October 8, 2017

Kisah Si Bangau Putih Part 11

 

Wajah yang sebetulnya tampan itu nampak tidak menarik lagi ketika dia tersenyum dan diam-diam Suma Lian bersikap waspada. Orang seperti ini tentu tidak boleh dipercaya, demikian bisik hatinya. Sementara itu, pria yang kurus itu ketika melihat bahwa yang mengejarnya seorang gadis yang teramat cantik menarik, memperlebar senyumnya dan melangkah maju sambil menjura dengan sikap sopan.

“Aih, ada urusan apakah engkau mengejar dan menahan aku, Nona? Siapakah nama Nona dan ada keperluan apakah dengan aku?”

Suma Lian mengerutkan alisnya. Orang ini biasa mempergunakan topi caping lebar untuk menyembunyikan mukanya, akan tetapi sekarang dia mengangkat topi itu tinggi-tinggi sehingga nampak wajahnya yang sebenarnya tampan namun kurus sekali itu.

Dan sepasang mata yang tajam itu, selain mengandung kelicikan dan kekejaman, juga Suma Lian merasakan adanya kekuatan yang tidak wajar, seperti dimiliki orang yang biasa mempergunakan ilmu sihir. Hal ini diketahuinya semenjak ia dilatih ilmu sihir oleh ayahnya, sepulangnya dari perguruan. Oleh karena itu, ia pun bersikap hati-hati.

“Tidak ada urusan antara kita, dan tidak ada perlunya aku memperkenalkan nama. Akan tetapi, semalam aku melihat engkau melarikan seorang anak laki-laki sehingga timbul keinginan tahuku apa yang terjadi dengan anak itu? Di mana adanya anak laki-laki itu sekarang dan mengapa engkau melarikannya malam- malam dari rumah penginapan itu?”

Pria itu terbelalak. “Tapi… tapi… kulihat engkau bukanlah wanita yang membayangi dan mengejarku kemarin…”

“Memang bukan! Aku yang bermalam di kamar sebelah dan mendengarmu melarikan diri. Hayo katakan, siapakah anak itu dan mengapa pula engkau melarikannya dan di mana dia sekarang?”

“Bukan urusamu, Nona, dan kunasehatkan agar engkau tidak mencampuri urusanku yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu.”

“Hemmm, setiap kali hidungku mencium sesuatu yang busuk, tak mungkin aku tinggal diam begitu saja sebelum aku tahu betul bahwa tidak ada kejahatan dilakukan orang! Bawa aku pada anak itu agar aku dapat bicara sendiri dengan dia baru aku percaya bahwa engkau tidak melakukan sesuatu yang jahat terhadap dia!”

Laki-laki ini mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat. “Nona, engkau masih muda dan cantik, tetapi amat sombong. Engkau tidak memandang sebelah mata kepada orang lain, agaknya engkau belum mengenal siapa diriku. Aku Liok Cit, tak percuma mempunyai julukan Tok-ciang Hui-moko (Iblis Terbang Bertangan Racun), dan tidak biasa aku diperintah orang lain! Pergilah sebelum terlambat!”

Suma Lian belum pernah mendengar nama julukan itu dan ia tersenyum. Ia seorang gadis yang lincah jenaka dan pemberani, maka mendengar nama julukan itu ia merasa geli.

“Wah-wah, julukanmu demikian hebatnya, seakan-akan engkau ini pandai terbang dan seolah-olah tanganmu beracun. Kulihat mungkin hanya hatimu saja yang beracun, dan mukamu seperti orang berpenyakit keracunan yang sudah mendekati liang kubur. Kalau engkau tak mau membawaku kepada anak itu, sekali dorong engkau tentu akan masuk liang kubur!”

“Bocah sombong!” Liok Cit, laki-laki itu, memaki.

Mendadak dia pun menyerang dengan terkaman tangan kanan ke arah pundak Suma Lian, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut. Serangan ini ganas dan berbahaya sekali, namun dengan mudahnya Suma Lian mengelak sambil mundur dan kakinya mencuat dengan tendangan menyamping, mengarah lambung lawan.

“Dukkk!”

Liok Cit menangkis tendangan itu dan balas menyerang dengan lebih dahsyat lagi. Tubuhnya mendoyong ke depan, kedua tangannya terbuka dan dipergunakan sebagai golok, yang kanan membacok leher, yang kiri menusuk ke arah dada.

Melihat gerakan orang, Suma Lian maklum bahwa lawan ini memang bukan orang sembarangan, memiliki gerakan yang cepat dan dari sambaran kedua lengannya pun dapat dilihat bahwa dia memiliki tenaga sinkang yang kuat. Akan tetapi ia tidak takut. Ia melindungi kedua tangannya dengan tenaga Inti Bumi yang dapat menolak semua hawa beracun, dan menangkis sambil mengerahkan Swat-im Sinkang.

“Plak! Plak!”

Kedua pasang lengan bertemu dan tubuh Liok Cit terdorong ke belakang dan dia agak menggigil karena ketika lengannya bertemu dengan lengan gadis itu, ada hawa dingin melebihi salju menyusup ke tubuhnya melalui lengan yang beradu dengan lengan gadis itu.

“Ihhhhh…!”

Dia mengguncang tubuhnya untuk mengusir hawa dingin dan pada saat itu, Suma Lian sudah datang menyerangnya dengan totokan ke arah pundaknya. Cepat sekali gerakan gadis itu, akan tetapi lebih cepat lagi gerakan Si Iblis Terbang, karena tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat jauh ke belakang.

Suma Lian terkejut dan maklum bahwa orang ini memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang istimewa dan kiranya pantas memakai julukan Iblis Terbang. Ia mendesak lagi dengan serangan-serangannya, untuk memaksa orang itu supaya membawanya ke tempat anak yang semalam dibawanya pergi. Kini ia percaya akan keterangen Hong Li. Orang ini tentulah seorang penjahat lihai yang melakukan penculikan terhadap anak itu. Buktinya anak itu merengek minta pulang dan tentu kini disembunyikan di suatu tempat.

Liok Cit mengelak sambil berloncatan ke sana-sini. Dia mempergunakan kecepatan gerakannya, namun dia tidak mampu melepaskan diri dari desakan Suma Lian. Hanya dengan cara berloncatan yang amat cepat dia selalu dapat menjauh lagi tiap kali sudah terdesak hebat.

“Engkau masih tidak mau menyerah dan membawaku kepada anak itu?” bentak Suma Lian dan tiba-tiba ia menotok dengan ilmu totok Coan-kut-ci yang baru saja dipelajarinya dari ayahnya.

Ilmu totokan ini adalah ilmu yang berasal dari golongan hitam, merupakan ilmu yang keji dan dahsyat bukan main. Baru hawa totokannya saja sudah terasa oleh lawan dan Liok Cit juga merasa terkejut. Tadi ketika gadis itu menggunakan tenaga yang berhawa dingin, dia sudah terkejut dan jeri, kini gadis itu menyerangnya dengan totokan yang demikian dahsyatnya.

Kembali dia menyelamatkan diri dengan ilmu ginkang-nya. Tubuhnya terjengkang ke belakang seperti dilemparkan akan tetapi dia selamat dari totokan yang amat dahsyat itu. Tahulah dia bahwa jika dilanjutkan, akhirnya dia akan celaka. Akan tetapi susahnya, kalau hendak melarikan diri pun pasti dapat dikejar karena ilmu berlari cepat gadis itu pun hebat sekali. Diam-diam dia berkeringat dingin, menduga- duga siapa adanya gadis muda yang demikian lihainya.

Sementara itu, Suma Lian sendiri juga menjadi penasaran. Jelaslah bahwa dalam hal ilmu silat, ia tidak kalah oleh si baju hijau ini, akan tetapi orang ini sungguh licin seperti belut dan mempunyai ginkang yang istimewa sehingga selalu dapat menghindarkan diri pada detik terakhir kalau serangannya sudah hampir mengenai sasaran.

Dengan marah dia lalu mencabut suling emas dari ikat pinggangnya dan menyerang dengan suling emasnya yang diputar dengan cepat. Suling itu mengeluarkan gaung merdu seperti ditiup dan berubah menjadi gulungan sinar emas yang menyilaukan mata, menyambar-nyambar ke arah Liok Cit.

Orang ini pun cepat mencabut pedangnya. Melihat gulungan sinar emas menyambar-nyambar, dengan gugup dia lalu menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

“Cringgg…!“

Pedang itu seperti terlibat gulungan sinar dan Liok Cit tidak mampu mempertahankan pegangan gagang pedangnya yang langsung terlepas dari tangannya. Mana dia mampu menandingi Ilmu Koai-siauw Kiam- sut (Ilmu Pedang Suling Siluman) yang baru saja dipelajari gadis itu dari ibunya.

Namun begitu sinar emas menyambar ke arah dadanya, sambil mengeluarkan teriakan melengking tahu- tahu tubuh Liok Cit sudah mencelat ke atas sebatang pohon tak jauh dari situ. Hebat memang gerakan ini, cepat seperti setan terbang saja!

Suma Lian menudingkan sulingnya ke arah lawan yang berada di puncak pohon itu. “Engkau masih belum mau menyerah? Biar engkau melarikan diri ke neraka sekali pun, jangan harap dapat terlepas dari sulingku ini! Cepat turun dan tunjukkan aku di mana adanya anak itu!”

Tok-ciang Hui-moko Liok Cit menghela napas panjang. Dia maklum bahwa dia kalah, akan tetapi dia masih mempunyai andalan lainnya untuk menundukkan gadis ini. Dia adalah seorang yang lama berkecimpung di dunia hitam dan menjadi sahabat baik dari para tosu Pek-lian-kauw sehingga pernah dia mempelajari ilmu sihir. Tentu saja ilmu ini selalu digunakannya untuk melakukan kejahatan dan kini dia hendak mempergunakan ilmu ini untuk menundukkan gadis yang membahayakan dirinya itu.

“Baiklah, Nona aku menyerah kalah. Aku bukan musuhmu, bukan orang jahat dan tidak bermaksud jahat kepadamu. Biarkan aku turun dan mari kita bicara baik-baik, Nona.”

“Turunlah. Tidak usah banyak bicara, asal engkau membawa aku kepada anak itu dan membiarkan aku bicara sendiri dengan dia, cukuplah. Kalau memang engkau tidak melakukan kejahatan, aku pun tidak suka mengganggu orang yang tidak berdosa,” kata Suma Lian sambil menyimpan kembali suling emasnya di ikat pinggang, tertutup oleh bajunya.

Dengan gerakan bagai seekor burung melayang turun, Liok Cit meloncat turun dari atas puncak pohon itu dan berdiri di depan Suma Lian. Diam-diam gadis ini amat kagum dan memujinya. Ginkang orang ini memang hebat sekali, pikirnya, dan ia sendiri masih kalah setingkat dalam hal meringankan tubuh. Untung bahwa dalam hal ilmu silat dan tenaga, ia masih menang jauh sehingga tadi ia mampu membuat orang ini tidak berdaya.

Akan tetapi, kini Liok Cit merangkapkan kedua tangannya seperti orang menyembah di depan dada, matanya memandang tajam penuh wibawa dan suaranya terdengar halus, namun mendesis dan mengandung pengaruh yang kuat pula. “Aku seorang sahabat, Nona, bukan musuh. Aku bermaksud baik kepadamu. Lihat, mukamu penuh keringat, usaplah dulu keringatmu baru kita bicara.”

Otomatis, Suma Lian mengusap sedikit keringat di dahinya dengan ujung lengan baju. Tiba-tiba saja gadis ini maklum. Keparat, pikirnya di dalam hati, orang ini menggunakan kekuatan sihir! Tentu saja ia mengerti dan dapat merasakan karena bukankah baru saja ia dilatih ilmu sihir oleh ayahnya sendiri? Tadi pun, dari pandang mata Liok Cit, ia sudah menduga bahwa orang ini menguasai kekuatan sihir dan sekarang agaknya hendak mempengaruhinya dengan sihir.

Diam-diam gadis ini tersenyum geli dalam hatinya. Baiklah, pikirnya, kalau ia tidak dapat menundukkannya karena orang ini terlalu cepat mengelak, dia akan pura-pura tersihir agar dapat dibawa ke tempat anak itu. Akan tetapi, diam-diam ia mengerahkan tenaga batinnya, bukan hanya sekedar untuk melawan ilmu sihir lawan, melainkan juga untuk mempengaruhi Liok Cit sehingga Liok Cit percaya bahwa ia yang tersihir.

Liok Cit tersenyum girang melihat gadis itu mengusap keringat di dahi dengan ujung lengan bajunya. Hal itu baginya menjadi tanda bahwa dia sudah berhasil menguasai kemauan gadis itu!

“Mari kubantu menghapus keringatmu, nona man…“

Dia hendak mengatakan kata ‘manis’, akan tetapi tiba-tiba saja dia merasa takut dan tidak sepatutnya mengatakan itu, juga tidak sepatutnya dia menjamah muka gadis itu, maka dia pun menarik kembali tangannya dan berkata, “Ah, mana aku berani? Maafkan aku, Nona…“

Sama sekali Liok Cit tidak tahu bahwa perasaan takut dan mengundurkan diri ini berarti bahwa dialah yang terpengaruh oleh kekuatan kemauan sihir dari nona itu! Dia percaya bahwa dia telah berhasil menyihir Suma Lian, padahal sebetulnya, kepercayaan itu adalah hasil tanaman kekuatan sihir Suma Lian kepadanya!

“Marilah, Nona, mari ikut bersamaku!” katanya dengan ramah dan dengan hati gembira karena dia telah dapat menangkap gadis itu dengan pengaruh sihirnya.

“Kau akan membawa aku bertemu dengan anak laki-laki semalam?” bertanya Suma Lian, masih mengendalikan lawannya itu.

“Tentu, tentu…, ha-ha-ha, marilah ikut denganku!” kata pula Liok Cit, agak tergesa-gesa.

Dia khawatir kalau sampai kekuatan sihirnya lenyap kekuatannya. Dia mulai ragu-ragu, akan tetapi melihat betapa lawan yang tadinya galak itu kini menjadi ‘jinak’, dia masih yakin bahwa sihirnya yang menang.

Suma Lian memang belum yakin siapa orang ini dan apa yang telah dilakukan orang ini terhadap anak laki- laki itu, dan siapa pula anak laki-laki itu. Kao Hong Li sendiri pun hanya menyangka saja bahwa orang ini telah menculik anak itu tanpa ada keterangan yang jelas. Oleh karena itu, ia tidak mau turun tangan sebelum ia bertemu dengan anak itu dan mendengar sendiri dari anak itu apa yang sebenarnya yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan orang ini terhadap dirinya.

Tok-ciang Hui-moko Liok Cit berjalan cepat memasuki sebuah hutan di bukit kecil yang sunyi. Suma Lian juga mengerahkan ilmunya berlari cepat, mengikutinya dari belakang. Kadang-kadang lelaki itu memperlambat larinya dan menoleh, memerintahkan sesuatu yang selalu diturut oleh Suma Lian! Disuruh berlari lambat, ia menurut, disuruh cepat, ia pun cepat. Hal ini semakin memperbesar keyakinan diri Liok Cit bahwa gadis itu masih berada dalam kekuasaan sihirnya, padahal justru sebaliknya.

Akhirnya, tibalah mereka di depan sebuah pondok kecil yang nampaknya masih baru. Di belakang pondok itu nampak banyak sekali pondok-pondok lain yang sederhana sekali, agaknya baru dibuat secara darurat untuk menjadi tempat tinggal banyak sekali orang. Di sebelah kanan pondok itu terdapat sebuah kereta, lengkap dengan empat ekor kuda dan selanjutnya sunyi, tidak nampak ada orang di luar pondok.

Suma Lian bersikap waspada. Dia dapat menduga bahwa agaknya ia diajak ke tempat sarang yang berbahaya di mana tinggal banyak orang yang tentu menjadi teman-teman dari Tok-ciang Hui-moko Liok Cit ini!

Suma Lian sama sekali tidak tahu bahwa biar pun ia sudah berhasil menguasai Liok Cit sehingga laki-laki itu membawanya ke tempat di mana adanya anak laki-laki itu berada, sebenarnya ia dibawa ke tempat yang amat berbahaya. Tempat apakah pondok-pondok baru di tengah hutan di bukit yang sunyi itu?

Kiranya itu adalah sarang sementara yang dipergunakan oleh Sin-kiam Mo-li yang mulai menghimpun kekuatan dari golongan sesat untuk memperkuat pasukan yang sedang dibentuk dan dibangun oleh Tiat- liong-pang di bawah pimpinan Siangkoan Lohan!

Sin-kiam Mo-li berhasil mengumpulkan sisa orang-orang Ang-i Mo-pang (Perkumpulan Iblis Baju Merah) yang dulu pernah merajalela. Perkumpulan ini dahulunya bekas anak buah dari Iblis Baju Hitam yang membentuk Hek-i Mo-pang, tapi kemudian sisa-sisanya, di bawah pimpinan seorang datuk sesat bernama Tee Kok, memimpin orang-orang yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi itu dan mengubah pakaian mereka menjadi merah dan menamakan perkumpulan itu Ang-i Mo-pang.

Kemudian, perkumpulan ini takluk pada Bi-kwi atau yang bernama Ciong Siu Kwi, murid dari Sam Kwi. Setelah Bi-kwi mengundurkan diri dari dunia sesat, bahkan menikah dan menjadi orang biasa yang hidup melalui jalan yang benar, perkumpulan itu pun segera ditinggalkannya dan menjadi gerombolan liar!

Kini, karena mendapat tugas mengumpulkan kekuatan dari golongan hitam, Sin-kiam Mo-li berhasil menghubungi dan menghimpun mereka. Dengan kepandaiannya yang tinggi, mudah saja baginya untuk menguasai mereka dan kini ada kurang lebih lima puluh orang sudah siap di bawah perintahnya, dan untuk sementara, Sin-kiam Mo-li membangun sarang sementara di bukit itu karena ia ingin mengumpulkan tenaga-tenaga yang kuat sebelum membawa mereka semua kepada Siangkoan Lohan.

Tok-ciang Hui-moko Liok Cit adalah salah seorang pembantu Sin-kiam Mo-li, karena Toat-beng Kiam-ong bertugas di lain tempat, juga bertugas menghimpun para tokoh persilatan untuk bersekutu dengan Tiat- liong-pang. Liok Cit merupakan pembantu yang amat baik, karena selain pemuda ini cukup lihai ilmu silatnya, walau pun tidak selihai Toat-beng Kiam-ong, namun pemuda ini memiliki dua keistimewaan, yaitu dia seorang ahli ginkang yang sukar dicari bandingannya dan dia pandai pula ilmu sihir yang pernah dipelajarinya dari para tosu Pek-lian-kauw.

Sin-kiam Mo-li yang cerdik itu kini memberi sebuah tugas istimewa kepada Liok Cit, yaitu menculik seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah dusun yang aman dan kecil. Putera sebuah keluarga petani biasa! Memang aneh bagi orang lain, akan tetapi Sin-kiam Mo-li adalah seorang wanita yang cerdik sekali.

Ia teringat akan seorang yang tenaganya sangat boleh diandalkan untuk bisa membantu persekutuan mereka. Orang itu bukan lain adalah seorang wanita yang dahulu bernama Ciong Siu Kwi yang berjuluk Bi- kwi (Setan Cantik), seorang datuk sesat yang luar biasa lihainya, murid terkasih dari Sam Kwi (Tiga Setan).

Kalau saja ia mampu membujuk atau memaksa Bi-kwi menjadi sekutu mereka, tentu Siangkoan Lohan akan girang sekali dan persekutuan mereka akan menjadi kuat. Selain lihai, Bi-kwi juga amat cerdik.

Seperti telah diceritakan dalam kisah SULING NAGA, Bi-kwi telah bertobat setelah ia bertemu jodohnya, yaitu seorang pemuda petani biasa bernama Yo Jin. Demi cintanya, Bi-kwi rela meninggalkan kehidupannya sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, menjadi isteri Yo Jin dan hidup sebagai petani biasa di dusun itu, sama sekali tidak pernah mau mencampuri urusan dunia persilatan.

Bahkan ia selalu bersikap wajar sehingga semua penghuni dusun itu tidak seorang pun mengetahui bahwa isteri Yo Jin adalah seorang wanita yang lihai bukan main! Bahkan setelah mereka memiliki seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Yo Han, anak ini sama sekali tidak pernah dilatih silat oleh ibunya, sesuai dengan keinginan ayahnya.

Nama Bi-kwi sudah dilupakan oleh dunia persilatan, bahkan para pendekar pun tidak ada yang mengetahuinya. Biar pun pada akhir kehidupannya sebagai seorang ahli silat, Bi-kwi telah menebus dosa- dosanya dengan jasa yang besar, yaitu menyelamatkan Kao Hong Li dari tangan Sin-kiam Mo-li, Bi-kwi dianggap sudah hilang dari dunia persilatan! (baca kisah Suling Naga)

Tetapi tidaklah demikian bagi Sin-kiam Mo-li! Wanita ini tidak pernah lupa bahwa Bi-kwi pernah menggagalkan usahanya, dan diam-diam ia pun lalu menyebar orang-orangnya untuk melakukan penyelidikan di mana adanya wanita bekas musuhnya itu. Dan orang-orang yang disebarnya untuk melakukan penyelidikan justru orang-orang bekas anak buah Ang-i Mo-pang!

Setiap orang Ang-i Mo-pang tentu saja mengenal Bi-kwi yang pernah menaklukkan mereka sehingga akhirnya, seorang di antara mereka berhasil menemukan Bi-kwi yang telah menjadi seorang isteri dan ibu rumah tangga keluarga petani Yo Jin di dusun itu. Setelah tempat tinggal Bi-kwi ditemukan, tibalah giliran Tok-ciang Hui-moko Liok Cit!

Jagoan ini sudah dipesan dengan teliti oleh Sin-kiam Mo-li supaya tidak menggunakan kekerasan di depan Bi-kwi, karena kalau hal itu terjadi, tidak akan mungkin dia akan berhasil menculik anak keluarga itu. Maka, Liok Cit menggunakan kesempatan selagi Yo Jin dan isterinya, Ciok Siu Kwi, sibuk menuai gandum di sawah, dan mengajak pergi anak mereka yang hanya seorang, yaitu seorang anak laki-laki yang bernama Yo Han. Dengan kepandaian sihirnya, dengan mudah Liok Cit membuat Yo Han menurut saja diajak pergi dari dusun itu tanpa ada yang melihatnya.

Setelah sampai di luar dusun, karena masih ngeri membayangkan keterangan Sin-kiam Mo-li bahwa ibu anak itu adalah seorang wanita yang berilmu tinggi dan bekas murid terkasih dari Sam Kwi, maka Liok Cit lalu menggendongnya dan berlari cepat. Larinya yang cepat menarik perhatian Kao Hong Li dan gadis perkasa itu lalu membayanginya sampai pada malam hari itu ia bertemu dengan Suma Lian.

Demikianlah, tanpa diketahui Suma Lian, dia diajak oleh Liok Cit masuk ke sarang di mana tinggal Sin-kiam Mo-li dan lima puluh orang lebih anggota Ang-i Mo-pang, juga para pembantunya yang rata-rata memiliki ilmu yang tinggi!

Dan memang Yo Han, anak laki-laki itu, berada di situ, di dalam kamar dalam keadaan baik-baik saja dan dijaga oleh beberapa orang anggota Ang-i Mo-pang, diperlakukan dengan baik. Hal ini adalah karena maksud Sin-kiam Mo-li menculik Yo Han bukanlah untuk mencelakainya, melainkan untuk memaksa ibu anak itu agar mau bersekutu dan membantu Siangkoan Lohan!

Setelah tiba di depan pondok itu, Suma Lian memperkuat pengaruh sihirnya sehingga dengan penuh kepercayaan Liok Cit lalu berteriak ke arah dalam pondok dengan nada suara girang, “Mo-li, keluarlah dan lihatlah siapa yang sudah berhasil kutuntun datang seperti seekor domba ke sini!”

Tadi pun melalui para penjaga, Sin-kiam Mo-li sudah diberi tahu akan datangnya Liok Cit bersama seorang gadis cantik yang gagah perkasa, maka ia pun sudah siap siaga dan menyuruh semua anak buah untuk bersembunyi dan siap menanti komando. Ketika ia mendengar seruan Liok Cit, hati Sin-kiam Mo-li menjadi gembira dan diam-diam ia mengagumi pembantunya itu. Kiranya gadis itu sudah berada di bawah pengaruh sihir Lok Cit, maka pembantunya itu berani berucap demikian.

Ia pun segera meloncat keluar dari dalam pondok itu sambil tersenyum. Akan tetapi, begitu tiba di luar pondok, senyumnya menghilang dan matanya terbelalak. Sin-kiam Mo-li sendiri seorang yang pandai ilmu sihir, maka ia pun segera dapat melihat keadaan yang aneh pada diri Liok Cit itu.

Tadi Liok Cit meneriakkan bahwa ia telah menuntun seekor domba. Akan tetapi setelah tiba di luar, ia melihat Liok Cit berdiri tanpa daya dengan mata kosong. Di belakangnya berdiri seorang gadis cantik manis dan gagah yang tersenyum penuh kemenangan. Bukan gadis itu yang berada di bawah pengaruh sihir, melainkan justru Liok Cit yang kelihatannya kehilangan pengaruh sama sekali!

“Liok Cit, mengapa engkau?” Sin-kiam Mo-li membentak sambil mengerahkan tenaga dalamnya.

Liok Cit teringat dan dia pun sadar, akan tetapi menjadi bingung karena tiba-tiba jari tangan Suma Lian telah menempel di tengkuknya.

“Aku… aku…,“ katanya gagap dan bingung, tak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia hanya menyadari bahwa jari tangan di tengkuknya itu sekali bergerak dapat saja membuat nyawanya melayang meninggalkan tubuhnya.

“Hayo cepat suruh anak itu datang ke sini dan bicara denganku!” Suma Lian membentak sambil menggerakkan jari tangannya yang menempel di tengkuk Liok Cit.

Diam-diam Sin-kiam Mo-li terkejut. Kiranya gadis ini datang untuk membebaskan anak itu! Ia merasa heran karena belum pernah mengenal gadis itu. Kenapa bukan Bi-kwi yang muncul? Ia lalu melangkah maju dan tersenyum kepada Suma Lian.

“Adik yang manis,” katanya sambil tersenyum dan dengan sikap yang ramah. “Apakah engkau diutus oleh Bi-kwi Ciong Siu Kwi untuk datang menjemput Yo Han?”

Suma Lian memandang bingung tidak tahu apa arti ucapan itu karena memang ia tidak mengenal nama- nama yang disebutkan tadi. “Aku datang untuk bicara dengan anak laki-laki yang telah dilarikan oleh orang ini. Suruh dia lekas keluar, aku tidak mempunyai urusan lain dengan siapa pun juga.”

Sin-kiam Mo-li tersenyum lebar, diam-diam ia pun terkejut. Ia tadi telah mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi gadis ini, akan tetapi merasa betapa malah ada kekuatan yang membuat pengaruh sihirnya itu membalik!

“Ahh, kiranya begitu, adik yang baik. Agaknya engkau telah salah paham dengan Liok Cit. Anak itu adalah keponakanku dan dia kuajak ke sini untuk berlibur. Ibunya akan datang menjemputnya. Anak itu baik-baik saja, kalau engkau tidak percaya, tunggulah sebentar, akan kusuruh dia keluar.”

Sin-kiam Mo-li masuk ke dalam pondoknya, diam-diam memberi perintah kepada anak buahnya, kemudian menuntun seorang anak laki-laki keluar pondok.

Suma Lian memandang penuh perhatian. Seorang anak laki-laki yang usianya sekitar tujuh tahun. Agaknya pakaiannya baru saja diganti, masih bersih dan baru. Anak yang tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan sepasang matanya tajam, akan tetapi pada saat itu, pandang matanya kosong.

“Nah, inilah dia Yo Han, keponakanku itu. Anak Han, cici di sana itu mengira bahwa engkau dipaksa datang ke sini. Katakan bahwa engkau mengunjungi bibi tuamu ini dan menanti jemputan ibumu dan bahwa engkau senang berada di sini,” kata Sin-kiam Mo-li.

Anak itu memandang kepada Suma Lian dengan bingung, kemudian menoleh ke arah Sin-kiam Mo-li yang menggandeng tangannya, dan dia pun bicara dengan suara gagap, “Aku… aku senang di sini…“

Suma Lian dapat mencium sesuatu yang tidak beres. Ia sudah tahu bahwa Liok Cit ialah seorang yang amat lihai dan pandai ilmu sihir. Agaknya penculik anak ini membawanya menghadap kepada wanita cantik itu yang tentu saja sebagai pemimpinnya lebih lihai lagi.

Ada sesuatu yang nampaknya tidak beres pada anak itu. Matanya demikian tajam dan membayangkan kecerdikan, akan tetapi sama sekali kehilangan cahayanya. Diam-diam dia pun mengerahkan tenaga batinnya seperti yang diajarkan ayahnya baru-baru ini, memandang ke arah anak laki-laki itu di antara kedua matanya dan suaranya terdengar lantang penuh wibawa,

“Anak baik, engkau meninggalkan ibumu tanpa pamit! Engkau dibawa pergi laki-laki ini di luar kehendakmu dan engkau ingin bertemu dengan ibumu, ingin pulang. Katakan, apa yang telah terjadi?”

Tiba-tiba anak itu terbelalak dan seolah-olah dia baru teringat akan keadaan dirinya! Dengan kaget dia memandang ke arah Liok Cit, lalu menoleh kepada Sin-kiam Mo-li dan dia pun berteriak.

“Ibu! Mana ibuku! Katanya di sini…!” Dan anak itu berusaha melepaskan pegangan tangan Sin-kiam Mo-li untuk melarikan diri.

Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, Sin-kiam Mo-li sudah kembali menangkap anak itu. Kini marahlah Sin-kiam Mo-li dan dengan mata mencorong dia memandang kepada Suma Lian.

“Hemmm, siapakah engkau yang hendak mencampuri urusan kami?”

“Tidak perlu dikatakan aku siapa, akan tetapi kembalikanlah anak itu, lepaskan biar kubawa dia kembali kepada orang tuanya,” kata Suma Lian.

“Hemmm, kalau aku menolak?” tantang Sin-kiam Mo-li.

“Terpaksa akan kurobohkan penculik ini terlebih dahulu sebelum aku merampas kembali anak itu dengan kekerasan!” Suma Lian menjawab tenang, jari tangannya siap menotok tengkuk dan Liok Cit menjadi pucat wajahnya, tengkuknya terasa dingin seperti terkena es!

Sin-kiam Mo-li yang tadi telah membuat persiapan tetap tersenyum. Wanita ini memang memiliki pembawaan tenang, penuh kepercayaan akan kemampuan dirinya dan hal ini yang membuat ia semakin berbahaya.

“Nona, tak perlu engkau menggunakan kekerasan. Anak ini jelas adalah keponakanku sendiri, kami tidak ingin menyusahkan dia. Kalau memang engkau ingin membawa dia pulang ke rumah ibunya, silakan, akan tetapi harap kau bebaskan dulu Liok Cit. Dia tak berdosa, dia hanya kusuruh jemput anak ini saja.”

Suma Lian juga tersenyum. Ia seorang gadis yang lincah jenaka dan pintar bukan main. Mana mau dikelabui begitu saja? “Hemmm, agaknya engkau mengajak tukar. Baiklah, lepaskan anak itu dan berikan kepadaku, baru aku akan melepaskan tikus ini!”

Diam-diam Sin-kiam Mo-li mendongkol juga terheran. Ia tahu akan kemampuan Liok Cit. Tidak sembarang orang mampu mengalahkannya, akan tetapi mengapa kini di tangan gadis yang masih amat muda itu, Liok Cit menjadi seperti seekor tikus saja yang sama sekali tidak berdaya? Demikian lihaikah gadis ini?

“Nah, engkau ambillah keponakanku ini jika memang dia ingin pulang,” katanya sambil melepaskan pegangannya pada lengan Yo Han.

Entah mengapa, begitu terlepas, Yo Han langsung berlari menghampiri Suma Lian. Ada sesuatu pada diri gadis itu yang menimbulkan kepercayaan dalam hatinya.

“Enci, benarkah engkau hendak mengantarkan aku pulang ke rumah ayah ibuku?” dia bertanya sambil memegang ujung baju gadis itu.

“Jangan khawatir, aku pasti akan membawamu pulang,” kata Suma Lian dan dia pun melepaskan tangannya dari tengkuk Liok Cit.

Orang ini seperti seekor tikus yang baru saja terlepas dari kurungan, cepat lari ke depan menghampiri Sin- kiam Mo-li.

“Jangan lepaskan, ia berbahaya sekali!” katanya.

Sin-kiam Mo-li tertawa. ““He-he-he, siapa yang begitu bodoh hendak melepaskannya? Engkaulah yang tolol, tidak mampu mengatasi seorang ingusan!”

Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li mengeluarkan suara melengking dan Suma Lian cepat menoleh ke kanan kiri ketika mendengar ada gerakan di sekelilingnya. Kiranya tempat itu telah terkepung oleh puluhan orang yang memakai pakaian serba merah, sungguh-sungguh menyeramkan sekali!

“Hemmm, sudah kuduga bahwa kalian bukanlah orang baik-baik!” berkata Suma Lian marah, akan tetapi sikapnya tetap tenang. “Akan tetapi jangan dikira bahwa aku takut menghadapi badut-badut ini!”

Padahal diam-diam ada suatu hal yang dikhawatirkan Suma Lian, yaitu anak itu. Bagai mana mungkin ia dapat melindungi anak itu kalau ia harus menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang!

“Yo Han, dengar baik-baik. Kalau nanti aku berkelahi dengan mereka berusahalah untuk melarikan diri dari sini!” bisiknya kepada anak itu yang hanya dapat mengangguk.

Akan tetapi mata anak itu memandang ke sekeliling di mana orang-orang berpakaian serba merah telah bergerak maju mengepung. Dia memang sudah melihat orang-orang itu ketika dibawa pergi ke sini dan dia tidak tahu siapa mereka, apa pula maksud wanita cantik yang menahannya.

“Adik manis,” kata Sin-kiam Mo-li yang dapat menduga bahwa gadis itu tentu lihai.

Ia justru bertugas untuk menghimpun orang-orang lihai. Mengapa tidak dicobanya untuk mendekati gadis ini dan membujuknya untuk bersahabat dan bersekutu?

“Di antara kita tak ada permusuhan apa pun dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kami tidak berniat buruk terhadap Yo Han. Kalau kami berniat buruk, tentu dia tidak selamat sampai sekarang. Nah, setelah engkau datang memintanya dan kami telah memberikan dengan suka rela, apakah engkau tidak mau menghargai sikap persahabatan ini? Mari kita bersahabat dan siapa tahu di antara kita dapat bekerja sama!”

Suma Lian semakin waspada. Wanita ini terang mempunyai niat tertentu, pikirnya. Ia tersenyum. Orang itu menyebut adik, maka biar pun ia tahu bahwa usia wanita itu lebih tua dari ibunya, ia menyebutnya enci.

“Enci, aku adalah seorang yang suka hidup mengembara, seorang diri dan tidak ingin mengikatkan diri dengan kerja sama dengan orang lain. Dan masih banyak urusan yang harus kuselesaikan. Kalau kalian memang berniat baik dan mengembalikan anak ini kepadaku, terima kasih dan biarlah aku membawa Yo Han pulang ke rumahnya. Nah, selamat tinggal! Mari, Yo Han, kita pergi!”

Akan tetapi, tiba-tiba Sin-kiam Mo-li berseru marah. “Tahan! Hemmm, engkau ini masih muda akan tetapi sungguh tinggi hati sekali. Engkau datang tanpa kami undang, engkau menggunakan kekerasan terhadap pembantu kami, dan sekarang hendak pergi begitu saja? Tidak mungkin! Engkau harus berjanji membantu kami, mau atau tidak. Kalau melawan celaka. Liok Cit, pergunakan pasukan tangkap gadis ini!”

Biar pun Liok Cit sudah merasa jeri terhadap gadis ini, namun kini di situ ada Sin-kiam Mo-li dan ada puluhan orang anak buah Ang-i Mo-pang, maka tentu nyalinya menjadi besar. Pula dengan ginkang-nya yang istimewa, dia masih mampu menyelamatkan diri kalau sampai gadis ini mengamuk.

“Kepung dia, tangkap!” teriaknya.

Serentak belasan orang anggota Ang-i Mo-pang yang belum mengenal Suma Lian dan memandang rendah, lalu mengurungnya dan serentak mereka itu menubruk hendak menangkap, seperti sekawanan serigala memperebutkan kelinci yang muda dan segar dagingnya. Mereka berlomba untuk dapat merangkul dan memeluk gadis yang cantik itu.

Menghadapi sergapan mereka, Suma Lian memutar tubuhnya sambil menggerakkan kedua tangannya dan terjadilah hal yang membuat Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Belasan orang itu seperti disambar halilintar, atau bagaikan sekumpulan daun kering yang diterjang angin keras. Mereka terpelanting dan terbanting jatuh sebelum dapat menyentuh tubuh gadis itu!

Tentu saja Sin-kiam Mo-li terkejut. Belasan orang anggota Ang-i Mo-pang itu bukanlah orang-orang lemah! Akan tetapi, bahwa hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan gadis itu, juga gerakan memutar tubuh itu, menunjukkan ilmu yang tinggi tingkatnya! Tahulah ia kini mengapa Liok Cit menjadi seperti tikus yang tidak berdaya menghadapi gadis ini.

“Pergunakan senjata!” bentaknya dengan penasaran.

Belasan orang anggota Ang-i Mo-pang yang lain, yang marah melihat teman-teman mereka berpelantingan, sudah mencabut pedangnya. Juga Tok-ciang Hui-moko Liok Cit mencabut pedang. Kini, dibantu oleh belasan orang, timbul keberaniannya, bahkan dia bernafsu untuk membalas kekalahannya tadi ketika melawan Suma Lian.

Melihat belasan orang mengepungnya dengan pedang telanjang di tangan, Suma Lian tersenyum mengejek.

“Orang yang suka menggunakan kekerasan, pasti akan menjadi korban kekerasannya sendiri. Kalian membawa pedang, nah, biarlah kalian rasakan bagaimana terluka oleh senjata itu!” Dan ia pun mencabut suling emasnya dari pinggang.

Melihat suling emas ini, Sin-kiam Mo-li terkejut sekali. “Suling Emas…?” serunya kaget.
Pernah ia dahulu melawan seorang pendekar yang amat lihai, yang juga menggunakan sebatang suling, yaitu pendekar Sim Houw, suami dari Can Bi Lan. Pendekar itu hebat sekali ilmunya dan harus diakuinya bahwa melawan pendekar itu, ia tak dapat menang. Dan kini, gadis ini mengeluarkan pula sebatang suling emas, walau pun tidak sepanjang suling naga di tangan pendekar Sim Houw itu.

Akan tetapi Liok Cit dan belasan orang anak buah Ang-i Mo-pang sudah menerjang dan mengeroyok Suma Lian. Sin-kiam Mo-li hanya nonton saja sambil memperhatikan gadis yang bersenjata suling emas itu. Ia melihat betapa suling itu digerakkan dan bentuknya lenyap, berubah menjadi gulungan sinar emas yang mengeluarkan suara berdengung seolah-olah suling itu ditiup orang. Dan sekarang, gulungan sinar emas itu menyambar-nyambar ke sekeliling, menyambut pengeroyokan belasan orang yang mulai menyerang gadis itu.

Terdengar suara nyaring berdencing berulang kali dan beberapa orang pengeroyok terdorong ke belakang, bahkan ada dua batang pedang yang terlempar dan terlepas dari pegangan. Demikian hebatnya kekuatan gulungan sinar keemasan itu.

Liok Cit menusukkan pedangnya dari belakang, mengarah punggung Suma Lian, akan tetapi dengan amat mudahnya gadis itu menggeser kedua kakinya dan kini hujan senjata pedang itu dielakkannya dengan gerakan langkah-langkah ajaibnya. Dengan mengandalkan San-po Cin-keng, biar pun dikeroyok orang yang jauh lebih banyak lagi, Suma Lian akan mampu menyelamatkan dirinya. Yang membuat ia khawatir adalah memikirkan Yo Han. Anak itu masih berada di pinggiran, agaknya masih mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri karena tempat itu masih terkepung oleh banyak orang berpakaian merah.

Agaknya sekarang Yo Han menjadi nekat. Melihat betapa gadis penolongnya itu masih dikeroyok dan kini lebih banyak lagi orang berpakaian merah mencabut pedang hendak maju mengeroyok, tiba-tiba dia melarikan diri hendak menerobos keluar. Akan tetapi, tiba-tiba Sin-kiam Mo-li meloncat dan sekali menotok, tubuh anak itu pun terjungkal dan tidak mampu bergerak lagi!

Sin-kiam Mo-li menjadi marah. “Hemmm, kiranya engkau mempunyai juga sedikit ilmu kepandaian!” katanya.

Ia pun telah mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu kebutan merah bergagang emas dan pedang di tangan kanan. Dengan sepasang senjatanya ini, Sin-kiam Mo-li meloncat ke depan dan seperti seekor burung saja, tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke bawah. Kebutan berbulu merah itu menotok ke arah ubun-ubun kepala Suma Lian sedangkan pedangnya membabat ke arah leher. Serangan ini cepat, kuat dan tidak terduga datangnya.

“Ihhh!” Suma Lian terkejut juga.

Tidak disangkanya bahwa wanita cantik itu sedemikian lihainya. Cepat dia mengelak dengan geseran kaki ke kiri dan sulingnya diangkat untuk menangkis kebutan yang datang dari atas, berusaha untuk membabat bulu kebutan merah yang menotok ke arah ubun-ubun kepalanya!

Patut diketahui bahwa biar pun senjata yang berada di tangan Suma Lian itu sebatang suling emas yang tentu saja tidak setajam seperti pedang, namun karena ilmu yang dimainkan itu adalah ilmu pedang gabungan yang amat lihai, maka sinar suling itu saja sudah mengandung hawa kuat dan ketajaman seperti pedang!

Sin-kiam Mo-li juga bukan seorang bodoh yang memandang rendah lawan. Ia tadi telah tahu bahwa gadis yang memegang suling emas ini lihai bukan main dan suling itu sama sekali tak boleh dipandang ringan. Maka, melihat betapa sinar emas yang menyilaukan mata itu menyambar ke arah kebutannya, dia merasa khawatir kalau kebutannya rusak atau rontok bulunya. Cepat ia mengerahkan tenaganya dan dengan tenaga sinkang ini ia membuat bulu-bulu kebutannya itu berubah kaku seperti kawat baja.

“Traaanggg…!”

Bunga api berpijar dan kembali Sin-kiam Mo-li terkejut karena tangan yang memegang gagang kebutan itu tergetar hebat dan ada hawa yang dingin sekali menyusup melalui tangannya sampai ke siku lengan!

“Ihhhhh…!“

Cepat ia mengerahkan sinkang untuk melawan dan mendorong hawa dingin itu agar keluar kembali karena kalau dibiarkan, hawa dingin itu akan terus memasuki tubuhya dan ia bisa celaka. Wajahnya berubah agak pucat karena hawa dingin itu mengingatkan ia akan keluarga para pendekar Pulau Es. Ia melompat ke belakang dan membiarkan orang-orangnya yang berpakaian merah untuk terus melakukan pengepungan dan pengeroyokan.

Akan tetapi orang-orang Ang-i Mo-pang juga merasa jeri dan mereka hanya mengurung sambil berputaran saja. Liok Cit sendiri pun belum berani menyerang lagi. Melihat betapa Sin-kiam Mo-li yang mempergunakan pedang dan kebutannya saja kini meloncat mundur dengan kaget, apa lagi dia!

Sementara itu, Sin-kiam Mo-li yang meloncat mundur kini memandang tajam, karena ia teringat akan gadis yang bernama Pouw Li Sian itu, yang ternyata adalah murid mantu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dan kini tiba-tiba saja muncul seorang gadis lain yang mempergunakan sinkang yang mengandung hawa dingin pula.

“Kau… kau murid keluarga Pulau Es?” tanyanya, agak gagap karena bagaimana pun juga, ia merasa jeri berhadapan dengan orang-orang Pulau Es.

Melihat betapa wanita cantik yang lihai itu meloncat mundur, tetapi bagaimana pun juga tadi dapat menahan Swat-im Sinkang yang dia pergunakan untuk menangkis kebutan, dan bulu kebutan itu pun berubah menjadi kaku seperti kawat baja, bahkan kini dapat mengenal sinkang-nya sehingga dapat menduga bahwa ia murid keluarga Pulau Es, diam-diam Suma Lian merasa kagum. Wanita ini jelas bukan orang sembarangan saja. Kalau saja ia dapat lebih lama bercakap-cakap dengan Kao Hong Li dan mendengar bahwa seorang di antara para pembunuh penghuni Istana Gurun Pasir adalah Sin-kiam Mo-li, wanita ini tentu akan lain lagi sikapnya!

Mendengar pertanyaan wanita itu, Suma Lian tersenyum. Ia tahu bahwa lawan ini lihai sekali dan dibantu oleh demikian banyaknya anak buah yang juga tak boleh dipandang ringan. Kalau dia dikeroyok, keadaannya cukup berbahaya. Apa lagi mengingat akan anak laki-laki yang kini telah tertawan kembali dan tertotok oleh wanita itu, bahkan kini telah dijaga oleh dua orang berpakaian merah, ia tahu bahwa pihaknya berada dalam keadaan yang lemah.

Sebaiknya kalau ia dapat minta anak itu secara damai. Ia sendiri tidak khawatir akan keselamatan dirinya karena ia yakin akan mampu membela diri, akan tetapi bagaimana dengan anak laki-laki itu? Maka ia pun tersenyum dan menjawab terus terang untuk mempergunakan nama besar keluarganya agar wanita itu tunduk.

“Enci, engkau sendiri seorang yang berilmu tinggi. Ketahuilah, namaku Suma Lian, aku cucu buyut dalam dari penghuni Istana Pulau Es. Dan siapakah engkau, dan kuharap engkau suka menyerahkan anak itu kepadaku supaya dapat kuantar pulang ke rumah orang tuanya.”

Akan tetapi, begitu mendengar pengakuan gadis itu bahwa ia adalah cucu Pendekar Super Sakti, Sin-kiam Mo-li terkejut dan cepat memberi aba-aba kepada anak buahnya. “Serang dan tangkap gadis ini, kalau perlu bunuh!”

Tentu saja Suma Lian terkejut mendengar ini dan dia pun marah. Mukanya menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong. “Bagus! Kau kira aku takut menghadapi pengeroyokan kalian? Majulah jika kalian semua sudah bosan hidup!”

Mendengar perintah Sin-kiam Mo-li, Tok-ciang Hui-moko Liok Cit lalu memberi aba-aba rahasia kepada para anak buah Ang-i Mo-pang. Dua puluh empat orang membuat lingkaran mengepung Suma Lian dan mereka berlari-lari mengelilingi gadis itu.

Suma Lian maklum bahwa mereka itu mempergunakan barisan yang teratur dan kalau ia terpengaruh oleh gerakan mereka yang berlari-larian mengelilingi, sedikitnya ia akan merasa pening. Oleh karena itu, ia tidak mempedulikan gerakan mereka yang berlarian mengelilinginya itu.

Ia melihat pula betapa di luar barisan pertama yang berlarian mengelilinginya searah jarum jam itu, terdapat pula belasan orang berpakaian merah yang juga berlarian, akan tetapi dengan arah yang berlawanan dari barisan pertama yang berada di sebelah dalam. Ia tidak membiarkan dirinya terpengaruh.

Sebagai puteri Suma Ceng Liong yang telah digembleng oleh ayahnya dalam ilmu sihir, Suma Lian maklum bahwa dalam barisan ini pun ada unsur kekuatan sihirnya, maka ia pun tidak mau terpengaruh, melainkan berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, tangan kanan memegang suling emas yang dilintangkan di depan dada, tangan kiri digantung di pinggang. Biar pun ia nampak santai saja, namun sesungguhnya ia telah siap siaga dan seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah siap menghadapi serangan.

Terdengar Liok Cit memberi aba-aba dan mulailah barisan sebelah dalam yang terdiri dari dua puluh empat orang yang mengelilinginya itu mempersempit lingkaran, terpecah menjadi tiga kelompok dan kini delapan orang yang mengepungnya, masing-masing dua di depan belakang dan kanan kiri dan delapan orang ini sudah menyerangnya dalam saat yang bersamaan, mempergunakan pedang mereka. Ada pun sisanya, dua kelompok lagi dari masing-masing delapan orang siap menjadi pasukan lapis ke dua dan ke tiga, dan masih ada lagi lapisan di sebelah luarnya!

Diserang oleh delapan orang dari delapan penjuru, Suma Lian tidak merasa gentar. Ia seorang gadis yang cerdik dan ia tidak sudi membiarkan dirinya dikepung oleh barisan berlapis-lapis itu. Kalau ia melayani mereka, tentu akan habis tenaganya dan agaknya inilah yang akan dilakukan mereka.

Maka, melihat dirinya diserang dari delapan penjuru, ia malah menubruk ke depan, memutar sulingnya dan dua orang penyerang di depannya terjungkal dan ia pun terus menerobos keluar kepungan itu karena serangan enam orang lainnya tidak mengenai sasaran dan kepungan itu pun bobol dengan robohnya dua orang di depannya. Ia sudah dihadang oleh barisan lapis ke dua, juga berjumlah delapan orang yang kiri langsung menyerangnya sambil lari berputar.

Agaknya Liok Cit cukup pandai sehingga ketika melihat cara Suma Lian membobolkan kepungan lapisan pertama, dia lalu memerintahkan lapisan kedua untuk menyerang sambil bergerak memutari gadis itu agar gadis itu tidak mampu membobol satu bagian saja seperti yang dilakukannya tadi.

Akan tetapi, Liok Cit terlalu memandang rendah gadis itu jika ia mengharapkan akalnya berhasil. Kalau Suma Lian menghendaki, sekali memutar sulingnya, tentu saja ia akan mampu merobohkan delapan orang penyerangnya itu, sekaligus membunuh mereka. Akan tetapi, ia seorang pendekar wanita yang pantang membunuh sembarangan saja.

Ia tahu bahwa orang-orang yang berpakaian serba merah itu hanyalah anak buah yang mentaati perintah atasan. Mereka itu sama sekali tidak bermusuhan dengannya. Yang harus dirobohkan adalah Liok Cit dan pemimpinnya, yaitu wanita cantik itu. Kalau dia berhasil merobohkan mereka, tentu akan mudah baginya untuk menyelamatkan anak laki-laki yang mereka culik dan tawan.

Dengan langkah ajaib San-po Cin-keng dan Ilmu Silat Kong-jiu Jip-tin (Tangan Kosong Memasuki Barisan) mudah saja baginya untuk melangkah dan mengelak dari sambaran delapan batang pedang itu. Dan tiba- tiba delapan orang itu menjadi terkejut dan bingung karena tiba-tiba saja ada bayangan berkelebat dan mereka tidak lagi melihat gadis itu, seolah-olah gadis itu dapat menghilang dari depan mata mereka.

Padahal, Suma Lian tadi mempergunakan ginkang-nya dan ia sudah mencelat ke atas, melampaui kepala delapan orang itu dan dari atas ia melihat betapa Liok Cit memberi aba-aba sambil berdiri di atas gundukan tanah yang tinggi. Maka, sekali meloncat, kini tubuhnya sudah meluncur ke arah orang itu!

Tentu saja Liok Cit kaget setengah mati ketika melihat gadis itu sekarang meloncat ke arahnya dan menyerang dengan suling yang berubah menjadi gulungan sinar emas itu. Dia sendiri seorang ahli ginkang yang bahkan lebih lihai dari gadis itu. Tetapi, karena serangan yang dilakukan Suma Lian itu tiba-tiba sekali datangnya dan tak terduga lebih dahulu, dia pun tidak sempat untuk mengelak dan terpaksa mempergunakan pedangnya menangkis sinar emas yang menyambar ke arah dadanya.

“Tranggg…!”

Sungguh hebat pertemuan antara suling dan pedang itu sehingga akibatnya, pedang di tangan Liok Cit terlepas dan orang ini lalu menyelamatkan diri dengan melempar tubuh ke belakang, bergulingan di atas tanah! Suma Lian mengejar dan siap untuk menotok dengan sulingnya, akan tetapi, sebatang pedang menangkisnya.

“Cringgg…!”

Kiranya yang menangkis adalah Sin-kiam Mo-li dan wanita ini merasa kagum bukan main, juga kaget. Sungguh hebat ilmu kepandaian cucu buyut penghuni Istana Pulau Es ini.

Sementara itu, melihat betapa pedang yang menangkisnya tadi berada di tangan wanita itu yang agaknya mulai turun tangan sendiri membantu anak buahnya, Suma Lian menjadi girang. Memang inilah yang diharapkan, yaitu langsung bertanding melawan wanita itu dan Liok Cit! Dia sudah siap menyerang wanita itu, akan tetapi tiba-tiba ia menghentikan gerakannya dan berdiri terpukau, melihat betapa sambil tersenyum licik wanita itu sedang menodongkan pedangnya ke dada anak laki-laki yang dicengkeram pundaknya!

“Suma Lian, menyerahlah atau terpaksa aku akan menusuk dada anak ini dengan pedangku, baru akan mengeroyokmu sampai engkau tertawan, hidup atau mati!”

Tentu saja Suma Lian menjadi bingung. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa wanita yang cantik dan berkepandaian tinggi itu akan melakukan muslihat yang demikan curang, tanpa malu-malu melakukan siasat licik ini. Dia terlibat dengan mereka hanya untuk menyelamatkan anak laki-laki itu, lalu apa artinya kalau sampai anak itu terbunuh karena ia mengamuk?

Dan wanita itu bukan orang yang bodoh, agaknya tidak akan segan lagi membunuh anak itu untuk memaksakan kemauannya, untuk membuat ia tidak berdaya. Akan tetapi, ia pun tak tega meninggalkan anak itu begitu saja. Ia pun menjadi bingung dan meragu, dan pada saat itu terdengar suara anak laki-laki itu, lantang dan penuh keberanian.

“Enci, jangan dengarkan gertak kosong iblis ini! Di antara kita tidak ada hubungan apa pun, kalau dia membunuhku pun, Enci tidak akan rugi apa-apa. Jangan mau diancam dan digertak. Kalau ia mau membunuhku, boleh bunuh, siapa sih yang takut mati? Akan tetapi, Enci sebagai pendekar harus menentangnya dan membunuh iblis jahat ini berikut anak buahnya!”

Suma Lian terbelalak memandang anak laki-laki itu. Tidak kelirukah pendengarannya? Anak itu baru berusia kurang lebih tujuh tahun! Akan tetapi ketika mengeluarkan kata-kata tadi, berdirinya tegak, matanya mencorong dan suaranya lantang, lebih pantas diucapkan oleh seorang laki-laki dewasa yang gagah perkasa, yang sedikit pun tidak takut mati! Jelas bahwa anak ini pun bukan bocah sembarangan saja, tentu keturunan dari pasangan orang tua pendekar!

Mendengar ucapan itu, Suma Lian tersenyum lebar bahkan tertawa. Ia pun mengerti bahwa sikap dan ucapan anak itu sekaligus menghantam dan menghancurkan siasat wanita itu untuk memaksanya dengan cara mengancam hendak membunuh anak itu.

Anak itu benar! Kalau ia merasa khawatir akan keselamatan anak itu, tentu saja hal ini merupakan senjata ampuh bagi lawan, dan lawan dapat memaksakan kehendaknya dengan mengancam anak itu, melakukan pemerasan kepadanya. Sebaliknya, kalau lawan mengetahui bahwa ia tidak peduli akan keselamatan anak itu, tentu lawan merasa percuma mempergunakan siasat seperti itu, dan tidak mau membunuh anak itu dengan sia-sia, apa lagi agaknya anak itu penting bagi mereka.

“Hemmm, iblis betina, engkau sudah mendengar sendiri ucapan bocah yang gagah perkasa itu! Dia bukan apa-apaku, mau kau bunuh atau kau apakan terserah, tetapi ketahuilah bahwa setelah aku mengetahui akan kejahatan kalian, aku pasti tidak akan tinggal diam sebelum membasmi kalian dengan sulingku ini!”

Sin-kiam Mo-li merasa mendongkol bukan main kepada Yo Han. Tak disangkanya anak itu sedemikian nekat dan beraninya, mengeluarkan kata-kata seperti itu hingga gagallah semua siasatnya terhadap Suma Lian. Ia merasa gemas dan ingin sekali ia sekali tusuk dengan pedangnya menembusi dada anak itu.

Akan tetapi dia masih membutuhkannya, untuk memancing datangnya ibu anak ini dan memaksa ibunya untuk membantu gerakan persekutuannya. Kalau kini ia membunuh anak ini, selain Suma Lian akan menentangnya mati-matian, juga kalau ibunya kelak mengetahui, tentu ia mendapat tambahan musuh yang berbahaya juga. Ibu anak ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan, walau pun ia percaya bahwa dengan ilmu kepandaiannya, ia mampu mengalahkan Bi-kwi (Setan Cantik) Ciong Siu Kwi itu.

“Hemmm, kau kira aku hanya gertak kosong belaka? Lihat, anak ini tidak akan kubunuh memang, belum lagi, tetapi aku dapat menyiksanya!” katanya sambil menggerakkan kebutannya di atas kepala anak itu yang memandang tanpa berkedip, penuh keberanian dan ketabahan.

Suma Lian memandang dengan menahan napas penuh kekhawatiran yang tentu saja disimpannya saja di dalam hatinya. Ia khawatir kalau-kalau iblis betina itu benar-benar menyiksa anak itu, karena bagaimana pun juga, walau pun anak itu bukan apa-apanya, tentu saja ia tidak rela kalau anak itu disiksa atau dibunuh!

Pada saat itu, mendadak terdengar bentakan nyaring, “Sin-kiam Mo-li, berani engkau hendak menyiksa anakku?”

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri seorang wanita. Suma Lian memandang penuh perhatian. Wanita itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya sederhana sekali dari kain kasar yang kuat, jelas pakaian seorang petani seperti yang biasa dipakai wanita petani.

Wajahnya pun tidak memakai alat kecantikan, namun harus diakui bahwa wajahnya itu cantik menarik, dan tubuhnya pun masih padat dan langsing. Kulit mukanya, leher dan tangannya nampak kecoklatan, tanda bahwa ia biasa bekerja di sawah ladang dan terbiasa setiap hari dibakar matahari. Seorang wanita dusun biasa saja, akan tetapi ada sesuatu yang luar biasa, yaitu pada sinar matanya yang mengeluarkan sinar tajam sekali.

“Ibu…!” Tiba-tiba Yo Han, anak itu, berseru. “Aku diculik oleh laki-laki kurus di sana itu, atas perintah iblis wanita ini!”

Wanita itu memandang kepada puteranya sambil tersenyum dan berkata, “Tenanglah, anakku.” Kemudian ia pun memandang kepada Sin-kiam Mo-li.

Sesaat kedua orang wanita ini saling pandang, seperti hendak menjenguk isi hati masing-masing, kemudian wanita dusun itu berkata.

“Sin-kiam Mo-li, engkau tahu bahwa sejak dahulu aku tak pernah lagi mencampuri dunia kang-ouw. Sekarang aku hidup di dusun bersama suamiku dan puteraku, hidup bersih sebagai petani. Mengapa kini tiba-tiba engkau masih mengganggu kami dan menculik anakku? Jika engkau hendak menggunakan anakku sebagai sandera untuk memaksaku melakukan sesuatu, ingatlah bahwa biar engkau membunuh kami sekeluarga, aku tidak akan sudi membantu engkau melakukan kejahatan, Sin-kiam Mo-li!”

Sin-kiam Mo-li yang masih mengamati wanita itu, tiba-tiba tertawa. “Hiik-hi-hi, sungguh mati, hampir aku tidak dapat mengenalmu lagi, Bi-kwi! Engkau, yang dahulu cantik jelita, gagah perkasa dan cerdik sekali, murid tersayang dari Sam Kwi, sekarang telah menjadi seorang wanita dusun yang kotor, dungu dan berbau pupuk tahi kerbau! Heh-heh-hi-hik, alangkah lucunya. Akan tetapi, janganlah salah sangka, Bi-kwi. Kalau engkau dapat berubah, kau kira aku tidak dapat? Aku pun sudah meninggalkan dunia hitam dan kini aku bahkan sedang bergerak bersama para pendekar dan patriot untuk membebaskan bangsa kita dari cengkeraman penjajah Mancu!”

Bi-kwi, yaitu julukan dari Ciong Siu Kwi, wanita itu, memandang terbelalak tak percaya, akan tetapi sinar matanya memandang penuh selidik kepada wanita yang dikenalnya sebagai wanita iblis yang pernah dimusuhinya beberapa tahun yang lalu. Ia maklum betapa cerdik dan liciknya wanita yang berjuluk Sin- kiam Mo-li ini, maka ia pun tahu bahwa nyawa puteranya berada di tangan wanita iblis itu, dan bahwa ia sama sekali tidak boleh bersikap lengah. Ia harus berhati-hati sekali berurusan dengan iblis betina ini.

Sementara itu, Suma Lian sekarang teringat. Ayah ibunya banyak bercerita kepadanya tentang tokoh-tokoh di dunia persilatan dan pernah ayahnya bercerita tentang Sam Kwi, tentang dua orang murid Sam Kwi. Yang seorang bernama Can Bi Lan dan kini menjadi isteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw, yaitu suheng dari ibunya.

Can Bi Lan mempunyai seorang suci (kakak seperguruan perempuan) yang tadinya merupakan seorang tokoh sesat yang amat terkenal dengan julukannya Bi-kwi, bernama Ciong Siu Kwi yang menurut ayah ibunya, kini tokoh sesat itu telah sadar, bahkan telah melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa membela para pendekar.

Menurut ayahnya, tokoh itu telah menikah dengan seorang pemuda petani yang berjiwa gagah perkasa walau pun tidak paham ilmu silat, dan kini kabarnya telah mengundurkan diri dan hidup sebagai petani, entah di mana. Keluarga itu tidak pernah menghubungi teman-teman lagi, bahkan tidak pernah mencampuri urusan dunia persilatan.

Tadinya, cerita tentang wanita itu tidak begitu menarik perhatiannya, akan tetapi kini, secara aneh dan kebetulan, ia dihadapkan dengan tokoh itu! Maka, tentu saja ia merasa amat tertarik dan ingin sekali ia melihat apa yang akan terjadi antara bekas tokoh sesat itu dan wanita lihai yang berjuluk Sin-kiam Mo-li ini. Kini ia pun mengerti mengapa anak kecil berusia tujuh tahun itu memiliki sikap seorang jantan, seorang pendekar. Kiranya dia putera bekas tokoh sesat yang pernah dipuji-puji oleh orang tuanya itu!

Memang tidak bohong kalau Ciong Siu Kwi mengatakan kepada Sin-kiam Mo-li bahwa sudah lama sekali ia tidak pernah lagi mencampuri dunia persilatan. Jangankan dunia persilatan, bahkan selama ini ia belum pernah memperlihatkan ilmu silatnya sehingga kecuali suaminya sendiri, tak seorang pun di dalam dusun mereka atau di dusun-dusun sekitar tempat tinggal mereka tahu bahwa nyonya Yo Jin yang tiap hari bekerja seperti wanita petani biasa itu sebetulnya ialah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi! Bahkan Yo Han sendiri pun tidak tahu! Yo Jin ayah anak itu, melarang isterinya untuk melatih putera mereka dengan ilmu silat.

“Ilmu silat tak terpisahkan dari kekerasan,” demikian suami itu berkata. “Dan kekerasan selalu mendatangkan permusuhan, dendam, kebencian dan kekejaman. Kita tidak boleh membiarkan putera kita menjadi seorang yang banyak musuh dan akhirnya menjadi seorang manusia yang berhati keras dan kejam.”

“Kurasa tidak selalu harus begitu, karena ilmu silat selain menjadi ilmu bela diri, juga merupakan olah raga yang menyehatkan badan dan batin, juga merupakan kesenian yang indah, bahkan kalau tidak keliru penggunaannya, dapat membuat orang menjadi seorang pendekar yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.”

“Hemmm, bagaimana pun juga alasannya tetap saja akhirnya dia akan mempergunakan kepandaiannya, yaitu ilmu memukul roboh, melukai dan membunuh orang lain, untuk mempertahankan apa yang dinamakannya kebenaran dan keadilan itu,” kata Yo Jin. “Tidak perlu kita melihat terlalu jauh atau mencari contoh yang terlalu jauh, ingat saja pengalamanmu sendiri. Ketika engkau masih berkecimpung di dunia persilatan, dengan modal kepandaian silatmu, bagaimana keadaan dirimu? Kemudian, lihat keadaanmu sekarang, semenjak kita menikah, sejak engkau meninggalkan dunia persilatan, sejak engkau tak pernah lagi menggunakan ilmu silatmu, hidup sebagai petani biasa. Apakah engkau tidak melihat perbedaannya?”

Ciong Siu Kwi tersenyum dan merangkul suaminya. Ia merasa kalah. “Tentu saja aku melihat perbedaannya yang sangat jauh, jauhnya seperti langit dan bumi! Kini hidupku tenteram, tak pernah mempunyai musuh, bahkan tak pernah dimusuhi orang.”

“Dan engkau bahagia?” “Ya, aku berbahagia sekali.”
“Nah, mengapa engkau hendak menyeret anak kita ke dalam kehidupan yang penuh dengan pertentangan, perkelahian, permusuhan itu? Coba bayangkan saja. Andai kata engkau melatih Han-ji (anak Han) memainkan ilmu silat, andai kata dia telah pandai ilmu silat, tentu terjadi perubahan dalam pergaulannya dengan teman-temannya. Dia akan ditakuti, disegani, juga tentu ada yang iri. Lalu, kalau ada anak lain yang juga pernah belajar silat, tentu akan terjadi bentrokan antara dia dan anak itu, karena keduanya tentu ingin melihat siapa yang lebih unggul. Mereka akan berkelahi, menggunakan ilmu silat mereka, saling pukul. Kalau tidak anak kita yang terluka, tentu anak yang lain itu dan lalu timbullah permusuhan dan dendam antara keluarga kita dengan keluarga anak itu! Tidak, aku tidak suka melihat anak kita menjadi jagoan dan tukang pukul. Aku lebih ingin melihat anak kita kelak menjadi seorang laki-laki sejati, yang gagah berani menentang kelaliman, bukan mengandalkan kerasnya tulang dan kulit, akan tetapi mengandalkan kebenaran yang tidak dipaksakan oleh kekerasan.”

Ciong Siu Kwi yang amat mencinta suaminya mengalah. Demikianlah, sampai berusia tujuh tahun, Yo Han tidak pernah diajarkan ilmu silat. Namun, anak itu mewarisi watak ayahnya. Dia pemberani, jujur, dan terbuka, tetapi juga mewarisi kecerdikan ibunya.

Ketika sampai sore suami isteri itu tidak melihat putera mereka, keduanya menjadi amat khawatir. Ciong Siu Kwi mencari-cari dan bertanya-tanya. Akhirnya ada seorang petani yang melihat ketika dia berada di luar dusun betapa Yo Han dipondong dan dilarikan seorang laki-laki yang berpakaian serba hijau dan memakai caping lebar sehingga tidak nampak wajahnya, dan tubuhnya kurus.

Mendengar ini, Ciong Siu Kwi gelisah bukan main. Demikian juga Yo Jin. Keduanya dapat menduga bahwa putera mereka diculik orang! Yo Jin menarik napas panjang.

“Aih, tak kusangka bahwa setelah bertahun-tahun hidup tenteram, kembali terjadi kekerasan seperti ini. Aku yakin bahwa ini juga merupakan akibat dari keadaan hidupmu yang dahulu. Balas dendam! Ah, balas- membalas tiada habisnya, Yo Han yang tidak berdosa ikut pula terseret ke dalam permusuhan dunia persilatan.”

“Sudahlah, apa pun yang terjadi, kita tidak boleh tinggal diam saja. Aku harus mencari anakku dan merampasnya kembali. Kalau perlu, aku akan mempergunakan kepandaian yang dulu. Anakku harus diselamatkan, dengan taruhan nyawaku!”

Yo Jin tidak dapat membantah, hanya menarik napas panjang ketika melihat isterinya berangkat setelah membawa perbekalan. Bukan hanya lenyapnya Yo Han diculik orang itu saja yang membuat dia prihatin, akan tetapi terutama sekali terseretnya kembali isterinya ke dalam arus kehidupan dunia persilatan itulah!

Ia dapat membayangkan betapa isterinya akan bertemu dengan lawan-lawan dan akan selalu diancam bahaya dalam usahanya merampas kembali putera mereka. Dia sendiri tidak mungkin dapat melakukan pengejaran. Dan setelah isterinya pergi meninggalkan dusun itu, dia termenung. Diakah yang benar, atau isterinyakah ketika mereka berdebat apakah putera mereka perlu diajari ilmu silat ataukah tidak?

Dunia begini penuh orang jahat! Cukupkah mengandalkan para petugas keamanan saja untuk menjaga keamanan keluarga atau diri sendiri? Tanpa ilmu silat, dia sekarang merasa sama sekali tidak berdaya kalau menghadapi perbuatan jahat orang lain yang menimpa dirinya atau keluarganya.

Akan tetapi, andai kata dia pandai ilmu silat, bukankah kemungkinan puteranya diculik orang lebih besar lagi karena musuh-musuh mereka akan lebih banyak lagi? Buktinya, demikian banyaknya anak-anak dusun itu, tak ada penjahat yang mengganggu mereka, kecuali anaknya atau lebih tepat lagi anak isterinya!

Ini hanya disebabkan karena isterinya pernah menjadi seorang tokoh dunia persilatan! Andai kata isterinya seorang wanita dusun biasa, seorang wanita petani yang lemah, sama sekali tidak ada kemungkinan dan alasan bagi orang jahat mana pun juga untuk menculik Yo Han!

Demikianlah, Ciong Siu Kwi meninggalkan suaminya yang duduk termenung, dan begitu keluar dari dalam dusun, ia sudah menjadi Bi-kwi yang dahulu, dalam arti kata sebagai seorang wanita perkasa yang siap menghadapi bahaya dan lawan. Dia mengerahkan tenaganya untuk berlari cepat, tangkas seperti seekor harimau betina yang kehilangan anaknya, siap untuk mencakar dan merobek-robek dada siapa pun juga yang berani mengganggu anaknya! Bukan lagi sebagai Ciong Siu Kwi yang rajin bekerja di ladang setiap hari.

Karena ia pernah menjadi seorang tokoh besar dunia persilatan, bahkan seorang datuk sesat yang ditakuti, banyak pengalaman, maka tidak sulit baginya untuk mengikuti jejak penculik puteranya. Ia pandai mencium jejak, pandai mencari keterangan di sepanjang perjalanan sehingga akhirnya ia dapat juga tiba di dalam hutan di mana Sin-kiam Mo-li tinggal untuk sementara waktu dalam tugasnya menghimpun kekuatan.

Kebetulan sekali dia melihat seorang gadis yang cantik dan lihai bertanding dikeroyok oleh Sin-kiam Mo-li dan para pembantunya, kemudian melihat betapa Sin-kiam Mo-li mengancam hendak membunuh Yo Han! Melihat Yo Han berada di tangan Sin-kiam Mo-li, mengertilah Ciong Siu Kwi.

Benar sekali dugaan suaminya. Kiranya yang menculik puteranya bukanlah orang asing, akan tetapi musuh lamanya, yaitu Sin-kiam Mo-li. Dan melihat betapa gadis cantik itu tadi dikeroyok dan bahkan Sin-kiam Mo- li menggunakan siasat curang untuk memaksa gadis itu menyerah dengan mengancam Yo Han, tahulah Ciong Siu Kwi bahwa gadis itu adalah orang yang berusaha menolong puteranya.

Sebagai seorang bekas tokoh sesat yang banyak pengalaman, sekali melepas pandang saja Ciong Siu Kwi sudah dapat menilai keadaan. Ia tahu bahwa gadis itu tentu lihai bukan main. Kalau tidak demikian, tidak mungkin seorang seperti Sin-kiam Mo-li akan menggunakan cara curang, yaitu dengan mengancam akan membunuh Yo Han kalau gadis itu tidak mau menyerah.

Dengan adanya gadis selihai itu, ditambah ia sendiri, kiranya mereka berdua tidak perlu takut menghadapi Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Akan tetapi, ketika ia teringat kepada puteranya, hatinya seperti ditusuk-tusuk. Tidak, tidak mungkin ia menggunakan kekerasan karena setelah dirinya hadir, Sin-kiam Mo- li bukan lagi menggunakan gertak kosong belaka jika mengancam Yo Han, seperti yang tadi dilakukannya terhadap gadis itu. Dan demi keselamatan puteranya, tidak ada jalan baginya kecuali untuk sementara mengalah. Untuk sementara!

Ketika mendengar ucapan Sin-kiam Mo-li bahwa wanita itu sedang bergerak bersama para pendekar dan patriot untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu, tentu saja di dalam hatinya Ciong Siu Kwi tidak percaya seujung rambut pun. Ia bisa menduga ‘gerakan’ macam apa yang dilakukan orang- orang seperti Sin-kiam Mo-li.

Dahulu pun wanita ini bersekutu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Memang kedua perkumpulan itu sejak dahulu menentang pemerintah Mancu, namun sama sekali bukan demi perjuangan membela rakyat, melainkan untuk kepentingan perkumpulan mereka sendiri. Akan tetapi, semua ini ia sembunyikan di lubuk hatinya saja dan wajahnya kini berubah, senyumnya menjadi ramah.

“Aih, benarkah itu, Mo-li? Jika begitu, sungguh aku pun ikut merasa girang dan bangga sekali kepadamu! Dan tentu saja aku mendukung perjuanganmu yang mulia itu. Akan tetapi, mengapa engkau menyuruh orang membawa puteraku ke sini?”

Sin-kiam Mo-li kembali tersenyum. “Hi-hi-hik, Bi-kwi, apakah kecerdikanmu juga sudah hilang setelah engkau menjadi seorang wanita petani? Tentu saja bukan percuma aku membawa puteramu yang tampan dan gagah ini ke sini. Hal ini bukan lain karena kami menginginkan tenagamu, menghendaki bantuanmu dalam gerakan kami.”

“Ahhh, Mo-li, untuk urusan begitu saja mengapa harus membawa anakku ke sini? Kita pernah menjadi rekan segolongan, kenapa bersikap sungkan dan ragu? Kalau engkau datang kepadaku dan berterus terang, tidak perlu lagi engkau menggunakan cara yang membikin aku kaget dan khawatir itu. Tentu saja untuk gerakan perjuangan menentang kaum penjajah Mancu, aku selalu siap siaga setiap saat. Nah, biarkan anakku ke sini, aku sudah rindu padanya. Aku akan membantu perjuanganmu itu,” kata Ciong Siu Kwi sambil mengembangkan kedua lengannya untuk menyambut puteranya.

Akan tetapi Yo Han tak dapat bergerak karena pundaknya masih dipegang dan ditekan oleh tangan Sin- kiam Mo-li, dan ketika Ciong Siu Kwi melangkah mendekati puteranya, tekanan jari tangannya semakin kuat membuat Yo Han meringis karena nyeri.

“Berhenti, Bi-kwi!” Sin-kiam Mo-li membentak. “Kalau engkau berani maju lagi, sekali menggerakan jari tanganku ini, anakmu akan mampus!”

Tentu saja Ciong Siu Kwi cepat menghentikan langkahnya dan ia memperlihatkan muka terheran-heran.

“Aih, kenapa, Mo-li? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku dengan senang hati akan membantu gerakan perjuanganmu? Bebaskan puteraku, dan anggap aku ini sudah menjadi rekanmu seperjuangan!” Ia berkata sambil tersenyum ramah.

Akan tetapi Sin-kiam Mo-li tetap memandang dengan alis berkerut dan senyumnya yang mengejek. “Hemmm, Bi-kwi, kau kira aku begitu bodoh untuk mempercayaimu begitu saja? Aku belum lupa ketika beberapa tahun yang lalu engkau sudah menipuku dengan sikapmu seperti ini, datang dan pura-pura bersahabat! Aku tak akan pernah melupakan kecerobohanku itu, dan sekarang jangan harap engkau akan dapat menipuku lagi!”

Diam-diam Ciong Siu Kwi merasa khawatir sekali. Ia tahu akan kecerdikan dan kelihaian Sin-kiam Mo-li. Memang, kurang lebih delapan tahun yang lalu, ketika ia membebaskan Kao Hong Li yang waktu itu baru berusia tiga belas tahun dari tangan Sin-kiam Mo-li yang menculik anak itu, dia pun mempergunakan siasat bersahabat sehingga akhirnya, bersama dengan pendekar Gu Hong Beng, ia berhasil menyelamatkan Kao Hong Li dari tangan iblis betina ini. Tentu saja kini Sin-kiam Mo-li tidak percaya lagi padanya! Ia pun tidak perlu berpura-pura lagi sekarang, tetapi harus menghadapi kenyataan ini dengan tabah. (baca kisah SULING NAGA)

“Baiklah, Sin-kiam Mo-li. Sekarang katakan, apa yang harus kulakukan demi menebus keselamatan dan kebebasan puteraku? Engkau tahu, jika sampai engkau mengganggu anakku, melukainya apa lagi membunuhnya, hemmm, berarti engkau telah menciptakan seorang musuh yang akan terus mengejarmu sampai engkau mati. Aku akan berubah menjadi setan yang haus akan darahmu, hal ini tentu engkau tahu!”

Diam-diam Sin-kiam Mo-li, iblis betina yang berhati kejam itu bergidik juga mendengar ucapan yang mengandung ancaman yang amat mengerikan itu dan dia tahu bahwa wanita ini tidaklah menggertak saja.

“Bi-kwi, engkau bukan orang bodoh, demikian pula aku. Kalau kita bekerja sama, aku yakin kita berdua akan mencapai hasil yang amat hebat. Engkau tentu maklum pula, bahkan aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Kalau itu yang kuinginkan, tentu sudah kubunuh anakmu ini. Tidak, aku sungguh ingin bekerja sama denganmu, namun demi keamanan dan agar aku tidak ragu lagi akan kesetiaanmu, terpaksa anakmu kujadikan sandera.”

Sejak tadi, Suma Lian hanya mendengarkan saja. Kalau dia mau, tentu saja mudah baginya untuk melarikan diri walau pun puluhan orang anak buah Ang-i Mo-pang masih mengepung tempat itu dengan senjata di tangan.

Juga para anggota Ang-i Mo-pang berdiri seperti patung, memandang dan mendengar dengan penuh perhatian. Tentu saja mereka semua mengenal baik Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi, karena wanita ini pernah menjadi pemimpin mereka setelah menaklukkan ketua mereka, beberapa tahun yang lalu ketika Bi-kwi masih berkecimpung di dunia kang-ouw (baca kisah SULING NAGA).

Kini, melihat betapa dengan sangat cerdiknya Sin-kiam Mo-li menekan Ciong Siu Kwi dengan ancaman terhadap putera wanita itu, Suma Lian tiba-tiba mengeluarkan suara tertawa yang cukup lantang sehingga mengejutkan semua orang. Suma Lian kemudian berkata dengan lantang pula.

“Bibi yang baik, bukankah engkau ini bibi Ciong Siu Kwi, isteri dari paman Yo Jin? Aku adalah Suma Lian dan ayahku adalah Suma Ceng Liong. Aku yakin tentu bibi sudah mengenalnya. Ibuku Kam Bi Eng.”

Diam-diam Ciong Siu Kwi terkejut dan juga girang mendengar nama gadis itu dan nama ayah bundanya. Tentu saja dia mengenal baik ayah bunda gadis ini, akan tetapi dia mengerutkan alisnya. Sungguh ceroboh bagi gadis itu memperkenalkan namanya begitu saja di depan Sin-kiam Mo-li!

Akan tetapi, Suma Lian agaknya dapat menduga apa yang dikhawatirkan karena dia segera melanjutkan kata-katanya, “Bibi Ciong Siu Kwi, perlu apa mendengarkan ocehan iblis betina itu? Dia hanya akan menipumu dan membohongimu dengan kelicikannya. Jangan percaya padanya. Aku pun pernah mendengar dari ayah akan namanya yang tersohor jahat. Orang macam ia mana mungkin menjadi patriot dan pendekar? Jangan takut, Bibi, ancamannya terhadap puteramu hanya gertakan kosong belaka. Kalau dia berani mengganggu anakmu, aku akan membasmi ia dan semua anak buahnya ini!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo