August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 8)

 

 

“Huh, kalau pedangku berada di tangan, jangan harap kau bisa enak-enakan menyelamatkan diri, sayang

terampas pengawal curang!” katanya sambil menyerang lagi.

 

“Inikah pedangmu?” Suling Emas tiba-tiba mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya, dipegang dengan terbalik sehingga gagangnya disodorkan kepada Lin Lin.

 

Dara ini memandang dan terkejut bukan kepalang. Memang pedang itu adalah pedangnya yang tadi terampas pengawal kurus!

 

“Eh, betul bagaimana bisa berada padamu?”

 

Suling Emas berkilat pandang matanya. “Bukan soal, coba pergunakan pedangmu!”

 

Kata-kata ini merupakan perintah sehingga kalau menuruti wataknya, Lin Lin tentu tak sudi menurut. Akan tetapi ia sudah terlalu mendongkol dan ingin ia memperlihatkan kelihaiannya. Cepat tangannya merenggut, karena ia mengira bahwa Suling Emas akan mempermainkannya dan pura-pura saja mengembalikan pedang. Hampir ia terjengkang ke belakang, karena kiranya pedang itu sama sekaii tidak dipertahankan oleh Suling Emas sehingga ketika ia mencabut sekuat tenaga, ia terdorong oleh tenaga tarikannya sendiri.

 

“Lihat pedang!” teriaknya, lebih mendongkol dan marah lagi karena hampir terjengkang. Sinar kuning berkelebat dan bergulung-gulung merupakan gelombang lingkaran yang menerjang diri Suling Emas.

 

“Bagus!” Suling Emas berkelebat lenyap dan berubah menjadi bayangan yang selalu luput dari pada bacokan mau pun tusukan pedang. “Wah, jadi kau yang mencuri Pedang Besi Kuning? Hemmm, tentu dengan Kim-lun Seng-jin. Heiiiii, ilmu pedang ini, apakah kau bukan murid Kim-lun Seng-jin?”

 

Makin marahlah Lin Lin, karena biar pun ia sudah berpedang, mana mungkin ia dapat merobohkan bayangan? Manusia ini tulenkah atau setan?

 

“Aku bukan murid si Gundul Pacul! Hayo kau keluarkan kepandaianmu, hayo kau pergunakan pedangmu, kita bertanding selaksa jurus sampai salah seorang menggeletak mandi darahnya sendiri!” tantangnya.

 

Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas menarik napas panjang dan seketika wajahnya berubah, muram dan tak acuh. Tadi ia bersikap gembira dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri. Agaknya sekarang ia teringat akan keadaannya yang ‘tidak wajar’ itu, dan kembalilah ia pada sikapnya seperti yang sudah-  sudah, murung dan dingin. Ia membalikkan tubuh, menghampiri meja dan duduk menghadapi kitab yang sudah sejak tadi terbuka di atas meja itu. Sama sekali ia tidak mau mempedulikan lagi kepada Lin Lin.

 

“Heeiiiii, hayo bangkit. Kita bertanding!” Lin Lin membentak. Akan tetapi Suling Emas seakan-akan tidak mendengar bentakannya dan terus saja membaca kitab. Bibirnya umak-umik (komat-kamit) dan tampaknya asyik benar.

 

“Tak sempat dan tiada nafsu bertanding…,” tiba-tiba Suling Emas berkata lirih dan mulutnya komat-kamit lagi membaca kitabnya.

 

“Monyet, celeng, kadal, bunglon, tikus…!” Lin Lin menyebut semua binatang yang dianggapnya paling menjijikkan, dilontarkannya semua nama binatang itu kepada Suling Emas untuk memancing perhatian dan kemarahannya. “Kau bunuh Ayahku, hayo kita bikin perhitungan sampai lunas!”

 

Tanpa menoleh Suling Emas berkata lagi, “Sialan, semua orang bilang aku membunuh Ayahnya. Kalau benar begitu, tentu Ayahmu patut dibunuh.”

 

“Apa kau bilang? Berani kau memaki Ayahku? Hayo bangun, lawan aku!” Lin Lin mengayun-ayun pedangnya di belakang leher Suling Emas. Akan tetapi yang diancam tak bergerak dan Lin Lin bukanlah seorang yang sudi menyerang orang yang tak melawan.

 

“Kau bocah kecil banyak bertingkah, pergilah jangan ganggu orang baca!” Biar pun kata-katanya mulai ketus, tapi Suling Emas tetap duduk menghadapi kitab dan sama sekali tidak mau menoleh.

 

“Iblis, setan, siluman…!” Lin Lin memaki-maki, kini menyebut nama semua golongan setan dan jin, “Hadapi

 

 

 

aku! Aku mau bicara denganmu!”

 

Akan tetapi Suling Emas tetap diam saja, melirik pun tidak. Lin Lin makin marah dan jengkel, mencak- mencak dan membanting-banting kaki dengan pengerahan tenaga Khong-in-ban-kin sehingga lantai menjadi bolong-bolong dihantam kakinya yang kecil seperti digali dengan linggis saja. Kemudian ia melompat ke depan Suling Emas di seberang meja. Namun laki-laki itu tetap duduk menunduk, membenamkan matanya pada kitab. Lin Lin menggebrak meja, namun sia-sia.

 

“Betul kata Enci Sian Eng, kau seperti patung, kau aneh dan tidak pedulian. Akan tetapi aku tidak mau kau perlakukan seperti Enci Sian Eng. Kau harus bangkit dan melawanku!” Sambil berkata demikian, Lin Lin melompat naik ke atas meja itu dan membanting-banting kaki sehingga meja itu berloncatan. Tentu saja kitab di depan Suling Emas juga ikut berloncatan sehingga tak mungkin lagi membaca!

 

Akan tetapi bukan ini yang menyebabkan Suling Emas kini bangkit dan memandang heran, melainkan kata-kata Lin Lin. “Apa kau bilang? Enci Sian Eng? Kau adiknya? Jadi kau… kau ini… ah, ingat aku sekarang. Kau yang berada di pintu gerbang, kau bersama murid Gan-lopek. Ah, kau Lin Lin!”

 

Lin Lin merenggut dan melompat turun dari meja, pedangnya masih dipegang erat-erat. “Enaknya menyebut nama orang. Lan Lan Lin Lin, memangnya aku ini apamu? Huh, laki-laki kurang ajar, penghina kaum wanita. Memangnya aku ini apamu… berani… berani mencium…” Muka Lin Lin menjadi merah sekali dan ia tidak berani mengangkat muka!

 

“Hemmm, maafkan, aku tidak sengaja. Tapi… ah, hal itu tidak apa, tak usah kau sebut-sebut lagi. Percayalah, aku menyesal sekali…”

 

Tiba-tiba Lin Lin mengangkat muka, mereka berpandangan dan… Lin Lin menangis. Aneh memang! Tak biasa gadis ini menangis. Dia bukan tergolong cengeng, tapi kali ini mengapa air matanya terus saja membanjir tak dapat dibendung?

 

“Lin… eh, Nona Lin Lin, tentu kau sudah mendengar dari enci-mu bahwa aku bukanlah pembunuh Ayahmu. Mengapa kau datang ke sini? Memasuki istana bukanlah hal mudah dan bagaimana kau bisa tahu bahwa aku berada di gedung perpustakaan?”

 

“Aku… aku tahu kau bukan pembunuh Ayah. Aku mendengar percakapan Suma Boan bahwa biasanya kau di sini. Aku… aku mencarimu hanya untuk bertanya di mana adanya Kakak Kam Bu Song. Kau tentu tahu karena kau bisa bilang kepada Enci Sian Eng bahwa Kakak Bu Song sudah meninggal dunia. Bagaimana matinya dan di mana kuburnya? Akan tetapi… sekarang aku tidak perlu tanya-tanya lagi dan persoalan sekarang hanya bahwa kau harus melawan aku sampai mati untuk menebus dosamu.”

 

“Dosa…?”

 

“Tadi itu…!”

 

“Eh…? Oh, itu…? Dengar, Lin… eh, Nona Cilik. Kau masih kanak-kanak, dan aku sudah tua. Ciuman tadi tidak kusengaja, dan aku sudah amat menyesal. Maafkanlah dan anggap saja ciuman itu dari seorang paman atau kakak terhadap adiknya. Bagaimana?”

 

Seperti seorang anak kecil manja Lin Lin membanting kaki dan menggeleng-geleng kepalanya dengan keras. “Tidak bisa! Mana ada aturan begitu? Masa seorang paman atau kakak mencium… di sini…?” Ia menuding bibirnya.

 

Suling Emas menjadi merah mukanya dan ia kewalahan betul menghadapi dara yang keras hati, keras kepala dan keras kemauan, pendeknya keras segala-galanya dan serba nekat ini, “Habis, bagaimana? Tak mungkin kutarik kembali….”

 

“Tarik kembali hidungmu!” Lin Lin memaki-maki. Suling Emas memandang dengan mata terbelalak dan otomatis ia meraba-raba hidungnya yang disinggung-singgung oleh dara nakal itu. “Satu-satunya cara menebus dosa hanya mencabut pedang dan mari lawan aku sampai mampus seorang di antara kita! Penghinaan yang memalukan ini harus ditebus dengan nyawa!”

 

Suling Emas merasa bohwat (kehabisan akal) benar-benar. “Masa begitu saja dianggap penghinaan yang memalukan? Mana bisa menghina karena tidak sengaja? Dan bagaimana bisa disebut memalukan, kan

 

 

 

tidak ada yang lihat? Nona cilik, sekali lagi aku minta maaf dan untuk menebus dosa, aku sanggup melakukan apa saja asal jangan… bertanding sampai mati.”

 

Lin Lin menahan senyumnya. Gembira benar dia, serasa kepalanya menjadi melar (membesar) saking bangga dan besar hati. Kulit hidungnya yang tipis otomatis mekar. Bukankah ucapan Suling Emas itu otomatis mengakui kelihaian dan kehebatannya?

 

Bukankah itu berarti Suling Emas, pendekar besar yang ditakuti semua orang, yang dicap seorang pendekar aneh dan tiada taranya di kolong langit, yang dipuji-puji setinggi langit oleh Lie Bok Liong, Kim- lun Seng-jin, dan Sian Eng, juga yang amat ditakuti oleh Suma Boan dan kaki tangannya termasuk It-gan Kai-ong. Sekarang memperlihatkan enggan dan takut bertanding mati-matian melawannya? Kalau tidak takut, sedikitnya tentu kagum menyaksikan ilmu kepandaiannya! Tentu saja ia sama sekali tidak sadar bahwa satu-satunya yang membuat laki-laki luar biasa itu ‘ngeri’ terhadapnya adalah wataknya yang liar dan sukar dilawan itu.

 

“Suling Emas, apakah kau seorang laki-laki sejati?”

 

Pertanyaan yang diajukan dengan sinar mata menusuk-nusuk langsung ke jantung ini membuat pendekar aneh itu terbelalak dan alisnya yang hitam tebal itu bergerak-gerak. Baru sekarang selama hidupnya ia merasa bingung dan tak dapat menebak apa gerangan maksud di balik kata-kata pertanyaan besar itu. Akan tetapi, melihat wajah dan sikap dara remaja itu terang tidak bermaksud menghina.

 

“Apa maksudmu?” Ia toh bertanya karena benar-benar tidak mengerti.

 

“Apakah kau tergolong laki-laki yang suka menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkan?”

 

Sepasang mata Suling Emas berkilat seperti mengeluarkan cahaya berapi sehingga Lin Lin menjadi terkejut sekali dan agak takut juga. Seperti mata harimau marah, pikirnya.

 

“Nona kecil, apakah kau main-main ataukah hendak menghina aku? Awas kau…!”

 

Lin Lin cemberut. “Siapa main-main? Awas… awas… tentu saja aku awas, kalau tidak mana aku bisa melihat? Main ancam, apa dikira aku takut? Hayo, mau apa?”

 

“Kalau kau tidak main-main, apa maksudnya pertanyaanmu yang bukan-bukan itu? Tentu saja aku laki-laki sejati. Suling Emas lebih menghargai nama baik dari pada selembar nyawanya!”

 

“Dan sekali keluarkan sepatah kata, empat ekor kuda takkan mampu menarik kembali?”

 

“Jangankan empat ekor kuda, nyawa terancam maut sekali pun takkan dapat menarik kembali kata-kata yang sudah kukeluarkan dari mulutku!” Panas perut Suling Emas dan ia terheran-heran karena belum pernah ia bisa ‘dibakar’ orang selama ini.

 

“Bagus, kalau begitu nyata kau seorang Enghiong (Pendekar) sejati, seorang satria tulen tidak campuran. Aku percaya omonganmu. Nah, dengarkan sekarang penebusan dosamu. Aku pun tidak suka bertanding sampai mati denganmu, karena aku juga maklum bahwa kau lihai sekali. Akan tetapi karena kau yang menolak bertanding sampai mati dan kau pula yang berjanji akan melakukan apa saja asal jangan bertanding, aku mengajukan tiga buah permintaan kepadamu.”

 

Hemmm, celaka aku sekali ini, pikir Suling Emas dan ia sudah menyesal mengapa tadi ia memberi janji segala macam. Jangan-jangan gadis liar ini akan menyeretnya untuk melakukan hal yang bukan-bukan. Diam-diam ia gemas sekali dan ingin rasanya ia menangkap bocah ini, menelungkupkannya di atas pangkuan dan menghajar pantatnya sampai matang biru!

 

Akan tetapi Lin Lin yang cerdik pura-pura tidak melihat mata yang melotot kepadanya itu, melainkan ia cepat-cepat menyambung kata-katanya. “Pertama, kau tidak boleh bercerita kepada siapa pun juga di dunia ini, kepada isterimu pun tidak…”

 

“Aku tidak punya isteri!”

 

“Masa…?” Lin Lin duduk menunjang dagu dengan kedua tangan dan memandang tajam. Mereka sudah sejak tadi duduk berhadapan lagi, terhalang meja. “Kenapa sih? Usiamu sudah lebih dari pada cukup.

 

 

 

Kurasa tiga puluh tahun sudah ada….”

 

Suling Emas menarik napas panjang, sejenak memandang wajah Lin Lin, kemudian menunduk dan menggerakkan kedua pundaknya yang bidang. “Aku takkan punya isteri… siapa akan sudi padaku…?” Tiba-tiba pandang mata Suling Emas merenung dan tampak sedih sekali.

 

“Akan tetapi kelak kau tentu akan mengubah pendirian ini dan kelak kau tentu akan punya seorang isteri yang cantik jelita dan baik….”

 

Suling Emas menggebrak meja dan… keempat kaki meja itu amblas sampai belasan sentimeter ke dalam lantai yang keras. Tiba-tiba meja menjadi pendek. “Apa-apaan semua ini? Melantur-lantur urusan isteri dan pernikahan segala macam?”

 

Lin Lin sadar, menurunkan kedua tangannya, keningnya berkerut-kerut, mengingat-ingat, “Ah, oh… sampai di mana aku tadi? Oya, permintaan pertama, kepada siapa pun juga di dunia ini, juga tidak kepada… calon isterimu, kau tidak boleh bercerita tentang yang tadi itu. Sanggupkah?”

 

Lega bukan main hati Suling Emas. Kiranya hanya macam begini saja permintaan dara gila ini. Saking gembiranya dan lega hatinya mendengar bahwa permintaan yang belum apa-apa sudah ia janji menyanggupi itu ternyata bukan permintaan yang bukan-bukan, timbul kegembiraannya untuk menggoda. Ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya, “Tentu saja aku sanggup kalau hanya untuk tutup mulut, tapi harus dijelaskan, tidak boleh bercerita tentang apa?”

 

“Tentang tadi itu, lho.”

 

“Tentang tadi? Ada apa sih tadi? Tentang kau datang ke istana dan bertempur melawan para penjaga?”

 

“Bukan… bukan…! Kalau tentang itu saja boleh kau ceritakan kepada setiap orang yang kau jumpai. Bukan itu, tapi tentang… eh, tentang antara kita tadi itu.”

 

Suling Emas menarik muka bodoh, longang-longong seakan-akan ia benar-benar tidak mengerti. “Eh, tentang pertandingan kita tadi? Baik, aku akan tutup mul…”

 

“Kau buka sehari semalam juga peduli amat kalau tentang itu. Wah, tidak nyana bahwa Suling Emas yang namanya lebih tinggi dari puncak Thai-san, kiranya hanya seorang laki-laki yang amat bodoh. Itu lho, tentang kekurang-ajaranmu tadi, kau peluk aku dan kau… kau….”

 

Melihat betapa wajah itu di bawah sinar lampu yang terang menjadi amat merah, Suling Emas merasa kasihan juga. Ia mengangguk-angguk. “Baik-baik, aku mengerti sudah. Aku sanggup untuk tutup mulut tentang hal itu.”

 

Lin Lin menarik napas panjang. Ia merasa lega dan hal itu akan merupakan rahasia antara mereka berdua saja. “Dan kau akan membantu usaha kami mencari Kakak Kam Bu Song dan pembunuh ayah bunda kami.”

 

“Sanggup!” tanpa banyak pikir lagi Suling Emas menjawab sambil mengangguk.

 

“Dan kau akan membawa aku bersamamu dalam usaha mencari Kakak Kam Bu Song dan musuh besarku. Sanggup?”

 

“Wah… ini… ini…” Suling Emas meragu.

 

Lin Lin tersenyum mengejek dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah hidung Suling Emas. “Nah…  nah, janjinya menyanggupi segala macam permintaan, baru begitu saja sudah menolak…”

 

“Menolak sih tidak, tapi… mencari orang yang tidak tentu tempatnya membutuhkan waktu yang tidak dapat diduga berapa lamanya. Pula, besok aku akan pergi ke Nan-cao mengunjungi perayaan Agama Beng- kauw….” tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. “Ah, di sana berkumpul semua tokoh kang-ouw, kurasa akan dapat bertemu dengan pembunuh ayah bundamu di sana.”

 

“Nah, kalau begitu bawalah aku ke sana.”

 

 

 

“Tapi… pembunuh ayah bundamu tentulah seorang yang amat lihai lagi jahat!”

 

“Takut apa? Kau kira aku takut? Lagi pula, aku tidak minta perlindunganmu! Aku hanya minta kau mengajak aku dalam usaha mencarinya. Nah, bagaimana jawabnya?”

 

Suling Emas mengerutkan kening, berpikir-pikir, lalu mengangguk-angguk. “Perlu juga seorang bocah seperti kau ini menghadapi banyak pengalaman. Di Nan-cao kau akan melihat dan mendengar banyak. Baiklah, aku sanggup. Besok aku akan menjemputmu di kelenteng itu.”

 

Bukan main girangnya hati Lin Lin. Ia dapat membayangkan sudah betapa enci-nya akan membuka matanya yang jeli itu lebar-lebar memandangnya kalau mendengar akan janji-janji Suling Emas kepadanya!

 

“Sebuah permintaan lagi, kau harus memperkenalkan nama aslimu kepadaku dan aku pasti akan merahasiakannya kalau memang kau kehendaki itu.”

 

Suling Emas tampak terkejut sekali, akan tetapi ia segera mengangkat telunjuknya ke atas dan berkata ketus, “Anak nakal, sekali ini aku takkan menyanggupi apa-apa lagi. Kau minta aku memegang teguh kata- kata yang sudah keluar, akan tetapi kau sendiri mengapa hendak melanggar omongan sendiri?”

 

“Aku? Melanggar omonganku sendiri? Mana bisa…?”

 

“Kau tadi bilang hendak mengajukan tiga macam permintaan. Pertama, aku tidak boleh bercerita kepada orang lain bahwa aku sudah memeluk dan menciummu. Kedua, aku akan membantumu mencari kakakmu dan musuh besarmu. Ketiga, aku akan membawamu serta ke Nan-cao. Nah, sudah cukup tiga, bukan? Tak boleh diberi embel-embel lagi!”

 

Lin Lin menyesal bukan main. “Wah, aku salah. Kalau begitu boleh ditukar. Permintaan pertama itu kutukar dengan permintaan ini dan….”

 

“Cukup! Aku tidak mau bicara lagi. Sekarang kau kembali ke kuil dan besok aku akan menjemputmu, kita bersama berangkat ke Nan-cao!” Setelah berkata demikian, kedua tangannya bergerak dan… tiba-tiba semua lampu penerangan di dalam ruangan itu padam.

 

“Ikuti aku keluar…” Bayangan hitam itu berkata perlahan.

 

Lin Lin terpaksa mengikuti dan ternyata mereka keluar dari pintu samping yang ditutup kembali oleh Suling Emas dari luar. Orang aneh itu sekali bergerak sudah melompat tinggi dan ternyata ia menyambar benderanya di atas genteng, lalu melayang turun lagi. Gerakannya demikian ringan dan cepat laksana seekor burung garuda terbang melayang saja, membuat Lin Lin kagum bukan main. Suling Emas bergerak lagi dan Lin Lin mengikuti terus.

 

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya hati Lin Lin ketika Suling Emas membawanya keluar dari lingkungan istana itu dengan enak saja, berjalan melalui jalan di antara gedung-gedung besar, kemudian menerobos ke luar dari pintu gerbang. Para penjaga yang berada di situ, terang melihat mereka berdua, akan tetapi jangankan mengganggu, berkata sepatah pun tidak seakan-akan Suling Emas dan Lin Lin merupakan dua sosok bayangan yang tidak tampak oleh mereka!

 

Setibanya di luar, Suling Emas berkata, “Nah, selamat malam. Besok kujemput di kuil,” Begitu habis kata-

kata­nya orangnya pun lenyap!

 

Bukan main, pikir Lin Lin. Lebih hebat lagi, ia sudah berhasil ‘menundukkan’ orang luar biasa macam itu! Mulai besok, dia akan melakukan perjalanan jauh bersama Suling Emas! Lin Lin berjingkrak-jingkrak dan berlari-lari cepat sekali. Ingin ia lekas-lekas sampai di kuil untuk menceritakan hal yang amat membanggakan hatinya itu kepada enci-nya. Betapa akan terlongong heran enci Sian Eng, bisik debar jantung Lin Lin.

 

Akan tetapi alangkah heran dan kemudian bingung hatinya ketika ia tiba di kuil, Sian Eng ternyata tidak berada di situ. Para hwesio yang ditanyainya menerangkan bahwa enci-nya itu pergi meninggalkan kuil tidak lama setelah Lin Lin pergi petang tadi.

 

“Pinceng semua tidak tahu ke mana perginya, dia tidak meninggalkan pesan dan pinceng (saya) tidak berani bertanya.” Memang para hwesio di kuil itu amat menghormati Sian Eng dan hal ini adalah karena

 

yang membawa datang gadis itu adalah Suling Emas.

Tergesa-gesa Lin Lin memasuki kamar di sebelah belakang kuil itu. Kamar itu kosong dan hatinya tidak

enak sekali rasanya ketika melihat bahwa bukan hanya Sian Eng yang lenyap dari kamar itu, melainkan bungkusan pakaian enci­nya, juga pedangnya, turut lenyap. Hal ini hanya berarti bahwa enci-nya memang sengaja pergi dari situ. Bukan pergi dekat-dekatan saja, melainkan pergi melakukan perjalanan jauh, karena kalau tidak demikian, apa perlunya membawa-bawa bekal pakaian? Akan tetapi, kalau benar demikian, mana bisa jadi? Masa enci-nya pergi jauh tanpa memberi tahu kepadanya? Hanya satu hal yang melegakan hatinya. Agaknya enci-nya itu tidak diculik orang atau dibawa pergi orang dengan kekerasan, karena kalau demikian hainya, tentu enci-nya tidak membawa serta pakaiannya.

 

Semalaman Lin Lin tak dapat tidur. Baru saja bertemu dengan enci-nya, sekarang ia ditinggal pergi lagi dengan aneh. Sekali lagi ia berpisah dari Bu Sin dan Sian Eng, tanpa mengetahui di mana adanya mereka berdua. Diam-diam Lin Lin mendongkol sekali. Mengapa Sian Eng meninggalkannya begitu saja? Ada rahasia apakah di balik perbuatan yang amat ganjil ini? Hatinya baru tenteram dan kebingungannya berkurang banyak kalau ia teringat akan Suling Emas.

 

Orang itu hebat, kepandaiannya seperti setan. Sekarang ia sudah dapat ‘bersahabat’ dengan Suling Emas, tentang lenyapnya Sian Eng, apa sih sukarnya bagi Suling Emas? Besok aku akan minta dia mencari Sian Eng lebih dulu, pikirnya. Akan tetapi segera ia teringat betapa aneh dan sukar watak Suling Emas. Belum tentu ia mau menuruti permintaannya, buktinya, ditanya nama sesungguhnya saja tidak mau memberi tahu. Lin Lin bersungut-sungut dan duduk termenung di dalam kamarnya tak dapat tidur.

 

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali seorang hwesio pelayan memberi tahu bahwa ada seorang tamu mencarinya. Lin Lin meloncat dari pembaringan, langsung keluar dari dalam kamar. Dengan rambut kusut dan wajah gelisah ia berlari ke luar untuk menyambut Suling Emas dan cepat bercerita tentang lenyapnya Sian Eng. Akan tetapi wajahnya berubah ketika ia melihat bahwa laki-laki yang duduk di ruangan depan itu sama sekali bukan Suling Emas yang diharap-harap kedatangannya, melainkan Lie Bok Liong! Akan tetapi, hanya sebentar saja rasa kecewa ini menekan hatinya, karena ia segera meraih harapan bahwa sahabat  ini berhasil mendapat tahu tentang di mana adanya Bu Sin kakaknya.

 

“Liong-twako, bagaimana dengan Sin-ko? Sudah tahukah kau di mana adanya Sin-ko?”

 

Sejenak Bok Liong menatap wajah dengan rambut kusut itu dengan hati berguncang. Selama dua hari  berpisah dari Lin Lin, makin terasalah ia betapa ia tak mungkin dapat terpisah dari gadis ini. Yang dua hari itu ia merasakan siksaan batin yang kosong dan sunyi, akibat dari pada kebahagiaan yang selama ini ia rasai di dekat Lin Lin telah direnggutkan dari padanya. Betapa rindunya kepada dara itu, akan tetapi ia menguatkan hati dan dengan tekun ia mencari keterangan tentang diri kakak nona itu sampai ke luar kota raja.

 

********************

 

Harus diakui bahwa pemuda ini mempunyai hubungan yang amat luas dan di sekitar kota raja, boleh dibilang di setiap dusun dan kota ia tentu mengenal seorang tokoh. Inilah sebabnya mengapa dalam waktu dua hari saja ia telah berhasil dalam penyelidikannya dan dengan hati girang pagi-pagi itu ia menuju ke kuil. Selama dua hari ini ia tidak pernah beristirahat dan dalam hal wajah dan rambut kusut agaknya ia  tidak usah kalah oleh Lin Lin! Mendengar pertanyaan membanjir keluar dari mulut dara pujaan hatinya itu,  ia tersenyum girang. Namun hanya sebentar saja ia tersenyum karena ia segera teringat bahwa biar pun ia sudah berhasil mendapatkan berita tentang Bu Sin, namun bukanlah berita baik yang dapat disampaikan kepada Lin Lin dengan senyum gembira!

 

“Lin-moi, aku sudah berhasil mendengar berita tentang kakakmu itu, akan tetapi sebelumnya kuharap kau akan tenang dan percayalah kepadaku bahwa aku selalu akan membantumu mencari dan menyusul kakakmu, biar pun untuk itu aku harus menyeberangi samudera api….”

 

“Aku tahu kau akan membantuku, tapi bukan itu yang ingin kudengar. Lekas katakan, bagaimana dengan Sin-ko?” Lin Lin memotong, habis sabar.

 

Dengan muka duka Bok Liong berkata. “Menurut kabar yang kudapat, agaknya kakakmu itu terjatuh ke dalam tangan Siang-mou Sin-ni, si Iblis Betina yang amat lihai. Tapi percayalah, kakakmu tidak dibunuh. Aku sudah cukup mengenal watak iblis betina itu. Dia sedang meyakinkan sebuah ilmu hitam yang amat ganas dan syaratnya adalah menghisap darah jejaka hidup-hidup. Banyak sudah yang menjadi korbannya

 

 

 

dan aku yakin bahwa kakakmu tidak menjadi korbannya karena biasanya ia meninggalkan mayat laki-laki yang dihisapnya sampai mati. Kakakmu lenyap dan jejaknya menyatakan bahwa dia dijadikan tawanan Siang­mou Sin-ni. Menurut keterangan yang kukumpulkan, aku tahu bahwa iblis itu pergi ke Nan-cao untuk menghadiri perayaan Agama Beng-kauw. Maka, tenanglah dan mari kau ikut denganku ke Nan-cao, kita kejar siluman itu dan dengan tenaga kita berdua, kiraku kita akan dapat merampas kembali kakakmu.”

 

Mendengar cerita Bok Liong, Lin Lin terkejut sekali. Akan tetapi otaknya bekerja dan ia segera menjawab, “Liong-twako, kau benar-benar baik sekali. Terima kasih atas pertolonganmu. Karena sudah jelas bahwa Sin-ko ditawan Siang­mou Sin-ni dan dibawa ke Nan-cao, biarlah aku sendiri yang akan mengejar iblis itu dan merampas Sin-ko.”

 

“Wah, kau tidak tahu! Siang-mou Sin-­ni adalah seorang di antara Thian-te Liok-koai, seorang di antara Enam Iblis yang kepandaiannya luar biasa sekali, tidak di sebelah bawah tingkat It-gan Kai-ong!”

 

“Apakah lebih sakti dari pada Suling Emas?” tanya Lin Lin dengan sikap dingin, seakan-akan ucapan Bok Liong tadi ‘bukan apa-apa’ baginya.

 

“Kalau dengan dia… ah… sukar dikatakan…”

 

“Nah, menghadapi Suling Emas saja aku tidak takut. Apa lagi segala macam manusia iblis seperti Siang- mou Sin-ni? Liong-twako, harap kau jangan banyak membantah. Bukankah kau sudah bilang bahwa kau suka sekali membantu dan menolongku?”

 

“Tentu saja! Karena itulah aku akan mengantarmu mengejarnya.”

 

“Tidak, Twako. Kau tidak tahu. Kita membagi tugas sekarang. Ketahuilah bahwa Enci Sian  Eng juga lenyap! Baru malam tadi ia lenyap.”

 

“Apa…?!” Bok Liong berseru kaget dan memandang dengan mata terbelalak, lalu menggaruk-garuk belakang telinga yang tidak gatal. Benar-benar tiga saudara ini orang-orang yang aneh sekali, selalu  lenyap seperti barang kecil berharga saja. Apakah mereka itu tidak mampu menjaga diri sendiri sehingga mudah hilang?

 

“Karena itulah, Twako. Aku minta bantuanmu sekarang, kuminta sungguh-sungguh agar supaya kau suka mencari jejak Enci Sian Eng. Kalau kau sudah dapat menemukannya dan dia dalam keadaan selamat, barulah kau boleh menyusulku. Aku akan mengejar jejak Sin-ko yang diculik iblis betina itu.”

 

Sebenarnya Bok Liong kecewa sekali, akan tetapi tentu saja ia tidak dapat menolak, apa lagi dara pujaan hatinya itu mengajukan permintaan dengan suara penuh permohonan dan sinar mata mengharap. “Baiklah, aku akan cepat mencari dan menemukannya, kemudian aku akan menyusulmu ke Nan-cao. Kuharap saja kau tidak akan berjumpa dengan Siang-mou Sin-ni sebelum aku berada di dekatmu untuk membantu.”

 

Bok Liong berpamit dan keluar dari situ, akan tetapi sampai di pintu ia menengok dan suaranya menggetar ketika ia berkata, “Lin-moi, kau melakukan perjalanan seorang diri mengejar orang sejahat iblis, kau berhati-hatilah, jaga dirimu baik-baik.”

 

Lin Lin tersenyum. Ia menganggap pemuda ini baik sekali kepadanya, seperti kakak sendiri. Tentu saja ia tidak dapat menduga bahwa suara tadi keluar dari lubuk hati dan mengandung rasa kasih yang besar dan mendalam.

 

“Oya, Twako, kau lupa. Kalau kau bertemu dengan Enci Sian Eng, kau harus ajak dia sekalian  menyusulku. Sekali lagi terima kasih, Liong-twako. Kau seorang yang amat baik dan aku takkan melupakan budimu.”

 

Tentu saja hati Bok Liong menjadi girang bukan main. Dara pujaannya itu takkan melupakan budinya! Bukankah ini merupakan sebuah janji tersembunyi! Sama sekali pemuda yang jujur ini tidak tahu bahwa di dalam hati Lin Lin, gadis ini mengharapkan terangkapnya hati enci­nya dengan pemuda yang amat baik dan gagah ini!

 

Baru saja Bok Liong pergi, terdengar suara, “Dia telah bersikap baik sekali, tapi yang dibaiki tidak tahu diri!” Lin Lin cepat menengok dan… Suling Emas telah berdiri di situ. Seketika kegelisahan yang membayangi

 

 

 

wajah cantik itu lenyap terganti cahaya berseri pada matanya dan warna merah pada kedua pipinya. “Apa kau bilang? Liong-twako memang baik sekali orangnya dan siapa bilang aku tidak tahu diri?”

Suling Emas menarik napas panjang, menyembunyikan gelora dadanya yang aneh sekali baginya. Mengapa melihat wajah gadis cilik ini di waktu pagi, mengingatkan ia akan setangkai bunga mawar dalam hutan yang masih basah oleh embun pagi dan yang selalu mendatangkan rasa aman tenteram di hatinya? Lalu katanya acuh tak acuh agar gelora hatinya terselimut, “Dia cinta padamu dan menghendaki kau pergi bersamanya. Ah, kau suka menyiksa hati orang….”

 

Sepasang pipi itu menjadi makin merah dan jantung Lin Lin berdebar. Seperti dibuka kedua matanya oleh ucapan Suling Emas ini. Lie Bok Liong mencintanya? Ucapan tentang cinta ini membuat ia memandang Suling Emas lebih teliti lagi, karena perasaan wanitanya membuka rahasia hatinya sendiri. Bok Liong boleh seribu kali mencintanya, akan tetapi ia hanya dapat mencinta seorang saja, yaitu… Suling Emas! Lin Lin terkejut dan sekuat tenaga batinnya menolak perasaan ini, membantah, namun ia hanya berhasil melawannya pada lahirnya belaka, ada pun hatinya makin erat terpikat dan terikat, makin hebat terlihat jaring cinta kasih!

 

“Siapa peduli tentang… cin… cinta? Bagaimana kau menuduh secara buta tuli bahwa aku menyiksa hati orang? Hanya Liong-twako yang kupercaya penuh untuk mencari Enci Sian Eng yang lenyap….”

 

“Lenyap…?” Suling Emas memandang tajam.

 

“Hemmm, kau tidak tahu. Enci Eng pergi tanpa pamit, entah ke mana. Pakaian dan pedangnya dibawa, tentu pergi jauh. Aku minta tolong kepada Liong­twako untuk pergi mencarinya karena aku sendiri hendak pergi mengejar jejak Bu Sin Koko yang diculik oleh Siang-mou Sin-ni.”

 

“Apa…?” Kali ini Suling Emas mengerutkan keningnya, “Dari mana kau tahu?”

 

“Liong-twako memang baik dan hebat!” Lin Lin sengaja memuji-muji di depan Suling Emas. “Dalam dua  hari saja ia berhasil mendapat keterangan bahwa Sin-ko telah dibawa pergi oleh seorang iblis betina berjuluk Siang-mou Sin-ni dan dibawa ke Nan-cao. Karena itu, kebetulan sekali bahwa kita pun akan pergi ke Nan-cao sehingga kita dapat mengejar iblis itu dan sekalian mencari tahu tentang Kakak Bu Song dan musuh besarku.”

 

Wajah Suling Emas kelihatan serius sekali, “Non…”

 

“Wah, kau canggung benar. Repot aku kau sebut nona-nona segala macam. Sebut saja namaku, kau kan sudah tahu namaku? Aku sendiri karena tidak tahu siapa namamu, akan menyebut kau Suling Emas begitu saja, atau… si Suling saja karena kau memang tinggi janggung seperti suling.”

 

Kembali sepasang mata itu berkilat dan untuk beberapa detik wajah yang serius itu berseri. Akan tetapi hanya sebentar dan kembali wajahnya muram. “Lin Lin, kali ini kau jangan main-main. Kau tidak tahu, tidak mengenal Siang-mou Sin-ni. Dia benar-benar iblis yang jahat, malah dia seorang di antara Thian­te Liok- koai. Kakakmu terjatuh di dalam tangannya, berbahaya sekali….”

 

“Maka kita harus lekas mengejarnya. Hayo kita berangkat… eh, nanti dulu, aku belum berganti pakaian dan cuci muka… bersisir….”

 

“Apa kau kira kita akan pergi ke pesta? Begitu saja sudah cukup. Ambil bekalmu dan kita berangkat!”

 

“Tapi… tapi….” Lin Lin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Suling Emas sudah memutar tubuh dan keluar dari kuil itu.

 

Terpaksa ia tergesa-gesa memasuki kamarnya, menyambar buntalan pakaian yang sudah ia persiapkan, membawa pedangnya dan berjalan cepat ke luar. Ia berpamit kepada pimpinan kuil sambil menghaturkan terima kasih, kemudian ia berlari ke luar. Kiranya Suling Emas tidak menantinya dan sudah berjalan pergi beberapa ratus meter jauhnya.

 

“Heeeiiiii, tunggu…!” teriaknya sambil berlari mengejar.

 

Suling Emas berjalan terus tanpa menengok. Dari belakang tampaknya orang aneh itu hanya berjalan

 

 

 

biasa, kedua kakinya bergerak melangkah lambat-lambat. Akan tetapi anehnya, betapa pun cepatnya kedua kaki kecil Lin Lin bergerak lari sipat kuping, tetap saja jarak antara mereka tiada perubahan, kira-kira tiga ratus meter jauhnya!

 

“Hemmm, kini kau akan menguji ilmu lari cepat?” Lin Lin mengomel gemas, lalu ia mengerahkan seluruh tenaga ginkang dan menggunakan tenaga kesaktiannya, yaitu Khong-in-ban-kin yang dapat membuat ia bergerak laksana burung walet terbang cepatnya.

 

Diam-diam Suling Emas terkejut dan juga kagum. Kemudian ia pun mempercepat gerakannya. Lin  Lin terus mengejar, penasaran bukan main ketika dari belakang Suling Emas tetap saja kelihatannya seperti orang berjalan biasa. Lebih dua jam mereka berkejaran ini sampai lewat puluhan li jauhnya. Setelah Lin Lin bermandi keringat dan napasnya mulai memburu barulah ia dapat menyusul. Suling Emas berhenti dan memandangnya, pandang mata yang jelas membayangkan kekaguman.

 

“Huh… huh… kau kira aku tidak mampu mengejarmu? Huh… huh… semua orang boleh menganggapmu hebat… tapi… huh… huh… bagiku biasa saja…” Di antara napasnya yang senin-kemis itu Lin Lin mengejek dan menyombong.

 

Suling Emas memandang tajam. Dia ini sama sekali tidak nampak lelah. Wajahnya biasa saja, tidak tampak setetes pun peluh dan napasnya juga panjang-panjang biasa, “Lin Lin, ilmu yang kau warisi dari Kim-lun Seng-jin ini hebat. Sayang sekali….”

 

“Sayang? Apanya yang sayang?”

 

“Sayang kau tidak menghargainya sehingga kau menjadi tolol dan sombong!”

 

Lin Lin menggigit bibirnya, kedua tangannya dikepal dan sudah gatal-gatal tangannya untuk menerjang dan menyerang untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya. Sepasang matanya bersinar-sinar seakan hendak menelan orang di depannya itu hidup-hidup. Akan tetapi ia menahan perasaannya karena ingin sekali ia mendengar arti pernyataan yang tak dimengertinya itu.

 

“Kalau benar aku tolol dan sombong, mengapa sayang? Apa pedulimu dan apa hubungannya dengan ilmu yang kupelajari dari Kim-lun Seng-jin?”

 

“Seorang anak-anak yang goblok tidak akan tahu akan harganya sebuah mustika dan akan menganggapnya batu biasa saja dan dipakai main-main. Kau pun tidak dapat menghargai ilmu warisan dari Kim-lun Seng-jin sehingga kau main-main dengan ilmu itu, maka kau tolol. Orang yang menganggap diri sendiri sudah hebat tiada bandingnya, dia adalah seorang sombong dan kau juga selalu mau menang sendiri, tidak menghargai orang lain maka kau sombong juga. Sayang ilmu yang hebat itu jatuh ke tangan orang tolol dan sombong. Kalau tidak, dengan melatihnya secara tekun dan mendalam, agaknya takkan mudah lagi kau mengalami penghinaan dari orang lain.”

 

“Siapa berani menghina aku kecuali kau? Putera Mahkota sendiri menganggap aku sederajat dan setingkat dengannya, mengajak aku bercakap-cakap seperti sahabat. Tapi kau… huh, kaulah yang sombong!”

 

“Putera Mahkota? Betulkah kau bertemu dengan Putera Mahkota? Yang mana, jangan-jangan hanya dengan seorang bangsawan muda macam Suma Boan.”

 

“Huh, apa aku tidak bisa membedakan mana Pangeran Mahkota dan Pangeran Brengsek biasa? Aku memasuki taman bunganya ketika mencari gedung perpustakaan, dan aku bercakap-cakap dengannya. Dia suka sekali akan ikan emas, mempunyai sebuah pagoda yang penuh dengan tempat-tempat ikan dari kaca! Bagus bukan main!”

 

Sepasang mata Suling Emas terbelalak. Makin heranlah ia menghadapi dara remaja ini, “Kau benar-benar telah bertemu dengan Pangeran? Tahukah kau bahwa beliau itu adalah adik Sri Baginda dan merupakan calon pengganti Sri Baginda?”

 

“Tentu saja aku tahu, aku sudah mengobrol dengan dia seperti sahabat, tapi kusangka dia itu tadinya putera Kaisar.”

 

Suling Emas menggaruk-garuk hidungnya yang tidak gatal. Benar-benar hampir tak mungkin dapat dipercaya seorang gadis liar seperti ini bercakap-cakap seperti sahabat dengan pangeran mahkota! Akan

 

 

 

tetapi biar pun ia belum lama bertemu dengan Lin Lin, sudah dapat merasa yakin bahwa bocah seperti ini tidak bicara bohong, dan percaya pula bahwa di depan pangeran mahkota, malah di depan kaisar sendiri agaknya tidak mau bersikap merendah dan menganggap mereka itu orang-orang biasa seperti dia!

 

“Kau benar-benar seorang gadis hebat!” Inilah suara hatinya, akan tetapi tanpa disadari keluar pula dari mulutnya.

 

Berkembang lubang hidung Lin Lin mendengar ini dan sekaligus kemengkalan hatinya karena dimaki tolol dan sombong tadi lenyap seperti embun terusir sinar matahari. Ia tersenyum manis sekali dan berkata dengan mata tajam mengerling. “Kau pun seorang laki-laki yang hebat!”

 

Terkejutlah Suling Emas, seakan-akan ditampar mukanya. Pipinya menjadi merah dan ia cepat memalingkan muka, menghindarkan diri dari sambaran kerling setajam gunting dan senyum semanis madu. Tapi jantungnya berdenyut aneh dan dengan batinnya yang sudah terlatih, matang dan teguh itu ia cepat dapat mengusir perasaan yang tidak semestinya itu.

 

“Marilah kita lanjutkan perjalanan. Perjalanan ini masih jauh, di samping itu kita harus berusaha menyusul Siang-mou Sin-ni, kalau saja belum terlambat….”

 

Ucapan ini sekaligus menyadarkan Lin Lin yang tadinya terayun kebungahan hati yang ditimbulkan oleh pujian Suling Emas yang mengatakan dia gadis hebat.

 

“Apa… apakah kau anggap Bu Sin Koko berada dalam bahaya?”

 

“Hemmm, sukar dikatakan. Akan tetapi yang jelas, Siang-mou Sin-ni adalah seorang wanita yang kejam seperti iblis.”

 

“Akan kubunuh dia! Kalau Sin-ko dia ganggu, akan kubunuh dia!” Lin Lin berteriak marah dengan  semangat menggelora.

 

Biar pun diam-diam Suling Emas menganggap pernyataan ini amat menggelikan mengingat lihainya Siang- mou Sin-ni dan ‘mentahnya’ Lin Lin, namun ia maklum bahwa pernyataan ini terdorong oleh keberanian yang luar biasa. Ia percaya bahwa Lin Lin pasti akan membuktikan ancamannya, biar pun untuk itu harus berkorban nyawa. Ia sudah menyaksikan ketabahan hati Sian Eng ketika dikubur hidup-hidup oleh Hek- giam-lo, akan tetapi agaknya adiknya ini lebih tabah dan berani lagi, mendekati nekat!

 

“Kita lihat saja nanti, mudah-mudahan kakakmu masih selamat. Mari!”

 

Tanpa mengenal kasihan Suling Emas mengajak Lin Lin berlari lagi cepat-cepat, agaknya ia tidak peduli bahwa gadis itu sudah kelihatan amat telah. Lin Lin juga tidak sudi menyerah mentah-mentah, malu untuk mengaku bahwa ia lelah dan kehabisan napas tadi. Kini setelah lelahnya berkurang karena sudah mengaso, ia mengerahkan Khong-in-ban-kin lagi dan berlari secepat terbang. Ia sama sekali tidak sadar bahwa perbuatan Suling Emas ini sama sekali bukan karena kejam, melainkan karena disengaja, yaitu bahwa orang sakti itu hendak memaksa ia melatih Khong-in-ban-kin tanpa sengaja.

 

Dengan berlari-lari seperti itu, perjalanan dilakukan cepat sekali. Lin Lin ingin sekali mengajak teman seperjalanan ini bercakap-cakap, ingin ia tahu lebih banyak tentang diri Suling Emas, akan tetapi ia tidak diberi kesempatan dan ia pun seorang gadis yang berhati keras. Malu dan pantang mundur, dengan nekat ia berlari terus mengimbangi kecepatan Suling Emas.

 

********************

 

Pada malam hari itu setelah Lin Lin pergi meninggalkannya seorang diri di dalam kuil, Sian Eng duduk termenung. Adiknya telah membayangkan tuduhan bahwa dia cinta kepada Suling Emas. Alangkah jauh menyimpang tuduhan itu. Memang ia merasa amat kagum terhadap pendekar sakti yang aneh itu, akan tetapi pribadi Suling Emas sama sekali tidak menarik cinta kasihnya, melainkan menimbulkan rasa seram, enggan, dan segan. Berpikir tentang cinta kasih dan pria mana yang menarik hatinya, Sian Eng termenung dan terkenang kepada… Suma Boan! Jantungnya berdebar, mukanya terasa panas dan ia menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil menangis!

 

Memang aneh dan tak masuk di akal agaknya kalau asmara sudah main-main dengan hati manusia muda. Dewi Asmara yang ganas dan kadang-kadang kejam itu menyebar anak panah berbisa secara membabi-

 

 

 

buta agaknya sehingga banyak peristiwa terjadi dan cerita terlahir sebagai akibat dari pada bisa anak panah asmara yang menjadi sumber segala kebahagiaan atau sebaliknya sumber kesengsaraan bagi orang-orang muda.

 

Sian Eng adalah seorang gadis puteri seorang jenderal. Sedikit banyak hatinya terpengaruh oleh perbedaan antara orang biasa dan bangsawan, dan biar pun tidak berterang, ia menganggap diri sendiri sebagai seorang yang berdarah bangsawan. Atau, mungkin juga di dalam hatinya terdapat cita-cita untuk mengangkat kembali derajat keluarganya yang sudah runtuh ketika ayahnya meninggalkan kedudukan sebagai seorang bangsawan tinggi. Atau juga memang karena kejahilan asmara sehingga begitu bertemu dengan putera Pangeran Suma itu, seketika ia merasa tertarik sekali.

 

Tentu saja ia tidak dapat melupakan kenyataan betapa Suma Boan pernah menawannya dan menurut penuturan Suling Emas, hampir membunuh Bu Sin. Akan tetapi hati kecilnya membisikkan alasan bahwa untuk perbuatan itu tentu Suma Boan mempunyai sebab-sebab yang kuat. Agaknya putera bangsawan itu pernah dibikin sakit hati oleh kakaknya, Bu Song, sehingga ketika bertemu dengan mereka timbul kemarahannya dan berusaha membalas dendam. Aku akan bertanya kepadanya, hal ini harus dibikin terang, pikirnya dalam hati. Akan tetapi bagaimana ia dapat berjumpa dengan Suma Boan?

 

Tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap di ruangan tengah kuli itu. Lapat-lapat ia mendengar suara hwesio kepala yang menjawab dengan suara lemah ketakutan atas pertanyaan orang yang suaranya nyaring dan galak. Sian Eng tertarik, juga curiga. Cepat ia menyambar pedangnya dan keluar dari kamar. Dari balik pintu yang menembus ke ruangan itu, ia mendengarkan dan jantungnya berdebar ketika ia mengenal suara Suma Boan!

 

“Pinceng tidak berani membohong, Kongcu. Sesungguhnya mereka telah pergi lagi, entah ke mana pinceng tidak berani bertanya dan tidak diberi tahu.”

 

“Bukankah Suling Emas sering kali datang ke kuil ini?” terdengar pula Suma Boan bertanya.

 

“Jarang sekali dia datang, sungguh pun pinceng mengenalnya baik, tapi dia tidak pernah bermalam di sini. Siapakah bisa mengetahui di mana adanya?”

 

“Hemmm, aku percaya semua keterangan Lo-suhu. Akan tetapi ketahuilah dua orang yang kucari itu adalah orang-orang berbahaya yang belum lama ini mengacau rumahku, maka terpaksa aku akan melakukan penggeledahan, siapa tahu mereka itu sudah kembali lagi ke dalam kuil tanpa setahu Lo-suhu.”

 

“Silakan, silakan…”

 

Mendengar ini Sian Eng terkejut dan tak terasa lagi ia bergerak. Suara kakinya cukup bagi pendengaran Suma Boan yang tajam. Pemuda bangsawan ini melompat, mendorong daun pintu dan… ia berhadapan dengan Sian Eng!

 

Dengan kedua alis terangkat Suma Boan berseru, “Eh, kau di sini pula…?” Lalu ia melanjutkan kata- katanya dengan nada girang. “Syukur kau telah bebas dari cengkeraman iblis Hek-giam-lo, Nona!”

 

Merah muka Sian Eng. Ia balas memandang, lalu menjawab marah. “Karena gara-gara kau menawanku, maka aku terjatuh ke tangan Hek-giam-lo. Baiknya ada dia yang menolongku dan membawaku ke kuil ini….”

 

“Suling Emas? Kau ditolong olehnya…?”

 

“Siapa lagi kalau bukan dia yang menolongku? Suma-kongcu, kami dulu itu dengan maksud baik datang kepadamu untuk bertanya tentang kakakku yang hilang, mengapa kau lalu menawanku dan hampir membunuh kakakku Bu Sin? Mengapa kau membenci kakakku Kam Bu Song yang lenyap? Permusuhan apakah yang membuat kau membencinya?”

 

Suma Boan tersenyum, lalu menoleh kepada hwesio kepala dan menjura. “Maaf, Lo-suhu, bahwa aku tadi menaruh curiga kepadamu. Kiranya semua ceritamu benar belaka dan kedua orang muda itu tidak berada di sini. Akan tetapi siapa kira, aku bertemu dengan Nona kenalanku ini. Harap kau orang tua suka memberi kesempatan kami bicara berdua saja.”

 

Hwesio tua itu mengangguk dan mengundurkan diri dengan sikap tenang dan sabar. Suma Boan lalu

 

 

 

menghadapi Sian Eng. Pemuda yang sudah banyak pengalamannya dengan wanita ini sekali pandang  saja dapat menjenguk isi hati Sian Eng, bahwa sedikitnya gadis ini tidak marah dan tidak benci kepadanya. Dan memang ia pernah amat tertarik hatinya oleh gadis ini, maka pertemuan yang tak sengaja dan tak tersangka-sangka ini tentu saja mendatangkan rasa girang di hatinya.

 

Tadi ia menyelidik tentang pemuda dan pemudi yang mengacau rumahnya dan yang jejaknya menuju ke kuil ini. Ia telah menyiapkan orang-orangnya di sekeliling kuil, bahkan Tok-sim Lo-tong, seorang tokoh kang-ouw sahabat baik It-gan Kai-ong, sudah datang pula dan kini ikut menjaga di luar kuil untuk menghadapi dua orang muda yang amat lihai itu, juga kalau sekiranya perlu, menghadapi Suling Emas!

 

Suma Boan maklum bahwa Suling Emas takkan mau mengganggunya, hal ini ada rahasianya, akan tetapi dia sendiri selalu berusaha untuk menangkap dan kalau mungkin membunuh orang yang amat dibencinya itu. Karena adanya Tok-sim Lo-tong inilah maka Suma Boan berbesar hati dan berani memasuki kuil di  kota raja. Sahabat suhu-nya yang berjuluk Tok-sim Lo-tong (Anak Tua Berhati Racun) memiliki kepandaian yang amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

 

“Nona Liu…”

 

“Aku bukan she Liu, melainkan she Kam,” bantah Sian Eng.

 

Suma Boan tercengang. “Lho, dahulu kau dan kakakmu mengaku sebagai adik-adik dari Liu Bu Song….”

 

Mengertilah sekarang Sian Eng mengapa tadi pemuda bangsawan ini menyebutnya nona Liu. Ia tersenyum manis dan hati Suma Boan makin berdebar. Tak salah lagi, bocah ini bukan saja tidak membenciku, malah agaknya… ah, manis sekali wajah itu!

 

“Sesungguhnya dia kakakku, kakak sulung. Akan tetapi bukan aku yang berganti nama keturunan, melainkan dia. Sebetulnya dia bernama Kam Bu Song. Suma-kongcu, kau agaknya kenal baik dengan kakakku, bolehkah aku mendengar di mana adanya Kakak Bu Song sekarang ini dan apakah urusannya maka kau agaknya bermusuhan dengan dia?”

 

“Apakah kau betul-betul hendak bertemu dengan dia, Nona? Sayang bahwa pertemuan pertama antara  kita ternoda oleh permusuhan sehingga aku khawatir kalau-kalau kau takkan dapat percaya kepadaku  lagi.” Suma Boan menarik napas panjang penuh penyesalan.

 

“Aku… aku percaya kepadamu. Ayahmu seorang pangeran. Sebagai puteri seorang bekas jenderal besar, aku tahu bahwa kita menjaga nama baik leluhur kita yang sudah banyak membuat jasa kepada negara.”

 

Suma Boan membelalakkan kedua matanya. “Ah, kiranya kau seorang gadis bangsawan, Nona? Ayahmu seorang jenderal? Mengapa… mengapa Bu Song memakai she Liu dan tidak pernah bilang bahwa dia putera seorang jenderal besar? Ah, kalau saja ia dahulu mengaku secara terus terang, kiraku takkan timbul permusuhan ini….”

 

“Apakah yang telah terjadi? Dan di mana dia sekarang?”

 

“Nona, kurasa bukan di sini tempat kita bicara. Ceritanya panjang dan agaknya perlu kuperlihatkan bukti- buktinya kepadamu agar kau dapat percaya. Ada pun untuk dapat bertemu dengan kakak sulungmu itu, kurasa membutuhkan perjalanan jauh yaitu ke negara Nan-cao. Maukah kau ikut denganku ke Nan-cao? Kutanggung kau akan dapat bertemu dengan kakakmu di sana karena dia pasti akan hadir pada pesta yang diadakan oleh Agama Beng-kauw.”

 

Sian Eng menjadi bingung. Ia tahu bahwa antara Lin Lin dan Suma Boan terdapat permusuhan seperti yang telah diceritakan oleh Lin Lin kepadanya. Dan agaknya Suma Boan sekarang ini pun datang untuk mencari Lin Lin dan Bok Liong. Kalau Lin Lin pulang dan bertemu dengan Suma Boan, agaknya tentu akan terjadi hal yang hebat karena Lin Lin sukar diurus. Ia harus dapat mengambil keputusan tepat.

 

“Baiklah, Suma-kongcu. Aku percaya kepadamu. Tunggu kuambil buntalan pakaianku sebentar.” Sian Eng cepat memasuki kamarnya dan tak lama kemudian ia keluar lagi membawa buntalan pakaiannya.

 

Ia tidak meninggalkan pesanan sesuatu untuk Lin Lin karena ia maklum bahwa kalau ia meninggalkan pesan, tentu Lin Lin akan mengejarnya. Karena ini pula, sengaja ia tidak berpesan sesuatu kepada para hwesio, dan Suma Boan sudah memberi ingat kepada para hwesio agar tidak memberitahukan siapa pun

 

juga tentang kedatangannya malam hari itu.

Di luar kuil, para anak buah Suma Boan menjaga sambil bersembunyi. Hanya Tok-sim Lo-tong yang

muncul menjumpainya. Sian Eng memandang dengan mata terbelalak dan hatinya merasa ngeri. Orang yang muncul seperti bayangan setan ini, tidak dapat ia mengikuti gerakannya dan dari mana datangnya, adalah seorang laki-laki yang bentuknya seperti anak kecil bodoh, tapi tubuhnya sudah tinggi melebihi tingginya orang biasa. Kepalanya gundul plontos, tubuhnya kurus sekali. Laki-laki ini sudah tua, buktinya wajahnya yang kurus penuh keriput dan mulutnya yang selalu terbuka itu dihias gigi-gigi ompong. Hebatnya, orang ini tidak berpakaian, atau lebih tepat, hanya memakai cawat, yaitu kain panjang yang dilibatkan di sekeliling pinggang dan paha untuk menyembunyikan anggota rahasia saja. Kakinya pun tidak bersepatu.

 

Akan tetapi, biar pun orang ini lebih pantas disebut orang gila yang terlepas dari neraka, atau sebangsa siluman yang tersesat keluar dari neraka, ternyata Suma Boan bersikap amat hormat. Dengan suara seperti orang sakit napas, orang yang seperti bocah cacingan ini bertanya tak acuh, “Mana Suling Emas?” Belum habis pertanyaannya ia sudah menguap dengan suara memuakkan!

 

“Harap Locianpwe sudi maafkan. Dugaan teecu keliru, ternyata dia tidak berada di sini, malah dua orang musuh teecu juga sudah kabur. Teecu persilakan Locianpwe bersama teecu malam ini mengaso di rumah adik teecu di kota raja. Besok pagi-pagi kita berangkat ke Nan-cao.”

 

“Suruh aku tidur di rumah gedung? Huh-huh, tak sudi! Aku tidur di kolong jembatan di luar kota, besok kita bertemu di luar tembok kota!” Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Suma Boan untuk menjawab, ia menoleh ke kiri dan mulutnya mengeluarkan suara seperti cecak.

 

Hampir Sian Eng meloncat kaget dan jijik ketika tiba-tiba terdengar suara mendesis dan seekor ular sebesar paha dan panjangnya dua meter lebih merayap dari tempat gelap, langsung merayap melalui kaki yang kurus panjang itu, terus melingkar dengan enaknya pada pinggang, dada dan leher. Kemudian, alangkah kaget dan herannya Sian Eng ketika sekali menggerakkan kaki-kakinya yang panjang, si Jangkung itu telah lenyap seperti amblas ke dalam bumi saja! Sian Eng menjadi kagum, heran, ngeri, jijik dan takut. Ia merasa seperti berhadapan dengan seorang iblis lain, yaitu Hek-giam-lo!

 

Suma Boan tersenyum melihat Sian Eng berdiri dengan muka pucat dan mulut setengah terbuka itu. “Nona Kam, tidak aneh melihat kau terheran-heran. Beliau tadi bukanlah seorang biasa, melainkan seorang sakti yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Julukannya adalah Tok-sim Lo-tong dan nama besarnya tidak kalah oleh Suhu It-gan Kai-ong sendiri. Beliau adalah seorang di antara Thian-te Liok-koai, kesaktiannya tak perlu dibicarakan lagi. Dengan beliau sebagai teman seperjalanan, aku tidak takut kepada siapa pun juga, dan kita akan melakukan perjalanan dengan aman ke Nan-cao.”

 

“Kau maksudkan kita kita akan melakukan perjalanan bersama… dia tadi?”

 

Suma Boan tertawa dan giginya yang putih berkilau tertimpa sinar bulan, “Tidak usah kau takut, Nona. Dia tidak akan mengganggumu, malah menjadi pelindung kita. Pula eh, perlu kunyatakan bahwa dengan adanya aku di sampingmu, tak perlu kau takut apa pun juga!” Biar pun tidak secara langsung agar tidak membuat kaget gadis yang masih hijau ini, Suma Boan mulai dengan rayuannya.

 

Kemudian ia mengajak Sian Eng berjalan menuju ke tengah kota di mana terdapat sebuah gedung yang mentereng dan bagus, gedung seorang pangeran! Sambil berjalan, mulailah Suma Boan bercerita. Secara singkat ia telah menceritakan hal ini kepada Bu Sin, akan tetapi kalau kepada Bu Sin ia bercerita dengan penuh kebencian, tidaklah demikian kali ini.

 

“Kakakmu Liu Bu Song itu dahulu adalah seorang pelajar miskin yang datang ke kota raja untuk mengikuti ujian. Melihat wajahnya yang tampan dan bakatnya yang baik dalam kesusastraan, Ayahku yang pada masa itu kepala pengawas ujian, menaruh kasihan. Apa lagi karena kakakmu gagal dalam ujian. Ayah lalu menolongnya, memberi pekerjaan sebagai tata usaha di gedung perpustakaan yang juga menjadi pegangan Ayah. Ia rajin dan pekerjaannya dilakukan dengan baik sehingga Ayah makin sayang dan percaya kepadanya. Kadang kala kakakmu itu disuruh melakukan pekerjaan tulis-menulis di gedung kami. Malah ia bersahabat baik denganku, karena usia kami memang sebaya dan aku tidaklah demikian lancar dalam pelajaran sastra. Ia banyak membantuku dalam hal itu.” Pemuda bangsawan itu berhenti dan menarik napas panjang. Sian Eng senang sekali mendengar cerita ini. Ah, kiranya dia ini sahabat baik kakakku?

 

“Ceritamu itu baik sekali. Tapi, mengapa lalu terjadi permusuhan, Kongcu?”

“Nona, amatlah tidak enak mendengar suaramu yang merdu lewat mulutmu menyebutku Kongcu…”

 

“Akan tetapi, kau seorang putera pangeran….”

 

“Dan kau pun puteri seorang goan-swe (jenderal). Setelah kuketahui bahwa kau ini adik Bu Song yang pernah menjadi sahabat baikku, perlukah kita saling bersikap sungkan? Apa lagi kita akan mengadakan perjalanan jauh bersama, alangkah tidak enaknya kalau kau menyebut Kongcu (Tuan Muda) dan aku menyebut Siocia (Nona).”

 

Jantung dalam dada Sian Eng bergelora, membuat mukanya terasa panas. Biar pun mereka berjalan di bawah sinar bulan yang remang-remang karena terhalang awan sehingga mukanya takkan tampak, namun Sian Eng menunduk, khawatir terlihat wajahnya yang membayangkan gelora hatinya. “Habis… bagaimana…?” katanya setengah berbisik.

 

Suma Boan menatap wajah yang tunduk itu, hatinya girang bukan main. Gadis ini cantik manis, biar pun kepandaiannya hanya lumayan saja, namun wataknya gagah berani, dan puteri jenderal besar pula, lebih penting lagi, dia ini adik Bu Song!

 

“Karena kau terlalu sungkan tadi, aku sendiri sampai takut menanyakan nama. Bolehkah aku mengetahui namamu dan selanjuthya kupanggil kau adik, sedangkan kau menyebutku kakak?”

 

Makin panas kedua pipi Sian Eng. Tiba-tiba kakinya tersandung batu dan ia hampir terguling. Suma Boan cepat-cepat menangkap lengannya untuk mencegah gadis itu jatuh. “Hati-hati…!” serunya. Agak lama juga baru lengan ini dilepas kembali. Padahal, seorang dengan kepandaian seperti Sian Eng, tak mungkin bisa jatuh hanya karena tersandung batu kakinya! Hal ini keduanya cukup maklum.

 

“Namaku Kam Sian Eng…”

 

“Nama yang indah. Adik Sian Eng, kau tentu sudi menyebutku kakak, bukan?”

 

Dengan suara lirih dan kepala tetap tunduk Sian Eng menjawab. “Tentu saja, akan tetapi, kita baru saja berkenalan… dan… aku masih belum tahu apakah kau ini terhitung sahabat ataukah musuh…”

 

“Ha-ha-ha-ha, kau lucu…! Tapi benar juga, memang ceritaku tadi belum selesai. Nah, kau dengarlah. Bu Song bekerja pada Ayah sampai lebih dari tiga tahun. Pada suatu malam… ah, malam celaka  itu… kakakmu tertangkap basah sedang berduaan dengan adikku perempuan bernama Suma Ceng….”

 

Hening sejenak dan terdengar Sian Eng memprotes, “Ah… tapi… tapi tentu adikmu… eh, suka kepadanya.”

 

Suma Boan menarik napas panjang. “Itulah soalnya! Kiranya sudah lama juga agaknya, lebih setahun, mereka itu saling mencinta di luar tahu semua orang. Akan tetapi kau tahu sendiri, tak mungkin Ayah menyetujui hal ini. Pertama, adikku itu sudah ditunangkan dengan Pangeran Kiang. Kedua, kakakmu yang mengaku she Liu itu memperkenalkan diri sebagai seorang sebatang-kara yang tak berayah ibu lagi, bahkan katanya datang dari sebuah dusun kecil, sama sekali tidak berdarah bangsawan. Maka tadi kukatakan, sayang kami tidak tahu bahwa dia itu putera seorang jenderal!”

 

“Kemudian bagaimana? Lalu kakakku itu… diapakan dia?” Suara Sian Eng mengandung waswas, juga berada di pinggir jurang kemarahan dan dendam. Tentu saja seorang yang cukup berpengalaman macam Suma Boan tahu akan hal ini dan ia sudah berhati-hati.

 

“Aku tidak dapat menyalahkan Ayahku dalam hal ini. Ayah marah dan malu bukan main. Kalau tidak kucegah, agaknya adikku itu sudah dibunuhnya malam hari itu juga. Baiknya dapat kudinginkan hatinya, adikku diampuni dan Bu Song dimasukkan dalam penjara. Sebagai seorang yang dianggap tak kenal budi, sudah ditolong oleh Ayah sampai tiga tahun lebih, kiranya membalas dengan penghinaan yang mencemarkan nama baik keluarga. Ayah tak dapat mengampuninya, lalu menyerahkan kepadaku untuk membunuh Bu Song….”

 

“Ahhhhh…!” Sian Eng menghentikan langkahnya, membalik dan memandang wajah Suma Boan dengan mata berapi.

 

 

 

Suma Boan menggelengkan kepalanya. “Tidak, Adik Sian Eng. Jangan kau sangka bahwa aku mau begitu saja membunuh seorang yang sudah tiga tahun menjadi sahabat baikku. Tidak! Tentu saja di depan Ayah aku tidak berani membantah, karena aku pun dapat menyelami perasaan Ayah dan secara jujur aku harus membenarkan hukuman itu. Namun betapa pun juga, aku tidak tega untuk melakukan perintah Ayah. Aku lalu mendatangi Bu Song di kamar tahanan, dan berunding dengannya. Aku hendak menjalankan siasat, menyuruh teman-teman dari luar kota yang pandai untuk tiga hari kemudian, malam-malam menyerbu dan membebaskan Bu Song. Dengan akal demikian Bu Song akan tertolong dan aku sendiri tidak disalahkan Ayah karena memang tahanan diserbu penjahat-penjahat pandai.” Kembali pemuda bangsawan itu berhenti, menjadi ragu-ragu.

 

“Kemudian bagaimana… Koko?” Diam-diam Suma Boan tersenyum girang karena jalan ceritanya telah membuat hati gadis itu kembali mesra terhadapnya, sehingga menyebutnya koko (kanda) dengan suara demikian merdu dan mesra. Tentu saja Sian Eng takkan berani menyebutnya koko kalau saja ia tidak mendahului menyebut gadis itu adik.

 

“Untuk memudahkan rencanaku itu, pada malam hari ketiganya, di depan Ayah aku mencambuki Bu Song dan mengikatnya pada balok bersilang….”

 

“Seperti yang kau lakukan terhadap kakakku Bu Sin itu? Apakah kau juga menyiksa kakak Bu  Song dengan anak panahmu?”

 

Bukan main kagetnya hati Suma Boan mendengar pertanyaan ini. Hampir saja ia melompat menjauhi, seakan-akan pertanyaan itu merupakan seekor ular berbisa yang menyerangnya tiba-tiba. Akan tetapi melihat sikap Sian Eng masih biasa, hanya pada suaranya terkandung kegetiran, ia dapat menguasai perasaannya dan berkata.

 

“Dari mana kau bisa tahu tentang kakakmu Bu Sin? Apakah kau sudah berjumpa dengannya?” “Belum. Akan tetapi aku mendengar dari Suling Emas….”

“Ahhh! Kiranya dia pula yang telah membawa pergi Bu Sin? Heran sekali…!” “Mengapa heran? Dia seorang pendekar yang sakti.”

“Aneh sekali… dia benar-benar orang aneh…” Suma Boan berkata lirih kepada diri sendiri.

 

“Memang dia aneh, akan tetapi sakti dan kalau tidak ada dia, agaknya aku dan Kakak Bu Sin tentu telah tewas.”

 

“Kau tidak tahu akan urusannya, Moi-moi. Dengarlah baik-baik, dan kau akan mengerti mengapa aku menjadi marah dan benci kepada Bu Song sehingga ketika kau dan Bu Sin muncul, aku tidak dapat menahan kemarahanku. Telah kuceritakan tadi, aku menyiksa Bu Song hanya untuk main sandiwara di depan Ayah saja. Terang saja aku hanya mencambukinya agar Ayah percaya. Lalu aku dan Ayah pergi meninggalkan Bu Song terikat di taman dan aku mengerti bahwa menjelang tengah malam, tentu teman- temanku yang sudah siap akan datang menyerbu dan membawanya lari keluar kota. Akan tetapi, apa yang terjadi? Teman-temanku benar menyerbu, akan tetapi… Bu Song sudah tidak ada lagi di sana! Kegagalan ini membuka rahasiaku sehingga Ayah marah bukan main kepadaku dan hampir aku diusirnya kalau saja Ibu tidak turut campur. Nah, karena melanggar janji dalam rencana itulah aku menjadi benci kepada Bu Song. Apa lagi setelah beberapa tahun kemudian, adikku sudah menikah dengan pangeran tunangannya, Bu Song secara sembunyi muncul lagi dan bahkan berani mengunjungi taman adikku, mengadakan pertemuan di sana!”

 

“Apa…?!” Sian Eng berseru dengan hati tidak karuan. Heran, penasaran, juga terharu sekali. Demikian besarkah cinta kasih kakaknya terhadap Suma Ceng sehingga kakaknya tidak melihat kenyataan bahwa kekasihnya itu sudah menjadi isteri orang lain?

 

Suma Boan mengangguk-angguk. “Itulah sebabnya mengapa aku tidak dapat menahan sabar lagi ketika melihat kau dan Bu Sin muncul dan mengaku sebagai adik dari Bu Song. Apa lagi terhadap Bu Sin yang ketika kuceritakan hal ini malah membela kakaknya sehingga kemarahanku menjadi-jadi. Baiknya aku masih ingat dan tidak membunuhnya, dan bukan main bingung hatiku ketika melihat kau lenyap. Syukur kau telah tertolong dari tangan Hek-giam-lo yang mengerikan.”

 

 

 

“Kalau begitu… agaknya… Kakak Bu Song memang keterlaluan. Kalau kekasihnya, adikmu itu sudah menjadi isteri orang lain, tidak semestinya ia datang mengunjunginya. Akan tetapi, bagaimana kau bisa tahu bahwa kita akan dapat bertemu dengan dia di Nan-cao?”

 

Suma Boan tersenyum penuh rahasia. “Dia mempunyai hubungan dengan Kerajaan Nan-cao, kita pasti akan bertemu dengannya di sana. Kau percayalah kepadaku Adik Sian Eng.”

 

“Kalau aku tidak percaya kepadamu, masa aku suka ikut?”

 

Mereka memasuki pekarangan sebuah gedung indah. Beberapa orang penjaga segera maju menghadang, akan tetapi mereka cepat memberi hormat ketika melihat Suma Boan membuka pintu depan dan seorang di antara mereka berlari-lari ke dalam untuk melaporkan kedatangan mereka. Suma Boan mengajak Sian Eng terus ke dalam, malah dengan ramah ia menggandeng tangan gadis itu.

 

Di ruangan tengah mereka disambut oleh seorang wanita yang cantik sekali dan mengenakan pakaian mewah. Sejenak Sian Eng tercengang dan kagum. Wanita itu lebih tua beberapa tahun dari padanya, wajahnya yang cantik jelita membayangkan keagungan, rambutnya yang panjang hitam itu digelung indah dan dihias permata mutu manikam. Sepasang matanya yang bersinar-sinar, dagunya yang runcing dan tubuhnya yang langsing padat mengingatkan ia akan Lin Lin. Akan tetapi, tentu saja berlainan  sekali karena Lin Lin mempunyai kecantikan yang asing, sedangkan wanita ini adalah seorang yang cantik seperti dewi dalam gambar. Ia cepat-cepat menjura dengan hormat ketika wanita itu berkata, suaranya halus dengan gerak-gerik yang lemah gemulai.

 

“Twako (Kakak), malam-malam begini kau datang mengunjungiku, dari manakah dan ada keperluan apa? Dan adik ini, siapakah?”

 

Sian Eng kini memandang sekali lagi, dengan penuh perhatian setelah mengerti bahwa inilah kiranya wanita yang menjadi kekasih hati kakaknya. Ah, pantas saja kakak sulungnya tergila-gila, karena memang wanita ini hebat. Diam-diam ia menaruh kasihan kepada kakaknya, juga kepada wanita ini yang ternyata telah gagal dalam percintaan.

 

“Ceng-moi (Adik Ceng) aku mempunyai urusan di kota raja sehingga agak terlambat datang ke sini. Besok pagi-pagi aku akan berangkat ke selatan, menghadiri pesta Agama Beng-kauw di Nan-cao bersama Nona Sian Eng ini. Maafkan kalau aku mengganggu, tapi mana suamimu?”

 

Pandang mata Sian Eng yang tajam menangkap wajah yang tiba-tiba muram itu, dan suaranya yang halus merdu tadi berubah tergetar membayangkan batin yang tertekan, “Ah… dia tidak berada di rumah, semenjak sore tadi pergi bersama teman-temannya…,” kemudian suaranya meninggi, wajahnya berseri lagi seakan-akan ia memaksa diri melupakan hal itu dan mengubah percakapan. “Adik ini tentu lihai sekali ilmu pedangnya. Adik, kau murid siapakah? Twako, biarkan dia tidur bersamaku agar kami dapat bercakap- cakap, kau sendiri pakailah kamar di sebelah timur. Akan kuperintahkan pelayan membereskannya.”

 

Suma Boan tersenyum. “Baiklah.” Ia lalu meninggalkan dua orang wanita itu. Akan tetapi sebelum lenyap di ruangan lain, terdengar suaranya. “Asal kau tahu saja bahwa Adik Sian Eng adalah adik dari Bu Song.”

 

Suma Ceng menahan seruannya dengan menaruh tangan kiri di depan mulut, matanya terbelalak memandang Sian Eng, wajahnya menjadi pucat! Sian Eng makin kasihan melihat ini dan maklumlah ia bahwa biar pun wanita ini sudah bersuamikan orang lain namun tetap mencinta kakaknya.

 

Sian Eng cepat memegang tangan Suma Ceng dan berkata, “Enci, harap kau jangan kaget. Pertemuan ini tidak kusengaja, hanya kebetulan saja. Baru saja aku mendengar tentang kakakku dan kau. Selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan Kakak Bu Song dan sekarang aku sedang mencarinya. Suma- kongcu menyatakan bahwa kalau aku ikut dengannya ke Nan-cao, pasti aku akan dapat bertemu dengan Kakak Bu Song di sana.”

 

Suma Ceng menarik tangan Sian Eng. “Adik Sian Eng, marilah kita bicara di dalam kamarku…!” Dari suaranya, tahulah Sian Eng bahwa wanita itu menahan isak, agaknya menjadi amat terharu. Maka ia pun mengikutinya dengan hati berdebar karena ia merasa yakin bahwa dari mulut yang mungil ini ia akan dapat mendengar banyak tentang diri kakaknya…..

 

********************

 

 

 

“Heeeiiiii! Dengar kalian semua! Aku si Suling Emas selamanya tidak pernah bermusuhan dengan orang- orang Nan-ping mau pun Nan-han dan kerajaan-kerajaan di selatan lainnya. Mundurlah dan biarkan kami lewat, kami sedang menuju ke Nan-cao untuk menghadiri perayaan Beng-kauw di sana. Mundur, aku tidak suka membunuh kalian!”

 

Biar pun teriakan Suling Emas itu bagaikan halilintar dan sulingnya digerakkan menjadi segulungan awan kuning yang hebat, ditambah pula di sebelahnya terdapat Lin Lin yang juga menggerakkan pedangnya sehingga gulungan sinar kuning yang lebih muda menyilaukan mata dan mengandung hawa dingin mengancam para pengurung, namun puluhan orang yang mengurung mereka itu tidak mau mundur, malah mendesak makin hebat.

 

“Jangan kira aku takut, tikus-tikus tak tahu diri!” Suling Emas membentak dan terdengarlah bunyi senjata yang patah-patah ketika sulingnya bergerak membabat pedang dan golok yang malang-melintang di depannya. “Lin Lin, serang dan robohkan mereka, tapi jangan bunuh!”

 

Akan tetapi jumlah pengeroyok makin banyak dan mereka berteriak-teriak, “Bunuh anjing pengkhianat! Jangan percaya omongan anjing penjilat Sung Utara!”

 

Dalam perjalanan mereka ke Nan-cao, Suling Emas dan Lin Lin tiba di luar kota Ban-in di pinggir Sungai Yang-ce-kiang. Di tempat inilah mereka dihadang kemudian dikeroyok oleh banyak sekali orang yang kesemuanya mahir ilmu silat dan membawa senjata. Hal ini saja cukup membayangkan bahwa mereka ini memang sudah berjaga di situ, dan bahwa pencegatan terhadap Suling Emas dan Lin Lin memang sudah diatur lebih dulu.

 

Biar pun puluhan orang pengeroyok itu adalah orang-orang yang melihat gerakan-gerakannya, ternyata pandai mainkan senjata tajam, namun mereka bukanlah lawan Lin Ling apa lagi Suling Emas. Sebentar saja golok-golok dan pedang-pedang berpelantingan, dan tubuh-tubuh terluka roboh saling tindih. Tiba-tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan bumi. Agaknya suara ini merupakan komando karena para pengeroyok makin nekat dan mendesak, kemudian muncullah di antara para pengeroyok itu dua orang yang hebat-hebat.

 

Mereka adalah dua orang laki-laki tua yang hampir telanjang. Hanya cawat dan celana yang menutupi tubuh mereka. Biar pun keduanya sama menjijikkan seperti binatang atau manusia hutan yang liar, namun keadaan mereka jauh berbeda. Yang seorang bertubuh gemuk dan di tengkuknya terdapat daging punuk yang besar seperti punuk di punggung sapi jantan. Kedua lengannya panjang berbulu, kelihatan  kuat sekali, sedangkan sepuluh jari tangannya berkuku panjang dan kotor. Kepalanya gundul, mata dan mulutnya membayangkan kebuasan yang mengerikan.

 

Orang kedua tinggi kurus, juga tak berbaju, hanya bercawat, juga gundul dan mukanya sama buas dan mengerikan. Kita pernah bertemu dengan yang tinggi kurus itu, karena ia bukan lain adalah Tok-sim Lo- tong, sahabat baik It-gan Kai-ong yang melakukan perjalanan bersama Suma Boan. Ada pun yang gendut itu juga bukan tokoh sembarangan, karena dia adalah kakak Si Tinggi Kurus, berjuluk Toat-beng Koai-jin (Manusia Aneh Pencabut Nyawa)! Seperti juga Tok-sim Lo-tong, Toat-beng Koai-jin ini termasuk seorang  di antara Thian-te Liok-koai Si Enam Jahat.

 

Melihat munculnya dua orang kakak beradik ini, kagetlah Suling Emas, akan tetapi ia pun menjadi marah sekali. “Aha, kiranya Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong dua manusia buas yang berdiri di belakang semua ini? Kalian mau apa?”

 

“Heh-heh, Suling Emas, menyerah kau dan gadis itu!” Toat-beng Koai-jin menggeram, air liurnya menetes dari pinggir mulut. Lin Lin mengkirik penuh kengerian.

 

“Suling Emas, menyerahlah menjadi tawananku kalau mau selamat!” si Tinggi Kurus Tok-sim Lo-tong mengeluarkan suaranya yang tak enak didengar.

 

Tiba-tiba Suling Emas tersenyum lebar dan Lin Lin yang menoleh kepadanya menjadi bengong. Baru kali ini ia melihat Suling Emas tersenyum lebar. Wajahnya berubah sekali, kemuraman lenyap, wajah itu berseri-seri menjadi amat tampan. Alangkah inginnya dapat melihat Suling Emas seperti itu selalu!

 

“Kalian kira aku manusia macam apa, bisa kalian ancam untuk menyerah?”

 

“Heh-heh, aku tahu kau tentu melawan. Lebih baik lagi, tinggal menyeret bangkaimu kubawa pulang!” Toat-

 

 

 

beng Koai-jin terkekeh lalu menerjang maju, menubruk Lin Lin. Gerakannya kelihatan lambat, tubuhnya begitu besar dan kaku akan tetapi entah bagaimana, tubrukan ini hampir tak terhindarkan oleh Lin Lin! Baiknya ia cepat mengayun pedang yang menjadi sinar kuning berkelebat di depan tubuhnya, merupakan senjata yang amat kuat dan agaknya Toat-beng Koai-jin maklum pula akan keampuhan pedang pusaka ini maka ia menggeram dan mengubah gerakan menubruk menjadi gerakan mencengkeram dari samping bawah!

 

Sementara itu Tok-sim Lo-tong juga sudah mengeluarkan senjata istimewa, yaitu seekor ular yang besar dan panjang. Ular dilibatkan di leher dan pinggang, ia sendiri memegang leher ular dan bersilatlah ia dengan kacau-balau menerjang Suling Emas. Biar pun kelihatannya ia berjingkrak dan bersilat kacau-balau seperti itu, namun Suling Emas yang sudah mengenalnya maklum bahwa si Tinggi Kurus ini amat hebat kepandaiannya. Justru di dalam kekacau-balauan gerakan inilah terletak kekuatannya, apa lagi ‘senjata’ ular hidup itu bisa mulur dan mengkeret, amat sukar diduga perkembangannya. Angin pukulan yang menyambar-nyambar disertai bau amis dan berbisa, membayangkan tenaga sinkang yang mukjijat, bercampuran dengan hawa ilmu hitam dan hawa beracun. Di samping ini, masih banyak sekali orang yang mengeroyok Suling Emas dari kanan kiri dan belakangnya.

 

Mendapat lawan Tok-sim Lo-tong yang lihai ditambah banyak pengeroyok itu sama sekali tidak membikin gentar hati Suling Emas, akan tetapi yang membuat ia khawatir sekali adalah keadaan Lin Lin. Ia maklum bahwa betapapun lihainya Lin Lin dengan ilmu warisan dari Kim-lun Seng-jin, namun gadis itu masih jauh belum cukup kuat untuk menandingi seorang lawan yang seperti Toat-beng Koai-jin, seorang di antara Thian-te Liok-koai.

 

“He, Toat-beng si Lembu Edan, tidak malukah kau melawan seorang gadis cilik? Hayo kau sekalian maju mengeroyokku!” bentak Suling Emas seraya mainkan sulingnya sedemikian rupa sehingga gulungan sinar sulingnya itu menahan semua pengeroyok.

 

Akan tetapi kiranya malah Lin Lin yang menjawab, “Siapa gadis cilik? Aku bukan kanak-kanak lagi. Monyet gundul liar menjemukan, jangan dengarkan dia, hayo kau layani pedangku kalau memang berani! Lihat, ujung pedangku akan mendodet perutmu yang gendut kebanyakan makan itu!” Lin Lin menerjang hebat sambil memutar pedangnya dan dengan hati-hati. Karena maklum akan kelihaian lawan, ia mainkan ilmunya Khong-in-liu-san sambil mengerahkan tenaga sakti dengan Ilmu Khong-in-ban-kin…..

 

Toat-beng Koai-jin yang tadinya memandang rendah dan menyerbu gadis itu sambil tertawa-tawa, diam- diam kaget juga ketika melihat jurus-jurus yang dimainkan Lin Lin. Biar pun ia kelihatan buas dan liar seperti orang hutan, namun sebagian besar ilmu silat di dunia kang-ouw telah dikenalnya, maka ia mengenal pula Ilmu Khong-in (Awan Kosong) ini.

 

“Heh, kau murid Kim-lun Seng-jin? Bagus, tentu gurih dagingmu dibakar setengah matang. Heh-heh!” Tiba- tiba kakek liar ini menyambar dua orang pengeroyok Suling Emas, memegang pada kakinya dan menggunakan dua ‘senjata hidup’ ini menerjang Lin Lin.

 

Lin Lin kaget setengah mati. Terpaksa ia menggerakkan pedang menangkis.

 

“Crak! Crak!” darah menyembur karena tubuh dua orang itu terbabat putus oleh pedangnya!

 

Kakek itu tertawa-tawa dan… menggelogok darah yang tersembur ke luar itu ke dalam mulutnya, seperti orang kehausan minum air es! Kemudian ia melemparkan dua mayat itu dan sekali lagi ia menyambat kaki dua orang pengeroyok.

 

Lin Lin meramkan matanya melihat kakek itu minum darah, wajahnya menjadi pucat dan kakinya  menggigil. Tapi kembali Toat-beng Koai-lojin sudah menerjangnya dengan dua ‘senjata hidup’. Lin Lin kewalahan, terpaksa kembali ia menangkis dan kembali dua orang itu mati seketika dengan perut dan dada terbelah. Tangan Lin Lin yang memegang pedang gemetar dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba kakek itu telah menubruknya dan sebuah ketukan keras pada pergelangan tangannya membuat Lin Lin terpaksa melepaskan pedangnya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan ia sudah disambar oleh Toat- beng Koai-jin yang tertawa terkekeh-kekeh sambil membawa lari tubuh Lin Lin yang lemas.

 

“Toat-beng Koai-jin, kalau kau mengganggu dia, aku bersumpah akan menyiksamu dan memotong-motong dagingmu sekerat demi sekerat!” bentakan Suling Emas ini keras sekali. Tiba-tiba sulingnya melakukan gerakan-gerakan aneh sekali, begitu halus akan tetapi mengandung kekuatan yang bukan main sehingga dalam sekejap mata enam orang pengeroyok terguling roboh sedangkan Tok-sim Lo-tong sendiri terdorong

 

 

 

mundur sampai lima langkah.

 

“Ihhhhh… ilmu apakah ini…?” Tok-sim Lo-tong berseru kaget, akan tetapi ia mendesak lagi, dibantu oleh para pengeroyok yang nekat, menghalangi Suling Emas mengejar Toat-beng Koai-jin. Memang hebat gerakan Suling Emas tadi. Dalam kemarahan dan kegelisahannya melihat Lin Lin tertawan, ia tadi mainkan jurus dari ilmu silat yang ia terima dari Bu Kek Siansu. Girang hatinya melihat hasil ini, dan tahulah ia bahwa ilmu silat sastra ini sama sekali tidak dikenal Tok-sim Lo-tong sehingga tentu saja hasilnya amat baik.

 

Cepat sulingnya bergerak lagi, membuat huruf KOK (Negara). Huruf ini mengandung gerakan dalam yang rumit, akan tetapi dilingkari garis-garis segi empat yang melengkung. Kembali empat orang pengeroyok roboh dan ketika tubuh Suling Emas melayang dalam pembuatan gerakan melingkar, tahu-tahu ia telah bebas dari pengepungan dan cepat ia berkelebat mengejar ke arah larinya Toat-beng Koai-jin. Akan tetapi yang dikejar telah lenyap, tidak tampak bayangannya lagi.

 

Suling Emas memasuki kota Ban-sin, langsung menuju ke rumah Ouw-kauwsu, seorang guru silat di kota itu yang dikenalnya. Ouw-kauwsu terkejut dan girang bukan main melihat munculnya pendekar sakti ini. Cepat ia menjura dengan hormat dan dengan wajah berseri-seri ia berkata. “Wahai, tak pernah mimpi siauw­te akan menerima kehormatan besar dengan kunjungan Taihiap (Pendekar Besar)!”

 

“Ouw-kauwsu, ada urusan penting. Maaf, aku ingin singkat saja. Tahukah kau di mana aku dapat menjumpai Toat-beng Koai-jin? Lekas, sekarang juga!”

 

Berubah wajah Ouw-kauwsu, terang bahwa dia menjadi ketakutan. “Memang… memang kulihat dia dalam bulan ini berada di Ban-sin, biasanya dia di… di dalam kuil…”

 

“Heh-heh-heh, Suling Emas. Tak usah repot-repot, aku sudah berada di sini!” tiba-tiba terdengar suara keras dan parau.

 

Suling Emas dan Ouw-kauwsu cepat memutar tubuh dan… kiranya manusia iblis yang dijadikan bahan percakapan itu telah berada di situ, duduk nongkrong di atas tiang melintang dekat langit-langit rumah sambil menggerogoti daging dari tulang paha, entah paha apa!

 

Dan pada saat itu juga, terdengar suara orang mengomel, “Nanti dulu… tenanglah, kau ajak aku berlari-lari. Kalau betul dia Suling Emas, mau apakah? Mau suruh dia tiup suling? Eh, tidak enak memasuki rumah orang seperti ini. Heee, tuan atau nyonya rumah, ke mana kalian? Wah, agaknya rumah kosong….”

 

Muncullah orangnya yang berkata-kata itu. Kiranya dia seorang kakek pendek, kumis dan jenggotnya jarang, sikapnya lucu dan selalu terkekeh. Di belakangnya berjalan seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Sian Eng. Begitu memasuki ruangan itu, kakek lucu ini melihat Suling Emas dan Ouw-kauwsu berdongak memandang ke atas. Ia pun ikut memandang dan tiba-tiba ia berseru kaget.

 

“Eh, eh, anak nakal… kenapa kau naik ke sana? Hayo turun lekas… wah, kalau jatuh bisa pecah punukmu. Turun… turun…!” Ia menggapai-gapai tangannya menyuruh turun. Akan tetapi Toat-beng Koai-jin hanya memandang sambil menyeringai dan melanjutkan kesibukannya yaitu menggerogoti daging.

 

Kakek pendek itu makin gugup. “Kau tidak turun? Celaka… wah, aku paling ngeri melihat orang jatuh dari tempat tinggi… hayo turunlah…!” Ia lalu menghampiri tiang dan mulailah ia memanjat ke atas seperti seorang kanak-kanak memanjat pohon kelapa! Setelah ia tiba di atas, hampir sama tingginya dengan tempat di mana Toat-beng Koai-jin duduk nongkrong matanya terbelalak ketakutan.

 

“Kau makan apa itu? Hiiiiihhh, daging itu masih mentah! Lihat ada darahnya, wah-wah, kau memang bocah nakal. Bisa kembung perutmu. Eh, bukankah kau ini si nakal Toat-beng Koai-jin? Ya, kukenal punukmu itu! Ihhh, tentu daging manusia yang kau makan. Wah, seram… seram…!”

 

********************

 

Bagaimanakah Sian Eng bisa datang bersama kakek pendek yang lucu ini dan siapakah gerangan kakek itu? Seperti telah kita ketahui, Sian Eng pergi ber­sama Suma Boan ke gedung indah milik adik Suma Boan yang bernama Suma Ceng. Seperti telah diduga oleh Sian Eng, setelah berada di dalam kamar berdua dengan bekas kekasih kakaknya ini, ia mendengar banyak tentang diri Bu Song. Kiranya cerita yang ia dengar dari Suma Ceng tiada bedanya dengan yang sudah didengarnya dari Suma Boan, hanya tentu

 

 

 

saja, dari mulut Suma Ceng terdengar berlainan. Terang bahwa nyonya muda cantik ini benar-benar mencintai Bu Song.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo