August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 18)

 

 

Song Goat tersenyum dan dari belakang ia memandang kagum. Bukan main! Dia sendiri biar pun akan dapat bertahan dalam air mendidih, namun harus ia kerahkan seluruh lweekang-nya, menggunakan hawa sinkang di tubuh melawan panas dan untuk ini tentu saja ia tidak sanggup untuk bicara. Akan tetapi pemuda ini tidak hanya menyuruh besarkan api, malah masih dapat enak-enak bicara dan berkelakar! Pemuda hebat!

Sementara itu, pemilik kedai yang gendut dan merasa amat gelisah itu tak dapat menahan hatinya lagi dan bahkan tidak berani berada di dalam kedainya. Ia keluar dan sebentar saja banyak kenalan dan langganannya datang bertanya. Saking tak dapat menahan kegelisahannya, ia menceritakan kejadian aneh di dalam dapur kedainya dan ramailah mereka bercakap-cakap dan berbisik-bisik di luar kedai. Ibu-ibu yang mendengar bahwa ada orang merebus daging manusia, menjadi pucat dan berlarilah mereka ketakutan mencari anak-anak masing-masing, melarang mereka bermain di luar rumah dan menyembunyikan mereka ke dalam kamar. Setan pemakan daging manusia tentu lebih suka akan anak- anak yang dagingnya masih lunak!

“Tentu dia perempuan siluman rase!” bisik seorang kakek sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh keyakinan.

“Tapi… Kongcu itu menurut saja direbus,” kata si Gendut pemilik kedai.

“Uuuhh, kau tahu apa? Siluman rase tentu saja pandai ilmu hitam. Sekali senyum dan sekali kerling, laki- laki akan terpikat dan disuruh apa pun juga takkan membantah,” kata pula si Kakek yang tahu segala.

“Memang dia cantik sekali, cantik jelita dan muda dan… galak.”

“Wah, tak salah lagi. Tentu siluman rase, pandai memikat hati pria, suka makan daging manusia. Ihhh…!” kata si Kakek.

“Ihhh…!” kata yang lain.

“Celaka, dia harus dibinasakan. Mari kita serbu, jangan sampai dia lolos dan merebus anak-anak kita!” seru seorang laki-laki tinggi besar yang ingat akan dua orang anaknya yang gemuk-gemuk.

“Betul, hayo serbu!” “Cari senjata!”

“Panggil Lo-suhu di kelenteng, minta jimat!”

Ramailah kini para penduduk dusun itu dan sebentar saja mereka semua, termasuk seorang hwesio tua kurus berpakaian butut, berdiri di depan kedai dengan segala macam senjata di tangan. Ada yang membawa golok penyembelih babi, ada yang membawa palang pintu, cangkul, linggis dan sebagainya. Bahkan beberapa orang wanita yang cukup pemberani, karena mendengar bahwa setan itu setan betina, ikut pula datang membawa pisau dapur atau besi pengorek api!

Mereka bersemangat untuk menangkap siluman, akan tetapi juga ngeri dan takut karena mendengar penuturan tukang kedai betapa siluman rase itu pandai terbang menghilang! Dipimpin oleh tukang kedai yang diikuti kakek yang mengenal siluman dan hwesio yang dianggap suci serta ditakuti siluman, rombongan penduduk dusun ini memasuki kedai berindap-indap dan tak berani mengeluarkan suara. Bahkan yang nyalinya kecil dan memilih tempat di ujung belakang hampir tak berani bernapas.

Di luar pintu dapur, hwesio tua sudah mulai kemak-kemik membaca mantera dan doa pengusir setan. Mendengar suara ini semua orang meremang bulu tengkuknya, termasuk si Kakek yang mengenal siluman. Kakek ini melirik ke belakang dan melihat betapa semua mata ditujukan kepadanya, ia menahan napas dan menerobos maju ke pintu sambil membentak.

“Siluman jahat! Kami sudah mengenalmu, kau siluman rase, hayo menyerah kalau tak ingin kami bunuh!” Akan tetapi sambil maju ia menarik lengan si Hwesio karena kakek ini mempunyai keyakinan bahwa selama ia berdampingan dengan pendeta suci, siluman itu tidak akan mampu mengganggunya. Mereka kini masuk ke dalam dapur dan… semua mata melongo karena di dalam dapur itu tidak tampak seorang pun manusia!

“Eh, mana dia…?” tanya suara meragu.

Si Tukang Kedai melihat bahaya dalam suara ini, bahaya bahwa semua orang nanti akan mengira dia membohong. Maka ia lalu lari ke jendela, memandang ke luar, kemudian kembali menghampiri tahang isi air yang masih mendidih!

“Lihat…!” Suaranya gemetar, telunjuknya menggigil menuding ke arah air di dalam tahang. “Lihat air ini…!”

Semua orang memandang. Air itu kehitaman dan mendidih, akan tetapi tidak ada daging manusia seperti yang tadi diceritakan si Gendut tukang kedai. Betapa pun juga, bukti bahwa benar ada tahang air direbus dengan airnya menghitam, membuat mereka masih percaya bahwa di dalam dapur ini tadi ada siluman rase.

“Tentu ia menghilang, membawa korbannya yang sudah matang untuk dimakan dalam goa,” kata si Tukang Kedai.

“Omitohud…! Memang ada hawa busuk ditinggalkan di kamar ini…, pinceng harus membuat sembahyangan malam ini, harap saudara sekalian sudi mengumpulkan perbekalan dan keperluan sembahyang…,“ kata si Hwesio.

Terdengar semua orang mengeluarkan keluhan perlahan karena ucapan hwesio ini berarti bahwa mereka harus mengeluarkan sebagian milik mereka yang tidak banyak, menambah beban hidup mereka yang sudah berat. Akan tetapi mereka tidak berani membantah pada saat itu karena ketika mereka mencium- cium dengan hidung, memang tercium bau yang tidak enak, tanda bahwa ucapan hwesio itu benar. Dan keluarlah mereka perlahan-lahan, termasuk dia yang cepat-cepat menyelinap pergi agar tidak ketahuan rahasianya bahwa saking takutnya, ia sampai menjadi mulas secara mendadak dan tak tertahankan lagi mencret di dalam celana. Dialah pencipta bau siluman!

********************

Siang-mou Sin-ni berhasil melarikan diri ketika orang-orang Beng-kauw menyerbu markas Bouw Lek Couwsu di Kao-likung-san. Wanita ini memang licik dan cerdik. Dengan meminjam tangan Bouw Lek Couwsu dan orang Hsi-hsia, ia berhasil membinasakan ketua Beng-kauw dan juga Kam Bu Sin bersama isterinya dan banyak tokoh Beng-kauw lainnya. Kemudian, melihat keadaan bahaya, mana ia mau bersetia kawan kepada Bouw Lek Couwsu si hwesio tua itu? Apa lagi ia ingin sekali membawa lari Han Ki untuk menyempurnakan ilmunya yang baru, menyedot hawa murni dan darah bocah ini. Maka tanpa mempedulikan nasib sahabatnya itu, ia mendahului lari sambil memondong tubuh Han Ki, melarikan diri melalui belakang gunung.

Sebagai seorang yang berpengalaman, ia maklum bahwa Kauw Bian Cinjin dan orang-orang Beng-kauw lainnya tentu akan mencarinya dalam usaha mereka merampas kembali Han Ki, cucu ketua Beng-kauw. Maka ia tidak mau berhenti dan terus melakukan perjalanan melalui Sungai Yang-ce-kiang dan sampai di kaki Gunung Ta-liang-san ia mendarat, lalu membawa anak itu ke Puncak Ta-liang-san di mana ia membuat pondok bambu dalam sebuah hutan penuh bunga. Tempat ini sunyi dan indah, membuat ia merasa aman. Tak mungkin ada orang Beng-kauw yang akan menduga bahwa dia bersembunyi di Puncak Ta-liang-san. Kalau ia sudah menyempurnakan ilmu Hun-beng-to-hoat dengan mengorbankan nyawa Han Ki baru ia akan turun gunung dan hendak ia lihat siapa orangnya yang akan mampu melawannya lagi!

Han Ki biar pun masih kecil maklum akan bahaya maut yang mengancam dirinya. Akan tetapi anak ini tidak pernah menangis dan selalu membangkang tidak sudi menurut perintah Siang-mou Sin-ni. Disuruh makan ia tidak mau, diajak bicara ia memaki-maki dan setiap kali ia dibebaskan dari totokan, ia lalu mengamuk dan berusaha melawan mati-matian!

Siang-mou Sin-ni adalah seorang yang semenjak muda berkecimpung dalam dunia persilatan. Menyaksikan sikap anak kecil ini, ia merasa amat kagum di dalam hatinya. Kagum akan ketabahan yang luar biasa, akan kekerasan hati dan akan daya tahan anak ini. Akan tetapi di samping rasa kagumnya, ia pun merasa jengkel.

“Kau makanlah, apa kau ingin mati kelaparan?” bentaknya sambil menyodorkan makanan yang sudah ia campur obat karena selama beberapa pekan dalam perjalanan, tubuh anak ini menjadi agak kurus.

“Tidak sudi! Kau makanlah sendiri, iblis betina tak tahu malu!” Han Ki menjawab sambil memandang dengan mata melotot.

Sesudah begitu, mau tak mau terpaksa Siang-mou Sin-ni memaksa anak itu menelan makanan dengan menotok leher, membuat Han Ki kehilangan tenaga sehingga mudah saja mulutnya dibuka dan makanan dijejalkan masuk melalui kerongkongannya. Anak ini hanya bisa memandang penuh kemarahan.

Pagi hari itu Siang-mou Sin-ni tampak gembira di dalam pondok. Han Ki rebah miring di atas dipan. Sinar matahari pagi menyorot masuk melalui jendela pondok yang terbuka lebar. Pagi yang cerah, akan tetapi bukan ini yang membuat wajah Siang-mou Sin-ni berseri. Ia gembira melihat Han Ki sekarang tampak sehat dan segar dan pagi ini ia mengambil keputusan untuk memulai dengan I-kin-hoan-jwe, menyedot darah dan sumsum Han Ki untuk penyempurnaan ilmunya yang mukjijat, yaitu ilmu Hun-beng-to-hoat!

Sambil bersenandung kecil seperti seorang dara remaja yang bahagia, iblis betina ini mempersiapkan jarumnya yang panjang, kemudian dengan sinar mata penuh nafsu binatang, ia mulai menanggalkan pakaian Han Ki. Tubuh anak ini sungguh mengagumkan, kulitnya putih bersih dan di bawah kulit, penuh daging yang gempal dan padat. Warna kemerahan membuktikan akan kesehatan yang amat baik sehingga Siang-mou Sin-ni menjadi ngilar dibuatnya. Biar pun matanya melotot penuh perlawanan, namun Han Ki yang ditotok itu tidak mampu bergerak, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Ada juga rasa takut dan ngeri menyerang hati anak ini, namun sungguh luar biasa, anak ini dapat mengatasinya dan sama sekali tidak tampak sinar takut di wajahnya!

Han Ki rebah telentang. Matanya bersinar-sinar penuh api menatap wajah wanita itu. Kembali Siang-mou Sin-ni menjadi amat kagum. Anak ini memang hebat bukan main, memiliki ketabahan yang luar biasa. Teringatlah ia akan ayah anak ini, Kam Bu Sin, yang juga amat tabah dan betapa pun dahulu ia pernah menyiksanya.

Kam Bu Sin sama sekali tidak pernah mau menyerah tidak mau menurutkan keinginannya. Bahkan ia dahulu menggantungkan tubuh Kam Bu Sin di dahan pohon, membiarkan tubuhnya dikeroyok dan digigiti semut, namun tetap saja laki-laki gagah ini tidak mau menyerah sehingga akhirnya ia terpaksa menggunakan obat bius dan perangsang yang merampas ingatan Kam Bu Sin. Dan sekarang, anak ini memperlihatkan ketabahan dan sikap pantang menyerah yang hebatnya melebihi ayahnya!

Teringat akan ayah anak ini, makin menggelora nafsu iblis di tubuh Siang-mou Sin-ni. Pandang matanya yang penuh nafsu itu menjadi haus dan perlahan ia membalikkan tubuh Han Ki menelungkup di atas dipan. Jari-jari tangan kirinya yang panjang-panjang meraba punggung di bawah tengkuk, kemudian tangan kanannya menusukkan jarum panjang ke dalam punggung Han Ki.

Han Ki yang tak dapat bergerak itu dapat merasa nyeri dan perih di punggungnya, namun ketika ia mengerahkan tenaga untuk melawan, tenaganya tak dapat disalurkan. Anak ini lalu meramkan mata dan mengumpulkan semua semangat, berusaha mengerahkan tenaga yang berkumpul di dalam pusarnya. Ia merasa betapa di dalam pusarnya terjadi pertentangan antara panas dan dingin yang amat hebat, demikian hebatnya rasa nyeri dalam pusar, kadang-kadang seperti terbakar dan kadang-kadang seperti membeku sehingga ia tidak merasakan lagi tusukan pada punggungnya.

Siang-mou Sin-ni sudah duduk bersila di dekat Han Ki. Jarum sudah ia tusukkan sampai menembus tulang punggung. Wajahnya berkilat saking girang dan dikuasai nafsu. Ia lalu menahan napas dan menekan gelora nafsunya, menenteramkan hati dan mengendorkan semua tenaga.

Dalam melakukan I-kin-hoan-jwe ini ia harus ‘mengosongkan’ diri dan karena inilah maka ia sengaja menjejalkan obat yang sifatnya panas yang sesuai dengan keadaan dirinya sewaktu kosong sehingga tidak ada bahaya terhadap tubuh bagian dalamnya yang kosong dan tidak terlindung hawa sakti. Darah dan sum-sum yang akan disedotnya itulah yang akan menjadi ‘bahan bakar’ bagi penyempurnaan ilmunya Hun- beng-to-hoat yang sedang dilatihnya, dan kalau ia berhasil, ia akan mampu melawan orang sakti mana pun juga di dunia ini!

Setelah keadaan dirinya sudah kosong benar, Siang-mou Sin-ni lalu menundukkan tubuhnya ke depan, mulutnya menggigit ujung jarum yang menancap di punggung Han Ki lalu menghisap!

Hawa di dalam pusar Han Ki bergulung-gulung antara hawa panas dan dingin. Hawa panas luar biasa adalah akibat obat-obat Siang-mou Sin-ni yang di jejalkan kepadanya, sedangkan hawa dingin adalah akibat obat minuman Bouw Lek Couwsu yang diminumnya di dalam kamar Bouw Lek Couwsu. Sejak kecil anak ini memang sudah digembleng ayah bundanya dan telah memiliki dasar penggunaan hawa sakti di dalam tubuh.

Biar pun ia belum dapat memelihara dan menghimpun hawa sakti, namun ia tahu bagaimana cara menghimpunnya. Kini merasa betapa pusarnya bergerak-gerak dan di dalamnya bergulung-gulung hawa yang amat kuat, anak ini tidak mempedulikan lagi punggungnya dan tidak mempedulikan apa yang akan terjadi kepadanya, melainkan mencurahkan seluruh perhatiannya ke pusar dan berusaha mengerahkan tenaga untuk menguasai hawa yang bergulung-gulung itu.

Bagaikan seorang penghisap madat, Siang-mou Sin-ni menghisap jarum panjang itu. Terasa segar dan manis darah yang memasuki mulutnya. Ia menyedot makin kuat dan… jeritan ngeri keluar dari dadanya, wajahnya menjadi pucat dan matanya terbelalak. Ia begitu kaget sehingga tanpa disadari lagi ia sudah menarik mukanya ke belakang sehingga jarum yang digigit pada ujungnya itu ikut terarik, keluar dari punggung Han Ki.

Anak itu sendiri tiba-tiba dapat bergerak meloncat bangun, mukanya merah seperti dibakar, akan tetapi tubuh bagian bawah menggigil kedinginan. Seperti seorang yang mabok Han Ki memandang ke depan, melihat betapa Siang-mou Sin-ni duduk bersila dengan mata meram, muka pucat, tubuh bergoyang- goyang dan napas terengah-engah. Ketika melihat jarum panjang menggeletak di atas dipan, depan kaki Siang-mou Sin-ni yang bersila. Han Ki menjadi kalap. Ia menyambar jarum panjang itu lalu dengan gerakan penuh kebencian ia menusukkan jarum itu ke dada Siang-mou Sin-ni.

“Blessss…!” Jarum panjang itu amblas menembus dada langsung menusuk dan menembus jantung!

Siang-mou Sin-ni terbelalak kaget mengeluarkan jerit melengking tinggi, tangan kirinya bergerak menghantam ke arah dada Han Ki.

“Krakk…!” Tubuh anak itu terpental jauh, terbanting dalam keadaan pingsan dan beberapa tulang iganya patah-patah!

Namun Siang-mou Sin-ni sekarang sudah berkelojotan. Betapa pun sakti dan kuatnya, namun jarum panjang yang menembus jantungnya itu membuat ia tidak dapat menahan lagi. Dari lehernya keluar jeritan- jeritan melengking mengerikan, ia terguling dari atas dipan, berkelejotan, menjambak-jambak rambutnya, kemudian menggeliat-geliat dan akhirnya dia tak bergerak lagi. Siang-mou Sin-ni yang dahulu terkenal sebagai seorang di entara Enam Iblis, tewas di tangan seorang anak kecil berusia sebelas tahun!

Apakah yang telah terjadi? Ternyata ketika Siang-mou Sin-ni melakukan penyedotan, bukan hanya darah dan sumsum yang disedotnya, melainkan juga hawa yang bergelombang di tubuh anak itu. Dan hawa itu bukan hanya hawa panas yang amat dibutuhkan Siang-mou Sin-ni, melainkan bercampur dengan hawa dingin yang amat kuat. Hal ini sama sekali tidak diduga oleh Siang-mou Sin-ni yang sedang dimabok nafsu sehingga ia yang sedang dalam keadaan kosong, itu sekaligus terpukul hebat oleh hawa dingin yang menyerang dalam tubuhnya.

Sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, reaksi pertama dari tubuhnya tentu saja serentak bangkit dengan pengerahan sinkang dan menolak atau melawan hawa dingin ini. Dan inilah kekeliruannya yang dilakukan dalam keadaan tak sadar. Kalau ia tidak melawan ia hanya akan luka ringan oleh hawa dingin ini yang biar pun kuat, namun tidak ada pendorongnya, mengingat Han Ki belum pandai menggunakan hawa ini dan dalam keadaan tertotok pula.

Akan tetapi begitu ia melawan, ia yang tadi dalam keadaan kosong terpukul oleh pengerahan tenaganya sendiri membuat ia pening dan hampir pingsan. Bukan itu saja akibatnya, bahkan pengerahan hawa saktinya itu melalui jarum menjalar kedalam tubuh Han Ki dan seakan-akan merupakan bantuan yang tak disangka-sangka oleh anak ini. Han Ki sedang berusaha mengerahkan tenaga untuk menguasai peperangan hawa di dalam pusar. Kini tiba-tiba hawa panas memasuki tubuhnya dan tenaga ini amat kuat sehingga mendadak menerobos jalan darahnya, melenyapkan pengaruh totokan dan membuatnya dapat bergerak lagi.

Akan tetapi, pengaruh dua hawa yang berlainan tadi masih membuat ia pening dan seperti mabok. Betapa pun juga, karena dia masih kanak-kanak dan berdarah bersih, ia lebih dulu sadar dari pada Siang-mou Sin- ni dan anak kecil ini berhasil membunuh musuh besarnya dengan jarum si Iblis Betina itu sendiri! Namun karena Siang-mou Sin-ni lihai luar biasa, biar pun jantungnya sudah tertembus jarum, pukulan jari-jari tangannya masih mampu mematahkan beberapa tulang iga anak itu.

Sunyi di dalam pondok itu. Hawa pagi yang sejuk menerobos masuk diantar angin yang menggerakkan ujung atap daun di atas jendela yang terbuka. Suara burung berkicau di antara dahan-dahan pohon yang tadinya riang gembira, kini seolah-olah menjadi tangis duka, agaknya menangisi kelakuan manusia yang saling menyakiti dan saling membunuh tanpa sebab yang penting. Sinar matahari pagi yang tadinya menerobos masuk melalui jendela menjadi agak suram mengurangi seri wajah bumi yang tadinya cerah.

Akan tetapi, lengking maut yang tadi keluar dari kerongkongan Siang-mou Sin-ni dalam kemarahan, kesakitan dan pergulatan melawan maut, agaknya bukan tidak ada yang mendengar sama sekali. Kecuali burung-burung dan binatang-binatang hutan yang mendengarnya, juga terdengar oleh seorang kakek tua renta yang berjalan perlahan di dalam hutan. Kini kakek tua renta yang berpakaian serba putih bersih dan sederhana, berjenggot dan berambut panjang juga sudah putih semua dan halus seperti sutera, masih kelihatan berjalan, melangkah seenaknya. Akan tetapi yang hebat, biar pun ia kelihatan melangkah biasa, tubuhnya berkelebat laksana burung terbang saja dalam waktu singkat telah memasuki pondok yang sunyi itu.

Sejenak kakek itu berdiri memandang mayat Siang-mou Sin-ni dan tubuh Han Ki yang keduanya menggeletak tak bergerak. Kemudian kakek ini menarik napas panjang, berdongak dan mengelus jenggot putihnya sambil berbisik halus.

“Aahhhhh… yang pintar mau pun yang bodoh, yang kaya atau yang miskin, yang menang mau pun yang kalah, akan berakhir dalam keadaan yang sama. Mati! Kehidupan apakah yang takkan disusul kematian? Semua orang tahu akan saat terakhir baginya yang pasti datang menjemputnya, akan tetapi… mengapa selagi hidup banyak tingkah, tidak mengisi dengan hal yang berguna, baik, bagi orang lain mau pun bagi diri sendiri? Manusia…!” Kakek tua renta itu maju, membungkuk dan mengangkat tubuh Han Ki, memeriksanya sebentar lalu memondongnya keluar dari pondok. Ia masih melangkah biasa, namun kini lebih cepat lagi dari pada tadi, pergi menghilang ke dalam rimba. Dilihat dari belakang, tampak sebuah alat musik yang-khim butut tergantung di punggungnya.

Kakek ini bukanlah manusia biasa. Jarang sekali ada manusia dapat bertemu dengan kakek ini. Dia bukan lain adalah Bu Kek Siansu! Kakek sakti dan dianggap manusia dewa oleh dunia persilatan, yang saking tuanya tidak ada lagi yang dapat menaksir berapa usianya. Kalau Tuhan menghendaki, maka pagi hari itu Han Ki dapat tertolong oleh kakek sakti ini, seperti ayahnya pada belasan tahun yang lalu juga ditolong Bu Kek Siansu. Hanya bedanya, kalau mendiang Kam Bu Sin hanya menerima sedikit petunjuk dari kakek ini yang membuat dia menjadi seorang pendekar, adalah Kam Han Ki dibawa terus oleh Bu Kek Siansu dan sampai belasan tahun tidak seorang pun manusia tahu ke mana anak ini dibawa pergi. Maka dalam cerita ini, kita tidak akan berjumpa kembali dengan Kam Han Ki yang kelak akan muncul di dalam cerita lain.

Beberapa pekan kemudian, mayat Siang-mou Sin-ni ditemukan beberapa orang tukang kayu yang kebetulan sampai di puncak Tai-liang-san. Mereka itu segera mengubur mayat yang tinggal tulang-tulang itu. Dan sejak saat itu, Siang-mou Sin-ni lenyap dari dunia persilatan tanpa ada yang mengetahui ke mana perginya dan di mana tempat kuburnya…..

********************

Kota Lok-yang adalah sebuah kota yang besar dan ramai, terletak di sebelah barat kota raja Kerajaan Sung. Selain menjadi kota indah yang banyak dikunjungi pelancong dan pelajar dari daerah-daerah yang ingin memperdalam ilmu kesusasteraan di kota ini, juga Lokyang ramai dikunjungi pedagang. Bahkan di kota ini banyak terdapat pengunjung dari utara, yaitu bangsa-bangsa Khitan, Mongol, dan lain-lain yang datang untuk berdagang kulit dan bulu dan berbelanja kebutuhan-kebutuhan hidup yang tak dapat mereka temukan di utara. Ada pula yang datang untuk sekedar mengunjungi kota besar ini yang namanya sudah terkenal sampai ke pedalaman di utara. Tentu saja bangsa Khitan yang paling banyak datang berkunjung, karena memang pada waktu itu, Kerajaan Sung bersahabat dengan Kerajaan Khitan.

Akan tetapi pada pagi hari itu, penduduk kota Lok-yang dibikin kagum oleh sepasang orang muda yang berpakaian serba indah gemerlapan, menunggang dua ekor kuda yang besar dan diberi pakaian indah pula, dikawal oleh dua losin tentara Khitan. Si Pemuda berusia sembilan belas tahun, amat tampan dan gagah, alisnya tebal hitam, pandang matanya tajam berkilat, senyumnya manis akan tetapi penuh wibawa, pakaiannya seperti seorang panglima muda dengan pedang panjang berukir indah tergantung di pinggang. Topinya dihias naga emas berkliauan dan anehnya, di pinggang pemuda ini terselip sebatang suling!

Ada pun dara remaja yang menunggang kuda di sebelahnya amatlah menarik perhatian orang saking cantik jelitanya. Wajahnya khas orang Khitan, dengan sepasang mata lebar, senyum terbuka dan anting- antingnya besar, manis bukan main. Pinggangnya ramping, tubuhnya padat berisi dan dari cara ia menunggang kuda, jelas tampak bahwa gadis ini pun bukan orang sembarangan serta memiliki ketangkasan yang mengagumkan.

Semua orang yang melihat sepasang orang muda ini bertanya-tanya dan menduga bahwa dua orang muda itu tentulah bangsawan-bangsawan tinggi di Kerajaan Khitan. Dugaan mereka itu memang tidak keliru, akan tetapi jarang di antara mereka dapat mengenal bahwa si Pemuda itu bukan lain adalah Putera Mahkota Kerajaan Khitan, yaitu Pangeran Talibu. Ada pun dara remaja berusia tujuh belas tahun yang amat cantik jelita itu adalah Puteri Mimi. Puteri dari Panglima Kayabu yang sudah dikenal sebagai adik kandung Sang Pangeran oleh seluruh rakyat Khitan.

Semua orang Khitan tahu bahwa Putera Mahkota itu sesungguhnya adalah putera kandung Panglima Kayabu, atau kakak kandung Sang Puteri itu, yang semenjak berusia lima tahun diangkat putera oleh Sang Ratu. Akan tetapi semenjak beberapa pekan yang lalu Pangeran Talibu sendiri tidak mempunyai anggapan demikian. Ia telah mengetahui rahasia dirinya dan dengan hati girang kini ia memandang wajah Puteri Mimi yang cantik jelita, dengan pandang mata yang lain dari pada biasanya. Sikapnya lebih mesra dan sungguh pun hal ini amat mengherankan hati Mimi, namun puteri itu pun menjadi gembira karena sesungguhnya ia amat mencinta kakak kandungnya yang menjadi pangeran mahkota ini.

Talibu meninggalkan Khitan beberapa hari setelah Suling Emas pergi. Keinginannya untuk pergi ke selatan untuk mencari adik kembarnya tak dapat ditahan lagi oleh Ratu Yalina. Akhirnya berangkatlah pangeran ini bersama Mimi yang berkeras hendak ikut, dikawal oleh dua losin tentara pengawal pilihan. Ratu Yalina membolehkan puteranya pergi karena selain ia tahu akan kelihaian puteranya yang tentu dapat menjaga diri, juga karena kerajaannya bersahabat dengan Kerajaan Sung sehingga kiranya tidak ada bahaya mengancam keselamatan puteranya. Selain dikawal oleh dua losin pengawal pilihan, Mimi sendiri juga seorang puteri yang memiliki kepandaian tinggi. Biar pun perjalanan Pangeran itu tidak resmi, akan tetapi di sepanjang jalan, mereka dielu-elukan oleh penduduk dan pembesar setempat yang mengenal mereka.

Pagi hari itu rombongan Pangeran Talibu tiba di kota Lok-yang. Pangeran itu bersama Puteri Mimi menahan kuda di depan sebuah losmen yang sudah dipesan lebih dulu oleh kusir pasukan pengawal. Beberapa orang pengawal membantu dua orang muda bangsawan itu menahan kuda mereka yang besar- besar. Dengan wajah gembira Talibu melompat turun. Matanya yang berpemandangan tajam itu melihat empat orang laki-laki berpakaian pengemis yang berteduh di bawah sebuah rumah butut di pinggir losmen.

Seperti juga terdapat di lain-lain kota, di Lok-yang terdapat banyak rumah-rumah kecil butut di samping rumah-rumah besar dan megah, seperti rumah kecil dan buruk ini di sebelah kanan losmen yang besar. Talibu maklum bahwa empat orang pengemis itu bicara tentang dia. Mata mereka semua ditujukan kepadanya, bahkan seorang di antara mereka yang berjenggot menudingkan telunjuknya secara terang- terangan kepadanya.

Talibu tersenyum ramah kepada mereka. Biar pun ia seorang Pangeran Khitan, namun ia banyak tahu akan kehidupan kang-ouw di selatan ini. Ibunya banyak bercerita tentang orang-orang kang-ouw yang aneh-aneh di selatan yang akan ia temui di antara rombongan pengemis kotor, pendeta dan pelajar. Melihat gerak-gerik empat orang pengemis itu, Talibu dapat menduga bahwa mereka bukanlah pengemis- pengemis biasa. Akan tetapi ia heran melihat betapa pandang mata mereka itu mengeluarkan sinar kebencian atau kemarahan. Ketika senyumnya tidak dibalas, ia lalu tak mengacuhkan mereka, apa lagi pada saat itu Mimi sudah melompat turun pula dari atas kuda. Sambil bercakap-cakap dan tersenyum- senyum kedua orang muda bangsawan ini memasuki losmen, disambut oleh pemilik losmen dan anak buahnya.

Ketika mendengar akan kunjungan Putera Mahkota Khitan, pembesar di Lok-yang menjadi kaget dan sibuk sekali, serta-merta mengirim undangan makan malam. Akan tetapi Talibu menolak dengan halus, mengirim pesan bahwa dia dan Puterl Mimi melakukan kunjungan tidak resmi, hanya ingin melancong dan karenanya minta supaya diperlakukan sebagai pelancong biasa, bukan sebagai tamu. Biar pun merasa tidak enak hati dan takut kalau-kalau terdengar oleh Kaisar dan mendapat teguran, namun para pembesar itu tidak dapat berbuat apa-apa, hanya diam-diam memperingatkan semua penduduk dan pedagang agar bersikap ramah dan hormat kepada tamu agung ini.

Penyambutan penduduk dan pembesar Lok-yang ini membuat Talibu menjadi jengkel sekali. Ia ingin bebas, ingin merantau seperti burung di udara dalam usahanya mencari adik kembarnya. Ia ingin mencari adiknya dan menghadapi pengalaman-pengalaman tegang seperti yang sering ia dengar dari penuturan ibunya. Akan tetapi penyambutan dan sikap penduduk yang selalu membungkuk-bungkuk dan menghormatinya secara berlebih-lebihan itu membuat ia merasa tidak leluasa dan tidak enak. Malam itu juga ia memanggil komandan pengawalnya dan memberi perintah.

“Mulai saat ini, aku tidak mau dikawal lagi. Aku akan melakukan perjalanan seorang diri dan besok pagi kalian harus mengawal Sang Puteri kembali ke Khitan.”

Tentu saja komandan pengawal itu kaget sekali. “Akan tetapi Pangeran…“ “Tidak ada tapi! Ini perintahku, mengerti? Mau membantah?”
Komandan itu tentu saja tidak berani membantah, mengangguk-angguk lalu diperkenankan keluar untuk membubarkan pengawalan mulai saat itu juga. Talibu sama sekali tidak tahu bahwa perintahnya ini diam- diam terdengar oleh Puteri Mimi dari balik jendela ketika puteri ini hendak mengunjungi kamarnya. Puteri Mimi yang mendengar perintah ini terkejut, cepat kembali ke kamarnya dan termenung. Akan tetapi puteri yang remaja dan lincah ini lalu tersenyum dan mengangguk-angguk seorang diri, sudah mengambil keputusan sendiri.

Malam hari itu juga Talibu sudah melepaskan pakaian pangerannya, mengenakan pakaian biasa, menyamar sebagai seorang pelajar. Dengan menggunakan ilmu kepandaiannya, ia dapat lolos dari dalam losmen, melompat ke luar dari jendela dan pergi melalui genteng rumah. Pada keesokan harinya, para pengawal tidak saja kehilangan Sang Pangeran, bahkan dengan kaget mereka tidak lagi melihat adanya Puteri Mimi yang sudah lenyap pula dari dalam kamarnya.

Ketika memeriksa ke seluruh kota, sama sekali tidak ada jejak Sang Puteri. Tentu saja para pengawal menjadi bingung dan gelisah, akan tetapi mereka tak dapat berbuat lain kecuali berusaha mencari. Komandan pengawal sudah cepat menyuruh dua orang anak buahnya kembali ke Khitan menyampaikan laporan tentang hilangnya Puteri Mimi dan tentang perintah Sang Pangeran yang melarang mereka mengawal karena Sang Pangeran berkenan melakukan perjalanan seorang diri

Talibu adalah seorang pemuda yang amat berani dan ilmu kepandaiannya bukan lemah. Ia menerima gemblengan langsung dari ibunya sendiri, yaitu Ratu Yalina yang di waktu mudanya mewarisi ilmu kesaktian yang amat rahasia, simpanan tokoh pendiri Beng-kauw, yaitu ilmu silat yang hanya terdiri dari tiga belas jurus bernama Cap-sha Sin-kun (Kepalan Sakti Tiga Belas Jurus). Biar pun hanya tiga belas jurus, akan tetapi kalau Ratu Yalina yang mainkan, kiranya tokoh-tokoh kang-ouw jarang yang akan dapat menandinginya.

Talibu tentu saja tidak sematang dan sekuat ibunya, namun dengan ilmu ini ia pun menjadi orang muda paling lihai di seluruh kerajaan ibunya. Dengan bekal ilmu kepandaiannya, kini pemuda bangsawan yang merupakan orang paling penting sesudah ratu ini sekarang melakukan perjalanan seorang diri, diam-diam meninggalkan losmen, lolos dengan pakaian seorang pelajar.

Ketika tubuhnya berkelebat ke luar dari pintu gerbang kota sebelah timur, karena ia bermaksud pergi ke kota raja yang berada di sebelah timur Lok-yang, ia melihat berkelebatnya bayangan beberapa sosok tubuh di sebelah belakangnya. Talibu boleh jadi gagah perkasa, namun ia kurang pengalaman dan tidak mengenal keadaan dunia kang-ouw. Maka ia tidak menaruh curiga dan dengan lapang ia melanjutkan perjalanan keluar dari kota Lok-yang.

Malam itu amat indah dengan bulan bersinar penuh tanpa gangguan awan. Ia kini tidak lari lagi melainkan berlenggang seenaknya melalui jalan yang sunyi di tepi sawah ladang. Suara banyak katak membentuk perpaduan musik yang indah dan amat menarik hatinya. Sambil tersenyum-senyum Pangeran ini berjalan, pertama kali selama hidupnya merasa sebagai seorang yang benar-benar bebas, tidak terikat oleh segala macam peraturan, tidak terganggu oleh hadirnya para pengawal. Ia pada saat itu merasa benar-benar sebagai seorang pendekar muda perantau seperti yang sering ia dengar didongengkan ibunya. Sambil tersenyum ia meraba gagang pedangnya.

“Berhenti…!“ Bentakan ini membuat Talibu menahan kaki dan memasang kuda-kuda. Ia dapat mencium bahaya, apa lagi ketika ia mengenal empat orang berpakaian pengemis yang pagi hari tadi memandangnya dengan pandang mata penuh kemarahan ketika ia turun dari atas kudanya di depan losmen. Kini empat orang pengemis yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih ini berdiri menghadapinya dengan sikap mengancam!

Namun Talibu memiliki keberanian yang luar biasa. Tidak percuma ia menjadi putera Ratu Yalina yang di waktu mudanya merupakan seorang wanita seperti naga betina yang tak pernah mengenal takut! Ia bersikap tenang, namun sedikit pun tidak merasa takut. Bahkan bibirnya yang merah itu tersenyum ketika ia bertanya.

“Kalian ini siapakah? Apakah golongan orang gagah dari kai-pang? Dan apa kehendak kalian malam- malam mengganggu perjalanan orang?”

“Menyerahlah menjadi tawanan kami dan kami takkan menggunakan kekerasan,” kata seorang di antara empat pengemis ini, yaitu pengemis yang berjenggot panjang.

“Eh-eh, apakah kalian tidak salah mengenal orang? Aku adalah seorang pelajar yang melakukan perantauan, sama sekali tidak pernah mempunyai permusuhan dengan orang lain, apa lagi dengan golongan kai-pang. Mengapa tanpa sebab kalian hendak menawan aku?”

“Harap kau tidak banyak membantah. Kami tahu bahwa kau adalah Pangeran Mahkota dari Khitan.” kata si Jenggot Panjang.

Talibu membusungkan dadanya. “Kalau sudah tahu aku Pangeran Mahkota Khitan, mengapa menggangguku? Kerajaan Khitan bersahabat dengan negara ini dan tak tahukah kalian bahwa jika kalian menggangguku maka hal ini bukan hanya membikin marah Negara Khitan, bahkan juga negara kalian sendiri? Apakah kalian ini pengkhianat-pengkhianat kerajaan yang memusuhi kerajaan?” Sebagai Putera Mahkota Khitan, tentu saja Talibu maklum akan keadaan kedua kerajaan itu. Ucapannya yang tepat dan bengis membuat empat orang pengemis itu berubah.

Akan tetapi kelirulah kalau Talibu mengira bahwa ucapannya akan mengundurkan mereka. Tidak sama sekali, mereka itu malah maju mengurung dan si Jenggot berkata, “Kami hanya menjalankan perintah. Harap Sang Pangeran suka menyerah saja!”

“Hemm, penjahat-penjahat rendah. Kalian kira aku Talibu takut menghadapi empat ekor tikus seperti kalian?”

Empat orang pengemis ini menubruk maju, akan tetapi mereka disambut tendangan dan pukulan tangan yang membuat mereka roboh terguling-guling. Mereka adalah orang-orang yang berkepandaian akan tetapi begitu Talibu menggerakkan kaki tangannya, mereka sudah roboh jatuh bangun. Hal ini adalah karena empat orang pengemis baju bersih ini sama sekali tidak menduga bahwa seorang pangeran bangsa Khitan yang mereka anggap sebagai bangsa kasar akan dapat bergerak sebagai seorang ahli silat pilihan! Mereka menjadi marah dan kini mereka sudah mencabut keluar senjata mereka, yaitu tongkat berbentuk ular yang berwarna hitam. Senjata ini menandakan bahwa mereka ini adalah tokoh-tokoh perkumpulan pengemis Hek-coa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Ular Hitam).

“Bagus, kalian hendak mencoba kelihaianku. Majulah!” Pangeran Talibu mencabut pedangnya dan tampak sinar gemerlapan ketika pedang pusaka yang panjang itu tertimpa sinar bulan purnama. Pedang itu mengeluarkan cahaya kemerahan. Itu bukanlah pedang biasa, melainkan sebuah pedang pusaka dari Kerajaan Khitan!

Begitu empat orang pengeroyoknya menyerbu, Talibu menggerakkan pedangnya membabat. Sinar merah menyilaukan mata dan angin sambaran pedang membuat dua orang pengemis cepat menarik kembali tongkatnya. Akan tetapi dua pengemis yang sudah terlanjur menyerang tak dapat menghindarkan bentrokan senjata.

“Trang… trang…!”

Dua orang pengemis ini mengeluarkan seruan kaget dan melompat mundur, tongkat mereka tinggal sepotong karena tengahnya terbabat buntung oleh pedang bersinar merah! Marahlah mereka dan segera mereka mengurung dari empat penjuru, kini menjaga agar tongkat mereka tidak bentrok lagi dengan pedang si Pangeran. Biar pun tongkat mereka tinggal sepotong, namun dua orang pengemis itu masih lihai gerakannya.

Talibu mewarisi ilmu dari ibunya sendiri, oleh sebab itu ilmunya hebat. Sayang sekali bahwa pemuda ini kurang pengalaman. Kalau ia sudah matang ilmunya, agaknya dalam sepuluh gebrakan saja ia akan mampu merobohkan empat orang lawannya tanpa pedang. Sesungguhnya ilmunya tangan kosong Cap-sha Sin-kun merupakan ilmu yang jarang bandingnya, akan tetapi pemuda yang belum berpengalaman ini merasa ngeri untuk menghadapi pengeroyokan empat lawan bersenjata dengan tangan kosong. Justru karena ia berpedang, maka ia malah tidak dapat merobohkan lawan dalam waktu singkat.

Betapa pun juga, karena dasar ilmu silatnya memang lebih tinggi, tenaga sinkang-nya lebih kuat dan ditambah pedangnya adalah benda pusaka yang ampuh, tidak sampai empat puluh jurus kemudian, empat orang pengemis itu sudah roboh terluka semua. Akan tetapi Pangeran itu bukanlah seorang kejam. Hal ini terbukti bahwa empat orang pengemis itu hanya terluka goresan pedang di pundak, lengan atau paha saja. Tentu saja kalau ia mau, luka di pundak bisa menjadi pemenggalan leher, luka di lengan bisa menjadi tusukan di dada, dan luka di paha bisa menjadi babatan di pinggang.

Sambil melintangkan pedang di depan dadanya, Pangeran yang perkasa itu membentak. “Sekarang mengakulah, siapa pimpinan kalian yang menyuruh kalian mencoba untuk menangkap aku?”

“Kami tidak berani mengaku!” kata seorang di antara mereka dan seterusnya mereka membungkam tidak berani bicara lagi hanya mengeluh karena kesakitan.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan tahu-tahu dari tempat gelap muncullah sesosok bayangan. Ketika Talibu memandang, ternyata di depannya telah berdiri seorang laki-laki tinggi besar bertubuh ramping padat, rambutnya panjang dan ketawanya seperti wanita, bahkan kemudian orang itu lalu menyanyi-nyanyi dengan suara kecil merdu! Orang ini bukan lain adalah Bu-tek Siu-lam! Akan tetapi Talibu tidak mengenal orang aneh ini, maka ia lalu bertanya dengan hormat karena munculnya orang aneh ini menimbulkan dugaan bahwa dia tentu bukan orang sembarangan.

“Maaf, siapakah Tuan dan mengapa datang ke tempat ini menjumpai saya?”

“Ha-ha-hi-hi-hik! Pemuda tampan, Pangeran Mahkota Khitan. Aku disebut Bu-tek Siu-lam dan Pangeran menjadi tamu agung. Harap saja kau suka ikut bersamaku. Maafkan sikap jembel-jembel yang tidak sopan ini, dan saya persilakan Pangeran menjadi tamu kami secara terhormat.”

Talibu biar pun belum banyak pengalaman, namun dapat mengenal orang pandai. Menurut ibunya, orang- orang sakti amat banyak di dunia kang-ouw dan sikap mereka memang aneh-aneh. Orang ini sukar ditaksir, laki-laki atau wanita. Pakaiannya aneh dan jelas adalah pakaian pria, namun lagaknya amat genit, bicaranya seperti wanita dan suara serta ketawanya jelas suara wanita! Maka ia lalu menjura dengan hormat dan menjawab.

“Saya memang Pangeran Mahkota Khitan, akan tetapi pada saat ini saya sedang merantau sebagai orang biasa. Saya tidak mempunyai hubungan dengan Tuan, maka harap Tuan jangan mengganggu dan maafkan penolakanku.”

“Hi-hik! Kalau para pembesar yang mengundang boleh saja Paduka menolak, akan tetapi Bu-tek Siu-Lam adalah seorang di antara Bu-tek Ngo-sian, dan dalam hal ini undangan bukan hanya datang dari saya pribadi, melainkan juga dari Bouw Lek Couwsu pemimpin bangsa Hsi-hsia. Kami perlu memperundingkan sesuatu yang amat penting dengan Paduka. Apakah Paduka tidak memandang mata kepada kami?”

Talibu seorang pemuda cerdik. Mendengar bahwa orang aneh ini sekutu pimpinan bangsa Hsi-hsia, ia terkejut sekali. Dan pada saat itu ia pun sudah melihat munculnya puluhan orang di sekitar tempat itu, sebagian besar hwesio-hwesio berjubah merah. Teringatlah ia akan cerita tentang penumpasan Beng- kauw dan ia maklum bahwa melawan pun akan sia-sia belaka. Maka ia lalu menjawab.

“Undangan resmi dari bangsa Hsi-hsia untuk Pangeran Mahkota bangsa Khitan tentu saja tak dapat saya tolak. Saya pun tidak percaya bahwa bangsa Hsi-hsia yang gagah akan menyalah-gunakan undangan ini. Marilah, Tuan, saya menerima undangan terhormat itu.”

Kembali Bu-tek Siu-lam tertawa terkekeh, kemudian dengan lagak genit ia mempersilakan Pangeran itu berjalan di sampingnya. Pergilah mereka ke barat dan mendaki sebuah bukit. Menjelang pagi barulah mereka tiba di puncak bukit dan ternyata di situ terdapat bangunan-bangunan darurat dari bambu yang dijadikan tempat persembunyian Bouw Lek Couwsu dan anak buahnya.

Pangeran Talibu disambut dengan penuh kehormatan oleh Bouw Lek Couwsu dan murid-muridnya. Hwesio tinggi besar berkaki buntung ini menjura penuh hormat sambil menyambut di depan pintu. “Selamat datang, Pangeran Mahkota Talibu dari Khitan! Kunjungan Paduka Pangeran ini merupakan sebuah kehormatan besar sekali dan membuktikan bahwa bangsa Khitan adalah bangsa yang besar dan mempunyai keinginan baik terhadap bangsa Hsi-hsia. Juga membuktikan kesetiaan orang gagah Bu-tek Siu-lam terhadap kami, ha-ha-ha!”

Pangeran Talibu balas memberi hormat dan berkata, suaranya tenang dan sikapnya agung. “Sudah lama kami mendengar akan bangkitnya bangsa Hsi-hsia yang dimulai dari Tibet dan kami merasa kagum bahwa bangsa yang kecil itu dapat bangkit menjadi bangsa yang kuat. Akan tetapi saya tidak melihat hubungan sesuatu yang dapat menjadi alasan bagi Lo-suhu untuk mengundang saya menjadi tamu pimpinan bangsa Hsi-hsia.”

Sebagai putera kandung seorang panglima besar, tentu saja Pangeran Talibu ini pandai pula dalam hal siasat dan diplomasi. Di dalam kata-katanya ia memuji-muji bangsa Hsi-hsia, akan tetapi di lain pihak ia pun membanting dan menganggap bangsa Hsi-hsia sebuah bangsa yang kecil dan tidak ada hubungannya dengan Khitan yang besar!

“Ha-ha-ha! Pangeran Talibu dari Khitan benar tinggi hati! Justru pertemuan antara kita inilah yang menjadi jembatan penyambung hubungan itu. Pangeran Talibu, silakan duduk dan mari kita berunding seperti dua pihak pimpinan bangsa yang besar dan yang memiliki kepentingan bersama.”

Talibu mengikuti Bouw Lek Couwsu dan Bu-tek Siu-lam memasuki ruangan besar dan duduk menghadapi meja yang bulat telur dan panjang. Pelayan-pelayan wanita muda dan cantik segera datang membawa arak hangat dan hidangan. Para pelayan ini amat menghormati Bouw Lek Couwsu dan keadaan di situ tiada ubahnya dengan ruangan istana raja.

Diam-diam Talibu merasa heran mengapa pendeta ini bermata demikian genit penuh nafsu dan mengapa pula seorang pendeta, biar pun dia pemimpin suku bangsa Hsi-hsia, mempunyai pelayan-pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik. Akan tetapi sebagai seorang tamu yang tahu akan tata susila dan peraturan istana, ia diam saja, melirik pun tidak untuk menyembunyikan perasaan herannya. Namun diam- diam ia merasa bahwa ia berada di dalam keadaan bahaya, maka ia bersikap hati-hati.

Setelah mereka makan minum ditemani Bu-tek Siu-lam yang menjadi makin genit sikapnya terhadap dirinya, Talibu tak sabar lagi lalu bertanya, “Lo-suhu, kalau saya tidak keliru menduga, Lo-suhu ini tentulah Bouw Lek Couwsu, pimpinan para hwesio Tibet yang menggerakkan orang-orang Hsi-hsia, yang terkenal sampai ke Khitan.”

“Pandang mata Pangeran Talibu amat tajam dan dugaan itu tepat sekali. Pinceng adalah Bouw Lek Couwsu yang merasa tidak tega menyaksikan kemiskinan bangsa Hsi-hsia, maka sengaja memimpin mereka untuk memperjuangkan perbaikan nasib mereka.”

Pangeran Talibu mengangguk-angguk. “Setelah saya memenuhi undangan Lo-suhu yang disampaikan oleh Bu-tek Siu-lam ini, harap Lo-suhu suka memberi penjelasan, apakah yang akan Lo-suhu bicarakan dengan saya.”

“Ha-ha-ha! Pangeran Mahkota Khitan sungguh gagah dan bicara seperti laki-laki.” Pendeta ini memberi isyarat dan semua pelayan lalu mengundurkan diri, meninggalkan mereka bertiga di dalam ruangan itu.

Setelah mengisi cawan arak tamunya dan mempersilakan minum, Bouw Lek Couwsu berkata, “Pangeran Talibu, memang tepat. Urusan harus diutamakan, kesenangan baru nanti menyusul kita rayakan. Terus terang saja, kami mengundang Paduka Pangeran dengan maksud untuk mengikat tali persahabatan dan membicarakan urusan antara bangsa kita dalam menghadapi Kerajaan Sung.”

Talibu cukup cerdik. Segera ia dapat menduga sedalamnya apa yang terkandung di hati pendeta dengan senyum yang memikat dan pandang matanya yang tajam itu. Ia sudah mendengar akan serbuan Hsi-hsia ke Beng-kauw, sudah mendengar pula bahwa sejak lama bangsa Hsi-hsia mulai dengan gangguan- gangguan di tapal batas sebelah barat Kerajaan Sung. Jelas bahwa bangsa ini tidak mempunyai maksud baik terhadap Sung dan sekarang pendeta ini bicara tentang persahabatan. Tentu saja tidak bisa lain dari pada maksud mengulurkan tangan, mengajak bersekutu dengan bangsa Khitan untuk memusuhi Sung!

Padahal pada waktu itu Kerajaan Khitan bersahabat dengan Kerajaan Sung. Betapa pun bangsanya banyak yang tidak suka kepada Kerajaan Sung, namun ibunya sebagai Ratu Khitan selalu mencegah bangsanya bermusuhan dengan Kerajaan Sung. Ia maklum bahwa tak mungkin ia dapat menerima persekutuan dengan Hsi-hsia, apa lagi atas nama bangsanya. Namun sebaliknya, biar pun ia dianggap tamu agung, namun ia telah berada di sarang Hsi-hsia, sehingga penolakannya akan membahayakan keselamatannya.

“Membicarakan urusan kepentingan bangsa bukanlah soal remeh, Couwsu. Sungguh pun saya Putera Mahkota Khitan, namun saya tidak mempunyai kekuasaan untuk memutuskan urusan pemerintahan. Apa lagi pada saat ini saya hanya sebagai seorang pelancong, bagaimana saya dapat merundingkan urusan besar ini? Setidaknya haruslah seorang utusan khusus dari Sang Ratu di Khitan.”

“Hi-hi-hik! Pangeran Mahkota Khitan yang tampan gagah kenapa seperti seorang gadis pemalu saja? Kenapa harus bersembunyi di bawah jubah Sang Ratu? Mengecewakan betul!” kata Bu-tek Siu-lam sambil terkekeh.

Talibu bangkit berdiri, jari tangan kanan meraba gagang pedang, sikapnya menantang. “Apakah ini sebuah penghinaan?”

Bu-tek Siu-lam terkekeh makin geli dan Bouw Lek Couwsu segera bangkit lalu melerai. “Ah, Paduka Pangeran mengapa belum dapat mengenal watak Bu-tek Siu-lam? Sahabatku ini sama sekali tidak menghina, akan tetapi suka bicara secara terus terang dan sejujurnya. Apa yang dikatakan memang tidaklah terlalu salah. Paduka adalah seorang Pangeran Mahkota, demi untuk kebaikan bangsa tentu saja berhak mengambil keputusan. Secara kebetulan kita bertemu di Lok-yang, bukankah ini sudah menjadi kehendak Thian bahwa di antara kedua bangsa kita memang sudah ditakdirkan menjadi sekutu?”

Pangeran Talibu duduk kembali dan menarik napas panjang. “Hemm, sebagai seorang Pangeran Mahkota yang mencinta bangsanya, tentu saja saya selalu siap bicara tentang kebaikan bangsaku. Bouw Lek Couwsu, bicaralah agar dapat kupertimbangkan apakah aku berhak memutuskan atau tidak.”

Bouw Lek Couwsu tertawa lega dan tidak mempedulikan Bu-tek Siu-lam yang tertawa ha-ha-hi-hi. “Bagus, memang inilah sikap yang pinceng harapkan dari Paduka sebagai Pangeran Mahkota calon raja besar bangsa Khitan. Bangsa Hsi-hsia dan bangsa Khitan adalah dua bangsa yang besar gagah perkasa, mempunyai kepentingan yang sama dan musuh yang sama pula, yaitu Kerajaan Sung yang selalu menganggap kami sebagai bangsa biadab. Kami bangsa biadab? Huh, bangsa Han yang lemah itu harus dihajar. Kerajaan Sung harus dirampas dan kami bangsa Hsi-hsia ingin membagi keuntungannya dengan bangsa Khitan. Dalam keadaan bangsa Sung lemah sekarang ini, kalau Khitan bergerak dari utara dan Hsi- hsia menyerbu dari barat, menaklukkan Sung sama mudahnya dengan membalik telapak tangan saja. Kami mengulurkan tangan kepada bangsa Khitan untuk bekerja sama dan menjadi bangsa besar bersama yang memiliki wilayah kekuasaan sampai ke tepi laut timur dan selatan!”

“Agaknya Couwsu lupa bahwa biar pun Kaisarnya lemah, Sung masih mempunyai banyak panglima yang pandai dan pasukan-pasukan yang kuat.”

“Ha-ha-ha! Hal ini sudah pinceng selidiki, akan tetapi jangan Paduka khawatir. Pinceng telah mempunyai hubungan dengan banyak pejabat dan panglima di kota raja Kerajaan Sung. Mereka akan mengadakan pergerakan dari dalam dan membantu kita pada saat kita bergerak menyerbu. Juga banyak sekali orang gagah di dunia kang-ouw yang menjadi anak buah Bu-tek Ngo-sian siap membantu kita.”

“Bu-tek Ngo-sian? Siapakah mereka?” Pangeran Talibu banyak mendengar dari ibunya tentang orang- orang sakti di dunia kang-ouw, bahkan pernah mendengar dari ibunya tentang Thian-te Liok-koai yang sudah dihancurkan oleh Suling Emas, ayah kandungnya itu, dan orang-orang gagah lainnya. Akan tetapi belum pernah ia mendengar tentang Bu-tek Ngo-sian ini.

“He-heh-heh, tidak heran kalau Paduka Pangeran yang tampan dan gagah belum mendengar tentang Bu- tek Ngo-sian! Aku Bu-tek Siu-lam adalah orang pertama Bu-tek Ngo-sian. Seluruh kai-pang menjadi anak buahku dan mereka merupakan pasukan-pasukan yang amat kuat. Orang ke dua adalah Thai-lek Kauw- ong, raja monyet raksasa itu. Ke tiga adalah Jin-cam Khoa-ong atau Pak-sin-ong yang tentu Paduka sudah kenal karena banyak orang Khitan menjadi anak buahnya pula di samping orang-orang Mongol. Ke empat adalah Siauw-bin Lo-mo yang menguasai semua perampok dan bajak, sedangkan ke lima adalah Sian- toanio, iblis betina yang aneh dan memiliki kepandaian mengerikan.”

“Apa yang dituturkan Bu-tek Siu-lam tentu sudah jelas betapa kuatnya kedudukan kita, Pangeran Talibu. Karena itu pinceng harap Paduka tidak ragu-ragu lagi untuk membuat persekutuan dengan kami.”

“Bouw Lek Couwsu, aku hanya seorang Pangeran dan urusan amat penting ini tidak mungkin dapat kuputuskan sendiri. Apakah yang harus kulakukan sekarang?”

“Paduka menjadi tamu agung kami dan harap Paduka suka menulis surat tentang persekutuan ini kepada Sang Ratu di Khitan, membujuk agar Ratu Khitan menyetujuinya.”

“Kalau ibuku menolak…?”

“Ha-ha-ha, tidak mungkin menolak melihat kemungkinan besar bagi Kerajaan Khitan terutama selama Paduka menjadi tamu agung kami….“

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di sebelah luar dan tak lama kemudian, seorang kakek kurus tua yang tertawa-tawa gembira melangkah masuk sambil menggiring lima orang gadis muda yang cantik- cantik. Begitu tiba di ruangan itu, si Kakek tua mendorong mereka ke depan. Lima orang gadis cantik itu jatuh berlutut dan menundukkan muka menahan tangis. Mereka kelihatan bingung, sedih dan ketakutan. Namun harus diakui hahwa kedua orang gadis itu amat cantik jelita.

“Bouw Lek Couwsu, aku datang untuk menebus kesalahanku dan membayar hutang kepadamu!” kakek itu berkata sambil berdiri tanpa memberi hormat. “Aku tidak berhasil menangkap kembali Mutiara Hitam, akan tetapi sebagai gantinya, kuhadiahkan kepadamu lima orang gadis paling cantik yang kutemui di sepanjang perjalanan ke sini. Eh, Siu-lam si genit, kau sudah berada di sini? Bagus! Dan kudengar tadi kalian menjamu Pangeran Mahkota Khitan. Dia inikah orangnya? Ha-ha-ha, bagus, bagus! Wah, kebetulan sekali kalau begini. Untung aku membawa lima orang gadis cantik. Couwsu, kau menjamu tamu agung tanpa suguhan wanita cantik, sungguh kurang ramah!”

Melihat kedatangan Siauw-bin Lo-mo, hati Bouw Lek Couwsu girang. Memang ia membutuhkan sekali tenaga bantuan Bu-tek Ngo-sian, apa lagi setelah ia kehilangan bantuan Siang-mou Sin-ni yang entah ke mana perginya itu. Ia tertawa bergelak.

“Bagus, terima kasih, Siauw-bin Lomo. Pangeran Talibu, Paduka sebagai tamu kehormatan, silakan memilih di antara lima orang dara ini. Hayo kalian bangkit berdiri dan layani Pangeran Talibu!” perintahnya kepada lima orang gadis yang masih berlutut.

Karena sudah mengalami siksaan apa bila tidak menurut perintah Siauw-bin Lo-mo, lima orang gadis itu seperti kehilangan semangat untuk melawan lagi. Kini mendengar perintah pendeta tinggi besar yang kelihatan lebih galak dari pada Siauw-bin Lo-mo yang menculik mereka, mereka makin takut dan cepat mereka bangkit berdiri. Wajah mereka yang cantik itu menjadi agak terang ketika mereka melihat siapa yang harus mereka layani. Kalau disuruh melayani seorang pemuda demikian tampan dan gagahnya, apa lagi yang disebut Pangeran, kiranya tanpa dipaksa mereka akan sungkan untuk menolak! Terutama sekali melihat bahwa ada kemungkinan mereka tidak terpilih oleh si Pangeran sehingga harus melayani Siauw- bin Lo-mo atau si Pendeta yang biar pun tampan akan tetapi sudah tua dan berkaki buntung, atau juga laki- laki tinggi yang memiliki wajah tampan akan tetapi aneh dengan dandanan seperti orang gila, kini lima orang gadis itu seperti berlomba menghampiri Pangeran Talibu hendak merebut perhatiannya.

Talibu hampir tak dapat mengendalikan kemarahan hatinya. Ketika ia tadi mendengar Bu-tek Siu-lam memperkenalkan Pak-sin-ong sebagai seorang di antara lima orang sakti yang membantu Bouw Lek Couwsu, ia sudah marah sekali. Tokoh jahat Pak-sin-ong itu adalah musuh besar ibunya, merupakan seorang pengkhianat Khitan, mana mungkin Khitan dapat bekerja sama dengannya? Akan tetapi ia masih dapat menahan perasaannya. Kini lima orang gadis itu berdiri dan menghampirinya dengan langkah lemas dan pandang mata penuh harap, bibir kepucatan dipaksa senyum. Ia merasa seolah-olah sebagai seekor kucing yang tertangkap, kini musuh-musuhnya melepas lima ekor anjing untuk menerkam dan mengeroyoknya!

Ia memandang dan hatinya dipenuhi rasa iba. Lima orang gadis cantik itu sama sekali tidak menimbulkan benci di hatinya. Sebaliknya mereka itu bukan lima ekor anjing ganas, melainkan lima ekor kelinci yang ketakutan dan hampir mati karena sedih. Pandang mata mereka membuat hatinya merasa tertusuk. Mereka pun menjadi korban kebiadaban orang-orang yang memusuhinya ini. Tak dapat pula ia menahan kemarahannya, dan ia segera bangkit berdiri, menggerakkan tangannya dengan halus sambil berkata.

“Nona berlima saya bebaskan, silakan keluar dari sini dan pergi kembali ke rumah masing-masing.”

Lima orang gadis itu kelihatan bingung, saling pandang, meragu dan seperti tidak percaya kepada telinga mereka sendiri. Mereka melirik ke arah Siauw-bin Lo-mo yang masih duduk sambil tertawa. Melihat ini serentak timbul harapan mereka bahwa mereka benar-benar dibebaskan seperti yang dikatakan pemuda tampan itu. Otomatis mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap Talibu, mengangguk-anggukkan kepala lalu bangkit dan tergesa-gesa mereka berjalan menuju pintu.

Mendadak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Bu-tek Siu-lam sudah meloncat melalui lima orang gadis itu, berdiri di tengah pintu mengembangkan kedua lengannya yang panjang sambil tertawa-tawa.

“Hi-hi-hik, Nona-nona manis mau ke mana? Kalau Pangeran Talibu tidak suka kepada kalian, masih ada aku dan yang lain-lain yang membutuhkan hiburan dan pelayanan kalian. Ha-ha, mari kembali dan duduk minum arak, temani kami Nona-nona cantik! Aku memilih yang dua ini!” Sekali rangkul, ia telah menangkap dan memondong dua orang gadis, sambil tertawa-tawa ia menciumi muka mereka bergantian. Dua orang gadis yang usianya kurang lebih enam belas tahun itu menjadi pucat wajahnya dan tubuhnya menggigil ketakutan. Tiga yang lain juga menggigil dan dengan kaki lemas mereka digiring kembali ke meja oleh Bu- tek Siu-lam.

“Tahan!” Talibu membentak dengan suara marah sekali. Muak hatinya menyaksikan perbuatan Bu-tek Siu- lam dan hatinya penuh iba kepada lima orang gadis itu. “Bouw Lek Couwsu, engkau sudah menyerahkan gadis-gadis itu untuk melayaniku dan aku berhak melakukan apa saja terhadap mereka. Setelah kubebaskan dia, kenapa dihalangi? Apakah aku tidak dipandang sebelah mata di sini?”

“Eh-eh, orang muda! Aku yang membawa datang anak-anak ini, dan hanya akulah yang berhak membebaskan mereka. Kenapa kau lancang hendak membebaskan mereka? Kau berani memandang rendah Siauw-bin Lo-mo?” Kakek kurus itu sudah bangkit berdiri sambil tertawa-tawa mengejek.

Talibu marah sekali, akan tetapi ia tidak mempedulikan Siauw-bin Lo-mo, sebaliknya ia menghadapi Bouw Lek Couwsu dan berkata lagi suaranya keras dan marah. “Bouw Lek Couwsu, engkaulah tuan rumah di sini, maka aku tidak sudi melayani yang lain. Kau mau membebaskan lima orang wanita ini ataukah tidak?”

Bouw Lek Couwsu tertawa dan sekali tangannya meraih, tiga orang wanita muda yang lain sudah ia tarik keras-keras ke arahnya. Tiga orang gadis itu menjerit lirih dan ketika dua tangan Bouw Lek Couwsu bergerak, seorang telah jatuh di atas pangkuannya, yang dua orang lagi ia peluk pinggang mereka dan ia dudukkan di kanan kirinya!

“Pangeran Talibu, sebagai seorang tamu agung, engkau tak tahu sopan menolak hidanganku untuk menikmati wanita-wanita ini. Sebagai seorang tawanan, engkau sombong dan berani menjual lagak. Ha- ha-ha, apa kau kira pinceng tidak tahu isi hatimu? Engkau pura-pura bersikap baik dan bersahabat, padahal di dalam hatimu engkau benci kepada kami. Ujian dengan dara-dara ini membuka rahasiamu. Coba katakan, maukah engkau menulis surat kepada ibumu Ratu Khitan? Engkau belum memperlihatkan jasa sedikit pun juga, sudah hendak bersikap sebagai raja di sini. Ha-ha-ha! Coba jawab, maukah engkau menulis surat itu sekarang juga?”

“Hi-hi-hik, Bouw Lek Couwsu seperti anak-anak saja. Tentu saja dia tidak mau! Ketika tadi aku menyebut nama Pak-sin-ong, apakah Couwsu tidak melihat perubahan mukanya? Sudah kuduga, Pangeran cilik ini takkan menurut kalau tidak dipaksa.” kata Bu-tek Siu-lam sambil membelai-belai tubuh dua orang dara yang dirangkulnya secara tak tahu malu.

“Couwsu, serahkan saja bocah ini kepadaku. Mau dia mati? Atau setengah mati? Atau menangkapnya saja? Tanggung dalam berapa jurus ia akan bertekuk lutut di depanmu,” kata pula Siauw-bin Lo-mo yang rupa-rupanya amat bernafsu untuk mencari muka terhadap pimpinan bangsa Hsi-hsia ini dan untuk menebus kesalahannya telah bentrok dengan para hwesio jubah merah.

Bouw Lek Couwsu hanya tersenyum lebar, matanya memandang tajam ke arah wajah Pangeran Talibu. Melihat betapa Talibu memandang Bu-tek Siu-lam yang membelai-belai dan meremas-remas tubuh dua orang gadis yang menggigil pucat dengan pandang mata penuh kebencian, tiba-tiba ia mendorong tiga orang gadis yang dirangkulnya sambil membentak, “Hayo kalian bertiga buka pakaian!”

Tiga orang gadis itu terkejut lalu menjatuhkan diri berlutut. Seorang di antara mereka berkata dengan suara gemetar, “Ampunkan kami… ampunkan kami…“ sedangkan yang dua orang lainnya menangis.

“Masih belum memenuhi perintah?” Bouw Lek Couwsu membentak lalu mengerling ke arah Talibu yang memandang ke arah tiga orang wanita itu dengan wajah berubah merah, kemudian ia tertawa, kedua lengannya yang besar berbulu menyambar ke depan, sepuluh jari tangannya mencengkeram dan merenggut.

“Brett-brett-brett…!” terdengar suara di antara jerit lirih, dan seluruh pakaian tiga orang gadis itu robek semua sehingga dalam sekejap mata mereka bertiga telah telanjang bulat. Mereka hanya dapat menangis dan berlutut, berusaha menutupi dada dengan kedua lengan.

Bouw Lek Couwsu tertawa bergelak, memandang wajah Talibu yang menjadi pucat, kemudian dengan sengaja ia meraih dan merenggut tubuh tiga orang gadis yang sudah tak berpakaian lagi itu ke arahnya, dipangku dan dirangkul seperti tadi! Bu-tek Siu-lam tertawa ha-ha-hi-hi, dan terdengar pula suara pakaian cabik-cabik diseling jerit tangis dua orang gadis dalam pelukannya yang dalam waktu beberapa detik sudah telanjang pula seperti teman-teman senasib mereka.

“Ha-ha-ha, bagaimana Pangeran Talibu? Maukah kau sekarang juga menulis surat itu? Kalau kau mau, biarlah pinceng mengalah dan rela memberikan tiga dara jelita ini kepadamu!” Bouw Lek Couwsu berkata penuh ejekan.

Pangeran Talibu maklum bahwa dia diuji secara hebat. Bouw Lek Couwsu sengaja melakukan semua itu untuk mengujinya, untuk melihat apakah dia dapat diajak bersekutu dan apakah dia dapat dipercaya. Akan tetapi darahnya bergolak mendidih saking marahnya. Ia maklum juga bahwa apa pun yang terjadi, sampai mati tak mungkin ia mau bersekutu dengan manusia-manusia macam ini, dan bahwa ibunya pun tak mungkin sudi bersekutu dengan bangsa Hsi-hsia untuk memusuhi Kerajaan Sung. Maka dengan kemarahan meluap ia lalu mencabut pedangnya dan membentak nyaring.

“Jahanam berkedok pendeta! Siapa sudi mendengar omonganmu? Orang-orang macam kalian patut dibasmi!” Ia menyerbu ke depan untuk menyerang Bouw Lek Couwsu.

Akan tetapi tiba-tiba sebuah lengan kurus menyelonong dari samping, menyambar ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang. Sambaran tangan itu cepat sekali dan mendatangkan angin pukulan yang kuat. Talibu kaget, cepat menarik kembali pedangnya dan melompat ke samping sambil membalikkan tubuhnya. Kiranya Siauw-bin Lomo sudah berdiri di depannya, tertawa-tawa dan berkata.

“Couwsu, apakah kau ingin dia mampus?” “Jangan, cukup asal kau tangkap dia Lo-mo.”
“Kau lihat aku menangkap tikus ini!” Siauw-bin Lo-mo terkekeh dan tubuhnya menubruk maju.

Pangeran Talibu tidak gentar biar pun ia dapat menduga akan kelihaian lawannya. Pedangnya berkelebat, memapaki datangnya tubuh lawan dengan tusukan kilat. Namun tubuh lawan yang kurus kering itu tiba-tiba meliuk ke kanan dan tangan yang berkuku panjang menyambar tangan kanannya. Talibu kaget dan cepat menarik pedang memutar pergelangan tangannya sehingga pedangnya berkelebat ke kanan menyambar leher Siauw-bin Lo-mo. Kakek ini tertawa menyembunyikan kekagetannya dan menundukkan kepala miringkan tubuh, membiarkan pedang lewat di dekat leher. Diam-diam ia harus mengakui kelihaian Pangeran Khitan ini dan karena ia maklum bahwa Ratu Khitan memiliki kepandaian tinggi, apa lagi setelah menyaksikan gerakan Talibu, kakek ini tidak berani main-main lagi.

Kini tubuh Siauw-bin Lo-mo bergerak cepat dan aneh. Suara ketawanya tak pernah berhenti sehingga Talibu menjadi bingung. Ia melihat tubuh kakek itu berubah menjadi bayangan yang berkelebatan, seolah- olah ia dikeroyok empat lima orang lawan yang kesemuanya tertawa terkekeh-kekeh. Namun ia tidak menjadi gentar, bahkan segera memutar pedangnya, menyambarkan pedang ke arah bayangan yang berkelebatan. Pedangnya mengeluarkan suara berdesingan dan berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung menyilaukan mata.

Lima orang gadis yang tak berpakaian lagi itu kini agak terbebas dari siksaan karena Bouw Lek Couwsu dan Bu-tek Siu-lam menonton pertandingan sehingga untuk sementara seperti melupakan mereka. Mereka tak berani berkutik, bahkan ikut pula menonton dengan jantung berdebar-debar, mengharap kemenangan bagi si Pemuda Tampan yang mereka tahu bertanding karena membela mereka.

Namun Siauw-bin Lo-mo adalah seorang lawan yang jauh terlalu lihai bagi Talibu yang belum berpengalaman. Memang harus diakui bahwa ilmu pedang Talibu amat cepat dan tangkas dan bahwa jarang dapat ditemui seorang pemuda, apa lagi pemuda Khitan, sepandai dia mainkan pedang. Namun menghadapi Siauw-bin Lo-mo, ia hanya mampu bertahan selama dua puluh jurus saja.

Ketika sebuah bacokannya dapat terelakkan lawan, tiba-tiba pada saat pedangnya kembali menusuk bayangan yang berada di depannya, bayangan itu lenyap dan dari sebelah kanannya bayangan yang lain telah berhasil mengetuk pergelangan tangan kanannya. Tangannya seketika menjadi lumpuh saking nyerinya dan pedangnya terlepas, jatuh berkerontangan di atas lantai. Talibu cepat membuang diri bergulingan di lantai menjauhi lawan.

Lima orang gadis itu seperti dikomando saja menjerit. Jeritan ini mencelakakan mereka karena seolah-olah menyadarkan Bouw Lek Couwsu dan Bu-tek Siu-lam bahwa mereka berdua tadi melupakan korban-korban mereka. Kini mereka sambil tertawa-tawa membelai dan menciumi mereka sehingga lima orang gadis itu kembali merintih-rintih penuh kengerian.

Mendengar jeritan dan rintihan mereka, semangat Talibu bangkit kembali. Ia lupa akan urusan lain. Satu- satunya yang memenuhi perasaannya hanya berusaha membasmi orang-orang jahat ini dan membebaskan lima orang gadis yang bernasib malang dan terancam mala petaka itu. Ia berseru keras sekali dan tiba-tiba tubuhnya menerjang maju dengan tangan kosong.

Mula-mula kaki tangan Talibu bergerak lambat sambil maju karena tadi ia menggulingkan tubuh sampai jauh. Dengan geseran-geseran kaki lambat ia maju menghampiri Siauw-bin Lo-mo yang tertawa terkekeh- kekeh. Gerakan pemuda itu aneh sekali dan belum pernah ia melihat gerakan macam ini. Siauw-bin Lo-mo yang dengan mudah dapat menangkap pemuda ini ketika tadi mainkan pedang, tentu saja sekarang memandang rendah, apa lagi gerakan pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kelihaian dan garis pertahanannya lemah sekali. Ia yakin dalam segebrakan akan dapat merobohkan dan menangkap pemuda ini.

Makin dekat gerakan Talibu makin cepat dan kini gerakannya luar biasa sekali karena kakinya bergerak membawa tubuhnya maju sambil berputaran! Siauw-bin Lo-mo yang tadi terkekeh, kini mulai menyangsikan kewarasan otak Pangeran Mahkota Khitan ini. Mana ada ilmu silat berputar-putar seperti itu? Menghadapi pengeroyokan banyak orang sambil memainkan pedang, memang ada gerakan memutar- mutar tubuh ini, akan tetapi kalau hanya berhadapan dengan seorang lawan, apa lagi bertangan kosong, apa gunanya berputaran? Yang pasti membuat kepala menjadi pening sendiri! Ia makin memandang rendah dan setelah tubuh yang berputaran itu datang dekat, ia cepat menerjang maju dan dalam sekali gerak ia telah menotok tiga jalan darah di tubuh lawan, disusul cengkeraman untuk menangkap! Hebat bukan main serangan ini dan agaknya sukarlah bagi seorang muda seperti Talibu untuk dapat menghindarkan diri.

Akan tetapi terjadi hal yang amat aneh. Semua totokan Siauw-bin Lo-mo meleset, juga cengkeramannya, bahkan dari dalam putaran itu datang menyambar pukulan tangan kanan Talibu yang mengenai dadanya, membuat tubuh Siauw-bin Lo-mo terguling roboh!

Lima orang gadis itu sejenak melupakan kesengsaraan tubuh mereka yang dipermainkan Bouw Lek Couwsu dan Bu-tek Siu-lam ketika melihat bahwa pemuda pujaan dan penolong mereka dapat merobohkan Siauw-bin Lo-mo. Akan tetapi alangkah kecewa hati mereka ketika melihat kakek itu meloncat bangun lagi sambil berseru marah, namun mulutnya masih terkekeh ketawa. Kembali mereka berlima harus menderita di bawah penghinaan jari-jari tangan yang kurang ajar.

Siauw-bin Lo-mo kini berhati-hati sekali. Kembali ia teringat bahwa Ratu Khitan memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Maka ia dapat menduga bahwa ilmu silat tangan kosong Pangeran ini lihai bukan main, malah jauh lebih lihai dari pada ilmu pedangnya. Tanpa pedang pemuda ini malah merupakan lawan yang lebih tangguh! Dugaannya memang tepat. Setelah kehilangan pedangnya, tanpa ia sadari sendiri, Talibu menjadi lebih berbahaya.

Ia kini mainkan ilmu Cap-sha sin-kun (Tiga Belas Pukulan Sakti) yang biar pun belum dapat ia mainkan dengan sempurna, namun kesaktian ilmu ini ternyata dapat merobohkan Siauw-bin Lo-mo. Ketika berputaran tadi, Talibu telah mainkan jurus dari Cap-sha-sin-kun yang disebut Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Menyambarkan Kilat). Dalam berputaran, semua geraknya mengandung daya tahan yang kokoh kuat, dengan gerakan yang selalu dapat mengelak setiap pukulan dan serangan lawan. Tidak mengherankan apa bila totokan-totokan dan cengkeraman tangan Siauw-bin Lo-mo meleset semua.

Kemudian, sesuai dengan nama jurus itu, dari dalam pusaran tubuh yang seperti gasing itu menyambar pukulan kilat yang tak tersangka-sangka munculnya sehingga seorang tokoh besar seperti Siauw-bin Lo- mo sampai kena dirobohkan.

Karena Siauw-bin Lo-mo bersikap hati-hati dan terutama sekali karena latihan Talibu belum masak benar, maka kini setelah Siauw-bin Lo-mo maju lagi, jurus Soan-hong-ci-tian yang dipergunakan Talibu tidak berhasil. Ketika Talibu melancarkan beberapa pukulan, tangannya hampir saja dapat ditangkap lawan. Mulailah pemuda ini terdesak. Tubuhnya masih berputaran, namun kini gerakannya berputar itu sambil mundur untuk menghindarkan pukulan-pukulan Siauw-bin Lo-mo yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang sehingga membobolkan daya pertahanan jurusnya yang ampuh. Ia maklum bahwa sekali kena pukul, ia tentu akan roboh.

Siauw-bin Lo-mo mulai tertawa-tawa lagi melihat pemuda lawannya mundur-mundur dan ia terus mendesak dengan pukulan-pukulan yang kuat untuk menghancurkan jurus pertahanan lawan dan mencari lowongan merobohkan Pangeran itu. Talibu sudah mulai lelah dan pening. Jurus Soan-hong-ci-tian sesungguhnya tidak boleh dimainkan terlalu lama karena hal ini akan melelahkan diri sendiri. Biasanya dimainkan sebentar saja sudah dapat merobohkan lawan. Akan tetapi kali ini tidak ada hasilnya. Kakek kurus itu makin mendesak dan pada saat perputaran tubuh Talibu berkurang kecepatannya, sambil tertawa-tawa Siauw-bin Lo-mo mencengkeram kedua pundak Talibu!

Pangeran Khitan itu menggigit bibir, membiarkan pundaknya dicengkeram jari-jari kurus yang kuat seperti baja, akan tetapi cepat sekali kedua kakinya bergerak menendang bergantian, pertama ke arah anggota rahasia lawan kemudian disusul tendangan ke lutut kanan.

“Aihhhh…!” Siauw-bin Lo-mo sampai berseru keras saking kagetnya.

Kembali ia hampir menjadi korban kelihaian ilmu silat aneh dari Pangeran ini. Tendangan pertama dapat ia elakkan sehingga hanya menyerempet paha kirinya, akan tetapi tendangan susulan biar pun ia elakkan masih mengenai tulang kering kakinya, membuat ia mengaduh dan meloncat mundur terpincang-pincang!

“Hi-hi-hik, Lo-mo dapat dipermainkan anak kecil. Sungguh lucu!” Bu-tek Siu-lam tertawa mengejek.

Mulut Siauw-bin Lo-mo masih tertawa ha-ha-he-he, akan tetapi pandang matanya yang ditujukan ke arah Talibu menyinarkan pandangan maut. “Kau lihat saja, Siu-lam. Kau lihat kuhancurkan Pangeran cilik ini. Ditambah seorang engkau lagi, aku tetap akan dapat menghancurkannya!”

Melihat sinar mata dari mata kakek itu, Bouw Lek Couwsu cepat berkata. “Ingat, Lo-mo. Aku tidak menghendaki dia mati!”

Siauw-bin Lo-mo mengangguk-angguk. Tentu ia ingat akan hal itu. Kini ia melangkah maju, perlahan-lahan seperti seekor singa menghampiri calon mangsanya. Talibu yang merasa betapa kedua pundaknya berdenyut-denyut dan membuat kedua lengannya hampir lumpuh menahan nyeri, sudah siap menanti penyerbuannya. Ia maklum bahwa dia bukanlah lawan kakek kurus itu dan bahwa ia harus nekat dan melawan mati-matian untuk mempertaruhkan namanya sebagai putera Ratu Khitan yang terkenal. Apa lagi setelah teringat bahwa dia adalah putera kandung Ratu Khitan dan pendekar sakti Suling Emas, keangkuhannya timbul dan ia akan melawan terus sampai titik darah terakhir! Maka begitu lawannya sudah dekat, Talibu menggigit gigi menghilangkan semua rasa nyeri dan melompat maju, menerjang dengan ketangkasannya yang mengagumkan.

Kini Talibu menekuk sebelah lututnya, tangan kiri dikepal menghantam pusar, tangan kanan menghantam disusul cengkeraman ke arah anggota rahasia lawan. Serangan hebat ini tak mungkin dielakkan lagi, karena pada saat itu tubuh Siauw-bin Lo-mo sudah meloncat maju. Kakek itu tidak gentar melihat serangan aneh ini. Ia cepat menggerakkan tangannya, menangkis tangan kanan Talibu dan menangkap pergelangan tangan kiri lawan.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kedua tangan pemuda itu terbuka jari-jarinya dan memapaki tangkisannya dengan totokan-totokan ke arah pergelangan tangan dan ke arah telapak tangannya yang hendak menangkap. Inilah hebat dan berbahaya! Kakek itu secara tergesa-gesa merubah gerakannya, membatalkan niatnya menangkis dan menangkap, akan tetapi agaknya pemuda itu pun sudah menduga akan hal ini, atau memang jurus ilmu silatnya ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga semua perhitungannya tidak meleset. Kiranya totokan-totokan itu pun tidak dilanjutkan, di tengah jalan membalik dan menotok kedua lutut Siauw-bin Lo-mo. Untuk keperluan inilah agaknya maka pemuda itu memasang kuda-kuda sambil berlutut sebelah kaki!

“Haya…!” Siauw-bin Lo-mo berteriak kaget.

Ia dapat menyelamatkan kaki kanannya, akan tetapi kaki kirinya tetap saja kena ditotok lututnya sehingga lumpuh seketika. Baiknya ia amat lihai sehingga dengan sebelah kaki ia dapat meloncat mundur sampai tiga meter jauhnya. Di dalam hati ia harus mengakui bahwa selama hidupnya baru sekali ini ia bertemu jurus-jurus ilmu silat yang amat luar biasa. Tiga kali pemuda itu menggunakan jurus-jurus itu, dan tiga kali pula ia ‘termakan’. Kalau pemuda ini lebih mahir dan menyempurnakan ilmu itu selama lima sampai sepuluh tahun saja, tentu ia akan terpukul roboh. Kekagetannya mendatangkan kemarahan yang berkobar.

Talibu yang melihat bahwa jurusnya berhasil melukai kaki kiri lawan, menjadi besar hati dan menyerbu dengan hati girang. Dengan sebelah kaki tertotok lumpuh, kelihaian Siauw-bin Lo-mo tidak banyak berkurang. Inilah kesalahan Talibu yang mengira bahwa lawannya sudah tak berdaya lalu maju menyerbu dengan terjangan ganas, tidak lagi menggunakan jurus-jurus Cap-sha-sin-kun yang sama sekali belum dikenal lawan. Kini ia menerjang dengan pukulan-pukulan keras susul-menyusul. Akan tetapi tiba-tiba Siauw-bin Lo-mo tertawa, tubuhnya merendah dan sebelum Talibu dapat mencegahnya, sebuah tamparan mengenai perutnya.

“Plakk…! Aduuuuuhhh…!” Tubuh Talibu terguling, lambungnya sakit sekali rasanya, seakan-akan isi perutnya dibakar. Ia berusaha meloncat bangun akan tetapi kembali tangan Siauw-bin Lo-mo menampar yang tepat mengenai sebelah kanan lehernya. Seketika pandang matanya berkunang-kunang, kepalanya pening, kemudian pandang matanya menjadi merah gelap. Telinganya masih dapat menangkap suara Bouw Lek Couwsu.

“Lo-mo, jangan bunuh dia…!”

“Jangan khawatir, Couwsu!” jawab Siauw-bin Lo-mo yang kembali menampar, kali ini mengenai tengkuk Talibu. Pangeran ini masih mendengar suara ketawa lawannya yang amat menusuk perasaan sebelum tamparan itu datang dan dunia menjadi hitam di sekelilingnya.

********************

Kota raja Kerajaan Sung kelihatan aman tenteram. Para pedagang dan pelancong dari luar kota memenuhi kota raja. Rumah-rumah para pembesar dan bangsawan selalu kelihatan megah dalam suasana gembira. Pesta-pesta diramaikan bermacam kesenian silih berganti diadakan di halaman gedung-gedung yang luas. Di setiap taman bunga yang terawat indah selalu dihias arca-arca batu dengan ukir-ukiran yang amat indah dan semua ruangan tamu dalam gedung-gedung itu penuh lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan hias melukiskan sajak-sajak indah. Banyak pemuda-pemuda dengan pakaian pelajar berjalan hilir-mudik memenuhi jalan-jalan raya. Pendeknya sepintas lalu melihat keadaan kota raja ini orang akan mendapat kesan bahwa penduduknya menikmati hidup aman tenteram dan bersuka ria, berlomba dalam keindahan dan kemajuan seni budaya.

Memang demikianlah yang dikehendaki Kaisar. Pada waktu itu, Kaisar Kerajaan Sung lebih mengutamakan kesenangan untuk diri pribadi dan untuk semua rakyatnya, lebih condong untuk memajukan kebudayaan, sedapat mungkin menjauhi perang karena Kaisar pribadi tidak suka akan kekerasan. Memang niatnya baik sekali, akan tetapi sayangnya Sang Kaisar lupa bahwa untuk menjamin semua keamanan dan ketenteraman ini amatlah diperlukan penjagaan dan untuk menjamin penjagaan yang dapat diandalkan mutlak diperlukan bala tentara yang kuat! Apa lagi kalau diingat bahwa Kerajaan Sung dikelilingi bangsa lain yang selalu mengincar untuk mencaploknya.

Para bangsawan yang kaya raya itu seakan berlomba mengadakan pesta terbuka di mana siapa saja boleh datang menikmati hidangan dan menonton pertunjukan kesenian. Mereka berlomba melakukan derma dan perbuatan baik karena Kaisar menganjurkan perbuatan amal dan kebaikan. Hanya mereka sendirilah yang tahu bahwa amal ini bukan keluar dari lubuk hati sendiri, melainkan merupakan siasat untuk membedaki muka mereka yang hitam oleh korupsi agar menjadi putih bersih.

Dan memang siasat seperti ini banyak berhasil. Bukan saja atasan dan Kaisar senang dengan kedermawanan mereka, juga rakyat kecil yang diberi kesempatan ikut berpesta dan makan serta menonton gratis itu banyak yang merasa bersyukur atas kedermawanan pembesar-pembesar dan bangsawan-bangsawan kota raja. Bahkan pandang mata orang-orang kang-ouw yang biasanya tajam dapat pula dikelabui karena terlampau sering mereka ini minum arak wangi dan hidangan-hidangan lezat.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo