October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 24

 

“Siang Cun, engkau sungguh bersikap tidak adil sama sekali!” katanya dan walau pun suaranya masih lembut dan tenang, namun hatinya mulai panas. “Lupakah engkau akan keadaanmu dulu? Engkau hendak membunuh diri jika tidak kuperisteri, karena merasa malu dan untuk menghapus aib aku harus menjadi suamimu. Aku kasihan kepadamu, kepada orang tuamu, dan aku melihat engkau adalah seorang calon isteri yang baik, aku melihat Ngo-heng Bu-koan sebuah tempat dan lingkungan yang baik untuk muridku. Karena itu aku menerima usul ayahmu dan aku menjadi suamimu. Aku sudah berusaha untuk memupuk cinta kasih antara kita. Akan tetapi bagaimana mungkin berhasil kalau dari pihakmu tidak ada bantuan? Engkau sendiri tidak cinta padaku, Siang Cun.”

Tiba-tiba wanita itu mengangkat mukanya dan muka itu basah air mata, kedua matanya merah. “Tidak cinta kau bilang? Aku sudah menyerahkan kehormatanku, seluruh diriku, melayanimu tanpa mengeluh, dan kau masih bilang aku tidak cinta kepadamu?” Siang Cun menangis lagi dan Sin Hong termenung.

Jadi begitukah pendapat isterinya? Karena sudah menyerahkan diri kepadanya, sudah melayaninya, itukah bukti bahwa isterinya mencintanya? Dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang isterinya melalui penyerahan diri itu.

Isterinya melakukan hal itu hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang isteri terhadap suami, lain tidak. Tak ada kasih sayang terkandung dalam pandang matanya, dalam suaranya, atau dalam sentuhan tangannya.

Agar tidak mendatangkan percekcokan dan pertengkaran yang lebih jauh, dia pun diam saja. Selanjutnya perjalanan pulang itu dilakukan tanpa kata-kata antara mereka, hanya bicara kalau perlu saja dan selebihnya hanya gelengan atau anggukan!

Setelah mereka berdua tiba di Lu-jiang, mulai saat itu terdapat suatu keretakan atau kerenggangan di antara mereka. Mulailah keduanya merasa tersiksa. Terjadi semacam perang dingin di antara mereka, tidak saling menegur dan hanya bicara seperlunya saja. Tidur pun mereka saling membelakangi, bahkan akhirnya karena tak tahan menghadapi keadaan seperti itu, Sin Hong tidur di atas lantai, membiarkan isterinya tidur sendiri di atas pembaringan mereka.

Akan tetapi di luar kamar, terutama di depan Bhe Gun Ek dan isterinya, suami isteri ini memaksa diri bersandiwara dan bersikap biasa saja. Biar pun demikian, Bhe Kauwsu dan isterinya dapat melihat perubahan sikap mereka dan menduga bahwa tentu ada sesuatu yang mengganggu keakraban puteri dan mantu mereka itu.

Kunjungan Ciang Kun, bekas murid Bhe Kauwsu, mendatangkan kegembiraan pada diri Siang Cun. Wanita muda ini menyambut suheng-nya dengan sikap gembira dan akrab sekali, dan sebaliknya Ciang Kun juga jelas memancarkan sinar kasih sayang dan birahi dalam pandang matanya terhadap sumoi-nya itu.

Hal ini nampak jelas oleh Sin Hong, akan tetapi dia diam saja dan pura-pura tidak tahu akan hal ini, bersikap wajar terhadap Ciang Kun. Akan tetapi, kunjungan Ciang Kun ini makin memperlebar jurang pemisah antara suami isteri muda yang belum ada setahun menjadi suami isteri itu, dan membuat Sin Hong makin sering melamun seorang diri.

“Suhu, kenapa Suhu kelihatan berduka selalu selama beberapa hari ini? Apa lagi sejak Suhu pulang dari menghadiri pernikahan enci Hong Li, Suhu nampak semakin berduka saja dan banyak melamun. Ada urusan apakah, Suhu?”

Sin Hong memaksa diri tersenyum. Ia tak heran melihat ketajaman mata muridnya dan keberanian muridnya bertanya kepadanya. Muridnya ini memang lebih pantas menjadi adiknya atau keluarga yang amat dekat, yang amat sayang kepadanya, juga amat setia dan berbakti.

“Tidak ada apa-apa, Yo Han. Ini urusan orang dewasa, keberi tahu pun engkau tidak akan mengerti.”

Anak itu mengamati wajah gurunya beberapa lamanya. Dia sangat hafal akan wajah gurunya yang selalu diterangi kelembutan itu, maka dia melihat perubahan yang amat besar pada wajah itu. Kini gurunya nampak seperti orang yang berduka, ada garis-garis di sekeliling kedua matanya dan kerut merut di antara kedua alisnya. Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada gurunya.

“Suhu, apakah ada sesuatu yang buruk antara Suhu dan Subo?”

Sin Hong terkejut sekali dan dengan alis berkerut dia memandang muridnya. “Yo Han! Omongan apa yang kau keluarkan itu? Jangan sembarangan bicara kau! Berani kau mengatakan begitu tentang subo-mu (ibu gurumu)?” Biar pun berlawanan dengan suara hatinya, Sin Hong terpaksa membentak dan menegur muridnya karena sikapnya ini memang sudah sepatutnya dan Yo Han terlalu berani bicara.

“Suhu, teecu tidak bicara ngawur atau sembarangan saja, melainkan dengan alasan kuat, dan teecu bukan sekedar ingin tahu, melainkan teecu ingin sedapat mungkin membantu Suhu mengatasi kedukaan Suhu. Tadi Suhu mengatakan bahwa urusan itu adalah urusan orang dewasa, berarti Suhu mempunyai masalah dengan mertua atau dengan isteri. Tetapi mengingat bahwa Suhu baru saja pergi ke undangan pernikahan puteri supek di Pao-teng bersama Subo, dan mengingat pula akan hubungan cinta antara Suhu dan enci Hong Li dahulu, maka teecu menduga bahwa tentu ada sesuatu yang buruk terjadi antara Suhu dan Subo. Suhu adalah seorang yang bijaksana dan gagah, mengapa Suhu harus tenggelam dalam kedukaan dan tidak bertindak mengatasi semua masalah sehingga beres?”

Sin Hong diam-diam terkejut dan juga kagum. Muridnya ini memang memiliki kecerdikan yang luar biasa dan jalan pikirannya sudah demikian dewasa. Apakah hal ini karena gemblengan keadaan hidupnya yang penuh derita, ataukah memang pembawaan yang dibawa semenjak lahir, dia tidak tahu. Dia menarik napas panjang, tidak jadi marah mengingat bahwa kelancangan muridnya ini terdorong oleh rasa cintanya kepadanya, keinginannya untuk membantu.

“Sudahlah, Yo Han. Urusanku ini tidak dapat kuceritakan kepada siapa pun juga, apa lagi kepada engkau yang masih kecil. Engkau takkan dapat membantu, tak seorang pun di dunia ini akan dapat membantu. Hanya Thian saja yang akan dapat menjernihkan persoalan ini. Sudah, jangan ganggu aku lebih lama lagi. Pergilah berlatih, bukankah engkau mengalami kesulitan dengan jurus kedua belas dari Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) itu? Latihlah lagi dengan tekun, akan tetapi di dalam kamarmu, jangan perlihatkan kepada murid Ngo-heng Bu-koan yang lain.”

“Baik, Suhu, dan maafkan teecu. Akan tetapi ada satu pertanyaan lain mengenai latihan ini. Suhu mengajarkan Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun kepada teecu, akan tetapi kenapa tidak kepada para murid lain?”

Sin Hong tersenyum. “Yo Han, engkaulah satu-satunya muridku, oleh karena itu engkau berhak mempelajari ilmu-ilmu yang kudapatkan dari para penghuni Istana Gurun Pasir. Murid-murid Ngo-heng Bu- koan tentu saja hanya mempelajari ilmu silat yang diajarkan di perguruan ini oleh ayah mertuaku, dan aku hanya sekedar membantu mereka dalam memperbaiki gerakan mereka saja.”

“Terima kasih, Suhu, sekarang teecu mengerti. Dan maafkan kelancangan teecu tadi, sesungguhnya teecu hanya ikut merasa prihatin dan ingin sekali membantu.”

“Aku mengerti, sudahlah, kau berlatih sana Yo Han!” kata Sin Hong sambil mengangguk dan tersenyum.

Perih hati Yo Han melihat senyum suhu-nya itu. Tidak begitu senyum suhu-nya dahulu. Dulu suhu-nya kalau tersenyum, bebas lepas dan memancarkan kebahagiaan hatinya. Kini, senyum itu pahit dan seperti di luar saja, menutupi sesuatu yang menyedihkan, senyum hiburan saja.

Yo Han merasa penasaran sekali. Ia dapat menduga bahwa tentu ada ‘apa-apa’ antara suhu-nya dan subo-nya. Ia seorang anak yang cerdik sekali. Ia pun melihat kedatangan Ciang Kun yang disambut demikian gembira oleh subo-nya.

Sebagai seorang anak yang cerdik dan amat disukai oleh para murid lain di Ngo-heng Bu-koan, akhirnya Yo Han dapat mengorek keterangan bahwa Ciang Kun adalah murid Ngo-heng Bu-koan yang sudah beberapa tahun meninggalkan perguruan dan pindah ke kota raja, dan terutama sekali keterangan bahwa antara Ciang Kun dan subo-nya itu pernah terjalin hubungan cinta pada saat keduanya masih remaja! Inikah masalah yang menyedihkan hati gurunya?

Akan tetapi, gurunya itu sudah berduka dan berubah lama sebelum Ciang Kun muncul! Bagaimana pun juga, dia merasa amat penasaran dan karena dia merasa yakin bahwa kedukaan gurunya itu karena ada sesuatu dengan isteri gurunya, maka dia pun ingin menyelidiki keadaan subo-nya! Hanya itulah yang dapat dia lakukan dalam usahanya membantu gurunya. Dia akan menyelidiki subo-nya, mendekati subo-nya dan kalau mungkin memancing keterangan dari subo-nya!

Pada suatu malam yang sunyi. Sejak siang tadi, gurunya pergi dan kepada semua keluarga berpamit hendak pergi berburu ke dalam hutan di sebelah barat karena banyak penduduk di lembah Yang-ce sekitar hutan itu yang mengeluh akan adanya gangguan harimau yang mengganas sampai ke dusun-dusun. Mendengar ini, Sin Hong lalu pergi untuk berburu harimau yang mengganggu penduduk itu, yang kabarnya bahkan sudah membunuh tiga orang penduduk dusun.

Dia tidak mengajak Yo Han karena maklum bahwa dalam perburuan ini terdapat bahaya besar bagi orang yang belum memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Yo Han berlatih silat di kamarnya, kemudian setelah sunyi dia meninggalkan kamarnya dan berindap pergi ke dalam taman. Dia bermaksud untuk berlatih di dalam taman itu yang hawanya sejuk dan malam itu malam terang bulan.

Akan tetapi ia harus berhati-hati, keluar dari kamarnya dengan sembunyi-sembunyi agar jangan terlihat oleh murid lain. Tentu gurunya akan ditegur oleh para murid lain kalau mereka melihat dia berlatih dalam ilmu silat yang asing, dan mungkin para murid itu lalu menuntut kepada gurunya untuk mengajarkan ilmu silat itu pula.

Yo Han menyelinap di antara pohon-pohon sehingga akhirnya dia tiba di tengah taman di mana terdapat sepetak rumput yang amat enak untuk dipakai sebagai tempat berlatih silat. Akan tetapi, baru saja dia hendak mulai berlatih, tiba-tiba dia meloncat dan sekali bergerak dia sudah menyusup dan mendekam di balik semak-semak. Dia mendengar suara orang! Karena terkejut, takut kalau latihannya kepergok, maka dia menyusup dan bersembunyi ke balik semak-semak itu.

Muncullah dua orang yang membuat jantung dalam dada Yo Han berdebar tidak karuan saking tegangnya. Subo-nya jalan berdampingan dengan Ciang Kun, suheng-nya yang pernah dilihatnya beberapa hari yang lalu itu. Menurut keterangan yang diperolehnya, Ciang Kun yang telah sepekan berada di Lu-jiang, tinggal di rumah seorang pamannya. Sungguh janggal sekali melihat subo-nya berjalan-jalan di dalam taman bersama Ciang Kun, berdua saja pada saat suhu-nya tidak berada di rumah!

Keduanya tiba di tengah taman yang sunyi itu dan Yo Han melihat mereka duduk berdampingan di atas bangku panjang yang terdapat di situ, tidak jauh dari tempat dia bersembunyi sehingga bukan saja dia dapat melihat mereka di bawah sinar bulan, juga dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas!

“Suheng, janganlah terlalu menyalahkan aku kalau aku menikah dengan orang lain. Bukan sekali-kali aku telah melupakanmu, Suheng, ahh, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Aku menikah dengan dia hanya karena aku harus mencuci aib dan malu akibat perbuatan si jahanam Phoa Hok Ci.”

“Tapi, Sumoi, apakah engkau sekarang berbahagia dengan dia?”

Siang Cun menundukkan mukanya dan menggeleng, “Sama sekali tidak. Dia tidak cinta padaku, Suheng, dia mencinta wanita lain yang kini menikah dengan orang lain.”

“Ahh, mengapa begitu? Cun-sumoi, engkau tahu bahwa selama ini aku tidak pernah melupakanmu. Aku tetap cinta padamu, Sumoi…“

“Aku… aku juga, Suheng…“

Dengan mata terbelalak Yo Han yang mengintai melihat betapa subo-nya kini dirangkul oleh Ciang Kun dan mereka berpelukan, dan berciuman! Agaknya keduanya demikian bergelora dibakar oleh nafsu birahi sehingga gairah yang memuncak itu membuat kedua orang itu seperti terguling dari atas bangku dan mereka masih terus berpelukan di atas rumput!

Yo Han sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan menghampiri mereka yang masih bergelut di atas rumput.

“Subo…!”

Akan tetapi, dua orang yang sedang terbakar oleh nafsu birahi itu, tidak mendengar suara ini dan mereka masih saling berciuman dan bergulingan di atas rumput seperti dua ekor ular bergelut.

“Subo…!” Yo Han berteriak lebih nyaring lagi.

Sekali ini mereka berdua terkejut. Cepat keduanya meloncat bangkit dan berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Yo Han. Rambut Siang Cun kusut, pakaiannya juga lusuh dan mukanya agak pucat, napasnya masih terengah-engah.

“Yo Han…! Kau… kau… kenapa kau bisa ada di sini…?!” bentaknya untuk memulihkan ketenangannya karena ia merasa terkejut bukan main melihat anak itu tiba-tiba berada di situ dan jelas bahwa anak itu telah melihat perbuatannya bersama Ciang Kun tadi.

Akan tetapi, Yo Han tak gentar ketika dibentak oleh subo-nya. Dia terlalu marah melihat perbuatan subo- nya tadi. Meski dia masih kecil, namun dia tahu apa artinya perbuatan subo-nya tadi. Subo-nya telah menyeleweng! Subo-nya telah bermain cinta dengan pria lain, telah mengkhianati suami sendiri!

Tahulah dia kini mengapa suhu-nya selalu berduka. Kiranya subo-nya ini tidak cinta kepada suhu-nya, dan agaknya subo-nya tahu bahwa suhu-nya dahulu mencinta wanita lain, yaitu Kao Hong Li. Dan kini subo- nya dengan berani sekali telah mencemarkan kesucian rumah tangganya sendiri. Ini berarti suatu penghinaan besar bagi gurunya!

“Subo! Apa yang sedang Subo lakukan ini? Sungguh tidak tahu malu sekali! Subo telah mengkhianati suhu! Subo telah menghina suhu-ku!”

“Tutup mulut, keparat!” Siang Cun membentak marah, juga malu karena merasa dimaki oleh anak kecil itu.

Sementara itu, Ciang Kun melangkah maju dan menghardik Yo Han. “Engkau ini anak kecil tahu apa? Hayo pergi atau akan kupukul kepalamu!”

Melihat sikap ini, Yo Han menjadi semakin marah. “Ciang Kun, engkaulah yang perlu dipukul setengah mati! Engkau tahu, Subo adalah isteri suhu, dan engkau sudah berani mengganggunya, berani menggodanya! Engkau ini lelaki macam apa? Tidak tahu malu, merusak kerukunan rumah tangga orang! Engkau sudah menghina suhu dan engkau layak dihajar!”

“Keparat, bocah bermulut busuk!” Ciang Kun membentak.

Siang Cun yang khawatir kalau Yo Han akan membuat ribut, lalu melanjutkan, “Yo Han, sudahlah engkau anak kecil yang tidak tahu urusan. Ini adalah urusanku sendiri. Engkau jangan ribut dan jangan menceritakan kepada siapa saja, nanti kuberi hadiah.”

Yo Han menjadi semakin marah. Janji hadiah asal dia menutup mulut itu merupakan hinaan besar sekali baginya.

“Subo, aku tidak akan tinggal diam. Akan kuberi tahukan kepada Bhe Kauwsu. Akan kuberi tahukan kepada siapa saja perbuatan kalian yang tidak tahu malu ini!” Yo Han terengah-engah, dadanya naik turun saking marahnya. Kemarahan yang timbul karena duka dan prihatin melihat nasib gurunya yang dikhianati isteri sendiri!

“Bocah gila! Ketahuilah, kami sudah saling mencinta sebelum gurumu datang ke sini!” bentak Ciang Kun.

“Manusia tak tahu malu! Tapi Subo kini telah menjadi isteri orang, menjadi isteri suhu! Butakah matamu, tulikah telingamu?”

“Anak jahat, engkau bermulut busuk, layak dihajar!” kata Ciang Kun dan dia sudah melangkah maju dan mengirim tendangan ke arah Yo Han.

Tendangan itu cukup keras dan kalau mengenai tubuh Yo Han, tentu akan membuat anak itu terpelanting dan menderita luka yang cukup parah. Akan tetapi, tidak percuma selama ini Yo Han mempelajari ilmu silat dari gurunya dengan tekun. Sambaran kaki itu dapat dielakkannya dengan mudah, dengan miringkan tubuh dan menggeser kaki ke kanan.

Melihat ini, Ciang Kun menjadi semakin penasaran dan marah. Dia bukan saja murid tingkat pertama dari Bhe Kauwsu, akan tetapi juga selama beberapa tahun ini di kota raja, dia telah memperdalam ilmu silatnya dari guru-guru yang lebih pandai lagi. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, ia menyerang lagi, kini dengan pukulan tangan kanan ke arah kepala Yo Han, sedangkan tangan kirinya mencengkeram pundak.

Serangan ini cepat dan kuat sekali. Namun, Yo Han sudah siap dengan gerakan ilmu silat Pat-mo Sin-kun yang sedang dipelajarinya. Karena setiap hari berlatih ilmu ini, otomatis ketika menghadapi serangan, dia pun langsung saja menggerakkan tubuhnya sesuai dengan ilmu silat yang dipelajarinya ini.

Kembali kedua kakinya bergeser sambil melangkah mundur dan ketika kedua tangan lawan sudah menyambar luput, dia pun maju dan membalas dengan pukulan ke arah perut orang! Menurut ilmu silat itu, pukulan ini ditujukan ke arah ulu hati lawan, akan tetapi karena tubuh lawan jauh lebih jangkung, Yo Han yang memukul dengan gerakan lurus ke depan itu menyerang perut.

Ciang Kun menggerakkan tangan hendak menangkap lengan anak yang memukul itu. Akan tetapi Yo Han sudah menarik kembali pukulannya dan ini sesuai dengan jurus itu, dan tiba-tiba sekali tubuhnya sudah membuat gerakan memutar ke sebelah kiri lawan dan begitu kakinya bergerak, dia sudah menendang ke arah sambungan lutut.

“Dukkk!”

Lutut Ciang Kun kena ditendang. Tetapi Ciang Kun memiliki kekebalan dan tendangan Yo Han tentu saja kurang kuat maka tendangan itu hanya membuat Ciang Kun meringis tanpa mampu menjatuhkannya. Ciang Kun menjadi malu dan marah sekali, dan dia menyerang kalang kabut, terus mendesak Yo Han sehingga anak ini terpaksa harus berloncatan dan mengelak ke sana-sini.

Sampai sepuluh kali Ciang Kun menyerang bertubi-tubi dan selalu dapat dielakkan oleh Yo Han. Hal ini membuat Ciang Kun marah bukan main, juga malu karena di depan kekasihnya dia seperti dipermainkan seorang bocah. Makin gencar dia menyerang dan ketika Yo Han mundur mengelak, kakinya terbentur akar pohon dan anak itu pun roboh terlentang! Melihat anak itu roboh, Ciang Kun tidak menghentikan serangannya, bahkan maju dan mengirim tendangan ke arah kepala dengan kuatnya!

“Suheng, jangan!” teriak Siang Cun khawatir melihat tendangan suheng-nya yang dapat membahayakan nyawa Yo Han kalau mengenai kepala.

Akan tetapi terlambat. Dalam kemarahannya karena merasa dipermainkan oleh seorang anak kecil, Ciang Kun sudah lupa diri dan biar pun dia tahu bahwa tendangannya itu berbahaya, dia sudah tidak mampu menarik kembali kakinya.

“Tukkk!”

Sebuah kerikil mengenai sepatu Ciang Kun, demikian kuatnya sehingga Ciang Kun berseru kaget dan tendangannya tertahan dan meleset sehingga tidak mengenai kepala Yo Han. Sesosok bayangan putih berkelebat dan Sin Hong sudah berdiri di situ. Dialah yang melempar kerikil tadi menyelamatkan muridnya.

“Pengecut, menyerang seorang anak kecil!” Sin Hong mencela.

Akan tetapi Ciang Kun yang sudah marah, kini melotot kepada Sin Hong, suami dari kekasihnya yang dianggapnya telah merebut kekasihnya dari tangannya itu. Dia sudah mendengar akan kelihaian Sin Hong, tetapi justru hal ini yang memanaskan perutnya dan dia ingin sekali menguji kepandaian suami kekasihnya. Sekarang ada alasan untuk menentangnya.

“Hemm, anak setan ini terlalu kurang ajar, agaknya tak pernah memperoleh pendidikan yang patut dari gurunya! Memang aku hendak menghajarnya karena gurunya tidak mampu mendidiknya. Kalau gurunya hendak membelanya, silakan!”

Sin Hong tersenyum pahit. Sebetulnya, sudah semenjak tadi ia pulang dan memergoki penyelewengan isterinya. Dia melihat pula isterinya bergumul dengan Ciang Kun di atas rumput tadi. Dia kagum melihat pembelaan muridnya yang begitu berani mati menegur subo-nya untuk membela gurunya.

Dia dapat menebak apa yang berkecamuk di dalam hati pria ini. Agaknya pria ini ingin memperlihatkan di depan kekasihnya bahwa dia tidak kalah oleh suami kekasihnya!

“Bagus! Kalau aku katakan bahwa bukan muridku yang kurang ajar, melainkan engkau yang tidak tahu diri, tidak tahu malu dan pengecut, engkau mau apa?”

Ciang Kun terbelalak dan marah sekali. “Keparat, engkau menantang?!” katanya.

Dia sudah menerjang ke depan dengan tangannya digetarkan, dan ketika dibuka maka nampaklah tangan itu tergetar dan warna telapak tangannya berubah agak kemerahan! Maklumlah Sin Hong bahwa dia berhadapan dengan orang yang memiliki ilmu telapak tangan Ang-see-jiu (Telapak Tangan Pasir Merah), yaitu tangan itu telah dilatih dengan memukuli pasir merah panas yang direndam racun. Pukulan telapak tangan seperti itu mengandung racun panas yang dapat melumpuhkan otot yang membakar daging kulit!

Diam-diam dia marah. Ciang Kun ini adalah murid pertama Bhe Kauwsu dan tentu saja sudah tahu bahwa dia adalah mantu Bhe Kauwsu. Biar pun ada urusan cinta antara dia dan Siang Cun, namun tidak sepantutnya kalau sekarang menyerangnya dengan ilmu sekeji itu. Terlintas dalam otaknya untuk melumpuhkan ilmu itu dan memberi hajaran dengan mematahkan tulang lengan itu.

Akan tetapi dia segera teringat. Orang ini hendak memamerkan kepandaiannya kepada Siang Cun, dan belum tentu dia menggunakan Ang-see-jiu karena hatinya yang kejam. Mungkin dia sudah mendengar bahwa yang menjadi lawannya memiliki ilmu yang tinggi, maka agar jangan sampai kalah, kini begitu menyerang, dia menggunakan ilmu yang diandalkan. Ingatan ini menyabarkan pula hatinya dan dia pun mengelak ketika pukulan itu lewat.

Untuk menghadapi seorang lawan setingkat Ciang Kun ini, meski memiliki Ang-see-jiu, Sin Hong tidak mau mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Tangan Putih). Dia bahkan menyambut hantaman telapak tangan merah itu dengan telapak tangannya sendiri sambil menggunakan Tenaga Inti Bumi, hanya secukupnya saja untuk mengimbangi kekuatan lawan yang dapat diukurnya dari sambaran hawa pukulannya.

“Plakkk!”

Dua telapak tangan bertemu dan melekat! Ciang Kun terkejut. Dia memang bukan orang jahat dan sama sekali tak ingin mencelakai lawan, tetapi hanya untuk mengalahkannya atau mengimbanginya. Kini, lawannya itu menerima Ang-see-jiu dan telapak tangan mereka melekat. Dia tidak mampu lagi menarik kembali tangannya.

Akan tetapi, tiba-tiba dia terbelalak. Lawannya sama sekali tidak menderita oleh hawa beracun telapak tangannya, bahkan dia sendiri yang merasa ada hawa panas masuk dari telapak tangannya itu membuat lengannya seperti lumpuh.

“Pergilah!” Sin Hong mendorong dan tubuh Ciang Kun terjengkang.

Akan tetapi karena Sin Hong mengukur tenaganya, Ciang Kun tidak terluka dan pemuda ini marah sekali. Siang Cun menahan jeritnya, kemudian dia menghampiri Ciang Kun dan membantunya bangkit berdiri.

Ciang Kun merasa malu, wajahnya memerah dan dia menjadi nekat. Dalam beberapa gebrakan saja dia telah jatuh terjengkang, di depan kekasihnya lagi! Hati siapa yang tidak akan merasa malu? Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia sudah mencabut pedangnya dan kini dia menyerang Sin Hong dengan kemarahan memuncak.

“Suheng, jangan…!” Siang Cun berseru, akan tetapi suheng-nya yang sudah nekat itu tidak peduli.

Melihat hal ini, Sin Hong tersenyum mengejek dan dengan mudah saja dia mengelak sampai lima kali serangan.

“Ciang Kun, hentikan seranganmu, kalau tidak, terpaksa aku akan membuatmu malu dan merobohkanmu!” kata Sin Hong.

Akan tetapi, Ciang Kun tidak menjawab dan tidak pula menurut, bahkan memutar pedangnya semakin gencar melakukan serangan bertubi-tubi. Siang Cun yang maklum bahwa kalau dilanjutkan, suheng-nya yang menjadi kekasihnya itu tentu akan benar-benar roboh oleh suaminya yang ia tahu amat sakti, lalu maju pula sambil memegang pedangnya.

“Engkau tidak boleh merobohkannya!” bentaknya sambil maju mengeroyok Sin Hong! Melihat ini, Yo Han terbelalak.

“Sungguh penasaran! Penasaran…!” teriaknya dengan nyaring. Melihat betapa gurunya dikeroyok oleh isterinya sendiri dan kekasih isteri gurunya, dia sungguh marah bukan main.

Sin Hong sendiri menjadi serba salah. Tentu saja dia tidak gentar, dan biar ditambah beberapa orang lagi yang mengeroyoknya, dia yakin masih akan mampu mencapai kemenangan. Akan tetapi sungguh tidak mungkin kalau dia harus menjatuhkan isterinya sendiri, walau pun isterinya telah bersikap tidak patut, membantu kekasih gelapnya!

“Suhu! Kalau Suhu tak mau memperlihatkan kelihaian, teecu akan merasa malu sekali! Disangkanya Suhu takut!” berkali-kali Yo Han berseru dan suaranya ini berpengaruh juga.

Sin Hong tadinya hanya mengandalkan kegesitannya untuk mengelak ke sana sini. Tapi, mendengar seruan muridnya, dia teringat akan pedang Cui-beng-kiam yang selalu disimpan di balik jubahnya. Ada jalan untuk menghentikan serangan kedua orang itu tanpa melukai mereka, pikirnya.

Sekali tangannya bergerak, nampak sinar yang menyilaukan mata dan ada hawa yang amat menyeramkan menyambar. Sinar itu bergulung-gulung dan menyambar dua kali, terdengar bunyi nyaring dan dua batang pedang di tangan Siang Cun dan Ciang Kun yang kena disambar sinar itu menjadi buntung! Ketika mereka berdua memandang, pedang Cui-beng-kiam di tangan Sin Hong sudah masuk lagi ke dalam sarungnya di balik baju pemuda berpakaian putih itu!

Wajah Ciang Kun menjadi pucat sekali, akan tetapi dia masih sempat saling berpegang tangan dengan Siang Cun. Pada saat itu, terdengar suara gaduh dan muncullah Bhe Kauwsu dan para murid Ngo-heng Bu-koan.

“Apa yang telah terjadi di sini…?” katanya dengan mata terbelalak memandang kepada mantunya lalu kepada puterinya, kemudian kepada Ciang Kun, dan yang terakhir pada Yo Han, dan pada gagang pedang buntung di tangan puterinya dan Ciang Kun.

Sin Hong merasa tidak enak sekali. Sama sekali dia tidak ingin membuka rahasia yang akan mencemarkan nama baik isterinya, apa lagi di situ sedang terdapat banyak murid Ngo-heng Bu-koan yang mendengarkan.

“Hanya suatu kesalah pahaman saja, Ayah,” kata Sin Hong kepada mertuanya, “Salah paham antara Yo Han dan Suheng Ciang Kun yang kemudian melibatkan diriku. Tidak ada apa-apa…”

“Suhu! Mengapa Suhu berkata demikian? Inilah saatnya yang terbaik bagi Suhu untuk membebaskan diri dari sumber kedukaan! Bukankah Suhu mengajarkan teecu supaya selalu jujur dan tidak berbohong?”

“Yo Han…!” Sin Hong membentak, tetapi dia lalu memandang kepada ayah mertuanya. “Sebaiknya kalau kita bicara di dalam saja, ini urusan keluarga.”

Bhe Kauwsu memandang kepada puterinya yang menangis dan dia pun lalu mengerti, mengangguk dan membubarkan para murid, kemudian mengajak Sin Hong, Yo Han dan Siang Cun masuk ke dalam.

“Dia bersangkutan dengan perkara ini, hendaknya ikut bicara di dalam,” kata Yo Han sambil menunjuk kepada Ciang Kun.

Sin Hong diam saja. Bhe Kauwsu yang sudah mengenal Yo Han sebagai anak cerdik yang jalan pikirannya seperti orang dewasa, lalu menyuruh Ciang Kun ikut.

Pemuda ini ikut masuk ke dalam rumah sambil menundukkan mukanya, hatinya tegang dan khawatir karena sekarang dia baru sadar, betapa dia telah melakukan hal yang salah sama sekali. Juga dia merasa gentar kalau mengenang kembali betapa saktinya Sin Hong yang telah membuat dia dan Siang Cun tak berdaya hanya dalam segebrakan saja. Bahkan kalau Sin Hong menghendaki dia dan kekasihnya itu tentu sudah tewas di ujung pedangnya.

Begitu tiba di dalam rumah, saat disambut oleh isteri Bhe Kauwsu, Siang Cun menubruk ibunya dan menangis. “Ibu… Ayah… aku… aku minta agar diceraikan dari dia…“

Mendengar ucapan puterinya itu, tentu saja Bhe Kauwsu terkejut bukan main. Dia dan isterinya memang sudah menduga bahwa ada ketidak cocokan antara puterinya dan mantunya, akan tetapi tidak menyangka sampai sehebat itu.

“Siang Cun!” bentaknya marah karena merasa tidak enak dan malu. “Omongan apa yang kau keluarkan itu?” Karena melihat puterinya hanya menangis tersedu-sedu dalam rangkulan isterinya, Bhe Kauwsu lalu menoleh kepada mantunya dan bertanya, “Sin Hong, apakah yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa Siang Cun bersikap seperti itu?”

“Tidak perlu kiranya saya bicara terlalu banyak,” kata Sin Hong setelah berpikir secara mendalam dan mengambil suatu keputusan dalam hatinya. “Ayah dan ibu mertua sudah mendengar sendiri kata-kata Siang Cun. Dia tidak akan berbahagia kalau terus hidup sebagai isteri saya. Oleh karena itu, satu-satunya jalan terbaik hanyalah memenuhi permintaannya, yaitu perceraian antara kami berdua.”

Tentu saja Bhe Kauwsu dan isterinya terkejut bukan main. Sampai saat ini ia yakin akan kebijaksanaan mantunya itu, dan tentu telah terjadi sesuatu yang hebat maka pendekar itu berkata demikian. Dan perceraian merupakan hal yang akan mencemarkan nama baik keluarganya!

“Tetapi… bagaimana begitu mudahnya membikin putus hubungan perjodohan? Begitu mudahnya kalian bercerai, padahal belum genap setahun kalian menjadi suami isteri?” Bhe Kauwsu berkata dengan suara penuh penyesalan.

“Harap maafkan. Siang Cun yang minta cerai dan saya hanya menyetujui usulnya demi kebahagiaan kami masing-masing, kami akan mengambil jalan hidup sendiri,” kata pula Sin Hong.

Ketika Yo Han memandang kepada gurunya, dia melihat sinar mata gurunya kepadanya dan maklumlah ia bahwa ia tidak boleh banyak bicara. Diam-diam ia semakin kagum. Gurunya memang seorang laki-laki sejati, seorang yang berjiwa agung dan tidak mau membikin malu isterinya hanya demi penonjolan kebenaran diri sendiri saja, walau pun isterinya sudah melakukan hal yang paling menyakitkan bagi perasaan seorang suami, yaitu penyelewengan.

“Tapi… tapi… ahh, kenapa semudah ini? Anak kami adalah seorang wanita, dan kalau bercerai berarti dia menjadi janda. Dan kami sebagai orang tuanya tentu saja akan menderita malu dan…“

“Harap Ji-wi (Anda berdua) tenang saja, karena sesungguhnya, ada calon suami yang lebih cocok untuk Siang Cun, yaitu Ciang Kun inilah. Siang Cun akan hidup berbahagia sebagai isterinya.” Sebelum kedua orang bekas mertuanya itu menjawab, Sin Hong sudah mendahului mereka. “Terus terang saja, antara Siang Cun, Ciang Kun, dan saya sendiri telah ada saling pengertian dalam hal ini. Kami akan bercerai dengan baik, saya akan pergi bersama murid saya untuk mengambil jalan hidup sendiri sedangkan ia akan menjadi isteri yang saling mencinta dengan Ciang Kun. Ji-wi dapat minta penjelasan mereka sedangkan saya dan Yo Han akan berkemas karena sekarang juga kami akan pergi dari sini.” Tanpa menanti jawaban, Sin Hong menggandeng tangan Yo Han untuk membenahi pakaian mereka.

Bhe Kauwsu dan isterinya saling pandang dan mereka yang sudah berusia lanjut dan banyak pengalaman, sedikit banyak dapat meraba apa yang telah terjadi.

“Siang Cun! Benarkah apa yang dikatakan oleh Sin Hong itu tadi? Bahwa engkau dan dia sudah bersepakat untuk berpisah, dan hendak melanjutkan hidup di samping Ciang Kun sebagai isterinya?”

Siang Cun yang sejak tadi tidak berani mengangkat muka, kini mengangkat muka yang pucat dan basah air mata, lalu mengangguk!

“Bagaimana ini, Ciang Kun? Benarkah begitu? Sekarang Siang Cun hendak berpisah dari suaminya dan kemudian menjadi isterimu?”

Tadi Ciang Kun juga menunduk karena merasa bersalah dan sudah merasa cemas kalau-kalau Sin Hong mengadukan peristiwa tadi, maka dia merasa semakin terpukul oleh sikap jantan dari Sin Hong, merasa malu sekali akan tetapi juga berterima kasih kepada Sin Hong. Dia pun mengangguk.

Bhe Kiauwsu maklum apa yang sudah terjadi. Dia merasa menyesal dan malu sekali kepada Sin Hong. Dia mengepal kedua tangannya, lalu mondar-mandir dalam ruangan itu, membanting-banting kedua kakinya dan memukul-mukul telapak tangan sendiri.

“Sungguh celaka…! Sungguh celaka…! Dahulu dia bersedia mengawinimu demi untuk menyelamatkan nyawamu, Siang Cun. Dan sekarang… sekarang… ahh, apa yang telah kalian lakukan ini…?”

Siang Cun merasa khawatir kalau ayahnya akan membuat pengakuan, maka ia pun dengan suara bercampur isak berkata, “Ayah… dia tidak cinta kepadaku… kami tidak saling mencinta dan dia tidak menemukan kebahagiaan dalam kehidupan suami isteri…”

“Cinta…? Huh, apa yang kau maksudkan dengan cinta? Dahulu dia menikahimu demi keselamatan nyawamu setelah dia menyelamatkanmu dari ancaman mala petaka yang lebih hebat dari maut! Dia menolongmu tanpa pamrih. Dia menikahimu tanpa dorongan birahi kepadamu! Itukah sebabnya kau katakan tidak adanya cinta? Dan sekarang… sekarang… dia merelakan engkau hidup berbahagia di samping pria lain! Apakah sikap ini pun karena tidak cinta?”

Siang Cun tidak dapat menjawab dan diam-diam merasakan betapa mulia hati bekas suaminya itu, yang menutup mulut padahal telah memergoki sendiri penyelewengannya dengan Ciang Kun!

Pada saat itu, Sin Hong dan Yo Han muncul, masing-masing menggendong sebuah buntalan yang berisi pakaian mereka.

“Paman Bhe dan Bibi, perkenankan aku dan Yo Han untuk pergi dan maafkan segala kesalahan yang kami perbuat selama kami tinggal di sini. Kami berterima kasih sekali atas segala kebaikan yang Paman berdua limpahkan kepada kami, juga kepada semua murid Ngo-heng Bu-koan,” kata Sin Hong dengan suara dan sikap tenang saja, sama sekali tidak hanyut oleh perasaan hati.

Yo Han juga berdiri dengan semangat. Mulutnya tersenyum pada saat dia mencontoh gurunya memberi hormat kepada guru silat dan nyonyanya itu.

Tiba-tiba Siang Cun melepaskan diri dari pelukan ibunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sin Hong! Ia menangis sesenggukan sehingga suaranya sukar ditangkap artinya.

Sin Hong tersenyum dan menunduk, kemudian berkata dengan suara yang lembut dan berwibawa. “Tenangkan hatimu, Siang Cun. Di manakah sekarang kekerasan hati dan kegagahanmu?”

Suara itu menenangkan Siang Cun, kemudian terdengar suaranya yang lirih bercampur tangis, “Ampunkan aku… dan terima kasih… terima kasih…”

Tiba-tiba Ciang Kun juga turut menjatuhkan diri berlutut di samping Siang Cun! Hal ini sungguh sama sekali tidak disangka oleh Sin Hong yang kini memandang dengan mata berseri gembira!

“Taihiap, saya pun berterima kasih sekali dan memohon maaf. Saya tidak akan pernah melupakan kemuliaan hati Taihiap selama hidup saya.”

Suara Sin Hong terdengar gembira bukan main pada saat dengan kedua tangannya ia mengangkat bangun Siang Cun dan Ciang Kun supaya bangkit berdiri. “Tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak perlu berterima kasih. Semua ini untuk kebaikan kita masing-masing, dan aku percaya bahwa kalian akan dapat menemukan kebahagiaan dalam kehidupan kalian sebagai suami isteri yang saling mencinta. Biarlah sekarang juga aku ucapkan selamat kepada kalian. Nah, selamat tinggal semua, semoga Thian selalu memberkahi kalian.”

Berkata demikian, Sin Hong membalikkan tubuhnya, menggandeng tangan Yo Han dan pergi meninggalkan rumah keluarga Bhe dengan hati dan langkah yang ringan…..

********************

Keindahan menerangi seluruh muka bumi bersama dengan sinar matahari pagi yang keemasan. Keindahan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, karena ada keindahan yang tidak dapat diraba dengan pandang mata atau dengan alat panca indera lainnya, melainkan hanya dapat dirasakan saja.

Keindahan yang terkandung dalam sinar matahari yang menerobos di antara daun-daun pohon, membuat garis-garis lurus menyusup dalam kabut pagi, terkandung dalam kicau burung yang saling bersahutan dalam kesibukan binatang-binatang kecil itu menyiapkan diri untuk mulai mencari makan, dalam gemercik air Sungai Yang-ce-kiang pada saat air bermain-main dengan batu-batu di tepinya, dalam keharuman bau tanah yang sedap, tanah yang segar dibasahi embun pagi, keindahan yang terkandung dalam keheningan, bahkan keheningan itu sendiri menciptakan keindahan. Bukan hening karena sunyi, tapi hening tanpa ada penyelewengan di dalam pikiran.

Kicau burung, teriakan kanak-kanak, kesibukan para ibu di dapur dan bapak-bapak tani yang mulai meninggalkan rumah menuju ke sawah ladang, semua itu tidak mengganggu keheningan itu, bahkan semua itu terserap ke dalam keheningan. Pagi hari yang indah! Hanya dapat dirasakan oleh mereka yang memandang semua itu, mendengar semua itu, mencium semua itu, tanpa menilai. Tanpa ingat sedikit pun bahwa semua itu indah, yang terasa hanyalah kebahagian, karena seperti keheningan adalah keindahan, maka keindahan adalah juga kebahagiaan. Yang tiga itu tak terpisahkan. Eloknya, ketiganya tidak ada selama si aku atau pikiran ingin merasakan dan menikmatinya!

Wanita muda yang berjalan seorang diri di atas bukit di tepi sungai itu nampak bersunyi diri. Berjalan melangkah perlahan-lahan di atas bukit. Ia menjadi bagian dari keindahan maha besar itu. Dari tempat ia berdiri, nampak Sungai Yang-ce terbentang luas dan panjang, dan sebelum pandang mata tiba di sungai, melewati pula sawah ladang dan dusun-dusun serta nampak bukit-bukit kecil yang subur di kanan kiri sepanjang sungai itu.

Warna hijau dan kuning serta perpaduan antara hijau dan kuning nampak bagaikan permadani, menyelimuti tanah, bermandikan cahaya matahari keemasan. Air sungai nampak berkilau tertimpa sinar matahari, memantulkan cahaya itu hingga menyilaukan mata.

Dua orang bapak tani memanggul pacul jalan beriringan di pematang sawah sambil bercakap-cakap, berangkat menuju ke sawah mereka. Seorang di antara mereka, yang di depan, merokok dan asap rokoknya mengepul ke atas kepala mereka. Seorang anak laki-laki dengan pakaian setengah telanjang, hanya bercelana saja, memegang cambuk panjang menggembala lima ekor kerbau yang gemuk-gemuk, tiga ekor besar dan dua ekor masih muda dan beberapa kali dua ekor yang muda ini bergurau dengan tanduk mereka. Jauh di seberang sana, nampak samar-samar beberapa buah gunung, bagian atasnya tertutup awan. Cuaca pagi itu cerah bukan main, menjanjikan siang hari yang panas tanpa mendung.

Tetapi, wajah wanita itu sama sekali tidak cerah, bahkan terbayang mendung kedukaan dalam pandang matanya, ketika mata itu melihat jauh ke depan tanpa mengenal apa yang dilihatnya. Pandang matanya seperti melayang-layang saja di permukaan bumi di bawah itu, dan ia sama sekali tidak merasakan kebesaran alam, melainkan kerisauan perasaan hatinya sendiri. Batinnya sedang gundah, kadang-kadang pandang matanya seperti orang yang bingung atau putus asa, tiada gairah hidup!

Padahal dia adalah seorang wanita yang masih muda, usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun, cantik jelita dan bentuk tubuhnya ramping dan padat, penuh keindahan dan kesehatan. Wajahnya berbentuk bulat telur, sepasang matanya lebar dan lincah, sayang saat itu tertutup mendung duka. Pakaiannya yang walau pun bersih namun kusut itu menunjukkan pula, bahwa ia memang sedang berada dalam keadaan gundah sehingga tidak mempedulikan keadaan pakaian dan rambutnya yang kusut.

Dia menuruni bukit itu dan ketika dia melihat anak laki-laki setengah telanjang yang menggiring lima ekor kerbaunya, hatinya tertarik dan ia pun berhenti, melihat bagaimana anak laki-laki itu menggiring lima ekor kerbaunya masuk ke dalam kubangan air. Lima ekor binatang itu nampak gembira ketika memasuki kubangan air yang segera menjadi keruh berlumpur. Mereka mendekam sehingga hanya nampak kepala mereka saja, dan mereka diam tak bergerak, mata mereka merem-melek nampak nikmat sekali.

Wanita itu berdiri, bersandar pada sebatang pohon, melihat betapa anak laki-laki yang bertelanjang dada dan bertelanjang kaki, tubuhnya hanya mengenakan celana sebatas lutut, celana hitam dari kain kasar, kini mengeluarkan sebuah bungkusan kertas dan dibukanya. Kiranya sepotong roti gandum kering sebesar kepalan tangan.

Roti itu digigitnya, akan tetapi roti itu terlalu keras, dan anak itu lalu pergi ke sebuah pancuran air, membasahi roti itu beberapa saat lamanya, kemudian dia duduk di dekat kubangan air, di atas batu dan mulai makan roti kering yang kini sudah menjadi basah dan tidak sekeras tadi. Dia tidak melihat wanita cantik yang sejak tadi memandanginya dan makan dengan enaknya, menggigiti roti yang keras itu sedikit- sedikit.

Wanita itu bagai terpesona, sejak tadi jarang berkedip. Penglihatan itu sungguh menarik hatinya. Nampak olehnya betapa lima ekor kerbau itu demikian tenteram, damai dan agaknya berbahagia, nampak dari mata mereka yang merem-melek.

Dan bocah itu! Usianya paling banyak sepuluh tahun, melihat pakaiannya tentu seorang anak yang miskin, dan kini anak itu makan roti kering yang keras, dibasahi air sawah! Dan nampaknya dia makan demikian enaknya, seolah-olah yang dimakannya bukanlah sepotong roti kering dibasahi air sawah, melainkan makanan yang lezat dan mahal, dan mata anak itu pun merem-melek, nampaknya dia menikmati makan roti sambil duduk di atas batu itu! Padahal, ia tahu bahwa makanan itu adalah makanan paling sederhana, makanan roti gandum yang dikeringkan agar tahan lama dan kalau akan dimakan harus ditim dulu agar menjadi empuk.

Akan tetapi roti kering itu digerogoti oleh anak itu begitu saja, hanya dibasahi air sawah! Bisa dibayangkan betapa miskin keadaan anak itu. Akan tetapi kenapa begitu kelihatan berbahagia? Anak dan kerbau-kerbau itu demikian bahagia, betapa menjadi kebalikan dari keadaan batinnya. Ia sendiri begini sengsara dan menderita! Ia merasa penasaran. Ia bangkit dan perlahan-lahan menghampiri anak laki-laki yang baru saja menghabiskan rotinya itu.

Anak laki-laki itu memandang dengan heran, akan tetapi tetap duduk dan matanya yang lebar memandang dengan penuh perhatian. Wanita itu duduk di atas batu di depan anak itu. Mereka saling pandang dan anak itu mulai merasa khawatir, menoleh ke arah kerbau-kerbaunya, lalu memandang lagi kepada wanita di depannya, wanita yang asing baginya itu.

“Anak yang baik, jangan takut, aku hanya ingin duduk bersamamu dan mengajak bicara. Engkau tadi makan roti kering kelihatan enak sekali.”

“Memang enak,” jawab anak itu, kini berani tersenyum karena sikap wanita itu yang ramah dan halus. “Perutku tadi lapar, tetapi sekarang sudah kenyang.” Dia mengelus perutnya yang tidak tertutup baju.

“Apakah ini kerbau peliharaan orang tuamu?” tanya wanita itu sambil menunjuk ke arah lima ekor kerbau yang masih mendekam dalam kubangan air lumpur.

Anak itu menggeleng kepala. “Orang tuaku sudah tidak ada. Aku tidak punya ayah atau ibu. Ini kerbau Paman Ciok, dan aku bekerja padanya.”

Wanita itu memandang heran. “Engkau yatim piatu?” Anak itu mengangguk.
“Dan kau bekerja menggembala kerbau-kerbau ini?”

Anak itu mengangguk lagi, dan melanjutkan dengan jawaban mulutnya. “Menggembala kerbau, menyabit rumput dan segala macam pekerjaan lain.”

Bukan main, pikir wanita itu. Anak ini yatim piatu dan sekecil ini sudah bekerja! “Kau tidak mempunyai sanak keluarga lagi? Hidup sebatang kara di dunia ini?” Kembali anak itu mengangguk.
Wanita itu menjadi semakin tertarik. Anak sekecil ini, tidak ada orang tua, tiada sanak keluarga, hidup hanya sebatang kara, bekerja ikut orang dalam keadaan miskin, namun kelihatan begitu berbahagia!

“Berbahagiakah hidupmu, anak baik?”

Anak itu memandang tidak mengerti. “Berbahagia? Apa maksudmu?”

Kini wanita itu yang memandang bingung. Apa sih bahagia itu? Ia sendiri pun tidak tahu! “Ehh, begini, anak baik. Apakah kau… tidak pernah merasa berduka?”

“Berduka? Kenapa harus berduka?”

“Tidak harus… akan tetapi, engkau hidup sebatang kara, engkau hidup miskin sekali, pakaianmu setengah telanjang, makananmu roti kering yang keras seperti tadi, apakah engkau tidak merasa sedih?”

“Sedih? Tidak, aku tak pernah sedih, kenapa harus sedih? Setiap pagi aku menggiring kerbau-kerbau ini ke sini, sarapan apa saja yang ada. Jika Bibi Ciok belum masak apa apa sepagi ini, aku membawa roti kering. Kemudian aku menggiring kerbau-kerbau ini ke sawah, kepada Paman Ciok yang akan meluku sawah dengan para pembantunya, dan aku pergi menyabit rumput, sesudah itu membantu pekerjaan paman Ciok atau isterinya di rumah, menyapu lantai, membersihkan apa saja di rumah, atau menimba air. Tidak, aku tidak sedih Bibi, aku memiliki banyak pekerjaan, tidak sempat bersedih-sedih. Lagi pula, mengapa aku harus sedih?”

Anak itu lalu bangkit dan menggiring kerbaunya keluar dari dalam kubangan air, tanpa bicara lagi meninggalkan wanita itu yang masih duduk termenung bagai patung! Karena banyak pekerjaan, maka anak itu tidak sempat bersedih-sedih, dan pula, mengapa dia harus sedih?

Dan dia sendiri? Mengapa dia bersedih? Karena memikirkan keadaan dirinya! Karena pikirannya selalu melayang-layang memikirkan nasibnya yang dianggap buruk sehingga dia merasa iba diri, kasihan kepada diri sendiri, lalu menjadi nelangsa, dan timbullah duka.

Ahhh, ia sudah tersesat, membiarkan pikirannya menguasai diri. Dan pikiran celaka ini selalu membayangkan hal-hal yang dianggapnya buruk! Tidak, dia harus mengisi hidup dengan pekerjaan yang berguna, seperti anak itu! Dan ia seorang pendekar, mengapa harus menganggur?

“Hong Li, engkau memang wanita tolol!” Demikian wanita itu memaki diri sendiri.

Ia adalah Kao Hong Li, puteri tunggal dari pendekar Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui. Kao Hong Li adalah cucu tunggal dari mendiang Naga Sakti Gurun Pasir, bukan seorang wanita biasa. Wanita berusia dua puluh empat tahun ini adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, mewarisi kepandaian ayah dan ibunya. Ayahnya adalah keturunan Naga Sakti Gurun Pasir, sedangkan ibunya adalah keturunan Para Pendekar Pulau Es!

Seperti telah kita ketahui, Hong Li telah dijodohkan dengan Thio Hui Kong putera Jaksa Thio yang jujur dan adil di kota Pao-teng. Hong Li yang menerima berita bahwa Sin Hong telah menikah dengan puteri guru silat Bhe di kota Lujiang, tak dapat membantah lagi kehendak orang tuanya.

Usianya sudah dua puluh tiga tahun, dan harapannya untuk dapat berjodoh dengan pria yang diam-diam dicintanya, yaitu Sin Hong yang masih terhitung susiok-nya telah sirna, maka untuk berbakti kepada orang tuanya, ia menurut saja ketika ayah ibunya memilih Thio Hui Kong menjadi suaminya. Semua orang pun akan menganggap bahwa pilihan itu sudah tepat sekali.

Thio Hui Kong seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang tampan dan gagah, pandai silat dan sastra, putera Jaksa Thio yang terkenal sebagai seorang pembesar yang adil dan bijaksana, kedudukannya tinggi dan dihormati semua orang, juga serba kecukupan walau pun tidak kaya raya. Kurang apa lagi?

Ternyata memang kurang satu, dan yang satu inilah yang menjadi syarat mutlak bagi kebahagiaan rumah tangga. Yang kurang itu adalah cinta kasih antara dua orang muda yang dijodohkan.

Hui Kong tadinya girang sekali bahwa dia berhasil mendapatkan gadis yang dijadikan rebutan, gadis gagah perkasa dan cantik jelita itu. Biar pun ada ganjalan dalam hatinya melihat betapa calon isterinya roboh pingsan ketika bertemu dengan susiok-nya yang bernama Tan Sin Hong itu, akan tetapi dia ingin melupakan semua itu dan dia bersikap mesra dan mencinta.

Ia menikmati haknya sebagai seorang suami dan menganggap bahwa Hong Li seorang isteri yang cukup menyenangkan hatinya. Tetapi hanya sampai di situ saja! Hubungan antara sepasang suami isteri barulah akan membahagiakan kalau didasari cinta kasih kedua pihak.

Oleh karena Hong Li tidak dapat memusatkan perhatiannya dalam bermesraan dengan suaminya karena memang tidak ada dasar cinta, maka hal ini terasa oleh Hui Kong. Diam-diam ia merasa penasaran dan kecewa, akan tetapi ia lalu menghibur diri dengan pergaulan di luar dan pergaulan inilah yang menyeret Hui Kong ke dalam pengejaran kesenangan yang tidak sehat! Ia mulai berfoya-foya, bermabuk-mabukan, bahkan mulai suka berjudi dan bermain dengan wanita pelacur!

Hong Li mendengar akan hal ini, bahkan ia melakukan penyelidikan sendiri dan melihat suaminya mabuk- mabukan di rumah pelesir. Tentu saja Hong Li menjadi marah dan menegur suaminya. Kekerasan hati Hong Li inilah yang akhirnya justru membuat Hui Kong memberontak dan melawan!

Dia adalah seorang putera pembesar, dan melihat betapa isterinya marah-marah dan hendak menekannya tentu saja dia menjadi penasaran. Seorang isteri harus taat, patuh dan hormat kepada suaminya, demikian dia memarahi Hong Li. Lalu mulailah terjadi bentrokan dan percekcokan antara mereka. Baru beberapa bulan menikah sudah mulai cekcok.

Melihat ini, orang tua kedua pihak berusaha keras untuk mendamaikan mereka dengan sikap bijaksana, yaitu memarahi anak masing-masing. Namun, kedua orang suami isteri muda itu sama-sama keras hatinya dan karena memang pada dasarnya tidak ada rasa cinta di antara mereka, maka semua usaha orang tua kedua pihak gagal. Percekcokan makin meningkat.

Melihat bahwa kalau sampai terjadi perkelahian akan membahayakan, akhirnya kedua orang tua masing- masing bersepakat untuk mengambil jalan keluar yang paling akhir, yaitu perceraian! Hong Li bercerai dari suaminya setelah menjadi suami isteri selama kurang dari setahun saja. Setelah bercerai secara resmi, Hong Li lalu pergi merantau. Kedua orang tuanya mengijinkannya karena melihat bahwa hal itu perlu untuk memberi kesempatan anak mereka melupakan peristiwa duka yang menimpa dirinya.

Demikianlah, Hong Li mulai merantau. Namun, ia tidak pernah dapat membebaskan diri dari duka dan kecewa. Apa lagi kalau ia membayangkan betapa susiok yang dicintanya, Sin Hong, sekarang hidup berbahagia dengan isterinya, ia merasa makin terpukul dan berduka.

Sampai pada pagi hari itu, ia bertemu dengan seorang anak penggembala kerbau dan keadaan anak itu menggugah kesadarannya bahwa selama ini ia membiarkan dirinya tenggelam ke dalam duka yang diadakan oleh pikirannya sendiri. Ia terlalu memikirkan diri sendiri, terlalu besar rasa iba dirinya sehingga ia lupa bahwa hidup bukan sekedar merenungkan segala hal yang buruk dalam hidup yang telah dialaminya.

Justru hidup adalah medan di mana pengalaman baik atau buruk terjadi, dan segala peristiwa yang sudah berlaku itu tidak ada gunanya untuk dikenang dan disedihkan lagi! Yang sudah biarlah sudah. Yang lewat biarlah lewat! Masih banyak hal-hal lain yang lebih penting dari pada sekedar termenung menyedihi dan menangisi hal-hal yang telah terjadi, yang telah lewat. Biar pun ia akan menangis dengan air mata darah, tetap saja hal yang telah berlalu itu tidak akan dapat kembali.

“Kau sungguh cengeng, Hong Li. Lihatlah anak itu! Dia jauh lebih bijaksana dari pada engkau! Dia dapat menikmati hidupnya, dapat hidup bahagia karena mampu menerima apa adanya dengan penuh gairah. Hayo, waktunya untuk bangkit, untuk bangun!”

Demikian Hong Li mencela diri sendiri sambil bangkit berdiri. Wajahnya kini berubah. Tidak lagi murung seperti tadi, melainkan berseri. Sepasang matanya yang lebar itu mulai bersinar-sinar dan mulutnya yang manis itu mulai dihias senyum.

Tiba-tiba terdengar jerit tangis di depan. Ia cepat melihat dan alisnya berkerut, matanya mengeluarkan sinar mencorong marah ketika ia melihat apa yang terjadi tak jauh di depan sana. Anak penggembala kerbau tadi sedang menangis sambil menjerit-jerit dan berusaha untuk menghalangi lima orang laki-laki yang hendak menuntun pergi lima ekor kerbaunya!

“Jangan…! Jangan ambil kerbau-kerbauku…!” Anak itu menjerit-jerit, akan tetapi seorang di antara mereka mendorong dada anak itu sehingga dia terlempar dan terjengkang dengan keras.

Hong Li melihat bahwa lima orang itu adalah laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, berpakaian ringkas, bukan pakaian orang dusun. Wajah mereka itu memperlihatkan kebengisan dan kekejian, dan melihat betapa ada senjata golok di punggung mereka, mudah diduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang biasa memaksakan kehendak dengan kekerasan dan kini agaknya hendak merampas lima ekor kerbau gemuk milik bocah itu.

“Perampok-perampok jahat!” teriak Hong Li dan dengan beberapa kali lompatan saja ia sudah berada di dekat anak itu. “Jangan takut, adik yang baik, aku akan menghajar mereka dan mengembalikan kerbau- kerbaumu!”

Melihat munculnya seorang wanita muda yang cantik jelita, tentu saja lima orang itu tidak menjadi takut, bahkan mereka tertawa-tawa secara kurang ajar dan seorang di antara mereka berkata, “Aduh, nona manis. Mari engkau ikut dengan kami. Ketahuilah bahwa ketua kami sedang mengadakan pesta, maka engkau dapat menyenangkan hati kami! Jangan khawatir, ketua kami orangnya royal dan engkau akan menerima hadiah yang banyak, ha-ha-ha!”

Wajah Hong Li berubah merah sekali. “Jahanam bermulut busuk!” bentaknya.

Akan tetapi, dua orang di antara mereka menerjang ke depan, seperti berlomba hendak menangkap gadis yang cantik itu, tidak seperti gadis dusun yang sederhana.

Diam-diam Hong Li terkejut juga melihat gerakan mereka. Kiranya mereka ini bukan orang-orang kasar biasa, bukan para perampok yang lebih mengandalkan kekejaman dan kekerasan serta tenaga besar saja. Melihat gerakan kedua orang itu, tahulah dia bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi!

Namun tentu saja Hong Li tidak menjadi gentar menghadapi cengkeraman kedua orang yang dilakukan dari kanan kiri itu. Ia malah menyelinap maju dengan cepat, di antara kedua orang itu, dan membalik secara tidak terduga, kaki dan tangannya bergerak ke kanan kiri.

“Desss! Plakkk!”

Lima orang di kanan kirinya terkejut bukan main karena yang seorang sudah tertendang perutnya dan seorang lagi tertampar pipinya! Itulah satu di antara jurus-jurus Sin-liong Ciang-hoat yang amat hebat dari Istana Gurun Pasir!

Dua orang itu mengaduh. Mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Hong Li, yang seorang mengelus-elus perutnya yang mendadak menjadi mulas, dan yang ke dua mengusap darah yang mengalir di sudut bibir yang pecah.

Mereka kini menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang lihai, maka lenyaplah sikap main-main mereka. Mereka berdua merasa malu sekali dan penasaran bahwa dalam segebrakan saja mereka telah terpukul dan ditendang oleh gadis itu. Ini merupakan penghinaan besar! Mereka adalah tokoh-tokoh besar, bukan sembarangan maling atau perampok kecil, dan kini mereka dihajar oleh seorang gadis!

“Srat! Srattt!” Nampak dua sinar berkilauan saat mereka mencabut golok dari punggung masing-masing.

Tiga orang teman mereka yang lain hanya menonton karena biar pun tadi dua orang teman mereka telah terkena tamparan dan tendangan gadis itu, namun mereka masih tidak meragukan bahwa dengan golok di tangan, kedua orang teman mereka tentu akan mampu mengalahkan gadis itu. Terlalu memalukan kalau sampai mereka berlima harus mengeroyok seorang wanita muda seperti itu!

Sekarang sepasang mata Hong Li mencorong dan kegembiraannya semakin bernyala bersama semangatnya. Inilah hidup! Inilah sesuatu yang selama ini dia rindukan! Dia kehilangan gairah ini, gairah seorang pendekar yang menentang kejahatan. Rasanya ia ingin tertawa sepuasnya.

Inilah hidupnya. Inilah dunianya! Inilah kewajibannya, seperti kewajiban yang dikerjakan sehari-hari oleh anak penggembala itu dengan penuh gairah dan kegembiraan. Sengaja dia tidak mau mencabut pedangnya karena tadi dia sudah mengukur sampai di mana tingkat kepandaian dua orang itu. Biar pun mereka bergolok, ia tidak gentar menghadapi mereka dengan tangan kosong saja!

Golok pertama menyambar, mengancam lehernya dari samping kanan. Sambaran itu cukup cepat dan kuat, mendatangkan sinar panjang serta suara mendesing! Dengan gerakan lincah, hanya menggeser kaki dan memutar tubuh, golok itu mengenai tempat kosong dan pada saat itu pula, golok ke dua menyambar dari kiri, membacok ke arah pinggangnya dari samping. Serangan ini berbahaya sekali, datang dengan cepatnya dan kalau sampai mengenai sasaran, tubuh wanita cantik itu tentu akan terbabat bagian tengahnya dan akan putus menjadi dua potong!

Akan tetapi tiba-tiba si penyerang mengeluarkan seruan kaget karena melihat wanita itu lenyap atau lebih tepat terbang ke atas sehingga goloknya menyambar tempat kosong! Kiranya Hong Li sudah mempergunakan ginkang-nya yang istimewa untuk melompat ke atas, dan dari atas kakinya menendang ke pundak si penyerang. Kembali ia membalik. Begitu tendangannya mengenai pundak, tubuhnya menyambar ke belakang. Sebelum orang pertama menyerangkan goloknya, tangan Hong Li sudah mengetuk lengan orang itu sehingga goloknya terlepas dan orang itu berteriak kesakitan, bersamaan dengan teriakan orang yang tertendang pundaknya tadi.

“Bibi, tolong…!”

Hong Li terkejut dan ketika ia melihat betapa bocah penggembala kerbau tadi dikempit di bawah lengan seorang di antara lima penjahat dan dibawa lari, ia pun mengejar.

“Jahanam busuk, lepaskan anak itu!” teriaknya sambil mengejar.

Akan tetapi, penculik anak itu sudah lari agak jauh dan menghilang ke dalam hutan. Karena khawatir akan keselamatan bocah itu, Hong Li mempercepat larinya dan terus mengejar. Ternyata orang yang menculik bocah itu mampu berlari cepat sekali dan agaknya mengenal baik hutan di sepanjang lembah Sungai Yang-ce itu.

Bocah itu menjerit-jerit terus sehingga mudah bagi Hong Li untuk terus mengejar dan karena memang ia memiliki ginkang (ilmu meringan tubuh) yang lebih tinggi dan dapat berlari lebih cepat, maka akhirnya ia dapat menyusul orang itu yang terpaksa berhenti di tepi sungai. Ketika Hong Li muncul di dekat tempat itu, dia melemparkan tubuh bocah itu ke dalam sungai! Dan tanpa menoleh lagi dia pun melarikan diri.

Tentu saja Hong Li lebih dahulu memperhatikan keadaan bocah penggembala yang dilempar ke sungai. Bocah ini ternyata pandai berenang dan dapat berenang ke tepi. Akan tetapi karena tepian sungai itu curam dan anak itu tidak dapat naik, Hong Li lalu menelungkup dan menjulurkan tangannya untuk menarik anak itu ke atas. Terpaksa ia melepaskan penculik anak itu yang sudah melarikan diri entah ke mana.

“Anak baik, engkau tidak apa-apa, bukan? Apakah orang jahat itu melukaimu?”

Anak itu tidak menangis lagi dan dia memandang kepada Hong Li sambil menggeleng kepalanya. “Tidak, Bibi, dan terima kasih atas bantuan Bibi. Akan tetapi kerbauku…”

Hong Li teringat. “Mari kita mencari kerbaumu di sana!” katanya.

Dia memondong tubuh anak itu, lalu berlari secepatnya. Anak itu menggigil ketakutan, akan tetapi diam saja, hanya memejamkan mata ketika merasa betapa dia dilarikan seperti terbang cepatnya.

Akan tetapi ketika mereka tiba di tempat kubangan kerbau, seperti yang telah diam-diam dikhawatirkannya, lima orang kerbau itu sudah lenyap dan lima orang penjahat itu pun tidak nampak bayangannya lagi. Tentu saja anak itu lalu menangis.

Hong Li mengepal tinjunya. Celaka, pikirnya. Dia telah tertipu oleh para penjahat itu. Agaknya tadi para penjahat itu maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, maka seorang di antara mereka sengaja melarikan anak itu untuk memancingnya pergi dari situ dan mengejarnya. Kemudian, pada waktu hampir tersusul, orang yang licik itu melemparkan tubuh si anak ke dalam sungai sehingga kembali Hong Li tidak dapat melanjutkan pengejaran karena harus menolong bocah penggembala, sementara itu, dengan enak saja keempat orang kawan penjahat itu telah melarikan lima ekor kerbau yang tidak dijaga!

“Sudahlah, jangan menangis,” Hong Li membujuk. “Aku akan mencari mereka.”

“Tapi… tapi, Bibi. Tentu Paman Ciok dan Bibi Ciok akan marah sekali kepadaku karena kerbau mereka hilang semua. Lima ekor kerbau itulah milik mereka satu-satunya yang menghidupkan kami semua…”

Hong Li menarik napas panjang. Benar juga, dan mungkin karena duka dan marah, keluarga itu akan memukul anak ini atau mengusirnya.

“Mari kuantar kau ke dusun. Aku yang akan memberi penjelasan kepada Paman Ciok itu, dan aku yang akan mengganti kerugian mereka. Hayolah!” Ia menggandeng tangan anak itu yang masih nampak ragu- ragu dan ketakutan.

Dusun itu kecil saja, hanya ditempati oleh puluhan keluarga yang hidupnya amat miskin, petani-petani sederhana. Seperti yang dikhawatirkan anak itu, kedua orang suami isteri itu terkejut bukan main ketika melihat anak itu pulang tanpa membawa lima ekor kerbau mereka, bersama seorang gadis cantik. Mereka menjadi marah dan berduka mendengar bahwa lima ekor kerbau mereka dirampas orang.

“Anak celaka! Anak tidak mengenal budi, tidak tahu diri…!” Laki-laki she Ciok itu dengan muka merah dan mata melotot sudah menyambar sebuah gagang cangkul, kemudian menghantamkan kayu yang sebesar lengan itu ke arah kepala anak penggembala yang ketakutan.

“Plakkk!”

Kayu pemukul itu tertahan di atas dan si petani terpaksa melepaskan kayu itu karena tangannya terasa nyeri bukan main ketika pemukul itu tertangkis oleh tangan Hong Li.

“Kau hendak membelanya? Siapakah kau yang berani membela anak durhaka ini? Dia telah membikin kami bangkrut, membikin kami celaka… ah, kami akan mati kelaparan tanpa lima ekor kerbau itu…!” Petani itu membentak marah dan mengeluh penuh duka.

Juga isterinya marah sekali dan ia maju mendekati Hong Li.

“Kau ini perempuan siluman dari mana berani mencampuri urusan kami? Anak ini jahat. Sudah kami pelihara baik-baik, eh, hari ini dia membikin hilang lima ekor kerbau kami. Mungkin dia bersekongkol dengan pencuri kerbau, anak jahat!” Dan ia pun hendak maju menerkam anak penggembala itu. Hong Li cepat menangkap lengan wanita itu.

“Sabarlah, Bibi dan kau juga Paman. Ketahuilah bahwa aku menyaksikan sendiri ketika lima ekor kerbau itu dicuri orang jahat. Mereka adalah lima orang perampok jahat. Bahkan adik kecil ini hampir saja mereka bunuh, untung aku kebetulan lewat dan dapat menyelamatkannya. Jangan khawatir, aku tahu akan keadaan kalian yang melarat. Aku akan sungguh-sungguh mencari lima ekor kerbau itu sampai aku dapat mengambilnya kembali dan menyerahkan kepada kalian. Anak ini tidak bersalah, harap jangan dipukul atau dihukum.”

“Enak saja!” Petani itu bersungut. “Mudah saja kau berjanji, Nona. Kalau engkau pergi lalu tidak kembali, tidak membawa kerbau-kerbau itu kembali kepada kami, ke mana kami harus mencarimu? Tetap saja lima ekor kerbau kami hilang!”

Hong Li tersenyum. “Jangan khawatir, sebelum kerbau-kerbau itu kutemukan biarlah kalungku ini kalian pegang dulu, dan benda ini sebagai penggantinya kalau lima ekor kerbau itu tidak dapat kukembalikah kepada kalian.”

Isteri petani itu menerima kalung dan bersama suaminya memeriksa benda itu. Sebuah kalung emas dengan mainan dari kemala yang indah. Akan tetapi, keduanya adalah penduduk dusun yang tidak pernah mempunyai perhiasan seperti itu, maka keduanya tidak tahu apakah benda itu cukup berharga untuk mengganti lima ekor kerbau mereka.

“Tunggu dulu, kupanggil Coan-toako di sebelah, dia tahu tentang harga barang seperti ini!” Tiba-tiba sang suami berkata dan dia pun lari keluar dari rumahnya.

Isterinya memandang kepada Hong Li dan tersenyum masam. “Kami… kami tidak tahu harga barang seperti ini…”

Hong Li tersenyum maklum. Ia tahu bahwa harga kalungnya itu dapat dipakai membeli sepuluh ekor kerbau! Kalau tidak demikian, tidak mungkin dia mau menyerahkannya kepada mereka. Ia bukan seorang penipu.

Petani itu datang berlari-lari bersama seorang petani lain yang lebih tua. “Coan-toako, tolong kau lihat dan taksir barang ini, apakah benar tulen dan dapatkah dipergunakan membeli lima ekor kerbau?”

Petani she Coan itu menerima kalung. Dengan sikap seorang ahli, dia memeriksanya, menimbang dengan tangan, memeriksa kemala yang menjadi mainan kalung, kemudian memandang kepada Hong Li. Dia tadi sudah mendengar dari petani Ciok tentang lima ekor kerbau yang hilang dan hendak diganti dengan kalung ini.

“Kalau aku yang menjualnya ke kota, kiranya hanya bisa pas saja untuk membeli lima ekor kerbau. Sekarang begini saja, dari pada engkau susah-susah, lebih baik barang ini kutukar saja dengan lima ekor kerbau. Bagaimana pendapat kalian?” tanyanya kepada suami isteri Ciok.

Hong Li mengerutkan alisnya. Ia berhadapan dengan seorang penipu, dan hal ini membuatnya marah. Sekali sambar, ia sudah merampas kalung itu dari tangan petani she Coan.

“Kau mau menipu, ya? Pergi sana sebelum kutampar kepalamu!” bentaknya.

Petani Coan hendak marah, akan tetapi tuan rumah Ciok yang maklum bahwa gadis itu bukan hanya menggertak kosong, cepat menarik tangannya diajak ke luar, kemudian dia kembali sambil membungkuk- bungkuk.

“Sekarang kami percaya, Nona. Baiklah kalung ini kami terima sebagai pengganti lima ekor kerbau kami yang hilang,” katanya.

“Hemmm, siapa mau memberikan kalung ini kepadamu!” bentak Hong Li. “Kalung ini cukup untuk membeli sedikitnya sepuluh ekor kerbau. Kukatakan tadi, aku akan mencari kerbau-kerbau kalian itu dan mengembalikannya kepada kalian. Kalung ini hanya untuk pegangan saja, supaya kalian tidak menyiksa anak ini. Nanti kalau aku tidak berhasil menemukan kerbau-kerbau itu, barulah aku akan berikan kalung ini kepada kalian.”

Suami isteri itu tersenyum dengan wajah berseri. “Nona, kami berdua amat mencinta anak ini, kami anggap seperti anak sendiri. Bagaimana kami akan tega menyiksanya? Jika tadi aku hendak memukul adalah karena kesedihanku mendengar lima ekor kerbau kami hilang. Kami tidak akan marah kepadanya, Nona.”

Hong Li memandang kepada anak itu dan ia melihat kepala anak itu mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan petani itu. Hatinya menjadi lega dan ia pun berkata, “Baiklah, kalau begitu sekarang juga aku akan mencari para perampok itu. Jangan kalian kena ditipu orang tadi. Dia penipu. Kalau kelak harus menjual kalung ini, kalian jual sendiri ke kota, ditukar dengan sedikitnya sepuluh ekor kerbau. Kalian harus memperlakukan anak ini baik-baik. Awas, kalau aku mendengar kalian menyiksanya, aku tidak akan memberi ampun.” Setelah berkata demikian, sekali meloncat, tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.

Suami isteri itu melongo. Muka mereka pucat dan mengira bahwa gadis cantik tadi tentulah seorang dewi atau seorang siluman…..

********************

Percuma saja Hong Li melakukan penyelidikan dengan bertanya-tanya kepada para penghuni di dusun- dusun sekitar tempat itu. Mereka semua tidak tahu apakah di daerah itu muncul perampok jahat. Menurut mereka, tidak pernah ada gangguan perampok dan daerah itu miskin, akan tetapi aman. Para petani hidup dengan tenteram walau pun keadaan mereka sederhana sekali.

Mendengar keterangan ini, Hong Li berpendapat bahwa tentu para perampok itu adalah orang-orang baru, gerombolan jahat yang agaknya baru saja berdiam di daerah itu. Ia lalu keluar dari dusun dan mulai melakukan penyelidikan di daerah pegunungan dan hutan-hutan.

Hong Li adalah seorang pendekar wanita yang sudah sering kali melakukan perantauan dan sudah berpengalaman. Ia dapat menduga bahwa gerombolan perampok yang baru tiba di suatu daerah yang sedang mencari sarang baru, tentu bersembunyi di hutan-hutan dan di gunung-gunung yang sunyi. Maka dia pun mendaki sebuah bukit yang penuh dengan hutan lebat karena dari jauh kelihatan bahwa bukit inilah yang paling baik untuk tempat persembunyian para penjahat. Juga tadi ia melihat asap mengepul dari lereng bukit ini, padahal menurut keterangan para penduduk dusun, di bukit itu tidak ada penghuninya.

Ketika Hong Li menyusup-nyusup ke dalam hutan untuk mendaki bukit itu, tiba-tiba saja dia menahan langkahnya. Dia mendengar suara berkeresekan di sebelah kiri, di balik semak-semak. Hutan itu lebat. Mungkin saja ada binatang buas sedang mengintai di balik semak-semak itu. Atau orang jahat? Apakah mungkin perampok-perampok itu?

Tiba-tiba dua bayangan berkelebat dan muncullah dua orang yang sudah menghadang di depannya. Seorang laki-laki dan seorang wanita. Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari pakaian mereka yang ringkas, dapat diketahui bahwa mereka bukanlah orang-orang tani atau orang-orang dusun, dan dari gerakan mereka pun dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat.

“Singgg! Singgggg…!”

Dua orang itu sudah mencabut pedang mereka dan dengan pedang di tangan mereka mengamati Hong Li penuh perhatian. Sebaliknya Hong Li juga memperhatikan mereka dan melihat bahwa dua orang itu nampak lemas dan lelah, juga pria itu agaknya terluka, karena ada warna merah darah di pakaiannya bagian pundak dan pinggang.

“Siapakah engkau?” bentak wanita itu sambil melintangkan pedangnya, sikapnya sangat mengancam.

Hong Li tersenyum. “Aku sedang berjalan, kalian yang menghadang. Sepatutnya kalian yang lebih dulu mengatakan siapa kalian dan kenapa pula menghadang perjalananku!”

Dua orang itu saling pandang, lalu yang pria menjawab. “Nona, apakah engkau anggota gerombolan yang berada di bukit ini?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo