September 16, 2017

Kisah Sepasang Rajawali Part 4

 

Celaka, dia sendiri tidak mau turun tangan keras, isteri-isteri dan anak-anaknya malah mengamuk seperti itu!

“Heiii, tahan dan mundur kalian semua!” Teriaknya sambil mencelat ke arah kedua isteri dan anaknya. “Kian Bu, Kian Lee, hayo panggil burung-burung setan itu!” teriaknya pula melihat betapa kedua ekor rajawali itu pun turut mengamuk hebat, membuat para lawan menjadi panik dan sibuk mempertahankan diri dari paruh dan cakar yang kuat.

Kedua isterinya mengerutkan alis, namun mereka mengenal suami mereka dan tidak mau membantah. Mereka maklum bahwa suami mereka akan berduka sekali kalau sampai keluarganya menggunakan kekerasan. Juga Kian Lee dan Kian Bu meloncat mundur dan berusaha memanggil sepasang rajawali yang sedang marah dan mengamuk itu. Akan tetapi, pekerjaan itu tidaklah mudah karena sepasang rajawali itu agaknya telah datang kembali sifat liar mereka dan sekali mencium darah, mereka menjadi buas!

Akan tetapi, sama sekali tidak disangka-sangka oleh Suma Han. Dia sendiri mundur dan menyuruh anak isterinya untuk berhenti bertanding, akan tetapi sepasang kakek itu, dua orang wanita Korea, dan enam orang teman mereka yang masih belum roboh, sudah datang lagi menerjang dengan kemarahan meluap. Suma Han menghela napas panjang. Sedih dia melihat betapa begitu banyak orang ternyata amat membencinya sehingga mereka itu siap mempertaruhkan nyawa untuk membunuh dia!

“Siang Lo-mo dan cu-wi sekalian! Apakah kalian sudah bosan hidup? Lihat…, bukit itu longsor ke sini…!” mendadak Suma Han berteriak keras, suaranya disertai khikang dan mengandung tenaga sakti mukjijat yang bergema di seluruh tempat itu, tongkatnya menuding ke tengah pulau di mana tampak bagian yang menjulang tinggi seperti bukit es yang putih.

Sepasang kakek kembar dan para temannya menengok ke arah yang ditunjuk itu dan tiba-tiba mata mereka terbelalak dan muka mereka pucat sekali. Mereka melihat betapa bukit itu pecah-pecah, batu dan es yang besar-besar sedang bergulingan dari atas menuju ke tempat itu disertai suara gemuruh dan tanah yang mereka injak bergoyang-goyang seperti ada gempa bumi yang hebat.

“Celaka…! Cepat lari…!” Pak-thian Lo-mo berteriak sambil menyambar tubuh dua orang pembantu yang terluka.

“Lari…, bawa teman-teman…!” berteriak pula Lam-thian Lo-mo yang juga menjadi pucat wajahnya.

Tentu saja tidak perlu dikomando dua kali, karena mereka yang belum roboh menjadi pucat ketakutan menyaksikan mala petaka itu, bencana alam yang amat hebat dan yang tentu akan menggulung dan membasmi mereka semua kalau mereka terlambat lari dari tempat yang agaknya sudah dikutuk dan akan musnah itu. Mereka cepat menyambar teman yang terluka, lalu bersicepat lari ke arah perahu mereka, berloncatan ke dalam perahu dan sekuat tenaga mendayung perahu ke tengah laut. Angin segera mendorong layar dan perahu itu melaju cepat meninggalkan Pulau Es.

Suma Han menghela napas lega. Dua orang pemuda yang tadinya berlutut merangkul kedua kaki ibu masing-masing dengan muka pucat, sekarang menengadah melihat ibu mereka tersenyum. Keduanya bangkit berdiri, menoleh ke arah bukit dan ternyata tidak ada terjadi apa-apa di sana! Padahal tadi, mereka ikut menengok dan melihat betapa bukit itu pecah dan mengeluarkan suara bergemuruh, mengancam tempat itu dengan gumpalan batu dan es sebesar rumah!

“Untung mereka dapat dikelabui…“ Suma Han berkata perlahan.

“Hemmm, kalau mereka tidak lari, tentu sebentar lagi mereka tak sempat berlari lagi!” kata Lulu.

“Mereka itu tidak seberapa kuat, mengapa harus dipergunakan hoat-sut (ilmu sihir)?” kata Nirahai, tidak puas karena tadi sedang ‘enak-enaknya’ membabati musuh.

Sudah belasan tahun puteri kaisar yang gagah perkasa ini tak memperoleh kesempatan untuk mempergunakan ilmunya untuk bertempur, padahal dahulu puteri ini mempunyai kesukaan untuk bertanding ilmu silat. Peristiwa tadi sebetulnya amat menggembirakan hatinya, siapa yang tidak mengkal hatinya kalau sedang enak-enak membabat musuh lalu dihentikan?

“Aihhhh… jadi ayah tadi mempergunakan ilmu sihir?” Kian Lee berkata, memandang ayahnya dengan kagum dan heran. “Akan tetapi… aku melihat sendiri, bukit itu seperti pecah…“

“Karena kau ikut menengok, maka kau menjadi korban kekuasaan ilmu sihir ayahmu pula,” kata Lulu. Dia dan Nirahai yang sudah tahu bagaimana caranya melawan ilmu sihir itu, tadi tidak menengok dan karenanya tidak terseret.

“Wah, hebat sekali, ayah! Harap ajarkan ilmu itu kepadaku!” Kian Bu bersorak.

Ayahnya diam saja, hanya memandang sepasang rajawali yang masih berputaran terbang di angkasa. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan kedua ekor burung rajawali itu terkejut, lalu menukik turun dan tidak lama kemudian hinggap di atas tanah, di depan pendekar itu.

“Kian Lee, Kian Bu, lihat apa yang berada di paruh mereka itu!” bentak Suma Han.

Kian Lee dan Kian Bu menghampiri sepasang rajawali dan mengambil sesuatu dari paruh mereka. Kiranya burung rajawali kesayangan Kian Lee membawa sebatang jari tangan di paruhnya, sedangkan burung rajawali kesayangan Kian Bu membawa sebuah daun telinga manusia!

“Ihhh…! Ini jari tangan orang!” Kian Lee bergidik dan membuang jari tangan itu ke atas tanah. “Haiiii! Ini daun telinga orang…!” Kian Bu juga membuang benda menjijikkan itu.
Suma Han menghela napas, menggunakan tongkatnya membuat lobang di atas tanah, kemudian menjemput jari tangan dan daun telinga itu, kemudian sambil menarik napas panjang dan menggeleng- geleng kepala dia berjalan ke tengah pulau.

“Ayah, ajarkan aku ilmu sihir itu…!” Kian Bu berseru dan hendak mengejar ayahnya.

Akan tetapi tangannya dipegang ibunya. “Ilmu itu tak mungkin diajarkan ayahmu kepada siapapun juga,” puteri kaisar itu berkata.

“Mengapa tidak mungkin, ibu?”

“Ilmu yang kelihatan seperti ilmu sihir itu dimiliki oleh ayahmu tanpa dipelajarinya karena ayahmu memiliki kekuatan mukjijat. Pula, dengan kepandaian silat yang kau miliki saat ini, tidak perlu lagi menginginkan kekuatan sihir karena kau akan mampu menghadapi lawan yang bagaimana kuat pun.”

“Kian Lee, apa yang diucapkan oleh ibumu Nirahai itu benar sekali,” Lulu juga berkata, ditujukan kepada puteranya sendiri. “Tingkat kepandaian kalian berdua sudah cukup tinggi, dan melihat gerakan kalian ketika menghadapi musuh tadi, kiranya tingkat kalian tidak berada di sebelah bawah kami berdua. Ketika dahulu aku masih menjadi ketua Pulau Neraka, dan ibumu Nirahai menjadi ketua Thian-liong-pang yang terkenal di seluruh dunia, tingkat kami berdua kiranya masih belum setinggi tingkat kalian sekarang ini.”

Nirahai mengangguk-angguk dan menyambung ucapan madunya itu, “Memang benar, apa lagi kalau diingat bahwa kalian berdua adalah pemuda-pemuda yang sedang kuat-kuatnya, sedangkan kami makin tua dan makin lemah. Maka jangan kalian berdua menginginkan ilmu kesaktian ayah kalian yang tidak mungkin dipelajari itu.”

Tentu saja hati sepasang pemuda ini menjadi gembira dan girang mendengar pujian Nirahai itu. Kegirangan itu bertambah besar ketika pada malam harinya, setelah keluarga itu makan malam, Suma Han berkata dengan suaranya yang selalu tenang dan halus, “Lee-ji dan Bu-ji, sekarang telah tiba saatnya bagi kalian berdua untuk keluar dari pulau, merantau meluaskan pengetahuan kalian.”

Kedua orang pemuda itu hampir bersorak saking girangnya mendengar ini, dan mereka berdua saling pandang dengan muka berseri dan mata bersinar-sinar. Demikian gembira mereka sampai tidak melihat betapa sebaliknya wajah ibu mereka menyuram.

“Akan tetapi ingat, kalian jangan mengira bahwa kalian boleh berbuat sesuka hati setelah bebas. Kebebasan yang benar adalah kebebasan yang dapat mengatur diri sendiri, bukan kebebasan liar (sesuka hati!) yang tentu akan menyeret kalian ke dalam perbuatan sesat. Memang, tingkat ilmu silat kalian sudah cukup tinggi sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan dicelakakan oleh musuh, namun kalian masih kurang sekali dalam pengalaman. Karena itu, dalam meluaskan pengalaman, kalian pergilah ke kota raja dan jumpai enci kalian, Milana. Dari enci kalian itu kalian akan mendapat banyak petunjuk. Dan ingat, kalian jangan sekali-kali menyombongkan diri dengan menyebut nama Pulau Es. Mengerti?”

Kedua orang pemuda itu mengangguk dan menyembunyikan rasa girang mereka di dalam hati. “Ayah, bolehkah kami membawa sepasang rajawali?”

Suma Han menahan senyumnya. Puteranya yang kedua ini selalu berwatak riang gembira dan biar pun usianya sudah hampir delapan belas tahun, tetapi masih kekanak-kanakan sehingga merantau pun ingin membawa rajawali kesayangannya!

“Rajawali jangan dibawa. Sekali ini kalian merantau, berarti akan memasuki tempat-tempat ramai, apa lagi akan memasuki kota raja. Kalau kalian membawa sepasang rajawali, tentu akan menimbulkan ribut dan kekacauan. Ingat kalian harus menganggap bahwa kalian adalah seperti sepasang rajawali yang terbang bebas di angkasa, tidak menggantungkan nasib dan keselamatan kalian pada perlindungan siapa pun juga. Seperti sepasang rajawali, kalian harus selalu waspada, jangan lengah karena segala kemungkinan dapat saja terjadi, segala bahaya dapat saja datang dari segala penjuru.”
Setelah banyak-banyak memberi nasehat kepada kedua orang puteranya sehingga semalam itu mereka hampir tidak tidur, pada keesokan harinya berangkatlah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu meninggalkan Pulau Es. Mereka hanya membekal beberapa potong emas dan sejumlah uang perak untuk biaya di jalan, tetapi mereka berdua tidak diberi bekal senjata.

Perahu layar yang membawa mereka pergi meninggalkan Pulau Es, menuju ke arah yang telah ditunjuk dan digambarkan dalam peta oleh ayah mereka, diikuti pandangan mata kedua ibu mereka yang basah oleh air mata.

Setelah perahu itu lenyap dari pandangan mata, kedua orang wanita itu tidak dapat menahan tangis mereka. Betapa hati mereka tidak akan berkhawatir dan berduka ditinggalkan putera tercinta yang semenjak lahir berada di pulau itu bersama mereka? Suma Han mendiamkan saja kedua isterinya berduka, karena dia dapat menyelami perasaan mereka. Dia hanya berdiri dibantu tongkatnya, memandang jauh lepas ke arah lautan, mencoba untuk mempelajari dan mengerti akan hidup dari permukaan laut yang tak bertepi.

Andai kata ada yang bertanya kepada kedua orang ibu itu mengapa mereka menangis dan mengapa mereka berduka karena berpisahan dengan putera mereka, tentu mereka akan menjawab langsung bahwa mereka berduka karena mereka mencinta putera mereka yang sekarang pergi meninggalkan mereka. Jelas bahwa mereka menangis bukan demi putera mereka, karena sepasang pemuda itu bergembira dan tidak perlu ditangisi. Akan tetapi mereka menangis karena mereka ditinggalkan! Mereka menangis demi dirinya sendiri, menangis karena iba diri yang ditinggalkan pergi orang-orang yang dicinta!

‘Cinta’ yang bersifat pengikatan diri kepada sesuatu yang dicinta, seperti kedua ibu ini, hanya akan membawa kedukaan. Pengikatan diri kepada keluarga, pada harta benda, pada kemuliaan duniawi, kepada kesenangan, sebenarnya bukanlah cinta kasih sejati, melainkan nafsu mementingkan dan menyenangkan diri sendiri belaka. Segala sesuatu, baik benda hidup atau pun mati, yang dipunyai seseorang secara lahiriah, kalau sampai dimiliki pula secara batiniah, hanya akan menimbulkan kesengsaraan.

Segala sesuatu tidak kekal di dunia ini, sekali waktu tentu terjadi perpisahan. Kalau kita mengikatkan diri kepada sesuatu, berarti kita memiliki secara batiniah dan seolah-olah yang kita miliki itu telah berakar di dalam hati. Maka jika tiba saatnya kita harus berpisah dari sesuatu yang kita miliki secara batiniah itu, sama saja dengan dicabutnya sesuatu itu dari hati sehingga merobek dan menyakitkan hati!

Mengikatkan diri kepada apa pun juga, kepada suami, isteri, anak, keluarga, harta dan apa saja berarti menghambakan diri dan ikatan-ikatan ini yang membuat orang menjadi takut dan khawatir. Takut kalau- kalau dipaksa berpisah, karena kehilangan, karena kematian dan lain-lain. Rasa takut akan perpisahan dengan yang telah mengikat dirinya, membuat orang menjaga dan melindungi mati-matian, dan untuk ini tidak segan-segan orang menggunakan kekerasan. Maka timbullah pertentangan, dan dari pertentangan ini lahirlah kesengsaraan hidup…..

********************

Kita tinggalkan dulu Pulau Es dan suami isteri yang termenung ditinggalkan putera-puteranya itu, dan kita biarkan sepasang pemuda itu mulai dengan perantauan mereka seperti sepasang rajawali, dan mari kita menengok kembali keadaan Syanti Dewi dan Ceng Ceng.

Seperti telah diceriterakan di bagian depan, dua orang dara jelita ini melarikan diri dan terpaksa meninggalkan kakek Lu Kiong yang tewas oleh pengeroyokan para tokoh pemberontak yang memusuhi Kerajaan Bhutan. Dengan berpakaian seperti dua orang petani sederhana, dua orang gadis itu terus melarikan diri. Mereka melumuri pipi yang halus putih itu dengan lumpur untuk menyembunyikan wajah cantik mereka setelah memperoleh kenyataan bahwa penyamaran itu dapat diketahui oleh para penghadang sehingga hampir saja mereka tertangkap.

Sukarlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri karena daerah perbatasan itu termasuk daerah kekuasaan pasukan-pasukan Raja Muda Tambolon. Dusun-dusun di sekitar daerah itu telah berada di bawah kekuasaannya. Puteri Syanti Dewi yang pernah mendengar tentang ini mengerti akan bahaya yang mengancam mereka, maka dia selalu menganjurkan kepada Ceng Ceng untuk berhati-hati.

Pada suatu senja, pelarian mereka membawa mereka ke sebuah dusun. Mereka menanti di luar dusun sambil bersembunyi, dan setelah cuaca menjadi gelap, barulah mereka berani memasuki dusun itu. Bau masakan dan bumbu terbawa uap masakan yang sedap membuat mereka tidak menahan diri. Telah beberapa hari lamanya mereka hanya makan daun-daun dan daging panggang tanpa bumbu.

Kini perut mereka terasa lapar sekali ketika hidung mereka mencium bau yang amat gurih dan sedap itu, dan berindap-indap keduanya memasuki warung yang berada di pinggir dusun. Warung itu ternyata cukup besar dan ketika keduanya masuk, di situ terdapat tujuh orang tamu yang pakaiannya agak kotor dan tujuh orang ini semua membawa topi caping bundar lebar yang kini mereka taruh di atas meja.

Ketika Syanti Dewi dan Ceng Ceng memasuki warung dengan muka kotor berlumpur dan muka tunduk, mereka berhenti bicara, melirik sebentar akan tetapi melihat bahwa yang masuk hanyalah dua orang petani muda yang agaknya baru pulang dari sawah karena pakaian dan mukanya kotor, tujuh orang itu melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka adalah orang-orang kasar dan jujur dan berani bicara keras begitu melihat keadaan aman.

Syanti Dewi memesan makanan dan makan bersama Ceng Ceng tanpa bicara, akan tetapi mereka berdua tertarik sekali oleh percakapan antara tujuh orang itu.

“Kabarnya sang puteri lenyap…”

Kata-kata ini yang membuat mereka terkejut dan memaksa mereka mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Ahhh, kasihan sekali kalau begitu. Dan bagaimana dengan rombongan utusan kaisar?”

“Entahlah, kabarnya banyak yang tewas. Akan tetapi pasukan penjemput dari kerajaan Ceng lalu tiba dan musuh dapat dihalau pergi. Hanya celakanya, sang puteri tidak ada lagi…”

“Aihh, jangan-jangan dia tertawan musuh” “Mungkin sekali…”
“Aduh kasihan!”

“Kalau saja kita dapat menolongnya…”

“Wahh, orang-orang pedagang garam macam kita ini bagaimana bisa menolongnya? Untuk memasuki kota Tai-cou saja kita tentu harus mengeluarkan banyak biaya untuk menyuap penjaga, baru kita akan boleh masuk.”

“Memang celaka, dan hanya di kota itu garam kita akan laku dengan harga tinggi.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng saling pandang dan sinar mata mereka berseri. Mereka juga harus melalui kota Tai-cou dan setelah dapat melewati kota terakhir dari kekuasaan Raja Muda Tambolon itulah mereka dapat dikatakan telah lolos dari cengkeraman musuh. Dan mendengarkan percakapan antara pedagang garam itu, agaknya mereka itu tak dapat disangsikan lagi adalah orang-orang yang berpihak kepada Kerajaan Bhutan dan Kerajaan Ceng, orang-orang yang anti kepada Raja Muda Tambolon. Hal ini berarti orang-orang itu adalah sahabat!

Alangkah kaget dan herannya hati ketujuh orang pedagang garam itu ketika mereka meninggalkan warung dan sedang berjalan sambil bercakap-cakap di lorong dusun yang gelap dan sunyi, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan tahu-tahu dua orang ‘pemuda’ yang tadi makan di warung telah berdiri di depan mereka.

“Para paman harap berhenti sebentar!” Ceng Ceng berkata.

Mendengar suara wanita, karena Ceng Ceng menggunakan suara aslinya, tujuh orang itu tertegun dan mencoba untuk melihat lebih jelas lagi di tempat gelap itu.

“Kami sudah mendengar percakapan paman bertujuh dan kami percaya bahwa paman sekalian akan suka membantu kami untuk melewati kota Tai-cou,” kata pula Ceng Ceng.

“Apa… apa maksudmu… tuan… eh, nona…?” seorang di antara mereka yang berkumis tebal bertanya bingung karena dia masih ragu-ragu. Melihat pakaiannya, dua orang itu adalah pria, akan tetapi suaranya seperti wanita!

“Paman, lihatlah baik-baik. Aku adalah seorang wanita, dan dia ini bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan Bhutan yang kalian bicarakan tadi.”

Tujuh orang itu terkejut bukan main. Cepat mereka memandang ke arah Syanti Dewi, membuka caping dan tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu!

“Maafkan kami… hamba tidak mengetahui…”

Syanti Dewi cepat berkata, “Harap paman semua bangkit berdiri. Jika sampai kelihatan orang tentu dicurigai.”

Mendengar ini, mereka cepat bangkit berdiri. Mereka adalah pedagang-pedagang garam yang berhutang budi kepada Pemerintah Bhutan karena mereka diijinkan untuk mengangkut garam dari Bhutan yang mereka jual di daerah pedalaman.

Dari Pemerintah Bhutan mereka tidak pernah mengalami gangguan, maka tentu saja mereka merasa terlindung dan di dalam hati mereka bersimpati kepada kerajaan ini dan sebaliknya, mereka sering kali mengalami gangguan dari para anak buah Raja Muda Tambolon, maka tentu saja mereka membenci mereka.

“Paman, tolonglah kami agar dapat lewat kota Tai-cou. Kami hendak melarikan diri ke ibukota Kerajaan Ceng,” kata Syanti Dewi.

“Tentu saja hamba senang sekali kalau dapat menolong paduka. Marilah paduka berdua ikut bersama hamba ke tempat peristirahatan rombongan pedagang garam di kuil tua.”

Syanti Dewi dan Ceng Ceng mengikuti mereka dan ketika mereka tiba di dalam kuil tua yang kini diterangi dengan api-api penerangan lilin, tampak oleh mereka bahwa jumlah rombongan pedagang garam itu ada tujuh belas orang! Ketua mereka adalah si kumis tebal tadi, maka begitu mendengar bahwa Sang Puteri Bhutan yang mereka dengar diboyong ke Tiong-goan dan di tengah jalan rombongan puteri itu diserbu gerombolan pemberontak, mereka segera berlutut menghaturkan selamat dan dengan senang hati mereka ingin membantu dan melindungi puteri ini melewati Tai-cou dengan selamat.

“Kota terakhir di bawah kekuasaan Raja Muda Tambolon ini terjaga kuat sekali,” kata si kumis tebal. “Jalan satu-satunya bagi sang puteri agar dapat lolos dengan selamat hanya dengan menyamar menjadi seorang di antara kita, menyamar sebagai pedagang garam dan bersama rombongan kita memikul garam memasuki kota.”

Semua orang menyatakan setuju dan dengan tergesa-gesa dibuatlah dua stel pakaian pedagang garam untuk dipakai Syanti Dewi dan Ceng Ceng, juga mereka diberi masing-masing sebuah caping lebar bundar itu beserta sebuah pikulan terisi dua keranjang garam. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu berangkat meninggalkan dusun tanpa membangkitkan kecurigaan penduduk yang tidak tahu bahwa rombongan tujuh belas orang itu kini telah menjadi sembilan belas!

Perjalanan dari dusun itu menuju ke kota Tai-cou memakan waktu sehari. Di sepanjang perjalanan, para pedagang garam itu tentu saja membebaskan dua orang dara itu dari memikul garam dan hanya apa bila mereka melewati dusun-dusun saja kedua orang dara itu harus memikul garam.

Menjelang sore, tibalah rombongan ini di depan pintu gerbang kota Tai-cou. Semua orang menjadi tegang hatinya ketika mereka tiba di pintu gerbang itu dan terpaksa harus berhenti karena akan dilakukan pemeriksaan oleh para penjaga pintu gerbang yang dikepalai oleh seorang perwira komandan yang tinggi besar, galak dan brewok. Kebetulan sekali ketika rombongan pedagang garam yang berjumlah sembilan belas orang ini tiba, di pintu gerbang itu tiba pula rombongan pedagang garam dari lain daerah yang jumlahnya dua puluh orang lebih sehingga keadaan di situ menjadi ramai sekali.

“Haiiii!” Sang komandan yang melompat ke atas sebuah meja berteriak dengan tangan di pinggang, lagaknya keras dan angkuh sekali. “Kalian harus masuk seorang demi seorang! Setiap keranjang akan diperiksa, juga setiap orang akan diperiksa baik-baik karena dikhawatirkan ada penyelundup! Kalau kami dapat menangkap seorang saja penyelundup, kalian semua akan dihukum berat!”

Si kumis tebal sudah menyelinap dan mendekati komandan itu, berbisik perlahan sambil menyerahkan sebuah kantung berisi uang. “Maafkan, tai-ciangkun, kami tergesa-gesa sekali. Lihat, ada rombongan pedagang garam lain, kalau kami kalah dulu, tentu akan jatuh harga garam. Ini sedikit tanda terima kasih untuk tai-ciangkun dan kalau kami sudah menjual habis garam kami, tentu akan ditambah lagi…“

Perwira komandan itu menyambar kantung uang dan berkata kereng, “Hemm… kalian akan kuperbolehkan lewat lebih dahulu, tetapi tetap harus diperiksa! Keadaan sekarang gawat!”

Si kumis tebal telah mundur dan wajahnya pucat. Kalau sampai diperiksa dan ketahuan bahwa dua orang di antara mereka adalah wanita, tentu akan terjadi keributan, apa lagi kalau sampai sang puteri dikenal! Pada saat itu, terjadi keributan di bagian rombongan pedagang garam yang dua puluh orang lebih itu. Seorang pedagang garam yang mukanya hitam dan bopeng bekas penyakit cacar, berteriak-teriak dan mencak-mencak, “Hayaaa… celaka… siapa yang menaruh ular-ular ini di keranjangku…? Tentu pedagang garam dari barat, keparat…!”

Terjadilah gaduh dan ribut karena memang mendadak muncul banyak sekali ular-ular besar kecil di tempat itu! Ceng Ceng yang bermata tajam tadi melihat betapa pedagang garam yang bermuka hitam bopeng itu telah mengeluarkan bungkusan kain kuning dari dalam keranjang dan agaknya ular-ular itu keluar dari bungkusan itulah! Dan selagi Ceng Ceng termenung, tiba-tiba dia melihat betapa kaki si bopeng menendang seekor ular kecil. Ular itu melayang ke atas dan… mengenai dada komandan yang berdiri di atas meja. Tidak ada orang yang melihat gerakan ini kecuali Ceng Ceng. Si komandan berteriak-teriak dan mengebut-ngebutkan pakaiannya.

“Basmi semua ular…!” teriaknya kepada para anak buahnya. “Hayo kalian segera maju, jangan memenuhi tempat ini!” Teriaknya kepada rombongan si kumis tebal.

Menggunakan kesempatan selagi keadaan kacau balau itu, Ceng Ceng dan Syanti Dewi sudah memanggul pikulan masing-masing dan dengan desakan dari si kumis tebal mereka cepat memikul keranjang garam memasuki pintu gerbang.

“Haiii, diperiksa dulu… eihhh, celaka…!” Komandan yang berteriak itu kembali terkejut karena ada seekor ular hijau yang melayang dan mengenai mukanya, hampir menggigit hidungnya!

Ceng Ceng dan Syanti Dewi dapat lolos dengan cepat, kemudian dilindungi oleh para temannya, kedua orang dara itu melepaskan pikulan dan tergesa-gesa berjalan memasuki kota Tai-cou. Karena dia tidak memikul garam, maka setelah keadaan gaduh di pintu gerbang itu mereda dan semua pedagang diperiksa, dalam rombongan itu tidak lagi terdapat dua orang wanita ini dan mereka tidak dipanggil karena tidak ada penjaga yang menyangka bahwa dua orang yang berjalan pergi tanpa membawa pikulan itu adalah anggota rombongan pedagang garam. Apa lagi karena semua penjaga tadi sibuk membunuhi ular-ular itu sehingga perhatian mereka terpecah.

Semalam suntuk itu kedua orang dara itu melarikan diri. Mereka maklum bahwa kalau mereka tidak cepat- cepat meninggalkan kota Tai-cou, keadaan mereka masih terancam bahaya besar, sungguh pun sampai saat itu tidak ada yang mencurigai mereka.

Dengan mudah mereka telah lolos dari Tai-cou, keluar dari pintu sebelah utara dan menempuh perjalanan di sepanjang malam yang gelap tanpa arah tujuan tertentu kecuali hanya satu keinginan, yaitu melarikan diri sejauh mungkin dari Tai-cou yang merupakan benteng terakhir dari kekuasaan Tambolon. Dan mereka hanya tahu bahwa mereka melarikan diri menuju ke timur. Dengan melihat letaknya bintang, mereka dapat mengarahkan kaki menuju ke timur.

Pada kesokan harinya, mereka beristirahat sebentar di sebuah hutan, makan roti kering yang mereka bawa sebagai bekal dari pemberian para pedagang garam, minum air jernih yang mereka dapatkan di hutan itu, lalu berbaring di atas rumput melepaskan lelah.

“Aihhhhh… bukan main nyamannya rebah begini…,” Sang Puteri Syanti Dewi mengeluh nikmat. “Dan roti kering tadi, betapa lezatnya, air jernih itu juga menyegarkan sekali. Belum pernah selama hidupku aku dapat menlkmati makan-minum dan tiduran seperti ini!”

Mendengar ini, Ceng Ceng tertawa bebas sampai kelihatan deretan gigi dan lidahnya. Karena di situ tidak ada orang lain, maka dia tertawa sebebasnya. Mendengar ini, Syanti Dewi memandang heran. ”Eh, kau kenapa, adik Candra? Mengapa tertawa segembira itu?”

“Aku geli mendengarkan ucapanmu tadi, enci Syanti, dan mungkin aku tertawa karena merasa lega dan gembira telah terbebas dari bahaya. Ucapanmu tadi membuat aku teringat akan dongeng tentang raja yang tidak suka makan dan tidak dapat tidur….”

“Raja itu meninggalkan istana karena merasa jengkel, dan di tengah hutan dia melihat seorang petani mencangkul tanah lalu makan dengan lahapnya. Raja lalu membantu si petani, mencangkul tanah untuk mendapatkan semangkok nasi dan lauknya yang hanya terdiri dari ikan asin, dan minumnya yang hanya terdiri dari air jernih. Setelah dia selesai bekerja keras sampai tangannya lecet-lecet dan tubuhnya lelah bukan main, dia memperoleh makan minum itu dan menikmatinya seperti belum pernah dirasakannya selama hidupnya! Persis seperti keadaanmu ini! Engkau adalah seorang puteri raja yang tiap hari makan hidangan yang serba mahal, sekarang makan roti kering minum air jernih, tidurmu bukan di dalam kamar indah dan berlandaskan kasur tebal melainkan di hutan, di atas rumput, namun engkau merasa nikmat sekali! Hi-hik, bukankah lucu ini?”

Syanti Dewi tertawa juga. “Kau samakan aku dengan raja di dalam dongeng? Jangan begitu, ah! Dia sih pemalas, kalau aku kan tidak! Tetapi aku pun heran sekali mengapa aku dapat menikmati ini semua. Pengalaman ini telah membuka mataku, adik Chandra, bahwa yang dikatakan enak atau tidak enak, menyenangkan atau tidak menyenangkan, sama sekali bukanlah bergantung kepada keadaan di luar, melainkan kepada hati sendiri! Kepada hati dan kepada tubuh, pendeknya bergantung kepada diri sendiri….”

“Lezatnya makanan bukan berada di mangkok, baik buruknya sesuatu bukan ada di depan kita, melainkan di dalam diri kita sendiri. Pikiranku sekarang sedang lega karena lepas dari bencana, tubuh lelah dan perut lapar. Tentu saja segala makanan dan minuman terasa lezat sekali! Rumput ini jauh lebih nikmat ditiduri dari pada segala macam kasur bulu karena sekarang tubuhku sedang lelah sekali. Jadi kalau begitu… pernyataan bahwa ini enak itu tak enak, ini baik itu tak baik, bukan kenyataan sebenarnya, melainkan pendapat hati yang dipengaruhi oleh keadaan waktu itu.”

“Hemm… lalu bagaimana?” Ceng Ceng mengerutkan alisnya yang berbentuk bagus, matanya memandang dengan sinar gembira karena dia mulai dapat menangkap yang dimaksudkan dalam ucapan kakak angkatnya itu.

“Kalau begitu… sejatinya tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini. Kita sendiri yang menentukan! Dan… ahh, aku jadi bingung sendiri menghadapi kenyataan yang jelas ini! Biasanya kita selalu dipermainkan oleh pikiran sendiri yang suka mengada-ada saja!”

Ceng Ceng sudah tidak dapat menjawab karena dia hampir tidak dapat menahan kantuknya, hanya mengangguk lemah dan menutupi mulut dengan jari tangan menahan mulut yang ingin menguap saja. Tak lama kemudian, kedua orang dara itu telah tertidur pulas di bawah pohon, berlandaskan rumput yang lunak. Tubuh yang lelah menuntut istirahat setelah perut yang lapar diisi kenyang.

Matahari telah naik tinggi ketika kedua orang dara itu terbangun dan mereka menjadi terkejut melihat bahwa hari telah siang. Mula-mula Syanti Dewi yang terbangun lebih dulu. Dia terbangun seperti orang kaget dan bangkit duduk, menggosok kedua matanya dan mengeluh lirih. “Uuhhh, kiranya hanya mimpi…,” bisiknya karena dia telah mimpi tertangkap dan dihadapkan kepada Raja Muda Tambolon! Ketika mendapat kenyataan bahwa matahari telah naik tinggi, dia menoleh kepada Ceng Ceng.

“Haiii, adik Candra! Bangun! Sudah siang…!” Dia mengguncang pundak adik angkatnya itu.

Ceng Ceng terbangun dan bangkit duduk, menahan kuapnya dengan punggung tangan kiri. “Wah, keenakan tidur, enci Syanti. Rasanya malas untuk bangun!”

“Hushhh, jangan malas! Matahari telah naik tinggi dan kita masih enak-enak tidur di sini. Perjalanan masih amat jauh, mari kita lanjutkan, adikku.”

Ceng Ceng sudah bangun berdiri dan kini teringatlah dia akan keadaan mereka. “Aihhh, hampir aku lupa bahwa kita adalah pelarian yang dikejar musuh! Mari, enci Syanti Dewi!”

Ketika dua orang dara itu melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Ceng Ceng memegang lengan puteri dan berbisik sambil menuding ke kanan, “Lihat itu…!”

Syanti Dewi menengok, dan sang puteri menutupkan tangan ke depan mulut menahan jeritnya. Tidak jauh dari situ tampak tubuh seorang laki-laki setengah tua rebah di atas tanah, telah menjadi mayat dan mukanya yang terlentang itu memperlihatkan sepasang mata yang terbelalak lebar tanpa sinar. Di tenggorokan orang itu tampak luka berlubang dan darah masih menetes dari luka itu, tanda bahwa orang ini belum lama terbunuh.

“Dan di sana itu… lihat, enci!” Kembali Ceng Ceng berbisik.

Kakak angkatnya menengok dan makin terkejut karena di sebelah kiri, hanya terpisah belasan meter dari situ, juga tampak sebuah mayat yang lehernya berlubang! Mereka berdua saling pandang, kemudian Ceng Ceng menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat ke atas pohon besar dan dari tempat tinggi ini Ceng Ceng memandang ke sekeliling, memeriksa.

Namun tidak tampak bayangan seorang pun manusia dan dari tempat tinggi itu dia melihat bahwa bukan hanya ada dua orang mayat di situ, melainkan ada delapan orang! Delapan orang telah mengurung tempat dia dan kakak angkatnya tidur tadi dan kini delapan orang itu telah mati semua dengan leher berlubang, mungkin terkena senjata rahasia yang ampuh! Setelah yakin bahwa tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, dia turun lagi dan menceritakan kepada kakak angkatnya apa yang telah dilihatnya dari tempat tinggi tadi.

“Ahhh, kalau begitu, tentu mereka itu musuh yang tadinya mengepung kita, dan ada sahabat yang telah menolong kita,” kata sang puteri.

Ceng Ceng mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia juga dapat menduga demikian, akan tetapi hatinya tidak senang kepada penolongnya yang bersikap rahasia itu! Kalau memang orang bersahabat, mengapa tidak menolong secara berterang? Pula, dia pun belum dapat yakin benar bahwa delapan mayat itu adalah pihak musuh.

“Lebih baik kita cepat pergi dari sini, enci,” katanya. Syanti Dewi hanya mengangguk, dan berangkatlah mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Sore hari mereka tiba di sebuah dusun yang terpencil, sebuah dusun yang cukup besar di kaki gunung. Karena letaknya yang terpencil ini, maka dusun itu agaknya menjadi pos peristirahatan mereka yang melakukan perjalanan di daerah itu, dan di situ terdapat pula sebuah rumah penginapan sederhana dan sebuah warung nasi. Karena merasa ngeri dengan pengalaman mereka tadi, dua orang gadis itu mengambil keputusan untuk bermalam di rumah penginapan.

Para pelayan rumah penginapan hanya sebentar memandang dengan heran karena dalam keadaan kacau seperti itu, daerah yang sering kali terjadi perang antara pasukan Raja Muda Tambolon melawan pasukan Ceng atau pasukan Bhutan, tak terlalu mengherankan melihat dua orang gadis yang berpakaian seperti petani biasa dan memakai caping lebar, melakukan perjalanan berdua saja.

Banyak sudah wanita-wanita muda yang ketakutan akan perang melarikan diri ke timur karena sudah terkenal betapa pasukan anak buah Raja Muda Tambolon amat kejam terhadap tawanan wanita, apa lagi yang masih muda dan cantik. Tentu wanita itu akan dijadikan perebutan dan akan dipermainkan oleh banyak orang sampai mati dalam keadaan menyedihkan dan mengerikan sekali.

“Ji-wi kouwnio hendak menginap?” tanya seorang pelayan dengan sikap ramah.

Ceng Ceng merogoh saku dan mengeluarkan potongan perak. Dia memperlihatkan perak itu sambil berkata, “Kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur, harap pilihkan yang bersih.”

Melihat potongan perak itu, sikap si pelayan bertambah hormat. Ia maklum bahwa yang membawa uang perak dalam perjalanan hanyalah orang-orang dari kalangan ‘atas’, kalau bukan puteri-puteri hartawan tentulah wanita-wanita kang-ouw yang membekal banyak uang. Sambil mengangguk dan tersenyum lebar dia lalu menjawab, “Harap ji-wi jangan khawatir. Mari, silakan masuk!”

Tentu saja kamar yang bersih dalam rumah penginapan itu sebetulnya masih terlalu kotor bagi Syanti Dewi karena kamar yang katanya paling bersih itu masih jauh lebih kotor dari pada kamar dapur di istananya!

Setelah mencuci muka dan makan malam, kedua orang dara itu lalu duduk di atas pembaringan di dalam kamar mereka dan bercakap-cakap dengan suara perlahan setengah berbisik. “Aku khawatir bahwa peristiwa di hutan itu akan ada lanjutannya, enci Syanti. Yang jelas saja, delapan orang itu mati tentu ada yang membunuh, dan si pembunuh tentu tahu akan keadaan kita. Aku merasa seolah-olah kita di sini pun kini sedang diawasi orang.”

Syanti Dewi mengangguk. “Aku pun mempunyai perasaan demikian, Candra. Namun, kurasa orang yang membunuh mereka itu bukanlah musuh. Kalau musuh, tentu dia atau mereka sudah turun tangan ketika kita tertidur di hutan!”

“Perjalanan kita masih amat jauh dan biar pun kita sudah melewati kota Tai-cou, namun kita akan melewati daerah yang sama sekali tidak kita kenal dan menurut kongkong… eh, mendiang kongkong…” Sampai di sini, Ceng Ceng tak dapat melanjutkan ucapannya karena lehernya terasa seperti dicekik ketika dia teringat kepada kakeknya yang tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan jenazahnya pun tidak sampai terkubur!

Syanti Dewi mengerti akan keharuan hati adiknya, maka dia merangkul sambil berkata, “Ahhh, kongkong- mu telah berkorban nyawa demi keselamatanku, adikku! Entah bagai mana aku akan dapat membalas budi kongkong-mu itu …”

Ceng Ceng cepat menekan hatinya dan dia berkata agak keras, “Jangan berkata begitu, enci!”

Sejenak mereka termenung, kemudian terdengar lagi Syanti Dewi berkata, “Engkau adalah seorang dara perkasa, di dalam tubuhmu mengalir darah keturunan petualang kang-ouw yang berani dan perkasa! Agaknya, bagimu keadaan kita ini tidaklah terasa berat, Candra. Akan tetapi aku…! Sejak kecil aku hidup mewah dan senang, sekarang, aku harus menderita kesengsaraan seperti ini, maka tidak mengherankan kalau aku sampai bersikap cengeng, adikku. Bagaimana aku tidak akan berduka? Bukan hanya kongkong- mu tewas, juga menurut cerita para pedagang garam, sebagian besar para anggota rombongan yang mengawalku tewas dalam perang. Dan semua ini gara-gara aku seorang! Bahkan sekarang…, adikku yang tercinta, engkau pun harus menderita karena mengawalku!”

Ceng Ceng tertawa. “Kata siapa aku menderita, enci? Aku sama sekali tidak menderita!”

“Apa? Tidak usah berpura-pura. Pakaian kita pun hanya yang menempel di tubuh kita! Tak pernah dapat berganti pakaian, padahal sudah berapa lama? Seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan aku berani bertaruh bahwa tentu ada kutu di pakaian kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menggaruk-garuk dada kirinya dan kelihatan dia merasa ngeri. “Aihhh, jangan bicara tentang kutu, enci! Marilah kita pikirkan dengan tenang dan sejujurnya. Benar bahwa engkau adalah seorang puteri yang tidak pernah menderita kesengsaraan hidup. Akan tetapi apa bedanya dengan aku? Aku pun hanya seorang gadis dusun yang belum pernah melakukan perantauan. Keadaan kita sama saja, enci. Akan tetapi betapa pun juga, kita tidak boleh putus asa, tidak boleh merasa gelisah. Kegelisahan hanya akan membuat kita tidak tenang dan mengurangi kewaspadaan kita. Biarlah kita saling melindungi dan aku bersumpah bahwa aku takkan meninggalkanmu. Aku pasti akan dapat memenuhi pesan mendiang kongkong, yaitu mengantarkan enci sampai ke kota raja dan di sana kita dapat minta bantuan Puteri Milana seperti yang dipesankan kongkong.”

Melihat sikap Ceng Ceng yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat Puteri Syanti Dewi. Dia mengepal tinju dan berkata, “Ah, kiranya tidak percuma pula aku dulu tekun mempelajari ilmu silat, apa lagi memperoleh petunjuk-petunjukmu, adik Candra. Saat ini, aku bukan puteri kerajaan, tetapi seorang dara kang-ouw yang berpetualang dan siap menghadapi bahaya apa pun juga! Kalau ada bahaya mengancam, hemmm… haiittttt…!” Puteri itu membuat gerakan silat dengan kaki tangannya, seolah-olah dia mengamuk dan merobohkan para pengeroyoknya. Sikapnya lincah dan lucu sehingga Ceng Ceng tertawa dan merangkul kakak angkatnya itu.

“Bagus! Begitulah seharusnya, enci. Kita seperti sepasang burung yang terbang lepas di udara. Bebas dan kita boleh berbuat apa saja menurut kehendak kita sendiri. Bukankah itu menyenangkan sekali? Coba, kalau kita masih berada di istana, lalu enci ingin makan roti kering dan air, ingin menginap di kamar yang begini bersahaja, tentu akan dilarang oleh sri baginda!”

Kedua orang dara itu bercakap-cakap sambil bersenda-gurau dan mereka sudah lupa lagi akan peristiwa siang tadi di hutan. Tak lama kemudian dua orang dara itu telah tidur nyenyak saling berpelukan di atas sebuah pembaringan dan membiarkan pembaringan kedua kosong. Dengan berdekatan di waktu tidur, mereka lebih besar hati dan aman!

Kurang lebih lewat tengah malam kedua orang gadis itu terbangun karena kaget mendengar suara gaduh di atas kamar mereka. Mula-mula Ceng Ceng yang terbangun lebih dulu dan otomatis dia meloncat turun dari pembaringan. Pada saat itu Syanti Dewi juga terbangun dan puteri ini berbisik, “Suara apa itu…?”

Ceng Ceng sudah menyambar bungkusan perhiasan dan topi mereka yang tadi mereka taruh di atas meja, menyimpan bungkusan di dalam saku bajunya yang lebar, kemudian menyerahkan topi caping yang sebuah kepada puteri itu sambil berbisik, “Sssttttt, ada orang bertempur di atas genteng…“

Keduanya sudah siap dan mencurahkan perhatiannya ke atas. Makin jelas kini suara orang bertanding di atas dan menurut dugaan Ceng Ceng yang lebih tajam pendengarannya, sedikitnya ada lima orang bertanding di atas genteng kamarnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi karena biar pun mereka bergerak cepat, namun tidak ada kaki yang memecahkan genteng yang diinjak. Yang terdengar hanya suara angin menyambar-nyambar, angin senjata tajam dan kadang-kadang terdengar suara nyaring beradunya senjata tajam.

Tiba-tiba di antara suara beradunya senjata dan berdesingnya angin gerakan senjata tajam, terdengar suara seorang laki-laki berpantun, suaranya nyaring dan seperti tidak ada artinya, namun bagi sepasang gadis itu pantun yang dinyanyikan memiliki arti penting. Yang mengherankan hati Ceng Ceng dan mendebarkan adalah suara itu, seperti suara yang telah dikenalnya!

Sepasang merpati terkurung tiada jalan terbang lari, dihadang depan belakang maut mengintai dari utara
di sepanjang lembah sungai!

“Enci Syanti, mari kita cepat lari…!”

Puteri itu meragu. “Mengapa lari? Di luar… bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga di sini dan kalau ada bahaya baru kita membela diri.”

“Sssttt… kau turutlah aku, enci. Cepat!” Ceng Ceng sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya keluar dari kamar dan terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap, melalui pintu belakang dan terus lari tanpa menoleh lagi.

“Kita lari ke mana, Candra?” puteri itu bertanya, heran kenapa adik angkatnya ini tanpa ragu-ragu melarikan diri ke arah tertentu.

“Enci, ingatlah kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata-kata itu adalah terkurung-lari- belakang-utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai.”

Syanti Dewi terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik angkatnya, akan tetapi juga ingin sekali tahu siapa orang yang berpantun dan yang menolong mereka itu.

“Dia siapa, adik Candra?” tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.

“Entahlah, akan tetapi suaranya seperti… heiiii!” Mendadak Ceng Ceng menghentikan larinya karena dia kini teringat akan suara itu. “Tentu saja dia orangnya!”
“Apa katamu?” Syanti Dewi berusaha menyelidiki muka Ceng Ceng di dalam gelap itu. “Dia siapa?”

“Penolong kita itu, yang berpantun tadi… suaranya seperti si muka bopeng yang bikin ribut dengan ular-ular di Tai-cou itu dan… dan… wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menarik tangan Syanti Dewi dan dia sendiri sudah melepas topi capingnya, menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dilihat bayangan itu hendak menangkap Syanti Dewi.

“Prakkkk!”

Ceng Ceng terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantakan. Dara ini kaget bukan main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan sinkang-nya sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat merobohkan orang.

Namun bayangan itu menangkis dengan lengannya. Akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, akan tetapi dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu! Dia teringat akan pesan kongkong-nya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah dalam bajunya.

“Hyaaatttt…!” Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan yang dahsyat dan lihai sekali, apa lagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!

“Plak-plak… wuuuutttt…!”

Kembali Ceng Ceng tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap, menangkis lengan kanan kiri, bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubun- ubun kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan celakalah dia! Kini, bayangan itu menerjangnya dengan kecepatan yang mengerikan.

Akan tetapi Ceng Ceng tidak menjadi gentar. Dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau, melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepalanya sehingga kuncir rambutnya menyambar seperti seekor ular hidup ke arah mata orang itu!

“Sing, sing…! Plakkk!”

Ceng Ceng mengeluarkan teriakan kaget karena selain sepasang pisaunya dapat dielakkan orang, juga kuncirnya hampir saja dapat ditangkap kalau saja dia tidak dapat melepaskan tendangan yang amat kuat dan membuat lawan itu terpaksa menarik kembali tangannya yang akan menangkap kuncir.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh orang itu mencelat ke depan dan sebelum Ceng Ceng dapat mencegahnya, bayangan itu sudah menangkap Syanti Dewi! Puteri ini memekik dan berusaha memukul, akan tetapi tingkat kepandaian puteri ini masih jauh sekali di bawah tingkat lawannya yang amat lihai, maka sekali orang itu menggerakkan tangan, tubuh itu telah menjadi lemas tertotok dan dia telah dipondong!

“Jahanam, lepaskan dia!” Ceng Ceng sudah menerjang maju dengan lompatan dahsyat. Hatinya marah bukan main dan sedikit pun dia tidak takut menghadapi lawan yang tangguh itu, yang dia khawatirkan adalah Puteri Syanti Dewi, maka begitu menerjang maju dia telah menggunakan sepasang pisaunya untuk menyerang dan berusaha merampas tubuh Syanti Dewi yang telah dipondong orang itu.

Namun ternyata lawan gelap itu lihai bukan main, gerakannya ringan sekali sehingga dia dapat mengelak dengan melompat ke kanan kiri. Selain lawan memang lihai, juga Ceng Ceng merasa kurang leluasa gerakannya karena dia takut kalau-kalau senjatanya mengenai tubuh enci angkatnya. Kemudian dengan beberapa lompatan jauh, orang itu melarikan diri meninggalkan Ceng Ceng.

“Iblis, hendak lari ke mana kau?” Ceng Ceng tentu saja mengejar secepatnya.

Namun dia kalah cepat dan hal ini terutama sekali disebabkan karena Ceng Ceng belum hafal akan keadaan di situ sehingga tentu saja dalam berlari cepat dia harus berhati-hati agar jangan sampai terjatuh dan ketinggalan makin jauh lagi. Dia sudah mulai gelisah sekali karena orang yang melarikan Syanti Dewi itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba-tiba orang itu berteriak dan roboh terguling! Tubuh Syanti Dewi yang masih lemas tertotok juga ikut terguling, akan tetapi tiba-tiba ada tangan menyambarnya dan tubuh itu seketika terbebas dari totokan. Syanti Dewi mengeluh dan cepat menjauhkan diri sambil terhuyung-huyung dan berpegang kepada sebatang pohon.

Ketika Ceng Ceng tiba di tempat itu, orang yang melarikan Syanti Dewi tadi telah lari, dikejar bayangan lain yang agaknya tadi merobohkan penculik itu dan membebaskan totokan Syanti Dewi. Dalam sekejap mata saja dua bayangan yang berkejaran itu telah lenyap dari situ.

“Engkau tidak apa-apa, enci?” Syanti Dewi menggeleng kepalanya.
Ceng Ceng merasa gembira. Cepat dia memegang lengan puteri itu dan diajaknya terus lari ke utara, seperti yang dipesankan dalam pantun oleh penolong mereka yang aneh. Siapakah penolong itu? Apakah yang menolong Syanti Dewi dari tangan penculik itu pun sama orangnya dengan yang tadi berpantun di atas kamar penginapan sambil bertanding, dan sama pula dengan si muka bopeng yang melepas ular di pintu gerbang Tai-cou?

Ceng Ceng merasa heran dan bingung. Kalau benar orangnya hanya satu, tentu orang itu lihai bukan main. Dia tahu betapa orang-orang yang bertanding di atas kamar penginapan itu memiliki ginkang yang amat tinggi, dan kalau penolongnya hanya seorang, berarti dia itu dikeroyok! Tadi pun dia mendapat kenyataan yang tak mungkin dibantah bahwa penculik Syanti Dewi adalah orang lihai yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada dia. Namun penolong itu dalam segebrakan saja mampu merampas Syanti Dewi!

Selain itu, juga hatinya khawatir sekali. Mudah saja diduga bahwa pihak musuh sudah mengenal penyamaran mereka, sudah tahu bahwa yang menyamar sebagai gadis-gadis petani itu, yang seorang adalah Syanti Dewi. Bahkan di dalam gelap, penculik tadi sudah dapat menentukan mana yang harus diculiknya! Kalau begini, berbahayalah!

“Mari cepat, enci!” Dia berkata dan mereka berlari secepatnya.

Namun, betapa pun mereka hendak bersicepat, tetap saja mereka menabrak pohon! Apa lagi ketika mereka tiba di sebuah hutan yang penuh pohon. Mereka tidak dapat berlari lagi dengan baik, hanya meraba-raba dan menyelinap di antara pohon-pohon, kadang-kadang hampir terguling karena kaki mereka terjerat akar pohon atau semak-semak.

Dengan napas terengah-engah Syanti Dewi mengeluh, “Aduuhhhh… kita berhenti dulu… ahhh, lelah sekali…”

“Jangan, enci. Banyak musuh yang lihai… mereka sudah mengenal engkau!”

Ucapan Ceng Ceng ini membuat sang puteri terkejut sekali. “Be… benarkah mereka telah mengenaliku? Celaka… hayo… hayo lari cepat…”

Kini Syanti Dewi yang lari lebih dulu, lari dengan nekat karena takut! Dia merasa ngeri kalau sampai tertawan dan dibawa kepada Raja Muda Tambolon… ahh, tidak berani dia membayangkan nasib seperti itu, maka dia lari secepatnya.

“Enci… hati-hati… !” Kini Ceng Ceng yang merasa khawatir melihat puteri itu lari cepat dengan nekat tanpa melihat-lihat ke depan.

“Oughhh…!” Tiba-tiba Syanti Dewi menjerit, tubuhnya terguling masuk ke dalam jurang! “Enci Syanti…!” Ceng Ceng menjerit.
Cepat dia menjatuhkan diri menelungkup, kemudian merangkak mendekati jurang yang hanya kelihatan menghitam di dalam gelap. Dapat dibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang puteri terjerumus ke dalam jurang yang gelap!

“Enci Syanti…!” Dia berteriak ke bawah, ke arah sumur menghitam yang menganga di depannya. Sampai lama tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Akan tetapi selagi dia hendak memanggil lagi, terdengar suara lemah dari bawah.

“Adik Candra…!”

Jantung Ceng Ceng berdebar girang, akan tetapi bulu tengkuknya meremang juga. Terjerumus ke dalam jurang segelap itu, benar-benarkah sang puteri masih hidup dan selamat? Jangan-jangan yang memanggil dirinya tadi adalah… arwahnya! Ceng Ceng menggunakan tangan kiri mengusap tengkuknya yang meremang, lalu menjulurkan tubuh atasnya ke dalam sambil berteriak lagi, “Enci Syanti… di mana engkau…?”

“Aku di sini… aku selamat, Candra. Untung ada pohon di sini yang menahan tubuhku. Tidak jauh, aku dapat melihatmu dari sini, mungkin kau tidak dapat melihat karena di bawah gelap. Lekas kau cari tali, tak perlu panjang kurasa sepuluh kaki cukuplah… aku dapat memanjat ke atas melalui tali…”

Girang sekali rasa hati Ceng Ceng. Sekarang dia dapat menangkap suara puteri itu dan memang tidak jauh di bawah. Sepuluh kaki? “Enci, hanya sepuluh kaki, mengapa kau tidak meloncat saja?”

“Ah, tidak mungkin. Pohon ini kecil, jika dipakai landasan meloncat mungkin tidak kuat. Pula, begini gelap, bagaimana aku dapat meloncat dengan tepat ke atas? Lekas cari tali…”

Ceng Ceng bingung lagi. Ke mana harus mencari tali di dalam gelap seperti itu, apa lagi di dalam hutan? Akhirnya dia mendapat akal baik. Tanpa ragu-ragu lagi ditanggalkannya semua pakaiannya setelah dia mengeluarkan perhiasan dan uang perak dan emas ke atas tanah. Ditanggalkannya bajunya, celananya, baju dalam dan celana dalam.

Seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia menjadi telanjang bulat sama sekali! Lalu, sambil meraba- raba, dia sambung-sambungkan semua pakaian itu setelah digulungnya hingga merupakan gulungan kain yang bersambung-sambung, yang kemudian, dengan tubuh telanjang bulat, dia bertiarap di tepi jurang, menggulung-gulungkan kain itu sambil berteriak, “Enci Syanti… ini talinya…!”

“Ke sini, Candra. Di sebelah sini…!” Terdengar jawaban dari bawah dan Ceng Ceng mengulur tali ke arah suara itu.

Tak lama kemudian tali menegang, telah dapat terpegang oleh Syanti Dewi. “Eh, dari mana kau memperoleh tali kain ini…?”
“Naiklah, enci. Ujung sini sudah kupegang erat. Hati-hati…“

Ceng Ceng mengerahkan tenaganya menahan ketika Syanti Dewi mulai memanjat naik. Tak lama kemudian, puteri itu sudah meloncat ke atas tanah. Dia menubruk Ceng Ceng dan keduanya saling berpelukan dan menangis! Menangis karena girang dan bersyukur bahwa Syanti Dewi selamat dari bahaya maut yang mengerikan itu.

“Heiiiii…! Kau… kau… telanjang bulat…!” Tiba-tiba Syanti Dewi berseru kaget dan heran sambil meraba- raba tubuh Ceng Ceng. Ceng Ceng menggeliat kegelian dan memegang tangan Syanti Dewi.

”Itulah tali yang memancingmu keluar jurang, enci!”

Syanti Dewi tertawa, dan keduanya tertawa-tawa gembira ketika Ceng Ceng mulai memakai lagi pakaiannya yang tadi telah dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa enci angkatnya. Kini dia merasa tubuhnya panas dingin kalau membayangkan betapa akan jadinya kalau hal itu terjadi di siang hari dan kebetulan ada orang yang melihat dia bertelanjang bulat seperti seorang bayi tadi!

“Mari kita mencari tempat untuk beristirahat, enci. Malam terlalu gelap. Melanjutkan perjalanan berbahaya sekali, apa lagi kita sudah memasuki hutan di pegunungan. Masih untung Thian melindungimu ketika kau terjerumus tadi. Kalau tidak ada pohon itu, apa jadinya?”

“Ahhh, paling-paling mati, adikku! Dan agaknya hal itu jauh lebih baik dari pada jatuh ke tangan Tambolon.” “Jangan putus asa, enci. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku “
Mereka melanjutkan perjalanan, dan sekarang dengan sangat hati-hati. Setelah mereka mendapatkan sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan, yaitu di bawah satu pohon yang diapit oleh batu-batu gunung yang besar, keduanya berhenti dan duduk beristirahat di atas rumput, bersandar kepada batu gunung. Mereka berusaha untuk melepaskan lelah dan beristirahat secukupnya.

“Tidurlah, enci Syanti, biarlah aku menjaga di sini.”

“Hemm, dinginnya bukan main. Mana bisa tidur? Bagaimana kalau kita membuat api unggun?”

“Ahhh, berbahaya, enci. Api unggun itu akan menarik perhatian orang, dan pula dapat kelihatan dari tempat jauh.”

Tubuh mereka memang dapat beristirahat, akan tetapi hati mereka selalu tegang dan siap siaga menghadapi segala bahaya yang mungkin datang menimpa. Malam itu gelap bukan main, agaknya bintang-bintang di langit dihalangi awan hitam.

Dalam keadaan segelap itu, di dalam hutan yang asing, apa lagi setelah mengalami hal-hal yang mengerikan, kedua orang dara itu tentu saja merasa khawatir dan gelisah. Mereka duduk berhimpit bersandarkan batu, mata mencoba menembus kegelapan malam dan memandang ke kanan kiri, telinga mereka dicurahkan untuk mendengar apa yang tak dapat dilihat mata.

Mereka selalu merasa seolah-olah diikuti oleh sesuatu, entah manusia, binatang atau setan! Bahkan ketika sedang duduk di tempat itu, mereka merasa ada mata yang memandang mereka, ada sesuatu yang memperhatikan mereka! Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati mereka. Syanti Dewi adalah seorang puteri yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, apa lagi malam- malam berkeliaran di dalam hutan gelap!

Ada pun Ceng Ceng, biar pun ia seorang dara perkasa yang sejak kecilnya digembleng oleh kakeknya, namun perjalanan seperti ini pun baru pertama kali dia alami bersama Syanti Dewi itu.

Mereka makin berhimpitan, dan makin siap dengan jantung berdebar tegang sekali ketika di dalam kegelapan malam pekat itu mereka seperti mendengar suara-suara yang aneh. Beberapa kali mereka mendengar suara gerengan dari tempat agak jauh, suara lolong anjing, dan lapat-lapat seperti ada orang bernyanyi! Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka!

Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syarat mereka menegang karena mereka menduga bahwa sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka. Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatirkan musuh akan datang menyerang mereka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi, tidak ada sesuatu terjadi! Bahkan menjelang pagi, suara itu lenyap sama sekali.

Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri. “Hayo kita tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Syanti,” kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu dapat mereka lewatkan dengan selamat.

“Suara apakah semalam, Candra? Menyeramkan sekali!”

“Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin di sini sebuah perkampungan siluman yang tentu saja tidak tampak.”

Syanti Dewi segera bergidik, memegang tangan adik angkatnya dan bergegas mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan mengantuk, tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tempat itu.

“Haii… banyak bangkai anjing di sini…!” Tiba-tiba Ceng Ceng berseru heran saat mereka keluar dari tempat itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melintang dalam keadaan mati, ada yang lehernya hampir putus, ada pula yang kepalanya pecah. Darah masih belum kering betul, menunjukkan bahwa gerombolan serigala ini dibunuh orang semalam!

“Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!” bisik Syanti Dewi sambil menengok ke kanan kiri.

Juga Ceng Ceng menoleh ke kanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik. “Heran sekali, siapa yang membunuh mereka semalam? Aku mendengar suara orang, seperti orang bernyanyi…”
“Aku juga!” kata Syanti Dewi. Semalam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena merasa ngeri.

“Dan ada suara langkah-langkah kaki orang…” “Benar, aku pun mendengarnya.”
“Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci.” “Siapa dia gerangan?”
“Tidak peduli siapa, aku sama sekali tidak takut!” Ceng Ceng menjadi penasaran dan sudah mencabut sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak, “Heiii, orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk, mari kita bertanding sampai seribu jurus!”

Akan tetapi dara itu seperti menantang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir yang mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, kembali mereka tertegun ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga.

Seperti juga gerombolan serigala tadi, dua ekor harimau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Ceng Ceng memeriksa, diam-diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang membunuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jeri juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan serigala tadi, tetapi cepat mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan ke utara.

Pada tengah hari, tibalah mereka di tepi sebuah sungai! Girang hati mereka karena ternyata nasehat penolong yang berpantun itu ternyata cocok! Mereka tidak mengenal daerah itu dan tidak tahu sungai apakah itu, akan tetapi mereka tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang aman. Mereka harus menyeberangi sungai itu dan melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, tempat ini sunyi sekali. Sungai itu mengalir tenang melalui hutan-hutan dan pegunungan.

Sungai itu adalah Sungai Nu-kiang (Salween) yang bermata air di Gunung Thangla, mengalir ke selatan memasuki Negara Birma. Tanpa sepengetahuan mereka, dua dara itu telah tiba di kaki Pegunungan Heng- toan-san. Tentu saja lembah Sungai Nu-kiang di pegunungan ini amat sunyi sehingga sukarlah bagi mereka untuk mencari perahu agar dapat menyeberang. Tempat itu jauh sekali dari perkampungan nelayan.

Akan tetapi, setelah mereka menyusuri sungai sampai jauh, dari jauh nampak sebuah perahu kecil di pinggir sungai, sebuah perahu kosong! “Di sana ada perahu, adik Candra!” Syanti Dewi berkata girang sambil menuding ke depan.

Ceng Ceng juga sudah melihatnya dan gadis ini memegang tangan kakak angkatnya sambil berkata, “Enci Syanti, karena kita, terutama engkau, adalah orang-orang pelarian yang sedang dikejar-kejar musuh, maka kurasa sebaiknya mulai saat ini engkau jangan menggunakan nama Syanti Dewi sebelum kita selamat di kota raja Kerajaan Ceng.”

Syanti Dewi mengangguk-angguk. “Engkau benar juga, adikku. Lalu nama apakah yang sebaiknya kupergunakan?”

“Bagaimana jika namamu menjadi Sian Cu? She-nya boleh memakai she-ku, yaitu she Lu.” “Lu Sian Cu? Nama yang bagus sekali!” Syanti Dewi atau Sian Cu berkata girang.
“Dengan nama ini, kalau sekali waktu aku lupa dan menyebutmu enci Syanti, biarlah disangka menyebutmu Sian-ci (kakak Sian). Dan seperti engkau tahu, namaku adalah Lu Ceng. Kita berdua kini mengaku sebagai gadis dari daerah perbatasan yang lari mengungsi ke timur.”

“Baiklah, adik… Ceng. Ah, hampir aku menyebutmu Candra yang bagiku terdengar lebih manis.”

“Nah, mari kita dekati perahu itu. Heran sekali, ke mana tukang perahunya?” Mereka melangkah lagi mendekati perahu dan setelah tiba di dekat tempat di mana perahu itu tertambat di tepi sungai, tampak seorang laki-laki sedang tidur di atas tanah, berbantal batu yang dilandasi kedua tangannya. Laki-laki itu tidur nyenyak, terdengar suara dengkurnya yang keras.

Ceng Ceng dan Syanti Dewi atau kini lebih baik disebut nama barunya yaitu Sian Cu, mendekati tukang perahu yang sedang tertidur nyenyak itu dan memandang penuh perhatian. Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, cukup tegap dan tampak kuat karena agaknya biasa bekerja berat, pakaiannya bersih akan tetapi telah terhias beberapa tambalan di dekat lutut dan siku, pakaian sederhana seorang petani atau nelayan, semodel dengan yang dipakai dua orang gadis itu. Sukar ditaksir usia orang itu. Melihat bentuk mukanya, dia kelihatan masih muda sekali, akan tetapi kumis dan jenggotnya yang hitam gemuk dan liar tak terpelihara membuat muka itu kelihatan lebih tua. Model seorang nelayan bodoh yang sederhana dan biasa hidup keras dan sukar!

Ceng Ceng menggunakan ujung bajunya yang lebar untuk mengusap keringat dari dahi ke lehernya. Rambutnya agak awut-awutan dan karena dia tidak memakai caping lagi, benda itu telah hancur ketika dipakai melawan musuh yang lihai di malam hari yang lalu itu, mukanya yang putih halus dan cerah itu agak coklat kemerahan oleh sinar matahari.

“Hei, tukang perahu…!” Ceng Ceng berseru memanggil laki-laki yang sedang tertidur nyenyak itu.

Si tukang perahu tetap tidur mendengkur, sedikit pun tidak bergerak, juga dengkurnya tidak berubah, tanda bahwa teriakan Ceng Ceng itu sama sekali tidak mengganggu tidurnya.

“Paman tukang perahu…!” Ceng Ceng berteriak lebih nyaring lagi.

Sekarang suara mendekur itu berubah agak perlahan, dan kumis liar di bawah hidung itu bergerak-gerak lucu, akan tetapi kumis itu diam lagi dan dengkurnya kini menjadi bertambah keras! Ceng Ceng yang berwatak keras itu mulai jengkel hatinya.

“Heii, tukang perahu yang malas! Bangunlah…!” Dia berteriak nyaring dan mengomel, “Wah celaka, bertemu seorang pemalas seperti kerbau!”

Tukang perahu itu menggerakkan kedua kakinya, menarik kedua tangan dari bawah kepala, mulutnya komat-kamit akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan terdengar dia bicara dengan suara ngelindur. “…aduhh… siluman rase… ahhh… siluman ular…”

Dan dia lalu membalikkan tubuh, membelakangi dua orang dara itu, tidur mendengkur lagi lebih keras. Ceng Ceng membanting kaki kanannya, mukanya merah dan matanya terbelalak marah.

“Kurang ajar! Babi pemalas! Tidak bangun malah memaki-maki orang!” “Sabarlah, Ceng-moi. Dia tidak memaki, dia sedang tidur dan tentu mimpi.”
“Biar pun sedang mimpi, jelas ia memaki kita. Dia menyebut siluman rase, siluman ular, bukankah itu memaki namanya? Di dongeng mana pun juga, siluman rase dan siluman ular selalu menjadi seorang wanita!”

“Tapi jelas dia tidak sengaja, dia sedang tidur.”

“Kalau dia sengaja, tentu sudah kupatahkan semua giginya!” Ceng Ceng berkata lagi, mendongkol sekali. Kakinya mencongkel tanah pasir di depannya dan beterbanganlah pasir dan tanah mengenai kepala dan leher tukang perahu itu.

Tukang perahu itu terdengar mengeluh, kemudian tubuhnya bergerak dan dia sudah terlentang lagi seperti tadi, kedua tangan ditaruh di bawah kepalanya dan dia sudah tidur lagi mendengkur, hanya bedanya, kalau tadi mulutnya tertutup, kini bibirnya terbuka sehingga tampak di bawah kumis liar itu deretan giginya yang putih dan kuat, seolah-olah tukang perahu itu menantang dan memperlihatkan giginya untuk dipatahkan oleh Ceng Ceng! Ceng Ceng yang sedang marah itu makin gemas.

“Tukang perahu yang malas seperti kerbau dan babi!” teriaknya lagi. “Hayo bangun, atau… kulemparkan kau ke dalam sungai!”

Tukang perahu itu tetap tidur.

“Enci, mari kita pakai saja perahu itu!”

“Eh, jangan Ceng-moi. Tak baik mencuri barang orang lain,” kata Sian Cu.

“Kalau begitu, biar kulempar mukanya dengan batu supaya si pemalas itu bangun!”

“Sttt, jangan begitu, Ceng-moi. Kasihan dia, lihat tidurnya begitu nyenyak, siapa tahu semalam dia tidak tidur! Orang yang terlalu lelah, orang yang terlalu sedih, tentu dapat tidur seperti pingsan saja. Pula, kita berdua tidak pandai mengemudikan perahu, tanpa dia, bagaimana kita bisa menyeberang? Siapa tahu, dia bisa mengantarkan kita sampai ke kota yang berdekatan. Tentu dia lebih mengenal daerah ini.”

Ceng Ceng menahan kemarahannya dan kembali dia berteriak, “Tukang perahu malas dan tolol! Lekas bangun, kita hendak menyewa perahumu!”

Kini tukang perahu itu menghentikan suara dengkurnya, sepasang matanya bergerak-gerak lalu kelopak matanya terbuka. Dua orang dara itu kaget melihat sepasang mata yang bersinar tajam sekali, tetapi tukang perahu itu mengejapkan matanya beberapa kali seperti belum sadar benar.

“Paman, bangunlah. Kami hendak menyewa perahumu itu!” kata Sian Cu sambil menuding ke arah perahu. Suaranya lunak dan halus dan memang puteri ini memiliki watak yang jauh lebih halus dari pada Ceng Ceng yang keras hati dan jujur.

Tukang perahu itu mengeluh dan bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan ketika dia menurunkan kedua tangan memandang dua orang gadis itu, tiba-tiba dia melompat berdiri dengan mata terbelalak, tubuhnya menggigil dan dia menudingkan telunjuknya kepada Ceng Ceng dan Sian Cu sambil berteriak ketakutan. “Siluman… ehhh, siluman… jangan ganggu aku…!”

“Monyet tua…!” Ceng Ceng sudah bergerak hendak memukul, akan tetapi lengannya dipegang oleh Sian Cu yang tersenyum melihat kemarahan Ceng Ceng. Dengan sabar dia menghadapi tukang perahu yang masih ketakutan itu.

“Paman, engkau tenanglah. Kami bukan siluman, melainkan dua orang gadis yang ingin menyewa perahumu.”

Tukang perahu itu mengangkat kedua tangannya di depan dada dan mulutnya masih komat-kamit, terdengar suaranya. “Aduh… selamat… selamat… selamat…, Tuhan masih melindungi aku…! Maafkan, ji-wi kouwnio (kedua nona), tadinya aku mengira bahwa ji-wi adalah siluman-siluman yang semalam kudengar suaranya yang amat mengerikan! Hiihhh…!” Tukang perahu itu menggerakkan kedua pundaknya dan otomatis Ceng Ceng dan Sian Cu juga bergidik, teringat akan pengalamannya semalam.

“Engkau mendengar apakah, paman?” Sian Cu bertanya.

“Semalam… hiihhh, aku tidak dapat tidur sama sekali. Tadinya aku mengira bahwa aku akan mati dicekiknya, suara aneh-aneh terdengar dari hutan itu, seolah-olah semua penghuninya, siluman dan iblis, sedang berpesta pora. Huh, untung aku masih hidup, aku ingin tidur sampai kenyang. Harap nona berdua jangan menggangguku.” Tukang perahu itu kembali merebahkan diri, siap untuk melanjutkan tidurnya.

“Eh-ehhh… jangan tidur lagi, engkau!” Ceng Ceng membentak. “Kami ingin menyewa perahumu!”

Tukang perahu itu bangkit, akan tetapi tidak berdiri, hanya duduk sambil memandang kepada Ceng Ceng. “Nona, melihat pakaianmu, engkau tentu seorang gadis dusun biasa, akan tetapi sikapmu seperti seorang puteri pembesar tinggi saja!”

“Cerewet kau! Siapa aku, tak perlu kau pedulikan! Kami ingin menyewa perahumu, berapa pun akan kami bayar!” Dia mengeluarkan dua potong uang perak dari saku bajunya dan memperlihatkannya kepada si tukang perahu, dengan keyakinan bahwa sinar perak yang berkilauan itu tentu akan melenyapkan kantuk tukang perahu itu.

Akan tetapi, betapa menjengkelkan sikap tukang perahu itu yang memandang tak acuh, lalu berkata, “Aku tidak menyewakan perahuku.” Dan dia sudah hendak merebahkan dirinya lagi.

“Paman, tolonglah kami. Kami ingin menyeberang, tolong seberangkan kami dan kami akan membayar secukupnya kepadamu.”

Tukang perahu itu memandang Sian Cu, lalu melirik kepada Ceng Ceng yang masih mendelik marah. “Aku tidak menyewakan perahuku, juga aku tidak butuh uang.”

“Kau manusia sombong…!” Ceng Ceng berteriak.

Akan tetapi Sian Cu sudah memegang tangan dara itu dan berkatalah dia dengan suara halus kepada si tukang perahu, “Paman tukang perahu, kalau begitu, anggaplah kami tidak menyewa perahumu, hanya minta tolong kepadamu. Aku percaya bahwa paman tentu akan suka menolong dua orang gadis yang tidak berdaya. Kami melarikan diri mengungsi dari daerah perang dan kami ingin melanjutkan perjalanan menyeberang sungai.”

Suara yang halus dan sopan dari Sian Cu membuat tukang perahu itu kelihatan jadi sungkan juga. Dengan ogah-ogahan dia bangkit berdiri, menggaruk-garuk kepalanya dan menguap beberapa kali, lalu memandang ke arah seberang sungai. “Kalian hendak menyeberang? Mau ke mana menyeberang?”

“Kami hendak melanjutkan perjalanan, akan tetapi terhalang sungai ini, maka kami hendak menyeberang,” kata pula Sian Cu mendahului Ceng Ceng yang kelihatannya sudah tidak sabar menyaksikan sikap si tukang perahu.

“Menyeberang ke sana dan melanjutkan perjalanan? Aihhh, apakah kalian mencari mati?” “Apa katamu?” Ceng Ceng sudah membentak lagi.
“Hemm, kau galak sekali, nona. Aku bilang bahwa kalian menyeberang ke sana dan melanjutkan perjalanan mengungsi, berarti kalian mencari mati. Di seberang sana hanya terdapat hutan-hutan yang liar dan tak terbatas luasnya, gurun-gurun pasir yang tak bertepi, dan pegunungan yang sukar sekali dilalui manusia selain penuh dengan binatang-binatang buas dan siluman-siluman jahat! Dan kalian hendak menyeberang ke sana? Eh-ehh…!” Dia lalu memandang tajam kepada dua orang gadis itu, pandang mata penuh selidik. “Benar-benarkah… eh… kalian ini manusia, bukan siluman-siluman?”

“Mulut busuk!” Ceng Ceng membentak marah, tidak membiarkan Sian Cu mencegahnya lagi karena dia sudah marah bukan main. “Kalau kami berdua siluman, maka engkau adalah siluman babi Ti Pat Kai!”

Tukang perahu itu melongo, kemudian tertawa. “Ha-ha-ha, kau pandai juga membadut, nona! Masa yang begini dikatakan Ti Pat Kai!” Ti Pat Kai adalah tokoh dalam cerita See-yu-ki, seorang siluman babi yang terkenal, pelahap, dan mata keranjang!

“Paman, harap jangan main-main. Kami berdua sudah melakukan perjalanan jauh yang amat melelahkan, bahkan semalam kami tidak tidur sebentar pun. Sekarang kami ingin melanjutkan perjalanan. Terus terang saja, kami berniat pergi ke Kota Raja Kerajaan Ceng“

“Wahhhh…? Mimpikah aku? Ataukah benar-benar kalian dua orang gadis dusun ini hendak pergi ke kota raja? Tahukah kalian berapa jauhnya kota raja itu? Kalian harus melalui sedikitnya enam propinsi dan ratusan kota! Mengapa kalian dua orang gadis dusun di perbatasan hendak pergi ke tempat sejauh itu?”

“Kami berdua hanya ingin menyeberang, dan engkau begini cerewet! Tukang perahu macam apa sih engkau ini?” Ceng Ceng sudah membentak lagi.

Namun Sian Cu segera berkata, tidak memberi kesempatan kepada si tukang perahu untuk menanggapi kegalakan Ceng Ceng, “Kami mempunyai seorang bibi di sana. Paman, kalau benar di seberang merupakan daerah yang amat berbahaya dan sukar dilalui maka kami harap kau suka menolong kami dan memberi tahu jalan mana yang harus kami tempuh agar kami dapat sampai ke kota raja dengan selamat.”

Tukang perahu itu menggaruk-garuk belakang telinganya. “Terus terang saja, aku sendiri belum pernah pergi ke kota raja. Akan tetapi menurut keterangan yang kuperoleh, jalan satu-satunya ke kota raja hanya menggunakan jalan air, menurutkan aliran Sungai Besar Yang-ce-kiang sampai ke kota besar Wu-han, kemudian melalui jalan darat ke utara sampai Sungai Huang-ho dan mengambil jalan air lagi menurutkan aliran Sungai Huang-ho ke timur sampai ke kota besar Cin-an, baru menggunakan jalan darat ke utara menuju ke kota raja. Akan tetapi letaknya amat jauh dan kiranya akan menggunakan waktu berbulan!”

Ceng Ceng sudah mengerutkan alisnya. Turun semangatnya mendengar keterangan yang membentangkan kesukaran perjalan itu, akan tetapi Sian Cu berkata, “Terima kasih, paman. Engkau baik sekali dan kami akan menggunakan petunjuk itu untuk melanjutkan perjalanan. Lalu bagaimana kita dapat mencapai Sungai Yang-ce-kiang?”

“Dari tempat ini dapat berperahu mengikuti aliran sungai sampai ke dusun Kiu-teng, dari sana terdapat jalan menuju ke Sungai Lan-cang (Mekong), menyeberangi Sungai Lan-cang dan melalui jalan darat ke timur akan mencapai Sungai Yang-ce-kiang.”

“Ah, terima kasih. Kuharap paman sudi membawa kami ke dusun Kiu-teng.” “Hemmm…”
“Kami akan membayar sewanya, berapa saja yang kau minta, paman.” “Sikapmu halus dan baik sekali, nona. Siapakah namamu?”
“Namaku Lu Sian Cu, paman,” jawab Sian Cu sambil menunduk supaya tidak tampak perubahan air mukanya.

“Baiklah, Sian Cu. Aku suka mengantarkan engkau ke Kiu-teng yang jaraknya cukup jauh dari sini, makan waktu hampir sehari semalam. Akan tetapi dia itu siapa namanya?” Dia menuding kepada Ceng Ceng. Tentu saja Ceng Ceng sudah marah memandang dengan mata mendelik, akan tetapi dia didahului oleh Sian Cu.

“Dia adalah adikku, namanya Lu Ceng.”

“Aku hanya mau menyeberangkanmu ke Kiu-teng, nona Sian Cu, bahkan tanpa dibayar apa pun. Tetapi dia itu, hemm… Lu Ceng terlalu galak dan sikapnya tak menyenangkan, maka…”

“Cerewet! Kalau engkau tidak mau aku pun tidak membutuhkan bantuanmu, manusia sombong! Kalau aku melemparmu ke dalam sungai dan membawa perahumu, kau mau bisa apa?”

“Ceng-moi, jangan begitu…!” Sian Cu membujuk adik angkatnya, lalu berkata kepada si tukang perahu. “Paman, kau maafkan adikku yang masih kekanak-kanakan. Kalau aku pergi, dia pun harus ada di sampingku. Harap kau suka memaafkan dan membawa kami berdua ke Kiu-teng.”

Tukang perahu itu bersungut-sungut. “Baiklah, akan tetapi hanya dengan satu janji.”

“Janji apa?” Sian Cu bertanya dan Ceng Ceng sudah siap, kalau si tukang perahu minta janji yang kurang ajar, tentu akan dihantamnya dan dilemparkannya ke sungai!

“Bagimu engkau tidak usah melakukan sesuatu, tidak usah membayar sesuatu. Akan tetapi nona Ceng ini, dia harus menurut perintahku, dia harus membantuku kalau aku perlu bantuannya mendayung perahu atau mengatur layar, dan dia pun harus menanak nasi, air, atau memanggang ikan untukku setiap kali kukehendaki.”

“Setan… kau kira aku siapa…?”

“Adik Ceng, mengapa ribut-ribut? Bukankah permintaannya itu sudah semestinya? Dia mau menolong kita, apakah sebaliknya kita tidak mau menolong dia hanya dengan pekerjaan ringan seperti itu?”

Dengan menggigit bibir saking gemasnya, Ceng Ceng berkata singkat. “Baiklah!”

Tukang perahu itu tertawa. “Nah, silakan naik ke perahu. Perahu ini kecil dan tentu saja kurang enak, jangan nanti kalian menyalahkan aku.” Sambil berkata demikian, tukang perahu mengambil buntalannya dan menaruhnya di kepala perahu agar ruangan tengah yang terlindung anyaman bambu itu dapat dipakai oleh kedua orang gadis itu.

Mereka memasuki perahu dan meluncurlah perahu itu ke tengah sungai didayung oleh si tukang perahu yang mulai dengan gayanya yang terang-terangan hendak menghukum Ceng Ceng yang dianggapnya galak itu. “Ehhh, nona Ceng, kau masaklah air, itu cereknya, itu batu api, teh di sana… dan beras ada di ujung sana, masak nasi untuk kita bertiga. Aku akan memancing ikan untuk lauknya.”

Ceng Ceng mendelik, akan tetapi jawilan jari tangan Syanti Dewi membuat dia tidak membantah dan dengan bersungut-sungut dia mengerjakan perintah tukang perahu itu. Awas saja kau, pikirnya geram. Nanti kalau kami tidak membutuhkan lagi perahumu, akan kutampar mukamu dan kucabuti kumis dan jenggotmu. Biarlah sekarang dia mengalah. Melakukan pekerjaan yang diperintahkan seorang tukang perahu miskin yang kurang ajar. Sialan!

Akan tetapi tukang perahu itu ternyata pandai sekali mengail. Sebentar saja dia telah mendapatkan dua ekor ikan yang sebesar betis. Dia melontarkan ikan-ikan itu kepada Ceng Ceng sambil berkata, “Bersihkan ikan-ikan itu, beri bumbu. Garam dan lain-lain bumbu ada di poci sebelah kiri itu, dekat kakimu, lalu panggang di atas arang membara. Awas, jangan sampai api menyala, nanti hangus dan tidak enak!”

Lagakmu, Ceng Ceng memaki di dalam hatinya. Kau kira aku tidak tahu caranya masak dan memanggang ikan? Akan tetapi karena dia dan enci-nya membutuhkan perahu itu, bukan hanya perahu itu akan tetapi tukang perahunya karena mereka berdua tidak tahu bagaimana caranya mengemudikan perahu, dia menahan kemarahannya dan mulai melakukan pekerjaan tanpa banyak mengeluarkan suara.

Ceng Ceng adalah seorang dara yang sejak kecil digembleng ilmu silat oleh kakeknya. Wataknya keras, pemberani dan di samping ini, juga harus diakui bahwa dia terlalu dimanja oleh kongkong-nya. Selama tinggal bersama kongkong-nya yang merupakan seorang guru terhormat, dia diperlakukan dengan hormat oleh semua orang. Terutama sekali setelah dia menjadi adik angkat Puteri Syanti Dewi, derajatnya naik dan dia makin dihormati. Tidak pernah ada orang yang berani memandang rendah kepadanya, karena kedudukannya dan juga karena orang maklum akan kelihaiannya. Akan tetapi sekarang, dia bukan saja dipandang rendah, bahkan diperintah oleh si tukang perahu seperti seorang pelayan saja layaknya!

Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan mengkal rasa hatinya sehingga ketika mereka bertiga makan, hanya si tukang perahu dan Sian Cu yang dapat menikmatinya sedangkan Ceng Ceng tidak dapat menikmati makanan itu karena hatinya mendongkol sekali. Sikap tukang perahu itu benar-benar menggemaskan hatinya. Setiap gerak-geriknya seolah mengejeknya, setiap kata-katanya seakan menyindirnya! Mulut yang cengar-cengir itu, dengan kumis yang bergerak-gerak, seperti selalu mentertawakan padanya! Bedebah benar!

Akan tetapi, melihat sikap Sian Cu yang selalu bersabar, Ceng Ceng dapat menahan kemarahannya dan ditambah oleh kelelahan tubuhnya karena malam tadi sama sekali tidak tidur, malam hari itu dia dapat tidur nyenyak bersama Sian Cu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suara tukang perahu itu sudah berteriak-teriak membangunkan mereka.

“Nona Ceng, bangun! Sudah siang!” teriaknya. Suaranya nyaring dan bukan hanya Ceng Ceng yang bangun, juga Sian Cu.

“Siapa bilang sudah siang?” Ceng Ceng bersungut-sungut ketika melihat bahwa hari masih pagi sekali, sungguh pun malam memang telah lewat dan sinar matahari mulai mengusir kegelapan.

“Hanya seorang pemalas saja yang mengatakan bahwa sekarang belum siang!” kata tukang perahu. “Aku jelas bukan pemalas karena biasanya pada waktu seperti ini aku sudah bangun tidur dan memasak air dan bubur untuk sarapan pagi.”

Ceng Ceng hendak membantah, akan tetapi Sian Cu berbisik, “Kemarin kau memaki dia malas.” Teringat akan kejadian itu, Ceng Ceng diam saja dan mengerjakan apa yang diperintahkan tukang perahu itu.

Tiba-tiba tukang perahu berkata, “Harap kalian tenang, ada kesukaran di depan!”

Dengan kaget Ceng Ceng dan Sian Cu melihat bahwa di sebelah depan tampak dua buah perahu hitam yang ditumpangi masing-masing oleh lima orang, di antara mereka tampak dua orang tosu tua yang bersikap kereng!

“Siapa mereka? Mau apa?” Ceng Ceng bertanya lirih.

“Sstttt… harap kalian diam dan serahkan saja kepadaku menghadapi mereka.” Tukang perahu menjawab dan ketenangan sikapnya membuat dua orang dara itu menjadi heran.

Andai kata mereka itu adalah bajak-bajak sungai yang banyak mereka dengar, sungguh pun hal itu menyangsikan karena di antara mereka terdapat dua orang tosu, maka sikap tukang perahu itu terlampau tenang! Sepantasnya, tukang perahu itu tentu akan menjadi panik dan ketakutan, tidak seperti saat ini, bersikap seolah-olah penuh keyakinan dia akan dapat mengatasi keadaan.

Ceng Ceng memberi tanda dengan kedipan mata kepada Sian Cu, dan puteri ini yang mengerti bahwa dialah yang mungkin menjadi incaran musuh, segera menyembunyikan diri di dalam perahu. Sedangkan dia melirik penuh perhatian dan kewaspadaan. Hatinya berdebar tegang melihat betapa dua buah perahu itu dipalangkan di tengah sungai, agaknya sengaja menghadang perahu yang ditungganginya.

“Haii, tukang perahu!” Terdengar suara bentakan dari dua buah perahu itu. “Hendak ke mana?” “Kami hendak ke Kiu-teng!” Terdengar jawaban tukang perahu yang ramah dan tetap gembira.
“Bersama siapa? Membawa apa?” Kembali terdengar pertanyaan yang kereng dan berwibawa itu, dan ternyata yang bertanya adalah seorang di antara dua orang tosu yang duduk di dalam perahu pertama.

Tukang perahu itu menoleh ke arah Ceng Ceng yang sedang memasak bubur, lalu berkata, “Bersama isteriku! Kami tidak membawa apa-apa, hendak mencari ikan dan menjualnya ke Kiu-teng!”

Hampir saja Ceng Ceng meloncat dan memaki-maki! Dia diaku sebagai isteri si tukang perahu jahanam itu! Akan tetapi ketika dia menoleh dan sudah siap untuk meloncat, dia melihat Sian Cu memberi isyarat kepadanya dengan jari tangan di depan mulut yang menyuruhnya diam, bahkan Sian Cu lalu menyelimuti dirinya dengan tikar yang berada di dalam perahu. Tentu kakak angkatnya itu hendak menolong si tukang perahu yang sudah menyatakan bahwa tukang perahu itu hanya bersama dengan isterinya!

Ketika Ceng Ceng menengok lagi, tentu saja wajahnya nampak oleh orang-orang di dalam kedua perahu itu, dan terdengarlah suara ketawa lalu seorang di antara mereka yang bermata lebar berseru sambil tertawa, “Haiiii, isterimu cantik sekali, tukang perahu! Boleh aku menyewanya?”

“Perahuku tidak disewakan!”

“Heh, tolol! Bukan perahumu, tetapi isterimu yang kusewa! Berapa sewanya semalam?” Terdengar suara ketawa dari kedua perahu itu.

Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan di hati Ceng Ceng. Namun melihat bahwa kakak angkatnya sudah bersembunyi, dia tidak tega mengganggu, lagi pula ia pun ingin sekali mendengar apa yang menjadi jawaban tukang perahu gila itu.

“Hemm, berapa kau berani bayar, kawan?”

Benar gila! Ceng Ceng mengepal tinju dan sudah siap untuk menghajar mereka semua. Kedua telinganya mengeluarkan bunyi mengiang-ngiang saking marahnya.

“Ha-ha-ha-ha! Nah, kau terimalah uang panjarnya dahulu, dan kalau kau menolak, ini tambahnya!” Dari dalam sebuah di antara dua perahu itu melayang benda ke dalam perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan ternyata sekantung kecil uang tembaga dan sebatang toya baja yang dilontarkan ke depan kaki tukang perahu itu.

Ceng Ceng melirik dengan sudut matanya. Jelas bahwa orang-orang kasar itu memberi uang dan disertai ancaman karena toya itu berarti ancaman kalau permintaan itu ditolak.

Si tukang perahu mengambil kantung, membuka untuk melihat isinya yang hanya uang tembaga, juga dia memegang toya dan melihat-lihat benda itu seperti lagi menimbang-nimbang. Kemudian dia berkata, “Wah, penawarannya masih jauh berkurang, sobat! Bagaimana kalau ditambah nyawamu?” Dia lalu melontarkan kembali kantung uang dan toya.

Ceng Ceng terkejut. Betapa beraninya si tukang perahu! Dan dia melihat betapa semua orang di kedua perahu itu merubung dan melihat toya dan kantung uang, seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua benda itu. Terdengar teriakan lirih dari rombongan itu, “Si Jari Maut!”

Makin heran lagi hati Ceng Ceng ketika dia melihat dua orang tosu itu bangkit berdiri di perahu mereka dan seorang di antara keduanya menjura dengan membentuk tanda jari-jari tangan depan dada sambil berkata. “Harap sudi memaafkan kelakar anak buah kami dan persilakan lewat disertai salam persahabatan kami!”

Si tukang perahu hanya tersenyum, lalu menggunakan dayungnya untuk meluncurkan perahunya lewat di antara kedua perahu yang telah minggir itu, melempar senyum mengejek ke arah mereka, dan kemudian berkata ke dalam perahu, “Nona Sian Cu, keluarlah, tidak ada bahaya lagi sekarang.”

Ceng Ceng langsung membanting panci terisi bubur panas. Dia meloncat bangun dan menudingkan telunjuknya kepada si tukang perahu. “Keparat, mulutmu busuk sekali! Berani kau mengatakan aku sebagai isterimu? Phuahh, tidak tahu diri, tukang perahu jembel busuk!”

Si tukang perahu mengangkat hidungnya. “Hemm, gadis dusun yang galak! Andai kata benar kau adalah isteriku, maka engkaulah yang untung dan aku yang rugi besar!”

“Jahanam…!” Ceng Ceng tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia telah menerjang untuk menampar pipi orang itu. Biar kurontokkan giginya, pikirnya dengan marah.

“Wuuuttttt…!”

Tamparan yang dilakukan dengan cepat sekali dan disertai tenaga sinkang yang kuat itu hanya mengenai angin. Terkejutlah Ceng Ceng karena tidak disangkanya sama sekali bahwa tukang perahu itu memiliki gerakan sedemikian cepatnya, dapat mengelak dari tamparannya. Padahal tamparan itu dilakukan secara tidak terduga dan cepat sekali sehingga jaranglah ada yang dapat mengelakkan begitu mudah! Dia menjadi penasaran sekali dan menerjang lagi, kini tidak lagi menampar, melainkan memukul secara bertubi-tubi dengan kedua tangannya!

“Wuuut-wuuut-wuuut-wuuutt…!”

Semua pukulannya adalah jurus-jurus pilihan dan disertai tenaga sinkang yang amat kuat, namun semuanya dapat dielakkan secara mudah oleh si tukang perahu!

“Ceng-moi, jangan…!” Sian Cu berseru.

“Biar!” Ceng Ceng membantah dengan marah. “Dia kurang ajar, harus kupukul manusia jahanam ini!”

“Eh-eh-ehhh, beginikah engkau membalas budi orang?” Tukang perahu itu tersenyum sambil mengejek. “Ditolong balasnya memukul? Ini namanya diberi air susu dibalas dengan air tuba! Benar-benar gadis galak yang tidak mengenal budi!”

“Setan sungai kau!” Sekarang Ceng Ceng menubruk maju, kakinya menendang dan tangannya menyusul dengan tusukan jari tangannya ke arah perut tukang perahu.

“Wuuutttttt… dukkk!” Tubuh Ceng Ceng terhuyung ketika orang itu terpaksa menangkis tusukan tangannya. Akan tetapi hal itu justru membuat Ceng Ceng makin marah dan dia menerjang lagi.

“Adik Ceng, jangan…!”

“Biarlah, enci. Dia kurang ajar sekali. Dia tentunya manusia busuk!” Dia meloncat dan mengirim pukulan yang amat berbahaya karena dia telah menggunakan jurus pilihan dari ilmu silat kongkong-nya.

Pukulan itu bersiut datang ke arah lambung tukang perahu, akan tetapi tiba-tiba tubuh tukang perahu bergerak dan ternyata dia telah meloncati lewat bilik perahu ke bagian belakang perahu!

“Mau lari ke mana kau!” Ceng Ceng mengejar, juga meloncati bilik itu dan dari atas dia sudah mencengkeram dengan kedua tangannya.

Tapi si tukang perahu itu dengan tersenyum-senyum menyelinap ke bawah, menerobos melalui bilik perahu, dikejar dan memutari tiang layar sambil tertawa-tawa. Sementara itu, semua pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh Ceng Ceng dengan kemarahan meluap-luap itu sama sekali tidak ada hasilnya!

“Ceng-moi… tahan dulu…!” Sian Cu sibuk memegang tangan Ceng Ceng dan berusaha menahan gadis yang marah itu mengamuk.

“Enci, apakah kau tadi tidak mendengar omongan busuknya? Kalau aku tidak dapat memukul pecah mulutnya, aku tidak akan puas!” Dia menarik lengannya secara tiba-tiba sehingga pegangan Sian Cu terlepas dan kembali dia menendang sambil meloncat. Tendangan terbang yang berbahaya sekali, mengarah tenggorokan si tukang perahu.

“Heiiittt… tendangan hebat!” Si tukang perahu mengelak sambil memuji dengan suara mengejek.

“Mampuslah…!” Ceng Ceng membalikkan tubuhnya saat tendangannya tidak mengenai sasaran, sambil membalik, tubuhnya maju dan tangannya yang dikepal menghantam dada.

“Eiiiiihhhh… hebat, wahhh luput! Sayang sekali…!” Kembali si tukang perahu mengejek dan berhasil mengelak.

Dapat dibayangkan betapa jengkel hati Ceng Ceng. Perahu bergerak-gerak miring dan dia sudah menyerang bertubi-tubi, namun tidak berhasil sama sekali. Biar pun kini dia maklum bahwa tukang perahu itu ternyata lihai, namun kemarahannya membuat dia tidak mengenal takut. Hatinya tidak akan terasa puas sebelum dia berhasil merobohkan orang yang dibencinya itu.

“Adik Ceng… ahhh, jangan! Lihat, perahu sudah miring… kita bisa celaka…!”

Memang benar teriakan Sian Cu ini. Gerakan-gerakan dua orang yang berkejar-kejaran seperti tikus dengan kucing ini membuat perahu kehilangan arah dan miring-miring.

“Ha-ha-ha, biarkanlah, nona Sian Cu. Kalau perahu terbalik, baru nona galak itu tahu rasa. Kau jangan khawatir, tentu akan kutolong, tapi dia… biar kembung perutnya terisi penuh air, ha-ha-ha!”

“Jahanam busuk…!” Ceng Ceng hampir menangis dan kini dia mengeluarkan sepasang belatinya. “Engkau harus mampus di tanganku!”

“Adik Ceng…!”

Ceng Ceng yang sudah ‘mata gelap’ saking marahnya itu menyerang dengan dahsyat sekali, tidak peduli akan perahu yang miring. Melihat datangnya dua sinar terang yang menyambarnya, tukang perahu secara tiba-tiba merendahkan tubuh berjongkok dan tiba-tiba Ceng Ceng merasa kedua tangannya lemas karena secara lihai dan tak tersangka sama sekali, dari bawah menyambar jari-jari tangan tukang perahu itu memapaki gerakan tangannya dan pergelangan tangannya telah ditotok sehingga tangannya yang lumpuh tak mampu lagi memegang sepasang belatinya dan dengan gerakan kilat, sepasang senjatanya itu telah dibuang ke dalam sungai oleh si tukang perahu. Sambil tertawa tukang perahu itu meloncat lagi melewati bilik dan berada di ujung perahu yang lain sambil menyeringai lebar.

“Heh-heh, kau boleh terjun keluar mengejar pisau-pisau dapur itu!”

Kemarahan yang memuncak membuat Ceng Ceng tidak sadar bahwa dia berhadapan dengan seorang yang memiliki kepandaian yang amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri. Akan tetapi dia jengkel sekali, merasa terhina dan ingin dia menangis dan menjerit-jerit! Dia telah dibikin malu, dihina, dibuat tidak berdaya dan sepasang senjatanya dibuang begitu saja ke dalam sungai!

Tiba-tiba timbul akalnya untuk membalas dendam! Ia menubruk ke depan, disambarnya dayung, dua batang dayung dari perahu itu, bukan dipergunakan untuk senjata, tetapi dayung yang dua buah itu dilemparnya jauh-jauh keluar dari perahu, ke tengah sungai! Kemudian disambarnya tali layar, direnggutnya sampai putus dan dibuangnya pula, lalu dirobeknya layar.

“Heiiiii… jangan…! Wah-wah, celaka… kau benar-benar liar!” Tukang perahu berteriak-teriak, mengangkat kedua tangannya untuk mencegah dan kelihatan bingung sekali.

Melihat ini, terobatlah hati Ceng Ceng yang panas dan sakit, akan tetapi dia belum juga puas. Dia melihat buntalan si tukang perahu, maka cepat buntalan itu disambarnya pula.

“Jangan itu…!” Tukang perahu berteriak dan meloncat dengan kecepatan seperti burung terbang, melewati bilik dan tangannya diulur untuk merampas buntalan. Akan tetapi sambil tersenyum mengejek Ceng Ceng sudah melemparkan buntalan itu sampai jauh ke tengah sungai.

“Byuurrr…!”

“Wah, celaka…!” Tukang perahu berteriak dan dia pun meloncat ke dalam air mengejar buntalannya yang dibuang.

“Byuurr…!” Air muncrat ke atas dan tukang perahu lenyap, menyelam untuk mengejar buntalan yang sudah tenggelam. Tubuh tukang perahu terseret air yang mengalir cepat.

Ceng Ceng melongo, mukanya agak pucat. Melihat tukang perahu itu lenyap ditelan air, dia kaget dan merasa khawatir sekali. Kekhawatiran yang menimbulkan penyesalan. Jangan-jangan tukang perahu itu akan mati terseret arus yang kencang, pikirnya. Buntalan itu tentu amat penting baginya. Mungkin segala harta milik tukang perahu yang miskin itu berada di dalam buntalan, maka tentu saja dia mati-matian mempertahankan miliknya dan jangan-jangan dia mengorbankan nyawa dalam mengejar buntalan.

“Ceng-moi… celaka… perahunya hanyut dan miring…!” Terdengar jerit Sian Cu.

Ceng Ceng baru tersadar dan dia mendekati enci-nya. Segera dia pun menjadi bingung. Perahu terseret dan terbawa arus yang kuat sekali dan karena perahu itu kehilangan kemudi, maka dipermainkan air oleng ke kanan kiri. Ditambah lagi kepanikan mereka yang berdiri di perahu, menjaga keseimbangan badan ketika perahu oleng, malah menambah miring perahu. Kedua orang dara itu menjadi makin bingung!

“Bagaimana, Ceng-moi? Bagaimana kita harus menahan perahu? Mana dayungnya?” Sian Cu menjerit- jerit ngeri karena dia tidak pandai renang.

“Dayungnya…?” Ceng Ceng terkejut.

Dayung, tali layar, semua telah dibuangnya, bahkan layarnya telah dirobek-robeknya! Dia tidak mampu menjawab, dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan perahu dan mereka berdua. Karena tidak dapat melakukan sesuatu, Ceng Ceng hanya merangkul dan melindungi Sian Cu dengan lengannya sambil berpegang erat-erat pada tiang layar yang terbuat dari bambu itu.

“Jangan bergerak-gerak, enci. Tenang saja agar perahu hanyut dengan tenang!”

Kedua orang dara itu tak bergerak dan benar saja, perahu itu tidak lagi miring-miring, akan tetapi setengahnya telah terendam air dan kini hanyut dengan kecepatan yang mengerikan. Untung bahwa bagian sungai itu tidak dalam dan tidak ada batu-batu menonjol sehingga perahu mereka dapat hanyut terus, tidak menabrak batu yang tentu akan membuat perahu tenggelam. Karena menghadapi bahaya maut yang mengerikan ini, kedua orang dara itu sudah lupa lagi kepada tukang perahu yang tadi meloncat ke air.

Perahu hanyut dengan cepat dan memasuki sebuah dusun yang besar dan ramai. Di tempat ini banyak sekali perahu berada di sungai dan begitu perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan Sian Cu datang dengan cepatnya, gegerlah para nelayan di situ. Perahu-perahu yang berada di tengah dan sedang didayung seenaknya cepat-cepat didayung minggir.

“Minggir…! Perahu hanyut…!”

“Celaka…! Krakkkk…!” “Braaakkkk! Krakkkk…!”
Terdengar teriakan-teriakan dan dua buah perahu yang tidak keburu minggir telah ditabrak oleh perahu yang hanyut itu sehingga terguling dan tenggelam, berikut perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan Sian Cu!

“Ceng-moi…!” Terdengar Sian Cu menjerit sebelum tubuhnya tenggelam. “Enci Syanti!” Ceng Ceng juga menjerit.
Biar pun belum pernah belajar berenang, namun dara itu telah mendengar bagaimana caranya berenang. Dia lalu menggerak-gerakkan kedua lengannya sambil menendang-nendangkan kakinya sehingga tubuhnya tidak tenggelam, namun karena gerakannya ngawur, tubuhnya segera terseret oleh arus deras.

Orang-orang di situ masih panik dan bingung karena peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga- duga, maka tidak ada yang melihat gadis yang hanyut terbawa air yang kencang itu. Mereka yang tadinya duduk di dalam perahu yang pertama tertabrak, sebanyak lima orang, sudah berenang dan berusaha membalikkan perahu mereka. Ada pun perahu kedua yang tenggelam, tidak tampak timbul kembali, juga penumpangnya, seorang laki-Iaki setengah tua, tidak kelihatan muncul di permukaan air.

Tiba-tiba terdengar banyak orang berteriak-teriak keheranan. Siapa tidak akan menjadi keheranan dan kagum sekali ketika melihat perahu kedua yang tenggelam tadi, tiba-tiba saja muncul. Seperti bersayap, perahu itu tahu-tahu telah ‘terbang’ di atas permukaan air dan terus mendarat! Di atas perahu itu tampak seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian basah kuyup memegang dayung panjang di tangan kanan dan mengempit tubuh Syanti Dewi di tangan kiri, berdiri dan mengatur keseimbangan perahu yang meluncur itu dengan tubuhnya. Setelah perahu itu mendarat di atas pasir, setelah tadi ‘terbang’ melalui beberapa buah perahu lainnya, laki-laki itu meloncat dari perahu, terus berjalan pergi dengan cepat sambil memondong Syanti Dewi atau Sian Cu yang masih pingsan!

Tentu saja semua orang terheran-heran, apa lagi setelah mereka berusaha mengejar. Laki-laki itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas! Ramailah orang membicarakan orang yang aneh itu. Dari keterangan beberapa orang yang mengenal laki-laki aneh itu, ternyata bahwa laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun itu baru dua bulan lebih tiba di Kiu-teng, yaitu dusun di mana terjadi peristiwa hebat dan aneh itu tadi. Laki-laki itu sering kali duduk di dalam perahu, termenung, kadang-kadang mengangkut barang dagangan menyeberang atau ke tempat lain yang tidak begitu jauh.

Orang itu pendiam, jarang sekali bicara akan tetapi karena pandang matanya dan tutur bahasanya yang jarang itu selalu manis budi, semua orang suka kepadanya. Dalam menerima biaya pengangkutan, orang itu pun tidak cerewet sehingga mulai memperoleh banyak langganan. Anehnya, mereka yang mengenal orang itu, mereka sering kali melihat orang itu mengajak anak-anak kecil untuk bermain-main, mengajar mereka berenang, bernyanyi dan bermain-main. Lebih mengherankan lagi, orang itu hampir selalu menghabiskan uang hasil pekerjaannya untuk menyenangkan hati anak kecil itu, bahkan beberapa kali dia membelikan pakaian untuk anak-anak yang miskin.

“Siapa namanya?” tanya seorang.

“Dia tentu seorang pendekar sakti yang menyamar!”

“Mungkin dia seorang dewa! Kalau manusia, mana mampu menerbangkan perahu?”

Orang yang mengenal laki-laki aneh itu menggelengkan kepalanya. “Itulah anehnya. Dia tidak pernah mau mengaku siapa namanya, hanya mengatakan bahwa dia she Gak, sehingga aku pun hanya menyebutnya Gak-twako (kakak Gak). Anehnya, sikapnya biasa dan sederhana saja. Siapa tahu ternyata dia adalah seorang yang memiliki kesaktian sehebat itu!” Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya penuh takjub.

Bagi yang mengenal laki-laki setengah tua itu tentu tidak akan heran menyaksikan kesaktiannya, karena orang itu bukan lain adalah Gak Bun Beng. Para pembaca cerita Sepasang Pedang Iblis tentu tidak akan pernah melupakan nama ini! Pada waktu itu, di dalam cerita Sepasang Pedang Iblis, Gak Bun Beng masih muda, seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa karena pemuda ini telah banyak mewarisi ilmu silat yang tinggi sekali. Selain ketika masih kanak-kanak dia menjadi murid seorang tokoh sakti Siauw-lim- pai, ketika menjelang dewasa dia secara kebetulan mewarisi ilmu kesaktian peninggalan seorang manusia dewa yang bernama Koai Lojin. Bukan itu saja, bahkan pernah dia menerima warisan ilmu dari kakek sakti Bu-tek Siauw-jin datuk Pulau Neraka, dan pernah pula menerima pendidikan sinkang dari Pendekar Super Sakti!

Di waktu dia masih muda saja dia telah memiliki kesaktian-kesaktian luar biasa itu, di antaranya adalah ilmu Lo-thian Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit), Tenaga Sakti Inti Bumi dari Bu-tek Siauw-jin, gabungan tenaga sinkang Swat-im-sinkang dan Hui-yang-sinkang dari Pendekar Super Sakti, di samping ilmu silat-ilmu silat lainnya yang kesemuanya bertingkat tinggi!

Hanya sayang, pemuda tampan dan gagah perkasa itu malang nasibnya hingga banyak mengalami kesengsaraan, bahkan pertalian cinta kasihnya dengan Milana, puteri sulung Pendekar Super Sakti, telah gagal dan putus! Pada akhir cerita Sepasang Pedang Iblis, pemuda Gak Bun Beng yang mengunjungi Pulau Es berpamit kepada Pendekar Super Sakti, berpisah dari bekas kekasihnya, Milana, dan lalu pergi tanpa meninggalkan jejak. Semenjak itu, sampai belasan tahun, namanya tidak pernah lagi terdengar di dunia kang-ouw.

Gak Bun Beng menganggap bahwa nasib hidupnya itu sudah sewajarnya. Kalau dia melihat keadaan riwayatnya, dia bahkan menganggap dirinya masih beruntung karena tidak sampai terjerumus menjadi seorang penjahat. Ayahnya adalah seorang datuk sesat yang amat jahat, yang bernama Gak Liat dan dia sendiri dilahirkan di dunia karena kejahatan ayahnya yang memperkosa seorang pendekar wanita Siauw- lim-pai!

Dia seorang anak haram, keturunan seorang ayah yang jahat seperti iblis! Mengingat itu semua, Gak Bun Beng tak pernah menyesali nasibnya dan dia malah menyembunyikan diri, hidup di antara rakyat miskin sederhana, merantau ke pelbagai tempat dan diam-diam tentu saja memperdalam ilmu-ilmunya.

Akhirnya, kurang lebih dua bulan yang lalu, dia tiba di dusun Kiu-teng itu dan hidup sebagai seorang tukang perahu yang sederhana. Di tempat ini pun, seperti di lain-lain tempat, dia tidak pernah memperkenalkan namanya kecuali hanya she-nya, sehingga oleh tukang perahu lain yang mengenalnya, dia hanya dikenal sebagai Gak-twako, seorang tukang perahu yang hidup sederhana dan pendiam, penyayang kanak-kanak.

Ketika pada hari itu Gak Bun Beng sedang melamun sambil duduk menanti pesanan orang yang akan menyewa perahunya, tiba-tiba perahunya menjadi korban tabrakan perahu yang hanyut itu hingga terguling dan tenggelam. Bun Beng tidak mempedulikan dirinya sendiri, pertama-tama yang menarik perhatiannya adalah teriakan-teriakan dua orang gadis yang ikut tenggelam bersama perahu yang hanyut itu.

Ketika dia mendengar seorang di antara dua orang gadis itu menyebut nama ‘enci Syanti’, dia menjadi heran sekali. Nama itu terang bukan nama gadis Han! Tentu saja Bun Beng bermaksud menolong mereka, akan tetapi dia bukanlah seorang yang amat ahli dalam ilmu renang, maka dia hanya dapat menolong gadis terdekat. Setelah dia dapat meraih gadis yang pingsan itu dan mulai tenggelam lagi, Bun Beng menggunakan kepandaiannya menyelamatkan perahunya.

Dengan kekuatan yang dahsyat dia menggunakan dayungnya sebagai alat menekan sehingga perahunya meluncur ke atas sedemikian kuatnya sehingga melampaui perahu lain dan dapat mendarat di atas pasir. Karena keadaan yang memaksanya itu, tanpa sengaja dia mengeluarkan kepandaiannya dan barulah dia teringat akan hal ini setelah perahunya mendarat.

Dia menyesali kelengahannya dan terpaksa dia harus meninggalkan perahunya dari tempat itu karena kalau tidak, berarti dia membuka rahasianya yang selama belasan tahun ini disimpannya rapat-rapat. Hanya satu hal membuat dia kecewa, yaitu dia tidak dapat menolong gadis kedua yang telah hanyut terbawa arus air yang amat kuat. Dia tahu bahwa mengejarnya tidak akan ada gunanya dan gadis itu tentu tewas, kecuali kalau ada pertolongan yang tak tersangka-sangka.

Bun Beng membawa Syanti Dewi ke dalam kuil tua yang kosong di tengah hutan, di sebelah timur dusun Kiu-teng dan di lembah Sungai Nu-kiang, merebahkan tubuh yang pingsan itu di atas lantai, kemudian mengeluarkan air dalam perut dara itu, mengurut beberapa jalan darah sampai dara itu mengeluh dan siuman.

“Ahhhhh…!” Syanti Dewi mengeluh dan bergerak, lalu membuka kedua matanya.

Bun Beng memandang wajah itu dan di sudut hatinya terharu. Dia merasa yakin bahwa gadis ini tentulah gadis asing yang memiliki kecantikan khas agak mirip dengan Milana, bekas kekasihnya yang memiliki darah Mancu bangsawan, karena Milana adalah cucu Kaisar Mancu!

Ketika Syanti Dewi mendapat kenyataan bahwa dia rebah dalam kamar tua dari tembok yang sudah retak- retak, di atas lantai yang kotor, kemudian melihat seorang laki-laki berusia kurang dari empat puluh tahun berjongkok tidak jauh darinya, dia terkejut dan cepat bangkit duduk. Kenyataan pertama adalah bahwa pakaiannya basah kuyup, maka teringatlah dia akan peristiwa yang mengerikan itu, ketika perahu yang hanyut itu tenggelam membawa dia dan Ceng Ceng tenggelam pula.

“Di… di mana aku? Siapakah paman…?”

Biar pun ucapannya itu dikeluarkan dalam keadaan bingung dan terkejut, namun jelas terdengar kehalusan budi bahasa gadis itu.

“Tenanglah, nona. Engkau telah dapat terbebas dari bahaya tenggelam di sungai dan aku adalah seorang tukang perahu yang kebetulan melihat engkau tenggelam bersama perahu hanyut itu,” kata Bun Beng dengan suara halus menghibur.

Tiba-tiba sepasang mata dara itu terbelalak dan dia bertanya, “Bagaimana dengan Ceng-moi? Di mana Ceng-moi…?”

“Engkau maksudkan gadis kedua yang turut terguling dan tenggelam dengan perahu hanyut itu?” Bun Beng bertanya.

“Benar… kami berdua di perahu itu… bagaimana dengan Ceng-moi? Di manakah dia…? Ceng-moi…!” Syanti Dewi menjerit, memanggil nama adik angkatnya penuh khawatir.

Bun Beng menggelengkan kepalanya dan menghela napas. “Menyesal sekali bahwa tenagaku terbatas, aku hanya berhasil menyelamatkanmu, nona. Ada pun nona kedua itu… aku melihat sendiri dia terseret dan hanyut oleh arus sungai yang amat deras dan kuat…”

Makin terbelalak sepasang mata itu, dan wajah Syanti Dewi langsung menjadi pucat sekali. “Paman…! Kau… maksudkan… dia… Ceng-moi…?”

Bun Beng mengangguk. “Kalau tidak terjadi hal yang luar biasa, aku khawatir sekali bahwa dia akan tewas. Air itu deras sekali dan amat dalam.”

“Ceng-moi…!” Syanti Dewi menjerit lalu menangis sesenggukan, menutupi muka dengan kedua tangannya.

Bun Beng memandang dengan alis berkerut, akan tetapi dia diam saja karena maklum bahwa pada saat seperti itu, hanya tangis yang merupakan obat terbaik bagi dara ini.

“Ceng-moi… aihhh… Candra adikku, bagaimana aku bisa hidup tanpa kau? Bagaimana aku berani melanjutkan perjalanan tanpa engkau…? Adik Candra… tega benar engkau meninggalkan aku… hu-hu- huhhhh, lalu aku bagaimana…?”

Mendengar wanita muda itu menyebut gadis kedua dengan nama Ceng-moi dan juga adik Candra, Bun Beng merasa heran. Akan tetapi kerut di alisnya mendalam dan tiba-tiba dia berkata, suaranya penuh nada teguran, “Nona, tidak kusangka bahwa hatimu kejam dan engkau mementingkan dirimu sendiri saja!”

Mendengar teguran aneh ini, tentu saja Syanti Dewi terkejut dan merasa amat heran sehingga sejenak dia lupa akan tangisnya, mengangkat muka yang pucat dan basah dengan mata merah, memandang tukang perahu itu sambil bertanya dengan suara tergagap, “Paman… apa… apa maksudnya…? Aku kejam…, terhadap siapa…?”

“Terhadap siapa lagi kalau bukan terhadap adikmu itu?”

“Paman!” Syanti Dewi bertanya dengan suara keras karena penasaran. “Apa maksudmu dengan kata-kata itu? Aku kejam terhadap adik Ceng Ceng?”

Bun Beng menarik napas panjang. “Ahhh, aku sampai lupa bahwa engkau pun hanya seorang gadis yang tentu saja takkan berbeda dengan seluruh manusia di dusun ini, hidupnya penuh dengan keakuan yang selalu mementingkan diri sendiri. Akan tetapi, coba engkau sadarilah, nona. Engkau menangis dan berduka ini, terus terang saja, yang engkau tangisi dan dukakan ini karena adikmu itu mungkin mati, ataukah engkau menangis dan berduka karena engkau ditinggalkan oleh dia yang kau sandari? Engkau menangisi dia ataukah engkau menangisi dirimu sendiri?”

Syanti Dewi terkejut bukan main! Ucapan itu terdengar seperti halilintar menyambar di tengah hari terik, dan memasuki hatinya seperti setetes air dingin sekali di waktu panas. Sejenak dia melongo dan tercengang, hanya dapat memandang orang itu tanpa mampu berkata-kata, dan otomatis tangisnya pun berhenti!

Bun Beng lalu membuat api unggun tanpa berkata-kata, lalu keluar dari dalam kamar kuil tua dan berkata dari luar kamar, “Sekarang yang terpenting menjaga jangan sampai engkau jatuh sakit. Tanggalkanlah semua pakaianmu dan lemparkan keluar agar dapat kujemur sampai kering. Sementara menanti pakaian kering, kau duduklah di dekat api unggun. Dan engkau tidak perlu khawatir, nona. Di tempat ini tidak orang lain kecuali kita berdua, dan aku akan menjaga di luar kuil.”

Teguran atas tangisnya tadi masih menghujam di ulu hatinya, masih berkesan dalam sekali di hatinya, maka seperti dalam mimpi, dengan mata masih tertuju ke arah pintu dari mana laki-laki itu tadi keluar, tanpa ragu-ragu Syanti Dewi menanggalkan semua pakaiannya satu demi satu, lalu menggulung semua pakaian itu dan melempar keluar pintu.

Hanya tampak sebagian lengan tangan menyambar gulungan pakaian itu, lalu lenyap. Syanti Dewi duduk mendekati api unggun, menutupi dadanya dengan rambutnya yang dilepas kuncirnya. Dia duduk termenung, terheran-heran memikirkan laki-laki aneh yang ucapannya menusuk hatinya dengan tepat sekali, membuat tangisnya terhenti seketika karena dia kini malu sendiri kalau harus menangis, karena tak dapat dibantahnya bahwa tangisnya tadi terutama sekali karena merasa khawatir dan iba kepada dirinya sendiri, bukan kepada Ceng Ceng! Dia menangis karena ditinggalkan.

Karena DIA yang ditinggalkan, karena DIA kehilangan kawan baik, karena DIA kini menghadapi masa depan di istana kerajaan asing seorang diri saja! Kini dia termenung dan merasa heran tiada habisnya karena sedikit ucapan itu menggugah kesadarannya, membuat dia melihat kepalsuan dalam liku-liku kehidupan manusia. Apakah semua tangis yang dikucurkan, semua perkabungan jika ada kematian kesemuanya itu seperti tangisnya tadi juga, semua itu palsu, belaka dan yang menangis itu sesungguhnya hanya menangisi dirinya sendiri saja, bukan menangis demi yang mati?

Bun Beng memeras pakaian gadis itu sampai hampir kering sehingga dijemur sebentar saja pakaian itu sudah kering betul. Pakaian itu digulungnya dan dari luar kamar kuil itu dia berkata, “Nona, pakaianmu sudah kering semua. Terimalah dan segera pakai kembali pakaianmu!” Gulungan pakaian itu dia lemparkan ke dalam dan kembali hanya sebagian lengannya saja yang tampak.

Syanti Dewi merasa bersyukur dan berterima kasih sekali. Cepat dia mengenakan kembali pakaiannya. Di dalam hatinya dia bersyukur kepada Thian bahwa setelah kehilangan Ceng Ceng, kini dia bertemu dengan orang yang demikian baik budinya, seorang laki-laki yang bukan hanya telah menyelamatkan nyawanya, akan tetapi juga yang secara aneh telah menyadarkan batinnya dan kini bersikap demikian sopan kepadanya!

“Aku sudah berpakaian, paman. Harap suka masuk agar kita dapat bicara,” katanya.

Bun Beng melangkah masuk, dan kembali mereka duduk saling berhadapan di atas lantai. Tanpa malu- malu Syanti Dewi kini menatap laki-laki itu dan terkejutlah dia karena baru sekarang tampak olehnya bahwa orang yang berada di depannya jelas bukanlah seorang tukang perahu biasa! Sinar mata laki-laki itu demikian tajam dan berwibawa, namun mengandung kehalusan pandang mata yang penuh kasih sayang dan iba hati.

Wajah itu sangat tampan dan kulitnya halus, kumis dan jenggotnya terpelihara. Seluruh tubuhnya membayangkan perawatan dan kebersihan, bahkan kuku-kuku jari tangannya pun terawat seperti tangan seorang sastrawan, pakaiannya sederhana namun bersih pula. Bukan seorang tukang perahu biasa, agaknya seorang sastrawan yang menyamar sebagai rakyat jelata! Di lain pihak, Bun Beng yang memperhatikan wajah gadis itu juga dapat menduga bahwa gadis ini selain asing karena nama dan bentuk mukanya, juga tentu seorang gadis terpelajar tinggi.

“Nona siapakah?” Bun Beng bertanya singkat.

“Namaku Lu Sian Cu. Boleh aku mengetahui namamu, paman?”

“Sebut saja aku paman Gak. Akan tetapi kuharap engkau tidak merahasiakan namamu karena aku telah mendengar gadis kedua itu meneriakkan namamu, yaitu Syanti.”

Syanti Dewi tercengang dan maklum bahwa tiada gunanya untuk membohong kepada orang yang jelas beriktikad baik terhadap dirinya itu. “Memang Lu Sian Cu adalah nama baruku, paman. Nama yang kupakai dalam perjalanan bersama adikku itu. Nama asliku adalah Syanti Dewi…” Dara itu berhenti untuk melihat reaksi pada wajah laki-laki itu. Namanya adalah nama puteri Kerajaan Bhutan, tentu laki-laki itu akan menjadi terkejut mendengarnya.

Namun tidak ada reaksi apa-apa pada wajah laki-laki itu, dan memang Bun Beng tidak pernah mendengar nama ini. Selama belasan tahun dia tidak mau mencampuri urusan dunia, tidak pula memperhatikan segala peristiwa yang terjadi mengenai pemerintah dan kerajaan mana pun juga!

“Engkau dari suku bangsa apakah, nona?”

Kini tahulah Syanti Dewi bahwa laki-laki ini memang tidak mengenal namanya sama sekali! Hal ini agak mengherankan hatinya, karena daerah ini belum jauh dari Bhutan. Memang namanya yang tidak dikenal orang, ataukah laki-laki ini yang bodoh?

“Aku berbangsa Bhutan…!”

“Ahhh… dan engkau bersama adikmu datang dari Bhutan berdua saja? Hendak ke manakah dan mengapa kalian hanya pergi berdua? Kuharap kau suka menceritakan semua kepadaku agar aku menjadi jelas ke mana aku selanjutnya harus mengantarmu.”

Bukan main girang dan lega rasa hati Syanti Dewi. Benar-benar dia telah ditemukan oleh Thian dengan orang ini yang demikian baik hati! Maka dia lalu bangkit berdiri dan menjura dengan hormat kepada Bun Beng, yang kemudian dibalas oleh laki-laki itu dengan semestinya.

“Paman, aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu, dan lebih banyak terima kasih lagi bahwa paman akan sudi melanjutkan pertolongan paman itu untuk mengantar aku sampai ke tempat tujuan. Akan tetapi, hal itu berarti bahwa aku akan membuat paman repot sekali!”

“Ah, tidak ada kerepotan apa-apa, nona. Dan aku pun bukan menolong, tetapi sudah sewajarnyalah kalau aku menolong seorang gadis muda yang kini hanya melakukan perjalanan seorang diri saja.”

“Tapi perjalananku amat jauh, paman.” “Hemm, sejauh manakah?”
“Sampai ke kota raja Kerajaan Ceng.”

“Hehhh…?” Bun Beng menjadi kaget, juga sama sekali tidak menyangkanya bahwa gadis ini berniat pergi ke kota raja! Akan tetapi dia menduga bahwa tentu ada urusan yang luar biasa pentingnya, maka segera dia berkata, “Memang jauh sekali ke sana, akan tetapi kalau memang perlu, aku bersedia mengantarmu ke sana, nona.”

Kebaikan yang dianggapnya berlebihan ini membuat Syanti Dewi meragu. “Akan tetapi, paman… kabarnya perjalanan ke sana harus menghabiskan waktu berbulan, bagaimana paman dapat meninggalkan keluarga paman…?”

Bun Beng tersenyum dan Syanti Dewi makin kagum. Laki-laki ini tampan dan gagah, juga giginya yang tampak sekilas itu terawat baik, tidak seperti gigi sebagian besar tukang perahu atau orang-orang dusun yang dijumpainya.

“Jangan khawatir, nona. Aku hidup seorang diri di dunia ini, tiada handai taulan, tiada sanak keluarga, tiada rumah tangga. Tetapi, karena perjalanan itu jauh sekali, maka aku tadi mengatakan bahwa kalau perlu, baru aku bersedia mengantarmu. Maka harus dilihat keperluannya dulu. Kalau saja engkau mau menceritakan semua riwayatmu kepadaku, mengapa engkau hendak ke kota raja, dan bagaimana engkau dan adikmu itu sampai terbawa perahu hanyut. Kalau kuanggap memang sepatutnya engkau ke kota raja, tentu akan kuantar.”

Kembali sang puteri menatap wajah Bun Beng sampai beberapa lama, seolah-olah hendak menyelidiki keadaan hati orang itu, kemudian dia berkata, “Paman Gak, terus terang saja kukatakan bahwa riwayatku merupakan rahasia besar yang menyangkut negara, bahkan menyangkut juga mati hidupku. Sekali aku keliru menceritakannya kepada orang yang tidak dapat dipercaya, celakalah aku.”

“Aku tidak perlu membujuk agar engkau mau mempercayaiku, nona. Hanya saja, untuk mengantarmu ke tempat yang demikian jauhnya, aku harus memperoleh kepastian dulu akan alasannya.”

“Aku sudah percaya kepadamu, paman Gak. Kalau engkau bukan orang yang dapat dipercaya, agaknya aku telah mati atau mungkin bernasib lebih buruk lagi. Baiklah, aku akan menceritakan semua keadaanku. Pertama-tama, aku adalah Puteri Syanti Dewi, puteri dari Raja Bhutan.”

Puteri itu berhenti, hendak melihat reaksi wajah orang itu. Namun, tidak ada reaksi apa-apa, seolah-olah orang she Gak itu menganggap seorang puteri raja sama saja dengan seorang gadis dusun anak petani atau nelayan! Hal ini sedikit banyak mendatangkan kekecewaan di dalam hati Syanti Dewi, dan dia cepat melanjutkan, “Dan aku adalah calon mantu Kaisar Ceng!”

Akan tetapi, Bun Beng tidak kelihatan kaget, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan memandang tajam, seolah-olah hendak menjenguk isi hati dara itu. Syanti Dewi menghela napas. Dia kecele kalau ingin melihat wajah orang itu berubah kaget. Agaknya urusan yang menyangkut nama segala raja di raja tidak menggetarkan sedikit pun juga di hati orang itu.

“Rombongan utusan kaisar telah menjemputku di Bhutan, Gak-sioksiok (paman Gak) dan dalam rombongan yang dikawal oleh lima ratus orang pasukan Bhutan itu aku ditemani oleh Ceng-moi.”

“Adikmu yang bernama Candra itu?”

“Dia hanya adik angkat, nama aslinya adalah Lu Ceng, dan nama barunya Candra Dewi, jadi keadaannya berbalik dengan diriku. Dia seorang gadis Han yang memiliki ilmu silat yang lihai sekali.”
Bun Beng mengangguk-angguk, hatinya senang juga mendengar seorang puteri raja mau mengangkat saudara dengan seorang gadis biasa, hal yang membuktikan bahwa puteri yang ditolongnya ini adalah seorang wanita yang berbudi baik!

Syanti Dewi lalu menceritakan semua pengalamannya, semenjak berangkat dari istana Bhutan sampai mereka diserbu pasukan musuh yang amat besar jumlahnya. Diceritakannya betapa dia bersama Ceng Ceng, dikawal oleh kakek gadis itu, terpaksa menyamar dan melarikan diri karena gelagatnya tidak baik. Betapa kakek itu tewas dalam membelanya dan kemudian dia bersama adik angkatnya itu melarikan diri berdua, mengalami segala kesengsaraan sampai akhirnya terbawa perahu yang hanyut, dan dia tertolong oleh paman Gak itu.

“Demikianlah, paman. Sungguh tidak saya sangka bahwa kalau demikian buruk nasib Ceng-moi. Kasihan sekali dia… demi keselamatanku, dia dan kakeknya sampai harus mengorbankan nyawa.”

“Hemmm, kita belum yakin benar bahwa nona Ceng itu akan tewas. Akan tetapi, tukang perahu yang membawa kalian itu sungguh menarik. Benarkah bahwa dia itu memiliki kepandaian yang hebat?”

“Dia memang lihai sekali. Hal ini baru kami ketahui setelah adik Ceng marah-marah dan menyerangnya. Ternyata ia memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada kepandaian Ceng-moi yang sudah amat lihai itu. Dan baru saya dapat menduga bahwa para pencegat dalam dua buah perahu itu tentulah jeri terhadap dia, entah mengapa, bahkan ada yang membisikkan nama julukan Si Jari Maut.”

Bun Beng mengangguk-angguk. Tidak disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan urusan sebesar ini! Yang ditolongnya adalah puteri Raja Bhutan, calon mantu kaisar! Dan ternyata di daerah barat terjadi pemberontakan yang besar pula. Dia tidak ingin terseret ke dalam urusan apa pun juga, tetapi setelah secara kebetulan dia menolong puteri ini, tidak mungkin pula dia membiarkannya saja pergi seorang diri yang tentu merupakan hal yang amat berbahaya sekali.

“Ketika engkau masih bersama nona Ceng, ke manakah tujuan kalian melarikan diri?”

“Kami hanya mentaati pesan kakek dari Ceng-moi, yaitu disuruh melarikan diri ke kota raja Kerajaan Ceng dan menemui seorang puteri kaisar di sana.”

“Puteri kaisar?” Bun Beng memandang dengan jantung berdebar tegang. “Ya, namanya Puteri Milana…”
Bun Beng menelan seruan kagetnya, tetapi dia tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang menjadi merah. Perubahan pada wajah ini tampak pula oleh Syanti Dewi yang cepat bertanya, “Ada apakah, paman?”

“Tidak… tak ada apa-apa,” jawab Bun Beng yang segera bangkit berdiri dan termenung sejenak. Kemudian dia berkata, “Sebelum kita berangkat ke kota raja yang jauh itu, mari kita mencoba untuk mencari adikmu itu. Siapa tahu dia dapat menyelamatkan diri…”

Keduanya lalu menyusuri Sungai Nu-kiang, namun sampai puluhan li jauhnya, mereka tidak melihat ada tanda-tanda bahwa Ceng Ceng mendarat, akan tetapi juga tidak ada melihat mayat gadis itu. Akhirnya, terpaksa Bun Beng mengajak dara itu menghentikan usaha mereka mencari Ceng Ceng dan mulailah dia mengantarkan dara itu ke kota raja, sebuah perjalanan yang amat jauh sekali dan akan memakan waktu berbulan…..

********************

“Kau tidak boleh melakukan hal seperti itu, Bu-te! Engkau bisa disangka hendak berbuat kurang patut!”

Mendengar teguran kakaknya itu, Kian Bu tersenyum lebar, “Ahhh, Lee-ko. Peduli apa dengan persangkaan kosong? Buktinya yang penting, dan engkau tentu tahu betul bahwa aku sama sekali tidak ingin melakukan sesuatu yang kurang patut! Aku hanya ingin berkenalan dan mendapat kesempatan bercakap-cakap dengan seorang gadis cantik. Apa salahnya itu?”

Mau tidak mau Kian Lee tertawa. Memang adiknya ini bengal sekali dan bagi yang tidak mengenalnya betul, tentu perbuatannya akan dianggap sebagai perbuatan kurang ajar dan melanggar susila.

Seminggu yang lalu, adiknya itu sudah mempraktekkan kebengalannya. Ketika melihat sebuah joli digotong angin nakal menyingkapkan tirai memperlihatkan bahwa yang berada di dalam joli itu duduk seorang gadis cantik, tanpa ragu-ragu sama sekali Kian Bu mengejar joli, membuka tirai dan berseru girang, “Haiii, nona Liem…! Engkau hendak ke manakah?”

Tentu saja empat orang penggotong joli mengira bahwa pemuda tampan itu memang kenalan atau anggota keluarga si nona cantik yang mereka gotong, dan baru mereka tahu bukan demikian halnya ketika terdengar nona itu menjawab dengan nada heran dan marah, “Siapa kau? Aku tidak mengenalmu!”

“Eh, ehh, Liem-siocia. Masa lupa lagi kepadaku? Aku Suma…”

“Aku tidak kenal orang she Suma. Dan aku bukan she Liem, aku she Kiem!” nona itu membentak pula, sedangkan tukang joli terpaksa berhenti dan memberi kesempatan kepada muda-mudi itu untuk bercakap- cakap.

Suma Kian Bu pura-pura kaget. “Aihhh… maaf, maafkanlah aku, Kiem-siocia. Kau mirip benar dengan Liem-siocia yang… cantik. Kalau begitu perkenalkanlah, aku… Suma Kian Bu…”

“Tukang joli, hayo jalan terus!” Nona itu berkata marah dan menutupkan tirai joli.

Ketika joli itu sudah berjalan jauh, Suma Kian Bu hanya tertawa-tawa mendengarkan teguran kakaknya. “Salah-salah kau bisa disangka jai-hwa-cat, penjahat tukang perkosa wanita!” Suma Kian Lee mengakhiri tegurannya.

Sekarang baru sepekan kemudian, sudah kumat pula penyakit Suma Kian Bu dan pemuda ini menyatakan hendak ‘belajar kenal’ dengan seorang puteri yang naik joli. Melihat betapa joli itu tertutup rapat tanda bahwa penumpangnya adalah seorang wanita muda yang tidak mau memperlihatkan diri, Kian Lee mencegah adiknya.

“Biarlah, kalau begitu besok pagi aku akan mencegat dia di depan kelenteng,” kata Kian Bu. “Aku penasaran kalau belum melihatnya. Menurut pemilik warung dekat kelenteng, sudah beberapa hari ini nona itu setiap pagi pergi ke kelenteng dan kabarnya cantik sekali.”

“Huhh, mata keranjang kau!” Kian Lee berkata. “Biarlah besok kau keluar sendiri, aku tidak sudi melihat kau berbuat ceriwis terhadap wanita!”

Seperti telah diceritakan di bagian depan, kakak beradik dari Pulau Es ini mulai dengan perantauan mereka. Dengan perahu mereka meninggalkan Pulau Es dan berkat petunjuk peta yang dibuat oleh Pendekar Super Sakti, ayah mereka, kali ini tanpa banyak kesulitan mereka dapat mencapai daratan besar. Mereka lalu mulai melakukan perjalanan yang amat jauh itu, menuju ke kota raja untuk menemui kakak mereka, yaltu Puteri Milana. Akan tetapi karena baru kali itu mereka merantau, mereka tidak tergesa-gesa dan di setiap tempat yang menyenangkan hati, mereka berhenti sampai dua tiga hari. Bekal mereka cukup banyak sehingga mereka tidak khawatir kehabisan bekal uang untuk biaya makan dan penginapan.

Tidak dapat terlalu disalahkan kalau dua orang pemuda itu terpesona menyaksikan tamasya alam yang amat indah, yang tidak dapat mereka lihat di Pulau Es, melihat kota-kota besar dan dusun-dusun yang ramai, apa lagi terpesona melihat gadis-gadis cantik yang selama hidup belum pernah mereka lihat. Hanya bedanya, kalau Kian Lee tetap bersikap tenang-tenang saja, adalah Kian Bu yang seperti cacing kepanasan dan setiap kali bertemu gadis cantik, ingin sekali dia berkenalan! Dorongan hasrat yang wajar saja, sama sekali tidak terkandung nafsu birahi atau keinginan yang tidak patut!

Mereka terpaksa bermalam satu malam lagi di rumah penginapan di kota itu karena Kian Bu yang rewel tidak mau melanjutkan perjalanannya sebelum sempat ‘berkenalan’ dengan nona dalam joli yang setiap pagi pergi ke kelenteng, dengan menggunakan ‘siasatnya’ yang hanya dapat diciptakan otak seorang pemuda yang memang memiliki watak urakan (ugal-ugalan) tapi tidak kurang ajar.

Besoknya, pagi-pagi sekali Kian Bu sudah menanti di tepi jalan, dekat kelenteng. Dia tinggalkan kakaknya yang masih tidur di atas pembaringan dalam kamar penginapan. Jantungnya berdebar tegang dan sebentar-sebentar dia tersenyum membayangkan betapa dia akan dapat berhadapan dengan gadis cantik dalam joli dan dapat bercakap-cakap! Siapa tahu, kalau awak sedang untung, dia akan mendapatkan tanggapan baik dan akan dapat bersahabat, sungguh pun dia hanya ingin melihat kata-kata ramah dan senyum manis ditujukan kepadanya, lain tidak!

Jantungnya berdebar makin tegang ketika dia melihat joli yang dinanti-nantikannya dari jauh. Tidak salah lagi, tentu dia, pikirnya. Tidak ada joli lain yang digotong menuju ke kelenteng!

“Hendak ke mana, lopek?” tanyanya kepada penggotong joli terdekat. Penggotong joli itu melirik tanpa menoleh dan menjawab singkat, “Ke kelenteng.”
Kian Bu kemudian menghampiri joil dan berteriaklah dia dengan suara girang sambil tangannya menyingkap tirai. “Haiii, kiranya nona Thio… hahhhh…?!” Matanya terbelalak ketika melihat bahwa yang berada di dalam joli itu ternyata adalah Suma Kian Lee, kakaknya sendiri!

Joli dihentikan, Kian Lee meloncat keluar dan tertawa, mentertawakan adiknya yang membanting-banting kaki dan bersungut-sungut karena empat orang penggotong joli sudah tertawa, demikian pula beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu di tepi jalan.

“Lee-ko, engkau sungguh terlalu…!” Kian Bu berkata, akan tetapi dia tidak membantah ketika tangannya ditarik oleh kakaknya, diajak kembali ke penginapan untuk mengambil buntalan mereka.

“Bu-te, kalau tidak begitu engkau tidak akan bertobat. Kau tidak boleh melakukan hal itu, karena biar pun aku yakin bahwa engkau tidak berniat kurang ajar, namun engkau membuat seorang gadis merasa malu dan terhina. Salah-salah engkau akan terlibat dalam perkelahian, padahal ayah sudah berpesan keras- keras bahwa kita tidak boleh mencari gara-gara di dalam perjalanan!”

“Sudahlah, sudahlah, aku memang bersalah besar!”

“Engkau tidak salah besar, Bu-te, akan tetapi engkau terlalu jahil dan kenakalanmu itu dapat mengakibatkan urusan besar. Engkau suka mengganggu gadis, padahal engkau tidak tahu dia siapa, anak siapa, dan engkau mendatangkan rasa terhina dan malu kepadanya. Padahal semua itu kau lakukan hanya untuk main-main, bukan karena memang engkau sungguh tertarik dan suka kepadanya.”

“Kalau begitu, andai kata aku tertarik benar-benar kepada seorang gadis, aku boleh… ehhh, belajar kenal dengannya?”

“Tentu saja boleh, asal caranya tidak kurang ajar dan sewajarnya. Bukan dengan cara urakan menegur orang di jalan pura-pura kenal macam yang kau lakukan itu!”

Wajah tampan dari Kian Bu berseri gembira, lenyap sudah kemengkalan hatinya karena penipuan kakaknya tadi. Memang demikianlah watak Kian Bu. Lincah, kocak, nakal, periang, mudah marah dan mudah tertawa lagi. “Bagus! Kalau begitu aku akan mencari akal lain yang lebih baik.“ Dia melihat kakaknya melotot dan cepat menyambung, “yaitu kalau aku sudah tertarik benar-benar kepada seorang gadis.”

“Kau memang mata keranjang dan nakal!” Kakaknya mengomel.

“Ehh, Lee-ko, apakah kau tidak tertarik dan suka melihat gadis cantik? Mereka itu begitu cantik, begitu manis. Suaranya begitu halus merdu, lirikan dan senyumannya semanis madu, gerak-geriknya amat menyenangkan. Aku tidak percaya kalau tidak suka pula menyaksikan seorang gadis cantik.”

“Biar pun suka, akan tetapi tidak boleh diutarakan secara kasar seperti kelakuanmu.”

“Horeee! Jadi kau pun suka, koko? Bagus, kalau begitu bukan aku sendiri yang suka melihat gadis cantik! Ehhh, engkau lebih suka yang bagaimana, koko? Aku suka gadis yang lincah, yang kocak pandang matanya, yang murah senyumnya, yang pandai bergaul, seperti lagak seekor burung murai yang tak pernah diam dan selalu berkicau meriah dan merdu.”

Di dalam hatinya, Kian Lee merasa tidak senang dan malu harus bicara tentang wanita, akan tetapi hanya untuk melawan dan mencela adiknya, dia menjawab juga, “Sama sekali tidak seperti engkau, aku lebih suka kepada seorang dara yang sopan santun, pendiam, dan menyembuyikan keramahan di balik kesopanan dan kesusilaan.”

“Wah-wah-wah, kalau begitu engkau lebih baik memilih sebuah patung saja, Lee-ko! Ha-ha-ha!” “Sudahlah, mari kita melanjutkan perjalanan. Aku muak mendengar obrolanmu tentang wanita.”
Demikianlah, kakak beradik yang wataknya berbeda seperti bumi dengan langit ini tidak pernah rukun di dalam perjalanan, dalam arti kata, rukun dalam sifat mereka. Mereka selalu tidak sependapat mengenai cara hidup, apa lagi kalau ada hubungannya dengan pergaulan dan wanita. Mereka hanya rukun dan saling membela mati-matian kalau ada urusan yang langsung mengenai diri mereka. Kian Lee amat mencinta dan membela adiknya, mendahulukan keperluan adiknya dari pada keperluannya sendiri. Sebaliknya Kian Bu amat mencinta kakaknya dan amat patuh, sungguh pun pada lahirnya dia suka membantah, dan diam-diam dia kagum dan berterima kasih atas segala kebaikan yang dilimpahkan kakaknya kepadanya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo