October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 7

 

Ketika ia melihat betapa suaminya mengeroyok nenek buruk itu, sedangkan keponakan wanita itu dengan tangkasnya mampu menandingi kakek bersabuk itu dengan tangan kosong saja, hati Hui Lian menjadi kagum dan girang bukan main. Jelas bahwa di situ tidak ada musuh lain kecuali dua orang itu. Maka ia pun cepat mencabut pedangnya dan meninggalkan puteranya di ambang pintu. Ia sendiri cepat meloncat dan membantu suami-suaminya untuk mengeroyok Hek-sim Kui-bo!

Melihat betapa Suma Lian menandingi kakek pendek sambil berloncat cepat dan aneh dan gadis itu tersenyum-senyum mengejek, Ciang Hun menjadi gembira dan berseru kepada gadis itu untuk menghajar lawannya.

Pada waktu Suma Lian menengok, kesempatan ini digunakan oleh Hok Yang Cu untuk menyerangnya dengan hebat. Sabuknya bergerak cepat bagai kilat dan sebatang pisau beracun meluncur ke arah tenggorokan gadis itu. Cepat bukan main serangan ini dan tahu-tahu pisau itu telah terbang menyambar ke arah tenggorokan Suma Lian yang berkulit halus mulus dan putih bersih!

Namun Suma Lian tahu akan hal ini. Dia teringat akan seruan Ciang Hun, maka kini tangannya menangkis, dan jari-jari tangannya yang kecil mungil itu menjentik ke arah pisau.

“Tringggg…!”

Pisau itu terpental, membalik dan terdengar kakek ini berteriak kesakitan ketika pisau yang membalik itu tahu-tahu telah melukai pundaknya! Sebuah tendangan membuat tubuhnya yang tersentak kaget ini terlempar dan jatuh terbanting lalu bergulingan.

“Kui-bo…, lari…!” teriaknya.

Dan tanpa menanti jawaban temannya lagi, dia pun terus menggelinding ke pekarangan depan dan meloncat bangun lalu melarikan diri menghilang ke dalam kegelapan malam.

Sementara itu, Hek-sim Kui-bo yang memang sudah terdesak oleh kedua orang kakek kembar itu, menjadi semakin repot ketika Hui Lian maju membantu dua orang suaminya. Tingkat kepandaian Hui Lian tidak banyak selisihnya dengan tingkat suaminya. Apa lagi ketika ia melihat betapa temannya semakin terdesak.

Ketika Hok Yang Cu terkena pisau beracunnya sendiri, hanya beberapa detik kemudian pedang Gak Jit Kong juga sudah melukai pangkal lengan kanannya, dan tendangan Hui Lian juga telak mengenai pahanya. Maka ia pun terhuyung ke belakang dan mendengar seruan temannya, dia pun langsung meloncat ke pekarangan dan menghilang di dalam kegelapan malam.

“Kejar mereka…!” Hui Lian berseru, siap untuk mengejar. Akan tetapi sebuah tangan yang halus menyentuh tangannya.

“Sebaliknya tidak usah, Bibi. Musuh yang sudah melarikan diri tidak perlu dikejar, apa lagi dalam gelap begini. Mereka adalah orang-orang yang curang dan berbahaya. Pula, menurut kata ayah, keluarga Pulau Es tidak pernah memusuhi orang-orang golongan hitam, hanya menentang perbuatan mereka yang jahat. Kalau mereka tidak menyerang, tidak perlu dilayani.”

“Ia benar. Mari kita masuk saja,” kata Gak Jit Kong dan mereka lalu memasuki rumah dan menutup daun pintu depan dengan rapat.

“Wah, enci Lian sungguh hebat! Kakek pendek yang lihai itu dijadikan bola olehnya!” kata Ciang Hun gembira.

“Itulah hasilnya kalau belajar dengan baik dan tekun,” kata Hui Lian kepada puteranya. “Engkau harus meniru enci-mu. Suma Lian, kami berterima kasih sekali karena kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya dengan kami berempat.”

“Ahhh, Bibi, kita adalah orang sekeluarga sendiri, tidak perlu bersikap sungkan. Pula, kurasa dua orang penjahat tadi tidak akan mudah saja mengalahkan Bibi dan Paman berdua.”

“Sudahlah, Lian-ji, tidak perlu memuji kami. Yang jelas, kami berdua sudah ketinggalan jauh dalam ilmu silat dibandingkan denganmu dan biarlah kami akan berlatih dengan lebih tekun. Akan tetapi, setelah urusan yang mengganggu kami ini dapat dihindarkan, sekarang engkau harus menceritakan keperluanmu datang berkunjung ini.”

Suma Lian menarik napas panjang. Memang sejak tadi selalu ditahannya berita yang tidak menyenangkan itu karena keluarga ini sedang menghadapi ancaman bahaya. Dan setelah kini bahaya itu lewat, tentu saja ia harus menceritakannya.

“Aku datang berkunjung karena diutus oleh kongkong, Paman. Beliau meminta supaya Paman berdua dan sekeluarga suka datang menengok beliau karena pada waktu ini kongkong sedang menderita sakit…“

“Ayah sakit…?” Dua orang kakek kembar itu berseru hampir berbareng.

“Lian-ji, kenapa tidak dari kemarin engkau memberi tahu kami?” Gak Jit Kong menegur dengan muka sedih.

“Ayah sakit apakah, Suma Lian?” sambung Gak Goat Kong.

“Aku memang menahan berita ini ketika melihat keluarga Paman terancam bahaya agar jangan menambahi gelisah. Sebetulnya, penyakit kongkong adalah penyakit biasa, yaitu kelemahan setiap orang yang usianya sudah terlalu tua, demikian menurut keterangan kongkong sendiri. Karena itu, diharap agar Paman sekalian suka berkunjung ke sana sekarang juga.”

“Ahhh, ayah…“

Kedua orang kembar itu merasa gelisah dan berduka, mengingat betapa selama ini mereka gagal mencari ayah mereka. Sampai kurang lebih sepuluh tahun semenjak ayah mereka meninggalkan Puncak Telaga Warna, mereka tidak pernah mendengar tentang ayah mereka lagi, apa lagi melihatnya.

“Di mana dia?” tanya Gak Jit Kong. “Jauhkah dari sini?”

“Tidak jauh, hanya di lereng Cin-ling-san, pegunungan itu nampak dari sini kalau siang hari, Paman.”

Dua orang kembar itu terkejut dan girang. Ternyata ayah mereka berada di gunung sebelah! Malam itu mereka tidak tidur lagi dan mereka berdua bertanya tentang ayah mereka dan mereka berdua terharu bukan main mendengar betapa ayah mereka kini berjuluk Bu Beng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Nama) dan bahkan ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Suma Lian, kakek itu seperti seorang jembel tua yang kotor dan tidak waras!

“Aihhh, akulah yang berdosa terhadap ayah mertuaku…“ Tiba-tiba Hui Lian menangis ketika melihat betapa dua orang suaminya berlinangan air mata. “Akulah yang membuat kalian berdua menjadi anak-anak yang tidak berbakti, membuat hati ayah kalian menjadi merana dan kecewa…“

Hui Lian menangis sesenggukan. Dia tidak dapat menahan kesedihannya lagi dan dia pun merangkul puteranya. Ciang Hun kemudian ikut menangis pada saat melihat betapa ibunya menangis sedih.

Melihat sikap isteri mereka itu, Beng-san Siang-eng menjadi terharu dan wajah mereka diliputi kedukaan, “Hui Lian, kamilah yang bersalah terhadap ayah!” kata Gak Jit Kong.

“Engkau tidak bersalah, dan biarlah nanti kami yang akan mohon ampun kepada ayah.” sambung Gak Goat Kong.

Suma Lian adalah seorang gadis yang memiliki perasaan yang peka, mudah tersentuh sehingga ia mudah riang gembira dan jenaka, akan tetapi mudah pula terharu. Melihat Hui Lian menangis, diikuti puteranya, dan melihat pula sikap dua orang kakek kembar itu yang gagah perkasa dan masing-masing mengakui kesalahan dengan isteri mereka, ia pun merasa terharu sekali sampai kedua matanya menjadi basah.

Ia dapat merasakan cinta kasih yang besar antara dua orang kembar itu dengan isteri mereka. Keadaan mereka itu memang amat ganjil bagi Suma Lian dan ia tidak dapat menyelaminya, namun ia dapat merasakan kasih sayang yang amat mendalam di dalam keluarga orang kembar ini.

“Paman dan Bibi, harap kalian jangan berduka. Ketahuilah bahwa kongkong sering kali membicarakan tentang Paman dan Bibi dengan sikap yang amat mencinta dan rindu. Dari kata-katanya aku dapat memastikan bahwa beliau sama sekali tidak marah kepada kalian, apa lagi membenci.”

Mendengar ini, dua orang saudara kembar itu memandang kepada Suma Lian dengan sinar mata penuh harapan. “Suma Lian, benarkah kata-katamu barusan ataukah hanya hiburan belaka untuk kami?” tanya Gak Goat Kong.

“Paman, mana aku berani membohong?”

“Sudahlah, mari kita semua berangkat. Andai kata ayah marah-marah kepada kita sekali pun, hal itu sudah sepatutnya dan kita hanya bisa minta maaf kepadanya. Yang penting, kita dapat bertemu dan menghadap ayah. Aihh, Lian-ji, betapa selama bertahun-tahun ini kami bersusah payah mencari ayah, namun selalu gagal,” kata Gak Jit Kong.

Konflik atau pertentangan yang terjadi antara kita dengan orang lain, sama sekali tidak dapat diatasi dengan prasangka, dengan sikap ingin benar sendiri dan ingin menang sendiri. Konflik akan makin memuncak kalau kita saling menilai keadaan orang lain itu, karena penilaian selalu dipengaruhi keadaan hati seseorang, didasari rasa suka dan tidak suka yang timbul dari si aku yang merasa diuntungkan atau dirugikan.

Kalau kita sedang bertentangan dengan seseorang, biasanya kita selalu menilai orang itu, segala sikap dan perbuatannya terhadap kita yang tentu saja menimbulkan nilai buruk karena orang itu kita anggap merugikan. Penilaian ini akan menambah tebalnya kebencian dan permusuhan.

Akan tetapi, cobalah kita mulai mengarahkan pengamatan kepada diri kita sendiri, sikap dan perbuatan kita sendiri tanpa penilaian, tetapi dengan pengamatan yang waspada, tanpa memihak, menyalahkan atau membenarkan diri sendiri. Maka, akan nampak jelas bahwa segala sebab yang mengakibatkan pertentangan, sebagian besar terletak dalam diri kita sendiri masing-masing.

Pengamatan terhadap diri ini akan dapat mendatangkan perubahan, dan ini menghapus pertentangan, sebab konflik keluar hanyalah pencerminan dari konflik yang terjadi dalam diri sendiri. Pengamatan kita terhadap diri sendiri, setiap saat, akan mengubah semua ulah kita terhadap orang lain, tidak mudah mata kita dibutakan oleh nafsu belaka, tidak mudah kita menjadi ‘mata gelap’ seperti dikatakan orang-orang bijaksana di jaman dahulu bahwa musuh yang paling kuat, paling berbahaya, paling licik, adalah diri sendiri, pikiran sendiri! Setan pembujuk dan penipu bukan berada di luar diri kita sendiri! Karena itu, pengamatan yang waspada terhadap diri sendiri akan melumpuhkan setan ini!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali berangkatlah keluarga Beng-san Siang-eng yang terdiri dari dua orang suami, satu isteri dan satu anak itu, mengikuti Suma Lian, menuju ke Pegunungan Cin-ling-san yang luas dan mempunyai banyak bukit-bukit. Di satu di antara lereng bukit inilah kini tinggal Bu Beng Lokai…..

********************

Bukit itu mempunyai sumber air dan tanahnya amat subur, penuh dengan pohon-pohon besar. Di tengah sebuah di antara hutan-hutan yang memenuhi bukit yang merupakan anak bukit Pegunungan Cin-ling-san ini terdapat sebuah pondok. Tidak besar, hanya terbuat dari kayu-kayu pohon besar, dan memiliki dua buah kamar saja. Namun pondok itu terawat bersih, dan di depannya bahkan terdapat sebuah taman bunga yang indah.

Inilah tempat tinggal Bu Beng Lokai bersama dua orang muridnya, yaitu Suma Lian dan Pouw Li Sian. Muridnya yang bernama Suma Lian telah kita kenal, dan Suma Lian masih terhitung cucu keponakannya sendiri, atau lebih tepat, cucu keponakan mendiang isterinya. Ada pun muridnya yang ke dua, juga seorang gadis yang bernama Pouw Li Sian, usianya sebaya dengan Suma Lian, hanya lebih muda beberapa bulan saja.

Seperti Suma Lian, Pouw Li Sian ini juga tekun belajar silat dan kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Ia juga cantik manis, dengan tahi lalat kecil di dagunya yang meruncing, menambah manis. Tetapi, wataknya sungguh jauh berbeda dengan Suma Lian.

Jika Suma Lian seorang gadis lincah, jenaka gembira yang kadang-kadang ugal-ugalan, dengan pakaian yang nyentrik dan seenaknya, sebaliknya Pouw Li Sian adalah seorang gadis yang cantik dan halus gerak- geriknya, sopan santun tutur katanya, dan biar pun pakaiannya juga sederhana dan tambal-tambalan seperti pakaian gurunya dan pakaian Suma Lian, namun potongan pakaian itu rapi dan sopan.

Di dalam kisah SULING NAGA telah diceritakan betapa Pouw Li Sian ini adalah seorang keturunan bangsawan tinggi. Mendiang ayahnya adalah seorang menteri, seorang bangsawan tinggi yang berjiwa satria.

Pada waktu Pouw Tong Ki, demikian nama menteri itu, masih duduk sebagai Menteri Pendapatan, ia telah bentrok dengan pembesar tinggi Hou Seng, thaikam (orang kebiri) yang menjadi kekasih kaisar dan karenanya mempunyai kedudukan yang amat tinggi dan kekuasaan yang tak terbatas. Dalam bentrokan inilah Pouw Tong Ki kena fitnah dan bahkan terbunuh oleh kaki tangan Hou Seng yang bersekutu dengan datuk-datuk sesat dari golongan hitam.

Seluruh keluarganya lalu terbasmi dan ditangkap sebagai pemberontak karena difitnah, kecuali Pouw Li Sian, puteri menteri itu yang dapat diselamatkan oleh Bu Beng Lokai. Ketika peristiwa itu terjadi, Pouw Li Sian baru berusia dua belas tahun dan bersama Suma Lian ia lalu diajak pergi oleh Bu Beng Lokai sebagai muridnya.

Kini Li Sian telah berusia dua puluh tahun, dan selama delapan tahun itu ia ikut bersama guru dan suci-nya (kakak seperguruannya) merantau, hidup menempuh kesulitan dan kekerasan serta kekurangan. Dan akhirnya, dua tahun yang lalu, gurunya menetap di dalam hutan di lereng bukit Pegunungan Cin-ling-San itu.

Li Sian, seperti juga Suma Lian, sangat sayang kepada gurunya, karena selain sebagai penyelamat dirinya, juga Bu Beng Lokai adalah satu-satunya orang yang melindungi dan menyayangnya. Seperti juga Suma Lian ia tidak menyebut suhu (guru) kepada Bu Beng Lokai, melainkan kongkong (kakek) dan hal ini diterima dengan senang oleh kakek itu karena dia merasa seolah-olah puteri menteri itu adalah seorang cucunya sendiri, seperti Suma Lian. Dan hubungan antara Suma Lian dan Pouw Li Sian juga akrab sekali karena mereka hidup berdua di bawah asuhan kakek sakti itu sehingga mereka seolah-olah dua orang kakak beradik saja.

Ketika melihat kakek itu makin lemah karena usia yang tua, sudah mendekati seratus tahun, nampak semakin malas dan lebih sering bersemedhi atau tidur, mulailah kedua orang kakak beradik seperguruan itu merasa khawatir. Akhirnya kakek yang gagah itu pun harus mengalah dan mengakui keunggulan sang waktu.

Segala sesuatu di dunia ini akan berakhir, sedikit demi sedikit akan lenyap ditelan sang waktu. Demikian pula kehidupan manusia. Sang waktu akan menelan manusia sedikit demi sedikit melalui usia. Tanpa terasa manusia mendapatkan dirinya makin tua, makin dekat dengan saat akhir di mana dia harus mengakui kelemahan dirinya, mengakui betapa kehidupan ini tidaklah abadi, dan kematian akan menjemputnya dan mengakhiri segala perjalanan hidupnya.

Ketika kakek itu lebih banyak berbaring dengan lemah, dan sering kali mengigau dalam tidur memanggil- manggil nama kedua anak kembarnya, Suma Lian lalu memberanikan diri mengajukan usul kepada kongkong-nya, setelah berunding dengan sumoi-nya, Li Sian.

“Kongkong, bagaimana kalau aku pergi ke Beng-san dan menemui kedua orang paman Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, memberi tahu mereka bahwa Kongkong berada di sini dan mengajak mereka untuk datang ke sini?” demikian usulnya sambil duduk di tepi pembaringan kakek itu, sementara itu Li Sian memijati kaki gurunya.

Kakek itu membuka matanya dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar, akan tetapi menjadi redup kembali, kemudian dia menghela napas panjang dan terdengar kata-katanya, seperti kepada diri sendiri, hanya lirih saja. “Ahhh, mereka tidak akan mau datang menengokku, mereka telah melupakan ayah mereka…“

Melihat, sikap kongkong-nya ini, Suma Lian lalu berunding dengan sumoi-nya dan Pouw Li Sian juga merasa setuju untuk mengundang putera kembar guru mereka itu. Akhirnya diputuskan bahwa Suma Lian akan pergi mengabarkan kepada Beng-san Siang-eng, sedangkan Pouw Li Sian tetap tinggal di rumah itu untuk menjaga dan melayani semua keperluan gurunya.

Setelah Suma Lian pergi dan pada suatu pagi Bu Beng Lokai menanyakan kepada Li Sian ke mana perginya suci-nya itu, Li Sian terus terang mengatakan bahwa suci-nya itu pergi ke Beng-san untuk mengundang Beng-san Siang-eng. Wajah kakek itu nampak berseri dan sinar matanya penuh harap sehingga diam-diam Li Sian merasa terharu dan bersyukur bahwa suci-nya mempunyai pendapat yang amat baik untuk mengundang kedua orang pendekar kembar itu.

Beberapa hari kemudian, Li Sian duduk di depan pondok bersama gurunya. Kakek Bu Beng Lokai nampak agak segar pagi itu, dan begitu merasa tubuhnya sehat, dia pun duduk di depan pondok untuk membiarkan sinar matahari pagi memandikan dirinya. Li Sian sudah selesai berlatih dan mencuci pakaian dan kini ia menemani kakek itu duduk di luar pondok. Kakek itu sudah sarapan bubur yang tadi dipersiapkan Li Sian dan gadis itu duduk di atas sebuah bangku kecil, di sebelah kanan gurunya yang membuka baju atas membiarkan sinar matahari menghangatkan dadanya.

“Saya gembira sekali, pagi ini Kongkong nampak sehat sekali,” berkata Li Sian sambil memandang kakek itu dengan sinar mata penuh hormat dan sayang.

Bu Beng Lokai memandang muridnya itu dan tersenyum. “Li Sian, aku sudah lama tidak melihat engkau berlatih. Sekarang cobalah engkau mainkan Lo-thian Sin-kun, aku ingin sekali melihat sampai di mana kemajuanmu.”

“Baik, Kongkong,” kata Li Sian.

Gadis ini bangkit berdiri lalu meloncat ke tengah pekarangan depan rumah itu, di dekat taman bunga yang dirawatnya dengan amat baik bersama suci-nya. Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun dan Lo-thian Kiam-sut memang merupakan dua buah ilmu silat tinggi yang telah disempurnakan oleh kakek itu dan merupakan inti dari pada ilmu-ilmu yang diajarkan kepada dua orang muridnya. Setelah memberi hormat dengan mengepal tangan kanan dilekatkan tangan kiri yang terbuka di depan ulu hati dan menghadap gurunya, Li Sian lalu bersilat.

Indah bukan main gerakan gadis ini. Orangnya memang cantik, bentuk tubuhnya indah. Tubuh seorang dara yang sedang masak-masaknya, dengan pinggang ramping dan lekuk lengkung tubuh yang sempurna, penuh sifat kehalusan dan kelembutan seorang wanita, maka gerakan silat itu sungguh amat indah. Memang Bu Beng Lokai yang sudah mendalami ilmu silat sampai ke intinya, menekankan segi-segi terpenting dari ilmu silat.

Di dalam gerakan ilmu silat terkandung seni tari yang indah, gerakan tubuh demikian hidup dan penuh keindahan, juga mengandung seni olah raga yang menyehatkan tubuh sebab gerakan-gerakan itu memperlancar jalan darah bahkan mengendalikan hawa dan tenaga sakti dalam tubuh. Selain seni tari dan olah raga, juga mengandung pengaruh menyehatkan batin di samping ilmu bela diri.

Permainan Li Sian memang indah sekali, juga gerakannya mantap, setiap pukulan atau tangkisan mengandung tenaga yang nampaknya halus namun sesungguhnya amat kuat karena gadis ini pun sudah menguasai penggunaan Tenaga Inti Bumi, bahkan sudah mahir pula mempergunakan Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang dari Pulau Es!

Kecepatannya mengagumkan sehingga diam-diam Bu Beng Lokai mengangguk-angguk bangga. Keindahan, kecepatan, kekuatan, tiga hal ini sudah terwujud dalam ilmu silat yang dimainkan Li Sian.

“Ambil ranting dan pergunakan sebagai pedang, mainkan Lo-thian Kiam-sut,” kata Bu Beng Lokai.

Tubuh gadis itu tiba-tiba berkelebat ke atas, ke arah sebatang pohon di tengah taman bunga dan ketika berkelebat kembali ke depan gurunya, ia sudah memegang sebatang ranting pohon. Sekali menggerakkan ranting itu, daun-daun yang melekat di situ rontok dan mulailah ia memainkan ilmu pedang yang diminta gurunya. Seperti juga ilmu silat tangan kosong yang tadi dimainkan dengan halus namun dengan kecepatan yang luar biasa, membuat tubuhnya lenyap terbungkus sinar hijau dari ranting itu, sinar bergulung-gulung yang menyelimuti tubuhnya!

Melihat kemajuan muridnya ini, timbul kegembiraan hati Bu Beng Lokai dan tiba-tiba dia sudah bangkit berdiri. “Li Sian, mari kita latihan bersama!” katanya gembira.

Dan kakek itu sudah meloncat memasuki gulungan sinar pada ranting pohon yang dimainkan sebagai pedang oleh gadis itu. Dia mainkan kedua tangannya dan kakinya bergerak dalam langkah-langkah ajaib Sam-po Ci-keng dan melihat ini, Li Sian girang bukan main. Ini menandakan bahwa gurunya itu telah sehat benar!

Maka, ia pun melayani gurunya dan mereka berlatih bersama. Biar pun sudah tua dan baru saja sembuh dari keadaan tidak sehat, namun begitu tubuhnya bergerak dalam permainan silat, tubuh itu seperti mendapatkan kekuatan baru dan gerakannya lincah dan kuat! Li Sian juga bersilat dengan sungguh- sungguh, berusaha untuk mengalahkan gurunya.

Namun, biar gurunya sudah sangat tua, bagaimana pun juga dia kalah jauh dalam hal kematangan ilmu silat dan pengalaman. Tiba-tiba ujung ranting yang dimainkan sebagai pedang itu dapat tertangkap oleh tangan kanan kakek itu. Li Sian mengerahkan tenaga untuk merampas kembali senjatanya, kakek itu mempertahankan.

“Krekkk!” Ranting itu patah-patah dan keduanya melompat ke belakang. Wajah Li Sian berubah merah. “Wah, Kongkong sudah sehat benar, sudah mampu mengalahkan saya dengan amat mudah!” kata Li Sian. Bu Beng Lokai berkata setelah menghapus peluhnya yang membasahi tubuh atas itu dengan bajunya.
“Li Sian, pada saat lawan berhasil menangkap senjata, kesempatan itulah yang teramat baik untuk menyerangnya. Biarkan ia kegirangan karena berhasil menangkap senjatamu sehingga dia lengah. Dan pada detik itu pula muncul kesempatan yang teramat baik untuk merobohkannya.”

“Maksud Kongkong, saya tidak seharusnya mengerahkan tenaga untuk coba merampas kembali senjata yang sudah tertangkap, tetapi menggunakan saat itu untuk menyerang lawan dengan tangan kiri?”

Kakek itu mengangguk. “Benar, tertangkapnya senjatamu merupakan pancingan yang tidak disengaja dan dapat berhasil baik. Lawan akan lengah dan saat itu engkau dapat mempergunakan tangan kiri atau kakimu untuk menyerangnya. Ini berarti membiarkan kemenangan datang melalui kekalahan. Kelihatannya saja engkau sudah kalah karena senjatamu tertangkap, akan tetapi kekalahan itu justru membuka kesempatan bagimu untuk memperoleh kemenangan. Mengertikah engkau?”

“Saya mengerti, Kongkong.”

“Nah, bagus. Bagaimana pun juga, engkau sudah memperoleh kemajuan yang cukup baik. Tentu selama aku mengaso dan tak mampu mengawasimu, engkau terus berlatih dengan giat.”

“Ahhh, betapa pun kerasnya saya berlatih, masih sukar bagi saya untuk mengimbangi kemajuan suci, Kongkong.”

Kakek itu tersenyum. “Bukan salahmu. Suma Lian memang berbakat sekali, dan selain itu, ingatlah bahwa ia keturunan langsung dari ayah mertuaku, Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es! Bahkan ayah ibunya juga merupakan sepasang pendekar yang sakti. Sejak kecil ia sudah digembleng ayah ibunya dan ketika ia menjadi muridku, ia telah memiliki dasar yang kuat sekali, berbeda dengan engkau yang ketika itu belum pernah mempelajari ilmu silat sama sekali. Ilmu kepandaian silat mendiang ayahmu, Menteri Pouw Tong Ki itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu silat ayah ibu Suma Lian. Ketahuilah, Li Sian, bahwa ilmu-ilmu dari Pulau Es amat tinggi dan karenanya tidak mudah dikuasai dengan sempurna. Misalnya saja Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang yang pernah kau latih itu, kiranya sekarang sukar mencari orang yang mampu menguasainya sesempurna mendiang ayah mertuaku! Mungkin hanya Suma Ceng Liong ayah Suma Lian saja yang saat ini memiliki tingkat paling tinggi dalam hal ilmu silat keluarga Pulau Es. Akan tetapi, bekalmu sudah lebih dari cukup. Kalau engkau giat berlatih dan ditambah pengalaman-pengalamanmu nanti, kiranya engkau tidak akan tertinggal terlalu jauh. Eh, mengapa Suma Lian belum juga pulang?”

Li Sian masih duduk bersila di atas batu datar untuk mengatur pernapasan, memulihkan tenaga setelah latihan tadi. Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, ia pun menjawab. “Menurut perhitungan Lian-suci, mestinya kemarin ia sudah pulang. Saya kira hari ini ia akan pulang, Kongkong.”

Kakek itu mengangguk-angguk, lalu duduk bersila pula di atas batu datar lain yang banyak terdapat di pekarangan itu. “Aku harus mengaso, sedikit latihan tadi melelahkan tubuhku, akan tetapi juga amat menggembirakan dan memberi semangat,” katanya.

Dan tidak lama kemudian, Bu Beng Lokai sudah tenggelam dalam semedhinya…

Belum satu jam mereka berlatih semedhi, baru saja Li Sian bangkit dari duduknya untuk melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari jauh.

“Kongkong…! Sumoi…! Aku datang…!”

Suara suci-nya, Suma Lian, siapa lagi! Suara itu demikian nyaring dan bening, seperti kepingan perak atau emas berdencing, mendatangkan kecerahan dan kegembiraan.

Li Sian cepat memandang dan ia melihat suci-nya datang berjalan bersama dua orang laki-laki yang usianya mendekati enam puluh tahun, sikap mereka gagah. Selain dua orang kakek yang wajah dan tubuhnya sangat serupa itu, nampak pula seorang wanita cantik berusia hampir empat puluh tahun dan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun. Ia pun segera tahu siapa mereka dan dengan girang ia lalu berseru kepada gurunya.

“Kongkong, mereka telah datang!”

Bu Beng Lokai membuka matanya, akan tetapi tidak turun dari atas batu datar karena nampaknya masih lelah. Dia hanya memandang ke arah rombongan yang kini sedang menghampiri tempat itu.

Ketika Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong melihat kakek tua renta yang tidak berbaju duduk di atas batu datar, nampak tua dan lelah serta lemah, mereka merasa jantung mereka seperti ditusuk-tusuk dan keduanya lalu berlari menghampiri sambil menangis, menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu dan mereka menangis mengguguk seperti dua orang anak kecil.

“Ayah… bertahun-tahun kami mencari Ayah tanpa hasil,“ kata Gak Jit Kong. “Ayah, ampunkan semua dosa kami, Ayah…“ kata pula Gak Goat Kong.
Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng mencoba untuk tersenyum dan kedua tangannya menyentuh kepala dua orang yang berlutut di depannya. Matanya basah dan suaranya lirih gemetar ketika dia berkata, “Anak- anakku… anak-anakku… mana dia, isterimu dan apakah kalian mempunyai keturunan?”

Hui Lian sejak tadi sudah menarik tangan puteranya dan berlutut tidak jauh dari situ. Mendengar ucapan ini, ia pun bergeser maju sambil menggandeng tangan puteranya. Ia telah menangis semenjak tadi melihat betapa dua orang suaminya mengguguk dalam tangisnya di depan kaki ayah mertuanya itu.

“Ayah… saya Souw Hui Lian mantumu yang hina dan bodoh dan ini adalah Gak Ciang Hun, anak tunggal kami…”

Gak Bun Beng memandang mereka. “Anak baik, engkau telah membahagiakan kedua anak-anakku… terima kasih… dan cucuku… ke sinilah, cucuku…“

Gak Ciang Hun sudah sering mendengar dari kedua ayahnya tentang kakeknya yang dikatakan memlliki ilmu kepandaian amat tinggi seperti dewa, maka sejak tadi dia sudah memandang dengan kagum, juga agak jeri. Mendengar kini kakek itu memanggilnya, dia pun cepat maju menghampiri.

“Cucuku… ahh, sudah begini besar, cucuku…!” Dia mencoba untuk bangkit akan tetapi terhuyung.

Suma Lian, juga dua orang puteranya cepat meloncat untuk menolongnya, akan tetapi kakek itu menolak mereka dan berkata,

“Biarkan aku dengan cucuku sendiri!” Suaranya tegas sehingga Suma Lian dan Li Sian mundur kembali.

Suma Lian dan Li Sian hanya saling pandang dengan alis berkerut dan pandang mata khawatir. Mereka tahu benar bahwa guru mereka, juga kakek mereka itu berada dalam keadaan yang tidak sehat dan lemah, bukan hanya karena penyakit, tetapi terutama karena usia tua.

Sementara itu, Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng telah menggandeng tangan cucunya, diajak memasuki ruangan latihan silat. Kedua orang saudara kembar Gak bersama isteri mereka, juga Suma Lian dan Li Sian, hanya mengikuti dari belakang.

Setelah tiba di ruangan latihan silat, kakek Gak Bun Beng lalu berkata kepada cucunya, “Ciang Hun, engkau tentu telah dilatih silat oleh orang tuamu. Nah, perlihatkan kepada kakekmu ini sampai di mana kemampuanmu.”

Ciang Hun memang sejak kecil digembleng oleh kedua orang ayahnya dan seorang ibunya. Sebetulnya dia malu dan khawatir ditegur kakeknya karena di depan kakeknya yang kabarnya sakti itu tentu kepandaian silatnya masih belum ada artinya. Akan tetapi dia pun tidak berani membantah, melangkah ke tengah ruangan dan setelah memberi hormat, dia pun lalu bersilat, mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat dasar Lo- thian Sin-kun. Gerakannya cukup gesit dan penggunaan tenaga yang tepat, sesuai dengan usianya.

Melihat ini, agaknya Bu Beng Lokai cukup puas. Biar pun tidak mempunyai bakat yang terlalu menonjol, akan tetapi Ciang Hun cukup baik, bahkan kelak tingkatnya dapat lebih tinggi dari pada orang tuanya kalau rajin berlatih.

“Nah, sekarang duduklah bersila di situ, cucuku,” kata kakek itu. Dia pun menghampiri cucunya yang duduk bersila itu. “Buka bajumu!”

Ciang Hun merasa heran akan tetapi tak berani membantah dan anak itu pun membuka bajunya. Kakek itu lalu duduk bersila di belakang cucunya. Melihat ini, Suma Lian dan Li Sian dapat menduga apa yang akan dilakukan guru mereka dan keduanya merasa amat khawatir.

“Kongkong…!” Mereka berdua berseru lirih.

Kakek itu menoleh kepada mereka, lalu tersenyum. “Lian dan Sian, kalian berdua telah menerima semua ilmuku dan kurasa sudah cukup bagi kalian untuk mempergunakan ilmu-ilmu itu untuk berjaga diri dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Aku tak punya apa-apa lagi untuk diwariskan kepada cucuku, maka semua yang ada padaku akan kutinggalkan kepadanya.”

“Akan tetapi, Kongkong sedang sakit…,“ bantah Suma Lian.

“Dan Kongkong baru saja berlatih dan dalam keadaan lelah…,“ sambung Li Sian, sama khawatirnya dengan suci-nya.

“Sudahlah, harap kalian jangan khawatir. Jika tidak sekarang saatnya, mau kapan lagi? Hanya inilah yang dapat kulakukan untuk cucuku, dan tentang mati hidup, hal itu adalah urusan Tuhan!”

Setelah berkata demikian, kakek itu menempelkan kedua tapak tangannya di punggung cucunya dan matanya terpejam. Melihat ini, barulah kedua orang bersaudara kembar Gak itu dan isteri mereka tahu apa yang akan dilakukan ayah mereka, dan mereka pun memandang dengan khawatir, akan tetapi tidak berani menghalangi.

“Kendurkan seluruh urat-urat tubuhmu, cucuku, dan jangan melawan. Terima saja hawa panas yang memasuki tubuhmu,” kakek itu berbisik dan dia pun segera mengerahkan sinkang-nya untuk disalurkan ke dalam tubuh cucunya!

Biar pun usianya baru sepuluh tahun, sebagai putera pendekar, Ciang Hun sudah tahu apa yang sedang dilakukan oleh kakeknya. Tentu kakeknya akan menyalurkan tenaga sinkang, memindahkan tenaga sakti itu kepadanya. Diam-diam dia merasa girang bukan main walau pun hatinya tegang karena dia belum pernan merasakan hal ini dan dia pun maklum bahwa pengoperan tenaga sakti itu dapat membahayakan dirinya sendiri kalau dia tidak mentaati sepenuhnya. Maka dia pun mengendorkan semua urat di tubuhnya dan menghentikan semua pikiran seperti dalam latihan semedhi.

Tidak lama kemudian anak itu merasakan betapa ada hawa yang mula-mula hangat memasuki tubuhnya. Hawa itu makin lama makin panas, masuk makin banyak sampai memenuhi tubuhnya dan berputaran.

Kepalanya mulai terasa pening, keringatnya keluar di seluruh tubuhnya dan hampir saja dia tidak kuat menahan.

Namun Ciang Hun mematikan semua rasa dan pasrah. Hawa yang tadinya amat panas itu kemudian menjadi hangat kembali, makin lama makin berkurang panasnya, bahkan menjadi dingin dan semakin dingin sampai Ciang Hun menggigil dan giginya berbunyi. Akan tetapi anak itu tetap diam dan dapat mempertahankan kebekuan yang menyerang dari dalam itu! Dia lapat-lapat mendengar seruan-seruan khawatir dari dua orang gadis murid kakeknya, akan tetapi tidak dipedulikan.

Rasa dingin luar biasa itu makin lama semakin berkurang dan akhirnya kembali hangat seperti semula. Akan tetapi dia merasa tengkuknya panas sekali dan ada hembusan panas meniup tengkuknya dari luar yang membuatnya sadar dari semedhinya. Kini dia mendengar betapa hembusan napas panas itu keluar dari mulut dan hidung kakeknya yang kini terdengar terengah-engah. Kedua tangan kakeknya yang tadi tertempel di kulit punggungnya, kini terlepas.

“Kongkong…!” Terdengar Suma Lian dan Li Sian berseru.

“Ayah…!” Kedua ayahnya juga berteriak dan mereka sudah berlutut mendekat.

Ciang Hun mencoba berdiri, akan tetapi kepalanya menjadi pening seketika dan tentu dia sudah terguling roboh jika saja tidak ada ibunya yang cepat merangkulnya. Ibu dan anak itu berangkulan memandang pada kakek itu yang ternyata telah roboh terlentang dengan muka pucat dan napas terengah-engah, akan tetapi mulutnya yang setengah terbuka itu nampak tersenyum!

“Kongkong… ahhh, mengapa engkau melakukan ini?” Suma Lian nampak meraba dada gurunya.

“Kongkong, kenapa engkau memaksa diri…?” Li Sian juga meraba pundak gurunya dan ia pun mulai menangis.

Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong saling pandang. Mereka pun telah tahu bahwa ayah mereka tadi sudah memindahkan sinkang ke tubuh putera mereka. Akan tetapi hal ini amat memeras tenaga kakek itu yang sedang dalam keadaan lemah dan lelah.

“Ayah… kembali kami yang datang hanya menyusahkan Ayah saja,” kata Goat Kong menyesal.

“Ayah, kami tidak pernah melakukan sesuatu yang menyenangkan hatimu, akan tetapi Ayah telah mewariskan sinkang kepada Ciang Hun dengan mengorbankan diri…!” kata pula Gak Jit Kong.

Kakek itu dengan lemah membuka kedua matanya. Dengan napas terengah-engah dia tersenyum, memandang kepada mereka yang merubungnya.

“Aku puas… aku tak dapat meninggalkan apa-apa… latihlah ia dengan Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang… dia… dia akan kuat sekali… ahh, sayang aku harus mati dalam keadaan lemah! Kalau saja ada datuk sesat datang agar dapat kulawan dia dan aku mati dalam perkelahian! Sayang… tapi… ahhh, lihat itu… ibu kalian datang… Milana… tungguuu…!” Kakek itu seperti hendak bangkit duduk, akan tetapi terkulai kembali dan napasnya pun berhenti.

Tiga orang wanita itu menjerit dan menangis. Dua orang saudara kembar Gak saling pandang dan membiarkan mereka itu menangis sepuasnya, kemudian mereka berkata dengan suara penuh penyesalan.

“Ahhh, semua ini kesalahan kami. Kedatangan kami hanya memperpendek usia ayah kami…“ Mendengar ini, Suma Lian dan Li Sian menghentikan tangis mereka.
Suma Lian memandang mereka dengan mata basah. “Tidak perlu penyesalan itu, kedua Paman. Kedatangan Paman sekeluarga adalah atas kehendak mendiang kongkong, dan agaknya memang sudah tiba saatnya bagi kongkong kembali ke alam baka. Juga, pewarisan sinkang tadi hanya merupakan jalan belaka yang semuanya sudah dipastikan dan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.”

Mereka lalu mengurus jenazah kakek Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng, menantu pertama dari Pendekar Super Sakti. Atas pesan kakek itu sendiri kepada dua orang muridnya, maka jenazah itu lalu dibakar dengan upacara sederhana.

Sungguh menyedihkan hati kedua orang puteranya mengingat betapa kakek itu, ayah mereka, yang dahulu menjadi seorang pendekar besar yang pernah mengguncangkan dunia kang-ouw, kini meninggal dunia serta diperabukan tanpa ada yang menghadiri, kecuali kedua puteranya, mantunya, cucunya, dan dua orang muridnya, di tempat yang amat sunyi itu. (riwayat Gak Bun Beng diceritakan dengan lengkap dalam kisah Sepasang Pedang Iblis).

Setelah jenazah menjadi abu, kedua orang kembar Gak lalu membawa abu jenazah ayah mereka untuk dikebumikan di Puncak Telaga Warna, bekas tempat tinggal ayah mereka itu. Mereka segera berpamit dari Suma Lian dan Li Sian, pulang bersama isteri mereka dan Ciang Hun yang masih merasa agak pening dan kadang-kadang mengeluh akibat tubuhnya merasakan betapa tenaga yang amat besar membuat dia panas dingin. Kedua orang ayahnya harus sebentar-sebentar berhenti dalam perjalanan mereka untuk membiarkan anak itu berlatih siu-lian dan memberi petunjuk untuk membiarkan tenaga sakti itu mengeram di dalam tan-tian (pusar di dalam perut) dan tenang di situ sampai kelak dapat dipergunakan kalau anak itu sudah mampu mengendalikannya.

Tinggallah dua orang gadis itu yang merasa kesepian. Mereka masih tinggal di pondok bekas tempat tinggal guru mereka sampai tiga hari tiga malam. Betapa pun juga, dua orang gadis ini telah tinggal bertahun-tahun di tempat sunyi dan indah itu, dan di antara mereka telah terdapat pertalian kasih sayang seperti saudara kandung saja, mengalami suka duka bersama di tempat sunyi itu sehingga mereka merasa berat untuk saling berpisah.

Juga mereka merasa terharu dan sangat berat untuk meninggalkan tempat itu yang tak mungkin kiranya akan mereka datangi lagi, mengingat bahwa kakek dan juga guru mereka kini telah tiada, bahkan abunya juga sudah dibawa pergi oleh dua orang kembar Gak yang lebih berhak.

Guru mereka tidak meninggalkan apa-apa kecuali ilmu kepandaian. Sedikit pakaian dan sepatu. Barang- barang yang dipakai Bu Beng Lokai sehari-hari, telah diikutkan bersama jenazah ketika dibakar. Yang masih tersisa hanyalah batu datar yang hitam mengkilat bekas tempat orang tua itu duduk bersemedhi. Saking merasa kehilangan, selama tiga hari tiga malam itu, bergantian Suma Lian dan Li Sian duduk bersemedhi di bekas tempat duduk guru mereka ini, sambil mengenang segala budi kebaikan orang tua itu kepada mereka.

Setelah tiga hari tiga malam, dua orang gadis perkasa itu menyadari bahwa tidak ada manfaatnya membiarkan diri tenggelam dalam buaian perasaan yang penuh keharuan, kehilangan, duka yang timbul dari iba diri. Mereka lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

Suma Lian berkata dengan suara yang berat kerena bagaimana pun juga, ia merasa berat untuk berpisah dari sumoi-nya yang dianggap seperti adiknya sendiri itu. “Sumoi, hari ini kita harus meninggalkan tempat ini, tidak ada gunanya tinggal lebih lama di sini.”

“Engkau benar, Suci, aku pun berpikir demikian. Lalu… ke mana kita akan pergi, Suci?” Li Sian mulai bingung karena ia tak mempunyai tujuan tertentu, tidak tahu harus pergi ke mana karena orang tuanya sudah tiada.

“Aku sendiri akan pulang ke rumah orang tuaku di dusun Hong-cun. Dan bagaimana dengan engkau, Sumoi?”

“Aku…? Aku… entah akan pergi ke mana…?” kata Li Sian dan melihat wajah sumoi-nya menjadi sedih, Suma Lian segera merangkul dan mencium pipinya.

“Ahh, aku lupa bahwa engkau tidak mempunyai keluarga lagi, adikku. Nah, bagaimana kalau engkau pergi bersamaku, ikut dengan aku ke rumah orang tuaku? Kita tinggal bersama di sana, alangkah akan senangnya…!”

Akan tetapi Li Sian tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Terima kasih, Suci, Engkau baik sekali dan tidak ada kesenangan di dunia ini yang melebihi kalau aku dapat tinggal serumah denganmu. Akan tetapi, aku tidak ingin mengganggu ayah bundamu dengan kehadiranku dan…”

“Ahh, mereka pasti akan senang sekali menerimamu, Sumoi. Bukankah engkau sudah kuanggap seperti adikku sendiri? Bahkan, aku akan mohon kepada ayah ibuku untuk mengangkatmu sebagai anak mereka, dan engkau menjadi adik angkatku!”

Kini Li Sian yang merangkul suci-nya dan kedua matanya basah ketika ia memandang kepada suci-nya. “Suci, terima kasih. Engkau sungguh baik sekali dan percayalah, aku pun sudah menganggap engkau seperti kakak kandungku sendiri! Akan tetapi, biar pun ayah bundaku sudah tidak ada, akan tetapi engkau tahu bahwa aku masih mempunyai empat orang kakak laki-laki yang ketika terjadi keributan itu, ditawan oleh pemerintah. Biarlah aku akan mencari mereka terlebih dahulu, siapa tahu ada di antara mereka yang dapat kutemukan. Mereka merupakan satu-satunya keluargaku terdekat yang kumiliki. Aku akan mencari mereka, dan kalau gagal, barulah aku akan menyusulmu ke dusun Hong-cun, Su-ci.”

Suma Lian mengangguk-angguk, mengerti dan menyetujui. Pada hari itu juga mereka turun gunung, kemudian berpisah di jalan persimpangan. Suma Lian menuju ke selatan, sedangkan Li Sian menuju ke utara. Dua orang saudara seperguruan yang berangkat dewasa bersama-sama ini baru berpisah setelah mereka saling rangkul sampai sekian lama tanpa kata-kata. Kemudian keduanya berpisah dan berlari cepat dengan kedua mata basah…..

********************

Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui, tinggal di kota Pao-teng, di sebelah selatan kota raja. Bekas panglima Kao ini berdagang rempah-rempah, dan terlihat sebagai pedagang biasa saja bagi mereka yang tidak mengenalnya. Akan tetapi, dunia kang-ouw tahu belaka siapa sesungguhnya pria yang kini usianya telah lima puluh delapan tahun tetapi masih nampak gagah perkasa itu. Juga siapa kira isterinya sendiri yang telah mendekati usia lima puluh tahun namun masih nampak lincah dan jauh lebih muda dari usianya, tubuhnya masih tegap dan ramping, dulu adalah seorang wanita kang-ouw pula.

Tidaklah mengherankan kalau suami isteri ini nampak lebih muda dan sehat, karena mereka adalah suami isteri pendekar yang sesungguhnya mempunyai ilmu kepandaian tinggi sekali dan jarang dapat menemukan tandingan di masa itu!

Kao Cin Liong adalah putera tunggal dari penghuni Istana Gurun Pasir, putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan dia pernah menjadi seorang panglima muda yang amat berjasa memadamkan banyak api pemberontakan di selatan dan barat. Ada pun isterinya, Suma Hui, juga bukanlah wanita sembarangan. Dari nama keturunannya juga dapat diduga bahwa dia adalah keturunan keluarga pendekar Pulau Es, dan sesungguhnya ia masih cucu dalam dari Pendekar Super Sakti, penghuni Istana Pulau Es.

Sebetulnya, dengan tingkat ilmu kepandaian silat mereka yang sangat tinggi dan lihai, mereka menjadi guru-guru yang cukup baik untuk anak tunggal mereka, yang bukan lain adalah Kao Hong Li. Hanya karena Kao Hong Li merupakan anak tunggal yang manja, maka ayah ibunya tidak terlalu menekan, meski mereka tetap memberikan gemblengan ilmu silat tingkat tinggi.

Karena itu, setelah kini berusia dua puluh tahun lebih, Kao Hong Li menjadi seorang gadis dewasa yang sangat tangguh. Walau pun tingkat kepandaiannya tidak setinggi ayahnya karena kadang-kadang ia malas berlatih dan orang tuanya tidak menekannya, namun setidaknya ia sudah mampu mengimbangi tingkat kepandaian ibunya!

Kao Hong Li merupakan seorang gadis yang cantik dan cerdik. Ia manis seperti ibunya, dengan wajah bulat telur dan sepasang matanya amat menarik, mungkin memiliki daya tarik terbesar di antara semua kecantikannya. Mata itu lebar dan jeli, dengan bulu mata yang panjang dan lentik, serta dihiasi sepasang alis yang hitam lebat, kecil dan panjang melengkung seperti dilukis saja. Ia lincah dan galak seperti ibunya, cerdik dan pandai bicara seperti ibunya pula, dan gagah perkasa tak mengenal takut seperti ayahnya.

Ada satu hal yang membuat suami isteri itu akhir-akhir ini agak murung kalau teringat, yaitu bahwa sampai kini berusia dua puluh tahun lebih, puteri mereka itu masih belum mau juga dicarikan jodoh! Setiap kali mereka membicarakan urusan jodoh, gadis itu lalu cemberut dan marah-marah, tidak mau mendengarkan dan lari ke dalam kamarnya. Jika Suma Hui melakukan pendekatan dan menyusul ke dalam kamarnya, Kao Hong Li akan mencela ibunya.

“Mengapa Ibu dan Ayah selalu mendorongku untuk menikah? Apa Ayah dan Ibu sudah bosan dan tidak suka kepadaku, ingin melihat aku pergi dari rumah ini dan mengikuti suami?”

Ibunya segera merangkul dan tersenyum. “Hushhh! Bagaimana engkau dapat berkata demikian, Hong Li? Ayah dan ibumu sayang kepadamu, mana bisa bosan dan tak suka? Kalau kami membujukmu untuk menikah, bukankah hal itu sudah wajar? Ingat, usiamu kini sudah mendekati dua puluh satu tahun. Mau tunggu apa dan kapan lagi? Biasanya, seorang gadis akan menikah dalam usia antara enam belas sampai dua puluh tahun, dan engkau sudah hampir dua puluh satu…”

“Ibu sendiri, berapa umur Ibu pada waktu menikah dengan Ayah?” Inilah senjata yang digunakan Hong Li kalau ibunya mendesak dengan alasan usia.

Suma Hui hanya menarik napas panjang. “Lain lagi dengan aku, anakku. Memang aku menikah dengan ayahmu ketika sudah berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, akan tetapi…”

“Nah, aku pun tidak tergesa-gesa. Bagaimana pun juga, aku tidak mau menikah dengan seorang laki-laki yang asing bagiku, yang tidak kusuka!”

“Hemmm, kau maksudkan, engkau hanya akan menikah dengan seorang pemuda yang kau cinta?” Wajah Hong Li berubah merah, tetapi dia menjawab juga, “Bukankah begitu sebaiknya Ibu?”
Suma Hui menghela napas lagi dan mengangguk. “Yah, memang demikian sebaiknya. Tetapi, kapan engkau akan bertemu dengan seorang pemuda yang kau cinta? Atau… apakah sudah ada pemuda itu?” tanyanya penuh harap.

Wajah itu menjadi semakin merah dan cepat Hong Li menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, Ibu! Mana ada pemuda yang seperti kuidamkan dan yang pantas kucinta di tempat ini? Yang ada hanya pemuda brengsek, tukang jual lagak, pamer kekayaan dan pangkat ayahnya, menyebalkan!”

“Hemmm, jangan begitu anakku. Habis, pemuda macam apa yang kiranya akan dapat menundukkan hatimu?”

“Dia harus seperti ayah, memiliki ilmu silat dan ilmu surat yang tinggi, setidaknya dapat mengalahkan atau mengimbangi kepandaianku. Ia harus pula gagah perkasa, pembela kebenaran, dan harus… harus orang yang dapat menimbulkan kekaguman dan rasa suka di dalam hatiku!”

Diam-diam Suma Hui terharu. Betapa sama benar keinginan anaknya dengan keinginan hatinya sendiri ketika ia masih gadis! Dan bukankah setiap gadis juga menginginkan hal seperti itu? Bagaimana ia dapat menyalahkan puterinya?

“Akan tetapi Hong Li, dengan ilmu silatmu seperti sekarang ini, kiranya di dunia ini tidak ada banyak pemuda yang akan mampu menandingimu!”

“Tentu ada, Ibu. Kalau memang sudah kutemukan yang cocok dengan hatiku, aku juga dapat mengalah…“

Suma Hui tertawa dan merangkul anaknya. Mengertilah dia. Ketinggian ilmu itu bukan merupakan syarat mutlak, melainkan kalau ada perasaan cinta di dalam hati puterinya, tentu puterinya itu akan mengalah terhadap pemuda yang dicintanya!

“Aihhh, Hong Li, aku hanya mendoakan semoga engkau akan segera bertemu dengan jodohmu. Ingatlah, kini ayah ibumu sudah mulai tua dan kami sungguh mendambakan seorang cucu darimu.”

“Ihhh, Ibu!” kata Hong Li dan dia pun merebahkan dirinya menelungkup dan menutupi telinganya dengan bantal. Ibunya tertawa dan meninggalkan kamar puterinya untuk menghibur suaminya, menceritakan percakapannya dengan Hong Li.

Meski demikian, tetap saja suami isteri itu merasa kecewa karena mereka tidak melihat kemungkinan puteri mereka akan bisa bertemu dengan jodohnya dalam waktu dekat. Kalau puterinya hanya tinggal di rumah saja, di kota Poa-teng yang tidak berapa besar, bagaimana mungkin dia bertemu dengan seorang pemuda yang sepadan menjadi calon jodohnya?

“Aihh, kalau aku teringat kepada murid adikmu itu, rasanya aku akan suka kalau dia menjadi calon mantu kita,” kata Kao Cin Liong kepada isterinya.

“Kau maksudkan Gu Hong Beng, murid Suma Ciang Bun itu? Hemmm, dia memang baik, dan tentang ilmu silat, tentu masih di bawah tingkat anak kita. Akan tetapi, kita tidak tahu dia berada di mana sekarang!

Ciang Bun tidak pernah singgah di sini dan tak pernah memberi kabar sekarang berada di mana. Sudahlah, jodoh sudah diatur oleh Tuhan, kita tinggal berdoa saja.”

Kao Cin Liong kembali menarik napas panjang. “Sebaiknya kalau aku membawa dia melakukan perjalanan, berkunjung ke kakek dan neneknya.”

“Di gurun pasir?”

“Ya, ayah dan ibu sudah sangat tua, sayang bahwa mereka tidak mau kita ajak tinggal di sini. Siapa tahu dari mereka aku akan mendapatkan petunjuk tentang jodoh anak kita, dan aku pun sudah rindu kepada mereka.”

“Habis toko kita bagaimana? Kalau ditutup terlalu lama, tentu kita akan kehilangan para langganan.”

“Karena itu, biarlah aku seorang saja yang mengajak Hong Li pergi ke utara. Engkau mengurus toko, isteriku.”

Sebetulnya Suma Hui juga ingin ikut, akan tetapi dia merasa sayang meninggalkan tokonya yang mulai maju, maka ia pun akhirnya setuju. “Asal kalian pergi jangan terlalu lama.”

Akan tetapi, sebelum mereka memberi tahukan Hong Li tentang maksud Kao Cin Liong, pada sore hari muncullah seorang pemuda di rumah mereka. Pemuda yang berpakaian serba putih, berusia dua puluh dua tahun, bersinar mata lembut dan wajah cerah ramah, juga bersikap sopan santun. Begitu Kao Cin Liong dan isterinya menyambut, pemuda itu segera memberi hormat kepada Kao Cin Liong.

“Suheng, saya datang menghadap…”

Tentu saja Cin Liong kaget dan heran. Dia lupa lagi kepada Tan Sin Hong yang pernah dilihatnya ketika pemuda itu masih remaja. Akan tetapi karena satu-satunya orang di dunia ini yang menyebutnya suheng hanya seorang, yaitu pemuda remaja yang pernah dilihatnya menjadi murid ayah ibunya di gurun pasir itu, dan kedua yang menyebutnya suheng adalah seorang wanita bernama Can Bi Lan yang pernah menjadi murid ayah ibunya pula, dia pun segera dapat menduga siapa pemuda itu.

“Engkau Tan Sin Hong?” “Benar, Suheng.”
“Ah, kau telah menjadi seorang pemuda dewasa sekarang. Masuklah, dan perkenalkan, ini isteriku.”

Sin Hong segera memberi hormat dengan sikap sopan kepada Suma Hui yang juga telah pernah diceritakan oleh suaminya bahwa di gurun pasir terdapat seorang pemuda remaja yang menjadi murid ayah bundanya. Wanita ini menerima penghormatan sute suaminya itu sambil mengamati dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Ia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini seorang yang berjiwa sederhana, tercermin dari keadaan pakaiannya dan gerak-geriknya, sopan dan rendah hati, tidak menonjolkan diri walau pun dia sebagai murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya tentu telah memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Wajah pemuda itu sedang saja, tidak buruk akan tetapi juga tidak terlalu tampan. Mata yang bersinar lembut dan mulut yang selalu tersenyum ramah itu sangat menarik, juga sepasang mata lembut itu kadang- kadang mengeluarkan sinar yang mencorong, tanda bahwa dalam diri pemuda ini ada suatu kekuatan yang dahsyat.

Pemuda itu dipersilakan duduk di ruangan dalam. Pada saat itu, muncullah Kao Hong Li. Melihat bahwa orang tuanya menerima tamu pria yang disangkanya tentulah seorang yang datang untuk urusan dagang rempah-rempah, dia hanya menjenguk keluar pintu dan hendak masuk ke belakang lagi. Akan tetapi ayahnya memanggilnya.

“Hong Li, ke sinilah dan bertemu dengan Susiok-mu!”

Mendengar kata-kata ayahnya ini, Hong Li lalu memandang heran. Ia memang pernah mendengar dari ayahnya, ketika ayahnya itu berkunjung ke gurun pasir, bahwa ayahnya mempunyai seorang adik seperguruan yang sedang belajar di gurun pasir. Akan tetapi, tidak disangkanya bahwa susiok-nya (paman guru) itu adalah seorang laki-laki yang masih demikian mudanya, kiranya tidak banyak selisihnya dengan usianya sendiri. Akan tetapi ia pun segera memasuki ruangan itu, menghampiri meja di mana Sin Hong duduk berhadapan dengan Kao Cin Liong dan Suma Hui.

Melihat ada seorang gadis yang cantik dan gagah, Sin Hong cepat bangkit berdiri dari tempat duduknya.

Hong Li segera memberi hormat dan berkata dengan jujur, “Inikah Susiok dari gurun pasir? Tak kusangka masih begini muda!”

Sin Hong membalas penghormatan itu, tidak seperti seorang paman, melainkan seperti orang yang seusia, dan menjawab, “Aku sungguh merasa terlalu tinggi untuk menjadi susiok-mu, Nona.”

Kao Cin Liong tersenyum. “Duduklah, Hong Li. Susiok-mu Tan Sin Hong ini baru saja datang. Kami sedang bersepakat untuk berangkat berkunjung ke gurun pasir, yaitu aku dan engkau, Hong Li, dan ibumu berjaga di rumah. Aku telah rindu kepada kakek dan nenekmu, dan akan mengajak engkau berangkat besok pagi, eh, tiba-tiba saja muncul sute Sin Hong! Tentu dia membawa banyak kabar dari Istana Gurun Pasir.”

Sin Hong menarik napas panjang. Sungguh amat tidak menyenangkan harus membawa berita yang amat buruk kepada keluarga perkasa ini. Dia melihat betapa kegembiraan telah membayang di wajah gadis itu ketika mendengar kata-kata ayahnya yang hendak mengajaknya berkunjung ke gurun pasir. Maka cepat- cepat dia bangkit berdiri dan menjura kepada suheng-nya.

“Suheng, sungguh saya merasa sangat menyesal sekali bahwa saya datang berkunjung ini hanya membawa berita yang amat buruk dan mendatangkan duka.” Dia menahan diri agar tidak memperlihatkan wajah duka, bahkan mengeraskan hati agar kedua matanya yang sudah terasa panas itu tidak sampai menjadi basah oleh air mata.

Namun, ayah ibu dan anak yang bermata tajam itu tentu saja melihat perubahan pada wajah Sin Hong dan ketiganya terkejut bukan main.

“Sute, berita buruk apakah yang kau bawa? Ada apa dengan ayah ibuku?” tanya Kao Cin Liong, hatinya merasa tidak enak sekali.

“Ketiga orang tua itu, subo dan kedua orang suhu, kini telah… tiada lagi, Suheng.”

“Apa… apa maksudmu!” Kao Cin Liong membentak, terkejut bukan main dan matanya terbelalak, mukanya pucat.

Dengan kepala ditundukkan, Sin Hong menjelaskan. “Mereka telah meninggal dunia.”

“Ahhh…!” Kao Cin Liong terkulai lemas dan tak dapat berkata-kata lagi, sedangkan Kao Hong Li merangkul ibunya dan kedua orang wanita ini mulai menangis.

“Tan Sin Hong sute, ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi!” berkata Kao Cin Liong. Suaranya parau akan tetapi tidak ada air mata keluar dari sepasang matanya yang jelas dibayangi duka itu.

Sungguh merupakan tugas yang amat tidak enak bagi Sin Hong untuk menceritakan semua yang telah terjadi di Istana Gurun Pasir. Namun dia mengeraskan hatinya.

“Maafkan saya, Suheng. Baru sekarang saya dapat datang untuk melapor. Peristiwa itu telah terjadi setahun yang lalu…”

“Setahun? Mereka telah meninggal dunia selama satu tahun dan baru hari ini engkau datang mengabarkan? Sute, apa artinya keterlambatan yang amat lama ini?”

“Sekali lagi maafkan saya, Suheng. Saya terpaksa harus menyembunyikan diri selama satu tahun karena keadaan saya. Untuk jelasnya, baik saya ceritakan semua yang telah terjadi, Suheng.”

Dengan jelas Sin Hong lalu menceritakan apa yang telah terjadi setahun yang lalu itu di gurun pasir. Betapa Istana Gurun Pasir diserbu oleh tujuh belas orang datuk sesat yang menyerang tiga orang tua itu. Kao Kok Cu, Wan Ceng, dan Tiong Khi Hwesio membela diri mati-matian sehingga di antara tujuh belas orang penyerbu itu, empat belas orang tewas dan yang hidup hanya tiga orang saja, itu pun dalam keadaan terluka. Akan tetapi, tiga orang tua itu tewas semua!

“Lalu untuk apa engkau berada di sana?!” bentak Suma Hui dengan marah sekali, sinar matanya seperti hendak menyerang Sin Hong.

Pemuda itu memandang wajah Suma Hui. “Maafkan saya. Pada waktu itu, saya sama sekali tidak mampu bergerak. Tiga orang guru saya telah mengajarkan Pek-ho Sin-kun dan menyalurkan sinkang mereka kepada saya, dengan syarat bahwa selama setahun, saya tidak boleh bermain silat atau menyalurkan sinking. Kalau pelanggaran itu saya lakukan, saya tentu seketika akan mati terpukul tenaga sendiri dari dalam! Saya menjadi seperti seorang yang lemah dan sama sekali tidak mampu melawan.”

Kao Cin Liong dapat memaklumi hal itu dan dengan suara masih serak karena duka, namun halus, dia berkata, “Lanjutkan ceritamu, Sute. Lalu bagaimana?”

“Ketiga orang yang masih hidup itu adalah Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin tokoh dari Pat-kwa-kauw, dan Thian Kek Sengjin dari Pek-lian-kauw. Mereka lalu menangkap saya dan memaksa saya menunjukkan tempat disimpannya kitab-kitab rahasia. Akan tetapi beberapa waktu yang lalu, tiga orang guru saya telah membakari semua kitab sehingga yang terambil oleh tiga orang itu hanyalah Ban-tok-kiam dan Cui-beng- kiam saja.”

Suma Hui mengepal tinjunya. “Celaka! Sungguh celaka! Dua batang pedang pusaka yang ampuh itu terjatuh ke tangan orang-orang jahat!”

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. “Tidak anehlah kalau yang memimpin penyerbuan itu Sin-kiam Mo-li dan para tokoh Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw. Sekarang lanjutkan ceritamu, Sute.”

“Mereka memaksa saya untuk menguburkan jenazah empat belas orang teman mereka, dan kemudian, memenuhi pula pesan tiga orang guru saya, maka saya lalu membakar Istana Gurun Pasir setelah mengangkut jenazah mereka ke dalam sehingga jenazah itu ikut terbakar habis. Saya lalu menjadi tawanan mereka, dan untung bahwa pada malam harinya, saya mendapat kesempatan melarikan diri dan bersembunyi di sebuah bukit sampai setahun, sampai habis waktu yang ditentukan untuk bersemedhi dan tidak boleh menggerakkan tenaga sinkang.”

Kembali Suma Hui dan puterinya menangis.

Kao Cin Liong menghela napas panjang berkali-kali. “Aihh, ayah ibuku dan paman Wan Tek Hoat dibunuh orang-orang jahat tanpa kami sedikit pun dapat membantu, bahkan engkau sendiri tidak dapat membela mereka, Sute. Betapa menyedihkan!”

“Akan tetapi, Suheng. Sudah sering kali saya mendengar dari mereka bahwa mereka memang mendambakan kematian dalam keadaan seperti itu, menentang datuk sesat. Mereka tewas, walau pun dalam usia yang sudah sangat tua, akan tetapi tetap sebagai pendekar-pendekar sakti seperti yang selalu mereka inginkan. Mereka sama sekali tak menyesal dan wajah jenazah mereka tersenyum penuh kebanggaan. Andai kata saat itu saya tidak dalam keadaan tak mampu bergerak dan dapat membela mereka sekali pun, agaknya saya akan tewas pula dan jenazah mereka bahkan akan terlantar. Sekali lagi maaf, Suheng, bahwa saya datang hanya membawa berita buruk.”

“Sudahlah, Sute. Engkau tak bersalah. Dan bagaimana dengan Istana Gurun Pasir itu?”

“Sudah rata dengan tanah, menjadi gundukan puing dan abu, menjadi kuburan ketiga guru saya.”

Tiba-tiba Hong Li bangkit berdiri, kedua tangannya dikepal, kedua matanya merah dan basah oleh air mata. Dia berkata, “Di antara para penjahat itu masih ada tiga orang yang hidup! Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin beserta Thian Kek Sengjin! Aku harus mencari mereka untuk membuat perhitungan atas kematian kakek dan nenekku!”

“Tenanglah, Hong Li. Mereka bukan orang sembarangan, melainkan datuk-datuk sesat yang lihai dan mempunyai banyak sekali kawan. Apa lagi kedua orang kakek itu yang merupakan tokoh-tokoh Pat-kwa- kauw dan Pek-liankauw! Memang kita tak boleh tinggal diam, akan tetapi juga tidak boleh sembrono. Sute, bagaimana selanjutnya ceritamu? Apa yang selama ini kau lakukan sebelum engkau datang ke sini?” tanya Kao Cin Liong kepada Sin Hong.

Sin Hong lalu menceritakan riwayat dirinya, betapa ayahnya terbunuh orang dan ibunya tewas di padang gurun pasir sampai dia ditolong oleh Tiong Khi Hwesio, kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng, kemudian menjadi murid mereka. Diceritakannya mengenai penyelidikannya, tentang pembunuhan terhadap ayahnya dan betapa akhirnya dia bisa memperoleh jejak bahwa di balik semua itu terdapat Tiat- liong-pang.

“Saya hendak melakukan penyelidikan ke pusat Tiat-liong-pang, Suheng. Bagaimana pun juga, mereka yang telah membunuh ayah saya, menyebabkan kematian ibu saya, kemudian membunuh pula Tang- piauwsu, kemudian orang she Lay itu, sungguh amat jahat dan perlu diselidiki. Oleh karena itu, setelah menyampaikah berita duka tentang kematian ketiga guru saya, saya mohon diri, hendak melanjutkan penyelidikan saya terhadap Tiat-liong-pang.”

Keluarga Kao merasa terharu juga mendengar akan riwayat anak muda yang kini telah menjadi yatim piatu dan kehilangan tiga orang gurunya pula. “Tiat-liong-pang? Sungguh aneh. Menurut pengetahuanku, Tiat- liong-pang adalah perkumpulan orang gagah yang telah banyak berjasa kepada pemerintah, bahkan jika tidak salah, ketuanya, Siangkoan Tek telah menikah dengan seorang puteri istana sebagai hadiah atas jasanya terhadap pemerintah.”

“Saya pun sudah mendengar akan hal itu, Suheng. Akan tetapi ketika hendak mati oleh serangan gelap, orang she Lay itu mengaku bahwa dia hanyalah anak buah saja dari Tiat-liong-pang. Pasti di sana ada apa-apanya. Saya akan menyelidiki sampai terbuka rahasia pembunuhan ayah saya itu.”

“Memang sebaiknya demikian, Sute. Akan tetapi, hari telah mulai malam dan sebaiknya malam ini engkau bermalam di sini. Belum cukup kita bercakap-cakap dan aku ingin mendengar tentang kehidupan ayah ibuku pada waktu terakhir. Kiranya besok pagi baru engkau dapat melanjutkan perjalanan.”

Sin Hong tidak membantah dan malam itu dia bermalam di rumah keluarga suheng-nya. Mereka bercakap- cakap sampai jauh malam. Sin Hong menceritakan keadaan ketiga orang gurunya itu sebelum mala petaka itu datang menimpa.

Dalam kesempatan itu, keluarga Kao juga bertanya tentang ilmu yang diwariskan oleh ketiga orang tua sakti itu. Sin Hong berterus terang mengakui bahwa ilmu-ilmu mereka telah dipelajarinya dengan baik, bahkan sebelum meninggal, mereka telah menggabung ilmu-ilmu mereka, diambil inti sarinya dan mereka bertiga bersama-sama menciptakan Pek-ho Sin-kun, lalu mengoperkan sinkang mereka kepada Sin Hong untuk digunakan dalam permainan ilmu silat tinggi itu.

Kao Cin Liong berhasil pula membujuk sute-nya untuk berdemonstrasi memperlihatkan ilmu silat ciptaan baru itu. Sin Hong tidak berkeberatan dan ibu ayah dan anak itu amat mengagumi ilmu silat yang sangat dahsyat dan hebatnya, juga indah karena banyak di antara gerakan meniru gerakan burung bangau yang anggun, tenang dan gagah.

Setelah pada keesokan harinya Sin Hong pergi meninggalkan rumah suheng-nya, Hong Li menghadap kedua orang tuanya. Wajahnya keruh dan alisnya berkerut. “Ayah dan Ibu, aku merasa tidak puas sama sekali melihat sikap susiok Tan Sin Hong itu!”

Ayah bundanya terkejut dan memandang puteri mereka penuh perhatian. “Ehhh, apa maksudmu, Hong Li?” tanya ibunya.
“Susiok itu telah diselamatkan nyawanya oleh kakek dan nenek dan juga kakek Tiong Khi Hwesio, kemudian diberi pelajaran ilmu silat bahkan mewarisi penggabungan ilmu mereka. Dia berhutang budi yang tidak terhitung banyaknya kepada tiga orang tua itu. Akan tetapi, ternyata ia terlalu mementingkan diri sendiri. Setelah keluar dari gurun pasir dia sibuk mengurusi kematian orang tuanya sendiri dan tidak mencari para pembunuh ketiga orang gurunya!”

“Aih, jangan berkata demikian, anakku! Bukankah sute Tan Sin Hong juga menceritakan betapa tiga orang tua itu selalu menekan kepadanya bahwa dia tidak boleh menyimpan dendam atas kematian ayahnya? Dendam adalah racun yang membakar diri sendiri, anakku. Karena itu, Sin Hong tidak mendendam, biar pun dia melihat sendiri betapa tiga orang gurunya tewas karena dikeroyok musuh, akan tetapi ternyata pihak musuh juga ada empat belas orang yang tewas! Kalau dihitung, kematian tiga orang tua itu tidaklah rugi dan tidak ada yang harus dibuat penasaran.”

“Dia boleh saja berpendapat demikian, akan tetapi aku tidak, Ayah! Tanpa dosa, kakek dan nenekku, juga kakek Tiong Khi Hwesio, tiga orang tua yang selama ini kukagumi meski aku hanya mendengar penuturan ayah dan ibu saja, telah diserbu orang-orang jahat dan mereka sampai tewas. Bagaimana aku dapat tinggal diam saja kalau para pembunuhnya ada yang masih berkeliaran? Tidak, aku harus pergi mencari mereka untuk membalas kematian orang-orang tua yang tidak berdosa itu, Ayah!”

Kao Cin Liong saling pandang dengan isterinya. Setelah Istana Gurun Pasir terbakar dan kedua orang tuanya tidak ada lagi, memang tidak mungkin lagi mengajak puteri mereka merantau ke sana. Hong Li sudah terlalu dewasa dan cukup kuat berjaga diri, maka kalau ia hendak mencari para penjahat itu, hal ini baik sekali untuk mematangkan pengalamannya dan memungkinkannya untuk menemukan jodohnya.

“Dengar baik-baik, anakku! Kami takkan menghalangi niatmu. Kami menggemblengmu selama ini memang dengan harapan supaya engkau menjadi seorang pendekar wanita yang selalu menentang kejahatan. Akan tetapi jangan engkau sesalkan kematian kakek dan nenekmu itu. Mereka adalah orang-orang yang sejak mudanya telah berkecimpung di dunia persilatan, membuat nama besar di dunia kang-ouw, telah menentang dan membasmi entah berapa banyak orang jahat di dunia ini. Siapa bermain air basah, bermain api terbakar, dan kalau kini mereka itu tewas menentang para datuk hitam, hal itu sudah wajar. Setelah pertentangan itu hanya ada dua akibatnya, kalah atau menang, hidup atau mati. Mereka mati dalam tugas mereka, sama sekali mereka tidak menyesal dan tidak perlu disesalkan. Ingat, nenek moyangmu, dari ibumu, para pendekar Pulau Es, juga selalu menentang kejahatan. Kakek buyutmu, Pendekar Super Sakti di Pulau Es, bersama kedua orang nenek buyutmu, juga tewas dengan gagahnya di Pulau Es, sama dengan kematian kakek dan nenekmu di Istana Gurun Pasir. Kematian seperti itu tidak perlu disesalkan. Jadi, kalau engkau hendak mencari Sin-kiam Mo-li dan orang-orang Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw, jangan sekali-kali dasarnya membalas dendam kematian kedua orang kakek nenekmu, melainkan karena sudah menjadi tugasmu menentang mereka yang jahat. Mengertikah engkau?”

Hong Li mengangguk. “Aku mengerti Ayah.”

“Akan tetapi, nanti dulu, Hong Li. Benarkah engkau hendak menentang Sin-kiam Mo-li? Sudah bulat benarkah tekadmu itu? Engkau harus ingat bahwa bagaimana pun juga, di waktu kecil engkau pernah mengangkatnya sebagai guru, bahkan menjadi ibu angkat! Nah, yakinkah hatimu bahwa engkau akan mampu menentangnya?”

Gadis itu tertegun sejenak dan teringatlah ia akan semua pengalamannya di waktu kecil. Ketika masih berusia tiga belas tahun, pernah dia diculik seorang pendeta Lama yang sebetulnya ialah penyamaran Sin- kiam Mo-li. Kemudian di tengah perjalanan, Sin-kiam Mo-li bersandiwara, seolah iblis betina itu yang menyelamatkannya dari tangan pendeta Lama itu sehingga dia diambil menjadi anak angkat dan murid! Akan tetapi kemudian muncul Gu Hong Beng dan Bi-kwi, juga Bi Lan dan Sim Houw, dan mereka itu berhasil menyelamatkannya, dan dia pun tahu akan tipu muslihat Sin-kiam Mo-li yang berhasil melarikan diri dari tangan para pendekar itu.

“Ibu, tentu saja aku sanggup untuk menentangnya. Memang benar dahulu aku pernah menganggap ia ibu angkat dan guru, akan tetapi semua itu terjadi karena ia menipuku, berpura-pura menjadi penolongku. Tidak, aku sudah tahu betapa jahatnya iblis betina itu, bahkan justru karena ia yang telah membawa orang- orang jahat menyerbu istana kakek dan nenek, maka aku ingin sekali mencari dan menentangnya!”

“Tapi jangan engkau lengah dan memandang ringan lawan, Hong Li. Engkau tentu tahu betapa lihainya Sin-kiam Mo-li. Selain amat lihai ilmu silatnya, juga ia menguasai sihir. Meski kami telah menggemblengmu dengan kekuatan sinkang untuk menolak pengaruh sihir, namun dalam hal ilmu silat, kiranya engkau masih kalah pengalaman. Apa lagi jika dia dibantu oleh para tokoh Pek-lian-kauw yang rata-rata pandai sihir dan orang-orang Pat-kwa-pai yang juga amat tangguh. Engkau harus hati-hati, dan sebaiknya bergabung dengan para pendekar lainnya. Bagaimana kalau engkau mengunjungi dulu pamanmu Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun dekat Cin-an? Siapa tahu puterinya Suma Lian, sekarang sudah pulang dan tentu sudah sebaya denganmu dan tentu mempunyai ilmu kepandaian tinggi karena selain kedua orang tuanya amat sakti, juga ia digembleng oleh paman Gak Bun Beng.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo