August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 6)

 

 

“Huh, bocah bermulut lancang! Siapa hendak memperkosa? Lancang kau menuduh orang…” “Engkau masih berani menyangkal? Melihat keadaan Nona ini….“
“Ha-ha-ha! Memang dia kutelanjangi, akan tetapi aku tidak berniat memperkosanya. Melihat pandang mata anak buah Thian-liong-pang, mungkin mereka itu mempunyai niat demikian! Ha-ha, aku sama sekali bukan hendak memperkosa, melainkan ingin menggunakan dia membantu menyempurnakan ilmu silat yang sedang kucipta! Dia seorang gadis yang memiliki Iweekang tinggi, memiliki hawa sakti yang kuat dan darah yang sehat. Dia juga telah mengacau Thian-liong-pang, maka baik sekali kuambil semua kekuatan Im-kang dari tubuhnya…”

“Keji! Aku tahu, Ma-totiang, orang mengabarkan bahwa engkau sedang mencipta dan melatih Ilmu Bi- ciong-kun (Ilmu Silat Menyesatkan) yang kau lengkapi dengan pukulan Tok-hiat-ciang (Pukulan Darah Beracun)…, akan tetapi mengapa menggunakan Im-kang seorang gadis…?”

“Ha-ha-ha, Siangkoan Li! Kau kira akan mudah saja mencari rahasia ilmuku itu? Tidak perlu, hanya perlu kau ketahui bahwa aku perlu hawa murni dan darah gadis ini untuk I-kin Swe-jwe (Ganti Obat Cuci Sumsum). Sudahlah, kau pergi saja dan jangan menggangguku lagi.”

“Tidak! Kalau engkau lebih dulu membebaskan Nona ini, kemudian bertanding dengannya secara jantan, biar dia kalah dan mati di tanganmu, aku Siangkoan Li bersumpah tidak akan turut campur. Akan tetapi melihat dia ditawan dengan akal keji dan kini akan menjadi korban ilmu iblismu, aku tidak akan tinggal diam saja!”

“Bagus! Memang anak tidak akan berbeda dengan ayahnya! Ayahmu penyeleweng dari Thian-liong-pang, engkau pun….”

“Tutup mulut, jangan membawa-bawa nama Ayah!” bentak Siangkoan Li yang sudah mencabut pedangnya.

Huang-to Tai-ong Ma Hoan berteriak keras seperti seekor harimau terluka, mencabut pedangnya dan menyerang pemuda itu. Karena goa itu kurang luas untuk bertanding, sedangkan ia maklum akan kelihaian lawannya, pemuda yang bernama Siangkoan Li itu lalu meloncat ke luar goa dikejar oleh Ma Hoan. Segera terjadi pertandingan hebat di luar goa, di bawah sinar bintang-bintang di langit. Suara senjata mereka saling beradu, terdengar nyaring oleh Kwi Lan yang masih berusaha menekan kemarahannya dan membebaskan diri dari totokan.

“Sam-sute, bagaimana baiknya sekarang?” terdengar seorang di antara tiga anggota Thian-liong-pang berkata. Mereka bertiga masih berada di dalam goa itu, kini memandang ke arah Kwi Lan dengan mata terbelalak penuh kagum dan gairah.

“Biarkan saja mereka bertempur,” kata suara lain yang parau. “Ma-totiang adalah adik kandung Pangcu (Ketua), dan Siangkoan-kongcu adalah cucu luar Lo-pangcu, bagaimana kita boleh campur tangan? Lihat, alangkah hebatnya Nona ini. Hemmm… selagi mereka bertanding, mengapa kita sia-siakan kesempatan bagus ini?”

“Sam-suheng benar!” kata suara ke tiga. “Aku pun selama hidupku belum pernah melihat yang seindah ini. Aku rela nanti dimarahi Ma-totiang atau Siangkoan-kongcu…”

Tiga orang anggota Thian-liong-pang itu menghampiri Kwi Lan dengan wajah menyeringai penuh nafsu. Sebetulnya mereka itu bukanlah kaum jai-hwa-cat macam Ci-lan Sai-kong, bukan pula orang-orang mata keranjang, sungguh pun mereka juga tak dapat disebut orang baik-baik. Akan tetapi melihat keadaan Kwi Lan, menyaksikan kecantikan wajah yang memang jarang bandingannya, melihat bentuk tubuh yang demikian menggairahkan, mereka tak dapat lagi menguasai hati dan menyerah kepada bujukan iblis nafsunya.

Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Kwi Lan ketika melihat tiga wajah yang berkeringat dengan mata berkilat-kilat seperti mata binatang kelaparan itu makin mendekatinya. Ia tidak pernah mengenal takut menghadapi ancaman maut sekali pun, akan tetapi hati kecilnya membisikkan bahwa kini ia terancam

mala-petaka yang jauh lebih mengerikan dari pada maut sendiri! Ia sudah mengerahkan tenaga, namun perhatiannya tak dapat terkumpul bulat-bulat sehingga belum juga ia berhasil. Kedua tangan dan kakinya masih lemas, lumpuh tak bertenaga.

“Sam-sute, Hok-sute, kalian mundurlah. Aku sebagai Suheng kalian dan yang paling tua, biarkan aku mendekati dia lebih dulu.”

“Ah, tidak, Suheng! Aku yang mengusulkan lebih dulu!”

“Sam-suheng, aku yang paling muda lebih cocok dengan dia!”

Tiga orang murid Thian-liong-pang yang hati serta pikirannya sudah hitam dan gelap kotor oleh nafsu iblis itu kini saling berebut! Dari pertengkaran mulut, mereka kini saling betot dan agaknya mereka akan saling jotos karena sudah mulai memaki. Melihat ini Kwi Lan maklum betapa dirinya diperebutkan oleh tiga orang manusia yang seperti anjing-anjing kelaparan itu, maka ia merasa hatinya makin berdebar gelisah, perasaannya seperti ditusuk-tusuk. Makin rusaklah pengerahan tenaga dan hawa murni di tubuhnya sehingga akhirnya ia menghela napas dan mengeluarkan suara rintihan karena putus harapan.

Tiba-tiba dari luar goa menyambar dua sinar hitam yang tepat sekali mengenai jalan darah di leher dan pinggang Kwi Lan. Kiranya dua sinar itu adalah dua buah batu kecil yang tepat telah menotok jalan darahnya dan… seketika Kwi Lan merasa betapa jalan darahnya pulih kembali! Kaki tangannya dapat ia gerakkan dan biar pun masih kesemutan, namun ia segera melompat bangun, bagaikan kilat cepatnya ia sudah menyambar pakaiannya yang tadi ia lihat bertumpuk di sudut goa.

Dengan jari-jari tangan gemetar saking lega dan girang hatinya tertolong pada detik-detik berbahaya itu, namun dengan amat cepat, Kwi Lan mengenakan pakaiannya dan tubuhnya yang kini sudah berpakaian itu berkelebat cepat ke arah pintu goa ketika ia melihat tiga orang Thian-liong-pang berusaha lari ke luar. Kejadian ini amat cepatnya.

Ketika tiga orang Thian-liong-pang tadi bertengkar untuk memperebutkan Kwi Lan, mereka tidak tahu bahwa calon korban mereka itu sudah melompat bangun dan berpakaian. Setelah akhirnya seorang di antara mereka melihat Kwi Lan dan berteriak kaget, mereka semua menoleh dan serentak mereka kini berlomba lari ke arah pintu goa untuk menjauhkan diri dari gadis yang mereka tahu amat lihai itu. Namun tiba-tiba di depan mata mereka berkelebat bayangan orang dan tercium bau harum, tahu-tahu mereka sudah melihat Kwi Lan menghadang di depan pintu goa dengan pedang Siang-bhok-kiam yang harum di tangan!

Wajah yang cantik jelita itu tersenyum, senyum manis sekali, akan tetapi sinar matanya tajam bagaikan pedang dan dingin seperti salju! Tiga orang anggota Thian-liong-pang itu melangkah mundur dengan muka pucat dan bergidik ngeri. Jalan mundur tidak ada lagi. Satu-satunya jalan ke luar untuk lari telah dihadang oleh Mutiara Hitam.

Gadis itu melihat tiga orang lawannya mundur-mundur ketakutan, kini melangkah maju pula perlahan- lahan. Ia sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata, namun pandang matanya dan senyumnya telah membayangkan ancaman yang menyeramkan, dan tiada caci maki dari mulut lebih jelas membayangkan kemarahan yang meluap-luap itu. Tiga orang yang mundur terus akhirnya sampai mepet di dinding batu goa. Terpaksa mereka berhenti, saling pandang dengan muka pucat, mata terbelalak dan tubuh menggigil. Mereka tersudut seperti tiga ekor tikus menghadapi seekor kucing yang hendak mempermainkan mereka lebih dahulu sebelum menjatuhkan terkaman maut.

Tiga orang itu saking takutnya menjadi nekat. Mereka merogoh saku dan mengeluarkan senjata rahasia mereka, yaitu perluru-peluru bintang Sin-seng-piauw yang menjadi senjata utama para anak buah Thian- liong-pang. Tidak semua anggota Thian-liong-pang mewarisi ilmu silat Sin-seng Losu, akan tetapi mereka semua diharuskan melatih penggunaan senjata rahasia Sin-seng-piauw ini. Senjata rahasia ini bentuknya seperti bintang, kecil namun berat dan pada ujungnya yang runcing diberi racun.

Seperti mendapat aba-aba saja, tiga orang itu menggerakkan tangan menyambit dengan Sin-seng-piauw. Belasan buah peluru bintang ini menyambar ke arah Kwi Lan. Namun sekali memutar Siang-bhok-kiam, semua senjata itu runtuh, menancap di atas lantai atau dinding kanan kiri gadis itu. Tiga orang anak buah Thian-liong-pang itu adalah anggota-anggota tingkat rendah, kepandaian mereka masih terlalu rendah bagi Kwi Lan. Mereka menjadi makin ketakutan dan menghamburkan senjata-senjata rahasia mereka sampai habis. Sebuah pun tidak ada yang menyentuh pakaian Kwi Lan. Gadis ini memperlebar senyumnya

 

Sambil berteriak-teriak seperti orang gila saking takut dan nekat, tiga orang itu lalu menerjang maju, memutar golok dan membacok sejadinya asal cepat dan kuat. Kwi Lan menggerakkan pedangnya yang berkelebatan seperti kilat menyambar.

“Trangg… tranggg… tranggg…!”

Tiga batang golok itu patah-patah dan yang berada di tangan mereka hanya tinggal gagangnya saja! Kembali mereka mundur-mundur sampai mepet dinding dan rasa takut mereka ini memuncak. Melihat betapa gadis itu sambil tersenyum-senyum melangkah maju dengan pedang di tangan, mereka bertiga hampir menjadi gila. Lutut mereka menggigil dan akhirnya mereka tak dapat menahan diri lagi, jatuh berlutut sambil memohon-mohon ampun dan menangis!

“Menjijikkan!” Kwi Lan berkata perlahan akan tetapi pedangnya bergerak cepat sekali sampai lenyap berubah gulungan sinar hijau menyambar-nyambar.

Terdengar jeritan-jeritan menyayat hati dan ketika gadis itu melangkah ke luar dari dalam goa, di bawah penerangan api unggun tampak tiga tubuh manusia bergelimpangan di atas lantai goa itu, tanpa tangan dan kaki lagi! Darah membanjir merah. Mengerikan sekali tubuh yang hanya tinggal kepala dan badan itu, kaki tangan mereka buntung dari pangkalnya! Kini tiga orang itu hanya bisa menggerak-gerakkan kepala dengan mulut mengerang kesakitan dan mata terbelalak, masih ketakutan. Namun satu-satunya bagian tubuh yang masih dapat bergerak, kepala itu, tentu takkan lama bergerak karena mereka tak mungkin dapat hidup lagi dengan darah mengalir keluar seperti pancuran itu.

Kwi Lan mendengar betapa di luar masih terjadi pertarungan hebat. Kini terdengar suara bersuitan keras dan ketika ia meloncat ke luar dari dalam goa, ia melihat betapa pemuda tampan yang menolongnya tadi dikeroyok oleh banyak orang yang membantu Huang-ho Tai-ong Ma Hoan! Pemuda itu hebat sekali permainan pedangnya. Biar pun Ma Hoan mengeroyoknya dengan bantuan tujuh orang anak buahnya, namun pemuda itu masih saja menekan mereka dengan gerakan-gerakan pedang yang amat kuat. Belasan orang anak buah bajak bersuitan dan mengurung. Biar pun ilmu pedangnya hebat, pemuda itu terkurung oleh banyak sekali bajak yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan.

Kwi Lan melompat, pedang Siang-bhok-kiam berkelebat dan terdengarlah jerit susul menyusul di antara anak buah bajak yang mengurung. Keadaan menjadi kacau-balau. Kwi Lan yang merasa benci sekali kepada Ma Hoan, berhasil membuka jalan darah mendekati Ma Hoan dan langsung mengirim tikaman berantai ke arah dua puluh tujuh jalan darah lawan.

“Hayaaaa…!” Ma Hoan terkejut sekali seperti disambar petir.

Repot ia menggerakkan pedang untuk menangkis dan mengelak. Setiap tangkisan membuat pundak kanannya tergetar dan dadanya panas, sedangkan setiap elakannya hanya berselisih sedikit sekali dari sambaran pedang lawan sehingga berkali-kali ia berteriak kaget dan mencium bau harum pedang lawan yang menyeramkan hatinya. Betapa pun lihainya Ma Hoan, namun menghadapi ilmu pedang Kwi Lan yang amat aneh, ia hanya mampu mempertahankan diri dan terhuyung-huyung mundur sambil berteriak-teriak memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok.

Ada pun pemuda itu sekarang juga sudah dikeroyok banyak bajak sungai, namun mereka ini bukanlah lawan si Pemuda yang gagah perkasa. Sebentar saja mereka berseru kesakitan dan banyak di antara mereka yang mundur. Namun tak seorang pun terluka berat karena pemuda ini sengaja tidak mau menurunkan tangan maut.

Biar pun dikeroyok banyak orang, Kwi Lan mengamuk dan sudah lima orang anak buah bajak roboh tewas oleh pedangnya. Kwi Lan mengeluarkan suara melengking nyaring ketika ada empat orang bajak menubruknya dengan golok dari depan, sedangkan Ma Hoan meloncat mundur bersembunyi di belakang empat orang ini, agaknya hendak lari. Seketika empat orang di depannya itu menjadi lemas dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kwi Lan untuk meloncati kepala mereka mengejar Ma Hoan! Sebelum tubuhnya turun, pedangnya sudah menyambar ke arah leher lawan yang amat dibencinya ini. Ma Hoan terkejut sekali dan mengerahkan tenaga menangkis dengan pedangnya.

“Tranggg…!”

“Celaka…!” seru Ma Hoan ketika pedangnya menjadi patah oleh pedang gadis itu dan pundaknya terasa sakit karena tertusuk pedang.

Ia cepat menggulingkan tubuhnya ke bawah dan terus bergulingan, sedangkan para anak buahnya kembali maju menyerbu Kwi Lan. Dengan demikian, kepala bajak itu tertolong dan sekali tubuhnya meloncat, ia lenyap dalam gelap. Dengan pundak berdarah Ma Hoan berlari cepat menuju ke sungai. Ia pikir kalau ia bisa sampai ke sungai, berarti nyawanya selamat karena sekali terjun ke air, gadis itu tentu takkan dapat mengejarnya lagi. Ia bergidik kalau mengingat betapa hebat ilmu kepandaian gadis itu dan juga menyesal mengapa ia gagal mendapatkan hawa murni Im-kang dari gadis yang sehebat itu. Diam-diam ia marah dan gemas kepada Siangkoan Li.

Hatinya girang setelah ia mendengar suara air. Sungai Kuning terbentang di depan dan ia mempercepat larinya menghampiri pantai. Ia melihat di dalam gelap sesosok bayangan hitam di pantai dan dikiranya bayangan itu seorang di antara anak buahnya, maka ia menghampiri sambil berteriak, “Lekas sediakan perahu…!”

Akan tetapi kata-katanya terhenti dan ia berdiri melongo, tengkuknya terasa dingin dan rambutnya berdiri satu-satu. Bayangan itu kini melangkah maju dan bukan lain adalah Kwi Lan, Si Mutiara Hitam! Gadis ini tersenyum manis dan pedang di tangannya tergetar.

Huang-ho Tai-ong Ma Hoan bukanlah seorang penakut. Sebagai kepala bajak yang sudah belasan tahun merajalela di sepanjang Sungai Kuning, entah sudah berapa banyaknya manusia tewas di tangannya dan ia dapat membunuh orang tanpa berkedip mata. Akan tetapi sekarang menghadapi seorang gadis yang tersenyum-senyum manis di depannya, ia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali! Baru sekarang ia merasa apa yang dirasakan oleh para korbannya, rasa takut dan ngeri menghadapi bahaya maut.

Akan tetapi sebagai seorang jagoan, ia segera dapat mengubah rasa takut ini menjadi kemarahan dan kenekatan. Sambil mengeluarkan suara menggereng seperti suara srigala marah, ia menerjang maju dan kedua telapak tangannya memukul berbareng dari kanan kiri lambung. Inilah sebuah jurus Bi-ciong-kun dan dari kedua telapak tangannya keluar tenaga Tok-hiat-ciang. Biar pun ilmu yang ganas ini belum terlatih sempurna, apa lagi tenaga beracun Tok-hiat-ciang belum jadi sepenuhnya, namun sudah hebat bukan main. Seorang lawan yang tanggung-tanggung saja kepandaiannya mungkin masih dapat menangkis atau mengelak dari pukulan, namun sukar untuk menyelamatkan diri dari pada hawa pukulan yang beracun itu.

Kwi Lan menghadapi pukulan ini dengan tenang. Melihat lawannya tidak bersenjata lagi, ia pun tidak menggunakan Siang-bhok-kiam di tangannya. Dengan pengerahan tenaga dalam, tangan kirinya menyampok dan hawa pukulannya menyambut serangan lawan, kemudian kakinya menendang. Tubuh Huang-ho Tai-ong terlempar ke belakang!

Kaget bukan main kepala bajak ini. Bukan hanya gadis itu dapat menahan pukulannya, bahkan secara aneh sekali kakinya sudah menendangnya sampai terjengkang beberapa meter jauhnya. Ia makin panik dan takut, lalu melompat bangun dan… membalikkan tubuhnya lari kembali ke tempat tadi. Setidaknya di tempat pertempuran tadi ia masih dapat mengharapkan bantuan anak buahnya, dari pada menghadapi gadis setan ini sendirian saja di pinggir sungai dan jalan untuk menyelamatkan diri terjun ke air sudah ditutup oleh Mutiara Hitam!

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan bingung hati kepala bajak ini ketika ia tiba di depan goa tadi, di situ telah sunyi, tidak ada lagi pertempuran dan tidak tampak seorang pun anggota bajak sungai! Selagi ia hendak lari lagi ke kiri, tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan… lagi-lagi si Gadis jelita telah berada di depannya.

“Perempuan siluman!” Ia membentak dan dengan nekat menubruk maju dengan kedua lengan terpentang, untuk memeluk dan kalau perlu mengajak mati bersama.

Tampak sinar hijau berkelebat, disusul pekik mengerikan dari kepala bajak itu dan darah menyembur ke luar dari dadanya ketika Huang-ho Tai-ong Ma Hoan roboh tersungkur, mendekap dada dengan kedua tangan, berkelojotan dan tewas tak lama kemudian.

Kwi Lan berdiri memandang korbannya. Baru lenyap sekarang sinar matanya yang berkilat-kilat dan senyumnya yang dingin. Sambil menarik napas panjang ia memasukkan Siang-bhok-kiam ke dalam sarungnya.

 

“Mereka memang jahat, Huang-ho Tai-ong memang layak mati, akan tetapi kau terlalu ganas, Nona.”

Kwi Lan cepat membalikkan tubuhnya. Ia melihat pemuda tampan yang rambutnya dibiarkan terurai di atas punggung itu, pemuda yang bernama Siangkoan Li, yang tadi telah menolongnya dari bahaya yang lebih hebat dari pada maut. Pemuda itu berdiri di mulut goa dan tampak gagah membelakangi sinar api unggun yang agaknya masih menyala di dalam goa itu.

Teguran ini seketika mendatangkan rasa marah di hati Kwi Lan, akan tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah menolongnya, ia menekan perasaan marahnya dan bertanya, suaranya ketus. “Aku membunuh dia dengan sebuah tusukan, mengapa kau bilang ganas? Apa yang kau maksudkan?”

Pemuda itu mengerutkan keningnya dan wajahnya yang tampan itu tampak makin sungguh-sungguh. “Huang-ho Tai-ong sudah layak mati dan tusukan pada jantungnya sudah tepat. Yang kumaksudkan adalah pembunuhan yang kau lakukan kepada tiga orang anggota Thian-liong-pang. Mengapa kau begitu ganas membuntungkan kaki tangan mereka, membiarkan mereka menderita hebat sebelum mati?”

Pertanyaan yang penuh teguran ini bagi Kwi Lan dirasakan seperti tantangan. Ia segera membusungkan dada, menegangkan leher dan memandang tajam.

“Hemm, kulihat engkau memakai pengikat kepala dan permata kuning seperti yang dipakai Cap-ji-liong. Engkau seorang tokoh Thian-liong-pang. Apakah engkau kini hendak membalas atas kematian tiga ekor anjing di dalam goa itu?”

Pemuda itu memandang marah. Dua pasang mata saling pandang dan saling tentang, akan tetapi pemuda itu lebih dahulu menurunkan pandang matanya, menghela napas dan berkata, nada suaranya penuh penyesalan. “Engkau membunuh Huang-ho Tai-ong memang sudah sepatutnya karena dia mempunyai niat buruk terhadap dirimu. Akan tetapi tiga orang Thian-liong-pang di dalam goa itu, mengapa kau menyiksa mereka? Dan mengapa pula engkau dan temanmu membikin kacau di Thian-liong-pang ketika diadakan upacara pengangkatan ketua baru?”

“Huh! Orang sendiri biar kotor selalu dianggap bersih! Tiga orang itu bukan manusia, mereka hanya tiga ekor anjing busuk yang patut dibunuh seratus kali! Mereka itu hendak… hendak… berbuat kurang ajar, mereka seperti anjing-anjing yang kotor…!”

Pemuda itu menghela napas. “Ah, sudah kusangka demikian…! Makin lama makin rusaklah nama Thian- liong-pang bersama rusaknya watak mereka…! Ah, Nona, sekarang aku tahu mengapa kau membunuh mereka, akan tetapi tetap saja kau terlalu ganas. Membunuh dengan dorongan kebencian dan kemarahan bukanlah sikap seorang gagah.”

Kwi Lan makin marah dan penasaran. Ia membanting kaki kanannya dan menghardik. “Kau ini seorang tokoh Thian-liong-pang, apa kau kira seorang gagah? Apakah Thian-liong-pang perkumpulan orang gagah? Huh! Kulihat dengan mata sendiri bahwa Thian-liong-pang hanyalah perkumpulan orang-orang jahat. Dalam pesta perayaan untuk mengangkat ketua baru, yang datang adalah orang-orang dari golongan hitam. Bahkan ada yang menyumbangkan dua belas orang gadis culikan! Dan ketuanya diangkat dengan upacara penyembelihan dan penyiraman darah anjing. Perkumpulan apa ini? Dan kau yang menjadi tokohnya masih berani bicara tentang sikap seorang gagah?”

Aneh sekali. Pemuda yang tadinya bersikap marah dan penuh teguran kepada Kwi Lan, setelah menghadapi kata-kata yang pedas ini tiba-tiba saja berubah air mukanya. Ia mengerutkan keningnya, wajahnya yang tampan menjadi gelap, kemudian ia menjatuhkan diri duduk di atas tanah, menarik napas panjang berkali-kali dan mengeluh. “Disalah-gunakan… disalah-gunakan…!” Dan ia pun menangis!

Kwi Lan tercengang menyaksikan perubahan ini. Dia sendiri memang keras hati, mau membawa kehendak sendiri dan berwatak aneh, namun dia bukan seorang yang tidak mengenal budi. Melihat keadaan pemuda ini, hatinya pun menjadi lunak, dan tanpa disadarinya, ia sudah duduk pula di atas sebuah batu di depan pemuda itu, lalu berkata, “Aku tidak bermaksud memaki dan menyinggungmu. Aku hanya memaki Thian- liong-pang. Biar pun kau seorang tokoh Thian-liong-pang, kulihat engkau lain dari pada mereka. Engkau sudah menolongku tadi dan budimu itu sungguh amat besar, membuat aku bersyukur dan berterima kasih sekali. Engkau sudah menentang Huang-ho Tai-ong, dan dalam keadaan terancam bahaya hebat, engkau sudah memulihkan totokan pada tubuhku dengan sambitan batu kerikil.”

Pemuda itu menyusut air matanya dan mengangkat muka memandang Kwi Lan. Kemudian berkata dengan suara berduka. “Aku tidak peduli andai kata kau mencaci maki diriku. Dan aku tentu akan menyerangmu andai kata makianmu terhadap Thian-liong-pang tidak benar. Akan tetapi apa yang kau katakan adalah benar dan keadaan Thian-liong-pang seperti itulah yang menghancurkan hatiku. Aku rela mati untuk Thian- liong-pang, akan tetapi dengan keadaan Thian-liong-pang seperti sekarang ini… bagaimana mungkin aku membelanya? Aku malu sekali, sedih, tapi… tidak berdaya…!”

Timbul rasa suka di hati Kwi Lan terhadap pemuda ini. Ternyata pemuda ini selain memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti telah dibuktikannya tadi dengan sambitan kerikil dan dengan sepak terjangnya dikeroyok oleh Huang-ho Tai-ong dan anak buahnya, juga memiliki kesetiaan namun tidak ikut menyeleweng seperti tokoh-tokoh lain dari perkumpulannya itu.

Dengan suara halus ia berkata. “Dari percakapan tiga ekor anjing tadi aku mendengar bahwa kau bernama Siangkoan Li dan menjadi cucu luar si Kakek Sin-seng Losu. Seorang seperti kau ini, bagaimanakah bisa berada di tengah-tengah mereka yang kotor seperti mereka itu?”

Siangkoan Li menundukkan mukanya. “Nona, bagaimana aku dapat bercerita tentang keadaanku sebagai seorang di antara tokoh-tokoh dunia hitam kepada seorang gadis gagah perkasa, seorang pendekar seperti engkau ini?”

“Pendekar? Siapa bilang aku pendekar?”

“Ah, tidak perlu kau merendahkan diri. Kau tentulah seorang Lihiap (Pendekar Wanita) dari perguruan tinggi yang terkenal maka kau berani menentang Thian-liong-pang. Kau hidup di dunia yang bersih, yang menjujung tinggi kegagahan, yang selalu bertindak membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Sebaliknya aku, aku hidup bergelimang dosa dan kejahatan, hidup di dunia kotor dan hitam….”

“Ihhh, kau ngaco tidak karuan. Siapa bilang aku pendekar? Aku sama sekali bukan seorang lihiap. Aku seorang perantau, tidak datang dari perguruan mana pun juga. Guruku bukan orang terkenal, dan andai kata kuberitahukan juga engkau pasti tak pernah mendengar namanya. Aku sama sekali bukan penegak kebenaran dan keadilan, bukan pendekar, dan aku hanya bertindak menurut suara hatiku saja. Yang memusuhi aku, tentu akan kumusuhi kembali, yang baik kepadaku, tentu akan kubaiki kembali. Engkau baik kepadaku, telah menolongku, tentu saja tidak mungkin kau kuanggap musuh. Siangkoan Li, aku ingin sekali mendengar bagaimana kau bisa terlibat dalam Thianliong-pang.”

Mula-mula pemuda itu memandang Kwi Lan dengan sinar mata heran dan tidak percaya, kemudian berkata perlahan, “Ah, kalau begitu ada persamaan antara kita. Hanya bedanya, engkau bebas dan aku terikat….” Ia meraba permata kuning yang menghias dahinya. Kemudian ia melonjorkan kakinya, duduk dengan enak dan mulai bercerita.

Thian-liong-pang tadinya merupakan perkumpulan orang-orang gagah, sisa dari Kerajaan Hou-han yang telah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung. Orang-orang gagah yang berjiwa patriot membentuk perkumpulan Thian-liong-pang dengan cita-cita merebut kembali wilayah Hou-han yang sudah tertumpas musuh. Perkumpulan ini dipimpin oleh seorang muda yang gagah perkasa, yang bernama Siangkoan Bu, putera seorang bekas panglima Kerajaan Hou-han.

Di bawah pimpinan Siangkoan Bu inilah para orang gagah di Hou-han mengadakan pertempuran gerilya dan sering kali melakukan pengrongrongan terhadap Kerajaan Sung. Karena perkumpulan ini membutuhkan banyak tenaga orang-orang gagah, tentu saja sukar untuk mengadakan penyaringan sehingga banyak pula orang-orang dari dunia hitam yang memiliki kepandaian masuk pula menjadi anggota. Di antara mereka ini terdapat seorang pelarian dari barat, bekas seorang pendeta yang bukan lain adalah Sin-seng Losu bersama puterinya yang cantik dan berkepandaian tinggi pula. Hal yang lumrah terjadilah, Siangkoan Bu jatuh cinta kepada puteri Sinseng Losu dan kemudian mereka menikah. Dari pernikahan ini lahirlah Siangkoan Li.

Sin-seng Losu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi sehingga ketua Thian-liong-pang, yaitu mantunya sendiri mengangkatnya sebagai guru untuk para anggota Thian-liong-pang. Dengan kedudukan ini, ditambah kenyataan bahwa dia adalah ayah mertua Siangkoan Bu, maka Sin-seng Losu merupakan orang ke dua setelah mantunya di dalam perkumpulan. Kekuasaannya tinggi dan mulailah timbul penjilat- penjilat, yaitu orang-orang dari dunia hitam yang menyelundup masuk ke dalam Thian-liong-pang. Mulailah Sin-seng Losu menyimpang dari pada jalan bersih menjadi hamba nafsu dan makin tua menjadi makin gila.

Orang-orang gagah yang melihat gejala-gejala busuk mulai tumbuh dalam Thian-liong-pang menjadi marah dan tidak senang sekali. Akan tetapi oleh karena segan terhadap Siangkoan Bu, seorang patriot sejati yang dihormat dan disegani, mereka masih dapat menahan sabar. Tentu saja, sebagai seorang yang bijaksana Siangkoan Bu maklum pula akan keadaan ayah mertuanya yang menyeleweng dan didukung oleh banyak anggota yang berasal dari dunia hitam. Orang gagah ini menjadi serba susah. Mau ditindak, kakek itu adalah ayah mertuanya. Tidak ditindak, dapat merusak nama baik perkumpulan.

Akhirnya, pada suatu hari Siangkoan Bu berhasil merampas tiga belas butir permata kuning milik pembesar tinggi yang berkuasa di Hou-han dan yang menjadi boneka Kerajaan Sung, lalu menggunakan permata- permata kuning itu sebagai tanda kekuasan. Ia memilih tiga belas orang tokoh pimpinan Thian-liong-pang, di antaranya dia sendiri dan ayah mertuanya di tambah sebelas orang tokoh lain yang ia tahu adalah orang-orang gagah dan patriot-patriot sejati sebagai dewan pimpinan yang memakai hiasan dari permata kuning. Mereka yang memakai tanda ini berhak untuk mengambil keputusan demi kebaikan Thian-liong- pang, di antaranya berhak menghukum para anggota yang menyeleweng!

Dengan adanya peraturan ini, Sin-seng Losu merasa tersudut dan tidak berani lagi melakukan penyelewengan-penyelewengan secara berterang. Akan tetapi mala-petaka menimpa keluarga Siangkoan Bu dan Thian-liong-pang pada umumnya. Ketika terjadi bentrokan dengan jagoan-jagoan Kerajaan Sung, Siangkoan Bu dan isterinya tewas dalam pertempuran hebat.

Semenjak itulah kekuasaan tertinggi jatuh ke tangan Sin-seng Losu. Dan karena ilmu kepandaiannya paling tinggi ditambah dua belas orang muridnya yang paling ia sayang, yaitu para penjilat terdiri dari Thai- lek-kwi Ma Kiu dan yang lain-lain, tidak ada tokoh lain yang berani menentangnya. Bahkan satu demi satu para patriot mengundurkan diri sehingga tiga belas buah permata kuning terjatuh ke tangan Sin-seng Losu yang mengangkat diri menjadi ketua Thian-liong-pang.

“Demikianlah, Nona. Sebuah permata, yaitu bekas milik ayah, oleh Gwa-kong (Kakek Luar) diberikan kepadaku untuk kupakai, sedangkan yang dua belas diberikan kepada para suheng, murid Gwakong.”

“Cap-ji-liong itu?”

“Benar, kami diharuskan sumpah setia sebelum menerima permata ini, dan hal itu memang menjadi peraturan perkumpulan kami.”

Hening sejenak setelah pemuda itu selesai bercerita. Diam-diam Kwi Lan merasa kasihan kepada Siangkoan Li. Pemuda ini yatim piatu dan terpaksa hidup di antara orang-orang jahat dan merasa tidak berdaya karena yang mengepalai orang-orang jahat itu adalah kakek luarnya sendiri! Di samping kenyataan ini, juga ia telah bersumpah setia sebagai pemakai permata kuning, setia terhadap Thian-liong- pang yang kini berubah menjadi dunia hitam! Pantas saja pemuda ini selalu bersedih, wajahnya tak pernah berseri karena batinnya selalu tertekan.

“Aku seorang anggota dunia hitam, Nona. Bahkan seorang tokohnya, karena aku masih cucu luar orang pertama Thian-liong-pang. Sebetulnya tidak patut bagi seorang macam aku untuk menceritakan semua ini kepada seorang seperti Nona. Akan tetapi… aku tidak bisa diam saja melihat kau dirobohkan orang dengan cara pengecut, karena itu… biar pun merupakan penghinaan terhadap perkumpulan, aku… aku nekat turun tangan….”

Kwi Lan memegang kedua tangan pemuda itu. “Siangkoan Li, kalau begitu… yang menolong aku dan Berandal keluar dari sumur itu… engkaulah orangnya?”

Siangkoan Li menundukkan mukanya yang menjadi merah. “Aku seorang pengkhianat kotor… aku… aku akan menebus dosa, akan menanti sampai Gwa-kong kembali…! Hidup bagiku sudah memuakkan, lebih baik menyusul ayah dan ibu…”

“Siangkoan Li, mengapa seorang gagah seperti kau ini bisa mengucapkan kata-kata pengecut seperti itu? Orang yang bosan hidup dan mengharapkan kematian adalah seorang pengecut yang tidak berani menentang kesulitan hidup, demikian kata guruku. Biar pun semua orang menganggapmu sebagai seorang tokoh dunia hitam, akan tetapi aku, Kam Kwi Lan, menganggapmu seorang sahabat yang baik dan gagah!”

“Kam Kwi Lan? Itukah namamu, Nona…?”

Kwi Lan terkejut. Karena merasa kasihan, ia sampai memperkenalkan namanya secara tak sadar. Karena sudah terlanjur, ia lalu berkata, “Benar, itulah namaku. Nama julukan Mutiara Hitam adalah pemberian Si Berandal.”

“Si Berandal? Pemuda tampan yang datang bersamamu? Dia tampan dan lihai sekali. Di mana dia sekarang?”

“Dia pergi mencari ibu kandungnya. Siangkoan Li, kau tadi mengatakan bahwa kau akan menebus dosa menanti kembalinya Sin-seng Losu. Apa yang hendak kau lakukan?”

Dalam percakapan tadi, ketika si Nona memperkenalkan nama, pada wajah yang tampan itu tampak sedikit cahaya gembira. Akan tetapi mendengar pertanyaan itu, kembali wajahnya menjadi muram. Sejenak ia tidak menjawab, melainkan memandang ke arah pohon-pohon yang mulai tampak karena tanpa mereka sadari, sang malam telah mulai diusir oleh sinar matahari pagi. Kicau burung menyambut datangnya fajar.

“Aku harus mengakui perbuatanku di depan mereka, harus berani menebus dosaku dan menerima hukuman.”

“Ah, mengapa begitu? Tinggalkan saja Thian-liong-pang dan mereka yang hidup bergelimang kejahatan!” teriak Kwi Lan penasaran.

Tiba-tiba Siangkoan Li melompat bangun. “Tidak! Tak mungkin! Thian-liong-pang adalah perkumpulan yang didirikan oleh mendiang ayahku. Ayah dan ibuku telah menyerahkan nyawa mereka untuk Thian- liong-pang, masa aku harus melarikan diri? Meninggalkan Thian-liong-pang? Tidak, Kwi Lan. Aku takkan mundur biar pun harus menghadapi kematian.”

“Tapi, orang tuamu mati untuk Thian-liong-pang dalam membela Hou-han, mereka mati sebagai pahlawan- pahlawan utama. Akan tetapi kau… kau hendak menyerahkan nyawa sebagai seorang pengkhianat Thian- liong-pang? Selagi Thian-liong-pang dikuasai orang-orang jahat?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Betapa pun juga, masih ada Sin-seng Losu di situ dan kau harus ingat, dia adalah Gwakong (Kakek Luar) bagiku. Andai kata tidak ada dia, tentu aku sudah akan mengadu nyawa dengan Cap-ji-liong untuk membasmi mereka dari Thian-liong-pang!”

“Marilah kita berdua sekarang juga menghadapi mereka. Siangkoan Li, kau percayalah, kita berdua akan dapat menghancurkan mereka! Kulihat kepandaianmu jauh lebih tinggi dari pada Cap-ji-liong….”

Siangkoan Li mengangguk. “Memang, terhadap Cap-ji-liong aku tidak takut. Mereka itu terhitung Suheng- suheng-ku sendiri karena aku pun mendapat pelajaran ilmu silat dari Gwakong, akan tetapi aku masih mempunyai dua orang Guru yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Gwakong.”

“Siapakah mereka itu?” Kwi Lan bertanya kagum.

Siangkoan Li menggeleng kepala. “Tidak boleh kusebut, sungguh pun andai kata kukatakan juga, kau takkan mengenalnya. Agaknya antara gurumu dan guruku ada persamaan keanehan dalam hal nama ini. Kau bilang gurumu tidak terkenal sama sekali. Akan tetapi kurasa gurumu masih jauh lebih terkenal dari pada guruku yang benar-benar tak ada seorang pun mengenalnya.”

Tiba-tiba Siangkoan Li memandang ke depan dan wajahnya menegang. Kemudian ia memegang tangan Kwi Lan, menggenggam tangan yang kecil halus itu sejenak sambil berkata, “Sudahlah, Kwi Lan. Mereka sudah datang. Selamat berpisah. Kau percayalah, pertemuan ini merupakan satu-satunya hal yang paling menyenangkan hatiku selama hidupku dan sampai mati pun aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Setelah berkata demikian, Siangkoan Li melepaskan pegangan tangannya dan dengan langkah lebar ia pergi meninggalkan Kwi Lan.

Kwi Lan berdiri di depan goa dengan hati bimbang. Biar pun pemuda itu sudah dua kali menolongnya, akan tetapi pemuda itu bukan apa-apanya. Orang lain yang kebetulan bertemu di situ. Urusan pribadi pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan dirinya. Kalau pemuda itu begitu setia kepada Thian-liong-pang dan begitu bodoh untuk menyerahkan diri minta dihukum, peduli apakah dengan dia? Berpikir demikian, Kwi Lan juga mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Ia masih gemas kala mengingat kuda hitamnya yang hilang. Matikah kuda itu? Hanyut dan tenggelam? Ataukah terampas para bajak?

Pemuda yang aneh, kembali ia berpikir tentang diri Siangkoan Li. Tidak mudah baginya untuk melupakan pemuda itu begitu saja. Masih terngiang di telinganya ucapan pemuda itu ketika hendak berpisah, ucapan yang agak gemetar. Pertemuan yang paling menyenangkan hatinya selama hidupnya! Sampai mati pun pemuda itu takkan melupakannya! Hemmm, Kwi Lan merasa betapa mukanya menjadi panas. Jantungnya berdebar aneh, seperti ketika Hauw Lam si Berandal menyatakan cinta kasihnya kepadanya di dalam sumur.

Siangkoan Li merupakan pemuda yang aneh. Akan tetapi ada perbedaan mencolok dalam sikap mereka. Hauw Lam selalu gembira dan jenaka, nakal dan lucu. Sebaliknya, Siangkoan Li selalu muram dan sedih. Mengenangkan Hauw Lam menimbulkan kegembiraan. Mengenangkan Siangkoan Li menimbulkan keharuan. Akan tetapi keduanya sama baiknya. Sama tampan, sama lihai dan keduanya sama amat baik kepadanya! Hauw Lam sedang pergi mencari ibu kandungnya, dan Siangkoan Li… pergi mencari maut! Ah, tidak boleh begini! Ia harus melarangnya, harus mencegahnya!

Kwi Lan lalu pergi mengejar. Siangkoan Li sudah tak tampak lagi bayangannya, akan tetapi karena waktu itu matahari telah mulai muncul mengusir kegelapan, ia dapat lebih mudah mencari pemuda itu. Ia mendapatkan pemuda itu di tepi Sungai Huang-ho dalam keadaan… terbelenggu kedua tangannya dan sedang dimaki-maki oleh Sin-seng Losu, disaksikan oleh seorang di antara Cap-ji-liong dan seorang kakek kurus berjenggot lebat.

Siangkoan Li hanya menundukkan mukanya dengan kening berkerut, kelihatan berduka sekali. Melihat keadaan pemuda ini, darah Kwi Lan sudah bergolak saking marahnya. Di situ hanya terdapat tiga orang Thian-liong-pang, biar pun yang seorang adalah tokoh terbesar, Sin-seng Losu. Andai kata Cap-ji-liong lengkap berada di situ sekali pun, ia tidak akan gentar menghadapi mereka untuk menolong Siangkoan Li. Pemuda itu telah dua tiga kali menolongnya, tidak hanya menolongnya dari pada bahaya maut, bahkan dari bahaya yang lebih hebat dari pada maut!

“Sin-seng Losu tua bangka jahat! Hayo bebaskan Siangkoan Li!” bentaknya sambil muncul dari belakang batang pohon dengan pedang di tangan.

Seorang di antara Cap-ji-liong yang memakai mutiara kuning di dahi seperti Siangkoan Li menoleh dan mukanya menjadi marah sekali ketika ia mengenal Kwi Lan. Secepat kilat tangan kirinya bergerak dan pada saat yang sama Siangkoan Li berseru.

“Thio-suheng… jangan…! Nona Kam, jangan turut campur…!”

Namun terlambat. Tiga buah Sin-seng-piauw sudah menyambar ke arah tubuh Kwi Lan, akan tetapi gadis ini menggerakkan pedang menyampok runtuh tiga batang Sin-seng-piauw sedangkan tangan kirinya sudah menyebar jarumnya ke arah anggota Cap-ji-liong itu. Orang she Thio ini cepat meloncat untuk mengelak, namun kurang cepat karena Kwi Lan melepas jarum secara luar biasa sekali.

Ia melepas dengan gerakan sekaligus, namun ternyata jarum-jarum di tangannya telah terpecah menjadi dua rombongan. Rombongan pertama menyerang cepat sekali sedangkan rombongan kedua, biar pun disambitkan dalam waktu yang sama, lebih lambat dan merupakan jarum penutup jalan ke luar sehingga ke mana pun juga lawan mengelak, tentu akan disambut oleh jarum-jarum rombongan ke dua ini.

Anggota Cap-ji-liong itu kaget namun terlambat. Pahanya tertusuk sebatang jarum yang amblas sampai tidak tampak menembus celana, kulit dan dagingnya. Seketika tubuhnya menjadi kaku dan ia roboh pingsan!

“Wuuuttt… singgg…!”

Masih untung bahwa Kwi Lan mempunyai kegesitan yang mengagumkan dan gerakan yang aneh. Otomatis tubuhnya mencelat ke kiri sampai hampir menyentuh tanah untuk mengelak sambaran pedang yang amat luar biasa itu. Ketika ia berjungkir balik memandang, kiranya yang menyerangnya adalah orang kurus berjenggot lebat. Diam-diam Kwi Lan terkejut juga. Gerakan pedang orang ini hebat sekali, jauh lebih hebat dari pada orang-orang Cap-ji-liong! Padahal Cap-ji-liong adalah orang-orang Thian-liong-pang yang menduduki tingkat satu. Kalau begitu orang itu tentu bukan orang Thian-liong-pang.

Ia memandang penuh perhatian. Orang itu tinggi kurus mukanya pucat kehijauan, tanda bahwa dia telah melatih semacam ilmu Iweekang yang aneh dan dalam. Rambut dan jenggotnya awut-awutan tak terpelihara, juga kotor seperti seorang pengemis terlantar. Namun pakaiannya bukan seperti pakaian

pengemis. Agaknya seorang pertapa yang sudah tidak peduli akan kebersihan dirinya lagi. Mukanya kurus tak berdaging, hanya kulit pembungkus tengkorak. Tentu usianya sudah tua sekali.

Orang ini berdiri memandangnya dengan muka seperti kedok, sedikit pun tidak membayangkan perasaan sesuatu, juga mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata.

“Susiok, harap jangan layani dia! Nona Kam, kau pergilah…!” Kalimat terakhir itu ditujukan kepada Kwi Lan dengan pandang mata penuh kedukaan.

Hati Kwi Lan makin tidak tega, maka ia menghadapi kakek berpedang itu sambil mengejek, “Kalian bebaskan dia atau… pedangku harus bicara?”

“Sute (Adik Seperguruan), kau wakili aku hajar siluman ini!” Sin-seng Losu berkata.

Kini tahulah Kwi Lan bahwa kakek kotor ini adalah adik seperguruan Sinseng Losu, pantas saja Siangkoan Li menyebutnya paman guru. Ia melihat betapa orang itu menggetarkan pedangnya di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tergetar hebat, lalu menjadi kaku dengan jari-jari membentuk cakar garuda. Kemudian tubuh orang itu menubruk ke depan, pedangnya membabat ke arah pinggang sedangkan tangan kirinya mencakar ke arah mukanya. Sukar dikatakan mana yang lebih berbahaya, pedang itu ataukah jari- jari tangan kiri itu. Keduanya mengeluarkan angin pukulan yang bersuitan dan amat kuatnya.

Sambutan Kwi Lan atas serangan dahsyat dan aneh ini tidak kalah luar biasanya. Gerakan Kwi Lan memang aneh dan tidak terduga-duga. Bahkan sudah menjadi inti dari pada ilmu silat Kam Sian Eng bahwa setiap serangan lawan merupakan pintu yang terbuka dan merupakan kesempatan untuk dibalas serangan yang mematikan! Tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, Kwi Lan sudah meloncat tinggi ke atas sehingga pedang lawan lewat di bawah kedua kakinya dan berbareng pedang Siang-bhok-kiam di tangannya bergerak menyambar ke bawah membabat tangan kiri lawan yang mencakarnya tadi.

Kakek itu membelalakkan mata dan agaknya hanya gerakan mata ini sajalah yang menyatakan bahwa ia merasa kaget sekali karena bagian muka yang lain tetap seperti kedok. Namun ternyata ia lihai sekali. Karena tidak keburu menarik kembali lengan kirinya yang kini menjadi sasaran pedang lawan, ia segera membuang diri ke belakang sehingga roboh terlentang sambil memutar pedang di depan dada dan bergulingan. Secepat kilat ia sudah bangun kembali dan kini mereka sudah berhadapan lagi. Keduanya sama maklum bahwa lawan adalah seorang yang lihai. Namun Kwi Lan tetap tersenyum mengejek, menanti serangan lawan.

Kakek itu kini menerjang kembali sambil memutar pedang dengan gerakan dahsyat sekali. Pedangnya membacok-bacok secara bertubi, kiri kanan atas bawah, diselang-seling namun tak pernah berhenti mengikuti bayangan dan gerakan lawan. Kwi Lan memperlihatkan kegesitannya, terus mengelak dengan sedikit miringkan tubuh sehingga pedang lawan menyambar-nyambar di samping tubuhnya, bahkan kadang-kadang kelihatan seperti sudah menyerempetnya! Makin lama makin gencar serangan aneh dan hebat ini. Pedang itu seakan-akan digerakkan oleh mesin, tak pernah berhenti menyerang dan setiap bacokan disertai tenaga dahsyat.

Setelah dua puluh jurus lewat Kwi Lan hanya menghadapinya dengan elakan-elakan segesit burung walet. Gadis ini lalu berseru nyaring dan pedang Siang-bhok-kiam berubah menjadi sinar hijau bergulung-gulung yang makin lama makin luas lingkarannya dan betapa pun lawannya memutar pedang setelah lewat lima puluh jurus, sinar hijau mulai menggulung dan melibat sinar pedang kakek itu.

Kakek ini sebenarnya bukan orang sembarangan. Dia bernama Yo Cat, murid dari tokoh besar Siauw-bin Lo-mo paman guru Sin-seng Losu. Di dalam dunia hitam, ia sudah menduduki tingkat tinggi, sejajar dengan Sin-seng Losu. Karenanya jarang ia bertemu tanding. Siapa kira, hari ini, selagi ia ikut dengan suheng-nya itu untuk mempersiapkan tempat istirahat bagi gurunya yang akan datang berkunjung ke Yen-an, ia bertemu seorang gadis muda belia yang tidak hanya mampu menandinginya, bahkan kini mendesaknya dengan ilmu pedang yang hebat dan luar biasa, dimainkan dengan sebatang pedang kayu pula!

“Auuuggghhhh…!” Hebat sekali pekik yang keluar dari dalam perut melalui kerongkongan Yo Cat ini, bukan seperti suara manusia lagi, dahsyat dan liar, lebih mirip suara binatang buas atau suara iblis. Lebih hebat lagi, setelah mengeluarkan ilmu menggereng yang dahsyat itu, Yo Cat terus menerjang maju dan melakukan tekanan-tekanan berat!

Kwi Lan adalah seorang gadis gemblengan yang telah mempelajari pelbagai ilmu yang aneh-aneh dengan cara yang aneh pula. Namun menghadapi Yo Cat yang terlatih puluhan tahun lamanya dan sudah menjadi ahli sebelum gadis ini terlahir, apa lagi menghadapi ilmu hitam Koai-houw Ho-kang (Auman Harimau Iblis) ini, jantungnya tergetar dan tubuhnya menggigil. Gerakan pedangnya kacau dan ia terhuyung-huyung ke belakang.

Ada satu hal yang menguntungkan Kwi Lan, yaitu wataknya yang tabah dan hatinya yang tidak pernah mau kenal apa artinya takut. Kalau ia merasa takut, celakalah ia karena kelemahan orang menghadapi ilmu semacam Koai-houw Ho-kang itu adalah perasaan takut. Kalau hati merasa gentar, makin hebat pengaruh ilmu itu sehingga mungkin tanpa bertanding lagi orang sudah bertekuk lutut.

Karena hatinya sama sekali tidak gentar, pengaruh gerengan dahsyat itu sebentar saja dan Kwi Lan sudah dapat menetapkan perasaannya lagi. Pedangnya mulai memperhebat lagi gerakannya dan dalam waktu singkat saja kembali ia telah mengurung dan mendesak. Yo Cat boleh jadi lihai dan banyak pengalamannya, namun menghadapi ilmu pedang tingkat tinggi yang dilatih di bawah bimbingan seorang jago wanita gila, tentu saja ia menjadi bingung sekali, tak dapat menduga-duga bagaimana perubahan pedang itu sehingga menjadi mati kutu!

“Eh, budak cilik, kau kurang ajar sekali!”

Seruan ini keluar dari mulut Sin-seng Losu yang sudah melompat ke depan dan sekali tangan kirinya bergerak, tampak sinar berkilauan menyambar ke arah Kwi Lan. Sinar ini adalah senjata rahasia Sin-seng- piauw, namun jauh bedanya dengan piauw yang dilepas oleh semua anak murid Thian-liong-pang. Piauw ini memang bentuknya seperti bintang, akan tetapi terbuat dari pada perak berkilauan dan karena kakek ini yang menciptakan senjata rahasia itu, tentu saja cara menggunakannya pun hebat luar biasa!

“Gwakong (Kakek Luar), jangan…!” terdengar Siangkoan Li berseru kaget.

Kwi Lan maklum bahwa ia diserang dengan senjata rahasia. Karena ia masih menghadapi pedang Yo Cat yang tak boleh dipandang ringan, maka perhatiannya kurang sepenuhnya terhadap datangnya serangan Sin-seng-piauw. Ketika ia melirik, ia kaget sekali melihat sinar-sinar berkeredepan menyambarnya dari kanan kiri bawah dan atas, sinar-sinar yang menyambar tanpa mengeluarkan bunyi akan tetapi yang kecepatannya menyilaukan mata.

Celaka, Kwi Lan berseru kaget dalam hati. Ia cepat meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya. Namun bagaikan ada matanya, piauw-piauw perak itu melejit dan menyambar seperti gila. Ketika ia berseru keras dan meloncat tinggi, semua piauw lewat di bawah kakinya kecuali sebuah yang secara aneh telah menancap di betis kaki kirinya. Untung baginya bahwa tadi Kwi Lan sudah bersiap-siap dan begitu merasa kakinya disambar ia telah menutup jalan darah dan mengerahkan Iweekang sehingga senjata rahasia itu hanya separuhnya saja menancap di daging betisnya.

Pada saat tubuhnya masih di udara, Yo Cat menerjang maju dengan tusukan pedangnya. Lebih hebat lagi, pada saat yang bersamaan Sin-seng Losu sudah mengerahkan sinkang di lengan kanannya dan mengirim pukulan jarak jauh yang amat hebat dan sukar ditangkis!

“Auhhhh… hehhh… kau berani… berani…?” Terdengar Sin-seng Losu terengah-engah dan tubuhnya terdorong mundur dan terhuyung-huyung. Kiranya pukulannya telah ditangkis oleh kedua tangan Siangkoan Li yang terbelenggu!

Melihat ini, Kwi Lan yang tubuhnya masih di udara dan menghadapi terjangan Yo Cat, mengeluarkan lengking tinggi dan tiba-tiba tubuhnya bagaikan seekor ular saja menggeliat aneh di udara namun pedang lawan menyelinap di bawah ketiak kirinya, langsung ia kempit dan pedangnya sendiri menyambar ke lengan kanan lawan.

“Iihhh…!” Suara ini keluar dari mulut Yo Cat yang cepat melepaskan pedangnya dan menarik lengannya, namun kurang cepat sehingga lengannya dekat siku terkena serempetan pedang hingga terluka dan darahnya bercucuran. Si Muka Mayat ini meloncat ke belakang dan memegangi lengan kanan, agaknya khawatir kalau-kalau gadis yang perkasa itu mendesaknya dengan serangan maut.

Akan tetapi Kwi Lan menengok ke arah Siangkoan Li yang sudah menjatuhkan diri berlutut sambil menangis! “Gwakong… kau tak boleh membunuhnya… tak boleh…!” Pemuda itu mengeluh berkali-kali.

“Anak keparat, cucu durhaka… hehhehhh… berani kau… huh-huhh… kubunuh kau…!”

Sekali meloncat, tubuh Kwi Lan berkelebat dan ia sudah berdiri menghadang di depan Siangkoan Li, mulutnya tersenyum dan matanya memandang kakek itu dengan penuh ancaman. Akan tetapi kekhawatirannya hilang ketika ia melihat betapa kakek itu berdiri dengan muka pucat, dengan napas senin kamis dan di ujung mulutnya menetes-netes darah segar!

Diam-diam Kwi Lan terkejut sekali dan kagum. Jelas bahwa Sin-seng Losu bukan seorang lemah. Sambitannya Peluru Bintang Sakti tadi sudah amat berbahaya, kemudian pukulannya jarak jauh juga hebat. Mengapa sekali ditangkis oleh Siangkoan Li, kakek itu menderita luka dalam yang tidak ringan? Sampai di manakah tingkat kepandaian pemuda yang berkali-kali menolongnya ini?

“Kalian ini dua orang tua bangka yang bosan hidup! Hari ini nonamu akan mengantar kalian ke neraka!” Kwi Lan menyerbu dengan pedangnya, akan tetapi tiba-tiba lengan kirinya dipegang orang dari belakang. Ternyata Siangkoan Li yang memegangnya dan pemuda itu berkata dengan nada sedih.

“Jangan, Kwi Lan. Dan lekas kau keluarkan obat pemunah jarummu untuk Suheng-ku. Lekaslah, harap kau sudi melihat mukaku dan menolongnya.”

Kwi Lan melongo. Pemuda aneh sekali! Jelas bahwa ia diperlakukan tidak baik, mengapa masih nekad hendak menolong mereka? Akan tetapi mengingat bahwa sudah berkali-kali ia ditolong, tidak enaklah hatinya untuk menolak permintaan itu. Dengan bersungut-sungut tak puas ia mengeluarkan sebungkus kecil obat bubuk dan berkata, “Robek kulitnya, keluarkan jarum dan pakai obat ini pada lukanya.”

Siangkoan Li menerima bungkusan itu, memberikan kepada suheng-nya. “Thio-suheng, kau pakailah ini!” Akan tetapi suheng-nya malah membuang muka dan menghardik. “Tutup mulutmu, pengkhianat!”
Siangkoan Li mengerutkan keningnya lalu meletakkan bungkusan di dekat kaki suheng-nya yang masih rebah tak dapat bangun. Kemudian ia menghampiri Kwi Lan dan berkata, “Nona Kam, harap engkau sekarang segera pergi dari sini. Kalau sampai para suheng-ku datang, engkau tentu akan celaka dan aku tidak akan mampu menolongmu lagi.”

Kwi Lan mengeluarkan suara mendengus di hidungnya. “Huh, kau tidak takut mati, apa kau kira aku pun takut mati? Biarlah mereka membunuhku kalau mereka mampu.”

“Nona… Kwi Lan… aku tidak ingin melihat kau mati karena aku!”

“Aku pun tidak ingin melihat kau mati. Aku mau pergi kalau engkau pun mau pergi bersama meninggalkan tempat ini!”

“Jahanam besar kau, Siangkoan Li! Kau membikin mayat ayahmu membalik di dalam kuburnya! Berani main cinta-cintaan dengan seorang musuh perkumpulan. Hah, bocah macam apa ini?!” Sin-seng Losu sudah memaki-maki lagi.

“Kwi Lan, aku seorang anak Thian-liong-pang, harus tunduk dan setia. Aku sudah berdosa, biarlah aku menerima hukuman. Akan tetapi kau orang luar, kau pergilah dan jangan membikin aku mati penasaran karena kau menderita celaka.”

Kini Kwi Lan menjadi marah. Dengan pedang di tangan ia membentak, “Siangkoan Li! Engkau ini pemuda macam apa begini lemah dan buta? Memang benar kau adalah orang Thian-liong-pang, akan tetapi ayahmu dahulu adalah seorang patriot sejati, seorang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan bukan golongan orang jahat. Terhadap perkumpulan seperti ketika dipimpin ayahmu itu, aku tidak akan merasa heran apa bila engkau mengambil sikap seperti ini, bersetia sampai mati. Siangkoan Li, engkau melihat sikap Ciam Goan? Nah, dialah orang gagah sejati, yang melihat betapa Thian-liong-pang menjadi busuk di bawah pimpinan Gwakong-mu yang berjiwa kotor ini rela meninggalkan Thian-liong-pang dan kalau perlu memusuhinya. Bukan memusuhi perkumpulannya, melainkan orang-orangnya yang menyeleweng dari pada kegagahan. Siangkoan Li, aku tidak bisa bicara banyak dan pengetahuanku pun sedikit. Akan tetapi karena kau seorang yang sudah melepas budi berkali-kali kepadaku, aku harus membelamu dengan taruhan nyawaku. Pernah guruku bilang bahwa orang hidup tentu akhirnya mati. Akan tetapi kematian yang paling memalukan adalah kematian seorang pengecut yang tidak berani menentang kelaliman! Demi untuk

kebenaran, jangankan hanya perkumpulan atau teman-teman, biar orang tua sendiri kalau perlu boleh saja dilawan!”

Hebat kata-kata ini, apa lagi kalimat yang terakhir. Pada jaman itu, kebaktian merupakan kebajikan mutlak dan nomor satu. Tidak ada kejahatan yang buruk dari pada kemurtadan anak terhadap orang tua, walau pun demi membela kebenaran! Ini hanya dapat diucapkan oleh seorang yang otaknya tidak waras.

“Dengar…! Dengar itu omongan iblis betina! Omongan perempuan gila! Siangkoan Li, kau berani murtad terhadap Kakekmu?”

Sambil berlutut Siangkoan Li berkata, “Tidak, Gwakong, aku tidak berani…!” kemudian ia menoleh ke arah Kwi Lan. “Kwi Lan, kau pergilah. Lekas mereka telah datang…!”

“Biarkan mereka datang. Biar aku mati aku tidak mau pergi tanpa kau ikut pergi. Kau sudah menolong nyawaku, aku harus membalasnya sedikitnya satu kali!” kata Kwi Lan dengan suara tetap.

“Celaka…! Kwi Lan, kau tahu, siapa kakek itu?” Ia menuding ke arah kakek yang terluka lengan kanannya. “Dia itu susiok Yo Cat, dia itu murid sucouw yang akan datang pula bersama Cap-ji-liong! Biar ada lima orang engkau dan aku belum tentu akan dapat melawannya.”

Akan tetapi Kwi Lan hanya tersenyum saja. Makin lama Siangkoan Li makin bingung dan kini dari jauh tampak layar beberapa buah perahu. Siangkoan Li meloncat bangun, menghampiri Kwi Lan, memegang lengannya dan berseru. “Kalau begitu, demi keselamatanmu, kita pergi…!”

Kwi Lan ikut berlari, membiarkan dirinya ditarik Siangkoan Li. Tak lama kemudian ia berseru, “Eh, eh, kenapa lari ketakutan? Mari kita lawan bersama.”

“Hushhh… diamlah. Aku tahu jalan rahasia yang tak mungkin dapat mereka kejar dan cari. Mari…!”

Mereka lari memasuki sebuah hutan yang gelap dan memang pemuda itu tidak bohong. Ia melalui jalan menyusup-nyusup yang amat sukar, bukan jalan manusia lagi dan kalau bukan orang yang sudah mengenal jalan tentu amat sukar memasuki hutan melalui jalan ini.

Akhirnya setelah lari setengah hari lamanya Siangkoan Li nampak tenang dan mengajak gadis itu duduk di pinggir sebuah sungai kecil dalam hutan. Keadaan di situ teduh dan sejuk sekali. Sinar matahari yang amat terik ditangkis oleh daun-daun pohon yang lebat.

“Mari kuputuskan belenggu,” kata Kwi Lan sambil menarik tangan Siangkoan Li.

Akan tetapi pemuda itu merenggut kembali tangannya. “Untuk apa? Setelah menyelamatkan engkau, aku akan kembali menyerahkan diri.”

Kwi Lan marah sekali. Ia meloncat bangun dari tempat duduknya dan menudingkan telunjuknya kepada Siangkoan Li. “Engkau boleh berkepala batu, aku pun berhati baja! Akan tetapi engkau berkeras secara ngawur. Siangkoan Li, engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa begini lemah? Kalau kau memang amat mencinta Thian-liong-pang, mengapa kau tidak mengumpulkan orang-orang seperti Ciam Goan untuk membersihkan Thian-liongpang dari oknum-oknum macam Ma Kiu dan lain-lain? Kalau kau lakukan itu dan Thian-liong-pang menjadi perkumpulan orang gagah kembali, barulah kau seorang yang berbakti kepada mendiang ayahmu, menjujung tinggi nama baik orang tua dan perkumpulan. Yang kau lakukan sekarang ini hanya membuktikan bahwa kau pengecut dan picik. Baiklah, kalau kau berkukuh hendak mengerahkan diri, aku pun berkukuh hendak membasmi Thian-liong-pang sendirian saja. Kita akan sama-sama mati, akan tetapi matiku seribu kali lebih berharga dari pada matimu yang seperti kematian seekor kecoa!”

Pucat wajah Siangkoan Li mendengar ini. Ia meloncat bangun, sejenak ia memandang dengan mata melotot. Kedua orang muda itu saling pandang untuk beberapa lama. Kemudian Siangkoan Li menarik napas panjang. “Aku bingung dan ragu-ragu… agaknya engkau benar… biarlah akan kutemui kedua orang Suhu-ku dan minta nasehat mereka…! Thian-liong-pang, untuk sementara ini aku Siangkoan Li menjadi pengkhianat!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia mengerahkan tenaga menggerakkan kedua tangannya. Terdengar suara keras dan… belenggu besi itu rontok semua dan putus-putus!

Kwi Lan tersenyum girang dan kagum. Tak salah dugaannya, pemuda ini memiliki kepandaian tinggi, yang jelas adalah tenaganya yang istimewa. Pantas saja kekeknya yang sudah tua itu sekali ditangkis terluka.

“Bagus Siangkoan Li. Begitu barulah seorang gagah sejati! Akan tetapi aku masih belum percaya betul. Bagaimana kalau kau lakukan ini hanya untuk mengelabui aku? Sebelum aku yakin akan keputusan hatimu, aku hendak mengikuti sepak terjangmu beberapa lama. Sekarang engkau hendak ke mana?”

“Ucapan-ucapanmu mulai membekas di hatiku, Kwi Lan. Akan tetapi aku masih bimbang ragu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah bertanya kepada kedua orang guruku. Aku hendak mengunjungi mereka.”

“Kedua orang gurumu tentu orang-orang luar biasa. Aku pun ingin bertemu dengan mereka. Aku ikut!”

“Eh, tidak bisa, Kwi Lan. Mereka itu orang-orang luar biasa sekali dan tidak suka bertemu dengan orang lain. Kecuali itu, juga tempatnya amat sukar didatangi orang, bagaimana aku bisa mengajakmu ke sana?”

Kwi Lan tersenyum. “Kata-katamu makin membuat aku curiga. Siangkoan Li, sudah kukatakan tadi. Engkau telah berkali-kali menolongku, maka aku sudah mengambil keputusan, sebelum kau yakin akan kekeliruanmu mengenai sikapmu terhadap Thian-liong-pang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kau bisa mengunjungi mereka, mengapa aku tidak? Marilah kita berangkat!”

Siangkoan Li mengerutkan keningnya. Gadis ini amat keras hati dan ia tahu bahwa Kwi Lan tentu akan melakukan apa yang diucapkannya.

“Baiklah, Kwi Lan. Akan tetapi kau sudah kuperingatkan. Jangan persalahkan padaku kalau kau terbawa- bawa ke dalam lembah hitam karena kau pergi bersama aku yang sejak kecil bergelimang dalam dunia yang kotor.”

Berangkatlah dua orang itu melanjutkan perjalanan. Melakukan perjalanan bersama Siangkoan Li bedanya sejauh bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan perjalanan bersama Hauw Lam. Perjalanan di samping Hauw Lam merupakan perjalanan yang penuh tawa dan gurau, gembira karena pemuda itu memandang dunia dari sudut yang terang dan lucu. Akan tetapi sebaliknya, Siangkoan Li adalah seorang pemuda yang pendiam dan wajah yang tampan itu hampir selalu muram diselimuti awan kedukaan.

Di sepanjang jalan, dua orang yang melakukan perjalanan cepat ini jarang sekali bicara. Kalau tidak diajak bicara, Siangkoan Li tak pernah membuka mulut! Akan tetapi Kwi Lan tidak merasa kecewa. Ia maklum akan isi hati pemuda ini dan sinar mata pemuda itu di waktu memandangnya, penuh perasaan, sudah cukup baginya. Sinar mata pemuda ini tiada bedanya dengan sinar mata Hauw Lam di waktu menatapnya. Ada sesuatu dalam sinar mata kedua pemuda itu yang mendatangkan kehangatan di hatinya.

Sebelas hari lamanya mereka berdua melakukan perjalanan yang sukar, naik turun pegunungan Lu-liang- san, masuk keluar hutan-hutan lebat. Pada hari ke dua belas, setelah selama itu tak pernah bertemu dengan manusia karena agaknya Siangkoan Li memang memakai jalan yang liar dan tak pernah diinjak orang, sampailah mereka di sebuah dusun kecil di lereng bukit. Dusun ini hanya ditinggali beberapa puluh keluarga petani, akan tetapi di ujung dusun itu berdiri sebuah rumah makan yang kecil dan sederhana sekali.

“Kita sudah sampai,” kata Siangkoan Li. “Apa? Di dusun ini?”
Siangkoan Li menggeleng kepala dan menudingkan telunjuknya ke depan. “Di puncak sana itu.”

Kwi Lan memandang dan benar saja. Tak jauh dari dusun itu menjulang tinggi puncak bukit dan samar- samar tampak tembok putih panjang melingkari bangunan-bangunan kuno.

“Bangunan apakah itu?” tanya Kwi Lan.

“Itulah kuil dan markas Lu-liang-pai. Di sana tinggal para hwesio Lu-liang-pai yang merupakan partai persilatan besar di daerah ini.”

“Ahhh, kedua orang gurumu itu hwesio-hwesio yang tinggal di sana?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan keningnya berkerut, agaknya pertanyaan ini menimbulkan kekesalan hatinya.

“Apakah dugaanku keliru?”

Pemuda itu mengangguk dan menghela napas panjang. “Kedua orang guruku adalah… orang-orang hukuman di kuil itu…!”

 

“Apa…?” Kwi Lan benar-benar kaget karena hal ini sama sekali tidak pernah diduganya. “Kenapa mereka dihukum? Apakah mereka itu anggota-anggota Lu-liang-pai yang menyeleweng?”

“Bukan. Mereka bukan hwesio, tapi… entah mengapa mereka menjadi orang-orang hukuman di sana, tak pernah mereka mau katakan kepadaku. Akan tetapi, Kwi Lan, tidak mudah menemui mereka di sana. Kalau ketahuan para hwesio, tentu aku akan ditangkap. Karena itu kuharap kau suka menanti di dusun ini dan biarlah aku seorang diri pergi menghadap kedua orang guruku.”

Kwi Lan mengajak pemuda itu duduk di tepi jalan, di atas akar pohon yang menonjol ke luar, “Siangkoan Li, keadaan gurumu itu aneh sekali. Bagaimana kau dapat menjadi muridnya kalau mereka itu orang-orang hukuman di kuil Lu-liang-pai?”

Setelah berulang-ulang menghela napas, pemuda berwajah muram ini lalu bercerita. Ia tidak pandai bicara, ceritanya singkat namun menarik perhatian Kwi Lan karena cerita itu amat aneh.

“Terjadinya ketika ayahku masih hidup. Ayah adalah ketua Thian-liong-pang yang pada waktu itu masih bernama harum sebagai perkumpulan kaum patriot Hou-han. Ayah mengenal baik dengan para pimpinan hwesio Lu-liang-pai dan pada suatu hari Ayah datang ke Lu-liang-pai mengunjungi mereka. Aku baru berusia tiga belas tahun dan diajak oleh ayah.” Siangkoan, Li mulai ceritanya yang didengarkan oleh Kwi Lan dengan tertarik. Kemudian ia melanjutkan….

Sebagai seorang anak kecil berusia tiga belas tahun, Siangkoan Li menjadi bosan mendengar percakapan antara ayahnya dan para pimpinan Lu-liang-pai, maka diam-diam ia menyelinap pergi dan bermain-main di kebun belakang. Para hwesio dan ayahnya tidak melarangnya karena di kebun belakang memang terdapat taman bunga yang amat indah. Hawa pegunungan yang sejuk memungkinkan segala macam kembang hidup subur di situ.

Akan tetapi Siangkoan Li ternyata bukan hanya bermain-main di taman bunga, melainkan bermain terus lebih jauh lagi ke sebelah belakang bangunan kuil Lu-liang-pai. Dilihatnya sebatang kali kecil di belakang taman, kali yang lebarnya empat meter lebih. Di seberang kali terdapat tanaman liar dan kali itu tidak dipasangi jembatan.

Dasar Siangkoan Li seorang anak yang ingin sekali mengetahui segalanya dan ia selalu merasa penasaran kalau belum terpenuhi keinginannya. Maka biar pun sungai itu terlalu lebar untuk ia lompati, ia segera mendapatkan akal. Ia tak pandai renang, melompati tak mungkin, akan tetapi ia ingin sekali menyeberang. Dicarinya sebatang bambu dan dengan bantuan bambu panjang ini yang ia pakai sebagai galah loncatan, sampai jugalah ia di seberang dengan kaki dan pakaian berlepotan lumpur.

Ia berjalan terus ke atas pegunungan kecil dan setelah tiba di puncak, tiba-tiba tubuhnya menginjak lubang yang tertutup rumput alang-alang. Tubuhnya terjeblos dan melayang ke bawah! Dia seorang anak pemberani dan karena ketika terbanting di dasar lubang ia tidak mengalami cedera, juga tidak terlalu nyeri karena dasar lubang juga berlumpur, ia tidak berteriak minta tolong. Malah di dalam gelap, ia meraba-raba dan terus berjalan maju ketika mendapatkan bahwa lubang itu mempunyai terowongan.

Akhirnya setelah melalui terowongan yang berliku-liku, tibalah ia di ruangan bawah tanah dan melihat dua orang kakek di balik kerangkeng besi. Dua orang kakek yang bukan seperti manusia lagi. Mereka itu sudah tua dan pakaian mereka compang-camping penuh tambalan. Yang seorang berwajah seperti seekor harimau, rambutnya kasar riap-riapan, demikian pula cambang dan kumisnya. Orang ke dua kurus sekali sehingga kaki dan tangan yang tak terbungkus pakaian itu merupakan tulang-tulang terbungkus kulit belaka. Kepalanya botak, hanya bagian atas telinga dan atas tengkuk saja ditumbuhi rambut panjang. Akan tetapi jenggotnya lebat dan panjang.

Keduanya sama tua dan sama liar, dan perbedaan yang mencolok di antara mereka selain rambut itu, juga pada muka mereka. Si Wajah Harimau itu mukanya merah sekali sedangkan yang botak itu wajahnya pucat seputih tembok!

“Heh-heh, Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), kau bilanglah. Apakah kita sekarang sudah mampus dan berada di neraka berjumpa seorang iblis cilik?” Si Muka Merah berkata sambil terkekeh-kekeh.

“Huh, sebelum lewat tujuh tahun lagi mana aku mau mati?” kata si Muka Putih dengan nada dingin dan mengejek.

 

Melihat keadaan mereka dan mendengar kata-kata itu, biar pun Siangkoan Li seorang anak yang pemberani, ia merasa seram juga. Akan tetapi di balik rasa takutnya terselip rasa kasihan melihat dua orang kakek dikurung macam binatang-binatang buas saja, maka ia memberanikan hati dan menghampiri kerangkeng. Setelah memandang penuh perhatian dan jelas bahwa dua orang itu benar-benar manusia yang sangat tua, ia lalu bertanya. “Kakek berdua, siapakah dan mengapa dikerangkeng di sini?”

Dua orang kakek itu saling pandang, yang muka merah tertawa ha-hah-he-heh sedangkan yang muka putih bersungut-sungut.

“Kau bocah dari mana? Mengapa berani masuk ke sini? Apakah kau kacung Lu-liang-pai?” tanya yang muka putih.

Siangkoan Li terkejut. Suara itu seakan-akan menyusup ke dalam dadanya dan membuat jantungnya berhenti berdetik dan terasa dingin sekali sampai-sampai ia menggigil dan mukanya pucat. Cepat ia menggeleng kepala.

“Bukan. Aku bernama Siangkoan Li dan bersama ayahku berkunjung kepada para Lo-suhu di Lu-Liang-pai. Aku berjalan-jalan sampai ke sini dan terjeblos ke lubang.” Kemudian ia menceritakan siapa ayahnya dan bagaimana ia sampai ke tempat itu.

“Ayahmu Siangkoan Bu ketua Thian-liong-pang? Ha-ha-ha!” Kakek muka merah itu tiba-tiba bergerak maju dan… menyusup keluar dari kerangkeng! Juga kakek muka putih berjalan maju dan tubuhnya menyusup keluar dari kerangkeng dengan amat mudahnya, seakan-akan kerangkeng itu merupakan pintu lebar. Padahal besi-besi kerangkeng itu amat sempit. Seorang anak seperti Siangkoan Li saja tak mungkin dapat lolos ke luar. Bagaimana dua orang kakek itu dapat meloloskan diri tanpa banyak susah?

Siangkoan Li adalah putera seorang pangcu (ketua) dan tentu saja sejak kecil ia sudah dilatih silat. Melihat keadaan ini, sungguh pun ia tidak mengerti dan terheran-heran, namun ia kini sudah tahu bahwa dua orang kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Maka serta-merta ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Harap suka memaafkan teecu yang berani bersikap kurang ajar. Kiranya Jiwi Locianpwe adalah orang- orang sakti. Teecu masuk tidak sengaja, mohon maaf!”

Si Muka Merah tertawa tergelak. “Ha-ha-ha! Apa artinya Ilmu Sia-kut-hoat (Ilmu Lepas Tulang Lemaskan Tubuh) seperti itu? Kau putera Siangkoan Bu? Bagus! Eh, bocah, maukah engkau menjadi murid kami?”

Siangkoan Li kaget, dan juga girang sekali. Sudah sering kali ia mendengar dari ayahnya tentang orang- orang sakti di dunia persilatan dan sering kali mimpi betapa akan senangnya kalau dapat menjadi murid orang-orang sakti. Kini tanpa disengaja ia berhadapan dengan dua orang sakti yang ingin mengangkatnya menjadi murid! Ia menjadi girang sekali dan tentu ayahnya juga akan girang kalau mendengar akan hal ini. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengangguk-anggukkan kepala, “Teecu akan merasa girang dan bahagia sekali, Ji-wi Suhu (Guru Berdua)!”

“Ang-bin Siauwte ( Adik Muka Merah), mudah saja engkau menetapkan dia sebagai murid kita, bagaimana kalau kelak ternyata salah pilih?” tegur si Muka Putih.

“Heh-heh-heh! Dia ini keturunan seorang patriot dan ketua perkumpulan besar. Mana bisa salah pilih? Kalau kelak ternyata dia menyeleweng, apa susahnya kita mengambil nyawanya? Eh, Siangkoan Li, kau sendiri sudah menetapkan menjadi murid kami. Seorang murid tak boleh membantah perintah guru. Mulai detik ini, kau tinggal di sini menemani kami sambil belajar!”

Siangkoan Li terkejut sekali. “Tapi… tapi… teecu belum memberitahukan hal ini kepada Ayah…!” bantahnya dengan muka pucat.

Si Muka Putih mengeluarkan suara mendengus di hidungnya. Si Muka Merah tersenyum lebar. “Hah, boleh kau coba pergi dari sini. Sebelum keluar dari lubang, nyawamu akan lebih dulu melayang!”

Siangkoan Li takut sekali akan tetapi akhirnya ia mengambil keputusan untuk mati hidup mentaati kedua orang gurunya. Mulai saat itu dia digembleng oleh kedua orang gurunya yang aneh. Setiap hari dari lubang itu turun makanan yang ternyata dikirim oleh hwesio-hwesio Lu-liang-pai.

“Demikianlah, Kwi Lan. Sampai empat tahun aku dilatih ilmu oleh kedua orang guruku itu.” Siangkoan Li melanjutkan penuturannya kepada Kwi Lan yang mendengarkan dengan muka amat tertarik. “Selama itu belum pernah kedua orang Suhu itu memberitahukan nama mereka. Dan ketika aku diperkenankan keluar, yaitu dua tahun yang lalu, aku segera pulang ke Yen-an akan tetapi ternyata Ayah telah meninggal dunia dan Thian-liong-pang telah dipegang oleh Gwakong. Karena aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, Gwakong menjadi pengganti orang tuaku dan aku harus tunduk dan berbakti kepadanya, juga kepada Thian-liong- pang di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimana aku dapat mengkhianati Thian-liong-pang dan bagaimana aku berani melawan Gwakong?”

Kini Kwi Lan mulai mengerti akan keadaan hati Siangkoan Li. Ia menjadi kasihan dan berkata, “Memang sudah paling tepat kalau engkau menemui kedua orang gurumu itu untuk minta pertimbangan dan nasehat mereka. Aku berani bertaruh bahwa mereka tentu lebih cocok dengan pendapatku, yakni bahwa kau harus mengumpulkan orang-orang gagah yang telah mengundurkan diri dari Thian-liong-pang, kemudian melakukan pembersihan di perkumpulan itu dan mendirikan kembali Thian-liong-pang yang sudah runtuh nama baiknya itu. Cap-ji-liong harus dibasmi, kakekmu harus diinsyafkan. Dan selain itu, aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang aneh yang menjadi gurumu. Maka aku akan ikut denganmu, Siangkoan Li.”

“Eh, jangan…! Berbahaya sekali…!”

Kwi Lan mencibirkan bibirnya. “Berbahaya? Kalau kau bisa, kenapa aku tidak mampu? Kita boleh lihat saja!”

“Bukan, bukan itu maksudku. Kepandaianmu hebat, tentu saja kau dapat sampai ke tempat itu tanpa diketahui para hwesio Lu-liang-pai. Akan tetapi… kedua orang guruku itu wataknya aneh sekali. Siapa tahu mereka akan marah kalau melihatmu.”

“Betapa pun anehnya mereka, belum tentu seaneh guruku. Dan aku tidak takut. Kalau mereka itu begitu gila untuk marah-marah kepadaku tanpa sebab, biarkan mereka marah, aku tidak takut!”

Siangkoan Li habis daya. Ia merasa tak sanggup menang jika harus berbantahan dengan gadis ini. Pula dia telah melakukan hal yang amat hebat, telah berkhianat terhadap Thian-liong-pang, semua gara-gara gadis ini. Sekarang kalau mereka berdua akan mengalami mala-petaka bersama sekali pun, apa lagi yang disesalkan? Tidak ada paksaan dalam hal ini, semua dilakukan oleh mereka dengan sukarela. Diam-diam ia malah merasa jantungnya berdebar girang. Tak salah dugaannya bahwa gadis jelita ini pun suka kepadanya seperti rasa suka di hatinya? Mencintanya seperti rasa cinta di hatinya?

Dengan ilmu kepandaian mereka, dengan mudah sekali Siangkoan Li dan Kwi Lan melompati tembok yang mengurung Lu-lian-pai dan memasuki daerah mereka itu dari tembok belakang. Menurut keterangan Siangkoan Li, jalan satu-satunya menuju ke tempat tahanan di bawah tanah itu harus melalui kebun bunga di belakang kuil Lu-liang-pai. Berindap-indap mereka berjalan sambil menyusup-nyusup dan bersembunyi di balik pepohonan.

“Siangkoan Li, apakah para hwesio Lu-liang-pai yang menghukum kedua orang gurumu?” tanya Kwi Lan ketika mereka menyusup-nyusup di taman bunga.

“Entah, kedua orang guruku tak pernah mau bercerita tentang diri mereka.” “Kalau benar demikian, tentu hwesio-hwesio Lu-liang-pal lihai luar biasa.”
“Memang aku masih ingat cerita ayah bahwa pimpinan Lu-liang-pai memiliki ilmu tinggi, akan tetapi aku tidak percaya mereka mampu mengalahkan kedua orang guruku. Buktinya, kalau kedua orang guruku menghendaki, apa susahnya bagi mereka untuk keluar dari kerangkeng? Agaknya memang sengaja kedua orang guruku tidak mau keluar.”

“Aneh sekali! Benar-benar aneh dan lucu!”

Tiba-tiba terdengar desir angin. Mereka cepat menyelinap di balik serumpun pohon kembang. Dua batang piauw (senjata rahasia) menyambar di atas kepala mereka. Dua orang hwesio muda muncul di dekat tempat mereka bersembunyi, mereka memandang ke sekeliling dengan pedang siap di tangan.

“Aneh sekali. Bukankah tadi jelas bayangan dua orang itu di tempat ini?” kata seorang di antara mereka.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo