October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 17

 

Ketika Suma Ceng Liong melihat dorongan tangan kiri ini, yakinlah dia bahwa gadis itu tentulah keluarga Pulau Es, anggota dari keluarganya sendiri. Siapa lagi gadis itu kalau bukan puteri dari enci-nya, Suma Hui, yang bernama Kao Hong Li? Dia lupa lagi akan wajah keponakannya itu, apa lagi karena bertahun- tahun tidak pernah berjumpa, akan tetapi pukulan itu bagaimana pun juga akan dikenalnya dengan baik!

“Jangan takut, kami datang membantumu!” kata Ceng Liong yang semenjak tadi sudah menganjurkan isterinya untuk membantu gadis yang dikeroyok.

Kini tubuhnya berkelebat menerjang ke depan, dan melihat betapa yang paling lihai di antara para pengeroyok itu adalah wanita yang berpedang dan memegang kebutan, maka dia pun lalu menerjang wanita itu dengan totokan Coan-kut-ci! Coan-kut ci (Jari Penembus Tulang) adalah suatu ilmu yang dahsyat sekali, yang dipelajari Suma Ceng Liong dari Hek-I Mo-ong, gurunya yang juga seorang datuk kaum sesat yang dahulu amat terkenal.

Terdengar suara mencicit dibarengi angin yang kuat bukan main menyambar ke arah Sin-kiam Mo-li. Wanita ini terkejut bukan main, cepat menyambut dengan kebutannya. Akan tetapi, begitu bertemu dengan jari tangan Ceng Liong, bulu kebutan itu rontok dan wanita itu merasa betapa lengannya yang memegang kebutan tergetar hebat.

Ia membalas dengan tusukan pedang, namun didahului oleh tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Badai) yang cepat dari Ceng Liong, membuat wanita itu cepat-cepat melempar diri ke belakang. Nyaris perutnya tertendang dan kini Sin-kiam Mo-li benar-benar kaget bukan main, tidak menyangka akan bertemu dengan lawan sehebat ini! Ia kemudian berkemak-kemik sambil menudingkan pedangnya ke arah Suma Ceng Liong, mengerahkan kekuatan sihirnya dan membentak.

“Engkau yang berani melawan aku, berlututlah!”

Akan tetapi laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu malah tertawa bergelak. Tentu saja sihir itu tidak dapat mempengaruhi Ceng Liong karena pendekar ini pun telah mempelajari ilmu sihir dari ibunya sendiri, yaitu mendiang nenek Teng Siang In. Sambil tertawa, Ceng Liong juga mengerahkan kekuatan sihirnya dan tiba-tiba saja Sin-kiam Mo-li juga tertawa bergelak, tidak dapat menahan geli hatinya karena terseret oleh suara ketawa Ceng Liong!

Sambil tertawa, Ceng Liong sudah melakukan gerakan-gerakan mendorong dengan dua tangannya silih berganti, yang kanan dengan Hwi-yang Sinkang mengeluarkan hawa panas, dan yang kiri mengeluarkan hawa dingin dengan Swat-im Sinkang.

Sin-kiam Mo-li sedang terkejut bukan main karena melihat dirinya tertawa tanpa dapat dikuasainya. Cepat dia mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh tawa itu. Dan pada saat itu, lawannya sudah menyerangnya dengan dua ilmu yang hebat dari Pulau Es. Tentu saja ia menjadi kaget bukan main dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang kemudian bergulingan saja, wanita ini dapat terhindar dari pukulan lawan yang dahsyat.

Sementara itu, Kam Bi Eng juga sudah mencabut suling emasnya dan kini suling itu mengaung-ngaung ketika ia mainkan ilmu pedang gabungan antara Koai-long Kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut! Ilmu ini pun merupakan satu di antara ilmu-ilmu tertinggi pada waktu itu, dan yang diserang oleh Kam Bi Eng adalah Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek.

Orang ini terkejut, mencoba untuk memutar pedangnya. Akan tetapi tangkisannya tidak dapat menahan suling itu yang terus menerobos di antara sinar pedangnya sehingga mengancam ulu hatinya. Giam San Ek berteriak kaget dan melempar tubuh ke samping, lalu meloncat agak jauh dengan keringat dingin membasahi tubuhnya! Nyaris dia celaka oleh suling wanita cantik dan gagah itu!

Meski ia pangling dan tidak mengenal suami isteri perkasa yang datang membantunya, akan tetapi begitu menyaksikan gerakan-gerakan mereka, apa lagi melihat Kam Bi Eng memainkan suling emas, Kao Hong Li segera dapat menduga siapa adanya mereka.

“Paman Liong dan bibi Eng, terima kasih kalian sudah datang membantuku!” teriaknya dan tendangan- tendangannya langsung membuat kelima orang pengeroyoknya menjadi kalang kabut.

Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong adalah dua orang yang cerdik dan licik. Melihat kehebatan musuh, mereka berdua tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri, diikuti oleh lima orang anak buah mereka yang juga menjadi ketakutan! Kao Hong Li meloncat untuk mengejar, akan tetapi Suma Ceng Liong mencegahnya.

“Musuh yang lari jangan dikejar!” kata pendekar ini. Dia maklum betapa lihainya lawan, dan tentu licik sekali sehingga mengejar mereka amatlah berbahaya. Siapa tahu mereka itu lari ke tempat kawan-kawan mereka.

Kao Hong Li mentaati cegahan pamannya, tetapi ia mengerutkan alisnya memandang ke arah menghilangnya tujuh bayangan orang itu dan berkata, “Sayang, seharusnya mereka itu ditumpas, terutama sekali wanita itu!” Lalu, seperti baru teringat bahwa baru saja ia berjumpa dengan paman dan bibinya, gadis itu memberi hormat dan berkata, “Saya segera mengenal Paman dari gerakan Paman, dan mengenal Bibi setelah melihat suling emas itu!”

“Kami pun mengenalmu setelah melihat gerakan silatmu, Hong Li,” kata Kam Bi Eng sambil mengamati wajah yang cantik manis itu.

“Hong Li, siapakah wanita tadi? Ia kelihatan lihai sekali, dan melihat senjatanya pedang dan kebutan, mengingatkan aku akan seorang iblis betina…”

“Dugaan Paman benar. Ia adalah Sin-kiam Mo-li!” “Ahhh!” Suami isteri itu terkejut.
“Agaknya ia tidak mengenal saya lagi, Paman, karena ketika ia menculik saya, ketika itu usia saya baru tiga belas tahun. Akan tetapi, saya tidak akan pernah dapat melupakan iblis itu dan tadi, begitu bertemu, saya segera mengenalnya. Padahal, saya memang sengaja hendak mencari dan membunuhnya!” kata gadis itu penuh semangat.

Ia teringat akan pengalamannya ketika berusia tiga belas tahun. Pernah ia diculik oleh iblis betina itu, bahkan kemudian diakui sebagai anak angkat dan murid, akan tetapi ia kemudian tahu bahwa sikap baik iblis betina itu hanya siasat belaka. (baca kisah Suling Naga).

Suma Ceng Liong menatap tajam wajah Kao Hong Li, diam-diam merasa heran kenapa gadis ini seolah- olah diracuni dendam, padahal, dia mengenal benar pribadi ayah dan ibu gadis ini, orang-orang yang berjiwa pendekar dan tidak mudah dikuasai dendam.

“Hong Li, kenapa engkau ingin membunuhnya dan nampaknya engkau amat membenci wanita itu? Apakah karena ia dahulu menculikmu?” tanya Ceng Liong tak puas.

Hong Li menarik napas panjang. “Memang saya sedang menuju ke rumah Paman untuk menceritakan hal ini. Saya tidak mendendam karena ia pernah menculik saya, Paman. Akan tetapi karena ia dan kawan- kawannya telah menyerbu ke rumah kakek dan nenek di Gurun Pasir. Mereka mengeroyok dan berhasil membunuh kakek, nenek dan juga locianpwe Wan Tek Hoat, bahkan membakar Istana Gurun Pasir.”

“Ihhh…!” Kam Bi Eng berseru kaget.

Suma Ceng Liong juga terkejut sekali. “Apa?! Bagaimana mungkin ia dapat membunuh locianpwe Kao Kok Cu, isterinya, dan bahkan locianpwe Wan Tek Hoat?” Hampir dia tidak percaya bahwa ada orang mampu membunuh tiga orang sakti itu, apa lagi kalau orang itu hanya wanita tadi dan kawan-kawannya.

“Ayah, ibu dan saya sendiri tadinya juga merasa amat terkejut, heran dan tidak percaya, Paman. Akan tetapi pembawa berita itu adalah murid dari ketiga orang tua sakti itu sendiri.” Hong Li lalu mengulang cerita tentang peristiwa di Istana Gurun Pasir itu seperti yang didengarnya dari Tan Sin Hong.

Suami isteri perkasa itu mendengar dengan penuh perhatian. Wajah mereka dibayangi duka mendengar akan kematian tiga orang tua yang sakti itu. Setelah Hong Li selesai bercerita, Kam Bi Eng tidak sabar lagi bertanya.

“Tiga orang tua yang sakti itu tewas semua, akan tetapi bagaimana mungkin murid mereka itu dapat hidup dan dapat menceritakan peristiwa itu kepada keluargamu?”

“Kami juga berpendapat demikian dan dengan penasaran menanyakan hal itu kepada Tan Sin Hong. Dan ternyata bahwa pada saat penyerbuan terjadi, murid itu sama sekali tidak berdaya. Ia baru saja menerima pengoperan tenaga sakti dari tiga orang gurunya dan selama satu tahun dia pantang mempergunakan tenaga sakti karena hal itu berarti akan membunuh dirinya sendiri. Oleh karena itulah maka dia tidak dapat melakukan perlawanan, karena sekali mengerahkan tenaga, dia akan mati konyol.”

Mendengar ini, Ceng Liong menarik napas panjang. “Aihh, sungguh menyedihkan. Akan tetapi bagaimana pun juga, tiga orang locianpwe itu sudah tua sekali dan mereka tewas sebagai orang-orang gagah, gugur dalam menghadapi orang-orang sesat. Heran sekali nasib mereka sama benar dengan nasib kakek dan nenek-nenekku di Pulau Es! Gugur dalam menghadapi penyerbuan tokoh-tokoh sesat. Sekarang aku paham. Tentu setelah mengoper tenaga sakti kepada murid mereka itu, ketiga orang locianpwe itu mengalami kekurangan tenaga dan pada saat itu, para tokoh sesat datang menyerbu. Bagaimana pun juga, hampir semua penyerbu itu tewas, dan ini membuktikan bahwa ketiga orang locianpwe yang sudah berusia tinggi sekali itu memang masih luar biasa hebat. Nyawa manusia di tangan Tuhan! Kalau Tuhan sudah menghendaki, maka ada saja penyebab kematian seseorang. Kita tidak mungkin dapat mengelakkan kehendak Tuhan!”

“Beruntung sekali bahwa saya dapat bertemu dengan Ji-wi di sini sehingga bukan saja Paman dan Bibi dapat menyelamatkan saya dari tangan orang-orang jahat itu, tetapi juga saya tidak kecelik berkunjung ke rumah Paman dan Bibi yang kosong. Sebenarnya, ke manakah Paman dan Bibi hendak pergi, maka kebetulan berada di sini?”

“Kami memang sengaja meninggalkan rumah karena sudah mendengar akan gerakan pemberontakan yang kabarnya dilakukan oleh Tiat-liong-pang dibantu oleh para tokoh sesat. Karena anak kami Suma Lian juga sedang merantau, maka kami merasa sangat khawatir dan ingin mencarinya.”

“Ahh, Paman! Kebetulan sekali belum lama ini saya bertemu dengan adik Suma Lian!”

Hong Li segera bercerita mengenai pertemuan dirinya dengan Suma Lian yang diawali perkelahian karena kesalah pahaman ketika Hong Li mengejar seorang laki-laki yang menculik seorang anak laki-laki.

“Pertemuan itu singkat saja, Paman. Kami lalu berpisah, saya pergi berkunjung kepada Paman, sedangkan adik Lian terus melanjutkan pengejaran terhadap laki-laki penculik anak-anak itu.”

“Di mana terjadi peristiwa itu?” “Di kota Ban-koan.”
“Kalau begitu, kami akan cepat mencari jejaknya di sana,” kata Ceng Liong.

Mereka kemudian berpisah. Ceng Liong dan Bi Eng segera menuju ke kota Ban-koan, sedangkan Hong Li mencoba untuk mencari jejak Sin-kiam Mo-li yang tadi melarikan diri bersama kawan-kawannya. Ia kini bersikap lebih berhati-hati, maklum bahwa Sin-kiam Mo-li mempunyai banyak kawan yang lihai. Menghadapi wanita itu sendiri, ia tak gentar, akan tetapi kalau dikeroyok banyak orang seperti tadi, ia bisa celaka.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di kota Ban-koan, tentu saja suami isteri pendekar itu sama sekali tidak dapat menemukan lagi jejak puteri mereka. Tiada seorang pun tahu tentang Suma Lian, apa lagi mengenai penculik anak-anak, oleh karena memang kedua orang ini meninggalkan kota itu secara diam-diam, di waktu malam pula.

Dari tempat ini, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng lalu pergi ke Pegunungan Tapa-san untuk mengunjungi pondok tempat tinggal Suma Ciang Bun. Sebelum pergi, Suma Lian telah mereka pesan untuk berkunjung ke rumah pamannya itu dan membujuk Suma Ciang Bun yang hidup sebatang kara untuk tinggal bersama mereka di dusun Hong-cun. Tentu Suma Ciang Bun akan dapat memberi keterangan ke mana selanjutnya puteri mereka itu pergi setelah berkunjung ke sana.

Dugaan mereka yang juga menjadi harapan mereka memang tidak keliru. Di tempat kediaman Suma Ciang Bun, mereka memperoleh keterangan yang banyak. Suma Ciang Bun menyambut mereka dengan gembira sekali dan pendekar ini merangkul adiknya dengan sepasang mata basah. Dia telah merasa rindu sekali kepada Suma Ceng Liong dan pertemuan ini sungguh membuat dia terharu dan juga gembira.

“Bagaimana, Bun-ko, engkau tentu sehat-sehat saja, bukan? Engkau nampak sehat dan segar.”

“Engkau juga semakin gagah saja, Liong-te. Dan isterimu ini juga semakin gagah dan cantik!” kata Suma Ciang Bun.

Kam Bi Eng tertawa, mukanya berubah agak kemerahan. “Ah, Bun-koko ini bisa saja. Orang sudah semakin tua, mana mungkin semakin cantik?”

Seorang anak laki-laki muncul. Usianya baru tujuh tahun lebih, tetapi keadaan anak ini sungguh mengagumkan hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Anak itu mempunyai wajah yang tampan dengan sepasang mata yang tajam bersinar penuh semangat dan keberanian, juga mengandung kecerdikan.

“Ah, Bun-ko telah memiliki seorang murid yang baru? Dia baik sekali, Bunko…”

Suma Ciang Bun tersenyum. “Anak ini hanya titipan, yang menitipkannya di sini adalah puteri kalian!”

Tentu saja suami isteri itu terkejut dan girang sekali. “Suma Lian, anak kami?” keduanya hampir berbareng bertanya.

Suma Ciang Bun mengangguk, kemudian dia mengajak mereka semua duduk di dalam pondoknya yang tidak besar namun karena mempunyai banyak jendela maka terbuka dan sejuk hawanya. Lalu dia menceritakan tentang kunjungan Suma Lian dan Tan Sin Hong dan tentang Yo Han yang dititipkan kepadanya oleh dua orang muda itu.

“Bun-ko, apakah yang kau maksudkan Tan Sin Hong murid dari Istana Gurun Pasir itu?” tanya Ceng Liong memotong cerita kakaknya.

“Benar, engkau sudah mendengar akan mala petaka yang terjadi di sana?” “Sudah, dari Kao Hong Li yang kami jumpai di jalan.”
“Dan tahukah engkau siapa anak ini? Anak ini adalah putera dari Ciong Siu Kwi dan suaminya, Yo Jin,” kata Suma Ciang Bun.

“Ciong Siu Kwi…? Bi…” Suma Ceng Liong yang tadinya hendak mengatakan Bi Kwi, menahan ucapannya teringat akan kehadiran anak itu.

Suma Ciang Bun maklum dan dia mengangguk, lalu diceritakannya semua yang pernah didengarnya dari Suma Lian tentang anak itu, betapa ayah dan ibu anak itu menjadi tawanan para tokoh sesat yang bergabung dengan Tiat-long-pang.

Mendengar semua cerita itu, Suma Ceng Liong saling pandang dengan isterinya, lalu dia menghela napas panjang. “Kami sudah mengkhawatirkan bahwa tentu Lian-ji akan terlibat dalam urusan pemberontakan Tiat-liong-pang. Jika ia mendengar akan gerakan kaum sesat mendukung pemberontakan, tentu ia akan menentangnya. Kami justru amat mengkhawatirkan hal itu, Bun-ko. Oleh karena itu, kami tidak akan berlama-lama tinggal di sini. Kami akan segera berangkat untuk mencari puteri kami dan membantunya jika dia menentang Tiat-liong-pang.”

Suma Ciang Bun lalu mengangguk-angguk. “Memang sebaiknya begitu, Liong-te. Kaum muda itu memang amat berani, dan kadang-kadang terlalu berani sehingga tidak lagi memakai perhitungan. Aku juga mendengar bahwa gerakan Tiat-liong-pang sekali ini didukung oleh tokoh-tokoh sesat yang sangat lihai, bahkan kabarnya Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai ikut pula mendukung, belum lagi pasukan pemerintah yang berkhianat dan orang-orang Mongol.”

Suami isteri itu lalu berpamit. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari puteri mereka. Sekali ini, tujuan mereka sudah jelas, yaitu perkumpulan Tiat-liong-pang yang pusatnya berada di lereng bukit di kota Sang-cia-kou di utara…..

********************

Di benteng pasukan-pasukan pemerintah Ceng yang berada di perbatasan utara terjadi peristiwa yang menggegerkan. Selama beberapa minggu ini sudah ada belasan orang perwira menengah dan perwira tinggi secara mendadak saja hilang tanpa meninggalkan jejak! Mereka yang hilang itu semua adalah para perwira yang setia kepada pemerintah.

Karena sebuah pasukan tidak mungkin tanpa pimpinan, maka beberapa pasukan yang kehilangan pimpinan lalu dikuasai oleh Coa Tai-ciangkun, seorang di antara panglima yang bertugas di perbatasan utara. Coa Tai-ciangkun lalu mengangkat perwira-perwira baru untuk memimpin pasukan-pasukan yang telah kehilangan pemimpinnya.

Keadaan seperti itu mencemaskan hati para perwira yang setia kepada pemerintah dan yang masih hidup. Ada beberapa orang di antara mereka nyaris diculik oleh orang-orang berkedok yang berkepandaian tinggi. Mereka ini merasa cemas melihat ada beberapa rekan-rekan mereka yang lenyap dan kini kekuasaan Coa Tai-ciangkun atas pasukan-pasukan di utara semakin besar.

Padahal, mereka sudah mendengar desas-desus bahwa Coa Tai-ciangkun disangsikan kesetiaannya karena kabarnya mengadakan hubungan dengan kekuatan-kekuatan di luar pasukan. Maka, diam-diam di antara para perwira itu mengirim utusan dengan cepat ke selatan, ke kota raja untuk melaporkan peristiwa yang mencemaskan itu.

Pada suatu pagi yang cerah, di atas puncak sebuah bukit tak jauh dari Tembok Besar nampak dua orang menuruni bukit itu perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah dari puncak bukit. Memang indah bukan main pemandangan dari situ. Tembok Besar buatan manusia yang sudah mengorbankan mungkin jutaan orang manusia dalam pembuatannya dan perbaikan-perbaikannya itu, nampak seperti seekor naga di antara bukit-bukit, naik turun dan berkelok-kelok, sehingga membuat dua orang itu kadang-kadang berhenti melangkah untuk lebih menikmati pemandangan itu.

Mereka adalah seorang nenek dan seorang kakek. Kakek itu usianya sudah kurang lebih tujuh puluh tahun, berpakaian sastrawan yang sederhana, bertubuh tinggi agak kurus, namun wajahnya masih membayangkan ketampanan dan tubuh itu masih tegak. Gerak-geriknya halus, dan pandang matanya lembut, meski kadang-kadang mencorong penuh wibawa.

Sementara nenek itu belasan tahun lebih muda, baru lima puluh tahun lebih. Bentuk tubuhnya masih ramping, serta gerak-geriknya masih lincah dan cekatan. Keduanya menggendong sebuah buntalan pakaian di punggung dan keduanya nampak gembira, mungkin karena hawa udara yang sejuk nyaman dan pemandangan alam yang amat indahnya itu menyeret mereka ke dalam suasana gembira.

Manusia adalah sebagian dari alam, merupakan bagian tak terpisahkan dari alam. Oleh karena itu, walau pun manusia mabuk oleh nafsu duniawi yang membuat mereka selalu tenggelam dalam kesibukan mencari uang, mengejar kesenangan, hiburan atau urusan rumah tangga, keluarga, atau juga masyarakat dan Negara, sekali waktu akan timbul rindunya kepada alam.

Dan setelah manusia jenuh dari pada segala keduniawian dengan tata kehidupan yang serba mengejar kesenangan ini, misalnya dia berada di tepi samudera atau di puncak bukit, dia akan tenggelam ke dalam kesyahduan alam, ke dalam keheningan yang amat menghanyutkan, yang mendatangkan ketenangan dan kedamaian di dalam batin.

Timbul suatu pertanyaan masing-masing, dalam batin masing-masing, yaitu: Dapatkah kita bebas dari pada segala kebisingan pikiran sewaktu kita berada di dalam masyarakat ramai sehingga kita memperoleh keheningan ketenangan dan kedamaian seperti kalau kita berada seorang diri di puncak gunung atau di tepi samudera?

Biar pun kakek dan nenek itu kelihatan seperti orang-orang biasa saja, namun kalau ada yang mengenal mereka, tentu si pengenal akan terkejut sekali mendapatkan mereka berdua di situ. Mereka bukanlah orang biasa, melainkan pasangan pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu mereka yang tinggi!

Kakek itu bernama Kam Hong. Puluhan tahun yang lalu ia pernah menggegerkan dunia persilatan dengan ilmunya yang sangat tinggi dan dijuluki Pendekar Suling Emas karena ilmunya mengingatkan dunia persilatan akan kehebatan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling dari seorang pendekar ratusan tahun yang lalu yang juga berjuluk Suling Emas. (baca kisah Suling Emas Naga Siluman).

Ada pun nenek itu adalah isterinya yang juga merupakan seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya, bernama Bu Ci Sian. Isterinya ini, yang belasan tahun lebih muda dari sang suami, juga masih sumoi dari suaminya itu, karena mereka berdualah yang telah menemukan kitab ilmu yang amat tinggi dan keduanya mempelajari ilmu itu. Disamping ilmu memainkan suling emas, juga nenek Bu Ci Sian ini memiliki ilmu menaklukkan ular, dan di samping itu, juga pernah menerima gemblengan ilmu gabungan sinkang Im dan Yang dari pendekar Suma Kian Bu, putera Pendekar Super Sakti Pulau Es.

Sudah puluhan tahun kedua suami isteri ini tak pernah terjun ke dunia persilatan, hidup aman tenteram di istana kuno yang dulu pernah menjadi pusat perkumpulan Khong-sim Kai-pang, yaitu di puncak bukit Nelayan di Pegunungan Tai-hang-san, sebelah selatan kota Pao-teng. Bagaimana kini mendadak suami isteri tua yang sakti itu bisa berada di pegunungan utara dekat Tembok Besar?

Sebulan yang lalu, nenek Bu Ci Sian merasa rindu sekali kepada puterinya, yaitu Kam Bi Eng yang sudah menjadi isteri Suma Ceng Liong. Juga dia ingin sekali melihat dunia luar setelah bertahun-tahun berdiam di rumah saja.

Ia lalu mengajak suaminya untuk meninggalkan istana tua itu dan berkunjung ke tempat kediaman puteri mereka di dusun Hong-cun. Akan tetapi, setelah sampai di tempat itu, ternyata Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng tidak berada di rumahnya dan menurut keterangan para pembantu rumah tangga, suami isteri itu meninggalkan rumah untuk pergi mencari nona Suma Lian yang telah pergi lebih dahulu dari rumah. Para pembantu rumah tangga itu tidak dapat memberi keterangan ke mana majikan mereka pergi.

Kakek dan nenek itu tentu saja merasa kecewa dan mereka hanya tinggal semalam saja di rumah puteri mereka yang kosong. Mereka telah mendengar berita tentang gerakan Tiat-liong-pang yang dibantu oleh banyak tokoh sesat, maka kakek Kam Hong menduga bahwa tentu puteri, mantu dan cucu mereka itu pergi ke sana untuk menentang gerakan kaum sesat.

Maka, mereka berdua lalu pergi ke utara untuk melihat-lihat keadaan dan mencari puteri dan menantu mereka. Di sepanjang perjalanan mereka mencari keterangan dan makin kuat dugaan mereka bahwa puteri mereka tentu pergi ke utara setelah mendengar bahwa memang banyak pendekar yang melakukan perjalanan ke utara sehubungan dengan berita gerakan kaum sesat di utara yang dipimpin oleh Tiat-liong- pang itu.

Demikianlah, pada pagi hari itu, kakek Kam Hong dan nenek Bu Ci Sian tiba di puncak bukit, menuruni bukit sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah, kadang-kadang berhenti dan memandang ke empat penjuru dengan penuh kagum.

“Eh, lihat di sana itu!” Tiba-tiba nenek itu berseru sambil menuding ke arah selatan, ke bawah. “Bukankah itu sebuah kereta?”

Kakek Kam Hong cepat memandang ke arah yang ditunjuk isterinya dan mengamati. “Benar, sebuah kereta dikawal oleh belasan orang.”

“Dan para pengawal itu mengenakan pakaian seragam!” sambung Bu Ci Sian.

“Juga di kereta itu ada benderanya, tidak jelas dari sini, akan tetapi seperti bendera tanda pangkat. Agaknya orang berpangkat yang duduk di dalam kereta itu.”

“He, lihat! Dari sebelah kanan itu! Dua orang itu seperti hendak menghadang kereta!”

“Siancai…! Benar katamu, dan lihat, mereka sudah bertempur!” kata kakek Kam Hong. “Ah, dua orang itu bukanlah lawan para pengawal, mari kita cepat ke sana untuk melihat apa yang telah terjadi!”

Kakek dan nenek itu bagaikan terbang cepatnya menuruni bukit dan berkat ilmu berlari cepat mereka yang tinggi, tak lama kemudian mereka tiba di tempat pertempuran.

Ketika mereka tiba di tempat itu, belasan orang berpakaian seragam telah rebah malang melintang tanpa nyawa lagi! Hanya tinggal empat orang berpakaian perwira yang masih terus melindungi kereta itu. Dengan pedang di tangan, keempat orang itu repot sekali melindungi dirinya di depan kereta, menahan serangan- serangan seorang pemuda yang juga memainkan pedang, tetapi permainan pedangnya sedemikian hebatnya sehingga empat orang perwira itu terdesak hebat dan agaknya takkan lama lagi mereka dapat bertahan.

Sementara itu, orang ke dua yang menghadang kereta, seorang kakek yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun, berpakaian seperti seorang sastrawan, tinggi kurus, dengan gerakan ringan sekali meloncat ke dekat kereta dan sekali tangan kanannya bergerak, terdengar suara keras dan kereta itu pecah berantakan. Dua ekor kudanya yang terkejut meronta lepas dan melarikan diri.

Dari dalam kereta meloncat ke luar seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan, berpakaian sebagai seorang panglima besar dengan tanda pangkatnya di pundak dan dada. Dengan gerakan cukup sigap panglima ini meloncat turun sehingga dia tidak ikut terbanting dengan pecahnya kereta.

Melihat panglima itu, sastrawan tua tersenyum mengejek sambil mengeluarkan sebuah kipas dan mengipasi tubuhnya.

“Hemmm, kiranya engkau yang disebut Panglima Besar Liu, yang datang dari kota raja untuk menyelidiki keadaan di benteng utara? Jangan harap akan dapat menyelidiki apa pun, karena engkau akan mati di sini seperti yang dialami anak buahmu. Nah bersiaplah untuk mati!”

Panglima Besar yang bertubuh tinggi besar itu tidak kelihatan takut, bahkan mencabut pedangnya, bersiap untuk membela diri sedapat mungkin biar pun dia tahu bahwa bela dirinya tidak akan ada gunanya, melihat betapa para pengawalnya yang lihai saja kini nampak repot menghadapi penyerang muda itu.

“Bagus, kini aku mengerti mengapa terjadi geger di benteng utara dan banyak perwira kami yang kabarnya lenyap diculik orang. Kiranya ada musuh yang sengaja bersekutu dengan pengkhianat dan kalau aku tidak keliru, tentu engkau ini yang disebut Ouwyang Sianseng atau Nam San Sianjin seperti yang sudah dikabarkan oleh orang-orang kami. Engkau sudah bersekutu dengan Tiat-liong-pang untuk mengadakan pemberontakan, dan membujuk beberapa orang panglima dan perwira kami untuk berkhianat.”

Ouwyang Sianseng menudingkan kipasnya. “Tidak keliru, Liu Tai-ciangkun. Sekarang bahkan tiba giliranmu untuk mati di tanganku!”

“Tahan…!” Tiba-tiba nampak dua bayangan orang berkelebat.

Tahu-tahu di depan Ouwyang Sianseng telah berdiri seorang kakek tua yang bukan lain adalah Kam Hong sedangkan Bu Ci Sian berkelebat ke arah pemuda yang mendesak empat orang pengawal itu, mengelebatkan suling emasnya. Nampak sinar terang sekali dan disusul suara berdentang nyaring ketika pedang yang dipergunakan oleh Siangkoan Liong untuk mendesak empat orang lawannya itu bertemu dengan sinar kuning emas.

Siangkoan Liong terkejut dan meloncat mundur ketika merasa betapa benturan senjata itu membuat tangan kanannya tergetar hebat. Maklum bahwa ada lawan tangguh yang muncul, Siangkoan Liong cepat menghampiri gurunya.

Bu Ci Sian juga menghampiri suaminya dan kini suami isteri tua itu berdiri berhadapan dengan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong.

Ouwyang Sianseng mengamati kakek dan nenek di depannya itu, mengerutkan alisnya dan bertanya kepada muridnya, “Tahukah engkau siapa mereka ini?”

Siangkoan Liong juga memandang penuh perhatian, kemudian dia menggeleng kepala sebagai jawaban. Ouwyang Sianseng kini menatap wajah Kam Hong dengan penuh perhatian dan diam-diam hatinya diliputi kekaguman.

Kakek di depannya ini sebaya dengan dia, dan memiliki sikap yang halus berwibawa. Mengertilah dia bahwa kakek yang pakaiannya juga seperti sastrawan amat sederhana ini adalah seorang yang berilmu tinggi dan merupakan lawan yang tangguh. Ouwyang Sianseng lalu menjura dengan sikap hormat.

“Selamat berjumpa, Sobat,” katanya dengan suara yang halus, “boleh aku mengetahui, siapakah Ji-wi dan apa pula alasan Ji-wi hendak mencampuri urusan kami yang sedang menentang penjajah Mancu?”

Kam Hong mengerutkan alisnya. Harus diakuinya bahwa sikap ramah dan halus dari orang ini membuat dia waspada karena sikap itu hanya menunjukkan bahwa dia tengah berhadapan dengan orang yang sama sekali tak boleh dipandang ringan. Apa lagi orang ini dengan cerdiknya menempatkan dia di posisi yang buruk, seakan-akan orang itu adalah pejuang dan patriot, sedangkan dia dan isterinya merupakan orang- orang yang membela kaum penjajah!

Dengan tenang dia pun tersenyum dan balas menjura dengan hormat, diikuti pula oleh isterinya karena tadi ketika Ouwyang Sianseng menjura, pemuda tampan itu pun ikut pula memberi hormat.

“Maaf, Sobat,” jawabnya dengan halus pula. “Memang di antara kita tidak pernah saling mengenal, juga tidak ada hubungan apa pun. Penjajah Mancu sudah menguasai tanah air semenjak hampir seratus tahun dan kami kira panglima ini bukanlah biang keladi penjajahan, melainkan hanya seorang petugas! Kami melihat betapa Ji-wi membunuhi para pengawal dan menyerang kereta, maka hal ini sudah merupakan urusan pribadi, bukan lagi pertempuran dalam perjuangan melawan penjajah! Dan kami tidak biasa membiarkan saja manusia saling bunuh, apa lagi melihat yang lebih kuat membunuh yang lemah tanpa sebab.”

Ouwyang Sianseng masih bersikap sabar. “Kami adalah pejuang-pejuang yang berjiwa patriot. Kami hendak menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu, dan kami mulai dari utara ini dengan cara melenyapkan para perwira dan panglima. Barulah kami akan bergerak ke selatan, menyerang ke kota raja dan merampas tahta kerajaan!”

Ketika berkata demikian, sinar mata Ouwyang Sianseng mencorong penuh nafsu dan dendam. Juga pemuda yang berdiri di sampingnya, yang bukan lain adalah Siangkoan Liong, memandang dengan muka berseri penuh semangat.

“Kami percaya bahwa Locianpwe berdua tentulah dua orang berilmu tinggi yang berjiwa patriot pula. Oleh karena itu kami akan merasa gembira sekali jika Ji-wi sudi membantu perjuangan kami untuk menentang pemerintah penjajah Mancu!” kata Siangkoan Liong.

Kam Hong tersenyum, diam-diam memuji kecerdikan pemuda itu, dan dia menjawab dengan cerdik, “Kami mendengar akan gerakan pemberontakan yang dipelopori oleh Tiat-liong-pang, tidak tahu apakah Ji-wi ini ada hubungannya dengan Tiat-liong-pang?” Kemudian disambungnya, “Kami pernah mendengar bahwa Siangkoan Tek, ketua dari Tiat-liong-pang, adalah seorang yang gagah.”

“Dia adalah ayah saya!” kata Siangkoan Liong dengan cepat, girang bahwa kakek itu mengenal ayahnya dan menyebut ayahnya orang gagah.

Kam Hong mengangguk-angguk dan memandang kepada isterinya, kemudian berkata, seolah-olah bicara pada isterinya, “Sungguh aneh sekali. Sepanjang pendengaran kita, sekarang Tiat-liong-pang sedang bersekutu dengan orang-orang golongan sesat, bagai mana bisa begitu?”

Bu Ci Sian mendengus. “Huh, kalau perjuangan sudah dikotori dengan masuknya kaum sesat, jelas bahwa perjuangan itu tidak bersih lagi, hanya merupakan pemberontakan yang berpamrih demi kepentingan pribadi atau golongan. Aku tak bisa percaya dengan gerakan macam itu!”

“Maaf, maaf…!” kata Ouwyang Sianseng. “Dalam gerakan perjuangan tidak terdapat istilah golongan jahat atau golongan baik, kaum hitam atau kaum putih. Yang penting kita haruslah mengumpulkan seluruh kekuatan dari rakyat jelata untuk bersama-sama menentang pemerintah penjajah. Dan yang paling penting, tujuan kita adalah baik, yaitu menumbangkan penjajahan, ada pun caranya dapat menggunakan cara apa saja agar berhasil.”

Kam Hong tertawa, merasa bahwa lawannya terjebak. “Ha! Sobat yang baik, bagaimana mungkin cara yang kotor bisa menghasilkan tujuan yang bersih? Yang penting bukanlah tujuannya, melainkan caranya itulah! Jikalau caranya kotor, maka kami pun tidak ingin mengotorkan tangan untuk membantunya, bahkan sudah menjadi kewajiban kami untuk menentangnya. Jika kalian telah bersekutu dengan kaum sesat untuk membunuhi para perwira dan panglima, maka terpaksa kami akan menentang kalian!”

Habislah kesabaran Ouwyang Sianseng. Kalau tadi dia bersikap sabar hanya karena dia menghargai kakek dan nenek itu, dan kalau mungkin dapat menarik orang-orang pandai sebanyak mungkin untuk membantu gerakannya. Kini, mendengar ucapan Kam Hong, dia pun maklum bahwa akan percuma saja membujuk kakek dan nenek itu untuk ikut bekerja sama kalau pendiriannya seperti itu.

“Bagus! Kalau begitu ternyata kalian adalah pengkhianat penjual negara kepada orang Mancu dan sebab itu layak mati di tanganku!” berkata demikian, Ouwyang Sianseng lalu menggerakkan kipasnya, melakukan totokan bertubi dengan cepat sekali ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian tubuh atas depan dari lawannya.

Melihat gerakan serangan ini, diam-diam Kam Hong terkejut dan dia pun maklum bahwa lawannya ini sungguh lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Sementara itu, melihat betapa gurunya menyerang kakek lawan, Siangkoan Liong juga menggerakkan pedangnya, menerjang ke arah nenek yang semenjak tadi memandang penuh perhatian. Bu Ci Sian tidak terkejut melihat datangnya serangan pedang secepat kilat itu. Begitu tangannya bergerak, nampak sinar keemasan berkelebat dan tangannya telah memegang sebatang suling emas, tak sebesar milik suaminya, akan tetapi cukup panjang untuk menjadi sebuah senjata yang dapat digerakkan seperti pedang.

Siangkoan Liong terkejut ketika mendadak saja matanya silau oleh sinar kuning emas yang mengeluarkan suara mendengung mengerikan, dan tahu-tahu dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar yang menyambar-nyambar ke arahnya. Dia harus memutar pedangnya secepatnya untuk menarik serangan dan mengubah gerakannya menjadi gerakan pertahanan, membentuk gulungan sinar seperti payung yang menjadi perisai dan pelindung tubuhnya.

“Trang…! Cringgg…!”

Kembali Siangkoan Liong terkejut karena tangannya tergetar dan pada saat itu, tangan kiri nenek itu telah mendorong dan keluarlah hawa panas sekali ke arahnya. Siangkoan Liong adalah seorang pemuda perkasa, dengan ilmu silat yang tinggi tingkatnya. Maka menghadapi pukulan jarak jauh yang mengandung sinkang panas ini, dia pun cepat mengelak dan mengibaskan lengan kirinya menyampok dan menangkis, lalu pedangnya berkelebat membalas serangan nenek itu dengan tusukan yang dahsyat.

Nenek itu juga maklum akan datangnya tusukan maut, maka dengan amat lincahnya tubuh nenek itu sudah meliuk dan menghindar, lalu dari samping membalas dengan ujung suling yang menotok tiga kali bertubi- tubi ke arah leher, pundak, lalu lambung!

Repot juga Siangkoan Liong menghadapi totokan yang berbahaya ini. Ia hanya mampu menghindarkan diri dengan keadaan terhimpit dan terdesak, lalu memutar pedangnya dan membalas dengan gerakan dahsyat dan sengit karena dia merasa penasaran dan marah sekali.

Ketika Ouwyang Sianseng melakukan totokan ke arah tubuh atas Kam Hong dengan gagang kipasnya, mendadak saja kipasnya bertemu dengan sebatang kipas lain yang dipegang oleh tangan kiri Kam Hong. Ouwyang Sianseng amat terkejut, akan tetapi juga kagum dan gembira. Kiranya lawannya ini pun agaknya pandai mempergunakan kipas sebagai senjata!

Ouwyang Sianseng kemudian mengeluarkan kepandaiannya. Kipasnya bergerak-gerak dengan cepatnya. Kipas itu bagaikan seekor kupu-kupu raksasa, beterbangan, kadang-kadang terbuka sayapnya, kadang- kadang tertutup. Dan kalau terbuka sayapnya, kipas menyambar mendatangkan angin yang kuat, dan kalau tertutup sayapnya, gagang kipas meluncur dengan totokan-totokan maut!

Diam-diam Kam Hong kagum sekali dan dia pun menggerakkan kipasnya dan mainkan ilmu kipas Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) yang hebat dan kuat. Dengan ilmu itu, Kam Hong juga ingin menguji ilmu kepandaian lawan.

Ouwyang Sianseng juga kagum. Ternyata lawannya ini memiliki ilmu permainan kipas yang kuat dan tangguh, maka ia pun cepat menggerakkan tangan kanannya, membantu kipasnya dengan pukulan- pukulan tangan miring yang menjadi demikian kuatnya, tiada ubahnya sebatang pedang, membabat dan mengeluarkan suara bercuitan.

Terkejutlah Kam Hong. Sungguh seorang lawan yang amat tangguh. Sudah lama sekali dia tidak pernah bertemu lawan setangguh ini, maka ia pun cepat menggerakkan tangan kanannya dan nampaklah sinar kuning emas bergulung-gulung, dibarengi suara suling yang melagu seperti ditiup saja. Padahal suling itu mengeluarkan suara hanya karena digerakkan oleh Kam Hong. Sinar terang menyambar bagaikan kilat dari atas mengarah kepala Ouwyang Sianseng.

Orang ini terkejut, menangkis dengan kipasnya dan akibatnya, ia terhuyung-huyung! Ia segera meloncat ke belakang.

“Tahan!” serunya kaget dan dia memandang penuh perhatian.

Kam Hong menghentikan gerakannya, tersenyum menanti, suling emas di tangan kanan sedangkan kipas di tangan kiri, sikapnya halus namun gagah sekali, membuat Ouwyang Sianseng merasa gentar juga.

“Kau… kau… Pendekar Suling Emas…?” Ouwyang Sianseng bertanya, suaranya agak gemetar saking tegangnya.

Kam Hong tersenyum, bukan senyum bangga, tetapi merasa betapa lucunya segala macam julukan itu, seperti kanak-kanak manja yang ingin dipuji saja!

“Dulu orang menyebut aku seperti itu, akan tetapi sekarang aku hanyalah seorang tua bangka yang sebetulnya tidak ingin lagi mempergunakan senjata, kalau tidak terpaksa. Serangan-seranganmu berbahaya, engkau seorang yang mempunyai kepandaian tinggi sehingga terpaksa aku harus mengeluarkan kedua senjataku ini.”

Biar pun belum berkelahi dengan sungguh-sungguh, namun Ouwyang Sianseng merasa gentar. Dia sudah mendengar akan nama besar Pendekar Suling Emas, dan sudah mendengar pula betapa isteri pendekar itu pun merupakan adik seperguruan yang lihai.

Ketika dia melirik, dia melihat betapa Siangkoan Liong repot bukan main menghadapi gulungan sinar kuning emas dari suling di tangan nenek itu, maka dia pun membentak, “Siangkoan Liong, mundur dan jangan kurang ajar di depan orang pandai!”

Mendengar bentakan suhu-nya, Siangkoan Liong merasa heran, akan tetapi juga lega dan dia pun cepat meloncat mundur mendekati gurunya. Dia sudah terdesak hebat dan kini dia dapat menghentikan perkelahian itu tanpa merasa meninggalkan gelanggang karena dia dilarang gurunya! Jadi dia berhenti sebelum kalah.

Melihat lawannya mundur, Bu Ci Sian yang sekarang telah berubah wataknya menjadi penyabar seperti suaminya, lalu tersenyum sambil berdiri di samping suaminya. Kalau mengingat wataknya ketika gadis dahulu, tentu ia tidak akan berhenti sebelum lawannya kalah dan akan mendesak terus!

Ouwyang Sianseng berkata kepada muridnya, sekedar untuk membuyarkan suasana penuh pertentangan tadi, “Ketahuilah, bahwa Locianpwe ini bukan lain adalah Pendekar Suling Emas dan isterinya yang namanya sudah amat terkenal di seluruh dunia sebagai pendekar-pendekar yang berbudi dan gagah perkasa.”

Lalu dia pun menjura kepada Kam Hong dan isterinya, diikuti pula oleh Siangkoan Liong yang sudah cepat- cepat menyimpan kembali pedangnya.

“Saudara yang perkasa,” berkata Ouwyang Sianseng, “kami sudah mendengar bahwa saudara dan isteri saudara adalah pendekar-pendekar perkasa. Oleh karena itu, dengan segala kehormatan kami mengundang Ji-wi untuk bekerja sama dengan kami, bersama-sama menentang pemerintah penjajah dan membasmi mereka untuk menyelamatkan tanah air dan bangsa…”

“Cukup,” kata Kam Hong dengan alis berkerut. “Sudah kami katakan tadi, kalau gerakan kalian itu didukung oleh para tokoh sesat, maka itu merupakan suatu pemberontakan berpamrih demi kepentingan golongan sendiri, dan kami sudah pasti tidak akan suka bekerja sama, bahkan akan menentangnya.”

Ouwyang Sianseng tersenyum pahit. “Terserah kalau demikian penilaianmu! Sudahlah, Siangkoan Liong, mari kita pergi!” katanya dan sekali meloncat, dia pun sudah lenyap. Demikian cepatnya gerakan kakek ini. Siangkoan Liong juga meloncat dan berlari cepat mengejar gurunya yang sudah berada jauh di depan.

Kam Hong menarik napas panjang. “Hebat sekali kepandaian orang itu!” “Orang muda itu pun lihai sekali!” kata pula isterinya.
Panglima yang tadi hampir celaka di tangan guru dan murid yang lihai itu, sekarang menghampiri mereka dan di depan Kam Hong, dia lalu memberi hormat dengan hati terharu.

“Kalau bukan Ji-wi Taihiap yang muncul dan menolong, tentu kami semua telah tewas di tangan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong itu. Kami menghaturkan terima kasih kepada Ji-wi Taihiap dan mohon tanya nama besar Ji-wi. Kami sendiri adalah Panglima Liu, utusan dari kota raja yang hendak menyelidiki peristiwa aneh yang belakangan ini terjadi di benteng pasukan pemerintah di utara.”

Kam Hong dan Bu Ci Sian membalas penghormatan itu dengan sederhana. Bagaimana pun juga, mereka berdua tidak memiliki perasaan bersahabat dengan para pembesar pemerintah Mancu yang menjajah tanah air mereka. Akan tetapi Kam Hong tertarik juga untuk menyelidiki keadaan para pemberontak yang kini bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat.

“Liu Tai-ciangkun, sebenarnya apakah yang sudah terjadi? Mengapa kedua orang tadi menghadang rombongan Ciangkun di sini dan membunuh?” tanya Kam Hong.

“Di perbentengan utara terjadi kehebohan karena banyak sekali perwira-perwira dan panglima yang setia kepada pemerintah tiba-tiba lenyap, dan kedudukan mereka diganti oleh orang-orangnya Coa-ciangkun yang memimpin sebagian besar pasukan di utara. Menurut laporan yang baru kami terima, Coa-ciangkun dicurigai mengadakan hubungan dengan Tiat-liong-pang yang akan memberontak. Maka, kami diutus dengan wewenang penuh dari raja untuk melakukan penyelidikan dan menangkap mereka yang bersalah dan berkhianat. Kami pun sudah mendapat laporan lengkap tentang Tiat-liong-pang dan tentang hubungan Coa-ciangkun dengan para pemberontak. Oleh karena itu, kami tahu bahwa dua orang tadi adalah Ouwyang Sianseng atau juga dikenal dengan nama Nam San Sianjin, dan yang muda itu adalah Siangkoan Liong, putera dari Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang. Mereka hendak membunuh kami karena mudah diduga bahwa Tiat-liong-pang atau para pemberontak yang bersekutu dengan Coa- ciangkun itulah yang sudah menculik dan membunuhi para perwira dan panglima yang setia kepada pemerintah, untuk diganti dengan kaki tangan mereka sendiri supaya pasukan mudah dikuasai untuk membantu gerakan pemberontakan.”

Kam Hong mengerutkan alisnya. Meski dia sendiri tentu saja sama sekali tidak berniat untuk membantu tegaknya pemerintah penjajah Mancu, namun gerakan Tiat-liong-pang yang didukung para tokoh dunia hitam ini amatlah berbahaya bagi keselamatan rakyat jelata dan dia harus ikut menentangnya. Bukan untuk membantu pemerintah, melainkan untuk membasmi para tokoh sesat yang tentu hendak memancing di air keruh itu.

“Kalau begitu berbahaya sekali. Biar pun Ciangkun sudah terhindar dari bahaya di sini, akan tetapi kedua orang itu tentu akan menghubungi panglima yang menjadi sekutunya dan sebelum Ciangkun tiba di benteng, tentu akan dihadang dan dibunuh.”

Panglima Liu mengangguk-angguk, lalu saling pandang dengan empat orang pengawal pribadinya yang tadi sudah mati-matian mempertahankan keselamatan atasan mereka dari serangan guru dan murid itu.

“Baiklah, kita mencari jalan bagaimana baiknya. Mari, silakan duduk di sana, karena kami hendak mohon bantuan Ji-wi untuk mencari jalan keluar yang terbaik, sementara keempat orang pengawalku ini biar mengubur jenazah belasan orang anggota pasukan pengawal itu.”

Panglima besar Liu mengajak Kam Hong dan Bu Ci Sian bercakap-cakap di bawah pohon, sedangkan keempat orang pengawal itu mulai menggali sebuah lubang besar untuk mengubur belasan orang rekan mereka yang tewas dalam pertempuran tadi.

Sambil duduk di bawah pohon, panglima besar Liu bercakap-cakap dengan kakek dan nenek pendekar itu, minta pendapat dan nasehat mereka. Setelah mendengar semua penjelasan panglima itu, Kam Hong lalu mengajukan siasat, yaitu agar Liu Tai-ciangkun dan empat orang pengawal pribadinya bersembunyi dulu di dalam hutan, ditemani dan dilindungi oleh Bu Ci Sian.

Sedangkan Kam Hong sendiri akan membawa surat dari panglima itu untuk menemui Pouw-ciangkun, yaitu perwira yang sudah mengirimkan laporan kepada para pembesar di kota raja. Kam Hong lalu akan mengajak perwira Pouw itu keluar dari benteng dan menjumpai Liu Tai-ciangkun, dan kemudian baru akan diatur rencana sebaiknya untuk menyambut kedatangan panglima besar itu agar supaya bisa memasuki benteng tanpa gangguan dari pihak pengkhianat dan pemberontak. Setelah masuk ke dalam benteng, dikawal oleh Kam Hong dan isterinya, maka panglima dan perwira yang bersekutu dengan Tiat-liong-pang dapat diringkus sebelum mereka dapat melakukan gerakan.

Setelah penguburan itu selesai, Kam Hong dan isterinya mengajak Panglima Liu masuk ke dalam hutan dan memilih tempat yang baik untuk bersembunyi, yaitu di sebuah goa. Kemudian, Kam Hong meninggalkan mereka untuk menyelundup ke dalam benteng. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tak sukar bagi Kam Hong untuk menyelundup ke dalam benteng tanpa diketahui para penjaga, melompati pagar tembok benteng dan mencari perwira Pouw!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya perwira Pouw yang sedang tidur dalam kamarnya seorang diri ketika tiba-tiba saja ada orang yang mengguncang tubuhnya. Pada waktu ia terbangun, ia melihat seorang kakek sastrawan sudah berdiri di dekat pembaringannya. Akan tetapi kakek itu memberi isyarat agar dia tidak mengeluarkan suara.

“Tenanglah, Pouw-ciangkun, aku datang bukan dengan niat buruk. Aku adalah utusan dari panglima besar yang datang dari kota raja.”

Wajah Pouw-ciangkun yang tadinya sudah pucat itu menjadi agak kemerahan kembali. Tadinya dia mengira bahwa tentu orang ini masuk ke kamarnya untuk menculik dan membunuhnya, seperti yang telah terjadi pada belasan orang rekannya yang lenyap tanpa meninggalkan bekas. Mendengar kata-kata itu, dia terkejut dan heran, lalu bangkit duduk, masih belum lenyap kekhawatirannya.

Kam Hong maklum akan kegelisahan perwira itu, maka cepat dia mengeluarkan sebuah sampul yang ada cap dari Panglima Besar Liu, dan menyerahkannya kepada perwira itu.

“Nah, inilah surat dari beliau untukmu, Pouw-ciangkun.”

Perwira itu menerima sampul, memeriksanya dan hatinya menjadi semakin lega ketika dia melihat bahwa memang benar cap pada sampul itu adalah cap dari Panglima Besar Liu yang dikenalnya sebagai seorang panglima yang jujur dan adil, juga bertangan besi terhadap para pemberontak.

“Akan tetapi, mengapa Liu Tai-ciangkun tidak langsung saja datang bersama pasukan pengawalnya ke sini? Kenapa harus mengutus Locianpwe?”

Pouw-ciangkun menggunakan sebutan penghormatan ini karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang berilmu tinggi sehingga malam itu dapat tiba-tiba saja muncul di dalam kamarnya bagaikan setan. Bagaimana pun juga, dia masih sangsi karena peristiwa ini terlalu aneh baginya.

Kam Hong maklum akan keraguan perwira itu. “Liu-ciangkun dan pasukan pengawalnya sudah dihadang oleh Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong di dalam perjalanan dan belasan orang pasukan pengawalnya tewas semua. Hanya beliau dan keempat orang pengawal pribadinya yang masih hidup ketika aku dan isteriku datang membantunya. Karena kami maklum bahwa nyawanya masih terancam, maka akulah yang datang mengantar suratnya, dan isteriku melindunginya di tempat persembunyian.”

Mendengar ini, terkejutlah Pouw-ciangkun. Kini dia percaya dan surat itu cepat dibuka dan dibacanya. Ternyata Liu Tai-ciangkun memanggilnya, sekarang juga agar dia ikut dengan kakek yang sakti ini. Tanpa banyak cakap lagi Pouw-ciangkun lalu diam-diam memanggil tiga orang rekannya, yaitu para perwira lain yang setia kepada pemerintah.

Tiga orang perwira itu pun amat terkejut melihat Kam Hong. Akan tetapi ketika mereka mendengar keterangan dari Pouw-ciangkun, mereka kemudian mengatur siasat dengan Pouw-ciangkun.

“Malam ini aku akan pergi menghadap Liu Tai-ciangkun bersama Locianpwe ini. Kalian harus dapat merahasiakan kepergianku ini. Aku akan mengambil jalan rahasia kita, dan mungkin besok malam aku baru kembali.” kata Pouw-ciangkun.

Para rekannya dapat menyetujui dan demikianlah, Pouw-ciangkun lalu pergi bersama Kam Hong, melalui jalan rahasia yang ada di belakang benteng. Tanpa diketahui orang lain, mereka berdua pergi meninggalkan benteng dan lewat tengah malam, mereka tiba di dalam hutan di mana Liu Tai-ciangkun bersembunyi di dalam goa dijaga oleh empat orang pengawal pribadi dan juga nenek Bu Ci Sian.

Pouw-ciangkun cepat memberi hormat kepada atasannya itu dan mereka bersama Kam Hong dan Bu Ci Sian, segera mengadakan perundingan dan mengatur siasat. Pouw-ciangkun menceritakan betapa keadaan sudah amat berbahaya karena kekuasaan Coa Tai-ciangkun kini menjadi semakin besar. Ada tak kurang dari dua puluh orang perwira yang menjadi bawahannya dan yang menyetujui persekutuan dengan Tiat-liong-pang, termasuk mereka yang diangkat untuk menggantikan para perwira setia yang diculik.

“Bagaimana dengan pasukannya sendiri?” tanya Liu-ciangkun, terkejut juga mendengar akan hal itu.

“Sudah saya selidiki, Tai-ciangkun. Para anggota pasukan agaknya belum tahu akan niat Coa-ciangkun yang bersekutu dengan para pemberontak. Akan tetapi, pasukan yang bertugas di utara adalah pasukan istimewa yang selalu mentaati perintah atasan tanpa banyak bertanya. Jadi, jika para perwiranya telah dapat dikuasai Coa-ciangkun, maka dengan sendirinya pasukannya juga akan taat akan segala perintahnya. Mereka takkan mundur walau pun diperintah untuk menyerbu pasukan pemerintah sendiri!”

“Berapa jumlah seluruh pasukan yang berjaga di tapal batas utara?”

“Yang sudah siap di benteng adalah pasukan-pasukan inti yang jumlahnya kurang lebih selaksa orang. Pasukan cadangan berada di benteng sebelah selatan, tetapi mereka itu biasanya kurang siap dan kurang kuat karena merasa jauh dari bahaya, tidak seperti pasukan inti yang berada di tapal batas.”

“Dan berapa banyak yang telah dipengaruhi Coa-ciangkun?”

“Melihat jumlahnya perwira, kurang lebih separuh yang telah dikuasainya. Yang separuh lagi, sebagian masih setia kepada kerajaan, dan ada pula sebagian yang bimbang dan gelisah karena adanya penculikan-penculikan itu.”

Liu-ciangkun mengangguk-angguk. “Kembalilah engkau ke benteng dan hubungi para rekan yang setia, agar mereka siap siaga. Lalu aturlah agar terdapat pasukan khusus yang menyambut kedatanganku yang akan dikawal oleh kedua Locianpwe ini. Dengan adanya penyambutan pasukan khusus yang cukup besar jumlahnya, apa lagi adanya kedua Locianpwe ini, tentu para penjahat itu tidak berani turun tangan. Kemudian, di sana aku akan memanggil semua perwira dan para panglima untuk berkumpul dan mengadakan rapat. Nah, pada saat itu pulalah aku akan mengumumkan penangkapan terhadap mereka. Juga engkau harus sudah mempersiapkan pasukan yang setia untuk mengepung tempat pertemuan itu sehingga mereka tidak akan mampu lolos. Kemudian, akan kuangkat perwira-perwira baru yang setia. Semua gerakan ini harus dirahasiakan, jangan sampai bocor agar jangan diketahui oleh pihak Tiat-liong- pang. Selanjutnya akan kuatur lagi nanti.” Demikianlah Liu Tai-ciangkun mengambil keputusan setelah berunding dengan Kam Hong dan Bu Ci Sian.

Untuk menjaga keselamatannya supaya semua rencana dapat berjalan dengan lancar, ketika kembali ke benteng Pouw-ciangkun kembali ditemani Kam Hong, juga melalui jalan rahasia di belakang benteng. Setelah melihat betapa Pouw ciangkun telah kembali dengan selamat tanpa diketahui siapa pun, Kam Hong lalu kembali dan mereka semua menanti datangnya pasukan yang akan mengadakan penyambutan.

Pouw-ciangkun berunding dengan para rekannya, kemudian mengumumkan bahwa Liu Tai-ciangkun akan datang berkunjung ke banteng. Maka ia beserta para rekannya lalu mempersiapkan dua ratus orang pasukan khusus untuk keluar benteng dan melakukan penyambutan.

Tentu saja diam-diam Coa Tai-ciangkun sudah mendengar dari para sekutunya akan datangnya Lui-tai- ciangkun dari kota raja yang pangkatnya lebih tinggi darinya, bahkan yang membawa surat kuasa dari para penguasa di kota raja. Dia tidak berdaya untuk menghalangi kunjungan ini.

Akan tetapi karena merasa bahwa kekuasaannya di benteng sangat besar, dia tidak merasa khawatir. Bahkan oleh Ouwyang Sianseng dianjurkan untuk menerima utusan kota raja itu di dalam benteng. Nanti kalau gerakan dimulai, akan mudah menyergap Liu Tai-ciangkun, demikian pendapat Ouwyang Sianseng.

Andai kata pasukan penyambut tidak begitu besar, tentu Coa Tai-ciangkun dan para rekannya akan turun tangan menghadang dan membasmi pasukan penyambut serta membunuh utusan kota raja itu. Akan tetapi pasukan yang dikumpulkan dan dikerahkan Pouw-ciangkun itu berjumlah dua ratus orang dan merupakan pasukan khusus, maka tentu saja hal ini akan sukar dilaksanakan tanpa terjadi pertempuran besar yang tentu akan mengguncangkan benteng itu dan akan memecah belah pasukan sehingga akan terjadi perang saudara sendiri yang akan menghancurkan seluruh pasukan!

Ketika pasukan khusus itu memasuki hutan, muncullah Liu Tai-ciangkun bersama empat orang pengawal pribadi, ditemani pula oleh kakek dan nenek itu yang selalu siap siaga, menjaga segala kemungkinan. Akan tetapi, penyambutan itu berjalan lancar dan dengan kehormatan, Liu Tai-ciangkun dikawal oleh pasukan itu memasuki benteng.

Begitu memasuki benteng dan disambut oleh semua perwira dan panglima, dengan suara lantang Liu Tai- ciangkun berkata, “Kami datang membawa perintah dari kota raja! Kami akan mengadakan rapat rahasia dengan seluruh pimpinan di benteng ini. Tidak ada seorang pun dari luar, kecuali kedua Locianpwe ini, yang boleh berada di dalam benteng. Pintu benteng harus ditutup dan dijaga ketat agar tidak ada orang luar dapat masuk. Kuperingatkan pasukan yang menjemputku tadi supaya dibagi dan melakukan penjagaan membantu para penjaga di semua pintu benteng! Sekarang, kuperintahkan agar semua perwira dan panglima berkumpul di ruangan rapat pusat!”

Karena utusan dari kota raja itu memperlihatkan pula surat kuasa yang dibawanya dari kota raja, maka tak seorang pun perwira berani membantah, bahkan Coa Tai-ciangkun tidak membantah. Dia merasa lega karena sikap panglima tinggi dari kota raja itu sama sekali tidak memperlihatkan kecurigaan kepadanya, dan tidak ada tanda-tanda bahwa utusan itu akan melakukan tindakan-tindakan. Maka dia pun memberi isyarat rahasia kepada para kaki tangannya untuk mematuhi perintah itu, untuk terlebih dahulu melihat perkembangan selanjutnya sebelum dia mengambil keputusan untuk bergerak.

Semua perwira kemudian berkumpul di dalam ruangan rapat yang luas itu. Diam-diam pasukan khusus yang sudah disiapkan oleh Pouw-ciangkun dan para rekannya seperti yang telah direncanakan oleh Liu Tai-ciangkun, mulai mengepung ruangan rapat itu.

Ada lima ratus orang pasukan dikerahkan, mengepung rapat tempat itu bukan hanya untuk mencegah mereka yang berada di dalam menerobos keluar, juga untuk menjaga kalau-kalau ada kaki tangan pemberontak yang menyerbu untuk membebaskan mereka yang berada di dalam ruangan rapat! Dan semua ini berlangsung diam-diam tanpa keributan seperti yang diperintahkan Liu Tai-ciangkun sehingga tidak ada seorang pun di antara para perwira yang mengetahui bahwa tempat itu sudah dikepung dengan ketat oleh pasukan. Tentu saja yang mengetahui hanya Liu Tai-ciangkun, Pouw-ciangkun dan para rekan- rekannya yang melaksanakan siasat itu.

Suasana dalam rapat itu tenang setelah semua orang mengambil tempat duduk. Ada lebih dari tiga puluh orang perwira menengah dan perwira tinggi, dan semua kursi diatur menghadap ke arah panggung di mana duduk Liu Tai-ciangkun yang hanya dikawal oleh kakek dan nenek yang duduk tenang di belakangnya itu. Tak ada anggota pasukan pengawal menjaga panglima tinggi ini. Dan kakek nenek itu kelihatannya sudah tua dan lemah, bahkan sama sekali tidak nampak membawa senjata.

Setelah menghitung jumlah perwira. Liu Tai-ciangkun membuka persidangan itu dengan pertanyaan. “Mengapa yang hadir hanya ini? Di mana lagi yang lain? Bukankah di sini terdapat perwira-perwira yang jumlahnya ada lima puluh orang?” Lalu dia memandang ke arah Coa Tai-ciangkun yang duduk di deretan paling depan. “Coa-ciangkun, setelah dua orang panglima lainnya tak hadir, maka engkaulah perwira yang pangkatnya paling tinggi di sini. Nah, sekarang aku ingin mendengar laporanmu di mana adanya belasan orang perwira lainnya itu dan mengapa pula mereka tidak hadir!”

Wajah Coa Tai-ciangkun berubah merah. Dia merasa heran mengapa utusan kota raja ini masih berpura- pura. Dia yakin bahwa tentu ada di antara para perwira yang melapor ke kota raja dan tentu di dalam laporan itu sudah disebutkan akan lenyapnya belasan orang perwira secara aneh. Mengapa Liu Tai- ciangkun masih berpura-pura bodoh dan bertanya kepadanya?

Namun, dengan sikap tenang dia lalu bangkit berdiri, memberi hormat secara militer dan melapor dengan suaranya yang lantang. “Lapor kepada Liu Tai-ciangkun! Empat belas orang perwira dan panglima yang pada hari ini tidak hadir, sudah lenyap dalam waktu selama dua bulan ini. Mereka lenyap secara aneh dan walau pun kami sudah mencari-carinya, namun tidak berhasil menemukan di mana mereka berada, sudah mati ataukah masih hidup!”

Liu Tai-ciangkun mengerutkan alis. “Hemmm, mana mungkin ada belasan orang perwira bisa lenyap begitu saja dari dalam benteng tanpa diketahui orang sama sekali ke mana perginya?”

“Kami semua sudah berusaha mencari dan menyebar penyelidik, namun tidak berhasil. Kami telah menunjuk perwira-perwira pengganti untuk sementara, dan karena mereka belum dilantik dan disahkan, maka tidak kami hadirkan di tempat ini.”

“Hemmm, sungguh kacau balau dan menyedihkan! Kehilangan belasan orang perwira tanpa dapat diketahui ke mana mereka pergi, ini hanya menunjukkan kelemahan para pemimpin yang menguasai benteng ini. Karena itu harus segera diadakan perombakan seperlunya! Sekarang kami hendak mengadakan pemilihan, dan perwira yang namanya kami sebut, harap suka berdiri di bagian kiri ruangan ini!”

Mendengar suara Liu Tai-ciangkun yang penuh wibawa, semua perwira yang hadir di sana saling pandang dan merasa tegang, bahkan Coa Ciangkun sendiri merasa tidak enak. Akan tetapi dia tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh utusan kota raja itu, maka dia pun tidak dapat berbuat sesuatu kecuali saling pandang dengan para anak buahnya. Selagi masih kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar suara Liu Tai-ciangkun yang lantang memanggil namanya!

“Panglima Coa Seng! Silakan berdiri di bagian kiri sana!”

Tentu saja Coa Tai-ciangkun semakin kaget. Akan tetapi dia tidak dapat berbuat lain kecuali bangkit berdiri dari tempat duduknya dan memandang ke sekeliling, kemudian kepada Liu Tai-ciangkun yang dengan tangannya mempersilakan dia pergi ke bagian kiri ruangan itu, di mana sudah ada bangku-bangku kosong menunggu. Dengan senyum menghias bibirnya dan sikap yang tenang karena dia percaya akan kekuasaannya, Coa Tai-ciangkun yang bernama Coa Seng itu lalu melangkah, kemudian duduk di bangku terdepan dari tempat yang ditunjuk itu.

“Perwira Song Pun Ki!”

Disebutnya nama yang ke dua ini membuat jantung Coa Tai-ciangkun berdebar tegang. Mengapa kebetulan sekali yang disebut sebagai orang ke dua adalah Song-ciangkun, perwira berkumis tebal yang menjadi tangan kanannya dalam persekutuannya dengan pihak Tiat-liong-pang? Apakah ini hanya kebetulan saja?

Akan tetapi, seperti juga dia, Song-ciangkun tidak dapat membantah dan dia pun lalu bangkit, kemudian berjalan dengan langkah lebar, lalu duduk di dekat Coa Tai-ciangkun. Sejenak mereka saling pandang, akan tetapi tentu saja tidak sempat untuk bicara.

Nama demi nama dipanggil dan keadaan menjadi makin menegangkan karena ternyata bahwa nama- nama yang dipanggil oleh Liu Tai-ciangkun berikutnya adalah nama-nama para perwira yang menjadi anak buah Coa Tai-ciangkun, yaitu para perwira yang sudah setuju untuk melakukan pemberontakan bersama Tiat-liong-pang!

Setelah dua puluh dua orang perwira dipanggil dan berkumpul di bagian kiri ruangan itu, panggilan dihentikan oleh Liu Tai-ciangkun dan panglima tinggi ini lalu bangkit berdiri. Sambil memandang ke arah para perwira yang duduk di ruangan sebelah kiri, dengan suara lantang Panglima Liu itu lalu berkata dengan tegas.

“Panglima Coa Seng dan semua perwira yang sudah berkumpul di sebelah kiri, semua sebanyak dua puluh dua orang, atas nama Kaisar, dengan wewenang yang ada pada kami selaku utusan yang berkuasa penuh, maka kami menangkap dan menahan kalian dengan tuduhan memberontak!”

Coa-ciangkun, Song-ciangkun dan rekan-rekannya serentak bangkit berdiri, bahkan ada pula yang mencabut pedang. Akan tetapi pada saat itu nampak bayangan dua orang berkelebat cepat sekali. Tahu-tahu, kakek Kam Hong dan isterinya, nenek Bu Ci Sian, sudah meloncat ke arah sekumpulan perwira yang hendak ditangkap itu.

Pada saat itu, Coa-ciangkun dan Song-ciangkun bersama rekan-rekannya sudah siap memberontak dan memberi tanda kepada para anak buah mereka yang berada di luar. Bahkan beberapa di antara mereka sudah mencabut pedang masing-masing. Namun, tiba-tiba saja Coa-ciangkun roboh terkulai karena panglima ini sudah terkena totokan jari tangan kakek Kam Hong. Sedangkan Song-ciangkun demikian pula, roboh tertotok oleh nenek Bu Ci Sian!

Para perwira lainnya segera menyerang dan hendak memberontak di ruangan itu, maka kakek Kam Hong dan nenek Bu Ci Sian bergerak cepat merobohkan beberapa orang. Pada saat itu, pasukan yang sudah siap di luar dan mengepung tempat itu, menerjang masuk dan dengan mudahnya, tanpa banyak menimbulkan kegaduhan, apa lagi karena dibantu oleh Kam Hong dan Bu Ci Sian, dua puluh dua orang perwira pemberontak itu dapat dilumpuhkan, kedua tangan mereka diborgol dan dijadikan tawanan! Semua ini berlangsung tanpa diketahui orang luar.

Liu Tai-ciangkun lalu memerintahkan supaya menjaga ketat benteng itu dan melarang semua anggota pasukan keluar dari dalam benteng. Ternyata perintahnya ini membawa hasil dengan ditangkapnya puluhan orang anak buah pasukan, perwira-perwira rendah yang hendak melarikan diri keluar benteng. Mereka adalah anak buah Coa Tai-ciangkun yang mendengar akan penangkapan-penangkapan itu dan hendak melarikan diri untuk melapor kepada Tiat-liong-pang.

Namun, berkat kesiap siagaan sesuai dengan perintah Liu Tai-ciangkun, mereka semua tertangkap dan selanjutnya, dengan memaksa para tawanan ini, dengan mudah rekan-rekan mereka ditangkapi. Ternyata jaringan itu sudah cukup luas karena jumlah orang tawanan ada seratus orang lebih!

Liu-ciangkun segera mengangkat perwira-perwira baru yang setia terhadap pemerintah untuk menggantikan para pemegang pimpinan di dalam benteng itu dan membersihkan semua unsur pemberontakan. Para tawanan dikawal dengan sangat ketat oleh pasukan khusus, kemudian dikirim ke kota raja untuk diadili. Semua ini terjadi tanpa kebocoran sehingga pihak Tiat-liong-pang sama sekali tidak mengetahuinya.

Setelah penumpasan para perwira pemberontak dalam benteng itu selesai, kakek Kam Hong dan isterinya, nenek Bu Ci Sian, segera meninggalkan benteng untuk melakukan penyelidikan ke Tiat-liong-pang. Mereka kini menduga bahwa besar sekali kemungkinan puteri mereka juga berada di antara para pendekar yang kabarnya juga bergerak untuk menentang para tokoh sesat yang bersekutu dengan Tiat-long-pang untuk melakukan pemberontakan, seperti yang mereka dengar dari para penyelidik pasukan yang masih setia kepada pemerintah.

Liu-ciangkun mengucapkan terima kasih. Ketika panglima ini hendak memberi hadiah berupa barang berharga dan emas, tentu saja kakek dan nenek itu menolak secara halus dan sekali berkelebat keduanya pergi tanpa pamit lagi…..

********************

Pengalamannya yang pahit ketika bertemu dengan kakek sakti Kam Hong dan isterinya itulah yang membuat Ouwyang Sianseng tidak mau membunuh tiga orang pendekar yang tertawan itu begitu saja. Dia tahu betapa di antara para pendekar terdapat banyak sekali orang sakti, dan bahwa dia harus bisa mendapatkan lebih banyak pembantu yang memiliki kepandaian tinggi, karena jika tidak, hanya mengandalkan pasukan saja, akan sukarlah gerakan mereka itu akan berhasil dengan baik.

Para pendekar yang menentang gerakannya harus dapat dihadapi dengan kekuatan yang memiliki ilmu silat tinggi pula. Maka, melihat betapa Hong Beng, Kun Tek dan Li Sian ketiganya adalah orang-orang muda yang mempunyai ilmu silat tinggi, Ouwyang Sianseng merasa sayang jika harus membunuh mereka begitu saja. Oleh karena itu, dia berusaha sedapat mungkin untuk membuat mereka bertiga tunduk dan takluk, kemudian suka membantu gerakan ‘perjuangan’ mereka menjatuhkan pemerintah Mancu.

Setelah memperlihatkan hukuman yang amat mengerikan terhadap Cui Bi atau Nyonya Pouw Ciang Hin untuk membuat hati mereka bertiga itu ngeri, Ouwyang Sianseng pergi meninggalkan mereka dan memberi waktu sehari semalam untuk memilih, yaitu mereka bertiga menakluk dan membantu gerakan perjuangan Tiat-liong-pang, atau dibunuh!

Setelah Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong meninggalkan mereka bertiga, ketiga orang muda itu saling pandang. Pouw Li Sian bergidik mengenang nasib yang menimpa diri bekas kakak iparnya tadi. Akan tetapi dia dapat membayangkan apa yang terjadi pada diri kakak iparnya itu setelah kakaknya terbunuh.

Agaknya Siangkoan Liong sudah menyuruh tangkap wanita itu. Dengan kepandaiannya merayu dan ditambah ketampanan dan kegagahannya, Siangkoan Liong telah berhasil menundukkan wanita yang agaknya tidak mampu mempertahankan kehormatannya dan menyerahkan diri menjadi kekasih atau permainan Siangkoan Liong! Tadi hal ini mudah dilihat ketika kakak iparnya itu mencela dan memakinya, dan sikap wanita itu terhadap Siangkoan Liong.

Sungguh pemuda berhati iblis! Ia sendiri telah menjadi korban rayuan pemuda jahat itu! Li Sian merasa menyesal sekali dan diam-diam ia bersumpah untuk membunuh pemuda itu sebelum ia mati.

Tiba-tiba terdengar suara Gu Hong Beng, halus namun penuh kesungguhan, ditujukan kepada dirinya dan Kun Tek. “Bagaimana pendapat kalian dengan pilihan yang mereka ajukan tadi?”

Mendengar pertanyaan ini, Li Sian meragu untuk menjawab, akan tetapi Cu Kun Tek, dengan suaranya yang besar dan lantang, segera menjawab tanpa banyak pikir lagi. “Pilihan yang mana? Bagiku tidak ada pilihan lain! Lebih baik mati dari pada harus takluk kepada mereka! Menyerah dan membantu pemberontakan mereka? Huh, biar mereka membunuh aku seratus kali, aku tetap tidak akan sudi untuk menakluk!”

“Hemmm, jadi engkau memilih mati konyol di tangan mereka, Kun Tek? Lalu bagaimana dengan pendapatmu, nona Pouw?”

Diam-diam Li Sian merasa kagum sekali melihat sikap Kun Tek. Pemuda tinggi besar ini tidak hanya gagah wajah dan tubuhnya, akan tetapi juga wataknya amat gagah perkasa. Sungguh seorang pendekar perkasa sejati! Ia memandang kagum kepada pemuda itu dan mendengar pertanyaan Hong Beng, ia pun menoleh kepadanya.

“Bagi aku pun tidak ada pilihan lain. Aku tidak sudi menyerah dan menakluk kepada mereka!”

“Bagus sekali! Ha-ha-ha-ha, jangan khawatir, Nona. Kita berdua tidak sudi menakluk, biarlah kalau Hong Beng takut mati dan ingin menakluk. Aku akan menemanimu sampai kita berdua dibunuh, kemudian nyawaku akan menemani nyawamu sampai selamanya. Jangan khawatir, nona Pouw, sekali bicara, aku akan selalu memegang teguh janjiku, disaksikan Langit dan Bumi!”

Mendengar ini, wajah Pouw Li Sian menjadi agak pucat dan ia memandang kepada Kun Tek dengan mata terbelalak. Hatinya seperti ditusuk dan merasa terharu sekali.

“Saudara Cu Kun Tek… engkau… mengapa engkau berkata demikian? Mengapa…?”

Dia bertanya agak gagap karena dia benar-benar merasa terkejut, heran dan bingung mendengar ucapan Kun Tek tadi. Akan tetapi Hong Beng hanya menahan senyumnya, karena pemuda ini sudah dapat menjenguk isi hati Kun Tek dan tahu bahwa Kun Tek telah jatuh hati kepada Pouw Li Sian.

Kun Tek adalah seorang pemuda yang keras hati, jujur dan dalam hal cinta mencinta, dia dapat dikatakan masih hijau. Selama hidupnya, pernah dia satu kali jatuh cinta, yaitu kepada seorang gadis bernama Can Bi Lan yang kini sudah menjadi isteri Pendekar Suling Naga. (baca kisah Suling Naga).

Ketika cintanya gagal karena ternyata dia hanya bertepuk tangan sebelah, dia merasa jera untuk mendekati gadis lagi sehingga sampai sekarang dia tidak pernah lagi mau bergaul dengan seorang gadis, sampai kini dia bertemu dengan Li Sian dan tergila-gila karena jatuh cinta! Saking jujurnya, maka di depan Hong Beng dia pun tidak merasa ragu-ragu lagi untuk membuat pengakuan itu, apa lagi kalau mengingat bahwa mereka menghadapi ancaman maut yang agaknya takkan terelakkan lagi itu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo