August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 25)

 

 

Namun Kwi Lan tidak main-main dan serangannya bertubi-tubi dan hebat. Akhirnya sebuah pukulan   membuat Suma Kiat roboh. Kwi Lan menubruknya dan menghujani pukulan. Kalau tidak ingat bahwa orang ini putera gurunya, tentu ia sudah mengirim pukulan maut. Dia masih ingat ini dan pukulan-pukulannya hanya pukulan dengan tenaga luar saja yang membuat Suma Kiat mengaduh-aduh. Mulut dan hidung pemuda itu mengucurkan darah, mukanya bengkak-bengkak dan kaki tangannya lumpuh karena ditotok. Kwi Lan dengan hati sakit dan gemas bukan main terus memukul sampai Suma Kiat pingsan! Kemudian ia menyeret leher baju pemuda itu, terus menarik dan menyeretnya menuju ke pondok di mana tadi ia melihat Pangeran Talibu.

Pangeran Talibu dan Puteri Mimi sedang membicarakan Mutiara Hitam. Hati Pangeran itu gelisah sekali melihat sikap Mutiara Hitam. Ia sudah menceritakan segalanya kepada Mimi dan gadis ini sampai menangis saking terharu kepada Kwi Lan yang nasibnya begitu buruk, dipermainkan keadaan. Dia sendiri begitu bahagia, kehilangan kakak kandung mendapatkan tunangan. Cinta antara saudara berubah menjadi cinta asmara! Pangeran Talibu mengajaknya menyusul Mutiara Hitam, karena menurut Mimi, tidak mengapalah kalau Pangeran itu sendiri menjelaskan duduknya perkara, membuka rahasia saudara kembar kepada Mutiara Hitam.

Akan tetapi, pada saat mereka hendak keluar dari pondok, tampak Mutiara Hitam datang menyeret tubuh Suma Kiat yang pingsan! Pangeran dan puteri itu kaget sekali, memandang dengan mata terbelalak. Kwi Lan menyeret terus kemudian melempar tubuh Suma Kiat ke depan kaki Pangeran Talibu, suaranya dingin matanya berapi ketika ia berkata.

“Orang inikah yang hendak dijodohkan denganku? Aku tidak sudi! Aku bukan seorang yang begitu mudah berubah, bukan seorang yang tidak setia. Biar Ratu sendiri yang menentukan, tetap kutentang. Sekarang juga hendak kusampaikan kepada Ratu Khitan!” Sebelum Pangeran Talibu sempat bicara, Mutiara Hitam sudah melompat pergi dan lari meninggalkan tubuh Suma Kiat yang menggeletak pingsan dengan muka bengkak-bengkak dan hidung mulut berdarah.

Kwi Lan berlari terus memasuki Istana. Penjaga-penjaga tercengang dan hendak melarang, akan tetapi gadis itu terlalu cepat sehingga sebentar saja ia sudah sampai di ruangan tengah. Pengawal dalam sebanyak tiga orang cepat menghadang dan hendak menangkapnya, akan tetapi dengan gerakan yang luar biasa cepatnya Kwi Lan sudah menangkap seorang di antara mereka, mengerahkan lweekang membuat tubuh pengawal itu terangkat dan diputar ke arah dua yang lain. Mereka bertiga roboh bergulingan dan gadis ini menyelinap masuk terus.

“Tangkap penjahat…!” para pengawal berseru dan sebentar saja Kwi Lan terkurung belasan pengawal yang mencabut senjata.

“Boleh tangkap aku kalau mampu! Aku Mutiara Hitam hendak bertemu dengan Ratu Khitan, siapa pun kalau menghalangi akan mampus di ujung pedangku!” Ia sudah mencabut pedang dan siap mengamuk.

Pada saat itu terdengar bentakan halus dan semua pengawal lalu mundur dengan wajah terheran. Kwi Lan mengangkat muka dan memandang wanita yang berjalan dengan langkah ringan menghampirinya. Wanita setengah tua yang cantik jelita berpakaian indah. Mereka saling pandang, seperti terkena pesona, keduanya menduga, menaksir, menyelidiki.

“Engkau Mutiara Hitam…?”

“Engkau Ratu Khitan…?”

Pertanyaan mereka hampir berbareng terucapkan. Ratu Yalina terhuyung maju, kedua lengan dikembangkan hendak memeluk, wajahnya pucat dan matanya penuh air mata. Akan tetapi Kwi Lan dengan cemberut mengelak, pandang matanya penuh tantangan, penuh tuduhan, penuh penyesalan.

Menggigil bibir Ratu Yalina menahan tangis, menahan jerit hatinya, “Kau… kau… telah belasan tahun menyiksa hatiku… kau…“ Ia tak dapat melanjutkan, tubuhnya lemas, kakinya gemetar, air matanya bercucuran.

Kwi Lan tetap cemberut. Kekecewaannya tentang Pangeran Talibu masih menyesak di dada. “Siapa yang menyakitkan hati? Siapa yang menyia-nyiakan anak? Siapa yang membuang anak begitu saja seperti orang membuang sampah?”

“Haaahhh…!” Ratu Yalina menahan jerit, hampir mencekik leher sendiri dengan tangannya, matanya terbelalak memandang gadis itu. “Begitukah kiranya? Kau belum mengerti? Aduh, Kwi Lan… Mutiara Hitam… mari kita bicara….” Ia maju memegang tangan Kwi Lan untuk diajak masuk kamar.

Akan tetapi Kwi Lan merenggut lepas tangannya dan berjalan di belakang orang yang menjadi ibu kandungnya ini. Ia kagum dan timbul rasa sayang dan haru, akan tetapi semua perasaan ini terbendung oleh kemarahannya. Selain menyia-nyiakannya, kini ibu ini masih menjodohkan dia dengan seorang gila macam Suma Kiat!

Sampai di dalam kamar Ratu Yalina yang gemetar kakinya itu duduk, mempersilakan Kwi Lan duduk. Akan tetapi Kwi Lan tetap berdiri di depan Ratu, tidak mau duduk, siap mendengarkan.

“Kau anakku… ah, betapa rinduku kepadamu. Akan tetapi baiklah kau dengarkan penuturanku agar kau tidak salah paham. Ketika kau terlahir dan dibawa oleh perawat, kau diculik oleh Enci Sian Eng yang membunuh perawat itu. Pada waktu itu tidak ada seorang pun tahu siapa penculiknya, tahu-tahu si Perawat itu mati dan kau lenyap. Betapa sengsara hatiku, betapa selama belasan tahun hatiku tersiksa. Sudah kuperintahkan semua panglimaku untuk pergi mencari, menyelidiki, namun hasilnya sia-sia belaka. Kini kau datang… Anakku, kenapa kau bersikap begini…? Aku ibumu, ibu yang melahirkanmu, aku… betapa rinduku… ah, Anakku…“

Melihat wanita itu menangis terisak-isak, Kwi Lan menjadi terharu. Akan tetapi ia masih marah dan dua macam perasaan ini mengaduk hatinya, membuat ia lemas dan akhirnya ia menjatuhkan diri di bangku lalu menangis tersedu-sedu, menutupi muka dengan kedua tangan. Air matanya mengalir ke luar melalui celah- celah jarinya.

Ratu Yalina bangkit berdiri, menghampiri anaknya. Ia tahu bahwa anak ini memiliki watak aneh dan keras sekali, tidak kalah oleh wataknya dahulu ketika muda. Betapa pun inginnya ia memeluk, ia menahan hati dan ingin memecahkan persoalan yang mengganggu hati puterinya lebih dahulu.

“Ada apakah, Anakku? Engkau agaknya bingung dan marah. Ada apakah?”

“Ibu… Ibu terlalu! Sudah menyia-nyiakan hidupku sehingga terpaksa aku hidup seperti setan bertahun- tahun lamanya di istana bawah tanah. Kini setelah aku dewasa, tanpa bertanya-tanya Ibu… menjodohkan aku dengan iblis jahanam macam Suma Kiat! Begini bencikah Ibu kepadaku?”

Ratu Yalina mau tak mau tersenyum geli di balik keharuannya. Ia memegang pundak Kwi Lan, dengan halus berkata, “Tidak, Anakku. Aku sama sekali tidak memutuskan tentang perjodohanmu. Memang Suma Kiat bilang bahwa mendiang ibunya berpesan begitu. Akan tetapi aku tidak akan mengambil keputusan mengenai perjodohanmu dengan siapa pun juga. Tentang perjodohan kuserahkan kepadamu, kalau kau tidak cocok dengan siapa pun Ibumu takkan melarang…”

Timbul harapan di hati Kwi Lan, akan tetapi karena malu, ia masih menutupi mukanya ketika berkata, “Aku tidak mau menikah dengan siapa pun juga di dunia ini kecuali dengan Pangeran Talibu!”

Kalau ada halilintar menyambar kepalanya di saat itu, kiranya Ratu Yalina tidak akan sekaget ketika mendengar ucapan ini. Ia terhuyung ke belakang, tangan kanan meraba dada yang seakan-akan berhenti berdetik, kepalanya pening.

Pada saat itu, dari pintu menerobos masuk Pangeran Talibu. Melihat keadaan ibunya yang pucat terbelalak seperti hampir roboh dan Kwi Lan yang duduk menangis menutupi muka, ia berseru memanggil, “Ibu…!” Dan melompat menghampiri.

Kehadiran Pangeran ini mendatangkan tenaga baru bagi Ratu Yalina. Ia cepat memegang tangan Pangeran Talibu seperti mencari bantuan tenaga, kemudian berkata, suaranya menggigil, “Talibu… dia… dia cinta padamu… dia… ingin menikah denganmu… oohh, Anakku…!”

Kini Ratu Yalina tak dapat menahan kehancuran hatinya lagi. Ia menubruk dan memeluk leher Kwi Lan, menciumi muka gadis itu sehingga muka Kwi Lan yang sudah basah oleh air matanya sendiri kini makin basah oleh air mata ibunya.

“Kwi Lan… Anakku… aduhhh, kasihan sekali kau… ketahuilah, Anakku… dahulu kau terlahir kembar… engkau terlahir tak lama setelah kakakmu terlahir. Kemudian engkau diculik Enci Sian Eng… dan… dan kakakmu… kakak kembarmu… dia Pangeran Talibu…”

Terdengar suara melengking menyayat hati ketika tubuh Kwi Lan roboh terguling dari atas kursinya, pingsan! Ibunya dan kakaknya menubruk, menangis dan berusaha menyadarkannya. Tapi setelah sadar, Kwi Lan meloncat ke atas menjauhi mereka, rambutnya terlepas awut-awutan, matanya liar, hidungnya kembang-kempis seakan-akan sukar bernapas. Ia memandangi mereka bergantian, dengan mata terbelalak seperti seekor kelinci yang ketakutan.

“…Anakku… Kwi Lan anakku…,” Ratu Yalina mengembangkan tangannya, hatinya hancur oleh keharuan dan kecemasan melihat Kwi Lan, khawatir kalau-kalau gadis itu berubah ingatan karena duka.

“…Adikku… Kwi Lan…,“ suara Pangeran Talibu parau, pipinya basah, akan tetapi ia memandang adiknya dengan senyum penuh kasih. Melihat ini, naik sedu-sedan dari dada Kwi Lan memenuhi kerongkongannya, kemudian ia meloncat ke depan Talibu, tangannya bergerak menampar.

“Plak-plak…!” Dua kali tangannya menampar pipi kanan kiri Pangeran itu, membuat Talibu terhuyung- huyung.

“Kwi Lan…!” Ratu Yalina menjerit.

Kwi Lan membalik, memandang ibunya, kemudian menubruk kaki ibunya sambil menangis meraung-raung seperti anak kecil. Ibunya juga duduk di lantai, balas memeluk, maka bertangisanlah ibu dan anak ini. Ratu Yalina memegang kedua pipi puterinya, diangkatnya muka itu, dipandangnya penuh selidik, penuh kasih, penuh rindu, diciuminya di antara tangis dan tawa.

Pangeran Talibu masih berdiri, memandang pertemuan yang mengharukan itu dan terdengar ia berkata lirih, suaranya menggetar, “Adikku… sudah selayaknya kau pukul aku… kalau belum puas pukullah lagi… aku seperti mempermainkanmu… di dalam tahanan Bouw Lek Couwsu… aku sudah tahu engkau adikku, seharusnya kuberi tahu. Akan tetapi, kalau rahasia itu ketahuan Bouw Lek Couwsu keadaanmu sebagai puteri Ratu Khitan lebih berbahaya lagi… dan tentang… tentang peristiwa itu… kau tahu kita keracunan… Adikku, maukah engkau memaafkan kakakmu…?”

Satu-satu kata-kata itu keluar, seperti pisau tajam menusuk-nusuk hati Kwi Lan. Gadis itu melepaskan pelukan ibunya, membalik dan menubruk kaki kakaknya. “Kanda Talibu… kaulah yang harus memaafkan adikmu…!”

Talibu tertawa, lalu menangis dan merangkul adiknya. Dibelai-belainya rambut yang kusut itu, dicubitnya pipi yang kemerahan, dicubitnya pula hidung Kwi Lan, lalu dicium pipinya, “Adikku sayang, ketika aku mengaku cinta demi Tuhan, aku katakan dengan setulus ikhlas hatiku karena aku sudah tahu bahwa engkau adalah adik kembarku. Kita masih saling cinta, bukan? Bahkan cinta yang suci murni tidak terpatahkan oleh apa pun juga. Bukankah kita sekandungan dan lahir bersama? Ah, Adikku sayang…!” Mereka berpelukan.

Ratu Yalina bangkit berdiri dan duduk di kursi. Dua orang anaknya itu menubruk ibunya dengan penuh kasih sayang. “Anak-anakku…, anak kembarku…, ah, betapa kalian sudah menderita. Terutama Kwi Lan, sampai mencinta kakak sendiri…. Ini semua akibat dosaku…“

Pada saat itu terdengar suara yang halus tapi gemetar penuh perasaan, “Tidak, Lin-moi… tidak… bukan kau yang salah. Aku yang berdosa… ya, aku yang berdosa…!”

Yang bicara ini adalah Suling Emas yang mendengar ucapan Ratu Yalina tadi. Ia melangkah masuk dengan gontai, tubuhnya lemas penuh kedukaan dan di belakangnya ikut masuk pula seorang pemuda yang bukan lain adalah Kiang Liong. Para pengawal sudah mengenal Suling Emas, maka tidak menghalangi pendekar ini bersama pemuda itu masuk istana dengan bebas, sungguh pun mereka saling pandang dengan heran namun tidak berani melarang.

Melihat Suling Emas, Ratu Yalina lalu menarik bangun Kwi Lan, diajaknya menghampiri Suling Emas sambil berkata lirih, “Anakku… Kwi Lan…, beri hormatlah kepadanya… ini dia… ayah kandungmu…!”

Suling Emas menjatuhkan diri di atas bangku, dan Kwi Lan berdiri terbelalak memandang pendekar sakti ini. Matanya terbelalak, tak disangka-sangkanya seujung rambut pun bahwa Suling Emas adalah ayahnya! Begitu bahagia rasa hatinya, begitu malu, dan juga heran sehingga sampai lama ia tidak dapat bergerak. Akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suling Emas sambil berteriak lirih. “Ayahku…!”

Teriakan Kwi Lan ini berbareng dengan keluhan Kiang Liong yang pingsan di dekat kaki ayahnya. Suling Emas merangkul Kwi Lan, merangkul Kiang Liong, kemudian memukuli dadanya sendiri dengan air mata berlinang-linang, “Dosaku… semua dosaku, laki-laki pengecut, berani berbuat tak berani bertanggung jawab… menyembunyikan dosa dan noda… sampai anak-anak sendiri saling cinta…, ya Tuhan, masih belum cukupkah hukuman hamba…?” Dan Suling Emas muntahkan darah segar sambil terbatuk-batuk.

Pemandangan di dalam kamar Ratu Yalina itu amat menusuk perasaan. Semua menangis dan semua merangkul Suling Emas. Juga Kiang Liong yang sudah siuman kini merangkul Kwi Lan, suaranya penuh getaran hati yang patah, “…kau adikku…, adikku…“

Setelah keadaan mereda, semua berbahagia, kecuali Kiang Liong dan Kwi Lan karena kebahagiaan kedua orang muda ini menyembunyikan hati yang remuk-redam, patah dan luka oleh asmara gagal. Orang-orang yang dicinta sepenuh hati dan jiwa ternyata adalah saudara-saudara sendiri! Hari itu merupakan hari di mana sekeluarga menumpahkan segala macam perasaan yang selama ini terpendam dan keputusan yang diambilkan merupakan obat manjur bagi sakit hati Suling Emas. Yalina dan dia siap untuk mengumumkan dan membuka rahasia mereka selama ini. Mereka akan menghadapi kenyataan dengan muka terang. Untuk ini, Pangeran Kayabu yang menjadi sahabat setia dipanggil dan diajak berunding.

********************

Pesta-pora diadakan di seluruh Kerajaan Khitan. Untuk keperluan pesta itu, persiapannya dibuat sampai berbulan-bulan. Undangan dibagi-bagi sampai jauh ke selatan. Ada pun yang dirayakan adalah bermacam- macam. Terkumpulnya kembali keluarga Ratu, dan terutama sekali perjodohan antara Pangeran Talibu dan Puteri Mimi serta diangkatnya Pangeran ini menjadi Raja Khitan menggantikan ibunya yang hendak mengundurkan diri.

Ketika hari dan saat upacara tiba, alun-alun yang luas di depan istana yang biasanya dipergunakan untuk berlatih baris telah penuh dengan rakyat Khitan, sebagian besar tentara. Juga para tamu juga sudah memenuhi ruangan yang disediakan khusus untuk mereka. Tempat dihias indah dengan bunga-bunga, daun-daun dan kertas berwarna. Sejak pagi tadi bunyi-bunyian musik ramai memeriahkan suasana.

Ketika keluarga Ratu Yalina muncul di panggung, sorak-sorai rakyat Khitan menyambut mereka. Ratu Yalina memakai pakaian kebesaran, lengkap dengan pedang tanda kekuasaan. Kepalanya memakai mahkota yang indah gemerlapan. Wanita ini nampak lebih cantik dari pada biasa karena kebahagiaan… hatinya bersinar-sinar pada wajahnya, membuat pipinya kemerahan dan matanya bersinar-sinar seperti bintang.

Di sampingnya berjalan Suling Emas dengan pakaian yang khas, yaitu pakaian model pemberian Kaisar Sung untuk Suling Emas, dengan gambar suling dan bulan di dada, suling emas terselip di pinggangnya. Sikapnya tenang, wajahnya tersenyum dan kelihatan agung dan penuh wibawa, tidak canggung berdiri di dekat Ratu yang berkekuasaan besar itu.

Kemudian muncul Pangeran Talibu dengan wajahnya yang tampan berseri, pakaiannya yang indah dan gagah. Di sampingnya berjalan Mutiara Hitam, juga amat indah pakaiannya dan gagah sikapnya. Di belakangnya berjalan Kiang Liong, wajahnya masih membayangkan bekas kehancuran hati, namun yang ditutup dengan senyum pula. Lalu tampak Pangeran Kayabu bersama isteri dan puterinya yang cantik jelita, Puteri Mimi yang wajahnya cerah, senyumnya mendatangkan kegembiraan di hati setiap orang Khitan.

Setelah menerima penghormatan rakyatnya yang bersorak-sorai, keluarga ratu ini mengambil tempat duduk yang sudah disediakan sambil mengangguk sedikit sebagai jawaban penghormatan para tamu yang bangkit berdiri menyambut mereka. Kemudian Panglima Kayabu bangkit berdiri, maju ke pinggir panggung sehingga tampak oleh semua yang hadir, dengan suara lantang mengumumkan bahwa Sri Paduka Ratu yang mulia berkenan hendak menyampaikan amanat kepada rakyatnya. Tepuk-sorak gegap-gempita menyambut pengumuman ini, terus bergemuruh ketika Ratu Yalina bangkit berdiri di pinggir panggung dengan sikap agung.

Ratu ini tersenyum lebar, deretan giginya putih kemilau dan matanya bersinar-sinar, hatinya terharu menyaksikan cinta kasih dan penghormatan rakyat Khitan kepadanya. Ia mengangkat lengan ke atas dan berhentilah sorak-sorai itu. Keadaan menjadi sunyi sekali, seolah-olah di situ tidak ada orang, seolah-olah semua orang yang hadir menahan napas untuk mendengarkan suara ratu mereka.

“Rakyatku sekalian,” terdengar suaranya, lantang nyaring dan merdu, terdengar oleh semua yang hadir sampai di ujung-ujung karena Ratu ini bicara sambil mengerahkan khikang, “Kalian semua sudah tahu untuk apa pesta ini diadakan, yaitu untuk merayakan beberapa hal yang menggirangkan hati keluarga kami. Akan tetapi, tentu kalian bertanya-tanya dalam hati apa sebetulnya yang terjadi dan mengapa tiba- tiba ratu kalian dapat berkumpul dengan keluarganya. Karena itu, aku mengambll keputusan untuk bicara dengan kalian, untuk menceritakan keadaan kami sesungguhnya agar jangan terjadi salah tafsir.”

Ratu Yalina berhenti sebentar untuk menarik napas panjang. Suasana tetap hening, semua telinga ditujukan kepadanya.

“Kalian semua tentu sudah tahu bahwa sebelum menjadi Ratu Khitan, saya tinggal di selatan. Dan supaya kalian ketahui bahwa sesungguhnya yang membuat sampai kini ratu kalian tidak menikah adalah karena di selatan saya pernah bersuami, dan suami saya adalah dia ini…“ Ratu Yalina mempersilakan Suling Emas berdiri.

Pendekar ini tersenyum, kagum menyaksikan keberanian kekasihnya mengumumkan rahasia itu, maka ia pun dengan tenang melangkah maju di sebelah Ratu Yalina. Sejenak semua orang tercengang, agaknya heran, kaget dan bingung. Akan tetapi siapa orangnya di Khitan yang tak pernah mendengar akan Suling Emas? Pendekar besar yang berkali-kali merupakan penolong bangsa Khitan. Maka meledaklah sorak- sorai, tangan melambai-lambai, topi dan pelbagai benda dilempar ke atas seperti ramainya orang menonton pertandingan sepak bola!

“Hidup Suling Emas, suami Ratu Khitan…!” Demikian teriakan-teriakan terdengar yang makin lama makin menggema.

Suling Emas dan Ratu Yalina saling pandang. Dua titik air mata membasahi pelupuk mata Ratu itu. Hal yang paling gawat telah diucapkan dan hasilnya jauh lebih melegakan hati dari pada yang mereka khawatirkan. Ratu Yalina mengangkat dengan kembali dan rakyat pun diam. Keadaan kembali hening.

“Kami mengaku telah melakukan kesalahan bahwa hal ini dahulu kami rahasiakan. Akan tetapi hari ini akan kami umumkan semua rahasia. Pernikahan kami sebetulnya telah dikurniai dua orang anak. Yang pertama sejak kecil diam-diam kami serahkan kepada Panglima Kayabu untuk dirawat, dan yang kemudian kami angkat menjadi putera, yaitu Pangeran Talibu! Dia adalah putera kandung kami!”

Talibu yang sudah diberi tahu segera bangkit berdiri, tegak dan gagah di sebelah kiri ibunya, tersenyum memandang ke bawah, ke arah rakyatnya yang akan dipimpinnya, rakyat yang dicintanya. Kembali meledak sorak-sorai, kini lebih gemuruh karena rakyat amat bersuka-cita mendengar bahwa ternyata Pangeran Mahkota itu bukan putera angkat ratu, melainkan putera kandung. Untuk sejenak Ratu Yalina membiarkan rakyatnya bersorak-sorai, kemudian ia mengisyaratkan mereka diam.

“Ada pun putera kami yang ke dua adalah seorang wanita dan yang kini sudah berkumpul pula di samping kami, bernama Kam Kwi Lan dan yang terkenal dengan julukan Mutiara Hitam…!”

Kwi Lan meloncat dan berdiri di samping ayahnya. Rakyat kembali bersorak-sorai, penuh kekaguman dan kebanggaan, terdengar teriakan-teriakan

“Hidup Sang Puteri Mutiara Hitam…!”

Kwi Lan mengerling ke arah kakaknya. Pangeran Talibu tersenyum kepadanya dan matanya menjadi basah. Ia merasa seperti dalam mimpi, disebut puteri!

“Selesailah tugas kami membuka rahasia ini. Hati kami menjadi lapang karena telah membuka rahasia dengan pengumuman resmi sehingga rakyat dan semua tamu dari pelbagai kerajaan mendengar akan keadaan kami. Betapa pun juga, aku merasa bersalah telah menyimpan rahasia ini dari rakyat sampai bertahun-tahun. Oleh karena inilah, mengingat bahwa usiaku pun makin bertambah, hari ini pula aku mengundurkan diri dari singgasana dan mahkota kerajaan kuserahkan kepada Pangeran Mahkota Talibu!”

Kini sorak-sorai yang terdengar menjadi kacau-balau. Ada yang bergembira karena mendapat raja baru yang mereka juga sayang, ada yang kecewa karena ratu yang mereka cinta mengundurkan diri. Ratu Yalina yang tidak ingin memperlihatkan keharuan hati dan menangis di depan rakyatnya, segera mengajak mundur suami dan dua puteranya. Ia tadi tidak menyebutkan bahwa Talibu dan Kwi Lan adalah saudara kembar, karena hal ini akan mendatangkan keributan. Menurut tradisi dan kepercayaan turun-temurun, saudara kembar laki wanita harus dljodohkan. Dan ia mengerti bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan, dan bahwa selain Suling Emas juga kedua orang anak itu sendiri tidak akan melakukannya. Mereka kembali mundur dan duduk di tempat masing-masing.

Panglima Kayabu kini maju ke muka dan dengan lantang mengumumkan pertalian jodoh antara puterinya, Puteri Mimi dengan Pangeran Talibu, yang akan dirayakan bersamaan dengan pengangkatan Talibu menjadi Raja Khitan. Kembali rakyat bersyukur dan bersorak gembira. Puteri Mimi yang tadinya tersenyum- senyum, mendengar pengumuman itu, menundukkan muka dengan pipi merah dan mata basah sehingga ia digoda oleh Kwi Lan yang duduk di dekatnya.

“Kakak ipar yang baik, mengapa menangis?” kata Kwi Lan menggoda.

Mimi melirik, menggigit bibir dan mencubit lengan Kwi Lan. Akan tetapi mereka segera berangkulan dan keduanya menangis! Pada detik itu, habislah sudah rasa tidak enak di hati masing-masing, terganti kasih sayang antara saudara yang mesra.

Dan dimulailah pesta itu. Musik dimainkan makin gencar. Pertunjukan pun dimulai, yaitu demonstrasi pasukan Khitan, ketangkasan naik kuda, memanah, dan lain-lain. Pihak tamu bergiliran datang menghampiri tempat kehormatan ratu untuk memberi selamat yang dibalas oleh Ratu Yalina dan Suling Emas sebagaimana mestinya. Setelah para tamu yang memberi selamat habis, tampak seorang pemuda yang tersenyum lebar, matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan, keluar dari rombongan tamu menghampiri tempat kehormatan itu bersama seorang wanita setengah tua dan seorang kakek cebol berkepala besar.

“Bibi Bi Li…!” Kwi Lan bangkit dan lari menubruk wanita itu, yang ditariknya menghadap ibunya. “Ibu, inilah dia Bibi Bi Li yang merawatku sejak kecil.”

Nyonya itu memang Phang Bi Li, dan kini ia menjatuhkan diri berlutut depan Ratu Yalina. Oleh Yalina ia ditarik bangkit dan dipersilakan duduk di dekatnya. Dengan terharu dan halus Ratu Yalina berkata.

“Kakak yang baik. Karena engkau mewakili aku menjadi ibu perawat anakku sejak kecil, kau adalah keluarga sendiri. Duduklah di sini.” Mereka lalu bercakap-cakap dan betapa pun juga, nyonya itu kelihatan sungkan dan malu-malu karena duduk di lingkungan keluarga besar.

“Hauw Lam, kau Berandal!” Pangeran Talibu dan Kiang Liong menegur sambil tertawa dan menyambut pemuda itu. Akan tetapi Hauw Lam lebih dulu memberi hormat kepada Ratu Yalina dengan berlutut.

Ratu Yalina tertawa. “Baiklah, Berandal. Aku sudah banyak mendengar tentang dirimu. Engkau merupakan tuan penolong anakku. Bangkit dan duduklah, kita di antara orang sendiri!”

Hauw Lam bangun dan menjura kepada Talibu, “Pangeran!” lalu kepada Kiang Liong sambil berkata, “Haii, Kiang-kongcu!”

“Heiii, dia bukan Kiang-kongcu lagi, melainkan Kam-kongcu! Dia putera ayahku dan kakakku sendiri, kenapa kau menyebut Kiang-kongcu.”

“Wah, sampai terpeleset lidah ini. Maafkan, Kam-kongcu…!” Sikap Hauw Lam yang lucu membuat dua orang pemuda bangsawan itu tertawa.

Sementara itu, kakek cebol berkepala besar sudah disambut Suling Emas yang menjura dan berkata, “Selamat datang, Locianpwe. Sungguh kehadiran Locianpwe merupakan kehormatan besar.”

Kakek itu longak-longok, bahkan menghampiri panggung dan menjenguk ke bawah, membuat banyak orang tertawa. Akan tetapi kaum tua di Khitan yang melihat kakek ini menjadi terkejut, mereka berbisik-bisik. Dahulu pernah kakek ini, puluhan tahun yang lalu, membikin geger Khitan dengan perbuatan- perbuatan yang lucu dan mengagumkan (dalam cerita SULING EMAS).

“Heh-heh-heh, tidak ada perubahan di Khitan, bahkan di bawah pimpinan Ratu Yalina tampak makin maju saja. Heh-heh-heh!”

Melihat kakek ini, Ratu Yalina bangkit dan tersenyum lebar. “Wah-wah, kalau ini bukan Bu-tek Lo-jin entah siapa lagi!”

Bu-tek Lo-jin membalik ke arah ratu, membungkuk sedikit dan berkata, “Rejekimu besar, Ratu Yalina. Suamimu pendekar sakti yang hebat, anak-anakmu pun hebat. Asal saja kau tidak memandang rendah muridku, aku datang untuk mengajukan lamaran atas diri puterimu si Mutiara Hitam yang galak itu agar menjadi isteri Tang Hauw Lam.”

Kata-kata yang lantang ini membuat semua keluarga Ratu berhenti bercakap-cakap. Suasana hening, bahkan Hauw Lam yang biasanya pandai bicara, kini hanya menundukkan muka akan tetapi lirak-lirik ke arah Kwi Lan. Suling Emas dan Yalina maklum akan watak aneh dan keras dari Kwi Lan, maka urusan ini harus diserahkan kepada Kwi Lan sendiri. Sepanjang yang mereka dengar, sepak terjang Hauw Lam memang tidak mengecewakan sebagai seorang pemuda gagah perkasa, akan tetapi mereka tidak berani memutuskan, apa lagi mengingat akan pengalaman-pengalaman pahit yang menimpa diri Kwi Lan, yang pernah mencinta kakak kembar dan dicinta kakak tiri seayah! Kedua orang ini setelah saling pandang lalu menoleh ke arah Kwi Lan.

Phang Bi Li tadinya merasa berat untuk memenuhi permintaan anaknya yang minta supaya dilamarkan puteri Ratu Khitan! Akan tetapi setelah ada kesanggupan dari Bu-tek Lo-jin yang akan bicara, ia terpaksa mau diajak serta. Kini melihat keadaan di situ dan mendengar ucapan pinangan kakek itu yang begitu sederhana dan jujur tanpa banyak cing-cong lagi ia menjadi ketakutan dan kembali ia menjatuhkan diri berlutut di depan Ratu Yalina.

“Mohon Paduka sudi mengampuni kelancangan kami….”

Yalina cepat-cepat membangunkan Phang Bi Li. “Ah, jangan begitu. Urusan jodoh ini kami serahkan keputusannya kepada anak kami sendiri.”

Kwi Lan yang kini menjadi pusat perhatian bangkit berdiri dari bangkunya. Wajahnya pucat, matanya terbelalak, sebentar memandang Talibu, lalu Kam Liong, kemudian ke arah Hauw Lam. Si Berandal! Si Berandal meminangnya. Ia tahu bahwa Berandal ini mencintanya. Kalau ia membuat perbandingan, orang yang pertama-tama ia akan pilih andai kata bukan saudara, tentu Talibu. Orang ke dua agaknya Kam Liong. Setelah ternyata bahwa kedua orang muda itu adalah saudaranya sendiri, ia tidak tahu siapa yang berkenan di hatinya.

Yu Siang Ki juga mencinta, akan tetapi pemuda itu sendiri bertunangan dengan Song Goat, dan ia tidak suka mempunyai suami pengemis. Siangkoan Li, entah bagaimana jadinya pemuda itu yang dahulu terseret ke dalam dunia sesat. Ia memandang Hauw Lam, teringat akan semua pengalamannya dengan pemuda ini, teringat betapa pemuda ini menyelamatkannya dari Bu-tek Siu-lam, dan ia teringat kepada pemuda ini ketika terancam oleh Suma Kiat. Pemuda yang lucu, yang selalu mendatangkan kegembiraan padanya, bahkan yang lirak-lirik kepadanya dengan sikap wajar namun lucu. Tiba-tiba Kwi Lan tertawa bebas sehingga mengejutkan semua orang, akan tetapi tidak mengejutkan ayah bundanya. Gadis ini persis Lin Lin dahulu, Ratu Yalina sekarang.

Hauw Lam yang menanti dengan tegang, melihat Kwi Lan tertawa ini, lalu bangkit dan berkata kepada gadis itu, “Mutiara Hitam, dahulu engkau menyebut aku Berandal dan aku menyebut engkau Mutiara Hitam, keadaan kita dahulu sederajat. Akan tetapi sekarang, engkau seorang puteri kerajaan dan aku… tetap Berandal maka kalau engkau tidak setuju terus terang sajalah.”

Kwi Lan menjawab, “Sekarang pun masih sama, apa bedanya?” “Jadi…?”
“Jadi… apa…?”

“Jadi kau setuju…?”

Kwi Lan menggigit bibir, lalu mengangguk! Hauw Lam saking girangnya hanya melongo!

“Tapi terus terang saja, biar pun aku suka menjadi isterimu, aku tidak cinta padamu, Berandal!”

Luar biasa percakapan antara dua orang muda ini. Di depan begitu banyak orang bicara tentang cinta seperti orang bicara tentang pakaian atau topi saja! Mereka kecelik kalau mengira Hauw Lam terpukul oleh pengakuan ini. Sama sekali tidak, ia menjawab dengan suara sewajarnya.

“Orang macam aku mana boleh banyak mengharap? Aku mencintamu bukan karena ingin kau cinta. Aku mencintamu karena ingin melihat kau bahagia, ingin membikin hidupmu cemerlang penuh kegembiraan. Aku ingin seperti matahari, memberi penerangan dan kehangatan kepadamu tanpa mengharap kau ingat atau cinta padaku. Aku ingin menjadi suamimu agar aku dapat selalu menjagamu, melindungimu, menghiburmu, melihat engkau bahagia, karena kebahagiaanmulah yang menjadi dasar kebahagiaanku.” Hebat pengakuan ini, dalam hati mereka yang jatuh cinta merupakan sindiran dan petuah yang amat menusuk hati.

Memang sebagian besar orang muda kalau bercinta terlalu egois, hanya ingin meminta, meminta dan meminta. Minta dicinta, minta diperhatikan, minta dimanja. Lupa untuk memberi! Cinta itu adalah kasih sayang. Cinta itu sifatnya memberi, bukan meminta. Cinta yang meminta itu bukan mencinta orang lain namanya, melainkan mencinta diri sendiri terdorong hasrat ingin memiliki, ingin memonopoli dia yang dicinta. Cinta macam ini seperti cinta akan benda yang indah.

“Kalau aku kelak meninggalkanmu?”

“Engkau takkan meninggalkan aku tanpa sebab, karena aku akan selalu berusaha menyenangkan hatimu, tak usah kau tinggal, kau minta saja aku pergi sendiri.”

“Kalau aku mati?”

“Aku akan ikut! Aku takut kau di sana akan kesepian dan susah….”

Meledak suara ketawa Bu-tek Lo-jin, “Huah-ha-ha-ha-ha! Coba cari, di dunia ini mana ada pencinta seperti muridku? Mutiara Hitam, kalau engkau tidak menerima dia, engkau akan kehilangan! Ha-ha-ha!”

“Aku suka sekali mempunyai adik ipar si Berandal!” Tiba-tiba Pangeran Talibu yang suka sekali kepada pemuda ini berkata.

“Saudara Tang Hauw Lam memang patut menjadi suami Kwi Lan,” kata Kam Hong.

Kwi Lan tidak merasa terdesak oleh ucapan-ucapan ini, memang ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak suka tinggal di dalam istana, terikat oleh segala macam peraturan. Tadi saja ia sudah merasa canggung dan kikuk, tidak bebas. Kalau bersama Berandal, ia akan seperti burung. Sepasang burung terbang di angkasa, bercumbu dengan angin.

“Aku terima pinanganmu, Berandal. Selanjutnya terserah Ayah Ibu,” kata Kwi Lan sambil duduk kembali. “Terima kasih,” jawab Hauw Lam sambil duduk juga, wajahnya makin berseri-seri.
Semua orang tertawa. Belum pernah selamanya mereka mendengar, apa lagi melihat peminangan dan penerimaan seperti yang dilakukan kedua orang muda itu. Suasana makin gembira ketika kakek cebol itu dijamu oleh Suling Emas. Kini Puteri Mimi mendapat kesempatan membalas Kwi Lan dengan godaan- godaannya. Dua orang gadis ini berbisik-bisik dan cekikikan sendiri, entah apa yang dibicarakan kedua calon pengantin itu.

Dalam kegembiraan ini, Kam Liong teringat akan adik misannya, Suma Kiat. Ia menarik napas panjang, diam-diam menaruh kasihan kepada putera bibinya itu. Setelah terjadi peristiwa dengan Kwi Lan dan setelah Ratu Yalina mendengar pengakuan Kwi Lan akan semua perbuatan Suma Kiat yang amat tidak patut, pemuda itu diusir. Akan tetapi Ratu Yalina masih ingat kepada keponakannya, memberi kuda yang baik dan perbekalan yang cukup, ditambah sekantung emas.

“Ah, kalau saja Suma Kiat tidak mewarisi kegilaan Ibunya, tentu kini ikut bergembira pula, sebagai anggota keluarga,” hati Kam Liong menerawang.

Gembirakah dia? Entah, dia sendiri tidak tahu. Kenyataan bahwa Kwi Lan adalah adik seayah merupakan hantaman batin yang membuat hatinya kini kosong melompong. Ia tidak mungkin dapat seperti Hauw Lam, ia terlalu romantis dan selalu ingin dicinta wanita!

Selagi semua orang bergembira dan berpesta tiba-tiba muncul dua orang kakek tua renta yang aneh bersama seorang pemuda yang tampan berambut panjang. Dua orang kakek itu pakaiannya tidak karuan, juga rambutnya awut-awutan seperti dua orang gila, yang seorang bermuka putih, yang kedua bermuka merah.

Hauw Lam dan Kwi Lan segera mengenal pemuda itu. Siangkoan Li! Dan dua orang kakek itu adalah manusia-manusia sakti Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, guru Siangkoan Li! Suling Emas juga mengenal dua orang kakek ini. Hatinya tidak enak. Dua orang kakek ini terkenal tukang bikin ribut, seperti Bu-tek Lo-jin. Hanya bedanya kalau Bu-tek Lo-jin suka melucu dan tidak mau berlaku jahat, adalah dua orang kakek ini tidak peduli apakah perbuatan mereka termasuk baik ataukah jahat. Cepat ia bangkit menyambut dan menjura.

“Selamat datang di Khitan, Ji-wi Sian-ong (Sian-ong Berdua). Silakan duduk.”

“Ha-ha, Suling emas, kau makin gagah saja. Kabarnya kau menjadi suami Ratu Khitan. Ha-ha, kionghi- kionghi (selamat)! Tidak usah duduk. Aku dan Pek-bin-twako ini datang hanya karena ditangisi murid kami, Siangkoan Li ini. Kami datang hendak meminang Mutiara Hitam!” kata Lam-kek Sian-ong sambil menunjuk muridnya yang sudah menjatuhkan diri berlutut ke arah keluarga tuan rumah.

Suling Emas terkejut. Benar saja dugaannya. Dua orang kakek ini datang untuk membikin ribut. Memang benar mereka baru datang dan tidak tahu bahwa puterinya telah dijodohkan dengan Hauw Lam, namun cara mereka datang ini jelas menantang keributan. Biar pun maklum akan kelihaian mereka berdua, namun pendekar sakti ini tidak takut. Dengan hormat ia menjawab.

“Mutiara Hitam adalah puteriku. Banyak terima kasih saya ucapkan atas kecintaan Ji-wi Sian-ong dan kehormatan yang diberikan, akan tetapi hendaknya maklum bahwa baru saja anakku ini telah dljodohkan dengan pemuda lain.”

Siangkoan Li mengangkat muka, memandang ke arah Kwi Lan yang juga memandang kepadanya. Wajah yang tampan itu kelihatan merah, dan matanya bergerak-gerak menyapu mereka yang hadir. Diam-diam Kwi Lan merasa heran karena sikap pemuda ini berbeda jauh sekali dengan dahulu, biar pun masih pendiam dan serius, namun matanya liar!

“Bunuh saja si penghalang!” terdengar Pak-kek Sian-ong berkata, suaranya dingin sekali, mengerikan.

“Ho-ho-ha-ha-ha! Sepasang tua bangka gentayangan masih belum mampus, sudah mendekati neraka masih belum merasa panas. Ho-ho-ha-ha!” Bu-tek Lo-jin yang sedang duduk di bangku menenggak arak, tertawa dan… bangku yang ia duduki terbang dan turun ke depan dua orang kakek itu. Dia sendiri masih minum arak dari guci. Setelah arak habis ia turun dari bangkunya, menghadapi dua orang Sian-ong itu.

“Mutiara Hitam gadis galak telah menjadi calon isteri muridku. Kalian mau apa? Ho-ho, kita tua sama tua, mau mengajak apa kalian? Bertengkar saling maki? Boleh! Gelut? Pukul-pukulan? Apa saja kulayani, minta lagu apa kuturuti. Hayoh…!” Bu-tek Lo-jin memang terkenal mempunyai hobby (kegemaran) berkelahi. Ia senang berkelahi, baik saling maki mau pun saling gasak!

“Ji-wi Sian-ong harap sudi memaafkan dan memaklumi keadaan. Ji-wi datang terlambat dan jodoh adalah di tangan Thian. Harap tidak menimbulkan keributan,” kata Suling Emas, sikapnya dan suaranya halus, namun di balik kata-katanya mengandung peringatan.

Dua orang kakek saling pandang. Mereka tentu saja tidak gentar biar pun berada di negara orang. Akan tetapi mereka mengenal siapa kakek cebol ini. Bu-tek Lo-jin adalah orang ke dua setelah Bu Kek Siansu yang memiliki tingkat lebih tinggi dari pada mereka. Mungkin dengan maju berdua, mereka akan dapat mengimbangi Bu-tek Lo-jin, akan tetapi harus diingat bahwa di situ hadir pula Suling Emas yang lihainya luar biasa pula. Belum lagi Ratu Yalina yang kabarnya hebat ilmunya, dan orang-orang muda murid orang- orang sakti.

“Ha-ha-ha! Bu-tek Lo-jin, kami sungkan membikin ribut rumah orang. Urusan antara kita ini kelak kita bereskan. Suling Emas, memang murid kami tidak ada jodoh dengan puterimu! Hayo, Siangkoan Li, kau bocah sial dangkalan. Pergi!” Lam-kek Sian-ong menarik lengan muridnya, bersama Pak-kek Sian-ong lalu pergi dari situ tanpa pamit lagi.

Gangguan ini menimbulkan rasa tidak enak, akan tetapi hanya sebentar saja dan pesta dilanjutkan dengan meriah.

Beberapa bulan kemudian, pernikahan ganda dirayakan di Khitan. Pernikahan antara Talibu dengan Mimi dan Hauw Lam dengan Kam Kwi Lan. Setelah menikah, Talibu lalu diangkat menjadi raja baru di Khitan. Tang Hauw Lam bersama Kwi Lan lalu meninggalkan Khitan untuk pergi merantau seperti yang dikehendaki Kwi Lan, seperti burung di angkasa. Ada pun Suling Emas yang sudah resmi menjadi suami Ratu Yalina, mengundurkan diri menikmati hari tua di sebuah puncak yang indah dari Pegunungan Go-bi- san. Phang Bi Li tidak mungkin dapat ikut puteranya merantau, oleh Yalina diminta tinggal di istana Khitan di mana ia hidup tenteram dan melayani Mimi dengan kasih sayang.

Kam Liong meninggalkan Khitan, pergi merantau. Ia sudah mengambil keputusan untuk tidak menikah selamanya. Akan tetapi tentu saja ia tidak kehilangan watak romantisnya dan sewaktu-waktu bersedia melayani kasih sayang seorang wanita cantik di mana saja, hanya sebagai keisengan belaka, bukan karena dorongan asmara. Namun, kesenangan ini pun tidak membuatnya menyeleweng dari pada kebenaran. Tak pernah ia mengganggu dan memaksa wanita, tak pernah membujuk. Dan di samping ini, ia tidak pernah lupa untuk berdarma bakti sebagai seorang pendekar. Dari Kaisar Sung ia sudah mendapat pengampunan berkat permohonan Suling Emas yang diperkuat oleh Ratu Yalina sehingga namanya terhapus sebagai orang buruan, dan ia dapat bebas menengok ibunya di kota raja.

Bagaimana dengan Yu Siang Ki? Pemuda ini mencari Song Goat di dalam kuil, bertemu dan bahkan Song- yok-san-jin berada pula di situ. Akhirnya Siang Ki bersama Song Hai berhasil membujuk dan mencairkan kemarahan hati Song Goat, dan dua orang muda ini pun menikah. Siang Ki yang sudah menyerahkan urusan kai-pang kepada supeknya, Ong Toan Liong, meninggalkan dunia kai-pang dan hidup sebagai pengusaha toko obat yang dipimpin oleh ayah mertuanya.

Mereka bertiga hidup penuh kebahagiaan, dan cinta kasih yang murni dari Song Goat akhirnya mendapat kemenangan dengan menghidupkan cinta kasih di hati Siang Ki. Kadang-kadang kalau teringat akan Kwi Lan, Siang Ki suka menggeleng kepala sendiri dan baru sekarang terbuka matanya bahwa andai kata ia menjadi suami Kwi Lan yang keras hati dan aneh wataknya, belum tentu ia akan sebahagia di samping Song Goat yang lemah lembut dan halus ini.

Suma Kiat tidak ada kabar ceritanya lagi, entah ke mana perginya pemuda yang bernasib malang itu. Banyak orang yang suka mengenangkan keadaannya dan menaruh kasihan, akan tetapi juga khawatir kalau-kalau pemuda yang tidak waras otaknya dan memlliki kepandaian tinggi itu akan menimbulkan huru- hara di tempat lain.

Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui, dua orang puteri mendiang Kam Bu Sin, kini ikut bersama paman kakeknya, Kauw Bian Cinjin yang berdiam di puncak Tai-liang-san. Dua orang gadis yang malang ini selalu berdua dan gelisah kalau teringat akan adik mereka, Kam Han Ki. Kemanakah perginya Kam Han Ki? Seperti kita ketahui, anak ini dibawa oleh kakek sakti setengah dewa Bu Kek Siansu dalam keadaan terluka parah dan bagaimana nasib anak ini selanjutnya, tunggu saja dengan sabar sampai pengarang cerita ini menyusun sebuah cerita baru yang hebat!

Sampai di sini cerita MUTIARA HITAM ini berakhir, dengan harapan pengarang semoga merupakan bacaan hiburan bermanfaat bagi para pembaca dan sampai jumpa di lain cerita! Salam damai…..

 

T A M A T

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo