September 16, 2017

Kisah Sepasang Rajawali Part 16

 

“Suheng, dia adalah saudara Kao Kok Cu, putera Jenderal Kao.”

Bu Beng mengangguk. “Ahhh…!” Kemudian dia berkata, “Sute, cepat kau bawa pergi nona ini. Dia terluka dan keracunan hebat.”

Kok Cu yang masih berdiri bengong memandang Ceng Ceng yang pingsan di dalam pelukan Kian Lee berkata, “Saudara Kian Lee, kau bawalah nona ini, ikutlah perwira ini agar mendapat perawatan sebaiknya.”

Dia memerintahkan seorang perwira yang segera mengajak Kian Lee yang memondong tubuh Ceng Ceng itu pergi meninggalkan tempat itu. Kok Cu kini berhadapan dengan Gak Bun Beng, keduanya saling pandang penuh selidik karena masing-masing dapat menduga akan kelihaian mereka. Kok Cu yang mendengar Kian Lee menyebut suheng kepada laki-laki setengah tua ini, diam-diam terkejut. Dia sudah tahu sekarang bahwa Kian Lee dan Kian Bu adalah putera-putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, tentu saja ilmu kepandaian mereka hebat sekali. Dan laki-laki setengah tua yang sederhana dan tenang ini adalah suheng mereka!

Sebenarnya dia ingin sekali berkenalan dengan orang yang berilmu tinggi ini, akan tetapi hatinya sudah dibuat gelisah bukan main oleh pertemuan dengan Ceng Ceng, gadis penolong ayahnya akan tetapi juga gadis yang mendendam sakit hati setinggi langit sedalam lautan kepadanya! Gadis yang diperkosanya sewaktu dia berada dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh racun jahat. Dan yang menjadi biang keladi peristiwa memalukan ini adalah Ketua Lembah Bunga Hitam dan Ketua Pulau Neraka, dua orang yang mencuri kitab suhu-nya. Merekalah yang membuat dia keracunan hebat itu sehingga dia melakukan perbuatan keji terhadap Lu Ceng!

“Kiranya engkau adalah putera Kao-goanswe? Sungguh menggembirakan sekali, bagai mana pasukan pemerintah bisa datang begini tepat? Di mana ayahmu?” Gak Bun Beng bertanya.

“Semua ini adalah berkat jasa Nona Lu Ceng itu yang telah mengatur siasatnya…,” Kok Cu berkata akan tetapi matanya memandang ke arah larinya Hek-tiauw Lo-mo.

“Ah…, maksudmu…?” Gak Bun Beng tercengang.

“Dia membujuk Tambolon menyerang Koan-bun dan selagi pemberontak dan pasukan Tambolon bertempur sendiri, barisan pemerintah bergerak, sebagian menyerbu Koan-bun, sebagian dipimpin Puteri Milana memotong jalan dan sebagian dipimpin Ayah menyerbu Teng-bun malam ini juga.”

“Ahhh… sungguh hebat!” Bun Beng memuji.

“Maaf, saya harus mengejar Hek-tiauw Lo-mo!” Kok Cu berkata.

Cepat dia meninggalkan Bun Beng dan sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari situ, membuat Bun Beng mengikutinya dengan pandang mata kagum sekali. Pendekar ini terheran-heran dan masih tercengang dengan jalannya peristiwa yang begitu cepat dan tidak tersangka-sangka.

Dia tadi pun seperti juga Kian Lee, menonton dengan penuh keheranan betapa pasukan yang dipimpin oleh Tambolon menyerbu Koan-bun dan seperti juga sute-nya itu, dia menolong banyak penduduk yang diganggu oleh tentara kedua pihak. Terheran-heran hati pendekar ini melihat munculnya begitu banyak orang pandai. Mula-mula Tambolon dengan dua orang pembantunya yang lihai, kemudian Hek-tiauw Lo- mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak kalah lihainya. Yang terakhir muncul pemuda putera Jenderal Kao itu! Pemuda itu pun amat lihai, akan tetapi anehnya, mengapa Nona Lu Ceng itu begitu melihatnya lalu menyerangnya dengan penuh kebencian?

Akan tetapi pendekar ini tidak mau memusingkan hal itu. Dia lalu membantu pasukan pemerintah yang telah melakukan perang mati-matian melawan pasukan pemberontak dan pertempuran terjadi di seluruh kota sampai keesokan harinya. Kota Koan-bun mengalami perang yang luar biasa hebatnya, dimulai dari penyerbuan pasukan liar yang dipimpin oleh Tambolon lalu dilanjutkan oleh pasukan pemerintah yang menumpas pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun sebagai bala bantuan. Kalau tadinya pasukan Tambolon membasmi pasukan yang bertahan di Koan-bun, kemudian tiba giliran pasukan liar itu yang dibasmi oleh pasukan besar pemberontak dari Teng-bun, kini pasukan pemerintah turun tangan melakukan pukulan terakhir kepada barisan pemberontak.

Yang patut dikasihani adalah penduduk kota Koan-bun. Sukarlah bagi mereka untuk mengatakan mana kawan dan mana lawan karena semua anak buah pasukan selalu mengganggu mereka. Kota mereka menjadi neraka yang penuh dengan mayat dan orang-orang luka, darah membanjir setiap tempat dan banyak rumah yang habis terbakar.

Pertempuran-pertempuran mengerikan itu berlangsung sampai dua hari lamanya, tentu saja menjatuhkan korban manusia di kedua pihak yang banyak sekali. Akan tetapi akhirnya Koan-bun jatuh ke tangan barisan pemerintah yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong dan Kao Kok Cu yang sudah tidak kelihatan lagi bayangannya sejak dia melakukan pengejaran terhadap Hek-tiauw Lo-mo untuk merampas kembali kitab suhu-nya yang dicuri oleh Ketua Pulau Neraka itu.

Mulai malam itu, dimulai dengan penyerbuan pasukan Tambolon ke dalam kota Koan-bun, terjadilah perang yang seru dan dahsyat, yang mengerikan karena sejak malam itu sampai beberapa hari lamanya di kota itu terjadi pembunuhan dan pembantaian antara manusia, bahkan antara bangsa sendiri sehingga puluhan ribu manusia tewas di ujung senjata tajam!

Tidak hanya di Koan-bun terjadi perang yang hebat dan kacau-balau, akan tetapi juga di tengah jalan antara Koan-bun dan Teng-bun, di mana barisan yang dipimpin oleh Puteri Milana melakukan pencegatan dan barisan pemberontak yang menyerbu ke Koan-bun untuk menumpas pasukan Tambolon itu tidak dapat lagi kembali ke Teng-bun karena dihadang dan disergap oleh barisan Milana ini, bahkan Sang Puteri yang melihat betapa pihak musuh amat lemah lalu memecah barisannya, sebagian lalu menuju ke Teng- bun untuk membantu barisan penyerbu Teng-bun yang merupakan barisan inti dipimpin sendiri oleh Jenderal Kao Liang dibantu oleh Suma Kian Bu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Liong Khi Ong tertunda niatnya yang keji untuk memaksa Syanti Dewi menjadi miliknya dengan jalan memperkosanya ketika mendadak ada laporan bahwa Koan-bun telah diserang oleh pasukan Tambolon. Gangguan ini sekaligus mengusir nafsu birahinya dan malam itu dia tidak berani tidur, selalu berdekatan dengan Panglima Kim Bouw Sin agar dapat mengetahui keadaan.

Mereka semua mengharapkan bahwa pasukan besar yang dikirim dari Teng-bun ke Koan-bun dan yang dibantu oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li itu akan berhasil menumpas pasukan liar Tambolon. Akan tetapi tentu saja mereka menjadi gempar ketika datang laporan bahwa pasukan yang menggempur Tambolon di Koan-bun itu telah terhimpit oleh barisan pemerintah yang secara tiba-tiba saja muncul. Bahkan kini barisan pemerintah yang amat kuat sedang menuju ke Teng-bun!

Panglima Kim Bouw Sin segera mengumpulkan para pembantunya dan menyusun kekuatan untuk mempertahankan benteng Teng-bun. Menjelang pagi muncullah musuh yang ditunggu-tunggu itu, disertai suara gemuruh yang menggetarkan hati semua prajurit pemberontak yang sudah berjaga-jaga di benteng dan di luar benteng. Panglima Kim Bouw Sin sendiri dengan beberapa orang panglima pembantunya berdiri di atas benteng untuk meninjau keadaan.

Barisan pemerintah itu belum melakukan gerakan, dan memang Jenderal Kao Liang menanti sampai matahari terbit! Dia ingin melakukan gertakan lebih dulu dengan harapan untuk menggetarkan dan mengecilkan hati para prajurit pemberontak yang dahulu adalah bekas anak buahnya. Setelah matahari timbul di ufuk timur, Jenderal Kao Liang yang menunggang kuda ditemani oleh Suma Kian Bu, mendekati menara di sudut tembok benteng itu, di mana terdapat panglima pemberontak Kim Bouw Sin dan para perwira pembantunya, sedangkan Pangeran Liong Khi Ong yang berada pula di situ menyembunyikan diri, tidak ingin dikenal orang sebelum usaha pemberontakan berhasil seluruhnya.

“Kim Bouw Sin pemberontak hina dina!” Jenderal Kao berseru sambil mengerahkan tenaganya sehingga suaranya terdengar oleh mereka yang berada di menara dan juga oleh sebagian besar prajurit pemberontak yang sudah berjaga di atas tembok benteng. “Apakah engkau masih belum insyaf betapa pemberontakanmu telah mendekati akhir dan kehancuran? Koan-bun sudah terjatuh kembali ke tangan kami! Pasukanmu yang ke sana malam tadi telah habis terbasmi, demikian pula sekutumu Tambolon sudah dihancurkan! Lebih baik engkau segera menakluk dan mengakui dosamu dari pada mengorbankan nyawa ribuan prajurit yang hanya terkena hasutanmu!”

“Keparat dia! Hujani anak panah!” Pangeran Liong Khi Ong membentak marah sekali karena dia maklum betapa berbahayanya suara jenderal itu terdengar oleh para prajurit, karena jenderal itu merupakan seorang tokoh besar dalam ketentaraan yang amat disegani. Dia sudah melihat betapa wajah para pengawal dan prajurit yang berada di menara itu berubah pucat mendengar suara ini.

“Lepaskan anak panah!” Tiba-tiba Kim Bouw Sin memberi aba-aba, karena dia sendiri pun marah dan merasa tidak mampu untuk menjawab ucapan Jenderal Kao di bawah itu.

Para prajurit pasukan panah segera melakukan perintah ini dan anak panah meluncur ke bawah seperti hujan banyaknya. Melihat ini, Kian Bu cepat memutar pedang yang diterimanya dari Jenderal Kao. Tampaklah segulungan sinar berkilauan yang membuat anak panah yang menyambarnya runtuh semua. Juga Jenderal Kao telah memutar pedangnya, kemudian berkata kepada Kian Bu. “Taihiap, kau lindungilah aku. Aku harus membalas kecurangan mereka itu!”

Kian Bu lalu meloncat turun dari atas kudanya dan bergerak-gerak memutar pedangnya yang sekarang berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti mereka berdua. Jenderal Kao lalu menurunkan busur dan memasang anak panah, membidik ke atas dan tak lama kemudian terdengarlah suara berdesing ketika sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan seperti kilat ke arah panglima pemberontak Kim Bouw Sin yang melihat penyerangan anak buahnya dengan penuh harapan.

“Ciangkun, awas…!” Lam-thian Lo-mo yang selalu mendampingi panglima pemberontak ini bersama Pak- thian Lo-mo, berseru dan cepat dia menarik tangan panglima itu hingga tubuhnya tertarik ke samping. Terdengar teriakan nyaring ketika seorang perwira yang berdiri di belakang panglima pemberontak ini roboh, lehernya tertembus anak panah dan dia tewas seketika.

Jenderal Kao dan Kian Bu telah meninggalkan tempat berbahaya itu, maka dimulailah perang yang amat dahsyat di sekeliling tembok benteng kota Teng-bun. Mula-mula hujan anak panah dari kedua pihak, kemudian setelah Panglima Kim Bouw Sin melihat bahwa kekuatan barisan yang dipimpin oleh Jenderal Kao Liang itu tidak besar, kurang dari separoh jumlah pasukannya yang berjaga di Teng-bun, dia lalu memerintahkan pasukan untuk menyerbu ke luar, dibantu oleh barisan anak panah dan batu-batu yang menghalau setiap usaha musuh yang hendak naik ke tembok benteng.

Maka terjadilah perang tanding di luar pintu gerbang benteng sebelah selatan. Memang perhitungan Kim Bouw Sin tepat. Jumlah pasukannya jauh lebih besar dan dia hendak menggunakan keunggulan jumlah pasukan ini untuk menggempur dan menghancurkan pasukan Jenderal Kao. Akan tetapi Jenderal Kao Liang adalah seorang pemimpin yang banyak siasatnya.

Segera dia memberi komando melalui bunyi terompet dan pasukan-pasukannya lalu berpencar, sebagian lari ke pintu gerbang di timur dan sebagian lagi menyerbu melalui sungai di barat kota Teng-bun. Melihat ini, dengan sendirinya Kim Bouw Sin harus pula membagi bagi pasukannya. Karena gerakan Jenderal Kao yang merubah-ubah jumlah pasukannya amat cepat, kadang-kadang di selatan hanya ada sedikit pasukan dan agaknya mengerahkan kekuatan untuk menggempur pintu gerbang timur, akan tetapi ketika pihak pemberontak mengerahkan tenaga menjaga di timur, kiranya yang di selatan itulah justru yang lebih kuat sehingga penjagaan-penjagaan dan pertahanan-pertahanan di benteng itu menjadi kacau dan panik.

Tetapi, karena Kim Bouw Sin adalah panglima yang tadinya menjadi pembantu Jenderal Kao, dia pun amat ahli mengatur penjagaan sehingga dengan jumlah pasukan yang jauh kalah banyak itu, agaknya tidak mudah bagi Jenderal Kao untuk menduduki kota benteng Teng-bun yang amat kuat itu. Perang telah berlangsung dua hari dua malam dan hanya diseling waktu untuk menyusun kekuatan di pihak masing- masing.

Pada hari ketiga, datanglah barisan bantuan dari selatan yang dipimpin oleh Puteri Milana, yang memimpin sisa pasukannya setelah berhasil membantu pasukan yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong yang telah merebut kembali kota Koan-bun. Tentu saja bantuan ini amat menggirangkan hati Jenderal Kao Liang dan disusunlah kekuatan baru dan dengan dahsyat barisan gabungan ini lalu melakukan hantaman- hantaman yang menggetarkan dan mengguncangkan tembok benteng kota Teng-bun berikut semangat perlawanan para prajurit pemberontak yang memang sudah gentar ketika mendengar bahwa Jenderal Kao Liang yang mereka takuti itu kini dibantu oleh Puteri Milana yang telah mereka kenal pula itu.

Biar pun pihak pemberontak masih mampu mempertahankan dirinya selama tiga hari tiga malam, namun kedudukan mereka telah goyah. Pasukan telah gelisah dan para penjaga yang mempertahankan pintu- pintu gerbang telah turun semangat dan sangat kelelahan.

Semua ini tentu saja diketahui baik oleh Pangeran Liong Khi Ong yang menjadi makin gelisah. Selama sepekan ini dia tidak bisa tidur dan selalu gelisah. Dia dan kakaknya memang merupakan orang-orang yang berambisi besar, akan tetapi sekali-kali bukan orang peperangan, maka menyaksikan perang di depan hidungnya dia menjadi gelisah bukan main, dan dikuasai ketakutan yang mencekam hatinya setiap saat.

Demikian takutnya dia hingga dia melarang Tek Hoat meninggalkan dirinya. Tentu saja Tek Hoat juga tidak berani membantu dan bahkan pemuda ini merasa girang karena dia dapat menjaga agar pangeran ini tidak melakukan hal yang amat dikhawatirkannya terhadap diri Syanti Dewi.

Ketika Pangeran Liong Khi Ong mendengar bahwa pihak musuh yang masih juga belum berhasil membobol benteng Teng-bun itu kabarnya dibantu oleh pasukan baru di bawah pimpinan Puteri Milana, dia menjadi pucat ketakutan. Memang sejak dahulu dia merasa jeri terhadap Puteri Milana yang dalam persaingan di istana selalu memihak lawannya, yaitu Perdana Menteri Su.

Kim Bouw Sin menenangkan hati pangeran ini dengan mengatakan bahwa pasukan mereka tidak akan kalah, dan andai kata keadaan mendesak dan berbahaya, pangeran itu masih dapat menyelamatkan diri dengan sebuah kereta melalui pintu rahasia yang keluar ke dalam hutan di sebelah barat benteng. Akan tetapi akhirnya Panglima Kim Bouw Sin harus mengakui akan kekuatan musuh setelah pasukan yang dipimpin Puteri Milana datang membantu Jenderal Kao Liang. Atas permintaannya, terpaksa Pangeran Liong membolehkan Tek Hoat membantu Panglima Kim Bouw Sin.

Mulailah Tek Hoat terjun ke medan pertempuran bersama Siang Lo-mo. Mereka bertiga ini memang berhasil membangkitkan semangat para prajurit pemberontak, dan kini pertempuran secara berhadapan mulai terjadi di dua pintu gerbang. Pihak tentara pemerintah makin mendesak dan akhirnya, pada hari keempat, bobollah pintu selatan diserbu oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana dibantu oleh Suma Kian Bu. Amukan dua orang keturunan Pendekar Super Sakti itu sedemikian hebatnya sehingga menggiriskan hati para prajurit pemberontak yang terus mundur memasuki kota.

Siang Lo-mo yang mengamuk di pintu barat dan timur merobohkan banyak prajurit musuh, mendengar akan bobolnya pintu gerbang selatan. Selagi mereka hendak lari membantu para penjaga di pintu gerbang selatan itu, tiba-tiba ada perwira-perwira yang memanggil mereka dan ternyata bahwa mereka dipanggil oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk mengawal pangeran itu keluar dari Teng-bun.

Panglima Kim Bouw Sin mengerahkan pasukan istimewa, dengan panah api berhasil menghalau pasukan musuh yang telah menyerbu masuk melalui pintu gerbang selatan. Melihat pasukannya banyak yang roboh dan panik oleh hujan anak panah berapi, terpaksa Milana dan Kian Bu menarik kembali pasukan itu keluar dari pintu gerbang dan kembali pintu gerbang dikuasai oleh pihak pemberontak yang menutupnya dengan pintu besi yang tadi sudah ambruk, menjaganya kuat-kuat dan memasang barisan panah di tempat itu. Untung malam tiba sehingga pihak pasukan pemerintah menghentikan serangan dan mundur, menghimpun kembali tenaga untuk dipakai menyerang lagi pada keesokan harinya.

Tek Hoat kembali ke gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong. Tubuhnya lelah karena dia ikut bertempur sejak pagi sampai sore. Pakaiannya berlepotan darah korban yang dirobohkannya dan pahanya berdarah, luka sedikit oleh tombak para pengeroyok yang amat banyak jumlahnya dalam perang sampyuh tadi.

Dia mulai merasa bosan berperang, kebosanan yang menyerangnya sejak dia bertemu dengan Syanti Dewi. Dia merasa bahwa semua orang, termasuk dia, menjadi alat-alat yang dipergunakan oleh beberapa orang terutama Pangeran Liong Bin Ong dan Liong Khi Ong untuk merebut kemuliaan di kota raja! Biar pun dia membantu pemberontak dengan hasrat ingin memperoleh kedudukan yang tinggi kelak, namun harus diakuinya bahwa dia pun hanya merupakan alat dari dua orang pangeran itu, dan andai kata pemberontakan itu berhasil kelak, sudah terbayang olehnya bahwa dia tentu hanya akan menjadi orang bawahan dua pangeran itu, karena bukan hal yang mudah untuk mencapai kedudukan tertinggi.

Dan dia merasa pula bahwa betapa pun tinggi kedudukan yang diperolehnya kelak, kalau dia melihat Syanti Dewi menjadi barang permainan Liong Khi Ong, hatinya tidak akan pernah mengalami kebahagiaan. Sekarang pun, hatinya gelisah karena dia pagi tadi harus membantu perang, dan dia tidak dapat lagi mengawasi pangeran tua mata keranjang itu. Bagaimana kalau ketidak-hadirannya tadi membuka kesempatan bagi Pangeran Liong Khi Ong untuk memaksa Syanti Dewi menuruti keinginannya?

Sungguh pun dia tahu bahwa rasa ketakutan hebat kiranya tidak memberi kesempatan kepada Pangeran Liong Khi Ong untuk ingat akan nafsunya terhadap Syanti Dewi, namun tetap saja hati Tek Hoat berdebar tegang, mukanya menjadi panas dan dia mengepal tinjunya ketika dia menghampiri gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong yang kelihatan sunyi itu.

Tiba-tiba dia menyelinap di balik pohon ketika dia mendengar suara roda kereta. Dia mengenal kereta itu, kereta yang disediakan untuk Pangeran Liong Khi Ong. Dan di dalam kereta itu duduk Siang Lo-mo! Hatinya curiga. Dia pun sudah mendengar bahwa kereta itu memang disiapkan oleh Panglima Kim Bouw Sin untuk Sang Pangeran, dapat dipergunakan oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk lari mengungsi apa bila keadaan berbahaya, melalui sebuah pintu rahasia yang menembus hutan di sebelah barat benteng. Cepat dia menggunakan kepandaiannya untuk berlari di belakang kereta dan karena roda kereta itu menimbulkan bunyi yang cukup keras, maka betapa pun lihainya Siang Lo-mo, mereka tidak tahu bahwa ada orang yang lari di belakang kereta, dekat sekali.

“Mengapa kita yang disuruh mengawal Pangeran, bukan Ang Tek Hoat?” terdengar oleh Tek Hoat suara Pak-thian Lo-mo.

“Ha-ha, apakah engkau tidak dapat melihat kenyataan? Dari penuturan Hek-wan Kui-bo saja sudah jelas bahwa pemuda sombong itu jatuh cinta kepada puteri Bhutan itu! Tentu saja Pangeran juga tahu tentang urusan ini, maka dia akan ditinggalkan di sini untuk membantu Panglima Kim sedangkan sebaliknya kita dan Hek-wan Kui-bo yang disuruh mengawal sampai Pangeran dan puteri Bhutan itu tiba di kota raja.”

“Untung kita!” Pak-thian Lo-mo berkata dengan nada suara gembira. “Benteng ini tidak akan dapat dipertahankan lebih lama lagi. Dan kita sudah akan berada di kota raja kalau benteng itu jatuh ke tangan musuh!”
“Sstttt…, kita sudah sampai, sebaiknya tidak bicara tentang itu,” bisik Lam-thian Lo-mo.

Kereta itu berhenti di belakang istana yang gelap. Agaknya Pangeran yang hendak melarikan diri itu menghendaki demikian dan segalanya sudah diatur sebelumnya.

Sepasang kakek kembar yang lihai itu meloncat turun dari dalam kereta. “Kau tunggu di sini sebentar!” kata Lam-thian Lo-mo kepada kusir kereta yang berpakaian seperti prajurit dan yang duduk di bagian depan kereta itu, memegang cambuk panjang.

Kusir itu menjawab singkat, “Baik, Locianpwe.”

Memang semua prajurit yang bertugas dekat dengan Pangeran dan Panglima Kim mengenal dua orang kakek kembar yang lihai ini dan semuanya menyebut mereka ‘locianpwe’. Ketika dua orang kakek itu dengan cepat lari memasuki gedung, kusir itu duduk menanti, memandang ke kanan kiri yang amat sunyi. Sesuai dengan kehendak pangeran, supaya tempat itu dikosongkan sehingga tidak ada penjaga yang melihat keberangkatannya karena hal itu mendatangkan pengaruh kurang baik bagi semua prajurit yang harus mempertahankan benteng itu sampai saat terakhir.

Beberapa saat kemudian dengan sikap tergesa-gesa tampak Pangeran Liong Khi Ong yang memakai pakaian biasa, menyamar sebagai seorang pedagang, menggandeng tangan Syanti Dewi yang juga memakai pakaian biasa, setengah menyeret dara itu keluar dari gedung menuju ke kereta yang menanti di belakang gedung. Wajah Syanti Dewi kelihatan pucat dan jelas bahwa puteri ini kelihatan marah dan tidak suka, akan tetapi dia dipaksa oleh pangeran itu dan di belakang mereka ini berjalan Pak-thian Lo-mo, Lam- thian Lo-mo, dan Hek-wan Kui-bo. Tidak ada orang lain lagi yang mengawal mereka. Lam-thian Lo-mo lalu membukakan pintu kereta, dan Pangeran Liong Khi Ong menarik tangan puteri itu untuk memasuki kereta.

Di depan pintu kereta, Syanti Dewi merenggutkan tangannya sambil berkata, suaranya tetap tenang akan tetapi penuh penyesalan dan kemarahan. “Pangeran, sungguh tidak kusangka bahwa engkau ternyata hanya seorang pengecut yang akan melarikan diri setelah melihat benteng ini terkepung musuh. Dan tidak kusangka bahwa aku akan dipaksa begini, seolah-olah aku berada di tangan sekelompok penjahat. Biarlah aku ditinggalkan di sini saja, aku tidak ingin ikut dengan Pangeran ke kota raja.”

“Aih, mana bisa, manis! Engkau adalah calon isteriku, ke mana pun harus kubawa serta. Maafkan aku, selama berada di tempat ini aku kurang perhatian terhadap dirimu karena kita menghadapi perang. Akan tetapi di kota raja nanti, hemm… kita akan bersenang-senang…”

“Tidak! Kita bukan tunangan lagi! Aku dahulu suka menuruti kehendak ayahku karena ayahku sebagai Raja di Bhutan menerima pinangan langsung dari Kaisar Kerajaan Ceng-tiauw. Akan tetapi ternyata bahwa engkau sekarang malah memberontak kepada Kerajaan Ceng! Tentu saja saya tidak sudi menerima pinangan seorang pemberontak yang hina!” Sikap puteri itu kini marah sekali dan dia berdiri tegak dengan pandang mata menghina kepada pangeran yang berdiri dengan canggung di depannya itu.

“Pangeran, mengapa melayaninya? Semua wanita dari tingkat apa pun juga selalu cerewet!” Lam-thian Lo- mo berkata.

“Heh-heh-heh-heh, Lam-thian Lo-mo, jangan lancang begitu mulutmu memaki orang perempuan!” Hek-wan Kui-bo mencela sambil tertawa.

“Perempuan memang harus cerewet dan galak, baru menarik, seperti mawar dengan durinya.” Pak-thian Lo-mo yang biasanya pendiam itu kini memberi komentar. Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo menyambut komentar ini dengan tertawa, dan Pangeran Liong tertawa juga.

Syanti Dewi maklum bahwa tidak ada gunanya lagi bicara dengan pangeran ini, tidak ada gunanya memasukkan segala alasan berdasarkan kesusilaan dan kesopanan kepada pangeran tua yang sudah bebal ini karena dia melihat sudah bahwa tidak ada bedanya antara pangeran ini dengan tiga orang tua seperti iblis itu. Hanya pada lahirnya saja pangeran ini halus dan terpelajar, namun di dalam batinnya dia malah lebih parah dari orang-orang kasar ini.

Maka dia membuang muka, tidak mempedulikan lagi kepada mereka dan memasuki kereta sendiri karena dia pikir lebih baik begitu dari pada dipaksa. Dia masih merasa beruntung bahwa keadaan perang di Teng- bun membuat pangeran itu belum sempat mengganggunya. Dia akan menghadapi apa saja yang akan menimpa dirinya dengan tabah, masih belum terlambat baginya untuk menggunakan pisau yang disembunyikan di dalam lipatan bajunya apa bila saatnya tidak memberi harapan lagi kepadanya.

Pangeran Liong Khi Ong masih tertawa ketika dia pun masuk ke dalam kereta dan duduk di dekat Syanti Dewi. Sepasang kakek kembar dan Hek-wan Kui-bo juga masuk dan duduk di depan mereka sebagai pengawal.

“Kusir dungu! Hayo jalan!” Lam-thian Lo-mo membentak ke arah kusir yang duduk tegak di belakang kuda agak tinggi itu. Sejak tadi kusir ini tidak berani menengok dan pura-pura tidak melihat atau mendengar apa yang terjadi di depan pintu kereta tadi.

“Baik, Locianpwe!” jawabnya otomatis dengan suaranya yang tinggi dan parau.

Kereta bergerak setelah terdengar cambuk meledak dan melecut di atas kepala empat ekor kuda itu. Kuda- kuda itu meringkik dan tak lama kemudian kereta berjalan cepat sekali menuju ke barat.

“Locianpwe, saya belum tahu harus pergi ke mana…,” kusir itu berkata dengan suara lirih seolah-olah dia merasa takut terhadap para penumpangnya.

“Pangeran, harap memberitahukan jalannya,” Lam-thian Lo-mo berkata.

“Terus saja,” kata Pangeran Liong Khi Ong, karena hanya dia sendiri dan Panglima Kim Bouw Sin serta beberapa orang perwira kepercayaan yang laln saja yang tahu akan tempat itu, termasuk Tek Hoat. “Setelah tiba di pintu gerbang barat, lalu membelok ke selatan kurang lebih satu li.”

Kusir itu mencambuk kuda dan kereta meluncur cepat di malam gelap itu menuju ke barat. Orang-orang yang melihat bahwa kusir kereta itu adalah orang yang berpakaian prajurit, tidak ada yang menduga siapa yang berada di dalamnya, hanya mengira bahwa penumpangnya tentulah seorang di antara para perwira tinggi.

Setelah tiba di pintu gerbang barat yang terjaga kuat dan membelok ke selatan, kereta memasuki sebuah kebun yang tidak terawat dan akhirnya, di tempat yang amat sunyi ini, Pangeran Liong Khi Ong menyuruh Siang Lo-mo membuka sebuah pintu rahasia yang tertutup rumpun ilalang dan cara membukanya digerakkan oleh alat rahasia yang tersembunyi di dalam batang pohon yang berlubang. Setelah kereta itu menerobos pintu rahasia di tembok benteng yang sunyi itu, Siang Lo-mo menutupkan kembali dari luar dan kereta lalu melanjutkan perjalanannya. Ternyata di sebelah luar tembok itu adalah sebuah hutan yang lebat, gelap dan sunyi.

“Terus masuk ke dalam hutan,” Pangeran Liong berkata. “Kita sembunyi di dalam hutan malam ini, besok pagi baru melanjutkan perjalanan ke selatan.”

Setelah kereta tiba di dalam hutan, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo turun dari kereta, melihat-lihat keadaan. Hutan itu sunyi dan mereka merasa lega.

“Kita menanti sampai pagi dan tentu pihak musuh sudah mulai menyerang benteng lagi,” kata Pangeran itu. “Semua perhatian mereka akan tercurah ke benteng sehingga kita memperoleh kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dengan aman. Dari sini kita harus ke barat sampai keluar dari hutan dan tiba di lereng bukit dan dari sana mulailah kita menuju ke selatan.”

Kusir kereta itu turun pula dan tanpa mengeluarkan suara dia melepaskan empat ekor kuda itu, membawanya ke tempat yang banyak rumputnya dan membiarkan mereka makan rumput. Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo sudah membuat api unggun dan duduk di sekeliling api sambil bercakap-cakap.

Pangeran Liong Khi Ong dan Syanti Dewi berada di dalam kereta. Hek-wan Kui-bo yang memandang ke kereta itu berkata lirih sambil terkekeh, “Heh-heh, Pangeran sampai lupa dingin, tidak turun dari kereta.”

“Nenek tua, apa engkau tidak tahu senangnya orang berpengantinan?” Lam-thian Lo-mo juga terkekeh.

“Hi-hik, agaknya di dalam kereta itu Pangeran merasa lebih hangat dari pada di dekat api ini.” Hek-wan Kui-bo tertawa lagi.

Akan tetapi tak lama kemudian tiga orang datuk kaum sesat itu sudah bicara dengan serius, suara mereka berbisik-bisik karena mereka kini terlibat dalam percakapan yang amat penting bagi mereka, yaitu tentang gerakan pemberontak yang mulai terpukul oleh barisan pemerintah. Mereka bertiga itu, seperti juga Ang Tek Hoat, bersedia membantu pemberontakan karena mereka hendak mengejar kedudukan dan kemuliaan di hari tua mereka.

Sekarang, melihat kenyataan betapa pasukan pemberontak mulai dihajar oleh barisan pemerintah yang jauh lebih kuat, semangat mereka juga menurun. Akan tetapi mereka masih belum kehilangan harapan selama mereka masih mengawal Pangeran Liong Khi Ong yang mereka tahu mempunyai kedudukan mulia di kota raja. Selama mereka masih menjadi pembantu-pembantu kedua orang Pangeran Liong, harapan masih terbuka bagi mereka. Setidaknya sebagai pengawal-pengawal Pangeran Liong kedudukan mereka pun sudah cukup terhormat di kota raja.

Karena senasib dan segolongan, dalam waktu singkat Hek-wan Kui-bo dan sepasang kakek kembar itu sudah menjadi sahabat yang akrab dan mereka bicara secara terus terang tanpa saling mencurigai karena sudah mengenal isi hati masing-masing.

“Apa katamu?” Hek-wan Kui-bo bicara lirih kepada Pat-thian Lo-mo. “Kalau sampai di kota raja dan kedua pangeran itu gagal? Ah, kalau sudah berada di istana, mana bisa gagal? Setidaknya sebelum aku pergi dari kota raja, banyak terbuka kesempatan untuk mengambil banyak barang berharga dari istana dan hasil itu pun sudah lumayan untuk menutup kegagalanku.”

“Uhh, apa artinya harta kekayaan bagi kita yang sudah tua?” Lam-thian Lo-mo mencela.

“Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan kalau ternyata usaha Pangeran Liong gagal pula di istana?” tanya nenek itu.

“Kami tidak mau mencuri barang berharga, akan tetapi kami akan membawa dia…” Lam-thian Lo-mo menggerakkan kepalanya ke arah kereta.

“Eihh…?! Puteri Bhutan…?” nenek itu bertanya dan ketika melihat dua orang kakek itu mengangguk, dia bertanya, “Untuk apa? Apakah kalian ini kiranya bandot-bandot tua bangka pula seperti Pangeran Liong?”

“Bodoh!” Pak-thian Lo-mo mencela. “Kami antar dia pulang ke Bhutan dan di sana kami akan berusaha mencapai kedudukan tinggi.”

“Aihh, kiranya kalian benar-benar gila pangkat.” Nenek itu berkata geli dan pada saat itu terdengar jerit tertahan dari dalam kereta.

“Hi-hi-hik, Pangeran itu sungguh tidak sabar lagi!” Hek-wan Kui-bo terkekeh. “Apa dia hendak memaksa Puteri Bhutan di ruangan kereta yang sempit itu?”

“Tidak…! Jangan engkau menyentuhku!” Terdengar suara Syanti Dewi menjerit marah. “Pangeran Liong Khi Ong, ternyata engkau hanyalah seorang laki-laki keji dan hina. Akan tetapi jangan mengira akan dapat menyentuhku, lihat apa yang kupegang ini! Sebelum engkau menjamahku, lebih dulu aku akan menjadi mayat!”

Tiga orang tua lihai yang tadinya hanya tertawa-tawa saja sambil memandang ke arah kereta, menjadi kaget juga mendengar teriakan Syanti Dewi itu, dan mereka terbelalak makin heran dan kaget ketika melihat betapa kusir kereta yang tadinya menggunakan kain menggosok dan membersihkan kereta itu tiba- tiba kini menghampiri pintu kereta dan menyingkap tirai yang menutupi pintu kereta itu.

“Heiii, kusir tolol! Mau apa kau?” Hek-wan Kui-bo membentak marah.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati tiga orang tua itu ketika mereka melihat kusir itu membuka pintu kereta dengan paksa, lalu meloncat ke dalam kereta. Terdengar suara teriakan Pangeran Liong, teriakan mengerikan yang disusul dengan berkelebatnya bayangan kusir tadi yang telah memondong tubuh Syanti Dewi yang meronta-ronta dan berteriak-teriak, “Lepaskan aku!”

“Eh, kusir keparat!”

Tiga orang tua itu cepat meloncat dan mengejar ke arah kereta. Sekali bergerak, Hek-wan Kui-bo sudah membuka pintu kereta dan mereka menjenguk ke dalam, terkejut bukan main melihat Pangeran Liong Khi Ong sudah menggeletak tak bernyawa lagi dan di dahi pangeran itu tampak tiga gambar jari tangan hitam.

“Si Jari Maut…!”

“Kiranya dia si jahanam itu!”

Mereka melompat dan mengejar. Ketika melihat bayangan kusir yang memondong tubuh Syanti Dewi itu meloncat ke atas seekor kuda sedangkan tiga ekor kuda yang lain dicambuk dan lari cerai-berai, Siang Lo- mo dan Hek-wan Kui-bo cepat mengejar.

Kusir itu memang Tek Hoat adanya. Ketika tadi melihat kereta yang ditumpangi Siang Lo-mo menuju ke gedung Pangeran Liong, dia lalu membayangi dan dapat mendengar percakapan antara kedua orang kakek itu. Tek Hoat merasa gelisah sekali. Tanpa disadarinya sendiri, urusan Syanti Dewi telah menjadi hal yang amat penting baginya, jauh lebih penting dari urusan apa pun, lebih penting dari pada cita-citanya untuk memperoleh kedudukan mulia.

Maka setelah Sepasang Kakek Iblis itu memasuki gedung, secepatnya dia turun tangan meloncat dan menyergap kusir kereta itu seperti seekor harimau menerkam domba, menyeret kusir itu menjauhi kereta, menotoknya lumpuh dan tak dapat bersuara, melucuti pakaiannya dan mengenakan pakaian dan topi kusir itu lalu dengan tenang dia menggantikan tempat kusir itu.

Dia tadi pernah mendengar suara kusir itu ketika menjawab perintah Siang Lo-mo, maka dia mampu menirukan suaranya dan untung baginya bahwa baik Pangeran Liong mau pun ketiga orang pengawalnya itu tidak dapat mengenali mukanya yang selalu dia sembunyikan agar tidak langsung menerima sinar lampu penerangan di sepanjang perjalanan itu.

Dia tidak berani turun tangan menolong Syanti Dewi di dalam kota Teng-bun karena hal itu amatlah berbahaya. Baru setelah kereta keluar dari kota dan berada di dalam hutan, dia melepas-lepaskan kuda dan ketika mendengar teriakan marah Syanti Dewi, tahulah dia bahwa saat baginya untuk turun tangan telah tiba. Maka secepat kilat dia memasuki kereta, membunuh Pangeran yang mulai dibencinya sejak Syanti Dewi terjatuh ke tangan Pangeran itu, memondong dengan paksa tubuh Syanti Dewi dan melarikan diri dengan menunggang seekor kuda setelah dia mencambuk tiga ekor kuda yang lainnya sehingga binatang-binatang itu kabur ketakutan.

“Ang Tek Hoat pengkhianat rendah!” Lam-thian Lo-mo memaki dan bersama Pak-thian Lo-mo dia melakukan pengejaran.

“Minggirlah, biar kurobohkan dia!” Hek-wan Kui-bo berteriak dan dua orang kakek itu masih mengejar akan tetapi berpencar ke kanan kiri untuk memberi kesempatan kepada Hek-wan Kui-bo untuk melakukan penyerangan.

Nenek itu sudah mengeluarkan dua buah senjata rahasianya yang berbentuk besi bulat, lalu melontarkan dua buah benda itu ke arah Tek Hoat yang membalapkan kudanya.

Mendengar desingan angin dari belakang, Tek Hoat terkejut sekali. Dia sudah pernah menyaksikan Hek- wan Kui-bo menggunakan senjata rahasianya yang dapat meledak, maka kini tahu bahwa nenek itu menyerangnya dengan senjata dahsyat itu. Dia terkejut dan cepat meloncat dari atas punggung kuda sambil memondong tubuh Syanti Dewi, dan begitu kakinya menyentuh tanah, dia terus bergulingan menjauh dan masih tetap memondong tubuh dara itu.

“Maaf, terpaksa begini, senjatanya berbahaya sekali…,” Tek Hoat berbisik.

“Darrr! Darrr!” Dua buah senjata rahasia itu meledak dan mengeluarkan kilat dibarengi muncratnya pecahan-pecahan besi. Kuda itu meringkik dan roboh terguling, perutnya pecah.

“Ahhh…!” Syanti Dewi mengeluh, ngeri menyaksikan nasib kuda itu.

Sekarang dia tidak meronta lagi karena menduga bahwa pemuda ini memang sengaja membunuh Pangeran Liong dan membawanya pergi hendak menolongnya, sungguh pun dia masih merasa sangsi apakah pemuda yang menjadi kaki tangan pemberontak ini benar menolongnya dengan niat baik. Betapa pun juga, kiranya jauh lebih baik dan lebih ada harapan terjatuh ke tangan pemuda yang bersikap halus ini dari pada terjatuh ke tangan dua orang kakek dan nenek iblis yang mengerikan itu.

“Nona, kau tunggulah dulu di sini, biar kuhadapi mereka itu,” kata Tek Hoat yang telah membuang topi prajurit dan telah menanggalkan pakaian prajurit yang tadi menutupi pakaiannya sendiri. Dengan tenang dia lalu menanti tiga orang lawan itu yang sudah berlari mendatangi.

Kini mereka berdiri berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Bulan di langit meluncurkan sinarnya yang lembut dan menerobos celah-celah daun pohon sehingga kini biar pun tidak memperoleh penerangan lentera kereta yang jauh dari mereka, empat orang itu dapat saling memandang cukup jelas.

“Heh-heh-heh, sudah kuduga sebelumnya! Sejak semula engkau dahulu menyerangku, aku sudah tahu bahwa engkau adalah seorang pengkhianat, Ang Tek Hoat! Aku sudah peringatkan Pangeran, akan tetapi dia tidak percaya. Sekarang dia percaya, akan tetapi sudah terlambat!” Hek-wan Kui-bo berkata.

“Belum terlambat!” Pak-thian Lo-mo berkata. “Kita mengirim dia menyusul Pangeran.”

“Sayang, seorang seperti engkau ini menjadi berubah begitu bertemu dengan wanita cantik, Si Jari Maut! Engkau telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, satu-satunya orang yang sudah memberi harapan kepada kita. Sekarang kami tidak dapat pergi ke kota raja lagi, gara-gara engkau!”

Tek Hoat tecsenyum mengejek. “Orang yang cerdik selalu dapat melihat keadaan, akan tetapi kalian bertiga tua bangka ini agaknya tidak dapat melihat kenyataan. Jatuhnya Koan-bun dan Teng-bun yang tidak akan dapat bertahan lama lagi berarti berakhirnya petualangan Pangeran Liong, apakah kita masih harus mengabdi kepada kekuasaan yang sudah mendekati keruntuhannya?”

“Engkau yang tolol!” Hek-wan Kui-bo membentak. “Biar pun pemberontakan itu sendiri gagal, akan tetapi dengan adanya Pangeran, kita dapat mengunjungi istana kerajaan dengan aman dan di sana terbuka banyak kesempatan bagi kita. Akan tetapi engkau sekarang membunuhnya sehingga hancur semua harapan dan susah payah kita!”

“Hmm, aku sudah membunuhnya dan kalian mau apa? Apakah kalian hendak membela kematiannya?”

“Cuhhh!” Pak-thian Lo-mo meludah. “Kami takkan membela siapa pun kecuali membela kepentingan kami sendiri!”

“Apa yang dikatakannya itu benar, Ang-sicu,” Lam-thian Lo-mo berkata. “Soal engkau membunuh pangeran atau raja, tidak ada sangkut-pautnya dengan kami. Kami bukan orang yang mengekor kepada siapa pun, apa lagi kepada Liong Khi Ong. Kalau kami membantu dia, seperti juga engkau, hanya karena kami melihat kemungkinan baik bagi kami untuk memperoleh kemuliaan. Akan tetapi sekarang dia kau bunuh, berarti kau merugikan kami yang hanya dapat kau bayar sekarang juga.”

“Dengan nyawaku? Cobalah jika kalian mampu!” Tek Hoat menantang dengan senyum mengejek.

“Sombong engkau!” Hek-wan Kui-bo sudah marah sekali dan hendak menyerang, akan tetapi Lam-thian Lo-mo mencegahnya dan nenek ini yang sekarang merasa menjadi sekutu Siang Lo-mo untuk menghadapi pemuda lihai itu tidak membantah.

“Ang Tek Hoat, jangan salah duga. Liong Khi Ong sudah mampus, maka biarlah. Hanya karena kami juga kehilangan harapan untuk pergi ke kota raja, maka sekarang kami minta bantuanmu. Kami hendak mengantarkan Puteri Bhutan itu kepada ayahnya di Bhutan. Kami tentu akan memperoleh balas jasa di Kerajaan Bhutan dan siapa tahu kami akan mendapatkan ganti kemuliaan di sana.” Lam-thian Lo-mo berkata dengan suara bernada halus.

“Keparat, jangan minta yang bukan-bukan!” Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi permintaan itu membuat Tek Hoat naik darah.

“Hi-hi-hik, percuma, Lam-thian Lo-mo. Dia ingin mengangkangi sendiri gadis itu. Aku sudah tahu akan hal ini sejak dulu!” Hek-wan Kui-bo berkata.

Tek Hoat melirik ke arah Syanti Dewi. Puteri itu telah bangkit berdiri dan bersembunyi di balik pohon dan sekarang mengintai dan memandang ke arahnya dengan sinar mata ketakutan.

“Apa yang kurasakan tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian bertiga. Pendeknya, aku tidak percaya kepada kalian dan tidak akan menyerahkan dia kepada kalian!”

“Ang Tek Hoat, apakah engkau memilih mati dari pada menyerahkan puteri itu kepada kami?” Pak-thian Lo-mo berteriak.

“Hemm, kalian yang akan mampus di tanganku kalau berani menentangku.”

“Bocah sombong! Engkau berani menentang kami bertiga?” bentak Lam-thian Lomo marah.

“Perlu apa banyak cakap? Bunuh saja bocah ini!” Hek-wan Kui-bo membentak dan dia sudah menubruk ke depan dan menggerakkan tongkatnya, disusul oleh Siang Lo-mo yang merasa marah sekali terhadap bekas rekan ini.

Ang Tek Hoat memang bersikap sombong terhadap tiga orang tokoh hitam ini, tetapi dia cerdik dan dia sebenarnya tidak memandang ringan. Dia maklum bahwa mereka bertiga adalah orang-orang yang amat lihai dan kalau maju bersama merupakan lawan yang berat dan berbahaya. Maka begitu melihat mereka sudah menyerang, dia pun meloncat mundur menjauhi tempat Syanti Dewi bersembunyi, sambil mencabut pedang Cui-beng-kiam yang dipalangkan di depan dadanya.

Sinar pedang yang mengandung hawa mukjijat dan menyeramkan ini mendatangkan kengerian juga di hati tiga orang lawannya. Akan tetapi karena mereka juga merupakan tokoh-tokoh yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar dan sudah bergerak mengurung dengan senjata di tangan. Tangan Hek-wan Kui-bo memutar-mutar tongkat sehingga di depan tubuhnya tampak sinar hitam bergulung-gulung seperti terdapat sebuah kitiran besar berputar di depan tubuhnya dan mengeluarkan suara berdesingan.

“Tar-tarr-tarrr!” Senjata di tangan kedua orang Lo-mo itu berupa sabuk atau pecut baja yang ketika digerak- gerakkan di atas kepala mengeluarkan bunyi meledak-ledak dan ujungnya yang melecut mengenai batangnya sendiri mengeluarkan bunga api!

Syanti Dewi yang bersembunyi di balik batang pohon itu menonton dengan muka pucat dan mata terbelalak. Percakapan antara empat orang itu tadi saja sudah menceritakan kepadanya orang-orang macam apa adanya mereka itu. Kalau dia terjatuh di tangan pemuda yang bernama Ang Tek Hoat dan yang telah berkhianat kepada majikannya sendiri dan telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, dia masih belum tahu apa yang akan terjadi atas dirinya.

Kalau memang pemuda itu mempunyai niat keji dan buruk terhadap dirinya seperti yang dikatakan Hek- wan Kui-bo tadi, dia tentu akan menjaga diri dan akan membunuh diri sebelum pemuda itu dapat menjamah tubuhnya. Sebaliknya kalau dia terjatuh ke dalam tangan tiga orang iblis tua itu, seperti juga Tek Hoat, dia tidak percaya bahwa mereka akan menyerahkan dia begitu saja kepada ayahnya, Raja Bhutan. Orang-orang seperti mereka ini tentu tidak akan segan-segan untuk memeras ayahnya, memaksa ayahnya menuruti kehendak mereka untuk melihat puterinya selamat! Tidak, betapa pun juga, kalau bisa dikatakan ada kesempatan memilih, dia memilih terjatuh ke tangan pemuda itu yang belum tentu akan berbuat jahat kepada dirinya.

Tek Hoat berdiri dengan sikap tenang dan sedikit pun tidak bergerak, pedang melintang di depan dada dan tangan kiri dengan jari terbuka di atas kepala, telunjuknya menuding langit, hanya sepasang manik matanya saja yang bergerak ke kanan kiri untuk terus mengikuti gerakan tiga orang yang menghadapinya. Hek-wan Kui-bo berdiri tegak di depannya, Lam-thian Lo-mo di sebelah kanannya dan Pak-thian Lo-mo di sebelah kirinya.

Dia maklum bahwa di antara tiga orang ini, kepandaian Hek-wan Kui-bo yang dapat dianggap paling rendah sungguh pun senjata rahasia peledak dari nenek ini amat berbahaya. Dia tahu pula bahwa senjata pecut besi di tangan kakek kembar itu tidak kalah ampuhnya dengan pedang di tangannya karena senjata dua orang kakek itu mengandung racun yang amat jahat. Hanya pedangnya, peninggalan dari iblis Pulau Neraka, Cui-beng Koai-ong, adalah sebatang pedang mukjijat yang mengandung hawa mukjijat dan inilah keunggulan senjatanya dari senjata tiga orang lawannya.

“Taarrr… siuuuutttt…!”

Pecut yang tadi berputaran di atas dan meledak-ledak itu kini menyambar dari kanan mengarah kepalanya dan ujung pecut itu meluncur untuk menotok ubun-ubun kepala Tek Hoat. Menghadapi serangan maut dari Lam-thian Lo-mo ini, cepat Tek Hoat mengelak dengan tubuh direndahkan, akan tetapi pada saat itu, dari kiri menyambar pecut Pak-thian Lo-mo sedangkan dari depan menyusul tongkat Hek-wan Kui-bo yang meluncur ke arah pusarnya.

Tek Hoat meloncat, menghindarkan kakinya yang ditotok secara bertubi oleh ujung pecut Pak-thian Lo-mo yang mengarah kedua mata kaki dan lututnya, dan pedangnya digerakkan menangkis tongkat Hek-wan Kui-bo. Nenek ini sudah mengenal keampuhan pedang Cui-beng-kiam, maka dia tidak berani mengadu tenaga, melainkan hanya menarik tongkatnya dan dibalik sehingga dalam detik lain ujung tongkat itu sudah menusuk ke arah mata Tek Hoat.

Tek Hoat menggerakkan pedang menangkis sambil melompat mundur menghindarkan sambitan ujung pecut dari kanan. Akan tetapi kembali dua batang pecut besi itu sudah menyambar dari atas dan bawah, sedangkan tongkat dari nenek itu pun menyerang dengan bertubi-tubi. Tek Hoat segera mengeluarkan kepandaiannya, pedangnya diputar menjadi sinar bergulung-gulung melindungi tubuhnya, sekaligus menangkis serangan tiga buah senjata lawan, kemudian tiba-tiba dari dalam gulungan itu mencuat sinar terang yang membuat gerakan melengkung dan menyambar ke arah perut tiga orang lawan itu seperti seekor naga melayang.

Tiga orang itu terkejut dan cepat mengelak ke belakang karena sambaran pedang itu amat berbahaya, kemudian dari jarak agak jauh pecut-pecut dari kanan kiri sudah menyambar lagi. Suara kedua senjata ini meledak-ledak seperti petir menyambar dan bunga api berpancaran menyilaukan mata. Namun Tek Hoat selalu dapat mengelak atau menangkis semua serangan itu, bahkan dia tentu mengadakan balasan yang tidak kalah dahsyatnya untuk setiap serangan lawan.

Syanti Dewi yang menonton pertandingan itu menjadi bengong. Bukan main hebatnya pertandingan itu, matanya sampai menjadi silau dan berkunang. Tidak dapat lagi dia mengikuti gerakan empat orang itu, bahkan bayangan mereka pun lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka. Hanya kadang-kadang saja nampak kaki atau tangan yang segera lenyap lagi ke dalam gulungan sinar senjata. Jantung Syanti Dewi berdebar tegang. Dia tidak dapat pergi dari tempat itu karena dia tidak mengenal jalan dan hutan itu amat lebat. Ke mana dia harus pergi?

Tentu akan menghadapi banyak bahaya yang lebih besar lagi. Kalau terjatuh ke tangan orang-orang ini, dia tahu bahwa dia belum akan menghadapi bahaya maut sungguh pun dia tidak dapat membayangkan nasib apa yang akan dideritanya. Akan tetapi kalau dia lari dan bertemu dengan binatang buas, tentu dia akan menjadi mangsanya, dan kalau sampai dia terjatuh ke tangan orang-orang liar, nasibnya tentu akan lebih mengerikan lagi. Setidaknya, empat orang itu adalah orang-orang pandai yang agaknya ingin mencari kedudukan dan kemuliaan dengan mempergunakan dirinya.

Pertandingan itu memang hebat sekali. Tiga orang tokoh tua itu menjadi kagum bukan main. Baru sekali itu mereka bertemu dengan lawan seorang pemuda yang begitu lihai sehingga dikeroyok tiga oleh mereka

tidak hanya mampu bertahan sampai seratus jurus lebih, akan tetapi juga bahkan sempat membalas dengan tidak kalah hebatnya.

Kadang-kadang bulan tertutup awan dan dalam keadaan gelap mereka berempat melanjutkan pertandingan hanya mengandalkan pendengaran yang tajam dan perasaan yang peka. Ketika pertandingan sudah hampir berlangsung dua ratus jurus tanpa ada yang mengalami luka atau terdesak, bulan bersinar kembali dengan terangnya karena awan telah menjauh.

“Kui-bo, lekas lepas peledakmu!” Tiba-tiba Lam-thian Lo-mo yang merasa penasaran itu berteriak dan bersama Pak-thian Lo-mo dia sudah bertiarap di atas tanah.

Hek-wan Kui-bo benar-benar memenuhi permintaan kakek itu dan dia melemparkan senjata peledaknya ke arah Tek Hoat. Pemuda itu cepat meloncat jauh ke samping dan bergulingan sehingga ketika senjata rahasia itu meledak, dia terhindar dari sambaran pecahan besi. Akan tetapi kembali nenek itu melemparkan senjata dahsyat kepadanya dan terpaksa Tek Hoat meloncat tinggi sekali.

Pecahan senjata peledak itu menyerong dan hanya akan mengenai orang-orang yang berdiri di sekitarnya, maka ketika Tek Hoat meloncat jauh ke atas, dia pun terhindar dari pecahan besi. Akan tetapi itulah saat yang dinanti-nanti oleh Lam-thian Lo-mo dan Pak-thian Lo-mo. Siang Lo-mo yang memiliki kerja sama amat baik berdasarkan naluri atau getaran perasaan yang saling berhubungan antara mereka itu, dalam waktu yang sama tanpa direncana lebih dulu telah menggerakkan cambuk besi mereka yang meluncur ke atas, yang kanan menyerang ke arah mata kaki Tek Hoat, yang kiri menyerang ke arah tengkuk!

Serangan yang dilakukan berbareng pada saat Tek Hoat masih meloncat ke atas dan yang mengarah dua tempat yang berlainan itu ternyata membuat Tek Hoat terkejut juga. Dia harus memilih salah satu. Karena penyerangan di tengkuknya merupakan serangan maut, maka dia menggerakkan pedangnya menangkis cambuk yang digerakkan oleh Pak-thian Lo-mo ke arah tengkuknya itu sambil sedapat mungkin menarik kakinya yang disambar pecut Lam-thian Lo-mo. Namun gerakan ini tidak cukup dan betisnya dihujam ujung pecut besi sehingga celana berikut daging betisnya robek.

“Haiiiittt…!” Tek Hoat mengerahkan tenaganya, berjungkir balik sehingga pecut itu tidak melibatnya dan ketika tubuhnya menukik turun, dia menyerang Lam-thian Lo-mo yang telah melukai betis kanannya itu.

“Trang-trang…! Cringgg…!” ketiga senjata lawan menangkis pedangnya dan penyatuan kekuatan tiga orang itu membuat Tek Hoat terpental dan terguling-guling.

Selagi Tek Hoat bergulingan itu, tiga orang lawannya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mereka mengejar. Hek-wan Kui-bo yang merasa penasaran telah menggerakkan tongkatnya menghantam dan menusuk berkali-kali, namun Tek Hoat dapat mengelak dengan ilmunya bergulingan yang amat cepat. Akan tetapi karena dia pun dihujani sambaran dua ujung cambuk, maka akhirnya Hek-wan Kui-bo berhasil menghantam pundaknya, nyaris saja mengenai kepalanya.

“Bukkk!” Tek Hoat merasa betapa pundaknya seperti remuk ditimpa tongkat butut itu.

Dia menjadi marah dan nekat, otomatis tangan kirinya menyambar tongkat itu dan membetot dengan pengerahan tenaga Inti Bumi yang amat hebat kekuatannya. Hek-wan Kui-bo terkejut ketika tiba-tiba dia terbetot ke bawah dan sebelum dia mampu melihat bahaya dan melepaskan tongkat yang membuat tubuhnya ikut terbetot, tahu-tahu Cui-beng-kiam telah meluncur dari bawah dan menembus perutnya sampai ke punggung!

“Aigghhhhh…!” Hek-wan Kui-bo memekik dahsyat.

Tek Hoat mendorong tongkat dan mencabut pedangnya sehingga tubuh nenek itu terjengkang. Akan tetapi, pada saat itu ujung cambuk di tangan Pak-thian Lo-mo telah menyambar pada saat pemuda itu meloncat bangun dan tahu-tahu telah membelit leher pemuda itu!

Tek Hoat terkejut sekali, apa lagi ketika saat itu terdengar Lam-thian Lo-mo tertawa. “Jangan lepaskan dia, ha-ha-ha, biar kuhancurkan kepalanya!”

“Tarrr-tarrr-tarrr!” Cambuk Lam-thian Lo-mo meledak-ledak dan menyambar-nyambar kepalanya, mengarah ubun-ubun, tengkuk, dahi dan kedua pelipls!

Sibuk juga Tek Hoat memutar pedangnya menangkisi sambaran pecut besi di tangan Lam-thian Lo-mo itu, sedangkan lehernya masih dicekik oleh cambuk Pak-thian Lo-mo yang makin lama makin erat mencekiknya. Terasa napasnya terhenti dan kulit lehernya berdarah! Maklumlah dia bahwa kalau dia tidak menemukan akal, dia akan mati sekali ini. Maka untuk menghindarkan ancaman bertubi-tubi dari ujung cambuk Lam-thian Lo-mo, dia cepat dengan tiba-tiba merebahkan diri dan bergulingan mendekati Pak- thian Lo-mo agar cekikan cambuk itu mengendur.

“Tarrr!” Ujung cambuk milik Lam-thian Lo-mo tepat mengenai punggungnya, untung tak mengenai tengkuk sehingga Tek Hoat hanya mengeluh karena rasa nyeri yang amat hebat. Dia meloncat lagi.

“Tar-tarrr!” Dua kali ujung cambuk Lam-thian Lo-mo menggigit paha dan lambungnya, membuat celana dan bajunya robek berikut kulit dan dagingnya.

Badannya sudah berlumur darah yang bercucuran dari punggung, leher, lambung dan paha. Pada saat itu, dengan kemarahan memuncak Tek Hoat mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, pekik yang membuat Syanti Dewi jatuh terduduk dan hampir pingsan karena memang dia sudah gemetar seluruh tubuhnya menyaksikan betapa pemuda itu telah terbelit lehernya dan dicambuki serta berlumur darah amat mengerikan.

Akan tetapi bersamaan dengan bunyi pekik itu, tampak sinar berkelebat dan Pak-thian Lo-mo mengeluarkan teriakan yang menggetarkan pohon-pohon di sekitar tempat itu. Tubuh iblis tua ini terhuyung, cambuknya terlepas dari tangan dan kedua tangannya mencengkeram gagang pedang Cui- beng-kiam yang berada di dadanya karena pedang itu sendiri telah tertanam di dadanya sampai menembus punggungnya ketika dilontarkan secara tiba-tiba dan amat kuatnya oleh Tek Hoat tadi!
“Kau… bunuh dia…?” Lam-thian Lo-mo berteriak dengan suara terisak. “Tar-tar-tar-tarrr…!”
Cambuknya mengamuk dan tubuh Tek Hoat menjadi bulan-bulanan sambaran cambuk yang ujungnya seperti mulut ular mematuk-matuk sehingga membuat pakaian Tek Hoat robek-robek dan makin banyak lagi luka-luka di tubuhnya. Tetapi, dengan penderitaan rasa nyeri yang hebat itu karena semua luka mengandung racun, akhirnya Tek Hoat berhasil menangkap ujung cambuk. Ketika Lam-thian Lo-mo yang melotot marah itu menarik-narik cambuknya, Tek Hoat melibat-libatkan ujung cambuk di tangan kanannya dan terjadilah betot-membetot di antara mereka. Akhirnya, dengan mengeluarkan teriakan yang merupakan lengking dahsyat, kedua orang itu meloncat ke depan saling terjang di udara.

“Desssss…!”

Syanti Dewi yang menonton dari balik batang pohon hanya melihat bayangan dua orang itu bertumbukan di udara, kemudian dia melihat kedua orang itu terbanting roboh dan tidak bergerak lagi.

“Ahhhh…!”

Syanti Dewi sejenak berdiri dengan hati penuh kengerian, ditelan kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti tempat itu. Tidak ada suara apa-apa lagi terdengar, akan tetapi setelah keadaan di dalam hutan itu sunyi, semua orang kecuali dia telah rebah tidak berkutik lagi, lapat-lapat dan sayup sampai telinganya menangkap suara gemuruh dan hiruk-pikuk dari tempat yang jauh sekali. Suasananya menjadi makin menyeramkan karena suara yang lapat-lapat terdengar itu seperti mengandung suara tangis dan tawa yang agaknya datang dari angkasa atau mungkin juga dari dalam bumi, pantasnya suara yang keluar dari dalam neraka seperti yang pernah dia dengar dongengnya.

“Ahhh… matikah dia…?” Tanpa terasa lagi Syanti Dewi berbisik dengan hati penuh khawatir. Puteri Bhutan ini adalah seorang yang berbudi mulia dan memiliki kepekaan rasa sehingga tidak mudah bagi dia melupakan budi orang lain yang dilimpahkan kepadanya. Dia tahu bahwa dia tidak boleh mempercayai seorang seperti Ang Tek Hoat yang telah menjadi kaki tangan pemberontak, akan tetapi yang ternyata mengkhianati atasannya sendiri itu.

Akan tetapi, dia tahu pula bahwa sekali ini Ang Tek Hoat melakukan pengkhianatan dan melawan rekan- rekannya sendiri sampai mempertaruhkan nyawa karena hendak menolongnya! Sungguh pun dia sendiri belum dapat memastikan apakah perbuatan pemuda itu terdorong oleh maksud menolongnya ataukah hendak memperebutkannya, akan tetapi harus dia akui bahwa kalau tidak ada Tek Hoat, tentu dia telah membunuh diri ketika hendak diperkosa oleh Pangeran Liong Khi Ong. Perasaan berterima kasih ini ditambah lagi perasaan seolah-olah Tek Hoat bukan merupakan orang asing baginya, membuat puteri ini keluar dari tempat persembunyiannya dan kemudian berindap-indap menghampiri pemuda itu.

Dia bergidik ketika melewati tubuh Lam-thian Lo-mo. Kakek yang hampir telanjang, yang hanya mengenakan cawat ini, rebah telentang, matanya melotot, mulutnya terbuka dan kepalanya pecah. Hek- wan Kui-bo rebah menelungkup dengan seluruh tubuhnya bermandi darahnya sendiri, sedangkan tubuh Pak-thian Lo-mo juga terlentang dengan dada masih tertusuk pedang. Syanti Dewi bergidik ngeri, lalu memutari mayat-mayat itu dan menghampiri Tek Hoat yang menggeletak miring dan tidak bergerak lagi.

“Ohhhh…” Syanti Dewi mengeluh dan merasa kasihan melihat pemuda itu.

Pakaiannya robek-robek dan penuh darah, tampak luka-luka bekas cambukan dari kaki sampai ke lehernya yang dibelit luka yang berdarah. Ketika Syanti Dewi melihat muka pemuda itu, dia makin cemas. Muka itu pucat sekali, seperti muka mayat. Dengan hati berdebar dia menggerakkan tangannya, menyentuh dahi yang pucat itu. Masih hangat! Lalu dengan jari-jari tangan gemetar dia meraba dada. Masih ada ketukan jantungnya. Masih hidup! Hatinya lega. Pemuda ini belum mati.

Syanti Dewi pernah merawat Gak Bun Beng ketika pendekar itu menderita sakit, maka sedikit banyak dia telah mempunyai pengalaman. Sekarang menghadapi pemuda yang tubuhnya penuh dengan luka, mandi darah dan pingsan itu, dia cepat memberanikan diri berlari ke arah kereta. Dia tahu bahwa Pangeran Liong Khi Ong juga membawa perbekalan-perbekalan dan dia membutuhkan arak untuk menolong Tek Hoat.

Dalam ketegangannya hendak menolong Tek Hoat, dia lupa akan Pangeran Liong Khi Ong dan begitu saja dia menyingkap tirai kereta dan naik ke dalam kereta.

“Aiihhh…!” Syanti Dewi menjerit dan cepat meloncat turun lagi keluar kereta.

Dalam keadaan terkejut setengah mati itu, otomatis kepandaian silat yang pernah dipelajarinya keluar, bahkan kecepatan gerakannya bertambah! Siapa yang tidak kaget setengah mati? Ketika dia masuk kereta tadi, tanpa disengaja kakinya menyentuh kaki mayat Pangeran Liong Khi Ong yang mati sambil duduk di kereta dan ketika kakinya tersentuh, tubuhnya terguling sehingga bagi Syanti Dewi yang lupa akan pangeran ini, dia seperti melihat mayat itu hidup kembali dan menubruknya!

Dengan seluruh tubuh gemetar, Syanti Dewi memberanikan diri menyingkap tirai, memperingatkan diri sendiri bahwa Pangeran itu tadi telah mati! Ketika dia menyingkap tirai, dia melihat Pangeran itu menelungkup di lantai kereta, sama sekali tidak bergerak. Syanti Dewi bergidik, lalu dengan hati-hati dia naik ke dalam kereta, melangkahi mayat Pangeran itu dan cepat mulai mencari-cari di bagian belakang kereta itu. Di dalam kereta itu tidak begitu gelap seperti di luar karena lentera kereta masih menyala. Setelah dia menemukan guci arak, dia melompat turun dan cepat berlari menghampiri tubuh Tek Hoat yang kini sudah rebah terlentang akan tetapi agaknya masih belum siuman dari pingsannya.

Syanti Dewi menggunakan sapu tangannya yang dibasahi dengan arak untuk menekan-nekan luka-luka di tubuh Tek Hoat, selain membersihkan luka juga agar darah yang keluar dapat berhenti. Hatinya lega ketika melihat bahwa luka-luka itu tidak dalam, hanya kulit yang robek berikut sedikit daging di bawahnya. Akan tetapi luka di sekeliling leher itu amat mengerikan, seolah-olah leher itu dikerat pisau hendak disembelih. Luka ini terjadi ketika lehernya dijerat oleh cambuk besi tadi dan darah yang mengucur dari luka ini yang paling banyak sehingga sebentar saja sapu tangan Syanti Dewi menjadi merah oleh darah.

Setelah matahari mulai bersinar, Syanti Dewi bangkit berdiri, lalu pergi dari situ mencari-cari air. Untung tak jauh dari situ dia menemukan sebatang anak sungai kecil yang airnya jernih sekali. Cepat dia mengambil air, menggunakan guci arak yang sudah kosong dan kini dia dapat mencuci luka-luka di tubuh Tek Hoat dengan jelas. Setelah dia membalut leher yang terluka itu dengan sapu tangan, dia lalu menggunakan air untuk membasahi muka dan kepala pemuda yang masih juga belum siuman itu.

Tek Hoat mengeluh lirih, lalu gelagapan. “Hepp… haeppp… haeppp…!” Dia gelagapan seperti orang tenggelam di air!

“Ehhh, kenapa…? Kau kenapa…? Apanya yang sakit…?”

Syanti Dewi mengguncang pundak Tek Hoat ketika melihat pemuda itu gelagapan dengan mulut megap- megap. Tanpa disengaja, Syanti Dewi mengguncang pundak yang terluka berat karena tadi ditimpa tongkat

Hek-wan Kui-bo. Tentu saja diguncang seperti itu menjadi nyeri bukan main, pemuda yang sudah siuman dan dapat merasakan itu berteriak mengaduh, kiut-miut rasa pundaknya.

“Add… duuuhh-duh duhhh… pundakku…!” Karena masih setengah pingsan, maka Tek Hoat berteriak-teriak dan bersambat. Kalau dia sudah sadar betul, tentu saja pemuda yang keras hati ini tidak akan sudi bersambat, apa lagi di depan gadis itu.

“Ohhh…!” Syanti Dewi cepat menarik kembali tangannya dan melihat pundak itu. Baju di pundak itu juga robek dan baru sekarang dia melihat betapa pundak itu kulitnya biru menghitam. “Maafkan aku…!”

“Maaf…? Sudah menghantam pundak masih minta maaf? Nenek keparat…!” Tek Hoat memaki dan membuka matanya.

“Ouhhhh…!” Syanti Dewi menutup mulutnya.

“Aahhhhh…!” Tek Hoat membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang berlutut di dekatnya.

Tek Hoat cepat teringat akan keadaannya. Segera dia bangkit duduk dan menggigit bibir karena begitu dia bangkit, dunia di sekelilingnya seperti berpusingan dan seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, berdenyut- denyut serta menusuk-nusuk. Akan tetapi dia mempertahankan rasa nyeri itu, memandang ke sekeliling dan baru lega hatinya ketika dia melihat mayat Hek-wan Kui-bo, Pak-thian Lo-mo dan Lam-thian Lo-mo berserakan tidak jauh dari situ. Barulah dia memperhatikan dirinya sendiri, meraba lehernya yang terasa panas dan mendapat kenyataan bahwa lehernya telah terbalut, mukanya basah kuyup dan air masih menetes-netes dari rambutnya ke atas muka.

Jantungnya berdebar penuh kebingungan dan hampir dia tidak percaya akan dugaannya sendiri. Dengan gagap dia bertanya, suaranya berbisik, “Kau… kau… yang merawatku…?”

Syanti Dewi yang masih memandang kepadanya dengan terbelalak, takut kalau-kalau pemuda ini sudah berubah ingatannya, juga takut kalau pemuda ini menjadi liar dan ganas seperti yang pernah disangkanya, bergerak mundur menjauhi, tangan kanannya meraba gagang pisau yang terselip di pinggangnya dan dia mengangguk, tangan kirinya masih memegang kain basah yang tadi dipergunakan untuk membasahi muka dan kepala pemuda itu. Dia hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepalanya.

Kenyataan ini merupakan pukulan hebat bagi Tek Hoat. Gadis itu, Puteri Bhutan itu, yang telah membuat dia tergila-gila, yang ingin dirampasnya dan dipaksanya menjadi isterinya, ketika dia pingsan dan tidak berdaya, ternyata tidak membunuhnya. Padahal, alangkah mudahnya bagi puteri itu untuk membunuhnya. Sekali tikam saja dengan pisau di pinggang itu, dia akan tewas dan karena semua pengawal pangeran sudah tewas, hal itu berarti kebebasan sepenuhnya bagi Syanti Dewi. Akan tetapi tidak! Puteri itu, wanita bangsawan tinggi itu, malah merawat luka-lukanya! Kenyataan ini membuat Tek Hoat tertawa sendiri, suara ketawa yang aneh.

Syanti Dewi memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Wajah itu, suara ketawa itu. Dia pernah rasanya mengenal pemuda ini! Bukan, bukan sejak menawannya dan membawanya kepada Pangeran Liong Khi Ong, akan tetapi jauh sebelum itu, dan dalam keadaan yang lebih baik. Akan tetapi dia lupa lagi kapan dan di mana.

Dipandang seperti itu, Tek Hoat menghentikan suara ketawanya yang tadi keluar di luar kehendaknya, dengan gugup dia berkata, “Aku… aku… bermimpi… tenggelam ke dalam sungai… kiranya engkau membasahi mukaku…”

“Aihhh…!” Syanti Dewi meloncat berdiri, ucapan itu mengingatkan dia. “Engkau adalah tukang perahu itu! Ya, engkaulah tukang perahu dahulu itu!” Dia mengingat-ingat, lalu berkata lagi. “Kini aku mengerti! Engkau dahulu menyamar sebagai tukang perahu, pantas ada yang menyebutmu Si Jari Maut!”

Tek Hoat berusaha untuk tersenyum, tetapi mana bisa dia tersenyum kalau seluruh tubuhnya terasa sakit, dan lebih lagi dari itu, kalau seluruh hati dan pikirannya terasa sakit? Dia begitu jahat, dan puteri itu begitu baik! Seperti si binatang liar dan si Dewi Kahyangan! Dia menghela napas dan memejamkan matanya. “Puteri Syanti Dewi, kau pergilah…! Pergilah sebelum terlambat…!”

Syanti Dewi mengerutkan alisnya. “Akan tetapi engkau… engkau terluka parah…”

“Biarkan aku mampus, dunia takkan rugi karenanya!” Katanya dengan hati sebal dan dia melemparkan tubuh ke belakang.

“Dukkk!” Kepalanya menimpa akar pohon dan dia mengerang lirih, menjadi setengah pingsan lagi karena benturan kepalanya dengan akar yang dalam keadaan biasa tentu tidak akan terasa olehnya itu, kini terasa seolah-olah kepalanya dihantam palu godam sebesar kerbau!

“Aihhh, kasihan engkau… pemuda yang malang…!” Syanti Dewi sudah berlutut lagi di dekatnya, menggunakan kain basah itu untuk menghapus darah yang kembali mengalir di leher dan pipi, karena benturan tadi membuat kepala yang luka oleh lecutan cambuk berdarah lagi.

“Kasihan? Engkau… kasihan kepadaku?” Tek Hoat bangkit duduk, tidak peduli betapa pandang matanya sendiri berkunang dan kepalanya menjadi pening sekali. “Puteri Syanti Dewi kasihan kepadaku? Ha-ha-ha! Semestinya engkau kasihan kepada dirimu sendiri yang sudah begitu percaya kepada orang lain, kepada tukang perahu jahanam itu!”

Syanti Dewi mengerutkan alisnya, memandang khawatir. Tidak salah lagi, pemuda ini menjadi miring otaknya karena pukulan-pukulan yang diterimanya ketika bertanding tadi!

“Mengapa? Tukang perahu itu telah menolong aku dan Adik Candra Dewi,” bantahnya.

“Ha-ha-ha! Betapa bodohnya! Tukang perahu itu adalah mata-mata Pangeran Liong yang sengaja diutus untuk menyelidik dan untuk menawan Puteri Syanti Dewi! Dan puteri itu malah percaya kepada seorang pembantu dan tangan kanan pemberontak Liong Khi Ong!”

“Akan tetapi, engkau tadi telah menyelamatkan aku dari mereka, engkau malah telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang kaki tangannya!”

Ang Tek Hoat memandang puteri itu dengan mata merah, tertawa dan menudingkan telunjuknya seperti orang gila. “Ha-ha-ha-ha, engkau puteri bodoh! Patut dikasihani! Engkau terlalu baik hati, engkau terlalu percaya orang. Aku membunuh mereka karena ingin memperebutkan engkau! Aku hanyalah orang jahat, dan engkau… engkau malah merawatku! Ha-ha-ha, belum pernah aku melihat yang segila ini. Pergilah kau… pergi…! Sebelum aku lupa diri…!”

Kembali Tek Hoat merebahkan dirinya dan memejamkan mata, menggunakan jari-jari tangannya menjambak rambutnya sendiri. “Aku keracunan… terluka parah, tentu akan segera mati… kau pergilah, kau menjauhlah, jangan dekat-dekat… aku kotor sekali, aku perampok, pembunuh, tukang perkosa… aku tidak berharga… ahhh, Ibu…!” Ucapan Tek Hoat sudah kacau tidak karuan.

Memang pemuda ini selain menderita luka-luka, juga telah terkena racun yang hebat, racun yang berada di cambuk Siang Lo-mo. Seperti telah diketahui, sejak Siang Lo-mo merampas kitab cacatan tentang racun dari Ban-tok Mo-li, mereka telah menggunakan ilmu tentang racun itu untuk membuat cambuk mereka menjadi senjata yang mengandung racun amat berbahaya. Dan kini, terluka berkali-kali oleh cambuk- cambuk beracun itu, tentu saja Tek Hoat terpengaruh dan luka-luka itu mulai membengkak dan membiru, bahkan lehernya telah menjadi matang biru dan mengerikan sekali.

“Ah, kasihan engkau, orang muda yang malang…!” Syanti Dewi adalah seorang wanita yang berwatak lembut. Melihat kesengsaraan dan penderitaan pemuda ini, hatinya menjadi tidak tega, penuh dengan perasaan iba, maka dia tidak mempedulikan sikap pemuda itu, bahkan tanpa takut-takut lagi dia lari mendekat, berlutut dan membasahi dahi pemuda itu dengan air karena dahi itu amat panas sampai mengepulkan uap!

Tek Hoat merintih-rintih dan mengeluh, menyebut-nyebut ibunya karena dia seolah-olah melihat ibunya yang marah-marah dan memaki-makinya, kemudian melihat wajah Kam Siok, pemilik restoran di Shen- yang yang dibunuhnya, wajah Kam Siu Li, puteri Kam Siok yang telah dikawinkan kepadanya kemudian dibunuhnya pula, wajah Liok Si, janda Kam Siok yang genit itu, dan wajah orang-orang yang pernah dibunuhnya, semuanya datang mengejar-ngejarnya hendak membalas dendam! Dia lari ketakutan, kemudian melihat Syanti Dewi yang melayang turun dari angkasa seperti Dewi Kwan Im Pouwsat, cantik jelita dan agung, lemah-lembut dan ramah, mengulurkan tangan kepadanya.

“Lindungi aku… ohhh, lindungi aku…”

“Tenanglah, Tek Hoat, tenanglah…” Dewi itu berkata halus dan menaruh tangannya ke atas dahinya. Tangan yang lembut dan halus, sejuk dan mengusir nyeri.

“Ampunkan aku yang penuh dosa…” Dia berbisik, meraba dan menangkap tangan halus lembut itu dan mencium tangan itu.

Syanti Dewi menarik tangannya dengan halus. Hatinya terharu. Boleh jadi orang ini telah melakukan penyelewengan-penyelewengan hebat, pikirnya, dan penyesalan telah menggerogoti perasaannya sendiri. Penyesalan akan perbuatan yang berdosa pastilah merupakan hukuman yang amat berat bagi orang itu.

“Ang Tek Hoat, engkau tadi begitu gagah, mengapa sekarang menjadi begini lemah?” Suara Syanti Dewi ini merupakan air dingin yang mengguyur kepala Tek Hoat. Seketika dia berhenti mengeluh, membuka mata dan pandang matanya kembali menjadi dingin, biar pun mukanya kini merah sekali seperti dibakar.
Tek Hoat bangkit duduk, menggoyang-goyang kepala sebentar seperti hendak mengusir kepeningannya, lalu dia berkata, “Puteri Syanti Dewi, terima kasih atas kebaikanmu. Engkau mulia seperti dewi, dan aku jahat seperti iblis. Engkau pergilah dari sini, kau cari Jenderal Kao. Dia seorang gagah yang akan menolongmu…” Tiba-tiba mata pemuda itu kelihatan beringas memandang ke kanan. Syanti Dewi bangkit berdiri, juga menoleh dengan ketakutan, mengira bahwa ada musuh-musuh baru yang datang.

Tampak beberapa orang berlarian mendatangi. Cepat sekali gerakan mereka, seperti sekumpulan binatang rusa yang lari sambil berlompatan menuju ke tempat itu. Sukar bagi Syanti Dewi untuk mengenal bayangan orang-orang yang berlari secepat itu dan kini mereka yang terdiri dari tiga orang itu telah berdiri di situ, memandangi kereta dan mayat-mayat yang berserakan, kemudian memandang kepada Tek Hoat dan Syanti Dewi.

“Bu-koko…!” Syanti Dewi berseru dengan lega dan girang ketika melihat mereka dan di antara mereka itu terdapat Jenderal Kao Liang dan Suma Kian Bu! Terutama sekali melihat Kian Bu hatinya begitu lega sehingga tak terasa lagi dia berlari ke arah pemuda ini yang juga berlari menghampirinya.

“Adik Syanti Dewi…!”

Tanpa dapat dicegah lagi, lupa akan keadaan saking lega dan girangnya hati, Syanti Dewi membiarkan dirinya dipeluk oleh Suma Kian Bu! Dia menangis dengan penuh keharuan dan kelegaan hati.

Ternyata yang datang adalah Jenderal Kao Liang, Kian Bu, dan Puteri Milana. Malam tadi menjelang pagi, ketika barisan yang dipimpin Puteri Milana tiba di depan Teng-bun untuk membantu Jenderal Kao, jenderal ini segera mengerahkan seluruh barisan untuk menyerbu Teng-bun dengan kekuatan yang jauh lebih besar setelah ada bantuan itu. Perang hebat terjadi, akan tetapi sekali ini Kim Bouw Sin tidak lagi dapat bertahan.

Apa lagi karena dia sudah kehilangan para pembantunya yang lihai. Tek Hoat tidak kelihatan mata hidungnya, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo sudah pergi mengawal Pangeran Liong Khi Ong, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li juga tidak kelihatan lagi. Maka setelah matahari terbit, pasukan- pasukan pemerintah berhasil membobolkan pintu-pintu gerbang dan menyerbu masuk seperti banjir. Teng- bun tak dapat dipertahankan lagi dan Kim Bouw Sin sendiri tewas dalam perang itu.

Tentu saja Jenderal Kao dan Milana, juga diikuti oleh Kian Bu, pertama-tama menyerbu gedung yang selama ini digunakan sebagai tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong untuk menangkap pangeran pemberontak itu. Akan tetapi ternyata Pangeran itu telah melarikan diri semalam. Ketika mendengar dari para pelayan bahwa Pangeran itu sudah pergi membawa Puteri Bhutan, Kian Bu dan Jenderal Kao terkejut sekali. Bersama Puteri Milana, mereka lalu secepatnya melakukan pengejaran melalui pintu rahasia yang tentu saja dikenal oleh Jenderal Kao dan mereka terus mengejar ke dalam hutan.

Tek Hoat membuka mata dan mengejap-ngejapkan matanya, sejenak memandang ke arah Syanti Dewi yang menangis dalam dekapan seorang pemuda tampan yang dia kenal sebagai salah seorang di antara dua orang pemuda kakak beradik yang pernah berlawan dengannya.

Dia melihat pula Jenderal Kao dan seorang wanita cantik sekali yang amat gagah perkasa. Dia pernah melihat wanita ini dan samar-samar teringatlah dia kepada wanita yang dulu dijumpainya di dalam hutan ketika wanita yang amat lihai ini membunuh seekor harimau besar. Akan tetapi dia tidak mempedulikan itu semua, matanya kini menatap Syanti Dewi, yang dipeluk oleh pemuda itu. Hatinya menjadi panas sekali dan tanpa mempedulikan apa-apa lagi Tek Hoat melompat dan menerjang ke arah Suma Kian Bu!

“Plakkk!”

Tek Hoat terpelanting saat dari samping ada lengan halus yang mendorongnya dengan kekuatan yang amat dahsyat. Kiranya wanita itu dengan sikap gagah dan pandang mata tajam menusuk menegurnya, “Engkau mau apa?”

Tek Hoat menjadi marah sekali. Dia tidak peduli siapa adanya wanita gagah itu, akan tetapi yang ada di dalam hatinya hanyalah kemarahan yang amat hebat. Kemarahan yang timbul seketika pada saat dia melihat Syanti Dewi dalam pelukan pemuda tampan itu.

“Aku mau membunuh!” bentaknya.

Kemarahannya membuat dia lupa akan segala kenyerian yang menusuk-nusuk seluruh tubuh dari kepala sampai kaki, dan dengan ganas dia sudah menerjang lagi, otomatis dia menggunakan jurus Pat-mo Sin- kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Iblis) yang menjadi ilmu silat tinggi pertama kali yang dilatihnya. Gerakan ilmu silat ini memang hebat dan ganas sekali, dan sinkang yang mendorong gerakan ilmu ini adalah sinkang yang mengeluarkan hawa panas.

“Aihhh…!”

Puteri Milana terkejut dan terheran-heran bukan main. Cepat dia menggerakkan kaki tangannya dengan ilmu silat yang sama pula. Tentu saja dia merasa heran karena gerakan pemuda ini adalah gerakan ilmu silat rahasia dari perkumpulan Thian-liong-pang, yaitu perkumpulan yang dahulu diketuai oleh ibunya, Puteri Nirahai (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS). Dan ilmu silat ini adalah ciptaan ibunya itu, yang mengambil gerakan-gerakan dari Ilmu Silat Pat-mo Kiam-sut digabung dengan Ilmu Silat Pat-sian Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Dewa) sehingga terciptalah Ilmu Silat Tangan Kosong Pat-mo Sin-kun itu. Akan tetapi ilmu itu hanya dikenal oleh ibunya, dia sendiri dan para bekas tokoh Thian-liong-pang saja. Bagaimana sekarang bisa dimainkan oleh pemuda ini secara demikian baiknya?

“Hai, dari mana engkau mempelajari Pat-mo Sin-kun?” Puteri Milana berseru makin heran karena mendapat kenyataan betapa pemuda ini memiliki tenaga yang amat kuat, sungguh pun jelas bahwa pemuda ini sudah menderita luka-luka parah dan keracunan.

Tek Hoat juga terkejut ketika melihat wanita menghadapinya dengan Pat-mo Sin-kun yang demikian baik gerakannya, jauh lebih baik dari pada gerakannya sendiri. Maka tanpa menjawab dia lalu mengerahkan tenaga Inti Bumi dan mendorong.

“Bresss… ihhhh…!” Milana terdorong dan terhuyung, bukan main kagetnya.

“Keparat, engkau pemberontak keji!” Kian Bu sudah melepaskan Syanti Dewi. Melihat kakaknya terdorong itu, dia lalu menerjang ke depan dan memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang.

Tek Hoat yang amat marah dan benci kepada pemuda yang memeluk Syanti Dewi ini, lalu membalikkan tubuh mengerahkan tenaga sinkang-nya dan menangkis. Keduanya mengeluarkan tenaga sekuatnya, akan tetapi Kian Bu sama sekali tidak tahu bahwa lawannya itu telah terluka parah.

“Desssss…!”

Tubuh Tek Hoat terlempar, membentur batang pohon dan roboh tergelimpang, tidak bergerak lagi! Ketika mengadu tenaga dengan Puteri Milana tadi, ternyata dia telah mengerahkan tenaga Inti Bumi dan hal ini membuat luka-lukanya di sebelah dalam tubuhnya menjadi lebih parah lagi. Maka begitu dia bertemu dengan Kian Bu yang memiliki sinkang murni dari Pulau Es, tentu saja dia tidak mampu menandinginya dan dia terbanting dengan keras sampai pingsan.

“Ahhh, Bu-ko, kau membunuhnya…?” Syanti Dewi berlari menghampiri tubuh Tek Hoat, berlutut dan memandang penuh kekhawatiran.

“Adik Syanti Dewi, dia kaki tangan pemberontak, dia jahat…!” Kian Bu berkata dengan heran dan penasaran melihat dara itu membela lawannya.

Puteri Milana memandang dengan heran dan diam-diam dia kagum akan kecantikan Puteri Bhutan ini. Pantas saja adik kandungnya tertarik kepada puteri ini dan sikap mereka ketika bertemu tadi menimbulkan dugaannya bahwa adiknya itu jatuh hati kepada Syanti Dewi. Maka kini sikap Syanti Dewi yang berlutut di dekat kaki tangan pemberontak itu mengherankan hatinya.

“Apa artinya ini?” Dia bertanya.

“Adik Syanti, pemberontak ini dibunuh pun sudah sepatutnya,” Kian Bu berkata lagi.

“Tidak… tidak…! Bu-koko, engkau tidak tahu. Dialah yang telah menolongku. Dia yang telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya. Lihat itu, mayat mereka masih berada di sana. Kalau tidak ada Tek Hoat ini, aku tentu telah menjadi mayat sekarang.” Syanti Dewi berkata sambil menunjuk ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan dan dia membayangkan betapa dia sekarang tentu telah membunuh dirinya karena hendak diperkosa oleh Pangeran Liong Khi Ong kalau saja tidak ditolong oleh Tek Hoat.

“Ehhh…?” Kian Bu tertegun heran.

“Dia adalah tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong yang terkenal sekali. Dialah yang berjuluk Si Jari Maut dan yang mempergunakan nama Gak Bun Beng Taihiap! Dia jahat dan keji, juga menjadi kaki tangan pemberontak. Syanti, minggirlah, orang ini harus ditangkap atau dibunuh.” Jenderal Kao Liang juga berkata sambil melangkah maju menghampiri Puteri Bhutan yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.

“Gi-hu (Ayah Angkat)…!”

Syanti Dewi bangkit dan memegang lengan jenderal tinggi besar itu. “Harap jangan bunuh dia. Dia terluka dan menderita seperti itu karena menolong saya. Andai kata dia tidak menolong saya, tentu dia sudah dapat melarikan diri jauh dari sini dan kalian tidak dapat menangkapnya. Dia menolong saya dan karenanya dia terluka dan tidak dapat lari. Kalau kalian membunuhnya, sama artinya dengan saya yang membunuhnya. Gi-hu, apakah engkau ingin mempunyai seorang anak angkat yang berwatak palsu tidak mengenal budi orang?”

Puteri Milana sudah melangkah maju dan berkata kepada adiknya, “Bu-te (Adik Bu), dia betul. Kita harus merawatnya, dan aku melihat keanehan pada dirinya. Dia mengenal ilmu rahasia Thian-liong-pang! Mungkin pemuda ini menyimpan rahasia.”

Kian Bu masih ragu-ragu. “Tetapi, Enci, menurut Kao-goanswe dia telah menggunakan nama Gak-suheng dan merusak namanya!”

“Hal itu pun ada rahasianya. Kita rawat dan menahan dia sebagai seorang tawanan yang terawat baik. Betapa pun juga, dia telah berjasa dengan membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya yang lihai ini.”

Kian Bu tidak berani membantah lagi, dia lalu memanggul tubuh Tek Hoat yang lunglai dan pingsan. Mereka lalu kembali ke Teng-bun yang sudah diduduki oleh pasukan pemerintah. Pukulan hebat yang dilakukan oleh pasukan di bawah pimpinan Jenderal Kao Liang dan Puteri Milana itu sekaligus menghancurkan kekuatan pemberontak, apa lagi kematian Panglima Kim Bouw Sin dan kematian Pangeran Liong Khi Ong melemahkan semangat perlawanan para anak buah pasukan sehingga sebagian besar di antara mereka segera takluk dan menyerah dan hanya sedikit saja yang melarikan diri secara liar karena takut akan hukuman yang pasti dijatuhkan kepada mereka.

Seperti juga kota Teng-bun, kota pemberontak kedua, Koan-bun, dengan mudah terjatuh ke tangan pemerintah setelah terjadi perang yang amat hebat di dalam kota itu. Pasukan yang dipimpin oleh Panglima Thio dan dibantu oleh putera Jenderal Kao itu telah berhasil membasmi pemberontak yang telah kelelahan karena baru saja pasukan pemberontak bertanding mati-matian ketika mereka menghancurkan pasukan liar Tambolon. Apa lagi di kota ini terdapat Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee yang telah berhasil mengusir tokoh hitam lihai yang membantu pemberontak, yaitu ketua Pulau Neraka Hek-tiauw Lo-mo dan sumoi-nya, Mauw Siauw Mo-li.

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng telah roboh pingsan karena luka-lukanya akibat pukulan-pukulan yang mengandung racun, terutama sekali pukulan yang diterimanya dari Hek-tiauw Lo- mo, karena tangan Ketua Pulau Neraka ini mengandung racun yang amat ampuh sehingga biar pun Ceng Ceng sendiri merupakan seorang ahli tentang racun, namun tetap saja dia menderita luka di sebelah dalam tubuhnya yang parah.

Dengan hati penuh kekhawatiran, Suma Kian Lee memondong tubuh dara yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali dia melihat dara ini di pasar kuda dahulu, mengikuti seorang perwira menuju ke sebuah gedung yang telah diduduki pasukan pemerintah. Setelah merebahkan tubuh yang mukanya sekarang pucat agak kehijauan itu di atas pembaringan, Kian Lee cepat duduk bersila di dekat gadis itu, meletakkan kedua tangannya di atas pundak Ceng Ceng dan mulailah dia mengerahkan tenaga sinkang yang amat kuat untuk membantu gadis itu mengusir hawa beracun yang mengeram di dalam tubuhnya.

Namun dengan amat terkejut dan heran Kian Lee merasakan betapa ada tenaga lain yang keluar melawan pengerahan tenaganya. Dia tidak tahu bahwa tubuh dara itu telah mengandung racun setelah dia menguasai ilmu tentang racun dari Ban-tok Mo-li dan melatih diri, tubuhnya menjadi beracun sehingga dara itu dapat mengerahkan hawa beracun yang amat hebat, bukan hanya di dalam pukulannya, bahkan di ludahnya sekali pun! Adalah hawa ini yang melawan ketika dia mengerahkan sinkang untuk mengusir hawa beracun yang disangkanya adalah akibat pukulan-pukulan Hek-tiauw Lo-mo.

Andai kata pukulan Hek-tiauw Lo-mo itu merupakan pukulan beracun biasa saja, agaknya tidak akan mampu membuat Ceng Ceng terluka sedemikian beratnya. Akan tetapi pukulan Hek-tiauw Lo-mo adalah pukulan beracun yang dilatihnya dari kitab yang dapat dicurinya dari Dewa Bongkok, dan pukulan beracun ini hebat sekali, melebihi kehebatan hawa beracun di tubuh Ceng Ceng! Itulah sebabnya maka pemuda yang memiliki sinkang murni dari Pulau Es ini akan tetapi bukan seorang ahli pengobatan, menjadi gagal dan bingung.

Akan tetapi dia tidak menghentikan usahanya untuk menolong Ceng Ceng dan masih terus saja dia mengerahkan sinkang-nya, tidak peduli bahkan ketika dia mulai merasa betapa ada perasaan gatal-gatal menjalar masuk melalui telapak tangannya. Dia tahu bahwa secara aneh sekali, ada hawa beracun yang menular kepadanya, akan tetapi dia tidak mempedulikan dirinya sendiri dalam keinginannya untuk menyembuhkan Ceng Ceng.

Setengah hari lebih Kian Lee berusaha mati-matian untuk menyembuhkan gadis itu dengan sia-sia. Lewat tengah hari, Ceng Ceng siuman dari pingsannya dan terkejutlah dia ketika melihat pemuda tampan yang menolongnya itu duduk bersila, menempelkan kedua telapak tangan di kedua pundaknya dan dari kedua telapak tangan pemuda itu keluar hawa yang hangat. Apa lagi ketika dia melihat betapa kedua tangan pemuda itu menjadi agak kehijauan, dia terkejut sekali, dan tahu apa yang telah terjadi dengan diri pemuda itu.

“Jangan…! Hentikan itu…!” katanya sambil bangkit duduk.

“Tenanglah, Nona. Aku sedang berusaha untuk mengusir hawa beracun dari dalam tubuhmu…”

“Jangan lakukan itu! Ah, engkau tidak tahu… engkau mencari celaka sendiri…!” Ceng Ceng menolak kedua tangan pemuda itu dan duduk di pinggir pembaringan, kepalanya terasa pening sekali dan di dada kanan dan punggung terasa nyeri. “Engkau malah meracuni dirimu sendiri…” katanya, suaranya agak terharu melihat tangan pemuda itu menjadi kehijauan.

“Nona Lu, engkau terkena pukulan-pukulan beracun, kalau tidak segera dilenyapkan hawa beracun itu, amat berbahaya. Biarlah aku mencobanya lagi…”

“Tidak! Engkau sendiri yang akan celaka… ah, kau tidak tahu. Racun di tubuhku telah menular kepadamu. Lihat kedua telapak tanganmu.”

Kian Lee memandang kedua telapak tangannya. “Tidak mengapa, yang penting engkau harus terhindar dari bahaya maut.”

Ceng Ceng memandang pemuda itu penuh perhatian, alisnya berkerut saat ia bertanya, “Engkau mengenalku?”

Kian Lee mengangguk. “Engkau adalah Nona Lu Ceng, saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan, engkau seorang dara perkasa yang berjiwa pahlawan, engkau hampir mengorbankan nyawa sendiri ketika menolong Jenderal Kao Liang, sekarang engkau pun terancam bahaya maut setelah engkau berhasil mengadu domba Tambolon dengan pemberontak. Engkau seorang dara yang hebat, Nona Lu.”

Jantung gadis ini berdebar tegang dan aneh. Pandang mata pemuda ini mengingatkan dia akan pandangan mata Pangeran Yung Hwa, sungguh pun sikapnya tidak seperti pangeran itu yang menyatakan cintanya terang-terangan! Pandang mata seorang pria yang mencintanya.

“Kenapa… kenapa engkau berusaha menolongku dengan menempuh bahaya? Kau bisa keracunan dan mati!”

Suma Kian Lee tersenyum dan menggeleng kepala. “Aku tidak akan mati, Nona, dan andai kata mati pun kalau dapat menyelamatkan engkau dari bahaya maut, hatiku akan puas.”

“Hemm, kau siapakah namamu?”

“Namaku Suma Kian Lee dan… ohhh, engkau kenapa, Nona?” Dia hendak menubruk maju dan sudah mengulur tangan, tetapi dia tidak berani memegang atau menyentuh tubuh itu demi kesopanan.

Ceng Ceng memegang kepalanya yang terasa pening sekali. Dia menguatkan dirinya dan membuka matanya lagi.

“Engkau pernah kulihat… ahhh, lupa lagi aku di mana…”

“Di pasar kuda, dan kedua kalinya di waktu engkau hendak ditangkap oleh Hek-tiauw Lo-mo….” Kian Lee berhenti sebentar dan memandang wajah yang cantik itu penuh perhatian, karena dia teringat betapa jauh bedanya keadaan dara itu dalam dua kali pertemuan itu. Yang pertama dara itu kelihatan lincah jenaka dan gembira, akan tetapi yang kedua kalinya dara itu menjadi dingin dan amat ganas.
“Dan yang ketiga kalinya aku dan adikku melihat engkau di rumah Jenderal Kao di kota raja, akan tetapi engkau terus berlari pergi. Nona Lu, biarkan aku mengobatimu, kalau engkau sudah sembuh baru kita bicara lagi.” Kian Lee khawatir sekali melihat wajah cantik yang kehijauan itu.

Ceng Ceng menggeleng kepala, lalu bangkit berdiri, agak terhuyung dan dia terpaksa berpegang kepada punggung kursi. “Tidak, tidak ada gunanya. Engkau tidak akan dapat menyembuhkan aku, tidak ada yang dapat menyembuhkan… biarkan aku pergi saja dari sini…”

“Heh! Siapa bilang tidak ada orang dapat menyembuhkan? Aku belum pernah melihat penyakit yang tak dapat kusembuhkan!”

Kian Lee cepat menengok, dan dengan mata sayu Ceng Ceng yang pandang matanya berkunang itu pun menoleh ke arah pintu.

“Sute, kau kenapa…?” Gak Bun Beng cepat menghampiri Kian Lee, menangkap tangan pemuda itu dan memeriksanya. “Ahh, kau keracunan!” Pendekar itu berseru kaget.

“Dia… dia keracunan… ketularan oleh racun di tubuhku…” Ceng Ceng berkata lemah. “Biarkan aku pergi…” Dia terhuyung hendak menuju ke pintu.

“Dia telah keracunan hebat, dan pemuda ini pun keracunan,” kata kakek yang datang bersama Gak Bun Beng, seorang kakek yang aneh, membawa tongkat dan pandang matanya tidak acuh. “Akan tetapi jangan mengira aku tidak dapat menyembuhkan!” Kakek ini adalah Sin-ciang Yok-kwi Kwan Siok.

Seperti telah diketahui kakek ini adalah ahli pengobatan yang pernah bertemu dan bahkan mengadu kepandaian dengan Gak Bun Beng yang ketika itu sedang sakit dan melakukan perjalanan bersama Syanti Dewi. Biar pun wataknya aneh bukan main, Sin-ciang Yok-kwi (Setan Obat Bertangan Sakti) ini adalah seorang yang benci terhadap pemberontakan, maka begitu mendengar bahwa Koan-bun dan Teng-bun diserbu oleh pasukan-pasukan pemerintah, dia cepat datang dan membantu. Kebetulan dia bertemu dengan Gak Bun Beng di Koan-bun.

Kehadiran seorang ahli pengobatan tentu saja penting sekali bagi Bun Beng karena di dalam perang terjatuh banyak korban yang perlu dengan pengobatan, apa lagi dia juga teringat gadis yang telah menderita keracunan hebat, maka dia mengajak Sin-ciang Yok-kwi untuk menyusul Kian Lee setelah dia menyelesaikan bantuannya terhadap serbuan tentara pemerintah.

“Yok-kwi, kalau begitu cepat obati mereka. Nona ini adalah Nona Lu Ceng, seorang nona muda yang berjiwa pahlawan, dan pemuda ini sute-ku.”

Lu Ceng menudingkan telunjuknya ke arah Gak Bun Beng. “Engkau mengenal aku, akan tetapi siapakah kau…?”

Kian Lee seakan-akan hendak menutupi sikap suheng-nya, maka cepat dia berkata, “Nona Lu, dia ini adalah suheng-ku, Gak Bun Beng… Ehh, kenapa?” Dia terkejut sekali melihat Ceng Ceng membelalakkan matanya, memandang kepada Gak Bun Beng bagai orang melihat setan, kemudian dia menggeleng kepala keras-keras.

“Bohong! Gak Bun Beng sudah mati…!” Dan dia pun terguling dan tentu akan terbanting jatuh kalau tidak ditangkap oleh Kian Lee yang selalu siap di dekatnya. Dara itu telah pingsan.

“Suheng…” Kian Lee memandang Gak Bun Beng.

Dari pandang mata ini saja cukup jelaslah bagi pendekar itu apa yang terkandung di dalam hati sute-nya itu. Hatinya merasa terharu, karena dia pun pernah merasakan dorongan cinta kasih pertama seperti yang dialami sute-nya pada saat itu. Maka dia lalu menoleh kepada Sin-ciang Yok-kwi.

“Yok-kwi, kalau kau tidak cepat menolong mereka berdua ini, pandanganku terhadap kemampuanmu akan menurun!” kata Bun Beng dengan muka sungguh-sungguh.

Sin-ciang Yok-kwi tidak menjawab, alisnya berkerut dan kedua tangannya sudah mulai memeriksa Ceng Ceng yang direbahkan kembali oleh Kian Lee di atas pembaringan. Makin dalam kerut di muka kakek itu dan beberapa kali dia mengeluarkan seruan aneh. Sampai lama dia memeriksa tubuh Ceng Ceng, kemudian dia membalik kepada Kian Lee yang duduk di pinggir pembaringan lalu memeriksa pemuda itu, memeriksa kedua tangannya yang menghijau sampai ke bawah siku, memeriksa detik jantungnya pula. Kakek itu terhenyak ke atas kursi, matanya memandang kosong melalui pintu kamar itu.

“Yok-kwi, bagaimana?” Bun Beng bertanya dengan penuh kekhawatiran karena pada wajah tabib pandai itu nampak kebingungan.

Yok-kwi menggelengkan kepala dan menghela napas panjang. “Baru sekali ini aku berhadapan dengan keadaan yang luar biasa sekali!” katanya dan menoleh ke arah Ceng Ceng dengan pandang mata penuh keheranan.

“Pukulan yang diterima oleh gadis ini pasti sudah akan mematikan orang lain karena racun yang terkandung di dalamnya amat luar biasa. Akan tetapi gadis ini tidak mati, bahkan di samping racun pukulan itu, di seluruh tubuhnya terdapat hawa beracun yang membuat dia berbahaya sekali bagi orang lain, racun yang kehijauan dan pemuda ini pun terkena racun yang terkandung di seluruh tubuhnya itu. Luar biasa sekali! Gadis ini bisa dinamakan manusia beracun!”

“Cukup semua keterangan itu! Yang penting, bisakah engkau menyembuhkannya, Sin-ciang Yok-kwi Kwan Siok?” Bun Beng membentak tak sabar.

Kakek itu memandang kepada Bun Beng. “Gak-taihiap, engkau tahu bahwa aku adalah seorang tabib yang sanggup mengobati segala macam penyakit dan luka yang beracun sekali pun. Akan tetapi mengobati seorang manusia beracun? Sungguh tidak mungkin bagiku. Pemuda ini dapat kuobati, apa lagi sute-mu ini memiliki sinkang yang murni dan amat kuat. Akan tetapi gadis ini… terus terang saja aku hanya mampu memberi obat penawar yang melenyapkan rasa nyeri sehingga dia tidak akan terlalu tersiksa. Akan tetapi… kalau dia dapat bertahan sampai satu bulan saja sudah amat luar biasa namanya. Mungkin dalam belasan hari saja dia sudah harus mati…”

“Tidak…!” Tiba-tiba Kian Lee yang biasanya bersikap tenang itu berteriak. “Suheng, tidak mungkin membiarkan dia mati…!”

Gak Bun Beng menarik napas panjang. “Sute, bukan kitalah yang menentukan tentang hidup atau mati. Kita hanya dapat berusaha, dan tentu saja kita harus berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan Nona Lu ini. Yok-kwi, sebagai orang yang telah berani memakai julukan Setan Obat, tidak malukah engkau kalau harus mengatakan bahwa engkau tidak mengenal cara penyembuhan bagi nona ini?”

Kakek ahli obat itu memandang Bun Beng dengan mata melotot, kelihatan marah sekali. “Gak Bun Beng, engkau terlalu mendesak dan memandang rendah padaku!” Kemudian dia menarik napas panjang. “Di dunia ini, hanya ada Pulau Es yang terkenal dengan ketinggian ilmu silatnya, sayang tidak terbuka bagi semua orang dan hanya dikenal oleh orang-orang seperti engkau dan keluarga Pulau Es sehingga Pulau Es menjadi tempat dalam dongeng, kemudian ada tokoh yang luar biasa ilmunya tentang racun dan dia adalah Ban-tok Mo-li, namun sayang tidak ada seorang pun tahu di mana nenek iblis itu berada. Ada lagi tempat yang dikenal dalam dongeng, yaitu Istana Gurun Pasir yang kabarnya ditempati oleh orang yang seperti dewa dan ahli pula tentang segala macam racun. Kemudian orang keempat adalah suheng-ku, yang dalam kepandaian tentang racun dan pengobatan boleh menjadi guruku, akan tetapi suheng yang berjuluk Yok-sian (Dewa Obat) telah meninggal, sedangkan dua orang anaknya entah ke mana aku sendiri pun tidak tahu. Kau lihat, Gak-taihiap, di dunia ini yang dapat mengobati Nona ini kiranya hanyalah Ban-tok Mo-li, atau manusia dewa di Gurun Pasir, atau Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, yaitu gurumu sendiri.”

“Suheng, biar kubawa dia ke Pulau Es, minta pertolongan ayah…,” Kian Lee berkata penuh semangat.

“Apa…? Jadi pemuda ini adalah putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?” Yok-kwi bertanya sambil memandang dengan mata terbelalak kagum. Ketika dia melihat Gak Bun Beng mengangguk membenarkan, dia cepat berkata, “Ah, maaf… maaf… sungguh beruntung aku dapat memperoleh kesempatan bertemu dengan puteranya, sungguh pun tidak beruntung dapat melihat ayahnya.”

“Sute, kiranya akan terlambat kalau membawanya ke Pulau Es,” Bun Beng berkata kepada pemuda itu. “Engkau sudah mendengar keterangan Yok-kwi tadi bahwa Nona Lu hanya dapat bertahan selama satu bulan, sedangkan perjalanan ke sana sedikitnya akan makan waktu satu bulan lebih.”

“Suheng, habis bagaimana lagi baiknya? Locianpwe, saya harap dapatlah Locianpwe menolongnya…” Kian Lee menghadapi dua orang sakti itu dengan sikap bingung. Hal ini tidak perlu diherankan karena biar pun Kian Lee seorang pemuda gemblengan yang memiliki kepandaian tinggi dan biasanya berwatak tenang, namun kini melihat dara yang dicintanya terancam bahaya maut, dia menjadi gelisah sekali.

“Harap tenang, orang muda yang gagah perkasa. Tepat seperti yang dikatakan oleh Suheng-mu tadi, kita manusia hanya dapat berusaha, dan untuk dapat berusaha dengan baik kita perlu memiliki batin yang tenang. Biarlah sekarang aku memberi obat penawar kepadanya agar dia terbebas dari rasa nyeri, dan kedua tanganmu pun perlu diberi obat agar bersih dari hawa beracun.”

“Yok-kwi, hawa beracun di kedua tangan sute-ku biarlah kukeluarkan dengan sinkang…”

“Jangan, Gak-taihiap. Engkau telah melihat sendiri betapa sute-mu ketularan begitu dia berusaha mengobati gadis itu dengan kekuatan sinkang. Hawa beracun hijau ini aneh sekali dan hawa inilah yang telah membuat Nona Lu menjadi manusia beracun. Cara pengobatanmu dengan sinkang tentu akan membuat engkau ketularan pula.” Kakek itu mencegah, lalu dia membuat ramuan obat-obatan yang aneh- aneh dan yang bahannya sebagian dicarinya sendiri di dalam hutan.

Setelah diobati oleh Yok-kwi, diberi minum obat dan kedua lengannya digosok, benar saja warna menghijau itu lenyap dari kedua lengan Kian Lee. Kemudian Ceng Ceng yang masih setengah pingsan itu diberi minum obat oleh Yok-kwi, dan dia kemudian meninggalkan beberapa bungkus obat kepada Kian Lee untuk digodok dan diberi minum kepada Ceng Ceng setiap hari. Obat itu cukup untuk sebulan lamanya.

Kakek itu lalu berkata kepada Bun Beng, “Gak-taihiap. Aku memang harus malu kalau sampai tidak dapat menyembuhkan Nona Lu. Karena itu, aku akan pergi mencari obat untuknya. Syukur kalau aku dapat bertemu dengan penghuni Istana Gurun Pasir, atau Ban-tok Mo-li, atau mungkin keponakan-keponakanku yang hilang. Kalau sampai aku tidak berhasil, biarlah kubuang saja nama julukanku Yok-kwi.”

Gak Bun Beng terkejut sekali dan merasa menyesal bahwa ucapannya yang pernah dikeluarkannya itu diterima dengan sungguh-sungguh oleh Setan Obat ini. “Ahh, Yok-kwi, aku tidak bermaksud demikian…”

Akan tetapi Yok-kwi tertawa dan menjura kepadanya, lalu kepada Kian Lee. “Sudah demikianlah keputusan hatiku. Di samping itu, melakukan sesuatu untuk putera Pendekar Super Sakti merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan besar bagiku. Selamat tinggal, mudah-mudahan aku tidak akan terlambat memperoleh obat itu.” Tanpa dapat dicegah lagi, Sin-ciang Yok-kwi Kwan Siok pergi meninggalkan kota Koan-bun yang sudah aman kembali dan mulai dibersihkan dari mayat-mayat yang bergelimpangan itu.

Dengan penuh ketekunan Kian Lee merawat sendiri gadis itu dan dua hari kemudian barulah Ceng Ceng siuman dari pingsan atau setengah pingsan itu. Dia membuka mata, menoleh ke kanan kiri, kemudian melihat Kian Lee duduk tertidur di atas kursi dekat pembaringannya, dia bangkit duduk. Tubuhnya tidak terasa sakit lagi, ringan dan enak. Teringatlah dia akan semua yang dialaminya, terutama sekali teringat dia akan wajah seorang laki-laki setengah tua yang gagah perkasa, laki-laki yang mengaku bernama Gak Bun Beng!

Padahal nama ayahnya adalah Gak Bun Beng. Akan tetapi ayahnya yang telah menyia-nyiakan ibunya itu telah mati. Tentu hanya sama namanya saja, pikirnya. Lalu dia memandang kepada pemuda itu. Pemuda yang tampan sekali, dan gagah perkasa, dan… tentu pemuda ini mencintanya. Jantung Ceng Ceng berdebaran aneh. Pemuda ini tentu telah merawatnya, dan menjaganya!

Sedikit gerakan Ceng Ceng itu cukup membangunkan Kian Lee. Dia memandang dan cepat bertanya, “Engkau sudah dapat bangun? Syukurlah, Nona…,” nada suaranya girang dan penuh harapan. “Bagaimana rasanya tubuhmu…?”

Ceng Ceng menatap wajah itu, hatinya diliputi keharuan. “Saudara Suma Kian Lee… bagaimana tanganmu…?”

Kian Lee mengulurkan kedua tangannya, memandang tangannya sambil berkata, “Ah, tidak apa-apa, sudah disembuhkan oleh Yok-kwi.”

“Berapa lamanya aku tidur… ehh, tak sadarkan diri?”

“Ah, aku khawatir sekali, Nona Lu. Engkau pingsan dan mengigau, mengeluh selama dua hari dua malam…”

Kian Lee bergidik kalau teringat betapa nona itu dalam pingsannya atau tidurnya selalu gelisah, bahkan sering berteriak-teriak lirih seperti orang ketakutan yang dianggapnya tentulah akibat rasa takutnya ketika hendak diperkosa oleh Tambolon dahulu itu.

“Dua hari dua malam…? Dan selama itu… kau terus merawat dan menjaga aku…?”

Kian Lee tersenyum. “Ahh, itu sudah semestinya, Nona. Habis, engkau membutuhkan perawatan. Engkau telah mendapat obat penawar dari Yok-kwi, yang untuk sementara dapat melenyapkan rasa nyeri, akan tetapi… ah…,” Kian Lee tergagap mengingat bahwa sebenarnya gadis ini masih belum sembuh sama sekali dan masih berada dalam cengkeraman maut!

“Yok-kwi Locianpwe sedang mencarikan obat penyembuh bagimu… ehhh, Nona, kau… kau menangis?”

Ceng Ceng menundukkan mukanya dan menghapus beberapa titik air matanya. Hatinya terharu dan seperti ditusuk-tusuk rasanya. Pemuda ini selain telah mempertaruhkan nyawa sendiri ketika berusaha menyedot racun dari tubuhnya, juga telah merawat dan menjaganya selama dua hari dua malam dan jelas bahwa pemuda itu agaknya tidak makan dan tidak tidur, buktinya wajahnya pucat lesu dan tadi sampai tertidur di atas kursi! Pemuda yang begini tampan dan gagah, berbudi mulia, telah menyatakan cinta kasihnya lewat perbuatannya, cinta kepada dia yang tidak berharga lagi!

Makin diingat tentang keadaannya, makin terharu dan sakit rasa hatinya. Pemuda-pemuda pilihan telah jatuh cinta kepadanya. Pangeran Yung Hwa, seorang pangeran putera Kaisar yang tampan, terpelajar tinggi, halus, romantis dan jujur! Kini, seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya, tampan dan gagah perkasa! Mereka itu jelas amat mencintanya, akan tetapi dia… ah, dia telah menjadi setangkai bunga yang layu, tidak berharga lagi, telah diperkosa oleh seorang pemuda laknat, seorang pemuda biadab.

Tiba-tiba dia teringat!

“Ah, di mana dia…?” Tiba-tiba Ceng Ceng meloncat turun dari pembaringan akan tetapi cepat Kian Lee memegang lengannya dengan halus.

“Nona, hati-hatilah. Engkau belum sembuh… beristirahatiah dulu…”

Ceng Ceng sadar bahwa sikapnya terlalu kasar. Dia menoleh ke kanan kiri, mencari kalau-kalau pemuda tinggi besar yang menjadi musuhnya, pemuda yang bernama Kok Cu, pemerkosanya, berada di situ. Dia tidak mimpi! Dia telah bertemu dua kali!

Bayangan berkelebat di pintu dan Ceng Ceng siap untuk menyerang kalau yang datang ini adalah musuh besarnya. Akan tetapi yang muncul di pintu adalah laki-laki setengah tua yang mengaku bernama Gak Bun Beng. Ceng Ceng bengong dan terduduk kembali di atas pembaringan.

“Gak-suheng…,” Kian Lee berkata menyambut suheng-nya.

Bun Beng tersenyum. “Ahhh, Nona Lu sudah sadar kembali? Syukurlah, bagaimana rasanya tubuhmu?”

Ceng Ceng tidak menjawab. Jantungnya berdebar keras dan dengan hati tak sabar lagi dia bertanya setelah mendengar Kian Lee menyebut orang ini Gak-suheng. “Apakah namamu Gak Bun Beng?”

Bun Beng dengan tenang lalu menarik sebuah bangku dan duduk menghadapi gadis yang duduk kembali di pinggir pembaringan itu. Memang dia sudah merasa tertarik dan heran melihat sikap Ceng Ceng sebelum jatuh pingsan ketika gadis itu mendengar namanya disebut, dan mendengar gadis itu menyatakan bahwa yang bernama Gak Bun Beng sudah mati!

“Benar, Nona Lu Ceng. Namaku memang Gak Bun Beng. Apakah engkau pernah pula mendengar namaku itu?”

“Mendengar…? Apakah engkau murid Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?” Ceng Ceng pernah mendengar kakeknya dulu bilang bahwa ayahnya yang bernama Gak Bun Beng bukan orang sembarangan, melainkan seorang pendekar sakti, murid majikan Pulau Es yang berjuluk Pendekar Super Sakti!

Pertanyaan ini mengejutkan Bun Beng dan Kian Lee. “Benar sekali, Nona. Dari mana Nona mengetahui namaku?”

Wajah Ceng Ceng yang agak kehijauan itu tiba-tiba menjadi pucat, matanya terbelalak memandang wajah Bun Beng dan jantungnya berdebar tidak karuan seolah-olah dia melihat setan di tengah hari. “Harap… harap kau jangan membohongi aku…,” katanya gagap. “Gak Bun Beng murid Pendekar Super Sakti itu telah mati…! Dia adalah ayah kandungku, sudah mati, jangan kau berani-berani memalsukan namanya!”

“Ohhh…!”

“Ahhhh…!”

Bun Beng dan Kian Lee terkejut dan saling berpandangan.

“Aihh, Nona Lu, sadarlah… ingatlah… ah, harap kau istirahat dulu…” Dengan hati penuh iba karena mengira bahwa nona ini menjadi bingung dan telah berubah ingatan karena menderita keracunan, Kian Lee sudah bangkit dari bangkunya, menghampiri Ceng Ceng dan dengan sikap lemah lembut berusaha membujuk gadis itu untuk berbaring kembali.

“Sute, biarkan dia. Ada apa-apa di balik semua ini.” Bun Beng berkata dan sute-nya duduk kembali, memandang dengan penuh kecemasan. Bun Beng melihat bahwa Ceng Ceng tidak bicara seperti seorang yang hilang atau berubah ingatan, melainkan dengan sungguh-sungguh.

“Nona Lu Ceng,” katanya tenang sambil memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. “Engkau adalah adik angkat Puteri Syanti Dewi dan diberi nama Candra Dewi, bukan?”

Ceng Ceng mengangguk, matanya masih memandang Gak Bun Beng dengan rasa penasaran karena mengira bahwa orang ini berani sekali memalsukan nama ayahnya yang sudah meninggal dunia.

“Syanti Dewi sudah banyak bercerita tentang dirimu.” “Kak Syanti…? Engkau mengenalnya? Di mana dia?”
“Tentu saja aku mengenalnya. Aku menyelamatkannya dari air sungai…” “Ah, syukurlah…”

“Dan kini pun dia telah diselamatkan dari tangan pemberontak. Nona Lu, sepanjang pendengaranku dari cerita Syanti Dewi, engkau sejak kecil tinggal di Bhutan. Benarkah demikian?”

Ceng Ceng mengangguk lagi. Terlalu banyak hal-hal aneh terdengar olehnya sehingga sukar baginya untuk membuka suara.

“Jika sejak kecil engkau berada di Bhutan, bagaimana engkau dapat mengenal nama Gak Bun Beng yang kau katakan sebagai ayah kandungmu?”

“Memang dia ayah kandungku! Kongkong yang bercerita kepadaku,” katanya kemudian. “Pernahkah engkau bertemu dengan ayah kandungmu itu?”
Ceng Ceng menggeleng kepala. “Siapakah nama kakekmu?” “Kakek adalah Lu Kiong…”
“Yang menurut cerita Syanti Dewi tewas ketika melindungi engkau dan Syanti Dewi?” Bun Beng menyambung.

“Benar.”

“Dan nama ibumu?”

“Ibuku bernama Lu Kim Bwee…” Ceng Ceng kini terkejut memandang Bun Beng yang meloncat berdiri dari bangkunya.

“Lu Kim Bwee…? Di mana dia sekarang?” tanyanya penuh semangat.

“Ibuku…? Dia… dia sudah mati…” Ceng Ceng berkata dan dia memejamkan matanya. Teringat bahwa ayah bundanya sudah mati, juga kongkong-nya, dan dia sendiri tertimpa mala petaka hebat, dia merasa betapa sengsara hidupnya!

“Ahhh…!” Bun Beng berseru kembali dan duduk di atas bangkunya, menghela napas panjang. “Nona Lu, harap kau suka menceritakan kepadaku, apa saja yang diceritakan oleh kongkong-mu itu kepadamu, tentang orang bernama Gak Bun Beng itu.”

Hati Ceng Ceng merasa tegang. Sikap dua orang itu, yang dia tahu adalah orang-orang yang berilmu tinggi, menimbulkan dugaan di hatinya bahwa memang ada sesuatu yang aneh, suatu rahasia mengenai keadaan dirinya. Kakeknya jelas adalah seorang Han, bahkan menurut pengakuan kakeknya, dahulu kakeknya adalah seorang pengawal Kaisar yang setia, maka kakeknya selalu menanamkan kesetiaan dan kepahlawanan padanya.

Akan tetapi mengapa kakeknya dan ibunya meninggalkan tanah air dan berada di Bhutan yang begitu jauh? Tentu ada rahasia di balik itu semua, dan dia merasa bahwa saat terbukanya rahasianya itu hampir tiba. Maka dengan singkat namun jelas dia pun menuturkan keadaan dirinya dan kakeknya.

“Kongkong adalah seorang bekas pengawal Kaisar yang mengundurkan diri dan tinggal bersamaku di Bhutan,” dia bercerita sambil menatap wajah Bun Beng dan pura-pura tidak melihat betapa sepasang mata Kian Lee seperti melekat dan bergantung kepada bibirnya, mata yang sinarnya penuh kemesraan dan kasih sayang! “Kongkong bernama Lu Kiong dan ibu sudah tidak ada. Menurut penuturan Kongkong, ayah kandungku bernama Gak Bun Beng dan ibuku yang bernama Lu Kim Bwee telah meninggal dunia karena merana dan berduka ditinggal pergi oleh ayah kandungku itu.”

“Ahh… sungguh kasihan engkau, Kim Bwee…” Bun Beng mengeluh.

Jantung Ceng Ceng makin berdebar tegang. Orang ini jelas mengenal ibuku, pikirnya! Akan tetapi dia melanjutkan. “Mendengar penuturan Kongkong, aku lalu menyatakan hendak mencari dan menegur Ayah atas perbuatannya terhadap Ibu, tetapi… Kongkong bilang bahwa ayahku yang bernama Gak Bun Beng, murid Pendekar Super Sakti dari Pulau Es itu telah mati. Nah, begitulah cerita Kongkong kepadaku.”

“Tidak, Nona Lu Ceng. Orang yang bernama Gak Bun Beng itu belum mati. Kakekmu dan ibumu salah sangka… akulah orang yang mereka maksudkan itu…”

Ceng Ceng mengeluarkan jerit tertahan. Mukanya menjadi pucat, matanya terbelalak memandang kepada Gak Bun Beng. “Kalau… kalau begitu… engkau… Ayaaahh…!” Ceng Ceng sudah menubruk ke depan, merangkul pinggang pendekar itu dan menangis tersedu-sedu.

Gak Bun Beng membiarkan gadis itu menangis di dadanya, kemudian baru dia berkata dengan halus, “Nona, tenanglah Nona, dan duduklah baik-baik untuk mendengarkan penuturanku…”

“Suheng! Jadi dia… dia ini… puterimu…?” Kian Lee juga bertanya.

“Tenang, Sute. Dan engkau pun boleh mendengarkan penuturan ini karena… ahhh, Tuhan saja yang Maha Tahu dan mengatur segala sesuatu di dunia ini sehingga terjadi hal seperti yang kuhadapi ini, karena engkau pun… agaknya ada kepentingan dalam hal ini. Semoga Tuhan memberi kekuatan kepada kita bertiga. Duduklah, Nona Ceng…”

Ceng Ceng melepaskan pelukannya, melangkah mundur dan duduk kembali ke atas pembaringan. Wajahnya pucat, matanya memandang penuh kekagetan dan keraguan pada Bun Beng. “Engkau… engkau ayah kandungku, mengapa…” Dia tidak melanjutkan ketika melihat sinar mata penuh iba terpancar dari mata pendekar itu, dan karena itu keheranannya bertambah. Tadi mendengar ayah kandungnya masih saja menyebutnya nona, dia sudah terkejut dan terheran sekali.

“Sayang sekali, Nona Ceng, sungguh sayang sekali bahwa terpaksa aku mengaku bahwa aku bukan ayah kandungmu. Ah, aku akan bersukur kepada Tuhan andai kata benar aku adalah ayah kandungmu. Aku akan merasa bahagia dan bangga mempunyai seorang anak seperti engkau…”

Makin terbelalak mata Ceng Ceng. Jelas bahwa kata-kata dari Bun Beng itu merupakan tikaman hebat yang membuyarkan semua harapan dan kebahagiaannya tadi. Mukanya seperti muka mayat hidup yang berwarna kehijauan.

“Ah, Nona… tabahkanlah hatimu…” Kian Lee berkata dan tanpa terasa lagi, tidak malu-malu lagi kepada suheng-nya karena dia seolah-olah tak sadar apa yang dilakukannya, dia memegang tangan Ceng Ceng.

Gadis itu terisak, memejamkan matanya, membiarkan air matanya bertitikan jatuh ke atas kedua pipinya dan dia menggenggam erat-erat tangan pemuda itu, seolah-olah dia minta bantuan dan kekuatan dari Kian Lee.

Bun Beng melihat ini semua dan hatinya tertusuk. “Kalian berdua tenanglah dan beri kesempatan kepadaku untuk bercerita dengan tenang.”

Ceng Ceng sadar kembali, menarik tangannya, memandang kepada Kian Lee dengan mata basah dan bersinarkan terima kasih, kemudian menghapus air matanya, menarik napas panjang. “Hidupku memang selalu dirundung kemalangan dan kekecewaan demi kekecewaan menimpa diriku. Mengapa perjumpaan kembali dengan ayah kandung pun direnggut dari harapanku! Gak Bun Beng, kalau benar engkau bukan ayah kandungku, setelah tadi engkau menghidupkan kembali ayah kandungku yang telah mati… engkau jelaskanlah ini semua. Demi Tuhan, kau beri penjelasan akan semua ini!” Suaranya setengah menjerit.

Bun Beng menarik napas panjang. “Aku semakin kagum kepadamu, Nona. Engkau menghadapi pukulan batin yang hebat itu dengan tabah. Kian Lee-sute, kuharap engkau pun dapat mencontoh kegagahan dan ketabahan hati Nona ini.”

Kian Lee memandang kepada suheng-nya dengan heran, akan tetapi dia mengangguk. Dua orang muda kini menanti dengan penuh perhatian dan suasana menjadi sunyi dan hening sekali sebelum Bun Beng mulai bercerita.

“Dahulu di waktu aku masih muda, belasan tahun, hampir dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda sesat yang melakukan banyak sekali perbuatan jahat, di antaranya memperkosa wanita, akan tetapi ilmu kepandaiannya tinggi sekali…”

“Pemuda semacam itu harus dibunuh!” Ceng Ceng berseru, marah karena dia teringat akan pemuda yang memperkosa dirinya.

Bun Beng tersenyum. Dara ini mengingatkan dia akan watak Giam Kwi Hong, murid dan keponakan Pendekar Super Sakti (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS). Lalu dia melanjutkan. “Pemuda sesat itu bermusuhan dengan aku, maka dia selalu menggunakan namaku dalam melakukan perbuatannya yang sesat itu. Pada suatu hari, aku mengejar pemuda itu dan tiba di tepi telaga, di mana terdapat sebuah pondok tempat peristirahatan seorang gagah bernama Lu Kiong…”

“Kakekku…”

“Dan seorang gadis cantik bernama Lu Kim Bwee…” “Ibuku…”
“Ya, tetapi Lu Kim Bwee itu sesungguhnya bukan anak kakek itu, melainkan cucunya!” “Ahhh…!” Ceng Ceng terheran-heran dan dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Lu Kiong adalah seorang bun-bu-cwan-jai (ahli surat dan ahli silat), bekas pengawal yang setia. Ketika mendengar bahwa pemuda sesat yang kucari-cari berada di sekitar telaga, Kakek Lu Kiong lalu membantuku untuk mencari dan mengejar pemuda itu. Akan tetapi ketika malam itu dia dan aku pergi berpencar melalui kanan dan kiri telaga, mengelilingi telaga mencari pemuda sesat itu, ternyata orang jahat itu diam-diam memasuki pondok dan memperkosa Lu Kim Bwee.”

“Ahhhh…!” Ceng Ceng meloncat ke atas dan mengepal tinjunya, penuh kemarahan. “Katakan, siapa penjahat laknat itu?”

“Dia sekarang sudah tidak ada lagi, Nona.” Bun Beng berkata.

Ceng Ceng menjadi lemas kembali, duduk dan dua titik air matanya meloncat keluar, teringat betapa sama nasib ibunya dan dia!

“Celakanya, penjahat itu melakukan perbuatan biadab itu di dalam kegelapan dan dia memang sengaja melakukan hal itu dengan memakai namaku, sehingga Kakek Lu dan Kim Bwee menuduhku! Kakek Lu menuntut agar aku mengawini Kim Bwee. Karena aku tidak merasa melakukan perbuatan biadab itu, aku menolak dan mereka lalu memusuhi aku. Bahkan kemudian, bekerja sama dengan wanita-wanita lain yang telah dibuat sakit hati oleh penjahat itu yang mengaku namaku, Lu Kim Bwee dan beberapa orang lain itu mengeroyok aku dan aku terjatuh ke dalam jurang. Mereka tentu mengira bahwa aku telah mati, Padahal sebenarnya tidaklah demikian kenyataannya. Aku masih hidup dan semenjak itu aku tidak lagi bertemu dengan Lu Kim Bwee. Demikianlah, Nona. Agaknya ibumu itu, Lu Kim Bwee, bersama kakeknya, Lu Kiong, lalu pindah ke Bhutan, mungkin untuk menghindarkan aib karena agaknya ibumu telah mengandung sebagai akibat perbuatan pemuda sesat itu. Kemudian engkau terlahir dan tentu saja kakekmu masih menganggap bahwa Gak Bun Beng yang memperkosa ibumu, maka dengan sendirinya kakekmu menceritakan bahwa ayah kandungmu adalah Gak Bun Beng. Padahal tidak demikianlah kenyataannya.”

“Penjahat terkutuk!” Kian Lee memaki marah. “Siapakah manusia jahat itu, Suheng?”

“Janganlah kau memaki dia, Sute. Dia sudah meninggal dunia dan tentu dia pun telah menyesalkan semua perbuatannya. Dia itu bukan orang lain…”

“Siapa dia?” Ceng Ceng mendesak ketika melihat Bun Beng meragu. “Siapa penjahat yang memperkosa ibuku dan menjadi ayah kandungku itu?”

“Namanya adalah Wan Keng In…”

“Ya Tuhan…!” Kian Lee menjerit, mukanya pucat.

“Eh, mengapa engkau…?” Ceng Ceng terkejut melihat Kian Lee yang kini menundukkan muka yang disembunyikan di balik kedua tangannya.

Melihat keadaan Kian Lee, Bun Beng menghela napas panjang. Betapa kejam nasib mempermainkan mereka bertiga! Dia dapat merasakan kehancuran hati Ceng Ceng tadi, dan kini kehancuran hati Kian Lee, yang melihat kenyataan bahwa dara yang dicintanya itu ternyata adalah keponakannya sendiri, karena Wan Keng In adalah putera ibunya dari lain ayah. Bun Beng bangkit berdiri meninggalkan kamar itu menuju ke kamarnya sendiri, membiarkan dua orang muda itu menghadapi kenyataan itu berdua saja.

“Saudara Kian Lee, kau kenapakah…?” Kini Ceng Ceng memegang lengan Kian Lee dan mengguncangnya.

Kian Lee menahan napas, mengerahkan kekuatan batinnya untuk mengatasi pukulan hebat itu, kemudian menurunkan tangan. Ceng Ceng terkejut melihat wajah yang kini menjadi pucat, mata yang sayu dan agak cekung itu karena memang Kian Lee menjadi agak kurus dan lemas.

“Ceng-ji, (Anak Ceng), engkau she Wan, dan jangan menyebut aku saudara karena aku adalah pamanmu!” “Ehhh…?”
“Ketahuilah bahwa Wan Keng In itu adalah putera ibu kandungku, dari lain ayah. Ibuku sebelum menjadi isteri ayahku, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, menjadi isteri orang lain she Wan dan mempunyai anak Wan Keng In itu. Kau… kau maafkan aku… Wan Ceng… bahwa aku… sebagai pamanmu, telah… pernah… jatuh cinta padamu. Nah, sudah kuakui sekarang, agak lega hatiku. Namun… tentu saja hal itu tak mungkin lagi… aku adalah siok-hu-mu (pamanmu) dan engkau keponakanku…”

“Paman…!” Ceng Ceng menubruk dan mereka berpelukan.

Ceng Ceng merasa suka dan berhutang budi kepada pemuda yang halus ini dan biar pun tahu betapa akan mudah bagi dia untuk jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti ini, di samping pemuda seperti Pangeran Yung Hwa. Akan tetapi jangankan terdapat kenyataan bahwa pemuda ini adalah pamannya sendiri, andai kata tidak demikian pun, mana mungkin dia berani membalas cinta seorang seperti Suma Kian Lee ini? Apa lagi setelah diketahuinya bahwa pemuda itu adalah putera dari Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es! Dia sudah tidak berharga lagi!

“Paman, maafkanlah saya…!” Hatinya seperti diremas mengingat betapa tanpa sengaja dia telah menghancurkan hati pamannya yang baik ini, mematahkan cinta kasih yang bersemi di hati pemuda ini.

“Sudahlah, Ceng Ceng, sudahlah. Tuhan sudah menghendaki demikian dan memang sebaiknya begini dari pada menghadapi kenyataan bahwa cintaku hanya sepihak. Bagiku sama saja, Ceng Ceng, engkau tetaplah seorang keluarga dekat dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengusahakan pengobatan bagimu. Engkau masih dalam cengkeraman bahaya maut…” Tiba-tiba Kian Lee berhenti dan kaget karena tanpa disengaja dia telah membuka rahasia itu.

“Jangan ragu-ragu, Sioksiok (Paman). Dalam keadaan setengah sadar aku pun samar-samar mendengar dari kakek tukang obat ini bahwa aku hanya dapat bertahan hidup sampai sebulan saja, bukan?”

Kian Lee mengangguk. “Tetapi dia sedang berusaha untuk mencarikan obat bagimu, Ceng Ceng. Dan aku akan pergi mencari Ayah, karena menurut Yok-kwi, yang dapat mengobatimu hanyalah Ayah, atau Ban-tok Mo-li…”

“Ban-tok Mo-li sudah mati.” “Bagaimana engkau bisa tahu?” “Karena aku muridnya.”
“Ahhh!” Kian Lee terkejut dan sekarang mengertilah dia mengapa gadis ini berubah menjadi dingin dan aneh. Kiranya telah menjadi murid nenek iblis itu. “Kata Yok-kwi, tubuhmu mengandung racun sehingga dia tidak mampu menyembuhkanmu. Kalau engkau murid Ban-tok Mo-li, tentu kau dapat mengobati sendiri.”

“Tidak bisa, Sioksiok. Ilmuku belum sedemikian tingginya dan pukulan Hek-tiauw Lo-mo amat hebat. Akan tetapi, biarlah… aku tidak takut menghadapi kematian… dan pula, hidup lebih lama lagi untuk apakah?”

“Ceng Ceng…!”

“Benar, Paman. Hidupku penuh dengan kesengsaraan dan mala petaka selalu datang menimpa diriku…”

“Ceng Ceng, jangan putus harapan,” Kian Lee berkata, hatinya sendiri seperti ditusuk pisau dan dia maklum bahwa tidak akan mudah baginya untuk menyembuhkan lukanya sendiri ini.

Tiba-tiba seorang prajurit penjaga muncul dan berkata bahwa di luar ada seorang tamu yang mengaku bernama Topeng Setan dan hendak bertemu dengan Nona Lu Ceng.

“Topeng Setan?” Kian Lee berseru kaget.

Akan tetapi Ceng Ceng tersenyum. “Dia pembantuku, Paman.” Dari luar terdengar suaira memanggil, “Lu-bengcu…!”
“Eh, siapakah yang berteriak itu?”

“Itulah Topeng Setan, pembantuku. Sioksiok, ketahuilah bahwa keponakanmu yang sesat ini telah menjadi seorang bengcu kaum sesat di dekat kota raja dan Topeng Setan adalah pembantuku.”

Ceng Ceng lalu keluar dari kamar itu diikuti oleh Kian Lee yang masih bengong saking herannya. Bun Beng juga keluar dari kamarnya dan mereka bertiga lalu keluar dari gedung itu.

Topeng Setan sudah berdiri di depan gedung, dan dia menjura ketika melihat Ceng Ceng. “Harap Bengcu maafkan saya yang terlambat menghadap karena saya tidak tahu bahwa Bengcu berada di sini.”

“Tidak apa. Aku telah bertemu dengan musuh-musuh berat, terkena pukulan-pukulan dari Tambolon dan kemudian terpukul oleh Hek-tiauw Lo-mo sehingga keracunan hebat. Topeng Setan, aku telah ditolong oleh mereka ini. Kau harus memberi hormat, pemuda ini adalah siok-hu Suma Kian Lee dan ini adalah…” Dia meragu ketika memandang kepada Gak Bun Beng karena tidak tahu harus menyebut apa kepada orang yang tadinya dianggap sebagai ayahnya itu.

“Menurut hubungan keluarga, sebut saja aku supek-hu (uwak seperguruan),” Bun Beng membantunya sambil tersenyum.

“Dia ini supek-hu Gak Bun Beng,” Ceng Ceng melanjutkan.

Topeng Setan menjura kepada Kian Lee dan Bun Beng. “Terima kasih kepada Ji-wi Taihiap (Dua Pendekar Besar) yang telah menyelamatkan Bengcu kami.” Kemudian Topeng Setan berkata lagi kepada Ceng Ceng, “Karena Bengcu menderita luka parah, marilah kita pergi mencari obatnya.”

Ceng Ceng mengangguk. “Supek, dan Siok-hu, aku akan segera pergi bersama Topeng Setan…”

“Eh, Ceng Ceng, engkau masih sakit. Kita sedang menanti kembalinya Yok-kwi yang mencarikan obat untukmu,” Gak Bun Beng berkata.

“Ceng Ceng, harap kau menanti di sini. Aku akan mengusahakan sekuat tenaga untuk mencarikan obat bagimu. Aku akan ke Pulau Es…,” kata Kian Lee.

“Tidak perlu, Supek dan Sioksiok, terima kasih atas kebaikan kalian. Akan tetapi, kurasa lebih baik kalau aku pergi saja dan tidak merepotkan kalian lagi… aku… aku… ahhh, aku lebih senang merantau…!” Ceng Ceng mengangguk kemudian pergi dari situ tanpa menoleh lagi.

Topeng Setan menjura dengan hormat kepada Bun Beng dan Kian Lee. “Harap Ji-wi jangan khawatir, saya akan mengusahakan sampai Bengcu kami sembuh kembali,” katanya perlahan, kemudian dia pergi menyusul Ceng Ceng.

Kian Lee hendak mencegah, akan tetapi Bun Beng memegang tangannya. “Sebaiknya begitu, Sute. Dan kulihat Topeng Setan itu bukan orang sembarangan. Mungkin saja dia dapat mengusahakan kesembuhannya.”

Mereka berpandangan dan Kian Lee menunduk, tidak menjawab, hanya mengangguk. Hatinya terasa kosong, seolah-olah semangatnya ikut pergi terbawa oleh Ceng Ceng, gadis yang menjadi cinta pertamanya akan tetapi yang ternyata adalah keponakannya sendiri itu.

“Kita harus menyusul ke Teng-bun, melihat keadaan di sana dan menemui Syanti Dewi dan Kian Bu sute. Kabarnya Syanti Dewi telah diselamatkan di sana.” Bun Beng berkata lagi dan Kian Lee hanya mengangguk sunyi…..

********************

“Gak-taihiap, apakah engkau tidak bertemu dengan puteraku?” tanya Jenderal Kao Liang kepada Gak Bun Beng ketika Bun Beng dan Kian Lee tiba di Teng-bun disambut oleh jenderal itu sendiri.

“Puteramu, Goanswe?” Bun Beng bertanya heran karena baru sekali dia melihat putera jenderal itu, dan yang terjadi di dalam medan pertempuran, maka dia lupa lagi.

“Saudara Kok Cu dengan pasukannya telah menyerbu Koan-bun dan mereka berhasil membasmi pemberontak, Kao-goanswe. Akan tetapi dia bertemu dengan Hek-tiauw Lo-mo dan mengejar Ketua Pulau Neraka itu.” Kian Lee menjelaskan karena dia sudah mendengar dari Bun Beng tentang putera jenderal Itu yang mengejar Hek-tiauw Lo-mo.

“Ahhh, anak itu terlalu berbakti kepada suhu-nya, melaksanakan perintah suhu-nya sampai lupa kepada orang tua dan belum juga dapat berkumpul dengan kami.” Jenderal itu menghela napas. “Dan… apakah Ji- wi bertemu dengan Nona Lu Ceng?”

Kian Lee merasa jantungnya tertusuk, dia menunduk dan tidak berkata apa-apa. Bun Beng yang kini menjawab, “Nona itu hebat sekali, Kao-goanswe! Akan tetapi dia telah pergi bersama Topeng Setan, pembantunya, padahal dia menderita luka hebat.”

Jenderal yang hatinya penuh kegembiraan karena pemberontakan telah terbasmi dan yang selalu bersikap polos dan terbuka itu menghela napas dan berkata kepada Gak Bun Beng, “Gak-taihiap, lihat betapa seorang tua seperti aku selalu menjadi kecewa karena ulah orang-orang muda! Ataukah kekecewaanku ini terjadi karena keinginanku sendiri yang bukan-bukan sehingga tidak tercapai? Aihhh, sampai bermimpi- mimpi olehku betapa akan bahagianya kalau benar Nona Lu Ceng masih hidup dan kelak menjadi mantuku, menjadi jodoh Kok Cu…!”

Mendengar pernyataan yang terang-terangan ini, Bun Beng dan Kian Lee lalu saling pandang. Akan tetapi karena Kian Lee melihat bahwa suheng-nya tidak berkata apa-apa mengenai hubungan keluarga antara dia dan Ceng Ceng, dia pun tidak mau mengatakannya, pula karena ada rahasia yang kurang baik tentang ayah kandung gadis itu.

Betapa pun juga dia tidak dapat berdiam diri saja ketika teringat akan peristiwa aneh di Koan-bun antara Ceng Ceng dan Kok Cu, maka dia berkata, “Kao-goanswe, ketika puteramu datang memimpin pasukan menyerbu Koan-bun, dia telah bertemu dengan nona itu pula, akan tetapi, entah mengapa… Nona Lu Ceng telah menjadi marah-marah dan memukul Saudara Kok Cu sampai dua kali.”

“Eihhh…?” Kenapa?” Jenderal itu berseru kaget sekali.

“Entahlah, kami juga tidak tahu mengapa. Mungkin saja di dalam perantauan mereka sudah pernah saling bertemu,” kata Kian Lee.

“Pada saat itu Nona Lu Ceng baru saja mengalami pukulan tangan beracun yang hebat. Bisa saja terjadi bahwa dia dalam keadaan kurang sadar lalu menganggap puteramu adalah musuh dan memukulnya, Kao- goanswe.” Bun Beng cepat berkata dan jenderal itu mengangguk-angguk.

Hanya Kian Lee yang tahu bahwa suheng-nya itu sebetulnya juga merasa heran, dan ucapannya itu hanya untuk menghibur belaka sebab mereka berdua mendengar betapa Ceng Ceng memaki dan menyebut nama Kok Cu sebelum memukul, yang hanya berarti bahwa Ceng Ceng memukul dalam keadaan sadar dan telah mengenal pemuda putera jenderal yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi itu.

“Kao-goanswe, di mana adanya Enci Milana, kakakku? Dan di mana pula adikku Kian Bu dan Puteri Syanti Dewi? Kami mendengar bahwa mereka berada di sini.” Kini Kian Lee bertanya, merasa heran mengapa hanya jenderal itu seorang yang menyambut dia dan suheng-nya. Bun Beng juga memandang kepada Jenderal itu dengan pandang mata penuh pertanyaan, karena sesungguhnya sejak tadi dia pun ingin sekali tahu di mana adanya Puteri Syanti Dewi dan Puteri Milana, dua orang yang selalu berada dekat sekali di lubuk hatinya.

“Mereka telah berangkat ke kota raja. Puteri Milana khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dengan keluarga Kaisar di istana karena perbuatan Pangeran Liong Bin Ong, dan beliau ingin cepat-cepat melaporkan kepada Kaisar tentang tertumpasnya pemberontakan dan juga agar cepat dapat menangkap Pangeran Liong Bin Ong yang sebetulnya malah merupakan tokoh pertama dalam pemberontakan itu. Maka beliau segera berangkat ke kota raja, sekalian mengajak Puteri Syanti Dewi menghadap Kaisar, diikuti oleh Suma Kian Bu taihiap. Selain itu, beliau juga membawa seorang tawanan yang amat penting, yaitu Ang Tek Hoat bekas tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong.”

“Ahhh, pemberontak lihai itu!” Kian Lee berseru.

Gak Bun Beng kemudian juga teringat akan tokoh muda pemberontak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan yang memiliki tenaga sinkang seperti tenaga Inti Bumi sehingga pernah mengejutkan hatinya.

“Benar,” kata Jenderal Kao Liang. “Dan dia pulalah yang berjuluk Si Jari Maut, yang telah banyak melakukan kejahatan dengan menggunakan namamu, Gak-taihiap.”

“Ahhh…!” Gak Bun Beng berseru heran.

“Heran sekali, mengapa orang sejahat itu tidak dibunuh saja dan malah dibawa ke kota raja oleh Enci Milana?” Kian Lee bertanya.

Jenderal Kao Liang menghela napas. “Kalau aku tidak salah menduga, hal itu adalah karena cinta! Cinta memang amat kuasa menimbulkan segala macam peristiwa hebat-hebat dan aneh-aneh di dalam dunia ini di antara manusia.”

“Heemmm, apa maksud kata-katamu itu, Goanswe?” Bun Beng bertanya.

“Puteri Milana, aku sendiri, dan Suma-taihiap tadinya juga berpendapat demikian dan akan membunuh saja Ang Tek Hoat itu. Akan tetapi anak angkatku itu, Puteri Syanti Dewi, adalah seorang wanita yang halus budi dan mulia. Dialah yang melarang kami membunuh Tek Hoat.”

“Ahhh…!” Gak Bun Beng terkejut dan alisnya berkerut, “Mengapa?”

“Kiranya Tek Hoat yang terluka berat dan parah itu telah menyelamatkan Syanti Dewi dari bahaya maut dan pemuda yang sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi itu ternyata telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, sepasang kakek kembar Siang Lo-mo, dan Hek-wan Kui-bo yang lihai dalam perlawanannya membela Syanti Dewi. Mengingat akan jasa-jasanya semua itu, bukan hanya menyelamatkan nyawa Syanti Dewi akan tetapi juga membunuh pentolan-pentolan pemberontak itu, maka Puteri Milana lalu memutuskan untuk menawan pemuda itu dan membawanya ke kota raja sebagai tawanan dalam keadaan masih terluka hebat karena pukulan-pukulan maut dari Siang Lo-mo. Apa lagi menurut Puteri Milana, beliau merasa terheran-heran melihat betapa pemuda itu pandai mainkan ilmu silat rahasia dan simpanan dari Puteri Nirahai sehingga menduga bahwa tentu ada hubungan sesuatu antara pemuda itu dengan Thian-liong-pang, bekas perkumpulan yang dipimpin Puteri Nirahai.”

Gak Bun Beng mengangguk-angguk. Kini dia bisa mengerti mengapa Milana menawan pemuda itu dan dia dapat menduga pula bahwa yang dimaksudkan oleh jenderal itu tentang cinta tadi adalah perubahan yang terjadi pada diri pemuda pemberontak itu yang karena cinta sampai membalik dan melawan, bahkan membunuh Pangeran Liong Khi Ong sendiri bersama tiga orang pengawalnya yang lihai-lihai itu. Dan tidak anehlah baginya kalau Syanti Dewi mencegah pemuda itu dibunuh. Dia sudah cukup mengenal kepribadian Syanti Dewi yang penuh dengan kelembutan dan belas kasihan, juga penuh dengan perasaan ingat budi.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo