August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 22)

 

 

“Hemmm…!” Bouw Lek Couwsu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, tangannya bergerak dan Pangeran Talibu terguling roboh dengan kaki seperti patah rasanya. Pukulan jarak jauh pendeta ini telah merobohkannya.

Bouw Lek Couwsu memberi perintah lagi dalam bahasa Hsi-hsia. Raksasa hidung besar yang menjadi marah sekali karena temannya roboh tewas mentaati perintah itu, lalu bangkit berdiri dan mencabut sebuah cambuk kulit dari ikat celananya. Kemudian ia menghampiri Pangeran Talibu dan terdengarlah suara meledak-ledak ketika cambuk itu melecut dan menghantam tubuh Pangeran Talibu yang juga telanjang bagian atasnya.

Pangeran yang memang sudah luka-luka itu merasa betapa kulit dan sedikit daging di bawah kulit seperti dicacah-cacah, digigiti cambuk, terasa panas dan perih. Saking sakitnya, ia sempat menggeliat-geliat dan bergulingan ke sana ke mari seperti seekor ayam disembelih, akan tetapi ia menggigit bibir sampai berdarah, sedikit pun tidak ada suara keluhan keluar dari mulutnya!

Biar pun Kwi Lan tidak mengeluarkan kata-kata sesuatu saking terharu dan sakit hatinya, namun air matanya bercucuran menyaksikan betapa pemuda yang dicintanya ini mengalami siksaan seperti itu. Kemudian ia mendapatkan kembali suaranya lalu memaki-maki nyaring.

“Bouw Lek Couwsu kau manusia iblis! Kau anjing tua berkedok pendeta! Aku bersumpah akan mencabut nyawamu kalau diberi kesempatan!”

Bouw Lek Couwsu hanya tertawa bergelak, kemudian berkata dalam bahasa yang dimengerti Kwi Lan, “Heeii, kau beri rasa sekali dua kali kepada bocah bermulut lancang ini!”

Raksasa Hsi-hsia berhidung besar yang tadinya memandang Kwi Lan dengan mata penuh nafsu birahi, kini memandang dengan kebencian meluap-luap. Ia membalik dan mengangkat cambuknya, siap dijatuhkan ke atas muka yang jelita dan berkulit halus putih kemerahan itu.

Cambuk diangkat ke atas, bergerak di udara mengeluarkan bunyi “tarrr!” dan ujungnya menyambar ke arah muka Kwi Lan.

“Binatang…!”

Tubuh Pangeran Talibu yang tadinya sudah menggeletak kehabisan tenaga dan amat menderita rasa panas perih dan nyeri, kini meloncat dan ujung cambuk yang menyambar ke arah muka Kwi Lan tertangkap oleh tubuhnya.

“Tarrr…!”

Tubuh Pangeran Talibu terguling roboh lagi. Ia tadi dapat bergerak karena kemarahan yang meluap-luap ditambah rasa gelisah menyaksikan adik kembarnya akan disiksa. Akan tetapi begitu ia berhasil menghindarkan wajah adiknya dari cambukan, kedua kakinya yang sudah setengah lumpuh oleh pukulan Bouw Lek Couwsu tadi tidak dapat berdiri tegak, maka ia terguling. Orang Hsi-hsia tinggi besar menjadi marah. Ia lalu menggerakkan cambuknya dan kembali tubuh Talibu dihajar bertubi-tubi sampai akhirnya pemuda itu roboh pingsan! Dada dan punggungnya tertutup darah dan garis-garis biru merah.

“Cukup, kau anjing tolol! Jangan bunuh dia! Hajar perempuan ini kataku!” Bouw Lek Couwsu membentak kemudian melangkah minggir.

Orang Hsi-hsia itu terkejut, maklum akan hebatnya hukuman kalau ia membuat marah pemimpin besar ini, lalu mengangkat cambuknya, menghantam sekerasnya ke arah Kwi Lan yang rebah telentang tak mampu bergerak. Gadis ini sama sekali tidak berkedip, menanti datangnya cambuk ke muka dengan ketabahan luar biasa.

“Wuuuutt…, adduuuuhhhh…!”

Cambuk yang sudah nenyambar itu berhenti di tengah jalan bahkan lalu terlepas dari pegangan si Raksasa Hsi-hsia yang roboh seperti pohon ditebang. Sebatang jarum telah menembus punggung dan terus menancap di jantungnya!

 

“Hemmm… Bouw Lek Couwsu! Beginikah engkau memperlakukan muridku?” terdengar suara halus dingin dan muncul di ambang pintu, seorang wanita berpakaian putih berkerudung hitam, Kam Sian Eng! Tangan kanannya masih mengempit tubuh Kiang Liong dan tadi dengan tangan kiri, hanya menggunakan sebatang jarum, ia telah membunuh raksasa Hsi-hsia dalam sekejap mata.

Di sebelahnya tampak Suma Kiat yang memondong tubuh Puteri Mimi, dan di belakang dua orang ini berdiri Bu-tek Siu-lam, Pak-sin-ong, Siauw-bin Lo-mo, dan Thai-lek Kauw-ong. Empat orang tokoh sakti ini hanya tersenyum-senyum, agaknya mereka ini tidak peduli, atau bahkan gembira menyaksikan betapa kini Bouw Lek Couwsu agaknya akan bentrok dengan Sian-toanio!

Bouw Lek Couwsu tentu saja tidak akan dapat menjadi seorang pemimpin bangsa Hsi-hsia kalau ia tidak cerdik dan pikirannya dapat bekerja amat cepat dan mengambil keputusan yang amat tepat pada waktunya. Ia sama sekali tidak kelihatan terkejut atau kehilangan akal. Bahkan lalu cepat-cepat menjura kepada Kam Sian Eng, tersenyum lebar dan kemudian menghela napas panjang, menggeleng kepala dan berkata.

“Aaahhh, sayang sekali. Tanpa aku sengaja, kau telah menggagalkan siasatku, Sian-toanio. Pinceng belum gila untuk menyakiti murid Toanio. Dapat Toanio periksa apakah muridmu itu terluka sedikit pun. Pinceng terpaksa melakukan ancaman ini tidak lain hanya dalam usaha menundukkan kekerasan hati Pangeran Khitan itu. Marilah kita ke dalam dan bicara lebih leluasa, Toanio. Dan orang yang Toanio bawa itu… ah, bukankah dia Kiang-kongcu murid Suling Emas?”

Kam Sian Eng tadi membunuh raksasa Hsi-hsia bukan semata-mata karena hendak menolong Kwi Lan, melainkan ia merasa terhina kalau muridnya diganggu orang di depan matanya. Ia sebetulnya masih marah kepada muridnya itu, apa lagi ketika mendengar penuturan Suma Kiat tentang sepak terjang Kwi Lan di kota raja. Kini mendengar ucapan Bouw Lek Couwsu, ia mendengus dan melemparkan tubuh Kiang Liong ke atas lantai. Kiang Liong ternyata pingsan dan tubuhnya menggelundung dekat Kwi Lan yang hanya melotot dan memandang gurunya.

“Kakanda Pangeran…!”

Puteri Mimi meronta dari pondongan Suma Kiat. Ketika pemuda ini yang tertawa-tawa tidak mau melepaskannya, Mimi mencakar dan menggigit. Lucu juga pemandangan itu dan terdengar Kam Sian Eng berkata ketus, “Lepaskan dia!”

Suma Kiat masih menyeringai, akan tetapi ia tepaksa melepaskan Mimi yang segera lari dan menubruk tubuh Pangeran Talibu dan menangis tersedu-sedu, memanggil nama Talibu dan menggosok-gosok tubuh yang penuh darah dan luka-luka cambukan.

Bouw Lek Couwsu mengajak tamu-tamunya meninggalkan ruangan tahanan. Daun pintu ditutup dan dikunci dari luar, para penjaga kini ditambah jumlahnya dan sunyilah keadaan ruangan tahanan itu, kecuali tangis Puteri Mimi.

Melihat guru dan suheng-nya tidak berusaha membebaskannya, Kwi Lan mengerti di dalam hatinya bahwa ia telah dianggap musuh oleh mereka. Namun ia tidak merasa sedih karena kini tahulah ia bahwa gurunya dan suheng-nya itu bukanlah manusia-manusia baik. Ia bahkan merasa lega ditinggal di sini bersama Pangeran Talibu dan Kiang Liong, karena andai kata ia dibebaskan gurunya, ia masih belum yakin apakah ia akan mau bersekutu dengan mereka.

Kini perhatiannya tercurah kepada Puteri Mimi yang menangisi Talibu. Entah mengapa ia sendiri tidak tahu, melihat puteri cantik yang pernah ia jumpai di taman bunga Kiang Liong itu kini menangisi Talibu, ia secara tiba-tiba saja membenci puteri ini! Ingin ia bangkit dan menamparnya, menyeretnya pergi menjauhi Pangeran Talibu.

“Kakanda Pangeran…!”

Panggilan berkali-kali ini membuat Talibu sadar. Ia mengeluh lalu membuka matanya. Ia masih dikuasai racun yang memabokkan. Begitu membuka mata dan melihat Puteri Mimi duduk bersimpuh di dekatnya dan memeluki serta memanggil-manggil namanya sambil menangis, serentak ia bangkit.

“Mimi… kau… kau…?”

Mereka berpelukan. Puteri Mimi terkejut sekali ketika merasa betapa kakaknya ini, kakak kandungnya yang ia tahu diambil putera ratunya, kini memeluknya dengan tidak wajar. Bahkan menciumi mukanya, menciumi bibirnya penuh nafsu. Ia terlonjak kaget, matanya terbelalak, khawatir kalau-kalau kakaknya yang dicintanya ini menjadi gila!

“Kakanda…!” Ia berusaha melepaskan pelukan. Akan tetapi Pangeran Talibu memeluk makin erat, bahkan mencegahnya bersuara lagi dengan ciuman mesra.

Tiba-tiba terdengar bunyi melengking nyaring. Itulah suara Kwi Lan yang tak dapat menahan rasa amarahnya yang menggelegak di hati. Ia tidak tahu bahwa ia telah berada dalam cengkeram iblis cemburu, yang membuatnya marah dan beringas, siap membunuh Puteri Mimi. Setelah mengeluarkan suara melengking seperti suara gurunya kalau marah, tubuhnya mencelat ke depan, memukul ke arah Mimi dengan pukulan maut. Ia sudah lemah, tenaganya sudah hampir habis karena ia pergunakan untuk melawan rangsangan birahi sepanjang malam, akan tetapi pukulan itu masih ganas dan dahsyat luar biasa.

“Dukkk…!” Tubuh Kwi Lan terpelanting. Sebelum sempat bangkit kembali, sebuah totokan membuat gadis yang sudah lemah ini rebah miring dalam keadaan pingsan.

Puteri Mimi terkejut dan dengan pengerahan tenaga sekuatnya ia berhasil melepaskan diri dari pelukan Pangeran Talibu. Akan tetapi Pangeran itu bangkit dengan mata merah, mulut terengah-engah lalu hendak mengejar.

“Kakanda… apakah kau gila…?” teriak Mimi dan gadis ini merasa ngeri dan khawatir. Pangeran Talibu menubruk akan tetapi sebuah totokan dari samping membuat ia roboh pula menggelundung di dekat Kwi Lan dalam keadaan pingsan.

Kiranya Kiang Liong yang tadi siuman cepat turun tangan melihat Kwi Lan menyerang Mimi tadi. Pemuda yang banyak pengalaman dan berpemandangan luas ini melihat sesuatu yang tidak wajar pada sinar mata Kwi Lan dan Pangeran Talibu, maka melihat betapa Pangeran itu mengejar adiknya sendiri dengan nafsu menyala-nyala, segera ia menotoknya roboh.

Untung bahwa dua orang muda itu sudah kehabisan tenaga. Kalau tidak, belum tentu Kiang Liong dapat merobohkan mereka secara mudah. Apa lagi merobohkan Kwi Lan, karena tenaga Kiang Liong sendiri pun sudah lemah akibat luka yang dideritanya akibat pukulan Kam Sian Eng.

Setelah melihat betapa Kiang Liong merobohkan kakaknya, Puteri Mimi berbalik menjadi marah kepada Kiang Liong. Ia menghadapi pemuda itu dengan mata terbelalak dan membentak. “Kau apakan Kakakku…?”

Kiang Liong mengerutkan kening. “Mereka tidak wajar, seperti beringas dan gila. Aku hanya menotok mereka agar tidak terjadi hal-hal tidak baik. Mungkin mereka berada di bawah pengaruh racun.” Ia menuding ke arah mangkuk-mangkuk bekas makanan.

Puteri Mimi mengeluh lalu bersimpuh lagi dekat kakaknya. Kalau teringat betapa kakaknya tadi menciuminya seperti itu, mukanya menjadi merah saking jengah. Ah, selama hidupnya belum pernah ia dicium orang seperti itu! Kemudian timbul pula rasa kasihan dan khawatir di hati melihat tubuh kakaknya yang penuh luka bekas cambukan. Ia menoleh ke arah Kwi Lan, mengerutkan kening. Siapa wanita cantik jelita ini dan mengapa datang-datang hendak menyerangnya? Ia mengeluh dan kembali merenungi kakaknya dengan hati penuh kegelisahan.

Kiang Liong juga maklum bahwa keadaan mereka amat berbahaya. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan berduka atau berkhawatir. Cepat ia bangkit untuk menyelidiki keadaan kamar tahanan. Setelah mendapat kenyataan bahwa kamar itu kuat sekali, dijaga ketat di luar, ia lalu mengundurkan diri di sudut ruangan itu, duduk bersila mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan kekuatan dan kesehatannya. Ia tahu bahwa yang terpenting adalah memulihkan kekuatan karena apa pun yang akan terjadi, yang paling ia perlukan adalah tenaga dan kesehatannya.

Keadaan di dalam ruangan tahanan ini menjadi sunyi sekali. Hanya terdengar helaan napas panjang diselingi isak dari Puteri Mimi. Lilin merah makin mengecil dan akhirnya padam. Ruangan menjadi gelap. Puteri Mimi makin gelisah. Dua orang pingsan, yang seorang duduk bersemedhi. Dia merasa seperti di kuburan.

Menjelang pagi terjadi geger di dalam hutan dekat markas Bouw Lek Couwsu. Yu Siang Ki yang membawa pasukan pengemis sebanyak lima puluh orang telah tiba dan langsung menyerbu hutan yang kini terjaga rapat oleh orang-orang Hsi-hsia dan para pendeta jubah merah. Pasukan yang dibawa Yu Siang Ki adalah orang-orang pilihan dari dunia kai-pang dan rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan. Sebagai tokoh- tokoh kai-pang yang berpengalaman, di antara mereka itu terdapat orang-orang yang ahli akan siasat pertempuran dan ahli pula akan tempat-tempat rahasia, maka mereka tidak bertindak sembrono.

Yu Siang Ki di samping teman-temannya yang berpengalaman, dapat menduga bahwa markas besar pimpinan orang Hsi-hsia ini tentu penuh dengan perangkap-perangkap berbahaya. Oleh karena itu mereka menanti sampai datangnya malam gelap, barulah mereka menyerbu ke dalam hutan. Yu Siang Ki dan teman-temannya tidaklah begitu sembrono seperti Kwi Lan untuk melalui jalan satu-satunya yang terdapat di hutan itu, melainkan mengambil jalan menyusup di antara semak-semak belukar, menyelinap di antara pohon-pohon besar.

Dengan amat hati-hati mereka menyusup seperti gerakan pasukan monyet yang amat lincah. Setelah melalui perjalanan yang amat sukar dan lama, menjelang senja barulah mereka dapat mendekati markas. Mereka telah lolos dari pada perangkap-perangkap rahasia yang dipasang di sepanjang jalan, akan tetapi ternyata mereka tidak dapat lolos dari pada para penjaga yang ketat. Ketika para penjaga melihat gerakan mereka, para hwesio jubah merah beserta pasukan Hsi-hsia segera bergerak mengepung dan terjadilah pertempuran hebat sekali di dekat markas besar Bouw Lek Couwsu.

Keadaan masih remang-remang gelap, dan pasukan kai-pang di bawah pimpinan Yu Siang Ki menyerbu dengan dahsyat sehingga pertempuran itu berlangsung seru sampai pagi. Akan tetapi ternyata pasukan yang dipimpin Yu Siang Ki cukup tangguh sehingga banyak prajurit Hsi-hsia roboh binasa. Para hwesio jubah merah melakukan perlawanan gigih, namun mereka kalah banyak sehingga mulailah mereka terdesak.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Jembel-jembel busuk sungguh menjemukan!” Bentakan ini disusul munculnya seorang kakek kurus bertopi tinggi, namun gerakannya hebat luar biasa. Begitu dengan tangan kosong ia menyerbu, empat orang pengemis roboh dengan mata mendelik dan putus napasnya!

“Hemmm, baru kalian mengenal Pak-sin-ong!” kata si Kurus dan kembali ia melangkah maju.

Para pengemis yang terkejut bukan main menyaksikan kelihaian kakek ini, menjadi lebih kaget mendengar namanya. Kiranya inilah Pak-sin-ong! Namun hanya sebentar mereka terkejut. Seorang pengemis yang bertubuh kekar dan berkumis lebat, menubruk maju mengayun tongkatnya, menghantam ke arah kepala Pak-sin-ong. Kakek itu hanya berdiri dengan angkuh dan tersenyum mengejek.

“Krakk!” Tongkat itu tepat mengenai kepala dekat dahi, akan tetapi kakek itu tetap tersenyum, sebaliknya tongkat itu yang terbuat dari pada kayu keras itu patah menjadi dua potong dan terlempar jauh entah ke mana.

Si Pengemis kaget, tetapi tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya dan ditusukkan ke depan. Pengemis itu terbelalak dan mulutnya mengeluarkan jerit mengerikan. Juga teman-temannya terbelalak ngeri ketika melihat betapa pengemis ini pecah perutnya, ususnya berantakan dan ditarik-tarik ke luar oleh si Kakek Kejam! Pemandangan yang amat mengerikan, akan tetapi juga menimbulkan kemarahan yang meluap-luap, membuat para pengemis menjadi nekat. Majulah mereka menerjang kakek itu yang melayani sambil tersenyum simpul.

Yu Siang Ki yang mendengar laporan tentang munculnya kakek hebat ini cepat meloncat dan menggerakkan tongkatnya merobohkan seorang hwesio jubah merah. Akan tetapi sebelum ia tiba di tempat Pak-sin-ong mengamuk tiba-tiba ia harus melempar diri ke sarnping, bergulingan dan menyabetkan tongkatnya ke kiri karena dari arah kiri menyambar sebuah gunting besar yang tadi hampir saja menggunting putus lehernya! Ia meloncat bangun dan berhadapan dengan seorang kakek yang terbahak- bahak. Butek Siu-lam!

Kagetlah Yu Siang Ki. Sudah lama ia mendengar akan nama besar Pak-sin-ong atau Jin-cam Khoa-ong sebagai seorang tokoh utara yang luar biasa saktinya. Juga ia pernah mendengar nama besar Bu-tek Siu- lam yang baru muncul namun memiliki nama yang tidak kalah oleh orang-orang pertama. Melihat bentuknya, lagaknya, dan guntingnya, tak salah lagi inilah orangnya. Ia tahu bahwa lawan ini amat berbahaya, maka cepat Siang Ki menyambar topinya dan begitu tangannya bergerak, topinya melesat seperti petir menyambar ke arah muka Bu-tek Siu-lam.

“Klikk!” Gunting itu menyambar dan… biar pun topi masih terbang lewat, namun kembangnya yang menghias topi sudah terguling dan kini terpegang di tangan kiri Bu-tek Siu-lam yang mencium-cium kembang itu dengan lagak genit!

“Hi-hik, pemuda tampan, Engkau boleh juga, sayang semuda dan setampan engkau begini malas menjadi pengemis. Hi-hik!”

Pada saat itu, seorang pengemis tua mendekati Yu Siang Ki dan berkata, suaranya gugup, “Pangcu, keadaan kita terdesak. Minta putusan.”

“Beri tanda untuk mundur, sedapat mungkin keluar dari tempat ini!” kata Yu Siang Ki yang tidak ingin mengorbankan teman-temannya. Ia maklum bahwa setelah muncul dua orang sakti yang sama sekali tidak pernah disangkanya, keadaan pasukannya terancam bahaya.

Kakek pengemis itu mengangguk lalu meloncat pergi sambil mengeluarkan pekik seperti orang menangis. Itulah tanda untuk mundur, maka paniklah pasukan pengemis. Mereka mulai mundur sambil mempertahankan diri, didesak oleh musuh yang kini mendapat hati.

Jalan keluar kiranya malah lebih sukar dari pada jalan masuk. Selain pasukan Hsi-hsia dan pendeta- pendeta jubah merah, juga kini sudah muncul pula Thai-lek Kauw-ong dan Siauw-bin Lomo dari sebelah kiri dan dari sebelah kanan muncul pula Kam Sian Eng dan Suma Kiat! Percuma saja para pengemis melakukan perlawanan dan berusaha lari. Mereka disapu sampai bersih, dan tidak seorang pun dapat lolos dari tempat itu!

Ketika Bu-tek Siu-lam mendengar bahwa pengemis muda yang tampan gagah ini adalah seorang Kai- pangcu (Ketua Pengemis) yang memimpin pasukan pengemis, ia menjadi kagum dan berkata, “Eh, kiranya engkau seorang pangcu! Hi-hik! Aku mendengar laporan para pengemis anak buahku bahwa ada seorang ketua pengemis muda belia yang katanya adalah putera mendiang Yu Kang Tianglo. Engkaukah orangnya?”

“Benar, dan aku pun tahu bahwa engkaulah orang dari barat yang menampung kaum sesat untuk menyelewengkan dunia pengemis ke dalam kejahatan. Sudah tiba saatnya kita membuat perhitungan!” kata Yu Siang Ki, sedikit pun tidak gentar dan ia sudah menggerakkan tongkat panjangnya.

“Hi-hi-hik, bagus! Bouw Lek Couwsu akan suka sekali menerima bantuanmu dan anak buahmu. Eh, bocah ganteng, engkau ikut saja denganku membantu Couwsu.”

“Bu-tek Siu-lam! Kau kira aku Yu Siang Ki orang macam apakah? Lihat tongkatku!” pemuda itu sudah menerjang dengan gerakan yang dahsyat. Tongkatnya mengeluarkan suara mengaung ketika menyambar ke arah kepala Bu-tek Siulam.

Namun kakek ini hanya tertawa mengejek dan berkata, “Hi-hik, percuma kau melawan!” Tongkat Siang Ki lewat di dekat kepalanya ketika tokoh banci ini mengelak. Namun sungguh tak disangkanya ketika tongkat itu seperti seekor naga membalikkan tubuh sudah membalik dan menusuk ke arah dadanya. Ketika ia cepat miringkan tubuh, tongkat itu kembali tahu-tahu sudah menghantam ke arah pinggangnya.

“Hiyaa…, kau boleh juga…!” seru tokoh ini, terkejut dan juga kagum. Kiranya biar pun masih muda pengemis ini memiliki kepandaian yang hebat. Pantas saja menjadi ketua kai-pang dan juga tidak mengecewakan menjadi putera mendiang Yu Kiang Tianglo yang dulu amat tersohor.

Pada saat itu, muncul dua orang pengemis tua. Tubuh mereka sudah terluka di lengan dan pundak, dan wajah mereka penuh keringat, pandang mata mereka penuh kegelisahan. Mereka serentak menerjang Bu- tek Siu-lam membantu Yu Siang Ki dan seorang di antara mereka berkata, “Pangcu mari kita lari, keadaan sudah berbahaya dan mendesak…!”

Kiranya dua orang pengemis ini yang melihat betapa pasukannya yang sedang melakukan usaha mengundurkan diri dihajar habis-habisan oleh musuh, kini berusaha membujuk Siang Ki untuk menyelamatkan diri. Mendengar ucapan mereka ini, Siang Ki mempercepat gerakan tongkatnya sehingga ujung tongkatnya berubah menjadi puluhan buah banyaknya, yang kesemuanya menyerbu ke arah jalan darah dan bagian-bagian lemah dari tubuh Bu-tek Siu-lam.

“Hi-hi-hi-hik, dasar pengemis tak tahu diri!” seru Bu-tek Siu-lam dan tubuhnya berkelebat ke arah dua orang pengemis tua itu. Guntingnya yang besar menyambar dan mengeluarkan bunyi nyaring.

“Klikk! Klakk!” Dua orang pengemis itu menjerit keras dan tubuh mereka roboh menjadi empat potong!

Siang Ki kaget dan kemarahannya meluap. Ia segera menerjang, mainkan ilmu tongkat ajaran ayahnya sambil mengerahkan semua tenaga sinkang di tubuhnya. Lenyaplah tubuh pemuda ini, berkelebatan dengan loncatan cepat, diselimuti gulungan sinar tongkatnya yang menyambar-nyambar. Bunyi mengaung, makin meninggi sampai melengking-lengking nyaring.

Namun yang dihadapi pemuda lihai ini adalah Bu-tek Siu-lam, seorang tokoh besar, seorang di antara Bu- tek Ngo-sian. Sungguh pun dasar ilmu silat Bu-tek Siu-lam tidak semurni ilmu silat Yu Siang Ki, namun jauh lebih berbahaya dan ganas, juga kakek banci ini menang tenaga dan menang pengalaman. Semua terjangan tongkat Yu Siang Ki yang demikian dahsyatnya dapat terbendung oleh gunting sehingga terdengarlah berkali-kali suara nyaring disusul percikan bunga api ketika kedua senjata itu bertemu.

Yu Siang Ki terkejut. Setiap kali senjatanya bertemu senjata lawan, lengannya menjadi kesemutan. Inilah tandanya bahwa tenaga sinkang lawan amat kuat. Dan ia pun dapat melihat betapa teman-temannya roboh seorang demi seorang, melihat pula munculnya Siauw-bin Lo-mo si kakek sakti di samping Pak-sin-ong dan Bu-tek Siu-lam ini.

Habislah harapannya, bukan hanya untuk menolong Pangeran Mahkota Khitan, bahkan kini ia sendiri terancam. Pasukannya hancur dan entah bagaimana dengan nasib Kwi Lan. Semua kegagalan ini membuat ia menjadi nekat dan marah. Tongkatnya diputar makin hebat dan kini ia tidak pedulikan apa-apa lagi, semua perhatiannya ia curahkan dalam penyerbuan terhadap Bu-tek Siulam.

“Bocah tampan yang bodoh! Engkau masih tidak mau menyerah?” Bu-tek Siu-lam mengejek dan terpaksa ia pun mempercepat gerakan guntingnya karena biar pun masih muda, lawannya ini benar-benar tak boleh dipandang ringan.

Jarang ia menemui lawan semuda tapi setangguh ini, dan diam-diam ia makin kagum. Alangkah akan senangnya mempunyai seorang kekasih seperti pemuda ini, pikirnya. Tampan, kulitnya putih halus, matanya jernih tajam, lahir batinnya gagah perkasa dan jantan! Namun tidaklah mudah menangkap pemuda tampan ini, dan mereka sudah bertanding sampai seratus jurus lebih!

Yu Siang Ki juga menjadi bingung. Ia maklum bahwa ia tidak akan menang melawan kakek yang amat sakti ini. Betapa pun juga, ia harus mempertahankan diri dan kalau perlu mengadu nyawa dengan Bu-tek Siu-lam. Tidak terlalu penasaran kalau ia mati bersama kakek ini yang memiliki ilmu jauh lebih tinggi dari padanya. Ia harus menggunakan akal, kalau hanya mengandalkan ilmu silat saja tak mungkin ia dapat membunuh Bu-tek Siu-lam.

Berpikir demikian, Siang Ki yang sudah menjadi nekat dan putus harapan itu lalu mencondongkan tubuh ke depan, tongkatnya menyambar ke arah kepala lawan disusul tangan kiri yang melepaskan tongkat dan memukul dengan jari-jari terbuka ke arah dada. Serangan tongkatnya tidak berbahaya, dan pukulan inilah yang berbahaya, mengandung tenaga sinkang yang kuat.

Bu-tek Siu-lam bukan anak kecil, dan ia tahu akan akal ini, yaitu yang disebut serangan membesar- besarkan, yang kosong menyembunyikan yang isi. Menghadapi sambaran tongkat, ia hanya menundukkan kepala dan berbareng ia menggerakkan gunting besarnya, yang sudah dibuka dan siap menggunting lengan kiri Yu Siang Ki yang mengirim pukulan ke dada.

Tangan kiri Siang Ki sudah meluncur ke depan dengan sepenuh tenaga dan gunting itu siap menanti untuk mencaplok lengan. Terlambatlah Siang Ki untuk menarik kembali lengannya, dan memang sesungguhnya inilah akalnya, akal seorang nekat yang hendak mengadu nyawa. Ia menggunakan lengan kirinya itu untuk memancing, menjadi umpan dan kalau perlu mengorbankan lengan kirinya dicaplok gunting lawan. Begitu melihat gunting menyambar lengan kirinya, tanpa menarik kembali lengan kirinya, kaki kanannya maju melangkah dan tongkatnya menghantam ke arah pinggang lawan sekerasnya. Hebat pukulannya ini, cepat dan tak tersangka-sangka. Ia akan kehilangan lengan kiri, akan tetapi pukulannya tentu akan membinasakan lawannya!

Bu-tek Siu-lam terkejut setengah mati melihat betapa lengan kiri itu sama sekali tidak mengelak atau ditarik kembali, membiarkan menjadi korban gunting. Sebagai seorang ahli tingkat tinggi, ia menjadi curiga dan menarik kembali guntingnya sehingga ketika terdengar suara “klik”, hanya ujung lengan baju Siang Ki saja tergunting. Dengan gerakan reflex yang mengagumkan, kakek itu sudah miringkan tubuh dan sekaligus menggerakkan guntingnya menangkis tongkat. Ia terlambat sedikit, tongkat yang tertangkis itu menyeleweng ke bawah dan menghantam paha kirinya.

“Bukkk…!”

Bu-tek Siu-lam terhuyung ke belakang, meringis kesakitan. Biar pun tulang pahanya tidak remuk, namun celananya pecah dan tampak pahanya yang putih itu kini menggembung dengan warna biru kemerahan!

“Bocah sinting! Kau tak mengenal kasihan orang!” teriaknya marah-marah dan kini terpincang-pincang ia menerjang maju, guntingnya menyambar-nyambar ganas dan diam-diam tangan kirinya mengeluarkan senjatanya yang ke dua, yaitu seutas benang dengan jarumnya!

Yu Siang Ki kaget dan menyesal sekali. Ia berhasil memukul lawannya, akan tetapi tahu pula bahwa ia hanya mendatangkan luka di kulit saja. Maka terpaksa ia lalu membela diri dan memutar tongkatnya. Akan tetapi sebentar saja Yu Siang Ki menjadi repot terdesak secara hebat. Ia melihat jarum berkilauan yang menyambar-nyambar seperti seekor lebah hidup, dan celakanya, jarum itu menyambar ke arah kedua matanya!

Pemuda ini terpaksa membantu tongkatnya dengan ujung lengan baju dikibaskan setiap kali ada sinar berkilau menyambar mata. Namun dengan cara begini, permainan tongkatnya menjadi kacau-balau. Ketika kembali gunting menyambar pinggang, ia menangkis dengan tongkat. Kilauan jarum menyambar mata, ia kibas dengan lengan kiri dan berusaha menangkap jarum.

Akan tetapi jarum yang diikat benang itu seperti hidup digerakkan tangan kiri Butek Siu-lam, kini jarum itu terbang membalik dan tahu-tahu telah menancap d pergelangan tangan kanan Yu Siang Ki! Pemuda ini mengeluh, tongkatnya terlepas, dan ketika ia membungkuk untuk menyambar kembali senjatanya, punggung gunting lawannya menotok tengkuknya. Yu Siang mengeluh perlahan dan roboh pingsan…..

********************

Dalam keadaan tidak berdaya, Kiang Liong terpaksa menonton saja ketika ia dan para tawanan lain dibelenggu, karena yang melakukan ini adalah Bouw Lek Couwsu sendiri yang masuk ke ruangan tahanan ditemani Bu-tek Siu-lam, Pak-sin-ong dan Siauw-bin Lo-mo. Di antara para tawanan, hanya dia dan Puteri Mimi yang kini dalam keadaan sehat. Akan tetapi apa artinya dia dan Puteri Mimi berdua saja menghadapi empat orang kakek sakti ini? Belum waktunya untuk menerjang dan mati-matian mengadu nyawa, pikirnya.

Terpaksa ia berpura-pura lemah dan tidak berbuat sesuatu sehingga mereka semua ini terbelenggu dengan rantai-rantai baja, diikat pada dinding kamar tahanan. Kiang Liong di sudut kiri, dan berbaris di sebelah kanannya adalah Pangeran Talibu, Yu Siang Ki, Kam Kwi Lan dan Puteri Mimi. Lima orang muda belia berbaris dalam keadaan terbelenggu di dalam kamar tahanan itu, nasib mereka berada di tangan kakek-kakek yang kejam dan ganas!

Puteri Mimi terisak-isak menangis. Melihat ini, Kiang Liong berkata perlahan dan tenang menghibur, “Harap puteri jangan gelisah dan putus harapan. Percayalah bahwa Bouw Lek Couwsu yang amat mengharapkan bantuan Khitan tidak akan begitu gila untuk membunuh puteri dan Pangeran. Ia melakukan ini sebagai gertakan saja untuk mengancam dan membujuk Pangeran Talibu yang saya lihat amat gagah dan keras hati tidak mau menyerah sehingga mengalami siksaan. Kalau dia nanti sadar dan melihat puteri menangis, hal ini amat tidak baik bagi pertahanannya. Engkau adalah puteri Panglima Kayabu yang gagah perkasa, tidak semestinya takut menghadapi bahaya yang baru sekian saja.”

Puteri Mimi menghentikan tangisnya. Hanya air matanya yang masih mengalir turun melalui kedua pipinya, akan tetapi. makin lama air mata itu pun makin mengecil dan akhirnya berhenti. “Terima kasih, Kiang- kongcu. Sesungguhnya, aku tidak akan memalukan nama besar ayahku dan aku bukan menangis karena takut. Kematian di tangan musuh bukanlah apa-apa bagiku. Yang kutangisi dan kusedihkan adalah keadaan Pangeran Talibu. Melihat keadaan jasmaninya tersiksa seperti itu sudah cukup mengenaskan, akan tetapi melihat betapa ia tadi… ah, Kongcu, engkau tahu bahwa dia adalah kakak kandungku, bahwa dia adalah Pangeran Mahkota. Hati siapa takkan berduka melihat kakak sendiri dan pangerannya menjadi… menjadi… gila…?”

Kiang Liong menarik napas panjang. Ia tadi pun melihat betapa Pangeran Talibu memeluk dan menciumi adik kandungnya itu secara berlebihan bahkan secara tidak patut. Pelukan dan ciuman yang mengandung nafsu birahi sepenuhnya! Bahkan sedemikian hebat nafsu itu menggelora dan menguasai Pangeran tadi sehingga Pangeran itu tidak mempedulikan kehadiran orang lain dan hendak memaksa Sang Puteri. Hal ini memang benar-benar tidak wajar dan ini pula yang menyebabkan ia tadi turun tangan menolong Sang Pangeran.

“Puteri Mimi, harap kau suka tenang. Saya tahu bahwa sikapnya tadi tidak wajar, seperti juga sikap Mutiara Hitam ini, akan tetapi percayalah, mereka ini pasti terkena racun yang hebat. Mereka berdua bukanlah orang-orang jahat dan juga tidak gila. Tunggu saja kalau mereka sadar, tentu kita akan mendengar keterangan mereka…”

Terdengar keluhan Kwi Lan. Mimi menoleh ke sebelah kirinya, melihat Kwi Lan menggerakkan kaki tangan yang terbelenggu, kemudian kepalanya dan akhirnya membuka matanya. Sejenak mata itu nanar dan bingung, kemudian Kwi Lan menoleh ke kanan kiri dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan. Mata itu kini memandang ke arah pintu besi dan mulutnya memaki.

“Heh si bedebah Bouw Lek Couwsu, kakek tua bangka mau mampus yang tak tahu malu! Kau pengecut besar yang hanya mengandalkan jebakan-jebakan rahasia, racun-racun menjijikkan dan bantuan pengeroyokan! Kalau memang kau mengaku jantan pemimpin bangsa biadab Hsi-hsia, hayo kita bertanding sampai selaksa jurus!”

“Kwi Lan, tidak ada gunanya menantang-nantang kalau kita sudah tak berdaya begini,” kata Yu Siang Ki.

Kwi Lan menoleh ke kiri dan nenjawab dengan mulut cemberut. “Dasar kau yang tidak punya guna, Siang Ki. Kau datang bersama pasukan pengemis pilihan, bagaimana tahu-tahu sudah menjadi tawanan? Ke mana perginya pasukanmu itu?”

Siang Ki menarik napas panjang. “Aaahhh, semoga saja di antara mereka ada yang berhasil meloloskan diri. Masih terlalu berat, apa lagi kakek-kakek iblis seperti Siauw-bin Lo-mo, Bu-tek Siulam, Pak-kek Sin- ong dan yang lain. Sungguh mereka merupakan lawan berat.”

“Aku tidak takut!” bentak Kwi Lan marah dan kembali ia berteriak-teriak “Iblis-iblis tua bangka macam Bu- tek Siu-lam, Pak-sin-ong, Siauw-bin Lo-mo atau Bouw Lek Couwsu, kalau berani bertanding melawan aku secara jantan, biarkan maju. Kalau aku kalah, aku rela mampus di tangan seorang di antara mereka!”

Siang Ki hanya menghela napas, maklum akan watak gadis ini. Kiang Liong tertawa kecil dan berkata, “Heh-heh, biarkan saja dia, Yu-pangcu. Andai kata dilayani, dia takkan mampu mengalahkan seorang di antara Bu-tek Ngo-sian.”

Kwi Lan kini menoleh ke kiri, sedapat mungkin memanjangkan lehernya untuk dapat melihat Kiang Liong yang terhalang Siang Ki dan Talibu, matanya mendelik dan ia menghardik. “Kau murid Suling Emas si sombong takabur! Kalau kau takut mampus, boleh kau menyerah kepada mereka dan boleh wakili mereka menempur aku! Huh, sombong, tidak menengok tengkuk sendiri. Kalau kau pandai dan murid Suling Emas kenapa kau sendiri tertawan? Tak tahu malu!”

Kiang Liong hanya tertawa, memperlihatkan deretan gigi yang putih dan kuat, Kwi Lan makin marah, mendengus-dengus dan meronta-ronta, akan tetapi belenggu kaki tangannya terlampau kuat. Akhirnya ia tidak meronta-ronta lagi dan hanya merenung ke depan. Dua titik air mata meloncat ke atas sepasang pipinya yang kemerahan.

Melihat ini Kiang Liong menjadi kasihan. Dengan kata-kata serius ia kemudian berkata, “Mutiara Hitam, siapakah yang menyangsikan kegagahan dan keberanianmu? Aku kagum sekali kepadamu. Akan tetapi, kau tentu mengerti pula bahwa seorang gagah akan dapat menanggung penderitaan dengan sikap tenang dan tidak putus harapan.”

“Huhh…!” Kwi Lan hanya mendengus, akan tetapi tidak membantah dan kini ia mencurahkan perhatiannya ke sebelah kanan, kemudian ke kiri ke arah Pangeran Talibu.

Ia melihat betapa pangeran yang dicintanya itu telah sadar pula, dan kembali jantungnya berdebar aneh. Kini ia tahu bahwa ia benar-benar jatuh cinta kepada Talibu dan kalau ia teringat akan keadaan mereka pada malam hari tadi, wajahnya menjadi merah sekali. Ah, jelas bahwa malam tadi terjadi peristiwa yang amat memalukan antara mereka berdua. Sikap mereka seperti orang kemasukan setan, tidak tahu malu!

Dan makin yakin pula hati Kwi Lan bahwa tentu malam tadi ia terpengaruh oleh racun yang terdapat dalam masakan dan minuman, demikian pula Pangeran Talibu. Buktinya, pagi ini ia tidak mempunyai perasaan panas dan rangsangan seperti semalam, sungguh harus ia akui bahwa cinta kasihnya terhadap pangeran itu makin membesar. Juga sinar mata Pangeran Talibu pagi ini halus dan tenang tidak panas dan penuh nafsu seperti malam tadi.

Akan tetapi perih hatinya kalau teringat akan kelakuan Pangeran itu terhadap Puteri Mimi. Dan saat ini, pandang mata Pangeran itu pun ditujukan kepada Puteri Mimi yang berdiri terbelenggu di sebelah kanannya. Dan di antara mereka ini terjadi percakapan dalam bahasa yang ia tidak mengerti! Bahasa Khitan!

Ia sama sekali tidak mengerti dan tiba-tiba mendengar ketawa perlahan di sebelah kirinya. Ia menoleh dan melihat Yu Siang Ki tersenyum dan mengangguk-angguk. Juga di ujung kiri tampak Kiang Liong tersenyum tenang. Jelas bahwa Siang Ki dan Kiang Liong mengerti bahasa Khitan dan tahu apa yang dipercakapkan kedua orang itu. Membicarakan tentang dia? Mentertawakan dia? Hatinya panas dan betapa pun ditahan- tahannya, akhirnya ia tidak kuat dan berbisik kepada Siang Ki.

“Mereka bicara apa? Apa yang dikatakan oleh dia?” Ia menunjuk dengan gerakan muka ke arah Pangeran Talibu.

Siang Ki menoleh kepadanya dan menjawab sambil berbisik pula. “Pangeran Talibu bilang bahwa puteri ini bukan adik kandungnya, bahkan sama sekali tidak ada hubungan keluarga di antara mereka.”

Kwi Lan tertegun, heran. Ia menoleh ke kanan dan melihat Puteri Mimi memandang ke kiri, ke arah Pangeran itu dengan mata terbelalak, seperti tidak percaya, akan tetapi wajah itu berseri-seri, penuh cemas, harap, dan bahagia! Kemudian ia mendengar Talibu masih berkata-kata penuh semangat dan perasaan, dan wajah Puteri Mimi makin berseri, lalu kemerahan kedua pipinya.

“Apa lagi yang dikatakan?” desisnya kepada Siang Ki.

“Ha, Pangeran itu bilang bahwa dia mencinta Puteri Mimi, dan telah mengambil keputusan untuk menikah dengan Puteri Mimi…”

Kwi Lan memejamkan mata, merasa seakan-akan halilintar menyambar kepalanya. Ia membuka mata, menoleh ke kanan melihat Puttri Mimi juga memejamkan mata sambil tersenyum penuh bahagia. Menoleh ke ujung kiri melihat Pangeran Talibu memandang ke arah Puteri Mimi, melalui dia, dengan penuh cinta kasih! Hatinya makin panas dan tiba-tiba air matanya bercucuran tanpa dapat dicegahnya lagi.

“Kita akan mampus semua…” desisnya menghibur hati panas dan patah. “Kita akan mampus semua di sini…!”

Yu Siang Ki tidak tahu apa yang terjadi dalam hati dan pikiran Mutiara Hitam. Mendengar ucapan ini dan melihat air mata bercucuran, ia terheran. Mengapa kini Kwi Lan seperti orang putus harapan? Ke mana keberaniannya tadi?

“Kwi Lan, sebelum hayat meninggalkan badan, masih ada harapan untuk lolos…” “Cukup! Siapa putus harapan?” bentaknya.
Sementara itu, menjelang pagi tadi terjadi hal-hal yang aneh di luar ruangan tahanan. Serombongan penjaga bangsa Hsi-hsia sebanyak lima orang yang menjaga barisan di luar markas menantikan datangnya pengganti penjaga sambil bermain kartu untuk menghilangkan rasa kantuk. Mereka sedang gembira karena ketegangan semalam telah mereda dan mereka merasa beruntung mendapat tugas menjaga sampai pagi, lebih untung dari pada teman-teman yang mendapat tugas menyingkirkan sekian banyaknya mayat-mayat para pengemis yang menyerbu markas.

Keadaan mayat-mayat itu mengerikan. Ada yang terpotong-potong tubuh mereka oleh gunting besar Bu- tek Siu-lam, ada yang berceceran isi perutnya sampai berantakan ususnya oleh tangan Pak-sin-ong. Menyingkirkan mayat-mayat seperti itu amat menjijikkan dan jauh lebih enak melakukan penjagaan dalam gardu ini sambil mengobrol dan bermain kartu. Apa lagi setelah kaum penyerbu dapat dihancurkan, keadaan menjadi aman dan siapa berani memasuki markas mereka?

Suara tapak kaki halus membuat mereka menengok dan lima orang Hsi-hsia ini meloncat keluar dari gardu sambil menghunus golok masing-masing. Sebentar saja mereka telah mengepung wanita yang mendatangi gardu itu. Wanita yang masih muda, cantik manis dengan sikap yang genit, tersenyum-senyum malu, dengan sepasang mata bening lincah, tubuhnya melenggak-lenggok. Biar pun sedang berdiri, pinggangnya tak pernah diam, bergerak-gerak seperti batang pohon liu tertutup angin. Wanita yang cantik molek menggairahkan dan genit!

Namun lima orang penjaga Hsi-hsia itu tidak mau bersikap sembrono. Terlalu banyak wanita cantik yang berbahaya dan berkepandaian tinggi, seperti Puteri Mimi dan terutama sekali Mutiara Hitam. Siapa tahu wanita cantik ini pun sahabat Mutiara Hitam. Maka mereka mengurung dengan golok terhunus.

“Siapa kau? Dari mana dan mau apa?” bentak seorang di antara penjaga yang berkumis panjang, mengacungkan goloknya yang tajam berkilauan.

“Iihhh…, jangan bunuh aku… aduhhh, jangan bunuh aku… Cu-wi-enghiong (Tuan-tuan Yang Perkasa)…!” wanita itu menjerit lirih, suaranya parau basah.

Lima orang Hsi-hsia itu tertawa. Pertama karena serasa dielus-elus hati mereka mendengar mereka disebut lima orang perkasa! Dan ke dua karena dengan sikapnya itu, wanita ini jelas bukanlah pendekar wanita yang pandai silat. Seorang wanita dusun yang cantik dan bodoh.

“Siapa kau dan mau apa datang ke sini?” bentak seorang penjaga lain yang matanya buta sebelah akibat perang.

“Aku… aku bernama Kiok Hwa (Bunga Seruni)… dan aku… aku datang mencari Boan-koko (Kakanda Boan)….”

Wanita itu tertawa hak-hak-hik-hik, malu-malu dan akhirnya berkata, “Boan-koko adalah Boan-hwesio, seorang hwesio jubah merah yang… ah… sahabatku, eh… dia sering datang ke rumahku di luar hutan. Sudah tiga bulan kami berhubungan, akan tetapi lebih sepekan ini dia tidak datang….”

“Ha-ha-ha-ha!” Lima orang itu tertawa terbahak-bahak.

Mereka tidak mengenal Boan-hwesio akan tetapi dapat menduga bahwa tentulah seorang di antara hwesio-hwesio jubah merah. Bukan rahasia lagi bahwa hwesio-hwesio itu, biar pun pakaiannya jelas seperti hwesio dan kepalanya gundul namun dalam hal mengejar wanita cantik, tidak kalah oleh mereka! Bahkan mereka tahu betapa Bouw Lek Couwsu sendiri setiap hari berganti kekasih.

“Kenapa kalian tertawa? Tolong panggilkan Boan-toako, atau tunjukkan ke mana aku dapat bertemu dengan dia…,“ wanita itu kembali berkata, sikapnya makin genit, senyum manisnya murah dan kerling matanya menyambar-nyambar penuh tantangan.

“Ha-ha-ha-ha!” si Kumis Panjang berkata sambil tertawa. “Jadi kau sudah sepekan lebih tidak didatangi sehingga menjadi rindu dan kini menyusul ke sini?” Tangan kirinya diulur dan meraba dagu yang putih halus itu.

“Aiihh… kenapa raba-raba?” wanita itu menjerit genit.

Si Kumis tiba-tiba memandang tajam dan sikap gembiranya berubah dengan bentakan menghardik. “Perempuan, jangan kau coba mengelabui kami! Kau seorang perempuan dusun penghuni luar hutan? Bagaimana kau dapat memasuki tempat ini?” Kiranya si Kumis ini teringat betapa jalan menuju masuk ke situ penuh perangkap dan terjaga sehingga tak mungkin seorang wanita muda yang bodoh dan lemah dapat masuk tanpa diketahui, sedangkan Mutiara Hitam sendiri terjebak.

Wanita itu tersenyum genit. “Aahhh. kenapa Cu-wi begini curiga? Apakah percuma saja aku mempunyai kekasih Boan-koko? Sudah beberapa hari aku diselundupkan masuk oleh Boan-koko, melalui jalan yang aman menyusup-nyusup semak dan alang-alang. Apa sukarnya?”

Lima orang ini lega dan percaya kini, lalu timbul pula kegembiraan mereka untuk mempermainkan wanita cantik genit ini. “Kenapa kau menjadi kekasih seorang hwesio gundul? Apakah dia masih muda?”

“Ah, tidak muda lagi, lebih tua dari pada kalian.” “Hemm, apa dia tampan?”
“Tampan? Huh, mukanya bopeng dan terutama sekali hidungnya amat kubenci. Terlalu besar hidung itu, dan dia… rakus.”

“Ha-ha.-ha-ha! Apanya yang rakus? Apakah hidungnya?”

“Idihh, mau tahu aja. Pendeknya dia tua dan buruk, kalian jauh lebih menarik. Apa lagi… hemm, aku paling suka pria berkumis panjang!” Ia memandang si Kumis dengan mata dipicingkan penuh tantangan.

“Waduh! Kalau begitu, kenapa tidak menjadi kekasih kami saja?”

“Boan-koko biar pun buruk rupa tapi hatinya baik. Kalau tidak ada dia, bagaimana aku dan Ayah Ibu serta adik-adikku dapat makan? Aku menjadi kekasihnya bukan untuk mencari kesenangan melainkan mencari… makan. Kalau mencari senang tentu aku memilih kalian, terutama yang kumisnya panjang.”

“Ha-ha-ha!” Si Kumis Panjang memelintir kumisnya dengan bangga, matanya liar menjelajahi tubuh wanita itu lalu menengok ke kanan kiri, “Manis, marilah ikut kami sebentar ke dalam gardu!” bisiknya sambil merangkul.

Wanita itu terkekeh genit dan balas memeluk pinggang si Kumis sambil berkata, “Aku mau akan tetapi satu-satu. Yang lain menjaga di luar, karena aku takut ketahuan Boan-koko!”

“Baik. Kawan-kawan, kalian jaga di luar menanti giliran!” Si Kumis terkekeh dan menyeret tubuh wanita itu memasuki gardu.

Empat orang kawannya tersenyum senyum dan menanti di luar dengan sikap tak sabar. Jarang sekali, bahkan belum pernah mereka mendapatkan korban yang begini lunak. Mereka menanti di luar dan tertawa- tawa ketika mendengar suara si Kumis menggereng dan mengeluh di dalam gardu.

Tak lama kemudian muncul kepala si Wanita sambil menggerakkan leher ke arah si Buta Sebelah. “Giliranmu. Dia tertidur!”

Si Buta Sebelah seperti ditarik tenaga tak tampak, meloncat memasuki gardu menyusul bayangan wanita itu. Kemudian ganti-berganti mereka memasuki gardu, akan tetapi tak tampak seorang pun di antara mereka keluar lagi. Tak lama kemudian, muncullah seorang Hsi-hsia yang bertubuh tegap ramping, mukanya kotor berdebu, pakaiannya longgar dan di pinggangnya tergantung sebatang golok. Orang ini melenggang ke luar dari dalam gardu penjagaan, langsung masuk ke bagian dalam dari markas itu. Ketika di bagian dalam dari batas penjagaan ia bertemu dengan beberapa orang Hsi-hsia, ia ditegur dalam bahasa Hsi-hsia.

“Hee! Siapa kamu dan dari mana? Mengapa baru kali ini kami melihatmu?”

Orang muda itu tersenyum dan menjawab sambil mengangkat dada. “Aiih, kawan-kawan apakah belum mendengar? Couwsu sendiri yang dengan rahasia mengutusku dari utara langsung melakukan penyelidikan ke kota raja Sung dan kini aku datang untuk menyampaikan hasil kerjaku.” Ia lalu memberi salam dengan tangannya. Sikapnya yang lincah dan tidak ragu-ragu serta wajahnya yang gembira agaknya tidak menimbulkan kecurigaan.

“Tunggulah, kawan-kawan. Setelah selesai menghadap Couwsu, akan kuceritakan pengalamanku dengan puteri-puteri Sung!” Semua penjaga tersenyum dan pemuda itu melanjutkan perjalanannya ke sebelah dalam dan mulailah tampak bangunan-bangunan markas Bouw Lek Couwsu.

Tidak lagi tampak orang-orang Hsi-hsia dan di bagian ini penjagaan dilakukan oleh hwesio-hwesio jubah merah murid anak buah Bouw Lek Couwsu. Pemuda Hsi-hsia ini melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, akan tetapi kali ini ia menyelinap di antara bangunan-bangunan, mencari-cari. Ia mulai bersikap hati-hati sekali karena ia dapat menduga bahwa lima orang Hsi-hsia yang dibunuhnya di dalam gardu penjagaan tadi tentu kini sudah ditemukan orang-orang Hsi-hsia lainnya.

Ia tertawa sendiri kalau teringat akan perannya sebagai seorang wanita cantik tadi. Untung lima orang Hsi- hsia itu semuanya goblok-goblok dan mata keranjang sehingga mudah saja ia pancing masuk gardu seorang demi seorang. Kalau tidak, ia harus bertempur melawan pengeroyokan mereka dan sungguh pun ia sanggup pula membunuh mereka dengan cara ini, namun bahayanya ketahuan lebih besar. Ia harus bekerja cepat. Ia maklum bahwa para penjaga kini adalah hwesio-hwesio jubah merah dan ia dapat menduga pula bahwa penjaga-penjaga ini tidaklah selemah penjaga-penjaga sebelah luar yang hanya terdiri dari orang-orang Hsi-hsia kasar. Hwesio-hwesio ini adalah murid Bouw Lek Couwsu!

“Heiii! Mau apa kau masuk ke sini?” Teguran ini begitu tiba-tiba sehingga dia terkejut sekali.

Akan tetapi teguran yang diucapkan dalam bahasa Hsi-hsia ini melegakan hatinya. Selama hwesio-hwesio di sini menyangka ia seorang Hsi-hsia, hal ini baik sekali. Sambil bersikap menghormat ia lalu berkata, “Saya hendak menghadap Couwsu untuk menyampaikan hasil penyelidikan saya di kota raja Sung sebagaimana yang diperintahkan langsung kepada saya.”

Hwesio itu mengerutkan keningnya, memandang tajam. Ia memang tahu bahwa gurunya banyak mengirim mata-mata ke kota raja musuh, akan tetapi mengapa mengirim seorang pemuda seperti ini? Pula, ia merasa tak pernah bertemu dengan orang ini. Kembali ia membentak.

“Hemm, kalau menghadap Couwsu, mengapa longak-longok di sini dan tidak langsung saja masuk melalui pintu gerbang? Dan kenapa tidak melapor kepada penjaga agar menyampaikan permohonanmu menghadap kepada Couwsu? Hayo kita pergi ke tempat jaga, dan pinceng (aku) sendiri yang akan melapor kepada Couwsu yang sekarang sedang sibuk.”

“Ah, Couwsu sedang sibuk apakah? Apakah ada tamu? Kalau sibuk, lebih baik saya tidak mengganggu, jangan-jangan saya akan mendapat marah besar!” pemuda itu tampak ketakutan. Sikapnya itu agak mengurangi kecurigaan si Hwesio yang mengenal watak gurunya. Memang kalau gurunya sedang sibuk, orang yang mengganggunya sering kali menerima hukuman berat.

“Karena itu harus pinceng yang menghadap. Suhu sedang menjamu Bu-tek Ngo-sian yang sekarang sudah hadir lengkap. Malah wanita mengerikan itu, Sian-toanio, datang bersama puteranya. Dan tempat tahanan makin penuh saja!”

“Eh, apakah yang terjadi? Mengapa ada orang tahanan? Dari mana?” Pemuda itu bertanya.

“Tahanan-tahanan penting. Pangeran Mahkota Khitan, puteri Pangllma besar Khitan, Kiang-kongcu dari kota raja, ketua Khong-sim Kai-pang, Mutiara Hitam…”

“Mutiara Hitam…?” Pemuda itu bertanya terbelalak lebar memandang.

“Ya, gadis cantik jelita dan galak… auuughhh…!” Hwesio itu roboh oleh pukulan jari-jari terbuka yang tepat menghantam tenggorokannya, membuat kerongkongannya hancur dan tewas seketika! Sebelum tubuhnya terbanting, pemuda itu menyambarnya dan menyeretnya ke belakang semak-semak.

Tidak lama kemudian, dari belakang semak itu muncullah si Pemuda yang kini sudah berubah menjadi… hwesio muda tampan berjubah merah berwajah alim! Goloknya yang tadi tak tampak lagi, tersembunyi di balik jubah merah yang kebesaran itu. Hwesio tadi memang gemuk.

Setelah berpakaian hwesio, pemuda ini dapat memasuki markas tanpa mendapat kesukaran. Ia selalu menjaga agar wajahnya tidak tampak dari depan oleh hwesio lain, hanya jubahnya yang merah dan kepalanya yang gundul licin saja yang tampak dan dalam hal ini, biar pun ada banyak hwesio, jubah merah dan kepala gundulnya tentu saja tiada banyak bedanya.

Di dalam kamar tahanan, kecuali Kiang Liong yang tetap tenang, orang-orang muda yang terbelenggu di situ sudah hampir kehilangan harapan. Apa lagi keadaan Pangeran Talibu, sungguh amat mengenaskan. Biar pun keselamatannya tidak terancam bahaya, namun ia sungguh menderita. Kulitnya pecah-pecah matang biru, terasa panas perih dan nyeri bukan main. Kadang-kadang Pangeran ini siuman, mengerang dan sering kali pingsan lagi. Tubuhnya lemas menggantung pada kedua tangan yang terbelenggu di atas kepalanya.

Melihat keadaan Pangeran ini, Puteri Mimi memandang dengan air mata bercucuran. Kasihan sekali kakaknya. Agaknya penderitaan yang hebat itu membuat kakaknya berubah ingatan. Tadi kakaknya mengaku cinta kepadanya, hendak mengawininya. Mengatakan bahwa mereka bukan sanak kadang, apa lagi saudara kandung! Dan pandang mata kakaknya itu, pandang mata penuh cinta kasih dan amat mesra. Puteri Mimi menangis.

Kwi Lan juga beberapa kali menoleh ke arah Pangeran ini. Ia gemas, marah, penasaran, benci dan… cinta! Hatinya seperti ditusuk-tusuk menyaksikan keadaan pria yang dicintanya ini, akan tetapi mengingat akan kata-kata yang diterjemahkan Siang Ki, hatinya panas bukan main. Kalau diberi kesempatan, ia akan membunuh Puteri Mimi!

Yu Siang Ki menyesal sekali kalau mengingat akan kawan-kawannya. Pasukan yang dibawanya itu adalah tokoh-tokoh pengemis di kota raja dan di Lok-yang, kini mereka telah dibasmi habis! Sungguh pun tewas sebagai patriot yang membela negara menghadapi bangsa Hsi-hsia, akan tetapi semua itu adalah karena kesalahannya! Ia terlalu memandang rendah kekuatan Bou Lek Couwsu.

Hanya Kiang Liong yang tetap tenang. Pemuda ini selain pada dasarnya memiliki watak yang tenang, juga ia lebih tahu akan duduknya persoalan, lebih tahu akan suasana dan politik negara. Ia telah yakin bahwa nyawa mereka belum terancam bahaya. Kalau Bouw Lek Couwsu hendak membunuh mereka, tentu sudah dibunuhnya dan tidak perlu ditahan seperti sekarang ini. Dengan cara menahan, berarti tidak menghendaki mereka mati dan selama nyawa mereka masih ada, harapan untuk lolos pun selalu akan tetap ada.

Apa lagi bagi Talibu dan Mimi, ia tidak perlu khawatir. Bangsa Hsi-hsia bukanlah bangsa yang besar dan kuat, akan tetapi mereka memiliki ambisi besar, hendak menaklukkan Sung. Untuk ini tentu saja Hsi-hsia tidak sekali-kali berani membunuh Pangeran Mahkota dan puteri Panglima Khitan yang diharapkan oleh mereka menjadi sekutu, bukan musuh!

Tentang Kwi Lan ia pun mempunyai keyakinan takkan dibunuh karena bukankah Kwi Lan ini murid wanita aneh yang disebut Sian-toanio dan menjadi seorang di antara Bu-tek Ngo-sian? Betapa pun juga, guru itu tentu tidak membiarkan muridnya terbunuh, apa lagi di sana masih ada Suma Kiat, suheng gadis itu yang menurut penglihatannya, mencinta Mutiara Hitam. Dan dia sendiri masih ada dan masih hidup. Ia tidak akan membiarkan Mutiara Hitam terbunuh! Heeii, apa pula ini? Kiang-Liong ingin menampar kepalanya sendiri, akan tetapi kedua tangannya terbelenggu sehingga ia hanya dapat menarik napas panjang dan kembali melirik ke arah Kwi Lan.

Sejak tadi ia memperhatikan Kwi Lan dan makin dipandang, makin jatuh hatinya. Entah bagaimana, gadis itu seakan-akan mempunyai hawa yang menyedot dan menarik perhatiannya, kemudian menimbulkan rasa suka dan cinta yang belum pernah dirasakannya terhadap gadis lain. Ia memang selalu suka akan gadis cantik, akan tetapi rasa suka ini seperti rasa suka seseorang akan benda-benda indah, akan bunga-bunga harum, tidak pernah lebih mendalam dari pada itu.

Kini ia mempunyai rasa suka dan cinta yang lain terhadap Mutiara Hitam. Seperti ada dorongan dalam hati bahwa ia harus membela gadis ini, harus menolongnya, dan kalau perlu mengorbankan nyawa sendiri untuknya! Kalau biasanya terhadap gadis-gadis cantik yang pernah menjadi kekasihnya ia ingin mendengar pengakuan cinta gadis itu kepadanya, kini sebaliknya. Ia ingin menyatakan cinta kasihnya kepada gadis ini! Alangkah akan bahagia rasa hatinya kalau gadis ini mau menerima cintanya!

“Kiang Liong, kau sudah gila…!” Pikiran ini tanpa ia sadar, ia ucapkan melalui mulutnya sehingga semua tahanan, kecuali Pangeran Talibu, memandang kepadanya dengan penuh keheranan, termasuk Kwi Lan.

“Orang yang gila tidak akan mengaku gila!” tiba-tiba Kwi Lan berkata, suaranya mengejek.

Memang gadis ini sedikit banyak merasa gemas kepada Kiang Liong. Bukankah Puteri Mimi tertawan bersama Kiang Liong? Berarti bahwa Kiang Liong murid Suling Emas ini yang membawa datang Puteri Mimi ke tempat tahanan! Kalau Kiang-kongcu ini tidak tertawan, tentu Puteri Mimi juga tidak dan kalau begitu, tentu Mimi tidak datang ke sini dan Talibu tidak jatuh cinta kepada gadis itu!

Kiang Liong memandang gadis ini, matanya bersinar-sinar wajahnya berseri. “Betulkah, Nona? Pendapatmu membesarkan hatiku, terima kasih.”

“Engkau memang tidak gila, akan tetapi engkau merasa gila karena… takut! Huh, dan beginikah murid perkasa dari Suling Emas?”

Senyum di bibir Kiang Liong lenyap, berubah menjadi masam karena hati kecewa. “Aku… ? Takut…? Aku tidak takut, Nona dan….”

Terpaksa Kiang Liong menghentikan ucapannya karena pada saat itu terdengar suara pintu dibuka. Semua mata memandang hwesio gundul jubah merah berwajah tampan yang memasuki ruangan tahanan itu.

“Eh, kau… Berandal…!” Suara Kwi Lan ini membuat semua orang menoleh dan memandang kepadanya dengan heran.

Apa pula sekarang maksud Mutiara Hitam yang menyebut berandal kepada seorang hwesio jubah merah, dengan suara bukan seperti orang memaki, bahkan dengan mata bersinar-sinar dan muka tersenyum geli?

“Sssttt…, matamu selalu tajam, Mutiara Hitam.” Hwesio muda itu berbisik dan menaruh telunjuk ke depan bibir, kemudian melanjutkan sambil mendekati Kwi Lan. “Aku terpaksa menyamar. Aku datang untuk membebaskanmu. Kau bersiaplah, aku akan mematahkan belenggu tangan dan kakimu.”

Pemuda itu bukan lain adalah si Berandal Tang Hauw Lam! Dia datang memasuki markas mempergunakan akalnya, menyamar sebagai wanita cantik, kemudian sebagai orang Hsi-hsia dan terakhir ini sebagai seorang hwesio gundul berjubah merah. Kini Hauw Lam mengeluarkan goloknya dan empat kali bacokan kuat, belenggu kaki tangan yang mengikat Kwi Lan terlepas.

“Mari kita cepat pergi dari sini!” bisik Hauw Lam sambil menyambar lengan Kwi Lan yang sedang menggosok-gosok pergelangan tangannya yang terasa sakit.

“Kau bebaskan dulu yang lain-laini” bisik Kwi Lan merenggut lengannya. “Kita harus lekas lari…,“ bantah Hauw Lam.
“Berandal! Kalau mereka ini tidak dibebaskan, aku pun tidak ingin bebas!” kata Kwi Lan marah.

Hauw Lam mengangkat alis dan pundak, lalu menghampiri Kiang Liong dengan golok di tangan. “Kiang- kongcu,” katanya. “Bagaimana selama kita berpisah, engkau baik-baik sajakah? Maaf, bukan maksudku tadi tidak mau membebaskan kalian, hanya makin banyak orang yang lari makin sukar dan….”

“Saudara tak perlu sungkan-sungkan. Aku pun sudah bebas dari belenggu.” “Apa?”
Kiang Liong menggerakkan kaki tangannya dan… benar saja, kedua kaki dan tangannya terlepas dari pada belenggu tanpa mematahkan belenggu itu. Hauw Lam terbelalak, memandang ke arah belenggu dan mengangguk-angguk. “Hebat! Ilmu Sia-kut-hoat (Lepaskan Tulang Lemaskan Diri) yang luar biasa!”

Melihat ini, Kwi Lan yang menghampiri Pangeran Talibu dan menggunakan kekuatan sinkangnya mematahkan belenggu, berkata mengomel. “Kalau bisa melepaskan diri kenapa tidak dari tadi? Aksinya!”

Kiang Liong hanya tersenyum dan juga mulai membantu melepaskan belenggu kaki tangan Siang Ki sedangkan Hauw Lam membebaskan Puteri Mimi. “Ah, kalau terlepas dari belenggu, apa artinya? Pintu tertutup kuat dan penjagaan amat kuat, belum waktunya mencoba bebas. Akan tetapi setelah Saudara Tang datang, terpaksa kita harus berusaha menerobos ke luar!”

“Kita harus keluar berpencar,” kata pula Kiang Liong yang kini sikapnya sungguh-sungguh. Yang lain-lain, kecuali Kwi Lan, tunduk kepadanya karena maklum bahwa selain dia yang paling lihai di antara mereka, juga memiliki pengalaman yang dalam. “Kalau keluar bersama, sekali ketahuan akan kena tawan semua. Kita masih kurang kuat untuk menghadapi mereka yang berjumlah besar, apa lagi banyak orang sakti di sini. Dengan berpencar, ada harapan seorang di antara kita bebas untuk pergi mencari bantuan menyerbu ke sini.”

“Benar,” kata Hauw Lam. “Aku pun tadi mendahului pasukan Khitan yang agaknya hendak menyerbu dan menyusup dalam usaha mereka menolong Pangeran Talibu dan Puteri Mimi.”

Mendengar ini timbul semangat Pangeran Talibu. Ia diam saja karena Puteri Mimi menggosok-gosok tubuhnya yang telanjang dan penuh luka itu dengan obat bubuk pemberian Hauw Lam. Obat ini manjur dan mendatangkan rasa dingin. Kwi Lan hanya memandang dengan penuh iri dan cemburu. Dalam keadaan seperti itu, ia menahan diri dan tidak mungkin mengumbar amarah urusan cinta. Apa lagi ia tahu bahwa Puteri Mimi memang sahabat Pangeran, bahkan saudara.

“Pangeran biarlah bersama aku,” kata pula Kiang Liong membagi tugas. Pemuda ini menahan pula keinginan hatinya untuk berusaha lolos di samping Kwi Lan. “Mutiara Hitam bersama Saudara Tang, dan Puteri Mimi bersama Saudara Yu-pangcu. Tiga rombongan kita mencari jalan masing-masing, sebaiknya melalui kanan, kiri, dan belakang markas karena di depan adalah tempat yang terjaga kuat.”

“Baik, pendapat Kiang-kongcu tepat. Aku pun tidak perlu lagi menyamar!” Sambil berkata demikian, Hauw Lam meraba dahinya dan membuka ‘kulit’ dahi terus ke belakang. Lenyaplah gundulnya dan kini tampak rambuthya hitam panjang yang segera digelung ke atas belakang dan dibungkus kain sutera. Jubah merahnya dibuka dan kini ia sudah berganti pakaian, yaitu pakaiannya sendiri yang ringkas, goloknya ia gantung di pinggang.

“Berapa orang penjaga di luar?” bisik Kiang Liong kepada Hauw Lam.

“Hanya tiga. Aku tadi membohongi mereka, mengatakan bahwa aku khusus diperintah Couwsu membujuk para tahanan.”

“Baik, mereka bagianku, Mutiara Hitam, dan Yu-pangcu. Kau menjadi pengawas kalau-kalau ada muncul yang lain.”

Biar pun Kiang Liong hanya berbisik dan ucapannya singkat-singkat, namun mereka sudah tahu akan kewajiban masing-masing. Pintu dibuka perlahan oleh Kiang Liong, kemudian melihat tiga orang hwesio jubah merah menjaga di depan pintu, ia membukanya serentak lebar-lebar dan empat bayangan berkelebat ke luar dengan gerakan amat cepat laksana empat ekor burung terbang.

Bayangan pertama adalah Hauw Lam yang sudah menghunus goloknya dan meloncat jauh ke depan untuk berjaga, sedangkan tiga orang kawannya dengan kecepatan kilat sudah menerjang tiga orang hwesio itu. Tiga orang hwesio ini kaget setengah mati karena tidak menyangka akan hal ini. Mereka berusaha menangkis namun tiga orang muda itu terlampau cepat gerakannya. Hampir berbareng mereka roboh tanpa mendapat kesempatan untuk berteriak sedikit pun.

“Aman…,“ bisik Hauw Lam memberi tanda dengan tangan.

“Berpisah, sampai jumpa!” kata Kiang Liong yang menujukan kata-kata ini kepada semua temannya akan tetapi matanya memandang kepada Kwi Lan yang sebaliknya memandang kepada Pangeran Talibu. Mereka segera meloncat pergi, Kiang Liong menggandeng tangan Pangeran Talibu meloncat melalui jurusan belakang markas, Yu Siang Ki dan Mimi lari ke jurusan kanan, sedangkan Kwi Lan dan Hauw Lam yang bergerak paling akhir menuju ke kiri.

Hauw Lam dan Kwi Lan menyusup-nyusup melalui bangunan kecil, makin menjauhi bangunan besar. “Bagaimana kau tiba-tiba bisa muncul, Berandal?”

Hauw Lam terkekeh. Girang bukan main hatinya, kegirangan yang selama ia berpisah dari samping Kwi Lan tak pernah ia rasakan lagi. “Aduh, serasa kita tidak pernah berpisah. Mutiara! Serasa kita masih seperti dulu ketika berlari-lari bersama melawan orang-orang jahat Thian-liong-pang dan pengemis-pengemis busuk berbaju bersih! Tahukah kau, Mutiara, selama ini tak pernah aku melupakan engkau sekejap mata sekali pun.”

“Bohong!” Mau tidak mau Kwi Lan terseret oleh kegembiraan teman yang jenaka ini. “Kalau kau tidur?” “Tidur pun mimpi bersama engkau!”
“Ah, kau bisa saja. Aku tidak percaya.”

“Eh, tidak percaya? Perlukah aku membuka dadaku dengan golok ini?” Hauw Lam berhenti lari, mencabut golok dan bersikap seperti hendak membuka dada. Kwi Lan tertawa.

“Ihhh, sudahlah jangan ngaco! Aku tadi tanya bagaimana kau tiba-tiba saja muncul seperti setan?” “Memang aku setan! Heh-heh, setan cilik seperti kata Ibu.”
“Ibu? Kau bertemu Bibi Bi Li?”

Pemuda itu mengangguk, mengerutkan kening seakan-akan ada sesuatu yang tak menyenangkan teringat olehnya. Akan tetapi ia tersenyum lagi, “Dan aku melihat istana di bawah tanah. Wah, pantasnya menjadi tempat tinggal setan-setan. Ibuku bertahun-tahun tinggal di sana, bukankah patut aku menjadi setan pula? Aduhh…!” Ia menekan perutnya.

“Ada apa?” Kwi Lan kaget, khawatir.

“Perutku… lapar amat, tak tertahankan!” Ia masih menekan-nekan perutnya dan lapat-lapat terdengar oleh telinga Kwi Lan suara perut berkeruyuk. Kwi Lan tertawa geli.

“Dasar rakus! Kau tiada bedanya dengan cacing-cacing dalam perutmu!”

“Sstt…! Tuh di sana…!” Telunjuknya menuding ke kanan, ke sebuah bangunan kecil. “Ada apa di sana?”
Hidung Hauw Lam kembang-kempis menyedot-nyedot. “Benar-benarkah kau tidak mencium sesuatu? Begini sedap, begini gurih!”

Baru sekarang Kwi Lan tahu apa yang dimaksudkan. Memang dari bangunan itu tercium bau sedap masakan dan tampak asap mengebul. Agaknya tempat itu adalah sebuah dapur. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Perlu apa ke sana? Kita lari saja. Kalau sudah terbebas, baru makan sekenyangnya.”

Hauw Lam menggeleng-geleng kepala. “Makan saja tanpa kerja amat tidak baik, seperti babi. Akan tetapi kerja saja tanpa makan juga tidak mungkin. Kita menghadapi bahaya, membutuhkan tenaga, kalau perutku yang sudah dua hari dua malam tidak diisi karena mendekam terus di hutan ketika menyerbu ke sini, mana aku ada sisa tenaga untuk bertempur? Kau pun harus makan, Mutiara Hitam.”

“Aku sudah kenyang!” jawab Kwi Lan mendongkol, akan tetapi mukanya menjadi merah karena teringat betapa ia makan kenyang di tempat tahanan lalu terjadi hal-hal luar biasa dan memalukan bersama Pangeran Talibu.

“Tapi kau tidak ingin melihat aku roboh bukan oleh pedang musuh, tapi karena kelaparan, bukan?”

“Sudahlah. Hayo, kalau memang kau sudah kelaparan!” ajak Kwi Lan dan mereka berindap-indap menghampiri dapur itu.

Ketika mereka mengintai dari jendela, benar saja dugaan Hauw Lam bahwa tempat itu memang sebuah dapur. Dua orang Hsi-hsia yang tinggi besar melayani dua orang koki yang pendek-pendek dan gemuk seperti babi. Dua orang koki itu adalah bangsa Han, agaknya anggota kaum sesat yang menjadi kaki tangan sekutu-sekutu Bouw Lek Couwsu. Di meja sudah penuh dengan masakan-masakan lezat, mengebul panas dari mangkok-mangkok besar.

Hampir tersedak kerongkongan Hauw Lam ketika ia menelan sudah. Karena sudah tidak tahan lagi, Hauw Lam mengayun tangan melempar empat buah batu kerikil ke arah empat orang itu. Terdengar koki-koki itu berseru kaget dan tubuh mereka terhuyung-huyung. Dua orang Hsi-hsia sudah roboh pingsan karena batu- batu kecil itu tepat mengenai belakang telinga mereka. Karena koki-koki itu tidak roboh pingsan, maklumlah Hauw Lam dan Kwi Lan bahwa sedikit banyak mereka mengerti ilmu silat. Kalau sampai mereka berteriak, keadaan akan menjadi berbahaya, maka bagaikan dua ekor burung walet, Hauw Lam dan Kwi Lan melayang lewat jendela. Sebelum dua orang koki itu tahu apa yang terjadi, mereka sudah roboh tertotok dan ‘ngorok’ di atas lantai!

Tanpa banyak cakap lagi dan tanpa sungkan-sungkan Hauw Lam menyeret sebuah bangku, duduk menghadap meja lalu ‘menyapu’ masakan-masakan yang tersedia di atas meja.

“Wah-wah,” serunya girang sambil mencoba ini mencaplok itu. ”Dalam hal makanan ternyata Bouw Lek Couwsu tidak pelit! Tidak kalah dengan masakan orang-orang Thian-liong-pang!” Sumpitnya sibuk bekerja menjepit potongan-potongan daging dan sayur.

Hauw Lam memang mempunyai hobby (kegemaran) makan enak! Melihat lahapnya pemuda ini makan, Kwi Lan menelan ludah, dan tak dapat menahan keinginannya. Ia pun duduk dan mencicipi beberapa masakan yang memang lezat.

“Sudahlah,” akhirnya Kwi Lan berkata setelah beberapa lama mereka makan, melihat betapa banyaknya Hauw Lam memasukkan masakan-masakan itu ke dalam perut didorong aliran arak wangi. “Kalau kau makan terus sampai kekenyangan, kau bisa tertidur di sini.”

Hauw Lam tertawa, bangkit berdiri, mengelus-elus perutnya yang anehnya tetap kempis dan ramping. “Wah, kalau makan lupa segala! Bakso goreng ini luar biasa enaknya, entah terbuat dari daging apa! Perlu bawa sebanyaknya untuk bekal!” Ia sibuk menggunakan kedua tangannya mengambil bakso-bakso goreng sebesar kepalan tangan itu. Kantung-kantungnya penuh. Ia masih belum puas dan mengambil semua sisa dalam panci, memasukkan panci kecil ini ke dalam celana di mana terdapat sebuah kantung besar tepat di depan perutnya! Kwi Lan hanya tertawa dan menggeleng kepala. Kemudian mereka keluar dan cepat- cepat meninggalkan tempat itu, terus ke jurusan kiri markas.

Setelah mereka meninggalkan kelompok bangunan dan mulai menuju ke jalan yang berbatu-batu melalui hutan kecil menuju sungai, dan merasa bahwa kini sudah aman, terlewatlah bahaya, mendadak terdengar seruan-seruan dan derap kaki kuda dari belakang.

“Kita dikejar! Cepat!” seru Hauw Lam yang mulai ‘menancap gas’ mempercepat larinya.

Kwi Lan yang tadi di dapur mengambil pedang milik koki yang dirobohkan, meraba gagang pedang dan siap untuk melawan. Akan tetapi melihat Hauw Lam berlari cepat, ia pun mempercepat larinya. Tempat itu berbatu-batu dan naik turun, maka sambil berlari mereka melompat-lompat.

Para pengejar itu terdiri dari seorang Hsi-hsia berpedang yang memakai topi dan lima orang berpakaian pengemis. Mereka adalah petugas-petugas yang menjaga di wilayah ini, dan kuda yang mereka tunggangi adalah kuda-kuda pilihan yang cepat-cepat larinya.

“Wah-wah-wah… celaka bakso-bakso ini!” tiba-tiba Hauw Lam berseru. “Kenapa?” Kwi Lan bertanya, masih lari di samping kiri Hauw Lam.
Ketika gadis itu memandang, ia hampir tak dapat menahan tawanya. Kwi Lan menutupi mulutnya yang tertawa dan dengan mata terbelalak ia memandang temannya itu. Kiranya ketika berlari cepat dan berloncat-loncatan, bakso-bakso dalam kantung ikut berloncatan dan yang berada di kantong kanan kiri baju sudah berloncatan ke luar. Akan tetapi yang berada di dalam panci yang disembunyikan dalam kantung yang letaknya di dalam celana, berloncatan di dalam celana, keluar dari panci dan karena bakso itu digoreng, keluarlah minyaknya membasahi semua bagian bawah tubuh Hauw Lam.

Kini sambil berlari dan mengempit goloknya di ketiak kanan, terpaksa Hauw Lam membuka kolor celana dan berlompatanlah bakso-bakso besar bundar-bundar itu keluar dari dalam celana, menggelinding ke atas tanah seperti bola-bola karet! Bersungut-sungut Hauw Lam membuang panci kosong dan pada saat terakhir tangannya masih sempat menyambar bakso penghabisan dan memasukkan bakso ini ke dalam mulutnya. Ia mengeluarkan suara ha-ha-hu-hu saking kecewa. Ia tak dapat bicara karena mulutnya penuh bakso, kini ia mengikatkan kembali kolor celana dan tiba-tiba ia berhenti lari dan membalikkan tubuh. Bakso itu pun sudah ditelannya.

“Percuma lari. Kita lawan!” katanya.

Kwi Lan masih tersenyum. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan pemuda ini tiba-tiba marah dan hendak melawan. Mungkin sekali karena kecewa dan marah bahwa pengejar-pengejar itu membuat bakso- baksonya hilang. Ia pun tidak gentar dan mencabut pedangnya. Ketika para pengejar melihat dua orang itu berhenti dan menanti, mereka meloncat turun dari kuda. Akan tetapi bukan mereka yang menyerbu, melainkan Hauw Lam dan Kwi Lan yang langsung menerjang dengan lompatan jauh dan senjata diputar di tangan.

Terjadi pertandingan yang hebat dan seru, akan tetapi yang hanya berlangsung beberapa menit saja. Dua orang muda itu seakan berlomba dan pertempuran berakhir dengan robohnya keenam orang, tiga oleh Hauw Lam dan tiga oleh Kwi Lan dalam waktu hampir bersamaan!

Hauw Lam tersenyum memandang mayat-mayat musuh. Ia membersihkan golok pada baju mereka lalu mengangguk-angguk kagum melihat betapa tiga orang lawan Kwi Lan tewas tanpa luka bacokan. “Kau makin hebat saja, Mutiara Hitam!”

“Dan kau makin gila!” kata Kwi Lan tersenyum, teringat akan bakso-bakso tadi.

Mereka menyarungkan senjata dan membalik, lalu melanjutkan lari mereka. Akan tetapi belum seratus meter mereka lari, tiba-tiba mereka berhenti dan wajah Kwi Lan berubah ketika gadis ini mengeluarkan suara tertahan. Di depan mereka telah berdiri Kam Sian Eng, Suma Kiat, dan Pak-sin-ong! Dan di belakang mereka berdiri belasan orang Hsi-hsia yang membawa kuda tunggangan mereka.

Hauw Lam terkejut sekali, apa lagi melihat wanita berkerudung yang sikapnya begitu menyeramkan. Ia sudah mendengar nama Bu-tek Ngo-sian, namun baru sekali ini bertemu dengan Kam Sian Eng mau pun dengan Pak-sin-ong. Akan tetapi melihat sikap Kwi Lan, ia menduga bahwa tentu dua orang ini, dan pemuda tampan pesolek itu, merupakan lawan berat. Maka ia cepat mencabut goloknya.

“Srattt…!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo