October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 3

 

Di tempat ini, dia tak akan mengalami gangguan manusia dan dia dapat melaksanakan tapanya dengan aman. Dia pun memilih sebuah goa untuk dijadikan tempat tinggal, dan beberapa bulan kemudian, dalam perantauannya menjelajahi perbukitan itu, dia hanya menemukan beberapa orang pertapa saja tinggal di tempat-tempat tersembunyi.

Ada yang tinggal di dalam goa, ada yang membuat pondok sederhana. Mereka adalah orang-orang yang mengasingkan diri dan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat ramai. Ada yang bertapa untuk melarikan diri dan pertapaan itu hanya merupakan suatu pelarian dari keadaan hidup yang serba tidak menyenangkan, ada pula yang bertapa dengan pamrih memperoleh sesuatu dari hasil pertapaannya, yang pada hakekatnya juga merupakan pelarian dari suatu keadaan yang tidak disukainya untuk mendapatkan suatu keadaan yang diharapkan dan dibayangkan akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya.

Sin Hong tinggal dengan aman di dalam goa yang agak terpencil untuk menyelamatkan dirinya. Sungguh berat Ilmu Pek-ho Sin-kun yang diterimanya dari tiga orang gurunya itu, karena selama setahun, ia sama sekali tak boleh mengerahkan sinkang dan karena itu tentu saja dia terancam bahaya.

Untung baginya bahwa ketika menjadi tawanan Sin-kiam Mo-li, dia berhasil meloloskan diri. Jika tidak, ia tentu akan menjadi korban kekejaman tiga orang iblis itu. Keadaannya serba salah. Untuk melawan, terpaksa dia mengerahkan sinkang dan dia akan tewas pula, seperti yang dipesankan oleh tiga orang gurunya. Tidak melawan, akhirnya dia akan mereka bunuh!

Demikianlah, selama setahun Sin Hong bersembunyi di dalam hutan itu, dan memenuhi pesan tiga orang gurunya. Setiap hari dia bersemedhi, melatih diri untuk menguasai hawa sakti yang bergelora di dalam tubuhnya sampai akhirnya dia berhasil menguasai dan mengendalikan hawa sakti itu, dapat mempergunakan sesuai dengan kehendaknya.

Bahkan kemudian ketika dia berlatih Silat Pek-ho Sin-kun setiap gerakannya dapat mengatur tenaga sakti sesuai dengan takarannya. Kini, bahaya dari hawa sakti itu bagi dirinya sendiri lenyap dan dia pun kini menjadi seorang yang amat lihai.

Pada hari terakhir dia berada di dalam hutan itu, dia berlatih Silat Pek-ho Sin-kun dan kalau saja tiga orang gurunya bisa menyaksikannya, tentu mereka akan merasa bangga bukan main. Pemuda itu bersilat dengan tangan kosong, gerakannya nampak perlahan saja, namun pohon-pohon di sekelilingnya seperti dilanda angin taufan, dan di lain saat, gerakan-gerakannya sama sekali tidak menggerakkan daun-daun pohon, namun ketika jari tangannya yang terbuka menyentuh batang pohon, batang pohon itu seperti dibabat dengan pedang tajam dan tumbang!

Sin Hong sendiri terkejut melihat hasil ini, juga girang namun berjanji pada diri sendiri untuk berhati-hati menggunakan Pek-ho Sin-kun karena ternyata merupakan gabungan ilmu-ilmu yang amat ampuh dan akibatnya dapat mengerikan bagi lawannya.

Akhirnya dia pergi meninggalkan perbukitan itu dengan pakaian compang-camping oleh karena selama setahun dia tidak dapat berganti pakaian, kecuali kadang-kadang kalau pakaiannya dicuci, dia mengenakan cawat dari kulit batang pohon…..

********************

Biar pun pakaiannya compang-camping, namun Sin Hong nampak gagah. Rambutnya yang hitam panjang itu dikuncir tebal dan dikalungkan di lehernya. Bajunya sudah penuh tambalan dan terbuka di bagian dada atas, memperlihatkan dadanya yang bidang dan kulit dadanya yang kemerahan karena ditimpa sinar matahari yang terik.

Wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun ini tidak tampan akan tetapi juga tidak buruk, namun sinar matanya lembut dan mulutnya selalu tersenyum ramah dan dua hal inilah yang mendatangkan daya tarik dan kesejukan pada wajahnya. Bentuk tubuhnya sedang saja, namun di balik kulit itu terdapat kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan, namun yang membuat tubuhnya kokoh seperti batu karang.

Dengan mempergunakan ilmunya berlari cepat, pemuda ini melakukan perjalanan ke selatan, melewati gurun pasir. Gurun itu sepi sekali dan ini menguntungkan Sin Hong yang dapat melakukan perjalanan secepatnya. Kalau di situ lalu lintasnya ramai, tentu keadaannya akan menarik perhatian orang. Bukan hanya pakaiannya yang compang-camping seperti jembel, akan tetapi juga larinya yang cepat bagaikan terbang itu.

Tujuan perjalanannya sudah jelas. Pertama, dia akan pergi ke kota Ban-goan, yaitu kota kelahirannya untuk menyelidiki mengenai kematian ayahnya setelah terlebih dahulu dia menyelidiki ke Tuo-lun di mana ayahnya tewas dalam sebuah hutan di luar kota Tuo-lun seperti yang didengarnya dari Tiong Khi Hwesio.

Kemudian, setelah urusannya selesai, dia akan berkunjung ke kota Pao-teng, mencari suheng-nya, yaitu Kao Cin Liong, putera tunggal suami isteri Kao Kok Cu dan Wan Ceng yang menjadi gurunya, untuk mengabarkan tentang tewasnya dua orang tua itu dan terbasminya Istana Gurun Pasir.

Karena dia mempergunakan ilmu berlari cepat, maka dalam beberapa hari saja dia pun sudah tiba di Tuo- lun. Dia lalu melakukan penyelidikan dan bertanya-tanya kepada para piauwsu yang berada di kota ini.

Akan tetapi, semua orang yang ditanya tidak ada yang dapat memberi keterangan lebih jelas dari pada apa yang sudah pernah didengarnya dari Tiong Khi Hwesio, yaitu bahwa mendiang ayahnya bersama sepuluh orang anak buahnya kedapatan tewas semua di dalam hutan di selatan kota Tuo-lun itu.

Dia pun segera mencari hutan itu dan pada suatu pagi, dia menemukan gundukan tanah kuburan yang cukup tinggi di dalam hutan. Sin Hong berdiri di depan tanah kuburan itu dan membaca tulisan yang diukir dengan kasar pada sebuah batu yang besar dan yang ditaruh di depan kuburan.

Terbaca nama ayahnya sebagai piauwsu, karena bunyi tulisannya hanya ‘Kuburan Tan Piauwsu bersama sepuluh orang temannya’.

Sin Hong merasa terharu. Tentu gurunya, Tiong Khi Hwesio itu yang sudah mengubur ayahnya, dikubur menjadi satu di tempat ini. Ia pun lalu berlutut memberi hormat kepada makam ayahnya.

Sin Hong pergi meninggalkan hutan itu dan melanjutkan perjalanan. Dia tidak berhasil mendapat keterangan yang berharga di Tuo-lun. Harapannya kini tinggal penyelidikan ke kota kelahirannya di Ban- goan. Ia akan menyelidiki dan mencari Tang-piauwsu yang dulu menjadi wakil dan pembantu utama ayahnya. Mudah-mudahan saja Tang-piauwsu berhasil lolos dari kejaran para perampok berkedok itu, pikirnya. Kalau Tang-piauwsu juga tewas, sukarlah baginya untuk menyelidiki siapa gerangan para perampok itu dan siapa pula yang membunuh ayah ibunya.

Pada suatu hari, tibalah dia di Tembok Besar, tempat penyeberangan para pedagang dan pengawal kalau hendak ke luar Tembok Besar. Matahari telah naik tinggi dan Sin Hong berhenti sebentar sambil menghapus keringatnya dengan ujung baju yang sudah compang-camping itu.

Keadaan di situ sunyi sekali. Hanya beberapa hari saja dalam sebulan jalan itu ramai dilalui rombongan pedagang. Kini, para pedagang hanya berani melakukan perjalanan membawa barang-barang mereka secara rombongan, dikawal oleh para piauwsu yang kuat karena akhir-akhir ini timbul banyak perampok di daerah perbatasan itu.

Dari tempat yang agak tinggi itu Sin Hong mengamati ke arah selatan. Kembali dia mengenang perjalanannya bersama ibunya menyusul ayahnya di Tuo-lun, dikawal oleh Tang-piauwsu. Lalu teringatlah dia akan pendapat nenek Wan Ceng, subo-nya setelah mendengar akan semua peristiwa yang menimpa dirinya.

Nenek yang cerdik itu menyatakan kecurigaannya kepada Tang-piauwsu! Dia tak begitu ingat lagi bagaimana sikap Tang-piauwsu terhadap keluarganya dan dia pun tak begitu yakin akan kebenaran persangkaan subo-nya itu. Akan tetapi, bagaimana pun juga, dia akan menyelidiki dengan cermat dan hati- hati agar jangan sampai menuduh orang yang tidak bersalah.

Selagi dia termenung, tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya belasan orang dari balik tembok dan batu- batu besar. Mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tampang menyeramkan. Sikap mereka kasar, serta tangan mereka memegang golok telanjang dan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan penuh ancaman ketika mereka berloncatan menghampirinya.

Diam-diam Sin Hong merasa girang. Mereka ini, dilihat dari sikapnya, tentulah sebangsa perampok dan agaknya dia menemukan jejak pertama untuk bahan penyelidikannya. Maka dia pun menanti dengan tenang dan memperhatikan laki-laki yang berada paling depan. Tentu dia kepalanya, pikirnya.

Laki-laki itu berusia kurang lebih empat puluh tahun dan berkumis lebat sekali, sekepal sebelah, dengan jenggot pendek tebal. Tubuhnya tinggi besar bagaikan raksasa dan mukanya yang sebagian bawah tertutup jenggot dan kumis itu berkulit hitam. Matanya melotot lebar dan garang.

“Keparat!” Tiba-tiba kepala perampok itu menyumpah-nyumpah setelah dia berhadapan dengan Sin Hong, matanya yang lebar melotot memandang pemuda itu dari atas ke bawah, melihat pakaiannya yang compang-camping. “Kukira belut gemuk yang lunak dagingnya, kiranya hanya seekor cacing!”

Para anggota perampok tertawa mendengar makian kepala perampok itu. Mereka tadi melihat munculnya seorang laki-laki dari jauh, kemudian mereka bersembunyi, dan lalu keluar untuk menyergap calon korban itu. Sudah sebulan ini mereka tidak memperoleh mangsa dan dalam keadaan haus mereka telah bergembira melihat munculnya seorang calon mangsa. Siapa kita, orang itu hanyalah seorang jembel muda yang sama sekali tidak dapat diharapkan memiliki sesuatu yang berharga.

“Ha-ha-ha, cacing juga cacing kurus pula, kulitnya pun tidak ada harganya satu sen!” kata seorang di antara mereka.

“Toako, kita bunuh dan cincang saja daging dan tulangnya supaya menjadi santapan anjing-anjing hutan!” kata seorang perampok lainnya.

Dengan sikap buas dan beringas, belasan orang itu sudah maju mengepung Sin Hong dan mereka pun merasa heran mengapa pemuda itu tidak berlutut dan menangis minta ampun. Sebaliknya, pemuda itu malah tersenyum menghadapi kepala perampok itu dan kini Sin Hong berkata lembut,

“Kalian ini memang seperti anjing-anjing hutan kelaparan. Akan tetapi kebetulan sekali kalian datang, karena aku ingin minta keterangan dari kalian. Kuharap kalian suka memberi tahu kepadaku apakah kalian tahu tentang gerombolan perampok yang suka memakai kedok. Nah, katakanlah dan aku yang berterima kasih tidak akan mengganggu kalian selanjutnya!”

Para perampok itu saling pandang dan ada di antara mereka yang tertawa bergelak, merasa lucu karena sikap pemuda itu seakan-akan mengancam mereka! Akan tetapi kepala perampok itu menjadi marah bukan main. Matanya semakin lebar melotot ketika dia membentak.

“Cacing tanah busuk! Berani kau membuka mulut besar? Engkau tidak tahu berhadapan dengan siapa, keparat! Aku adalah Hek-san-coa (Ular Gunung Hitam) dan bersama kawan-kawanku, kami terkenal di seluruh Tembok Besar!”

Sin Hong tersenyum mengejek. “Kebetulan sekali! Engkau adalah ular hitam, dan aku adalah Pek-ho (Bangau Putih) yang kelaparan. Bolehlah si bangau makan si ular untuk membersihkan daerah ini!”

Tentu saja ucapan pemuda itu mendatangkan kemarahan besar kepada belasan orang itu. Pemuda jembel begini berani menentang mereka, bahkan barusan menghina kepala perampok! Padahal mereka adalah gerombolan yang ditakuti semua orang dan amat terkenal bagi para pedagang dan pengawal yang suka lewat di situ.

“Toako, biarkan aku menyembelih tikus ini!” bentak salah seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dengan mata sipit dan muka kuning pucat.

Tanpa menanti jawaban pemimpinnya, si tinggi kurus ini telah menggerakkan goloknya, membacok ke arah Sin Hong dengan cepat dan kuat sekali. Agaknya orang ini hendak membuktikan ancamannya, sekali tebas menyembelih leher pemuda yang sudah berani menghina mereka itu.

Namun, tentu saja serangan ini terlampau lamban dan terlampau lemah bagi seorang pemuda gemblengan seperti Sin Hong, tiada ubahnya permainan kanak-kanak saja. Dia menundukkan kepala untuk membiarkan golok lewat di atas kepalanya. Dan begitu dia menggerakkan tangan, jari tangannya sudah menotok ke bawah siku lengan dan begitu golok terlepas, dia sudah menyambar golok itu yang langsung dia luncurkan ke bawah, tapi sengaja dia balikkan sehingga punggung golok yang tidak tajam menghantam lutut si tinggi kurus.

“Takkk…! Aduuuhhhhh…!”

Si tinggi kurus terjungkal dan meloncat lagi, berloncatan dengan kaki kanan, sedangkan dua tangannya memegang lutut kirinya yang terasa nyeri bukan main. Saking nyerinya, dia roboh lagi, memijit-mijit tulang kering di bawah lututnya.

Tulang kering dipukul golok, biar hanya punggung golok, akan tetapi besi yang berat itu tentu saja cukup membuat tulang keringnya retak dan nyerinya sampai menusuk ke tulang sumsum! Sin Hong melempar golok itu ke atas tanah sampai ke gagangnya!

Terkejutlah semua perampok, terkejut dan marah. Tak mereka sangka bahwa pemuda jembel itu pandai ilmu silat, bahkan demikian lihainya sehingga dalam segebrakan saja telah membuat si tinggi kurus itu roboh tak berdaya. Hanya satu gebrakan saja! Hampir mereka tidak percaya dan menganggap bahwa hal itu hanya suatu kebetulan saja. Akan tetapi, kemarahan melihat seorang temannya terluka membuat mereka marah dan ganas seperti ikan-ikan hiu mencium darah.

“Jembel busuk, mampuslah!” teriak seorang yang gemuk pendek dengan perut gendut dan orang ini yang berdiri di belakang Sin Hong, sudah membacokkan goloknya dari atas ke bawah, mengarah kepala pemuda itu. Kalau terkena sasaran itu tentu kepala itu terbelah dua dan isi kepala akan berhamburan.

Namun, tanpa menoleh, hanya dengan mengandalkan pendengarannya yang tajam, Sin Hong miringkan tubuhnya. Golok yang menjadi sinar terang itu menyambar lewat dan tangannya bergerak ketika tubuhnya diputar membalik tanpa mengubah kedudukan dua kaki dan di lain saat, golok itu sudah pindah tangan karena pemegangnya merasa lengannya tiba-tiba menjadi lumpuh dan sebelum dia tahu apa yang telah terjadi, golok itu, dengan terbalik, menyambar kakinya.

“Takkk…! Auuuwww… aduhhh… aduhhhh…!”

Dan dia pun berjingkrak-jingkrak seperti monyet menari, kaki kanannya diangkat dan kaki kiri berloncatan seperti halnya orang pertama, kemudian dia pun jatuh terjungkal, memijiti lutut kanannya yang terpukul punggung golok.

Kini para perampok itu mengeroyok Sin Hong dengan serangan golok mereka! Sin Hong kembali sudah melempar golok rampasannya setelah tadi mengetuk lutut lawan. Golok meluncur dan menancap di batu sampai ke gagangnya, kemudian dengan kedua tangan kosong dia menghadapi pengeroyokan para perampok itu.

Hebat sekali sepak terjang Sin Hong. Tubuhnya sudah demikian peka sehingga seolah-olah di mana-mana tubuhnya memiliki mata dan mampu mengelakkan setiap serangan. Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun tidak dipergunakannya karena dia tidak ingin memperlihatkan ilmu itu kalau tidak penting sekali.

Akan tetapi ilmu-ilmu silat yang tinggi-tinggi sudah mendarah daging dengan tubuhnya. Maka tiap kali ia mengelak sambil menyerang, sudah pasti yang menyerangnya berbalik roboh sambil mengaduh-aduh. Ada yang tulang kakinya retak, tulang pundaknya patah, atau lengannya terkilir.

Satu demi satu mereka roboh. Tak seorang pun tewas, akan tetapi tidak seorang pun mampu bangkit atau ikut mengeroyok lagi. Sin Hong hanya berdiri di tempat tadi, tidak melangkah jauh, hanya mengubah kedudukan kuda-kuda kaki sesuai dengan serangan lawan. Dia menanti lawan menyerang, kemudian menghadapi serangan dan sekaligus merobohkannya.

Melihat dalam sekejap mata saja lebih dari setengah jumlah orangnya roboh, kepala perampok itu marah bukan main. “Bocah setan, akulah lawanmu!”

Melihat kepala perampok sendiri yang maju, enam orang sisa anak buah perampok yang belum roboh segera mundur, memberi kesempatan kepada pemimpin mereka. Kepala perampok itu memegang sebatang golok yang besar dan tebal, nampak amat berat, tanda bahwa dia memiliki tenaga besar.

Dengan mata melotot dia menghadapi Sin Hong. Sekarang dia tak memandang rendah setelah melihat betapa pemuda itu dengan mudah mampu merobohkan tujuh orang anak buahnya. Dia ingin tahu siapa adanya pemuda jembel yang lihai ini karena belum pernah dia mendengar, apa lagi melihat tentang pemuda ini.

“Bocah setan, siapakah engkau sesungguhnya?” bentaknya.

Sin Hong tersenyum. Tidak ada gunanya berkenalan dengan segala macam perampok seperti ini, pikirnya.

“Engkau Ular Gunung Hitam, dan aku si Bangau Putih. Nah, lekas katakan saja tentang perampok yang berkedok itu, dan aku akan pergi dengan aman.”

“Bangsat sombong! Jangan mengira engkau akan dapat terlepas dari hukuman golok keramatku!” Dan kepala perampok itu pun sudah memutar goloknya.

Golok yang besar dan berat itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar yang berdesing-desing mengerikan. Akan tetapi sikap Sin Hong tetap tenang, hanya menanti kepala perampok itu melakukan serangan. Kepala perampok itu tak segera menyerang karena sesungguhnya dia pun mulai merasa jeri melihat kelihaian pemuda itu.

Maka sekarang dia pun berseru kepada enam orang anak buahnya yang belum roboh. “Kepung, keroyok dan kita bunuh dia! Cincang badannya!”

Melihat betapa kini pemimpin mereka sendiri yang maju, enam orang itu pun berbesar hati dan mereka segera menyerang dari semua jurusan, menghujankan serangan golok mereka ke arah tubuh Sin Hong. Kepala perampok itu pun ikut pula menyerang!

Kembali Sin Hong dikeroyok, sekali ini lebih hebat dari pada yang tadi. Akan tetapi, Sin Hong tetap tenang dan bersikap menanti. Setiap kali serangan datang, dia mengelak sambil terus merobohkan penyerangnya, dengan tangan, kaki atau punggung golok.

Akibatnya sama saja. Yang terkena tamparan tangannya, tentu akan patah tulang iga atau tulang pundak, yang tertendang patah tulang kaki. Dalam waktu hanya beberapa menit saja, enam orang sisa anak buah itu pun sudah roboh semua.

Kepala perampok yang licik itu tadi hanya menyerang dengan hati-hati saja untuk turut mengeroyok sehingga dia belum sampai dirobohkan. Kini, melihat betapa semua anak buahnya roboh, tanpa banyak cakap lagi dia pun cepat membalikkan tubuh dan hendak melarikan diri! Melihat ini, Sin Hong memungut sebatang golok yang tercecer, kemudian menyambitkan golok itu.

“Ceppp…!”

Kepala perampok itu mengeluh dan roboh dengan punggung ditembusi golok. Tidak seperti anak buahnya, dia pun tewas seketika. Sin Hong sengaja membunuhnya, karena dia berpendapat bahwa kalau kepala perampok itu tidak dibunuh, akan percuma saja menasehati anak buahnya untuk bertobat. Kepala perampok itu tentu akan memaksa anak buahnya untuk merampok lagi dan dengan adanya kepala perampok yang ganas dan jahat, maka anaknya pun akan menjadi lebih berani.

Tiga belas anak buah perampok itu masih rebah atau duduk sambil mengaduh-aduh kesakitan. Wajah mereka semua berubah pucat ketika mereka melihat betapa pemimpin mereka tewas dan kini pemuda yang amat perkasa itu menghampiri mereka.

“Nah, sekarang kalian katakan padaku, siapakah gerombolan perampok berkedok yang pada beberapa tahun yang lalu merajalela di sini, bahkan telah membunuh Tan-piauwsu dari Ban-goan, dan menyerang pula Tang-piauwsu. Hayo ceritakan yang benar, kalau tidak, terpaksa akan kubunuh kalian semua seperti yang sudah aku lakukan terhadap pemimpinmu ini!”

Para perampok itu saling pandang dengan bingung dan ketakutan, akan tetapi seorang di antara mereka, yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, dan menderita patah tulang pundaknya, segera bangkit dan berkata kepada Sin Hong.

“Harap Taihiap (Pendekar Besar) sudi memaafkan kami orang-orang kasar yang tidak mengenal orang pandai dan berani kurang ajar. Kiranya di antara kami hanya saya saja yang tahu akan perampok- perampok berkedok yang delapan tahun yang lalu merampok dan membunuh Tan-piauwsu dari Ban-goan karena pada waktu itu, saya kebetulan melihatnya dari jauh.”

Bukan main girang rasa hati Sin Hong mendengar ini dan dia pun cepat menghampiri orang itu. “Bagus sekali! Ceritakan bagaimana terjadinya dan siapa mereka itu, siapa pula pemimpin mereka!”

Orang itu menarik napas panjang dan menggelengkan kepala.

“Sungguh menyesal sekali saya sendiri tidak mengenal mereka, Taihiap. Saya melihat rombongan Tan- piauwsu dihadang dan diserang oleh dua puluh orang lebih orang yang mengenakan kedok, merampas barang yang dikawalnya dan membunuh Tan-piauwsu dan kawan-kawannya. Kemudian mereka melarikan diri menunggang kuda. Hanya ada satu hal penting yang dapat saya ceritakan, yaitu sebelum penghadangan itu terjadi, saya melihat rombongan perampok itu tadinya mengenakan pakaian seperti rombongan piauwsu. Mereka berhenti di dalam hutan, mengganti pakaian dan mengenakan kedok. Maka, saya menduga bahwa gerombolan itu agaknya hanya perampok palsu saja, Taihiap, penyamaran dari rombongan piauwsu.”

Sin Hong mengerutkan alisnya. Agaknya tepat dugaan mendiang subo-nya, pikirnya. Jangan-jangan Tang- piauwsu yang merencanakan semua itu, untuk merampas barang kawalan yang berharga. Akan tetapi mengapa Tang-piauwsu sendiri kemudian dihadang perampok berkedok? Apakah itu juga hanya siasatnya saja, untuk membunuh dia dan ibunya? Benarkah seperti yang diduga oleh subo-nya yang cerdik itu?

“Engkau masih ada penjelasan lain lagi?” tanyanya.

Perampok itu menggeleng kepalanya. Akan tetapi, keterangan itu cukup penting bagi Sin Hong dan sudah cukup banyak pula. Dia harus menyelidiki ke Ban-goan.

Sin Hong teringat bahwa dia tidak mempunyai bekal, juga bahwa pakaiannya haruslah diganti, maka dia lalu berkata kepada mereka.

“Kalian sudah biasa merampok orang, sekarang aku membutuhkan uang. Berikan uang yang ada pada kalian kepadaku!”

Perampok yang memberi keterangan tadi lalu berkata, “Kami tidak mempunyai banyak uang, Taihiap. Sedikit harta yang kami terima dari ketua kami biasanya cepat habis untuk foya-foya. Akan tetapi saya yakin pemimpin kami itu memiliki barang berharga.” Dia lalu menghampiri mayat kepala perampok, dan tak lama kemudian menghampiri Sin Hong sambil membawa sebuah pundi-pundi kecil terisi uang emas dan perak!

Akan tetapi Sin Hong tidak membutuhkan uang sebanyak itu. Sebagian dia bagi-bagikan kepada para anggota perampok sambil berkata, “Kali ini aku masih memaafkan kalian dan hanya membunuh pemimpin kalian. Akan tetapi lain kali kalau aku melihat kalian masih merampok, terpaksa aku akan membasmi kalian. Kuharap kalian suka menyadari bahwa pekerjaan merampok itu terkutuk, dan sekali waktu kalian pasti akan menerima hukuman, baik itu dari pasukan keamanan, dari para pendekar atau setidaknya, sudah pasti akan datang hukuman dari Tuhan! Bertobatlah dan ubahlah jalan hidup kalian. Jika kalian mau bekerja, tentu kalian akan dapat mencari makan. Nah, selamat tinggal!”

“Nanti dulu, Taihiap!” teriak orang tua yang tadi memberi keterangan. “Kami ingin sekali bertobat dan mengubah jalan hidup kami, akan tetapi kami ingin lebih dahulu mengenal siapakah Taihiap?”

Sin Hong tersenyum. “Sebut saja aku si Bangau Putih.”

Begitu dia berkelebat, bayangannya lenyap di antara pohon-pohon dan meninggalkan orang-orang itu yang menjadi bengong saking heran dan kagum mereka. Mulai peristiwa ini dan seterusnya, dunia kang-ouw mulai mengenal nama Pek Ho Enghiong (Pendekar Bangau Putih) karena memang Sin Hong jarang memperkenalkan namanya sendiri dan sepak terjangnya seperti seekor burung bangau putih yang menyambar dan melayang-layang.

Memang dia suka sekali mengenakan pakaian putih. Setelah dia mempunyai uang dan berkesempatan membeli pakaian, dia membeli pakaian yang sederhana, berwarna putih dengan garis pinggir berwarna kuning atau biru. Dan dengan pakaian putih ini, semakin terkenallah julukan Si Bangau Putih…..

********************

Kota Ban-goan tidaklah besar. Akan tetapi karena kota ini merupakan kota yang menjadi awal penyeberangan ke luar Tembok Besar, maka kota ini dikunjungi banyak pedagang yang ingin membawa barang dagangannya menyeberang lewat Tembok Besar.

Perusahaan piauwkiok (ekspedisi) yang mengawal barang dagangan juga makin subur dan sibuk. Banyak terdapat perusahaan ekspedisi atau pengawal di kota ini, dan satu di antaranya, yang terkenal dan dipercaya orang, adalah perusahaan piauwkiok yang dulu dipimpin oleh Tan-piauwsu.

Tidak sukar bagi Sin Hong untuk menemukan Tang-piauwsu, yaitu orang yang sedang dicarinya. Tang- piauwsu ternyata masih melanjutkan pekerjaan ayahnya, melanjutkan perusahaan ekspedisi yang dahulu dipegang ayahnya, dan Sin Hong masih belum lupa akan rumah bekas tempat tinggal orang tuanya itu.

Tidak banyak perubahan pada rumah itu yang bagian depannya merupakan kantor, juga papan nama Peng An Piauwkiok (Kantor Ekspedisi Selamat) masih tergantung di depan kantor. Bahkan rumah itu kini nampak butut dan seolah-olah tidak terpelihara lagi. Dua orang kuli tua duduk di depan kantor, di atas bangku reyot dan melihat mereka berdua mengobrol sambil menghisap rokok dapat diketahui bahwa perusahaan itu sepi saja.

Sin Hong masih ingat kepada dua orang kuli tua ini, walau pun dia tidak tahu lagi siapa nama mereka. Tulang-tulang menonjol di balik kulit yang menjadi keras karena kerja berat itu menambah bayangan kemiskinan diderita dua orang ini.

Melihat ada seorang pemuda menghampiri kantor itu, dua orang kuli ini cepat bangkit memberi hormat dan kegembiraan membayang di wajah mereka, kegembiraan penuh harap untuk mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan hasil bagi mereka.

“Selamat pagi, Tuan Muda. Apakah Tuan Muda hendak mengirim barang yang perlu pengawalan?” tanya seorang di antara mereka penuh harapan.

Begitu mudahnya membaca kegembiraan penuh harapan membayang di wajah mereka sehingga Sin Hong merasa terharu. Melihat rumah ini, bertemu dengan dua wajah tua yang tidak asing ini, mendatangkan kenangan lama dan mengingatkan dia akan ayah ibunya yang sudah tiada.

Pohon cemara itu masih tumbuh di samping rumah dan dia masih mengenal cabang-cabangnya yang kini semakin besar dan tinggi. Juga batu besar di bawahnya, di mana dahulu dia sering kali bermain di atasnya. Hatinya terharu, akan tetapi wajahnya tidak membayangkan perasaan hatinya dan dia masih tersenyum ramah ketika menjawab,

“Ji-wi Lopek (Paman Tua Berdua), aku ingin bertemu dengan Tang-piauwsu. Apakah dia berada di sini?”

Dahulu, delapan tahun yang lalu, Tang-piauwsu merupakan pembantu utama ayahnya dan pengawal ini dahulu adalah seorang bujangan berusia tiga puluh tahun lebih, tidak berkeluarga dan tinggalnya mondok pula di rumah ayahnya. Tentu kini ia sudah berusia empat puluh tahun.

Sin Hong ingin sekali tahu apakah pengawal itu masih tinggal di situ ataukah pindah ke rumah lain dan hanya berkantor di situ. Diam-diam dia menjadi gelisah, jangan-jangan Tang-piauwsu sudah tiada, tewas pula ketika mengawal dia dan ibunya dan kemudian dikeroyok oleh para perampok berkedok. Tetapi jawaban orang itu melegakan hatinya.

“Tang-piauwsu? Tentu saja dia berada di sini, Kongcu. Kongcu hendak bicara tentang pesanan pengawalan? Biar saya panggilkan dia, tentu sedang berada di bagian dalam rumahnya. Akhir-akhir ini kesehatannya sering kali terganggu.”

Dua orang itu lalu masuk ke dalam setelah mempersilakan Sin Hong duduk menanti di bangku yang terdapat di dalam kantor itu. Sin Hong duduk sambil mengamati keadaan kantor itu.

Seingatnya, kantor ini dahulu lebih bersih dan lebih banyak mejanya, dan sedikitnya ada lima orang piauwsu yang duduk di situ melayani tamu. Juga ada sedikitnya lima orang kuli yang menerima barang- barang kemudian menyimpannya ke dalam gudang sebelum dikirimkan. Akan tetapi sekarang kantor itu kosong sama sekali tidak ada orangnya, dan meja yang terdapat di situ hanya dua, kini kosong tanpa pegawai.

Suara sepatu dari dalam membuat dia mengangkat muka memandang. Dan muncullah Tang-piauwsu. Dia masih ingat benar wajah itu, hanya kini nampak jauh lebih tua dari pada delapan tahun yang lalu.

Tubuh yang tinggi besar dari Tang Lun, demikian nama piauwsu itu, sekarang sedikit membungkuk. Kumis dan jenggotnya tidak terpelihara. Meski usianya baru empat puluh tahun lebih sedikit, rambutnya telah banyak bercampur uban. Mukanya memperlihatkan garis-garis pengalaman pahit yang dalam.

Dan yang lebih mengherankan hati Sin Hong adalah buntungnya telinga kiri piauwsu itu! Daun telinga kirinya tidak ada. Sin Hong cepat bangkit berdiri dan Tang-piauwsu yang mengira mendapat langganan baru, segera memberi hormat.

“Selamat pagi, Kongcu. Apakah Kongcu mencari saya? Sayalah Tang-piauwsu, dan jika Kongcu membutuhkan pengawalan…”

“Paman Tang, lupakah Paman kepadaku?” kata Sin Hong, suaranya agak menggetar karena keharuan.

Orang ini dahulu pernah membela dia dan ibunya dari serangan gerombolan perampok berkedok. Melihat wajah orang ini, seketika lenyaplah keraguannya. Dia hampir yakin bahwa dugaan mendiang subo-nya itu keliru.

Orang tinggi besar dan telinga kirinya buntung itu memandang kepada Sin Hong penuh perhatian dan keraguan. Betapa pun dia mengingat-ingat, tetap saja dia tidak mampu mengenal pemuda itu.

“Maaf… maafkan saya yang sudah tua dan lemah ingatan, akan tetapi siapakah Kongcu ini…,” katanya agak bingung.

Sin Hong tersenyum ramah sambil melangkah maju mendekati Tang Lun, kemudian dia berkata lembut, “Paman Tang Lun, aku adalah Sin Hong, Tan Sin Hong, sudah lupakah engkau?”

Sepasang mata itu terbelalak dan wajah itu menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah. Matanya memandang penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki, kemudian dia menubruk Sin Hong dan menangis! Orang tua itu, yang dulu terkenal sebagai seorang piauwsu yang gagah perkasa, kini merangkul Sin Hong sambil menangis terisak-isak seperti anak kecil.

Sin Hong membiarkan saja karena maklum bahwa agaknya baru sekarang orang ini mendapatkan kesempatan melepaskan semua penanggungan batinnya melalui tangis. Bukan hanya pelepas derita batin, tetapi juga mungkin karena keharuan, kekagetan dan kegembiraan melihat Sin Hong masih hidup.

Akhirnya dia dapat juga bicara. Sambil tetap memegang kedua pundak Sin Hong, dia mendorong halus dan mengamati wajah pemuda itu dengan air mata masih bercucuran. Bukan air mata buaya, pikir Sin Hong dan dia masih tetap percaya akan kejujuran orang tua ini.

“Sin Hong! Tan Sin Hong… ya Tuhan Yang Maha Kuasa! Siapa dapat percaya? Siapa yang dapat mengenalmu? Sudah bertahun-tahun aku menangisi kalian semua, ayahmu, ibumu, engkau sendiri. Siapa kira kini engkau muncul dalam keadaan selamat, masih hidup dan sudah dewasa pula? Ya Tuhan, apa saja yang telah terjadi denganmu, Nak? Bagaimana mungkin engkau masih dapat keluar dengan selamat dan di mana ibumu?”

“Nanti dulu, Paman. Aku tentu akan menceritakan semua pengalamanku selama ini, tapi lebih dulu aku ingin mendapatkan keterangan darimu tentang segala yang telah terjadi, segala urusan mengenai keadaan ayah pada delapan tahun yang lalu.”

Orang itu mengangguk-angguk. “Baik, baik akan tetapi mari kita duduk, Sin Hong.”

Mereka duduk berhadapan. Tang Lun menatap wajah pemuda itu, kemudian berkata, “Sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu dan menceritakan segala hal yang aku ketahui dengan sebenarnya, terlebih dahulu aku ingin mengetahui satu hal. Jawablah, Sin Hong, katakanlah bagaimana keadaan ibumu.”

Melihat betapa sepasang mata itu memandang dengan penuh selidik, penuh harap dan penuh kecemasan, Sin Hong merasa tidak tega untuk membuat orang tua itu berada dalam keadaan bimbang dan gelisah.

“Paman Tang Lun, ibuku telah meninggal dunia, diserang badai di gurun pasir…“ “Ahhhhh…!”
Tang Lun menutupi mukanya dengan kedua tangannya, kembali dia menangis! Sampai lama baru dia dapat bicara. “Aku yang berdosa, aku… aku yang menyuruh engkau dan ibumu melarikan diri ke gurun pasir sehingga ibumu mendapatkan kematiannya di sana dan engkau… ahhh, hanya berkat perlindungan Tuhan saja engkau masih dapat hidup sampai sekarang… aihhh, Sin Hong, betapa aku selama ini membayangkan kengerian kalian di gurun pasir… dan semua… itu karena aku yang menyuruhmu…”

Sin Hong mengerutkan alisnya. Hemm, kenapa orang ini berkata demikian? Apa benar juga dugaan mendiang subo-nya? Dia merasa tegang, akan tetapi berhasil menekan perasaannya. Dia harus menyelidiki semua ini dengan bebas. Setelah orang tua itu tenang kembali, mulailah dia bertanya.

“Paman Tang Lun, sekarang aku minta dengan hormat supaya engkau suka menjawab dan menceritakan seluruhnya secara jujur padaku. Aku berhak untuk mengetahui segala yang telah terjadi pada kedua orang tuaku, bukan? Nah, pertama, ceritakanlah tentang kepergian ayah ke Tuo-lun, barang apa yang dikawalnya dan siapa yang menyuruhnya. Ceritakanlah dengan jelas dari awal mulanya, Paman.”

Peristiwa yang terjadi delapan tahun yang lalu itu selalu terbayang di dalam benak Tang Lun, maka tanpa banyak mengingat lagi dia pun bercerita, dengan lancar…..

Pada suatu hari, demikian ia bercerita, datanglah seorang hartawan ke kantor ekspedisi Peng An Piauwkiok itu. Hartawan itu datang bersama keempat orang pelayannya. Dia seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun, berpakaian mewah sekali bahkan keretanya pun indah.

Ia mengaku sebagai seorang hartawan dari kota raja yang datang ke Ban-goan dengan maksud mengirimkan sebuah peti besar berisi emas permata yang harganya tak kurang dari seratus kati emas. Hartawan itu mengaku she Lay dan untuk selanjutnya disebut Lay-wangwe (hartawan Lay) yang katanya membuka toko rempah-rempah yang sangat besar di kota raja.

Karena peti itu berisi barang berharga, maka Tan-piauwsu menuntut biaya pengawalan yang besar, yaitu sepuluh kati emas atau sepersepuluh dari harga barang yang akan dikawalnya. Lay-wangwe sambil tertawa menyetujui dan mengatakan bahwa dia bahkan akan menambah jumlah itu dengan hadiah lain kalau barangnya itu tiba di tempat tujuan dengan selamat.

“Demikianlah Sin Hong. Karena barang itu sangat berharga, ayahmu tidak tega untuk menyerahkan pengawalannya kepada anak buah. Ayahmu berangkat mengawal sendiri bersama sepuluh orang anak buahnya yang dipilihnya, dan urusan di sini diserahkan kepadaku.”

Tang-piauwsu kemudian melanjutkan keterangannya…

Sebulan kemudian setelah Tan-piauwsu mengawal kiriman berharga itu, datang utusan Tan-piauwsu yang mengabarkan bahwa dia telah tiba dengan selamat di kota Tuo-lun dan minta agar isteri dan puteranya menyusul ke Tuo-lun karena di kota itu sedang ada keramaian dan perayaan besar.

“Karena aku khawatir akan keselamatan ibumu dan engkau, maka aku sendirilah yang mengawal kalian. Akan tetapi ternyata diperjalanan kita diserang gerombolan berkedok itu. Selanjutnya engkau dan ibumu kusuruh menyelamatkan diri dari kejaran gerombolan dengan menunggang onta memasuki gurun pasir. Ahhh, peristiwa itu menghantui aku setiap malam selama ini, karena aku merasa seolah-olah aku menyuruh kalian berdua memasuki jurang kematian!”

“Nanti dulu, Paman. Siapakah orang yang mengirim berita dari ayah itu? Orang yang menyampaikan pesan ayah dari Tuo-lun?”

“Aku sudah mencari orang itu namun tidak berhasil. Ketika dia datang melapor itu, aku sudah merasa heran mengapa Tan-toako tidak mengutus seorang di antara para anak buahnya, melainkan seorang yang asing dan tak kukenal. Orang itu mengatakan bahwa dia adalah anggota rombongan piauwsu yang mengawal barang dari Tuo-lun ke selatan, dan Tan-toako yang sudah mengenalnya, menitipkan pesan itu untuk kita.”

“Dan engkau masih ingat orangnya? Wajahnya? Namanya?”

Tang Lun menarih napas panjang dan menggelengkan kepala. “Itulah kesalahan dan kecerobohanku. Karena tak menduga buruk, aku lupa lagi akan namanya, dan wajahnya juga wajah orang biasa sehingga aku sudah tidak ingat lagi. Akan tetapi aku merasa yakin bahwa dia adalah seorang anggota gerombolan orang berkedok itu yang sengaja memancing kita melakukan perjalanan jauh itu.”

Pada saat itu, dari luar muncullah seorang laki-laki yang usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Orangnya bertubuh tinggi kurus dengan muka pucat kekuningan tetapi sepasang matanya berkilat dan dia nampak cerdik serta gagah. Sebatang pedang tergantung di punggungnya dan pakaiannya juga pakaian seorang piauwsu.

Melihat orang ini, Sin Hong segera mengenalnya. Orang ini adalah Ciu-piauwsu, nama lengkapnya Ciu Hok Kwi, salah seorang di antara piauwsu-piauwsu pembantu ayahnya. Sebaliknya, Ciu Hok Kwi tidak mengenal pemuda yang sedang bercakap-cakap dengan Tang-piauwsu itu. Disangkanya Sin Hong seorang tamu biasa yang hendak mengirim barang, maka dia pun acuh saja.

“Paman Ciu!” Sin Hong menegurnya.

Orang itu terkejut, kemudian memandang Sin Hong penuh perhatian. Pandang matanya mengandung keheranan karena dia tidak mengenal pemuda yang menyebutnya paman itu.

“Ciu-te, apakah engkau sudah lupa kepadanya? Dia ini adalah Tan Sin Hong,” berkata Tang-piauwsu.

Sepasang mata yang bersinar itu terbelalak dan kini dia pun teringat. Kalau tadi dia seperti juga Tang- piauwsu, tidak ingat kepada Sin Hong, adalah karena mereka sudah mengira bahwa Sin Hong telah tewas.

“Sin Hong…!” Ciu-piauwsu berseru.

Dia cepat menghampiri, lalu memegang lengan pemuda itu. “Syukurlah, engkau masih selamat, masih hidup! Sungguh merupakan keajaiban! Dan bagaimana dengan ibumu?”

“Ibu telah meninggal dunia diserang badai di gurun pasir.” “Ahhh…! Kasihan…!”
“Ciu-te, kebetulan engkau pun datang. Sin Hong sudah pulang dan ia minta keterangan tentang semua peristiwa yang terjadi, dan tadi aku sudah menceritakan tentang sebab keberangkatan ayahnya, kemudian mengenai perjalanan dia dan ibunya yang kukawal. Kalau aku lupa dalam keteranganku, engkau dapat menambahkan.”

Ciu Hok Kwi mengangguk dan duduk berhadapan dengan mereka. “Semua itu agaknya sudah direncanakan orang yang memusuhi keluargamu, Sin Hong,” kata Ciu-piauwsu dengan suara penuh keyakinan.

“Aku pun sudah mengatakan demikian,” sambung Tang-piauwsu.

“Nanti dulu, Paman berdua. Lebih dahulu aku ingin mendengar cerita Paman Tang Lun tentang pengalamannya pada waktu aku dan ibu berpisah darimu, Paman. Ceritakanlah selengkapnya, karena mungkin keterangan Paman ini penting bagiku.”

Tang Lun lalu melanjutkan ceritanya. Saat ia mengawal nyonya Tan Hok dan Sin Hong, mereka dihadang oleh perampok berkedok dan dia melakukan perlawanan mati-matian bersama dua belas orang anak buahnya. Namun, pihak perampok ternyata selain lebih banyak jumlahnya, juga lihai sekali sehingga satu demi satu anak buahnya roboh dalam keadaan binasa.

“Melihat keadaan yang tidak menguntungkan dan berbahaya bagi kalian berdua, aku mengajak kalian melarikan diri. Karena para perampok berkedok itu terus melakukan pengejaran, ketika mendapatkan binatang onta, aku menyuruh kalian melarikan diri ke dalam gurun pasir, sedangkan aku kemudian menanti para pengejar untuk melakukan perlawanan mati-matian dan membiarkan kalian dapat menyelamatkan diri.” Sampai di sini Tang-piauwsu diam dan meraba-raba telinga kirinya yang sudah tidak berdaun lagi.

Tang Lun melakukan perlawanan mati-matian, dikeroyok oleh banyak orang berkedok dan biar pun dia mengamuk dengan golok besarnya, akhirnya dia roboh pingsan karena luka-lukanya dan daun telinga kirinya putus.

“Ketika aku siuman, mereka sudah tidak ada. Ternyata mereka membiarkan aku hidup dan hanya membuntungi daun telinga kiriku! Ahhh, inilah yang membuatku menyesal bukan main, Sin Hong. Aku sudah menyuruh engkau dan ibumu lari ke gurun pasir karena khawatir kalau kita semua akan dibunuh. Ternyata mereka tidak membunuh aku, dan kalian… kalian sudah kusuruh memasuki gurun pasir dan ternyata ibumu tewas di gurun pasir!”

Kedua mata kakek tua itu menjadi basah. Tentu ia telah menderita tekanan batin hebat sehingga dalam umur empat puluh tahun lebih dia sudah kelihatan bagaikan seorang kakek-kakek!

“Paman Tang, harap kau lanjutkan ceritamu. Setelah engkau siuman, lalu bagaimana?” tanya Sin Hong, sejak tadi pandang matanya tak pernah meninggalkan wajah orang tua itu, memandang penuh selidik.

“Dalam keadaan luka-luka aku berusaha mencari kalian di gurun pasir, akan tetapi aku kehilangan jejak karena jejak onta itu dihapus oleh pasir yang tertiup angin. Karena aku menderita luka-luka, aku pun pulang ke Ban-goan dan sesudah luka-lukaku sembuh, bersama Ciu-te ini aku pergi melakukan penyelidikan ke Tuo-lun. Ternyata ayahmu tidak pernah sampai ke Tuo-lun. Ketika kami menyelidiki, kami mendengar dari para piauwsu di sana bahwa ayahmu bersama sepuluh orang anak buahnya…” Tang Lun tidak dapat melanjutkan ceritanya, khawatir jika Sin Hong akan terkejut mendengar nasib ayahnya.

“Paman Tang, aku sudah tahu bahwa ayah dan anak buahnya telah meninggal dunia, tewas dalam sebuah hutan di luar kota Tuo-lun.”

“Aihhh… engkau sudah tahu pula?” kata Tang Lun, agak lega hatinya karena dia tidak usah menceritakan lagi peristiwa yang menyedihkan itu.

“Kami bersembahyang di depan makam ayahmu dan anak buahnya yang di jadikan satu dan menurut para piauwsu, jenazah mereka dikubur oleh seorang hwesio tua dibantu mereka. Kami tidak berani lancang memindahkan kuburan ayahmu ke sini, karena tidak ada lagi keluargamu di sini…”

“Selanjutnya bagaimana, Paman?” desak Sin Hong.

“Lay-wangwe menuntut barang-barangnya yang berharga seratus kati emas itu! Tentu saja kami di sini tidak mampu mengembalikan harta sedemikian banyaknya. Hartawan itu lalu menyita semua barang. Semua barang yang berada di rumah orang tuamu lalu dilelang dan dijual, akan tetapi tetap saja tidak mampu melunasi atau mengganti harga barang kiriman itu. Akhirnya tinggal rumah dan kantor ini, yang harus dijual pula. Untung ada Ciu-te ini yang mengusahakan pinjaman uang sebanyak dua ribu tail perak untuk membeli sendiri rumah dan kantor ini dan uangnya diserahkan kepada Lay-wangwe. Nah, kini Peng An Piauwkiok tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan rumah kantor ini pun menjadi hak milik salah seorang paman dari Ciu-te dengan perjanjian bahwa jika dalam waktu sepuluh tahun tidak berhasil mengembalikan uang itu bersama bunganya yang layak, terpaksa akan diambil alih. Akan tetapi, sejak terjadi peristiwa itu, perusahaan kita tidak laku lagi. Orang mulai tidak percaya, apa lagi ayahmu tidak ada sehingga kami benar-benar bangkrut. Paling lama dalam dua tahun lagi rumah dan kantor ini harus diserahkan kepada yang berhak.” Tang Lun mengakhiri ceritanya dengan suara sedih.

Akan tetapi Sin Hong tidak tertarik tentang rumah itu.

“Paman Tang dan Paman Ciu, kalian tadi mengatakan bahwa semua peristiwa itu pasti direncanakan oleh orang-orang yang memusuhi ayah. Mengapa kalian dapat menduga demikian dan siapakah orang-orang yang memusuhi ayah?”

“Sin Hong, peristiwa yang dahulu menewaskan ayahmu, juga dua puluh orang anggota pengawal kita, bahkan sudah membuat Peng An Piauwkiok bangkrut, tentu saja tidak bisa kami diamkan. Mala petaka itu masih ditambah lagi dengan lenyapnya engkau dan ibumu. Kami, terutama sekali aku dan Ciu-te ini, berbulan-bulan lamanya melakukan penyelidikan untuk mengungkap rahasia itu. Kami telah menghubungi banyak piauwsu, bahkan kami memasuki daerah hitam untuk mencari keterangan dari para gerombolan perampok tentang gerombolan berkedok itu. Akan tetapi, semua usaha kami gagal. Tak seorang pun tahu tentang gerombolan itu, bahkan tak ada yang pernah mendengar ada gerombolan berkedok di daerah ini. Kami kemudian mengambil kesimpulan bahwa tentu gerombolan itu bukan perampok biasa, melainkan orang-orang yang menyamar sebagai perampok, oleh karena itu mereka memakai kedok agar muka mereka tidak dikenal.”

Sin Hong dalam hatinya menyetujui. Memang perampok berkedok itu bukan perampok, pikirnya, melainkan para piauwsu yang menyamar perampok!

“Lalu siapakah menurut dugaan Paman yang mengatur semua itu?”

“Setelah kami berdua menyelidiki urusan ini, maka kami mengambil kesimpulan bahwa besar sekali kemungkinan yang mengatur semua ini adalah Kwee-piauwsu pemilik dari Ban-goan Piauwkiok!” kata Tang Lun dengan nada suara penuh keyakinan.

Sin Hong mengerutkan alisnya. Dia telah berusia empat belas tahun saat meninggalkan Ban-goan. Sebagai putera kepala piauwkiok, tentu saja dia tahu siapa Kwee-piauwsu itu. Ban-goan Piauwkiok merupakan saingan Peng An Piauwkiok.

Ia pernah mendengar pula bahwa keluarga Kwee yang memimpin Ban-goan Piauwkiok mempunyai ilmu silat tinggi. Namun, selama itu dia hanya mendengar persaingan dalam perusahaan itu, maka tentu saja dia terkejut dan meragu mendengar bahwa keluarga Kwee yang mengatur semua rencana busuk ini untuk menghancurkan keluarganya dan membikin bangkrut Peng An Piauwkiok.

“Hemmm, dengan alasan apa maka Jiwi (Kalian) lalu mempunyai dugaan seperti itu?” tanyanya mendesak.

Ciu Hok Kwi membantu rekannya. “Kami berdua sudah melakukan penyelidikan secara mendalam dan kiranya tidak ada golongan lain yang dapat dicurigai kecuali keluarga Kwee dari Ban-goan Piauwkiok. Memang tidak dapat disangkal bahwa sebagai seorang piauwsu, mendiang ayahmu mempunyai banyak musuh di antara para perampok. Akan tetapi, tidak ada perampok yang mempergunakan cara seperti itu, berkedok pula. Biar pun kami belum memperoleh bukti meyakinkan, akan tetapi hanya keluarga Kwee saja yang mempunyai alasan kuat untuk melakukan semuanya itu. Pertama, anak buahnya menyamar sebagai perampok dan berkedok karena kalau tidak, tentu ayahmu, juga Tang-toako dan para anak buah piauwkiok kita akan mengenal mereka. Kedua, mereka tentu sudah mendengar bahwa kami memperoleh biaya besar, maka mereka merasa iri dan mereka melakukan penghadangan. Dengan demikian, mereka memperoleh banyak keuntungan. Pertama mendapatkan harta besar itu dan kedua, bisa menghancurkan kita sebagai saingannya yang terbesar di kota ini. Kemudian yang ketiga, hal ini pun hasil penyelidikan kami, dahulu, sebelum mendiang ibumu menjadi isteri mendiang ayahmu, pernah mendiang ibumu dipinang oleh Kwee Tay Seng, yaitu Kwee-piauwsu. Pinangan itu ditolak. Hal ini pun memperkuat alasan mengapa dia lalu menghancurkan keluarga ayahmu.”

Mendengar semua itu, Sin Hong mengerutkan alisnya. Agaknya cocok keterangan itu dengan apa yang didengarnya dari anggota perampok bahwa gerombolan berkedok itu tadinya merupakan rombongan piauwsu yang menyamar!

Benarkah Kwee-piauwsu yang mengatur semua ini? Dia tidak mau sembrono. Harus diselidikinya lebih dulu sampai terdapat bukti. Tanpa bukti, tidak mungkin dia menuduh keluarga Kwee begitu saja.

“Akan tetapi, andai kata benar dia, setelah berhasil membunuh ayah dan merampas harta kiriman, mengapa pula dia menyerang engkau, Paman Tang? Dan mengganggu ibu dan aku.”

“Mungkin untuk membasmi keluarga ayahmu, agar jangan menimbulkan balas dendam di kemudian hari, atau… ahhh, entahlah. Betapa pun juga aku yakin bahwa dialah yang melakukan semua ini.”

“Tetapi, setelah engkau dikeroyok dan dikalahkan, kenapa engkau tidak dibunuhnya?”

“Tadinya aku pun merasa heran, akan tetapi kemudian aku bisa mengerti mengapa dia membiarkan aku hidup. Tentu saja agar aku dapat mengurus piauwkiok ini, memenuhi pertanggung jawabannya sehingga di mata masyarakat, piauwkiok ini menjadi bangkrut, dan mungkin agar aku menjadi saksi hidup bahwa yang menyerang adalah perampok-perampok berkedok, bukan anak buah piauwkiok itu. Ah, dia telah menyiksaku dengan membiarkan aku tetap hidup, merasa berdosa dan menanggung malu karena piauwkiok menjadi begini…“

Sin Hong mengerutkan alis. Semua dugaan memang menuding ke arah Kwee-piauwsu dan biar pun belum ada bukti, namun hati siapa pun memang condong untuk menuduh keluarga Kwee.

“Oya, Paman Tang. Lay-wangwe itu membuka toko rempah-rempah yang besar di kota raja? Tahukah engkau di jalan mana dia tinggal di kota raja dan bagaimana macam wajahnya?”

“Ah, dia sama sekali tidak dapat kita curigai, Sin. Hong,” kata Ciu-piauwsu. “Dia telah menderita rugi yang amat banyak. Harta kekayaannya yang berharga seratus kati emas itu, setelah dia menyita semua harta milik keluargamu, belum juga ada sepersepuluh bagian! Jadi, dalam urusan ini dia yang menderita rugi harta paling banyak dan kami tidak pernah mencurigai dia.”

“Aku pun tidak mencurigai siapa-siapa selama belum ada bukti,” kata Sin Hong, “Akan tetapi aku harus mengetahui dengan jelas semua orang untuk bahan penyelidikanku. Paman Tang di mana alamatnya dan bagaimana macamnya orang itu?”

“Aku hanya dua kali bertemu dengan dia, Sin Hong. Pertama kali pada saat dia datang membawa peti bersama beberapa orang pembantunya dengan naik kereta. Kemudian ketika dia datang lagi untuk penggantian hartanya yang dirampok, lalu dia menyerahkan pengurusan penggantian itu kepada pengawalnya. Menurut keterangan pegawainya, Lay-wangwe memiliki toko rempah-rempah besar di Jalan Singa Batu, dan rumahnya seperti istana. Ada pun wajah dan bentuk badannya tidak sulit untuk dikenal. Tubuhnya pendek dengan perut gendut sekali, kepalanya bundar dan matanya lebar, memakai gigi emas. Hidungnya besar dan mulutnya selalu tersenyum-senyum menyeringai, apa lagi kalau berhadapan dengan wanita seperti yang kulihat ketika dia berkunjung dan melihat wanita lewat di depan pintu. Dia termasuk laki-laki yang memiliki ciri mata keranjang. Usianya ketika itu tiga puluh tahunan, jadi sekarang, sudah hampir empat puluh tahun.”

“Terima kasih, Paman. Keterangan itu sudah cukup bagiku,” kata Sin Hong.

“Sin Hong, kupikir apa yang dikatakan Ciu-te tadi benar. Engkau hanya akan membuang waktu sia-sia belaka jika menyelidiki keadaan Lay-wangwe. Bahkan jika engkau muncul dan dia tahu bahwa engkau ialah putera Tan-toako, tentu dia akan marah-marah karena diingatkan akan kerugiannya. Mungkin dia akan menuntut penggantian darimu karena engkau adalah putera Tan-toako. Sebaiknya kalau engkau menyelidiki Kwee-piauwsu. Dia amat mencurigakan dalam hubungan ini sebab ada satu hal yang perlu kau ketahui. Akan tetapi biarlah nanti saja kuceritakan kepadamu.”

Sin Hong merasa heran sekali karena dia melihat betapa pandang mata Tang-piauwsu mengerling ke arah Ciu-piauwsu, seakan-akan hendak memberi tanda bahwa dia tidak ingin apa yang hendak diceritakan kepada Sin Hong itu dapat terdengar oleh orang lain. Agaknya Ciu-piauwsu tak tersinggung atau tidak memperhatikan ucapan Tang-piauwsu itu.

Malam itu, setelah makan malam dan berganti pakaian, Sin Hong beristirahat di dalam kamarnya. Di dalam kamar itu, kamarnya sendiri waktu dia belum meninggalkan tempat ini, akan tetapi kamar yang sudah kosong dan hanya terdapat sebuah dipan sederhana, dia merebahkan diri sambil termenung. Langit-langit kamar itu masih sama seperti dulu, dicat biru namun catnya sudah luntur dan terdapat noda-noda bekas air hujan yang bocor.

Dia merasa terharu karena kamar ini sama sekali tidak asing, bahkan dia merasa akrab rebah di situ. Karena lelah, juga karena batinnya lelah pula setelah banyak berpikir, dia pun tertidur dan malam pun mulai makin menghitam dan makin sepi…..

********************

Manusia hidup tak mungkin bebas dari persoalan sebab hidup berarti komunikasi antara manusia, berarti pergaulan di masyarakat ramai dan dalam setiap persoalan sudah pasti kadang-kadang terjadi pergesekan-pergesekan atau pertentangan pendapat yang lantas menimbulkan persoalan.

Juga dalam hidup manusia menghadapi pula peristiwa-peristiwa yang menempatkan dirinya harus berhadapan dengan hal-hal yang tak menyenangkan, dengan hal-hal yang mengancam, dengan kehilangan-kehilangan dan sebagainya, yang tentu saja akhirnya menimbulkan masalah atau persoalan yang kita namakan problem.

Hidup ini seolah-olah menjadi ladang di mana problem tumbuh seperti jamur di musim hujan, tiada hentinya, sejak kecil sampai tua dan mati, sejak pagi bangun tidur sampai menjelang pulas di malam hari! Benarkah hidup harusnya begini? Tidak dapatkah kita terbebas dari problem, dari persoalan?

Selama kita masih hidup, tidak mungkin kita terhindar dari persoalan karena persoalan merupakan peristiwa yang terjadi setiap saat, dalam pekerjaan, dalam hukuman antara keluarga, antara sahabat, bahkan dalam permainan selalu timbul problem.

Namun, kalau kita mau mengkaji dengan seutuhnya, atau lebih tepat lagi, kalau kita mau membuka mata dengan waspada, mengamati segala peristiwa yang terjadi tanpa penilaian, tanpa prasangka, tanpa gambaran bahwa aku diuntungkan atau dirugikan, kalau kita menghadapi segala peristiwa yang terjadi sebagai suatu fakta, sebagai suatu kenyataan yang sedang terjadi dan tidak dapat diubah oleh apa pun juga, maka akan nampaklah oleh kita bahwa sesungguhnya problem itu tidak ada.

Problem dalam hal ini diartikan sebagai masalah yang menyusahkan, menyulitkan atau merugikan diri kita. Peristiwa yang terjadi sama sekali tiada sangkut pautnya dengan problem dan problem itu baru ada kalau memang kita problemkan, kita adakan! Yang kita anggap sebagai problem biasanya adalah sesuatu yang menimbulkan rasa khawatir atau takut, sesuatu yang kita anggap amat merugikan, sesuatu yang mengancam, dan sesuatu yang melenyapkan sumber kesenangan kita.

Segala macam peristiwa, baik yang kita anggap menyenangkan atau menyusahkan, ialah suatu kenyataan, suatu kewajaran, suatu proses yang terjadi karena suatu sebab, dan karena merupakan fakta yang wajar dan di situ tidak ada susah atau senang, untung atau rugi. Baru setelah kita menilai, berdasarkan untung rugi bagi diri sendiri, maka fakta itu kita nilai sebagai baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan, dan yang merugikan, yang buruk, kita jadikan sebagai suatu problem.

Contohnya demikian. Hujan datang. Ini wajar. Ini kenyataan, fakta yang sedang terjadi dan tak dapat diubah oleh siapa pun. Ini suatu proses dari sebab-sebab tertentu. Tidak ada untung atau rugi dalam hujan, tidak ada baik mau pun buruk. Akan tetapi, kita menghadapinya dengan si aku menilai-nilai.

Si penjemur terigu merasa dirugikan dan menyumpah-nyumpah, atau menangis karena terigunya rusak dan dia menderita rugi banyak. Sebaliknya si petani yang memang membutuhkan air hujan bagi tanahnya, memuja dan memuji Tuhan, berterima kasih dan tertawa-tawa karena peristiwa itu menguntungkan dirinya! Jelaslah bahwa hujan itu tetap hujan, suatu peristiwa yang wajar, namun menjadi problem atau tidak tergantung kepada kita sendiri yang menilainya. Jelas bahwa problem itu tidak ada kalau tidak kita adakan sendiri!

Demikian pula dengan peristiwa apa pun juga di dunia ini. Jatuh sakit, itu pun suatu kenyataan yang wajar, suatu proses yang bersebab. Kalau kita menerimanya dengan pengamatan yang waspada, dan menerimanya sebagai suatu kenyataan hidup, tanpa menilai, maka batin kita tidak menjadi keruh oleh suka duka, dan kita dapat bertindak berdasarkan kebijaksanaan untuk menanggulangi sakit yang datang itu. Sampai kepada kematian seseorang. Kita hadapi sebagai suatu kenyataan yang wajar, suatu proses bersebab, dan kita tidak akan diseret oleh duka melainkan dapat bertindak dengan bijaksana.

Jika sudah begini, akan nampaklah oleh kita bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah pasti bersebab, dan segala sesuatu yang terjadi adalah suatu kewajaran, dan di dalam setiap peristiwa terdapat suatu pelajaran, suatu hikmah yang amat berharga! Tinggal kita mau membuka mata dengan waspada atau membutakan mata dengan tangis dan rintihan.

Sin Hong adalah seorang yang semenjak kecilnya mengalami banyak hal-hal yang amat hebat dan jika dipandang sepintas lalu, tentu saja semua peristiwa itu amat merugikan dirinya. Ayahnya dibunuh orang, ibunya juga tewas secara menyedihkan, kemudian tiga orang gurunya sekaligus, terbunuh orang pula.

Semua itu terjadi tanpa dia dapat menolong. Akan tetapi, gemblengan tiga orang sakti membuat dia menjadi seorang pemuda yang kuat lahir batin, tidak mudah terseret si aku yang selalu ingin menang sendiri. Hal ini menjauhkan perasaan dendam dari batinnya dan jika dia menyelidiki tentang peristiwa yang menimpa keluarganya, hal itu dilakukan tanpa perasaan dendam dan benci, tetapi sebagai pemenuhan tugas seorang pendekar yang harus menentang kejahatan. Orang-orang yang menghancurkan keluarga ayahnya amatlah jahat, dan dia ingin tahu apa yang menyebabkan mereka melakukan semua kejahatannya.

Malam itu sunyi sekali dan biar pun Sin Hong tidur pulas karena lelah lahir batin, sedikit suara yang tidak wajar sudah cukup untuk membuatnya terbangun dengan kaget. Dia mendengar gerakan tidak wajar di atas genteng rumah itu dan mendengar pula suara orang merintih. Hal ini sudah cukup membuat dia sadar sepenuhnya, dan di lain saat tubuhnya sudah meloncat keluar dari dalam kamar, keluar dan langsung dia meloncat naik ke atas genteng.

Malam itu gelap, hanya diterangi cahaya ribuan bintang, namun cukup terang baginya untuk melihat berkelebatnya bayangan orang yang berlari di atas wuwungan.

“Heiii, berhenti dulu!” Sin Hong meloncat dan mengejar.

Bayangan hitam itu tiba-tiba membalik dan ternyata dia mengenakan kedok hitam, dan begitu Sin Hong tiba dekat, dia sudah menyambutnya dengan serangan totokan pada ulu hati Sin Hong. Gerakannya demikian cepat dan mengandung hawa pukulan dahsyat yang mengejutkan Sin Hong. Pemuda ini cepat menangkis sambil memutar telapak tangan untuk menangkap lengan orang.

“Plakkk… brettt!”

Bayangan itu tertangkap lengannya, akan tetapi lengan itu dibetot dan lengan bajunya saja yang robek dan tertinggal di tangan Sin Hong. Orang berkedok itu meloncat dari atas wuwungan, melayang masuk ke dalam malam gelap di antara pohon dan rumah tetangga dan lenyap.

Sin Hong tidak mengejar karena dia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya malam-malam datang ke rumahnya. Karena tidak tahu, maka tadi pun dia tidak turun tangan secara keras, hanya berusaha menangkap saja namun gagal dan hal itu saja sudah membuktikan bahwa bayangan hitam itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Karena khawatir mendengar suara rintihan tadi, Sin Hong cepat meloncat turun kembali ke dalam rumah, langsung menuju ke kamar Tang-piauwsu karena di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua.

Daun pintu kamar itu terbuka lebar. Suara rintihan lemah masih terdengar dari sebelah dalam kamar. Cepat Sin Hong meloncat masuk. Kamar itu agak remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin di atas meja di sudut ruangan. Sin Hong melihat sesosok tubuh berlumuran darah menggeletak di atas lantai, dan ternyata orang itu bukan lain adalah Tang-piauwsu!

“Paman…!” Seru Sin Hong sambil menghampiri dan berlutut, cepat memeriksa keadaan orang itu. Luka di dadanya amat parah dan tahulah dia bahwa tidak ada harapan lagi bagi Tang Lun.

“Paman, siapa yang melakukan ini?”

Dengan napas terengah Tang Lun menjawab, “…tidak… tahu… amat cepat… berkedok… Sin Hong…“

Sin Hong cepat menotok beberapa jalan darah di dada dan pundak Tang Lun. Totokan ini menolong mengurangi rasa nyeri, sesak, dan Tang Lun melanjutkan kata-katanya, agak lancar. “Sin Hong dahulu sebelum dilamar ayahmu, ibumu pernah saling mencinta dengan Kwee Tay Seng…“

“Paman, siapa yang melakukan ini terhadap Paman? Siapakah yang menyerang tadi? Seorang berkedok, akan tetapi siapa kiranya dia, Paman?”

“Entahlah…. luar biasa lihainya…” Tang Lun tidak kuat lagi, lehernya terkulai kemudian nyawanya melayang.

Sin Hong mengepal tinju. Tang Lun tak mengenal pembunuh itu! Ia merasa yakin bahwa tentu pembunuh itu ada hubungannya dengan mereka yang membasmi keluarganya. Dia merasa menyesal sekali mengapa tadi tidak dikejarnya orang berkedok itu dan menawannya. Akan tetapi, dia sama sekali tidak membayangkan bahwa orang berkedok ini telah membunuh Tang Lun.

Dan Tang Lun hanya memberi tahu bahwa ibunya pernah saling cinta dengan Kwee Tay Seng, atau Kwee- piauwsu, orang yang telah dicurigai oleh Tang Lun dan Ciu Hok Kwi sebagai pembasmi keluarganya. Agaknya itulah yang hendak diceritakan kepadanya namun ditahannya, sore tadi di depan Ciu-piauwsu. Hemmm, apakah karena cintanya terhadap ibunya gagal oleh karena ibunya menikah dengan ayahnya lalu orang she Kwee itu menjadi marah dan menaruh dendam kepada ayahnya? Jadi ibunya mencinta laki-laki itu, akan tetapi kakeknya dahulu menolak pinangan keluarga Kwee!

Pada keesokan harinya, ketika mendengar akan peristiwa itu, Ciu Hok Kwi datang dan dia pun berlutut dan menangisi jenazah Tang Lun. Ketika jenazah itu dimasukkan peti oleh para piauwsu lainnya yang datang berlayat bersama para tetangga, dan setelah diperiksa oleh pembesar yang berwenang untuk itu, Ciu Hok Kwi lalu bersembahyang dengan suara yang cukup nyaring.

“Tang-toako! Kita yakin bahwa yang melakukan ini tentulah pembunuh Tan-toako pula, yaitu anjing she Kwee. Tenangkanlah rohmu, Toako, karena sekarang juga aku, Ciu Hok Kwi, akan menuntut balas kepada anjing she Kwee itu!” Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar Ciu Hok Kwi lalu pergi meninggalkan rumah itu.

Semua orang memandang dengan gelisah. Sin Hong lalu melangkah keluar pula dari rumah itu, diam-diam membayangi Ciu Hok Kwi yang pergi dengan muka merah dan sikap marah. Dia ingin sekali melihat apa yang hendak dilakukan oleh piauwsu itu.

Seperti yang sudah diduga dan dikhawatirkannya, Ciu Hok Kwi langsung saja menuju ke rumah Kwee Tay Seng, pemimpin dari Ban-goan Piauwkiok. Beberapa orang piauwsu segera keluar dari kantor perusahaan itu menyambut kedatangan Ciu Hok Kwi dengan sikap heran.

“Aku ingin berjumpa dan bicara dengan Kwee Tay Seng!” demikian Ciu Hok Kwi berkata lantang, dengan sikap marah.

Selagi para piauwsu memperlihatkan sikap kurang senang, tiba-tiba dari dalam muncul seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dari belakang batang pohon tak jauh dari situ, Sin Hong menonton dan kehadirannya tidak menarik perhatian karena di tempat itu sudah berkumpul beberapa orang yang tertarik melihat ribut-ribut itu.

Sin Hong masih dapat mengenal Kwee-piauwsu. Masih nampak gagah dan tampan, bertubuh tinggi besar dan berdada bidang. Seorang laki-laki yang jantan dan gagah, dan kini dia memandang dengan penilaian lain karena teringat bahwa laki-laki ini pernah saling mencinta dengan ibunya di waktu masih muda. Seorang pria yang ganteng, dan tidak heran kalau ibunya pernah saling mencinta dengannya.

“Kiranya Ciu Piauwsu yang datang berkunjung,” berkata Kwee-piauwsu dengan sikap ramah dan pandang matanya tajam penuh selidik. “Silakan masuk dan mari kita bicara di dalam.”

“Tidak perlu masuk, di sini pun cukup!” Ciu Piauwsu berkata dengan suara membentak marah. “Kwee Tay Seng, kini aku datang untuk menuntut balas atas kematian saudara-saudaraku Tan Hok dan Tang Lun! Majulah dan mari kita membuat perhitungan dengan senjata!” Tangan kanannya bergerak dan Ciu Piauwsu telah menghunus pedang yang bergantung di punggungnya.

Sin Hong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak setuju melihat sikap Ciu Hok Kwi biar pun orang itu menyatakan hendak membalaskan dendam atas kematian ayahnya dan Tang-piauwsu. Ciu Hok Kwi dianggapnya terlalu kasar dan sembrono, padahal sama sekali belum ada bukti nyata bahwa pembunuhan- pembunuhan itu dilakukan oleh Kwee Piauwsu. Dia pun hanya menonton saja, akan tetapi diam-diam dia pun bersiap untuk melindungi keselamatan Ciu Hok Kwi kalau sampai terancam bahaya maut.

Akan tetapi Kwee Piauwsu kelihatan heran mendengar tantangan dan melihat sikap Ciu Hok Kwi. “Hemmm, Ciu Hok Kwi, sungguh sikapmu ini membuat kami merasa bingung dan tak mengerti. Saudara Tan Hok telah tewas dalam tugasnya, beberapa tahun yang lalu, dan kini yang melanjutkan perusahaan Peng An Piauwkiok adalah saudara Tang Lun. Bagaimana engkau kini mengatakan hendak membalas kematian saudara Tang Lun? Dan mengapa pula kepadaku?”

“Orang she Kwee, tidak perlu lagi berpura-pura! Orang lain boleh jadi tidak tahu, akan tetapi aku yakin bahwa yang membunuh Tang-toako malam tadi adalah engkau! Dan dahulu pun yang melakukan pencegatan, merampas barang kiriman serta membunuh Tan-toako adalah engkau pula dan para anak buahmu. Nah, sekarang aku membuat perhitungan, hadapi pedangku kalau memang engkau laki-laki sejati! Jangan bertindak dalam rahasia, memakai kedok segala!”

Melihat sikap ini, para piauwsu anak buah Kwee Piauwsu menjadi marah dan beberapa orang sudah mencabut senjata hendak menyerangnya. Melihat ini, Kwee Piauwsu cepat memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur.

“Jangan kalian mencampuri urusan ini, biar aku sendiri yang menghadapi Ciu-piauwsu!” Kemudian dia melangkah maju menghadapi Ciu Hok Kwi dengan sikap tenang, akan tetapi mukanya menjadi merah karena marah.

“Ciu-piauwsu, semua tuduhanmu tadi merupakan fitnah yang amat keji! Aku sama sekali tidak tahu bahwa Tang-piauwsu semalam dibunuh orang, dan aku pun sama sekali tidak tahu-menahu tentang kematian Tan-piauwsu beberapa tahun yang lalu. Apa buktinya bahwa aku melakukan pembunuhan-pembunuhan itu? Jangan engkau melempar fitnah seenak perutmu sendiri tanpa bukti!”

“Buktinya? Engkau adalah saingan paling besar dari perusahaan kami, dan engkau pun saingan mendiang Tan-toako dalam merebut hati wanita. Engkau mendendam padanya dan karena itu sudah jelas engkau yang melakukan semua pembunuhan itu!”

“Keparat!” Kwee-piauwsu menjadi marah karena urusan pribadinya mengenai cintanya terhadap mendiang isteri Tan-piauwsu diungkit-ungkit oleh orang itu. “Aku tidak pernah melakukan pembunuhan itu, tetapi jangan dikira aku takut menghadapi tantanganmu yang sangat ngawur dan tidak berdasar!” Berkata demikian, piauwsu yang tinggi besar itu melolos sabuknya.

Sabuk itu ternyata sebuah sabuk rantai baja yang tebal dan panjangnya hampir satu setengah meter. Melihat lawannya sudah mengeluarkan senjatanya, segera Ciu Hok Kwi menerjang dengan pedangnya sambil membentak.

“Mampuslah!”

Akan tetapi, Kwee Tay Seng adalah seorang ahli silat Bu-tong-pai yang lihai sekali. Tangannya segera bergerak dan rantai baja itu membentuk sinar bergulung menangkis serangan pedang yang ditusukkan oleh lawan.

“Tranggg…!”

Nampak bunga api berhamburan ketika pedang bertemu rantai. Keduanya melangkah ke belakang, merasakan betapa tangan mereka tergetar hebat oleh pertemuan kedua senjata itu, tanda bahwa masing- masing memiliki tenaga yang amat kuat.

Ciu Hok Kwi menerjang lagi dan kembali mengirim serangan-serangan dahsyat dengan pedangnya, dan harus diakui bahwa permainan pedang orang she Ciu ini cukup lihai. Kwee-piauwsu tidak berani memandang rendah. Dia menangkis, dan membalas dengan serangan rantainya. Segera kedua orang itu terlibat dalam perkelahian yang seru dan mati-matian.

Dari belakang batang pohon, kini Sin Hong telah maju bercampur dengan orang-orang yang nonton, tak jauh dari tempat perkelahian. Tadinya dia telah siap untuk melindungi Ciu-piauwsu, akan tetapi segera dia mendapat kenyataan yang mengagumkan bahwa tingkat kepandaian Ciu-piauwsu tidak kalah dibandingkan dengan tingkat lawan. Karena itu legalah hatinya dan ia pun mengikuti jalannya perkelahian itu, siap untuk mencegah apa bila seorang di antara mereka terancam bahaya maut. Biar pun dia berdiri di bagian terdepan, dia tidak takut dikenal orang karena baru kemarin dia tiba di Ban-goan dan tidak ada orang mengenal dia.

Perkelahian itu berlangsung semakin seru dan makin banyak orang datang menonton. Para anggota piauwsu anak buah Kwee-piauwsu membuat pagar untuk menghalangi para penonton mendekat, dan di antara para penonton banyak yang membicarakan perkelahian itu dengan dugaan-dugaan mereka. Sin Hong tentu saja memasang telinga mendengarkan dan percakapan dua orang di sebelahnya menarik perhatiannya.

“Hebat sekali orang itu, dapat menandingi Kwee-piauwsu, siapakah dia itu?”

“Apakah engkau tidak tahu? Dia adalah orang ke dua dari Peng An Piauwkiok setelah Tang-piauwsu.” “Akan tetapi mengapa dia datang dan menyerang Kwee-piauwsu?”
“Biasa, orang dagang. Tentu karena persaingan.”

Karena Sin Hong menoleh, maka dalam waktu beberapa detik lamanya perhatiannya terpecah dan dia tidak melihat betapa pada saat itu rantai di tangan Kwee-piauwsu mengenai lengan kanan Ciu-piauwsu. Pedang itu lepas dari pegangan Ciu-piauwsu dan Kwee-piauwsu sudah cepat menyusulkan sebuah tendangan yang mengenai lutut Ciu Hok Kwi dan membuatnya roboh terlentang! Akan tetapi Kwee Tay Seng tak menyerang lagi, melainkan berdiri saja memandang kepada lawan yang sudah dikalahkannya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo