August 13, 2017

Mutiara Hitam (Part 12)

 

 

“Hi-hi-hik, bocah tampan dan halus. Kau siapakah dan mengapa menyerangku? Apakah kau sahabat dia… eh, si Berandal mentah ini?”

Sebelum pemuda baju putih yang pendiam dan berwajah serius itu menjawab, Hauw Lam yang dimaki berandal mentah sudah mendahului dan mengejek. “Ha-ha-ha! Manusia banci yang tak tahu malu! Makin banyak datang pemuda tampan kau makin hendak bergenit! Ataukah engkau hendak menggunakan lagak perempuan lacur untuk merayu dan menyembunyikan rasa takutmu? Tentu saja Enghiong (Pendekar) ini membantuku dan menyerangmu karena semua orang gagah di dunia maklum belaka bahwa Bu-tek Siu- lam adalah seorang manusia iblis yang selain jahat, juga banci cabul tak bermalu dan patut dibasmi…”

“Siuuutt… klik-klik…!” gunting besar itu menyambar hebat dan dua kali menggunting ke arah leher dan pinggang Hauw Lam.

“Haya… sayang tidak kena…!” Hauw Lam berhasil menangkis guntingan pertama ke arah lehernya dengan goloknya, namun goloknya sempat terlepas dari tangannya yang terasa panas. Karena itu, pada saat guntingan ke dua ke arah pinggangnya mengancam, jalan satu-satunya baginya untuk menyelamatkan diri hanya membuang diri ke belakang dan bergulingan, hal yang pada saat seperti itu amat memalukan karena berarti ia kalah. Mendadak pensil bulu di tangan pemuda baju putih itu menolongnya, menangkis gunting sehingga pemuda nakal yang biar pun mukanya pucat dan dahinya mengeluarkan keringat dingin, masih sempat mengejek juga!

Kembali Bu-tek Siu-lam tercengang. Tangkisan Hauw Lam tadi, sungguh pun cukup kuat, akan tetapi tidak mengherankan karena senjata pemuda itu adalah sebatang golok besar yang berat. Akan tetapi, biar pun hanya ditangkis dengan pena bulu, guntingnya terpental dan ia merasa tenaga yang tersalur pada guntingnya membalik sehingga lengannya terasa kesemutan! Inilah hebat! Ia makin kagum dan sinar matanya memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian.

Perlu diketahui bahwa tokoh aneh ini sebetulnya berasal dari barat. Di negara Nepal, ia pernah menjadi orang kepercayaan Raja di sana, yaitu menjadi kepala thaikam (pembesar kebiri) yang dipercaya untuk mengurus segala urusan rumah tangga dan keluarga raja. Akan tetapi karena sebelum menjadi thaikam, Bu-tek Siu-lam telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka biar pun dikebiri, ia tetap menjadi seorang laki- laki yang kuat. Kalau orang lain dikebiri lalu kehilangan kemampuannya sebagai laki-laki, sebaliknya Bu-tek Siu-lam makin bertambah nafsunya, karena pengebirian yang dilakukan terhadap dirinya sebagai syarat menjadi thaikam itu hanya melenyapkan kemampuannya mendapat keturunan saja.

Biar pun dengan kenyataan ini diam-diam ia dapat merajalela dan merusak kesusilaan yang dijaga keras di dalam istana dengan melakukan hubungan-hubungan gelap dengan para puteri dan selir raja, namun pergaulannya dengan para thaikam lainnya, juga mungkin akibat pengebirian, mendatangkan sifat kewanita-wanitaan kepada dirinya seperti kepada thaikam-thaikam lain. Seperti juga thaikam-thaikam lain, timbullah kesukaan aneh pada diri Bu-tek Siu-lam, yaitu ia suka sekali kepada pemuda-pemuda tampan, hampir sama besarnya dengan rasa suka terhadap gadis-gadis cantik!

Kebiasaan seperti inilah yang membuat makin lama tokoh banci ini menjadi makin tidak normal dan boleh dibilang mendekati gila! Dan akhirnya, karena dia tampan dan telah berhasil melakukan hubungan- hubungan gelap dengan para selir, ia ketahuan dan terpaksa melarikan diri karena akan dihukum gantung oleh raja yang marah! Demikianlah akhirnya bekas thaikam yang sakti ini melarikan diri ke timur dan berhasil mempengaruhi para kaum sesat yang menyelundup dalam dunia pengemis.

Kini bertemu dengan Hauw Lam yang memang tampan, hatinya sudah tertarik, sama dengan tertariknya hati seorang kakek mata keranjang melihat gadis ayu. Akan tetapi sikap Hauw Lam yang mengejek dan menghinanya membuat rasa sukanya berubah kebencian. Kemudian muncul pemuda baju putih yang pendiam dan juga amat tampan wajahnya. Maka ia menjadi tertarik dan suka sekali, apa lagi mendapat kenyataan bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang hebat, lebih lihai dari pada si Pemuda Berandalan, bahkan ia merasa sangsi apakah ia dapat mengalahkan pemuda ini dengan mudah.

“Orang muda, boleh juga kepandaianmu. Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Bu-tek Siu- lam tanpa alasan?”

Pemuda baju putih itu menjawab, suaranya tenang sekali. “Bu-tek Siu-lam, sudah lama aku mendengar tentang namamu yang besar di dunia kang-ouw, juga tentang sepak terjangmu. Aku she Kiang bernama Liong dari kota raja. Memang tak ada permusuhan di antara kita, aku hanya tidak ingin kau mencelakai orang lain. Sobat muda ini benar karena telah menolong seorang Nona yang hendak kau perhina….“

 

“Hi-hik, jadi engkaukah yang menyambitkan kerikil tadi? Sudah kuduga tentu bukan bocah berandal sombong ini, dan….”

“Ah…!” Tiba-tiba Hauw Lam memotong, memandang pemuda baju putih itu tanpa menghiraukan Bu-tek Siu-lam lagi. “Kiranya Kiang Kongcu…! Namamu amat terkenal sebagai pendekar muda di kota raja Sung, putera Pangeran Kiang dan murid Suling Emas…!”

Pemuda baju putih yang mengaku bernama Kiang Liong itu menahan senyum. Memang tidak salah dugaan Hauw Lam. Pemuda baju putih ini memang benar Kiang-kongcu, putera Pangeran Kiang yang sulung. Para pembaca cerita CINTA BERNODA DARAH tentu masih ingat bahwa ibu pemuda ini bernama Suma Ceng dan sebelum Suma Ceng menikah dengan Pangeran Kiang, ia telah mengandung anak sulung ini! Jadi siapakah ayah pemuda ini? Bukan lain adalah Suling Emas!

Sebelum menikah, puteri Pangeran Suma ini telah saling cinta dengan Suling Emas dan karena kedudukan mereka tak memungkinkan perjodohan di antara mereka, maka dengan nekat mereka melakukan hubungan gelap yang mengakibatkan Suling Emas disiksa (ketika itu belum sakti) dan Suma Ceng dikawinkan dengan Pangeran Kiang. Tentu saja Kiang Liong sendiri tidak tahu akan hal ini yang menjadi rahasia besar dan hanya diketahui oleh dua orang saja, yaitu tentu saja Suling Emas dan Suma Ceng.

Bagi Kiang Liong, Suling Emas adalah pendekar sakti yang ia kasihi, hormati dan taati, karena Suling Emas adalah gurunya yang menggemblengnya sejak ia masih kecil. Masih teringat olehnya betapa ketika ia berusia sepuluh tahun, pada suatu malam Suling Emas memasuki kamarnya, dengan sikap manis mengajaknya bercakap-cakap kemudian mengajaknya ke luar, dan mulai malam hari itulah ia menjadi murid Suling Emas.

Murid terkasih dalam rahasia, bahkan ibu kandungnya sendiri tidak mengetahui akan hal yang dirahasiakan ini. Lima tahun kemudian, setelah ia berusia lima belas tahun, barulah ayah ibunya tahu akan hal ini. Ayahnya marah-marah, akan tetapi setelah mendapat penjelasan ibunya, marahnya mereda dan sejak itu ia menjadi murid Suling Emas secara berterang. Hanya anehnya, gurunya tidak pernah mau bertemu dengan ayah kandungnya, dan selalu datang menemuinya dalam kamar, lalu mengajaknya berlatih di dalam taman bunga.

“Sobat baik, engkau terlalu memuji. Akan tetapi sungguh tajam penglihatanmu sehingga engkau segera dapat mengenalku “

Ada pun Bu-tek Siu-lam ketika mendengar bahwa pemuda itu adalah murid Suling Emas, menjadi kaget dan kagum sekali, di samping perasaan tidak enak di hatinya. Dari sambaran batu kerikil yang mengenai lengannya dan tangkisan pensil terhadap guntingnya saja sudah membuktikan betapa tinggi ilmu kepandaian pemuda itu. Kalau muridnya sepandai ini, betapa hebat kepandaian gurunya yang dianggap musuh oleh Bu-tek Ngo-sian!

“Heh-heh, kiranya engkau murid Suling Emas? Bagus sekali! Orang muda yang tampan, kau katakan kepada gurumu bahwa kalau dia memang seorang pendekar sakti, boleh dia menghadapi Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa Tanpa Tanding)!”

Kiang Liong mengerutkan keningnya. “Hemmm, Bu-tek Ngo-sian, siapa saja gerangan mereka itu?”

“Hi-hik, pantas sekali engkau belum tahu karena nama itu baru tadi dilahirkan. Dengarkan baik-baik dan kau ceritakan kepada mereka yang menganggap diri sebagai pendekar-pendekar kang-ouw. Bu-tek Ngo- sian mulai hari ini menguasai dunia persilatan yang kalian sebut kaum sesat sebagai pengganti Thian-te Liok-kwi yang telah lenyap! Pertama-tama adalah aku sendiri, Bu-tek Siu-lam, ke dua adalah Thai-lek Kauw-ong, kemudian Siauw-bin Lo-mo, Pak-sin-ong, dan Sian-twanio. Sayang kau datang terlambat, kalau tidak tentu dapat berjumpa dengan mereka. Akan tetapi, dapat kuperkenalkan Thai-lek Kauw-ong…!” ia menoleh ke arah raksasa gundul tadi duduk lalu berseru, “…ehhh… kemana Kauw-ong?”

“Heeeiii, mana dia Mutiara Hitam…?” Hauw Lam juga berseru sambil memandang ke sana ke mari. “Kiang- kongcu, tentu dia dibawa lari setan gundul tadi. Mari kau bantu aku mengejarnya!”

Kiang Liong adalah seorang pemuda yang tenang dan tidak gugup seperti Hauw Lam, akan tetapi ia pun merasa khawatir karena tidak melihat bayangan dua orang itu. Ia merasa heran betapa kakek gundul itu dapat bergerak sedemikian cepatnya dan tanpa ia ketahui. Hal itu saja sudah jelas membuktikan bahwa kakek gundul itu tentu lihai bukan main. Ia mengangguk lalu mengejar Hauw Lam yang sudah lari terlebih dahulu.

Bu-tek Siau-lam terkekeh ketawa. “Hi-hi-hik, Kauw-ong, engkau mencari penyakit! Tidak membantuku malah membawa lari gadis galak tadi. Biar kau rasakan betapa lihainya orang-orang muda sekarang, hi-hi- hik!” Ia lalu turun dari puncak, memberi isyarat kepada anak buahnya yang segera bergerak mengikuti datuk itu turun gunung.

*******************

“Hei, kakek gundul! Mau apa kau bawa-bawa aku, dan ke mana?”
Thai-lek Kauw-ong tercengang. Suara gadis yang dikempitnya itu tenang dan ketus, sedikit pun tidak membayangkan rasa takut. Di samping ketabahan ini, juga menurut perhitungannya, gadis yang sudah ia lumpuhkan syarafnya ini belum tiba saatnya dapat bicara lagi. Kemudian rasa kagetnya bertambah ketika secara tiba-tiba tubuh yang ramping itu meronta dan tangan kanan Kwi Lan menyambar dahsyat ke arah lambungnya.

Thai-lek Kauw-ong adalah seorang ahli Thai-lek-kang, seorang yang memiliki tenaga hebat dan kuat sekali, maka tentu saja ia pun mengenal pukulan yang mengandung tenaga sinkang amat berbahaya ini. Untuk menghindarkan diri dari ancaman maut, tiada lain jalan baginya kecuali melepaskan kempitannya dan menggunakan pinggulnya yang digerakkan tiba-tiba untuk melemparkan gadis itu. Usahanya berhasil, Kwi Lan terlempar dan pukulan dahsyat ke arah lambung gagal. Namun tamparan tangan kiri Kwi Lan pada pundak kakek itu sebelum tubuhnya terpental, tidak gagal sama sekali.

“Plakk!” dan tubuh Thai-lek Kauw-ong terhuyung sedikit.

Thai-lek Kauw-ong terheran dan kagum sekali, kini berdiri memandang Kwi Lan yang sudah berdiri dengan sikap gagah dan muka mengandung kemarahan. Tentu saja kakek kosen ini sama sekali tidak tahu akan latar belakang peristiwa ini. Kwi Lan adalah murid terkasih Kiam Sian Eng yang menurunkan ilmu aneh, ilmu-ilmu silat tinggi yang dipelajari secara sesat sehingga menghasilkan ilmu yang lain sekali dari ilmu silat tinggi biasa, bahkan telah berubah sama sekali dari pada aslinya.

Demikian pula dalam melatih lweekang dan memperkuat sinkang. Kwi Lan mempunyai cara berlatih yang amat aneh sehingga hasilnya pun luar biasa dan kadang-kadang ia dapat melakukan hal dengan sinkang yang takkan dapat dilakukan oleh ahli lweekeh yang sudah lebih tinggi tingkatnya! Inilah sebabnya mengapa dalam berusaha mengerahkan tenaga, dalam waktu singkat saja Kwi Lan sudah mampu membebaskan diri. Menurut perhitungan Thai-lek Kauw-ong, totokannya itu akan melumpuhkan lawan selama dua belas jam. Akan tetapi, baru tiga empat jam ia lari turun gunung, gadis itu sudah mampu membebaskan diri, bahkan sekaligus menyerangnya dengan pukulan maut!

“Hemm, kau boleh juga, patut menjadi murid Thai-lek Kauw-ong!” Kakek gundul yang tidak pandai bicara itu berkata sambil mengangguk-angguk.

Selain pemberani, Kwi Lan juga amat cerdik. Ia kini tidak berani memandang rendah orang lain. Sudah terlalu banyak ia melihat orang-orang pandai yang ilmunya luar biasa seperti Pak-kek Sin-ong, Lam-kek Sian-ong, Bu Kek Siansu, dan tadi pun ia melihat betapa lihainya Bu-tek Siu-lam. Kakek gundul tinggi besar ini tentu sahabat Bu-tek Siu-lam dan jelas memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Buktinya, tanpa dapat ia cegah tadi telah menawahnya sedemikian mudahnya. Setelah kini mendengar bahwa kakek itu menawannya dengan niat mengambilnya sebagai murid, Kwi Lan menjadi lega hati dan tersenyum mengejek.

“Kakek gundul, jangan kau mimpi pada siang hari! Kau ingin menjadi guruku? Sungguh lamunan kosong! Sampai di manakah tingginya ilmu kepandaianmu maka kau mempunyai keinginan seperti itu? Apakah kau mampu menandingi… Bu Kek Siansu?”

Thai-lek Kauw-ong membelalakkan kedua matanya dan mulutnya terbuka. Sejenak ia tidak mengeluarkan suara. Sudah terlalu lama ia mendengar tentang nama besar Bu Kek Siansu yang disebut oleh segala macam golongan dengan sikap hormat dan kagum, bahkan dianggap sebagai dewa! Melihat betapa orang- orang pandai demikian menghormat, biar pun ia sendiri belum pernah jumpa, sedikit banyak ia merasa segan juga. Akan tetapi kini mendengar ucapan gadis ini yang mengandung tantangan ia segera menjawab. “Aku ingin mencoba kepandaiannya? Apakah dia gurumu?”

“Bukan. Sayang aku bukan muridnya karena kalau aku muridnya, tentu sejak tadi kau sudah menggeletak tanpa nyawa lagi. Kau belum cukup pandai untuk menjadi guruku kalau kau belum mampu menandingi Bu Kek Siansu!”

Panas hati kakek itu. Selama ini, sudah puluhan tahun ia tidak pernah menemui lawan yang sanggup mengalahkannya. Selama puluhan tahun bertapa di pulau-pulau kosong di laut timur telah menghasilkan ilmu yang hebat-hebat pada dirinya. Di samping himpunan tenaga Thai-lek-kang yang dahsyat, juga ia telah menciptakan ilmu silat tangan kosong yang ia namakan Soan-hong-sin-ciang. Ilmu ini ia ciptakan dengan mengambil dasar gerakan pusaran angin diwaktu badai mengamuk di pulau-pulau kosong.

Di samping Sian-hong-sin-ciang ini, juga senjatanya sepasang gembreng amat hebat. Suaranya saja sudah dapat merobohkan seorang lawan tangguh. Tidak mengherankan apa bila kakek ini tidak pernah bertemu tanding dan kemenangan-kemenangan itu membuatnya haus, haus akan pertandingan- pertandingan baru dan kemenangan-kemenangan baru.

“Boleh coba! Hayo siapa yang dapat mengalahkan aku?” seru kakek itu sambil berdiri tegak, agak membungkuk seperti seekor monyet besar.

Kwi Lan tertawa lalu berkata, “Wah, lagaknya! Tentu saja, karena tahu di sini tidak ada siapa-siapa lalu mengeluarkan ucapan besar dan bersumbar! Sekarang begini saja, eh… siapa namamu tadi?”

Thai-lek Kauw-ong menyipitkan matanya, memandang penuh perhatian. Masih terbayang ia akan Bu-tek Siu-lam yang mempermainkan Po Leng In tadi dan diam-diam ia membayangkan bahwa gadis di depannya ini jauh lebih cantik, jauh lebih indah bentuk tubuhnya dari pada Po Leng In! Thai-lek Kauw-ong bukan seorang bermata keranjang, bahkan sudah puluhan tahun ia tidak pernah mau mendekati wanita. Namun, perbuatan Bu-tek Siu-lam tadi membuat hatinya bergerak dan nafsu yang sudah lama tidur kini ikut bergerak hendak bangkit kembali.

“Orang menyebutku Thai-lek Kauw-ong,” jawabnya singkat.

“Wah, cocok. Memang mukamu seperti raja monyet! Dan melihat nama julukanmu, tentu engkau memiliki tenaga besar. Nah, sekarang coba kau perlihatkan kepandaianmu agar dapat kubandingkan dengan ilmu- ilmu yang pernah kusaksikan dari Bu Kek Siansu.”

Thai-lek Kauw-ong berpikir sejenak. Ia harus mendemonstrasikan kepandaian, terutama tenaganya untuk menundukkan gadis yang berani ini. Ia melihat sebatang pohon tak jauh dari tempat itu, maka ia mendapat pikiran baik. Ia menudingkan telunjuknya ke arah pohon sambil berkata, “Kau lihat, dari tempat ini aku sanggup sekali pukul, membikin rontok semua daun dari atas pohon itu!”

Kwi Lan memandang dan ia tercengang. Betulkah itu? Seorang yang memiliki sinkang amat hebat sekali pun, sekali memukul dari jarak jauh paling-paling hanya akan membikin rontok puluhan helai daun. Pohon itu daunnya amat lebat, tidak hanya puluhan, bahkan ratusan dan ribuan helai daunnya! Mungkinkah kakek ini akan mampu memukul rontok semua daun itu hanya dengan sekali pukul? Ia tidak percaya dan menggeleng kepala, tersenyum lebar dan berkata.

“Kakek sombong, bagaimana aku bisa percaya kalau tidak melihat buktinya sendiri? Akan tetapi kau harus merontokkan semua daunnya, sehelai pun tak boleh ketinggalan.”

“Hemm, kau lihat baik-baik!” Thai-lek Kauw-ong berseru, panas juga hatinya diejek dan digoda oleh nona yang pandai bicara itu.

Thai-lek Kauw-ong lalu menekuk kedua lututnya sampai hampir berjongkok, tubuhnya merendah dan ia mengumpulkan tenaga Thai-lek-kang. Kedua tangannya, dengan jari-jari terbuka dan agak ditekuk, ujung menempel di kedua pangkal paha, matanya mencorong memandang ke arah pohon itu, kemudian dari kerongkongannya keluar suara kasar dan parau seperti suara burung gagak dan kedua tangannya didorong ke depan, agak ke atas mengarah pohon. Hebat bukan main akibatnya. Dari kedua lengan tangan raksasa gundul ini menyambar angin yang dahsyat ke arah pohon, membuat batang pohon seperti didorong tenaga raksasa sehingga miring dan cabang-cabangnya bergoyang-goyang sehingga semua daunnya rontok dan melayang turun bagaikan hujan lebat! Itulah ilmu pukulan Thai-lek-kang yang luar biasa dahsyatnya dan sukar dilawan.

Kwi Lan terkejut sekali. Sekilas pandang saja ia dapat melihat bahwa kakek itu benar-benar telah berhasil merontokkan semua daun pohon sekali pukul! Ketika ia melihat daun-daun rontok berhamburan sebagian melayang ke arah tubuhnya, gadis ini cepat mengerahkan tenaga, menggerakkan kedua tangan cepat sekali, menyambar dan menangkap beberapa helai daun, lalu mengerahkan tenaga sinkang menyambitkan daun-daun itu ke arah dahan pohon. Daun itu masih melayang-layang akan tetapi melayang ke atas dan dengan tepat tangkai daun-daun itu menancap pada ranting pohon!

“Hi-hik, Thai-lek Kauw-ong, masih ada beberapa helai daun yang tinggal, tidak rontok semua!” Kwi Lan mengejek. Gadis ini tidak peduli apakah kakek itu tahu akan perbuatannya atau tidak karena ia memang hanya berniat menggangu sambil memperlihatkan pula kepandaiannya untuk membuktikan bahwa ia pun bukan tidak memiliki kepandaian.

Dan sebetulnyalah bahwa kakek itu telah melihat dan tahu apa yang dilakukan Kwi Lan. Napas raksasa gundul yang sudah berdiri tegak kembali itu agak terengah karena tadi ia telah mempergunakan tenaga besar sekali. Ia merasa yakin bahwa semua daun pohon akan rontok dan tentu saja ia tadi melihat gerakan Kwi Lan. Alangkah heran hatinya karena ia segera mengenal gerakan ini yang tiada bedanya dengan gerakan Sian-twanio ketika menyambitkan daun-daun dari atas pohon!

“Eh, Nona… apa hubunganmu dengan Sian-twanio…?”

Kini Kwi Lan yang menjadi tercengang. Ia cukup cerdik untuk menghubung-hubungkan sesuatu persoalan. Kakek gundul ini agaknya mengenal ilmunya menyambitkan daun sebagai senjata rahasia maka menyinggung nama Bibi Sian, gurunya.

“Bibi Sian adalah guruku. Apakah kau kenal dengan guruku?”

Kakek gundul itu mengangguk-angguk. Dia tidak banyak cerita, hanya mukanya yang menjadi berseri gembira. “Hemm, dia itu adik termuda dari Bu-tek Ngosian. Aku yang paling tua. Kau sebut aku Twa-supek (Uwa Guru Tertua)!”

Kwi Lan mengerutkan keningnya. “Ah, mana ada hubungan ini? Siapa dan apakah Bu-tek Ngo-sian itu? Guruku tidak pernah bercerita tentang itu kepadaku,“ bantahnya meragu.

Thai-lek Kauw-ong mengangguk. “Tentu saja. Baru pagi tadi terbentuk. Aku orang pertama. Kedua adalah Pak-sin-ong. Ke tiga Siauw-bin Lo-mo. Ke empat Bu-tek Siu-lam. Ke lima gurumu. Bu-tek Ngo-sian menggantikan kedudukan Thian-te Liok-kwi.”

Kwi Lan tidak puas. Biar pun ia tahu bahwa gurunya orang yang amat aneh dan harus ia akui kadang- kadang tidak waras jalan pikirannya, akan tetapi ia pun tahu akan watak angkuh gurunya. Mana mungkin gurunya sudi bersekutu dengan orang-orang jahat macam ini? Betapa pun juga, hal itu merupakan pertolongan baginya, karena setelah kakek itu tahu bahwa dia murid Sian-twanio, tentu tidak akan diganggunya.

“Nah, biarlah kau kusebut Twa-supek, boleh saja. Setelah kau tahu bahwa aku murid Sian-twanio, tentu saja aku tidak dapat menjadi muridmu.”

Sejenak kakek itu termenung. Memang ia tadi menawan gadis ini sama sekali bukan karena ingin mengambil murid, hanya terdorong oleh rangsangan hati yang timbul setelah melihat Bu-tek Siu-lam mempermainkan Po Leng In. Maka ia lalu menjawab, “Bukan murid. Kita orang sendiri. Kau temani aku beberapa hari. Keponakan harus bersikap manis kepada Supek-nya.” Sambil berkata demikian, sepasang mata itu memandang Kwi Lan seolah-olah hendak menelan tubuh gadis itu bulat-bulat dengan pandang matanya.

Kwi Lan bergidik. Sudah terlalu sering ia melihat pandang mata laki-laki seperti ini. Akan tetapi biasanya ia hanya memandang rendah, tidak mempedulikan, atau kalau hatinya terlalu jengkel, menghajar si pemandang. Kini melihat pandang mata si Kakek Gundul yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi itu, ia merasa ngeri, sungguh pun hal ini belum menimbulkan rasa takut.

Pada saat itu terdengar derap kaki dua ekor kuda. Hal ini bagi Kwi Lan amat kebetulan karena seolah-olah membebaskan dia pada saat yang tegang. Mereka berdua menengok dan tampaklah dua orang penunggang kuda. Mereka itu adalah dua orang laki-laki tua yang berpakaian indah dan gagah, penuh hiasan yang berkilauan. Pakaian dua orang panglima Khitan. Kepala mereka memakai topi yang berhiaskan bulu burung yang amat indah, sikap mereka angker dan gagah.

Melihat sikap mereka dan cara mereka duduk di atas kuda mudah diduga bahwa dua orang panglima asing ini tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi, apa lagi gagang dan sarung senjata yang tergantung di pinggang mereka berhiaskan emas permata! Kwi Lan sama sekali tidak tahu panglima-panglima dari mana mereka itu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa mereka adalah orang-orang berkepandaian. Oleh karena inilah, otaknya yang cerdik segera bekerja dan ia berseru kepada Thai-lek Kauw-ong.

“Twa-supek! Kepandaianmu tadi sama sekali tidak mengesankan hatiku. Kalau engkau bisa mengalahkan dua orang penunggang kuda itu, barulah aku mau mengaku bahwa kau memang gagah perkasa!”

Thai-lek Kauw-ong boleh jadi telah memperoleh tingkat ilmu silat yang amat tinggi, akan tetapi karena terlalu lama bertapa mengasingkan diri, agaknya jalan pikirannya menjadi amat sederhana dan tentu saja ia tidak dapat menandingi Kwi Lan dalam hal kecerdikan. Ia sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu sengaja memanaskan hatinya untuk mengalihkan perhatian yang tercurah pada pandang matanya yang penuh nafsu birahi tadi, dan menganggap gadis itu sebagai murid Sian-twanio besar-benar belum merasa yakin akan kelihaiannya. Oleh karena itu ia segera menjawab.

“Baik, kau lihatlah!”

Sambil berkata demikian tubuhnya yang tinggi besar itu sudah berkelebat membuat loncatan tinggi melayang ke arah dua orang penunggang kuda yang sudah datang dekat. Sekali berjungkir balik di tengah udara, kakek itu sudah menyambar ke depan dan kedua tangannya mencengkeram ke arah pundak dua orang panglima itu sambil berseru keras.

“Turun kalian…!” Suaranya keras, sambarannya cepat.

Akan tetapi biar pun merasa ngeri, dua orang panglima itu ternyata benar-benar bukan orang sembarangan. Tampak bayangan tubuh mereka berkelebat dan cepat sekali mereka sudah bergerak dengan jalan melakukan gerakan meluncur turun dari atas kuda dengan loncatan miring. Terdengar suara keras dari patahnya tulang-tulang punggung kedua ekor kuda itu disusul meringkiknya kuda dan robohnya tubuh dua ekor kuda besar yang kini berkelojotan di atas tanah dalam keadaan sekarat! Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga Thai-lek-kang di kedua tangan Thai-lek Kauw-ong yang sekali pukul dapat merobohkan dua ekor kuda besar dengan tulang-tulang punggung patah-patah

Dua orang Panglima Khitan yang bertubuh tinggi besar, hampir sama dengan bentuk Thai-lek Kauw-ong itu sesungguhnya bukanlah orang-orang biasa. Mereka itu keduanya adalah dua orang panglima yang berkedudukan tinggi di kerajaan Khitan. Yang mukanya brewok dengan jenggot panjang adalah panglima barisan berkuda di Khitan dan sebagai tanda pangkatnya antara lain adalah lukisan kepala kuda di baju depan dada. Nama kakek ini adalah Hoan Ti Ciangkun. Ada pun orang ke dua yang bermuka bengis adalah Loan Ti Ciangkun, panglima barisan penjaga benteng, seperti dapat dikenal pada lukisan pilar benteng di depan dadanya.

Hoan Ti Ciangkun dan Loan Ti Ciangkun inilah adanya dua orang panglima yang belum lama ini telah menyampaikan surat dari Ratu Yalina di Khitan untuk Suling Emas. Selain ilmu kepandaian kedua orang panglima ini lihai, juga mereka berdua merupakan utusan-utusan ratu setiap kali pemerintah Khitan mengadakan hubungan dengan raja-raja di selatan. Oleh karena itu keduanya amat mahir berbahasa selatan dan untuk memudahkan perkenalan, mereka pun memakai nama Hoan Ti Ciangkun dan Loan Ti Ciangkun. Mereka merupakan panglima-panglima Kerajaan Khitan yang setia karena semenjak muda mereka sudah menjadi prajurit yang kemudian makin menanjak kedudukan mereka berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi.

Kini mereka dalam perjalanan pulang ke Khitan, tanpa sebab sama sekali telah diserang Thai-lek Kauw- ong sehingga kuda mereka berkelojotan hampir tewas. Tentu saja mereka menjadi marah sekali di samping rasa heran dan kaget. Namun sebagai orang-orang berpengalaman, mereka maklum akan keanehan tokoh-tokoh kang-ouw di dunia selatan ini, maka mereka menindih perasaan amarah. Hoan Ti Ciangkun yang jenggotnya panjang dan halus menoleh ke arah dua ekor kuda yang berkelojotan, mengelus jenggotnya dan menarik napas panjang.

“Kasihan, kalian menderita tanpa dosa.” Setelah berkata demikian, Hoan Ti Ciangkun melangkah maju setindak dan tangan kanannya memukul ke arah dua ekor kuda dua kali berturut-turut. Pukulan jarak jauh yang cukup dahsyat, karena seketika dua ekor kuda itu berhenti berkelojotan akibat pukulan yang tepat mengarah kepala itu membuat dua ekor binatang ini tewas seketika! Kemudian Hoan Ti Ciangkun bersama kawannya mengangkat kedua tangan dirangkapkan ke dada memberi hormat.

“Maaf, kami berdua Hoan Ti dan Loan Ti dari Khitan merasa belum pernah kenal dengan Lo-suhu, juga tidak merasa melakukan sesuatu kesalahan, apa sebabnya Lo-suhu menyerang kami? Siapakah Lo- suhu?”

Ucapan ini benar-benar merupakan sikap yang amat merendahkan diri, sikap yang amat terpuji dari dua orang panglima itu sehingga tidak mengherankan apa bila Ratu Khitan mengangkat mereka sebagai utusan-utusan negara. Memang pada masa itu, Kerajaan Khitan di bawah pimpinan Ratu Yalina selalu berusaha untuk menjauhi permusuhan dengan rakyat selatan. Sikap ini ditambah kekuatan Khitan agaknya membuat Kerajaan Sung tidak berdaya dan selama itu belum juga mau menaklukkan Khitan, padahal kerajaan-kerajaan lain telah ditaklukkannya.

Siapa kira, ucapan yang halus dan merendah itu malah membuat Thai-lek Kauw-ong marah-marah. Hal ini karena dua orang panglima itu salah duga dan menyebutnya Lo-suhu, sebutan bagi seorang hwesio. Agaknya karena ia berkepala gundul maka orang Khitan itu menyangkanya hwesio, tidak tahu bahwa gundulnya adalah gundul asli, bukan karena dicukur, melainkan gundul sebagai akibat dari latihan Thai-lek- kang!

“Aku Thai-lek Kauw-ong bukan pendeta. Aku orang pertama Bu-tek Ngo-sian. Tidak ada permusuhan. Hanya kalian harus mengakui keunggulanku. Lihat seranganku!” Setelah berkata demikian, kakek gundul itu sudah menerjang maju kalang-kabut, menggunakan kedua lengannya yang besar dan kuat.

Dua orang panglima Khitan itu mendongkol bukan main. Tiada hujan tiada angin kakek gundul yang bukan hwesio ini telah membunuh kuda mereka, dan menyerang mereka secara membabi buta hanya karena ingin diakui keunggulannya! Kalau saja permintaan itu dilakukan secara baik-baik, mereka berdua yang mentaati pesan ratu tentu akan suka mengakui keunggulan si Gundul gila ini. Akan tetapi karena mereka diserang, maka keduanya cepat mengelak dan bahkan kini balas menyerang.

“Ji-wi Ciangkun, kakek gundul itu sombong sekali. Harap Ji-wi suka kalahkan dia!” Tiba-tiba Kwi Lan berteriak dan kini kedua orang panglima itu dapat menduga sebabnya mengapa si Gundul ini bertindak secara edan-edanan.

Kiranya karena gadis cantik itu. Tentu saja si Gundul ini hendak memamerkan kepandaian kepada si Gadis Cantik! Keparat, sudah tua bangka, mukanya seperti monyet, masih hendak berlagak di depan seorang gadis remaja! Pikiran ini membuat kedua orang panglima Khitan ini makin marah dan mereka lalu bergerak dan menyerang sungguh-sungguh.

Dua orang panglima itu adalah orang-orang gagah. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka melakukan penyerangan. Biar pun mereka berdua adalah ahli-ahli bermain senjata tajam, namun melihat bahwa lawan mereka tidak memegang senjata, mereka juga tidak mencabut senjata, melainkan maju menerjang dengan kepalan. Melihat gerakan mereka, jelas bahwa biar pun mereka berdua adalah panglima-panglima Khitan, namun mereka memiliki ilmu silat selatan yang amat kuat. Terutama mereka amat kuat dalam daya tahan, juga memiliki tenaga dalam yang tak boleh dipandang ringan.

Thai-lek Kauw-ong memang sudah menyangka bahwa dua orang ini bukan orang sembarangan, akan tetapi tidak mengira bahwa mereka memiliki lweekang demikian kuatnya. Maka karena ia merasa khawatir kalau-kalau tidak dapat merobohkan kedua orang lawannya secara cepat sehingga akan diremehkan Kwi Lan, kakek ini segera mengeluarkan seruan keras sekali dan tubuhnya lalu bergerak berpusingan dengan kedua lengan dikembangkan.

Hebat bukan main akibat gerakan ini karena dari kedua lengan itu timbul angin menyambar-nyambar ke kanan kiri dengan luar biasa, kemudian makin lama tubuh kakek itu makin cepat berputaran, angin pun makin hebat pula berpusingan. Inilah ilmunya yang amat ia andalkan, yaitu Soan-hong-sin-ciang! Jarang sekali Thai-lek Kauw-ong mengeluarkan ilmunya yang ampuh ini. Sekarang karena dalam hatinya timbul dorongan nafsu dan ingin sekali ia membuat Kwi Lan kagum akan kepandaiannya, ia hendak merobohkan kedua lawannya itu dalam waktu sesingkat-singkatnya!

Dua orang panglima itu terkejut bukan main. Tak pernah mereka menyangka bahwa kakek gundul itu sedemikian lihai. Betapa pun dia mempertahankan diri, kedua kaki mereka mulai menggigil dan perlahan-lahan tubuh mereka mulai mendoyong dan akhirnya, makin cepat Thai-lek Kauw-ong berputar, makin hebat tenaga angin berpusing yang menyedot, mereka tak dapat mempertahankan diri lagi dan terhuyung- huyung ikut dengan pusaran angin yang amat kuat itu.

Terlambat mereka sadar akan bahayanya ilmu kakek gundul itu dan selagi mereka berdua mengerahkan tenaga mempertahankan diri, topi terhias bulu yang berada di atas kepala mereka telah terlepas dan terlempar entah ke mana, dibawa angin yang timbul dari ilmu pukulan Soan-hongsin-ciang yang hebat itu. Hoan Ti Ciangkun dan Loan Ti Ciangkun berusaha mencabut senjata mereka, namun terlambat. Pada saat itu, sambil memutar-mutar tubuhnya kedua lengan Thai-lek Kauw-ong menyambar, dua tamparan mengenai pundak Hoan Ti Ciangkun dan dada Loan Ti Ciangkun. Dua orang panglima itu mengeluh dan terlempar ke belakang, masih berputar karena kini mereka terbawa angin, kemudian roboh terguling-guling!

Pada saat itu terdengar suara melengking merdu sekali dan jelas bahwa itu adalah suara suling yang ditiup dengan indahnya. Namun ketika dua orang panglima itu roboh pingsan, suara suling yang masih merdu itu kini mengandung nada kemarahan dan mengandung pula pengaruh yang membuat jantung Kwi Lan berdetak keras. Seketika tubuhnya menjadi lemas dan lesu, seperti orang kehilangan tenaga. Terkejut sekali gadis ini.

Sebagai murid Kam Sian Eng, tentu saja ia maklum bahwa suara melengking yang merupakan nyanyian suling ini mengandung khi-kang yang amat kuat. Gurunya malah pernah mengajarkan kepadanya tentang ilmu menyerang lawan menggunakan suara ini, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan pengaruh yang begini hebat sehingga secara langsung merampas tenaganya! Gurunya sendiri tidak akan mampu mengeluarkan suara sekuat ini pengaruhnya. Karena maklum bahwa hal ini amat berbahaya baginya, Kwi Lan cepat menjatuhkan diri, duduk bersila dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melindungi jantungnya.

Juga Thai-lek Kauw-ong menjadi terkejut sekali ketika tiba-tiba mendengar suara melengking tinggi sehingga tubuhnya yang masih berpusing itu menjadi terhuyung. Terpaksa ia mengurungkan niat hatinya untuk mengirim pukulan susulan untuk membunuh dua orang panglima Khitan itu dan menghentikan gerakannya sambil mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan suara itu.

Tiba-tiba suara melengking itu berhenti dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki tinggi besar yang bagian bawah mukanya tertutup sehelai sapu tangan. Di tangan kiri laki-laki ini tampak sebatang suling dan kepalanya terlindung sebuah topi lebar yang pinggirannya yang sudah butut.

Thai-lek Kauw-ong memandang penuh perhatian dan matanya bersinar-sinar girang. Inilah seorang lawan yang tangguh, pikirnya. Ia boleh mengharapkan perlawanan gigih, pertandingan yang seru, tidak seperti dua orang Panglima Khitan yang tiada guna itu.

“Eh, permainanmu boleh juga. Kau siapakah?”

“Thai-lek Kauw-ong, sejak engkau turun ke dunia ramai, engkau telah mengangkat nama besar dengan perbuatan-perbuatan keji dan ganas. Kini secara kebetulan kita bertemu di sini dan kembali engkau telah berlaku sewenang-wenang mengandalkan kepandaianmu. Andai kata aku tidak mengambil pusing, sulingku ini tentu saja takkan membiarkan engkau melakukan segala macam keganasan sekehendak hatimu sendiri!” Sambil berkata demlkian, orang itu menggerakkan sulingnya di depan dada dan tampak sinar kuning emas berkelebatan menyilaukan mata.

“Ahhh… engkau… Suling Emas?” Thai-lek Kauw-ong kaget ketika melihat suling yang berubah menjadi sinar kuning emas itu.

Sebelum Suling Emas menjawab, Kwi Lan sudah berkata cepat, “Thai-lek Kauw-ong, engkau mengalahkan dua panglima itu masih tidak aneh. Kalau kau bisa mengalahkan Suling Emas, barulah kau boleh menyebut orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian.”

Suling Emas mengerutkan keningnya. Bocah itu benar-benar bersikap berandalan dan nakal. Ia tahu bahwa gadis ini mulutnya amat berbahaya dan sekarang pun dia sedang berusaha mengadu kakek gundul ini dengannya. Benar-benar gadis yang binal dan nakal, dan teringatlah ia kepada Lin Lin atau Ratu Yalina, dahulu di waktu mudanya juga seperti gadis ini. Ataukah seperti Kam Sian Eng?

Kalau gadis ini murid Sian Eng, agaknya dia adalah puteri adik tirinya itu. Ia tahu bahwa Sian Eng telah menjadi korban cinta kasihnya kepada Suma Boan, putera pangeran yang jahat itu dan setelah Suma Boan tewas di tangan Sian Eng dan Lin Lin, Sian Eng lalu lari, ingatannya seperti berubah gila dan secara aneh dan mendadak telah memiliki ilmu kepandaian yang dahsyat! Puteri Sian Eng-kah gadis cantik yang liar dan nakal ini?

“Hemm, kebetulan sekali. Pak-sin-ong mengatakan kau lihai, ingin aku mencobanya. Suling Emas, kau sambutlah seranganku ini!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh kakek gundul itu kembali berputar- putar amat cepatnya, seperti ketika ia menyerang dua orang Panglima Khitan tadi. Makin lama makin cepat gerakannya dan mulai terdengar angin berdesing menyambar ke luar dari kedua lengan tangannya yang dipentang lebar. Karena dapat menduga bahwa lawannya ini lihai sekali maka begitu menyerang, Thai-lek Kauw-ong sudah mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu Soan-hong-sin-ciang!

“Aahhh, sayang sekali ilmu yang begini hebat menjadi milik seorang yang gila nama dan kemenangan,” kata Suling Emas sambil menarik napas panjang.

Menghadapi angin yang mulai berpusingan itu Suling Emas bersikap tenang sekali, menyelipkan sulingnya di pinggang kemudian berdiri tegak menghadapi lawan yang kini sudah berpusingan amat cepatnya itu. Makin cepat tubuh Thai-lek Kauw-ong berputar dan angin yang berpusing di sekeliling tubuhnya amat kuat. Dengan angin kedua lengannya ini saja ia sudah berhasil membuat dua orang Panglima Khitan terhuyung- huyung. Kini melihat sikap Suling Emas yang berdiri tenang dan biar pun pakaian pendekar sakti ini berkibar tertiup angin yang berpusing, namun tubuhnya tetap tegak, sedikit pun tidak bergeming.

Thai-lek Kauw-ong lalu berseru keras dan tubuhnya yang berputar itu mulailah bergerak menyerang. Inilah ilmu Soan-hong Sin-ciang yang dimainkan dengan sepenuhnya. Tubuh itu berpusingan sukar dlikuti pandang mata saking cepatnya, bagaikan telah berubah menjadi asap bergumpal-gumpal dan dari asap berpusingan ini secara tak tersangka-sangka melayang ke luar dua buah lengan tangan yang melakukan pukulan-pukulan dahsyat.

“Hebat…!” Suling Emas memuji. Ia kagum sekali.

Kecuali Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong yang tiba-tiba muncul kembali dan yang ia ketahui memang memiliki ilmu kepandaian luar biasa, sejak mati atau mundurnya Thian-te Liok-kwi, belum pernah ia bertemu tanding yang memiliki ilmu kepandaian seperti ini. Harus ia akui bahwa ilmu silat yang dimainkan kakek gundul ini lain dari pada ilmu silat tinggi lainnya. Baru angin yang berpusing itu saja sudah mempunyai daya tarik sukar ditahan, seakan-akan angin taufan mengamuk, atau pusaran angin yang menghanyutkan. Kalau saja ia tidak memiliki sinkang yang sudah sempurna sehingga tubuhnya terseret dan kuda-kuda goyah, berarti ia sudah setengah kalah dan tentu takkan dapat menghindarkan diri dari serangan kedua tangan yang seakan-akan dua ekor naga menyambar ke luar dari awan tebal itu.

Memang lihai sekali Thai-kek Kauw-ong dan ia patut menjadi seorang pertama dari Bu-tek Ngo-sian. Ilmu silatnya Soan-hong Sin-hoat jarang bertemu tanding. Akan tetapi sekali ini ia bertemu dengan Suling Emas, seorang pendekar sakti yang sudah matang ilmunya. Tadi pun ketika Thai-lek Kauw-ong merobohkan dua orang Panglima Khitan dan mengirim pukulan maut hanya dengan suara sulingnya saja Suling Emas sudah mampu ‘menangkis’ atau mengurungkan niat keji kakek gundul ini. Tiupan suling tadi pun bukan sembarang tiupan, melainkan semacam ilmu yang sangat tinggi, yang diperoleh Suling Emas yaitu yang disebut Kim-kong Sin-kiam.

Kini menghadapi Soan-hong Sin-ciang yang dimainkan dengan sungguh-sungguh serta disertai tenaga dalam amat kuat itu, Suling Emas menghadapinya dengan tenang. Ia maklum akan lihainya kakek ini dan ia juga merasa sayang. Biar pun belum jelas mengenal kakek ini orang macam apa, akan tetapi sepanjang pendengarannya, kakek ini semenjak muncul dari pulau di lautan timur, selalu mencari perkara dan suka sekali berkelahi, namun tidak ia dengar kakek ini mempunyai anak buah penjahat. Maka ia pun tidak ingin membunuhnya, merasa sayang melihat ilmu kepandaian yang amat tinggi itu.

Dengan tenang namun waspada, Suling Emas lalu menggerakkan kedua tangannya. Jari-jarinya terbuka dan telunjuk kedua tangannya membuat gerakan mencorat-coret di udara kosong. Hanya tampaknya saja mencoret-coret menulis huruf dengan telunjuk di udara, namun sesungguhnya inilah ilmu sakti Hong-in Bun-hoat dimainkan oleh seorang ahli yang sudah matang!

Thai-lek Kauw-ong terkejut setengah mati. Kedua tangan lawannya hanya mencorat-coret, namun semua pukulannya terpental membalik, dan dua buah telunjuk itu sedemikian kuatnya sehingga menembus pusaran angin, langsung melakukan totokan-totokan pada jalan darah di seluruh tubuhnya. Karuan saja kakek gundul ini menjadi sibuk sekali, menangkis dan mengelak. Biar pun ia menangkis dengan kedua tangannya dan mengelak cepat-cepat, agaknya kedua tangan dan elakannya masih belum cukup untuk melindungi tubuhnya karena yang menyerangnya bukan lagi dua buah telunjuk, melainkan puluhan buah telunjuk!

Demikian cepatnya gerakan Suling Emas. Selain terkejut, juga kakek gundul ini kagum sekali. Timbul kegembiraan hatinya karena baru kali ini ia bertemu tanding yang hebat. Ia segera menghentikan pusingan tubuhnya dan melayani gerakan Suling Emas dengan sama cepatnya. Setelah tubuhnya tidak berpusing lagi, ia tidaklah begitu terdesak karena kini ia dapat mencurahkan seluruh perhatiannya ke satu jurusan saja, yaitu ke depan.

Ia masih mengandalkan besarnya tenaga dan beberapa kali ia sengaja mengadu lengan sambil mengerahkan tenaga. Namun ternyata bahwa lawannya itu sama sekali tidak takut beradu tangan. Setiap kali kedua lengan mereka bertemu, Suling Emas terpental mundur dua langkah, akan tetapi biar pun tubuh Thai-lek Kauw-ong tidak terpental mundur, ia merasa lengannya seperti lumpuh dan dadanya panas. Hal ini berarti bahwa Suling Emas kalah setingkat dalam hal tenaga keras, namun menang seusap dalam tenaga lemas. Dan kalau hal ini dilanjutkan, yang menderita rugi besar adalah Thai-lek Kauw-ong sendiri!

“Suling Emas, kau hebat!” Kakek gundul itu biar pun merasa penasaran, namun ia tidak marah melainkan kagum dan gembira. “Kau sambutlah ini!” Sambil berkata demikian, tubuhnya yang sudah mencelat mundur itu kini berjongkok dan dari kerongkongannya keluar bunyi burung gagak, kemudian kedua tangannya yang terbuka jari-jari tangannya itu mendorong ke arah Suling Emas!

Suling Emas belum pernah mendengar akan ilmu kepandaian Thai-lek Kauw-ong, maka tadi ia kagum dan mengira bahwa Soan-hong Sin-ciang itu adalah ilmu simpanan atau ilmu yang diandalkan kakek gundul itu. Ketika melihat kakek itu mencelat mundur dan berjongkok, ia sudah menduga bahwa kakek ini tentu mengeluarkan ilmu lain macam lagi, maka ia waspada dan memasang kuda-kuda.

Ketika mendengar suara seperti burung gagak keluar dari kerangkongan kakek itu, ia terkejut bukan main. Ia pernah mendengar… tentang ilmu yang amat dahsyat dan yang sukar dimiliki orang, kecuali oleh mereka yang sudah mencapai kesempurnaan dalam ilmu lweekang, yaitu Ilmu Hoa-mo-kang, semacam ilmu yang dimiliki seekor katak. Dengan ilmu ini, katak yang demikian kecil dapat mempunyai tenaga yang dahsyat sekali. Ia pernah mendengar penuturan tentang Hoa-mo-kang dan si pemilik ilmu Hoa-mo-kang kabarnya juga mengeluarkan suara dari kerongkongannya seperti suara katak.

Kini kakek gundul ini berjongkok mengerahkan tenaga dari tangan dan mengeluarkan suara dari kerongkongannya seperti suara gagak, ilmu apakah ini? Suling Emas yang cerdik itu segera teringat akan julukan kakek gundul itu. Tak salah lagi, tentulah ilmu pukulan yang menggunakan dasar tenaga tian-tan inilah yang membuat kakek itu dijuluki Thai-lek.

Setelah dengan cepat dapat menduga akan dasar ilmu pukulan ini, timbul keinginan hati Suling Emas untuk mencoba pukulan lawan tangguh ini sampai di mana batas kekuatannya. Karena ia tidak mau sembrono dan membahayakan diri sendiri, maka ia hanya mempergunakan tenaga sebanyak tiga perempat bagian saja, sedangkan sisa tenaganya ia persiapkan untuk dipakai meringankan tubuhnya dan meloncat menghindarkan diri.

Kakek itu menjadi girang melihat Suling Emas berani menyambut Thai-lek-kang dengan dorongan kedua tangan dari atas ke bawah. Ia merasa yakin bahwa kali ini ia akan menang. Boleh jadi ia tidak mampu menandingi ilmu silat Suling Emas yang demikian ajaib, akan tetapi dalam hal pertandingan mengadu tenaga, tak mungkin ia kalah kuat. Selama hidupnya, belum pernah ada orang yang sanggup mengalahkan Thai-lek-kang. Sekali ini pun ia harus dapat menangkan lawan tangguh ini dengan pukulan Thai-lek-kang, maka sambil mendorongkan kedua lengannya, ia mengerahkan seluruh tenaganya. Hawa panas mengalir bagaikan banjir keluar dari pusarnya melalui kedua lengan.

Bagi pandangan orang lain, pertemuan dua tenaga sakti di udara itu tidak kelihatan dan seakan-akan tidak ada apa-apa. Namun bagi kedua orang sakti ini, seakan-akan halilintar menyambar dan meledak di atas kepala mereka. Akibatnya hebat sekali. Dua pasang tangan itu hanya saling menyentuh ketika keduanya mendorong ke depan, namun keduanya merasa seperti diseruduk gajah. Tubuh Suling Emas terdorong dari bawah dan karena pendekar ini memang sudah waspada, ia segera menggunakan sisa tenaganya untuk meringankan tubuh sehingga ia berhasil ‘mematahkan’ tenaga dorongan dari kedua tangan lawan dengan cara membiarkan tubuhnya terlempar ke atas sampai hampir empat meter tingginya!

 

Tidak demikian dengan Thai-lek Kauw-ong. Karena raksasa gundul ini menggunakan seluruh tenaganya dan ia berdiri kokoh kuat di atas tanah, biar pun ia menang posisi dan dibantu oleh kerasnya tanah, akan tetapi ia seperti tergencet dan begitu dua tenaga sakti itu bertemu, kedua kakinya amblas ke dalam tanah sampai ke lutut! Selain ini, juga kakek gundul ini merasa napasnya sesak dan seakan-akan dadanya hendak meledak.

Thai-lek Kauw-ong terkejut dan maklumlah ia bahwa lawannya benar-benar amat lihai sehingga kalau ia terus menggunakan Thai-lek-kang untuk melawannya, akan terancam bahaya dan bisa menderita luka parah di dalam tubuh. Sebagai seorang ahli ia tidak bodoh dan tidak mau mengulangi penggunaan ilmu pukulan Thai-lek-kang yang biasanya amat dia andalkan itu. Sekali ia mengeluarkan seruan keras, tubuhnya sudah meloncat ke atas, kedua kakinya yang amblas ke tanah sudah tercabut ke luar dan di kedua tangannya tampak senjatanya yang ampuh, yaitu sepasang gembreng.

“Aha, kiranya kepandaianmu hanya sebegitu, saja, Thai-lek Kauw-ong? Belum lecet kulitmu belum patah tulangmu, kau sudah mengeluarkan senjata. Heh, kalau hanya sebegitu kepandaianmu, mana boleh engkau mengangkat dirimu sebagai orang pertama Bu-tek Ngo-sian? Melawan guruku saja kau belum tentu menang!”

Panas rasa perut Thai-lek Kau-ong mendengar ejekan Kwi Lan ini. Suling Emas juga mengerutkan kening. Benar-benar seorang gadis yang bermulut tajam dan berbahaya. Bocah seperti itu patut ia telungkupkan di atas pangkuannya dan dipukuli punggungnya sampai minta-minta ampun dan bertobat! Ia tahu bahwa kakek gundul ini merupakan lawan yang tangguh dan sudah merupakan ahli tingkat atasan yang sukar dicari tandingnya.

“Suling Emas, coba kau sambut senjataku ini!” Thai-lek Kauw-ong yang kini menjadi penasaran dan marah oleh ejekan Kwi Lan, bergerak maju, sepasang gembrengnya mengeluarkan bunyi nyaring sekali ketika ia adu-adukan. Tubuh Suling Emas berkelebat dan di depan tubuhnya tampak bergulung sinar kuning emas, yaitu sinar senjata sulingnya yang sudah ia cabut dan gerakkan untuk menangkis datangnya senjata lawan yang hebat.

“Trangg… trangggg…!”

Mata Kwi Lan menjadi silau karena bunga api yang berpijar ke luar amat terang, kemudian disambung oleh suara beradunya sepasang gembreng yang membuat jantungnya tergetar. Gadis ini menjadi kagum dan kaget, apa lagi ketika dari suling yang digerakkan tangan Suling Emas itu keluar pula lengkingan tinggi nyaring yang menandingi bunyl nyaring sepasang gembreng. Riuh-rendah suara suling dan gembreng ini dan Kwi Lan segera menjatuhkan diri duduk bersila. Ia menyatukan semangat dan mengatur pernapasan sambil memandang penuh perhatian.

Dua orang itu tampak bergerak makin lama makin cepat. sehingga sukar dibedakan lagi mana Suling Emas mana Thai-lek Kauw-ong. Ada pun suara gembreng dan suling amat aneh. Makin lama makin terasa oleh Kwi Lan betapa dua macam alat tetabuhan yang kini digunakan sebagai senjata itu mulai membentuk irama tertentu seakan-akan dua orang itu tidak sedang bertanding, melainkan sedang mainkan lagu bersama!

Akan tetapi, makin merdu suara suling dan makin nyaring suara gembreng, makin hebat pula pengaruhnya sehingga akhirnya Kwi Lan tidak dapat menahan lagi untuk memandang pertempuran itu. Ia makin mengerahkan tenaganya dan membatasi diri hanya menggunakan telinganya saja untuk mendengarkan suara suling dan gembreng. Kini diam-diam ia mengakui kehebatan ilmu kepandaian Thai-lek Kauw-ong dan ia merasa sangsi apakah gurunya akan dapat menandingi kakek gundul yang perkasa itu.

Makin besar pula kagumnya terhadap Suling Emas yang agaknya malah jauh lebih sakti dari pada Thai-lek Kauw-ong. Biar pun tingkat kedua orang ini lebih tinggi dari padanya, namun pertandingan tangan kosong disusul pertandingan adu tenaga dalam tadi dapat ia ikuti dengan seksama dan ia tahu bahwa dalam dua pertandingan terdahulu itu Suling Emas berada di pihak unggul.

Makin lama suara suling dan gembreng saling serang dengan irama yang cocok, jalin-menjalin, seling- menyeling, dan kadang malah ganas dan marah saling menghimpit, akan tetapi ada kalanya merdu merayu seperti sepasang orang muda bercumbu rayu. Akan tetapi kurang lebih seperempat jam kemudian, suara suling makin nyaring melengking, sebaliknya suara gembreng makin kacau balau dan menyeleweng dari pada irama, bahkan terdengar parau tidak keras lagi.

Mendengar ini Kwi Lan maklum bahwa kembali Suling Emas unggul, maka ia mengangkat muka memandang. Betul saja dugaannya, permainan Thai-lek Kauw-ong mulai kacau-balau, sepasang gembrengnya yang berubah menjadi dua gulungan sinar kebiruan menjadi makin ciut dan kecil, sebaliknya sinar kuning emas menjadi makin besar dan panjang, bergulung-gulung menekan dan menghimpit dua gulungan sinar kebiruan. Namun gerakan mereka masih sama cepatnya sehingga tubuh mereka tertutup oleh gulungan sinar senjata.

“Cukuplah!” tiba-tiba terdengar suara Suling Emas yang meloncat ke belakang sambil menarik kembali sulingnya yang sudah menekan dan membuat lawan hampir tak dapat menangkis lagi. Ia berdiri dengan sepasang mata bersinar dan mulut di balik sapu tangan ia berkata, “Thai-lek Kauw-ong, ilmu kepandaianmu hebat sekali. Kau akan dapat membuat banyak jasa terhadap kemanusiaan dengan ilmu kepandaianmu.”

Thai-lek Kauw-ong juga menghentikan gerakannya. Matanya terbelalak lebar, mulutnya agak ternganga dan napasnya terengah-engah. Mukanya agak pucat penuh peluh, juga pakaiannya basah semua, tangan kakinya nampak lemas tanda bahwa ia lelah bukan main. Setelah mengatur napas dan tidak begitu terengah-engah lagi ia berkata.

“Suling Emas memang lihai. Lain kali bertemu dan bertanding lagi!” Setelah berkata demikian, kakek itu mengebutkan lengan bajunya menyimpan gembrengnya, lalu pergi dari situ dengan langkah lebar.

“Heeei! Kauw-ong, tentu lain kali kau mengajak teman-temanmu mengeroyok, ya?” Kwi Lan mengejek. Kakek gundul itu tidak menjawab, terus melangkah pergi.

“Eh, Twa-supek! Apakah kau tidak ingin kusebut Twa-supek lagi? Tidak mau mengambil murid kepadaku? Heeei…!”

Akan tetapi Thai-lek Kauw-ong berjalan terus, menengok satu kali pun tidak, sampai tubuhnya lenyap di sebuah tikungan jalan. Kwi Lan tertawa-tawa dengan nada mengejek, dan baru berhenti tertawa ketika bayangan kakek itu lenyap.

Suling Emas berdiri tegak, mengerutkan keningnya memandang gadis itu. Melihat gadis itu mengejek dan tertawa-tawa bebas, ia menggeleng-geleng kepalanya. Gadis ini mirip Lin Lin di waktu muda, akan tetapi ada keanehan yang luar biasa, cara ketawanya yang bebas tanpa sungkan, akalnya mengadu domba, semua ini condong ke arat watak yang liar dan tidak baik.

“Nona, apakah dia itu Twa-supek-mu (Uwa Gurumu)?” ia bertanya ketika gadis itu menghentikan tawanya dan kini berdiri di depannya, memandangnya penuh perhatian.

Kekaguman memancar dari mata gadis itu, dan entah bagaimana, rasa hati Suling Emas berdebar dan ia agak gugup melihat pandang mata seperti itu!

“Dia? Twa-supek-ku? Ah, hanya menurut pengakuan dia saja. Dia bilang bahwa kini telah terbentuk Bu-tek Ngo-sian dan ia menjadi orang nomor satu sedangkan guruku menjadi orang nomor lima, malah dia menyuruh aku menyebutnya Twa-supek-ku. Mana aku percaya? Guruku mana sudi bersekutu dengan dia?”

Suling Emas mengerutkan keningnya lebih ke bawah. “Bukankah gurumu yang bernama Kam Sian Eng?”

Kini Kwi Lan yang menjadi heran sekali. Bagaimana Suling Emas tahu akan nama gurunya? Ia sendiri baru satu kali mendengar gurunya menyebutkan namanya, yaitu ketika gurunya bicara dengan anggota partai pengemis yang berani mendatangi tempat tinggal gurunya dan menerima hajaran. Ia mengangguk heran dan bertanya.

“Eh, bagaimana kau bisa tahu namanya?”

Kini Suling Emas tersenyum di balik sapu tangannya. Kalau sudah bertanya sambil memandang seperti itu, benar-benar gadis ini tiada ubahnya dengan Lin Lin dahulu! “Tentu saja aku tahu karena sebenarnya aku adalah kakak gurumu! Karena itu, akulah yang sebetulnya harus kau panggil Twa-supek!”

Kwi Lan kembali melengak. Hal ini sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya. Gurunya adik Suling Emas? Akan tetapi mendengar bahwa Suling Emas pernah menjadi kekasih Ratu Khitan, kekasih ibu kandungnya! Mengapa begini kebetulan?

“Harap… harap kau suka membuka sapu tangan itu!” “He? Apa… mengapa?”
“Kalau memang betul kata-katamu tadi, aku ingin menyaksikan wajah Twa-supek-ku, bukan hanya orang berkedok sapu tangan.”

Suling Emas tersenyum geli, kemudian perlahan ia merenggut sapu tangan yang menutupi bagian bawah mukanya. “Bukankah kau pernah melihat wajahku di Kang-hu?”

“Benar, akan tetapi hanya sebentar saja,” jawab Kwi Lan sambil menatap wajah yang tampan dan penuh garis-garis pengalaman pahit itu. “Hemmm, aku tidak suka mempunyai Twa-supek yang kurang ajar!”

Kata-kata terakhir ini keluar dari mulutnya seperti makian, penuh kemarahan dan penyesalan. Pada saat itu Kwi Lan tidak hanya mendongkol teringat akan sikap Suling Emas yang dianggapnya kurang ajar ketika menyuruh ia membuka baju, juga bahkan terutama sekali karena ia mendengar bahwa tokoh ini adalah kekasih ibu kandungnya! Kalau memang kekasihnya, mengapa Suling Emas meninggalkan Ratu Khitan?

Suling Emas terkejut, akan tetapi segera tersenyum, “Hemmm, kau masih salah sangka agaknya. Engkau menganggap aku kurang ajar karena di Kang-hu tempo hari aku menyuruh engkau membuka bajumu? Ah, anak nakal. Jangankan kini mengetahui bahwa engkau murid Sian Eng dan masih murid keponakanku sendiri. Andai kata tidak tahu sekali pun, aku bukanlah seorang laki-laki tua yang suka berlaku kurang ajar kepada seorang gadis remaja. Memang kusuruh engkau membuka baju, akan tetapi kata-kataku belum selesai engkau sudah terburu-buru lari dan marah. Tentu saja maksudku agar engkau membuka baju memeriksa dadamu sendiri apakah tidak mengalami luka seperti yang diderita Yu Siang Ki sebagai akibat pukulan lihai dari Pak-kek Sian-ong.”

Merah wajah Mutiara Hitam. Memang setelah ia lari dengan marah-marah, di tengah jalan ia mengenang kembali peristiwa itu dan ia pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh pendekar ini. Akan tetapi dasar wataknya yang keras, ia tidak mau mengakui begitu saja tentang kekeliruan dugaannya.

“Huh, kakek gila tua bangka itu mana mampu begitu mudah melukai aku? Yu Siang Ki bodoh dan kurang waspada maka dapat terluka. Aku tidak luka apa-apa!”

Suling Emas mula-mula heran dan kagum mendengar ini, kemudian ia mengangguk-angguk. “Agaknya engkau telah mewarisi ilmu kepandaian Sian Eng yang amat aneh maka engkau dapat terhindar dari pukulan jarak jauh Pak-kek Sian-ong. Gurumu telah mewariskan ilmu kepandaian yang hebat, akan tetapi sayang kurang memperhatikan pelajaran sopan santun sehingga terhadap uwa guru sendiri engkau berlaku kurang hormat.” Biar pun mulut Suling Emas masih tersenyum namun sepasang matanya memandang penuh teguran.

Sepasang mata yang bening tajam tiba-tiba memandang Suling Emas dengan penuh selidik, kemudian terdengar gadis itu bertanya, suaranya lantang dan agak menggetar perasaan. “Suling Emas… ada hubungan apakah antara engkau dan… Ratu Khitan…?”

Seketika wajah yang tenang dan sudah agak pucat itu menjadi makin pucat. Sepasang mata pendekar itu menyipit dan keningnya berkerut, alisnya yang tebal hampir bersambung setelah dikerutkan seperti itu. Pertanyaan yang tak disangka-sangkanya sama sekali ini datangnya terlalu tiba-tiba, lebih mengagetkan dari pada tusukan sebuah pedang yang tajam.

“Apa…? Apa… maksudmu…?” Ia tergagap sambil menatap wajah gadis itu yang kini membayangkan kekerasan dan kesungguhan.

“Adakah Ratu Khitan itu dahulu pernah menjadi kekasihmu?” Kwi Lan menyerangnya dengan langsung dan tajam.

Kalamenjing di leher Suling Emas bergerak-gerak naik turun ketika ia menelan ludah seperti menelan kembali jantungnya yang meloncat naik ke tenggorokannya. Tak kuasa ia menjawab dan tanpa ia sadari, ia mengangguk sungguh pun hatinya mulai dikuasai kemarahan mendengar akan pertanyaan-pertanyaan yang lancang kurang ajar ini.

Alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat gadis ini membanting-banting kaki seperti orang marah sekali dan suara gadis itu bercampur isak. “Kalau kau sudah merayunya sehingga dia menjadi kekasihmu, kenapa sekarang kau berada di sini dan meninggalkan dia?” Ucapan ini disertai pandang mata yang tajam menusuk melebihi sepasang pedang pusaka sehingga Suling Emas melangkah mundur setindak.

Akan tetapi pendekar besar ini sudah dapat menguasai kekagetan hatinya dan kini kemarahan membuat wajahnya yang pucat menjadi agak merah kembali, sepasang matanya memancarkan sinar berpengaruh, kedua tangannya dikepalkan. Gadis ini terlalu lancang, terlalu kurang ajar. Biar pun gadis ini murid Sian Eng, atau anak Sian Eng sekali pun, terutama sekali kalau anak Sian Eng, bocah ini tidak berhak bersikap seperti itu dan mengorek-ngorek urusan pribadinya secara demikian kurang ajar!

“Bocah kurang ajar tak tahu kesopanan!” bentaknya marah, melangkah maju setindak, telunjuknya ditudingkan ke arah muka Kwi Lan yang memandang dengan tajam penuh tantangan. “Lancang benar mulutmu. Apa pedulimu dengan semua urusanku dan urusan Ratu Khitan? Ada sangkut-paut apakah dengan dirimu?”

Suling Emas yakin akan kewibawaan suara dan pandang matanya, apa lagi pada saat itu setelah kemarahannya bangkit dan semua tenaga sinkang terkumpul di dadanya. Lawan yang tangguh sekali pun akan tergetar. Tapi gadis ini sama sekali tidak keder atau takut, malah kalau tadi ia melangkah maju setindak, gadis itu kini melangkah maju dua tindak dan kalau ia menudingkan telunjuk ke arah muka gadis itu, kini gadis itu menudingkan telunjuknya ke hidung sendiri sambll menjawab ketus.

“Huh, mau tahu? Dia adalah ibu kandungku!” Setelah berkata demikian, sambil mendengus seperti sapi betina marah, Kwi Lan membalikkan tubuhnya dan meloncat pergi dari tempat itu.

Jawaban ini seperti halilintar menyambar di atas kepala. Begitu hebat keheranan dan kekagetan hati Suling Emas sehingga ia berdiri terlongong dengan muka pucat, memandang ke arah lenyapnya bayangan gadis itu. Setelah bayangan Kwi Lan lenyap, barulah Suling Emas dapat menguasai hatinya dan ia berseru. “Heii, tunggu jangan lari…!”

Akan tetapi baru saja ia menggerakkan kaki hendak lari mengejar, ia mendengar suara dua orang Panglima Khitan yang tadi pingsan oleh pukulan Thai-lek Kauw-ong dan yang kini sudah siuman kembali, “Tai-hiap…!”

Suling Emas menahan kakinya dan menengok. Benar juga, pikirnya. Mereka ini adalah panglima-panglima Khitan, utusan Lin Lin, dari mereka ini pun aku akan dapat mendengar keterangan tentang Lin Lin dan… gadis yang mengaku anaknya itu. Maka ia urungkan niatnya mengejar Kwi Lan karena dari sikap gadis itu ia pun merasa sangsi apakah jika dapat menyusulnya ia akan dapat memaksa gadis itu memberi penjelasan.

Hatinya tenang kembali dan karena kini tidak ingin menyembunyikan diri lagi terhadap mereka, ia membuka sapu tangan yang menutupi mukanya dan menghadapi mereka. Begitu melihat wajah di balik sapu tangan, dua orang Panglima Khitan itu menjadi girang. Dahulu pernah mereka melihat Suling Emas menjadi tamu ratu mereka di Khitan dan kini mereka mengenal muka ini. Serta-merta mereka menjatuhkan diri berlutut.

“Terima kasih kami haturkan atas pertolongan Taihiap, terutama sekali karena hal ini membuktikan bahwa Taihiap masih belum melupakan sahabat-sahabat dari Khitan,” kata Hoan Ti Ciangkun yang berjenggot panjang.

Suling Emas cepat-cepat mengangkat bangun kedua panglima tua itu. “Ji-wi Ciangkun harap bangun, aku ingin membicarakan hal penting.”

Setelah mereka bangkit kemudian bersama mencari tempat duduk di tempat yang teduh, mulailah Suling Emas menceritakan maksud hatinya.

“Pertama-tama kuharap Ji-wi berjanji bahwa Ji-wi tidak akan membuka rahasiaku kepada siapa pun juga. Hanya kepada Ji-wi saja aku suka memperlihatkan muka karena aku ingin minta pertolongan Ji-wi. Maukah Ji-wi berjanji takkan membuka rahasiaku sebagai Suling Emas?”

 

Dua orang panglima itu saling pandang, kemudian mengangguk. “Kami berjanji,” kata mereka berbareng. “Juga takkan membuka rahasia kepada ratu kalian?”
Mereka bersangsi sejenak. Kesetiaan mereka terhadap ratu mereka mutlak, akan tetapi, mengingat bahwa mereka tadi tertolong nyawa mereka oleh Suling Emas dan permintaan itu pun tidak melanggar sesuatu, mereka kembali menyatakan setuju.

Lega hati Suling Emas. Ia ingat kembali siapa dua orang ini dan ia merasa yakin bahwa dua orang ini takkan mungkin mau melanggar janji. Demikianlah sikap seorang gagah dari Khitan, jujur dan setia. “Sekarang aku ingat kepada Ji-wi. Bukankah Ji-wi ini Loan Ti Ciangkun dan Hoan Ti Ciangkun, pembantu- pembantu utama Panglima Kayabu?”

Kembali dua orang panglima itu mengangguk. Mereka pun tahu bahwa di antara ratu mereka, Panglima Besar Kayabu, dan Suling Emas terdapat hubungan yang amat erat, bahkan mereka pun tahu bahwa Suling Emas ini adalah kakak angkat ratu mereka. Karena itu kedudukan Suling Emas di mata mereka seperti seorang Pangeran Khitan yang harus mereka hormati. Hanya saja mereka tidak menyebut pangeran karena maklum bahwa pendekar besar ini tentu tidak suka disebut demikian.

“Ji-wi Ciangkun,” katanya. “Semenjak meninggalkan Khitan, aku tidak tahu sama sekali akan keadaan di istana. Sukakah kalian memberi penjelasan kepadaku tentang keadaan ratu kalian? Tentu kalian tahu bahwa ratumu adalah adik angkatku. Bagaimanakah keadaannya? Apakah ratumu itu sudah mempunyai putera?”

Dua pasang mata itu berseri gembira. “Ah, sayang bahwa Tai-hiap tidak pernah datang berkunjung ke Khitan. Ratu kami kini mempunyai seorang putera yang gagah perkasa dan tampan yaitu, Pangeran Talibu yang kami hormati dan cinta.”

Rasa panas menjalar ke dalam dada Suling Emas. Jantungnya seperti terbakar, kepalanya pening, pandang matanya berkunang. Berbagai macam dugaan dan pertanyaan muncul dalam hatinya. Mengapa Lin Lin menikah? Kapan dan dengan siapa? Rasa cemburu dan iri menyesak di dalam dadanya dan menurutkan perasaan ini, ingin ia sekali bergerak merobohkan dua orang utusan Lin Lin ini, kemudian pergi ke Khitan untuk memaki-maki bekas kekasihnya yang selalu tak pernah ia lupakan dan yang mengakibatkan ia hidup menderita, merana dan berpenyakitan. Kalau perlu membunuh suami Lin Lin!

Akan tetapi seperti biasa, kesadaran lebih kuat dalam batin pendekar besar ini. Sebentar saja ia sudah menguasai kembali hatinya, mengusir iri dan cemburu dan karena perang yang semacam ini terlalu sering terjadi di hatinya yang selalu dirundung kedukaan dan rindu dendam, biar pun Suling Emas berhasil menguasai hatinya, namun ia tidak dapat mencegah rangsangan batuk yang tiba-tiba datang. Ia terbatuk- batuk dan menggunakan sapu tangan menutupi mulutnya. Setelah reda, ia menarik napas panjang dan menatap wajah dua orang Panglima Khitan itu yang tadi memandangnya dengan terheran. Siapa takkan menjadi heran melihat seorang pendekar sakti seperti Suling Emas terserang batuk-batuk sedemikian parah seperti keadaan seorang yang lemah saja?

“Ji-wi Ciangkun (Saudara Panglima Berdua), maafkan aku. Beritamu ini benar-benar mengagetkan hatiku. Ah, betapa sudah amat lamanya aku tidak pernah mendengar tentang ratu kalian, adik angkatku itu sehingga aku tidak tahu siapa yang telah menjadi adik iparku. Apakah dia seorang Pangeran Khitan yang gagah perkasa?”

Kini tiba giliran dua orang Panglima Khitan itu yang kaget dan melongo, saling pandang dan kemudian kembali memandang Suling Emas. “Apa yang Taihiap maksudkan?” kata Hoan Ti Ciangkun. “Ratu kami tak pernah… tak pernah menikah!” Dalam kata-katanya, panglima ini jelas marah mendengar ratunya dikatakan menikah karena hal ini dianggapnya suatu penghinaan.

Akan tetapi Loan Ti Ciangkun sudah dapat lebih dulu mengerti mengapa Suling Emas menduga demikian, maka ia juga cepat menyambung. “Ah, kami yang keliru, Taihiap. Harap Taihiap maklum bahwa ratu kami tidak menikah dan ada pun putera beliau itu adalah putera angkat. Sesungguhnya, Pangeran Talibu itu dahulu adalah putera dari Panglima Kayabu yang dalam usia lima tahun diangkat anak secara resmi oleh ratu kami.”

Keterangan ini membuat hati Suling Emas terasa lapang, seakan-akan sebongkah batu besar yang tadi menindih jantungnya kini terangkat. Demikian lega dan senang hatinya sehingga tanpa ia sadari sendiri ia tertawa bergelak, “Ha-ha-ha-ha…!” Dan dua titik air mata meloncat ke atas pipinya.

Dua orang Panglima Khitan itu saling pandang, terheran-heran. Akan tetapi karena mereka tahu bahwa banyak orang sakti berwatak dan bersikap aneh-aneh, maka mereka tidak berkata sesuatu.

“Ji-wi Ciangkun, aku girang bahwa adik angkatku itu kini mempunyai seorang putera yang bernama Pangeran Talibu. Dan… siapakah namanya puterinya?”

Kini dua orang panglima itu benar-benar heran. “Puterinya? Puteri siapakah, Taihiap? Ratu kami tidak mempunyai seorang anak lain kecuali Pangeran Talibu!”

“Hee…? Ada seorang gadis bernama Mutiara Hitam… dan… ah, sudahlah. Kalian tidak mengenal Mutiara Hitam?”

Dua orang panglima itu menggeleng kepala dan mulai meragukan kewarasan otak pendekar besar ini. Suling Emas termenung, mengerutkan keningnya. Ada banyak rahasia aneh meliputi diri Lin Lin, pikirnya. Kalau Lin Lin tidak menikah lagi, itu tidak aneh karena ia juga selalu percaya akan kesetiaan dan kecintaan hati ratu itu kepadanya. Kemudian tentang pengangkatan seorang anak, anak Panglima Kayabu yang perkasa sebagai pangeran, juga hal yang tidak mengherankan.

Akan tetapi gadis itu, Mutiara Hitam yang mempunyai kepandaian seperti Sian Eng, yang mengaku murid Sian Eng, yang berwajah dan berwatak seperti Lin Lin di waktu muda, mengapa mengaku sebagai anak Lin Lin? Kemudian surat Lin Lin kepadanya. Bagaimana pula bunyi kalimat itu? TERLALU LAMA MENYIMPAN RAHASIA BESAR. Rahasia apa gerangan yang dimaksudkan Lin Lin?

Sampai lama Suling Emas termenung, menimbang-nimbang, mencari-cari namun tetap saja ia tidak dapat menduga rahasia apa gerangan yang disembunyikan kekasihnya dan mengapa pula sekarang setelah berpisah dua puluh tahun, Lin Lin minta agar ia suka datang berkunjung ke Khitan? Kalau tidak ada urusan penting sekali, mengapa harus saling jumpa kembali? Untuk merobek kembali luka yang sudah hampir kering? Betapa pun besar keinginan hatinya untuk bertemu dengan orang yang dicintanya, ia tetap hendak menjaga nama baik kekasihnya itu, menjaga nama baik seorang ratu yang dijunjung tinggi rakyatnya.

“Ji-wi Ciangkun, masih ingatkah janji-janji Ji-wi tadi kepadaku?” Dua orang panglima itu mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu aku akan memenuhi surat undangan ratu kalian yang Ji-wi serahkan kepadaku. Aku akan berkunjung ke Khitan, akan tetapi tidak secara berterang dan selain Ji-wi, tidak boleh ada orang lain mengenalku. Maukah Ji-wi membantuku?”

Dua orang panglima itu kelihatan ragu-ragu, “Tentu saja kami suka membantu Taihiap,” jawab Hoan Ti Ciangkun, “akan tetapi…, bagaimana caranya?”

“Aku ingin sekali mengunjungi adik angkatku, akan tetapi aku tidak menghendaki sebagai Suling Emas. Jalan satu-satunya hanya menyamar. Kalian ceritakan kepada ratu kalian tentang penyerangan Thai-lek kauw-ong dan bahwa aku telah membantu kalian. Aku akan menyamar sebagai seorang kakek berjuluk San-siang Lojin (Kakek Pegunungan). Maukah kalian membantuku?”

Dua orang panglima itu mengangguk-angguk tanda setuju.

“Dan untuk menghilangkan kecurigaan, harap Loan Ti Ciangkun mengangkat aku sebagai pembantu, menjadi seorang perwira penjaga benteng.”

Loan Ti Ciangkun mengangguk-angguk, sungguh pun di dalam hatinya merasa heran. Memang aneh sikap orang-orang sakti di selatan ini, pikirnya. Hendak mengunjungi adik angkat saja mengapa mesti menyamar seperti ini? Namun karena ia tahu bahwa ratunya sudah lama mencari kakak angkatnya ini dan yakin bahwa Suling Emas bukan musuh yang patut dicurigai, maka ia tidak membantah dan menganggap hal ini sebagai lelucon.

 

Setelah berunding, kedua orang panglima itu mencarikan alat-alat yang dibutuhkan untuk penyamaran Suling Emas dan ketika mereka bertiga berangkat ke Khitan, Suling Emas sudah berubah menjadi seorang kakek berjenggot panjang, seorang kakek yang berusia enam puluh tahun lebih.

********************

Kita tinggalkan dulu Suling Emas yang ikut bersama Loan Ti Ciangkun dan Hoan Ti Ciangkun menuju ke Khitan dengan hati berdebar tegang karena akan berjumpa dengan wanita yang dicinta dan selama dua puluh tahun tak pernah ia jumpai namun tak pernah pula ia lupakan itu. Dan mari kita mengikuti perjalanan dua orang pemuda perkasa yang melakukan pengejaran terhadap Thai-lek Kauw-ong yang membawa lari Kwi Lan.

Seperti telah dituturkan di bagian depan. Tang Hauw Lam terkejut ketika ia tidak melihat Kwi Lan dan Thai- lek Kauw-ong di situ, lalu berseru dan mengajak Kiang-kongcu atau nama lengkapnya Kiang Liong, pemuda perkasa murid Suling Emas itu untuk melakukan pengejaran. Kiang Liong tidak mengenal siapa gerangan gadis remaja yang cantik jelita tadi, akan tetapi ia pun merasa khawatir mendengar gadis itu diculik Thai-lek Kauw-ong yang diperkenalkan Bu-tek Siu-lam sebagai tokoh pertama Bu-tek Ngo-sian. Maka ia pun tidak mempedulikan lagi tokoh banci itu dan ikut bersama Hauw Lam melakukan pengejaran setelah ia mengambil alat musik yang-khim yang tadi ia gantungkan pada sebatang pohon.

Kiranya Kiang Liong ini pun suka akan seni musik, hanya bedanya kalau gurunya suka meniup suling, dia lebih suka bermain yang-khim. Yang-khim itu buatannya sendiri, berbentuk seekor binatang yang menyeramkan dan jangan dikira bahwa yang-khim ini hanya untuk menciptakan suara merdu karena pemuda itu dapat mempergunakan sebagai sebuah senjata yang amat ampuh.

Biar pun Kiang Liong seorang putera pangeran yang mempunyai kedudukan cukup tinggi di kota raja Sung, akan tetapi perjalanannya kali ini bukan merupakan perjalanan seorang pemuda bangsawan pergi melancong, akan tetapi lebih merupakan perjalanan seorang pendekar muda yang mendukung sebuah tugas yang berat. Kiang Liong bertugas melakukan penyelidikan ke perbatasan barat, dari mana muncul ancaman baru bagi keselamatan Kerajaan Sung.

Keadaan pemerintah Kerajaan Sung ternyata mengalami kemunduran besar. Pada permulaan Kerajaan Sung didirikan oleh Cao Kuang Yin, seorang panglima besar yang pandai akan siasat perang, Kerajaan Sung memang kelihatan kuat, bala tentaranya kuat sehingga berhasil menundukkan dan menaklukkan banyak kerajaan-kerajaan kecil. Hanya dua buah kerajaan yang tidak ditaklukkan, yaitu Kerajaan Nan-cao di Yu-nan dan Kerajaan Khitan di timur laut dan utara.

Selama Kerajaan Sung dipimpin oleh kaisar pertama dan ke dua, kerajaan ini masih memperlihatkan kemajuan. Akan tetapi keadaannya makin lama makin mundur dan mulai masa pemerintahan kaisar ke dua, yaitu Kaisar Sung Thai Cung menjelang hari tuanya, Kerajaan Sung sudah kurang memperhatikan tentang kekuatan tentaranya. Perhatian lebih dikerahkan dan ditujukan kepada urusan dalam, kepada kebudayaan dan kesenian, lebih cenderung memperindah kerajaan dan tenggelam dalam kesenangan.

Sikap atau politik inilah yang menyebabkan Kerajaan Sung menjadi semakin lemah, bahkan sedemikian lemahnya sehingga kerajaan ini tidak lagi mempergunakan senjata untuk menjaga keselamatan negara, melainkan menggunakan emas dan perak untuk ‘menyogok’ dan menawan hati calon musuh sehingga si musuh tidak tega atau segan untuk menyerang Kerajaan Sung. Maka timbullah kebiasaan mengirim upeti kepada kerajaan-kerajaan lain, terutama Kerajaan Khitan.

Pada waktu cerita ini terjadi, Kerajaan Sung dipimpin oleh kaisar yang ke tiga, yaitu Kaisar Chen Cung (998-1022). Dia adalah keponakan dari kaisar pertama dan terkenal sebagai seorang yang anti kekerasan, anti perang dan berusaha mempengaruhi dan merubah atau membelokkan Agama Buddha dan Tao demi keuntungan pribadinya. Ia menyatakan bahwa dia seketurunannya adalah orang-orang pilihan Tuhan yang bertugas sebagai wakil Tuhan menjadi kaisar di bumi! Ia lebih tenggelam kepada perkembangan kebudayaan dan sama sekali tidak becus mengatur pemerintahan, apa lagi menyusun kekuatan untuk melindungi negara dari ancaman dan bahaya dari luar. Bahkan dinyatakan oleh Kaisar Chen Cung bahwa kerajaannya tidak membutuhkan kekuatan militer, akan tetapi membutuhkan kekuatan gaib yang timbul dari kemajuan batin, terutama berkat wibawa Sang Kaisar!

 

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo