August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 13)

 

 

Kaisar ke tiga dari Kerajaan Sung ini sama sekali buta terhadap ancaman-ancaman yang selalu mengelilingi kerajaannya, tidak melihat betapa banyak kekuatan-kekuatan yang mengilar menginginkan kerajaannya. Karena itu ia pun tidak melihat atau tidak acuh terhadap munculnya bangsa Hsi-hsia di perbatasan barat. Bangsa Hsi-hsia ini adalah bangsa perantauan seperti keadaan bangsa Khitan, yang muncul dari barat. Sebagai bangsa perantau mereka ini ulet dan tahan uji.

Mereka melihat akan kelemahan Kerajaan Sung, melihat pula akan politik Kaisar Sung yang selalu mengalah serta murah hati, oleh karena itu mereka mulai dengan petualangannya ke pedalaman. Di antara para pimpinan bangsa Hsi-shia ini terdapat banyak orang pandai dan sakti dari barat dan mereka ini sudah mulai memperlihatkan kepandaiannya untuk mencari pengaruh dan kekuasaan di antara penduduk pedalaman di sekitar tapal batas sebelah barat.

Hanya karena desakan dan peringatan para panglima dan menteri yang setia kepada kerajaan dan yang masih ingat akan kewaspadaan saja maka akhirnya Kaisar Chen Cung menaruh perhatian dan akhirnya diperintahkan kepada Kiang Liong untuk melakukan penyelidikan. Inilah sebabnya maka Kiang Liong melakukan perjalanan keluar kota raja dan secara kebetulan pemuda ini bertemu dengan Tang Hauw Lam dan Kwi Lan yang hampir celaka dalam tangan Bu-tek Siu-lam.

Kini Kiang Liong dan Hauw Lam melakukan pengejaran terhadap Thai-lek Kauw-ong yang membawa lari Kwi Lan. Akan tetapi sampai jauh mereka mengejar, belum juga mereka dapat menyusul Thai-lek Kauw- ong. Sudah terlalu lama kakek gundul itu pergi sehingga mereka terlambat dan tidak tahu betul arah mana yang diambil kakek itu. Kiang Liong yang tadi terpaksa menahan kecepatan geraknya untuk mengimbangi kecepatan Hauw Lam akhirnya menarik napas panjang dan berkata.

“Sobat, tiada gunanya mengejar lagi kalau kita belum tahu betul ke mana iblis itu pergi. Lebih baik kita berpencar saja. Aku sedang melakukan perjalanan ke barat, biarlah aku mengejar ke barat dan kau boleh melanjutkan pengejaranmu ke mana kau suka. Kalau aku bertemu dengan iblis itu, jangan khawatir, tentu aku akan turun tangan membantu… eh, siapa nama Nona tadi?”

“Mutiara Hitam.”

“Mutiara Hitam…, tentu dia bukan sembarang orang dan biar pun dia sudah tertawan, kurasa tidak akan mudah bagi kakek iblis itu untuk mencelakainya.”

“Kau betul, Kiang-kongcu. Dengan berpencar kita akan lebih berhasil. Terima kasih atas bantuanmu dan sampai jumpa!” kata Hauw Lam yang juga tidak mau membuang waktu lagi karena ia amat mengkhawatirkan nasib gadis lincah yang telah menjatuhkan hatinya itu. “Agar Kongcu tidak lupa, namaku adalah Tang Hauw Lam, akan tetapi Mutiara Hitam menyebutku si Berandal!” Setelah menjura, Hauw Lam lalu melompat dan melanjutkan pengejaran ke utara.

Kiang Liong berdiri dan tersenyum, menggeleng-geleng kepalanya dan berkata lirih kepada diri sendiri. “Bocah itu mabok asmara, tak salah lagi. Mudah-mudahan tidak akan gagal, dia anak baik…” Sambil bicara seorang diri pemuda yang tenang ini lalu melanjutkan perjalanannya ke barat sambil memasang mata penuh perhatian ke sekelilingnya kalau-kalau kakek gundul yang melarikan Mutiara Hitam itu lewat di situ dan meninggalkan jejak.

Sambil melanjutkan perjalanan untuk melakukan penyelidikan, Kiang Liong mengingat-ingat akan segala keterangan yang diperolehnya tentang bangsa Hsi-hsia ini. Menurut keterangan yang ia kumpulkan, bangsa yang menjadi ancaman baru ini dipimpin oleh pendeta-pendeta Tibet yang mendirikan Kerajaan Tangut. Pendeta-pendeta berjubah merah dari Tibet ini memang banyak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ada pun bangsa Hsi-hsia yang mereka pimpin merupakah bangsa berdarah campuran.

Setelah melanjutkan perjalanannya selama beberapa hari, Kiang Liong tidak menemukan jejak Mutiara Hitam dan penculiknya, juga tidak melihat adanya gerakan-gerakan bangsa Hsi-hsia. Akan tetapi ia memperoleh keterangan bahwa beberapa bulan yang lalu barisan besar bangsa Hsi-hsia berbondong- bondong menuju ke selatan.

Tak seorang pun di antara penduduk dusun yang ia tanya dapat menjelaskan apa yang hendak dilakukan barisan itu dan ke mana perginya. Hanya yang jelas, tampak bekas amukan mereka pada setiap dusun yang mereka lalui. Tidak ada harta benda dan wanita muda yang mereka lepaskan begitu saja. Tidak ada dusun yang mereka lalui tanpa mengalami korban yang amat banyak, pembunuhan sewenang-wenang, perampokan, perkosaan dan penculikan.

Kiang Liong menghela napas panjang menyaksikan ini semua. Selama ia mengikuti jejak barisan bangsa Hsi-hsia, entah sudah berapa puluh kali ia berhenti untuk mengubur jenazah-jenazah wanita muda yang menggeletak begitu saja di pinggir jalan, ditinggalkan oleh bangsa Hsi-hsia. Melihat wanita-wanita muda tewas tanpa pakaian itu, ada di antaranya yang sudah menjadi korban binatang buas sehingga mayatnya tidak utuh lagi, Kiang Liong teringat akan bunyi sajak tentang bunga-bunga yang dicampakkan begitu saja ke dalam lumpur setelah habis diisap madunya dan dinikmati harumnya.

Karena banyaknya mayat-mayat itu dan karena terlalu sering berhenti di dusun-dusun yang menjadi korban keganasan bangsa Hsi-hsia untuk menolong mereka yang terluka, perjalanan Kiang Liong amat lambat. Dan memang bukan kehendaknya untuk mengejar barisan yang menurut taksiran penduduk berjumlah puluhan ribu orang itu. Ia hanya ingin menyelidiki apa yang hendak mereka lakukan dan sampai berapa jauhnya gerakan mereka mengancam Kerajaan Sung.

Ia dapat mengumpulkan makin banyak keterangan dari para penduduk dusun-dusun yang dilalui. Menurut berita itu, barisan ini dipimpin oleh perwira-perwira yang perkasa dan para perwira ini dikepalai oleh serombongan pendeta berjubah merah. Di tengah-tengah para pendeta berjubah merah ini terdapat sebuah tandu yang tertutup sutera-sutera merah. Di dalamnya tentu ada orang karena menurut para penduduk, ada suara orang yang halus dan rendah keluar dari tandu, dalam bahasa asing, dan ada kalanya gadis tercantik yang terampas dimasukkan ke dalam tandu secara paksa.

Namun tidak ada seorang pun pernah melihat siapa gerangan orangnya yang berada di dalam tandu dan seperti apa macamnya. Yang jelas bagi Kiang Liong kini adalah bahwa semua pendeta jubah merah menyembah-nyembah penghuni tandu seperti menyembah dewa, sedangkan para perwira tunduk dan taat kepada perintah para pendeta, sebaliknya para anggota barisan juga taat kepada pimpinan para perwira. Pendeknya, barisan ini merupakan barisan yang amat kuat.

Makin jauh ke selatan ia mengikuti jejak barisan itu, makin heran dan akhirnya khawatir hati Kiang Liong. Kini ia telah memasuki wilayah Kerajaan Nan-cao! Mau apa barisan orang-orang Hsi-hsia ke Nan-cao? Kerajaan Nan-cao adalah kerajaan ke dua yang bersahabat dengan Kerajaan Sung, setelah Kerajaan Khitan. Dan dia sendiri bersahabat dengan kaum Beng-kauw yang berkuasa di Nan-cao. Sudah dua kali ia mewakili gurunya, Suling Emas, berkunjung ke Nan-cao untuk menghadiri perayaan Beng-kauw. Karena ia sudah hampir sebulan ketinggalan oleh barisan Hsi-hsia, kini Kiang Liong mempercepat perjalanannya.

Begitu memasuki dusun yang termasuk wilayah Kerajaan Nan-cao, mulailah ia mendengar berita tentang perang yang mencemaskan hal itu. Perang penyerbuan barisan Hsi-hsia ke kota raja Nan-cao dan betapa bala tentara Nan-cao menyambut musuh di luar kota raja dan di mana terjadi perang sampai hampir sebulan lamanya. Akan tetapi akhirnya barisan Hsi-hsia dapat dipukul mundur, demikian menurut berita yang didengarnya.

Pada hari itu ketika Kiang Liong menuruni lereng pegunungan kecil, memasuki daerah yang tandus berbatu, tiba-tiba ia mendengar suara ramai-ramai di sebelah depan. Ia merasa curiga. Daerah tandus ini tidak ditinggali manusia, tanahnya terlalu tandus dan dari puncak pegunungan tadi ia tidak melihat adanya dusun. Akan tetapi suara di depan itu menandakan banyak orang berada disana, diseling suara tertawa- tawa dan suara wanita marah-marah.

Ia mempercepat jalannya dan setelah membelok di sebuah tikungan yang tertutup batu besar, ia melihat sedikitnya ada dua puluh orang laki-laki yang buas dan asing mengurung dua orang wanita muda yang cantik jelita dan bersikap gagah. Begitu melihat dua orang gadis itu, Kiang Liong menjadi kaget dan menurutkan kata hatinya, ingin ia sekali bergerak melemparkan dua puluh orang laki-laki kasar itu. Akan tetapi ia bukan seorang yang sembrono dan ia cukup tahu bahwa dua orang gadis itu bukanlah gadis-gadis lemah, maka ia menyelinap dan mengintai untuk melihat dan mendengar sebelum menentukan apakah ia perlu turun tangan menolong.

Dua orang gadis itu cantik sekali, kecantikan daerah selatan yang panas. Seorang di antara mereka, yang wajahnya lembut dan agak lebih tua, berusia kurang lebih dua puluh tahun, pakaiannya berwarna kuning dan rambutnya yang hitam digelung ke atas. Gadis ke dua paling banyak delapan belas tahun, pakaiannya serba merah, gagang pedang tersembul di belakang punggungnya, membuat ia tampak gagah sekali. Wajahnya lebih manis dan galak! Dan gadis yang lebih muda inilah yang kini membentak dan memaki.

“Anjing-anjing Hsi-hsia, kalian sudah terusir ke luar dari negeri kami, tapi masih berani berkeliaran di sini. Hemm, sungguh kebetulan sekali, sebelum membasmi seribu ekor anjing Hsi-hsia, takkan puas hatiku!”

“Betul, Adikku. Kita harus bunuh anjing-anjing ini agar tidak penasaran arwah orang tua kita,” kata gadis yang berpakaian kuning. Mereka berdua menggerakkan tangan dan sudah mencabut pedang masing- masing.

“Huah-ha-ha-ha, bidadari-bidadari cantik manis, kenapa galak amat? Mari bersenang dengan kami, jago- jago dari Hsi-hsia!” Seorang di antara dua puluh laki-laki kasar itu, yang berambut merah, berkata sambil menyeringai lebar. Teman-temannya tertawa bergelak dan mereka mengurung dua orang gadis itu dengan sikap menjemukan, seperti segerombolan harimau mengurung dua ekor kelinci yang hendak dipermainkan lebih dulu sebelum dijadikan mangsa.

Tiba-tiba tampak dua gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Terdengar jerit-jerit kesakitan disusul robohnya dua orang Hsi-hsia, seorang di antaranya adalah si Rambut Merah. Ternyata dua orang gadis itu sudah mulai turun tangan. Gerakan pedang mereka amat cepat sehingga dalam sekejap mata saja dua orang laki-laki kasar yang nampak kuat itu sudah roboh binasa.

Hal ini sama sekali tidak tersangka-sangka oleh gerombolan orang Hsi-hsia itu sehingga mereka menjadi kaget sekali. Kalau tadinya mereka bergembira hendak mengganggu dan berkurang ajar, kini mereka menjadi marah. Tampak kilatan senjata ketika mereka semua mencabut golok melengkung lebar dari pinggang.

Kiang Liong yang menonton dari tempat pengintaiannya tidak bergerak. Ia maklum bahwa menghadapi pengeroyokan orang-orang kasar itu, dua orang gadis ini tentu tidak akan kalah dan tidak membutuhkan bantuannya. Ia tersenyum dan memandang kagum. Lima enam tahun yang lalu ketika ia berkunjung ke Nan-cao, dua orang gadis itu masih amat muda, masih remaja. Kini mereka telah menjadi dewasa yang selain cantik manis, juga memiliki ilmu silat yang cukup mengagumkan, tidak mengecewakan kalau mereka menjadi cucu Ketua Beng-kauw. Ia masih ingat betapa enam tahun yang lalu, dua orang gadis yang dulu masih cilik, tanpa malu-malu menemuinya dan mendengar pujian ayah mereka tentang diri Kiang Liong, mereka tanpa sungkan-sungkan minta petunjuk-petunjuk ilmu silat.

Dua orang gadis itu adalah puteri-puteri dari adik tiri gurunya yang bernama Kam Bu Sin, mantu ketua Beng-kauw. Yang tua bernama Kam Siang Kui sedangkan adiknya, dua tahun lebih muda, bernama Kam Siang Hui. Kiang Liong masih ingat betul betapa sejak enam tahun yang lalu, Siang Hui lebih berani dan lebih galak. Kini ia dapat mengenal dua orang gadis itu. Tentu nona baju merah itulah Kam Siang Hui, sedangkan yang berpakaian kuning dan bersikap lebih tenang adalah Kam Siang Kui.

Akan tetapi, ketika tadi ia mendengar ucapan dua orang gadis itu, hati Kiang Liong berdebar gelisah. Ia cerdik dan sekali mendengar kata-kata kedua orang kakak beradik itu, ia sudah dapat menduganya. Tentu dua orang gadis itu kehilangan orang tua mereka dalam perang melawan bangsa Hsi-hsia yang menyerbu Nan-cao. Dan ia menjadi heran dan juga gelisah. Paman gurunya, Kam Bu Sin, memiliki kepandaian tinggi, juga ibu kedua orang gadis itu, yang bernama Liu Hwee, adalah puteri tunggal ketua Beng-kauw dan memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi lagi. Kalau mereka berdua sampai gugur di medan perang, berarti bahwa fihak musuh memiliki orang-orang yang sakti.

Betapa pun cemas dan gelisah hati Kiang Liong namun ia tidak mau keluar untuk membantu Siang Kui dan Siang Hui. Sebagai seorang pendekar ia tentu saja mengerti bahwa membantu orang-orang gagah yang sama sekali tidak perlu dibantu mendatangkan kesan yang tidak baik dan dapat menyinggung perasaan. Maka ia hanya menonton, walau pun siap untuk turun tangan kalau-kalau dua orang gadis itu terancam bahaya.

Dua orang gadis itu mengamuk seperti dua ekor naga. Gulungan sinar pedang mereka yang berwarna putih berkilauan seperti perak menyambar-nyambar dan para pengeroyok yang hanya terdiri dari orang- orang kasar yang mengandalkan tenaga itu mulai roboh seorang demi seorang. Dalam waktu singkat saja belasan orang roboh mandi darah dan sisanya mulai gentar, bahkan ada yang sudah membalikkan tubuh hendak melarikan diri.

“Cici, jangan biarkan anjing-anjing itu lari!” seru Siang Hui sambil memutar pedang mendesak maju, merintangi mereka yang hendak lari.

Siang Kui mengejar ke depan, kedua tangannya bergerak dan robohlah tiga orang lawan yang sudah lari itu, punggung mereka tertusuk senjata rahasia yang berbentuk anak panah. Sisa gerombolan yang hanya tinggal enam orang itu menjadi nekat. Sambil berteriak-teriak liar mereka menyerbu mati-matian, namun kenekatan mereka tiada gunanya karena dengan mudah saja Siang Kui dan Siang Hui merobohkan mereka.

Dua puluh satu orang menggeletak malang-melintang di depan dua orang gadis itu yang seakan-akan telah menjadi gila saking marah dan sakit hatinya sehingga kini mereka membacok dan menusuki korban yang masih dapat bergerak-gerak dan berkelojotan sampai semua lawan mereka rebah tak bernyawa lagi!

Biar pun Kiang Liong maklum bahwa semua itu terdorong oleh rasa duka kehilangan ayah bunda, namun tetap saja ia menganggapnya terlalu kejam dan tidak baik. Maka kini ia melompat keluar dan berseru, “Adik-adik…! Cukuplah…!”

Siang Kui dan Siang Hui yang mukanya masih kemerahan dan beringas membalikkan tubuh dengan sigapnya, siap menghadapi lawan baru. Mula-mula mereka pangling melihat seorang pemuda berpakaian putih yang berdiri di depan mereka dengan sikap tenang dan pandang mata penuh teguran itu sehingga mereka makin mempererat genggaman tangan pada gagang pedang. Akan tetapi ketika mereka melihat alat musik yang-khim tergantung di belakang punggung dan tampak tersembul di belakang pundak pemuda itu, mereka segera mengenal orangnya.

“Liong-twako (Kakak Liong)…!” mereka berseru bergantian sambil berlari maju menghampiri Kiang Liong. Wajah mereka yang tadinya merah beringas itu berubah lembut, bahkan agak berseri ketika dua pasang mata itu memandang Kiang Liong dan mereka cepat-cepat menyimpan kembali pedang yang tadi dipakai mengamuk.

“Ji-wi Siauw-moi (Kedua Adik) mengapa berada di sini dan membunuhi orang-orang ini? Ji-wi hendak pergi ke manakah?”

Ditanya begini, tiba-tiba Siang Hui menubruk Kiang Liong sambil menangis. Ketika Kiang Liong berkunjung ke rumah gadis itu enam tahun yang lalu, Siang Hui baru berusia dua belas tahun maka kini bertemu pemuda ini ia seperti lupa bahwa ia kini sudah berusia delapan belas tahun. Ia sesenggukan di dada Kiang Liong yang menepuk-nepuk pundaknya.

Melihat adiknya menangis tersedu-sedu, Siang Kui juga menangis, akan tetapi gadis yang lebih tua ini hanya berani memegang lengan Kiang Liong sambil berkata, “Ah, engkau tidak tahu, Liong-twako…! Mereka ini adalah musuh-musuh Nan-cao, mereka ini anjing-anjing Hsi-hsia yang telah menyerbu Nan- cao… dan… dan… dalam pertempuran… Ayah dan Ibu kami telah gugur….”

Kiang Liong mengangguk-angguk. Untung tadi ia sudah mendengar dan dapat menduga, kalau tidak, tentu ia akan terkejut sekali. Karena ia sudah tahu, maka kini ia dapat mengeluarkan kata-kata hiburan untuk membangkitkan semangat.

“Ah, Adik-adikku. Aku juga ikut berduka sekali atas kematian Ayah Bunda kalian. Akan tetapi ingatlah bahwa mati hidup manusia berada di tangan Thian Yang Maha Kuasa. Dan kalau diingat, kematian Ayah Bunda kalian dalam tugas membela negara adalah kematian pahlawan yang amat terhormat dan sungguh pun kehilangan ini amat mendukakan hati, namun kematian beliau berdua itu patut dibuat bangga! Aku sudah mendengar bahwa bangsa Hsi-hsia yang menyerbu ke Nan-cao dapat dipukul mundur. Pengorbanan orang tua kalian bukan sia-sia kalau begitu.”

Ucapan pemuda itu tentu akan menjadi hiburan yang manjur dan dapat membangkitkan semangat, apa lagi kalau diingat bahwa dua orang gadis ini bukan keturunan sembarangan, melainkan keturunan suami isteri yang gagah perkasa dan masih cucu ketua Beng-kauw yang sakti. Akan tetapi sungguh di luar dugaan Kiang Liong. Mereka itu hanya sebentar saja terhibur dan sinar mata mereka bercahaya penuh semangat, akan tetapi di lain saat mereka telah menangis lagi tersedu-sedu.

Kemudian Siang Hui yang kini berkata dengan suara penuh duka, “Liong-twako, mala-petaka itu lebih hebat dari pada yang kau duga. Tidak hanya Ayah Bunda kami yang gugur, bahkan Han Ki, adik kami yang baru berusia sebelas tahun terculik dan… Kong-kong (Kakek) serta sebagian besar pimpinan Beng-kauw juga tewas di tangan musuh….“

“Apa…?!” Kini Kiang Liong tak dapat menahan kekagetan hatinya. Berita ini terlalu hebat. “Bagaimanakah orang Hsi-hsia mampu menewaskan orang-orang seperti Beng-kauwcu (Ketua Beng-kauw) dan para pimpinan Beng-kauw?”

“Di antara barisan Hsi-hsia terdapat orang-orang sakti, dan agaknya mereka ini memang menyelundup bersama barisan Hsi-hsia untuk menyerbu Beng-kauw. Buktinya mereka tidak peduli akan kekalahan barisan Hsi-hsia dan lebih mengutamakan penghancuran pimpinan Beng-kauw. Mereka adalah pendeta- pendeta berjubah merah yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian lihai, dipimpin oleh seorang wanita setengah tua yang cantik dan berambut panjang dan seorang kakek pendeta jubah merah yang kaki kirinya buntung sebatas lutut. Dua orang inilah yang lihai sekali dan yang berhasil menewaskan Kong-kong dan para pimpinan Beng-kauw, termasuk Ayah Bunda kami. Liong-twako, kau tolonglah, bantulah kami untuk membalas dendam dan menolong adik kami Han Ki.”

“Tentu aku suka membantu kalian. Akan tetapi, ke mana kita akan mencari? Dan ke mana pula kalian hendak pergi sebelum bertemu dengan pasukan musuh ini?”

“Tadinya kami hendak pergi menghadap Kakek Kauw Bian Cinjin untuk minta pertolongannya.” jawab Siang Kui.

Wajah Kiang Liong yang tadinya menjadi muram karena berita duka yang hebat itu agak berseri, “Ahhh, jadi Locianpwe Kauw Bian Cinjin tidak gugur bersama pimpinan Beng-kauw?”

Siang Kui menggeleng kepala dan menghapus air matanya. “Kakek Kauw Bian Cinjin sudah tiga tahun lebih mengundurkan diri dari Beng-kauw dan pergi bertapa di puncak Tai-liang-san, maka terhindar dari mala-petaka. Hanya beliau yang dapat membantu kami, dan untung kami bertemu denganmu di sini, Liong- twako. Musuh amat kuat dan biar pun tentara Hsi-hsia sudah terpukul mundur dari Nan-cao, namun mereka masih berkeliaran di sekitar tapal batas barat. Buktinya di sini kami bertemu dengan anjing-anjing ini yang agaknya memang menghadang perjalanan kami. Menurut para penyelidik, kakek dan nenek sakti bersama para pendeta berjubah merah bersembunyi di pegunungan Kao-likung-san di lembah Sungai Nu- kiang.”

Tiba-tiba Kiang Liong menggerakkan kedua tangannya mendorong pundak kedua orang gadis itu sehingga mereka itu terlempar dua meter lebih, terhuyung-huyung.

“Eh, ada apa, Twako…?” Siang Hui menegur, juga Siang Kui terkejut sekali.

Akan tetapi Kiang Liong sudah meloncat sambil membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya menangkis dan runtuhlah beberapa buah peluru hitam yang menyambar ke arah tubuhnya. Kini barulah dua orang gadis itu tahu bahwa tadi pun ada beberapa buah peluru hitam menyambar ke arah mereka dan kalau tidak ada Kiang Liong yang mendorong mereka, tentu mereka menjadi korban. Mereka memandang dengan mata terbelalak, merasa ngeri betapa ada orang dapat membokong mereka tanpa mereka ketahui. Hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa orang yang melepas senjata rahasia itu tentulah orang yang amat lihai.

“Huah-ha-ha-heh-heh! Orang muda, kau tangkas juga!” Terdengar suara terkekeh-kekeh dan muncullah seorang kakek bertubuh kecil dari balik sebatang pohon besar yang tiada berdaun lagi.

Kakek ini amat kurus dan tua, hanya rangka terbungkus kulit keriput. Bajunya tak berlengan, kedua pergelangan lengannya terlindung selubung hitam, entah dari bahan apa. Kuku tangannya panjang- panjang seperti kuku setan, melengkung dan runcing. Kumisnya kecil menjuntai lesu. Kakinya telanjang pula. Pinggangnya memakai sabuk yang ada dompet-dompetnya kecil berjajar. Punggungnya menggendong bambu besar dan bambu kecil, dan sepasang mata orang aneh ini kelihatan menghitam menakutkan. Mulutnya bergerak-gerak tertawa terpingkal-pingkal dan terbahak-bahak, akan tetapi mukanya, terutama matanya, sama sekali tidak membayangkan tawa, bahkan amat serius dan sungguh- sungguh.

Kiang Liong bersikap tenang. Ia maklum bahwa orang didepannya ini adalah seorang berilmu tinggi dan agaknya termasuk golongan hitam. Maka ia menjura dan bertanya, “Agaknya saya berhadapan dengan seorang Cianpwe. Selamanya belum pernah saya, Kiang Liong, dan kedua orang adik saya ini bertemu dengan Cianpwe, mengapakah begitu bertemu Locianpwee lalu menyerang kami dan siapakah julukan Locianpwe?”

“Ha-ha-ha, heh-he-heh! Girang sekali hatiku mendengar orang-orang Beng-kauw terutama sekali si bedebah Liu Mo si mata keranjang yang banyak bininya itu mampus! Ha-ha-ha! Dan untungku bertemu dengan dua orang cucunya. Heh, orang muda, apakah kau orang Beng-kauw? Kalau bukan, lekas pergi jangan mencampuri urusan Siauw-bin Lo-mo! Serahkan dua orang bocah ini kepadaku agar puas hatiku dan lunas perhitunganku dengan Beng-kauw!”

Kiang Liong mengerutkan keningnya dan diam-diam menjadi marah sekali. Kiranya inilah yang berjuluk Siauw-bin Lo-mo, seorang di antara Bu-tek Ngo-sian?

“Hemm, Locianpwe yang berjuluk Siauw-bin Lo-mo dan menjadi seorang di antara Bu-tek Ngo-sian? Pantas saja tidak segan bersikap keji, tidak jauh bedanya dengan Bu-tek Siu-lam yang pernah saya jumpai. Saya tidak mempunyai kehormatan untuk menjadi anggota Beng-kauw yang terkenal, akan tetapi para pimpinan Beng-kauw adalah orang-orang tua yang saya hormati, sedangkan yang muda-muda adalah saudara-saudara saya. Locianpwe baru dapat mengganggu kedua orang adik saya ini setelah melalui mayat saya!”

“Ha-ha-ha, heh-heh, orang muda yang bernyali besar! Kau sudah bosan hidup?” Sambil terkekeh-kekeh ketawa mengejek Siauw-bin Lo-mo menerjang maju.

Gerakan Siauw-bin Lo-mo amatlah cepatnya dan senjata-senjatanya hanyalah jari-jari kuku tangannya. Akan tetapi, kuku jari tangan ada sepuluh buah banyaknya dan setiap kuku runcing tajam mengandung racun sehingga sama dengan memegang sepuluh buah senjata yang amat berbahaya! Tubrukannya liar ganas, gerakannya cepat laksana burung menyambar. Ia menerjang sambil tertawa, mengira bahwa sekali tubruk ia akan mampu merobohkan lawannya yang masih muda.

Akan tetapi perkiraannya jauh meleset dan ia terheran-heran ketika ternyata menubruk tempat kosong dan pemuda yang tampan dan tenang itu tahu-tahu telah lenyap. Ia hanya mendengar angin berseliwer di samping kanannya, maka cepat Siauw-bin Lo-mo membalikkan tubuhnya. Benar saja, pemuda itu sudah berdiri di belakangnya dan kini kedua tangan pemuda itu sudah memegang dua buah senjata yang lucu dan aneh. Tangan kanannya memegang sebatang pensil bulu sedangkan tangan kirinya memegang pensil kayu!

Sebetulnya kalau menurutkan wataknya sebagai seorang pendekar yang enggan bersikap curang, melihat lawan bertangan kosong, Kiang Liong hendak melayani dengan tangan kosong pula. Akan tetapi serangan pertama tadi membuat ia terkejut karena kuku-kuku jari tangan lawan mengeluarkan sinar hitam dan ia mencium bau amis, maka tahulah ia bahwa lawannya ini seorang tokoh jahat yang mempunyai keahlian tentang racun, maka ia tidak segan-segan lagi untuk mencabut ke luar sepasang pensilnya. Juga gerakan kakek ini amat cepat, menandakan bahwa lawan ini benar-benar seorang lawan yang amat tangguh, tidak di sebelah bawah tingkat Bu-tek Siu-lam yang lihai itu!

Di lain pihak, Siauw-bin Lo-mo juga terkejut bukan main ketika melihat betapa gerakan pemuda itu sedemikian cepatnya dan kemudian melihat sepasang senjata di tangan si Pemuda. Senjata itu saja sudah merupakan bukti bahwa pemuda ini benar-benar bukan lawan sembarangan karena hanya orang yang tinggi tingkat kepandaiannya saja dapat mempergunakan senjata sekecil dan seringan itu. Makin kecil ringan serta lemah senjatanya, makin tinggilah kepandaian orang.

Siauw-bin Lo-mo adalah seorang tokoh yang belum pernah bertemu tanding, kecuali ketika ia terpaksa mengakui keunggulan Kauw Bian Cinjin beberapa tahun yang lalu. Karena kekalahannya dari tokoh Beng- kauw inilah maka ia mendendam sakit hati kepada Beng-kauw. Karena merasa dirinya memiliki kepandaian tinggi jarang ada tandingnya, maka tentu saja kini ia tidak gentar menghadapi lawan yang masih muda, sungguh pun ia maklum bahwa lawan ini tak boleh dipandang ringan.

“Ho-ho-ha-ha, sayang kalau seorang muda seperti engkau mampus di tanganku. Kau lihat kelihaianku! Ha- ha-ha!” Kini ia menerjang maju dengan gerakan teratur, tidak asal tubruk lagi seperti tadi.

Ternyata ilmu silat tangan kosongnya dahsyat, mengeluarkan angin pukulan yang bersuitan dan gerakan kedua tangannya cepat sekali. Kuku panjang itu terpentang dan menyambar-nyambar dari segala jurusan secara tidak terduga-duga. Agaknya kakek ini sudah tidak sabar lagi untuk cepat-cepat menjatuhkan lawan mudanya, maka ia sudah mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmunya yang dahsyat dengan keyakinan bahwa seorang muda seperti Kiang Liong tak mungkin dapat mengatasi serangannya ini.

Akan tetapi kenyataannya jauh berbeda dengan keyakinan hatinya. Pemuda itu dengan gerakan sigap dan amat indah dapat mengelak dan menghindarkan diri dari rangsekan serangannya, bahkan balas menyerang karena sepasang pensil itu menyambut serangan-serangannya dengan totokan-totokan pada jalan darah di pergelangan, telapak tangan, dan dekat siku.

Dengan cara ini, dari keadaan terserang Kiang Liong berbalik menyerang karena sebelum setiap pukulan dan cakaran lawan mendekati tubuhnya, ia telah mendahului dengan totokan yang amat kuat dan tepat sasarannya. Keyakinan Siauw-bin Lo-mo untuk mendesak pemuda itu menjadi berbalik kenyataannya sehingga dia sendiri yang terdesak dan kalau saja ia tidak lihai mainkan gelang baja pelindung pergelangan tangan, tentu ia siang-siang sudah menjadi korban totokan!

“Heh-heh, kau berani mati!” bentaknya sambil bergelak dan tubuhnya tiba-tiba merubah gerakan.

Kini kuku-kukunya yang runcing itu tidak langsung menyerang tubuh lawan, melainkan berusaha mencengkeram pensil lalu disusul cengkeraman ke arah lengan atau bagian tubuh terdekat apa bila Kiang Liong menarik senjatanya karena khawatir terkena cengkeraman yang kuat itu. Dengan siasat gerakan macam ini, keadaan kembali menjadi terbalik dan kini pemuda itulah yang tampaknya terdesak. Kuku-kuku yang panjang runcing berbisa, ditambah baja pelindung pergelangan tangan kakek itu benar-benar amat menyulitkan sasaran totokan kedua pensilnya. Kini bahkan kakek itu mulai berloncatan seperti monyet, akan tetapi secara tidak terduga-duga kedua kakinya kadang-kadang melakukan tendangan-tendangan berantai, bukan tendangan biasa, melainkan tendangan disertai cengkeraman jari kaki yang dapat membentuk cakar garuda!

Lima jari kuku tangan kiri yang runcing itu mencengkeram dengan gerakan cepat ke arah pensil bulu di tangan kanan Kian Liong. Pemuda ini mengelakkan pensil bulunya dan cepat menotok dengan pensil kayu di tangan kiri mengarah ke leher lawan. Akan tetapi terdengar suara keras ketika pensil kayu itu tertangkis oleh pelindung pergelangan kanan kakek itu yang melanjutkan gerakan tangan kanan dengan cengkeraman ke arah lengan kiri Kiang Liong.

Pemuda ini tidak membiarkan dirinya dicengkeram. Cepat ia menggeser kaki ke kanan sehingga tubuhnya miring dan cengkeraman itu luput. Pada detik itu secara tak tersangka-sangka kaki kiri lawannya bergerak menendang ke arah perut. Tendangan yang keras dan cepat sekali datangnya. Kiang Liong kaget dan menggerakkan pensil bulu ke arah kaki itu, menotok ke arah mata kaki, kemudian pensil kayunya secepat kilat menotok ke leher kanan lawan.

“Breettt…! Takkk…!”

Siauw-bin Lo-mo berseru kaget dan terhuyung. Kiang Liong juga berseru kaget dan cepat memutar kedua senjatanya di depan tubuh untuk membentuk gaya bertahan. Kiranya tadi secara tak terduga-duga, kakek itu hanya mengelak sedikit dan membiarkan pundaknya mewakili leher menerima totokan sambil mengerahkan sinkang dan tangan kirinya cepat-cepat mencengkeram ke arah pinggang kanan Kiang Liong. Pemuda ini kaget bukan main, cepat ia mendoyongkan tubuh ke belakang sehingga otomatis totokannya yang semula ditujukan ke leher lawan kemudian oleh lawannya sengaja diterima dengan pundak itu tidak mengenai secara tepat sekali. Namun karena tenaga yang tersalur melalui pensil kayu itu adalah tenaga sinkang murni dan kuat, maka akibatnya cukup membuat Siauw-bin Lo-mo terhuyung ke belakang dengan muka berubah.

Kiang Liong juga kaget. Tahulah ia bahwa lawannya adalah seorang yang amat lihai, maka tanpa ragu- ragu lagi Kiang Liong lalu merubah gerakan. Kini ia menerjang maju dan sepasang senjatanya itu dipegang seperti orang hendak menulis, kemudian mulailah ia menggerakkan sepasang pensil seperti menulis huruf- huruf di udara, mencorat-coret ke arah lawan. Gerakannya wajar, seperti hendak menuliskan pensil- pensilnya di atas tubuh lawan. Akan tetapi akibatnya hebat sekali.

Silau rasanya mata Siauw-bin Lo-mo menghadapi coretan-coretan itu karena ia menjadi bingung sekali. Berkali-kali ia menangkis dengan kedua tangannya, bahkan berusaha merampas sepasang pensil yang amat lihai itu, namun hasilnya sia-sia, malah hampir saja ia terkena totokan yang sama sekali tak disangkanya. Gerakan mencorat-coret seperti orang menulis itu ternyata merupakan serangan-serangan maut dan setiap gerakan mengandung tenaga yang amat kuat. Lebih hebat lagi tenaga yang keluar dari gerakan sepasang pensil itu berbeda, bahkan berlawanan sehingga amat membingungkan kakek yang tadinya merasa bahwa di dunia ini jarang ada orang mampu menandinginya. Kini menghadapi seorang pemuda saja ia sudah kewalahan, apa lagi hendak mengalahkannya atau mengenal ilmu silatnya yang luar biasa itu.

Hal ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa ilmu silat yang dimainkan Kiang Liong itu adalah ilmu silat simpanan yang diturunkan oleh Suling Emas kepadanya! Itulah ilmu silat Hong-in Bun-hoat yang dahulu diciptakan oleh manusia dewa Bu kek Siansu dan kemudian diturunkan kepada Suling Emas. Ilmu silat ini adalah gerakan silat tinggi yang disesuaikan dengan ilmu kesusastraan. Hanya orang yang sudah menguasai sastra secara mendalam, yang dapat menulis huruf-huruf indah dan kuat saja akan mampu menguasai Hong-in Bun-hoat.

Tentu saja ia harus memiliki dasar ilmu silat tinggi yang sudah matang pula. Biar pun Kiang Liong adalah seorang pelajar yang pandai ilmu sastra dan juga sudah digembleng ilmu silat tinggi oleh gurunya, namun ia hanya mampu menguasai delapan bagian saja dari ilmu yang sakti ini. Untuk dapat menguasai ilmu ini sampai sepuluh bagian atau seluruhnya membutuhkan pengalaman bertahun-tahun seperti Suling Emas. Betapa pun, yang delapan bagian ini sudah cukup membuat seorang tokoh besar seperti Siauw-bin Lo-mo menjadi sibuk dan terdesak hebat.

Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui menonton pertempuran ini dengan pandang mata kagum. Menyaksikan kehebatan sepak terjang kakek aneh itu, mereka berdua tahu diri dan tidak berani maju membantu Kiang Liong. Mereka maklum bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat kakek itu, maka jika mereka membantu, hal ini tidak akan menguntungkan Kiang Liong. Betapa kagum hati mereka melihat Kiang Liong mendesak kakek itu dengan sepasang pensilnya.

Siauw-bin Lo-mo masih berusaha mempertahankan diri, namun makin lama ia makin terkurung dan tak dapat keluar dari lingkaran ujung pensil yang bergerak-gerak secara aneh itu. Dalam pandang matanya, kini ada banyak sekali ujung pensil yang menyerang jalan-jalan darah terpenting di tubuhnya, membuat ia sibuk dan akhirnya ia bergulingan di atas tanah untuk menghindarkan diri.

Siauw-bin Lo-mo tak dapat tertawa lagi dan agaknya baru kali ini selama hidupnya ia bertanding melawan seorang pemuda tanpa ketawa mengejek. Rasa penasaran dan malu membuat ia menjadi marah. Tiba-tiba ia meloncat dari keadaan bergulingan itu, tangan kanan kiri sudah merenggut keluar dua buah benda hitam sebesar telur angsa, kemudian ia membanting dua ‘telur’ itu ke atas tanah di sebelah depannya. Terdengar suara meledak dua kali dan asap putih tebal menyelimuti sekelilingnya.

Kiang Liong terkejut dan dapat menduga bahwa asap putih tebal bergulung-gulung ini tentu mengandung racun, maka ia cepat mengumpulkan napas dalam dada lalu menahan napas dan menerjang maju dengan totokan-totokan maut dalam bentuk tulisan. Dengan ketabahan luar biasa Kiang Liong menyerbu lawan yang bersembunyi dalam asap putih. Makin lama asap mengepul makin banyak dan tebal sehingga kedua orang itu lenyap ditelan gumpalan-gumpalan asap. Akan tetapi kakek aneh ini sekarang sudah mengambil bambu kecil yang tadinya ia gendong di punggung dan begitu ia membuka sumbat bambu itu, dari dalam bambu keluar asap hitam yang amat busuk baunya.

Kiang Liong terkejut bukan main. Inilah semacam asap beracun yang luar biasa jahatnya. Jangankan tercium dan memasuki paru-paru, baru mengenai kulit saja sudah dapat menimbulkan keracunan hebat. Maka ia cepat menggerakkan lengan-lengan bajunya yang dikebutkan dengan pengerahan tenaga sinkang sehingga asap itu buyar tidak jadi menyerangnya. Keadaan di sekeliling gelap pekat dan ia tahu bahwa dirinya dikurung asap-asap beracun.

Kiang Liong cepat mengerahkan ginkangnya karena pada saat itu ia sudah tidak dapat melihat lagi ke mana perginya lawan. Ia meloncat cepat ke luar dari kurungan asap. Setelah tiba di luar kurungan asap, ia dapat melihat betapa lawannya sudah lenyap dari tempat itu dan ketika ia menengok ke belakang, ternyata dua orang gadis itu pun sudah lenyap tak tampak bayangannya lagi!

“Kui-moi…! Hui-moi…!” Ia memanggil dengan suara nyaring. Namun tidak ada jawaban sehingga hatinya menjadi khawatir sekali.

Mungkinkan si Kakek sakti itu ketika menghilang di dalam gumpalan asap berkesempatan pula untuk menawan dua orang gadis itu? Ah, tidak mungkin rasanya. Betapa pun lihainya Siauw-bin Lo-mo, tidak mungkin dapat melarikan diri sambil menculik dua orang gadis itu sedemikian cepat dan di luar tahunya. Apa lagi kalau diingat bahwa dua orang kakak beradik itu bukanlah gadis-gadis lemah dan tentu akan melawan kalau akan diculik sehingga tidak mudah tertawan. Kiang Liong menyelidiki keadaan sekeliling tempat itu, bahkan memeriksa tanah dan rumput di mana Siang Kui dan Siang Hui tadi berdiri. Namun tidak terdapat tanda-tanda atau jejak-jejak yang mencurigakan. Ia mendongkol sekali, merasa ditipu dan dipermainkan lawan.

“Siauw-bin Lo-mo kakek iblis!” teriaknya marah. “Kalau engkau memang laki-laki, hayo maju dan lanjutkan pertandingan. Tak ada gunanya bersikap pengecut dan melarikan gadis-gadis itu!” Betapa pun kerasnya ia berteriak, tiada jawaban kecuali tiupan angin yang membawa hawa panas terik matahari.

Dengan pandang mata seperti harimau marah, Kiang Liong lalu meloncat dan berlari-lari cepat. Tujuannya sudah tetap. Pergi ke Kao-likung-san di lembah sungai Nu-kiang. Kalau tidak salah dugaannya, tentu kakek iblis tadi merupakan sekutu para pendeta Tibet yang memimpin pasukan Hsi-hsia menyerbu Nan-cao. Tentu ada permusuhan di antara Beng-kauw. Kalau ia harus pergi dulu mencari Kauw Bian Cinjin seperti yang direncanakan Siang Kui dan Siang Hui, ia khawatir kalau-kalau akan terlambat. Ia harus pergi menolong dua orang gadis itu dan adiknya.

Wajah yang tampan itu menjadi muram. Ia berduka kalau teringat akan nasib malang yang menimpa keluarga Kam Bu Sin, adik gurunya dan nasib para pimpinan Beng-kauw. Mereka tewas dan setelah pimpinan Beng-kauw terbasmi, siapa lagi yang dapat menggantikan mereka? Hanya tinggal Kauw Bian Cinjin seorang diri! Ah, betapa akan marah dan berduka hati gurunya kalau mendengar berita tentang mala-petaka ini. Gurunya mempunyai hubungan yang amat erat dengan Beng-kauw. Di samping semua itu, kekuatan Nan-cao terletak kepada Beng-kauw. Kalau Beng-kauw runtuh, apa jadinya Kerajaan Nan- cao kelak?

Teringat akan ini, Kiang Liong mempercepat larinya. Ia maklum bahwa tugasnya menolong Siang Kui, Siang Hui dan Han Ki, adik kedua orang gadis itu, bukanlah tugas ringan, bahkan merupakan tugas berbahaya sekali. Yang akan ia hadapi bukanlah lawan-lawan biasa, melainkan kekuatan yang amat besar, kekuatan yang telah membasmi Beng-kauw. Kalau tokoh-tokoh besar, terutama sekali ketua Beng-kauw yang amat sakti sampai tewas menghadapi kekuatan ini, terang bahwa dia seorang diri tidak akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi, betapa pun juga Kiang Liong tidak menjadi gentar. Ia harus cepat-cepat mengejar dan berusaha menolong anak-anak pamannya, Kam Bu Sin, kalau perlu dengan taruhan nyawa!

Girang dan juga bingung Kiang Liong ketika akhirnya ia dapat mengikuti jejak Siauw-bin Lo-mo. Dari para penduduk pegunungan ia mendengar bahwa kakek kurus kecil yang selalu tertawa itu melakukan perjalanan menuju ke pegunungan Kao-likung-san! Tepat seperti yang diduganya. Akan tetapi ia merasa bingung mendengar bahwa kakek itu melakukan perjalanan seorang diri saja. Kalau begitu, ke manakah perginya Siang Kui dan Siang Hui? Siapakah yang menculik mereka? Kalau yang menculik itu teman- teman Siauw-bin Lo-mo, kenapa kakek ini melakukan perjalanan seorang diri saja? Karena penasaran ia mengejar terus sampai ke kaki pegunungan Kao-likung-san.

Sampai di kaki gunung ini ia menjadi bingung karena kehilangan jejak kakek yang dikejarnya. Daerah itu amat sunyi tidak ada penduduk, dan ia tidak dapat menduga ke arah mana kakek itu pergi, juga tidak tahu di mana adanya markas para pendeta Tibet yang telah membasmi Beng-kauw. Menurut penuturan kedua orang gadis itu, katanya para pendeta Tibet bermarkas di pegunungan Kao-likung-san di lembah sungai Nu-kiang.

Mulailah ia pergi mencari sungai yang dimaksudkan. Dua hari lamanya ia berputaran, akhirnya ia dapat melihat sungai itu. Dari sebuah lereng yang tinggi dan terjal, ia melihat sungai itu jauh di bawah, tampak kecil berliku-liku dan airnya berwarna biru dengan buih putih menabrak batu-batu.

Tiba-tiba terdengar suitan nyaring dan Kiang Liong cepat melempar diri ke bawah. Beberapa batang anak panah menyambar dan lewat di atas tubuhnya. Ketika ia meloncat bangun, tempat itu sudah terkepung oleh tujuh orang laki-laki tinggi besar dipimpin oleh seorang hwesio berkepala gundul dan berjubah merah. Keadaan tujuh orang laki-laki itu sama dengan dua puluh orang yang mengeroyok Siang Kui dan Siang Hui, maka Kiang Liong cepat menduga bahwa mereka ini tentulah orang-orang Hsi-hsia dan hwesio itu tentulah seorang di antara pendeta Tibet yang memimpin barisan itu. Maka ia bersikap waspada dan juga girang karena tanpa disangka-sangka ia mendapatkan jejak markas yang dicarinya. Dengan sikap tenang ia menghadapi hwesio itu dan berkata.

“Bukankah kalian ini orang-orang Hsi-hsia dan Lo-suhu ini seorang pendeta Tibet?”

Pertanyaan Kiang Liong menimbulkan kekagetan kepada mereka. Hwesio itu pun membelalakkan matanya yang bundar dan memandang penuh selidik, kemudian terdengar suaranya yang nyaring dengan logat kaku.

“Orang muda, engkau siapakah dan bagaimana engkau dapat mengenal kami? Apakah engkau ada keperluan menghadap pimpinan kami?”

“Aku she Kiang bernama Liong dan aku dapat mengenal Lo-suhu sekalian karena sudah banyak aku mendengar tentang pasukan Hsi-hsia. Memang aku ingin bertemu dengan pimpinan kalian, terutama sekali untuk minta kembali seorang anak kecil bernama Kam Han Ki dan dua orang nona yang beberapa hari yang lalu kalian culik.”

“Keparat! Orang Beng-kauw mencari mampus. Serbu!” teriak pendeta itu yang mendadak berubah sikapnya menjadi galak sekali. Tujuh orang laki-laki tinggi besar itu serentak mentaati komando ini dan bagaikan harimau-harimau kelaparan mereka menubruk Kiang Liong dengan serangan-serangan ganas.

Kini mengertilah Kiang Liong mengapa Siang Kui dan Siang Hui mengamuk dan membunuhi semua orang Hsi-hsia yang mengeroyok mereka. Kiranya selain dua orang gadis itu mendendam karena kematian keluarga mereka dan terculiknya adik mereka, juga orang-orang Hsi-hsia ini amat kejam dan ganas, seperti iblis-iblis yang haus darah. Bahkan gerakan tujuh orang ini berbeda dengan para pengeroyok Siang Kui dan Siang Hui. Gerakan tujuh orang Hsi-hsia ini biar pun sama ganas dan kasar, namun lebih dahsyat dan jelas bahwa mereka ini memiliki kepandaian ilmu silat yang lumayan dan keberanian yang nekat.

Kiang Liong tidak menyia-nyiakan waktu. Tubuhnya bergerak ke kiri dan begitu kaki tangannya menyambar, empat orang pengeroyok sudah roboh, tak mampu bangkit kembali! Tiga orang Hsi-hsia yang lain kaget setengah mati, mata mereka sampai terbelalak kaget, akan tetapi hal ini sama sekali tidak disusul oleh rasa takut karena buktinya mereka berteriak parau dan menyerbu makin dahsyat lagi dengan golok mereka. Pendeta berkepala gundul itu juga terkejut dan kini menghunus pedangnya lalu ikut menyerbu, gerakannya amat kuat dan pedangnya mendatangkan angin.

Kiang Liong kembali meloncat ke kanan, sengaja agak jauh untuk memancing para pengeroyoknya. Tiga orang Hsi-hsia menyerbu, agaknya tidak peduli akan sesuatu. Mereka ini benar-benar merupakan prajurit- prajurit yang tak kenal takut sehingga orang-orang seperti ini kalau dipakai berperang tentu amat kuat. Kiang Liong sudah siap. Begitu tiga orang ini maju diikuti oleh hwesio jubah merah yang lebih berhati-hati sikapnya, ia menerjang maju, jari tangannya menyambar dan hampir berbareng tiga orang Hsi-hsia ini pun roboh! Hwesio itu cepat memutar pedang ketika melihat kaki Kiang Liong menyambar ke arahnya. Akan tetapi ternyata pemuda lihai ini hanya menggertak dengan tendangannya. Begitu pedang membabat ke arah kakinya, ia menahan kaki itu dan tangan kirinya menotok ke arah pundak dengan totokan maut.

Hwesio itu terkejut, berseru keras dan berusaha menyelamatkan diri dengan melempar tubuh ke kanan, begitu keras gerakannya sehingga ia tidak melihat bahwa di sebelah kanannya adalah tebing yang curam. Tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terjerumus ke bawah. Hwesio itu mengeluarkan suara bersuit nyaring sekali dan diam-diam Kiang Liong menjadi kagum. Sudah jelas bahwa nyawa hwesio itu berada dalam cengkeraman maut, akan tetapi dalam usaha terakhir, hwesio itu bukan berteriak minta tolong melainkan mengeluarkan suara suitan nyaring memberi peringatan teman-temannya! Sampai dekat ajal pun hwesio ini masih melakukan tugasnya!

Benar saja dugaannya, karena dari atas lereng kini muncul puluhan orang yang berlari-lari ke bawah dipimpin oleh beberapa orang hwesio berjubah merah. Dari jauh mereka itu sudah menghujankan anak panah sehingga terpaksa ia mencabut pensil dan memukul setiap anak panah yang mengancam dirinya. Ia sudah bersiap untuk melayani mereka semua, sungguh pun ia merasa sangsi apakah ia sendirian saja akan sanggup menghadapi pengeroyokan demikian banyak orang.

Pada saat itu dari sebelah kanan menyambar sinar merah. Kiang Liong kaget, tak menyangka bahwa dari tempat dekat ada orang membokongnya. Untuk membikin gentar hati lawan, Kiang Liong mengeluarkan kepandaiannya. Tangan kirinya berputar dan dengan dua buah jari tangannya, ia menjepit senjata rahasia itu yang ternyata adalah sebatang piauw beronce merah dan ketika ia memandang terdapat sepotong kertas dibelitkan pada piauw ini! Ia makin heran, cepat ia membuka kertas itu dan membaca tulisan tangan halus indah.

‘Lekas mundur, dari bawah pohon Siong turun ke bawah sampai di sungai. Cepat sebelum terlambat!’

Kiang Liong merasa heran, akan tetapi sebagai seorang cerdik ia tidak ragu-ragu lagi. Siapa pun orang yang mengirim surat secara aneh ini, belum tentu mempunyai niat buruk. Ada pun puluhan orang yang berlari-lari turun dari atas itu sudah jelas berniat mengeroyok dan membunuhnya. Maka ia pun cepat membalikkan tubuhnya dan mundur sampai ke pohon siong yang dimaksudkan dalam surat. Ketika ia menjenguk ke bawah, ternyata bagian ini berbatu-batu sehingga memungkinkan dia untuk merayap turun.

Ia menahan napas mengumpulkan semangat, lalu turun melalui cabang-cabang pohon itu ke bawah, dari cabang yang melengkung ke bawah itu ia merayap terus berpegangan dan berpijak pada batu-batu gunung dan akar-akaran, terus merayap ke bawah dengan cepatnya. Sebelum ia mencapai dasar jurang yang amat curam dan seolah-olah tiada batasnya ini, ia mendengar suara ramai-ramai di sebelah atas kepalanya. Agaknya puluhan orang yang mengejar dari atas tadi sudah lewat di dekat pohon dan karena tidak melihatnya maka terus berlari melewati pohon.

Akan tetapi Kiang Liong masih tetap hati-hati dan ia terus merayap turun secepatnya. Ia khawatir kalau- kalau ada yang mengejarnya sebelum ia sampai di dasar jurang. Kekhawatirannya ternyata terbukti ketika tiba-tiba terdengar sambaran angin dari atas. Ia cepat bergantung kepada sebatang akar dan mengayun tubuhnya mengelak. Sebuah panah tangan yang hitam meluncur dekat pundaknya. Ketika ia berdongak, ia melihat lima orang hwesio berjubah merah sudah merayap turun pula mengejarnya. Kemudian hwesio- hwesio itu mengayun tangan dan kini belasan batang senjata rahasia menyambar ke bawah. Suara senjata-senjata itu bercuitan mengerikan dan sambarannya amat cepat.

Terpaksa Kiang Liong menggunakan kekuatan kakinya untuk berdiri di atas akar melintang dan ia menggunakan ujung lengan bajunya yang digerakkan kuat-kuat untuk memukul runtuh semua senjata rahasia. Namun alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa senjata-senjata rahasia ini mengandung tenaga yang jauh lebih kuat dari para pengeroyok yang telah ia robohkan tadi. Jelas bahwa tingkat kepandaian lima orang hwesio berjubah merah yang mengejarnya ini cukup tinggi dan tidak boleh dipandang ringan. Apa lagi ketika ia melihat betapa kini banyak sekali orang Hsi-hsia mulai pula menuruni tebing itu sambil berteriak-teriak. Dengan pengerahan ilmu meringankan tubuhnya, Kiang Liong mempercepat gerakannya merayap turun dan akhirnya dengan hati lega ia sampai juga di atas tanah. Sungai Nu-kiang kini berada tak jauh di depan dan ia lalu lari ke tepi sungai. Akan tetapi ia tidak melihat tempat sembunyi yang baik.

Tiba-tiba ia mendengar suara halus memanggilnya dari sebelah kiri. Ketika ia menoleh, ia melihat seorang wanita cantik melambaikan tangannya, dan wanita itu berdiri di balik sebuah batu besar. Memang banyak terdapat batu-batu besar sepanjang sungai sebelah kiri, agaknya batu-batu besar ini adalah batu-batu yang gugur dan longsor dari lereng gunung.

Ia tidak tahu siapa wanita itu, akan tetapi mengingat akan tulisan surat yang ia terima di atas tadi, sangat boleh jadi wanita inilah yang memberi petunjuk kepadanya. Maka tanpa ragu-ragu lagi Kiang Liong lalu lari ke sebelah kiri dan sebentar saja ia sudah lenyap dari pandang mata para pengejarnya yang masih merayap turun hati-hati dari atas tebing, karena ia terlindung dan tertutup oleh batu-batu besar. Wanita itu sudah lenyap dan ketika Kiang Liong mencari-cari dengan pandang matanya, terdengar suara halus.

”Ke sini… masuk ke goa ini…!”

Suara itu datang dari sebuah goa yang terbentuk oleh tumpukan batu-batu besar. Sebetulnya bukan goa melainkan batu-batu besar yang bertumpuk-tumpuk dan di antara batu-batu besar itu terdapat celah-celah yang sebesar tubuh manusia. Kiang Liong berlari dan memasuki celah-celah itu. Ternyata agak dalam juga celah-celah itu dan di sebelah dalam makin lebar, ada semeter lebarnya. Tempat ini remang-remang dan tampaklah sesosok bayangan wanita yang bertubuh ramping, memberi isyarat dengan tangan agar ia masuk terus. Dalam keadaan remang-remang mereka berhadapan dan Kiang Liong dapat melihat wajah wanita itu yang cantik manis. Kiang Liong merasa pernah melihat wajah ini, akan tetapi ia lupa lagi di mana dan kapan.

“Nona siapakah dan mengapa….”

“Ssstt… belum waktunya bicara,” wanita itu berbisik, suaranya halus dan lirih, kemudian untuk dapat diterima oleh pendengarannya, ia mendekatkan mulutnya di telinga Kiang Liong. “Kongcu, kau sembunyilah di sini. Musuh terlalu banyak dan lihai….“

Berdebar jantung pemuda itu. Sejak memasuki tempat yang sempit itu tadi, bau yang amat harum telah menyengat hidungnya dan kini setelah nona itu berdiri begitu dekat, bau harum semerbak itu lebih nyata lagi keluar dari rambut yang terurai panjang. Rambut panjang! Kini teringatlah ia! Nona ini adalah gadis cantik yang pernah diganggu Bu-tek Siu-lam, yang kemudian ditolong oleh Mutiara Hitam dan si Berandal atau Tang Hauw Lam! Ketika hal itu terjadi, ia bersembunyi maka ia mengenal siapa gadis ini. Namanya Po Leng In, wanita berpakaian merah yang berambut panjang, murid dari Siang-mou Sin-ni!

“Kau… kau… murid Siang-mou Sin-ni….”

“Sstt, mereka tentu sudah dekat…!” Wanita itu berbisik lagi dan kini hawa yang hangat dari mulut wanita itu menyentuh pipinya. Agaknya saking tegang wanita itu mendekatkan mulutnya.

Kiang Liong teringat lagi akan keadaannya yang terancam pengeroyokan puluhan orang. “Bersembunyi pun percuma, tentu mereka akan dapat menemukan kita,” ia pun berbisik dan siap untuk menerjang ke luar.

Dua buah tangan yang kecil dan berkulit halus menahan dadanya. “Jangan bergerak, Kongcu. Kau tetaplah di sini, aku yang akan menahan mereka. Kau lihat saja, jangan khawatir!” Setelah berkata demikian, wanita itu melangkah ke luar.

Karena tadinya berada di sebelah dalam, untuk keluar ia harus melewati Kiang Liong. Tempat itu sempit, jadi tentu saja tubuh mereka saling merapat. Merasa betapa tubuh padat penuh tonjolan yang halus dan keras mepet di tubuhnya, Kiang Liong terpaksa memejamkan mata! Untung hanya sebentar saja godaan hebat ini dan kini Po Leng In sudah menyelinap ke luar. Karena betapa pun juga ia belum mengenal betul wanita itu dan belum tahu akan wataknya, apa lagi kalau diingat bahwa wanita itu murid iblis betina Siang- mou Sin-ni, maka dengan hati-hati Kiang Liong lalu bergerak mendekati mulut celah-celah batu untuk mengintai ke luar.

Ia melihat Po Leng In bersembunyi dibalik batu besar dan ia melihat pula lima orang pendeta berjubah merah memimpin hampir lima puluh orang Hsi-hsia berdiri mendekati tempat itu. Jantung Kiang Liong berdebar dan kedua tangannya sudah siap meraba sepasang senjatanya, matanya tajam memandang ke depan. Tiba-tiba ia melihat Po Leng In menggerakkan tubuh dan bagaikan seekor burung berbulu merah, gadis cantik manis itu melayang naik ke atas batu besar, bertolak pinggang dan dengan suara nyaring menegur ke bawah,

“Ngo-wi Suhu (Pendeta Berlima) membawa pasukan ke sini ada kepentingan apakah?”

Aneh sekali, lima orang pendeta yang usianya sudah setengah abad kurang lebih dan yang bersikap garang dan jelas memperlihatkan tanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, tiba-tiba bersikap hormat ketika melihat bahwa yang menegur mereka adalah nona baju merah itu. Mereka mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai tanda menghormat, kemudian seorang di antara mereka menjawab.

“Kiranya Kouwnio (Nona) yang berada di sini. Pinceng berlima dan pasukan sedang mengejar seorang pemuda berpakaian putih. Dia telah membunuh seorang saudara kami dan sudah membunuh beberapa orang anggota pasukan. Kami melihat dia tadi lari turun ke bawah dan agaknya lewat di sini….” Pendeta itu agak sangsi lalu memandang kepada nona baju merah itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.

“Tidak ada orang lewat di sini, Twa-suhu,” kata Po Leng In, suaranya bersungguh-sungguh dan kini ia sudah melayang turun di depan lima orang hwesio itu, menghadang jalan masuk melalui dua bongkah batu besar.

Lima orang itu saling pandang, kemudian yang tertua bicara lagi, “Akan tetapi, Kouwnio. Ada di antara kami yang tadi melihat bayangan putih berlari menuju ke jurusan ini….“

“Twa-suhu! Hanya karena memandang muka ketua kalian maka aku masih bersikap sabar. Hemmm! Guruku dan kepala kalian bersahabat dan sederajat. Aku sebagai murid kepala dari guruku berarti mempunyai derajat lebih tinggi dari pada kalian yang hanya menjadi anak buah Bouw Lek Couwsu! Apakah kalian berani mengatakan bahwa aku bersekongkol dengan musuh? Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Beranikah kalian menghina murid guruku?” Ucapan itu ketus dan keras, penuh wibawa dan pengaruhnya benar-benar hebat. Lima orang hwesio itu menjadi pucat wajahnya dan mereka menundukkan muka.

Akan tetapi pasukan yang terdiri dari orang Hsi-hsia yang kasar itu agaknya merasa penasaran. Mereka menganggap wanita muda ini sebagai tamu. Sungguh pun para pimpinan, yaitu para pendeta Tibet berjubah merah amat menghormatinya, namun belum pernah mereka menyaksikan kelihaian wanita muda yang cantik ini. Bahkan diam-diam sering kali mereka membicarakan wanita ini dalam senda gurau yang kotor. Kini melihat betapa gadis ini berani menghadang, padahal mereka percaya bahwa musuh yang dikejar lari ke jurusan ini, beberapa orang di antara mereka mulai bersungut-sungut

“Musuh tadi lari ke sini!”

“Masa harus membiarkan dia lari?”

“Dia sudah membunuh banyak teman kita!”

Melihat betapa anak buah pasukan itu mulai ribut-ribut, diam-diam Po Leng In mendongkol dan juga khawatir sekali. Kalau mereka nekat dan kemudian dapat menemukan pemuda baju putih itu, selain ia mendapat malu, juga tentu akan mendapat teguran, mungkin hukuman keras dari gurunya. Akan tetapi, apa pun yang terjadi, tak mungkin ia dapat membiarkan pemuda itu terancam bahaya maut.

“Berhenti!” bentaknya ketika melihat pasukan itu bergerak maju. “Tidak percaya kepadaku berarti menghina guruku! Siapa menghina guruku berarti akan mampus di tanganku! Lihat, siapa yang kepalanya lebih keras dari pada batu ini?”

Setelah berkata demikian, Po Leng In menggerakkan kepalanya. Rambutnya yang panjang dan halus serta berbau harum itu menyambar ke depan, tampak sinar hitam dan terdengar suara meledak kecil seperti pecut. Ujung rambut menghantam batu dengan lecutan keras dan… pinggir batu yang dihantam rambut ini pecah dan remuk berhamburan seakan-akan dipukul dengan senjata tajam!

Orang-orang Hsi-hsia itu boleh jadi merupakan orang-orang yang ganas dalam perang serta kuat, namun selama hidup mereka baru kali ini menyaksikan betapa rambut, apa lagi rambut wanita yang halus lemas dan harum dapat menghancurkan batu! Mereka menjadi takjub memandang dengan mata terbelalak, bahkan ada yang mengeluarkan lidah.

Lima orang pendeta itu bukan orang-orang biasa. Andai kata mereka tidak merasa segan terhadap tamu yang dihormati kepala mereka dan andai kata Po Leng In seorang lawan, mereka pasti akan melawannya dan tidak menjadi gentar. Karena tidak ingin timbul keributan di antara mereka, maka pendeta-pendeta itu lalu menjura.

“Maaf, Kouwnio. Bukan sekali-sekali kami tidak percaya, hanya kami mohon petunjuk. Ke mana gerangan larinya buronan kami tadi?”

“Entahlah. Kalian cari ke tempat lain. Kalau di sini terang tidak ada karena sejak tadi aku pun berada di sini dan kalau ia lewat di sini, apa kalian kira aku akan membiarkannya lewat begitu saja? Huh!”

“Sekali lagi maaf, Kouwnio,” kata pendeta itu yang segera memberi komando kepada pasukannya. “Hayo kita cari ke jurusan lain. Tak mungkin ia akan dapat menghilang begitu saja!”

Setelah lima orang pendeta itu bersama pasukannya beramai-ramai pergi mencari ke jurusan lain, barulah Po Leng In berani memasuki goa kecil itu. Ia tersenyum kecil ketika melihat Kiang Liong berdiri. dengan sikap tegang.

“Terpaksa untuk sementara waktu engkau bersembunyi dulu di sini, Kongcu. Biarlah aku menjaga di luar goa ini dan kita dapat bercakap-cakap tanpa khawatir didengar atau diintai orang.” Sambil tersenyum manis ia keluar lagi, lalu duduk di luar celah batu. Dari tempat itu ia dapat melihat ke sekelillng sehingga ia akan dapat melihat lebih dulu kalau ada orang datang. “Duduklah Kongcu dan mari kita bercakap-cakap.”

Sambil menarik napas panjang Kiang Liong duduk di mulut goa, agak ke dalam. Dari tempat ia duduk itu ia dapat melihat wajah Po Leng In yang cantik manis, wajah yang ditimpa cahaya matahari, dan bentuk tubuh yang membayang di dalam pakaian merah yang tipis.

“Nona, mengapa engkau menolongku? Bukankah engkau murid Siang-mou Sin-ni dan kalau tidak keliru dugaanku, mendengar percakapan tadi agaknya gurumu Siang-mou Sin-ni yang membantu Bouw Lek Couwsu, kepala para pendeta Tibet berjubah merah. Bukankah gurumu dan Bouw Lek Couwsu itu yang telah membasmi tokoh-tokoh Beng-kauw?”

Po Leng In mengangguk dan sepasang mata yang tajam itu menatap wajah Kiang Liong. “Benar dugaanmu, Kongcu.”

“Dan tahukah engkau siapa aku?”

Po Leng In menggeleng kepala. “Aku tidak tahu engkau siapa, Kongcu. Hanya aku tahu engkau bukan orang-orang Beng-kauw. Ilmu silatmu sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa engkau anak murid Beng-kauw. Yang aku tahu hanya bahwa engkau seorang pria yang gagah perkasa dan terutama sekali bahwa… bahwa, engkau telah menyelamatkan nyawaku dengan sambitan kerikil dari tangan Bu-tek Siu-lam.”

Kiang Liong berpikir sejenak, kemudian berkata. “Nona, tentang perbuatanku mencegah Bu-tek Siu-lam membunuhmu adalah kewajiban setiap orang, tak perlu kau berterima kasih. Sebaliknya, kau berusaha menolongku dari pengeroyokan para pendeta Tibet dan anak buahnya. Sungguh pun aku merasa bersyukur dan berterima kasih kepadamu, namun hal itu sebetulnya tidak begitu perlu kau lakukan karena aku tidak takut menghadapi mereka.”

“Aku tahu akan kelihaianmu, Kongcu. Akan tetapi… tanpa petunjukku bagaimana mungkin kau akan dapat pergi memasuki markas para pendeta Tibet dan menolong tiga orang cucu ketua Beng-kauw itu?”

Kiang Liong terkejut dan juga girang sekali sehingga tanpa ia sadari lagi tangannya bergerak memegang tangan gadis itu yang berkulit halus dan hangat.

“Bagaimana kau bisa tahu? Betulkah kau mau menolongku?”

Po Leng In tersenyum. Ketika ia memandang ke arah tangan Kiang Liong yang memegang tangannya, kedua pipinya merah dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan jari-jari tangannya bergerak balas menggenggam tangan pemuda itu. Ketika jari-jari tangan gadis itu memijit-mijit dan menggetar, barulah Kiang Liong sadar dan perlahan-lahan ia menarik kembali tangannya, bibirnya tersenyum.

Kiang Liong adalah seorang pemuda tampan, putera pangeran pula. Di kota raja namanya sudah amat terkenal, bukan hanya terkenal karena keampuhannya dan kegagahannya, juga terkenal sebagai pemuda yang tak pernah menolak perhatian wanita-wanita cantik! Dia bukan seorang mata keranjang yang suka mengganggu wanita, apa lagi menggunakan kepandaian dan ketampanan memaksa wanita, sama sekali ia tidak pernah melakukan hal buruk ini.

Akan tetapi ia seorang yang mempunyai watak amat romantis dan karena ini agaknya maka setiap kali ada wanita cantik tergila-gila kepadanya dan memperlihatkan tanda-tanda mencinta, ia akan menerima dengan kedua lengan terbuka. Dan amat banyaklah wanita cantik tergila-gila kepadanya sehingga ia amat terkenal di kota raja. Bahkan kenalan-kenalan keluarga orang tuanya, mereka yang mempunyai isteri-isteri cantik amat berhati-hati dan tidak memberi kesempatan kepada isteri-isteri mereka untuk bertemu dengan pemuda ganteng ini!

“Aku tahu, Kongcu, karena selama ini aku mengikutimu. Apa kau kira aku dapat melupakan engkau begitu saja setelah kau menyelamatkan nyawaku? Aku tahu tentang cucu laki-laki ketua Beng-kauw yang tertawan, juga tentang dua orang gadis yang terculik ketika kau bertanding melawan Siauw-bin Lo-mo. Tanpa bantuanku, jangan harap kau akan dapat menolong mereka, karena selain amat sukar untuk menyelundup ke dalam markas, juga Bouw Lek Couwsu dan para pembantunya amat kuat, belum lagi kalau diingat bahwa guruku juga berada di sana! Nah, apakah kau sekarang tidak perlu dengan bantuanku?” Sepasang mata yang bening dan genit itu memandang penuh arti, bibir yang merah itu tersenyum menantang.

“Ah, sungguh kau baik sekali, Nona. Tentu saja aku membutuhkan bantuanmu! Kalau aku berhasil menolong mereka, budimu amat besar dan aku Kiang Liong takkan melupakan budi pertolonganmu itu!”

“Betulkah itu, Kongcu? Sampai berapa besarnya kau akan ingat budiku? Ah, Kongcu, aku murid Siang-mou Sin-ni, ingat? Apakah kau betul telah percaya kepadaku dan tidak khawatir kalau aku menipu dan menjebakmu?”

“Aku memang merasa heran sekali mengapa engkau melakukan semua ini untukku. Tak mungkin kalau hanya untuk membalas budi saja. Aku sudah cukup banyak mendengar tentang Siang-mou Sin-ni. Biar pun baru sekarang aku berjumpa denganmu, namun sebagai murid Siang-mou Sin-ni, janggallah kalau kau begitu ingat budi, bahkan akan membelakangi gurumu sendiri demi untuk membantuku. Nona, katakanlah terus terang, apa yang kau kehendaki dan mengapa kau membantuku?” Sekarang Kiang Liong memandang tajam penuh selidik.

Po Leng In tertawa manis, giginya yang putih berkilauan dan berderet rapi tampak menarik sekali. Tanpa ragu-ragu Po Leng In menaruh tangannya di pundak pemuda itu dan sekali menggerakkan kepala, rambutnya yang panjang hitam dan harum itu berpindah ke depan dada. Bau harum menyambar ke hidung Kiang Liong yang tidak dapat menahan diri lagi, tangannya memegang dan membelai rambut yang panjang halus dan harum itu.

“Kata-katamu betul, Kongcu. Memang orang-orang seperti guruku dan aku, kami sama sekali tidak peduli tentang budi. Andai kata yang menolongku tempo hari bukan kau, aku pun tidak akan peduli lagi. Akan tetapi, engkau lain lagi. Begitu bertemu, aku tahu bahwa engkau seorang pemuda yang selain ganteng, juga gagah perkasa dan kuat lahir batin. Engkau tenang, tidak ceroboh, berpengalaman dan berhati teguh seperti gunung. Anehkah kalau aku jatuh cinta kepadamu? Koko (Kanda), aku cinta kepadamu, bersikaplah manis kepadaku dan aku akan menyerah kepadamu, akan membantumu dan kalau perlu bertaruh nyawa untukmu!”

Dengan sikap manja dan memikat, tangan kecil halus yang tadinya berada di pundak itu kini bergerak merayap, lengan itu merangkul leher Kiang Liong. Biar pun muka mereka sudah saling berdekatan sehingga napas wanita itu sudah menyentuh hidung dan mulutnya, namun Kiang Liong masih tenang dan tersenyum sambil menatap tajam. Tangannya yang tadi membelai kini menjambak rambut, menarik sedikit sehingga muka yang tadi berkulit halus kemerahan, mata yang merayu-rayu, bibir yang menggetar itu agak tertarik menjauh.

Keteguhan hati Kiang Liong inilah yang membuat banyak wanita tergila-gila kepadanya. Menghadapi wajah cantik jelita dan cumbu rayu yang akan mencairkan hati seorang pendeta, ia tetap teguh dan tenang, tak pernah ia dirobohkan oleh keteguhan hatinya sehingga selalu si wanita yang terpikat. Biar pun Kiang Liong seorang pria yang romantis dan tidak menolak cinta kasih wanita cantik, namun ia bukan seorang lemah.

“Betulkah semua kata-katamu ini? Leng In, betulkah kau akan membantuku menolong Siang Kui, Siang Hui, dan Han Ki dari tangan mereka setelah aku melayani cinta kasihmu?”

“Betul… betul…, aku bersumpah…” Po Leng In terengah-engah, napasnya diburu nafsu sendiri. “Dan kau benar-benar menghendaki aku…?”
Po Leng In mengangguk-angguk dan seluruh tubuhnya lemas. Ketika Kiang Liong melepaskan jambakannya, dia menjatuhkan mukanya di atas dada Kiang Liong yang tersenyum mengejek sambil memeluknya.

Semalam itu mereka berdua tidak keluar dari dalam goa yang lebarnya hanya satu meter itu. Po Leng In yang mabuk cinta seolah-olah menjadi makin lemas di tangan Kiang Liong sehingga ia menceritakan semua keadaan orang Hsi-hsia. Kiranya orang-orang Hsi-hsia itu diperalat oleh para pendeta Tibet jubah merah yang dikepalai oleh Bouw Lek Couwsu.

Pendeta jubah merah Bouw Lek Couwsu ini memiliki kepandaian yang dahsyat dan merupakan pendeta yang murtad di Tibet sehingga ia dimusuhi oleh para pendeta lain. Untuk menyelamatkan diri karena tidak kuat menentang pendeta-pendeta Tibet yang banyak di antaranya amat sakti, Bouw Lek Couwsu melarikan diri dari Tibet bersama murid-murid dan pengikut-pengikutnya, yaitu para pendeta jubah merah. Dengan ilmu kepandaiannya, Bouw Lek Couwsu akhirnya dapat menalukkan Hsi-hsia yang gagah berani dan ulet, bahkan berhasil melatih mereka menjadi pasukan yang kuat. Setelah memiliki pasukan kuat, mulailah Bouw Lek Couwsu mencari kesempatan memukul musuh-musuhnya.

Ia menganggap Kerajaan Sung masih terlampau kuat untuk dipukul, maka ia lalu mengalihkan perhatian kepada Kerajaan Nan-cao yang kecil dengan maksud menalukkan kerajaan ini untuk memperbesar pengaruh dan kekuasaan. Dalam usahanya ini Bouw Lek Couwsu teringat akan sahabat baiknya, juga bekas kekasihnya, yaitu, Siang-mou Sin-ni!

Kalau Siang-mou Sin-ni adalah seorang wanita yang tak pernah tua lahir batinnya, maka Bouw Lek Couwsu biar pun berpakaian pendeta, juga merupakan seorang laki-laki tampan gagah yang tak pernah tua lahir batinnya pula. Karena terlalu suka mengganggu wanita cantik inilah maka ia dimusuhi di Tibet sehingga ia kehilangan sebelah kakinya. Ia segera mengunjungi Siang-mou Sin-ni yang sudah bertahun- tahun tak pernah turun di dunia kang-ouw semenjak Thian-te Liok-kwi dihancur-binasakan oleh Suling Emas dan para orang gagah (baca cerita CINTA BERNODA DARAH).

Karena pada dasarnya memang berwatak rendah, bekas selir kaisar yang lebih terkenal dengan julukan Siang-mou Sin-ni dan yang sudah bertahun-tahun bertapa di pulau kosong di laut selatan ini tertarik oleh bujukan Bouw Lek Couwsu bekas kekasihnya, lalu ikut membantu dan tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh mereka berdua untuk mengikat kembali hubungan mereka yang telah putus selama bertahun-tahun.

“Beng-kauw boleh jadi amat kuat dan banyak terdapat orang pandai, akan tetapi menghadapi serbuan Bouw Lek Couwsu dibantu oleh guruku, mana mereka mampu mempertahankan diri? Di antara para pendeta jubah merah banyak pula yang memiliki kepandaian tinggi. Itulah sebabnya mengapa ketua Beng- kauw dan beberapa orang pimpinan Beng-kauw dapat ditewaskan dan anak laki-laki itu amat disuka oleh guruku, maka diculik. Penyerbuan untuk menjatuhkan Kerajaan Nan-cao tentu saja gagal karena sesungguhnya bukan itulah yang diutamakan Bouw Lek Couwsu, melainkan memukul Beng-kauw yang menjadi musuh besarnya.”

Semua diceritakan oleh Po Leng In dan ia menjadi makin tergila-gila kepada Kiang Liong. Selama hidupnya belum pernah Po Leng In bertemu dan mendapatkan seorang pemuda seperti ini, penuh kegagahan, penuh kejantanan. Semalam suntuk sambil bercerita, Po Leng In mempergunakan segala bujuk rayu dan keahliannya dalam bercinta untuk menjatuhkan hati Kiang Liong, namun sebaliknya dia sendirilah yang jatuh dan menjelang pagi, ia menjadi penurut dan patuh kepada laki-laki itu seperti seekor domba yang lemah.

“Koko…, akan kubantu kau menolong kedua orang nona dan anak laki-laki itu… biar pun untuk itu aku harus mempertaruhkan nyawa…,“ bisiknya sambil merangkul.

Setelah matahari mulai menyinarkan cahayanya di permukaan bumi, barulah mereka berdua keluar dari dalam goa batu. Wajah Po Leng In yang pucat itu kini berseri gembira, rambutnya kusut namun menambah kecantikan wanita yang berambut panjang ini. Sambil melangkah ke luar ia menggandeng tangan Kiang Liong yang sikapnya masih tenang dan sama sekali tidak tampak perubahan.

“Mari, Koko. Mari kita berangkat. Akan tetapi berhati-hatilah. Jangan kau pandang rendah kepandaian Bouw Lek Couwsu, apa lagi kepandaian guruku.”

Kiang Liong mengangguk. “Aku sudah banyak mendengar tentang kepandaian gurumu dan aku tidak takut.”

Po Leng In menghentikan langkahnya, merangkul dan mengusap-usap dagu yang membayangkan kekerasan dan kekuatan itu sambil tersenyum. “Aku tahu bahwa engkau lihai sekali, Koko. Akan tetapi guruku sekarang bukan seperti dahulu ketika masih suka muncul di dunia kangouw. Engkau tentu tidak pernah mendengar bahwa guruku kini telah dan sedang memperdalam ilmu mukjijat Hun-beng-to-hoat (Ilmu Patahkan Semangat) dan untuk menyempurnakan ilmu itulah maka ia menculik Han Ki itu….“

Kiang Liong yang sedang dicium itu lalu memegang kedua pundak Po Leng In, dan mendorongnya agak menjauh, memandang wajahnya penuh selidik dan bertanya, suaranya keras. “Apa kau bilang? Diculik untuk… kau maksudkan…?”

“Ya, Koko. I-kin-hoan-jwe (Ganti Urat Pindahkan Sumsum)!”

“Celaka! Mari kita cepat-cepat menolongnya!” Setelah berkata demikian, Kiang Liong menyambar lengan Po Leng In dan secepat terbang mereka berdua lalu lari menuju ke tempat persembunyian Siang-mou Sin- ni dan Bouw Lek Couwsu.

Kiang Liong bukan tidak maklum bahwa ia sedang menuju ke tempat yang amat berbahaya, seperti goa singa dan telaga naga, akan tetapi mendengar akan bahaya yang mengancam Han Ki, ia tidak pedulikan itu semua. Lebih-lebih lagi ketika di tengah jalan ia mendengar Po Leng In bercerita bahwa Bouw Lek Couwsu adalah seorang tokoh tua yang percaya akan ilmu menambah semangat dan tenaga yang didapat dari gadis-gadis muda, maka tahulah ia mala-petaka hebat sekali mengancam pula keselamatan Siang Hui dan Siang Kui!

Yang dimaksudkan oleh Po Leng In tentang I-kin-hoan-jwe memang merupakan latihan ilmu hitam yang amat keji. Untuk melatih ilmu ini guna memperdalam Hun-beng-to-hoat yang mukjijat, diperlukan seorang anak laki-laki yang bertulang bersih dan berdarah murni. Siang-mou Sin-ni yang melatih ilmu ini telah lama sekali mencari-cari dan entah sudah berapa banyaknya anak laki-laki menjadi korbannya, namun ilmunya masih kurang sempurna karena belum pernah ia mendapatkan seorang anak laki-laki yang benar-benar memenuhi syarat.

Han Ki adalah putera Kam Bu Sin dan Liu Hwee, dua orang yang berdarah pendekar, maka Han Ki merupakan seorang anak laki-laki yang benar-benar memenuhi syarat. Begitu melihat anak ini, Siang-mou Sin-ni sudah menjadi girang sekali dan ia lalu menculik Han Ki. I-kin-hoan-jwe dilakukan dengan cara yang amat mengerikan, yaitu perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, setiap hari anak itu akan disedot darah dan sumsumnya. Tidak disedot sekaligus sampai mati, melainkan sedikit demi sedikit sambil setiap hari diberi makan obat-obat penambah darah dan sumsum. Tentu saja akhirnya anak ini akan mati juga, karena selain kehabisan darah dan sumsum, terutama sekali karena hawa murni dalam tubuhnya sedikit demi sedikit tersedot ke luar dan pindah ke tubuh orang yang melatih diri dengan ilmu hitam itu!

Kiang Liong yang sudah pernah mendengar penuturan suhu-nya tentang pelbagai ilmu hitam tentu saja menjadi ngeri dan mempercepat larinya untuk segera menolong tiga orang anak paman gurunya. Kalau perlu ia akan mempertaruhkan nyawanya!

********************

Kwi Lan lari sambil menggigit bibir, menahan tangis. Hatinya mengkal bukan main. Ia marah, kecewa, duka dan penasaran. Ia telah bertemu dengan pendekar sakti Suling Emas dan makin kagumlah hatinya menyaksikan sepak terjang pendekar sakti itu. Makin banggalah hatinya bahwa pendekar sakti yang hebat itu, hebat kepandaiannya dan hebat pula orangnya, adalah kekasih ibu kandungnya! Akan tetapi justru hal inilah yang selain mendatangkan kebanggaan hati, juga mendatangkan penyesalan, kekecewaan, kemarahan dan penasaran.

Kalau pendekar sakti ini kekasih ibu kandungnya, mengapa mereka saling berpisah? Mengapa Suling Emas meninggalkan ibu kandungnya yang menjadi Ratu Khitan? Dan mengapa pula ia menjadi anak Ratu Khitan? Kalau ibu kandungnya itu bukan isteri Suling Emas, berarti dia adalah anak Ratu Khitan dengan orang lain. Alangkah akan bahagia hatinya kalau Suling Emas menjadi suami ibu kandungnya. Ia berayah Suling Emas! Alangkah hebatnya! Dan sebaliknya, kalau Suling Emas itu bukan bekas kekasih ibunya, tentu ia akan suka menjadi sahabatnya, sahabat baik!

Kwi Lan menghela napas panjang dan berhenti lari, menghempaskan dirinya di atas rumput. Ia sudah berlari lama dan jauh, lega bahwa pendekar sakti itu tidak mengejarnya karena kalau mengejarnya, ia tidak tahu bagaimana akan dapat melarikan diri. Hatinya tertarik sekali oleh Suling Emas. Ia sendiri merasa heran mengapa begitu.

Dalam pandangannya, Suling Emas yang sudah tua dan yang rambutnya sudah bercampur uban itu lebih menarik dan menyenangkan dari pada orang-orang muda gagah perkasa yang pernah ditemuinya. Lebih menarik dari pada Yu Siang Ki si Pengemis Muda yang halus, lebih menang dari pada Tang Hauw Lam yang berandalan dan lucu, lebih hebat dari pada Siangkoan Li yang gagah dan tampan! Alangkah akan senangnya melakukan perjalanan bersama Suling Emas, tentu akan terasa aman dan tenteram di samping seorang pendekar yang demikian saktinya, sebagai seorang sahabat baik! Atau sebagai anak, atau murid!

“Ah, tapi dia sudah menghina ibuku…! Katanya dia kakak angkat ibu kandungku yang menjadi Ratu di Khitan, akan tetapi juga sebagai kekasih… hemmm, tentu kekasih yang tidak setia, buktinya ibuku telah ditinggalkannya!”

Kwi Lan meloncat bangun, membanting-banting kakinya lalu berjalan pergi. Ia akan mencari ibunya ke Khitan dan bertanya tentang Suling Emas! Kemudian ia teringat akan Tang Hauw Lam dan seketika wajahnya yang muram menjadi berseri gembira. Tak mungkin ia bermuram kalau teringat kepada si Berandal itu. Bagaimana Hauw Lam dapat muncul ketika ia hendak menolong Po Leng In dari tangan Bu- tek Siu-lam? Dan ketika ia dibawa lari Thai-lek Kauw-ong, ke mana perginya si Berandal itu?

Sambil bertanya-tanya arah perjalanan ke Khitan, Kwi Lan melanjutkan perjalanannya dan beberapa hari kemudian ia melihat banyak orang menunggang kuda memasuki sebuah dusun yang ramai. Karena Kwi Lan juga bermaksud menuju ke dusun itu yang menurut keterangan adalah dusun Ci-chung yang terletak di tepi sungai, maka ia pun mempercepat langkahnya memasuki dusun itu. Debu masih mengebul di atas jalan yang baru saja dilalui rombongan orang sebanyak belasan orang tadi.

Hati Kwi Lan tertarik karena ia melihat betapa seorang di antara mereka di dahinya terhias mutiara. Seorang anggota Thian-liong-pang, seorang di antara dua belas Cap-ji-liong! Mau apakah orang-orang Thian-liong-pang itu datang ke tempat ini, pikirnya. Ia tahu bahwa kalau bertemu dengan mereka tentu akan terjadi keributan, akan tetapi tentu saja Kwi Lan tidak takut. Ia bukan mencari perkara, melainkan ia bermaksud melanjutkan perjalanan dengan perahu melalui sungai di dusun itu. Untuk memenuhi maksudnya, ia tidak peduli apakah ada setan atau iblis yang menghadangnya!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo