August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 2)

 

Wanita itu segera menerima anak perempuan tadi dari tangan Sian Eng. Memang benar, anak itu mungil dan cantik sekali. Phang Bi Li menahan isak teringat akan anaknya sendiri yang ditinggalkan dalam usia dua bulan! Segera Kwi Lan, anak itu merampas hatinya dan dirawatnya penuh cinta kasih seperti anaknya sendiri. Juga Kam Sian Eng biar pun kadang-kadang kumat gilanya, tak pernah lupa akan segala keperluan Kwi Lan sehingga karena Bi Li sudah tidak menyusui Kiat-ji lagi, wanita aneh itu lalu merampas lembu betina, dibawa masuk ke dalam istana bawah tanah dan dipelihara untuk diambil air susunya.

Karena tempat persembunyian itu merupakan gudang pusaka-pusaka berupa kitab pelajaran pelbagai ilmu silat yang tinggi dan aneh-aneh, maka kedua anak itu, Kiat-ji dan Kwi Lan, semenjak kecil digembleng oleh Kam Sian Eng. Bahkan Bi Li, wanita dusun yang tadinya hanya seorang wanita muda yang lemah, karena setiap hari berkumpul dengan Sian Eng, mulai pula memperhatikan dan belajar ilmu silat!

Setelah dua orang anak itu mulai besar, berusia sepuluh tahun, Phang Bi Li menyatakan kekhawatirannya. “Sian-kouwnio, aku tidak peduli kalau kau akan mengeram dirimu selama hidup dalam gedung kuburan ini! Juga aku tidak memikirkan lagi diriku sendiri yang sudah kau paksa tinggal bersamamu di sini. Aku anggap diriku sudah mati seperti engkau sendiri mati dari dunia luar. Akan tetapi, engkau harus ingat kepada puteramu! Juga harus ingat kepada Kwi Lan. Dua orang anak itu, anak-anak yang tidak punya dosa, yang tidak tahu apa-apa, mengapa hendak kau kubur hidup-hidup di tempat ini? Mereka berhak menikmati hidup di atas tanah di dunia ramai seperti semua anak lain di dunia ini !”

“Hik-hik, engkau salah besar, Enci Bi Li! Tempat ini aman tentram, penuh damai dan di sini kita tidak usah mengkhawatirkan apa-apa. Sekali kita muncul di atas tanah dan bertemu dengan orang, akan timbullah keributan dan mala-petaka. Bergaul dengan manusia di dunia ramai berarti terjun ke dalam jurang penuh keributan dan penderitaan!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba Sian Eng menangis tersedu-sedu dan tidak mau bicara lagi kepada Bi Li!

Akan tetapi, berbulan-bulan lamanya Bi Li tidak pernah bosan untuk membujuk dan membujuk lagi. Apa yang keluar dari mulut wanita ini memang sesungguhnya suara yang keluar dari hatinya. Ia sudah putus asa untuk dirinya sendiri. Ia sudah tidak ingin bertemu dengan keluarganya, karena oleh suami dan keluarganya tentu ia dianggap seorang wanita durjana yang meninggalkan anak yang masih kecil. Selain itu ia pun, amat mencintai Kwi Lan yang dianggapnya anak sendiri. Ia tidak suka kepada Suma Kiat sungguh pun ketika masih kecil anak itu menyusu padanya. Anak ini amat nakal.

“Tidak! Aku tidak sudi hidup di atas tanah bergaul dengan dunia ramai yang palsu dan keji!” Sian Eng berkali-kali menjerit marah kalau dibujuk oleh Bi Li.

“Kalau kau tidak mau aku pun tidak memaksa atau menyuruhmu keluar dari kuburan ini Sian-kouwnio. Aku hanya menuntut untuk dua orang anak itu. Kenapa engkau begini angkuh? Kalau kita membuat bangunan sederhana di atas kuburan ini, dan membiarkan dua orang anak ini hidup di udara bebas, dan engkau sendiri sembunyi di sini, bukankah bagimu sama juga? Kalau kau ingin bertemu dengan kami bertiga tinggal panggil saja dan kami tentu sewaktu-waktu akan turun ke sini. Sian-kouwnio, biar pun engkau tidak pernah bercerita aku tahu bahwa engkau adalah seorang wanita sakti keturunan orang gagah yang berkedudukan tinggi. Aku dapat menduga bahwa dahulu kau telah mengalami tekanan batin dan menderita patah hati. Akan tetapi, mengapa karena itu engkau lalu hendak menghukum puteramu sendiri dan Kwi Lan yang tidak dosa?”

Akhirnya dibujuk oleh Bi Li yang diperkuat oleh kedua anak itu yang selalu rewel minta diperbolehkan melihat keadaan di luar, terpaksa Sian Eng mengalah.

“Akan tetapi aku pesan, tidak boleh kalian meninggalkan hutan di atas istana ini. Kalau melanggar aku takkan mengampuni nyawa kalian. Biar Kiat Ji sendiri akan kubunuh mampus kalau berani melanggar!” ancamnya dengan suara bengis dan mata bersinar ganas.

Akan tetapi ancaman yang akan membuat orang lain merasa ngeri ini seperti tidak didengar oleh Phang Bi Li, Suma Kiat dan Kwi Lan. Mereka bertiga sudah menjadi girang sekali. Segera mereka dibantu pula oleh Sian Eng yang masih terus mengomel sepanjang hari keluar dari pintu rahasia dan mulai membangun sebuah pondok sederhana di dalam hutan di atas istana bawah tanah itu.

Cara Kam Sian Eng menggembleng ilmu silat kepada dua orang anak itu amat luar biasa. Mula-mula ia mengajarkan dasar-dasar ilmu silat di samping mengajar ilmu membaca. Setelah kedua orang anak itu berusia sepuluh tahun dan pandai membaca, ia menyuruh mereka membaca kitab-kitab pusaka yang berisi

ilmu-ilmu silat tinggi peninggalan Tok-siauw-kwi. Kitab-kitab ini adalah kitab-kitab rahasia yang berisi dan mengandung pelajaran pelik dan gawat, bukan ilmu silat biasa.

Tentu saja kedua orang anak itu, terutama sekali Suma Kiat yang otaknya tidak begitu cerdas, amat sukar menyelami isinya. Dan celakanya, ketika mereka bertanya kepada Sian Eng, mereka mendapat penjelasan yang sebenarnya menyimpang dari pada pelajaran sesungguhnya. Sian Eng sendiri melatih diri dengan ilmu-ilmu silat tinggi secara keliru sehingga ilmu silat tinggi yang diciptakan orang-orang sakti itu berubah menjadi ilmu dahsyat seperti ilmu ciptaan iblis sendiri!

Dengan bekal ilmu pengetahuan yang amat kurang ditambah sukar dan tingginya isi kitab-kitab pusaka, kemudian digembleng oleh seorang yang sudah sesat ilmunya seperti Kam Sian Eng, tentu saja kedua orang anak itu pun menjadi pelajar-pelajar ilmu sesat. Namun karena mereka memang berbakat, mereka berhasil memiliki ilmu-ilmu yang amat hebat dan mengerikan.

Diam-diam Kam Sian Eng merasa kagum kepada Kwi Lan. Anak ini amat cerdas, jauh lebih cerdas dari pada puteranya sendiri. Kwi Lan mempunyai watak haus akan pelajaran, tidak takut akan kesukaran sehingga di antara kitab-kitab pusaka itu, Kwi Lan memilih yang sukar-sukar. Justru sifat kitab-kitab pusaka itu, makin sukar dimengerti, makin sukar dipelajari, makin tinggilah mutunya! Juga Kwi Lan amat tekun berlatih sehingga Suma Kiat yang usianya setahun lebih tua itu tertinggal olehnya.

Semenjak Kwi Lan pandai bicara, Sian Eng menyuruh anak itu menyebut bibi kepadanya. Karena kurang pergaulan dengan anak-anak lain, ketika masih kecil Kwi Lan tidak dapat membedakan mengapa Suma Kiat yang ia sebut suheng (kakak seperguruan) itu menyebut ibu sedangkan ia sendiri menyebut bibi kepada wanita yang ia anggap sebagai orang paling baik di dunia ini setelah Bibi Bi Li. Memang Phang Bi Li amat kasih kepada Kwi Lan, menganggap anak itu anak kandungnya sendiri. Akan tetapi Sian Eng juga amat baik terhadapnya. Biar pun wataknya kadang-kadang aneh, namun terhadap Kwi Lan ia tidak pernah marah-marah.

Ketika Kwi Lan berusia dua belas tahun dan sudah dua tahun lamanya tinggal di pondok di atas tanah, mulailah Kwi Lan melihat perbedaan-perbedaan. Mulailah ia bertanya-tanya kepada Bi Li tentang perbedaan-perbedaan itu.

“Bibi, kenapa Kiat-suheng menyebut Ibu kepada Bibi Sian?” demikian tanyanya pada suatu sore ketika mereka berdua pergi memetik bunga dalam hutan. Ketika itu Suma Kiat turun ke bawah karena dipanggil ibunya.

“Kenapa? Ah, Lan Lan, alangkah anehnya pertanyaanmu ini. Tentu saja karena Kiat-ji memang anaknya!” Karena tidak kuasa menyelami hati dan pikiran Kwi Lan, maka Bi Li menganggap pertanyaan itu wajar- wajar saja tetapi bodoh.

Kwi Lan masih tetap membantu Bi Li memilih dan memetik bunga. “Kalau aku, kenapa aku harus menyebut Bibi Sian kepadanya?”
Masih tidak sadar akan nada suara aneh dalam pertanyaan ini, Bi Li menjawab, “Anak bodoh, tentu saja engkau menyebut Bibi karena engkau bukan anaknya.”

Kwi Lan menggigit bibirnya yang tiba-tiba gemetar. Setelah menekan hatinya, ia berkata lagi. “Bibi Bi Li, kau dulu pernah bilang, ketika Kiat-suheng bertanya padamu tentang ayahnya, dia boleh bertanya sendiri kepada Bibi Sian. Tapi Bibi Sian marah-marah ketika ditanya dan memaki-maki, bilang bahwa ayah Kiat- suheng sudah mampus. Kemudian Bibi Sian menangis menggerung-gerung. Semenjak itu, Kiat-suheng tidak berani bertanya-tanya lagi tentang ayahnya. Bibi, benarkah bahwa ayah Kiat-suheng telah mati?”

Bi Li mengerutkan keningnya, lalu berkata sambil menarik napas panjang, “Bibi Sian-mu itu memang aneh. Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi kalau dia bilang demikian, agaknya memang benar bahwa ayah Kiat-ji telah meninggal dunia.”

Hening sejenak dan mereka melanjutkan pekerjaan memetik bunga.

“Bibi Bi Li… kalau… Ayah dan Ibuku… siapakah mereka? Di mana mereka…?”

Bi Li tersentak kaget bagaikan disengat lebah. Cepat ia menoleh dan melihat betapa wajah Kwi Lan menjadi pucat, sepasang matanya memandang tajam kepadanya, bibirnya yang pucat menggigil dan anak itu hampir menangis! Barulah tahu Bi Li bahwa sejak tadi, terjadi hal-hal yang hebat dalam hati dan pikiran anak yang amat disayangnya itu. Baru terbuka matanya bahwa anak ini mulai mengerti dan mencari ayah bundanya. Ia menjadi terharu, mengeluh perlahan lalu merangkul Kwi Lan. Tak tertahan lagi air matanya menetes-netes ketika ia mencium pipi Kwi Lan dan menariknya duduk di atas rumput.

“Lan Lan, Anakku sayang… kau… kau… adalah anakku, Lan Lan.”

Kwi Lan balas pelukan dan ciuman wanita yang semenjak ia kecil telah merawatnya penuh kasih sayang itu. Kemudian ia berkata, ada suaranya mendesak. “Bibi Bi Li, kalau engkau ibuku, mengapa selama ini aku dibohongi? Dan kalau benar aku anak kandungmu, mengapa aku tidak menyebut Ibu, melainkan Bibi kepadamu? Bibi Bi Li, harap jangan membohongi aku lagi, aku sudah besar dan dapat membedakan kebohongan atau bukan. Bibi, katakanlah, siapakah ayah bundaku dan di mana mereka sekarang? Mengapa aku bisa terpisah dari mereka dan berada di sini?”

Tiba-tiba Bi Li menangis sedih. Teringat ia akan keadaannya sendiri. Dia sendiri dipaksa berpisah dari suaminya dan dari anaknya yang baru berusia dua bulan! Sedangkan Kwi Lan ini dibawa datang oleh Sian Eng sejak masih bayi, agaknya dipaksa berpisah dari ibu kandungnya!

“Aku tidak tahu, Anakku… Aku sendiri sama sekali tidak tahu tentang dirimu sedangkan aku sendiri pun dipaksa berpisah dari suami dan anak….”

Kwi Lan tercengang. Ia merangkul wanita itu dan bertanya “Apa yang terjadi, Bibi?”

Setelah mengeringkan air mata dan berkali-kali menghela napas, Bi Li lalu bercerita. “Suamiku seorang penebang pohon dan kami hidup bahagia di dalam dusun. Ketika itu baru dua bulan aku melahirkan seorang anak laki-laki. Pagi hari itu, selagi suamiku pergi menebang pohon datang Sian-kouwnio menangkap dan membawaku pergi meninggalkan anakku dibawa ke sini… sampai sekarang….”

“Apa…?” Kwi Lan membelalakkan matanya yang jeli. “Mengapa…?” Bi Li tersenyum pahit. “Untuk merawat dan menyusui Kiat-ji.”
“Anak kandungnya sendiri? Mengapa? Mengapa harus engkau yang menyusuinya, Bibi?”

Bi Li menggeleng-geleng kepalanya. “Entahlah. Selamanya Bibimu Sian itu seorang aneh luar biasa. Klat-ji memang anak kandungnya, akan tetapi ia menyuruh aku menyusui dan merawatnya. Ahhh, nasibku sama dengan si Belang….“

Kwi Lan makin heran. Si Belang adalah nama lembu betina yang dipelihara di bawah tanah dan sekarang sudah sangat tua.

“Apa maksudmu, Bibi Bi Li?”

Dengan senyum pahit di bibir, Bi Li menjawab, “Aku dipaksa ke sini untuk menyusui Kiat-ji, sedangkan si Belang dipaksa ke sini untuk menyusui engkau, Kwi Lan. Setahun setelah aku berada di sini, si Belang didatangkan oleh Sian-kouwnio untuk diambil air susunya untukmu.”

“Dan… aku… dari manakah aku, Bibi…?” Wajah Kwi Lan pucat dan suaranya mengandung isak. “Aku tidak tahu, Anakku. Aku tidak tahu apa-apa.”
Tiba-tiba Kwi Lan menjatuhkan semua kembang yang dipegangnya. Kini wajahnya menjadi merah, matanya mengeluarkan kilat dan kedua tangannya yang kecil dikepal. Wajahnya yang cantik mungil itu kini nampak beringas mengancam.

“Kalau begitu Bibi Sian jahat sekali! Kau dipaksa berpisah dari suami dan anak, sedangkan aku dipaksa berpisah dari Ayah dan Ibu! Sekarang juga aku akan bertanya kepadanya, Bibi. Dia harus memberi keterangan sejelasnya!”

“Ssttt, anak bodoh, apa yang hendak kau lakukan ini?” Bi Li memeluknya erat-erat dengan wajah penuh kekhawatiran. “Apakah engkau masih belum melihat betapa Bibimu Sian itu seorang yang amat luar biasa wataknya? Kau tidak boleh bertanya apa-apa kepadanya, tidak boleh membikin susah atau marah kepadanya.”

“Mengapa tidak boleh, Bibi?” Kwi Lan bertanya kecewa, akan tetapi mulai membayang pula di hatinya kini rasa takut dan jeri terhadap bibinya yang selalu bersembunyi di bawah tanah itu.

“Kwi Lan, apa pun juga yang telah terjadi dengan kita, namun engkau sendiri tentu telah merasa betapa baiknya sikap Sian-kouwnio terhadap kita. Segala kebutuhan kita dicukupi, bahkan engkau dianggap seperti anak sendiri, dirawat dan dididik tiada bedanya dengan Kiat-ji, putera kandungnya. Aku pun telah mendapat perlakuan yang amat baik sehingga harus kuakui bahwa keadaan hidupku di sini jauh lebih baik dari pada ketika masih tinggal di dusun yang kadang-kadang menderita kurang makan. Makan pakaian cukup, aku pun diberi kebebasan, dan bahkan dilatih ilmu silat. Karena kebaikannya yang ia limpahkan kepada kita inilah maka sekali-kali kita tidak boleh membikin susah hatinya. Aku tahu, dibalik keadaannya yang serba aneh luar biasa itu, tersembunyi penderitaan batin yang amat hebat pada diri Sian-kouwnio. Ia patut dikasihani. Agaknya ia menculik kita berdua bukan karena jahat, melainkan terpaksa. Ia menculikku karena ia membutuhkan air susuku untuk memelihara puteranya. Kemudian ia menculikmu karena… agaknya, dia ingin puteranya mendapatkan teman bermain-main.”

“Tapi ia tidak peduli betapa anak kandungmu sendiri kehilangan Ibu, dan betapa ayah bundaku kehilangan anak!” Kwi Lan membantah.

“Benar, akan tetapi memang demikianlah watak sebagian besar manusia. Kepentingan sendiri selalu menutupi kepentingan lain orang.” Bi Li menarik napas panjang. “Kita pun tidak boleh membikin marah kepadanya, karena dia seorang aneh luar biasa, kalau sekali ia marah, agaknya ia tidak akan segan-segan untuk sekali turun tangan membunuh kita berdua!” Bi Li bergidik ngeri.

Akan tetapi Kwi Lan sama sekali tidak merasa takut, bahkan bertanya dengan suara menuntut. “Bibi, kalau kau melarang aku membikin susah dan membikin marah Bibi Sian, habis apakah aku harus tinggal diam saja dipaksa berpisah dari Ayah Bunda kandungku?” Kini Kwi Lan tidak menangis lagi karena kemarahan memenuhi hatinya.

Bi Li memeluknya dan mengelus-elus rambutnya. “Anakku yang baik, sama sekali bukan begitu maksudku. Kau harus bersabar, Anakku. Kau tahu bahwa yang tahu akan rahasia dirimu hanyalah Sian-kouwnio seorang. Hanya dari dialah engkau akan dapat mengetahui siapa ayah bundamu. Karena itu, engkau harus bersabar. Kalau sekarang kau tanyakan hal itu kepadanya dan dia tidak mau mengaku malah marah, engkau akan bisa berbuat apakah? Jangan-jangan engkau malah akan dibunuhnya! Lebih baik engkau tekun belajar, memperdalam kepandaianmu karena kepandaian silat itu merupakan bekalmu kelak kalau Sian-kouwnio tidak mau mengaku, untuk kau pakai mencari sendiri orang tuamu.”

Terbukanya rahasia tentang keadaan dirinya inilah yang membuat Kwi Lan, makin tekun dan giat belajar. Dia seorang gadis yang keras hati, yang tahan menderita. Biar pun setiap saat pertanyaan tentang ayah ibunya sudah berada di ujung lidah, namun ia dapat selalu menekan dan menelannya kembali, tidak mau bertanya akan hal itu kepada Sian Eng yang makin lama menjadi makin kagum saja akan keadaan keponakan dan muridnya ini.

Semua kitab simpanan ‘dilalap’ habis oleh Kwi Lan, bahkan kitab-kitab yang oleh Sian Eng sendiri kurang dimengerti. oleh Kwi Lan dihafal di luar kepala! Memang seolah-olah tidak ada gunanya baginya, karena tidak ada yang menerangkan artinya, juga Sian Eng tidak mengerti. namun Kwi Lan menghafalnya di luar kepala dengan keyakinan bahwa kelak tentu ada gunanya. Dalam hal kemajuan ilmu silat, Suma Kiat tertinggal jauh oleh Kwi Lan sehingga kadang-kadang Sian Eng merenung seorang diri.

“Tidak aneh! Kwi Lan keturunan seorang sakti seperti Suling Emas, sedangkan Kiat-ji anak bajingan macam Suma Boan!” Lalu ia menangis seorang diri, menangisi kematian Suma Boan, putera pangeran yang amat dikasihinya, juga amat dibencinya sehingga kedua tangannya sendirilah yang membunuh Suma Boan.

Dua tahun kemudian, ketika Kwi Lan telah berusia empat belas tahun, pada suatu pagi gadis cilik ini bersama Phang Bi Li mencari kembang seperti dua tahun yang lalu di dalam hutan, tidak jauh dari pondok mereka.

“Bagaimana kalau sekarang aku bertanya kepada Bibi Sian tentang orang tuaku, Bibi Bi Li?”

Bi Li menggeleng kepala. “Belum waktunya, Kwi Lan. Sedikitnya lima tahun lagi, kalau engkau sudah betul- betul kuat, baru kau boleh bertanya.”

Selagi Kwi Lan hendak bicara lagi, tiba-tiba Bi Li memandangnya dan menaruh telunjuk di bibir. “Ssshh, tidakkah kau mendengar sesuatu?”

Kwi Lan mendengarkan penuh perhatian. “Ada orang bertempur…!” akhirnya ia berkata.

Bi Li mengangguk. “Agaknya tidak jauh dari sini. Mari kita lihat, akan tetapi kita harus bersembunyi.”

Berlari-larianlah mereka ke arah suara beradunya senjata tajam. Tak lama kemudian sampailah mereka ke tempat bertempur tadi, di pinggir hutan. Mereka bersembunyi di balik pohon-pohon sambil mengintai.

Kiranya yang bertanding itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian penuh tambalan dan amat butut seperti seorang jembel yang miskin sekali. Laki-laki ini sedang melawan pengeroyokan empat orang lain yang pakaiannya juga penuh tambalan. Hanya bedanya, kalau orang pertama yang dikeroyok itu pakaiannya butut dan kotor, adalah pakaian empat orang yang mengeroyok ini, biar pun penuh tambalan, namun amat bersih dan tambalannya juga berkembang-kembang.

Ilmu kepandaian pengemis butut itu lumayan, demikian pikir Kwi Lan yang menonton. Senjatanya hanya sebatang tongkat, akan tetapi gerakannya gesit dan tenaganya besar. Betapa pun juga, menghadapi pengeroyokan empat orang pengemis bersih ia nampak repot.

Empat orang lawannya itu memegang tongkat yang lebih besar dan panjang. Biar pun gerakan mereka tidak secepat gerakan si Pengemis butut, namun ilmu silat mereka lihai dan tenaga mereka tidak kalah besarnya. Selain ini, tempat pertandingan itu dikurung oleh belasan orang pengemis baju bersih yang bersorak menjagoi empat orang kawan mereka dan mengejek si Pengemis baju butut.

Agaknya pertandingan itu sudah berlangsung cukup lama dan tampak betapa pengemis berpakaian butut itu sudah payah. Tubuhnya penuh luka-luka, napasnya sudah terengah-engah dan wajahnya pucat. Namun masih terus melawan penuh semangat.

“Aiihhh…!”

Seruan ini mengagetkan hati Kwi Lan. Ketika menoleh ke kiri, ia melihat betapa Bi Li memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali ke arah pertempuran. Kemudian nyonya itu meloncat ke depan bagaikan seekor harimau betina, langsung menerjang tempat pertandingan dan begitu kaki tangannya bergerak, empat orang pengeroyok itu terlempar ke empat jurusan. Phang Bi Li cepat menghadapi pengemis baju butut itu sambil berseru, suaranya gugup.

“Kau… kau… bukankah engkau Tang Sun…?”

Pengemis baju butut itu terhuyung-huyung saking lelahnya, mengeluh panjang ketika memandang Bi Li, kemudian berkata lemah. “Bi Li…! Kau… Bi Li…? Ah, tidak mungkin…”

Sepasang mata Bi Li sudah bercucuran air mata. “Aku betul Bi Li isterimu!”

Pengemis itu terbelalak memandang, napasnya serasa terhenti. “Bi Li…? Aduh… Hauw Lam… Hauw Lam… di manakah engkau…? Ini Ibumu, Nak…!” Pengemis bernama Tang Sun itu terguling dan roboh pingsan!

Untung Bi Li cepat meloncat dan menubruknya sehingga ia tidak sampai terbanting. Akan tetapi alangkah kaget hati Bi Li ketika melihat dia ternyata telah terluka hebat, bahkan tulang iganya ada yang patah-patah. Kiranya laki-laki yang ternyata adalah suaminya ini tadi melakukan perlawanan mati-matian dan nekat dalam keadaan terluka parah mendekati mati! Cepat ia merebahkan suaminya, memanggil-manggil namanya dan menangis.

Sementara itu, sejenak para pengemis baju bersih yang belasan orang jumlahnya tercengang menyaksikan betapa sekali bergerak, wanita setengah tua itu telah membuat empat orang kawan mereka terlempar dan jatuh terbanting tidak mampu bangkit lagi, hanya mengaduh-aduh karena tulang lengan dan kaki mereka

 

patah-patah! Kini melihat betapa pengemis baju butut roboh pingsan dan wanita itu berlutut menangis, timbul kegarangan mereka.

“Perempuan liar dari mana berani mengganggu kami?” bentak seorang di antara mereka yang bermuka bopeng koban penyakit cacar. “Hayo hajar dia!” perintah Si Muka Bopeng ini dengan suara keras.

Enam orang pengemis yang tubuhnya tinggi besar dan agaknya menjadi jagoan mereka di samping empat orang pengeroyok yang sudah roboh oleh Bi Li, kini menerjang maju dengan senjata mereka yang sama, yaitu tongkat sebesar lengan setinggi orang.

Saat itulah Kwi Lan turun tangan. Sekali menggerakkan kakinya, ia telah melompat dan bukan main kagetnya enam orang pengemis tinggi besar melihat bayangan berkelebat seperti seekor burung terbang dan tahu-tahu seorang gadis remaja yang cantik jelita telah berdiri di depan mereka sambil bertolak pinggang! Akan tetapi setelah melihat bahwa yang muncul menghadang hanyalah seorang gadis cilik belum dewasa dan bertangan kosong pula, mereka memandang rendah dan tertawa.

“Ho-ho-ha-ha! Cucuku yang mungil. Minggirlah, Engkong-mu (Kakekmu) tidak ada waktu untuk melayanimu,” teriak seorang di antara mereka yang kepalanya gundul.

“Eh, Nona cilik yang manis. Apakah engkau menantang berpacaran? Minggirlah lebih dulu, tunggu kalau aku selesai membikin mampus anjing betina tua itu, baru aku layani kau, heh-heh-heh!” kata seorang pengemis tinggi bermuka hitam.

Kwi Lan semenjak kecil berwatak riang gembira, jenaka dan pandai bicara. Hal ini diketahui baik oleh Phang Bi Li, apa lagi oleh Suma Kiat yang selalu kalah berdebat. Dan hanya di depan Sian Eng saja gadis ini tunduk dan berubah pendiam. Kini menghadapi orang-orang yang menimbulkan kemarahan di hatinya itu, muncul pula sikapnya yang ugal-ugalan. Sambil tersenyum mengejek ia berkata.

“Wah, kalian ini sekumpulan monyet tua tidak tahu malu, berhati palsu, curang dan selayaknya dihajar! Melihat pakaian kalian, jelas bukan orang miskin, akan tetapi sengaja ditambal-tambal biar dianggap pengemis. Ini tandanya kalian bukan pengemis karena keadaan melainkan orang-orang berjiwa pengemis! Lalu mengandalkan jumlah banyak mengeroyok orang malah menghina wanita, ini tandanya kalian berwatak rendah, hina, dan curang! Paling akhir, pandang mata dan ucapan-ucapan kalian tadi menandakan bahwa kalian bersifat kurang ajar, tak tahu sopan santun, maka kalian sudah sepatutnya diberi hajaran biar kapok!”

“Mengapa melayani mulut seorang anak nakal? Tangkap dulu dia, kita bawa pulang!” teriak si Muka Bopeng yang tertarik melihat kelucuan dan kecantikan Kwi Lan, juga berbareng mendongkol karena enam orang anak buahnya dijadikan bahan mainan gadis cilik itu.

Serentak enam orang pengemis tinggi besar itu menerjang Kwi Lan. Mereka seperti berlomba, hampir berbareng tangan mereka diulur dan menubruk untuk menangkap Kwi Lan. Karena perintah kepala mereka bukan membunuh melainkan menangkap, pula karena mereka sendiri pun tidak ingin membunuh gadis cilik yang cantik ini, maka mereka tidak menggunakan tongkat untuk menerjang. Hal ini amatlah menguntungkan, bukan bagi Kwi Lan melainkan bagi enam orang pengemis itu sendiri! Karena sedangkan penyerangan dengan tangan kosong mereka itu saja sudah mendatangkan akibat yang hebat, apa lagi kalau mereka menggunakan senjata, tak terbayangkan betapa hebat akibatnya.

Penyerangan itu bertubi-tubi datangnya, saling susul. Akan tetapi, begitu ada tangan menjangkau ke arahnya, Kwi Lan hanya bergerak sedikit, menyambut dengan tangannya sendiri yang kecil dan….

“Plaakk!” tangan yang besar ini membalik dan menghantam muka si Penyerang sendiri.

“Plakk…! Aduhh…!” terdengar suara susul-menyusul dan enam orang itu sudah terhuyung-huyung dan ada pula yang roboh.

Mereka semua mengerang kesakitan karena yang paling ringan di antara mereka sudah remuk hidungnya, terkena hantaman tangan sendiri yang secara aneh telah membalik. Lebih hebat adalah si Muka Hitam, karena tangannya tadi terbuka jari-jarinya hendak mencengkeram dada si Gadis Cilik, ketika membalik masih dalam keadaan mencengkeram dan tak dapat dicegah lagi, mata kirinya tertusuk jari tangannya sehingga biji matanya tercongkel ke luar! Ada pun si Kepala Gundul, tepat kena hantaman kepalanya oleh tangannya sendiri sehingga di kepalanya tumbuh tanduk dan ia roboh pingsan, agaknya mengalami gegar

 

otak! Yang lain-lain, sebagian besar kehilangan hidung, atau setidaknya yang hidungnya agak mancung menjadi pesek karena ujungnya telah remuk berikut tulang muda batang hidungnya!

Semua pengemis baju bersih tertegun, apa lagi ketika mendengar gadis cilik itu berkata mengejek, “Baru bisa mainkan sedikit ilmu silat Kong-thong-pai yang digerakkan secara ngawur saja kalian sudah sombong! Benar-benar tak tahu malu!”

Si Muka Bopeng cepat melompat maju dengan tongkat melintang. Wajahnya yang bopeng menjadi merah sekali dan diam-diam ia pun merasa heran. Tidak dapat disangkal lagi, ilmu silat yang dipelajari anak buahnya memang ilmu silat Kong-thong-pai, karena dia adalah seorang murid pelarian dari Kong-thong- pai. Akan tetapi ilmu tongkat dan ilmu silatnya sudah terkenal, sukar dicari bandingnya dan karena itu pula ia dipercaya oleh para pimpinan pengemis baju bersih untuk memimpin pasukan pengemis di daerah itu, mengepalai pasukan pengemis lima puluh orang banyaknya. Sekarang bocah ini telah mengenal ilmu silat anak buahnya, tidak hanya mengenal, malah mengejek!

“Eh, bocah bermulut lancang dan sombong! Kau tahu apa tentang Ilmu silat Kong-thong-pai?”

“Mengapa tidak tahu? Apa kau kira ilmu silat Kong-thong-pai yang paling hebat di muka bumi ini? Huh, ilmu silat Kong-thong-pai tidak banyak ragamnya, tidak menang banyak dengan jumlah bopeng di mukamu.”

Saking marahnya, si Muka Bopeng mencak-mencak dan membanting tongkatnya sampai menancap setengahnya di atas tanah. “Keparat aku murid Kong-thong-pai yang jagoan, tahu?”

Kwi Lan memang nakal. Ia membusungkan dada dan menghampiri tongkat itu. “Membanting tongkat seperti itu apa susahnya? Aku pun bisa. Lihat!” Ia menggunakan tangan kanan menangkap sisa tongkat yang tampak di atas tanah, diam-diam mengerahkan tenaga sakti, lalu mengangkat terus membanting.

“Krakk… cappp!” Tongkat itu ketika ia cabut telah patah di tengah-tengahnya, tepat di permukaan tanah, kemudian ketika tongkat sepotong itu ia tancapkan, benda itu amblas ke dalam tanah tak tampak lagi!

Si Muka Bopeng melongo, juga anak buahnya berseru kaget. Hal ini membuat si Muka Bopeng marah sekali. Sambil berseru keras ia menerjang dengan pukulan Serbu Masuk Goa Harimau. Pukulan ini keras sekali dan mengarah dada Kwi Lan. Sebuah serangan keterlaluan bagi seorang laki-laki berusia empat puluh tahun terhadap seorang gadis berusia empat belas tahun. Selain serangan maut, juga tidak sopan.

Akan tetapi Kwi Lan berseru sambil mengejek. “Wah, Cim-jip-houw-hiat (Serbu Masuk Goa Harimau) yang buruk sekali!”

Ia pun cepat melakukan gerakan yang sama. Akan tetapi jurus yang sama ini ia lakukan dengan cara yang jauh berlainan, hanya gayanya saja yang sama akan tetapi dasar dan isinya sudah berbeda jauh. Akan tetapi hebat akibatnya, karena ketika kepalan tangan si Muka Bopeng itu bertemu dengan telapak tangan Kwi Lan, mendadak si Muka Bopeng itu merasa betapa tenaga tangannya membalik dan kepalan tangannya seakan-akan sudah tak dapat ia kuasai lagi dan menyambar ke arah dadanya sendiri! Persis seperti yang dialami oleh enam orang anak buahnya tadi.

Akan tetapi ia cukup lihai. Secepat kilat ia menggunakan tangan kirinya menangkis tangan kanannya sendiri sampai terdengar suara karena beradunya kedua lengan. Ia meringis kesakitan, wajahnya makin merah. Jelas tadi ia melihat gadis cilik itu bergerak dalam jurus yang sama, akan tetapi mengapa amat berbeda?

Memang tidak aneh sebetulnya. Seperti kita ketahui dari cerita SULING EMAS, mendiang Tok-siaw-kwi Liu Lu Sian telah berhasil mencuri banyak sekali kitab-kitab ilmu silat dari pelbagai perguruan silat dan partai- partai besar. Di antaranya ia telah mencuri pusaka Kong-thong-pai. Kemudian semua kitab pusakanya terjatuh ke tangan Kam Sian Eng. Maka sebagai muridnya yang amat rajin, tentu saja Kwi Lan telah mempelajari pula ilmu silat dari kitab Kong-thong-pai ini. Seperti juga dengan ilmu-ilmu silat lain, penjelasan Sian Eng menyeleweng dari pada ilmunya yang benar, maka menjadi berbeda, bahkan ada yang terbalik sama sekali!

Mengapa ilmu yang dipelajari terbalik dan menyeleweng ini malah mengatasi ilmu yang asli, yang telah dipelajari oleh si Muka Bopeng? Hal itu pun tidak aneh. Biar pun telah mewarisi bermacam-macam ilmu yang dipelajari secara menyeleweng, namun Sian Eng telah berhasil memiliki dan mencipta ilmu-ilmu yang tinggi dan aneh sehingga menyerupai ilmu ciptaan iblis sendiri.

 

Muridnya Kwi Lan, memperoleh kepandaiannya dari Sian Eng, tentu saja juga mendapatkan pelajaran ilmu menghimpun hawa sakti yang mukjijat. Hanya ketika sudah membaca kitab dan belajar sendiri kitab-kitab itu, penafsirannya berbeda dengan penafsiran gurunya sehingga dalam ilmu-ilmu yang tinggi terdapat perbedaan aneh di antara Kwi Lan, Suma Kiat, dan Sian Eng sendiri. Akan tetapi karena dasar-dasar pelajaran lweekang, khikang dan sinkang diperoleh dari Sian Eng, maka dalam hal ini mereka bertiga memiliki dasar yang sama. Dibandingkan dengan si Muka Bopeng, Kwi Lan jauh lebih menang tenaga dalamnya, maka biar pun jurus yang ia mainkan itu tidak asli, namun jauh lebih ampuh!

Si Muka Bopeng kini telah menerjang lagi dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya, karena ia bermaksud menangkap gadis cilik ini untuk ditawan dan kelak dipaksa mengaku dari mana mempelajari ilmu silat Kong-thong-pai yang berubah aneh itu dan pula, biar pun gadis itu masih terlalu muda setengah kanak- kanak, namun sudah kelihatan cantik manis sehingga hati si Muka Bopeng jadi tertarik.

Bagi Kwi Lan, serangan lawan yang kasar ini bukan apa-apa dan sama sekali ia tidak menjadi gentar, malah tertawa mengejek. “Hi-hik, kau gunakan jurus Hek-houw-phok-sai (Macan Hitam Menubruk Tahi)? Busuk dan bau sekali!” Gadis cilik yang nakal ini sengaja merubah nama jurus itu yang sebetulnya adalah Hek-houw-phok-thouw (Macan Hitam Menubruk Kelinci).

Si Muka Bopeng mengeluarkan gerengan marah sambil menubruk, seperti seekor harimau tulen. Kwi Lan sama sekali tidak mengelak, malah membarengi gerakan lawan dengan jurus yang sama, akan tetapi diam-diam ia menyalurkan hawa sakti ke arah kedua telapak tangannya dan terciumlah ganda wangi karena gadis cilik ini telah mempergunakan Ilmu Siang-tok-ciang (Tangan Racun Wangi).

Ilmu ini adalah ciptaan Sian Eng sendiri yang mempergunakan sari kembang beracun yang amat wangi dan ketika berlatih ilmu ini, kedua telapak tangan digosok-gosok racun kembang ini sehingga hawa beracun yang berbau harum masuk ke dalam kedua telapak tangan. Jika dalam keadaan biasa, kedua telapak tangan tidak berbau harum dan racunnya juga tidak keluar, akan tetapi apa bila dipakai untuk bertanding dan dari dalam dikerahkan lweekang ke arah kedua tangan, maka hawa yang wangi beracun itu akan keluar dari telapak tangan.

Si Muka Bopeng menjadi girang melihat gadis cilik itu menyambut serangannya dengan jurus yang sama dan memapaki kedua tangannya yang menubruk. Diam-diam ia mengerahkan tenaganya dan mukanya menyeringai. Gadis cilik sombong ini tentu akan mudah ditawan kalau kedua tangannya dapat ia tangkap. Bau wangi yang menyambar hidungnya tidak membuat si Muka Bopeng sadar, bahkan makin girang mendapat kenyataan bahwa gadis cilik itu demikian wangi!

“Plak-plak!” kedua pasang tangan bertemu dan beradu telapak tangan.

Si Muka Bopeng mengeluarkan pekik aneh dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting roboh telentang dan tidak bergerak lagi. Kedua lengannya masih berkembang seperti akan menubruk, akan tetapi lengan itu kaku dan telapak tangannya terdapat warna merah dan kebiruan, matanya mendelik napasnya putus!

Sisa para pengemis baju bersih menjadi kaget dan jeri. Wanita setengah tua yang kini menangisi pengemis baju butut tadi sudah hebat, kiranya gadis cilik ini lebih hebat lagi, dalam segebrakan mampu menewaskan pimpinan rombongan mereka! Dengan ketakutan sembilan orang pengemis itu cepat menyeret teman- teman mereka yang luka dan mengangkut mayat si Muka Bopeng, lalu melarikan diri dari tempat itu sambil sebentar-sebentar menoleh ketakutan melihat ke arah Kwi Lan yang tertawa-tawa sambil bertolak pinggang!

Setelah semua pengemis pergi, Kwi Lan baru sadar akan suara Bi Li yang menangis terisak-isak. Ia cepat membalikkan tubuh. Melihat Bi Li berlutut di depan pengemis baju butut yang dikeroyok tadi, ia cepat menghampiri. Kini pengemis itu sudah bangkit duduk, bersandar pada batang pohon. Napasnya terengah- engah, kedua lengannya memeluk pundak Bi Li yang berlutut di depannya.

Melihat keadaan mereka, Kwi Lan menjadi heran bukan main, akan tetapi ia tidak mau bertanya karena merasa jengah. Kenapa Bibi Bi Li mau dipeluk laki-laki jembel itu? Sebagai seorang gadis cilik yang belum pernah menyaksikan orang berpelukan, ia tidak tahan untuk melihat lebih lama lagi, maka ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi mereka. Akan tetapi ia mendengar suara mereka ketika mereka bicara.

 

“Suamiku… mana dia? Mana Hauw Lam anak kita…?” terdengar Bi Li berkata menahan isak.

Mendengar ini, Kwi Lan makin kaget. Suami? Jembel itu suami Bibi Bi Li? Rasa heran dan kaget membuat ia kembali membalik dan memandang pengemis itu lebih teliti. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, pakaiannya lapuk dan kotor, pakaian seorang jembel. Akan tetapi mukanya bersih terpelihara, muka yang pucat karena menderita luka parah, namun masih membayangkan ketampanan laki-laki.

“Bi Li… isteriku, kenapa engkau meninggalkan aku? Kenapa engkau tega pergi meninggalkan kami, suamimu dan anak kita? Apakah kesalahanku kepadamu sehingga engkau begitu kejam?” Suaranya ini penuh pertanyaan, penuh tuntutan dan tangis Bi Li makin tersedu-sedu.

Di antara isak tangis, istri yang malang ini lalu bercerita dengan singkat betapa ia diculik dan dipaksa pergi oleh Kam Sian Eng untuk menyusui dan merawat anaknya yang baru terlahir, menceritakan betapa Kam Sian Eng adalah seorang yang berilmu tinggi dan betapa dia tidak berdaya.

“Demikianlah, Suamiku. Kuharap engkau suka mengampunkan aku, akan tetapi… sungguh aku tidak berdaya… sampai sekarang pun aku tidak mungkin bisa pergi meninggalkan Sian-kouwnio…”

Laki-laki itu makin pucat, jelas ia menahan sakit sambil menggigit bibir. “Ah, engkau terluka hebat… mari kubawa ke pondok kami, biar kuminta Kouwnio memberi obat kepadamu….“

“Tidak perlu lagi!” Laki-laki yang bernama Tang Sun itu, suami dari Phang Bi Li, mencegah sambil mengangkat tangan, kemudian karena tidak tahan bersandar dan duduk, ia lalu merebahkan diri lagi, dibantu isterinya. “Lukaku amat parah, kurasa ada perdarahan di dalam dadaku, sakit sekali… ougghh… tak mungkin dapat diobati. Akan tetapi, terima kasih kepada Thian… mati pun aku tidak penasaran, sudah dapat bertemu denganmu… tapi sayang… Hauw Lam… di mana engkau, Anakku…?”

Mendengar disebutnya nama anaknya, Bi Li lupa akan penderitaan suaminya yang sudah menghadapi maut. Sambil memegang lengan suaminya ia berseru keras, “Dimana Hauw Lam? Dimana dia?”

Suara Tang Sun makin lemah, bahkan agak menggigil dan pelo, akan tetapi lancar dan tidak terputus- putus lagi. Perubahan ini tidak diketahui Bi Li yang amat ingin mendengar cerita tentang puteranya.

“Sepeninggalmu, kubawa dia pergi mencarimu dan hidup menderita. Ketika dia berusia lima tahun, kuserahkan dia kepada ketua kelenteng di puncak gunung Kim-liong-san yang kutahu seorang berilmu tinggi. Aku sendiri lalu melanjutkan perjalanan mencarimu, Bi Li, menempuh seribu satu macam kesukaran!”

Cerita ini terputus sebentar oleh tangis Bi Li penuh keharuan sambil memeluk leher suaminya. Kwi Lan yang berdiri tak jauh dari situ merasa betapa jantungnya seperti disayat-sayat saking terharu, namun ia dapat menekannya dan tidak sebutir pun air mata menetes turun. Di dalam hatinya ia makin menyesalkan perbuatan Kam Sian Eng yang telah memisahkan suami isteri ini dan menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan dua orang, bahkan mungkin tiga orang dengan anak mereka yang agaknya tidak diketahui pula di mana adanya.

“Akan tetapi sekarang aku tidak menyalahkan engkau, isteriku, setelah aku tahu betapa engkau pun menderita dan tidak berdaya. Aku lalu hidup sebagai pengemis dan akhirnya aku tertarik akan sepak terjang Khong-sim Kai-pang yang adil dan gagah, maka aku masuk menjadi anggota Khong-sim Kai-pang. Khong-sim Kai-pang termasuk perkumpulan pengemis golongan bersih yang ditandai dengan pakaian kotor, dan pada waktu ini golongan bersih sedang berusaha membasmi pengemis-pengemis golongan kotor yang ditandai dengan pakaian bersih. Setelah menjadi anggota Khong-sim Kai-pang, banyak teman- temanku membantuku mencarimu. Dan beberapa hari yang lalu, seorang temanku melihat engkau di depan pondok. Karena dia tidak mengenalmu akan tetapi merasa heran melihat seorang wanita dan dua orang anak tanggung tinggal bersunyi diri didalam hutan, ia lalu menceritakannya kepadaku. Nah, hari ini aku datang ke sini menyelidik, siapa kira, di sini aku bertemu dengan belasan orang pengemis golongan hitam yang mengeroyokku…”

“Dan Hauw Lam, Anakku… dia bagaimana… ?” Bi Li mendesak, tidak sadar bahwa kini wajah suaminya yang pucat itu sudah mulai agak kebiruan.

 

“Dia… dia…,“ kini napas Tang Sun mulai tersendat-sendat. “Dia… kini tentu sudah dewasa… hampir lima belas tahun… Akan tetapi ketika aku datang menjenguk ke sana… hwesio tua itu telah meninggal dunia dan… dan Hauw Lam… dia…” Sukar sekali ia melanjutkan kata-katanya.

Barulah Bi Li sadar akan keadaan suaminya. Ia menjerit dan memeluk. Melihat suaminya meramkan matanya, ia menciuminya dan memanggil-manggil namanya, kini tidak peduli lagi akan anaknya. Kwi Lan yang berdiri termangu-mangu cepat menggunakan punggung tangan kirinya menghapus dua butir air mata yang tak tertahankan lagi menetes turun ke atas pipinya.

Tang Sun membuka matanya, lalu tersenyum dan membelai rambut isterinya. Wajahnya membayangkan kepuasan, akan tetapi kembali keningnya berkerut ketika ia berkata, “…Hauw Lam… dia… pergi dari sana… tak seorang pun tahu ke mana. Isteriku, kau… kau carilah dia…” Tangan yang membelai rambut itu lemas dan terkulai.

Bi Li menjerit dan roboh pingsan sambil memeluk mayat Tang Sun yang masih hangat!

“Bibi Bi Li…! Bibi Bi Li…!” Kwi Lan memanggil-manggil sambil mengguncang-guncang tubuh Bi Li.

Wanita itu akhirnya siuman dan dengan muka merah mata berapi-api ia meloncat bangun, membalikkan tubuhnya dan mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Bi Li memang memiliki kepandaian yang khusus ia pelajari dari Sian Eng, yaitu bermain pedang, bahkan ia menerima hadiah sebatang pedang indah dari Sian Eng. Kini dengan pedang di tangan, matanya terbelalak memandang kanan kiri, mulutnya menantang-nantang.

“Pengemis-pengemis busuk, jembel-jembel terkutuk! Hayo majulah semua, akan kubunuh kalian sampai habis!”

Kwi Lan maklum bahwa bibinya ini amat marah dan sakit hati karena kematian suaminya. Suami yang terpisah darinya selama belasan tahun, dan yang kini begitu berjumpa terus meninggal dunia!

“Perempuan setan, berani kau membunuh saudara kami?” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah tiga orang kakek berpakaian pengemis. Mereka adalah tiga orang kakek tinggi kurus yang memegang tongkat butut, sebutut pakaian mereka.

Begitu melihat tiga orang kakek pengemis ini, sambil berseru marah Bi Li maju menerjang dengan pedangnya. Gerakannya secepat kilat, pedangnya berkelebat seperti halilintar menyambar.

“Tranggg…!” pedang itu terpental dan hampir terlepas dari pegangan Bi Li ketika tertangkis sebatang tongkat butut yang dipegang oleh kakek pengemis yang bertahi lalat besar di bawah hidungnya.

Bi Li makin marah. Kakek pengemis ini kiranya lihai sekali, tidak boleh disamakan dengan para pengemis yang tadi mengeroyok suaminya. Maka ia lalu mengeluarkan seruan keras sambil memutar pedangnya dan mengerahkan tenaga, menerjang dengan cepat sekali. Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, kakek pengemis itu terkejut dan cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kemudian terjadilah pertandingan hebat di antara Bi Li dan kakek pengemis.

Dua orang kakek pengemis lain segera melangkah maju mendekati mayat Tang Sun. Melihat ini, Kwi Lan menjadi curiga dan membentak, “Jembel-jembel busuk, mundurlah kalian!” Gadis cilik ini menerjang maju dengan pukulan kedua tangannya yang mendorong.

Karena melihat bahwa yang menerjang mereka hanyalah seorang gadis cilik berusia empat belas tahun, dua orang kakek jembel itu tersenyum tenang, bahkan mengulur tangan untuk menangkap pundak Kwi Lan. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika tangan mereka bertemu dengan tangan Kwi Lan, tubuh mereka terdorong mundur dan hampir saja mereka terbanting roboh! Baiknya keduanya adalah tokoh- tokoh lihai, cepat mereka dapat menekan tanah dengan ujung tongkat sehingga dapat menguasai keseimbangan tubuh lagi.

Sejenak mereka saling pandang dengan muka merah, lalu menatap wajah Kwi Lan dengan sikap terheran- heran. Namun mereka merasa penasaran. Mungkinkah bocah perempuan ini memiliki tenaga yang sedemikian dahsyatnya? Karena merasa malu untuk menghadapi seorang anak-anak dengan senjata tongkat mereka, keduanya lalu menyelipkan tongkat di ikat pinggang lalu melangkah maju mengulur tangan.

 

“Bocah setan, mau lari kemana kau?”

Melihat dirinya diserang dengan jangkauan tangan hendak menangkap, Kwi Lan tertawa mengejek, “Lari ke mana? Untuk apa lari menghadapi dua ekor babi tua macam kalian?” Dan dengan gerakan yang indah namun gesit bukan main, Kwi Lan sudah dapat mengelak, lolos dari tubrukan mereka, kemudian cepat ia membalik dan mengirim pukulan ke arah punggung mereka!

“Wuuuttt!”

Dua orang pengemis tua itu berseru kaget dan cepat melompat jauh ke depan sehingga terhindar dari pada pukulan maut tadi. Wajah mereka menjadi pucat dan keringat dingin memenuhi jidat. Sebagai orang-orang yang ahli, mereka cukup maklum betapa pukulan kedua tangan bocah ini tadi mengandung tenaga Iweekang yang hebat dan dapat mematikan! Berubahlah pandangan mereka. Kiranya bocah ini gerakannya jauh lebih hebat dari pada wanita yang bertanding melawan saudara mereka. Tanpa malu- malu lagi keduanya lalu mencabut tongkat.

“Hi-hik, kalian mau lari ke mana?” Kwi Lan mengejek.

Akan tetapi cepat gadis cilik ini menggerakkan kaki untuk berkelit karena melihat dua sinar tongkat telah meluncur dengan hebat. Selanjutnya Kwi Lan harus menggunakan kelincahannya untuk menghindarkan diri dari pada kurungan sinar kedua tongkat itu. Diam-diam anak ini kaget juga. Kiranya dua orang pengeroyoknya ini benar-benar amat tangguh sehingga tekanan kedua tongkat itu mengurung dirinya, membuat ia tidak mampu balas menyerang.

Dia tidak tahu bahwa dua orang kakek itu jauh lebih kaget dan heran dari padanya. Selama mereka hidup, sudah hampir enam puluh tahun, baru kali ini mereka menghadapi peristiwa yang begini aneh dan memalukan. Mereka terkenal sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi, hanya orang-orang pilihan di dunia kang- ouw saja yang setanding dengan mereka. Akan tetapi kini, dengan maju berdua dan memegang tongkat pula, mereka tidak mampu mengalahkan seorang gadis cilik yang bertangan kosong! Sebetulnya tingkat ilmu silat anak itu belumlah matang dan tidak seberapa tinggi, akan tetapi gerakannya amat aneh luar biasa sekali dan sukar diduga karena jauh berbeda dengan dasar-dasar ilmu silat yang lazim!

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring sekali, datangnya dari jauh akan tetapi amat jelas seakan-akan yang berkata berada di belakang mereka, “Enci Bi Li! Kwi Lan! Mundur… !”

Tentu saja Bi Li dan Kwi Lan mengenal baik suara ini dan mereka cepat meloncat mundur tanpa menoleh. Tiga orang pengemis yang tidak mendengar seruan tadi mendesak maju. Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat dan… tiga orang kakek itu berhenti bergerak dan telah menjadi kaku seolah- olah mereka berubah menjadi arca batu! Tanpa dapat mereka lihat, jalan darah mereka telah ditotok oleh ujung lengan baju Sian Eng yang kini sudah berdiri di depan mereka dengan sikap bengis!

Pada saat itu terdengar bunyi angin menyambar. Belasan buah senjata rahasia berbentuk piauw (pisau) dan besi bintang menyambar ke arah Bi Li, Kwi Lan, Sian Eng, dan juga ke arah tiga orang pengemis yang berdiri kaku. Bi Li dan Kwi Lan melihat datangnya senjata rahasia yang membawa angin ini, maklum bahwa senjata itu digerakkan oleh tangan yang lihai, maka tidak berani menyambut dan cepat mengelak. Akan tetapi Sian Eng lalu mengebutkan kedua tangannya ke depan dan… belasan batang senjata rahasia yang menyambar ke arahnya dan ke arah tiga orang pengemis tua runtuh terpukul oleh hawa pukulan kedua tangannya!

Dari balik pohon meloncat ke luar lima orang kakek pengemis pula, akan tetapi mereka ini berbeda dengan yang tiga tadi. Kalau tiga orang kakek pertama berpakaian butut kotor, adalah lima orang ini berpakaian bersih, sungguh pun bertambal-tambalan seperti halnya para pengemis yang mengeroyok Tang Sun.

“Wanita iblis, berani kau….” Hanya sampai sekian saja bentakan seorang di antara mereka karena tiba-tiba tubuh Sian Eng lenyap berkelebat ke depan.

Lima orang itu menggerakkan kaki tangan hendak melawan bayangan yang tiba-tiba menyambar, namun sia-sia belaka karena tahu-tahu mereka ini pun sudah berdiri kaku seperti patung, persis seperti keadaan tiga orang kakek baju butut!

 

Melihat munculnya lima orang pengemis baju bersih ini, baru Bi Li sadar akan perbedaan antara lima orang pengemis ini dan tiga orang pengemis yang tadi datang lebih dulu. Pakaian mereka! Pakaian lima orang pengemis yang datang belakangan ini serupa dengan pakaian para pengemis yang mengeroyoknya, yang membunuh suaminya. Ada pun pakaian tiga orang pengemis yang mengeroyoknya, sama butut dengan pakaian suaminya. Teringatlah ia akan cerita suaminya tentang golongan putih yang berpakaian butut dan golongan hitam yang berpakaian bersih. Kini melihat Kam Sian Eng memandang kepada tiga orang pengemis baju butut dengan mata beringas, ia cepat meloncat maju dan berkata.

“Sian-kouwnio…! Jangan… jangan bunuh mereka ini….“

Kam Sian Eng tanpa menoleh bertanya, suaranya dingin dan ketus, “Apa yang terjadi di sini?”

Bi Li yang teringat kembali kepada suaminya, tidak menjawab melainkan berlutut lagi di depan mayat suaminya sambil menangis. Kwi Lan maklum bahwa bibinya dan juga gurunya itu sedang marah, maka ia cepat maju mewakili Bi Li dan bercerita singkat.

“Bibi Bi Li dan aku sedang memetik bunga ketika kami mendengar suara orang bertempur di sini. Ternyata yang bertempur adalah… suami Bibi Bi Li dikeroyok pengemis-pengemis baju bersih sampai terluka dan tewas. Bibi Bi Li dan aku berhasil mengusir dan membunuh beberapa orang pengemis baju bersih, dan sebelum mati suami Bibi Bi Li sempat bercerita bahwa dia adalah anggota pengemis baju butut. Kemudian muncul tiga orang kakek pengemis baju butut ini yang lancang menyerang Bibi Bi Li dan aku. Agaknya mereka bertiga ini masih segolongan dengan suami Bibi Bi Li. Dan lima orang kakek yang datang belakangan ini agaknya hendak membalaskan kematian anak buah mereka.”

Sian Eng mendengar ini, melirik kearah Bi Li. Wajah yang tertutup tirai sutera itu sedikit pun tidak berubah, tetap dingin dan keras. Tiba-tiba tangannya bergerak ke punggung, sinar terang berkelebatan disusul jerit- jerit kesakitan dan… delapan orang pengemis yang masih berdiri kaku itu kini telah buntung semua tangan kanannya! Entah kapan Sian Eng menggunakan pedang, entah kapan mencabutnya, dan menyarungkannya kembali, tak dapat diikuti pandang mata para pengemis itu sehingga biar pun mereka menanggung luka hebat dan nyeri, mereka masih terbelalak kaget dan gentar.

Tiga orang pengemis tua baju butut itu adalah tokoh-tokoh Khong-sim Kai-pang sedangkan lima orang pengemis baju bersih itu adalah tokoh-tokoh terkemuka pula dari perkumpulan golongan hitam. Di dalam dunia kang-ouw, terutama dunia para pengemis kang-ouw, mereka delapan orang ini merupakan orang- orang terkenal dengan ilmu silat mereka yang tinggi. Akan tetapi kini, dalam tangan wanita berkerudung yang cantik dan aneh itu, mereka sama sekali tidak berdaya, dipermainkan seperti tikus-tikus dipermainkan kucing!

“Ohh, Kouwnio, jangan…!” Bi Li yang mendengar jerit mereka dan mengangkat muka, segera meloncat bangun. “Tiga orang Lo-kai ini adalah orang-orang segolongan mendiang suami saya….“

Sian Eng mendenguskan suara dari hidung. “Hemmm…!”

Kwi Lan segera berkata, “Bibi Bi Li, tiga orang jembel tua ini biar pun segolongan dengan suamimu, namun mereka datang-datang menyerang kita. Pasti bukan orang baik-baik! Sudah sepatutnya Bibi Sian memberi hukuman.”

Kakek pengemis baju butut yang bertahi lalat di bawah hidungnya terdengar menarik napas panjang. Delapan orang ini biar pun tertotok tak mampu bergerak, akan tetapi yang kaku hanyalah kaki tangan, sedangkan anggota tubuh yang lain tidak, sehingga mereka masih mampu bicara.

“Kami tiga orang tua bangka memang telah berlaku ceroboh, tidak mengenal orang dan tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan. Kehilangan tangan ini sudah sepantasnya…!”

“Kouwnio, harap sudi mengampuni mereka. Tentu tadi mereka menyangka bahwa sayalah yang membunuh saudara mereka ini, padahal dia… dia ini… Tang Sun, suamiku….“

“Hemmm…! Kwi Lan bebaskan mereka!” Sian Eng menggerakkan kepalanya ke arah tiga orang pengemis baju butut.

Sebagai seorang murid yang amat tekun dan amat cerdik, tentu saja Kwi Lan sudah pula membaca dan mempelajari isi kitab Im-yang-tiam-hoat, sebuah kitab pusaka dari Siauw-lim-pai yang dahulu dicuri oleh

 

Tok-siauw-kwi dan terjatuh ke tangan Sian Eng. Dan tentu saja ia dapat pula membebaskan pengaruh totokan ilmu menotok jalan darah ini.

Dihampirinya tiga orang kakek itu dan dengan sebuah jari telunjuk kanan, ditotoknya punggung belakang pusar mereka sambil tangan kirinya tidak lupa menampar belakang kepala. Sebetulnya tamparan belakang kepala ini tidak ada hubungannya dengan pembebasan totokan, akan tetapi dasar anak nakal, ia hendak melampiaskan kemendongkolan hatinya kepada tiga orang kakek pengemis itu dalam kesempatan ini!

Kembali tiga orang kakek ini terkejut sekali. Mereka adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi dan tahu banyak tentang seluk-beluk Ilmu Tiam-hiat-hoat (Menotok Jalan Darah). Akan tetapi selama hidup mereka, baru sekali ini mereka tahu ada ilmu menotok jalan darah yang pembebasannya diharuskan menempeleng kepala segala!

Makin gentarlah mereka terhadap Sian Eng, dan cepat-cepat mereka menggunakan tangan kiri untuk menotok lengan kanan, menghentikan jalan darah agar darah yang mengalir ke luar dari pergelangan tangan yang buntung itu berhenti. Kemudian sejenak mereka memandang kepada Sian Eng, dan pengemis tua bertahi lalat segera menjura, diturut dua orang temannya dan bertanya,

“Kami bertiga dari Khong-sim Kai-pang telah menerima petunjuk Kouwnio (Nona), semoga lain kali kami akan dapat membalas kebaikan ini. Sudilah Kouwnio memberitahukan nama yang mulia dan tempat tinggal.”

Sian Eng tersenyum, senyum yang dingin dan mendirikan bulu roma. Suaranya halus merdu akan tetapi juga mengandung hawa dingin yang menyeramkan ketika ia berkata, “Aku Kam Sian Eng dan tinggal di hutan ini. Kalau belum puas, boleh suruh ketua Khong-sim Kai-pang datang! Pergilah!”

Tiga orang pengemis tua itu menjura, lalu menghampiri mayat Tang Sun, bermaksud akan mengambilnya. Bi Li maju hendak mencegah, akan tetapi terdengar suara Sian Eng menghardiknya.

“Enci Bi Li, mundur kau!”

Bi Li terkejut sekali dan segera meloncat mundur. Wajahnya pucat dan air matanya bercucuran ketika ia melihat mayat suaminya dibawa pergi oleh tiga orang kakek pengemis itu. Tiga orang ini memandang sebentar kepada Bi Li dengan pandang mata kasihan, lalu menghela napas dan pergi dari tempat itu dengan langkah lebar sambil membawa mayat Tang Sun.

Lima orang pengemis tua baju bersih itu tadinya terkejut dan khawatir sekali mendengar bahwa anggota Khong-sim Kai-pang yang terbunuh adalah suami wanita yang tak tertutup mukanya. Akan tetapi, mereka menjadi lega hati melihat sikap Bi Li dan mendengar bentakan wanita yang berkerudung dan mengaku bernama Kam Sian Eng itu. Jelas bahwa biar pun wanita yang kedua itu mempunyai suami anggota Khong-sim Kai-pang, namun si wanita aneh yang sakti itu sama sekali tidak bersahabat dengan Khong-sim Kai-pang. Biar pun tubuh mereka masih kaku dan tak mampu bergerak, namun pengemis yang tertua di antara mereka, yang hidungnya bengkok seperti hidung kukuk beluk berkata merendah,

“Mohon maaf sebanyaknya kepada Cianpwe yang mulia. Karena tidak tahu dan belum mengenal, boanpwe berlima berani amat lancang memasuki wilayah Cianpwe. Hendaknya Cianpwe memaklumi bahwa boanpwe berlima adalah pimpinan perkumpulan pengemis Hek-peng Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Garuda Hitam) yang masih berada di bawah lindungan yang mulia Bu-tek Siu-lam! Maka boanpwe berlima mengharap sudilah kiranya Cianpwe melihat muka Ciang-bujin (Pemimpin Besar) Bu-tek Siu-lam untuk mengampuni dan membebaskan boanpwe berlima!”

Sian Eng mengerutkan keningnya. Diam-diam ia merasa geli mendengar betapa lima orang kakek itu menyebutnya cianpwe, sebutan bagi tokoh-tokoh tinggi dunia persilatan dan menyebut diri boanpwe, sikap yang amat merendah sekali. Akan tetapi ia heran mendengar nama Bu-tek Siu-lam (Laki-laki Tampan Tanpa Tanding). Siapakah itu? Sudah terlalu lama ia mengasingkan diri sehingga tidak melihat perubahan di dalam dunia kang-ouw, tidak mengenal tokoh-tokoh barunya.

“Siapakah dia yang berjuluk Bu-tek Siu-lam itu?” tanyanya tanpa disengaja karena pertanyaan dalam hati ini terlontar keluar melalui bibirnya.

Lima orang pengemis tua baju bersih itu saling pandang dengan heran dan juga kecewa. Benarkah ada orang di dunia kang-ouw ini yang belum mengenal nama Bu-tek Siu-lam? Dan wanita aneh ini demikian

sakti! Tapi mungkin belum memasuki dunia kang-ouw. Karena ini si Hidung Bengkok segera berkata, sengaja mengangkat-angkat nama besar Bu-tek Siu-lam untuk menimbulkan kesan mendalam.

“Beliau adalah tokoh tertinggi di dunia kang-ouw yang datang dari dunia barat. Semua perkumpulan pengemis baju bersih berada di bawah perlindungan beliau, dan boanpwe yakin bahwa kelak beliaulah yang akan menjadi pemimpin besar semua kai-pang! Juga dalam pemilihan tokoh-tokoh terbesar untuk memilih jagoan yang Thian-he-te-it (di Seluruh Dunia Nomor Satu) yang akan diadakan di puncak Cheng- liong-san pada malam tahun baru nanti, sudah dapat dipastikan bahwa Ciang-bujin Bu-tek Siu-lam yang akan keluar sebagai juara, jagoan di antara segala datuk! Tapi…eh, kecuali…kalau Cianpwe ikut pula dalam kejuaraan itu, keadaan akan makin ramai.” Demikian tambah si Hidung Bengkok ketika melihat wajah di balik kerudung itu kelihatan tak senang.

“Aku tidak peduli segala macam Bu-tek Siu-lam! Kalian berlima sudah lancang berani menyerangku, berani memandang sebelah mata. Karena itu kalian baru boleh pergi kalau kalian suka mencongkel keluar sebuah biji mata kalian!”

Lima orang pengemis itu terbelalak dan muka mereka pucat. Keringat dingin mengalir ke luar membasahi jidat dan leher. Sebuah biji mata disuruh congkel ke luar? Siapa yang sudi? Sebelah tangan sudah dibuntungkan, kini sebelah mata diminta lagi! Mana ada aturan begini bocengli (kurang ajar)?

Wanita aneh ini tidak takut kepada Bu-tek Siu-lam, berarti belum mengenal. Kalau belum kenal, belum tentu wanita ini benar-benar sakti. Agaknya hanya memiliki Ilmu Tiam-hiat-hoat yang aneh sehingga mereka tadi menjadi korban totokan sebelum dapat bergerak banyak dan sebelum melihat sampai di mana tingkat ilmu kepandaian wanita berkerudung itu. Karena tidak terdapat jalan lain untuk menghindarkan diri dari ancaman congkel mata, si Hidung Bengkok lalu berkata, nadanya sengaja dikeluarkan untuk mengejek.

“Sebagai orang-orang kang-ouw kami tahu bahwa hukumnya adalah siapa kuat dia menang dan siapa kalah harus tunduk. Sayang sekali bahwa kami belum merasa dikalahkan, hanya dibuat tidak berdaya oleh serangan gelap. Sebagai tokoh-tokoh Hek-peng Kai-pang, kami mengandalkan keselamatan nyawa kami di ujung pedang. Siapa tahu, sebelum kami sempat mencabut pedang, kami mengalami penghinaan. Kalau sudah tertotok seperti ini, bicara pun kami tak berhak. Seorang kanak-kanak yang masih ingusan sekali pun dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya terhadap kami!”

Akal si Hidung Bengkok ini berhasil baik sekali. Sian Eng menjadi merah mukanya dan sekali tubuhnya bergerak, tampak bayangan putih berkelebat. Ujung lengan bajunya menyambar dan lima orang kakek itu merasa betapa punggung belakang pusar mereka tertotok yang membuat tubuh mereka pulih seperti biasa. Serentak mereka berlima mencabut pedang dan membuat gerakan keliling, mengurung wanita berkerudung itu.

Sian Eng yang berdiri di tengah-tengah dalam keadaan terkurung hanya memandang tanpa mengubah kedudukan badan dan tanpa menoleh. Hanya sepasang matanya di balik kerudung hitam itu yang melirik ke kanan kiri, kemudian tampak giginya berkilat putih ketika ia berkata, “Kalian telah bebas. Pedang telah dicabut. Tidak lekas mencongkel mata kanan kalian, tunggu apa lagi?”

Ucapan yang menyakitkan hati ini merupakan komando bagi lima orang kakek pengemis itu untuk menerjang dengan hebat. Sian Eng dalam keadaan terkepung dan lima orang itu melakukan serangan berbareng. Lima buah pedang dengan tusukan dan bacokan kilat mengarah tubuhnya.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh dan lima orang pengemis terkejut ketika melihat bayangan putih melesat cepat dari tengah kepungan dan benar saja, ketika mereka melihat, ujung pedang mereka hanya mengenai tempat kosong dan lima buah pedang mereka hampir beradu sendiri dengan kawan. Cepat mereka menengok dan kiranya Sian Eng telah berdiri sambil bertolak pinggang di sebelah kiri sambil tersenyum mengejek.

Pengemis hidung bengkok yang berdiri paling dekat cepat menerjangnya dengan pedang, diikuti oleh teman-temannya yang kini tidak mengurung lagi. Inilah yang dikehendaki Sian Eng, yaitu agar lima orang pengeroyoknya itu menyerangnya dengan susul menyusul, tidak berbareng seperti tadi. Begitu pedang si Hidung Bengkok menyambar, ia menggerakkan lengannya secara aneh. Pedang menusuk datang dan terdengarlah jerit mengerikan disusul robohnya tubuh pengemis hidung bengkok.

 

Sian Eng tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya terus bergerak ke depan dan jerit kesakitan susul menyusul sehingga akhirnya empat orang pengemis yang lain juga roboh. Hanya beberapa puluh detik saja terjadinya. Lima orang pengemis itu sendiri tidak tahu benar apa yang terjadi. Ketika mereka menyerang secara mendadak pedang mereka membalik dan mencongkel mata mereka sendiri, mata kanan!

Kini Sian Eng berdiri tegak, memandang lima orang pengemis itu yang merangkak bangun sambil merintih- rintih. Tangan kanan mereka sebatas pergelangan telah buntung. Tadi mereka menggunakan tangan kiri untuk bermain pedang. Siapa kira secara aneh sekali wanita sakti itu telah membuat pedang mereka membalik dan mencongkel ke luar biji mata kanan mereka dengan pedang mereka sendiri. Setelah mereka mampu berdiri, lima orang pengemis tua yang terluka parah itu berdiri memandang Sian Eng dengan mata sebelah mereka, memandang penuh kemarahan dan kebencian.

“Pergilah kalau tidak ingin mampus!” Sian Eng berkata dingin.

Lima orang pengemis itu ingin sekali menerjang mengadu nyawa. Akan tetapi kini maklumlah mereka bahwa terhadap wanita aneh ini mereka tidak berdaya sama sekali. Si Hidung Bengkok sambil meringis menahan sakit berkata, “Akan kami laporkan bahwa engkau menantang ciang-bujin kami Bu-tek Siu-lam!”

“Boleh! Suruh dia datang ke sini, akan kubuntungi kedua tangannya dan kucongkel ke luar kedua biji matanya!” bentak Sian Eng.

Lima orang itu terkejut. Benar-benar wanita ini sudah gila, berani mengeluarkan kata-kata seperti itu terhadap Bu-tek Siu-lam yang sakti seperti dewa. “Tunggulah dan kalau memang berani, datanglah kelak di puncak Cheng-liong-san!”

Sian Eng hanya tersenyum dan memandang lima orang itu yang pergi sambil meringis kesakitan. Setelah keadaan menjadi sunyi, barulah Sian Eng menoleh kepada Bi Li dan membentak, “Apakah engkau hendak pergi pula meninggalkan aku?” Di dalam suaranya terkandung ancaman maut.

Bi Li menggeleng kepala, menyusut air matanya. “Pergi ke mana? Suamiku telah mati…! Tidak, aku tidak akan pergi dari sini, kecuali pergi ke akhirat. Tidak ada lagi yang kuharapkan.”

Mendengar jawaban ini, Sian Eng mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh mendirikan bulu roma. Kwi Lan mengerutkan keningnya, akan tetapi ketika melirik kearah Bi Li, ia melihat wanita itu memandang kepadanya dan tahulah ia bahwa Bi Li diam-diam amat mengharapkan agar kelak dapat bertemu dengan puteranya yang bernama Hauw Lam. Dan gadis ini, biar pun tidak mendengar kata-kata keluar dari mulut Bi Li, dapat menduga, bahkan berjanji dalam hatinya bahwa kelak ia akan bantu mencari putera yang hilang itu.

Semenjak terjadi peristiwa itu, Kwi Lan belajar makin tekun dan giat karena ia maklum bahwa ilmu kepandaian tinggi merupakan modal terutama baginya untuk kelak mencari orang tuanya dan untuk membantu Bi Li mencari puteranya yang bernama Tang Hauw Lam. Dan semenjak terjadinya peristiwa itulah nama Kam Sian Eng dikenal di dunia kang-ouw sebagai seorang tokoh yang aneh dan luar biasa, serta memiliki ilmu kesaktian yang dahsyat pula. Hal ini menyebabkan semua orang menjauhkan diri dari hutan itu, yang dianggap sebagai hutan iblis dan tak seorang pun berani memasukinya.

********************

Lima tahun kemudian, seorang gadis berusia sembilan belas tahun berjalan seorang diri dikaki gunung Lu- liang-san, di sebelah barat kota Tai-goan. Gadis remaja ini cantik sekali dan amat manis. Bentuk mukanya lonjong, dagunya meruncing, dengan kulit muka yang halus dan putih seperti susu, dihias warna merah jambu di kedua pipinya, warna merah karena sehat. Mulutnya kecil dengan bibir selalu tersenyum, bibir merah membasah dan segar.

Rambutnya agak awut-awutan, tidak disisir rapi, namun menambah keluwesan dan keayuannya. Tubuhnya sedang dan ramping, agak kurus akan tetapi dengan lekuk lengkung tubuh yang menonjolkan kewanitaannya. Pakaiannya berwarna merah muda dengan ikat pinggang merah tua. Sebatang pedang tergantung di pinggangnya dan gagang pedang ini dihias sebuah mutiara yang besar, mutiara berwarna hitam berkilauan.

 

Gadis jelita ini bukan lain adalah Kam Kwi Lan! Sudah setengah tahun ia merantau meninggalkan hutan iblis. Setengah tahun yang lalu, bibinya, juga gurunya, Kam Sian Eng telah pergi bersama Suma Kiat.

“Aku pergi bersama Suheng-mu. Kau tidak boleh ikut, Kwi Lan. Akan tetapi terserah kalau engkau mau pergi merantau. Engkau sudah cukup dewasa dan kuat untuk menjaga diri,” demikian pesan Sian Eng secara singkat.

Ada pun Suma Kiat tersenyum-senyum, agaknya hendak menggoda sumoi-nya itu yang tidak boleh ikut pergi! Memang, biar pun usianya sudah dua puluh tahun, Suma Kiat yang kini juga memiliki ilmu kepandaian tinggi itu kadang-kadang sikapnya seperti kanak-kanak saja!

“Bibi, saya hanya minta agar sebelum Bibi pergi, Bibi suka memberi sedikit keterangan kepadaku.” Sian Eng tersenyum di balik kerudung hitamnya. “Keterangan tentang ayah bundamu, bukan?” Kwi Lan terkejut dan melirik ke arah Bi Li yang juga berdiri di situ dan yang menjadi kaget pula.
“Hemm, jangan kira bahwa aku tidak tahu akan persekutuan kalian beberapa tahun yang lalu! Enci Bi Li, suamimu telah mati, anakmu hilang. Kalau dia memang anak berbakti, tentu dia akan datang mencarimu kelak. Kwi Lan, kalau kau hendak mencari ibumu, pergilah ke Khitan. Ibumu adalah adik angkatku, yaitu Ratu Yalina di Khitan. Tentang Ayahmu… hi-hik, kau tanya saja kepada ibumu yang manis itu!“

Demikianlah, setelah Sian Eng bersama Suma Kiat pergi, Kwi Lan lalu pergi pula meninggalkan hutan di mana ia hidup selama delapan belas tahun. Ia menasehati Bi Li agar tinggal di dalam istana bawah tanah saja, menanti kembalinya mereka dari perantauan. Ia berjanji akan mencari keterangan di dunia luar tentang Tang Hauw Lam.

Dengan kawan pedang pusaka pemberian bibinya, Kwi Lan melakukan perjalanan seorang diri. Tujuan perjalanannya tentu saja ke Khitan di sebelah utara. Akan tetapi ia tidak tergesa-gesa, melakukan perjalanan seenaknya. Hal ini bukan saja karena ia memang hendak menikmati keadaan kota dan dusun yang dilaluinya, juga terutama sekali karena hatinya merasa amat kecewa ketika mendengar keterangan gurunya bahwa dia sebetulnya anak Ratu Khitan! Anak ratu! Akan tetapi ratunya bangsa Khitan yang dianggap sebagai bangsa yang setengah liar di utara.

Dan kalau dia benar anak ratu, mengapa sampai diberikan kepada gurunya? Kalau benar ibunya Ratu Khitan itu adalah adik angkat gurunya, tentu dia telah diberikan kepada bibi itu untuk dilatih ilmu silat. Alangkah tega hati ibu kandungnya itu! Berarti tidak sayang kepadanya! Karena pikiran inilah maka Kwi Lan tidak sangat bernafsu untuk bertemu dengan ibu kandungnya yang menjadi ratu di Khitan.

Pada pagi hari yang cerah itu Kwi Lan berjalan di kaki bukit Lu-liang-san, menikmati keindahan alam yang mandi cahaya matahari pagi. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara orang bertanding di sebelah depan. Hatinya tertarik dan ia mempercepat langkahnya.

Ketika tiba di sebuah belokan, ia melihat dua orang tengah bertanding hebat. Yang seorang bersenjata pedang, yang kedua bersenjata tongkat butut. Di sekeliling tempat pertandingan itu berdiri pula beberapa orang dengan tegak dan penuh perhatian menonton jalannya pertandingan. Melihat betapa dua orang yang bertanding, juga mereka yang berdiri menonton, semua berpakaian pengemis, teringatlah Kwi Lan akan peristiwa di hutan iblis pada lima tahun yang lalu.

Yang bersenjata tongkat butut adalah seorang kakek pengemis berpakaian butut dan di situ masih ada tiga orang temannya yang kurus-kurus dan tua berdiri menonton. Ada pun lawannya, yang berpedang, adalah seorang pengemis pakaian bersih, sedangkan agaknya empat orang yang berdiri menonton di sebelah kiri adalah teman-temannya, sungguh pun hanya dua di antara mereka yang berpakaian pengemis baju bersih.

Pertandingan itu cukup seru dan dari gerakan mereka tahulah Kwi Lan bahwa mereka yang bertanding itu memiliki kepandaian cukup tinggi dan tentu bukan anggota biasa dari perkumpulan mereka, melainkan tokoh-tokoh yang berkedudukan cukup tinggi. Maka ia memandang penuh perhatian sambil mendekati dengan langkah perlahan.

“Ssssttt…!”

Kwi Lan terkejut dan berdongak. Ternyata yang berdesis itu adalah seorang pemuda yang duduk ongkang- ongkang di atas dahan pohon sambil menghadap ke arah pertandingan. Pemuda itu kini menoleh kepadanya dan menaruh telunjuk ke depan mulut. Melihat wajah pemuda itu yang berseri, tidak hanya mulutnya, bahkan hidung dan matanya ikut tersenyum ramah, sekaligus timbul rasa suka dihati Kwi Lan. Mata pemuda itu bersinar terang dan gembira, jelas tampak bahwa dia seorang periang yang lucu dan juga nakal.

“Kalau mau nonton, di sini paling enak, jelas aman dan tidak usah bayar!” bisik pemuda itu dan terkejutlah Kwi Lan.

Pemuda itu hanya berbisik-bisik, akan tetapi suaranya jelas sekali terdengar olehnya, seperti didekat telinganya. Tahulah ia bahwa pemuda yang periang ini bukan hanya seorang pemuda berandalan biasa, melainkan seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah menguasai Ilmu Coan-im-pek-li (Mengirim Suara Seratus Mil).

Kalau saja pemuda itu tidak memiliki wajah tampan yang begitu jenaka seperti wajah seorang anak kecil yang nakal, tentu Kwi Lan akan ragu-ragu bahkan marah. Namun jelas baginya bahwa pemuda itu nakal dan polos, tidak bermaksud kurang ajar. Hal ini dapat ia lihat dari sinar matanya. Selama setengah tahun merantau dan bertemu banyak laki-laki, Kwi Lan sudah dapat membedakan pandang mata laki-laki yang tertarik akan kecantikan wajah dan bentuk tubuhnya, pandang mata mengandung birahi yang kurang ajar.

Sengaja Kwi Lan mengerahkan ginkang-nya sehingga ketika ujung kedua kakinya menggenjot tanah, tubuhnya melayang naik seperti seekor burung kenari terbang melayang dan hinggap di atas cabang di dekat pemuda itu, duduk ongkang-ongkang seperti si pemuda tanpa sedikit pun membuat cabang itu bergoyang. Akan tetapi Kwi Lan kecelik kalau ia memancing kekaguman pemuda itu, karena si pemuda menoleh kepadanya seperti tidak ada apa-apa saja, seakan-akan gerakannya yang indah dan ringan itu tadi sudah sewajarnya!

Setelah menoleh dan memandang wajah Kwi Lan sejenak, pemuda itu tersenyum lebar, merogoh saku bajunya yang lebar, mengeluarkan bungkusan dan membuka bungkusan itu, lalu menyodorkannya kepada Kwi Lan. Kiranya tanpa bicara pemuda itu telah menawarkan kacang garing kepada Kwi Lan!

“Enak nonton di sini sambil makan kacang,” katanya dengan mata bersinar-sinar. “Gerakan mereka dapat nampak jelas. Hayo bertaruh, siapa yang akan menang antara pengemis bertongkat kurus kering dan pengemis botak berpedang itu? Aku berpegang kepada si Botak!”

Kwi Lan makin suka kepada pemuda yang sebaya dengannya ini, atau mungkin lebih muda melihat sikapnya yang kekanak-kanakan. Tanpa ragu-ragu lagi ia mengambil segenggam kacang, membuka kulit dan memakannya sambil menonton ke arah pertandingan.

“Aku bertaruh pengemis baju butut yang menang,” Kwi Lan berkata setelah menonton sebentar. Kacang garing itu enak sekali, selain gurih dan wangi tanda kacang tua dan baik, juga agaknya diberi bumbu dan asinnya cukup.

“Belum tentu!” kata si Pemuda gembira dan kedua kakinya yang ongkang-ongkang itu digerak-gerakkan menendang. “Memang si Kurus Kering itu lebih lihai ginkang-nya, lebih cekatan. Akan tetapi kulihat si Botak ini banyak tipu muslihatnya. Di gagang pedangnya terdapat alat untuk melepas jarum beracun.”

“Ihhh…! Memang pengemis baju bersih itu golongan hitam dan curang!” Kwi Lan berseru. “Eh, bagaimana engkau bisa tahu?”
“Tahu saja! Kau kira engkau saja yang tahu kelicikan mereka?”

Mereka saling pandang, cemberut karena dengan pertaruhan itu mereka seperti hendak saling memihak. Akan tetapi pemuda itu tersenyum, menyodorkan lagi bungkusan kacangnya. “Enak kacang ini, bukan? Tentu enak, kacang ini khusus dibuat untuk istana kerajaan!” ia tertawa ha-ha-he-he, lalu melanjutkan, “Akan tetapi, Raja dan para Pangeran belum tentu mempunyai mulut seperti mulutku, maka aku merasa bahwa mulutku tidak terlalu rendah untuk mencicipi kacang untuk istana ini dan kucuri sebagian. He-he- heh!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo