September 16, 2017

Kisah Sepasang Rajawali Part 18

 

Gadis ini makin ketakutan, mepet dan memegang lengan Kian Bu. Akan tetapi betapa kagetnya hati Kian Bu melihat wajah gadis itu menjadi pucat sekali dan ada air mata di pipinya. Gadis itu menangis saking takutnya! Kian Bu menjadi menyesal sekali dan cepat dia meloncat berdiri sambil bertepuk tangan. “Ha-ha- ha, engkau kena kubohongi! Tidak ada setan tidak ada apa-apa!”

Dara itu cemberut. “Ihh, engkau sungguh nakal. Aku sampai hampir pingsan ketakutan. Kau bukan orang baik, kau suka bohong, aku tidak jadi berteman denganmu kalau begitu!” Gadis itu sudah bangkit berdiri dan hendak pergi menghampiri keledainya.

Kian Bu tertegun. Bocah ini benar aneh. Biar pun belum matang benar, akan tetapi juga bukan kanak- kanak lagi, akan tetapi di samping kecantikannya, dan pandainya bergaya seperti orang dewasa, gadis ini takut pula kepada setan dan suka ngambek seperti anak kecil!

“Ah, Siang In, kau maafkanlah aku. Tadi aku hanya main-main, masa engkau menjadi marah? Maafkan aku.”

“Aku mau maafkan kalau kau berlutut dan menyebut aku nenek!” gadis itu berkata cemberut dan membanting-banting kaki kanannya.

Kian Bu hampir tertawa bergelak, akan tetapi untuk menyenangkan hati gadis remaja yang aneh itu, apa boleh buat dia lalu berlutut, mengangkat kedua tangan sebagai penghormatan sambil menyebut, “Nenekku yang baik, kau ampunkan cucumu ini!”

“Hi-hi-hik!” Gadis itu terkekeh dan Kian Bu juga bangkit sambil tertawa-tawa.

Keduanya tertawa gembira dan duduk lagi di atas akar pohon. Aneh, Kian Bu merasa gembira sekali dan lenyaplah semua bayangan gelap dari masa lalu. Dia kini sudah lebih matang dan hati-hati, tidak mau gampang saja jatuh cinta. Dara ini merupakan seorang sahabat yang amat menyenangkan.

“Siang In, sekarang kau ceritakan tentang dirimu dan kenapa engkau berada di tempat sunyi ini seorang diri dan siapa itu wanita genit memikat yang kau cari itu.”

Setelah bebas dari perasaan takut akan setan, sekarang sepasang pipi dara itu menjadi kemerahan lagi, bibirnya yang manis merekah penuh senyum dan matanya yang jeli besinar-sinar.

“Tidak ada apa-apanya yang menarik dalam riwayatku,” gadis itu memulai.

“Orangnya saja sudah sangat menarik, apa lagi riwayatnya.” Kian Bu berkata dan pandang matanya tidak menyembunyikan rasa kagumnya.

“Eh, Twako… kau mau kan kusebut twako? Aku tidak mempunyai kakak laki-laki, maka biarlah engkau menjadi penggantinya. Kalau aku tidak merasa yakin bahwa engkau seorang yang baik, tentu aku curiga melihat sikapmu terlalu manis, pujian-pujianmu terlalu muluk itu. Sikapmu seperti laki-laki perayu wanita benar!”

“Aku hanya bilang sejujurnya, masa tidak boleh? Aku suka akan kembang indah harum, juga suka melihat dara secantik engkau. Apakah aku harus membohong mengatakan engkau gadis buruk?”

Siang In tertawa. “Akan tetapi sinar matamu kalau memandangku… hihhh, aku menjadi ngeri dibuatnya! Nah, aku mau bercerita tentang diriku. Aku sudah tidak mempunyai ayah bunda lagi…”

“Aduh kasihan…!”

“Akan tetapi aku mempunyai seorang enci (kakak perempuan)…” “Juga cantik jelita jelita seperti engkau?”
“Ihhh, Twako. Engkau mata keranjang benar!”

“Lho, mengapa mata keranjang? Itu pertanyaan wajar, kan? Masa aku harus bertanya apakah enci-mu itu tampan dan gagah, kan menjadi banci nanti!” Mereka berdua lalu tertawa-tawa lagi dan hutan yang biasanya sunyi itu kini bergema suara tertawa pemuda dan dara itu.

“Tentu saja enci-ku yang bernama Siang Hwa amat cantik melebihi aku yang buruk ini. Kami berdua tinggal di lereng gunung sana itu melanjutkan usaha mendiang Ayah, menanam obat-obatan yang kami jual ke kota dan sebagian kami bagi-bagikan kepada rakyat miskin yang membutuhkan pertolongan obat.”

“Aih, kiranya engkau ini ahli obat, ya? Lengkap benar kepandaianmu?” “Lengkap apanya?”
“Coba kuhitung. Satu, engkau pandai memelihara kuda keramat, dua, engkau pandai meniru gaya wayang dan berperan sebagai wanita genit memikat, tiga, engkau pandai ilmu silat, dan empat, engkau pandai ilmu pengobatan!”

“Huhh, engkau hanya memuji kosong saja, kalau kudengarkan kepalaku bisa berubah menjadi segentong besarnya. Sudah, tak perlu memuji-muji, tapi dengarkan ceritaku. Mendiang ayahku barulah berani disebut ahli pengobatan karena beliau itu terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Yok-sian…”

“Ahhh…!” Kian Bu berteriak dan meloncat berdiri.

Teringat akan setan yang amat ditakuti, Siang In juga meloncat dan memandang ke kanan kiri. “Ada apa?” Dia sudah memegang lengan pemuda itu lagi.
“Ohh, tidak ada apa-apa, aku hanya terkejut mendengar julukan ayahmu.”

“Huh, kekagetanmu membikin aku kaget.” Mereka duduk kembali di atas akar pohon. “Apakah ayahmu itu Suheng dari kakek yang berjuluk Sin-ciang Yok-kwi?”
“Ehh, bagaimana engkau bisa mengenal julukan Susiok (Paman Guru)?” “Wah, engkau yang kami caci-cari, ketemu sekarang orangnya!”
“Lho, kenapa mencari-cari aku?”

Kian Bu lalu menceritakan tentang ‘keponakannya’ yang terluka hebat oleh pukulan beracun dan menurut keterangan Sin-ciang Yok-kwi, seorang di antara mereka yang kiranya dapat mengobati gadis keponakannya itu adalah keturunan Yok-sian.

“Sayang, sekarang keponakanku itu sudah pergi entah ke mana sehingga biar pun aku berjumpa denganmu juga percuma.”

“Dan pula, aku juga tidak bisa mengobati. Aku hanya ahli mengenal buah, bunga, daun, dan akar obat. Yang mewarisi kepandaian Ayah adalah Enci Siang Hwa. Bu-twako, kalau kau terus-terusan mengganggu ceritaku, tidak akan habis-habis riwayatku.”

“Oh, teruskanlah.”

“Seperti kuceritakan tadi, kami hidup berdua saja. Aku tukang menanam tumbuh-tumbuhan obat, mencari dan memilih bibit-bibitnya dari hutan, dan enci yang menjual hasil tanaman itu ke kota. Pada beberapa hari yang lalu, aku sendirian saja di rumah, Enci sudah dua hari pergi ke kota menjual obat dan belum juga pulang, padahal biasanya tidak pernah bermalam. Lalu datang seorang wanita…”

“Genit pemikat…” “Kok tahu?”
“Yang kau cari-cari itu tentu, siapa lagi!”

“Benar. Wanita cantik pesolek itu datang dan karena sikapnya manis budi, dan di lereng itu kami tidak mempunyai tetangga dan hari sudah malam, aku tidak keberatan ketika dia menyatakan hendak bermalam.

Dia pandai bicara dan ramah sekali, sampai aku lalai dibuatnya dan pada keesokan harinya, Si Cantik Genit itu telah pergi sebelum aku bangun…”

“Wah engkau tentu pemalas dan bangunmu kesiangan!”

“Ngaco! Siapa bilang aku pemalas? Jam lima pagi aku sudah bangun, tidak mau keduluan ayam…” “Makannya!”
“Ihh, kau menghina, ya? Kalau aku gembul makan, tentu tubuhku menjadi gendut. Nih, lihat, apa aku gendut?”

“Kau ramping! Habis, tidak mau keduluan apa oleh ayam?” “Mandi.”
“Wah, tentu saja! Habis, ayam tidak pernah mandi, biar kau bangun jam sembilan dan mandi jam sepuluh juga tidak akan keduluan ayam. Sudahlah, lalu bagaimana?”

“Ya sudah habis. Wanita cantik genit memikat itu pergi dan aku kemudian melakukan pengejaran sampai di sini. Tadinya aku mencari di pegunungan itu tidak ketemu, lalu aku pulang menanti Enci kembali dari kota untuk melaporkan hal itu. Akan tetapi sampai lima hari Enci tidak pulang-pulang, aku khawatir Enci mendapatkan halangan biar pun dia pandai ilmu silat dan tidak sembarangan orang mampu mencelakainya. Aku lalu mengajak Pek-liong pergi mencari Enci dan perempuan maling kitab itu.”

“Pek-liong (Naga Putih)…?”

“Itulah dia Pek-liong.” Dara itu menuding ke arah keledai yang masih enak enak makan rumput. Kian Bu menahan gelinya. Keledai kecil itu dinamakan Naga Putih!

“Wah, kasihan sekali engkau, Siang In.”

“Sudah, aku tidak minta kasihanmu, sekarang kau ceritakan riwayatmu.” “Riwayatku? Aku orang biasa saja…”
“Tidak, engkau luar biasa. Tidak ada pemuda gunung buta huruf yang mengenal sajak Li Shang Yin dan Yen Siang!”

“Habis, menurut penglihatanmu, aku orang apa?”

“Engkau tentu seorang pemuda kota, seorang sastrawan lemah yang terbuai khayal, agak berfilsafat dan engkau perayu wanita tapi tidak kurang ajar dan… sudahlah, kau ceritakan riwayatmu.”

“Riwayatku tidak ada apa-apanya. Namaku Suma Kian Bu dan aku sedang merantau untuk menghibur hati dan melihat keindahan alam. Aku suka akan kesunyian maka aku berada di hutan ini. Eh, sekarang kau hendak ke mana, Adik Siang In yang baik?”

Dara itu lupa bahwa penuturan riwayat Kian Bu itu sama sekali tidak lengkap, karena dia sudah terpikat oleh sikap dan pertanyaan yang ramah itu. “Aku hendak mencari enci-ku dan perempuan genit itu.”

“Ke mana?”

Dara itu mengerutkan alisnya. “Entahlah. Sampai di sini aku kehilangan jejak. Di dusun seberang gurun itu masih ada yang melihat Si Perempuan Genit menuju ke sini, maka aku mengejar. Kiranya bertemu dengan engkau, dan sialnya engkau tidak melihat perempuan itu.”

“Mari kubantu engkau mencari dia dan enci-mu.” “Ke mana?”

“Ke mana saja, dan karena menurut penyelidikanmu wanita itu lewat ke jurusan ini, kita tentu akan dapat menemukan jejaknya lagi di luar dusun ini, asal kita dapat melewati dusun.”

“Aku pernah mencari daun-daun obat di hutan ini dan di sebelah barat hutan ini terdapat perkampungan.” “Bagus sekali. Kalau begitu kita mencari ke sana. Hayo kita berangkat!”
Siang In kelihatan girang sekali. Dia mengambil payungnya dari telinga keledai karena biar pun keledai itu makan rumput, payung tadi masih saja tergantung di telinganya, kemudian menuntun keledainya.

“Kenapa tidak kau tunggangi?”

“Ahhh, tidak. Lebih enakan berjalan bersama engkau, Twako. Kalau hanya aku sendiri menunggang keledai dan kau jalan, tidak enak, ah!”

“Ditunggangi berdua pun kasihan, keledai kecil begitu.”

“Ih, jangan memandang rendah kuda keramatku, ya? Mau mencoba kekuatannya? Mari kau meloncat ke punggungnya,” Siang In menantang.

Karena ingin tahu, Kian Bu menurut dan naik ke punggung kuda atau keledai itu. “Kau maju sedikit, beri tempat untukku!” Siang In berseru.
Kian Bu makin heran, akan tetapi dia menggeser ke depan dan tiba-tiba dia merasa betapa bagian belakang tubuhnya bersentuhan ketat dengan sesuatu yang lunak dan hangat. Tubuh dara itu yang sudah duduk di belakangnya! Dia merasa geli dan bulu tengkuknya berdiri semua sehingga dia tertawa-tawa.

“Apa cekikikan? Lihat betapa kuatnya kuda keramatku Pek-liong agar engkau tidak menghinanya lagi. Pek- liong, terbanglah!” Siang In mengeprak perut keledai itu dengan tumit kakinya.

Dan hampir saja Kian Bu berteriak saking kagetnya ketika tiba-tiba keledai itu meloncat ke depan lalu berlari cepat sekali! Benar-benar cepat larinya, tidak kalah oleh kuda besar yang mana pun sehingga dia melihat pohon-pohonan berlari-lari di kanan kirinya dan telinganya mendengar desir angin! Tentu saja Kian Bu sama sekali tidak merasa takut karena ilmunya berlari cepat tidak kalah cepatnya dengan larinya keledai ini, dan sebetulnya dia merasa nikmat dan senang sekali karena punggungnya beradu ketat dengan dada gadis itu ketika keledai berlari, akan tetapi karena dia ingin dianggap sebagai ‘sastrawan lemah’ maka dia sengaja berteriak-teriak ketakutan.

Siang In menghentikan keledainya dan tertawa. “Bagaimana? Apakah kau masih berani menghina Pek- liong?” Dia melompat turun dan Kian Bu juga merosot turun. Dilihatnya keledai itu bernapas biasa saja sehingga diam-diam dia menjadi kagum juga.

“Wah, wah, sebentar lagi dia tentu benar-benar terbang. Agaknya kudamu ini memang penjelmaan naga putih, Adik Siang In.”

Gadis itu gembira sekali mendengar pujian ini dan mereka lalu melanjutkan perjalanan sambil bercakap- cakap, bersendau-gurau dan tertawa-tawa, jika dilihat dari jauh seperti sepasang muda-mudi sedang bertamasya saja layaknya. Betapa indah hidup ini bagi orang-orang muda, maka kasihanlah orang-orang muda yang tak mampu menikmati keindahan hidup, bahkan terseret mencari-cari kesenangan hampa yang mengotorkan tubuh dan jiwa!

Dusun itu cukup besar dan ramai, menjadi tempat perhentian mereka yang melakukan perjalanan di perbatasan utara itu. Hari telah senja ketika Kian Bu dan Siang In tiba di dusun ini.

“Perutku lapar…” Siang In berkata sambil menekan perutnya. “Sama…” Kian Bu menjawab. “Mari kita cari kedai makanan.”
Sambil menuntun Pek-liong, Kian Bu berjalan bersama Siang In memasuki dusun dan mencari-cari. Akhirnya mereka melihat sebuah kedai makanan dan Kian Bu segera mencancang keledai itu di luar kedai, kemudian mereka berdua masuk ke dalam kedai makanan yang penuh dengan orang makan minum itu. Di antara para tamu, Kian Bu mengenal dua orang penunggang kuda yang dilihatnya dari atas pohon di hutan tadi, maka dia lalu mengajak Siang In duduk di meja tak jauh dari mereka. Kian Bu memasang telinga dan mendengar percakapan bisik-bisik dua orang itu.

Ternyata mereka berdua ‘lolos’ dari kejaran mata-mata musuh dan menurut percakapan itu, kiranya mereka menduga adanya banyak mata-mata musuh yang berkeliaran di daerah itu dan yang agaknya menyelidiki keadaan.

“Kita harus cepat lapor kepada pimpinan.” Demikianlah kata Si Cambang Tebal yang segera menghentikan percakapan setelah melihat masuknya beberapa orang tamu lagi dan duduk di dekat mereka.

Tiba-tiba mereka kelihatan terkejut, bergegas bangkit, memanggil pelayan, membayar makanan yang belum habis mereka makan dan mereka berdua dengan sikap tergesa-gesa menyelinap keluar melalui pintu samping. Melihat sikap mereka, Kian Bu menjadi terheran-heran. Dia maklum bahwa pasti dua orang itu melihat sesuatu yang membuat mereka seperti ketakutan, maka otomatis dia lalu menengok ke arah pintu depan.

“Aahhhh…” Dia menahan seruannya dan bengong memandang ke luar.

Melihat sikap Kian Bu dan mendengar seruan kagum ini, Siang In juga cepat menengok dan memandang ke luar. Di luar warung, di seberang jalan, tampaklah seorang wanita yang cantik sekali, berpakaian menyala, rambutnya digelung tinggi ke atas. Wanita itu sedang memandang dan longak-longok mengulur leher, agaknya ada yang sedang dicari-carinya.

“Itu dia…!” Tiba-tiba Siang In menjerit, membuat Kian Bu tersentak kaget. Dengan cepat Siang In meloncat dan lari ke pintu kedai itu.

“Brussss…!”

Tanpa dapat dicegah lagi Siang In bertumbukan dengan seorang laki-laki setengah baya yang secara tiba- tiba masuk pintu kedai itu dan diiringkan oleh empat orang yang kelihatannya gagah dan tegap. Karena Siang In tidak mengira ada orang masuk pada saat perhatiannya tercurah kepada wanita cantik yang berada di seberang jalan, dan pria itu pun agaknya tidak mengira akan ada orang lari ke luar, maka tumbukan antara mereka tak dapat dihindarkan lagi. Siang In terpelanting dan hampir roboh. Untung laki- laki setengah tua itu dengan gerakan cepat telah menyambar dan memegang lengan Siang In sehingga dara ini tidak sampai terbanting jatuh.

Laki-laki setengah tua itu tersenyum dan bertanya dengan sikap sopan dan suara halus sambil melepaskan pegangannya, “Maafkan saya, Nona. Untunglah tidak sampai jatuh. Apakah ada yang sakit…?”

Siang In membelalakkan matanya dan membentak marah, “Orang kurang ajar dari mana jalan nabrak- nabrak saja?”

Kian Bu sudah tiba di samping gadis itu, memegang lengannya dan berkata, “Sudahlah, engkau sendiri yang kurang hati-hati berlari ke luar. Paman ini tidak bersalah…” Kian Bu setengah menarik tangan Siang In.

Dara ini bersungut-sungut dan setelah mengirim lirikan marah kepada laki-laki setengah tua yang dengan tenang dan sabar tersenyum memandang, Siang In lalu melanjutkan langkahnya keluar dari kedai, pandang matanya mencari. Akan tetapi, wanita cantik tadi sudah tidak kelihatan lagi.

“Sialan! Orang buta tadi yang jadi gara-gara sampai dia hilang lagi!” “Eh, orang buta mana?”
“Yang menabrak aku tadi, kalau matanya tidak buta, masa nabrak-nabrak?” Kian Bu tersenyum. Biar pun sedang muring-muring, gadis ini makin cantik saja!
“Sudahlah, aku sendiri juga tidak tahu siapa yang menabrak tadi, dia atau engkau.”

“Dia! Si Buta itu! Aku harus menghajarnya!” Dia kembali memasuki pintu dan hampir saja menabrak seorang pelayan yang membawa baki dan sedang keluar. Untung Kian Bu sudah menarik lengannya, kalau tidak tentu terjadi tabrakan untuk kedua kalinya dan sekali ini berbahaya karena di atas baki terdapat bakmi kuah yang masih panas.

“Eh… Kongcu (Tuan Muda) dan Siocia (Nona), mau ke mana? Ini pesanan kalian tadi… dua bakmi kuah dan…”

“Kau makan saja sendiri!” Siang In membentak dan membalikkan tubuhnya keluar dari kedai itu. Kian Bu melemparkan mata uang ke atas baki.

“Kami tidak jadi makan, ini uangnya,” katanya dan terus menyusul Siang In yang sudah pergi menuntun keledainya sambil cemberut.

“In-moi (Adik In), jangan marah ah…”

“Aku harus mencari dia! Si Tolol buta itu tadi menghalangiku!” Siang In cemberut dan melihat ke sana-sini mencari-cari.

“Dia siapa?” “Si Genit!” “Ohh…”
“Si Pemikat! Kau tidak lihat dia tadi?”

Kian Bu mengangguk. Kiranya wanita itukah yang dicari? Memang cantik, cantik sekali, akan tetapi dia belum melihat jelas benar. Agaknya wanita yang sudah matang, tidak seperti dara ini yang masih mentah, atau baru setengah matang, setengah dewasa setengah kanak-kanak, akan tetapi malah amat menarik hati.

Mereka lalu mencari sampai ke setiap sudut dusun itu, akan tetapi sia-sia belaka dan akhirnya Siang In berhenti di tepi jalan yang sunyi, duduk di atas rumput dan kelihatan marah dan kecewa sekali. Kian Bu lalu pergi membeli sepuluh butir kue bakpauw dan mereka makan bakpauw di tepi jalan. Lima butir bakpauw sudah cukup mengenyangkan perut, akan tetapi mencekik tenggorokan!

Karena malam tiba, mereka lalu mencari pondokan dan bermalam di dalam dua buah kamar sederhana di pondok dusun itu, setelah memesan mi-bakso dan minum teh hangat kemudian mandi. Pada keesokan harinya, agaknya Siang In sudah tidak cemberut lagi, akan tetapi pagi-pagi sekali dia sudah menggedor pintu kamar Kian Bu dan mengajak pemuda itu cepat-cepat berangkat melanjutkan perjalanan mencari pencuri kitab itu. Kian Bu gelagapan, terpaksa hanya sempat mencuci muka, kemudian sarapan dan berangkatlah mereka lagi keluar dari dusun itu sambil bertanya-tanya tentang wanita cantik yang rambutnya digelung tinggi.

Akhirnya, jejak yang mereka temukan dan ikuti membawa mereka ke sebuah dusun kecil di tepi sungai yang besar dan yang menjadi tapal batas dengan daerah liar di utara. Di seberang sungai itu sudah merupakan daerah liar yang tidak memperoleh penjagaan dari pasukan-pasukan pemerintah. Karena itu dusun ini cukup ramai karena menjadi tempat penyeberangan para pedagang. Banyak orang-orang suku Nomad dan liar yang menyeberang ke selatan untuk menjual rempah-rempah dan hasil sungai dan laut, sebaliknya para pedagang dari selatan banyak yang mengeduk keuntungan besar dengan membawa dagangan dan menyeberang ke utara, menjual atau menukar dagangan mereka dengan suku-suku asing di luar tapal batas.

Ketika Kian Bu dan Siang In tiba di tepi sungai, suasana di situ sudah sunyi. Waktu penyeberangan yang ramai adalah pagi dan sore, dan siang hari yang panas itu di tempat itu sudah sunyi dan hanya terdapat seorang penjaga perahu kosong yang duduk melenggut ngantuk.

“Dia tentu menyeberang. Kita menyeberang saja,” kata Siang In. “Bagaimana dengan Pek-liong?”

“Kita tinggal saja.”

“Aih! Ditinggalkan? Sayang dong…!”

“Bu-twako, engkau masih belum mengenal kehebatan Pek-liong. Dia kutinggalkan akan tetapi dia bisa pulang sendiri. Itulah satu di antara kelihaiannya. Kau lihat!” Siang In lalu melepaskan kendali keledai itu, lalu berkata, “Pek-liong, kau pulanglah dan jaga rumah baik-baik! Hayo!”

Dia menepuk pantat kuda keledai itu tiga kali, dan binatang itu meringkik terus berlari congklang pergi dari tempat itu dengan cepat. Kian Bu melongo. Benar-benar hebat binatang itu. Kelihatannya saja seekor keledai bodoh, kiranya seekor binatang yang jinak dan cerdik!

Mereka lalu membangunkan tukang perahu yang mengantuk. Tukang perahu kelihatan ogah-ogahan menyambut mereka. Menyeberangkan dua orang saja tentu merugikan dirinya, karena biasanya perahunya itu menyeberangkan sedikitnya lima belas orang penumpang. Kalau dua orang itu mau membayar lebih…

“Sudahlah jangan khawatir, kami bayar dobel!” kata Kian Bu tak sabar.

Akan tetapi, dibayar dobel pun masih rugi dan dengan malas-malasan tukang perahu itu mendayung perahunya ke tengah. Belum jauh perahu meluncur, terdengar orang-orang berteriak memanggil dan ternyata di tepi sungai itu sudah berdiri lima orang laki-laki yang dikenal oleh Siang In dan Kian Bu sebagai laki-laki gagah yang ditabraknya di kedai bersama empat orang pengikutnya!

Tentu saja tukang perahu menjadi girang dan cepat mendayung kembali perahunya ke pinggir. “Tidak usah kembali, terus saja!” Siang In membentak.

“Aihh, Nona, kasihan mereka dan saya pun ingin penghasilan lebih,” bantah tukang perahu.

“Biarlah, In-moi. Mereka itu kelihatan orang-orang yang baik dan sopan. Masa urusan kecil begitu saja membuat engkau masih marah-marah terus? Kata Nenek, orang marah lekas tua!”

Siang In membanting-banting kaki, akan tetapi tidak berani marah lagi karena tidak mau menjadi lekas tua, hal yang amat dibuat ngeri oleh seluruh wanita di permukaan bumi ini!

Ketika lima orang itu naik ke perahu, laki-laki setengah tua yang bertubuh tegap dan bersikap gagah itu segera tersenyum dan menjura. “Aih, kiranya Ji-wi yang telah berada di perahu. Terima kasih atas kerelaan Ji-wi membiarkan perahu kembali lagi untuk membawa kami, dan harap Nona sudi memaafkan peristiwa di kedai tadi.”

Mau tidak mau Siang In pun harus mengakui bahwa pria setengah tua itu benar-benar sopan dan halus budi. Maka dia pun cepat meniru perbuatan Kian Bu untuk membalas penghormatan mereka, dan perahu meluncur terus ke tengah sungai karena layar telah dibentangkan dan angin bertiup keras.

Tiba-tiba tukang perahu kelihatan gugup dan wajahnya menjadi pucat. “Ahh, celaka…,” bisiknya.

Lima orang yang bersikap gagah itu bangkit berdiri, memandang ke arah dua buah perahu kecil yang meluncur cepat mendekati perahu mereka. “Siapa mereka?” tanya pria setengah tua yang usianya kira-kira empat puluh tahun dan berjenggot pendek itu.

“Mereka… mereka… bajak sungai…” tukang perahu berbisik. “Biasanya tidak pernah mengganggu…”

“Jangan takut!” Laki-laki berjenggot pendek berkata tenang, kemudian bersama empat orang temannya dia berdiri di kepala perahu, mencabut golok dan dengan golok terhunus mereka menanti dua buah perahu yang meluncur datang itu. Sikap mereka gagah sehingga Siang In menjadi kagum.

“Kiranya mereka itu pendekar-pendekar kang-ouw…,” bisiknya kepada Kian Bu yang hanya tersenyum saja dan sudah tentu dia pun diam-diam bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Setelah dua buah perahu yang membawa sepuluh orang tinggi besar dan kelihatan bersikap ganas itu mendekat, orang setengah tua yang berjenggot pendek itu berseru dengan suara nyaring dan berwibawa, “Kami bukanlah pedagang yang membawa banyak uang atau barang berharga, harap Cu-wi tidak mengganggu kami!”

Sepuluh orang itu memandang, kemudian dua perahu itu melempar jangkar dan mereka semua lalu terjun ke air dan menyelam! Tentu saja lima orang gagah itu memandang dengan heran, akan tetapi tukang perahu berseru lagi, “Celaka…!”

Sebelum semua penumpang tahu mengapa tukang perahu begitu ketakutan, tiba-tiba perahu itu bergerak dan miring, lalu bergoncang keras. Maka tahulah Kian Bu bahwa sepuluh orang bajak sungai itu menyelam dan dari bawah kini berusaha menggulingkan perahu.

“Ahhh, bagaimana ini, Bu-twako?” Siang In sudah memeluk Kian Bu dengan ketakutan dan menjerit setiap kali perahu miring. Gadis ini memiliki kepandaian silat lumayan dan seorang yang pemberani, akan tetapi karena dia tidak pandai renang, menghadapi air sungai yang bergelombang itu dia ngeri.

Para penumpang sama sekali tidak berdaya dan akhirnya perahu terbalik dan mereka semua terlempar ke air!

“Bu-twako…!” Siang In memeluk Kian Bu erat-erat sehingga membuat pemuda itu makin gelagapan.

Kian Bu yang sejak kecil tinggal di Pulau Es dan dekat dengan lautan, tentu saja pandai berenang akan tetapi dia bukan ahli dan berenang di air laut lebih ringan dari pada berenang di air sungai, maka ketika Siang In yang gelagapan itu saking takutnya memeluknya dengan ganas, Kian Bu juga menjadi repot sekali dan beberapa kali dia terpaksa minum air sungai.

Ternyata bahwa lima orang gagah itu pun tidak pandai berenang sehingga dalam waktu belasan menit saja, semua penumpang termasuk Kian Bu ditawan dalam keadaan pingsan dan dinaikkan ke dalam dua buah perahu kecil, terus dibawa pergi setelah masing-masing kedua tangan mereka dibelenggu. Tukang perahu itu menangis sambil memegangi pinggiran perahunya yang terguling. Dia rugi besar-besaran di hari itu, sungguh pun untung bahwa dia tidak dibunuh para bajak.

Ketika Kian Bu membuka matanya dan siuman, dia telah berada di dalam sebuah kamar tahanan yang kuat dan dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya. Cepat dia menoleh ke kanan-kiri dan hatinya lega ketika dia melihat Siang In masih rebah di dekatnya, juga tangan dara ini terbelenggu dan biar pun Siang In masih pingsan, namun dara ini tidak mati. Demikian pula dengan lima orang gagah yang juga terbelenggu dan sudah mulai siuman.

Kian Bu menggerakkan kedua tangannya dan dengan jari-jari tangan dia mengurut perlahan tengkuk Siang In. Gadis itu mengeluh lalu membuka matanya. Dia teringat dan cepat bangkit duduk, kemudian memandang kedua lengannya yang terbelenggu di depan tubuhnya.

“Aihhh… di mana kita?” Siang In bertanya dan memandang Kian Bu, lalu menoleh kepada lima orang lain yang juga sudah mulai siuman.

“Kita agaknya menjadi tawanan bajak-bajak itu,” kata Kian Bu.

Dia sudah memeriksa tali belenggunya, dan kalau mau, tentu dia dapat mematahkan belenggunya itu biar pun tali itu terbuat dari otot binatang yang amat kuat. Dia melihat lima orang itu mulai merenggut-renggut tangan mereka, namun hasilnya sia-sia. Kian Bu maklum bahwa tidak sembarangan orang akan dapat mematahkan belenggu ini, harus menggunakan sinkang tingkat tinggi. Maka dia pun dapat mengukur bahwa kepandaian lima orang itu, terutama pemimpin mereka yang berjenggot pendek, biar pun mungkin tinggi namun sinkang mereka belumlah begitu kuat.

“Tenang…!” Tiba-tiba Si Jenggot Pendek berkata. “Mereka menawan kita, berarti mereka tidak akan membunuh kita. Menggunakan kekerasan tidak ada gunanya, apa lagi belenggu ini amat kuat. Kita harus tenang dan menanti keadaan.”

Siang In juga mencoba-coba untuk mematahkan belenggu, tetapi malah kulit lengannya yang menjadi nyeri. “Aih, Twako, bagaimana ini…?” keluhnya.

“Nona, harap jangan khawatir, kami akan melindungimu,” Si Jenggot Pendek berkata menghibur. Siang In cemberut. “Huh, melindungi bagaimana? Kalian sendiri pun tidak berdaya.”

Kian Bu bangkit berdiri dan memandang ke luar dari terali besi di atas pintu, lalu dia memberi isyarat kepada mereka semua untuk ikut melihat. Mereka kini bangkit semua dan memandang ke luar. Kiranya tempat itu merupakan sebuah perkampungan kecil yang dikurung pagar tembok kuat, tampak dari tempat tahanan yang berada di tengah kampung itu.

Semua penduduk perkampungan itu agaknya sedang bersuka ria, sedang menghadapi suatu pesta yang sedang mereka rayakan. Ada yang membawa kertas-kertas berwarna, pajangan-pajangan dan orang- orang itu hilir-mudik sambil tersenyum-senyum, akan tetapi rata-rata mereka itu mempunyai wajah bengis, dan melihat dari pakaian mereka, baik yang perempuan mau pun yang laki-laki, mereka adalah orang- orang suku Nomad yang berkeliaran di daerah utara, terdiri dari campuran bermacam suku bangsa, akan tetapi sebagian besar adalah keturunan suku bangsa Mongol.

Sepasukan orang terdiri dari dua belas orang bersenjata golok besar datang ke tempat tahanan itu dan pintu besi dibuka dari luar. Kemudian tujuh orang tawanan itu digiring memasuki sebuah rumah besar dan terus ke ruangan samping rumah gedung besar itu. Di dalam sebuah ruangan telah menanti seorang laki- laki tua yang duduk di atas kursi.

Tujuh orang tawanan itu mengira bahwa tentu mereka akan dihadapkan kepada kepala bajak yang kejam dan bengis, dan Kian Bu yang sengaja tidak mematahkan belenggu untuk melihat perkembangan sebelum turun tangan, sudah siap untuk mengambil tindakan. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia memandang dan mengenal orang yang duduk di atas kursi itu.

Pernah dia bertemu dengan orang ini di Koan-bun. Orang itu berpakaian sastrawan dan dia tahu bahwa orang itu adalah pengawal lihai dari Raja Tambolon, yaitu Yu Ci Pok yang berpakaian pelajar (siucai) di samping pengawal lain yang berpakaian petani dan bernama Liauw Kui! Akan tetapi perjumpaannya dengan Tambolon dan dua orang pengikutnya itu hanya sepintas saja maka kini Yu Ci Pok Si Siucai Maut itu tidak mengenalnya dan Kian Bu juga hanya menundukkan mukanya.

Memang tidak salah penglihatan Kian Bu, orang itu adalah Yu Ci Pok, pengawal Raja Tambolon, dan tempat itu adalah tempat yang dijadikan sarang oleh Raja Tambolon pada saat itu! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Raja Tambolon gagal dalam merebut Koan-bun dan di kota itu pasukannya yang terdiri dari seribu orang malah hancur-lebur dan terbasmi, hampir tidak ada lagi sisanya. Tetapi, berkat kelihaiannya, dia dan dua orang pengawalnya berhasil menyelamatkan diri dan dia lalu lari ke utara.

Biar pun dia telah kehilangan pasukan, namun nama Raja Tambolon telah dikenal oleh para suku Nomad, maka tentu saja kemunculannya disambut dengan penuh penghormatan dan sebentar saja Raja Tambolon sudah dapat mengumpulkan kekuatan dan dia bahkan menjadi raja kecil di daerah perbatasan di seberang sungai dan kekuasaannya meliputi daerah yang cukup luas! Ada pun kedua orang pengawalnya itu kini diangkatnya menjadi menteri-menterinya karena dia sendiri menjadi raja kecil di situ. Para bajak sungai yang beroperasi di sepanjang sungai itu semua ditundukkannya dan menjadi anak buahnya!

Kian Bu melirik ke depan dan melihat bahwa sastrawan itu ditemui oleh dua orang laki-laki yang dikenalnya sebagai dua orang penunggang kuda yang dilihatnya di hutan itu. Kiranya dua orang itu adalah kaki tangan sastrawan pengawal Tambolon ini, pikirnya. Dia menduga bahwa pengawal Raja Tambolon ini telah berdikari dan menjadi kepala bajak. Tidak heran, karena memang orang itu lihai, pikirnya.

“Mereka berlima itulah!” Terdengar Si Kumis Tebal menerangkan kepada sastrawan itu. “Jelas bahwa mereka itu adalah orang-orang dari Bhutan!”

Siucai itu memandang penuh perhatian, kemudian membentak kepada lima orang itu. “Benarkah kalian adalah keparat-keparat dari Bhutan?” Kerajaan Bhutan telah menjadi musuh-musuh dari Tambolon dan kaki tangannya.

Orang setengah tua itu mengangkat dadanya dan berkata, suaranya tabah dan nadanya memandang rendah, “Hemm, kiranya di sini pun terdapat kaki tangan Tambolon yang merajalela! Aku tahu bahwa engkau adalah Yu-siucai, pengawal Tambolon. Di manakah rajamu yang liar itu sekarang? Ha-ha-ha, aku mendengar akan kehancurannya di Koan-bun!”

Siucai itu terbelalak, memandang penuh perhatian dan bangkit dari kursinya, mendekati orang setengah tua itu, mengamat-amati, lalu membentak, “Keparat! Kiranya engkau adalah Panglima Jayin dari Bhutan!”

“Matamu masih awas, Yu-siucai!”

Siucai itu kembali duduk dan tertawa gembira, “Ha-ha-ha, siapa kira kita bisa menawan tokoh kedua dari Bhutan! Ahhh, tentu Tai-ong akan gembira sekali melihat mukamu, Jayin!” Dia lalu menoleh kepada dua orang itu. “Lekas kalian laporkan kepada Ong-ya bahwa lima orang tawanan dari Bhutan itu adalah Jayin dan empat orang pembantunya! Akan tetapi hati-hati, jangan ganggu Ong-ya yang sedang bergembira.”

Dua orang itu mengangguk dan pergi, wajah mereka tampak girang sebab mereka telah membuat jasa besar.

Yu-siucai lalu memandang Kian Bu dan Siang In. Gadis ini menundukkan mukanya, pakaiannya masih basah dan menempel ketat di tubuhnya sehingga lekuk-lengkung tubuhnya yang ranum itu nampak nyata.

“Kalian siapa?!” bentaknya.

“Maaf, Taijin (Pembesar)…” Kian Bu menjawab cepat, mendahului Siang In. “Saya bernama Teng Bu dan ini adik saya, Teng Siang In… kami berdua sedang menumpang perahu… tidak ada hubungan kami dengan mereka ini…” Kian Bu memperlihatkan sikap ketakutan, dan diam-diam Siang In melirik kepadanya, agak geli juga mendengar Kian Bu merubah namanya dan mengaku sebagai kakaknya dan membonceng she- nya (nama keturunan).

“Yu-siucai, dua orang ini memang hanya kebetulan saja menumpang perahu. Harap bebaskan mereka yang tidak bersalah apa-apa.”

“Hemm, keputusannya berada di tangan raja kami. Dan untung bahwa kini kami sedang mengadakan pesta pernikahan raja kami, kalau tidak, tentu kalian sudah menerima hukuman langsung.”

Panglima Jayin, tokoh Bhutan itu tertawa. Seperti telah kita kenal, panglima ini adalah murid dari Kakek Lu Kiong, kakek dari Ceng Ceng dan telah menjadi orang terkenal di Bhutan. Dia bersama empat orang pembantunya itu kini sedang bertugas untuk mencari Puteri Syanti Dewi.

“Ha-ha-ha, entah sudah berapa puluh kali aku mendengar Tambolon menikah!” Siucai itu melompat ke depan, tangannya menampar.
“Plak-plak!”

Bibir Panglima Jayin pecah dan berdarah, namun dia masih berdiri tegak, memandang dengan mata menghina.

“Kalau bukan hari baik raja kami, aku tentu sudah membunuhmu!”

“Pengecut!” Tiba-tiba Siang In memaki dan matanya terbelalak memandang siucai itu. “Laki-laki macam apa engkau ini? Beraninya menghina orang yang terbelenggu. Hih, tak tahu malu! Buang saja pakaian pelajar itu, ganti pakaian penjahat!”

Siucai itu terkejut dan memandang kepada dara itu dengan muka merah, dan Panglima Jayin tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Yu-siucai, dengarkan suara seorang dara sederhana yang jauh lebih gagah dari pada engkau. Ha-ha-ha! Terima kasih, Nona. Engkau sungguh patut dikagumi, dan aku akan mati gembira mengenangkan seorang dara yang gagah seperti engkau!”

Siang In tersenyum dan dia tidak takut lagi kini. Pada saat itu, dua orang tadi datang lagi dan berkata, “Pesta sudah dimulai, Yu-taijin diminta menghadiri pesta dan para tawanan diperbolehkan nonton dan ikut bersenang-senang sebelum diambil keputusan hukuman mereka. Demikian pesan Ong-ya.”

Yu-siucai mengangguk. “Hemm, sungguh kalian masih bernasib baik. Raja kami sedang bergembira dan tidak ada nafsu melihat darah musuh-musuhnya. Giring mereka ke sana!”

Kembali dua belas orang pasukan menggiring tujuh orang tawanan itu menuju ke ruangan besar dan luas di mana telah terdengar suara riuh rendah orang berpesta. Kiranya pada waktu itu Raja Tambolon sedang merayakan hari pernikahannya dan pesta besar dirayakan. Ruangan yang luas itu penuh dengan para tamu, akan tetapi tamu-tamu itu terdiri dari orang-orang yang kasar dan liar.

Suasana pesta di situ kacau-balau dan sama sekali tidak teratur dan sebagian sudah mabok. Dan hampir di setiap meja di ‘hias’ dengan perempuan-perempuan cantik yang bermacam-macam sikapnya. Ada yang genit dan agaknya sudah mahir melayani orang-orang besar itu, ada yang kelihatan berduka dan takut- takut, akan tetapi semuanya berpakaian mewah dan berbedak tebal. Mereka ini adalah wanita-wanita rampasan yang telah dijadikan alat hiburan secara paksa oleh Tambolon dan kaki tangannya, dan kini mereka dikerahkan untuk menemani dan menghibur para tamu!

Siang In memandang dengan cemas, dan diam-diam Kian Bu juga muak menyaksikan keadaan di situ. Tanpa aturan sama sekali! Ada yang berkeliaran ke sana-sini, dan ada yang mengadu kekuatan minum sampai ada yang muntah-muntah. Ada pula yang mengadu kekuatan pergelangan tangan, dirubung dan disoraki dengan bising, ada pula yang sedang menggeluti seorang wanita. Tawa dan kekeh terdengar memenuhi udara, bercampur dengan bau keringat dan arak dan mulut busuk! Di sudut kiri terdapat para pemain musik dan para penyanyi yang suaranya sudah mulai serak dan sumbang karena diloloh minuman keras oleh para tamu yang merubung tempat hiburan ini, agaknya mereka yang agak ‘nyeni’ atau yang suka akan seni musik!

Tujuh orang tawanan itu digiring masuk terus ke tempat Tambolon untuk menghadap raja itu. Akan tetapi Tambolon sedang sibuk dan ketika Yu-siucai mendekatinya dan berbisik, raja itu hanya menoleh sebentar ke arah tawanan, kemudian menggeleng kepala dan menyuruh semua menunggu karena dia sedang sibuk menonton adu gulat yang berlangsung di ruangan itu.

Memang adu gulat merupakan tontonan dan olahraga yang amat populer di daerah itu, dan Tambolon sendiri dahulu merupakan seorang ahli gulat nomor satu di daerahnya. Setelah dia belajar ilmu silat tinggi, tentu saja dia memandang rendah ilmu ini, akan tetapi dia masih suka menonton. Ramai sekali pertandingan adu gulat di gelanggang yang disediakan khusus itu dan banyak tamu yang suka akan tontonan ini mengepung tempat itu untuk menonton. Tambolon kini sudah tercurah seluruh perhatiannya kepada pertandingan itu lagi setelah tadi terganggu sebentar.

Kian Bu tetap memegang kedua tangan Siang In sehingga empat tangan mereka yang pergelangannya terbelenggu itu tidak pernah berpisah. Dia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tempat itu penuh orang, hampir kesemuanya orang-orang asing dan hanya sedikit saja orang-orang Han yang juga merupakan orang-orang kasar dari golongan hitam. Banyak pula kepala-kepala suku yang mendapat tempat kehormatan akan tetapi juga kini bercampur menjadi satu menonton apa saja yang disukai mereka di dalam pesta awut-awutan itu.

Dari bentuk tubuh mereka yang tegap dan tinggi besar, dengan otot-otot yang membelit-belit seperti tali kuat, dapat dimengerti bahwa mereka itu rata-rata adalah orang-orang kasar, tukang-tukang berkelahi yang kuat dan berani. Kian Bu agak gentar hatinya mengingat bahwa dia harus melindungi Siang In. Dia lalu melirik ke arah lima orang tawanan dari Bhutan itu, dan kebetulan Panglima Jayin memandangnya. Mereka saling tersenyum dan Kian Bu kagum sekali. Panglima ini benar-benar amat gagah berani dan tenang. Dia menarik Siang In, mendekati panglima itu, lalu berbisik,

“Agaknya engkau mencari Syanti Dewi?”

Panglima Jayin terkejut sekali, terbelalak dan mengangguk.

“Dia berada di istana kaisar, di kota raja,” Kian Bu berbisik lagi lalu menjauh karena khawatir kalau didengar orang lain.

Panglima itu mengangguk-angguk dan terlihat girang. Panglima yang setia ini memang merasa girang sekali. Dia sendiri terancam bahaya, akan tetapi hal itu bukan apa-apa baginya dan mendengar bahwa puteri yang dicarinya sudah berada di tempat aman, di istana kaisar, tentu saja dia merasa lega dan girang.

Kini Kian Bu memperhatikan Tambolon. Raja itu kelihatan menyeramkan, dengan tubuhnya yang tinggi besar dan matanya yang terbelalak lebar, mulut besar menyeringai dan kedua tangannya bergerak-gerak mengikuti gerakan kedua orang pegulat yang sedang bertanding. Raja itu kelihatan amat tertarik sehingga tak peduli akan keramaian di sekitarnya.

Di sebelah kirinya duduk pengantin perempuan yang selalu menundukkan mukanya yang tertutup tirai halus, dan kelihatan pengantin ini lesu dan lemas. Di belakang agak ke samping, berdiri seorang yang memakai pakaian perang dan Kian Bu mengenalnya sebagai pengawal Tambolon yang lihai, yaitu Si Petani Maut Liauw Kwi! Dan di sebelah pengantin perempuan, agak jauh dan menyendiri, seperti mengantuk dan malas, duduk seorang nenek tua yang berkulit kehitaman, memakai pakaian sutera hitam yang hanya dilibat-libatkan di seluruh tubuhnya, dari kaki sampai ke kepalanya.

Melihat sepasang mata nenek yang mengantuk itu, sinar mata yang tajam seperti sepasang mata ular, Kian Bu terkejut sekali. Dia dapat mengenal orang berilmu seperti yang pernah didengar dari ayahnya. Melihat sinar mata itu mungkin sekali nenek ini pandai ilmu sihir! Dan dugaannya berdasarkan penuturan ayahnya memang benar. Nenek itu adalah guru dari Tambolon, seorang yang datang dari Pegunungan Himalaya, dari daerah See-thian (India) yang tinggi ilmu silatnya dan mahir ilmu sihir!

Jantung Kian Bu berdebar. Keadaannya sulit dan berbahaya! Dia harus melindungi Siang In, dan terutama sekali dia harus berhati-hati menghadapi Tambolon, Petani Maut, Yu-siucai, dan nenek itu! Di samping itu masih ada ratusan orang liar yang kelihatan kuat-kuat. Baru dua orang pegulat yang sedang berlaga itu saja sudah amat hebat. Tubuh mereka yang telanjang dan hanya memakal cawat, seperti tubuh dua ekor gajah. Otot-otot mereka menggelembung dan mengeluarkan bunyi berkerotan ketika mereka mengadu kekuatan otot, berusaha untuk saling membanting. Benar-benar dia berada di tengah-tengah jagoan- jagoan yang tak boleh dipandang ringan!
Tiba-tiba Kian Bu tersentak kaget. Ada suara orang mendengkur di belakangnya. Di tengah-tengah orang hiruk-pikuk berpesta-pora ini, masih ada yang tidur mendengkur. Gila! Mendengkur? Dia bergidik dan teringat akan sesuatu, cepat menoleh dan… terbelalak dia memandang kepada seorang kakek berambut putih semua yang tidur mendengkur di atas sebuah kursi, tepat di belakangnya!

Tangan kakek itu masih memegang sebuah guci arak yang menetes-netes araknya. Agaknya dia mabok dan tertidur. Akan tetapi Kian Bu ingat benar bahwa di belakangnya tadi tidak ada apa-apa, tidak ada kursinya, apa lagi kakek yang tertidur mendengkur. Hatinya tergetar. Betapa lihainya kakek ini! Dengan hadirnya kakek ini sebagai lawan, makin beratlah keadaannya. Dia harus berlaku hati-hati sekali. Tempat ini menjadi sarang orang-orang pandai.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai menggegap-gempita dari mereka yang menonton adu gulat, setelah terdengar suara berdebuk keras. Kiranya seorang di antara pegulat itu dapat dibanting keras dan tentu saja kalah dengan tulang punggung remuk! Tambolon agaknya menjagoi sang pemenang, buktinya dia bersorak-sorak dan menjadi girang sekali.

“Si Bolohok menang! Ha-ha-ha, sudah kuduga. Kau lihat, isteriku, jagoanku menang. Hayo minum untuk kegembiraan ini!” Tambolon melihat pengantin wanita menggeleng kepala, akan tetapi dia memaksa, tangan kanan memegang cawan arak, tangan kiri membuka kerudung yang menutupi muka pengantin wanita. Kian Bu melihat wajah seorang wanita yang cantik!

“Enci Siang Hwa…!” Mendadak Siang In yang berdiri di sampingnya menjerit ketika kerudung muka pengantin wanita itu dibuka, dan dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, lari ke arah enci-nya yang juga sudah melihatnya.

“Adikku…!” Pengantin wanita juga menjerit dan menangis.

Jarak antara mereka agak jauh dan semua orang tercengang mendengar jerit dua orang gadis itu dan memandang bengong. Pengantin wanita dengan kerudung terbuka bangkit berdiri mengembangkan kedua tangan, sedangkan dara remaja yang terbelenggu kedua tangannya itu lari terhuyung menghampirinya sambil menangis juga.

Melihat ini, Yu Ci Pok yang semenjak tadi menjaga para tawanan, meloncat untuk menangkap Siang In. Akan tetapi, loncatannya gagal karena dia merasa seperti ada sesuatu yang mengait kakinya sehingga dia terperosok ke depan. Akan tetapi siucai ini memang lihai sekali, dengan berjungkir-balik dia dapat mematahkan bantingan itu dan tubuhnya mencelat ke depan. Dia berhasil menyambar lengan Siang In, akan tetapi karena gerakannya tidak wajar lagi oleh gangguan hebat tadi, tidak urung dia terhuyung dan menabrak meja di depan Tambolon sehingga meja itu terbalik dan arak serta hidangan makan tumpah semua. Tentu saja keadaan menjadi kacau dan geger!

“Siang In…!”

Pengantin wanita itu kini memegang tangan adiknya dan mereka berpelukan, namun Tambolon yang menjadi marah dengan gangguan itu, menarik tangan pengantinnya. Yu Ci Pok yang merasa kaget membikin terbalik meja junjungannya, lalu menyelinap di antara orang banyak untuk mencari orang yang telah menjegal kakinya tadi. Saking marahnya, siucai ini lupa akan para tawanannya.

Kian Bu yang memperhatikan semua itu, kini melihat betapa kakek yang tadi menjegal kaki Yu Ci Pok, kini dengan gerakan cepat menghampiri lima orang Bhutan dan begitu jari-jari tangannya meraba, belenggu- belenggu lima orang itu patah semua. Kakek itu menghampiri dia, mengulur tangan ke arah belenggu yang mengikat kedua tangan Kian Bu dan… kakek itu terbelalak dan mengeluarkan suara “huhh!” ketika melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda itu menggerakkan kedua tangan dan belenggu itu patah-patah!

“Enci… kenapa engkau menjadi begitu…?” “Adikku… aku… aku dipaksa…”
“Bocah lancang, kau bosan hidup!” Tambolon menjadi marah sekali dan mengangkat tangan hendak memukul Siang In.

Melihat ini, Kian Bu menjadi merah mata dan mukanya, darahnya naik dan perutnya pun terasa panas. Lengkingan yang tinggi dan nyaring mengejutkan semua orang dan turut menambah kekacauan keadaan, bahkan beberapa di antara orang-orang tinggi besar dan bertubuh kuat itu ada yang terguling dan menutupi telinganya, ada yang menekan dadanya karena suara melengking yang keluar dari mulut Kian Bu itu adalah pengerah khikang sakti dari Pulau Es, suara yang mengandung getaran hebat sehingga dapat memecahkan anak telinga dan melumpuhkan jantung!

Dengan kemarahan meluap, Kian Bu meloncat ke atas, melewati kepala banyak orang dan melesat ke arah Tambolon sambil menghantamkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka dan mengerahkan tenaga Swat-im Sinkang sekuatnya. Tenaga Inti Salju yang amat hebat ini mendatangkan hawa dingin yang amat luar biasa sehingga beberapa orang yang tersentuh hawa ini menggigil kedinginan, sampai gigi mereka berkerutukan seperti orang menderita sakit demam!

Mendengar lengking tadi, Tambolon terkejut dan sudah mengurungkan pukulannya terhadap Siang In. Kini lebih kaget lagi melihat seorang pemuda melayang datang dan menghantam dengan pukulan yang membawa hawa dingin amat dahsyatnya itu.

Dari belakang raja itu, Petani Maut yang mengenal serangan dahsyat, sudah bergerak, meloncat ke depan, tangannya masih memegang sebuah guci arak penuh yang tadi hendak digunakan mengisi cawannya. Guci arak yang penuh itu kini dia pergunakan untuk menyambut hantaman Kian Bu yang dahsyat itu.

“Pyaaaarrrr…!”

Petani Maut terhuyung ke belakang dan menggigil kedinginan. Tambolon juga terbelalak melihat betapa guci itu pecah berkeping-keping dan araknya berhamburan ke mana-mana, sebagian menjadi butiran- butiran es karena beku oleh hawa mukjijat dari Swat-im Sinkang! Menyaksikan kelihaian pemuda ini, Tambolon cepat berteriak kepada para pembantunya untuk mengepung dan mengeroyok. Gegerlah keadaan pesta itu. Kian Bu mengamuk dikeroyok oleh banyak jagoan-jagoan kaki tangan Tambolon.

Panglima Bhutan dan empat orang pembantunya yang telah dibebaskan dari belenggu oleh kakek berambut putih tadi, kini juga mengamuk dan berusaha untuk mencari jalan keluar. Akan tetapi, tempat itu sudah dikepung dengan ketat oleh anak buah Tambolon sehingga seperti juga Kian Bu, mengamuklah Panglima Jayin bersama keempat orang pembantunya. Pertandingan hebat, mati-matian dan kacau terjadilah di tempat itu.

Medan pesta berubah menjadi medan pertempuran. Para tamu yang sudah mabok ada yang ikut-ikut mengamuk, akan tetapi mereka ini roboh sendiri tanpa diserang karena berdiri pun mereka ini sudah tidak mampu tegak lagi. Ada pula tamu mabok yang enak-enak bernyanyi, ada yang memeluk wanita tanpa mempedulikan segala keributan itu. Pendeknya, tempat itu menjadi kacau-balau sama sekali.

Keributan menjadi makin kacau dan hebat, ketika ada minyak mengalir di bawah bangku dan meja yang berserakan dan tak lama kemudian minyak bakar ini disambar api yang dilepas oleh kakek berambut putih dengan membantingkan sebuah lentera ke atas lantai yang berminyak. Ruangan itu mulai dimakan api yang bernyala besar dan hawa menjadi panas bukan main. Gegerlah semua orang yang sedang bertempur itu. Amukan api yang hebat membuat mereka lupa akan pertempuran, lupa akan lawan karena api merupakan lawan dan bahaya yang lebih hebat lagi. Larilah semua orang berserabutan menuju ke pintu dan berjejal-jejal dalam usaha mereka untuk keluar dari pintu karena api yang menjilat minyak itu berkobar tinggi dan sudah menjilat atap!

Melihat bahaya maut dari api yang mengamuk ini, Tambolon cepat menoleh dan hendak menyambar ke arah pengantinnya. Ketika tangannya bergerak hendak menangkap lengan Teng Siang Hwa yang kini berpelukan dengan adiknya, dalam keadaan takut dan memandang ke arah pertempuran yang bubar oleh amukan api, Siang Hwa cepat mengelak dan gerakannya ini menyeret adiknya sehingga mereka terhuyung dan terpisah.

“Hayo cepat kita pergi dari ruangan ini!” Tambolon berseru dan kembali tangannya menyambar dan sekali ini agaknya Siang Hwa tidak akan dapat mengelak lagi.

“Dukkkk…!” Tambolon terkejut dan terhuyung. Ketika dia memandang, ternyata seorang kakek berambut putih telah berdiri di depannya.

Suara hiruk-pikuk terdengar dan ada bagian atap yang roboh termakan api. Sebatang balok kayu bernyala jatuh menimpa ke dekat mereka. Kakek itu menjadi terhalang dan tak dapat melindungi Siang Hwa. Namun melihat Tambolon yang melompat ke samping menghindarkan diri dari timpaan balok sambil berusaha menubruk pengantinnya, kakek itu menggerakkan tangan kanannya mendorong ke arah Tambolon. Itulah pukulan jarak jauh yang amat dahsyat. Tambolon kembali tertahan gerakannya dan merasa ada hawa menyambar dia kemudian menangkis.

Api makin membesar dan asap membuat mata Tambolon menjadi pedas dan panas. Maka dia lalu menubruk ke depan, tetapi karena dia melakukan ini dengan sebagian perhatian ditujukan kepada Si Kakek, dan matanya juga hampir terpejam karena panas dan pedas, dia salah tubruk dan yang tertangkap dan cepat ditotoknya itu bukannya Siang Hwa melainkan Siang In, adik Si Pengantin Wanita.

Akan tetapi Tambolon agaknya tidak peduli lagi dan cepat dia memanggul tubuh Siang In yang lemas tertotok itu di atas pundak kanannya dan dia meloncat dan lari dari ruangan yang terbakar itu melalui sebuah pintu rahasia.

Api mengamuk makin ganas dan makin banyak bagian atap ruangan itu yang ambruk. Sekarang mulailah penduduk perkampungan bajak atau anak buah Tambolon itu menggunakan air untuk mencoba memadamkan api yang mulai menjilat dan menjalar ke mana-mana. Asap hitam bergulung-gulung memenuhi tempat itu, menghalangi pandangan dan menyesakkan napas. Kekacauan ini memberi kesempatan baik sekali kepada Kian Bu dan lima orang Bhutan itu untuk melarikan diri karena semua orang lebih memperhatikan amukan api dari pada para tawanan itu.

Bahkan agaknya tidak ada lagi yang peduli akan tawanan-tawanan itu karena semua orang kini sibuk berusaha memadamkan api yang telah membakar habis ruangan pendopo tempat pesta tadi. Dengan suara gemuruh ambruklah ruangan pesta yang luar biasa itu, berikut bangunan-bangunan di dekatnya, terbakar menjadi arang dan abu. Akhirnya api dapat dipadamkan setelah puas menghabiskan tempat itu, dan tawanan telah lolos! Lenyap semua tawanan-tawanan itu dan juga pengantin wanita.

Tambolon marah-marah, mencak-mencak karena sekali ini dia menderita rugi besar. Sebagian bangunan gedungnya musnah, para tawanan lolos dan pengantinnya kabur! Beberapa orang anak buahnya ada yang tewas dimakan api, ada pula yang luka-luka. Setelah dia melemparkan tubuh Siang In yang lumpuh itu ke atas pembaringan, dia lalu berlari ke luar dan teringatlah dia akan gurunya, nenek dari India itu. Ke mana perginya gurunya itu? Mengapa tidak kelihatan keluar dari ruangan yang terbakar?

Tambolon keluar dan menenangkan para tamu yang cerai-berai itu, dan berkata, “Harap para tamu jangan pergi dulu, pesta akan dilanjutkan di taman bunga! Kebakaran ini tidak akan menghalangi kita bersenang- senang!”

Para tamu bersorak-sorai gembira dan semua menuju ke taman di mana mulai diatur oleh para anak buah Tambolon, sedangkan Tambolon sendiri bersama dua orang pengawalnya menuju ke puing bekas ruangan tadi untuk mencari nenek yang menjadi gurunya. Nenek itu amat lihai dan sakti, akan tetapi memang sudah agak pikun. Jangan-jangan gurunya itu keenakan melamun sehingga dimakan api, atau bisa jadi juga gurunya itu melakukan pengejaran terhadap para tawanan dengan pembantu mereka yang lihai, yaitu pemuda tampan itu dan Si Kakek berambut putih!

Tambolon dan dua orang pengawalnya menghadapi tumpukan abu dan kayu-kayu yang menjadi arang, yang berupa puing menggunung. Tiba-tiba terdengar suara terkekeh kekeh dan tumpukan debu arang dan kayu itu berhamburan dan muncullah Si Nenek guru Tambolon itu sambil tertawa-tawa dan dalam keadaan segar bugar, hanya kotor penuh debu.

Tidak ada luka, tidak ada yang terbakar pada tubuh nenek itu, dan sedikit pun tidak kelihatan dia kepanasan ketika dia melangkah dan menginjak sisa-sisa api yang masih membara itu dengan enaknya. Para anak buah Tambolon yang sejak nenek itu datang memandang rendah nenek tua renta itu dan hanya menghormatinya karena Tambolon mengakui sebagai gurunya, kini terbelalak memandang kagum dan ngeri. Nenek ini seperti bukan manusia biasa tampaknya!

Tambolon cepat menyongsongnya dan bertanya, “Subo (Ibu Guru) tidak apa-apa?”

Nenek itu tertawa, hanya mulutnya saja yang terbuka dan memperlihatkan lubang yang dalam dan tanpa ada giginya, hanya nampak gelap saja, tidak ada terdengar suara ketawa, “Aku sedang melamun, tahu- tahu atap runtuh dan aku tertimpa. Mana dia si bocah tua bangka itu?” Matanya yang kecil penuh keriput di seputarnya itu memandang ke kanan kiri, mencari-cari. “Mana bocah gila itu? Dia selalu mengikuti dan mengganggu aku!”

“Siapakah yang Subo cari?” Tambolon bertanya.

“Siapa lagi kalau bukan See-thian Hoat-su? Aku tahu betul bahwa tadi dia datang dan kau kira siapa yang menimbulkan kebakaran kalau bukan dia? Sayang aku tadi sedang melamun, kalau tidak sudah kutangkap dia!”

Tambolon terkejut mendengar nama See-thian Hoat-su itu. Dia belum pernah bertemu dengan kakek itu, akan tetapi dia tahu bahwa See-thian Hoat-su adalah bekas suami gurunya ini. Menurut cerita yang pernah didengarnya, gurunya itu dahulu mempunyai seorang suami, seorang bangsa Han yang di waktu mudanya merantau ke India dan berguru kepada ayah nenek itu untuk belajar ilmu sihir. Nenek itu pun masih muda dan mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menjadi suami isteri. Akan tetapi makin tua makin tidak cocoklah mereka dan sering kali mereka bercekcok sampai bertanding ilmu.

Dalam hal ilmu silat, Si Suami lebih pandai, akan tetapi menghadapi ilmu sihir isterinya yang lebih lihai dari padanya, See-thian Hoat-su (Ahli Sihir dari Dunia Barat) ini merasa tobat sehingga akhirnya dia meninggalkan isterinya, kembali ke pedalaman. Nenek itu sendiri setelah amat terkenal dan disebut Durganini, seolah-olah dia adalah titisan atau penjelmaan Dewi Durga, isteri dari maha dewa yang menjadi kepala dari bangsa iblis! Tambolon berguru kepada Durganini setelah nenek itu berpisah dari suaminya.

Tambolon teringat akan kakek rambut putih yang dilihatnya muncul tiba-tiba di waktu keadaan kacau-balau tadi. “Ah, kakek rambut putih itukah See-thian Hoat-su?”

“Kalau dia muncul lagi, cepat beritahu agar dapat kucengkeram tengkuknya!” Nenek itu berkata sambil berjalan ke kamarnya dan meneriaki pelayan agar datang membawa air, memandikannya dan mengganti pakaiannya.

Pesta itu tetap dilanjutkan juga pada malam harinya. Para tamu dijamu lagi di ruangan belakang, tidak kalah meriahnya dengan sebelum terjadi keributan, dan kini pengantin wanita telah digantikan tempatnya oleh Siang In! Dara remaja ini tidak berdaya karena ditotok dan dipaksa duduk bersanding dengan Tambolon di dalam ruangan itu! Pesta berlangsung dengan penuh kegembiraan dan gila-gilaan.

Setelah merasa puas minum dan menjamu para tamunya, Tambolon yang sudah mulai mabok itu timbul kegembiraannya melihat bahwa dara pengganti pengantinnya itu ternyata tidak kalah cantiknya dengan kakaknya yang telah melarikan diri! Maka sambil tersenyum dia lalu memanggul tubuh ‘pengantinnya’ itu dan di bawah sorak dan tawa para tamu yang masih belum pulang, Tambolon membawa pengantinnya itu pergi dari dalam ruangan dan terus menuju ke dalam kamar pengantin yang sudah terhias meriah dan berbau harum karena disiram minyak wangi dan dibakari dupa wangi! Siang In terkejut dan ketakutan, akan tetapi karena dia sudah ditotok lumpuh, dia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali terbelalak seperti seekor kelinci yang diterkam harimau.

Tambolon sebenarnya bukanlah seorang yang mata keranjang atau gila wanita. Tetapi, dia mempunyai kepercayaan bahwa dia akan ‘awet muda’ dan dapat menggunakan ilmunya untuk memindahkan kemurnian seorang gadis ke dalam tubuhnya sehingga memperkuat tenaga mukjijatnya jika dia memperoleh seorang gadis, maka raja liar yang berilmu tinggi ini di mana-mana selalu mencari korban seorang gadis.

Dia tidak pernah jatuh cinta dan setiap kali mendapatkan seorang perawan, setelah dipermainkannya paling lama sepekan saja lalu ‘dioperkan’ kepada para pembantunya untuk menyenangkan hati para pembantunya itu. Tentu saja setelah dia menyedot hawa murni dari gadis korbannya itu untuk memperkuat dirinya. Dia tidak pernah mempunyai isteri dan karena kepandaiannya yang tinggi dan bantuan para kaki tangannya, amat mudah bagi Tambolon untuk di mana saja mencari perawan untuk menjadi korbannya. Betapa pun juga, tentu saja untuk membangkitkan birahinya, dia selalu memilih wanita yang cantik.

Ketika membawa bahan-bahan obat untuk dijual ke kota, Siang Hwa bertemu dengan serombongan kaki tangan Tambolon yang dipimpin oleh Si Petani Maut. Melihat gadis cantik ini, Petani Maut yang memang sudah dipesan oleh Tambolon untuk mencarikan ‘isteri’ lalu menangkapnya dan perlawanan Siang Hwa percuma saja. Tambolon yang baru saja kehilangan pasukannya dan sedang berusaha untuk menghimpun tenaga, lalu menggunakan kesempatan mendapat ‘isteri’ baru itu untuk mengundang para pimpinan suku bangsa liar di utara mengadakan perjamuan untuk menyenangkan hati mereka. Pesta pernikahan itu hanyalah alasan saja, karena yang penting baginya adalah menyenangkan hati calon-calon pembantu dan sekutunya itu dan kedua memperoleh korban seorang perawan baru.

Demikianlah, dengan wajah berseri-seri sungguh pun tadi dia marah-marah karena gangguan di dalam pesta sehingga terjadi kebakaran, kini Tambolon memanggul tubuh Siang In. Dengan kasar dia membentak para pelayan dan penjaga di depan kamarnya agar pergi, kemudian dia berkata kepada Siang In, “Heh-heh, manis, sekarang kita hanya berdua saja, jangan kau bersikap malu-malu lagi…”

“Jahanam, iblis keji, anjing babi hina dina! Kau bunuhlah saja aku…!” Siang In memaki-maki dengan suara serak karena sudah sehari penuh dia memaki-maki tadi. Kalau saja kaki tangannya tidak menjadi lumpuh ditotok secara istimewa oleh Tambolon, tentu dia sudah mengamuk atau membunuh diri.

“He-he-heh, sayang kalau dibunuh, kau begini segar dan muda!” Tambolon menendang daun pintu kamarnya terbuka, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.

“Heh-haaa?” Dia terbelalak dan terheran-heran memandang ke dalam karena di tengah kamarnya, seperti seorang dewi dari kahyangan, berdiri seorang wanita yang cantik dan menyala pakaiannya, dengan gelung rambut tinggi dihias emas mutiara, jubahnya merah dan pakaiannya ketat membayangkan tubuh yang penuh tantangan, akan tetapi wanita ini berdiri sambil bertolak pinggang, sikapnya gagah dan sebatang pedang tergantung di punggungnya!

“Ehh, Nona cantik, siapakah kau…?” Tambolon benar-benar terkejut dan kagum sekali. Wanita yang berdiri di dalam kamarnya itu biar pun tidak semuda gadis remaja yang dipanggulnya, akan tetapi cantik menarik dan penuh daya pikat, dengan tubuh yang sudah matang!

“Tambolon, kau bebaskan bocah itu.”

“Kenapa?” Tambolon bertanya. “Dan siapakah kau?”

“Hi-hik, kalau kau tidak keburu melarikan diri ketika pasukanmu dihancurkan di Koan-bun, tentu engkau telah bertemu dengan aku. Suheng Hek-tiauw Lo-mo dan aku Mauw Siauw Mo-li yang memimpin pasukan pemberontak menghancurkan pasukan itu!”

“Ahhhh…!” Tambolon terkejut dan cepat melemparkan tubuh Siang In yang lumpuh itu ke atas pembaringan sambil berkata, “Manis, kau tunggu sebentar di situ!” Kemudian ia menghadapi wanita itu dan memandang dengan penuh perhatian. Tentu saja dia sudah mendengar akan nama Hek-tiauw Lo-mo yang hebat dan kiranya wanita ini adalah adik seperguruan tokoh itu.

“Jadi begitukah? Hek-tiauw Lo-mo dan sumoi-nya menentang Tambolon?”

“Tambolon, semua itu adalah salahmu sendiri. Mula-mula engkau membantu Pangeran Liong, seperti juga kami, akan tetapi siapa suruh kau berkhianat dan malah menyerang pasukan Pangeran Liong hingga terjadi saling serang dan akhirnya kita dihancurkan semua oleh pasukan pemerintah? Sekarang kita semua telah gagal, dan kedatanganku bukan karena urusan kegagalan itu, melainkan untuk minta Nona ini.”

Tambolon mengangguk-angguk. Memang dia telah sadar bahwa dia telah dipancing oleh Lu Ceng dan Topeng Setan! Juga tidak baik kalau dia harus memusuhi Hek-tiauw Lo-mo dan sumoi-nya ini. Dengan orang-orang seperti itu jauh lebih baik bersekutu dari pada bermusuhan, dan dia sedang membutuhkan banyak tenaga bantuan untuk menghimpun kekuatan baru. Maka dia lalu tertawa.

“Ha-ha-ha, Mauw Siauw Mo-li sungguh enak saja bicara. Engkau tahu bahwa nona ini telah menjadi isteriku, bagaimana mungkin akan kau minta begitu saja?” Kemudian dia melanjutkan setelah menjelajahi tubuh wanita cantik itu dengan pandang matanya.

“Kalau kau hendak mengambil dia, apakah engkau akan menggantikan dia menemaniku malam ini? Ha-ha- ha!”

Mauw Siauw Mo-li tersenyum. “Menemanimu saja bukan merupakan keberatan bagiku, Tambolon. Tetapi aku perlu nona ini sekarang, dan kalau kau memberikannya baik-baik, kelak masih belum terlambat bagiku untuk berkunjung dan menemanimu beberapa malam. Akan tetapi sekarang aku tidak ada waktu lagi, dan biarkan aku pergi membawa nona itu.”

“Kalau aku menolak?”

“Hi-hi-hik-hik, engkau tentu tahu bahwa kami kakak beradik seperguruan tidak biasa dibantah!”

Tambolon tersenyum. Baginya, mendapatkan Siang In atau tidak bukanlah merupakan hal yang amat penting. Masih banyak perawan yang bisa didapatkan pada malam itu juga dan berapa banyak pun. Dan sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo ini amat cantik, pula kalau dia dapat bersekutu dengan Hek-tiauw Lo-mo melalui wanita ini, hal itu akan memperkuat kedudukannya. Tetapi dia adalah seorang raja, selain amat merendahkan kalau dia harus menurut perintah wanita itu begitu saja, juga sebagai seorang yang berilmu tinggi dia ingin sekali mencoba kepandaian wanita yang mengaku sebagai sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo.

“Bagus, Mauw Siauw Mo-li, aku pun ingin sekali mencoba apakah kepandaianmu juga sehebat kecantikanmu. Sambutlah!” Tambolon lalu loncat ke depan mengirim serangan dengan kedua tangannya mencengkeram ke arah pundak wanita cantik itu.

“Hemm, bagus…!” Wanita itu dengan gerakan yang amat lincahnya sudah mengelak ke kiri.

Mauw Siauw Mo-li bukan tidak tahu bahwa raja orang liar ini memiliki kepandaian yang amat tinggi, dan dia pun tahu pula bahwa Tambolon mempunyai pembantu-pembantu yang lihai dan dia telah memasuki sarang naga yang berbahaya. Maka sambil meloncat, dia terus mencelat ke arah pembaringan dan di lain saat dia telah berhasil menyambar tubuh Siang In yang dikempit dengan lengan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah mengeluarkan sebuah benda kecil. Benda itu berbentuk dos kecil tempat yanci (alat pemerah pipi).

Melihat wanita memegang yanci, Tambolon tertawa dan tentu saja tidak menduga apa-apa, terus menubruk ke depan. Akan tetapi wanita itu membawa Siang In meloncat keluar kamar melalui jendela sambil menyambitkan dos kecil itu ke arah Tambolon. Raja yang liar ini cukup cerdik. Biar pun benda itu hanya dos kecil, namun dia menjadi curiga dan cepat melompat jauh menghindari sambil bertiarap.

“Darrrrr…!”

Seperti yang telah dikhawatirkan oleh Tambolon, benda kecil yang kelihatan tak berarti itu kiranya adalah sebuah senjata rahasia peledak yang amat hebat kekuatannya. Meja kursi dan pembaringan di dalam kamar itu hancur berantakan dan kalau saja Tambolon tidak bertiarap, tentu dia dapat terluka pula. Dia menjadi kagum akan tetapi juga marah. Wanita itu memang patut dijadikan sekutu, akan tetapi telah terlalu menghinanya, maka dia segera berteriak memanggil anak buahnya dan minta bantuan gurunya untuk melakukan pengejaran. Karena Mouw Siauw Mo-li sudah berlari jauh dan berlindung di kegelapan malam bersama Siang In, maka dengan hati mendongkol Tambolon lalu mengirim pasukan untuk mengejar terus.

Siang In tadinya marah sekali ketika melihat Mauw Siauw Mo-li, karena wanita pesolek itulah yang telah mencuri kitab catatan peninggalan ayahnya. Akan tetapi ketika melihat wanita itu menolongnya dan melarikannya dari kamar Tambolon, dia merasa heran dan juga bersyukur sekali, sungguh pun dia menduga bahwa perbuatan wanita itu tentu mengandung pamrih sesuatu. Seorang yang berwatak palsu seperti wanita ini, yang diterimanya sebagai tamu dengan ramah kemudian malah mencuri kitab seperti maling, tidak mungkin mengenal perbuatan baik. Di balik pertolongannya melarikan dia dari tangan Tambolon pasti bersembunyi keinginan lain demi kepentingan dirinya sendiri.

Mauw Siauw Mo-li membebaskan totokannya dan Siang In kini berjalan di sampingnya di dalam kegelapan malam, melalui pegunungan yang hanya disinari cahaya bulan muda dan bintang-bintang di langit.

“Setelah mencuri kitab, engkau ini pura-pura menolongku ada keperluan apa?” Siang In menegur, akan tetapi tidak menghentikan kakinya yang berjalan mengikuti wanita itu karena dia maklum bahwa Tambolon dan anak buahnya tentu melakukan pengejaran.

“Kitab itu? Nih, kau boleh terima kembali!” Mauw Siauw Mo-li menyerahkan kitab kuno kecil kepada Siang In.

Dara ini makin heran, tetapi menerima kitab itu dan disimpannya di saku baju dalamnya. Kitab itu sebetulnya tidak lagi berguna bagi dia atau kakaknya karena mereka telah hafal akan isinya, dan sekarang mereka menyimpannya hanya sebagai barang pusaka peninggalan ayah mereka.

“Engkau seorang yang aneh sekali. Engkau tadi menyebutkan nama julukanmu Mauw Siauw Mo-li? Apakah artinya semua perbuatanmu ini? Mula-mula engkau mengunjungi aku, lalu mencuri kitab ini. Sekarang engkau bersusah payah menyelamatkan aku dari tangan Tambolon kemudian mengembalikan kitab. Sebetulnya, apakah kehendakmu?”

Mauw Siauw Mo-li menarik napas panjang, lalu berkata, “Engkau puteri mendiang Yok-sian, sayang kalau sampai menjadi makanan Tambolon yang rakus! Dan, ehh, adik kecil yang baik, siapa namamu?”

“Aku Teng Siang In.”

“Adik Siang In, sebagai keturunan orang pandai, engkau tentu mengutamakan balas budi. Engkau tentu tahu bahwa tanpa aku yang melarikanmu dari tangan Tambolon, saat ini engkau sudah mengalami hal yang amat menyenangkan hati Tambolon akan tetapi yang bagi dirimu merupakan penghinaan yang akan terasa seumur hidupmu. Engkau akan sudah diperkosa, menderita penghinaan berkali-kali sampai kau tidak kuat menahan dan mati, dalam keadaan hina dan mengerikan. Nah, kau mengakui adanya pertolonganku ataukah tidak?”

Mendengar ucapan itu, Siang In membayangkan apa yang dapat menimpa dirinya itu dan dia bergidik ngeri. Akan tetapi dia seorang dara yang cerdik, dan setelah terbebas dari ancaman bahaya maut dari tangan Tambolon, sekarang dia pun tidak takut lagi menghadapi bahaya baru dan dia menjawab, “Mo-li, lebih baik katakan saja terus terang, apa yang kau kehendaki dari aku setelah kitab yang kau curi ini agaknya tidak ada gunanya bagimu.”

“Hi-hik, engkau lumayan juga, engkau cerdik! Nah, lebih baik aku berterus terang saja.” Dia berhenti di bawah pohon kecil dan duduk di atas batu, Siang In berdiri di depannya.

“Terus terang saja, aku menderita keracunan di sebelah dalam darahku. Hal ini terjadi ketika aku mencuri mempelajari ilmu pukulan beracun dari kitab milik suheng-ku. Sebelum sempurna aku mempelajarinya, suheng-ku tahu akan hal itu dan dia merampas kembali kitab itu sehingga aku tidak dapat melanjutkan latihanku. Karena tidak ada lagi petunjuknya, hawa beracun yang sudah terkumpul itu tidak dapat kusalurkan dan mulai meracuni diriku sendiri. Aku telah minta tolong Suheng, akan tetapi Hek-tiauw Lo-mo yang menjadi suheng-ku itu memang orang kejam! Dia malah menyukurkan, bilang bahwa itu hukumannya seorang yang mencuri pelajaran orang lain. Huh, seperti aku tidak tahu saja bahwa dia pun mencuri kitab itu dari Dewa Bongkok….” Mauw Siauw Mo-li berhenti sejenak untuk menarik napas.

“Akan tetapi untuk memaksanya, aku tidak berani karena dia lihai sekali. Nah, aku mendengar bahwa tokoh pengobatan yang paling pandai adalah Yok-sian, ayahmu. Sayang dia telah meninggal dunia, maka aku lalu mencuri kitab itu. Kiranya kitab itu hanya berisi catatan tentang nama-nama dan macamnya tetumbuhan obat, sama sekali tidak ada gunanya bagiku. Karena itu, Adik Siang In, aku menolongmu dan ingin minta bantuanmu agar engkau suka menerangkan, obat apa yang kiranya akan dapat menyembuhkan aku, karena engkau tentu telah mewarisi kepandaian itu dari ayahmu.”

Siang In mengerutkan alisnya. “Sayang sekali, kepandaian pengobatan itu diwarisi oleh enci-ku, dan aku hanya bisa mengenal bahan-bahan obat saja. Akan tetapi, biar enci-ku sendiri kiranya tidak akan dapat menyembuhkan akibat racun yang menyerang dari dalam karena latihan yang salah. Ada suatu rahasia besar yang diketahui oleh enci-ku dan aku, dan karena engkau telah menyelamatkan aku, biarlah aku membuka rahasia itu kepadamu dan mungkin saja rahasia itu akan menjadi jalan penyembuhanmu.”

Mauw Siauw Mo-li gembira sekali mendengar ini. “Rahasia apa itu yang akan mampu menyembuhkan aku? Lekas katakan!”

“Mendiang Ayah pernah bercerita kepadaku. Ketika aku masih berusia lima tahun, Ayah sendiri pernah mencoba untuk mendapatkan anak naga itu…”

“Anak naga? Apa maksudmu? Ceritakan yang jelas!”

Karena merasa telah dihindarkan dari bahaya yang mengerikan di tangan Tambolon, Siang In lalu membuka rahasia seperti yang pernah dituturkan oleh mendiang ayahnya itu…..

Di sebuah telaga yang amat luas, yaitu Telaga Sungari yang jarang didatangi manusia, di sebelah barat Pegunungan Jang-kwan-cai, hidup seekor naga yang mungkin sekali merupakan naga terakhir di dunia ini. Naga itu tidak pernah keluar dari dasar telaga yang amat dalam itu, dan hanya setiap sepuluh tahun sekali, pada permulaan musim semi, naga itu keluar dari dalam telaga, membawa anaknya yang baru menetas untuk menerima sinar matahari.

Setiap sepuluh tahun sekali naga itu bertelur dan jarang sekali ada telurnya yang menetas, akan tetapi kalau ada yang menetas, anaknya lalu dibawa ke permukaan telaga untuk menghisap tenaga yang dari matahari. Nah, anak naga yang baru menetas itu merupakan mustika yang tak ternilai harganya, karena dapat dipergunakan untuk obat yang menyembuhkan segala macam penyakit, terutama keracunan. Juga bagi yang tidak menderita sakit, anak naga itu merupakan obat yang dapat membikin tubuh menjadi kuat dan kebal, dapat pula memperkuat tenaga sinkang.

“Sekarang aku telah berusia lima belas tahun, berarti sepuluh tahun telah lewat sejak naga itu muncul di permukaan air Telaga Sungari. Bulan depan adalah permulaan musim semi, maka kalau engkau mau pergi ke telaga itu dan dengan kepandaianmu engkau dapat merampas anak naga, jangankan baru keracunan di dalam darahmu, biar engkau sudah tiga perempat mati pun akan dapat disembuhkan.”

Mauw Siauw Mo-li tertarik sekali. “Permulaan musim semi? Hanya kurang beberapa hari lagi…”

Dia berhenti dan menatap wajah dara itu, menajamkan pandangan untuk menembus kegelapan remang- remang itu menyelidiki wajah Siang In. “Siang In, benarkah apa yang kau ceritakan semua itu?”

Siang In cemberut. “Mo-li, engkau tadi menyebut-nyebut nama ayahku yang telah meninggal dunia. Apa kau kira aku sudi untuk mencemarkan nama baik ayahku dengan cara membohongimu? Betapa pun juga, engkau telah menyelamatkan aku dari tangan Tambolon, dan sudah sepatutnya kalau kau kuberi tahu tentang anak naga itu agar engkau dapat mencari penyembuhan untuk darahmu yang keracunan.”

“Bagus! Kalau ceritamu benar dan aku berhasil, kelak aku akan menghaturkan terima kasih ke lembah Pek-thouw-san di mana engkau tinggal. Akan tetapi kalau engkau membohong, aku pun akan datang ke sana dan engkau akan menerima hukuman yang pasti lebih mengerikan dari pada kalau engkau terjatuh ke tangan Tambolon.” Setelah berkata demikian, wanita itu berkelebat dan lenyap.

Siang In hanya mendengar suara lengking aneh seperti seekor kucing terinjak ekornya dari jauh. Dia bergidik. Pantas julukannya Siluman Kucing, pikirnya. Kemudian dia teringat bahwa dia ditinggalkan sendirian saja, sedangkan mungkin sekali pasukan Tambolon masih melakukan pengejaran, maka kemudian dia melanjutkan perjalanan melarikan diri.

Siang In adalah seorang dara remaja yang sejak kecil hidup tenteram di lereng Gunung Pek-thouw-san, sebuah puncak di Pegunungan Jang-pai. Dia hidup bersama enci-nya, Siang Hwa dan biasanya dia hanya pergi ke hutan-hutan di sekitar pegunungan itu mencari bahan-bahan obat atau rempah-rempah yang banyak tumbuh di daerah itu.

Kini, dia melakukan perjalanan mencari enci-nya, tentu saja dia kurang pengalaman dan dia sama sekali asing dengan daerah yang dilaluinya sekarang ini. Apa lagi perjalanan pelarian itu dilakukan di malam hari, hanya diterangi bulan muda dan bintang-bintang, dalam keadaan gelisah karena dikejar pula, maka dia lalu melarikan diri secara ngawur.

Sebaliknya, yang melakukan pengejaran dua rombongan. Rombongan pertama adalah pasukan yang melakukan pengejaran terhadap lima orang Bhutan, Kian Bu, dan Siang Hwa yang dapat melarikan diri lebih dulu ketika terjadi kebakaran. Rombongan kedua adalah pasukan yang mengejar Mauw Siauw Mo-li dan Siang In. Yang pertama dipimpin oleh Si Petani Maut, sedangkan pasukan kedua dipimpin oleh Yu Ci Pok Si Siucai Maut. Pasukan-pasukan pengejar ini terdiri dari orang-orang Nomad yang sejak kecil hidup di daerah itu secara berpindah-pindah, tentu saja mereka mengenal baik daerah itu dan mereka dapat melakukan pengejaran dengan terarah dan mengepung serta memotong jalan-jalan di daerah itu.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apa bila pada keesokan harinya, Siang In terkejut sekali mendengar derap kaki kuda jauh dari belakangnya. Dia sudah keluar dari daerah hutan dan berada di tanah datar tanpa pohon, maka tidak sempat lagi baginya untuk bersembunyi, maka larilah dara ini ke depan, secepat mungkin!

Tak lama kemudian terdengar suara hiruk-pikuk dan para pengejar itu membalapkan kuda mereka karena mereka telah melihat gadis yang berlari cepat itu, dan mendengar betapa derap kaki kuda makin dekat, Siang In mempercepat larinya dan mengeluh,

“Ahhh… kalau saja Pek-liong berada di sini…” Kalau dia menunggang keledai itu, dia tidak takut biar dikejar oleh siapa pun juga karena keledainya dapat berlari lebih cepat dari kuda yang bagaimana pun.

Para pengejar semakin dekat dan napas Siang In sudah terengah-engah ketika tiba-tiba dia membelalakkan mata dan menghentikan larinya karena di depannya membentang luas sebatang sungai yang amat lebar. Sungai ini adalah Sungai Yi-tung.

“Celaka…!” Siang In berseru kaget dan cepat dia memutar tubuhnya. Belasan orang penunggang kuda mendatangi dengan cepat dipimpin oleh Si Sastrawan!

“Biar aku melawan sampai mati!” Siang In yang maklum bahwa dia tidak dapat lari terus karena ada sungai lebar menghalang di depannya, kini sudah berdiri tegak, kedua tangan dikepal dan dia menggigit bibir bawah dan matanya berkilat penuh kemarahan!
Akan tetapi, terdengar teriakan-teriakan dari kiri dan ketika Siang In menoleh, dia melihat belasan orang lagi datang berlarian di tepi sungai, dan mereka itu bukan lain adalah orang-orang liar yang dipimpin oleh Si Petani Maut, yaitu para pengejar pertama yang dalam usahanya mengejar para tawanan yang lolos telah tiba pula di tempat itu! Tentu saja hati Siang In menjadi makin gelisah, akan tetapi dara itu telah kehilangan rasa takut karena dia tahu bahwa melawan atau tidak, dia akan celaka di tangan mereka, dan dia memilih mati sambil melawan dari pada hidup menjadi tawanan dan permainan dari Raja Tambolon!

“In-moi…!”

Siang In terkejut dan jantungnya berdebar keras. Itulah suara enci-nya Siang Hwa!

“Cici…!” Dia cepat menoleh dan makin girang hatinya saat dia melihat Kian Bu bersama enci-nya, seorang kakek tua berambut putih, dan lima orang tawanan itu berada di atas rakit bambu yang didayung oleh mereka ke tepi sungai.

“Bu-koko… kau tolonglah aku…” Siang In berteriak girang melihat munculnya pemuda itu.

Dia telah salah mengira bahwa pemuda yang pandai mengenal sajak kuno itu hanyalah seorang kutu buku yang lemah. Dia mengerti sekarang bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka begitu bertemu dia berteriak minta tolong.

“Siauw-moi, (Adik Kecil), kau tenanglah!” Kian Bu berkata sambil meloncat ke darat dengan gerakan yang amat lincah, diikuti oleh kakek berambut putih yang bukan lain adalah See-thian Hoat-su.

Pada saat itu, hampir berbareng Si Petani Maut Liauw Kui dan Si Sastrawan Yu Ci Pok telah tiba di situ.

“Nona, ke mana engkau hendak lari?” Yu Ci Pok yang bertugas menawan kembali ‘pengantin kedua’ ini menubruk sambil meloncat dari atas kudanya.

Siang In mencoba untuk mengelak ke kiri sambil mengirim pukulan dengan tangan kanannya ke arah dada sastrawan itu.

“Plakk!” Pukulan dara itu yang dilakukan dengan sekuatnya diterima oleh Si Sastrawan sambil tertawa dan sebaliknya sastrawan itu menangkap pergelangan tangan Siang In.

“Lepaskan aku…!” Siang In meronta namun percuma karena pegangan Yu Ci Pok itu kuat sekali. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Keparat, Lepaskan dia!”
Yu Ci Pok cepat menengok dan melihat tubuh pemuda tampan bekas tawanan itu pesat melayang ke arahnya. Dia terkejut, melepaskan Siang In dan menyambut Kian Bu dengan tamparan dahsyat, mengambil kesempatan selagi pemuda itu masih melayang.

“Dessss…!”

Kian Bu telah mendorong dan mengerahkan sinkang-nya. Dua tenaga dahsyat bertemu dan akibatnya tubuh sastrawan itu hampir roboh terjengkang kalau saja dia tidak cepat meloncat ke belakang sambil memandang heran dan mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang poan-koan-pit.

Sementara itu, Si Petani Maut juga sudah tiba di situ, akan tetapi sebelum dia sempat turun tangan, terdengar suara ketawa dan ketika dia menoleh ada tangan menampar mukanya. Untung Liauw Kui adalah seorang berkepandaian tinggi dan merupakan pembantu utama dari Tambolon, maka begitu mendengar ada angin menyambar, dia sudah mengelak dan cepat menengok. Kiranya yang menamparnya tadi adalah seorang kakek berambut putih yang menamparnya sambil tertawa-tawa!

Liauw Kui teringat bahwa kakek ini yang muncul di dalam kekacauan pesta, maka dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu lihai sekali. Seperti juga Tambolon sendiri, dua orang pembantu utamanya ini juga belum mengenal See-thian Hoat-su, bekas suami Durganini guru Tambolon. Liauw Kui sudah cepat mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu batang pikulannya lalu menyerang kakek itu sambil menyerukan perintah mengepung dan mengeroyok kepada semua anak buah kedua pasukan yang jumlahnya ada tiga puluh orang lebih itu!

Siang Hwa, Panglima Jayin dan empat orang pembantunya sudah cepat mendayung perahu getek atau rakit bambu itu ke tengah setelah Siang Hwa yang tadi meloncat ke darat, berhasil menarik adiknya dan membawanya lari ke atas rakit. Sedangkan Kian Bu dan See-thian Hoat-su mengamuk dikeroyok oleh dua orang pembantu Tambolon yang lihai dan tiga puluh orang lebih itu.

See-thian Hoat-su tidak mengeluarkan ilmu sihirnya karena kakek ini mengira bahwa bekas isterinya, Durganini ikut pula mengejar dan mengeluarkan ilmu sihir berarti mencari penyakit kalau nenek bekas isterinya yang merupakan tokoh sihir itu berada di situ. Malah dia pun sudah merasa gentar, maka cepat dia berkata, “Orang muda, mau tunggu apa lagi? Hayo lekas kembali ke rakit!”

Kakek itu sudah menyambar beberapa buah batu, lalu dia melemparkan sebuah batu melayang lurus ke depan, tepat di permukaan air sungai, disusul tubuhnya meloncat, menginjak batu itu sambil melempar lagi batu kedua ke depan, meloncat lagi dan dengan cara mengagumkan ini dia telah tiba di atas rakit. Akan tetapi, ternyata Kian Bu juga telah berada di atas rakit itu. Kiranya pemuda ini tadi melayang tinggi ke atas, lalu di atas membuat jungkir balik sembilan kali sehingga tubuhnya meluncur terdorong gerakan poksai susul-menyusul ini dan hinggap di atas rakit dengan ringan. Siang Hwa, Siang In, Panglima Jayin dan empat orang pembantunya melongo melihat demonstrasi ginkang istimewa yang dilakukan oleh kakek berambut putih dan pemuda tampan itu.

Siang Hwa dan Siang In berpelukan dan mencucurkan air mata saking girang dan terharu bahwa mereka berdua telah lolos dari bahaya mengerikan yang mengancam diri mereka di sarang Raja Tambolon. Namun mereka tidak mendapat banyak kesempatan untuk bertangisan dan saling menceritakan pengalaman lebih lama lagi karena Kakek See-thian Hoat-su berseru, “Hayo kalian hentikan tangis-menangis itu, lihat mereka telah mengejar kita!”

Semua orang menengok dan memang benar. Kiranya tiga puluh lebih anak buah Tambolon itu telah mempergunakan rakit-rakit yang banyak terdapat di tepi sungai dan melakukan pengejaran di atas enam buah rakit yang mulai mengepung dan mencegat dari empat jurusan.

“Awas anak panah!” Kian Bu berseru sambil meloncat berdiri.

Bersama Kakek See-thian Hoat-su, pemuda Pulau Es ini dengan tangkas menyambut anak-anak panah yang datang menyambar, menangkis dengan kaki tangannya. Melihat ini, See-thian Hoat-su tertawa gembira.

“Ha-ha-ha, orang muda perkasa. Engkau memang hebat!”

Dan seperti berlomba dan tidak mau kalah, dia pun menangkis dan menendang setiap anak panah yang
meluncur dan menyambar di dekatnya. Kakek tua renta itu tertawa-tawa, gembira sekali seperti seorang anak kecil bermain perang-perangan. Akan tetapi selagi kedua orang ini sibuk menghadapi serangan anak panah dengan menangkis, enam buah rakit itu telah mengepung dekat dan mereka telah menyerang dengan tombak-tombak panjang.

Si kakek berambut putih menjadi makin girang. Dia dapat menangkap sebatang tombak musuh dan sambil bersorak girang dia meloncat ke atas sebuah rakit musuh dan mengamuk di situ. Susahnya bagi para pelarian itu, kakek ini seperti anak kecil, tidak segera merobohkan enam orang di atas rakit itu melainkan mempermainkan mereka dan hanya menampar dan menendang perlahan saja untuk mempermainkan, membuat mereka berjatuhan akan tetapi mereka masih dapat bangkit kembali dan mengeroyok lagi. Hal ini agaknya menyenangkan hati kakek itu, seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan enam ekor tikus, melayani mereka, membagi-bagikan tamparan sambil tertawa-tawa.

“Heiittt, wuuhh, tidak kena… heh-heh-heh, nah, berlututlah engkau, dan kau rebahlah!” Demikianlah kakek itu bermain-main, membuat gemas juga hati Kian Bu.

Kalau kakek itu bersungguh-sungguh, agaknya bersama dia akan dapat melawan dan menahan semua musuh ini. Akan tetapi kakek itu main-main dan kini dia sibuk seorang diri menahan pengeroyokan para pengepung. Untung bahwa Panglima Jayin dan empat orang pembantunya juga melawan dengan gagah berani, juga Siang Hwa dan Siang In membantu sekuat tenaga mereka, sungguh pun keadaan mereka amat repot karena dikepung dan dikeroyok.

“Awas pinggir rakit!” Kian Bu berteriak.

Cepat kakinya menendang kepala seorang musuh yang tahu-tahu muncul di pinggir rakit. Kiranya sekarang mereka telah mengirim beberapa orang untuk menyelam dan agaknya ingin menggulingkan rakit! Akan tetapi Panglima Jayin dan para pembantunya juga sudah siap menjaga keselamatan rakit mereka yang mulai bergoyang-goyang.

“Auuhhh…!” Salah seorang di antara pembantu Panglima Jayin mengeluh dan tubuhnya terjungkal ke dalam air sungai karena perutnya telah terkena sebatang senjata rahasia paku beracun yang dilepas oleh Si Petani Maut.

“Awas senjata rahasia!” Kian Bu berteriak lagi dan dia sudah menghadapi serangan paling dahsyat di pinggir rakit.

Berkat amukan Kian Bu yang amat tangguh, Si Petani Maut Liauw Kui dan Sastrawan Yu Ci Pok yang tidak dapat langsung menyerang secara dekat itu kembali menyuruh para anak buahnya mundurkan rakit.

“Lepas anak panah…!” perintahnya.

Kembali anak-anak panah berluncuran menyerang ke perahu para pelarian itu. Kian Bu sibuk sendiri dan tidak mungkin dia harus melindungi seluruh rakit dari anak-anak panah itu. Panglima Jayin dan anak buahnya juga sudah memutar golok mereka menangkisi anak-anak panah yang datang menyambar ke arah mereka. Juga dua orang gadis itu harus berlompatan ke sana-sini menghindarkan diri. Akan tetapi tiba-tiba Siang Hwa mengeluh dan roboh di atas rakit.

“Cici…!” Siang In menubruk enci-nya dan alangkah kaget hatinya ketika dia mendapat kenyataan bahwa punggung enci-nya terluka hebat dan ketika dia mendekap enci-nya, Siang Hwa mengerang lirih.

“In-moi… kau… jaga dirimu… baik-baik…” Gadis ini mengerang lalu terkulai. Sebatang paku beracun yang dilepaskan oleh Petani Maut kembali telah memperoleh korban, memasuki punggung Siang Hwa dan tepat mengenai jantung sehingga gadis itu tewas seketika.

“Enci Siang Hwa…!” Siang In menjerit dan menangis sambil memeluk enci-nya yang sudah menjadi mayat.

Melihat ini, Kian Bu menjadi semakin gemas kepada See-thian Hoat-su, “Kakek yang menjemukan! Kau membantu kami ataukah membantu musuh?” teriaknya.

See-thian Hoat-su tertawa dan sekali kaki tangannya bergerak, enam orang yang dipermainkannya itu terlempar semua dari atas rakit, tenggelam dan hinggap di pinggir rakit para pelarian itu.

“Ehh, ohhh, kenapa menangis…? Kenapa dia?”

“Enci Siang Hwa… telah… tewas…!” Siang In menangis.

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Sudah enak-enak mati mengapa pula ditangisi? Apa kau ingin melihat enci-mu hidup lagi dan menderita seperti kita ini? Ohhhh, bocah tolol kau! Aku yang ingin sekali mampus sampai puluhan tahun tidak juga mampus, sekarang enci-mu sudah enak-enak mati, membikin aku iri saja, engkau malah menangis!”

Siang In tidak mempedulikan kata-kata yang aneh dan gila-gilaan dari kakek itu, terus memeluki mayat enci-nya dengan hati hancur dan dia tidak peduli lagi apakah dia terancam bahaya atau tidak, karena setelah enci-nya mati, dia amat ngeri dan takut menghadapi hidup seorang diri saja di dunia yang kejam ini. Enci-nya merupakan pengganti ayah bundanya, sekarang enci-nya telah mati, berarti bahwa dia akan hidup seorang diri saja di dunia yang penuh dengan kekerasan dan kesengsaraan ini.

Kakek See-thian Hoat-su, Kian Bu, Panglima Jayin dan pembantunya yang tinggal tiga orang itu masih melakukan perlawanan mati-matian karena para anak buah Tambolon masih terus mengepung mereka. Andai kata pertandingan itu terjadi di atas daratan, dengan adanya See-thian Hoat-su dan Suma Kian Bu, tentu sudah sejak tadi dua orang pengawal Tambolon beserta puluhan orang anak buahnya itu akan roboh semua dalam waktu singkat.

Akan tetapi pertempuran terjadi di atas sungai, di atas rakit dan dikepung dari jauh, dihujani anak panah dan senjata rahasia, maka tentu saja para pelarian itu makin lama makin repot. Rakit mereka telah berada di tengah sungai yang lebar itu, terlalu jauh dari tepi sehingga tidak mungkin lagi bagi mereka untuk mendarat. Para pengeroyok sudah mengepung mereka dan biar pun di antara para pengeroyok itu sudah sepuluh orang yang terjungkal ke dalam air, namun Liauw Kui dan Yu Ci Pok yang maklum akan kelemahan lawan di air, terus mengepung dan berusaha menggulingkan rakit itu dengan berbagai cara.

Sementara itu, langit di atas mereka berkumpul awan mendung yang menghitam tanpa diketahui oleh mereka yang sedang sibuk bertempur. Pada waktu itu Liauw Kui sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang dengan panah api! Dia merasa amat penasaran bahwa dengan banyak anak buah belum juga mereka dapat mengalahkan para pelarian itu, maka timbul keinginannya untuk menumpas musuh yang tidak bisa ditawan kembali itu.

Berhamburanlah anak panah berapi ke rakit itu dan See-thian Hoat-su berteriak-teriak marah. Akan tetapi kakek yang lihai ini bersama Suma Kian Bu repot menangkis panah-panah ini, demikian pula Jayin dan anak buahnya. Hanya Siang In yang tidak peduli akan itu semua, dan kalau tidak ada Kian Bu yang selalu melindunginya, tentu gadis ini akan menjadi korban panah berapi. Tetapi, walau pun mereka tidak atau belum terkena anak panah tetapi ada panah yang menancap di rakit mereka yang mulai terbakar!

Salah seorang anak buah Panglima Jayin cepat melepas jubahnya, membasahi jubah itu dengan air sungai kemudian dia cepat memadamkan api yang mulai membakar permukaan rakit dari bambu. Akan tetapi, karena sibuk dengan usaha ini, dia tidak dapat melindungi dirinya sendiri dan terdengar teriakan mengerikan ketika orang ini terkena anak panah yang menancap di lambungnya! Orang Bhutan ini terjungkal dan jatuh ke dalam air sungai.

Pada saat itu tiba-tiba turun hujan dengan derasnya seperti dituang dari langit, dibarengi dengan angin yang kencang. Amukan hujan dan angin ini sekaligus membubarkan pertempuran, karena selain hujan yang amat deras membuat cuaca menjadi gelap sekali dan membuat mereka sukar membuka mata, juga angin ribut membuat air sungai mulai bergelombang yang makin lama makin dahsyat.

Beberapa kali Siang In menjerit karena hampir dia tak dapat menahan mayat kakaknya yang akan terlempar keluar karena rakit itu mulai berguncang dan miring ke kanan kiri. Semua orang harus berpegangan kuat-kuat pada pinggiran rakit agar tidak terlempar keluar. Ternyata hujan sejak tadi sudah turun di hulu Sungai Yi-tung dan kini air mulai membanjir datang, menciptakan arus yang amat kuat sehingga rakit-rakit itu hanyut dan terputar-putar tanpa dapat dikendalikan lagi.

Rakit yang membawa para pelarian itu pun hanyut terseret arus, berputaran. Kian Bu mendengar Siang In menjerit dan menangis karena jenazah enci-nya tidak dapat dipertahankannya lagi. Rakit itu hampir jungkir-balik dan dia hampir saja terbawa air kalau saja dia tidak cepat-cepat memegang pinggiran rakit. Dan karena menyelamatkan diri sendiri ini, dia melepaskan mayat enci-nya yang tahu-tahu telah lenyap disambar air.

“Enci…!” Dara itu menjerit dan dengan nekat dia hendak menyusul mayat enci-nya. “In-moi, jangan…!”
Di antara deras air hujan yang membuat orang sukar membuka mata, Kian Bu melihat dara itu bangkit berdiri. Dia lalu meloncat dan berhasil mendorong kembali Siang In sehingga terlempar dan roboh di atas rakit, disambar lengannya oleh See-thian Hoat-su, namun Kian Bu sendiri tergelincir di pinggir rakit dan terseret oleh air yang mengganas.

“Bu-twako…!” Siang In menjerit akan tetapi Kian Bu telah lenyap ditelan air sungai yang menggelora itu. Siang In menjerit-jerit dan roboh pingsan di pelukan Kakek See-thian Hoat-su.

“In-moi… ah, In-moi…”

Kian Bu mengeluh, kepalanya terasa pening dan yang pertama kali teringat olehnya ketika dia siuman dari pingsannya adalah Siang In karena ketika dia terlempar ke air sungai dia sedang berusaha menolong gadis itu. Betapa pun kuatnya tubuh Kian Bu di dalam air yang mengamuk itu dia sama sekali tidak berdaya. Dia terseret oleh arus, dibuat terguling-guling, tenggelam-timbul, diangkat ke atas oleh gelombang, dihempas lagi ke bawah dan dia pingsan. Tubuhnya seperti tidak bernyawa lagi dipermainkan air Sungai Yi-tung yang mengamuk. Mungkin saja karena pingsan inilah maka nyawanya tertolong.

Andai kata dia tidak pingsan, tentu dia akan melawan maut dan justru perlawanan yang sia-sia itu membuat tubuhnya kaku dan mungkin akan remuk-remuk terbanting-banting seperti itu. Setelah pingsan tubuhnya menjadi lemas dan tidak pernah melawan saat dipermainkan air dan agaknya air sungai pun tidak bernafsu lagi menghadapi korban yang tidak mau melawan, seperti seekor kucing tidak bernafsu lagi mempermainkan seekor tikus yang sudah tidak dapat bergerak.

Akhirnya air menjadi bosan dengan tubuh manusia yang tak mampu bergerak lagi itu dan menyeretnya ke tepi, melontarkan ke pinggir sehingga separuh tubuhnya berada di atas tanah sedangkan dari pinggang ke bawah masih di dalam air.

“Siang In… kasihan kau…” Kembali dia mengeluh.

“Engkau juga kasihan, muda belia yang tampan…” Terdengar suara halus berada di dekatnya.
Kian Bu terkejut dan kesadarannya mulai kembali. Ketika dia merasa betapa kepalanya rebah di tempat yang lunak dan hangat, dia cepat membuka matanya dan terbelalak heran melihat sebuah wajah yang cantik sekali berada di atasnya. Wajah yang berkulit halus, dengan sepasang mata bening yang menatap mesra, dengan bibir yang merah tersenyum ramah. Dan dia ternyata rebah di atas rumput di tepi sungai, kepalanya rebah di atas pangkuan wanita berwajah cantik itu!

Tentu saja Kian Bu terkejut sekali dan cepat dia bangkit duduk dan membalikkan tubuh memandang. Wanita itu cantik bukan main dan ia mencium bau harum semerbak.

“Kau… kau siapakah…?” Kian Bu bertanya meragu karena dia seperti pernah melihat wanita ini.

Senyum di bibir merah itu makin melebar dan nampaklah deretan gigi putih bersih, kemudian, hanya sekilas pandang, nampak ujung lidah yang meruncing dan merah menjilat keluar di antara deretan gigi atas bawah, hanya sebentar saja akan tetapi mendatangkan penglihatan yang mengesankan.

“Namaku Hong Kui… she Lauw… aku melihat engkau rebah di tepi sungai, kukira sudah mati, lalu kutarik ke sini, ternyata engkau masih hidup. Sukurlah, Kongcu, sukur engkau masih hidup…” Suara wanita ini merdu dan seperti orang bernyanyi saja penuh dengan nada tinggi rendah dan kata-katanya diiringi gerak bibir mempesona dan kerling mata yang menyambar-nyambar.

Heran sekali, ketika melihat bibir yang bergerak-gerak dan mata mengerling tajam itu teringatlah Kian Bu kepada Siang In ketika dara itu berlagak meniru gerak-gerik wanita yang genit memikat. Wanita genit memikat! Tak salah lagi, dia inilah orangnya!

“Jadi… engkaukah ini…?” Dia meloncat berdiri.

Wanita itu memandang ke arah celananya yang basah kuyup dan menempel ketat di tubuhnya, sambil
tertawa. Kian Bu menunduk dan cepat dia menutupkan jubahnya yang juga basah kuyup di depan tubuhnya. Sialan! Celana yang basah kuyup itu membuat dia seperti telanjang saja.

“Engkau sudah mengenal aku, Kongcu?” wanita itu bertanya dan memandang penuh selidik.

“Bukankah engkau yang dicari-cari oleh Teng Siang In?” Kian Bu bertanya, diam-diam harus mengakui bahwa wanita yang sudah matang ini benar-benar cantik menarik dan mempunyai daya pikat yang amat kuat. “Bukankah engkau yang… eh, mencuri kitab dari dara itu?”

Wanita yang berpakaian mewah dan indah, dengan gelung rambutnya yang tinggi itu tersenyum lagi. Dia ini bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li. Seperti telah kita ketahui, setelah mendengar dari Siang In tentang obat anak naga di Telaga Sungari, wanita ini meninggalkan Siang In dan melanjutkan perjalanan hendak menuju ke telaga itu.

Tetapi dia terhalang oleh hujan angin dan terpaksa dia mencari tempat perlindungan dan berteduh di dalam sebuah bekas bangunan kuil tak jauh dari Sungai Yi-tung yang akan diseberangi. Setelah hujan berhenti, dia keluar dari tempat peneduhan itu dan secara kebetulan saja dia melihat Kian Bu terdampar di tepi sungai. Melihat seorang pemuda yang amat tampan dan muda itu terdampar seperti telah mati, dia merasa sayang sekali dan cepat menghampiri. Segera ditolongnya pemuda itu ketika dia mendapat kenyataan bahwa pemuda itu masih hidup.

“Ahh, agaknya Adik Siang In telah bercerita kepadamu tentang kitab itu? Ahh, Kongcu, kitab itu hanya kupinjam saja dan sekarang telah kukembalikan. Apakah dia tidak bercerita kepadamu betapa aku telah menolong dan menyelamatkannya dari tangan Tambolon? Akulah yang mengajaknya lari sebelum dia menjadi korban kejahatan Tambolon dan mengantarnya sampai dia selamat dari kejaran mereka.”

Kian Bu lalu duduk kembali dan wanita itu membuat api unggun. Sampai lama mereka tidak bicara, dan wanita itu sering mengerling dan tersenyum kepadanya, sedangkan semua gerak-geriknya ketika membuat api unggun, ketika melangkah dan melenggang, semua penuh daya pikat dan seluruh bagian tubuh wanita itu seperti hidup sendiri-sendiri, bergerak dengan penuh keindahan, dari gerak matanya, sampai ke ujung jari tangannya, pinggungnya, kakinya, bibirnya.

“Agaknya engkau telah menolong aku pula, Toanio…”

“Aihhh, jangan kau menyebut aku Toanio, Kongcu…,” wanita itu cepat memutar tubuh, mencela akan tetapi sambil tertawa. “Setelah kita bertemu di sini dan kebetulan aku menarikmu dari air, bukankah kita telah menjadi sahabat?”

“Engkau juga menyebut aku Kongcu (Tuan Muda)…”

“Hi-hik, engkau sungkan benar…, biarlah kau menyebut aku… enci, karena aku memang lebih tua darimu dan kau… eh, siapa sih namamu?”

“Aku Kian Bu, Suma Kian Bu.”

“Namamu gagah, seperti orangnya. Nah, Kian Bu, bukankah kini kita sudah bersahabat dan lebih akrab kalau aku menyebut namamu saja dan kau menyebut enci kepadaku seolah-olah kita ini dua orang bersahabat atau bersaudara?”

“Terima kasih… Enci Hong Kui, engkau baik sekali.”

Wanita itu kembali tersenyum dan membesarkan api unggun. “Kau duduklah dekat api, biar tubuhmu hangat dan pakaianmu kering.”

“Aku harus segera pergi mencari yang lain-lain, Enci. Mungkin mereka pun terdampar dan selamat seperti aku.”

“Ehh, yang lain-lain siapakah?”

Mereka berdua duduk berdampingan di atas rumput, dekat api unggun. Malam itu gelap dan dingin, tetapi api unggun itu hangat. Kian Bu lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia bersama Siang Hwa, Kakek See-thian Hoat-su dan lima orang Bhutan melarikan diri dari sarang gerombolan Tambolon. Kemudian setelah berhasil membawa pula Siang In yang muncul di tepi sungai, mereka dikepung oleh anak buah Tambolon dan dikeroyok, akhirnya sampai hujan angin menyerang mereka semua.

“Aku tidak tahu bagaimana dengan nasib mereka karena aku terlempar keluar dari rakit dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku harus segera mencari Siang In. Kasihan sekali gadis itu, sudah kehilangan enci-nya yang tewas di atas rakit, kemudian dia sendiri masih terancam bahaya maut. Mudah-mudahan saja dia masih hidup dan selamat, dan aku harus mencarinya sekarang juga, Enci Hong Kui.”

Akan tetapi Mauw Siauw Mo-li menggeleng kepalanya. “Tidak akan ada gunanya, Kian Bu. Malam amat gelap, langit masih diliputi mendung dan tidak mungkin kita dapat mencari dia di tempat gelap begini. Kita menanti sampai besok dan aku pasti akan membantumu mencari dia. Sekarang, mari kau makan dulu, aku membawa bekal roti dan arak.”

Kian Bu bangkit berdiri dan memandang ke arah sungai. Air masih penuh sungguh pun gelombang tidak mengamuk seperti tadi, akan tetapi keadaannya gelap benar sehingga memang tidak mungkin untuk mencari Siang In di sepanjang tepi sungai itu. Dia menarik napas panjang dan duduk kembali, sementara wanita itu mengeluarkan bungkusan roti dan seguci arak. Makanan itu dibelinya dari warung di dusun yang dilewatinya tadi dan dibawa sebagai bekal.

“Sungguh kasihan sekali Siang In…” Kian Bu berkata ketika dia sudah kembali duduk dan membayangkan keadaan dara yang lincah jenaka itu.

“Eh…, apamukah dia itu? Sahabat baikmu? Pacarmu?”

Wajah pemuda itu menjadi merah sekali mendengar pertanyaan terakhir itu, pertanyaan yang diajukan dengan suara biasa saja.

“Oh, bukan! Kami hanya teman-teman seperjalanan yang beberapa hari yang lalu saling berjumpa dalam hutan.”

“Ah, kukira pacar atau… calon isteri.”

“Hemmm, aku masih belum bertunangan,” Kian Bu menjawab cepat untuk menyetop percakapan mengenai hal itu

Wanita itu memandangnya dengan kerling tajam dan senyumnya melebar, manis sekali. Wajahnya kelihatan kemerah-merahan di bawah sinar api unggun. “Kian Bu, engkau makanlah. Roti ini kubeli di dusun tadi, masih lunak. Marilah!”

“Terima kasih.”

Kian Bu menerima roti dan bersama Mauw Siauw Mo-li yang mengaku bernama Lauw Hong Kui, nama kecilnya yang jarang dikenal orang itu, dia makan roti karena memang perutnya terasa lapar sekali. Teringat olehnya betapa dia bersama Siang In sudah sejak ditawan tidak makan apa-apa dan perutnya menerima roti dengan hangat.

Melihat Kian Bu menelan roti agak seret, Mauw Siauw Mo-li tersenyum mengulurkan tangannya yang memegang guci arak. “Minumlah… arak ini pun arak baik, manis dan tidak begitu keras.”

“Mana cawan atau mangkoknya?” Kian Bu menerima guci.

“Ih, membawa cawan di perjalanan berabe saja dan di tempat ini mana ada mangkok? Kau minum saja dari guci itu.”

“Tapi… tapi… ini guci arakmu dan…”

“Aih, Kian Bu, mengapa engkau banyak sungkan? Minum begitu saja mengapa sih?” “Habis, bagaimana engkau nanti kalau hendak minum?”

“Bagaimana? Ya biasa saja, dari guci.”

“Kalau begitu, kau minumlah dulu!” Kian Bu mengembalikan guci arak, merasa sungkan kalau harus mendahului. Untuk minum dari guci, berarti bahwa mulut guci akan beradu dengan mulutnya.

“Hi-hi-hik, engkau seperti anak kecil saja.” Mauw Siauw Mo-li diam-diam merasa girang sekali dan makin tergila-gila kepada pemuda remaja yang tampan dan sopan ini. Dia membuka tutup guci, mencucup mulut guci dan mereguk sedikit arak, lalu menyerahkan guci itu kepada Kian Bu. “Nah, giliranmu minum!”

Karena memang roti itu sebagian berhenti di kerongkongannya, Kian Bu menerima guci arak dan mereguk araknya, langsung dari mulut guci masuk ke mulutnya. Setelah dia menurunkan guci itu, Mauw Siauw Mo-li mengambil dari tangannya dan tanpa ragu-ragu wanita itu minum lagi. Kian Bu melihat betapa sepasang bibir yang berkulit tipis itu mengulum mulut guci dan betapa leher yang panjang itu bergerak-gerak ketika arak memasukinya. Cepat Kian Bu menunduk karena penglihatan itu terlalu mendebarkan jantungnya, entah mengapa dia sendiri pun tidak mengerti.

Baru saja mereka selesai makan roti dan minum arak, pada waktu Kian Bu duduk membelakangi api untuk mengeringkan pakaiannya di bagian punggung, tiba-tiba dia mendengar gerakan orang dan dia bersikap waspada sungguh pun masih kelihatan tenang saja. Dia tahu bahwa ada gerakan beberapa orang mendekat tempat itu dari arah daratan yang penuh pohon-pohon.

Mula-mula dengan penuh harapan, timbul dugaannya bahwa itu adalah Siang In dan teman-teman lain, akan tetapi dia tahu bahwa harapannya itu sia-sia karena kalau Siang In, tentu sudah berseru memanggilnya, pula kalau mereka itu teman-teman, tentu tidak berindap-indap seperti kelakuan orang- orang yang mempunyai niat buruk.

“Ssssttt, kau mendekatlah ke sini. Ada orang-orang yang datang…” Mauw Siauw Mo-li berbisik.

Tahulah Kian Bu bahwa wanita ini juga memiliki pendengaran yang amat tajam. Dan wanita ini kelihatan tenang saja, bahkan kini menambah kayu kering pada api unggun sehingga keadaan di situ menjadi cukup terang.

“Kau mendekatlah agar aku dapat melindungimu, Kian Bu. Mereka itu tentu orang-orang yang berniat buruk…”

Kian Bu menurut dan dia mendekati wanita itu. Mereka masih duduk dekat api unggun ketika orang-orang itu telah datang mengurung dan dari sudut matanya Kian Bu melihat bahwa mereka itu adalah dua orang pembantu Tambolon bersama sepuluh orang anak buah mereka. Dia bersikap waspada karena maklum bahwa dua orang pembantu raja liar itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga. Munculnya dua orang pengejar ini mendatangkan dua macam perasaan di hati Kian Bu. Dengan masih berkeliarannya mereka itu di sini, berarti bahwa mereka belum dapat menawan kembali Siang In dan yang lain-lain, akan tetapi juga menimbulkan keraguan apakah mereka semua yang menjadi pelarian itu dapat menyelamatkan diri dari sungai yang mengganas.

Yang datang itu memang benar adalah sisa-sisa anak buah Tambolon yang berhasil menyelamatkan diri dari amukan badai di Sungai Yi-tung, dipimpin oleh Liauw Kui Si Petani Maut dan Yu Ci Pok Si Siucai Maut. Mereka tidak berhasil menemukan para pelarian itu dan melihat api unggun dari jauh, mereka lalu berindap-indap datang ke tempat itu. Marah hati mereka ketika mengenal Kian Bu sebagai seorang di antara para pelarian itu, dan dua orang pembantu Tambolon ini mengenal pula Mauw Siauw Mo-li, karena ketika Siluman Kucing ini dahulu bersama Hek-tiauw Lo-mo memimpin pasukan pemberontak menumpas pasukan Tambolon di Koan-bun, mereka berdua langsung berhadapan dengan wanita ini dan suheng-nya yang lihai.

“Hemm, kiranya engkau pula yang berada di sini, Siauw Mo-li!” Liauw Kui berkata marah sambil melintangkan batang pikulannya di depan dada. “Sudah beberapa kali engkau sengaja merintangi jalan kami. Sesudah penyerbuan di Koan-bun, engkau melarikan pengantin raja kami, kemudian sekarang engkau di sini bersama seorang buruan kami. Berikan dia kepada kami.”

Mauw Siauw Mo-li tersenyum. “Kalian orang-orang liar kaki tangan Tambolon, lebih baik lekas pergi dari sini, jangan mengganggu aku kalau kalian belum bosan hidup.” Dengan sikap tenang seenaknya Lauw Hong Kui, wanita cantik yang kesenangannya merasa terganggu itu berkata sambil mengorek api unggun sehingga nyalanya menjadi makin besar.

“Perempuan sombong! Kau kira aku takut kepadamu?” Liauw Kui membentak marah sekali.

“Hi-hik, engkau sudah bosan hidup!” Mauw Siauw Mo-li tertawa lalu berbisik kepada Kian Bu, “Engkau tunggu sebentar, aku akan menghajar tikus-tikus busuk ini!”

Kian Bu mengangguk dan memandang dengan terheran-heran. Tak disangkanya sama sekali bahwa wanita cantik jelita yang telah menolongnya ini, yang mempunyai nama indah, yaitu Lauw Hong Kui, kiranya adalah Mauw Siauw Mo-li, Si Siluman Kucing yang telah dia dengar namanya dari kakaknya itu. Kiranya ini adalah sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo yang lihai!

Heran sekali dia mengapa seorang iblis seperti Hek-tiauw Lo-mo memiliki seorang sumoi sehebat ini dan sama sekali tidak disangkanya bahwa wanita yang berjuluk Mauw Siauw Mo-li yang dikabarkan seperti iblis betina itu ternyata adalah seorang wanita yang begitu cantik. Dan wanita ini ternyata tidak membohong ketika mengatakan bahwa dia menyelamatkan Siang In dari tangan Tambolon, karena menurut ucapan Liauw Kui yang marah tadi agaknya memang demikian. Kini Kian Bu duduk di dekat api unggun dan menonton dengan hati tertarik. Lauw Hong Kui tidak tahu bahwa dia memiliki kepandaian maka dia pun tidak akan turun tangan kalau tidak perlu sekali, sungguh pun dia telah siap karena maklum betapa lihainya dua orang pembunuh utama Tambolon.

“Mampuslah…!”

Tiba-tiba tangan Mauw Siauw Mo-li bergerak dan dia telah melontarkan sebatang ranting yang ujungnya bernyala ke arah Petani Maut. Ranting yang ujungnya terbakar itu meluncur seperti anak panah cepatnya, menyambar ke arah dada pembantu utama Tambolon itu. Liauw Kui mendengus marah, batang pikulannya bergerak menangkis dan ranting itu meluncur ke kiri. Terdengar pekik mengerikan dan seorang di antara anak buah pasukan Tambolon itu roboh dengan perut tertembus ranting tadi yang kini menjadi padam.

Siauw Mo-li tertawa dan Liauw Kui menjadi marah bukan main. Tak disangkanya bahwa lontaran ranting itu sedemikian kuatnya sehingga biar pun telah dapat ditangkis, namun masih dapat membunuh seorang anak buahnya.

Lauw Hong Kui sudah meloncat berdiri dan tangan kanannya meraba punggung. Sinar kehijauan nampak di antara cahaya api ketika wanita ini sudah mencabut pedangnya. Melihat ini Liauw Kui sudah berteriak keras dan menerjang maju, sambil menggerakkan senjatanya yang istimewa, yaitu batang pikulannya.

“Singgg… wirrr…!”

Pikulan itu berubah menjadi sinar bergulung ketika menyambar ke arah Siauw Mo-li. Namun wanita ini tidak menjadi gentar, cepat mengelak dan menggerakkan pedangnya untuk balas menyerang.

“Tring-tring-tringgg…!”

Berkali-kali kedua senjata bertemu dan bunga api berhamburan. Keduanya merasa betapa tangan mereka yang memegang senjata tergetar, maka dengan kaget mereka melangkah mundur dan memeriksa senjata masing-masing. Setelah ternyata bahwa senjata mereka tidak menjadi rusak, mereka bergerak lagi saling menyerang dengan marah.

Kian Bu yang menonton pertempuran itu menjadi kagum. Ternyata bahwa Lauw Hong Kui selain cantik jelita dan memiliki daya tarik yang amat luar biasa, juga memiliki kepandaian tinggi, ilmu pedangnya indah dan lihai sehingga kalau saja pembantu utama Tambolon itu bukan seorang yang berilmu, tentu tidak akan kuat bertahan menghadapi gerakan pedang yang cepat dan aneh itu. Mereka ternyata seimbang karena senjata batang pikulan itu pun luar biasa, berputar seperti kitiran dan mengandung kekuatan yang dahsyat. Kian Bu mengerti bahwa dalam hal tenaga, Petani Maut itu lebih kuat dibandingkan dengan Siauw Mo-li, akan tetapi jelas bahwa wanita itu lebih cepat gerakannya, lebih lincah dan ringan sehingga mengandalkan kelincahannya ini, Siauw Mo-li dapat mengimbangi desakan lawan.

Betapa pun juga, Kian Bu maklum bahwa kalau dilanjutkan, besar kemungkinan wanita itu akan dapat merobohkan lawannya, meski pun akan tidak mudah baginya melakukan hal itu. Maka dia hanya menonton saja dan waspada terhadap gerak-gerik Si Siucai Maut dan anak buahnya yang juga menonton dengan penuh perhatian.

Melihat betapa setelah lewat lima puluh jurus temannya belum juga dapat mengalahkan wanita itu, bahkan kini gulungan sinar pedang kehijauan itu menjadi makin lebar dan makin menghimpit, Yu Ci Pok menjadi tidak sabar.

“Iblis betina banyak tingkah!” teriaknya.

Dia sudah menerjang maju dengan sepasang poan-koan-pit di tangannya melakukan gerakan cepat menotok secara bertubi-tubi di tujuh belas jalan darah depan tubuh wanita lihai itu.

“Cring-cring-cring-tranggg…!”

Siauw Mo-li terhuyung ke belakang karena dia harus menghadapi serangan batang pikulan dan sepasang poan-koan-pit yang amat lihai itu.

Melihat dua orang itu sudah menerjangnya lagi dan sembilan orang anak buahnya itu sudah makin mendekat, Mauw Siauw Mo-li tiba-tiba mengeluarkan suara ketawa diikuti suara aneh seperti seekor kucing, tangan kirinya bergerak melemparkan sesuatu ke arah gerombolan itu, tangan kanan memutar pedang mendesak dua orang lawan yang sudah menyerangnya lagi sambil berteriak, “Kian Bu, tiarap…!”

Terdengar bunyi ledakan keras. Empat orang anak buah Tambolon roboh sedangkan yang lima orang lagi cepat berlarian cerai-berai. Akan tetapi, Mauw Siauw Mo-li sendiri terdesak hebat oleh Liauw Kui dan Yu Ci Pok. Sebuah totokan yang sangat cepat menyerempet lututnya, membuat wanita ini terhuyung dan pada saat itu, batang pikulan Liauw Kui datang menghantam punggungnya yang biar pun sudah ditangkisnya dengan pedang, tetap saja masih membuat dia terjengkang dan roboh ke atas tanah. Kini dua orang pembantu Tambolon itu sudah menubruk ke depan dengan senjata mereka.

“Wuuuttt… desss!”

Dua orang itu berseru kaget dan terhuyung ke belakang, karena ada tenaga dahsyat dan berhawa dingin sekali melanda mereka dari depan. Itulah dorongan pukulan yang mengandung hawa sakti Swat-im Sinkang dari Kian Bu. Pemuda ini tentu saja tidak mau membiarkan wanita cantik yang sudah menolongnya itu tewas di tangan musuh begitu saja, maka dia sudah meloncat ke depan dan melakukan pukulan jarak jauh tadi.

“Enci Hong Kui… apakah engkau tidak apa-apa? Tidak terluka…?” kata Kian Bu sambil menghampiri wanita yang masih terduduk di atas tanah itu dan yang kini memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar penuh keheranan.

“Kian Bu, awas…!” Tiba-tiba Mauw Siauw Mo-li berseru keras.

Akan tetapi dengan tenang saja Kian Bu membalikkan tubuhnya dan menggerakkan kedua tangan. Tentu saja tanpa diperingatkan pun dia telah tahu bahwa dia diserang dari belakang oleh dua orang itu.

“Plak-plak-bresss…!”

Liauw Kui dan Yu Ci Pok kembali terhuyung ke belakang ketika penyerangan mereka disambut tangkisan dan tamparan kedua tangan Kian Bu yang mengandung tenaga dahsyat itu, kini tidak lagi mengandung hawa dingin, melainkan hawa panas karena pemuda itu telah mengerahkan tenaga sakti Hwi-yang Sinkang. Batang pikulan Liauw Kui yang tertangkis membalik dan hampir menghantam kepalanya sendiri, sedangkan Yu Ci Pok tertampar tangan Kian Bu yang panas, tepat mengenai lengannya, membuat dia merasa lengannya seperti lumpuh dan panas terbakar.

Pada saat itu, Lauw Hong Kui sudah melemparkan dua buah benda bundar lagi ke arah musuh.

“Awas peledak…!” Si Petani Maut berteriak dan bersama Yu Ci Pok dan anak buahnya dia meloncat jauh.

Tetapi tetap saja ada dua orang anak buahnya lagi yang roboh terguling dan maklum bahwa mereka tidak akan mampu melawan pemuda lihai dan wanita berbahaya itu, Liauw Kui dan Yu Ci Pok lalu melarikan diri, menghilang di kegelapan malam diikuti anak buah mereka yang tinggal empat orang itu. Kian Bu tidak mengejar, hanya berdiri tegak memandang ke arah mereka itu melarikan diri.

Tiba-tiba Kian Bu menunduk dan dia melihat wanita itu sudah berlutut di dekatnya, memegang tangan kanannya lalu menciumi tangannya itu.

“Eh, engkau kenapa, Enci?” tanyanya, akan tetapi tidak dapat menarik tangannya yang digenggam erat- erat dan dibelai oleh wanita itu.

“Kian Bu… kau… tak kusangka… aihhh, engkau hebat sekali! Kiranya engkau seorang pemuda yang sakti, sungguh mati aku tidak menyangkanya… kau hebat, aku kagum sekali padamu…”

“Ah, sudahlah, engkau pun lihai sekali, Enci Hong Kui.”

Wanita itu bangkit berdiri, masih memegangi lengan Kian Bu, dan dibawah sinar api unggun dia melihat betapa muka wanita itu kemerahan, matanya yang indah itu agak terpejam, menyipit dan sayu menatapnya. Jari-jari tangan wanita itu lalu merayap dari lengannya, ke atas, membelai dadanya, pundaknya, lehernya dan mengelus pipinya, bibirnya tersenyum, agak terbuka, agak terengah. Teringat olehnya akan Siang In yang pernah meniru lagak wanita genit memikat, wanita ini yang dimaksudkan oleh dara itu dan kini dia menghadapi sendiri gaya Mauw Siauw Mo-li yang amat memikat itu.

Berdebar rasa jantungnya, dan dia cepat menarik diri dengan halus sambil berkata, “Kiranya engkau adalah Mauw Siauw Mo-li… sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo?”

Siauw Mo-li tersenyum, tidak mendesak dengan rayuannya karena dia maklum bahwa pemuda ini adalah orang yang memiliki kepandaian hebat sekali, tidak boleh dipandang ringan. Hati wanita ini sudah terpikat. Baru sekali ini selama hidupnya dia benar-benar jatuh cinta kepada seorang pria. Biasanya dia menganggap pria hanya sebagai barang permainannya, untuk menyenangkan hatinya, untuk memuaskan nafsu birahinya. Entah sudah berapa banyaknya pria yang dibunuhnya setelah dia puas mempermainkannya, kemudian menjadi bosan dan membunuhnya. Biasanya, kaum prialah yang tergila- gila kepadanya. Akan tetapi sekarang, Mauw Siauw Mo-li yang tergila-gila kepada Kian Bu, setelah dia melihat betapa pemuda yang tampan gagah ini ternyata amat lihai, memiliki kepandaian yang agaknya lebih tinggi dari pada kepandainnya sendiri.

“Aku benci sekali kepada julukan itu, Kian Bu. Julukan yang diberikan oleh mereka yang tak suka kepadaku. Aku benci sekali, apa lagi kalau engkau yang menyebutnya. Bagimu aku adalah Lauw Mong Kui, wanita biasa saja…”

Kian Bu tersenyum. “Enci Hong Kui, biar pun engkau mengaku seorang wanita biasa saja, kenyataannya engkau adalah seorang wanita yang luar biasa. Engkau cantik jelita, berkepandaian tinggi, sumoi dari Ketua Pulau Neraka…”

Akan tetapi wanita itu sudah tidak mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Kian Bu. Demikian girang hatinya mendengar pujian bahwa dia cantik jelita. “Benarkah, Kian Bu? Benarkah engkau berpendapat bahwa aku cantik jelita?”

“Engkau memang cantik dan genit memikat…” Kian Bu kembali teringat kepada Siang In. “Dan biar pun engkau sumoi Hek-tiauw Lo-mo, ternyata engkau baik, telah menolong Siang In, dan juga telah menolongku. Akan tetapi sekarang aku harus pergi, Enci Hong Kui. Aku harus mencari Siang In…”

Kian Bu telah memutar tubuhnya hendak pergi dan merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak baik kalau dia terus berdekatan dengar wanita ini, yang membuat jantungnya berdebar aneh. Wanita ini memiliki daya tarik yang amat luar biasa. Tadi ketika jari-jari tangan wanita itu menjelajahi tubuhnya, seperti ular- ular merayap, bulu tengkuknya meremang, akan tetapi di samping kengerian ini dia pun merasakan sesuatu yang aneh, nikmat dan membangkitkan keinginan tahunya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo