September 16, 2017

Kisah Sepasang Rajawali Part 5

 

Watak Suma Kian Bu di samping keriangan dan kelincahannya, juga amat romantis. Dia menikmati keindahan alam dengan cara terbuka, dengan wajah berseri, mata bercahaya dan mulut tiada hentinya mengeluarkan puji-pujian, mengagumi bunga-bunga yang indah, suka akan makanan enak, suka mendengarkan nyanyian merdu, suka akan pakaian-pakaian indah, suka mempersolek diri, suka bernyanyi-nyanyi dan tentu saja suka sekali melihat dara cantik!

Sungguh merupakan kebalikan dari sifat Suma Kian Lee yang pendiam, tidak suka bicara kalau tidak penting, biar pun suka mengagumi keindahan, namun rasa sukanya itu dipendam dalam batin saja, berpakaian sederhana tidak mengutamakan keindahan melainkan yang enak dipakai, mengutamakan kesusilaan dan sopan-santun yang bukan paksaan melainkan timbul dari watak aslinya yang menghargai orang lain.

Betapa pun juga, perangai Kian Bu yang riang gembira itu kadang-kadang menular kepadanya sehingga kalau selagi senang hatinya mendengar Kian Bu bernyanyi-nyanyi, dia ikut pula bersenandung sungguh pun tidak bernyanyi dengan nyaring mengeluarkan semua kegembiraan hatinya melalui nyanyian seperti adiknya itu. Apa lagi sikap adiknya yang amat suka akan wanita cantik, kadang-kadang membuatnya termenung dan dia harus mengakui diam-diam bahwa tidak ada kecantikan bunga dan keindahan alam yang melebihi wajah seorang dara, tidak ada suara merdu yang melebihi suara seorang dara!

Pada suatu hari, ketika mereka tiba di sebuah dusun dan karena kemalaman mereka bermalam di sebuah penginapan kecil dan sedang duduk di serambi sambil minum arak hangat, tiba-tiba mereka melihat sebuah kereta yang dikawal oleh rombongan piauwsu berhenti di depan rumah penginapan itu. Kepala pengawal mendekati kereta dan menyingkap tirai, sedangkan pembantu-pembantunya menahan kuda yang berbusa mulutnya. Agaknya empat ekor kuda itu sudah bekerja berat, lari melalui jarak jauh sehari itu.

Tiba-tiba ujung kaki Kian Bu menyentuh betis kakaknya sebagai isyarat. Kian Lee mengangkat mata melirik adiknya dan menoleh ketika melihat adiknya memandang ke arah kereta. Pintu kereta terbuka, tirai disingkapkan dan turunlah seorang gadis berusia kurang lebih enam belas tahun, cantik jelita seperti seorang bidadari turun dari kahyangan. Gerak-geriknya begitu halus gemulai ketika dia turun dari kereta dibantu oleh seorang wanita setengah tua dan seorang laki-laki setengah tua yang agaknya adalah ayah bundanya.

Sejenak dara itu berdiri di serambi depan ketika ayahnya bicara dengan pengurus penginapan minta disediakan kamar bagi mereka, kemudian bersama ayah bundanya dara itu memasuki penginapan dan lenyap di dalam kamar. Sibuklah para piauwsu menurunkan barang-barang, dan kereta kemudian ditarik ke sebelah belakang rumah penginapan itu. Jika dihitung dengan kusirnya, semua terdapat sebelas orang piauwsu yang kelihatannya tangkas dan kuat.

Melihat dara tadi menunduk saja, sedikit pun tak pernah melirik kepada mereka, melihat sikap yang amat sopan santun dari gadis itu, padahal ia mengharapkan kerlingan dan senyum, Kian Bu merasa kecewa dan tidak puas. Akan tetapi ketika dia memandang kakaknya, dia melihat kakaknya itu termenung, mukanya agak merah dan kedua tangan kakaknya mempermainkan cawan arak yang telah kosong, agaknya kakaknya itu lagi termenung-menung.
Kian Bu tersenyum. Baru sekarang dia melihat kakaknya termenung setelah melihat seorang dara! Maka segera dia menangkap tangan kakaknya sambil berkata, “Lee-ko, bagaimana?”

Kian Lee mengangkat muka memandang. Melihat sinar mata adiknya yang jelas-jelas menggodanya, mukanya menjadi semakin merah, “Bagaimana apanya?” Dia justru balik bertanya, setengah membentak.

Kian Bu menggerakkan kepalanya ke arah belakang rumah penginapan. “Dia tadi, hebat bukan?”

Kian Lee tidak menjawab segera, melainkan menunduk dan berkata lirih, “Hebat atau tidak, ada sangkut paut apa dengan kita? Jangan kau memikirkan yang bukan-bukan!”

“Ahhh, tidak. Bagiku sih, dia seperti patung hidup! Melirik sedikit pun tidak, tersenyum sedikit pun tidak, bicara sepatah kata pun tidak!”

“Itu tandanya dia seorang dara terpelajar, sopan dan menjaga harga diri tinggi-tinggi, bukan seorang perempuan genit!”

“Hi-hik, aku tahu bahwa dara model inilah yang akan menarik hatimu, koko. Mengapa tidak mengajak dia berkenalan? Eh, secara sopan maksudku?”

Kian Lee memandang adiknya dengan mata melotot. “Mau apa kau? Jangan main gila kau, Bu-te!”

“Ah, tidak. Aku hanya mengatakan bahwa kalau engkau tertarik kepada dara itu, apa salahnya kalau kau berkenalan dengan dia? Hanya berkenalan, apa sih buruknya? Kalau tidak berkenalan, bagaimana bisa mengerti cocok atau tidak?”

“Aku bukan laki-laki mata keranjang yang suka mengganggu gadis yang tidak kukenal.”

“Siapa bilang mengganggu? Aihh, koko, engkau benar-benar selalu berprasangka buruk dan tidak percaya kepada adikmu ini. Dan engkau ini selalu hendak berpura-pura, dan bersikap palsu.”

“Hemm, apa lagi ini maksudnya? Jangan kau kurang ajar kepadaku!”

“Koko merasa suka kepada seseorang, akan tetapi pada lahirnya pura-pura dingin, bukankah ini pura-pura namanya? Hati ingin berkenalan, akan tetapi mulut bicara lain, bukankah itu palsu?”

“Kian Bu, engkau masih kanak-kanak, akan tetapi lidahmu tajam. Hati-hati kau, kalau kau bicara seperti itu dengan orang lain, tentu engkau akan mudah sekali menanam permusuhan. Memang kuakui bahwa sikap dan keadaan dara tadi menimbulkan kagum di dalam hatiku, akan tetapi apa yang harus kulakukan? Aku bukanlah seorang laki-laki mata keranjang dan kurang ajar seperti engkau!”

“Bagus…!” Kian Bu meloncat bangun dan merangkul kakaknya. “Lee-ko, aku hanya ingin mendengar pengakuanmu bahwa kau tertarik kepadanya. Kita bukanlah orang-orang rendah yang suka melakukan hal- hal tidak patut, akan tetapi tanpa siasat, mana mungkin kau berkenalan dengan dara itu? Aku sudah mempunyai suatu rencana, kalau siasat ini dilakukan, engkau tentu akan berkenalan dengan dia dan bahkan dipandang tinggi dan hormat!” Pemuda tanggung ini lalu berbisik-bisik di dekat telinga kakaknya.

Wajah Suma Kian Lee yang tampan sebentar merah sebentar pucat, dia menggeleng-geleng kepala, akan tetapi akhirnya dia berkata lirih, “Berbahaya sekali siasatmu yang nakal itu, Bu-te!”

“Alaaaa… kau maksudkan piauwsu-piauwsu itu? Serahkan padaku, beres. Dan aku pun bukan ingin memperpanjang pertempuran dengan mereka. Aku hanya menjadi penculik, kau lalu muncul. Habis perkara. Yang penting, dia akan berhutang budi kepadamu dan tentu saja menjadi kenalan. Tidak ada apa- apa yang jahat, bukan?”

“Akan tetapi, kalau kau melukai seorang pun…”

“Koko, engkau anggap aku ini orang macam apa? Aku bukan penculik tulen, bukan pula perampok, mau apa aku melukai orang? Percayalah kepadaku, kelak engkau akan berterima kasih kepadaku kalau sudah menjadi sahabatnya, koko!”

Terpaksa Kian Lee tersenyum dan dengan gerakan gemas seperti hendak menampar kepala adiknya. Kian Bu meloncat menjauh, lalu tertawa-tawa dan tak lama kemudian kedua orang kakak beradik ini pun sudah memasuki kamar mereka dan tidur.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kian Lee telah dibangunkan oleh Kian Bu. Seperti biasa setiap pagi, mereka duduk bersila dan bersiulian sebentar, latihan yang sudah menjadi kebiasaan sehingga sekali saja tidak melakukannya terasa kurang enak. Kemudian mereka mandi dan membayar biaya penyewaan kamar lalu berangkat, akan tetapi setibanya di luar dusun, mereka berhenti.

Setelah matahari menumpahkan cahayanya di permukaan bumi, tampak oleh mereka yang dinanti-nanti sejak tadi, yaitu kereta berkuda empat yang dikawal oleh sepuluh orang piauwsu dan seorang kusir. Mereka membiarkan rombongan itu lewat, kemudian mereka membayangi dari jauh.

Biar pun rombongan itu terdiri dari kereta ditarik kuda dan dikawal oleh sepuluh orang piauwsu berkuda, namun tidaklah sukar bagi dua orang muda itu membayangi mereka. Kakak beradik ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat, kesaktian yang tinggi dan ilmu berlari mereka luar biasa.

Rombongan memasuki sebuah hutan. “Saudara-saudara, hati-hati dan waspadalah, di depan adalah hutan yang cukup besar!” berkata kepala piauwsu yang bermuka merah. Sepuluh orang itu lalu melarikan kuda mereka mengurung kereta, tiga di depan, tiga di belakang, dan masing-masing dua di kanan kiri.

Tiba-tiba para piauwsu itu terkejut sekali ketika melihat sesosok bayangan orang meloncat turun dari atas pohon besar, langsung menimpa atap kereta dan terdengar kain robek disusul jerit nona yang berada di dalam kereta, lalu tampak pula bayangan itu meloncat turun dari kereta sambil memondong tubuh nona itu yang menjerit-jerit dan meronta ronta.

“Tolong…! Penculik…! Tolong Bi Hwa…!” Nyonya dan suaminya tergopoh-gopoh keluar dari kereta yang sudah dihentikan oleh kusir, menangis dan berteriak-teriak.

Para piauwsu sudah cepat bergerak. Enam orang melakukan pengejaran kepada Suma Kian Bu yang berlari cepat memondong tubuh dara itu sedangkan yang empat orang lagi tetap menjaga kereta.

“Kejar! Tangkap penjahat…!” Teriak kepala piauwsu yang memimpin teman-temannya mengejar. Tetapi mereka segera terpaksa turun dari kuda dan melanjutkan pengejaran dengan berlari ketika melihat penculik itu membawa dara itu menyusup-nyusup ke dalam semak-semak tebal.

“Lepaskan aku…! Lepaskan…!” Bi Hwa, dara itu meronta sambil memukul-mukul ke arah dada muka dan kepala Suma Kian Bu.

Akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum saja. “Tenanglah sayang, diamlah manis… aku takkan mengganggumu…!”

Namun Bi Hwa masih meronta-ronta. Meremang seluruh bulu badannya melihat dirinya dipondong dan dibawa lari dengan begitu hati-hati oleh pemuda yang amat tampan ini. Di dalam hatinya yang dilanda kaget dan takut, timbul keheranan mengapa pemuda yang masih amat muda dan amat tampan ini menjadi penjahat!

Tiba-tiba muncul seorang pemuda lain yang menghadang di depan sambil membentak, “Penculik, lepaskan dia!”

Suma Kian Bu yang melihat kakaknya sudah muncul, pura-pura membentak marah, “Engkau pendekar, jangan mencampuri urusanku!”

Suma Kian Lee menerjang ke depan, dan beberapa lamanya kakak beradik itu pukul-memukul, akhirnya sebuah pukulan mengenai kepala Suma Kian Bu yang terhuyung dan roboh. Tentu Bi Hwa ikut pula terbanting kalau saja tidak cepat ditahan oleh Suma Kian Lee. Sejenak Bi Hwa berdiri dengan muka pucat memandang kepada Suma Kian Lee yang telah menolongnya, kemudian menoleh dan memandang Suma Kian Bu yang rebah miring dengan muka pucat seperti telah menjadi mayat!

Kian Lee diam-diam menyesalkan siasat adiknya ini karena jelas tampak betapa gadis itu kaget dan takut. Dia menanti ucapan terima kasih dan sudah bersiap untuk segera mengantarkan dara itu kembali ke kereta dan orang tuanya. Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh kakak beradik itu.

Si dara jelita yang menoleh dan memandang Kian Bu tiba-tiba terisak, kemudian lari… menghampiri Kian Bu, berlutut di dekat tubuh pemuda ini.

“Aihhh, kau… kau telah membunuhnya…! Kau telah membunuhnya…!” Dia menuding ke arah Kian Lee, kemudian mengangkat kepala Kian Bu, memangkunya dan mengusap-usap kepalanya seperti hendak mencari bagian mana dari kepala itu yang pecah dan membuat pemuda ini tewas. “Aduh kasihan sekali engkau…,” bisik Bi Hwa.

Kian Lee berdiri dengan muka pucat. Dan Kian Bu lupa akan permainan sandiwaranya, dia begitu terheran- heran sehingga lupa bahwa dia telah ‘mati’. Dia membuka matanya dan memandang dengan melongo.

“Syukur, kau belum mati… ahhh, aku girang sekali… di manakah yang terluka ?” Bi Hwa bertanya.

Kian Bu menggeleng kepala dan menuding ke arah Kian Lee. “Kau… kau harus cepat menghaturkan terima kasih kepadanya. Dialah penolongmu “

“Dia kejam, memukulmu sampai hampir mati!” Bi Hwa membantah.

“Tapi aku adalah penculikmu, dialah yang menolongmu… lekas kau hampiri dia…,” Kian Bu makin bingung dan merenggutkan dirinya yang masih dipeluk dara itu.

Pada saat itu terdengar bentakan. “Penculik busuk, hendak lari ke mana kau?” Dan muncullah enam orang piauwsu dengan pedang atau golok di tangan masing-masing.

Melihat ini, Kian Lee meloncat dan berkata, “Bu-te, pergi… !”

Terbirit-birit Kian Bu lalu meloncat dan melarikan diri mengejar kakaknya. Sampai jauh sekali mereka berlari, dan terengah-engah mereka berhenti di dalam hutan kecil yang terpisah jauh dari hutan di mana mereka tadi main sandiwara itu.

Tentu saja mereka terengah-engah, bukan karena telah lari cepat dan jauh, melainkan karena sejak tadi hati mereka penuh ketegangan ketika bersandiwara yang kemudian ternyata gagal total itu! Si gadis manis bukan berterima kasih kepada Kian Lee yang ‘menolongnya’ melainkan justru menaruh iba kepada Kian Bu ‘si penculik’! Benar-benar merupakan kebalikan dari apa yang mereka inginkan, dan hampir saja rahasia mereka terbuka ketika para piauwsu itu datang.

“Kau…!” Kian Lee menggerakkan tangan hampir menampar muka adiknya, akan tetapi ditahannya dan dia menarik napas panjang.

“Lee-ko, jangan salahkan aku! Dialah yang salah, gadis tidak tahu terima kasih itu, gadis tidak mengenal budi itu!”

“Diam! Jangan memaki dia! Justru perbuatannya tadi menambah tingkatnya dalam pandanganku! Dia adalah seorang yang berbudi mulia, mendahulukan rasa iba hatinya terhadap orang yang tertindas. Karena melihat kau kupukul dan mengira engkau tewas, maka dia melupakan semua urusan pribadinya dan menjatuhkan rasa iba hatinya kepadamu. Bukankah itu menandakan bahwa dia seorang yang baik budi?”

Suma Kian Bu kian melongo. Kakaknya ini malah lebih aneh dari pada gadis tadi. Dia menggerakkan pundaknya dan diam-diam berjanji dalam dirinya untuk berhati-hati, agar lain kali jangan mengecewakan hati kakaknya.

“Siasatku tadi memang kurang sempurna, koko. Mestinya, begitu terpukul, aku pura-pura kalah dan melarikan diri, bukan pura-pura terpukul mati. Kalau aku kalah dan lari, tentu perhatiannya tertuju kepadamu.”

“Sudahlah, salah kita sendiri. Kita bermain sandiwara, bertindak palsu dengan tujuan mempermainkan kepercayan hati seorang gadis, maka cara yang tidak baik itu tentu saja mendatangkan hasil tidak baik pula.”

“Aihhh, koko, jangan begitu. Aku telah bersungguh-sungguh membantumu, dan engkau belum pernah membantuku.”

“Hemm, aku memang telah hutang budi kepadamu. Baik, akan kubalas seperti yang kau lakukan kepadaku, hanya hasilnya terserah engkau yang menanggung jawab semua.”

“Tentu saja. Akan tetapi siasatnya harus diperbaiki. Setelah engkau kuserang, engkau pura-pura kalah dan meninggalkan gadis itu untuk berterima kasih kepadaku.”

“Hemmmm…” Kian Lee hanya menggumam mengkal.

Saat yang dijanjikan oleh Kian Lee kepada adiknya itu tiba ketika perjalanan mereka sudah tiba di pegunungan yang menjadi tapal batas Propinsi Hopei. Perjalanan naik turun gunung dan melalui hutan- hutan besar, hanya jarang saja mereka menjumpai pedusunan atau kota. Pada suatu hari, selagi mereka berjalan perlahan di bawah pohon-pohon yang rindang yang amat sejuk karena terlindung dari sinar matahari, mereka bertemu dengan serombongan orang yang terdiri dari dua buah kereta dan dua losin piauwsu. Rombongan yang cukup besar dan kereta itu merupakan kereta mewah, kudanya pun besar- besar sehingga mudah saja diduga bahwa penumpangnya tentulah sebangsa bangsawan atau hartawan.

“Nah, besar kemungkinan di dalamnya ada gadisnya, koko,” bisik Kian Bu.

Kakaknya cemberut. “Apakah di dalam kepalamu itu isinya hanya bayangan gadis-gadis cantik?” bentaknya.

“Alaaaaaa…, koko. Kalau kau begini terus, sampai kapan kau hendak membalas budi?”

“Wah, kau memang sangat cerewet dan selalu ingat kalau mengutangkan sesuatu!” cela kakaknya.

“Dan kau terlalu sabar kalau disuruh membayar hutang!” Adiknya menggoda sehingga Kian Lee kewalahan.

“Kau lihat sendiri, dua buah kereta itu tertutup, mana kita bisa tahu apakah di dalamnya ada gadisnya atau tidak?”

“Ha-ha-ha, apa sih sukarnya untuk mengetahui hal itu?” Tangan Kian Bu bergerak dan tampak oleh Kian Lee sinar-sinar hitam kecil menyambar ke depan.

Adiknya telah menggunakan tanah liat untuk menyambit ke arah kuda yang menarik kereta. Terdengar ringkik keras dan empat ekor kuda yang terkena timpukan tanah liat tepat di bawah telinganya itu meringkik dan meronta berdiri di atas kedua kaki belakang. Tentu saja kusirnya cepat membentak dan menarik kendali. Rombongan terhenti dan semua piauwsu bertanya sehingga ributlah keadaan di situ.

Dua buah kereta itu tersingkap dari dalam. Ada kepala-kepala orang menjenguk dan bertanya apa yang terjadi dan mengapa ada ribut-ribut di luar, bahkan orang-orang yang menumpang dalam kereta yang kudanya meringkik itu menjadi agak panik karena keretanya bergoyang-goyang. Kesempatan itu digunakan oleh Kian Bu untuk mengintai dan betapa girangnya ketika melihat bahwa di kereta kedua, kereta yang besar dan mewah, terdapat tiga orang penumpang yaitu seorang laki-laki tua yang pakaiannya mewah tanda hartawan, usianya kurang lebih empat puluh tahun, seorang wanita yang usianya kurang lebih empat puluh tahun dan seorang gadis cantik manis yang berusia paling banyak sembilan belas tahun! Seorang gadis cantik dan bajunya merah, manis sekali! Juga Kian Lee melihat ini dan diam-diam dia memuji kecerdikan adiknya.

Bocah itu ada saja akalnya! Akan tetapi sekali ini ‘tugasnya’ lebih berat dari pada yang dilakukan adiknya sebulan yang lalu. Jumlah pengawal ada dua losin orang, dan di antara mereka banyak yang membawa busur, juga sikap mereka lebih gagah dari pada sepuluh orang dahulu itu. Akan tetapi apa boleh buat, kalau dia belum ‘membayar hutang’, adiknya tentu akan rewel terus. Dia hanya akan menjaga agar adiknya jangan bertindak lebih jauh dari sekedar belajar kenal dengan gadis itu!

“Baiklah, kini aku akan membayar hutangku. Kau tunggu di luar hutan ini di sebelah kiri sana,” katanya tanpa banyak cakap lagi.

Kian Bu memegang tangan kakaknya. “Terima kasih, koko!” Kian Lee merenggut tangannya. “Pergilah!”
Kian Bu tertawa dan meloncat pergi dengan girang sekali. Mau tidak mau, Kian Lee menggeleng kepala dan menarik napas panjang melihat adiknya berloncatan seperti anak kecil berlari sambil berjingkrakan itu. Adiknya itu benar-benar seperti anak kecil, akan tetapi begitu besar hasratnya untuk berkenalan dengan gadis-gadis cantik!

Dia cepat berlari mengejar rombongan yang sudah bergerak lagi itu. Sebentar saja dia sudah dapat menyusul. Kian Lee tidak mau menimbulkan keributan seperti yang biasa dilakukan adiknya, maka dia sengaja mendahului rombongan lalu berdiri di tengah jalan sambil mengangkat tangan. “Harap cu-wi berhenti dulu!”

Melihat ada seorang pemuda berkelebat cepat sekali kemudian berdiri menghadang di tengah jalan, dua kereta lalu dihentikan dan dua losin piauwsu itu cepat menjaga kereta. Pemimpinnya, yaitu seorang piauwsu tua yang berjenggot putih, bersama belasan orang pembantunya menghadapi Kian Lee.

“Kau siapakah dan mau apa menahan rombongan kami?” bentak si jenggot putih.

Akan tetapi Kian Lee tidak mau melayaninya, melainkan melangkah lebar ke arah kereta kedua. Dia segera dikurung, akan tetapi dia berjalan terus menuju ke kereta sambil berkata, “Aku mau bicara dengan mereka! Yang berada di dalam kereta!”

Melihat pemuda tampan ini berpakaian pantas dan tidak membawa senjata, sikapnya seperti seorang pemuda terpelajar, maka para piauwsu ragu-ragu untuk menurunkan tangan besi, dan kereta itu disingkap dari dalam, muncul wajah tiga orang itu.

Kian Lee yang melihat jelas bahwa di dalamnya memang terdapat seorang gadis cantik berbaju merah, segera berkata, “Aku hanya mau mengajak pergi dia itu!” berkata demikian tubuhnya meloncat cepat sekali ke depan, dan tahu-tahu semua orang melihat dia sudah melesat pergi dan lari memondong tubuh gadis berbaju merah yang berteriak teriak. “Tolong… toloooonggg…!”

Beberapa orang piauwsu memasang anak panah pada busurnya. “Hati-hati, jangan salah sasaran. Arahkan kepada kakinya!”
Belasan batang anak panah melesat mengejar Kian Lee, akan tetapi dengan meloncat-loncat, pemuda itu dengan mudah menghindarkan kakinya dari sambaran anak panah dan mempercepat larinya. Biar pun para piauwsu melakukan pengejaran secepatnya, namun sebentar saja Kian Lee sudah lenyap dari depan mereka.

“Lepaskan aku…! Tolonggg…!”

“Diamlah, aku hanya menculikmu!” Kian Lee menahan kata-katanya karena hampir saja dia bilang ‘Sebentar lagi kau akan tertolong!’

Karena cepatnya dia berlari, tak lama kemudian dia sudah keluar dari hutan itu dan tiba-tiba Kian Bu meloncat keluar menghadang. “Heiiii, perampok! Penculik! Lekas lepaskan gadis manis ini kalau kau tidak ingin kupukul mampus!”

Keduanya segera bertanding menurut rencana dan Kian Lee yang terdesak segera melepaskan gadis itu, menerima beberapa kali pukulan lalu melarikan diri dari situ dengan cepatnya. Dari jauh dia menyelinap dan mengintai ke arah dua orang itu. Dia kagum melihat betapa gadis itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kian Bu sambil menangis.

“Saya menghaturkan banyak terima kasih kepada kongcu yang telah menyelamatkan nyawa saya…,” kata gadis itu dengan suara merdu.

Kian Bu tersenyum. “Ah, tidak mengapa, nona. Urusan kecil saja itu. Tak perlu berterima kasih. Saya sudah merasa girang kalau nona sudi menjadi sabahat saya.”

Gadis itu kemudian bangkit berdiri karena tangannya ditarik oleh Kian Bu. Dari tempat sembunyinya jelas tampak oleh Kian Lee betapa gadis itu tersenyum manis sekali dan matanya mengerling tajam ke arah Kian Bu, dan sikapnya amat memikat. “Tentu saja, kongcu. Engkau adalah penolongku, apa pun yang kongcu kehendaki dariku, tentu akan kulakukan untuk membalas budi…”

Kalau saja yang menerima kata-kata ini bukan seorang pemuda tanggung yang masih hijau seperti Kian Bu, tentu dapat menangkap arti di balik kata-kata memikat ini. Akan tetapi dasar dia masih mentah, Kian Bu hanya tersenyum girang dan berkata, “Terima kasih, aku girang sekali dapat berkenalan denganmu, apa lagi bisa menjadi sahabatmu. Nona, namaku adalah Suma Kian Bu, dan nona siapakah?”

“Namaku…?” Gadis itu terlihat malu-malu dan mengerling tajam disertai senyum simpul. “Aku… Cia Hong Ciauw…”

“Namamu manis sekali, seperti orangnya,” kata Kian Bu.

Ucapan yang keluar dari mulut Kian Bu ini sebenarnya hanyalah ucapan jujur saja dan bukan merupakan sanjungan atau bujuk rayu, melainkan diucapkan karena memang sesungguhnya dia menganggap nama itu manis dan orangnya pun manis! Akan tetapi, wajah gadis itu menjadi merah sekali, malah lebih merah dari bajunya, tersenyumlah dia dengan penuh daya pikat, matanya mengerling, dan dari lehernya keluar suara seperti seekor kucing dibelai.

“Ihiiikk… kongcu bisa saja memuji orang, membikin aku malu saja…” Dan tiba-tiba gadis itu merangkul dan menyembunyikan mukanya di dada Kian Bu.

“Lhoh…! Ehhh…! Bagaimana ini…? Wah, jangan…!” Kian Bu menjadi bingung, tubuhnya menjadi kaku dan meremang semua, seolah-olah ada ribuan ekor ulat yang merubung tubuhnya.

Dan pada saat itulah muncul kakek dari dalam kereta bersama para piauwsu. “Hong Ciauw…!” Kakek itu membentak marah.
Gadis itu lalu melepaskan rangkulannya, terkejut dan mundur, akan tetapi masih sempat melempar senyum dan kerling manis ke arah Kian Bu, lalu berkata, “Dia ini adalah in-kong (tuan penolong) Suma Kian Bu. Kalau tidak ditolongnya, tentu aku tadi sudah mati di tangan penculik kejam…”

Melihat kakek itu melotot marah, Kian Bu tahu bahwa keadaan tak menguntungkannya. Ayah itu tentu marah melihat anaknya merangkul seorang pemuda!

“Eh, maaf… aku… eh, aku hanya menolong puterimu tanpa pamrih sesuatu…” “Puteri siapa? Dia adalah bini mudaku!” bentak kakek itu.
Sepasang mata Kian Bu makin lama makin lebar sampai menjadi bulat dan tidak dapat lebih lebar lagi, mulutnya juga terbuka sampai lama. Untung di tempat itu tidak banyak lalat! Akhirnya, tanpa mengeluarkan suara bah atau buh, dia membalikkan kedua kakinya dan lari lintang pukang seperti dikejar hantu! Tentu saja para piauwsu yang melihat ini menjadi terheran-heran, apa lagi mendapat cerita nyonya muda itu bahwa pemuda tadi telah menolongnya dari tangan penculik yang amat lihai tadi. Benar-benar seorang pemuda yang aneh, pikir mereka, aneh dan berilmu amat tinggi karena dengan beberapa loncatan saja, bayangan pemuda itu melesat dan lenyap.

Kian Bu berlari terus dengan cepat, merasa seolah-olah gadis manis itu mengejarnya, hendak merangkulnya, hendak menciumnya. Dia bergidik berkali-kali, menggerakkan kedua pundak dan tengkuknya terasa dingin dan ngeri, larinya makin cepat seolah-olah setan gadis itu berada dekat sekali di belakangnya.

“Ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan mendengar suara ketawa ini tahulah Kian Bu bahwa memang ada orang di belakangnya, bukan setan bukan pula siluman, melainkan kakaknya sendiri. Maka dia kemudian berhenti dan terengah-engah memandang wajah kakaknya yang tertawa-tawa dengan gelinya. Baru sekarang dia melihat kakaknya tertawa demikian enak sampai memegang perutnya.

“Ha-ha-ha-ha…! Dia bini mudanya… ha-ha-ha-ha, dan kau dirangkulnya, ha-ha-ha-ha…!” Kian Lee yang tidak biasa tertawa-tawa seperti itu, kini tidak dapat menahan kegelian hatinya.

“Koko, kau… kejam!” Kian Bu membentak dan suara tertawa terhenti.

Dengan mulut masih tersenyum lebar menahan geli hatinya, Kian Lee berkata, “Nah, kau rasakan sekarang, Bu-te. Tidak benarkah kata-kataku bahwa cara yang tidak baik hanya akan menghasilkan ketidak baikan pula? Karena pertolonganmu tadi hanya sandiwara dan pura-pura belaka, hanya palsu, maka hasilnya hanya menimbulkan cemburu seorang suami yang melihat bini mudanya bermain gila dengan orang lain.”

“Huh! Sialan perempuan itu…!” Kian Bu membanting kaki dengan gemas. “Aku tidak akan melakukan hal itu lagi! Tidak lagi!”

“Sudahlah, Bu-te, sekali waktu ada gunanya juga pelajaran pahit seperti ini bagi kita. Nah, marilah sekarang kita cepat mengejar mereka dan membayangi dari jauh.”

“Hehh…?” Kian Bu memandang kakaknya dengan mata lebar. “Perlu apa membayangi? Aku tidak butuh berkenalan dengan perempuan itu!”

“Sekarang bukan urusan berkenalan dengan wanita, Bu-te. Ketahuilah, ketika tadi aku melarikan diri dan mengintai, aku melihat berkelebatnya tiga orang tosu dan aku segera membayangi mereka. Aku sempat menangkap percakapan mereka yang menyatakan bahwa mereka akan turun tangan terhadap rombongan itu malam ini di kuil tua.”

“Eh, siapa mereka itu?”

“Aku tidak tahu, akan tetapi melihat gerakan-gerakan mereka, kalau benar mereka turun tangan mengganggu, para piauwsu itu bukanlah tandingan mereka. Maka kita harus membayangi dan kalau perlu menolong mereka, Bu-te. Sekali ini bukan menolong pura-pura, bukan main sandiwara, melainkan main betul-betulan karena ada pihak yang terancam bahaya.”

“Baik, koko. Akan tetapi kuharap ada penculik sungguhan yang melarikan perempuan itu dan jangan harap aku akan menolong dia. Agaknya orang seperti dia itu memang selalu mengharapkan dibawa pergi penculik!” Kian Bu mengomel.

“Hushh, jangan sentimen, Bu-te! Dia patut dimaafkan karena memang sukarlah mencari seorang penolong pemuda istimewa seperti engkau.”

“Wah, kau tiada habisnya mengejekku, koko!” Suma Kian Bu mengomel dengan suara merengek. “Awas, kalau lain kali engkau yang kecelik, aku pun akan mentertawakanmu juga!”

Dua orang kakak beradik itu menggunakan ilmu berlari cepat, tetapi karena rombongan itu dibalapkan semenjak mengalami gangguan kakak beradik itu, maka setelah hampir malam baru mereka dapat menyusul rombongan itu yang telah berhenti di dalam sebuah kuil tua di luar hutan. Kuil ini adalah kuil Buddha yang sudah amat tua, sebagian besar bangunan itu sudah runtuh dan agaknya dibuat sebagai tempat perhentian oleh para pendeta Buddha di jaman dahulu ketika mereka mulai dengan penyebaran Agama Buddha sampai ke pelosok-pelosok dunia. Kini kuil kuno dan rusak itu tentu saja tidak dipergunakan lagi oleh para pendeta dan hanya dipergunakan oleh orang-orang yang melakukan perjalanan dan lewat di tempat itu untuk sekedar beristirahat atau kadang-kadang juga bermalam.

Agaknya rombongan yang dilindungi oleh dua losin piauwsu itu memang sudah merencanakan untuk bermalam di tempat itu dan merasa aman karena ada dua losin piauwsu yang mengawal. Akan tetapi, peristiwa penculikan nyonya muda di siang hari tadi, yang dilakukan oleh seorang pemuda dan entah bagaimana nasib nyonya muda itu kalau tidak ditolong oleh seorang pemuda lain, membuat para piauwsu bersikap waspada, hati-hati dan juga agak cemas. Baru ada seorang perampok saja yang turun tangan, penjahat itu sudah berhasil menculik wanita di hadapan hidung mereka tanpa mereka dapat menangkapnya!

Setelah hartawan itu dan dua orang isterinya turun dari kereta, menempati ruangan kuil yang sudah dibersihkan dan dihangatkan dengan api unggun, duduk di dekat api di atas tikar, para piauwsu yang berjaga-jaga tentu saja membicarakan peristiwa siang tadi. Juga di antara hartawan dan dua orang isterinya terjadi percakapan mengenai peristiwa itu. Terutama si hartawan yang mengomel tak kunjung henti.

“Baru sejenak saja jauh dari sampingku, engkau sudah main gila dengan laki-laki lain,” kata si hartawan kepada bini mudanya.

“Sudah berapa puluh kali kau mengatakan hal itu!” jawab si bini muda dengan berani. “Sampai bosan aku mendengarnya! Engkau tidak terancam bahaya maut, maka bicara sih mudah! Aku yang terancam bahaya maut oleh penculik yang ganas dan kejam sekali itu, setelah ditolong orang, tentu saja aku amat senang dan berterima kasih. Dia masih amat muda, sepatutnya menjadi adikku, kalau aku menyatakan terima kasihku dengan merangkulnya, apakah itu merupakan kejahatan besar?”

“Kalau aku tidak keburu muncul, entah macam apa lagi bentuk terima kasihmu itu, kau perempuan rendah…!”

“Sudahlah, sudahlah…!” Isteri pertama mencela. “Di tengah perjalanan ini, di tempat berbahaya dan di mana bahaya sewaktu-waktu masih selalu mengancam kita, mengapa ribut-ribut mengenai urusan yang telah lewat? Terdengar para piauwsu pun hanya akan menimbulkan rasa malu.”

Setelah ketiga orang itu dengan bersungut-sungut tidur di dekat api dan tidak lagi ribut mulut, para piauwsu yang berjaga-jaga lalu membicarakan peristiwa siang tadi sambil berbisik-bislk. Di antara mereka, Can Si Hok si kepala piauwsu sendiri, juga ikut bercakap-cakap.

“Nasib kita masih baik sehingga ada saja muncul seorang penolong hingga penculikan itu dapat digagalkan,” kata seorang di antara mereka.

“Penculik itu mempunyai kepandaian yang hebat sekali. Keroyokan anak panah itu dapat dielakkannya semua tanpa menoleh, padahal dia sedang memondong orang dan sedang berlari. Sayang.dia keburu lari sehingga kita tidak sempat mencoba sampai di mana kepandaian ilmu silatnya. Kelihatannya masih muda sekali.”

“Akan tetapi, jelas bahwa kepandaian penolong itu pun lebih hebat,” bantah yang lain. “Buktinya dapat menolong dan mengusir si penculik. Penolong itu pun masih amat muda. Dari cara dia melarikan diri, jelas bahwa ginkang-nya pun amat luar biasa, seperti terbang saja.”

Can Si Hok, si kepala pengawal yang berjenggot putih menarik napas panjang dan berkata, “Kawan- kawan, malam ini harap kalian waspada dan lebih baik kalau tidak seorang pun di antara kita tertidur. Penjagaan di luar kuil harus dilakukan dengan ketat, perondaan di sekitar kuil dilakukan dengan bergiliran. Aku khawatir akan terjadi lagi hal yang tak kita inginkan. Munculnya dua orang tadi, baik si penculik mau pun si penolong, merupakan hal yang amat luar biasa. Selama ini belum pernah pula mendengar di dunia kang-ouw muncul dua jago muda yang sedemikian lihainya. Baiknya, kalau yang seorang jahat, yang seorang baik dan suka menolong. Mudah-mudahan tugas kita sekali ini tidak akan gagal.”

Penjagaan diperketat dan Can Si Hok sendiri ikut melakukan perondaan. Kelihatannya aman dan tidak terjadi sesuatu di tempat yang amat sunyi itu. Benarkah demikian? Sesungguhnya tidaklah demikian, karena tidak jauh dari kuil itu terjadi hal-hal yang tentu akan menggegerkan para piauwsu kalau saja mereka mengetahuinya.

Tiga sosok bayangan yang gerakannya gesit bukan main, bagaikan setan-setan saja layaknya, bergerak di antara pohon-pohon mendekati kuil. Setelah dekat dengan kuil mereka mengintai dari balik pohon besar ke arah empat orang penjaga yang menjaga di pojok kuil.

“Kita bunuh saja mereka berempat itu, lalu menyerbu ke dalam,” berbisik seorang di antara mereka.

“Biarlah pinto yang menyelinap ke dalam mencari benda itu, kalian berdua bikin ribut di luar untuk memancing perhatian semua piauwsu. Yang agak lumayan kepandaiannya hanyalah Can-piauwsu itu saja, yang lain-lainnya tidak perlu dikhawatirkan.”

“Baik, akan tetapi bagaimana dengan hartawan itu?” tanya tosu yang ada tahi lalat besar di dagu kanannya, “Dan kedua orang wanita itu?”

“Bereskan saja mereka, hartawan itu adalah seorang yang pelit!” kata tosu kedua. “Ah, wanita muda itu sayang kalau dibunuh. Dia manis,” kata si tahi lalat. “Hushhhh… jangan ribut-ribut, kita bergerak sekarang dan… heiii… hujankah…?”
Memang ada air menyiram mereka dari atas pohon besar itu. Tadinya mereka mengira bahwa hujan turun tanpa tersangka-sangka, akan tetapi hidung ketiga orang tosu itu kembang kempis. Mereka meraba-raba air hujan yang menimpa kepala, dan kemudian mendekatkan jari ke depan hidung.

“Mengapa baunya begini?” “Seperti air kencing!”
Dan ‘hujan’ pun berhenti yang berarti memang tidak hujan sama sekali, melainkan ada orang mengencingi mereka dari atas pohon itu.

“Keparat!” Mereka memaki dan secepat kilat tubuh mereka sudah mencelat ke atas, ke dalam pohon. Mereka berlompatan dan mencari-cari, akan tetapi tidak ada seorang pun di pohon itu! Terpaksa mereka turun lagi dan berbisik-bisik penuh ketegangan.

“Apa yang terjadi?”

“Tentu hanya seekor monyet, siapa lagi?”

“Akan tetapi, biar pun monyet, bagaimana bisa bergerak secepat itu seperti pandai menghilang saja?”

“Kita harus bekerja cepat,” kata tosu bertahi lalat. “Sudah dikabarkan orang bahwa kelenteng kuno ini menjadi tempat keramat. Yang dapat menggoda kita seperti tadi tentu hanya setan saja!”

Ketiganya menjadi tegang. Mereka percaya bahwa setanlah yang menggoda mereka, karena kalau manusia atau binatang, tak mungkin dapat lari dari mereka sedemikian cepatnya. Mereka adalah orang- orang yang berkepandaian tinggi, tak mungkin dapat dipermainkan, dan kalau yang berada di atas pohon tadi manusia atau binatang sudah pasti mereka akan dapat menangkapnya.

“Marilah kita mulai bergerak,” kata tosu pertama. “Ji-sute (adik seperguruan kedua), kau menyelinap dari kanan, dan kau sam-sute, kau dari kiri. Setelah kalian menyergap keempat orang itu, pinto akan masuk melalui pintu samping yang kelihatan dari sini itu dan selanjutnya kalian harus dapat memancing mereka semua keluar agar leluasa pinto bergerak ke dalam.”

“Baik, suheng,” kata kedua orang tosu itu yang segera berpencar ke kiri dan ke kanan.

“Heiii… aduhhh!” Tak lama kemudian terdengar tosu yang berlari ke kiri terjungkal dan menahan teriakan makiannya.

Mereka berkumpul, kini di tempat tosu itu jatuh. “Mengapa kau, sam-sute?”
“Tersandung batu! Sialan!”

“Engkau? Dapat tersandung batu? Sungguh aneh.”

“Entahlah, batu itu seperti ada tangannya memegang dan menjegal kakiku. Eh, mana batu jahanam itu?” Dia meraba-raba dan tidak menemukan batu itu. “Aneh sekali, batu itu besar sekali ketika aku menyandungnya, mengapa sekarang menghilang?”

“Ah, sungguh heran, sekali mengapa mendadak engkau menjadi penakut dan gugup sehingga jatuh sendiri, sam-sute. Apakah cerita tentang setan membuat kau penakut?” cela tosu tertua.

“Biarlah empat orang itu kubereskan sendiri, nanti sam-sute menyusul kalau aku sudah memancing mereka keluar,” kata orang kedua yang segera meloncat ke depan dengan sigap. Dua orang temannya melihat dia meloncat ke atas, akan tetapi betapa kaget rasa hati mereka karena tidak melihat temannya itu turun lagi, seolah-olah menghilang begitu saja!

Tosu tertua dan sam-sute-nya yang tadi tersandung batu ajaib itu lantas terbelalak memandang. “Eh, ke mana dia?” tanya sute-nya. “Mana ji-suheng?”

Tosu tertua juga bingung karena sute-nya itu benar-benar lenyap tak menimbulkan bekas. “Ji-sute…!” bisiknya memanggil.

Tiba-tiba terdengar jawaban agak jauh di belakang mereka, akan tetapi bukan jawaban panggilan itu melainkan suara “ceekkk… ceekkk…” seperti orang yang lehernya dicekik! Cepat mereka berdua melompat dan lari ke arah suara itu dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat saudara yang dicari-cari itu sedang ‘menggantung’ diri di sebuah dahan, tubuhnya berkelojotan, lehernya mengeluarkan suara tercekik dan dia digantung dengan sabuknya sendiri sehingga celananya merosot turun terkumpul di kaki dan karena tosu bertahi lalat itu sudah ‘biasa’ tidak memakai pakaian dalam, tentu saja dia menjadi telanjang bulat di tubuh bagian bawahnya, menimbulkan penglihatan yang lucu sekali!

Kedua orang tosu itu cepat meloncat dan melepaskan sabuk itu dari dahan pohon dan membawa turun saudara mereka yang sudah melotot matanya, terjulur lidahnya dan kebiruan mukanya itu! Mereka segera menjadi sibuk, yang seorang menggosok-gosok leher bekas terjirat itu, kemudian yang kedua membenarkan celana dan mengikatkan lagi sabuknya pada pinggang.

Setelah siuman, tosu ketiga bertanya, “Ji-suheng, mengapa begitu pendek pikiranmu? Mengapa kau hendak membunuh diri dan mengapa pula membunuh diri saja menanti saat seperti ini? Aihh, ji-suheng, kalau kau mati dengan membunuh diri, nyawamu akan melayang ke neraka siksaan!”

“Bunuh diri hidungmu itu!” Si tahi lalat memaki dan bangkit duduk, menggosok-gosok lehernya dan menggoyang-goyangkan kepalanya. “Iblis yang melakukan ini!”

“Ji-sute, coba ceritakan, apakah yang terjadi tadi?” Tanya tosu tertua setelah dia tadi meloncat ke atas pohon menyelidiki, akan tetapi juga tidak menemukan orang di situ.

Tosu bertahi lalat menghela napas lalu bergidik. “Kalian melihat sendiri aku meloncat. Tahu-tahu rambutku ditangkap orang dari atas dan sebelum aku sempat berteriak, jalan darah di leher ditotok membuat aku tak dapat bersuara, dan aku lalu… digantung di dahan itu.”

“Tidak mungkin!” Tosu pertama membantah. “Mungkin saja!” Tosu ketiga mencela.
“Buktinya dia sudah tergantung di sana, kecuali kalau dia menggantung diri sendiri. Ji-suheng, berterus teranglah, apakah kau benar-benar tidak mencoba membunuh diri? Jangan putus asa, biarlah wanita di kuil itu untukmu, aku tanggung ini!”

“Sam-sute, sekali lagi kau bicara tentang bunuh diri, lehermu yang akan kucekik!” Si tahi lalat berkata marah dan mendongkol.

“Ji-sute, pinto sukar untuk percaya. Walau pun andai kata benar ada orang menangkap rambutmu dari atas dan menotok jalan darahmu di leher sehingga engkau tidak dapat berteriak, akan tetapi kedua tangan masih bebas. Dengan itu kau dapat…”

“Kalau diceritakan memang aneh, suheng, maka tadi kukatakan bahwa setan sajalah yang dapat melakukan itu. Aku sudah melawan tentu saja, dan tangan kiriku ini sudah menampar lambungnya, bahkan aku yakin benar tangan kananku sudah menotok jalan darahnya di pinggang. Akan tetapi aku seolah-olah menampar dan menotok tubuh… mayat saja. Begitu dingin dan sama sekali tidak ada hasilnya, hihhh…!” Dia bergidik dan kedua orang saudaranya ikut merasa ngeri.

“Aihhh… benar-benarkah ada setan di sini…?” Tosu pertama berkata sambil menoleh ke kanan kiri, sedangkan tosu ketiga menggosok-gosok tengkuknya yang terasa tebal.

Tiba-tiba si tahi lalat berkata, “Ahh, bukan, suheng. Teringat aku sekarang! Bukan setan karena aku mendengar dia tertawa, disusul suara yang terdengar jelas akan tetapi agak jauh.”

“Suara bagaimana?”

“Suara seorang laki-laki berkata: ‘Koko, dia telanjang, ha-ha-ha’, begitulah, sekarang aku teringat benar tentu ada dua orang di pohon itu yang mempermainkan aku.”

Tosu pertama mengelus jenggotnya. “Hemm… setan atau manusia, jelas bahwa mereka itu lihai sekali dan agaknya hendak merintangi tindakan kita. Bodoh sekali kalau kita berlaku nekat. Biarlah kita anggap saja kita gagal malam ini, dan kita tangguhkan dulu sampai besok. Kita harus membawa bantuan kalau begini, siapa tahu diam-diam ada orang pandai yang melindungi rombongan itu.”

Dua orang adiknya mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Beberapa kali si tahi lalat menoleh ke belakang, dia masih merasa ngeri kalau mengenangkan peristiwa tadi.

Tentu saja mudah diduga bahwa yang melakukan gangguan itu adalah Kian Lee dan Kian Bu. Dan mudah pula diduga bahwa yang mengencingi kepala tiga orang tosu itu dan menyamar sebagai batu lalu menjegal kaki adalah Kian Bu. Sedangkan yang menggantung si tahi lalat adalah Kian Lee, dibantu oleh adiknya yang melepaskan sabuk dan membuat tali gantungan di dahan.

Setelah tiga orang tosu itu pergi, Kian Lee yang telah turun ke bawah bersama adiknya, berkata, “Ingat, Bu-te. Ayah sudah berpesan agar kita tidak menanam permusuhan dengan siapa pun. Urusan antara tosu- tosu itu dengan rombongan hartawan adalah urusan mereka yang sama sekali kita tidak ketahui sebab- sebabnya. Kita tidak boleh membantu satu pihak, hanya saja kita harus turun tangan kalau ada pihak yang akan melakukan kejahatan.”

Kian Bu menggangguk. “Si tahi lalat suka kepada perempuan itu. Kalau dia menculik si perempuan itu, aku tidak akan mencegahnya.”

“Hushh! Menculik sungguh-sungguh merupakan kejahatan yang harus kita cegah. Kita lihat saja besok, agaknya mereka hendak merampas sesuatu dari rombongan itu.”

“Bagaimana kalau besok terjadi pertempuran, koko?”

“Kita lihat saja dari jauh. Pertempuran di antara mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Tentu saja kita tidak dapat membantu siapa pun, dan kita tidak dapat pula mencegah pertempuran yang adil. Hanya kalau melihat ketidak adilan, baru kita harus turun tangan seperti yang dipesankan ayah.”

“Wah, sukar, Lee-ko!” “Apanya yang sukar?”
“Tentang keadilan itu, atau lebih tepat ketidak adilan itu. Bagaimana menentukannya mana yang adil dan mana yang tidak? Yang tidak adil bagimu belum tentu tidak adil bagiku dan sebaliknya, demikian pula dengan orang lain!”

“Hemmm, Bu-te, seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, yang mengabdi untuk kebenaran dan keadilan harus waspada akan kebenaran dan keadilan itu. Kebenaran dan keadilan yang didasari kepentingan diri pribadi tentu saja palsu! Akan tetapi, mudah saja melihat kenyataan akan penindasan dan kejahatan yang dilakukan orang, dan itulah ketidak adilan. Kalau kau belum mengerti benar, maka harus belajar, adikku. Yang terpenting, seperti pesan ayah, harus diingat dan diketahui bahwa segala sesuatu untuk perbuatan yang dilakukan demi kepentingan diri pribadi, demi keuntungan lahir batin diri pribadi, tidak benar kalau dipertahankan sebagai kebenaran atau keadilan.“

“Wah-wah, kuliahmu membikin aku pusing, koko. Kita sama lihat sajalah besok kalau benar-benar terjadi. Tentu ramai!”

Dua orang kakak beradik itu lalu memilih sebatang pohon besar yang enak dipakai tidur, yang tidak ada semut-semutnya tentu saja dan mereka tidur di dalam selimut daun-daun pohon itu sampai pagi. Kalau rombongan piauwsu itu sama sekali tak ada yang tidur semenit pun, maka dua orang kakak beradik itu tidur dengan nyenyaknya. Mereka tidak khawatir jatuh karena tubuh dan syaraf mereka yang sudah terlatih sejak kecil itu akan selalu siap menjaga segala macam bahaya yang mengancam tubuh mereka.

Siapakah adanya tiga orang tosu yang gerak-geriknya penuh rahasia itu? Dan siapa pula rombongan hartawan yang hendak diganggunya? Untuk mengetahui ini, kita harus mengenal dulu keadaan pemerintahan pada saat itu.

Ternyata bahwa seperti juga di setiap pemerintahan, pada waktu itu banyak terdapat orang-orang yang membenci Pemerintah Mancu yang mulai memperbaiki keadaan pemerintahannya, bahkan berusaha sedapatnya untuk menarik simpati hati rakyat dengan usaha memperbaiki nasib rakyat kecil. Betapa pun juga, tetap saja ada di antara mereka yang penasaran dan menghendaki agar pemerintah penjajah itu lenyap dari tanah air mereka. Golongan ini yang tidak berani berterang melakukan penentangan terhadap pemerintah yang kuat lalu menyusup ke mana-mana dan di antaranya ada yang menyusup ke dalam tubuh alat negara yang berupa pasukan pemerintah!

Apa lagi pada waktu itu, kesempatan baik tiba bagi mereka yang diam-diam membenci Pemerintah Mancu. Kaisar Kang Hsi sudah tua dan seperti biasanya yang terjadi dalam sejarah kerajaan setiap kali sang raja sudah tua maka timbullah perang dingin di antara para pangeran yang bercita-cita mewarisi kedudukan kaisar yang amat diinginkan itu.

Biar pun putera mahkota yang ditunjuk untuk kelak menggantikan kaisar sudah ada, yaitu Pangeran Yung Ceng, namun banyak pangeran-pangeran yang lebih tua usianya, putera-putera selir, merasa iri hati dan selain ada yang menginginkan kedudukan kaisar, juga banyak yang memperebutkan pangkat-pangkat tinggi sebagai pembantu kaisar kelak.

Di antara mereka yang berambisi merampas kedudukan terdapat seorang pangeran tua, pangeran yang paling tua di antara para pangeran. Pangeran tua ini bernama Pangeran Liong Bin Ong, usianya sudah lima puluh tahun lebih karena dia dilahirkan dari seorang selir ayah Kaisar Kang Hsi. Jadi dia adalah adik tiri Kaisar Kang Hsi. Diam-diam Liong Bin Ong mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw yang membenci pemerintah, bahkan mengadakan kontak dengan suku bangsa liar di luar tembok besar, terutama bangsa Mongol yang masih menaruh dendam kekalahannya terhadap Mancu.

Di antara golongan-golongan yang mengadakan persekutuan pemberontakan ini ada terdapat perkumpulan Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yang para pemimpinnya terdiri dari tosu-tosu yang sudah menyeleweng dari Agama To dan mempergunakan agama demi tercapainya ambisi pribadi berkedok agama, yaitu ambisi politik.

Tiga orang tosu yang pada malam itu dipermainkan oleh Kian Lee dan Kian Bu adalah angauta-anggota Pek-lian-kauw yang ditugaskan oleh pimpinannya untuk melakukan penyelidikan karena Pek-lian-kauw mendengar bahwa pemerintah pusat sedang mulai menaruh curiga terhadap persekutuan itu dan kabarnya mengirim utusan kepada Jenderal Kao Liang yang bertugas sebagai komandan yang menjaga tapal batas utara. Di dalam kabar yang diterima ini, pesuruh dari pemerintah pusat menyamar dan selain mengirim berita, juga membawakan biaya dalam bentuk emas dan perak. Tiga orang tosu itu bertugas untuk mengawasi dan kalau dapat merampas semua itu.

Ada pun hartawan yang sedang melakukan perjalanan itu memang datang dari kota raja bersama kedua orang isterinya dan dikawal oleh para piauwsu bayaran yang kuat, akan tetapi dia hanyalah seorang hartawan yang hendak pulang ke kampung halamannya saja di utara. Sama sekali dia tidak mengira bahwa dia disangka oleh para pemberontak sebagai utusan dari kota raja!

Demikianlah, dengan hati merasa lega juga bahwa semalam itu tidak terjadi gangguan terhadap mereka, para piauwsu kembali mengiringkan dua buah kereta itu melanjutkan perjalanan. Dusun yang dituju oleh hartawan itu sudah tidak jauh lagi, terletak di balik gunung di depan kira-kira memerlukan perjalanan setengah hari lebih.

Akan tetapi, belum lama mereka bergerak meninggalkan kuil kuno itu, tiba-tiba kusir kereta pertama yang duduknya agak tinggi melihat debu mengepul di depan. “Ada orang dari depan…!” serunya dan semua piauwsu terkejut, siap dan mengurung kedua kereta itu untuk melindungi.

“Berhenti dan berjaga-jaga!” Piauwsu berjenggot putih memberi aba-aba dan dua buah kereta itu lalu berhenti, semua piauwsu meloncat turun dari kuda dan merasa tegang namun siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Mereka adalah piauwsu-piauwsu yang sudah bertahun-tahun melakukan tugas itu, sudah terbiasa dengan hidup penuh kekerasan dan pertempuran.

Tak lama kemudian, muncullah tiga orang tosu itu dan di belakangnya tampak sepuluh orang tinggi besar yang menunggang kuda. Dilihat dari cara mereka menunggang kuda saja dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa melakukan perjalanan jauh dengan berkuda, dan sikap mereka jelas membayangkan kekerasan, kekejaman dan juga ketangkasan ahli-ahli silat. Yang lebih mengesankan bagi para piauwsu adalah tiga orang tosu itu, yang datang dengan jalan kaki, berlari cepat di depan rombongan berkuda.

Para piauwsu yang sudah berpengalaman itu tidak gentar menghadapi sepuluh orang berkuda yang tinggi besar dan kasar itu, akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tiga orang tosu itulah justru yang harus dihadapi dengan hati-hati. Oleh karena itu, pimpinan piauwsu yang tua dan berjenggot putih, segera melangkah maju menghadapi tiga tosu itu dan menjura penuh hormat.

“Kami dari Hui-houw Piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Harimau Terbang) di Shen-yang menghaturkan salam persahabatan kepada sam-wi totiang dan cu-wi sekalian. Maafkan bahwa dua kereta yang kami kawal memenuhi jalan sehingga merepotkan cu-wi saja. Kalau cu-wi hendak lewat, silakan mengambil jalan dulu!” Kata-kata penuh hormat dan merendah ini memang biasanya dilakukan oleh para piauwsu jika menghadapi gerombolan yang tidak dikenalnya, karena bagi pekerjaan mereka, makin sedikit lawan makin banyak kawan makin baik.

Tiga orang tosu itu tidak segera menjawab, melainkan mata mereka mencari-cari penuh selidik, memandangi semua anggota piauwsu, bahkan dua orang kusir kereta pun tidak luput dari pandang mata mereka yang penuh selidik sehingga para piauwsu menjadi ngeri juga. Pandang mata tiga orang tosu itu mengandung wibawa dan agaknya mereka marah. Tentu saja tidak ada orang yang tahu bahwa tiga orang kakek pendeta ini mencari siapa, karena selain para piauwsu, tidak ada orang yang menyelundup di dalam rombongan itu.

Mereka masih terpengaruh oleh peristiwa gangguan ‘setan’ semalam! Akan tetapi ketika melihat bahwa semua orang yang mengawal kereta adalah piauwsu-piauwsu biasa yang sejak kemarin mereka bayangi, wajah mereka kelihatan lega dan kini si tahi lalat mewakili suheng-nya menjawab, “Kami tidak ingin lewat, kami sengaja menghadang kalian.”

Berubah wajah para piauwsu dan tangan mereka sudah meraba gagang pedang masing-masing. Melihat gerakan ini tiga orang tosu itu tertawa dan tosu tertua sekarang berkata, “Kami tldak ada permusuhan dengan Hui-houw Piauw-kiok!”

Mendengar ini pimpinan piauwsu kelihatan girang karena sekarang sudah tampak olehnya gambar teratai di baju tiga orang tosu itu, di bagian dada. Tiga orang pendeta itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan hal ini saja sudah membuat hatinya keder karena sudah terkenallah bahwa orang-orang Pek-lian-kauw memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi biasanya orang Pek-lian-kauw tidak melakukan perampokan, maka para piauwsu selain lega juga menjadi heran mengapa tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu menghadang perjalanan mereka.

“Kami pun tahu bahwa para locianpwe dari Pek-lian-kauw adalah sahabat rakyat jelata dan tidak akan mengganggu perjalanan kami. Akan tetapi, sam-wi totiang menghadang kami, tidak tahu ada keperluan apakah? Pasti kami akan membantu dengan suka hati sedapat kami.”

“Kami akan menggeledah kereta yang kalian kawal!” kata si tahi lalat yang agaknya sudah tidak sabar lagi.

Berubahlah wajah pimpinan piauwsu. Sambil menahan marah dia mengelus jenggotnya. Betapa pun juga, dia adalah wakil ketua piauw-kiok dan telah terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Selain itu sebagai wakil piauw-kiok dia rela bertaruh nyawanya demi nama baik piauw-kiok dan demi melindungi barang atau orang yang dikawalnya.

“Harap sam-wi totiang suka memandang persahabatan dan tidak mengganggu kawalan kami,” katanya tenang.

“Kami tidak mengganggu, hanya memeriksa dan tentu saja kalian akan bertanggung jawab kalau kami mendapatkan apa yang kami cari,” kata tosu tertua.

“Apakah yang sam-wi cari?” tanya piauwsu.

“Bukan urusanmu!” jawab si tahi lalat. “Suheng, mari kita segera menggeledah, perlu apa melayani segala piauwsu cerewet?”

Pimpinan piauwsu melangkah maju menghadang di depan kereta itu, lalu mengangkat muka dan memandang dengan sinar mata berapi penuh kegagahan. “Sam-wi totiang perlahan dulu! Sam-wi tentu maklum bahwa seorang piauwsu yang sedang bertugas mengawal menganggap kawalannya lebih berharga dari pada nyawanya sendiri. Oleh karena itu, betapa pun menyesalnya, kami terpaksa tidak dapat membenarkan sam-wi melakukan penggeledahan terhadap barang-barang dan orang-orang kawalan kami.”

Si tahi lalat membelalakkan matanya lebar-lebar. “Apa? Kau hendak menentang kami? Kami bukan perampok, akan tetapi sikap kalian bisa saja membuat kami mengambil tindakan lain!”

“Kami juga tak menuduh sam-wi perampok, akan tetapi kalau kehormatan kami sebagai piauwsu disinggung, apa boleh buat, terpaksa kami akan melupakan kebodohan kami dan mengerahkan seluruh tenaga untuk melindungi dua kereta ini.”

“Wah, piauwsu sombong, keparat kau!” Si tahi lalat sudah hendak bergerak, akan tetapi lengannya dipegang oleh suheng-nya.

“Piauwsu, kalau dua orang sute-ku bergerak, apa lagi dibantu oleh kawan-kawan kita di belakang ini, dalam waktu singkat saja kalian semua yang berjumlah dua losin ini tentu akan menjadi mayat di tempat ini. Kami bukan hendak merampok tanpa alasan dan bukan hendak menyerang orang tanpa sebab, akan tetapi sekarang kami hanya akan menggeledah. Kalau engkau merasa tersinggung kehormatanmu sebagai piauwsu, nah, sekarang antara engkau dan pinto mengadu kepandaian. Kalau pinto kalah, kami akan pergi dan kami tidak akan mengganggu kalian lebih jauh lagi. Akan tetapi kalau kau kalah, kau harus membolehkan kami melakukan penggeledahan.”

Piauwsu tua itu mengerutkan alis berpikir dan mempertimbangkan usul dan tantangan tosu itu. Memang resikonya besar sekali jika dia membiarkan anak buahnya bertempur melawan rombongan Pek-lian-kauw itu. Dia dan anak buahnya tentu saja tidak takut mati dalam membela dan melindungi kawalan mereka. Bagi seorang piauwsu, mati dalam tugas melindungi kawalan adalah mati yang terhormat! Akan tetapi, perlu apa membuang nyawa kalau para tosu ini memang hanya ingin menggeledah?

Pula, dia sudah mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw hanya mengurus soal pemberontakan, siapa tahu hartawan yang dikawal ini menyembunyikan sesuatu, atau membawa sesuatu yang merugikan dan mengancam keselamatan Pek-lian-kauw? Jika dia menang, dia percaya bahwa mereka tentu akan pergi karena dia sudah mendengar bahwa orang-orang Pek-lian-kauw, biar pun kadang-kadang amat kejam, namun selalu memegang janji dan karenanya memperoleh kepercayaan rakyat. Kalau dia kalah, dua kereta hanya akan digeledah. Andai kata mereka menemukan sesuatu yang dicarinya, hal itu masih dapat dirundingkan nanti. Resikonya masih amat kecil kalau dia menerima tantangan, dibandingkan dengan resikonya kalau dia menolak.

“Baiklah, kalau aku kalah, sam-wi boleh menggeledah. Sebaliknya kalau aku menang, harap cu-wi suka melepaskan kami pergi,” katanya sambil mencabut golok besarnya, senjata yang diandalkan selama puluhan tahun sebagai piauwsu. “Saya sudah siap!”

Sebelum tosu tertua maju, tosu ketiga sudah berkata, “Suheng dan ji-suheng, biarkan aku yang maju melayani. Sudah sebulan lebih aku tidak latihan, tangan kakiku gatal-gatal rasanya!”

Si tahi lalat dan suheng-nya mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah mundur. Tosu ketiga yang tubuhnya kecil kurus, mukanya pucat seperti seorang penderita penyakit paru-paru itu melangkah maju dengan sigap. Dia adalah seorang pecandu madat, maka tubuhnya kurus kering dan mukanya pucat, akan tetapi ilmu silatnya lihai. Agaknya racun madat yang dihisapnya tiap hari itu tidak mengurangi kelihaiannya, bahkan menurut cerita orang, setiap kali habis menghisap madat, dia menjadi lebih ampuh dari biasanya, dan jurus-jurus silatnya mempunyai perkembangan yang lebih aneh dan lihai!

Tosu itu menghampiri piauwsu berjenggot putih, tersenyum dan memandang ke arah golok di tangan si piauwsu, lalu berkata, “Eh, piauwsu, yang kau pegang itu apakah?”

Piauwsu itu tentu saja menjadi heran. Dia mengangkat goloknya lalu berkata, “Apakah totiang tidak mengenal senjata ini? Ini sebatang golok yang menjadi kawanku semenjak aku menjadi piauwsu.”

Tosu kecil kurus itu mengangguk-angguk, “Aahhh, pinto tadi mengira bahwa itu adalah alat penyembelih babi. Heii, piauwsu, kalau kau hendak menyembelih aku apakah tidak terlalu kurus?”

Mendengar ucapan yang nadanya berkelakar dan mengejek ini, rombongan anak buah Pek-lian-kauw tertawa tanpa turun dari kudanya, sementara rombongan piauwsu juga tersenyum masam karena tadi pihak mereka diejek oleh tosu kecil kurus yang kelihatan lemah namun amat sombong itu!

“Totiang, kurasa sekarang bukan waktunya untuk berkelakar. Kalau totiang mewaklli rombongan totiang maju menghadapiku harap totiang segera mengeluarkan senjata totiang, dan mari kita mulai,” kata pimpinan piauwsu yang menahan kemarahannya.

“Senjata… he-he-he, twa-suheng dan ji-suheng, dia tanya senjata! Eh, piauwsu, apakah kau tidak melihat bahwa pinto telah membawa empat batang senjata yang masing-masing sepuluh kali lebih ampuh dari pada alat pemotong babi di tanganmu itu?”

Piauwsu tua itu sudah cukup berpengalaman maka dia mengerti apa artinya kata-kata yang bernada sombong itu. “Hemm, jadi totiang hendak melawan golokku dengan keempat buah tangan kaki kosong? Baiklah, totiang sendiri yang menghendaki, bukan aku, maka kalau sampai totiang menderita rugi karenanya, harap jangan salahkan aku.”

“Majulah, kau terlalu cerewet!” kata tosu kecil kurus itu dan dia berdiri seenaknya saja, sama sekali tidak memasang kuda-kuda. Sikapnya ini jelas memandang rendah kepada lawan.

Melihat sikap tosu itu, piauwsu ini juga tidak mau sungkan-sungkan lagi. Cepat dia lalu mengeluarkan teriakan dan goloknya menyambar dengan derasnya.

“Wuuuuttt… sing-sing-sing-singgg…!”

Hebat memang ilmu golok dari piauwsu itu karena sekali bergerak, setiap kali dengan cepat dielakkan lawan, golok itu sudah menyambar lagi, membalik dan melanjutkan serangan pertama yang gagal dengan bacokan berikutnya. Demikianlah, golok itu terus menyambar-nyambar tanpa putus bagaikan seekor burung garuda, dari kanan ke kiri dan sebaliknya, tak pernah menghentikan gerakan serangannya.

“Wah-weh… wutt, luput…!” Tosu kurus kering itu mengelak ke sana-sini dengan cekatan sekali dan walau pun dia juga terkejut menyaksikan serangan yang bertubi-tubi dan berbahaya itu, namun dia masih mampu terus-menerus mengelak sambil membadut dan berlagak.

Golok itu bergerak dengan cepat dan teratur, sesuai dengan ilmu golok Siauw-lim-pai yang sudah bercampur dengan gerak kaki ilmu silat Hoa-san-pai, kadang-kadang menusuk akan tetapi lebih banyak membacok dan membabat ke arah leher, dada, pinggang, lutut dan bahkan kadang-kadang membabat mata kaki kalau lawan mengelak dengan loncatan ke atas. Suara golok membacok angin mengeluarkan suara berdesing-desing menyeramkan dan sebentar kemudian, golok itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang indah dan yang mengejar ke mana pun tosu itu bergerak.

Namun hebatnya, tosu itu selalu dapat mengelak, bahkan kini kadang-kadang dia menyampok dengan kaki atau tangannya. Hanya orang yang sudah tinggi ilmunya saja berani menyampok golok dengan kaki atau tangan, karena sedikit saja sampokan itu meleset, tentu mata golok akan menyayat kulit merobek daging mematahkan tulang!

“Kau boleh juga, piauwsu!” kata si tosu.

Tiba-tiba tosu itu mengeluarkan suara melengking keras. Tubuhnya lenyap bentuknya, berubah menjadi bayangan yang cepat sekali menari-nari di antara gulungan sinar golok. Si piauwsu terkejut ketika merasa betapa jantungnya berhenti beberapa detik oleh pekik melengking tadi, dan sebelum dia dapat menguasai dirinya yang terpengaruh oleh pekik yang mengandung kekuatan khikang tadi, tahu-tahu lengan kanannya tertotok lumpuh, goloknya terampas dan tampak sinar golok berkelebat di depannya, memanjang dari atas ke bawah.

“Bret-brett-brettt…!”

Terdengar suara kain terobek dan… ketika tosu itu melempar golok ke tanah, tampak piauwsu itu berdiri dengan pakaian bagian depan terobek lebar dari atas ke bawah sehingga tampaklah tubuhnya bagian depan! Tentu saja dia terkejut dan malu sekali, cepat dia menutupkan pakaian yang terobek itu, dan dengan muka merah dia menjura dan memungut goloknya, “Saya mengaku kalah. Silakan totiang bertiga kini melakukan penggeledahan!”

Terdengar suara berbisik di antara para piauwsu, tetapi pimpinan piauwsu itu berteriak, “Saudara-saudara harap mempersilakan sam-wi totiang melakukan penggeledahan di dalam kereta!”

Selagi piauwsu kepala ini menutupi tubuhnya yang setengah telanjang itu dengan pakaian baru yang diambilnya dari buntalannya di punggung kuda dan memakainya dengan cepat, ketiga orang tosu itu sambil tertawa-tawa lalu mendekati kedua kereta itu. Si tahi lalat terpisah sendiri dari kedua orang saudaranya. Kalau tosu pertama dan ketiga menghampiri kereta depan, adalah si tahi lalat ini menghampiri kereta belakang di mana duduk si hartawan bersama kedua orang isterinya!

Sambil menyeringai ke arah wanita muda baju merah, si tahi lalat yang menyingkap tirai itu berkata, “Kalian sudah mendengar betapa kepala piauwsu kalah dan kami berhak untuk menggeledah. Heh-heh-heh!”

Hartawan itu dengan muka pucat ketakutan cepat-cepat menjawab, “Harap totiang suka menggeledah kereta depan karena semua barang kami berada di kereta depan.”

“Ha-ha, dua orang saudaraku sudah menggeledah ke sana, akan tetapi yang kami cari itu mungkin saja disembunyikan di dalam pakaian, heh-heh. Karena itu, pinto terpaksa akan melakukan penggeledahan di pakaian kalian.”

Tentu saja dua orang wanita itu menjadi merah mukanya dan isteri tua cepat berkata, “Totiang yang baik, kami orang-orang biasa hendak menyembunyikan apakah? Harap totiang suka memaafkan kami dan tidak menggeledah, biarlah saya akan sembahyang di kelenteng memujikan panjang umur bagi totiang.”

Si tahi lalat tersenyum menyeringai, “Heh-heh, tidak kau sembahyangkan pun umurku sudah panjang. Kalau terlalu panjang malah berabe, heh-heh!”

Wanita setengah tua itu terkejut dan tidak berani membuka mulut lagi melihat lagak pendeta yang pecengas-pecengis seperti badut dan pandang matanya kurang ajar sekali ditujukan kepada madunya yang masih muda itu.

“Orang menggeledah orang lain harus didasari kecurigaan. Aku pun tidak mau berlaku kurang ajar kepada kalian berdua, akan tetapi wanita ini menimbulkan kecurigaan hati pinto, karenanya pinto harus menggeledahnya!”

“Aihhh…!” Wanita muda itu menjerit lirih, tentu saja merasa ngeri membayangkan akan digeledah pakaiannya oleh tangan-tangan tosu bertahi lalat yang mulutnya menyeringai penuh liur itu.

“Lihat, dia ketakutan! Tentu saja pinto menjadi lebih curiga lagi!” kata tosu bertahi lalat itu serius. “Harap kalian turun dulu, jangan mengganggu pinto sedang bekerja!”

Setelah didorongnya, suami isteri setengah tua itu tergopoh-gopoh turun dari kereta, meninggalkan wanita muda itu sendirian saja. Wanita itu duduk memojok dan tubuhnya gemetaran ketika memandang tosu itu naik ke kereta sambil tersenyum menyeringai.

“Aku… aku tidak membawa apa-apa…! Aku… tidak punya apa-apa…”

“Ah, bohong! Segala kau bawa, kau mempunyai begini banyak! Heh-heh, kau harus diam dan jangan membantah kalau tidak ingin pinto bertindak kasar!” Dan sepuluh jari tangan itu seperti ular-ular hidup merayap-rayap menggerayangi seluruh tubuh wanita muda itu

Suaminya dan madunya yang berada di luar kereta hanya mendengar suara wanita itu merintih, merengek dan mendengus, kadang diselingi terkekeh genit dan suaranya yang mencela, “Ehh… ihhh… hi-hik, jangan begitu totiang…!”

Suara ini bercampur dengan suara tosu itu yang terengah-engah dan kadang-kadang terkekeh pula, kadang-kadang terdengar suaranya, “Hushh, jangan ribut… kau diamlah saja ku… ku… geledah…”

Sementara itu, dua tosu yang lain telah memeriksa kereta pertama. Akan tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, kecuali hanya peti-peti berisi pakaian dan beberapa potong perhiasan dan uang emas milik hartawan itu.

“Hemm, sia-sia saja kita bersusah payah. Para penyelidik itu benar-benar bodoh seperti kerbau. Orang biasa dicurigai!” Tosu kurus kering mengomel.

“Mana ji-sute?” Tosu tertua bertanya.

“Ke mana lagi si mata keranjang itu kalau tidak ke kereta kedua?”

“Hemm… marilah kita lekas pergi, setelah salah duga, tidak baik terlalu lama menahan mereka. Para piauwsu itu tentu akan menyebarkan berita kurang baik tentang Pek-lian-kauw.”

Keduanya meninggalkan kereta pertama dan menghampiri kereta kedua. Ketika mereka berdua membuka pintu kereta, tosu pertama menyumpah. “Ji-sute, hayo cepat kita pergi!”

“Ehh… uhhh… baik, suheng!”

Tetapi agak lama juga barulah si tahi lalat itu keluar dari kereta. Pakaiannya kedodoran, rambutnya awut- awutan dan napasnya agak terengah-engah. Saat dua orang hartawan dan isterinya naik ke atas kereta, mereka melihat wanita muda itu sedang membereskan pakaiannya dan rambutnya, mukanya merah sekali dan dia tersenyum kecil, mengerling ke arah suaminya yang cemberut. Pintu kereta ditutup dari dalam dan segera terjadi maki-makian dan keributan antara si suami yang memaki-maki bini mudanya dan si bini muda yang membantah dan melawan, diseling suara isteri tua yang melerai mereka.

Akan tetapi, ketika kedua tosu itu menghampiri kereta kedua, para pengikutnya yang kasar-kasar itu sudah turun dan beberapa orang dari mereka ikut memeriksa kereta pertama, kemudian beberapa buah peti mereka bawa ke kuda mereka.

Melihat ini piauwsu yang terdekat segera meloncat dan menegur, “Heii, mengapa kalian mengambil peti itu? Kembalikan!”

Jawabannya adalah sebuah bacokan kilat yang membuat piauwsu itu roboh mandi darah. Gegerlah keadaannya yang memang sejak tadi sudah menegangkan itu. Kedua pihak memang sejak tadi sudah hampir terbakar, hampir meledak tinggal menanti penyulutnya saja. Kini, begitu seorang piauwsu mandi darah, semua piauwsu serentak bergerak menyerbu dan terjadilah pertempuran yang sejak tadi sudah ditahan-tahan.

Melihat ini, biar pun hatinya menyesal, ketiga orang tosu itu terpaksa turun tangan. “Jangan kepalang, kalau sudah begini, bunuh mereka semua agar tidak meninggalkan jejak kita!” kata si tosu tertua.

Memang terpaksa dia harus membunuh seluruh piauwsu dan kusir serta penumpang kereta, karena kalau tidak, tentu mereka akan menyebar berita bahwa Pek-lian-kauw mengganggu dan merampok. Hal ini tentu akan menimbulkan kemarahan ketua mereka dan merekalah yang harus bertanggung jawab, mungkin mereka akan dibunuh sendiri oleh ketua mereka karena hal itu amat dilarang karena dapat memburukkan nama Pek-lian-kauw di mata rakyat yang mereka butuhkan dukungannya.

“Bunuh semua, jangan sampai ada yang lolos!” tiga orang tosu itu berteriak-teriak sambil mengamuk. Siapa saja yang berada di dekat tiga orang tosu yang bertangan kosong ini, pasti roboh.

Tiba-tiba tampak berkelebatnya dua sosok bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah muncul Kian Lee dan Kian Bu. Mereka sudah sejak tadi membayangi dan mengintai dari jauh. Mereka melihat lagak para tosu dan karena wanita muda itu sama sekali tidak minta tolong, bahkan ada terdengar suara ketawanya di antara rintihan dan rengeknya, Kian Lee yang ditahan-tahan oleh adiknya itu sengaja tidak ingin turun tangan dan mendiamkannya saja. Juga ketika terjadi adu kepandaian tadi, dia tidak berbuat apa-apa karena memang pertandingan itu sudah adil, satu lawan satu.

Tetapi melihat pertempuran pecah dan mendengar aba-aba dari mulut tosu itu, Kian Lee dan Kian Bu hampir berbareng melompat dan lari cepat sekali ke medan pertempuran. Sekali mereka bergerak, robohlah empat orang di antara sepuluh orang tinggi besar pengikut Pek-lian-kauw itu dan terdengar Kian Bu berteriak, “Cu-wi piauwsu, harap kalian hadapi enam orang hutan itu, biarkan kami menghadapi tiga orang pendeta palsu ini!”

Melihat munculnya dua orang muda yang segebrakan saja merobohkan empat orang tinggi besar itu, semua piauwsu terheran-heran dan tentu saja dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika mengenal kedua orang itu yang bukan lain adalah si penculik nyonya muda dan penolongnya! Bagaimana mereka dapat datang bersama dan kini membantu mereka menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw?

Akan tetapi, mereka tidak ada waktu untuk bertanya dan kini semua para piauwsu yang bersama pemimpinnya masih berjumlah delapan belas orang karena yang enam orang telah roboh, maju menyerbu dan mengeroyok enam orang sisa pasukan pengikut Pek-lian-kauw yang tinggi besar itu. Biar pun pada umumnya tingkat kepandaian orang Pek-lian-kauw itu lebih tinggi sedikit, namun karena mereka harus menghadapi para piauwsu dengan perbandingan satu lawan tiga, mereka segera terdesak.

Sementara itu, Kian Lee dan Kian Bu sudah menghadapi ketiga tosu yang memandang pada mereka dengan mata terbelak dan dengan ragu-ragu. Kian Bu segera tersenyum dan bertanya, “Apa kabar, sam-wi totiang? Aihhh, kenapa sam-wi bau air kencing?”

Mendengar kata-kata ini, ketiga orang tosu itu kontan berteriak marah sekali karena mereka tahu bahwa dua orang pemuda inilah yang mengganggu mereka semalam dan yang telah menyamar sebagai ‘setan’. Biar pun semalam mereka mendapatkan bukti betapa lihainya dua orang itu, namun begitu melihat mereka berdua hanyalah pemuda-pemuda tanggung, tiga orang tosu itu menjadi besar hati. Sampai di mana sih tingkat kepandaian orang-orang muda seperti itu? Mereka tentu saja tidak merasa gentar sedikit pun dan sambil mengeluarkan suara teriakan seperti harimau buas, si tahi lalat telah lebih dahulu menerjang maju dan mencengkeram dengan dua tangan membentuk cakar ke arah kepala Kian Bu!

Pemuda ini sama sekali tidak mengelak. Akan tetapi setelah kedua tangan yang seperti cakar itu dekat dengan kepalanya, secepatnya ia menangkis hingga sekaligus tangan kirinya menangkis dua tangan lawan yang menyeleweng ke samping, kemudian secepat kilat tangan kanannya bergerak selagi tubuh lawan masih berada di udara.

“Plak! Crettt! Aduuhh…!”

Tosu bertahi lalat di dagunya itu berteriak kaget dan kesakitan, lalu mencelat mundur berjungkir balik sambil mendekap hidungnya yang keluar ‘kecap’ terkena sentilan jari tangan Kian Bu. Biar pun tosu itu sudah mahir sekali menggunakan sinkang membuat tubuhnya kebal, akan tetapi kekebalannya tidak dapat melindungi hidungnya yang agak terlalu besar dan buntek itu, maka sekali kena disentil jari tangan yang kuat itu, sekaligus darahnya muncrat ke luar.

Tosu kurus kering juga sudah menerjang Kian Lee. Karena tosu ini lebih berhati-hati dan tidak sembrono seperti sute-nya, dia menyerang dengan jurus pilihan dari Pek-lian-kauw, bahkan dia mengerahkan sinkang yang mendorong hawa beracun menyambar ke luar dari telapak tangannya. Hampir semua tokoh Pek-lian- kauw yang sudah agak tinggi tingkatnya, semua mempelajari ilmu pukulan beracun ini, yang hanya dapat dipelajari oleh kaum Pek-lian-kauw.

Ilmu pukulan ini ada yang memberi nama Pek-lian-tok-ciang (Tangan Beracun Pek-lian-kauw) dan memang amat dahsyat karena begitu tosu itu memukul dengan kedua tangan terbuka, tidak saja dapat melukai lawan di sebelah dalam tubuhnya dengan hawa pukulan sinkang itu, akan tetapi hawa beracun itu masih dapat mencelakai lawan yang dapat menahan sinkang. Berbahayanya dari pukulan ini adalah karena hawa beracun itu tidak mengeluarkan tanda apa-apa, berbeda dengan pukulan tangan beracun lain yang dapat dikenal, yaitu dari baunya atau dari uap yang keluar dari tangan sehingga lebih mudah dijaga.

Kian Lee agaknya tidak tahu akan pukulan beracun ini, maka dengan seenaknya dia menyambut dengan kedua telapak tangannya pula. Melihat ini, si tosu kurus kering dan twa-suheng-nya yang belum turun tangan menjadi girang, mengira bahwa pemuda itu pasti terjungkal, karena andai kata dapat menahan tenaga sinkang dari pukulan itu, pasti akan terkena hawa beracun.

“Duk! Plakk!”

Terjungkallah tubuh… si tosu kurus kering! Kejadian aneh ini tentu saja membuat tosu pertama menjadi kaget setengah mati karena hal yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang disangka dan diharapkannya. Dia melihat tubuh sute-nya yang roboh bergulingan menggigil kedinginan, terheran-heran mengapa sute- nya bisa begitu.

Akan tetapi tak ada waktu untuk memeriksa. Dia segera menerjang maju dengan marah sekali sambil meloloskan sabuk sutera di pinggangnya. Sabuk pendek ini memang selalu dilibatkan di pinggang dan merupakan senjatanya yang ampuh sungguh pun jarang sekali dia mempergunakannya karena biasanya, kedua tangannya saja sudah cukup untuk merobohkan seorang lawan. Akan tetapi sekarang, melihat betapa ji-sute-nya dalam segebrakan telah remuk hidungnya dan sam-sute-nya juga telah roboh dan menggigil kedinginan, dia maklum bahwa kedua orang muda itu kepandaiannya amat hebat dan tanpa sungkan-sungkan lagi dia lalu meloloskan senjatanya itu.

Juga si tahi lalat yang sudah hilang puyengnya karena hidungnya remuk itu, setelah menghapus darah dari mulutnya yang ternoda oleh darah yang menitik dari bekas hidung, sudah mengeluarkan senjatanya pula. Berbeda dengan suheng-nya, senjata tosu ini ada dua macam, yaitu seuntai tasbeh dan setangkai kembang teratai putih yang entah diberi obat apa sudah menjadi keras seperti besi! Tadinya kedua senjata ini tersimpan di dalam saku bajunya yang lebar dan kini sudah berada di kedua tangannya.

“Wah-wah-wah, setelah menghadapi kesukaran baru kau ingat kepada tasbehmu dan kembang, ya? Apakah kau hendak membaca doa dan memuja dewa dengan kembang itu?” Kian Bu mengejek.

“Keparat, mampuslah kau di tanganku!” Si tahi lalat membentak.

Tasbehnya sudah menyambar ganas ke arah dahi Kian Bu sedangkan kembang teratai itu menyambar leher. Serangan ini berbahaya sekali karena merupakan serangan palsu atau ancaman. Kelihatannya memang ganas, akan tetapi keganasan ini hanya untuk mengelabui perhatian lawan karena pada detik selanjutnya, selagi perhatian lawan tertuju untuk menghadapi dua serangan ganas itu, kakinya menyambar dan menendang ke arah anggota kelamin yang merupakan satu di antara pusat kematian bagi seorang laki-laki!

“Cuuuutt-wuuuttt… wessss!”

Namun sekali ini yang dihadapi oleh si tahi lalat adalah putera Pendekar Super Sakti! Menghadapi serangan ini, dengan amat tenangnya Kian Bu tersenyum dan memandang saja. Ketika dua senjata itu sudah datang dekat, dia hanya menggerakkan tubuhnya sedikit saja, dan pada saat kedua senjata itu ditarik secara berbareng, tahulah dia bahwa dua serangan itu hanyalah merupakan gertak sambal saja, maka dengan tenang dia menanti serangan intinya. Ketika melihat berkelebatnya kaki tosu itu menendang ke arah alat kelaminnya, Kian Bu tersenyum dan pura-pura terlambat mengelak.

“Desss!” Tepat sekali kaki itu menendang bawah pusar dan Kian Bu terjengkang roboh, mukanya pucat dan matanya mendelik dan napasnya terhenti.

“Hua-ha-ha-ha! Kiranya engkau hanya begini saja! Tidak lebih keras dari pada tahu!” Sambil berkata demikian, si tahi lalat itu melangkah maju, mengangkat kakinya dan mengerahkan sinkang, hendak menginjak hancur kepala Kian Bu.

“Wuuutttt! Plak! Tekkk… wadouww…!” Tosu itu memekik, kedua senjatanya terlepas dan dia berjingkrak- jingkrak seperti anak kecil kegirangan, namun air matanya bercucuran, mulutnya megap-megap dan mendesis-desis seperti orang sedang kepedasan, kedua tangannya mendekap alat kelaminnya dan kaki kanannya diangkat, kaki kiri berloncat-loncatan! Apa yang terjadi?

Tentu saja Kian Bu tadi menerima tendangan itu dengan sengaja! Sebagai seorang putera Pendekar Super Sakti yang telah memiliki sinkang luar biasa sekali tingginya, pada saat kaki lawan datang, dia sudah mengerahkan sinkang-nya menyedot seluruh alat kelaminnya masuk ke rongga perut sehingga tendangan itu hanya mengenai kulitnya yang dilindungi oleh hawa sinkang di sebelah dalam.

Akan tetapi dia pura-pura jatuh dan semaput! Pada saat kaki tosu itu datang hendak menginjak kepalanya, dia cepat menangkap kaki itu, menariknya sehingga tubuh tosu itu merendah, kemudian dengan jari tangannya dia ‘menyentil’ alat kelamin tosu itu, mengenai sebutir di antara bola kelaminnya, dan tentu saja mendatangkan rasa nyeri yang sukar dilukiskan di sini.

Hanya mereka yang pernah terpukul bola kelaminnya sajalah yang akan tahu bagai mana rasanya. Kiut- miut berdenyut-denyut terasa di seluruh tubuh, merasuk di otot-otot dan tulang sumsum, terasa oleh setiap bulu di badan, membuat kepala rasanya mot-motan dan ulu hati seperti diganjal, nyeri dan linu, pedih cekot-cekot dan segala macam rasa nyeri terkumpul jadi satu membuat tosu itu pingsan tidak sadar pun tidak, hidup tidak mati pun belum!

Dalam keadaan seperti itu, tentu saja kedua senjatanya terlepas tanpa disadarinya lagi, bahkan dia masih berjingkrakan seperti seekor monyet diajari menari ketika Kian Bu sambil tertawa mengalungkan tasbeh di leher tosu itu dan menancapkan tangkai kembang di rambutnya!

Sementara itu tosu tertua yang menyerang Kian Lee pun kecelik. Sabuknya menyambar seperti seekor ular hidup, mula-mula melayang-layang ke sana-sini untuk mengacaukan perhatian lawan. Tetapi, melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak membuat gerakan mengelak, bahkan memandang gerakan sabuk itu tanpa gentar sedikit pun juga, sabuk itu melayang turun dan menotok ke arah ubun-ubun kepala Kian Lee. Kalau saja pemuda ini belum yakin akan kemampuan dan kekuatan sinkang lawan, tentu saja dia tidak begitu gegabah berani menerima totokan ujung sabuk ke arah bagian kepala yang lemah ini. Akan tetapi perhitungannya sudah masak, dan dia menerima saja totokan itu.

“Takkkk!”

Ujung sabuk tepat mengenai ubun-ubun kepala pemuda itu, tetapi sabuk itu membalik dan hebatnya, bukan sembarangan saja membalik, melainkan mengandung kekuatan dahsyat dan sabuk itu menyerang ubun-ubun kepala tosu itu sendiri tanpa dapat ditahannya. Kaget setengah mati tosu itu dan cepat dia miringkan kepala sehingga totokan sabuk itu meleset.

Akan tetapi dia masih penasaran. Disangkanya hal itu hanyalah kebetulan saja karena kuatnya dia menggerakkan sabuk dan kuatnya pemuda itu menahan totokannya. Biar pun dia kaget dan juga heran, namun kembali dia menggerakkan sabuknya dan sekali ini sabuknya meluncur dan menotok ke arah mata kanan Kian Lee! Secepat itu pula, tangan kirinya bergerak ke depan mencengkeram ke arah pusar. Sukar dibandingkan yang mana antara kedua serangan ini yang lebih berbahaya. Sudah jelas bahwa totokan ujung sabuk ke arah mata itu sedikitnya dapat membuat sebelah mata menjadi buta! Akan tetapi cengkeraman tangan yang amat kuat itu ke pusar, kalau sampai pusar dapat dicengkeram dan terkuak, tentu isi perut akan ambrol dan terjurai keluar semua!

Kian Lee yang senantiasa bersikap tenang itu sedikit pun tidak menjadi gugup, bahkan dengan tenangnya tanpa berkedip dia menanti sampai ujung sabuk dekat sekali dengan mukanya, lalu tiba-tiba tangannya menyampok dan mengirim kembali ujung sabuk itu ke muka lawan, sedangkan perutnya menerima cengkeraman itu, bahkan menggunakan sinkang untuk membuat perutnya lunak seperti agar-agar sehingga tangan lawan terbenam masuk, tetapi setelah tangan lawan memasuki perutnya, dia mengerahkan sinkang untuk menyedot dan tangan itu tidak dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.

Bukan main kagetnya tosu itu, dia harus membagi perhatiannya menjadi dua, sebagian untuk menarik kembali tangannya yang terjepit di perut lawan, dan kedua kalinya untuk menguasai sabuknya sendiri yang menjadi ‘liar’ dan menyerang dirinya sendiri.

“Plakk! Krekkk!”

Tubuh tosu itu terjengkang dan dia mengerang kesakitan karena selain pipinya terobek kulitnya oleh hantaman ujung sabuknya sendiri, juga tulang ibu jari dan kelingkingnya patah-patah terkena himpitan di dalam perut pemuda luar biasa itu!

“Tahan semua senjata! Cu-wi piauwsu, biarkan mereka pergi semua!” Kian Lee berseru. Suaranya lantang sekali, penuh dengan kekuatan khikang sehingga mereka yang masih bertanding itu terkejut dan menahan senjata masing-masing.

Melihat betapa tiga orang tosu itu sudah dibuat tidak berdaya oleh kedua orang pemuda aneh itu, kepala piauwsu itu tidak berani membantah, lalu berkata kepada sisa pengikut Pek-lian-kauw, “Kalian tahu sendiri kami tidak berniat untuk memusuhi Pek-lian-kauw, melainkan pimpinan kalian yang terlalu mendesak kami. Nah, pergilah dan bawa teman-temanmu!”

Sisa pihak Pek-lian-kauw yang maklum bahwa melawan pun tiada gunanya, lalu saling tolong dan naik ke atas kuda. Tiga orang tosu yang tadinya ketika datang menggunakan ilmu lari cepat di depan rombongan kuda, sekarang dalam keadaan setengah pingsan dipangku oleh mereka yang masih sehat, kemudian tanpa pamit mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Para piauwsu lalu menolong teman-teman mereka yang terluka sedangkan pimpinan rombongan itu, piauwsu berjenggot putih menjura kepada Kian Lee dan Kian Bu sambil berkata, “Berkat pertolongan ji-wi taihiap maka kami masih dapat selamat dan…,” tiba-tiba dia menghentikan kata-kata dan terbelalak ketika melihat kedua orang pemuda itu saling pandang, mengangguk dan tiba-tiba saja melesat dan lenyap dari depannya! Yang terdengar dari jauh hanya suara melengking tinggi, seperti suara burung rajawali yang sedang berkejaran.

“Bukan main…!” Piauwsu itu menggeleng kepala dan melongo. “Sepasang pemuda itu… seperti… sepasang rajawali sakti saja…! Sayang mereka tidak memperkenalkan diri…!”

Memang selama hidupnya berkelana di dunia kang-ouw, belum pernah piauwsu ini menyaksikan kepandaian dua orang pemuda semuda itu, dua orang pemuda yang tingkat ilmunya tidak lumrah manusia dan ketika pergi seperti terbang, seperti sepasang rajawali sakti saja!

Tiada habisnya mereka membicarakan kedua orang pemuda itu yang pada kemunculan pertama sudah aneh, seorang menjadi penculik dan seorang menjadi penolong, kemudian penculik dan penolong itu bekerja sama mengusir orang-orang Pek-lian-kauw secara mengherankan sekali. Tak salah lagi, tentu mereka itu bersaudara melihat wajah mereka yang mirip, dan tentu soal penculikan tadi hanya main-main saja, permainan dua orang pemuda aneh yang tidak lumrah manusia.

Cerita itu menjalar cepat dari mulut ke mulut sehingga mulai hari itu, terkenallah julukan Sepasang Rajawali Sakti untuk dua orang pemuda yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw. Bukan hanya dari pihak piauwsu itu saja yang memperluas cerita itu, juga dari pihak Pek-lian-kauw sendiri segera mengakui bahwa memang di dunia kang-ouw muncul dua orang pemuda yang aneh dan yang patut disebut Sepasang Rajawali Sakti karena ilmu kepandaian mereka yang amat tinggi…..

********************

Tidak baik kalau terlalu lama kita meninggalkan Lu Ceng atau Ceng Ceng, dara remaja cantik jelita dan lincah jenaka yang sejak permulaan cerita ini sudah banyak mengalami hal-hal yang amat hebat itu. Seperti diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng yang juga mempunyai nama baru setelah diangkat adik oleh puteri Bhutan, yaitu Candra Dewi, hanyut di dalam perahu tanpa kemudi bersama kakak angkatnya, Puteri Syanti Dewi yang dalam penyamarannya karena dikejar-kejar kaum pemberontak juga mempunyai nama baru, yaitu Lu Sian Cu.

Seperti telah diceritakan, Syanti Dewi dan Ceng Ceng terlempar ke air sungai yang dalam dan deras arusnya, ketika perahu yang tanpa kemudi karena ditinggalkan tukang perahu itu menabrak perahu-perahu lain dan terguling. Syanti Dewi dapat tertolong oleh seorang laki-laki gagah perkasa yang bukan lain adalah Gak Bun Beng, akan tetapi keduanya tidak berhasil mencari Ceng Ceng dengan jalan menyusuri tepi Sungai Nu-kiang. Namun tidak ditemukan jejak Ceng Ceng dan dengan hati berat terpaksa Syanti Dewi bersama penolongnya itu meninggalkan sungai itu dan menganggap bahwa Ceng Ceng tentu sudah tenggelam dan tewas.

Benarkah Ceng Ceng tewas tenggelam di dasar Sungai Nu-kiang di barat itu?

Tidak, Ceng Ceng tidak tewas dan pada saat Syanti Dewi dan Gak Bun Beng menyusuri tepi Sungai Nu- kiang itu, dia sudah menggeletak jauh dari tepi sungai, di dalam sebuah hutan yang amat sunyi dan liar, menggeletak pingsan dengan muka masih kebiruan, akan tetapi perutnya telah kempis tidak penuh air dan napasnya sudah berjalan dengan halus dan kuat. Krisis telah lewat dan dara itu telah selamat dari cengkeraman maut melalui air Sungai Nu-kiang.

Ceng Ceng mulai siuman dan menggerak-gerakkan pelupuk mata, atau lebih tepat lagi, bola mata yang masih tertutup pelupuk itu mulai bergerak, kemudian pelupuk matanya terbuka perlahan, makin lama makin lebar sehingga matanya seperti sepasang matahari baru muncul dari permukaan laut di timur. Mendadak, mata itu terbuka serentak dengan lebar, kepalanya menoleh ke kanan kiri, lalu ke pinggir tubuhnya.

Mengapa dia rebah terlentang di bawah pohon-pohon besar, di atas rumput kering, di dekatnya ada api unggun yang mendatangkan hawa hangat? Saat menengok ke kanan, dia melihat seorang pemuda sedang duduk di tepi sungai kecil di dalam hutan itu, duduk membelakanginya dan memegang tangkai pancing, sedang tangan kirinya memegang sebuah paha ayam hutan yang sudah dipanggang, dan di dekatnya tampak kayu yang masih terbakar mengepulkan asap dan di antara api membara itu masih terdapat sisa ayam hutan.

Ceng Ceng tidak bergerak, memandang seperti dalam mimpi. Siapa pemuda itu? Dan dia… mengapa berada di tempat ini? Tiba-tiba dia menahan seruannya karena teringat. Bukankah dia bersama kakaknya Syanti Dewi terlempar ke dalam sungai dan hanyut? Teringat akan ini, teringat akan kakaknya yang hanyut, serentak Ceng Ceng melompat bangun.

“Iihhh…!” Dia menjerit kecil dan cepat-cepat dia merobohkan diri ‘mendekam’ lagi di atas tanah, kedua tangannya sibuk menutupkan jubah lebar yang kedodoran dan tadi terbuka ketika dia meloncat bangun. Baru sekarang dia melihat dan memperhatikan keadaan tubuhnya dan rasa malu membuat seluruh tubuhnya, mungkin saja dari akar rambut sampai akar kuku jari kaki, menjadi kemerahan.

Siapa yang tidak akan malu setengah mati mendapat kenyataan bahwa tubuhnya hanya tertutup oleh jubah lebar itu saja, tanpa apa-apa lagi di sebelah dalamnya? Dia telah telanjang bulat-bulat betul, hanya terlindung oleh jubah itu. Di mana pakaiannya? Mengapa dia telanjang bulat? Siapa yang mencopoti pakaiannya tanpa ijin? Dan jubah ini, siapa yang menutupkan di tubuhnya? Siapa lagi kalau bukan pemuda itu, pikirnya dan matanya mulai mengeluarkan sinar berapi. Kurang ajar! Pemuda laknat, berani menelanjangi aku dan memakaikan jubah ini. Pemuda yang harus mampus!

Ingin dia menjerit dan menangis, akan tetapi melihat pemuda yang duduk mancing ikan dan membelakanginya itu diam tak bergerak, dia menjadi ragu-ragu. Dia tidak boleh sembrono dan lancang, pikirnya. Bagaimana kalau bukan dia yang melakukannya?

“Setan alas di kali eh, setan kali di alas!” Tiba-tiba pemuda itu mengomel.

Kalau Ceng Ceng tidak sedang marah besar sekali, tentu dia akan tertawa geli melihat pemuda itu mengangkat pancingnya dan melihat ada tahi tersangkut di mata kail itu! Agaknya tahi monyet atau binatang lain, akan tetapi bentuknya seperti kotoran manusia dan cukup menjijikkan!

Dengan gerakan gemas pemuda itu menyabet-nyabetkan kailnya di air sampai kotoran itu lenyap, lalu mengangkat mata kailnya yang sudah kehilangan umpan, mengambil lagi daging bakar, sebagian kecil dicuwil untuk dipakai umpan, sebagian lagi dijejalkan mulutnya. Melihat betapa pemuda itu kembali mengambil paha ayam dan menggigitnya, timbul air liur di mulut Ceng Ceng karena baru terasa olehnya betapa lapar perutnya.

Pemuda itu lalu menancapkan gagang pancingnya di tanah, lalu bangkit berdiri dan membalik. Agaknya kini barulah dia melihat Ceng Ceng! Melihat gadis itu sudah siuman, mendeprok di bawah dengan tangan sibuk menutupi tubuhnya dengan jubah kedodoran yang kancingnya banyak yang sudah rusak sehingga tidak dapat dikancingkan itu, dia tersenyum mengejek! Senyum yang bagi Ceng Ceng amat menggemaskan, senyum yang lebih tepat disebut menyeringai dan sengaja mengejek, malah matanya melirak-lirik seperti orang menggoda, tangan kiri memegang paha ayam diacungkan ke atas, dicium dengan cuping hidung kembang kempis.

“Hemmm… sedap dan gurihnya…!” lalu dia menoleh kepada Ceng Ceng sambil berkata, “Wah, lama benar engkau tidur! Keenakan mimpi, ya? Kau membikin aku repot bukan main, yaaaa… repot bukan main, lahir batin. Untung engkau tidak mati di sungai, dan untung aku mempunyai jubah cadangan, walau pun sudah agak tua akan tetapi cukup untuk menyelimutimu.”

Mendengar ini, kontan keras Ceng Ceng jadi naik darah! Betapa tidak kalau kata-kata pemuda itu jelas membuktikan bahwa pemuda inilah yang telah mencopoti semua pakaiannya, kemudian mengenakan jubah itu pada tubuhnya! Sialan! Dia meloncat bangun, kedua tangan dikepal dan siap untuk menyerang, akan tetapi agak kaku karena tangan kanannya tertutup oleh tangan baju yang terlalu panjang itu dan telapak kakinya terasa nyeri dan juga geli karena kakinya telanjang dan batu-batu di tempat itu agak runcing.

Akan tetapi hanya beberapa detik saja dia memasang kuda-kuda yang kaku itu karena dia melihat pemuda itu sudah menaruh telunjuknya di depan hidung sambil berkata, “Cih, tidak tahu malu, ya? Lihat jubah itu kedodoran!”

Tentu saja Ceng Ceng sudah cepat menggunakan kedua tangannya untuk menutupi depan jubahnya dan dia tidak berani lagi maju menyerang karena begitu dia menyerang, tentu jubah itu akan terlepas, terbuka dan… akan tampaklah semua bagian depan dari tubuhnya. Dia membanting-banting kakinya, akan tetapi segera menjerit dan mengaduh karena kakinya menimpa batu runcing. Ingin dia menjerit, ingin dia menangis dan dengan mata terbelalak penuh kemarahan dia memandang wajah pemuda itu.

Pemuda itu lalu enak-enak duduk lagi di tepi sungai, membelakangi Ceng Ceng dan sambil melanjutkan makan ayam panggang dia mencurahkan perhatiannya kepada pancingnya, seolah-olah Ceng Ceng tidak ada di belakangnya atau bahkan seolah-olah di dunia ini tidak ada seorang manusia lain kecuali dia dan pancingnya!

Ceng Ceng makin panas perutnya. Dia memutar otaknya dan teringat akan cerita tentang jai-hwa-cat, yaitu penjahat berkepandaian tinggi yang kerjanya hanya menculik dan memperkosa seorang gadis lalu membunuhnya. Dia bergidik. Kiranya pemuda itu seorang penjahat jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga)! Dia terjatuh ke dalam tangan seorang penjahat keji.

Diam-diam selagi pemuda itu membelakanginya, dia meraba-raba tubuhnya, memeriksa dan merasakan keadaan tubuhnya. Hatinya lega karena dia merasa yakin bahwa dia belum ternoda. Akan tetapi berapa lama lagi? Dan dia sudah ditelanjangi oleh pemuda itu, jari-jari tangan pemuda itu telah menggerayangi tubuhnya ketika menanggalkan semua pakaiannya, bahkan sepatunya, kemudian mengganti dengan jubah itu! Pemuda kurang ajar! Pemuda yang harus mampus!

Makin dipikir, makin dikenang, makin panas rasa perutnya. Dia lalu merobek pinggiran jubah itu sehingga merupakan tali yang cukup panjang, kemudian selain menggunakan sebagian tali untuk ikat pinggang, juga dia mengikat lubang-lubang kancing jubah itu sehingga tidak ada bahaya terbuka lagi kalau kedua tangannya digerakkan. Setelah itu lalu digulungnya lengan bajunya sampai ke siku agar tidak menghalangi gerakannya oleh karena dia sudah mengambil keputusan pasti untuk menghajar jai-hwa-cat itu! Menghajarnya sampai mati!

Setelah selesai persiapannya, dia lalu melangkah perlahan dan seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang. Dia sudah memasang kuda-kuda dan kedua tangannya sudah terkepal di pinggang, siap untuk menerjang dan memukul. Dia harus menyerang dengan jurus apa? Bagian mana yang harus dipukulnya dan sebaiknya memukul dengan tangan terbuka atau terkepal?

Dia mempertimbangkan, memilih-milih bagian mana yang paling ‘lunak’ dan yang paling tepat. Karena dia yakin bahwa pemuda itu tentu pandai, maka dia harus dapat berhasil menyerang secara ‘tek-sek’, yaitu satu kali ‘tek’ (suara pukulan) hasilnya ‘sek’ (mati), atau sekali pukul mati! Tengkuknya yang sebagian tertutup rambut yang hitam lebat dan dikuncir tebal itu? Ah, kuncir itu terlalu tebal dan ini bisa menahan pukulannya.

Punggungnya? Pemuda itu memakai baju dengan berlapis jubah tebal, ini pun tidak menguntungkan kalau dia memukul punggung, apa lagi menotok karena totokannya bisa terhalang oleh tebalnya pakaian. Kepalanya! Ya, ubun-ubun kepalanya itu. Biar pun pemuda itu rambutnya hitam dan tebal, akan tetapi kiranya rambut itu tidak cukup kuat untuk melindungi ubun-ubun yang lemah.

Sekali pukul ubun-ubunnya, pasti beres! Apa lagi kalau dia mengerahkan sinkang-nya, menggunakan jari tangan terbuka mencengkeram, tentu jari-jari tangannya akan menancap di ubun-ubun itu. Crottt, dan otaknya akan muncrat keluar! Ceng Ceng bergidik ngeri juga. Belum pernah dia melakukan hal sekejam itu. Membayangkan otak kepala manusia berlepotan di jari tangannya, dia sudah mau muntah.

Ah, ditotok saja jalan darah di lehernya. Totokannya biasanya jitu dan sekali totok tentu pemuda itu akan tak berdaya lagi, kalau sudah begitu, terserah nanti bagaimana dia akan membunuhnya. Tangannya sudah dibuka jarinya, kedua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan sudah menegang sedangkan tiga jari lainnya ditekuk, siap untuk melakukan totokan yang jitu selagi pemuda itu tekun memperhatikan pancingnya.

“Apakah sebelum membunuhku, kau tidak lebih dulu menanyakan di mana kusimpan pakaianmu? Kalau aku mati dan kau tidak dapat menemukan pakaianmu, apakah kau akan melakukan perjalanan seperti itu?”

Ucapan pemuda itu membuat dia lemas! Lemas dan jengkel. Jari tangan yang sudah menegang menjadi lemas kembali.

“Jai-hwa-cat! Manusia cabul! Mata keranjang! Laki-laki tak tahu malu! Ceriwis dan muka tebal!”

Pemuda itu menoleh, tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang kuat dan putih bersih, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri. “Hayo, apa lagi? Kalau masih ada, keluarkan semua, kalau perlu boleh melihat kamus mencari kata-kata makian. Tidak baik menyimpan penasaran.”

Bagaikan api disiram bensin, kemarahan Ceng Ceng makin berkobar, telunjuknya menuding. “Kau… kau… babi celeng monyet anjing kerbau! Kau manusia iblis, setan, siluman eh, apa lagi… eh, keparat jahanam! Hayo kembalikan pakaianku, kalau tidak…”

“Kalau tidak mengapa sih?”

“Kalau tidak… akan kuhancurkan kepalamu, kurobek dadamu, kukeluarkan isi perutmu, kupotong lehermu, kaki dan tanganmu…!”

“Heh-heh, memangnya aku ayam? Terlalu kejam bagi seorang dara secantik engkau!”

Karena kata-kata dan sikap pemuda itu mengejeknya, Ceng Ceng tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi, “Kembalikan pakaianku!”

“Nanti dulu! Kalau kau minta dengan cara kurang ajar seperti itu, jangan harap aku akan mengembalikannya!”

“Apa? Harus bagaimana aku minta?”

“Yahhh, dengan kata-kata yang sopan dan manis, namanya saja orang minta-minta.” “Aku bukan pengemis!”

“Akan tetapi engkau minta sesuatu, harus yang sopan dan manis.” “Manis hidungmu! Mampuslah!”
Ceng Ceng sudah tak dapat lagi menahan lebih lama. Dia menyerang dengan dahsyat, menggunakan dua tangannya memukul meski pun kakinya berjingkrak karena telanjang.

“Hehhhh… waaahhh… luput!”

“Haaiiiiiitttt…!” Tubuh Ceng Ceng sudah menerjang maju, kakinya menendang menyusul hantamannya mengarah dada.

“Wuuuussss…!”

“Hampir saja… tapi luput!”

“Hyaaatttttt…!” Kemarahan membuat Ceng Ceng menyerang sehebatnya, kini tangan kirinya mencengkeram ke mata lawan, disusul tangan kanannya menyodok lambung. Pukulan yang berbahaya sekali.

“Bagus sekali, sayang gagal…!”

Bertubi-tubi Ceng Ceng menyerang, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh yang pernah dipelajarinya, terus mengejar ke mana pun pemuda itu loncat mengelak, namun tak pernah serangannya berhasil. Gerakan pemuda itu luar biasa gesitnya. Dan tiba-tiba Ceng Ceng mengaduh-aduh, lalu menghentikan serangannya dan pergi dari tempat yang penuh batu kerikil runcing itu ke tempat tadi. Kiranya pemuda itu mengelak sambil memancing gadis itu mengejarnya ke tempat yang penuh dengan batu kerikil runcing. Tentu saja kaki Ceng Ceng menjadi korban.

Semenjak kecil, dara itu tidak pernah mempergunakan kakinya bertelanjang menginjak sesuatu, tentu saja telapak kakinya menjadi amat halus, kulitnya tipis dan perasa sekali. Tanpa sepatu, kakinya itu merupakan bagian tubuh yang lemah sekali.

Kini dia memandang pemuda itu dengan mata terbelalak. Lagak dan kata-kata pemuda itu, caranya mengelak dan mengejeknya saat semua serangannya gagal, mengingatkan dia akan seseorang.

Melihat dara itu tidak menyerangnya lagi, pemuda itu berkata seperti kepada diri sendiri, “Melihat orang yang mengamuk masih mending, asal jangan melihat orang menangis. Menyebalkan!” Tiba-tiba tubuhnya lenyap begitu saja dan Ceng Ceng melongo.

Kiranya pemuda itu adalah iblis! Hanya iblis saja yang pandai menghilang seperti itu. Akan tetapi, dia belum pernah bertemu dengan iblis, dan menurut dongeng, iblis hanya muncul di waktu malam. Sekarang, masih siang begini iblis macam apa muncul dalam ujud seorang pemuda tampan?

“Nih, pakaianmu!”

Tiba-tiba terdengar suara dari atas dan ketika Ceng Ceng memandang ke atas, kiranya pemuda itu nongkrong di atas dahan pohon dan sedang mengeluarkan pakaiannya dari bungkusan, kemudian melemparkan pakaiannya kepadanya.

Ceng Ceng menerima gulungan pakaiannya itu, lengkap pakaian dalam dan luar, dan sepatunya, akan tetapi pakaian petani yang dipakai menyamar, yang dipakai di luar pakaiannya sendiri, tidak ada. Dia tidak pula memperhatikan hal ini, bahkan kini pakaian itu hanya dipegangnya saja dengan kedua tangannya karena dia memandang pemuda itu yang meloncat turun dengan gerakan yang membuat dia kaget dan kagum.

Pantas saja seperti menghilang, kiranya pemuda itu memiliki gerakan yang luar biasa ringan dan cepatnya. Akan tetapi, bukan itu yang membuat dia bengong dan seperti orang terpesona, tetapi buntalan yang dibawa turun oleh pemuda itu. Teringat benar bahwa dia pernah melihat buntalan itu, bahkan pernah melemparkannya ke dalam sungai. Melemparkan buntalan! Dari perahu!

“Heiiiii…!” Tiba-tiba karena teringat dia menjerit sambil menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu.

Tepat pada saat itu, sambil memegang buntalan pemuda itu sedang berjongkok untuk memeriksa apakah pancingannya mengena. Ketika ditunjuk dan mendadak gadis itu menjerit, dia kaget sampai terloncat.

“Wah, kau ini gadis aneh. Ada apa lagi hingga kau menjerit-jerit seperti melihat setan?” dia mengomel.

“Bukan melihat setan, melainkan melihat engkau! Engkau tukang perahu keparat itu! Benar, matamu, senyummu…”

“Bagus dan menarik, ya?”

“Menarik hidungmu! Hayo mengaku! Kaulah yang menyamar sebagai tukang perahu itu, bukan?” “Kalau tidak mengaku, mengapa?”
“Mengaku atau tidak, tetap saja aku sekarang mengenalmu. Buntalan itu! Aku sudah membuangnya ke dalam sungai dan kau meloncat mengejar dan menyelam.”

“Kau memang gadis liar dan galak!”

“Dan kau… kau meninggalkan perahu, membuat perahu hanyut dan terguling. Dan enci-ku…, ehhh, enci- ku… dia tentu celaka…!”

“Hemmm, semua gara-gara engkau juga! Mengapa engkau begitu jahat dan kejam, membuang buntalan orang? Sepatutnya engkau yang harus mati tenggelam, bukan kakakmu yang baik hati dan manis budi dan cantik jelita itu.”

“Tidak, justru engkaulah yang meninggalkan perahu sampai perahu hanyut!” Ceng Ceng membantah, marah.

“Jika kau tidak begitu kejam membuang buntalanku, apakah aku meninggalkan perahu? Kau saja yang tak mengenal budi orang!” Pemuda itu mengomel lalu mengambil sebuah topi caping lebar dari buntalan besar dan mengebut-ngebutkannya.

Melihat caping itu, Ceng Ceng semakin kaget dan memandang dengan matanya yang indah itu terbelalak lebar. “Heiii…!”

“Ihhhh!” Pemuda itu mencela, terperanjat. “Apa engkau sudah gila, menjerit-jerit tidak karuan?” “Capingmu itu! Kau adalah orang yang dulu mengganggu ketika sang… eh, kakakku hendak mandi!” Pemuda itu menoleh, tersenyum mengejek dan berkata, “Benarkah?”
“Ternyata kau memang kurang ajar, agaknya sejak dahulu engkau membayangi kami, ya?”

“Kalau kau yang minta aku pergi ketika itu, aku tentu tidak sudi. Akan tetapi Sang Puteri Syanti Dewi, dia begitu cantik, begitu halus, sayang, gara-gara kenakalanmu dia sampai lenyap!”

“Gara-gara kekurang ajaranmu!” Ceng Ceng membantah. “Gara-gara engkau!”
“Engkau!”

“Hemmm, engkau ini hanya seorang dayang pelayan, besar lagak amat!” pemuda itu mengejek.

Sepasang mata yang sudah terbelalak itu mengeluarkan sinar berapi. “Apa katamu? Dayang pelayan? Keparat bermulut lancang dan busuk!”

Ceng Ceng melepaskan gulungan pakaiannya. Saking marahnya dia sudah menerjang lagi dengan pengerahan tenaga sekuatnya dan mengeluarkan jurus yang paling ampuh. Akan tetapi, dengan gerakan yang aneh dan sigap, pemuda itu berhasil menangkap kedua pergelangan tangannya dan dia meronta- ronta namun tidak bisa melepaskan kedua tangannya yang terpegang.

Ceng Ceng marah sekali, kakinya menendang-nendang namun selalu dapat ditangkis oleh kaki pemuda itu. Betapa pun juga, memegang seorang dara yang liar seperti itu sama dengan memegang seekor harimau betina, salah-salah bisa terkena cakarnya. Maka pemuda itu berkata sungguh-sungguh, “Gadis liar! Kalau kau tak menghentikan kegalakanmu, terpaksa aku akan menghukummu dengan ciuman-ciuman di mulutmu!”

Diancam pukulan atau maut, agaknya Ceng Ceng takkan merasa takut. Akan tetapi diancam ciuman, hal yang sama sekali belum pernah dialaminya biar dalam mimpi sekali pun, meremang seluruh bulu di tubuhnya, dan otomatis dia menghentikan gerakan tubuhnya. Melihat ini, pemuda itu tertawa dan sekali mendorong, tubuh Ceng Ceng terlempar dan terbanting ke atas tanah.

“Huhh, biar belajar ilmu silat lagi sampai kau menjadi nenek-nenek keriput, tak mungkin engkau dapat melawanku.” Pemuda itu mengejek dengan nada suara sombong sekali.

Ceng Ceng yang terduduk di atas tanah itu tak bergerak, hati dan pikirannya terasa sakit bukan main. Pemuda ini seorang pemuda yang tampan dan berkepandaian begitu tinggi, dan kini dia dapat menduga- duga bahwa dia yang terseret arus sungai tentu telah ditolong oleh pemuda ini, tentu dalam keadaan hampir mati dan basah kuyup. Pemuda aneh ini, yang tampan dan gagah, tentu telah mengeluarkan air dari perutnya dan oleh karena pakaiannya basah kuyup, tentu telah menanggalkan pakaian itu, memakaikan jubahnya kepadanya. Dan pakaiannya itu, sampai sepatu-sepatunya, dijemur sampai kering, mungkin setelah dicuci dulu karena terkena lumpur.

Dan ketika menanggalkan semua pakaiannya, pemuda itu jelas tidak melakukan sesuatu yang melanggar susila, kalau demikian halnya, tidak akan begini keadaannya. Pemuda yang aneh, tampan, gagah, kurang ajar akan tetapi juga baik sekali. Justru kebaikan pemuda itulah yang membuat hatinya menjadi makin sakit, karena betapa pun baik dan tampan serta gagahnya, pemuda itu kini ternyata tidak menghargainya, menghinanya, memandang rendah mengatakannya pelayan dan biar sampai menjadi nenak-nenek keriput takkan mampu melawannya. Dan pemuda itu sudah dua kali mengalahkannya.

Dia jengkel sekali, marah sekali. Melawan dengan tenaga, tidak mampu, bahkan kalah jauh sekali. Melawan dengan maki-makian, ternyata pemuda itu pun pandai sekali bicara, bahkan setiap kata-katanya menusuk perasaan! Dia kalah segala-galanya!

Perasaan ini membuat dia terasa begitu nelangsa, teringat dia akan kakeknya, karena kalau ada kakeknya, tentu tidak ada manusia berani bersikap begini kurang ajar kepadanya. Selama hidupnya, ketika kakeknya masih ada, dia belum pernah mengalami penghinaan seperti ini. Juga kalau ada Syanti Dewi yang biar pun halus dan lemah namun amat berwibawa itu, agaknya dia ada yang membela. Sekarang, dia seorang diri dan dihina orang tanpa mampu melawan sedikit pun.

Teringat akan ini, biar pun pada dasarnya Ceng Ceng bukan seorang dara yang cengeng, bahkan amat keras hati dan pantang menangis karena iba diri, kini tak dapat menahan tangisnya dan dia menundukkan muka, menutupi kedua matanya yang mengalirkan air mata.

Siapakah pemuda tampan yang amat lihai itu? Dia ini bukan lain adalah Ang Tek Hoat! Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemuda ini semenjak meninggalkan ibunya di puncak Bukit Angsa di lembah Huang-ho, telah banyak mengalami hal yang hebat-hebat. Selama dua tahun dia menjadi murid Sai-cu Lo- mo dan memperoleh ilmu kepandaian yang amat tinggi, kemudian petualangannya sebagai Si Jari Maut dengan menggunakan nama Gak Bun Beng untuk merusak nama musuh pembunuh ayahnya yang sudah meninggal itu dan kemudian setelah dia dikalahkan oleh Puteri Milana yang membuat dia malu dan penasaran sekali, dia bertemu dengan Kong To Tek bekas tokoh Pulau Neraka yang telah mewarisi kitab- kitab peninggalan dua orang Iblis Tua dari Pulau Neraka, yaitu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin.

Karena Kong To Tek menderita sakit ingatan, tokoh ini yang melihat wajah Tek Hoat mirip sekali dengan Wan Keng In yang telah meninggal, mengira bahwa dia berhadapan dengan Wan Keng In dan menyerahkan pusaka-pusaka peninggalan dua orang Iblis Tua itu kepada Tek Hoat, berikut pedang pusaka Cui-beng-kiam yang ampuh dan catatan pembuatan obat perampas ingatan yang amat luar biasa. Karena mencobakan obat perampas ingatan dan obat penawarnya kepada Kong To Tek, maka kakek ini waras kembali dan melihat dia tertipu, dia hendak membunuh Tek Hoat, namun kalah dan bahkan dia yang terbunuh oleh Tek Hoat yang telah menjadi lihai sekali!

Dengan hati girang Tek Hoat yang telah mewarisi ilmu kepandaian hebat, bahkan masih ada dua buah kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin yang dianggap gurunya dan yang belum dilatihnya, pemuda ini lalu pergi hendak pulang ke rumah ibunya di puncak Bukit Angsa, membawa dua buah kitab dan sebatang pedang.

Kini dia tidak sudi lagi menyamar dengan nama Gak Bun Beng. Dia telah menjadi seorang yang berilmu tinggi, dan dia menganggap bahwa di dunia ini tidak akan ada yang dapat melawannya, maka dia berhak menggunakan namanya sendiri dan hendak mencari nama besar dengan cara yang akan menimbulkan kegemparan di dunia!

Akan tetapi alangkah kecewa hatinya sesudah dia tiba di puncak Bukit Angsa, dia mendapatkan rumah ibunya kosong dan ibunya tidak berada lagi di rumah itu. Bahkan melihat bekas-bekasnya, agaknya sudah lama ibunya meninggalkan rumah itu tanpa meninggalkan pesan apa pun dan kepada siapa pun. Tek Hoat menjadi jengkel dan marah kepada ibunya, lupa bahwa dialah yang telah melanggar janji. Ketika pergi dahulu, dia berjanji untuk pulang menengok ibunya setiap tahun, akan tetapi dia telah pergi hampir empat tahun lamanya dan baru ini dia pulang!

Terpaksa dia pergi meninggalkan Bukit Angsa lagi dengan tujuan mencari ibunya, dan terutama sekali mencari nama besar di dunia kang-ouw. Pertama-tama dia harus mengunjungi Bu-tong-pai dan memberi hajaran kepada para tokoh Bu-tong-pai yang telah berani menghinanya empat tahun yang lalu! Kedua, dia akan mencari Puteri Milana di kota raja dan akan menantangnya untuk menebus kekalahannya dua tahun yang lalu! Kemudian dia akan membuat geger dunia kang-ouw dan minta diakui sebagai jagoan nomor satu, lalu dia akan menantang Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman Majikan Pulau Es!

Dengan cita-cita besar itu, pergilah Tek Hoat dari Bukit Angsa. Akan tetapi sebelum semua cita-citanya terkabul, dia bertemu dengan rombongan Pek-lian-kauw dan dalam bentrokan kecil antara dia dengan para tokoh Pek-lian-kauw, dia telah memperlihatkan kepandaiannya yang dahsyat. Para tokoh Pek-lian-kauw tertarik, lalu membujuknya dan membawa pemuda yang masih hijau ini pergi menghadap Pangeran Tua, yaitu Pangeran Liong Bin Ong di kota raja!

Pertemuannya dengan Pangeran Liong Bin Ong membuat terbuka mata pemuda ini bahwa jalan satu- satunya untuk mencari kedudukan tinggi, juga membuat nama besar dan melakukan kegemparan di dunia, adalah membantu pangeran ini. Kalau sampai mereka berhasil merampas tahta kerajaan, tentu dia akan memperoleh pangkat tinggi dan siapa tahu terdapat kesempatan baginya untuk kelak merampas mahkota sendiri dan menjadi kaisar! Lamunan muluk-muluk ini membuat Tek Hoat untuk sementara melupakan urusan pribadinya dan mulailah dia mengabdi kepada Pangeran Tua yang mengangkatnya menjadi pengawal kepala dan menugaskannya mewakili pangeran ini mengadakan kontak dengan para pembantu pangeran di luar kota raja.

Ketika Kaisar Kang Hsi melamar Puteri Syanti Dewi di Bhutan untuk diperisteri adik tirinya, Pangeran Liong Khi Ong, adik tiri Pangeran Tua, diam-diam Pangeran Tua ini tidak setuju. Tentu saja dia tidak setuju karena ikatan keluarga itu akan memperkuat kedudukan kaisar atau kakak tirinya sendiri di dunia barat. Karena itulah maka diam-diam dia mengusahakan agar pernikahan itu gagal dan dia lalu mengirim sogokan dan bujukan kepada Raja Muda Tambolon, seorang pemberontak di daerah Bhutan untuk menghalangi diboyongnya Puteri Syanti Dewi di daratan besar. Bahkan dia mengutus orang kepercayaannya yang baru, Ang Tek Hoat untuk menyelidiki ke Bhutan dan membantu usaha penggagalan pernikahan itu.

Demikianlah singkatnya keadaan Ang Tek Hoat yang muncul di Bhutan sebagai seorang pemuda yang menyembunyikan mukanya di balik caping lebar ketika Puteri Syanti Dewi hendak mandi. Kemudian melihat bahwa pasukan Raja Muda Tambolon berhasil, dia diam-diam membayangi sang puteri bersama Ceng Ceng yang melarikan diri.

Dia pula yang menyamar sebagai pedagang garam untuk membantu dua orang gadis pelarian itu lolos, kemudian dia menyamar sebagai tukang perahu. Semua itu dilakukan agar dia dapat mengamat-amati dua orang gadis itu, dan terutama sekali agar Puteri Syanti Dewi tidak sampai lolos dan dapat mencapai kota raja. Kalau saatnya tiba, dia akan ‘menggiring’ sang puteri ini dan dihaturkan kepada majikannya, kemudian terserah keputusan Pangeran Liong Bin Ong.

Hanya dia harus mengakui bahwa diam-diam dia tertarik dan terpesona oleh kecantikan dan sikap halus sang puteri, sehingga diam-diam membayangkan betapa akan gembiranya kalau dia dapat menduduki pangkat tinggi, kalau mungkin kaisar, dengan seorang isteri seperti puteri Bhutan ini! Baru sekali ini Tek Hoat merasa tertarik kepada seorang wanita, dan biasanya dia memandang rendah kaum wanita.

Akan tetapi, rencananya menjadi berantakan karena kenakalan Ceng Ceng yang melemparkan buntalannya ke sungai. Padahal buntalan itu berisi pedang Cui-beng-kiam! Tentu saja dia tidak mau kehilangan pedang itu dan cepat meloncat ke air sehingga perahu itu hanyut sendiri. Dia melakukan pengejaran sambil berenang secepatnya. Namun tetap saja tidak dapat mencegah terjadinya tabrakan sehingga perahu itu terguling.

Cepat dia meloncat ke darat dan lari di sepanjang tepi sungai dan akhirnya dia melihat Ceng Ceng dalam keadaan pingsan hanyut di air. Dia segera menolong gadis itu, namun tidak berhasil menolong Puteri Syanti Dewi, sama sekali dia tidak mimpi bahwa puteri itu telah ditolong oleh seorang yang namanya akan membuat dia terkejut seperti melihat mayat hidup, yaitu Gak Bun Beng musuh besarnya, pembunuh ayahnya yang telah dianggapnya mati itu.

Tek Hoat yang memiliki watak amat luar biasa, kejam, dingin, tak mengenal sedikit pun perasaan iba, penuh dendam dan penuh kebencian terhadap manusia umumnya, hanya mengejar keuntungan diri pribadi saja, betapa pun juga bukanlah seorang yang mudah hanyut oleh nafsu birahi.

Dia seorang pemuda yang kuat luar dalam, kuat pula perasaannya yang seperti membeku dingin sehingga ketika dia menolong Ceng Ceng, mengempiskan perut dara itu yang penuh air, kemudian menanggalkan pakaian Ceng Ceng karena pakaian itu basah kuyup. Melihat bentuk tubuh yang sedang mekar dan menggairahkan itu, dia sama sekali tidak terangsang! Bahkan secara kasar dia menolong Ceng Ceng karena marah, menganggap gadis ini yang menghancurkan rencananya sehingga dia terpisah dari Syanti Dewi. Kemudian setelah melihat nyawa Ceng Ceng tertolong, dia mengenakan jubahnya pada gadis itu dan menangkap ayam, memanggangnya, kemudian dia memancing ikan. Selanjutnya kita telah mengetahui apa yang terjadi.

Kini, melihat Ceng Ceng menangis, Tek Hoat mengerutkan alisnya. Hatinya seperti ditusuk-tusuk atau diremas-remas. Memang ada keanehan pada diri Tek Hoat, keanehan yang seolah-olah tidak normal, yaitu dia tidak tahan melihat orang menangis, atau lebih tepat, melihat wanita menangis! Mungkin saja hal ini timbul dan menjadi wataknya karena di waktu dia masih kecil, sering sekali dia melihat ibunya menangis sesenggukan dan terisak-isak dengan sedihnya, bahkan hampir setiap malam dia melihat ibunya menangis seorang diri dan kalau ditanya kenapa menangis, ia hanya menggeleng kepalanya.

Boleh jadi Tek Hoat merupakan pemuda keras hati dan dingin yang tiada keduanya di dunia, apa lagi setelah dia mempelajari ilmu-ilmu mukjijat dari dua Iblis Tua Pulau Neraka, wataknya menjadi makin tidak lumrah. Namun kesan mendalam karena tangis ibunya setiap malam itu masih melekat di hatinya sehingga kini, melihat Ceng Ceng menangis, dia seolah-olah mendengar ibunya menangis dan hatinya seperti diremas-remas!

“Aihh, kenapa kau menangis?” tanyanya sambil membalikkan tubuh, duduk menghadapi gadis itu.

Ditanya dengan suara yang halus seperti itu, makin menjadi-jadi tangis Ceng Ceng, akan tetapi segera ditahannya ketika teringat bahwa yang menegurnya adalah pemuda yang memanaskan dan menjengkelkan hatinya itu.

Dia mengintai dari celah-celah jari tangannya dan dengan heran dia melihat betapa pemuda itu amat pucat wajahnya, pandang matanya sayu dan amat berduka, agaknya menderita sekali melihat dia menangis!

“Sudahlah, mengapa menangis? Aku tidak akan mengganggumu dan kalau tadi kau tersinggung, sudahlah kau maafkan aku dan jangan menangis…” Suaranya halus dan lunak, bahkan agak gemetar!

Hal ini mengherankan hati Ceng Ceng sehingga otomatis tangisnya berhenti. Teringat dia akan kata-kata pemuda itu tadi ketika dia menyerangnya, “Melihat orang mengamuk masih mending, asal jangan melihat orang menangis!”

Agaknya pemuda ini memiliki ‘kelemahan’, pikirnya. Yaitu tidak tahan melihat orang menangis! Teringat akan ini, Ceng Ceng lalu menangis lagi sesenggukan! Diam-diam dia mengintai dari celah-celah jari tangannya, melihat betapa pemuda itu memejamkan matanya, menggigit bibirnya kemudian berkata dengan lantang, “Harap kau jangan menangis!”

Akan tetapi Ceng Ceng menangis terus, memaksa diri menangis sungguh pun kini tidak ada air matanya yang keluar, karena memang tangisnya tangis buatan, disembunyikan di balik kedua tangannya. Karena dia tertarik melihat sikap pemuda yang aneh itu dia lupa akan kemarahan dan kedukaannya, maka tentu saja sukar baginya untuk benar-benar menangis.

Tek Hoat makin tersiksa. Suara sesenggukan itu persis suara ibunya di waktu malam. “Nona, kau maafkan aku dan jangan menangis. Kau lihat aku tidak melakukan sesuatu kepadamu, bukan? Kalau aku berniat buruk, betapa mudahnya aku memperkosamu ketika kau pingsan. Akan tetapi aku tidak berniat buruk…”

“Uhuuuu… huuhhh… huuuu…!” Ceng Ceng memperhebat tangisnya dan dari celah-celah jari tangannya dia melihat betapa pemuda itu pun makin hebat penderitaannya. “Kau… kau… telah menanggalkan pakaianku, engkau telah menelanjangi aku, berarti engkau telah menghinaku uh-hu-huuu…!”

“Nanti dulu, jangan menangis, nona. Memang benar aku telah menanggalkan semua pakaianmu, kemudian mengenakan jubahku ini kepadamu. Akan tetapi, kalau tidak begitu, habis bagaimana? Pakaianmu basah kuyub, engkau terancam bahaya maut dan satu-satunya cara untuk menolongmu hanya mengeluarkan air dari perutmu, kemudian mengeringkan pakaianmu. Aku melakukan semua itu hanya untuk menolongmu, untuk menyelamatkan nyawamu…”

“Uhu-hu-hu, bohong… huuuu… bagaimana pun juga, kau telah menghinaku dan setelah kau melihat aku telanjang, bagaimana aku tidak akan malu setengah mati? Bagaimana aku dapat bertemu pandang denganmu? Uhu-hu-huuu…”

“Kalau begitu jangan memandang aku…”

Ceng Ceng menangis makin hebat sampai menggerung-gerung. Dari celah-celah jari tangannya dia melihat benar betapa pemuda itu menjadi makin gelisah dan bingung, bahkan kemudian berkata, “Sudahlah, jangan menangis. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menebus dosa, asal kau jangan menangis…”

“Kau harus berjanji… tidak, harus bersumpah…!” “Baiklah, aku bersumpah. Bersumpah bagaimana?” “Keluarkan sapu tanganmu, untuk saksi sumpah.”
Tek Hoat yang ingin agar dara itu benar-benar menghentikan tangisnya, maka terpaksa dia mengeluarkan sapu tangannya. Sesungguhnya, pemuda ini bukanlah seorang yang begitu bodoh. Akan tetapi dia benar- benar tidak tahan mendengar dan melihat wanita menangis, dan kalau saja bukan Ceng Ceng, tentu dia sudah menggerakkan tangan membunuhnya. Dia tidak bisa melakukan itu, dia membutuhkan dara ini. Bukankah dara ini sahabat baik Puteri Syanti Dewi? Dengan perantaraan Ceng Ceng ini dia masih ada harapan untuk mendapatkan puteri itu, kalau saja puteri itu masih hidup, dan dia yakin masih karena dia tidak melihat mayatnya.

“Baik, inilah sapu tanganku,” katanya mengeluarkan sapu tangan, tidak melihat betapa Ceng Ceng menggosok-gosok keras kedua matanya sehingga menjadi makin merah dan basah air mata ketika dia menurunkan tangan menyambut sapu tangan itu.

“Taruh tanganmu di sapu tangan ini dan bersumpahlah!” kata Ceng Ceng mengulurkan sapu tangan di tangannya. Terpaksa Tek Hoat meletakkan tangannya di atas sapu tangan yang berada di telapak tangan Ceng Ceng.

“Bersumpahlah bahwa kau tidak akan menggangguku,” kata dara itu. “Aku bersumpah tidak akan mengganggumu,” Tek Hoat mengulang. “Dan kau tidak akan memandangku.”
“Hehhh…? Habis bagaimana? Aku kan punya mata!” pemuda itu membantah.

“Kalau kau memandangku, aku akan teringat bahwa aku pernah telanjang di depan matamu dan aku akan mati karena malu.”

“Habis bagaimana? Apakah kalau bertemu denganmu aku harus memejamkan mata?”

“Terserah, memejamkan mata atau membalik belakang atau menutupi mata dengan sapu tangan, pendeknya kau tidak boleh melihat aku!”

“Baiklah…” Di dalam hatinya Tek Hoat memaki.

“Bersumpahlah bahwa kau selalu akan menutupi atau memejamkan mata jika bertemu denganku.” “Aku berjanji akan selalu menutupi atau memejamkan mataku kalau bertemu.”
“Dan kau akan selalu menurut kata-kataku, kau akan mengajarkan ilmu silatmu yang tinggi kepadaku, dan engkau akan mencarikan enci Syanti sampai bertemu, dan engkau akan…”

“Wah, tidak jadi saja kalau begitu!” Tek Hoat lantas berseru keras sambil menurunkan tangannya dari sapu tangan. “Masa aku harus bersumpah begitu banyak? Pula, tidak mungkin aku mengajarkan ilmu silat, dan tidak mungkin harus menurut segala kata-katamu.”

Melihat ini Ceng Ceng maklum bahwa dia sudah terlalu jauh dalam tuntutannya, maka cepat dia berkata, “Baik, kalau begitu ulangi dua sumpahmu itu saja, bersumpah bahwa kalau sampai melanggarnya, engkau akan mati muda dan sapu tangannya ini menjadi saksinya!”

Karena ingin lekas beres agar dara itu tidak rewel lagi, dia berkata, “Akan tetapi sebagai imbalannya, kau pun harus bersumpah bahwa kau tidak akan menangis lagi!”

“Baik, aku bersumpah takkan menangis lagi kalau kau sudah bersumpah.”

Tek Hoat menarik napas panjang dan meletakkan tangannya di atas sapu tangan lalu berkata, “Aku…” “Sebutkan namamu!”
“Aku… Ang Tek Hoat, bersumpah bahwa aku tidak akan mengganggumu…” “Sebutkan namaku, Lu Ceng!”
“…bahwa aku tidak akan mengganggu Lu Ceng, dan bahwa aku akan selalu menutupi atau memejamkan mata kalau bertemu dengan Lu Ceng dan kalau aku melanggar sumpah ini, biarlah aku mati muda dan sapu tangan ini menjadi saksi!”

Ceng Ceng girang sekali lalu menyimpan sapu tangan itu di sakunya. “Heiii, kau mau melanggar sumpah? Hayo pejamkan mata atau, membalik! Aku mau berganti pakaian!”

Tek Hoat yang terlupa dan membuka mata memandang tadi, cepat-cepat memejamkan mata dan memutar tubuhnya membalik, diam-diam dia mengutuk diri sendiri mengapa dia mau bersumpah seperti itu. Akan tetapi, dia sudah terlanjur bersumpah dan memang dia memerlukan gadis ini untuk dapat bertemu kembali dengan Syanti Dewi dan melaksanakan cita-citanya terhadap puteri Bhutan itu.

Kalau segala itu sudah tercapai, membunuh gadis ini apa sih sukarnya? Biarlah sementara ini dia mengalah dulu. Pula, dia juga merasa kurang enak dan tidak aman kalau harus melanggar sumpahnya. Siapa tahu, sumpah itu benar-benar manjur dan kalau dilanggarnya dia akan mati muda! Dia bergidik! Nanti dulu, ya! Dia masih memiliki banyak cita-cita yang belum terlaksana. Pokoknya hanya terletak pada sapu tangan itu. Jika kelak dia membunuh gadis ini, atau setidaknya merampas kembali sapu tangannya, berarti sumpahnya sudah punah karena tidak ada lagi saksinya!

Dengan hati gembira Ceng Ceng segera mengganti jubah yang kedodoran itu dengan pakaiannya sendiri, menyimpan sapu tangan di balik kutangnya, dan sambil berganti pakaian dia memandang punggung pemuda itu dengan tersenyum. Dia menang! Tak disadarinya lagi, dia memberes-bereskan pakaian dan rambutnya agar kelihatan patut. Dia mempersolek diri untuk pemuda itu tanpa disadarinya!

“Aku sudah selesai!” akhirnya dia berkata, ingin melihat pemuda itu memandangnya dengan kagum. Setelah mengenakan pakaiannya sendiri, tentu dia akan tampak lebih cantik!

Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak menoleh, bahkan melanjutkan memancing ikan dan tiba-tiba mengangkat tangkai pancingnya dan seekor ikan lele yang gemuk menggelepar-gelepar.

Ceng Ceng kecewa, akan tetapi segera teringat. Celaka! Pemuda itu tentu tidak akan memandangnya! Karena sumpah itu! Perlu apa dia bersolek? Wah, serba berabe kalau begini. Tetapi dia tahu bahwa pemuda ltu lebih repot lagi karena harus menghindarkan pandang matanya darinya. Biar tahu rasa dia! Pikiran ini mengusir kekecewaannya.

“Nona Ceng…”

“Tak usah nona-nonaan. Aku biasa disebut Ceng Ceng.”

“Hemm… Ceng Ceng, apakah kau tidak lapar?” tanya Tek Hoat tanpa menoleh. “Tentu saja.”
“Nah, ini ada sisa ayam panggang…” “Aku tak sudi makan sisamu!”
“Kalau, begitu, ikan ini kau boleh ambil dan bakar.”

Tanpa menoleh Tek Hoat menyerahkan ikan itu yang diterima oleh Ceng Ceng dan tak lama kemudian Ceng Ceng sudah memanggang daging ikan yang gemuk dan makan dengan lahapnya tanpa menawarkannya kepada Tek Hoat.

Hari mulai gelap, senja telah mendatang. “Kita harus pergi mencari majikan…” “Apa? Siapa kau maksudkan?”
“Siapa lagi kalau bukan Puteri Syanti Dewi?”

“Tek Hoat, kau jangan sembarangan omong, dan aku bukanlah pelayannya. Mengerti?”

Tek Hoat mengangguk-angguk dan merasa girang. Tidak keliru dia mengalah kepada gadis liar ini, kiranya sudah diaku sebagai adik angkat. Kalau dia membunuhnya, tentu sukar baginya untuk berbaik dengan Syanti Dewi.

“Kau tergila-gila kepada kakakku, ya?”

Tek Hoat terkejut, akan tetapi hanya mengangguk. Dia masih duduk membelakangi Ceng Ceng. “Wah, tidak enak benar begini! Masa aku bicara dengan… pinggul saja?”
Tek Hoat tersenyum akan tetapi menahan gelak tawanya. “Habis bagaimana? Aku tidak berani melanggar sumpah.”

“Wah, kau menghadap ke sini dan memejamkan mata, masa tidak bisa?”

“Lebih tidak enak lagi buat aku, terus memejamkan mata, masa seperti orang buta.” “Kalau begitu, tutup saja dengan sapu tangan.”
“Sapu tanganku sudah kau bawa.”

Terpaksa Ceng Ceng memberikan sapu tangannya sendiri yang berbau harum. Tek Hoat menerimanya, menutupkan sapu tangan itu di depan matanya dan mengikatkan kedua ujung di belakang kepala, kemudian membalik menghadapi Ceng Ceng. Gadis itu tersenyum lebar menutupi mulutnya. Lucu sekali, seperti anak kecil bermain-main!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo