September 16, 2017

Kisah Sepasang Rajawali Part 12

 

Melihat perpecahan di antara kaum sesat ini maka Tong Hoat memelopori diadakannya pertemuan pada hari itu untuk memilih bengcu. Tentu saja kesempatan ini dipergunakan oleh pihak pemberontak untuk dapat menguasai mereka, bahkan Pangeran Liong Bin Ong sendiri segera mengirim utusan untuk menjamin agar pihaknya berhasil menguasai golongan hitam yang merupakan kekuatan yang cukup besar.

Ceng Ceng mendengarkan penuturan ini dengan penuh perhatian, dan kemudian dia berkata, “Kalau begitu, seperti telah kukatakan tadi, Pangcu, urusan antara golonganmu tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku. Akan tetapi, kalau aku melihat bahwa kaki tangan pemberontak ingin menguasai golonganmu untuk kepentingan pemberontakan, tentu aku akan turun tangan menentangnya.”

Tong Hoat sudah merasa cukup puas dengan janji ini dan tidak lama kemudian dia mengajak Ceng Ceng keluar karena pertemuan akan segera dimulai. Empat kelompok itu sudah berkumpul di sekeliling lapangan luas di tepi sungai, dan jelas tampak bahwa kelompok terbesar adalah kelompok Tiat-ciang-pang. Juga kelihatan jelas bahwa empat kelompok itu masing-masing memiliki jagoan-jagoan yang berdiri di depan tiap-tiap kelompoknya. Di tengah-tengah lapangan rumput yang mereka kelilingi itu terdapat sebuah bangunan panggung yang luasnya tidak kurang dari sepuluh meter persegi. Panggung itu dijaga di bawahnya oleh para anggota Tiat-ciang-pang yang bertindak sebagai pengundang atau tuan rumahnya.

Dengan gerakan ringan seperti seekor burung garuda melayang, Tong Hoat sudah meloncat ke atas panggung. Dia menjura keempat penjuru, lalu berkata lantang, “Cu-wi (Saudara Sekalian) yang terhormat tentu sudah maklum bahwa pertemuan ini diadakan untuk melakukan pemilihan seorang bengcu. Kita semua membutuhkan seorang bengcu. Kita semua membutuhkan seorang pemimpin di jaman kacau ini agar dapat mengadakan ketertiban antara kita semua. Karena kita adalah orang-orang yang mengandalkan kekuatan tangan kaki untuk dapat hidup, maka pemilihan bengcu pun didasarkan atas tingkat kekuatan tangan dan kaki. Siapa yang terpandai di antara kita, dari golongan mana pun dia datang, berhak untuk menjadi bengcu dan memimpin kita semua. Kami persilakan orang gagah yang ingin memasuki pemilihan untuk naik ke panggung.” Tong Hoat lalu menjura lagi dan melompat turun membiarkan panggung itu kosong lagi untuk menanti munculnya para calon bengcu.

Tak lama kemudian berkelebat dua bayangan orang yang meloncat ke atas panggung. Ceng Ceng yang menyelinap di antara para anggota Tiat-ciang-pang dan mencari-cari musuhnya dengan harapan kalau- kalau dia akan dapat menemukan pemuda laknat di antara para kaum sesat ini, melihat bahwa yang berada di atas panggung adalah dua orang laki-laki yang usianya tentu lebih dari lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan keduanya memiliki sikap yang kasar seperti tukang-tukang pukul.

Seorang di antara mereka mengeluarkan setumpuk kartu dari sakunya, mengocok kartu itu sambil tersenyum dan berkata kepada teman-temannya, “Wah, mudah-mudahan saja ada lawan yang tebal kantong!”

Dari sikap ini Ceng Ceng sudah dapat menduga bahwa mereka tentulah dua orang penjudi ulung. Namun orang kedua hanya tersenyum, kemudian dia menjura ke empat penjuru dan berkata, “Kami adalah dua saudara seperguruan dan golongan kami paling tidak suka melihat urusan politik. Pemerintah mau pun pemberontak bukanlah sekutu kami. Di antara golongan kami, kami berdua menjadi calon bengcu dan kalau saja kami berdua berhasil menduduki kursi bengcu, kami berdua akan mengatur agar semua kaum kita tidak mencampuri urusan pemerintah mau pun pemberontak.”

“Ho-ho-ho, manusia-manusia sombong!” Terdengar bentakan dan kelihatan dua sosok bayangan orang melayang ke atas panggung. Mereka adalah dua orang kakak beradik she Ma seperti yang telah diceritakan oleh Tong Hoat kepada Ceng Ceng. Dengan lagak sombong kedua orang she Ma yang bertubuh tinggi kurus itu memperkenalkan diri.

“Kami dua orang kakak beradik Ma Ciang dan Ma Kai tidak hendak menjanjikan apa-apa lebih dulu seperti dua orang sombong ini. Jika kami telah berhasil menjadi bengcu, baru akan kami adakan peraturan yang harus diturut oleh semua kawan.”

Orang kedua dari kakak beradik Ma ini lalu menghampiri dua orang pertama sambil membentak, “Hayo kalian turun lagi sebelum kami paksa untuk turun!”

“Ha-ha-ha!” Penjudi yang mempermainkan kartu-kartunya tertawa lepas. “Kami sudah mendengar akan kelihaian kakak beradik she Ma, tukang-tukang todong yang disegani. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kami takut. Dalam memperebutkan kedudukan bengcu, hak kami pun sama besarnya dengan kalian atau siapa juga. Lebih baik kalian yang turun dari pada mendapat malu dan kalah oleh kami berdua, ha-ha- ha!”

“Cet-cet-cett-cettt…!”

Penjudi itu tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya.
Empat helai kartunya melayang dan menyambar papan, dan di situ empat helai kartu itu menancap sampai
setengahnya lebih. Semua orang melongo dan merasa kagum juga ngeri. Ternyata hebat sekali penjudi ini. Kartu-kartunya pun dapat dipergunakan sebagai senjata rahasia yang demikian ampuh. Mengenai papan yang keras saja menancap sampai dalam, jika mengenai tubuh orang tentu akan hebat akibatnya, tidak kalah oleh senjata rahasia apa pun.

Akan tetapi Ma Ciang tertawa bergelak ketika dia mencabut sebuah di antara empat helai kartu yang menancap di papan itu. “Ha-ha-ha, dasar ular-ular kartu, tentu pandai bermain gila dengan kartu-kartunya!” Dia meremas kartu itu dan terdengar bunyi seperti barang keras patah-patah. Ternyata kartu terbuat dari besi tipis dan digambari seperti kartu, bukan kartu kertas biasa!

Dua orang penjudi itu menjadi marah dan telah mencabut senjata pedang mereka yang tersembunyi di balik baju, kemudian maju menerjang. Akan tetapi kakak beradik she Ma telah siap, dengan gerakan lincah mereka mencelat ke belakang dan mencabut golok mereka. Maka terjadilah pertandingan mati-matian antara dua orang penjudi dan dua orang perampok itu. Suara senjata pedang bertemu golok terdengar sangat nyaring dan sinarnya berkelebat mengerikan.

Ceng Ceng menonton dan menahan napas. Mendadak hatinya terasa tegang. Melihat pertempuran bukan merupakan tontonan aneh baginya, akan tetapi dia melihat seorang pemuda yang muncul di antara para anggota golongan sesat itu dan hatinya tegang sekali ketika dia mengenal pemuda itu. Seorang pemuda tampan yang menyelinap di antara banyak orang, hanya sebentar saja tampak olehnya namun segera pemuda itu lenyap kembali, agaknya berdiri di bagian belakang dan sengaja menyembunyikan diri.

Pemuda itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat! Melihat kehadiran pemuda yang dia tahu amat lihai ini, dia dapat menduga bahwa tentu akan terjadi hal-hal yang hebat. Ceng Ceng yang cerdik dapat menduga bahwa tentu pemuda itu mewakili kaum pemberontak untuk menguasai golongan sesat.

Melihat munculnya Tek Hoat, otomatis Ceng Ceng juga menyelinap ke belakang para anggota Tiat-ciang- pang agar pemuda itu tak melihatnya. Dari belakang beberapa orang dia mengintai dan mencari-cari, namun bayangan Tek Hoat sudah tidak kelihatan lagi. Teriakan kesakitan membuat Ceng Ceng menoleh dan memandang ke atas panggung.

Ternyata dua orang penjudi itu terhuyung dan terluka oleh golok kedua orang kakak beradik she Ma dan sekarang kedua orang perampok tunggal itu menggunakan kaki menendang lawan yang sudah terluka. Dua orang penjudi langsung terlempar ke bawah panggung dan cepat ditolong oleh kawan-kawan mereka yang segera mengundurkan diri karena setelah dua orang jagoan mereka kalah, mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk kemenangan bagi golongan mereka.

Dua orang saudara Ma masih berdiri di atas panggung memegang golok mereka sambil tersenyum- senyum memandang keempat penjuru. Beberapa kali mereka mengajukan tantangan kepada calon bengcu lain untuk menguji kepandaian, namun tidak kelihatan ada yang meloncat naik. Hal ini memang disengaja oleh para kaki tangan pemberontak yang dipimpin oleh Si Tangan Malaikat setelah dia mendapat perintah dari pemuda yang mewakili utusan Pangeran Liong Bin Ong.

Tek Hoat memang sangat cerdik. Kalau orang-orangnya sendiri yang maju dan merebut kedudukan bengcu, hal itu akan terlalu mencolok dan kurang baik, kecuali jika memang terpaksa. Kalau sekarang dua orang saudara Ma yang dia tahu merupakan orang-orang bermuka dua, dapat menjadi bengcu, hal itu lebih baik. Mudah untuk mempengaruhi dua orang ini dengan jalan menyogok dengan uang. Yang penting bagi dia, atau bagi pemberontak adalah agar kaum sesat jangan sampai dikuasai oleh Tiat-ciang-pang yang anti pemberontak dan mempunyai kesetiaan kepada kerajaan. Oleh karena inilah, maka dia memerintahkan agar anak buahnya, termasuk Si Tangan Malaikat, jangan menyambut tantangan dua orang saudara Ma, bahkan boleh menyumbang suara untuk mengangkat mereka sebagai bengcu!

Ma Ciang dan Ma Kai yang melihat bahwa mereka tidak disambut orang, menjadi heran dan juga girang. Ma Ciang lalu berkata lantang, “Saudara sekalian, rekan-rekan yang terhormat! Kalau memang tidak ada lagi calon lainnya yang merasa cukup kuat untuk mengalahkan kami, maka kami minta agar kalian memberi suara dan mengangkat kami sebagai bengcu dan wakilnya!”

“Setuju…!”

“Kita mengangkat kedua saudara Ma sebagai bengcu dan wakilnya!”

Keadaan menjadi ribut sekali karena suara mereka yang memberikan suaranya, tentu saja didukung oleh
semua anak buah para pemberontak yang menyelundup di antara mereka. Hanya golongan yang tadi kalah saja yang diam dan hanya menonton dengan wajah muram, sedangkan golongan Tiat-ciang-pang tiada seorang pun yang bersuara.

“Lu-siocia (Nona Lu), lihatlah betapa anak buah pemberontak telah mendukung mereka, sedangkan dua orang itu adalah orang-orang bermuka dua yang mudah saja dibeli. Apakah Nona tidak akan turun tangan?” bisik Tong Hoat Ketua Tiat-ciang-pang kepada Ceng Ceng.

Ceng Ceng menggelengkan kepalanya. “Tadi sudah kukatakan bahwa aku tidak akan mencampuri urusan pemilihan bengcu, dan aku hanya turun tangan kalau anak buah pemberontak sendiri yang naik ke panggung, itu pun kalau engkau sudah tidak mampu mengatasinya, Pangcu.”

Ketua itu mengangguk. “Baiklah, aku hanya dapat mengharapkan bantuan Nona untuk membela negara karena aku pun bukan seorang yang haus akan kedudukan bengcu.” Setelah berkata demikian, Tong Hoat berteriak keras mengatasi suara gaduh mereka yang sedang menyokong suara kepada dua orang saudara Ma.

Teriakannya ini membuat semua orang ini diam, apa lagi ketika mereka melihat Ketua Tiat-ciang-pang sudah meloncat naik ke atas panggung. Kedua orang saudara Ma memang sudah sejak tadi menanti munculnya jagoan dari Tiat-ciang-pang ini, maka kini mereka menghadapi Tong Hoat sambil tersenyum.

Ma Ciang berkata, “Aihhh, kiranya Pangcu sendiri sebagai tuan rumah yang memberi penghormatan kepada kami! Apakah Pangcu dan semua anggota Tiat-ciang-pang tidak rela kalau kami yang terpilih menjadi bengcu?”

Ma Kai juga turut berkata, “Agaknya pangcu dari Tiat-ciang-pang juga menginginkan kedudukan bengcu!”

Tong Hoat memandang tajam dan suaranya terdengar lantang oleh semua orang ketika dia menjawab, “Saya adalah pangcu dari Tiat-ciang-pang dan saya sama sekali tidak haus akan kedudukan bengcu. Kalau kami mempelopori pertemuan dan mengadakan pemilihan bengcu ini adalah karena kami melihat adanya perpecahan di antara kami. Sekarang, Ji-wi telah menang dari dua orang saudara dari golongan penjudi tadi. Akan tetapi, seorang bengcu dan wakilnya harus orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi untuk dapat diandalkan oleh golongan kita semua. Karena itu, terpaksa karena tidak ada lagi yang mau naik, saya sendiri yang akan menguji apakah Ji-wi sudah tepat dan pantas untuk menjadi bengcu dan wakilnya. Kalau memang cukup kuat dan lihai, tentu saja kami juga akan setuju jika Ji-wi diangkat menjadi pimpinan.”

“Bagus! Dengan lain kata-kata Pangcu menantang kami berdua! Kai-te (Adik Kai), hayo kita coba kelihaian pangcu dari Tiat-ciang-pang ini!”

Setelah berkata demikian, Ma Ciang dan Ma Kai memutar-mutar golok mereka di atas kepala dan bergerak mengelilingi Ketua Tiat-ciang-pang itu.

“Tidak adil! Tidak adil!” tedengar teriakan dari para anggota Tiat-ciang-pang. “Dua orang mengeroyok satu orang sudah tidak adil!”
“Apa lagi kalau menggunakan golok mengeroyok seorang bertangan kosong!”

Teriakan-teriakan ini terdengar susul-menyusul dan disokong pula oleh golongan yang tadinya diwakili oleh dua orang penjudi. Golongan ini memang tidak mendukung atau menentang pemberontakan, akan tetapi melihat Ketua Tiat-ciang-pang akan dikeroyok dua, mereka merasa tidak senang.

Ma Ciang dan Ma Kai menjadi malu juga. Wajah mereka merah dan sambil tertawa Ma Ciang menyimpan goloknya diturut oleh adiknya, lalu berkata, “Baiklah, kalau pangcu dari Tiat-ciang-pang ngeri melihat darah, kami akan melayani dengan tangan kosong pula, kecuali kalau Pangcu jeri menghadapi kami bersama.” Ucapan ini pun lantang terdengar oleh semua orang.

Tong Hoat mengerutkan alis. Dia maklum bahwa kedua orang ini hanya besar mulutnya belaka. Biar pun mereka menggunakan golok, dia pun tidak takut, apa lagi bertangan kosong. Melihat gerakan mereka tadi ketika melawan dua orang jagoan pertama, dia sudah dapat menilai tingkat mereka dan merasa pasti akan dapat mengalahkan mereka berdua, bersenjata mau pun tidak.

“Silakan Ji-wi maju, saya sudah siap menghadapi Ji-wi maju bersama!” teriaknya.

Ma Ciang dan Ma Kai menjadi girang. Mereka mengira bahwa Ketua Tiat-ciang-pang ini telah berhasil mereka bakar hatinya sehingga malu untuk mundur. Sambil menggereng seperti dua ekor harimau kelaparan, mereka menerjang ke depan, mencengkeram dan memukul.

Tong Hoat sudah bersiap. Tubuhnya bergerak mengelak dan menangkis, lalu mengirim pukulan balasan. “Dukkk! Dukkk!”
Dua orang bersaudara Ma terhuyung ke belakang, meringis kesakitan. Lengan mereka terasa sakit sekali saat beradu dengan lengan Tong Hoat yang tentu saja mengerahkan ilmunya Tangan Besi! Akan tetapi dua orang itu bukan menjadi jera, bahkan menjadi penasaran dan marah, lalu menerjang lagi dengan lebih dahsyat yang disambut dengan tenang oleh Tong Hoat.

Lega hati Ceng Ceng menyaksikan jalannya pertandingan itu. Dia yakin bahwa Ketua Tiat-ciang-pang yang benar-benar lihai ilmu silatnya bertangan kosong itu akan dapat mengalahkan kedua orang lawannya dengan mudah sehingga dia tidak perlu turun tangan membantu. Setelah melihat munculnya Tek Hoat, dia menjadi makin ragu untuk mencampuri urusan pemilihan bengcu ini. Kecuali kalau Tek Hoat sendiri yang maju, terang bahwa pihak pemberontak ingin menguasai golongan ini dan kalau demikian halnya, dia tentu akan turun tangan! Sekarang, melihat Tong Hoat mendesak kedua orang lawannya, perhatiannya kembali ditujukan untuk mencari musuh besarnya dan dia mulai bergerak perlahan mencari-cari di antara para hadirin yang banyak jumlahnya itu.

Pertandingan di atas panggung masih berjalan dengan seru. Kedua orang saudara Ma dengan bernapsu mencoba untuk mengalahkan Ketua Tiat-ciang-pang, tetapi karena memang kalah tingkat dan kalah kuat, mereka terdesak terus dan setiap kali Tong Hoat menangkis dengan pengerahan tenaga, mereka tentu terdorong dan terhuyung ke belakang dan menyeringai kesakitan, tanda bahwa dalam pertemuan lengan itu mereka jauh kalah kuat.

Betapa pun kedua orang itu mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya, tetapi belum sampai lima puluh jurus akhirnya mereka harus mengakui keunggulan Tong Hoat. Dalam kesempatan yang terbuka, Ketua Tiat-ciang-pang ini menggunakan kekuatan tangan besinya menampar dan berturut-turut mereka terlempar dari atas panggung. Walau pun Ketua Tiat-ciang-pang yang masih mengingat akan hubungan antara golongan tidak memukul keras sehingga mereka tidak sampai terluka parah, namun keduanya tidak berani nekat naik lagi karena maklum bahwa mereka bukanlah lawan Ketua Tiat-ciang-pang itu.

“Bagus! Tiat-ciang-pang mengundang orang hanya untuk memamerkan kepandaian sendiri!” Terdengar seruan orang dan dari bawah panggung tampak seorang laki-laki tinggi kurus meloncat naik ke panggung.

Ketika semua orang memandang, mereka berbisik-bisik dengan hati tegang karena maklum bahwa tentu akan terjadi pertandingan yang amat hebat antara pendatang baru yang mereka kenal baik ini menghadapi Ketua Tiat-ciang-pang. Orang tinggi kurus ini bukan lain adalah tokoh besar golongan maling yang berjuluk Tangan Malaikat! Kini Tangan Malaikat hendak menantang Tangan Besi, tentu saja akan terjadi pertandingan ramai!

Sebetulnya telah lama terdapat kebencian antara dua golongan ini, yaitu golongan para maling yang bertentangan dengan golongan pencopet dan perampok yang bergabung dalam perkumpulan Tiat-ciang- pang. Hal ini adalah karena Tiat-ciang-pang memandang rendah golongan maling, bahkan tak mau menerima seorang pencuri sebagai anggota, maka tentu saja golongan ini merasa terhina dan menaruh dendam.

Ketika tokoh maling yang berjuluk Tangan Malaikat itu yang bernama Lauw Sek, datang dari selatan dan bergabung dengan golongan maling, mereka merasa menemukan seorang jagoan dan secara tidak resmi mengangkat Lauw Sek sebagai pimpinan mereka. Lauw Sek Si Tangan Malaikat ini dengan mudah saja terpikat oleh kaum pemberontak, dan diam-diam Lauw Sek membawa teman-temannya untuk bersekutu dengan kaki tangan pemberontak yang ingin menguasai kaum sesat. Lauw Sek adalah seorang yang memiliki kepandaian cukup tinggi maka dia berani memakai julukan Tangan Malaikat yang menyatakan bahwa selain pandai ilmu silat, juga dia adalah seorang ahli mencopet dan mencuri.

Namun, selama ini ia tidak begitu bodoh untuk mencari perkara dengan Tiat-ciang-pang yang merupakan perkumpulan besar dan banyak anggotanya. Kini, dalam pertemuan resmi ini, dimana diadakan pula pemilihan bengcu, apa lagi karena didukung oleh kaki tangan Pangeran Liong Bin Ong, dia menjadi berani untuk menentang dan menghadapi orang yang selama ini memang dibenci oleh dia dan kawan-kawannya.

Kini kedua orang yang diam-diam saling membenci itu berhadapan di atas panggung. Tong Hoat juga membenci orang ini karena memang dia selalu memandang rendah kaum pencuri yang dianggapnya pengecut besar, apa lagi setelah dia mulai mengetahui bahwa Tangan Malaikat dan kawan-kawannya sudah merendahkan diri untuk diperalat oleh kaum pemberontak.

“Memang hanya kaum pengecut saja yang mau menjadi pengkhianat,” katanya dengan pandang mata mengejek. “Kalau golongan kita dipimpin oleh seorang pengecut dan pengkhianat, hancurlah kita semua!”

Muka Lauw Sek menjadi merah sekali sebab ucapan itu biar pun tak langsung ditujukan kepadanya, akan tetapi jelas bahwa Ketua Tiat-ciang-pang ini menghinanya di depan banyak orang.

“Hemm, pangcu dari Tiat-ciang-pang, agaknya menurut pandanganmu, tidak ada orang lain yang lebih pantas menjadi bengcu selain engkau, ya? Hendak kulihat sampai di mana tingginya kepandaianmu dan apakah tangan besimu itu benar-benar keras seperti besi!” Setelah berkata demikian Lauw Sek sudah maju menerjang dengan dahsyat, menggunakan kedua tangannya yang bergerak cepat sekali hingga tampaknya seolah-olah dia memiliki enam buah lengan!

Tong Hoat maklum bahwa kepandaian orang ini tidak boleh disamakan dengan dua orang saudara Ma tadi, maka dia pun cepat menggerakkan tubuh dan kedua tangannya menangkis sambil membalas dengan pukulan yang tidak kalah dahsyatnya.

Cepat sekali gerakan dua orang itu, yang kelihatan hanyalah bayangan banyak tangan, kadang-kadang dikepal, kadang-kadang terbuka, saling pukul dan saling tangkis dan terdengar suara bersiutnya hawa pukulan kedua belah pihak yang agaknya mempunyai kecepatan yang berimbang. Lauw Sek yang berhati besar karena merasa mempunyai dukungan amat kuat, bernafsu sekali untuk mengalahkan lawan, maka gerakannya cepat dan serangannya bertubi-tubi seperti air membanjir.

Sebaliknya Tong Hoat bersikap hati-hati dan tenang. Gerakannya mantap, kokoh kuat membendung banjir serangan itu dan tiap kali menangkis, dia mengerahkan ilmu yang diandalkannya, yaitu Tangan Besi. Berkali-kali dua pasang lengan itu bertemu dengan dahsyat, kadang-kadang mengeluarkan bunyi berdetak seolah-olah dua tulang yang kuat saling beradu, namun keduanya tidak kelihatan terdorong dan agaknya sama kuatnya.

Meski pun Lauw Sek kelihatan juga kuat dan pantas berjuluk Tangan Malaikat, karena kelihatannya dia tidak terpengaruh oleh benturan tangan yang amat kuat dari Tong Hoat, akan tetapi sebetulnya dia merasa betapa kedua lengannya nyeri dan makin lama makin hampir tak tertahankan olehnya. Setiap kali bertemu dengan lengan lawan, dia merasa seolah-olah tulang lengannya retak dan maklumlah dia bahwa biar pun dalam hal ilmu silat, dia tidak kalah jauh oleh lawan, namun harus dia akui bahwa Tong Hoat benar-benar memiliki lengan yang kuat dan keras seperti besi! Diam-diam dia mengeluh dan teringatlah dia akan pesan pemuda sakti utusan Pangeran Liong Bin Ong yang berpesan agar dia berhati-hati menghadapi tangan besi lawan, dan pemuda yang dia tahu amat sakti itu telah meminjamkan sebuah sarung tangan kepadanya.

Sarung tangan itu dia simpan di dalam saku bajunya, sebab dia tidak mau memakainya. Akan tetapi setelah sekarang memperoleh kenyataan betapa lihainya Ketua Tiat-ciang-pang, teringatlah dia akan pesan pemuda itu dan segera dia melompat mundur sambil tertawa. Dikeluarkannya sarung tangan berwarna hitam itu dan dipakainya di tangan kanan. Tercium bau yang wangi-wangi aneh memabokkan.

Tong Hoat tidak mengenal sarung tangan itu. Dia hanya dapat menduga bahwa sarung tangan itu tentu merupakan senjata yang ampuh, akan tetapi karena bukan merupakan senjata tajam, dia memandang rendah.

“Hemmm, apakah lenganmu sudah terasa nyeri maka engkau menggunakan sarung tangan itu?” dia mengejek.

Lauw Sek tersenyum. “Tanganmu memang keras seperti besi, tetapi jangan mengira aku takut. Tangan besimu akan mencair kalau bertemu dengan sarung tangan ini!”

Tek Hoat tentu saja tidak percaya dan dia sudah menerjang lagi. Dia tadi sudah hampir memperoleh kemenangan karena pihak lawan sudah terus didesaknya. Kini dengan pengerahan tenaga pada kedua lengannya, dia menyerang tanpa mempedulikan sarung tangan hitam yang melindungi tangan kanan dan sebagian dari lengan kanan Lauw Sek.

“Plak-plak! Dukkk…!”

Tong Hoat meloncat ke belakang dengan kaget sekali, lalu menggosok-gosok lengan kirinya yang bertemu dengan lengan kanan bersarung tangan dari lawannya. Lengan kirinya terasa gatal-gatal dan panas sekali! Wajahnya berubah. Tahulah dia kini bahwa sarung tangan itu ternyata ampuh sekali dan tentu mengandung racun yang amat jahat!

“Kau curang…!” serunya.

“Ha-ha-ha, Pangcu. Kau takut…?” Lauw Sek tertawa mengejek dan siap menyerangnya kembali.

“Pangcu harap mempergunakan obat dari Lihiap ini, dilumurkan pada kedua tangan!” Tiba-tiba terdengar seruan ini dan seorang anggota Tiat-ciang-pang telah melemparkan sebuah bungkusan ke arah ketuanya.

Mendengar ini Tong Hoat menerima dengan girang dan tahulah dia bahwa nona Lu Ceng diam-diam telah membantunya. Mengingat betapa nona itu dapat menghabiskan beberapa cawan arak bercampur racun tanpa akibat apa-apa, dia maklum bahwa pendekar wanita itu adalah seorang ahli racun, maka dia cepat membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat cairan kental seperti lumpur, berwarna kuning. Cepat dia membalurkan semua obat itu pada tangan dan lengannya. Rasa gatal dan panas pada tangan kanannya lenyap seketika, dan kedua lengannya terasa dingin.

“Majulah, siapa takut sarung tangan beracunmu?” Dia membentak dan menyerang lagi.

Terjadilah pertandingan mati-matian. Lauw Sek selalu menggunakan tangan kanannya yang memakai sarung tangan, namun sekarang lawannya menangkis dan menerima tanpa ragu-ragu lagi dan setiap kali mereka bertemu lengan dan tangan, dan karena memang dia kalah kuat tenaganya, maka dia yang merasa kedua lengannya sakit-sakit. Seratus jurus telah lewat dan pertandingan itu makin seru.

Tetapi kini Lauw Sek main mundur dan selalu menghindarkan pertemuan kedua lengan karena kedua lengannya sudah bengkak-bengkak dan nyeri bukan main. Kesempatan baik dipergunakan oleh Tong Hoat ketika Lauw Sek yang sudah tidak berani menangkis itu berusaha mengelak dari pukulan lawan. Tong Hoat menggerakkan kedua kakinya, mainkan ilmu tendangan berantai dan akhirnya Lauw Sek terkena sebuah tendangan kaki kiri yang membuat tubuhnya terlempar ke bawah panggung!

Sorak-sorai dan tepuk tangan menyambut kemenangan Tong Hoat, tidak saja dari para anggota Tiat-ciang- pang, akan tetapi juga dari mereka yang tadi dikalahkan oleh dua orang saudara Ma. Namun di bawah sorak-sorai yang diselingi oleh teriakan-teriakan yang menyatakan mengangkat Tong Hoat sebagai bengcu itu, tampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan Ketua Tiat-ciang-pang itu telah berdiri seorang pemuda tampan yang bertubuh sedang saja dan kelihatannya tidak seperti seorang yang lihai.

Pakaian pemuda ini sederhana saja, dengan jubah atau baju luar yang berwarna biru tua, celana kuning dan baju dalam putih. Biar pun pakaiannya terbuat dari kain yang mahal dan baru, tetapi potongannya biasa dan sederhana saja sehingga dia kelihatan hanya seperti seorang pemuda pekerja yang sederhana dari kota. Rambutnya yang hitam panjang merupakan kuncir yang besar mengkilap, bergantung di punggungnya. Kulit mukanya putih, membuat ketampanan wajahnya makin mencolok. Sinar matanya tajam berapi dan bibirnya yang tersenyum simpul seakan mengejek.

Melihat pemuda ini, Ceng Ceng cepat mendekati panggung dan memandang dengan penuh perhatian dan ketegangan karena dia mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!

“Tiat-ciang-pangcu, apa syaratnya bagi seorang bengcu yang dipilih dalam pertemuan ini?” Ang Tek Hoat bertanya, suaranya lantang namun halus dan tenang. “Bukankah syaratnya adalah orang yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara kita semua?”

Tong Hoat memandang pemuda itu penuh selidik, akan tetapi dia merasa belum pernah melihat pemuda ini. Kalau pemuda ini merupakan seorang tokoh kaum sesat di sekitar kota raja, tentu dia mengenalnya. Maka tentu pemuda ini seorang anggota biasa saja, atau kalau dia seorang pandai, tentu datang dari daerah lain.

“Benar demikian, orang muda. Engkau siapakah dan datang dari mana?”

Tek Hoat tersenyum. “Aku she Ang dan ingin memasuki pemilihan bengcu ini. Jika aku dapat mengalahkan engkau, apakah aku dipilih menjadi bengcu dan semua golongan hitam di daerah ini lalu tunduk kepada semua perintahku?”

Tong Hoat mengerutkan alisnya. Dia tidak mengenal pemuda ini dan siapa tahu pemuda ini adalah kaki tangan pemberontak. Akan tetapi tentu saja dia tidak berhak melarang, dan teringat kepada Nona Lu yang sanggup untuk menentang kaki tangan pemberontak kalau mereka hendak menguasai golongan hitam untuk bersekutu.

“Orang muda she Ang, tentu saja siapa pun boleh mencoba kepandaian untuk menjadi bengcu. Akan tetapi, sekarang keadaan negara sedang kacau, dikacau oleh usaha orang-orang yang hendak memberontak terhadap pemerintah yang sah. Oleh karena itu, seorang bengcu harus pula dapat melindungi semua anggotanya agar jangan sampai terseret ke dalam pemberontakan, karena pekerjaan itu adalah amat hina. Biar pun kita disebut golongan hitam atau kaum sesat, namun kita masih mempunyai kehormatan untuk tidak menjadi pengkhianat bangsa dan negara!”

Tek Hoat tersenyum lebar. “Pangcu, saya kira urusan itu terserah kepada bengcu yang telah dipilih, bukan? Dialah yang akan memutuskan tentang segala persoalan dan peraturan, dan hal itu merupakan urusan belakang. Sekali lagi, kalau saya mampu mengalahkan pangcu, berarti saya menjadi bengcu?”

Tong Hoat menggeleng kepalanya. “Belum tentu, selama masih ada calon lain engkau harus dapat mengalahkan semua calon.”

“Itu adalah hal yang mudah. Bagaimana kalau lawan saya sampai tewas?”

Tong Hoat mengerutkan alisnya dan timbullah kemarahannya. Sikap pemuda ini sama sekali tidak memandang mata padanya, seolah-olah sudah yakin akan kemenangannya. Biar pun sikap pemuda itu tenang saja, namun kata-katanya amat memandang rendah dan membayangkan kesombongan hebat!

“Terluka atau mati adalah resiko dalam pertandingan silat!”

“Bagus, kalau begitu biarlah aku merobohkan Pangcu dulu, baru merobohkan lain orang yang berani naik ke sini.”

Tentu saja ucapan ini membuat Tong Hoat marah sekali, akan tetapi di antara para anggota Tiat-ciang- pang ada yang tertawa geli dan menganggap pemuda itu seorang yang sudah miring otaknya karena bicara sedemikian mudahnya hendak merobohkan pangcu mereka dan merampas kedudukan bengcu.

Akan tetapi Ceng Ceng memandang dengan penuh kekhawatiran. Dia maklum bahwa nyawa Ketua Tiat- ciang-pang itu terancam bahaya hebat, akan tetapi tentu saja dia tidak hendak mencampurinya. Yang membuat dia khawatir adalah melihat betapa Tek Hoat kini sudah turun tangan sendiri dan kalau sampai pemuda ini yang menjadi bengcu, tentu saja semua kaum sesat di daerah itu akan diseretnya menjadi kaki tangan pemberontak! Dan dia harus menghalangi usaha pemuda ini! Biar pun sedikit, dia harus memperlihatkan kesetiaannya kepada kerajaan sebagai keturunan kakeknya, seorang bekas pengawal yang setia! Dia harus menentang para pemberontak!

Sementara itu, Tiat-ciang-pangcu Tong Hoat sudah menerjang pemuda yang membakar hatinya itu. Serangannya dahsyat sekali, kedua tangannya bergantian mengirim pukulan dengan disertai pengerahan tenaga sinkang sekuatnya, mengerahkan Ilmu Tiat-ciang yang paling kuat. Karena marahnya, ketua ini ingin sekali pukul merobohkan pemuda sombong ini.

Pemuda ini jelas bukan anggota golongan daerah situ, maka membunuhnya pun bukan merupakan hal terlalu besar. Terhadap rekan sedaerah, dia masih sungkan membunuh, akan tetapi pemuda yang sombong itu boleh jadi adalah kaki tangan pemberontak, maka membunuhnya bahkan amat baik, tentu akan membikin jeri calon lain.

Dengan pikiran demikian, maka begitu menerjang maju, Tong Hoat telah mengeluarkan jurus yang paling hebat. Bagai halilintar kedua tangannya menyambar susul-menyusul, yang kanan memukul ke arah lambung lawan, yang kiri dengan jari terbuka mendorong ke arah dada disertai tenaga Tiat-ciang yang dahsyat.

“Bukk! Desss!”

Dua pukulan itu dengan tepat mengenai sasaran, akan tetapi tubuh pemuda itu sama sekali tidak bergoyang. Bahkan Tong Hoat seketika menjadi pucat mukanya ketika merasa betapa kedua tangannya bertemu dengan tubuh yang kerasnya melebihi baja, yang membuat kedua pukulannya membalik dan lengan tangannya seperti dibakar.

Pada saat itu, Tek Hoat menggerakkan tangan kirinya dan ujung jari-jari tangannya menyentuh dada Ketua Tiat-ciang-pang itu. Tanpa mengeluarkan suara apa pun Tong Hoat terjengkang, kedua tangannya dikembangkan, matanya melotot dan dia roboh seperti sebatang balok, roboh di atas papan panggung dan tidak dapat bergerak lagi!

Sejenak semua orang menahan napas. Keadaan menjadi sunyi. Semua mata melotot terbelalak penuh kekagetan dan keheranan melihat kepada pemuda itu. Sukar bagi mereka untuk dapat percaya betapa seorang lihai seperti Ketua Tiat-ciang-pang itu roboh oleh seorang pemuda tak terkenal dalam hanya satu gebrakan saja. Lebih aneh lagi karena mereka melihat betapa pukulan kedua tangan Tiat-ciang-pangcu itu, yang terkenal memiliki Ilmu Tangan Besi, dengan tepat mengenai dada dan lambung pemuda itu, namun bukan pemuda itu yang roboh, melainkan Si Ketua yang lihai itu! Hanya Ceng Ceng yang sudah mengenal kelihaian Tek Hoat, tidak menjadi heran sungguh pun dia menjadi makin kagum dan yakin akan kehebatan ilmu kepandaian Tek Hoat.

“Ilmu setan!” “Bunuh siluman itu!”
Teriakan-teriakan ini terdengar dari mulut para anggota Tiat-ciang-pang dan enam orang tokoh Tiat-ciang- pang yang merupakan pembantu-pembantu utama dari pangcu, sudah naik ke atas panggung. Akan tetapi, orang-orang yang berdiri di sekitar panggung itu hanya melihat pemuda itu tersenyum dan menggerakkan dua tangannya bergantian dan… berturut-turut enam orang itu roboh pula terjengkang di atas papan panggung tanpa dapat bergerak lagi!

Keadaan menjadi geger. Dua orang penjudi yang tadi dikalahkan dua orang saudara Ma menjadi penasaran dan marah. Mereka bersama belasan orang anggota Tiat-ciang-pang dan sahabat-sahabat baik Tong Hoat sudah meloncat naik ke atas panggung dengan senjata-senjata tajam di tangan, langsung menerjang dan mengeroyok pemuda itu.

Ceng Ceng melihat sambil tersenyum. Dia tahu bahwa semua orang itu mengantar nyawa secara percuma saja. Dan apa yang terjadi di atas panggung memang amat mengerikan dan mengherankan semua orang yang menonton di bawah. Pemuda itu dengan sikap tenang-tenang saja menghadapi semua serangan orang yang menyerbu dengan senjata tajam seperti hujan menyambar ke arah tubuhnya.

Tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan para pengeroyok itu terkejut dan bingung karena tubuh pemuda itu telah lenyap dari tengah mereka. Tiba-tiba, seperti halilintar cepatnya Tek Hoat membagi-bagi tamparan dengan jari-jari tangannya dan dalam waktu singkat saja lebih dari lima belas orang sudah roboh. Tubuh mereka bergelimpangan malang-melintang memenuhi papan panggung.

“Apakah masih ada lagi orang yang tak mau menerima aku sebagai bengcu?” Pemuda itu berseru, suaranya lantang sekali, terdengar sampai jauh di bawah panggung. “Kalau ada yang masih penasaran dan ingin menguji kepandaian, silakan naik.”

Tentu saja semua orang kini telah yakin akan kesaktian pemuda itu dan tidak ada yang begitu bodoh untuk mengantarkan nyawa, bahkan suasana menjadi sunyi sekali sampai beberapa lamanya. Pemuda itu lalu menggunakan kaki tangannya, menendangi dan melempar-lemparkan tubuh para korbannya ke bawah panggung. Melihat orang-orang yang jumlahnya lebih dari dua puluh itu terlempar ke atas tanah dan tidak bergerak lagi, para anggota Tiat-ciang-pang cepat mengadakan pemeriksaan. Terdengarlah teriakan- teriakan tertahan ketika mereka melihat bahwa semua tubuh itu telah tidak bernyawa lagi dan di dahi semua mayat itu tampak bekas jari tangan yang menghitam!

“Si Jari Maut…!”

Terkejutlah semua orang yang berada di situ. Bahkan dua orang saudara Ma dan Si Tangan Malaikat sendiri juga terkejut, tidak mengira bahwa pemuda utusan Pangeran Liong Bin Ong itu adalah Si Jari Maut yang namanya sudah dikenal lama dan ditakuti semua orang, biar pun jarang yang pernah melihat mukanya. Kiranya inilah orangnya! Rasa kagum dan girang bahwa mereka kini akan dipimpin oleh seorang penjahat yang terkenal amat lihai, membuat semua orang, bahkan termasuk anggota-anggota Tiat-ciang- pang, berseru keras, “Hidup bengcu kita yang baru!”

“Hidup Si Jari Maut…!”

Tek Hoat tersenyum dan mengangkat dua lengannya ke atas. Suasana menjadi hening dan tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara. Setelah memandang ke empat penjuru, Ang Tek Hoat lalu berkata dengan suara nyaring, “Kalian telah melihat sendiri bahwa aku adalah satu-satunya orang yang menang dalam semua pertandingan di atas panggung ini. Oleh karena itu, apakah kalian setuju mengangkat aku sebagai bengcu?”

“Setuju…!” Semua orang berteriak.

Akan tetapi di antara gemuruh suara yang menyatakan setuju ini, terdengar suara melengking yang mengatasi semua suara itu, “Tidak setuju…!”

Tentu saja suara melengking ini mengejutkan sekali, membuat semua orang terdiam dan menoleh ke kanan kiri untuk mencari suara wanita yang melengking itu. Tek Hoat juga berdiri di tengah panggung dan matanya bergerak liar ketika dia melihat sesosok bayangan orang melayang naik ke atas panggung.

Dia sudah marah sekali dan sudah siap menghadapi orang yang hendak menentangnya itu. Akan tetapi ketika secara tiba-tiba itu dia melihat bahwa yang meloncat naik dan kini berdiri di depannya adalah seorang gadis cantik dan yang bukan lain adalah Ceng Ceng, wajahnya berubah dan dia cepat-cepat memutar tubuhnya, membalik dan tidak mau berhadapan muka dengan Ceng Ceng! Hal ini adalah karena secara otomatis dia teringat akan janji dan sumpahnya, dan tanpa disadarinya sendiri tahu-tahu dia sudah memutar tubuh dengan jantung berdebar tegang.

Gerakan Tek Hoat ini tentu saja melegakan dan menyenangkan hati Ceng Ceng dan dia cepat mengeluarkan sehelai sapu tangan yang memang sejak tadi sudah dipersiapkan, lalu berkata, “Hemm, sapu tanganmu telah berada di tanganku, jangan sekali-kali kau berani memandangku!”

“Aku… aku tidak akan memandangmu…” berkata Tek Hoat yang masih dipengaruhi oleh kekagetan dan masih gugup.

Ceng Ceng adalah seorang yang amat cerdik. Dia maklum bahwa sekarang setelah menjadi bengcu, tentu saja Tek Hoat akan menjaga namanya sebagai seorang gagah, bukan orang yang suka melanggar sumpah dan janji! Tetapi dia tidak boleh percaya kepada seorang seperti pemuda ini yang tidak segan- segan merendahkan diri menjadi kaki tangan pemberontak. Maka dia lantas berkata dengan lantang, ditujukan kepada semua orang yang berada di bawah,

“Haiii, Cu-wi sekalian, dengarlah baik-baik! Laki-laki ini yang bernama Ang Tek Hoat, dia telah bersumpah bahwa setiap kali bertemu dengan aku, dia akan memejamkan mata atau tidak akan memandangku. Sapu tangannya ini yang menjadi saksi mati! Tidakkah benar kata-kataku, hai… Ang Tek Hoat?”

Tek Hoat tak dapat menyangkal dan terpaksa dia menganggukkan kepalanya. “Benar dan aku sudah memenuhi janji. Nah, pergilah!”

Ceng Ceng tertawa akan tetapi menutupi mulutnya. Dia gembira sekali karena tiba-tiba dia memperoleh pikiran yang amat baik, yang dianggapnya akan membuat dia mampu mencari musuh besarnya. Dia ingin menjadi bengcu!

“Nanti dulu, Tek Hoat! Engkau harus menyerahkan kedudukan bengcu kepadaku, dan kau tidak boleh membangkang!”

“Apa…? Ah, untuk apa kedudukan bengcu bagimu?”

“Tidak perlu engkau tahu. Pendeknya, kedudukan bengcu harus diserahkan kepadaku. Bagaimana? Apakah kau berani tidak taat kepadaku dan melanggar sumpahmu sebagai seorang pengecut yang menjilat ludah sendiri?”

Diam-diam hati Tek Hoat mendongkol sekali. Hemmm, kau tunggu saja, pikirnya. Bocah nakal. Akan tiba saatnya aku membalas semua ini! Kalau saja sapu tangan itu dapat dirampasnya. Kalau saja dia bisa melupakan janji dan sumpah itu. Dia sendiri merasa heran dan tidak mengerti mengapa dia begitu lemah kalau menghadapi gadis ini.

“Baiklah, sesukamulah,” jawabnya.

“Harus kau umumkan kepada mereka bahwa aku adalah bengcu, dan engkau adalah pembantuku!” kata pula Ceng Ceng. Dia sengaja hendak menggunakan pengaruhnya untuk dua tujuan. Pertama, dia mencegah kaum sesat dipengaruhi pemberontak, dan kedua, dia hendak menggunakan kedudukan sebagai bengcu itu untuk mengerahkan orang-orangnya mencari pemuda laknat, musuh besarnya!

Tek Hoat menghela napas panjang. Sementara ini, dia terpaksa harus tunduk kepada gadis ini. Memang, kalau dia menghendaki tentu saja dia dapat menyerang dan merobohkan gadis ini, tidak mentaati perintahnya. Akan tetapi, kalau hal itu dia lakukan, dan dia sangsi apakah dia bisa melakukannya karena dia selalu merasa lemah terhadap gadis ini, dia tentu akan dianggap sebagai seorang laki-laki pengecut yang melanggar sumpahnya sendiri terhadap seorang gadis. Dan dalam kedudukannya sebagai seorang ketua, hal itu tentu akan mencemarkan namanya!

“Cu-wi sekalian, dengarlah baik-baik! Aku yang telah mengalahkan semua calon dan yang telah kalian angkat menjadi bengcu, mulai saat ini menyerahkan kedudukan bengcu kepada Nona…” tiba-tiba dia menoleh kepada Ceng Ceng dan hendak bertanya, “Ehhh…!” Akan tetapi teringat bahwa dia tidak boleh memandang, dia cepat membuang muka lagi sambil bersungut-sungut dan bertanya, “Aku lupa lagi… siapakah namamu?”

“Bodoh! Namaku Lu Ceng.”

Tek Hoat kembali berseru nyaring, “Kedudukan bengcu kuserahkan kepada Nona Lu Ceng dan mulai saat ini dialah yang menjadi bengcu, sedangkan aku hanya menjadi wakilnya…”

“Bukan wakil melainkan hanya pembantu!” Ceng Ceng menghardik. “Bukan wakilnya, hanya pembantunya…!”
Tentu saja semua orang terheran-heran menyaksikan semua ini. Seorang yang memiliki kesaktian seperti itu, yang memiliki jari maut yang begitu mengerikan dan kepandaian yang demikian tinggi, kenapa berubah menjadi seekor domba saja berhadapan dengan gadis ini?

Namun ada beberapa orang yang tidak hanya terheran saja, melainkan juga penasaran sekali. Tentu ada rahasia yang mereka tidak mengerti, yang memaksa pemuda utusan Pangeran Liong Bin Ong itu menjadi takut dan taat kepada gadis muda dan cantik itu. Tidak mungkin karena kalah pandai, dan tentu karena sumpah dan janji yang tidak berani dilanggarnya. Mereka itu adalah dua orang saudara Ma dan Si Tangan Malaikat. Mereka berunding sebentar, kemudian mereka mengambil keputusan untuk membantu Tek Hoat dan menyerang gadis yang mengacaukan semua rencana itu.

“Perempuan setan, jangan banyak lagak engkau di sini!” teriak Si Tangan Malaikat dan bersama dua orang saudara Ma, dia meloncat ke atas panggung, langsung menghadapi Ceng Ceng yang menyambut kedatangan tiga orang ini dengan senyum mengejek dan diam-diam gadis murid Ban-tok Mo-li mengerahkan ilmunya.

“Kallan sudah bosan hidup? Mampuslah!” bentaknya dan tiga orang itu tentu saja menjadi marah, masing- masing telah mencabut senjatanya dan hendak menyerbu.

Melihat ini, Tek Hoat hanya melirik akan tetapi apa yang terjadi kemudian sungguh amat mengejutkan hatinya, dan tentu saja juga amat mengejutkan semua orang yang melihat.

Ketika tiga orang itu menyerbu, tiba-tiba Ceng Ceng meludah tiga kali ke arah mereka. Serangan aneh ini cepat dan tidak tersangka-sangka sama sekali. Tiga orang kasar itu tentu saja tidak takut menghadapi serangan ludah seorang gadis cantik seperti Ceng Ceng, maka mereka pun tidak menunda serangan mereka dan terus maju. Akan tetapi, tiba-tiba tiga orang itu mengeluarkan pekik mengerikan dan ketiganya melepaskan senjata roboh ke atas papan dan bergulingan, lalu berkelojotan dan tak lama kemudian tewas tanpa dapat mengeluarkan suara lagi! Mereka telah menjadi korban ludah beracun dari Ceng Ceng, satu di antara ilmu-ilmu luar biasa yang diperolehnya dari Ban-tok Mo-li!

Melihat ini, tahulah Tek Hoat bahwa gadis ini benar-benar seorang yang amat ahli dalam soal racun. Dahulu ketika Ceng Ceng muncul, gadis ini pun telah memperlihatkan kelihaiannya dengan menyebar racun untuk menghalangi pengejaran, dan sekarang kembali telah membuktikan kelihaiannya dalam hal racun.

Lumayan juga mempunyai teman selihai ini, pikirnya. Lagi pula, selain dia tidak ada niat sama sekali untuk mengganggu Ceng Ceng, hal yang amat aneh baginya, juga dia mengharapkan untuk kelak dapat menguasai hati Syanti Dewi melalui gadis ini.

“Engkau hebat…!” katanya memuji tanpa memandang.

“Dan aku perkenankan engkau memandangku sekarang,” kata Ceng Ceng. “Tidak enak kalau mempunyai pembantu yang selalu membelakangiku! Akan tetapi engkau harus taat dalam segala hal!”

Tek Hoat tersenyum geli. Lu Ceng ini benar-benar seorang bocah, tetapi telah memiliki kepandaian beracun yang demikian mengerikan, pikirnya. Dia mengangkat muka, lalu memandang dan memperoleh kenyataan bahwa biar pun gadis ini sekarang makin manis, kecantikannya makin matang, tetapi terbayang sesuatu yang amat mengerikan, sesuatu yang dingin dan penuh kebencian! Akan tetapi anehnya, begitu memandang, timbul pula rasa iba dan sayang di dalam hatinya terhadap gadis ini, hal yang sama sekali tidak dimengertinya mengapa demikian.

Melihat kehebatan gadis itu, yang meludah saja sudah dapat membunuh orang-orang pandai seperti Tangan Malaikat, semua orang dengan suara bulat kemudian menyetujui mengangkatnya menjadi bengcu. Bahkan mereka menjadi girang dan bangga bukan main karena maklum bahwa mereka dipimpin oleh dua orang yang lihai, dan otomatis kedudukan mereka menjadi kuat. Tentu saja golongan-golongan yang memilikii ambisi, yang pro dan anti pemberontak, yang masih sangsi dan bingung karena mereka belum tahu benar orang macam apa adanya gadis ini. Orang yang suka bersekutu dengan pemberontak ataukah yang membencinya?

Sementara itu Ceng Ceng sudah memerintahkan para anak buah Tiat-ciang-pang untuk menyingkirkan semua jenazah. Setelah Ketua Tiat-ciang-pang tewas, sebagai bengcu otomatis dia pun dianggap sebagai Ketua Tiat-ciang-pang pula, maka dia lalu mengajak Tek Hoat untuk pergi memeriksa markas Tiat-ciang- pang untuk dijadikan pusat di mana bengcu dan pembantunya tinggal.

Malam hari itu, biar pun dalam keadaan berkabung karena kematian Tong Hoat, namun para pimpinan Tiat-ciang-pang yang masih hidup segera mengatur hidangan untuk merayakan dan menyambut bengcu yang berkenan tinggal di tempat mereka. Juga para tokoh golongan lain yang termasuk kaum sesat di sekitar daerah kota raja hadir untuk memberi hormat kepada bengcu mereka. Ceng Ceng duduk semeja dengan Tek Hoat, dan mereka berdua makan bersama tanpa banyak cakap, hanya kadang-kadang saja Ceng Ceng tersenyum mengejek kalau memandang Tek Hoat.

“Engkau sekarang lihai sekali,” Tek Hoat berkata lirih agar jangan terdengar oleh orang lain yang duduk mengelilingi meja-meja agak jauh dari mereka berdua.

“Masih tidak selihai engkau!” jawab Ceng Ceng jujur.

“Aku heran sekali, mengapa pula engkau menginginkan kedudukan bengcu?” Tek Hoat bertanya lagi.

“Karena aku ingin mengerahkan tenaga semua kaum sesat ini, termasuk engkau, untuk menyelidiki dan mencarikan musuh besarku.”

Tek Hoat mengangkat mukanya, memandang tajam. Tetapi Ceng Ceng juga membalas pandang mata itu, sama tajamnya. Tek Hoat lalu menundukkan mukanya, merasa aneh mengapa dia tidak sanggup menentang pandang mata gadis itu terlalu lama.

“Siapa…?” tanyanya lirih.

“Seorang pemuda tinggi besar, ilmu kepandaiannya tinggi sekali, aku tidak tahu dia berada di mana, juga tidak tahu siapa namanya.”

“Hemmm…, sungguh aneh. Pemuda tinggi besar dan lihai… ahhh…! Di dunia ini banyak sekali orang tinggi besar, dan banyak sekali yang lihai.”

“Akan tetapi engkau pun sudah tahu siapa dia, dia yang menyelamatkan Jenderal Kao dari tanganmu.” “Aihh, dia…!” Hampir saja Tek Hoat meloncat dari bangkunya. “Dia itu musuh besarmu?”
“Benar.”

“Kalau dia, aku senang sekali membantumu. Kalau bertemu dengan dia, aku sendiri pun ingin mematahkan batang lehernya!”

“Tidak, aku hanya menghendaki engkau dan para anggota lain mencarinya dan paling banyak menangkapnya. Aku sendiri yang harus membunuhnya!” kata Ceng Ceng dan suaranya mengandung kemarahan dan kebencian hebat.

Tek Hoat mengangkat mukanya memandang dengan penuh perhatian, lalu bertanya, “Kenapa? Kenapa engkau mendendam kepadanya dan begitu benci kepadanya?”

“Kau tidak perlu tahu!” Ceng Ceng menjawab dengan kasar dan membentak marah.

Melihat gadis itu marah-marah, Tek Hoat cepat mengalihkan percakapan. “Lu Ceng, aku melihat bahwa engkau telah memiliki kepandaian hebat, jauh bedanya dengan dahulu ketika kita saling bertemu untuk pertama kalinya. Terutama sekali engkau hebat dalam ilmu beracun. Tentu engkau telah bertemu dengan seorang guru yang pandai.”

Ceng Ceng mengangguk. “Aku telah mewarisi ilmu tentang racun yang tak ada duanya di dunia ini. Oleh karena itu, di samping sumpah dan janjimu, kau pun harus tunduk kepadaku karena betapa mudahnya bagiku untuk membunuhmu, sekarang juga. Lihat!”

Ceng Ceng menggerakkan tangan kirinya di atas cawan arak di depan Tek Hoat sambil mengerahkan ilmunya. Segumpal hawa seperti asap hitam keluar dari tapak tangannya dan ketika hawa itu menghilang, Tek Hoat melihat betapa arak di dalam cawannya menjadi kehijauan, mengandung racun!

“Sedikit saja kau minum arakmu, kau akan mati,” kata Ceng Ceng.

Tek Hoat mengangguk-angguk dan membuang isi cawan itu ke atas lantai, kemudian menggantikannya dengan arak baru dari guci. “Hemm, engkau telah membuat dirimu, sampai ludahmu pun dapat membunuh. Sungguh luar biasa!” Tek Hoat berkata memuji, akan tetapi tentu saja dia tidak merasa jeri dan dia merasa yakin bahwa kalau terpaksa bertending, dia akan dapat mengalahkan gadis aneh ini.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di sebelah luar. Tak lama kemudian beberapa orang bekas pimpinan Tiat-ciang-pang menghampiri meja Ceng Ceng dan melapor. “Celaka, di luar terdapat seorang pengacau yang amat lihai, banyak kawan kita telah dirobohkan olehnya.”

Tek Hoat merasa tidak senang karena dia diganggu. “Siapa dia dan mengapa dia mengacau?”

“Dia tidak mengaku namanya dan tidak mengaku mengapa dia datang mengacau. Harap Ji-wi suka menundukkan sebelum dia merobohkan lebih banyak kawan dan menimbulkan kerusakan.”

“Kurang ajar!” Tek Hoat bangkit berdiri dan bersama Ceng Ceng lalu berlari keluar.

Setelah tiba di luar, mereka melihat seorang laki-laki tinggi besar sedang mengamuk, dikeroyok oleh banyak orang. Lebih dari tiga puluh orang anggota Tiat-ciang-pang mengeroyok orang itu dan dari jauh Tek Hoat dan Ceng Ceng melihat betapa orang itu melempar-lemparkan para pengeroyoknya dengan amat mudahnya. Para pengeroyok itu bagai sekumpulan semut mengeroyok seekor jangkrik yang kuat. Berkali- kali mereka dilempar ke kanan kiri akan tetapi mereka bangkit lagi dan menerjang lagi.

“Hemm, orang itu kuat sekali,” Tek Hoat berkata, mempercepat larinya menghampiri.

“Tek Hoat, aku ingin dia itu ditawan saja, jangan sampai terbunuh!” tiba-tiba Ceng Ceng berkata kepada Tek Hoat sehingga pemuda ini menjadi heran.

“Eh, kenapa? Dia pengacau…”

“Dia lihai, aku ingin mengambilnya sebagai pembantuku, di sampingmu…”

“Hemm…,” Tek Hoat tak berkata apa-apa lagi melainkan melompat dekat dan berteriak, “Semua orang mundur! Biarkan aku menghadapi pengacau ini!”

Ceng Ceng hanya menonton saat Tek Hoat telah meloncat maju. Tentu saja jantungnya berdebar dan dia memesan kepada Tek Hoat agar pembantunya itu jangan membunuh si pengacau karena dia mengenal si pengacau itu sebagai laki-laki tinggi besar yang pernah menolongnya! Laki-laki bermuka buruk seperti setan yang telah menolongnya ketika dia dikeroyok oleh para kaki tangan pemberontak di waktu dia hendak menolong Pangeran Yung Hwa.

Seperti diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng kagum melihat kepandaian orang ini, bahkan telah diujinya dan dia berpendapat bahwa penolongnya itu merupakan seorang sakti yang akan dapat membimbingnya agar kelak dia dapat membalas dendamnya terhadap musuhnya yang amat lihai. Akan tetapi laki-laki bermuka buruk, dengan kulit muka kasar seperti punggung buaya dan hitam kemerahan, mulutnya lebar hidungnya besar, mata besar sebelah dan rambutnya riap-riapan, laki-laki bermuka seperti setan itu telah menolak permintaannya menjadi murid. Dan sekarang, secara tidak terduga-duga orang ini datang dan muncul sebagai seorang pengacau. Maka dia memperoleh pikiran yang cerdik. Dia tidak berhasil membujuk orang lihai ini agar suka menjadi gurunya, maka dia akan mempergunakan akal!

Tek Hoat sudah meloncat ke depan dan menyerang orang itu dengan totokan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah pelipis orang itu. Serangan yang amat hebat dan dahsyat ini membuat laki-laki tinggi besar bermuka setan itu mengeluarkan suara gerengan dahsyat, tubuhnya bergerak ke kanan, tangan kanannya menangkis totokan dan tangan kirinya menyampok cengkeraman ke pelipisnya dengan keras. Tek Hoat juga sudah mengerahkan tenaga pada kedua lengannya karena dia bermaksud membuat orang itu terpental dan roboh ketika kedua lengan mereka beradu.

“Plakk! Duukkk!”

Keduanya terkejut dan terpental, akan tetapi dengan cekatan keduanya telah dapat mengatur keseimbangan tubuh dengan loncatan tinggi ke belakang. Sejenak mereka saling pandang dan Tek Hoat membentak marah. “Siapa kau?”

Akan tetapi, orang tinggi besar itu tidak menjawab, melainkan menoleh ke arah Ceng Ceng yang sudah mendekati pula. Pada saat itu, Tek Hoat telah mencabut pedangnya, yaitu pedang Cui-beng-kiam yang mengeluarkan sinar dan hawa yang menyeramkan.

“Keparat, mampuslah kau!” bentaknya sambil menyerang.

Menghadapi serangan pedang ini, orang tinggi besar itu terkejut, apa lagi ketika dia melihat pedang Cui- beng-kiam. Agaknya dia tahu akan pedang yang amat ampuh ini, yang memiliki pengaruh dan hawa mukjijat, maka dia mengeluh dan cepat meloncat ke belakang menghindarkan diri dari sambaran pedang. Tek Hoat merasa girang melihat kejerian lawan. Dia terpaksa mencabut pedang karena maklum bahwa lawannya ini bukan orang sembarangan. Akan tetapi ketika dia hendak maju menerjang lagi, Ceng Ceng berteriak, “Tek Hoat mundurlah! Aku akan menangkapnya!”

Teriakan ini dikeluarkan oleh Ceng Ceng sebab dia khawatir melihat serangan Tek Hoat yang mengeluarkan pedang. Dia pun mengenal pedang yang luar biasa ampuhnya, bahkan mengandung hawa mukjijat yang lebih hebat lagi. Memang dia maklum akan kelihaian penolongnya ini, yang dulu menyambut Ban-tok-kiam dengan tangan kosong, mencengkeram dan merampas pedangnya dengan mudah! Tetapi pedang seampuh itu di tangan Tek Hoat adalah lain lagi karena dia harus mengakui bahwa dalam hal ilmu silat dan tenaga sinkang, dia masih kalah jauh dibandingkan dengan Tek Hoat. Pula, dia sengaja berteriak mengatakan hendak menangkap orang itu untuk memberi tahu bahwa dia tidak berniat membunuhnya.

Mendengar teriakan ini, walau pun hatinya mendongkol, terpaksa Tek Hoat meloncat mundur. Diam-diam dia mentertawakan Ceng Ceng yang berkata hendak menangkap orang ini. Biar pun baru bergebrak beberapa jurus saja, dia maklum bahwa orang ini memiliki kepandaian hebat, lebih tinggi jauh sekali dibandingkan dengan tingkat Ceng Ceng. Jangankan menangkapnya hidup-hidup, untuk mencari kemenangan pun tentu sukar. Entah kalau nona itu mempergunakan racunnya yang memang hebat.

“Engkau telah mengacau tempat ini. Aku yang menjadi bengcu harus menawanmu!” Ceng Ceng berseru sambil menerjang orang tinggi besar itu dengan kedua tangannya, menotok jalan-jalan darah dengan kecepatan dua ekor ular mematuk.

Orang itu mengeluarkan seruan aneh dan meloncat mundur, terdengar berkata tidak jelas setengah berbisik akan tetapi dapat dimengerti oleh Ceng Ceng. “Kau… kau gadis aneh…!”

Sudah dua kali orang itu mengatakan sebagai gadis aneh! Akan tetapi Ceng Ceng yang sudah bertekad untuk menangkap bekas penolongnya ini, tidak menjawab melainkan menyerang terus bertubi-tubi dengan totokan jari-jari tangannya. Tek Hoat menonton sambil tersenyum simpul. Rasakan kau sekarang, pikirnya. Bocah sombong kau, kalau tidak kubantu mana bisa kau menang menghadapinya?

“Ehhh…!” Tiba-tiba Tek Hoat menahan seruannya karena terkejut ketika melihat betapa orang tinggi besar itu terguling dan roboh tak dapat bergerak lagi karena telah menjadi lemas dan lumpuh tertotok oleh jari-jari tangan Ceng Ceng!

Hampir dia tidak dapat mempercayai hal ini, akan tetapi laki-laki tinggi besar itu benar-benar telah roboh tak berdaya dan beberapa orang anggota Tiat-ciang-pang sudah cepat menghampiri dan membelenggu kedua tangannya ke belakang dengan erat atas perintah Ceng Ceng.

“Masukkan dia ke tempat tahanan di belakang dan jaga dengan ketat. Awas, jangan sampai dia lolos dan jangan ada yang berani mengganggunya. Besok aku akan memeriksanya!” demikian perintah Ceng Ceng kepada anak buahnya yang segera menggotong tawanan itu dan membawanya ke sebuah gudang di belakang rumah di mana orang tinggi besar itu dilempar ke dalam gudang itu dan dijaga dengan ketat oleh tidak kurang dari dua puluh orang.

Sementara itu, Ceng Ceng dan Tek Hoat kembali ke ruangan pesta perayaan, diikuti oleh bekas pimpinan Tiat-ciang-pang dan para tamu golongan kaum sesat lainnya yang tadi ikut pula menyaksikan peristiwa pengacauan itu. Semua orang memuji kelihaian bengcu mereka yang dengan mudah dapat merobohkan orang yang demikian lihainya.

“Heran sekali, bagaimana engkau dapat menotoknya roboh sedemikian mudahnya?” Tek Hoat tidak dapat menahan keheranan hatinya, bertanya kepada Ceng Ceng ketika mereka telah duduk pula menghadapi meja.

Ceng Ceng sendiri tadi juga agak heran karena tidak disangkanya bahwa dia akan berhasil begitu mudahnya. Jelas bahwa laki-laki tinggi besar itu tidak melawan dengan sungguh-sungguh sehingga mudah saja ia merobohkan dengan pukulan hawa beracun yang lebih dulu dia pergunakan sehingga lawannya itu terpengaruh oleh hawa beracun dan tak sempat menghindarkan diri lagi saat dia menotoknya bertubi-tubi, membuatnya roboh tak berdaya. Mendengar pertanyaan ini, dia menjawab sederhana, “Biar pun dia lihai, akan tetapi dia tidak dapat melawan hawa beracun dari pukulanku yang membuat dia kurobohkan dengan totokan. Hanya engkau yang agaknya masih buta, belum melihat kelihaianku!”

Tek Hoat tidak mempedulikan ucapan itu. “Aku masih merasa heran dan menduga-duga, dia itu siapakah dan apa perlunya mengacau di sini? Mukanya seperti setan dan kepandaiannya pun hebat betul. Belum pernah aku mendengar ada orang seperti dia di dunia kang-ouw.”

“Biar besok aku saja yang akan memeriksanya. Kau jangan sekali-kali mengganggunya, tunggu sampai aku besok memeriksanya. Kalau dia mau menjadi pembantuku, bekerja sama dengan kita, syukurlah. Kalau tidak…”

“Kalau tidak, bagaimana? Kita bunuh dia?”

“Hemm… bagaimana besok sajalah,” Ceng Ceng sendiri bingung.

Ketika dia berlutut dan memohon kepada orang itu menjadi gurunya, orang itu menolak dan pergi begitu saja. Sekarang setelah dapat menawannya, apakah dia akan berhasil pula memaksa orang itu menjadi pembantunya untuk menangkap musuh besarnya?

Malam itu Ceng Ceng tidur dengan gelisah sekali, diganggu mimpi buruk berkali-kali. Di dalam mimpinya itu dia melihat pemuda laknat musuh besarnya yang menyerangnya dan hendak memperkosanya lagi, tetapi wajah itu kadang-kadang berubah menjadi wajah Tek Hoat, dan kadang-kadang berubah menjadi wajah laki-laki tawanan bermuka setan itu!

Dia terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Maklumlah Ceng Ceng bahwa dia telah bermain-main dengan api. Dia berada di antara orang-orang jahat, dan terutama sekali Tek Hoat adalah seorang yang amat berbahaya. Juga laki-laki bermuka setan itu biar pun pernah menolongnya namun sikapnya begitu menakutkan dan menyeramkan, penuh rahasia pula. Dia seolah-olah dikelilingi oleh orang- orang yang aneh dan berbahaya. Pemuda laknat musuhnya itu, Tek Hoat dan laki-laki tinggi besar ini.

Teringatlah dia kepada Pangeran Yung Hwa dan dia menjadi termenung. Betapa bedanya pangeran itu dengan tiga orang laki-laki! Pangeran itu begitu tampan, begitu halus, penuh hormat, lemah-lembut dan penuh kemesraan. Cinta kasih seorang seperti Pangeran Yung Hwa itu agaknya tidak perlu disangsikan lagi!

Sebaliknya, Tek Hoat memang tampan dan gagah, biar pun tidak setampan Pangeran Yung Hwa namun Tek Hoat juga memiliki kepribadian yang menarik, ketampanan dan kegagahan yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi pemuda ini adalah seorang yang rendah, yang telah menghambakan diri kepada pemberontak!

Pemuda laknat yang memperkosanya itu pun tampan dan gagah sekali, lebih gagah dari pada Tek Hoat, dengan sikap yang pendiam dan agung, membayangkan kekerasan seperti seekor singa, kokoh kuat seperti batu karang. Tetapi pemuda itu telah menjadi musuh besar yang amat dibencinya, dan dia tahu bahwa membunuh pemuda itu pun belum berarti terbalas dendamnya karena pemuda itu telah merusak hidupnya, merusak segala-galanya!

Dan laki-laki yang bermuka setan ini, dia sudah tua dan menakutkan, biar pun pernah menolongnya dan berilmu tinggi, akan tetapi sikapnya begitu aneh dan penuh rahasia sehingga sukar baginya untuk mengambil kesimpulan orang macam apakah adanya laki-laki bermuka setan ini.

Pada keesokan harinya dia telah pergi ke belakang, ke gudang di mana tawanan itu berada. Di luar gudang masih terjaga oleh dua puluh orang lebih anggota Tiat-ciang-pang, tetapi dia mendengar suara orang bicara di sebelah dalam gudang, atau lebih tepat lagi, suara Tek Hoat yang agaknya marah-marah. Cepat dia memasuki gudang itu dan dia masih mendengar Tek Hoat berkata marah.

“Kau kira aku tidak mampu memaksamu bicara? Engkau bersembunyi di balik topeng itu!”

Mendengar ucapan ini, orang bertopeng itu sangat terkejut. “Ehhh… jangan…! Jangan buka topengku. Kalau dipaksa… aku akan mengamuk dan akan hebat akibatnya!”

Tek Hoat tertawa. “Silakan saja mengamuk, aku memang ingin sekali melihat sampai di mana kelihaianmu maka engkau sesombong ini!”

Tek Hoat telah melangkah dekat, menghampiri tawanan yang kedua tangannya masih terbelenggu di belakang punggung dan sedang bersandar pada dinding gudang itu. Agaknya Tek Hoat hendak melakukan sesuatu karena tangannya telah mendekati muka orang.

“Tek Hoat, jangan…!” Ceng Ceng membentak dan Tek Hoat terkejut.

Pemuda ini bersungut-sungut dan ingin dia menampar mukanya sendiri. Mengapa dia menjadi begini lemah dan penurut? Agaknya, di dunia ini tidak akan ada orang yang mampu memerintahnya seperti ini! Dan dia, yang memiliki kepandaian tinggi, yang dapat melakukan apa pun, tanpa Ceng Ceng dapat menghalanginya, dia tidak berdaya dan tidak sampai hati menolak perintah Ceng Ceng! Itulah soalnya, bukan sekali-kali hanya karena sumpahnya. Ia memang merasa terlalu gagah untuk melanggar sumpah, tetapi kalau sumpahnya itu dipergunakan Ceng Ceng untuk mempermainkannya tentu saja tidak bisa dia terus menurut.

“Hemmm…!” Dia mendengus dan membalikkan mukanya.

Ceng Ceng memandang wajah orang tawanan itu dan jantungnya berdebar tegang. Benar juga kata-kata Tek Hoat. Kiranya orang ini memakai topeng! Memakai semacam kedok yang amat tipis dan memang sukar dibedakan dari wajah asli kalau saja dia tadi tidak melihat orang itu bicara dan bibir itu hampir tidak bergerak, tanda bahwa yang bergerak tentulah bibir aslinya yang berada di balik topeng! Seketika timbul akalnya untuk memaksa bekas penolongnya ini!

“Tek Hoat, keluarkan sapu tanganmu!” katanya memerintah.

“Untuk apa…?” Tek Hoat bertanya dengan marah karena sapu tangan mengingatkan dia akan sumpah dan janjinya.

“Kau tutup matamu dengan sapu tangan itu!” “Hemm…!” Tek Hoat makin marah.
Akan tetapi tetap saja permintaan itu dia penuhi juga. Dia menutupkan sapu tangannya ke depan mata dan mengikatkan kedua ujung sapu tangan di belakang kepala. Diam-diam dia tertarik juga karena ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis aneh ini.

Setelah melihat Tek Hoat menutupi mukanya dengan sapu tangan, Ceng Ceng lalu menghampiri tawanan yang masih bersandar dinding itu. “Nah, In-kong sekarang kita boleh bicara berdua. Pembantuku ini sudah menutup matanya dengan sapu tangan sehingga tidak dapat melihat kita… maksudku, tidak dapat melihat wajahmu.”

Suara yang halus itu terdengar kini. “Nona, engkau benar-benar seorang gadis aneh. Apa maksudmu dengan menawan aku? Aku tidak bersalah, hanya melihat ramai-ramai di sini, menonton dan dikeroyok oleh orang-orang itu. Biarkan aku pergi.”

“Tidak, sebelum engkau memperlihatkan siapa adanya engkau. Aku hendak membuka topeng yang menutupi mukamu, In-kong.”

Tentu saja Tek Hoat menjadi kaget dan heran bukan main mendengar ucapan Ceng Ceng yang menunjukkan bahwa gadis ini telah mengenal Si Topeng Setan itu, bahkan menyebutnya In-kong (Tuan Penolong)! Biar pun kedua matanya tertutup, Tek Hoat memusatkan seluruh perhatiannya kepada pendengarannya sehingga dia dapat mengikuti seluruh gerak-gerik Ceng Ceng dan tawanan itu, bahkan tidak kalah jelasnya dari orang biasa yang memandang dengan kedua matanya.

“Jangan…! Jangan, Nona…! Ini adalah rahasiaku, kalau terbuka berarti aku mati! Harap kau jangan membukanya…” Orang itu berkata, suaranya penuh dengan permohonan dan kekhawatiran sehingga Tek Hoat menjadi makin tertarik, makin curiga.

“Engkau pernah menolongku, tentu aku tidak akan memaksa. Akan tetapi aku tidak akan membuka topengmu asal engkau suka menjadi pembantu dan pelindungku, dan suka mengajarkan ilmu silatmu yang tinggi kepadaku. Bagaimana?”

“Hemm…, baiklah. Aku berjanji.”

“Dan seorang laki-laki gagah tidak akan melanggar janjinya.” “Lebih baik mati dari pada melanggar janji.”
Tiba-tiba Tek Hoat tertawa. “Ha-ha-ha, Lu Ceng! Engkau membuat kami berdua laki-laki yang memiliki kepandaian menjadi seperti lalat terjebak dalam janji-janjinya sendiri!”

“Tek Hoat, engkau dan dia ini berjanji sendiri, aku sama sekali tidak memaksanya. Nah, kau boleh membuka sapu tanganmu dan boleh memandang aku sekarang, dan kau bebaskan dia dari belenggu itu.”

Tek Hoat menyambar sapu tangannya, lalu memandang kepada laki-laki bertopeng itu dengan tertawa mengejek. “Engkau telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kesukaran, Sobat!” Dan dengan kedua tangannya Tek Hoat merenggut, mengerahkan sinkang-nya dan belenggu yang terbuat dari baja itu patah- patah! Bukan main hebatnya tenaga kedua tangan Tek Hoat dan agaknya dia sengaja mendemonstrasikannya di depan orang bertopeng itu yang memandang dengan sikap tenang saja. Setelah belenggunya dilepaskan dia bangkit berdiri, tinggi dan tegap.

“Sekarang setelah menjadi pembantuku kau harus memberitahukan namamu,” Ceng Ceng berkata.

Orang itu menghela napas panjang. “Setelah Ji-wi (Anda Berdua) tahu bahwa aku bertopeng, maka biarlah aku dinamakan Topeng Setan.”

Ceng Ceng bertepuk tangan gembira. “Bagus! Dua orang pembantuku julukannya amat hebat, yang seorang Si Jari Maut, dan seorang lagi Si Topeng Setan! Sekarang mari kita keluar untuk mengumumkan pengangkatan Topeng Setan sebagai pembantuku kedua, dan kita mulai mengatur anak buah kita agar tidak lagi terjadi bentrok di antara rekan segolongan.”

Tek Hoat dan Topeng Setan mengangguk. Ceng Ceng bergegas keluar gudang itu dan kesempatan ini dipergunakan oleh Tek Hoat untuk berbisik kepada laki-laki tinggi besar itu, “Awas, engkau mencurigakan sekali. Sekali waktu akan kupatahkan batang lehermu seperti aku mematahkan belenggu tadi.”

Topeng Setan menoleh kepada pemuda tampan itu dan tidak menjawab apa-apa kecuali memungut bekas belenggu dari atas lantai, kemudian dengan amat mudahnya jari tangannya mematah-matahkan rantai itu semudah yang dilakukan oleh Tek Hoat tadi!

“Tidak perlu curiga, aku hanya ingin melindunginya, Sobat!” Si Topeng Setan berkata pula, berbisik.

Tek Hoat terkejut dan mengertilah dia bahwa Topeng Setan tadi agaknya memang sengaja membiarkan dirinya tertawan. Buktinya, kalau dia menghendaki, tentu dia sudah dapat membebaskan dirinya dari belenggu itu dengan amat mudah! Makin tertariklah dia dan diam-diam dia mengharapkan untuk dapat menarik tenaga yang amat kuat ini untuk membantu gerakan Pangeran Liong Bin Ong.

Yang merasa amat bergembira adalah Ceng Ceng. Dia sampai lupa akan kesengsaraan hatinya melihat betapa dia kini telah menjadi seorang ‘bengcu’, mengepalai ratusan orang-orang lihai, bahkan mempunyai dua orang pembantu dan pelindung yang amat tinggi kepandaiannya. Kini dia merasa yakin bahwa tentu dia akan berhasil mencari musuh besarnya, pemuda laknat yang telah memperkosanya!

Di samping itu, dia akan menuntun para kaum sesat itu agar tidak membantu para pemberontak, sebaliknya malah menentang pemberontak. Sedangkan Tek Hoat, yang dia tahu adalah anak buah pangeran pemberontak, setelah menjadi pembantunya akan dibujuknya agar dapat insyaf dan kembali ke jalan benar. Betapa pun juga, pemuda inilah sebetulnya yang menjadi orang pertama, laki-laki pertama yang pernah menggerakkan perasaan mesra, kagum dan cinta di dalam hatinya, yang kemudian berubah menjadi benci karena pemuda yang dikagumi ini ternyata adalah kaki tangan pemberontak. Pula, setelah mendengar pengakuan Tek Hoat akan cinta kasihnya kepada Syanti Dewi, lenyaplah perasaan mesra di hatinya terhadap Tek Hoat. Namun andai kata pemuda ini dapat insyaf dan kembali ke jalan benar, dia akan senang sekali melihat kakak angkatnya itu berjodoh dengan Ang Tek Hoat. Jauh lebih baik dari pada menjadi isteri seorang pangeran tua di kota raja…..

********************

Kita tinggalkan dulu Ceng Ceng dengan pengalamannya yang baru sebagai seorang bengcu atau ketua dari kaum sesat itu, dan mari kita mengikuti perjalanan kakak beradik dari Pulau Es, yaitu Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu.

Seperti yang sudah diceritakan di bagian depan, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu merencanakan hendak mengawal Jenderal Kao Liang kembali ke utara ketika pada malam hari itu muncul putera jenderal itu yang telah hilang dan disangka mati belasan tahun yang lalu, yaitu Kok Cu, yang kemudian pada malam hari itu juga pergi lagi meninggalkan rumah orang tuanya dengan alasan bahwa dia harus menunaikan dulu tugas yang diperintahkan gurunya.

Peristiwa hebat perjumpaannya dengan Ceng Ceng yang dianggap telah mati dan bayangan gadis itu dianggap rohnya, kemudian disusul dengan munculnya Kok Cu yang disangka sudah mati, mengguncangkan hati Jenderal Kao dan keluarganya. Akan tetapi demi tugasnya, jenderal yang perkasa ini sudah bersiap-siap untuk berangkat bersama Kian Lee dan Kian Bu, dengan diam-diam akan kembali ke utara.

Akan tetapi, baru saja mereka bersiap-siap untuk berangkat naik kuda bertiga, tiba-tiba terdengar suara halus, “Kao-goanswe, berhentilah dulu…” Dan berkelebatlah bayangan orang. Ternyata yang datang adalah Puteri Milana sendiri!

Tentu saja Jenderal Kao, Kian Lee dan Kian Bu terkejut dan terheran-heran. Akan tetapi tanpa banyak cakap Jenderal Kao mengajak Puteri Milana dan dua orang adiknya itu masuk ruangan dan tidak mengijinkan anak isterinya ikut masuk, karena dia menduga bahwa kedatangan Puteri Milana tentulah membawa hal yang amat penting. Dan memang benarlah demikian!

Begitu dipersilakan duduk, puteri yang wajahnya agak tegang biar pun sikapnya masih tenang itu berkata lirih, “Jenderal, saatnya telah tiba bagi kita untuk mengambil tindakan secara terang-terangan.”

Jenderal Kao Liang mengerutkan alisnya. “Paduka maksudkan…?”

“Baru saja seorang penyelidikku datang malam-malam melaporkan bahwa Panglima Kim Bouw Sin yang kau tawan itu telah dibebaskan oleh kaki tangannya, bahkan telah menyusun kekuatan dari para pasukannya dan kini berpusat di Teng-bun, sudah siap untuk menyerbu ke selatan!”

“Si keparat!” Jenderal itu mengepal tinjunya dengan marah sekali. “Semua ini diatur dari sini, dan kita harus menumpas biang keladinya!”

“Sabarlah, Goanswe. Tugas kita hanyalah menumpas para pemberontak yang sudah terang-terangan memberontak seperti Panglima Kim Bouw Sin. Adapun para penggerak atau penganutnya sekarang masih bermain di belakang layar, amat sukar bagiku untuk bertindak tanpa adanya bukti-bukti yang kuat. Kedudukan mereka kuat. Sekarang, paling perlu kita harus bergerak ke utara. Biarlah kedua orang adikku ini terlebih dulu menyelidiki ke sana dan sedapat mungkin menyelamatkan Syanti Dewi yang berada di bentengmu. Mudah-mudahan saja dia tak terjatuh ke tangan pemberontak! Sedangkan engkau dan aku sendiri mengatur pasukan dari sini setelah kita besok menghadap Kaisar untuk melaporkan gerakan pemberontak Kim Bouw Sin itu. Namun hati-hatilah, jangan keliru bicara menyebut nama dua orang pangeran tua. Hal itu akan membikin marah Kaisar yang masih percaya kepada mereka sebagai adik- adiknya.”

Jenderal Kao mengangguk-angguk. Memang kemarahannya disebabkan oleh dua hal. Pertama-tama tentu saja karena dia merasa sudah ditipu. Orang menggunakan Kaisar untuk memanggil dirinya keluar dari benteng dan biar pun pihak pemberontak gagal membunuhnya di tengah jalan, mereka telah berhasil membebaskan Kim Bouw Sin yang tentu saja akan menarik sebanyak mungkin pasukan dibawah pimpinannya! Hal kedua yang membuat dia marah saking cemasnya adalah nasib Syanti Dewi yang ditinggalkan sendirian di dalam benteng!

Kian Lee dan Kian Bu berangkat meninggalkan kota raja setelah menerima pesan dari Puteri Milana dan Jenderal Kao. Mereka diberi tanda-tanda pengenal sebagai pembantu Jenderal Kao dan pembantu Puteri Milana agar tidak mengalami kesulitan di dalam perjalanan, karena dalam keadaan kacau dan gawat itu, perjalanan ke utara tentu amat sukar dan terdapat banyak rintangan berbahaya.

Dua orang pemuda Pulau Es ini melakukan perjalanan dengan terpaksa. Sebetulnya mereka tidak tahu apa-apa tentang pertentangan antara kerajaan dan pemberontak itu, dan hal itu pun tidak menarik hati mereka. Semenjak kecil mereka berada di Pulau Es dan tidak pernah mendengar atau tahu akan keadaan pemerintahan, maka kekacauan yang terjadi ini hanya menjemukan hati mereka. Akan tetapi, karena ada kakak mereka, Puteri Milana yang langsung tersangkut, mereka melakukan tugas itu sebagai perintah kakak mereka dan hal ini tentu saja menyenangkan hati mereka karena mereka merasa berguna bagi kakak mereka itu. Selain itu, juga sebagai dua orang muda remaja, mereka masih haus akan pengalaman.

Di sepanjang perjalanan yang mereka lakukan dengan cepat itu, di setiap dusun dan kota, Kian Lee selalu mengajak adiknya untuk berputar kota lebih dulu. Dan biar pun diam-diam, Kian Bu maklum bahwa kakaknya ini mencari seseorang atau setidaknya menyelidiki seseorang, dan seseorang itu pun telah dia ketahui siapa.

Karena mereka mendapat tugas untuk menyelamatkan Syanti Dewi yang oleh Jenderal Kao ditinggalkan di dalam bentengnya, maka dua orang kakak beradik itu langsung menuju ke kota benteng itu dan ketika mereka tiba di kota itu, kota yang dikelilingi benteng amat kuatnya, mereka mendengar berita yang amat mengejutkan hati. Mereka berdua telah bercampur dengan rakyat yang menjadi panik, pengungsi- pengungsi yang kebingungan, ada yang mengungsi keluar dari kota, akan tetapi ada pula yang malah mencari perlindungan di kota itu sehingga keadaan kota itu ramai sekali dengan para pengungsi yang hilir mudik. Tampak tentara berseliweran di setiap tempat dan suasana tegang terasa di dalam kota itu.

Ternyata kota benteng itu telah terjatuh ke tangan kaum pemberontak! Setelah Jenderal Kao pergi ke kota raja, beberapa malam kemudian timbul keributan di dalam benteng. Panglima Kim Bouw Sin dilepaskan orang-orang lihai dari penjara, kemudian panglima itu menggunakan pengaruhnya untuk menguasai pimpinan. Para panglima dan perwira yang menentangnya dibunuh karena pada malam hari itu juga banyak muncul orang-orang pandai di kota itu, juga pasukan istimewa dari kaum pemberontak tahu-tahu telah memasuki kota.

Gegerlah keadaan di situ. Pasukan yang masih setia kepada Jenderal Kao atau kepada kerajaan tentu saja tidak sudi dikuasai pemberontak, akan tetapi karena Jenderal Kao tidak ada dan para penglima dan perwira yang masih setia telah dibunuh, yang masih hidup telah menakluk kepada pemberontak, maka pasukan-pasukan itu kehilangan pegangan dan mereka lalu melarikan diri keluar dari benteng, lari ke selatan! Mereka tidak mampu mengadakan perlawanan tanpa ada yang memimpin mereka. Lebih dari tiga perempat jumlah pasukan yang berada di benteng itu melarikan diri, tersebar tidak karuan di daerah selatan dari benteng itu.

Berita ini tidak begitu diperhatikan oleh Kian Lee dan Kian Bu, tetapi mereka terkejut sekali ketika mendapat keterangan bahwa Puteri Syanti Dewi yang berada di benteng itu telah lenyap tanpa ada yang tahu ke mana! Bahkan tidak ada yang tahu bahwa puteri itu adalah Syanti Dewi, hanya kedua orang kakak beradik ini mendengar bahwa Jenderal Kao mempunyai seorang anak angkat atau anak keponakan perempuan yang berada di benteng itu dan yang ternyata lenyap tanpa ada yang tahu ketika terjadi kerlbutan di benteng itu.

“Wah, celaka, kita harus mencarinya, Lee-ko!”

“Hemm, mencari ke mana? Kita tidak tahu dia lari atau dilarikan ke mana.”

“Jangan-jangan dia terjatuh ke tangan pemberontak! Bagaimana kalau kita menyerbu ke benteng dan mencarinya di sana?”

“Terlampau berbahaya, Bu-te. Penjagaan tentu ketat sekali. Pula, mengingat akan cerita Jenderal Kao, andai kata Puteri Syanti Dewi terjatuh ke tangan pemberotak sekali pun, agaknya dia tidak akan diganggunya, bahkan mungkin diantarkan kepada Pangeran Liong Khi Ong, calon suaminya. Dan kita sudah menyelidiki cukup teliti, baik dari pihak yang pro pemberontak mau pun yang anti. Mereka menceritakan berita yang sama bahwa puteri itu lenyap di dalam keributan.”

“Habis, apa yang harus kita perbuat sekarang?”

“Tidak ada lain jalan, kita kembali ke kota raja dan di sepanjang perjalanan kita harus memasang mata dan telinga, mencari-cari barangkali puteri itu melarikan diri bersama para pengungsi. Andai kata tidak berhasil, kita kembali dan melapor kepada Enci Milana dan Jenderal Kao tentang keadaan di benteng ini.”

“Tetapi aku masih menduga bahwa agaknya Sang Puteri ditawan oleh pemberontak. Menurut penuturan Enci Milana, Panglima Kim yang memberontak itu kini bermarkas di kota Teng-bun, sebaiknya kalau kita mengambil jalan melalui pusat pemberontak itu, sambil mencari-cari.”

“Baiklah, Bu-te.”

“Lee-ko, sudah jelas bahwa aku akan mencari Puteri Syanti Dewi untuk memenuhi perintah Enci Milana, akan tetapi agaknya yang kau cari adalah puteri lain lagi, bukan Syanti Dewi.”

“Hemmm, maksudmu…?”

“Engkau mencari adiknya, Candra Dewi atau Lu Ceng!”

Wajah Suma Kian Lee menjadi merah. “Bu-te! Sekarang bukan waktunya main-main!”

Melihat kakaknya marah, Kian Bu tidak berani menggoda lebih lanjut lagi dan keduanya lalu keluar dari kota benteng itu dengan aman karena mereka mencampurkan diri di antara rombongan para pengungsi. Hanya mereka yang masuk kota itu yang digeledah oleh para penjaga pemberontak, yang keluar dari situ hanya diawasi saja penuh perhatian.

Kota Teng-bun yang dimaksudkan sebagai pusat atau markas besar para pemberontak itu terletak agak ke barat, merupakan kota yang dikelilingi tembok benteng kokoh kuat dan terletak di lereng bukit, dikelilingi perbukitan sehingga merupakan tempat yang sukar untuk diserbu dari luar. Karena mereka ingin menyelidiki tempat ini kalau-kalau Syanti Dewi dibawa oleh pemberontak ke tempat itu, kedua kakak beradik ini membelok ke barat. Perjalanan menjadi sunyi karena arus pengungsi semua menuju terus ke selatan atau ke utara dan timur, tidak ada yang ke barat karena semua orang menjauhi Teng-bun yang sewaktu-waktu tentu akan menjadi medan perang.

Pada suatu hari mereka tiba di sebuah dusun yang kelihatan aman dan tenteram, masih agak jauh dari Teng-bun. Di luar dusun itu terdapat perkemahan tentara, yaitu pasukan yang masih setia kepada kerajaan, dipimpin oleh seorang panglima bawahan Jernderal Kao yang mempertahankan atau menjaga daerah itu sebagai daerah terdepan di sebelah barat, bahkan paling depan atau paling dekat dengan Teng- bun, pusat pemberontak. Panglima Thio Luk Cong itulah yang mengutus penyelidik Puteri Milana untuk cepat pergi ke kota raja melapor kepada Puteri Milana tentang gerakan pemberontak yang menguasai benteng dan yang kini berpusat di Teng-bun itu. Dia sendiri bersama pasukannya lalu menetap di luar dusun Ang-kiok-teng itu untuk berjaga-jaga sambil menanti bala bantuan yang pasti akan datang dari kota raja.

Ketika Kian Lee dan Kian Bu memasuki dusun itu, penduduk dusun kelihatan tenang-tenang saja karena memang pasukan Panglima Thio melakukan penjagaan yang ketat dan menjaga keamanan dengan baik. Juga jumlah pasukan makin bertambah saja karena banyak pula di antara anggota pasukan dari benteng Jenderal Kao yang melarikan diri, tiba di tempat itu dan segera menggabungkan diri dengan pasukan Panglima Thio Luk Cong.

“Aku lelah sekali, Lee-ko. Mari kita beristirahat dulu di rumah penginapan.”

Kian Lee menyetujui permintaan adiknya. Memang mereka telah melakukan perjalanan jauh yang tidak berhenti, dan tadi pun begitu memasuki dusun, Kian Lee sudah lantas melakukan kebiasaannya berputar dusun untuk mencari… Lu Ceng, karena benar seperti yang pernah dikatakan Kian Bu, pemuda ini lebih mementingkan mencari Lu Ceng dari pada mencari Syanti Dewi!

Rumah penginapan di dusun itu kosong karena memang tidak ada pengunjung datang di dusun itu. Dengan mudah mereka memperoleh sebuah kamar. Kian Lee duduk di bangku dan Kian Bu segera merebahkan diri di atas pembaringan sambil memijit-mijit pahanya yang terasa lelah sekali.

Pelayan penginapan itu masuk membawa teh panas untuk tamu baru ini, membungkuk hormat sambil meletakkan poci dan cawan di atas meja. Melihat Kian Bu rebah memijit-mijit pahanya, dengan ramah dia bertanya, “Engkau lelah sekali, Kongcu?”

“Wah, kakiku lelah sekali…” Kian Bu menjawab, tertarik oleh keramahan pelayan itu, tidak mempedulikan pandang mata kakaknya yang penuh curiga.

“Kebetulan sekali, di dekat sini terdapat seorang ahli pijat yang pandai, Kongcu. Dia seorang yang buta matanya, akan tetapi setiap jari tangannya bermata dan dapat mencari semua kelelahan Kongcu dan mengusirnya.”

Kian Bu tertawa. “Begitukah? Coba panggil dia ke sini dan suruh dia mengusir kelelahan kakiku ini!” “Baik, baik, Kongcu, kau tunggu sebentar.” Bergegas pelayan itu pergi dari kamar itu.
Setelah pelayan itu pergi, Kian Lee menegur adiknya, “Bu-te, engkau ini ada-ada saja! Aku lihat sikap pelayan itu amat mencurigakan seolah-olah dia terlalu memperhatikan kita.”

“Aihh, Lee-ko, aku memang lelah sekali, kalau memang betul tukang pijat itu pandai, apa sih salahnya kalau dia menghilangkan kelelahanku? Dan pelayan itu adalah seorang yang ramah, agaknya girang dia karena akhirnya rumah penginapan yang sunyi dan kosong ini memperoleh tamu juga.”

Tak lama kemudian pelayan itu sambil tersenyum-senyum datang lagi memasuki kamar menuntun seorang kakek buta yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih. “Kongcu mana yangg merasa lelah kakinya?” Kakek itu bertanya dengan suaranya yang lemah dan agak gemetar.

Pelayan itu menuntunnya mendekati pembaringan Kian Bu. “Inilah Kongcu yang ingin kau pijat kakinya, Lo- sam!” kata Si Pelayan.

Kakek buta itu menjulurkan tangan meraba-raba. Takut kalau kakek itu meraba yang bukan-bukan, Kian Bu lalu menangkap tangan itu dan mendekatkannya ke arah kakinya sambil berkata, “Di sini kakiku, Lopek.”

Kakek itu meraba-raba kaki Kian Bu, melepaskan tongkatnya ke atas lantai sambil berkata, “Hemmm…, hemmm… kasihan kedua kakimu, Kongcu. Tentu sedikitnya telah lima hari dipergunakan untuk berjalan kaki terus-menerus siang malam. Otot-ototnya sampai menegang dan keras begini.”

Mulailah dia memijit-mijit kaki Kian Bu dan pemuda ini harus mengaku bahwa tukang pijit itu amat pandai memijit. Jari-jari yang berkulit halus itu dengan lembutnya memijit-mijit dan meraba-raba tepat pada otot- otot besar sehingga mengendurkan otot-otot yang tegang dan melancarkan kembali jalan darah. Juga terasa enak menyenangkan. Tidak terlalu dilebih-lebihkan ucapan pelayan tadi. Tukang pijat ini benar pandai, biar pun matanya buta namun jari-jari tangannya seperti mempunyai mata yang dapat mencari otot-otot kakinya.

“Lee-ko, sebaiknya engkau juga menyuruh dia memijit kakimu. Enak sekali dan dapat melenyapkan lelah,” Kian Bu berkata.

“Ah, aku tidak begitu lelah, Bu-te. Dipakai beristirahat sebentar saja pun akan pulih,” jawab kakaknya.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk orang dan ternyata Si Pelayan tadi yang masuk, diiringkan oleh seorang tentara berpangkat perwira yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih, berkumis pendek dan berwajah ramah.

“Maafkan jika saya mengganggu, Ji-wi Kongcu. Ciangkun ini datang karena diutus oleh panglima untuk memanggil tukang pijit!”

“Ah, bagaimana ini? Aku belum selesai dipijit!” Suma Kian Bu berseru.

“Tidak mengapa, saya bisa menanti sebentar sampai engkau selesai dipijit, orang muda. Komandan kami bukan seorang yang keras, dan tentu beliau suka menunggu, apa lagi sekarang beliau sedang menjamu dua orang tamu yang agaknya merupakan tamu agung yang amat penting.”

Kian Lee jadi tertarik. Dalam suasana seperti sekarang ini, setiap peristiwa mengenai komandan pasukan yang menerima tamu merupakan hal yang penting.

“Siapakah tamu-tamu agung, itu, Ciangkun?”

Perwira itu agaknya senang bercerita. Dia duduk di atas bangku dan menerima suguhan teh panas dari pelayan, minum tehnya lalu berkata, “Kami semua tidak mengenal siapa adanya dua orang itu. Yang seorang laki-laki setengah tua, pakaiannya biasa saja seperti seorang petani sederhana, akan tetapi orang kedua adalah seorang gadis yang luar biasa cantiknya. Biar pun pakaian gadis itu pun sederhana, namun kecantikannya sungguh sukar dicari bandingannya…”

“Berapa kira-kira usia gadis itu dan bagaimana perawakannya?” Tiba-tiba Kian Lee bertanya, otomatis dia tertarik sekali dan membayangkan Ceng Ceng.

“Ah, tentu tidak akan lebih dari tujuh belas tahun, akan tetapi sikap dan sinar matanya seperti seorang wanita yang sudah matang dan dewasa, bentuk tubuhnya ramping, air mukanya angkuh dan agung, pendiam…”

Jantung di dalam dada Kian Lee berdebar. Tentu Lu Ceng gadis itu! Kian Bu juga menduga demikian dan diam-diam dia melirik kepada kakaknya.

“Apakah komandanmu suka pijit, Ciangkun?” tanya Kian Lee.

“Sebetulnya tidak, akan tetapi beliau mendengar berita dari anak buah bahwa di dusun ini kedatangan seorang tukang pijit yang pandai. Beliau tertarik dan menyuruh saya datang menjemputnya.”

Kian Bu sejak tadi diam saja, lalu berkata kepada tukang pijit itu, “Sudah cukup, Lopek. Kau kuharap menanti di luar, aku hendak bicara penting dengan Ciangkun ini.”

Kian Bu berteriak memanggil pelayan tanpa memberi kesempatan kepada Kian Lee yang memandangnya dengan heran itu untuk mengeluarkan suara, kemudian minta kepada pelayan untuk mengantar tukang pijit itu keluar dan menanti mereka di sana.

Setelah pelayan dan tukang pijit itu keluar, barulah dia berkata kepada perwira itu, “Ciangkun, terpaksa aku menyuruhnya keluar karena apa yang akan kukatakan ini tidak enak untuk dia. Berita bahwa dia pandai memijat itu bohong sama sekali. Pijitannya tidak enak sama sekali. Dia tidak tahu tentang otot-otot dan orang yang kelelahan kalau dipijit olehnya akan menjadi makin lelah. Komandanmu akan marah kalau dipijat oleh dia.”

“Kalau begitu, kenapa engkau membiarkan dirimu dipijit olehnya, orang muda?”

Kian Bu tertawa. “Engkau tidak mengerti, Ciangkun. Ketahuilah bahwa kami dua kakak dan adik adalah keturunan tukang pijit yang amat pandai, bahkan kakek kami dahulu biasa memijiti Kaisar dan keluarganya! Sebagai ahli-ahli pijat, ketika tadi mendengar bahwa di sini terdapat seorang tukang pijat pandai, tentu saja kami tertarik dan ingin mengujinya. Kiranya dia hanya tukang pijit yang ngawur saja. Orang seperti itu hendak kau suruh memijati komandanmu? Ah, engkau akan mendapat marah, Ciangkun.”

Perwira itu memandang dengan curiga dan tidak percaya. “Dia sudah tua, dan lagi buta, sudah pantas kalau menjadi tukang pijat yang pandai. Akan tetapi kalian? Orang-orang muda begini… mana bisa memijat…?”

“Ha-ha, ucapan seperti itu, keheranan itu sudah sering sekali kami dengar, dan orang tidak akan percaya sebelum membuktikannya sendiri. Nah, sebaiknya kau coba sendiri, Ciangkun. Kami tidak membohongimu, ke sinilah, dan biar kau rasakan pijatan ajaib dari tanganku.”

Dengan pandang mata masih tidak percaya perwira itu tersenyum menghampiri lalu duduk di atas pembaringan Kian Bu. Pemuda itu lalu mulai memijati kedua pundak dan tengkuknya. Tentu saja diam- diam dia mengerahkan sedikit tenaga Hwi-yang Sinkang sehingga perwira itu merasa betapa ada hawa yang hangat mendatangkan nikmat menyelusuri tubuhnya, dan betapa jari-jari tangan pemuda itu dengan amat tepat menyentuh otot-ototnya sehingga sebentar saja dia terasa keenakan, tubuhnya terasa nyaman dan kantuk mulai menyerangnya, membuat matanya meram melek!

“Nah, bagaimana rasanya, Ciangkun?” Kian Bu bertanya dan menghentikan pijatannya.

Perwira itu terbangun dari keadaan setengah pulas dan terkejut. “Aihhh, benar hebat sekali engkau, orang muda. Pijatanmu amat hebat dan luar biasa sekali, terasa oleh seluruh tubuh, menghilangkan capai dan membuat aku mengantuk. Dan saudaramu ini pun mahir?”

“Kakakku ini malah lebih pandai dari pada aku, Ciangkun. Kalau engkau suka mengajak kami berdua ke sana, tentu komandanmu akan puas sekali dan memujimu.”

Mendadak sikap perwira itu berubah. Pandang matanya tajam menyelidik ketika dia bertanya, “Orang muda, kenapa engkau ingin sekali ikut dengan aku ke perkemahan kami?”

Sebetulnya, kalau mereka berdua memperlihatkan surat kuasa dari Jenderal Kao dan Puteri Milana, tentu perwira itu segera akan tunduk dan taat. Akan tetapi mereka tidak ingin sembarang orang mengenal bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Jenderal Kao atau Puteri Milana, dan kalau tidak perlu sekali, mereka tidak akan sembarangan memperkenalkan diri.

“Ciangkun, harap kau tidak mencurigai kami kakak dan adik,” tiba-tiba Kian Lee yang mengerti akan maksud adiknya agar mereka dapat dibawa ke perkemahan untuk melihat apakah dara yang diceritakan tadi benar-benar Ceng Ceng atau bukan, segera berkata meyakinkan,

“Sesungguhnya biar kami adalah ahli-ahli pijat, kami tidak menggunakan kepandaian kami untuk mencari uang. Akan tetapi… terus terang saja, kami telah kehabisan. Kami meninggalkan kota benteng di Khi-ciang yang sedang geger, pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan semua milik kami, hanya membekal uang dan pakaian seadanya. Akan tetapi di tengah jalan, kami kehabisan uang. Tadi mendengar bahwa komandan Ciangkun suka dipijit, adikku langsung menawarkan diri sebab komandanmu tentu suka membayar mahal, belum lagi para perwira yang membiarkan kami memijatnya, tentu akan dapat kami mengumpulkan sedikit uang untuk bekal perjalanan.”

Perwira itu mengangguk-angguk. “Baiklah, memang aku sudah membuktikan sendiri kemampuanmu memijat. Akan tetapi, tukang pijit buta itu pun harus kubawa agar jangan aku mendapat marah dari komandan.”

Maka berangkatlah perwira itu bersama Kian Lee, Kian Bu, dan tukang pijit buta yang digandeng oleh pelayan. Karena rumah penginapan itu sedang sepi, Si Pelayan boleh mengantarkan si tukang pijat buta untuk nantinya sekedar mendapat persen, karena memang Si Buta itu harus ada pengantarnya.

Demikianlah, dengan amat mudahnya mereka memasuki benteng perkemahan pasukan yang dipimpin oleh komandan Panglima Thio Luk Cong itu. Akan tetapi ternyata penjagaan dilakukan amat ketat dan tidak mudahlah bagi kedua orang kakak beradik itu dapat bertemu dengan dara yang diceritakan tadi. Bahkan tidak mudah pula bagi mereka untuk dapat bertemu dan memijat panglima yang masih bercakap-cakap di kamar tamu dengan dua orang tamu agungnya. Sambil menanti keluarnya Sang Panglima, mereka itu diuji dulu oleh para perwira tinggi yang menaruh curiga.

Diam-diam Kian Bu merasa mendongkol. Dia ingin agar mereka segera dapat bertemu dengan komandan dan terutama sekali dengan dua orang tamu, orang setengah tua dan dara yang diceritakan tadi. Dia tahu bahwa betapa kakaknya sudah panas dingin membayangkan bahwa gadis itu tentulah gadis yang dicarinya, karena selain Lu Ceng siapa yang memiliki kecantikan demikian hebat dan diterima sebagai tamu agung oleh seorang panglima?

Akan tetapi para perwira tinggi yang menyambut mereka demikian bercuriga, maka dia lalu mendemonstrasikan kepandaiannya memijit! Seorang perwira dipijitnya, dan tiga kali raba saja dia telah memijit dengan tepat dan perwira itu pun tidur pulas!

Hal ini mengherankan banyak perwira. Beberapa orang maju lagi dan kini Kian Lee terpaksa mengikuti jejak adiknya. Beberapa kali dua orang kakak beradik ini memijit para perwira dan sebentar saja mereka sudah tidur nyenyak di atas kursi!

Seorang perwira tinggi bertubuh kurus memasuki ruangan yang ramai oleh gelak tawa para perwira ini. Dia adalah wakil panglima, bernama Louw Kit Siang, seorang ahli lweekeh yang tentu saja menjadi curiga menyaksikan sepak-terjang dua orang ‘tukang pijat’ muda itu. Cepat dia melangkah maju dan berkata kepada Kian Bu, “Hemmm, semuda ini sudah memiliki kepandaian memijat yang luar biasa! Coba engkau memijati tubuhku yang capai-capai!”

Melihat wakil panglima sendiri maju, semua perwira menjadi gembira dan ingin menyaksikan wakil panglima itu pun kepulasan di kursi. Louw Kit Siang duduk di atas kursi itu dan mengulurkan lengan kanannya. “Nah, kau pijitlah lengan kananku ini.”

Lengan itu kurus tinggal tulang dan kulitnya saja. Kian Bu cepat duduk berhadapan dengan wakil panglima itu dan memegang lengannya. Dia makin mendongkol. Mengapa Sang Panglima dan dua orang tamunya belum juga muncul? Melihat Si Kurus yang menantang ini, tahulah dia bahwa Si Kurus ini memiliki sedikit kepandaian maka dia cepat mengerahkan tenaganya. Tepat seperti diduganya, dari lengan wakil panglima itu keluar getaran tenaga lweekang yang cukup kuat, yang seolah-olah hendak melawan dan menahan saluran Hwi-yang Sinkang yang hangat dari telapak tangannya.

Louw Kit Siang terkejut bukan main ketika dia merasa betapa dari jari tangan pemuda itu keluar hawa yang amat hangat dan kuat, yang menerobos memasuki tubuhnya melalui lengannya. Dia mengerahkan tenaganya menangkis dan melawan, namun sukar untuk membendung tenaga yang hangat itu.

Mereka bersitegang dan berkutetan tanpa diketahui orang lain kecuali Kian Lee yang memandang penuh perhatian. Akan tetapi, akhirnya Louw Kit Siang kalah juga. Biar pun memakan waktu tiga empat kali lebih lama dari pada para perwira yang telah tertidur, akhirnya dia menguap dan tertidur pulas di atas kursinya, diiringi suara ketawa para bawahannya!

Tetapi, hanya sebentar saja wakil panglima itu tertidur. Tiba-tiba dia sudah terbangun lagi dan cepat dia meloncat sambil mencabut pedangnya dan berteriak, “Tangkap mereka! Dua orang ini mencurigakan, siapa tahu mereka adalah mata-mata musuh!”

Semua perwira cepat mencabut senjata dan mengurung, sambil membangunkan mereka yang tadi tertidur pulas sehingga merasa gelagapan dan panik, akan tetapi cepat mereka itu mencabut senjata pula dan ikut mengepung. Kian Lee dan Kian Bu tenang-tenang saja, karena memang inilah yang dikehendaki Kian Bu yang sudah tidak sabar lagi, menimbulkan kegemparan untuk memancing keluarnya Sang Panglima dan terutama dara itu!

“Menyerahlah kalian untuk kami tangkap!” Panglima Louw Kit Siang membentak. “Kami hanya mau menyerah kepada Panglima sendiri!” Kian Bu menjawab.
“Aku sudah berada di sini!” Tiba-tiba terdengar suara dan muncullah seorang panglima bertubuh kurus tinggi dan berjenggot pendek, wajahnya gagah dan keras, diikuti oleh seorang laki-laki setengah tua dan seorang dara yang cantik jelita.

Semua perwira segera mundur ketika melihat komandan mereka keluar. Tentu saja di depan komandan mereka, para perwira ini tidak berani berbuat sembrono dan hanya menanti perintah.

“Orang muda, siapakah kalian? Dan perlu apa kalian hendak bertemu dengan aku?” Panglima Thio Luk Cong bertanya dan suaranya menggeledek penuh wibawa.

Akan tetapi Kian Lee dan Kian Bu tidak menjawab, hanya memandang kepada dara itu dengan mata terbelalak, terpesona. Kian Lee memandang dengan penuh kekecewaan karena biar pun ada persamaan antara dara ini dengan Ceng Ceng, namun wajahnya berbeda sekali. Jelas bahwa dara itu bukan Ceng Ceng yang dicari dan diharapkannya akan dapat dia jumpai di dalam benteng perkemahan ini. Sedangkan Kian Bu juga terus memandang dengan mata terbelalak karena pemuda ini benar-benar terpesona oleh kecantikan dara itu.

Pandang matanya seperti melekat pada wajah itu, sukar untuk dialihkan dan jantungnya berdebar keras. Hatinya jungkir balik karena selama hidupnya di antara sekian banyak dara cantik jelita yang dijumpainya, belum pernah dia melihat seorang dara secantik ini!

Seperti bidadari dari kahyangan yang baru saja turun dari langit! Biar pun berbeda dasarnya, namun kakak beradik ini tidak mendengar pertanyaan menggeledek dari panglima itu dan tanpa menoleh mereka terus memandang dara itu yang agaknya merasa betapa dua orang pemuda tampan itu memandang kepadanya, maka dia lalu menundukkan mukanya dengan alis berkerut dan kedua pipi kemerahan.

“Hei, Thio-ciangkun telah bertanya kepada kalian!” Louw Kit Siang membentak marah.

“Oh, maaf…” Kian Lee berkata sambil menyentuh lengan adiknya yang masih saja terus terlongong memandang dara itu. “Maaf, Tai-ciangkun. Kami dua kakak beradik adalah tukang-tukang pijit yang diundang ke sini, akan tetapi entah mengapa, setelah memijiti banyak perwira, kami hendak ditangkap.”

“Tai-ciangkun, mereka bukanlah tukang-tukang pijit sembarangan. Mereka mempunyai kepandaian tinggi dan tentu mereka adalah mata-mata!”

“Ihhh, orang yang ketakutan selalu mencurigai siapa saja!” Kian Bu berkata sambil melirak-lirik ke arah dara yang masih menundukkan mukanya itu.

“Begitukah?” Panglima Thio membentak. “Hemm, hendak kucoba sendiri. Orang muda, cobalah engkau memijiti lenganku!”

“Boleh kalau Tai-ciangkun menghendakinya,” Kian Bu berkata tenang. “Silakan duduk di sini.” Dia menunjuk ke arah bangku di dekat meja dan sengaja dia duduk menghadapi ke arah dara itu agar selalu dapat memandangnya!

Akan tetapi sebelum panglima itu melangkah maju, orang setengah tua yang menjadi tamunya dan yang tadi berdiri dengan tenang di belakang dara jelita itu, melangkah maju dan berkata halus, “Biarkanlah saya yang dipijitnya, Ciangkun, karena saya pun merasa agak lelah.” Dia lalu duduk di atas bangku dekat meja, menyingsingkan lengan bajunya, menaruh tangan kiri di atas meja dan mengulurkan lengan kanannya kepada Kian Bu sambil berkata, “Nah, kau pijitlah lenganku, orang muda yang baik.”

Melihat wajah dan sikap orang setengah tua ini, diam-diam Kian Bu tidak berani berbuat sembarangan. Orang tua ini biar pun kelihatan amat sederhana dalam pakaian, sikap dan kata-katanya yang halus, namun ada sesuatu yang mengejutkan hatinya terpancar dari sinar matanya. Dan dia pun sudah dapat menduga bahwa seorang yang diterima sebagai seorang tamu agung oleh komandan itu, tentulah bukan orang sembarangan pula. Maka dia tidak berani main-main dan ingin memijit biasa saja, memijati otot-otot lengan itu agar orang ini merasa nyaman dan hilang kelelahannya.

Akan tetapi betapa kaget hati Kian Bu ketika dia mulai meraba dan mengerahkan tenaga memijat lengan itu, tiba-tiba ada getaran keluar dari lengan itu, getaran yang disertai hawa sinkang yang amat kuat! Panaslah hati Kian Bu. Hemm, kiranya orang ini memiliki juga kepandaian. Baiklah, kalau orang ini ingin mengadu sinkang, dia tidak akan mundur! Apa lagi, agaknya orang ini mengawal dara itu, dan dia harus dapat memamerkan kepandaiannya agar mendatangkan kesan kepada orang ini dan terutama bagi dara itu yang berdiri dengan muka agak khawatir menonton adu tenaga yang tidak nampak oleh orang lain itu.

Akan tetapi begitu Kian Bu mengerahkan tenaga sinkang-nya yang melalui jari-jari tangannya menekan lengan orang itu, pada saat yang sama orang itu pun mengerahkan sinkang dan bertemulah dua tenaga dahsyat yang tidak tampak oleh mata. Dua tenaga panas dari Hwi-yang Sinkang, yaitu tenaga inti api yang amat panas. Tenaga yang sama kuatnya dan sama pula panasnya! Kian Bu terkejut dan orang itu pun kaget sekali!

Akan tetapi dasar Kian Bu seorang pemuda yang tidak mau kalah oleh orang lain. Dia lupa bahwa dia berhadapan dengan seorang yang amat pandai, maka dia yang ingin mendemonstrasikan kepandaiannya, biar pun tidak langsung dan melalui orang ini, kepada dara cantik jelita itu, cepat mengerahkan seluruh sinkang-nya dan merubah hawa sinkang-nya. Kini dia mengeluarkan ilmu sinkang yang khas dari Pulau Es, yaitu Swat-im Sinkang (Tenaga Inti Salju)!

Kian Lee terkejut sekali. Melihat muka dan sikap adiknya. Dia sudah dapat mengerti bahwa adiknya itu mengeluarkan ilmu simpanan mereka ini, maka dia makin terheran dan memandang orang laki-laki setengah tua yang nampaknya juga terkejut ketika merasakan perubahan pada jari-jari tangan pemuda yang memijiti lengannya. Hawa sinkang yang amat dingin menggetar dengan dahsyatnya melalui jari-jari tangan itu.

“Uhhh…!” Terdengar suara ini dari laki-laki setengah tua itu dan tiba-tiba wajah Kian Bu berubah saking kagetnya.

Kiranya lawannya itu kini juga mengerahkan tenaga yang sama dinginnya! Tenaga mukjijat dan dahsyat yang mampu menandingi Swat-im Sinkang! Dan kedua tenaga itu kini saling dorong dan saling menindih, dan perlahan-lahan Kian Bu terdesak, mukanya makin pucat dan matanya mulai mengantuk!

“Bu-te, agaknya Locianpwe ini terlalu kuat untukmu. Biar engkau kubantu memijatnya!” Kian Lee yang mengikuti ‘pertandingan’ itu dapat melihat keadaan adiknya, maka timbul kekhawatirannya dan dia sudah mengulurkan tangannya untuk membantu.

“Cukuplah!” Laki-laki setengah tua itu mengerahkan tenaganya dan… kedua tangan Kian Bu seperti ditolakkan oleh tenaga mukjijat dan terlepas dari lengan orang itu yang segera bangkit berdiri, berpaling kepada Panglima Thio Luk Cong sambil berkata, “Ciangkun, marilah kita kembali ke kamar bersama kedua orang muda ini. Saya ingin bicara dengan mereka.”

Thio Luk Cong sendiri adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, namun dia tidak tahu jelas apa yang telah terjadi, hanya menduga-duganya saja bahwa tamunya itu tentu telah menguji kepandaian pemuda itu dan mendapatkan sesuatu yang amat penting. Maka dia mengangguk dan berkata kepada Kian Lee dan Kian Bu, “Orang-orang muda, silakan ikut bersama kami.”

Kian Lee dan Kian Bu mengangguk. Sekarang Kian Bu yang merasa girang sekali, sungguh pun dia juga ikut merasa kecewa demi kakaknya yang melihat bahwa dara itu bukanlah gadis yang dicari-carinya. Mereka berlima, Panglima Thio, laki-laki setengah tua, dara cantik jelita itu, Kian Lee dan Kian Bu, semua memasuki ruangan, diikuti pandang mata para perwira yang terheran-heran melihat sikap panglima komandan mereka.

Setelah mereka memasuki ruangan dan pintunya ditutup, laki-laki setengah tua itu langsung menghadapi Kian Lee dan Kian Bu sambil bertanya, suaranya sungguh-sungguh dan pandang matanya tajam penuh selidik, “Nah, orang-orang muda yang baik, sekarang katakan saja terus terang, siapakah kalian sesungguhnya?”

Kian Lee sudah dibisiki oleh adiknya ketika mereka berjalan masuk tadi betapa orang setengah tua itu mampu menghadapi Hwi-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang, maka dia menjura sambil berkata penuh hormat, “Kami kakak beradik adalah utusan-utusan dari Jenderal Kao dan Puteri Milana.”

“Aihhh…!” Laki-laki itu dan juga Panglima Thio berseru kaget.

“Ahhh, mengapa Ji-wi tidak berterus terang saja sehingga kami dapat menyambutnya dengan baik? Silakan duduk… dan mari kita bercakap-cakap dengan baik.” Panglima itu cepat berkata.

Mereka lalu duduk mengelilingi meja, dan betapa girangnya hati Kian Bu ketika melihat bahwa duduknya tepat berhadapan dengan dara itu sehingga kini dia dapat melihat dengan jelas betapa cantik jelitanya dara itu. Bukan main! Sampai-sampai dia menelan ludahnya sendiri dan sukarlah baginya untuk memindahkan pandang matanya dari mata itu, hidung dan bibir itu. Demikian luar biasa kecantikan gadis ini!

Kian Bu lalu bangkit berdiri dan menjura kepada orang laki-laki setengah tua tadi sambil berkata, “Harap Locianpwe maafkan saya yang lancang.”

Orang itu tersenyum dan tampaklah ketampanan wajahnya yang tersembunyi di balik kesederhanaan dan awan kedukaan yang menyelimuti wajahnya. “Tidak perlu bersikap sungkan, kalau tidak mengadu ilmu tidak saling mengenal kata orang. Dan sekali mengadu ilmu, agaknya aku dapat menduga siapa sebenarnya kalian. Kalau ada orang-orang muda yang memiliki sinkang seperti apa yang saya rasakan tadi, di dunia ini tentu hanya dimiliki oleh orang-orang muda yang mempunyai nama keturunan (she) Suma. Benarkah dugaanku ini?”

Suma Kian Bu memandang dengan mata terbelalak heran, akan tetapi Kian Lee segera bangkit dan menjura kepada laki-laki itu. “Dan kami berdua telah bersikap kurang hormat kepada Gak-suheng!”

Laki-laki itu bukan lain adalah Gak Bun Beng. Mendengar ini, dia tertawa, bangkit berdiri dan merangkul dua orang muda itu. “Kau anak nakal, siapa namamu, Sute?” tanyanya sambil memeluk pundak Kian Bu.

“Aih, kiranya Gak-suheng!” Kian Bu juga berseru girang bukan main. Tentu saja sudah lama dia mendengar nama ini disebut-sebut ayah bunda mereka, dan biar pun orang ini bukan langsung murid ayah mereka, namun karena pernah menerima ilmu dari ayah mereka, mereka menyebutnya suheng. “Namaku adalah Suma Kian Bu, Puteri Milana adalah kakak kandungku, dan ini adalah kakak Suma Kian Lee, putera dari ibu Lulu.”

“Ahhh…!” Panglima Thio berseru kaget mendengar Suma Kian Bu memperkenalkan diri sebagai adik kandung Puteri Milana. “Gak-taihiap… apakah benar bahwa kedua orang muda ini adalah… adalah… dari Pulau Es…?”

Gak Bun Beng mengangguk.

“Maaf… maaf… alangkah bahagia hatiku, dalam beberapa hari dikunjungi oleh orang-orang seperti Gak- taihiap dan Ji-wi Siauw-taihiap dari Pulau Es! Aih, kalau Pulau Es ikut turun tangan, aku yakin dalam waktu singkat saja semua pemberontak dapat dibasmi habis!”

Semua orang tersenyum mendengar ini, kecuali dara cantik jelita itu.

“Ji-wi Sute, tugas apakah yang kalian laksanakan sekarang ini sehingga kalian tiba di sini?”

“Kami ditugaskan untuk pergi ke kota benteng Khi-ciang, selain untuk melihat keadaan karena kabarnya kota itu sudah dirampas oleh pemberontak, juga untuk melindungi dan menyelamatkan seorang puteri yang bernama Syanti Dewi dan berada di benteng itu. Akan tetapi setelah kami tiba di sana, Sang Puteri lenyap tanpa ada yang tahu ke mana. Maka kami mencari-cari sampai ke sini, dengan maksud untuk mengunjungi Teng-bun mencari puteri itu…”

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar. Tanpa diperintah lagi, dua orang kakak beradik itu melesat dengan cepat bersama Gak Bun Beng. Ternyata tukang pijit yang buta dan pelayan rumah penginapan tadi, di waktu keadaan ribut-ribut ketika kedua orang kakak beradik itu hendak dikeroyok, telah menyelinap dan memasuki kamar kerja panglima! Ketika ketahuan, mereka mengamuk, membunuh empat orang perwira dan berhasil kabur sambil membawa catatan-catatan tentang keadaan di perkemahan itu, kekuatan pasukan dan rencana penjagaan!

Gak Bun Beng dan dua orang sute-nya cepat melakukan pengejaran, namun dua orang mata-mata pemberontak itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Panglima Thio cepat memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah rumah penginapan, akan tetapi pemilik rumah penginapan itu hanya menyatakan bahwa pelayan itu baru bekerja di situ selama satu bulan, dan pemijit buta itu pun baru beberapa hari berada di dusun itu sehingga tidak ada yang mengenalnya betul. Jelas bahwa kedua orang itu adalah mata-mata pemberontak!

Ketika memeriksa kamar kerjanya dan mendapatkan bahwa yang dicuri adalah catatan rahasia tentang kekuatan pasukan dan rencana penjagaan, Panglima Thio menjadi pucat wajahnya. “Jelas, ini tentu perbuatan mata-mata pemberontak yang berilmu tinggi. Keadaan kami di sini merupakan benteng pertama, kalau mereka tahu akan keadaan kami tentu mereka dapat ketahui kelemahan-kelemahan kami dan akan menghancurkan kami dengan mudah.”

“Mereka berdua tentu lari ke Teng-bun yang menjadi pusat pemberontak. Tidak perlu khawatir, Ciangkun, biarlah kami yang pergi menyelundup ke Teng-bun. Kami akan menyelidiki apa yang akan terjadi setelah mereka mencuri barang-barang rahasia itu.”

Wajah panglima itu berseri. “Kalau Sam-wi Taihiap sudi membantu, kami atas nama seluruh pasukan dan pemerintah menghaturkan terima kasih.”

“Ji-wi Sute, sekarang juga kita menyusul mereka, pergi menyelundup ke Teng-bun,” kata Gak Bun Beng kepada dua orang kakak beradik itu.

“Akan tetapi, Suheng. Kami harus mencari Puteri Syanti Dewi…,” Kian Lee membantah. “Tak perlu dicari lagi. Inilah dia!”
Dua orang kakak beradik itu terkejut bukan main. Dara cantik jelita itu, yang bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi, menjura sambil berkata manis. “Terima kasih atas bantuan kalian.”

Kian Bu lama termenung dan menatap wajah itu dengan bengong. Setelah kakaknya menyentuh lengannya, barulah dia sadar, menarik napas panjang meniru perbuatan kakaknya menjura dengan hormat kepada puteri itu, lalu berkata, “Tak kusangka… kiranya… kiranya… Sang Puteri… ahhh, sukurlah bahwa Anda selamat!”

Syanti Dewi membalas pandang mata pemuda yang dianggapnya nakal dan lucu itu sambil tersenyum dan berkata singkat dengan sikap manis, “Terima kasih.”

Hadirnya Syanti Dewi bersama Gak Bun Beng di tempat itu bukanlah hal yang aneh. Walau pun Gak Bun Beng telah meninggalkan kota Khi-ciang, yaitu kota perbentengan yang dikuasai oleh Jenderal Kao, akan tetapi hati pendekar sakti ini tidak rela secara menyeluruh meninggalkan puteri itu begitu saja. Dia percaya penuh akan perlindungan Jenderal Kao kepada Syanti Dewi, akan tetapi betapa pun juga, jenderal itu adalah seorang militer yang penuh dengan tugas-tugas berat, padahal keadaan sekarang amat berbahaya dengan adanya pemberontakan-pemberontakan itu.

Dia ingin pergi menyelidiki tentang Si Jari Maut yang telah menodakan namanya, akan tetapi hatinya tidak tega meninggalkan Syanti Dewi sehingga perginya tidaklah terlalu jauh dari Khi-ciang. Tiap malam bila dia tidak dapat tidur pulas dan gelisah memikirkan keadaannya, berulang kali dia pun menghela napas panjang. Mengapa dia tidak dapat melupakan Puteri Bhutan itu sejenak pun?

Mengapa wajah yang jelita itu terbayang terus di depan matanya dan mengapa pula dia seakan selalu mendengar suara tangis dara itu, mendengar pula suara gadis itu yang mengatakan cinta kepadanya? Mengapa setiap kali teringat akan ini, hatinya menjadi seperti ditusuk oleh keharuan yang membuat dia ingin sekali terbang ke tempat gadis itu untuk sekedar memandang wajahnya dan mendengar suaranya? Mengapa?

Cintakah ini? Dia tidak dapat menyangkalnya, karena perasaan ini dahulu hanya pernah dirasakan terhadap Milana, bahkan perasaan itu sampai sekarang masih berakar di hatinya. Belum pernah dia merasakan sesuatu seperti ini terhadap Milana dan kedua kalinya terhadap Puteri Bhutan itulah. Tetapi perasaan ini selalu hendak dibuangnya jauh-jauh, ditolak dan disangkalnya sendiri. Tidak boleh dia begitu lemah, membiarkan hatinya jatuh cinta kepada Syanti Dewi sungguh pun dia yakin bahwa gadis itu patut menjadi anaknya! Usianya sudah hampir empat puluh tahun dan Syanti Dewi belum ada dua puluh tahun! Mana mungkin?

Betapa pun juga, dia harus melihat puteri itu berada di tempat aman. Berada di kota raja atau sebaiknya berada di Bhutan, di istana ayahnya sendiri. Kalau Syanti Dewi masih berada di benteng Khi-ciang, berarti sewaktu-waktu puteri itu akan terancam bahaya. Karena inilah maka ketika Panglima Kim Bouw Sin yang telah menjadi tawanan itu dibebaskan kaki tangannya dan benteng diambil alih oleh panglima pembecontak ini dan kaki tangannya, Gak Bun Beng yang tidak berada di tempat terlalu jauh itu segera mendengarnya dan cepat dia menyelinap masuk ke dalam kota benteng Khi-ciang dan kedatangannya tepat sekali karena Puteri Syanti Dewi yang ikut pula melarikan diri belum diketahui oleh pihak musuh!

Pertemuan mengharukan pun terjadi ketika puteri yang ikut berlari bersama sebagian penduduk Khi-ciang itu tiba-tiba berhadapan dengan Gak Bun Beng.

“Paman…!” Dia menjerit dan di lain saat dia telah menangis di dalam pelukan Bun Beng.

“Tenanglah, mari kita cepat pergi dari tempat ini.” Bun Beng berbisik lalu mengajak puteri itu untuk cepat melarikan diri keluar dari kota benteng itu dan lari mengungsi ke selatan sampai akhirnya mereka tiba di dusun Ang-khok-teng, dan ketika Bun Beng mendengar bahwa Panglima Thio, komandan dari perkemahan di luar dusun itu adalah bawahan Jenderal Kao, dia langsung mengajak Syanti Dewi menemuinya. Panglima Thio sudah mendengar mereka dari Jenderal Kao, maka dia menyambut Gak Bun Beng sebagai tamu agung.

Demikianlah mengapa Gak Bun Beng dan Syanti Dewi tahu-tahu berada di situ dan tanpa disangka- sangkanya di tempat itu dia bertemu dengan kedua orang sute-nya, putera-putera dari Suma Han, Pendekar Super Sakti penghuni Pulau Es!

“Sebaiknya kita berangkat sekarang juga. Ini adalah tugas kalian sebagai utusan dari kota raja, akan tetapi aku akan membantu kalian sampai berhasil. Pertama, kita mencoba untuk mencari Si Buta itu, dan kedua kita melakukan penyelidikan tentang keadaan pemberontak di sana agar dapat kalian bawa sebagai laporan ke kota raja.”

“Baik, Suheng, kami siap berangkat,” jawab Kian Lee.

“Dewi, engkau tinggal di sini dulu, menanti sampai aku kembali…”

“Tidak… tidak, harap jangan tinggalkan aku sendirian lagi…. Biarkanlah aku juga ikut ke Teng-bun,” puteri itu menjawab sambil memandang Bun Beng dengan sinar mata penuh permohonan.

Pertemuannya kembali dengan Bun Beng seolah mendatangkan sinar kebahagiaan di hatinya. Biar pun dia tahu bahwa pendekar sakti yang dikagumi dan dicintanya itu tidak berani membalas cintanya karena Puteri Milana, dan walau pun selama pertemuan mereka sampai tiba di dusun Ang-kiok-teng dia tak pernah menyinggung soal cintanya, akan tetapi dia mengambil keputusan untuk tidak membiarkan dirinya ditinggalkan atau terpisah dari pendekar yang amat dikaguminya, dipercaya, dipuja dan dicintanya itu.

Pandang mata yang demikian penuh permohonan, demikian penuh arti seakan-akan pandang mata itu merupakan tanda penyerahan seluruh jiwa raga dan segala-galanya, membuat Bun Beng menunduk dan tidak mampu menjawab sampai lama.

“Kalau Sang Puteri ikut, kami akan… ikut melindunginya, Suheng,” tiba-tiba Kian Bu berkata penuh semangat.

Mendengar suara sute-nya ini, tiba-tiba timbul suatu harapan di dalam hati Bun Beng. Mengapa tidak? Dua orang sute-nya ini adalah dua orang pemuda yang hebat! Lihat, mana mungkin mencari dua orang muda sedemikian tampan dan gagahnya? Putera-putera Pendekar Super Sakti pula, selain tampan juga memiliki kepandaian yang amat hebat, bahkan dia sendiri tadi sudah mengukur betapa hebatnya kepandaian Kian Bu. Sepatutnyalah kalau Syanti Dewi berjodoh dengan seorang di antara mereka ini, bukan dengan dia! Dan Kian Bu, sute-nya ini agaknya begitu bersemangat ingin melindungi Syanti Dewi. Siapa tahu! Kian Bu adalah adik Milana, Kian Bu adalah cucu Kaisar, dan putera dari Puteri Nirahai!

“Baik!” Tiba-tiba dia berkata sehingga Syanti Dewi menjadi berseri-seri wajahnya dan menangkap tangan Gak Bun Beng dengan girang, kemudian menoleh kepada Kian Bu dengan senyum lebar sambil berkata, “Terima kasih!”

“Akan tetapi, engkau harus menyamar sebagai pria!” kata Gak Bun Beng.

“Saya kira tidak perlu demikian, Gak-taihiap.” tiba-tiba Panglima Thio berkata. “Menurut penyelidikan, biar pun Teng-bun telah direbut pemberontak, tapi kota itu masih terbuka bagi umum dengan adanya para pengungsi yang keluar masuk, tentu saja rakyat juga terpecah, ada yang pro dan ada yang kontra pemberontak. Hanya penjagaan di sana amat ketat sehingga sukarlah bagi penyelidik kami untuk memasukinya. Semua orang laki-laki digeledah dengan teliti, hanya wanita yang tidak mengalami penggeledahan hebat. Kalau Sang Puteri menyamar sebagai pria, dia tentu malah akan digeledah.”

“Wah, kalau begitu bagaimana baiknya, Thio-ciangkun?” Bun Beng bertanya kepada panglima yang tentu lebih paham akan bagaimana baiknya untuk memasuki tempat yang telah dikuasai oleh pemberontak.

“Hanya ada dua cara,” panglima itu menjawab tegas. “Pertama tentu saja menggunakan kepandaian Cu-wi yang begitu tinggi untuk menyelundup masuk secara sembunyi di waktu malam. Kedua, jalan yang lebih aman lagi mengingat bahwa Sang Puteri ikut bersama Sam-wi (Anda Bertiga), yaitu masuk secara terang- terangan di waktu siang bersama dengan para pengungsi yang lain. Akan tetapi Sam-wi akan mengalami penggeledahan yang amat teliti, maka kalau mengambil cara ini, surat-surat kuasa yang dibawa oleh Ji-wi Suma-taihiap sebaiknya dititipkan dulu kepada saya. Dan di antara dua cara itu baru dapat ditentukan oleh Sam-wi sendiri setelah melihat keadaan di sana karena tentu saja setiap hari bisa terjadi perubahan hebat.”

Kian Lee setuju dan segera meninggalkan dua surat kuasa dari Jenderal Kao dan dari Puteri Milana itu kepada Panglima Thio. Kemudian berangkatlah empat orang ini menuju ke Teng-bun, yang masih cukup jauh dari tempat itu, makan waktu perjalanan sampai dua hari. Tentu saja kalau mereka mempergunakan ilmu berlari cepat atau naik kuda, jarak itu dapat ditempuh tidak sampai satu hari. Akan tetapi mereka tidak berani mempergunakan ilmu karena hal ini tentu akan menarik perhatian orang, sedangkan kalau naik kuda, mana ada pengungsi bermewah-mewahan naik kuda?

Perjalanan dilakukan biasa saja, seperti orang-orang lain yang banyak terdapat di jalan-jalan sekarang, sebab perjalanan antara tempat yang dikuasai pemberontak dan tempat yang masih dikuasai pasukan pemerintah itu merupakan daerah pengungsian di mana para pengungsi setiap harinya hilir mudik seperti anak-anak ayam ketakutan dan mencari tempat perlindungan dari mara bahaya.

Di sepanjang perjalanan di bawah terik panas matahari dan banyak melalui lapangan tandus yang kering, amat melelahkan dan menyiksa badan ini, yang paling bergembira adalah Suma Kian Bu! Pemuda ini secara langsung saja sudah jatuh hati dan tergila-gila kepada Syanti Dewi! Dan sekali ini bukan kepalang tanggung! Tidak seperti biasanya, terhadap setiap orang gadis muda memang dia senang untuk dekat, senang untuk memandang dan mengagumi kecantikan orang, senang untuk bicara dengan gadis manis, berkenalan dan bersendau gurau. Akan tetapi terhadap Syanti Dewi ini Kian Bu merasakan sesuatu yang laln terjadi dalam hatinya! Tak pernah bosan-bosannya dia memandang wajah itu, mengikuti garis, bibir, hidung dan mata itu dengan pandang matanya, seolah-olah dia hendak melukis semua itu dengan pandang matanya, ingin menyentuh dan membelai segala keindahan itu dengan sinar matanya!

Ketika mereka melewati padang rumput yang bergerak-gerak seperti ombak samudera karena banyaknya dan besarnya angin, tanpa ragu-ragu lagi Kian Bu lalu melepaskan jubah luarnya yang lebar dan menyerahkannya kepada Syanti Dewi sambil berkata, atas nasehat Bun Beng kini menyebut ‘adik’ kepada Syanti Dewi karena mereka menyamar sebagai paman, dua orang kakak dan adik.

“Adik Syanti, kau pakailah ini. Angin terlalu besar, agar engkau jangan masuk angin.”

Wajah gadis itu menjadi agak merah karena dia merasa sungkan dan malu terhadap Bun Beng dengan kebaikan yang diperlihatkan pemuda ini. Akan tetapi Bun Beng yang melihat ini semua, melihat sikap Kian Bu sejak mula-mula bertemu, menaruh harapan besar dan sambil tersenyum dia berkata, “Dewi, terimalah. Kakakmu yang seorang ini memang baik sekali hatinya.”

Terpaksa Syanti Dewi menerima jubah itu, memakainya dan kembali mengucapkan ‘terima kasih’. Ucapan terima kasih yang telah diterimanya beberapa kali dari gadis ini semenjak bertemu, sangat tidak menyenangkan hati Kian Bu. Ucapan seperti itu hanya terasa mendatangkan kerenggangan dan kekakuan dalam hubungan yang baik, karena membayangkan kesungkanan hati.

“Tidak usah berterima kasih. Bukankah kita adalah orang-orang sendiri? Apa lagi dalam perjalanan ini engkau adalah adikku, kalau seorang kakak tidak mempedulikan adiknya, tentu malah mendatangkan kecurigaan!”

“Betul sekali! Betapa cerdas dan telitinya engkau, Bu-te. Tidakkah begitu, Adik Syanti? Adikku Kian Bu ini memang benar hebat, bukan?”

Nada suara Kian Lee menggoda yang ditujukan kepada Kian Bu, akan tetapi sekali ini Kian Bu malah melempar pandang penuh terima kasih kepada kakaknya itu. Malam itu mereka terpaksa melewatkan malam di dalam sebuah hutan bersama belasan orang pengungsi yang juga melakukan perjalanan. Kian Bu cepat-cepat membuat api unggun dan mempersilakan ‘adiknya’ duduk menghadapi api unggun.

Ketika Bun Beng dan Kian Lee menangkap dua ekor kelinci dan seekor ayam hutan dan Bun Beng menyerahkannya kepada Syanti untuk dipanggang, Kian Bu cepat-cepat mendahului gadis itu, menguliti bangkai-bangkai binatang itu dan baru menyerahkannya kepada Syanti Dewi setelah dia tusuk dengan bambu dan tinggal memegang untuk memanggangnya saja! Seolah-olah dia hendak menghindarkan gadis itu dari pekerjaan kasar atau berat. Bun Beng makin girang melihat perkembangan ini, sedangkan Kian Lee hanya tersenyum-senyum saja.

Apa lagi ketika dilihatnya Kian Bu dengan susah payah mencarikan air untuk gadis itu hanya karena melihat Syanti Dewi kotor tangannya sehabis makan dan mengusap-usapkan jari tangannya pada rumput, Kian Lee tertawa sambil membalikkan tubuh agar tidak terlihat oleh Syanti Dewi dan Kian Bu.

Malam itu, Syanti Dewi tidur bersandarkan pohon berselimut jubah panjang pemberian Kian Bu. Bun Beng tidur terlentang. Kian Lee juga bersandar pohon tak jauh dari situ. Kian Bu yang berkeras untuk berjaga lebih dulu duduk sambil menjaga api agar jangan sampai padam karena malam itu hawanya dingin sekali dan banyak nyamuknya. Hatinya girang sekali.

Dia telah menemukan seorang wanita yang memenuhi segala idaman hatinya! Akan tetapi dia termangu dan perasaannya tertekan ketika dia teringat akan cerita Jenderal Kao tentang gadis ini. Gadis ini adalah tunangan Pangeran Liong Khi Ong! Tunangan seorang di antara dua pangeran pemberontak! Pangeran yang kabarnya sudah berusia lima puluh tahun lebih itu, tua dan pemberontak pula. Mana mungkin dara seperti ini harus terjatuh ke dalam pelukan pemberontak tua bangka itu?

“Tidak boleh…!” Tiba-tiba dia memukul ke arah api dengan sebatang ranting sehingga abu mengepul ke atas dan api itu bergoyang-goyang.

“Apanya yang tidak boleh?” Syanti Dewi yang masih belum tidur dan duduknya tidak jauh dari api, terkejut dan bertanya.

Kian Bu menoleh, mukanya merah dan sejenak kehilangan kelincahannya karena dia sendiri terkejut bahwa suara hatinya sampai terlontarkan melalui mulut.

“Apanya yang tidak boleh, Bu-koko?” Syanti Dewi bertanya lagi.

“Ah, tidak apa-apa… aku… aku hanya melamun, maafkan kalau mengagetkan engkau, Moi-moi.”

Syanti Dewi tersenyum sendiri, memejamkan matanya. Pemuda ini seperti kanak-kanak. Memang masih kanak-kanak, pikirnya. Agaknya usia pun tidak mungkin lebih tua dari pada dia. Akan tetapi harus diakuinya bahwa Kian Bu adalah seorang pemuda yang tampan, dan berilmu tinggi, juga amat baik hati terhadapnya.

Sifatnya agak nakal, suka menggoda dan riang gembira, lincah dan jenaka. Betapa jauh bedanya dengan Kian Lee, yang pendiam dan serius, halus dan penuh hormat.

Tetapi keduanya memiliki segi-segi yang mengagumkan dan menyenangkan dalam sifat masing-masing. Hanya bedanya, Kian Lee menghadapinya dengan sikap menghormat dan sopan, tetapi Kian Bu jelas sekali memperlihatkan perhatian penuh dan rasa suka yang tidak disembunyi-sembunyikan! Pandang mata Kian Bu terhadapnya demikian penuh kekaguman, penuh rasa sayang. Kadang-kadang jantungnya terasa berdebar tegang dan dia merasakan sesuatu yang aneh. Heran dia mengapa Gak Bun Beng agaknya girang menyaksikan sikap Kian Bu sedemikian itu terhadap dirinya, bahkan dia merasa betapa pendekar yang dicintanya itu seperti mendorong-dorong dan memberi semangat kepada pemuda yang menjadi sute- nya itu!

Pada keesokan harinya, mereka kembali melakukan perjalanan. Kini perjalanan melalui pegunungan kapur yang gundul dan matahari siang hari itu panasnya bukan main! Kedua pipi Syanti Dewi sampai kemerah- merahan, basah dahi dan lehernya oleh peluh, hati Kian Bu merasa tidak tega sekali. Dari pagi tadi dia sudah berusaha dengan susah payah membuat topi caping dari bambu dan rumput alang-alang, dan kini biar pun bentuk topi buatannya itu kasar, namun lumayan juga untuk melindungi wajah cantik dengan kulitnya yang putih halus itu dari sengatan sinar matahari yang panas.

“Kau pakailah ini, lumayan untuk menahan sinar matahari,” katanya sambil memberikan caping yang sudah diberi tali anyaman rumput alang-alang itu kepada Syanti Dewi.

“Terima kasih, kau baik sekali,” kata Syanti Dewi yang menerima dan memakai topi itu di atas kepala.

Kian Bu memandang penuh kagum, kekaguman yang tidak disembunyikannya melihat betapa gadis ini makin cantik dan manis saja memakai topi buatannya! Padahal topi caping itu amat kasar dan bersahaja!

Rasa suka dan benci memang mengakibatkan perangai yang lucu dan aneh kepada manusia. Barang siapa merasa suka akan sesuatu, baik sesuatu itu benda mati atau hidup, baik benda tampak mau pun tidak, maka perasaan suka itu akan membuat sesuatu itu selalu kelihatan baik dan menarik, menyenangkan! Sebaliknya, perasaan benci membuat sesuatu yang dibenci itu terlihat selalu buruk dan tidak menyenangkan. Terutama sekali rasa suka dan benci terhadap seorang manusia lain.

Rasa suka membuat orang yang disuka itu dalam keadaan cemberut, kusut dan kotor atau bagaimana pun juga akan kelihatan makin menarik dan menyenangkan saja. Sebaliknya, rasa benci membuat orang yang dibencinya itu dalam keadaan tersenyum atau sudah bersolek bagaimana pun akan kelihatan buruk dan tidak menyenangkan! Ada kelakar yang mengatakan bahwa bau kentut seorang yang sedang disuka adalah harum. Sebaliknya, kalau seorang yang dibenci sedang tertawa wajar karena gembira, dianggap mentertawakan dan mengejek!

Rasa suka dan benci ini timbul dari pikiran yang berkeliling sekitar si pusat ialah si aku yang menciptakan prasangka dan lain-lain perasaan yang timbul dari keinginan si aku mengulang yang menyenangkan dan menghindarkan yang tidak menyenangkan. Si aku yang selalu haus akan kesenangan, baik kesenangan lahir mau pun batin, yang selalu ingin menjauhkan ketidak nikmatan yang tak menyenangkan, selalu ingin mengerahkan segala sesuatu di dunia ini demi kesenangan dirinya dan demi menjauhkan segala yang tidak menyenangkan bagi dirinya.

Karena itu timbullah suka dan benci. Suka akan sesuatu yang menyenangkan dirinya dan benci akan segala yang tak menyenangkan dirinya. Jika batin kita telah dipengaruhi oleh rasa suka dan tidak suka, senang akan sesuatu dan benci akan sesuatu, maka tidak ada lagi kewajaran, tidak ada lagi kebijaksanaan dan pasti selalu bermunculan pertentangan-pertentangan lahir batin.

Betapa pun jahat dan busuknya seseorang bagi seluruh orang lain, kalau dia baik kepada kita, tentu akan kita suka. Sebaliknya, biar orang sedunia menyatakan bahwa seseorang itu baik dan budiman, kalau orang itu tidak baik kepada kita, merugikan kita lahir mau pun batin, tentu akan kita benci! Jelaslah bahwa segala penilaian kita akan diri seseorang atau akan sesuatu, suka dan benci kita bukan karena keadaan si orang atau sesuatu itu seperti apa adanya sesungguhnya, melainkan didasari atas untung rugi atau menyenangkan tidak menyenangkan bagi si aku, baik lahir maupun batin.

Sifat yang sudah mendarah daging pada diri kita semua inilah, yang dikuasai oleh si aku yang sesungguhnya adalah sang pikiran dengan segala ingatannya tentang segala pengalaman dan pengetahuan masa lalu, sifat inilah yang membuat hidup penuh dengan pertentangan seperti sekarang ini!

Pertentangan batin mau pun pertentangan lahir, karena sesungguhnya, konflik di luar diri kita konflik antara kita dengan orang atau benda dengan siapa kita berhubungan, hanyalah pencetusan dari konflik yang terjadi di dalam diri kita sendiri. Batin yang penuh konflik tentu menimbulkan tindakan yang penuh konflik, dan konflik perorangan ini makin meluas menjadi konflik antara kelompok, antara suku, antara bangsa dan antara negara, maka terjadilah perang di mana-mana, di seluruh pelosok dunia ini!

Bun Beng dan rombongannya memasuki sebuah dusun. Melihat betapa Syanti Dewi sudah amat lelah karena kepanasan, Kian Bu mengusulkan kepada suheng-nya untuk berhenti mengaso dan membeli minuman di sebuah warung di tengah dusun. Bun Beng menyetujuinya dan mereka masuk ke sebuah warung, satu-satunya warung di dusun itu. Akan tetapi warung itu penuh sesak dengan para tamu.

Beberapa orang pelayan hilir-mudik dengan sibuknya melayani para tamu yang amat banyak. Padahal ruangan warung itu cukup luas dan bangku-bangkunya cukup banyak, akan tetapi semua telah diduduki orang. Agaknya hari yang amat panas itu telah memaksa semua orang untuk meninggalkan jalan dan berteduh sambil makan minum di warung itu, dan tentu saja, mereka ramai membicarakan tentang kekacauan dan ancaman perang yang sedang terjadi di daerah mereka itu. Mereka adalah sebagian besar para pengungsi yang kebingungan.

Kian Lee berbisik kepada suheng-nya sambil menunjuk ke sudut yang menghadap ke luar. Di situ duduk seorang pemuda sendirian saja menghadapi meja, sedangkan tiga bangku yang lain di sekeliling meja itu kosong. Pemuda itu seorang diri, kelihatan tenang dan pendiam, membawa pedang. Agaknya sikapnya dan pedangnya itu yang membuat para tamu segan untuk minta duduk semeja dengan pemuda itu, namun pemuda yang amat tampan itu agaknya juga tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya yang demikian bising, bahkan dia kelihatan termenung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Bun Beng mengangguk. Dalam keadaan seperti itu, tidak mengapalah menumpang di meja orang pikirnya. Terutama sekali Syanti Dewi memang perlu untuk beristirahat, sekedar makan dan minum sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat yang penuh bahaya itu. Dia melangkah lebar menghampiri meja pemuda tampan berpedang itu, diikuti oleh Syanti Dewi, Kian Lee dan Kian Bu.

“Maafkan kami, Sobat.” Bun Beng membungkuk dan berkata dengan halus dan hormat. “Karena kami melihat tiga buah bangku ini masih kosong dan kami sendiri belum memperoleh tempat duduk, bolehkah kami ikut duduk di sini?”

Pemuda itu terkejut, mengangkat mukanya memandang kepada empat orang itu penuh perhatian, kemudian wajahnya melembut ketika dia memandang Syanti Dewi, dan dia bangkit berdiri membalas penghormatan Bun Beng sambil berkata, “Silakan, memang saya sendirian dan bangku-bangku itu kosong.”

Dia lalu duduk kembali dan selanjutnya seolah-olah tidak tahu bahwa di depannya kini terdapat tiga orang yang duduk dan seorang yang terpaksa berdiri karena kehabisan tempat. Yang berdiri itu adalah Kian Bu. Dia mengalah dan berdiri saja dan dialah yang memesankan makanan mi-bakso dan minuman teh dingin kepada pelayan.

Sejenak tadi pandang mata Kian Lee bertemu dengan pandang mata pemuda tampan berpedang itu dan keduanya mengerutkan alis karena merasa seperti pernah saling berjumpa, akan tetapi keduanya lupa lagi kapan dan di mana. Bun Beng yang bermata tajam dan sudah berpengalaman itu diam-diam juga memperhatikan pemuda di depannya.

Pedang yang dibawanya itu, biar pun sarungnya biasa saja dan baru, akan tetapi gagangnya menunjukkan bahwa pedang itu sudah amat tua dan ada sesuatu yang menyeramkan pada gagang pedang itu seperti halnya pedang-pedang pusaka yang ampuh. Dan sukar pula mengukur keadaan pemuda yang pendiam dan tenang itu, akan tetapi Bun Beng diam-diam waspada karena dia menduga bahwa pemuda itu tentulah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Diam-diam dia membandingkan pemuda ini dengan kedua orang sute-nya.

Mereka bertiga sebaya, sama tampan dan gagahnya, akan tetapi tentu saja dia tidak mengira sama sekali bahwa pemuda itu dapat memiliki kepandaian setinggi kepandaian Kian Lee atau Kian Bu. Kiranya di dunia ini sukar dicari orang ketiga yang mampu mengimbangi ilmu kepandaian dua orang sute-nya itu!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo