October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 9

 

Keduanya mengangkat cawan, kemudian saling mengacungkan cawan sambil berkata lirih, “Selamat!” dan keduanya minum anggur merah dari cawan itu.

Begitu anggur memasuki mulut, Ci Hwa terkejut, heran dan juga kagum! Belum pernah selama hidup ia minum minuman selezat itu! Bagaikan sari buah anggur tulen. Mungkin anggur dengan mutu terbaik diperas dan entah dicampur apa maka dapat sedemikian manisnya dan harumnya.

Tentu tidak memabukkan sama sekali, pikirnya. Dia pun menuangkan seluruh isi cawan itu ke dalam tenggorokannya. Terasa manis dan hangat memasuki tenggorokan dan perut. Memang ada rasa hangat, akan tetapi tidak panas menyentak seperti jika minum arak.

Mereka saling berpandangan dan pemuda itu tersenyum. Wajah pemuda itu nampak lebih cerah dan lebih tampan saja.

“Bagaimana, nona Ci Hwa? Enak tidak?”

“Bukan main!” Ci Hwa memuji. “Engkau sungguh pandai sekali, Kongcu. Selama hidup baru sekarang aku merasakan minuman yang begini lezatnya.”

“Ha-ha-ha, pujian seperti itu harus diberi hadiah secawan lagi.” Dia cepat mengisi pula dua cawan arak mereka. “Sekarang mari kita minum untuk persahabatan kita, bukan hanya karena pertemuan antara kita!”

Karena minuman itu bukan arak dan tidak akan memabukkan, Ci Hwa tanpa ragu-ragu minum lagi anggur itu sampai habis. Dan untuk ke tiga kalinya Siangkoan Liong kembali menuangkan isi guci ke dalam cawan mereka.

Ci Hwa merasa sungkan juga, takut dianggap gembul dan murka. “Cukup, Kongcu. Minuman seperti itu amat berharga dan jangan terlalu banyak dihamburkan untukku!”

“Sama sekali bukan begitu. Memang amat mahal harganya, akan tetapi seguci hanya terisi enam cawan. Dan kiranya tidak ada orang yang lebih patut untuk mendapatkan setengah guci. Engkau tiga cawan dan aku tiga cawan baru puaslah hatiku. Sekali ini kita minum untuk menghormati perasaan suka dan tertarik di antara kita!”

Ci Hwa terkejut dan mukanya menjadi semakin merah, jantung berdebar kuat sekali. Akan tetapi dia tidak marah. Bagaimana dia dapat marah terhadap seorang pemuda seperti ini? Dalam pandangan matanya, pemuda itu nampak terlalu tampan, terlalu halus dan sopan dan memang harus diakuinya bahwa timbul perasaan tertarik dan suka di dalam hatinya. Biar pun agak malu-malu, dia minum juga cawan ke tiga berisi anggur merah yang penuh.

Sekarang barulah terasa olehnya. Ia merasa seperti melayang ke atas, terapung-apung tanpa bobot, dibuai dan ditimang. Tubuhnya seperti tak merasakan apa-apa lagi kecuali kenikmatan yang aneh. Ia membuka matanya dan mendapatkan dirinya masih duduk di depan meja, dan di seberangnya, wajah tampan itu nampak tersenyum ramah.

Ia merasa aneh akan tetapi tidak heran, tidak merasa mabuk, akan tetapi masih agak sadar bahwa terjadi suatu keanehan yang selamanya tak pernah dirasakannya. Lukisan di dinding itu, sebuah lukisan gunung dan awan, nampak demikian indah seolah-olah bukan lukisan, melainkan jendela terbuka dari mana ia dapat melihat gunung dan awan yang sungguh-sungguh.

Dan lukisan burung merak itu, bukankah burung itu menggerak-gerakkan sayap dan kepalanya? Dan warna sutera yang menjadi tirai depan pintu kamar itu, warnanya bagai pelangi, akan tetapi dalam keadaan yang luar biasa indahnya. Bukan sekedar warna biasa, melainkan warna yang demikian jelas. Seperti ia bisa mendengar suara beraneka macam, dengan suara berbeda, seperti nyanyian, membawakan irama yang demikian halus dan enak sehingga tanpa terasa lagi Ci Hwa menggerak-gerakkan kepalanya menurutkan irama itu!

Suara ketawa halus dari Siangkoan Liong memasuki telinganya, seperti suara bisikan dari jauh sekali, namun juga jelas sekali. “Aih, nona Kwee Ci Hwa yang manis, agaknya engkau… engkau lelah dan mengantuk. Benarkah itu?”

Ci Hwa menggeleng kepala dan menahan ketawanya. Aneh, mengapa dia ingin sekali tertawa, tertawa sepuasnya dan sebebasnya? Tidak ada lagi ikatan malu atau apa saja, yang ada hanya keinginan hati untuk senang!

“Aku tidak lelah, tidak mengantuk, akan tetapi wah… enaknya rasanya…“

“Kalau dipakai beristirahat tentu lebih enak. Mari, Nona, marilah engkau beristirahat…“ Dan tiba-tiba tangan pemuda itu sudah menyentuh tangannya.

Sejenak Ci Hwa seperti orang kaget, tetapi lalu tersenyum. Tangan pemuda itu hangat dan halus, dan apa salahnya berpegang tangan? Wajar saja, bukan?

“Ya-ya-ya, istirahat…, aku seperti melayang-layang…,“ katanya seperti dalam mimpi.

Ia pun sama sekali tidak memiliki daya lawan atau sama sekali tidak ingin menentang ketika Siangkoan Liong memutari meja, menghampirinya, kemudian memegang kedua pundaknya, bahkan lalu membantunya bangkit berdiri.

Pada waktu Ci Hwa berdiri, ia limbung dan tentu bisa jatuh kalau tidak segera dirangkul Siangkoan Liong pundaknya. Tubuhnya rasanya begitu ringan seperti bola karet penuh angin, kedua kakinya seperti agar- agar saja, dan pikirannya tidak ada! Yang ada hanya perasaan senang, perasaan enak, perasaan bebas dari segala persoalan hidup. Dia bahkan terkekeh sedikit ketika pemuda itu menuntunnya masuk ke dalam kamar yang bertiraikan kain sutera pelangi tadi.

Ci Hwa sama sekali tidak memiliki niat apa-apa, apa lagi membantah ketika pemuda itu memondong dan merebahkannya di atas sebuah pembaringan yang tebal, lunak, harum dan indah. Bahkan ia pun tidak membantah ketika pemuda itu melepaskan sepatunya. Ia terlentang dan memandang langit-langit kelambu, lalu menarik napas panjang, penuh kelegaan.

“Aaaahhh… alangkah senangnya… alangkah enaknya…“

Dia tidak tahu bahwa gelung rambutnya terlepas dan rambutnya yang hitam panjang itu terurai di atas bantal. Juga dia tidak peduli ketika pemuda itu menutupkan daun pintu, bahkan tidak merasa heran atau aneh ketika pemuda itu pun membuka baju luar dan rebah di sampingnya!

Siangkoan Liong yang maklum bahwa calon korbannya sudah terbius oleh obat luar biasa yang terkandung dalam anggur tadi, juga maklum bahwa pada dasarnya gadis itu memang sudah terpikat dan tertarik kepadanya, lalu mulai mencumbunya. Hanya sekali kali saja kesadaran seperti hendak menyeret kembali Ci Hwa ke dalam keadaan normal, namun pemuda itu pandai sekali merayu, dengan bisikan-bisikan, dengan sentuhan sentuhan, dengan dekapan dan ciuman.

Dan akhirnya, api birahi yang ada dalam diri setiap manusia, juga dalam diri Ci Hwa, tersulut dan berkobar. Ia pun membalas belaian dan pelampiasan kemesraan pemuda itu dengan menggebu-gebu, lupa akan segala, yang ada hanya keinginan memuaskan hasrat yang berkobar membakar seluruh keadaan dirinya, lahir batin.

Tanpa ada paksaan semua itu terjadi, walau pun Ci Hwa melakukannya dalam keadaan seperempat sadar saja. Berkali-kali ia menyerahkan diri, penuh kerelaan dan keduanya berada di dalam kamar itu sampai keesokan harinya!

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Ci Hwa terbangun dari tidurnya. Begitu terbangun, dia merasa betapa seluruh tubuhnya pegal-pegal dan lelah sekali, seolah-olah telah dilolosi semua urat di tubuhnya. Ingin ia memejamkan mata kembali, tidur kembali, akan tetapi ketika tangannya bergerak, ia mendapatkan dirinya tanpa pakaian!

Ia terkejut, memiringkan tubuhnya. Ia pun melihat Siangkoan Liong rebah di sampingnya dalam keadan yang sama! Teringat ia akan semuanya itu seperti ada kilat menyambar menerangi benaknya. Kini, semua pengaruh obat telah lenyap dan ia sadar seutuhnya!

“Ihhh…!” Ia menahan jeritnya, bangkit duduk dan menarik selimut menutupi tubuhnya.

Rambutnya terurai lepas menutupi kulit pundak dan dada yang mulus, kedua matanya terbelalak memandang kepada Siangkoan Liong. Siangkoan Liong juga terbangun oleh jerit ditahan dan gerakan gadis itu. Dia memandang dan tersenyum, lalu bangkit duduk juga. Dadanya yang bidang nampak berkeringat dan biar pun rambutnya kusut dan dia baru bangun tidur, tetap saja dia merupakan seorang pria yang jantan dan menarik.

“Selamat pagi, Hwa-moi, kekasihku!” katanya dan tangannya meraih, hendak merangkul dan mencium.

Akan tetapi Ci Hwa menggeser pinggulnya, menjauh dan matanya terbelalak. “Kongcu! Engkau… kita…?” bisiknya, seolah-olah baru melihat kenyataan yang sungguh teramat mengejutkan hatinya.

Melihat ini Siangkoan Kongcu tidak menjadi gugup, bahkan dia menyentuh lengan gadis itu sambil tersenyum. Begitu merasa lengannya disentuh tangan pria, Ci Hwa merasa bulu tengkuknya meremang dan ia cepat menarik lengannya dan menjauh.

“Tenanglah, Hwa-moi, tenanglah kekasihku. Lupakah engkau? Sejak kemarin siang kita sudah tidur di sini. Kita memang telah berkasih-kasihan, dan kita… kita sudah saling mencurahkan kasih sayang. Engkau memang seorang wanita hebat…!”

“Tidak! Oohhhh… tidak…!” Ci Hwa menutupi mukanya dengan kedua tangan dan dari celah-celah antara jari-jari tangannya mengalir air mata.

“Ci Hwa, tenangkan dirimu. Kita memang telah melakukan hubungan dengan suka rela, karena kita saling menyayang, saling menyukai. Apa salahnya itu? Dan aku merasa berbahagia sekali.”

“Tidak…! Engkau… engkau tentu telah menjebakku…“

“Hwa-moi, apakah engkau mimpi? Lihat ini dadaku, leherku, masih merah-merah bekas gigitanmu. Gigitan manja! Ingat, Hwa-moi, aku tidak memaksamu dan engkau tidak memaksaku. Kita melakukan dengan suka rela, karena saling mencinta. Beberapa kali engkau membisikkan kata cinta kepadaku, kenapa sekarang tiba-tiba engkau menangis dan menyesal dan menuduh yang bukan-bukan?”

Ci Hwa menurunkan kedua tangannya. Air matanya masih mengalir turun dan matanya basah. Sejenak dia memandang wajah pemuda itu melalui air matanya dan dia pun teringatlah semuanya. Ia merasa malu sekali, akan tetapi segalanya telah terjadi.

“Aku… aku agaknya sudah gila,” ratapnya. “Aku… tergila-gila kepadamu, Kongcu. Akan tetapi, apakah engkau cinta padaku?”

Siangkoan Liong merangkul dan mencium bibir itu dengan mesra dan Ci Hwa hanya setengah meronta saja.

“Cinta padamu? Kalau tidak cinta padamu, untuk apa aku melakukan ini? Aku bukan pria yang kegilaan perempuan! Aku tentu saja cinta padamu, Hwa-moi.”

Sinar terang memenuhi batin Ci Hwa dan ia pun balas merangkul. “Aihh, Kongcu, terima kasih. Kalau begitu, sekarang juga, hari ini juga, engkau harus ikut bersamaku pergi ke Ban-goan.”

“Ehhh?” Siangkoan Kongcu mengerutkan alis dan memandang heran. “Ikut denganmu ke Ban-goan?” tanyanya ragu. “Mau apa?”

Kini Ci Hwa yang terbelalak. “Mau apa lagi? Bukankah engkau sudah menggauli diriku, bukankah aku telah menyerahkan diriku padamu dan kita seperti sudah menjadi suami isteri? Tentu saja untuk menghadap ayahku dan untuk melamarku menjadi isterimu. Apa lagi!”

“Ahhh, ini tidak mungkin!”

Seketika pucat wajah Ci Hwa. Kemudian mukanya merah sekali dan ia pun menyambar pakaiannya dan mengenakan pakaiannya sejadinya. Hal ini diturut pula oleh Siangkoan Kongcu dan kini mereka berdiri di kamar itu, berdiri saling berhadapan.

“Siangkoan Kongcu, setelah apa yang kau lakukan semalam…“ “Engkau juga, bukan aku sendiri!”
“Benar, setelah apa yang kita lakukan bersama semalam, apakah engkau masih berani mengatakan bahwa engkau tak akan melamarku dan mengambil aku sebagai isterimu?”

Pemuda itu memandang tajam, lalu menarik napas panjang. Dalam keadaan seolah olah dia terdesak itu, dia masih bersikap tenang dan halus.

“Kwee Ci Hwa, dengarlah baik-baik. Engkau datang ke sini tanpa diundang. Aku sudah menyambutmu dengan baik, bahkan untuk keselamatanmu dan harga dirimu, aku telah membunuh dua orang anggota perkumpulan kami. Kemudian kita saling mencinta, dan saling menumpahkan perasaan cinta dan kasih sayang, tanpa paksaan dan dengan suka rela. Akan tetapi sekarang engkau menuntut aku agar mengambil engkau sebagai isteri!”

“Bukankah itu sudah pantasnya dan seharusnya?” Ci Hwa membantah dengan suara mendesak.

Siangkoan Liong menggeleng kepala. “Tak ada paksaan dalam hubungan kita. Engkau tahu bahwa aku seorang pangeran, seorang keturunan bangsawan dan tidak mudah mengikatkan diri menikah begitu saja. Kita saling suka, dan aku pun cinta padamu. Mengapa kita tidak tetap seperti sekarang saling mencinta dan melakukan hubungan setiap kali kita inginkan? Apa perlunya ikatan pernikahan? Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu itu, Ci Hwa.”

Wajah gadis itu berubah pucat, matanya terbelalak dan kembali air mata bercucuran keluar. “Kongcu, setelah apa yang kau lakukan, setelah engkau meniduriku, merenggut keperawananku… ah, bagimu sebagai pria memang mungkin tidak apa-apa, akan tetapi aku seorang wanita! Seorang wanita, seorang gadis! Tahukah engkau akibatnya? Aku akan dikejar aib, namaku akan rusak dan hina, lebih hebat dari pada kematian!”

Siangkoan Liong menggeleng kepala dan tersenyum. “Bodoh kau! Tetap saja menjadi kekasihku seperti sekarang, dan aku akan melindungimu.”

“Tidak! Engkau harus melamarku, harus mengambilku sebagai isterimu, kalau tidak…“

“Hemmm, kalau tidak mengapa?” Siangkoan Liong kini bertanya dengan alis berkerut dan pandang matanya mencorong marah.

“Kalau tidak, engkau atau aku harus mati!” Dan tiba-tiba Ci Hwa yang sudah merasa putus asa itu lalu menyerang dengan hebatnya, menghantam ke arah dada pria yang pernah membahagiakannya selama sehari semalam itu.

Serangannya dilakukan dengan sepenuh tenaga karena kini, perasaan cintanya sudah berubah seketika menjadi kebencian yang bernyala-nyala. Kini baru terbuka matanya orang macam apa adanya pemuda yang tampan, halus dan perkasa itu. Ia telah terjebak dan tahulah ia bahwa semua sikap baik, kehalusan, bahkan pertolongan itu, ditambah dengan makan minum dan terutama sekali minuman anggur merah itu, hanya merupakan perangkap saja untuknya. Ia telah terperangkap, telah menjadi korban.

Pemuda ini sama sekali tidak mencintanya, tidak menginginkan dirinya menjadi isteri, melainkan mempermainkannya saja! Oleh karena kesadaran ini, dia pun menyerang dengan sekuatnya, serangan dahsyat walau pun tubuhnya masih terasa lemas karena malam tadi menghabiskan tenaga dan kurang tidur.

Akan tetapi, tingkat kepandaian Siangkoan Liong jauh lebih tinggi dibandingkan Ci Hwa, maka serangan itu dengan mudah dihadapinya dan begitu pemuda itu menggerakkan kedua tangannya, bukan dia yang terserang, bahkan Ci Hwa sudah dapat ditangkap dan ditelikungnya. Kedua lengan gadis itu dipuntir ke belakang, lalu dipegang dengan satu tangan dan tangan lain merangkul.

Ci Hwa hendak meronta, namun sekali jari tangan pemuda itu menekan, tubuh Ci Hwa menjadi lemas dan ia pun terkulai dalam pelukannya tanpa dapat melawan lagi kecuali menangis.

“Sayang, jangan menangis. Bukankah kita saling mencinta? Ingatlah betapa mesra dan bahagianya kita semalam, dan aku masih saja rindu padamu, belum juga puas aku minum madu darimu.” Siangkoan Liong memondongnya dan membawanya kembali ke pembaringan.

Ci Hwa menangis. Menangis dalam batin. Kini, biar pun dibelai dan dihujani pernyataan dan pencurahan cinta kasih yang sangat mesra, sama sekali dia tidak merasa senang. Sebaliknya dia merasa tersiksa, tanpa mampu menolak dan tanpa mampu meronta. Ia merasa diperkosa, dihina sampai sehebat-hebatnya oleh pria yang kini amat dibencinya itu. Seperti bumi dan langit bedanya dengan hubungan antara mereka mulai kemarin siang sampai semalam, begitu penuh dengan kemesraan dan perasaan cinta kedua pihak. Kini ia merasa diperkosa dan ditekan, dihancurkan dan dipatah-patahkan.

Hubungan sex antara pria dan wanita sesungguhnya merupakan hubungan puncak kemesraan yang indah dan suci apa bila dilakukan oleh kedua pihak karena dorongan cinta kasih. Hubungan sex merupakan puncak kemesraan pernyataan sayang, saling mengisi, saling membahagiakan melalui perasaan yang paling halus dan paling dalam, di mana masing-masing sudah bebas dari keakuan masing-masing, melebur menjadi satu dan tidaklah mengherankan kalau saat yang amat suci dan indah itu menjadi sarana penciptaan seorang manusia baru!

Sex adalah suatu hubungan antara dua jenis makhluk berlawanan kelamin yang indah, suci dan nikmat. Tetapi, betapa kenikmatan itu selalu berubah menjadi kesenangan! Kenikmatan adalah suatu pengalaman perasaan pada saat itu, detik itu, dan jika sudah disimpan dalam ingatan, dijadikan kenangan, lalu diharapkan dan dikejar sebagai suatu kesenangan!

Alangkah jauh beda antara kenikmatan dan kesenangan! Kenikmatan datang seketika, pada saat itu juga, tanpa adanya aku yang mengecamnya, dan tanpa adanya aku yang mencatatnya. Sebaliknya, kesenangan ialah suatu bayangan yang digambarkan oleh si aku yang selalu mengejar-ngejarnya. Jika sudah begini, maka terjadilah penyelewengan yang timbul dari pengejaran itu!

Cinta kasih bukanlah sex semata, walau pun sex merupakan sebagian dari cinta kasih, merupakan kembangnya yang indah. Jika sex telah menjadi alat bersenang diri, dikejar, maka ia berubah menjadi nafsu yang akan membakar diri lahir batin. Sex merupakan suatu hubungan yang suci di mana terdapat cinta kasih. Tanpa cinta kasih, sex hanya merupakan suatu permainan untuk memuaskan nafsu yang tak kunjung padam, tak kunjung habis, dan nafsu ini kalau dituruti akhirnya akan membakar diri sampai hangus!

Bagi seorang wanita yang lebih halus perasaan ketimbang pria, sikap cinta kasih jauh lebih berkesan di dalam hati sanubarinya dari pada sekedar hubungan sex yang baik saja. Pada umumnya, wanita mendambakan kasih sayang dalam sikap, pandang mata, tutur kata, dan perbuatan yang pada puncaknya akan menuju kepada hubungan sex. Sebaliknya, pria kurang peka terhadap sikap ini, dan biasanya, pria lebih condong minta bukti melalui hubungan sex dan kepatuhan, dan kesetiaan.

Dapat dibayangkan betapa hancurnya hati Ci Hwa saat ia digelut oleh Siangkoan Liong pada pagi hari itu. Ia merasa malu, terhina, tersiksa namun tidak berdaya walau pun pemuda itu telah berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan tubuhnya. Hanya air matanya saja yang menjadi saksi kehancuran hatinya. Bercucuran membasahi bantal.

Setelah merasa puas, Siangkoan Liong membebaskan totokan pada tubuh Ci Hwa. Gadis itu terisak dan mengenakan pakaiannya, kepalanya pening dan dia tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.

“Kwee Ci Hwa, engkau sungguh seorang gadis yang tidak tahu diri dan tidak mengenal budi. Gadis-gadis lain akan saling berebutan agar dapat tidur dengan aku. Aku bukan hanya tidur bersamamu, bahkan telah menyelamatkanmu. Aku suka dan cinta padamu, akan tetapi engkau tidak mau menerimanya. Nah, sekarang tinggal kau pilih, tinggal di sini sebagai kekasihku, bukan isteri, atau engkau boleh pergi.”

Ci Hwa sudah selesai mengenakan sepatunya. Kini ia mengangkat mukanya yang pucat dan matanya yang merah itu seperti hendak membakar wajah Siangkoan Liong. Kedua tangannya dikepal.

“Kalau aku mampu, tentu aku akan membunuhmu, keparat! Biar Tuhan mengutukmu!” Setelah berkata demikian, Ci Hwa lalu meloncat keluar dari dalam kamar itu, langsung melarikan diri keluar.

Masih ia mendengar suara tawa pemuda itu mengikutinya sampai ia jauh meninggalkan perumahan Tiat- liong-pang. Ia berlari sambil menangis, tanpa suara, hanya terisak dan air matanya terus berjatuhan di sepanjang jalan. Dia tidak tahu harus pergi ke mana, kini satu-satunya keinginannya hanyalah menjauhi tempat laknat itu sejauh dan secepat mungkin. Tubuhnya terasa nyeri semua, terutama karena perbuatan Siangkoan Liong tadi yang diterimanya dengan batin yang meronta.

Ci Hwa memasuki sebuah hutan yang penuh dengan semak belukar dan pohon-pohon liar dan akhirnya kakinya terantuk akar pohon dan tubuhnya pun terpelanting jatuh ke atas rumput. Dia tidak bangun dan sekaranglah baru ia menangis sesenggukan seperti anak kecil, menangis sampai mengguguk sambil menelungkup di atas tanah itu. Kedua tangannya dikepal dan ia memukuli tanah, juga kakinya menendang- nendang tanah.

Penyesalan demi penyesalan datang bagai gelombang samudera yang maha dahsyat melanda dirinya, menyeretnya sehingga dia gelagapan di dalam tangisnya, kehilangan pegangan. Ia merasa menyesal sekali mengapa telah bertindak demikian bodoh, kurang waspada, mudah sekali terbujuk rayu sampai- sampai mengorbankan keperawanannya, kehormatannya, bahkan ia telah diilas-ilas, dihina tanpa daya sama sekali.

Andai kata ia diperkosa saja, kiranya penyesalannya tak sehebat ini. Akan tetapi tidak, ia sama sekali tidak diperkosa untuk pertama kalinya. Dia menyerah dengan suka rela, bahkan menikmatinya, meneguk minuman beracun. Betapa memalukan! Betapa rendah dirinya.

“Aku layak mampus! Aku tidak berharga lagi untuk hidup!” teriaknya ketika teringat akan itu semua.

Dia meninggalkan rumah dengan cita-cita untuk mencuci nama ayahnya yang ternoda karena dituduh membunuh. Tapi ia sendiri, apa yang dilakukannya? Menjadi perempuan hina, bahkan lebih hina dari pelacur. Seorang pelacur menyerahkan diri dengan harapan imbalan. Akan tetapi dia? Menyerah secara membuta, tak tahu bahwa dia dipermainkan orang!

“Aku harus mampus…! Aku harus mampus…!” Dan gadis itu pun menanggalkan ikat pinggangnya, memasangnya di atas cabang sebatang pohon, lalu mengalungkan ujung yang lain di lehernya dan ia pun meloncat turun dari cabang itu. Tali itu mengikat dan menjerat lehernya yang berkulit halus mulus, dan tubuhnya tergantung!

Ci Hwa merasa betapa kulit lehernya nyeri dan perih, napasnya terhenti, akan tetapi ia tidak meronta dan bersiap menerima kematian dengan tenang. Matanya yang terpejam nampak cahaya kuning, lalu merah api, lalu kabur agak kelabu, mulai menghitam.

“Anak bodoh!”

Tiba-tiba saja tubuhnya terlepas dan ia tidak tergantung lagi! Ci Hwa yang sudah hampir pingsan itu merintih, lehernya tidak terikat lagi dan ia roboh di atas tanah, merasakan ada jari tangan menekan pundak dan tengkuknya, pernapasannya yang terengah itu kembali normal.

Ia lalu membuka mata dan melihat seorang pemuda sudah berlutut di dekatnya! Hampir ia memaki karena mengira bahwa pemuda itu Siangkoan Liong, akan tetapi setelah pandang matanya dapat melihat jelas, ia melihat bahwa pemuda itu sama sekali bukan Siangkoan Liong! Pemuda itu jelas lebih tua dari pada Siangkoan Liong, usianya tentu sedikitnya dua puluh enam tahun. Ia mengerutkan alis, mengingat-ingat dan merasa tak pernah bertemu dengan pemuda ini.

Dia seorang pemuda yang mengenakan pakaian kebiruan sederhana. Mukanya berkulit bersih, cerah dan dapat dibilang tampan. Matanya bersinar lembut, seperti sinar mata Siangkoan Liong, tetapi terdapat kejujuran pada sinar mata dan mulut yang tersenyum lembut itu.

Sepasang mata itu sekarang mengamati wajahnya seperti orang yang menyesal dan menyalahkannya. Alis itu agak berkerut, dan pada pandang matanya yang lembut itu, jelas nampak penasaran dan juga keheranan. Siapa orangnya tak akan heran melihat seorang gadis semuda ia berada dalam hutan sedang berusaha membunuh diri dengan menggantung?

Akan tetapi, perasaan hati Ci Hwa yang sudah dipenuhi perasaan dendam kebencian kepada pria, segera membuat dia memandang pria ini sebagai seorang musuh, seperti setan yang tentu juga berniat jahat terhadap dirinya!

Pertama kali dia terjatuh ke tangan lima orang pemburu, semuanya laki-laki yang berniat buruk akan memperkosa dirinya. Kemudian berganti jatuh ke tangan dua orang anggota Tiat-liong-pang, sama saja, mereka juga hendak memperkosa dirinya. Dan terakhir kali terjatuh ke tangan Siangkoan Liong, yang disangkanya sebaik-baiknya orang, ternyata juga ia malah terperangkap.

Sekarang, ketika ia sudah di ambang pintu maut, ia diselamatkan seorang laki-laki muda pula. Orang macam apa lagi ini kalau bukan seorang calon pemerkosa berikutnya?

“Engkau sama busuknya dengan mereka!” teriak Ci Hwa.

Tiba-tiba saja dia pun sudah meloncat dan langsung saja menyerang dengan pukulan tangannya ke arah
dada laki-laki yang sedang berlutut di dekatnya itu. Pemuda itu sama sekali tak pernah menyangkanya dan dari jarak sedemikian dekat, tanpa menduga akan diserang, maka tentu saja pukulan tangan Ci Hwa tepat mengenai dadanya.

“Dukkk…!”

Tubuh laki-laki itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi dia meloncat bangun dan tak terluka, hanya memandang dengan mata terbelalak dan agaknya bingung, mengira bahwa gadis yang malang yang ditolongnya itu mungkin sudah menjadi gila!

“Eih, Nona… kenapa… kenapa kau memukulku?” tanyanya, suaranya tetap tenang dan pandang matanya jelas memancarkan belas kasihan karena dia menduga bahwa gadis ini tentu gila atau tergoncang jiwanya.

“Engkau menolongku, mencegah aku mati, tentu hanya dengan satu niat yang keji dan buruk! Karena itu, akan kubunuh engkau lebih dulu sebelum aku membunuh diri!” Ci Hwa berteriak-teriak dan ia pun sudah lari maju dan menerjang kalang kabut!

Akan tetapi sekali ini, pemuda, itu sudah siap siaga. Dari pukulan gadis itu tadi, dia pun tahu bahwa gadis itu bukanlah seorang wanita sembarangan, bukan wanita lemah dan pukulannya tadi merupakan pukulan gaya ilmu silat dan mengandung tenaga dalam yang cukup ampuh. Dia pun tertarik sekali dan kini, menghadapi serangan bertubi-tubi itu dia pun mengelak dan berloncatan ke kanan kiri sambil memperhatikan gerakan silat penyerangnya itu.

Setelah lewat dua puluh jurus, dia mendapat kenyataan bahwa gadis ini dapat bersilat dengan baik sekali, dan cukuplah kepandaian itu untuk membela diri dalam perjalanan, sehingga tidak aneh jika gadis itu berani melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi mengapa di sini hendak bergantung diri? Dan pakaian atasnya itu terobek, rambutnya kusut, matanya merah, jelas bahwa gadis itu menderita kedukaan dan penekanan batin yang amat hebat.

Sementara itu, Ci Hwa semakin terkejut, dan semakin marah karena kembali ia bertemu dengan seorang pemuda yang jauh lebih lihai darinya. Semua serangan yang dilakukan sepenuh hati terdorong dendam dan kemarahan, sama sekali tidak pernah menyentuh tubuh pemuda itu, padahal pemuda itu sama sekali tidak pernah menangkis, hanya mengelak saja dengan gerakan aneh dan amat lincahnya. Timbul dugaan bahwa tentu ia akan ditangkap lagi, dipermainkan lagi dan mengingat ini, ia merasa khawatir sekali.

Lebih baik mati kalau ia harus mengalami lagi penderitaan diperkosa orang seperti tadi! Pikiran ini membuat ia putus asa. Tak mungkin ia menang dan ketika ia melihat batang pohon di mana tadi ia bergantung diri, tiba-tiba ia mendapat akal dan ia pun melompat untuk membenturkan kepalanya pada batang pohon itu, sekuat tenaganya.

“Bukkk!”

Kepalanya tidak membentur benda keras, bahkan tidak membentur apa-apa karena tubuhnya tertahan ketika dua buah tangan yang menerima kedua pundaknya dengan lembut. Saat Ci Hwa melihat, ternyata pemuda itu telah mendahuluinya berdiri di depan batang pohon dan menerima tubuhnya tadi! Dengan sendirinya ia semakin marah dan penasaran.

“Kau… kau berani menghalangiku!” bentaknya.

Kini ia memukul, mencakar, menendang kalang kabut, tidak memakai gerakan silat lagi melainkan gerakan seekor harimau betina yang lagi marah. Terdengar bunyi kain robek ketika cakarannya mengenai baju pemuda itu.

Pemuda itu cepat menotok pundaknya dan Ci Hwa terkulai lemas. Dengan sopan dan hati-hati, pemuda itu membaringkan tubuh Ci Hwa di bawah pohon dan kembali ia berlutut seperti tadi. Diusapnya kulit dada yang agak berdarah terkena cakaran kuku Ci Hwa.

“Nona, tadi engkau telah bersikap keliru sama sekali. Mengapa engkau bertekad untuk membunuh diri? Sudah demikian burukkah hidup ini sehingga seorang gadis semuda engkau sudah putus asa dan lebih memilih mati saja?”

Ci Hwa hanya tertotok tak mampu bergerak, akan tetapi masih dapat bicara sehingga ia membentak ketus, “Apa urusannya denganmu? Apa pedulimu kalau aku mau hidup atau mampus?”

“Nona, agaknya hatimu sudah penuh prasangka buruk terhadap manusia lain. Agaknya hatimu sudah disakitkan orang, maka setiap kali bertemu orang lain, engkau langsung menyangka buruk. Memang tidak ada hubungannya mati hidupmu dengan diriku, akan tetapi manusia mana yang dapat membiarkan orang lain membunuh diri begitu saja? Nona, dengar baik-baik. Ketika engkau dilahirkan oleh ibumu, apakah ada engkau minta kepadanya atau kepada Tuhan agar engkau dilahirkan?”

Mendengar pertanyaan seperti itu, Ci Hwa terbelalak. Kaget dan heran. Gilakah orang ini, bertanya seperti itu? Memikirkannya tentang hal itu saja belum pernah ia lakukan!

“Ibuku sudah tidak ada.”

“Ahh, maaf, engkau tidak mempunyai ibu lagi? Akan tetapi, kuulangi pertanyaanku tadi, pada saat engkau dikandung dan dilahirkan, apakah hal itu terjadi atas permohonanmu kepada Tuhan atau kepada mendiang ibumu atau ayahmu?”

Ci Hwa mengerutkan alisnya. “Tentu saja tidak! Mana bisa! Apa engkau ini orang gila, bertanya seperti itu?”

Pemuda itu tersenyum lembut dan tidak ada sedikit pun tanda bahwa dia terpikat oleh kewanitaan Ci Hwa. “Kalau engkau tidak pernah minta dilahirkan, tidak pernah minta dihidupkan, berarti engkau tidak berhak pula untuk memaksa kehidupan terhenti dengan cara bunuh diri! Rasakan saja, bukankah detak jantungmu bekerja tanpa kau rasakan? Bukankah pernapasanmu juga berjalan sendiri tanpa kau sengaja? Dan setiap anggota tubuhmu, rambut, kuku, bulu badan, semuanya tumbuh tanpa kau sengaja? Semua itu bukan milikmu, bukan milik pikiranmu, dan engkau berani hendak melenyapkan semua itu yang sesungguhnya bukan hakmu? Seperti juga hidupmu, matimu pun bukan berada dalam kekuasaanmu, bukan menjadi milikmu. Kalau yang berkuasa akan hidup matimu menghendaki, biar kau usahakan bagaimana pun, engkau takkan mati, sebaliknya kalau sudah tiba saatnya engkau harus mati, biar ada seribu orang dewa sekali pun takkan mampu menghidupkanmu!”

Ci Hwa termenung. Belum pernah selama hidupnya ia mendengar ucapan seperti itu, dan ia kini menjadi bingung.

“Apakah kau kira kalau menghadapi kesulitan maka kesulitan itu akan berakhir dengan kematian, Nona? Ingat, yang kesulitan itu bukanlah badannya, melainkan batinnya, dan apakah kau kira kalau sudah mati, batinmu tidak akan terus berkelanjutan menjadi setan penasaran?”

Ci Hwa semakin terpukul dan kini air matanya mengalir, tubuhnya terkulai lemas “…aku tidak tahu… ahhh, aku tidak tahu…“

Melihat keadaan gadis ini, pemuda itu lalu mengurut pundaknya dan terbebaslah Ci Hwa dari totokannya. Akan tetapi, begitu dapat bergerak, Ci Hwa lantas teringat akan nasibnya dan dia pun menangis, meraung- raung seperti anak kecil sambil duduk dan menutupi mukanya. Ia megap-megap seperti ikan dilempar ke daratan.

Pemuda itu tiba-tiba memegang kedua pundak Ci Hwa, beberapa kali mengguncangnya keras-keras sampai kepala Ci Hwa pun terguncang ke kanan kiri, kemudian pemuda itu melayangkan tangannya ke arah pipi Ci Hwa, dua kali.

“Plak! Plakkk!”

Tentu saja Ci Hwa terkejut bukan main. Seperti ia diseret kembali ke dunia kenyataan oleh dua kali tamparan yang membuat kedua pipinya terasa panas, perih dan nyeri itu. Ia memandang terbelalak.

“Kau… kau jahanam, berani memukulku!” katanya dan dia pun membalas dengan dua kali tamparan ke arah pipi pemuda itu.

“Plak! Plakkk!”

Pemuda itu tidak mengelak, membiarkan pipinya ditampar dan Ci Hwa melihat bekas tangannya nampak jelas di kedua pipi itu, bekas tangan yang membuat tanda merah di situ. Ia terbelalak dan terheran memandang pemuda aneh itu. Akan tetapi pemuda itu tersenyum girang.

“Nah, kini engkau sudah waras kembali. Ditampar balas menampar. Baru ditampar saja membalas, kenapa bodoh amat membunuh diri? Tidak ada persoalan di dunia ini yang tak dapat diatasi! Iba diri terlalu besar membuat orang kehilangan kesadaran. Dan ingat, di dunia ini tidak semua orang jahat, Nona. Aku tidak berani mengaku bahwa aku ini orang baik, akan tetapi setidaknya aku selalu berjaga-jaga di dalam hidupku agar tidak melakukan kejahatan. Oleh karena itu, jangan kau takut kepadaku, Nona. Aku tak akan mengganggumu, dan dalam keadaan seperti ini engkau membutuhkan seorang kawan yang jujur dan beriktikad baik. Bagaimana kalau engkau anggap aku ini kakakmu saja?”

Sejak tadi Ci Hwa memandang dengan mata terbelalak, mata yang masih basah, akan tetapi sinar matanya penuh selidik, seolah-olah melalui matanya hendak menjenguk isi hati orang ini.

Orang itu kembali tersenyum sambil mengembangkan kedua lengannya. “Namaku Gu Hong Beng dan selama hidupku, aku tidak pernah mau mengganggu orang lain.”

Sikap ini diterima oleh Ci Hwa dan ia pun tiba-tiba menangis dan menubruk pemuda itu, merangkul lehernya dan gadis itu menangis di atas pundak Hong Beng, merasa seperti menangis di dada ayahnya sendiri atau seorang kakaknya sendiri.

Pemuda itu tersenyum, mengelus rambut itu penuh belas kasihan.

“Menangislah, menangislah sepuas hatimu, itulah cara terbaik untuk mencairkan segala yang membeku dalam hatimu,” katanya lirih dan kata-kata ini seperti mendorong Ci Hwa untuk menangis lebih hebat lagi sampai sesenggukan.

Para pembaca SULING NAGA tentu masih ingat siapa adanya Gu Hong Beng ini. Dia seorang pemuda sederhana, putera seorang tukang kayu sederhana pula, yang dahulu tinggal di kota Siang-nam di Propinsi Hunan. Dia sudah kehilangan ayah bundanya dan hidup sebatang kara, kemudian ia beruntung diambil murid oleh seorang pendekar sakti keluarga Pulau Es, yaitu Suma Ciang Bun!

Banyak sudah dialami oleh Gu Hong Beng sebagai seorang pendekar muda, bekerja sama dengan para pendekar lainnya untuk menentang kejahatan. Dia pernah jatuh cinta kepada seorang pendekar wanita Can Bi Lan, akan tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan karena pendekar wanita Can Bi Lan itu memilih Sim Houw sebagai suaminya. Sim Houw yang terkenal sebagai Pendekar Suling Naga. Namun Gu Hong Beng dapat menerima kenyataan pahit ini dan sudah lama dia dapat melupakan kepahitan itu.

Juga dia pernah diikat perjanjian ketika dia membantu nenek Teng Siang In, yaitu ibu kandung pendekar Suma Ceng Liong yang bertempur melawan seorang datuk jahat, Sai-cu Lama. Nenek sakti itu tewas dan cucunya, yaitu puteri Suma Ceng Liong yang bernama Suma Lian, dilarikan Sai-cu Lama. Dalam keadaan menghadapi maut inilah nenek Teng Siang In mengikat janji agar Hong Beng kelak memperisteri Suma Lian!

Karena dia menghadapi pesan seorang nenek yang menjelang mati, terpaksa Hong Beng menyanggupi. Hal ini sangat mengganggu hatinya dan akhirnya, melalui gurunya, Suma Ciang Bun yang masih saudara sepupu Suma Ceng Liong, disampaikanlah pesan itu. Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng menyerahkan keputusan itu kepada yang bersangkutan kelak, yaitu puteri mereka kalau sudah dewasa. Semua kejadian ini diceritakan dalam kisah SULING NAGA!

Hong Beng sudah hampir melupakan semua itu. Melupakan wanita yang dahulu pernah dicintanya, yang kini telah menjadi isteri orang lain, dan juga dia berusaha melupakan janjinya kepada mendiang nenek Teng Siang In. Dia hanyalah seorang pemuda miskin, tidak punya apa-apa, keturunan tukang kayu, bahkan tidak lagi memiliki ayah bunda. Bagaimana mungkin dia berjodoh dengan puteri seorang pendekar seperti Suma Ceng Liong?

Suma Lian adalah cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es! Dan dia hanyalah cucu murid saja! Pula dia belum pernah bertemu lagi dengan Suma Lian selama bertahun-tahun ini. Yang pernah ditemuinya adalah Suma Lian yang baru berusia tiga belas tahun. Bagai mana dia dapat menentukan jodohnya dengan gadis itu? Andai kata pun dia mau, bagai mana dengan gadis itu? Dia pun sama sekali tak pernah memikirkan soal jodoh, sampai kini berusia dua puluh enam tahun!

Gu Hong Beng meninggalkan gurunya yang kini menjadi seorang pertapa. Sudah dua tahun dia meninggalkan gurunya, Suma Ciang Bun yang kini lebih suka bersembunyi di dalam sebuah gubuk kecil di lereng Pegunungan Tapa-san, tak jauh dari situ di antara sumber air Sungai Han-sui di Propinsi Shen-si.

Kalau orang mengenal Gu Hong Beng beberapa tahun yang lalu, kini dia akan terheran melihat Hong Beng telah menjadi seorang pemuda yang matang, tenang dan sabar, berpikiran luas dan mendalam. Tidak lagi seperti dulu di mana dia mudah tersinggung dan amat pencemburu! Tubuhnya agak kurus, namun sepasang matanya memancarkan kelembutan seorang yang berjiwa besar.

Pada saat Ci Hwa menangis di dadanya, diam-diam keharuan menyelinap di dalam hati Hong Beng. Keharuan dan kelegaan. Gadis ini telah tertolong, pikirnya, tertolong secara batiniah karena telah mampu melepaskan semua duka yang menghimpit kalbu. Dan dia terharu karena dia sendiri dulu pernah merasakan hal seperti yang dirasakan gadis itu. Kosong, berduka, merana, kecewa dan kesepian, di mana sudah tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat diharapkan, ditengok, merasa seperti sepotong batang pohon kering di tengah gurun yang kering.

Dia mendekap kepala itu, mengelus rambutnya, merasa seperti mendapatkan sesuatu, merasa dirinya berguna karena dia sudah dapat menjadi tempat seorang menumpahkan kesedihannya.

“Menangislah… menangislah sampai terkuras habis semua kedukaan itu…,“ bisiknya, lebih ditujukan kepada hatinya sendiri dari pada gadis yang tidak dikenalnya itu.

Duka selalu timbul dari iba diri. Tanpa adanya pikiran yang mengenang keadaan dirinya sendiri yang dianggap sengsara, tidak akan timbul rasa iba diri dan takkan timbul duka. Iba diri adalah pembengkakan dari pada gambaran si aku, dan si aku ini memang selalu ingin meraih yang menyenangkan dan menghindarkan yang tidak menyenangkan.

Selain iba diri, si aku ini pun menjadi sumber dari segala iri hati, cemburu, kemarahan, kebencian dan selanjutnya. Si aku memang diperlukan untuk kehidupan lahiriah, dimana diatur ketentuan dan norma kehidupan bermasyarakat. Ada hakku dan hakmu, punyaku dan punyamu, akan tetapi seyogianya cukup sampai di situ saja. Lahiriah! Kalau sampai menyusup ke dalam, menjadi batiniah, maka si aku selalu mengadakan ikatan-ikatan sebanyaknya.

Ikatan inilah yang menimbulkan iba diri, menimbulkan duka. Senang jika mendapatkan, dan susah jika kehilangan. Senang jika merasa diuntungkan, dan susah jika dirugikan, demikian seterusnya. Dapatkah kita hidup tanpa bayangan si aku secara batiniah? Dan dapatkah batin ini bebas dari pada kepemilikan? Lahiriah mempunyai namun batin tidak memiliki? Mungkinkah itu? Tidak akan terjawab melalui teori dan pendapat yang masih bersumber dari akal si aku, yaitu pikiran yang selalu mempertimbangkan untung rugi. Jawabannya hanya terdapat dalam penghayatan, penelitian, dan pengamatan secara waspada, mawas diri lahir batin tanpa pendapat.

Ci Hwa menemukan hiburan bagi kesedihannya yang tadi hampir tak tertahankan lagi. Hidup bukan hanya urusan hilang atau tidaknya keperawanan! Hidup ini masih panjang, dan beraneka ragam isinya! Orang ini benar! Tidak ada kesulitan yang tak dapat diatasi.

Ia memang sudah diperkosa orang, sudah tidak perawan lagi, akan tetapi apakah hal itu harus berarti bahwa hidupnya tidak penting lagi, dia tidak berhak lagi untuk hidup dan menikmati hidup ini? Betapa bodohnya. Enak saja kalau ia mati tanpa hukuman bagi orang yang menjadikan dia begini! Enak, terlalu enak bagi Siangkoan Liong! Tidak, dia bahkan harus hidup, dan satu di antara tujuan hidupnya adalah membalas penghinaan ini kepada Siangkoan Liong!

Air matanya sudah habis. Tangisnya pun terhenti dan ia pun sadar bahwa secara tidak pantas dia telah bersandar di dada orang sekian lamanya, sampai baju biru itu basah kuyup oleh air matanya. Ci Hwa menarik kepalanya ke belakang, melepaskan dirinya dan mundur tiga langkah, lalu mengangkat muka memandang.

Mukanya pucat sekali. Pipinya masih basah, namun matanya yang membendul merah itu tidak menitikkan air mata lagi. Sinar matanya memandang penuh selidik dan karena Hong Beng juga memandang kepadanya, mereka saling pandang dan barulah tampak oleh Ci Hwa bahwa wajah pemuda di depannya ini sama sekali berbeda dengan wajah Siangkoan Liong.

Bukan hanya bentuknya yang berbeda, tapi bayangan yang terkandung dalam pandang mata itu, senyum itu sama sekali berbeda. Pandang mata dan senyum Siangkoan Liong penuh daya tarik memabukkan, kelembutannya seperti besi sembrani yang dingin dan membetot. Akan tetapi kelembutan pada wajah pemuda ini seperti kelembutan langit biru. Dan ia pun merasa malu kepada diri sendiri.

“Maafkan aku… sekali lagi maafkan aku. Aku tadi telah gila barangkali. Engkau benar, aku telah gila dan aku hanya menuruti dorongan hati saja. Maafkan aku.” katanya.

Hong Beng tersenyum. “Namaku Gu Hong Beng, seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalku. Boleh aku mengetahui namamu?”

“Namaku Kwee Ci Hwa, aku datang dari Ban-goan.”

Jawaban Ci Hwa yang singkat membuat Hong Beng maklum bahwa gadis ini tentu ingin menyembunyikan persoalan dirinya, maka dia pun tidak mendesak.

“Aku tak ingin minta kepadamu untuk menceritakan segala urusanmu, nona Kwee akan tetapi…“

“Nanti dulu, kalau aku tidak salah ingat, engkau tadi menyuruh aku menganggap engkau seorang kakak sendiri. Benarkah?”

“Benar, lalu kenapa?” Hong Beng memandang, tersenyum ramah. “Aku memang belum pernah mempunyai seorang adik perempuan.”

“Aku belum pula mempunyai seorang kakak laki-laki, bahkan tidak mempunyai saudara. Boleh aku memanggilmu Beng-ko (kakak Beng)?”

“Tentu saja, Hwa-moi (adik Hwa), tentu saja dan aku merasa terhormat sekali!” berkata Hong Beng.

“Nah, sekarang legalah hatiku. Aku memiliki seorang kakak dan pelindung, akan tetapi maaf, aku tidak mungkin dapat menceritakan mengapa aku tadi hendak membunuh diri.”

“Jangan khawatir aku selalu menghargai rahasia seseorang. Akan tetapi, tentu boleh aku mengetahui keadaan dirimu, keluargamu, ke mana dan apa maksud perjalananmu, bukan?”

Gadis itu mengangguk. Keduanya duduk di atas akar pohon besar, saling berhadapan. Ci Hwa mulai menceritakan keadaan dirinya. Dia menceritakan bahwa ayahnya, Kwee Tay Seng atau Kwee Piauwsu, seorang duda, sudah tertuduh melakukan pembunuhan terhadap seorang rekannya, seorang piauwsu lain, dan segala yang terjadi kemudian di Ban-goan.

“Oleh karena aku merasa penasaran, nama baik ayah ternoda, maka aku pun kemudian pergi hendak melakukan penyelidikan kepada perkumpulan Tiat-liong-pang yang pernah disebut-sebut oleh orang she Lay itu. Itulah sebabnya aku berada di sini.”

Gu Hong Beng mengangguk-angguk, sama sekali tidak mau menduga-duga mengapa hal itu menyebabkan Ci Hwa hendak membunuh diri tadi.

“Dan engkau sudah melakukan penyelidikan?”

“Sudah. Tiat-liong-pang terletak di atas bukit sana itu, akan tetapi perkumpulan itu amat besar, amat berpengaruh dan sangat kuat, juga dekat dengan keluarga istana sehingga rasanya sedikit kemungkinan mengapa perkumpulan itu sampai membunuh piauwsu di Ban-goan. Tidak ada hubungan dan kepentingannya sama sekali.”

“Hemmm, siapa tahu ada rahasia yang lain. Kadang-kadang kebakaran besar dimulai dari bunga api kecil, peristiwa besar dimulai dari urusan sepele.”

“Mungkin benar, akan tetapi seorang seperti aku bagaimana mungkin dapat menyelidiki perkumpulan besar itu lebih mendalam lagi? Di sana adalah gudangnya orang pandai sedangkan ilmu silatku hanya terbatas sekali. Dan engkau sendiri, Koko, ceritakanlah keadaan dirimu dan bagaimana engkau dapat berada di sini.”

Hong Beng tersenyum. Kalau hendak menceritakan pengalamannya, tentu tidak cukup sehari, maka dia pun hanya menceritakan keadaan dirinya secara singkat saja. (baca kisah Suling Naga)

“Aku seorang yang sebatang kara, sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi, dan selama bertahun-tahun ini aku hidup bersama guruku. Akan tetapi, semenjak dua tiga tahun ini guruku bertapa, tidak mau diganggu dan tidak mau mencampuri urusan dunia. Karena itulah aku diijinkan untuk mengembara, tanpa tujuan, ikut saja keinginan hati dan kaki meluaskan pengalaman dan pengetahuan. Dan di dalam perjalanan itu, aku mendengar akan kebangkitan para datuk sesat yang katanya membuat persekutuan di utara ini. Karena semenjak dahulu guruku selalu membawaku menentang para datuk kaum sesat, maka aku tertarik sekali dan aku pun mendengar bahwa Tiat-liong-pang yang menjadi pusat persekutuan itu. Dan di sinilah aku, kebetulan bertemu denganmu tadi.”

Wajah Ci Hwa agak berseri. “Ahh, jadi engkau pun hendak menyelidiki Tiat-liong-pang?”

Hong Beng mengangguk. “Apakah barangkali dari engkau aku bisa mendengar sesuatu tentang Tiat-liong- pang? Bukankah engkau sudah menyelidiki ke sana?”

Ci Hwa mencabut sebatang kembang rumput, menggigit-gigit ujung tangkai kembang rumput itu. Manis sekali gadis ini kalau sedang begitu asyik dan juga memiliki daya tarik besar. Dia berpikir-pikir, mengingat apa yang pernah dialaminya dan apa yang pernah didengarnya dari Siangkoan Lohan.

“Memang aku pernah ke sana, akan tetapi tidak banyak yang kuketahui. Aku hanya tahu bahwa penjagaan di sana ketat bukan main. Pernah aku melihat betapa ada lima orang pemburu binatang yang memasuki wilayah itu, lalu dibunuh begitu saja oleh dua orang anggota Tiat-liong-pang. Dan mereka berdua itu lihai bukan main, dalam waktu sebentar saja kelima orang pemburu itu tewas. Kemudian aku mendengar bahwa Tiat-liong-pang selain besar dan memiliki banyak anak buah yang pandai, juga dekat dengan istana. Kabarnya, ketuanya yang bernama Siangkoan Tek atau disebut Siangkoan Lohan, dulu beristeri seorang puteri istana…“

Ci Hwa teringat akan Siangkoan Liong dan menghentikan ceritanya, lalu disambungnya, “…selain itu, aku tidak tahu apa-apa lagi.”

Hong Beng bukanlah seorang bodoh. Gadis ini hendak melakukan penyelidikan tentang Tiat-liong-pang untuk membersihkan nama baik ayahnya. Setelah tiba di situ dan sudah melakukan penyelidikan, mendadak saja dia hendak membunuh diri. Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat menimpa dirinya. Akan tetapi dia tidak berani bertanya tentang hal itu.

“Ceritamu tentang perkumpulan itu semakin menarik hatiku, Hwa-moi. Biarlah aku akan melakukan penyelidikan yang mendalam, dan kalau benar berita yang kuterima bahwa Tiat-liong-pang menghimpun persekutuan kaum sesat, aku harus menentang mereka. Bahkan kabarnya, seorang iblis betina yang berjuluk Sin-kiam Mo-li bergabung pula di situ, padahal iblis betina itu adalah musuh besarku semenjak bertahun-tahun yang lalu, bersama dengan para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Selama mereka itu masih berkeliaran, sepak terjang mereka selalu hanya membikin kekacauan dan mengganggu keamanan rakyat belaka.”

Ci Hwa memandang kagum. Pemuda ini kelihatannya demikian sederhana. Dia sudah membuktikannya sendiri tadi. Semua serangannya yang dilakukan dengan marah, tidak pernah dapat menyentuh ujung bajunya sedikit pun. Dan kini pemuda itu menyatakan sebagai musuh datuk-datuk sesat yang lihai.

“Beng-koko, engkau tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Bolehkah aku mengetahui, siapa gerangan gurumu?”

Hong Beng tidak pernah menyembunyikan sesuatu, akan tetapi dia pun bukan orang yang suka menyombongkan diri dan gurunya. Akan tetapi, mendengar pertanyaan yang polos itu, dia pun menjawab sederhana, “Suhu-ku bernama Suma Ciang Bun, seorang pendekar keluarga Pulau Es.”

“Aihhh…!” “Kenapa?”

“Ayahku pernah mendongeng tentang keluarga pendekar Pulau Es yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa saja! Engkau tentu lihai sekali, Koko!” pandang mata itu sekali ini tidak menyembunyikan kekaguman mendalam sehingga wajah Hong Beng menjadi kemerahan.

“Sudahlah, Hwa-moi, tidak perlu memuji. Pertemuan kita ini kebetulan saja, akan tetapi agaknya Tuhan telah mempertemukan kita sehingga kita dapat saling bantu dan seperti telah menjadi kakak beradik. Akan tetapi, aku hendak melanjutkan penyelidikanku, dan bagaimana dengan engkau, Hwa-moi?”

“Biar pun aku hanya seorang gadis lemah, akan tetapi aku pun masih ingin mencuci nama baik ayahku. Kalau boleh, aku akan membantumu, Beng-ko.”

“Baiklah, asal engkau berhati-hati dan melaksanakan semua petunjukku. Yang pertama, engkau lebih dulu harus sudah dapat mengusir jauh-jauh kenekatan dan kebodohanmu tadi. Engkau berjanji?”

Ada perasaan perih menusuk ulu hati Ci Hwa, akan tetapi dia harus membantu Hong Beng menyelidiki dan menentang Tiat-liong-pang. Bukan sekedar untuk mencuci nama baik ayahnya, tetapi yang lebih penting juga mencuci noda pada dirinya dengan darah dan nyawa Siangkoan Liong!

“Aku berjanji dan bersumpah tidak akan melakukan lagi kebodohan itu, Koko.”

Keduanya lalu meninggalkan tempat itu, menyusup di antara hutan-hutan lebat untuk menyelidiki keadaan Tiat-liong-pang.

Setiap orang manusia hidup takkan terluput dari pada peristiwa yang menimpa dirinya, baik peristiwa itu biasa saja, agak hebat, hebat atau bahkan sangat hebat seperti yang sudah dialami Ci Hwa. Peristiwa hebat yang diterima sebagai suatu mala petaka dapat menghancurkan perasaan, melenyapkan harapan, bahkan juga dapat membuat orang menjadi mata gelap. Ada pula yang ingin menghentikan semua derita dan siksa batin dengan jalan membunuh diri!

Akan tetapi, sesungguhnya bunuh diri bukanlah jalan pemecahan yang tepat, melainkan hanya merupakan suatu pelarian yang mata gelap. Peristiwa yang telah terjadi pun terjadilah, merupakan sesuatu yang telah lalu. Kalau peristiwa itu terus dikeram di dalam sanubari, maka tentu saja hanya akan menjadi siksaan yang timbul dari kenangan.

Kenangan ini menimbulkan iba diri, dendam, dan duka. Mengapa kita suka menyimpan suatu peristiwa sebagai kenangan? Mengapa tidak kita biarkan saja peristiwa itu lenyap, seperti sebuah mimpi buruk? Hidup adalah saat ini, bukan kemarin! Kemarin itu sudah mati, baik mau pun buruk.

Kenangan akan masa lalu hanya mendatangkan dua hal, yaitu penyesalan dan duka, juga kerinduan dan harapan akan mengulang pengalaman lalu yang menyenangkan. Hanya kalau kita mampu menghapus semua kenangan peristiwa masa lalu, baik mau pun buruk, maka batin kita akan menjadi bersih, bebas dan siap menghadapi peristiwa yang terjadi di saat ini, dalam keadaan sehat, tanpa dendam, tanpa prasangka, tanpa kebencian.

Peristiwa adalah kejadian yang telah terjadi, sesuatu fakta yang tak dapat diubah pula, karena sudah terjadi. Baik buruknya hanya tergantung dari pada penilaian kita sendiri. Di dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi, yang terpenting bukanlah penilaian, melainkan kewaspadaan. Kewaspadaan mendatangkan kebijaksanaan dan kesadaran, sehingga kita dengan sepenuhnya dapat menghadapi dan menanggulanginya, sepenuh akal budi yang ada pada kita. Perbuatan menghadapi sesuatu yang diliputi penilaian selalu mengandung pamrih, dan tentu tidak bijaksana lagi…..

********************

Cin-sa-pang ialah perkumpulan orang gagah yang bermarkas di lembah Sungai Cin-sa. Kita telah mengenal ketuanya, yaitu Ciok Kim Bouw, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih yang gagah perkasa dan bersemangat baja.

Perkumpulan ini sekarang memiliki anggota tidak kurang dari seratus orang banyaknya. Mereka bekerja sebagai nelayan, juga sebagai pengawal perahu-perahu para pedagang yang melakukan pelayaran di sungai itu dengan berupa imbalan sekedarnya.

Seperti banyak perkumpulan orang gagah di jaman itu, mereka merasa tidak suka akan penjajahan yang dilakukan bangsa Mancu sejak ratusan tahun, akan tetapi mereka pun tidak berdaya. Mereka tidak memberontak terhadap pemerintah yang teramat kuat, tapi mereka pun enggan menjadi kaki tangan penjajah, dan hidup sebagai kelompok orang gagah yang suka membela kepentingan rakyat dari penindasan atau kejahatan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan. Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang, ikut pula diundang dan menjadi tamu dari perkumpulan Tiat-liong-pang dengan para datuk sesat sehingga hampir saja dia menjadi korban. Sejak lama dia memang telah bermusuhan dengan Sin-kiam Mo-li, maka melihat betapa Tiat-liong- pang bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li dan segala pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw segera dia menentang dan akibatnya, hampir saja dia terbunuh ketika dalam perjalanan pulang dia dihadang oleh Sin- kiam Mo-li dan kawan-kawannya. (baca kisah Suling Naga)

Untung ketika itu muncul seorang pemuda sakti yang tak dikenalnya akan tetapi berhasil menyelamatkannya dari ancaman maut di tangan musuh-musuhnya. Dia merasa sangat menyesal mengapa tidak sempat mengenal nama pemuda itu yang begitu menolongnya dan mengobati lukanya, terus pergi begitu saja. Ciok Kim Bouw tidak tahu bahwa di antara semua tamu yang tidak menyetujui persekutuan itu, hanya dia seoranglah yang selamat!

Ciok Kim Bouw adalah seorang yang gagah, dengan tubuh tinggi besar dan muka hitam bagai tokoh Thio Hwi dalam dongeng Sam Kok. Keistimewaannya adalah menggunakan senjata golok besarnya. Dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun, bernama Ciok Heng.

Pemuda ini memiliki tubuh tinggi besar seperti ayahnya. Wajahnya tidak berkulit hitam, bahkan tampan gagah dengan sepasang mata lebar yang penuh dengan kejujuran dan keterbukaan. Sejak kecil dia digembleng ayahnya dan setelah berusia dua puluh lima tahun, dia sudah mewarisi semua ilmu ayahnya dan menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa.

Ketika Ciok Kim Bouw pulang dalam keadaan marah dan kecewa, puteranya segera dapat menduga bahwa tentu pertemuan itu tidak menyenangkan hati ayahnya, maka dia pun langsung bertanya. Ciok Kim Bouw menceritakan sejujurnya apa yang telah terjadi di sana.

“Tiat-liong-pang kini telah dibawa menyeleweng oleh Siangkoan Lohan!” katanya sambil menggebrak meja. “Dia mengajak sekongkol datuk-datuk sesat. Bayangkan saja, iblis iblis semacam Sin-kiam Mo-li, para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-wa-kauw, kini menjadi sekutunya!”

“Ahhh…!” Ciok Heng terkejut bukan main mendengar ini.

“Bukan mereka saja,” sambung ayahnya. “Masih banyak lagi orang-orang dari golongan hitam menjadi sekutunya, dan para tamu yang tidak setuju akan persekutuan itu pasti dimusuhi. Aku terang-terangan menyatakan tidak setuju dan aku dihina di depan umum oleh putera Siangkoan Lohan yang amat lihai. Bahkan ketika aku pulang, aku dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong. Nyaris saja aku tewas. Kalau tidak muncul seorang pemuda sakti yang tidak mau mengaku namanya, tentu aku tidak dapat pulang dan sudah mati konyol di sana.” Selanjutnya dia menceritakan apa yang telah terjadi kepada puteranya, juga kepada para pembantunya yang setia.

“Brakkk!” Ciok Heng menggebrak meja dan mukanya menjadi marah sekali.

“Tiat-liong-pang menyeleweng, kita tidak boleh mendiamkannya saja. Ayah, biarkan aku menggerakkan teman-teman untuk menyerbu dan menghancurkan Tiat-liong-pang!”

Ayahnya mengangkat tangan ke atas. “Ciok Heng, jangan bersikap bodoh seperti anak kecil yang hanya menurutkan dorongan hati yang marah. Tiat-liong-pang itu kuat sekali, Siangkoan Lohan amat sakti, puteranya agaknya tidak kalah hebatnya oleh ayahnya dan di sana berkumpul datuk-datuk sesat yang berilmu tinggi. Belum lagi diingat betapa para anak buah mereka mungkin lebih banyak dari pada jumlah teman-teman kita. Jika engkau dan teman-teman menyerbu ke sana, akan sama artinya dengan segerombolan nyamuk menyerbu api. Memang kita harus menentangnya, namun dengan cara halus, bukan menggunakan kekerasan dan untuk itu kita harus berunding dan mengadakan kontak dengan para pendekar.”

Ciok Heng mengangguk-angguk membenarkan ayahnya. “Kalau begitu, aku dan kawan kawan akan menyebarkan berita itu pada para pendekar, Ayah, dan mengajak mereka untuk turun tangan karena persekutuan itu akan berbahaya sekali jika didiamkan saja.”

Ciok Kim Bouw menyetujui. “Baiklah, kalau mungkin, undang para orang gagah untuk mengadakan perundingan di sini.”

Ciok Heng segera menyiapkan teman-temannya. Mereka pun lalu menyebar, memberi tahukan kepada para pendekar yang mereka anggap patut mengetahui perubahan di dunia kaum sesat yang kini sedang mengadakan persekutuan dengan para pimpinan Tiat-liong-pang yang agaknya kini hendak melakukan penyelewengan itu.

Memang tidak ada perjanjian dan ketentuan harinya untuk mengadakan perundingan. Namun, di antara para pendekar yang menaruh perhatian akan berita ini, berjanji akan berkunjung untuk bercakap-cakap bahkan ada pula yang mengatakan hendak langsung pergi menyelidiki urusan itu di Tiat-liong-pang.

Sementara itu, dengan penuh semangat Ciok Kim Bouw dan puteranya mulai melatih anak buah mereka dengan tekun agar supaya mereka memperoleh kemajuan sehingga sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan untuk menghadapi musuh, mereka sudah berada dalam keadaan yang kuat. Barisan golok segera dibentuk dan tiap hari mereka berlatih, juga golok mereka semua selalu tajam terasah.

Dua bulan sudah lewat dengan cepatnya. Sementara itu berita mengenai persekutuan Tiat-liong-pang yang disebarkan oleh orang-orang Cin-sa-pang itu sudah terdengar pula sampai ke beberapa propinsi. Berita itu disambut dengan sikap yang bermacam-macam oleh para orang gagah di dunia persilatan.

Ada pula yang menanggapinya dengan senang karena bukankah sudah sepatutnya jika orang gagah mengumpulkan kekuatan untuk menentang pemerintah penjajah Mancu? Ada pula yang merasa tidak senang karena mereka mendengar betapa persekutuan Tiat-liong-pang itu merangkul tokoh-tokoh sesat, apa lagi Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai disebut dalam persekutuan itu. Biar niatnya baik, yaitu menentang penjajah, akan tetapi jika harus bekerja sama dengan golongan hitam, banyak di antara para pendekar yang tidak mau.

Pendeknya, berita yang disebar luaskan oleh Cin-sa-pang di dunia persilatan akhirnya menimbulkan kegemparan. Banyak di antara para pendekar meragukan kepatriotannya, apa lagi kalau mereka mendengar dan mengingat bahwa Tiat-liong-pang tadinya adalah kaki tangan pemerintah penjajah! Betapa pun juga, peristiwa ini lalu menarik perhatian banyak kaum pendekar untuk meninggalkan tempat mereka dan berangkat menuju ke selatan untuk melakukan penyelidikan sendiri.

Pada suatu pagi yang amat cerah, nampak seorang pemuda memasuki perkampungan perkumpulan Cin- sa-pang di lembah Sungai Cin-sa. Semua orang yang bersua di jalan dengan pemuda ini pasti menengok dan merasa kagum. Pemuda itu usianya sekitar dua puluh tujuh tahun, tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh kuat, mukanya agak hitam akan tetapi bentuk muka itu gagah, dengan hidung mancung, mata tajam dan mulut membayangkan kekerasan hati dan keberanian.

Sikapnya pendiam. Dia tidak pernah menengok ke kanan kiri, hanya lurus memandang ke depan sambil melangkahkan kedua kakinya dengan mantap. Pada saat melangkah, tubuhnya bergerak seperti seekor harimau berjalan. Pakaiannya sederhana, terbuat dari kain yang tebal, dan di balik jubahnya terdapat sebatang pedang yang tergantung di pinggang, tersembunyi namun ujung gagang pedang masih nampak tersembul di bawah jubah.

Tanpa melihat pedangnya pun, baru melihat perawakannya, mudah diduga bahwa dia tentu seorang pemuda gemblengan, seorang jago silat yang tangguh. Dugaan ini tepat karena dia adalah Cu Kun Tek, jago silat muda dari Lembah Naga Siluman yang terletak di Pegunungan Himalaya.

Orang tua pemuda itu juga merupakan pendekar-pendekar yang sangat lihai. Ayahnya bernama Cu Kang Bu, pewaris Lembah Naga Siluman dengan ilmu silat keluarga Cu yang amat tinggi, yaitu Koai-liong Kiam- sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) dan Cu Kang Bu ini terkenal pula dengan julukan Ban-kin-sian (Dewa Bertenaga Selaksa Kati). Ada pun ibunya juga seorang pendekar wanita yang lihai dengan ilmu-ilmu pukulan Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok) dan Pat-liong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin)! Tentu saja Cu Kun Tek mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya.

Cu Kun Tek meninggalkan tempat tinggal keluarga ayahnya ketika dia mendengar berita yang disebar oleh Cin-sa-pang itu. Sebagai seorang pendekar, hatinya tergerak dan dia tidak akan tinggal diam begitu saja. Maka dia pun pergi dan berkunjung ke tempat perkampungan Cin-sa-pang untuk mendengar sendiri kebenaran berita itu. Dia pernah berjumpa dengan Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang yang dianggapnya seorang yang cukup gagah. Perkumpulannya juga merupakan perkumpulan orang-orang gagah.

Pada saat para anggota Cin-sa-pang melaporkan kepada ketua mereka akan datangnya seorang tamu dan Ciok Kim Bouw cepat keluar, dia menjadi gembira sekali melihat pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu.

“Aihh, kiranya Cu-enghiong yang datang!” katanya sambil dia membalas penghormatan pemuda itu. “Bagaimana kabarnya, Ciok Pangcu? Mudah-mudahan baik-baik saja.”
“Terima kasih, Cu-eng-hiong. Mari silakan duduk di dalam!” Mereka masuk ke ruangan dalam dan bercakap-cakap.

Dalam kesempatan ini Cu Kun Tek bertanya mengenai berita yang dia dengar tentang Tiat-liong-pang. Ketua Cin-sa-pang itu segera menceritakan semua pengalaman dirinya ketika dia menghadiri undangan Tiat-liong-pang, yaitu pada pesta ulang tahun ke enam puluh tahun dari Siangkoan Lohan.

“Bayangkan saja, hati siapa tidak menjadi geram melihat betapa di antara para tamu kehormatan itu terdapat orang-orang Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, bahkan di sana aku melihat pula iblis betina Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Jelaslah bahwa Tiat-liong-pang hendak merencanakan sesuatu pemberontakan!”

Cu Kun Tek mendengarkan penuh perhatian, alisnya berkerut dan dia pun lalu berkata, “Akan tetapi, bukankah sudah menjadi idaman semua orang gagah untuk membantu usaha mengusir pemerintah penjajah dari tanah air, Pangcu?”

Ciok Kim Bouw menghela napas panjang. “Kalau ada gerakan seperti itu, gerakan para patriot sejati dengan tujuan membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu, percayalah, kami seluruh anggota Cin-sa-pang akan berdiri di belakangnya. Kami akan bergabung dan siap mempertaruhkan nyawa untuk membantu gerakan itu! Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang Tiat-liong-pang dapat merupakan patriot-patriot sejati? Mereka bahkan berjasa terhadap penjajah Mancu, bahkan Siangkoan Lohan dihadiahi banyak harta dan seorang puteri dari istana kaisar! Kini, dia mengadakan persekutuan dengan para pemberontak, tetapi pemberontak semacam Pek-lian-kauw, dan bersekutu pula dengan orang-orang dari kaum sesat! Bagaimana mungkin gerakan seperti itu bisa mengandung niat bersih dan gagah untuk membebaskan rakyat jelata?”

Dia lalu menceritakan apa yang telah terjadi di dalam pesta itu, tentang kecabulan dan lain-lain, kemudian menceritakan betapa dia secara terang-terangan mengatakan tidak senangnya dengan kehadiran tokoh- tokoh sesat sehingga dia dianggap menghina dan dikalahkan oleh Siangkoan Liong, putera Siangkoan Lohan.

“Ketika aku pergi meninggalkan pesta, masih banyak di antara teman-teman sepaham yang juga meninggalkan tempat itu, sebagai protes dan pernyataan tidak suka karena Tiat-liong-pang bersekutu dengan orang-orang golongan sesat. Dan tahukah engkau apa yang terjadi setelah aku pergi meninggalkan tempat itu? Di tengah perjalanan, aku dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam- ong dan mereka itu sengaja hendak membunuhku!”

Lalu diceritakan betapa dia nyaris tewas kalau tidak muncul seorang pemuda lihai yang berhasil mengusir kedua orang itu, bahkan menyelamatkan nyawanya dari ancaman racun di lengannya akibat serangan Siangkoan Liong.

“Nah, melihat perkembangan itu, kami merasa amat khawatir, Cu-enghiong. Puteraku, Ciok Heng, tadinya berkeras ingin memimpin anak buah menyerbu ke Tiat-liong-pang, akan tetapi kularang dia karena hal itu sama dengan membunuh diri. Di sana berkumpul banyak orang pandai dan agaknya Tiat-liong-pang sudah menyusun kekuatan. Maka, kami lalu menyebarkan berita itu supaya terdengar oleh para pendekar dan orang gagah sehingga gerakan yang berbahaya dari Tiat-liong-pang dapat dicegah.”

Cu Kun Tek diam-diam merasa heran juga mendengar semua cerita itu. Dia pun sudah mendengar perkumpulan macam apa adanya Tiat-liong-pang, yaitu suatu perkumpulan yang pernah membuat jasa terhadap serbuan orang Mancu sehingga perkumpulan itu dianggap pro pemerintah Mancu. Akan tetapi kenapa kini mendadak saja perkumpulan itu hendak memberontak, bahkan bersekutu dengan orang-orang golongan hitam? Hal ini perlu diselidiki secara teliti sebelum dia mempercayai begitu saja keterangan Ciok Pangcu.

Hanya satu hari Cu Kun Tek berdiam di Cin-sa-pang sebagai tamu, bercakap-cakap dengan ketua Cin-sa- pang dan puteranya, Ciok Heng yang gagah perkasa. Kemudian dia minta diri karena dia hendak melanjutkan perjalanannya ke utara, untuk melakukan penyelidikan pada perkumpulan yang katanya bersekutu dengan para golongan sesat dan hendak memberontak itu.

Di dalam perjalanan ini, Kun Tek mengenangkan masa lampaunya, tujuh delapan tahun lalu ketika dia baru berusia sembilan belas tahun, ketika dia bersama para pendekar lain seperti Gu Hong Beng, Can Bi Lan, Sim Houw dan yang lain-lain menghadapi musuh musuh yang amat kuat seperti Kim Hwa Nionio, Sai-cu Lama, dan Sam Kwi yang amat lihai itu. Mereka menjadi kaki tangan Thaikam Hou Seng yang menjadi kekasih Kaisar dan yang hendak merajalela dengan kekuasaannya. Dengan demikian, para datuk sesat itu seolah-olah bekerja sama dengan pemerintah dan membantu pemerintah, sehingga kadang-kadang para pendekar berhadapan dengan pasukan pemerintah (baca kisah Suling Naga).

Tapi kini keadaan berbalik. Tiat-liong-pang yang tadinya menjadi perkumpulan yang pro pemerintah penjajah, kini kabarnya tiba-tiba membalik dan hendak memberontak. Akan tetapi, melihat betapa perkumpulan itu bersekongkol dengan datuk kaum sesat, Kun Tek meragukan kebersihan usaha pemberontakan mereka itu. Tentu mereka tak bermaksud berjuang untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman kaum penjajah, namun hendak memberontak dan merebut kekuasaan, untuk mengangkat diri sendiri menjadi golongan pimpinan baru!

Kalau benar demikian, maka gerakan itu harus ditentangnya! Dia hanya akan membantu perjuangan yang benar-benar ditujukan untuk membebaskan rakyat dari tindasan kaum penjajah. Bagaimana pun juga, harus diakuinya bahwa Kaisar Kian Long yang sekarang ini masih jauh lebih baik dan bijaksana dari pada kaisar-kaisar Mancu yang lalu, dan dia tak dapat membayangkan bagaimana akan jadinya kalau sampai kendali pemerintahan terjatuh ke dalam tangan para datuk sesat yang jahat dan kejam melebihi iblis itu.

Teringat akan masa lalunya, dada yang bidang itu menghembuskan napas panjang. Dia pernah jatuh cinta pada Can Bi Lan, cinta sepihak, karena akhirnya wanita itu menikah dengan Sim Houw, yang masih keponakannya sendiri biar pun usia Sim Houw lebih tua empat belas tahun darinya. Sejak itu dia kembali ke Lembah Naga Siluman dan tidak pernah memasuki dunia ramai.

Dia tidak merasa patah hati, bahkan sudah melupakan peristiwa itu. Namun, kegagalan cintanya itu membuat dia malas dan segan untuk mencari jodoh seperti yang selalu dianjurkan kedua orang tuanya.

Sekarang, setelah kembali dia melakukan perjalanan seorang diri, baru dia dapat membayangkan betapa selama ini ia telah mengecewakan hati ayah bundanya, bahwa membuat mereka berduka dan kecewa merupakan suatu perbuatan yang tidak berbakti. Pula, kenapa dia seolah-olah menjadi putus asa dan tidak pernah mempunyai keinginan untuk berumah tangga?

Ah, siapa tahu, sekali ini Thian akan menunjukkan jalan baginya, akan mempertemukan dia dengan jodohnya. Atau mungkin juga dia akan gugur dalam menunaikan tugasnya sebagai seorang pendekar ketika menyelidiki Tiat-liong-pang. Bagaimana nanti sajalah! Keberuntungan atau kegagalan di masa depan, aku siap menghadapimu, demikian dia menyongsong masa depannya dengan hati lapang dan gagah.

Kun Tek memang keturunan keluarga Cu yang sudah ratusan tahun tinggal di Lembah Naga Siluman sebagai keluarga sakti yang mengasingkan diri. Keluarga Cu ini memiliki ilmu silat keluarga yang sukar dicari bandingannya di dunia persilatan, dan nama besar keluarga Cu telah dikenal oleh hampir semua tokoh dunia persilatan, baik dari golongan putih mau pun golongan hitam.

Dan sekarang, Cu Kun Tek, keturunan terakhir mereka, mengubah kebiasaan nenek moyangnya, dia keluar dari lembah untuk mencampuri urusan dunia ramai. Tentu saja sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, siap untuk melindungi yang lemah dan tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang, kalau perlu dengan taruhan nyawa!

Juga diam-diam dia mengharapkan mudah-mudahan kali ini dia akan bertemu dengan jodohnya karena bagaimana pun juga ia merasa kasihan kepada ayah dan ibunya yang sudah ingin sekali mempunyai seorang mantu dan terutama sekali menimang cucu…..

********************

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo