October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 19

 

Akan tetapi, ucapan mereka yang memandang rendah padanya memanaskan perutnya dan mendorongnya untuk menguji kepandaian mereka. Maka ia lalu tersenyum sindir, menghadapi mereka yang mengepungnya itu dengan sikap tenang saja.

“Hemmm, andai kata, benar aku ini kaki tangan pemberontak dan tidak mau menyerah, lalu kalian ini mau apakah? Kalian ini mirip lima ekor anjing hutan yang menggonggong mengancam seekor kucing hutan, akan tetapi tidak berani menyerang!”

Kucing hutan adalah harimau, maka dengan menyebut dirinya kucing hutan dan mereka itu anjing hutan, berarti Hong Li meninggikan dirinya dan merendahkan mereka. Salah seorang di antara mereka, yang berkumis tebal, mengerutkan alisnya.

“Nona, jangan disangka kami hanya menggertak saja. Kami adalah para pendekar yang siap menggempur para pemberontak, dan kalau engkau mata-mata pemberontak, kami tidak segan-segan menggunakan kekerasan kalau engkau tidak mau menyerah dengan baik-baik.”

Hong Li tersenyum mengejek dan melirik kepadanya, “Hemmm, ingin sekali aku melihat kekerasan yang bagaimana yang hendak kalian lakukan? Apakah kalian ini lima orang laki-laki hendak mengeroyok aku? Pendekar macam apa kalau beraninya hanya main keroyokan?”

Muka si kumis tebal menjadi merah. “Kawan-kawan, mundurlah dan biarkan aku yang menangkap wanita yang sombong ini!”

Teman-temannya yang sudah maklum akan kelihaian jagoan muda murid Kun-lun-pai ini, mundur dan membiarkan si kumis tebal untuk menghadapi Hong Li. Namun, sebagai seorang pendekar, agaknya si kumis tebal masih saja sungkan untuk melawan seorang wanita muda.

Dia lalu memasang kuda-kuda dengan gagahnya, kuda-kuda dari silat Kun-lun-pai yang terkenal indah gerakannya itu, akan tetapi tidak segera menyerang, melainkan berkata kepada Hong Li. “Nona, silakan mulai menyerang!”

Hong Li tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri santai saja, bahkan mentertawakan lawannya. “Ehh, kenapa? Bukankah yang hendak menggunakan kekerasan itu engkau? Kenapa aku yang disuruh menyerang? Aku tidak bisa menggunakan kekerasan!”

Teman-temannya tertawa sehingga si kumis tebal menjadi semakin kikuk. “Kalau begitu, biarlah aku yang mulai dulu. Awas, Nona, aku akan bergerak menangkapmu, maaf!”

Dan orang itu, dengan kedua lengan bergerak cepat, menubruk ke depan, maksudnya hendak menangkap kedua pergelangan tangan Hong Li supaya dia dapat menangkap gadis itu tanpa banyak pergulatan.

“Ihhh…!” Hong Li berseru dan dengan gerakan kaku yang disengaja, ia mengelak, akan tetapi cukup untuk membuat tubrukan lawan itu mengenai tempat kosong belaka!

“Wah, sayang luput, ya?” Hong Li mentertawakannya sambil melenggang-lenggokkan tubuhnya yang ramping padat. Kembali terdengar suara ketawa teman-teman si kumis tebal.

“Awas, aku akan menotok dan membuat engkau tidak mampu bergerak, Nona. Maaf!”

Kini si kumis tebal kembali menyerang, bukan sembarangan lagi menubruk, melainkan mengirimkan totokan dengan dua jari tangan kanan kiri, yang kanan menotok pundak kiri, yang kiri menotok pinggang. Hong Li yang melihat bahwa tingkat kepandaian lawan ini masih jauh berada di bawah tingkatnya, menyambut totokan-totokan itu dengan dua pasang jari tangannya pula, jari telunjuk dan jari tengah dipergunakan untuk menangkap atau menjepit totokan lawan.

“Cuppp! Cappp!”

Si kumis tebal itu terbelalak melihat betapa totokannya itu disambut jepitan jari tangan lawan. Dia berusaha menarik kembali jarinya, namun sia-sia dan terasa nyeri, seolah-olah jari tangannya telah terjapit oleh jepitan besi! Tentu saja nampaknya lucu sekali perkelahian itu dan teman-teman si kumis kembali tertawa. Kaki Hong Li bergerak dan tubuh si kumis tebal itu terpelanting, tidak begitu keras karena Hong Li memang tidak mempergunakan tenaga besar.

Empat orang kawan si kumis tebal kini menghentikan suara ketawa mereka dan baru mereka sadar bahwa gadis cantik itu ternyata bukan orang sembarangan, buktinya si kumis tebal yang mereka kenal sebagai murid Kun-lun-pai yang cukup kuat, dalam satu gebrakan saja roboh secara aneh! Kini mereka berempat berloncatan menghadapi Hong Li dan seorang di antara mereka membentak.

“Nona, siapakah engkau? Harap jangan main-main dengan kami dan mengaku terus terang, apakah engkau seorang mata-mata pemberontak?” Mereka sudah mendengar bahwa gerombolan pemberontak sudah bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat yang tinggi ilmunya.

“Siapakah main-main dengan kalian?” Hong Li menjawab. “Siapa adanya aku tidak ada hubungannya dengan kalian. Aku berjalan seorang diri tanpa mengganggu siapa pun juga. Adalah kalian yang menghadang perjalananku dan andai kata aku benar mata-mata pemberontak, habis kalian mau apa?”

“Tangkap mata-mata ini!” bentak si kumis tebal yang sudah meloncat bangun kembali dan kini lima orang itu sudah menerjang untuk menangkap Hong Li.

Gadis ini dengan lincah sekali lalu berloncatan mengelak. Gadis ini adalah cucu dalam dari Naga Sakti Gurun Pasir, juga cucu luar dari Pendekar Super Sakti Pulau Es. Dari ayahnya ia mewarisi ilmu-ilmu dari Gurun Pasir, dan dari ibunya ia mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es, tentu saja ia lihai bukan main.

Diserang oleh lima orang pendekar yang tingkatnya masih tengah-tengah tentu saja ia seperti menghadapi pengeroyokan lima orang anak kecil saja. Dengan mudah dia dapat menghindarkan setiap serangan dengan elakan dan setiap kali tangannya menangkis, orang yang ditangkisnya tentu terpelanting!

Sungguh mereka itu seperti sekumpulan semut yang mengeroyok jangkrik, beberapa kali terpelanting dan bangkit kembali. Kalau saja Hong Li menghendaki, tentu dengan mudah ia akan membuat mereka roboh untuk tidak dapat bangun kembali. Akan tetapi gadis ini pun tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang baik-baik, dan dia pun hanya ingin main-main saja, menghajar mereka karena mereka memandang rendah padanya!

Pada saat itu tampak berkelebat bayangan orang, bayangan putih dan seorang pemuda berpakaian serba putih tiba di situ.

“Tahan…!” serunya kepada kelima orang itu yang segera menghentikan pengeroyokan mereka.

Mereka terengah-engah, dengan tubuh basah oleh keringat dan babak belur. Sedikitnya setiap orang sudah terpelanting dua kali dalam pengeroyokan itu.

Melihat kehadiran si baju putih, si kumis tebal cepat berseru girang, “Tan Taihiap, cepat bantu kami menangkap mata-mata musuh yang lihai ini!”

Akan tetapi lima orang itu tertegun ketika melihat betapa orang yang mereka harapkan akan membantu mereka itu kini berdiri berhadapan dengan gadis itu, saling pandang dan akhirnya pemuda berpakaian putih itu berseru girang.

“Nona Kao Hong Li…!”

“Ehhh, engkau… ehhh… Susiok…!”

Pemuda berpakaian putih itu bukan lain adalah Tan Sin Hong. Baru kemarin ia bertemu dengan para pendekar, ketika para pendekar yang jumlahnya kurang lebih lima belas orang itu dikepung dan dikeroyok, bahkan terancam oleh orang-orang Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai yang bersekutu dengan para pemberontak. Sin Hong lantas turun tangan membantu mereka sehingga mereka berhasil mengusir musuh dari dalam hutan. Dan semua pendekar mengagumi Tan Sin Hong yang mereka sebut Tan Taihiap (Pendekar Besar Tan).

Para pendekar itu adalah mereka yang berdatangan karena merasa penasaran ketika mendengar bahwa Tiat-liong-pang melakukan pemberontakan dan bersekutu dengan kaum sesat. Pada waktu itu masih banyak lagi para pendekar yang berpencaran di sekitar daerah yang dijadikan sarang Tiat-liong-pang, bersiap untuk menggempur kaum sesat yang berkumpul di atas apa bila saatnya tiba.

Mendengar betapa gadis itu menyebut susiok (paman guru) kepada Sin Hong, tentu saja para pendekar itu terkejut dan melongo. Sin Hong lalu menoleh kepada mereka. “Aihh, sobat-sobat sungguh kurang cermat.

Nona ini adalah nona Kao Hong Li, seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya, bagaimana kalian sangka ia seorang mata-mata pemberontak?”

Kao Hong Li mengerling ke arah si kumis tebal dan kawan-kawannya sambil tersenyum. “Habis, kalian tidak memberi kesempatan kepadaku, datang-datang kalian menuduh aku mata-mata musuh sih, jadi aku menjadi marah dan ingin menguji kalian!”

Si kumis tebal dan teman-temannya menjadi malu, dan dengan muka merah mereka memberi hormat, dipimpin oleh si kumis tebal yang berkata. “Maaf, maaf, karena tidak mengenal Lihiap (Pendekar Wanita) maka kami berlaku kurang hormat. Maklumlah, baru kemarin kami diserang oleh gerombolan pemberontak, maka tadi kami menyangka Lihiap seorang di antara mereka. Maaf!”

“Sudahlah,” berkata Hong Li. “Aku yang minta maaf. Susiok, bagaimara engkau bisa berada di sini?”

Sin Hong memandang kepada lima orang itu dan berkata. “Harap kalian suka memberi kesempatan kepada kami untuk bicara berdua.”

Lima orang itu mengangguk maklum. Mereka pun berloncatan masuk ke dalam hutan dan menghilang di balik batang-batang pohon. Sin Hong lalu menghampiri Hong Li.

“Bagaimana, Nona, apakah selama ini engkau baik-baik saja? Aku harap kedua orang tuamu juga berada dalam keadaan selamat dan sehat,” katanya dengan sikap sopan.

Kao Hong Li cemberut. “Susiok, bagaimana sih engkau ini? Bukankah engkau ini murid kongkong, jadi engkau adalah sute dari ayahku dan karena itu, engkau ini susiok-ku dan aku masih terhitung keponakanmu sendiri, murid keponakan! Mengapa engkau masih menyebut aku nona-nona segala? Lupakah engkau bahwa namaku Hong Li? Kao Hong Li?”

Menghadapi berondongan serangan ini, Sin Hong jadi tersipu. Bagaimana pun juga, ia seorang pemuda yang tidak biasa berhadapan dengan wanita, apa lagi yang galak dan lincah seperti Hong Li ini. Dalam hal kelincahan, kejenakaan dan kegalakan, gadis ini rupanya menjadi saingan berat dari Suma Lian!

“Habis, aku harus menyebut apa kalau bukan nona?”

“Memangnya seorang susiok hendak dijadikan bujang maka menyebut nona kepadaku? Sebut saja namaku!”

“Mana aku berani?”

“Kalau tidak berani, sudahlah. Kita tidak usah bicara. Aku tidak sudi kau sebut nona!” Gadis itu membalikkan tubuhnya dan cemberut.

Melihat ini, Sin Hong cepat meloncat ke depan gadis itu. “Baiklah, Hong Li. Sebenarnya, aku sendiri pun merasa tidak enak kalau kau sebut susiok. Usia kita sebaya, dan paling banyak aku lebih tua satu dua tahun darimu, akan tetapi kau sebut paman guru!”

“Itu kan keharusan! Kalau aku tidak menyebut susiok padamu, tentu ayah akan marah. Sudahlah. Susiok, engkau belum menjawab. Bagaimana engkau bisa berada di sini?”

“Aku pun heran menjumpaimu di sini, Hong Li. Bukankah engkau berada di rumah orang tuamu ketika aku pergi dari sana?”

“Kau dulu bercerita, baru aku akan menceritakan pengalamanku,” kata Hong Li sambil duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari dalam tanah.

Sin Hong lalu mengambil tempat duduk di atas batu besar. Keduanya berhadapan dan saling pandang.

Sin Hong lalu menceritakan pengalamannya secara singkat, dan pertemuannya yang terakhir dengan Suma Lian. Betapa dia dan gadis itu sudah pernah memasuki sarang Tiat-liong-pang dan berhasil menolong Kwee Ci Hwa, akan tetapi gadis itu tewas oleh luka-lukanya. Dia pun menceritakan tentang kemunculan Gu Hong Beng yang kemudian dibantu oleh Suma Lian untuk menyampaikan tugas dari pimpinan pemberontakan yang terpaksa harus dilakukannya demi menyelamatkan dua orang kawannya yang menjadi sandera.

“Aku sendiri ingin menyelundup ke dalam sarang gerombolan itu. Aku hendak mencoba menyelamatkan dua orang sandera itu. Di tengah hutan ini, kemarin, aku melihat para pendekar diserbu para anggota gerombolan yang dibantu oleh banyak tokoh sesat yang pandai. Kami berhasil mengusir mereka dan aku lalu bergabung dengan para pendekar untuk menghadapi para tokoh sesat yang membantu pemberontakan. Nah, demikianlah pengalamanku sampai aku melihat engkau sedang mempermainkan beberapa orang teman pendekar itu.”

Hong Li menarik napas panjang. “Ah, kiranya semua telah berada di sini! Gu Hong Beng masih suheng-ku sendiri karena gurunya, paman Suma Ciang Bun adalah adik ibuku. Suma Lian adalah adik misanku sendiri. Akan ramai nanti di sini kalau begitu dan aku gembira sekali mendengar mereka semua turun tangan hendak menentang kaum sesat yang bersekutu dengan pemberontak. Aku sendiri, setelah engkau pergi, Susiok, masih merasa penasaran. Aku lalu pergi dari rumah dengan maksud mencari para penyerbu Istana Gurun Pasir seperti yang Paman ceritakan itu, terutama Sin-kiam Mo-li. Jejaknya menuju ke sarang Tiat-liong-pang ini, maka aku sampai pula di tempat ini.”

“Memang benar dia merupakan seorang di antara tokoh sesat yang bersekutu dengan Tiat-liong-pang.”

Sin Hong lalu menceritakan keadaan Tiat-liong-pang yang sangat kuat, terutama sekali karena ternyata gerombolan pemberontak itu telah bersekutu dengan panglima pasukan pemerintah yang bertugas jaga di benteng utara tidak jauh dari situ.

“Ahhh, kalau begitu kebetulan sekali. Aku dapat membantu para pendekar menentang kaum sesat yang membantu pemberontakan, juga sekalian dapat menuntut balas atas kematian kakek dan nenekku dari Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya!” kata Hong Li penuh semangat sambil mengepal tinju.

Sin Hong menarik napas panjang. “Hong Li, jangan engkau mengira bahwa aku tidak berduka karena kematian ketiga orang guruku, akan tetapi justru dari merekalah aku menerima pelajaran, bukan hanya ilmu silat, akan tetapi gemblengan batin sehingga aku berhasil melenyapkan dendam dari hatiku. Kalau sekarang aku menentang Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, bukan karena aku mendendam kepada mereka, melainkan karena mereka adalah orang-orang jahat yang sudah selayaknya ditentang agar tidak banyak jatuh korban keganasan mereka. Dan juga aku harus dapat merampas kembali Cui-beng-kiam dan Ban-tok-kiam, dua buah pedang pusaka milik Istana Gurun Pasir yang dirampas mereka, karena selama pedang-pedang itu berada di tangan mereka, maka kejahatan mereka akan meningkat dan dua buah pusaka itu tentu hanya akan dipergunakan untuk kejahatan.”

Hong Li mengangguk. “Tadinya aku memang merasa penasaran sekali, Susiok. Kedua orang kakek dan nenekku, juga kakek Wan Tek Hoat tewas di Gurun Pasir, akan tetapi Susiok sebagai murid tunggal dan terakhir mereka, tetap hidup dan agaknya tidak hendak membalas dendam. Akan tetapi sekarang aku mengerti, dan aku setuju dengan pendirianmu. Memang aku pun sudah sering kali mendengar dari ayah dan ibu betapa buruknya membiarkan dendam meracuni batin kita sendiri. Akan tetapi bagi aku, kalau mengingat betapa jahatnya mereka dan betapa kakek dan nenek yang sudah tua itu mereka serbu dan mereka bunuh, betapa sukarnya untuk tidak menjadi sakit hati dan membebaskan hati dari dendam.”

Sin Hong mengangguk pula. “Aku tidak menyalahkanmu, Hong Li. Memang kelemahan seperti itu adalah manusiawi, akan tetapi jika kita sudah tahu bahwa hal itu merupakan suatu kelemahan dan kekeliruan, maka sudah selayaknya kalau kita menghilangkannya, bukan? Aku sendiri kehilangan orang tuaku yang menjadi korban kejahatan orang lain, dan ternyata pembunuh ayahku juga berada di sini karena pembunuhan itu dilakukan sebagai akibat dari usaha pemberontakan Tiat-liong-pang pula.”

Sin Hong kemudian menceritakan tentang keterangan terakhir Kwee Ci Hwa yang telah dapat membongkar rahasia pembunuhan Tan-piauwsu. Dua orang muda itu terus saja bercakap-cakap dengan asyik sekali, seperti dua orang sahabat lama yang baru saja saling bertemu setelah lama berpisah. Barulah mereka terkejut ketika ada dua orang gagah berlari-larian dari dalam hutan dengan wajah agak pucat dan napas mereka yang memburu.

“Celaka, Tan Taihiap! Kami diserbu dari arah selatan. Musuh kami lihai bukan main sehingga ada beberapa orang saudara kita yang sudah roboh! Cepat, harap bantu kami, Tan Taihiap dan Lihiap, kalau tidak, kami semua akan celaka!”

Tanpa menanti keterangan lainnya lagi, tubuh Sin Hong berkelebat diikuti oleh Hong Li. Keduanya berlari cepat sekali memasuki hutan dan Hong Li hanya mengikuti Sin Hong karena dia masih belum mengenal jalan sama sekali. Sin Hong berlari cepat menuju ke perkampungan darurat yang dibuat oleh para pendekar di dalam hutan itu.

Banyak para pendekar dari berbagai kalangan yang berdatangan ke arah daerah utara, tempat pemberontakan Tiat-liong-pang terjadi. Mereka tertarik bukan untuk mencampuri pemberontakan itu, karena bagaimana pun juga, tak ada pendekar yang dalam hatinya membela pemerintah penjajah. Mereka berdatangan untuk menentang kaum sesat yang kabarnya memimpin pemberontakan, karena mereka semua maklum bahwa jika kaum sesat yang memberontak dan berhasil berkuasa, maka rakyat akan lebih celaka lagi, lebih sengsara dari pada kalau kekuasaan dipegang penjajah Mancu.

Bukan hanya di hutan itu saja terdapat para pendekar yang membuka perkampungan darurat. Di situ hanya berkumpul belasan orang pendekar. Di tempat-tempat lain bahkan terdapat lebih banyak persembunyian para pendekar yang juga saling menggabung dan siap menghadapi para tokoh sesat.

Ketika Sin Hong dan Hong Li yang jauh mendahului kedua orang pendekar itu tiba di perkampungan di dalam hutan, mereka melihat bahwa belasan orang pendekar sedang dikepung dan dikeroyok oleh dua puluh lebih orang yang dilihat dari pakaian mereka adalah orang-orang Mongol yang tinggi besar, dan mereka di pimpin oleh seorang tosu dan seorang nenek bongkok. Kedua orang inilah yang amat lihai.

Tosu itu bertubuh pendek berkepala botak, usianya sudah enam puluh tahun lebih dan dia memainkan sehelai sabuk kain yang ujungnya dipasangi pisau. Ada pun nenek itu bertubuh bongkok kurus, kulitnya hitam dengan muka buruk berkeriputan. Usianya juga enam puluh tahun lebih, tangannya memegang sebuah tongkat hitam butut. Nenek ini tak kalah lihainya dibandingkan tosu itu, dan sepak terjangnya ganas sekali, membuat para pendekar kocar-kacir dan terdesak hebat.

Sin Hong dan Hong Li tidak mengenal siapa mereka, akan tetapi maklum bahwa kedua orang itu memang lihai sekali, dan agaknya, melihat bahwa mereka memimpin orang-orang Mongol yang ganas dan kasar menyerang para pendekar, mudah diduga bahwa mereka tentulah kaki tangan pemberontak. Memang dugaan mereka sungguh tepat karena mereka adalah orang-orang yang menjadi pembantu Tiat-liong- pang, sedangkan pasukan kecil Mongol itu adalah sebagian dari lima ratus lebih orang pasukan Mongol yang dipimpin oleh Agakai dan sudah berkumpul di sarang Tiat-liong-pang.

Kakek itu bernama Hok Yang Cu, seorang tokoh Pat-kwa-pai yang banyak melakukan kejahatan, satu di antara para tokoh Pat-kwa-pai yang membantu pemberontakan itu. Ada pun nenek itu adalah Hek-sim Kui- bo, seorang datuk sesat yang lihai pula. Dua orang ini memang bersahabat dan pernah kita jumpai mereka ketika mereka melakukan serangan terhadap keluarga Beng-san Siang-eng di puncak Telaga Warna Pegunungan Beng-san.

Untunglah pada waktu itu muncul Suma Lian yang lalu membantu keluarga pendekar itu mengusir dua orang kakek dan nenek ini. Pada waktu itu mereka berdua menyerang keluarga Beng-san Siang-eng bukan saja untuk mengganggu keturunan keluarga Pulau Es itu, juga karena Hek-sim Kui-bo hendak menculik Gak Ciang Hun, putera Beng-san Siang-eng yang baru berusia sepuluh tahun.

Melihat kelihaian kakek dan nenek ini, tanpa berunding Sin Hong dan Kao Hong Li telah maklum apa yang harus mereka lakukan. Mereka melihat sudah ada empat orang pendekar roboh, maka Sin Hong lalu meloncat ke tengah medan pertempuran, langsung saja dia menghadapi tosu yang amat lihai itu.

Pada saat itu, Hok Yang Cu sedang menggunakan sabuknya untuk mendesak seorang pendekar yang bersenjata pedang. Sabuk itu berhasil melibat pedang sehingga tidak dapat digerakkan lagi, mereka saling betot dan saat itu dipergunakan oleh Hok Yang Cu untuk menggunakan tangan kirinya menghantam. Hantaman ini amat dahsyat karena dia mengerahkan tenaga sinkang-nya sehingga kepala lawannya terancam.

“Dukkk!”

Tangan terbuka yang dihantamkan ke arah kepala lawan itu bertemu dengan tangan lain dari samping yang menangkisnya, dan akibatnya, tubuh Hok Yang Cu terhuyung dan sabuknya terpaksa melepaskan pedang. Pendekar itu pun terhuyung ke belakang, girang bukan main melihat munculnya Sin Hong yang menyelamatkannya dari ancaman bahaya maut tadi.

Sebaliknya, Hok Yang Cu terkejut sekali, cepat memandang dan ternyata orang yang menangkisnya dan membuat ia terhuyung tadi hanyalah seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun lebih, berpakaian putih sederhana! Dia merasa penasaran bukan main dan cepat dia memutar sabuknya.

Terdengar suara mendesir saat ujung sabuk yang ada pisaunya itu terbang menyambar ke arah kepala Sin Hong. Akan tetapi dengan mudahnya, Sin Hong mengelak dan dia mencium bau amis keluar dari pisau di ujung sabuk. Maka tahulah dia bahwa pisau itu beracun!

Seorang tosu yang keji, pikirnya. Ia pun membalas dengan desakan pukulan jarak jauh, dengan kedua telapak tangan terbuka yang membuat kakek itu gelagapan sehingga terus menerus mundur karena hawa pukulan yang keluar dari sepasang telapak tangan pemuda itu bukan main kuatnya!

Sementara itu, Kao Hong Li juga sudah terjun ke dalam kalangan pertempuran dan langsung saja gadis itu menerjang nenek buruk rupa dan yang lihai sekali permainan tongkatnya itu. Nenek Hek-sim Kui-bo kaget bukan main ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan ada hawa pukulan yang sangat dahsyat serta mengandung tenaga sakti yang panas menyambar ke arahnya dari kiri. Dia cepat membalikkan tubuh ke kiri dan tangan kirinya sengaja menangkis, karena nenek ini memang biasa memandang ringan semua lawannya.

“Desss…!”

Lengan kiri nenek itu yang hanya tulang terbungkus kulit bertemu dengan lengan kanan Hong Li yang padat lembut dan berkulit halus. Akibatnya, nenek itu mengeluarkan pekik melengking karena tubuhnya terdorong ke belakang dan lengannya terasa nyeri. Hong Li juga terhuyung, maka tahulah gadis ini bahwa lawannya sungguh tak bisa dipandang ringan.

Ketika Hek-sim Kui-bo (Nenek Iblis Berhati Hitam) melihat bahwa yang menyerangnya hanya seorang gadis muda yang cantik, dia marah dan penasaran sekali. Tongkatnya segera diputar dan nampaklah sinar hitam yang mengerikan, datang bergulung-gulung dan tiba-tiba dari dalam gulungan sinar hitam itu menyambar ujung tongkat, menotok ke arah dada Hong Li, merupakan serangan maut!

Namun, Hong Li sudah siap siaga karena dia pun dapat menduga akan kelihaian lawan. Begitu melihat ada sinar hitam mencuat dan menotok ke arah dadanya, dengan sikap tenang akan tetapi cepat sekali, tubuhnya miring mengelak. Kakinya membuat gerakan melangkah maju dari samping, tangan kiri menjaga kemungkinan serangan selanjutnya, sedangkan tangan kanannya dengan jari tangan terbuka membalas dengan tamparan ke arah kepala nenek itu, mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang yang dipelajarinya dari ibunya.

Hwi-yang Sinkang adalah tenaga sakti milik keluarga Pulau Es. Baru hawa pukulannya saja sudah mengandung panas yang luar biasa. Nenek itu merasa adanya hawa panas ini, maka ia pun cepat meloncat ke belakang sambil memutar tongkat bututnya untuk melindungi dirinya. Diam-diam dia kaget dan dapat menduga bahwa lawannya tentulah seorang murid atau keturunan keluarga Pulau Es.

Selain kaget dan penasaran, ia pun girang karena keluarga Pulau Es dianggap musuh besarnya, maka kalau ia dapat merobohkan gadis ini, berarti ia melenyapkan seorang di antara musuh-musuh yang dibencinya. Maka dia pun mengeluarkan suara melengking lagi dan tongkatnya menyambar-nyambar ganas, namun dengan sikap tenang, Hong Li dapat mengatasi desakan tongkat itu dengan kecepatan gerakan badannya dan dapat pula membalas dengan tak kalah dahsyatnya sehingga membuat nenek itu tak mampu mengembangkan permainan tongkatnya.

Para pendekar juga berkelahi dengan serunya melawan pasukan Mongol. Orang-orang Mongol itu bertenaga besar dan berkelahi dengan nekat, juga jumlah mereka lebih banyak sehingga para pendekar yang tiga belas orang itu harus melawan mati-matian.

Sin Hong mulai mendesak lawannya. Ketika pisau di ujung sabuk Hok Yang Cu untuk ke sekian kalinya menyambar, Sin Hong meloncat ke atas, tinggi dan dari atas, bagaikan seekor burung bangau, tubuhnya meluncur turun.

Kembali sabuk itu berkelebat menyambar. Tangan kiri Sin Hong, seperti paruh seekor burung bangau, meluncur ke bawah dan menangkap sabuk di belakang pisau. Demikian cepatnya gerakan jari tangannya, seperti gerakan leher burung bangau mematuk leher ular. Sabuk itu tidak dapat dipergunakan lagi, dan tangan kanan Sin Hong menampar ke bawah, ke arah tengkuk lawan. Karena sabuk itu tidak dapat ditariknya, dan tamparan orang muda itu amat dahsyatnya mengarah tengkuk, Hok Yang Cu terkejut dan cepat dia menangkis dengan lengannya.

“Dukkk!”

Pertemuan antara kedua lengan itu sedemikian hebatnya dan akibatnya, Hok Yang Cu terpelanting ke tanah. Sabuk yang dipegangnya itu pun putus, dengan bagian yang ada pisaunya tertinggal di tangan Sin Hong! Dia terbanting keras dan cepat menggulingkan tubuhnya menjauhi lawan.

Pada saat itu, Kao Hong Li juga berhasil menendang paha Hek-sim Kui-bo sehingga nenek ini terjengkang. Namun, dengan bantuan tongkatnya, nenek itu dapat meloncat bangun lagi dan agak terpincang sebab pahanya terasa nyeri walau pun tulangnya tidak patah serta daging dan kulitnya tidak terluka parah.

Pada saat itu juga, muncullah dua orang tosu. Yang seorang adalah Thian Kong Cinjin, kakek tua renta yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, bertubuh tinggi kurus, dengan sebuah tongkat setinggi badan berada di tangan kanannya. Thian Kong Cinjin adalah wakil ketua Pat-kwa-pai, mempunyai ilmu kepandaian tinggi.

Orang ke dua juga seorang kakek yang usianya sebaya dengan Thian Kong Cinjin, yaitu mendekati delapan puluh tahun. Dia adalah Thian Kek Sengjin, seorang tokoh besar dari Pek-lian-pai, kakek kurus kering dengan muka merah darah. Dia pun membawa sebatang tongkat naga hitam, dan kakek yang pandai sihir ini memiliki sepasang mata mencorong seperti mata kucing!

Dengan sudut matanya Sin Hong melihat munculnya dua orang kakek ini. Tentu saja dia mengenal mereka dengan baik karena kedua orang kakek itu adalah dua di antara tiga orang yang berhasil keluar dengan selamat dari penyerbuan di Istana Gurun Pasir, yaitu bersama Sin-kiam Mo-li, sedangkan belasan orang lainnya telah tewas ketika mereka itu mengeroyok tiga orang gurunya. Karena itu, Sin Hong maklum bahwa di pihak musuh datang dua orang lawan tangguh, maka dia pun cepat meloncat, meninggalkan Hok Yang Cu dan langsung menerjang dan orang kakek yang baru datang itu tanpa banyak cakap lagi!

Melihat seorang pemuda tahu-tahu berada di depan mereka dan menyerang dengan totokan jari tangan yang amat dansyat ke arah leher mereka secara bertubi-tubi, kedua orang kakek itu mengeluarkan seruan dan cepat berloncatan ke belakang. Mereka telah lupa kepada Sin Hong dan biar pun tadi mereka melihat betapa berbahayanya serangan pemuda itu, mereka masih memandang rendah kepada Sin Hong.

Thian Kek Sengjin yang melihat betapa Hek-sim Kui-bo sedang didesak oleh seorang gadis yang sangat cantik, segera meloncat ke sana dan menghadapi Hong Li. Begitu Thian Kek Sengjin memutar tongkat naga hitam menyerang, Hong Li cepat berloncatan ke belakang untuk mengelak. Akan tetapi tongkat itu mendesak terus, dan terdengar suara ketawa kakek itu.

“Heh-heh-heh, nona cantik, lebih baik engkau menyerah dan menjadi muridku, tanggung engkau akan mengalami kesenangan, heh-heh-heh!”

Hong Li mendengus marah, lalu menerjang maju dengan nekat. Karena ia tahu bahwa kakek itu sangat lihai, maka ia pun memainkan Sin-liong Ciang-hoat yang dahsyat dari Gurun Pasir.

Begitu gadis itu mendesak, kakek itu terbelalak heran karena dia mengenal ilmu silat yang aneh dengan tubuh kadang-kadang direndahkan dan jurus seperti mau bertiarap ini adalah ciri khas ilmu silat dari Istana Gurun Pasir. Nyaris dia celaka ketika tiba-tiba tubuh gadis itu meluncur dari bawah dengan tangan kiri menangkis tongkat dan tangan kanannya menusuk ke arah ulu hatinya.

Untung bahwa ia masih sempat melempar tubuh ke belakang, kemudian berjungkir balik dibantu tongkatnya, dan cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kalau tidak, tentu gadis itu akan terus mendesak dan melukainya dengan serangan-serangan dahsyat itu. Kini dia tidak berani main-main lagi, dengan sekuat tenaga dia memainkan tongkatnya sehingga gadis itu pun tidak dapat mendesaknya lagi. Sebaliknya, perlahan-lahan Thian Kek Sengjin mulai membuat Hong Li terpaksa harus main mundur, karena tongkat hitam yang berbentuk naga itu sungguh berbahaya.

Di lain pihak, Sin Hong yang tadi mulai mendesak Hok Yang Cu, kini mendapatkan lawan tangguh, yaitu Thian Kong Cinjin. Wakil ketua Pat-kwa-pai ini memang lihai, lebih lihai dari pada Thian Kek Sengjin, dan jauh lebih lihai dari Hok Yang Cu. Dan sekarang, kakek lihai dengan tongkatnya yang ampuh ini masih dibantu oleh Hok Yang Cu!

Namun, Sin Hong tidak gentar. Dengan ilmu silatnya yang hebat, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih), dan dengan landasan tenaga saktinya yang amat kuat, dia mampu menandingi pengeroyokan kedua orang ini, bahkan membalas setiap serangan mereka dengan tamparan-tamparan atau tendangan, juga totokan-totokan yang tidak kalah dahsyatnya, sehingga membuat kedua orang pengeroyoknya sama sekali tidak mampu mendesaknya.

Akan tetapi, dengan munculnya dua orang kakek itu, keadaan pertempuran berubah. Kini nenek Hek-sim Kui-bo berani meninggalkan Hong Li untuk dilayani oleh Thian Kek Sengjin sendiri, dan ia pun membantu para anggota pasukan Mongol untuk mengeroyok para pendekar yang sudah kewalahan. Kini, pihak para pendekarlah yang terdesak dan kembali ada dua orang yang roboh.

Pada saat yang amat berbahaya bagi para pendekar itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Hong Li, jangan takut, aku membantumu!”

Terdengar bunyi melengking nyaring seperti suling ditiup ketika sinar kuning emas itu menyambar dan langsung menyambut tongkat naga hitam di tangan Thian Kek Sengjin yang sedang mendesak Hong Li.

“Takkkkk!”

Thian Kek Sengjin mengeluarkan seruan kaget karena dua tangannya yang memegang tongkat tergetar hebat ketika bertemu dengan suling emas di tangan wanita cantik dan gagah itu. Kam Bi Eng dan Suma Ceng Liong segera turun tangan membantu Hong Li dan Sin Hong. Tentu saja Hong Li girang bukan main melihat betapa bibinya datang membantunya. Dia dan bibinya lantas mendesak Thian Kek Sengjin yang menjadi sibuk setengah mati.

“Pergilah kau bantu mereka menghadapi orang-orang Mongol,” kata Kam Bi Eng. Hong Li menjawab gembira, “Baiklah, Bibi. Hajar kakek siluman ini, Bibi!”
Hong Li lalu meloncat pergi meninggalkan Thian Kek Sengjin. Langsung dia menerjang Hek-sim Kui-bo lagi yang sedang mengamuk di antara para pendekar dengan tongkat hitamnya.

Sementara itu, melihat betapa Sin Hong dikeroyok oleh dua orang tosu yang berilmu tinggi, diam-diam Suma Ceng Liong menjadi kagum sekali. Pemuda berpakaian putih itu sungguh lihai bukan main! Walau pun dikeroyok oleh dua orang kakek yang demikian hebat permainan tongkatnya, namun pemuda yang bertangan kosong itu sama sekali tidak terdesak.

Gaya permainannya pun amat menarik, dengan gerak dan sikap seperti seekor burung bangau namun tidak seperti ilmu silat bangau pada umumnya. Gerakan itu aneh dan kadang-kadang lucu serta sukar sekali, akan tetapi jelas bahwa pada setiap gerakan mengandung tenaga dahsyat sehingga pemuda itu berani menangkis tongkat-tongkat lawan dengan lengan tangannya!

“Paman Ceng Liong, dialah susiok Tan Sin Hong, harap suka bantu dia!” tiba-tiba Hong Li berteriak kepadanya.

Ceng Liong semakin kagum. Kiranya inilah pemuda yang bemama Tan Sin Hong itu, murid dari istana Gurun Pasir! Pantas demikian lihainya. Akan tetapi bukankah pemuda bernama Tan Sin Hong itu yang datang bersama puterinya dan menyerahkan Yo Han kepada Suma Ciang Bun?

Menurut penuturan Suma Ciang Bun, puterinya dan pemuda itu melakukan penyelidikan ke sarang pemberontak, tetapi kenapa sekarang pemuda itu berada di sini dan ke mana perginya Suma Lian? Karena sekarang tidak mungkin menanyakan semua itu, Ceng Liong segera terjun ke dalam pertempuran dan langsung saja dia menyerang kakek Thian Kong Cinjin yang dia lihat lebih lihai dari pada yang ke dua, yaitu Hok Yang Cu.

Begitu menerjang maju, dia sudah memainkan ilmu silat Coan-kut-ci, yaitu ilmu totokan penembus tulang yang dahulu dipelajarinya dari Hek I Mo-ong. Tusukan jari tangannya mengeluarkan suara mencicit dan terkejutlah Thian Kong Cinjin karena ketika dia coba menangkis, tongkatnya tertusuk jari telunjuk pendekar itu dan langsung berlubang! Sin Hong girang mendapatkan bantuan ini, dan dia pun lalu mendesak Hok Yang Cu yang kembali menjadi sibuk bukan main.

Sekarang keadaannya kembali membalik dengan cepatnya. Pihak pemberontak menjadi terdesak, dan para tokoh sesat yang kini memperoleh tanding menjadi bingung. Thian Kong Cinjin menemukan tanding yang amat kuat, yaitu Suma Ceng Liong. Thian Kek Sengjin juga sibuk menghadapi gulungan sinar emas dari suling di tangan Kam Bi Eng. Hek-sim Kui-bo terdesak hebat oleh Hong Li, sedangkan Hok Yang Cu hampir tak dapat menahan serangan Sin Hong. Dan pasukan Mongol itu pun repot menghadapi amukan para pendekar sehingga sudah banyak di antara mereka yang roboh dan terluka.

Melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan ini, mendadak terdengar Thian Kek Sengjin mengeluarkan seruan keras, “Lariiiii…!”

Dia pun melontarkan sebuah benda hitam yang mengeluarkan ledakan keras sehingga nampaklah asap hitam bergumpal-gumpal, menggelapkan tempat yang menjadi medan perkelahian itu. Sebagai seorang tokoh besar Pek-lian-pai, tentu saja kakek ini memiliki bahan peledak yang suka digunakan orang-orang Pek-lian-pai dalam pertempuran, juga merupakan alat untuk mengelabui rakyat.

Suma Ceng Liong sudah mengenal senjata-senjata gelap orang-orang Pek-lian-pai. Ada bahan peledak yang mengandung asap beracun, maka dia pun cepat berseru supaya semua orang mundur menjauhi asap. Maka, semua orang segera berloncatan mundur.

Setelah asap hitam itu menipis, ternyata tokoh-tokoh sesat itu sudah lenyap, agaknya sudah melarikan diri. Juga orang-orang Mongol yang masih belum terluka, sudah lari. Kini hanya tinggal orang-orang Mongol yang terluka, yang nampak dengan susah-payah menyeret tubuh mereka untuk pergi dari tempat itu.

“Biarkan mereka pergi!” berkata Sin Hong ketika melihat ada di antara pendekar yang hendak mengejar. “Lawan yang sudah terluka jangan didesak!”

Kembali Ceng Liong kagum sekali melihat sikap Sin Hong ini. Mereka lalu berkumpul dan Hong Li memperkenalkan Sin Hong kepada paman dan bibinya.

“Susiok, ini adalah paman Suma Ceng Liong beserta bibi Kam Bi Eng. Paman dan Bibi, pemuda ini adalah susiok Tan Sin Hong, murid terakhir dari mendiang kakek dan nenek di Gurun Pasir.”

Sin Hong cepat-cepat memberi hormat kepada suami isteri sakti itu. “Sudah lama saya mendengar nama besar Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), maka hari ini saya merasa bangga dapat bertemu dengan Ji-wi, bahkan mendapat bantuan Ji-wi.”

Hati Ceng Liong semakin suka kepada pemuda ini. “Orang muda, harap jangan terlalu merendahkan diri. Kami pun sudah mendengar namamu dan ternyata engkau memang pantas menjadi murid orang-orang sakti penghuni Istana Gurun Pasir. Akan tetapi, kami juga mendengar dari toako Suma Ciang Bun bahwa puteri kami, Suma Lian, melakukan perjalanan bersamamu. Di mana ia sekarang? Mengapa kami tidak melihat ia di sini?”

Sin Hong lalu bercerita tentang pengalamannya bersama Suma Lian masuk ke dalam sarang Tiat-liong- pang dan menolong Ci Hwa yang akhirnya tewas pula. Kemudian dia bercerita tentang perjumpaan mereka dengan Gu Hong Beng yang terpaksa menjadi utusan Siangkoan Lohan untuk menghubungi Panglima Coa yang bersekutu dengan para pemberontak karena ada dua orang kawan yang dijadikan sandera.

“Karena saya ingin mencoba menyelamatkan dua orang sandera itu, maka saya minta kepada Lian-moi untuk membantu saudara Gu Hong Beng, sedangkan saya sendiri lalu berusaha menyelundup ke Tiat- liong-pang, akan tetapi bertemu dengan para pendekar di sini, dan tadi bertemu pula dengan nona Kao Hong Li.”

Mendengar bahwa puteri mereka membantu Gu Hong Beng, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merasa lega dan girang. Selagi mereka bercakap-cakap, seorang pendekar yang baru saja datang berlari menghampiri Sin Hong. Melihat di situ terdapat banyak orang-orang baru yang tidak dikenalnya, pendekar ini pun menjadi ragu-ragu.

“Yang berada di sini adalah kawan sendiri,” kata Tan Sin Hong, maklum akan keraguan orang itu, “Kedua Locianpwe ini adalah Locianpwe Suma Ceng Liong dan isterinya.”

Mendengar disebutnya nama keluarga Suma, pendekar itu memberi hormat, lalu dia menyampaikan berita yang amat penting.

“Dalam pengamatanku, malam tadi aku melihat ada ribuan orang pasukan pemerintah meninggalkan benteng menuju ke Tiat-liong-pang dan kini mereka agaknya mengepung Tiat-liong-pang dari empat penjuru!”

Mendengar hal ini, semua orang terkejut dan Sin Hong menarik napas panjang. “Wah, jangan-jangan saudara Gu Hong Beng terpaksa menyampaikan surat rahasia itu dan kini pasukan yang berkhianat mulai bergabung dengan pemberontak. Tentu tidak lama lagi mereka akan melakukan gerakan.”

“Sebaiknya kita menyelundup ke dalam, kita bebaskan mereka yang tertawan dan kita kacaukan sarang mereka. Kita serbu para tokoh sesat itu. Jika memang benar pasukan pemerintah itu adalah yang berkhianat dan akan bergabung dengan para pemberontak, belum terlambat bagi kita untuk menyelamatkan diri. Sebaiknya yang menyelundup ke dalam hanya yang memiliki ilmu kepandaian cukup saja,” kata Suma Ceng Liong yang merasa khawatir kalau-kalau puterinya yang menemani Gu Hong Beng itu berada di dalam sarang Tiat-liong-pang pula dan terancam bahaya.

Sin Hong menyetujui saran ini. Jika mereka tidak beramai-ramai dengan bekerja sama menyelundup ke dalam, akan sukarlah Gu Hong Beng dan teman-temannya itu dapat diselamatkan. Dan jika sudah berhasil menyelamatkan mereka yang tertawan, barulah mereka kelak akan membantu pasukan pemerintah yang akan membasmi gerombolan pemberontak.

Lalu dipilih di antara para pendekar yang berkumpul di situ dan hanya ada empat orang yang dianggap cukup kuat untuk melakukan penyusupan. Tentu saja selain mereka juga Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Kao Hong Li, dan Tan Sin Hong. Empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini ikut pula menyelundup…..

********************

Gu Hong Beng diterima oleh para penjaga pintu gerbang Tiat-liong-pang. Dia muncul seorang diri di waktu pagi sekali itu, dan para penjaga yang sudah mengenalnya lalu membiarkan dia masuk. Gu Hong Beng segera diterima oleh Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan, serta beberapa orang tokoh sesat yang menjadi kaki tangan mereka yang diandalkan. Dan di antara mereka, tentu saja nampak Siangkoan Liong.

Dengan matanya yang cerdik serta tajam, Hong Beng melihat bahwa tidak ada sinar kecurigaan dalam pandang mata mereka itu, maka hatinya menjadi lega. Untung bahwa dia dan Suma Lian telah berhasil membunuh belasan musuh yang menghadangnya itu, karena kalau ada seorang saja yang lolos, tentu dia tidak akan berani kembali ke sarang ini dan tentu akan celaka nasib Li Sian dan Kun Tek.

“Gu-taihiap, engkau sudah kembali?” Siangkoan Lohan menyambut dengan sikap yang ramah. “Dan berhasilkah tugasmu?”

Hong Beng mengangguk dan tersenyum. “Berhasil dengan baik, Pangcu.” “Apakah ada balasan surat dari Coa Tai-ciangkun?” tanya Ouwyang Sianseng.
Hong Beng maklum bahwa mereka ini masih bersikap pura-pura, karena mata-mata mereka tentu sudah menyelidiki dan mereka pun pasti sudah tahu bahwa dia datang bersama pasukan pemerintah! Dia bersikap seperti yang sudah direncanakan bersama Liu-ciangkun, kakek Kam Hong dan isterinya.

“Coa Tai-ciangkun mengirim salam. Karena beliau masih harus menyelesaikan urusan di dalam benteng, maka beliau mengirim Pouw-ciangkun dengan pasukan besar untuk bergabung dengan pasukan Pangcu, siap untuk melakukan gerakan menurut petunjuk Pangcu.”

“Pouw-ciangkun? Yang mana…?” Siangkoan Lohan bertanya sambil memandang heran karena sepanjang pengetahuannya, di antara anak buah Coa Tai-ciangkun, yaitu para perwira yang ikut dalam persekutuan itu, tidak terdapat seorang Pouw-ciangkun.

“Bukankah Pouw-ciangkun termasuk seorang di antara para perwira yang setia kepada kerajaan?” Tiba- tiba Siangkoan Liong berkata. Pemuda ini juga hafal akan para perwira di benteng, mana yang berpihak kepada pemberontak dan mana yang setia kepada kerajaan.

Diam-diam Gu Hong Beng terkejut mendengar ini, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu. Dengan tenang dia berkata, “Menurut keterangan yang aku peroleh dari Coa Tai-ciangkun, Pouw- ciangkun adalah seorang bawahannya yang sangat baik dan dapat dipercaya. Mungkin saja sudah terjadi perubahan dan akhir-akhir ini Pouw-ciangkun telah menjadi orang kepercayaannya.”

“Suruh Pouw-ciangkun masuk!” tiba-tiba Ouwyang Sianseng berseru kepada pengawal.

Beberapa orang pengawal memberi hormat, kemudian lari keluar. Hong Beng menanti dengan jantung berdebar. Inilah saatnya yang amat kritis dan dia sudah memperhatikan hal ini dengan teman-temannya ketika mereka berunding di dalam benteng.

Tidak disangkanya bahwa Ouwyang Sianseng demikian cerdiknya, jauh lebih cerdik dari pada para pemimpin pemberontak yang lain. Dan dia pun tahu bahwa Pendekar Suling Emas, kakek Kam Hong dan isterinya, tentu sudah bersiap siaga pula karena mereka berdua yang bertugas menjadi pengawal Pouw- ciangkun. Demikian pula Suma Lian. Mereka bertiga sekarang tentu sudah menyelundup masuk ke dalam sarang itu karena kesempatan untuk itu besar sekali dengan adanya pasukan pemerintah yang sangat banyak berada di sekitar sarang pemberontak.

Tidak lama kemudian dua orang penjaga yang tadi disuruh memanggil Pouw-ciangkun, telah kembali bersama Pouw-ciangkun yang diiringkan oleh dua belas orang pengawal. Para pengawal ini adalah pendekar-pendekar yang menyamar.

Siangkoan Lohan, Siangkoan Liong dan para pembantunya bersiap untuk menyambut sekutu yang sangat diandalkan ini. Akan tetapi tiba-tiba Ouwyang Sianseng meloncat ke depan dan menudingkan telunjuknya pada Pouw-ciangkun sambil membentak nyaring, “Tangkap dia!”

Tentu saja kejadian ini amat mengejutkan Hong Beng, juga Pouw-ciangkun sendiri. Tak disangkanya sama sekali bahwa Ouwyang Sianseng akan dapat mengetahui sandiwara mereka!

Padahal, sesungguhnya Ouwyang Sianseng juga belum yakin bahwa Hong Beng telah membohonginya, tak tahu bahwa telah terjadi perubahan besar di dalam benteng. Kalau mendadak dia menyuruh tangkap Pouw-ciangkun, hal ini adalah karena kecerdikannya yang luar biasa. Perintah ini sebetulnya hanya gertakan dan pancingan saja. Di dalam hatinya, dia merasa heran mengapa yang disuruh memimpin pasukan kerajaan oleh Coa Tai-ciangkun adalah Pouw-ciangkun. Maka ia pun menggertak untuk melihat reaksi dari pihak Pouw-ciangkun. Gertakan atau pancingannya ini memang berhasil baik.

Pouw-ciangkun yang telah menerima perintah Liu Tai-ciangkun, telah memperhitungkan kemungkinan kecil bahwa mereka akan dicurigai dan ditangkap, maka begitu Ouwyang Sianseng memerintahkan penangkapan, Pouw-ciangkun langsung loncat ke belakang, berlindung di balik dua belas orang pengawalnya yang semua telah mencabut pedang.

Juga Hong Beng yang mengira bahwa perintah Ouwyang Sianseng tadi merupakan bukti bahwa rahasianya sudah diketahui pihak lawan, cepat meloncat ke dalam untuk menyelamatkan Li Sian dan Kun Tek. Akan tetapi Thian Kek Sianjin, tokoh besar dari Pek-lian-kauw yang kebetulan berada di tempat paling dekat dengan Hong Beng, sudah memalangkan tongkat naga hitamya lalu menyambut pemuda itu dengan hantaman tongkat!

Melihat reaksi ini, Ouwyang Sianseng terbelalak dan mukanya berubah. Tahulah dia bahwa benar seperti yang dikhawatirkannya, telah terjadi pengkhianatan!

“Bunuh mereka semua! Semua pasukan siap untuk melawan musuh di luar…!”

Akan tetapi, Pouw-ciangkun, tepat seperti yang sudah diatur sebelumnya, sudah berlari keluar dan memberi isyarat kepada para perwira di luar untuk memulai penyerbuan! Dua belas orang pendekar yang menyamar sebagai pengawal melindunginya dan langsung menyerang kaki tangan pemberontak yang hendak mengejar Pouw-ciangkun. Namun tentu saja mereka ini bukanlah lawan orang-orang seperti Siangkoan Liong, Siangkoan Lohan dan para pembantunya. Dalam waktu sebentar saja, dua belas orang pengawal itu roboh seorang demi seorang!

“Bunuh pengkhianat ini, aku akan membunuh dua orang kawannya!” teriak Ouwyang Sianseng.

Akan tetapi pada saat itu terdengar sorak-sorai gemuruh dibarengi suara terompet dan tambur, tanda bahwa pasukan pemerintah mulai menyerbu dari luar, dari empat penjuru! Dan sebelum Ouwyang Sianseng sempat melompat ke dalam, dari dalam justru muncul beberapa orang yang langsung membuat wajah Ouwyang Sianseng dan para pimpinan pemberontak berubah pucat!

Dari dalam, dengan sikap gagah dan tenang, nampak kakek Kam Hong, nenek Bu Ci Sian, Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Tan Sin Hong, Kao Hong Li, Suma Lian, dan dua orang muda yang tadinya menjadi tawanan, yaitu Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian!

Kiranya, kedua rombongan pendekar itu sudah berhasil menyelundup ke dalam sarang pemberontak. Pertama adalah rombongan yang terdiri dari Tan Sin Hong, Kao Hong Li, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Ada pun rombongan ke dua adalah rombongan kakek Kam Hong, Bu Ci Sian dan Suma Lian.

Mereka bertemu di dalam sarang pemberotak, dan tentu saja pertemuan itu sangat menggembirakan hati mereka walau pun dilakukan secara bersembunyi. Tan Sin Hong lalu berhasil membebaskan Kun Tek dan Li Sian. Kedua orang muda yang tadinya menjadi tawanan itu lalu bergabung dengan mereka dan begitu mendengar ribut-ribut di luar, tanda bahwa pasukan mulai bergerak, mereka pun ramai-ramai menerjang keluar dan berhadapan dengan seluruh pimpinan pemberontak dan para pembantu mereka!

Melihat betapa Hong Beng sudah berkelahi melawan Thian Kek Sengjin yang amat lihai dengan tongkat naga hitamnya, Suma Lian segera meloncat dan membantunya. Suling emas kecil di tangannya langsung berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyambar-nyambar ke arah Thian Kek Sengjin. Kakek Pek-lian-pai ini menjadi terkejut dan juga repot sekali karena Hong Beng yang amat girang melihat betapa ‘tunangannya’ membantunya, juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak lawan.

Kakek Kam Hong berhadapan dengan Ouwyang Sianseng.

“Saudara Ouwyang Sianseng, petualanganmu agaknya hanya akan beraknir sampai di sini saja. Sarang pemberontak ini sudah terkepung oleh pasukan besar!”

Wajah Ouwyang Sianseng pucat, akan tetapi sikapnya masih tenang, bahkan dia masih bisa tersenyum sambil memandang kakek sastrawan sederhana di depannya itu dengan pandang mata penuh kagum. Tentu Pendekar Suling Emas ini yang sudah membuat semua rencananya gagal, pikirnya.

“Sungguh membuat orang amat penasaran,” katanya lirih, akan tetapi karena suaranya mengandung khikang yang sangat kuat, maka dapat terdengar jelas oleh semua orang. “Seorang pendekar besar seperti Pendekar Suling Emas yang konon kabarnya pembela rakyat, penegak kebenaran dan keadilan, kiranya tidak lain hanyalah seorang budak penjajah Mancu yang tidak segan-segan mengkhianati bangsa sendiri!”

Ejekan yang amat menghina ini diterima oleh kakek Kam Hong dengan senyum. Tangan kiri kakek ini bergerak, cepat sekali dan hanya lengan kirinya yang bergerak karena seluruh tubuhnya tetap diam, dan nampaklah bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu, seperti orang bermain sulap saja, tangan kiri kakek itu telah memegang sebuah kipas, mengebutkan kipas yang terpentang itu perlahan-lahan mengipasi lehernya seolah-olah dia merasa kegerahan.

Ouwyang Sianseng melihat kipas yang terpentang lebar ini dan dapat membaca tulisan indah dan gagah pada permukaan kipas yang digerakkan perlahan-lahan.

Hanya yang kosong
dapat menerima tanpa meluap Hanya yang lembut
mampu menerobos antara yang kasar Yang merasa cukup
adalah yang sesungguhnya kaya raya!

Tulisan itu sebenarnya adalah motto dari Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong). Guru kakek Kam Hong, salah satu di antaranya, adalah Sai-cu Kai-ong, keturunan dari pendiri Khong-sim Kai- pang, maka sajak ini disukai oleh Kam Hong dan dijadikan hiasan kipasnya yang merupakan senjatanya yang ampuh pula, di samping senjata suling emas.

Agaknya, dengan membeberkan kipas dan memperlihatkan sajak itu, kakek Kam Hong sudah menjawab ucapan Ouwyang Sianseng tadi. Ia menyindirnya sebagai orang yang sombong dan kasar yang tak pernah mengenal puas hingga mengadakan persekutuan pemberontakan.

Akan tetapi, benarlah ujar-ujar kuno yang mengatakan bahwa mengenal kelemahan dan keburukan diri sendiri merupakan perbuatan yang teramat sukar. Bahkan orang sesakti Ouwyang Sianseng rupanya masih sukar untuk dapat melakukan pemawasan diri ini. Dia, seperti kebanyakan dari kita, selalu menganggap diri sendiri paling baik, paling pintar, paling benar dan tanpa cacat.

“Tak perlu mengejek, orang she Kam!” katanya dan sinar matanya mengeluarkan kilatan marah. “Aku memang memimpin perjuangan melawan penjajah ini, lalu apa salahnya?”

Kini terpaksa Kam Hong berkata, “Ouwyang Sianseng, lupakah engkau ketika engkau memimpin pasukan Birma melawan pasukan dari tanah air sendiri walau pun pasukan itu adalah pasukan Mancu? Lupakah betapa engkau melarikan diri dengan membawa banyak harta benda, kembali ke tanah air dan kini mengadakan pemberontakan? Siapa percaya akan kemurnian gerakan pemberontakan ini jika engkau malah mengumpulkan tokoh-tokoh sesat untuk membantumu? Bolehlah engkau mengelabui orang lain, akan tetapi kami para pendekar sudah dapat melihat kebusukan yang tersembunyi di balik pemberontakan ini!”

“Hemmm, bagus! Ada saja alasanmu untuk membantu pemerintah penjajah Mancu. Nah, sekarang bersiaplah untuk menandingi aku!” kata Ouwyang Sianseng yang juga mengeluarkan sebuah kipas dengan tangan kirinya untuk mengipasi badan, sedangkan tangan kanannya menghunus sebatang pedang!

Ouwyang Sianseng tidak tahu bahwa sejak tadi Kam Hong telah siap siaga. Sikapnya berdiri tegak dengan kipas terpentang mengipasi leher ini adalah gerak pembukaan dari ilmu silat Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan). Namun bagaimana pun juga, hati Ouwyang Sianseng sudah merasa gentar, apa lagi ketika melihat betapa di luar telah terjadi pertempuran antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak.

Maka dia pun tidak mau membuang waktu lagi. Walau pun mulutnya menantang agar lawan bersiap, namun pedangnya sudah menyambar, diikuti serangan kipasnya yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan gerakan pedangnya.

Namun Kam Hong dengan gerakan tenang mengebutkan kipasnya. Angin yang aneh berputaran meniup ke arah lawan, dan disusul gulungan sinar emas yang mengeluarkan suara melengking bagai suling ditiup dan dimainkan seorang ahli. Dari gulungan sinar keemasan itu mencuat sinar yang menyambar ke arah Ouwyang Sianseng, sedangkan putaran kipas tadi merupakan perisai putih yang telah menangkis dua serangan bekas pembesar di Birma itu.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat antara dua orang tua itu. Hebat dan aneh, dan biar pun mereka bergerak kadang-kadang amat lambat, akan tetapi angin pukulan yang keluar dari kedua buah kipas, sebatang pedang dan sebatang suling itu amat kuatnya sehingga orang-orang lain tidak berani mendekati dua orang jago tua itu.

Melihat betapa Thian Kek Sianjin amat repot menghadapi pengeroyokan Gu Hong Beng dan Suma Lian, maka Thian Kok Cinjin cepat bergerak maju dengan tongkatnya. Suma Lian menyambut kakek ini dan membiarkan Gu Hong Beng menghadapi Thian Kek Sengjin. Maka terjadilah perkelahian yang seru antara gadis perkasa itu dengan ketua Pat-kwa-pai, tidak jauh dari perkelahian antara Hong Beng dan tokoh Pek- lian-pai, yaitu Thian Kek Sengjin.

Sementara itu, melihat Sin-kiam Mo-li, Kao Hong Li sudah tidak sabar lagi. Itulah iblis betina yang dahulu melakukan penyerbuan ke Istana Gurun Pasir dan bersama kawan-kawannya menyebabkan kematian kakek dan neneknya.

“Sin-kiam Mo-li, lihat baik-baik, siapa aku! Akulah yang akan mencabut nyawamu agar engkau dapat bertemu dengan roh kakek dan nenekku di sana!” bentaknya sambil melompat ke depan wanita itu.

Sin-kiam Mo-li memandang tajam dan ia mengenal Hong Li sebagai gadis yang pernah dikeroyoknya bersama Toat-beng Kiam-ong dan kawan-kawannya, akan tetapi mereka kemudian terpaksa melarikan diri saat muncul Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Akan tetapi, mendengar bentakan Hong Li, ia memandang lebih teliti.

“Aku adalah Kao Hong Li, lupakah engkau kepadaku, iblis busuk?” Hong Li kembali membentak. “Ahhh…!” Sin-kiam Mo-li terkejut dan baru ia mengenal gadis itu.
Pada waktu Hong Li masih berusia tiga belas tahun, pernah dia menculik gadis ini dan mengambilnya sebagai murid, bahkan ia mulai merasa suka dan sayang kepada gadis itu. Sekarang gadis itu telah dewasa dan bahkan harus berhadapan dengannya sebagai seorang musuh.

Ia tidak sempat banyak bicara karena Hong Li telah menyerangnya dengan sepasang pedang. Untuk penyerbuan itu dan menghadapi musuh-musuh yang tangguh, Hong Li sudah mempersiapkan diri dan kini membawa sepasang pedang, langsung menyerang lawan tangguh itu dengan permainan ilmu Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang dipelajari dari ibunya.

Sin-kiam Mo-li sudah maklum akan kelihaian gadis ini, maka dia pun cepat mencabut pedang dan kebutannya, menangkis serangan Hong Li dan balas menyerang dengan ganasnya. Segera terjadi perkelahian sengit antara kedua orang wanita ini.

Seperti halnya Ouwyang Sianseng, Siangkoan Lohan juga bingung melihat penyerbuan pasukan pemerintah secara mendadak dan pihaknya harus berhadapan dengan banyak pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kini ia dihadapi oleh Suma Ceng Liong, keluarga Pulau Es paling lihai pada jaman itu.

Pendekar ini maklum bahwa di antara para pimpinan pemberontak itu, yang paling lihai adalah Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang. Oleh karena Ouwyang Sianseng kini sudah dilawan oleh ayah mertuanya, maka dia pun cepat maju menghadapi Siangkoan Lohan yang segera menyerang dengan hun-cwe emasnya.

Sin Hong juga tak mau tinggal diam. Melihat betapa kedua orang pimpinan pemberontak yang paling lihai itu sudah dihadapi dua orang locianpwe yang dia tahu amat sakti, dia pun segera menerjang Siangkoan Liong, orang ke tiga yang paling lihai di antara pihak musuh.

Siangkoan Liong menyambut serangan Sin Hong dengan pedangnya, dan putera ketua Tiat-liong-pang yang juga adalah murid tunggal Ouwyang Sianseng ini berusaha keras untuk merobohkan lawan dengan pedangnya. Akan tetapi biar pun bertangan kosong, ternyata Sin Hong merupakan lawan yang sangat tangguh sehingga perkelahian antara mereka tak kalah serunya dengan perkelahian lain yang terjadi di tempat itu.

Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek mendapatkan lawan yang amat berat baginya, yaitu nenek Bu Ci Sian yang mempergunakan sebatang suling emas, persis seperti yang kini sedang dimainkan oleh suaminya, Kam Hong, hanya ukurannya yang lebih kecil sedikit.

Hok Yang Cu, tokoh Pat-kwa-pai yang pendek botak dan menggunakan senjata sabuk yang ujungnya dipasangi pisau beracun, senjata yang baru dibuatnya karena yang lama telah putus ketika dia mengeroyok Sin Hong dan Hong Li, kini dihadapi oleh seorang lawan yang juga sangat berat baginya, yaitu Kam Bi Eng yang juga seperti ayah dan ibunya, mempergunakan senjata sebatang suling emas!

Nenek Hek-sim Kui-bo, seorang di antara kaki tangan pemberontak yang lihai, dihadapi oleh Pouw Li Sian. Gadis ini baru saja dibebaskan oleh Sin Hong dan telah merampas sebatang pedang dari para penjaga yang mereka robohkan. Kini gadis itu dengan sengit menyerang nenek bongkok kurus hitam itu, yang segera menangkis dengan tongkatnya dan membalas pula dengan tak kalah serunya.

Ada pun Cu Kun Tek, ketika dibebaskan mendengar dari Sin Hong bahwa Ci Hwa tewas karena luka- lukanya yang diperoleh ketika gadis itu bertempur melawan Ciu Hok Kwi yang berjuluk Tiat-liong Kiam-eng, yang juga pernah menjadi piauwsu, murid utama dari Siangkoan Lohan. Kini Kun Tek telah menerjang dengan sengitnya, menyerang Ciu Hok Kwi. Tadi pendekar ini juga merampas pedang dari seorang penjaga karena pedangnya sendiri yaitu Koai-liong Po-kiam, telah dirampas oleh Ouwyang Sianseng.

Masih banyak sekali tokoh-tokoh sesat yang menjadi kaki tangan pemberontak dan kini dihadapi oleh para pendekar. Bahkan sekarang para pendekar yang tadinya menanti kesempatan di beberapa tempat persembunyian di daerah itu, setelah mendengar ribut-ribut penyerbuan pasukan ke sarang Tiat-liong-pang sudah berdatangan dan membantu pasukan menggempur para pemberontak. Di antara mereka terdapat pula Ciok Heng, putera Ciok Kim Bouw dengan banyak anggota Cin-sa-pang yang dipimpinnya.

Pertempuran antara para tokoh sesat melawan para pendekar ini seru bukan main, mati-matian dan satu lawan satu, tidak seperti pertempuran yang terjadi di luar sarang. Pertempuran di luar itu adalah perang antara pasukan pemerintah melawan pasukan pemberontak yang terdiri dari pasukan Mongol pimpinan Agakai sebanyak lima ratus orang lebih, anak buah Tiat-liong-pang sendiri tidak kurang dari tiga ratus orang, anak buah Ang-I Mo-pang antara lima puluh orang dan anak buah para tokoh sesat yang juga membantu pemberontak.

Akan tetapi, jumlah mereka tidak lebih dari seribu orang, sedangkan Liu Tai-ciangkun sudah mengerahkan pasukan yang jumlahnya tidak kurang dari tiga ribu orang! Tentu saja gelombang besar pasukan penyerbu yang melakukan serangan tiba-tiba dan sama sekali tidak pernah diduga oleh pasukan pemberontak, membuat para pemberontak itu kewalahan dan mereka terus didesak mundur dan terhimpit karena sarang pemberontak itu sudah dikepung dari empat penjuru oleh pasukan pemerintah.

Apa lagi para pimpinan pemberontak sendiri sibuk di sebelah dalam sarang menghadapi penyerbuan para pendekar yang berilmu tinggi sehingga mereka tidak sempat lagi untuk memimpin pasukan mereka. Hal ini tentu saja membuat pasukan pemberontak menjadi semakin panik akibat kehilangan komando.

Pada setiap pertempuran antara para pendekar melawan para tokoh sesat juga jelas memperlihatkan bahwa pihak para pendekar rata-rata mulai bisa mendesak musuhnya. Hanya Kao Hong Li yang belum mampu mendesak Sin-kiam Mo-li. Memang wanita iblis itu lihai bukan main dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kirinya.

Masih untung bagi Kao Hong Li bahwa ia berhasil merampas sepasang pedang dari penjaga sehingga kini ia dapat menghadapi Sin-kiam Mo-li dengan permainan Siang-mo Kiam-sut. Akan tetapi, sepasang pedangnya adalah pedang biasa, maka gadis ini yang dapat menduga bahwa pedang di tangan Sin-kiam Mo-li tentulah pedang pusaka, tidak berani mengadu pedang secara langsung, khawatir kalau pedangnya akan rusak atau patah.

Dan kebutan di tangan kiri wanita iblis itu amat berbahaya, menyambar-nyambar ganas dengan setiap bulu kebutan yang mengandung racun jahat. Maka dari itu, Hong Li sama sekali tidak mampu mendesak Sin- kiam Mo-li dan untuk melindungi tubuhnya, gadis itu memainkan Siang-mo Kiam-sut sebaik mungkin, mengerahkan pada bagian pertahanan dengan memutar dua pedangnya bersilang yang merupakan benteng kuat atau perisai yang melindungi tubuhnya dengan ketat. Tak mudah bagi pedang dan kebutan Sin-kiam Mo-li membobol gulungan sinar kedua pedang yang menjadi perisai itu.

Siangkoan Liong repot sekali menghadapi Sin Hong. Meski dia menggunakan sebatang pedang dan lawannya itu bertangan kosong, namun tingkat kepandaian Sin Hong masih jauh berada di atasnya sehingga biar hanya bertangan kosong, Sin Hong selalu dalam posisi mendesaknya. Serangan pedang Siangkoan Liong selalu bisa dielakkan oleh Sin Hong dengan baiknya, bahkan beberapa kali hampir saja pedang itu dapat dirampas.

Dengan ilmu silatnya yang bermacam-macam dan kesemuanya adalah ilmu silat tingkat tinggi, Sin Hong terus mendesak Siangkoan Liong. Sepasang tangan kosong Sin Hong tiada bedanya dengan dua buah senjata yang ampuh. Dengan tamparan-tamparannya yang mendatangkan angin pukulan dahsyat, Sin Hong terus membuat Siangkoan Liong hanya dapat mengelak sambil berlompatan mundur, dan mengelebatkan pedang untuk mencoba membacok lengan Sin Hong. Akhirnya sebuah tendangan dari Sin Hong yang ditujukan ke arah perut dan dielakkan oleh Siangkoan Liong, masih mengenai pinggir pinggangnya, membuat tubuh Siangkoan Liong terpelanting keras!

Sin Hong yang teringat akan sikap Ci Hwa sebelum gadis itu meninggal, betapa gadis itu memaki Siangkoan Liong yang telah menodainya, kini menerjang ke depan. Orang seperti pemuda itu berbahaya sekali, pikirnya, amat jahat, maka sudah sepatutnya kalau diakhiri saja hidupnya. Melihat lawannya terpelanting, Sin Hong berniat untuk mengirim pukulan susulan yang mematikan.

Akan tetapi tiba-tiba nampak sinar terang dan terdengar bunyi seperti auman binatang buas. Sinar itu menyambar ke arah Sin Hong bagaikan seekor naga yang menubruk. Sin Hong terkejut sekali dan berjungkir balik ke belakang untuk menghindarkan diri dari tusukan pedang yang luar biasa ampuhnya itu. Dia tidak tahu bahwa itulah pedang Koai-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman) milik Cu Kun Tek yang dirampas oleh Ouwyang Sianseng dan telah diberikan kepada muridnya.

Dalam saat yang amat gawat bagi keselamatan dirinya, setelah terpelanting, Siangkoan Liong lalu mencabut pedang pusaka rampasan itu dan menusuk dari bawah. Berkat keampuhan Koai-liong Po-kiam, maka terhindarlah dirinya dari bahaya maut karena Sin Hong yang terkejut mengurungkan serangannya dan berjungkir balik ke belakang.

Pada saat itu terjadi perubahan menarik pada pertempuran antara Ouwyang Sianseng dan Kam Hong. Mereka berdua kini lebih mengandalkan tenaga sakti mereka. Maklum, keduanya adalah tokoh-tokoh tua. Usia Ouwyang Sianseng telah mendekati tujuh puluh tahun, demikian pula dengan Kam Hong.

Betapa pun lihai dan kuatnya seseorang, tubuhnya hanya terbuat dari darah dan daging diperkuat oleh tulang belaka. Tulang-tulang tua dapat rapuh, daging pun mengendur, dan tubuh tak terhindarkan dari kelemahan dimakan usia dari dalam. Maka, jika orang-orang seusia mereka hendak mengandalkan tenaga, tentu mereka tidak akan mampu bertahan lama.

Mereka bertanding dengan gerakan yang lambat, tapi setiap gerakan itu mengandung tenaga dalam, tidak menggunakan tenaga luar yang dibutuhkan untuk bergerak cepat. Dan dalam hal tenaga dalam ini, ternyata tingkat mereka seimbang!

Jika keduanya masih muda, tentu kakek Kam Hong akan bisa mengalahkan lawannya tanpa banyak kesulitan, mengandalkan ilmunya yang sulit dicari bandingannya di dunia ini. Mungkin hanya ilmu-ilmu dari Pulau Es dan Istana Gurun Pasir sajalah yang dapat menandingi tingkat ilmu suling dan kipas dari Pendekar Suling Emas itu.

Betapa pun juga, karena memang kalah tinggi ilmunya, ketika kedua kipas bertemu di udara terdengar suara keras dan kipas di tangan Ouwyang Sianseng robek! Kam Hong mempergunakan kesempatan ini untuk mendesak. Sulingnya menyambar, menotok ke arah pelipis, dan kipasnya juga menyambar, gagangnya menotok ke lambung.

Ouwyang Sianseng yang masih terkejut karena robeknya senjata kipas di tangannya, cepat mundur sambil mengelebatkan pedangnya untuk membalas, ditusukkan ke arah kipas lawan untuk membuat kipas itu robek. Akan tetapi, pada saat itu, sinar kuning emas menyambar dari atas, menghantam pedangnya.

“Tranggggg…!”

Keras sekali hantaman suling emas itu, membuat tangan Ouwyang Sianseng tergetar dan ujung pedangnya patah! Kakek itu terkejut sekali, lalu mencabut sebatang pedang dari balik jubahnya. Begitu pedang itu dicabut, Kam Hong terbelalak, lalu bergidik. Dia mengenal sebatang pedang yang ampuhnya menggiriskan hati. Baru hawanya saja sudah membuat orang menggigil, dan begitu pedang dicabut, dan digerakkan, tercium bau yang dapat membuat orang muntah. Pedang itu pun mengeluarkan sinar abu-abu kehitaman, sinar maut! Itulah pedang Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun)!

Seperti diketahui, ketika menyerbu ke Istana Gurun Pasir, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya berhasil menewaskan tiga orang tua sakti di sana, walau pun mereka sendiri hampir habis terbasmi. Hanya Sin- kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin, dan Thian Kek Sianjin saja yang masih hidup walau pun menderita luka- luka. Dan Sin-kiam Mo-li yang cerdik dapat menyita dua batang pedang pusaka dari Istana Gurun Pasir, yaitu Cui-beng-kiam dan Ban-tok-kiam.

Ketika ia dan kawan-kawannya bergabung dengan para pemberontak, melihat kesaktian Ouwyang Sianseng, Sin-kiam Mo-li lalu menyerahkan sebatang di antara dua batang pedang rampasan itu, yaitu Ban-tok-kiam. Ada pun pedang yang ke dua, Cui-beng-kiam, kemudian disimpannya sendiri.

Ouwyang Sianseng adalah orang yang amat cerdik, juga memiliki ambisi besar. Begitu melihat betapa dia dan kawan-kawannya tertipu, dan pasukan yang datang bukanlah pasukan pemerintah yang bersekutu melainkan pasukan yang menyerang dalam jumlah yang amat besar, dan melihat pula munculnya para pendekar yang sebagian memiliki kesaktian hebat, dia pun maklum bahwa dia sudah kalah dalam permainannya sendiri. Kini, yang terpenting adalah menyelamatkan dirinya sendiri.

Karena itu, melihat betapa kakek Kam Hong yang membuatnya jeri itu nampak gentar melihat dia mengeluarkan Ban-tok-kiam, Ouwyang Sianseng segera memutar pedang itu dan meloncat ke belakang, menyelinap di antara para anak buah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang membantu para tokoh sesat menghadapi para pendekar.

Kam Hong tidak mengejarnya dan hanya menarik napas panjang. Dia masih tertegun melihat pedang tadi. Pendekar ini pun teringat akan pedang yang disebut Ban-tok-kiam, sebuah di antara pusaka Istana Gurun Pasir dan dia kagum bukan main, juga ngeri membayangkan kehebatan pedang itu.

Pada saat Ouwyang Sianseng melompat ke belakang dan melarikan diri menyelinap di antara para anggota Pek-lian-pai itulah yang menarik perhatian Siangkoan Liong. Pada saat itu, Sin Hong tengah berjungkir balik ke belakang sebab terkejut sekali menghadapi serangan pedang Koai-liong Po-kiam.

Siangkoan Liong tidak mendesak Sin Hong lebih jauh karena bagaimana pun juga, dia sudah merasa jeri menghadapi pemuda berpakaian putih itu. Sekarang melihat gurunya melarikan diri, tanpa berpikir dua kali Siangkoan Liong juga melompat ke belakang dan menyelinap di antara para anggota Pat-kwa-pai dan menghilang.

Sin Hong juga tidak mengejar karena di situ terdapat banyak lawan. Dia menoleh ke arah Kao Hong Li yang bertanding melawan Sin-kiam Mo-li dan terkejutlah pemuda ini. Tadinya dia tidak khawatir akan keselamatan Hong Li melihat gadis ini cukup lihai untuk mengimbangi permainan Sin-kiam Mo-li. Akan tetapi kini Hong Li terdesak hebat sekali, bahkan sepasang pedangnya rusak-rusak, sedangkan Sin-kiam Mo-li dengan senyum menyeringai terus mendesak dengan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar yang sangat menyeramkan.

Itulah pedang pusaka Cui-beng-kiam! Pedang ini, seperti juga Ban-tok-kiam merupakan pusaka Istana Gurun Pasir dan sudah puluhan tahun tidak pernah dipergunakan orang. Sekarang, di tangan Sin-kiam Mo- li, pedang itu menjadi senjata iblis yang haus darah! Gulungan sinarnya mengandung hawa yang mukjijat, dan jelas nampak betapa Hong Li merasa ngeri dan jeri menghadapi desakan pedang yang tadi telah merusak sepasang pedangnya itu. Gadis ini terus main mundur sambil memutar kedua pedangnya sekuat tenaga untuk melindungi tubuhnya dari ancaman Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) yang menggiriskan itu.

“Kembalikan pedang itu!” Tiba-tiba Sin Hong membentak.

Tubuh Sin Hong sudah melesat ke depan, langsung saja dia menyerang Sin-kiam Mo-li dengan jurus ampuh dari Pek-ho Sin-kun. Tenaga yang terkandung dalam sambaran tangan Sin Hong itu hebat bukan main, membuat Sin-kiam Mo-li menjadi gugup dan memaksa wanita ini menangkis dengan kebutannya.

“Plak! Pyarrr…!”

Kebutan itu rontok bulunya hingga berhamburan dan tubuh Sin-kiam Mo-li terjengkang. Namun, ia bergulingan dan memutar pedang Cui-beng-kiam. Pedang ini mengeluarkan sinar kilat bergulung-gulung sehingga Sin Hong tidak berani mendesak. Kesempatan ini kemudian digunakan oleh Sin-kiam Mo-li untuk cepat-cepat meloncat dan menyelinap di antara kawan-kawannya yang sedang berkelahi melawan para pendekar.

Sin Hong mencoba untuk mengejar, akan tetapi wanita itu sudah lenyap dan dia yang mengkhawatirkan keselamatan Hong Li segera mendekati gadis itu.

“Bagaimana denganmu? Engkau tidak terluka, bukan?”

Hong Li menggeleng kepala dan tersenyum. Bukan main gadis ini, pikir Sin Hong, baru saja terlepas dari ancaman maut, bahkan wajahnya masih basah dengan keringat, akan tetapi sudah mampu tersenyum demikian manisnya!

“Tidak, berkat pertolonganmu, Susiok.”

Mereka tak sempat bicara banyak karena perkelahian masih berlangsung, lalu mereka segera terjun ke dalam kancah pertempuran, membantu para pendekar. Kini keadaan menjadi semakin berat sebelah setelah tiga orang terpenting di antara para pimpinan pemberontak itu melarikan diri.

Pertama-tama Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek yang mendapat lawan berat sekali, yaitu nenek Bu Ci Sian. Tingkat kepandaian si raja pedang ini jauh berada di bawah tingkat kepandaian nenek itu. Sejak semula, dengan suling emasnya, nenek itu sudah menekan dan mengurung, membuat si raja pedang itu tidak mampu mengembangkan permainan pedangnya.

Akhirnya, kaki kiri nenek itu sempat menyentuh lututnya, membuat Toat-beng Kiam-ong setengah berlutut. Sebelum dia mampu bangkit kembali, ujung suling sudah mengetuk ubun-ubun kepalanya dan dia pun roboh tewas seketika karena isi kepalanya tergetar dan batok kepalanya retak!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo