October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 22

 

Sin Hong menahan senyumnya. Dia tahu bahwa muridnya itu, walau pun usianya baru sembilan tahun, namun mempunyai kecerdikan luar biasa, bahkan dapat mengikuti jalan pikiran orang dewasa. Dia tahu bahwa pandangan anak itu kadang-kadang tajam dan tidak ngawur. Kalau tadi dia terkejut dan rikuh adalah karena muridnya itu dianggapnya lancang mencampuri urusan orang lain, apa lagi urusan permusuhan yang demikian pentingnya, yang sudah mengorbankan banyak nyawa dan yang membuat tuan rumah berduka sekali.

“Yo Han, benarkah apa yang akan kau katakan itu penting sekali? Kalau tidak penting jangan bicara!”

“Suhu, teecu tidak berani main-main. Teecu tahu ada waktu untuk main-main dan ada waktu untuk bersungguh-sungguh, dan apa yang akan teecu katakan ini menurut teecu penting sekali,” kata Yo Han sambil bangkit berdiri lagi.

“Kalau begitu, bicaralah,” kata Sin Hong, percaya sepenuhnya kepada murid yang baru berusia sembilan tahun lebih itu.

Semua mata ditujukan kepada Yo Han dengan penuh perhatian, namun anak itu sama sekali tak nampak gugup walau pun yang memandangnya adalah orang-orang dewasa.

“Begini, Suhu dan para Paman yang terhormat, juga engkau, enci Siang Cun. Aku telah mendengarkan semua percakapan tadi dan aku membayangkan adanya hal-hal aneh dalam peristiwa ini. Menurut nalar, kalau Ngo-heng Bu-koan tadinya bersahabat erat dengan Kim-liong-pang, bahkan ada pengikatan perjodohan, hal itu dapat dianggap bahwa tentu Kim-liong-pang adalah perkumpulan orang gagah pula, bukan perkumpulan penjahat. Maka, andai kata benar bahwa putera ketua Kim-liong-pang yang melakukan perkosaan dan pembunuhan itu, tidak mungkin orang tuanya dan juga perkumpulannya yang menjunjung tinggi kegagahan akan membelanya! Kalau mereka membela mati-matian sampai mengorbankan nyawa, tentu mereka merasa yakin bahwa mereka itu benar! Seperti halnya Ngo-heng Bu-koan sendiri yang menyangkal keras ketika dituduh telah membunuh seorang anggota Kim-liong-pang dan ada pedang Ngo- heng Bu-koan ditemukan di dekat mayat anggota Kim-liong-pang itu.”

“Tapi itu fitnah!” Siang Cun berseru.

“Akan tetapi ada bukti pedang…,“ Yo Han berkata dengan maksud memancing.

“Ahh, pedang itu bukan bukti mutlak. Bisa saja pedang kami dicuri orang dan dijadikan bukti palsu!” Gadis itu membantah lagi.

“Nah, justru ini yang menjadi maksudku, enci Siang Cun. Fitnah dan bukti palsu! Kalau pedang Ngo-heng Bu-koan dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu, bukankah topi dari putera Kim-liong Pangcu itu pun dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu pula? Nah, kemungkinan ke tiga yang kumaksudkan adalah fitnah dan bukti palsu itu! Siapa tahu, ada orang ke tiga yang bermain curang di sini, yaitu menjatuhkan fitnah kepada putera Ciok Pangcu, kemudian menjatuhkan fitnah sana dan fitnah sini untuk mengadu domba…“

“Tidak mungkin!” seorang murid Ngo-heng Bu-koan bangkit berdiri dan membantah dengan suara keras. “Siapa orang yang mau melakukan perbuatan gila itu dan apa maksudnya?”

“Itulah yang harus diselidiki,” kata Yo Han dengan sikap serius. “Aku tadi hanya mengatakan kemungkinan ke tiga, mungkin terjadi demikian mungkin juga tidak.”

“Luar biasa…!” Tiba-tiba Bhe Kauwsu berseru, matanya terbelalak memandang kepada Yo Han. “Tan Taihiap, muridmu ini sungguh seorang anak yang luar biasa cerdiknya! Kemungkinan itu memang ada! Bagaimana tak pernah terpikirkan oleh aku yang sudah setua ini?”

“Ah, Bhe Kauwsu terlalu memuji!” kata Sin Hong merendah walau pun di dalam hatinya dia merasa bangga dan juga kagum karena dia melihat adanya kemungkinan besar dalam ucapan muridnya tadi. “Yo Han hanya ngawur saja.”

“Tidak, tidak! Kemungkinan ke tiga itu memang ada! Ahh, kenapa aku tidak menduga akan hal itu dan siang-siang mengadakan perundingan dengan Kim-liong-pang? Harus segera diadakan perundingan itu untuk bersama-sama melakukan penyelidikan akan adanya kemungkinan ketiga itu!”

“Akan tetapi, Suhu. Keadaan sudah begini meruncing, kedua pihak sudah kehilangan banyak anggota yang roboh tewas, dan sakit hati telah semakin bertumpuk, bagaimana mungkin Suhu dapat mengadakan perundingan dengan pihak Kim-liong-pang? Teecu kira mereka tidak akan mau menerima uluran tangan Suhu.” kata pula murid Ngo-heng Bu-koan itu.

Bhe Kauwsu mengangguk-angguk. “Engkau benar juga, memang sekarang sudah amat terlambat. Sayang baru sekarang ada anak cerdik ini yang mengingatkan, kalau dulu sebelum jatuh banyak korban…“

“Bhe Kauwsu, dalam keadaan seperti ini, memang tidak baik bahkan berbahaya kalau engkau sendiri yang pergi ke sana, mungkin akan menambah panasnya suasana dan menimbulkan kesalah pahaman kedua pihak. Biarlah saya yang akan mewakilimu pergi menghadapi pimpinan Kim-liong-pang untuk membicarakan kemungkinan ke tiga itu, menawarkan perdamaian dan kerja sama untuk menyelidiki persoalan ini.”

“Ahh, kalau Taihiap suka, sungguh kami merasa beruntung dan berterima kasih sekali!” kata guru silat Bhe dengan girang.

“Akan tetapi, Suhu. Apakah hal itu tidak akan merendahkan nama dan kehormatan Suhu khususnya dan para murid Ngo-heng Bu-koan pada umumnya? Mereka yang lebih dahulu memulai permusuhan dan penghinaan yang teramat besar, memperkosa murid perguruan kita dan membunuhnya. Sudah patutkah kalau sekarang pihak kita yang melakukan pendekatan untuk berdamai? Kita akan dianggap takut!” yang bicara ini adalah seorang murid kepala lain dari Ngo-heng Bu-koan dan semua murid yang hadir dalam perjamuan makan itu mengangguk-angguk menyatakan setuju. Kini yang mereka bela bukan hanya kebenaran, melainkan juga nama dan kehormatan perguruan mereka.

Mendengar ucapan murid kepala ini, Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya dan dia pun mengangguk-angguk. Dia menjadi ragu! Jika dipikirkan, yang memulai permusuhan itu memang adalah pihak Kim-liong-pang, maka kalau kini pihak Ngo-heng Bu-koan yang membuat langkah pertama ke arah perdamaian, seolah- olah pihak Ngo-heng Bu-koan merasa takut! Dia memandang kepada Sin Hong dengan sinar mata ragu- ragu.

“Ucapan murid kami itu memang benar, Tan Taihiap. Permusuhan antara perguruan kami dan Kim-liong- pang sudah terlampau berlarut-larut. Sudah banyak korban kedua pihak berjatuhan. Kalau sekarang tiba- tiba Taihiap muncul sebagai utusan kami untuk mengajak damai, sungguh, hal itu dapat disalah artikan, disangka bahwa kita takut atau lebih celaka, kita disangka benar-benar bersalah.”

Sin Hong mengangguk-angguk, di dalam hati bisa membenarkan pendapat itu. Memang serba salah. Didiamkan, maka permusuhan itu akan semakin menghebat, tapi kalau dia mendamaikan, maka akan tersinggung kehormatan dan nama Ngo-heng Bu-koan.

Tiba-tiba terdengar suara Yo Han, nyaring dan bersungguh-sungguh. “Ada jalan yang baik!”
Kembali semua orang memandang kagum, hanya Sin Hong yang mengerutkan alisnya, menganggap muridnya itu terlalu lancang walau pun di dalam hati ia makin mengagumi muridnya itu yang ternyata diam- diam memperhatikan percakapan dan bahkan turut memikirkan dan mencari jalan keluar! Akan tetapi sebelum dia menegurnya, Bhe Gun Ek sudah menanggapi.

“Anak yang baik, ada akal apa lagikah di dalam kepalamu yang luar biasa cerdik itu? Katakanlah!”

Yo Han mengerling kepada suhu-nya dan memandang dengan sinar mata seolah-olah minta perkenan!

Sin Hong tersenyum melihat ini. Bagaimana pun juga, muridnya yang lancang ini sama sekali tidak bermaksud menyombongkan dirinya, bahkan selalu minta persetujuannya. Dia pun mengangguk dan berkata, “Kalau engkau memang ada pendapat yang baik, katakanlah.”

Yo Han lalu bangkit berdiri. Dengan wajah bersungguh-sungguh dia berkata, “Pendapat Bhe Kauwsu memang benar. Permusuhan itu sudah terlalu meruncing sehingga kalau yang mendamaikan itu anggota atau utusan dari salah satu pihak, tentu mendatangkan perasaan rendah diri. Akan tetapi jika Suhu bertindak atas nama sendiri, sebagai orang luar yang berusaha mendamaikan antara kedua sahabat yang kini bermusuhan, saya kira tidak akan mendatangkan perasaan tidak enak. Dan saya yakin kalau Suhu mau turun tangan mendamaikan, tentu akan membuat pihak Kim-liong-pang dapat menerima alasan dan juga mau bekerja sama untuk melakukan penyelidikan akan kemungkinan adanya pihak ketiga itu.”

Bhe Gun Ek bertepuk tangan dengan hati girang dan mereka yang hadir tersenyum dan mengangguk- angguk. Juga Bhe Siang Cun segera berkata, “Adik Yo Han memang luar biasa sekali, entah gurunya akan mau melaksanakan usulnya ataukah tidak,” berkata demikian, gadis itu melirik ke arah Sin Hong.

Wajah Sin Hong berubah kemerahan. Diam-diam ia mendongkol juga kepada muridnya sebab pendapat muridnya itu seolah-olah telah mendesak dan mendorongnya ke sudut. Sekali ini dia tidak mungkin mundur, karena kalau dia menolak, seolah-olah dia enggan untuk mendamaikan kedua pihak. Akan tetapi kalau dia maju, berarti dia bertindak atas nama sendiri dan hal ini mengandung bahaya bahwa dia akan diterima sebagai musuh oleh pihak Kim-liong-pang.

Yo Han agaknya dapat melihat isi hati gurunya melalui sinar mata dan wajah gurunya yang berubah kemerahan. Dengan suara takut-takut dia pun berkata kepada gurunya, “Suhu selalu mengajarkan kepada teecu bahwa seorang gagah pantang mundur untuk melakukan pekerjaan yang dianggap benar, adil dan baik. Dan teecu yakin sekali bahwa mendamaikan Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liongpang adalah pekerjaan yang benar dan adil.”

Mau tidak mau Sin Hong tersenyum. Muridnya ini memiliki kelihaian dalam bicara. Dia merasa seolah-olah sudah ditodong dan tidak mampu mengelak lagi. Secara halus anak kecil ini menyudutkannya dan menyerangnya dengan pelajaran yang telah diajarkannya sendiri kepada murid itu.

“Hemmm, Yo Han. Bagus engkau masih ingat akan pelajaran itu. Dengan demikian, bagaimana kalau sekarang aku menyuruh engkau yang menjadi orang yang berusaha mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan itu? Maukah engkau menemui pimpinan Kim-liong-pang dan bicara dengan mereka, lalu berusaha mendamaikan permusuhan mereka dengan pihak Ngo-heng Bu-koan?”

Semua orang, termasuk Bhe Gun Ek dan puterinya, terkejut dan heran mendengar ini. Seorang anak kecil berusia sembilan tahun lebih disuruh menjadi juru damai antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang? Sungguh tidak mungkin! Mana mungkin pihak Kim-liong-pang akan sudi mendengarkan omongan seorang bocah? Ngo-heng Bu-koan sendiri tidak akan mau bicara mengenai permusuhan mereka dengan seorang bocah seperti Yo Han kalau dia bukan murid Tan Sin Hong!

Akan tetapi dengan suara lantang dan sikap gagah, Yo Han lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Tentu saja teecu mau, Suhu! Kalau Suhu memerintahkan, sekarang juga teecu akan suka menemui ketua Kim-liong-pang!”

Mendengar jawaban ini, Bhe Gun Ek, Bhe Siang Cun dan para murid-murid Ngo-heng Bu-koan tertegun, bahkan ada juga yang tersenyum geli dan menganggap jawaban itu merupakan suatu kesombongan kanak-kanak saja. Akan tetapi Sin Hong tahu benar bahwa muridnya itu tidak akan berlagak, melainkan akan sungguh-sungguh berangkat kalau dia memerintahkannya.

Diam-diam Sin Hong bersyukur. Muridnya ini bukan hanya mengemukakan pendapat, melainkan juga berani mempertanggung jawabkannya.

“Baiklah, Yo Han. Engkau pergi menemui Kim-liong-pang dan aku akan menemanimu.” Yo Han bersorak girang. “Kalau Suhu menemani tecu, semua akan beres!”
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan beberapa orang murid yang dipimpin oleh Phoa Hok Ci masuk sambil menggotong sesosok mayat yang masih berlumuran darah! Ketika semua orang bangkit, Bhe Gun Ek meloncat dekat mayat itu dan berseru kaget.

“Ciang Lun…!” Dan dia menoleh kepada Phoa Hok Ci, bertanya dengan suara gemetar. “Apa yang telah terjadi dengan dia?”

Phoa Hok Ci menjatuhkan diri berlutut di depan kaki guru silat itu dan berkata dengan suara terkandung isak tangis, “Suhu ketika teecu keluar kampung, teecu melihat dari jauh sute Ciang Lun sedang berkelahi, dikeroyok oleh dua orang murid Kim-liong-pang. Teecu tidak dapat melihat jelas muka mereka, akan tetapi teecu mengenal baju yang ada lambang perkumpulan itu. Ketika melihat teecu lari menuju ke tempat itu, mereka lalu melarikan diri, meninggalkan sute Ciang Lun yang sudah terluka parah. Ketika teecu membawa sute pulang, di tengah perjalanan dia tewas. Ah, Suhu sendiri maklum betapa dekatnya teecu dengan sute Ciang Lun, dia seperti adik teecu sendiri dan kini… ahhh, terkutuk orang-orang Kim-liong- pang!”

Phoa Hok Ci bangkit berdiri, mukanya pucat dan basah air mata. Dia mengepal tinju dan matanya menjadi beringas. Agaknya, kalau di situ terdapat orang Kim-liong-pang, tidak akan ada yang mampu mencegahnya mengamuk dan menyerang musuh besar itu.

“Tidak ada damai dengan anjing-anjing Kim-liong-pang!” Tiba-tiba Phoa Hok Ci berteriak dan para murid Ngo-heng Bu-koan menyambut dengan teriakan setuju.

Pada waktu mengeluarkan teriakan itu, Phoa Hok Ci memandang ke arah Sin Hong dengan mata melotot, seolah-olah Sin Hong yang ingin mendamaikan permusuhan itu merupakan seorang anggota Kim-liong- pang yang harus dimusuhinya! Melihat ini guru silat Bhe segera berkata kepada muridnya itu.

“Sudahlah, lekas rawat baik-baik jenazah sute-mu ini. Carikan peti yang baik dan kita lakukan upacara sembahyang di ruangan depan.”

Phoa Hok Ci dan teman-temannya mengangkat jenazah itu keluar dari ruangan itu, dan Bhe Gun Ek berkata kepada Sin Hong, “Taihiap, sekarang urusan menjadi semakin kacau! Kau lihat sendiri betapa kejamnya orang-orang Kim-liong-pang. Aku tidak dapat menyalahkan Hok Ci atas kemarahannya karena Ciang Lun yang menjadi korban itu memang amat dekat dengan dia, seperti adik kandung saja. Dia kehilangan kekasihnya yang diperkosa dan dibunuh, kemudian sekarang kehilangan sute yang disayangnya, dan keduanya terbunuh oleh orang-orang Kim-liong-pang atau begitu menurut dugaan. Bahkan pembunuh sute-nya dilihatnya dari jauh sebagai dua orang yang mengenakan pakaian Kim-liong- pang. Tentu saja dia merasa sakit hati dan amat mendendam kepada Kim-liong-pang. Setelah peristiwa ini, agaknya… hemmm, rencana kita tadi terpaksa harus ditunda dulu, Taihiap.”

Sin Hong menarik napas panjang dan bangkit dari tempat duduknya.

“Aku mengerti, Bhe Kauwsu. Sebaiknya kami mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Kehadiran kami hanya mengganggu saja.”

“Ahhh, sama sekali tidak, Taihiap. Bahkan tadinya kami sangat mengharapkan bantuan Taihiap untuk mendamaikan urusan ini, tetapi kini para murid sedang marah-marahnya, dan saya sendiri tentu saja juga penasaran karena kembali kehilangan seorang murid yang baik.”

Sin Hong lalu menggandeng tangan Yo Han meninggalkan rumah perguruan silat yang besar itu, bahkan lalu keluar dari kota Lu-jiang. Setiba mereka di luar kota, hari telah mulai gelap, senja telah mendatang.

“Suhu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Yo Han bertanya.

Sin Hong menoleh dan memandang muridnya sambil tersenyum. “Apa yang akan kita lakukan? Melanjutkan perjalanan, apa lagi?”

“Tapi permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang itu…“

“Ah, itu bukan urusan kita, Yo Han. Perlu apa kita mencampuri urusan orang lain?” Sin Hong mencela muridnya.

Hening sejenak dan kedua orang itu melanjutkan perjalanan tanpa berkata-kata. Yo Han berjalan dan sambil menundukkan mukanya, tiba-tiba dia bertanya, “Suhu, kalau teecu melihat dua orang berkelahi dan berusaha mati-matian untuk saling bunuh, apakah yang harus teecu lakukan?”

“Hemmm, tentu engkau harus melerai dan berusaha untuk mendamaikan mereka, atau kalau kau tahu bahwa seorang di antara mereka jahat dan hendak menekan, kau harus membantu yang lemah tertindas.”

“Suhu, bukankah kalau teecu mencampuri berarti teecu juga mencampuri urusan orang lain?”

Mendengar nada suara muridnya, Sin Hong menoleh. Ia pun tersenyum dan mengerti apa yang dimaksudkan oleh muridnya yang cerdik itu, lalu ia menarik napas panjang. “Baiklah, Yo Han. Aku pun sedang memikirkan bagaimana cara dapat menghentikan permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim- liong-pang. Karena dua pihak berkeras kepala, maka aku tidak ingin lagi ikut mencampuri. Jangan-jangan malah akan dimusuhi kedua pihak.”

“Suhu telah berkenalan dengan pihak Bu-koan dan tahu akan isi hati Bhe-kauwsu, akan tetapi belum mengenal pihak Kim-liong-pang. Kalau Suhu juga berkunjung ke sana dan berkenalan, teecu kita tidak akan sukar mencari jalan tengah ke arah perdamaian.”

“Usulmu baik sekali. Baiklah, mari kita pergi ke bukit Kim-liong-san itu, setidaknya kita dapat menyelidiki bagaimana sesungguhnya keadaan pihak yang bermusuhan dengan Ngo-heng Bu-koan itu.”

Yo Han merasa girang sekali, tetapi dia hanya mengangguk dan mengikuti suhu-nya menuju ke bukit yang nampak dari situ walau pun cuaca sudah mulai remang-remang. Tiba-tiba Sin Hong menarik lengan muridnya dan menyelinap ke dalam semak-semak. Dia melihat bayangan orang.

Yo Han juga mengintai dari balik semak-semak dan dia pun melihat dua orang laki-laki sedang menggotong tubuh seorang laki-laki lain yang agaknya telah tewas. Oleh karena cuaca remang-remang, maka Sin Hong tidak dapat mengenal wajah kedua orang itu.

“Engkau tunggu saja di sini, aku akan membayangi mereka,” bisiknya kepada Yo Han.

Anak ini mengangguk, maklum bahwa kalau dia ikut, hanya akan merepotkan saja dan mungkin akan menggagalkan usaha gurunya yang akan melakukan penyelidikan. Sin Hong berkelebat dan lenyap dari depan muridnya, membuat Yo Han terbelalak kagum.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, mudah saja bagi Sin Hong untuk membayangi dua orang itu sampai dekat tanpa mereka melihat atau pun mendengar gerakannya. Dengan jantung berdebar Sin Hong dapat mengenal seorang di antara mereka, yaitu Phoa Hok Ci, murid kepala Ngo-heng Bu-koan yang paling mendendam kepada Kim-liong-pang itu.

Dari Bhe Kauwsu dia mendengar betapa korban pertama di pihak Ngo-heng Bu-koan adalah seorang murid perempuan dan gadis yang diperkosa lalu dibunuh itu adalah kekasih Hok Ci dan korban terakhlr adalah seorang sute yang paling dekat dengan Hok Ci.

Sekarang dua orang yang menggotong sesosok mayat itu masuk hutan kecil di lereng Kim-liong-pang dan mereka berhenti. Sin Hong cepat menyelinap ke belakang sebatang pohon terdekat. Ia mengintai dan mendengarkan dengan hati-hati karena merasa curiga akan sikap mereka.

“Suheng, kita apakan mayat itu? Kita kubur di sini?” Orang ke dua bertanya dan tahulah Sin Hong bahwa dia seorang murid Ngo-heng Bu-koan pula, adik seperguruannya Phoa Hok Ci.

“Kita kubur di sini? Huh, enaknya! Kita biarkan dia di sini agar besok pagi ada orang Kim-liong-pang yang melihatnya. Tinggalkan saja golokmu itu di tubuhnya, atau biarlah kutusukkan golok itu di tubuh mayat ini!”

Phoa Hok Ci menerima golok dari tangan sute-nya, dan sekali bergerak goloknya itu menancap sampai dalam di dada mayat. Tidak ada darah keluar, tanda bahwa mayat itu sudah sejak tadi tewas.

“Tapi… Suheng, golok itu ada tanda perguruan kita.”

“Bagus, memang itu yang kukehendaki. Biar mereka tahu bahwa putera ketua mereka dibunuh oleh orang- orang Ngo-heng Bu-koan!”

“Aihhh, bagaimana Suheng ini? Bukankah suhu sedang berusaha untuk mengadakan perdamaian dengan pihak Kim-liong-pang? Perbuatan Suheng kali ini akan menambah besar dendam dan permusuhan! Aku tadi sudah sangsi ketika Suheng mengajak aku mengeroyok Ciok Lim, walau pun aku juga tidak suka kepadanya, apa lagi mengingat bahwa dia tersangka utama dalam perkosaan dan pembunuhan sumoi kita.”

Phoa Hok Ci mengambil pedang milik Ciok Lim yang sudah menjadi mayat itu. Pedang itu tadinya masih terselip di sarung pedang yang tergantung di punggung, hal ini saja menunjukkan bahwa pemuda putera ketua Kim-liong-pang ini agaknya dibunuh secara mendadak sehingga dia tidak sempat membela diri.

“Aku memang menghendaki agar kedua belah pihak bermusuhan! Biarlah kedua pihak hancur, kecuali Bhe Siang Cun! Ia seorang yang harus hidup dan menjadi isteriku!”

“Suheng… apa… apa pula maksudmu…?” Orang kedua itu agaknya terkejut bukan main mendengar ucapan Phoa Hok Ci itu.

“Sudah sejak dulu kurindukan Siang Cun, dan kujelaskan niatku memperisteri gadis itu, akan tetapi suhu dengan halus menolak, bahkan lalu hendak menjodohkan aku dengan Cin-sumoi. Aku merasa sangat penasaran, dan lebih sakit hatiku ketika suhu menerima pinangan Ciok Lim ini! Tidak ada jalan lain bagiku kecuali menggagalkan perjodohan itu dan untuk itu, Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan harus menjadi musuh besar yang saling bermusuhan! Aku tidak mencinta Cin-sumoi, cintaku hanya untuk Bhe Siang Cun, maka biarlah Cin-sumoi menjadi korban pertama untuk membuka permusuhan antara kedua pihak, dan aku berhasil… ha-ha-ha, aku berhasil! Apa lagi malam ini, Ciok Lim, telah tewas dan untuk kematian ini, pihak Kim-liong-pang pasti akan membalas dendam dan tiada kekuatan lain di dunia ini yang akan mampu menghapus dendam di antara mereka!”

“Suheng…! Kau… kau gila…!”

“Ha-ha-ha, memang aku gila, tergila-gila kepada Siang Cun dan apa pun yang akan terjadi, ia harus menjadi milikku. Kau dengar, Sute? Ia harus menjadi milikku, aih, Siang Cun jantung hatiku…!”

“Suheng, jadi kalau begitu, Cin-sumoi bukan terbunuh oleh Ciok Lim, melainkan oleh Suheng sendiri? Dan Suheng yang memperkosanya lalu membunuhnya?”

“Hemmm, hanya orang tolol seperti engkau yang tidak mengerti! Aku memperkosa dan membunuhnya agar api kebencian dan permusuhan mulai bernyala…”

“Suheng mencuri topi milik Ciok Lim dan meninggalkannya di dekat mayat Cin-sumoi?” “Benar!”
“Dan pembunuhan-pembunuhan yang lain itu… pembunuhan terhadap murid perguruan kita yang tidak diakui oleh pihak Kim-liong-pang, kemudian pembunuhan terhadap murid Kim-liong-pang yang tidak kita akui, semua itu adalah perbuatanmu pula?”

“Benar.”

“Dan kematian sute sore tadi… juga engkau yang membunuhnya?” “Benar!”
“Suheng! Engkau telah gila, dan kenapa… kenapa kau ceritakan semua ini kepadaku? Mengapa engkau berani mengakui semua itu kepadaku?”

“Karena engkau takkan mampu membuka mulut lagi!”

Tiba-tiba pedang di tangan Hok Ci menyambar dan pedang itu telah menembus dada dan jantung murid Ngo-heng Bu-koan itu. Dia roboh terjengkang, matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan suara jerit tertahan dan ia pun tewas seketika, roboh terlentang dengan pedang masih menancap di dadanya dan agaknya memang dibiarkan tinggal di dada itu oleh Hok Ci.

Sin Hong terkejut bukan main dan merasa menyesal. Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa Phoa Hok Ci akan membunuh sute-nya sehingga dia pun tak menyangka sesuatu dan tidak keburu mencegah pembunuhan yang terjadi di depan matanya ini. Tak disangkanya pula bahwa permusuhan hebat antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan itu terjadi karena perbuatan Phoa Hok Ci yang agaknya sudah gila!

Orang ini tergila-gila kepada Bhe Siang Cun. Karena pinangannya ditolak, juga karena besarnya nafsu menguasai dirinya untuk dapat memiliki Siang Cun, dia tak segan-segan melakukan segala perbuatan yang amat kejam.

Dia memperkosa mendiang Bong Siok Cin, sumoi-nya sendiri, lalu membunuhnya, dan di dekat mayat sumoi-nya itu dia meninggalkan topi milik putera ketua Kim-liong-pang yang dicurinya. Ia pun masih memperbesar permusuhan dan dendam antara dua pihak dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi, baik terhadap murid Kim-liong-pang yang dibunuhnya, mau pun murid Ngo-heng Bu-koan sendiri!

Dan siang tadi dia membunuh sute-nya yang paling dekat dengan dia, mungkin selain untuk memperbesar dendam, juga karena sute-nya itu mengetahui atau mencium bau akibat perbuatannya yang jahat. Pembunuhan terhadap sute-nya ini dilakukan dengan dua tujuan, pertama supaya sute-nya ini tidak dapat menceritakan hal-hal yang kiranya mencurigakan, dan kedua agar ada bukti bahwa kematian putera ketua Kim-liong-pang adalah karena perbuatan sute itu, murid Ngo-heng Bu-koan! Dia membunuh sute-nya agar kelihatan bahwa mereka berdua itu tewas bersama dalam suatu perkelahian.

Bukan main kaget dan marahnya hati Sin Hong dan diam-diam dia kagum sekali kepada muridnya. Ternyata dugaan Yo Han benar dan tepat! Kemungkinan ketiga itu kini bukan kemungkinan lagi, melainkan sudah menjadi kenyataan! Ada orang ke tiga yang sengaja mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan demi kepentingan diri sendiri! Dan orang itu bukan laan adalah Phoa Hok Ci, murid utama yang dipercaya oleh Bhe Kauwsu.

Satu-satunya kebodohan dan kelemahan manusia adalah membiarkan si aku merajalela dalam diri kita masing-masing. Kalau si aku sudah merajalela dalam diri, menguasai diri sepenuhnya, maka celakalah hidup ini.

Segala mala petaka dan kesengsaraan, bersumber dari si aku ini yang mendorong kita untuk mengejar segala macam kesenangan dengan menggunakan segala macam cara untuk mencapai hasil pengejaran itu. Si aku ini yang mendatangkan loba, tamak, dengki, iri, marah, benci takut dan sebagainya. Si aku mengotori dan merusak batin.

Si aku bagaikan setan yang menjadi raja dalam batin kita masing-masing dan selama setan itu masih bertahta dalam batin maka hidup ini penuh konflik, penuh permusuhan, dendam, kebencian dan karenanya terciptalah rasa takut dan kesengsaraan. Jika setan ini tidak lagi bercokol di dalam batin, maka sinar cinta kasih akan menerangi batin, dan kekuasaan Tuhan sendiri akan memenuhi batin.

Sin Hong cepat meloncat keluar sambil membentak. “Phoa Hok Ci, kiranya engkaulah biang keladi semua permusuhan ini!”

Phoa Hok Ci terkejut bukan main, akan tetapi tangan kirinya bergerak ke arah Sin Hong. Pendekar ini cepat melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran pasir hitam yang mengandung racun itu! Akan tetapi tiba-tiba tangan kanan murid Ngo-heng Bu-koan itu bergerak dan segera asap hitam bergumpal-gumpal membuat penglihatan Sin Hong tertutup. Pada waktu pendekar ini meloncat lagi ke samping agak jauh dan memandang, ternyata Phoa Hok Ci telah lari jauh sekali!

Sin Hong terkejut. Dia mengenal ilmu dari golongan hitam dan biasanya hanya orang-orang seperti para tokoh Pek-lian-kauw yang memiliki senjata rahasia seperti itu. Bagai mana mungkin seorang murid Ngo- heng Bu-koan dapat menggunakan senjata rahasia dari golongan sesat? Tentu orang itu diam-diam sudah berguru kepada tokoh sesat, pikirnya. Akan tetapi Sin Hong cepat meloncat dan melakukan pengejaran.

Kembali dia terkejut. Kiranya Phoa Hok Ci memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mampu berlari cepat sekali! Sin Hong menemui kesulitan karena cuaca sudah mulai gelap dan ia tidak mengenal lapangan. Tidak seperti Phoa Hok Ci yang agaknya telah hafal benar akan keadaan di wilayah itu sehingga Sin Hong belum juga mampu menyusul orang yang melarikan diri, walau pun dia masih belum kehilangan jejaknya.

Phoa Hok Ci berlari cepat. Dia merasa jeri untuk melawan Sin Hong, karena dia tahu benar betapa lihainya pemuda yang pernah menjadi tamu di Ngo-heng Bu-koan itu. Dan yang amat mengecilkan hatinya adalah semua rahasianya. Ia harus bertindak cepat jika tidak ingin menemui kegagalan dalam akhir rencananya yang sudah berjalan demikian baiknya. Tanpa disadarinya, dia lari melalui dekat tempat di mana Yo Han bersembunyi menanti gurunya.

Yo Han terkejut melihat orang lari berkelebat di dekat tempat persembunyiannya. Dan dia mengenal orang itu sebagai Phoa Hok Ci! Selagi dia bangkit berdiri dan memandang keheranan ke arah larinya orang itu, tiba-tiba saja gurunya telah berada di dekatnya.

“Kau melihat orang yang lari tadi?” tanya gurunya. “Phoa Hok Ci?”

“Benar! Kau melihat dia?”

“Dia lari ke sana, Suhu!” Yo Han menunjuk ke arah selatan.

“Kau tunggu di sini, aku akan mengejarnya! Dialah orang ke tiga itu!” Berkata demikian, Sin Hong
berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Yo Han berdiri termangu-mangu. Ternyata dugaannya benar. Dua pihak itu telah diadu domba oleh murid Ngo-heng Bu-koan sendiri. Dia tidak tahu apa sebabnya dan dia merasa menyesal mengapa dia tidak memiliki kepandaian sehingga tidak mampu ikut pula mengejar. Akan tetapi, menanti di situ seorang diri saja juga amat tidak enak, maka dia pun lalu melangkah meninggalkan tempat persembunyiannya, menuju ke selatan, ke arah larinya Phoa Hok Ci yang dikejar suhu-nya.

Oleh karena malam itu gelap, langit hanya dipenuhi bintang-bintang yang mengeluarkan cahaya remang- remang, dan dia sama sekali tak mengenal jalan. Yo Han harus berjalan dengan hati-hati agar jangan sampai terjeblos ke dalam jurang. Dia meraba-raba, akan tetapi terus menuju ke selatan.

Sementara itu, Sin Hong juga menghadapi kesukaran untuk dapat menangkap orang yang dikejarnya. Kegelapan malam dan asingnya tempat itu baginya membuat dia jauh kalah cepat bergerak dibandingkan Phoa Hok Ci, meski kalau mereka berdua berlomba lari cepat, tentu Sin Hong akan menang. Bahkan setelah memasuki sebuah hutan yang keadaannya lebih gelap lagi, dia kehilangan jejak murid Ngo-heng Bu-koan itu.

Akan tetapi tiba-tiba ia melihat dinding putih agak jauh di depan. Agaknya ada bangunan di depan dan kebetulan bangunan itu berada di tempat terbuka sehingga dindingnya dapat nampak keputihan di bawah sinar ribuan bintang di langit. Sin Hong cepat menuju ke dinding putih itu dan tak lama kemudian tibalah dia di depan sebuah kuil!

Sebuah kuil tua di tengah hutan. Siapa tahu orang yang dikejarnya bersembunyi di kuil itu, pikirnya dan dengan tenang namun hati-hati sekali Sin Hong menghampiri kuil dan masuk ke pekarangan kuil itu.

Sebelum ia masuk ke ruangan depan, ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sunyi saja di tempat itu, akan tetapi tiba-tiba ia berhenti dan pendengarannya yang amat tajam itu dapat menangkap gerakan lirih di sebelah dalam kuil tua. Kemudian, pada saat ia menunduk sambil mendengarkan, matanya dapat melihat pula beberapa batang kayu kering berserakan.

Ini hanya dapat terjadi, jika ada orang di dalam kuil itu yang mengumpulkan kayu kering dan membawanya ke dalam kuil karena di tempat dia berdiri, yaitu di pekarangan depan kuil itu, tidak ada pohon sehingga ranting kayu itu tentu dibawa orang ke situ.

Dia semakin waspada. Ada orang di dalam kuil, pikirnya, atau kalau suara tadi bukan gerakan orang melainkan tikus atau binatang setidaknya kuil itu pernah didatangi orang dan orang itu mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun!

Sin Hong melangkah masuk ruangan depan dan hidungnya lalu berkembang kempis. Penciumannya juga sangat tajam dan dia mencium bau hangus, bau api unggun yang baru saja dipadamkan. Mungkin kalau cuaca tidak begitu gelap, akan dapat nampak asapnya.

Dia semakin waspada dan tiba-tiba saja dia melempar tubuh ke samping. Untung dia bergerak cepat karena dari depan dan belakangnya ada pedang dan tombak yang menyambar amat ganas dan cepatnya. Kalau dia tidak melempar tubuh ke samping, satu di antara dua buah senjata itu pasti akan mengenai tubuhnya. Dia menjatuhkan diri dan bergulingan, lalu melompat bangun.

Ketika dia bergulingan tadi, dia sengaja berguling ke luar sehingga kini dia berdiri di pekarangan kembali. Dan dari ruangan depan yang gelap itu berloncatan dua orang. Yang seorang memegang sebatang pedang dan dia itu bukan lain adalah Phoa Hok Ci! Ada pun orang yang memegang tombak adalah seorang kakek yang berumur enam puluh tahun, berambut riap-riapan panjang, mukanya seperti seekor singa, pakaiannya seperti jubah pertapa yang tebal dan matanya mencorong.

“Heh-heh-heh, inikah pendekar muda sombong yang mengancammu itu, Hok Ci?”

“Benar, Suhu, dia berbahaya sekali, dan dia bukan hanya mengancam aku, akan tetapi juga Suhu dan rencana kita akan gagal sama sekali kalau dia dibiarkan hidup lebih lama lagi.”

“Ha-ha-ha, jangan khawatir. Serahkan saja dia padaku, akan kuhabiskan dia sekarang juga!” Kakek bermuka singa itu tertawa sambil menancapkan tombaknya di salah satu dinding. “Kau pasang saja lampu penerangan agar lebih mudah aku membunuh dia!”

Agaknya kakek itu tinggi hati sekali dan dia sudah dapat memastikan bahwa dia akan mampu membunuh pemuda yang mengejar muridnya itu. Bahkan dia berlaku demikian sombongnya untuk menyimpan tombaknya dan menghadapi Sin Hong dengan tangan kosong! Akan tetapi begitu dia menyerang dengan kedua lengan dipentang dan tangan yang berbentuk cakar itu menerkam dari kanan kiri, maklumlah Sin Hong bahwa orang ini sombong bukan hanya lagak belaka, melainkan karena memang dia amat lihai.

Kakek bermuka singa ini memang bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seorang pertapa yang memiliki kesaktian dan berjuluk Hoan Saikong, dan baru beberapa tahun saja dia meninggalkan tempat pertapaannya di Pegunungan Thai-san di mana selama puluhan tahun dia bertapa dan mematangkan ilmu- ilmunya. Dia turun gunung dan hidup sebagai seorang pertapa yang mengharapkan makanan dari sedekah para dermawan.

Tapi agaknya puluhan tahun bertapa itu sama sekali tidak mengubah dasar wataknya, dan ternyata setelah berada di dunia ramai, sebentar saja dia sudah kembali menjadi hamba nafsu-nafsunya seperti sebelum dia bertapa. Memang pada waktu muda dahulu Hoan Saikong terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang amat kejam.

Phoa Hok Ci secara kebetulan saja bertemu dengan Hoan Saikong empat tahun yang lalu. Dia melihat betapa saktinya kakek ini, maka segera didekatinya dan dengan royal dia memberi pakaian dan makan minum kepada kakek itu, bahkan melihat betapa kakek itu tidak pantang bermain dengan wanita, Phoa Hok Ci lalu mencarikan gadis panggilan untuk menyenangkan hatinya.

Hoan Saikong merasa senang dan dia mau menerima Phoa Hok Ci sebagai muridnya, asal Phoa Hok Ci dapat mencukupi semua kebutuhannya. Kemudian, setelah pergaulan mereka sebagai guru dan murid semakin akrab, mereka merencanakan sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan bagi keduanya.

Phoa Hok Ci tergila-gila kepada Siang Cun, puteri gurunya sendiri, akan tetapi gurunya tidak suka menerimanya sebagai calon mantu, bahkan sudah menerima pinangan pihak Kim-liong-pang. Hal ini membuat Phoa Hok Ci penasaran dan dia lalu berunding dengan gurunya yang baru, gurunya yang dia rahasiakan dari siapa pun juga.

Di dalam perundingan inilah keduanya merencanakan siasat mereka mengadu domba antara Kim-liong- pang dan Ngo-heng Bu-koan. Kalau mereka berhasil, maka pertalian jodoh antara Siang Cun dan Ciok Lim akan putus, dan ada harapan Siang Cun akan menjadi isteri Phoa Hok Ci. Dan harapan lain bagi Hoan Saikong adalah untuk merebut dan menguasai Kim-liong-pang di mana dia akan menjadi ketua yang baru sehingga namanya akan terangkat tinggi dan dia akan menjadi seorang pangcu yang terhormat.

Hal ini tidak akan sukar dilakukan kalau Kim-liong-pang sudah menjadi lemah karena permusuhannya dengan Ngo-heng Bu-koan. Tentu saja dengan bantuan Hoan Saikong yang lihai, mudah bagi Phoa Hok Ci untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan pada ke dua pihak dan mengadu domba mereka. Dan sebagai awal siasat keji itu, dengan kejam sekali dia memperkosa dan membunuh sumoi-nya sendiri, Bong Siok Cin, setelah berhasil mencuri topi dari Ciok Lim yang baru saja dijamu oleh calon mertuanya sampai setengah mabuk. Dalam keadaan setengah mabuk itu, mudah saja bagi Phoa Hok Ci dan Hoan Saikong untuk mencuri topinya tanpa dia ketahui.

Demikianlah sedikit mengenai Hoan Saikong yang kini berhadapan dengan Sin Hong. Ketika Phoa Hok Ci melihat bahwa Sin Hong mendengarkan percakapannya dengan sute-nya sebelum sute itu dibunuhnya, dia menjadi kaget dan juga khawatir sekali. Maka dia pun teringat kepada gurunya itu dan dia sengaja memancing Sin Hong ke kuil tua itu di mana terdapat Hoan Saikong yang segera siap untuk membantu muridnya.

Kini, dia berhadapan dengan Sin Hong, dan karena kesombongannya, dia menghadapi Sin Hong dengan tangan kosong, mengira bahwa dengan mudah saja dia akan dapat membunuh lawan yang agaknya ditakuti muridnya itu.

Namun dia kecelik! Tubrukan dengan kedua lengan mencengkeram dari kanan kiri itu hanya mengenai angin saja. Tiba-tiba kaki Sin Hong menggeser ke samping dan tangan kirinya cepat menotok ke arah lambung lawan. Gerakan pemuda itu demikian cepatnya, merupakan serangan balasan yang serentak sehingga Hoan Saikong juga cepat-cepat harus menarik tangannya dan menangkis sambil mencoba untuk mencengkeram lengan Sin Hong.

“Dukkk!”

Tangkisan itu membuat tubuh Hoan Saikong tergetar hebat dan tentu saja dia tidak jadi mencengkeram karena lengannya sendiri sudah ditarik saking kagetnya melihat betapa lawan yang amat muda itu memiliki tenaga yang luar biasa kuatnya. Dari pertemuan lengan itu Hoan Saikong dapat menduga bahwa meski lawannya itu masih amat muda, akan tetapi tidak seperti yang diduganya, bukan seorang lawan yang boleh dipandang ringan.

Hoan Saikong kemudian mengeluarkan suara menggereng seperti harimau dan kini dia menyerang lagi dengan dahsyat, sambil mengerahkan semua tenaganya. Dan tahulah Sin Hong ketika melihat gerakan kaki tangan lawan bahwa kakek itu adalah seorang ahli silat dengan gaya harimau. Akan tetapi bukan sembarang Hauw-kun (Silat Harimau).

Memang banyak macamnya silat harimau diciptakan oleh perguruan silat yang berbeda aliran, walau pun pada dasarnya ada persamaan yaitu dengan meniru ketangkasan dan kegesitan harimau. Akan tetapi gaya silat harimau yang dimainkan oleh kakek bermuka singa ini sungguh dahsyat sekali, bahkan jauh lebih berbahaya dari pada melawan seekor harimau tulen!

Kedua tangan kakek itu membentuk cakar harimau yang amat kuat, dan walau pun kuku-kuku jari tangannya tidak panjang melengkung dan kokoh seperti kuku harimau, namun jari-jari tangannya itu mengandung sinkang kuat sekali dan cengkeraman kedua tangannya dapat menembus batang pohon, bahkan batu karang. Dapat dibayangkan betapa kulit daging akan koyak-koyak, tulang akan remuk kalau terkena cengkeraman kedua tangan yang membentuk cakar itu!

Akan tetapi sekali lagi kakek itu kecelik. Yang dilawannya sekarang bukanlah seorang pendekar biasa, melainkan seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi yang sudah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari para penghuni Istana Gurun Pasir!

Ketika Sin Hong melihat betapa lawannya menggunakan ilmu silat harimau yang sangat dahsyat, yang sambaran angin dari kedua tangan itu saja sudah mendatangkan hawa panas dan sangat berbahaya, dia pun maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti. Maka, dia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga dan memainkan ilmu silat Pek-ho Sin-kun, yaitu ilmu gabungan dari ketiga orang gurunya.

Ilmu silat ini memang hebat bukan main, bukannya seperti ilmu-ilmu silat Ho-kun (Silat Bangau) biasa saja. Biar pun gaya dasarnya meniru gerakan burung bangau putih yang indah dan lemas di samping kekuatan dan kecepatan burung itu, akan tetapi intinya mengandung perasan dari ilmu-ilmu yang dikuasai tiga orang tua sakti itu! Bahkan untuk mempelajari ilmu silat sakti ini, Sin Hong terlebih dahulu menerima pengoperan sinkang gabungan dari tiga orang gurunya, dan untuk bisa berhasil menguasai ilmu itu dengan sempurna, dia bahkan harus bertapa selama setahun, tidak boleh mengerahkan tenaga sedikit pun karena hal ini akan dapat menewaskannya.

Begitu Sin Hong menghadapi Houw-kun yang amat hebat dari kakek itu dengan Pek-ho Sin-kun, kakek itu kembali terkejut. Gerakan dua lengan pemuda itu yang mirip dengan gerakan leher dan kepala burung bangau, mengandung hawa pukulan yang kuat sekali. Setiap kali mereka beradu lengan, Hoan Saikong lantas terdorong ke belakang seperti diserang angin taufan!

“Haaauuuwww…!”

Tiba-tiba Hoan Saikong mengeluarkan suara gerengan yang sangat dahsyat. Gerengan ini mengandung khikang yang kuat dan kalau lawannya bukan Sin Hong, sedikit banyak tentu akan terpengaruh oleh getaran suara menggereng ini. Dan sambil menggereng, kakek itu menubruk ke depan, cakar kanannya mencakar ke arah ubun-ubun kepala Sin Hong, cakar kiri dari samping mencakar perut. Gerakannya cepat dan amat kuat, kedua cakar itu ketika menyambar mendatangkan angin keras.

Sin Hong maklum akan bahayanya serangan ini, maka dia pun melangkah ke belakang. Tubuhnya ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyambut serangan itu dengan tangkisan kedua lengan yang dikembangkan dari tengah, yang kiri mendorong ke atas dan yang kanan mendorong ke bawah.

“Dukkk! Dukkk!”

Dua pasang lengan bertemu dan kembali tubuh kakek itu terdorong ke belakang. Tetapi dengan cepat Hoan Saikong kini menubruk ke depan, bukan hanya kedua tangan yang bergerak seperti sepasang kaki depan harimau untuk mencakar, juga mulutnya dibuka lebar seperti harimau yang hendak menggigit. Namun kakek ini tidak menggigit karena giginya pun sudah banyak yang ompong, melainkan menggunakan kepalanya untuk menyeruduk ke arah dada lawan! Serangan kedua tangan dan kepala ini memang lebih dahsyat dari pada tadi, dan tubuhnya meluncur seperti harimau meloncat.

Dengan ringan sekali, tiba-tiba tubuh Sin Hong meloncat ke atas seperti seekor burung terbang. Tubrukan Hoan Saikong lewat di bawahnya dan kini tubuh Sin Hong berjungkir balik membuat salto, kemudian dengan kepala di bawah, tubuhnya meluncur ke bawah, tangannya membentuk paruh burung yang menotok ke arah tengkuk dan pundak Hoan Saikong!

Hoan Saikong mengeluarkan seruan kaget. Tak disangkanya bahwa serangannya yang dilakukan dengan seluruh tenaganya itu selain gagal sama sekali, juga berbalik, bahkan kini lawan yang menyerangnya dari atas. Dan serangan dua totokan dari atas itu hebat bukan main. Hoan Saikong melempar tubuhnya ke atas lantai dan bergulingan menjauh sehingga serangan Sin Hong itu pun luput.

Ketika melihat lawannya menyambar tombak dan kini menyerangnya dengan tombak, Sin Hong cepat mengatur langkah dan mengelak ke sana-sini dengan ringannya. Kedua kakinya bagai kaki burung bangau, melangkah ringan tanpa mengeluarkan suara namun selalu dapat menghindarkan sambaran ujung mata tombak yang berkelebatan.

Namun kini Phoa Hok Ci sudah maju mengeroyok dengan menggunakan pedangnya. Sebagai murid pertama dari Ngo-heng Bu-koan, apa lagi telah menerima gemblengan selama empat tahun dari Hoan Saikong, tingkat kepandaian Phoa Hok Ci ini tidak boleh dipandang ringan dan begitu dia maju mengeroyok, Sin Hong dihujani serangan tombak dan pedang.

Jika saja Si Bangau Putih, demikian julukan Sin Hong, menghendaki, agaknya dia akan mampu merobohkan dua orang pengeroyoknya itu dengan ilmunya yang tinggi. Namun, dia tidak bermaksud membunuh mereka, bahkan dia harus dapat menangkap Phoa Hok Ci hidup-hidup, oleh karena orang inilah yang dapat dijadikan kunci perdamaian antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan dan melenyapkan kesalah pahaman yang timbul karena fitnah yang disebarkan oleh Phoa Hok Ci. Karena hendak menangkap Phoa Hok Ci, maka Sin Hong tidak mau melakukan serangan mautnya. Ia menunggu kesempatan untuk dapat menangkap pengkhianat itu.

Setelah menghadapi serangan dua orang bersenjata itu dengan hanya mengandalkan kelincahan gerakannya, sambil menunggu kesempatan baik, akhirnya Sin Hong melihat terbukanya kesempatan. Dia berhasil menangkap tombak di tangan Hoan Saikong, lalu mengerahkan tenaga menarik sehingga lawannya itu ikut tertarik, dan dengan gagang tombak yang masih dipegangnya itu, Sin Hong menangkis pedang Phoa Hok Ci yang menyambar, berbareng dia mengirim tendangan kilat ke arah lutut kaki kiri Phoa Hok Ci.

Orang ini terkejut, namun masih sempat meloncat ke samping sehingga yang terkena tendangan hanya betisnya, namun cukup membuat dia terpelanting dan Sin Hong yang menarik tombak, lalu membalikkan tubuhnya sambil tangan kirinya menampar ke arah kepala Saikong itu.

Hoan Saikong cepat memutar tombaknya terlepas dari pegangan Sin Hong, dan sambil mengelak dengan merendahkan tubuhnya dan menggeser kaki ke kiri, Hoan Saikong menggerakkan tombaknya untuk menusuk perut lawannya! Tusukan yang sangat cepat datangnya itu dielakkan oleh Sin Hong yang memiringkan tubuhnya dan ketika tombak meluncur lewat dekat pinggang, dia mengerahkan tenaga dan memukul dengan tangan miring ke arah gagang tombak.

“Krekkk!” Tombak itu pun patah menjadi dua potong!

Hoan Saikong terkejut dan melompat ke dalam kuil, menyusul muridnya yang sudah lebih dulu melarikan diri setelah tadi betisnya kena ditendang oleh Sin Hong.

“Phoa Hok Ci, hendak lari ke mana kau?” Sin Hong membentak dan cepat melompat ke dalam kuil melakukan pengejaran.

Setelah mencari-cari, dia melihat Hoan Saikong berdiri menantinya di ruang belakang, sebuah ruangan kecil yang cukup terang karena di sudut dinding tergantung sebuah lampu dinding yang cukup terang. Melihat ini, Sin Hong merasa curiga. Dia bukan orang bodoh.

Jika musuh yang telah melarikan diri dan dikejarnya kini menantinya di sebuah ruangan yang diterangi lampu, maka hal ini patut dicurigakan. Mungkin ada sebuah perangkap, pikirnya, maka dia pun melangkah masuk dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan. Mungkin Phoa Hok Ci yang tidak nampak akan menyerangnya dengan senjata rahasia.

Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu ketika dia melangkah masuk dan dia pun berkata kepada kakek itu, “Locianpwe, di antara kita tidak ada permusuhan. Aku tidak mengenal Locianpwe dan sebaliknya Locianpwe pun tidak mengenalku. Aku hanya ingin mengajak Phoa Hok Ci untuk pulang ke Ngo-heng Bu- koan untuk membuat pengakuan tentang semua perbuatannya mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan. Serahkan Phoa Hok Ci dan aku akan pergi dari sini, tidak akan mengganggu Locianpwe lebih lama lagi.”

Akan tetapi, sebagai jawaban, Hoan Saikong mengelebatkan pedangnya dan langsung menyerang Sin Hong dengan permainan pedang yang amat dahsyat dan cepat. Kiranya kakek ini tadi melarikan diri karena tombaknya patah, dan kini sudah berganti senjata pedang yang juga dapat dimainkannya dengan cepat sekali.

Sin Hong menjadi amat penasaran dan marah. Orang ini agaknya hendak mati-matian membela muridnya yang jelas telah melakukan perbuatan yang amat keji! Kalau dia tidak lebih dulu merobohkan orang ini dengan cepat, tentu akan sukar untuk menangkap Phoa Hok Ci.

Karena itu, begitu lawan menyerangnya, Sin Hong menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, mengelak sambil membalas dengan cepat dan dahsyat sekali. Totokan demi totokan yang amat cepat dia lancarkan ke arah lengan yang memegang pedang dan bagian anggota lain sehingga Hoan Saikong yang menggunakan pedang itu sebaliknya malah terdesak hebat oleh Sin Hong. Dan karena selama perkelahian itu tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan, tidak ada senjata rahasia dilepaskan dari temat gelap, maka Sin Hong menjadi agak lengah dan kecurigaannya tadi menipis.

Pada saat dia mendesak terus dan perkelahian itu terjadi dengan sengitnya di tengah ruangan yang tidak luas itu, mendadak Hoan Saikong mengeluarkan teriakan nyaring sekali, tetapi teriakan ini bukan untuk melakukan serangan, melainkan untuk melompat pergi dari ruangan itu! Dan teriakan itu juga merupakan isyarat kepada Phoa Hok Ci untuk bertindak karena tiba-tiba saja lantai ruangan yang diinjak oleh kaki Sin Hong terbuka ke bawah!

Sin Hong terkejut sekali. Cepat tangannya meraih dan dia masih dapat menangkap kaki Hoan Saikong yang hendak meloncat pergi dari ruangan itu. Kalau saja Hoan Saikong melanjutkan loncatannya, tentu dia dan juga Sin Hong akan dapat keluar dari ruangan itu.

Akan tetapi, Hoan Saikong agaknya terkejut dan tidak menyangka bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu masih sempat menangkap kakinya. Dengan marah dia kemudian menusukkan pedangnya ke arah leher Sin Hong. Melihat ini, Sin Hong mengerahkan sinkang pada tangan kirinya dan dengan tangan miring dia menyampok dan memukul ke arah pedang yang melakukan serangan maut itu.

“Plakkk!”

Pedang itu terlepas dari pegangan Hoan Saikong, akan tetapi karena gerakan-gerakan itu, loncatannya kehilangan tenaga dan tubuh mereka berdua tanpa dapat dicegah lagi meluncur jatuh ke dalam lubang di ruangan itu!

Melihat betapa dia bersama lawannya terjeblos ke bawah, Sin Hong cepat melepaskan pegangannya pada kaki lawan. Dia pun segera mengerahkan seluruh tenaganya untuk meringankan tubuhnya. Biar pun Hoan Saikong juga melakukan ini, namun karena dia nampak ketakutan sekali, maka ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dikerahkannya menjadi berantakan dan tubuhnya meluncur lebih cepat dari pada Sin Hong ke dalam lubang yang dalam dan gelap itu.

Diam-diam Sin Hong merasa kaget juga melihat betapa lamanya dia tiba di dasar lubang jebakan itu, tanda bahwa lubang itu cukup dalam! Terdengar jerit mengerikan dari Hoan Saikong di sebelah bawah ketika tubuh kakek itu lebih dulu tiba di dasar lubang, teriakan kematian!

Sin Hong mengerahkan ginkang-nya dan ia memandang ke bawah, melihat garis bentuk tubuh Hoan Saikong rebah meringkuk ke bawah. Dengan hati-hati sekali Sin Hong lalu mengarahkan kedua kakinya menginjak tubuh itu. Untung dia melakukan hal ini karena ternyata bahwa dasar lubang yang sempit itu penuh dengan tombak-tombak runcing yang siap menerima tubuhnya! Tubuh mayat Hoan Saikong telah menyelamatkannya! Dia dapat hinggap di atas tubuh itu dan terbebas dari tusukan tombak-tombak itu.

Pantas saja Hoan Saikong tadi mengeluarkan teriakan ketakutan saat terjatuh. Agaknya dia sudah tahu akan keadaan sumur maut ini, dan begitu terjatuh, tubuhnya diterima tombak-tombak itu hingga tewas seketika.

Sin Hong meraba ke kanan kiri. Kedua tangannya menyentuh dinding sumur yang licin sekali, penuh lumut. Tidak mungkin merangkak ke atas menggunakan sinkang karena dinding itu licin bukan main. Meloncat ke atas? Sama sekali tidak mungkin!

Ketika dia melihat ke atas, nampak lubang itu, lubang di tengah ruangan yang nampak samar-samar diterangi lampu di dinding ruangan itu. Lalu nampak kepala orang di tepi sumur. Dari bawah pun dia dapat melihat bahwa itu adalah kepala Phoa Hok Ci!

Dia menahan napas dan tidak bergerak. Biarlah dia disangka mati seperti kakek itu, karena kalau Phoa Hok Ci mengetahui bahwa dia masih hidup, mungkin orang itu akan menyerangnya dengan melemparkan sesuatu dan hal ini berbahaya sekali. Kemudian, dia mendengar suara Phoa Hok Ci tertawa. Agaknya orang itu girang dan mengira dia telah mati. Murid itu agaknya sama sekali tidak merasa berduka biar pun gurunya juga mati di dalam lubang jebakan ini. Hal ini saja menunjukkan betapa buruknya watak laki-laki itu. Kepala Phoa Hok Ci lenyap dan penerangan di atas padam. Suasana kembali menjadi gelap gulita.

Sin Hong masih berdiri di atas mayat Hoan Saikong yang tertusuk tombak-tombak itu. Meloncat ke atas tidak mungkin. Merayap melalui dinding lubang itu pun tidak mungkin. Tanpa bantuan orang dari atas, tidak mungkin dia naik ke atas! Dalam keadaan gelap gulita itu, menyelidiki keadaan di dasar lubang itu pun tidak mungkin. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menanti sampai malam itu lewat dan ada sinar matahari menerangi dasar lubang itu agar dia bisa menyelidiki dan mencari jalan keluar. Terpaksa dia harus menanti.

“Locianpwe, maafkan aku.” bisiknya kepada mayat di bawahnya dan dia pun dengan hati-hati duduk bersila di atas tubuh mayat yang masih hangat itu…..

********************

Sementara itu, Yo Han mencari-cari gurunya. Setelah keluar masuk hutan kecil, dia menjadi bingung. Dia tidak tahu ke mana harus mencari gurunya, dan untuk kembali ke tempat tadi dia pun tidak mampu lagi. Malam terlalu gelap dan dia tidak mengenal daerah itu.

Biar pun hatinya bingung sekali namun Yo Han tidak berani memanggil nama gurunya. Dia tahu bahwa gurunya sedang mengejar orang, dan mungkin orang itu bersembunyi dan gurunya sedang mencari-cari. Kalau dia membuat gaduh, mungkin akan dapat menggagalkan usaha gurunya itu. Dia mencari terus, keluar masuk hutan dan semalam suntuk dia tidak pernah berhenti.

Sampai keesokan harinya, setelah sinar matahari mengusir kegelapan malam, Yo Han memasuki sebuah hutan dan dia melihat sebuah kuil tua. Dimasukinya pekarangan kuil itu. Anak yang cerdik ini melihat adanya jejak-jejak kaki di tanah pekarangan. Hatinya menjadi tegang, apa lagi pada waktu dia tiba di ruangan depan kuil tua itu dan melihat lantainya. Jelas di tempat itu ada tanda-tanda bahwa baru saja terjadi perkelahian di situ.

Dengan hati-hati dia masuk ke dalam. Kuil itu sunyi dan tidak nampak seorang pun, juga tak terdengar ada suara orang. Hatinya terasa kecut dan mulailah ia khawatir. Gurunya sudah semalam suntuk mengejar orang, kenapa belum juga kembali? Ataukah mungkin sudah kembali dan tidak bertemu dengan dia? Ah, bagaimana kalau sampai dia tersesat dan tidak akan berjumpa kembali dengan gurunya? Mungkin sekarang gurunya, seperti dia, juga sedang mencari-cari dia.

“Suhuuuuu…!“ Akhirnya dia tidak dapat menahan kegelisahan hatinya lagi dan berteriak memanggil gurunya sambil menjenguk ke dalam kuil. Suaranya nyaring dan karena kuil itu merupakan bangunan yang cukup besar dan kosong, suaranya bergema.

“Suhuuuuu…!” Sekali lagi dia memanggil, lebih kuat karena dia seperti mendapat firasat bahwa gurunya berada di sekitar tempat itu.

Tiba-tiba terdengar jawaban yang membuat Yo Han hampir meloncat saking kaget dan girangnya. “Yo Han…! Engkaukah itu…?”

Suara ini jelas sekali, akan tetapi terdengar dengan bunyi gaung yang aneh sehingga dia tak mengenal apakah itu suara gurunya atau bukan dan datangnya dari arah dalam kuil!

“Suhuuuuu…! Suhu, di manakah engkau?” Yo Han masuk ke dalam kuil itu sampai ke ruangan dalam.

“Di ruangan belakang, Yo Han. Masuklah terus ke belakang sampai ada ruangan yang lantainya terbuka. Hati-hati, jangan sampai terjatuh ke bawah. Aku terjebak di bawah sini!”

Yo Han merasa girang bukan main menemukan gurunya. Cepat ia maju dan ketika tiba di ruangan yang dimaksudkan, ia melihat betapa lantai ruangan ini memang terbuka ke bawah. Ia mendekat sampai di tepi lubang dan melongok ke dalam. Akan tetapi karena ruangan itu terang dengan cahaya matahari sedangkan lubang itu sempit dan dalam, yang nampak hanyalah kegelapan menghitam saja.

Akan tetapi Sin Hong dapat melihat kepala muridnya dan hatinya girang bukan main. Girang dan juga kagum. Bagaimana anak itu bisa menemukannya? Dia sejak tadi sudah mencari-cari jalan keluar, akan tetapi agaknya tidak ada jalan keluar dari tempat itu kecuali kalau ada yang datang menolongnya! Dan kuil tua itu tentu jarang didatangi orang, dalam sebuah hutan sunyi lagi. Diam-diam dia bergidik. Haruskah dia mati di tempat itu? Dan, sebelum mati, dia akan tersiksa oleh bau mayat membusuk!

“Suhu, apakah Suhu berada di bawah sana?” Yo Han berteriak. Dia berusaha keras menggunakan penglihatannya menembus kegelapan di bawah.

“Yo Han, dengarkan baik-baik. Aku terjeblos di sini dan tidak akan dapat naik tanpa bantuanmu. Kau pergilah cari tali yang panjangnya paling sedikit lima belas tombak. Kumpulkan akar-akar gantung dan sambung-sambung sampai panjang, lalu turunkan ke sini. Cepat!”

“Baik, Suhu. Teecu pergi mencari!” kata Yo Han.

Anak yang cerdik ini tak mau banyak cakap lagi, kemudian keluar dari ruangan itu dan sebelum mencari keluar kuil untuk mengumpulkan akar gantung, dia lebih dulu mencari-cari di dalam kuil dan di belakang.

Usahanya berhasil. Dia menemukan tali yang panjangnya ada lima tombak. Karena permintaan suhu-nya harus yang panjangnya paling sedikit lima belas tombak, Yo Han lalu keluar dan mulai mengumpulkan akar gantung dari pohon-pohon besar.

Untunglah bahwa selama menjadi murid Sin Hong, biar pun dia belum dilatih ilmu silat, namun jasmaninya sudah digembleng sehingga dia memiliki tubuh yang kuat, tenaga besar dan juga tahan uji sehingga biar pun pekerjaan ini amat berat bagi seorang anak kecil seperti dia, akan tetapi akhirnya setelah matahari naik tinggi, berhasillah Yo Han menyambung-nyambung akar gantung yang kuat sampai sepanjang lima belas tombak lebih.

Sementara itu, dapat dibayangkan betapa tegang rasa hati Sin Hong. Setelah melihat munculnya Yo Han yang akan menolongnya, hati tegang bukan main, jauh lebih tegang dan bahkan mulai khawatir kalau-kalau muridnya itu gagal menolongnya. Akan tetapi dia percaya kepada Yo Han.

Anak itu cerdik sekali, dan andai kata dia sendiri tidak mampu menolong, tentu Yo Han akan memperoleh akal untuk minta bantuan orang-orang dusun. Kepercayaan ini dapat menenteramkan hatinya.

Dia sudah merasa tidak enak sekali harus duduk bersila di atas tubuh mayat itu. Setelah ada cahaya terang remang-remang memasuki lubang, dia mendapat kenyataan bahwa lubang yang di bagian dasarnya sempit ini memang tidak ada tempat baginya untuk berdiri atau duduk!

Dasar itu penuh dengan tombak-tombak runcing yang ditanam dengan ujung runcingnya menghadap ke atas! Maka boleh dikatakan bahwa Hoan Saikong telah menyelamatkan dirinya! Kalau tidak ada mayat Hoan Saikong di atas tombak-tombak itu, entah bagai mana dia akan dapat terbebas dari maut di dasar lubang jebakan ini!

Terkutuk Phoa Hok Ci yang kejam. Teringat akan orang itu tiba-tiba Sin Hong merasa khawatir sekali. Orang itu telah ketahuan rahasianya. Walau pun menyangka dia tentu telah tewas di dalam lubang jebakan, mungkin orang itu akan melakukan rencananya yang terakhir! Menghancurkan kedua perkumpulan itu dan merampas Bhe Siang Cun sebagai isterinya! Dan orang itu sudah berkeliaran selama semalam dan setengah hari ini!

“Suhuuuuu…!”

Panggilan itu membuat Sin Hong yang sedang melamun tersentak dan dia memandang ke atas. Nampak kepala muridnya di sana.

“Yo Han, apakan engkau sudah mendapatkan tali itu?” “Sudah, Suhu, akan teecu turunkan perlahan-lahan!”
“Baik, muridku. Turunkanlah dan ikatkan ujung yang di atas pada tiang yang kuat.”

Yo Han sudah mengikatkan ujung tali itu pada tiang yang kokoh dan sekarang dia menurunkan ujung yang lain perlahan-lahan ke bawah. Perkiraan Sin Hong memang tepat. Ujung tali itu menyentuhnya dan hanya kelebihan panjang satu meter saja! Sin Hong mencoba kekuatan tali itu dengan menarik-nariknya dari bawah. Tahulah dia bahwa tali itu memang kokoh kuat dan dia semakin kagum saja kepada Yo Han.

“Sudah habis, Suhu! Apakah ujungnya sampai di sana?” “Sudah. Aku siap untuk memanjat naik, Yo Han!”
Sin Hong lalu memanjat tali itu dengan mudahnya dan akhirnya dia meloncat naik. Yo Han girang sekali dan memegang lengan suhu-nya, sebaliknya Sin Hong merangkulnya.

“Untung engkau datang, Yo Han. Sekarang mari, jangan membuang waktu di sini. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Phoa Hok Ci yang jahat itu!” berkata Sin Hong dan dia pun melongok ke dalam lubang sambil berkata, “Locianpwe, terima kasih atas pertolongan jenazahmu, beristirahatlah dengan tenang!”

Sin Hong kemudian memondong tubuh Yo Han. Digendongnya anak itu dan dia pun menggunakan ilmunya berlari cepat meninggalkan kuil. Di sepanjang perjalanan dengan singkat Sin Hong menceritakan apa yang telah terjadi sejak dia meninggalkan muridnya. Mendengar cerita suhu-nya, Yo Han terkejut.

“Wah, kiranya Phoa Hok Ci itu jahat sekali dan dialah orang ke tiga yang mengadu domba. Wah, kalau Suhu terlambat, mungkin terjadi mala petaka di kedua pihak.”

“Karena itu, kita harus cepat berkunjung ke Ngo-heng Bu-koan di kota Lu-jiang!”

Yo Han tak berkata-kata lagi. Ia memuji kelihaian dan kecerdikan suhu-nya. Pantas tadi setelah keluar dari lubang jebakan itu, gurunya membawa tali yang menyelamatkannya dan membuang tali itu di dalam jurang di tengah perjalanan. Hal itu memang perlu. Phoa Hok Ci tentu menyangka bahwa gurunya sudah tewas di dalam lubang jebakan, maka tempat itu mungkin sekali akan menjadi tempat persembunyiannya kelak, dan kalau tali itu nampak di situ, tentu Phoa Hok Ci dapat mengetahui bahwa Sin Hong telah lolos.

Apa yang dikhawatirkan Sin Hong dan Yo Han memang terjadi. Pagi hari tadi, para murid Kim-liong-pang menemukan mayat Ciok Lim, putera ketua mereka yang dadanya masih tertusuk golok yang pada gagangnya ada ukiran Ngo-heng Bu-koan, sedangkan di sisinya menggeletak mayat seorang murid Ngo- heng Bu-koan yang tewas dengan pedang milik Ciok Lim menembus dadanya! Kedua orang itu agaknya sudah berkelahi dan akhirnya mati bersama!

Melihat puteranya tewas, tentu saja Kim-liong-Pangcu Ciok Kam Heng menjadi marah sekali. Kalau permusuhan antara murid-muridnya dengan para murid Ngo-heng Bu-koan masih ditahannya dengan sabar mengingat bahwa sebetulnya antara dia pribadi dan Bhe Gun Ek terdapat tali persahabatan yang baik, sekarang dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

Putera kandungnya, putera tunggalnya, tewas dan tak mungkin dia tinggal diam saja. Ditulisnya selembar surat tantangan kepada Bhe Gun Ek untuk membereskan semua perhitungan dengan mengadu nyawa di Bukit Bambu!

Ketika Sin Hong yang menggendong Yo Han tiba di luar kota Lu-jiang, seorang murid Ngo-heng Bu-koan yang baru keluar dari pintu gerbang kota mengenalnya dan berseru, “Tan Taihiap!”

Sin Hong berhenti dan murid itu dengan sikap gugup berkata, “Suhu sedang menuju ke Bukit Bambu di sana untuk memenuhi tantangan Kim-liong Pangcu.”

Sin Hong terkejut. “Di mana?”

“Di bukit itu, di puncaknya terdapat hutan bambu.”

Mendengar hal ini, tanpa membuang waktu lagi, Sin Hong membalikkan tubuhnya dan berlari cepat sekali menuju ke bukit itu. Mudah-mudahan belum terlambat, pikirnya dengan hati tegang.

Akan tetapi, ketika dia tiba di puncak bukit itu, di atas padang rumput di tengah hutan bambu, dia melihat perkelahian sudah dimulai antara Bhe Gun Ek dan seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bertubuh sedang dan bermata sipit. Dia dapat menduga bahwa orang ini tentulah Ciok Kam Heng, ketua Kim-liong-pang yang bersenjatakan sebatang pedang, sedang mati-matian saling serang dengan Bhe Gun Ek yang bersenjata sebatang sabuk rantai baja.

Ada belasan orang murid dari kedua pihak berdiri tegak saling berhadapan, akan tetapi agaknya guru masing-masing pihak melarang mereka mencampuri perkelahian mati-matian adu nyawa untuk mempertahankan kebenaran dan kehormatan masing-masing itu! Akan tetapi Sin Hong maklum bahwa kalau satu di antara dua orang itu roboh, tentu akan terjadi pertempuran mati-matian antara kedua pihak.

Permainan sabuk rantai baja di tangan Bhe Gun Ek yang beberapa tahun lebih muda dari lawannya itu memang hebat. Sabuk rantai diputar sedemikian rupa sehingga nampak gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara berdesing. Namun agaknya dia menemui tanding yang setingkat. Pedang di tangan ketua Kim-liong-pang itu pun cepat dan kuat sekali sehingga berkali-kali terdengar suara berdenting disusul berpijarnya bunga api kalau kedua senjata itu bertemu.

Keduanya saling serang dan keadaan mereka masih seimbang. Akan tetapi Sin Hong maklum bahwa justru karena mereka seimbang, maka akhirnya tentu akan ada seorang di antara mereka yang roboh tewas. Tanpa mengeluarkan serangan-serangan maut, tidak mungkin di antara mereka ada yang akan keluar sebagai pemenang.

Sin Hong menyuruh Yo Han meloncat turun dan dia pun cepat meloncat ke depan, langsung memasuki medan perkelahian antara kedua orang pimpinan perkumpulan itu sambil berseru, “Kedua Loenghiong harap berhenti dulu!”

Ciok Kam Heng, pangcu dari Kim-liong-pang masih belum mengenal Sin Hong. Karena itu dia menganggap bahwa pemuda ini tentulah orang Ngo-heng Bu-koan yang hendak membantu Bhe Gun Ek, maka dia tidak peduli akan ucapan itu, bahkan pedangnya menyambar ke arah dada Sin Hong! Melihat ini, Bhe Kauwsu juga menggerakkan rantai bajanya menyerang lawannya!

Sin Hong miringkan tubuhnya dan dengan tangan kanan dia menangkap pedang yang menusuk tubuhnya itu dari samping, sedangkan tangan kirinya menangkap pula rantai baja yang menyambar ke arah tubuh ketua Kim-liong-pang! Ciok Kam Heng terkejut dan berusaha menarik pedangnya yang dicengkeram Sin Hong, namun dia gagal. Pedang itu seperti dicengkeram penjepit baja yang amat kuat!

“Harap Ji-wi suka berhenti dulu, aku mau bicara penting sekali, mengenai permusuhan Ji-wi yang menjadi akibat adu domba dan fitnah!”

Mendengar ucapan ini, kedua orang itu terkejut. Ketika Sin Hong melepaskan senjata mereka, keduanya meloncat ke belakang dan memandang kepada Sin Hong dengan mata terbelalak penuh pertanyaan.

“Tan Taihiap, apa yang kau maksudkan?” Bhe Gun Ek bertanya kaget dan heran.

Sementara itu, Ciok Kam Heng memandang dengan alis berkerut. Dia melihat bahwa lawannya telah mengenal baik pemuda pakaian putih yang amat lihai itu.

“Orang muda, siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan kami? Apa pula maksudmu dengan fitnah dan adu domba tadi?” tanyanya dengan suara kereng.

Sin Hong menghadapi ketua Kim-liong-pang dan sekelebatan saja dia dapat melihat bahwa orang ini memiliki sikap gagah dan juga matanya menyinarkan kejujuran.

“Maaf, Pangcu. Aku bernama Tan Sin Hong dan kebetulan saja aku berkenalan dengan pihak Ngo-heng Bu-koan serta mendengar pula akan permusuhan yang timbul di antara perkumpulan Ji-wi.”

“Hemmm! Sudah lama terjadi permusunan dan aku masih menahan sabar. Akan tetapi semalam, puteraku, anakku satu-satunya, tewas pula di tangan Ngo-heng Bu-koan. Bagaimana mungkin aku mendiamkan saja? Hari ini aku harus mengadu jiwa dengan Bhe Gun Ek. Dia atau aku yang akan mati di sini demi mempertahankan kehormatan Kim-liong-pang dan membalas kematian anakku!”

“Aku mengerti, Ciok Pangcu. Aku mengerti akan semua hal itu, bahkan aku menjadi saksi utama dan pertama ketika puteramu dibunuh orang!”

“Apa? Tan Taihiap! Putera Ciok Pangcu mati dalam perkelahian melawan salah seorang muridku, dan mereka berdua itu berkelahi sampai keduanya tewas!” Bhe Kauwsu membantah.

Sin Hong tersenyum. “Tidak, Bhe Kauwsu. Mereka tidak berkelahi sampai keduanya tewas, akan tetapi mereka berdua itu dibunuh orang secara keji dan orang itulah yang mengatur agar mereka kelihatan seperti berkelahi sampai keduanya mati bersama. Aku menyaksikannya dalam hutan itu! Dan bukan hanya itu, juga semua pembunuhan yang bukan merupakan perkelahian terbuka antara kedua pihak, dilakukan oleh orang yang sama! Semenjak semula, orang itu yang telah mengatur supaya terjadi pembunuhan- pembunuhan di kedua pihak dan membuat kedua pihak saling bermusuhan, tepat seperti yang diduga oleh muridku, Yo Han. Ada orang ketiga yang mengadu domba dan melempar fitnah.”

“Ahhh…!” Ciok Pangcu berseru.

“Apa… apa maksudmu?” Bhe Kauwsu juga berseru kaget. “Dan… peristiwa pertama kali itu, ketika seorang murid perempuan perguruan kami diperkosa dan dibunuh, ketika Bong Siok Cin mati dalam keadaan menyedihkan…”

“Itu pun dilakukan oleh orang yang sama, Bhe Kauwsu! Ketika itu, mendiang Ciok Lim engkau jamu makan minum, bukan? Nah, dalam keadaan setengah mabuk ketika dia pulang, dia tidak tahu bahwa topinya dicuri orang. Pencuri topi itulah yang memperkosa dan membunuh muridmu itu, lalu sengaja meninggalkan topi Ciok Lim untuk melempar fitnah.”

“Juga atas semua pembunuhan yang dilakukan terhadap murid-murid kami?” tanya Ciok Pangcu.

“Dan juga semua pembunuhan terhadap murid Ngo-heng Bu-koan?” Bhe Kauwsu juga bertanya, hampir tidak percaya.

Sin Hong mengangguk. “Benar, semua itu dilakukan oleh orang yang sama. Aku sudah mendengar sendiri pengakuannya kepada muridmu yang akhirnya mati bersama putera Ciok Pangcu itu, Bhe Kauwsu.”

“Tapi… siapakah orang terkutuk itu?” tanya Bhe Kauwsu.

“Ya, siapa dia? Kalau memang benar seperti yang kau katakan, Tan Taihiap, kami akan mengerahkan semua kekuatan kami untuk membekuk dan menghukumnya!” teriak Ciok Pangcu pula.

Kini Sin Hong menghadapi Bhe Kauwsu dan dengan senyum sedih pemuda berpakaian putih ini berkata, suaranya lantang terdengar semua orang yang berada di situ.

“Bhe Kauwsu, bersiap-siaplah dan jangan terkejut. Orang ke tiga itu, yang melakukan pembunuhan dan menyebar fitnah untuk mengadu domba Ngo-heng Bu-koan dengan Kim-liong-pang, bukan lain adalah Phoa Hok Ci!”

“Ahhhh…!” Bhe Kauwsu berseru, juga para murid Ngo-heng Bu-koan berseru kaget dan tidak percaya. “Dia… dia… ahhh, betapa mungkin…”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo