October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 21

 

“Hukkk! Kaing… kaing…!”

Anjing itu terlempar bergulingan dan menguik-nguik kesakitan. Saat itu barulah Yo Han tahu bahwa yang ditendangnya itu hanyalah seekor anak anjing yang bulunya putih dan bagus sekali!

“Keparat kejam! Kau kurang ajar sekali, berani menendang anjing kesayangan kami yang tidak bersalah!”

Yo Han menengok dan ternyata tiga orang anak laki-laki yang tadi bermain-main di tepi jalan, kini sudah berdiri menghadapinya dengan sikap marah sekali. Kiranya anjing itu milik mereka, pikirnya dengan hati menyesal.

“Tapi… tapi… ia tadi akan menggigit kakiku…,“ dia membela diri.

“Menggigit? Huh, anak anjing kecil itu hanya mengajakmu bermain-main. Ia tak pernah menggigit, kalau menggigit pun hanya main-main, tidak sakit. Akan tetapi dengan kejam engkau telah menendangnya!” kata seorang di antara mereka yang terkecil, yang kini telah memondong anjing yang kelihatan ketakutan itu sambil mengelus-elus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Yo Han merasa semakin menyesal.

“Maaf… aku… aku tadi terkejut sekali, melihat ada anjing hendak menggigit kakiku sambil menyalak, aku tidak melihat bahwa anjing itu hanya anak anjing. Karena kaget aku lalu menendangnya. Maafkanlah aku.”

Dia teringat akan nasehat gurunya bahwa kalau dia melakukan suatu kesalahan, biar terhadap seorang anak kecil sekali pun, dia harus berani menyatakan penyesalannya dan minta maaf.

“Enak saja minta maaf! Apakah kalau sudah minta maaf, anjing kami itu lalu sudah tidak merasa nyeri lagi oleh tendanganmu tadi? Huh, engkau tentu anak jembel yang datang dari luar kota maka tidak mengenal kami dan berani berbuat kurang ajar!” seorang di antara mereka yang paling besar membentak sambil bertolak pinggang, usianya kurang lebih dua belas tahun.

Kini, Yo Han melihat bahwa tiga orang anak itu bersikap gagah dan pakaian mereka ringkas seperti pakaian yang biasa dipergunakan untuk berlatih silat. Kembali Yo Han meminta maaf, sekali ini dia merangkap kedua tangan di depan dada untuk memberi hormat.

“Saya merasa bersalah dan saya menyesal sekali sudah lengah dan terburu nafsu, menendang anjing kecil yang tidak bersalah itu. Harap kalian suka memaafkan saya.” Dia mengatur kata-katanya dengan sopan dan merendahkan diri.

“Orang yang melakukan kesalahan harus dihukum!” bentak orang ke dua yang usianya sebaya dengan Yo Han. “Kau layak dipukul!”

Yo Han menarik napas panjang. Nasib, pikirnya. Akan tetapi, semua nasehat gurunya masih bergema di telinganya, maka dia pun mengangguk dan pasrah.

“Kalau kalian masih merasa penasaran dan sakit hati, nah, tamparlah mukaku sebagai hukuman atas kesalahanku menendang anjing kalian tadi. Silakan!” Dia memanjangkan leher, memberikan mukanya untuk ditampar.

“Bagus kalau kau tahu diri! Memang kami ingin memukulmu!” kata anak terbesar. “Mari, Sute, kita hajar anak jembel ini sampai dia bertobat!”

Yo Han yang sudah mengambil keputusan untuk menyerahkan mukanya untuk ditampar sebagai penebus kesalahannya, memejamkan kedua matanya dan bersiap menerima tamparan yang bagaimana keras pun pada mukanya.

“Plakkk! Dukkk! Desss…!”

Tubuh Yo Han terpelanting ke atas tanah dan dia membuka mata, menggoyang-goyang kepalanya yang terasa pening, mengelus dada dan perut. Dia tidak hanya mendapatkan satu kali tamparan, akan tetapi juga dadanya dipukul dan perutnya ditendang!

Yo Han merasa penasaran sekali. Mereka itu sangat keterlaluan, pikirnya. Sekali maju tiga orang menyerangnya dan memukul dengan keras, sungguh tidak sepadan dengan kesalahannya tadi. Akan tetapi karena teringat akan kesalahannya, dia pun menahan kemarahannya dan mengusap bibirnya yang berdarah karena ujung bibir itu pecah terkena tamparan yang amat keras, lalu dia bangkit berdiri.

“Aku sudah menerima hukuman. Kesalahanku sudah terbayar lunas sekarang,” katanya.

Dia hendak melanjutkan perjalanannya ke kota untuk membeli makanan dan minuman seperti yang dipesan gurunya. Akan tetapi tiba-tiba anak terbesar menarik bajunya, di sentakkan ke belakang sehingga Yo Han hampir jatuh.

“Hemmm, kau hendak lari ke mana? Tak boleh pergi sebelum kami selesai denganmu!”

Sepasang alis Yo Han yang hitam dan tebal itu berkerut, sepasang mata itu mencorong penuh selidik ketika Yo Han menatap wajah anak laki-laki yang tubuhnya gempal itu. “Bukankah kalian sudah memukul aku sebagai hukuman atas kesalahanku? Kalian mau apa lagi dan mengapa menahan aku?”

“Kesalahanmu ada dua macam. Pertama, engkau menendang anjing kami dan untuk itu memang kami tadi sudah menghukum kamu dengan pukulan. Akan tetapi kesalahan kedua belum lunas, dan harus dibayar sekarang.”

“Kesalahan yang mana lagi?” Yo Han bertanya penasaran.

“Engkau tak menghargai kami, tidak menghormati kami. Ketahuilah bahwa kami adalah murid-murid Ngo- heng Bu-koan, dan kau sudah bersikap kurang ajar kepada kami. Inilah kesalahanmu ke dua dan untuk ini, engkau harus berlutut dan menyebut kami tuan-tuan muda dan minta maaf atas sikapmu yang kurang ajar itu.”

Wajah Yo Han berubah merah. Suhu-nya selalu menekankan bahwa dia harus rendah hati dan mengalah, akan tetapi tidak boleh rendah diri dan pengecut. Tiga orang anak ini jelas hendak menghinanya dan kalau dia mentaati perintah mereka, berlutut minta maaf, berarti dia rendah diri dan penakut. Mereka itu sewenang-wenang dan sombong, maka tidak perlu dihormati, bahkan layak kalau ditentang.

“Aku tidak mengenal siapa kalian, dan andai kata sudah mengenal sekali pun, aku tak biasa menjilat orang yang kedudukannya lebih tinggi. Aku tak merasa bersalah dengan sikapku, maka sudahlah, aku masih banyak urusan dan harus pergi sehingga tak dapat melayani kalian lebih lama lagi!” Berkata demikian Yo Han lalu membalikkan tubuh dan hendak pergi.

“Jembel sombong! Engkau memang harus dipukul sampai setengah mati baru tahu rasa!” bentak anak terbesar.

Yo Han maklum bahwa dirinya diserang. Dia membalik dan mencoba untuk mengelak, akan tetapi pukulan anak itu cepat dan tepat. Elakannya kurang cepat dan pundaknya kena tonjokan yang membuat tubuhnya terjengkang! Akan tetapi kali ini Yo Han sudah marah sekali. Dia cepat meloncat bangun dan melihat seorang di antara mereka sudah menerjangnya lagi, dia pun menyambut dengan tendangan.

“Uukkk!”

Anak itu kena ditendang pahanya dan terpelanting. Dua orang kawannya segera maju mengeroyok dan anak yang tertendang itu pun sudah bangkit lagi dan ikut mengeroyok.

Yo Han dikeroyok tiga! Kasihan anak ini. Tiga orang lawannya sudah pandai bermain silat, sedangkan dia baru mempelajari langkah-langkah dasar saja. Melawan mereka satu lawan satu saja belum tentu dia bisa menang, apa lagi dikeroyok tiga. Tubuhnya menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan mereka.

Akan tetapi Yo Han memiliki keberanian luar biasa dan tahan uji benar-benar. Biar pun sudah puluhan kali dia jatuh bangun, tubuhnya memar dan babak belur, pakaiannya robek-robek, dia tidak pernah mengeluarkan keluhan dan setiap kali jatuh, dia bangun kembali, meloncat dan melawan lagi mati-matian!

Hal ini membuat ketiga orang lawannya menjadi bingung dan sedikit gentar. Mereka mengira bahwa dengan beberapa kali dirobohkan saja, anak jembel itu akan berlutut minta ampun. Akan tetapi siapa kira, sudah puluhan kali jatuh, anak itu tetap melawan. Apa lagi minta ampun, mengeluh pun tidak pernah!

Karena gentar, mereka agak lengah dan begitu Yo Han berhasil mencengkeram dan menjambak rambut seorang di antara mereka, dia membanting anak itu, menggumulnya dengan kedua tangan menjambak rambut dan dia membentur-benturkan kepala anak itu di atas tanah! Dia tidak peduli akan pukulan bertubi- tubi yang dilakukan dua orang anak lain pada tubuhnya. Ia tetap menunggangi anak yang dijambaknya, dan kepalanya terus dibentur-benturkannya di atas tanah.

Tiba-tiba anak terbesar menolong sute-nya dengan merangkul leher Yo Han dengan lengannya dan menjepitnya. Karena lehernya terjepit dan dia tidak dapat bernapas, Yo Han gelagapan dan terpaksa melepaskan anak yang dijambaknya tadi. Anak itu sudah mulai menangis dan daun telinganya robek dan berdarah.

Yo Han meronta-ronta, lalu berhasil membalikkan kepalanya, lalu dia membuka mulut dan menggigit pergelangan tangan anak yang memitingnya! Digigitnya sekuat tenaga. Mulutnya merasakan darah yang asin, gigitannya semakin kuat dan anak terbesar itu berteriak-teriak, mengaduh kesakitan. Gigitan Yo Han baru terlepas sesudah anak yang ketiga menghantam pelipisnya sehingga membuatnya pening.

Anak yang digigit pergelangan tangannya tadi meloncat bangun dan menangis sambil memegang lengan yang tadi digigit. Tangisnya bukan hanya karena rasa nyeri, tetapi karena khawatir melihat betapa dari pergelangan tangan yang tergigit itu bercucuran darah yang banyak sekali! Dua orang sute-nya juga bingung dan takut, lalu mereka bertiga melarikan diri ke kota, diikuti anjing bulu putih.

Yo Han berusaha membereskan pakaiannya, akan tetapi tidak dapat dibereskan lagi karena pakaian yang tua itu memang sudah compang-camping, maka akhirnya dia hanya mengebut-ngebutkan bagian yang kotor oleh tanah dan debu saja.

Akan tetapi, tiba-tiba wajahnya berubah agak khawatir ketika tangannya merogoh saku baju dan tidak menemukan beberapa keping uang kecil pemberian gurunya! Kantung itu telah robek dan uangnya entah jatuh ke mana. Dia mulai mencari-cari di sekitar tempat itu, namun sia-sia. Karena tidak berhasil menemukan uang itu, akhirnya terpaksa dia kembali ke bukit di mana suhu-nya menanti di kuil tua.

Sin Hong sedang membuat minuman teh ketika melihat munculnya Yo Han. Dia merasa heran karena alangkah cepatnya anak itu kembali. Akan tetapi keheranannya berubah menjadi kekagetan melihat anak itu tidak membawa apa-apa, pakaiannya robek-robek dan mukanya penuh benjolan biru, tubuhnya babak- belur.

Akan tetapi, Sin Hong tetap bersikap tenang-tenang saja ketika dia bertanya, “Yo Han, apakah yang telah terjadi denganmu?”

Yo Han duduk di atas lantai, tepat di hadapan gurunya. “Maaf, Suhu, uang pemberian Suhu hilang sehingga teecu tidak dapat membeli apa-apa.”

“Hemmm, dan pakaianmu robek-robek, tubuhmu babak-belur…“ “Teecu… telah berkelahi, Suhu.”
Sin Hong memandang muridnya dengan alis berkerut. Dia merasa yakin bahwa kalau sampai muridnya itu terpaksa berkelahi, sudah pasti muridnya itu tidak berada di pihak yang salah. Akan tetapi, dia telah berulang kali memberi nasehat supaya muridnya itu menjauhkan diri dari perkelahian dan permusuhan, maka kini dia bersikap kereng.

“Ceritakan semua!”

“Sebelum tiba di pintu gerbang kota, teecu melihat ada tiga orang anak sebaya teecu bermain-main di tepi jalan. Mendadak ada anjing menyalak dan akan menggigit kaki teecu. Karena terkejut dan takut digigit, teecu menendang perut anjing itu. Baru ternyata kemudian bahwa anjing itu hanyalah seekor anak anjing dan tiga orang anak itu adalah pemiliknya. Mereka adalah murid-murid Ngo-heng Bu-koan. Mereka lalu marah. Teecu sudah minta maaf dan teecu mempersilakan mereka menghukum teecu. Mereka bertiga memukul teecu satu kali sampai teecu roboh. Teecu sudah menerima hukuman yang keterlaluan itu dan hendak pergi, akan tetapi mereka melarang. Mereka mengatakan bahwa teecu mempunyai satu kesalahan lagi, yaitu tidak menghormati mereka sebagai murid-murid Ngo-heng Bu-koan. Mereka mengharuskan teecu berlutut minta ampun. Teecu tidak sudi dan hendak pergi, kemudian mereka menyerang dan memukuli teecu. Terpaksa teecu melawan.”

“Dan kau kalah?”

“Mereka bertiga itu pandai silat, Suhu, sedangkan teecu belum bisa. Teecu dihujani pukulan dan tendangan, sampai roboh puluhan kali, akan tetapi karena teecu tidak merasa bersalah, teecu melawan terus. Akhirnya teecu dapat menghajar mereka, dan mereka melarikan diri sambil menangis.”

Sin Hong terbelalak, memandang tidak percaya. “Mereka lari sambil menangis? Bagai mana engkau menghajar mereka?”

“Teecu dapat menjambak rambut seorang di antara mereka dan membentur-benturkan di atas tanah. Ketika datang seorang lagi memiting leher teecu, teecu dapat menggigit pergelangan tangannya. Darahnya keluar banyak sekali dan mereka lalu melarikan diri, yang dua orang itu menangis. Akan tetapi, uang itu hilang dan harap Suhu maafkan teecu.”

Sin Hong menahan ketawanya. Dia teringat akan sikap mendiang ayah Yo Han. Ayah Yo Han yang bernama Yo Jin itu sungguh-sungguh merupakan seorang pria yang amat mengagumkan. Seorang petani dusun sederhana, sedikit pun tidak pandai ilmu silat, akan tetapi memiliki ketabahan melebihi seorang pendekar yang pandai silat! Kalau membela kebenaran, Yo Jin ini tidak berkedip sedikit pun juga biar pun diancam maut! Dan agaknya kenekatan dan ketabahan itu kini menurun kepada Yo Han.

“Anak bodoh! Sudah berapa kali kukatakan bahwa engkau tidak boleh berkelahi?”

Dibentak demikian, Yo Han cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya. “Harap Suhu maafkan teecu. Teecu bersalah dan bersedia menerima hukuman!”

Sin Hong tersenyum dalam hatinya. Anak ini memang hebat, pikirnya.

“Sudahlah, Yo Han. Engkau memang hanya membela diri, akan tetapi bela diri seperti itu adalah konyol. Untung engkau tidak dipukuli sampai mati. Jika tadi engkau melarikan diri kembali ke sini, aku tidak akan menganggap engkau penakut. Orang berani harus memakai perhitungan, kalau hanya berani dan nekat tanpa perhitungan, orang itu akan mati konyol. Kalau orang melarikan diri dari bahaya yang tidak dapat ditentang dengan kepandaiannya, bukan berarti dia pengecut, namun dia menggunakan kecerdikannya. Berani membuta bukanlah gagah namanya, melainkan bodoh dan konyol.”

“Maaf, Suhu. Teecu memang bersalah dan teecu tadi pun bingung dan ragu karena teecu tidak pernah melupakan nasehat Suhu. Akan tetapi, bayangkan saja Suhu, andai kata teecu tidak melawan dan melarikan diri, bukankah teecu akan dianggap takut? Padahal, teecu adalah murid Suhu yang memiliki kesaktian, bukankah kalau teecu lari, berarti teecu membikin malu kepada Suhu?”

Sin Hong tersenyum. “Membanggakan kepandaian guru atau kepandaian sendiri hanya merupakan kesombongan, Yo Han. Sudahlah, jangan kau kira aku pelit dan tidak suka mengajarkan silat kepadamu. Selama ini, aku menggembleng tubuhmu agar memiliki kekuatan. Kalau engkau tidak memiliki kekuatan, bagaimana mungkin engkau dapat bertahan dipukuli oleh tiga orang yang lebih pandai darimu, sampai puluhan kali jatuh bangun akan tetapi tetap dapat melawan? Apa artinya memiliki kepandaian silat tinggi jika tubuhnya lemah? Nah, sekarang engkau mengerti mengapa sampai kini aku belum mengajarkan ilmu silat, hanya penggemblengan kekuatan tubuh dan daya tahan, juga dasar langkah-langkah ilmu silat. Mulai hari ini, aku akan mengajarkan ilmu pukulan dan tendangan.”

Bukan main girang hati Yo Han. Dia cepat memberi hormat sampai delapan kali untuk menyatakan terima kasihnya.

Pada saat itu, terdengar suara orang di luar kuil. “Kau yakin bahwa dia masuk ke dalam kuil ini?” demikian terdengar suara seorang wanita.

“Benar, Suci (Kakak Seperguruan). Sudah kutanya-tanyakan, dia berada di dalam kuil tua ini,” terdengar jawaban seorang anak-anak.

“Heiii, jembel busuk, keluarlah engkau!” Suara anak-anak itu berteriak.

“Wah, itu adalah suara anak yang teecu gigit pergelangan tangannya, Suhu,” kata Yo Han kepada gurunya, akan tetapi dia sama sekali tidak merasa takut.

“Hemmm, mau apa dia datang? Dan dengan siapa?” Sin Hong mengangkat cawannya dan minum air teh yang masih panas. Mereka, guru dan murid itu, selalu membawa perabot masak dalam buntalan pakaian mereka, juga mangkok, cawan dan sumpit.

“Entahlah, Suhu. Mungkin dia minta digigit sebelah lengannya yang lain!” kata Yo Han gemas. Gurunya mengerutkan alisnya, dan Yo Han lalu bangkit berdiri. “Suhu, biarlah teecu menghadapi mereka.”

“Tunggu, Yo Han. Jangan engkau membuat urusan menjadi semakin parah. Mari kita keluar bersama, kita lihat apa yang mereka kehendaki.”

Sin Hong bangkit dan bersama muridnya dia keluar dari ruangan samping itu, menuju ke depan di mana dia melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga belas tahun bersama seorang gadis yang bertubuh ramping padat.

Gadis itu berusia kurang lebih sembilan belas tahun, pakaiannya ringkas seperti pakaian seorang ahli silat. Rambutnya yang hitam digelung ke atas dan dihias oleh bunga emas. Pakaian berwarna hijau muda yang berpotongan ringkas itu membuat tubuhnya nampak menggairahkan. Akan tetapi melihat sepintas saja mudah diduga bahwa dia seorang gadis yang gagah. Wajahnya manis dengan dagu runcing, mulut kecil dan sepasang mata yang jeli dan tajam. Seorang gadis yang gagah dan cantik.

Dengan hati yang merasa agak tidak enak karena dia harus menghadapi seorang gadis cantik yang agaknya sedang marah, Sin Hong menghampiri mereka.

Begitu melihat Yo Han, anak itu yang kini lengannya dibalut, berseru, “Itulah dia, Suci! Itulah jembel busuk itu!”

Gadis itu hanya sebentar saja memandang kepada Yo Han. Diam-diam ia mendongkol sekali mengingat betapa tiga orang murid Ngo-heng Bu-koan dikalahkan oleh seorang anak laki-laki yang pakaiannya tambal-tambalan dan compang-camping, yang usianya dua tiga tahun lebih muda dari sute-nya ini! Memalukan sekali, pikirnya.

Dia lalu memandang kepada Sin Hong, memperhatikan pemuda itu. Seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh empat tahun, berpakaian serba putih, bersih, tapi juga ada tambalannya. Wajah pemuda itu biasa saja, tidak terlalu menarik, juga tidak buruk, namun sinar matanya lembut dan mulutnya tersenyum ramah membayangkan kehalusan watak.

Sin Hong mendahului gadis itu, mengangkat dua tangan ke depan dada untuk memberi hormat. Perbuatannya ini diturut oleh muridnya sehingga gadis itu kembali terheran melihat betapa kedua orang jembel itu bersikap demikian sopan.

“Maafkan kami, Nona. Apakah Ji-wi (Kalian berdua) datang untuk mencari kami?” Sin Hong bertanya dengan sikap yang halus dan sopan.

Gadis itu memandang bingung. Kalau yang menggigit dan menjambak para murid kecil perguruan ayahnya hanya seorang bocah berusia kurang lebih sembilan tahun, tentu saja ia tidak bisa turun tangan menghajarnya! Bagaimana mungkin ia harus menyerang seorang bocah?

Dia adalah Bhe Siang Cun, puteri dari ketua atau kauwsu (guru silat) perguruan silat Ngo-heng Bu-koan! Bahkan kini dialah yang setiap hari membimbing dan mengajar para murid perguruan silat itu mewakili ayahnya. Memalukan sekali kalau ia harus berkelahi melawan seorang anak kecil berusia sembilan tahun!

Dia lalu mengalihkan pandang matanya dan memperhatikan Sin Hong tanpa membalas penghormatan pemuda itu. “Aku mencari bocah bengal ini. Apamukah dia?”

Ia melirik kepada Yo Han yang menahan dirinya untuk diam saja sebab ia takut kepada gurunya. Akan tetapi ia membalas pandang mata gadis itu dengan berani dan sikapnya tenang sekali. Ia merasa tidak bersalah, maka sedikit pun tidak merasa takut.

“Dia ini adalah muridku, Nona. Kalau dia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan hatimu, harap Nona suka memaafkan anak yang masih kecil ini.”

Mendengar bahwa pemuda itu adalah guru dari anak nakal itu, legalah rasa hati Siang Cun. Setidaknya ia akan dapat berurusan dengan gurunya, bukan dengan bocah itu.

“Bagus!” katanya. “Engkau adalah gurunya maka harus engkau pula yang bertanggung jawab atas kejahatannya! Biar pun dia masih kecil, akan tetapi dia jahat sekali. Lihat apa yang telah dilakukannya terhadap sute-ku ini. Dia ini sute-ku, akan tetapi akulah yang membimbing mereka, maka aku dapat juga disebut guru mereka. Ketiga orang sute-ku ini telah luka-luka karena perbuatan muridmu yang jahat ini. Lihat pergelangan tangan sute-ku yang ini digigit sampai terluka parah dan banyak darah terbuang.”

Sin Hong menahan senyumnya. Gadis itu lincah dan galak, menunjukkan sikap yang mengandung kegagahan biar pun ada keangkuhan membayanginya. “Sekali lagi maaf. Muridku telah bercerita kepadaku tentang perkelahian antara dia dan tiga orang anak-anak yang usianya lebih tua darinya. Menurut dia, dia telah dihina dan dikeroyok oleh tiga orang anak itu, maka dia membela diri…”

“Dia telah menendang anjing peliharaan dan kesayangan kami!” Gadis itu memotong. “Sudah sepatutnya jika dia dihajar atas perbuatannya itu! Dan kalau ia melawan secara gagah dan benar, kami pun tidak akan ribut lagi. Kalau ketiga orang sute-ku kalah oleh ilmu silatnya, aku hanya akan menegur murid-murid ini. Akan tetapi muridmu ini jahat, menggunakan kecurangan, menggigit dan mencakar!”

Sin Hong kini tersenyum. “Muridku ini sudah mengakui kesalahannya menendang anak anjing itu karena kaget ketika diserbu oleh anjing itu, akan tetapi ketiga orang anak itu mengeroyoknya. Muridku ini tidak pandai silat, mana mungkin menggunakan ilmu silat untuk membela diri? Ia hanya bisa menggigit, mencakar, hanya untuk membela dirinya yang dipukuli tiga orang anak. Harap Nona suka memaafkan kami dan menyudahi saja urusan antara anak-anak kecil ini. Lihat, muridku juga sudah babak belur. Tentu dia lebih banyak menerima pukulan dari pada para sute-mu, dan dia lebih banyak menderita kesakitan.”

Diam-diam Sin Hong merasa bangga melihat kenyataan betapa muridnya itu, biar pun lebih banyak menerima hantaman, tapi tetap tenang dan tabah, tidak seperti anak yang lengannya dibalut itu, kelihatan cengeng.

“Tidak bisa!” Siang Cun membantah. “Jika tidak ada gurunya, aku hanya akan menegur bocah bengal ini. Namun setelah ada gurunya yang bertanggung jawab, maka engkau sebagai gurunya harus berani menghadapi akibat perbuatan muridmu dan bertanggung jawab sepenuhnya!”

Sin Hong mengerutkan alisnya. Gadis ini terlalu mendesak dan mau menang sendiri saja, pikirnya. Akan tetapi dia masih tersenyum.

“Lalu apa yang harus kulakukan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan muridku, Nona? Tentu saja aku suka bertanggung jawab.”

“Para sute-ku atau juga murid-muridku berkelahi dengan muridmu yang menggunakan kecurangan. Kini, kita sama-sama guru atau pelatih masing-masing harus menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul! Aku tantang kamu untuk mengadu ilmu silat secara adil dan jujur, tidak menggunakan kecurangan.” Setelah berkata demikian, Siang Cun sudah mengambil sikap, memasang kuda-kuda ilmu silat perguruan ayahnya.

Ayahnya adalah seorang ahli ilmu silat Ngo-heng-kun, dan ilmu silat tangan kosong ini memiliki banyak sekali perkembangan sehingga dapat dipergunakan untuk memainkan senjata apa pun juga. Sesuai namanya, Ngo-heng-kun (Silat Lima Unsur) memiliki lima macam sifat yang paling berlawanan dan juga saling membantu.

Ayah Siang Cun yang bernama Bhe Gun Ek adalah seorang pendekar yang menguasai ilmu-ilmu silat Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai. Penggabungan kedua aliran inilah yang menciptakan Ngo-heng-kun seperti yang dimilikinya sekarang, yang berbeda dengan Ngo-heng-kun dari Siauw-lim-pai mau pun Bu-tong-pai, akan tetapi yang mengandung bagian-bagian terindah dan terlihai dari keduanya.

Ketika memasang kuda-kuda ilmu silat Ngo-heng-kun, Siang Cun berdiri dengan kedua kaki terpentang, yang kiri di depan, yang kanan di belakang, ditekuk agak menyerong. Tubuhnya tegak, kedua lengannya melingkar di depan dada, membentuk tanda Im-yang karena Im-yang merupakan inti dari Ngo-heng. Sikapnya gagah dan kuda-kuda itu amat indah, membuat Sin Hong kagum dan tertarik.

Tentu saja sama sekali dia tidak berniat untuk berkelahi apa lagi bermusuhan dengan gadis itu atau siapa saja hanya karena perkelahian anak-anak maka dia pun tidak mau melayani gadis itu.

“Nona, maafkanlah kami. Aku tidak ingin berkelahi dan biarlah sebelum berkelahi aku mengaku kalah padamu!”

Mendengar ini, diam-diam Yo Han merasa penasaran sekali. Dia menganggap gurunya orang yang amat gagah perkasa, sakti dan tak mengenal takut. Akan tetapi mengapa gurunya menerima saja sikap gadis ini yang demikian angkuh dan memandang rendah? Dia tidak berani menegur gurunya, akan tetapi anak yang banyak akalnya ini mengambil keputusan untuk menambah minyak pada api yang membakar dada gadis itu agar gadis itu benar-benar dapat bertanding melawan gurunya!

“Bibi yang baik…“ Dia berkata sambil melangkah maju mendekati Siang Cun.

“Aku bukan bibimu!” bentak gadis itu, semakin marah karena ia merasa tidak pantas seorang anak berusia sembilan atau sepuluh tahun menyebut ia bibi, padahal ia baru berusia sembilan belas tahun.

Yo Han yang memang sengaja, segera melanjutkan. “Ah, Enci yang baik, harap jangan melanjutkan sikap Enci menantang Suhu-ku. Tidak tahukah Enci bahwa Suhu bersikap mengalah kepadamu? Kalau Suhu menanggapi dan menyambut tantanganmu, dalam beberapa jurus saja Enci tentu akan kalah…“

“Yo Han…!” Sin Hong berseru, alisnya berkerut. Ia terkejut mendengar ucapan muridnya itu yang demikian menyombongkan diri.

Yo Han membungkam dan melangkah mundur, tetapi sudah cukup baginya. Akalnya itu berhasil, karena wajah Siang Cun menjadi merah padam dan gadis itu sudah menjadi marah sekali.

“Bagus, kalian adalah orang-orang sombong! Nah, sambutlah seranganku, hendak aku lihat apakah benar dalam beberapa jurus engkau mampu mengalahkan aku!” Berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Sin Hong untuk membantah lagi, Siang Cun sudah menyerang dengan cepatnya. Serangannya itu cepat bertubi-tubi datangnya, dan setiap tamparan, tonjokan atau tendangan mendatangkan angin yang kuat, tanda bahwa gadis ini memiliki kekuatan sinkang yang sudah lumayan hebatnya.

“Plak-plak! Wuuuuuttt…! Plak-wuuut-wuuuttt!”

Lima kali berturut-turut Siang Cun mengirim serangan yang cukup dahsyat. Sin Hong yang didesak itu hanya main mundur, menangkis atau mengelak. Ketika menangkis, dia menyimpan tenaganya karena tidak ingin mencelakai gadis itu.

Akan tetapi dia kagum ketika mendapat kenyataan bahwa kekhawatirannya itu tidak beralasan karena gadis itu ternyata memiliki sinkang yang kuat! Dan setiap serangan yang dilakukan gadis itu pun dahsyat, cepat dan amat kuat sehingga dalam gebrakan pertama saja tahulah Sin Hong bahwa gadis ini bukan seorang ahli silat sembarangan saja, melainkan seorang yang telah mewarisi ilmu silat tingkat tinggi.

Di lain pihak, Siang Cun juga terkejut bukan main. Tadinya dia memandang rendah pemuda berpakaian putih itu. Muridnya hanya pandai mencakar dan menggigit, tentu gurunya juga hanya mempunyai ilmu silat pasaran saja. Tetapi, sungguh mengherankan sekali betapa serangkaian serangannya yang termasuk jurus-jurus cukup ampuh dapat dihindarkan pemuda itu dengan tangkisan dan elakan yang cukup lincah! Dan biar pun ia tidak merasakan adanya tenaga yang kuat ketika pemuda itu menangkis, namun pemuda itu pun tidak nampak terhuyung atau terdorong mundur.

Ia menjadi amat penasaran. Sekarang Bhe Siang Cun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan serangkaian jurus-jurus simpanan dari Ngo-heng-kun untuk merobohkan atau mengalahkan lawannya!

Sin Hong semakin kagum. Kiranya gadis ini memang lihai sekali. Ilmu silatnya itu hebat, selain cepat dan kuat, juga memiliki gaya yang indah dan daya serang yang berbahaya. Terpaksa dia mulai menggunakan sinkang-nya jika dia tidak ingin celaka atau benar-benar roboh di tangan gadis ini!

Kini Sin Hong mulai memainkan ilmu silat gabungan antara Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) yang dipelajarinya dari seorang di antara tiga orang gurunya di Istana Gurun Pasir, yaitu Tiong Khi Hwesio. Dia tidak memainkan Pek-ho Sin-kun, karena ilmu ini terlalu hebat untuk dipakai main-main, dan hanya dia pergunakan kalau terpaksa sekali menghadapi lawan yang amat tangguh.

Begitu dia mainkan gabungan kedua ilmu silat sakti ini dan mengerahkan sinkang-nya, beberapa kali Siang Cun mengeluarkan seruan kaget. Barulah ia tahu bahwa pemuda berpakaian putih ini benar-benar lihai sekali dan ia pun kini merasa betapa pemuda itu sejak tadi banyak mengalah dan jarang membalas serangannya, bahkan main mundur saja. Padahal, setiap kali beradu lengan, ia merasa lengannya kesemutan dan seperti hampir lumpuh disebabkan getaran hebat yang terkandung dalam lengan pemuda itu. Mulailah ia merasa kagum, heran dan menduga-duga siapa adanya pemuda yang amat lihai ini.

Sementara itu, melihat betapa gurunya selalu menangkis, mengelak, dan selalu main mundur, diam-diam Yo Han merasa khawatir juga. Dia percaya penuh kepada suhu-nya, yakin akan kelihaian suhu-nya. Akan tetapi agaknya suhu-nya tidak mau bersungguh-sungguh melawan gadis ini dan hal inilah yang membuatnya khawatir.

Ada pun anak laki-laki yang dibalut lengannya, yang tadi digigitnya, kelihatan gembira sekali. Anak itu lalu mendekati Yo Han dan berkata dengan nada suara sombong.

“Gurumu itu sebentar lagi tentu akan dipukul roboh oleh Suci!”

Yo Han mengerutkan alisnya dan memandang marah kepada bekas lawan itu. “Belum tentu! Suhu-ku bukan orang yang mudah dikalahkan!”

“Hemmm, kita lihat saja! Suci-ku adalah puteri dari suhu, ketua dari Ngo-heng Bu-koan yang telah terkenal di seluruh dunia. Suci-ku gagah perkasa dan tak pernah terkalahkan seperti seekor Naga Betina!”

Diam-diam Yo Han mendongkol. Mana ada manusia dibandingkan naga? Bohong dan membual saja, akan tetapi karena marah dia pun tidak mau kalah. “Apa anehnya Naga Betina? Suhu-ku sama dengan Naga Emas!”

Mendengar Yo Han menyebut Kim-liong (Naga Emas), tiba-tiba anak itu terbelalak dan wajahnya berubah kaget dan agak pucat. “Dia… dia… dari Kim-liong?”

Tentu saja Yo Han tidak mengerti apa yang dimaksudkan anak itu, akan tetapi karena sudah terlanjur membual, dia pun mengangguk. “Tentu saja dia adalah Kim-liong. Kau kira siapa?”

Sungguh mengherankan sekali. Mendengar ini, anak itu lalu lari menghampiri suci-nya yang sedang bertanding dan dia pun berteriak, “Suci, awas! Dia itu dari Kim-liong-pang!”

Mendengar ini, Siang Cun juga nampak terkejut dan ia pun cepat mencabut sepasang pedang yang semenjak tadi tergantung di punggungnya. Dara ini memang tadi ingin mengadu ilmu dengan Sin Hong, akan tetapi hal itu terdorong oleh rasa penasaran saja. Ia tidak ingin bermusuhan pula, maka tidak pernah menggunakan senjata.

Akan tetapi kini, begitu mendengar disebutnya Kim-liong-pang, ia menjadi marah dan kaget, lalu seketika mencabut sepasang pedangnya dan membentak. “Keparat, kiranya engkau jahanam dari Kim-liong-pang!”

Dan tanpa memberi kesempatan kepada Sin Hong untuk membantah, Siang Cun kini sudah memutar sepasang pedangnya dan menyerang dengan hebat! Gadis ini memang mempunyai keahlian memainkan sepasang pedang. Ilmu pedangnya masih merupakan perkembangan dari Ngo-heng-kun. Dengan bantuan ayahnya yang ahli, gadis ini telah berhasil menciptakan ilmu pedangnya sendiri yang diberi nama Ngo- heng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Lima Unsur) yang hebat.

Sin Hong terkejut sekali. Dia hendak menyangkal bahwa dia dari Kim-liong-pang, karena memang ia sama sekali tidak tahu menahu tentang Kim-liong-pang. Akan tetapi melihat permainan sepasang pedang yang indah dan ampuh itu, dia pun tertarik.

Seperti para pendekar pada umumnya, ilmu silat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Sin Hong. Ilmu silat merupakan kesukaannya, olah raganya, keseniannya, bahkan pelindung dirinya. Maka, tiap kali mendapat kesempatan bertemu tanding, hal ini merupakan suatu kegembiraan tersendiri. Apa lagi kalau melihat ilmu silat lawan yang indah dan ampuh, tentu timbul keinginan hatinya untuk menguji ilmu itu, atau juga untuk menguji kepandaian sendiri, apakah akan mampu melawan orang yang memiliki ilmu yang indah dan ampuh itu.

Karena itu, begitu melihat gadis itu memainkan sepasang pedangnya, timbul keinginan hati Sin Hong untuk menguji ilmu itu dan dia pun segera memainkan Pek-ho Sin-kun!

Terjadilah perkelahian yang amat indah ditonton, akan tetapi juga menegangkan karena nampaknya amat berbahaya bagi Sin Hong. Dua gulungan sinar pedang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, dibarengi suara berdesing.

Tubuh Sin Hong lenyap, berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang. Sin Hong memainkan Pek-ho Sin-kun dengan cekatan sekali. Kedua lengan ditelusuri tenaga sinkang yang amat hebat, yaitu sinkang gabungan yang diterimanya dari ketiga orang gurunya, manusia- manusia sakti di Istana Gurun Pasir.

Dengan tangan dan lengan telanjang, pemuda ini sekarang berani menangkis pedang atau senjata apa pun tanpa takut kalau kulit lengannya lecet! Kedua tangan itu kadang-kadang membentuk moncong atau paruh burung bangau putih, lengan menjadi leher yang panjang dan paruh itu dapat mematuk-matuk berupa totokan-totokan pada jalan darah di tubuh lawan, bahkan lengan yang menjadi leher itu juga dapat menangkis dan membelit senjata, mencoba merampasnya.

Kadang-kadang kedua lengan itu menjadi seperti sepasang sayap burung dan gerakan tubuh pemuda itu indah bukan main. Kadang-kadang, kedua kakinya membuat langkah yang lebar, kadang-kadang pula geseran kakinya halus dan pendek-pendek, dan ada kalanya tubuhnya itu meloncat tinggi seperti bangau terbang, dan dalam keadaan tubuh melayang ini keempat buah kaki dan tangannya dapat melakukan serangan yang amat dahsyat dari atas!

Akan tetapi, seperti juga tadi, Sin Hong yang hanya ingin menguji ilmu pedang gadis itu tidak bertindak sungguh-sungguh dalam serangannya, lebih banyak membela diri saja. Jika dia menghendaki, mengingat bahwa tingkat ilmu kepandaiannya masih jauh di atas Siang Cun, tentu dalam waktu yang tidak terlalu lama dia akan dapat merobohkan gadis itu, atau setidaknya merampas sepasang pedangnya.

Namun, dia tidak mau melakukan hal itu, karena kalau dia berbuat demikian, tentu akan semakin besar kemarahan dan dendam gadis itu kepadanya dan permusuhan antara mereka tentu akan menjadi-jadi. Dia kini dapat menduga bahwa selain marah karena para sute-nya tadi dijambak dan digigit Yo Han, juga dalam urusan antara dia dan gadis ini timbul suatu kesalah pahaman mengenai Kim-liong-pang yang belum dikenalnya.

Sementara itu, Bhe Siang Cun kini benar-benar terkejut. Bukan hanya karena seruan sute-nya yang mengatakan bahwa pemuda berpakaian putih ini dari Kim-liong-pang, akan tetapi kenyataan bahwa betapa dengan kedua tangan kosong, pemuda itu mampu menghindarkan semua serangannya! Dan hebatnya, pemuda itu berani menangkis dua pedangnya dengan tangan dan lengan begitu saja tanpa terluka atau lecet sedikit pun!

Tak disangkanya bahwa lawan ini demikian lihainya dan ia pun mulai merasa khawatir. Jika lawannya ini dari Kim-liong-pang, maka ia tak mungkin bisa keluar dari perkelahian itu dalam keadaan hidup! Tinggal dua pilihan, yaitu membunuh atau terbunuh! Maka ia pun semakin nekat memutar pedangnya dengan cepat dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh.

Melihat kenekatan gadis itu, Sin Hong merasa semakin khawatir. Perkelahian ini harus dihentikan secepatnya, pikirnya. Maka, ketika pedang kanan dari gadis itu menyambar dari atas ke bawah, dia menggeser kaki mundur dan ketika pedang itu lewat, tangan kanannya menyambar bagaikan paruh bangau putih, dan tahu-tahu dua jari tangannya ditekuk, yaitu telunjuk dan jari tengah, dan dua jari itu telah menjepit pedang itu!

Bhe Siang Cun sekuat tenaga menarik pedangnya, namun sia-sia. Pedang itu seperti terjepit catut baja yang amat kuat!

“Sudahlah, Nona. Hentikan pertandingan ini dan mari kita bicara!”

“Tutup mulutmu! Aku tidak takut mati dan aku tidak sudi berunding dengan orang-orang Kim-liong-pang!” Gadis itu menarik-narik lagi tanpa hasil.

“Nona, aku bukan orang Kim-liong-pang!” “Tak perlu berbohong!”
Siang Cun merasa gemas sekali karena pedangnya dijepit dua jari dan ia tidak mampu menarik kembali, merasa terhina dan dipermainkan. Hampir tidak masuk di akal kalau pedangnya dapat dijepit dua buah jari lawan tanpa ia mampu melepaskannya kembali! Ia dianggap anak kecil yang tidak berdaya saja! Sambil membentak, kini pedang di tangan kirinya membuat gerakan memutar dan membacok ke arah kepala Sin Hong.

“Tranggg…!”

Gadis itu terkejut karena pedang kirinya tertangkis oleh pedang kanannya sendiri, yang terbawa oleh dua buah jari tangan yang membetotnya! Beberapa kali pedang kirinya coba membacok, selalu ditangkis oleh pedangnya sendiri. Ia demikian jengkel dan malu sehingga mukanya merah dan matanya panas. Hampir ia menangis!

Tiba-tiba terdengar lagi suara anak yang dibalut lengannya itu berseru, “Suhu, dia orang Kim-liong-pang!”

Dan pria yang baru datang itu, yang bukan lain adalah Bhe Gun Ek, melihat betapa puterinya dipermainkan oleh seorang pemuda yang amat lihai. Melihat betapa dengan sepasang pedang di tangan Siang Cun masih dapat dipermainkan, tahulah dia bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi.

“Orang Kim-liong-pang banyak lagak!” serunya dan dia pun meloncat ke dekat dua orang yang sedang tarik menarik pedang itu, dan dengan kedua tangan didorongkan, Bhe-kauwsu (guru silat Bhe) menyerang Sin Hong.

Sin Hong mendengar suara angin pukulan itu dan terkejut sekali. Itulah pukulan yang mengandung tenaga sakti amat kuat dan amat berbahaya. Terpaksa dia lalu mendorong sehingga tubuh Siang Cun terhuyung ke belakang, dan dia pun cepat-cepat menyambut dorongan kedua tangan lawan baru itu dengan kedua tangannya sendiri. Namun karena dia tidak bermaksud untuk mencari musuh, maka dia tidak mau menyambut dengan perlawanan keras, melainkan menyambut dan mengatur tenaganya untuk menyedot dan melumpuhkan tenaga dorongan lawan.

“Wuuuuuttt…! Plak! Ahhh…!”

Bhe Gun Ek terkejut bukan main sehingga mengeluarkan seruan sambil melompat jauh ke samping ketika dia merasa betapa kedua telapak tangannya bertemu dengan dua telapak tangan lawan yang lembut, dan merasa betapa tenaga sinkang-nya bagaikan amblas masuk atau bertemu dengan benda yang lembut. Dia merasa khawatir kalau sekali pukul dia mencelakai lawan yang belum dikenalnya siapa, walau pun tadi anak itu mengatakan dia dari Kim-liong-pang, dan untuk menarik kembali pukulannya sudah tak mungkin, maka jalan satu-satunya adalah melompat jauh ke samping sehingga hal ini akan mengurangi daya pukulannya.

Namun, alangkah terkejut dan herannya ketika dia melihat pemuda itu tidak apa-apa, bergeming sedikit pun tidak, masih berdiri tegak bahkan tersenyum kepadanya. Dia pun tahu bahwa pemuda itu memang lihai, maka dia lalu menghampiri.

“Orang muda dari Kim-liong-pang, katakan dulu siapa namamu sebelum kita bertanding mati-matian di tempat ini!” tantangnya.

Sin Hong memandang penuh perhatian. Seorang laki-laki yang gagah, berusia sekitar empat puluh lima tahun. Tubuhnya sedang namun kokoh kuat membayangkan adanya tenaga besar. Pakaiannya sederhana saja, seperti umumnya pakaian seorang guru silat yang ringkas. Di pinggangnya nampak sebuah sabuk rantai dari baja sehingga Sin Hong dapat menduga bahwa tentu orang ini ahli pula memainkan rantai baja yang dipakai sebagai sabuk itu sebagai sebuah senjata yang ampuh. Ia lalu menjura dengan hormat.

“Harap Paman suka memaafkan saya. Sesungguhnya, saya sama sekali bukan orang Kim-liong-pang, bahkan nama perkumpulan itu pun baru sekali ini saya dengar. Saya adalah seorang perantau yang kebetulan saja hari ini tiba di sini dan memilih kuil tua ini sebagai tempat tinggal sementara.”

Melihat sikap sopan pemuda itu dan mendengar kata-katanya, Bhe Gun Ek menjadi heran. Dia pun menoleh kepada puterinya. “Benarkah dia seorang dari Kim-liong-pang?” tanyanya.

“Ayah, aku pun hanya mendengar dari Ceng Ki!” jawab gadis itu sambil menoleh kepada sute-nya yang lengannya dibalut. Kini Bhe Gun Ek memandang muridnya itu dengan sikap kereng.

“Ceng Ki, bagaimana engkau berani mengatakan bahwa dia ini orang Kim-liong-pang?”

Anak itu nampak ketakutan berhadapan dengan Bhe Kauwsu yang memang terkenal galak terhadap para muridnya dan mengharuskan para muridnya memegang peraturan dan tidak melanggar. Dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut dan menjawab pertanyaan gurunya.

“Teecu… teecu hanya mendengar keterangan muridnya itu…“

Sekarang Sin Hong yang menjadi terkejut. “Yo Han, keterangan apakah yang telah kau berikan?” tanyanya kereng.

“Teecu tidak memberi keterangan bahwa Suhu adalah orang Kim-liong-pang,” Yo Han membantah sambil memandang kepada Ceng Ki dengan mata melotot marah, “tadi dia mengatakan bahwa suci-nya adalah Naga Betina, dan karena tak mau kalah teecu lalu mengatakan bahwa Suhu tak akan kalah karena Suhu adalah Kim Liong (Naga Emas). Teecu tidak tahu mengapa mereka lalu menganggap Suhu orang dari Kim- liong-pang!”

Mendengar ini, Sin Hong dan Bhe Gun Ek saling pandang. Guru silat itu mengangguk-angguk, menarik napas panjang dan bertanya kepada puterinya. “Nah, engkau sudah mendengar sendiri, semua ini hanya kesalah pahaman saja karena mulut anak-anak. Lalu kenapa engkau menyerangnya mati-matian?”

“Begini, Ayah. Mula-mula, aku melihat Ceng Ki dan dua orang sute-nya pulang dalam keadaan luka-luka. Ada yang kepalanya benjol-benjol karena dibentur-benturkan tanah, dan Ceng Ki sendiri pergelangan tangannya luka karena digigit sehingga harus diobati dan dibalut untuk menghentikan darah yang banyak keluar. Dan menurut cerita mereka, mereka baru berkelahi dengan seorang anak jahat yang menjambak dan menggigit. Aku segera bersama Ceng Ki mencari anak itu dan ternyata dia berada di sini dan anak itu adalah murid orang ini. Kami berdebat, berselisih dan berkelahi.”

Bhe Gun Ek mengerutkan alisnya. “Hemmm, hanya karena perkelahian anak-anak lalu engkau membela sampai berkelahi dengan orang? Siang Cun, bukanlah itu keterlaluan namanya?”

“Aku menjadi marah melihat para sute itu, apa lagi Ceng Ki yang luka tergigit. Kalau mereka berkelahi biasa saja dan kalah pandai, aku pun tidak ambil peduli. Akan tetapi digigit!”

Sin Hong melangkah maju dan memberi hormat. “Maaf, Paman, sesungguhnya urusan ini kecil saja dan harap dihabiskan saja. Murid saya ini sudah minta maaf dan menyadari kesalahannya, juga saya minta maaf untuk dia. Kami hanya dua orang perantau yang tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun, karena itu, sekali lagi, harap urusan kecil ini dihabiskan sampai di sini.”

Bhe Gun Ek tadi sudah melihat betapa pemuda berpakaian putih ini mempunyai ilmu kepandaian yang amat hebat. Dengan tangan kosong ia mampu menghadapi sepasang pedang puterinya, bahkan dia juga melihat betapa kedua pedang itu tidak berdaya sama sekali, yang sebatang dijepit dua buah jari dan dipakai menangkisi pedang yang lain!

Bukan itu saja. Dia sendiri tadi menyerang dengan pukulan tenaga sakti, tetapi secara aneh dan mengejutkan dapat disambut oleh pemuda itu sebab tenaga pukulannya bagai mengenai benda lunak yang membuat pukulan itu kehilangan kekuatannya.

Mendengar semua keterangan itu, dia pun cepat membalas penghormatan Sin Hong.

“Orang muda yang gagah, harap jangan terlalu merendahkan diri. Sepatutnya, kami dari Ngo-heng Bu- koan yang harus meminta maaf. Sikap murid-murid kecil kami, juga puteri kami tadi terhadap engkau dan muridmu sungguh tidak patut. Maafkanlah, orang muda, dan tentu saja dengan senang hati kami menghabiskan urusan kecil itu sampai di sini saja. Bahkan, perkenankan kami mengundang Ji-wi untuk berkunjung ke rumah kami agar perkenalan ini dapat dipererat. Saya Bhe Gun Ek, juga puteri kami ini, Bhe Siang Cun, dan semua murid Ngo-heng Bu-koan mengundang Ji-wi untuk makan bersama di tempat kami.”

Sin Hong merasa rikuh sekali. Dia memang menghargai sikap guru silat itu, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk hadir sebagai tamu, untuk dijamu makan, mengingat bahwa dia dan muridnya tidak mempunyai pakaian yang pantas untuk bertamu.

Akan tetapi sebelum dia menolak dengan halus, tiba-tiba Yo Han berkata, “Wah, Suhu. Bhe-kauwsu yang terhormat ini sungguh gagah perkasa dan baik hati sekali, cocok seperti yang Suhu nasehatkan kepada teecu bahwa seorang gagah lebih dahulu akan mencari kesalahan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain! Dan bersikap ramah terhadap siapa pun juga tanpa memandang kedudukan atau harta benda. Suhu, teecu senang sekali berkenalan dengan orang-orang gagah dari Ngo-heng Bu-koan!”

Mendengar ucapan yang lantang dan keluar dari mulut seorang bocah berusia sembilan tahun, Bhe Gun Ek memandang kagum dan tahulah dia mengapa bocah yang kabarnya tadi hanya mampu menampar dan menggigit, bisa menjadi murid seorang pemuda yang berilmu setinggi ini. Kiranya bocah ini baru menerima gemblengan batin yang lebih dulu ditanamkan oleh gurunya sehingga sekecil itu sudah mempunyai jiwa yang amat gagah perkasa!

Sedangkan Sin Hong diam-diam mendongkol, tetapi juga hatinya merasa geli terhadap muridnya. Dia tahu bahwa Yo Han kegirangan diundang makan, karena anak itu masih menyesal sesudah menghilangkan uang dari gurunya tadi, dan kini gurunya diundang makan, maka dia pun girang sekali. Gurunya sejak kemarin belum makan dan dia pun demikian pula, dan perutnya sudah lapar sekali!

Bhe Gun Ek tersenyum girang. “Wah, sungguh kami merasa berbahagia sekali, ternyata Ji-wi guru dan murid merupakan orang-orang gagah yang mengagumkan.” Lalu kepada puterinya dan Ceng Ki ia berkata, “Hayo Siang Cun, engkau minta maaf kepada Taihiap (Pendekar Besar) ini, dan kau Ceng Ki, minta maaf kepada saudara kecil yang gagah ini!”

Siang Cun memang sudah tidak marah lagi setelah mendengar bahwa lawannya itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Kim-liong-pang, bahkan ia merasa kagum bukan main. Selama hidupnya, baru sekali ini ia bertemu tanding seorang pemuda yang selihai ini. Maka, mendengar ucapan ayahnya, ia pun cepat memberi hormat kepada Sin Hong.

“Saudara yang gagah, harap maafkan kesalahanku tadi karena kurang pengertian.” Sin Hong cepat membalas penghormatan itu.
“Akan tetapi, engkau sudah mengenal nama kami semua sedangkan kami sama sekali belum mengenal namamu dan muridmu,” kata Siang Cun.

Sin Hong tersenyum. “Nona, aku dan muridku hanyalah orang-orang pengembara yang tidak tentu tempat tinggalnya, nama kami pun sama sekali tidak terkenal.”

“Enci yang gagah, jangan percaya kata-kata Suhu. Dia dijuluki orang Pek-ho Enghiong (Pendekar Bangau Putih)…“

“Yo Han! Berapa kali kularang engkau menyombongkan diri?” Sin Hong membentak dengan muka merah.

Muridnya itu memang kadang-kadang nakal sekali, dan dia cepat menjura kepada Bhe Gun Ek dan Bhe Siang Cun, berkata dengan sikap merendah. “Namaku Tan Sin Hong, dan muridku yang bodoh dan bandel ini bernama Yo Han.”

Sementara itu, ketika Ceng Ki memberi hormat dan minta maaf kepadanya, Yo Han cepat berkata, “Sudahlah, jangan meminta maaf kepadaku, akan tetapi mintalah maaf kepada suhu-mu karena engkau telah melanggar ajarannya yang baik.”

Kemudian, kontan Yo Han berlutut di depan suhu-nya sendiri dan berkata, “Harap Suhu sudi memaafkan kenakalan dan kebandelan teecu.”

Yo Han memang cerdik sekali. Dia maklum bahwa dia telah membuat gurunya rikuh, maka kini setelah memberi nasehat kepada Ceng Ki, dia pun cepat mendahului minta maaf kepada gurunya sendiri.

Mendengar ucapan Yo Han tadi, dan melihat anak itu minta maaf kepada gurunya, tentu saja Ceng Ki merasa malu dan cepat-cepat dia pun menjatuhkan dirinya di depan kaki gurunya dan mohon maaf atas kesalahannya. “Harap Suhu sudi memaafkan teecu yang telah membuat keributan.”

Melihat ini, Bhe Gun Ek tertawa bergelak dengan girang sekali. “Ha-ha-ha-ha! Memang banyak untungnya bergaul dengan orang-orang bijaksana. Tan Taihiap, kami merasa amat gembira dan beruntung sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan engkau dan muridmu. Yo Han, terima kasih atas pelajaran yang telah kau berikan kepada Ceng Ki! Marilah, Tan Taihiap, mari kita bercakap-cakap di rumah kami agar lebih leluasa!”

Sin Hong tidak dapat menolak lagi dan dia berjalan seiring dengan Bhe Gun Ek dan puterinya. Yo Han mengiringkan di belakangnya, bersama Ceng Ki yang kini bersikap manis kepadanya.

Sin Hong dan muridnya disambut sebagai seorang tamu kehormatan. Pihak tuan rumah, dari Bhe Kauwsu, puterinya sampai para murid utama yang ikut menyambut, bersikap hormat kepada Sin Hong dan muridnya walau pun pakaian guru dan murid ini dihias tambalan. Hal ini membuat Sin Hong amat tertarik dan juga kagum. Tahulah dia bahwa dia berada di antara orang gagah sehingga hatinya merasa senang.

Dalam perjamuan yang meriah, ketika mereka makan minum bersama di sebuah meja besar yang terbuat dari meja disambung-sambung, yang duduk mengelilingi meja itu ada belasan orang banyaknya termasuk murid-murid kepala, Sin Hong bertanya kepada tuan rumah tentang Kim-liong-pang.

“Bhe Kauwsu, aku masih merasa heran sekali ketika disangka aku adalah orang dari Kim-liong-pang. Aku menduga agaknya ada permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang itu. Perkumpulan apakah Kim-liong-pang itu dan jika boleh aku bertanya, mengapa terjadi permusuhan?”

Ditanya demikian, wajah tuan rumah dan para muridnya mendadak menjadi muram. Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Bhe Gun Ek lalu berkata, “Kalau dipikir memang membuat orang menjadi penasaran dan sakit hati, Tan Taihiap. Bayangkan saja, Kim-liong-pang yang sarangnya berada di puncak bukit Kim-liong-san di luar kota Lu-jiang ini, di pimpin oleh seorang sahabat baik, bahkan puteranya menjadi tunangan puteriku Siang Cun ini. Akan tetapi, kini kami kedua pihak telah menjadi musuh besar dan terjadi perkelahian yang mengorbankan banyak murid-murid kami dan para anggota Kim-liong-pang sendiri.”

Tiba-tiba seorang di antara para murid kepala bangkit berdiri dan sambil mengepal tinju dia berkata, “Suhu, maafkan teecu! Membicarakan Kim-liong-pang telah membuat teecu kehilangan nafsu makan dan sebaiknya kalau teecu tidak ikut mendengarkan. Maka dari itu, perkenankan teecu mengundurkan diri, Suhu!”

Bhe Kauwsu memandang kepada murid itu dan menarik napas panjang. “Aku dapat mengerti perasaanmu, Hok Ci. Kuperkenankan engkau mengundurkan diri.”

Murid Ngo-heng Bu-koan itu kemudian menjura ke arah Sin Hong. “Tan Taihiap, harap maafkan saya.” Dan dia lalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah lebar.

Sin Hong memperhatikan murid itu. Seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Tubuhnya sedang saja namun nampak kuat dan gesit. Wajahnya tampan namun ia melihat keganasan membayang pada pandang matanya, sedangkan mulutnya selalu tersenyum agak sinis.

“Kasihan dia…!” kata Bhe Kauwsu. “Harap maafkan dia, Tan Taihiap. Di antara kami, mungkin dia yang paling menderita akibat permusuhan dengan Kim-liong-pang. Bahkan dialah yang mula-mula kehilangan seorang tunangannya yang mati terbunuh oleh pihak Kim-liong-pang.”

Sin Hong memandang tajam penuh selidik. “Apakah Kim-liong-pang perkumpulan orang jahat?”

“Sama sekali tidak. Bahkan ketuanya, Ciok Kam Heng adalah bekas sahabat baikku, seorang gagah yang selalu menjunjung tinggi kebenaran. Puteranya, Ciok Lim, tadinya bahkan bertunangan dengan puteri kami Siang Cun. Sekarang tentu saja pertunangan itu putus dan mereka menjadi musuh besar kami.”

“Tapi… mengapa begitu?” Sin Hong penasaran.

“Engkau sudah kami anggap sebagai seorang sahabat baik, Tan Taihiap, maka kami takkan menyimpan rahasia. Baiklah, kami akan bercerita mengenai permusuhan itu.”

Bhe Gun Ek lalu bercerita dengan singkat namun jelas. Dia adalah seorang ahli silat yang banyak mempelajari ilmu silat dari Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai, bahkan berhasil menggabungkan ilmu kedua partai persilatan itu dan menciptakan beberapa macam ilmu silat sendiri, di antaranya yang paling hebat adalah Ngo-heng-kun.

Pada saat dia membuka rumah perguruan silat, dia memakai nama Ngo-heng Bu-koan karena memang inti pelajaran yang dia berikan adalah Ngo-heng-kun. Bhe Gun Ek dan isterinya hanya memiliki seorang anak, yaitu Bhe Siang Cun yang sudah mewarisi ilmu ilmunya, bahkan gadis ini sudah membantu para suheng- nya, yaitu murid-murid tertua dan utama dari ayahnya, untuk membimbing kepada para murid muda.

Pada waktu Siang Cun berusia delapan belas tahun, setahun yang lalu, Bhe Gun Ek menerima pinangan seorang sahabatnya, yaitu Ciok Kam Heng, ketua Kim-liong-pang di puncak bukit Kim-liong-san yang nampak dari kota Lu-jiang. Sudah lama dia bersahabat dengan Ciok Kam Heng sehingga pinangan itu lalu diterima dengan senang hati. Juga Siang Cu tidak membantah.

Putera tunggal ketua Kim-liong-pang itu bernama Ciok Lim, kini berusia dua puluh lima tahun. Dia seorang pemuda yang cukup ganteng dan memiliki ilmu silat yang tinggi pula, bahkan dalam suatu pesta tahun baru, iseng-iseng kedua orang tua mereka menguji ilmu kepandaian pemuda dan gadis ini.

Mereka yang sudah ditunangkan itu mengadu ilmu, dan harus diakui oleh Siang Cun bahwa tingkat kepandaian tunangannya itu sedikit lebih tinggi darinya. Hal ini membuat hatinya senang, apa lagi dalam adu ilmu itu, Ciok Lim selalu mengalah sehingga tidak membikin malu padanya.

Akan tetapi, pada suatu malam, ketika Ciok Lim yang dijamu oleh Bhe-kauwsu pulang dalam keadaan setengah mabuk, terjadilah hal yang amat mengerikan. Seorang murid perempuan dari Ngo-heng Bu-koan yang bernama Bong Siok Cin, seorang gadis manis berusia tujuh belas tahun, kedapatan tewas dalam keadaan telanjang bulat di dalam hutan kecil di kaki bukit Kim-liong-san! Jelas bahwa gadis itu telah diperkosa orang lalu dibunuh! Dan di antara pakaiannya yang berserakan akibat direnggut dengan paksa dan robek-robek, para murid Ngo-heng Bu-koan menemukan sebuah topi merah. Topi yang biasa dipakai oleh Ciok Lim!

Tentu saja terjadi geger di kalangan murid Ngo-heng Bu-koan! Yang paling berduka dan marah adalah Phoa Hok Ci, sebab Bong Siok Cin yang terbunuh dalam keadaan terhina dan menyedihkan itu bukan lain adalah tunangannya! Meski Bhe Kauwsu membujuknya supaya bersabar dan kematian murid itu perlu diselidiki dengan seksama, namun Phoa Hok Ci tidak dapat menahan dendam sakit hatinya. Bersama tiga orang sute yang ikut berbela sungkawa dan bersetia kawan ia kemudian pergi ke Kim-liong-san, mendatangi perkumpulan Kim-liong-pang dan lantas menantang Ciok Lim yang dituduhnya sebagai pemerkosa dan pembunuh!

Ciok Lim yang keluar menemui empat orang murid Ngo-heng Bu-koan itu terkejut bukan main dan tentu saja dia menyangkal keras.

Akan tetapi, dengan sikap menantang dan dengan senyumnya yang sinis, Phoa Hok Ci yang menaruh dendam hebat atas kematian tunangannya itu, segera bertanya. “Ciok Lim, kami tidak menuduh membuta- tuli! Coba katakan, ke mana semalam engkau pergi sampai larut malam?”

Ciok Lim mengerutkan alisnya. Tentu saja dia mengenal Phoa Hok Ci, sebagai suheng dari tunangannya, yaitu puteri Bhe Kauwsu. “Kukira semua murid Ngo-heng Bu-koan tadi malam juga melihatku. Aku mendapat kehormatan dijamu minum arak oleh calon ayah mertuaku, yaitu guru kalian. Menjelang tengah malam, aku pulang.”

“Dalam keadaan mabuk, bukan?” Phoa Hok Ci mendesak.

“Aku tidak pernah mabuk, dalam arti kata sampai tidak sadar. Memang aku telah minum banyak, akan tetapi aku masih sadar dan dapat pulang, setibanya di rumah langsung tidur.”

“Hemmm, bagus sekali cerita karanganmu itu! Engkau dalam keadaan setengah mabuk, bertemu dengan sumoi Bong Siok Cin di jalan. Engkau menggodanya dan tentu saja ia bukan lawanmu. Engkau lalu menangkapnya dan membawanya sampai ke hutan di kaki bukit Kim-liong-san, kemudian engkau memperkosanya! Dan oleh karena takut gadis itu membuka rahasia kejahatanmu, engkau lalu membunuhnya!”

“Tidak benar! Itu fitnah belaka!” bantah Ciok Lim dan ketika itu sudah banyak anggota Kim-liong-pang yang keluar menyaksikan percekcokan itu. “Aku tidak bertemu siapa pun dan dan tidak melakukan perbuatan terkutuk seperti yang kau tuduhkan.”

“Ciok Lim, tidak perlu engkau menyangkal lagi. Semua bukti-bukti telah lengkap, maka aku nasehatkan engkau supaya menyerah saja untuk kami tangkap dan kami bawa menghadap suhu kami!” kata pula Phoa Hok Ci dengan muka merah dan mencorong marah.

“Tidak! Apa buktinya bahwa aku melakukan perbuatan jahat itu?” tantang Ciok Lim.

“Hemmm, engkau masih hendak menyangkal dan mau melihat buktinya?” Phoa Hok Ci mengeluarkan sebuah topi merah yang sejak tadi disimpannya di dalam saku bajunya. Itulah topi yang ditemukan di antara pakaian Bong Siok Cin yang berserakan. “Nah, lihat, topi siapakah ini?”

Sepasang mata Ciok Lim terbelalak memandang kepada topi di tangan murid Ngo-heng Bu-koan itu, dan wajahnya berubah. “Itu… itu memang topiku… semalam aku kehilangan topiku itu! Ah, aku berada dalam keadaan setengah mabuk akibat terlalu banyak minum sehingga aku lupa lagi di mana kutaruh topiku. Akan tetapi… bagaimana topiku itu dapat berada di tanganmu?”

Mulut Phoa Hok Ci semakin sinis menyeringai. “Hemmm, pandai berpura-pura pula! Ciok Lim, tidak perlu engkau menyangkal lagi. Topi ini kami temukan di dekat mayat sumoi Bong Siok Cin!”

“Suheng, tangkap saja dia. Untuk apa banyak cakap lagi terhadap seorang pemerkosa dan pembunuh yang amat keji?” teriak seorang murid Ngo-heng Bu-koan.

Phoa Hok Ci lalu maju menyerang dengan pedangnya. Ciok Lim terpaksa membela diri dan mencabut pedang pula. Ketika tiga orang murid Ngo-heng Bu-koan maju, mereka disambut oleh banyak murid atau anggota Kim-liong-pang.

Terjadilah perkelahian dengan kekalahan di pihak empat orang murid-murid Ngo-heng Bu-koan! Mereka terpaksa melarikan diri dalam keadaan luka-luka dan sambil mengeluh mereka mengadu kepada guru mereka.

Bhe Kauwsu menjadi bingung. Memang murid perempuan dari perguruannya diperkosa dan dibunuh orang, akan tetapi dia masih meragukan apakah benar calon menantunya yang melakukan perbuatan keji itu. Bagaimana pun juga, topi merah itu ditemukan di antara pakaian mendiang Siok Cin yang berserakan, dan semalam, ketika dia menjamu minum arak kepada calon mantunya ltu, memang Ciok Lim memakai topi merah itu.

Pada saat Bhe Gun Ek yang cukup bijaksana mengambil keputusan untuk mengunjungi Kim-liong-pang dan akan mengadakan perundingan yang penuh kekeluargaan dengan sahabatnya merangkap calon besannya, walau pun puterinya sendiri dan para muridnya menyatakan tidak setuju, tiba-tiba muncul belasan orang anggota Kim-liong-pang yang datang marah-marah serta memaki-maki Ngo-heng Bu-koan yang katanya merupakan pembunuh curang! Bhe Gun Ek melarang puterinya dan para muridnya yang hendak keluar menghajar orang-orang Kim-liong-pang, dan dia sendiri lalu keluar, diikuti oleh Siang Cun dan banyak murid kepala yang masih merasa penasaran.

Para anggota Kim-liong-pang itu biasanya bersikap hormat kepada Bhe Kauwsu karena guru silat ini adalah calon besan dari ketua mereka. Tetapi sekarang mereka bersikap lain sama sekali. Mereka tetap berdiri tegak dan bertolak pinggang biar pun Bhe Gun Ek sudah muncul dan berdiri di depan mereka!

Melihat sikap ini, Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya, namun dia menahan sabar karena maklum bahwa sikap mereka itu pasti ada sebabnya.

“Bukankah Cu-wi para anggota Kim-liong-pang? Ada keperluan apakah Cu-wi datang berkunjung? Apakah diutus oleh Ciok Pangcu (Ketua Pangcu)?” Bhe Kauwsu bertanya dengan suara ramah.

“Bhe Kauwsu, kami datang untuk menuntut balas atas kematian seorang sute kami yang tidak berdosa! Sute kami dibunuh oleh seorang murid dari Kauwsu, maka sebaiknya jika murid yang jahat itu diserahkan kepada kami!” kata seorang di antara mereka, mewakili teman-temannya, dengan nada suara penuh kemarahan.

Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya lebih dalam lagi dan setelah menarik napas panjang dia berkata, “Aih, apa lagi ini? Terbunuhnya seorang murid perempuan dari perguruan kami belum juga diselesaikan, dan sekarang muncul tuduhan bahwa seorang anggota Kim-liong-pang terbunuh oleh seorang muridku?”

“Bhe Kauwsu! Kongcu kami sama sekali tak merasa melakukan pembunuhan terhadap murid perempuan perguruan sini. Kongcu berani bersumpah…“

“Sumpah palsu! Siapa pun juga dapat bersumpah palsu!” bentak Siang Cun. Gadis ini sekarang amat membenci tunangannya dan hal inilah yang membuat para murid dari Ngo-heng Bu-koan semakin bersemangat memusuhi pihak Kim-liong-pang.

“Sebaiknya jika Kauwsu menyelidiki yang benar. Bukan kongcu kami yang membunuh. Akan tetapi sekarang murid-muridmu telah membunuh seorang sute kami dengan amat kejamnya! Mungkin sute dikeroyok, melihat betapa tubuhnya hancur dicacah-cacah oleh bacokan senjata tajam. Sungguh-sungguh pembunuhan yang kejam dan sama sekali tidak mengenal peri kemanusiaan!”

“Huhh! Apakah pembunuhan terhadap sumoi Bong Siok Cin itu berperi kemanusiaan? Sebelum dibunuh diperkosa lebih dulu! Perbuatan itu biadab dan lebih kejam lagi. Kalau sampai ada seorang saudara seperguruanku membalas dendam dan membunuh salah seorang anggota Kim-liong-pang, hal itu sudah sepantasnya!”

“Hok Ci, diam kau! Dan Siang Cun, jangan kau mencampuri percakapan kami! Kalian dengarkan saja!” Bhe Kauwsu membentak karena suara para muridnya itu hanya akan memanaskan suasana saja.

Ia lalu menghadapi orang-orang Kim-liong-pang itu dan berkata, “Cuwi menuduh bahwa murid-murid kami sudah melakukan pengeroyokan dan pembunuhan terhadap seorang anggota Kim-liong-pang. Apa buktinya bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh murid dari perguruan kami?”

“Jenazah sute diketemukan di luar tembok kota Lu-jiang, tubuhnya hancur dan di dekat jenazahnya kami menemukan ini!” berkata anggota Kim-liong-pang sambil menyerahkan sebuah bungkusan kain kuning panjang.

Bhe Kauwsu menerima bungkusan itu yang berisi sebuah pedang panjang yang patah menjadi dua. Dan di gagang pedang patah itu, jelas dapat dilihatnya ukiran dua huruf berbunyi Ngo Heng, ukiran yang terdapat pada semua senjata di perguruannya, senjata-senjata yang disediakan di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) untuk latihan!

Jelas bahwa pedang itu adalah pedang milik Ngo-heng Bu-koan, dan siapa lagi yang mempergunakannya kalau bukan seorang di antara para muridnya. Pedang itu agaknya patah ketika dipakai berkelahi, maka dibuang begitu saja dan ditemukan sebagai tanda bukti bahwa pembunuh anggota Kim-liong-pang adalah orang Ngo-heng Bu-koan!

Bhe Kauwsu menoleh kepada para muridnya, wajahnya berubah merah. Dengan suara yang mengandung wibawa dia bertanya, “Siapa di antara kalian yang mempergunakan pedang ini? Hayo mengaku sebagai seorang gagah yang selalu siap mempertanggung jawabkan perbuatannya!”

Akan tetapi tak seorang pun di antara murid-muridnya yang menjawab atau mengaku. Semuanya berdiam diri. Kemudian Siang Cun berkata dengan suara mencela. “Ayah, apakah Ayah perlu mendengarkan fitnah yang mereka lontarkan kepada kita?”

Pimpinan anggota Kim-liong-pang berkata dengan nada suaranya mengejek, “Hemmm, Bhe Kauwsu, tiada muridmu yang berani mengaku. Mereka itu pengecut, sudah berani berbuat tidak berani bertanggung jawab.”

“Tutup mulutmu yang bau busuk!” Tiba-tiba Siang Cun meloncat ke depan, menghadapi anggota pimpinan Kim-liong-pang itu dengan marah sekali. “Tuan mudamu sudah jelas memperkosa dan membunuh saudara kami, dan ada bukti topinya yang ketinggalan, akan tetapi dia menyangkal. Dialah yang pengecut besar! Dan kini kalian membalikkan kenyataan? Lagi pula andai kata ada di antara kami yang membunuh sute- mu, hal itu sudah tepat, karena orang-orang macam kalian ini memang patut dibasmi!”

“Siang Cun…!” Ayahnya mencegah, akan tetapi percuma karena kedua pihak sudah saling terjang dan saling serang.

Terjadilah pertempuran antara belasan orang anggota Kim-liong-pang melawan para murid Ngo-heng Bu- koan yang jumlahnya jauh lebih banyak! Bhe Kauwsu tidak dapat mencegah lagi, maklum bahwa orang- orang muda kedua pihak itu sudah dibakar oleh kemarahan dan sakit hati. Dia merasa sedih sekali, akan tetapi mengambil keputusan untuk tidak campur tangan sendiri, maka dia lalu mengundurkan diri dan masuk ke dalam kamarnya.

Perkelahian keroyokan yang berat sebelah itu tentu saja berakhir dengan kekalahan pihak Kim-liong-pang yang jauh lebih sedikit jumlahnya. Apa lagi pada pihak Ngo-heng Bu-koan terdapat Siang Cun yang sungguh amat lihai. Akhirnya, belasan orang anggota Kim-liong-pang itu terpaksa melarikan diri sambil membawa lari teman-teman mereka yang terluka parah. Masih untung Siang Cun melarang teman- temannya yang hendak melakukan pengejaran.

“Biarkan mereka pergi!” teriaknya. “Ketika sebagian dari kalian datang ke sana, kalian dikalahkan akan tetapi tidak ada seorang pun di antara kalian yang terbunuh. Biarlah kali ini kita membalas kekalahan itu dan biarkan mereka pulang melapor kepada ketua mereka!”

Sin Hong dan Yo Han mendengarkan cerita dari Bhe Gun Ek dengan hati tertarik sekali. Bhe Gun Ek menarik napas panjang berulang kali, wajahnya nampak berduka dan dia pun melanjutkan.

“Demikianlah, Tan Taihiap. Sejak penyerbuan itu, terjadi permusuhan di antara Bu-koan kami dan Kim- liong-pang. Beberapa kali aku hendak menghubungi Ciok Pangcu, akan tetapi selalu para murid kedua pihak yang mencegah, mereka sudah dibakar emosi, bahkan sejak itu, sudah berulang kali terjadi perkelahian, bahkan sudah belasan orang dari masing-masing pihak jatuh tewas sebagai korban perkelahian terbuka mau pun pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan secara diam-diam karena dendam.”

“Hemmm, jadi itulah kiranya yang menyebabkan kesalah pahaman antara aku dan nona Bhe Siang Cun? Aku sudah disangka seorang dari Kim-liong-pang dan karenanya harus dibunuh?”

Wajah gadis itu menjadi kemerahan. “Ada berita bahwa pihak Kim-liong-pang sedang mengundang jagoan lihai untuk menghadapi kami, karena itulah aku mudah menaruh curiga kepada seorang asing.”

“Akan tetapi, Bhe Kauwsu, apakah semenjak peristiwa pertama, yaitu kematian murid perempuan dari perguruanmu itu, engkau tak pernah mengadakan hubungan langsung dengan Ciok Pangcu?”

Guru silat itu menarik napas panjang. “Itulah salahnya. Bagaimana pun harus kuakui bahwa ada rasa sakit di dasar hatiku akibat perkosaan dan pembunuhan terhadap salah seorang muridku, dan karena pelaku kejahatan itu ialah putera Ciok Pangcu, yang juga telah menjadi calon menantuku, tentu saja aku merasa amat tidak enak untuk menemui dan membicarakannya. Ditambah lagi dengan sikap bermusuhan yang berlarut-larut dari anggota dan murid kedua pihak, maka sekarang sudah tidak mungkin lagi bagiku untuk mengadakan pertemuan secara damai dengan Ciok Pangcu. Bahkan akhir-akhir ini ada berita bahwa pihak Kim-liong-pang hendak mengundang jagoan yang lihai, kemudian akan menantang kami untuk mengadakan pertempuran secara terbuka.” Guru silat itu kelihatan penasaran dan berduka.

Sin Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ah, jika keadaan sudah demikian parah, sukar untuk dicari jalan damai.”

Tiba-tiba Yo Han bangkit berdiri. “Suhu, ada kemungkinan ke tiga dalam urusan ini yang agaknya dilupakan orang…”

“Hushhh! Yo Han engkau anak kecil tahu apa? Jangan ikut campur!” bentak Sin Hong terkejut. Dia rikuh sekali melihat betapa muridnya demikian lancang untuk mencampuri urusan yang demikian besarnya.

Mendengar bentakan gurunya, Yo Han diam dan duduk kembali. Tetapi Bhe Kiauwsu merasa amat tertarik mendengar ucapan Yo Han tadi. Pemuda yang menjadi tamunya itu seorang yang berilmu tinggi, tentu muridnya juga bukan anak sembarangan. Sikap bocah itu saja sudah menunjukkan bahwa dia cerdas sekali.

“Aih, Tan Taihiap, agaknya muridmu mempunyai pandangan yang amat penting sekali. Biarkanlah dia bicara. Anak baik, apakah kemungkinan ke tiga yang agaknya telah kami lupakan itu? Katakanlah.”

Yo Han melirik ke arah suhu-nya. “Suhu, bolehkah teecu bicara?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo