August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 24)

 

 

“Heh-heh-heh, memang omong kosong? Apa sih isinya omongan? Tapi yang kosong berisi, yang isi itu kosong, bukan begitu Bouw Lek Couwsu? Kau menyebut aku gila sebetulnya tidak gila, kau yang menganggap diri tidak gila sebetulnya gila. Anjing bukan manusia dan manusia bukan anjing tapi manusia dan anjing sama! Luka-luka kalian adalah akibat dari getaran ledakan yang disertai asap beracun. Kami yang melompat ke atas tidak terkena, akan tetapi kalian yang berada di bawah, terkena tanpa kalian rasakan. Padahal andai kata kami di bawah dan terkena racun juga, tidak mengapa karena aku mempunyai obat pemunahnya. Kebetulan sekali di antara perbekalanku terdapat Pel Batu Sepasang Goa.”

“Omitohud…!” Bouw Lek Couwsu menyebut nama Buddha, hatinya lega karena ancaman maut yang mencengkeram dia dan anak-anak muridnya ada obat penawarnya, “Bu-tek Lo-jin, kalau begitu pinceng mengharapkan kau suka memberikan obat itu kepada kami.”

“Tadi maki-maki sekarang minta-minta. Inilah watak manusia kalau membutuhkan sesuatu! Obat ini mencarinya juga bertaruhan nyawa. Sepasang goa itu tak seorang pun dapat memasukinya. Aku berani mempertaruhkan kepalaku kalau ada orang yang mampu memasuki sepasang goa itu. Hanya dengan kecerdikan luar biasa barulah batu hitam dikumpulkan sedikit demi sedikit. Dicampur dengan sari bumi dan debu angkasa. Bayangkan saja betapa sukarnya mendapatkan obat ini,” Bu-tek Lo-jin mengeluarkan sekepal ‘obat’ yang sudah ia bungkus kain kuning.

Bouw Lek Couwsu mengilar sekali. Kalau ia tidak ingat betapa lihainya kakek cebol ini, tentu sekali pukul ia membikin mampus padanya dan merampas obatnya. “Lo-jin, sekali lagi pinceng mohon pertolonganmu. Kalau perlu dibeli, katakan saja berapa, pinceng akan sanggup menggantinya.”

“Heh-heh-heh, kita sudah saling bertanding, itu berarti kita sudah menjadi sahabat. Di antara sobat, mana ada jual beli? Akan tetapi karena kau sudah menghina sobat-sobatku yang lain, kalau sekarang kau dan semua muridmu mau berlutut dan mengangguk-angguk tujuh kali kepadaku, obat akan kuberikan dengan gratis!”

Tanpa dikomando lagi, sembilan belas orang, hwesio jubah merah itu serentak lalu berlutut ke arah Bu-tek Lo-jin dan mengangguk-anggukkan kepala seperti sekumpulan ayam bulu merah mematuk beras, berulang-ulang, tidak hanya tujuh kali, sampai puluhan kali! Akan tetapi Bouw Lek Couwsu tetap berdiri, mukanya pucat dan matanya menyinarkan kemarahan. Orang telah mempermainkan dan menghinanya di luar batas. Namun ia tidak berdaya melampiaskan kemarahannya.

“Hemm, paling-paling pinceng akan mati kalau tidak dapat mengobati sendiri, akan tetapi seluruh dunia akan mendengar tentang perlakuan Bu-tek Lojin yang tidak patut!”

“Biarlah, mengingat bahwa engkau adalah seorang pemimpin bangsa Hsi-hsia, sekali ini kubebaskan dari berlutut. Akan tetapi lain kali kalau engkau pilek atau masuk angin lalu datang minta obat kepadaku, engkau harus berlutut!” kata Bu-tek Lo-jin yang agaknya sudah puas mempermainkan mereka. Ia membuka bungkusan kain kuning, mengeluarkan sekepal ‘obat’ itu, mengangkatnya tinggi di atas kepala sambil berkata seperti lagak penjual obat di pasar mendemonstrasikan obatnya. “Obat ini adalah obat paling manjur di dunia dan akhirat! Jangankan manusia sakit keracunan, bengek, mulas, pening dan lain- lain, bahkan dewa sekali pun dapat disembuhkan!” Ia lalu membagi-bagi menjadi dua puluh butir, dan membagi-bagikan kepada Bouw Lek Cousu dan murid-muridnya sambil berkata, “Telan sekarang juga sebelum terlambat!”

Bouw Lek Couwsu menelan pel kemulutnya. Ia merasakan betapa ‘pel’ itu kasar dan agak asin, terus ditelannya. Demikian pula dengan murid-muridnya, tanpa ragu-ragu lagi telah menelan obat mustajab itu. Alangkah lega rasa hati mereka ketika kini mereka menarik napas panjang bagian tubuh yang keracunan itu tidak begitu nyeri lagi. Demikian pula dengan Bouw Lek Couwsu. Kini ia menarik napas panjang sambil mengerahkan sinkang dan… rasa nyeri lenyap. Mau tak mau ia jadi berterima kasih sekali lalu menjura kepada Bu-tek Lo-jin.

“Omitohud, Lo-jin telah menyelamatkan nyawa pinceng dan para murid, sungguh merupakan budi besar. Nah, Cu-wi sekalian, sampai jumpa,” Ia menjura ke arah Suling Emas dan teman-teman, memungut tongkatnya lalu membalikkan tubuh, menyeret tongkat dengan lenggang angkuh, diikuti para muridnya. Atas isyarat Pangeran Talibu, para pasukan Khitan membuka jalan, membiarkan rombongan pimpinan Hsi- hsia ini lewat.

Begitu mereka pergi, Bu-tek Lo-jin tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya, bahkan ia sampai bergulingan di atas tanah terbahak-bahak dan di antara suara ketawanya ia berkata, “… lucu… ha-ha-ha… lucu!”

Mereka yang tidak mengerti, termasuk Pangeran Talibu dan Puteri Mimi, tentu saja menjadi heran sekali, mengira bahwa kakek ini memang betul gila. Akan tetapi Hauw Lam yang merasa bangga akan gurunya, segera bercerita dengan suara lantang, bahwa Bouw Lek Couwsu dan murid-muridnya tadi sama sekali tidak terkena racun, melainkan terkena hawa pukulan tangan Bu-tek Lojin ketika menuding dan sama sekali tidak terancam maut, karena akibat hawa pukulan itu hanya menimbulkan rasa nyeri sebentar saja.

Bahwa ‘obat mustajab’ itu adalah upil (tahi hidung) yang dicampur dengan debu genteng dan tanah di telapak kaki.

Orang-orang Khitan yang mengerti bahasa Han lalu menterjemahkannya dalam bahasa Khitan kepada teman-temannya dan meledaklah suara ketawa mereka. Bahkan Puteri Mimi sampai terpingkal-pingkal dan Pangeran Talibu tertawa geli. Yang membuat keadaan amat lucu adalah ketika mereka teringat betapa tahi hidung disebut batu hitam dari sepasang goa, tentu saja sepasang goa adalah sepasang lubang hidung dan tentu saja tidak ada manusia dapat memasuki lubang hidung! Dan sari bumi adalah kotoran di telapak kaki sedangkan debu angkasa adalah debu di atas genteng!

Setelah suara ketawa mereda, Suling Emas lalu menyarankan kepada Pangeran Talibu agar bersama Puteri Mimi kembali ke Khitan dikawal oleh pasukan Khitan yang sebagian ditugaskan untuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan. Di depan banyak orang, Suling Emas menyebut pangeran kepada puteranya itu. Pangeran Talibu tidak membantah, lalu mengajak Mimi naik kuda yang disediakan oleh pasukan Khitan, minta diri dari Suling Emas dan Bu-tek Lo-jin, berpamit secara hangat kepada Yu Siang Ki dan Tang Hauw Lam yang dipersilakan sewaktu-waktu datang ke Khitan, kemudian berangkatlah rombongan itu.

Bu-tek Lo-jin lalu menarik lengan Hauw Lam, diajak menjauhi Suling Emas di tempat tersendiri untuk diajak bicara. Dengan singkat tapi jelas Hauw Lam menceritakan pengalamannya, pertemuannya dengan Mutiara Hitam, pengalaman mereka berdua, kemudian betapa berkat keterangan Mutiara Hitam, ia dapat bertemu dengan ibunya yang kini masih tinggal di istana bawah tanah karena tidak mau meninggalkan tempat itu.

Bu-tek Lo-jin mendengarkan penuturan ini dan segera dapat mengambil kesimpulan bahwa muridnya ‘ada hati’ kepada Mutiara Hitam. “Eh, kau mencinta Mutiara Hitam?”

Hauw Lam kaget, mukanya menjadi merah sekali. “Bagaimana Suhu tahu?”

“Heh-heh, kau kira aku begitu tolol? Pembelaanmu di kamar tahanan, dan ketika kau bercerita setiap menyebut namanya, sinar matamu bercahaya. Hayo katakan, kau cinta dia?”

Hauw Lam menghela napas, “Tak dapat teecu sangkal, Suhu. Teecu mencintanya, akan tetapi… ah, seperti hendak menjangkau bintang, seperti kumbang merindukan matahari. Terlalu tinggi….“

“Uaaahh! Siapa bilang? Biar pun hanya untuk beberapa hari, engkau murid Bu-tek Lo-jin! Gadis mana yang terlalu tinggi untukmu? Biar puteri Kaisar sekali pun, kalau aku yang melamar untukmu, akan diberikan! Kenapa kau tidak mengawininya? Dia ke mana?”

Hauw Lam maklum akan sifat gurunya yang ugal-ugalan. Kalau saat itu Mutiara Hitam berada di situ, tentu akan diseret gurunya dan dipaksa menikah dengannya! Ia tidak mau terjadi hal seperti ini, maka ia menjawab, “Teecu sendiri tidak tahu, Suhu. Akan tetapi menurut penuturan ibuku, Mutiara Hitam itu sesungguhnya adalah Puteri Khitan, puterinya Ratu Khitan. Ibu tidak dapat menerangkan secara jelas duduknya perkara, tapi….“

“Sudahlah. Kau pergilah ke Khitan, aku akan melamarnya dari tangan Ratu Khitan! Nah, sampai jumpa di Khitan!” Kakek itu meloncat bangun, melambai ke arah Suling Emas, berseru, “Haii, Suling Emas! Aku pergi sekarang!” Tanpa menanti jawaban ia sudah melesat jauh dan lenyap dari pandangan mata.

Suling Emas yang sedang bercakap-cakap dengan Yu Siang Ki hanya melambaikan tangan ke arah kakek itu. Ia sedang bicara dengan sikap sungguh-sungguh dan serius dengan pemuda itu.

“Kau sendiri sudah kalah olehnya?” Suling Emas melanjutkan percakapan yang tertunda oleh teriakan Bu- tek Lojin tadi.

“Betul, Locianpwe. Dia amat lihai,” jawab Siang Ki yang tadi bercerita tentang Suling Emas palsu yang menantang-nantang Yu Kang Tianglo!

“Dia tinggal di Lembah Ang-san-kok di Gunung Heng-tuan-san, kau bilang tadi? Dan dia pandai menggunakan hui-to (golok terbang)?”

“Benar, Locianpwe.”

Suling Emas mengangguk-angguk. “Hemm, urusan ini penting, harus kubereskan sendiri. Akan tetapi aku masih ada persoalan di kota raja. Siang Ki, sekarang kau buatlah surat, memakai nama Yu Kang Tianglo dan mengajukan tantangan kepada Suling Emas pada bulan depan tanggal lima belas di markas Khong- sim Kai-pang di Kang-hu.”

“Tapi, Locianpwe…,“ Yu Siang Ki tentu saja bingung mendengar perintah yang aneh ini.

“Lakukan sajalah. Kalau dia datang sebagai Suling Emas biarlah aku yang menjadi Yu Kang Tianglo. Kita lihat saja nanti.”

Yu Siang Ki akhirnya menyanggupi dan menjura sambil berpamit. Pada saat itu Tang Hauw Lam juga datang berpamit hendak melanjutkan perjalanan. Mereka berpisah. Suling Emas ke kota raja, Yu Siang Ki hendak mengerjakan perintah pendekar sakti itu, ada pun Hauw Lam sebelum ke Khitan hendak menyampaikan kepada ibunya lebih dulu tentang maksud pelamarannya kepada Kwi Lan.

********************

Kwi Lan masih pingsan ketika tubuhnya dipondong oleh Suma Kiat yang membawanya lari ke luar. Pemuda ini meloncat ke atas seekor kuda dan terus mengaburkan kuda lari menuju ke selatan. Perang tanding telah terjadi dengan hebatnya, namun Suma Kiat tidak mempedulikan semua itu. Ia membalapkan kudanya dan karena orang-orang Hsi-hsia sudah mengenal siapa pemuda ini maka mereka tidak mengganggunya. Prajurit-prajurit Khitan juga tidak menghalanginya karena pemuda yang membawa lari gadis pingsan itu tidak menyerang mereka. Satu dua orang yang mencoba-coba menghalangi, roboh oleh pukulan tangan kiri Suma Kiat. Akhirnya ia keluar dari tempat pertempuran dan terus membalap ke selatan.

Setelah hari menjadi petang, berhentilah Suma Kiat di depan sebuah kuil tua. Kuil bobrok ini adalah kuil yang sudah kosong dan hanya dipergunakan mengaso dan bermalam mereka yang kemalaman di jalan. Kebetulan kuil itu kosong. Suma Kiat memondong tubuh Kwi Lan memasuki kuil.

Baru saja ia menurunkan tubuh gadis itu di atas lantai, Kwi Lan mengeluh dan bergerak. Suma Kiat cepat menotok jalan darah gadis itu, membuat Kwi Lan yang sudah sadar tidak mampu bergerak karena kaki tangannya menjadi lemas. Gadis itu membuka matanya dan teringatlah ia akan semua peristiwa yang dialami. Teringat betapa gurunya dikeroyok dan betapa ia membantu akan tetapi roboh oleh Thai-lek Kauw-ong yang lihai. Kemudian ia melihat cahaya api menerangi kegelapan.

Ketika ia melirik, ia melihat Suma Kiat sudah menyalakan lilin. Agaknya para penghuni kuil yang kemalaman di jalan lupa membawa sisa lilin mereka dan kini dinyalakan oleh Suma Kiat. Kemudian pemuda ini mendekati Kwi Lan dan duduk di atas lantai, wajahnya keruh dan tampak lelah. Kwi Lan berusaha mengerahkan tenaga, namun sia-sia belaka karena baru saja ia tertotok di luar tahunya.

Ia tahu bahwa suheng-nya ini memiliki watak yang aneh, bahkan tidak normal seperti gurunya. Dan ia sama sekali tidak dapat menerka, apa yang hendak dilakukan pemuda ini terhadap dirinya, mengapa ia dibawa sampai ke tempat ini dan bahkan dibuat tak berdaya dengan totokan. Ia bergidik. Jatuh ke tangan suheng-nya ini tidak kurang berbahayanya dari pada jatuh ke tangan Bu-tek Siu-lam. Akan tetapi Kwi Lan membesarkan hatinya dan bertanya, suaranya biasa.

“Suheng…, bagaimana dengan Bibi Sian?”

Tiba-tiba saja Suma Kiat menangis tersedu-sedu, menyembunyikan muka dalam pelukan lengannya. Sampai lama pemuda ini menangis, pundaknya bergoyang-goyang, sampai mengguguk. Mau tak mau Kwi Lan agak terharu juga. Betapa pun juga pemuda ini bersama-sama dengan dia sejak kecil dan kini ditinggal mati ibunya. Tanpa ia sadari, sepasang mata Kwi Lan juga mencucurkan air mata. Gurunya tentu sudah mati.

Akhirnya tangis Suma Kiat terhenti. Kemudian ia mengangkat mukanya, memandang Kwi Lan dengan sepasang mata merah, “Ibu sudah meninggal dunia…,” katanya, suaranya parau, “Aku ditinggal seorang diri. Karena itu engkau harus menolongku, Sumoi.”

“Tentu saja, Suheng,” jawab Kwi Lan halus. “Sebagai adik seperguruan, tentu saja aku suka menolongmu. Tapi kau bebaskan dulu aku dari totokan. Amat tidak enak bicara dalam keadaan begini.”

Tiba-tiba, seperti ketika menangis tadi, Suma Kiat tertawa bergelak, “Ha-ha-ha! Kau kira aku begitu bodoh? Membebaskanmu kemudian engkau menyerangku, ya? Ha-ha, Suma Kiat tidak begitu bodoh, Sumoi. Ha- ha!” Sambil tertawa ha-ha-he-he, pemuda itu menowel paha Kwi Lan. Gadis ini bergidik. Benar gila suheng-nya ini.

“Aku tidak akan menyerangmu, Suheng. Aku berjanji takkan menyerangmu.”

“Ho-ho-ha-ha, kalau tidak menyerang tentu lari meninggalkan aku! Ha-ha, aku tidak bodoh. Tidak boleh kau meninggalkan aku. Ibu sudah pergi, engkau tidak boleh pergi. ibu sudah mati… huu-huuuk-huuuk…“ Ia menangis lagi, “Ibu mati dan aku tidak bisa menjadi kaisar, menjadi pangeran pun tidak. Aaahhh, aku hanya punya engkau. Hanya engkau yang dapat menjadikan aku pangeran. Ahh, Sumoi, karena itu engkau tidak boleh meninggalkan aku dan terpaksa kutotok.”

“Apa maksudmu, Suheng? Menjadikan kau pangeran?” Kwi Lan bertanya, makin heran akan tetapi juga makin gelisah.

“Tentu saja. Ibu pernah bilang bahwa kau adalah puteri Ratu Khitan. Kalau aku menjadi suamimu, berarti aku mantu Ratu Khitan, seorang pangeran. Kalau kelak aku tidak menggantikan ibumu, menjadi Raja Khitan, setidaknya aku menjadi pangeran. Maka engkau harus menjadi isteriku, Sumoi.”

Kwi Lan terkejut sekali. Celaka, pikirnya. Jalan pikiran orang gila ini aneh sekali. Bagaimana ia dapat lolos? Ia harus cerdik.

“Ah, mana bisa, Suheng? Kau tidak mencintaku, aku pun tidak cinta kepadamu. Ingat, sejak kecil kita saling bertengkar saja, mana mungkin menjadi suami isteri?”

“Ha-ha-ha, siapa bilang aku tidak cinta padamu? Kau begini cantik manis, begini molek. Eh, Sumoi, tahukah kau bahwa setelah kita dewasa, sering kali aku rindu kepadamu? Engkau cantik jelita,” Suma Kiat membelai dagu wanita itu kemudian menunduk dan mencium pipinya!

Kwi Lan bergidik. Celaka sekarang! “Ah, Suheng. Kau jangan bodoh. Kau tahu bahwa aku bukan seorang wanita yang mudah ditundukkan. Sekali aku bilang tidak mau, sampai mati pun aku tidak mau. Kalau aku tidak sudi menjadi isterimu, kau mau apa? Lebih baik kita tidak bertengkar dan bebaskan aku. Kita bicara dengan baik, mungkin aku dapat memberi jalan baik kepadamu.”

“Ha-ha, jangan coba untuk menipuku, Sumoi. Engkau boleh tidak sudi menjadi isteriku, akan tetapi aku punya cara untuk memaksamu.”

“Suheng, jangan gila!”

“Heh-heh-heh, memang aku gila. Bukankah Ibu juga dianggap gila oleh orang lain? Mau tidak mau engkau akan menjadi isteriku, Kwi Lan. Heh-heh, kau bukan sumoi lagi sekarang, melainkan Lan-moimoi yang cantik manis, kekasih hatiku, isteriku yang molek. Ini sebabnya mengapa kau kutotok. Aku akan memaksamu malam ini juga menjadi isteriku. Kalau sudah terlanjur kau menjadi isteriku, masa kau bisa menolak lagi besok? Apa kau ingin menjadi bahan hinaan orang, bukan gadis lagi sebelum kawin? Kalau malam ini engkau menjadi isteriku, engkau akan terpaksa menerima aku sebagai suami. Ha-ha-ha, aku akan menjadi mantu Ratu Khitan. Hebat bukan rencanaku?”

Kerongkongan Kwi Lan serasa tersumbat! Ia tahu bahwa orang gila ini tidak akan segan-segan melakukan rencana gilanya dan dia akan menjadi korban. Dicobanya menggertak, “Suheng! Biar pun sekarang aku tidak berdaya, akan tetapi kalau kau melakukan niat keji itu, besok kau akan kubunuh! Percayalah, kalau kau benar-benar memperkosa, besok kau akan kubunuh, kucincang hancur tubuhmu!”

Sesaat sinar takut menyelubungi wajah tampan itu. Memang pemuda itu agak takut terhadap Kwi Lan yang ia tahu memiliki kepandaian lebih lihai dari padanya. Mulutnya berkemak-kemik seperti bicara kepada diri sendiri. Melihat ini, Kwi Lan melanjutkan.

“Tidak ada gunanya, Suheng. Kau dapat memaksaku sekarang, akan tetapi kau takkan dapat menjadi mantu Ratu, tidak menjadi pangeran, melainkan besok kau menjadi mayat yang hancur lebur dagingnya. Lebih baik kita bicara baik-baik, kau bebaskan aku.”

Akan tetapi tiba-tiba wajah itu tersenyum-senyum lagi, seakan telah mendapat sebuah pikiran baru, kemudian Suma Kiat tertawa, “Ha-ha-ha, tidak bisa kau membunuh aku. Kau kira aku begitu tolol memaksamu menjadi isteri malam ini dan besok kubebaskan? Ha-ha, salahmu sendiri kau membuka rahasia dan rencanamu. Kalau kau tadi tidak bicara, tentu malam ini kau kujadikan isteri dan besok kubebaskan. Tapi pikiranmu busuk sekali. Biar malam ini sudah menjadi isteri, besok hendak membunuh dan mencincang tubuhku. Iihh, isteri macam apa ini? Aku tidak akan membebaskanmu, Kwi Lan. Tiap tujuh jam kau kutotok kembali dan setiap saat kau akan kupaksa menjadi isteriku sampai… ha-ha-ha, sampai kau mengandung! Nah, kalau kau sudah mengandung, baru kubebaskan. Setelah kau mengandung keturunanku, masa kau masih mau membandel!”

Sesak jalan pernapasan Kwi Lan. Ia merasa ngeri dan bulu tengkuknya meremang. Alangkah akan ngeri dan sengsaranya kalau rencana gila ini dilaksanakan. Dan sesungguhnya, kalau dilaksanakan ia tidak akan dapat berbuat sesuatu! Ia akan hidup seperti mayat, makan dipaksa, minum dipaksa, lalu diperkosa sesuka hati, dan baru akan dibebaskan kalau sudah mengandung. Celaka! Hampir ia menjerit saking ngeri dan cemasnya. Apa akal sekarang?

Teringatlah Kwi Lan akan keadaannya ketika terancam oleh Bu-tek Siu-lam di kamar tahanan. Teringat ia akan akal Hauw Lam yang cerdik yang berdaya upaya sedapat mungkin untuk menyelamatkannya. Hauw Lam, si Berandal! Ah, terbayang wajah sahabat baik ini. Betapa cerdiknya, betapa setia dan betapa besar cinta kasihnya ketika pemuda itu mati-matian membelanya dengan segala macam akal. Pemuda yang cerdik, gagah dan jenaka. Dunia selalu akan berseri kalau berada di samping pemuda itu. Hauw Lam mencintanya. Akan tetapi… di sana ada Pangeran Talibu. Ah, betapa besar cinta kasihnya terhadap Pangeran itu. Tak mungkin ia mencinta pemuda lain.

Aihh, mengapa ia teringat yang bukan-bukan? Bagaimana andai kata Hauw Lam yang menghadapi persoalan dan ancaman mengerikan seperti dia sekarang? Ia kembali mengenangkan sikap Hauw Lam. Mengulur waktu! Ya, mengulur waktu sambil memperpanjang ancaman dan memperlebar kesempatan.

Tiba-tiba ia menangis. Tadinya ia hanya ingin berpura-pura menangis saja, akan tetapi teringat akan kematian gurunya, akan sikap Pangeran Talibu yang bermesraan dengan Puteri Mimi, ia jadi menangis sungguh-sungguh! Air matanya bercucuran dan ia terisak-isak. Suma Kiat kaget melihat ini. Selama hidupnya, belum pernah ia melihat sumoi-nya menangis seperti ini.

Dahulu, semenjak mereka kecil, kalau mereka bertengkar dialah yang menangis, bukan Kwi Lan. Agaknya Kwi Lan tidak mempunyai air mata untuk menangis. Akan tetapi sekarang menangis terisak-isak begitu menyedihkan! Seketika air mata Suma Kiat juga bercucuran dan ia merangkul Kwi Lan, mengangkat tubuh yang lemas itu sehingga terduduk dan menyandarkannya pada dinding kuil yang kering.

“Ada apakah, Sumoi? Ada apakah, kekasihku yang manis, isteriku yang denok? Kenapa menangis? Aku tidak akan menyakitimu, manis. Aku akan menjadi suamimu yang penuh kasih sayang. Anak kitak kelak tentu laki-laki dan tampan. Kita didik dia menjadi seperti… eh, Paman Suling Emas! Ya, anak kita tentu jagoan!”

Hiburan ini bukan mengurangi kesedihan, bahkan menambah, membuat Kwi Lan menangis makin sesenggukan. Betapa tidak kalau hiburan itu mengingatkan ia akan keadaan yang mengerikan ini? Ia dihadapkan ancaman seorang gila dan ia tidak berdaya menyelamatkan diri. Ah, Hauw Lam di mana engkau? Kalau ada pemuda cerdik itu, tentu ada saja akalnya!

“Suheng…, apa engkau tidak kasihan kepadaku? Benarkah kau tega hendak menyiksaku lahir batin? Suheng, lebih baik kau bunuh saja aku…“

Suma Kiat merangkul lebih erat, “Aihhh mana mungkin, sayang? Bagaimana aku dapat membunuh orang yang paling kucinta di dunia ini? Jangan khawatir, Kwi Lan, aku tidak akan menyakitimu. Percayalah, aku sayang kepadamu…”

Dapat dibayangkan betapa takut dan ngeri hati Kwi Lan ketika pemuda itu mulai membelainya, bahkan dengan gerakan halus dan hati-hati penuh kasih sayang. Suma Kiat meraba-raba jubah gurunya yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya. Berdiri seluruh bulu di tubuh Kwi Lan dan ia cepat-cepat berkata.

“Suheng…, dengarlah kata-kataku. Eh… aduh, tolong kau sandarkan aku di dinding, jangan sentuh aku dan dengarkan dulu baik-baik… aku… aku menyerah, akan tetapi ada syaratnya…”

Suma Kiat menarik kembali tangannya, menyandarkan Kwi Lan di dinding dan memandang penuh perhatian, penuh kemesraan. “Apa, manisku? Kau mau bilang apa?”

Mengulur waktu, harus mengulur waktu, demikian jalan pikiran Kwi Lan, teringat akan kecerdikan dan akal Hauw Lam. “Suheng…,” suaranya ia buat manis dan halus, “setelah kupikir-pikir, memang kau benar. Kita sudah kehilangan Bibi Sian, kalau tidak saling tolong, bagaimana lagi? Dan kupikir-pikir… eh, engkau bukan seorang pemuda yang buruk. Engkau tampan, cerdik, juga gagah. Tidak kecewa menjadi isterimu. Baiklah, aku menyerah. Akan tetapi….”

“Heh-heh-heh, jangan kau menipuku, Kwi Lan. Kalau aku disuruh membebaskanmu, tak mungkin. Aku tahu kelihaianmu. Engkau akan menjadi isteriku dalam keadaan tertotok…”

“Sesukamulah, Suheng. Aku sudah menyerah. Akan tetapi… kuminta dengan sangat, jangan… jangan malam ini! Lupakah engkau, Suheng, bahwa ibumu baru siang tadi meninggal dunia? Bagaimana kita dapat melakukan… eh… hal itu malam ini? Ini amat tidak baik dan durhaka, Suheng. Kau boleh totok aku, aku toh tidak mampu lari. Tapi malam ini jangan…, besok saja, terserah kepadamu dan aku menyerah, bahkan kemudian aku tidak akan menolak menjadi isterimu yang sah. Engkau menjadi mantu Kerajaan Khitan, mungkin kelak menjadi Raja Khitan, dan aku permaisurimu. Wah alangkah bahagianya!”

Makin berseri wajah Suma Kiat. Akhirnya ia bersorak dan berjingkrak-jingkrak dalam kuil itu, lalu berjongkok dan… “ngokk!” ia mencium pipi Kwi Lan dengan hidungnya.

“Bagus! Terima kasih, Kwi Lan. Terima kasih, kau baik sekali. Tapi… kalau sekarang, mengapa sih?”

Tadinya Kwi Lan sudah girang menyaksikan akalnya berhasil, akan tetapi kembali ia berdebar mendengar kalimat terakhir. Sungguh sukar menjenguk keadaan hati pemuda gila ini.

“Suheng, terus terang saja, wajah Bibi Sian masih terbayang di depan mataku. Tidak mau aku mendurhakai guru melakukan… hal itu pada hari guru meninggal dunia. Kalau kau memaksa, aku akan mencari kesempatan membunuhmu atau membunuh diri sendiri. Awas, alangkah mudahnya membunuh diri. Jika aku menggunakan kekuatan kemauan menahan napas, sekarang pun aku dapat membunuh diri!”

Suma Kiat mengangguk-angguk, “Baiklah, Kwi Lan. Menanti sampai besok pun tidak apa. Aku pun lelah sekali, harus tidur malam ini. Selamat tidur, sayang. Sampai besok!” Pemuda itu lalu berbaring di dekat Kwi Lan dan sebentar saja sudah mendengkur!

Kwi Lan duduk bersandar dinding, matanya kedap-kedip memandang api lilin yang hampir padam. Suram- suram keadaan di dalam kuil, sesuram hatinya. Ia sudah berhasil mengulur waktu. Berhasil untuk sementara terhindar dari pada mala-petaka hebat. Selanjutnya bagaimana? Ia tetap tidak melihat kesempatan. Dan tiba-tiba jantungnya serasa berhenti berdetik. Benar! Pemuda ini tidur dan kurang lebih tiga jam lagi pengaruh totokan akan lenyap dengan sendirinya dari tubuhnya. Ia akan dapat bergerak dan alangkah mudahnya untuk membebaskan diri kalau ia sudah dapat bergerak!

Jam-jam berikutnya merupakan waktu yang amat sengsara, tegang dan menggelisahkan bagi Kwi Lan. Api lilin sudah padam dan karena ia menanti waktu pulihnya tenaga tubuhnya, maka setiap menit berlalu seakan-akan setahun. Orang bisa menjadi lekas tua kalau menanti jalannya waktu dengan tak sabar. Satu jam, dua jam… hampir tiga jam. Dan Suma Kiat masih juga belum bergerak. Jantung Kwi Lan berdebar. Berkali-kali ia berusaha mengerahkan tenaga dari pusar, namun sia-sia. Totokan belum punah.

Akhirnya, ia dapat menggerakkan pinggangnya! Ia hampir bebas! Kwi Lan memejamkan mata, mengumpulkan seluruh semangat dan tenaga untuk menggerakkan kaki tangan yang lumpuh. Dan… pada saat itu, jari-jari yang kuat telah menotok punggungnya, membuat ia roboh miring dan lemas kembali seperti tadi. Suma Kiat tertawa dan Kwi Lan menahan isak tangisnya.

Hatinya kecewa bukan main. Sudah mati-matian menanti, pada saat terakhir semua harapannya tersapu habis. Ia sudah ditotok kembali dan kini Suma Kiat sudah rebah miring lagi, malah memeluknya dan sebentar saja pemuda itu sudah mendengkur. Untung bahwa ketika rebah tadi, kaki tangannya tertarik sehingga biar pun dipeluk, hanya pundaknya saja yang dirangkul pemuda itu. Napas pemuda itu terasa meniup dahinya. Kwi Lan bergidik, hatinya penuh kemarahan dan kebencian.

Matahari telah menyinarkan cahayanya melalui jendela kuil yang tak berdaun lagi. Kwi Lan memicingkan mata, silau oleh sinar matahari. Suma Kiat terbangun, menggeliat dan bangkit duduk, lalu tersenyum dan terkekeh memandangi wajah Kwi Lan.

“Aduh, cantik nian kau Kwi Lan. Tersinar cahaya matahari pagi engkau tiada ubahnya setangkai bunga mawar. Rambutmu kusut, sebagian menutupi dahi, matamu sayu oleh kantuk, bibirmu basah kemerahan seperti kuncup bunga, mandi embun, ahhh, engkau sekarang tentu akan memegang janjimu, bukan? Kita menjadi suami isteri, disaksikan cahaya matahari pagi…“ Pemuda itu berbisik-bisik dan membungkuk hendak mencium bibir yang merah itu. Tiba-tiba ia tersentak kaget dan meloncat mundur karena bentakan di belakangnya.

“Suma Kiat! Engkau benar-benar keji dan jahat!”

Suma Kiat meloncat bangun, membalikkan tubuh dan berhadapan dengan… Kiang Liong! Pemuda
berpakaian putih itu berdiri tegak dengan wajah penuh amarah dan wibawa, di punggungnya nampak menonjol ujung alat musik yang-khim. Seperti diketahui, pemuda ini diperintah oleh Suling Emas untuk mengejar Suma Kiat. Ia bertanya-tanya kepada prajurit Khitan dan akhirnya mendapat keterangan bahwa Suma Kiat membawa Kwi Lan berkuda ke selatan.

Ia mengejar terus, akan tetapi terhalang malam gelap. Pagi-pagi sekali, setelah malam itu ia bermalam di dalam hutan, ia melanjutkan perjalanan dan melihat kuil tua di pinggir jalan dan seekor kuda di luarnya. Hatinya girang dan cepat ia meloncat masuk dan masih sempat menegur dan mencegah Suma Kiat yang hendak melakukan perbuatan keji terhadap Kwi Lan.

Suma Kiat kaget bukan main dan sejenak ia hanya dapat memandang Kiang Liong dengan melongo dan muka pucat. Kiang Liong sebaliknya menyapu ke dalam dan memandang ke arah Kwi Lan. Hatinya bersorak lega melihat bahwa kedatangannya belum terlambat. Biar pun gadis itu dalam keadaan tertotok, namun tidak lebih dari pada itu. Diam-diam Kiang Liong merasa heran bagaimana Kwi Lan dapat terhindar dari pada penghinaan yang hebat.

“Piauwheng (Kakak Misan)… kau… menyusul ke sini? Ah, Piauwheng… Ibuku telah… telah meninggal dunia…” Dan Suma Kiat menangis!

“Suma Kiat!” Kiang Liong membentak marah. “Simpan air mata buaya itu! Dan katakan, apa maksudmu melarikan Mutiara Hitam dan apa yang hendak kau lakukan tadi?”

Suma Kiat berhenti menangis, lalu memandang Kiang Liong dengan mata terbelalak dan tidak mengerti agaknya mengapa kakak misannya marah-marah. “Dia ini…? Ah, dia ini sumoiku dan calon isteriku, Piauwheng. Dia akan menjadi isteriku. Kau tanya saja kepadanya!”

Kwi Lan cepat berkata. “Suma Kiat! Engkau memang gila dan jahat. Kau hendak memperkosaku dan sejak kemarin menotokku, siapa ingin menjadi isterimu? Tunggu saja, kalau sudah bebas aku akan membunuhmu!”

“Heh…? Tapi… tapi… malam tadi kau berjanji… kau akan menyerah pagi ini… kau…”

Kiang Liong kini mengerti duduknya perkara. Kiranya Mutiara Hitam telah berhasil meloloskan diri malam tadi dengan jalan memberi janji dan mengulur waktu. Ia menjadi marah sekali, melangkah maju dan tangannya bergerak.

“Plak-plak-plak-plak!” Empat kali kedua pipi Suma Kiat ditampar.

Biar pun Suma Kiat berusaha mengelak dan menangkis, namun tetap saja tamparan-tamparan itu mengenai kedua pipinya sampai matang biru! Ia terhuyung-huyung mundur beberapa langkah, meraba kedua pipinya lalu mewek, menangis!

“Piauwheng… Piauwheng… kau… kau mau bunuh aku…?” Ia mundur-mundur ketakutan.

Kiang Liong menggigit bibir, “Kalau engkau bukan adik misan, atau kalau engkau sudah berhasil berbuat keji, tentu kau sudah kubunuh sekarang juga. Hayo, pergilah sebelum aku bunuh engkau!”

Suma Kiat membalikkan tubuh lalu… lari secepatnya meninggalkan kuil itu sambil berteriak-teriak menangis dan memegangi kedua pipinya!

Kiang Liong menghampiri Kwi Lan, lalu membebaskan totokan di punggung. Kwi Lan bangkit duduk perlahan. Tubuhnya kaku dan sakit-sakit karena terlalu lama lumpuh. Setelah duduk bersila sejenak dan tenaga serta jalan darahnya pulih, ia lalu bangun berdiri. Kiang Liong sudah berada di luar kuil, tadi membiarkan dia beristirahat.

Kiang Liong sudah duduk bersila di luar kuil, memangku yang-khim. Kwi Lan berhenti dan mendengarkan, terpesona. Indah bukan main petikan yang-khim itu, suaranya mengalun merdu. Kemudian terdengar suara pemuda itu bernyanyi, suaranya halus dan mengandung ketenangan, namun juga menimbulkan haru dan iba. Mutiara Hitam berdiri tertegun, tak bergerak beberapa meter di belakang pemuda itu. Bahkan kuda yang ditinggalkan Suma Kiat dan berada di belakang pemuda itu pun diam, seakan ikut mendengarkan.

Matahari cerah
menerangi bumi dan angkasa tidak menembus hatiku
tetap gelap dan gelisah hanya sepatah kata kuharapkan dirimu pengusir gelap dan resah.

Dengan iringan suara yang-khim, nyanyian berhenti dan heninglah keadaan sekeliling tempat itu. Kiang Liong masih duduk bersila memangku yang-khim, tak bergerak seperti arca orang melamun. Kwi Lan menarik napas panjang, melangkah maju dan memanggil.

“Kiang-kongcu…“

Kiang Liong terkejut, bangkit berdiri, mengalungkan yang-khim di punggung dan membalikkan tubuh. Mereka berdiri berhadapan, pandang mata mereka bertemu, masing-masing seperti hendak menjenguk isi hati. Perlahan-lahan kedua pipi Kwi Lan menjadi merah. Dalam nyanyian tadi dia merasa seakan-akan pemuda ini bicara kepadanya, seakan-akan dari dialah pemuda itu mengharapkan sepatah kata pengusir gelap dan resah! Dengan perasaan wanitanya yang kini amat tajam karena berkali-kali menerima pernyataan cinta, Kwi Lan merasa bahwa pemuda yang perkasa ini, pemuda yang terkenal di kota raja, pemuda idaman setiap wanita remaja, murid Suling Emas, agaknya juga… jatuh cinta kepadanya! Jelas tersinar dari pandang mata itu!

Kwi Lan menunduk, lalu berkata, “Kiang-kongcu, kau telah menolongku, membebaskan aku dari pada mala-petaka. Terimalah ucapan syukur dan terima kasihku, Kongcu.”

Kiang Liong menjura, “Ah. Nona mengapa banyak sungkan? Kita sudah pernah senasib sependeritaan di dalam kamar tahanan Bouw Lek Couwsu, kita bersama sudah lolos dari lubang jarum di sana. Apa artinya perbuatanku tadi? Agaknya memang nasib Nona harus mengalami banyak kaget dan ancaman bahaya, namun selalu terhindar ini membuktikan bahwa orang baik selalu dilindungi Thian.”

Kwi Lan bergidik. “Tidak sangka…, Suheng makin gila…“

“Maafkanlah dia, Nona. Suheng-mu atau adik misanku itu patut dikasihani. Dia tidak normal dan… dan baru saja kehilangan ibunya…“

Kwi Lan menggerakkan pundak. Setelah apa yang diiakukan Suma Kiat terhadap dirinya, sukar baginya untuk memaafkannya, biar pun ia tahu bahwa pemuda itu gila. Menggigil ia kalau ingat pipinya dicium, tubuhnya dipeluk semalaman. Hih, masih untung tidak tercapai maksudnya yang keji! Cepat-cepat ia mengusir kenangan mengerikan ini dan mengalihkan percakapan.

“Apa yang terjadi di markas Bouw Lek Couwsu, Kongcu? Bagaimana Kongcu dapat lolos dan bagaimana dengan… Pangeran… dan teman-teman yang lain?” Berdebar jantung Kwi Lan teringat akan Pangeran Talibu, penuh kekhawatiran.

“Suhu datang setelah gurumu tewas dan berhasil menewaskan Bu-tek Siu-lam. Sungguh harus diakui kecerdikan Hauw Lam. Karena ketajaman lidahnya dan kecerdikannya memanaskan hati gurumulah kita semua selamat! Gurumu berhasil membunuh Bu-tek Siu-lam, akan tetapi tewas pula oleh pengeroyokan yang lain. Kemudian muncul guruku bersama pasukan-pasukan Khitan yang besar jumlahnya. Pasukan Khitan menghancurkan orang-orang Hsi-hsia, sedangkan guruku dikeroyok empat kakek-kakek sakti. Aku tidak tahu bagaimana selanjutnya karena aku dibebaskan Suhu dan disuruh mengejar Suma Kiat untuk menolongmu.”.

Kwi Lan mengerutkan kening. Ia percaya akan kesaktian Suling Emas dan besar harapan Pangeran Talibu dan yang lain-lain akan selamat. Akan tetapi mengapa Kiang Liong disuruh menolongnya?

“Gurumu menyuruhmu mengejar Suma-suheng dan menolongku?”

“Aku sendiri tidak mengerti, Nona. Begitu datang, Suhu bertanya kepadaku tentang kau. Ketika aku memberi tahu bahwa kau dibawa lari Suma Kiat, Suhu membebaskan aku dan menyuruh aku cepat mengejar. Suhu agaknya amat memperhatikammu.”

Kwi Lan tidak mengerti, akan tetapi ia tidak memusingkan hal itu lebih lanjut karena ia masih mengkhawatirkan keselamatan yang lain-lain. “Bagaimana dengan mereka? Ah, jangan-jangan…“

“Tak usah khawatir, Nona. Suhu tidak akan menyuruh aku pergi kalau beliau tidak yakin akan kemenangannya. Kurasa mereka semua selamat. Sekarang aku akan kembali ke kota raja mencari berita tentang mereka. Dan engkau, hendak ke manakah, Nona? Kalau tidak berkeberatan, kita melakukan perjalanan bersama.” Pandang mata pemuda itu penuh harapan.

Kwi Lan tersenyum. Semua pemuda yang dijumpainya selalu ingin melakukan perjalanan bersamanya. Semua mencintanya. Tapi di sana ada Pangeran Talibu! Selain Pangeran ini, kalau disuruh memilih, sungguh amat sukar. Semua mempunyai kelebihan dan kebaikan masing-masing!

“Aku ingin ke Khitan, akan tetapi, baiklah kita ke kota raja dulu, karena aku pun ingin sekali mendengar bagaimana dengan akhir pertempuran di markas orang Hsi-hsia itu.” Tentu saja, bagaimana ia dapat pergi ke Khitan menyusul Pangeran Talibu kalau ia belum mendengar tentang keadaan Pangeran itu?

Berangkatlah mereka ke kota raja. Kiang Liong mempersilakan Kwi Lan naik kuda sedang ia sendiri berjalan di samping kuda. Pemuda itu nampak gembira bukan main. Besar harapannya melihat sikap gadis itu yang selalu manis dan ramah kepadanya. Ia merasa betapa hatinya benar-benar jatuh terhadap Kwi Lan. Belum pernah selamanya ia menaruh simpati begini besar terhadap seorang gadis, yang kehadirannya membuat matahari bersinar lebih terang, bunga-bunga mekar lebih indah. Ia tidak mau secara sembrono menyatakan cinta kasihnya, dan mengharap senyum itu dapat dimengerti gadis ini. Kelak kalau sudah tiba saatnya, ia akan mengajukan lamaran secara resmi!

Dapat dibayangkan betapa besar rasa kegembiraan mereka, terutama hati Kwi Lan, ketika mereka tiba di luar kota raja, mereka sudah mendengar berita tentang kesudahan pertempuran di markas Bouw Lek Couwsu. Mereka mendengar berita bahwa markas orang Hsi-hsia dihancurkan oleh Suling Emas dan pasukan Khitan, bahwa Pangeran Talibu dan Puteri Mimi yang ditahan di sana telah dibebaskan dan kembali ke Khitan, juga tentang kematian Siauw-bin Lo-mo dan Pak-sin-ong oleh Suling Emas yang dibantu oleh seorang kakek cebol berkepala raksasa yang amat aneh dan lihai!

Dua orang muda itu menduga-duga dan Kiang Liong berkata, “Tak salah lagi, kakek aneh itu tentulah Bu- tek Lo-jin!”

“Guru Berandal? Betul-betul dia datang?” tanya Kwi Lan, tertawa geli kalau teringat kepada Hauw Lam. Muridnya begitu ugal-ugalan, entah bagaimana gurunya!

“Tentu dia, siapa lagi kakek begitu aneh yang dapat menandingi orang-orang seperti Siauw-bin Lo-mo? Akan tetapi, agar dapat mendengar keterangan lebih jelas, mari kita memasuki kota raja. Mungkin Suhu masih berada di kota raja.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Di depan pintu gerbang kota raja, mereka disambut pasukan kota raja sebanyak dua losin orang yang dikepalai seorang komandan. Begitu bertemu, komandan itu lalu membentak.

“Kiang Liong, lebih baik engkau menyerah!”

Kiang Liong terkejut bukan main. Ia mengenal komandan ini, seperti juga komandan yang lain. Dia sudah terkenal dan selalu dihormati mereka. Bagaimana sekarang komandan ini membentak suruh ia menyerah?

“Heii, apa maksudmu?” ia balas bertanya, terheran-heran.

Komandan ini berkata angkuh, “Lekas berlutut dan dengarkan firman Kaisar!”

Melihat betapa komandan itu mengeluarkan segulung surat perintah, Kiang Liong segera berlutut, mendengarkan bagaikan mimpi suara komandan itu yang lantang membacakan surat perintah. Hampir tidak percaya ia ketika mendengar bahwa surat perintah itu adalah pernyataan Kaisar bahwa dia adalah seorang pemberontak yang memancing permusuhan dengan bangsa Hsi-hsia dan tidak mentaati perintah damai dari Kaisar! Ia termenung tak dapat berkata-kata. Ketika komandan menghampirinya membawa belenggu, ia menyerahkan kedua lengannya tanpa membantah, wajahnya pucat.

“Heii, lepaskan dia!” Tiba-tiba Kwi Lan menerjang maju dan si Komandan terpental jauh, jatuh bergulingan dan pingsan! Dua losin tentara mengurung, namun Kwi Lan mengamuk. Begitu kaki tangannya bergerak, enam orang tentara sudah terpelanting, roboh!

“Nona, jangan…!” Kiang Liong berseru menahan.

“Jangan bagaimana? Kiang Liong, engkau mengapa begini lemah? Biar kaisar biar setan kalau perintahnya tidak benar perlu apa ditaati? Kau tidak bersalah hendak ditangkap, masa menyerah begitu saja? Kau boleh menyerah, akan tetapi aku tetap tidak membiarkan kau ditangkap!”

Kiang Liong bingung, apa lagi melihat nona itu mengamuk terus dan setiap orang tentara yang mendekatinya tentu terpelanting roboh. Ia menghela napas, kemudian mengambil keputusan untuk sementara lari dan mencari suhu-nya minta pertimbangan agar mencegah Mutiara Hitam mengamuk yang dapat menimbulkan bencana lebih besar lagi.

“Baiklah, Mutiara Hitam. Mari kita lari!”

Mereka berdua lalu kabur dengan ilmu lari cepat. Pasukan yang kehilangan komandan karena komandan itu masih pingsan menjadi bingung dan hanya dapat menolong mereka yang terluka dan pingsan.

Setelah lari jauh, dengan suara penuh harapan Kiang Liong bertanya, “Mutiara Hitam, engkau… mengapa kau menolongku mati-matian?”

Kwi Lan tersenyum. “Siapa bicara tentang tolong-menolong? Bagaimana aku dapat melihat kau ditangkap begitu saja? Nah, kita berpisah di sini. Aku akan terus ke Khitan.”

“Aku mendengar bahwa Nona adalah puteri Ratu Khitan. Nona hendak menemui ibumu?”

Di dalam hatinya, Kwi Lan sebetulnya bukan hanya ingin menemui ibunya, melainkan terutama sekali menyusul… Pangeran Talibu. Akan tetapi ia menjawab dengan anggukan kepala dan melanjutkan, “Nah, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, Mutiara Hitam dan terima kasih. Kelak aku akan berkunjung ke Khitan.”

Ketika Mutiara Hitam membalapkan kudanya, Kiang Liong berdiri mengikutinya dengan pandang mata sampai bayangan manusia dan kuda lenyap ditelan debu yang mengebul tinggi. Kemudian Kiang Liong melanjutkan perjalanan, bertanya-tanya dan akhirnya mendengar bahwa Suling Emas setelah menghadap kaisar lalu meninggalkan kota raja dengan wajah muram. Ada tokoh pengemis yang mengetahui bahwa Suling Emas pergi menyusul Yu-pangcu ke Kang-hu. Berangkatlah Kiang Liong ke Kang-hu.

********************

Pagi hari itu kota Kang-hu kebanjiran… pengemis! Dari segenap penjuru kota berbondong-bondong datang para pengemis, bahkan banyak pula datang dari luar kota. Berita telah tersiar luas, berita yang amat aneh, yang menarik perhatian bukan saja para pengemis baju kotor, bahkan para pengemis baju bersih, golongan kaum sesat, dan para tokoh kang-ouw juga tertarik.

Maka pada hari itu, kota Kang-hu tidak hanya kebanjiran kaum pengemis, bahkan bermacam orang kang- ouw datang berkunjung. Berita apakah yang begitu menarik? Bukan lain adalah berita penantangan Yu Kang Tianglo kepada Suling Emas! Sha-gwee Cap-go. Bulan tiga tanggal lima belas, itulah harinya!

Perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang sudah mempersiapkan panggung besar di depan rumah perkumpulan. Sebuah panggung dari papan yang luas, yang biasa disebut panggung tempat pibu (adu silat). Yu Siang Ki atau Yu-pangcu sendiri yang mengatur segalanya, sesuai dengan pesan Suling Emas. Dan malam tadi Suling Emas sudah datang, kini berada di dalam rumah perkumpulan, mengenakan pakaian tambal-tambalan.

Bagi mereka yang mengerti duduknya persoalan, menjadi tegang dan gelisah. Yu Kang Tianglo sudah meninggal dunia dan yang kini menggunakan nama Yu Kang Tianglo adalah Suling Emas yang sebenarnya, menantang Suling Emas palsu! Yu Kang Tianglo tidak ada dan kini berarti Suling Emas tulen berhadapan dengan Suling Emas palsu, atau lebih tepat, Yu Kang Tianglo palsu berhadapan dengan Suling Emas palsu!
Yu Siang Ki sendiri yang menyampaikan surat tantangan dari ‘Yu Kang Tianglo’ kepada ‘Suling Emas’ di Lembah Ang-san-tok di Gunung Heng-tuan-san, dan mendapat jawaban siap oleh ‘Suling Emas’ bahkan menentukan jamnya di waktu pagi!

Demikianlah, ketika jam penentuan sudah dekat, Suling Emas yang berpakaian sebagai pengemis itu keluar dari dalam rumah perkumpulan, lalu duduk di atas sebuah bangku di atas panggung. Sorak-sorai para pengemis menyambut munculnya tokoh ini, terutama dari para anggota Khong-sim Kai-pang yang mengenal bahwa tokoh besar inilah sesungguhnya Suling Emas tulen! Yang tidak tahu duduknya persoalan dan tidak mengenal Suling Emas, mengira bahwa tokoh ini benar-benar Yu Kang Tianglo tokoh Khong-sim Kai-pang.

Suling Emas duduk di atas bangku, hatinya tegang karena ia masih belum mengerti apa maksunya orang memalsukan namanya dan menantang Yu Kang Tianglo! Tentu ada rahasia tersembunyi di balik kejadian ini. Juga ia merasa penasaran dan ingin menguji kepandaian orang yang memalsukan namanya.

Tepat pada jam yang ditentukan, tiba-tiba terdengar bunyi melengking tinggi dari jauh, disusul suara orang. “Suling Emas tiba! Adakah Yu Kang Tianglo sudah tiba?”

Suling Emas terkejut. Bukan main suara itu. Jelas bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki khikang yang hebat, mampu mengirim suara dari jauh, bahkan mampu menirukan lengkingnya yang khas Suling Emas! Ia lalu bangkit berdiri dari bangkunya, berdongak dan membusungkan dada, kemudian menjawab dengan pengerahan khikang sehingga suaranya dapat mencapai tempat jauh, ke arah dari mana suara tadi terdengar.

“Yu Kang Tianglo siap menerima kunjungan Suling Emas!”

Keadaan menjadi hening. Mereka yang hadir dan memenuhi tempat di bawah panggung menjadi tegang. Tak lama kemudian tampak berkelebat bayangan dan bagaikan seekor burung besar, di atas panggung itu muncul seorang laki-laki tua yang meloncat turun seperti burung terbang cepatnya. Ketika semua orang memperhatikan, terdengar suara ketawa di sana-sini.

Laki-laki itu sudah tua, lebih tua sedikit dari pada Suling Emas. Tubuhnya kurus sekali, jenggotnya panjang, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan keangkuhan. Akan tetapi yang lucu adalah pakaiannya. Pakaian itu terlalu besar gedobyoran akan tetapi di bagian dadanya jelas tersulam sebatang suling dengan latar belakang bulan purnama, persis seperti tanda gambar pada pakaian Suling Emas!

Bahkan Yu Siang Ki sendiri terheran-heran dan mendongkol menyaksikan pemalsuan yang mentertawakan ini. Orang ini bukan muncul seperti Suling Emas yang terkenal kegagahan dan ketampanannya, melainkan sebagai seorang badut! Betapa pun juga, harus ia akui bahwa cara laki-laki tua ini datang benar amat mengagumkan, sesuai dengan ilmunya yang tinggi.

Kalau semua orang memperhatikan dan mentertawakan, adalah Suling Emas yang memandang dengan serius dan terkejut. Orang ini bukan semata-mata hendak memalsukan namanya, pikirnya. Pemalsuan yang dibuat untuk berolok-olok, memperolok Suling Emas karena orang ini jelas sengaja memakai pakaian yang kebesaran dan kedodoran seperti hendak memperlihatkan bahwa Suling Emas hanya seorang badut. Ia cepat menyambut dengan kedua tangan di depan dada, sambil memandang tajam ia bertanya.

“Benarkah yang saya hadapi ini adalah Suling Emas yang menantang Yu Kang Tianglo?” Sambil bicara, Suling Emas sengaja hendak menguji lawannya, mengerahkan sinkang pada kedua tangannya yang mendorong.

Orang itu balas menjura, menangkis dengan sinkang pula, dan biar pun tubuh orang itu agak doyong ke belakang sedikit, namun Suling Emas harus mengakui bahwa tenaga sinkang orang itu tidak lemah. Orang itu pun biar tahu bahwa lawannya benar bertenaga hebat, tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum mengejek dan balas bertanya.

“Sebelum saya menjawab, saya hendak bertanya apakah yang saya hadapi ini benar-benar Yu Kang Tianglo yang gagah perkasa?”

Suling Emas tercengang, menduga-duga siapa gerangan orang ini. Ia merasa disindir dan menjadi tidak enak sekali. Bagaimana ia dapat menuduh orang palsu kalau ia sendiri juga palsu? Segera ia berkata lagi, suaranya tetap halus.

“Sepanjang ingatanku, di antara Yu Kang Tianglo dan Suling Emas terjalin persahabatan yang erat, bagaimana sekarang terjadi permusuhan? Apa kehendak yang tersembunyi di balik kelakuanmu, sobat?”

“Tidak salah!” Orang itu menjawab, matanya menentang tajam, “Memang dahulu terjalin persahabatan yang erat, akan tetapi persahabatan erat dapat putus kalau seorang di antara mereka berkhianat!”

Suling Emas makin tidak enak. Pandang mata orang itu biar pun membayangkan kekerasan hati, namun menyinarkan keberanian dan kejujuran! Maka ia merasa tidak perlu pura-pura dan berkata, “Sobat, terus terang saja, aku tidak mengenalmu. Tidak perlu memalsukan nama Suling Emas, lebih baik menggunakan nama sendiri. Ingat, Suling Emas masih hidup!”

Orang itu tertawa bergelak, suara ketawanya nyaring sekali, tanda bahwa lweekang-nya sudah matang, “Ha-ha-ha-ha! Alangkah lucunya! Memalsukan nama orang yang sudah mati saja ada orang berani lakukan, mengapa memalsukan nama orang yang masih hidup tidak berani? Sedikitnya, yang terakhir ini lebih jujur dan berani dari yang terdahulu!”

Merah Suling Emas. Ia merasa disindir-sindir. Apa hak orang ini menyindirnya kalau ia mengaku bernama Yu Kang Tianglo? Sedikitnya tidak merugikan Yu Kang Tianglo yang sudah mati, dan ia pun menyamar bukan dengan maksud buruk. Maka ia lalu maju selangkah dan berkata, “Sobat, engkau Suling Emas palsu. Akulah Suling Emas!”

Kembali orang itu tertawa, “Begitukah? Apakah engkau ini sebangsa bunglon bisa saja berganti-ganti nama seenaknya? Kemarin mengaku Yu Kang Tianglo kini mengaku Suling Emas? Ho-ho, tidak begitu mudah, sobat. Akulah Suling Emas!”

Suasana menjadi makin tegang dan di antara para pengemis Khong-sim Kai-pang sudah ada yang berteriak, “Hantam saja Suling Emas palsu ini!”

“Enyahkan si badut!”
“Buka kedoknya!”
Suling Emas makin mendongkol, “Hemm, kalau kau berkeras berarti engkau menghendaki kekerasan?” “Terserah! Demi kebenaran, aku tidak takut kepadamu!”
“Baik! Majulah!” bentak Suling Emas.

Dua orang itu lalu bergerak maju. Suling Emas yang ingin mencoba kepandaian orang itu sudah menerjang dengan pukulan-pukulan berat. Namun orang itu ternyata lincah sekali, dapat mengelak cepat dan menangkis, bahkan balas menyerang! Ternyata bahwa ilmu silat tangan kosong orang ini cukup lihai dan memiliki daya tahan yang kuat luar biasa sehingga kalau ia melanjutkan pertandingan tangan kosong itu tentu makan waktu yang lama. Apa lagi kalau ia pikir bahwa tidak sekali-kali ia ingin mencelakakan orang ini sebelum ia mengetahui apa latar belakang perbuatannya yang aneh.

Maka ia lalu mengirim pukulan sambil melangkah maju. Ia mengerahkan tenaga ketika melihat betapa lawannya menerima pukulannya dengan jari terbuka itu dengan dorongan yang sama, agaknya untuk mengadu tenaga,. Dua telapak tangan bertemu keras sekali dan akibatnya… tubuh keduanya terpental ke udara dan mencelat ke belakang! Hanya bedanya, kalau Suling Emas hanya berjungkir balik satu kali saja, lawannya berjungkir balik sampai tiga kali baru turun ke atas papan panggung!

Sorak-sorai tepuk tangan menyambut demonstrasi ini. Dalam penglihatan mereka yang kurang tinggi ilmunya, gerakan ‘Suling Emas’ itu lebih indah karena sampai tiga kali berjungkir balik, akan tetapi dalam pandangan yang mengerti, kakek yang memalsu nama Suling Emas itu jelas kalah kuat tenaganya.

Kini mereka sudah berhadapan lagi. Suling Emas ingin menguji apakah pemalsunya juga mempunyai suling, maka sekali tangannya bergerak, sebatang suling emas berkilauan berada di tangan kanannya.

“Ha-ha-ha-ha! Lucu sekali! Yu Kang Tianglo yang sudah mati kini hidup lagi dan senjatanya berubah menjadi suling emas! Sebaliknya Suling Emas yang sudah puluhan tahun tenggelam entah ke mana kini muncul dengan tongkat di tangan!” Berkata demikian, kakek itu mengeluarkan sebatang tongkat rotan kecil dari tangannya, dan langsung menyerang Suling Emas. Tongkat rotan kecil itu ketika digerakkan mengeluarkan bunyi melengking-lengking!

Melihat ini, Suling Emas dan Yu Siang Ki mengeluarkan seruan kaget. Suling Emas cepat menangkis dengan sulingnya dan ketika lawannya menerjang terus sampai belasan jurus secara bertubi-tubi, ia cepat mencelat ke belakang sambil berseru.

“Tahan dulu! Sobat, pernah apakah engkau dengan Yu Kang Tianglo almarhum?”

Orang itu memandang Suling Emas dengan mata melotot, “Kau sudah tahu almarhum, kenapa masih tega memalsukan namanya? Suling Emas adalah seorang pendekar sakti yang dikagumi seluruh dunia kang- ouw, mengapa menjadi pengecut, menyembunyikan diri seperti penjahat dikejar, kemudian menyelinap bersembunyi di bawah nama Yu Kang Tianglo? Mengapa orang yang sudah mati diganggu, biar pun oleh sahabatnya sendiri? Seorang laki-laki sudah berani berbuat berani bertanggung jawab, tidak nanti melarikan diri dari pada tanggung jawab. Yang tidak berani mengakui semua perbuatannya, yang tidak berani menghadapi kenyataan pahit sebagai akibat perbuatannya, tidak patut disebut laki-laki! Hayo, kalau mau dilanjutkan aku akan melayani sampai mati!”

Suling Emas seperti ditusuk jantungnya. Ia memejamkan mata menahan keperihan hati. Kata-kata tadi amat menusuk perasaannya karena tepat sekali menyindir keadaannya. Puluhan tahun menyembunyikan diri, melarikan diri dari Ratu Yalina, dari musuh-musuh mendiang ibunya. Kemudian ia melihat akibat perbuatannya dengan terlahirnya Kiang Liong, terlahirnya Talibu dan Kwi Lan. Akan tetapi ia tetap masih menyembunyikan semua itu, dengan dalih menjaga nama baik mereka! Ah, lebih tepat menjaga nama baiknya sendiri. Ia memang pengecut selama ini!

“Sudahlah!!” katanya dengan keluhan berat dengan dua titik air mata membasahi matanya dan sekali renggut robeklah jubah pengemis dan tampak pakaian aslinya, pakaian Suling Emas! “Akulah Suling Emas dan memang aku pernah mempergunakan nama mendiang sahabat Yu Kang Tianglo! Akan tetapi hal ini tidak menyinggung siapa pun juga. Siapakah engkau ini yang mencampuri urusanku?”

“Tidak menyinggung orang lain akan tetapi menyinggung aku, Suling Emas!” kata kakek itu sambil merobek pula jubah ‘Suling Emas’-nya dan ternyata ia berpakaian ringkas sederhana. “Namaku adalah Ong Toan Liong dan aku suheng dari Yu Kang Tianglo! Ketika engkau menyamar sebagai Yu Kang Tianglo, aku besusah payah membantu Kauw Bian Cinjin membalaskan kehancuran Beng-kauw! Dan engkau enak- enak saja mempermainkan kaum pengemis dengan penyamaranmu.”

Suling Emas tertegun dan pada saat itu, Yu Siang Ki melompat naik ke atas papan panggung, langsung berlutut di depan kakek itu sambil berseru, “Ong-supek (Uwa Seperguruan Ong)…! Mendiang Ayah banyak bercerita tentang Supek… kenapa baru sekarang Supek memperkenalkan diri?”

Ong Toan Liong atau yang terkenal dengan julukan Hui-to-ong (Raja Golok Terbang) mengelus kepala dan pundak murid keponakannya, “Aku sudah tua dan tadinya ingin mengaso di pegunungan. Siapa tahu timbul urusan kehancuran Beng-kauw dan urusanmu di sini. Ayahmu dulu sering menyatakan kepadaku bahwa ia ingin sekali melihat puteranya menjadi seorang gagah, akan tetapi tidak perlu melanjutkan hidup sebagai pengemis. Siapa kira, Suling Emas yang kukagumi malah menjadi gara-gara kau diangkat menjadi pangcu.”

Suling Emas berdiri melamun dengan hati duka. Pada saat itu, di antara para penonton meloncat naik seorang pemuda yang langsung berlutut di depan Suling Emas sambil berseru, “Suhu…!”

Suling Emas memandang dan ketika mengenal bahwa pemuda ini adalah Kiang Liong hatinya seperti diremas dan kembali dua titik air mata meloncat keluar ke atas pipinya, “Liong-ji…, (Anak Liong…), mengapa kau menyusulku…?”

Kiang Liong melangkah heran. Baru kali ini suhu-nya memanggilnya Liong-ji dengan suara menggetar seperti itu. Tidak biasanya gurunya memperlihatkan kelemahan. Alangkah herannya ketika ia merasa kepalanya dielus-elus dan dibelai, dan lebih terkejut lagi melihat dua titik air mata di atas pipi gurunya. Kiang Liong memang sedang bingung dan berduka karena ia menjadi orang buruan pemerintah. Maka kini dielus-elus dan melihat gurunya terharu, ia pun tak dapat menahan hatinya dan betapa pun ia menggigit bibir, tetap saja air matanya jatuh berderai.

“Suhu… Suhu… teecu…, ahhh…“

Barulah Suling Emas terkejut dan sadar akan keadaannya. Tentu telah terjadi peristiwa yang amat hebat maka muridnya yang biasanya tenang ini sampai menangis. Ia cepat membalikkan tubuh menjura ke arah Ong Toan Liong dan berkata, “Cukuplah, Ong-twako. Maafkan semua kesalahanku dan selamat berpisah. Siang Ki, kau turutlah semua petunjuk supek-mu. Hayo Liong-ji, kita pergi!” Ia menarik tangan Kiang Liong dan mereka berdua meloncat jauh dan lenyap dalam sekejap mata.

Sepeninggalan Suling Emas dan muridnya, Yu Siang Ki lalu membubarkan pertemuan, kemudian ia mempersilakan supek-nya masuk ke dalam. Di situ supek dan murid keponakan itu menceritakan pengalaman masing-masing. Akhirnya atas permintaan Siang Ki, sesuai pula dengan keinginan ayahnya agar ia tidak menuntut penghidupan pengemis, Siang Ki mohon kepada supeknya agar sudi membimbing Khong-sim Kai-pang karena ia sendiri ingin merantau memperluas pengetahuannya.

Ong Toan Liong yang tahu pula bahwa kedudukan kaum kai-pang terancam oleh kaum sesat menyanggupi, maka secara resmi Ong Toan Liong diangkat menjadi ketua Khong-sim Kai-pang. Beberapa hari kemudian Yu Siang Ki lalu pergi merantau, tentu saja tujuan pertama perjalanannya adalah menyusul Song Goat, tunangannya!

Ada pun Suling Emas membawa muridnya keluar kota. Mereka berhenti di tempat sunyi jauh di luar kota, duduk di pinggir jalan. Kiang Liong lalu menceritakan pengalamannya, semenjak ia mengejar Suma Kiat sampai ia hampir ditangkap oleh pasukan kota raja.

“Tidak sekali-kali teecu hendak memberontak terhadap perintah Kaisar, Suhu. Akan tetapi Mutiara Hitam mengamuk dan merobohkan para prajurit, kemudian memaksa teecu untuk melarikan diri. Teecu bingung dan terpaksa lari, lalu teecu mencari Suhu untuk mohon pertimbangan. Teecu dianggap pemberontak dan tidak mentaati Kaisar. Kalau memang Suhu memutuskan bahwa teecu harus menyerahkan diri, sekarang juga teecu akan berangkat ke kota raja.”

Suling Emas termenung. Kemudian dengan suara berat ia berkata, “Kiang Liong, sebelum aku bicara tentang hal itu, lebih dulu kau bersiaplah menerima pembukaan rahasia besar hidupmu. Liong-li, ketahuilah, Nak, bahwa engkau ini sebenarnya adalah puteraku sendiri.”

“Suhu…!” Wajah Kiang Liong menjadi pucat sekali ketika ia menengadah dan menatap wajah gurunya.

Suling Emas tersenyum. Kini hatinya bebas tidak terdapat ganjalan seperti biasanya kalau ia berhadapan dengan puteranya ini. Ong Toan Liong memang betul. Orang tidak perlu bersembunyi dari kenyataan, baik manis mau pun pahit. Orang tidak bisa lari dari pada pertanggungan-jawab perbuatannya. Sudah berani berbuat harus berani menanggung risiko, betapa pun beratnya. Setelah dihadapi kenyataannya malah tidak seberat kalau dijadikan ganjalan hati.

“Bukan suhu, melainkan ayah, Anakku. Dengarlah baik-baik dan engkau tidak perlu tersinggung atau malu karena cinta kasih antara ibumu dan aku dahulu adalah cinta kasih yang murni, yang diputuskan orang karena paksa. Dahulu sebelum menikah dengan ayahmu, ibumu dan aku saling mencinta…“ Suling Emas lalu menceritakan semua pengalamannya dengan Suma Ceng, ibu Kiang Liong. (dalam cerita Cinta Bernoda Darah).

“Demikianlah, cinta kasih antara kami direnggut. Kami dipisahkan dengan paksa, sedangkan ibumu telah mengandung engkau, Anakku. Hanya untuk menjaga nama baik keluarga ayah bundamu, maka engkau diberi she Kiang seperti ayahmu. Padahal engkau adalah puteraku, dan hal ini agaknya diketahui pula oleh ayahmu maka dia membiarkan engkau menjadi muridku.”

Makin lama mendengar cerita Suling Emas, makin pucat wajah Kiang Liong, dan akhirnya ia menubruk kaki Suling Emas sambil mengeluh, “Ayahhh…..!”

“Liong-ji, anakku. Mulai sekarang, kita tidak perlu berpura-pura, tidak perlu bersembunyi, kau sebut ayah padaku, jangan suhu. Aku sudah bosan untuk berpura-pura bersih. Kita tidak perlu berpaling lagi dari kenyataan.”

“Ayah…, kiranya Ayah demikian menderita oleh asmara. Ah, semoga saja tidak menurun kepadaku, Ayah.”

Merah wajah Suling Emas. Ah, Anakku engkau tidak tahu, aku belum bercerita tentang Ratu Yalina! Akan tetapi ia menekan perasaannya dan berkata, “Ada terjadi apakah, Liong-ji?”

“Ayah, terus terang saja, setelah mengetahui bahwa engkau adalah ayahku, dan karena Kaisar menganggap aku pemberontak, aku segan kembali ke kota raja. Aku… aku… mohon Ayah sudi melamarkan….“

“Ah, engkau mempunyai pilihan hati? Semoga engkau bahagia, tidak seperti ayahmu. Siapakah gadis itu, Liong-ji? Tentu Ayah akan melamarkan untukmu, karena engkau sudah cukup dewasa.”

“Dia bukan orang lain, masih anak keponakan Ayah sendiri, yaitu Mutiara Hitam,” kata Kiang Liong sambil menundukkan muka.

Untung bagi Suling Emas bahwa pada saat itu Kiang Liong menundukkan muka, kalau tidak tentu akan melihat betapa wajahnya menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak lebar. Harus diakui bahwa Suling Emas adalah seorang pendekar besar yang sudah menguasai perasaan hatinya, tenang dalam segala hal, bahkan dalam menghadapi bahaya maut sekali pun. Akan tetapi, mendengar betapa puteranya jatuh cinta dan minta dilamarkan puterinya, ia hampir pingsan!

Timbul penyesalan yang amat besar di hatinya, semua ini terjadi sebagai tamparan bagi mukanya, tamparan yang keluar dari mulut Ong Toan Liong. Mengingatkan ia akan semua peristiwa dahulu, semua perbuatannya, karena hal-hal ini timbul sebagai akibat dari pada perbuatannya dahulu. Akan tetapi mengakui sekarang di depan Kiang Liong bahwa pemuda ini melamar adik sendiri? Ah, ia tidak tega. Ia sendiri mengakui semua perbuatannya, bersedia memetik buah tanamannya sendiri, namun mengingat puteranya, ia tidak sampai hati.

Dengan suara halus ia berkata, “Liong-ji, kau tidak usah kembali ke kota raja. Dan tentang perjodohan, marilah kau ikut bersamaku ke Khitan.” Hanya sekian Suling Emas berkata, tidak sanggup bicara panjang karena khawatir kalau-kalau lidahnya tak kuasa membendung pertahanan hatinya.

********************

Seperti juga mendiang ibunya, betapa pun tidak waras otak Suma Kiat namun ia mempunyai kecerdikan dan kelicinan yang luar biasa. Setelah maksud hatinya memperisteri Kwi Lan secara paksa digagalkan Kiang Liong, Suma Kiat melarikan diri dan pemuda ini terus menuju ke Khitan! Ia tidak berani untuk kembali ke kota raja, karena ia tentu akan ditangkap sehubungan dengan persekutuannya dengan Bouw Lek Couwsu. Pula, ia pergi ke Khitan bukan tanpa tujuan. Ia harus mendahului Kwi Lan menemui Ratu Khitan yang menurut ibunya adalah adik ibunya sendiri, jadi bibinya!

Suma Kiat melakukan perjalanan tak kunjung henti dan ia tiba di kota raja Khitan dalam keadaan lelah dan lapar. Pakaiannya kotor dan robek-robek, mukanya pucat kurus. Ketika para pengawal mendengar bahwa orang asing ini hendak menghadap Ratu, ia ditangkap dan Suma Kiat sama sekali tidak melakukan perlawanan. Karena para pengawal menaruh curiga, ia dihadapkan kepada Panglima Kayabu.

“Saya ingin menghadap Ratu Khitan dan ingin bicara empat mata. Saya adalah anak keponakannya!” Berkali-kali Suma Kiat berkata dan akhirnya oleh Panglima Kayabu sendiri dibawa ke istana menghadap Ratu Khitan.

Begitu berhadapan dengan ratu yang masih cantik dan bersikap agung itu, serta merta Suma Kiat menjatuhkan diri berlutut dan menangis menggerung-gerung. “Aduh, Bibi… keponakanmu ini mengalami penderitaan yang hebat.”

Ratu itu berkata dalam bahasa Han yang fasih, sedikit pun tidak kaku seperti kalau orang Khitan lain bicara, “Orang muda, tenanglah. Engkau siapa?”

“Ibu saya bernama Kam Sian Eng….”

“Ahhh…!” Ratu Yalina lalu memberi isyarat dengan matanya kepada Panglima Kayabu agar meninggalkan mereka berdua. Panglima yang setia ini bangkit, mengangguk lalu pergi meninggalkan ratunya bersama orang muda itu. Biar pun ia masih menaruh curiga kepada pemuda itu, namun mendengar bahwa pemuda itu putera Kam Sian Eng, pemuda itu benar keponakan Sang Ratu. Pula, ia tidak perlu khawatir karena ilmu kepandaian ratunya amat tinggi sehingga tak mungkin diganggu lawan, apa lagi seperti orang muda itu.

Ratu Yalina bergetar hatinya, akan tetapi ketika mengamat-amati wajah pemuda itu, ia teringat akan Suma Boan dan teringatlah ia betapa dahulu kakak angkatnya, Kam Sian Eng, terbujuk dan tergila-gila kepada putera pangeran yarig bernama Suma Boan yang kemudian menipunya. Karena patah hati, Kam Sian Eng menjadi gila, secara aneh mendapatkan ilmu-ilmu yang hebat, dan bersama dia membunuh Suma Boan. Akan tetapi hubungannya dengan Suma Boan itu telah membuat Kam Sian Eng mengandung dan dalam keadaan mengandung Kam Sian Eng lari minggat entah ke mana. Kiranya inikah puteranya?

“Siapa namamu?” tanyanya kepada pemuda yang masih menangis. “Nama saya Suma Kiat….”
Ratu Yalina tersenyum dan yakinlah ia sekarang bahwa ini memang putera Suma Boan. Ternyata kakak angkatnya itu masih mengakui bekas kekasihnya dan memberi she Suma kepada puteranya.

“Ah, kalau begitu engkau benar keponakanku. Kiat-ji (Anak Kiat), setelah bertemu bibimu, kenapa kau menangis?”

“Aduh, Bibi, yang mulia, kasihanilah hamba… yang sudah sebatang-kara ini.” “Heh? Ke mana Ibumu?”
“Ibu… Ibu tewas dalam membela dan menyelamatkan puteri Bibi….” “… puteriku? Siapa…?” Wajah Ratu Yalina berubah tegang.
“Siapa lagi kalau bukan Kwi Lan si Mutiara Hitam?”

Berdebar jantung Ratu Yalina. Jadi benarkah puterinya yang hilang itu berjuluk Mutiara Hitam? “Bagaimana engkau bisa tahu dia puteriku?” tanyanya makin tegang.
“Mendiang Ibu yang menceritakan. Ibu mengambilnya ketika masih bayi dan Kwi Lan menjadi muridnya….”

“Ceritakan semua…, lekas ceritakan semua, anakku!” Ratu Yalina berseru sambil menyambar tangan Suma Kiat dan menariknya masuk ke ruangan dalam.

Ia berseru memanggil pelayan untuk menyediakan makan minum bagi orang muda ini. Para pelayan terheran-heran dan diam-diam Suma Kiat terkejut karena tangan halus yang mencekal lengannya itu mengandung tenaga dalam yang hebat luar biasa!

Sambil makan minum, berceritalah Suma Kiat tentang Kwi Lan. Tentu saja ia menonjolkan kebaikan- kebaikan ibunya dan dia sendiri. Akhirnya ia menceritakan peristiwa di markas Bouw Lek Couwsu dan dengan akal cerdik ia berkata, “Saya hanya ikut dengan ibu dan agaknya ibu yang termasuk seorang di antara Bu-tek Ngo-sian kena bujuk Bouw Lek Couwsu untuk memusuhi Kerajaan Sung. Akan tetapi ketika ibu melihat bahwa di markas Bouw Lek Couwsu itu terdapat tahanan-tahanan penting, yaitu Pangeran Talibu dan Puteri Mimi…”

“Untung mereka sudah bebas dan sedang berangkat pulang. Aku telah mendengar laporan dari pembawa berita, akan tetapi tidak jelas. Hanya mendengar bahwa Talibu dan Mimi ditawan orang-orang Hsi-hsia akan tetapi kini telah bebas. Bagaimana sesungguhnya yang terjadi?”

“Saya sendiri tidak tahu jelas, Bibi. Hanya kalau tidak salah, mereka itu ditawan karena Bouw Lek Couwsu hendak memaksa Khitan membantunya kalau dia menyerbu Kerajaan Sung.”

Ratu Yalina mengangguk-angguk, “Hemmm, begitukah? Kalau begitu Bouw Lek Couwsu belum mengenal watak bangsa Khitan yang perkasa! Nah, lanjutkan ceritamu, anakku!”

“Ketika ibu melihat Pangeran Talibu dan Puteri Mimi ditahan, apa lagi ketika melihat Sumoi Kwi Lan ditahan pula dan hendak diperhina Bu-tek Ngo-sian, ibu lalu marah dan membunuh Bu-tek Siu-lam. Akan tetapi ibu dikeroyok banyak orang sakti sehingga tewas dalam usaha menolong Sumoi!”

Tak terasa lagi kedua mata Ratu Yalina menjadi basah air mata. Biar pun Enci Sian Eng telah menculik bayiku, akan tetapi akhirnya dia mengorbankan nyawa untuk anaknya. “Kasihan engkau, Enci Sian Eng,” demikian keluh hatinya.

“Lanjutkan, anakku,” katanya memandang Suma Kiat dan kini wajah pemuda itu kelihatan tampan dan simpati.

“Saya lalu membawa pergi Sumoi. Sampai di tengah jalan, karena Ibu telah tidak ada, saya sampaikan pesan terakhir Ibu kepada Sumoi. Siapa kira… Sumoi menjadi marah-marah dan hampir saja saya dibunuhnya… uuh-huk-huk… Bibi, lebih baik Bibi bunuh saja saya agar tidak menanggung malu dan sengsara lebih lama lagi. Kalau saya tidak dapat memenuhi pesan terakhir Ibu, apa gunanya hidup menjadi seorang anak puthauw (durhaka)?” Pemuda ini menangis lagi.

Ratu Yalina menjadi terheran. “Ah, kau tenanglah, Kiat-ji. Apakah pesan terakhir Ibumu?” “Ibu berpesan kepada saya bahwa saya dan Sumoi harus menjadi suami isteri.”
“Aahh… begitukah?” Kembali Ratu Yalina mengangguk-angguk. “Dan Kwi Lan menolak?” “Tidak hanya menolak, bahkan marah dan hampir membunuhku.”
Di dalam hatinya Ratu Yalina tertegun. Puterinya yang berjuluk Mutiara Hitam itu agaknya liar dan galak, seperti… eh, dia dahulu. Selalu menurutkan kehendak hati sendiri, tidak terkekang, seperti kuda liar.

“Kau… kalah olehnya? Bukankah kau suheng-nya?”

“Sumoi lihai sekali, dan saya… saya tidak tega untuk melawannya…”

Ratu Yalina kembali memandang wajah tampan itu. Ia makin kasihan dan makin suka kepada pemuda ini. Kalau Enci Sian Eng sudah berpesan demikian… hemm, akan kulihat nanti kalau berjumpa dengan Mutiara Hitam.

“Tenangkan hatimu, Kiat-ji. Aku menghargai pesan ibumu, dan urusan ini baik ditunda lebih dulu. Kelak kalau aku bertemu dengan puteriku, akan kita bicarakan lagi. Kau mengasolah.”

Ratu Yalina memanggil pelayan dan pemuda itu lalu dipersilakan mengaso di sebuah kamar indah di kompleks istana, diberi pakaian serba indah dan hidangan-hidangan lezat. Terhibur juga rasa hati Suma Kiat yang selama ini mengalami kesengsaraan.

Tentu saja Kwi Lan sama sekali tidak pemah menduga bahwa Suma Kiat telah mendahuluinya ke Khitan. Tidak seperti Suma Kiat yang melakukan perjalanan siang malam, ia menuju ke Khitan tidak tergesa-gesa, sambil melihat pemandangan indah. Maka ketika ia tiba di Khitan, Suma Kiat sudah lama berada di sana, bahkan Pangeran Talibu dan Puteri Mimi sudah lama pula kembali ke kota raja Khitan.

Kwi Lan yang sudah merasa rindu sekali kepada Pangeran Talibu, lalu bertanya-tanya di mana adanya Pangeran ini. Karena yang bertanya adalah seorang wanita yang agaknya baru saja belajar bahasa Khitan, dan melihat wajah Kwi Lan memang patut menjadi peranakan Khitan, orang-orang yang ditanyai tidak menaruh curiga, mengira bahwa nona itu memang seorang pelancong yang ingin tahu saja.

Akhirnya Kwi Lan mendapat keterangan bahwa Pangeran Talibu tinggal di sebuah gedung indah di lingkungan istana, di sebelah kiri di mana terdapat pertamanan luas mengelilingi gedungnya. Mendengar ini, Kwi Lan mencari kesempatan di waktu pagi hari yang masih sunyi, dengan menggunakan kepandaiannya ia melompat masuk melalui dinding yang mengelilingi taman luas. Karena istana selalu aman dan dinding itu tinggi, maka penjagaan tidak begitu ketat sehingga Kwi Lan dapat melompat masuk tanpa diketahui penjaga.

Berdebar jantung Kwi Lan. Bagaimana nanti penerimaan Pangeran Talibu? Bagaimana kalau tidak mau menerimanya? Ah, tidak mungkin. Terbayang olehnya semua peristiwa di kamar tahanan ketika dia dan pangeran Talibu diberi racun. Terbayanglah kemesraan dan cinta kasih Pangeran itu kepadanya yang tidak hanya terpancar dari sinar mata dan sentuhan tangan, dekapan dan ciuman, akan tetapi juga dari kata-katanya. Masih berkumandang di telinganya suara Pangeran itu menggetar penuh perasaan. “Demi Tuhan! Aku mencintamu, Mutiara Hitam. Aku cinta kepadamu seperti kepada diri sendiri…!”

Ia menyusup-nyusup dan menyelinap di antara pohon-pohon dan bunga. Kemudian tampak olehnya sebuah pondok kecil di tengah taman. Pondok itu sudah tua dan tidak begitu mewah, bahkan dindingnya ada yang sudah robek-robek kulitnya. Agaknya memang dibiarkan demikian karena tampak lebih artistik (nyeni). Ia berindap-indap mendekati dan jantungnya berdebar tidak karuan ketika ia mendengar suara orang yang dirindukan selama ini. Suara Talibu di sebelah belakang pondok.

Ia cepat menghampiri dan memutari pondok, lalu mengintai. Benar saja dugaannya. Pangeran itu berada di belakang pondok, di ruangan luar. Alangkah tampannya. Alangkah gagahnya. Pakaiannya begitu cermerlang indah, serba mengkilap dan berkilauan. Topinya terhias naga emas yang aneh bentuknya, dadanya bergambarkan Dewa Matahari. Pedangnya panjang dengan gagang terukir indah, dari emas bertabur batu permata.

Sejenak Kwi Lan terpesona dan terharu. Demikian tampannya pria ini sampai menimbulkan haru di hati. Akan tetapi hatinya mulai panas terbakar ketika ia melihat siapa teman Pangeran bercakap-cakap. Puteri Mimi lagi! Dan mereka duduk bersanding di bangku dengan sikap begitu mesra! Mereka saling berpegangan tangan saling pandang, dan dari gerak-gerik, pandang mata, dari seluruh pribadi kedua orang itu jelas memancarkan cinta kasih menggelora!

Pening rasa kepala Kwi Lan. Ia memejamkan matanya dan hampir terguling roboh kalau ia tidak cepat- cepat menekan dinding pondok dengan tangan. Tanpa disadari mulutnya mengeluarkan suara keluhan perlahan. Namun suara ini cukup untuk membuat Pangeran Talibu dan Puteri Mimi bangkit dan membalikkan tubuh.

“Eh, kau… Mutiara Hitam…!” seru Puteri Mimi dengan suara girang.

Namun Pangeran Talibu tidak berkata apa-apa, hanya memandang dengan mata terbelalak. Ia dapat melihat kemarahan, kehancuran hati, terbayang pada wajah dan pandang mata itu dan ia tahu apa sebabnya. Maka ia lalu berkata gagap, “Mutiara Hitam, sudahkah kau bertemu ibunda Ratu…? Mari kuantar kau menghadap….”

“Tidak perlu! Semua orang boleh saja tidak pedulikan diriku…!” Dengan isak tertahan Kwi Lan membalikkan tubuh dan meloncat pergi. Hatinya perih dan patah. Kekasihnya direnggut orang! Ingin ia mengamuk. Memang ia akan mengamuk, akan menemui Ratu Khitan, menuntut bahwa dia sebagai puteri disia-siakan! Dengan kemarahan meluap-luap ia keluar dari taman mencari jalan ke istana.

“Sumoi…!”

Kwi Lan terhenti seperti disambar kilat. Di depannya telah berdiri Suma Kiat dengan wajah berseri dan pakaian indah! Sungguh ia terheran-heran dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya memandang dengan mata lebar.

“Ah, Sumoi, kau baru datang? Kami sangat mengharap-harap kedatanganmu…!” “Kau…? Di sini…?” Kwi Lan akhirnya dapat menegur.
Wajah Suma Kiat berseri-seri, “Sudah lama aku tinggal di sini. Bibi Ratu menerimaku dan… dan pesan mendiang ibu disetujui. Ya, adikku sayang. Dengan perkenan Bibi Ratu, kita dijodohkan. Kau dan aku! Akhirnya kita berjodoh juga, Adikku. Dan aku akan menjadi pangeran mantu!”

Wajah Kwi Lan menjadi merah sekali, matanya menyorotkan kemarahan hebat. Jadi inikah sebabnya? Inikah sebabnya mengapa Pangeran Talibu menerimanya begitu dingin? Pantas saja Pangeran Talibu mengajak dia bertemu dengan Ratu, kiranya ada urusan ini! Tentu Suma Kiat telah membujuk bibinya tentang perjodohan dan Ibunya… ah, ibunya yang sejak ia kecil menyia-nyiakan itu telah menyetujuinya. Tentu saja Pangeran Talibu sudah tahu akan hal ini dan memutuskan pertalian cinta.

“Keparat…!” Tubuhnya menerjang ke depan menyerang Suma Kiat.

“Eh… eh, Sumoi… eh…!” Suma Kiat mengelak dan menangkis.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo