October 1, 2017

Kisah Para Pendekar Pulau Es Part 8

 

Akan tetapi, dua orang pembantu Louw Kam sudah menyerangnya dari kanan kiri, menggunakan golok mereka. Serangan mereka jelas adalah serangan untuk membunuh dengan gerakan yang cepat, kuat dan keji sekali. Dan memang dua orang ini adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang telah disewa oleh Louw Kam untuk membantunya membunuh pemuda yang dianggapnya menjadi penghalang dan pengacau besar itu.

Karena menghadapi serangan maut, Cin Liong tidak tinggal diam lagi. Cepat tubuhnya berkelebat ke belakang dan pada saat dua batang golok itu menyambar, dia bergerak seperti kilat ke depan sambil menggerakkan kaki kiri dan tangan kanannya.

“Bukkk! Dessss….!”

Dua orang itu terpelanting, golok yang berada di tangan mereka terpental dan mereka mengaduh-aduh kesakitan. Yang seorang tertendang patah tulang lututnya, dan orang ke dua terkena tamparan dan patah- patah tulang pundaknya.

Melihat ini, Louw Kam makin kaget dan juga makin penasaran. Dua orang pembantunya itu adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang walau pun tidak memiliki ilmu silat terlalu tinggi, akan tetapi cukup dapat diandalkan. Siapa kira dalam segebrakan saja mereka sudah roboh dan tidak berdaya menghadapi pemuda yang tadinya dianggap sebagai makanan lunak itu.

Karena sudah terlanjur, guru silat yang ambisius ini kemudian menyerang lagi dengan pedangnya. Cin Liong dapat mengenali jurus ilmu silat yang baik, jauh lebih baik dan lebih tangguh dibandingkan dua orang pertama tadi, maka dia pun dapat menduga bahwa tentu orang ke tiga inilah pemimpinnya. Dia cepat mengelak dan membiarkan tusukan itu lewat di samping tubuhnya dan dengan perlahan dia mendorong dengan tangan kirinya. Louw Kam tak dapat menahan hawa dorongan dahsyat itu dan dia pun terjengkang!

Akan tetapi, Louw Kam sudah meloncat bangun lagi. Dia menjadi nekat. Kini dia tahu bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan. Diam-diam dia merasa menyesal mengapa hal ini tidak diselidiki lebih dahulu. Betapa bodohnya dia. Tentu saja seorang anggota keluarga Pulau Es memiliki kepandaian yang tinggi!

Kenekatan Louw Kam membuat dia dapat meloncat bangun dan segera menyerang lagi, kini menggunakan jurus-jurus dari ilmu silat Siauw-lim-pai. Biar pun baru diserang beberapa kali, Cin Liong sudah dapat mengenali dasar gerakan silat Siauw-lim-pai ini, maka dia pun mengelak lagi, merasa ragu menjatuhkan atau melukai lawan.

“Nanti dulu, sobat. Bukankah engkau murid Siauw-lim-pai? Kenapa tanpa sebab engkau menyerangku?”

Makin jelaslah bagi Louw-kamsu bahwa pemuda ini benar-benar seorang ahli silat yang pandai sehingga dalam beberapa jurus saja sudah mengenal dasar ilmu silatnya. Dia merasa makin menyesal, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berterus terang. Terus terang sama saja artinya dengan membongkar rahasianya. Jalan satu-situnya hanyalah membunuh orang ini.

Dia menyerang lagi tanpa menjawab dan sekarang dia menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Pedangnya berdesing dan mengeluarkan sinar ketika menyambar ke depan, dibarengi bentakannya yang nyaring.

Cin Liong menjadi marah. Dia pun tahu bahwa murid-murid Siauw-lim-pai ada pula yang murtad, di antaranya adalah mendiang Kaisar Yung Ceng sendiri. Maka tentu orang di depannya ini juga seorang murid Siauw-lim-pai yang telah murtad, atau bukan murid Siauw-lim-pai yang mencuri ilmu perguruan silat itu. Dia harus dapat membongkar rahasia penyerangan ini dan untuk itu, dia tidak akan membunuh lawannya.

“Bressss….!”

Serangan Louw Kam disambut oleh Cin Liong dengan sebuah tendangan kilat yang amat dahsyat dan membuat tubuh guru silat itu terlempar sampai empat meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah. Diam- diam guru silat itu merasa terkejut bukan main. Jika bukan seorang sakti, mana mungkin menghadapi serangan pedangnya tadi dengan tendangan yang membuatnya terlempar?

Dia merasa sakit pada iganya, maklum bahwa ada tulang iganya yang patah. Akan tetapi, tidak ada jalan lain baginya. Menyerah dan mengaku berarti akan mencelakakan namanya dan nama puteranya. Kalau sampai terdengar oleh Suma Kian Lee bahwa dia sudah mengajak dua orang pembunuh bayaran berusaha membunuh cucu keponakan pendekar itu, sungguh dia tak berani membayangkan apa yang akan menjadi akibatnya sehubungan dengan rencana perjodohan antara puteranya dan puteri pendekar sakti itu!

Satu-satunya jalan hanyalah melawan dan berusaha sedapat mungkin untuk membunuh pemuda ini. Dua orang kawannya sudah dapat bangkit kembali dan mereka kini sudah maju pula, biar pun dengan terpincang-pincang. Ternyata dua orang pembunuh bayaran itu juga memegang teguh janji mereka dan biar pun mereka sudah terluka, melihat betapa Louw-kauwsu melawan terus, mereka pun mencoba untuk membantunya.

Diam-diam Cin Liong merasa heran dan juga penasaran. Dia sudah menghajar orang-orang ini, akan tetapi mereka nekat terus. Apakah yang menyebabkan mereka begini nekat dan membencinya? Tentu ada sebabnya, dan mungkin juga hanya suatu kesalah pahaman belaka.

Maka, ketika mereka menerjang lagi, dia pun cepat bergerak dan mendorong mereka sampai mereka terlempar jauh ke belakang. Sekali ini, dua orang pembantu Louw Kam tidak dapat bangkit kembali, hanya mengaduh-aduh saja. Louw Kam sendiri mengalami patah tulang pundak kirinya dan dia maklum bahwa melawan terus tidak ada artinya.

Pemuda itu sungguh terlampau kuat untuk dilawan olehnya. Dan ia tahu bahwa pemuda itu agaknya hendak menangkapnya dan hendak memaksanya mengaku mengapa dia dan dua orang temannya melakukan serangan-serangan tanpa alasan. Hal ini membuat Louw Kam menjadi bingung sekali.

Tetapi tiba-tiba dia memperoleh jalan terbaik untuk menolong nama puteranya dan juga menjatuhkan fitnah buruk terhadap pemuda yang kini menjadi penghalang kebahagiaan puteranya ini. Melihat betapa kedua orang temannya menggeletak tidak jauh dari tempat dia roboh, cepat dia menggerakkan pedangnya. Dua kali dia menusuk dan pedangnya menembus jantung dua orang pembantunya itu. Darah muncrat-muncrat dan mereka berkelojotan dalam sekarat.

“Heiiii!” Cin Liong berseru kaget melihat perbuatan laki-laki murid Siauw-lim-pai itu. Dia melihat orang itu meloncat dan melarikan diri. Tentu saja dia tak mau membiarkan orang itu lari.

“Tunggu dulu, jangan lari!” bentaknya.

Dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah dapat menyusul. Akan tetapi, tiba-tiba Louw Kam membalik dan menggunakan pedang di tangannya menggorok leher sendiri.

“Celaka….!” Cin Liong berteriak.

Cepat kakinya menendang lengan yang memegang pedang. Namun karena perbuatan guru silat itu sama sekali tidak pernah diduganya, meski tendangan itu tepat mengenai lengan dan pedang itu terlempar, akan tetapi leher orang she Louw itu sudah tergorok hampir putus dan tubuh Louw Kam berkelojotan lalu tewas tak lama kemudian!

Sejenak Cin Liong termenung, memandangi tiga mayat itu dengan hati sedih. Banyak orang jahat memusuhinya, akan tetapi setiap kali dia merobohkan lawan, tentu dia mengenal siapa lawan itu dan apa sebabnya lawan menyerangnya. Akan tetapi, tiga orang ini menyerangnya tanpa alasan dan mereka mati bukan di tangannya. Mengapa mereka begitu nekat? Mengapa pemimpin mereka itu sampai tega membunuh kawan-kawan sendiri kemudian membunuh diri?

Hanya satu jawaban, yakni bahwa orang itu tentu menyimpan rahasia dan tidak ingin diketahui rahasianya, tidak ingin dikenal dan lebih baik mati dari pada menyerah dan tertangkap!

Cin Liong lalu pergi mengunjungi perwira yang menjadi komandan keamanan di kota Thian-cin. Ketika Cin Liong malam-malam datang ke rumah komandan ini dan kemudian memperkenalkan diri, tentu saja komandan itu terkejut bukan main dan dengan gugup melakukan penyambutan atas kedatangan Jenderal Kao Cin Liong, panglima muda yang amat terkenal dan yang datang dengan pakaian preman itu.

Cin Liong menceritakan tentang penyerangan ketiga orang itu. “Harap ciangkun suka melakukan penyelidikan, siapakah mereka itu dan mengapa pula mereka menyerangku mati-matian. Besok kutunggu laporanmu di hotel Tong-an.”

Coa-ciangkun, komandan itu, mengangguk-angguk. “Baik, Kao-goanswe, besok akan saya laporkan. Akan tetapi, apakah Kao-goanswe sebaiknya tidak bermalam saja di rumah kami? Dari pada di rumah penginapan umum itu….”

Akan tetapi Cin Liong menggoyang tangan. “Engkau tahu, aku lebih suka menyamar dan melakukan perjalanan dengan diam-diam untuk dapat melakukan pengamatan dan penyelidikan dengan mudah. Jangan beritakan tentang kehadiranku di kota ini.”

Walau pun kehadiran jenderal muda itu dirahasiakan sehingga tidak ada yang tahu, namun peristiwa itu diketahui umum dan menggegerkan kota Thian-cin. Louw Kam yang dikenal sebagai Louw-kauwsu, bersama dua orang yang dikenal sebagai pembunuh-pembunuh bayaran, telah tewas di tepi jalan tanpa diketahui siapa pembunuhnya!

Tentu saja Tek Ciang kemudian menjadi terkejut sekali dan pemuda ini menangisi jenazah ayahnya. Hanya dialah seorang yang tahu benar mengapa ayahnya tewas dan dia dapat menduga siapa pembunuh ayahnya itu. Akan tetapi, dia tidak dapat membuka mulut mengatakan kepada siapa pun juga karena hal itu akan membuka rahasia ayahnya yang hendak membunuh Cin Liong dan juga membuka rahasia dirinya sendiri.

“Ayah, aku bersumpah untuk membalaskan kematian ayah kepada Kao Cin Liong itu, apa pun jalannya!” Begitulah dia berbisik dalam hati ketika dia menyembahyangi peti mati ayahnya.

Suma Hui yang mendengar berita itu pun terkejut sekali dan dara ini menyatakan duka citanya atas mala petaka yang menimpa diri ayah suheng-nya. Karena orang tuanya tak berada di rumah, ia pun mewakili mereka untuk datang melayat dan bersembahyang di depan peti mati guru silat Louw Kam. Dara ini tak tahu betapa selagi ia bersembahyang, sepasang mata Tek Ciang memandangnya dengan penuh rasa dendam dan kemarahan yang ditahan-tahan.

Sementara itu, pada keesokan harinya Cin Liong menerima laporan dari komandan Coa mengenai tiga orang itu. Akan tetapi, laporan itu hanya menjelaskan siapa adanya mereka.

“Kami tidak dapat mengetahui mengapa mereka itu menyerang paduka,” demikian kata komandan Coa. “Louw Kam adalah seorang duda, pekerjaannya guru silat, seorang murid Siauw-lim-pai yang belum pernah melakukan kejahatan. Sedangkan dua orang itu adalah dua orang pembunuh bayaran dan siapa pun akan mereka serang dan bunuh asalkan mereka diberi uang. Louw-kauwsu sudah tewas, kami tidak dapat mencari keterangan mengapa dia minta bantuan dua orang penjahat itu untuk menghadang dan menyerang paduka. Putera tunggalnya juga tidak tahu, apalagi karena sudah beberapa bulan ini putera tunggalnya tinggal bersama Suma-taihiap….”

“Suma-taihiap?” Cin Liong bertanya kaget. “Suma-taihiap siapa?”

“Pendekar Suma Kian Lee. Kabarnya, putera Louw-kauwsu itu menjadi murid Suma-taihiap dan memang ada jalinan persahabatan antara Suma-taihap dan Louw-kauwsu.”

“Ahhhhh….!” Cin Liong tidak bertanya lagi dan mengucapkan terima kasih. Kemudian pergilah dia bergegas ke rumah Suma Hui.

Gadis itu menyambutnya dengan berita yang mengejutkan itu. “Cin Liong, telah terjadi mala petaka hebat. Ayah Louw-suheng tewas terbunuh orang!”

Akan tetapi, bukan Cin Liong yang terbelalak kaget, sebaliknya malah Suma Hui yang memandang dengan mata terbelalak melihat kekasihnya itu tenang-tenang saja, bahkan menjawab, “Aku sudah tahu, Hui-moi, karena orang itu adalah aku sendiri.”

“Apa…. apa maksudmu….?”

Cin Liong menyambar tangan kekasihnya yang terasa agak dingin itu dan menariknya masuk ke dalam rumah. “Mari kita bicara di dalam.”

Setelah mereka berada di dalam rumah, Cin Liong kemudian menceritakan semua pengalamannya malam tadi sesudah meninggalkan rumah kekasihnya.

“Aku berusaha untuk mengetahui sebab-sebab mengapa mereka menyerangku kalang kabut tanpa alasan, dan aku sudah berhati-hati agar tidak sampai membunuh mereka. Maka aku hanya merobohkan mereka dengan mematahkan tulang pundak saja. Siapa kira, orang itu membunuh kedua orang temannya dengan tusukan pedang, kemudian melarikan diri. Pada saat aku mengejarnya, tiba-tiba dia menggorok leher sendiri. Aku menyesal tidak dapat mencegah kenekatannya itu. Komandan Coa yang kuperintahkan menyelidiki, juga tidak dapat menerangkan mengapa guru silat Louw itu mati-matian hendak membunuhku.”

Suma Hui merasa demikian kaget dan heran sehingga tak dapat berkata-kata sampai beberapa lamanya. Kemudian ia menarik napas panjang. “Sungguh mati kejadian itu amat aneh dan sukar dipercaya. Ketika komandan Coa itu datang dan bertanya kepada Louw-suheng pagi tadi, aku pun berada di sana melayat. Louw-suheng tidak dapat memberi keterangan apa-apa, karena dia pun sama sekali tidak tahu dan sudah empat bulan selalu berada di rumah ini.”

Cin Liong mengangguk akan tetapi alisnya berkerut karena dia ingat betapa siang hari kemarin, Tek Ciang membayanginya dari rumah ini sampai ke rumah penginapan! Ada sesuatu yang aneh pada sikap pemuda itu, pikirnya.

“Aku ingin dapat bicara dengan Louw Tek Ciang. Bagaimana pun juga, aku ingin mengetahui apa sebabnya ayahnya yang sama sekali tidak kenal denganku itu demikian membenciku dan ingin membunuhku, sampai ditebus dengan nyawanya sendiri. Tentu ada sebab-sebab yang amat penting di balik perbuatannya itu dan agaknya, tidak mungkin kalau puteranya tidak tahu.”

Suma Hui memandang khawatir. “Akan tetapi, suheng masih belum tahu bahwa yang menyebabkan kematian ayahnya adalah engkau! Apakah perlu hal itu diberi tahukan kepadanya?”

Cin Liong tersenyum dan memandang wajah kekasihnya, lalu memegang tangannya. “Hui-moi, kenapa engkau? Bukankah itu sudah seharusnya? Seorang gagah tidak akan memyembunyikan semua perbuatannya, bahkan berani bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Guru silat she Louw itu tewas bukan oleh tanganku, melainkan akibat membunuh diri karena tidak mau kutangkap. Dan serangan- serangan itu pun dimulai dari pihaknya terhadap diriku tanpa alasan. Betapa pun pahitnya, Louw Tek Ciang harus berani menghadapi kenyataan ini, dan kalau dia menganggap aku sebagai pembunuh ayahnya dan mendendam, dia bukan seorang berwatak gagah dan tidak patut menjadi suheng-mu!”

Suma Hui sadar dan ia pun mencengkeram tangan kekasihnya. “Engkau benar, Cin Liong, engkau benar dan memang seharusnya hal ini dibicarakan dengan terus terang kepadanya. Aku sungguh merasa heran sekali. Ayahnya adalah sahabat baik ayahku. Agaknya ayahku tidak akan keliru memilih sahabat.”

“Aku pun sudah mendengar pelaporan dari Coa-ciangkun bahwa Louw-kauwsu belum pernah melakukan kejahatan. Hal ini membuat aku semakin tertarik dan ingin tahu apa sesungguhnya yang menjadi sebab hingga dia membenciku. Apakah dia telah tersesat menjadi kaki tangan pemberontak? Dan ada satu hal lagi yang sangat mengganggu pikiranku. Sebelum roboh dan sebelum membunuh diri, orang itu pernah memakiku sebagai seorang penjahat cabul perusak gadis orang!”

“Ehhh….?” Suma Hui mengerutkan alisnya, menjadi makin heran dan tidak mengerti.

Kekasihnya dimaki penjahat cabul perusak anak gadis orang? Sungguh aneh, lucu dan membuat orang menjadi penasaran! Kekasihnya ialah seorang jenderal muda, seorang panglima muda yang terhormat, seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi dan gagah perkasa!

“Itulah sebabnya yang mendorongku untuk bicara dengan Tek Ciang. Mungkin dia dapat membantu memecahkan persoalan yang membingungkan ini.”

Terpaksa Cin Liong menunggu sampai upacara pemakaman jenazah Louw Kam selesai dan dia pun memperpanjang tinggalnya di Thian-cin selama beberapa hari lagi. Setelah acara penguburan selesai dan Tek Ciang kembali ke rumah suhu-nya dengan pakaian berkabung, Cin Liong datang menemuinya dengan perantaraan Suma Hui. Wajar Tek Ciang masih pucat ketika dia duduk berhadapan dengan Cin Liong dan Suma Hui.

“Louw-suheng, Cin Liong ingin bicara dengan jujur dan terbuka denganmu mengenai ayahmu,” Suma Hui memulai dengan percakapan yang amat tidak enak itu.

Tek Ciang mengangkat mukanya yang agak pucat, sejenak memandang kepada Cin Liong, kemudian menoleh kepada Suma Hui. “Sumoi, apa lagi yang dapat dibicarakan? Ayahku telah meninggal….,” suaranya gemetar dan matanya menjadi merah.

“Louw-susiok,” kata Cin Liong dengan sikap tenang. Dia tetap menyebut susiok untuk menghormati Suma Kian Lee, walau pun kekasihnya sudah menegurnya akan hal itu. “Apakah engkau tahu bagaimana meninggalnya ayahmu?”

Louw Tek Ciang memandang dan matanya mengandung kemarahan dan dendam. “Dia dibunuh penjahat, apa lagi yang perlu diketahui? Kalau aku dapat mengetahui siapa penjahat itu….!” Pemuda ini mengepal tinjunya dan pandang matanya menjadi beringas.

Tentu saja hati Suma Hui menjadi semakin tidak enak. Kalau saja bukan kekasihnya yang menghadapi urusan ini, tentu ia lebih baik pergi saja dan tidak usah menjadi saksi dalam perkara yang tidak enak ini.

“Susiok, ayahmu sama sekali tidak dibunuh penjahat. Ayahmu telah membunuh dirinya sendiri dengan menggorokkan pedangnya sendiri ke lehernya.”

Tek Ciang bangkit berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. “Bagaimana engkau bisa tahu?”

“Karena akulah orangnya yang kau namakan penjahat tadi.”

Wajah itu semakin pucat dan matanya makin terbelalak. “Kau…. kau….? Kau pembunuh ayahku!” Dan pemuda itu sudah mengepal kedua tinjunya. Dia tentu sudah menyerang Cin Liong kalau saja Suma Hui tidak cepat berteriak menegurnya.

“Suheng, tenang dan duduklah lagi!”

Tek Ciang menoleh kepada sumoi-nya, kemudian menjatuhkan diri duduk kembali dan menggunakan kedua tangan menutupi mukanya.

“Maaf, Louw-susiok, kalau aku mengejutkan dan mengguncangkan hatimu. Akan tetapi, engkau sebagai puteranya harus mendengarkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Akulah orangnya yang semalam diserang oleh ayahmu tanpa sebab. Kemudian ayahmu menggunakan pedangnya membunuh dua orang temannya sebelum dia membunuh diri dengan pedangnya pula.”

“Aku sudah mendengar akan kematian ayah!” Tek Ciang memotong, menurunkan kedua tangannya dan wajahnya kini merah sekali, kedua pipinya basah air mata. “Kedua orang itu adalah penjahat atau dikenal sebagai orang jahat. Mungkin saja ayah membunuh mereka, kemudian ayah dibunuh orang yang lebih kuat!”

“Suheng! Cin Liong sudah mengatakan dengan terus terang. Ayahmu membunuh diri sendiri dengan pedangnya setelah membunuh dua orang itu. Keterangan Cin Liong dapat kau percaya sepenuhnya. Akulah yang menanggung bahwa keterangannya itu benar dan tidak bohong.”

Sejenak Tek Ciang menentang pandang mata sumoi-nya, kemudian menunduk sambil berkata penasaran, “Akan tetapi ayah adalah seorang yang baik. Sungguh tak masuk di akal kalau dia membunuh dua orang yang dikatakan temannya sendiri kemudian dia membunuh diri.”

“Untuk hal itu ada penjelasannya. Harap kau suka dengarkan semua ceritaku, susiok, kemudian kau coba memberi penafsiran mengapa ayahmu berbuat demikian. Kemarin malam, ketika aku pulang dari sini dan tiba di lorong sunyi dan gelap, tiba-tiba ada tiga orang menyerangku. Dua orang menggunakan golok dan seorang lagi, yaitu ayahmu, menggunakan pedang. Aku mengelak dan berusaha bertanya, mengatakan bahwa mungkin mereka salah mengenal orang. Akan tetapi mereka bertiga terus mendesakku dan mengirim serangan bertubi-tubi yang berbahaya. Terpaksa aku menyerang dan membalas. Aku bermaksud merobohkan dan menangkap mereka hidup-hidup karena aku ingin tahu mengapa mereka menyerangku dan siapa pula adanya mereka. Akhirnya aku dapat merobohkan dua orang pemegang golok yang rendah ilmu silatnya. Aku dapat mengenal jurus-jurus ilmu silat Siauw-lim-pai yang dimainkan ayahmu sehingga aku menjadi semakin heran karena Siauw-lim-pai adalah perkumpulan para pendekar yang menjadi sahabat-sahabatku. Beberapa kali aku membuat ayahmu tak berdaya dan roboh tanpa melukainya terlalu berat. Tiba-tiba saja ayahmu menusukkan pedangnya, membunuh kedua orang pengeroyok yang telah roboh terluka itu tanpa aku sempat menduganya, dan dia melarikan diri. Aku mengejarnya dan dia lalu menggorok leher sendiri. Sayang aku tidak sempat mencegahnya. Nah, demikianlah kejadian yang sebenarnya, Louw-susiok. Sekarang, setelah engkau mendengar semua itu, dapatkah engkau mengetahui atau menduga-duga apa yang menyebabkan ayahmu marah dan membenciku, lalu menyerang dan hendak membunuhku?”

Sebetulnya, tanpa mendengarkan cerita itu pun Tek Ciang sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Dia merasa berduka sekali akan kematian ayahnya, dan merasa menyesal bahwa ayahnya telah mengorbankan diri dan nyawa untuknya. Biar pun dia suka menjadi murid Suma Kian Lee, dan lebih senang lagi menjadi calon suami Suma Hui, akan tetapi kalau harus mengorbankan nyawa ayahnya, sungguh dia tidak rela!

Dan kini, melihat orang yang menyebabkan kematian ayahnya berada di depannya, bahkan menjadi saingannya dan agaknya akan menjadi penghalang perjodohannya dengan Suma Hui, bagaimana dia tidak akan membencinya setengah mati?

Pertanyaan Cin Liong tak dapat dijawabnya dan dia menggeleng kepala. “Aku tidak tahu mengapa ayah berbuat demikian, yang kutahu benar adalah bahwa ayah seorang guru silat yang baik dan menjadi sahabat baik dari suhu.”

Dengan ucapan itu dia hendak mengingatkan Suma Hui bahwa ayahnya adalah sahabat ayah gadis itu dan bahwa ayahnya orang baik, maka kenyataan ini dapat dipakai untuk menyudutkan pemuda itu, sebagai peringatan bahwa kalau ayahnya yang baik sampai terbunuh, kemungkinan besar pemuda itulah yang jahat!

Mendengar jawaban itu, Cin Liong lalu mempergunakan pegangannya yang terakhir. “Dengarlah, Louw- susiok. Sebelum ayahmu meninggal, dia pernah memaki aku sebagai penjahat cabul perusak anak gadis orang. Nah, apakah ucapan ayahmu itu sama sekali tidak mengingatkan engkau akan sesuatu? Barangkali ayahmu bermusuhan dengan seseorang? Ataukah engkau mengenal seorang penjahat cabul yang dimusuhi ayahmu, seorang penjahat yang suka merusak kaum wanita dan membuat ayahmu marah dan mendendam kepadanya?”

“Ahhh….! Itukah sebabnya?” Kini Tek Ciang bangkit berdiri lagi dan menggebrak meja di depannya. “Aku ingat sekarang! Memang dalam pertemuan terakhir, beberapa hari yang lalu, ayah pernah bercerita bahwa di kota ini terdapat seorang penjahat cabul, seorang jai-hwa-cat dan ketika bertemu denganmu…. hemmm, kau Cin Liong, mengapa ayahku memakimu penjahat cabul? Siapa tahu penjahat cabul yang berkeliaran di kota ini adalah engkau?”

“Suheng, jangan menuduh sembarangan!” Tiba-tiba Suma Hui membentak suheng-nya dengan muka merah karena marah.

Akan tetapi Cin Liong hanya tersenyum “Maafkan dia, Hui-moi. Dia terdorong oleh perasaan dendam dan duka.”

“Louw-suheng, buang jauh-jauh pikiran yang tidak sehat itu. Engkau belum mengenal siapa adanya Kao Cin Liong. Ketahuilah bahwa dia ini adalah Jenderal Muda Kao Cin Liong, panglima muda di kota raja yang menjadi kepercayaan sri baginda kaisar, berkedudukan tinggi dan dia pun putera tunggal dari pendekar sakti Si Naga Sakti Gurun Pasir. Nah, apakah engkau masih mempunyai kecurigaan bahwa dia adalah seorang penjahat cabul?”

Pemuda itu duduk bengong, mulutnya ternganga dan matanya terbelalak. Tahulah dia bahwa dia dan ayahnya telah menghantam batu karang! Siapa yang mengira bahwa pemuda ini adalah seorang panglima kota raja dan bahkan putera pendekar sakti yang amat ditakuti semua orang itu? Ayahnya tentu saja bukan lawan pemuda ini dan tidak heran kalau ayahnya membunuh diri karena khawatir tertawan dan kemudian terbuka rahasianya.

“Ahhh….!” keluhnya lirih. “Maafkan, aku tidak menuduh siapa-siapa, akan tetapi agaknya ayah menyangka engkaulah penjahat itu.”

Cin Liong mengangguk-angguk. “Hanya itulah satu-satunya kemungkinan yang tersisa. Mungkin memang ada penjahat cabul berkeliaran di sini dan ayahmu belum mengenal mukanya, lalu menyangka aku, atau memang ada kemiripan wajah antara penjahat itu dan aku atau….” Cin Liong berhenti.

“Atau kemungkinan apa lagi?” Suma Hui mendesak.

“Tidak ada lagi,” kata Cin Liong menahan diri karena dia tadi teringat akan sikap aneh Tek Ciang yang membayangi kemarin.

“Bagaimana pun juga, penjahat cabul itulah yang menjadi biang keladi kematian ayah!” teriak Tek Ciang. “Aku tak akan tinggal diam dan setiap malam aku akan mencoba melanjutkan usaha ayah, mencari jejaknya.”

Suma Hui dan Cin Liong tak dapat mencegah dan pemuda itu memang benar-benar setiap malam keluar rumah dan baru pada pagi harinya pulang dengan wajah pucat dan tubuh lesu. Tek Ciang melakukan hal ini sama sekali bukan karena dia percaya adanya penjahat cabul yang berkeliaran, melainkan hal itu dilakukan karena kecerdikannya.

Dia tahu bahwa penjahat cabul itu tidak ada dan bahwa ayahnya memaki Cin Liong saking marahnya melihat Cin Liong sebagai penghalang perjodohannya dengan Suma Hui. Cin Lionglah yang dimaki ayahnya sebagai penjahat cabul yang hendak merusak Suma Hui! Akan tetapi, untuk mempertebal kesan di hati Suma Hui dan Cin Liong bahwa memang ayahnya tidak punya rahasia lain lagi dan bahwa benar ada penjahat cabul, maka dia pun berpura-pura mencari penjahat cabul itu setiap malam!

Sebenarnya, ke manakah perginya pemuda ini setiap malam? Dia pergi ke tempat sunyi di luar kota Thian- cin, di dalam sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi dan duduk melamun sampai kantuk membuatnya tertidur di tempat itu pula. Pada malam ke tiga, selagi dia duduk melamun, dia mendengar suara orang berdehem di bagian belakang kuil.

Tek Ciang terkejut sekali. Akan tetapi dia bukanlah seorang penakut, apalagi setelah dia merasa menjadi murid pendekar sakti Suma Kian Lee. Dia melompat berdiri dan cepat menuju ke ruangan belakang. Sinar bulan memasuki ruangan itu dari atap yang sebagian besar telah berlubang dan rusak. Dan di bagian belakang kuil itu, di ruangan sembahyang yang lantainya sudah disapu bersih, dia melihat seorang laki-laki duduk bersila! Diam-diam dia merasa heran bukan main. Kapan datangnya orang ini dan kalau baru saja datang, mengapa dia tidak mendengar kedatangannya?

Laki-laki itu berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi masih nampak ganteng dan pakaiannya juga rapi dan serba baru. Di dekatnya terdapat sebatang dupa yang masih mengepul dan bau harum aneh kini tercium oleh Tek Ciang. Agaknya angin datang dari arah depan kuil sehingga asap hio wangi itu terbang ke arah belakang. Kalau terjadi sebaliknya, tentu sejak tadi dia mencium bau harum ini karena dupa itu telah terbakar setengahnya lebih. Dan di sebelah kanannya terdapat pula sebuah karung besar terbuat dari sutera yang isinya entah apa akan tetapi besarnya sama dengan tubuh seorang manusia.

“Siapakah engkau….?” Dengan memberanikan diri Tek Ciang menegur.

Laki-laki yang tadinya bersila sambil memejamkan matanya itu kini membuka mata memandang lalu tersenyum. “Engkau hendak mencari seorang pemetik bunga? Nah, di sinilah aku, lalu engkau mau apa?”

Jawaban dan pertanyaan itu membuat Tek Ciang terheran. Tentu saja dia sama sekali tidak pernah mencari penjahat pemerkosa yang biasanya disebut jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) karena hal itu dikemukakan kepada Cin Liong dan Suma Hui hanya untuk menutupi rahasia ayahnya saja. Dan orang ini begitu saja mengaku bahwa dirinya jai-hwa-cat dan bahkan tahu bahwa dia mencari jai-hwa-cat!

Yang mendengar pernyataannya itu hanya Cin Liong dan Suma Hui, bagaimana orang ini dapat mengetahuinya? Tentu orang ini kaki tangan Cin Liong! Benar, bukankah Cin Liong katanya seorang jenderal dan panglima? Tentu banyak anak buah dan kaki tangannya, dan orang ini tentu diutusnya untuk menyelidikinya. Tek Ciang merasa kaget dan juga marah. Dia bukan seorang bodoh yang mudah dipancing begitu saja.

“Hemm, setiap orang bisa saja mengaku sebagai jai-hwa-cat, akan tetapi apa buktinya bahwa engkau seorang jai-hwa-cat tulen ataukah palsu yang hanya pura-pura saja?”

“Bocah tolol, berani engkau mengatakan aku jai-hwa-cat palsu? Hati-hati menjaga mulutmu!” Orang itu menegur dengan alis berkerut, jelas merasa tidak senang dikatakan penjahat palsu.

Sebaliknya, Tek Ciang yang masih menaruh hati curiga, mendengar ucapan keras itu juga menjadi marah. “Habis engkau mau apa? Engkau tentu datang untuk memata-mataiku, keparat!”

Pemuda ini lalu menerjang ke depan dan menyerang orang itu dengan kedua kepalan tangannya, menghantam dua kali berturut-turut ke arah kepala orang itu.

Akan tetapi, sebelum kedua kepalannya menyentuh orang itu, yang diserang mengulur tangan dengan jari tangan terbuka didorongkan ke depan, dan akibatnya tubuh Tek Ciang terlempar ke belakang, terjengkang seperti tertolak oleh kekuatan dahsyat yang tidak nampak!

Pemuda ini kaget bukan main. Akan tetapi dia bukan seorang penakut dan dengan penasaran dia sudah menubruk maju lagi, mengirim pukulan yang lebih dahsyat. Kembali orang itu mendorongkan tangannya dan makin keras pukulan Tek Ciang, makin keras pula dia terjengkang dan terbanting ke atas lantai kuil yang berlubang-lubang.

“Ha-ha-ha, sebagai murid Suma Kian Lee, engkau masih kosong! Dan kenapa engkau menyerangku kalau kita mempunyai kepentingan bersama? Engkau kematian ayahmu dan tunanganmu direbut orang. Engkau mendendam kepada Kao Cin Liong, dan aku pun juga. Kalau kita bekerja sama, tentu akan lebih mudah membalas dendam!”

Tek Ciang memandang dengan mata terbelalak dan muka berubah. Orang ini agaknya mengetahui segala- galanya! Tidak mungkin dia kaki tangan Cin Liong. Bahkan Cin Liong sendiri, juga Suma Hui, tidak tahu bahwa dia telah diangkat menjadi calon suami Suma Hui, akan tetapi orang ini mengatakan bahwa tunangannya direbut orang!

“Siapakah engkau….?” Kembali dia bertanya, akan tetapi sekali ini dia sudah kehilangan keberaniannya. Orang itu jelas memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga tanpa menyentuh sudah dapat membuat dia terjengkang dua kali.

“Di dunia kang-ouww, di mana engkau tentu masih asing, aku disebut orang Jai-hwa Siauw-ok. Tentu engkau belum mengenal namaku, akan tetapi kalau engkau mencari pemetik bunga, aku adalah Raja Pemetik Bunga!”

Orang itu memang Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng, seorang di antara sekutu Hek-i Mo-ong ketika para datuk kaum sesat itu melakukan penyerbuan ke Pulau Es. Seperti telah kita ketahui, Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng berhasil menawan Suma Hui yang dibawanya lari ke daratan dan kemudian dia hendak mempermainkan dan memperkosa dara cucu Majikan Pulau Es itu. Akan tetapi perbuatan keji ini gagal ketika Cin Liong muncul dan nyaris dia celaka kalau dia tidak segera melarikan diri.

Tentu saja hatinya merasa kecewa bukan main dan dia pun tidak mau berhenti sampai di situ saja. Diam- diam dia lalu melakukan penyelidikan ke Thian-cin dan dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dia dapat membayangi Suma Kian Lee ketika berkunjung ke rumah guru silat Louw Kam, dan kemudian dia pun dapat mendengar percakapan rahasia antara guru silat itu dan puteranya.

Setelah dia melihat Loaw Kam tewas dan Louw Tek Ciang yang diangkat menjadi murid dan calon mantu oleh Suma Kian Lee itu mendendam terhadap Cin Liong, dia menjadi girang sekali. Apalagi setelah dia melakukan penyelidikan dan tahu akan isi perut Louw Tek Ciang. Dia melihat seorang pembantu yang sangat baik di dalam diri Tek Ciang, seorang pembantu yang akan dapat melampiaskan seluruh dendam dan kebenciannya terhadap keluarga Pulau Es, terutama Suma Hui dan Cin Liong.

Demikianlah, diam-diam dia membayangi Tek Ciang dan malam itu dia memperoleh kesempatan baik untuk melakukan penjajagan terakhir dengan menjumpai pemuda itu di kuil tua.

Sementara itu, mendengar bahwa orang ini mengaku berjuluk Jai-hwa Siauw-ok (Si Jahat Kecil Pemetik Bunga), hati Tek Ciang menjadi bimbang. Dia tidak mengenal orang ini, bagaimana mungkin dia akan membuka rahasia hatinya yang amat berbahaya? Memang, setelah ayahnya tewas, dalam keadaan seperti itu dia membutuhkan seorang teman dan pembantu yang boleh dipercaya. Akan tetapi dia harus berhati- hati. Biar pun orang ini lihai sekali, akan tetapi dia belum mengenalnya dan untuk itu dia harus yakin dulu sebelum membuka rahasianya.

“Lociapwe adalah seorang yang berilmu tinggi, hal ini aku dapat percaya,” katanya hati-hati, “tetapi aku belum mengenal locianpwe, bagaimana mungkin aku dapat percaya begitu saja akan maksud baik locianpwe terhadap diriku?”

“Ha-ha-ha, di dalam dunia kita, tidak pernah dikenal maksud baik. Aku membutuhkan bantuanmu, karena itu aku menghubungimu, dan engkau membutuhkan aku, maka engkau pun sepatutnya menerima uluran tanganku untuk bekerja sama. Dan kalau engkau belum yakin bahwa aku adalah seorang Raja Pemetik Bunga, lihatlah, ini korbanku terakhir malam ini, baru saja kuambil dari dalam kamarnya, ha-ha-ha!” Jai- hwa Siauw-ok menarik ujung karung dan isinya pun menggelinding keluar.

Tek Ciang terkejut melihat bahwa isi karung itu ternyata adalah seorang gadis muda berusia paling banyak lima belas tahun, wajahnya cantik akan tetapi pucat sekali, rambutnya awut-awutan dan sepasang matanya yang indah lebar itu seperti mata kelinci yang berada dalam cengkeraman harimau, penuh rasa ngeri dan takut.

Gadis itu tadinya tidak mampu bergerak atau mengeluarkan suara, ketika Jai-hwa Siauw-ok menggerakkan tangan menotoknya, ia pun dapat meronta dan mengeluh lirih, dan melihat Tek Ciang ia lalu merintih memohon, “Tolonglah aku…. tolonglah aku…. lepaskan aku….”

Tanpa disadarinya sendiri, melihat gadis remaja cantik ini ketakutan setengah mati, Tek Ciang merasa gembira. Dia memang pembenci wanita, dan kalau dia suka mendekati wanita, hanyalah untuk mempermainkannya, bersenang-senang diri dengan menghina wanita yang dibencinya. Kini, melihat gadis itu menderita, dia pun merasa gembira dan puas. Seri wajah dan sinar matanya tidak lepas dari pengamatan Jai-hwa Siauw-ok, walau pun cuaca di situ remang-remang saja, hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk.

“Ha-ha-ha, memang cocok sekali. Engkau adalah calon seorang jai-hwa-cat yang hebat! Engkau pembenci wanita, dan dalam hal itu, aku kalah olehmu!” kata Jai-hwa Siauw-ok. “Nah, Louw Tek Ciang, apakah engkau masih sangsi bahwa aku adalah seorang Raja Pemetik Bunga dan apakah engkau masih curiga kepadaku?”

Tek Ciang menggeleng kepala. “Kesangsian dan kecurigaanku sudah mulai berkurang, locianpwe.”

“Bagus! Nah, kau bersenang-senanglah, baru nanti kita bicara lagi,” katanya sambil menunjuk ke arah gadis yang masih ketakutan dan yang sekarang mundur-mundur merangkak dan mepet di sudut ruangan itu.

Pakaiannya masih utuh akan tetap kusut dan kini saking takutnya ia sudah tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, hanya memandang bergantian kepada Siauw-ok dan Tek Ciang. Gadis ini merasa putus asa karena pemuda itu ternyata agaknya sahabat dari penculiknya.

Tadi dia masih menyulam di kamarnya dan belum tidur ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat, jendelanya terbuka dan tahu-tahu ada laki-laki itu berdiri di depannya. Ia hendak menjerit, akan tetapi tiba- tiba saja ia tidak mampu bersuara, bahkan tubuhnya seketika menjadi lemas ketika ia dipondong,

kemudian dimasukkan karung dan merasa tubuhnya terayun-ayun dan dilarikan cepat sekali. Berkali-kali dia pingsan dan ketika sadar, ia masih berada di dalam karung, di ruangan itu, akan tetapi baru mampu bergerak dan bersuara setelah dikeluarkan dari dalam karung.

Sepasang mata Tek Ciang berkilat. Dia belum pernah memperkosa wanita, dalam arti kata memperkosa mempergunakan kekerasan. Tentu saja dia pun sudah memperkosa banyak wanita dengan uangnya, lalu mempermainkan wanita itu serta menghinanya. Sesaat timbul nafsu birahinya, akan tetapi kesadarannya melarangnya. Dia masih dalam kesulitan.

Dia masih mempunyai perkara besar yang harus diselesaikan. Di samping itu, dia masih belum yakin sepenuhnya kepada orang ini. Siapa tahu semua ini hanya pancingan belaka dan kalau dia terpancing, orang lihai ini segera akan turun tangan mencegahnya memperkosa gadis itu, atau malah membunuhnya!

Tek Ciang menggeleng kepala. “Tidak, locianpwe. Aku…. aku tak ingin….”

Siauw-ok menyeringai. “Siapa bilang tak ingin? Nafsu birahimu telah membakar sampai nampak di pandang matamu, akan tetapi engkau tidak berani, engkau takut dan masih belum percaya kepadaku. Hemm, kalau begitu biarlah kunikmatinya sendiri. Nanti lewat tengah malam baru kita bicara!”

Setelah berkata demikian, Siauw-ok lalu mengangkat muka memandang kepada gadis remaja yang mepet di sudut ruangan itu dan menggapai.

“Manis, ke sinilah engkau!”

Tentu saja gadis itu makin ketakutan, menggeleng-geleng kepalanya dan makin mepet dinding, seolah- olah dia hendak melarikan diri dengan menembuskan tubuhnya pada dinding itu.

“Ke sinilah, jangan malu-malu dan jangan takut-takut….,” berkata Siauw-ok lagi sambil menggapai dan tersenyum ramah.

Gadis itu menoleh ke kanan kiri, dan akhirnya ia melihat bagian belakang ruangan itu yang kosong. Jalan ke belakang! Bagaikan memperoleh tenaga dan semangat baru, gadis remaja itu bangkit dan meloncat lalu berlari ke arah pintu belakang itu.

“Ahh, jangan lari, manis!” Siauw-ok berkata, suaranya masih halus. Tangannya bergerak ke depan dan gadis itu menjerit, tubuhnya terguling seolah-olah kakinya ada yang menjegalnya.

“Ha-ha-ha, engkau tidak mungkin bisa lari dariku, manis!” Siauw-ok berkata dan kembali ia mengggerakkan kedua tangannya ke depan dan…. Tek Ciang memandang kagum dan heran melihat betapa tubuh gadis itu kini terguling-guling ke arah Siauw-ok seperti ditarik oleh suatu kekuatan yang hebat.

“Uhhh….!” Gadis itu mengerang ketika tangan Siauw-ok tiba-tiba memegangnya.

Terdengar suara kain robek berkali-kali yang disusul jerit tangis gadis itu. Tek Ciang tersenyum melihat betapa pakaian gadis itu robek-robek, lalu dia pun meninggalkan ruangan belakang itu, menuju ke ruangan depan di mana dia lalu duduk melamun, mendengarkan tangis dan rintihan yang terdengar dari ruangan belakang itu.

Mendengar rintihan yang memelas itu dia tersenyum dan hatinya merasa senang sekali. Rasakan engkau sekarang! Demikian bisik hatinya puas. Kalau saja dia tidak sedang dalam keadaan penasaran dan sedih, kalau saja dia sudah tidak curiga sama sekali terhadap orang itu, tentu saja dia ingin sekali melaksanakan sendiri penyiksaan dan penghinaan terhadap gadis itu, atau setidaknya menonton dengan puas. Kini, dia hanya memuaskan hatinya dengan pendengarannya saja. Rintihan dan jerit tangis wanita itu baginya terdengar seperti musik merdu yang mengelus hatinya yang luka penuh terisi dendam dan kebencian!

Kalau kita membuka mata melihat keadaan batin kita sendiri, akan nampaklah hal yang mengerikan ini, yakni bahwa di dasar batin kita terdapat suatu kekejaman yang amat hebat dan mengerikan seperti yang dirasakan oleh Tek Ciang! Ada kecenderungan dalam batin kita untuk merasa serang dan puas melihat penderitaan orang lain.

Rasa iba dan haru baru terasa oleh kita kalau yang tertimpa mala petaka, kalau yang menderita itu sanak keluarga atau sedikitnya orang yang masih ada ikatannya dengan kita. Juga baru timbul rasa iba dan haru itu kalau kita terpengaruh oleh orang lain atau orang banyak. Mengapakah kekejaman makin menonjol dalam batin sedangkan rasa iba dan haru ini sudah tidak peka lagi?

Rasa senang dan puas melihat orang atau pihak lain menderita jelas muncul karena adanya api kebencian di dalam hati. Bukan benci kepada orang tertentu, melainkan api kebencian yang membuat kita mengurung diri dalam ke-aku-an yang menebal. Rasa benci ini yang mendatangkan kegembiraan dan kepuasan sewaktu melihat orang lain menderita dan sengsara.

Dan kalau kita mau membuka mata mempelajari dan mengenal diri sendiri, secara jujur, kita akan melihat betapa kekejaman dan kesadisan sudah bertahta dalam diri kita. Kesengsaraan orang lain bahkan menjadi hiburan bagi diri sendiri yang sedang dilanda kesengsaraan pula. Kebahagiaan orang lain kadang-kadang, dan ini sering sekali, justru mendatangkan rasa iri dan tidak puas. Mengapa begini?

Semua itu terjadi karena kita tidak menyadarinya lagi pada saat hati dilanda kebencian, ketika kita mentertawakan orang lain yang menderita. Kalau kita waspada, mengamati segala gerak-gerik diri sendiri lahir batin, akan nampaklah semuanya itu dan penglihatan waspada ini akan membasmi semua itu seketika. Dan barulah, kalau hati tidak lagi dihuni kebencian, iri hati, penonjolan ‘si aku’ yang semakin menebal, barulah batin kita terbuka untuk dapat menerima sinar cinta kasih, barulah kita dapat merasakan kesusahan mau pun kesukaan orang lain.

Tek Ciang melamun dan tenggelam dalam renungan sampai suara rintihan dan isak tangis itu makin lemah dan akhirnya terhenti sama sekali. Dia terkejut ketika tiba-tiba namanya dipanggil.

“Louw Tek Ciang! Ke sinilah engkau!”

Tek Ciang mengenal suara Siauw-ok. Dia menengadah, memandang ke langit melalui atap yang berlubang besar itu. Bulan telah condong ke barat. Tengah malam telah tiba dan dia pun bangkit berdiri, lalu melangkah memasuki ruangan belakang di mana kini sinar bulan masuk agak banyak melalui atap bolong karena lubang atap di bagian ruangan ini menghadap agak ke barat. Tek Ciang menyapu dengan pandang matanya.

Siauw-ok sudah duduk pula seperti tadi, bersila dan seperti tidak nampak perubahan, hanya mukanya menjadi agak basah oleh peluh yang diusapnya. Di sebelahnya nampak sesosok tubuh yang putih tak berpakaian itu. Tubuh gadis remaja tadi yang kini rebah terlentang, nampak wajahnya yaug pucat seperti mayat, napasnya yang empas-empis dan matanya terpejam. Tek Ciang terpaksa menahan senyumnya yang timbul dari hati yang puas. Dia lalu duduk di depan Siauw-ok, tidak lagi mempedulikan gadis itu.

“Nah, sekarang kita bicara mengenai urusan kita,” kata Siauw-ok, juga sikapnya sama sekali tidak peduli akan gadis yang telah diperkosa dan dipermainkannya itu.

“Locianpwe telah tahu mengapa aku mendendam kepada Kao Cin Liong. Akan tetapi aku belum tahu mengapa locianpwe juga memusuhinya.” Tek Ciang memulai. Untuk bekerja sama dengan seseorang, dia harus tahu terlebih dulu dasar yang mendorong orang itu untuk bekerja sama.

“Kao Cin Liong adalah seorang panglima muda yang telah banyak menghancurkan dan membunuh golongan kita, bahkan subo-ku dan semua supek dan susiok-ku juga tewas di tangan dia dan kawan- kawannya.”

“Lalu apa maksud locianpwe untuk mengajakku bekerja sama? Aku bukan tandingan Kao Cin Liong, dan locianpwe sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi, mengapa mengajak kerja sama dengan aku yang masih hijau dan lemah?”

“Kita dapat saling bantu, Tek Ciang. Engkau sudah melihat kepandaianku, dan aku telah mengenalmu, mengetahui segala hal mengenai dirimu dan rahasia ayahmu. Karena itu, engkau tidak mempunyai pilihan lain kecuali bekerja sama denganku. Beberapa patah kata saja dariku tentang engkau dan ayahmu, jangan harap engkau akan dapat terus menjadi murid Suma Kian Lee, apalagi menjadi mantunya.”

Diam-diam Tek Ciang terkejut. Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang yang licik, curang dan kejam sekali, juga amat lihai. “Locianpwe, sebelum kita berunding, aku ingin lebih dulu mengetahui keuntungan apa yang dapat kuperoleh dengan kerja sama kita ini.”

Siauw-ok tertawa. “Ha-ha-ha, engkau cerdik, jauh lebih cerdik dari pada ayahmu yang tolol itu, yang berani mencoba untuk menyerang Kao Cin Liong.”

“Harap locianpwe tidak membawa-bawa ayahku yang sudah meninggal, dan katakan keuntungan apa yang dapat kuperoleh.”

“Keuntungannya? Wah, banyak sekali bagimu. Pertama, engkau akan terus menjadi murid Suma Kian Lee. Ke dua, engkau dapat dipastikan akan menjadi suami Suma Hui, atau setidaknya engkau sudah dapat menikmati kegadisannya. Dan ke tiga, engkau akan dapat membalas dendam kepada Kao Cin Liong dengan membuat dia sengsara, terputus hubungannya dengan Suma Hui, bahkan besar sekali kemungkinan dimusuhi oleh keluarga Suma. Ha-ha-ha, mereka itu, keluarga Suma dan keluarga Kao, akan menjadi musuh yang saling menghancurkan! Betapa hebat dan bagusnya rencanaku ini!”

Tentu saja hati Tek Ciang tertarik sekali. Begitu banyak hal-hal yang menguntungkan baginya. Akan tetapi dia masih menawar, “Apakah tidak bisa Cin Liong kulihat mampus di depan kakiku?”

“Oho-ho-ho-ho, bicara sih mudah! Engkau tahu, ilmu kepandaian Kao Cin Liong itu hebat sekali dan agaknya Si Naga Sakti Gurun Pasir yang menjadi ayahnya itu telah mewariskan ilmu-ilmunya yang hebat. Aku sendiri pun tidak sanggup mengalahkannya, apalagi membunuhnya. Lebih-lebih engkau. Jika ia tidak sampai terbunuh oleh siasatku ini, kelak engkau masih mempunyai banyak harapan untuk melakukannya sendiri. Bukankah engkau menjadi murid yang akan mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es? Nah, kelak masih banyak kesempatan bagimu kalau hendak membunuhnya dengan tangan sendiri. Tetapi, mungkin siasatku ini akan menjerumuskannya ke dalam permusuhan dengan keluarga Suma dan siapa tahu dia akan mampus karena permusuhan itu.”

“Baik, locianpwe, aku setuju untuk bekerja sama. Nah, apa yang sekarang harus aku lakukan?” “Mendekatlah dan dengar baik-baik….,” kata Siauw-ok.

Tek Ciang mendekat dan datuk sesat itu lalu berbisik-bisik dengan suara yang hanya dapat terdengar oleh mereka yang berada di dalam ruangan itu. Sampai lama mereka berbisik-bisik dan tahu-tahu malam telah terganti fajar. Mereka sudah selesai bicara dan bangkitlah keduanya, lalu mereka berjalan ke arah pintu depan.

Tiba-tiba Tek Ciang teringat sesuatu dan menoleh ke arah gadis remaja yang masih rebah terlentang. Kini gadis itu agaknya sudah siuman, terdengar ia merintih perlahan dan mukanya miring, matanya terbuka dan air mata mengalir di sepanjang pipi dan lehernya.

“Bagaimana dengan perempuan itu? Ia mungkin mendengar semua percakapan kita,” kata Tek Ciang. “Dibiarkanpun ia akan mati, tapi lebih aman begini!”

Tiba-tiba Siauw-ok menggerakkan lengannya berputar. Ketika dia melakukan gerakan memukul dengan jari terbuka ke arah gadis itu, terdengar gadis itu menjerit lemah dan tubuhnya terkulai. Di dadanya, di antara buah dadanya, nampak guratan merah yang mengeluarkan darah seolah-olah dada itu baru saja ditusuk pedang. Itulah Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang amat lihai dari Siauw-ok, yang diwarisinya dari mendiang Ji-ok yang menjadi guru dan juga kekasihnya.

Melihat ini, Tek Ciang melongo penuh kagum. Membunuh orang dari jarak jauh dengan pukulan sudah banyak didengarnya, akan tetapi dengan pukulan yang mengakibatkan luka seperti ditusuk pedang, baru kali ini dilihatnya, bahkan belum pernah didengarnya.

“Engkau sungguh hebat, locianpwe.”

“Ha-ha, kalau siasat kita berhasil dan kita menjadi sahabat, aku tidak akan berkeberatan kelak mengajarmu Ilmu Kiam-ci ini. Nah, sekarang bawalah tubuh itu berikut semua pakaiannya. Kita harus membuang jauh- jauh dari tempat ini yang akan menjadi tempat pertemuan kita.”

Tek Ciang menurut. Dia menghampiri mayat gadis itu, memanggulnya dan membawa semua robekan pakaiannya, kemudian mengikuti Siauw-ok keluar dari kuil itu. Di tempat sunyi, jauh dari situ, mereka melemparkan mayat dan sisa-sisa pakaiannya ke dalam sebuah jurang yang amat dalam sehingga tidak terdapat kemungkinan mayat itu akan ditemukan orang. Kemudian mereka berdua berpisah dan mengambil jalan masing-masing tanpa banyak cakap lagi karena semua rencana siasat mereka telah mereka bicarakan sampai jelas sekali malam tadi.

********************

Dendam merupakan racun bagi batin yang amat berbahaya. Dendam bisa menciptakan perbuatan- perbuatan yang amat keji dan kejam, amat kotor dan hina. Dendam membuat kita mau melakukan apa saja, betapa pun kotornya, untuk melampiaskan dendam itu. Dendam menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Dendam adalah kebencian dan penyakit batin ini sudah umum diderita oleh kita semua.

Kalau perasaan benci dan dendam mulai menyerang batin kita dan kita lalu bersikap waspada, mengamati perasaan kita sendiri, maka segera akan nampaklah dengan jelas rangkaian-rangkaiannya, sebab- sebabnya dan timbulnya benci. Mula-mula kebencian timbul kalau si aku merasa dirugikan, merasa dibikin tidak senang dan dikecewakan, pendeknya yang membuat si aku merasa rugi, baik lahir mau pun batin. Dari perasaan tidak senang inilah timbulnya kebencian.

Kalau hanya sampai di situ, kalau kita lalu mengamati dengan penuh kewaspadaan, mengamati dengan batin kosong tanpa menilai, maka kebencian akan berakhir pula sampai di situ. Akan tetapi, biasanya pikiran kita lalu bekerja dengan sibuknya, menilai perasaan benci ini, menilai, mendorong, menarik, mengendalikan.

Sebagian pikiran mencela bahwa benci itu tidak baik, sebagian pikiran pula membela perasaan itu dengan mengajukan sebab-sebabnya, yaitu karena dirugikan. Terjadilah pemborosan enersi batin, terjadilah konflik dan tarik-menarik dari penilaian itu, dan konflik ini bahkan menambah pupuk bagi kebencian itu sendiri. Yang benci adalah aku, kebencian adalah aku, yang menilai, mencela dan membela adalah aku pula, yakni kesibukan pikiran sendiri. Dengan demikian, kebencian takkan mungkin lenyap.

Bisa saja kebencian dikendalikan dan ditekan dan NAMPAKNYA saja lenyap, namun sesungguhnya hanya merupakan penundaan sementara saja. Api kebencian itu masih membara, seperti api dalam sekam, nampaknya saja padam namun di sebelah dalam membara dan sewaktu-waktu pasti akan bernyala lagi kalau mendapatkan angin dan bahan bakar!

Pupuk yang membuat suburnya kebencian itulah yang harus lenyap dari batin kita. Penilaian, pengendalian, celaan dan pembelaan itulah yang harus tidak ada. Yang ada hanya mengamati saja kebencian yang timbul itu, mengamati tanpa menilai, bukan AKU yang mengamati karena kalau demikian masih sama saja, masih kesibukan pikiran belaka yang menginginkan lain, yang ingin agar tidak benci, agar baik dan sebagainya.

Yang ada hanyalah pengamatan penuh kewaspadaan saja, perhatian yang menyeluruh terhadap kebencian yang mengamuk di hati dan pikiran itu. Tanpa penilaian seperti itu, kebencian akan kehilangan daya gerak, akan kehilangan daya hidup, seperti api yang kehabisan bahan bakarnya.

Benci pribadi, atau kebencian yang timbul karena demi keluarga, demi golongan, demi bangsa, semua itu pada hakekatnya sama saja. Yang menjadi peran utama adalah si aku yang dapat saja diperluas menjadi keluargaku, golonganku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya.

Louw Tek Ciang pulang ke rumah suhu-nya dengan dendam yang sudah digodok matang dengan rencana siasat keji yang diatur oleh Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng!

Dua hari kemudian, pada suatu sore, seperti biasa Cin Liong datang mengunjungi kekasihnya, disambut dengan gembira oleh Suma Hui. Mereka lalu duduk di ruangan tamu dan pada sore hari itu, seperti sudah dijanjikan, Cin Liong harus makan malam di situ karena sudah dipersiapkan oleh kekasihnya. Dan baru pada waktu makan itulah, setelah lewat beberapa hari, Cin Liong berkesempatan jumpa dengan Tek Ciang. Dia memandang tajam dan mendapat kenyataan bahwa pemuda itu sudah berubah. Tidak muram atau pucat lagi, bahkan hormat dan ramah kepadanya.

“Kao-taihiap, aku minta maaf atas segala kesalahanku….” “Ahh, Louw-susiok mengapa menyebutku taihiap segala?”

“Suheng, engkau kenapa sih? Kenapa menyebut taihiap kepada Cin Liong?” Suma Hui juga menegur sambil tersenyum, merasa geli oleh sikap baru ini.

Tek Ciang menarik napas panjang. “Ahh, aku ingin menampar pipi sendiri kalau berani menyebut nama begitu saja.”

“Ih, kenapa begitu, suheng? Cin Liong ini memang masih terhitung keponakanku, maka sudah sepatutnya dia menyebutmu susiok dan engkau menyebut namanya begitu saja. Bukankah yang sudah-sudah engkau pun menyebut namanya saja?”

“Karena aku belum mengenal siapa dia! Kalau dia seorang biasa yang lemah seperti aku masih mending. Akan tetapi dia adalah seorang pendekar sakti, seorang jenderal, dan jauh lebih tua dariku. Kalau aku menyebut namanya begitu saja tentu aku akan menjadi buah tertawaan orang. Tidak, aku harus menyebut taihiap atau aku tidak akan berani menyebut sama sekali.”

Cin Liong tersenyum, di dalam hatinya dia membenarkan Suma Hui yang menceritakan kepadanya bahwa pemuda itu selalu ramah dan hormat. “Baiklah, Louw-susiok, sesukamulah. Apa artinya dalam sebuah sebutan? Akan tetapi, mengapa engkau minta maaf?”

“Karena aku telah bersikap kasar selama ini terhadap taihiap, juga menyangka yang bukan-bukan berhubung dengan kematian ayah, dan juga…. ketika pertama kali taihiap datang, aku…. aku telah membayangimu sampai ke rumah penginapan, maklumlah, aku…. aku ketika itu menaruh curiga kepadamu.”

Cin Liong tertawa. “Aku sudah tahu akan hal itu dan tak perlu dirisaukan, susiok. Eh, bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang jai-hwa-cat itu?”

Tek Ciang menggeleng kepala dan menarik napas panjang. “Agaknya aku masih terlalu bodoh, kepandaianku masih terlalu rendah untuk dapat menemukan jejaknya, walau pun beberapa kali aku melihat berkelebatnya bayangan orang yang cepat sekali di wuwungan rumah-rumah. Bahkan aku mendengar pula berita akan hilang terculiknya seorang gadis dari keluarga Ciong di ujung barat kota. Aku yakin bahwa ayah benar, yakni bahwa ada jai-hwa-cat berkeliaran di kota ini.”

Cin Liong mengangguk. “Aku pun sudah mendengar berita itu dari komandan kota. Karena kebetulan aku sendiri sedang berada di kota ini, biarlah aku akan melakukan penyelidikan malam ini.”

“Aku juga akan melakukan penyelidikan sedapatku, taihiap. Pendeknya, aku takkan berhenti menyelidiki sebelum penjahat itu tertangkap atau terbunuh!” Tek Ciang berkata penuh semangat.

Setelah makan selesai, Tek Ciang yang ‘tahu diri’ lalu mundur dan memasuki kamarnya sendiri, membiarkan sepasang kekasih itu asyik berdua saja di kamar tamu.

Dan memanglah, setiap kali mereka bertemu berdua saja, Cin Liong dan Suma Hui tentu menumpahkan rindu dan sayangnya melalui suasana yang akrab dan santai, romantis dan mesra. Mereka asyik bercakap- cakap, bersendau-gurau, kadang-kadang berangkulan dan berciuman.

“Hui-moi, kalau ayah bundaku sudah melamar, dan kalau orang tuamu setuju, aku ingin kita tidak lama- lama menunda pernikahan. Aku ingin segera menikah denganmu, tinggal di kota raja dan aku akan mengajukan permohonan kepada sri baginda kaisar agar ditugaskan di kota raja saja, agar tidak banyak berkeliaran meninggalkan rumah seperti sekarang. Dengan demikian, kita akan dapat setiap hari berjumpa dan berkumpul.”

“Ihh, kenapa tergesa-gesa amat menikah?” Suma Hui menggoda sambil tersenyum dan kedua pipinya merah.

Cin Liong mencubit dagunya. “Masa tidak mengerti? Aku… aku sudah ingin…. eh, selalu di sampingmu, Hui-moi.”

Sejenak mereka bermesraan. Tiba-tiba Suma Hui menarik napas panjang. “Bagaimana andai kata…. ayahku tidak setuju?”

Cin Liong mengerutkan alisnya. “Kalau begitu…. tinggal terserah kepadamu. Tentu saja aku tidak berani menentang orang tuamu, Hui-moi, akan tetapi demi engkau, apa pun juga akan kulakukan, kalau perlu menghadapi orang tuamu.”

“Kalau aku…. jika ayah melarang dan menentang, aku akan pergi meninggalkan rumah ini, aku akan pergi bersamamu…. maukah engkau, Cin Liong?”

“Tentu saja! Dan aku akan melindungimu, membelamu dengan nyawaku. Akan tetapi, mudah-mudahan tidak sampai sejauh itu, Hui-moi, aku percaya akan kebijaksanaan ayahmu sebagai seorang pendekar sakti yang berpandangan luas.”

Demikianlah, mereka bercakap-cakap, kadang-kadang gembira, kadang-kadang gelisah kalau membayangkan halangan besar yang mungkin timbul dalam hubungan mereka karena penentangan ayah gadis itu. Lalu pemuda itu menyatakan bahwa sebaiknya jika dia pergi dulu ke kota raja, selain untuk urusan tugas, juga untuk menanti datangnya ayah bundanya.

Suma Hui terkejut mendengar kekasihnya akan pergi. “Apakah engkau tidak dapat menanti sampai pulangnya ayah dan ibu?” Gadis ini membayangkan betapa hidup akan terasa sunyi dan tidak menyenangkan kalau kekasihnya ini pergi dari Thian-cin.

“Agaknya tidak baik kalau di waktu orang tuamu tidak ada di rumah, aku setiap hari datang mengunjungimu, Hui-moi. Apa akan kata orang nanti? Pula, orang tuaku sudah berjanji bahwa kalau mereka pergi ke Thian-cin, mereka akan singgah dulu di kota raja.”

Biar pun hatinya terasa berat, namun Suma Hui tidak dapat membantah kekasihnya. Ia hanya bertanya muram, “Kapan engkau akan pergi?”

“Sebaiknya besok atau lusa, Hui-moi. Sudah agak lama aku berada di sini.”

Malam itu, ketika Cin Liong hendak meninggalkan Suma Hui, gadis itu merangkulnya dan suaranya penuh kesedihan pada saat ia berkata, “Cin Liong, jangan terlalu lama meninggalkan aku…. aku akan merasa kesepian dan tidak betah di rumah ini….”

Cin Liong merangkul dan menciumnya. Karena mereka berdua maklum bahwa besok mereka akan berpisah, maka rangkulan dan ciuman mereka lebih hangat dan mesra dari pada biasanya. Cin Liong yang merasa betapa gairah birahi menyerangnya, cepat mendorong tuhuh Suma Hui dengan halus sambil berkata dan tersenyum.

“Ahhh, Hui-moi. Kenapa engkau bersedih? Kita berpisah hanya untuk beberapa bulan saja. Bagaimana pun juga, engkau adalah calon isteriku, apa pun yang akan terjadi, bukan? Engkau adalah punyaku….” Mereka berdekapan lagi.

“Aku punyamu dan engkau milikku, Cin Liong…. hanya kematian yang akan mampu memisahkan kita….” “Aku cinta padamu, Hui-moi…. aku cinta padamu….”

Dengan kata-kata yang diucapkan suara tergetar ini masih terngiang di telinganya, Suma Hui mengantar kekasihnya yang meninggalkan rumahnya itu. Cin Liong juga merasa berat sekali meninggalkan Suma Hui, walau pun besok sebelum berangkat dia tentu akan singgah untuk berpamit dulu.

Dia tidak langsung ke rumah penginapan karena teringat akan cerita yang didengarnya tentang gadis yang lenyap diculik penjahat. Kalau memang benar ada jai-hwa-cat berkeliaran di kota ini, sebelum dia pergi, dia harus dapat menangkapnya lebih dulu. Adanya seorang penjahat cabul di Thian-cin sama dengan memandang rendah kepada keluarga Suma! Maka dia pun mulai melakukan penyelidikan pada malam hari itu.

********************

Malam itu Suma Hui tidak dapat tidur, gelisah saja di atas pembaringannya. Ia sudah memerintahkan pelayan rumah untuk menutup semua pintu dan jendela rumah setelah kekasihnya pergi, dan setelah membersihkan diri, ia pun memasuki kamarnya. Ia tahu bahwa suheng-nya tidak ada, seperti katanya tadi ketika makan bersama, suheng-nya itu akan melanjutkan usahanya mencari jejak jai-hwa-cat. Juga kekasihnya akan ikut membantu dalam pengusutan dan pencarian jejak penjahat itu. Akan tetapi ia sendiri tidak peduli. Hati dan pikirannya sudah penuh dengan masalahnya sendiri, penuh dengan kekhawatiran bahwa ayahnya akan menentang perjodohannya.

Akhirnya pikiran yang sibuk itu membuatnya lelah dan mulailah dara itu terlelap. Lapat-lapat ia seperti mendengar suara suheng-nya perlahan-lahan bicara dengan pelayan di belakang. Suheng-nya sudah pulang agaknya, demikian pikirannya yang terakhir. Lalu ia mencium bau harum yang aneh. Sejenak ia terlena dan bau harum itu membuat ia sadar dan curiga akan bau harum ini. Cepat ia membuka mata dan

bangkit. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa kepalanya pening begitu ia membuka mata dan bangkit. Pada saat itu, sesosok bayangan yang amat ringan gerakannya meloncat masuk kamar melalui jendela yang dipaksanya terbuka dari luar.

Biar pun kepalanya pening, akan tetapi kewaspadaan seorang pendekar silat masih ada pada Suma Hui, membuat dara ini cepat membalikkan tubuh dan siap menghadapi lawan. Akan tetapi orang itu ternyata lihai bukan main, sekali mengulur tangannya dia telah mengirim totokan-totokan secara beruntun.

Suma Hui mencoba untuk mengelak dan menangkis, akan tetapi tetap saja pundaknya terkena totokan, disusul totokan pada lehernya yang membuat ia tiba-tiba menjadi lemas dan tak dapat mengeluarkan suara. Dalam keadaan lemas dan setengah terbius, juga dalam cuaca dalam kamar yang remang-remang, ia tidak mengenal orang ini, hanya melihat bentuk tubuh seorang pria yang bertubuh sedang dan tegap.

“Cin…. Cin Liong….” Hatinya berbisik karena dia tidak mampu bersuara setelah urat gagunya tertotok.

Karena ia kini direbahkan dengan muka menghadap ke dinding dalam keadaan miring, ia tidak melihat apa yang dilakukan oleh orang yang menotoknya itu. Hatinya penuh dengan keheranan dan juga kemarahan. Orang itu bentuk tubuhnya seperti Cin Liong dan melihat kelihaiannya, agaknya pantaslah kalau ia menduga orang itu kekasihnya.

Akan tetapi, mungkinkah Cin Liong melakukan hal aneh ini? Ia tidak tahu bahwa orang itu berkelebat keluar dari lubang jendela. Waktu rasanya berjalan amat lambat bagi Suma Hui yang tidak mampu bergerak itu. Bau harum masih memasuki hidungnya dan kepalanya terasa semakin berat dan mengantuk, tubuhnya tak dapat digerakkan dalam keadaan lemas seperti orang tidur dan dia pun tidak mampu membuka mulut. Asap harum yang mengandung obat bius itu semakin menguasainya, membuat pandang matanya semakin suram.

Tiba-tiba ia menjadi kaget setengah mati ketika merasa betapa sepasang lengan memeluknya. Ia berusaha membuka mata melihat, akan tetapi cuaca terlalu gelap dan pandang matanya juga sudah kabur. Ia hanya merasa ada orang yang memeluknya ketat, lalu ada orang yang menciumi mukanya, menciumi bibirnya. Ia hanya mendengar desahnya napas memburu, lalu mendengar bisikan-bisikan lembut.

“Hui-moi…. aku cinta padamu…. aku cinta padamu….”

Cin Liong! Demikian hatinya berteriak. Akan tetapi ia merasa betapa pikirannya pusing. Dunia bagaikan berputar dan kiamat rasanya ketika ia merasa betapa jari-jari tangan meraba dan membelainya, membuka pakaiannya.

“Tidak….! Tidak….! Jangaaaannn….!” Hatinya menjerit-jerit akan tetapi tidak ada suara yang keluar. Ingin ia menjerit, ingin ia meronta dan mengamuk, ingin ia menangis. Akan tetapi hanya air matanya saja yang menetes-netes dalam tangis tanpa suara.

“Hui-moi…. engkau calon isteriku….” demikian suara itu berbisik-bisik.

Selanjutnya Suma Hui bergidik ngeri merasakan apa yang akan menimpa dirinya dan pada saat terakhir, ia pun tidak ingat apa-apa lagi, tak sadarkan diri karena tidak dapat menahan guncangan batin yang terjadi melihat kenyataan bahwa dirinya diperkosa oleh orang yang dicintanya tanpa mampu mencegah, melawan atau bahkan berteriak.

Ketika ia siuman kembali, Suma Hui masih belum mampu menggerakkan tubuhnya. Hancur luluh rasa hatinya, dunianya seperti kiamat. Ia dapat merasakan apa yang telah menimpa dirinya, mala petaka terbesar bagi seorang wanita, terutama bagi seorang gadis. Aib telah menimpa dirinya, aib yang hanya dapat ditebus dengan nyawa, dicuci dengan darah.

Yang membuat ia merasa semakin sedih adalah kenyataan bahwa yang melakukan hal itu adalah Cin Liong, pria yang dikasihinya, yang dicintanya, calon suaminya, calon ayah dari anak-analnya! Cin Liong telah memperkosanya! Padahal, tanpa diperkosa sekali pun, kalau waktunya telah tiba, ia akan menyerahkan segala-galanya kepada pemuda itu. Akan tetapi, Cin Liong telah merusaknya, menghancurkan kebahagiaannya dengan perbuatannya yang keji dan hina!

“Ya Tuhan….!” Dalam hatinya Suma Hui mengeluh dan merintih.

Ia teringat kepada ayah ibunya dan kembali air matanya bercucuran. Gadis ini biasanya keras hati dan tidak mudah baginya mengucurkan air mata, akan tetapi sekali ini, dirinya telah tertimpa mala petaka yang sangat hebat, yang lebih berat dari pada kematian sendiri. Ia lalu teringat bahwa dalam keadaan tertotok, ia harus dapat menenteramkan batinnya agar dapat membuka jalan darah melalui kekuatan Swat-im Sinkang.

Dengan segala kekuatan dan kemauan yang ada, ia pun lalu memejamkan matanya, mengheningkan cipta. Perlahan-lahan, setelah dapat melupakan segala peristiwa yang menimpanya, dia mulai merasakan adanya gerakan hawa dalam tian-tan di pusarnya. Ia membiarkan hawa itu bergerak perlahan, makin lama makin cepat dan makin terasa kekuatannya. Dengan kemauannya yang membaja, akhirnya dia dapat menggerakkan hawa itu naik, membuka jalan darah yang masih dipengaruhi totokan.

Dapat juga ia membebaskan diri dari totokan sebelum waktunya. Akan tetapi, karena pengaruh obat bius masih membuat kepalanya pening, ia pun dengan hati-hati bangkit berdiri, turun dari pembaringan dan bersila di atas lantai dekat jendela yang dibukanya. Dia lalu menghadap keluar dan membersihkan diri melalui pernapasan, mengumpulkan hawa pagi yang murni.

Malam telah hampir terganti pagi ketika akhirnya ia sadar sama sekali dan bebas dari pengaruh obat bius. Mulailah dia meneliti keadaan dirinya dan ia mengepal tinju dengan kemarahan memuncak pada saat melihat betapa sebagian pakaiannya bernoda darah.

Tanpa melihat tanda ini pun ia sudah tahu apa yang menimpa dirinya, yaitu bahwa ia telah diperkosa orang, atau lebih tepat lagi, diperkosa Cin Liong ketika ia tidak sadar. Dengan menahan tangis ia lalu berganti pakaian, akan tetapi makin lama, kemarahan makin memuncak dan menusuk-nusuk hatinya seperti jarum beracun. Makin panaslah ia dan tanpa disadarinya ia lalu mengamuk! Meja kursi dipukuli dan ditendanginya, kasur dirobek dan diawut-awut dan mulutnya memaki-maki.

“Jahanam! Keparat bedebah kau! Manusia laknat, aku bersumpah untuk membunuhmu, memusuhimu sampai tujuh turunan!”

Terdengar suara hiruk-pikuk yang mengejutkan dari dalam kamarnya, membuat pelayan dan Tek Ciang datang berlari-larian.

“Brakkkk!”

Kini daun pintu kamar itu pecah tertendang oleh Suma Hui, hampir saja menimpa Tek Ciang dan si pelayan yang sudah tiba di luar pintu. Untung Tek Ciang bergerak cepat, menarik tangan si pelayan kemudian meloncat ke belakang ketika daun pintu ambrol. Keduanya berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Suma Hui yang muncul dengan rambut awut-awutan, pakaian kusut dan mata beringas.

“Nona….!” Pelayan itu menjerit kaget.

“Sumoi….! Ada apakah, sumoi? Apakah yang telah terjadi….?” Louw Tek Ciang juga menegur sambil melangkah maju. “Ingatlah, sumoi, ingatlah. Apakah yang telah terjadi denganmu, sumoi….?”

Suma Hui yang seperti kesetanan itu, tiba-tiba terbelalak memandang Tek Ciang dan pelayannya. Mendengar suara Tek Ciang yang halus dan penuh perhatian itu, tiba-tiba saja ia memperoleh pelepasan dan gadis itu tidak dapat menahan lagi tangisnya.

“Suheng…. ahhh, suheng…. hu-huuu-huuuhhh….” Ia terhuyung dan Tek Ciang cepat memegang pundaknya.

Karena Tek Ciang merupakan satu-satunya orang yang dekat dengannya, Suma Hui kemudian menangis mengguguk dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan pemuda itu, menangis sambil menyandarkan muka di dada Tek Ciang. Pemuda ini mengelus kepala Suma Hui sambil menghiburnya dengan kata-kata yang tenang dan ramah.

“Sumoi, segala hal dapat diurus dengan baik. Tiada masalah yang tidak dapat diatasi dengan ketenangan dan kebijaksanaan. Sumoi, apakah yang telah terjadi….”

Akan tetapi, Suma Hui makin mengguguk dalam tangisnya sehingga Tek Ciang hanya membiarkannya saja, malah berkata dengan halus, “Menangislah, sumoi. Menangislah sepuasmu kalau tangis dapat meringankan hatimu, sumoi….”

Dan memang hanya tangis saja yang dapat meringankan hati yang sedang sesak oleh kedukaan bercampur kemarahan. Setelah menangis terisak-isak dan menumpahkan banyak air mata, Suma Hui dapat menguasai dirinya lagi. Tentu saja dia tidak mau menceritakan mala petaka apa yang menimpa dirinya. Ia melepaskan diri dari pelukan Tek Ciang, memandang kepada suheng-nya itu dengan berterima kasih.

“Maafkan kelemahanku, suheng….”

“Sumoi, engkau sungguh membuat aku terkejut dan khawatir sekali. Apakah yang telah terjadi? Kenapa engkau mengamuk?” Dia memandang ke dalam kamar yang kalang kabut itu.

“Nampaknya seperti ada perkelahian di dalam kamarmu. Engkau berkelahi dengan siapakah?”

Suma Hui menggelengkan kepalanya. “Aku sendiri tidak tahu dia siapa. Tapi, suheng, apakah semalam engkau tidak mendengar apa-apa dan tidak melihat orang memasuki rumah kita?”

Tek Ciang menggeleng kepalanya dan alisnya berkerut. “Aku baru pulang menjelang pagi, bahkan belum dapat tidur saat tiba-tiba mendengar suara ribut-ribut dari kamarmu. Semalam aku keliling kota melakukan penyelidikan dan kebetulan sekali aku melihat perkelahian yang amat hebat antara Kao-taihiap dan seorang yang tidak kukenal….”

Seketika perhatian Suma Hui tertarik. “Dia….? Dia…. berkelahi? Di mana dan siapa lawannya? Bagaimana….?” Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dengan gagap.

“Aku sedang melakukan penyelidikan ke lorong-lorong gelap pada waktu aku melihat berkelebatnya bayangan orang yang meloncat ke atas genteng. Aku terkejut sekali dan menyelinap ke tempat gelap sambil mengintai. Tiba-tiba aku melihat Kao-taihiap juga meloncat ke atas sambil membentak. Mereka lalu berkelahi di atas genteng, bahkan lalu keduanya meloncat turun dan melanjutkan perkelahian di atas tanah. Orang itu lihai sekali dan agaknya menjadi tandingan yang seimbang dari Kao-taihiap. Keduanya berkelahi tanpa menggunakan senjata. Entah berapa lama dan siapa yang unggul aku tidak dapat mengikuti saking cepatnya mereka bergerak. Akan tetapi akhirnya, lawan Kao-taihiap melarikan diri dikejar oleh Kao-taihiap. Aku berusaha mengejar pula dan mencari-cari, akan tetapi mereka lari terlampau cepat dan aku kehilangan jejak mereka. Aku terus mencari sampai hampir pagi tanpa hasil, kemudian aku pulang.”

Suma Hui mendengarkan semua itu dengan hati tertarik. Siapakah yang berkelahi melawan Cin Liong? Dan apakah sesudah berkelahi itu Cin Liong kemudian memasuki kamarnya?

“Apakah engkau tidak melihat bagaimana wajah lawannya itu, suheng? Bagaimana pula bentuk tubuhnya?”

“Keadaannya amat gelap, sukar mengenal wajahnya. Akan tetapi pakaiannya mewah dan agaknya dia setengah tua, tubuhnya sedang….”

“Ahhh, tentu dia Jai-hwa Siauw-ok!” Suma Hui berseru.

“Mungkin, karena ketika mengejar, Kao-taihiap juga berseru begini : Jai-hwa-cat, jangan lari!” Suma Hui termenung. “Mengasolah, suheng. Aku pun hendak istirahat….”

“Tapi, sumoi…. apa yang terjadi di sini? Engkau belum menceritakan kepadaku.”

Suma Hui menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Ada yang memasuki kamarku. Kami berkelahi, namun dia keburu pergi tanpa aku dapat mengenalinya. Sudahlah, suheng, aku lelah dan hendak istirahat.” Suma Hui memasuki kamarnya dan mengangkat pintu yang jebol itu, menutupkannya begitu saja.

Sejenak Tek Ciang bengong di depan pintu, lalu mengangkat pundak dan memberi isyarat kepada pelayan yang juga ikut bengong itu untuk pergi dan membiarkan nona itu beristirahat dalam kamarnya yang awut- awutan.

Suma Hui memandang ke sekeliling kamarnya. Meja dan kursi hancur berantakan oleh amukannya. Kasurnya robek awut-awutan. Akan tetapi dia tak peduli. Dia menjatuhkan badannya ke atas pembaringan

kayu yang kasurnya telah robek-robek itu, memejamkan matanya dan menahan tangisnya. Tidak, tidak ada gunanya lagi menangis, pikir dara yang keras hati ini. Tidak ada lagi yang perlu ditangisi.

Hidupnya sudah berakhir, kebahagiaannya sudah hancur. Dia harus menuntut kepada Cin Liong, ia akan minta pertanggungan jawabnya. Bagaimana pun juga, ia tak mungkin dapat mencinta Cin Liong lagi setelah pemuda itu melakukan hal yang demikian kejinya terhadapnya. Cintanya sudah lenyap bersama dengan kehormatannya yang direnggut oleh pemuda pujaannya itu. Ahhh, benarkah bahwa cinta antara bibi dan keponakan seperti dia dan Cin Liong itu dikutuk oleh para leluhur, dikutuk oleh Thian sehingga menimbulkan mala petaka yang begini hebat atas dirinya?

Siapa kalau bukan Cin Liong yang melakukan perbuatan keji itu? Suaranya tak dapat dilupakannya. Kelihaian pemerkosa itu pun menunjukkan bahwa Cin Liong orangnya. Akan tetapi, mengapa Cin Liong mempergunakan asap pembius? Apakah agar tidak dikenal? Tetapi, ucapan pemuda itu jelas memperkenalkan dirinya! Apakah dasar dari perbuatan kekasihnya itu? Hanya karena dorongan nafsu birah? Tak mungkin!

Saat mereka berpelukan semalam sebelum pemuda itu meninggalkannya, ia pun dapat merasakan gairah birahi pada diri pemuda itu, namun Cin Liong cepat memisahkan diri. Cin Liong bukanlah seorang pemuda hamba nafsu. Ataukah….?

Suma Hui membuka matanya ketika teringat akan hal itu, dan ia cepat bangkit duduk, mengepal tinju. Apakah pemuda itu melakukan perbuatan keji itu dengan maksud agar ayahnya terpaksa memenuhi tuntutan mereka untuk dapat saling berjodoh? Karena ia sudah dinodai maka ayahnya takkan dapat menolak pinangannya lagi karena aib yang menimpa dirinya takkan dapat tercuci?

“Tidak!” Ia mendesis. “Aku tidak sudi! Lebih baik mati dari pada menjadi isteri seorang yang berhati palsu! Noda ini hanya dapat ditebus dengan nyawa!”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo