August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 19)

 

 

Pagi hari itu, pagi hari yang cerah, sebuah pesta diadakan di sebuah taman bunga gedung Pangeran Kiang. Gedung besar dengan taman bunga yang luas dan indah ini adalah sebuah di antara gedung- gedung besar yang paling terkenal di kota raja. Siapakah yang tidak mengenal keluarga Kiang ini? Bukan Pangeran Kiang yang kaya raya ini yang banyak dikenal orang, melainkan puteranya, yaitu Kiang-kongcu (Tuan Muda Kiang), sebutan untuk Kiang Liong. Semua orang mengenal Kiang-kongcu.

Orang-orang gagah di dunia kang-ouw mengenalnya karena sepak terjangnya yang gagah dan lihai, apa lagi karena dia adalah murid pendekar sakti Suling Emas! Penjahat-penjahat mengenalnya karena takut. Penjilat-penjilat mengenalnya karena tangannya selalu terbuka. Pemuda-pemuda mengenalnya karena ia ramah dan pandai bergaul. Bahkan wanita-wanita mengenalnya karena ketampanannya dan sifatnya yang romantis sehingga banyak yang jatuh hati kepadanya!

Dan pagi hari itu, pesta meriah diadakan di taman bunga rumah keluarga Pangeran Kiang ini! Untuk keperluan apa? Kiang-kongcu tidak tampak berada di rumah. Juga Pangeran Kiang dan isterinya yang sudah berusia lanjut dan tidak bernafsu lagi untuk main pesta-pestaan, tidak hadir. Sebagai wakil tuan rumah adalah seorang pemuda yang pakaiannya mewah dan indah dan memang pesta ini diadakan untuk menyambut kedatangannya di gedung itu.

Dia bernama Suma Kiat dan kepada para tamu ia diperkenalkan oleh Pangeran Kiang sebagai anak keponakan Nyonya Kiang yang baru datang berkunjung setelah berpisah belasan tahun. Padahal sesungguhnya baru pertama kali itu selama hidupnya pemuda ini muncul dan mengaku sebagai putera tunggal mendiang Suma Boan, kakak dari Nyonya Kiang. Muncul begitu saja, akan tetapi isterinya, yaitu Nyonya Kiang, tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda yang mengaku bernama Suma Kiat ini benar-benar putera mendiang kakaknya karena mempunyai persamaan wajah yang tidak dapat diragukan lagi.

“Engkau benar, keponakanku…, engkau tentu putera mendiang Kakakku…. Ahhh, melihatmu seperti melihat dia dahulu…!” Demikianlah Suma Ceng, isteri Pangeran Kiang, merangkul dan menangis.

Dan demikianlah, pesta meriah di taman bunga diadakan untuk menghormat kedatangan pemuda ini dan untuk memperkenalkannya kepada semua orang. Seperti biasanya, jika ada kesempatan baik seperti ini, banyak pula para anggota kai-pang (perkumpulan pengemis) yang datang dan mereka duduk berkelompok menyendiri, menikmati hidangan lezat dan arak wangi. Banyak di antara para tokoh kai-pang ini adalah kenalan baik Kiang-kongcu karena mereka ini sesungguhnya bukanlah orang-orang jembel biasa, melainkan ahli-ahli silat yang berkeliaran di dunia kang-ouw sebagai pengemis. Bahkan dalam pesta di kebun kembang Pangeran Kiang ini, banyak orang-orang aneh sahabat Kiang-kongcu muncul sehingga tidak mengherankan apa bila tempat pesta itu didatangi orang-orang yang tidak semestinya ikut berpesta, yaitu beberapa orang hwesio gundul dan tosu-tosu pertapa! Semua orang aneh ini datang hanya karena pesta diadakan di kebun Kiang-kongcu.

Dan bukan hal yang aneh lagi kalau ada pula beberapa orang wanita cantik muncul dalam pesta! Bukan wanita-wanita cantik sembarangan, melainkan ahli-ahli silat pula yang menjadi sahabat Kiang-kongcu. Dua orang enci adik Chi, dan tiga orang murid perguruan Ang-lian (Teratai Merah) yang amat terkenal di kota raja. Lima orang wanita ini berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, berpakaian ringkas, tampak gagah namun tidak melenyapkan kecantikan mereka. Semua sahabat wanita Kiang-kongcu sudah dapat dipastikan cantik-cantik!

Tentu saja mereka berlima memilih sebuah meja dan menjadi sekelompok, akan tetapi alangkah kecewa hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa Kiang-kongcu tidak hadir! Sebetulnya mereka hendak mempergunakan kesempatan ini untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan orang yang selama ini menjadi buah mimpi, ingin melepaskan rindu. Kekecewaan mereka hanya sebentar karena sebagai pengganti Kiang-kongcu, di situ terdapat Suma-kongcu atau Suma Kiat yang ternyata dalam hal keramahan dan kepandaian bermanis muka dan memikat hati wanita tidak kalah lihai dari pada Kiang- kongcu.

Suma-kongcu ini segera duduk di meja kelompok gadis-gadis ini dan terjadilah percakapan yang asyik dan gembira. Apa lagi ketika lima orang gadis itu mendengar bahwa Kongcu ini juga seorang ahli silat yang pandai sekali. Ternganga mulut mereka menyaksikan ketika Suma Kiat menggenggam cawan arak, mengerahkan sinkang dan membuat arak di dalam cawan itu panas beruap dan mendidih! Biar pun wajah Suma Kiat tidak setampan Kiang-kongcu, namun harus diakui bahwa dia termasuk seorang pemuda yang berlagak dan tidak berwajah buruk.

Ada pun delapan orang pengemis yang menduduki sekitar meja di sudut adalah para pengemis yang tergolong gagah perkasa. Pengemis golongan sesat tidak berniat mendekati Kiang-kongcu yang mereka anggap sebagai seorang musuh. Bukankah Kiang-kongcu murid Suling Emas yang menjadi musuh besar pengemis golongan sesat? Delapan orang pengemis yang kini berkumpul di situ adalah pengemis- pengemis golongan baju butut, bahkan di antara mereka terdapat seorang pengemis muda yang memegang sebuah topi butut berhias kembang. Pengemis muda belia yang tampan dan gagah.

Dia ini bukan lain adalah Yu Siang Ki, atau Yu-pangcu (Ketua Yu) yang dihormati tujuh orang pengemis lainnya karena dikenal sebagai ketua baru perkumpulan Khong-sim Kai-pang. Yu Siang Ki yang datang bersama Kwi Lan di kota raja segera berpisah dari dara yang dianggap sebagai adik angkatnya ini, kemudian ia menemui tokoh-tokoh pengemis di kota raja. Ketika mendengar bahwa ketua Khong-sim Kai- pang ini berniat mencari Suling Emas, para tokoh pengemis segera berunding.

“Yu-pangcu, pendekar sakti Suling Emas adalah seorang sahabat dan semenjak dahulu kami menghormat dan mencintanya. Akan tetapi sayang sekali, tak seorang pun dapat mengatakan di mana dapat bertemu dengan pendekar itu. Dia datang dan pergi seperti dewa, tak pernah meninggalkan jejak. Bahkan sudah bertahun-tahun tidak pernah orang melihatnya. Akan tetapi, yang sudah nyata, di kota raja ini terdapat seorang muridnya yang lihai.” kata Pek-tung Lo-kai (Pengemis Tongkat Putih).

“Apakah Lo-kai maksudkan Kiang-kongcu?”

“Ha-ha, nama besar Kiang-kongcu sudah terkenal sampai jauh.”

“Bukan hanya mengenal namanya, Lokai, malah secara kebetulan sekali saya sudah mendapat kehormatan berjumpa dengan Kiang-kongcu.”

“Ah, begitukah? Kebetulan sekali. Kami mendengar bahwa di taman bunga Pangeran Kiang akan diadakan pesta umum. Marilah Yu-pangcu ikut bersama kami hadir di pesta itu. Kalau ada jodoh bertemu Kiang- kongcu, agaknya dia akan dapat menerangkan di mana Pangcu dapat bertemu dengan Suling Emas.”

Demikianlah, pagi hari itu Yu Siang Ki hadir bersama tujuh orang tokoh pengemis kota raja. Akan tetapi alangkah kecewa hatinya ketika ia tidak melihat Kiang Liong dan mendengar bahwa pesta itu sengaja diadakan oleh keluarga Pangeran Kiang untuk menyambut kedatangan seorang keponakan mereka yang bersama Suma Kiat. Makin besar rasa kecewa dan ketidak-senangan hati Yu Siang Ki ketika ia menyaksikan lagak Suma-kongcu itu, yang duduk menjamu kelompok wanita-wanita cantik yang genit- genit dan mendemonstrasikan kepandaiannya, seperti main sulap membuat arak dalam cawan bergolak, melihat pemuda berpakaian indah itu petantang-petenteng dengan sombongnya ketika dipuji-puji tamu.

“Hemmm, dia amat sombong. Akan tetapi harus diakui bahwa lweekang-nya hebat sekali,” bisik pengemis di sebelah kiri Siang Ki. “Melihat kepandaiannya, ia memang pantas menjadi saudara misan Kiang-kongcu, akan tetapi melihat kesombongannya, sungguh jauh bedanya…”

Siang Ki mengangguk-angguk. “Kepandaiannya hebat, dan mungkin kesombongannya itu karena ia masih muda dan karena berhadapan dengan wanita-wanita.”

Pek-tung Lo-kai yang duduk di sebelah kanan Siang Ki, setelah melirik ke kanan kiri, berbisik. “Hemmm… sungguh mengherankan sekali. Begini sedikit orang-orang gagah yang sepatutnya hadir mengingat bahwa semua orang gagah menjadi sahabat Kiang-kongcu, sebaliknya banyak hadir orang-orang tergolong busuk dan banyak pembesar-pembesar penjilat dan perwira-perwira penting. Heran sekali, orang macam apakah Suma Kongcu ini?”

“Lo-kai, bukan urusan kita, tidak perlu kita ambil pusing. Kalau sampai nanti Kiang-kongcu tidak muncul, sebaiknya kita mohon diri dan meninggalkan tempat ini saja,” berkata demikian Siang Ki mengangkat cawan arak dan hendak diminumnya.

Akan tetapi dia menunda niatnya minum arak ketika pada saat itu terdengar suara nyaring, suara Kwi Lan! Gadis itu berseru dengan nyaring.

“Suheng…! Mengapa kau berada di sini…?”

Hanya sebentar Siang Ki menunda minumnya. Ia tersenyum, menenggak araknya dan berbisik kepada Pek-tung Lo-kai di sebelah kanannya. “Wah, tentu akan terjadi keributan….“

Bagaimanakah tahu-tahu Kwi Lan si Mutiara Hitam muncul di tempat pesta ini? Telah kita ketahui bahwa dara perkasa ini melakukan perjalanan bersama Yu Siang Ki setelah pemuda ketua Khong-sim Kai-pang ini berjanji akan menganggapnya sebagai seorang adik angkat. Biar pun sikap Kwi Lan tidak berubah dan masih gembira dan jenaka seperti biasa, namun sikap Siang Ki terhadapnya sudah berubah. Pemuda ini menekan hatinya dan memaksa perasaannya untuk memandang gadis ini sebagai adik angkat, namun ia tak pernah berhasil sehingga sepanjang perjalanan Siang Ki nampak murung dan berduka.

Akhirnya mereka tiba di kota raja dan di sini mereka berpisah. Siang Ki hendak menemui tokoh-tokoh pengemis untuk mencari keterangan tentang Suling Emas, sedangkan Kwi Lan mencari keterangan tentang Suma Kiat seperti yang dipesankan gurunya. Diam-diam ia menjadi jengkel sekali. Di dalam kota besar seperti ini, di mana terdapat puluhan laksa orang, bagaimana ia dapat menemukan seorang Suma Kiat?

Selagi ia termenung di sore hari itu, duduk di bangku dalam ruangan depan kamarnya, ia mendengar suara ketawa cekikikan dan dua orang gadis yang berpakaian ringkas berwajah cantik memasuki ruangan itu dari depan. Melihat cara mereka berpakaian, pedang yang tergantung di pinggang, dan langkah kaki mereka yang ringan, Kwi Lan dapat menduga bahwa mereka adalah dua orang gadis ahli silat. Ia tertarik dan dari sudut matanya ia mengerling. Hatinya sudah tidak senang melihat sikap kedua orang gadis itu yang genit, akan tetapi karena mereka itu tidak ada hubungan dengan dirinya, ia pun diam saja dan hanya memperhatikan ucapan-ucapan mereka ketika mereka lewat di ruangan itu menuju ke kamar sebelah belakang.

“Wah… sayang sekali kalau dia tidak ada, Cici. Kalau dia tidak ada, untuk apa kita datang menghadiri pesta itu?” kata yang bertubuh ramping dengan sanggul rambut tinggi sambil menghela napas kecewa.

“Ihh, yang kau pikirkan dia saja, Moi-moi! Jangan khawatir, biar pun dia tidak ada, namun ada penggantinya. Aku mendengar bahwa keponakan Pangeran Kiang itu pun lihai dan tampan, hi-hik!”

“Hemm, aku sangsi apakah ada yang lebih hebat dari pada dia. Siapakah namanya, Cici?” “Entah, hanya aku mendengar bahwa dia disebut Suma-kongcu begitu….“
Suara percakapan mereka lenyap di balik pintu kamar mereka di sebelah belakang. Akan tetapi Kwi Lan sudah mendengar cukup banyak. Nama Suma-kongcu membangkitkan perhatiannya. Bukan tidak boleh jadi bahwa Suma-kongcu yang dibicarakan dua orang gadis genit ini, adalah Suma Kiat, suheng-nya yang sedang ia cari-cari.

Demikianlah, pada keesokan harinya, ketika pagi-pagi dua orang gadis itu pergi meninggalkan losmen, diam-diam ia membayangi mereka. Mula-mula ia meragu ketika dua orang gadis itu memasuki pekarangan gedung besar Pangeran Kiang. Akan tetapi ketika melihat bahwa di dalam taman di sebelah kiri rumah gedung itu terdapat banyak tamu bermacam-macam, bahkan ada yang berpakaian pengemis, setelah meragu sampai sejam lebih di luar, akhirnya ia berjalan masuk pula.

“Suheng…! Mengapa kau berada di sini…?” tegurnya ketika ia melihat Suma Kiat duduk menghadapi lima orang wanita cantik, dan di antaranya adalah gadis-gadis yang ia lihat di losmen. Ada rasa girang terkandung dalam seruan Kwi Lan karena hatinya lega bahwa akhirnya ia dapat menemukan suheng-nya seperti yang diperintahkan gurunya.

Seruan yang nyaring ini membuat banyak tamu menoleh dan memandang. Kecuali Yu Siang Ki, tak seorang pun di antara tamu itu mengenal gadis jelita yang bersikap lincah ini. Suma Kiat juga menengok dan ia meloncat bangun, menghampiri dan memegang tangan Kwi Lan.

“Aha, Sumoi…! Alangkah girang hatiku melihatmu! Betapa rinduku kepadamu selama ini…!” Suma Kiat yang memegang tangan gadis itu menarik dan ia hendak memeluk Kwi Lan dengan pandang mata penuh nafsu.

“Suheng, kau menjadi makin gila!” bentak Kwi Lan sambil merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan pemuda itu, mulutnya cemberut dan matanya mengeluarkan sinar berapi.

 

Ketika Suma Kiat yang masih tertawa ha-ha-he-he itu hendak memegang tangannya lagi, Kwi Lan menampar tangan pemuda itu dalam tangkisan yang dilakukan dengan keras. Suma Kiat terkejut, tangannya terasa sakit dan agaknya ia baru tahu bahwa sumoi-nya marah benar-benar.

“Eh… eh…, Sumoi…, mengapa marah? Tidak bolehkah aku melepas rinduku kepadamu? Sudah amat lama kita tidak saling berjumpa….”

“Bodoh! Tak malukah engkau?” bentak Kwi Lan, mukanya kini menjadi merah ketika melihat betapa semua orang memandang ke arah mereka sambil tersenyum-senyum dan menahan ketawa.

Suma Kiat tersenyum masam, sadar akan keadaan ini. Tadinya ia dipengaruhi rasa gembira melihat sumoi- nya yang memang amat dirindukannya ini. Ketika ia masih tinggal bersama Kwi Lan di istana bawah tanah, ia tidak merasakan sesuatu terhadap sumoi-nya kecuali ingin menggodanya dan ia suka sekali melihat sumoi-nya ini marah-marah. Setelah berpisah jauh dan lama, barulah ia merasa betapa tersiksa hatinya, betapa rindunya terhadap Kwi Lan, dan baru ia sadar betapa besar rasa cintanya terhadap gadis itu. Kini melihat munculnya Kwi Lan secara tiba-tiba dalam pesta, ia menjadi demikian girang sehingga tidak ingat bahwa sikapnya itu ditonton oleh semua tamu. Ia kini sadar lalu cepat berkata.

“Ah, maaf, Sumoi. Silakan duduk. Mari duduklah di sini dan ceritakan semua pengalamanmu. Oya, biarlah kuperkenalkan kau kepada para tamu.” Tanpa mempedulikan sikap Kwi Lan yang memprotes, pemuda ini memandang ke semua penjuru dan berkata dengan suara lantang.

“Para tamu yang terhormat! Perkenankanlah saya memperkenalkan Sumoi-ku yang cantik jelita dan perkasa ini, Kam Kwi Lan!” Dan sambil tersenyum-senyum ia membalas para tamu yang terpaksa menunda percakapan, makan dan minum untuk berdiri dan menjura kepada mereka.

Dengan tersipu-sipu Kwi Lan terpaksa pula mengangkat kedua tangan ke dada membalas penghormatan mereka, kemudian karena takut kalau-kalau suheng-nya yang otak-otakan ini melakukan hal-hal lain yang memalukan, ia cepat-cepat duduk di bangku menghadapi meja berhadapan dengan lima orang wanita yang memandangnya dengan mata terbelalak dan mulut jelas membayangkan iri hati dan kebencian.

Suma Kiat sebaliknya gembira sekali. Setelah Kwi Lan duduk, ia bertepuk tangan memanggil pelayan, berseru. “Lekas bawa hidangan terlezat dan arak terbaik untuk Kam-siocia!” Bahkan para pelayan diam- diam mencibirkan bibirnya melihat sikap congkak melebihi pemilik rumah sendiri. Kiang-kongcu saja tidak pernah bersikap seperti itu. Diam-diam mereka membenci tamu ini, pemuda yang tinggi hati dan kasar.

Namun Suma Kiat yang pada saat itu merasa menjadi peran utama karena pesta itu diadakan untuk menghormatinya, apa lagi kini melihat sumoi-nya datang, tidak tahu akan ketidak-senangan mereka ini. Sambil tersenyum-senyum ia duduk di sebelah kanan Kwi Lan, kemudian berkata, “Oya, belum kuperkenalkan. Sumoi, dua orang nona ini adalah Chi Ci-moi (Enci Adik she Chi), dan tiga orang Nona ini adalah murid-murid kepala dari perguruan Ang-lian Bu-koan. Mereka ini merupakan harimau-harimau betina kota raja, kepandaian mereka amat lihai.”

Senang hati lima orang gadis itu mendengar pujian ini. Mereka mengangkat kedua tangan dan menghormat Kwi Lan. Akan tetapi Kwi Lan bersikap dingin, bahkan terdengar berkata ketus, “Sudah, kalian berlima pergilah!”

Suma Kiat melongo dan lima orang gadis itu menjadi pucat mukanya. Seorang di antara Chi Ci-moi itu, yang tertua, kini menjadi merah mukanya dan bertanya, suaranya ketus. “Apa maksudmu…?”

“Maksudku sudah cukup jelas. Menggelindinglah kalian beriima pergi dari sini, aku hendak bicara berdua lengan Suheng-ku!”

Lima orang wanita itu tak dapat menahan kemarahan hati mereka. Dengan muka merah padam mereka melotot kepada Kwi Lan dan seorang di antara murid kepala Ang-lian Bu-koan membentak. “Orang tidak boleh menghina kami begini saja!”

Kwi Lan yang sejak tadi memang sudah gemas karena sikap suheng-nya, kini pun marah. “Aku suruh kalian pergi, kalian anggap menghina? Hemmm, kalau menghina, kalian ini perempuan-perempuan genit dan cabul tak tahu malu mau apa? Pergilah!” Berkata demikian Kwi Lan menggerakkan kakinya dan meja di depannya terbang ke arah lima orang gadis itu!

 

Kedua Chi Ci-moi dan tiga orang murid kepala Ang-lian Bu-koan bukanlah gadis-gadis sembarangan. Diserang begini biar pun tak secara tersangka-sangka dan dari jarak dekat, mereka masih sempat berjungkir balik ke belakang, kemudian secara berbareng mereka menggerakkan lengan ke depan menahan meja yang menyambar. Mereka terhindar dari hantaman meja, namun tak dapat menghindarkan diri dari serangan arak dan kuah daging sayur yang menyambar ke arah muka dan pakaian mereka dari mangkok-mangkok di atas meja. Muka dan pakaian mereka berlepotan kuah dan arak, dan celaka bagi mereka, kuah-kuah itu baru saja dihidangkan oleh pelayan dalam keadaan masih panas-panas! Tentu saja mereka menyumpah-nyumpah dan mencak-mencak.

“Ah, Sumoi jangan bikin ribut. Mari kita bicara…!” Suma Kiat sudah menyambar lengan adik seperguruannya dan menarik pergi dari taman, memasuki ruangan samping rumah itu.

Kwi Lan ingin membangkang, namun ia masih ingat akan pesan gurunya dan tidak menghendaki pertempuran melawan suheng-nya sendiri di tempat umum itu, maka ia menurut. Mulutnya cemberut dan matanya menyinarkan kemarahan.

Setelah mereka berdua duduk di ruangan samping, Suma Kiat segera berkata dengan suara perlahan setengah berbisik, tetapi penuh kesungguhan. Matanya memancarkan kecerdikan yang mengagetkan hati Kwi Lan.

“Ah, Sumoi, kau tidak tahu. Ibu yang mengatur semua ini. Tahulah engkau bahwa kakakmu ini menjadi calon kaisar?”

Kwi Lan memandang, matanya terbelalak. Celaka, kiranya sinar kecerdikan di mata suheng-nya itu hanya penonjolan dari kegilaannya yang makin menjadi!

“Suheng, tak sudi aku mendengar ocehanmu yang tidak karuan ini!”

“Huh, anak bodoh. Kau tidak percaya? Bukankah Ibu yang menyuruh kau datang ke sini mencariku? Bantuanmu amat kubutuhkan. Kau lihatlah lima orang wanita itu, dan para tamu itu, sebagian besar adalah sekutu kami.”

“Sekutu apa?” Kwi Lan mulai tidak sabar.

“Sekutu untuk menjatuhkan Kaisar, bekerja sama dengan bangsa Hsi-hsia yang sudah siap bergerak….”

“Ahhh…!” Bukan main kagetnya hati Kwi Lan. Hal ini sama sekali tak pernah disangkanya. Jadi gurunya yang gila, juga suheng-nya yang berotak miring ini, mempunyai rencana yang demikian gila?

Ia cerdik, maka kini ia menahan kemarahannya dan berbisik. “Suheng aku belum diberi tahu Bibi Sian tentang rencana ini. Apakah rencana itu dan bagaimana?” Ia pura-pura bersungguh-sungguh.

Suma Kiat tersenyum, menengok ke sekelilingnya. “Ketahuilah, Ibu membawa aku ke sini. Ini adalah gedung Pangeran Kiang dan engkau tahu, isteri Pangeran Kiang bernama Suma Ceng, dan menurut Ibu dia adalah Bibiku, adik mendiang Ayahku yang masih putera Pangeran bernama Suma Boan.”

Sampai di sini Suma Kiat membusungkan dadanya. “Aku cucu Pangeran! Karenanya aku berhak menjadi kaisar! Dan engkau menjadi puteri, ha-ha-ha, kalau aku menjadi kaisar, kelak engkau menjadi permaisuri, dan Ibu menjadi ibu suri… ha-ha-ha!”

“Hushh… Suheng, bicaralah yang benar. Bagaimana rencana itu? Apa yang telah terjadi?”

“Heh-heh, banyak yang terjadi, Adikku sayang! Bangsa Hsi-hsia telah mengadakan hubungan rahasia dengan banyak pembesar di sini, dan yang hadir di taman itu sebagian besar adalah pembesar-pembesar yang telah sepakat untuk mengadakan persekutuan. Kau lihat hwesio yang duduk di sudut tadi? Dia adalah Cheng Kong Hosiang, dia yang mewakili bangsa Hsi-hsia. Dan Ibu menunjuk aku untuk memimpin pergolakan dari dalam apa bila saatnya tiba.”

“Hemm, kau kira begitu mudah? Di sini banyak terdapat orang gagah yang tentu akan menentang pengkhianatan ini, Suheng. Kenapa Bibi Sian melakukan hal berbahaya ini?”

“Siapa bilang tidak mudah? Kerajaan Sung amat lemah, kaisarnya seperti perempuan! Dan menurut kabar yang baru kuperoleh, bangsa Khitan juga siap membantu bangsa Hsi-hsia…”

“Bohong…!”

Kwi Lan sendiri menjadi kaget mendengar suaranya yang spontan dan mengandung kemarahan itu. Tanpa disadarinya, ia kini telah menjadi pembela bangsa Khitan! Teringat ini, dan melihat pandang mata Suma Kiat penuh selidik, ia cepat menyambung. “Aku mendengar bangsa Khitan bersahabat dengan Kerajaan Sung. Tak mungkin mereka sudi bersekutu dengan bangsa Hsi-hsia yang biadab, yang menyerang dan menghancurkan Beng-kauw secara menggelap, yang dipimpin oleh hwesio-hwesio gila, manusia-manusia biadab berkedok pendeta!”

“Aihh… kiranya pengetahuanmu cukup luas, Sumoi. Agaknya selama dalam perantauan ini engkau sudah menjumpai banyak pengalaman. Akan tetapi kau tentu belum tahu apa yang baru saja kudengar. Bouw Lek Couwsu pimpinan bangsa Hsi-hsia kini mendapat jalan untuk memaksa pemerintah Kerajaan Khitan untuk bekerja sama dengan bangsa Hsi-hsia.”

“Hemm, aku tidak percaya. Bangsa Hsi-hsia hanyalah bangsa biadab yang kecil jumlahnya, sedangkan Khitan adalah negara besar…“

“Ha-ha-ha, mereka terpaksa harus memenuhi permintaan bangsa Hsi-hsia setelah Pangeran Mahkota mereka terjatuh ke dalam tangan Bouw Lek Couw.

“Apa…?!” Kwi Lan menekan perasaannya sehingga kekagetan hebat tidak terlalu menonjol pada wajahnya.

Suma Kiat tertawa puas. “Benar! Pangeran Mahkota yang bernama Talibu, Pangeran Khitan itu kini menjadi tawanan Bouw Lek Couwsu dan dia itulah yang akan menjamin bahwa Kerajaan Khitan pasti akan suka membantu.”

Kwi Lan tersenyum dingin untuk menutupi hatinya yang panas. Ia sudah mendengar dari Siang Ki bahwa Ratu Khitan yang menurut gurunya adalah ibu kandungnya itu memang mempunyai seorang putera angkat bernama Pangeran Talibu yang tampan dan gagah perkasa. Biar pun ia mengandung perasaan iri dan tidak senang kepada anak angkat ibunya itu, namun kini ia terkejut sekali mendengar betapa putera mahkota itu ditawan Bouw Lek Couwsu.

Urusan ini ternyata bukan urusan kecil dan sama sekali bukan urusan main-main. Kalau yang dikatakan pemuda gila ini benar, ia harus berusaha sedapat mungkin menolong putera angkat ibunya! Maka dengan cerdik ia lalu tertawa, tertawa dingin yang sepenuhnya menonjolkan sikap tidak percaya.

“Ah, Suheng. Setelah lama merantau, engkau masih tetap seperti kanak-kanak, mudah saja diakali orang. Sudah jelas kau dibohongi orang, akan tetapi kau menerima dan menelannya begitu saja tanpa mau memeriksa lagi. Siapa mau percaya Pangeran Mahkota Khitan ditawan orang-orang Hsi-hsia?” Kwi Lan sengaja mengeluarkan suara ketawa nyaring yang dia tahu menyakitkan hati pemuda ini. Dahulu kalau bertengkar, ia selalu tertawa seperti ini.

Merah wajah Suma Kiat. “Sumoi, kaulah yang bodoh dan tolol! Kau masih tidak percaya kepada aku, calon Kaisar! Pangeran Talibu benar telah ditawan oleh Bouw Lek Couwsu yang bermarkas di sebelah barat Lok- yang, di lembah Sungai Kuning di kaki gunung Fu-niu-san…“ Tiba-tiba Suma Kiat menghentikan kata- katanya dan memandang ke kanan kiri dengan sikap kaget, seakan-akan ia baru ingat bahwa ia telah membuka rahasia besar yang tidak seharusnya ia katakan kepada siapa pun juga. “eh, Sumoi…, jangan bilang kepada siapa pun juga…“

Akan tetapi pada saat itu perhatian mereka tertarik oleh suara ribut-ribut di luar ruangan itu, di taman. Mereka bergegas keluar, terutama Suma Kiat telah mendahului sumoi-nya melompat ke luar dan menghampiri para tamu yang tampak ribut.

Di tengah taman itu berdiri seorang pengemis muda yang jangkung tampan, memakai sebuah topi lebar yang butut, akan tetapi dihias bunga memegang sebatang tongkat, berdiri dengan tegak, berhadapan dengan dua orang wanita enci adik she Chi. Dua orang gadis inilah yang ribut-ribut dan memaki-maki.

“Jembel busuk! Jembel kelaparan! Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan, ya? Kami bukanlah gadis-gadis macam iblis tadi yang boleh kau permainkan…!“ bentak gadis muda she Chi, sedangkan encinya sudah meraba gagang pedangnya.

Pengemis muda itu bukan lain adalah Yu Siang Ki. Dia tadi melihat munculnya Kwi Lan dan sudah ia duga bahwa gadis itu tentu akan menimbulkan keributan sesuai dengan wataknya. Ketika ia melihat Kwi Lan mempermainkan lima orang wanita cantik yang duduk semeja dengan Suma Kiat, diam-diam ia tertawa. Memang lima orang wanita itu patut diberi sedikit hajaran. Dia sudah mendengar siapa adanya lima orang wanita itu.

Akan tetetapi ketika ia melihat Kwi Lan pergi ke dalam gedung bersama Suma Kiat yang disebut suheng oleh Kwi Lan, timbullah kekhawatirannya dan hatinya menjadi jengkel sekali. Jengkel melihat kenyataan bahwa temannya yang dianggap adik angkat, wanita yang pernah merebut cinta kasihnya itu ternyata adik seperguruan pemuda bangsawan memuakkan ini. Jengkel pula karena Kwi Lan tidak mempedulikannya, bahkan kini masih bersama pemuda itu. Ia khawatir sekali. Pada saat itulah ia mendengar betapa lima orang wanita yang merasa terhina oleh Kwi Lan, mengeluarkan kata-kata memaki-maki Kwi Lan secara kasar sekali.

Yu Siang Ki tentu tidak begitu mudah mencari keributan, apa lagi mengingat bahwa di situ adalah tempat tinggal Kiang-kongcu murid Suling Emas! Akan tetapi karena ia merasa khawatir akan keadaan Kwi Lan yang masuk ke dalam gedung bersama pemuda sombong tadi, kini melihat adanya kesempatan untuk menarik perhatian Kwi Lan keluar dari gedung. Tanpa ragu lagi ia lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya setelah berbisik kepada para pengemis lainnya. “Jangan heran akan sikapku…!”

Sambil memandang lima orang gadis itu, ia membentak, suaranya nyaring, “Kuharap kalian berlima tahu diri dan tidak membuka mulut sembarangan mengeluarkan kata-kata kotor menghina Kam-lihiap. Tidak sadarkah bahwa tadi Kam-lihiap telah mengampuni jiwa anjing kalian?”

Ucapan ini sungguh hebat dan pedas. Biar pun mereka berlima itu wanita, namun tokoh-tokoh kota raja tahu belaka bahwa ilmu kepandaian mereka tidak boleh dipandang rendah. Apa lagi tiga orang murid kepala Ang-lian Bu-koan yang amat berpengaruh karena perguruan mereka. Dan kini seorang pengemis muda yang tidak terkenal berani mengeluarkan ucapan yang demikian pedas! Juga lima orang itu terkejut, wajah mereka berubah merah dan tak dapat ditahan lagi kemarahan orang termuda dari Chi Ci-moi yang bernama Chi Bwee, meloncat bangun menghadapi Yu Siang Ki dan memaki-makinya seperti tadi.

Siang Ki tersenyum mendengar maki-makian ini, kemudian menambah panasnya api yang ia kobarkan. “Kam Kwi Lan bukanlah iblis betina, melainkan seorang wanita gagah perkasa, seorang pendekar, tidak seperti kalian ini lima ekor tikus betina yang genit…“

“Jembel busuk mau mampus!” bentak Chi Leng, enci Chi Bwee yang sudah mencabut pedang dan dengan gerakan kilat pedangnya menyambar dengan sebuah tusukan ke dada Siang Ki.

“Wuuuuttt…!” Tusukan itu mengenai angin karena tubuh Siang Ki doyong ke belakang. Pemuda ini tanpa merubah kedudukan kakinya telah mampu mengelak dengan amat mudahnya. Ia tertawa mengejek.

“Gadis galak dan canggung macam engkau ini berani menghina Kam-lihiap? Sungguh menjemukan!”

“Enci, mari kita bunuh jembel ini!” Chi Bwee juga sudah mencabut pedangnya dan membacok. Namun kembali bacokannya mengenai angin.

“Hayo, kalian yang tiga orang lagi tidak ikut maju? Maju dan keroyoklah, perempuan-perempuan macam kalian mana ada kepandaian?” Siang Ki mengejek terus.

Marahlah tiga orang murid kepala Ang-lian Bu-koan. Mereka pun dapat menduga bahwa dari gerakan pemuda jembel ini, dua orang enci adik Chi sama sekali bukan tandingannya. Mereka mencabut pedang dan bergeraklah lima orang gadis ini menyerang kalang-kabut! Biar pun dibandingkan dengan Siang Ki tingkat ilmu silat mereka masih jauh, namun karena mereka maju bersama dan mengeroyok dengan nafsu membunuh, Siang Ki tidak berani memandang rendah. Tangan kirinya menyambar topinya, sambil bergerak dengan lincah ia mengayun topi dan tangan kanan.

“Siuut-siuut-bret-bret…!” terdengar lima orang itu menjerit kaget dan di lain saat rambut mereka yang digelung rapi itu sudah terlepas semua ikatannya, cerai-berai dan awut-awutan karena pita rambutnya telah putus oleh renggutan jari tangan Yu Siang Ki. Mereka hanya merasa betapa pandang mata mereka gelap karena muka mereka tiba-tiba tertutup topi lebar yang baunya apek oleh keringat, kemudian merasa rambut mereka terlepas ikatannya. Ketika mereka memandang, pita-pita rambut mereka telah berada di tangan Siang Ki yang tertawa-tawa.

Bukan main kaget dan marah hati mereka. Kaget karena tidak mengira bahwa jembel muda ini benar-benar luar biasa lihainya dan marah karena peristiwa yang terjadi di depan banyak tokoh kang-ouw itu merupakan penghinaan bagi mereka. Kemarahan inilah yang membuat mereka lupa diri, lupa akan pesan guru-guru mereka bahwa menghadapi seorang yang jauh lebih lihai, tiada gunanya berlaku nekat karena takkan dapat menang. Dengan gerakan ganas mereka sudah menyerbu lagi mengeroyok Siang Ki. Pemuda ini menjadi girang karena usahanya memancing Kwi Lan keluar berhasil. Ia sudah melihat gadis itu muncul keluar di belakang Suma-kongcu, maka hatinya menjadi lega dan ia berniat mengakhiri perkelahian dan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, pada saat itu Suma Kiat sudah datang berlari seperti terbang cepatnya. Pemuda ini marah sekali. Ia tidak mengenal si Pemuda Jembel, sebaliknya ia sudah beramah-tamah dan menerima janji-janji senyum dan kerling manis lima orang wanita cantik itu, tentu saja tanpa pikir-pikir panjang lagi ia sudah memihak lima orang wanita itu. Gerakannya aneh dan luar biasa sekali cepatnya, tahu-tahu ia sudah terjun ke dalam pertandingan dan mengirim pukulan hebat ke arah Yu Siang Ki.

“Suheng… jangan…!” Kwi Lan melompat dan mengejar kakak seperguruannya.

Akan tetapi Suma Kiat tidak mempedulikannya dan sudah menghantam ke arah dada Yu Siang Ki. Ketua pengemis yang muda ini sedang sibuk mengelak dan menangkis keroyokan lima batang pedang dengan kebutan topinya, ketika secara mendadak ada angin menyambar keras sekali dari arah depan. Belum tiba pukulannya, anginnya sudah datang menghantam dengan hawa amat panas! Kagetlah ia mengenal pukulan ampuh ini. Cepat ia menangkis dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan yang memegang topi juga digerakkan menampar atau mengebut ke arah tiga batang pedang yang menyambar ke arahnya.

“Wuuuuttt… plakkk…!” Karena Yu Siang Ki membagi tenaga sinkangnya untuk mengebut pedang dan menangkis, maka tangkisannya itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaganya. Ia tidak menduga bahwa pemuda bangsawan itu dapat melakukan pukulan yang demikian ganas dan kuat, maka ketika kedua lengan bertemu Yu Siang Ki merasa betapa serangkum hawa panas menembus sampai ke dadanya dan ia terhuyung-huyung dengan wajah pucat!

Suma Kiat tertawa mengejek dan sudah menyambar lagi ke depan, mengirim pukulan lebih ganas kepada Siang Ki yang sedang terhuyung-huyung ke belakang.

“Suheng… mundur kau…!”

Suma Kiat melihat sinar hijau berkelebat dan tahulah ia bahwa Siang-bhok-kiam di tangan sumoi-nya telah mengancam pundaknya. Namun ia tidak percaya bahwa sumoi-nya akan berani atau mau melukainya, maka ia tidak ambil peduli dan melanjutkan pukulannya ke arah Siang Ki.

“Brettt…! Aduhhh…! Heeee, Sumoi, gilakah engkau? Berani kau melukai aku?!” bentak Suma Kiat. Pundak kirinya mengucurkan darah karena tepi pundak telah tertusuk pedang merobek baju dan kulit dagingnya. Ia menutupi luka di pundak kiri dengan tangan kanan, memandang sumoi-nya dengan mata terbelalak heran. Sungguh di luar dugaannya bahwa sumoi-nya benar-benar berani melukai pundaknya, dan hal ini dilakukan hanya untuk membela seorang… pengemis!

Dengan pedang di tangan dan muka merah saking marahnya, Kwi Lan menjawab dan menentang pandang mata suheng-nya. “Suheng! Perempuan-perempuan itu telah menghinaku dan Yu-pangcu ini telah membelaku karena di antara kami ada tali persahabatan yang erat. Akan tetapi engkau malah membela perempuan-perempuan tak tahu malu ini dan hendak mencelakainya. Aku sudah minta kau mundur, tapi kau memaksa maju sehingga terluka oleh pedangku. Pendeknya, siapa pun juga tidak boleh mencelakakannya!” Sikap Kwi Lan garang sekali, pedangnya melintang di depan dada.

“Ha-ha-ha, sungguh lucu! Sumoi jadi kau sekarang telah menjadi inang pengasuh jembel cilik ini? Menjadi pelindung pengemis kelaparan ini?”

Siang Ki telah menyambar tongkatnya yang tadi ia sandarkan di meja. Gerakannya cepat sekali dan kini ia sudah berdiri di depan Kwi Lan, memandang Suma Kiat dengan pandang mata penuh wibawa, suaranya nyaring ketika berkata, “Sungguh omongan yang tidak patut keluar dari mulut seorang gagah. Lebih tidak patut lagi keluar dari mulut Suheng dari Kam-lihiap! Aku Yu Siang Ki tidak pernah minta dilindungi Kam- lihiap dan jangan kira bahwa aku takut menghadapi engkau, Suma-kongcu.”

Suma Kiat marah sekali, akan tetapi melihat sumoi-nya masih berdiri dengan pedang di tangan, ia ragu- ragu untuk bergerak maju. Ia sudah cukup mengenal watak sumoi-nya yang ganas dan diam-diam ia pun maklum bahwa sekali sumoi-nya marah dan melawannya, belum tentu ia mampu mengalahkan sumoi-nya itu. Dan kini jelas tampak sikap sumoi-nya itu membela si Pengemis ini!

Pada saat yang menegangkan itu, di mana kedua pihak agaknya siap untuk bertanding dan selagi semua tamu memandang penuh perhatian dan ketegangan, tiba-tiba terdengar suara yang halus namun nyaring berwibawa.

“Hemm, apakah yang terjadi di sini?”

Semua orang menengok dan dari dalam gedung itu muncul seorang pemuda tinggi tegap yang berpakaian putih dan di punggungnya tampak sebuah yang-khim yang bentuknya seperti kepala naga. Pemuda ini bukan lain adalah Kiang Liong! Dan di samping pemuda itu berjalan seorang gadis cantik jelita berpakaian indah dan gadis ini adalah Puteri Mimi!

Bagaimanakah Kiang Liong bisa muncul pada saat itu dan mengapa pula bersama Puteri Mimi? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita mengikuti perjalanan Kiang Liong agar jalannya cerita menjadi lancar.

********************

Seperti telah kita ketahui, pemuda murid Suling Emas ini telah berhasil diobati dan diselamatkan oleh Song Goat yang cantik manis. Setelah tubuh Kiang Liong ‘direbus’ dalam air yang dimasuki obat, air dalam tahang berubah hitam dan tubuh bagian bawah berubah putih dan normal kembali.

Untung bahwa pengobatan ini telah selesai dan berhasil dengan baik ketika Song Goat mendengar suara hiruk-pikuk di luar kedai. Melihat betapa pemilik kedai dan penduduk dusun itu hendak menyerbu masuk dan mendengar betapa ia disangka siluman, Song Goat tertawa lalu berkata, “Kongcu, sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Kasihan mereka itu yang bodoh.”

Kiang Liong membelakangi gadis itu dan mengenakan pakaiannya, kemudian baru ia menghadapi Song Goat dan menjura sampai dalam. “Nona Song, kau telah menyelamatkan nyawaku. Aku Kiang Liong selama hidupku takkan melupakanmu dan amat berterima kasih kepadamu. Orang-orang itu benar kurang ajar, berani menganggap Nona sebagai siluman. Terlalu! Biar kuhajar mereka agar kapok!”

“Ah, mengapa kau berpemandangan sepicik itu, Kongcu. Mereka adalah orang-orang yang jalan pikirannya amat sederhana dan bodoh percaya akan tahyul. Kita tidak semestinya marah kepada mereka, sebaliknya aku kasihan kepada mereka. Kongcu, hanya orang-orang yang berpikiran sederhana dan bodoh sajalah yang masih dapat diharapkan kebaikannya di dunia yang penuh orang pintar ini. Orang yang sederhana memang bodoh, akan tetapi jujur dan setia, tidak seperti orang-orang pintar yang terlalu pintar sampai lupa akan kejujuran dan kesetiaan! Marilah kita pergi!” Suara gadis itu terdengar penuh kedukaan dan ia sudah berkelebat ke luar melalui jendela.

Sejenak Kiang Liong tertegun. Ia banyak mempelajari filsafat dan pelajaran keagamaan, maka mendengar ucapan gadis itu ia tertegun. Gadis yang cantik manis, gadis yang berbudi, gadis yang patah hati! Tanpa berkata sesuatu, setelah menyambar sepasang pit dan yang-khim-nya, ia pun melompat ke luar jendela menyusul Song Goat.

Mereka berdua berlari cepat tanpa bicara. Berapa kali Kiang Liong melirik ke arah gadis itu dan melihat betapa wajah yang cantik itu terselubung kekeruhan tanda bahwa hati gadis itu berduka. Ia merasa heran sekali dan setelah mereka berlari jauh dari dusun, mendaki sebuah bukit dan melalui padang rumput yang luas. Kiang Liong tak dapat menahan kesunyian di antara mereka.

“Nona Song, harap berhenti dulu.”

Song Goat mengerling kepadanya lalu berhenti. Mereka, tanpa bicara menghampiri sebuah pohon besar di tepi jalan. Tempat itu teduh dan amat sejuk hawanya. Enak duduk di bawah pohon teduh ini setelah berlari di bawah sinar matahari yang sudah naik tinggi.

Mereka duduk berhadapan, di atas akar-akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan tanah. Masih tidak bicara. Song Goat menyapu dengan pandang matanya ke depan. Melihat pemuda itu memandangnya penuh selidik, kedua pipinya menjadi kemerahan dan menunduk. Kemudian tanpa mengangkat mukanya ia bertanya.

“Kongcu, mengapa kau menyuruh aku berhenti?”

Kiang Liong tersenyum. Makin tertarik hatinya ketika ia menatap wajah yang tunduk itu. Dara cantik manis, memiliki hati yang baik akan tetapi patah-patah dan… pemalu! Berdebar jantungnya, timbul rasa kasih dan suka di hatinya.

“Nona Song, aku hanya ingin bercakap-cakap denganmu.”

Kini Song Goat mengangkat mukanya dan cepat-cepat ia menundukkan pandang matanya ke tanah ketika melihat sinar mata tajam yang seolah-olah hendak menjenguk isi hatinya. “Bicara tentang apakah, Kongcu? Engkau sudah sembuh, dan engkau dapat melanjutkan perjalananmu. Jalan kita bersimpangan…”

“Ah, Song-kouwnio, apakah kau menganggap aku seorang yang demikian rendah dan tidak ingat budi? Kau sudah merenggut nyawaku dari cengkeraman maut. Engkau telah menyelamatkan aku dan sampai mati sekali pun, budimu yang besar tidak akan dapat kulupakan. Betapa mungkin akan kutinggalkan kau begitu saja setelah kini kau menyelamatkan aku? Tidak, aku tidak serendah itu, Nona. Pohon-pohon yang disiram, dipupuk dan dirawat akan membalas dengan bunga-bunga indah dan buah-buah lezat. Kuda dan anjing yang dipelihara akan membalas dengan kesetiaan. Mana aku Kiang Liong kalah oleh pohon atau binatang?”

Mau tidak mau Song Goat tersenyum kecil. Benar-benar pemuda yang pandai merayu hati pikirnya. Hati siapa tidak merasa nikmat mendengar ucapan seperti itu? Pemuda yang berkepandaian amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada dia sendiri, bahkan lebih tinggi dari pada tingkat ayahnya mau pun semua tokoh yang pernah dijumpainya. Makin keras debar jantung Song Goat ketika ia mengangkat muka. Mereka bertemu pandang. Pandang mata pemuda itu amat tajam, halus, dan mesra. Bagaikan sinar matahari, hangat- hangat menembus jantung gadis itu.

“Kiang-kongcu, kalau engkau mau berterima kasih, harus kepada Ayah, karena sedikit kepandaian pengobatan ini kudapat dari Ayah…“

“Ah, benar! Betapa kurang hormat aku kepada Song-locianpwe. Di manakah adanya ayahmu, Nona? Bawalah aku kepadanya agar aku dapat menghaturkan terima kasihku.”

Tiba-tiba Song Goat yang duduk bersandar pohon itu membungkukkan punggung, menyembunyikan muka di kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Sikap pemuda yang amat halus dan mengenal budi ini, pertanyaannya yang mengingatkan ia kepada ayahnya, menyeretnya kembali kepada peristiwa yang amat menyakitkan hatinya, bergema kembali ditelinganya suara Yu Siang Ki tunangannya yang secara berterang menyatakan pembelaan dan cinta kasihnya kepada Kwi Lan. Rasa sakit hati yang ditahan-tahan, ditekan- tekan dan dibendungnya selama ini sekarang pecah oleh pertanyaan dan sikap Kiang Liong, pecah dan membanjir sebagai tangis yang membuat air matanya berderai melalui celah-celah jari tangannya yang menutupi muka.

Sebuah lengan yang kuat melingkar punggungnya dengan halus penuh hiburan. Bisikan suara yang halus terdengar dekat telinganya. “Kouwnio, mengapa berduka? Mengapa menangis? Hanya manusia kejam berhati iblis saja yang tega membuatmu berduka. Ceritakanlah kepadaku, Nona, dewi penolongku, dan aku sudah siap dengan jiwa ragaku untuk membantumu.”

Sentuhan jari tangan yang halus menghibur, bisikan yang mengandung ucapan manis ini seakan-akan menjebolkan bendungan terakhir sehingga membanjirlah air mata dari sepasang mata yang sayu itu. Terisak-isak Song Goat menangis dan tanpa ia sadari lagi kini menyandarkan kepala di dada Kiang Liong, dan baju pemuda itu sampai basah semua oleh air matanya!

Kiang Liong yang banyak mengenal watak wanita tidak mengganggunya dan membiarkan gadis itu menangis tersedu-sedu. Tangis adalah obat terbaik untuk menguras semua duka dan dendam yang meracuni hati. Dengan penuh kasih sayang ia mengelus-elus rambut yang halus itu, bahkan perlahan- lahan ia menundukkan muka dan mencium ubun-ubun kepala dengan rambut halus dan harum itu sambil memejamkan matanya. Gadis yang luar biasa dan pantas dicinta sepenuh hati, pikirnya. Akan tetapi ia berlaku hati-hati agar gadis itu tidak merasa terhina. Kiang Liong seorang pemuda romantis, mudah terjaring cinta, namun ia bukan seorang kasar.

Akhirnya reda juga banjir kedukaan yang menggelora di hati Song Goat. Seperti seorang terbangun dari mimpi, gadis itu baru sadar bahwa ia merebahkan diri di atas dada yang bidang itu, baru sadar bahwa ia berada di dalam pelukan Kiang Liong, bahkan membatas pelukannya, dan baru tampak olehnya betapa baju yang menutupi dada pemuda itu sudah basah semua oleh air matanya.

“Aiihhh…“ Ia merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan, lalu duduk menjatuhkan diri. “Kenapa, Nona?” Kiang Liong bertanya, tersenyum ramah.
Dua pasang mata bertemu pandang, kasih sayang dan kemesraan dalam pandang mata Kiang Liong itu mendatangkan rasa jengah yang mendalam sehingga akhirnya Song Goat menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

“Ahh, Kiang-kongcu, maafkan… maafkan aku… yang lupa diri…“

“Tidak ada yang perlu dimaafkan Nona. Aku akan merasa bahagia sekali kalau dapat menolongmu. Ceritakanlah, apa yang membuat kau begini berduka dan sakit hati?”

Song Goat merenungi tanah di depan kakinya menarik napas panjang kemudian hanya menggeleng kepala tanpa jawaban.

Kiang Liong meraih maju dan memegang tangan yang dingin dan halus itu. Dikepalnya jari-jari tangan Song Goat dan diguncangnya sambil berkata. “Nona Song, aku berterima kasih kepadamu, aku kagum dan suka kepadamu. Apakah kau masih tidak percaya padaku?”

Song Goat mengangkat mukanya yang berlinang air mata dan kembali dua pasang mata bertemu pandang. Melihat betapa wajah yang tampan itu dengan penuh kejujuran dan kemesraan memandangnya, Song Goat berdebar jantungnya. Tanpa ia sadari jari-jari tangannya bergerak dan membalas tekanan Kiang Liong. Alangkah mudahnya menjatuhkan hati kepada pemuda seperti ini. Alangkah mudahnya menyerahkan jiwa raga kepada pemuda seperti ini, kalau saja… kalau saja…

Song Goat cepat mengusir perasaan ini dan rasa malu membuat leher dan mukanya menjadi merah dan panas, kemudian ia menarik tangannya perlahan-lahan. Kiang Liong melepaskan tangan itu, tidak mau memaksanya sungguh pun ia tahu betapa tangan kecil itu tadi membalas remasannya sebagai jawaban suara hati.

“Nona Song, siapa yang menyakitkan hatimu? Dan di mana adanya ayahmu, Song-locianpwe?” Dengan muka tunduk Song Goat menjawab lirih. “Aku… meninggalkan Ayahku…!”
“Kenapa? Di mana dia?”

Kembali Song Goat menghela napas dan kini ia mengangkat muka. Mereka berpandangan dan Song Goat lalu berkata, “Kiang-kongcu, urusan ini sebenarnya merupakan rahasia pribadi, akan tetapi… biarlah kau menjadi satu-satunya orang yang akan mendengarnya. Aku percaya kepadamu… dan biarlah kau seorang yang menjadi penumpahan rasa duka hatiku, karena kalau hal ini tidak kutumpahkan, tentu akan meracuni hatiku. Kiang-kongcu, aku… aku telah dihina dan dikhianati… tunanganku sendiri.”

Kiang Liong mengerutkan alisnya yang hitam tebal. “Hemm? Apakah dia seorang yang buta? Kalau tidak buta matanya, tentu buta hatinya sehingga ia tega berbuat keji terhadapmu. Siapa dia, Nona?”

Dengan suara lirih Song Goat lalu menceritakan betapa sejak kecil ia telah dijodohkan oleh ayah dan sahabat ayahnya, dijodohkan dengan putera sahabat ayahnya itu. Belasan tahun ia ikut merantau mencari tunangannya, kemudian menceritakan betapa ia dan ayahnya berhasil menolong tunangannya, kemudian betapa tunangannya itu di depannya menyatakan cinta kasihnya kepada seorang gadis lain sehingga ia menjadi malu dan kecewa lalu melarikan diri.

Kiang Liong mendengarkan dengan sabar dan tidak pernah mengganggunya, akan tetapi setelah selesai cerita gadis itu, ia bertanya, suaranya mengandung ketegangan. “Nona Song, kau bilang nama tunanganmu itu Yu Siang Ki, Pangcu dari Khong-sim Kai-pang? Apakah dia seorang pengemis muda yang bertopi lebar terhias bunga dan memegang tongkat. Wajahnya tampan tubuhnya tinggi?”

Song Goat mengangguk. “Apakah Kongcu sudah mengenal dia?”

“Hemm, kenal baik sih tidak, akan tetapi aku pernah mendengar namanya. Dia seorang pemuda yang gagah perkasa dan baik, mengapa tega melakukan kekejian kepadamu? Dan siapakah wanita yang dicintanya?”

“Seorang gadis yang hebat, julukannya Mutiara Hitam, namanya Kam Kwi Lan…”

“Ahhhh…! Dia…?” Terbayang di depan mata Kiang Liong seorang gadis yang cantik jelita, lincah dan ganas, dan ia kini tidak merasa heran bahwa tunangan gadis ini telah jatuh cinta kepada Mutiara Hitam. Memang gadis itu terlalu hebat untuk dijadikan sahabat biasa. Pemuda jenaka bernama Tang Hauw Lam yang ia jumpai bersama Mutiara Hitam dahulu itu pun sudah tergila-gila kepada Mutiara Hitam!

“Eh, kau sudah mengenal pula Adik Kwi Lan, Kongcu?”

“Hemm, kenal sih tidak. Dia gadis aneh dan binal. Akan tetapi pernah aku bertemu dengannya. Memang dia cantik dan lihai, akan tetapi tunanganmu itu sungguh tak tahu diri, tidak mengenal budi dan tidak bijaksana kalau dia melukai hatimu dengan pernyataan cintanya kepada wanita lain di depanmu.”

Song Goat menarik napas panjang. “Tak dapat kupersalahkan dia, Kongcu. Dia menyatakan cinta kasih kepada Adik Kwi Lan tanpa ia ketahui bahwa ia telah ditunangkan dengan aku. Dan dia menyatakan cinta kasih itu dalam keadaan terdesak untuk menolong keselamatan Adik Kwi Lan.” Song Goat lalu menceritakan tentang munculnya seorang wanita aneh berkerudung yang ternyata adalah guru Mutiara Hitam dan betapa Yu Siang Ki mengaku cinta kepada Kwi Lan dalam pembelaannya ketika melihat Kwi Lan terancam maut di tangan gurunya sendiri.

Mendengar semua ini Kiang Liong mengangguk-angguk.

“Setelah mendengarkan pengakuan itu, bagaimana aku mempunyai muka untuk bertemu kembali dengan dia, Kongcu? Apa lagi harus bicara tentang jodoh! Jalan satu-satunya untuk menghindarkan diri dari rasa terhina dan malu hanyalah melarikan diri seperti yang kulakukan sekarang.”

Kiang Liong maklum akan keadaan gadis ini yang ruwet dan ia merasa kasihan sekali. Tiba-tiba ia memegang tangan yang kecil itu. Sejenak tangan itu gemetar seperti seekor anak ayam dalam genggaman, akan tetapi tidak ditarik lepas.

“Nona, apakah kau mencinta Yu Siang Ki?”

Dua pasang mata bertemu. Song Goat meragu, lalu menggeleng kepala, menunduk dan menarik tangannya. “Aku… aku tidak tahu… dia memang gagah dan baik, akan tetapi aku baru saja bertemu dengannya…, dan… mendengar pengakuannya terhadap Kwi Lan, rasanya… rasanya aku tidak mencintanya…“

Kembali tangan kanan Song Goat dipegang dan diremas tangan Kiang Liong yang menggeser dekat. “Dewiku, kalau begitu mengapa berduka? Kalau pengemis bodoh itu tidak dapat menghargaimu dan kau pun tidak mencintanya, mengapa harus berduka? Engkau sebaliknya harus bersyukur telah terbebas dari padanya. Terus terang saja, aku bersedia sepenuh hati, sepenuh jiwa ragaku untuk mencintamu, dan cinta kasihku akan jauh melampaui cinta kasih pengemis bodoh itu!”

Mendengar ucapan ini Song Goat memejamkan matanya dan air matanya berlinang di atas pipi. Ia seperti mabok dan mandah saja ketika Kiang Liong menariknya, memeluknya erat-erat, bahkan ia hanya meramkan mata ketika pemuda itu mengecupi air mata dari kedua pipinya. Ia merasa seolah-olah diterbangkan ke angkasa dan terayun-ayun nikmat, merasa aman sentosa dalam pelukan sepasang lengan yang kuat itu, bisikan-bisikan merdu merayu dari mulut Kiang Liong bagaikan nyanyian dewata. Sejenak ia hampir lupa diri, hampir mabok madu asmara.

Akan tetapi ketika merasa betapa bibir pemuda itu dengan penuh kasih sayang dan mesra mendekati dan menyentuh bibirnya, ia terhenyak kaget dan menggerakkan kedua lengannya yang tadi merangkul leher pemuda itu untuk mendorong dada Kiang Liong, merenggutkan dirinya terlepas dan meloncat berdiri. Mukanya pucat sekali dan kedua kakinya menggigil.

“Tidak…! Tidak…!” keluhnya berkali-kali.

Kiang Liong juga meloncat berdiri di depan gadis itu, memandang penuh pertanyaan. Akan tetapi ia tidak mau memaksa dan hanya memandang penuh selidik. Melihat pandang mata ini, Song Goat merasa bersalah. Dia tadi seperti hendak menyerahkan diri, kini merenggut lepas, seolah-olah ia mempermainkan cinta kasih orang!

“Kiang-kongcu, kau maafkan aku. Sesungguhnya, akan merupakan kehormatan dan kebahagiaan besar sekali bagi seorang dara bodoh dan buruk lagi miskin seperti aku ini untuk mendapatkan cinta kasih seorang Kongcu sepertimu. Ah, betapa aku akan dapat menolak cinta kasihmu, Kongcu? Aku akan bahagia sekali!”

Kiang Liong tersenyum dan hendak meraih dan memeluk gadis itu lagi, akan tetapi Song Goat mengelak dan cepat-cepat menyambung kata-katanya. “Akan tetapi… jelek-jelek aku bukanlah seorang yang tidak memiliki kesetiaan seperti Yu Siang Ki. Aku tidak mau menjadi seorang anak murtad dan tidak berbakti. Aku tidak mau memutuskan tali perjodohan yang sudah dipastikan oleh orang tuaku semenjak aku kecil. Sejak dahulu aku sudah menganggap diriku menjadi isteri Yu Siang Ki dan kalau dia sekarang memutuskan tali perjodohan, tiada lain jalan bagiku kecuali masuk menjadi nikouw (pendeta wanita)!”

“Moi-moi…!”

“Tidak, jangan sentuh aku lagi, Kongcu! Ingat, aku calon isteri orang lain! Engkau seorang pendekar muda yang sudah terkenal dan aku yakin seorang pendekar akan menjunjung tinggi kesusilaan dan menjaga peraturan. Engkau budiman, lebih baik tunjukkan kepadaku kelenteng yang baik untuk aku mengabdi kepada agama.” Song Goat menghapus air matanya yang kembali berderai itu dengan ujung bajunya.

Kiang Liong menghela napas panjang, hatinya terharu. Bukan wataknya untuk memaksakan cintanya terhadap wanita, maka ia lalu berkata, “Nona Song, aku mengerti akan pendirianmu. Baiklah, Kuil Pek-lian- si di lereng Bukit Cin-ling-san diketuai oleh Fang-nikouw yang menjadi sahabat baikku. Kau dapat datang ke sana dan menjadi murid Fang-nikouw mempelajari keagamaan, akan tetapi kau berjanjilah bahwa sebelum satu tahun, engkau tidak akan menjadi nikouw. Aku akan menemui Yu Siang Ki dan kalau dalam satu tahun dia tidak mencarimu, anggap saja usahaku gagal dan sesukamulah kalau kau hendak menjadi nikouw. Kau serahkan suratku kepada Fang-nikouw.”

Pemuda itu lalu mengeluarkan pena bulunya, mengambil sehelai sapu tangan putih dan menggunakan getah pohon sebagai tinta, mencorat-coret beberapa belas huruf di atas sapu tangan lalu memberikannya kepada Song Goat.

“Terima kasih, Kongcu. Engkau baik sekali. Selama hidupku, aku tidak akan melupakan budimu.”

“Aihhh, Song-moi, engkau benar-benar membikin hatiku terasa perih. Akan tetapi apa boleh buat, urusanmu memang ruwet. Kau berjanjilah akan menanti sampai satu tahun.”

“Baiklah, Kongcu, dan selamat berpisah. Semoga Thian memberkahimu.”

Dengan pandang mata sayu Kiang Liong melihat gadis itu pergi. Banyak sudah ia mengenal gadis cantik, akan tetapi baru Song Goat ini yang mendatangkan rasa iba besar di hatinya. Kemudian, setelah bayangan gadis itu lenyap, ia pun melanjutkan perjalanan.

Tentu saja ia menuju pulang ke kota raja karena ia menghadapi urusan besar. Ia harus melapor sendiri kepada Kaisar agar Kerajaan Sung dapat bersiap-siap menghadapi ancaman bangsa Hsi-hsia yang makin mengganas. Di sepanjang perjalanan, hanya dua wajah yang selalu terbayang di depan matanya. Wajah Po Leng In dan wajah Song Goat. Dua orang gadis yang amat berbeda wataknya, akan tetapi yang kedua- duanya telah melepas budi kepadanya.

 

Senja telah mendatang ketika Kiang Liong tiba di lembah Sungai Kuning, di kaki Bukit Fu-niu-san di sebelah selatan kota raja. Ia mempercepat larinya karena tidak ingin kemalaman di jalan, ingin bermalam di sebuah dusun yang ia tahu berada di depan, kurang lebih dua puluh li lagi jauhnya.

Akan tetapi perhatiannya tertarik oleh keributan yang terjadi di pinggir hutan di sebelah depan. Dari jauh sudah kelihatan bahwa di pinggir hutan itu terjadi perang kecil yang dilakukan oleh empat lima puluh orang. Hatinya berdebar keras. Dari jauh tampak bahwa yang bertanding adalah orang-orang Hsi-hsia, hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa hwesio jubah merah yang bergerak cepat dan tangkas. Sedangkan pihak lawan adalah orang-orang berseragam, seperti pasukan yang pada saat itu keadaannya terdesak karena selain kalah banyak, juga kelihatan para hwesio jubah merah itu membuat mereka repot mempertahankan diri.

Kiang Liong menjadi cemas sekali. Adakah pasukan Hsi-hsia sudah mulai menyerbu dan berada begini dekat dari kota raja? Adakah pasukan yang terancam itu pasukan pengawal dari kota raja? Dari jauh tidak tampak jelas, maka ia segera mempercepat larinya menuju ke tempat pertempuran.

Setelah dekat, ia terheran-heran. Kiranya pasukan yang terdiri dari belasan orang itu adalah orang-orang Khitan! Beberapa orang Khitan sudah menggeletak mandi darah dan belasan orang sisanya melakukan perlawanan mati-matian. Orang-orang Khitan ini tidak pandai silat, akan tetapi mereka biasa bertempur dan memiliki keberanian serta kenekatan yang amat besar. Namun orang-orang Hsi-hsia di bawah pimpinan lima orang hwesio jubah merah itu terlampau kuat bagi orang-orang Khitan ini. Dan yang mengagumkan hati Kiang Liong adalah ketika ia melihat seorang gadis remaja mengamuk melawan dua orang hwesio jubah merah.

Bukan main gadis remaja ini. Cantik jelita, memiliki kecantikan khas Khitan yang berbeda dengan kecantikan orang-orang daerah Tionggoan, memakai pakaian serba indah dan hebatnya, permainan pedang gadis itu jelas merupakan ilmu pedang yang bertingkat tinggi! Sayangnya gadis itu agaknya belum banyak pengalaman bertanding, karena kalau ia lebih berpengalaman, Kiang Liong yakin bahwa dua orang hwesio jubah merah ini tentu takkan dapat bertahan lama.

Apa lagi ia telah mengenal bahwa pasukan itu adalah pasukan Khitan yang pada waktu itu merupakan bangsa sahabat. Andai kata pasukan tak dikenal sekali pun, tentu Kiang Liong tidak ragu-ragu untuk membantunya melawan orang-orang Hsi-hsia dan hwesio-hwesio anak buah Bouw Lek Couwsu ini. Terutama sekali melihat gadis cantik jelita itu, hatinya kagum dan ingin berkenalan. Amatlah baik kesempatan itu. Kalau dia membantunya merobohkan musuh-musuh gadis itu, tentu mereka akan dapat berkenalan dengan baik!

Akan tetapi gadis itu tidak membutuhkan bantuan pada saat itu karena permainan pedangnya dapat mengatasi dua orang pengeroyoknya. Yang amat membutuhkan bantuan adalah pasukan Khitan itu, maka tanpa banyak cakap lagi ia melompat maju, menyerbu dengan cepat. Bagaikan seekor burung rajawali menyerbu serombongan tikus saja, begitu kaki tangannya bergerak, empat orang Hsi-hsia memekik dan roboh terguling.

Seketika berubah keadaan perang kecil itu. Apa lagi ketika hwesio-hwesio jubah merah itu memandang dan mengenal Kiang Liong, mereka menjadi gentar sekali. Kiang Liong terus menerjang dan dalam waktu singkat saja, belasan orang Hsi-hsia sudah roboh terguling. Para prajurit pengawal bangsa Khitan timbul semangat mereka melihat bala bantuan yang lihai ini. Mereka mengeluarkan pekik kemenangan lalu menyerbu makin hebat. Orang-orang Hsi-hsia mawut, sebagian roboh binasa, yang lain melarikan diri. Lima orang pendeta jubah merah yang memimpin mereka, termasuk yang mengeroyok dara jelita tadi, sudah lebih dulu melarikan diri masuk ke dalam hutan dan berlindung pada kegelapan malam yang mulai timbul.

“Cianbu (Kapten), syukur kau dan pasukanmu tiba tepat pada saatnya, kalau tidak tentu aku sudah mereka tawan!” Dara remaja itu berkata sambil menyarungkan pedangnya, wajahnya sedikit pun tidak membayangkan kecemasan atau kekagetan sungguh pun ia baru saja terlepas dari pada bahaya besar.

Kapten yang memimpln pasukan pengawal itu memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam di depan dara itu dan meletakkan tangan kanan di depan dada, kemudian berkata. “Rasa syukur dan terima kasih sepatutnya diberikan kepada Kiang-kongcu ini, karena kalau Kiang-kongcu tidak datang tepat pada saatnya, bukan hanya hamba sepasukan akan terbasmi, juga Paduka Puteri tidak akan tertolong,” berkata demikian, kepala pengawal itu menunjuk ke arah Kiang Liong.

Hal ini tidak mengherankan hati Kiang Liong. Ia tahu bahwa Kerajaan Khitan mempunyai banyak mata- mata dan tentu saja namanya sudah dikenal baik oleh para perwira Khitan, bahkan wakil-wakil Kerajaan Khitan yang berada di kota raja merupakan seorang di antara sahabat-sahabatnya. Ia hanya kaget mendengar betapa dara itu disebut Paduka Puteri oleh si Kapten, maka ia menduga-duga siapa gerangan puteri jelita ini.

“Cianbu terlalu memuji…,“ Kiang Liong berkata sambil menjura di depan dara itu yang memandangnya dengan sepasang mata bintang.

“Ah, kiranya engkau ialah Kiang-kongcu yang dikatakan murid… Suling Emas….?”

Di dalam hatinya Kiang Liong merasa bangga. Kenyataan bahwa dia murid Suling Emas tidak membanggakan hatinya kalau yang memujinya orang biasa, akan tetapi keluar dari sepasang bibir yang indah ini…!

“Saya orang she Kiang hanya seorang bodoh dan hanya dapat sedikit mempelajari ilmu guru saya yang mulia.” katanya merendah.

Dara itu tersenyum, pandang matanya melamun. “Sudah sering aku mendengar dari Ayahku tentang kesaktian Paman Suling Emas. Aku pun pernah mendengar penuturan Pangeran Mahkota tentang dirimu, juga Ayah mengenal namamu.”

Kiang Liong memandang wajah ayu itu, mengingat-ingat. Kemudian ia teringat akan cerita bahwa Panglima Besar Kerajaan Khitan yang ia kenal, yaitu Panglima Kayabu yang gagah perkasa dan pandai mengatur barisan, mempunyai seorang puteri yang cantik jelita dan pandai ilmu silat.

“Ah, kiranya saya berhadapan dengan Puteri Mimi, puteri dari Panglima Kayabu yang terhormat?”

Puteri Mimi tersenyum, giginya berkilat putih dan indah seperti mutiara disusun dan senyumnya seakan- akan menerangi cuaca yang sudah mulai gelap itu. “Dugaanmu benar, Kongcu. Dan hal ini membuktikan ketajaman matamu dan kecerdikanmu, belum pernah jumpa dapat menduga tepat.” Kemudian puteri jelita itu memandang kepala pengawal dan berkata.

“Cianbu, bagaimana kau dan pasukanmu dapat muncul secara kebetulan? Ataukah memang kau sengaja mengikuti perjalananku?” Pertanyaan terakhir ini mengandung penasaran dan kemarahan.

Kepala pengawal itu kembali memberi hormat seperti tadi, menjura dalam-dalam, baru menjawab. Jawabannya singkat sekali dan tegas seperti kalau ia membuat laporan kepada atasannya. “Hamba mendapat pelaporan rahasia dari para penyelidik bahwa Pangeran Mahkota telah ditawan pimpinan Hsi- hsia. Hamba memimpin pasukan mengejar Paduka karena khawatir akan terjadi hal serupa.”

“Apa…? Pangeran Talibu tertawan…?” Puteri Mimi menjadi kaget sekali. “Mengapa orang-orang Hsi-hsia menawan Pangeran? Dan dibawa ke mana?” Wajah puteri ini sekarang menjadi pucat dan ia cemas sekali.

Kepala pengawal itu menggeleng kepala. “Mengapa Pangeran ditawan belum dapat hamba ketahui, hal itu sedang diselidiki. Dan hamba hanya tahu bahwa Pangeran ditawan di luar kota Lok-yang, juga belum diketahui dibawa ke mana. Orang-orang kita sedang sibuk mencari dan menyelidik, dan tentu saja kita amat mengharapkan bantuan Kerajaan Sung…” Ia menoleh ke arah Kiang Liong.

“Hemm, aku agaknya tahu mengapa Pangeran Talibu ditawan orang-orang Hsi-hsia dan tentu saja kami akan membantu sekuat tenaga untuk membebaskannya karena kejadian itu terjadi di wilayah Kerajaan Sung.” kata Kiang Liong. “Harap Puteri beristirahat saja di rumahku agar terjaga keamanannya, ada pun Cianbu kuharap membantu teman-teman melakukan penyelidikan. Hanya pesanku, orang-orang Hsi-hsia dipimpin oleh Bouw Lek Couwsu dan hwesio-hwesio jubah merah. Di antara mereka banyak terdapat orang-orang pandai, maka harap jangan tergesa-gesa turun tangan. Aku yakin bahwa orang-orang Hsi-hsia tidak akan membunuh Pangeran Talibu.”

“Kiang-kongcu, agaknya kau banyak mengerti akan urusan ini. Sebetulnya mengapakah mereka menawan Pangeran?” tanya Puteri Mimi.

Kiang Liong tersenyum. “Tidak banyak waktu untuk bicara, Puteri. Marilah kita berangkat dan kelak kuceritakan kepadamu.”

Puteri Mimi lalu memberi perintah kepada kepala pengawal untuk memenuhi permintaan Kiang Liong tadi. Berangkatlah pasukan itu pergi, juga Sang Puteri lalu bersama Kiang Liong meloncat ke atas punggung dua ekor kuda yang disediakan oleh kepala pasukan.

Karena dapat menduga bahwa Bouw Lek Couwsu pada saat itu tentu telah mempunyai banyak kaki tangan yang disebar sebagai mata-mata di kota raja, maka Kiang Liong membawa Puteri Mimi memasuki kota raja lewat tengah malam. Ia sudah dikenal oleh semua penjaga pintu gerbang, maka dapat masuk tanpa kesukaran. Kemudian menjelang pagi ia memasuki gedung tempat tinggal ayahnya melalui sebuah pintu rahasia yang hanya diketahui olehnya dari belakang rumah.

Ketika ia bangun pagi itu, sudah agak siang, ia melihat bahwa di taman samping diadakan pesta. Ia membawa Puteri Mimi yang bermalam di sebuah kamar tamu kepada ayah bundanya dan dengan singkat menceritakan pengalamannya, memperkenalkan Puteri Mimi kepada orang tuanya. Sebagai seorang pangeran, tentu saja Pangeran Kiang menerima puteri Panglima Khitan itu dengan hormat dan ramah, juga ibunya amat suka kepada gadis yang cantik jelita ini. Kemudian dari ibunya ia mendengar tentang kunjungan Suma Kiat yang mengaku putera tunggal mendiang kakak ibunya, Suma Boan.

“Bagaimana ini, Ibu? Mengapa secara mendadak muncul seorang keponakan Ibu? Kenapa Ibu tidak pernah bercerita bahwa mendiang Paman Suma Boan meninggalkan seorang putera?” Kiang Liong bertanya.

“Hemm, aku pun heran sekali melihat Ibumu, Liong-ji (Anak Liong),” kata Pangeran Kiang dengan muka cemberut. “Aku pun baru sekarang mendengar akan hal itu, padahal setahuku, Pamanmu Suma Boan tidak pernah menikah dan tidak pernah punya putera. Kalau saja kau melihat ibu pemuda itu… hiihh, mengerikan sekali, seperti iblis betina.”

“Ah, terlalu sekali. Tidak sepatutnya kau mengeluarkan kata-kata seperti itu!” Suma Ceng, ibu Kiang Liong memandang suaminya dengan pandang mata penuh teguran. “Kau sendiri dahulu menjadi sahabat baik kakakku Suma Boan, apakah kau tidak melihat betapa Suma Kiat ini mirip sekali dengan Kakakku dahulu? Pula, kita pernah mendengar tentang urusannya dengan Kam Sian Eng. Memang Kam Sian Eng mengerikan, akan tetapi… ah, dia seorang yang berilmu tinggi, dan tidak waras, apa lagi dia masih adik tiri Suling Emas, apakah kau masih bersangsi?”

Makin keruh wajah Pangeran Kiang. “Huh, segala yang menyangkut nama Suling Emas selalu benar dan baik, sebaliknya pendapatku tidak pernah ada yang benar. Sialan!”

“Eh, bukan begitu. Aku hanya bicara sebenarnya dan….“

“Sudahlah!” Pangeran Kiang membanting kaki dan meninggalkan kamar.

Kiang Liong menjadi sedih dan juga malu karena ayah bundanya bertengkar di depan Puteri Mimi. Sungguh memalukan dan menyedihkan. Sudah sering kali ia mendengar ayah dan ibunya bertengkar dan selalu dalam pertengkarannya ini dibawa-bawa nama gurunya, Suling Emas. Dahulu ketika dia diambil murid Suling Emas pun menjadi bahan percekcokan antara ayah dan ibunya. Ia menghela napas panjang dan berkata.

“Sesungguhnya, bagaimanakah ia datang dan mau apa? Sekarang, eh, wanita yang menjadi ibunya itu ke mana, apakah berada di sini pula?”

Suma Ceng yang biar pun usianya sudah mendekati lima puluh masih tampak cantik dan halus itu, menarik napas panjang, memegang dan menarik tangan Puteri Mimi mendudukkan gadis itu di dekatnya sambil berkata. “Puteri harap kau maafkan kami yang tidak tahu sopan-santun. Tentu membikin kau merasa tidak enak sekali.”

Mimi biar pun masih gadis remaja, namun ia terdidik sejak kecil dan hidup di kalangan orang-orang besar, maka ia pandai membawa diri. Ia mengelus-elus tangan nyonya yang halus itu, kagum akan kecantikannya, lalu tersenyum dan berkata, “Bibi yang baik, panggil saja aku Mimi, dan sungguh mati apa yang terjadi dan terucapkan tadi, sekarang pun aku sudah lupa lagi.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo