September 16, 2017

Kisah Sepasang Rajawali Part 3

 

Dengan mata terbelalak penuh kengerian, kedua orang pemuda remaja itu melihat tawanan itu ditelanjangi, digantung kedua tangannya dan dibelek perutnya dengan golok tajam dan dikeluarkan isi perutnya! Hampir mereka tak dapat bertahan menyaksikan kekejaman dan mendengar suara teriakan tawanan itu. Kemudian mereka berdua hampir muntah melihat mayat orang itu dipotong-potong, kemudian dimasak dan dipanggang!

“Lee-ko… aku… aku takut…” Suma Kian Bu berbisik, berdiri menggigil dan mukanya pucat sekali.

Suma Kian Lee juga berdebar ngeri, dan dia maklum bahwa kalau adiknya yang tak pernah mengenal takut itu kini menyatakan takut, maka keadaannya sudah gawat sekali.

“Bu-te… kita harus dapat meloloskan diri… sekarang juga…,” bisiknya sambil merangkul adiknya. Mereka berdua maklum bahwa nasib mereka juga besar kemungkinan akan sama dengan tawanan yang gemuk itu!

Kedua orang pemuda remaja itu menanti kesempatan baik dan ketika ketua Pulau Neraka sedang berpesta pora menikmati daging manusia sambil minum arak, kemudian sisanya dibagi-bagikan kepada para anak buahnya, mereka berdua menyelinap ke dalam kebun. Di situ mereka melihat tiga ekor burung rajawali sedang makan isi perut manusia! Dua ekor burung yang putih bulunya dan masih muda, memperebutkan usus yang panjang, saling tarik dan saling betot sambil mengeluarkan bunyi cecowetan.

“Bu-te, sekarang…!” bisik Suma Kian Lee dan keduanya lalu menghampiri dua ekor burung itu. Dengan gerakan yang amat gesit, keduanya mengerahkan ginkang mereka dan meloncat ke atas punggung burung yang tinggi.

Dua ekor burung rajawali putih itu terkejut, meronta karena mengira bahwa mereka diserang dan ditubruk musuh. Mereka berusaha untuk melemparkan orang yang berada di punggung mereka dan dalam kemarahan mereka, usus yang diperebutkan tadi sudah dilupakan lagi. Namun, kedua orang muda itu tetap mendekam di atas punggung mereka sambil merangkul leher burung dengan ketatnya.

“Rajawali, terbanglah!” Suma Kian Bu membentak. “Kalau tidak, kucabuti semua bulu lehermu!” Berkata demikian, pemuda bengal ini mencabuti beberapa helai bulu dari leher burung yang ditungganginya.

Burung itu menjerit kesakitan, mengembangkan sayapnya lalu terbang ke atas. Burung yang ditunggangi Suma Kian Lee yang juga kebingungan dan ketakutan, segera mencontoh perbuatan temannya dan terbang pula!

“Yahuuu…!” Suma Kian Bu bersorak kegirangan. “Lee-ko! Kita terbang seperti dewa…!” Teriaknya pula sambil menoleh ke arah rajawali kedua yang ditunggangi kakaknya.

“Hati-hati, Bu-te, lihat kita dikejar…!”

Kian Bu menoleh ke bawah dan benar saja. Dia melihat rajawali hitam sudah terbang pula ke atas dan di punggung burung besar itu duduk… Hek-tiauw Lo-mo! Kakek itu kelihatan marah sekali, menggerak- gerakkan kedua tangannya menyuruh dua orang muda itu kembali. Rajawali hitam yang ditungganginya juga mengeluarkan suara melengking-lengking seperti mengundang kedua orang temannya. Dua ekor rajawali putih itu bimbang dan tiba-tiba membalik dan terbang menghampiri rajawali hitam!

“Heiii, dua bocah yang bosan hidup! Kalian berani mencoba melarikan diri? Awas kau, sekali ini aku tak akan mengampuni kalian lagi. Kalian akan kupanggang hidup-hidup!”

Rajawali hitam itu sudah dekat sekali dan tiba-tiba rajawali putih yang ditunggangi Suma Kian Bu mengeluarkan pekik nyaring dan… menerjang rajawali hitam dengan ganasnya!
“Eh-eh, heiiitttt… kurang ajar!” Hek-tiauw Lo-mo berteriak marah melihat rajawali putih itu mengabruk rajawali hitam yang ditungganginya.

Tetapi dari belakangnya, rajawali putih kedua yang ditunggangi Kian Lee juga datang menyerbu dengan ganas! Apakah yang terjadi? Mengapa kedua rajawali putih itu menyerang temannya sendiri?

Ternyata Kian Bu yang bengal itu menjadi khawatir sekali menyaksikan kedatangan rajawali hitam yang ditunggangi ketua Pulau Neraka yang menyeramkan itu. Dalam kegelisahannya, timbul akalnya dan dia kemudian mencabuti bulu di leher, bahkan mencengkeram leher rajawali yang ditungganginya.

Rajawali itu kesakitan dan marah-marah, sedemikian marahnya hingga dia mengamuk membabi buta. Karena tidak dapat membalas orang yang mendekam di punggungnya, dia lalu menumpahkan kemarahannya kepada rajawali hitam!

Ada pun Kian Lee yang mendekam di punggung rajawali putih kedua membisikan kata-kata halus kepada rajawali itu, minta kepada binatang itu agar menolongnya, “Rajawali yang baik, kau tolonglah kami berdua…”

Tentu saja rajawali yang ditungganginya itu tidak mengerti arti kata-kata Kian Lee, akan tetapi melihat temannya menerjang rajawali hitam, dia pun membantu dan menyerang dari belakang. Segera terjadi pertandingan yang seru dan mengerikan hati kakak beradik itu antara tiga ekor burung rajawali itu! Siapa tidak akan merasa ngeri kalau burung yang ditunggangi masing-masing itu menukik, menerjang, membalik dan membuat gerakan-gerakan yang luar biasa. Sekali saja mereka terjatuh, tentu mereka akan terbanting dari tempat yang luar biasa tingginya itu dan tubuh mereka akan remuk!

Hek-tiauw Lo-mo marah bukan main. Dia memaki-maki, tangannya ikut membantu rajawalinya memukul ke arah kedua ekor rajawali putih, akan tetapi karena gerakan rajawali yang ditungganginya membuat dia pun harus berpegang kuat-kuat, maka gerakannya tidak leluasa dan pukulannya meleset selalu.

“Bedebah! Keparat! Kalian berani melawan? Kusembelih kalian!” bentaknya berkali-kali akan tetapi akhirnya dia terpaksa harus menangkis karena keroyokan dua ekor rajawali putih yang masih muda dan kuat itu membuat rajawalinya sendiri kewalahan dan beberapa patukan dan cakaran kesasar menyerang dirinya!

Dia merasa menyesal mengapa tadi tergesa-gesa tidak membawa senjatanya. Tadinya dia sedang makan minum dan terkejut mendengar pekik rajawalinya, maka dia lari keluar tanpa membawa senjatanya ketika anak buahnya berteriak melapor bahwa dua orang pemuda tawanan itu lari. Pula, dia memandang rendah mereka, sama sekali tidak mengira bahwa dua ekor burung rajawali itu akan membalik dan melawannya!

Setelah terkena patukan beberapa kali dan kepalanya terluka berdarah, rajawali hitam menjadi panik dan jeri, dan akhirnya sambil berteriak panjang dia membalik dan pergi. Betapa pun Hek-tiauw Lo-mo membentak dan membujuknya, rajawali hitam itu tidak mau melanjutkan pengejarannya dan dua ekor rajawali putih sudah terbang lagi dengan kecepatan yang membuat kedua orang muda itu berpegang semakin erat.

Akan tetapi makin lama, mereka menjadi terbiasa dan tidak terlalu ngeri lagi, bahkan Suma Kian Bu sudah pula mulai bergembira dan bersorak-sorak.

“Aduhh… indahnya pemandangan di bawah. Lihat, Lee-ko, tuh di sana, pulau itu, aduh indahnya! Berwarna-warna, biru hijau kuning… dan pepohonan itu demikian kecil!”

Jarak antara kedua ekor rajawali itu memang tidak jauh dan sepasang rajawali itu memang amat akrab, maka mereka dapat saling bercakap-cakap, biar pun mereka harus berteriak agar dapat terdengar.

“Bu-te, kita harus kembali ke Pulau Es!” Kian Lee berteriak.

“Benar, Lee-ko, mari kita cari. Tentu akan lebih mudah mencari dari atas.”

Rajawali yang ditunggangi Kian Bu agaknya memang lebih nakal dari pada yang ditunggangi Kian Lee. Rajawali itu menukik ke bawah, kemudian terbang berputaran dengan kecepatan yang luar biasa. Kian Bu yang banyak akalnya mulai mempelajari cara menunggang burung raksasa ini. Dia mencoba dengan menarik bulu leher kanan. Kalau merasa leher kanannya sakit, terpaksa burung itu menggerakkan kepala ke kanan, ekornya mengimbanginya dan otomatis terbangnya membelok ke kanan.

Demikian pula kalau Kian Bu menarik bulu di leher kiri. Dapat dibayangkan betapa girang rasa hati Kian Bu dan mulailah dia ‘menyetir’ burungnya mencari Pulau Es. Burung yang ditunggangi Kian Lee selalu mengikuti ke mana terbangnya kawannya sehingga bagi Kian Lee tidak sukar lagi menentukan arah.

“Ah, di sana itu, Bu-te…!” Tiba-tiba Kian Lee berteriak ketika melihat sebuah pulau yang berwarna putih dan berkilauan. Tentu saja belum pernah dia melihat Pulau Es dari angkasa, akan tetapi biasanya kalau dia sedang bermain di puncak bukit kecil di tengah pulau, dia melihat permukaan pulau yang rendah juga berwarna putih dan berkilau seperti itu.

“Benar, mari kita pulang, Lee-ko!” Kian Bu juga sudah melihat pulau itu dan dia memutar burungnya menuju ke sana.

Tak lama kemudian, kedua ekor burung rajawali itu terbang berputaran di atas pulau dan kedua orang anak itu berteriak-teriak kegirangan ketika mengenalnya. Memang benar pulau itu adalah tempat tinggal mereka, Pulau Es!

“Ayaaaaaaahhhhh…! Ibuuuuu…!” Suma Kian Bu berteriak-teriak dari atas.

Tak lama kemudian tampaklah Pendekar Super Sakti dan kedua orang isterinya keluar dari dalam Istana Pulau Es dan ketiga orang itu memandang ke atas dengan penuh keheranan melihat sepasang rajawali itu berputaran di atas pulau.

“Kian Lee! Kian Bu!” Terdengar suara Pendekar Super Sakti melengking nyaring. “Lekas kalian turun…!”

Dua ekor burung itu tetap terbang berputaran dan betapa pun kedua orang muda itu berusaha, tetap saja sepasang rajawali itu tidak mau turun. Tentu saja mereka tidak mau turun di pulau yang asing karena mereka merasa takut.

“Ayah! Kami tidak dapat menyuruh mereka turun…!” Kian Lee berseru keras ke bawah.

“Kalian totok pangkal leher mereka di antara kedua sayap, dan tekan kepala mereka ke bawah!” Terdengar lagi Pendekar Super Sakti berseru.

Dua orang pemuda remaja itu mentaati perintah ayah mereka dan benar saja, setelah mereka menotok dan menekan kepala tunggangan masing-masing, dua ekor rajawali itu mengeluarkan lengking nyaring dan gerakan mereka menjadi lemah.

Pada saat itu Pendekar Super Sakti mengeluarkan suara melengking seperti suara burung-burung itu, akan tetapi lebih nyaring lagi sampai suara lengkingnya bergema di semua penjuru. Mendengar suara ini, sepasang rajawali itu kelihatan terkejut, kemudian menukik ke bawah dan terbang menghampiri Pendekar Super Sakti, hinggap di atas tanah depan pendekar itu dan kelihatan bingung dan takut-takut. Kian Lee dan Kian Bu cepat meloncat dari atas punggung sepasang rajawali.

“Kian Lee…!”

“Kian Bu…!”

Dan dua orang ibu itu lari menghampiri dan memeluk putera masing-masing dengan hati lega. Selama ini kedua orang ibu itu dicekam kegelisahan hebat karena putera mereka pergi sampai lama tanpa ada beritanya.

“Hemm, kalian pergi tanpa pamit sampai berbulan. Apa artinya perbuatan kalian itu?”

Suara Pendekar Super Sakti terdengar penuh wibawa, menyembunyikan kemarahan. Hal ini terasa sekali oleh kakak beradik itu, maka keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan ayah mereka dan hampir berbareng kedua orang anak itu berkata, “Aku telah bersalah, ayah.”

“Hayo ceritanya semuanya, ke mana kalian pergi dan dengan maksud apa,” kata pula Pendekar Super Sakti dengan marah dan kedua orang isterinya hanya memandang dengan hati khawatir. Mereka pun tahu kalau suami mereka marah dan memang sudah sepantasnya karena kedua orang anak itu pergi tanpa pamit dan telah membuat hati orang tua mereka bingung dan gelisah.

Biar pun kalau berada di luar Kian Bu jauh lebih bengal dari pada kakaknya, namun menghadapi ayah mereka, Kian Bu paling takut, maka dia hanya menoleh kepada kakaknya, seolah-olah hendak menyerahkan semua jawaban kepada kakaknya. Kian Lee seperti biasanya selalu bersikap tenang, juga kini di depan ayah mereka yang dia tahu sedang marah, dia bersikap tenang sungguh pun jantungnya dicekam rasa jeri. Suaranya tenang dan jelas ketika dia mulai menceritakan ‘petualangan’ kakak beradik itu, betapa mereka berdua tadinya berniat mencari kakak mereka Milana yang berada di kota raja, akan tetapi betapa mereka tersesat jalan sampai tiba di Pulau Neraka.

Mendengar disebutnya Pulau Neraka, tiga orang suami isteri itu terkejut, terutama sekali Lulu yang pernah menjadi ketua Pulau Neraka. “Kalian sampai di Pulau Neraka?” serunya dengan alis berkerut. “Apa yang terjadi di sana?”

“Kami berdua tidak sengaja mendarat di Pulau Neraka.” Kian Lee melanjutkan, “dan di sana, kami dijadikan tawanan oleh ketuanya.”

“Hemmm, siapa ketua Pulau Neraka?” Suma Han bertanya.

Kian Lee lalu menceritakan tentang Hek-tiauw Lo-mo yang suka makan daging manusia dan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

“Ah, agaknya pulau itu kini dikuasai oleh seorang biadab!” Nirahai berseru heran.

Mendengar suara ibunya, Kian Bu mulai berani membuka mulut. “Wah, dia mengerikan sekali, Ibu! Untung Lee-ko dan aku dapat melarikan diri dibantu oleh sepasang rajawali putih itu. Kami dikejar oleh ketua Pulau Neraka yang menunggang rajawali hitam, untung saja sepasang rajawali ini membela kami dan menerbangkan kami sampai ke sini!” Dia lalu menceritakan pengalamannya ketika dikejar Hek-tiauw Lo- mo, ceritanya asyik sekali disertai gerakan kaki tangan sehingga Nirahai dan Lulu mendengarkan dengan tertarik.

“Biarlah kubebaskan dulu engkau dari belenggu itu!” Nirahai menghampiri Kian Bu sedangkan Lulu menghampiri Kian Lee. Mereka berniat mematahkan belenggu yang mengikat kaki tangan anak-anak mereka dengan rantai besi panjang itu.

“Jangan buka belenggu itu!” Tiba-tiba Suma Han berkata.

Kedua orang isterinya terkejut dan menengok, memandang suami mereka. Dengan suara tenang namun penuh kepastian Suma Han berkata lagi, “Mereka adalah dua orang anak yang telah membikin bingung dan gelisah hati orang tua, juga telah mendatangkan kekacauan di Pulau Neraka tanpa sebab. Mereka harus dihukum dan sepantasnyalah belenggu-belenggu itu untuk mereka. Hayo kalian naik ke puncak dan bersemedhi di sana selama dua hari dua malam. Pergi!” Suma Han mendekati kedua orang puteranya dan tangan kirinya menampar dua kali, mengenai punggung mereka.

“Bukk! Bukk!”

Kedua orang anak itu tersungkur, kemudian bangkit berdiri memandang ayah mereka dengan mata terbelalak, menggigit bibir, menahan nyeri, kemudian mereka saling pandang dan melangkah lebar menuju bagian yang paling tinggi di pulau itu, yang mereka sebut puncak.

Lulu dan Nirahai saling pandang dengan alis berkerut. Ketika kedua anak itu sudah tak tampak lagi, barulah Nirahai berkata, nadanya memprotes, “Mengapa mereka…?”

“Harus dihukum, biar mereka tahu dan kelak mereka akan memperhitungkan setiap tindakan mereka, tidak sembrono dan asal berani saja,” kata Pendekar Super Sakti dengan suara tegas sehingga kedua orang isterinya tidak berani membantah.

Mereka berdua hanya memandang dengan hati terharu melihat dua ekor rajawali itu mengeluarkan suara seperti orang menangis ketika memandang ke arah perginya dua orang muda itu. Kemudian sepasang rajawali itu terbang ke atas dan berputaran di atas Pulau Es.

Pada malam kedua diam-diam Lulu menyelinap ke puncak dan membawakan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Ketika tiba di puncak, Lulu melihat bahwa sepasang rajawali ini seolah-olah sedang menjaga Kian Lee dan Kian Bu yang duduk bersila seperti patung, muka dan tubuh mereka penuh salju putih sehingga mereka seperti sudah berubah menjadi manusia salju.

Lulu harus mengurut dan mengguncang sampai lama dan barulah Kian Lee sadar dari semedhinya. Melihat ibunya, Kian Lee hanya menggelengkan kepalanya dan hendak memejamkan matanya kembali.

“Lee-ji, bangunlah dulu. Kau harus makan dan minum dulu, baru boleh bersemedhi lagi. Ingat, tubuhmu takkan kuat bertahan dan kau bisa terancam sakit. Juga adikmu Kian Bu.”

Karena dibujuk terus, akhirnya Kian Lee menurut, membangunkan adiknya dan kedua orang muda ini lalu makan dan minum sekadarnya untuk mengisi perut yang kosong dan menghangatkan tubuh. Setelah makan minum, mereka melanjutkan semedhi dan terpaksa Lulu meninggalkan mereka.

Pada keesokan harinya, dua hari dua malam telah lewat dan pagi-pagi sekali Pendekar Super Sakti dan dua orang isterinya telah berada di puncak. “Bangunlah kalian, masa hukuman telah habis!” Suma Han berseru dan suaranya yang disertai khikang kuat itu seolah-olah menembus keadaan dua orang muda yang sedang semedhi itu sehingga mereka terbangun dan cepat bangkit. Keduanya terhuyung dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayah mereka.

Suma Han memandang kedua puteranya itu, lalu berkata dengan wajah berseri, “Sekarang, kerahkan hawa panas yang berputaran di tian-tan (pusar) kalian, dorong ke arah pergelangan tangan dan coba renggutkan belenggu itu agar patah.”

Dua orang muda itu menurut. Memang selama mereka bersemedhi, mereka terlindung oleh hawa panas yang berputaran di seluruh tubuh mereka, seperti keadaan mereka kalau berlatih sinkang di waktu hujan salju di Pulau Es. Kini mereka mengerahkan tenaga panas itu ke arah kedua lengan, mengerahkan sinkang dan merenggut.

“Krekk! Krekk!” Patahlah belenggu di kedua tangan mereka!

Lulu dan Nirahai girang sekali menyaksikan kemajuan putera-putera mereka, akan tetapi Suma Han mengerutkan alisnya dan berkata lantang.

“Haiii…! Apakah selama dua hari dua malam ini kalian pernah berhenti bersemedhi, kemudian makan dan minum?”

Kakak beradik itu saling pandang, lalu menunduk. Berat rasa hati Kian Lee kalau harus mengaku bahwa ibunya telah membujuknya, dan untuk membohong dan mengatakan tidak pun dia tidak berani.

“Semalam aku datang dan menyuruh mereka makan dan minum,” tiba-tiba Lulu berkata. “Hati siapa yang akan tega menyaksikan anak-anaknya disiksa?”

Suma Han menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengepal-ngepal tangannya sendiri. “Aihhh… kelemahan hati wanita memang sering kali menimbulkan kegemparan dan juga kegagalan.”

Lulu memandang suaminya dan wajahnya berubah. “Eh… apa… maksudmu…?”

“Sebelum mengirim mereka ke puncak, aku telah membuka saluran hawa di tubuh mereka. Aku melihat bahwa mereka sedang dalam keadaan baik sekali, berhati besar dan baru saja mengalami ketegangan hebat. Pula, saatnya amat cocok untuk mereka melatih dan menerima kekuatan Inti Salju. Kalau tidak terganggu, kiranya saat ini mereka sudah berhasil mengumpulkan sinkang yang sepuluh kali lebih kuat dari pada sekarang!”

“Ohhhh…!” Lulu memegangi dahinya dengan penuh penyesalan. “Mengapa kau tidak bilang lebih dulu sebelumnya?”

“Tidak baik kalau diberi tahu lebih dulu, akan menimbulkan ketegangan dan harapan sehingga dapat menggagalkan latihan. Akan tetapi sudahlah, memang sudah demikian kenyataannya. Yang jelas sekarang mereka harus berlatih dengan giat sekali. Kian Lee, Kian Bu, kalian tahu betapa ilmu kepandaian kalian masih jauh dari pada mencukupi sehingga sekali merantau meninggalkan pulau, kalian menjadi tawanan orang dan hampir saja celaka. Mulai hari ini, kalian harus rajin berlatih dan sebelum sempurna ilmu kepandaian kalian, kalian tidak boleh meninggalkan pulau tanpa pamit. Tidak perlu memikirkan kakak kalian. Milana dalam keadaan selamat di kota raja dan kelak kalau ilmu kepandaian kalian sudah mencukupi, tentu kalian boleh mengunjunginya.”

Dua orang pemuda remaja itu mengangguk-angguk dan untuk menyatakan penyesalan mereka, mulai hari itu mereka seperti berlomba dalam kegiatan berlatih ilmu sehingga memperoleh kemajuan yang pesat. Ada pun sepasang rajawali putih dari Pulau Neraka itu menjadi kian jinak dan menjadi kesayangan mereka. Sering kali dua orang pemuda itu, juga ayah dan para ibu mereka, menunggangi rajawali sekedar untuk terbang di udara, di atas Pulau Es.

Beberapa bulan kemudian, barulah kedua orang pemuda itu maklum betapa mereka telah membikin repot ayah mereka ketika mereka pergi tanpa pamit. Baru mereka tahu akan hal ini ketika malam hari itu, setelah mereka semua makan malam, Pendekar Super Sakti menceritakan kepada putera-puteranya betapa dia mencari mereka sampai ke daratan besar, bahkan sampai ke Negara Bhutan, jauh di barat!

“Mengapa ayah menyusul sejauh itu ke Bhutan?” tanya Kian Bu dengan heran.

“Sebetulnya aku hanya menduga saja kalian ikut rombongan utusan dalam petualangan kalian, tetapi kalau tidak ada terjadi suatu hal, aku pun tidak akan menyusul sejauh itu.”

Pendekar itu lalu menceritakan betapa ketika dia mengunjungi puterinya, Milana, dari Han Wi Kong suami Milana, dia mendengar bahwa kaisar membutuhkan orang pandai untuk menyelidiki keadaan di barat, sekalian mengawal rombongan utusan yang kelak akan memboyong puteri. Hal ini karena ada kekhawatiran di istana bahwa kini di barat mulai timbul pemberontakan-pemberontakan dari suku-suku bangsa dan kerajaan-kerajaan kecil yang sudah mulai memperlihatkan permusuhan.

Mendengar ini, Suma Han lalu menghadap kaisar yang masih terhitung mertuanya sendiri itu dan dia menyanggupi untuk menjadi penyelidik. Karena itulah maka Pendekar Super Sakti ini bahkan mendahului rombongan utusan menuju ke Bhutan dan ketika mendahului rombongan itu, dia tahu bahwa kedua puteranya tidak ikut dalam rombongan. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Pendekar Super Sakti berhasil menyelamatkan Raja Bhutan dan ancaman bahaya kepungan para musuhnya.

Seperti biasanya kalau mendengarkan cerita-cerita ayahnya, sekarang mendengarkan pengalaman ayah mereka di Bhutan, kedua orang pemuda itu tertarik sekali dan hati mereka ingin sekali memperoleh kesempatan merantau ke daratan besar yang menurut cerita ayahnya merupakan tempat yang amat luar biasa, penuh ketegangan dan penuh keanehan itu. Keinginan ini mendorong semangat mereka untuk berlatih ilmu silat lebih giat lagi…..

********************

“Kong-lopek, mau apa kau? Jangan mengganggu, aku sedang mencoba membuat ramuan obat seperti yang ditulis dalam kitab oleh mendiang suhu Cui-beng Koai-ong…”

“Aiiih… kongcu! Jangan main-main dengan obat itu. Aku masih ingat, bukankah obat itu yang namanya obat perampas ingatan? Obat itu mengerikan sekali… masakah kongcu sendiri tidak ingat?”

Tentu saja Tek Hoat tidak mengerti dan tidak ingat apa-apa karena dia memang bukanlah Wan Keng In dan bahkan tidak pernah melihat orang yang kini dianggap gurunya, yaitu mendiang Cui-beng Koai-ong itu! Akan tetapi, pemuda yang amat cerdik ini tertawa dan berkata, “Tentu saja aku ingat, Kong-lopek. Mengapa engkau begitu bodoh? Ingatanku tentu lebih kuat dari pada ingatanmu!”

“Tentu saja… tentu saja, kongcu. Karena itu, harap jangan kongcu main-main dengan ramuan racun obat ini…”

“Hemmm, aku ingin mencoba kekuatan ingatanmu, Kong-lopek. Coba ceritakan, apa yang kau ingat dahulu sehingga kau menganggap obat ini begitu luar biasa dan amat menakutkan?”

Kakek yang ingatannya sudah tidak terlalu waras lagi itu menghela napas dan berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul dan memutar-mutar kedua bola matanya. “Hebat sekali obat itu… siapa yang bisa melupakan peristiwa yang terjadi di Pulau Neraka ketika itu? Bukankah engkau sendiri yang menerima obat buatan suhu-mu itu, kongcu? Bukankah obat itu telah memperlihatkan keampuhannya yang mukjijat? Puteri Pendekar Siluman sendiri… ahhh, dia sampai lupa daratan, hilang ingatannya karena kau beri minum obat beracun itu. Kemudian, lebih hebat lagi, murid Pendekar Siluman yang terkenal sebagai seorang wanita gagah perkasa dan kabarnya sudah kebal akan segala macam racun, bahkan dia telah menjadi murid susiok-mu Bu-tek Siauw-jin dan oleh susiok-mu telah diberi makan racun sehingga dia makin kebal racun, ternyata masih dikalahkan oleh suhu-mu! Nona yang kebal itu pun menjadi korban dari obat perampas ingatan yang amat mukjijat itu! Dan untuk itu, gurumu girang bukan main karena hal itu membuktikan bahwa dalam hal racun, gurumu lebih lihai dari pada susiok-mu.”

Mendengar ini, bukan main girangnya hati Tek Hoat. Kalau sampai puteri dan murid Pendekar Super Sakti dibuat tidak berdaya oleh ramuan obat beracun ini, tentu kelak akan berguna sekali baginya! Dia tertawa dan menepuk-nepuk pundak kakek gundul ini. “Ha-ha-ha-ha, kau ternyata masih dapat ingat semua itu, Kong-lopek! Justru karena khasiat obat itu, maka sekarang aku ingin sekali dapat membuat sendiri. Dahulu aku hanya menerima dari mendiang suhu, dan aku tidak pernah diajari membuat obat ini. Sekarang catatan pembuatan obat itu ada di kitab ini, maka aku ingin sekali mencoba membuatnya.”

Kong To Tek, kakek gundul bekas tokoh Pulau Neraka itu menggeleng-geleng kepala, menarik napas panjang dan berkata, “Terserah kepadamu, kongcu. Tetapi aku merasa ngeri… hemm, obat itu hebat sekali dan amat berbahaya…” Dia lalu pergi meninggalkan pemuda yang disangkanya Wan Keng In majikan mudanya itu sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Tek Hoat tersenyum lebar dan melanjutkan pekerjaannya mempraktekkan pelajaran membuat obat perampas ingatan seperti yang dibacanya dari kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong ini. Ini bukanlah sembarang obat! Selain membutuhkan ramuan bahan-bahan obat yang sukar dicari dan hanya bisa didapatkannya dengan bantuan Kong To Tek, juga harus dicampuri dengan rambut dan kuku orang mati yang hanya bisa dia dapatkan dengan menggali kuburan!

Selain itu, apa bila hendak mempergunakannya, mencampurkannya dalam makanan atau minuman orang yang hendak dirampas ingatannya, ada pula manteranya yang harus dibaca. Ternyata bahwa obat perampas ingatan ini bukan racun biasa, melainkan racun yang mengandung kekuatan mukjijat dari ilmu hitam!

Sampai hampir sebulan lamanya dia mempersiapkan ramuan obat perampas ingatan itu dan akhirnya dia berhasil. Dengan wajah berseri-seri dia lalu memandang bubukan berwarna putih yang berada di depannya.

“Terima kasih Cui-beng Koai-ong,” bisiknya sambil menengadah. “Aku telah mewarisi sebuah lagi dari pada ilmu-ilmu yang kau tinggalkan!”

Kemudian pemuda itu termenung. Obat mukjijat itu telah dibuatnya sesuai dengan yang ditulis dalam kitab. Akan tetapi bagaimana cara membuktikannya bahwa buatannya itu memang telah benar? Bagaimana cara membuktikannya bahwa obat perampas ingatan buatannya itu akan ampuh kalau dipergunakan? Jalan satu-satunya harus dicobakan kepada seseorang!

Akan tetapi kepada siapa? Berkelebatnya bayangan Kong To Tek di luar goa membuat dia tersenyum. Siapa lagi yang akan dicobanya untuk membuktikan kemanjuran obat itu kalau bukan Kong To Tek! Sambil tersenyum-senyum dia lalu membungkus dua macam obat itu, yang putih adalah obat perampas ingatan dan yang merah adalah obat penawarnya, dan dia membawa dua bungkusan itu ke dalam goa.

Obat merah dia campur dengan arak dan diminumnya sendiri, sedangkan yang putih dia masukkan ke dalam guci arak di mana masih ada sisa arak. Selama tinggal di dalam goa, Kong To Tek yang mencarikan segala keperluan mereka, termasuk arak wangi.

“Kong-lopek…!” Kemudian dia memanggil sambil menanti di depan goa, guci arak dan dua cawan kosong di tangannya.

Tak lama kemudian muncullah kakek gundul itu, pringas-pringis seperti biasanya. “Kau perlu apakah, kongcu?”

“Kong-lopek aku telah berhasil membuat obat perampas ingatan itu!” Tek Hoat berkata sambil tersenyum girang.

Namun Kong To Tek mengerutkan alisnya dan mendengus. “Uhhh, obat mengerikan seperti itu, untuk apakah kongcu?”

Tek Hoat tertawa. “Ha-ha-ha-ha, aku sudah dapat membuat rahasia peninggalan suhu, bukankah itu menggirangkan sekali? Kong-lopek, kita harus rayakan ini! Hayo temani aku minum arak untuk merayakan hasil baik ini!”

Dia menuangkan arak dari guci ke dalam dua cawan kosong dan ternyata sisa arak itu hanya tepat dua cawan saja, lalu menyerahkan yang secawan kepada Kong To Tek. Tentu saja kakek ini menerima dengan girang tanpa curiga karena selain dia percaya penuh kepada orang yang dianggapnya Wan Keng In putera ketuanya itu, juga dia melihat bahwa pemuda itu juga minum dari cawan kedua yang diisi dari guci yang sama.

“Terima kasih, lopek. Sekarang pergilah beristirahat, aku sendiri sudah lelah sekali.”

Kakek gundul itu mengangguk-angguk dan diam-diam Tek Hoat memperhatikan gerak-geriknya. Melihat betapa kakek itu berulang kali menguap tanda mengantuk, dia girang sekali. Cocok dengan tulisan dalam kitab. Orang yang terkena racun itu tentu akan merasa mengantuk sekali dan setelah orang itu tertidur, maka terjadilah perubahan pada ingatannya, racun itu bekerja dan kalau orang itu bangun, dia tidak akan ingat hal-hal yang telah lalu sama sekali!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tek Hoat sudah bangun dan menghampiri Kong To Tek yang masih tidur di bagian luar goa yang besar itu. Kakek gundul itu tidur mendengkur dengan keras sekali, tanda bahwa tidurnya amat pulas. Akan tetapi Tek Hoat sudah tidak sabar lagi, mengguncang-guncang pundak kakek itu.

“Lopek! Kong-lopek, bangunlah…!”

“Hemmm… ahhh… masih mengantuk… ehhh, siapa kau…?” Kakek gundul itu membuka mata, menggosok- gosok kedua matanya dan memandang ke kanan kiri, lalu kembali memandang lagi kepada Tek Hoat, kemudian meloncat bangun dengan kaget dan heran.

“Di mana aku…? Siapa kau ini orang muda…? Ah, mengapa aku bisa berada di sini?” Kakek itu kelihatan seperti orang bingung dan Tek Hoat tersenyum girang sekali. Sikap kakek itu saja jelas membuktikan bahwa obat perampas ingatan itu benar-benar amat manjur dan hebat!

“Lopek, apakah benar-benar engkau tidak ingat apa-apa lagi?”

“Orang muda, siapakah engkau? Dan aku… hemm… siapa pula aku dan di manakah tempat ini? Mengapa aku tidur di goa?”

Kini Tek Hoat tidak ragu-ragu lagi, akan tetapi untuk lebih yakin, dia sengaja menguji. “Lopek, masa engkau lupa akan namanya sendiri? Namamu adalah… Ang Tek Hoat, masa engkau lupa?”

Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya yang gundul. “Ang Tek Hoat…? Hmm, terdengar asing, tetapi mungkin itulah namaku. Ya, benar, namaku Ang Tek Hoat, dan engkau siapa, orang muda?”

Tek Hoat menahan ketawanya. “Aku? Namaku Kong To Tek!”

“Kong To Tek? Nama itu tidak asing bagiku. Hemm, kalau begitu tentu engkau sudah kukenal lama, Kong To Tek.”

Tek Hoat tertawa. “Tentu saja, lopek! Kita adalah sahabat-sahabat lama!”

Seharian itu Tek Hoat memperhatikan gerak-gerik Kong To Tek yang hanya duduk di depan goa sambil termenung, agaknya kebingungan dan wajahnya membayangkan keraguan hebat. Ternyata kakek ini sama sekali tidak ingat akan masa lalu, dan yang diketahuinya hanyalah bahwa dia bernama Ang Tek Hoat dan pemuda itu bernama Kong To Tek! Dia seolah-olah seorang yang sama sekali baru!

Setelah kini merasa yakin akan kemanjuran ramuan perampas ingatan itu, pada malam harinya, ketika mereka berdua makan, Tek Hoat mencampurkan obat penawar racun itu ke dalam minuman Kong To Tek. Seperti malam kemarin, kakek itu sehabis makan dan minum obat penawar, tertidur dengan nyenyaknya.

Ketika pada keesokan harinya mereka terbangun, Tek Hoat ingin menggoda Kong To Tek. Dia akan memberitahu bahwa kakek itu telah dijadikan kelinci percobaan dengan hasil baik sekali. “Eh, lopek Ang Tek Hoat, kau baru bangun?” tegurnya menggoda.

Akan tetapi, segera Tek Hoat meloncat bangun dan memandang tajam. Sikap kakek itu aneh sekali, lain dari biasanya. Matanya tidak bergerak liar lagi, bahkan mata itu kini memandang kepadanya penuh selidik dan suaranya terdengar penuh wibawa, “Orang muda, siapa engkau? Namaku bukanlah Ang Tek Hoat, melainkan Kong To Tek, tokoh Pulau Neraka! Siapa engkau berani memasuki goa rahasia yang menjadi tempat persembunyianku ini?”

Tentu saja Tek Hoat kaget setengah mati. Dia meloncat keluar dan kini mereka saling berhadapan di bawah sinar matahari pagi, di depan goa besar itu.

“Kong-lopek, jangan main-main. Bukankah engkau sudah mengenalku? Aku adalah Wan Keng In…”

“Bohong…!” Tiba-tiba Kong To Tek membentak marah sekali. “Biar pun wajahmu mirip sekali dengan Wan- kongcu, akan tetapi engkau sama sekali bukan Wan Keng In! Engkau jauh lebih muda, dan kalau dia masih hidup, tentu dia patut menjadi ayahmu. Orang muda, jangan kau main-main dengan aku! Siapa kau? Hayo mengaku, dan mau apa engkau berada di sini?” Tiba-tiba wajah kakek itu menjadi pucat sekali. “Kau… kau… sudah lamakah berada di sini?”

“Aihhh, Kong-lopek, aku adalah Wan Keng In pewaris pusaka suhu Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw- jin…”

“Pedang itu…!” Kong To Tek menuding ke arah pedang Cui-beng kiam yang berada di punggung Tek Hoat. “Kembalikan! Pedang itu milikku, dan juga kitab-kitab pusaka… di mana kitab-kitab itu? Kau sudah mengambilnya pula? Keparat, hayo kembalikan!” Dia menubruk maju hendak merampas pedang, tetapi sebuah tendangan kaki dari samping membuat dia terjengkang.

“Aihhhh…! Engkau melawan? Engkau berani kepada Kong To Tek tokoh Pulau Neraka? Bocah, kau sudah bosan hidup!”

Tek Hoat menjadi terheran-heran dan bingung. Mengapa terjadi perubahan yang hebat pada diri kakek itu? Akhirnya dia dapat menduga sebabnya. Mungkin karena racun perampas ingatan itu. Setelah minum obat penawarnya, agaknya pikiran atau ingatan kakek itu malah sembuh sama sekali, pulih seperti dahulu ketika belum gila sehingga kakek itu teringat akan segala-galanya! Celaka, pikir Tek Hoat, kalau begini berbahaya sekali. Orang ini harus dibunuhnya!

“Bocah keparat, pencuri pusaka! Kau harus mampus!” Dan kakek gundul itu sudah menerjang dengan terkaman seperti seekor singa kelaparan.

“Engkaulah yang akan mampus, Kong To Tek!” Tek Hoat miringkan tubuh ke kiri dan dari kiri tangan kanannya menampar ke depan.

“Wuuuuttt… dessss…!”

“Aihhhh…!” Kong To Tek berteriak, karena sakit dan kaget melihat betapa pemuda yang dipandangnya rendah itu ternyata lihai sekali sehingga dua kali dia terjengkang. Tenaga sinkang yang menyambar dari tangan pemuda itu membuka kedua matanya sehingga dia tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian hebat.

“Bagus! Kiranya engkau seorang penjahat cilik!” Dia memaki dan kini Kong To Tek mulai mengerahkan tenaga dari pusarnya. Kepandaian kakek ini memang hebat.

Dahulu dia merupakan tokoh kedua sesudah ketua di Pulau Neraka, dan ilmunya yang paling diandalkan adalah sinkang dari perut yang membuat perutnya mengeluarkan bunyi seperti katak tertimpa hujan, dan kalau dia sudah mengerahkan tenaga sinkang-nya ini, dari mulutnya menyambar uap beracun pula! Apa lagi setelah dia mempelajari kitab-kitab Cui-beng Koai-ong dari gambar-gambarnya, latihan itu membuat dia makin kuat dan lihai!

“Wuuusssshh…!” Mulutnya menyemburkan uap putih ke arah muka Tek Hoat, tubuhnya merendah seperti berjongkok dan kedua kakinya lalu bergerak aneh ke depan sambil berjongkok, kemudian mendadak kedua lengannya bergerak melakukan serangan dari bawah dengan hebat dan hawa pukulan menyambar- nyambar dengan dahsyatnya ke arah Tek Hoat.

Kalau Tek Hoat belum melatih diri dengan ilmu-ilmu dari dalam kedua kitab peninggalan dua orang datuk Pulau Neraka itu selama hampir dua tahun ini, kiranya dengan ilmu yang dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo saja dia tidak akan mampu menandingi tokoh gundul dari Pulau Neraka ini. Akan tetapi selama hampir dua tahun ini, di dalam goa itu Tek Hoat telah tekun mempelajari ilmu-ilmu kesaktian yang amat hebat sehingga ilmu kepandaiannya menjadi hebat sekali, sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan dua tahun yang lalu. Namun, karena dia belum pernah mencoba ilmu-ilmu barunya, melihat serangan kakek gundul itu, dia terkejut bukan main dan cepat dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri.

“Haiiiiittt…!”

Kong To Tek meloncat dari kedudukannya berjongkok tadi, tubuhnya meloncat ke atas dan kedua lengannya bergerak-gerak, yang kanan menonjok ke arah ulu hati Tek Hoat sedangkan yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala!

Akan tetapi kini Tek Hoat sudah siap sedia. Melihat datangnya serangan yang amat dahsyat itu, dia berlaku cepat, mengangkat tangan kanan menangkis ke atas sambil mengerahkan tenaga sinkang, sedangkan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan, menerima pukulan tangan kanan lawan.

“Plak! Dessss…!”

Untuk ketiga kalinya tubuh Kong To Tek terdorong dan kemudian terjengkang! Kakek itu mendengus keras dan meloncat bangun lagi. Ternyata ujung mulutnya mengucurkan darah, tanda bahwa benturan tenaga dalam tadi sedemikian hebatnya sehingga dia mengalami luka di dalam tubuhnya!

Melihat hasil tangkisannya, besarlah hati Tek Hoat. Kini dia menghadapi terjangan lawan dengan pandang mata mengejek dan sama sekali tidak merasa jeri lagi karena dia telah memperoleh kepercayaan tebal kepada kepandaian sendiri. Ketika kakek itu menerjang dan menyerangnya bertubi-tubi, sambil tersenyum mengejek dia mengelak dan menangkis, kadang-kadang balas memukul. Tiap kali dia membalas, kakek gundul itu pasti terdorong oleh pukulannya yang biar pun tidak mengenai tubuh lawan, namun hawa pukulannya amatlah hebatnya, tidak kuat kakek itu menahannya.

“Kong To Tek, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” bentak Tek Hoat dan tiba-tiba tampak sinar berkilauan ketika dia telah mencabut Cui-beng-kiam!

Melihat pedang ini, Kong To Tek kelihatan gentar, tetapi juga marah. Sambil menerjang maju, dia membentak, “Kembalikan Cui-beng-kiam kepadaku!”

Terjangannya dahsyat sekali karena dia menggunakan jurus-jurus dari Ilmu Silat Liong-jiauw-pok-cu (Cakar Naga Menyambar Manusia). Kedua tangannya membentuk cakar dan bergerak-gerak mencengkeram untuk merampas pedang sedangkan dari perutnya terdengar bunyi berkokokan tanda bahwa dia mengerahkan sinkang-nya yang amat kuat, mulutnya mengeluarkan uap putih.

Melihat terjangan ini, Tek Hoat bergerak ke kanan kiri cepat sekali sehingga tubuhnya seolah-olah berubah menjadi banyak, dan dari kanan kiri menyambarlah gulungan sinar pedang Cui-beng-kiam yang ampuh.

“Singgggg…! Crak! Crokk!”

Terdengar suara pekik melengking dan Kong To Tek roboh terguling, kedua lengannya buntung sebatas siku terbabat pedang Cui-beng-kim yang ampuh!

Melihat tubuh itu berkelojotan dan bergulingan di atas tanah, Tek Hoat tersenyum untuk menekan perasaan hatinya yang menyesal. Bagaimana pun, kakek itu telah melakukan banyak kebaikan kepadanya!

“Hemmm, terpaksa aku membunuhmu, Kong-lopek. Hidupmu berbahaya bagiku setelah pulih kembali ingatanmu!”

Sambil meringis menahan rasa nyeri yang amat hebat, Kong To Tek bertanya, “Orang muda… siapakah engkau…?”

“Namaku Ang Tek Hoat. Secara kebetulan saja aku bertemu denganmu, lopek. Kau menyangka aku bernama Wan Keng In dan engkau menyerahkan pusaka para datuk Pulau Neraka kepadaku. Tentu saja aku tak dapat menolak datangnya keuntungan ini, dan sekarang pulih pula ingatanmu, maka kau berbahaya bagiku.”

“Aughhh… kau… kau… memang mirip sekali dengan Wan-kongcu… Ahhh, agaknya roh Wan Keng In memasuki dirimu… dan agaknya Wan-kongcu muncul kembali untuk bisa membalas musuh-musuhnya…”

“Siapa sih orang yang bernama Wan Keng In itu?” Tek Hoat bertanya, ingin juga dia mengetahui siapa orang yang katanya mirip dengan dia itu.

“Dia… dia bekas majikanku… dia adalah kongcu dari Pulau Neraka, putera ketua Pulau Neraka…” Tek Hoat mengangguk-angguk kagum. “Dan siapa itu musuh-musuhnya?”
“Musuhnya adalah… Gak Bun Beng… dan… dan Tocu Pulau Es…”

Tek Hoat merasa terkejut bukan main mendengar disebutnya dua nama itu! Gak Bun Beng juga musuh besarnya! Dan… Tocu Pulau Es!

“Apakah kau maksudkan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?” “Benar… dia… dia lihai…”
“Dan Gak Bun Beng, penjahat itu sudah dibunuh mati oleh ibuku!” kata pula Tek Hoat.

Kong To Tek membelalakkan mata. Darah bercucuran dari kedua lengan yang buntung itu. Mukanya pucat karena banyak kehilangan darah. Keadaannya sungguh mengerikan dan tubuhnya sudah mulai lemah. Namun agaknya dia terkejut mendengar pengakuan Tek Hoat itu dan dia bertanya. “Siapa… siapa ibumu…?”

Biar pun Tek Hoat tidak suka menceritakan keadaan keluarganya, akan tetapi melihat bahwa kakek ini tidak akan hidup lebih lama lagi, dia mengaku, “Ibuku… hemmm, ibuku seorang pendekar wanita puteri dari ketua Bu-tong-pai. Ayahku bernama Ang Thian Pa dan ibuku bernama Siok Bi…” Tek Hoat langsung menghentikan kata-katanya ketika melihat Kong To Tek bangkit duduk dan matanya terbelalak memandangnya.

Lengan tangan yang hanya tinggal sepotong itu bergerak ke atas, dan seolah-olah menuding sehingga Tek Hoat merasa ngeri juga. “Jadi kau… kau… kau anak Siok Bi…? Ahhh… ah, tidak salah lagi… kau… kau puteranya… auhhh!” Tubuh itu terguling.

“Apa katamu? Kong-lopek, apa maksudmu?” Tek Hoat mengguncang-guncang tubuh itu, akan tetapi Kong To Tek telah menjadi mayat.

Tek Hoat bangkit berdiri, lalu termenung. Apa yang dimaksudkan oleh kakek ini tadi? Agaknya kakek ini mengenal ibunya! Dan dia puteranya? Putera siapa? Sayang kakek itu sudah mati. Ah, mengapa dia memusingkan hal itu? Mungkin hanya igauan orang dalam sekarat. Jelas dari penuturan ibunya bahwa ayahnya bernama Ang Thian Pa dan bahwa ayahnya terbunuh oleh Gak Bun Beng, tetapi musuh besar itu telah dibunuh ibunya pula.

Pada hari itu juga, Tek Hoat meninggalkan mayat Kong To Tek dan goa di mana selama dua tahun dia melatih diri. Dia membawa Cui-beng-kiam dan dua buah kitab yang isinya telah dipelajarinya akan tetapi belum semua sempat dilatihnya karena memang amatlah sukar melatih ilmu-ilmu yang terdapat dalam kitab itu.

Dia akan pulang ke Lembah Huang-ho, ke Bukit Angsa di mana tinggal ibunya yang tentu sudah merindukannya. Dia akan menuturkan pertemuannya dengan Kong To Tek itu kepada ibunya dan barangkali ibunya akan dapat mengerti tentang sikap aneh kakek gundul itu sebelum mati…..

********************

Karena adanya halangan yang hampir merupakan mala petaka dan yang menimpa diri Raja Bhutan, maka dengan alasan bahwa negaranya masih terancam bahaya dan puterinya masih terlalu muda, Raja Bhutan menyuruh rombongan kaisar pulang dengan surat permohonan kepada kaisar agar pernikahan puterinya itu diundur sampai dua tahun lagi!

Hal ini dilakukan Raja Bhutan yang mendengarkan kata-kata penasehatnya di istana. Pada waktu itu, ketahyulan masih amat kuatnya menguasai hati semua orang, bahkan keluarga kerajaan sendiri tidak terlolos dari pengaruh tahyul dan tradisi. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan ‘perhitungan’ bulan bintang, dan segala peristiwa dianggap sebagai ‘tanda-tanda’ untuk menentukan sesuatu di masa depan.

Karena itu, pernikahan puteri raja tentu saja dilakukan atas dasar ‘perhitungan’ para ‘ahli nujum’ pula. Maka peristiwa yang hampir mencelakakan raja diperhitungkan dengan pernikahan puteri, dihitung pula hari kelahiran Puteri Syanti Dewi, kemudian diputuskan bahwa selama dua tahun mendatang merupakan hari- hari buruk bagi Raja Bhutan, maka tidak dibenarkan kalau mengawinkan puteri itu sebelum lewat dua tahun!

Kaisar menerima surat permohonan itu dan kemudian dapat menyetujuinya setelah dia mendengar akan peristiwa yang terjadi di Bhutan. Kaisar sendiri tidak terluput dari kepercayaan itu, apa lagi setelah para ahli nujumnya sendiri juga memperhitungkan bahwa memang kedatangan Puteri Bhutan dalam waktu dekat akan menimbulkan bahaya bagi kerajaan sendiri! Demikianlah, maka acara memboyong Puteri Syanti Dewi dari Bhutan itu diundur sampai dua tahun!

Terjadi perubahan besar dalam kehidupan Lu Ceng, atau Ceng Ceng. Semenjak pertemuannya dengan Puteri Syanti Dewi, dia diminta tinggal di dalam istana dan tentu saja dia dihormat pula oleh semua penghuni istana karena dia sekarang telah menjadi seorang puteri! Dia adalah adik angkat Puteri Syanti Dewi, maka dengan sendirinya diapun menjadi seorang puteri istana! Bahkan Raja Bhutan telah menganugerahinya dengan nama baru, nama seorang puteri, yaitu Candra Dewi!

Biar pun dia telah dianggap seorang puteri istana, sikap Ceng Ceng masih biasa saja, bahkan dia pun hanya mau mengenakan pakaian puteri kalau ada upacara resmi saja. Untuk sehari-hari, dia tetap mengenakan pakaian yang ringkas seperti biasa, dan rambutnya yang panjang, dikuncir seperti kebiasaan gadis-gadis dusun! Setiap hari dia menemani Sang Puteri Syanti Dewi yang suka sekali mempelajari ilmu silat sehingga mereka berdua berlatih bersama. Dari adik angkatnya ini sang puteri memperoleh banyak petunjuk karena memang tingkat kepandaian Ceng Ceng jauh lebih tinggi dari pada dia.

Waktu berjalan dengan amat cepatnya. Apa lagi bagi Ceng Ceng yang selalu hidup gembira bersama Puteri Syanti Dewi dan para puteri lain di istana. Setiap hari, kalau tidak berlatih silat tentu berlatih tari- tarian, bernyanyi, bersenang-senang atau membaca kitab-kitab kuno berisi dongeng-dongeng indah. Dua tahun tak terasa telah lewat dan pada suatu hari, datanglah rombongan utusan kaisar yang sekali ini benar- benar hendak memboyong Sang Puteri Syanti Dewi!

Tidak ada lagi alasan bagi Raja Bhutan untuk menolak. Selama dua tahun ini, kaisar telah mengirim banyak bantuan, baik berupa pasukan mau pun perlengkapan untuk mengusir para gerombolan pemberontak sehingga Kerajaan Bhutan tidak begitu dirongrong lagi oleh mereka.

Pesta besar diadakan untuk menyambut rombongan ini dan kali ini, kembali rombongan itu dipimpin oleh Tan-ciangkun (Perwira Tan), yaitu Tan Siong Khi yang gagah perkasa dan memiliki jenggot panjang yang indah bentuknya!

Untuk menghormati para utusan kaisar, juga sekaligus merayakan hari diboyongnya Puteri Syanti Dewi yang sudah berusia delapan belas tahun, dan juga pesta perpisahan dengan sang puteri, maka malam hari itu selain diadakan pesta makan minum, juga diadakan pesta tari-tarian tradisionil dari para penari Bhutan.

Dalam pesta ini, Sang Puteri Syanti Dewi keluar pula, duduk di atas sebuah kursi yang khusus disediakan untuk keluarga raja. Tentu saja Ceng Ceng tidak mau ketinggalan dan dia menemani puteri yang telah menjadi kakak angkatnya itu. Akan tetapi, karena sekali ini dia akan bertemu dengan orang-orang dari kerajaan suku bangsanya sendiri, dia tidak mau mengenakan pakaian puteri Bhutan, dan hanya mengenakan pakaian biasa biar pun masih baru. Ceng Ceng atau Candra Dewi itu berdiri di dekat kursi Puteri Syanti Dewi sambil menonton pertunjukan tari-tarian.

Melihat wajah para utusan yang gagah perkasa, terutama sekali si jenggot panjang yang kini tampak makin gagah biar pun sudah makin tua, Ceng Ceng ingin sekali menyaksikan kepandaian mereka. Dia masih teringat betapa dahulu, dua tahun yang lalu, dia pernah mengadu kuncirnya dengan jenggot panjang itu dan merasa betapa rambutnya terjambak seperti akan copot rasanya!

Dan dia mendengar dari kakeknya bahwa si jenggot itu ternyata adalah seorang pengawal pribadi kaisar yang amat lihai! Kini, melihat mereka dan terutama sekali si jenggot panjang, timbul keinginan di hati Ceng Ceng.

“Kak Syanti…,” dia berbisik.

Syanti Dewi menengok. “Ada apakah, Candra?”

Dengan suara berbisik-bisik Ceng Ceng lalu mengajukan usulnya, yaitu agar sang puteri minta kepada ayahnya untuk membujuk para utusan yang gagah perkasa itu agar menghibur dan meramaikan pesta dengan pertunjukan ilmu silat mereka yang terkenal tinggi! Syanti Dewi memang suka sekali akan ilmu silat, maka mendengar usul adik angkatnya ini, dia cepat mengajukan permintaannya kepada raja.

Sebetulnya raja merasa agak enggan juga mengajukan permintaan agar para tamu memperlihatkan kelihaian mereka, akan tetapi karena tidak tega menolak keinginan puterinya yang akan pergi meninggalkannya itu, terpaksa dia menyuruh pengawalnya menghubungi Tan-ciangkun untuk menyampaikan permintaannya.

Tan Siong Khi bermata tajam. Dia melihat ketika Ceng Ceng tadi berbisik kepada Syanti Dewi. Pengawal kaisar ini tentu saja masih ingat kepada nona yang disangkanya pengacau itu dan yang kini dia dengar telah menjadi adik angkat puteri yang akan diboyongnya ke Tiongkok. Maka diam-diam dia agak memperhatikan dan melihat ketika Ceng Ceng tadi berbisik kepada sang puteri kemudian sang puteri bicara dengan Raja Bhutan. Setelah Raja Bhutan mengutus pengawal menghubunginya dan menyampaikan permintaan raja, tahulah Tan-ciangkun bahwa permintaan itu adalah gara-gara si gadis yang lihai dan bengal itu. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk, lalu berunding dengan para temannya, yaitu para perwira yang memiliki kepandaian tinggi.

Tidak lama kemudian suasana pesta menjadi makin meriah. Seorang demi seorang, majulah para Perwira Mancu Kerajaan Ceng untuk memperlihatkan kepandaian mereka bermain silat. Bermacam-macam senjata telah mereka pergunakan, dan rata-rata ilmu kepandaian mereka memang amat tinggi bagi para Perwira Bhutan sehingga tepuk tangan penuh kagum menyambut setiap permainan silat dari rombongan utusan itu.

Kemudian, sebagai orang terakhir, tiba giliran Tan-ciangkun sendiri. Pengawal kaisar yang lihai dan biar pun berpakaian biasa namun sesungguhnya dialah yang memimpin rombongan utusan itu, maju dengan kedua tangan kosong. Setelah dia memberi hormat dengan bertekuk lutut ke arah Raja Bhutan dan keluarganya, dia meloncat bangun, menggulung kedua lengan bajunya sehingga naik ke bawah siku. Kemudian dia mengangkat kedua tangan memberi hormat berkeliling, dan berkata dengan suara lantang.

“Maafkan kami yang telah berani memperlihatkan kepandaian yang dangkal, karena kami hanya memenuhi perintah sri baginda untuk ikut meramaikan pesta ini. Kami tahu bahwa di Bhutan terdapat banyak sekali orang pandai yang jauh melampaui tingkat kami. Saya sendiri tidak memiliki kepandaian apa-apa dan saya merasa agak sayang juga terpaksa harus menghentikan minum anggur Bhutan yang demikian lezatnya! Karena itu, saya harap cu-wi maafkan kalau saya hendak melanjutkan minum anggur yang lezat itu.” Setelah berkata demikian, kakek berjenggot panjang ini menggerakkan kepalanya.

“Wirrrr…!” Jenggotnya yang panjang itu menyambar ke depan, ke arah guci anggur yang tadi dihadapinya dan tiba-tiba anggur itu melayang ke atas, dilibat ujung jenggot yang panjang!

Guci itu diputar-putar di udara dan dipermainkan oleh jenggot panjang itu, kemudian, ujung jenggot melibat guci dan membawa guci itu menukik ke bawah sehingga anggur yang berada di dalam guci dan masih tinggal seperempat itu tertumpah ke bawah.

Kakek ini membuka mulutnya dan anggur itu persis memasuki mulutnya sehingga kelihatannya dia minum anggur dari guci dengan dilayani oleh jenggotnya! Bukan main hebatnya demonstrasi ini dan semua orang bertepuk tangan memuji! Ceng Ceng sendiri diam-diam juga merasa kagum karena biar pun memainkan guci dengan ujung rambut merupakan hal yang tidak begitu sukar, namun jenggot yang dapat tegak ‘memegang’ guci yang cukup berat itu membuktikan sinkang yang amat kuat!

Kini guci anggur itu sudah habis isinya, hanya tinggal menetes-netes memasuki mulut Tan-ciangkun, sedangkan lengan kanan yang tangannya terkepal itu menggigil, menandakan bahwa kakek itu mengerahkan tenaga sinkang yang kuat untuk membuat jenggotnya tegak kaku menahan guci, kemudian di bawah tepuk sorak memuji, kakek ini memainkan guci kosong dengan jenggotnya. Guci dilontarkan ke atas, tinggi sampai hampir menyentuh langit-langit, kemudian ketika meluncur turun diterimanya lagi dengan ujung jenggot dan diputar-putar sampai kelihatannya menjadi banyak saking cepatnya.

Setelah Tan Siong Khi mengakhiri permainannya, semua orang lantas bertepuk tangan memuji. Baru jenggotnya saja sudah demikian kuat dan ampuh, apa lagi dengan kaki tangannya! Tan-ciangkun menjura ke sekeliling, kemudian memberi hormat kepada Raja Bhutan dan terdengar suaranya lantang, “Terima kasih hamba haturkan atas pujian sri baginda, padahal permainan hamba tidak ada artinya, apa lagi kalau dibandingkan dengan kepandaian tokoh-tokoh Bhutan yang lihai. Sekarang hamba mohon agar paduka sudi memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh Bhutan untuk memperlihatkan kepandaian untuk memeriahkan pesta ini.”

Raja Bhutan mengangguk-angguk dan menoleh ke kanan kiri. Dia tahu bahwa para pengawalnya juga rata- rata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Akan tetapi tiba-tiba Tan-ciangkun berkata lagi, “Hamba tahu bahwa nona yang menjadi adik angkat sang puteri memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali!”

Memang sengaja Tan-ciangkun berkata demikian untuk menyatakan kemendongkolan hatinya. Kalau tidak gara-gara nona muda itu yang mengusulkan, tentu dia dan kawan-kawannya tidak harus memamerkan kepandaian seperti serombongan tukang jual obat atau penari silat di pasar-pasar!

Mendengar ini, Raja Bhutan cepat menengok ke arah Ceng Ceng sambil tersenyum lebar dan berkata, “Aih, sampai lupa aku! Candra Dewi, kau majulah dan perlihatkan kepandaianmu!”

Ceng Ceng terkejut sekali, tidak mengira bahwa dia diperintah raja untuk bersilat! Tentu saja dia tidak berani membantah. Dia sudah berlutut menyembah sambil mengeluarkan kata-kata kesanggupan dengan lirih, matanya melirik gemas kepada Tan-ciangkun yang hanya tersenyum. Kemudian dara itu melompat ke tengah ruangan, mencabut keluar sepasang pisau belati yang sebelumnya merupakan hui-to (golok terbang), yaitu senjata rahasia yang disabitkan, dan mulailah dia bersilat dengan sepasang belati itu.

Gerakannya indah sekali, cepat dan bertenaga sehingga para penonton menjadi kagum karena kelihatannya dara itu sedang menari-nari dengan indahnya, namun gulungan-gulungan kecil dari sinar putih yang seperti selendang kecil digerak-gerakkan itu mengandung cakar maut yang dapat membunuh lawan!

Tepuk sorak bergemuruh menyambut dengan kagum ketika Ceng Ceng sudah merubah permainannya, tepuk sorak yang disertai suara ketawa di sana-sini karena selain lucu juga luar biasa sekali permainan yang kini dilakukan oleh Ceng Ceng. Apa yang terjadi? Dara ini telah menggunakan kuncirnya yang sudah dibagi dua untuk bermain silat! Sepasang kuncirnya itu seolah-olah telah berubah menjadi dua ekor ular hitam yang hidup dan ujung kedua kuncir membelit hui-to kemudian dia bergerak-gerak dengan cepat, menggoyang kepalanya sehingga sepasang kuncir itu memainkan sepasang hui-to itu seperti tadi Tan- ciangkun memainkan jenggotnya. Tentu saja Ceng Ceng berbuat demikian untuk mengejeknya!

Setelah Ceng Ceng mengakhiri permainannya, tentu saja dia disambut dengan tepuk sorak gemuruh, juga Tan-ciangkun ikut bertepuk tangan sambil tersenyum karena dia pun ikut bangga. Betapa pun juga, dia tahu bahwa dara itu bukanlah Bangsa Bhutan, melainkan bangsanya sendiri dan ilmu silat yang dimainkan oleh Ceng Ceng itu adalah ilmu silat dari pedalaman. Dia sudah mendengar bahwa dara yang cantik jelita itu adalah cucu dari kakek Lu Kiong yang dahulu pernah memegang pekerjaan seperti dia, yaitu pernah menjadi pengawal kaisar puluhan tahun yang lalu.

Setelah beberapa orang perwira dan pengawal Raja Bhutan juga memperlihatkan ilmu kepandaian masing- masing, pesta itu berakhir sampai jauh malam, bahkan sudah lewat tengah malam. Semua orang pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Ceng Ceng mengawal kakak angkatnya masuk ke kamar pula. Semenjak menjadi adik angkat Syanti Dewi, Ceng Ceng tidur sekamar dengan puteri itu.

Menjelang pagi, Ceng Ceng terbangun oleh suara tangis. Bergegas dia bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan mencoba untuk melihat di dalam kamar yang telah digelapkan itu. Kiranya yang menangis adalah Syanti Dewi!

“Eh, enci Syanti… kau… kenapakah?” Ceng Ceng cepat meloncat turun dan menyalakan lilin di atas meja. Dilihatnya puteri itu menelungkup sambil menangis terisak-isak.

“Enci Syanti, mengapa kau menangis?” Kembali Ceng Ceng bertanya sambil duduk di pembaringan puteri itu dan mengusap pundaknya.

Puteri itu menengok, lalu bangkit berdiri merangkul Ceng Ceng sambil menangis makin sedih. “Adikku… aihhh… adikku Candra…!”

Ceng Ceng membiarkan puteri itu menangis di pundaknya sampai agak mereda, lalu dia berkata, “Kakakku yang baik, beginikah sikap seorang gagah? Biar pun kita wanita, namun kita menjunjung kegagahan dan tangis merupakan hal yang dipantang, kecuali kalau ada persoalan yang tak terpecahkan dan amat hebat.

Apakah yang telah terjadi? Kalau ada persoalan, bicarakanlah denganku, dan marilah kita pecahkan bersama. Tidak ada di dunia ini persoalan yang tidak akan dapat kita pecahkan berdua, bukan?”

Putri itu menghapus air matanya dan memandang adik angkatnya. Tangisnya sudah reda dan melihat wajah adiknya menimbulkan kepercayaan dan hiburan besar baginya. Dia menghela nafas panjang berkali- kali sebelum bicara, kemudian sambil memegang tangan adik angkatnya dia berkata, “Candra, hati siapa yang tak akan menjadi kecewa, penasaran dan duka? Tadi aku mendengar dari seorang pelayan yang memang kusuruh melakukan penyelidikan di antara rombongan utusan, dan aku mendengar berita yang sangat mengecewakan sebelum tidur tadi.”

“Berita apakah?”

“Berita keterangan tentang Pangeran Liong Khi Ong…”

“Aihhh, tentang calon suamimu?” Ceng Ceng menahan ketawanya. “Bukankah berita itu menggembirakan?”

“Siapa bilang menggembirakan? Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang usianya telah lima puluh tahun… hu-huuukkk…” Putri itu menangis lagi.

Ceng Ceng merangkul dan menghiburnya. “Lima puluh tahun belum tua bagi seorang laki-laki, apa lagi kalau dia seorang pangeran,” dara ini mencoba menghibur sebisanya.

“Tapi… tapi… dia mempunyai banyak selir…,” kembali puteri itu terisak.

“Aihh, enci Syanti, apa anehnya tentang itu? Dia seorang pangeran, tentu saja banyak selirnya. Akan tetapi engkau akan menjadi isterinya, mengepalai semua selirnya.”

“Tapi… tapi… aku tidak suka, Candra. Aku merasa seolah-olah berangkat mati saja… kehilangan kebebasanku… menjadi budak belian!”

“Ihhhh…! Mengapa kau berkata begitu, enci Syanti?” Ceng Ceng berseru kaget.

“Mengapa tidak? Apa bedanya aku dengan budak belian? Aku dibeli, dibeli dengan kedudukan dan nama, aku kehilangan kebebasan, harus menurut menjadi isteri siapa saja! Aku… aku ingin menjadi isteri orang yang kupilih sendiri, adik Candra…!” Kembali puteri itu menjatuhkan diri menelungkup, memeluk bantal dan menangis.

Ceng Ceng duduk termenung. Dia dapat menyelami perasaan kakak angkatnya dan tak dapat membantah kebenaran kata-katanya. Memang kaum wanita sama dengan budak belian. Diharuskan menjadi isteri siapa saja, menjadi isteri seorang pria yang belum pernah dilihatnya. Apa bedanya dengan budak belian? Hanya diberi pakaian indah dan penghormatan, namun pada hakekatnya, nasib mereka dalam hal perjodohan tiada bedanya dengan budah belian! Diam-dian hatinya memberontak pula.

“Enci Syanti, kalau begitu, mengapa tidak engkau tolak saja?”

Puteri itu terkejut sekali, lalu bangkit duduk. Dia memandang adiknya, menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. “Dahulu, dua tahun yang lalu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan ini. Kuterima saja perintah ayah karena memang biasanya demikian, seorang puteri dikawinkan dan aku boleh disebut beruntung menjadi calon isteri seorang pangeran putera kaisar yang besar! Tetapi, setelah pernikahan diundur dua tahun, selama ini timbul penasaran di dalam hatiku mengapa aku harus menikah, mengikatkan hidupku selamanya dengan orang yang sama sekali belum pernah kulihat? Aku masih menghibur diri dengan anggapan bahwa seorang pangeran putera kaisar tentulah seorang pria yang gagah perkasa, tampan, muda dan pendeknya memenuhi impianku tentang seorang kekasih. Siapa tahu… berita itu… dia sudah tua dan banyak selirnya… hu-hu-huuukkk…”

Ceng Ceng menggaruk-garuk belakang telinganya, bingung. “Kalau begitu, bagaimana baiknya, enci Syanti? Kau tolak saja sekarang, bagaimana?”

“Ahhh, kau tidak tahu, adikku. Kalau aku menolak, tentu ayah akan memaksaku karena hal itu selain akan mencemarkan nama keluarga Kerajaan Bhutan, juga berbahaya sekali, dapat menyeret negara ke dalam perang.”

“Ohhhh…!” Ceng Ceng terkejut sekali. “Habis, bagaimana baiknya? Kalau begitu, mari kita… melarikan diri saja. Malam ini juga, biar aku menemanimu, enci…”

Mau tidak mau puteri itu tersenyum masam mendengar ajakan ini. Ajakan yang ugal-ugalan. Mana mungkin puteri raja minggat? Selain percuma karena tentu akan dapat ditangkap, juga amat memalukan. “Tidak bisa, adikku, tidak mungkin itu.”

“Habis bagaimana? Apakah kau akan menerima nasib begitu saja?”

“Apa boleh buat. Aku harus menerima nasib, akan tetapi hatiku tentu akan terhibur sekali kalau kau suka menemaniku ke Kerajaan Ceng di timur sana.”

“Tentu saja aku mau! Aku malah ingin sekali ke sana! Baik, aku akan menemanimu.” “Akan tetapi, apakah kakekmu akan memperkenankan?”
“Dia harus menyetujui!” Ceng Ceng berkata cemberut. “Aku berasal dari timur sana, sudah sepatutnya kalau dia mengajakku kembali ke sana. Sekarang ada kesempatan baik. Aku ikut denganmu, enci Syanti!”

Demikianlah, keputusan diambil malam itu juga dan pada keesokan harinya, sang puteri memberi tahukan ayahandanya bahwa Candra Dewi akan ikut bersamanya ke timur. Raja Bhutan tak dapat menolak dan kakek Lu Kiong segera diberitahu tentang hal itu.

Kakek ini terkejut, akan tetapi dia pun tidak berani menghalangi kehendak sang puteri, bahkan diam-diam dia harus mengakui bahwa sudah sepatutnya kalau dia membiarkan cucunya itu kembali ke timur. Akan tetapi karena dia mengkhawatirkan keselamatan cucunya, dia lalu menyatakan hendak ikut mengawal rombongan sang puteri.

Tentu saja keputusan kakeknya ini menggirangkan hati Ceng Ceng, karena betapa pun juga dia merasa kasihan dan tidak tega kalau harus meninggalkan kakeknya yang sudah tua itu sendirian di Negara Bhutan.

Persiapan untuk keberangkatan Puteri Syanti Dewi dilakukan dan keadaan di istana sibuk sekali. Besok pagi-pagi rombongan yang memboyong puteri itu akan berangkat, pasukan istimewa yang khusus sebanyak lima ratus orang akan mengawal rombongan sampai perbatasan, di mana pasukan Kerajaan Ceng akan menyambut dan mengambil alih tugas pengawalan.

Barang-barang berharga milik sang puteri dikumpulkan sampai berpeti-peti banyaknya. Ceng Ceng sendiri memperoleh kesempatan untuk pulang ke rumah kakek, membantu kakeknya yang juga berkemas dan dibantu oleh murid-murid kakeknya. Wajah para murid itu kelihatan murung karena mereka tahu bahwa sekali ini gurunya pergi untuk tidak kembali lagi ke Bhutan, karena gurunya sudah amat tua.

Sementara itu, tanpa disangka-sangka, di pintu penjagaan benteng, yaitu di pintu gerbang besar, terjadi keributan. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, berpakaian sederhana dan berkuncir panjang, bertangan kosong, sedang ribut mulut dengan para penjaga. Dari pakaiannya mudah dikenal bahwa orang ini datang dari timur, seorang bangsa Han. Karena di kota raja Bhutan sedang ada kesibukan, maka tentu saja para penjaga itu menghadang orang yang tidak dikenal ini sambil menghardik, “Siapakah engkau dan ada keperluan apa hendak memasuki kota raja?”

Laki-laki itu mengerutkan alisnya. “Hemm, begitukah sikap para penjaga kota raja di Bhutan? Seorang penduduk sini pun tidak akan mengalami gangguan, apa lagi seorang pendatang dari luar yang dapat disebut seorang tamu! Aku datang sebagai tamu, sebagai utusan dan aku ingin menghadap sri baginda!”

Namun kepala penjaga tertawa mengejek. Orang itu pakaiannya biasa saja, sama sekali bukan pakaian seorang berpangkat atau perwira, tentu saja dianggap menggelikan dan membohong ketika mengaku sebagai tamu dan utusan, dan bahkan menimbulkan kecurigaan. Orang begini hendak menghadap raja! Tentu berniat tidak baik, pikir kepala penjaga itu.

“Jangan main gila kau!” bentaknya. “Kau kira mudah saja menghadap sri baginda! Hayo cepat pergi, keluar dari tempat ini atau terpaksa akan kami tangkap sebagai mata-mata musuh!”

Orang itu memandang tajam dan tersenyum. “Kepala penjaga, jangan membuka mulut besar dan sembarangan. Lebih baik kau laporkan kepada atasanmu, kepada Panglima Jayin bahwa ada seorang tamu datang hendak bertemu! Kalau masih belum cukup meyakinkan, katakan bahwa yang datang membawa bunga suci!”

Ucapan ini, apa lagi kalimat terakhir, membuat kepala penjaga menjadi makin marah. Dia melangkah maju dan mendorong dada orang itu sambil berkata, “Engkau masih banyak membantah? Pergilah!”

Akan tetapi, kepala penjaga itu kaget sekali karena dia seperti mendorong sebuah gunung karang saja! Orang itu sama sekali tidak bergerak, maka dengan marah dia lalu memukul dada laki-laki berbaju hitam itu.

“Dukkk!” Bukan tubuh orang itu yang roboh terkena pukulan keras, sebaliknya kepala penjaga itu berteriak dan roboh terpelanting seperti dibanting saja!

“Kau berani melawan?” Dua orang penjaga menyerang dengan tombak mereka dari depan dan belakang.

Akan tetapi, dengan gerakan gesit sekali laki-laki berbaju hitam itu mengelak. Kedua tangannya bergerak menyambar tombak, tangan kiri menangkap tombak dari depan, tangan kanan menangkap tombak dari belakang dan sekali dia mengangkat, dua orang penjaga itu terangkat ke atas seolah-olah hanya seperti daun saja ringannya! Tentu saja mereka terkejut dan berteriak, akan tetapi tubuh mereka segera melayang ke depan dan jatuh terbanting cukup keras, membuat mereka hanya dapat bangkit duduk dengan kepala pening dan mata berkunang!

Para penjaga yang lain datang dan segera menyerang laki-laki yang lihai itu sehingga terjadilah pertandingan keroyokan di depan pintu gerbang. Laki-laki itu menghadapi mereka dengan tenang, hanya menggunakan kaki tangannya untuk menangkis dan merobohkan para pengeroyok tanpa melakukan pembunuhan. Beberapa orang penjaga sudah lari untuk melapor kepada Panglima Jayin.

“Tahan senjata, mundur semua!” Tiba-tiba terdengar suara Panglima Jayin yang sudah cepat datang ke tempat itu. Para penjaga mundur dan saling membantu karena mereka sudah menderita cidera tangan.

Panglima Jayin melangkah maju, berhadapan dengan laki-laki itu. Orang itu segera menjura dan merangkapkan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka dan saling jalin di depan dada, dengan ibu jari saling tindih. Melihat bentuk jari-jari tangan di depan dada ini, Panglima Jayin mengerutkan alisnya dan berkata, nadanya menegur, “Apakah Pek-lian-kauw telah mengalihkan permusuhannya kepada Negara Bhutan?” Pertanyaan ini mengandung teguran dan juga tantangan.

“Ah, ahhh… tidak sama sekali, harap tai-ciangkun suka maafkan. Saya hanya seorang utusan yang bertugas menyampaikan surat dari Raja Muda Tambolon untuk sri baginda di Bhutan.”

“Hemmm… apa lagi sekali ini? Setelah dua tahun yang lalu kalian mencoba hendak menawan raja kami?”

“Saya sendiri tidak tahu, hanya ditugaskan menyampaikan surat. Harap tai-ciangkun suka menghadapkan saya kepada sri baginda.”

“Tidak mungkin! Sri baginda sedang sibuk…”

“Ha-ha, dengan keberangkatan pengantin? Sayang sekali, puteri cantik harus diberikan sebagai hadiah kepada…”

“Tutup mulutmu! Apa hubungannya denganmu? Ayo lekas serahkan surat itu kepadaku, atau kau boleh pergi lagi!” Panglima Jayin membentak marah.

Orang itu tersenyum tenang saja. “Begitu pun baik. Pokoknya surat ini harus terbaca oleh sri baginda di Bhutan.”

Dia mengeluarkan sebuah sampul panjang dan sekali dia menggerakkan tangannya, surat itu melayang ke arah Panglima Jayin. Perwira tinggi besar ini menyambut dan terkejutlah dia ketika merasa betapa tangannya tergetar hebat pada saat menerima surat yang disambitkan itu. Dari ini saja dia sudah tahu bahwa orang ini memiliki sinkang yang amat kuat dan dia bukanlah tandingan orang ini!

“Ha-ha-ha, tai-ciangkun aku mohon diri!”
“Haii, tunggu sebentar, sobat! Tidak kusangka bahwa Pek-lian-kauw berkeliaran sampai di tempat sejauh
ini!” Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah muncul Tan Siong Khi yang telah meloncat ke depan dan menghadang orang berbaju hitam itu. Orang itu memandang tajam, kemudian mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya seperti orang mengejek.

Sedangkan Panglima Jayin cepat berkata. “Tan-ciangkun, harap jangan ganggu dia. Dia hanya seorang utusan yang menyampaikan surat!” Panglima ini tentu saja memegang peraturan umum bahwa seorang utusan sama sekali tidak boleh diganggu, maka dia menghalangi Tan Siong Khi melarang orang itu pergi.

“Sayang sekali…!” Tan Siong Khi berkata.

“Huhhh!” Laki-laki berjubah hitam itu mendengus lagi dan sekali meloncat, tubuhnya melayang tinggi.

“Enak saja kau pergi…!” Tan Siong Khi menggerakkan kakinya dan tubuhnya mencelat ke atas, agaknya hendak menghadang tubuh orang itu yang sedang melayang.

Akan tetapi, tiba-tiba orang itu berseru keras dan tubuhnya yang sedang meloncat itu berjungkir balik tiga kali dan dapat meloncat lebih tinggi melampaui kepala Tan Siong Khi! Hebat dan indah sekali gerakan ini, membuktikan kemahiran ginkang yang luar biasa.

“Bukan main…!” Jayin berkata kepada Tan Siong Khi setelah orang itu pergi jauh. “Dia lihai sekali, kuat sinkang-nya dan lihai ginkang-nya, merupakan lawan yang lihai.”

Tan-ciangkun tertawa. “Akan tetapi dia pun tidak akan menganggap kita orang lemah!” “Apa maksudmu, Tan-ciangkun?” tanya Jayin.
Tetapi Tan Siong Khi hanya tersenyum. Tadi ketika tubuh pesuruh Raja Muda Tambolon itu sedang melayang di atasnya, dia menggerakkan kepalanya dan jenggot panjangnya melayang dan menyambar ke atas, merobek celana di selangkangan kaki orang itu. Kalau dia mau, tentu saja bukan celana yang robek, melainkan bagian tubuh yang lebih penting lagi dan yang mematikan!

“Raja Muda Tambolon ini makin menggila saja,” katanya sambil berjalan memasuki pintu gerbang bersama Tan-ciangkun. “Dia telah menghimpun semua kekuatan mereka yang bermaksud memberontak kepada Kerajaan Ceng, yaitu orang-orang dari Tibet, Turki dan Mongol. Dia sendiri adalah peranakan Tibet dan Mongol, dan khabarnya memiliki ilmu kepandaian yang mukjijat. Entah apa maksudnya kali ini, dan anehnya mengapa yang menjadi utusan adalah orang Pek-lian-kauw.”

“Agaknya perkumpulan agama yang tersesat dan menjadi tukang berontak itu kena pula dibujukkan dan menjadi sekutunya,” kata Tan Siong Khi dan Jayin menganggukkan kepalanya.

Memang dugaan ini tidak meleset. Di perbatasan antara wilayah Kerajaan Ceng, yaitu di luar Sin-kiang, gerombolan ini berkumpul dan makin lama menjadi kekuatan yang cukup besar. Pada waktu itu, baik Tibet, Turki, Mongol dan semua raja muda yang menguasai wilayah-wilayah kecil masing-masing telah ditundukkan dan dihancurkan oleh Kerajaan Ceng. Namun, ada beberapa tokoh-tokoh mereka yang belum mau tunduk dan akhirnya mereka ini dapat dihimpun oleh Raja Muda Tambolon untuk bersekutu dan bersama-sama memperkuat diri dalam persiapan mereka menyerang Kerajaan Ceng dan merampas wilayah-wilayah mereka kembali.

Ketika Raja Bhutan membaca surat yang dibawa oleh Jayin, dia berkerut dan kelihatan gelisah. Akhirnya dia mengundang semua pembantu dan orang kepercayaannya untuk membicarakan hal itu. Bahkan Tan- ciangkun juga disuruh hadir karena Raja Bhutan tentu saja mengharapkan bantuan dan perlindungan dari Pemerintah Ceng yang akan menjadi besannya.

“Isi surat dari Tambolon ini membujuk agar Bhutan tidak melanjutkan hubungan kekeluargaan dengan Pemerintah Mancu, dan mereka mengajak kami untuk bersekutu. Kami memanggil kalian bukan untuk minta pendapat mengenai permintaan mereka itu, karena sudah jelas bahwa kami tidak akan menghentikan hubungan kekeluargaan kami dengan Kerajaan Ceng dan kami tidak sudi diajak bersekutu oleh kaum pemberontak bekas orang-orang pecundang dan pelarian itu. Akan tetapi perlu kita bicarakan tentang penjagaan dan pembelaan diri yang perlu kita adakan karena mereka tentu tidak akan tinggal diam setelah kami tidak menghiraukan permintaan mereka.”

Suasana menjadi hening, dan akhirnya terdengar Tan Siong Khi berkata, “Harap paduka bertenang hati. Hamba mengerti bahwa pemboyongan puteri paduka pasti akan mengalami gangguan dan halangan di jalan, mungkin akan dihadang oleh mereka, akan tetapi hamba dan para pengawal akan melindungi sang puteri dengan taruhan nyawa hamba sekalian!”

“Kami mengerti, Tan-ciangkun. Hanya perlu diadakan perubahan, karena bukan hanya rombongan itu yang mungkin akan diganggu, akan tetapi juga Bhutan mungkin akan diserang. Karena itu, kami rasa tidak baik kalau Panglima Jayin sendiri yang mengawal. Dia perlu untuk memperkuat pertahanan di sini. Namun, pengawalan harus diperkuat. Inilah yang membingungkan hati kami.”

“Harap paduka tidak gelisah,” akhirnya Panglima Jayin berkata. “Sudah dipersiapkan pasukan istimewa, lima ratus orang banyaknya dan hamba tidak perlu ikut karena sudah ada suhu Lu Kiong yang memperkuat pengawalan. Apa lagi ada Tan-ciangkun dan para pengawal dari rombongan pemboyong. Kiranya rombongan itu sudah terkawal cukup kuat, dan kalau mereka itu berani menyerang ke sini, kita pun telah siap untuk memukul hancur mereka! Para pemberontak itu tidak memiliki pasukan besar, kabarnya paling banyak dua ribu saja. Terlalu banyak pasukan merupakan bunuh diri bagi mereka karena tentu tidak akan kuat memberi ransum. Biarkan saja mereka datang, hamba bersumpah akan membasmi mereka sampai habis!”

Kata-kata penuh semangat dari Panglima Jayin ini melegakan hati sri baginda, dan mereka lalu merundingkan tentang keberangkatan sang puteri, dan tentu saja juga penjagaan-penjagaan yang perlu diadakan.

Sementara itu, Ceng Ceng yang sudah mendengar tentang kedatangan utusan pemberontak, berkata kepada Syanti Dewi, “Enci Syanti, betapa pun juga, kurasa jauh lebih baik menjadi isteri seorang Pangeran Kerajaan Ceng dari pada jatuh ke tangan pemberontak yang liar dan ganas itu. Bayangkan saja kalau kau dijodohkan dengan seorang raja pemberontak! Selalu akan hidup di medan perang, bahkan selalu menjadi orang pelarian, dan mereka itu tentu merupakan orang-orang ganas dan liar yang amat menyeramkan.”

Syanti Dewi mengangguk. “Aku akan menyesuaikan diri, adikku. Kurasa, apa pun yang akan terjadi atas diriku, aku masih akan terhibur oleh kehadiranmu di sampingku.”

Bunyi musik paduan suara terompet, tambur dan canang riuh gembira diseling ledakan-ledakan mercon mengantar dan mengiringkan keberangkatan rombongan Puteri Syanti Dewi sampai di luar pintu gerbang. Ketika rombongan sudah mulai meninggalkan kota raja, dari jauh masih terdengar suara riuh gembira ini di belakang mereka. Dari dalam jolinya, Syanti Dewi mengusap air matanya yang bercucuran. Betapa takkan pilu hatinya meninggalkan orang tua, keluarga dan tempat kelahirannya itu untuk selamanya? Sedikit sekali kemungkinan dia akan dapat berkunjung ke Bhutan setelah dia menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong!

Ceng Ceng yang berada sejoli dengan puteri itu menghiburnya. Berbeda dengan sang puteri, dara ini kelihatan gembira sekali, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar. Tentu saja dia girang karena memperoleh kesempatan untuk kembali ke negeri di mana dia dilahirkan, dan kepergiannya ini juga bersama kongkong-nya yang berada di luar bersama para pengawal.

Joli itu tidak dipikul, melainkan merupakan kereta kecil ditarik oleh empat ekor kuda. Beberapa orang pelayan wanita pribadi naik sebuah kereta kedua, kemudian di sebelah belakang masih ada pula sebuah kereta besar penuh dengan peti-peti bawaan sang puteri. Para pengawal mengapit tiga buah kereta itu di depan, belakang, kanan dan kiri sehingga sang puteri terkurung rapat dan aman.

Pasukan itu megah dan gagah, dikepalai oleh panglima wakil Jayin dan ditemani oleh kakek Lu Kiong yang gagah perkasa, diiringkan pula oleh Tan Siong Khi dan teman-temannya. Mereka semua berkuda, dan di sepanjang perjalanan, rombongan ini menjadi tontonan yang mengagumkan dan mengherankan para penduduk dusun.

Dan untuk menenteramkan hati sang puteri, atas perintah panglima komandan pasukan, di sepanjang jalan para prajurit itu bersama-sama menyanyikan lagu-lagu ketentaraan yang terdengar megah dan gagah. Memang megah sekali menyaksikan rombongan ini. Bendera kebesaran berkibar-kibar tertiup angin, suara nyanyian lima ratus mulut itu menggegap gempita, diseling ringkik kuda.

Perjalanan selama berhari-hari dilakukan dengan aman dan selamat. Tidak tampak ada penghalang sedikit pun sampai mereka tiba di dekat perbatasan antara wilayah Bhutan dan Propinsi Tibet. Lima hari telah lewat dan memang perjalanan itu agak lambat sebab melalui Pegunungan Himalaya, dan pasukan Bhutan itu agaknya ogah-ogahan melepas puteri junjungan mereka sehingga memperlambat perjalanan. Betapa pun juga ada perasaan berat untuk melepas puteri itu ke daerah Ceng, karena setelah nanti bertemu dengan pasukan penjemput di daerah Tibet, pasukan Bhutan akan kembali ke Bhutan dan menyerahkan pengawalan itu kepada pasukan Ceng.

Pada hari kelima rombongan tiba di kaki gunung. Tampaklah padang pasir membentang luas di depan. Diduga bahwa pasukan penjemput sudah berada dekat, di balik gunung pasir di depan. Karena itu rombongan berhenti di hutan terakhir, sebab lebih baik menanti datangnya pasukan penjemput di daerah yang masih sejuk ini karena perjalanan selanjutnya akan melalui daerah pegunungan yang sukar dan berbatu-batu sampai lembah Sungai Brahmaputera di sebelah utara perbatasan Bhutan.

Pasukan dihentikan dan semua turun dari kuda masing-masing. Di hutan itu terdapat mata air yang jernih, airnya mengalir menjadi sebatang anak sungai kecil menuju ke utara dan agaknya anak sungai ini akan memuntahkan airnya di Sungai Brahmaputera. Tentu saja setibanya di sungai besar itu, airnya tidak sejernih ketika keluar dari mata airnya di hutan itu.

Mendengar dendang anak sungai itu, Sang Puteri Syanti Dewi turun dari jolinya dan ingin sekali membasuh mukanya dengan air yang jernih. Maka berjalanlah Syanti Dewi ditemani Ceng Ceng dan dikawal sendiri oleh panglima pasukan dan kakek Lu Kiong, menuju ke tengah hutan dari mana terdengar suara riak air sungai itu.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di tengah hutan yang subur itu, mereka tertegun melihat seorang laki-laki sedang tidur di atas rumput, berbantal batu, kedua lengan bersilang depan dada dan mukanya tertutup oleh sebuah caping besar bundar. Seekor kuda yang kelihatan lelah sekali sedang makan rumput tak jauh dari laki-laki itu.

Panglima pasukan dan kakek Lu Kiong yang memang di sepanjang perjalanan sudah menduga akan datangnya penyerbuan pihak musuh, tentu saja menjadi curiga ketika melihat laki-laki itu. Akan tetapi karena merasa terlalu tinggi untuk menegur, panglima itu memanggil lima orang prajurit yang sedang duduk tak jauh dari situ dengan lambaian tangannya.

“Usir dia pergi! Sang puteri berkenan hendak mandi di mata air ini,” katanya.

Lima orang prajurit itu dengan sikap gagah, galak dan langkah lebar menghampiri orang yang sedang tidur. “Heiii! Bangun! Sang puteri hendak mempergunakan tempat ini, kau pergi dan pindahlah tidur di lain tempat!” bentak seorang di antara para prajurit itu.

Akan tetapi orang itu tetap tidur, sama sekali tidak bergerak. “Haiiii! Tulikah engkau?” bentak prajurit kedua.
“Apakah kau sudah mati barangkali?” bentak prajurit ketiga. “Tak mungkin mati, lihat lututnya bergerak-gerak!”
Memang, orang yang tertidur itu lutut kanannya terangkat dan kini bergerak, akan tetapi terhenti lagi karena dibicarakan orang.

“Haiii, petani…! Lekaslah bangun dan pergi. Apakah kau ingin diseret?” bentak pula seorang prajurit. Tetap saja orang itu tidak mau bergerak.
Melihat ini, seorang prajurit yang berkumis tebal memegang sebelah kaki orang itu, lalu menarik sekuat tenaga. Akan tetapi, betapa herannya semua orang melihat bahwa si kuat ini sama sekali tidak mampu membuat orang itu bergerak, bahkan menggerakkan kaki itu pun dia tidak mampu! Seolah-olah bukan orang yang ditarik-tariknya, melainkan patung batu yang luar biasa beratnya. Teman-temannya menjadi heran, dan penasaran, kemudian maju bersama dan lima orang itu membetot-betot tubuh orang yang tidur itu. Terdengar mereka mengeluarkan suara ah-ih-uh ketika mengerahkan tenaga, namun tetap saja orang yang dikeroyok lima ini tidak dapat digerakkan sedikit pun juga!

“Eh-eh, apakah engkau minta dipukul?” Seorang prajurit membentak dan kuda orang itu menjadi ketakutan melihat dan mendengar ribut-ribut sehingga binatang ini melarikan diri agak jauh dari tempat itu.

Karena orang itu tetap tidur dengan muka ditutup caping, lima orang prajurit itu menjadi hilang sabar, malu dan penasaran. Mereka berlima tidak mampu menggerakkan orang yang tidur ini. Jelas bahwa orang itu tidak tidur, maka mereka merasa dianggap ringan dan hina. Kini mereka berlima turun tangan menyerang dengan pukulan kalang kabut!

“Plak-plak-plak-duk-dukkk…!”

Aneh bukan main. Tanpa menurunkan topi yang menutupi seluruh mukanya, orang itu dapat menggerakkan kaki tangannya menangkisi semua pukulan. Bukan saja pukulan-pukulan itu tertangkis, bahkan lima orang prajurit itu akhirnya mundur sambil meringis, memegangi lengan mereka yang menjadi bengkak-bengkak terkena tangkisan orang yang masih tertutup mukanya oleh caping itu!

“Hemmm…!” Panglima sudah memegang gagang pedangnya, akan tetapi dia didahului oleh Ceng Ceng yang sekali melompat telah berada di dekat orang itu sambil berkata, suaranya lantang penuh teguran, “Kalau kau seorang gagah, tentu kau tahu bahwa tempat ini bukan hanya milikmu seorang, dan tentu kau mempunyai kesopanan untuk menyingkir karena ada wanita hendak mandi di sini!”

“Adik Candra… jangan…!” Tiba-tiba sang puteri berseru dan sudah lari mendatangi dan berkata dengan halus kepada orang yang mukanya masih ditutupi topi itu. “Harap kau suka pergi dari sini dan setelah kami selesai mempergunakan mata air ini, tentu saja kau boleh menempatinya lagi.”

Tubuh itu bergerak-gerak sedikit, kemudian tangan kanannya meraba tanah, menepuk dengan pengerahan tenaga dan tubuhnya mencelat ke atas punggung kudanya yang berada agak jauh dari situ, kemudian kuda itu membalap pergi meninggalkan suara derap kaki dan sedikit debu mengepul. Semua itu dilakukan tanpa membuat capingnya terbuka!

“Hebat…!” Kakek Lu Kiong memuji dengan kagum.

“Mungkin dia mata-mata musuh…” bisik panglima komandan pasukan yang segera pergi dan memerintahkan para penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan di sekitar hutan itu.

Kakek Lu Kiong mengerutkan alisnya, termenung dan meraba-raba jenggotnya, lalu berkata kepada panglima itu, “Dia adalah seorang Han, dan melihat gerak-geriknya, dia memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Sayang bahwa kita belum dapat melihat wajahnya sebelum dia pergi. Kurasa dia bukanlah mata- mata musuh, karena kalau dia mata-mata musuh, tentu tidak demikian perbuatannya, melainkan menyelidiki kita dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Betapa pun juga, dia lihai sekali dan kita harus berhati-hati.”

Juga Tan-ciangkun yang diberitahu tentang orang asing bercaping itu jadi termenung. “Saya mengenal banyak tokoh kang-ouw, dan tentu saja banyak yang bercaping dan berilmu tinggi. Mungkin saya dapat mengenalnya kalau melihat wajahnya. Akan tetapi karena jelas tidak mengganggu, bahkan dalam bentrokan itu dia tidak menewaskan seorang pun prajurit, kurasa dia tidak mempunyai niat buruk terhadap rombongan kita.”

Sementara itu, Ceng Ceng dan sang puteri mandi di mata air. Mereka membicarakan juga laki-laki yang aneh tadi.

“Dia tentu orang jahat. Kalau tadi dia tidak lekas menyingkir, tentu aku akan menghajar dia!” kata Ceng Ceng yang merasa mendongkol juga karena orang asing itu dipuji-puji dan orang itu mendapat kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya. Memang dara ini memiliki watak yang kadang-kadang keras tidak mau kalah, dan dia paling tidak senang melihat orang memamerkan kepandaiannya.

“Ahhh, belum tentu, adik Candra. Kurasa, melihat gerak-geriknya, dia bukanlah seorang jahat. Buktinya, dikeroyok demikian banyaknya prajurit, dia tidak membunuh seorang pun di antara mereka, padahal kalau melihat kepandaiannya, tentu dengan mudah dia mampu melakukan hal itu.”

“Hemm, dia memang sengaja hendak memamerkan kepandaiannya!” bantah Ceng Ceng masih tak puas. “Kalau saja diberi kesempatan, akan kubuktikan bahwa lagaknya itu hanya kosong belaka!”

Maklum akan watak adik angkatnya, puteri itu hanya tersenyum dan tidak menyebut lagi perihal orang aneh itu. Juga para tokoh dalam rombongan itu tidak bicara lagi tentang orang aneh, dan orang itu hanya disebut-sebut dengan bisik-bisik di antara para prajurit. Namun, peristiwa itu mempertinggi kewaspadaan rombongan dan penjagaan dilakukan ketat malam itu. Karena para penjemput belum juga muncul, maka terpaksa mereka bermalam di hutan itu dengan membangun tenda-tenda darurat. Sang puteri dan Ceng Ceng, juga para pelayan wanita, tidur di dalam kereta joli.

Malam itu sunyi sekali setelah lewat tengah malam. Sebagian besar prajurit yang tidak bertugas jaga, tidur nyenyak karena mereka memang sudah lelah sekali. Akan tetapi mereka yang bertugas jaga, tetap berjaga dengan penuh kewaspadaan di tempat masing-masing. Perondaan dilakukan terus-menerus dari tempat penjaga yang satu kepada tempat penjaga yang lain. Juga kakek Lu Kiong, komandan pasukan, dan Tan- ciangkun tidak dapat tidur dan mereka bercakap-cakap di dalam tenda melewatkan waktu malam yang merupakan bahaya bagi mereka itu.

Di dalam kereta joli, Ceng Ceng dan Syanti Dewi juga tidak dapat tidur. Mereka sudah terbiasa dengan kamar yang serba lengkap, dengan pembaringan yang lunak sehingga tidur setengah duduk di kereta joli merupakan hal yang sukar dilakukan. Maka keduanya juga setengah berbaring sambil bercakap-cakap. Diam-diam keduanya merasakan sesuatu yang aneh dan seolah-olah ada tanda-tanda rahasia akan datangnya hal yang tidak mereka kehendaki. Setelah munculnya orang aneh siang tadi, segala sesuatu kelihatan penuh rahasia. Suara angin berdesir mempermainkan daun-daun pohon saja terdengar seperti bisikan-bisikan iblis dan siluman. Bayang-bayang pohon yang dibuat oleh sinar lentera penjagaan tampak seperti bayangan raksasa! Keadaan serba menyeramkan dan menegangkan.

“Kulik! Kulik! Kulik!”

Suara burung malam itu terdengar jelas sekali karena suasana yang amat sunyi. Suara itu memecah kesunyian dan Puteri Syanti Dewi menggerakkan kedua pundaknya. Tengkuknya terasa dingin meremang.

“Ihhhh… menyeramkan sekali…!” Bisiknya. “Adik Candra, hatiku terasa tidak enak sekali. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan kita?”

Ceng Ceng juga merasa seram, namun dia menghibur hati kakak angkatnya dengan senyum lebar. “Apa yang dapat terjadi kepada kita? Engkau dikawal oleh lima ratus prajurit pilihan, enci Syanti.”

“Lima ratus orang prajurit di tempat seperti ini tidaklah meyakinkan sekali, adik Candra. Aku mendengar bahwa di daerah perbatasan ini sering kali muncul gerombolan yang dipimpin oleh Raja Muda Tambolon yang biadab itu.”

“Siapakah Raja Muda Tambolon yang terkenal itu, enci?”.

Syanti Dewi bergidik. “Aku sendiri belum pernah melihat orangnya. Akan tetapi menurut kabar, dia adalah seorang peranakan Tibet dan Mongol, seorang laki-laki bertubuh raksasa yang amat sakti dan juga amat kejam, terutama sekali terhadap wanita.”

“Hemmm, kejam terhadap wanita? Bagaimanakah?”

“Hihh, aku merasa ngeri baru mengingat cerita yang kudengar itu saja. Bayangkan, kalau Tambolon sudah menyerang sebuah dusun, dia akan membunuh semua laki-laki yang tidak mau menyerah, dan tidak ada seorang pun wanita yang dilepaskannya. Semua kanak-kanak dibunuh, dan wanita dari usia empat belas tahun ke atas, semua menjadi korban kebiadabannya. Kabarnya, dia sendiri akan memilih sedikitnya lima orang wanita tercantik untuk dia permainkan sampai bosan. Ada pun sisanya, semua diberikan begitu saja kepada para anak buahnya dan terjadilah peristiwa yang lebih mengerikan dari pada penyembelihan terhadap kaum pria dan anak-anak. Para wanita itu diperkosa di dalam rumah, di jalan-jalan, di sawah, di mana saja mereka ditemukan, bahkan di antara mayat-mayat suami dan atau saudara-saudara mereka.”

“Keparat jahanam!” Ceng Ceng mendesiskan kata-kata ini penuh kebencian.

“Dan beberapa hari kemudian, wanita-wanita tua dibunuh, yang muda digiring sebagai orang tawanan atau lebih tepat lagi, sebagai alat hiburan mereka sampai kaum wanita itu mati atau bunuh diri. Anak-anak yang lahir dari perbuatan laknat ini kelak menjadi anak buah gerombolan. Kabarnya Tambolon sendiri merupakan hasil kelahiran dari perbuatan biadab seperti itulah.”

“Hemm, kalau begitu biarlah mereka muncul. Ingin aku memenggal leher manusia iblis itu dengan pedangku sendiri!” Ceng Ceng berkata lagi.

Tiba-tiba, seolah-olah menjawab kata-kata Ceng Ceng, terdengar suara melengking tinggi berulang-ulang. Mula-mula suara itu datangnya dari arah barat, kemudian disusul dari selatan, timur dan utara. Suara melengking yang agaknya bukan keluar dari leher manusia, melainkan dari semacam alat tiup yang aneh. Segera terdengar teriakan-teriakan dan kegaduhan hebat di luar kereta joli.

“Apa itu…?” Syanti Dewi bertanya kaget dan mukanya pucat.

“Jangan keluar dulu, biar aku yang memeriksa!” Ceng Ceng sudah meloncat keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget hatinya melihat ratusan anak panah berapi datang bagaikan hujan menyerang tempat itu!

Di sana-sini sudah terjadi kebakaran pada tenda-tenda dan keadaan menjadi kacau. Para prajurit yang baru saja terbangun dari tidur dan dalam keadaan panik, lari ke sana ke mari sampai akhirnya teriakan- teriakan kakek Lu Kiong, komandan pasukan, Tan-ciangkun dan beberapa orang perwira lain dapat meredakan kepanikan. Pasukan-pasukan disusun dan dibagi empat, siap menghadapi serangan dari empat penjuru itu.

Tak lama kemudian, muncullah pihak musuh yang menyerang dari empat penjuru, dan terjadi pertempuran yang amat hebat. Perang yang terjadi di dalam gelap itu amat kejam dan dahsyat, namun sungguh tidak menguntungkan pihak pasukan Bhutan. Mereka sebagian besar baru saja bangun tidur, masih nanar dan agaknya pihak penyerang lebih tangkas dan lebih biasa dengan pertempuran di dalam hutan yang gelap. Selain itu, segera didapatkan kenyataan yang mengejutkan bahwa jumlah musuh luar biasa banyaknya, jauh lebih banyak dari pada jumlah pasukan Bhutan yang lima ratus orang itu. Juga di pihak musuh banyak terdapat orang-orang pandai dari bermacam suku bangsa. Ada pendeta Lama dari Tibet, ada orang Turki yang bersorban, orang Mongol dan juga orang Han!

Perang tanding mati-matian itu terjadi sampai hampir pagi. Ceng Ceng yang siap dengan pedang di tangan melindungi Syanti Dewi yang juga memegang pedang. Ada beberapa orang musuh dapat menyelundup masuk dan Ceng Ceng sudah merobohkan empat orang musuh, sedangkan Syanti Dewi sendiri yang selama hidupnya belum pernah bertempur, apa lagi membunuh orang, terpaksa membunuh seorang laki- laki tinggi besar yang hendak menangkapnya. Kini dengan muka pucat dan tubuh menggigil puteri itu memandang korbannya. Pedangnya tertinggal di dalam perut korban itu karena merasa terlalu ngeri untuk mencabut pedangnya!

Tiba-tiba kakek Lu Kiong datang dengan muka agak pucat. Seluruh pakaian kakek itu berlumur darah, dan mukanya penuh keringat. Pedang di tangan kakek ini pun penuh berlepotan darah dan kelihatannya dia lelah sekali. Seperti juga para prajurit dan para pimpinan, kakek ini telah ikut berperang dan mengamuk seperti seekor harimau.

“Ceng Ceng… cepatlah persiapkan diri dan tuan puteri! Kita harus melarikan diri, pihak musuh terlalu kuat!”

“Apa? Melarikan diri? Tidak, kongkong!” Ceng Ceng membantah marah. “Biarlah kita melawan sampai titik darah terakhir!”

“Hushhhhh! Kau kira kakekmu ini pengecut? Kita tidak boleh memikirkan diri sendiri, kita harus menyelamatkan sang puteri!”

Barulah Ceng Ceng teringat. Dia menoleh dan melihat Syanti Dewi berdiri pucat memandang orang yang telah ditusuk perutnya dengan pedangnya itu. Orang itu masih berkelojotan di depan kakinya!

“Bagaimana kita bisa melarikan sang puteri, kongkong? Tempat ini sudah terkurung.”

“Cepat, kalian berdua pakai pakaian ini dan mari ikut dengan aku!” Kakek Lu Kiong memberikan dua stel pakaian petani kepada Ceng Ceng dengan nada memerintah. “Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan tuan puteri. Ini sudah diatur oleh kami, komandan pasukan, Tan-ciangkun, dan aku sendiri. Kita berdua harus dapat mengawal dan menyelamatkan puteri keluar dari tempat ini!”

Dua orang gadis itu tidak banyak membantah lagi, lalu mengenakan pakaian petani yang agak kebesaran itu, menutupi pakaian mereka sendiri, menguncir rambut seperti model laki-laki, kemudian tergesa-gesa mengikuti kakek itu menyelinap di antara pohon-pohon gelap. Sang puteri menyerahkan segenggam perhiasan berharga kepada Ceng Ceng untuk membantu membawanya sebagai bekal. Dengan perhiasan di kantung baju yang lebar, dan pedang disembunyikan di bawah baju, mereka bergerak di bawah pohon- pohon. Syanti Dewi telah mendapatkan kembali pedangnya setelah dicabut dari perut penyerangnya tadi dan dibersihkan darahnya pada pakaian korban.

Akan tetapi, di mana-mana mereka bertemu dengan pihak musuh dan beberapa kali terpaksa mereka terpaksa membuka jalan darah dan merobohkan musuh untuk dapat melanjutkan usaha mereka melarikan diri. Namun, kakek Lu Kiong sedapat mungkin menghindarkan diri dari pertempuran, memilih lowongan- lowongan untuk keluar dari dalam hutan tanpa diketahui musuh.

Akhirnya, setelah matahari pagi tersembul di antara daun-daun pohon, mereka bertiga telah berhasil lolos dan keluar dari dalam hutan di mana masih berlangsung perang yang amat hebat itu. Suara pertempuran masih terdengar jauh di luar hutan. Baru saja hati ketiga orang pelarian itu merasa lega karena dapat lolos, dan memasuki sebuah hutan kecil di antara gurun pasir yang hanya kadang-kadang saja menyelingi gundukan perbukitan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lima orang sudah berdiri di depan mereka dengan golok terhunus di tangan!

“Ha-ha-ha-ha, sudah kuduga tentu akan ada yang menyelinap ke sini! Eh, kakek tua, apakah kalian ini anggota rombongan puteri… ehhhh! Kalian berdua ini begini tampan, persis perempuan… heiiii, bukankah kalian perempuan?” Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam bermata lebar menunjuk dengan goloknya ke arah muka Ceng Ceng dan Syanti Dewi.

“Ahhhh, dia puteri Bhutan! Tidak salah lagi! Aku pernah melihatnya, dia Puteri Bhutan!” tiba-tiba terdengar teriakan seorang tinggi kurus bermuka kuning. Mendengar ini, lima orang itu cepat maju mengurung.

“Ha-ha-ha-ha, benarkah itu, kawan? Kalau begitu, kita telah berhasil menjebak kakap dalam jaring kita! Ha- ha-ha, raja muda tentu akan memberikan hadiah banyak sekali kepada kita. Tangkap dia!” teriak si muka hitam, dialah yang agaknya menjadi pemimpin gerombolan lima orang kasar ini.

Si muka hitam dan si muka kuning sudah menggunakan golok mereka untuk menerjang kakek Lu Kiong, sedangkan tiga orang teman mereka menubruk Ceng Ceng dan Syanti Dewi.

“Plak-plak, dess!”

Tiga orang itu tersungkur karena Ceng Ceng sudah memukul dan menendang dua orang, sedangkan Syanti Dewi sendiri merobohkan seorang dengan sebuah tendangan kilat.

“Tranggg…! Cringgg…!”

Kakek Lu Kiong berhasil menangkis dua batang golok lawan, biar pun dia terkejut sekali karena ketika dia menangkis, dia merasa betapa dua kali pedangnya tergetar hebat, tanda bahwa si muka hitam dan si muka kuning itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali!

Melihat tiga orang temannya tersungkur dan meloncat kembali, si muka hitam tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya memiliki kepandaian juga si puteri dan pelayannya…!”

“Mulut busuk! Aku bukan pelayan!” bentak Ceng Ceng yang marah sekali dan dia sudah menghunus pedangnya, demikian pula Syanti Dewi.

“Ha-ha-ha-ha, tangkap mereka, jangan sampai mereka terluka. Sang Puteri boleh untuk Raja Muda, akan tetapi si cantik liar itu untukku saja, ha-ha-ha!”

“Keparat!” Lu Kiong sudah menggerakkan pedangnya menyerang dan dapat ditangkis oleh si muka hitam. Segera terjadi pertandingan yang seru sekali antara kakek Lu Kiong dikeroyok dua orang yang ternyata memiliki ilmu silat yang tangguh juga.

Tiga orang anak buah mereka itu sudah mencabut golok dan kini menyerang Ceng Ceng dan Syanti Dewi. Akan tetapi karena mereka tidak berani melukai, sedangkan dua orang dara itu melawan mati-matian, tentu saja tiga orang itu menjadi kewalahan, betapa pun lihai ilmu silat mereka. Ceng Ceng mulai mendesak dengan pedangnya dan tiga puluh jurus kemudian, dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan bacokan pedangnya yang hampir memisahkan kepala dari tubuh lawan itu!

Terdengar teriakan keras. Ceng Ceng melihat kakeknya juga telah berhasil merobohkan si muka kuning yang terbabat hampir putus pinggangnya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa kakeknya juga terluka parah pada pundak kirinya sehingga bajunya penuh darah.

“Kongkong…!” Teriaknya sambil menangkis dua batang golok yang menyerangnya. “Ceng Ceng, jaga sang puteri…!” kakek itu berteriak.
“Wuuuutttt… singgg…!” Golok itu menjadi sinar terang meluncur cepat sekali dari atas membacok ke arah kepala kakek Lu Kiong. Si muka hitam ternyata marah sekali melihat saudaranya tewas dan kini dia mengerahkan tenaga untuk membalas dendam.

“Tringggg… augghhh…!” Tubuh kakek Lu Kiong tersungkur dan dia bergulingan.

Ketika menangkis tadi, rasa nyeri menusuk pundak kirinya yang terluka sehingga dia kehilangan tenaga dan hanya dengan jalan menjatuhkan diri saja dia terbebas dari bacokan golok. Si muka hitam mengejar dan menghujankan bacokan. Namun kakek itu dengan sigapnya bergulingan sambil mengangkat pedang beberapa kali menangkis, lalu dengan teriakan keras dia sudah meloncat bangun dan segera terjadi pertandingan mati-matian antara kedua orang itu.

“Kakekmu terluka… bantulah dia, adik Candra!” Syanti Dewi berkata sambil pedangnya membacok ke arah lawan yang dapat ditangkis oleh lawan itu.

“Tidak, kita bereskan dulu dua ekor anjing ini!” Ceng Ceng berseru.

Dia mengerti bahwa puteri itu bukanlah lawan kedua orang yang cukup lihai ini, maka ia cepat memutar pedangnya. Kemarahan melihat kakeknya terluka menambah semangat dara ini. Dengan putaran pedang secepat kitiran, akhirnya ia berhasil menendang roboh seorang lawan. Tendangan dengan ujung sepatu yang tepat mengenai sambungan lutut sehingga orang itu berlutut tanpa mampu berdiri kembali.

“Singggg…!” Pedang di tangan Syanti Dewi menyambar. “Tranggg…!”
Orang yang sudah berlutut itu berusaha menangkis, namun karena kedudukannya yang tidak baik, tangkisannya membuat goloknya terpental dan terlempar.

“Wuuttt…! Crottt!” pedang Ceng Ceng sudah menyambar dan merobek tenggorokannya.

Orang itu mengeluarkan suara seperti babi disembelih dan roboh terjengkang, darah muncrat-muncrat dari lehernya yang coba ditutupinya dengan telapak tangan. Melihat ini, Syanti Dewi loncat mundur dan membuang muka dengan penuh kengerian. Hampir dia muntah-muntah menyaksikan pemandangan yang mengerikan hatinya ini.

Ceng Ceng mengamuk dan menekan lawan yang tinggal seorang lagi itu. Orang itu kini menjadi panik karena kedua orang kawannya telah tewas. Setelah menangkis tiga kali dan selalu tangannya tergetar sehingga goloknya hampir terlepas, dia berteriak, meloncat ke belakang hendak lari.

“Robohlah…!” Teriak Ceng Ceng. Dengan gerakan indah dia melontarkan pedangnya ke depan. Pedang itu meluncur seperti anak panah dan menancap di punggung orang itu, menembus sampai ke dada. Dengan teriakan keras orang itu roboh terguling.

“Kongkong…!” Ceng Ceng menjerit ketika melihat kakeknya terhuyung, lalu kakek itu roboh di atas mayat si muka hitam yang baru saja dirobohkan dan ditewaskan.

Ternyata kakek yang kosen ini biar pun berhasil membunuh si muka hitam yang lihai, menderita luka pula karena kena bacokan golok si muka hitam yang mengenai dadanya sehingga dada itu terobek lebar!

“Kongkong…!” Ceng Ceng berlutut dan memangku kepala kakeknya. Wajahnya pucat dan matanya terbelalak penuh kegelisahan menyaksikan keadaan kakeknya yang telah terluka hebat dan seluruh pakaiannya berlepotan darah itu.

Kakek Lu Kiong membuka matanya, memandang kepada Ceng Ceng lalu kepada Syanti Dewi yang juga sudah datang berlutut di dekat Ceng Ceng. “Ceng Ceng, kau… kau selamatkan puteri… harus. Sekarang juga… pergilah kau ke kota raja… jumpai di sana Puteri Milana, dia sahabat mendiang ibumu. Lindungi puteri dengan nyawamu sebagai… sebagai keturunan seorang bekas pengawal setia…” Kakek itu menghentikan kata-katanya karena napasnya telah terhenti.

“Kongkong…!”

Ceng Ceng memeluk kepala kakek itu, kemudian dia mengangkat mukanya. Dia tidak menangis, walau pun ada dua butir air mata di pipinya yang pucat. “Engkau benar, kongkong! Kita adalah pengawal- pengawal setia sampai mati. Engkau gugur sebagai orang gagah, kongkong! Dan aku akan melanjutkan kegagahanmu.” Dia melepaskan pelukannya dan dengan hati-hati dia merebahkan tubuh kakeknya itu di antara mayat-mayat lima orang lawan tadi.

“Marilah, enci. Kita harus cepat pergi dari sini sebelum musuh datang!” “Tapi… tapi jenazah kakekmu…”
“Tidak apa! Kongkong akan tahu bahwa kita tidak sempat menguburnya. Biarlah semua orang melihat bahwa kongkong tewas di antara musuh-musuhnya dalam tugas sebagai seorang pengawal perkasa! Marilah…!” Sekuatnya Ceng Ceng berusaha menahan tangis karena sesungguhnya hatinya perih sekali harus meninggalkan mayat kakeknya seperti itu. Namun dia tahu bahwa kalau dia terlambat, musuh akan datang dan dia akan sukar sekali menyelamatkan sang puteri.

Puteri Syanti Dewi menahan isak, mengeluarkan sehelai kalung dan sambil berlutut mengalungkan benda itu di leher kakek Lu Kiong. “Ini adalah kalungku sendiri, biarlah sebagai tanda terima kasihku…” Dia terisak dan lengannya disambar oleh Ceng Ceng lalu diajaknya puteri itu melarikan diri. Hampir saja Ceng Ceng tadi menangis melihat sikap puteri itu, dan dengan mengeraskan hati dia setengah menyeret kakak angkatnya karena kalau dia menurutkan hati dan ikut menangisi jenazah kakeknya, keadaan mereka bisa berbahaya sekali.

Demikianlah, dengan menyamar sebagai dua orang petani yang melarikan diri karena terjadi perang, Ceng Ceng dan Syanti Dewi melewati gurun pasir, pegunungan dan hutan-hutan lebat menuju ke timur. Tentu saja perjalanan itu sukar bukan main bagi mereka berdua, seperti dua ekor ikan kecil yang dilepas di tengah lautan. Mereka tidak mengenal jalan. Satu-satunya yang mereka ketahui hanyalah bahwa kota raja Kerajaan Ceng berada jauh sekali di timur!

Mereka membawa bekal banyak perhiasan berharga, namun apa artinya semua itu kalau mereka selama belasan hari tidak pernah bertemu dengan orang lain? Mereka terpaksa harus makan binatang buruan dan daun-daun, minum dari air sungai dan mereka selalu dalam keadaan waspada dan gelisah karena mereka maklum bahwa sebelum tiba di kota raja, mereka selalu akan terancam bahaya karena pihak musuh, yaitu orang-orang bawahan Raja Muda Tambolon tentu melakukan pengejaran.

********************

“Lee-ko, mari kita turun dari sini. Lihat itu sepasang rajawali kita beterbangan di atas permukaan laut, agaknya tentu ada sesuatu terjadi. Mungkin ada ikan besar terdampar ke pulau seperti dahulu!” kata Kian Bu sambil menudingkan telunjuknya ke bawah puncak di mana tampak sepasang rajawali itu terbang rendah di permukaan laut.

“Ahh, Bu-te, sekarang bukan waktunya bermain-main. Ingat, hari ini kita harus melatih sinkang untuk menghimpun Hui-yang-sinkang (Tenaga Sakti Inti Api) yang amat sukar.”

“Memang sukar, Lee-ko. Tidak semudah ketika kita melatih Swat-im-sinkang.”

“Tentu saja, untuk menghimpun Swat-im-sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju) kita dibantu oleh hawa dingin dan salju, sedang Hui-yang-sinkang adalah sebaliknya, menyalurkan sinkang menjadi berhawa panas. Karena sukarnya, maka kita harus giat berlatih, jangan terlalu banyak main-main. Marilah kita berlatih lagi, kurasa di dalam goa itu sudah cukup panas, apinya sudah sejak pagi tadi menyala.”

Kian Bu menghela napas kecewa, akan tetapi tidak berani membantah kakaknya dan mereka memasuki sebuah goa di puncak itu. Kalau orang lain yang belum terlatih, baru memasuki goa itu saja tentu tidak akan kuat bertahan. Di situ dinyalakan api arang yang amat besar sehingga hawa menjadi panas luar biasa, baru masuk saja terasa kulit seperti dibakar. Namun kedua orang pemuda yang sudah terlatih itu seolah-olah mereka tidak merasakan hal ini. Mereka berjalan masuk dan duduk bersila, mulai berlatih Hui- yang-sinkang.

Kedua orang muda putera majikan Pulau Es ini memang selalu tekun berlatih silat semenjak mereka dahulu tersesat ke Pulau Neraka dan terancam bahaya maut. Biar pun mereka dapat terhindar dari mala petaka, bahkan pulang ke Pulau Es membawa sepasang rajawali, namun keduanya maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih belum mencukupi sehingga sekali saja keluar merantau hampir celaka, maka di bawah gemblengan dan bimbingan yang amat keras dari ayah mereka, keduanya berlatih setiap hari sehingga memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Akan tetapi belum lama mereka melakukan siulian (semedhi) untuk berlatih sinkang, tiba-tiba telinga Kian Bu menangkap suara rajawali yang melengking panjang. Dia membuka mata memandang keluar goa. Tentu saja dari dalam goa itu dia tidak melihat sepasang rajawali, akan tetapi kembali telinganya menangkap suara lengking panjang dari sepasang rajawali itu.

“Lee-ko…!”

Kian Lee membuka matanya memandang dengan cemberut. “Bu-te, mengapa kau belum juga berlatih? Apa kau ingin mendapat marah dari ayah?”

“Lee-ko dengarkan! Sepasang rajawali kita marah-marah, tentu ada sesuatu!”

Terpaksa Kian Lee mencurahkan perhatiannya pada pendengarannya dan tak lama kemudian dia mendengar lengking panjang dari sepasang rajawali mereka. Tak salah lagi, memang sepasang rajawali itu sedang marah-marah. Hal ini amat mengherankan karena kalau tidak terjadi sesuatu di Pulau Es, mengapa sepasang rajawali itu marah-marah?

“Hemm, mereka marah sekali. Entah apa yang sedang terjadi…,” kata pemuda yang bersikap tenang ini.

“Mendengar suara mereka, kalau tidak melihat dulu, mana bisa aku menyatukan tenaga untuk berlatih? Aku mau melihatnya dulu, Lee-ko!” Berkata demikian, Kian Bu sudah menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat keluar dari goa itu. Gerakannya memang hebat sekali karena pemuda ini sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

“Tunggu, Bu-te…!” Kian Lee juga meloncat dengan kecepatan yang sama.

Kedua orang kakak beradik itu berlari cepat menuruni puncak dan ketika mereka tiba di pantai tampaklah oleh mereka apa penyebab sepasang rajawali itu beterbangan rendah dan mengeluarkan suara pekik kemarahan. Kiranya Pulau Es kedatangan tamu! Hal yang luar biasa sekali karena selama mereka hidup di Pulau Es, baru satu kali ini ada orang-orang asing yang datang di Pulau Es, menggunakan sebuah perahu besar yang berlabuh di tepi pantai.

Kakak beradik itu merasa heran sekali, apa lagi ketika melihat bahwa yang datang adalah orang banyak. Ada dua puluh orang yang kini sudah mendarat dan mereka itu berdiri di pantai, berhadapan dengan Suma Han dan kedua orang isterinya! Karena ayah dan ibu mereka telah hadir, kakak beradik ini tidak berani bersuara, hanya melangkah maju dan mendengarkan percakapan.yang baru berlangsung. Agaknya orang tua mereka juga baru saja datang ke tempat itu menyambut para pendatang ini. Dua puluh orang itu rata- rata telah berusia lanjut, paling muda empat puluh lima tahun sampai ada yang sudah tua sekali. Akan tetapi yang paling menarik adalah dua orang kakek yang berdiri di depan, karena mereka ini adalah yang paling aneh di antara mereka semua.

Dua orang kakek ini menarik karena wajah mereka serupa benar. Sukar membedakan dua wajah itu yang bentuk dan garis-garisnya sama, bahkan rambut mereka yang panjang terurai sampai ke leher juga sama. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat menyolok pada pakaian mereka dan warna muka mereka. Yang seorang bermuka putih, bukan pucat melainkan putih seperti dicat! Kakek ini memakai baju tebal dari bulu, akan tetapi masih kelihatan seperti orang kedinginan, bahkan mukanya yang lebar bulat itu, yang berwarna putih, agak kebiruan seperti orang menderita dingin hampir beku.

Ada pun kakek kedua merupakan kebalikan dari kakek pertama. Kakek kedua bermuka merah, muka yang seperti orang kepanasan. Orang kedua ini hanya memakai celana sebatas lutut dan sepatu, sama sekali tidak memakai baju sehingga tubuhnya yang agak kurus dengan tulang iga menonjol itu kelihatan. Anehnya, biar pun berada di Pulau Es yang dingin sekali, kakek ini masih kelihatan seperti orang kegerahan, mengipas-ngipas tubuh atasnya yang telanjang itu dengan sehelai sapu tangan yang sudah basah oleh keringatnya. Dan ini bukan hanya aksi belaka karena memang lehernya selalu basah oleh keringat!

Delapan belas orang yang lainnya terdiri dari empat belas orang kakek yang rata-rata kelihatan aneh dan membayangkan ilmu kepandaian tinggi, dan empat orang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun yang masing-masing membawa pedang di punggung mereka. Empat orang wanita ini kepalanya dibalut dengan kain putih seperti orang berkabung dan wajah mereka angker, penuh kebencian ketika mereka memandang kepada Pendekar Super Sakti dan kedua isterinya. Melihat dari bentuk pakaian mereka, jelas bahwa empat orang wanita ini bukanlah wanita Han, sungguh pun wajah mereka seperti wanita Han biasa, akan tetapi pakaian mereka agak lain. Dan memang mereka itu adalah wanita-wanita dari Korea, dan tergolong tokoh-tokoh orang gagah di negeri itu.

Siapakah kedua orang kakek kembar yang agaknya menjadi pimpinan rombongan yang secara tidak terduga-duga datang mendarat di Pulau Es ini? Nama mereka tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw, karena memang kedua kakek kembar ini selama puluhan tahun pergi meninggalkan dunia kang-ouw dan merantau di luar negeri. Mereka adalah kakak beradik kembar, berasal dari Taiwan (Formosa) dan pernah mereka menjelajah ke daratan besar dan membuat nama dengan ilmu kepandaian mereka.

Akan tetapi, mereka berbeda haluan dengan suheng mereka yang mencari kedudukan dengan menghambakan diri kepada Bangsa Mancu yang menduduki Tiongkok. Suheng mereka kemudian terkenal sebagai Koksu (Guru Negara), yaitu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun (baca SEPASANG PEDANG IBLIS). Mereka berdua merasa kecewa melihat kakak seperguruan yang mereka anggap sebagai pengganti suhu itu menghambakan diri kepada musuh, maka keduanya lalu pergi meninggalkan daratan besar dan mereka berpencar untuk meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu mereka. Yang tua pergi ke utara dan selama puluhan tahun bermukim di daerah Kutub Utara yang amat dingin. Ada pun yang muda merantau ke selatan, ke daerah panas di mana matahari lewat tepat di atas kepala.

Beberapa tahun yang lalu, kedua orang ini kembali ke daratan besar sebagai dua orang lihai bukan main. Setelah puluhan tahun tinggal di dekat Kutub Utara, kakek tertua menjadi putih mukanya dan selalu berpakaian tebal seperti yang biasa dipakai orang-orang Eskimo di daerah Kutub Utara. Kakek ini kemudian terkenal dengan sebutan Pak-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Utara). Ada pun adik kembarnya, sekembalinya dari daerah panas, menjadi merah mukanya dan selalu merasa kegerahan dan tidak pernah berbaju. Dia kini dijuluki Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Selatan).

Biar pun baru datang beberapa tahun saja, kelihaian mereka membuat nama Siang Lo-mo (Sepasang Iblis) ini terkenal sekali, terutama pada golongan yang menentang Pemerintah Mancu karena kedua orang ini pun terkenal anti kepada Kerajaan Mancu. Memang aneh sekali keadaan kedua orang itu. Lajimnya, orang yang selamanya tinggal di daerah dingin seperti Kutub Utara, kalau datang ke tempat yang lebih panas tentu akan kegerahan, akan tetapi Pak-thian Lo-mo sebaliknya malah, terus-menerus kedinginan! Demikian pula dengan Lam-thian Lo-mo, puluhan tahun dia tinggal di daerah panas, semestinya kini dia akan merasa kedinginan, akan tetapi biar pun berada di Pulau Es, dia masih terus merasa panas!

Sebetulnya mereka tidak pura-pura dan yang menyebabkannya demikian adalah sinkang mereka. Di Kutub Utara, Pak-thian Lo-mo melatih diri secara liar sehingga dia dapat menghimpun inti tenaga yang mengandung hawa dingin. Memang hebat sekali tenaga ini, namun akibatnya karena dilatih secara liar, dia selalu merasa kedinginan dan harus memakai jubah tebal berbulu dan sering kali minum arak tanpa takaran untuk menghangatkan tubuhnya, demikian pula Lam-thian Lo-mo yang telah melatih dan menghimpun inti tenaga sakti yang amat panas sehingga tubuhnya selalu terasa terlalu panas!

Ketika kakek kembar ini mendengar betapa suheng mereka telah digagalkan semua usahanya memberontak oleh Pendekar Super Sakti, bahkan kabarnya suheng mereka itu tewas di Pulau Es, tentu saja menjadi marah sekali dan menaruh hati dendam kepada Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es. Apa lagi ketika mendengar pendekar yang menjadi musuh besar mendiang suheng mereka itu adalah mantu Kaisar Mancu, kebencian mereka makin meluap-luap.

Mereka lalu mengumpulkan kawan-kawan sehaluan, yaitu mereka yang menentang Pemerintah Mancu. Di antaranya adalah keempat wanita dari Korea itu. Mereka itu adalah kakak beradik dari Jepang yang telah menikah dengan perwira-perwira Korea. Ketika suami mereka semua gugur dalam perang melawan pasukan Mancu, mereka bersumpah untuk membalas dendam dan menggabung dengan mereka yang anti Pemerintah Mancu sehingga akhirnya mereka dapat bekerja sama dengan Siang Lo-mo. Mendengar bahwa Siang Lo-mo hendak mencari Pulau Es dan menyerang Majikan Pulau Es yang menjadi mantu Kaisar Mancu, tentu saja mereka berempat menjadi girang dan segera menyatakan hendak ikut membantu.

Empat belas kakek yang lainnya sebagian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang merasa dirugikan oleh Pemerintah Mancu, ada pula yang ikut menyerbu Pulau Es semata-mata untuk membalas dendam kepada Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti karena sahabat atau saudara seperguruan mereka pernah roboh di tangan pendekar ini.

Suma Han dan dua orang isterinya yang juga mendengar pekik sepasang rajawali dan melihat sebuah perahu besar mendarat, sudah cepat menyambut dan kini mereka bertiga menanti keluarnya dua puluh orang itu dari perahu. Sikap Suma Han dan dua orang isterinya tenang-tenang saja sungguh pun mereka juga merasa heran sekali melihat rombongan orang asing datang ke pulau mereka dan mereka bertiga sudah dapat menduga bahwa rombongan itu tentulah bukan datang dengan iktikad baik.

Namun, sesuai dengan wataknya yang tenang dan sopan, Suma Han mengangkat kedua tangannya di depan dadanya sebagai tanda penghormatan, lalu bertanya dengan suara halus, “Siapakah cu-wi (anda sekalian) yang telah mendarat di Pulau Es dan apa gerangan keperluan cu-wi?”

Sejenak kedua orang kakek kembar itu tak dapat menjawab, hanya mata mereka memandang Suma Han penuh perhatian dan penuh selidik, memandang pendekar itu dari rambutnya yang putih semua dan panjang sampai ke pundak sampai kakinya yang tinggal sebelah. Akhirnya Pak-thian Lo-mo menghela napas panjang. Dia merasa heran sekali dan hampir tidak percaya bahwa laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kelihatannya lemah, tubuhnya sedang, kakinya tinggal yang kanan dan rambutnya sudah putih semua, bersikap halus dan lemah lembut ini adalah Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang demikian tersohor!

Dia tersenyum dan dengan sikap tak acuh tanpa membalas penghormatan tuan rumah, dia bertanya, “Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Super Sakti, Tocu dari Pulau Es?”

“Kalau benar demikian, kau mau apakah?” Lulu tidak dapat menahan kemarahannya melihat sikap orang yang sama sekali tidak menghormat suaminya, padahal suaminya telah bersikap sopan dan ramah.

Pak-thian Lo-mo memandang pada Lulu dan mengangguk-angguk. “Hebat, aku sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti mempunyai dua orang isteri yang kabarnya lihai bukan main dan bahwa yang seorang adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri! Apakah engkau puteri kaisar itu?”

“Kakek tua bangka yang tidak mengenal orang!” Nirahai membentak. “Akulah puteri kaisar yang kau tanyakan. Engkau siapakah dan mau apa berlagak di tempat ini dengan membawa banyak anak buah?”

Pak-thian Lo-mo saling pandang dengan adik kembarnya, kemudian mereka berdua tertawa bergelak. Kini Lam-thian Lo-mo yang menjawab, suaranya kering tetapi nyaring sekali, “Eh, Pendekar Siluman! Kami hendak bertanya, apakah benar suheng kami Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di Pulau Es ini?”

Suma Han dan kedua orang isterinya terkejut. Kiranya dua orang kakek kembar yang aneh itu adalah sute- sute dari mendiang Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun! Jelaslah bahwa kedatangan mereka ini mengandung niat yang tidak baik.

Namun suara Suma Han masih tetap tenang ketika dia menjawab, “Benar, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di tempat ini karena perbuatannya sendiri yang menyalahi kebenaran.

“Kaukah yang membunuhnya?” Pak-thian Lo-mo bertanya, suaranya penuh ancaman.

Sebetulnya, Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun terjungkal dari tebing yang amat curam ketika bertanding dengan Gak Bun Beng. Namun bukan watak Suma Han untuk menyebutkan kesalahan orang lain hanya untuk melindungi dirinya sendiri, maka jawabnya, “Yang membunuhnya adalah tingkah lakunya sendiri yang tidak benar.” (seperti diceritakan dalam cerita SEPASANG PEDANG IBLIS)

Pak-thian Lo-mo mengangkat tangannya ke pinggang, bertolak pinggang dengan sikap angkuh sekali. “Pendekar Siluman, dengarlah baik-baik! Kami berdua adalah Siang Lo-mo, aku disebut Pak-thian Lo-mo dan dia ini adikku Lam-thian Lo-mo. Kami datang untuk menuntut kematian suheng kami! Bukan itu saja, karena engkau adalah mantu kaisar penjajah dan isterimu itu puteri kaisar, maka kami para patriot bergabung untuk membasmi kalian dan mengambil Pulau Es ini sebagai sebuah markas baru!”

“Iblis tua bangka bosan hidup!” Nirahai sudah membentak marah sekali dan hampir berbareng dengan Lulu yang juga marah, kedua orang wanita sakti ini sudah melompat ke depan. Terjangan mereka disambut oleh Pak-thian Lomo dan Lam-thian Lo-mo yang tertawa-tawa menghina dan memandang rendah kedua wanita itu.

“Dessss! Desssss!”

Empat pasang lengan saling bertemu dengan hebatnya, dan akibatnya, Nirahai dan Lulu terlempar ke belakang sedangkan kedua kakek ini pun terhuyung! Melihat ketangguhan kedua orang kakek Siang Lo-mo itu, Suma Han berkata kepada kedua orang isterinya yang sudah dapat mengatur keseimbangan tubuh mereka, “Biarlah aku menghadapi mereka.”

“Pendekar Siluman, tibalah saatnya engkau menebus kematian suheng!” Lam-thian Lo-mo berteriak keras.

Bersama saudara kembarnya dia lalu menubruk ke depan dan dari kedua tangannya menyambar hawa yang panas seperti api menyala, sedangkan dari kedua tangan Pak-thian Lo-mo menyambar hawa yang dingin sekali. Namun Suma Han dengan gerakan tenang sudah menggerakkan tongkatnya ke depan, dengan gerakan aneh tongkatnya berputar seperti mencoret-coret huruf di udara.

“Plak-plak…!”

Secara aneh sekali tahu-tahu tongkat itu telah memukul tepat mengenai punggung dua kakek itu yang cepat melompat ke belakang, saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka kaget bukan main! Sama sekali mereka tidak mengerti bagaimana tongkat di tangan si kaki buntung itu dapat memukul punggung mereka! Namun mereka tidak menjadi jeri dan cepat tangan mereka meraba pinggang dan mereka melolos sabuk mereka, yang ternyata merupakan sebatang senjata cambuk baja hitam!

Suma Han merasa khawatir sekali di dalam hatinya. Kalau kedua orang kakek itu menggunakan senjata yang dia dapat menduga tentu ampuh dan lihai sekali, maka pertandingan akan menjadi sungguh-sungguh dan ada kemungkinan dia kesalahan tangan dan terpaksa membunuh mereka untuk menyelamatkan diri. Biar pun dia tidak merasa takut, namun betapa pun juga dia tidak menghendaki dia sekeluarga terpaksa membunuh orang dan mengotori Pulau Es yang sudah beberapa kali dikotori darah manusia yang terbunuh di situ akibat kejahatan-kejahatan mereka. Selama puluhan tahun dia hidup damai, tenteram, dan aman bersama dua orang isterinya dan kedua orang puteranya. Kini dia tidak ingin terjadi pembunuhan.

“Jiwi harap bersabar. Apakah urusan ini tidak dapat diselesaikan dengan damai?” tanyanya tenang.

“Pendekar Siluman, jangan kau kira bahwa kami gentar menghadapi tongkatmu! Kami datang untuk menantang engkau berkelahi!” bentak Pak-thian Lo-mo.

Suma Han menahan napas. “Andaikata terpaksa berkelahi juga, apakah tidak sebaiknya kita hanya menggunakan tangan untuk mengukur siapa yang lebih kuat, dan tidak perlu menggunakan senjata?” Sambil berkata demikian, dia menancapkan tongkatnya di depan kaki, tanda bahwa ia tidak akan menggunakan tongkat itu sebagai senjata.

Dua orang kakek itu saling pandang, dan sebagai sepasang saudara kembar, tentu saja hubungan batin mereka lebih erat dari pada orang lain sehingga dengan saling pandang saja mereka sudah dapat mengetahui isi hati masing-masing. Keduanya mengangguk, menyelipkan cambuk di ikat pinggang, kemudian keduanya lalu berpencar, menghampiri Suma Han dari kanan kiri.

“Engkau hendak mengadu tenaga sinkang, ya?” Lam-thian Lo-mo berseru. “Baiklah! Nah, kau terima pukulan kami ini!”

Kedua orang kakek itu mengeluarkan suara menggereng hebat dari dalam perut mereka, kemudian mereka menggerakkan kedua lengan yang menggetar hebat dan tak lama kemudian, kedua lengan Lam- thian Lo-mo berubah menjadi merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas, sedangkan kedua lengan Pak-thian Lo-mo berubah putih pucat seperti lengan mayat dan dari kedua lengan ini juga keluar uap dingin!

Kiranya mereka sudah mengumpulkan dan mengerahkan sinkang istimewa masing-masing, menyalurkannya ke dalam lengan dan tiba-tiba mereka berseru keras, memukul dengan telapak tangan kanan terbuka ke arah Suma Han dari kanan kiri agak ke depan pendekar berkaki tunggal itu.

Suma Han maklum bahwa kalau dia tidak memperlihatkan kekuatannya tentu tidak akan membuat lawan mundur dan dia tidak ingin kalau harus bertanding mati-matian, maka diam-diam dia pun telah mengerahkan tenaga sinkang-nya yang istimewa. Pendekar Super Sakti ini memang terkenal sekali dengan sinkang-nya, karena ia telah menguasai dengan sempurna dua macam tenaga sinkang yang berlawanan, yaitu Swat-im-sinkang (Tenaga Inti Salju) dan Hwi-yang-sinkang (Tenaga Inti Api).

Kini, menghadapi dua serangan yang datang mengandalkan sinkang yang berlawanan, tentu saja dia sudah siap. Bagi orang lain, betapa kuat sinkang-nya, tentu akan sukar menyelamatkan diri menghadapi serangan dari dua tenaga sinkang yang berlawanan itu, tetapi Pendekar Super Sakti dapat menyalurkan dua tenaga bertentangan itu dalam satu saat, lengan kiri penuh dengan tenaga Hwi-yang-sinkang menyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas, sedangkan telapak tangan kanan juga mendorong dan menyambut telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang dingin.

“Dess! Dess…!”

Pertemuan tenaga mukjijat itu hebat luar biasa. Seolah-olah bumi bergetar dan semua orang yang ada di situ dapat merasakan getaran hawa panas dan dingin berselang-seling sehingga beberapa orang anak buah sepasang kakek kembar itu menggigil penuh kengerian. Selama hidup mereka yang puluhan tahun berkecimpung di dunia kang-ouw, baru pertama kali itu mereka menyaksikan beradunya tenaga mukjijat sehebat itu.

Dan akibatnya juga luar biasa sekali! Tubuh kedua kakek kembar itu terlempar sampai empat meter lebih. Mereka seperti daun kering tertiup angin, terhuyung dan terguling-guling dan ketika mereka berdua dapat meloncat berdiri, tampak darah merah menghias ujung bibir mereka! Benturan tenaga dahsyat tadi telah membuat mereka terluka di sebelah dalam, sungguh pun tidak terlalu berat karena mereka telah membiarkan diri mereka terdorong oleh tenaga lawan yang luar biasa kuatnya.

Akan tetapi, di lain pihak, biar pun Pendekar Super Sakti masih berada di tempatnya tadi, tidak bergeser selangkah pun, namun tubuhnya menjadi kurang tingginya dan kalau orang melihat ke arah kakinya yang tinggal sebelah itu ternyata telah melesak ke dalam tanah sampai hampir selutut! Ternyata bahwa kekuatan kedua orang kakek kembar itu kuat sekali sehingga dalam menahan pukulan mereka, tubuh Suma Han tertekan sedemikian rupa dan biar pun pendekar ini dapat mempertahankan, namun tanah di bawah kakinya tidak dapat menahan sehingga kaki itu masuk ke dalam tanah!

Tadinya kedua kakek kakak beradik itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka melihat keadaan lawan, hati mereka menjadi besar. Kiranya keadaan lawan juga tidak lebih baik dari pada keadaan mereka. Melihat betapa Pendekar Super Sakti masih berdiri dengan kaki tunggal menancap ke dalam tanah, kedua orang itu sudah mencabut cambuk masing-masing dan dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menerjang maju.

“Tar-tar-tar-tar…!” Cambuk hitam mereka meledak-ledak di udara kemudian menyambar ke arah kepala Suma Han.

“Trak-trak-trak-trakkk!”

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung dan kiranya tongkat yang tadi tertancap di atas tanah di depan kakek Pendekar Siluman, sekarang telah tercabut dan berada di tangan kanannya. Biar pun kaki tunggalnya masih menancap di atas tanah, namun pendekar itu dengan tenangnya dapat menangkis semua sambaran sinar berwarna hitam dari kedua cambuk lawan. Ke mana pun ujung cambuk menyambar, tentu akan terbendung oleh gulungan sinar tongkat dan membalik seperti seekor ular bertemu api!

Di antara delapan belas orang teman sepasang kakek kembar, empat orang wanita Korea itu merupakan tokoh-tokoh terpandai. Melihat keadaan musuh mereka yang seolah-olah sudah terjebak, mereka mengeluarkan bentakan-bentakan pendek yang nyaring dan ketika tangan mereka bergerak, tampak pedang-pedang panjang melengkung, yaitu pedang samurai model Jepang, berada di kedua tangan mereka. Pedang itu terlalu panjang dan berat bagi mereka, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk memegang gagang pedang, seperti orang memegang toya dan kini mereka memekik sambil berlari ke arah Suma Han dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka.

“Haaaiiiiikkkk…!”

“Trang-cring-cring-cring…!”

Empat orang wanita itu terhuyung-huyung ke belakang dan mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Lulu dan Nirahai yang ternyata telah menghadang mereka dan menangkis samurai-samurai itu dengan pedang mereka. Lulu memegang pedang Pek-kong-kiam yang bersinar putih, sedangkan Nirahai telah menggunakan senjatanya yang luar biasa, yaitu pedang payung. Merasakan tangkisan yang membuat tangan mereka tergetar dan tubuh mereka terhuyung, empat orang wanita Korea itu maklum akan kelihaian dua orang wanita isteri Pendekar Siluman itu, maka mereka lalu serentak maju menyerang sambil mengeluarkan pekik-pekik dahsyat. Empat belas orang lain juga bergerak maju, hendak mengeroyok Suma Han dan dua orang isterinya.

“Lee-ko, mari…!”

Kian Bu sudah berlari ke medan pertempuran, diikuti oleh kakaknya.

“Manusia-manusia jahat, berani kalian mengacau Pulau Es?” Kian Bu berteriak dan segera dia menyerbu ke depan.

“Haiiiitt!” “Hyaaaahhh!”
Kedua orang pemuda itu mengamuk dan mereka ternyata hebat sekali. Biar pun mereka hanya bertangan kosong, namun setiap pukulan mereka tentu mengenai seorang lawan yang terjengkang atau terhuyung ke belakang. Biar pun mereka itu dapat bangun kembali, namun amukan kedua orang pemuda ini membuat mereka menjadi kaget dan panik. Apa lagi ketika terdengar lengking memanjang dari atas dan dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dan mengamuk pula membantu dua orang majikan mereka! Keadaan makin menjadi panik dan para pengeroyok itu kini sebaliknya malah menjadi sibuk dan terdesak hebat!

Pertandingan antara Suma Han dan dua orang kakek kembar juga makin seru, namun diam-diam kedua orang kakek itu harus mengakui bahwa lawan mereka yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu memang benar-benar amat sakti! Sering kali kedua orang kakek ini menjadi bingung karena secara aneh dan tiba- tiba sekali lawan mereka yang hanya berkaki satu itu lenyap dari depan mereka dan tahu-tahu lawan itu telah menyerangnya dari atas kepala! Ketika mereka menyambarkan cambuk ke atas, kembali tubuh itu lenyap dan tahu-tahu sudah menerjang dari belakang! Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti mengeluarkan ilmu silatnya yang mukjijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang merupakan ilmu kesaktian paling cepat gerakannya di dunia ini!

Diam-diam Suma Han juga harus mengakui bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek kembar itu hebat sekali, sinkang mereka kuat dan tubuh mereka kebal, juga mereka merupakan ahli-ahli silat yang sudah berhasil mengumpulkan inti sari segala gerakan ilmu silat, diringkas dan dimainkan dasarnya saja sehingga mereka berdua merupakan lawan yang amat ulet dan kuat.

Namun, andai kata dia menghendaki, dengan Soan-hong-lui-kun yang membingungkan mereka, tentu saja dia dapat merobohkan mereka dengan tongkatnya, membunuh atau sedikitnya melukai mereka. Dia tidak menghendaki hal ini. Dia maklum bahwa jalan kekerasan hanya akan berakhir dengan kekerasan pula, dengan dendam dan kebencian yang tak kunjung henti. Maka dia bersikap sabar dan mengalah.

Ketika Suma Han mendengar bentakan kedua orang isterinya beserta kedua orang puteranya, dia menengok dan terkejutlah hati Pendekar Super Sakti ini. Kedua orang isterinya dan dua orang pemuda itu mengamuk seperti naga-naga marah. Dua orang wanita Korea telah roboh dan tak dapat bertanding lagi karena terluka parah, sedangkan di antara empat belas orang itu, sudah ada delapan orang yang roboh, entah tewas atau pingsan!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo