August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 23)

 

 

Begitu goloknya tercabut, golok itu sudah terbang terlepas dari tangannya. Hauw Lam kaget sekali. Ia hanya melihat sinar menyambar dari tangan kakek bertopi tinggi, bertubuh kurus dan berwajah angkuh. Kiranya sinar itu adalah sehelai tali pancing yang sudah melibat goloknya dan pancingnya mengancam tangannya yang memegang golok sehingga terpaksa ia lepaskan dan golok itu terbang, kini terpegang kakek yang sama sekali tidak tersenyum itu!

Hebat bukan main! Biar pun perampasan golok terjadi di kala ia lengah dan tidak menduga namun melihat ini saja sudah menimbulkan keyakinan bahwa kakek ini benar-benar seorang lawan yang amat tangguh! Ia mengharapkan gerakan bantuan Kwi Lan, akan tetapi gadis ini sama sekali tidak bergerak, bahkan memandang ke arah wanita berkerudung dengan kening berkerut gelisah.

“Kwi Lan, apakah engkau hendak melawan aku?” Wanita berkerudung itu bertanya, suaranya dingin seperti suara dari balik kubur, membuat bulu tengkuk Hauw Lam meremang.

Kwi Lan menggeleng kepala. Ia bukan tidak berani, sungguh pun ia tahu percuma saja melawan gurunya ini, melainkan tidak mau. Kalau ia pernah melawan ketika gurunya hendak membunuh Siang Ki, hal ini lain lagi. Kini tidak ada siapa-siapa yang harus ia bela, maka untuk dirinya sendiri tentu saja ia tidak mau melawan gurunya yang betapa pun juga sudah berlaku amat baik terhadap dirinya, seperti seorang ibu sendiri. Apa lagi kalau diingat bahwa guru ini adalah bibinya, bagaimana ia dapat melawannya?

Pak-sin-ong berkata kepada Hauw Lam, “Orang muda, kau benar-benar tak takut mampus, berani membikin huru-hara di sini. Kalau kau menyerah, kau akan kuhadapkan Bouw Lek Couwsu dalam keadaan hidup seperti dikehendakinya, kalau melawan, terpaksa kuhadapkan sebagai mayat!”

Hauw Lam juga seorang pendekar muda yang tak takut mati. Akan tetapi ia bukan seorang bodoh yang nekat dan tidak melihat kenyataan. Dalam keadaan lain, tentu ia akan mati-matian melawan. Akan tetapi kini keadaannya berbeda. Kwi Lan sendiri tidak melawan, dan melawan berarti mati. Kalau hanya tertawan, masih ada harapan membebaskan diri, terutama sekali membebaskan Kwi Lan. Apa artinya ia bebas kalau Kwi Lan tertawan? Ia tertawa, ketawanya begitu wajar dan gembira sehingga diam-diam Pak-sin-ong kagum dan harus mengakui bahwa pemuda ini ada ‘isinya’.

“Ha-ha-ha, seorang bijaksana mengetahui akan saat ia tak berdaya. Aku menyerah, seperti juga Mutiara!” “Ikat dia di kuda!” perintah Pak-sin-ong.
Dua orang Hsi-hsia yang tinggi besar menghampiri Hauw Lam dan menarik serta mengikatnya tanpa perlawanan sama sekali dari Hauw Lam yang masih tertawa-tawa. Ia diikat di atas kuda, kepalanya di belakang dekat pantat kuda, tubuhnya dilibat-tibat ikatan dari kaki, tangan dan leher! Ia tak dapat berkutik akan tetapi masih menyeringai dan tertawa-tawa mengejek.

Kwi Lan dengan muka tunduk tak melawan pula ketika gurunya menyuruh ia naik kuda. Di samping kuda yang membawa Hauw Lam, ia digiring kembali ke markas oleh Kam Sian Eng yang mengerutkan kening, Suma Kiat yang tersenyum-senyum, dan Pak-sin-ong yang cemberut angkuh.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan kecewa hati Kwi Lan dan terutama sekali Hauw Lam ketika mereka digiring masuk ke dalam kamar tahanan, mereka melihat semua teman yang tadi melarikan diri sudah tertawan pula dan berada di situ! Bahkan Kiang Liong dan Yu Siang Ki terluka, sungguh pun tidak berat namun membutuhkan waktu untuk istirahat karena mereka terkena pukulan orang-orang sakti.

Ketika Kiang Liong bersama Pangeran Talibu lari melalui jurusan belakang markas, di tengah jalan mereka dicegat oleh Bouw Lek Couwsu sendiri bersama Thai-lek Kauw-ong. Karena maklum akan kelihaian Kiang Liong, maka Bouw Lek Couwsu bersama Thai-lek Kauw-ong segera menerjang dan akhirnya merobohkan pemuda ini dengan pukulan jarak jauh. Sia-sia saja Kiang Llong melawan. Menghadapi seorang di antara mereka, mungkin ia masih mampu menandingi, akan tetapi dikeroyok dua merupakan pertandingan berat sebelah. Apa lagi Pangeran Talibu sama sekail tidak dapat diharapkan bantuannya karena keadaannya masih payah.

Ada pun Yu Siang Ki bersama Puteri Mimi yang lewat di jurusan kanan, dicegat oleh Bu-tek Siu-lam dan Siauw-bin Lo-mo. Tentu saja Yu Siang Ki tidak kuat pula menghadapi dua orang kakek sakti ini. Untung bahwa Bouw Lek Couwsu sudah berpesan kepada sekutu-sekutunya agar para tawanan yang lari itu ditangkap kembali dan tidak dibunuh, maka Siang Ki pun hanya terluka yang ringan saja.

Mereka kini dibelenggu lagi seperti tadi, dibelenggu kaki tangan mereka dengan rantai besi yang lebih kuat, dengan kaki tangan diikat dengan besi yang berada di dinding. Akan tetapi tidak demikian dengan Tang Hauw Lam. Karena marah sekali oleh perbuatan pemuda ini yang hampir saja berhasil membebaskan tawanan dan sudah membunuh banyak penjaga, Bouw Lek Couwsu menyuruh algojo-algojonya untuk menggantung Hauw Lam di dalam ruangan itu pada kakinya! Pemuda ini digantung dengan kaki di atas dan kepala di bawah, kedua lengannya dibelenggu! Dia benar-benar seperti seekor kambing yang digantung setelah disembelih untuk dikuliti dan dikerat dagingnya. Bedanya, ia tidak mengembik dan tidak berteriak-teriak, bahkan selalu tertawa-tawa!

Setelah para penjaga meninggalkan ruangan tahanan dan mengunci pintu dari luar, Hauw Lam kembali terkekeh dan berkata, “Ha-ha-ha, alangkah lucunya. Kita seperti sekumpulan bocah-bocah nakal yang dihukum gurunya yang galak. Sungguh aku harus malu, usahaku sia-sia belaka malah kalian menjadi lebih sengsara!”

Kiang Liong menghela napas. “Tidak bisa menyalahkan engkau atau siapa saja, Saudara Tang. Siapa kira bahwa Bouw Lek Couwsu begitu cerdik. Inilah kesalahan kita, tidak memperhitungkan kecerdikannya yang luar biasa.”

“Ha-ha-ha! Ia tidak cerdik tapi bodoh, buktinya ia menggantung aku seperti ini, memberi keenakan kepadaku saja. Di dalam kantung bajuku sebelah dalam ada obat-obat untuk luka-luka kalian, sayangnya tanganku dibelenggu, tapi kalau kugerak-gerakkan karena aku digantung membalik, agaknya dapat keluar.” Mulailah Hauw Lam membuat gerakan-gerakan dengan tubuhnya, meliuk-liuk, menggeliat-geliat sehingga pemandangan yang menyedihkan itu tampak lucu. Semua orang merasa kelucuan ini, akan tetapi hanya Kwi Lan seorang yang tertawa terang-terangan.

“Hi-hi-hik…!”

“Aihhh, kenapa tertawa, Mutiaraku?”

“Berandal! Kau seperti seekor ular digantung. Untung bakso-bakso itu sudah habis, kalau tidak tentu menggelinding keluar semua! Hi-hik!”

Hauw Lam tertawa. “Ha-ha-ha, memang Bouw Lek Couwsu manusia sinting. Ingin aku mengadu kecerdikan dengan dia kalau ada kesempatan!” Akhirnya Hauw Lam berhasil. Semua isi sakunya keluar dan di antaranya terdapat bungkusan obat yang dimaksudkan. Obat itu terjatuh ke dekat kaki Siang Ki.

Jari-jari kaki Siang Ki yang dapat digerakkan menjepit bungkusan ini dan sekali jari-jari itu bergerak, bungkusan mencelat ke atas, diterima dengan jari-jari tangan. Ia membuka bungkusan itu, dan kembali menggunakan lweekang, menjemput bubuk obat dan melontarkan dengan jari-jari ke arah luka di bahunya. Setelah selesai, ia membungkus kembali obat itu, lalu menggunakan tenaga lweekang menyentil bungkusan ke arah Kiang Liong. Pemuda ini pun mulai mengobati lukanya dengan cara yang sama.

“Eh, dia sudah tidur! Dasar manusia malas!” Kwi Lan berkata ketika mendengar dengkur orang dan melihat bahwa yang mengorok adalah Hauw Lam. Pemuda ini dalam keadaan bergantung dengan kepala di bawah seperti itu ternyata sudah tidur nyenyak sampai mendengkur!

Akan tetapi Kiang Liong mengeluarkan suara kagum. “Dia tentu pernah mempelajari ilmu semedhi secara jungkir balik. Entah siapa gurunya yang tentu amat hebat itu.”

“Siapa lagi? Gurunya seorang badut tua bangka, julukannya Bu-tek Lo-jin,” kata Kwi Lan, teringat akan cerita pemuda lucu itu.

“Aahhh…? Betulkah itu? Betulkah bahwa Locianpwe yang luar biasa itu masih hidup? Suhu pernah bercerita tentang Bu-tek Lo-jin, akan tetapi bahkan Suhu sendiri mengira beliau sudah meninggal dunia…“

Pada saat itu terdengar suara. Suara ini aneh sekali, terdengar lapat-lapat seperti dari jarak amat jauh, akan tetapi jelas mereka semua mendengar suara ketawa terbahak-bahak. “Huah-hah-hahhah! Suling Emas bocah tolol itu mana tahu…?”

Para tawanan saling pandang, saling bertanya dalam pandang mata. Keadaan menjadi sunyi. Suara setankah itu? Akan tetapi mereka tak dapat berpikir dan terheran lebih lama lagi karena pada saat itu pintu kamar tahanan terbuka lebar dan masuklah Bouw Lek Couwsu bersama Bu-tek Ngo-sian dan Suma Kiat!

 

Para orang muda tawanan, kecuali Hauw Lam yang tidur mendengkur, menoleh dan memandang penuh perhatian dan ketegangan. Jelas bahwa pimpinan orang Hsi-hia datang dengan maksud tertentu, dan agaknya saatnya telah tiba untuk menerima keputusan hidup mati mereka. Tampak jelas di mata Bouw Lek Couwsu ketika ia memandang para tawanan itu seorang demi seorang.

“Pinceng datang untuk bicara dengan kalian semua, pembicaraan terakhir! Kali ini pinceng tidak akan bicara kepada seorang demi seorang, melainkan pinceng tujukan untuk semua. Maka pilihlah seorang saja yang mewakili kalian, karena segala keputusan diambil menurut jawab seorang wakil itu. Satu mati semua mati, seorang menolak berarti semua harus mati. Nah, siapa wakilnya?”

Otomatis semua tawanan memandang kepada Kiang Liong. Biar pun tak seorang pun di antara mereka bicara, namun pandang mata yang ditujukan kepada Kiang Liong ini sudah berkata jelas.

“Oho, agaknya Kiang-kongcu pula yang harus bicara. Apakah Pangeran Talibu juga setuju mewakilkan dia?”

“Jawaban Kiang-kongcu sama dengan jawabanku!” kata Talibu dengan suara gagah.

“Bouw Lek Couwsu, bicaralah agar kami semua mendengar. Aku mewakili teman-teman ini demi kepentingan kami bersama, dan sama sekali bukan demi kepentinganku. Bagi aku pribadi, aku tidak peduli lagi mau kau bunuh atau kau siksa atau perbuatan pengecut dan rendah apa lagi yang hendak kau lakukan. Bicaralah!”’ kata Kiang Liong, menentang pandang mata pimpinan orang Hsi-hsia itu dengan tenang.

Bouw Lek Couwsu tersenyum. “Kau memang sombong, Kiang-kongcu. Nah, dengarlah. Pangeran Talibu harus menulis sepucuk surat kepada ibunya, Ratu Khitan yang minta supaya Khitan membantu Hsi-hsia dalam penyerbuan terhadap Kerajaan Sung. Juga Puteri Mimi harus melampirkan surat untuk ayahnya, Panglima Kayabu di Khitan. Yu-pangcu ini harus berjanji untuk membantu kami dengan pasukan pengemis baju kotor membantu untuk gerakan dari dalam kalau saatnya tiba. Mutiara Hitam sudah berkali-kali melakukan kekacauan dan pelanggaran, namun masih diampuni asal mulai sekarang suka membantu kami di samping gurunya yang kami hormati. Ada pun kau sendiri, harus berjanji untuk melanjutkan usaha mengadakan gerakan dari dalam kota raja apa bila saatnya tiba, mengumpulkan para pembesar dan panglima Sung.”

Hening sejenak, semua orang diam tegang, yang terdengar hanya dengkur Hauw Lam yang masih tergantung kakinya.

“Kalau kami menolak?”

“Kalian berikut anjing yang tergantung itu akan mampus!”

Tiba-tiba saja mendengar dirinya dimaki anjing, Hauw Lam yang tadinya mendengkur itu tiba-tiba mengeluarkan suara seperti anjing kecil, “Nguiiikk, nguikk, nguikkk!”

Suasana tegang menjadi lenyap sama sekali dan Kwi Lan bahkan tertawa, sedangkan yang lainnya tersenyum. Hauw Lam membuka mata, menggeliat dengan pinggangnya dan berkata, “Mutiaraku, kau tahu aku mimpi aneh sekali!”

“Mimpi apa?” Kwi Lan bertanya, maklum bahwa temannya itu tentu tidak hanya bicara asal bicara.

“Aku mimpi menjadi anjing kecil yang indah dan bersih bulunya, akan tetapi celaka sekali, aku digigit seekor anjing besar yang selain buruk, juga gundul dan buntung. Sialan!”

Kwi Lan tertawa, juga Puteri Mimi dan Siang Ki. Mereka tahu siapa yang dimaki anjing besar gundul buntung. Siapa lagi kalau bukan Bouw Lek Couwsu?

“Bagaimana jawabanmu, Kiang-kongcu?” tanya Bouw Lek Couwsu, pura-pura tidak mengerti dan tidak mempedulikan Hauw Lam.

“Bagaimana kalau seorang di antara kami menolak?”

“Harus menurut semua. Seorang saja menolak, semua dihukum mati!” “Kalau begitu kami menolak!” teiak Pangeran Talibu.
“Kami menolak!” seru Puteri Mimi. “Aku pun menolak!” kata Yu Siang Ki.
“Aku suka menurut Subo, akan tetapi membantumu? Aku menolak!” kata Kwi Lan.

“Nah, Bouw Lek Couwsu, kau boleh bunuh kami. Jawaban kami sudah jelas!” kata Kiang Liong.

Kembali hening sesaat. Wajah Bouw Lek Couwsu keruh sekali. Dia sudah menduga akan kekerasan hati orang muda ini, akan tetapi tidak mengharapkan jawaban ini. Apa untungnya kalau mereka ini mati? Ruginya jelas. Khitan akan memusuhinya, para pendekar akan memusuhinya, para pengemis baju butut akan memusuhinya. Tiba-tiba keheningan dipecahkan suara Hauw lam.

“Haii!, Bouw Lek Couwsu! Aku kok tidak ditanya? Apa aku bukan orang?” Hauw Lam berteriak-teriak.

Akan tetapi, Bouw Lek Couwsu tidak mempedulikan Hauw Lam, sebaliknya berkata kepada Kiang Liong, suaranya penuh ancaman, “Hemm, kau kira begitu enak hukumannya? Sebelum mati kalian harus menyaksikan dan menderita siksaan batin. Terlalu sayang kalau dua orang gadis jelita itu dibunuh begitu saja.” Bouw Lek Couwsu menoleh ke arah Bu-tek Siu-lam dan berkata, “Kau memilih yang mana?”

“Heh-heh, biar hitam, mutiara namanya. Tetap cemerlang dan indah, tentu saja aku memilih dia.”

“Baik, biar Sang Puteri untuk pinceng. Nah, kau mulailah, seperti kita sudah setujui, kita harus berani melakukan di depan semua orang.”

Bu-tek Siu-lam tertawa terkekeh-kekeh matanya memandang ke arah Kwi Lan, menjelajahi tubuh gadis itu dengan pandang mata lahap dan haus.

“He, dengar! Kalian ini pimpinan orang-orang Hsi-Hsia. Kau Bouw Lek Couwsu, dan kalian Bu-tek Ngo- sian! Di mana kegagahan kalian? Huh, menyebut tokoh-tokoh kang-ouw yang jempolan! Bouw Lek Couwsu, orang seperti engkau ini mana patut membimbing bangsa Hsi-hsia yang gagah perkasa?”

Karena disinggung kepemimpinannya, mau tidak mau Bouw Lek Couwsu mengangkat muka memandang Hauw Lam dengan keningnya yang tebal berkerut. “Hemm, kalian sudah memilih wakil pembicara, yaitu Kiang-kongcu, mengapa kau ini anjing kecil besar mulut?”

“Siapa memilih? Huh, Bouw Lek Couwsu, tampak sekarang kebodohanmu dan kecuranganmu. Memang yang lain di bawah ini sudah memilih Kiang-kongcu, akan tetapi, hayo telinga siapa yang tadi mendengar aku memilih! Aku belum memilih dan aku berhak untuk bicara!”

Bouw Lek Couwsu tertegun. Betapa pun gilanya, benar juga ucapan bocah itu dan kalau ia melanggar, maka benar-benar tidak tepat dengan kedudukannya sebagai pemimpin besar bangsa Hsi-Hsia. Biarlah ia memberi kesempatan bicara bocah ini, apa bedanya?

“Hemm, kau bicaralah.”

Kiang Liong yang memandang muka Hauw Lam melihat betapa sinar mata pemuda itu bersinar-sinar dan wajahnya berseri-seri. “Ah, bocah ini cerdik,” pikirnya, “agaknya hendak mengelabuhi Bouw Lek Couwsu atau setidaknya mengulur waktu.”

“Bouw Lek Couwsu, aku tidak akan mendengar usul atau ancamanmu seperti yang kau kemukakan kepada teman-temanku yang lain. Sebaliknya, akulah yang mengajukan usul sebagai tantangan tanpa mengancam sepertimu. Aku akan mengajukan teka-teki hitungan dan bukan hanya engkau, bahkan Bu-tek Ngo-sian boleh membantumu! Kalau di antara kalian ada yang sanggup menjawab tepat, aku akan membenturkan kepalaku pada dinding ini sampai kepalaku pecah. Dan kalau di antara kalian tidak ada yang dapat menjawab tepat, terserah mau diapakan tubuhku ini, masa bodoh! Bagaimana, sanggupkah kalian?”

Mendengar ucapan ini, bukan pihak Bouw Lek Couwsu saja yang terheran, bahwa Kiang Liong dan teman- temannya juga menjadi heran. Gilakah pemuda itu? Agaknya karena digantung seperti itu sejak tadi, terlalu banyak darah mengalir ke kepalanya membuat kepalanya pening dan bicaranya melantur! Pertaruhan macam apa itu? Kalau terjawab, ia akan membunuh diri dan kalau tidak terjawab ia boleh diperlakukan apa juga, berarti tentu saja juga dibunuh. Mengapa tidak minta bebas kalau tidak terjawab?

Bouw Lek Couwsu yang terheran-heran tadinya tidak mau melayaninya lagi dan menganggap pemuda ini gila, akan tetapi Siauw-bin Lo-mo dan Bu-tek Siu-lam tertarik. Pemuda itu aneh sekali dan gila, teka-teki macam apa yang akan dikemukakannya? Gila atau tidak, mereka menjadi tertarik untuk mendengarnya.

“Ha-ha-ha, Couwsu, biarkan dia mengajukan teka-tekinya,” kata Bu-tek Siu-lam.

“He-he, benar, Couwsu. Dia toh takkan dapat melarikan diri terbang ke langit,” kata Siauw-bin Lo-mo.

Bouw Lek Couwsu mengerutkan kening. Ia tidak mau dipermainkan bocah ini, dan ia curiga, takut kalau- kalau ditipu. Maka ia bertanya, “Bocah gila, kau ulangi syaratmu tadi agar kami dengar baik-baik.”

“Ha-ha, Bouw Lek Couwsu, kau takut ditipu? Boleh saja asal jangan takut kalah karena hanya pengecut yang takut kalah. Dengar kalian semua. Kalau teka-tekiku nanti terjawab, aku akan membenturkan kepalaku ke dinding sampai pecah, kalau tidak, terserah kepadamu terhadap diriku.”

“Hemmm, baik. Akan tetapi untuk membenturkan kepala ke dinding tak mungkin dilakukan dalam keadaan itu. Turunlah!” Tangan Bouw Lek Couwsu bergerak, serangkum tenaga dahsyat menyambar ke atas rantai yang menggantung tubuh Hauw Lam dan… rantai pada kakinya itu terlepas dari langt-langit dan tubuh pemuda itu jatuh ke bawah dengan kepala lebih dulu!

Akan tetapi, dengan gerakan pinggangnya, tubuh Hauw Lam berjungkir balik dan ia jatuh ke lantai dengan kaki dulu sehingga berdiri tegak, akan tetapi kaki tangannya masih terbelenggu. Semua orang kagum, karena tanpa ilmu ginkang yang tinggi, tak mungkin dapat berjungkir balik dalam keadaan kaki tangan terbelenggu seperti itu.

“Berandal, apa kau gila? Kalah menang kau tetap mati!” seru Kwi Lan yang tidak dapat menahan ketegangan hatinya.

Hauw Lam tertawa. “Ha-ha-ha, Mutiara, apa artinya mati? Yang penting dalam saat terakhir ini, aku menikmati kemenangan kalau teka-tekiku tak tertebak. Hendak kulihat, apakah Bouw Lek Couwsu yang sudah dikalahkan masih ada muka untuk mengangkat diri menjadi calon raja, dan lima Bu-tek Ngo-sian ini masih ada muka untuk menjagol dunia kang-ouw!”

Bouw Lek Couwsu mendongkol dan diam-diam di dalam hatinya ia mengumpat. “Kau tunggu saja bocah, kematianmu akan menjadi kematian yang paling sengsara!”

“Tak perlu banyak cerewet, lekas majukan teka-teki gilamu!” bentaknya.

Di antara mereka semua, hanya Kiang Liong yang benar-benar menjadi tegang hatinya. Tegang sekali karena kini ia mengenal siasat yang dilakukan Hauw Lam. Bocah jenaka yang ia tahu kegilaan terhadap Mutiara Hitam dan oleh Mutiara Hitam disebut Berandal ini jelas menggunakan akal mengulur waktu. Tadi keadaan Mutiara Hitam terancam bahaya mengerikan di tangan Bu-tek Siu-lam tanpa mereka dapat menolong. Kini karena tingkah Hauw Lam, hukuman itu otomatis menjadi mundur dan tentu dalam siasat mengulur waktu ini, Si Berandal sudah mendapatkan akal lain lagi yang belum ia ketahui apa dan bagaimana.

Dalam keadaan terbelenggu, Hauw Lam berdiri tegak, kaku dan mengangkat mukanya, membusungkan dadanya. “Guruku adalah seorang manusia dewa yang sakti tiada bandingan. Tidak perlu yang budiman Bu Kek Siansu datang ke sini, baru guruku saja, kalian akan dibikin kocar-kacir.”

“Hemm, siapa gurumu, bocah sombong?” Thai-lek Kauw-ong, si Tukang Cari Lawan, tertarik sekali dan hatinya agak berdebar mendengar nama Bu Kek Siansu disebut-sebut.

“Guruku bukan manusia biasa, orang-orang seperti kalian belum cukup berharga untuk mendengar namanya.”

“Bocah gila! Lekas ceritakan teka-tekimu, tentang gurumu setan atau iblis kami tidak perlu tahu!”

Kiang Liong tidak heran mendengar pemuda ini menyebut-nyebut nama Bu Kek Siansu, ini adalah siasat untuk membikin gentar lawan, pikirnya. Tapi apa gunanya siasat seperti itu? Kemudian ia teringat akan sesuatu dan bulu tengkuk Kiang Liong meremang. Tadi…! Benar sekali, tadi sebelum muncul musuh, ada suara yang menertawakan Suling Emas tolol. Suara siapakah itu?

Ia mendengar dari gurunya bahwa kakek sakti yang bernama Bu-tek Lo-jin adalah seorang kakek yang edan-edanan, seperti watak Hauw Lam ini. Mungkinkah suara tadi suara Bu-tek Lo-jin? Timbul harapan di hatinya dan ia mulai mengerti mengapa Hauw Lam menggunakan siasat mengulur waktu. Agaknya dia menanti pertolongan gurunya!

“Teka-tekiku adalah teka-teki hitungan yang berbentuk syair. Tentu saja buatan guruku karena siapa lagi manusia di dunia dapat membuat teka-teki seperti ini? Di dalam syair ini terdapat angka-angka terpendam dan kalian boleh menebak berenam! Beginilah syairnya!” Hauw Lam lalu bernyanyi dengan suaranya yang nyaring dan cukup merdu, sambil menggoyang-goyang tubuhnya yang terikat seperti gerak tari mengikuti irama lagu nyanyiannya.

Terang bulan memancing kura, air jernih laksana cermin.
lima ekor yang satu emas, berapakah jumlah terbilang?

“Nah, hayo kalian boleh tebak. Angka berapa yang tersembunyi di dalam syair itu tadi? Pergunakan otak, jangan ngawur, ini bukan sembarangan hitungan melainkan hitungan para dewa. Kuberi waktu satu tahun!”

Hampir Kiang Liong tertawa kalau tidak cepat menekan perasaannya. Ia memandang wajah tampan itu dengan kagum. Benar-benar pemuda cerdik, akan tetapi ugal-ugalan, pantas… disebut berandal. Masa memberi waktu setahun? Betapa pun juga, siasat itu berhasil karena kecuali Kam Sian Eng, mereka semua mulai mengerutkan kening, berpikir dengan aksi masing-masing. Kam Sian Eng hanya berdiri tak bergerak, kadang-kadang memandang ke arah Kwi Lan, kadang-kadang termenung, tarikan wajahnya tersembunyi di belakang kerudung hitam. Suma Kiat pasang aksi pula, berusaha ikut menebak teka-teki.

Suasana dalam kamar tahanan hening. Bouw Lek Couwsu meraba-raba hidungnya, satu kebiasaan tanpa disadari kalau ia sedang berpikir, Thai-lek Kauw-ong sudah duduk bersila, bersemedhi mengumpulkan kekuatannya, sambil kadang-kadang terkekeh-kekeh seperti orang gila. Pak-sin-ong makin angkuh mukanya, telunjuk kanan menempel antara kening.

Lucunya, melihat para kakek ini memeras otak, Yu Siang Ki, Kwi Lan, Puteri Mimi, dan Pangeran Talibu ikut pula berpikir memecahkan teka-teki! Sungguh permainan yang lucu dan aneh, mudah menular! Ketika Kiang Liong bertemu pandang dengan Hauw Lam, mereka saling berkedip menahan senyum.

Sampai lama keheningan menyelubungi kamar itu. Para penjaga di luar kamar tahanan saling bertanya- tanya dan terheran-heran. Namun karena para datuk ini berkumpul di situ, tak seorang pun di antara mereka berani lancang mengintai. Waktu ini dipergunakan oleh Kiang Liong dan Yu Siang KI untuk bersemedhi memulihkan luka-luka mereka.

Akhirnya terdengar suara Bu-tek Siu-lam yang bernyanyi menirukan syair tadi. Suaranya merdu sekali, akan tetapi kecil seperti suara perempuan. Ia bernyanyi sambil berdiri dan tubuhnya bergoyang-goyang pula, akan tetapi ia betul-betul menari seperti seorang perempuan genit. Selesai bernyanyi, ia berkata, “Heh-hehheh, sudah terdapat olehku jawabannya! He-he-he, amat mudahnya!”

“Jangan tertawa dulu, kakek banci!” kata Hauw Lam berani. “Dan jangan katakan dulu tebakanmu, menanti yang lain. Aku memberi bantuan. Jawaban angkanya tidak lebih dari dua puluh! Nah, lebih mudah bukan?”

Wajah Bu-tek Siu-lam tampak girang, agaknya jawabannya memang tidak lebih dari angka dua puluh, maka ia merasa yakin bahwa jawabannya tentu benar! Juga kini tokoh-tokoh yang lain sudah siap dengan jawabannya.

“Sudah siap? Nah, boleh katakan seorang demi seorang tapi jangan ngawur, berikut alasan jawaban. Nanti baru kukatakan siapa benar siapa salah,” kata pula Hauw Lam yang hatinya sudah berdebar-debar karena gurunya yang tadi suaranya ia dengar belum juga muncul.

Ia harus mencari akal lain dan otaknya yang cerdik sudah memikir-mikir mencari siasat yang lebih berhasil. Ketika melihat betapa tadi wanita berkerudung yang kini ia tahu adalah Sian-toanio dan guru Kwi Lan berdiri tak acuh akan tetapi sering kali mencuri pandang ke arah muridnya, ia sudah merencanakan akalnya sebagai lanjutan dari pada akal teka-tekinya.

Keadaan kembali tegang. Bahkan para tawanan juga ikut memperhatikan apa dan berapa gerangan jawaban pihak musuh, apakah sama dengan tebakan mereka? Bu-tek Siu-lam yang sudah tidak sabar mulai dengan jawabannya.

“Hi-hi-hik, orang muda yang lucu. Kalau kau tidak menjadi musuh Couwsu, aku akan senang sekali tidur satu kamar bersamamu mendengar syair-syair dan teka-tekimu yang lain! Syairmu tadi mudah saja. Jawabannya adalah angka TUJUH! Betul tidak?”

Hauw Lan tersenyum. “Betul atau tidaknya nanti kuberi tahu. Yang penting apa yang kau jadikan dasar tebakanmu, supaya diberi tahu. ”

“Hi-hi-hik, heh-heh, bocah nakal. Kau ingin membikin bingung kami dengan syair itu? Hi-hik, Bu-tek Siu-lam tak mungkin bingung oleh itu. Yang pokok dan penting dalam syairmu hanyalah bulan dan kura-kura. Waktu itu terang bulan, tentu bulan purnama dan air jernih, berarti bulan terbayang di air, jadi ada dua buah bulan, bukankah sudah jelas bilangannya? Bulan, bayangannya, dan kura jumlahnya tujuh. Nah, angka yang tersembunyi tujuh!”

Hauw Lam hanya tersenyum lebar, lalu menoleh kepada yang lain, sikapnya menantang. “Bagus sekali uraian Bu-tek Siu-lam. Kini siapa lagi yang menebak?”

“Bocah gila, betul atau tidak tebakan kami nasibmu toh sama saja. Menurut perhitunganku, bilangan yang tersembunyi adalah DUA PULUH. Sudah jelas, bulan sedang purnama, airnya jernih, jadi jumlah bulan ada dua. Permukaan bulan bundar berarti angka nol, jadi dua dan nol sama dengan dua puluh!” kata Bouw Lek Couwsu.

Hauw Lam berseri-seri wajahnya, senyumnya tetap gembira. “Siapa lagi?”

Thai-lek Kauw-ong mengeluarkan suaranya yang parau besar, “Bulan purnama berarti tanggal lima belas. Nah, angka bilangan yang tersembunyi tentu LIMA BELAS.”

Hauw Lam mengangguk-angguk. “Bagus juga khayalmu, Locianpwe. Nah, siapa lagi?”

“Tidak ada yang penting dalam syair itu kecuali bulan dan emas. Sinar bulan pun seperti emas, bulan dan bayangannya laksana bola emas. Yang penting hanya tiga, bulan, bayangannya, dan emas, maka tentu angka TIGA yang dimaksudkan,” kata Pak-sin-ong tenang.

Kembali Hauw Lam hanya tersenyum sehingga tidak ada yang dapat menduga, jawaban siapa yang paling tepat. “Siapa lagi? Kau bagaimana, Siauw-bin Lo-mo?”

“Ha-ha-ha, kau bocah edan! Membikin orang-orang tua memeras otak dan teman-temanku sampai harus menggunakan arti yang dalam-dalam. Akan tetapi bocah seperti engkau ini mana mengerti arti yang dalam? Tentu kau maksudkan di dalam syair itu jumlah semua benda hidup atau mati dan yang disebut adalah lima ekor kura-kura, sebuah pancing, seorang manusia yang memancing, dan sebuah bulan. Jumlahnya hanya delapan. Nah, angkanya tentu DELAPAN!”

“Boleh kau terka sesukamu. Nah, siapa lagi? Engkau bagaimana, Toanio?” Hauw Lam menghadapi Kam Sian Eng. Sepasang sinar mata menyorot dari balik kerudung hitam dan Hauw Lam bergidik.

“Jangan ganggu aku, tolol!” hardik Kam Sian Eng.

Hauw Lam menahan napas. Sekali wanita itu bergerak, dia bisa celaka, maka ia lalu cepat-cepat menghadapi para penebaknya dan berkata, “Sudah jelas semua tadi, Bu-tek Siu-lam menebak angka tujuh, Bouw Lek Couwsu angka dua puluh, Thai-lek Kauw-ong angka lima belas, Pak-sin-ong angka tiga, dan Siauw-bin Lo-mo angka delapan. Bukan begitu?”

Lima orang kakek mengangguk-angguk tertarik untuk mendengar siapa di antara mereka yang tepat tebakannya.

“Ketahuilah, biar pun kalian mengaku kakek-kakek yang pandai, akan tetapi ternyata tebakan kalian ngawur tidak karuan, tidak ada seorang pun yang benar! Mau tahu jawabannya yang betul? Nah, jawabannya, adalah angka EMPAT!”

Hening sejenak, Bouw Lek Couwsu cemberut, semua mengerutkan kening, menghitung-hitung kembali. “Aihhh, kenapa empat?” Akhirnya Bu-tek Siu-lam bertanya.

“Kalian yang bodoh, kecual Sian-toanio yang tentu saja sudah mengerti maka tidak mau menjawab. Yang dipersoalkan dalam syair hanya baris ke tiga yang berbunyi LIMA EKOR YANG SATU EMAS. Nah, kalau ada lima ekor kura-kura tapi yang seekor adalah emas, maka yang empat ekorlah yang benar-benar kura- kura tolol, kura-kura yang buruk dan tua seperti kakek-kakek tua buruk dan jahat. Yang satu adalah emas, cantik dan cemerlang, mana bisa direndahkan dengan empat ekor kura-kura? Maka kalau dibilang lima ekor adalah keliru, yang benar hanya ada empat ekor kura-kura tua sedangkan yang satu hanya terbawa- bawa akan tetapi sama sekali tidak patut disebut kura-kura melainkan emas. Maka aku mempunyai sebutan untuk empat ekor kura-kura itu, paling tepat adalah Bu-tek Su-kwi (Empat Setan Tanpa Tanding)! Ha-ha-ha-ha!”

Hebat bukan main siasat Hauw Lam ini, pikir Kiang Liong sambil memandang dengan hati berdebar. Jelas maksudnya, Hauw Lam dalam jawabannya yang teratur telah menyindir Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa Tanpa Tanding). Ia mengumpamakan empat kakek itu kura-kura dan Sian-toanio diumpamakan emas. Sisanya empat kakek itu ia sebut sebagai Bu-tek Su-kwi! Inilah siasat memecah belah, memperingatkan Sian-toanio bahwa ia sama sekali tidak pantas merendahkan diri bersekutu dengan empat orang kakek. Cerdik Hauw Lam, pikirnya. Ingin meminjam tangan Sian-toanio untuk menghadapi empat orang kakek.

Bu-tek Siu-lam, Pak-sin-ong, Siauw-bin Lo-mo, dan Thai-lek Kauw-ong bukanlah orang bodoh. Mereka kini maklum bahwa mereka dipermainkan dan diejek, akan tetapi karena yang berkuasa di situ Bouw Lek Couwsu, mereka tidak berani turun tangan.

Bouw Lek Couwsu juga mengerti bahwa tamu-tamu dan sekutunya dihina, maka ia berkata, “Bocah gila, kau tunggu saja giliranmu. Kematianmu akan menjadi kematian yang paling sengsara dan mengerikan. Sebelum kau mati terakhir, kau saksikan dulu teman-temanmu! Bu-tek Siu-lam, harap lanjutkan rencana kita tadi.”

Bu-tek Siu-lam melangkah maju menghampiri Kwi Lan yang memandangnya dengan sinar mata penuh kemarahan dan kebencian. Semua tawanan menjadi tegang, akan tetapi Hauw Lam tertawa bergelak dan berkata, “Salahkah aku menyebut mereka ini kura-kura tua bangka buruk dan jahat? Lihat saja Bu-tek Siu- lam ini. Katanya mengaku jagoan utama dari dunia barat! Mengaku seorang di antara Bu-tek Ngo-sian. Sebetulnya lebih tepat disebut setan tak bermalu. Masa seorang tua bangka yang mengaku jago, kini menghadapi seorang gadis remaja seperti Mutiara Hitam saja takut-takut dan begini pengecut? Coba Mutiara Hitam tidak terbelenggu tentu dia sudah terkencing-kencing di celana saking takutnya. Ha-ha-ha!”

Hebat memang penghinaan dan ejekan Hauw Lam ini. Kwi Lan girang mendengar ini dan berkata, “Ah, mana dia berani, Berandal? Dia pengecut besar, seekor kura-kura masih terlampau baik baginya. Ia mirip… eh, kadal buduk!”

Merah sepasang mata Bu-tek Siu-lam. Senyumnya melebar dan tiba-tiba tangannya bergerak ke depan dua kali. Terdengar suara keras dan… belenggu pada kaki tangan Kwi Lan sudah patah-patah. Gadis itu bebas!

“Hi-hik, anak manis. Sekarang kau sudah bebas. Mari kita coba-coba lihat sampai berapa jurus kau mampu melawan Bu-tek Siu-lam sebelum kutelanjangi dan kunikmati tubuhmu!”

Kwi Lan merasa lega. Biar pun ia maklum akan kelihaian Bu-tek Siu-lam, namun setelah kini ia bebas, ia akan melawan mati-matian dan tidak menyerah begitu saja seperti kalau dia dibelenggu tadi. Sambil mengeluarkan jerit melengking keras ia menerjang maju, menggunakan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya menyerang Bu-tek Siu-lam. Sayang bahwa ia tidak berpedang, dan lebih sayang lagi bahwa tenaganya sudah banyak berkurang karena lelah dengan penderitaan yang bertubi-tubi, dengan penahanan dan dalam belenggu yang membikin kaku urat tubuh.

Bu-tek Siu-lam tertawa terkekeh ketika mengelak dan balas menyerang. Pertandingan terjadi dalam ruang tahanan. Pertandingan yang berat sebelah. Keahlian Kwi Lan adalah bermain pedang. Kini ia bertangan kosong dan biar pun ia merupakan seorang gadis remaja yang jarang bandingnya dalam bersilat tangan kosong, namun menghadapi seorang tokoh seperti Bu-tek Siu-lam, ia masih kalah setingkat. Bahkan kini karena tenaganya sudah banyak berkurang, ia kalah tenaga sehingga tiap kali lengan mereka beradu, Kwi Lan terhuyung mundur. Bu-tek Siu-lam makin mendesak sambil terkekeh-kekeh. Kini gerakan tokoh banci ini makin kurang ajar, kadang-kadang menowel pipi, meraba dada dan mencubit paha.

Kwi Lan malu dan marah sekali, berlaku nekat dan mati-matian. Lewat seratus jurus, tiba-tiba Bu-tek Siu- lam menubruk, tangan kiri mencengkeram dada dan tangan kanan mencengkeram paha. Kwi Lan kaget dan jengah. Serangan ini kurang ajar sekali, melanggar batas kesopanan. Mana ia mau membiarkan dirinya dipegang? Ia menjatuhkan diri dan bergulingan, akan tetapi tiba-tiba gadis ini menjerit ketika terdengar bunyi kain robek.

Kiranya serangan Bu-tek Siu-lam tadi hanya siasat belaka dan ia kini mencengkeram baju Kwi Lan terus direnggut robek. Hebat tenaga Bu-tek Siu-lam sehingga pakaian gadis itu, baik yang luar mau pun yang dalam sebagian besar berada dalam tangannya dan hanya sedikit saja yang masih menempel ditubuh Kwi Lan. Gadis ini cepat menelungkup di lantai, tak berani bangkit lagi karena tubuhnya sudah setengah telanjang. Bahkan ketika menelungkup pun, sebagian pinggul dan pahanya yang putih bersih tampak nyata!

“Hi-hik, begini saja kepandaianmu?”

Bu-tek Siu-lam terkekeh-kekeh dan membawa robekan pakaian ke depan hidung sambil menyedot-nyedot dan berseru, “Aihh, wangi…! Mari kita main-main, Nona manis!”

Hauw Lam berseru, “Coba dengar sombongnya si Tokoh Banci! Biar pun ada guru Mutiara Hitam hadir, dia berani memandang rendah ilmunya. Murid sama dengan anak, kalau murid dipermainkan berarti guru dihina! Kalau murid dihina berarti guru dibunuh! Di depan Sian-toanio si Banci menjemukan ini berani bermain gila. Sungguh tak tahu diri!”

Ketika itu Bu-tek Siu-lam sudah melangkah maju hendak memaksa Kwi Lan membalikkan tubuh, hendak melakukan penghinaan seperti direncanakan Bouw Lek Couwsu untuk menundukkan Pangeran Talibu, Kiang Liong, dan Yu Siang Ki. Tak seorang pun tahu kecuali Hauw Lam dan Kiang Liong betapa wajah di balik kerudung hitam itu mengeluarkan napas yang membuat kerudung bergerak-gerak, betapa pandang mata dari balik kerudung seperti dua titik api membakar.

Ketika Hauw Lam mengeluarkan kata-kata yang bagaikan minyak menyiram api, terdengar lengking mengerikan dan tubuh Kam Sian Eng sudah berkelebat maju, tangannya yang kanan mencengkeram pundak Bu-tek Siu-lam sedangkan tangan kiri melemparkan jubahnya yang tepat menyelimuti tubuh Kwi Lan.

Bu-tek Siu-lam mengeluh dan tubuhnya terlempar membentur dinding. Cengkeraman tadi bukan sembarang cengkeraman, melainkan cengkeraman dengan jari-jari beracun yang sudah menembus baju dan kulit pundak Bu-tek Siu-lam! Wajah si Banci menjadi pucat ketika ia melompat bangun, jelas ia kesakitan bercampur marah dan keluarlah senjata guntingnya dan jarum di ujung benang. Ia memekik dan menerjang maju.

Namun tangan kiri Kam Sian Eng bergerak dan sinar hitam menyambar ke depan. Itulah jarum-jarum hitam yang sebetulnya adalah warna merah yang amat tua sehingga kalau disambitkan sinarnya menjadi hitam. Tiga belas batang jarum menyambar ke tiga belas jalan darah di tubuh Bu-tek Siu-lam!

Sinar ini mendatangkan suara berciutan mengerikan. Namanya Ang-sin-ciam (Jarum Sakti Merah) dan jarang ada lawan dapat menyelamatkan diri terhadap serangan jarum-jarum ini. Dilepas dari jarak dekat, cepatnya seperti kilat menyambar, sasarannya tiga belas jalan darah di sebelah depan tubuh, suaranya mengerikan dan racunnya sedemikian hebat sehingga jangankan terluka, baru tergores sedikit saja sudah mendatangkan maut!

Jarum-jarum hijau milik Kwi Lan kalau dibandingkan dengan jarum-jarum merah milik gurunya ini masih belum apa-apa. Baru Ang-sin-ciam sudah begini hebat, belum lagi Pek-sin-ciam (Jarum Sakti Putih). Jarum-jarum ini tidak mengeluarkan suara, hampir tak tampak sinarnya akan tetapi racunnya lebih gila lagi, tersentuh kulit orang bisa menimbulkan maut! Racunnya terdapat dari kerangka-kerangka manusia di bawah tanah!

Bu-tek Siu-lam memang lihai sekali tetapi ia tetap saja kaget dan repot menyelamatkan diri dari sambaran sinar hitam jarum-jarum itu. Memang benar dengan jalan memutar gunting melempar diri ia berhasil terbebas dari terjangan jarum, namun Kam Sian Eng yang sudah menduga akan gerakan ini, sudah berkelebat maju dan sebuah tamparan tepat mengenai punggung Bu-tek Siu-lam yang sedang repot menghindarkan diri dari jarum-jarum.

“Plakk…! Auuuukhhh!” Bu-tek Siu-lam terhuyung ke belakang dan dari mulutnya menyembur darah segar.

Ia sudah terluka hebat! Kini ia berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang, bibir berlepotan darah, mata beringas memandang Kam Sian Eng yang berdiri tenang dan dengan gerakan tenang pula Kam Sian Eng membuka kerudung hitamnya. Semua orang menahan napas.

Betapa cantiknya wajah di balik kerudung itu! Kulitnya putih kemerahan seperti kulit muka gadis remaja, hidungnya mancung dengan cuping bergerak-gerak kembang-kempis dan angkuh. Matanya tajam namun sinarnya aneh bergerak-gerak ke kanan kiri, dan senyumnya membuat bulu tengkuk berdiri. Senyum wanita biasanya membuat hati makin tenang, mendatangkan kehangatan. Akan tetapi senyum ini dingin sekali, seperti kita melihat senyum pada bibir orang-orang mati! Dengan kerudung hitam di tangan kiri, diputar-putar seperti seorang gadis remaja memutar sapu tangan sutera, tangan kanannya bergerak ke pinggang dan… sebatang pedang tipis telah dipegangnya.

“Bu-tek Siu-lam, apakah kau masih berani memandang rendah ilmuku?” Suara ini merdu dan manis, namun didorong ancaman yang mengerikan.

Bu-tek Siu-lam yang sudah dua kali terkena pukulan yang membuatnya terluka dalam amat hebat, maklum bahwa keselamatannya sukar ditolong lagi. Hatinya gelisah dan kemarahan membuat lehernya serasa tercekik. Ia tidak dapat menjawab, hanya mengeluarkan suara seperti tertawa atau ringkik seekor kuda, kemudian tubuhnya menerjang ke depan, guntingnya bergerak menggunting ke arah, leher Kam Sian Eng, sedangkan jarumnya meluncur ke arah perut lawan.

Namun gunting itu terhenti di tengah jalan, bertemu dengan kerudung hitam yang kini menjadi semacam senjata ampuh. Kerudung itu terbuat dari pada bahan yang kuat sekali, dari benang baja hitam yang halus, maka biar pun Bu-tek Siu-lam menggerakkan guntingnya menggunting tidak ada hasilnya, malah guntingnya terlibat-libat kerudung tak dapat bergerak lagi. Ada pun jarumnya dapat dielakkan oleh Kam Sian Eng yang sambil tersenyum membetot kerudungnya, membuat tubuh lawan doyong ke depan lalu ia papaki dengan tusukan pedang mematikan!

Bu-tek Siu-lam terkejut. Tidak mengira bahwa ia akan mati demikian mudah di tangan wanita ini, akan tetapi apa daya, racun mulai bekerja di tubuhnya, membuat tenaganya menjadi lemas dan ia hanya dapat memejamkan mata menanti datangnya pedang dan memasuki dadanya.

“Tranggg…!” Pedang di tangan Kam Sian Eng terpental ketika tongkat kuningan Bouw Lek Couwsu menangkisnya.

“Toanio, tak boleh kau membunuh tamuku!” bentak Bouw Lek Couwsu sambil menyerang dengan tongkatnya.

Kam Sian Eng mengeluarkan suara melengking marah, tubuhnya berkelebat cepat dan dalam waktu beberapa menit saja ia sudah bertanding sampai belasan jurus, balas-membalas dengan ketua orang Hsi- hsia.

“Ha, kau tangguh, Toanio. Tapi tetap saja aku yang menjadi orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian!” Inilah suara Thai-lek Kauw-ong yang sudah berjongkok lalu memukul dengan ilmu pukulan Thai-lek-kang yang luar biasa lihainya.

Kam Sian Eng terkejut, berusaha menahan namun ia tetap saja terhuyung ke belakang. Permainan pedangnya menjadi kacau dan pada saat ia memutar pedang menghadapi tongkat kuningan Bouw Lek Couwsu, dari belakang ada tangan menyambar.

“Awas, Bibi…!” terdengar Kwi Lan berseru. Gadis ini sudah membungkus tubuh dengan jubah gurunya dan kini melihat serangan ganas Bu-tek Siu-lam dari belakang, ia memperingatkan gurunya.

Namun Sian Eng yang sudah marah itu menggerakkan tangan kiri dan sinar putih menyambar. Hanya tiga batang jarum yang ia sambitkan namun ketiga-tiganya memasuki tubuh Bu-tek Siu-lam yang roboh berkelojotan dan menjerit-jerit seperti babi disembelih karena seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit tak tertahankan. Rasa nyeri yang amat hebat membuat tokoh banci ini seperti gila, guntingnya bergerak menggunting bagian tubuhnya yang terasa nyeri sehingga dalam sekejap mata saja lengan kirinya buntung, lalu kedua kakinya dan terakhir sekali batang lehernya! Ia mati dalam keadaan tubuh terpotong- potong gunting seperti nasib sekian banyak korbannya.

Andai kata ia harus menghadapi Bouw Lek Couwsu atau bahkan Thai-lek Kauw-ong satu lawan satu saja agaknya Kam Sian Eng tidak akan mudah dapat dikalahkan. Akan tetapi sekarang ia harus menghadapi Bouw Lek Couwsu dan Thai-lek Kauw-ong, malah kini Pak-sin-ong dan Siauw-bin Lo-mo sudah maju mengeroyoknya! Dikeroyok empat orang sakti itu, tentu saja ia menjadi repot sekali.

Kwi Lan dengan nekat membantu gurunya. Ia menyambar gunting Bu-tek Siu-lam yang berlepotan darah, lalu mengamuk, mainkan gunting itu seperti orang mainkan pedang. Namun karena senjata ini tidak cocok, ia menjadi kaku dan gerakannya canggung.

“Kwi Lan, kau bebaskan saja kami agar kami dapat membantu. Lekas!” teriak Hauw Lam, Siang Ki, dan Kiang Liong.

Akan tetapi dalam kemarahan meluap-luap gadis itu tidak ingat akan hal ini dan akhirnya, ketika Thai-lek Kauw-ong memutar-mutar tubuh mainkan ilmu Soan-hong-sin-ciang sehingga tubuhnya berputaran seperti gasing, Kwi Lan roboh tertotok dan tak mampu bergerak lagi!

Hauw Lam menjadi kecewa sekali dan pemuda ini hanya mampu memaki-maki dan berteriak-teriak, “Tak tahu malu! Empat ekor kura-kura busuk tua bangka hanya berani melakukan pengeroyokan! Aku berani mempertaruhkan kepala nenek moyangku kalau bertanding satu lawan satu, semua tentu dapat terbunuh mampus oleh Sian-toanio!”

Namun teriakan-teriakannya percuma saja dan akhirnya Kam Sian Eng harus mengakui keunggulan empat orang pengeroyoknya. Ia tak dapat bertahan lama. Serangan Thai-lek Kauw-ong membuat ia terhuyung- huyung dan pening. Ia sudah menghabiskan jarum-jarumnya, sudah mainkan pedang dan kerudung, namun sia-sia dan akhirnya ia roboh terkena hantaman gergaji Pak-sin-ong yang mengenai lambungnya. Lambungnya robek.

Kam Sian Eng memekik marah dan tendangan kakinya yang dilakukan secara tak terduga-duga membuat Pak-sin-ong terlempar, akan tetapi pada saat itu tongkat Bouw Lek Couwsu, senjata gembreng Thai-lek Kauw-ong, dan pukulan tangan Siauw-bin Lo-mo membuat ia roboh terkapar tak bernyawa lagi! Pak-sin- ong sudah bangkit dan hanya terluka ringan.

“Wanita hebat…!” Thai-lek Kauw-ong mengangguk-angguk dan diam-diam ia memuji karena biar pun ia sanggup seorang diri mengalahkan Kam Sian Eng namun tentu memakan waktu yang lama.

Kiang Liong, Pangeran Talibu, Mimi, Yu Siang Ki, dan Hauw Lam memandang ke arah empat orang kakek itu dengan jantung berdebar. Bahkan Hauw Lam sendiri kini diam saja, maklum bahwa kata-kata tidak ada artinya lagi sekarang. Bahaya hebat mengancam mereka, akan tetapi mengapa gurunya belum juga muncul? Ataukah ia salah dengar dan bukan suara gurunya?

Bouw Lek Couwsu dengan muka geram menghadapi para tawanan muda. Ia marah sekali karena sekaligus kehilangan dua orang pembantu kuat, yaitu Kam Sian Eng dan Bu-tek Siu-lam. Suma Kiat hanya berdiri memandang mayat ibunya, tidak menangis tidak tertawa hanya menunduk.

“Suma-kongcu, bagaimana pendapatmu kini?” Tiba-tiba Bouw Lek Couwsu bertanya kepada pemuda itu. Ia hendak menjenguk isi hati pemuda yang kematian ibunya ini.

Suma Kiat berkata, suaranya menggetar. “Apa yang dapat kukatakan, Couwsu? Kami ibu dan anak telah membantumu dengan kenyataan, akan tetapi Ibu karena membela gadis sialan ini telah menjadi korban. Couwsu, berikan gadis itu kepadaku, aku ingin membalas dendam ini kepadanya!”

Bouw Lek Couwsu mengangguk. Baik sekali kalau begitu pendapat pemuda ini. “Boleh saja, asal kemudian dibunuh. Dia telah menimbulkan banyak kerewelan.” Kemudian setelah Suma Kiat memondong tubuh Kwi Lan yang pingsan dan dibawa ke luar kamar tahanan, Bouw Lek Couwsu menghadapi Pangeran Talibu dan berkata,

“Pangeran, untuk penghabisan kali, apakah kau masih keras kepala? Kalau sekarang kalian semua kubunuh, siapa yang akan berani menolongmu?”

Sunyi tiada jawaban dari para tawanan muda. Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan keras disusul sorak-sorai. Agaknya ini sebagai jawaban pertanyaan Bouw Lek Couwsu karena pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan semua tawanan muda itu tiba-tiba saja berkelebat bayangan orang dan bagaikan gerakan iblis, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ berdiri seorang laki-laki yang tinggi tegap tampan dan gagah berusia lima puluh lima tahun kurang lebih. Sebatang suling terselip di pinggang, topinya lehar dan sepasang mata yang memandang dari bayangan topi itu penuh wibawa.

“Suling Emas…!” Seruan ini keluar dari mulut Thai-lek Kauw-ong, dan semua kakek itu terkejut seperti disambar kilat. Terutama sekali Bouw Lek Couwsu yang mendengar suara ribut-ribut di sekeliling markasnya, tanda bahwa di luar terjadi perang hebat.

Suling Emas tidak mempedulikan empat orang kakek itu yang menatapnya dengan mata terbelalak dan sikap gentar. Ia melirik dan dengan ujung matanya menyapu keadaan para tawanan. Pandang matanya mencari-cari, kemudian bertemu dengan pandang mata Kiang Liong.

“Di mana Mutiara Hitam…?” tanyanya. Suaranya tenang dan halus, seperti sikapnya.

“Dia dibawa pergi Suma Kiat, putera Sian-toanio…” Kiang Liong menunjuk dengan pandang matanya ke arah mayat Kam Sian Eng.

Sejenak pandang mata Suling Emas menuju kepada muka Kam Sian Eng yang sudah mati, muka yang cantik dan tersenyum aneh. Sedetik Suling Emas memejamkan mata, seperti terkejap. Yang menggeletak tak bernyawa itu adalah adik tirinya! Kemudian kaki kanannya dibanting perlahan dan… gunting besar milik Bu-tek Siu-lam terbang dari lantai menuju tangannya. Suling Emas menyambar gunting dan terdengar bunyi nyaring dua kali ketika gunting menyambar belenggu kaki tangan Kiang Liong. Suling Emas melempar gunting ke atas lantai sambil berkata, “Pergi kau kejar dan ambil kembali Mutiara Hitam.”

“Baik, Suhu!” Kiang Liong menyambar gunting dan menggunting pula belenggu Yu Siang Ki, kemudian berkelebat pergi meninggalkan gunting kepada Siang Ki yang kini sibuk membebaskan teman-temannya.

Suling Emas menjura kepada Thai-lek Kauw-ong, “Kauw-ong, selamat berjumpa kembali. Agaknya sahabat-sahabat ini adalah Pak-sin-ong dan Siauw-bin Lomo. Sayang bahwa Sam-wi (Tuan Bertiga) terperosok rendah mengabdi orang Hsi-hsia.”

“Suling Emas, jangan sombong! Kamu kira dapat menangkan kami berempat?” Bouw Lek Couwsu berseru dan tongkat kuningan di tangannya sudah bergerak menyerang Suling Emas, disusul gergaji di tangan Pak-sin-ong yang bertemu musuh lamanya. Dahulu ia gagal mengacau di Khitan karena Suling Emas, maka sekarang ia hendak membalas dendam, menggunakan kesempatan selagi ada teman-teman sakti.

“Suling Emas, hadapilah kematianmu!” bentaknya.

Thai-lek Kauw-ong yang sudah mengalami kelihaian Suling Emas membunyikan gembreng dan menerjang maju secara dahsyat. Demikian pula Siauw-bin Lo-mo, biar pun bertangan kosong kini menerjang maju dengan pukulan tangan kanan sedangkan tangan lainnya siap dengan bumbung berisi racun.

Suling Emas menggerakkan sulingnya. Hebat luar biasa gerakannya ini. Sinar kuning menyilaukan mata bergulung-gulung seperti naga bermain di angkasa, dan semua senjata lawan terpukul mundur. Namun ia dikurung rapat dan empat orang pengeroyoknya adalah jagoan-jagoan yang berilmu tinggi. Tempat itu kurang luas untuk menghadapi pengeroyokan, apa lagi di situ terdapat mayat Kam Sian Eng dan Bu-tek Siu-lam.

Suling Emas tidak mau menginjak mayat adik tirinya, maka terdengar suara melengking panjang dan sinar sulingnya menyambar dengan lingkaran-lingkaran besar. Ketika empat orang pengeroyoknya mundur, ia melesat ke luar kamar. Tentu saja empat orang pengeroyoknya tidak membiarkan ia pergi dan cepat menyusul. Kiranya Suling Emas sudah menanti mereka di luar, di tempat yang iuas, sambil memalangkan suling di depan dada dan tangan kiri diangkat tinggi di atas kepala. Sikapnya gagah bukan main dan biar pun usianya sudah setengah abad lebih, ia tampak gagah dan tampan, tubuhnya masih padat dengan sikap tegak berdiri, dadanya bidang.

“Hyaaaahhh!!” Bouw Lek Couwsu memekik dan tongkatnya menyambar kepala Suling Emas yang hanya miringkan tubuh menghindarkan diri, namun sulingnya menyambar dengan totokan ke arah lambung ketua Hsi-hsia ini.

Dengan menyontekkan tongkat ke samping Bouw Lek Couwsu berhasil menangkisnya. Pada setengah detik berikutnya, gergaji Pak-sin-ong menyambar pinggang dan Suling Emas sudah menangkis dengan suling, berusaha menempel gergaji dengan sinkang. Akan tetapi pada saat itu Thai-lek Kauw-ong sudah menghimpitnya dengan sepasang gembreng yang amat berbahaya itu sehingga Suling Emas terpaksa melepaskan sulingnya dan meloncat ke belakang, membiarkan gembreng lewat. Siku kirinya menotok pergelangan tangan Bouw Lek Couwsu yang hendak menyerang sehingga kakek ini meloncat ke samping, kemudian Suling Emas sudah meloncat lagi ke depan. Selagi Thai-lek Kauw-ong belum menarik kembali gembrengnya, pendekar sakti ini sudah memukulkan suling ke arah kepala. Thai-lek Kauw-ong tentu saja tidak mau kepalanya dipecahkan suling, cepat menghindar. Suling Emas sekali lagi meloncat ke belakang karena tangan Siauw-bin Lo-mo sudah memukulnya dengan jari tangan miring yang kalau mengenai iganya dapat mematahkan tulang iga.

Pertandingan terjadi makin seru dan cepat. Gerakan Suling Emas indah sekali, indah dan cepat namun karena empat orang pengeroyoknya juga bukan orang-orang biasa, ia kalah cepat dan terpaksa bertubi- tubi menangkis serangan yang datang bergantian bagaikan hujan lebatnya. Setelah pendekar sakti ini mainkan ilmunya, Hong-in-bun-hoat, sulingnya mencorat-coret huruf-huruf sakti di udara barulah dia dapat mematahkan semua serangan dan dapat mengimbangi gencarnya serangan, sungguh pun ia masih belum dapat membalas serangan.

Sementara itu, di luar terjadi perang hebat antara pasukan-pasukan Khitan yang besar jumlahnya melawan orang orang Hsi-hsia dan pendeta jubah merah. Pasukan Khitan ini memang mencari Pangeran Mahkota mereka dan akhirnya dapat menyerbu ke markas Hsi-hsia. Akan tetapi agaknya mereka takkan berhasil kalau saja tidak bertemu dengan Suling Emas di luar hutan. Suling Emas yang memimpin mereka memasuki markas tanpa diketahui sehingga mereka dapat menyerbu secara mendadak. Karena jumlah mereka lebih banyak dan karena pasukan Khitan ini lebih berpengalaman dalam perang, maka pihak Hsi- hsia segera terdesak hebat dan banyak jatuh korban.

Sementara itu, Siang Ki telah berhasil membebaskan Hauw Lam, Talibu, dan Mimi. Setelah mereka beristirahat sebentar untuk memulihkan jalan darah yang membeku karena terlalu lama dibelenggu, mereka lalu keluar dari kamar tahanan yang menyeramkan dengan adanya mayat Bu-tek Siu-lam yang terpotong-potong! Mereka siap membantu Suling Emas, bahkan Pangeran Talibu sendiri cemas melihat ayah kandungnya dikeroyok tadi. Akan tetapi hatinya lega mendengar teriakan-teriakan pasukannya, teriakan-teriakan itu adalah tanda bahwa pihak pasukannya berhasil mendesak dan menang.

Ketika mereka tiba di luar, hati mereka makin lega. Kiranya Suling Emas kini bukan hanya seorang diri menghadapi pengeroyokan empat musuh, melainkan dibantu seorang kakek tua renta yang cebol berkepala besar dan tertawa cekikikan. Yang paling girang hatinya adalah Hauw Lam karena ia mengenal kakek ini yang bukan lain adalah kakek aneh luar biasa, Bu-tek Lo-jin yang menjadi gurunya hanya untuk beberapa hari lamanya.

Pak-sin-ong dan Thai-lek Kauw-ong mengeroyok Suling Emas, adapun Siauw-bin Lo-mo dan Bouw Lek Couwsu mengeroyok Bu-tek Lo-jin. Baik Bu-tek Lo-jin yang hanya memegang sebatang ranting kecil mau pun Suling Emas yang bersenjatakan suling dapat mendesak kedua pengeroyok masing-masing.

Akan tetapi pada saat itu, serombongan hwesio jubah merah yang mendengar tanda bahaya yang dikeluarkan Bouw Lek Couwsu, sudah datang dengan senjata di tangan untuk mengeroyok dua orang pendekar sakti itu. Mereka ini jumlahnya ada dua puluh orang, murid-murid pilihan yang terpaksa meninggalkan peperangan yang terdesak untuk membantu dan membela guru mereka.

Melihat munculnya hwesio-hwesio jubah merah ini, Yu Siang Ki dan Hauw Lam segera meloncat maju menerjang dengan senjata golok yang mereka temukan di luar kamar tahanan. Juga Pangeran Talibu tidak mau ketinggalan. Pangeran ini sudah mengambil sebatang pedang seperti juga Puteri Mimi, dan kedua orang muda bangsawan yang pandai ilmu silat ini pun lalu menyerbu dan membantu Siang Ki dan Hauw Lam.

Sebagian dari hwesio-hwesio itu menyambut serbuan empat orang muda, akan tetapi sebagian besar membantu Bouw Lek Couwsu. Suling Emas menjadi marah melihat datangnya banyak hwesio jubah merah yang otomatis mengeroyok kakek cebol. Ia membuat gerakan panjang, gulungan sinar suling yang sungguh luar biasa melibat bayangan Thai-lek Kauw-ong.

Kauw-ong kaget, merasa betapa sinar itu mengandung hawa dingin yang tajam melebihi pedang. Untuk menjaga diri, Kauw-ong lalu berputaran seperti gasing, sepasang gembrengnya menjadi sinar yang membungkus tubuhnya. Akan tetapi ia kena diakali Suling Emas yang memang hanya menggertak saja. Setelah kakek raksasa yang amat lihai itu berputaran, tiba-tiba Suling Emas mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian kepada Pak-sin-ong. Tubuhnya berkelebat, sulingnya melengking bagaikan sinar kilat menyambar ke arah Pak-sin-ong. Kini Pak-sin-ong tidak ada pembantu karena sahabatnya sedang berputaran seperti gasing. Terpaksa ia menangkis dengan gergaji di tangan kanan sedangkan tali pancingnya menyambar ke arah kaki Suling Emas.

“Cringg… krekkkk!” gergaji itu patah-patah menjadi beberapa potong.

Pak-sin-ong hendak meloncat mundur akan tetapi alangkah kagetnya ketika gerakannya itu terhalang oleh tali pancingnya sendiri yang kini sudah melibat-libat tangan Suling Emas. Kiranya pendekar sakti itu telah menangkap pancingnya dan karena talinya diikatkan pada pinggang, Pak-sin-ong tak dapat melarikan diri! Ia menjadi nekat, membetot-betot tali pancing dan mengirim pukulan sambil tiba-tiba menubruk maju. Tubuh yang menubruk itu diterima dengan tusukan suling.

Pak-sin-ong mengulur tangan menangkap suling. Gerakannya cepat dan tak terduga-duga sehingga suling itu dapat tertangkap. Mereka saling betot, adu tenaga. Namun Pak-sin-ong kalah kuat sehingga terpaksa mempergunakan kedua tangan melawan tangan kanan Suling Emas. Sambil tersenyum Suling Emas mempertahankan suling dengan tangan kanan, ada pun tangan kirinya bergerak cepat, jari-jari tangan yang ampuh dan kuat itu satu kali menusuk ke arah pelipis lawan. Tanpa mengeluarkan suara Pak-sin-ong melepaskan suling dan roboh tak bergerak lagi.

Ketika Suling Emas siap menghadapi Thai-lek Kauw-ong, ternyata Si Raja Monyet itu telah melompat jauh melarikan diri! Ia tidak mengejar, melainkan menyerbu ke depan membantu kakek cebol yang kini dikeroyok banyak sekali lawan. Para murid Bouw Lek Couwsu tentu saja semua mengeroyok si Cebol ini untuk membantu guru mereka.

Si Kakek Cebol benar-benar hebat luar biasa sehingga mengagumkan hati Suling Emas. Ia dapat menduga siapa adanya kakek ini, tentulah Bu-tek Lo-jin karena siapa lagi di dunia ini ada tokoh sakti memiliki tubuh seperti kanak-kanak dan kepala besar seperti raksasa? Memang kini sudah kelihatan tua sekali sehingga kalau melihat mukanya orang yang pernah bertemu akan menjadi pangling, akan tetapi melihat potongan tubuh dan kepalanya, melihat sikapnya yang ugal-ugalan mudah saja menduga siapa tokoh ini.

“Locianpwe Bu-tek Lo-jin, terima kasih atas bantuan Locianpwe!” kata Suling Emas sambil menerjang maju, menyerang Siauw-bin Lo-mo.

“Heh-heh-heh. Suling Emas, siapa membantu siapa? Aku hanya ingin menghajar monyet-monyet gundul berpakaian pendeta ini!”

“Brettt… brettt…!” celana dua orang hwesio jubah merah robek dan putus tali kolornya.

Tentu saja dua orang hwesio itu kedodoran dan tersipu-sipu, kemudian mundur untuk membenarkan celananya yang robek. Kakek cebol itu tertawa bergelak dan tubuhnya kembali berkelebatan di antara sinar senjata para pengeroyoknya yang amat banyak.

“Hayo Bouw Lek Couwsu, lepaskan celanamu!” kembali kakek cebol itu tertawa dan menerjang.

Ia tidak pedulikan para hwesio yang menghalanginya. Dengan lincahnya ia melejit dan menyelinap, tahu- tahu ia sudah berhadapan lagi dengan Bouw Lek Couwsu. Kalau tadi ia belum berhasil adalah karena selain Bouw Lek Couwsu sendiri amat lihai, kakek pemimpin Hsi-hsia ini dibantu pula oleh Siauw-bin Lo- mo. Kini menghadapi kakek cebol seorang diri, Bouw Lek Couwsu menjadi pucat dan marah. Tongkat kuningnya yang berat digerakkan menghantam tubuh Bu-tek Lo-jin.

“Desss…!” Dan Bouw Lek Couwsu melongo.

Jelas tadi ia melihat tongkatnya secara tepat menyambar tubuh cebol itu, akan tetapi mengapa kini hanya tanah saja yang dihantamnya dan ke mana perginya si Cebol? Tiba-tiba terdengar bunyi kain robek dan Bouw Lek Couwsu cepat membalikkan tubuh karena merasa tubuh belakangnya dingin. Kiranya Bu-tek Lo- jin sudah berdiri di belakangnya dan ketika Bouw Lek Couwsu meraba tubuh belakang, celananya di bagian belakang sudah robek lebar sekali sehingga nampak buah pantatnya yang besar menghitam!

“Ha-ha-ha-ha, persis pantat monyet, ha-ha-ha,” Bu-tek Lo-jin tertawa terbahak-bahak.

Bouw Lek Couwsu marah bukan main. Murid-muridnya sudah mengurung dan mengeroyok lagi kakek cebol itu dan seorang murid datang membawa celana baru yang cepat dipakai oleh Bouw Lek Couwsu. Kemudian sambil menggigit bibir saking marahnya, ia memutar tongkatnya lagi menerjang si Kakek Nakal.

Pertandingan antara empat orang muda melawan para pendeta jubah merah juga berjalan seru. Para pendeta itu adalah murid-murid pilihan Bouw Lek Couwsu yang merupakan pengawal pribadi, maka kepandaian mereka cukup tinggi. Kini bermunculan pasukan pengawal Hsi-hsia yang membantu sehingga empat orang muda itu harus bekerja keras. Banyak sudah orang Hsi-hsia roboh oleh pedang mereka, akan tetapi jumlah pihak lawan makin banyak.

Betapa pun juga, dengan enaknya Yu Siang Ki dan Tang Hauw Lam mempermainkan dan membabati mereka karena tingkat ilmu kepandaian dua orang muda ini jauh lebih tinggi. Puteri Mimi bersama Talibu sudah mundur karena Sang Pangeran terlalu lelah oleh luka-lukanya. Dia dibimbing Puteri Mimi yang siap melindunginya. Tadinya Talibu tidak mau berhenti dalam bertanding melawan musuh, akan tetapi Yu Siang Ki yang melihat betapa gerakan Pangeran ini lemah dan tidak tetap, bahkan wajahnya pucat sekali, maka ia lalu memutar senjata memberi jalan ke luar kepada Pangeran ini, minta supaya Sang Pangeran mengaso dijaga Puteri Mimi.

Siauw-bin Lo-mo repot sekali menghadapi Suling Emas. Tiga kali ia dibikin jungkir-balik oleh suling di tangan lawan. Untung ke tiga kali itu ia cukup cepat sehingga hanya mengalami jungkir-balik dan babak belur, kalau ia kurang cepat sedikit saja, tentu nyawanya telah melayang. Karena maklum bahwa ia bukan tandingan Suling Emas yang luar biasa saktinya, tiba-tiba Siauw-bin Lo-mo tertawa bergelak, tangan kirinya membanting bumbung, juga tangan kanannya meraih bola yang bergantungan pada pinggangnya.

Terdengar bunyi ledakan-ledakan keras dan tanpak asap bermacam-macam warnanya mengebul memenuhi tempat pertandingan itu. Bouw Lek Couwsu berseru memberi peringatan kepada anak buahnya yang lari cerai-berai, namun terlambat sedikit. Lebih dari sepuluh orang Hsi-hsia dan pendeta jubah merah roboh berkelojotan, ada yang terkena besi, ada yang menghisap asap beracun.

Pangeran Talibu dan Puteri Mimi yang mengaso di emper bangunan, dari jauh melihat betapa setelah membantingi bahan-bahan peledak dan asap beracun, Siauw-bin Lo-mo roboh telentang. Akan tetapi mereka tidak melihat di mana adanya Suling Emas, Bu-tek Lo-jin, Yu Siang Ki, dan Tang Hauw Lam! Apakah mereka berempat juga sudah menjadi korban?

Kiranya ketika terjadi ledakan-ledakan tadi, keadaan amatlah berbahaya sehingga orang-orang lihai seperti Siang Ki dan Hauw Lam sekali pun belum tentu dapat menyelamatkan diri karena mereka sedang menghadapi pengeroyokan. Akan tetapi, tiba-tiba mereka berdua berseru kaget, tubuh mereka terangkat dan terbang melayang ke atas genteng markas Bouw Lek Couwsu. Setelah memandang, kiranya Suling Emas yang menyambar tubuh Siang Ki dan Bu-tek Lo-jin yang membawa ‘terbang’ Hauw Lam! Setelah dilepaskan di atas genteng, dua orang muda itu segera bertekuk lutut menghaturkan terima kasih.

Bu-tek Lo-jin duduk di atas genteng, merangkul pundak Hauw Lam. “Heh-heh, kau lumayan, aku tidak kecewa. Apa lagi permainanmu di depan Bouw Lek Couwsu dan sekutunya, hebat!”

“Berkat bimbingan Suhu,” kata Hauw Lam merendah.

“Heh, bimbingan apa? Aku tidak pernah mengajarmu bersyair!” “Suhu telah datang, kenapa tidak cepat turun tangan tadi?” “Kenapa? Aku belum ada kegembiraan.”
“Bukankah tadi keadaan Mutiara Hitam terancam bahaya?”

“Uuuhh, berani bermain api jangan takut terbakar. Berani bermusuhan jangan takut berkelahi dan berani berkelahi jangan takut mati! Perlu apa mesti kutolong? Eh, Hauw Lam, syairmu tadi yang memuat teka-teki, mengapa kau begitu sembrono? Hatiku sampai berdebar tidak karuan. Bagaimana kalau kebetulan di antara mereka ada yang menebak tepat angka empat? Kau tentu kalah.”

Hauw Lam maklum bahwa gurunya ini memang ugal-ugalan, maka jawaban dan alasan tadi tidak ia masukkan hati. “Teecu (murid) takkan kalah, Suhu. Walau pun ada yang menjawab empat umpamanya, teecu akan salahkan dia karena jawabannya bukan empat.”

“Heeeii, bagaimana ini?”

“Aah, ini hanya akal anak kecil, Suhu. Di dalam syair itu terdapat angka atau jumlah bermacam-macam. Kura-kuranya empat, emasnya satu, bulannya dengan bayangannya dua, tanggal purnama lima belas. Kalau sekalian angka-angka itu dikali, ditambah, dikurangi atau dibagi, bisa saja kita mencari bilangan dari satu sampai seratus! Tentu saja semua tebakan bisa teecu salahkan!”

Bu-tek Lo-jin mengerutkan kening berpikir-pikir, kemudian setelah mengerti duduknya persoalan ia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, kalau begitu kau tipu mereka mentah-mentah!”

“Bukan menipu, Suhu, melainkan ini akal anak kecil. Hanya orang goblok dan tolol saja yang dapat diakali permainan kanak-kanak macam ini. Dan di dunia ini terlalu banyak orang tolol dan goblok.”

“Ha-ha-ha, orang-orang yang punya kedudukan tinggi bisa diakali. Kau lihat nanti, Hauw Lam. Aku tak mau kalah denganmu. Kau lihat nanti bagaimana aku permainkan mereka dengan akal anak kecil juga. Lihat ini!” Setelah berkata demikian, Bu-tek Lo-jin menggunakan jari kelingkingnya mengorek-ngorek ke dalam lubang hidungnya, mengeluarkan upil (tahi hidung) dan mengumpulkan lalu memelintir-lintirnya menjadi semacam pel. “Ah, terlalu sedikit,” katanya tertawa. “Hayo kau keluarkan punyamu. Kau juga, Suling Emas, dan kau… eh, jembel muda.”

Hauw Lam mengedipkan mata kepada Siang Ki agar pemuda itu suka memenuhi permintaan kakek itu. Akan tetapi tanpa diberi tanda juga Siang Ki tentu akan mentaatinya karena pemuda ini sudah cukup berpengalaman untuk mengenal seorang sakti yang aneh seperti Bu-tek Lo-jin. Tanpa ragu-ragu ia pun lalu mengorek lubang hidungnya.

Suling Emas tersenyum kepada kakek nakal itu. Kalau dia mentaati permintaannya, berarti dia sudah kena dipermainkan juga, maka ia lalu mengambil kotoran tanah yang menempel di bawah sepatunya, “Bu-tek Lo-jin, dicampur dengan kotoran ini tentu lebih lezat rasanya,” Ia menyerahkan segelintir tanah kotor yang diambilnya dari bawah sepatu.

“Ha-ha-ha, bagus, bagus! Memang tahi hidung saja kurang banyak,” ia lalu menuding dan menghitung baju-baju merah di bawah, “Wah, ada dua puluh orang bersama Bouw Lek si tolol. Biar kutambah lumpur!” Kakek ini lalu mengumpulkan tanah dari bawah kakinya, dicampur dengan tahi hidung yang ia terima dari Siang Ki, Hauw Lam, dan dia sendiri, ditambah pula dengan debu-debu yang menempel pada genteng. Karena debu-debu itu kering, ia lalu meludahinya, dan mengepal-ngepal campuran ini menjadi sekepal kecil yang warnanya tidak karuan, agak kehitaman, kemerahan dan abu-abu!

“Asap sudah buyar, lihat, Pangeran dan Puteri kelihatan bingung kehilangan kita. Mari turun!” kata Suling Emas yang melayang turun, diikuti dua orang pemuda dan kakek nakal.

Suling Emas lebih dulu mengambil sulingnya yang menancap di dahi Siauw-bin Lo-mo yang sudah tewas. Melihat empat orang ini melayang turun, Pangeran Talibu dan Puteri Mimi bersorak dan lari menghampiri. Sorak-sorai terdengar keras sekali dan kini bermunculan prajurit-prajurit Khitan yang sudah berhasil menyapu bersih orang-orang Hsi-hsia.

Bouw Lek Couwsu bersama sembilan belas orang murid pilihan kini berdiri bingung, dikurung di tengah- tengah. Pangeran Talibu mengeluarkan aba-aba kepada para prajurit yang segera mengurung tempat itu dan tak seorang pun di antara mereka berani turun tangan. Para prajurit ini bersorak girang melihat bahwa pangeran mereka dan Puteri Mimi dalam keadaan selamat, sungguh pun Pangeran Mahkota itu tubuhnya luka-luka. Seorang komandan pasukan cepat-cepat maju menghampiri membawa sebuah jubah indah yang dikenakan pada tubuh Pangeran Talibu yang telanjang bagian atasnya. Kemudian komandan itu mundur lagi setelah memberi hormat.

Dengan wajah keruh Bouw Lek Couwsu melangkah maju menghadapi Suling Emas dan teman-temannya. “Suling Emas, kau menggagalkan usahaku. Aku sudah kalah, mau bunuh lekas bunuh!” Setelah berkata demikian, Bouw Lek Couwsu melempar tongkatnya ke atas tanah. Perbuatan ini diturut oleh anak muridnya yang semua melempar senjata ke atas tanah.

Orang akan keliru kalau mengira bahwa perbuatan Bouw Lek Couwsu ini merupakan tanda sifat pengecut atau penakut. Tidak, sama sekali bukan begitu. Bouw Lek Couwsu tidak akan dapat menjadi pimpinan orang Hsi-hsia kalau ia penakut atau bodoh. Perbuatan ini malah membuktikan kecerdikannya. Ia tentu saja mengenal siapa Suling Emas. Seorang pendekar sakti yang bernama besar dan yang terkenal memiliki watak satria dan gagah. Seorang satria yang gagah perkasa tak mungkin sudi membunuh musuh yang tidak melawan lagi! Sedangkan kalau dia dan murid-muridnya melawan, tak dapat diragukan lagi dia dan murid-muridnya tentu akan binasa semua.

“Bouw Lek Couwsu, kami tidak akan membunuhmu. Ketahuilah bahwa Kaisar Sung yang bijaksana tidak menghendaki permusuhan dengan bangsa apa pun juga. Juga dengan bangsa Hsi-hsia tidak menghendaki permusuhan. Oleh karena kau kini melanggar wilayah Sung, maka Pemerintah Sung yang berhak memutuskan. Akan tetapi karena aku sudah tahu akan kehendak Kaisar, biarlah kekalahanmu ini menjadi pelajaran bagimu agar kelak kau tidak berani main-main dengan Kerajaan Sung mau pun dengan Kerajaan Khitan. Kau pergilah pulang ke tempat asalmu!”

“Eh-eh-eh, nanti dulu!” tiba-tiba Bu-tek Lo-jin berkata sambil terkekeh. “Suling Emas, kau membebaskan mereka tanpa mengobati mereka, sama artinya dengan melepaskan kepala memegang buntutnya! Mereka kau bebaskan untuk mati, apa bedanya? Lihat, bukankah mereka semua menderita luka keracunan yang hebat dan tiada obatnya? Ini, lihat leher Bouw Lek Couwsu!” Ia mendekati dan tangannya menunjuk ke arah leher, “Tentu Bouw Lek Couwsu tidak dapat melihat lehernya sendiri, tapi coba tarik napas dalam tidakkah terasa gatal dan sakit?”

Bouw Lek Couwsu benar-benar menarik napas dalam dan ia kaget bukan main. Memang terasa gatal-gatal dan sakit. Sebagai seorang ahli ia berusaha menggunakan napas untuk memunahkan racun ini, namun makin dilawan makin sakit. Sementara itu, Bu-tek Lo-jin terus mendekati murid-murid Bouw Lek Couwsu, menuding sana-sini, ada yang lehernya sakit, ada yang punggungnya, pundaknya, pahanya pendeknya di mana kakek itu menuding, tentu di situ benar-benar terasa gatal dan sakit apa bila dipakai menarik napas panjang. Ributlah mereka dan dua puluh orang itu menjadi cemas sekali.

“Ha-ha-ha! Bouw Lek Couwsu, tahukah engkau luka apa dan racun apa yang bersarang di tubuh kalian semua? Inilah racun hebat yang tak mungkin dapat disembuhkan kecuali oleh obat yang dinamakan batu hitam dari goa kembar! Atau dengan cara lain, bagian yang kena racun itu dipotong. Kalau paha yang terkena, ya. pahanya dipotong, kalau pinggang atau leher… yah, pinggangnya dan lehernya dipotong!”

Sepasang mata Bouw Lek Couwsu melotot marah, akan tetapi murid-muridnya menggigil ketakutan. Mana ada cara pengobatan macam itu? Pinggang atau leher dipotong berarti mati!

“Suling Emas, apakah benar apa yang dikatakan tua bangka gila ini?”

“Bouw Lek Couwsu, aku bukan seorang ahli tentang racun, akan tetapi harus diakui bahwa Locianpwe Bu- tek Lo-jin adalah seorang ahli tentang pukulan-pukulan beracun. Harap Couwsu suka bertanya kepada beliau.”

Bouw Lek Couwsu dengan sikap angkuh kini menghadapi kakek cebol yang tertawa-tawa, “Apakah omonganmu itu betul dan tidak omong kosong belaka?”

 

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo