kepada saya ketika bertemu dengan Tan-siucai dan Maharya, rela mengorbankan diri terluka hebat. Aihhh, mungkin sekarang dia… dia… dia telah… mati…”

“Jangan khawatir. Mati hidup manusia berada di tangan Tuhan. Kalau dia sampai di Pulau Neraka dan menyerahkan suratku, aku yakin dia akan tertolong. Nah, biarlah sementara ini kau bawa pedang itu, apa lagi engkau harus menjaga keamanan Pulau Es. Aku hendak pergi mencari Tan-siucai dan Maharya, perlu kuambil kembali Hok-mo-kiam, sebab kalau ada pedang itu padaku, aku tak khawatir lagi kalau-kalau Sepasang Pedang Iblis akan menimbulkan bencana. Nah, berangkatlah dan hati-hati menjaga pulau.”

Kwi Hong berangkat naik perahu dan setelah perahu itu berlayar menuju ke utara sampai jauh sekali dan hanya tampak sebagai sebuah titik yang kadang-kadang lenyap oleh naik turunnya ombak, Pendekar Super Sakti lalu membalikkan tubuhnya dan melesat pergi dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.

Diam-diam dia mengambil keputusan untuk menjodohkan Kwi Hong dengan Bun Beng. Dia melihat anak keturunan Gak Liat itu mempunyai watak yang baik sekali. Dia tidak mengingat akan keburukan watak ayah Bun Beng, karena bukankah ayah Kwi Hong sendiri, perwira Mancu, Giam Cu, tidak lebih baik dari pada Si Setan Botak Gak Liat? Akan tetapi, ia tahu bahwa pikiran itu terlalu jauh melayang karena keadaan Bun Beng sendiri belum diketahui bagaimana keadaannya, sedangkan lukanya amat berbahaya.

********************

Pada waktu itu, Kerajaan Mancu yang mendirikan Wangsa Ceng mengalami kemajuan amat pesatnya, menjadi sebuah negara besar yang amat kuat. Bintang Kerajaan Mancu ini mulai naik dengan pesat, menjadi cemerlang ketika pemerintahannya berada di tangan Kaisar Kang Hsi (1663-1722). Kaisar ini ternyata adalah seorang yang berbakat dan ahli untuk menjadi pemimpin. Dia seorang jenderal perang yang amat pandai mempergunakan tenaga-tenaga ahli, sehingga semua perlawanan rakyat, baik dari kaum patriot yang mempertahankan tanah air dari penjajahan bangsa Mancu, sampai gerombolan- gerombolan bersenjata yang sebetulnya hanyalah perampok-perampok yang berdalih perjuangan, dapat dihancurkan satu demi satu. Daerah Se-cuan yang dipertahankan oleh Bu Sam Kwi yang gigih melawan bangsa Mancu, juga dapat direbut dan semua perlawanan dipatahkan dalam tahun 1681. Setelah Se-cuan jatuh, maka kerajaan Mancu boleh dibilang menguasai seluruh Tiongkok, bahkan jauh lebih luas lagi dari pada wangsa yang sudah-sudah.

Bangsa Mongol yang dahulu membantu penyerbuan bangsa Mancu ke selatan merasa kecewa oleh politik Bangsa Mancu dan merasa kurang diberi bagian keuntungan, lalu memberontak. Namun, pemberontakan- pemberontakan yang amat gigih dan kuat itu pun dapat dihancurkan oleh pemerintah Ceng di bawah Kaisar Kang Hsi dan akibat perang ini seluruh Mongolia jatuh dan dikuasai bangsa Mancu. Bahkan dalam mengejar sisa-sisa pasukan Mongol, bala tentara Mancu memasuki daerah Tibet dan menguasai pula.

Makin luaslah daerah kekuasaan Kerajaan Ceng. Batas-batasnya sampai di seluruh Mancuria, Mongolia luar, Sin-kiang, Tibet dan seluruh daerah selatan Tiongkok. Bahkan di dalam perang-perang perbatasan yang mendatang, Kerajaan Ceng ini telah menaklukkan negara-negara tetangga, di antaranya Afganistan, Kasmir, Nepal, Birma, Muangthai, Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Negara-negara ini mengakui kekuasaan Kerajaan Ceng di Tiongkok dan menyatakannya dengan membayar upeti!

Kaisar Kang Hsi bukan hanya pandai dalam hal kemiliteran, juga dalam urusan politik dan sipil dia ternyata seorang ahli. Kaum koruptor diberantas hingga pemerintahannya bersih dari perbuatan korupsi dan penyuapan, hal yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya, yang tak pernah dapat diberantas oleh kerajaan-kerajaan yang lain. Pemerintahan yang sehat dan jujur disusun, kaum penjilat dienyahkan, hukuman-hukuman berat dikenakan kepada orang-orang yang melakukan perbuatan jahat.

Di samping ini, Kaisar Kang Hsi menghargai kebudayaan Tiongkok. Kebudayaan itu diperkembang luaskan, bahkan dia mengundang sastrawan-sastrawan dan ahli-ahli pikir untuk menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahannya. Tentu saja undangan dan sikap Kaisar ini mendapat sambutan yang hangat dari kaum terpelajar, dan sekaligus merubah pandangan mereka yang tadinya benci akan penjajahan terhadap bangsa Mancu ini.

Membanjirlah kaum sastrawan dari pelbagai daerah ke Peking yang menjadi kota raja. Mereka diterima oleh Kaisar Kang Hsi, diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian masing-masing. Bukan hanya kaum sastrawan yang mendapat kedudukan, juga Kaisar yang bijaksana ini memberi kesempatan kepada kaum kang-ouw, kepada ahli-ahli silat yang pandai, untuk membantu pemerintahannya, menerima mereka serta memberi kedudukan-kedudukan yang menjamin kemewahan dan kecukupan hidup bagi mereka. Inilah sebabnya mengapa Kaisar ini mempunyai barisan yang amat kuat, yang bukan hanya terdiri dari pasukan- pasukan Mancu yang sudah tergembleng oleh perang, juga dibantu oleh orang-orang pandai dari dunia kang-ouw.

Setelah keadaan dalam negeri menjadi aman, semua pemberontak telah ditumpas dan orang-orang kang- ouw banyak menggabung dan mengabdi kepada kerajaan baru ini, mulailah Kaisar Kang Hsi memperhatikan persoalan dalam istana. Sudah lama dia merasa tak senang dengan hilangnya puterinya, yaitu Nirahai yang pernah berjasa besar ketika Kerajaan Mancu sedang berhadapan dengan banyak orang pandai yang memberontak. Dan semua itu adalah gara-gara seorang pendekar bernama Suma Han yang terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti, juga dikenal sebagai Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es.

Setelah Pulau Formosa dikalahkan dan diduduki oleh Kerajaan Ceng, Kang Hsi mulai memikirkan hal ini dan berkeinginan hendak mengirim pasukan menyerbu Pulau Es, menangkap Suma Han yang dianggap telah memperkosa dan mencemarkan nama dan kehormatan Kerajaan Ceng, dan menarik kembali Puteri Nirahai ke lingkungan istana. Selain ini, Kaisar yang mempunyai banyak sekali pembantu terdiri dari orang- orang berilmu tinggi ini mendengar akan kitab-kitab pusaka peninggalan Bu Kek Siansu dan Koai-lojin, yang kabarnya berada di Pulau Es.

Pada suatu hari, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, yaitu orang yang diangkat menjadi koksu dalam urusan pengumpulan orang-orang kang-ouw, menghadap Kaisar bersama dua orang tamu. Bhong Ji Kun ini adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi kurus dan berkepala botak, seorang peranakan India yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Dialah yang menjadi ‘orang pertama’ di antara jagoan istana, bahwa dia pula yang membentuk barisan pengawal kaisar istana. Koksu ini mempunyai dua orang pembantu yang lihai pula, yaitu Thian The Lama dan Thian Li Lama, dua orang pendeta Lama dari Tibet yang jarang dapat menemukan tanding.

Ketika Kaisar menerima kunjungan Koksu-nya, Kaisar memandang dengan wajah tertarik kepada dua orang yang datang bersama Bong Ji Kun itu. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, berwajah tampan dan bersikap halus berpakaian sebagai sastrawan, bersama seorang kakek India yang berpakaian sederhana, seperti biasa kaum pertapa India, hanya kain panjang yang dibelit-belitkan tubuh, bertelanjang kaki, dan bersorban.

Ketika Kaisar mendengar bahwa kakek India itu yang bernama Maharya adalah paman guru Sang Koksu sendiri, bukan main girang hati Kaisar ini dan segera memerintahkan Bhong Ji Kun untuk menerima Maharya sebagai tamu agung dan memberi segala pelayanan, juga apabila dikehendaki mengangkatnya sebagai penasehat dalam urusan keamanan. Juga murid pendeta itu yang diperkenalkan sebagai Tan Ki, seorang siucai yang selain ahli dalam hal ilmu silat, juga ahli sastra, diberi kedudukan, mencatat dan mengurus keperluan semua pasukan pengawal. Tentu saja guru dan murid ini merasa girang sekali dan berlutut menyembah menghaturkan terima kasih.

Dengan masuknya Maharya menjadi pembantu kerajaan, tentu saja kedudukan kerajaan menjadi makin kuat, apa lagi selain Maharya dan Tan-siucai, banyak pula orang pandai dari pelbagai aliran dan golongan masuk menjadi pengawal-pengawal dan panglima-panglima pengawal.

Setelah mendapat bantuan Maharya, Bhong Ji Kun baru merasa besar hatinya dan dia menerima perintah Kaisar dengan penuh kepercayaan, untuk menyerbu Pulau Es. Tadinya dia selalu menangguhkan niat Kaisar ini dengan alasan bahwa Pendekar Siluman dari Pulau Es amatlah saktinya dan pelayaran menuju ke pulau itu berbahaya sekali. Namun, kini dengan bantuan paman gurunya yang dalam ilmu kepandaian bahkan lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan dia sendiri, dia menyanggupi perintah itu, lalu mempersiapkan pasukan yang amat kuat, terdiri dari pengawal-pengawal pilihan, dikepalai panglima- panglima pilihan pula. Dari barisan armada lautan, koksu menerima beberapa buah kapal yang cukup besar dan kuat, ditangani oleh anak buah yang ahli dalam pelayaran.

Berangkatlah pasukan yang terdiri dari tiga ratus orang itu, selain dipimpin oleh para panglima pilihan, juga dikepalai sendiri oleh Bhong Ji Kun, Maharya, Tan-siucai, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan beberapa orang pandai yang menjadi pembantu koksu itu. Lima buah kapal besar melayarkan mereka menuju ke utara, seolah-olah sebuah armada yang hendak menyerbu daerah musuh! Perintah Kaisar adalah, menawan Pendekar Super Sakti Suma Han berikut semua anak buahnya, atau membunuh kalau mereka melawan, menduduki Pulau Es, dan merampas semua pusaka yang berada di pulau itu!

Tidaklah mudah bagi kapal-kapal perang Ceng itu untuk dapat menemukan Pulau Es, akan tetapi anak buah kapal-kapal itu dipimpin oleh nakhoda kapal yang berpengalaman, dan kapal-kapal itu menjelajah ke utara, di antara pulau-pulau yang banyak terdapat di sana. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah terlalu jauh ke utara sehingga di utara pulau-pulau itu terdapat Pulau Neraka yang namanya menggetarkan dunia orang gagah!

Pulau Neraka hanya kelihatan sebagai sebuah pulau menghitam yang menyeramkan, dengan batu-batu karang menonjol di permukaan laut sekitar pulau sehingga amat berbahaya bagi kapal atau perahu yang berani mendekatinya. Namun, karena yang mereka cari adalah Pulau Es, maka lima kapal itu tidak memperhatikan pulau-pulau lain, mereka hanya meneliti kalau-kalau terdapat pulau yang berwarna putih, yang permukaannya tertutup es dan salju.

Setelah hilir mudik sampai tiga pekan lamanya, pada suatu malam, sewaktu kapal-kapal itu terpaksa membuang jangkar dan melewatkan malam yang dingin di bawah sinar bulan purnama, tiba-tiba terdengar teriakan dari atas tiang di mana terdapat penjaga-penjaga yang mempergunakan teropong. Pada waktu itu teropong merupakan barang baru yang telah dimiliki oleh pasukan Kerajaan Ceng.

Mendengar teriakan ini panglima pengawal Bhe Ti Kong yang kebetulan malam itu mengepalai penjagaan, cepat meloncat dan memanjat tangga tali menuju ke atas.

“Apa yang kau lihat?” tanyanya.

“Ciangkun, harap periksa di sebelah timur itu!” si penjaga berkata sambil menyerahkan teropongnya.

Bhe Ti Kong menerima teropong dan mengarahkan alat itu ke timur. Dia berseru kaget dan heran! “Lekas beritahu kepada Koksu!”

Penjaga itu cepat menuruni tangga tali dan melapor kepada Bhong Ji Kun yang sedang duduk makan minum dan bercakap-cakap dengan para pembantunya di ruangan kapal besar.

“Hamba melapor kepada Taijin bahwa di sebelah timur kelihatan benda mencorong yang aneh sekali. Hamba diutus Bhe-ciangkun untuk melapor kepada Taijin.”

Mendengar ini, Im-kan Seng-jin, diikuti oleh Maharya, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Tan-siucai segera keluar menghampiri tiang besar yang ujung atasnya digunakan untuk tempat penjaga memeriksa keadaan dengan teropong.

Bergantian Bhong Ji Kun, Maharya, dan kedua orang Lama meloncat dan melayang ke atas untuk memeriksa benda aneh di timur itu dengan teropong, sedangkan Tan-siucai terpaksa naik seperti yang dilakukan Bhe Ti Kong tadi, yaitu dengan melalui tangga tali. Hanya bedanya, kalau Bhe Ti Kong memanjat biasa, adalah siucai itu naik cepat sekali, seperti berloncatan dibantu oleh tangga itu.

“Ahh, tidak salah lagi. Tentu itulah Pulau Es!” kata Im-kan Seng-jin setelah turun kembali.

Benda yang tampak oleh mereka itu adalah benda besar panjang yang mencorong tertimpa sinar bulan, berkilauan putih seperti kaca. Hanya pulau yang tertutup es sajalah yang dapat mengeluarkan pantulan sinar bulan seperti itu. Kalau siang tidak tampak karena sinar matahari terlalu terang. Akan tetapi, sinar bulan yang lembut membuat cuaca remang-remang dan karena itu pantulan sinar bulan dapat tampak.

“Besok pagi kita menuju ke sana. Kalau memang benar di sana letak Pulau Es, setelah mendekati, lima kapal harus dipencar dan mengurung pulau. Pasukan dibagi dan dari sekarang kita harus mengatur rencana,” kata Bhong Ji Kun.

Dia segera mengumpulkan semua pembantu dan para panglima pemimpin pasukan. Malam itu juga dia membagi pasukan menjadi lima bagian dipimpin oleh komandan masing-masing, juga masing-masing pembantunya mengepalai pasukan sekapal. Kapal pertama dipimpin oleh koksu sendiri, kedua oleh Maharya, ketiga dan ke empat oleh kedua orang Lama, sedangkan kapal terakhir oleh Tan-siucai. Malam itu juga, mereka yang ditugaskan pindah ke kapal masing-masing dan semua pasukan mempersiapkan diri, yang tidak tugas jaga diperbolehkan tidur agar besok menjadi segar jika menghadapi pertempuran.

********************

Kwi Hong yang berlayar di atas perahunya mengaso di dalam bilik perahu, membiarkan perahu-perahu itu dilayarkan oleh lima orang anak buah Pulau Es. Ketika perahu itu tiba di tepi pantai, sebuah perahu kecil meluncur cepat menyambutnya. Perahu ini didayung oleh seorang pemuda tampan bertubuh tinggi besar, dan di dalam perahu penuh dengan ikan besar.

Pemuda ini adalah Thung Ki Lok, putera dari Thung Sik Lun tokoh Pulau Es, sute dari Yap Sun. Usianya sudah dua puluh lima tahun, tampan dan gagah perkasa, mewarisi ilmu kepandaian ayahnya. Di punggungnya tergantung sebatang golok besar yang tajam mengkilap, dan tangannya memegang sebuah jala ikan. Melihat perahu itu dan melihat Kwi Hong berdiri di kepala perahu, dia melempar jala di atas ikan- ikannya, kemudian mendayung perahunya cepat sekali menyambut.

Ketika perahu besar yang ditumpangi Kwi Hong menempel di darat, pemuda itu meloncat ke atas perahu, membawa seekor ikan yang besarnya sepaha orang, ikan yang kulitnya keemasan dan amat gemuk sehingga dalam keadaan mentah saja sudah kelihatan enak!

“Selamat datang, Nona. Sungguh besar sekali untungmu, begitu pulang aku berhasil mendapatkan seekor kakap merah yang sangat lezat. Nah, kupersembahkan ikan ini kepadamu, Nona!” kata Thung Ki Lok sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang kuat dan bersih.

Hati Kwi Hong sedang kesal karena selalu memikirkan Bun Beng yang dikhawatirkan keadaannya. Dia menjadi makin sebal melihat penyambutan yang amat ramah ini. Dia tahu bahwa sudah bertahun-tahun pemuda putera pembantu pamannya ini menaruh hati kepadanya. Sungguh pun Ki Lok tidak pernah membuka rahasia hatinya dengan kata-kata, namun dari gerak-geriknya, dari pandang matanya, dari suaranya, jelas menyatakan bahwa pemuda tinggi besar dan gagah perkasa ini jatuh cinta kepadanya. Anehnya, hal ini membuat Kwi Hong selalu merasa jengkel dan tidak senang!

“Terima kasih, Lok-ko. Aku lelah dan ingin mengaso, malas untuk masak-masak,” dia berkata sambil melompat ke darat.

Sejenak Ki Lok melongo, namun dengan senyum yang tak pernah meninggalkan mukanya, dia meloncat pula mengikuti dan menghadang di depan Kwi Hong sambil berkata, “Biarkan kumasakkan untukmu, Nona. Engkau suka ikan panggang, bukan? Akan kupanggang untukmu, kuberi bumbu yang enak. Harap kau jangan makan dulu, tunggu sampai ikan ini matang dan…”

“Sudahlah, Lok-ko, kau makan sendiri ikan yang dengan susah payah kau tangkap itu, kau makan bersama ayahmu. Aku tiada nafsu makan. Terima kasih!” Kwi Hong lalu meloncat ke depan dan berlari ke tengah pulau.

Tinggal Ki Lok yang berdiri dengan ikan di tangan, dipondong di atas kedua lengannya, dan berdiri melongo memandang bayangan gadis itu yang lenyap di antara pohon-pohon.

“Thung-kongcu, wanita itu seperti burung dara, kalau didiamkan mendekat, kalau didekati terbang menjauh. Lihatlah…” Seorang di antara anak buah Pulau Es menuding ke arah pulau.

Ki Lok sadar, mukanya menjadi merah dan ia menengok ke tengah pulau itu. Musim ini, di mana banyak sinar matahari, pulau itu ditumbuhi beberapa macam pohon sehingga kelihatannya lebih hidup dari pada di musim dingin yang membuat pulau itu gundul sama sekali.

Di antara pohon-pohon ia melihat Kwi Hong sedang berhadapan dengan seorang pemuda, bercakap- cakap. Ki Lok membalikkan tubuhnya, meloncat ke dalam perahu, melempar ikan kakap merah di antara tumpukan ikan-ikan lain lalu mendayung perahunya menjauhi perahu yang baru tiba. Lima orang tukang perahu itu hanya menghela napas panjang karena mereka pun maklum bahwa seolah-olah terjadi perebutan antara Thung Ki Lok dan Kwee Sui, seorang pemuda tampan anak keluarga Pulau Es yang diambil murid oleh Phoa-toanio, yaitu Phoa Ciok Lin wakil majikan Pulau Es untuk urusan dalam. Namun semua orang maklum bahwa terhadap kedua orang muda yang seolah-olah bersaing memperebutkan cinta gadis cantik murid Pulau Es itu, Kwi Hong bersikap acuh tak acuh, bahkan kadang-kadang memperlihatkan dengan jelas bahwa dia tidak senang menghadapi rayuan mereka.

Pemuda yang kini menyambut kedatangan Kwi Hong itu adalah Kwee Sui. Dia berusia dua puluh enam tahun, tubuhnya tidak tinggi besar seperti Ki Lok, akan tetapi sedang dan wajahnya tampan sekali, juga dalam hal bicara dan mengambil hati, dia lebih pandai dari pada saingannya yang agak kaku. Memang sifat kedua orang pemuda itu jauh berlainan, sungguh pun keduanya sama tampan dan sama gagah.

Semenjak kecil Ki Lok suka bekerja di luar, yaitu mencari ikan menentang panasnya matahari dan melawan serangan ombak laut, berjuang melawan alam di samping mempelajari ilmu silat dari ayahnya. Wataknya terbuka dan jujur, pemberani dan agak kaku. Sebaliknya, Kwee Sui yang menjadi murid Phoa Ciok Lin dapat mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi karena gurunya adalah wakil Pendekar Super Sakti, bahkan Phoa Ciok Lin adalah murid dari iblis betina Toat-beng Ciu-sian-li yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw. Di samping ilmu silat, Kwee Sui juga suka belajar ilmu sastra dan ia selalu mengenakan pakaian bersih dengan potongan seorang sastrawan.

“Hong-moi, engkau baru pulang? Dan di mana Pamanmu, Suma-taihiap, mengapa tidak ikut pulang?” demikian Kwee Sui menyambut dengan sikap ramah.

Sebagai murid Phoa Ciok Lin, dia lebih dekat dalam pergaulannya dengan Kwi Hong dan menyebutnya moi-moi (adik), tidak seperti Ki Lok yang menyebutnya nona. Ada pun semua anggota Pulau Es menyebut taihiap (pendekat besar) kepada Suma Han yang tak pernah suka disebut Pangcu (ketua perkumpulan) atau Tocu (majikan pulau).

“Paman masih banyak urusan, aku disuruh pulang lebih dulu.”

“Ahh, engkau tentu lelah. Biar kusuruh koki menyediakan makanan yang paling kau sukai, Hong-moi. Apakah kau juga ingin mandi air hangat? Biarlah kusuruh pelayan menyediakan…”

“Terima kasih, Sui-ko, tidak usah repot-repot. Jikalau aku perlu, aku akan menyuruh sendiri,” jawab Kwi Hong singkat, mulai tak senang hatinya. Datang-datang dia disambut oleh rayuan-rayuan kedua orang pemuda itu, betapa menyebalkan!

“Eh, engkau mendapatkan pedang baru, Hong-moi? Bukan main indahnya sarung pedang itu… ihhh, bolehkah aku melihatnya?”

Kwi Hong meraba gagang pedangnya dan menghunusnya separuh.

“Ayaaaa…!” Kwee Sui meloncat ke belakang sampai tiga meter lebih dan mukanya berubah.

Matanya silau ketika tadi melihat pedang yang baru dihunus setengahnya, dan ia bergidik setelah Kwi Hong menyarungkan kembali pedangnya. Gadis itu tersenyum, setidaknya dia girang betapa pemuda itu terkejut dan kagum bukan main melihat Li-mo-kiam. Dia merasa bangga akan pedang itu.

“Bukan main, Hong-moi. Pedang pusaka apakah itu? Luar biasa sekali, baru sinarnya saja agaknya sudah dapat membunuh orang!”

“Hemm, tentu saja ampuh. Pedang ini adalah Li-mo-kiam, sebuah di antara Siang-mo-kiam.”

“Sepasang Pedang Iblis…?” Kwee Sui terbelalak dan matanya lebar memandang ke arah pedang yang tergantung dalam sarung pedang di pinggang Kwi Hong. “Yang sebatang lagi mana, Hong-moi? Apakah dibawa Taihiap?”

Kwi Hong hanya menggeleng kepala. “Tidak perlu banyak bertanya, Sui-ko. Sudahlah, aku ingin bertemu Bibi Phoa kemudian beristirahat.” Gadis itu lalu meninggalkan Kwee Sui yang masih berdiri terlongong.

“Sepasang Pedang Iblis…” Pemuda itu berbisik dan bergidik, tetapi hatinya ingin sekali melihat dan memegang pedang yang amat terkenal dan yang ia dengar diperebutkan oleh seluruh orang gagah di dunia kang-ouw itu.

Setelah bertemu dengan Phoa Ciok Lin, Kwi Hong berkata, “Bibi, dalam pelayaranku pulang, aku melihat dari jauh lima buah kapal perang, tentu milik pemerintah dan entah apa yang mereka cari di daerah ini. Harap Bibi suka perintahkan anak buah melakukan penjagaan lebih ketat, aku amat lelah dan ingin beristirahat.”

Phoa Ciok Lin mengerutkan alisnya mendengar penuturan ini. “Lima buah kapal perang pemerintah? Apa gerangan yang dicarinya di daerah ini?”

“Subo, biarlah teecu pergi menyelidiki!” Tiba-tiba terdengar suara Kwee Sui yang ternyata menyusul masuk dan mendengar percakapan gurunya dengan Kwi Hong itu.

“Baiklah, lakukan penyelidikan dan usahakan untuk mengetahui apa kehendak mereka mendatangi daerah ini. Akan tetapi, jangan kau lancang memancing keributan dengan mereka. Taihiap tidak menghendaki kita terlibat dalam permusuhan dengan pihak mana pun juga.”

“Baik, Subo, teecu mengerti.”

Setelah Kwee Sui berangkat, Phoa Ciok Lin lalu mengumpulkan tokoh-tokoh Pulau Es, terutama sekali Yap Sun dan Thung Sik Lun, juga Thung Ki Lok, untuk mengatur penjagaan yang lebih ketat menjaga di sekitar pulau, kalau-kalau ada pihak musuh yang akan mendarat. Maka sibuklah semua penduduk Pulau Es, mereka melakukan penjagaan dan siap menghadapi segala kemungkinan selagi majikan mereka tidak berada di pulau.

Sementara itu, Kwee Sui seorang diri mendayung perahu kecil, meninggalkan pulau melalui celah-celah rahasia yang hanya diketahui oleh penghuni Pulau Es. Biar pun pemuda ini tidak sepandai Ki Lok dalam hal mendayung perahu, namun karena semenjak kecil dia berada di atas pulau yang dikelilingi lautan dan karena tenaga sinkang-nya amat kuat, maka perahu itu meluncur cepat sekali ketika ia menggerakkan dayungnya. Dia tidak melihat adanya perahu besar atau kapal di situ, maka setelah mengelilingi pulau sehingga malam tiba, Kwee Sui mendayung perahunya ke pinggir, kemudian turun ke laut sebelah barat yang sunyi lalu tertidur dalam perlindungan dua buah batu besar.

Kwee Sui pulas dan mimpi bertemu dengan Kwi Hong yang dalam mimpi itu suka menyambut rayuan cinta kasihnya. Hal ini terjadi karena sebelum tidur hatinya penuh kekecewaan akan sikap gadis itu yang belum pernah sedikit pun mau menghargai sikap manisnya. Kadang-kadang timbul iri hatinya karena mengira bahwa dia kalah bersaing dengan Ki Lok, tetapi ketika tadi ia dalam persembunyiannya menyaksikan betapa sikap Kwi Hong juga dingin saja bahkan menolak mentah-mentah pemberian ikan oleh pemuda itu, hatinya menjadi lega dan harapannya timbul kembali.

Kwee Sui enak mimpi sehingga dia tidak tahu bahwa malam telah terganti pagi, dan tidak tahu pula bahwa di depannya telah berdiri seorang pendeta berkepala gundul dan bertubuh gendut bundar. Pendeta ini bukan lain adalah Thian Tok Lama yang amat lihai. Dia mendapat tugas memimpin kapal yang mendekati Pulau Es di pagi hari itu dari sebelah barat dan berkat kepandaiannya yang tinggi, dengan dua potong papan diikatkan di bawah sepatunya, pendeta sakti ini dapat mendarat tanpa diketahui oleh seorang pun penjaga Pulau Es!

Para penjaga hanya melihat betapa lima buah kapal itu mendekati dan mengurung pulau, akan tetapi tidak berani mendarat. Tentu saja tak seorang pun di antara mereka menyangka ada orang dari kapal yang dapat ‘berjalan’ di atas air seperti yang dilakukan Thian Tok Lama dengan bantuan dua potong papan di bawah kakinya. Apa lagi pendeta Lama ini mendarat ketika cuaca masih gelap.

Melihat seorang pemuda tidur pulas di pantai dan sebuah perahu kecil terikat di situ, Thian Tok Lama merasa girang sekali. Ia memang ingin menangkap seorang penghuni Pulau Es untuk ditanyai keterangan dan dipaksa menjadi petunjuk jalan, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menotok jalan darah di belakang leher Kwee Sui. Pemuda ini terkejut, terbangun, akan tetapi tidak dapat bergerak lagi karena kedua pasang kaki tangannya lumpuh dan dia tidak dapat mengeluarkan suara!

Thian Tok Lama memanggul tubuh pemuda itu kemudian meloncat ke air dan meluncur dengan ayunan tubuhnya sehingga kedua potong papan di kakinya itu seperti dua buah perahu kecil yang diinjaknya. Tenaga ayunan kedua lengannya yang digerakkan amat kuat sehingga dia meluncur cepat, kalau dilihat dari jauh tentu membuat orang menduga bahwa pendeta ini berlari di atas air!

Kwee Sui sendiri terbelalak penuh keheranan menyaksikan kepandaian pendeta yang amat luar biasa ini. Jantungnya berdebar dan otaknya yang cerdik segera bekerja. Ia dapat menduga bahwa tentu pendeta ini datang dari kapal-kapal itu, tentu seorang tokoh kerajaan yang berilmu tinggi. Kalau yang datang itu adalah musuh dan memiliki orang-orang yang begini sakti, tentu akan celakalah penghuni Pulau Es, pikirnya. Apa lagi pada waktu itu, Pendekar Super Sakti tidak berada di atas pulau. Dia harus berlaku cerdik dan akan menyaksikan dulu bagaimana perkembangannya karena itu ia masih belum mengerti mengapa pendeta lihai ini menawannya.

Setelah tiba di atas salah satu di antara lima kapal yang mengepung Pulau Es, Thian Tok Lama membawa Kwee Sui langsung kepada Im-kan Seng-jin Bong Ji Kun. Ketika Kwee Sui melihat koksu yang berpakaian indah gemerlapan, melihat para panglima pengawal dan pasukan pengawal di kapal besar yang bertopi besi berpakaian perang dan bersenjata lengkap, hatinya menjadi gentar.

Biar pun ilmu kepandaiannya cukup tinggi, namun pemuda ini belum ada pengalaman bertempur, pula, melihat kepandaian Thian Tok Lama, dia sudah menjadi ketakutan. Kalau sebuah kapal saja sudah mempunyai pasukan yang lebih dari lima puluh orang jumlahnya, dan ada orang-orang yang berilmu begitu tinggi, apa lagi kalau lima buah kapal itu datang menyerang semua. Dapat dipastikan bahwa Pulau Es akan hancur!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo