October 1, 2017

Kisah Para Pendekar Pulau Es Part 7

 

“Tapi, siapakah yang akan berani menyerangmu, Mo-ong?”

“Memang tidak ada, akan tetapi siapa tahu? Di dunia ini lebih banyak musuh dari pada sahabat. Dan siapa tahu mala petaka datang selagi aku berlatih. Kau jagalah baik-baik dan hentikan latihanmu.”

“Baik, Mo-ong. Aku akan menjagamu,” anak itu berjanji.

Ia lalu berdiri di bawah pohon tak jauh dari timbunan tengkorak itu, memandang dengan hati tertarik sekali karena dia tahu bahwa gurunya itu memang amat lihai dan memiliki banyak ilmu yang aneh-aneh.

“Nah, kau siaplah!” kata Hek-i Mo-ong.

Dia sendiri lalu mengatur pakaiannya, menggulung lengan bajunya, mempererat ikat pinggang, membetulkan ikatan pita rambutnya, lalu dia berdiri tegak dan mengambil napas dalam-dalam sampai beberapa lamanya. Kemudian, tiba-tiba saja tubuhnya itu meloncat ke atas tumpukan tengkorak, berjungkir balik dan kepalanya hinggap di atas tengkorak yang berada di tumpukan paling atas. Oleh karena tengkorak ini, seperti tengkorak-tengkorak yang lain, menghadap ke atas, maka mulut tengkorak itu seperti mengecup tengkuknya.

Setelah tubuhnya yang berjungkir balik itu tegak lurus dan sedikit pun kakinya tidak bergoyang, kedua lengannya lalu bersedakap seperti tadi. Terdengar dia bernapas dalam dan keras, makin lama suara napasnya semakin keras mendesis-desis dan tak lama kemudian, Ceng Liong melihat betapa ada uap putih perlahan-lahan keluar dari mulut kakek itu yang terbuka!

Dan dia yang berdiri di sebelah kiri gurunya dalam jarak hampir tiga meter sudah mulai merasakan adanya hawa panas! Uap putih itu ternyata tidak melayang pergi, melainkan berkumpul di depan mulut, perlahan- lahan melayang maju dan makin memanjang, ada kalanya tertarik kembali mendekati mulut.

Ceng Liong memandang dengan penuh perhatian. Biar pun dia masih kecil, namun sudah banyak melihat ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan dia pun telah mempelajari teori-teori ilmu yang tinggi dari Pulau Es. Dia tahu bahwa ilmu-ilmu keluarganya juga amat tinggi dan di antara ilmu-ilmu itu terdapat pula penggunaan hawa sinkang yang panas, yaitu Hwi-yang Sinkang yang dapat membakar dan mencairkan es. Akan tetapi, hawa tenaga sakti itu hanya dipergunakan melalui gerakan pukulan. Dan Raja Iblis ini menggunakan hawa sakti itu melalui pernapasannya, dikeluarkan dari dalam tubuh berupa uap panas yang langsung dipergunakan untuk menyerang musuh!

Kini, uap putih yang tebal itu makin lama semakin tebal dan semakin panjang, sampai melayang lebih dari satu meter dari mulut, akan tetapi tidak pernah terlepas dari mulut yang terbuka itu. Kalau uap itu sampai dapat mencapai dua meter lebih, baru akan menjadi senjata yang amat berbahaya bagi lawan.

Dan agaknya, dalam latihan ini, Hek-i Mo-ong mengerahkan banyak tenaga. Tubuhnya mandi peluh dan napasnya mulai terengah. Padahal, uap itu baru melayang sejauh satu setengah meter. Terpaksa dia menghentikan dorongan dari dalam itu dan uap itu kini berhenti dan tidak bergerak, nampak aneh karena seperti benda keras saja.

Pada saat itu, tiba-tiba telinga Ceng Liong mendengar gerakan ringan dari belakangnya dan munculah seorang kakek berpakaian seperti tosu dengan rambut digelung ke atas. Tosu ini membawa pedang di punggungnya dan mukanya merah sekali. Usianya ada enam puluhan tahun. Selain tosu ini, Ceng Liong masih melihat berkelebatnya banyak bayangan orang di sekitar tempat itu. Tentu saja dia bersikap waspada dan siap sedia melindungi gurunya.

Mula-mula tosu itu nampak kaget dan heran, akan tetapi setelah dia mengenal muka Hek-i Mo-ong, matanya segera mendelik, mulutnya mengeluarkan seruan tertahan dan tiba-tiba saja dia mengirim serangan, pukulan yang dahsyat dilayangkannya ke arah punggung Raja Iblis itu!

“Desss….!”

Tubuh tosu itu terhuyung ke belakang dan dia memandang terbelalak kepada anak berusia sepuluh tahun yang tiba-tiba menangkis pukulannya tadi dan membuatnya terhuyung! Hampir saja dia tidak dapat percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Dia adalah seorang yang memiliki sinkang kuat, dan ketika anak kecil tadi menangkis, dia merasa adanya hawa sakti yang amat kuat menolaknya. Dia terhuyung dan anak itu hanya mundur dua langkah, tanda bahwa dia kalah kuat!

Tentu saja dia menjadi penasaran dan marah, dan menduga bahwa tentu anak ini murid Hek-i Mo-ong. Tidak terlalu mengherankan kalau Raja Iblis itu memiliki murid kecil yang sudah begini lihai, dan sebelum membunuh iblis itu dia harus lebih dulu menyingkirkan anak ini. Akan tetapi, bagaimana pun juga, di depan banyak orang dia masih merasa malu untuk mempergunakan pedangnya. Maka tanpa banyak cakap, dia lalu menerjang maju dan menyerang Ceng Liong.

Ceng Liong mengelak, menangkis dan membalas. Dia mainkan Iimu Silat Sin-coa-kun yang pada waktu itu merupakan satu-satunya ilmu silat dari keluarganya yang sudah agak matang dilatihnya. Maka, untuk berkali-kali, tosu itu merasa terheran-heran karena serangannya luput dan tertangkis, bahkan anak itu dapat mengirim serangan balasan yang cukup cepat.

Bagaimana pun juga, Ceng Liong hanya seorang anak kecil berusia sepuluh tahun. Gerakannya belum mantap, lengannya masih terlalu pendek dan biar pun dia sudah mewarisi tenaga sakti kakeknya, namun dia belum menguasainya benar-benar sehingga belum dapat mempergunakan sumber tenaga itu dengan baik. Maka, belasan jurus kemudian, dia mulai dihajar tunggang-langgang oleh tamparan, pukulan dan tendangan tosu itu.

“Plakkk!”

Keras sekali pukulan sekali ini yang mengenai dada Ceng Liong, membuat tubuhnya terjengkang dan terbanting keras. Akan tetapi, bulu tengkuk tosu itu meremang ketika dia melihat anak itu meloncat bangun kembali. Padahal pukulannya tadi amat keras dan akan dapat mencabut nyawa seorang lawan yang cukup tangguh! Akan tetapi, Ceng Liong merasa agak pening dan tahulah anak ini bahwa keadaan gurunya terancam bahaya. Kalau orang-orang lain yang kini sudah berdiri mengepung tempat itu turun tangan, tak mungkin dia dapat melindungi gurunya.

“Mo-ong, sadarlah, bantulah! Sadarlah kalau engkau tidak ingin mati!” Ceng Liong mulai berteriak-teriak menyadarkan gurunya.

Teriakannya itu tentu saja membuat si tosu dan orang-orang lain merasa terheran-heran. Tosu itu pun meragu mendengar seruan anak itu. Tidak mungkin murid si raja iblis kalau menyebut kakek itu Mo-ong begitu saja. Bagaimana pun juga, dia khawatir kalau-kalau Raja Iblis itu sadar dan tentu tidak akan mudah menyerangnya. Maka dengan gemas tosu ini pun melakukan serangan dahsyat sekali.

“Bresss….!”

Tubuh Ceng Liong kini terlempar sampai empat meter lebih terkena tendangan kilat tosu itu. Tubuhnya terbanting keras dan sebelum anak itu sempat bangkit, tosu tadi telah tiba di depannya dan dengan ganas tosu itu mengirim pukulan ke arah kepala Ceng Liong!

Anak itu maklum akan datangnya bahaya maut, maka dia pun teringat akan ilmu yang baru saja dilatihnya, yaitu Coan-kut-ci. Maka dia mengangkat tangan kanan menyambut pukulan itu dengan cengkeraman tangannya.

“Crottt….! Aughhh….!”

Tosu itu terkejut bukan main. Karena dia kuat, maka jari-jari tangan Ceng Liong tidak sampai melubangi tulang lengannya, akan tetapi kulitnya robek dan dagingnya terluka sedikit mengeluarkan darah. Bukan main marahnya dan dia pun mencabut pedangnya. Akan tetapi pada saat itu nampak sinar berkelebat dan sebuah tengkorak menyambar ke arah kepalanya dengan kecepatan dahsyat dan mendatangkan angin menyambar kuat.

“Trakkk….!”

Tosu itu mengggerakkan pedangnya menangkis. Dia berhasil menangkap tengkorak itu yang runtuh ke atas tanah, akan tetapi dia sendiri pun hampir saja terjengkang saking kerasnya tenaga sambitan tadi ketika bertemu dengan tangkisannya. Dia pun terkejut dan memandang ke arah Hek-i Mo-ong yang ternyata kini telah berdiri di atas tumpukan tengkorak dengan kaki di bawah dan tadi dia mengunakan kakinya untuk menendang sebuah tengkorak yang melayang ke arah tosu itu.

Akan tetapi, Hek-i Mo-ong tidak memperhatikan tosu itu, melainkan memandang kepada beberapa orang yang memimpin pengepungan itu dan berdiri menghadapinya. Pada saat itu, Ceng Liong juga sudah menghampiri gurunya dan berdiri di dekat tumpukan tengkorak.

“Huh, bukankah Thong-ciangkun yang datang ini? Dan juga bersama Thai Hong Lama dari Tibet, Pek-bin Tok-ong dari Go-bi dan agaknya tokoh-tokoh penting lainnya yang belum kukenal. Hemm…. hemm…. tokoh-tokoh besar berkumpul di sini dan mendatangi aku secara begini, ada keperluan apakah?” Hek-i Mo- ong menatap wajah mereka satu demi satu dan diam-diam dia pun terkejut karena banyak di antara mereka itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Mau apa begini banyak orang sakti yang ia tahu adalah dari golongan sesat berkumpul? Kalau mereka ini terdiri dari para pendekar, tentu dia akan merasa khawatir karena kedatangan mereka tentu akan memusuhinya. Tapi mereka jelas datang dari golongan hitam bercampur dengan orang-orang yang sedang menduduki jabatan penting seperti Thong-ciangkun, maka hatinya pun tenang.

“Hek-i Mo-ong, aku datang sebagai utusan pribadi yang rahasia dari Gubernur Yong untuk mengundang para tokoh ini menghadap ke gedung beliau. Dan engkau termasuk seorang di antara para undangan itu untuk membicarakan urusan penting sekali. Maka dengan resmi aku atas nama Gubernur Yong mengundangmu, Hek-i Mo-ong, agar ikut bersama kami ke gedung gubernur.”

“Hemm, mana bisa begitu? Kalau ada urusan, katakanlah sekarang dan di sini. Tidak mungkin aku pergi menghadiri suatu undangan tanpa kuketahui urusannya, biar yang mengundang itu gubernur sekali pun!”

Thong-ciangkun, perwira tinggi yang menjadi pembantu gubernur dan panglima pasukan di wilayah barat ini adalah seorang perwira yang usianya sudah enam puluh tahun dan sudah lama dia mengenal Hek-i Mo- ong. Dulu sebagai ketua Hek-i-mo-pang, Raja Iblis ini memang sudah memiliki pengaruh yang besar di kalangan pembesar, bahkan ada hubungan baik antara dia dan Gubernur Yong, maka sekarang perwira itu maklum bahwa menghadapi seorang seperti Hek-i Mo-ong ini dia harus berhati-hati. Sambil tersenyum dia lalu berkata.

“Hek-i Mo-ong, saudara-saudara ini datang dari Go-bi-san, dari Tibet, dari Nepal dan dari Mongol. Mereka ini adalah sahabat-sahabat atau sekutu dari Yong-taijin. Maka engkau diundang untuk meramaikan dan memperkuat persekutuan ini agar kelak dapat memperoleh kemuliaan bersama.”

Diam-diam Hek-i Mo-ong terkejut, akan tetapi juga girang. Memang sudah menjadi niatnya untuk menentang kekuasaan Kaisar Kian Liong dan dia tahu bahwa kalau dia tidak mempunyai sekutu yang kuat, niat itu tidak akan mungkin berhasil. Baru menyerbu Pulau Es saja, biar pun dia sudah mengajak empat orang datuk lain yang lihai, dia telah kehilangan kawan-kawannya itu, yang tiga orang tewas yang seorang lagi entah lari ke mana!

Kini terbukalah kesempatan baginya dan tentu saja dia tidak mau melewatkannya begitu saja. Akan tetapi, dia adalah Hek-i Mo-ong dan di dalam persekutuan itu, dia harus dapat menjadi yang nomor satu atau setidaknya, menjadi pembantu gubernur yang paling berpengaruh dan lihai. Maka, dia harus pula memperlihatkan kelihaiannya di depan semua orang ini. Dia tersenyum kepada Thong-ciangkun.

“Baik, aku akan ikut menghadap. Akan tetapi ada satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu aku akan membuat perhitungan dengan tosu bau itu. Sebelum itu, aku tidak akan mau pergi.”

Dia menudingkan telunjuknya ke arah tosu yang tadi menyerangnya dan berkelahi dengan Ceng Liong. Tosu itu berdiri dengan muka pucat, akan tetapi sepasang matanya berapi-api penuh kebencian.

Thong-ciangkun memandang ke arah tosu itu dan alisnya berkerut. Tosu itu adalah Yang I Cinjin, seorang tosu perantau pertapa di daerah Pegunungan Himalaya, bukan dari golongan kaum sesat akan tetapi memiliki ambisi besar untuk membantu dan kelak memperoleh kedudukan tinggi yang mulia. Oleh karena kepandaiannya tinggi maka Gubernur Yong menghubunginya dan ingin menarik tenaganya untuk membantu, di samping pengetahuannya yang luas menguasai daerah Himalaya dari sekitar Tibet.

“Sungguh kami tidak tahu bahwa antara Yang I Cinjin dan engkau ada suatu urusan, Hek-i Mo-ong. Cinjin, mengapa engkau tadi menyerang Hek-i Mo-ong dan anak itu?”

“Iblis ini pernah membunuh guru dan suheng pinto, dan memaksa isteri suheng menjadi selirnya. Maka, apa pun akibatnya, hari ini pinto harus menebus hutang itu!” kata Yang I Cinjin.

Mendengar keterangan itu, mengertilah Thong-ciangkun bahwa dia tidak dapat turun tangan melerai atau mendamaikan. Permusuhan itu agaknya telah terlampau mendalam sehingga satu-satunya yang dapat mengakhiri hanyalah adu nyawa!

Maka dia pun melangkah mundur dan berkata, “Kami mempunyai urusan penting, tidak akan mencampuri segala urusan pribadi.”

Mendengar ucapan ini, para tokoh lain juga melangkah mundur dan hanya menonton dari jauh. Bagaimana pun juga demi untuk suksesnya persekutuan mereka, tentu saja mereka berpihak kepada orang yang lebih kuat, yang tentu akan merupakan tenaga yang lebih berharga bagi persekutuan mereka.

Hek-i Mo-ong menghampiri tosu yang mukanya pucat itu. “Ha-ha-ha, kiranya engkau adalah sute dari Yang Heng Cinjin dan murid dari Thian-teng Losu. Tidak ada perlunya menerangkan sebab-sebab urusan lama. Kalau engkau hendak menggali urusan lama dan membalas, majulah!”

Yang I Cinjin mencabut pedangnya dan nampak sinar berkelebat. Jelas dapat diduga bahwa pedangnya itu tentu sebatang pedang pusaka yang ampuh. Akan tetapi, Hek-i Mo-ong tertawa mengejek dan menoleh kepada Ceng Liong yang juga ikut melangkah mundur dan menonton dengan jantung berdebar tegang dan gembira melihat gurunya akan bertanding dengan tosu yang sudah diketahui kelihaiannya itu.

“Heh, Ceng Liong, Coan-kut-ci yang kau mainkan tadi sudah baik, akan tetapi kurang kuat. Kau lihat baik- baik bagaimana harus mainkan Coan-kut-ci dan mengalahkan tosu bau ini!”

“Iblis busuk, lihat pedang!” Tiba-tiba tosu itu membentak.

Pedangnya diputar sedemikian cepat sehingga lenyaplah bentuk pedangnya, berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Semua orang memandang kagum. Memang tosu ini adalah seorang ahli pedang yang kenamaan dan kalau tadi dia tidak menggunakan pedang adalah karena sebagai seorang ahli pedang dia enggan menghadapi seorang bocah berusia sepuluh tahun dengan senjata yang ampuh itu. Akan tetapi sekali ini, ahli pedang itu berhadapan dengan Hek-i Mo-ong, seorang datuk kaum sesat yang memiliki kepandaian amat tinggi.

Sebelum menghadapi pedang lawan, Hek-i Mo-ong menggulung kedua lengan bajunya dan kini dengan kedua lengan telanjang dia menandingi pedang lawan. Hek-i Mo-ong menangkis, mengelak dan mempermainkan. Terdengar bunyi tak-tok-tak-tok pada saat kedua lengan itu menangkis pedang dan setiap kali menangkis dan pedang bertemu dengan lengan telanjang, tosu itu merasa betapa tangannya tergetar hebat dan hanya dengan pengerahan tenaga sajalah dia masih berhasil mempertahankan pedangnya sehingga tidak terlepas dari pegangannya.

Setelah membiarkan lawan menghunjamkan serangan sampai tiga puluh jurus tanpa dibalasnya, seakan memperlihatkan kepada semua yang menonton bahwa serangan-serangan itu sama sekali tiada artinya baginya, dan menyatakan pula bahwa dia sudah banyak memberi ‘hati’ dan kelonggaran kepada lawan, juga untuk mendemonstrasikan keunggulan dan kepandaiannya, tiba-tiba saja kakek itu berseru, “Ceng Liong, lihatlah Coan-kut-ci ini!”

Maka mulailah kakek ini mengerahkan tenaga dan kedua tangannya membentuk cakar, persis seperti ketika Ceng Liong berlatih tadi.

“Haaaiiiiittt…. ahh….!”

Tangan kirinya bergerak dan mencengkeram ke depan, ke arah pedang yang menusuk lambungnya. Lengan itu meluncur ke depan dan ketika tangannya yang membentuk cakar itu bertemu pedang, pergelangan tangannya bergoyang dengan kuat, tangannya mencengkeram dibarengi bentakan “ahh!” tadi.

“Krekkk!” Ujung pedang itu kena dicengkeram dan patah! “Haaaiiiiittt…. ahh….!”

Tangan kanannya menyambar ke depan, sebelum dapat dihindarkan oleh tosu yang terkejut setengah mati melihat betapa pedang pusakanya dicengkeram patah itu, tangan kanannya sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan lawan yang memegang pedang.

“Krakkk….!”

Tosu itu mengeluh. Ketika dia meloncat ke belakang, lengan kanannya terkulai karena tulang lengan itu sudah patah dan remuk, hanya tinggal kulitnya saja yang menahan sehingga lengan itu tidak buntung. Pedangnya terlepas dan jatuh ke atas tanah.

Kini tubuh Hek-i Mo-ong bergerak ke depan, mulutnya melengking. “Haaaiiiiittt…. ahh….!”

Dan cengkeraman tangan kirinya menyambar ganas ke arah perut. Tosu itu maklum akan hebatnya cengkeraman tangan yang mengandung hawa mukjijat Coan-kut-ci itu, cepat mengelak ke samping. Cengkeraman itu luput, akan tetapi ternyata cengkeraman itu hanya merupakan pancingan karena sekarang cengkeraman tangan kanan sudah menyambar ke arah kepala lawan.

“Haaaiiiiittt…. ahh….!”

Dan cengkeraman tangan kanan itu menyambar dahsyat, tak dapat dielakkan lagi. “Crotttt….!”

Lima jari-jari tangan kanan Hek-i Mo-ong amblas ke dalam kepala tosu itu. Tosu itu membalik, mulutnya terbuka dan mengeluarkan pekik aneh dan ketika Hek-i Mo-ong mencabut jari-jari tangannya, tubuh tosu itu mengejang lalu terkulai, jatuh terguling ke atas tanah. Terdapat lima lubang di kepalanya dari mana mengucur darah bercampur otak dan tosu itu tewas seketika.

Semua yang menyaksikan perkelahian itu bergidik ngeri. Bukan oleh pembunuhan itu karena mereka semua adalah orang-orang yang sudah biasa melihat perkelahian dan pembunuhan. Akan tetapi mereka ngeri menyaksikan ilmu cengkeraman maut yang mengerikan itu.

Mereka yang mengenal betapa lihainya pedang dari Yang I Cinjin, lebih-lebih merasa kagum bukan main dan tahu bahwa Raja Iblis itu memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi. Tentu saja, orang-orang seperti Thai Hong Lama, Pek-bin Tok-ong dan beberapa orang lagi dalam rombongan itu tidak menjadi heran. Bahkan Pek-bin Tok-ong tertawa sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Ha-ha-ha, bukan main hebatnya Coan-kut-ci itu, Mo-ong. Engkau semakin tua menjadi semakin lihai saja!”

“Omitohud!” kata Thai Hong Lama sambil merangkap jari-jari tangannya di depan dada seperti orang bersujud. “Coan-kut-ci itu memang ilmu yang hebat!”

Hek-i Mo-ong tertawa. “Hahh, pujian kalian itu kosong belaka, untuk menutupi kalian mentertawakan pukulanku tadi. Mana bisa dibandingkan dengan Hun-kin Coh-kut-ciang (Tangan Pemutus Otot dan Pelepas Tulang) dari Pek-bin Tok-ong atau ilmu pukulan Cui-beng Sin-ciang (Tangan Sakti Pengejar Arwah) dari Thai Hong Lama?”

“Heh-heh, itu masih harus dibuktikan, masih harus dibuktikan!” kata Pek-bin Tok-ong sambil terkekeh.

“Omitohud, mana yang lebih hebat, sukar untuk dapat dikatakan!” kata pula Thai Hong Lama dan ucapan itu pun mengandung arti bahwa dia tidak atau belum menerima kalah.

Thong-ciangkun lalu melangkah maju dan menjura. “Hek-i Mo-ong, setelah urusan pribadi selesai, kami mengundang dengan resmi untuk bersama kami berkunjung ke tempat pertemuan. Bagaimana, dapatkah undangan kami ini diterima?”

Hek-i Mo-ong mengangguk-angguk. “Baik, akan tetapi aku harus datang berdua dengan muridku ini. Bukankah begitu, Ceng Liong muridku?”

Ceng Liong mengangguk. Ia merasa bangga akan kemampuan gurunya yang demikian mudah mengalahkan tosu tadi dan dia merasa kagum akan kelihaian gurunya. “Memang harus begitu, Mo-ong. Aku tidak sudi ditinggal di sini sendirian saja!” Tentu saja semua orang merasa heran sekali mendengar ucapan bocah itu terhadap gurunya, demikian kasar tanpa hormat, bahkan menyebut gurunya Mo-ong begitu saja.

“Kalau begitu, marilah kita berangkat!” kata pula Thong–ciangkun.

Hek-i Mo-ong mengangguk dan menyuruh Ceng Liong berkemas membawa pakaian. Pada saat itu terdengar teriakan dan tangis orang. Kiranya seorang pemuda tanggung yang usianya tidak akan lebih dari tiga belas tahun telah berlutut dan menangisi mayat Yang I Cinjin, kemudian memondong mayat itu dan pergi dari situ. Sebelum pergi dia menoleh dan memandang kepada Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong.

Peristiwa ini mengejutkan semua orang dan seorang di antara mereka yang berada di situ berkata, “Itu adalah muridnya….”

Mendengar ini, Hek-i Mo-ong tertawa bergelak. “Hei, anak tikus, lihat dan ingat baik-baik muka Hek-i Mo- ong dan Ceng Liong muridku ini. Aku tak akan membunuhmu, memberi waktu dan kesempatan kepadamu untuk kelak dapat datang mencari aku atau muridku ini, ha-ha-ha!”

Di dalam hatinya, Ceng Liong sungguh tidak setuju dengan sikap gurunya itu, akan tetapi karena ucapan itu sudah terlanjur dikeluarkan, dia pun hanya memandang kepada anak itu dengan penuh perhatian agar dia tidak akan mudah melupakannya kelak. Dia melihat sebuah tahi lalat hitam di ujung bawah telinga kiri anak itu dan ini menjadi tanda yang takkan pernah dilupakan oleh ingatan Ceng Liong yang tajam. Setelah menatap wajah Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong, anak itu sambil menangis melanjutkan perjalanan memondong jenazah gurunya dan pergi dari tempat itu.

Bagaimana pun juga, peristiwa ini membuat Thong-ciangkun merasa tidak enak dan dia pun cepat merubah suasana dengan memperkenalkan tokoh-tokoh yang lain kepada Hek-i Mo-ong.

“Karena akan menjadi rekan seperjuangan, maka kami ingin memperkenalkan sahabat-sahabat ini kepadamu, Mo-ong. Ini adalah saudara Siwananda, dialah wakil koksu (guru negara) Kerajaan Nepal yang baru dan yang telah memperoleh kekuasaan mutlak dari Raja Nepal untuk menghadap Yong-taijin.”

“Hemm, Koksu Nepal? Aku pernah mengenal Sam-ok Bun Hwa Sengjin….,” kata Hek-i Mo-ong.

“Saudara Lakshapadma? Dia memang pernah menjadi Koksu Nepal, akan tetapi karena mengalami kegagalan tidak berani pulang ke Nepal. Kami pernah mendengar bahwa dia bekerja sama denganmu sampai menemui kematiannya di tangan Jenderal Muda Kao Cin Liong.”

Hek-i Mo-ong mengangguk-angguk. Kiranya orang-orang Nepal ini telah mendengar segalanya dan dia percaya bahwa tentu orang ini pun lihai seperti juga Sam-ok Ban Hwa Sengjin dahulu. Seperti diceritakan dalam kisah ‘Suling Emas dan Naga Siluman’, Sam-ok Ban Hwa Sengjin adalah orang ke tiga dari Ngo-ok (Lima Jahat) dan pernah menjadi Koksu Nepal. Akhirnya, ketika Sam-ok bersekutu dengan Hek-i Mo-ong dan bentrok dengan para pendekar muda, Sam-ok tewas di tangan Jenderal Muda Kao Cin Liong.

“Dan saudara ini adalah kepala Suku Tailu-cin dari Mongol. Dia mewakili sukunya untuk berunding dengan Gubernur Yong.”

Hek-i Mo-ong dan orang Mongol bertubuh raksasa itu saling memberi hormat. Kemudian mereka berangkat menuju ke kota Li-tan yang letaknya di dekat perbatasan antara Tibet, Ching-hai dan Propinsi Uighur yang lalu menjadi daerah yang disebut Sin-kiang (Daerah Baru). Pasukan pengawal Thong-ciangkun mengiringkan mereka sehingga mereka itu dianggap sebagai tamu-tamu pemerintah dan tidak menimbulkan kecurigaan pada rakyat.

Di dalam sebuah gedung di kota Li-tan ini telah menanti Gubernur Yong. Pembesar ini bernama Yong Ki Pok, peranakan Ulghur yang memperoleh kedudukannya melalui ketentaraan. Karena Kaisar Kian Liong paling benci akan kecurangan para pembesar, maka pembersihan diadakan sampai ke daerah ini, dan Gubernur Yong merasa sangat tersinggung ketika menerima teguran dari para pejabat pemeriksa.

Maka, diam-diam gubernur ini lalu mengadakan hubungan dengan pihak-pihak lain yang menentang kekuasaan kaisar. Apalagi ketika dia mendengar pergerakan pasukan Nepal yang melakukan penyerbuan ke Tibet, dianggapnya itulah kesempatan baik untuk bersekutu dengan pasukan asing agar kedudukannya menjadi lebih kuat. Maka dia lalu mengutus Thong–ciangkun, orang kepercayaannya untuk menghubungi pihak-pihak itu dan pada hari ini diadakan pertemuan antara wakil-wakil semua pihak dan dengan Gubernur Yong sendiri.

Mereka sudah berkumpul di dalam ruangan itu, sebuah ruangan besar yang cukup mewah. Meja besar diatur memanjang sehingga semua orang dapat duduk di sekelilingnya. Agak lucu melihat Ceng Liong, anak berusia sepuluh tahun itu, duduk pula semeja dengan gubernur dan tokoh-tokoh kaum persilatan yang berilmu tinggi itu. Lucu dan janggal.

Akan tetapi ini merupakan syarat kehadiran Hek-i Mo-ong, yang tidak mau berpisah dari muridnya. Tak ada seorang pun di antara mereka itu pernah menduga seujung rambut pun bahwa bocah itu adalah cucu dalam dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Entah apa yang akan menjadi reaksinya kalau hal ini mereka ketahui. Hek-i Mo-ong sendiri duduk dengan tenang sambil memandang dan memperhatikan orang-orang yang duduk semeja dengannya itu.

Dengan sinar matanya yang tajam, Hek-i Mo-ong memperhatikan tokoh-tokoh yang hadir dan sinar matanya seperti menilai dan mengukur kelihaian mereka itu. Yang hadir di tempat itu memang merupakan tokoh-tokoh yang amat lihai.

Panglima Thong Su adalah tangan kanan Gubernur Yong dan panglima yang usianya sudah enam puluh tahun ini, yang tubuhnya tegap dan terlatih, adalah seorang ahli perang yang amat berpengalaman. Biar pun ilmu silat atau kekuatan pribadinya tidaklah demikian hebat, namun dalam gerakan perang, orang seperti dia amat diperlukan untuk memimpin pasukan dan mengatur siasat pertempuran.

Thai Hong Lama, pendeta dari Tibet yang kepalanya gundul dan jubahnya merah itu nampak menyeramkan. Tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh serta kuat, sepasang telinganya lebar sekali dan tangan kirinya memutar-mutar biji tasbeh dengan sikap alim, seperti sepatutnya sikap seorang pendeta. Sebatang suling terselip di pinggang, tertutup jubah. Akan tetapi, di balik sikap alim ini tersembunyi ambisi yang amat besar.

Saat itu Tibet adalah wilayah yang tunduk kepada pemerintah Ceng yang dikendalikan oleh Kaisar Kian Liong. Sebagai kepala-kepala daerah, ditunjuklah beberapa orang pembesar yang bekerja sama dengan para pendeta Lama yang berpengaruh. Dan Thai Hong Lama tidak kebagian tempat karena pendeta ini, biar pun memiliki kepandaian tinggi, telah dicap sebagai seorang penyeleweng ketika beberapa tahun yang lalu dia tertangkap basah memperkosa seorang wanita di kuilnya. Maka, diam-diam dia merasa sakit hati dan bercita-cita untuk menggulingkan mereka yang berkuasa di Tibet dan agar dia dapat terangkat menjadi orang nomor satu yang paling berkuasa di daerah itu.

Ilmu silatnya tinggi dan sinkang-nya sudah demikian kuatnya sehingga dengan tenaga khikang kalau dia meniup sulingnya, dia dapat menyerang lawan dengan suara suling itu! Juga tasbeh yang selalu dipermainkan oleh jari-jari tangan kirinya seperti orang bersembahyang membaca mantera setiap saat itu sesungguhnya merupakan senjata yang ampuh.

Kemudian Hek-i Mo-ong memperhatikan Pek-bin Tok–ong. Dia sudah tahu kelihaian orang ini. Pek-bin Tok-ong (Raja Racun Muka Putih) adalah seorang kakek berusia enam puluh lima tahun, seorang tokoh Pegunungan Go-bi-san yang maha luas itu. Dia berpakaian pertapa serba putih dan longgar, rambutnya putih panjang dan kadang-kadang dibiarkan terurai, kadang-kadang digelung ke atas secara sembarangan saja.

Tubuhnya kurus tinggi dan mukanya putih seperti kapur, karena muka yang putih itulah maka dia dijuluki Raja Racun Muka Putih. Dari julukannya saja orang sudah dapat menduga bahwa tokoh ini adalah seorang ahli yang lihai sekali dalam hal racun. Akan tetapi, bukan dalam urusan mengenai racun saja dia lihai, juga ilmu silatnya amat tinggi dan lebih berhahaya lagi adalah ilmu-ilmunya yang semua dilatih dengan hawa beracun sehingga pukulannya bukan saja kuat, melainkan juga mengandung racun mengerikan. Satu di antara ilmu-ilmunya yang amat hebat, seperti yang disebut oleh Hek-i Mo-ong tadi, adalah ilmu pukulan Hun-kin Coh-kut-ciang (Tangan Memutuskan Otot Melepaskan Tulang).

Orang lain yang diperhatikan oleh Hek-i Mo-ong adalah Siwananda dan Tailucin. Siwananda berusia enam puluh tahun lebih, seorang Gurkha yang berkulit kehitaman, tinggi besar dan tubuhnya berbulu, mukanya brewok dan rambut kepalanya yang masih hitam itu dibalut kain kuning. Wakil Koksu Nepal ini juga amat lihai dan tenaganya dapat dilihat dari keadaan tubuhnya. Walau pun dia kurus, namun nampak tinggi besar karena tulang-tulangnya memang besar dan kokoh kuat. Dia bukan hanya pandai ilmu silat Nepal, akan tetapi juga ahli gulat dan pandai pula ilmu sihir.

Biar pun tubuh Thai Hong Lama dan Siwananda dari Nepal itu termasuk tinggi besar, tetapi mereka itu nampak sedang-sedang saja kalau dibandingkan dengan Tailucin, tokoh Mongol itu. Tailucin ini, yang mengaku sebagai keturunan Jenghis Khan, itu Raja Mongol yang amat termasyhur, bertubuh raksasa. Dia pun lihai sekali dan bertenaga gajah. Juga dia pandai berlari sangat cepat seperti larinya kuda dan juga amat pandai menunggang kuda, bahkan pandai menjinakkan kuda-kuda liar. Tentu saja di samping itu semua, dia ahli pula dengan ilmu silat dan gulat Mongol.

Seperti diketahui, Bangsa Mongol pernah menjajah daratan Tiongkok dan mendirikan Dinasti Goan-tiauw, mengoper sebagian besar kebudayaan Tiongkok, termasuk ilmu silatnya. Maka raksasa Mongol ini pun tidak asing dengan ilmu silat yang telah dipelajarinya semenjak dia masih kecil. Kalau senjata dari Siwananda berupa sebatang tongkat pikulan yang berat, maka senjata Tailucin ini lebih dahsyat lagi, yaitu sebuah tongkat penggada yang besar dan lebih berat, terbuat dari pada kayu dari batang semacam pohon yang dinamakan pohon besi.

Hek-i Mo-ong sudah pernah mendengar banyak mengenai kelihaian Thai Hong Lama dari Tibet dan Pek- bin Tok-ong dari Go-bi, akan tetapi dia belum pernah mendengar tentang Siwananda dan Tailucin, maka dia pun hanya dapat menduga-duga saja sampai di mana kehebatan kedua orang ini.

“Kami merasa gembira sekali melihat betapa lo-sicu (orang tua gagah) Hek-i Mo-ong suka memenuhi undangan kami dan dapat hadir dalam pertemuan ini. Kami harap saja bahwa kehadiran lo-sicu ini berarti bahwa lo-sicu telah sanggup untuk membantu kami, bukan?” Demikian antara lain Gubernur Yong berkata kepada Hek-i Mo-ong.

Hek-i Mo-ong menatap wajah pembesar itu dengan berani dan tajam seperti hendak menjenguk isi hatinya, kemudian dengan suara lantang dia pun menjawab, “Taijin, terus terang saja tadinya saya sedikit pun juga tidak mempunyai niat atau minat untuk mencampuri urusan pergerakan dan pemberontakan terhadap pemerintah. Resiko dan bahayanya terlampau besar menentang pemerintah yang amat kuat. Namun, karena saya sejak dahulu tidak suka kepada Kaisar Kian Liong dan melihat adanya sahabat-sahabat dari Tibet, Nepal, dan Mongol yang bekerja sama, saya sanggup membantu, akan tetapi hanya dengan satu syarat….” Hek-i Mo-ong menghentikan kata-katanya dan menatap wajah mereka yang hadir satu demi satu, seolah-olah hendak melihat apakah ada yang menentang atau merasa tidak setuju dengan ucapannya itu.

Akan tetapi semua orang hanya mendengarkan tanpa reaksi pada wajah mereka, hanya Gubernur Yong mengerutkan alisnya karena pembesar ini diam-diam mengkhawatirkan bahwa syarat yang diajukan oleh Raja Iblis ini akan terlampau memberatkan dirinya.

“Syarat apakah itu? Kalau memang pantas dan dapat dilaksanakan, apa salahnya? Harap lo-sicu suka memberitahu.” Gubernur Yong yang pandai mempergunakan tenaga orang-orang kuat ini berkata dengan nada suara ramah.

“Taijin, sudah menjadi watakku bahwa satu kali saya bekerja, saya akan melakukannya dengan pencurahan seluruh tenaga dan pikiran, dan akan saya bela sampai mati. Oleh karena itu, tanpa imbalan yang pantas, tentu saja saya segan untuk melakukannya. Imbalan atau syarat itu adalah bahwa taijin akan mengangkat saya menjadi penasehat utama dan kalau kelak taijin berhasil, saya diangkat menjadi koksu.”

Semua orang terkejut mendengar ini. Jabatan koksu adalah jabatan yang amat tinggi dalam sebuah pemerintahan karena koksu memiliki kekuasaan yang amat besar, hanya di bawah kekuasaan raja. Bahkan sang raja akan selalu bertindak setelah memperoleh nasehat dan persetujuan dari koksu. Akan tetapi, Gubernur Yong tertawa gembira.

“Ahhh, tanpa syarat itu pun kami akan merasa berterima kasih dan bergembira sekali kalau lo-sicu suka menjadi pembantu dan penasehat utama kami. Tentu saja syarat itu kami terima dengan segala senang hati!”

Tiba-tiba Thong-ciangkun, panglima yang telah belasan tahun mengabdi pada gubernur itu dan menjadi kepercayaan utama, berdehem lalu berkata dengan lembut dan sopan, “Harap taijin dan cu-wi yang hadir suka memaafkan saya. Dan terutama sekali harap Mo-ong suka memaafkan karena sesungguhnya saya bukan bermaksud menentang, melainkan sudah menjadi kewajiban saya untuk mengingatkan Yong-taijin yang menjadi atasan saya. Begini, taijin. Jabatan calon koksu adalah jabatan yang penting sekali. Seorang koksu bukan saja harus pandai mengatur siasat dan menasehati atasannya, akan tetapi juga harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian orang-orang lain yang membantu taijin. Karena itu saya kira sudah amat tepat kalau kita semua melihat sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian Mo-ong agar kita semua dapat menilai apakah memang dia sudah cukup pantas untuk menjadi seorang calon koksu.”

Wajah Hek-i Mo-ong berubah merah ketika dia menatap tajam kepada panglima itu. “Hemm, Thong- ciangkun, agaknya engkau sendiri juga menginginkan kedudukan calon koksu? Kalau begitu, majulah dan marilah kita memperebutkan kedudukan itu!” berkata demikian, Hek-i Mo-ong sudah bangun dari tempat duduknya.

Thong Su juga bangkit lalu menjura kepada Hek-i Mo-ong sambil tersenyum. “Ah, satu di antara syarat menjadi koksu haruslah dapat menahan kesabaran hati, Mo-ong. Bukan sekali-kali aku bermaksud memperebutkan kedudukan koksu. Aku seorang prajurit, seorang perwira, sama sekali tidak pandai bersiasat, kecuali siasat perang. Dalam hal perang, tentu saja aku berani melawanmu, akan tetapi dalam hal ilmu silat, sedikit pun aku tidak akan menandingimu.”

Hek-i Mo-ong tersenyum “Kalau engkau tidak ingin menjadi koksu, mengapa engkau mengusulkan agar aku diuji? Nah, kalau engkau hendak menguji, majulah!”

Kembali Thong Su mengangkat kedua tangan memberi hormat. “Jangan salah sangka, Mo-ong. Bukan sekali-kali aku hendak mengujimu, dan bukan sekali-kali pula aku tidak percaya kepandaianmu. Tetapi, tanpa memperlihatkan kepandaian, kedudukan jabatan penting itu berarti kau peroleh secara terlalu mudah dan tidak mengesankan. Karena itu, engkau harus memperlihatkan kepandaianmu di depan gubernur.”

“Dengan cara bagaimana? Siapa yang akan mengujiku?” tanya Hek-i Mo-ong dengan sikap takabur karena tokoh ini memang sudah biasa memandang rendah semua orang dan mengangkat diri sendiri di tempat tertinggi.

“Aku sendiri tidak begitu pandai ilmu silat, akan tetapi di sini hadir ahli-ahli yang pandai, yaitu Thai Hong Lama, Pek-bin Tok-ong, saudara Siwananda dan saudara Tailucin. Sebagai para pembantu dan sekutu dari taijin, maka saya kira mereka berempat tidak keberatan untuk membantu taijin menguji kelihaian orang yang pantas menjadi calon koksu. Kelirukah pendapat hamba ini, taijin?”

Gubernur Yong tersenyum lebar dan mengangguk-angguk. “Sungguh bagus sekali usul itu! Memang sudah lama aku mendengar akan kelihaian cu-wi lo-sicu yang terhormat. Dan sekarang, setelah kita memperoleh kesempatan berkumpul, agaknya sayang kalau aku menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyaksikan dengan mata sendiri kehebatan para pembantu dan sekutuku. Tentu saja kalau cu-wi tidak berkeberatan.”

Hek-i Mo-ong segera menjawab, “Saya tidak berkeberatan, kalau saja keempat orang saudara yang gagah ini ingin melakukan ujian terhadap diri saya.” Ucapan ini setengah merupakan tantangan kepada empat orang yang hadir itu!

Pek-bin Tok-ong adalah tokoh dunia persilatan yang seperti kebanyakan para tokoh kang-ouw selalu ‘haus’ akan ilmu silat dan mempunyai kesukaan mengadu ilmu untuk menguji kepandaian masing-masing. Kini mendengar usul Thong-ciangkun yang sudah disetujui oleh gubernur dia menjadi gembira sekali.

“Jika hanya merupakan ujian kepandaian, apa salahnya? Pibu untuk menguji seseorang merupakan hal yang biasa saja dan saya sungguh merasa setuju sekali!” Tokoh ini baru saja merampungkan ilmunya Hun- kin Coh-kut-ciang yang dahsyat, maka diam–diam dia pun ingin sekali mengadu ilmunya dengan Ilmu Tok- hwe-ji yang dikuasai Hek-i Mo-ong!

Tailucin mengerutkan alisnya. Dengan bahasanya yang kaku dan asing dia pun berseru, “Akan tetapi, saya sama sekali tidak mengenal ujian kepandaian berkelahi yang tidak akan mendatangkan cedera, bahkan mungkin kematian kepada seseorang. Kalau sekali saya maju memperlihatkan kepandaian, maka akibatnya hanya dua, yaitu saya menang atau kalah. Kalau memang, tentu pihak lawan cedera atau mati dan demikian sebaliknya kalau saya kalah, saya cedera atau mati. Bukankah hal ini akan merugikan sekali bagi persekutuan kita?”

Siwananda hanya tersenyum saja. Dia hanya akan menurut bagaimana keputusan teman-temannya yang hadir di situ. Wakil Koksu Nepal ini adalah seorang cerdik dan tidak mau mengambil tindakan sembrono. Dia tidak mau menyinggung hati seorang di antara mereka yang dianggap akan menjadi sekutunya, yang akan menguntungkan negaranya dalam pergerakan negaranya.

Thai Hong Lama masih memutar tasbehnya saat dia berkata, “Omitohud….! Kekerasan tak akan mengatasi persoalan! Masalah ujian kepandaian ini dapat saja dilakukan tanpa kekerasan, yaitu dengan menguji ketangkasan yang menjadi inti dari ilmu kepandaian silat. Entah Hek-i Mo-ong setuju ataukah tidak dengan pendapat pinceng ini?”

“Ha-ha-ha! Thai Hong Lama memang pandai. Akan tetapi bagiku, diuji secara bagai mana pun juga aku tentu setuju saja, demi untuk memenuhi harapan Yong-taijin. Nah, katakanlah, bagaimana usulmu itu, Lama?”

“Menggunakan sepasang sumpit untuk menjepit makanan, merupakan hal yang amat mudah dan seorang anak kecil sekali pun akan mampu melakukannya. Akan tetapi, untuk melakukan hal itu, tenaga dalam tangan yang memegang sumpit haruslah seimbang dan tidak boleh terganggu, karena kalau terganggu, banyak bahayanya makanan yang dijepit sumpit akan terlepas. Kalau Mo-ong mempertahankan makanan yang dijepit di antara dua batang sumpitnya supaya jangan sampai terlepas ketika menghadapi serangan sampai sepuluh jurus dari kami masing-masing, maka dapat dianggap dia menang. Akan tetapi, pinceng peringatkan kepada Mo-ong bahwa amatlah sukar mempertahankan makanan itu sampai sepuluh jurus serangan karena selain tenaganya harus dibagi, juga kalau dia terlalu mempertahankan makanan itu, tubuhnya terbuka dan dapat menjadi sasaran serangan. Kalau makanan itu terlepas, dia kalah, juga kalau sampai ada serangan yang menyentuh sasaran di tubuhnya, dia dapat dianggap kalah.”

Hek-i Mo-ong yang menghadapi syarat berat ini, tidak menjadi khawatir malah tertawa bergelak. “Bagus! Bagus! Usulmu itu baik dan cerdik sekali, Lama! Nah, aku sudah siap! Siapa yang sekarang hendak menguji lebih dulu? Ataukah kalian berempat hendak maju berbarengan?” tantangnya dan tangan kanannya yang memegang sepasang sumpit itu telah menjepit sepotong daging dari dalam panci masakan.

“Ahhh, tidak adil kalau maju berbareng. Seyogianya satu demi satu.” Mendadak saja Thong-ciangkun berkata dan memang perwira ini cerdik sekali.

Selain ingin menguji kemampuan Hek-i Mo-ong, juga ia tidak ingin membuat Raja Iblis itu tidak senang kepadanya karena usulnya tentang ujian tadi, maka kini dia cepat mencela kalau empat orang penguji itu maju semua.

“Dan pula, karena yang boleh menyerang hanya pihak penguji sedangkan Mo-ong sendiri hanya mempertahankan dan tidak boleh membalas, maka terlalu berat bagi yang mempertahankan kalau sampai sepuluh jurus. Lima jurus pun sudah cukup baik kalau dia mampu mempertahankan diri.”

Gubernur Yong sudah memiliki kepercayaan mutlak kepada pembantunya ini, maka biar pun dia tidak paham tentang ilmu silat, dia tahu bahwa tentu Thong-ciangkun memiliki alasan kuat dengan pendapat- pendapatnya itu. Maka dia pun mengangguk dan berkata, “Benar sekali seperti yang dikatakan oleh Thong- ciangkun. Harap maju satu demi satu dan menggunakan lima jurus saja!”

Karena meja di mana mereka duduk itu penuh hidangan, maka Thong-ciangkun lalu mengatur sebuah meja kecil dengan dua bangku berhadapan, terhalang meja. Di atas meja itu hanya ditaruh semangkok masakan dan dua pasang sumpit. Kini Hek-i Mo-ong sambil tersenyum-senyum memandang rendah, duduk di atas sebuah bangku dan memegang sepasang sumpit. Orang-orang lain masih duduk di tempat masing-masing dan memandang dengan penuh perhatian. Tailucin sudah bangkit dari tempat duduknya dan kini raksasa ini duduk di atas bangku, berhadapan dengan Hek-i Mo-ong terhalang meja.

Hek-i Mo-ong lalu menggunakan sumpitnya, menjumput sepotong daging, kemudian mengacungkan daging itu ke depan sambil berkata kepada Tailucin, “Nah, saudara Tailucin, engkau cobalah merampas daging ini kalau mampu. Pergunakan sepasang sumpitmu itu!”

Akan tetapi Tailucin hanya memandang ke arah sepasang sumpit yang menggeletak di depannya tanpa menyentuhnya, lalu menggeleng kepala. “Biar pun banyak bangsaku sudah ikut-ikut makan dengan sumpit, akan tetapi aku sendiri lebih suka makan dengan menggunakan tangan. Oleh karena itu, bagaimana kalau aku mencoba merampas daging itu dari sumpitmu menggunakan tangan saja, Mo-ong?”

Tentu saja kalau lawan menggunakan tangan, keadaan ini amat tidak menguntungkan bagi Hek-i Mo-ong. Akan tetapi karena tokoh ini memang angkuh dan memandang rendah lawan, dia pun mengangguk. “Boleh saja, akan tetapi, makan dengan tangan tanpa mencuci tangan lebih dulu, amatlah tidak sehat!” Ucapan ini sama saja dengan mengejek lawan yang memiliki kebiasaan makan tanpa sumpit!

“Mo-ong, jagalah seranganku!” Raksasa Mongol itu membentak tanpa mempedulikan ejekan orang.

Tangan kanannya yang besar dan lebar itu terbuka jari-jarinya menyambar ke arah daging di ujung sumpit dengan cepat dan kuat sehingga mendatangkan angin keras.

“Wuuuutttt….!”

Raksasa itu tercengang karena sumpit yang disambarnya itu tiba-tiba saja lenyap dan sambarannya hanya mengenai angin kosong belaka. Tidak disangkanya bahwa lawan dapat bergerak sedemikian cepatnya. Tentu saja dia merasa penasaran dan dengan bentakan nyaring, kini kedua tangannya menyambar dari kanan kiri!

“Ha-ha-ha, agaknya Tailucin biasa makan dengan kedua tangan!” Hek-i Mo-ong tertawa dan seperti tadi, dia cepat menggerakkan tangan kanannya, mengelak dari sambaran kedua tangan dari kanan kiri itu.

“Plakkk!”

Kedua telapak tangan besar itu bertemu seperti bertepuk dan untuk kedua kalinya serangan itu gagal. Wajah raksasa itu menjadi merah karena kembali terdengar Hek-i Mo-ong mentertawakannya.

Karena tadi dia mendengar bahwa usaha merampas daging itu boleh dilakukan dengan menyerang, maka kini dia menggunakan lengannya yang panjang dan kuat itu untuk menonjok ke arah muka lawan sedangkan tangan kirinya menyusul dengan sambaran ke arah ujung sumpit. Akan tetapi, dengan mudah saja Hek-i Mo-ong mengelak dari pukulan itu tanpa menarik tubuhnya dan juga tangan yang memegang sumpit itu mengelak tepat pada saat tangan kiri lawan menyambar dari kiri.

Melihat usahanya gagal lagi, si Raksasa Mongol sudah melanjutkan serangannya, kini mencengkeram dengan tangan kanan ke arah pundak Hek-i Mo-ong dan tangan kirinya menghantam ke arah lengan kanan yang memegang sumpit. Hebat serangan yang keempat kalinya ini dan amat berbahaya bagi Hek-i Mo- ong. Kalau dia hanya mengelak dari cengkeraman itu, tentu lengannya akan diancam bahaya pukulan yang seperti palu godam datangnya itu.

Tetapi, Raja Iblis ini dengan tenang saja menerima cengkeraman itu dengan pundaknya sambil menarik tangan yang memegang sumpit sehingga terhindar dari hantaman. Saat cengkeraman tiba, si raksasa Mongol sudah merasa girang karena cengkeramannya itu tentu akan membuat lengan kanan itu lumpuh dan sumpitnya akan terlepas!

Tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa jari-jari tangan yang mencengkeram itu meleset seperti mencengkeram bola baja yang amat licin saja. Hanya terdengar kain robek, yaitu baju Hek-i Mo-ong yang hitam itu di bagian pundaknya robek terkena cengkeraman yang amat kuat.

“Ha-ha, engkau telah menyerang empat jurus, Tailucin!” Hek-i Mo-ong memperingatkan sambil tertawa lagi.

Tiba-tiba semua orang menahan napas sebab tanpa menjawab, tahu-tahu kedua tangan orang Mongol itu telah berhasil menangkap lengan kanan Hek-i Mo–ong! Ternyata raksasa Mongol itu mengeluarkan ilmu gulatnya dan dengan kecepatan kilat tahu-tahu kedua tangan dan jari-jari tangan yang panjang dan kuat berotot itu telah menangkap lengan Hek-i Mo–ong, mencengkeram dengan keras hendak memaksanya melepaskan sumpit!

Terjadilah adu tenaga yang amat menegangkan. Buku-buku jari tangan raksasa Mongol itu berkerotokan dan otot-ototnya menggembung. Akan tetapi, lengan Hek-i Mo-ong yang nampak kecil dibandingkan dengan lawannya itu, sama sekali tidak terguncang dan sepasang sumpit di tangannya itu masih tetap menjepit potongan daging, bahkan jari-jari tangan itu masih dapat mempermainkan sumpit itu sehingga bergerak ke sana-sini! Selain itu, dari wajah Raja Iblis itu dapat dilihat bahwa dia sama sekali tidak merasa nyeri, seolah-olah himpitan dan cengkeraman jari-jari tangan yang amat kuat itu tidak terasa sama sekali olehnya!

Dan terjadilah keanehan ketika tiba-tiba raksasa Mongol itu melepaskan cengkeraman kedua tangannya, menggerak-gerakkan dua tangan seperti orang kepanasan, lalu dia bangkit dan menjura ke arah Hek-i Mo- ong sambil berkata, “Aku terima kalah!” Lalu dia kembali ke tempat duduknya di meja besar.

Ternyata kedua telapak tangannya itu nampak merah sekali seperti baru saja dekat dengan benda panas. Rakasa itu mengambil arak dan membasahi kedua tangannya dengan arak! Memang sesungguhnya, tadi Hek-i Mo-ong menunjukkan kepandaiannya dengan penyaluran tenaga sinkang yang mengeluarkan hawa panas sehingga raksasa Mongol itu merasa seolah-olah telapak kedua tangannya dibakar, maka terpaksa dia melepaskan cengkeramannya.

“Omitohud! Nama besar Hek-i Mo-ong ternyata bukanlah kosong belaka. Biarlah pinceng yang bodoh mencoba-coba.” Sambil berkata demikian, Thai Hong Lama lalu bangkit dan menghampiri meja kecil, duduk berhadapan dengan Hek-i Mo-ong, dan mengeluarkan suling dan tasbehnya. “Maaf, Mo-ong, walau pun pinceng biasa makan dengan sumpit, akan tetapi tidak biasa mempergunakannya untuk menguji. Maka, kalau engkau tidak berkeberatan, pinceng hendak mempergunakan tasbeh dan suling untuk menguji. Bagaimana?”

Hek-i Mo-ong mengangguk sambil tersenyum. “Boleh saja, Lama. Suling adalah alat musik untuk menghibur hati lara, sedangkan tasbeh adalah alat pemusatan pikiran. Kedua benda itu tentu tidak akan menyakitkan aku, ha-ha-ha!”

Pendeta Lama itu lalu menoleh ke arah meja besar dan berkata, “Harap taijin dan ciangkun suka menggunakan kedua tangan untuk menutupi kedua telinga rapat-rapat jangan sampai suara suling pinceng kedengaran oleh ji-wi.”

Mendengar ini gubernur itu menoleh dan memandang kepada Thong-ciangkun dengan heran, akan tetapi melihat panglimanya itu mengangguk dan panglima itu mengunakan kedua telapak tangan menutupi kedua telinganya sendiri, dia pun melakukan hal serupa. Sementara itu, Pek-bin Tok-ong, Siwananda dan Tailucin sudah mengatur pernapasan dan mengerahkan sinkang karena mereka maklum apa yang akan dilakukan oleh rekan mereka itu. Hanya Ceng Liong yang tidak mengerti dan anak ini hanya memandang kepada gurunya yang amat dikagumi karena gurunya tadi telah mengalahkan lawan dengan baik sekali.

“Ceng Liong, kau tutuplah kedua telingamu dengan tangan, atau untuk sementara ini keluarlah engkau dari ruangan ini,” kata Hek-i Mo-ong kepada muridnya.

“Aku ingin menonton, Mo-ong!” Ceng Liong membantah dan gurunya tertawa. Anak itu sungguh tabah dan membanggakan hati yang menjadi gurunya.

Sementara itu, Thai Hong Lama telah mulai meniup suling dengan tangan kanannya. Terdengar suara melengking nyaring, semakin lama semakin tinggi dan halus sekali, memasuki anak telinga seperti jarum menusuk-nusuk! Itulah suara suling yang ditiup dengan pengerahan khikang yang amat kuat.

Hek-i Mo-ong melempar pandang sekali lagi ke arah muridnya, akan tetapi dia tidak bicara lagi karena dia harus mengerahkan sinkang-nya untuk menghadapi serangan suara ini. Dia merasa tubuhnya agak tergetar dan maklumlah dia bahwa suara suling itu sungguh berbahaya dan kalau dia tidak hati-hati, maka pertahanannya dapat dibobolkan sekali ini oleh Lama yang lihai itu.

“Rrrrtttt….!”

Tiba-tiba nampak sinar putih berkelebat dan tasbeh di tangan kiri kakek gundul itu telah menyambar ke arah sepasang sumpit yang menjepit daging. Hek-i Mo-ong terkejut dan cepat menarik tangan kiri mengelak, akan tetapi dia merasa betapa jari tangannya tergetar, tanda bahwa pertahanannya sudah goyah oleh suara suling itu. Urat-urat halus di jari-jari tangan yang memegang sumpit itu terpengaruh dan keadaannya berbahaya sekali.

“Rrrrkkkkkkk!” Kembali tasbeh menyambar, sekali ini ke arah pergelangan tangan yang memegang sumpit. “Trikkkkk!”

Hek-i Mo-ong terpaksa melempar daging itu ke atas, menggunakan sumpit menangkis tasbeh dan ketika daging itu meluncur turun, disambutnya dengan sepasang sumpitnya lagi! Sungguh indah sekali pertahanan ini sampai Thai Hong Lama mengangguk sedikit tanpa menghentikan permainan sulingnya. Memang hebat Raja Iblis ini, pikirnya. Akan tetapi dia masih mempunyai tiga jurus lagi.

Sementara itu, ketika suling mulai ditiup, Ceng Liong mendengarkan dengan penuh perhatian. Ada getaran halus yang menyerang telinganya, membuat tubuhnya tergetar, akan tetapi tanpa disadarinya, sumber tenaga sinkang yang amat kuat, yang berada di pusarnya, bergerak sendiri naik dan melindungi tubuhnya yang segera terasa hangat. Suara suling itu sama sekali tidak mempengaruhi telinga, jantung mau pun syarafnya. Hanya anak ini merasa tidak senang sekali oleh suara itu, yang dianggapnya sumbang dan tak enak bagai orang mendengarkan kaleng diseret. Maka, kegemasan mendengar suara tidak enak ini mendorong Ceng Liong untuk memukul-mukulkan sumpit gading di bibir mangkok kosong di atas meja di depannya sehingga terdengarlah bunyi tang-ting-tang–ting yang nyaring.

Suara tang-ting-tang-ting ini berlawanan dengan suara suling, dan karena Ceng Liong memukulnya dengan sengaja untuk mengacaukan suara suling yang dianggapnya tidak enak itu, maka terdengarlah paduan suara yang sumbang dan tidak karuan! Mula-mula suara ini membuat Thai Hong Lama terheran, akan tetapi perhatiannya segera tertarik dan suara sulingnya tersendat-sendat seperti dihalangi oleh suara pukulan mangkok itu. Tentu saja kekuatan dalam suara suling menjadi terpecah dan kehilangan banyak daya serangnya.

Hal ini amat terasa oleh Hek-i Mo-ong dan Raja Iblis ini pun tertawa, suara ketawanya mengandung khikang dan segera sisa tenaga dalam suara suling itu lenyap oleh suara ketawa ini.

“Ha-ha-ha, Lama apakah engkau sudah lupa akan sisi seranganmu?”

Diejek demikian, tanpa mengandalkan suara sulingnya lagi, Thai Hong Lama kemudian menggunakan suling yang sudah dilepas dari mulutnya itu untuk menotok ke arah pundak lawan sedangkan tasbehnya menyambar ke arah daging di sumpit.

“Wirrr…. wuuuutt!”

Kembali serangan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Hek-i Mo-ong yang kini telah bebas dari gangguan suara suling sehingga mampu mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mempertahankan daging di ujung sumpit.

Dua kali lagi berturut-turut Lama itu menyerang, akan tetapi, selain sumpit itu selalu dapat dihindarkan dari benturan, juga kini tangan kiri Hek-i Mo-ong membantu dan melakukan penangkisan. Pada serangan terakhir, mendadak tangan kiri Hek-i Mo-ong menyambar sepotong bakso di dalam mangkok. Sekali menyentilkan bakso itu dengan telunjuk kirinya, ‘peluru’ ini meluncur cepat dan memasuki lubang suling. Kalau tadinya suling yang digerakkan itu mengeluarkan suara, kini tiba-tiba saja suara itu terhenti seperti jengkerik terpijak! Serangan terakhir itu menjadi kacau dan tidak berhasil menjautuhkan daging dari jepitan suling di tangan Hek-i Mo–ong.

“Sungguh Hek-i Mo-ong amat lihai, pinceng mengaku kalah,” kata pendeta berjubah merah itu yang segera kembali ke tempat duduknya semula.

Kini Pek-bin Tok-ong mempersilakan Siwananda untuk maju akan tetapi Siwananda yang merasa bahwa dia adalah wakil pemerintah Nepal, seorang wakil koksu negara, bersikap tenang dan berkata, “Silakan Tok-ong maju memperlihatkan kepandaian, kami ingin memperluas pengetahuan dengan menjadi saksi saja.”

Terpaksa Pek-bin Tok-ong maju dan menghampiri Hek-i Mo-ong. Kakek iblis ini tertawa dan mengganti daging baru yang diambilnya dari dalam mangkok. “Ha-ha-ha. Tok-ong, terhadap engkau aku akan menghormati dengan daging baru, dan juga harus berhati-hati. Jangan-jangan semua ototku akan putus dan tulang-tulangku akan terlepas!” Jelas bahwa dengan kata-kata itu Hek-i Mo-ong hendak menyindir calon lawan ini dengan Ilmu Hun-kin Coh-kut-ciang yang dimiliki Si Raja Racun itu.

Pek-bin Tok-ong tersenyum. Tokoh Go-bi pertapa ini sudah pandai sekali menyimpan perasaannya dan wajahnya nampak sabar dan tenang walau pun sesungguhnya orang ini memiliki kekejaman yang luar biasa.

“Mo-ong, aku selalu tidak percaya bahwa ada ilmu lain dapat menandingi ilmu barumu Tok-hwe-ji itu. Marilah kita coba-coba dalam kesempatan ini!” Sambil berkata demikian, kakek ini menyingkap jubah putihnya, menggulung lengan bajunya sehingga nampak kedua lengannya yang kurus panjang seperti tulang terbungkus kulit saja.

Akan tetapi, begitu dia menggerak-gerakkan kedua lengannya, kulit lengan yang tadinya putih pucat itu berubah menjadi agak biru seperti warna baja matang! Biru mengkilap dan kelihatan keras sekali. Diam- diam Hek-i Mo-ong terkejut juga dan maklumlah dia bahwa lawannya ini ternyata telah melatih sinkang yang amat kuat, yang membuat kedua lengan itu menjadi seperti baja dan jari-jari tangan itu tentulah amat kuat pula sehingga mampu memutuskan otot dan melepaskan tulang lawan. Maka, diam-diam dia pun mengerahkan tenaganya dan mempersiapkan diri dengan ilmunya yang mukjijat, yaitu Ilmu Tok-hwe-ji yang mengerikan itu.

Dengan tubuh tegak di bangkunya, tangan kanan memegang sumpit yang menjepit daging baru, tangan kiri siap di atas meja di depan dadanya, Hek-i Mo-ong memandang lawan dengan mata beringas. Dari pandang matanya saja keluar tenaga mukjijat dan walau pun dia tidak bermaksud mempergunakan ilmu sihirnya di dalam ujian itu, namun tenaga ilmu hitam keluar dari matanya dan membuat Pek-bin Tok-ong bergidik. Tokoh ini pun maklum bahwa kalau saja pertandingan ilmu ini bukan hanya sekedar ujian dan main-main, dia akan berpikir beberapa kali sebelum menentang seorang seperti Raja Iblis ini.

“Mo-ong, jaga seranganku!” Tiba-tiba Pek-bin Tok-ong berseru nyaring dan berbareng dengan bentakannya itu, tubuhnya sudah bergerak dan kedua lengannya menyambar ke arah lawan melalui atas meja yang menjadi penghalang di antara mereka.

Kedua tangannya itu menyambar ke depan dengan jari terbuka, seperti sepuluh batang pisau yang amat kuat dan cepat menyambar ke arah pundak dan lengan kanan Mo-ong. Terdengar suara bercuitan ketika kedua tangan itu menyambar dan terasa angin yang dingin sekali bertiup. Itulah ilmu pukulan Hun-kin Coh- kut-ciang yang dahsyat itu.

Namun, Hek-i Mo-ong tidak merasa gentar dan cepat tangan kirinya melakukan totokan-totokan ke arah pergelangan tangan dan siku untuk menangkis sekaligus mematikan serangan pertama itu, sedangkan tangan kanan yang memegang sumpit juga bergerak untuk mengelak.

Serangannya belum mencapai sasaran dan di tengah gerakan telah disambut oleh totokan jari tangan yang dia tahu amat ampuh itu, maka tentu saja Pek-bin Tok-ong terpaksa menarik kembali serangannya sehingga serangan pertama itu gagal. Lantas dia menyerang lagi dengan Hun-kin Coh-kut-ciang dan lawannya menyambut dengan Tok-hwe-ji yang menggerakkan ilmu totokan Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang amat ampuh itu. Hebatnya, ketika mengerahkan ilmu ini, bukan hanya jari-jari tangannya yang amat hebat, dapat menembus tulang, akan tetapi juga dari mulutnya keluar uap putih yang amat panas dan inilah yang membuat Pek-bin Tok-ong merasa kewalahan.

Beberapa kali kedua lengan bertemu, bahkan jari-jari tangan mereka sempat bertemu, akan tetapi selalu pertemuan itu mengakibatkan lengan dan tangan Raja Racun Muka Putih itu terpental dan tubuhnya tergetar. Setelah lewat lima jurus dia menyerang tanpa hasil, akibatnya malah muka dan lehernya penuh keringat dan mukanya yang putih itu menjadi kemerahan seperti terbakar. Itulah akibat dari serangan atau tangkisan Ilmu Tok-hwe-ji!

“Hebat…. engkau memang pantas menjadi calon koksu, Mo-ong!” kata kakek muka putih itu sambil menjura dan kembali ke tempat duduknya.

Melihat kemenangan Hek-i Mo-ong secara berturut-turut itu, Yong-taijin memuji dan merasa girang sekali. Mempunyai seorang pembantu atau koksu seperti Hek-i Mo-ong sungguh membesarkan hati, pikirnya. Akan tetapi di situ masih terdapat Siwananda yang menjadi seorang di antara sekutunya yang terpenting. Bukankah kakek berkulit kehitaman ini wakil dari Kerajaan Nepal yang amat diharapkan akan dapat memperkuat kedudukannya kalau tiba waktunya dia menyerang kota raja? Maka, Gubernur Yong lalu berkata sambil tersenyum, “Sekarang tiba giliran saudara Wakil Koksu Nepal untuk menguji calon pembantu kami.”

Siwananda bangkit berdiri dengan sikap angkuh, menjura kepada sang gubernur dan berkata, “Maaf, taijin. Sesungguhnya, kami sudah melihat kelihaian calon koksu yang menjadi pembantu taijin dan merasa kagum sekali. Karena tiga orang rekan kami tadi sudah mengujinya dan dia lulus dengan baik, biarlah sekarang kami menguji sampai di mana kekuatan batinnya, karena kekuatan badan saja bukan merupakan syarat mutlak untuk menjadi seorang koksu yang baik.”

Gubernur Yong sudah mendengar bahwa orang Nepal ini, di samping ilmu silatnya, juga mahir ilmu sihir. Akan tetapi dia pun sudah mendengar bahwa Hek-i Mo-ong juga seorang ahli sihir, maka dia merasa gembira akan dapat menyaksikan pertandingan adu kekuatan sihir. Dia mengangguk gembira dan berkata, “Silakan, saudara Siwananda.”

Kakek Gurkha yang tinggi besar ini lalu menghampiri meja kecil di mana Hek-i Mo-ong telah menantinya dan duduk berhadapan dengan Raja Iblis itu. Sejenak mereka hanya saling berpandang mata. Biar pun bagi orang lain mereka itu hanya saling pandang, namun sesungguhnya kedua orang ini sedang mengukur tenaga dan kekuatan batin mereka masing-masing melalui pandang mata itu!

Terjadilah adu kekuatan mukjijat melalui sinar mata mereka dan diam-diam Siwananda terkejut. Dia pun sudah mendengar bahwa Hek-i Mo-ong pandai ilmu sihir, akan tetapi dia tidak mengira bahwa kekuatan yang terkandung dalam sinar mata itu demikian kuatnya! Dia tidak tahu bahwa kekuatan ilmu sihir memang menjadi berlipat ganda dengan kuatnya tenaga sinkang yang dimiliki Hek-i Mo-ong. Biar pun mereka yang hadir itu hanya menduga-duga bahwa kedua orang itu saling mengukur tenaga batin, namun mereka mulai merasakan getaran aneh yang memenuhi ruangan itu, yang membuat mereka merasa tegang dan juga seram.

“Hek-i Mo-ong, yang kau pegang dengan sumpit itu seekor burung hidup!” Tiba-tiba terdengar suara Wakil Koksu Nepal itu.

Semua orang memandang ke arah potongan daging yang dijepit sumpit di tangan Hek-i Mo-ong dan terbelalaklah mereka ketika melihat bahwa daging itu kini benar-benar telah menjadi seekor burung kecil yang menggelepar-geleparkan sayapnya berusaha untuk lolos dari jepitan sepasang sumpit. Kalau burung itu sampai lolos, maka berarti Hek-i Mo-ong kalah sebab bukankah ujian itu untuk merampas daging dari jepitan sumpitnya? Dan agaknya tidak akan mudah menahan terbangnya burung itu dengan jepitan sumpit saja.

“Biar pun burung hidup, kalau sayapnya gundul, mana bisa terbang?” tiba-tiba terdengar suara Hek-i Mo- ong, sama berwibawanya dengan suara Siwananda tadi.

Burung yang tadinya menggeleparkan sayap itu tiba-tiba saja kehilangan kekuatannya dan sayap itu benar- benar telah kehilangan bulunya, menjadi gundul dan hanya dapat digerak-gerakkan naik turun dengan lemah saja!

“Hek-i Mo-ong, sepasang sumpitmu itu adalah sepasang ular!”

Dan semua orang terbelalak kaget dan heran karena begitu Siwananda mengeluarkan teriakan ini, sepasang sumpit di tangan Raja Iblis itu benar-benar berubah menjadi dua ekor ular, sedangkan burung tadi telah berubah pula menjadi sepotong daging!

“Sepasang ular yang membantuku menjaga agar daging jangan terlepas!” Hek-i Mo-ong menyambung, dan dua ekor ular itu kini ‘menari–nari’ berlenggak-lenggok, akan tetapi daging itu mereka gigit dengan kuat- kuat sehingga tidak mungkin terlepas lagi.

Siwananda tertawa dan bangkit sambil menjura. “Hek-i Mo-ong memang hebat dan kami mengucapkan selamat kepada Yong-taijin yang telah memperoleh seorang calon koksu yang amat pandai!”

Kakek Gurkha ini lalu memberi hormat kepada Gubernur Yong. Pembesar ini merasa girang sekali, memandang kepada Hek-i Mo-ong yang kini mengantar sepotong daging dengan sepasang sumpitnya yang telah kembali berbentuk sumpit biasa itu ke mulut, lalu makan dengan lahapnya seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Ceng Liong merasa bangga dan girang. Ia menghampiri gurunya dan berkata, “Mo-ong, aku mengucapkan selamat atas pengangkatanmu sebagai koksu!” Dan dengan hati setulusnya anak ini mengangkat kedua tangan ke dada untuk memberi hormat!

“Ha-ha-ha, terima kasih, Ceng Liong. Akan tetapi aku belum menjadi koksu, hanya baru calon koksu saja. Mudah-mudahan semua usaha kita bersama ini berhasil sehingga aku benar-benar menjadi koksu dan engkau menjadi seorang pemuda bangsawan, murid koksu. Ha-ha-ha!”

Tailucin, Thai Hong Lama, dan Pek-hin Tok-ong juga memberikan ucapan selamat atas kemenangan dan keberhasilan Hek-i Mo-ong menempuh ujian itu.

Dan Thai Hong Lama yang tadi merasa betapa suara sulingnya sudah dikacaukan oleh anak itu sehingga memudahkan Hek-i Mo-ong memperoleh kemenangan atas dirinya, lalu menambahkan, “Omitohud…. Mo- ong, muridmu ini benar-benar hebat dan kelak dia akan lebih hebat dan lebih jahat dari pada gurunya!”

Dikatakan jahat bagi seorang datuk sesat macam Hek-i Mo-ong sama saja dengan menerima pujian! Maka dia pun tertawa bergelak. Akan tetapi Ceng Liong memandang pendeta Lama itu dengan mata mendelik, lalu terdengar dia berkata lantang.

“Lama, jangan sembarangan saja bicara! Aku bukan seorang penjahat dan tidak akan menjadi seorang penjahat biar pun aku mempelajari ilmu dari Hek-i Mo-ong!”

Tentu saja semua orang menjadi heran mendengar ucapan anak itu, akan tetapi Hek-i Mo-ong tertawa semakin keras karena dia melihat betapa lucunya keadaan yang ditimbulkan oleh sikap muridnya yang aneh ini. Semakin aneh watak muridnya, semakin sukalah hati Hek-i Mo-ong, karena bagi kaum sesat, yang diutamakan adalah keanehan dan sifat yang lain dari pada orang lain, dan menerjang semua hukum- hukum yang telah ada tanpa mempedulikan tata susila atau kesopanan pula.

Gubernur Yong yang diam-diam tidak suka dengan watak orang-orang ini, akan tetapi terpaksa bersikap ramah terhadap mereka karena memang dia amat membutuhkan bantuan mereka, lalu mengajak mereka untuk mulai berunding yang sesungguhnya merupakan acara inti dari pertemuan itu.

Sebagai seorang yang mengharapkan kedudukan koksu dan pembantu utama gubernur yang hendak memberontak itu, Hek-i Mo-ong mendengarkan dengan penuh perhatian. Juga Ceng Liong, walau pun belum dapat menangkap seluruh maksud dari percakapan itu, mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia mendapatkan perasaan bahwa apa yang didengarnya itu amat penting baginya.

Dengan panjang lebar dan jelas, Gubernur Yong lalu menceritakan rencana mereka bersama. Kerajaan Nepal akan mengirim pasukan yang sangat kuat dan besar untuk menyerang Tibet. Serbuan ini diharapkan dapat berhasil dalam waktu yang tidak terlalu lama dan mengandalkan bantuan dari dalam yang akan digerakkan dan diatur oleh Thai Hong Lama.

“Jangan khawatir, untuk keperluan itu pinceng telah memiliki banyak kawan sehaluan dan sewaktu-waktu tentu kami akan dapat membantu. Pendeknya, dengan bantuan kami, bala tentara Nepal tentu tidak akan sukar untuk menduduki Tibet.” Demikian Thai Hong Lama mengutarakan isi hatinya.

Menurut perjanjian mereka, setelah Tibet jatuh ke tangan Kerajaan Nepal, Thai Hong Lama yang akan diangkat sebagai penguasa Tibet, tentu saja sebagai negara taklukan dari Nepal. Dan untuk keperluan menyerbu Tibet, Gubernur Yong akan membantu, yaitu dengan mencegah datangnya bala bantuan berupa bala tentara Kerajaan Ceng.

Dengan demikian, tentu Tibet akan mudah direbut dan bantuan Gubernur Yong ini amat penting karena kalau sampai bala tentara Ceng membantu Tibet, tentu akan sukarlah daerah itu direbut oleh pasukan Nepal. Apalagi kalau bala tentara Kerajaan Ceng itu dipimpin oleh panglima-panglima pandai seperti Jenderal Muda Kao Cin Liong yang pernah membuat tentara Nepal kocar-kacir beberapa tahun yang lalu (bacaKisah ‘Suling Emas dan Naga Siluman’).

Kemudian, setelah mereka berhasil merebut Tibet, barulah mereka akan mengadakan pasukan gabungan antara bala tentara Nepal, Tibet dan pasukan-pasukan yang berjaga di barat dan telah dikuasai oleh Thong-ciangkun sebagai pembantu Gubernur Yong dan melakukan penyerbuan ke timur untuk menentang Kerajaan Ceng.

“Akan tetapi, kita harus bertindak hati-hati sekali, tidak perlu tergesa-gesa dan menanti saat yang baik. Kita harus ingat bahwa kerajaan memiliki banyak panglima yang pandai dan pasukan yang kuat,” kata sang gubernur.

“Ha-ha-ha, harap taijin tenangkan hati dan tidak perlu khawatir tentang orang-orang pandai itu. Dengan bantuan para rekan yang kini hadir, saya sanggup untuk menentang dan membasmi para jagoan kerajaan itu. Dengan bantuan teman-teman, bahkan para penghuni Pulau Es pun tidak dapat melawan kami!”

Akan tetapi, ketika bicara sampai di situ, Hek-i Mo-ong merasa betapa ada sepasang mata yang mendelik kepadanya. Dia menoleh dan terkejut melihat bahwa orang yang melotot kepadanya itu adalah muridnya. Dia sadar dan tidak melanjutkan kata-katanya. Akan tetapi ucapannya yang terakhir itu telah membuat para tokoh di situ menjadi terbelalak.

“Apa katamu? Para penghuni Pulau Es….?” kata Pek-bin Tok-ong kaget.

“Omitohud! Kau maksudkan bahwa engkau telah berhasil membunuh Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?” tanya pula Thai Hong Lama yang menganggap berita itu seperti petir menyambar di siang hari panas.

Hek-i Mo-ong menjadi serba salah. Dia tahu bahwa di depan muridnya, amat tidak baik membicarakan tentang kebinasaan para penghuni Pulau Es, akan tetapi dia telah terlanjur bicara dan tidak akan dapat ditariknya kembali. Maka dia pun menarik napas panjang.

“Manusia mana di dunia ini yang sanggup mengalahkan Pendekar Super Sakti, majikan Pulau Es? Bahkan dewa sekali pun akan sukar mengalahkannya. Tidak, kami tidak berani melawan Pendekar Super Sakti. Kami hanya melawan isteri-isterinya dan hal itu pun mengakibatkan tewasnya banyak anak buah dan hampir semua kawan-kawanku. Mereka itu sungguh hebat bukan main. Aku sendiri nyaris binasa. Bagaimana pun juga, sekarang Pulau Es telah terbakar habis berikut para penghuninya, dan kami akan terus melakukan sampai semua pendekar yang menentang kami lenyap dari permukaan bumi. Bukankah kalau sudah begitu, gerakan taijin akan lebih mudah dilakukan?”

Gubernur Yong mengangguk-angguk, akan tetapi Pek-bin Tok-ong agaknya masih penasaran mengenai Pulau Es. “Mo-ong, kau katakan bahwa Pulau Es terbakar habis berikut para penghuninya. Benarkah itu? Apakah engkau dan kawan-kawanmu yang telah berhasil membakar pulau itu?”

Kalau saja dia tidak teringat kepada kehadiran muridnya, tentu dengan senang dan bangga sekali Hek-i Mo-ong akan membual dan mengaku bahwa dialah yang telah menghancurkan dan membakar Pulau Es. Akan tetapi, kehadiran Ceng Liong membuat dia tidak mungkin dapat membohong. Watak muridnya ini aneh sekali, siapa tahu muridnya akan membuatnya malu dan menyangkalnya kalau dia berbohong.

“Tidak, kami sisa para penyerbu telah meninggalkan pulau ketika kami melihat dari jauh pulau itu terbakar habis.” Karena tidak ingin mereka itu mendesak lebih lanjut tentang Pulau Es dan kini sikap Ceng Liong telah biasa kembali, Hek-i Mo-ong lalu berkata cepat, “Akan tetapi, hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan kita. Lebih baik kita sekarang melihat halangan dan hambatan apa yang kiranya akan mengganggu gerakan kita dan kita lenyapkan halangan itu.”

Semua orang mengangguk setuju dan Wakil Koksu Nepal lalu berkata, “Memang benar apa yang dikatakan Mo-ong. Kita harus menghalau semua hambatan dan ada beberapa hal yang membuat kami merasa gelisah. Pertama-tama adalah negara tetangga kami yang kecil, yakni Bhutan. Negara kecil itu menjadi penghalang besar bagi gerakan kami menyerbu Tibet karena sampai sekarang Bhutan tak mau tunduk, bahkan tidak memiliki sikap bersahabat dengan kami. Sebab itu, setiap gerakan kami yang melanggar wilayah mereka, tentu akan mereka tentang dan hal ini sungguh memusingkan dan membuang banyak tenaga kalau kami harus menggempur Bhutan lebih dulu.”

“Bhutan? Negara yang demikian kecilnya?” Gubernur Yong memandang rendah. “Apa sih kekuatan negara kecil itu? Mengapa tidak ditundukkan saja lebih dulu? Hal itu tentu jauh lebih mudah dari pada menundukkan Tibet.”

“Agaknya Yong-taijin belum mendengar. Bhutan sekarang tak dapat disamakan dengan Bhutan belasan tahun yang lalu. Biar pun negara itu kecil, akan tetapi memiliki pasukan pilihan yang amat kuat, di bawah pimpinan Puteri Syanti Dewi yang lihai dan suaminya yang lebih lihai lagi. Tidak, menyerbu Bhutan sama dengan mencari penyakit,” kata Siwananda, orang Gurkha yang menjadi Wakil Koksu Nepal itu dan sikapnya nampak jeri.

Tentu saja hal ini membuat semua orang merasa heran. Wakil koksu itu sendiri begitu lihai, akan tetapi kelihatan jeri ketika menyebutkan nama seorang Puteri Bhutan dan suaminya.

“Omitohud, pinceng pernah mendengar tentang mereka dan kabarnya suami isteri itu memang luar biasa lihainya. Kabarnya, puteri itu pandai menghilang saking cepatnya ia dapat bergerak, sedangkan suaminya adalah seorang Han yang pada belasan tahun yang lalu pernah menggegerkan dunia kang-ouw. Kalau tidak salah, dahulu dia berjuluk Toat-beng-ci atau Si Jari Maut. Sang puteri kabarnya tidak mau menggantikan ayahnya dan menyerahkan tahta kerajaan kepada seorang saudara laki-laki, sedangkan ia sendiri bersama suaminya menjadi panglima-panglima yang memimpin bala tentara Bhutan. Benarkah demikian, saudara Siwananda?”

Yang ditanya mengangguk membenarkan.

“Dan halangan lain, apakah itu, saudara Siwananda?” tanya sang gubernur.

“Selain adanya Bhutan yang menjadi penghalang, juga kini banyak terdapat tokoh-tokoh pertapa di Himalaya yang kabarnya diam-diam juga mengamati gerak-gerik kami. Mereka itu kadang-kadang mengambil sikap bermusuh dan agaknya mereka tentu akan ikut menentang kalau kami menyerbu Tibet. Semua ini adalah gara-gara Jenderal Kao Cin Liong yang dahulu pernah menentang kami dan di sana dia telah mempunyai banyak sahabat yang siap membantunya dan menentang kami.”

Semua orang merasa khawatir dengan berita yang tidak baik ini. “Ahh, kalau begitu…. gerakan kita menghadapi ancaman yang berat,” kata Gubernur Yong, kemudian ia teringat akan Hek-i Mo-ong yang menjadi pembantu utamanya, maka dia pun menoleh kepada Raja Iblis itu.

“Lo-sicu, kita menghadapi rintangan yang cukup berat, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan?” Pertanyaan ini selain hendak memancing, juga agaknya sang gubernur ingin melihat kegunaan dari orang lihai ini.

Hek-i Mo-ong mengangguk-angguk sambil mengerutkan sepasang alisnya yang sudah beruban, seperti seorang ahli pikir yang sedang mengerjakan otaknya yang cerdik. “Hal itu sudah saya pikirkan sejak mendengar dari saudara Siwananda tadi, taijin. Harap taijin jangan khawatir. Kalau yang menjadi penghalang itu berupa pasukan besar, tentu saja yang harus menghalaunya juga pasukan yang lebih kuat lagi. Akan tetapi kalau yang dikhawatirkan itu perorangan, seperti suami isteri bangsawan Kerajaan Bhutan

itu atau tokoh-tokoh pertapa di Himalaya, serahkan saja kepada saya, tentu akan dapat saya enyahkan mereka!”

Sang gubernur mengangguk-angguk gembira. “Lalu, sekarang apa yang hendak sicu lakukan?”

“Perkenankan saya dan murid saya pergi ke Bhutan dan Himalaya untuk melakukan penyelidikan dan saya akan membasmi setiap orang yang hendak menentang gerakan kita dari Nepal ke Tibet lalu ke timur.”

“Omitohud….! Itulah cara yang terbaik!” kata Thai Hong Lama. “Kalau Mo-ong mau membantu, nanti akan pinceng tunjukkan siapa-siapa orangnya yang patut dibasmi. Kita dapat bekerja sama, Mo-ong.”

“Aku pun telah mengenal mereka yang berpihak kepada Kerajaan Ceng!” kata Pek-bin Tok-ong. “Dan engkau bisa mendapatkan bantuanku untuk menghantam para pertapa itu, Mo-ong.”

Hek-i Mo-ong mengangguk. “Baik, kalau perlu, aku akan menghubungi kalian di sana. Akan tetapi, agaknya untuk melaksanakan pekerjaan yang ringan ini aku tidak akan membutuhkan bantuan orang lain.”

“Dan kami akan mempersiapkan pasukan kami di perbatasan utara dan Tibet. Harap saudara Siwananda selalu mengirim kurir penghubung agar kami selalu dapat mengikuti sampai di mana majunya gerakan dari Nepal,” kata Tailucin.

“Baik, kami tentu selalu menghubungi pasukanmu, saudara Tailucin, jangan khawatir,” jawab orang Gurkha itu.

Perjamuan dilanjutkan dengan meriah dan gembira. Kemudian sang gubernur dengan royal lalu membagi- bagi hadiah berupa barang-barang berharga kepada mereka semua sebelum mereka bubaran. Hek-i Mo- ong menerima sekantung uang emas sebagai bekal, juga dua ekor kuda yang sangat baik. Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong telah berangkat menunggang kuda menuju ke barat…..

********************

“Sumoi, engkau lihat bagaimana dengan kemajuan latihanku? Sudah selama empat bulan aku berlatih menurut petunjuk suhu, aku khawatir masih belum sempurna,” kata Louw Tek Ciang, pemuda yang diambil murid dan diambil calon mantu pula oleh Suma Kian Lee itu, pada suatu pagi kepada Suma Hui yang sedang bertugas mengawasi dan membimbingnya.

Mereka berada di halaman samping rumah yang juga merupakan sebuah taman bunga. Entah sudah berapa puluh kali pemuda itu selalu minta pendapat dara itu. Suma Hui menganggap pertanyaan itu lumrah saja, dan ia sama sekali tidak tahu bahwa memang pemuda itu sengaja bertanya agar kembali diuji oleh Suma Hui. Dan cara mengujinya adalah mengadu telapak tangan, suatu hal yang amat disuka oleh pemuda itu.

“Dua pekan yang lalu latihanmu sudah hampir sempurna, suheng. Kurasa sekarang engkau tentu sudah paham benar,” jawab Suma Hui yang sedang memotongi daun-daun bunga yang ditempeli telur belalang.

“Maukah engkau mencoba dan mengukur latihan dasar sinkang yang kupelajari, sumoi?” Tek Ciang memohon dan seperti biasa.

Suma Hui tidak menolaknya. Biar pun tadinya ia merasa tidak puas melihat ayahnya menerima pemuda ini sebagai murid, akan tetapi setelah bergaul selama empat bulan, sikap Tek Ciang selalu baik kepadanya, ramah dan sopan, sehingga tidak ada alasan bagi Suma Hui untuk membencinya, walau pun hal itu bukan berarti bahwa ia suka kepada pemuda ini. Ada sesuatu dalam sikap pemuda ini, mungkin sikap yang terlalu sopan dan terlalu manis itu, yang membuatnya selalu curiga dan kepercayaan hatinya belum penuh kepada suheng-nya ini.

“Tentu saja. Nah, marilah kita mulai!” kata Suma Hui.

Dengan girang Tek Ciang Lalu memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan suhu-nya, menggerakkan kedua lengannya ke atas bawah kemudian bersilang dan pada saat itu mendorongkan kedua lengannya ke depan dengan tangan terbuka sambil mengerahkan tenaga. Suma Hui yang berdiri di depannya menyambut tangan yang didorongkan itu dengan kedua tangannya sendiri.

“Plakkk!”

Dua pasang telapak tangan itu saling bertemu dan seperti biasa, Tek Ciang merasakan telapak tangan yang lunak, halus dan hangat, membuat jantungnya berdebar penuh gairah.

Suma Hui mengerutkan alisnya. Pemuda ini memang berbakat dan agaknya telah menguasai tehnik latihan dasar dari Pulau Es, yaitu dasar sinkang yang kemudian dapat dilanjutkan dengan latihan Hwi-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang. Akan tetapi, seperti juga dua pekan yang lalu, pada akhir getaran itu terdapat kekacauan yang hanya terjadi kalau pemuda itu kurang memusatkan perhatian pada getaran melalui telapak tangan itu. Ini menjadi tanda bahwa pikiran pemuda itu melayang atau terkacau oleh sesuatu.

“Suheng, engkau telah berhasil baik, hanya masih saja engkau belum bisa memusatkan seluruh perhatianmu kepada telapak tangan yang mendorong. Aku merasakan adanya kekacauan pada akhir getaran itu. Apa sih yang kau pikirkan setelah engkau melakukan gerakan mendorong itu?”

Apa lagi yang mengacaukan pikiranku kalau bukan telapak tanganmu yang lunak, halus dan hangat itu, demikian pikir Tek Ciang. Akan tetapi dia cukup cerdik untuk berkata demikian lancang, maka dia pun mengambil sikap menyesal. “Ahhh, dasar aku yang bodoh, sumoi. Aku selalu merasa ragu-ragu akan kemampuan sendiri sehingga pada saat aku mendorong, aku merasa khawatir kalau-kalau salah.”

“Aihh, engkau terlalu merendahkan diri, suheng. Gerakanmu sudah benar, dan engkau pun sudah menguasai dasar penghimpunan tenaga sinkang dari keluarga kami. Aku mengucapkan selamat, suheng.”

“Dan engkau terlalu memuji, sumoi, padahal aku belum bisa apa-apa. Memang engkau amat baik hati, sumoi. Engkaulah gadis yang paling baik, paling gagah perkasa, paling cantik jelita, yang pernah kukenal.”

“Suheng….!” Suma Hui berseru agak keras untuk menegur, akan tetapi mukanya sudah berubah merah. Bagaimana pun juga, suheng-nya ini hanya memujinya, jadi tidak ada alasan baginya untuk marah-marah.

“Aku hanya bicara apa adanya, sumoi….” Tek Ciang melanjutkan rayuannya. “Sudahlah, aku tidak suka bicara tentang diriku….”

“Tapi, sebaliknya aku suka sekali….”

Pada saat itu, terdengar langkah orang di atas lorong berkerikil yang menuju ke taman itu dari luar. Keduanya mengangkat muka memandang.

“Siapa engkau berani masuk ke sini tanpa ijin…..?” Tek Ciang membentak marah akan tetapi dia menghentikan tegurannya ketika melihat sikap sumoi-nya berubah menjadi amat gembira.

“Cin Liong….!” Suma Hui berseru gembira dan kalau ia tidak ingat bahwa di situ berdiri orang lain, tentu ia sudah berlari menghampiri pemuda yang baru datang itu.

“Hui-i….!” Cin Liong juga berseru girang, akan tetapi dia pun berhenti berdiri saja sambil memandang kepada pemuda tampan bermuka putih dan pesolek yang tidak dikenalnya itu.

Melihat sikap Cin Liong yang ragu-ragu, Suma Hui lalu memperkenalkan, “Cin Liong, dia ini adalah suheng Louw Tek Ciang, murid ayah yang baru empat bulan diangkatnya.”

“Ahh….!” Cin Liong kelihatan terkejut dan juga girang, kemudian teringat bahwa menurut kedudukan, dia lebih rendah, maka dia pun menjura dengan sikap hormat kepada pemuda itu sambil berkata, “Susiok….!”

Sekarang giliran Tek Ciang yang termangu-mangu. Pemuda yang baru datang ini tadi menyebutnya susiok (paman guru)! “Sumoi…. siapakah orang ini….?” tanyanya gagap dan bingung.

“Suheng, dia bernama Kao Cin Liong dan dia ini adalah…. ehh, seorang keponakanku.”

Sepasang mata pemuda itu terbelalak dan dia memandang Suma Hui dan Cin Liong bergantian dengan sinar mata tidak percaya. “Keponakan….? Tapi…. tapi…. mana mungkin….?”

Suma Hui tersenyum. Kegembiraannya melihat kedatangan kekasihnya itu terlalu besar untuk dapat diganggu oleh keheranan dan kebingungan Tek Ciang. “Sudahlah, suheng. Engkau tidak mengerti dan terlalu panjang kalau diterangkan. Biarlah lain kali saja kuceritakan dan sekarang kuharap engkau suka meninggalkan kami dan membiarkan kami bercakap-cakap.”

Tek Ciang merasa terpukul. Dia menunduk dengan muka merah, sekali lagi mengerling ke arah Cin Liong lalu berkata, “Baiklah, sumoi, baiklah….”

Dia pun pergi dari situ menuju ke belakang rumah di mana terdapat sebuah kamarnya di dekat lian-bu-thia, yakni ruangan berlatih silat.

Melihat pemuda itu telah pergi, Suma Hui lalu memandang kekasihnya. Sejenak mereka saling pandang, kemudian Suma Hui tersenyum, sepasang matanya agak membasah. Selama ini dara itu merasa rindu bukan main kepada kekasihnya dan merasa seolah-olah kehidupan menjadi sepi dan lesu. Kini, kemunculan Cin Liong yang tiba-tiba itu membuat hidup seolah-olah menjadi cerah dan penuh dengan sinar kebahagiaan.

“Cin Liong, mari bicara di dalam….,” ajaknya dengan gembira dan ia pun mengulurkan tangan kanan untuk menggandeng tangan pemuda itu.

Melihat sikap kekasihnya ini, tentu saja Cin Liong merasa gembira sekali, akan tetapi juga membuatnya ragu-ragu dan takut.

“Ayah ibumu….?” bisiknya khawatir ketika tangan mereka sudah saling bergandengan dalam pertemuan antara jari jemari tangan yang hangat dan bergetar mesra penuh perasaan rindu dan sayang.

“Mereka telah pergi empat bulan yang lalu, mencari Ciang Bun dan sampai kini belum kembali. Di rumah kosong tidak ada orang….”

“Dan susiok tadi?”

“Ahhh, jangan terlalu banyak peraturan. Tidak patut engkau menyebut susiok kepada pemuda yang baru belajar itu. Dia disuruh tinggal di kamar belakang oleh ayah, untuk melatih diri dengan dasar sinkang kami dan aku membimbingnya. Mari, Cin Liong….” Mereka bergandengan tangan dan berjalan memasuki rumah itu dari pintu samping, menuju ke ruangan depan atau ruangan tamu.

Begitu tiba di ruangan itu, keduanya kembali saling berpandangan dengan tangan masih bergandengan dan agaknya seperti ada daya tarik yang luar biasa membuat keduanya makin mendekat dan tahu-tahu mereka telah berangkulan dan berdekapan, entah siapa yang lebih dahulu memulai gerakan itu.

“Hui….,” bisik Cin Liong.

“Cin Liong….” Dan seperti secara otomatis, pemuda itu mengangkat dagu Suma Hui dan menciumnya. Suma Hui mendesah, tubuhnya tergetar dan matanya terpejam, kemudian ia menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu, menghela napas lega dan bahagia.

“Aku…. aku sudah bertemu dengan ayah ibuku, dan aku sudah minta kepada mereka untuk datang ke sini meminangmu, mungkin dalam waktu dua tiga bulan ini….,” bisik Cin Liong.

Suma Hui hanya mengangguk, hatinya terharu bukan main, keharuan yang timbul akibat kegirangan dan kekhawatiran bercampur menjadi satu.

“Dan engkau…. sudahkah orang tuamu mengetahui?”

Suma Hui hanya menarik napas panjang, kemudian melepaskan dirinya dari rangkulan, dan menggandeng tangan kekasihnya untuk duduk di atas bangku. Mereka duduk berhadapan, terhalang meja. Tangan mereka masih saling berpegangan di atas meja. Kemudian Suma Hui menceritakan keadaannya, bahwa ia sudah berterus terang pada ibunya dan bahwa ibunya agaknya tidak berkeberatan.

“Ahh, bagus sekali! Jadi ibumu setuju? Ayah ibuku tadinya terkejut dan meragu, akan tetapi dengan bijaksana mereka akhirnya juga setuju, walau pun mereka masih merasa takut-takut untuk melakukan peminangan atas dirimu.”

“Ibuku amat bijaksana dan mencintaku. Dia setuju sepenuhnya, tetapi ibu menyatakan kekhawatirannya kalau-kalau ayahku yang tidak setuju.”

“Lalu bagaimana dengan ayahmu?” tanya Cin Liong khawatir.

“Entahlah, aku minta tolong ibu untuk memberitahukan ayah, dan aku tidak tahu apakah hal itu sudah dilakukan dan tidak tahu pula bagaimana tanggapan ayah….”

“Aihh, aku merasa khawatir sekali…. jangan-jangan beliau tidak setuju….”

Melihat wajah kekasihnya muram dan agak pucat, Suma Hui mencengkeram tangan kekasihnya. Mukanya menjadi merah, sepasang matanya berapi-api ketika ia berkata, “Baik ayah mau pun segala dewa dan siluman di dunia ini, tidak akan ada yang dapat menghalangiku berjodoh denganmu!”

Cin Liong memejamkan mata, mengusir kengerian yang membayang di matanya. Dia mengenal benar watak kekasihnya ini yang amat keras dan memiliki tekad sekuat baja yang tak mungkin ditekuk sampai bagaimana pun juga. Dia khawatir kalau-kalau jalinan cinta mereka ini akan mengakibatkan kemelut dan mala petaka di dalam keluarga itu.

“Kita harus tenang dan menghadapi segala sesuatu dengan tabah, tanpa kekerasan. Ingat, Hui, andai kata ada yang menentang, maka yang menentang itu bukan orang lain, melainkan orang tua kita sendiri. Di sinilah perlunya kita mempergunakan kebijaksanaan dan menjauhkan kekerasan antara keluarga yang hanya akan mendatangkan kedukaan besar.”

Suma Hui merangkul lagi, menyembunyikan mukanya yang kini dibayangi kekhawatiran itu di dada kekasihnya. Sepasang kekasih ini lalu bicara bisik-bisik sampai beberapa lamanya, sama sekali tidak tahu bahwa segala percakapan mereka telah didengarkan telinga lain dan segala yang terjadi antara mereka telah ditonton mata orang lain yang penuh dengan kemarahan, mata yang beringas kemerahan, mata dari Louw Tek Ciang!

Biar pun mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama sekali Cin Liong, namun saat itu mereka lengah. Gelora asmara yang sedang mengamuk dan melanda hati mereka mengurangi kewaspadaan. Selain itu, juga Tek Ciang amat cerdik. Sebelum dua orang muda itu masuk ruangan itu, dia telah lebih dulu berada di tempat persembunyiannya sehingga dia dapat mengintai tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga.

“Aku akan pergi mencari rumah penginapan dulu, Hui-i….”

“Hishh, masa engkau masih harus terus menyebut i-i (bibi) kepadaku? Tidak pantas!” sela Suma Hui.

Cin Liong tersenyum, “Ah, segala macam sebutan dalam huhungan keluarga yang jauh masih terus dipertahankan orang, sungguh membuat kita merasa canggung saja. Di dalam hatiku, tentu saja aku menyebutmu Hui-moi (dinda Hui)….”

“Kenapa mesti lain di mulut lain di hati? Sebut saja begitu!” “Tapi kalau terdengar orang….”

“Peduli apa dengan orang lain? Cin Liong, hidup kita tidak mungkin dapat seterusnya disandarkan pada pendapat orang lain, bukan?”

Cin Liong menarik napas panjang. “Baiklah, Hui-moi. Memang manusia amatlah lemah, sukar sekali dan merasa takut meninggalkan kebiasaan lama atau tradisi, dan aku agaknya termasuk satu di antara manusia-manusia lemah itu. Selanjutnya aku akan banyak belajar tabah dan berani menghadapi kenyataan seperti engkau. Nah, aku pergi dulu, Hui-moi. Sore nanti aku akan datang berkunjung.”

“Baik, kita makan bersama sore ini di sini, Cin Liong. Aku akan masak-masak untukmu.” “Baiklah, tentu lezat sekali masakanmu.”

Mereka lalu bangkit berdiri dan dengan bergandeng tangan meninggalkan ruangan itu menuju keluar. Cin Liong kemudian meninggalkan kekasihnya yang mengantar dengan pandang mata mesra dan wajah berseri-seri. Setelah berpisah dari kekasihnya, barulah kewaspadaan Cin Liong timbul kembali sehingga dia dapat melihat bahwa ada orang membayanginya dari jauh!

Hatinya tertarik sekali dan juga merasa terheran-heran setelah mendapatkan kenyataan bahwa yang membayanginya itu adalah Louw Tek Ciang, pemuda yang menjadi suheng dari Suma Hui dan yang tadi disebutnya susiok itu! Diam-diam dia merasa geli hatinya. Apakah suheng yang tolol itu diutus oleh Suma Hui untuk membayanginya dan untuk melihat di rumah penginapan mana dia bermalam?

Ahhh, apakah kekasihnya akan melakukan hal yang sebodoh itu? Ataukah pemuda itu sendiri yang membayanginya, mungkin karena pemuda itu belum begitu mengenalnya dan merasa curiga dan seolah- olah hendak ‘melindungi’ sumoi-nya? Bagaimana pun juga, Cin Liong tidak mau membuat ‘susiok-nya’ itu menjadi tidak enak hati dan malu kalau dia memperlihatkan bahwa dia tahu akan perbuatan pemuda pesolek itu, maka dia pura-pura tidak tahu dan memilih kamar di sebuah rumah penginapan. Setelah memperoleh kamar dia keluar lagi untuk melihat. Ternyata ‘susiok’ itu telah lenyap dan dia pun tersenyum sendiri.

Dengan napas terengah karena hampir seluruh perjalanan menuju ke rumah ayahnya dilakukan sambil berlari cepat, Tek Ciang menghadap ayahnya. Guru silat Louw terkejut melihat puteranya datang terengah- engah seperti itu dan cepat menyambutnya.

“Wah, celaka, ayah! Aku tidak sudi menikah dengan Suma Hui….!”

“Hushhh….!” Louw-kauwsu terkejut bukan main, cepat menarik tangan anaknya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya. “Ucapan apa itu?” bentaknya ketika dia berada aman di dalam kamar bersama puteranya.

“Siapa sudi menikah dengan gadis seperti itu? Ia gadis tak tahu malu, ayah, berpacaran dengan keponakannya sendiri!” Dengan suara mengandung kemarahan Tek Ciang lalu menceritakan semua yang telah didengar dan dilihatnya ketika pemuda bernama Kao Cin Liong datang berkunjung ke rumah suhu- nya.

Bukan main kaget dan heran hati Louw Kam mendengar penuturan puteranya. Sungguh merupakan hal yang amat aneh dan sukar dapat dipercaya.

“Benarkah ceritamu itu? Benarkah pemuda itu keponakannya?”

Kalau Suma Hui mempunyai seorang pacar, hal itu masih dianggapnya biasa walau pun tentu saja tidak menyenangkan. Akan tetapi berpacaran dengan seorang keponakan sendiri? Mustahil rasanya!

“Aku pun tadinya tidak percaya, ayah. Akan tetapi setelah diperkenalkan, orang itu mengaku keponakan Suma Hui, bahkan dia menyebut aku susiok.”

“Jangan-jangan hanya murid keponakan saja, bukan keluarga.”

“Dia menyebutnya Hui-i, berarti sumoi adalah i-i-nya, bukan hanya sekedar bibi gurunya. Ayah, aku tidak sudi berjodoh dengan gadis tak tahu malu begitu!”

“Tolol! Engkau menjadi murid, bahkan calon mantu seorang pendekar sakti seperti Suma Kian Lee-taihiap, dan engkau mengatakan tidak sudi! Kita harus berusaha untuk menggagalkan hubungan mereka. Aku yakin kalau Suma-taihiap mengetahui hubungan antara puterinya dan keponakan puterinya itu, tentu dia akan menentang. Bukankah dia sudah memilih engkau untuk menjadi calon menantunya? Pula, kurasa hubungan itu hanya hubungan akrab antara bibi dan keponakannya saja.”

“Hubungan akrab? Ayah, kalau mereka itu sudah saling berpelukan, saling berdekapan, saling berciuman bibir, mungkin sekali mereka itu sudah saling bermain cinta, tidur bersama….!” kata Tek Ciang marah.

“Hushh….! Tahan mulutmu. Pemuda itu pun sungguh jahat dan kurang ajar. Kalau benar dia itu keponakan Suma Hui, kenapa dia berani bermain gila dengan bibi sendiri? Tek Ciang, kita adalah calon keluarga Suma-taihiap, dan engkau sendiri malah muridnya yang ditugaskan menemani nona Suma di rumah. Kini, pemuda itu datang mengacau, kita harus melindungi kehormatan calon isterimu. Aku sendiri yang akan menghajar dan membunuh pemuda tidak sopan itu. Di mana dia?”

Louw-kauwsu tentu saja marah dan khawatir sekali melihat bahaya kegagalan ikatan jodoh antara puteranya dan puteri Suma Kian Lee. Hal ini berarti akan hancurnya semua kebanggaan hatinya dapat berbesan dengan keturunan Pendekar Super Sakti, keluarga Pulau Es yang amat terkenal itu.

“Tadi aku membayanginya dan dia bermalam di hotel Tong-an, kamar nomor lima yang berada di bagian kiri.”

“Baik, engkau jangan ikut-ikut. Malam ini akan kubereskan dia! Kukira itu satu-satunya jalan untuk membela kehormatan calon mantuku dan melenyapkan saingan untukmu. Nah, kau kembalilah ke rumah suhu-mu dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.”

“Tapi, ayah….!” Tek Ciang yang merasa cemburu dan panas hatinya membantah karena sudah tertanam rasa tidak senang dan bahkan kebencian terhadap diri Suma Hui yang mengecewakan hatinya.

“Diam! Engkau harus mentaati perintahku. Ketahuilah bahwa aku melakukan semua ini demi masa depanmu sendiri, tahu?” Tek Ciang tidak berani membantah lagi, kemudian kembalilah dia ke rumah keluarga Suma.

Bagaimana pun juga Tek Ciang adalah seorang pemuda yang cerdik dan amat pandai menyembunyikan perasaan hatinya. Ketika sore hari itu Cin Liong datang dan dia pun diundang untuk makan bersama, dia duduk semeja dengan Cin Liong dan Suma Hui menikmati masakan gadis itu. Biar pun Cin Liong dan Suma Hui menjaga sikap mereka sehingga tidak menonjolkan kemesraan di antara mereka, namun Tek Ciang merasa sekali adanya kemesraan itu di dalam pandang mata, senyum dan suara mereka. Tentu saja hatinya terasa panas membakar, namun dia menekannya dan diam saja. Akan tetapi begitu selesai makan, dia pun berpamit dengan alasan untuk berlatih di dalam kamarnya.

Cin Liong bercakap-cakap dengan Suma Hui. Dia mengatakan bahwa dia akan tinggal beberapa hari saja di Thian-cin, karena kedatangannya itu hanya untuk menyampaikan berita tentang akan datangnya orang tuanya ke Thian-cin untuk mengajukan pinangan.

Mereka bercakap-cakap dengan santai dan tentu saja dengan mesra, seperti yang hanya dapat dirasakan oleh dua orang yang saling mencinta. Kekhawatiran yang timbul bahwa hubungan mereka akan ditentang oleh ayah gadis itu, dapat mereka lenyapkan dengan kebulatan tekad mereka bahwa apa pun yang akan terjadi, mereka berdua akan menghadapinya bersama dan takkan ada apa pun di dunia ini yang dapat menghalangi huhungan mereka dan niat mereka untuk menjadi suami isteri!

Senja telah berganti malam ketika Cin Liong meninggalkan rumah kekasihnya. Bagai mana pun juga, dia dan Suma Hui masih menjaga anggapan orang luar yang kurang baik sehingga pemuda itu bermalam di rumah penginapan. Dia pun tidak berani terlalu malam bertamu walau pun hatinya merasa berat untuk meninggalkan kekasihnya. Dia berjalan menuju ke rumah penginapan Tong-an dengan mulut tersenyum dan hati yang penuh rasa bahagia. Biar pun usianya sudah dua puluh sembilan tahun, namun baru dua kali inilah Cin Liong jatuh cinta.

Pertama kali, cintanya terhadap pendekar wanita Bu Ci Sian mengalami kegagalan karena cintanya tidak terbalas dan semenjak itu, dia tidak pernah mengalami jatuh cinta lagi sampai dia bertemu dengan Suma Hui. Maka, kebahagiaan yang terasa di hatinya membuat pemuda ini melenggang dengan senangnya, seperti seorang pemuda remaja mengalami cinta pertama saja.

Cin Liong adalah seorang jenderal muda yang namanya sudah amat terkenal di kota raja, di antara prajurit dan perwira, juga terkenal di dunia sesat, di antara para datuk yang menganggapnya sebagai seorang pendekar muda yang amat lihai, putera dari Si Naga Sakti Gurun Pasir. Akan tetapi, rakyat tidak mengenalnya karena dia selalu pergi dengan pakaian preman, bagaikan seorang pemuda pelajar biasa. Hanya pada waktu memimpin pasukan sajalah maka ia berpakaian seragam seorang panglima. Kebiasaan berpakaian preman ini dilakukan karena memudahkan dia dalam tugasnya untuk melakukan penyelidikan- penyelidikan rahasia.

Itulah sebabnya, walau pun Thian-cin sebuah kota yang tidak jauh letaknya dari kota raja, akan tetapi ketika pemuda ini melenggang menuju ke hotelnya, tidak ada yang mengenalnya sebagai Jenderal Kao Cin Liong yang gagah perkasa itu.

Demikian pula Louw Kam atau Louw-kauwsu bersama dua orang pembantunya yang membayanginya sejak tadi, sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang dibayangi dan hendak diserang itu adalah seorang panglima kerajaan yang ternama, putera Si Naga Sakti Gurun Pasir yang sakti. Andai kata Louw-kauwsu tahu akan hal ini, tentu dia akan menghitung sampai seribu kali sebelum dia berani menggunakan tindakan menyerang pemuda ini dan tentu akan menggunakan akal lain.

Penyerangan itu dilakukan ketika Cin Liong tiba di lorong yang gelap dan sepi itu. Ketika ada tiga orang laki-laki menyerangnya dari belakang dan kanan kiri, mempergunakan golok dan pedang. Cin Liong cepat mengelak, melompat ke depan, lalu membalikkan tubuhnya.

Penyerangan gelap merupakan hal yang tidak aneh baginya, bahkan dia sudah hampir terbiasa oleh peristiwa seperti ini. Dalam tugasnya, sudah sering kali dia menghadapi penyerangan gelap yang dilakukan oleh pihak lawan. Orang-orang ini tentu kaki tangan pemberontak, atau mata-mata yang mengenalinya dan yang berusaha membunuhnya dengan jalan membokong. Dia pun tidak merasa heran ketika melihat bahwa dia sama sekali tidak mengenal tiga orang ini.

Sementara itu, melihat betapa serangan mereka yang pertama itu dengan mudah dapat dielakkan lawan, Louw-kauwsu merasa kaget dan juga penasaran sekali. Tadinya sudah dibayangkannya bahwa pemuda itu akan dapat dirobohkan dengan sekali serang saja.

Maka dia pun lantas membentak marah, “Penjahat cabul perusak anak gadis orang, rasakan pedangku!” Dan dia pun sudah menyerang lagi dengan tusukan pedangnya ke arah dada Cin Liong.

“Wirrrrr….!”

Cin Liong mengelak lagi. Pemuda ini agak heran mendengar tuduhan orang. Biasanya, kalau dia diserang orang-orang secara menggelap, tentu ada hubungannya dengan tugas dan kedudukannya sebagai panglima. Akan tetapi sekali ini dia diserang orang dengan tuduhan menjadi penjahat cabul perusak anak gadis orang! Tentu saja dia menjadi penasaran sekali.

“Ehhh, nanti dulu, sobat. Kalian salah melihat orang!” bantahnya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo