September 16, 2017

Kisah Sepasang Rajawali Part 17

 

“Kalau begitu, aku akan segera menyusul ke kota raja, Suheng!” Kian Lee berkata. “Harap Gak-suheng suka menemani aku ke sana.”

“Hemm… aku tidak mempunyai kepentingan di kota raja, Sute.” Bun Beng menjawab karena di dalam hatinya dia sungkan, bahkan takut untuk bertemu dengan Milana dan Syanti Dewi, maklum akan kelemahan hati sendiri.

Jenderal Kao Liang memandang tajam dan berkata, suaranya biasa saja akan tetapi pandang matanya bicara banyak. “Gak-taihiap, sebelum berangkat Puteri Milana telah meninggalkan pesan kepada saya untuk menyampaikan kepada Taihiap bahwa beliau ingin membicarakan suatu hal penting dengan Taihiap setelah urusan negara selesai. Hanya itulah pesan beliau.”

“Jikalau begitu, sebaiknya kita berangkat berdua, Suheng. Apakah Suheng tidak ingin bertanya kepada Ang Tek Hoat yang ditawan itu, kenapa pula dia menggunakan nama Suheng untuk melakukan kejahatan? Lagi pula, apakah Suheng tidak ingin mengurus tentang Adik Syanti Dewi?”

Bun Beng tidak dapat mengelak lagi. Terpaksa dia memenuhi permintaan Kian Lee dan setelah bermalam di Teng-bun pada keesokan harinya mereka berangkat meninggalkan Teng-bun, naik kuda pilihan yang disediakan oleh Jenderal Kao Liang untuk mereka.

********************

Ang Tek Hoat rebah terlentang di atas pembaringan. Mukanya pucat sekali dan napasnya empas-empis. Semenjak dia dibawa dari Teng-bun sampai ke kota raja, dia terus pingsan, tak sadarkan diri dan keadaannya makin memburuk. Ramuan obat yang diminumkan kepadanya oleh tabib-tabib tentara tidak menolong sama sekali. Akhirnya Puteri Milana yang mendengar akan keadaan tawanan ini, lalu menyuruh pengawal membawa pemuda yang menderita luka-luka pukulan beracun itu ke istananya.

Puteri Milana bersama suaminya, Han Wi Kong, yang ketika bala tentara menyerbu ke utara juga ikut memimpin pasukan penyerbu ke Teng-bun, diikuti pula oleh Suma Kian Bu dan Puteri Syanti Dewi telah menghadap Kaisar. Kaisar menerima mereka dengan girang sekali, terutama mendengar laporan bahwa pemberontak di utara telah dibasmi dan bahwa dara jelita itu adalah Puteri Syanti Dewi dari Bhutan yang ternyata dapat diselamatkan.

Ketika mendengar laporan Puteri Milana tentang Pangeran Liong Khi Ong yang tewas sebagai pimpinan pemberontak, Kaisar hanya menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Akan tetapi ketika Puteri Milana melapor bahwa Pangeran Liong Bin Ong berada di balik pemberontakan itu, Kaisar mengerutkan keningnya dan berkata, “Liong Bin Ong tidak pernah meninggalkan Istananya di kota raja. Untuk menentukan salah tidaknya, harus dilakukan pemeriksaan dan penelitian lebih dulu, jangan sampai aib menimpa kerajaan.”

Kemudian Kaisar menahan Syanti Dewi sebagai tamu Istana untuk menghormat Raja Bhutan dan untuk memperlihatkan iktikad baik kerajaan terhadap Kerajaan Bhutan, dan minta kepada Puteri Milana untuk menanti keputusannya tentang Pangeran Liong Bin Ong, dan juga tentang diri Puteri Syanti Dewi yang kini gagal menjadi mantu Kaisar karena matinya Liong Khi Ong itu.

Berat hati Milana terutama hati Kian Bu, meninggalkan Syanti Dewi di Istana Kaisar. Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani membantah, apa lagi karena Puteri Bhutan itu diberi kebebasan untuk saling berkunjung dengan Puteri Milana setiap saat pun.

Demikianlah, ketika Ang Tek Hoat sudah diangkut ke istana Puteri Milana, puteri ini dan Kian Bu memeriksa keadaannya. “Enci, kiranya hanya ada satu jalan untuk mencoba menolongnya. Dia terpukul oleh pukulan beracun yang hebat. Bagaimana kalau kita berdua membantunya?”

Milana mengangguk. “Memang itulah yang ingin kulakukan. Dia telah berjasa besar dan untuk jasanya itu sudah cukup menjadi alasan bagi kita untuk menolongnya.”

Han Wi Kong yang juga berada di situ berkata, “Memang tepat sekali pendapat itu. Belum tentu orang yang sekali berbuat dosa, lalu selama hidupnya menjadi orang berdosa. Apa lagi dia masih amat muda.”

Bekas panglima yang gagah ini selalu bermuram durja semenjak dia kembali dari penyerbuan di utara. Biar pun dia tidak menyaksikan serdiri, tetapi dia mendengar akan pertemuan antara isterinya, Puteri Milana dengan Gak Bun Beng, dan merasa berduka sekali karena merasa dialah yang menjadi penghalang bagi kebahagiaan isterinya.

Memang cinta kasih mengambil jalan yang aneh-aneh. Han Wi Kong dahulu adalah seorang panglima muda yang gagah perkasa, yang terpaksa dipilih oleh Puteri Milana karena desakan Kaisar agar cucu ini menikah. Han Wi Kong dipilih di antara banyak calon karena selain gagah perkasa, juga sifat lemah-lembut dan penuh pengertian dari panglima ini menimbulkan kepercayaan di dalam hati Milana.

Memang tadinya Han Wi Kong pun tertarik sekali dan laki-laki manakah yang tidak akan tergila-gila kepada seorang puteri seperti Milana? Akan tetapi, setelah menikah Han Wi Kong betul-betul jatuh cinta kepada isterinya, cinta yang suci murni dan hanya satu keinginan di hatinya, yaitu melihat Milana hidup bahagia.

Oleh karena itu, dia mau menerima kenyataan bahwa Milana tidak cinta kepadanya, bahkan kenyataan pahit bahwa Milana mau menikah dengan dia hanya karena hendak memenuhi perintah Kaisar. Karena cintanya yang murni, yang jauh lebih kuat dari pada nafsu birahi, Han Wi Kong menekan penderitaan batinnya, dia rela menderita batin dan tidak pernah menuntut haknya sebagai seorang suami!

Justru sikap Han Wi Kong inilah yang membuat Milana terharu dan selalu berusaha agar terlihat di depan umum mereka merupakan suami isteri yang rukun. Dia berusaha menyenangkan hati suaminya dengan cara yang lain, sungguh pun dia maklum bahwa semua itu tentu tidak dapat mengobati kesengsaraan batin suaminya.

Han Wi Kong telah mendengar pengakuan Milana tentang cinta kasih yang gagal dari isterinya itu, tentang Gak Bun Beng yang semenjak pernikahan mereka itu tidak pernah terdengar lagi namanya, seolah-olah pendekar itu telah lenyap ditelan bumi. Hatinya mulai merasa lega karena dia ingin sekali melihat Milana dapat melupakan kekasihnya itu, dan kalau Gak Bun Beng telah meninggal dunia atau lenyap, dia percaya lambat laun kedukaan hati isterinya itu akan sembuh. Dia sama sekali bukan mengharapkan agar isterinya akan dapat membalas cintanya, hal ini sudah tidak menjadi jangkauan harapannya lagi. Dia melainkan ingin melihat isterinya bahagia.

Maka dapat dibayangkan betapa duka rasa hatinya mendengar bahwa Gak Bun Beng muncul kembali dan sejak pendekar ini muncul di kota raja, isterinya selalu gelisah dan merana. Bahkan secara halus namun terus terang Milana telah menyatakan kepadanya sejak Milana melihat Bun Beng di kota raja, bahwa Milana akan pergi mencari Bun Beng sampai dapat bertemu setelah urusan pemberontak dapat diselesaikan.

Kemudian dia mendengar akan pertemuan Bun Beng dengan Milana yang membuat isterinya pingsan dan sejak itu isterinya berwajah pucat dan sering termenung. Tentu saja dia merasa makin berduka dan diam- diam dia menaruh hati benci kepada Bun Beng, bukan membenci karena didasari iri atau cemburu, melainkan benci karena Bun Beng dianggapnya sebagai orang yang telah merusak kehidupan dan kebahagiaan Milana!

Demikianlah, dengan menahan perasaan gelisah karena melihat isterinya kehilangan kegembiraan hidupnya, Han Wi Kong ikut menyaksikan ketika Ang Tek Hoat dibawa ke istananya oleh isterinya. Dia pun dapat menerima pendapat isterinya tentang Ang Tek Hoat, apa lagi ketika isterinya menceritakan betapa pemuda bekas tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong ini mahir Ilmu Silat Pat-mo Sin-kun yang digabung dengan Pat-sian Sin-kun, padahal penggabungan ilmu ini adalah merupakan ilmu simpanan dan rahasia dari Puteri Nirahai!

“Kalau begitu, mari kita mencoba untuk menolongnya, Adik Bu. Kong-ko (Kanda Kong), harap kau suka menjaga di pintu, jangan sampai ada yang mengganggu kami karena hal itu bisa berbahaya.”

“Baik,” Han Wi Kong menjawab.

Dia sendiri pun seorang yang berkepandaian, dan walau pun sinkang-nya tidak sekuat isterinya atau Kian Bu sebagai anak-anak dari Pendekar Super Sakti, namun dia cukup maklum akan bahayanya gangguan orang luar terhadap orang-orang yang sedang mengerahkan sinkang untuk menyembuhkan orang lain. Dia mengambil sebuah bangku dan duduk di ambang pintu.

Puteri Milana dan Kian Bu lalu duduk di tepi pembaringan, bersila sambil meletakkan telapak tangan mereka di dada dan lambung Tek Hoat, mengumpulkan hawa murni dan mulailah mereka mengerahkan sinkang ke dalam tubuh pemuda yang terluka parah di sebelah dalam tubuhnya itu.

Dari ambang pintu Han Wi Kong duduk dan memandang penuh kagum. Isterinya dan Kian Bu adalah keturunan dari Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai dan betapa bahagianya dia dapat disebut sebagai suami dari puteri yang cantik jelita dan berilmu tinggi serta gagah perkasa ini. Seorang pahlawan wanita sejati.

Wajah Tek Hoat tadinya pucat sekali. Lewat satu jam setelah dua orang keturunan Pulau Es itu menyalurkan sinkang mereka, wajah Tek Hoat berubah, makin lama makin menghitam. Itulah tanda bahwa hawa beracun yang mengeram di dalam tubuh mulai dapat didesak naik dan keluar. Lewat tiga jam, warna hitam di muka Tek Hoat itu makin lama makin menipis, lalu berubah menjadi putih pucat lagi.

Han Wi Kong melihat betapa isterinya dan adik iparnya mulai berpeluh. Akan tetapi lewat lima jam, warna putih wajah Tek Hoat mulai menjadi merah dan pernapasannya mulai teratur. Akhirnya terdengar pemuda itu mengeluh dan membuka matanya. Mata itu melirik dan terbelalak seperti orang terkejut dan keheranan melihat dua orang itu yang sedang mengobatinya.

Cepat dia pun mengerahkan sinkang-nya untuk menolak sehingga kedua orang itu melepaskan tangan mereka lalu melompat turun dari pembaringan, menghapus keringat dari dahi dan leher. Milana memandang adiknya dengan senyum penuh kagum, karena ternyata bahwa pernapasan Kian Bu tidak begitu memburu seperti napasnya, hal ini menandakan bahwa dalam hal sinkang, adiknya itu sedikit lebih kuat dari pada dia!

“Engkau sudah sembuh sekarang,” katanya sambil memandang kepada Ang Tek Hoat.

Pemuda ini segera bangkit duduk, memejamkan mata sejenak karena ketika bangkit itu matanya berkunang dan kepalanya terasa pening, tubuhnya lemas sekali karena sudah berhari-hari dia tidak makan.

“Berbaringlah dulu, engkau masih lemah,” kata pula Milana.

Tetapi Tek Hoat tetap duduk di tepi pembaringan, lalu membuka mata lagi memandang kepada Milana, Kian Bu, dan Han Wi Kong yang sudah masuk ke kamar lagi bergantian.

“Pa… paduka… adalah Puteri Milana…!” katanya agak gagap dan bingung, karena apa yang dilihat dan dialaminya tadi terasa seperti dalam mimpi saja. “Dan kau… kau adalah seorang di antara dua pemuda perkasa itu, mata-mata pemerintah!”

Milana memandang dengan senyum dan Kian Bu memandang dengan tajam penuh selidik. Tidak seperti enci-nya, dia masih curiga kepada bekas pembantu pemberontak yang dia tahu amat lihai ini.

“Kenapa…? Kenapa Ji-wi (Anda Berdua) menolong dan mengobati saya?”

“Ang Tek Hoat, engkau telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong si pemberontak dan ketiga orang pengawalnya yang lihai untuk menyelamatkan Syanti Dewi. Hal itu saja cukup membuat kami berpendapat bahwa engkau bukanlah musuh lagi,” kata Milana.

“Enci-ku ini memang bermurah hati, akan tetapi kalau engkau masih berpendirian untuk menjadi pemberontak, sama sekali masih belum terlambat untuk menghukummu!” Kian Bu menyambung.

Akan tetapi Tek Hoat tidak begitu memperhatikan ucapan Kian Bu, dia menoleh ke kanan kiri, lalu bertanya, “Di mana dia? Sang Puteri Bhutan…?” Dia lalu memandang kepada Kian Bu dengan penuh selidik, karena dia teringat betapa puteri itu lari memeluk pemuda ini pada waktu itu.

“Dia telah selamat dan kini menjadi tamu agung dari Kaisar,” kata Milana.

Hening sejenak. Kemudian Tek Hoat bangkit berdiri dengan limbung, menjura kepada mereka bertiga dan berkata, “Saya Ang Tek Hoat bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Ji-wi telah menolong saya dan saya menghaturkan terima kasih. Saya tidak ingin mengganggu dan merepotkan lebih lama lagi dan sebaiknya kalau saya pergi…”

“Nanti dulu, engkau bisa celaka kalau pergi dalam keadaan seperti ini, Ang Tek Hoat. Tubuhmu masih lemas dan lemah.”

Tepat pada saat itu, seorang pengawal yang tadi diperintah oleh Han Wi Kong datang membawa baki terisi semangkok obat penguat dan bubur.

“Engkau minumlah obat ini dan makan bubur ini, baru kita bicara.”

Tek Hoat mengerutkan alisnya, akan tetapi dia maklum bahwa perutnya kosong dan tubuhnya lemah
sekali, mungkin dipakai berjalan pun akan terguling, maka dia hanya mengangguk, menerima mangkok obat dan bubur itu lalu minum dan menghabiskannya dengan cepat. Biar pun tidak berapa banyak, bubur itu menghangatkan perutnya dan tenaganya agak pulih kembali.

“Sekarang kita bicara, Ang Tek Hoat,” kata Milana setelah pengawal itu pergi. “Engkau berhadapan dengan Puteri Milana, dan ini suamiku Han Wi Kong, dan adikku Suma Kian Bu…”

“Ahhh, kiranya dia ini adik paduka? Jadi… jadi putera Pendekar Super Sakti?” Tek Hoat tahu bahwa Puteri Milana adalah anak dari Pendekar Super Sakti seperti yang pernah diceritakan oleh ibunya.

“Benar, dan agaknya sedikit banyak engkau tahu akan keluarga ayahku, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dari siapa engkau mengenal kami?”

“Dari ibu, akan tetapi sudahlah… saya merasa heran sekali akan tetapi juga berterima kasih kepada paduka yang tidak membunuh saya, malah menolong saya. Agaknya benar cerita ibu bahwa keluarga Pendekar Super Sakti terdiri dari orang-orang gagah dan budiman, sungguh tidak seperti kami…”

Melihat pemuda itu merendah dan hendak pergi, selalu memandang ke pintu seolah-olah tidak betah berada di situ terlalu lama, Milana dapat memaklumi isi hatinya. Pemuda ini jelas adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan kegagahan, hatinya keras dan memiliki harga diri yang tinggi. Namun entah bagaimana terjeblos ke dalam tangan para pemberontak sehingga kini pemuda ini merasa betapa dia kotor dan tidak berharga, merasa malu terhadap diri sendiri sehingga tidak betah berada di antara orang-orang yang dianggapnya gagah dan budiman!

“Ang Tek Hoat, terus terang saja, kami bukan orang-orang budiman dan terlalu gagah seperti yang kau sebutkan tadi. Kita sama saja, hanya kebetulan saja kami berada di pihak yang benar dan engkau terjeblos ke dalam kesesatan. Ketika menolongmu, selain untuk membalas jasamu membunuh Pangeran pemberontak dan kaki tangannya serta menolong Syanti Dewi, juga karena kami ingin mengajukan pertanyaan kepadamu yang kuharap engkau akan suka menjawabnya.”

Ang Tek Hoat menatap wajah yang cantik jelita itu. Biar pun usianya lebih tua, namun kecantikannya mengingatkan dia kepada Syanti Dewi, terutama sepasang mata yang bening dan tajam itu. Kemudian dia menjawab, “Asal saja pertanyaan paduka itu pantas untuk dijawab, dan dapat saya jawab, tentu akan saya jawab,” katanya singkat.

“Hemm, pemuda ini benar-benar keras hati dan juga cerdik,” pikir Milana. “Pertanyaanku yang pertama adalah sama dengan pertanyaan yang pernah kuajukan padamu ketika engkau melawanku di hutan itu. Dari mana engkau mempelajari Ilmu Silat Pat-mo Sin-kun dan siapa yang melatihmu?”

Tek Hoat sendiri sudah mendengar dari Sai-cu Lo-mo yang pernah menggemblengnya bahwa kakek sakti itu memperoleh kepandaiannya dari Puteri Nirahai, bekas Ketua Thian-liong-pang yang kini menjadi isteri Pendekar Super Sakti di Pulau Es. Maka dia pun tidak merasa heran bahwa Puteri Milana dapat mainkan ilmu silat itu dengan mahir sekali. Karena tidak ingin disangka mencuri ilmu orang, maka dia menjawab sejujurnya, “Saya pernah menerima pelajaran ilmu itu dari Suhu Sai-cu Lo-mo.”

“Aihh, kalau begitu engkau masih murid keponakanku!” Milana berseru.

“Maaf, saya tidak berani, karena Suhu Sai-cu Lo-mo pernah berpesan agar saya tidak mengakuinya sebagai guru. Hanya karena paduka bertanya dan saya sudah tahu bahwa antara beliau dengan paduka ada hubungan, maka saya berani berterus terang menyebutnya.”

Milana mengangguk-angguk. Dia merasa heran sekali, mengapa Sai-cu Lo-mo sampai menurunkan ilmu rahasia itu kepada pemuda ini.

“Akan tetapi, dibandingkan dengan Sai-cu Lo-mo, kepandaianmu jauh lebih tinggi.”
Ang Tek Hoat tidak mau menanggapi kata-kata Puteri Milana itu, dan dia diam saja, menanti pertanyaan kedua.

“Sekarang pertanyaanku yang kedua, Tek Hoat. Di beberapa tempat, engkau memakai julukan Si Jari Maut dan menggunakan nama Gak Bun Beng. Mengapa begitu? Kenapa engkau begitu jahat dan curang, melakukan kejahatan dengan menggunakan nama lain orang?”

Karena diingatkan kepada musuh besarnya, kini dengan suara ketus dia menjawab, “Memang semua perbuatan itu saya lakukan untuk memburukkan nama Gak Bun Beng, karena jahanam itu telah membunuh ayah! Sayang dia telah mampus, kalau tidak, tentu sudah kucari dan kubunuh dia, tidak perlu lagi saya memburuk-burukkan nama orang yang sudah mati.”

“Ah keparat bermulut lancang!” Kian Bu sudah bergerak hendak menerjang Tek Hoat, akan tetapi Milana memegang lengannya.

“Jangan terburu nafsu, Bu-te!”

Kian Bu teringat bahwa orang yang akan diserangnya itu masih lemah, dan memang amat lucu untuk menyerang orang yang baru saja dia tolong dan sembuhkan! Tetapi, mendengar kata-kata Tek Hoat tadi dia sudah marah sekali. “Ang Tek Hoat, engkau sungguh kurang ajar, berani engkau memaki suheng-ku dan mengatakan bahwa sudah mati. Kalau tidak ingat bahwa engkau belum sehat benar tentu sudah kuhancurkan mulutmu!”

Ang Tek Hoat terbelalak memandang Kian Bu, Milana, dan Han Wi Kong. “Apa katamu? Dia… dia… masih hidup…?” Tentu saja dia merasa heran sekali. Bukankah ibunya telah dengan jelas bercerita kepadanya bahwa musuh besar yang bernama Gak Bun Beng itu telah mati terbunuh ibunya?

“Engkau memang tukang membohong! Suheng Gak Bun Beng masih segar bugar, bahkan pernah engkau bertemu dengan dia beberapa kali, sudah pernah mengadu tenaga pula. Dia adalah Suheng yang melakukan perjalanan bernama aku, Lee-ko, dan Adik Syanti Dewi.”

Mata Tek Hoat makin terbelalak dan mukanya berubah. “Aihhh… dia…? Gak Bun Beng pembunuh ayahku? Masih hidup? Kalau begitu…” Dia diam saja tenggelam ke dalam pikirannya yang bergelombang. Memang tidak mungkin kalau ibunya dapat membunuh musuh dengan kepandaian seperti itu! Bahkan laki-laki setengah tua gagah perkasa itu memiliki tenaga sakti Inti Bumi yang amat kuat! Akan tetapi kenapa ibunya mengatakan bahwa dia telah membunuh Gak Bun Beng. Apakah hanya namanya saja yang sama?

Dia harus memecahkan rahasia ini. Dia harus menemui laki-laki yang bernama Gak Bun Beng itu dan memaksanya untuk mengaku apa yang telah terjadi dengan ayahnya!

“Ang Tek Hoat, benarkah ayahmu dibunuh oleh Gak Bun Beng?” Puteri Milana bertanya sambil memandang dengan tajam penuh selidik.

“Saya tidak perlu membohong. Ayah saya dibunuh oleh Gak Bun Beng dan karena saya kira dia sudah mati maka saya sengaja memburukkan nama musuh besar saya itu,” jawabnya.

“Engkau melihat sendiri bahwa ayahmu dibunuh olehnya?” tanya lagi Puteri Milana dan diam-diam dia mengingat-ingat karena wajah pemuda yang tampan ini mengingatkan dia akan seseorang akan tetapi dia lupa lagi siapa. Mata itu, bibir itu, benar-benar tidak asing baginya!

“Hal itu terjadi sebelum saya lahir. Ibu yang memberitahukan saya…” “Ahhh…! Siapa ibumu? Dan siapa ayahmu?”
Tek Hoat menggeleng kepalanya. “Maaf, itu merupakan rahasia saya, dan tidak dapat saya ceritakan kepada lain orang. Biarlah saya mencari Gak Bun Beng dan bicara sendiri dengan dia. Saya mohon kepada paduka agar suka memberi kesempatan kepada saya untuk berhadapan dengan musuh besar saya itu, kecuali… kecuali kalau paduka hendak menghukum saya karena pemberontakan itu… saya tidak akan dapat melawan…”

“Enci Milana, manusia ini berhati palsu dan curang, lagi jahat dan berbahaya sekali kalau dia dibiarkan pergi begitu saja!” Kian Bu berkata dengan alis berkerut.

“Benar, sebaiknya dia ditahan dulu, sambil kita menanti kedatangan Gak-taihiap,” kata Han Wi Kong.

Akan tetapi, ucapan suaminya itu dirasakan oleh Milana seperti ujung belati menusuk jantungnya. Setiap kebaikan sikap suaminya mengenai diri Gak Bun Beng merupakan tusukan baginya, makin baik sikap suaminya, makin tertusuk dia karena dia maklum bahwa dia telah berdosa terhadap suaminya ini. Maka kata-kata suaminya itu membuat dia bangkit menentang.

“Tidak, biarkan dia pergi! Pertama, dia adalah murid Sai-cu Lo-mo, berarti masih orang sendiri. Kedua, dia memang pernah membantu pemberontak, akan tetapi kesesatan itu telah ditebusnya dengan membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan juga ketiga orang pengawalnya, juga dengan menolong Syanti Dewi. Tentang urusannya dengan… Gak-suheng, biarlah dia selesaikan sendiri dengan yang berkepentingan. Ang Tek Hoat, jika engkau ingin pergi, pergilah. Hanya kuharap bahwa engkau akan selalu ingat bahwa kami tak mempunyai niat buruk terhadap dirimu, maka jika menghadapi segala urusan, jangan engkau terburu nafsu dan kami selalu siap untuk membantumu memecahkan persoalan yang sulit.”

Sikap dan ucapan Milana ini benar-benar mengharukan hati Tek Hoat. Selama dia meninggalkan ibunya, dia tidak pernah menemui manusia yang bersikap tulus, jujur dan mulia terhadap dirinya. Kalau toh ada yang bersikap baik terhadap dia, kebaikan itu hanya menutupi suatu pamrih tertentu yang lebih merupakan penjilatan atau juga penggunaan karena tenaganya dibutuhkan seperti halnya kaum pemberontak yang berbaik kepadanya. Akan tetapi baru sekarang dia bertemu dengan seorang yang amat dikaguminya, seorang wanita yang cantik jelita, gagah perkasa, berbudi mulia dan berwibawa.

Tanpa disadarinya sendiri, kedua kakinya menjadi lemas dan Ang Tek Hoat pemuda yang angkuh dan keras hati itu, yang tidak pernah mengenal takut dan tidak pula mau tunduk kepada siapa pun, kini sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Puteri Milana! Dia merasa betapa dirinya adalah orang yang sudah kotor, yang bergelimang dengan kesesatan, yang membuat dia memandang dirinya amat rendah sekali dibandingkan dengan orang-orang gagah seperti kedua orang saudara putera Pendekar Super Sakti itu, yang membuat dia merasa seperti tidak berharga, akan tetapi yang sekaligus juga memperkeras hatinya, menimbulkan keangkuhannya sehingga sampai mati pun dia tidak akan sudi tunduk kepada ‘orang-orang bersih’ seperti mereka itu.

Akan tetapi, sikap Milana mencairkan kekerasan dan keangkuhannya, karena puteri ini bersikap sungguh- sungguh kepadanya, tidak memandang rendah, bahkan sinar mata yang mengandung iba yang mendalam itu membuat dia tunduk dan terharu. Suaranya agak tergetar ketika dia berkata, “Saya Ang Tek Hoat sungguh kagum kepada paduka dan selama hidup saya akan memuliakan nama paduka Puteri Milana.” Setelah berkata demikian, dia bangkit berdiri, menjura kepada tiga orang itu dan dengan langkah lebar dia keluar dari kamar dan gedung itu, agak terhuyung-huyung.

Milana meneriaki pengawal dan dengan singkat memerintahkan agar pengawal itu terus membayangi dan menjaga agar pemuda itu tidak diganggu dan dibiarkan keluar dari kota raja tanpa halangan. Pengawal itu memberi hormat, lalu tergesa-gesa mengejar Tek Hoat.

“Enci Milana, betapa pun juga, aku masih tetap menganggap dia itu seorang yang berbahaya…” Suma Kian Bu menyatakan pendapatnya, hatinya kurang puas akan sikap enci-nya yang demikian lunak terhadap pemuda jahat itu.

Milana hanya menggeleng kepala dan menghela napas, memegangi kepalanya. “Bu-te, aku seperti pernah mengenalnya… dahulu… Ahhh, biarkanlah aku mengaso dulu sambil mengingat-ingat…” Dia lalu pergi memasuki kamarnya sendiri, meninggalkan suaminya yang kini duduk bercakap-cakap dengan Kian Bu, membicarakan pengalaman mereka ketika pasukan pemerintah menyerbu Koan-bun dan Teng-bun.

Di dalam kamarnya, Milana lalu mengunci pintu dan menjatuhkan diri di pembaringan. Kepalanya agak pening, bukan hanya karena urusan Tek Hoat dan bukan hanya karena dia agak lelah mengerahkan tenaga sinkang selama lima jam untuk mengobati Tek Hoat tadi. Akan tetapi ada hal lain yang lebih mendalam lagi, yang selama beberapa hari ini menusuk-nusuk jantungnya. Teringat dia akan peristiwa itu, peristiwa yang takkan dapat dilupakannya, ketika Puteri Syanti Dewi yang muda dan cantik jelita itu menegurnya dengan hebat sewaktu mereka berdua berada di dalam kamar dan tidak ada orang lain lagi…..

********************

“Bibi Milana, saya tidak tahu apakah nanti Bibi akan membunuh saya atau menganggap saya kurang ajar setelah saya selesai bicara, akan tetapi bagaimana pun juga, saya akan menanggung semua akibatnya karena hal ini tidak mungkin saya simpan saja dan tidak dibicarakan dengan Bibi. Sudah berada di ujung bibir saya sejak kita saling bertemu, bahkan jauh sebelum pertemuan itu hal ini selalu berada di lubuk hati

saya dan sekaranglah tiba saatnya kita hanya berdua saja di dalam kamar ini maka saya akan keluarkan isi hati saya.”

Melihat Puteri Bhutan yang muda remaja itu berhadapan dengan dia di kamar itu sambil memandang dengan sepasang pipi kemerahan seperti dibakar, mata bersinar-sinar dan bibir penuh semangat, Milana yang selalu bersikap tenang dan sabar itu tersenyum.

“Syanti Dewi, kau keluarkan isi hatimu dan bicaralah dengan hati tenang agar jelas karena tidak baik membiarkan hati dikuasai kemarahan.”

“Bibi Milana, setelah bertemu dengan engkau, maka aku merasa kagum sekali. Engkau seorang puteri sejati, begitu gagah perkasa, bersikap agung dan berhati mulia, akan tetapi sungguh sayang sekali bahwa di balik kebaikan itu semua tersembunyi hati yang amat kejam terhadap pria!”

Milana mengerutkan alisnya, akan tetapi dia tidak menjadi marah mendengar tuduhan yang hebat ini. “Syanti Dewi, aku yakin bahwa orang seperti engkau tidak mungkin mengeluarkan kata-kata seperti itu tanpa alasan yang kuat. Jelaskanlah tuduhanmu itu dan tidak perlu menyimpan rahasia.”

“Bibi Milana, mengapa Bibi melakukan kehidupan yang palsu ini? Bibi mencinta pria lain, akan tetapi menikah dengan pria lain lagi! Bibi membiarkan pria yang mencinta Bibi dan juga Bibi cinta itu hidup sengsara selamanya, hidup tersiksa dalam duka nestapa setiap saat, padahal pria yang sampai sekarang masih mencinta Bibi dengan seluruh tubuh dan nyawanya itu adalah orang yang sebaik-baiknya orang, dan yang tidak ada keduanya di dunia yang penuh dengan manusia palsu dan jahat ini!” Syanti Dewi mengeluarkan kata-kata itu dengan cepat karena kata-kata itu sudah lama tersimpan di hatinya, matanya berapi-api dan mukanya kemerahan. “Bibi Milana sungguh kejam sekali! Nah, puaslah sudah hatiku mengeluarkan umpatan yang sudah lama terkandung ini dan kalau Bibi marah dan hendak membunuhku, silakan!”

Wajah cantik Puteri Milana menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah, dan pucat lagi. Dia memandang Syanti Dewi dengan mata terbelalak dan bibir gemetar, kedua tangan dikepal dan andai kata yang bicara itu bukan Syanti Dewi, agaknya puteri ini tentu sudah menggerakkan tangan untuk melakukan pukulan maut, dan kalau hal itu dilakukan, tentu Syanti Dewi sudah menggeletak tak bernyawa lagi!

“Bibi pasti marah, akan tetapi aku tidak menyesal mengeluarkan semua ucapanku tadi, sebab aku menuntut agar Bibi Milana suka mengambil keputusan dan tidak membiarkan hidup seorang pria yang kujunjung tinggi itu dalam keadaan hidup tidak mati pun tidak.”

“Syanti Dewi…,” suara Milana gemetar dan serak, seperti bisikan. “Siapa… siapa yang kau maksudkan dengan pria itu…?” Dia bangkit perlahan, tidak peduli betapa kedua kakinya menggigil.

“Siapa lagi kalau bukan Paman Gak Bun Beng? Kalian saling mencinta dengan sepenuh jiwa raga, akan tetapi Bibi telah begitu tega untuk meninggalkannya dan menikah dengan orang lain, membiarkan dia merana sepanjang hidupnya.”

“Oohhh…” Tubuh Milana menjadi lemas, dia memejamkan matanya dan jatuh terduduk lagi di atas kursinya. Kemudian dia membuka lagi matanya yang menjadi kemerahan dan basah air mata. “Syanti Dewi… dari manakah… engkau mengetahui semua tentang kami…?”

“Paman Gak Bun Beng yang bercerita kepadaku.”

“Ahhh…? Tidak mungkin…!” Milana meloncat ke depan dan memegang pundak Syanti Dewi, jari-jari tangannya yang kecil lembut halus itu kini mencengkeram seperti cakar harimau dan Syanti Dewi menggigit bibir menahan sakit. “Kau… kau mencintanya!”

Ucapan Milana yang menuduh ini mendatangkan semangat dan mengusir rasa sakit di pundaknya. Syanti Dewi juga bangkit berdiri dan berkata dengan gagah, “Memang! Aku pernah mencintanya, Bibi. Dan seandainya di dunia ini tidak ada Puteri Milana, tentu aku akan tetap mencinta Gak Bun Beng sampai aku mati! Akan tetapi aku tahu bahwa cintaku sia-sia dan aku yakin bahwa dia tidak dapat mencintaku. Cinta kasihnya hanya untukmu, Bibi Milana! Karena itu, aku mengubur cintaku, cinta seorang wanita terhadap pria yang semulia-mulianya orang, dan kupaksa menjadi kasih seorang anak terhadap ayah atau seorang murid terhadap guru. Hanya engkaulah wanita pujaan hatinya yang akan dicintanya sampai dia mati, dan dia bahkan berbahagia di dalam kesengsaraannya asalkan engkau hidup bahagia! Betapa kejamnya engkau, Bibi Milana!” Dan tanpa dia sadari lagi, air mata bercucuran dari kedua pelupuk mata Puteri Bhutan itu.

“Ouhhhhh…” Milana terisak, menggigit bibirnya, memejamkan mata menahan kepedihan hati yang bagai ditusuk-tusuk rasanya. “Aihhh… Syanti Dewi… kau tidak tahu… kau tidak tahu… betapa selama belasan tahun aku hidup dengan hati remuk-redam… betapa aku hidup sangat sengsara dan amat merana… yang mungkin tidak kalah pahitnya dengan penderitaannya…” Wanita cantik itu sekarang menundukkan wajah dan memejamkan mata, menggoyang-goyangkan kepala untuk mengusir semua kepedihan yang teramat menghimpitnya.

Kini Syanti Dewi membelalakkan matanya, dan cepat dia menghapus air matanya. Lalu dia maju berlutut di depan Milana, memeluk pinggang puteri itu.

“Syanti…!” Milana tidak dapat menahan keharuan dan kepedihan hatinya, dia memeluk kepala Puteri Bhutan itu sambil menangis sesenggukan.

Betapa belasan tahun ini ia menahan kesengsaraannya, tak pernah dikeluarkan hingga sekarang bagaikan air bah memecah bendungannya, air matanya mengalir membasahi kepala dan rambut Syanti Dewi. Puteri Bhutan ini mengejap-ngejapkan mata menahan tangis, lalu dengan sikap halus dan lemah lembut dia mengeluarkan sapu tangannya, menghapus air mata dari pipi Puteri Milana seperti orang dewasa menghibur seorang anak kecil yang sedang menangis.

Sejenak dia membiarkan Milana menangis sesenggukan sampai beberapa lamanya, kemarahannya telah berubah menjadi perasaan kasihan sekali terhadap puteri gagah perkasa ini, yang kini oleh kekuatan cinta kembali ke asalnya, seorang wanita yang lemah dan hanya bergantung kepada tangis dan rintihan hatinya.

“Bibi Milana,” suara Syanti Dewi kini penuh kesungguhan, penuh kedewasaan, dan juga penuh teguran. “Bibi Milana, mengapa Bibi telah bertindak begitu bodoh? Jelas bahwa sesungguhnya Bibi amat mencinta Paman Gak Bun Beng, sejak dahulu sampai saat ini, tetapi mengapa Bibi memaksa diri menikah dengan pria lain? Apa sebabnya tindakan yang amat bodoh ini?”

Milana sudah dapat menekan perasaannya. Tangisnya tadi, yang baru sekali ini dapat dia curahkan keluar, sedikit banyak melegakan hatinya. Dia mengangkat Syanti Dewi bangkit dan mengajak dara itu duduk berdampingan di pinggir pembaringannya.

“Engkau anak yang baik, pertanyaanmu sungguh tidak tepat! Engkau sendiri tahu akan keadaan wanita- wanita yang tidak kebetulan menjadi puteri-puteri istana seperti kita ini! Apa daya kita menghadapi perintah junjungan kita, dalam hal ini Kaisar yang menjadi kakekku dan Raja Bhutan yang menjadi ayahmu? Engkau sendiri menerima saja ketika dijodohkan dengan Pangeran Liong Khi Ong yang sudah tua!”

“Aih, Bibi Milana. Keadaan saya lain lagi dengan keadaan Bibi! Andai kata saya seperti Bibi, sudah mempunyai seorang kekasih di Bhutan, sampai mati pun saya tidak akan sudi! Kalau saya mentaati perintah ayah, adalah karena hati saya masih bebas dan betapa pun saya tidak suka dikawinkan dengan orang yang belum pernah saya lihat, akan tetapi demi kebaktian terhadap ayah, terutama terhadap negara karena ayah menyerahkan saya demi negara, terpaksa saya menyetujuinya. Jauh bedanya dengan Bibi yang telah mempunyai seorang pujaan hati sehebat Paman Gak! Mengapa Bibi begitu bodoh?”

Demikianlah, percakapannya dengan Puteri Syanti Dewi itulah yang terus menghantui hatinya. Kini Puteri Milana rebah seorang diri di atas pembaringannya dalam kamarnya yang tertutup, mengenangkan semua percakapannya dengan Syanti Dewi dan baru terbuka matanya betapa dia telah berbuat kesalahan besar terhadap Gak Bun Beng! Pernikahannya dengan Han Wi Kong juga tidak mempunyai arti apa-apa bagi Kaisar atau kerajaan, dan yang jelas dia telah merusak kehidupan Gak Bun Beng, merusak kebahagiaan hidupnya sendiri!

Teringatlah dia akan semua pengalamannya di waktu dahulu, belasan tahun yang lalu dan semakin diingat, semakin menyesallah dia karena sejak dahulu, Bun Beng selalu bersikap baik dan penuh cinta kasih kepadanya, sebaliknya, telah beberapa kali dia menyakiti hati kekasihnya itu! Bahkan yang terakhir sekali, dia menuduh Gak Bun Beng sebagai seorang pria jahat dan keji, tukang memperkosa wanita! Dan dia bahkan telah bersekutu dengan wanita-wanita lain yang disangkanya menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng untuk membunuh pria itu!

Dan hampir saja maksud kejamnya ini terlaksana (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS). Kemudian barulah dia tahu, baru terbuka matanya bahwa Gak Bun Beng adalah pria yang bersih, gagah perkasa, mulia, karena si jahat itu bukanlah Gak Bun Beng, melainkan Wan keng In!

“Aihhhh… Wan Keng In, benar dia…!” Tiba-tiba Puteri Milana meloncat turun dari atas pembaringannya, memandang terbelalak ke arah pintu kamarnya.

Ketika mengenangkan masa lalu dan terbayang wajah Wan Keng In, tiba-tiba saja dia melihat wajah Ang Tek Hoat! Mengapa dia begitu bodoh? Wajah Ang Tek Hoat persis wajah Wan Keng In!

Han Wi Kong dan Kian Bu terkejut sekali ketika melihat Milana memasuki kamar di mana mereka berdua bercakap-cakap itu dengan muka berubah agak pucat. “Mana dia? Bu-te, lekas kau kejar dia! Ang Tek Hoat itu adalah putera Wan Keng In!”

Kian Bu terkejut. Tentu saja dia telah mendengar siapa adanya Wan Keng In yang disebut oleh enci-nya itu. Wan Keng In adalah putera ibu tirinya, ibu kandung Kian Lee, anak tiri ayahnya yang telah lama meninggal dunia dan kabarnya dahulu amat lihai akan tetapi juga menyeleweng.

“Bagaimana kau bisa tahu, Enci?”

“Aku bodoh, telah lupa wajah Wan Keng In yang persis benar dengan wajahnya. Lekas, Bu-te, susul dia dan suruh dia kembali, aku akan bicara dengan dia. Kini aku tahu mengapa dia memusuhi Gak Bun Beng.”

Kian Bu cepat berlari keluar dan melakukan pengejaran. Akan tetapi, pengawal tadi menceritakan bahwa pemuda itu telah keluar dari pintu gerbang kota raja dan entah pergi ke mana, Kian Bu menyusul dan mengejar sampai jauh di luar kota raja, keluar dari pintu gerbang selatan, namun hasilnya sia-sia dan terpaksa dia kembali kepada enci-nya dengan tangan hampa.

Milana merasa menyesal sekali. “Di dalam kamar tadi barulah aku teringat. Memang tadinya aku sudah merasa mengenal wajah Tek Hoat, hanya sayang aku lupa bahwa wajahnya itu persis wajah Wan Keng In, kakakmu Bu-te. Dia she Ang pula, siapa lagi dia kalau bukan anak Ang Siok Bi yang dahulu diperkosa oleh Wan Keng In yang menyamar sebagai Gak Bun Beng? Ahh, tentu akan terjadi hal-hal hebat kalau mereka saling bertemu!”

“Sebaiknya aku segera kembali ke Teng-bun atau Koan-bun, mencari Gak-suheng dan memberi tahukan hal Tek Hoat itu kepadanya agar dia dapat berjaga-jaga, Enci!” kata Kian Bu.

“Tidak perlulah, Bu-te. Kurasa dia dapat menghadapi pemuda itu, apa lagi Tek Hoat masih lemah tubuhnya dan perlu mengumpulkan tenaga sampai belasan hari lamanya. Pula, kita menanti datangnya kakakmu, Kian Lee, dan yang lain-lain. Mengapa mereka belum juga datang?”

Hanya Han Wi Kong yang dapat menduga bahwa yang dimaksudkan ‘yang lain-lain’ oleh isterinya itu, bukan lain adalah Gak Bun Beng yang amat diharap-harapkan kedatangannya.

Dan pada keesokan harinya, benar saja Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee muncul di istana Puteri Milana itu! Han Wi Kong dan Milana bersama Kian Bu menyambut mereka dengan gembira, akan tetapi Milana hanya sekilas saja bertemu pandang mata dengan Bun Beng, kemudian wajahnya berubah merah sedangkan wajah Bun Beng berubah pucat dan mereka tidak bicara apa-apa kecuali menyapa.

“Gak-suheng!” “Sumoi…!”
Han Wi Kong maklum betapa kedua orang itu merasa sungkan dan tidak enak, maka dia bersikap ramah sekali. “Gak-taihiap, sudah amat lama saya mendengar nama besar Taihiap dan sungguh merupakan suatu kehormatan besar bagi saya dapat berjumpa dengan Taihiap ini!”

Gak Bun Beng menatap wajah yang tampan dan gagah itu, dan hatinya ikut gembira bahwa Milana ternyata telah menikah dengan seorang pria yang tidak mengecewakan. “Terima kasih, Han-ciangkun, dan karena saya adalah suheng dari isterimu, harap kau jangan menyebutku taihiap (pendekar besar).”

Han Wi Kong tertawa dan begitu bertemu saja dia sudah merasa suka kepada pendekar besar yang sederhana sekali ini. “Kalau begitu, baiklah saya menyebutmu Gak-twako saja. Akan tetapi saya pun bukan lagi menjadi seorang perwira maka jangan menyebut saya ciangkun, Gak-twako (Kakak Gak).”

“Baiklah, Han-laote (Adik Han).”

Karena sikap Han Wi Kong, maka rasa sungkan dan tidak enak di pihak Bun Beng dan Milana perlahan- lahan berkurang. Han Wi Kong lalu menjamu tamu yang dihormatinya itu dengan pesta kecil. Sambil bercakap-cakap, Han Wi Kong, Milana, Suma Kian Lee, Suma Kian Bu, dan Gak Bun Beng makan minum menghadapi meja bundar. Karena sedang makan, mereka tidak membicarakan urusan penting dan setelah mereka selesai makan dan duduk di ruangan tamu, barulah mereka bicara tentang hal-hal yang lebih penting menyangkut diri mereka.

“Lee-ko, mengapa kau kelihatan pucat dan tidak bersemangat?” Kian Bu bertanya dan Milana juga memandang adik ini dengan penuh perhatian.

“Engkau kelihatan seperti orang sakit, Adik Kian Lee,” dia juga berkata. “Ah, tidak ada apa-apa,” jawab Kian Lee.
“Jangan-jangan karena kakimu yang terluka dahulu itu, Lee-ko? Tapi sekarang sudah sembuh sama sekali, bukan?”

“Sudah, Bu-te,” Kian Lee menjawab singkat.

Saat adiknya itu bertanya tentang pengalamannya dan ketika kakinya terluka sehingga mereka terpisah, Kian Lee hanya menceritakan dengan singkat saja bahwa dia kebetulan bertemu dengan puteri Hek-tiauw Lo-mo dan mendapatkan obat sehingga sembuh dengan mudah.

“Heran…, heran…!” Kian Bu berkata sambil tertawa. “Ayahnya iblis akan tetapi puterinya bidadari agaknya!”

Kini tiba giliran Bun Beng yang bertanya, tidak langsung menghadapi Milana melainkan pertanyaannya ditujukan kepada Han Wi Kong, “Saya mendengar bahwa ada seorang tahanan bernama Ang Tek Hoat. Apakah benar dia berada di kota raja dan apakah dapat saya bertemu dengan dia?”

“Ahhh, Gak-suheng, memang terjadi hal yang hebat sekali dengan pemuda itu!” Milana berkata. “Dia… dia… itu… putera Wan Keng In…!”

“Ehh…?!” Bun Beng demikian kagetnya sehingga dia bangkit berdiri, lalu kembali duduk. Sementara itu Milana sudah teringat akan peristiwa dahulu, maka dia menjadi pucat dan menunduk, tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Bu-sute, apakah yang terjadi?” tanya Bun Beng, menoleh kepada Kian Bu.

“Gak-suheng, kami tadinya bertanya kepadanya mengapa dia berjuluk Si Jari Maut dan menggunakan nama Suheng untuk melakukan kejahatan. Dia menjawab bahwa Suheng telah membunuh ayahnya dan dia tidak melanjutkan keterangannya, hanya tadinya menyangka bahwa Suheng telah mati, maka setelah mendengar bahwa Suheng masih hidup, dia menyatakan ingin bertemu dan ingin membalas dendam kematian ayahnya.”

“Hemm…, sungguh aneh…” Bun Beng berkata.

“Akan tetapi Enci Milana lalu teringat akan wajah Keng In…”

“Bukan mirip lagi, Suheng, melainkan persis seperti pinang dibelah dua! Dan dia she Ang, siapa lagi kalau bukan anak Ang Siok Bi?” Milana berkata.

Ketika Bun Beng memandangnya, mereka bertemu pandang dan Milana menunduk, karena menyebut nama Siok Bi sama dengan menggali kenangan lama yang membuat Milana merasa berdosa sekali.

Bun Beng mengangguk-angguk. “Hemm, sekarang aku mengerti! Pantas dia memusuhi aku…”

“Enci Milana khawatir sekali kalau sampai terjadi sesuatu yang hebat apa bila Suheng bertemu dengan dia,” kata pula Kian Bu.

“Aku dapat mengatasinya. Ahhh, sungguh kejadian yang amat luar biasa aneh, dan sekaligus terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan…” Bun Beng menghela napas panjang.

“Gak-suheng, apa pula maksudmu?” Milana bertanya, karena dia merasa bahwa ada sesuatu yang penting terkandung dalam ucapan pendekar itu.

Bun Beng memandang kepada Milana, sedikit pun tidak memperlihatkan penyesalan ketika dia bertanya, “Sumoi tentu masih ingat kepada Lu Kim Bwee, bukan?”

Pertanyaan ini amat mengejutkan hati Milana karena tak disangka-sangkanya, padahal dia selalu membayangkan dua orang wanita, Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee, dua orang wanita yang dahulu bersama dia mengeroyok Bun Beng dan hampir saja membunuh pendekar ini (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS). Milana menelan ludah, memandang kepada Bun Beng tanpa dapat menjawab dengan kata-kata, hanya mengangguk.

“Nah, Lu Kim Bwee itu pun ternyata mempunyai seorang anak dari Wan Keng In, dan anaknya itu adalah Lu Ceng.”

“Ooohhh…!”

“Aihhhh…!” Kian Bu terbelalak dan menoleh kepada Kian Lee.

Melihat Kian Lee menundukkan muka, Kian Bu membungkam mulutnya lagi, tak berani mengeluarkan suara. Maklumlah dia sekarang mengapa Kian Lee begitu pucat dan muram. Kiranya dara yang dia tahu telah mencuri hati kakaknya itu ternyata adalah anak dari mendiang Wan Keng In, kakak mereka sendiri, yang berarti pula bahwa Ceng Ceng adalah keponakan mereka sendiri.

Keadaan lalu menjadi sunyi karena semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing. Han Wi Kong yang pernah mendengar cerita tentang Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee, yang tadinya disangka menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng yang kemudian ternyata adalah perbuatan Wan Keng In, memecahkan kesunyian itu sambil berkata, “Kiranya dua orang yang menggemparkan itu adalah keponakan-keponakan Adik Kian Lee sendiri.”

Kian Lee mengangguk sunyi dan semua orang masih tenggelam ke dalam keanehan yang luar biasa ini, peristiwa yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka. Milana tidak menyangka bahwa peristiwa ketika dia muda dahulu, yang dilakukan oleh Wan Keng In, ternyata berekor demikian panjang sehingga biar pun pelakunya telah tewas, ternyata akibat kelakuannya masih terus menjadi riwayat! Dan celakanya, kalau dulu Wan Keng In melakukan perbuatan yang mencelakakan diri Gak Bun Beng, sekarang keturunannya juga melakukan hal yang sama, sungguh pun apa yang dilakukan oleh Tek Hoat adalah karena pemuda itu mengira bahwa Gak Bun Beng sudah mati dan menjadi pembunuh ayahnya.

Selagi mereka semua termenung, tiba-tiba datang penjaga pintu yang melaporkan bahwa ada utusan dari Kaisar datang untuk bertemu dengan Puteri Milana! Puteri Milana terkejut dan cepat menyambut. Kiranya yang datang adalah Perdana Menteri Su sendiri, yang tentu saja cepat disambutnya dengan penuh hormat. Han Wi Kong, Gak Bun Beng, dan kedua orang saudara Suma ikut menyambut, dan karena perdana menteri datang sebagai utusan Kaisar yang berarti wakil Kaisar sendiri, Milana dan yang lain-lain menyambut dan berlutut.

Perdana Menteri Su mengenal semua yang hadir. Dia sudah mendengar akan kedua orang adik Puteri Milana, putera-putera dari Pendekar Super Sakti, dan dia dahulu sudah pernah bertemu dengan Gak Bun Beng. Maka cepat dia menggerakkan tangan minta kepada mereka semua untuk bangkit berdiri.

“Harap Cu-wi bangkit kembali dan penghormatan Cu-wi terhadap Sri Baginda telah saya terima. Sekarang kita bicara sebagai sahabat dan biarlah pesan Sri Baginda akan saya bicarakan di atas cawan-cawan arak saja oleh karena keputusan beliau ini perlu kita pertimbangkan bersama.”

Puteri Milana dan yang lain-lain segera bangkit berdiri dan mempersilakan tamu agung itu ke ruangan tamu, di mana mereka menjamu Perdana Menteri Su dengan hormat dan ramah.

Perdana Menteri Su yang sudah tua dan setia itu menghela napas panjang dan berkata, “Aihhh… betapa girang dapat bertemu dengan orang-orang gagah seperti Cu-wi, dan betapa kecewa hati membawa berita yang amat tidak menyenangkan. Puteri Milana, Sri Baginda Kaisar menitah saya untuk menyampaikan keputusan beliau tentang Pangeran Liong Bin Ong dan Puteri Syanti Dewi.”

“Bagaimana dengan Paman Pangeran Liong Bin Ong?” Puteri Milana bertanya.

“Sri Baginda menyatakan bahwa menurut penyelidikan beliau, Pangeran Liong Bin Ong tidak bersalah apa- apa, dan pemberontakan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab mendiang Pangeran Liong Khi Ong…”

“Ahhh…!” Puteri Milana berseru, mukanya merah dan kelihatan penasaran sekali.

“Puteri Milana, demikianlah keputusan Sri Baginda,” Perdana Menteri Su berkata kereng dan memandang wajah puteri itu penuh arti.

Sang Puteri mengangguk dan membungkuk, tidak berani berkata apa-apa lagi sungguh pun dia maklum bahwa keputusan ini bukan hanya membuat dia penasaran, bahkan terutama sekali membuat perdana menteri itu menjadi kecewa dan khawatir. Mereka berdua tahu belaka bahwa Liong Khi Ong hanya merupakan orang kedua, hanyalah pembantu dari Pangeran Liong Bin Ong yang sebenarnya menjadi dalang pertama dari pemberontakan itu!

“Ada pun tentang diri Puteri Bhutan itu, Puteri Syanti Dewi yang tadinya akan menikah dengan Pangeran Liong Khi Ong, menurut keputusan Sri Baginda akan dinikahkan dengan Pangeran Yung Hwa!”

“Heiiiihh…!” Kian Bu berteriak sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Bu-te, duduklah! Ini perintah Sri Baginda Kaisar!” Puteri Milana membentak adiknya, akan tetapi matanya memandang adiknya dengan penuh duka karena puteri ini maklum bahwa adiknya itu telah jatuh cinta kepada Syanti Dewi.

“… ya… ya, Enci Milana…” Kian Bu duduk kembali dan menundukkan mukanya yang berubah menjadi pucat.

“Betapa pun juga, keputusan kedua ini adalah cukup adil dan tepat,” Perdana Menteri Su berkata sambil mengelus jenggotnya. “Memang tadinya Pangeran Yung Hwa yang ingin berjodoh dengan Puteri Bhutan, hanya dia terdesak dan kalah oleh mendiang Pangeran Liong Khi Ong. Ikatan jodoh ini berarti akan memperkuat tali hubungan antara Kerajaan Ceng dengan Kerajaan Bhutan.”

Milana tidak menjawab karena dia maklum bahwa perdana menteri itu tidak tahu akan rahasia hati Kian Bu. Dia hanya mengangguk saja. Tidak lama kemudian, Perdana Menteri Su berpamit dan setelah dia pergi, barulah Milana meremas cawan araknya sampai perak itu menjadi satu gumpalan!

“Sungguh celaka sekali! Pangeran Liong Bin Ong si pemberontak besar itu dibebaskan! Tentu dia akan membuat huru-hara lagi! Ahh, mengapa Sri Baginda tidak dapat melihat kenyataan?”

Milana melirik ke arah Kian Bu yang masih menundukkan mukanya dan tiba-tiba dia bangkit berdiri. “Dan Syanti Dewi… ah, sungguh membikin orang penasaran…!” Milana mengerutkan alisnya, sejenak bertukar pandang dengan Gak Bun Beng, lalu dia minta maaf kepada Bun Beng dan meninggalkan ruangan itu memasuki kamarnya.

Kian Bu bangkit berdiri pula, tanpa berkata apa-apa dia pun lalu setengah lari menuju ke kamarnya, diikuti oleh Kian Lee yang kini memandang adiknya itu dengan wajah penuh kecemasan.

Tinggallah Han Wi Kong duduk berhadapan dengan Gak Bun Beng. Keduanya bengong dan termenung.

“Hemmm…, banyak sekali peristiwa terjadi dalam kehidupan manusia yang berlawanan dengan apa yang dikehendakinya, bukan, Gak-twako?”

“Ehhh…?” Bun Beng yang lagi melamun sambil tak sadar mengambil cawan yang telah menjadi gumpalan perak karena dicengkeram oleh Milana tadi, membolak-balik benda itu di tangannya, terkejut mendengar ucapan itu, lalu mengangkat muka memandang. “Agaknya begitulah hidup…”

“Mengapa harus begitu, Twako?” Han Wi Kong mendesak.

“Yah, manusia tidak akan dapat melawan nasib…” Bun Beng menarik napas panjang.

“Hemmm…, begitukah? Atau bukan sebaliknya bahwa nasib berada di tangan manusia sendiri? Orang yang menyerah kepada nasib adalah orang lemah, dan orang-orang lemah memang sudah sepatutnya hidup menderita, Twako! Hanya orang yang berani menentang dan menghadapi keadaan dan peristiwa dengan tabah, merubah nasibnya sendiri dan terbebas dari penderitaan kelemahannya!”

Gak Bun Beng menatap wajah panglima yang tampan dan gagah itu dengan sinar mata penuh pertanyaan, kemudian bertanya, “Akan tetapi, keputusan-keputusan yang telah dikeluarkan oleh Kaisar merupakan keputusan mutlak dan mana mungkin dirubah…”

“Mengapa tidak mungkin? Tergantung dari si manusia sendiri yang mampu atau tidak, berani atau tidak untuk merubahnya. Keadaan tidak akan berubah selama si manusia sendiri tidak berusaha untuk merubahnya!”

Bun Beng merasa terpukul dan ucapan itu mendatangkan kesan mendalam. Dia harus mengaku pada diri sendiri bahwa dia merana dalam hidupnya karena dia lemah, karena dia ‘menerima nasib’, karena dia lebih condong menangisi nasibnya dari pada berusaha merubah keadaan itu! Dan kedua orang adik seperguruannya, Kian Lee dan Kian Bu, juga mengalami ‘nasib’ yang sama dengan dia, yaitu kalau mereka tidak mau turun tangan, tidak mau bertindak melawan ‘nasib’ itu!

“Kata-katamu mengandung kebenaran yang patut untuk direnungkan, Laote. Maafkan, saya harus menengok kedua orang sute-ku itu.”

Gak Bun Beng meninggalkan Han Wi Kong yang tersenyum-senyum seorang diri, memasuki kamar kedua orang sute-nya dan melihat mereka itu duduk termenung di depan meja. Wajah Kian Bu pucat sekali dan Kian Lee yang bersikap tenang itu berusaha menghibur adiknya ketika Bun Beng muncul di depan pintu. Diam-diam Bun Beng kagum juga terhadap Kian Lee. Dia tahu betul betapa sute-nya ini juga ‘patah hati’ karena cintanya yang gagal terhadap Ceng Ceng, namun kini masih dapat menghibur adiknya yang mengalami hal yang sama!

Bun Beng tersenyum, menghampiri Kian Bu dan menepuk bahu pemuda itu. “Eh, Bu-sute, apakah engkau ini seorang banci?”

Ditanya seperti itu, Kian Bu yang sedang termenung dan tenggelam dalam kekecewaan dan kedukaan itu terperanjat, dan memandang kepada suheng-nya itu dengan mata terbelalak. Kalau saja dia tidak terlalu dihimpit duka dan kecewa, tentu wataknya yang gembira ini akan menanggapi pertanyaan Bun Beng sebagai suatu kelakar.

“Apa maksudmu, Suheng?”

“Hanya seorang banci saja yang merenungi nasibnya dan menangisi peristiwa yang menimpa diri. Seorang jantan pastilah akan bertindak melawan keadaan yang tidak menyenangkan hatinya. Akan tetapi kulihat di sini engkau termenung menangisi nasib!”

“Aihh, Suheng. Apa yang dapat saya lakukan menghadapi keputusan Kaisar? Biar pun beliau itu kakek besarku sendiri, namun aku tetap saja rakyat!” Kian Bu berkata.

“Hemm, mengapa engkau begitu lemah? Pula, mengapa engkau sudah menjadi patah hati? Apakah engkau pun sudah tahu bagaimana perasaan hati Syanti Dewi terhadap dirimu? Kalau aku menjadi engkau…”

“Bagaimana, Suheng?” Kian Bu bertanya penuh gairah. Dia adalah seorang pria yang baru menjelang dewasa, masih ‘hijau’ dan tentu saja dia memandang suheng-nya ini sebagai seorang pria yang sudah ‘berpengalaman’ yang patut ditiru.

“Kalau aku yang menghadapi peristiwa seperti engkau ini, aku akan menemui dia dan terus terang kunyatakan perasaan hatiku kepadanya untuk mengetahui bagaimana tanggapannya. Kalau dia ternyata tidak mencintaku, mengapa engkau menangisi hal kosong? Sebaliknya, kalau dia memang cinta kepadaku seperti aku cinta kepadanya, aku akan mengajak dia lari bersama!”

Wajah Kian Bu menjadi berseri dan dia memegang tangan suheng-nya. “Terima kasih, Suheng. Aku bukan seorang banci! Aku seorang laki-laki sejati dan akan kulaksanakan nasehatmu itu sekarang juga!” Kian Bu lalu meloncat keluar dari tempat itu. Kian Lee memanggilnya, namun pemuda itu sudah pergi jauh.

“Ahh, Gak-suheng, engkau bisa menimbulkan gara-gara dengan nasehatmu itu,” Kian Lee berkata, khawatir. “Jangan-jangan akan timbul keributan.”

“Lee-sute, yang sudah jelas, kalau didiamkan saja, sudah terjadi keributan dalam hati Bu-sute yang mungkin akan membuat dia merana selama hidupnya. Belum lagi diingat betapa puteri itu pun akan menjadi sengsara. Bukankah itu sudah merupakan hal yang hebat? Sebaliknya, kalau memang mereka saling mencinta, apa salahnya mereka berdua melarikan diri dan berjodoh? Ingat, Puteri Nirahai juga dulu kawin lari dengan ayahmu, buktinya sekarang mereka berbahagia.” Sampai di sini Bun Beng berhenti karena dia teringat akan urusannya sendiri dengan Milana.

Dia bisa memberi nasehat, bahkan sudah ada contoh yang mutlak, yaitu antara Puteri Nirahai dan Pendekar Super Sakti, akan tetapi toh dia dahulu sengaja menjauh dan tak berani menghadapi kenyataan bahwa dia dan Milana saling mencinta. Hal ini hanya dikarenakan dia merasa rendah diri, sebagai keturunan penjahat, merasa tidak pantas menjadi jodoh seorang gadis mulia seperti Puteri Milana!

Setelah berkata demikian Bun Beng lalu meninggalkan Kian Lee dan pergi ke kamarnya sendiri, tak jauh dari kamar kakak beradik itu. Akan tetapi dia merasa gelisah. Bayangan Milana terus mengejarnya, dan timbul rasa takut di hatinya, takut dan tidak percaya kepada diri sendiri, karena kalau terlalu lama dia berada di rumah kekasihnya ini, terlalu sering berjumpa dengan Milana, dia khawatir kalau-kalau pertahanan batinnya akan bobol. Aku harus segera pergi dari sini, pikirnya. Tidak ada urusan apa-apa lagi.

Syanti Dewi sudah jelas akan dinikahkan dengan Yung Hwa, dan kalau betul seperti yang diharapkannya bahwa Syanti Dewi membalas cinta Suma Kian Bu, biarlah puteri itu hidup bahagia dengan sute-nya itu. Tek Hoat pun sudah pergi dan ternyata pemuda itu adalah putera Wan Keng In yang kembali mengulang perbuatan ayah kandungnya dahulu. Sebaiknya dia pergi dan menjumpai pemuda itu agar persoalannya menjadi jelas dan dendam dapat dihapus dari dalam dada pemuda itu. Akan tetapi dia merasa tidak enak juga kalau harus pergi begitu saja tanpa pamit, dan dia pun harus menanti kembalinya Kian Bu untuk melihat bagaimana jadinya dengan sute-nya itu.

Kegelisahannya membuat Bun Beng tidak betah di dalam kamarnya. Hanya sebentar dia rebahan, kemudian dia turun dan keluar dari kamar, melalui pintu samping dia masuk ke dalam taman bunga yang luas dan indah dari istana itu. Hari telah menjelang senja dan di dalam taman bunga itu sunyi sekali. Bun Beng terus masuk ke dalam dan di tengah-tengah taman, tertutup oleh pohon-pohon apel, terdapat kolam ikan emas yang lebar dan indah. Airnya jernih sehingga ikan-ikan yang berenang ke sana ke mari itu nampak nyata, beriring-iringan dengan warna sisik mereka yang keemasan dan berkilauan tertimpa sinar kemerahan matahari senja.

Bun Beng duduk di atas bangku batu di dekat kolam. Air yang memancar keluar dari pinggir kolam membuat kolam itu selalu jernih airnya dan luapan air kolam mengalir ke dalam selokan kecil yang berliku- liku di dalam taman, mengairi kembang-kembang yang tampak mekar dengan indahnya, seolah-olah sedang bersaing kecantikan.

“Dia hidup bahagia, dan itu sudah cukup bagiku,” diam-diam Bun Beng mengeluh. “Kehadiranku hanya akan memungkinkan datangnya gangguan dalam hidupnya. Suaminya amat gagah dan baik, kedudukannya mulia dan terhormat, kekayaannya berlimpah, terpenuhilah semua syarat hidup senang. Kalau dahulu ikut bersamaku? Tentu akan hidup serba kekurangan, bahkan hidup di tempat asing dan miskin…” Akan tetapi, suara hatinya yang menghibur diri bahwa orang-orang yang dicinta sudah hidup bahagia itu dibantah oleh suara lain dalam benaknya.

“Siapa bilang dia bahagia? Dia cukup dengan kesenangan dunia, memang. Akan tetapi apakah itu dapat mendatangkan bahagia? Lihat, dia begitu terguncang sampai pingsan begitu bertemu dengan aku. Dan tentang hidup miskin, mungkin saja mendatangkan bahagia karena cinta. Lihat contohnya Puteri Nirahai dan Pendekar Super Sakti. Biar hidup di Pulau Es yang sunyi, namun penuh madu bahagia…”

“Huh, tolol!” bentaknya sendiri kepada diri sendiri. “Habis kau mau apa?” “Gak-suheng…”

Bun Beng terkejut dan hampir saja dia meloncat ke dalam kolam! Suara itu dikenalnya benar. Bahkan sampai mati pun suara itu tentu akan terus terngiang di telinganya dan dikenalnya baik-baik. Cepat dia membalikkan tubuh dan dia berdiri berhadapan dengan Milana!

“Sumoi…, mafkan aku… aku memasuki tamanmu tanpa permisi…,” dia menghentikan kata-katanya karena dia melihat puteri yang berdiri tegak dan agung itu ternyata telah mencucurkan air mata! Satu demi satu butiran air mata turun seperti untaian mutiara di sepanjang kedua pipinya.

“Gak-suheng, sudikah kau mengampunkan aku? Suheng, betapa aku telah membuat hancur hidupmu…, aku telah berkali-kali berdosa kepadamu, Suheng…”

Berdebar keras rasa jantung Bun Beng dan dia hanya menggeleng-geleng kepalanya. “Tidak… tidak demikian… Sumoi. Apa yang kau ucapkan ini…?”

“Suheng, tidak perlu kau berpura-pura lagi. Aku sudah tahu betapa hidupmu menderita, sengsara dan merana karena aku. Suheng, apakah engkau masih tidak mau juga mengampunkan aku? Mengampunkan pernikahan dengan Han Wi Kong?” Pertanyaan itu diucapkan dengan suara penuh permohonan, dengan pandang mata yang menusuk ulu hati Bun Beng.

Pendekar itu menguatkan hatinya dan memaksa tersenyum. “Sumoi… Sumoi! Milana… mengapa engkau bertanya demikian? Sudah sepantasnya engkau menikah dengan dia, dia seorang yang amat baik dan aku… aku sudah merasa cukup senang melihat engkau hidup bahagia di sampingnya, Sumoi. Aku… sebaiknya pergi saja…”

“Gak-suheng…!” Milana meloncat dan memegang lengan pendekar itu. Sejenak mereka berdiri saling berhadapan, dekat sekali dan mendadak Milana terisak lalu memeluk pinggang Bun Beng. “Suheng… ah, Suheng… aku melihat betapa jahatnya aku… betapa hancurnya hidupmu karena aku… ampunkan aku, Suheng.”

Bun Beng memejamkan matanya. Merasa betapa tubuh orang yang paling dicintanya di dunia ini memeluk dan menempel di tubuhnya, hampir dia tidak kuat menahan lagi dan dia pun merangkul dan mengusap rambut yang selalu dirindukannya itu, mendekap kepala yang disayangnya itu. Akan tetapi dia segera teringat dan cepat dia melepaskan diri dan melangkah dua tindak ke belakang.

“Tidak… tidak boleh begini…! Sumoi, jangan menuruti bisikan setan!”

Milana mengangkat muka memandang, matanya berlinangan air mata. “Gak-suheng, katakanlah terus terang, apakah engkau masih cinta kepadaku?”

“Aku? Mencinta padamu? Wahai, Milana, tidak pernah ada sedetik pun aku berhenti mencintamu… akan terkutuk dan bohonglah aku kalau mengatakan tidak. Akan tetapi, semua itu sudah terlambat… Sumoi…”

“Tidak, Suheng. Aku siap mengikutimu ke mana pun engkau membawaku! Aku… aku… ahhh…, engkau tidak tahu betapa hidupku selama berpisah denganmu seperti dalam neraka. Aku menderita dan kalau saja tidak kuat-kuat aku bertahan, aku tentu sudah membunuh diri. Kalau sekarang engkau menolak, kiranya tidak ada lagi pegangan bagiku, Suheng…”

“Ahhh…?” Bun Beng terkejut bukan main mendengar kata-kata itu, dia merasa seperti disambar petir. “Jangan berkata yang bukan-bukan! Engkau bahagia dengan suamimu!”

“Tidak… tidak… dia memang seorang yang amat baik, akan tetapi… aku… aku tidak mencintanya, Suheng. Hanya engkaulah seorang…”

“Aihhh, Sumoi, kini engkau menghancurkan hatiku!” Bun Beng berteriak, terhuyung ke belakang dan menjatuhkan diri duduk di atas bangku tadi, mukanya pucat sekali, dadanya terasa sakit. “Kalau begitu… sia-sia belaka semua pengorbananku… sia-sia belaka aku menyiksa diri… Sumoi, mengapa begitu?”

Milana lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bun Beng.

“Aku sudah berdosa, Suheng. Aku mentaati perintah Kaisar untuk kawin. Akan tetapi, baru sekarang aku melihat betapa bodohnya hal itu, aku hanya menyiksa diri sendiri dan engkau, orang yang kucinta. Akan tetapi sekarang kiranya masih belum terlambat, Suheng… untuk memperbaiki kesalahan itu, kalau… kalau engkau masih mencintaku seperti aku mencintamu.”

“Milana!” Bun Beng setengah membentak, “Omongan apa yang kau keluarkan ini? Tak malukah engkau? Kau kira aku ini orang apa, hendak melarikan isteri orang? Apakah engkau hendak membuat dosa terhadap suamimu yang baik?”

Milana memandang dan air mata makin deras bercucuran, dia menggeleng kepalanya. “Dia seorang yang berbudi mulia… aku bahkan merusak hidupnya karena dia tahu bahwa aku masih mencintamu, tidak dapat mencintanya. Tahukah kau, Suheng? Dialah yang tadi membujuk aku agar menemanimu… dia telah memberi restunya… dia yang membujuk agar aku menyambung tali cinta kasih kita demi kebahagiaanku…”

“Tidak…!” Gak Bun Beng meloncat dan menjauh, mukanya pucat sekali dan tubuhnya menggigil. “Tidak…! Engkau adalah Nyonya Han Wi Kong, engkau bukan Milana lagi. Tidak boleh lagi aku menyentuhmu, tidak boleh sama sekali…! Duhai Milana… Sumoi… jangan… jangan kita lakukan itu… lebih baik aku mati dari pada melakukan perbuatan terkutuk itu!” Bun Beng lalu berkelebat dan lari keluar dari taman.

“Suheng…!” Namun Bun Beng tidak menengok dan berkelebat lenyap.

“Gak-suheng…!” Milana mengeluh dan terguling roboh, pingsan di dekat kolam!

Han Wi Kong lari tergopoh-gopoh, dia mengangkat tubuh isterinya, dibawa masuk ke dalam kamar. Mata panglima ini merah dan basah. Dia merebahkan isterinya di atas pembaringan, kemudian menulis surat, meletakkan surat di atas meja, dan memanggil pelayan, disuruh menjaga isterinya yang masih pingsan dan disangka tidur oleh pelayan itu. Kemudian Han Wi Kong pergi dari istananya setelah berganti pakaian sebagai bekas panglima, cucu mantu Kaisar dan pergi tanpa pengawal…..

********************

Sementara itu, di sudut ruangan luas di dalam kompleks Istana Kaisar, Puteri Syanti Dewi duduk berhadapan dengan Suma Kian Bu yang tadi diterimanya sebagai seorang tamu yang datang berkunjung kepadanya. Para pengawal tentu saja sudah mengenal Kian Bu, bahkan tahu bahwa adik Puteri Milana ini yang ikut mengantarkan Puteri Bhutan itu ke istana, maka tentu saja kunjungannya diperbolehkan dan tidak ada yang berani mencurigainya. Bahkan ketika Sang Puteri menerimanya bercakap-cakap di sudut ruangan yang luas itu, para pengawal tidak ada yang berani mendekat dan hanya menjaga di luar pintu ruangan.

Syanti Dewi girang sekali melihat Kian Bu dan dia menyambut kedatangan pemuda itu dengan kata-kata, “Sungguh girang hatiku bahwa engkau yang datang, Bu-koko. Aku sudah menanti-nanti berita dari Bibi Milana…”

“Engkau sudah mendengar tentang keputusan Kaisar, Adik Syanti…?”

Dara itu mengangguk dan alisnya berkerut, pandang matanya penuh kegelisahan. “Lalu bagaimana pendapatmu dengan keputusan itu?”
“Aku tidak suka! Aiiih, Koko, kau tolonglah, suruh Bibi Milana menolongku… aku tidak suka dengan pernikahan itu!”
“Akan tetapi, itu adalah keputusan Kaisar dan Pangeran Yung Hwa tidak dapat kau samakan dengan Pangeran Liong Khi Ong. Dia seorang pangeran muda yang tampan dan pandai, bahkan dialah yang dulu suka kepadamu sebelum kau dijodohkan dengan Pangeran Liong…”

“Aku tak peduli dia tampan atau buruk, pandai atau bodoh. Akan tetapi sekali ini, bukan ayahku yang menjodohkan aku. Aku tidak mau, Koko… kau sampaikan permohonanku kepada Bibi Milana… tolonglah aku… atau… tolong kau cari Paman Gak Bun Beng. Dia adalah satu-satunya orang yang kugantungi harapanku.”

“Kalau benar engkau tidak suka menerima keputusan itu, Adik Syanti… aku… aku…” Kian Bu yang biasanya paling pandai menggoda wanita itu kini menjadi gagap gugup, beberapa kali menelan ludahnya dan sukar sekali kata-kata keluar dari mulutnya.

“Ada apa, Koko? Bagaimana?” Puteri Syanti Dewi memandang lekat dengan sepasang matanya terbelalak lebar dan begitu indahnya sehingga Kian Bu menjadi makin bingung lagi.

“Adik Syanti… hemm… ehhh, aku… aku bersedia untuk menolongmu… untuk mengajak kau lari dari sini…”

“Bu-koko…! Terima kasih…! Ahhh, aku tahu engkau seorang yang amat berbudi, seperti suheng-mu, Paman Gak Bun Beng!” Syanti Dewi bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Kian Bu, memegang lengan pemuda itu penuh harapan.

Kian Bu juga lalu bangkit berdiri. “Aku… aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu, Syanti Dewi, karena… aku… aku cinta padamu, aku cinta padamu semenjak kita dahulu pertama bertemu… dan kalau kau lebih memilih aku dari pada menjadi isteri seorang pangeran, marilah kita lari…”

“Ahhhh…!” Syanti Dewi melepaskan kembali pegangan tangannya dan melangkah mundur, lalu menunduk dan memejamkan matanya, akan tetapi tetap saja air matanya bertitik yang cepat diusapnya. Puteri ini lemah lembut, mudah menaruh kasihan kepada orang, juga mudah terharu, namun dia memiliki keagungan seorang puteri raja.

“Bu-koko, harap engkau maafkan padaku. Engkau seorang pemuda yang hebat… ahh, amat baik dan hebat, tampan dan gagah perkasa, berbudi dan putera seorang pendekar yang sudah tersohor di seluruh dunia, adik dari seorang mulia seperti Puteri Milana! Gadis mana yang tak akan berbahagia menerima cintamu? Akan tetapi aku… ahhh, aku akan berbohong kalau aku berpura-pura mengatakan cinta kepadamu, hanya agar engkau suka menolongku. Tidak, aku tidak mau membohongimu demi keselamatanku, dan kelak menghancurkan hatimu. Tidak, Bu-koko, kalau engkau menolongku dengan dasar cinta kasih seperti itu, aku lebih baik… menghadapi mala petaka itu seorang diri saja, tanpa pertolonganmu.”

Wajah Kian Bu yang tadinya sudah merah karena ada harapan ketika dia menuruti nasehat suheng-nya, kini menjadi pucat sekali.

“Kau… kau tidak… tidak cinta padaku, Adik Syanti?” tanyanya dengan suara serak. Syanti Dewi menggeleng kepalanya, memandang penuh iba. “Maafkan aku.” “Kalau begitu engkau… engkau tentu sudah mencinta lain orang…?”
Syanti Dewi mengerutkan alisnya. “Memang, aku pernah mencinta orang, yaitu suheng-mu, Gak Bun Beng! Aku cinta Kepadanya, aku memujanya karena dia seorang jantan, seorang laki-laki sejati, seorang yang mulia hatinya. Hanya sayang dia tidak cinta kepadaku, maka aku menghapus cinta itu. Aku tidak dan belum mencinta siapa-siapa lagi. Sudahlah, Bu-koko, aku suka kepadamu, aku kagum dan menghormatimu, akan tetapi jangan mengharapkan yang lebih dari itu. Kau kembalilah dan kalau engkau suka, harap sampaikan permohonanku kepada Bibi Milana agar beliau sudi menolongku.”

Kian Bu diam sampai lama karena dia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menekan pukulan yang amat menyakitkan itu. Kemudian dia berkata lemah, “Biar pun engkau tidak cinta kepadaku, Adik Syanti, aku… aku bersedia menolongmu. Mari kau kularikan keluar dari istana ini.”

“Tidak, Bu-koko. Engkau adalah cucu Kaisar, engkau akan celaka kalau melakukan hal itu, padahal aku tidak dapat menerima cintamu. Tidak, biarlah Bibi Milana saja yang menolongku dan mencarikan akal…”

“Aku menolongmu dengan ikhlas! Tadi engkau suka kutolong…”

“Tadi lain lagi, Koko. Pulanglah, dan maafkan aku…” Puteri Syanti Dewi bertepuk tangan memberi isyarat kepada pengawal. “Suma-taihiap hendak pulang, antarkan keluar,” katanya penuh wibawa.

Kian Bu menunduk, lalu berjalan ke luar seperti mayat hidup, diikuti pandang mata Syanti Dewi yang berlinang-linang karena merasa kasihan. Pemuda yang sebenarnya masih terlalu muda untuk jatuh cinta ini merasa seolah-olah dunia hampir kiamat, kehilangan keindahannya. Bangunan-bangunan istana yang biasanya mempesonakan dan amat dikaguminya itu, kini tidak lebih seperti onggokan-onggokan batu nisan di kuburan yang tidak menarik sama sekali. Orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan, seolah-olah semua menyeringai dan mencemoohkannya. Syanti Dewi ternyata tidak cinta kepadanya seperti yang disangkanya, atau lebih tepat, seperti yang diharapkannya. Bahkan mencinta suheng-nya, Gak Bun Beng! Si Tua…..

Hatinya memaki, akan tetapi kesadarannya memperingatkannya bahwa tidak adil dan tidak tepatlah kalau dia memaki dan menyalahkan suheng-nya. Gak-suheng adalah seorang laki-laki sejati, pikirnya, tepat seperti yang dikatakan Syanti Dewi, dan suheng-nya itu tidak menerirna Syanti Dewi sehingga dara jelita ini merubah cintanya menjadi cinta seorang anak kepada ayahnya atau seorang murid kepada gurunya. Aih, betapa dia amat tidak berharga! Seorang yang sudah setengah tua seperti suheng-nya saja mampu merebut hati seorang dara seperti Syanti Dewi, mengapa dia yang jauh lebih muda tidak mampu? Apakah dia kurang tampan? Kurang gagah? Mungkin kurang jantan! Pikiran demi pikiran bergelombang dan mengaduk-aduk hati Kian Bu ketika dia kembali ke istana enci-nya.

Senja telah lewat, malam mulai tiba dan Kian Bu langsung menuju ke kamarnya, hampir tidak melihat dan tidak menjawab penghormatan para pengawal yang berjaga di depan istana enci-nya itu. Ketika memasuki kamarnya, langsung saja dia melempar tubuhnya ke atas pembaringan, telentang dan menatap langit- langit kamar.

“Bu-te, bagaimana…?” Kian Lee mendekat, duduk di tepi pembaringan dan memandang wajah adiknya yang pucat dan tidak bersemangat itu.

Kian Bu tadi juga tidak melihat bahwa kakaknya termenung di dalam kamar itu, kini melihat kakaknya mendekatinya, dia bangkit dan mereka berdua duduk di tepi ranjang.

“Lee-ko… aku menyesal sekali tentang… Lu Ceng…” Kian Bu berkata dengan suara halus penuh iba.

Kian Lee menggeleng kepala. “Jangan kau pedulikan aku, Bu-te. Bagaimana dengan engkau? Sudahkah kau…”

“Sudah, dan dia… dia ternyata tidak cinta kepadaku, Lee-ko…”

“Ahhh…?” Kian Lee hampir tidak percaya dan dia menatap wajah adiknya penuh selidik. “Dia sudah mencinta orang lain…”
“Hemmm…?”

“Dia mencinta Gak-suheng.”

“Hehhh…?!” Kian Lee mengeluarkan seruan heran dan kaget sambil meloncat turun. “Gak-suheng?”

Melihat wajah kakaknya seperti orang yang penasaran dan marah, Kian Bu cepat menjelaskan. “Dia telah berterus terang bahwa dia mencinta Gak-suheng, akan tetapi Gak-suheng tidak mencintanya sehingga dia merubah cintanya sebagai cinta anak terhadap ayah, atau murid terhadap guru…”

“Aahhhh… sungguh aneh, dan Gak-suheng baru saja pergi tanpa pamit.” “Pergi ke mana? Mengapa tanpa pamit?”
“Entah, Enci Milana yang memberi tahu dan kulihat mata Enci Milana merah bekas tangis, mukanya pucat dan sinar matanya layu, mengandung kedukaan besar. Entah mengapa aku tidak tahu.”

“Hemm, mengapa tiba-tiba timbul peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan di antara kita bersaudara ini?” Kian Bu menunduk dan tertekan batinnya.

“Engkau tidak mengajak dia pergi dari istana untuk menghindarkan pernikahan itu?” Kian Lee bertanya.

“Dia tidak mau karena katanya aku melakukan itu karena cinta. Dia tak dapat membalas cintaku dan dia hanya minta agar aku menyampaikan permohonannya kepada Enci Milana supaya ditolong.”

Kian Lee merangkul adiknya. “Aih, adikku… mengapa kita semua gagal dalam bercinta? Mengapa kita harus menghadapi kekecewaan ini?”

“Lee-ko…”

Kakak beradik itu saling peluk dan memejamkan mata, karena pantang bagi kedua orang pemuda gagah perkasa ini untuk mencucurkan air mata kedukaan.

“Bu-te, kuatkan hatimu. Dan kau sampaikan nanti kepada Enci Milana bahwa aku pun terpaksa harus pergi lebih dulu, sekarang juga.”

Kian Bu memandang muka kakaknya yang muran dan tidak ada sinarnya itu. “Lee-ko… kau… kau tenggelam dalam kedukaan!”

“Tidak lagi, Bu-te, aku harus… dan kau juga, harus dapat mengatasi ini semua, jangan biarkan diri kita tenggelam oleh kegagalan cinta. Aku akan pergi mencari Hek-tiauw Lo-mo, harus kubalas jahanam itu yang telah memukul… Ceng Ceng dengan pukulan beracun sehingga mengancam keselamatan nyawanya.”

“Lee-ko, aku ikut…”

“Jangan Bu-te. Sebaiknya kita berpisah dulu. Kita masing-masing perlu waktu untuk mengembalikan ketenangan batin… dalam keadaan begini aku lebih suka menyendiri dulu, Bu-te. Sebetulnya sudah tadi aku hendak pergi, akan tetapi aku menanti kau kembali. Lihat, pakaianku pun sudah kusiapkan.” Kian Lee lalu mengambil buntalan pakaiannya dan setelah menepuk-nepuk pundak adiknya dengan mata merah karena menahan turunnya air mata, dia lalu pergi meninggalkan istana itu dengan cepat.

Kian Bu duduk termenung, merasa kasihan sekali kepada kakaknya dan aneh, begitu dia merasa kasihan kepada kakaknya, penderitaannya sendiri terlupa dan dadanya terasa ringan! Dia tidak tahu bahwa duka timbulnya dari pikiran, dari ingatan yang membayang-bayangkan segala kekecewaan dan segala macam hal yang terjadi dan yang tidak menyenangkan dirinya. Begitu ingatan ini tidak ada, begitu pikiran beralih ke lain hal, maka dengan sendirinya duka pun lenyap dan baru akan muncul lagi kalau ingatan kembali ditujukan kepada hal-hal yang mengecewakan atau tak menyenangkan tadi.

Jelaslah bahwa Si Pembuat Duka adalah pikiran kita sendiri. Segala peristiwa yang terjadi adalah suatu fakta yang wajar, tidak membawa duka mau pun suka, dan suka atau duka adalah hasil permainan pikiran kita sendiri. Maka, bebas dari pikiran berarti bebas pula dari duka! Bebas dari ingatan berarti bebas dari masa lalu, tidak mengingat-ingat lagi hal-hal yang telah lalu atau telah terjadi, baik hal itu menguntungkan atau merugikan diri pribadi.

Kian Bu teringat akan suheng-nya yang katanya pergi tanpa pamit, dan akan enci-nya yang menurut kakaknya tadi seperti orang yang berduka, maka dia lalu bangkit dan keluar dari kamarnya, menuju ke kamar enci-nya. Pintu kamar itu tertutup dan dia mengetuknya.

“Siapa di luar?” terdengar suara Milana setelah agak lama Kian Bu mengetuk pintu kamar itu. “Aku, Enci Milana.”
“Oh, Bu-te. Kau masuklah!”

Kian Bu mendorong daun pintu dan memasuki kamar itu. Dia melihat enci-nya sedang rebah di atas pembaringan dan di bawah sinar penerangan, dia melihat wajah enci-nya pucat seperti orang sakit.

“Enci Milana, kau kenapakah? Sakitkah?” Kian Bu menghampiri dan duduk di atas bangku dekat ranjang.

Milana bangkit duduk dan menggeleng kepala lemah. “Tidak, Bu-te. Engkau sudah kembali? Bagaimana dengan Syanti Dewi?”

Kian Bu menunduk. Tak disangkanya bahwa enci-nya juga agaknya sudah tahu bahwa dia tadi pergi mengunjungi Syanti Dewi, dan memang Milana mendengar akan hal ini dari Kian Lee.

“Dia… dia menyampaikan pesan untuk mohon pertolongan darimu, Enci, agar dia dapat keluar dari istana karena dia tidak suka akan keputusan pernikahannya itu.”

Milana memandang tajam dan tentu saja dia melihat wajah muram adiknya itu. Sampai lama mereka berdua diam saja, Milana memandang penuh selidik sedangkan Kian Bu lebih banyak menunduk.

“Bu-te, engkau… cinta kepada Syanti Dewi?”

Kian Bu makin menunduk, dia merasa malu dan juga sedih. Akhirnya dia mengangguk dan berkata, “Akan tetapi dia… dia tidak cinta padaku… dia mencinta orang lain…”

Milana diam-diam menarik napas panjang, maklumlah dia siapa yang dicinta oleh Puteri Bhutan itu. “Tenangkan hatimu, adikku. Kiraku sebaiknya begitulah, lebih baik mencinta namun tidak terbalas dan dengan demikian menginsyafkan kita, bahwa cinta kita salah alamat, dari pada saling mencinta akan tetapi tidak dapat berjodoh. Saling mencinta akan tetapi harus saling berpisah. Engkau adalah seorang laki-laki yang memiliki kegagahan. Ditolak cintamu oleh seorang gadis tidak perlu menurunkan semangat dan merendahkan diri, bahkan kau harus berterima kasih dan bersyukur bahwa Syanti Dewi bersikap jujur kepadamu.”

Kian Bu mengangguk-angguk. Sedikit nasehat itu dirasakannya tepat sekali dan sudah merupakan obat yang manjur baginya.

“Enci Milana, aku mendengar dari Lee-ko bahwa Gak-suheng sudah pergi. Ke manakah dia dan mengapa tidak memberitahukan Lee-ko dan aku?”

“Entahlah… dia sudah pergi. Kau tahu orang aneh seperti dia…!”

Milana tidak mau banyak bicara tentang Bun Beng, juga memang dia tidak sanggup bicara banyak tentang pria itu karena hal ini hanya akan menusuk perasaannya saja.

“Enci, Lee-ko juga sudah pergi, dia minta agar aku memberitahukan kepadamu.” “Ehhh?!” Milana terkejut. “Mengapa anak itu? Ke mana dia pergi?”
“Enci, agaknya kau tidak tahu. Sebetulnya… Lee-ko juga mengalami patah hati.” “Heiii? Patah hati bagaimana?”
“Dia sesungguhnya amat mencintai Ceng Ceng, kemudian terdapat kenyataan bahwa gadis itu adalah keponakannya sendiri.”

“Aihhh…!” Milana terbelalak, diam-diam perasaannya makin tertusuk. Mengapa begini kebetulan? Mereka bertiga, anak-anak dari Pendekar Super Sakti, dalam waktu yang bersamaan semua menderita patah hati karena cinta gagal?
“Dia bilang hendak mencari Hek-tiauw Lo-mo yang telah melukai Ceng Ceng, hendak membalas dendam kepada kakek Pulau Neraka itu. Karena semua sudah pergi, aku pun akan pergi sekarang juga, Enci.”

“Eh, anak nakal! Engkau pula? Hendak ke mana kau?”

“Aku hendak menghibur hati dan pergi malam ini juga… mungkin aku terus kembali ke Pulau Es… atau ke mana saja, pokoknya jauh dari sini…”

Milana menarik napas panjang. Dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh adiknya ini yang setelah kekecewaannya dalam kegagalan cintanya kini ingin secepat mungkin pergi sejauh mungkin meninggalkan wanita yang menjadi sebab kepatahan hatinya itu.

“Kenapa tidak besok saja, Adikku…?”

“Tidak, Enci Milana. Sekarang juga aku pergi, dan harap sampaikan maafku kepada Ci-hu (kakak ipar)… selamat tinggal, Enci.” Dia kemudian berlari ke luar untuk mengambil pakaiannya dan malam itu juga dia pergi meninggalkan istana enci-nya.

Milana mengerutkan alis, termenung dan membayangkan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya, mengikuti bayangan Gak Bun Beng yang pergi dalam keadaan patah hati dan semangatnya, dan bayangan Kian Lee dan Kian Bu yang juga mengalami kegagalan dalam cintanya. Tak terasa lagi, puteri yang cantik jelita dan gagah perkasa ini meruntuhkan air mata, terisak-isak menangis di atas pembaringannya.

Gak Bun Beng, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu, tiga orang laki-laki gagah perkasa itu semua patah hati dan menderita sengsara karena wanita. Betapa banyaknya peristiwa seperti itu terjadi di dunia ini, semenjak jaman dahulu kala sampai sekarang.

Sejak jaman dahulu, banyak sudah tercatat dalam sejarah betapa laki-laki yang gagah perkasa, satria- satria dan pahlawan-pahlawan, pendekar-pendekar sakti yang sukar menemukan tandingan, akhirnya roboh oleh wanita! Banyak pula dalam sejarah tercatat betapa kaisar-kaisar, raja-raja besar, panglima- panglima dan pemimpin-pemimpin gemblengan, seorang demi seorang roboh tak berdaya di bawah telapak kaki halus seorang wanita. Bahkan di dalam dongeng-dongeng kuno dari bahasa apa pun, tentu terdapat peristiwa di mana para dewata yang memiliki kesaktian dan kekuatan, dapat pula roboh karena wanita. Siapa pula yang tidak mengenal cerita tentang manusia pertama, Adam yang juga runtuh karena bujuk rayu Hawa, seorang wanita pula?

Tetapi, benarkah demikian? Benarkah itu bahwa mereka, para pria yang jatuh itu, raja-raja yang kehilangan tahtanya, pahlawan-pahlawan yang kehilangan kepahlawanannya, pendekar-pendekar yang kehilangan kegagahannya, semua jatuh karena kesalahan wanita? Wanitakah yang bersalah sehingga kaum pria runtuh oleh kelembutan mereka?

Tidak! Kiranya tidaklah tepat kalau kita berpendapat demikian. Wanita pun banyak yang menjadi korban karena hubungannya dengan pria. Hampir semua wanita yang terperosok ke dalam lembah kehinaan, yang umumnya dinamakan pelacur, tentu akan dapat menceritakan riwayat masing-masing yang hampir semua adalah akibat dari perbuatan pria, atau menjadi korban hubungan mereka dengan pria. Juga dalam hal mereka ini, tidak dapat dipersalahkan kepada kaum pria.

Bukan wanita atau pria yang bersalah dengan terjadinya semua kegagalan hidup itu. Yang bersalah adalah yang disebut cinta antara pria dan wanita, yang sesungguhnya bukankah cinta sejati, melainkan cinta yang diciptakan oleh nafsu belaka. Cinta nafsu tentu saja menimbulkan bermacam peristiwa, yang menimbulkan kenikmatan dan kesenangan hebat, namun di lain saat bisa mendatangkan derita dan kedukaan yang hebat pula. Karena cinta nafsu adalah penonjolan dari diri pribadi dalam bentuk yang paling nyata, dan selama diri pribadi ditonjolkan, sudah pasti yang ada hanyalah suka dan duka, nikmat dan derita!

Tiada yang senikmat cinta sorgaloka turun ke dunia membuai dan membius manusia!
Tiada yang selucu cinta
manusia menjadi badut-badut dibuatnya segala kepalsuan dilakukannya!
Tiada yang secelaka cinta mendatangkan derita tiada taranya dunia berubah menjadi neraka!
Akan tetapi…,
tiada yang seindah cinta sejati dalam tawa remaja puteri Dalam sinar matahari pagi
yang terkandung dalam tangis bayi dalam lautan danau dan sungai dalam semua isi langit dan bumi dalam segala yang hidup dan mati Cinta mulia dan suci
tetap ADA dan kekal abadi apa bila AKU TIADA lagi.

********************

“Apa kau bilang…?” Puteri Milana meloncat dengan kaget sekali mendengar laporan dari seorang pengawalnya dengan muka pucat bahwa suaminya, Han Wi Kong, sedang membuat huru-hara di istana Pangeran Liong Bin Ong dan kini sedang dikeroyok oleh para pengawal pangeran itu.

“Hamba… hamba dengar… Pangeran Liong Bin Ong telah dibunuhnya…”

Milana menahan jeritnya. Sekali berkelebat tubuhnya telah lenyap dari depan pengawal yang melaporkan peristiwa hebat itu. Bagaikan bayangan siluman saja saking cepatnya, Milana berlari ke istana Pangeran Liong Bin Ong dan ketika dia melayang naik ke atas genteng istana itu, dia sudah mendengar suara ribut- ribut di bagian belakang istana. Cepat dia melayang turun.

Dua orang pengawal berteriak dan menghadang, tetapi dua kali tangannya bergerak, dua orang pengawal itu terpelanting ke kanan kiri seperti disambar petir. Milana terus lari ke dalam dan ketika dia tiba di tempat yang luas di ruangan belakang menuju ke pintu taman, dia terkejut bukan main. Pangeran Liong Bin Ong telah menggeletak di atas lantai dengan dada tertusuk pedang yang dia kenal sebagai pedang suaminya!

Pangeran tua itu mati dan melihat meja yang penuh hidangan, agaknya tadi pangeran itu sedang menjamu tamu yang agaknya suaminya itulah! Dan tak jauh dari situ dia melihat suaminya dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang pengawal, dan di antaranya terdapat seorang kakek yang tidak berbaju. Kakek ini memegang sebatang gendewa besar dan kelihatan lihai sekali sungguh pun melihat pakaian dan sikapnya dia itu sepantasnyalah seorang pekerja di dapur atau tukang kebun di taman!

Han Wi Kong sudah luka-luka dan dengan gagah berani panglima ini membela diri dengan tangan kosong. Ketika dia melihat isterinya muncul di situ, dia terkejut sekali.

“Milana…, pergilah kau…!”

“Desss…!” Sebatang toya menghantam pundak panglima itu ketika dia menoleh kepada isterinya. Han Wi Kong terhuyung, kemudian dia meloncat ke arah Milana.

“Cepat… pergi dari sini… tiada jalan lain, aku membunuh pemberontak itu…” “Wirrr-wirrr-wirrr…!”
“Awas panah…!” Milana menjerit kaget. “Cep-cep-ceppp…! Aughhhh…!”
Tiga batang anak panah yang dilepas oleh kakek telanjang baju dari jarak dekat dengan gendewanya yang besar itu sudah menancap di lengan serta punggung Han Wi Kong. Panglima itu mengeluh, terbelalak karena dua batang anak panah yang menancap di punggung menancap dalam sekali, sedangkan lengannya tertembus sebatang anak panah.

“Milana… maafkan aku… lekas pergi… surat di atas mejaku… kau berikan dia…” Setelah berkata demikian, Han Wi Kong roboh terguling dan tewas di saat itu juga karena dua batang anak panah yang menancap di punggungnya itu menembus jantung.

“Aiiihhhh…!” Milana terbelalak memandang mayat suaminya sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan kanan. Kemudian dia mengangkat muka, memandang kakek telanjang itu dan para pengawal yang sudah maju menghampiri dan mengurungnya, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api, cuping hidungnya kembang-kempis dan bibirnya gemetar.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang nyaring dan menggetarkan semua pengawal, suara lengking mengerikan yang keluar dari mulut kecil Puteri Milana, dan tampak bayangan merah dari jubahnya yang lebar berkelebat ke depan. Para pengawal terkejut dan mengangkat senjata, namun terdengar suara keras dan empat orang di antara mereka terpental, terbentur pada dinding dan tewas seketika dengan kepala pecah!

Para pengawal itu adalah orang-orang pilihan yang sengaja dipelihara oleh Liong Bin Ong untuk mengawal dirinya. Mereka adalah orang-orang kepercayaan pemberontak itu, maka biar pun mereka tahu akan kelihaian Puteri Milana, mereka menganggap puteri ini sebagai musuh majikannya. Bahkan laki-laki memegang gendewa itu adalah seorang tokoh hitam yang bekerja di situ menyamar sebagai tukang masak, padahal dia pun merupakan seorang pengawal dalam yang dipercaya dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Tadi sore Han Wi Kong datang secara baik-baik, resminya adalah untuk mengucapkan berduka cita atas kematian Pangeran Liong Khi Ong. Akan tetapi Liong Bin Ong yang cerdik itu menyambut ucapan duka cita itu dengan tertawa.

“Dia mati karena ulahnya sendiri. Siapa suruh dia memberontak terhadap pemerintah yang sah?” kata Liong Bin Ong. “Sudah sering aku memberi nasehat, akan tetapi tidak diturutnya. Sekarang dia tewas, itulah hukumannya, dan kita tidak perlu berduka cita!”

Untuk memperlihatkan bahwa dia ‘tidak ada hubungan’ dengan adiknya yang sudah memberontak itu, Liong Bin Ong memperlihatkan kegembiraan, bahkan dia kemudian menjamu makan kepada suami Puteri Milana yang diam-diam merupakan musuh besar dan lawan tangguhnya itu. Milana masih terhitung keponakan pangeran ini, maka Han Wi Kong juga masih merupakan keluarga dekat, yaitu mantu keponakan.

Mereka makan minum di ruangan belakang dan dijaga oleh dua belas orang pengawal kepercayaan Pangeran Liong Bi Ong. Akan tetapi, tanpa tersangka-sangka sama sekali, ketika tuan rumah dan tamu itu sudah minum sampai setengah mabok, tiba-tiba saja Han Wi Kong mencabut pedang dan menusuk pangeran tua itu dari depan, tepat mengenai dadanya sehingga Pangeran Liong Bin Ong roboh dan tewas seketika. Tentu saja peristiwa yang tidak tersangka-sangka ini tidak dapat dicegah oleh para pengawal yang lalu menjadi marah dan mengepung serta menyerang Han Wi Kong. Keributan ini terdengar dari luar sehingga sampai juga ke istana Puteri Milana sehingga seorang pengawal cepat melaporkan kepada puteri itu.

Kini Milana mengamuk. Kedukaan dan kemarahan bercampur menjadi satu membuat puteri ini menjadi luar biasa berbahayanya. Gelang di tangan kirinya yang terbuat dari emas itu telah berlepotan darah dan dalam waktu singkat saja, delapan orang pengawal telah roboh oleh wanita sakti ini. Kini tinggal empat orang pengawal bersama kakek telanjang baju yang masih melawannya, tetapi biar pun kakek itu memiliki kepandaian tinggi dan gerakan gendewa sebagai senjatanya itu amat kuat, namun sudah dua kali dia terhuyung kena diserempet hawa pukulan dari tangan lembut Puteri Milana.

“Serr-serr-serrr…!” Tiga batang anak panah meluncur, dilepas oleh kakek itu dari jarak dekat.

“Bedebah…!” Milana memaki karena panah-panah ini mengingatkan dia akan kematian suaminya. Cepat tangannya menyambar dan tiga batang anak panah itu telah dapat disambarnya di udara, kemudian dia memekik dan tiga batang anak panah itu balik dilontarkan dengan kecepatan kilat ke arah kakek itu.

Kakek itu terkejut sekali melihat betapa wanita itu dapat menangkap tiga batang anak panahnya dan kekagetannya inilah yang mencelakakan dia karena ketika dia melihat berkelebatnya tiga sinar kilat menyambarnya, dia kurang cepat mengelak sehingga sebatang di antara tiga anak panah itu menyambar tenggorokannya.

“Arrgghhhh…!” Kakek itu mengeluarkan suara seperti seekor babi disembelih, kemudian dia menubruk dengan nekat, menggunakan gendewanya untuk melakukan serangan terakhir.

Namun, Milana sudah meloncat ke samping, kakinya menendang dan tubuh kakek itu roboh terjengkang, tewas seketika. Empat orang pengawal menjadi jeri, dan hendak lari, namun tahu-tahu ada bayangan berkelebat melewati mereka dan ketika mereka memandang, Puteri Milana sudah berdiri di depan mereka!

“Tidak ada yang kubiarkan hidup!” Milana membentak.

Begitu dia bergerak, kaki tangannya telah menyerang dan berturut-turut robohlah empat orang pengawal itu. Baru puas rasa hati Milana dan dia cepat meloncat ke dekat mayat suaminya, mencabuti tiga batang anak panah itu kemudian memanggul mayat itu dan meloncat pergi, terus melarikan diri ke dalam istananya sendiri.

Dia merebahkan mayat suaminya di atas pembaringan, teringat akan pesan suaminya dia menoleh ke atas meja. Benar saja, di situ terdapat dua buah sampul surat kuning yang ketika dibacanya, yang sebuah dialamatkan kepadanya dan yang sebuah lagi dialamatkan kepada Gak Bun Beng! Dengan jari-jari tangan gemetar Milana membuka sampul surat untuknya, membaca dengan muka pucat dan perlahan-lahan air matanya yang tadi tertahan oleh kemarahan mulai menetes-netes ke atas surat yang dibacanya, melunturkan tintanya.

Milana isteriku tercinta, Hanya ada satu jalan bagi kita semua, juga bagi keselamatan negara, yaitu aku harus membunuh Liong Bin Ong. Percayalah, aku bukan melakukan bunuh diri dengan membuta, melainkan sudah kupertimbangkan masak-masak, demi keselamatan negara dan terutama sekali demi kebahagiaan hidupmu. Kau bawalah suratku dan berikan kepada Gak Bun Beng, dia patut menerima cinta kasihmu.
Selamat tinggal.

Suamimu, juga sahabatmu,
Han Wi Kong

“Ahhhhhh…!” Milana menubruk ke pembaringan dan berlutut sambil menangis di depan mayat suaminya.

Dia maklum, dia pun mengerti mengapa suaminya melakukan perbuatan ini. Suaminya sudah tahu bahwa dalam membunuh Pangeran Liong Bin Ong, dia pasti akan tewas. Dan memang harus diakui bahwa satu- satunya jalan untuk menghindarkan negara dari bahaya ancaman pangeran yang palsu hatinya itu, hanya dengan cara membunuhnya, karena Kaisar terlampau sayang dan terlampau percaya kepada saudaranya itu.

Dan Han Wi Kong telah sengaja melakukan itu untuk memberi kesempatan kepada dia dan Gak Bun Beng!

“Han Wi Kong, harap kau sudi mengampunkan aku. Di dunia ini aku tidak bisa menjadi isterimu, biarlah di dalam kehidupan lain kelak aku akan suka menjadi apa saja untuk melayanimu.”

Tiba-tiba para pengawal berlari masuk dan dengan terengah-engah melaporkan bahwa Perdana Menteri Su sendiri dengan para petugas keamanan istana telah datang, dan pasukan itu mendapat perintah, untuk menangkap Puteri Milana!

“Jangan melawan!” kata Milana.

Cepat dia menyimpan dua buah surat itu ke saku bajunya, kemudian dia menggunakan pit untuk membuat corat-coret di atas tembok kamar suaminya karena dia sudah tidak mempunyai waktu untuk menulis surat dengan baik-baik. Kemudian, secepatnya dia mengumpulkan beberapa perhiasan dan pakaian, membuntalnya dengan kain kuning, menyambar pedangnya dan mengikatkan pedang dan buntalan di pundak, kemudian dia meloncat melalui jendela kemar itu ketika mendengar derap kaki banyak orang mendatangi ke arah kamar itu.

Ketika Perdana Menteri Su dan para pasukan memasuki kamar, pembesar ini hanya melihat mayat Han Wi Kong dan coretan-coretan di atas tembok yang berbunyi:

Milana akan berterima kasih sekali kepada Perdana Menteri Su jika sudi mengurus jenazah Han Wi Kong dengan sepatutnya.

Tertanda :
Puteri Milana.

Perdana Menteri Su menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang. Biar pun dia tadi terkejut sekali mendengar akan peristiwa pembunuhan Pangeran Liong Bin Ong, namun dia mengerti mengapa Han Wi Kong melakukan perbuatan nekat itu dan diam-diam dia bersyukur karena dibunuhnya Pangeran Liong Bin Ong itu terbebaslah negara dari ancaman bahaya besar.

Maka dia lalu menghampiri jenazah Han Wi Kong dan tanpa ragu-ragu lagi pembesar tinggi yang sudah tua ini menjatuhkan diri berlutut di depan pembaringan sebagai penghormatan dan mulutnya berkemak-kemik menghaturkan terima kasih kepada Han Wi Kong yang disebutnya sebagai seorang pahlawan bangsa! Mudah saja dia akan membujuk Kaisar dengan mengatakan bahwa apa yang terjadi hanyalah pertikaian pribadi antara keluarga Milana dan Liong Bin Ong, sehingga dengan demikian Han Wi Kong tidak akan dianggap sebagai seorang musuh negara.

“Hei, mengapa kalian bengong saja?” Setelah dia berdiri lagi dia membentak pasukan yang dipimpin oleh seorang panglima itu. “Hayo lekas cari dan tangkap Puteri Milana!”

Pasukan itu kemudian lari cerai-berai. Hanya lagaknya saja Perdana Menteri Su berkata demikian, akan tetapi diam-diam dia maklum bahwa tidak ada seorang pun di antara pasukan itu yang akan berani menyentuh ujung jubah Puteri Milana yang mereka kagumi dan hormati.

Maka lenyaplah Puteri Milana dan berbareng dengan menghilangnya puteri ini dari kota raja, hilang pula Puteri Syanti Dewi dari kamarnya tanpa ada yang tahu ke mana Puteri Bhutan itu pergi. Hanya Perdana Menteri Su yang mengangguk-angguk dan menduga bahwa pasti Puteri Milana yang melakukan hal itu, sengaja mengajak Puteri Syanti Dewi lari dari istana karena tidak setuju Puteri Bhutan itu dikawinkan dengan Pangeran Yung Hwa.

Perdana Menteri Su merasa heran sekali dan tidak mengerti kenapa Milana melakukan hal itu. Maka didatanginyalah Pangeran Yung Hwa dan alangkah herannya pembesar yang bijaksana dan setia ini melihat Pangeran Yung Hwa justru kegirangan luar biasa mendengar bahwa Puteri Syanti Dewi telah melarikan diri!

“Paman Menteri, saya girang sekali, ahhh, saya bersyukur sekali bahwa dia telah pergi, karena kalau tidak, tentu aku yang akan pergi lagi.”

“Ehh, kenapa begitu, Pangeran?”

“Aku tidak suka diharuskan menikah dengan puteri Bhutan.”

Perdana Menteri Su memandang heran dan mengerutkan alisnya. “Ingatlah, Pangeran Muda, dahulu engkau marah-marah dan melarikan diri dari istana karena permintaanmu untuk menikah dengan puteri Bhutan ditolak Sri Baginda. Sekarang keinginanmu itu dituruti, engkau malah menolak. Apa artinya ini?”

Pangeran Yung Hwa tersenyum. “Artinya, Paman, bahwa dulu itu cintaku adalah cinta yang mentah, cinta monyet, cinta kanak-kanak karena yang kucinta adalah bayangan seorang gadis yang muncul karena cerita-cerita indah tentang dirinya. Dahulu aku mencinta seorang dara yang belum pernah kulihat, cinta bayangan saja. Sekarang, saya telah tahu apa artinya cinta, saya telah mencinta seorang dara dari darah daging, bukan bayangan kosong belaka. Biar dia gadis biasa, aku cinta padanya dan setelah Syanti Dewi pergi, saya pun akan pergi untuk mencari dara yang saya cinta itu. Saya girang dapat terbebaskan dari Puteri Bhutan!” Pangeran Yung Hwa bergembira dan bersenandung!

Perdana Menteri Su meninggalkan pangeran itu sambil menggeleng-geleng kepalanya yang penuh uban. Heran dia melihat ulah orang-orang muda dan makin kagum hati kakek itu menyaksikan kekuatan cinta yang menguasai hampir seluruh kehidupan manusia. Tanpa cinta, matahari akan kehilangan sinarnya, bunga-bunga akan kehilangan keharumannya dan madu akan kehilangan manisnya!

Dengan hati-hati dan cerdik, perdana menteri ini akhirnya dapat pula meredakan kemarahan Kaisar dan mengajukan alasan-alasan masuk akal bahwa peristiwa itu terjadi karena pertikaian pribadi antara keluarga Puteri Milana dan Pangeran Liong Bin Ong, sama sekali tidak menyangkut urusan negara, maka hendaknya Kaisar tidak mencampurinya. Ada pun tentang kehilangan Puteri Syanti Dewi, Perdana Menteri berjanji akan menyebar orang untuk mencarinya dan mengusulkan bahwa seyogianya urusan perjodohan itu ditunda saja.

“Dahulu Paduka melamar Puteri Bhutan untuk mendiang Pangeran Liong Khi Ong, dan kalau sekarang suami untuk Puteri itu ditukar tanpa mengadakan perundingan lebih dulu dengan Kerajaan Bhutan, hamba kira hal itu malah akan menanamkan sakit hati seolah-olah Paduka kurang menghargai Kerajaan Bhutan. Sebaiknya dinanti sampai ada kabar tentang puteri itu, baru mengajukan usul perubahan ikatan jodoh itu dengan Kerajaan Bhutan.”

Semua alasan yang kuat diajukan oleh Perdana Menteri Su dan akhirnya Kaisar dapat dibujuk sehingga tidak meributkan lagi peristiwa-peristiwa yang terjadi itu. Malah Kaisar juga tidak keberatan ketika mendengar betapa Perdana Menteri Su mengurus jenazah Han Wi Kong dan menguburkan jenazah itu di dalam kuburan keluarga Kaisar tingkat dua, karena betapa pun juga, Han Wi Kong adalah mantu cucu dari kaisar sendiri. Maka terlaksanalah apa yang menjadi permohonan Milana kepada Perdana Menteri Su.

Duka timbul dari kecewa. Kecewa timbul dari tidak tercapainya nafsu keinginan. Nafsu keinginan adalah hasrat pengejaran terhadap sesuatu yang menyenangkan dari si aku. Si aku timbul dari pikiran. Si aku adalah pikiran sendiri. Pikiran adalah ingatan yang mengenang masa lalu, ingin mengejar lagi kenangan baru yang menyenangkan dan menjauhi yang tidak menyenangkan.

Kebahagiaan hidup, baru mungkin ada apa bila bebas dari nafsu keinginan, tidak lagi mencari-cari, tidak lagi mengejar sesuatu seperti yang kita inginkan. Bebas dari pikiran yang membanding-bandingkan, berambisi, berkhayal. Bebas dari si aku. Kebebasan ini menimbulkan kewaspadaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu ini adalah indah dan sempurna, tidak ada kecualinya. Yang ada hanyalah kenyataannya, apa adanya dan ini adalah wajar dan mutlak.

Bukan suka bukan pula duka, bukan puas bukan pula kecewa, bukan nikmat dan bukan derita karena banding-membandingkan dan semua kebalikan-kebalikan ini adalah permainan pikiran yang memilih-milih sehingga timbullah konflik-konflik batin yang lalu meledak menjadi konflik-konflik lahir. Kebahagiaan terletak di atas segalanya itu, di atas dan bebas dari pikiran. Kekurangan dan kekecewaan hanya diderita oleh mereka yang tidak mengenal kecukupan. Maka hanya mereka yang tidak membutuhkan apa-apa lagi sajalah yang dapat menyentuh kebahagiaan…..

********************

Hawa udara panas sekali. Terik mentari seolah-olah hendak membakar segala sesuatu di permukaan bumi. Sinar matahari yang langsung menimpa bumi, terpantul kembali menciptakan hawa yang gerah.

Seorang pemuda duduk di bawah sebatang pohon besar dalam hutan itu, membuka kancing bajunya dan meniupi leher dan dadanya. Pemuda ini berwajah tampan dan rambutnya mengkilap hitam, dikuncir panjang berjuntai di belakang pundak kanan. Pakaiannya sederhana, jubahnya yang hitam kebiruan lebar dan panjang, menutupi baju dan celana sehingga membuat dia makin kegerahan. Pemuda ini adalah Suma Kian Bu yang telah melakukan perantauan seorang diri, pergi dari kota raja di mana hatinya untuk pertama kali mengalami pecah berantakan akibat cinta gagal. Akan tetapi, karena dasar wataknya memang gembira, setelah merantau sebulan lebih, luka di hatinya itu hanya tinggal bekasnya saja, tidak terasa nyeri lagi.

“Uihhhh, panasnya…!” Dia mengeluh.

Hutan yang penuh pohon itu masih belum mampu melawan hawa panas yang datang dari gurun. Daerah sekitar hutan itu adalah daerah pegunungan yang diselang-seling padang rumput dan padang pasir. Tadi sebelum memasuki hutan, Kian Bu melewati padang pasir yang luar biasa panasnya. Matanya silau melihat sinar matahari menimpa pasir-pasir yang berkilauan, dan terasa benar olehnya hawa yang panas menyerangnya dari bawah. Maka ketika dia memasuki hutan itu, hawa terasa sejuk dan nyaman sehingga dia menjatuhkan diri di bawah pohon besar itu sambil meniupi lehernya.

Tubuhnya lelah sekali dan betapa nikmatnya duduk di bawah pohon, terlindung dari sengatan terik matahari. Angin sepoi-sepoi semilir meniupi muka dan lehernya, membuat matanya menjadi berat dan mengantuk. Betapa enak rasanya dilanda kantuk! Sudah pasti bahwa tidak ada yang lebih nikmat di dunia ini dari pada tidur bagi orang yang mengantuk, seperti juga makan bagi orang yang lapar dan minum bagi orang yang haus.

“Dukk…!” Kepalanya membentur batang pohon.

“Heh-heh-heh, pemalas!” Kian Bu mengomel sambil tertawa ketika dia tersadar karena ketika melenggut tadi, kepalanya terbanting ke belakang dan membentur batang pohon. Agaknya sudah tidak berbekas lagi kepatahan hati pemuda yang berwatak gembira ini.

Dia bangkit berdiri, memandang ke sekeliling. Hutan itu liar dan lebat, sunyi bukan main. Dia ingin sekali tidur barang sejenak, akan tetapi jangan-jangan ada binatang buas dan berbisa di hutan asing ini datang mengganggunya di waktu dia tertidur nyenyak. Maka dia lalu berdongak ke atas dan di lain saat pemuda yang memiliki kepandaian tinggi itu sudah melesat ke atas pohon, memilih tempat yang enak di atas cabang pohon yang besar, duduk mepet di pangkal cabang, melingkar seperti seekor monyet dan tak lama kemudian pemuda ini sudah tertidur pulas!

Tidur merupakan berkat bagi tubuh manusia. Tidur dengan pikiran kosong tanpa mimpi, biar hanya sekejap saja, sudah sanggup memulihkan kesegaran tubuh, dan tidur pulas sejam saja sudah terasa amat lama. Sebaliknya, yang membuat tidur merupakan suatu kemalasan yang bahkan melelahkan adalah jika pikiran bekerja terus di waktu tidur sehingga timbul mimpi-mimpi buruk.

“Clekittt…!”

“Auwwww…!” Kian Bu terbangun dan cepat menggaruk-garuk pinggulnya.

“Sialan… semut merah!” gerutunya ketika dia merogoh ke balik celananya dan jari-jari tangannya menjepit seekor semut merah. Pinggulnya sudah bintul dan terasa sangat gatal. Kiranya semut itu menyelinap masuk melalui pakaiannya dan entah mengapa, menggigit pinggulnya.

“Huh, tentu semut betina!” gerutunya lagi. “Kalau jantan mana mau mencubit pinggul? Sialan!” Dia menggaruk-garuk pinggulnya, makin digaruk makin gatal.

Tiba-tiba dia berhenti menggaruk pinggul. Ada suara derap kaki kuda! Kiranya hutan liar ini bukannya tidak ada manusianya seperti yang dia kira semula. Makin lama makin jelas suara derap kaki kuda menuju ke tempat itu dan tak lama kemudian dia melihat dua orang penunggang kuda yang berpakaian sebagai ahli- ahli silat dan bertubuh tegap-tegap dan kuat-kuat seperti tubuh orang-orang yang biasa hidup mengandalkan kekuatan tubuhnya. Di punggung mereka terselip golok telanjang yang mengkilap tajam. Ketika tiba di bawah pohon itu, mereka menahan kuda mereka. Dua ekor kuda itu meringkik dan mengangkat kaki depan, hidung mereka mendengus-dengus dan mulut mereka mengeluarkan busa.

“Sudah jelaskah bahwa dia itu mata-mata?” tanya yang bercambang tebal.

“Tidak salah lagi, dia mengejar kita dan kepandaiannya hebat. Kita harus cepat pulang dan melaporkan ini kepada pimpinan. Siapa tahu kita diikuti oleh pasukan musuh.”

“Baiknya kita berpencar di sini, dan kalau dapat terbebas dari dia, kita berkumpul di dusun Ma-cin,” kata pula yang bercambang tebal.

“Baik!”

Dua orang itu lalu berpisahan, yang seorang membalapkan kuda membelok ke kiri, dan yang seorang lagi ke kanan. Keadaan menjadi sunyi kembali setelah derap kaki kedua ekor kuda itu menghilang dan tak terdengar lagi. Sunyi yang menegangkan.

Kian Bu duduk di atas cabang pohon, bersembunyi di balik daun-daun lebar sambil termenung. Jelas bahwa dua orang itu adalah anggota suatu kelompok atau pasukan atau gerombolan. Perkumpulan apakah yang agaknya menguasai daerah ini? Siapa kedua orang itu dan siapa ketua mereka? Dan siapa pula orang-orang yang mereka bicarakan tadi, yang disangka mata-mata musuh? Dia menanti sampai lama karena mengira bahwa orang yang dibicarakan mereka berdua tadi, yang katanya mengejar mereka, tentu akan muncul pula. Akan tetapi, sampai satu jam lebih dia menanti, tidak juga tampak ada yang datang mengejar.

“Huh, pengejar yang lambat dan bodoh seperti itu mana akan mampu menyusul buruan?” Dia sudah mengomel karena merasa kesal juga menanti sebegitu lamanya di atas pohon, dan merasa mendongkol karena dia telah terganggu dari kenikmatan tidur siang terayun-ayun di cabang itu. Kini dia harus berjaga dengan penuh ketegangan, namun yang dinanti-nanti tidak kunjung muncul. Siapa tidak menjadi gemas?

“Uuuhhh, pengejar tolol…!” Habis kesabarannya dan selagi dia hendak meloncat turun, tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi! Sayup-sampai suaranya, akan tetapi makin lama makin jelas.

Suara seorang wanita bernyanyi. Merdu bukan main! Suara itu bening, halus dan pulen, terbawa angin semilir memasuki telinganya mendatangkan perasaan nyaman dan sedap! Kian Bu terbelalak heran. Suara wanita begitu merdu di hutan liar dan sunyi ini? Jangan-jangan suara siluman itu! Yang dinantikannya adalah seorang pengejar yang bengis, bukan orang yang suaranya mengalahkan biduanita yang pernah didengarnya bernyanyi di kota raja! Dan isi nyanyian itu! Dia mendengarkan penuh perhatian.

Pada usia delapan tahun
aku mencuri pandang di dalam cermin,
dan aku sudah dapat menghitami alis mataku!
Pada usia sepuluh
aku pergi ke pesta sincia
dengan baju baru berkembang bunga teratai!
Pada usia dua belas
aku belajar meniup suling,
hiasan kuku tak pernah lepas dari jari tanganku!
Pada usia empat belas
aku tak berani bertemu pria, menduga-duga akan segera dijodohkan.
Pada usia lima belas
aku menangis di dalam musim bunga,
dan menyembunyikan mukaku di balik pintu taman…

Kian Bu tertegun. Tentu saja dia mengenal baik sajak nyanyian itu. Kian Bu telah diberi pelajaran sastra oleh ibunya dan banyak sajak-sajak ciptaan sastrawan-sastrawan kuno hafal olehnya. Dia ingat bahwa nyanyian itu diambil dari sajak ciptaan pujangga Li Shang Yin yang hidup di abad ke sembilan (812-858). Li Shang Yin terkenal dengan tulisan sajaknya, terutama sajak Tujuh Sajak Cinta dan yang dinyanyikan suara merdu itu adalah sajak ketiga!

Kian Bu menjadi penasaran karena sampai lama orangnya belum juga muncul. Kalau penyanyi itu berjalan kaki, tentu jalannya lambat sekali, apa lagi kalau naik kuda. Agaknya kudanya itu berjalan sambil makan rumput di sepanjang jalan! Akan tetapi, wanita dengan suara seperti itu tidak pantas kalau berjalan kaki atau naik kuda di hutan liar ini, pantasnya naik kereta. Akan tetapi dia tidak mendengar suara roda kereta!

Kian Bu merayap turun dari atas pohon. Kalau yang muncul seorang wanita bersuara semerdu ini, dia tidak perlu lagi bersembunyi. Sebaliknya malah, dia ingin menemui wanita itu dan melihat apakah orangnya juga seindah suaranya! Dengan tergesa-gesa dia merayap turun, lalu meloncat ke bawah.

“Heiiitttt… eihhhh…!” Kian Bu meloncat ke samping menghindarkan kakinya yang hampir menginjak sebuah kepala orang!

Dia memandang dengan mata terbelalak dan tengkuknya berdiri karena merasa seram. Kepala itu berambut panjang sudah putih semua, kepala yang kecil, kepala seorang tua renta, seorang kakek kurus yang sedang tidur mendengkur di bawah pohon, kepalanya berbantalkan akar pohon itu.

Kian Bu melongo. Bagaimana dan bila mana orang ini bisa berada di bawah pohon tanpa diketahuinya? Mustahil! Kalau sudah lama, pasti tampak oleh dua orang berkuda tadi. Kalau baru saja, bagaimana sampai dia tidak tahu? Jangan-jangan ini bukan orang, melainkan setan, iblis hutan yang menjaga hutan itu! Dan jangan-jangan suara merdu tadi itu pun suara peri atau siluman yang suka menjadi perempuan cantik. Dia bergidik, akan tetapi dilawannya dengan keyakinan bahwa menurut dongeng-dongeng mana pun juga, setan dan iblis tidak muncul di siang hari!

Dan sekarang masih siang. Kata yang empunya dongeng, semua makhluk halus takut akan sinar matahari. Bukan kalau begitu, bukan iblis! Kalau manusia, tentu luar biasa sekali kepandaian kakek ini! Kiranya hanya orang dengan kepandaian setingkat kakaknya atau dia sendiri yang akan mampu datang tanpa suara seperti itu! Kian Bu menjadi khawatir, dan melihat orang itu tidur mendengkur, dia lalu melayang lagi ke atas, sembunyi di dalam daun-daun sambil mengintai ke bawah. Kalau kakek itu berniat buruk kepadanya, tentu sudah dilakukannya dari tadi, tidak tidur mendengkur dulu di bawah pohon.
Kini terdengar bunyi kerincingan. Masih lirih tanda bahwa suara itu masih jauh akan tetapi suara kerincingan itu bening sekali. Tang-ting-tang-ting dan crang-cring-crang-cring seperti perak dipukul. Dan kini terdengar lagi suara wanita bernyanyi, suara yang merdu tadi, kini diiringi suara kerincingan tang-ting- tang-ting itu, seolah-olah yang-kim (kecapi) yang hanya mempunyai dua macam nada. Suaranya yang merdu itu kini bernada gembira dan jenaka.

Hujan musim rontok, hujan musim rontok! Tiada bulan, tiada malam.
Berintik-rintik, bercucuran deras! Lampunya padam, kasurnya dingin, kesepian yang menjemukan.
Si Cantik Jelita berduka merana!
Angin barat semilir meniup bambu di jendela, berhenti sebentar dan mulai lagi,
dua butir air mata seperti mutiara bergantung di sepasang pipi dingin. Betapa sering kakanda berjanji,
Apa bila angsa liar terbang datang… Kakanda melanggar janji,
angsa liar telah datang, namun kakanda tidak…

Saking kagumnya karena dia pun mengenal sajak indah ini, Kian Bu meloncat turun lagi, lupa bahwa di bawah itu ada orang tidur. Untung rambut putih itu tampak olehnya sehingga dia cepat berjungkir balik dan turun di balik pohon besar. Sialan, pikirnya. Kamu mengejek aku, ya! Dia baru saja mengalami kegagalan cinta dan sejak tadi suara itu bernyanyi tentang cinta gagal! Tapi kakek ini agaknya menanti yang bersuara itu.

Kian Bu menyelinap di balik batang pohon besar, tak jauh dari situ, menanti dan siap untuk membantu kalau kakek seperti setan ini nanti menyerang si penyanyi yang tentu saja seorang wanita… dan sepatutnya cantik pula. Suara seperti itu sepantasnya keluar dari bibir yang mungil, mulut yang basah kecil dan segar! Kalau tidak begitu, mau dia mempertaruhkan… kuncirnya!

Suara berkerincing tadi makin jelas dan dari balik tempat sembunyinya, Kian Bu memandang ke depan, sama sekali dia sudah lupa akan kehadiran kakek yang tadi tidur mendengkur di bawah pohon. Hatinya berdebar tegang karena ingin sekali dia melihat orang yang mempunyai suara indah itu.

Mula-mula yang tampak adalah kuda putih kecil seperti keledai muncul di tikungan jalan. Kuda itu mungkin keturunan keledai, pendek dan telinganya panjang seperti telinga keledai. Leher kuda itu dipasangi kalung yang terbuat dari kerincingan-kerincingan kecil itu sehingga selalu mengeluarkan bunyi ketika kuda setengah keledai itu berjalan. Akan tetapi, kuda atau keledai Kian Bu tidak peduli, yang penting adalah penunggangnya! Seorang dara remaja yang… aduhai! Cantik manis, jelita remaja, dengan bentuk tubuh yang meranum, duduk seenaknya di atas punggung keledai hingga Kian Bu mendengar hatinya berbisik, “Aku juga mau menjadi keledai itu!”

Dara itu memegang sebatang payung yang terbuka dan payung itu bergerak-gerak terkena angin, akan tetapi tetap dipertahankan menjaga mukanya yang manis itu dari sengatan sinar matahari.

Seperti orang terpesona, Kian Bu lupa bahwa dia harus bersembunyi. Tahu-tahu dia sudah melangkah keluar dari pohon besar itu, memandang kepada dara ayu beraksi dengan payungnya di atas keledai itu sambil tersenyum, memasang ‘senyum mautnya’ karena kini sudah pulih kembali Kian Bu, menjadi seperti Kian Bu yang dahulu, jenaka gembira dan paling suka berhadapan dengan wanita jelita!

“Selamat siang, Nona. Wahai… suaramu tadi, nyanyianmu tadi, hebat bukan main…” Kian Bu menegur ramah.

Dara itu menahan keledainya, berhenti di depan Kian Bu tanpa menurunkan payungnya, memandang penuh selidik, kemudian terdengar dia bertanya, suaranya serak-serak basah tidak seperti nyanyian yang bening tadi, akan tetapi malah terdengar makin menarik bagi ‘telinga keranjang’ Kian Bu.

“Apanya yang hebat? Apakah engkau mengerti nyanyian tadi?” Agaknya dara itu menduga bahwa Kian Bu hanyalah seorang pemuda gunung yang mencari kayu bakar di hutan itu.

“Kesemuanya hebat dan indah! Sajak ketiga dari Lagu Tujuh Cinta karangan Li Shang Yin di jaman Tong- tiauw itu hebat, akan tetapi sajak Yen Sian di jaman Sung-tiauw tadi pun indah. Dan terutama sekali… suaramu amat merdu, Nona…”

Dara itu membelalakkan matanya, dan sekali lagi tangannya bergerak….

“Treppp!” Payung itu telah tertutup. Sekali pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang melengkung itu bergerak, dia sudah meloncat turun dari punggung keledai.

Kian Bu makin kagum melihat gadis itu sudah berdiri. Kiranya bentuk tubuhnya juga hebat, seperti yang diduganya, setelah kini dara itu berdiri. Akan tetapi untuk memuji tubuh orang dia tidak berani, maka biar pun sepasang matanya memandang tubuh dara itu, mulutnya memuji keledai, “Keledaimu putih mulus dan bentuknya mempesona!”

“Apa, keledai? Buka matamu baik-baik, sobat. Engkau pandai mengenal sajak, akan tetapi tidak dapat mengenal binatang keramat!”

“Hahhh…?!” Kian Bu baru sekarang memandang keledai itu penuh perhatian karena disebutnya binatang keramat oleh dara itu. Dia mendekati dan melihat dengan teliti dari moncong sampai ke ekor, dari ujung telinga sampai ujung kaki, akan tetapi dia tidak melihat sesuatu yang aneh pada binatang ‘keramat’ ini.

“Kau melihat sesuatu yang aneh?” dara itu bertanya.
Kian Bu menggeleng kepalanya. “Ini hanya seekor keledai biasa, hanya bulunya putih dan…”

“Engkaulah yang bodoh melebihi keledai!” Gadis itu mencela. “Ini bukanlah keledai melainkan seekor kuda.”

“Hah? Kuda? Memang mukanya tidak sebodoh keledai, akan tetapi telinganya panjang dan kakinya pendek…”

“Agaknya engkau seorang kutu buku yang hanya tahu tentang sajak,” gadis yang amat lincah dan galak itu mengomel. “Ini adalah keturunan dari kuda Han-hiat-po-ma (Kuda Keramat Berkeringat Darah) dan seekor keledai. Masih keturunan yang ketiga puluh sembilan dari kuda tunggangan Kaisar Jenghis Khan di jaman dahulu!”

“Ahhhh…!” Kian Bu mengangguk-angguk. “Tentu hebat sekali!”

“Tentu saja hebat!” Dara itu lalu mengalungkan gagang payung yang bengkok itu ke sebuah di antara telinga keledai itu dan… telinga itu menegang dapat menahan payung!

“Ha-ha, kiranya bisa juga dipakai sebagai tempat menyimpan payung!” Kian Bu tertawa.

“Kau menertawakan kuda keramat ini? Hemm, dasar engkau tolol. Tetapi sudahlah, aku mau bertanya padamu.”

“Tanya? Tanyalah!” Kian Bu tertarik sekali. Gadis remaja ini lincah, gembira dan jenaka, begitu bebas dan terbuka, akan tetapi juga memperlihatkan keberanian luar biasa, tidak malu-malu seperti kebanyakan gadis biasa.

“Aku mau bertanya, apakah engkau tadi melihat orang lewat di sini?” “Orang lewat? Dua orang laki-laki penunggang kuda?”
“Ihhh, bukan! Siapa yang mencari laki-laki? Cihh!”

Kian Bu tersenyum, lalu dia teringat akan kakek yang mendengkur itu. Wah, sudah pasti kakek itu yang dicari. Gadis manis jenaka dengan keledai aneh ini pantasnya memang berkawan dengan kakek aneh itu. “Apakah kau mencari dia…?” Kian Bu menoleh dan menuding ke bawah pohon di mana dia tidur tadi.

“Ehhhh…? Heeee, ke mana dia…?” Kian Bu tertegun karena di bawah pohon itu tidak ada apa-apanya. Jangankan seorang kakek tidur, seekor cacing pun tidak nampak.

Kian Bu mencari-cari dengan pandang matanya, ke kanan kiri, ke atas bawah, depan belakang, akan tetapi tidak kelihatan lagi bayangan seorang kakek. “Wah, ke mana dia? Apakah aku mimpi…?”

Gadis itu juga menoleh ke kanan kiri dan dia tertawa geli melihat sikap Kian Bu yang kebingungan. Dia tertawa dengan manis sekali, mengeluarkan suara ketawa kecil yang merdu sambil menutupi mulut dengan tangan, akan tetapi karena jari-jari tangan yang dipakai menutupi mulut itu merenggang, jadi masih nampak deretan gigi putih seperti mutiara di balik belahan bibir merah.

“Hi-hi-hik, kau mencari apa?” “Kakek tua renta…”
“Aku juga tidak butuh kakek-kakek! Yang kucari adalah seorang wanita!” Kian Bu memandang dara itu. “Seorang wanita?”
“Ya, seorang wanita cantik sekali, pakaiannya indah menyala, mukanya bundar telur, dagunya runcing, matanya seperti bintang kejora, berkedip-kedip dan lirikannya tajam seperti gunting, hidungnya agak terlalu mancung, pipinya merah, bibirnya lebih merah lagi dan senyumnya manis melebihi madu lebah. Pakaiannya indah dan dari sutera mahal, jubahnya berwarna merah muda, ikat pinggangnya kuning dan celananya biru, rambutnya digelung ke atas seperti puteri istana. Hemm, pendeknya seorang wanita cantik dan kaya, dan dia amat genit, genit memikat hati. Kau melihat dia?”

Kian Bu melongo. Bukan karena penuturan itu, akan tetapi melongo mengikuti gerakan bibir yang tiada hentinya bergerak ketika bicara panjang lebar itu. Bibir yang gerakannya menggemaskan, mencas-mencos akan tetapi manis sehingga Kian Bu merasa seolah-olah pandang matanya melekat pada bibir itu, bibir bawah yang mempesona itu.

Gadis ini benar-benar genit menarik, dan dia masih dapat mengatakan orang lain genit memikat! Melihat usianya tentu tidak akan lebih dari lima belas tahun, seperti tersebut di dalam nyanyiannya tadi. Akan tetapi ‘bocah’ ini sudah pandai bicara, pandai mainkan bibir dan gerak bola mata, bahkan sudah pandai pula menilai wanita lain!

“Yang bagaimana sih yang disebut genit memikat itu?” Kian Bu menggoda, akan tetapi sikapnya seolah- olah dia mengingat-ingat barangkali dia pernah bertemu dengan wanita yang digambarkan oleh dara itu.

“Genit memikat saja kau tidak tahu? Waahh, sungguh bocah gunung yang terbelakang kau! Genit memikat adalah… aihh… bagaimana, ya?” Dara itu kelihatan tersipu, agaknya sukar juga baginya untuk memberi penjelasan. “Pendeknya sikap yang genit dan centil, yang mempunyai daya pikat, terhadap pria terutama. Masa kau tidak mengerti?”

Kian Bu yang merasa suka sekali kepada sikap dara ini, mulai menggodanya.

“Apakah kau maksudkan, genit memikat hati itu seperti sikap ini?” Kian Bu lalu bergaya, meliak-liukkan tubuhnya, melerok dan menjulurkan lidahnya seperti orang menakut-nakuti anak kecil. “Beginikah genit memikat?”

“Hi-hi-hik!” Dara itu tertawa geli, menggeleng kepalanya keras-keras. “Ahh, sama sekali bukan!” “Apakah begini?” Kian Bu merubah gayanya, melotot cemberut seperti nenek-nenek marah. “Bukan! Bukan…! Ihh, menakutkan begitu mana bisa disebut memikat?”
“Habis bagaimana? Coba kau beri contoh biar aku mengerti!”

Gadis itu menjadi gemas akan kebodohan pemuda itu. “Dasar engkau yang tolol! Nah, dengarkan baik- baik, dan lihat baik-baik, buka telinga dan matamu lebar-lebar. Wanita yang genit memikat itu adalah seorang wanita yang pandai bergaya palsu, tidak wajar, seperti seorang pemain sandiwara, kau pernah melihat wayang? Nah, dia selalu beraksi di depan pria untuk memikat hati pria itu, langkahnya dibuat- buat…”

Gadis itu lalu melangkah hilir-mudik di depan Kian Bu, lenggangnya dibuat-buat dan karena memang bentuk tubuhnya ramping dan lekuk-lengkungnya penuh dan padat dalam keranumannya, belum masak benar akan tetapi tubuhnya lunak dan lemas sekali, maka ketika dia melenggang dengan gaya dibuat-buat itu, pinggangnya berliuk seperti batang yang-liu tertiup angin, pinggulnya seperti dua benda hidup bergerak ke kanan kiri dan lehernya yang panjang menoleh kanan kiri!

“Selain lenggangnya menarik, dia pun menggerak-gerakkan bibirnya dan juga matanya menyambarkan kerling maut, seperti ini…”

Kian Bu berdiri bengong, matanya terbelalak, mulutnya ternganga sehingga jika banyak lalat di situ, mungkin mulutnya akan kemasukan lalat tanpa sempat dia sadari. Seluruh perhatiannya terbetot dan semangatnya terseret karena dia sudah terpikat benar-benar oleh peniruan sikap genit memikat dari gadis itu! Kini dia mengikuti gerak bibir yang mencap-mencep. Dasar bibirnya itu berbentuk bagus sekali, merah membasah, yang bawah penuh dan berkulit tipis seperti mudah sekali pecah, kadang-kadang digigit oleh giginya yang putih, kemudian dilepaskan lagi, dijebikan, pendeknya setiap gerak bibir itu menimbulkan kemanisan tersendiri. Semua ini ditambah oleh matanya yang bening itu mengerling penuh daya pikat sehingga Kian Bu merasa seolah-olah disedot dan ingin dia melangkah mendekati gadis itu, seperti besi ditarik semberani!

“Lenggang dan gerak bibir dan mata ini tentu saja ditambah dengan sentuhan-sentuhan memikat untuk menjatuhkan hati pria, begini contohnya…” Kini gadis yang melenggang hilir-mudik di depan Kian Bu itu mendekat dan sambil lewat kini telunjuknya bergerak, mencubit lengan, menowel dagu Kian Bu.

Hampir saja Kian Bu tidak kuat bertahan lagi. Bau sedap harum yang keluar dari dara itu ketika mendekat, sentuhan halus telunjuk ke dagunya yang mengirim getaran sampai ke ujung kaki dan ubun-ubun kepalanya, benar-benar membuat gadis itu amat menarik dan memikat. Hampir saja dia lupa diri dan memeluk dengan gemas. Akan tetapi tentu saja ditahannya keinginan ini dan dia makin bingung, makin melongo dan bengong terpesona.

Dara itu tertawa cekikikan dengan geli hati ketika melihat betapa pemuda tampan itu plonga-plongo seperti seorang tolol ketika melihat dia bergaya tadi.

“Eh, kau kenapa sih?”

Kian Bu sadar kembali dan dia tersenyum, mengusap kepalanya seolah-olah hendak mengusir kepeningan otaknya. “Wah, engkau hebat sekali, Nona. Ehh, sebetulnya siapa sih yang kau cari itu? Dan mengapa kau mencarinya?”

Gadis itu duduk di atas akar pohon, membiarkan kuda keramatnya itu terlepas begitu saja. Kian Bu juga duduk di depannya dan gadis itu memandang wajah Kian Bu penuh selidik, baru dia berkata, “Wajahmu mendatangkan kepercayaan di hatiku, tidak seperti wajah orang-orang yang kutemui sebelum ini.”

Kian Bu mengusap mukanya. “Wajahku kenapa sih?”

“Wajahmu seperti orang tolol… hi-hik, dan orang-orang tolol merupakan orang yang boleh dipercaya, tidak seperti orang-orang pintar yang biasanya terlalu pintar, akan tetapi kepintarannya itu hanya untuk menipu orang lain. Eh, siapa sih namamu? Kalau belum kenal, mana mungkin aku menceritakan keadaanku?”

“Aku Suma Kian Bu, dan kau…” “Namaku Siang In, she Teng.”
“Teng Siang In, nama yang indah, seindah orangnya.” “Hi-hik!”
“Kenapa kau tertawa, Siang In?”

“Kurasa kau agaknya berdaya-upaya untuk memuji-mujiku. Apakah engkau merupakan seorang yang genit memikat pula? Tentu saja dari golongan laki-laki! Biasanya laki-laki memikat wanita dengan pujian-pujian.”

“Wah, kau agaknya serba tahu saja. Siang In, aku suka bersahabat denganmu. Engkau seorang gadis yang jujur, pandai sastra, suaramu merdu, wajahmu cantik jelita, dan kau aneh sekali, sungguh menarik hatiku. Sekarang ceritakan, siapa yang kau cari itu?”

“Kian Bu, entah mengapa, begitu bertemu dengan engkau hatiku terus saja percaya penuh, seolah-olah sudah lama aku mengenalmu. Ehh, kau tadi bilang tentang orang di bawah pohon, yang kau cari-cari tadi. Siapakah dia?” Gadis itu tiba-tiba memandang dengan penuh kecurigaan ke kanan kiri.

“Aku pun heran sekali. Tadi aku melihat seorang kakek tua renta berada di bawah pohon, tertidur mendengkur, akan tetapi dalam sekejap mata saja lenyap seperti setan.”

“Ihhh… aku paling ngeri dengan segala setan!” Gadis itu ketakutan dan menggeser duduknya lebih dekat dengan Kian Bu. Tentu saja pemuda itu menjadi girang dan dia melanjutkan ceritanya.

“Tadi aku mengaso di atas pohon itu dan aku tidak melihat ada orang datang dekat… ehhh, tahu-tahu ada seorang kakek tua sekali tidur di bawah pohon, mendengkur dan kakek itu rambutnya sudah putih semua, tidak seperti manusia biasa. Aku sudah curiga karena kedatangannya yang tiba-tiba itu tidak lumrah, dan tadi… ehh, tahu-tahu dia lenyap begitu saja. Apa lagi kalau bukan iblis penunggu hutan ini…”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo