August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 21)

 

 

Akan tetapi pada saat itu terdengar ledakan keras dan… pohon besar di mana Kwi Lan berada itu tiba-tiba roboh! Kwi Lan tentu saja menjadi kaget dan panik. Hendak meloncat turun, takut tertimpa dahan-dahan pohon raksasa ini. Kalau tidak, juga terdapat bahaya terbanting bersama pohon. Biar pun terancam bahaya maut, gadis ini masih tidak kehilangan akal. Ia mempergunakan pandang matanya yang tajam dan terbiasa di tempat gelap, mengikuti robohnya pohon itu sambil berpegang kuat-kuat pada dahan.

Setelah tahu arah pohon roboh, ia cepat menyelinap dan berpindah pada dahan sebelah atas sehingga ia berada di dahan yang akan menjadi bagian teratas apa bila pohon itu sudah rebah di tanah. Kemudian, sambil mengerahkan seluruh ginkang-nya, sebelum pohon itu menimpa tanah, ia sudah mengenjot tubuhnya ke depan, melampaui pohon itu dan melayang turun ke atas tanah sambil menyambar ujung dahan terpanjang.

Untung sekali bahwa dalam seperempat detik terakhir ia ingat untuk menyambar ujung ranting dari dahan terpanjang pohon itu, karena begitu kedua kakinya turun menginjak tanah yang tertutup daun-daun kering, tiba-tiba tanah itu bergoyang dan tubuhnya terjeblos ke dalam lubang sumur yang amat lebar dan dalam! Kwi Lan menahan napas, mengerahkan tenaga menarik tubuhnya ke atas dengan bantuan ujung ranting pohon. Tubuhnya mencelat keluar dari sumur dan ia tidak berani lagi turun ke atas tanah yang banyak jebakannya melainkan memeluk dahan terendah sebatang pohon terdekat!

Kini ia ‘nongkrong’ di atas dahan mengeluarkan sapu tangan dan menghapus dahi dan leher yang penuh dengan keringat dingin. Tangan yang dipergunakan untuk menghapus keringat itu agak gemetar, jantungnya berdebar-debar. Bukan main, pikirnya. Kini terdengar suara hiruk pikuk yang datangnya dari tengah hutan. Bahaya baru lagi mengancam pikir Kwi Lan. Ia berada terlalu dekat dengan mayat lima orang itu, dan hal ini berbahaya. Para penjaga tentu akan memeriksa sekeliling tempat ini. Ia tidak takut menghadapi mereka, akan tetapi ia gentar juga mengingat akan banyaknya alat rahasia yang demikian berbahaya. Di samping ini, ia tidak ingin bertempur dengan mereka sebelum dapat menemukan dan menolong Pangeran Mahkota. Lebih baik ia bersembunyi. Akan tetapi soalnya yang repot, di mana tempat sembunyi?

Kwi Lan memandang ke sekeliling. Ia tidak mempercayai jalan kecil itu. Tentu banyak jebakan. Bersembunyi di pohon juga tidak aman. Buktinya tadi ia bertemu lima orang yang menyamar sebagai monyet. Dari atas pohon ia melihat tak jauh dari situ terdapat sebuah jurang. Ia lalu berloncatan mendekati jurang ini melalui pohon-pohon menjauhi jalan kecil. Kemudian dengan hati-hati sekali ia turun dari pohon, tidak berani meloncat. Ia masih berpegang kepada batang pohon ketika kakinya turun ke tanah, kemudian ia melangkah maju perlahan-lahan menggunakan sebatang ranting sebagai tongkat. Ia menekan tanah di depan tongkat lebih dulu sebelum kakinya menginjak. Akan tetapi ternyata bagian yang liar ini tidak ada jebakannya.

Suara manusia terdengar makin mendekat dan akhirnya tampaklah obor yang cukup banyak. Malam telah tiba. Kwi Lan menelungkup di pingir jurang. Jurang yang kecil, lebih mirip sebuah sumur besar yang dindingnya batu karang. Perlahan-lahan ia merayap turun, berpegang kepada akar-akar pohon dan batu- batu menonjol. Akhirnya ia berhenti dan bersembunyi di bawah sebuah batu yang menonjol, terlindung dari atas oleh batu itu. Tempat ia bersembunyi itu tidak berapa jauh dari tempat pohon roboh tadi dan ia mulai mendengar jejak kaki banyak orang dan suara mereka, ada yang berbahasa daerah yang ia mengerti.

“Siapa yang terjebak? Di mana dia?” terdengar suara yang parau,

“Tidak ada bayangan seorang setan pun!” seru suara yang lain, suaranya tinggi. “Wah, mereka ini tewas…!”
“Bawa obor, biarkan pinceng memeriksanya!”

Kwi Lan tersenyum. Girang hatinya bahwa ia memasuki tempat yang benar. Itulah suara orang Hsi-hsia dan yang terakhir tentulah seorang hwesio jubah merah, anak buah Bouw Lek Couwsu. Tak salah lagi, di sini markas baru Bouw Lek Couwsu, dan menurut suheng-nya, di sinilah Pangeran Mahkota tertawan. Ia memutar otaknya. Agaknya penjagaan di daerah ini pasti amat kuat, jauh lebih kuat dari pada markas Bouw Lek Couwsu di Bukit Kao-likung-san di lembah Nukiang dahulu, karena selain markas ini dekat kota raja Kerajaan Sung, juga pengalaman di Kao-likung-san yang dibasmi orang-orang Beng-kauw tentu membuat Bouw Lek Couwsu kini berhati-hati. Apa akal untuk dapat menemukan Pangeran Mahkota yang ditawan?

Suara orang-orang di sebelah atas makin ribut. Benar saja, mereka kini mencari-carinya. Mereka sudah tahu bahwa lima orang anak buah yang menyamar sebagai monyet itu tewas oleh tangan manusia, terluka jarum dan tewas oleh bacokan pedang. Makin jeias suara mereka ketika mendekat dan tak lama kemudian Kwi Lan mendengar menyambarnya puluhan senjata rahasia dan anak panah ke dalam jurang atas sumur di mana ia bersembunyi. Kalau ia bersembunyi di dasar jurang itu, tentu tubuhnya dihujani senjata rahasia. Akan tetapi di bawah batu besar yang menonjol ini, ia terlindung dan aman!

“Kalau dia bersembunyi di bawah tentu mampus!” terdengar seorang berkata. Kemudian suara mereka makin menjauh.

Kwi Lan maklum bahwa bahaya telah lewat, maka ia cepat merayap naik. Dari tepi jurang ia mengintai. Lima buah mayat itu telah mereka angkut dan masih ada beberapa orang berkeliaran mencari-cari di sekitar tempat itu dengan obor di tangan. Kwi Lan menyelinap dan berindap-indap membayangi seorang tinggi besar, bangsa Hsi-hsia yang mencari sendirian ke jurusan barat. Orang Hsi-hsia ini memandang ke kanan kiri, sebuah obor di tangan kiri dan sebuah golok di tangan kanan. Ia membabati alang-alang dengan goloknya, mencari-cari.

Tiba-tiba dua batang jari yang kecil namun kuatnya laksana baja menotok lehernya dan seketika orang Hsi- hsia itu lumpuh dan pingsan. Bagaikan iblis sendiri bayangan Kwi Lan berkelebat dekat, menerima obor dan golok yang terlepas dari tangan orang Hsi-hsia itu, membuang golok dan menangkap lengan korbannya, lalu memadamkan obor, mengempit tubuh yang lemas itu dan membawanya naik ke atas pohon. Ia merasa yakin bahwa kini pohon merupakan tempat sembunyi yang aman setelah orang-orang itu tadi mencari dengan teliti. Makin dekat tempat pohon tumbang makin baik karena kini mereka berpencar mencari ke tempat yang agak jauh.

“Jawab saja dengan anggukan,” bisik Kwi Lan dekat orang Hsi-hsia yang ditawannya setelah ia menotok urat gagu orang itu. “Kau tahu di mana Pangeran Mahkota Khitan ditawan?”

Orang itu menggeleng kepalanya.

“Jangan kau bohong. Kalau kau mau mengantarku ke tempat tawanan itu, kau takkan kubunuh.”

Kembali orang itu menggeleng kepala, kini dengan keras. Ketika Kwi Lan memandang di bawah sinar bulan yang bersinar melalui celah-celah daun pohon, ia melihat betapa orang itu memandang kepadanya dengan mata melotot penuh kebencian. Sebuah muka yang membayangkan keras hati dan keras kepala, sedikit pun tidak takut atau tunduk. Ia menjadi gemas dan sadar akan kekeliruannya. Mengapa ia menawan seorang Hsi-hsia? Tentu saja orang Hsi-hsia akan membela pemimpinnya dengan taruhan nyawa, menganggap diri sendiri seorang patriot, seorang pahlawan!

Tadi ia melihat banyak orang sebangsanya, bukan orang Hsi-hsia. Kalau orang Han sudah membantu Hsi- hsia menentang kerajaan sendiri, dia adalah seorang pengkhianat. Dan biasanya, seorang pengkhianat adalah seorang pengecut, hanya berjuang untuk uang dan kedudukan. Orang yang berjuang untuk cita-cita bangsa, bangsa apa pun juga, adalah seorang patriot yang tentu tidak takut mati. Sebaliknya seorang yang berjuang untuk harta dan kedudukan sehingga rela menjadi pengkhianat bangsa, tentu seorang pengecut besar. Orang seperti itu tentu takut mati.

Sadar akan kekeliruannya ini Kwi Lan lalu menotok tubuh tawanannya sehingga menjadi lumpuh, dan ia menjepitkan tubuh itu di antara dua dahan bercabang, kemudian dengan gerakan tangan ia merayap turun dari pohon. Ia berlaku hati-hati, tidak berani sembarangan meloncat.

Setelah mencari dengan hati-hati, menyelinap di antara alang-alang dan pohon-pohon, akhirnya ia melihat seorang laki-laki tinggi kurus, berpakaian seperti pengemis penuh tambalan membawa obor dan pedang mencari-cari seperti orang Hsi-hsia tadi. Kwi Lan merunduk sampai dekat, kemudian bergerak cepat seperti tadi, membikin orang itu tidak berdaya dan pingsan dengan sebuah totokan di belakang telinga. Kembali ia membawa orang itu naik ke atas pohon.

Tepat dugaannya, pengemis baju bersih yang berjiwa khianat ini menjadi ketakutan, apa lagi ketika ia mengenal bahwa yang menawannya adalah Mutiara Hitam yang sudah amat terkenal di antara kaum sesat dunia pengemis. Wajahnya pucat, tubuhnya menggigil, akan tetapi ia tidak berani berteriak minta tolong karena tak dapat bersuara akibat totokan pada urat gagunya.

“Bawa aku ke tempat tahanan Pangeran Mahkota Khitan, dan kau tidak akan kubunuh,” desis Kwi Lan sambil menempelkan pedangnya di leher orang itu. Si Pengemis terbelalak, lalu mengangguk-angguk.

“Akan kubebaskan totokanmu dan kau boleh berteriak minta tolong, akan tetapi pedangku akan menembus lehermu sebelum ada kawanmu yang datang untuk menolongmu!” Kembali orang itu menggeleng-geleng kepala dan dengan sebuah totokan Kwi Lan membebaskannya.

“Ampunkan aku, Li-hiap…”

“Sst, jangan banyak cerewet,” bisik Kwi Lan. “Hayo bawa aku ke tempat itu.”

Mereka turun dari pohon, Kwi Lan terus mengikuti orang ini dengan ujung pedang ditodongkan di punggung. Pengemis itu lalu mengambil jalan simpangan, melalui alang-alang dan kumpulan pohon yang besar dan liar, jauh dari jalan kecil yang penuh jebakan.

Sampai lima kali orang itu menyuruh Kwi Lan berhenti di tempat-tempat tertentu, berbisik bahwa tempat itu terjaga oleh seorang dua orang penjaga. Kwi Lan menotoknya lumpuh, kemudian merayap ke tempat penjagaan. Pedangnya bekerja cepat dan di setiap tempat penjagaan rahasia ini dua atau tiga orang penjaganya roboh binasa semua sebelum mereka sempat bergerak.

Akhirnya, lima tempat penjagaan rahasia dapat dilalui dan mereka kini menuju ke tepi Sungai Huang-ho, sebuah daerah yang berbatu-batu besar. Biar pun Kwi Lan melakukan perjalanan malam yang gelap, hanya diterangi bulan sepotong, namun ia mencatat jalan liar ini di dalam ingatannya. Kalau sudah berhasil membebaskan Pangeran Mahkota, jalan ini akan membawa mereka keluar dari sarang Bouw Lek Couwsu.

“Di sanalah tempat tahanan itu, Lihiap. Di dalam goa yang tampak dari sini itu,” pengemis yang ditawan itu berbisik, suaranya gemetar dan dengan ujung bajunya ia menghapus peluh.

Mereka telah melakukan perjalanan yang amat sukar dan amat lambat sehingga malam telah menjelang pagi ketika mereka tiba di tempat ini. Kwi Lan menggerakkan jari tangannya menotok tawanannya. Orang itu mengeluarkan suara keluhan dan roboh tak mampu bergerak lagi, hanya sepasang matanya saja yang bergerak-gerak memandang penuh rasa takut. Nyawanya berada di ujung rambut. Andai kata ia terbebas dari kematian di tangan gadis ini, kalau hwesio jubah merah tahu akan perbuatannya membawa Mutiara Hitam ke sini, ia pasti akan mengalami kematian yang lebih hebat lagi.

Dengan amat hati-hati Kwi Lan merayap di bawah rumput tinggi, mendekati bukit-bukit batu yang berbaris di sepanjang tepi sungai. Setelah tiba di barisan batu itu, ia meloncat dan menyelinap di belakang batu, lalu perlahan-lahan ia bergerak mendekati goa batu yang tadi ditunjukkan dari jauh oleh tawanannya. Tiba-tiba ia berhenti dan menyelinap di belakang batu, mengintai. Jantungnya berdebar keras karena tegang.

Kiranya di depan goa yang cukup besar itu terdapat lima orang penjaga! Dan melihat keadaan mereka, ia dapat menduga bahwa lima orang yang bertugas menjaga tempat tahanan ini tentulah bukan orang-orang biasa. Tiga orang hwesio jubah merah yang bersenjata pedang, seorang bangsa Hsi-hsia yang tinggi besar dan memegang sebuah penggada yang mengerikan karena selain besar dan berat juga dihias duri-duri runcing, sedangkan orang ke lima adalah seorang kecil pendek yang memegang toya. Melihat tambal- tambalan pada pakaian orang ini jelas bahwa dia seorang tokoh kai-pang yang sesat.

Kwi Lan mengintai, hatinya berguncang. Tentu saja ia tidak gentar. Akan tetapi tampaknya lima orang itu cukup tangguh. Kalau ia melompat ke luar dan dikeroyok lima, tentu tidak dapat mencapai kemenangan secara cepat, dan kalau ia tidak bekerja cepat dan keburu datang bala bantuan atau Bouw Lek Couwsu muncul sendiri, usahanya tentu akan gagal.

Ia mulai menyesal mengapa tidak datang bersama Yu Siang Ki. Kalau ada pemuda itu di sampingnya tentu akan lebih kuat keadaannya dan lebih banyak harapan akan berhasil. Apa lagi kalau Kiang Liong ikut membantu. Pemuda hebat! Pemuda lihai luar biasa. Tiba-tiba Kwi Lan mencubit telinganya sendiri. Hatinya gemas. Mengapa tiada hujan tiada angin ia teringat dan mengenang pemuda itu? Ih, pemuda sombong. Tidak memandang mata kepadanya!

Padahal semua pemuda, yang tampan-tampan dan gagah-gagah, seorang demi serang jatuh cinta kepadanya! Mula-mula Tang Hauw Lam si Berandal! Hampir ia tertawa ketika teringat kepada Hauw Lam. Kemudian Siangkoan Li, dan Yu Siang Ki. Akan tetapi Kiang Liong ini tidak memandang sebelah mata kepadanya! Si Sombong, mentang-mentang menjadi murid Suling Emas lalu besar kepala!

Kwi Lan makin gemas. Menghadapi tugas berat, mengapa ia masih melamun yang bukan-bukan? Salahnya orang she Kiang itu! Ia mengusir semua kenangan, kemudian menjemput batu kecil, dilemparkan ke sebelah kanannya, kurang lebih dua puluh meter jauhnya dari mulut goa.

“Eh, apa itu?” Seorang di antara mereka bangkit berdiri, yakni hwesio jubah merah yang kepalanya besar sekali. Ia mencabut pedang lalu menggerutu. “Biar pinceng periksa, siapa tahu ada musuh.”

“Benar, mari kita periksa, Suheng,” kata hwesio kedua yang kurus kering seperti cecak mati sambil mencabut pedangnya pula.

Kwi Lan siap dengan jarum-jarumnya, mendekam di belakang sebuah batu besar. Ketika ia mendengar jejak kaki dua orang hwesio ini sudah datang dekat, lewat di depan batu besar, ia membiarkan mereka lewat beberapa langkah, kemudian tiba-tiba ia menyerang dengan jarum-jarum hijau dari belakang!

Hebat bukan main serangan ini. Jarum-jarum hijau itu adalah senjata-senjata rahasia yang halus sekali, dilontarkan dengan tenaga sinkang sehingga hampir tak mengeluarkan suara, saking cepatnya hanya tampak sinar kehijauan. Apa lagi dilontarkan dari jarak dekat dan dari belakang si Korban, benar-benar amat berbahaya.

Dua orang hwesio itu adalah murid-murid pilihan Bouw Lek Couwsu, akan tetapi menghadapi serangan gelap seperti ini mereka tidak dapat menyelamatkan diri. Biar pun mereka yang telah memiliki gerak reflek lumayan, namun ketika mengelak masih kurang cepat sehingga dua tiga batang jarum telah menyusup ke dalam kulit memasuki daging meracuni darah. Dua orang hwesio ini menjerit, terhuyung-huyung dan sinar hijau pedang Siang-bhok-kiam dua kali bergerak, menamatkan riwayat dua orang hwesio ini. Setelah membunuh dua orang lawannya, Kwi Lan cepat menyelinap kembali ke belakang batu besar.

Tiga orang penjaga yang lain terkejut sekali, dengan lompatan-lompatan jauh mereka menyerbu. Kwi Lan mempergunakan kesempatan ini untuk memutar batu besar, lalu cepat ia lari memasuki goa. Ia melihat seorang pemuda yang tampan, tubuh dari pinggang ke atas telanjang, berdiri dengan terbelenggu. Pemuda ini setengah pingsan, bersandar pada dinding batu, tubuhnya yang kuat dan berkulit putih bersih itu penuh dengan luka-luka bekas cambukan. Namun wajah yang tampan itu masih membayangkan kegagahan dan keagungan, sedikit pun tidak kelihatan takut atau khawatir.

Kwi Lan memegang pundaknya, mengguncangnya perlahan. “Eh, sadarlah!”

Pemuda itu membuka matanya, memandang heran, seakan-akan tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Sinar matanya yang tajam itu seperti bertanya apakah ia dalam mimpi.

“Jawablah, apakah engkau ini Pangeran Mahkota Khitan yang bernama Pangeran Talibu?”

Pemuda itu sejenak memandang tajam, lalu balas bertanya. “Engkau siapakah, Nona? Bagaimana kau bisa…”

“Tidak penting aku siapa, yang penting, apa kau benar Pangeran Mahkota Talibu?” Suaranya gemas dan tidak sabaran.

Pemuda itu menahan senyum yang mengembang di bibirnya, lalu mengangguk. “Aku mengenalmu! Ya… Aku mengenalmu. Kau tidak asing bagiku… tapi di mana dan kapankah? Nona, kau siapakah?”

“Wah, kau cerewet benar, apakah pangeran-pangeran memang cerewet? Aku datang untuk menolongmu.” Pemuda itu tiba-tiba membelalakkan matanya dan berseru. “Nona, awas…!”
Kwi Lan yang sudah lega hatinya karena yakin bahwa pemuda inilah Pangeran Mahkota Khitan yang harus ditolongnya, cepat membalikkan tubuh dan pedang Siang-bhok-kiam sudah berada di tangan kanannya. Kiranya tiga orang itu, sisa para penjaga sudah kembali ke situ dan berdiri di depan goa dengan senjata di tangan dan sikap mengancam. Melihat ini Pangeran Talibu mengeluh, memejamkan mata dan berkata lirih.

“Nona, kenapa kau mengorbankan diri untukku? Kenapa…?” Ia tidak berani menoleh, tidak tega menyaksikan nona ini dikeroyok para penjaga yang ia tahu amat lihai. Di samping kekhawatirannya, ia pun masih mengingat-ingat di mana dan kapan ia pernah melihat nona ini. Wajah yang jelita itu bukan asing baginya, wajah yang amat dikenalnya, akan tetapi ia tidak ingat kapan dan di mana.

Pangeran Talibu makin merapatkan matanya, keningnya berkerut ketika ia mendengar suara denting riuh bertemunya senjata tajam, diseling bentakan marah tiga orang penjaga yang mengeroyok nona itu. Ia tahu betapa lihai para penjaga itu, terutama sekali hwesio-hwesio jubah merah. Seorang gadis remaja seperti tadi mana akan mampu bertahan melawan pengeroyokan mereka? Melawan seorang di antara mereka saja sudah cukup berat. Kecuali kalau dara itu memiliki ilmu kehebatan sehebat ibunya. Ibunya!

Teringatlah ia sekarang. Gadis itu mirip benar dengan ibunya! Hanya bedanya tua dan muda. Mata itu, bibir itu! Ia menjadi makin heran dan makin khawatir. Sepuluh menit sudah lewat. Suara pertempuran sudah berhenti. Ah, tentu gadis yang mirip ibunya itu sudah menggeletak menjadi mayat. Atau tertawan. Ih, kalau ia teringat akan nasib lima orang gadis yang jatuh ke tangan Bouw Lek Couwsu, Butek Siu-lam dan Siauw- bin Lo-mo, ia menjadi ngeri. Lebih baik dara ini mati saja dari pada tertawan hidup-hidup!

Talibu membuka matanya dan… ia terbelalak heran dan juga kagum. Tiga orang penjaga sudah menggeletak di depan goa, tak bernyawa lagi! Ada pun dara itu sejenak memandang ke sekeliling depan goa, kemudian meloncat masuk ke dalam goa, gerakannya seperti seekor burung, demikian ringan dan lincah. Wajahnya tetap tenang dan napasnya biasa saja seakan-akan bukan seperti orang yang baru saja dikeroyok tiga lawan berat!

“Tahanlah, aku akan melepaskan belenggu!” bisik Kwi Lan dan sinar hijau berkelebat ketika ia menggerakkan pedangnya. Terdengar suara nyaring empat kali. Pangeran Talibu menggigit bibir karena setiap kali pedang membabat belenggu, ia merasa kulit tangan atau kakinya panas dan sakit. Akan tetapi kini ia telah bebas, belenggu yang mengikat kaki tangannya sudah putus semua. Ia menjadi makin kagum, memandang Kwi Ian dengan sepasang mata bersinar-sinar.

“Nona, kau…”

“Sstt, mari kita lari!” Kwi Lan menyambar tangan Pangeran itu dan ditariknya ke luar dari goa, diajak lari cepat meninggalkan goa. Tak jauh dari goa Talibu melihat mayat dua orang hwesio jubah merah, maka mengertilah ia mengapa hanya ada tiga orang penjaga yang tadi mengeroyok gadis perkasa ini. Kiranya yang dua orang sudah dipancing ke luar dan dibunuh pula. Talibu lalu mengambil sebatang pedang milik hwesio itu, barulah ia mengikuti Kwi Lan sambil berkata.

“Nona, kau benar hebat! Aku kagum dan berterima kasih…” “Sssttt, jangan cerewet! Kita belum bebas!” bisik Kwi Lan galak.
Talibu yang berjalan berindap-indap di belakang gadis ini mau tak mau tersenyum. Gadis ini hebat, memiliki ilmu silat tinggi dan ketabahan yang luar biasa. Juga galaknya tidak kepalang. Baru sekali ini selama hidupnya ia dimaki-maki cerewet beberapa kali oleh seorang gadis remaja. Dia, putera Ratu Khitan, Pangeran Mahkota yang disembah-sembah rakyatnya, kini dicerewet-cerewetkan oleh seorang gadis jelita yang galak!

Akan tetapi belum lama mereka pergi, baru tiba di daerah hutan, terdengar bunyi terompet dan dari empat penjuru muncullah pasukan Hsi-hsia yang mengurung mereka. Pangeran Talibu tertawa, membuat Kwi Lan terheran dan gadis ini menoleh, memandang Pangeran itu, khawatir kalau-kalau dalam keadaan terancam pangeran itu menjadi gila karena takut. Akan tetapi Pangeran yang tak berbaju, tubuhnya luka-luka itu berdiri tegak dengan sikap gagah, pedang yang dipungutnya tadi melintang di depan dada, matanya bersinar-sinar, wajahnya amat tampan. Pangeran itu membalas pandang mata Kwi Lan dan berkata.

“Bagus! Seperti inilah selayaknya seorang pangeran tewas! Tidak mati konyol dalam goa sebagai tawanan. Mati dalam medan perang adalah mati nikmat, mati terhormat. Namun, kalau Tuhan menghendaki dan aku akan dapat terbebas dari pada ancaman ini sehingga dapat melanjutkan hidup, percayalah, aku Talibu selama hidupku tidak akan pernah melupakan engkau! Sekarang aku tidak peduli lagi. Andai kata kita berdua takkan dapat lolos, bagi aku, mati dalam bertanding di sampingmu merupakan kehormatan besar. Ha-ha-ha!”

Kwi Lan memandang dengan mata berseri. Sungguh patut menjadi seorang pangeran. Patut menjadi putera angkat ibu kandungnya. Patut menjadi kakak angkatnya. Pemuda ini memiliki semangat pendekar, jiwa satria, dan amat tampan! Ia pun tersenyum dan berkata lirih, “Pangeran Talibu, selama nyawa saya belum meninggalkan badan, selalu masih ada harapan untuk hidup. Mari kita menghajar anjing-anjing Hsi- hsia itu!”

 

“Bagus! Kau hebat sekali, Nona. Marilah kita mati bersama atau bebas!” Pangeran Talibu berseru penuh semangat sambil menerjang maju, memutar pedangnya.

Melihat gerakan pedang Pangeran itu, Kwi Lan maklum bahwa orang-orang Hsi-hsia untuk sementara tidak mungkin dapat merobohkannya, maka ia pun lalu meloncat maju memutar pedangnya, tidak jauh dari Sang Pangeran karena ia harus memasang mata melindungi Pangeran itu dari mara-bahaya. Begitu enam orang memapaki pedangnya, Kwi Lan membuat gerakan menyilang dengan pedang agak ke bawah dan robohlah tiga orang lawan dengan perut terobek pedang!

Tiba-tiba terdengar suara bergelak ketawa dan Kwi Lan cepat-cepat meloncat mundur ketika ada angin hebat menyambar dari kanan kiri. Kiranya Siauw-bin Lo-mo telah berdiri di depannya dan tadi mengirim pukulan dengan tangan kirinya.

“Kakek busuk! Mari kita mengadu nyawa!” bentak Kwi Lan yang menjadi marah sekali melihat musuh besarnya Ini.

“Heh-heh-heh, kau masih belum kapok?” Siauw-bin Lo-mo mengejek dan cepat menubruk maju.

Kwi Lan menyambar dengan tusukan pedang, akan tetapi sambil membuang diri ke kiri, kakek itu maju terus, tangannya menjangkau dan hampir saja pundak Kwi Lan kena dicengkeram! Hebat bukan main dan aneh gerakan kakek lihai ini. Kwi Lan berlaku hati-hati, tidak memberi kesempatan kepada kakek bertangan kosong itu untuk mendekati dirinya dengan jalan memutar pedang ke mana pun bayangan kaki itu berkelebat. Dengan gerakannya yang lincah dan ilmu pedang yang ganas, untuk sementara Kwi Lan dapat bertahan terhadap desakan kakek ini, akan tetapi hatinya gelisah karena ia kini sama sekali tidak dapat membagi perhatiannya untuk melindungi Pangeran Talibu.

“Pangeran, kau larilah!” bentak Kwi Lan nyaring sambil menubruk dengan pedangnya yang diputar membentuk lingkaran panjang.

Namun Siauw-bin Lo-mo sambil terkekeh-kekeh dapat menghindarkan diri dan membalas dengan sebuah tendangan kuat yang dipapaki sabetan pedang dengan gemas oleh Kwi Lan. Kembali kakek itu dapat menghindarkan diri. Serang-menyerang terjadi dan Kwi Lan terpaksa harus mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap kakek ini.

Siauw-bin Lo-mo diam-diam menjadi gemas sekali. Ia ingin menangkap hidup-hidup nona ini, untuk dipersembahkan kepada Bouw Lek Couwsu sebagai tebusan tempo hari ketika ia kehilangan gadis yang sudah menjadi tawanannya. Setelah melayani Kwi Lan selama lima puluh jurus dan melihat betapa Pangeran Talibu juga belum dapat tertawan kembali, ia mendapatkan akal baik. Ia tahu bahwa orang-orang Hsi-hsia dan para hwesio anak buah Bouw Lek Couwsu tidak berani membunuh Pangeran Talibu yang merupakan tawanan penting, dan untuk menangkap hidup-hidup Pangeran yang nekat itu pun bukan hal mudah bagi mereka.

“Kalian kepung gadis ini!” Tiba-tiba ia berseru dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik beberapa kali melewati kepala hwesio-hwesio jubah merah yang sudah datang menerjang Kwi Lan, kemudian turun di depan Pangeran Talibu sambil terkekeh menyeramkan.

Pangeran Talibu terkejut, cepat menusukkan pedangnya ke dada kakek itu, Siauw-bin Lo-mo hanya miringkan tubuh kemudian secepat kilat ia sudah menangkap pergelangan tangan Pangeran itu, merampas, pedangnya, kemudian sekali kakinya menendang lutut, Pangeran Talibu roboh. Siauw-bin Lo- mo menempelkan ujung pedang di dada Pangeran Talibu sambil berseru.

“Mundur semua! Lepaskan bocah itu!”

Namun sebelum para pengeroyok mundur, Kwi Lan sudah berhasil merobohkan empat orang hwesio jubah merah dengan pedangnya yang ganas. Kini ia membalik memandang ke arah suara Siauw-bin Lo-mo dan pucatlah wajahnya ketika melihat Pangeran Talibu sudah roboh dan ditodong pedang.

“Heh-heh-heh, bocah nakal. Lekas kau lepaskan pedang dan menyerah. Kalau tidak, sebelum aku mengambil nyawamu, Pangeran ini akan kutusuk sampai tembus jantungnya!”

Kwi Lan ragu-ragu. Ia maklum akan kelihaian kakek itu dan harus ia akui bahwa dia sendiri belum tentu dapat mengatasinya. Dan ia tahu pula betapa kejam hati si Kakek yang tentu tidak akan ragu-ragu untuk membunuh Pangeran Talibu. Hatinya menjadi lemas dan ia berdiri dengan tubuh lemas.

“Nona, kau larilah! Jangan mendengarkan ocehan kakek ini. Kematian bagi Talibu bukan apa-apa! Lari dan lawanlah, Jangan menyerah!” Talibu berteriak-teriak akan tetapi sebuah tendangan pada dagunya membuat ia pingsan!

“Heh-heh-heh, Nona, kau menghendaki aku menusuk jantungnya?” Siauw-bin Lomo mengguratkan ujung pedang pada dada yang telanjang itu dan… kulit Pangeran Talibu di dada robek sedikit, memperlihatkan garis merah memanjang.

Kwi Lan merasa pusing, terpaksa melepaskan pedangnya dan berkata lemah, “Siauw-bin Lo-mo, kau jahanam tua bangka, lepaskan dia!”

“Heh-heh-heh, aku tidak akan membunuhnya kalau kau menyerah. Hayo belenggu dia!”

Empat orang hwesio jubah merah menghampiri Kwi Lan dan membelenggu kedua tangan gadis itu. Kwi Lan tidak melawan. Ia harus berani menyerah untuk menyelamatkan nyawa Pangeran Talibu. Seorang Hsi- hsia tinggi besar yang merasa benci dan marah kepada gadis yang telah membunuh banyak kawannya ini, menyeringai dan datang mendekati Kwi Lan, tangannya menjangkau untuk meraba dada gadis itu.

Sudah biasa bagi orang-orang peperangan ini apa bila pasukan mereka menawan seorang wanita, siapa saja di antara anggota pasukan boleh mempermainkan si tawanan. Orang Hsi-hsia tinggi besar ini pun tidak terkecuali. Melihat kecantikan Kwi Lan dan mengingat betapa gadis ini sudah menjatuhkan korban banyak di antara temannya, ia hendak menjadi orang pertama menghina dan mempermainkan gadis jelita yang lihai ini.

“Heh, mundur…!” Namun seruan Siauw-bin Lo-mo ini terlambat. Kalau kakek ini mau tentu saja ia akan dapat menyelamatkan orang Hsi-hsia itu, akan tetapi tentu saja ia tidak sudi merendahkan diri menolong seorang prajurit Hsi-hsia biasa yang baginya tidak lebih seekor kucing atau anjing.

Pada saat jari tangan kurang ajar itu menyentuh dada, kaki Kwi Lan bergerak dengan kecepatan yang sukar diduga, tepat menghantam pusar orang Hsi-hsia itu.

“Hekkk!” Orang Hsi-hsia hanya sempat mengeluarkan suara demikian, lalu tubuhnya terlempar dan roboh tak dapat bergerak lagi. Isi perutnya berantakan karena tendangan Kwi Lan tadi mengandung tenaga sinkang yang hebat! Setelah menendang, gadis itu tetap tenang hanya menyapu semua orang dengan pandang mata dingin, yang agaknya bertanya atau menantang, siapa lagi yang berani kurang ajar terhadap dirinya.

Keadaan tegang dipecahkan suara ketawa Siauw-bin Lo-mo. “Heh-heh-heh, orang goblok macam dia sudah sepatutnya mampus! Hayo bawa tawanan menghadap Couwsu!” Ia sendiri lalu memegang lengan dan menarik Kwi Lan, sedangkan Pangeran Talibu yang pingsan dipanggul oleh seorang hwesio jubah merah.

“Ha-ha, Bouw Lek Couwsu, memang sudah takdirnya engkau bernasib baik. Lihat siapa yang kutawan untukmu ini. Si Mutiara Hitam! Ha-ha-ha, kutanggung selama hidupmu belum pernah kau menikmati bunga liar sehebat ini!” kata Siauw-bin Lo-mo kepada Bouw-Lek Couwsu yang sedang duduk bercakap-cakap ditemani Bu-tek Siu-lam dan Thai-lek Kauw-ong serta Jin-cam Khoa-ong.

Memang Bouw Lek Couwsu selain lihai ilmunya juga amat cerdik. Dalam usahanya memperluas daerah kekuasaan dan menggerakkan bangsa Hsi-hsia menyerbu Kerajaan Sung, ia telah dapat pula menempel kelima orang Bu-tek Ngo-sian. Tentu saja lima orang sakti ini suka sekali bersekutu dengan Bouw Lek Couwsu, oleh karena, kecuali Thai-lek Kauw-ong seorang, mereka semua pun bercita-cita untuk mengangkat diri sendiri menjadi seorang yang berkedudukan tinggi. Dengan bersekutu dengan Bouw Lek Couwsu mereka mendapatkan sekutu yang kuat dengan barisan orang-orang tangguh.

Sian Eng sendiri tidak bersekongkol dengan pemimpin Hsi-hsia ini karena wanita ini mempunyai cita-cita yang lebih tinggi lagi, yaitu apa bila bala tentara Hsi-hsia berhasil mengalahkan Kerajaan Sung, ia akan mengangkat puteranya, Suma Kiat, menjadi kaisar baru. Betapa tidak? Suma Kiat adalah putera Suma Boan yang masih keturunan Pangeran! Inilah sebabnya mengapa Kam Sian Eng menempatkan puteranya di kota raja di rumah Pangeran Kiang, kemudian mengusahakan persekutuan di antara pembesar- pembesar Kerajaan Sung.

Ada pun Bu-tek Siu-lam, tokoh sakti banci itu, adalah seorang dari dunia barat yang sengaja bertualang untuk mencari kesempatan baik guna menempatkan dirinya dalam kedudukan yang tinggi. Tadinya ia hanya ingin menguasai para pengemis dan ingin menjadi raja pengemis, akan tetapi kini melihat kesempatan terbuka untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi lagi, ia segera menerima penawaran Bouw Lek Couwsu untuk bersekutu dan mengerahkan barisan pengemis baju bersih untuk membantu Hsi- hsia apa bila saat penyerbuan tiba. Ia yakin bahwa kalau gerakan ini berhasil, kelak ia sedikitnya tentu akan menjadi seorang pangeran!

Siauw-bin Lo-mo adalah seorang perampok sejak kecil, kini pun ia telah menjadi datuk para perampok dan bajak. Setelah terbuka kesempatan untuk memiliki jabatan atau kedudukan tinggi, tentu saja ia pun senang membantu Bouw Lek Couwsu. Ia sudah tua dan sudah waktunya hidup bergelimang kesenangan dan kemewahan, hidup dimuliakan orang sampai matinya. Ia pun mengerahkan anak buahnya, para perampok dan bajak, juga orang-orang Thian-liong-pang, untuk membantu usaha Bouw Lek Couwsu, bahkan berjanji kelak akan bergerak dari dalam bersama para pengemis anak buah Bu-tek Siu-lam.

Jin-cam Khoa-ong sudah tentu saja mendukung usaha Bouw Lek Couwsu sepenuh hati. Seperti diketahui, Algojo Manusia ini juga disebut Pak-sin-ong (Raja Sakti dari Utara), menjadi musuh Kerajaan Khitan dan dianggap sebagai seorang pengkhianat bangsa Khitan. Ia pun menyatakan ingin membantu Hsi-hsia dengan janji bahwa kalau usaha Hsi-hsia ini berhasil, kelak ia akan diberi pinjam tentara dan perlengkapan untuk menyerbu Khitan dan merampas singgasana Ratu Khitan yang menjadi musuh besarnya.

Hanya Thai-lek Kauw-ong seorang yang tidak mempunyai cita-cita. Ia datang ke markas Bouw Lek Couwsu karena terbujuk teman-temannya dan terutama sekali karena tidak mau kalah dengan empat orang temannya yang katanya sedang mengusahakan pekerjaan penting dan besar. Ia sendiri tidak peduli siapa yang akan menjadi kaisar, akan tetapi kalau empat orang kawannya yang tergabung dalam Bu-tek Ngo- sian semua berjasa, dan ia sendiri berpeluk tangan tentu namanya akan kalah dan ia tidak patut menjadi orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian. Inilah sebabnya mengapa ia suka datang menjadi tamu Bouw Lek Couwsu. Akan tetapi ia tidak pernah ikut bicara tentang urusan pemberontakan, hanya menikmati hidangan yang serba lezat.

Bouw Lek Couwsu sendiri yang cerdik juga tidak mau mengajak kakek raja monyet ini untuk merundingkan soal politik, karena ia hanya mengharapkan bantuan tenaga kakek sakti itu apa bila menghadapi musuh- musuh tangguh kelak. Apa lagi kalau diingat bahwa Thai-lek Kauw-ong tidak mempunyai seorang pun pengikut atau anak buah. Kini kelima Bu-tek Ngo-sian sudah lengkap sendiri di belakangnya, bahkan sudah berkumpul di markas Sian-toanio yang lebih aktip bersama puteranya untuk mengumpulkan dan memperkuat persekutuannya dengan pembesar-pembesar kota raja.

Ketika Siauw-bin Lo-mo datang membawa tawanan Mutiara Hitam, ia menjadi girang dan juga terkejut mendengar laporan tentang usaha Mutiara Hitam untuk membebaskan Pangeran Talibu. Ah, ia terlalu sembrono, terlalu percaya kepada alat-alat rahasia dan penjagaan anak buahnya. Ternyata masih ada yang menyelundup dan hampir saja membebaskan tawanan penting itu. Ia telah menggunakan pelbagai usaha untuk memaksa Pangeran Talibu menulis surat kepada Ratu Khitan, bahkan sudah menyiksanya, namun pangeran yang keras hati itu tetap tidak mau menuruti permintaannya. Pangeran itu ditahan dalam goa juga dalam rangka penyiksaan agar Pangeran itu tunduk. Siapa kira malah hampir dibebaskan Mutiara Hitam.

Bouw Lek Couwsu adalah seorang laki-laki tua, seorang pendeta yang diwaktu mudanya terlalu banyak mengejar ilmu, mengekang nafsu. Karena pada dasarnya ia memang seorang hamba nafsu, setelah tua pengekangannya jebol dan jadilah ia seorang sakti yang gila nafsu, gila perempuan. Melihat Mutiara Hitam yang selain muda remaja dan cantik jelita, juga lihai ilmu silatnya, ia sudah mengeluarkan air liur. Akan tetapi di samping sifatnya yang mata keranjang, ia amat cerdik dan ambisinya besar sekali untuk kedudukan yang tertinggi. Ambisi ini agaknya lebih besar dari pada nafsunya, sehingga begitu melihat Mutiara Hitam yang jelita dan melihat Pangeran Talibu yang masih pingsan, timbul sebuah akalnya untuk menundukkan Pangeran Talibu.

“Bagus!” jawabnya kepada Siauw-bin Lo-mo sambil tertawa bergelak. “Sekali ini pinceng benar-benar berterima kasih kepadamu, Lo-mo.” Kemudian ia berkata kepada muridnya, “Masukkan mereka berdua dalam kamar tahanan di belakang, jaga yang kuat agar jangan sampai ada kemungkinan didatangi orang luar!”

 

Setelah Kwi Lan dan Pangeran Talibu dibawa pergi, Bouw Lek Couwsu membicarakan rencananya terhadap Kwi Lan dan Talibu kepada empat orang kakek sakti dan tertawalah mereka. Bahkan Thai-lek Kauw-ong mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul sambil berkata.

“Demi Iblis! Engkau benar-benar pintar sekali, Couwsu!”

Bouw Lek Couwsu tertawa. “Memang, sesungguhnya sayang sekali melepaskan bunga ini kepada seorang Hsi-hsia, sama dengan melemparkan daging pilihan untuk seekor anjing buduk. Akan tetapi, makin buruk si anjing, makin sakit hati Talibu dan makin besar kemungkinan ia menyerah! Ha-ha-ha!”

“Heh-heh-heh, Couwsu. Rencanamu ini baik sekali, akan tetapi harus cepat-cepat kau laksanakan. Karena kalau sampai Sian-toanio keburu datang, tak mungkin hal itu dilaksanakan lagi, bahkan kiraku, Mutiara Hitam harus dibebaskan.”

“Mengapa?” Bouw Lek Couwsu bertanya heran.

“Heh-heh, Mutiara Hitam itu adalah murid Sian-toanio.”

Semua orang terkejut mendengar ini. Keadaan menjadi sunyi. Bouw Lek Couwsu mengerutkan kening lalu memandang Siauw-bin Lo-mo. “Eh, Lo-mo. Apa artinya ini? Kalau kau sudah tahu dia murid Sian-toanio, mengapa kau sengaja menawannya dan memberikannya kepadaku? Apakah kau sengaja hendak mengadu aku dengan Sian-toanio?”

Siauw-bin Lo-mo terkekeh, “Couwsu, kau benar-benar pelupa sekali. Berapa kali Mutiara Hitam menentangmu? Berapa kali menentangku? Bahkan sekarang dia datang untuk membebaskan Talibu. Bukankah dia termasuk musuh yang berbahaya? Kalau muridnya seperti itu, kita harus berhati-hati terhadap gurunya. Siapa tahu hati macam apa yang ada di balik kedok kerudung hitam mengerikan itu? Kau harus hati-hati, Couwsu”

Bouw Lek Couwsu masih mengerutkan kening, meraba-raba dagunya, berpikir lalu mengangguk-angguk. “Hemmm, memang diam-diam aku sudah menaruh curiga kepada wanita itu. Kalau dapat menariknya sebagai kawan, baik, kalau sebagal lawan, amat berbahaya. Memang kita harus berhati-hati dan rencana ini harus cepat-cepat dikerjakan, sekarang juga!”

Kalau Kwi Lan dan Talibu mendengar apa yang mereka rencanakan tentu hati kedua orang muda ini menjadi cemas sekali. Akan tetapi mereka tidak mendengar apa-apa ketika mereka digusur dan dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang luas. Kamar ini merupakan ruangan yang lebarnya sepuluh meter, kosong tidak ada perabot sebuah pun. Lantainya dari batu putih yang bersih dingin, dindingnya dari tembok tebal, atapnya pun dilapisi jeruji besi yang amat kuat. Sebuah jendela di samping dilindungi jeruji besi sebesar lengan manusia, pintunya juga besi dan bagian atasnya ada jeruji pula.

Setelah Kwi Lan yang dibelenggu kedua tangannya dan Talibu yang masih pingsan itu didorong masuk, pintu ditutup kembali dan dikunci dari luar. Dua pasang mata penjaga untuk beberapa lama memandang ke arah Kwi Lan dengan pandang mata kurang ajar, mulut mereka menyeringai kemudian mereka bicara dalam bahasa Hsi-hsia, tertawa-tawa dan lenyap dari balik jeruji pintu.

Kwi Lan duduk di atas lantai, memandang Pangeran Talibu yang rebah telentang di dekatnya. Kembali jantungnya berdebar. Wajah Pangeran ini telah menggetarkan perasaannya, membuat darahnya berdenyut lebih cepat dari pada biasa. Ia telah rela menyerah, rela ditawan untuk menyelamatkan nyawa pemuda yang baru sekarang ia jumpai ini. Alangkah anehnya ini. Biasanya ia tidak peduli akan keadaan orang lain. Mengapa ia menjadi takut dan ngeri melihat nyawa pemuda ini diancam maut dan tidak ragu-ragu untuk mengorbankan dirinya? Jantungnya berdebar aneh dan teringatlah ia akan pernyataan Hauw Lam. Siangkoan Li, dan Yu Siang Ki terhadap dirinya. Mereka itu menyatakan cinta kepadanya. Adakah perasaan hatinya terhadap Pangeran Talibu ini yang dinamakan cinta? Adakah dia mencinta pemuda ini? Kakak angkatnya, putera angkat ibunya?

Kwi Lan mengguncang-guncang kepalanya, seakan hendak mengusir semua lamunan yang membuat ia bingung dan jantungnya berdebar-debar itu. Bagaimana ia harus meloloskan diri bersama Pangeran Talibu? Kakinya bebas. Tangannya biar pun terbelenggu, namun kalau ia berusaha, kiranya akan dapat ia bebaskan pula. Ia masih mempunyai tenaga simpanan untuk mematahkan belenggu baja ini. Akan tetapi apa gunanya? Dinding itu amat kuat. Pintu dan jendelanya pun kokoh kuat. Belum lagi para penjaga, dan di sana berkumpul orang-orang sakti seperti Bouw Lek Couwsu, Bu-tek Siu-lam, Siauw-bin Lo-mo, dan dua orang kakek lain yang ia duga tentu juga amat sakti. Ataukah mereka itu Bu-tek Ngo-sian yang pernah ia dengar?

Harapan untuk dapat lolos dari tangan mereka amat tipis. Seorang di antara mereka saja sudah merupakan lawan yang amat berat. Apa lagi kini pedangnya terampas oleh Siauw-bin Lo-mo. Dan ada Pangeran Talibu lagi yang masih harus ia lindungi. Kwi Lan duduk menekur dengan kening berkerut. Satu- satunya harapannya adalah Yu Siang Ki. Kalau saja pemuda itu datang membawa banyak tokoh kai-pang yang sakti!

Ia tidak kaget ketika mendengar pintu dibuka dan Bouw Lek Couwsu seorang diri masuk. Ia sudah siap menghadapi segala macam kemungkinan yang paling buruk sekali pun. Tanpa bangkit, ia mengangkat muka memandang.

“Bouw Lek Couwsu, apakah kau akan membunuh kami? Silakan! Memang orang macam engkau ini pengecut, mana berani menghadapi lawan secara jantan?”

Bouw Lek Couwsu tersenyum lebar dan sabar. “Bagaimana kalau menghadapi secara jantan?”

“Berikan pedangku dan mari kita bertanding sampai selaksa jurus, sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa lagi! Baruiah jantan namanya!”

Kembali pendeta itu memperlebar senyumnya. “Nona, kau ganas benar. Kalau kau sayang kepada Pangeran ini, kau harus bersikap sabar dan tenang. Aku berjanji sebagai pimpinan bangsa Hsi-hsia, kalau Pangeran Talibu suka menulis surat membujuk ibunya untuk membantu pergerakan Hsi-hsia, akan kubebaskan engkau dan dia juga! Berlakulah sabar dan tenang, dan untuk menjaga agar kau tidak menimbulkan keributan, terpaksa kau harus dibuat tidak berdaya.” Setelah berkata demikian, Bouw Lek Couwsu bergerak maju dan menotok dengan jari telunjuknya ke arah tengkuknya.

Kwi Lan yang kedua tangannya terbelenggu tidak dapat menangkis atau berusaha mengelak, akan tetapi gerakan tangan Bouw Lek Couwsu amat cepat, dan sudah meluncur turun menotok pundaknya. Kwi Lan roboh lemas dan hanya dapat memandang dengan mata terbelalak penuh kemarahan ketika Bouw Lek Couwsu mengeluarkan sebuah bungkusan. Ia melihat betapa bungkusan itu ditaburkan di atas mukanya, ia mencium bau wangi dan keras, kemudian tak ingat apa-apa lagi, pingsan.

Baik Kwi Lan mau pun Pangeran Talibu dalam keadaan pingsan dan tidak tahu betapa Bouw Lek Couwsu memberi mereka minum anggur yang dicampuri obat, memaksa mereka minum dengan menuangkan anggur ke dalam mulut yang dipaksa membuka. Setelah membuka belenggu Kwi Lan, Bouw Lek Couwsu meninggalkan kamar sambil tersenyum dan meninggalkan pesan kepada para penjaga.

Menjelang senja, Kwi Lan siuman dari pingsannya. Tubuhnya terasa panas bukan main, rasa panas yang menyesak dada. Ia bangkit dan duduk, tubuhnya basah oleh keringat. Ia menghapus peluh dari dahi dan leher. Kemudian berseru heran karena baru ia ingat bahwa kedua tangannya kini tidak terbelenggu lagi. Ia sudah bebas dari belenggu. Aneh sekali! Siapa yang membuka belenggunya? Dan mengapa begini panas?

Ia duduk menoleh ke arah Pangeran Talibu. Pemuda itu pun basah oleh keringat. Dadanya yang bidang dan berkulit halus putih itu berkilauan. Lantai di bawahnya sampai basah oleh tetesan-tetesan keringat dari tubuh pemuda itu. Pangeran Talibu agaknya baru sadar. Menggeliat perlahan seperti orang merintih. Jantung Kwi Lan terasa tertusuk. Rasa iba dan cinta menyesak dada.

Tanpa ia sadari, ia sudah merangkak maju, lalu bersimpuh di dekat pemuda itu, menggerakkan tangan mengusap luka-luka di dada dan dahi. Luka kecil, darahnya pun sudah mengering. Pemuda itu membuka mata, dua pasang mata bertemu pandang, sejenak bertaut, kemudian pemuda itu bangkit duduk. Entah mengapa, pandang mata pemuda itu bagi Kwi Lan seperti sinar matahari yang menyilaukan matanya. Ia menunduk, tersenyum kecil, tak berani mengangkat muka, rasa panas menjalar ke mukanya, dadanya, dan pusarnya.

“Sakit sekalikah luka-luka itu…?” tanya Kwi Lan yang menjadi heran sendiri mengapa suaranya begini halus dan mesra, mengapa ia menjadi begini malu, mengapa ia gemetar dan tidak berani menentang pandang mata pemuda itu.

“Ti… tidak…, Nona… mengapa kau menyerah…?”

Lebih aneh lagi bagi Kwi Lan ketika mendengar suara ini. Mengapa suara Pangeran Talibu menggetar dan
setengah berbisik? Suaranya yang baginya begitu mesra sehingga getaran suara itu menggetarkan pula hatinya, membuat Kwi Lan menahan isak yang menyesak di dada. Ia mengangkat muka perlahan. Kembali dua pasang mata bertemu pandang dan bertaut, lekat seperti tak dapat dipisahkan lagi.

Bagi Kwi Lan, mata Pangeran itu memandangnya begitu mesra, begitu penuh cinta kasih, begitu halus. Seakan-akan ada kekuatan ajaib dalam pandang mata itu yang mendorong dorongnya atau menariknya, membuat ia ingin membuang diri ke dalam pelukan Pangeran itu membuat ia ingin merapatkan mukanya pada dada yang bidang dan berkeringat itu, ingin merasai belaian jari-jari tangan Pangeran Talibu dan mendengar bisikan-bisikan cinta di dekat telinganya. Semua keinginan yang amat besar ini membuat ia terengah-engah, menahan-nahan sekuat tenaga sampai kepalanya menjadi pening.

“Aku… aku tak mungkin… membiarkan kau… kau terbunuh….” Suaranya tersendat-sendat, agak serak dan tubuhnya terasa lemas, dan tentu ia sudah terguling kalau saja sepasang lengan yang kuat tidak merangkul dan menariknya.

“Nona….“ Suara Pangeran Talibu tersendat-sendat, kedua lengannya memeluk erat, sedangkan Kwi Lan seperti dalam mimpi membenamkan muka di dalam dada itu sehingga mukanya yang sudah basah menjadi makin basah oleh keringat Pangeran Talibu. Hatinya merasa bahagia sekali, kedua telinganya mendengar suara detak jantung pemuda itu, kemudian mendengar suara Talibu seperti bunyi musik yang merdu, “Nona… siapakah engkau…? Siapakah namamu…?”

Belum pernah selama hidupnya Kwi Lan menikmati perasaan seperti saat ini. Terhadap pemuda ini, lenyap semua rasa malu dan jengah, ia tersenyum manis dan tanpa mengangkat muka ia berkata lirih, “…aku… namaku Kam Kwi Lan….”

Tubuh Pangeran Talibu serasa digetarkan sinar kilat yang menyambarnya. Tubuh itu seperti kejang, mendadak menjadi dingin dan ia meloncat ke belakang sampai tubuhnya membentur dinding. Kwi Lan yang tenggelam dalam kenikmatan madu yang manis memabokkan itu sampai jatuh terguling, namun gerak refleks tubuhnya yang matang membuat ia terloncat bangun dan berdiri.

“Ada apakah…? Mengapa kau… kau…?” Ia bertanya gagap, lalu duduk pula di atas lantai.

Pangeran Talibu terengah-engah, serasa tercekik lehernya. Ah, pantas ia merasa kenal betul dengan gadis ini. Persamaan dengan wajah ibunya! Inilah Kam Kwi Lan Mutiara Hitam. Inilah adik kandungnya, bahkan saudara kembarnya!

“Kau… kau… Mutiara Hitam…?” bisiknya dengan suara menggetar.

Kwi Lan memandang terbelalak dan lalu mengangguk. “Betul. Kau kenapakah, Pangeran? Menyesalkah kau karena… karena… kita saling mencinta?”

“Diam…!” Pangeran Talibu membentak. “Jangan bicara tentang itu…!”

Biar pun Kwi Lan merasa sudah tergila-gila kepada pemuda ini, namun dia seorang gadis yang keras hati. Ia mengerutkan kening dan berkata, “Apa? Jadi… kau tadi… hanya pura-pura… dan kau tidak cinta kepadaku?”

“Demi Tuhan! Aku mencintamu, Mutiara Hitam. Aku cinta kepadamu seperti kepada diriku sendiri! Tapi… kau…!”

“Kenapa…?” Tiba-tiba Kwi Lan menaruh telunjuknya di depan bibir, tanda bahwa ia mencegah pemuda ini bicara karena pendengarannya yang tajam menangkap gerak kaki di luar jendela. Kemudian ia menuding ke jendela sambil menyentuh telinga sendiri.

Pangeran Talibu mengangguk, maklum bahwa di luar jendela ada orang mendengar dan mengintai. Ah, untung ia belum membuka rahasia. Kalau tadi ia katakan kepada Mutiara Hitam bahwa gadis itu adik kembarnya dan berarti puteri Ratu Khitan, tentu keadaan mereka menjadi makin berbahaya. Ia lalu merangkul dan duduk dekat Kwi Lan.

Merasa kehangatan tubuh pemuda itu, mencium bau keringatnya, membuat tubuh Kwi Lan menggigil. Hawa nafsu remaja menyesakkan napasnya. Ia tidak tahu bahwa inilah akibat obat yang dipaksakan masuk ke perutnya. Demikian pula dengan Pangeran Talibu. Melihat wajah adik kembarnya yang begini cantik jelita, sepasang pipi yang halus putih kemerahan, mata yang indah bersinar-sinar, hidung yang kecil mancung dan seakan-akan menghembuskan hawa panas penuh nafsu dengan cuping hidung kembang- kempis, bibir yang kecil mungil, penuh dan merah basah seakan menantang, dada yang padat dan bergelombang turun naik seperti minta dipeluk.

Ah, hampir pemuda ini tidak kuat bertahan. Keadaannya bagaikan seekor harimau kelaparan yang dihadapkan seekor kelinci gemuk. Ingin sekali langsung menerkam dan memangsanya. Akan tetapi, pengetahuan bahwa gadis jelita ini adalah adik kandungnya, bahkan adik kembar yang lahir pada hari yang sama, pengetahuan ini merupakan perisai yang kokoh kuat.

Ketika lengannya bersentuhan dengan lengan Kwi Lan, pemuda itu memejamkan mata. Seperti ada aliran yang menggetar-getar melalui kulit mereka yang bersentuhan. Naik sedu-sedan di dada pemuda ini dan cepat-cepat ia menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah. Ia terpekik kesakitan, akan tetapi dorongan nafsu birahi dapat tertahan.

Juga Kwi Lan dalam keadaan seperti mabok. Memang ia mabok, mabok nafsu birahi yang timbul dari obat pemberian Bouw Lek Couwsu. Kwi Lan adalah seorang gadis yang aneh dan sejak kecil digembleng oleh gurunya yang aneh pula. Di balik kemabokannya, masih ada kesadaran pikirannya yang merasa terheran- heran melihat sikapnya sendiri. Mengapa ia begini gila? Mengapa ia ingin sekali bersentuhan dengan Pangeran Talibu? Dan ingin didekap dibelai? Ingin mendengar bisikannya? Mengapa? Andai kata ia mencinta pemuda ini, mengapa harus ada perasaan yang seperti memabokkannya ini?

Di sudut hatinya yang masih perawan, gadis ini merasakan sesuatu yang tidak wajar. Akan tetapi ia tidak tahu apa ketidak-wajaran itu dan mengapa. Kini menyaksikan keadaan Pangeran Talibu ia makin terheran. Sinar mata pemuda itu jelas memancarkan kasih mesra, memancarkan kehausan akan cinta. Akan tetapi pemuda itu seperti tersiksa, bahkan menggigit bibir sendiri sampai berdarah.

“Pangeran, kau kenapa? Kita… kenapa?” Ketidak-wajaran yang makin mendesak dalam kesadarannya membuat ia mengajukan pertanyaan terakhir itu.

Pertanyaan ini menolong banyak bagi Pangeran Talibu. “Kwi Lan… Mutiara Hitam… ah, kita mabok. Tidak wajar ini! Kita keracunan… begini panas dan begini… merangsang…”

Kwi Lan tersentak kaget. Benar! Racun! Biar pun racun yang amat aneh dan belum pernah ia mendengar akan racun yang menimbulkan kemabokan seperti ini, yang mendatangkan daya rangsangan birahi begini hebat, namun ia dapat menduga tentu mereka telah terkena racun! Teringat akan taburan bubuk wangi yang membuat ia pulas, dan tahu-tahu setelah ia sadar, belenggu tangannya telah terlepas dan ia bersama Pangeran Talibu berada dalam keadaan tidak wajar! Akan tetapi teracun atau tidak, tetap saja ia yakin bahwa ia mencinta pemuda ini! Ia rela menyerahkan jiwa raganya kepada Pangeran Talibu, kapan dan di mana pun juga.

“Benar kiranya, Pangeran. Kita terkena racun. Akan tetapi… apa bedanya? Aku tidak menyesal…” “Apa? Apa maksudmu?”
“Aku tidak menyesal menjadi tawanan bersamamu, Pangeran. Aku… aku… ah, bukan main panas hawanya…” Kwi Lan mengeluh dan mengerang, mengerang bukan hanya karena hawa panas! Ia lalu duduk di sudut dan bersandar pada dinding, mengebut-ngebutkan bajunya bagian atas agar agak melonggar untuk mengurangi hawa panas.

Gerakan gadis itu begitu menarik dan manis. Kembali Talibu memejamkan mata dan ia pun mundur di sudut yang berlawanan. Mereka kini duduk berpisah dalam jarak sepuluh meter. Hanya saling pandang dari jauh, saling menahan gelora birahi yang membakar. Namun siksaan batin ini bagi Pangeran Talibu tidaklah seberat yang diderita Mutiara Hitam.

Pangeran itu memaksakan kesadaran pengetahuannya bahwa gadis jelita itu adalah adik kembarnya sendiri! Teringat akan ini, ingin ia menangis! Menangis saking girang bertemu dengan adik kandung yang sejak terlahir dipisahkan orang. Menangis karena berduka karena begitu bertemu, mereka berdua menjadi tawanan dan keselamatan nyawa mereka di ujung rambut. Akan tetapi, semua perasaan ini merupakan penguat batinnya untuk melawan arus birahi yang tidak wajar dan yang membakar tubuhnya.

Hebat memang pengaruh obat itu. Serangan yang datang dari dalam tubuh ini bukan main kuatnya. Kwi Lan terpaksa mempergunakan sinkang yang dikerahkannya untuk melawan hasrat yang dianggapnya gila dan tidak tahu malu. Ia menjadi lemas karena pengerahan sinkang ini dipergunakan untuk menindas hawa yang timbul dari dalam tubuh sendiri.

Cuaca sudah menjadi gelap. Hal ini melegakan hati Pangeran Talibu. Sungguh pun ia mempunyai perisai berupa pengetahuan bahwa gadis itu adik kembarnya, namun tetap saja rangsangan di dalam tubuhnya masih amat membahayakan. Kalau keadaan dalam ruangan itu gelap dan ia tidak dapat melihat wajah cantik dan tubuh menggairahkan itu, tentu akan berkurang siksaan yang dirasakannya.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ketawa, suara ketawa Bouw Lek Couwsu disusul kata-kata mengejek, “Tuan dan Nyonya pengantin tentu lapar, silakan makan minum!”

Daun pintu terbuka dan seorang hwesio jubah merah masuk membawa sebatang lilin merah besar yang sudah dinyalakan, meletakkan lilin di dekat pintu, kemudian meletakkan pula beberapa mangkuk makanan dan seguci arak di atas lantai. Tanpa berkata apa-apa hwesio ini lalu keluar lagi dan mengunci daun pintu. Kwi Lan tadinya hendak menerjang hwesio itu, akan tetapi ia melihat pula Bouw Lek Couwsu yang memegang tongkat kuningannya berada di depan pintu, maka ia mengurungkan niatnya. Belum saatnya untuk turun tangan, pikirnya.

Kembali ruangan itu menjadi sunyi. Api lilin berkelap-kelip menerangi kamar dengan cahayanya yang kemerahan, membuat suasana dalam kamar menjadi romantis, dan indah seperti suasana kamar pengantin!

“Pangeran, apakah yang kau pikirkan?” Kwi Lan akhirnya bertanya setelah sekian lamanya ia memandang ke arah Talibu yang duduk di sudut bersandar dinding dengan mata meram, kening berkerut dan dada turun naik bergelombang.

Talibu membuka mata memandang, mata yang bersinar-sinar dan ganas penuh nafsu birahi. Mata yang melotot menyusuri tubuh Kwi Lan yang tanpa sadar telah membuka kancing pakaian luar sehingga tampak pakaian dalamnya yang tipis halus berwarna merah. Gadis ini telah melepaskan kancing tanpa disadarinya saking hebat serangan hawa panas. Akan tetapi keadaan pakaiannya ini membuat Talibu menjadi makin tersiksa. Pandang mata Talibu seolah-olah sudah melahap dan menelannya bulat-bulat!

“Apa yang kupikirkan? Aku… aku… memikirkan… kematian!” jawab Talibu.

Bagi Pangeran ini, keadaannya merupakan siksaan batin hebat. Ia jatuh cinta atau berhasrat mencinta adik kembarnya sendiri! Berbeda dengan Kwi Lan yang belum tahu akan rahasia itu, baginya perasaan yang merangsang terhadap pria yang ia cinta, bukanlah merupakan hal yang terlalu menyiksa batin, sungguh pun ia tahu bahwa racun membuatnya seperti mabok.

Kwi Lan tersenyum dan kembali Talibu memejamkan mata. Senyum itu demikian manisnya, seperti ujung golok menusuk jantung! “Pangeran, mengapa engkau berputus asa benar? Jangan khawatir, aku bersumpah akan membelamu sampai titik darah terakhir.”

Kembali Talibu membuka matanya. Ia merasa terharu sekali. Ingin ia meneriakkan bahwa mereka adalah kakak adik kembar, namun terpaksa ia menahan. Kalau Bouw Lek Couwsu mendengar dan tahu bahwa Mutiara Hitam ini pun puteri Ratu Khitan, tentu pendeta murtad itu akan mempergunakan kenyataan ini untuk makin menekan Ratu Khitan agar suka membantu Hsi-hsia. Tidak, ia harus memegang rahasia selama mereka masih menjadi tawanan Bouw Lek Couwsu. Namun rangsang birahi sukar dikendalikan lagi. Melihat mangkuk-mangkuk di lantai, Pangeran itu menjadi girang dan segera mengalihkan perhatian dengan berkata gembira.

“Apa pun yang terjadi, sebelum mati kita harus dapat menikmati hidup. Ada makanan lebih baik dimakan, Nona!”

Kwi Lan tersenyum, senang hatinya melihat Pangeran itu bergembira dan baru ia merasa betapa lapar perutnya. Ia mengangguk dan mendekati mangkuk-mangkuk yang diletakkan di atas lantai. Mereka duduk menghadapi mangkuk itu yang terisi makanan harum sedap baunya. Araknya pun arak wangi.

 

Talibu kembali tertawa dan berkata, “Bagaimana kalau makanan ini ada racunnya?”

“Paling hebat kita mati. Tiada lebih mengerikan dari pada itu,” jawab Kwi Lan yang membuat pangeran itu kaget. Gadis ini begitu pasrah, begitu rela seakan-akan tiada kekurangan sesuatu di dunia ini. Memang demikianlah orang muda kalau sudah bercinta. Lupa akan segala. Asalkan berada di samping orang yang dicintanya, lupa makan lupa tidur lupa segala, tidak peduli apakah dunia akan kiamat!

Pangeran Talibu menarik napas panjang. Alangkah akan bahagianya kalau Kwi Lan bukan adiknya. Mempunyai kekasih seperti gadis ini! Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya penuh penyesalan. Mengapa hatinya begini tidak setia? Ia sudah mempunyai seorang yang amat dikasihinya, dikasihi seperti seorang pria mencinta wanita, yaitu Puteri Mimi! Teringat akan Mimi, terasalah betapa aneh dan janggal jalan hidupnya.

Puteri Mimi yang semenjak kecil ia anggap adik kandung, kiranya sama sekali bukan apa-apanya. Orang lain dan cintanya sebagai kakak berubah menjadi cinta sebagai pria terhadap wanita. Sebaliknya, gadis ini yang sampai saat ini mengira bahwa mereka orang lain yang tiada hubungan sama sekali, tiada hubungan darah, bahkan saudara kembarnya!

“Kalau memang ada racunnya, marilah kita mati bersama,” jawabnya kemudian dan mulai makan.

Kwi Lan tersenyum bahagia dan tanpa ragu-ragu makan pula. Masakan-masakan itu ternyata amat lezat dan araknya pun amat harum. Sampai habis beberapa mangkuk masakan itu, guci araknya pun menjadi kosong. Sebaliknya, perut mereka kenyang.

“Ahh… betapa pun juga Bouw Lek Couwsu bukan orang yang terlalu pelit. Lezat makanannya…,” kata Pangeran Talibu sambil bangkit berdiri, menghapus bibir dengan telapak tangannya, lalu berjalan menuju ke sudut kembali. Akan tetapi pandang matanya berkunang dan ia terhuyung-huyung. Rasa aneh menguasai seluruh tubuhnya, hawa panas makin menghebat sampai terasa kepalanya seperti akan meledak!

“Pangeran… !”

Sampai di sudut Talibu membalikkan tubuh dan ternyata Kwi Lan sudah berada di depannya. Mereka saling pandang, tubuh mereka bergoyang,-goyang dan bagaikan besi dengan besi sembrani, keduanya saling tubruk dan saling peluk.

“Mutiaraku…!”

“Talibu, Pangeranku…”

Dekapan makin erat dan muka mereka bertemu dalam ciuman mesra. Kwi Lan sudah pasrah bahkan membalas peluk cium pemuda itu dengan penuh nafsu. Tiba-tiba Pangeran Talibu mengeluarkan seruan seperti isak tertahan, lalu merenggutkan diri terlepas dari pelukan dan terhuyung-huyung lari ke sudut lain.

“Pangeran…!”

“Berhenti! Jangan maju selangkah pun. Kalau kau bergerak, mendekatku, aku… aku akan bunuh diri…!” Terengah-engah Talibu berteriak.

Kwi Lan sedang dibuai racun yang memabokkan. Di dalam makanan tadi memang diberi obat oleh Bouw Lek Couwsu, yang membuat racun di tubuh mereka bekerja makin hebat. Bouw Lek Couwsu yang mengintai di luar kamar menjadi penasaran sekali tadi melihat betapa obatnya belum juga berhasil, maka ia lalu mengirim makanan yang ia campur dengan obat untuk memperhebat pengaruh racun asmara itu.

Melihat kekasihnya melarikan diri dan mengeluarkan ucapan seperti itu, Kwi Lan menjadi heran, kaget, dan juga kecewa. Ia melangkah maju sedikit dan serentak menghentikan langkahnya karena tiba-tiba Pangeran Talibu membenturkan kepalanya pada dinding!

“Ahhh… jangan… Pangeran…! Aku aku tidak akan mendekatimu…!” jerit Kwi Lan cemas.

Pangeran Talibu yang sudah putus asa karena ngeri memikirkan kalau sampai terjadi pelanggaran susila dengan adik kembarnya sendiri, dapat mendengar jerit ini dan ia menghentikan perbuatannya yang nekat. Dengan terengah-engah ia duduk di sudut ruangan itu memandang. Gadis itu terlampau cantik, apa lagi di bawah penerangan lilin merah. Bentuk-bentuk yang menonjol pada tubuhnya tampak nyata antara sinar dan bayangan. Ia tahu bahwa biar pun ia merasa yakin bahwa gadis itu adiknya, namun keyakinan ini belum tentu akan kuat menahan gelora nafsu yang menyesak di dada dan ia akan menjadi seperti seorang buta mabok kalau gadis itu mendekati dan menyentuhnya lagi.

“Mutiara Hitam… ini tidak baik… kita dirangsang racun… nafsu birahi menguasai kita…,” gumamnya.

Tiada jawaban dan ketika Talibu mengangkat muka, dilihatnya Kwi Lan yang duduk di sudut lain menangis terisak-isak. Gadis ini merasa terhina dan malu. Merasa bingung dan kecewa.

“Mutiara, Adikku sayang… maafkan aku… percayalah, aku tidak bermaksud menolak dan menghinamu… akan tetapi kau tunggu… sampai racun ini bersih dari tubuh kita… aku tetap cinta kepadamu.”

Kwi Lan menarik napas panjang, menahan tangisnya dan pikiran bersih menyelinap di benaknya. Mengapa ia harus merasa nelangsa? Jelas bahwa mereka telah keracunan, bahkan perasaan tubuhnya membuktikan bahwa makanan dan minuman tadi pun mengandung racun yang mempunyai daya rangsang hebat. Ia mencinta pemuda ini, akan tetapi tidak semestinya menurutkan rangsang nafsu birahi. Dengan pengerahan tenaga batinnya, ia bersila dan memejamkan mata, bersemedhi. Melihat keadaan gadis itu, Pangeran Talibu bernapas lega dan ia pun lalu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menindas nafsu dan bersemedhi.

Malam itu merupakan malam siksaan bagi Kwi Lan dan Talibu. Belum pernah mereka merasa tersiksa seperti malam hari itu. Tubuh yang terasa panas dengan hawa yang menggelora tidak memungkinkan mereka dapat bersemedhi secara layak. Mereka gelisah sekali. Terdengar Pangeran Talibu menggereng berkali-kali seperti harimau terluka. Tubuhnya penuh peluh.

Ada pun Kwi Lan tidak dapat dibayangkan sengsaranya. Gadis ini yang mencinta Talibu dan yang merasa yakin bahwa pemuda itu pun mencintanya, lebih hebat penderitaannya. Berkali-kali ia mengeluarkan suara merintih dan mengerang, tubuhnya menggeliat, peluhnya bercucuran, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk bertahan agar dapat menindas keinginan hatinya yang membuat ia seakan-akan ingin loncat menubruk pemuda itu.

Menjelang pagi mereka mendengar suara Bouw Lek Couwsu di luar kamar tahanan. Suara pendeta itu menyumpah-nyumpah dan marah-marah, agaknya kecewa sekali melihat dua orang muda ini tidak terpengaruh obatnya yang amat luar biasa. Diam-diam ia merasa kagum akan kekerasan hati dua orang muda itu, di samping merasa kecewa, penasaran, dan marah. Tak lama kemudian, kamar tahanan itu penuh dengan asap yang disemprotkan dari luar melalui lubang jendela dan pintu. Mula-mula Kwi Lan yang mencium bau harum tidak sewajarnya.

“Pangeran, hati-hati, asap beracun…!” Serunya, namun sia-sia belaka.

Mereka meloncat dan hendak menghindarkan diri, akan tetapi ke mana? Tak mungkin ke luar dari ruangan tertutup itu dan asap makin menebal. Tak mungkin pula menahan napas untuk waktu lama dan akhirnya mereka terhuyung dan roboh pingsan setelah terbatuk-batuk dan menyedot asap wangi itu.

Ketika Pangeran Talibu sadar, ia sudah terbaring di sudut ruangan. Ia mendengar suara orang dan ketika ia membuka mata, bukan main kaget dan ngeri rasa hatinya. Ia melihat Kwi Lan terbelenggu kaki tangannya dan di situ berdiri Bouw Lek Couwsu dan dua orang Hsi-hsia yang tinggi besar dan amat buruk rupanya, seperti monyet-monyet besar.

Mereka berdua itu hanya memakai sebuah celana kasar pendek sebatas lutut dengan badan bagian atas telanjang. Tampak kaki tangan mereka yang besar dan kekar kuat itu penuh bulu hitam. Juga dada mereka penuh bulu yang memanjang sampai ke perut. Muka mereka menghitam dan kasar sekali karena bopeng bekas luka penyakit cacar. Mata mereka liar dan merah, hidung besar dengan mulut besar tampak gigi mereka besar-besar menguning. Pendeknya, dua orang raksasa Hsi-hsia ini mengerikan dan buruk sekali, sedikit pun tidak mempunyai daya tarik sebagai seorang laki-laki dan mendatangkan rasa jijik.

Bouw Lek Couwsu memperlihatkan kertas putih dan alat tulis kepada Pangeran Talibu, lalu berkata, suaranya halus dan sopan. “Pangeran, apakah sampai sekarang juga Pangeran tidak sudi menulis surat untuk Ibunda Pangeran di Khitan?”

“Bouw Lek Couwsu! Percuma saja kau membujuk. Sampai mati pun aku tidak sudi. Kau boleh membunuhku, aku tidak peduli!” jawab Talibu sambil bangkit duduk.

Rasa panas tubuhnya masih ada, akan tetapi tidak sehebat malam tadi. Ia kini dapat melihat betapa Kwi Lan juga sudah sadar, akan tetapi gadis itu tidak mampu bergerak karena belenggu pada kaki tangannya yang amat kuat. Gadis ini pun sama sekali tidak membayangkan takut pada pandang matanya yang melotot ke arah Bouw Lek Couwsu penuh kemarahan.

“Hemmm…” pemimpin orang-orang Hsi-hsia itu menyeringai dan tampak betapa muka pendeta itu kini membayangkan kekejaman hati yang dingin. “Pangeran benar-benar keras hati. Mengingat bahwa kita sama-sama bangsa yang besar dan gagah perkasa, kami tidak ingin menyusahkan Pangeran. Sekarang harap Pangeran sudi memilih, menulis surat ini ataukah terpaksa pinceng membunuh gadis ini!”

Terbelalak mata Pangeran Talibu. Mutiara Hitam adalah adik kandungnya, adik kembarnya. Andai kata orang lain sekali pun, tak mungkin ia dapat membiarkan gadis itu tewas karena dia! Apa lagi adik kembarnya, adiknya yang telah datang dengan niat menolongnya, tanpa mengetahui bahwa yang ditolong adalah kakak kembarnya. Bagaimana mungkin ia mengorbankan nyawa adik yang dicintanya ini? Ia tak mampu menjawab, hanya menggeleng-geleng kepalanya sambil menatap wajah pendeta yang tersenyum- senyum dingin itu.

“Pinceng tahu bahwa hati Pangeran adalah baik dan tentu saja tidak tega melihat gadis jelita ini mati. Oleh karena itu, harap Pangeran sudi membuat surat yang kami butuhkan itu dan inilah kertas…”

“Pangeran Talibu! Jangan pedulikan dia! Eh, Bouw Lek Couwsu pendeta palsu. Kau mau bunuh aku, lekas bunuh! Apa kau kira aku takut mati? Cih, pendeta tak tahu malu. Jahanam yang berkedok pendeta untuk melampiaskan angkara murka!”

Bouw Lek Couwsu melihat perubahan pada muka Pangeran Talibu yang kini kembali mengeras, tanda bahwa Pangeran itu timbul semangatnya dan tidak akan suka tunduk. Ia menjadi marah sekali kepada Mutiara Hitam. “Baiklah, jangan kira bahwa kau akan begitu enak menerima kematianmu. Dan kau, Pangeran Talibu, marilah kita menyaksikan pemandangan yang amat menyenangkan.” Ia memberi perintah dalam bahasa Hsi-hsia kepada dua orang raksasa buruk itu.

Dua orang setengah telanjang itu saling pandang, tertawa ha-ha-hi-hi, menyeringai lebar sehingga deretan gigi besar-besar kuning dekil tampak nyata. Kemudian keduanya bermain jari mengadu untung. Si Raksasa yang hidungnya pesek sekali yang menang, maka sambil mengeluarkan suara seperti binatang buas ia berlutut, girang bukan main. Si Raksasa Hidung Besar yang kalah hanya tertawa ha-ha-he-he, lalu berlutut dekat kepala Kwi Lan dan tangannya yang besar meraih ke bawah.

“Breeetttt…!” Sekali renggut robeklah baju Kwi Lan, tidak hanya baju luar yang robek sama sekali, bahkan sebagian baju dalamnya ikut robek dan tampaklah sebagian dada yang putih padat dan sebagian kulit paha yang putih bersih!

Si Raksasa Hidung Pesek kembali mendengus dan tangannya siap bergerak untuk menelanjangi calon korbannya. Jelas kelihatan betapa nafsu iblis sudah menguasainya, siap melakukan perkosaan tanpa mempedulikan orang-orang di sekelilingnya.

“Iblis keparat…!”

Pangeran Talibu sudah meloncat maju dan dalam kemarahan yang meluap-luap ia menerjang dengan pukulan ke arah raksasa hidung pesek yang hendak memperkosa Kwi Lan. Tubuhnya agak membungkuk, mukanya menjadi pucat dan lengan kanannya mengeluarkan suara berkerotokan ketika pemuda bangsawan ini mengirim pukulan ke arah kepala si Raksasa Hidung Pesek. Inilah ilmu pukulan sakti Tok- hiat-coh-kut (Racun Darah Lepaskan Tulang) yang amat hebat dan biar pun baru dilatih setengah matang dari Ratu Yalina namun raksasa Hsi-hsia yang hanya bertenaga besar itu mana mampu menghindarkan diri.

“Kraakkk…! terdengar suara dan raksasa itu terguling dengan kepala remuk isinya!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo